The Chronicle's blog

Murid Sejati

Pada libur akhir Tahun 2007 lalu, aku menyempatkan diri -- disuruh -- untuk membaca sebuah buku selama liburan. Karena berlibur, otomatis saja bukunya dibawa bergerilya kemana-mana, dari satu kota ke kota lain, turun-naik kendaran umum di sekitar Pulau Jawa. Judul buku tersebut adalah "Murid Sejati". Buku yang ditulis oleh Dr. Paul W. Powel, Seorang Pendeta di Gereja Baptis Green Acres di Tyler ini memberikan pengertian yang menyegarkan mengenai Tiga Belas Aspek Penyerahan Diri Kepada Kristus. Tulisan Powel ini memberikan dorongan, tantangan dan sangat berguna. Sejujurnya, beberapa tahun sebelumnya, aku sudah membacanya sepintas lalu, tetapi aku segera melupakan pesannya yang sangat menggugah itu. Oleh sebab itu, pada pembacaan kedua terhadap buku ini, aku ingin meringkas kandungan pemikiran di dalamnya yang sangat berpengaruh itu untuk dibagikan.

Teologi: "Istilah-Istilah Dasar"

A. Tentang Teologi

Teologi (Yun: theologia, gabungan dari dua kata theos, Allah dan logos, logika), secara sederhana didefinisikan oleh A. H. Strong, sebagai "ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta." Karena Teologia itu merujuk kepada Allah, maka, Thomas Aquinas, mendefinisikannya secara spesifik, sebagai "pikiran Allah, ajaran Allah dan memimpin kepada Allah. [Sinclair B. Ferguson,ENDT: "Theology" (Downers Grove, Illinois, 1988), 680-681]. Sistem Teologi bukan eksklusif milik orang Kristen, tetapi semua agama. Pada umumnya, dunia sekuler, berdasarkan definisi filsafat Aristoteles, menyebut disipilin Teologi sebagai Filsafat Teologi atau Metafisika. Bagi gereja, Teologia memiliki dua pengertian, yaitu (1). Pengajaran tentang Allah dan (2). Pengetahuan tentang Allah. Sumber utama Teologi Kristen adalah Alkitab. Teologia Kristen adalah upaya logis untuk mempelajari tentang Allah dengan sumber utama adalah Alkitab. Sedangkan tradisi dan tulisan-tulisan bapak-bapak gereja dan teolog-teolog klasik lainnya adalah sebagai pembantu-panduan pengembangan Teologi selanjutnya.

Reformasi: "Back to the Bible"

Reformasi abad ke-16-17 yang dimotori oleh Martin Luther adalah momentum Illahi. Sebuah gerakan pembaharuan rohani yang muncul tepat pada puncak penduniawian gereja. Momen ini dapat ditafsirkan sebagai sejarah yang terulang sejak Reformasi Ezra dan Nehemia dalam sejarah umat Allah untuk pemurnian umat.

Dipublikasikannya 95 Tesis sebagai data akurat dan tidak terbantahkan yang disusun oleh Martin Luther untuk menunjukkan bukti penyimpangan ajaran dan korupsi yang dilakukan oleh gereja Katolik Roma di gerbang gereja Wittenburg adalah titik penentu keefektifan Reformasi ini. Efektivitas Reformasi yang terutama adalah revitalisasi religiusitas dan teologis. Reformasi adalah awal babak baru pemurnian iman dan pengajaran dalam gereja Tuhan dan menjadi penentu arah perkembangan Pengajaran dan Tologi di kemudian hari.

Kristologi Yang Benar

Untuk menjelaskan Tentang Yesus Kritus, Anda tidak harus membuka Alkitab! Karena semua orang yang pernah mendengar tentang nama itu akan mempunyai pendapat sendiri sesuai pengalaman pendengarannya. Jadi, terserah apa kata orang tentang Dia! Kaum moralis berkata, "Dia adalah Guru moral yang baik". Orang-orang sakit berkata, "Dia adalah Dokter dan Tabib yang dahsyat". Para raja dan pemerintah berkata, "Dia adalah Lawan politik". Para ahli psikologi berkata, "Dia adalah Psikolog yang handal". Para pengemis berkata, "Dia adalah Dermawan". Para nelayan berkata, "Dia adalah Nelayan yang sukses". Orang-orang angkuh berkata, "Dia hanya Pecundang". Anak-anak berkata, "Dia adalah Sahabat yang setia". Orang-orang lemah berkata: "Dia adalah Penolong yang kuat". Orang-orang beriman berkata, "Dia adalah Allah Penyelamat". Haleluya...!!

700 Nama Untuk Yesus

Elmer L. Town mendaftarkan lebih dari 700 nama dan gelar Kristus yang di tunjukkan oleh Alkitab, dan tidak mungkin nama sebanyak itu dimiliki oleh orang lain, selain Kristus saja. Selain nama "Yesus" ratusan nama lain yang Ia miliki itu itu kurang dikenal oleh orang Kristen. Nama-nama Kristus dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok, di antaranya: (1). Nama yang dinubuatkan oleh Perjanjian Lama; (2). Nama yang terkait dengan karya penyelamatan (The Salvational Names); (3). Nama kelahiran; (4). Nama-nama pelayanan; (5). Nama ke-Anakan (Sonship); (6). Nama ke-Allahan (Godhead); (7). Gelar-gelar Yehovistik; (8). Nama-nama gerejani; dan (9). Nama-nama Apokaliptik. (Elmer L. Towns, The Names of Jesus (Colorado: Accent, 1987) 102-110).

Devosional: "Apa Itu Berhala?"

"Kita harus menjadikan Allah sebagai pusat hidup kita, sehingga kita dapat bekerja dengan baik, membangun kesejahteraan keluarga kita, dan menikmati kesenangan kita untuk kemuliaan Allah".

1 Korintus 10:14, "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!" (1 Kor. 10:14)

Pemberhalaan adalah pemujaan yang tidak pantas dan/atau penghormatan kepada/atas sesuatu yang melampaui apa yang seharusnya menjadi milik Allah.

Semenjak Allah adalah di atas segala-galanya dan Tuhan Yang Suci, Ia harus selalu menjadi yang pertama di dalam seluruh area kehidupan kita. Kita harus selalu memuliakan Dia dan hidup bagi Dia.

Allah, Kejahatan dan Penderitaan (Oleh Alumni PESTA)

Para Kontributor:

Meky Tikoalu. - Naomi H.S. - Susanna - Indriatmo - Heru. M.S. - T.C. Maki - Luki F. Hardian - Deddy P. Widjaja - Susanto - M. Felder - Vonny T.

--------------

"Jika Allah Yang Baik itu ada, mengapa banyak kejahatan dan penderitaan di dunia ini?"

Inilah kumpulan komentar terhadap berdasarkan Perspektif Teologia dan Interpretasi awam mengenai tema ini.

Komentar-Komentar:

Oleh Meky, AIC Ansan KORSEL, Manado; <meky_tikoalu@yahoo.com>

Allah itu baik!!! Mengapa Allah itu baik? Apakah karena Dia lahir, mati dan bangkit untuk kita, atau karena Dia menggantikan sakit penyakit, ketelanjangan, kemiskinan, penolakan, kematian, kutuk dan mengganti dengan kesehatan, kelimpahan, kekayaan, penerimaan dalam keluarga Allah, kehidupan dan berkat? Apakah tujuan kebaikan-Nya agar kita menyembah-Nya? Atau adakah syarat dari dunia dan manusia sehingga membuat Allah menjadi baik?

Problem Solving: "Cukup!"

Merasa "cukup", seringkali membuat kita berhenti untuk mengharapkan "mujizat yang lebih besar" di antara banyak mujizat-mujizat yang sering tidak kita syukuri. Merasa "cukup" menghentikan kita untuk memikirkan 99,9% permasalahan hidup yang tidak penting.

Mengapa "Cukup"?

Pengalaman Paulus dalam doa-doanya saat menghadapi penyakit dan pergumulan pemenuhan kebutuhannya selama tugas pelayanannya adalah inspirasi yang baik untuk memahami kata "cukup" ini.

Suatu ketika, dalam pergumulan melawan "duri dalam dagingnya" ia berdoa, tetapi Tuhan menjawab Paulus, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Kesembuhan yang diminta, tetapi kesusahan yang di dapat. Walaupun demikian, respon Paulus terhadap jawaban "cukup" ini adalah posisitf. Katanya, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Kor. 12:9).

Quo Vadis Kristologi?

Sebuah analisa rekonstruksi Kristologi tradisional ketika diperhadapkan dengan dinamika kontroversi Kristologi masa kini.

Sejak awal kekeristenan sampai sekarang terus bermunculan kontroversi-kontroversi Kristologi, bahkan terus berkembang semakin menggegerkan. Kristologi menjadi menu yang memberikan keuntungan bagi pihak orientalis dan antikristus. Karena besarnya kekuatan konspirasi berbagai pihak, termasuk kelompok teolog, bidah, orientalis, ilmuwan, seniman, sutradara dan media-media global yang berorientasi pada ketenaran, oportunitas dan uang; maka akhir-akhir ini tantangan terhadap Kristologi itu seperti kekuatan yang siap untuk meruntuhkan fondasi kekristenan yang telah dibangun lebih dari dua millennium itu.

Menunggang Tekhnologi: Sebuah Kesaksian

SEBUAH KESAKSIAN PELAYANAN

Kata Yesus, "Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak...apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah". (Mat. 10:27; Luk. 12:3 dan 19:40).

Ada empat (4) pengalaman yang dibagikan dalam Kesaksian ini.

1. Gereja “Hampir” Kehilangan Komitmen

Saya adalah seorang penginjil dengan prospek pendidikan kependetaan. Panggilan pelayanan ini telah saya jalani selama beberapa tahun dalam penggembalaan Jemaat di beberapa tempat. Saya pernah melayani di Gereja Kristus Tuhan, di bawah naungan Sinode GKT (di beberapa Pos PI.); sebagai Penginjil. Beberapa tahun kemudian, bergabung dengan Gereja Kristen Abdiel (GKA), sebagai penginjil dan gembala. Tahun-tahun terakhir pelayanan gerejawi Saya adalah di Gereja Kristen Indonesia, wilayah Jawa Barat. Tugas-tugas pelayanan gerejawi ini memberikan pengalaman yang efektif dan sekaligus hikmat untuk menguji pelayanan-pelayanan gerejawi itu sendiri.

Pages

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA