PPL-Pelajaran 02

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Latar Belakang Geografis Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P02

Pelajaran 02 - LATAR BELAKANG GEOGRAFIS PERJANJIAN LAMA

DAFTAR ISI

  1. Mengapa Penting Mempelajari Latar Belakang Geografi Perjanjian Lama?
  2. Ruang Lingkup Geografi Perjanjian Lama
    1. Geografis Secara Fisik
    2. Geografis Secara Politik
    3. Geografis Secara Sejarah
  3. Makna Teologis Latar Belakang Geografis (Tanah Perjanjian)
  4. Peta Geografis Perjanjian Lama

Doa

LATAR BELAKANG GEOGRAFIS PERJANJIAN LAMA

  1. Mengapa Penting Mempelajari Latar Belakang Geografi Perjanjian Lama?

    Pada pelajaran yang pertama telah kita pelajari bahwa melalui kitab-kitab Perjanjian Lama (selanjutnya akan disingkat PL), yang berisi sejarah bangsa Israel, Allah telah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia. Untuk itu Allah telah melibatkan Diri dalam sejarah hidup umat pilihan-Nya yang dibatasi dalam ruang dan waktu. Kisah sejarah bangsa Israel dalam Kitab-kitab PL bukanlah karya sastra yang direka-reka dan direncanakan oleh pikiran manusia. Kita patut bersyukur bahwa Alkitab adalah unik dibandingkan dengan kitab suci agama lain, karena Alkitab menyebutkan banyak sekali nama-nama tempat yang memang pernah ada di dunia ini. Itulah sebabnya ada dua alasan penting untuk mempelajari latar belakang geografis dunia PL:

    1. untuk menjadi bukti bahwa sejarah umat Allah dalam PL adalah sejarah yang sungguh terjadi di suatu tempat, di suatu waktu di dunia ini.

    2. supaya kita dapat mengerti dan menginterpretasikan teks Alkitab dengan lebih baik; ada ribuan nama tempat, gunung, sungai, bukit, laut dll. dalam Alkitab sehingga diperlukan pengetahuan yang cukup tentang data-data geografis tersebut. untuk dapat menafsirkan ayat dengan tepat.

  2. Ruang Lingkup Geografis Perjanjian Lama

    Adapun lingkup geografis Perjanjian Lama dapat dilihat dari beberapa sisi:

    1. Geografi secara fisik, berkaitan dengan bumi secara fisik seperti gunung, sungai, lembah, dan struktur tanah, angin dan cuaca dll. Semua ini memengaruhi bagaimana masyarakat hidup di daerah itu; tipe bangunan rumahnya, tipe pekerjaannya, gaya hidupnya dll..

      Daerah peristiwa-peristiwa dalam PL pada dasarnya termasuk lembah utara dan Delta sungai Nil, semenanjung Sinai, Palestina, Fenisia, Aram, lembah-lembah sungai Efrat dan Tigris, dan Mesopotamia. Pada masa sekarang ini, daerah-daerah tersebut disebut dengan sebutan "sabit yang subur" (Fertile Crescent). Tanah Palestina atau Kanaan adalah sebuah wilayah yang terletak di antara Laut Tengah (Mediterania) di sebelah Barat dan Padang Gurun Arab di sebelah Timur. Luas tanah Kanaan sebagaimana yang sering diucapkan dalam kitab-kitab dalam Perjanjian Lama adalah, "dari Dan sampai Bersyeba" (Hakim-hakim 20:1, I Samuel 3:10). Nama Palestina berasal dari nama "Filistin", sebab pendudukan negeri tersebut menduduki dataran pantai.

      Pada umumnya, tanah Palestina berupa daerah pegunungan. Di antara gunung-gunung, terdapat lembah-lembah yang cukup subur. Orang Israel adalah orang yang tinggal dan menduduki daerah pegunungan, oleh sebab itu, bangsa Israel tidak cakap berperang di tanah yang datar (Hakim-hakim 1:19), walaupun mereka mulai memakai pasukan kuda untuk melawan Siria dan Asyur. Oleh karena itu, bani Israel tidak dapat mempertahankan bagian dataran pantai dalam waktu yang lama. Dan, dataran atau lembah Esdralon merupakan tempat berperang bagi bangsa Israel, tetapi sering kali bangsa Israel tidak meraih hasil yang baik saat berperang di lembah Esdralon. Pada sendirinya, tanah Palestina terbagi menjadi empat bidang yang membujur dari arah Utara ke Selatan.

    2. Geografi secara politis, berkaitan dengan pengaturan kelompok masyarakat yang ada, dari kelompok masyarakat sederhana yang tinggal berpindah-pindah (nomad) sampai akhirnya membentuk suatu daerah pemukiman yang memiliki daerah teritorial yang jelas dan bahkan menjadi kerajaan yang berkuasa atas daerah yang lebih luas.

      Pemberian tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian didasarkan kepada janji Allah kepada Abraham. Abraham bukanlah penduduk asli tanah Kanaan, tetapi Abraham berasal dari Mesopotamia, di sebuah kota yang bernama Ur-kasdim. Pada dasarnya, Abraham tidak mengenal siapa Allah, sebab penduduk Mesopotamia adalah orang-orang Kafir yang menyembah berhala. Abraham dipanggil Allah untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi menuju tanah perjanjian. Abraham tidak tahu pasti di mana tanah perjanjian itu berada, tetapi dengan iman, ia terus pergi menuju tanah yang dijanjikan Tuhan. Semasa Abraham hidup, Abraham pernah menempati tanah Kanaan. Pada masa terjadi keributan antara hamba-hamba Lot dan hamba-hamba Abraham, akhirnya Abraham dan Lot memutuskan untuk berpisah. Lot memilih daerah di sekitar sungai Yordan yang hijau dan subur, sementara Abraham memilih daerah yang sebaliknya. Pada saat itulah, Tuhan Allah berfirman bahwa tanah itu akan menjadi miliknya dan keturunannya.

      Masa Teokrasi, bisa dikatakan bahwa Israel mulai menegakkan sebuah kerajaan dan menentukan batas-batas wilayah secara politis. Masa pemerintahan Saul, luas kerajaan Israel tidaklah seluas pemerintahan Daud. Daud menggantikan Saul sebagai raja Israel, kemudian Daud mulai berperang melawan musuh-musuh Israel dan luas wilayah pun bertambah. Secara teritorial, kerajaan Israel menjadi semakin luas dan Allah menyerahkan musuh-musuh Israel ke dalam tangan Daud, sehingga negeri itu diberkati oleh Tuhan. Hingga masa pemerintahan Salomo, luas kerajaan semakin luas. Namun, ketika Salomo meninggal dunia, maka kerajaan Israel pecah menjadi dua bagian, yaitu menjadi kerajaan Israel Utara dan kerajaan Israel Selatan. Kerajaan Israel Utara terdiri dari 10 suku yang dipimpin oleh Yerobeam bin Nebat, dengan ibu kota di Samaria. Sedangkan, kerajaan Israel Selatan dipimpin oleh Rehabeam anak Salomo, yang terdiri dari 2 suku, yakni Yehuda dan Benyamin, dengan ibu kota di Yerusalem.

    3. Geografi secara sejarah, berkaitan dengan perkembangan sejarah masyarakat dalam satu tempat dan satu waktu. Alkitab mencatat bagaimana, di mana dan kapan Allah menyatakan Diri dan rencana-Nya pada umat pilihan-Nya.

      Abraham adalah nenek moyang bangsa Israel. Secara khusus, Allah memanggil Abraham untuk menuju tanah perjanjian. Bangsa Israel sendiri adalah bangsa yang menduduki tanah Kanaan dan berbaur dengan penduduk asli negeri itu. Pada masa Yakub, kelaparan hebat melanda tanah Kanaan, sehingga Yakub dan keluarganya yang berjumlah 70 orang (Kejadian 46:27) pergi ke Mesir. Di Mesir, bani Israel mendiami tanah Gosyen dan jumlah mereka semakin bertambah banyak, hingga akhirnya Firaun yang tidak mengenal Yusuf, memerintah Mesir dan mulai menindas bangsa Israel.

      Hingga, pada masa Yosua, Israel baru menduduki tanah Kanaan setelah masa keluar dari Mesir. Janji yang Allah ikat dengan Abraham, digenapi pada masa Yosua dan bangsa Israel mendiami tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah. Allah menyatakan Diri dan rencana-Nya kepada bangsa Israel, dan rencana-rencana yang Allah janjikan telah digenapi dan penyertaan dan pemeliharaan Allah senantiasa ada dan melimpah bagi Israel.

    *) Untuk penjelasan dan contoh-contoh lebih lengkap simak referensi

  3. Makna Teologis Latar Belakang Geografis (Tanah Perjanjian)

    1. Allah yang Mengikat Perjanjian

      Wilayah tanah Kanaan memiliki porsi muatan makna teologis yang sangat besar dalam seluruh kitab PL, karena tanah Kanaan merupakan komponen utama dalam perjanjian Allah dengan bangsa pilihan-Nya, Israel. Hal ini dimulai ketika Abraham dipanggil untuk pergi ke tanah yang akan Tuhan berikan kepadanya dan bangsa keturunannya, yaitu Tanah Perjanjian, (Kejadian 11:31; 12:10). Wilayah Tanah Perjanjian itu disebutkan "mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat" (Kejadian 15:18) dan janji itu dikonfirmasi lagi kepada Ishak (Kejadian 26:3) dan juga kepada Yakub (Kejadian 28:13).

      Perjanjian adalah sebuah janji yang diucapkan dengan sungguh-sungguh yang diikat oleh sumpah, yang bisa merupakan ucapan lisan ataupun tindakan simbolis. Dalam PL, perjanjian bertumpu pada janji Allah. Perjanjian Allah dengan Abraham didasari dalam Kejadian 12:1-3, yaitu pada saat Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan negerinya. Allah menjanjikan negeri atau tanah kepada Abraham. Kemudian, Allah berjanji bahwa Abraham akan menjadi bapa dari sebuah besar bangsa, hingga pada akhirnya, Allah berjanji bahwa Allah akan menjadi Allah Abraham dan keturunannya. Perjanjian ini diprakarsai oleh Allah sendiri dan Allahlah yang berinisiatif untuk mengikat dan mengadakan perjanjian.

      Luas tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham tidaklah jelas batasnya. Namun dapat dipastikan lebih luas dari negeri Kanaan, karena ketika Lot memilih untuk tinggal di lembah Yordan yang subur dan banyak air di sebelah timur, Abraham tinggal di tanah Kanaan, dan di situlah Tuhan berkata kepada Abraham: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya." (Kejadian 13:14-15).

      Tanah Kanaan dijanjikan kepada bangsa Israel, ini artinya bangsa Israel harus menyingkirkan penduduk asli tanah Kanaan. Yosua memimpin bangsa Israel untuk menaklukan tanah Kanaan dengan suatu "perang kudus" melawan penduduk asli tanah Kanaan. Hukuman yang adil diberikan oleh Allah kepada Israel, karena pada masa penaklukan tanah tersebut, mereka jatuh ke dalam dosa dengan menyembah dewa-dewa kesuburan orang Kanaan, yakni Baal dan Asyera. Tanah Kanaan sudah menjadi keji oleh penduduknya dengan berbuat keji dan menyembah berhala. Oleh sebab itu, umat Israel harus menyingkirkan semuanya itu dan menyucikan tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham dan keturunannya.

      Ratusan tahun kemudian ketika Musa mengingatkan bangsa Israel akan Tanah Perjanjian yang Tuhan telah berikan kepada mereka, maka Musa menjelaskan batas-batas tanah itu sebagai, "Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu. Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya." (Ulangan 1:7-8). Dan saat itu bangsa Israel telah menduduki tanah bahkan sampai ke Transyordan, yang lebih luas dari batas Tanah Perjanjian.

      Pada masa Yosua, Tuhan memberi perintah kepada Yosua untuk mengambil seluruh teritorial seperti yang telah disebutkan oleh Musa (Yosua 1:4). Namun selama masa itu Israel gagal untuk mendapatkan seluruh tanah yang telah Tuhan janjikan, sebab utamanya adalah karena ketidaktaatan mereka kepada Tuhan, sehingga Tuhan menghukum mereka dengan tidak memberikan seluruh tanah itu kepada bangsa Israel. Dan selama masa raja-raja Israel, tidak ada satu raja pun yang berhasil mendapatkan seluruh Tanah Perjanjian itu kecuali Daud (itu pun masih ada satu bagian tanah, Tanah orang Het yang tidak menjadi kekuasaan Israel).

    2. Implikasi Teologis Perjanjian Allah dengan Tanah Perjanjian

      Allah adalah pribadi yang mengikat perjanjian dengan orang-orang yang dipilih dan dikehendaki-Nya, seperti Nuh, Abraham, Musa dan Daud. Mengapa Allah mengikat perjanjian? Apakah yang mendasari perjanjian tersebut? Bagaimana sifat perjanjian tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu seringkali menjadi pertanyaan bagi orang-orang Kristen, dan orang Kristen mulai belajar untuk menemukan jawaban di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut.

      Perjanjian terjadi karena Allah yang berinisiatif untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan manusia. Semua perjanjian didasari atas kasih Allah kepada manusia. Melalui perjanjian-perjanjian tersebut, Allah ingin menyatakan bahwa Allah adalah kasih, kasih ini dinyatakan dalam Imamat 26:12 yaitu, "Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku." Inilah kehendak Allah dan ketetapan ini tidak boleh diabaikan. Bagi bangsa Israel sendiri, tanah Perjanjian merupakan salah satu identitas bagi mereka. Tanah Kanaan tidak hanya bersifat teritorial saja yang harus diduduki, tetapi lebih dari pada itu, Allah telah menjanjikan tanah tersebut, maka mereka akan berupaya untuk menduduki tanah Kanaan.

      Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa konsep Tanah dan Perjanjian dalam PL saling memiliki kaitan yang erat. Tanah merupakan anugerah Tuhan yang dijamin di atas perjanjian (convenant) yang sah. Sebab itu, Tanah Perjanjian merupakan simbol akan ketergantungan mereka pada Tuhan. Hubungan Israel dengan tanah itu merupakan indikasi hubungan mereka dengan Tuhan. Apabila mereka taat kepada Tuhan maka kemakmuran yang luar biasa akan terjadi di atas tanah itu (Ulangan 22). Sebaliknya, ketidaktaatan bangsa Israel akan perintah Tuhan akan berakhir dengan dibuangnya mereka dari Tanah Perjanjian (Ulangan 4:25-28; 28:63-68; Yosua 23:13-16; 1 Raja-raja 9:6- 9; 2 Raja-raja 17:22-23; dll.). Dan, akibatnya pada masa-masa itu orang Israel harus hidup di tanah pembuangan dan dijajah bangsa-bangsa lain.

      Namun, karena janji bahwa Tuhan akan setia menyertai bangsa ini, maka tidak untuk selamanya bangsa Israel tinggal di tanah pembuangan. Sebagaimana perkataan nabi Yeremia, bahwa mereka dibuang ke Babel hanya selama 70 tahun. Pada zaman Ezra, yaitu pada masa Kerajaan Media-Persia mulai berkuasa. Koresy memerintahkan bahwa bangsa Israel yang dalam masa pembuangan bisa kembali ke tanah air mereka. Sehingga, bangsa Israel kembali pulang ke Kanaan dalam tiga tahap pemulangan, yang pertama dipimpin oleh Zerubabel, tahap yang kedua dipimpin oleh Ezra dan tahap yang ketiga dipimpin oleh Nehemia. Sejarah PL mulai diwarnai dengan pertobatan dan perjanjian untuk menjauhkan diri dari pencemaran dosa dari bangsa kafir (baca Ezra 9:10-15) sehingga bangsa Israel akhirnya pulang kembali ke tanah airnya dan tinggal di tanah yang Tuhan janjikan itu.

*) Catatan: Peta geografis PL dapat dilihat di situs Alkitab SABDA. Alamat URL:
http://alkitab.sabda.org/map.php?index=map



Akhir Pelajaran (PPL-P02)

DOA

"Tuhan, Allah sumber segala berkat, saya bersyukur karena Engkaulah yang menyediakan tanah di mana saya tinggal saat ini. Saya bersyukur bahwa Engkau sediakan segala sesuatunya itu untuk kebaikan saya. Ajarkan kepada saya untuk senantiasa ingat bahwa tempat di mana saya berada adalah anugerah Tuhan. Di sinilah Tuhan ingin saya berkarya dan memuliakan nama Tuhan. Oleh karena itu Allah, berikan saya kekuatan agar saya senantiasa hidup suci di hadapan Tuhan. Amin."

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: