Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a |Referensi 05b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R05c |
Referensi SHA-05c diambil dari:
| Judul Buku | : | Itu kan Boleh |
| Judul Artikel | : | Jangan Mengingini |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung |
| Halaman | : | 36 - 38 |
Keluaran 20:17.
Sesungguhnya hukum yang terakhir ini merupakan kunci kemenangan yang membuka pintu pelaksanaan hukum Allah. Dengan terbukanya rahasia ini, kita mampu menjalankan bukan hanya hukum kesepuluh ini, tetapi juga hukum-hukum Allah yang lainnya.
Dalam arti apakah "jangan mengingini" merupakan kunci kemenangan bagi orang-orang beriman? Apabila seseorang jatuh ke dalam dosa maka kejatuhannya itu merupakan akibat suatu proses yang bertahap:
Tahap pikiran:
Sebuah pikiran sesat melintasi akal kita. Bagaimanapun juga pikiran tersebut menuntut suatu tanggapan dari kita: apakah kita menerima atau menolaknya, mengelak atau menunda-nunda respon kita. Pokoknya kita tidak dapat bersikap pasif. Seandainya kita menerima pikiran sesat tadi, apakah yang terjadi? Kita segera memasuki
Tahap bayangan atau imaginasi:
Seandainya pikiran kita bersifat serakah, mungkin kita akan melalui suatu proses berikut ini. Katakanlah si A tertarik akan uang seribu rupiah yang terletak di meja makan. Pikirannya mulai bekerja: "Wah seribu rupiah! Kebetulan dompetku lagi kosong!" Lalu ia membayangkan apa yang sedang dibutuhkannya: "makanan ekstra untuk menempuh ujian semester, batere baru untuk radio" dan sebagainya. Kalau si A tidak berdisiplin, tahap kedua akan segera memasuki tahap ketiga, yaitu
Tahap mengingini susu atau batu batere untuk radio itu:
"Yah, saya perlu, saya mau ... saya ingin mendengarkan laporan olah raga tentang pertandingan antara A dengan B." Jika keinginan sudah menguasai pikiran kita, maka nafsu akan menang dan menggagalkan segala usaha kita untuk tidak mencuri. Volisi kita kalah karena dikuasai oleh emosi yang disebut: Master Passion (Keinginan yang sangat besar).
Pada tahap ketiga disiplin tak dapat membantu lagi; kita tidak sanggup untuk berdisiplin karena usaha tersebut sudah terlambat, maka tahap keempat akan segera menyusul, yaitu:
Tahap pelanggaran:
Pelaksanaan kesesatan yang sudah dipikirkan, dibayangkan dan diinginkan.
Nah, dengan demikian kita sudah mengerti larangan hukum yang kesepuluh ini; jangan mengingini ...!! Keinginan di sini merupakan suatu Master Passion, suatu emosi yang menguasai dan tidak terkendalikan. Sekarang apakah kesimpulan kita? Hendaklah kita dengan gigih mendisiplinkan pikiran-pikiran kita sejak dari tahap permulaannya. Kalau malas berdisiplin, kalau bersikap "seseng" (segan sengsara) atau "empang" (maunya enak dan gampang) maka kita pasti jatuh ke dalam dosa. Selain dari semuanya ini, hukum kesepuluh mengingatkan kita akan kelemahan manusia yang mungkin paling mendalam dalam jiwa kita dan paling membahayakan, yaitu keserakahan, oportunisme, materialisme. Keserakahan dan isi hati berjalan sejajar, tak dapat dipisahkan, maka hukum kesepuluh memperincikan beberapa ciri keserakahan:
"Jangan mengingini rumah sesamamu (harta milik), jangan mengingini isterinya atau hambanya ... (kebahagiaan rumah tangga, kekasihnya) atau lembunya atau keledainya (perlengkapan dan modalnya), atau apa pun yang dipunyai sesamamu" (Keluaran 20:l7).
Dengan tegas Tuhan menyebutkan dua bidang khusus dalam hukum yang kesepuluh ini, ialah materi dan seks. Rupanya dua bidang inilah yang paling sering menjatuhkan manusia dalam dosa. Rasul Paulus pun memperingatkan kita, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang." Keserakahan membuat kita "menyimpang dari iman". (1 Timotius 6:10), sehingga kehilangan pegangan -- harapan dan arah tujuan. Wah -- celaka! Maka untuk terakhir kalinya kita bertanya: Benarkah Hukum Allah itu sudah usang?
Betapa ajaibnya Firman Tuhan yang menjanjikan bahwa Allah akan menulisi hati umat-Nya dengan Hukum-hukum Allah, sehingga ketaatan kepada perintah-perintah-Nya dan kepada norma-norma kehidupan yang benar bukan lagi menjadi beban melainkan kesukaan, bukan lagi keberatan melainkan kebahagiaan. Bagaimana sikap Anda sendiri terhadap Sepuluh Hukum Allah?