Silabus DIK


KURSUS DASAR-DASAR IMAN KRISTEN [TS-01-DIK]

Download Materi : TEXT | HTML | PDF

  1. Penjelasan Lengkap
    Kursus DIK ini akan mempelajari tentang pokok-pokok penting iman Kristen, khususnya tentang penciptaan manusia, kejatuhan manusia dalam dosa, rencana keselamatan Allah melalui Yesus Kristus dan hidup baru dalam Kristus. Pelajaran-pelajaran ini akan sangat berguna, baik orang Kristen lama maupun baru, untuk memiliki dasar-dasar iman kepercayaan yang teguh sesuai dengan kebenaran Alkitab.

  2. Tujuan Pelajaran
    Sesudah mengerjakan seluruh tugas yang diberikan dan menyelesaikan Kelas DIK, maka diharapkan peserta akan dapat:

    1. Mengenal pokok-pokok penting iman Kristen, seperti penciptaan, kejatuhan manusia dalam dosa, rencana keselamatan Allah dalam Yesus Kristus dan hidup baru dalam Kristus.
    2. Secara pribadi mengembangkan pengetahuan yang sudah diberikan tersebut untuk dapat dibagikan kepada orang lain.

  3. Materi Pelajaran (10 Pelajaran)

    1. PELAJARAN 01: PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
      Tujuan: Peserta mengerti bahwa alam semesta dan segala isinya adalah diciptakan dan dipelihara oleh Allah Yang Maha Kuasa; sehingga sudah selayaknya jika semua ciptaanNya itu memuji dan menyembah-Nya sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara.
      Baca online : Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

    2. PELAJARAN 02: PENCIPTAAN MANUSIA
      Tujuan: Tujuan: Peserta mengerti tentang asal-usul manusia, proses, dan tujuan penciptaan manusia, serta natur manusia sebagai gambar dan rupa Allah.
      Baca online : Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

    3. PELAJARAN 03: SETAN
      Tujuan: Peserta dapat mengenal tentang keberadaan, asal-usul, kejatuhan, pekerjaan, dan masa depan setan, supaya mampu menghadapi siasatnya.
      Baca online : Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c

    4. PELAJARAN 04: KEJATUHAN MANUSIA DALAM DOSA
      Tujuan: Peserta mengerti tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, serta akibat-akibat yang mengikutinya dan bagaimana Allah memberikan janji penebusan sejak awal mula kejatuhan manusia dalam dosa.
      Baca online : Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c

    5. PELAJARAN 05: MANUSIA DI DALAM ADAM
      Tujuan: Peserta memahami apa arti manusia di dalam Adam dan apa relasi dosa Adam dengan kehidupan umat manusia di dunia ini.
      Baca online : Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c

    6. PELAJARAN 06: MANUSIA KRISTUS
      Tujuan: Peserta mengenal pribadi dan karya Kristus sebagai Manusia Kedua yang diutus Allah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa.
      Baca online : Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c

    7. PELAJARAN 07: KELAHIRAN BARU
      Tujuan: Peserta mengerti arti kelahiran baru dan bagaimana manusia dapat menerima kesempatan kedua untuk bersekutu dengan Allah.
      Baca online : Pelajaran 07 | Pertanyaan 07 | Referensi 07a | Referensi 07b

    8. PELAJARAN 08: MANUSIA DI DALAM KRISTUS
      Tujuan: Peserta memahami apa arti di dalam Kristus dan berkat- berkat yang diperoleh dari-Nya.
      Baca online : Pelajaran 08 | Pertanyaan 08 | Referensi 08a | Referensi 08b | Referensi 08c

    9. PELAJARAN 09: SUATU HUBUNGAN YANG BARU
      Tujuan: Peserta mengerti serta menghayati adanya hubungan yang baru melalui kelahiran kembali, di mana Roh Kudus tinggal dalam manusia yang baru ini selama-lamanya.
      Baca online : Pelajaran 09 | Pertanyaan 09 | Referensi 09a | Referensi 09b | Referensi 09c

    10. PELAJARAN 10: MENGALAHKAN KEINGINAN DAGING
      Tujuan: Peserta mengerti bagimana kuasa Roh Kudus yang ada di dalam manusia baru ini untuk menolongnya hidup dalam kemenangan.
      Baca online : Pelajaran 10 | Pertanyaan 10 | Referensi 10a | Referensi 10b | Referensi 10c

  4. Bahan Referensi DIK
    Berikut ini adalah daftar buku yang dipakai sebagai referensi untuk membantu peserta PESTA mendapatkan penjelasan-penjelasan yang lebih dalam dan luas tentang pokok-pokok materi yang dibahas dalam Kursus DASAR-DASAR IMAN KRISTEN. Karena tujuannya adalah untuk melengkapi, maka akan sangat baik jika Anda bisa mengusahakan memiliki buku-buku tsb. dalam bentuk cetaknya untuk kebutuhan di masa y.a.d..

    • Berkhof, Louis. TEOLOGI SISTEMATIKA 1: DOKTRIN ALLAH. Jakarta: LRII, 1993.
    • --------------. TEOLOGI SISTEMATIKA 2: DOKTRIN MANUSIA. Jakarta: LRII, 1993.
    • --------------. TEOLOGI SISTEMATIKA 4: DOKTRIN KESELAMATAN. Jakarta: LRII, 1993.
    • Douglas, D. J. ENSIKLOPEDI ALKITAB MASA KINI JILID I-II. Jakarta: YKBK, 1995.
    • Milne, Bruce. MENGENALI KEBENARAN. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
    • Pratt Jr., Richard L. MENAKLUKKAN SEGALA PIKIRAN PADA KRISTUS. Malang: SAAT, 1995.
    • Ryrie, Charles C., TEOLOGI DASAR, Jogyakarta: Yayasan Andi, 1991.
    • Soedarmo, DR. R., IKHTISAR DOGMATIKA, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1993.
    • Sproul, R. C. KEBENARAN-KEBENARAN DASAR IMAN KRISTEN. Malang: SAAT, 1997.
    • Theissen, Hendry C., TEOLOGI SISTEMATIKA, Jakarta: Gandum Mas, 1979.

Pelajaran

DIK-Pelajaran 01

Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Alam Semesta
Kode Pelajaran : DIK-P01

Pelajaran 01 - PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Tuhan Sudah Ada Sebelum Segala Sesuatu Ada!
  2. Alkitab adalah Jawaban
  3. Tuhan adalah Pencipta Alam Semesta
  4. Cara Tuhan Menciptakan Alam Semesta
  5. Keadaan Segala Sesuatu Pada Waktu Diciptakan
  6. Tujuan Penciptaan
  7. Pemeliharaan Tuhan Atas Ciptaan-Nya

Doa

TEKS ALKITAB

Kejadian 1

AYAT KUNCI

Kejadian 1:1

1. TUHAN SUDAH ADA SEBELUM SEGALA SESUATU ADA

Kapan dan sudah berapa lamakah Tuhan ada? Tuhan sudah ada dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya sebelum segala sesuatu ada. Alkitab mengatakan, "Pada mulanya Tuhan ...." Kej. 1:1; Yoh 1:1. Keberadaan-Nya ialah dari kekal sampai kekal. Ia selalu ada, dulu, sekarang dan selama-lamanya. Alkitab mengatakan:"... dari selama-selamanya sampai selama-lamanya, Engkaulah Tuhan." Mazmur 90:2

Siapakah Tuhan yang keberadaan-Nya dari kekal sampai kekal itu? Dia bukanlah sekedar kuasa atau pengaruh yang dahsyat. Dia adalah Pribadi yang sering kita sebut dengan Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus) dan Allah Roh Kudus. Dialah yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada. Dia adalah Sang Pencipta (Bapa: I Kor 8:6; Anak: Yoh. 1:30; Roh Kudus: Kej. 1:2; Yes. 40:12- 13).

2. ALKITAB ADALAH JAWABAN

Sejak mulanya, manusia ingin tahu bagaimana segala sesuatu di dunia ini terjadi. Banyak pendapat telah diberikan mengenai asal-usul alam ini, khususnya mengenai asal-usul bumi. Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti jawabannya.

Bagaimanakah kita dapat mengetahuinya secara pasti? Jawabnya adalah dengan percaya atau mengimani firman Tuhan. Alkitab mengatakan: "Karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Tuhan." Ibrani 11:3

Di dalam firman Tuhan kita menemukan jawabannya secara pasti. Alkitab tidak pernah berspekulasi sebagaimana teori-teori yang diciptakan oleh manusia. Dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Kolose 1:16

Walaupun penjelasan mengenai penciptaan dalam Alkitab sangat singkat, namun Tuhan telah memberitahukan kepada kita segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang permulaan alam semesta ini. Pernahkah Anda bertanya mengapa kitab pertama dalam Alkitab disebut kitab "Kejadian"? Jawabannya adalah karena kitab Kejadian menceritakan tentang permulaan atau asal-usul segala sesuatu. Kata "Kejadian" berarti "Permulaan". Kitab ini menceritakan tentang permulaan langit, bumi ini dan segala isinya. Kitab ini dimulai dengan memberi informasi tentang asal mula alam semesta ini.

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Kejadian 1:1

3. TUHAN ADALAH PENCIPTA ALAM SEMESTA

Siapakah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya ini? Alkitab secara jelas memberikan jawabannya, yaitu Tuhan. Berikut ini adalah ayat-ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta.

"Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi." Kejadian 1:1

"Dialah Tuhan ... dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia menciptakannya untuk didiami." Yesaya 45:18

"Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya; tangan-Kulah yang membentangkan langit dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya." Yesaya 45:12

"... Ia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya: yang tetap setia untuk selama-lamanya." Mazmur 145:5-6

4. BAGAIMANA ALAM SEMESTA DICIPTAKAN TUHAN?

Berbeda dengan Tuhan, alam semesta ini memiliki titik permulaan. Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini. Ia menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan seluruh keberadaan alam semesta ini bergantung kepada Tuhan. Kejadian 1:1 menyatakan:

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi". Kata "menciptakan" di sini tidak berarti memindahkan/menghadirkan sesuatu yang sudah ada ke tempat lain yang pada mulanya tidak ada sehingga menjadi ada, tetapi membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada (ex nihilo). Jadi tanpa bahan. Bagaimanakah cara Tuhan menciptakan langit dan bumi? Ia menciptakannya dengan firman-Nya. Alkitab mengatakan:

"Oleh firman Tuhan langit dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentara-Nya." Mazmur 33:6

Firman Tuhan itu berkuasa! Firman Tuhan itu juga bersifat menciptakan, karena segala sesuatu yang difirmankan-Nya itu semuanya terjadi. Alkitab mengatakan:

"Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada." Mazmur 33:9

"Berfirmanlah Allah: `Jadilah ....`." Kej. 1:3, 6, 9, 11, 14, 20, 24, 26

5. KEADAAN SEGALA SESUATU PADA WAKTU DICIPTAKAN

Bagaimana kondisi segala sesuatu pada saat Tuhan menciptakan mereka? Kondisinya adalah tidak seperti sekarang ini. Kondisi segala hal yang Ia ciptakan adalah baik. Dalam Kejadian pasal 1, berkali-kali disebutkan bahwa setelah Tuhan menciptakan sesuatu, "Ia melihat semua itu baik." Kej. 1:10, 12, 18, 25, 31

6. TUJUAN PENCIPTAAN

Karena segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan, maka siapakah yang memiliki semua dan segala sesuatu? Tentu ini berarti bahwa segala sesuatunya adalah milik Tuhan karena Dia adalah Pencipta segalanya.

Mengapa Tuhan menciptakan segala sesuatu ini? Ia menciptakannya untuk kemuliaan-Nya. Alkitab mengatakan:

"... yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku ....". Yesaya 43:7

"... segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." Kolose 1:16

Melalui ciptaan-Nya, Tuhan juga telah menyatakan kuasa, kemuliaan dan hikmat-Nya. Alkitab mengatakan:

"...langit menceritakan kemuliaan Tuhan dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya." Mazmur 19:1

Karena Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu, maka Dia sajalah yang patut atau layak dipuji dan disembah. Apakah arti penyembahan itu? Penyembahan adalah ungkapan kasih, penghormatan dan ketaatan yang patut diberikan kepada Tuhan. Kita tidak boleh menyembah manusia, malaikat, makhluk ataupun benda-benda lain. Alkitab mengatakan:

"Engkau harus menyembah Tuhan, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Matius 4:10

"Ya Tuhan, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa, sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." Wahyu 4:11

7. PEMELIHARAAN TUHAN ATAS CIPTAANNYA

Beberapa orang beranggapan bahwa setelah Allah menciptakan dunia dan segala isinya, Ia menarik diri dan membiarkan ciptaan-Nya berjalan sendiri begitu saja, seperti faham Deisme. Bahwa Ia tidak peduli lagi dengan ciptaan-Nya. Ia lepas tangan. Benarkah Alkitab mengajarkan demikian? Jawabannya adalah tidak. Sampai saat ini Allah masih memelihara ciptaan-Nya. Allah, Pencipta Agung dari segala sesuatu, Ia juga yang memelihara, memimpin, mengatur dan memerintah semua makhluk ciptaan, tindakan, dan benda-benda ciptaan, mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil, dengan kebijaksanaan-Nya yang paling bijak dan pemeliharaan-Nya yang kudus, sesuai dengan pengetahuan yang tidak bisa salah dan kehendak-Nya yang bebas dan tidak berubah, bagi kemuliaan hikmat-Nya, kuasa-Nya, keadilan-Nya, kebaikkan-Nya dan kemurahan-Nya.

Kalau langit dan bumi dan segala isinya ini masih ada sampai sekarang, ini semua karena pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya. II Petrus 3:7 mengatakan: "Tetapi oleh Firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api ..." Semuanya itu dimungkinkan masih ada karena Allah menopangnya. Ibrani 1:3 menjelaskan bahwa Kristus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa.

Kata "menopang" di sini tidaklah hanya sekedar menopang atau menyokong, tetapi memiliki pemahaman yang aktif, dengan maksud kehendak-Nya, Ia mengontrol semuanya secara terus-menerus. Jadi Yesus secara aktif terlibat dalam karya pemeliharaan (providensia). Hal serupa juga terdapat dalam Kolose 1:7 yang mengatakan bahwa di dalam Dia segala sesuatu ada. Bagaimana dengan kehidupan manusia di bumi ini? Apakah Allah masih memperhatikannya? Jawabnya adalah Ya. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa Ia mengatur kehidupan di bumi ini. Mazmur 139:16 menjelaskan bahwa Allah mengatur kelahiran dan kehidupan manusia. Ia memberikan perlindungan kepada orang benar (Maz. 5:12; Ul. 33:12, 25-28; I Sam. 2:9), memenuhi kebutuhan umat-Nya (Ul. 8:3; Fil. 4:19) dan sebagainya. Sebenarnya kalau kita mau sadar, nafas hidup yang Ia masih berikan kepada kita saat ini adalah bukti dari pemeliharaan-Nya terhadap kita.

Ayub 34:14-15 mengatakan: "Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya dan mengembalikan nafas pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu." Demikian juga yang dikatakan Mazmur 104:29: "... apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu."

Jadi, Allah masih campur tangan terhadap ciptaan-Nya. Semua keberadaan dan gerak segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidak bisa dilepaskan dari pemeliharaan Tuhan terhadapnya.


Akhir Pelajaran (DIK-P01)

DOA

"Tuhan, Engkaulah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Biarlah saya terus menyembah dan memuliakan nama-Mu yang ajaib. Engkaulah Pencipta yang agung. Untuk itu, ciptakanlah hati yang suci dan bersih di dalam diri saya dan bentuklah hati saya menjadi tempat kediaman-Mu yang kudus." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 02

Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-P02

Pelajaran 02 - PENCIPTAAN MANUSIA

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Penciptaan Manusia
    1. Tuhan adalah Pencipta Manusia.
    2. Bagaimana Manusia Diciptakan?
  2. Susunan Natur Manusia
    1. Trikotomi.
    2. Dikotomi.
    3. Monokotomi.
  3. Kondisi Adam Pada Waktu Diciptakan
  4. Tujuan Allah Menciptakan Manusia

Doa

TEKS ALKITAB

Kejadian 1:26-31, 2:1-20

AYAT KUNCI

Kejadian 1:26

Dalam pelajaran pertama, kita telah mempelajari bahwa Tuhan adalahPencipta segala sesuatu - alam ini dan segala yang ada di dalamnya. Iamenciptakan semua makhluk hidup seperti burung, ikan dan binatang danmemberi kemampuan kepada mereka untuk berkembang biak menurutketetapan-Nya yaitu "berkembang biak menurut jenisnya masing-masing."Tidak ada binatang yang dapat berganti jenis menjadi jenis binatangyang lain. Ketetapan ini masih berlaku hingga hari ini. Setiap makhlukhidup melahirkan keturunan atau anak menurut jenisnya.

1. PENCIPTAAN MANUSIA

  1. Tuhan adalah Pencipta Manusia

    Keberadaan manusia di atas bumi ini bukanlah muncul dengan sendirinya atau hasil proses evolusi dari binatang. Dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakannya.

    "Berfirmanlah Tuhan: "Baiklah Kita menjadikan manusia ... maka Allah menciptakan manusia itu ...." Kejadian 1:26, 27

    "Yesus berkata,"Sebab pada awal dunia, Tuhan menjadikan mereka laki-laki dan perempuan." Markus 10:6

  2. Bagaimana Tuhan Menciptakan Manusia?

    Alkitab melaporkan bahwa manusia diciptakan Tuhan pada hari ke enam dari seluruh rangkaian penciptaan yang ada. Manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

    "Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; ... itulah hari keenam." Kejadian 1:26-31

    Apa artinya manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti adanya unsur- unsur tertentu yang Allah ciptakan di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia itu menjadi makhuk mulia melebihi ciptaan Allah lainnya. Unsur-unsur tertentu tersebut misalnya adalah pikiran, spiritualitas dan lain-lain yang menyebabkan manusia bisa berpikir, memiliki hikmat, mengasihi, bersekutu dengan Tuhan dan lain-lain. Namun demikian, walaupun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, perlu diingat bahwa terdapat perbedaan kualitas antara ciptaan dan Penciptanya. Bagaimanakah manusia pertama itu diciptakan? Ia diciptakan dari tanah, lalu Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam hidung. Kejadian 2:7 menyatakan: "Kemudian Tuhan Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan nafas yang memberikan hidup ke dalam lobang hidungnya" (BIS).

    Manusia pertama yang diciptakan-Nya itu bernama Adam. Setelah menciptakan Adam, Tuhan memandang tidak baik jika Adam sendirian, maka diciptakan-Nya-lah seorang penolong yang sepadan dengan Adam. Bagaimana penolong Adam itu diciptakan? Ketika Tuhan membuat Adam tidur nyenyak. Tuhan mengambil salah satu dari rusuk Adam, kemudian menutup tempat itu dengan daging. Dari rusuk Adam itulah dibangun Allah seorang perempuan. Ia bernama Hawa. Kejadian 2:18-22; 3:20. Demikianlah kisah Tuhan menciptakan manusia.


2. SUSUNAN NATUR MANUSIA

Pada umumnya terdapat tiga teori pembagian natur manusia dalam teologia, yaitu trikotomi, dikotomi dan monokotomi.

  1. Trikotomi

    Trikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Menurut teori ini ketika Allah menciptakan manusia, Allah memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh.

    Tubuh adalah unsur lahiriah manusia yang dapat dilihat yang melaluinya manusia dapat melihat, mendengar, menyentuh dan sebagainya.

    Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia terdiri dari tiga unsur utama yaitu pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir, Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.

    Roh adalah unsur yang paling dalam dari manusia yang memungkinkannya untuk bersekutu dengan Tuhan.

    Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandangannya pada perkataan Paulus dalam I Tesalonika 5:23 dan penulis Ibrani dalam Ibrani 4:12 yang secara jelas menyebutkan tiga unsur tersebut yang berbunyi demikian:

    "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." I Tes. 5:23

    "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum,; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." Ibr. 4:12

  2. Dikotomi

    Dikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari dua bagian saja, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandanganny8a pada argumentasi berikut ini:

    1. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah menghembuskan ke dalam manusia hanya satu prinsip saja, yaitu jiwa/napas yang hidup. Kej. 2:7

      Para penganut dikotomi memandang istilah jiwa dan roh di dalam Alkitab bukan sebagai dua substansi yang berbeda, tetapi merupakan istilah yang sering dipakai secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat. 6:25; 10:28 (Manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pkh. 12:7; I Kor. 5:3,5 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya adalah Kej. 41:8; Maz. 42:6; Mat. 20:28; 27:50; Yoh. 12:27; Ibr. 12;23; Why. 6:9.

    2. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti dalam I Tesalonika 5:23 dan Ibrani 4:12, tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika ditafsirkan demikian, maka manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi saja, melainkan lebih, misalnya dalam Mat. 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati, jiwa dan akal budi (pikiran).

    3. Pada umumnya kesadaran manusia hanya menunjukkan adanya dua bagian dalam diri manusia, yaitu unsur yang badaniah/jasad (yang dapat dilihat) dan unsur rohaniah (yang tidak dapat dilihat).

  3. Monokotomi

    Monokotomi adalah pandangan yang percaya bahwa manusia merupakan pribadi yang utuh yang tidak dipisah-pisahkan. Manusia tidak akan bisa ada/hidup tanpa tubuh atau jiwa/rohnya. Tubuh tidak akan bisa hidup tanpa jiwa/roh, demikian juga sebaliknya. Menurut teori ini, istilah Alkitab "jiwa" dan "roh" hanyalah ekspresi lain dari pribadi/hidup manusia itu sendiri.


3. KONDISI ADAM PADA WAKTU DICIPTAKAN

Kita telah mempelajari bahwa Adam diciptakan oleh Allah. Lalu bagaimana kondisi Adam pada waktu diciptakan? Alkitab menyatakan bahwa ketika Allah menciptakan Adam, ia dalam kondisi yang sangat baik. Kejadian 1:31 mengatakan:

"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu SUNGGUH AMAT BAIK."

Jadi, kondisi Adam pada waktu itu adalah dalam keadaan sempurna dan suci atau tanpa dosa.

4. TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA

Mengapa Tuhan menciptakan manusia? Ia menciptakan manusia untuk kemuliaan-Nya. Tuhan ingin manusia yang dibentuk menurut gambar dan rupa-Nya dapat bersekutu dengan-Nya dan memuliakan-Nya. Alkitab menyatakan: "...yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku...." Yesaya 43:7


Akhir Pelajaran (DIK-P02)

DOA

"Bapa, terima kasih karena Engkau telah menciptakan saya dengan sangatluar biasa ini. Khususnya, terima kasih karena Engkau menciptakansaya agar saya dapat mengenal, mengasihi dan menyembah Engkau." Amin.

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 03

Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : S e t a n
Kode Pelajaran : DIK-P03

Pelajaran 03 - SETAN

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Asal usul Setan
  2. Dosa Lucifer
  3. Perubahan yang Terjadi Dalam Hati Lucifer
  4. Kerajaan Setan dan Pengikutnya
  5. Pekerjaan Setan
    1. Merampas Injil
    2. Membutakan Pikiran Orang tentang Injil
  6. Hukuman Kepada Setan dan Pengikutnya
  7. Cara Menghindari Tipu Daya Setan

Doa

TEKS ALKITAB

Yesaya 14:12-17, Yehezkiel 28:12-19

AYAT KUNCI

2 Korintus 4:4

Alkitab mengatakan bahwa sebelum Adam dan Hawa diciptakan, telah ada satu makhluk ciptaan Tuhan yang memberontak terhadap-Nya. Makhluk ini disebut Setan atau Iblis. Setan bukan sekedar pengaruh yang menyebabkan segala jenis kejahatan, bukan pula semacam hantu merah yang bertanduk seperti yang sering muncul dalam gambar-gambar. Setan adalah makhluk yang benar-benar ada.

1. ASAL USUL SETAN

Pada mulanya, Setan adalah malaikat Tuhan yang bernama Lucifer. Istilah "malaikat" berarti "utusan." Semua malaikat diciptakan oleh Tuhan. Kolose 1:16 mengatakan: "Karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." Lucifer diciptakan dengan keindahan yang sempurna sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling cantik. Ia dipenuhi hikmat sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terpandai. Dari seluruh malaikat yang ada di Surga, Lucifer-lah yang paling pintar, cantik dan berkuasa. Yehezkiel 28:12 mencatat: ".....gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah." Walaupun malaikat adalah makhluk yang indah dan berkuasa, namun mereka tidak boleh disembah karena malaikat adalah makhluk ciptaan Tuhan. Hanya Tuhan, Sang Pencipta saja yang patut disembah.

2. DOSA LUCIFER

Untuk seketika lamanya malaikat yang penuh hikmat dan indah yang diciptakan Tuhan ini mengasihi dan mentaati Tuhan dengan sepenuh hatinya. Namun datanglah saat di mana Lucifer telah berdosa melawan Tuhan. Yehezkiel 28:15 mengatakan : "Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu." Dimanakah dosa itu mulai? Dosa itu mulai dari dalam hati Lucifer sendiri! Yehezkiel 28:17 mengatakan: "Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kau musnahkan demi semarakmu...". Secara rinci Yesaya 14:13-14 mencatat dosa kesombongan Lucifer dalam hatinya yaitu: "Aku hendak naik ke langit;" "Aku hendak mendirikan takhta mengatasi bintang-bintang Tuhan;" "Aku hendak duduk di atas bukit pertemuan;" "Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan;" "Aku hendak menyamai Yang Maha Tinggi."

Karena berbagai kelebihan yang dimilikinya itulah ia menjadi sombong, ingin dipuji dan menjadi Tuhan dan akhirnya memutuskan untuk melawan kehendak Tuhan. Dalam Yesaya 14:14-14 kita menemukan lima kali Lucifer berkata "Aku hendak." Dari sini kita melihat betapa dahsyatnya bagi makhluk ciptaan Tuhan yang menaruh keinginan dalam hatinya untuk melawan kehendak Tuhan.

3. PERUBAHAN YANG TERJADI DALAM HATI LUCIFER

Perubahan besar terjadi dalam hati Lucifer pada saat ia berdosa. Sebelumnya Lucifer mengasihi dan mentaati Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai Raja di dalam hatinya. Namun Lucifer telah berubah. Ia sekarang hanya mengasihi dirinya sendiri. Ia tidak ingin Tuhan bertakhta dalam hatinya. Sebaliknya, ia meletakkan "dirinya sendiri" menduduki takhta hatinya. Dosa kesombongan yang mulai di dalam hati Lucifer telah mengantarnya kepada sikap mengasihi diri sendiri. Sikap mengasihi diri sendiri ini telah mengantarnya kepada mementingkan keinginan diri sendiri yang akhirnya telah membawanya kepada pemberontakan terhadap Penciptanya. Lucifer merasa tidak puas lagi sebagai malaikat yang tertinggi berada di bawah kekuasaan Tuhan. Ia menginginkan kedudukan yang lebih tinggi, yakni ia ingin menjadi Tuhan! Namun Tuhan mengetahui apa yang ada dalam hati Lucifer itu sehingga ia dicampakkan dari kedudukannya yang tinggi itu. Namanya kemudian diganti dari Lucifer (putra Fajar) menjadi "Setan" yang berarti "musuh". Demikianlah awalnya Setan memulai perlawanannya kepada Tuhan dan menyebarkan segala jenis dosa dan kejahatan di dunia ini.

4. KERAJAAN SETAN DAN PENGIKUTNYA

Setan adalah malaikat pertama yang memberontak terhadap Tuhan dan kemudian banyak malaikat lain yang mengikutinya. Malaikat-malaikat ini disebut "malaikat-malaikat yang telah jatuh". Malaikat- malaikat yang tetap setia kepada Tuhan disebut "malaikat-malaikat kudus." Setan bersama malaikat-malaikat yang telah jatuh ini mendirikan kerajaan untuk menentang Tuhan dan kerajaan-Nya. Sejak pemberontakan Setan itu, maka ada dua kerajaan di dunia ini yakni: kerajaan Setan dan kerajaan Tuhan. Sifat kedua kerajaan ini sangat bertentangan. Kerajaan Setan adalah kerajaan kegelapan; Kerajaan Tuhan adalah kerajaan terang. Kerajaan Setan adalah kerajaan dusta, kerajaan Tuhan adalah kerajaan kebenaran, keadilan dan kasih. Malaikat-malaikat yang mengikuti Setan dalam pemberontakan terhadap Tuhan menjadi para suruhannya dalam melaksanakan maksud-maksudnya yang jahat. Orang-orang yang belum diselamatkan, sadar atau tidak berada dalam kerajaan Setan ini. Selain itu, pengikut setan lainnya ialah semua orang yang telah jatuh dalam dosa.

5. PEKERJAAN SETAN

  1. Merampas Injil

    Matius 13:19 mengatakan: "Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu ...." Dari ayat ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa Iblis bekerja dengan cara mengambil Injil yang sedang ditaburkan kepada seseorang.

  2. Membutakan Pikiran Orang tentang Injil

    Iblis tidak pernah berhenti berusaha supaya orang tidak diselamatkan dan tinggal tetap dalam kerajaan kegelapannya. Mungkin kita bertanya mengapa walaupun seseorang telah dijelaskan sedemikian rupa tentang firman Allah, ia masih tetap tidak percaya, bahkan menolaknya? Tahukah Anda bahwa pekerjaan Iblis adalah membutakan pikiran manusia sehingga mereka tidak mengerti Injil? II Korintus 4:4 menjelaskan hal ini: "........Orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini (Setan), sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Tuhan Yesus....."

  3. Memutarbalikkan Firman Tuhan

    Setan adalah makhluk yang cerdik sekaligus licik. Ketika mencobai Hawa, ia mengatakan; "Tentulah Allah berfirman: 'Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya, bukan?'" Kej. 3:1. Padahal Allah mengatakan kepada Adam: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya ...." Kej. 2:16-17. Dari peristiwa ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Setan adalah sang pemutar balik firman Tuhan.


6. HUKUMAN KEPADA SETAN DAN PENGIKUTNYA

Setan adalah musuh yang perkasa dan licik. Ia memiliki banyak pengikut. Terkadang ia kelihatan berhasil dalam perlawanannya menentang umat Tuhan. Mungkin kita bertanya, "Mengapakah Tuhan tidak langsung membinasakan Setan sedangkan Ia memiliki kuasa untuk melakukannya? Jawabannya ialah belum kehendak Tuhan untuk melakukannya sekarang ini. Suatu saat nanti, Tuhan akan bertindak terhadap Setan. Tuhan telah menetapkannya. Ia akan dilemparkan ke dalam api neraka untuk dihukum selama-lamanya. Wahyu 20:10 mengatakan: "Dan Iblis yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang .... dan mereka disiksa siang dan malam sampai selama-lamanya."

Demikian pula dengan para pengikutnya, yaitu mereka yang memilih untuk percaya kepada tipu daya Setan dan tetap ingin berada di dalam kerajaan kegelapannya juga akan dilemparkan ke dalam lautan api itu. Wahyu 21:8 mengatakan: "Tetapi orang-orang penakut, orang- orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan api dan belerang; inilah kematian orang kedua."

Mereka yang akan binasa itu bukan hanya orang-orang yang sangat jahat melainkan juga mereka yang termasuk "orang-orang yang penakut dan orang-orang yang tidak percaya."

7. CARA MENGHINDARI TIPU DAYA SETAN

Kita telah melihat bahwa Setan adalah pembohong besar. Kita juga telah melihat akibat dahsyat yang akan menimpa mereka yang telah diperdayakan oleh Setan. Bagaimanakah kita dapat terhindar dari segala tipu daya Setan itu? Kita dapat terhindar dengan mengenal dan memahami kebenaran-kebenaran yang terdapat di dalam Firman Tuhan. Tuhan Yesus berkata: "Dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Yohanes 8:32

Jangan sekali-kali meletakkan kepercayaan kita kepada perkara- perkara lain selain dari pada Tuhan Yesus Kristus dan darah-Nya yang telah dicurahkan untuk dosa-dosa kita. Rasul Paulus dalam Galatia 1:8 menulis: ".....Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari Surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (kutuk dari Tuhan)."


Akhir Pelajaran (DIK-P03)

DOA

"Bapa, terima kasih atas Firman-Mu. Firman-Mu adalah kebenaran. Tolonglah saya untuk menaruh Firman-Mu di dalam hati agar saya terhindar dari tipu daya Setan." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 04

Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kejatuhan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-P04

Pelajaran 04 - KEJATUHAN MANUSIA

Daftar Isi

Ayat Alkitab

Ayat Kunci

  1. Larangan Tuhan Kepada Adam di Taman Eden
  2. Setan Memperdaya Hawa
  3. Setan Menjerumuskan Adam ke Dalam Dosa
  4. Akibat Dosa Adam dan Hawa
    1. Kematian Rohani
    2. Rasa Malu dan Bersalah
    3. Hawa Harus Melahirkan Keturunan Dengan Kesakitan
    4. Mencari Nafkah Dengan Susah Payah
  5. Hukuman Kepada Ular
  6. Janji Penebusan Tuhan Kepada Manusia
  7. Cara Tuhan Memenuhi Kebutuhan Adam dan Hawa

Doa

AYAT ALKITAB

Kejadian 2:7-17, 3:1-19

AYAT KUNCI

Roma 5:12

Dalam pelajaran sebelumnya, kita telah mempelajari bahwa Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan. Ketika Adam diciptakan, ia dalam keadaan tak berdosa. Sifatnya adalah suci. Namun demikian Adam dapat berbuat dosa karena ia memiliki kehendak bebas. Ia bebas memilih untuk taat kepada Tuhan atau tidak mentaati-Nya.

1. LARANGAN TUHAN KEPADA ADAM DI TAMAN EDEN

Setelah Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, Tuhan menempatkan mereka di sebuah taman yang indah, Taman Eden. Adam diberi tanggung jawab untuk memelihara Taman Eden. Ada banyak jenis pohon di taman itu namun ada pohon yang berbeda dari semua pohon yang lain, yaitu "pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat." Adam dan Hawa diperbolehkan makan semua buah dari pohon di taman itu, kecuali buah dari "pohon pengetahuan baik dan jahat." Tuhan dengan tegas melarang mereka agar tidak memakan buah dari pohon tersebut dan memberi peringatan kepada mereka. Dalam Kej. 2:17, Tuhan berkata kepada Adam: "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

2. SETAN MEMPERDAYA HAWA

Pada suatu hari, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi! Setan dalam bentuk ular, masuk ke taman tersebut dan mulai bercakap-cakap dengan Hawa. Ia kemudian bertanya kepadanya, "Tentulah Tuhan berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" (Kej. 3:1). Pertanyaan ini kedengarannya tidak berbahaya namun Setan mempunyai maksud yang jahat. Maksudnya adalah menipu Hawa agar ia melanggar perintah Tuhan. Hawa menjawab, "Buah pohon yang ada di dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Tuhan berfirman: Jangan kamu makan ataupun menyentuh buah itu, nanti kamu mati." (Kejadian 3:2,3). Perkataan yang diucapkan Setan berikutnya adalah dusta belaka. Setan berkata, "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Tuhan mengetahui, bahwa pada waktu kamu makan mata kamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Tuhan, tahu tentang yang baik dan jahat." Kejadian 3:4, 5. Perkataan Setan bukan saja bertentangan dengan perkataan Tuhan, melainkan memberi kesan bahwa Tuhan menyembunyikan sesuatu yang baik terhadap Adam dan Hawa. Setan mengatakan kepada Hawa bahwa dengan memakan buah itu ia dan suaminya akan menjadi seperti Tuhan. Hawa harus mengambil keputusan. Tuhan telah mengatakan, "Pastilah engkau mati." Namun sekarang Setan berkata "Kamu tidak akan mati." Hawa harus memilih siapa yang akan dipercayainya - Tuhan atau Setan. Hawa memandang buah itu dan berpikir tentang apa yang telah dikatakan oleh Setan. Kemudian ia mengambil keputusan. Ia mengambil buah itu dan memakannya. Hawa telah memilih untuk percaya kepada Setan!

3. SETAN MENJERUMUSKAN ADAM KE DALAM DOSA

Rencana Setan telah berhasil memperdaya Hawa. Hawa berhasil dijeratnya karena ternyata ia lebih mempercayai perkataan Setan dari pada perkataan Tuhan! Ia telah ditipu untuk mempercayai dusta. Mengapa Hawa tertipu? Ia tertipu karena ia tidak percaya kepada Firman Tuhan. Kitapun akan tertipu apabila kita tidak mempercayai apa yang dikatakan Tuhan. Namun rencana jahat Setan tidak berakhir di situ saja. Setan juga merencanakan untuk menjatuhkan Adam ke dalam dosa. Kali ini, Setan tidak berbicara langsung kepada Adam melainkan ia menggunakan Hawa untuk membujuk Adam agar ia pun melanggar perintah Tuhan. Hawa memberikan buah itu kepada Adam. Hawa pasti memberitahukan kepada Adam tentang perkataan Setan bahwa mereka akan memperoleh kuasa yang luar biasa jika memakan buah tersebut.

Nah, Adam pun harus memilih. Ia tahu apa yang Tuhan telah katakan. Tuhan telah memberitahunya dengan jelas bahwa akibat dari memakan buah itu adalah kematian - bukannya mendapat kuasa. Apakah Adam tertipu karena apa yang telah dikatakan Setan kepada Hawa? Tidak! Ia telah mengetahui apa yang akan terjadi. Namun demikian, ia tetap mengambil buah itu dan memakannya. Demikianlah ia jatuh ke dalam dosa! Apakah sebenarnya dosa yang dilakukan Adam? Dosanya adalah ketidaktaatan. Ia tidak mentaati perintah Tuhan. Ia menuruti kehendaknya sendiri daripada menuruti kehendak Tuhan. Dengan berbuat demikian, Adam telah memberontak terhadap Penciptanya dan menuruti setan, si pemberontak pertama itu.

4. AKIBAT DOSA ADAM DAN HAWA

  1. Kematian Rohani

    Akibat langsung dari ketidaktaatan Adam ialah kematian! Kematian yang bagaimana? Kematian yang dimaksud adalah kematian rohani. Kita tahu tubuh Adam tidak langsung mati pada saat itu. Ia masih hidup untuk beberapa ratus tahun lagi setelah ia melanggar perintah Tuhan. Di dalam Alkitab, kematian selalu berarti perpisahan. Kita semua tahu mengenai kematian jasmani. Dalam kematian jasmani roh berpisah dari tubuh, namun apakah yang dimaksud dengan kematian rohani? Kematian rohani adalah perpisahan Roh Tuhan dari roh manusia. Apabila kehidupan kita berpisah dari kehidupan Tuhan, itu berarti kita telah mati secara rohani. Inilah yang terjadi kepada Adam dan Hawa ketika mereka berdosa kepada Tuhan. Roh mereka berpisah dari Roh Tuhan. Mereka telah mati secara rohani.

    Hal pertama yang disadari oleh Adam dan Hawa ketika mereka berdosa adalah mereka telanjang. Kejadian 3:7 mengatakan, "... dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang, lalu mereka menyemat dauh pohon ara dan membuat cawat." Mengapakah Adam dan Hawa tidak perlu berpakaian sebelumnya? Karena sebelum itu pakaian mereka adalah cahaya kemuliaan Tuhan. Nah, setelah dosa masuk ke dalam kehidupan mereka, mereka terpisah dari Tuhan dan kemuliaan-Nya meninggalkan mereka. Adam dan Hawa menjadi orang-orang yang berdosa.

  2. Rasa Malu dan Bersalah

    Setelah jatuh dalam dosa, Tuhan datang dan mencari Adam dan Hawa, namun mereka tidak ingin bertemu dengan Tuhan. Mereka diliputi rasa bersalah, malu dan takut. Mereka menyembunyikan diri di celah- celah pepohonan di taman itu. Namun tak ada seorangpun yang dapat menyembunyikan diri dari Tuhan. Tuhan yang kudus dan benar tidak dapat membiarkan dosa mereka. Ia tidak dapat berpura-pura seolah- olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Tuhan memanggil Adam dan Hawa datang kepada-Nya. Kejadian 3:8-9

  3. Hawa Harus Melahirkan Keturunan Dengan Kesakitan

    Kej. 3:16 mengatakan: "Firman Tuhan kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak, dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu...."

  4. Mencari Nafkah Dengan Susah Payah

    Sebagai akibat bumi dikutuk Tuhan, maka Adam harus mencari nafkah dengan susah payah. Kej. 3:17-19 mengatakan:"... maka terkutuklah tanah karena engkau, dengan bersusah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu ...."

  5. Diusir dari Taman Eden

    Selain berbagai hukuman tersebut di atas, mereka juga diusir oleh Tuhan dari taman Eden. Kej. 3:23 mengatakan: "Lalu Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil."


5. HUKUMAN KEPADA ULAR

Hukuman tidak hanya diberikan kepada Adam dan Hawa, tetapi juga kepada ular. Kej. 3:14 mengatakan: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau diantara segala ternak dan diantara segala binatang, dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu."

6. JANJI PENEBUSAN TUHAN KEPADA MANUSIA

Tuhan adalah kudus. Ia tidak dapat membiarkan dosa. Adam dan Hawa telah berdosa, karena itu mereka diusir keluar dari Taman Eden. Dosa selalu memisahkan manusia dengan Tuhan. Walaupun manusia telah melanggar perintah Tuhan, Ia tetap mengasihi manusia ciptaan-Nya. Ia mempunyai rencana yang indah untuk manusia, yaitu dengan memberikan janji keselamatan kepadanya. Kej. 3:15 menjelaskan hal itu: "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau (iblis) dengan perempuan ini (Hawa), antara keturunanmu dengan keturunannya; keturunannya (Juru selamat yang akan datang) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

Itulah yang telah digenapi Kristus ketika Ia mati di kayu salib dan bangkit dari kubur. Ketika mati di kayu salib tumit-Nya telah diremukkan dan ketika Ia bangkit dari kematian kepala iblis, yaitu sengat maut telah dikalahkan.

7. CARA TUHAN MEMENUHI KEBUTUHAN MANUSIA

Setelah jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa diliputi rasa malu, takut dan kedapatan telanjang sehingga mereka membuat cawat dari daun pohon ara dan menyembunyikan diri dari Tuhan di antara pepohonan di taman Eden Kej. 3:7-10. Kej. 3:21 mengkatakan Tuhan membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan istrinya dan mengenakannya kepada mereka. Dari ayat tersebut kita mungkin bertanya. Mengapa Tuhan harus menyembelih binatang yang tidak bersalah dan mengambil kulitnya untuk membuatkan pakaian bagi manusia yang telah jatuh dalam dosa? Bukankah sudah cukup Adam dan Hawa menutupi kemaluannya dengan pakaian yang terbuat dari daun pohon ara? Sebenarnya Tuhan ingin mengajar mereka bahwa,

"....tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa." Ibrani 9:22

Tuhan telah menyediakan jalan bagi Adam dan Hawa serta keturunan mereka untuk kembali dapat bersekutu dengan Tuhan. Sejak saat itu sampai Yesus datang sebagai Juruselamat, manusia harus mempersembahkan anak domba yang tidak bersalah sebagai korban penebus dosa. Tuhan menerima persembahan korban binatang itu karena mereka yang mempersembahkannya memandang ke depan dengan iman kepada Yesus Kristus yang akan datang.


Akhir Pelajaran (DIK-P04)

DOA

"Bapa, saya berterima kasih atas siapa Engkau sebenarnya yaitu Tuhan yang kudus yang tidak membiarkan dosa. Terima kasih karena Engkau telah membuka jalan bagiku untuk masuk ke hadirat-Mu melalui darah Anak-Mu." Amin.

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 05

Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Di Dalam Adam
Kode Pelajaran : DIK-P05

Pelajaran 05 - DI DALAM ADAM

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Adam: Kepala Umat Manusia
  2. Akibat Dosa Adam Terhadap Umat Manusia
    1. Memisahkan Umat Manusia dari Kehidupan Tuhan.
    2. Membawa Umat Manusia ke dalam Kerajaan Kegelapan.
    3. Mengakibatkan Umat Manusia Berdosa.
    4. Membawa Semua Manusia Berada di bawah Kuasa Dosa.
    5. Membawa Kematian dan Hukuman kepada Seluruh Umat Manusia.

Doa

TEKS ALKITAB

Roma 5:12-21, Efesus 2:13

AYAT KUNCI

Roma 5:19

Dalam dua pelajaran yang lalu kita telah mempelajari bagaimana dosa masuk ke dalam dunia. Pertama, Setan memberontak terhadap Tuhan dan mendirikan kerajaannya untuk menentang Tuhan. Kemudian ketika Adam dicobai, iapun memberontak terhadap Tuhan.

Dalam Pelajaran 05 ini, kita akan melihat relasi antara dosa Adam pada umat manusia, yaitu akibat buruk dosa Adam atas semua manusia. Kita akan melihat KEHANCURAN MANUSIA SECARA MENYELURUH DALAM DOSA.

1. ADAM: KEPALA UMAT MANUSIA

Mengapa kita harus kuatir terhadap Adam dan apa yang telah terjadi kepadanya? Sebabnya ialah karena Adam adalah kepala semua umat manusia. Adam berbeda dari orang-orang lain karena ia adalah manusia pertama yang menjadi sumber (asal usul) seluruh umat manusia. Oleh karena itu apa yang terjadi kepada Adam akan mempengaruhi seluruh umat manusia, termasuk Anda dan saya. Tuhan tidak menciptakan berjuta-juta manusia untuk memenuhi bumi. Ia hanya menciptakan satu orang manusia saja yaitu Adam. Dari dialah seluruh umat manusia berasal. Karena itu, Tuhan melihat semua umat manusia sebagai orang-orang yang berada DI DALAM ADAM. Bagaimanakah kita sampai berada di dalam Adam? Melalui kelahiran. Semua yang dilahirkan ke dalam keluarga manusia berada DI DALAM ADAM. Apakah maksud berada di dalam Adam itu? Berada di dalam Adam berarti turut ambil bagian di dalam segala keberadaan Adam dan segala perkara yang dilakukannya. Ada beberapa fakta yang benar- benar terjadi pada setiap orang. Fakta-fakta itu membuktikan bahwa kita berada di dalam Adam, yaitu a.l.:

  1. Ia telah terpisah dari kehidupan Tuhan.
  2. Ia berada dalam kerajaan kegelapan.
  3. Ia adalah orang yang berdosa.
  4. Ia berada di bawah kuasa dosa.
  5. Ia berada di bawah hukuman berat.

Kita akan membahas bagaimana kelima hal ini terjadi kepada semua manusia sebagai akibat dosa Adam.

2. AKIBAT DOSA ADAM TERHADAP SELURUH UMAT MANUSIA

  1. Memisahkan Manusia Dari Kehidupan Tuhan

    Dosa memisahkan manusia dari Tuhan. Ketika Adam berdosa, ia terpisah dari kehidupan Tuhan. Terpisah dari kehidupan Tuhan berarti mati secara rohani. Dosa Adam yang menyebabkan kematian rohani ini tidak hanya menimpa dirinya saja melainkan juga seluruh umat manusia. Semua manusia telah terpisah dari kehidupan Tuhan. Mengapa? Karena semua manusia berada DI DALAM ADAM.

  2. Membawa Umat Manusia ke dalam Kerajaan Kegelapan

    Ketika Adam memberontak terhadap Tuhan, ia telah memihak kepada Setan, pemberontak yang pertama itu. Dia telah masuk ke dalam kerajaan kegelapan, yang mana Setan adalah pemerintahnya. Oleh karena itu, Adam berada di bawah kuasa Setan. Karena Adam adalah kepala dari umat manusia, maka dia telah membawa semua umat manusia ke dalam kerajaan kegelapan. Jadi semua manusia keturunan Adam berada dalam kerajaan kegelapan.

  3. Mengakibatkan Umat Manusia Berdosa

    Ketika Adam pertama diciptakan Tuhan, Adam adalah manusia yang mengutamakan Tuhan. Ia mengasihi Tuhan dan ingin melakukan kehendak-Nya. Tuhan adalah Raja yang bertakhta di hatinya. Namun ketika Adam berdosa, perubahan terjadi dalam hatinya. Ia sekarang lebih mengutamakan dan melakukan kehendak dirinya sendiri daripada mengasihi dan melakukan kehendak Tuhan. Tuhan tidak lagi memerintah sebagai Raja dalam hatinya. Adam sekarang memiliki sifat dosa.

    Sifat dosa dan sikap mementingkan diri sendiri ini kemudian diturunkannya kepada anak-anaknya. Alkitab mengatakan bahwa Adam mempunyai seorang anak laki-laki "menurut gambar dan rupanya" (Kej 5:3). Adam sendiri diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan namun ia telah melahirkan anak yang menuruti gambar dan rupanya yang berdosa. Pembunuhan yang dilakukan Kain terhadap adiknya menunjukkan bahwa sifat dosa telah berkuasa pada keturunan Adam dan Hawa. Akibat atau pengaruh dosa Adam ini tidak hanya berlaku terhadap anak-anak Adam saja. Adam adalah kepada seluruh umat manusia. Ia telah menurunkan sifatnya yang berdosa itu kepada seluruh umat manusia. Ketidaktaatan Adam telah menyebabkan seluruh umat manusia berdosa. Roma 5:19 mengatakan: "Oleh ketidaktaatan satu orang, semua orang telah menjadi berdosa."

  4. Membawa Semua Manusia Berada Di Bawah Kuasa Dosa

    Oleh karena manusia sudah berdosa, maka mereka berada di bawah kuasa dosa. Yohanes 8:34 mengatakan:

    "Setiap orang berbuat dosa, adalah hamba dosa."

    Di dalam kerajaan kegelapan, dosa memerintah sebagai raja dan semua manusia yang berada di dalamnya berada di bawah kuasa dosa.

  5. Membawa Kematian Dan Hukuman Kepada Seluruh Umat Manusia

    Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang yaitu Adam dan kematian terjadi sebagai akibat dosa itu. Alkitab mengatakan:

    'Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Roma 5:12

    Setelah kematian akan datang hukuman. Setiap orang yang belum diselamatkan akan dihakimi dosa-dosanya. Alkitab mengatakan, "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi." Ibrani 9:27

    Setiap orang yang BERADA DI DALAM ADAM adalah bersalah di hadapan Tuhan. Ada orang berpikir bahwa mereka akan diterima oleh Tuhan sebagaimana keadaan mereka. Pikiran Tuhan tidaklah demikian. Tuhan mengatakan sebaliknya. Ia mengetahui isi hati manusia. Mengenai semua manusia keturunan Adam, Tuhan berkata dalam FirmanNya: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Tuhan. Semua orang telah melanggar, mereka semua tidak berguna. Tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan." Roma 3:10-12, 23

    Sekarang baru kita mengetahui mengapa Alkitab mengatakan, "Kamu harus dilahirkan kembali...."

    Mengapa setiap orang harus dilahirkan kembali? Karena setiap orang telah dilahirkan sebagai manusia yang berdosa dan berada di bawah hukuman Tuhan.


Akhir Pelajaran (DIK-P05)

DOA

"Bapa terima kasih karena Firman-Mu telah menunjukkan kepada kami tentang kebinasaan menyeluruh akibat doa manusia. Terima kasih karena membuka jalan bagi saya untuk dilahirkan kembali melalui iman di dalam Tuhan Yesus Kristus." Amin.

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 06

Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Manusia Kedua dari Tuhan
Kode Pelajaran : DIK-P06

Pelajaran 06 - MANUSIA KEDUA DARI TUHAN

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Mengapa Diperlukan Manusia Kedua?
  2. Manusia Kedua Dari Tuhan
    1. Siapakah Manusia Kedua Ini?
    2. Bagaimana Manusia Kedua Ini Datang ke Dunia?
    3. Yesus Kristus Adalah Tuhan Dan Manusia
    4. Tujuan Yesus Kristus Datang ke Dunia
    5. Manusia Kedua Dicobai
    6. Yesus Bergumul di Getsemani
    7. Kematian Tuhan Yesus yang dahsyat
    8. Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang mulia
    9. Tuhan Yesus kembali ke Surga
    10. Yesus Kristus Tuhan Atas Segalanya
    11. Yesus Kristus Kepala Umat Yang Baru

Doa

TEXT ALKITAB

Matius 1:18-25, Filipi 2:5-11, Efesus 1:20-23

AYAT KUNCI

Roma 5:19

1. MENGAPA DIPERLUKAN MANUSIA KEDUA?

Tuhan menciptakan manusia pertama yaitu Adam karena ia menginginkan satu bangsa yang akan memuliakan-Nya. Namun Adam telah memberontak terhadap Tuhan. Dalam pelajaran yang lalu, kita telah melihat akibat yang dahsyat dari ketidaktaatan Adam. Adam bukan saja berdosa melainkan ia telah melahirkan keturunan yang turut berdosa. Manusia yang seharusnya memiliki kehidupan Tuhan di dalam diri mereka, kini telah terpisah dari Tuhan karena dosa. Manusia yang seharusnya memiliki sifat Tuhan kini telah menjadi orang berdosa yang mementingkan diri sendiri.

Sebenarnya manusia yang harus menguasai bumi tetapi sekarang telah menjadi hamba kepada dosa dan Setan. Jadi, bagaimanakah umat manusia yang telah berdosa ini dapat memuliakan Tuhan dan menggenapi kehendak-Nya? Jawabannya adalah: Tidak dapat. Manusia pertama dari Tuhan telah gagal untuk memuliakan-Nya. Oleh sebab itulah, harus ada manusia kedua yang akan menjadi kepala dari suatu umat yang baru yang akan memuliakan Tuhan.

Tuhan masih menginginkan suatu umat manusia pilihan-Nya yang akan memuliakan Dia. Bagaimanakah Tuhan melakukannya? Tuhan akan melakukannya melalui seseorang yang lain! Oleh karena kebinasaan telah menimpa umat manusia melalui satu orang maka Tuhan menyediakan keselamatan bagi umat manusia yang berdosa ini melalui satu orang yaitu Kristus. Alkitab mengatakan:

"Jadi sama seperti ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang yang berdosa, demikianlah pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi benar." Roma 5:19

2. MANUSIA KEDUA DARI TUHAN

  1. Siapakah Manusia Kedua ini?

    Siapakah Manusia Kedua ini? Ia adalah Yesus Kristus. Berbeda dengan manusia pertama yang berasal dari debu tanah, Manusia Kedua ini berasal dari Sorga. Alkitab mengatakan: "Manusia pertama berasal dari debu tanah, dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari Surga." 1 Korintus 15:47

    Tuhan mengasihi manusia dan ingin menyelamatkannya. Hal ini dilakukan-Nya dengan mengutus Anak-Nya yang Tunggal ke dunia ini. Ia akan mati untuk menebus dosa manusia. Namun Ia akan bangkit kembali untuk menjadi Kepala bagi suatu bangsa yang baru yaitu anak-anak Tuhan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk keluar dari bangsa keturunan Adam yang berdosa dan menjadi anak-anak Tuhan.

  2. Bagaimana Manusia Kedua Ini Datang ke Dunia?

    Manusia kedua ini datang melalui inkarnasi. Apakah yang dimaksud dengan inkarnasi itu? Inkarnasi ialah Tuhan sendiri telah menjadi manusia. Betapa indahnya perkataan dalam ayat ini: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita......." Yohanes 1:1, 14

    Ia yang menciptakan manusia itu, Dia sendiri telah menjadi Manusia. Ini adalah satu rahasia yang besar. Bahkan rahasia yang lebih besar adalah tentang cara bagaimana Tuhan menjadi manusia. Manusia pertama yaitu Adam diciptakan sebagai manusia yang telah dewasa tetapi Manusia Kedua yaitu Yesus Kristus memasuki alam semesta sebagai bayi yang kecil dan tak berdaya.

    Tuhan Yesus lahir melalui seorang perawan. Ia tidak memiliki bapa manusia. Jadi, siapakah Bapa-Nya? Bapa-Nya adalah Allah sendiri! Maria, ibu-Nya bertunangan dengan Yusuf, namun sebelum mereka menikah, malaikat telah menampakkan dirinya kepada Maria dan berkata,

    "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Maha tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang engkau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan." Lukas 1:35

    Malaikat itu juga menampakkan dirinya kepada Yusuf dan berkata: "Yusuf anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Matius 1:20-21. Nama Yesus berarti "Juruselamat."

  3. Yesus Kristus adalah TUHAN - MANUSIA

    Yesus Kristus disebut Tuhan-Manusia karena Ia adalah Tuhan yang sempurna dan Manusia yang sempurna. Ia satu dengan Tuhan dan juga satu dengan umat manusia. Ia disebut sebagai "Anak Allah" karena Ia adalah satu-satunya Anak Tunggal Bapa. Ia disebut "Anak Manusia" karena Ia mewakili semua umat manusia. Alkitab mengatakan, "Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita; Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia ...." 1 Timotius 3:16

  4. Tujuan Yesus Kristus Datang ke Dunia

    Mengapa Yesus Kristus datang ke dunia ini? Ada dua alasan yang penting.

    Pertama, Ia datang untuk membinasakan semua pekerjaan Iblis. Alkitab mengatakan: "Untuk inilah Anak Tuhan menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu." Yohanes 3:8

    Kedua, Ia datang untuk menyediakan jalan agar kita dapat terlepas/ keluar dari bangsa keturunan Adam yang berdosa dan masuk ke dalam keluarga Tuhan. Inilah arti diselamatkan itu.

  5. Manusia Kedua Dicobai Iblis

    Manusia pertama, yaitu Adam, telah dicobai Iblis. Manusia yang kedua, yaitu Yesus, juga dicobai oleh Iblis. Alkitab mengatakan:

    "Maka Yesus di bawa oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis." Matius 4:1.

    Mengapa Setan mencobai Yesus? Tujuan pencobaannya adalah supaya Yesus tidak mentaati Tuhan. Tiga kali Setan mencobai Yesus agar bertindak mengikut kehendak-Nya sendiri. Tiga kali juga Yesus menolak untuk berbuat demikian. Setan dikalahkan. Manusia pertama yaitu Adam, telah dikalahkan oleh Setan karena ia tidak mentaati Tuhan. Namun Manusia kedua yaitu Yesus Kristus beroleh kemenangan atas Setan karena Ia mentaati Tuhan. Tuhan Yesus juga menghadapi banyak pencobaan lain dalam kehidupan-Nya dan beroleh kemenangan karena Ia rela dan senang melakukan kehendak Bapa-Nya. Alkitab mengatakan, "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya." Ibrani 5:8. Oleh karena Ia telah belajar mentaati Bapa-Nya di dalam segala perkara, maka Ia siap menghadapi pencobaan yang terakhir dan terbesar yaitu di kayu salib.

  6. Yesus Bergumul di Getsemani

    Di Taman Getsemani, pada saat Ia merenungkan tentang bagaimana Ia akan menanggung dosa karena kita, Tuhan Yesus berlutut dan berdoa: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini berlalu daripada-Ku,....." Ini menunjukkan bahwa penderitaan yang akan Ia tanggung sangatlah besar. Namun demikian, Ia tetap taat kepada kehendak Bapa-Nya dan Ia berdoa: "....tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Mat. 26:39

  7. Kematian Tuhan Yesus yang Dahsyat

    Tuhan Yesus dibawa ke pengadilan di hadapan Pilatus, gubernur Romawi. Di sana jubah-Nya ditanggalkan dan Ia dipukuli dengan cemeti yang pada ujungnya ada benda tajam dari besi atau tulang yang dapat merobek kulit badan. Ia diejek dan diludahi. Pada wajah- Nya terdapat bekas-bekas siksaan dahsyat. Sebuah mahkota duri telah dikenakan di atas kepala-Nya. Kemudian Ia disuruh memikul kayu salib ke Kalvari, tempat Ia akan disalibkan. Di Kalvari, Setan berusaha sedapat mungkin agar Yesus melakukan sesuatu yang akan menyebabkan Ia gagal menjadi seorang Juruselamat yang sempurna. Namun, dalam segala hal yang dilakukan oleh Setan itu terbukti Ia tetap mengasihi dan taat kepada Tuhan dengan segenap hati-Nya. Ia terus berserah kepada Bapa-Nya dan terus mengasihi manusia. Ia menolak menyesali Diri-Nya. Ia tidak berusaha menyelamatkan Diri- Nya. Ia taat disiksa di atas kayu salib bahkan sampai mati.

    Pada akhir hidup-Nya, Manusia kedua dari Tuhan ini dapat berkata: "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya." Yohanes 17:4

  8. Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang Mulia

    Tubuh Yesus Kristus yang hidup selama tiga puluh tahun di bumi ini diturunkan dari kayu salib dan dibaluti dengan kain lenan. Jenasah- Nya diletakkan di dalam kuburan seorang yang kaya. Selama tiga hari dan tiga malam, tubuhnya terbaring di liang kubur tersebut. Kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi. Yesus bangkit dari kematian- Nya oleh kuasa-Nya yang ajaib.

    Manusia kedua dari Tuhan ini telah taat kepada Bapa-Nya di dalam segala perkara. Kematian tidak dapat menguasai-Nya. Ia bangkit dari kubur dan menjadi pemenang atas dosa, kematian dan Setan selama- lamanya. Tuhan Yesus telah menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam tubuh kebangkitan-Nya dan bekas luka tusukan tombak di rusuk- Nya.

    Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah alam semesta ini. Salib Yesus Kristus adalah rencana utama Tuhan dalam menyelesaikan persoalan umat manusia yang berdosa, setan dan para pengikutnya yang memberontak. Ketika Kristus mati di salib, Setan berpikir bahwa ia telah beroleh kemenangan. Namun perkiraannya itu keliru. Salib yang menjadi andalan Setan untuk menghabiskan Tuhan Yesus akhirnya menjadi bumerang baginya. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Tuhan telah membinasakan pekerjaan-pekerjaan Setan dan melepaskan semua yang telah diperhambanya. Alkitab mengatakan,

    "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya, Ia memusnahkan yaitu Iblis yang berkuasa atas maut supaya dengan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada di dalam perhambaan oleh karena takut akan maut. Ibrani 2:14-15

  9. Tuhan Yesus kembali ke Surga

    Tuhan Yesus menampakkan dirinya selama empat puluh hari di bumi ini setelah kebangkitan-Nya. Ia telah dilihat oleh banyak orang. Dalam satu peristiwa, Ia menyatakan diri di hadapan lebih dari lima ratus orang murid-Nya. Sebelum terangkat ke Surga, Ia berpesan kepada para murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada semua makhluk. Ia juga memberikan mereka suatu janji yang sangat indah, yaitu:

    "Dan ketahuilah, Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir zaman." Matius 28:20

    Ketika mereka sedang menatap Dia, Ia terangkat ke Surga dan awan meraibkan Dia dari pandangan mereka. Di dalam tubuh kebangkitan-Nya yang telah dimuliakan, Tuhan Yesus meninggalkan bumi ini untuk kembali ke Surga.

  10. Yesus Kristus Tuhan Atas Segalanya

    Tuhan menjadikan Manusia yang kedua, yaitu Yesus Kristus untuk menjadi Tuhan atas segala sesuatu. Ada sebuah ayat yang indah di dalam buku Filipi yang menjelaskan bagaimana Tuhan Yesus Kristus telah merendahkan diri-Nya dan bagaimana Bapa telah meninggikan- Nya.

    "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Tuhan sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama diatas segala nama, supaya di dalam nama Yesus bertekuk lututlah segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Tuhan Bapa." Filipi 2:8-11

  11. Yesus Kristus Kepala Umat yang Baru

    Allah Bapa tidak hanya menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan atas segala sesuatu tetapi juga menjadikan-Nya Kepala bagi suatu keluarga yang baru. Keluarga yang baru ini adalah "anak-anak Allah." Sekarang ada dua jenis keluarga di dunia ini. Masing-masing keluarga ini mempunyai kepala keluarga. Adam adalah kepala bagi keluarga yang berdosa yang adalah keturunannya dan Yesus Kristus adalah Kepala dari keluarga yang baru "keluarga anak-anak Allah." Masing-masing kita, ketika dilahirkan ke dunia ini, menjadi anggota umat keturunan Adam yang berdosa. Namun sekarang, melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, Ia telah membuka jalan bagi kita untuk dilahirkan kembali secara rohani dan menjadi anak-anak Tuhan.

    Dalam pelajaran selanjutnya, kita akan belajar tentang apakah arti dilahirkan kembali oleh Roh Tuhan.


Akhir Pelajaran (DIK-P06)

DOA

"Bapa, terima kasih atas Manusia yang kedua yaitu Tuhan Yesus Kristus yang telah taat kepada-Mu secara sempurna. Saya berdoa agar saya tetap mentaati kehendak-Mu seperti yang telah Ia lakukan." Amin.

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 07

Pertanyaan 07 | Referensi 07a | Referensi 07b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kelahiran Baru
Kode Pelajaran : DIK-P07

Pelajaran 07 - KELAHIRAN BARU

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Definisi
  2. Perlunya Kelahiran Baru
  3. Kelahiran Baru Adalah Oleh Firman Dan Roh
  4. Kelahiran Baru Adalah Semata-mata Dari Tuhan
  5. Karya Tuhan Dalam Kelahiran Baru
    1. Tuhan menempatkan kita dalam keluarga Kristus.
    2. Tuhan memberikan roh yang baru kepada kita
    3. Tuhan mengaruniakan kehidupan yang kekal kepada kita
  6. Bagaimanakan Kita Tahu Bahwa Kita Sudah Mengalami Kelahiran Baru?
    1. Kesaksian Roh Kudus.
    2. Firman Tuhan.
    3. Tingkah laku kita.

Doa

TEKS ALKITAB

Yohanes 3:1-21, 1:10-13, 8:32-44

AYAT KUNCI

Yohanes 3:3

Dalam pelajaran yang lalu, kita telah melihat bahwa di dunia ini terdapat dua jenis keluarga. Kepala dari keluarga yang satu adalah Adam yaitu manusia yang pertama. Kepala dari Keluarga yang Kedua adalah Kristus yang disebut sebagai Manusia Kedua dari Tuhan.

Sebagian orang berpendapat bahwa Tuhan adalah Bapa bagi semua manusia. Hal ini tidak benar. Tuhan itu hanya menjadi Bapa bagi orang-orang yang sudah menjadi keluarga Kristus. Bagi mereka yang masih berada di dalam keluarga Adam, Setan adalah bapa mereka. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Tuhan bukanlah Bapa dari semua manusia.

Pada suatu hari, Yesus berbicara kepada beberapa pemimpin agama di Yerusalem. Mereka mengatakan bahwa Tuhan adalah Bapa mereka. Walaupun mereka mengatakan demikian, hati mereka penuh dengan kejahatan karena mereka membenci Yesus dan ingin membunuh-Nya. Yesus tahu apa yang ada di dalam hati mereka sehingga Ia berkata kepada mereka.

"Jikalau Tuhan adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Tuhan...." Yohanes 8:42

Ketika Yesus mengatakan, "JIKALAU Tuhan adalah Bapamu...." Ia bermaksud menunjukkan dengan jelas bahwa Tuhan bukanlah Bapa mereka. Agar lebih jelas lagi, Ia menyatakan kepada mereka siapa bapa mereka yang sebenarnya. Ia berkata dengan tegas, "IBLIS-lah yang menjadi bapamu...." Yoh. 8:44. Jadi dengan perkataan lain, bukan Tuhan yang menjadi Bapa mereka, melainkan Setan.

Demikian pula hal ini berlaku kepada setiap orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Namun seseorang tidak harus terus berada di dalam keluarga Setan karena Tuhan Yesus telah menyediakan jalan bagi kita semua untuk menjadi anak Tuhan. Alkitab menyebut hal ini sebagai "kelahiran baru". Mari kita coba memahami artinya.

1. DEFINISI

Kelahiran baru adalah tindakan rahasia Allah di dalam diri manusia melalui firman dan Roh dimana Allah menanamkan dasar kehidupan rohani yang baru yang terjadi seketika dan sekaligus, melahirkan sebuah kehidupan yang menggerakkan ke arah Allah sehingga memiliki persekutuan dengan Allah dan memperoleh hidup yang kekal.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dipahami dalam kelahiran baru:

  1. Kelahiran baru bukanlah menyingkirkan, membuang atau menyulap natur lama manusia sehingga natur lama menjadi hilang atau tidak ada dan menggantikan dengan natur yang baru sehingga manusia tidak dapat berbuat dosa lagi.

  2. Kelahiran baru bukanlah perbaikan/reparasi natur jiwa lama manusia (pikiran, emosi, kehendak) sedikit demi sedikit menuju kepada kesempurnaan.

  3. Kelahiran baru terjadi seketika dan sekaligus (tidak bertahap/ sedikit demi sedikit dan hanya satu kali/tidak berulang kali).

  4. Natur jiwa lama manusia masih ada ketika seseorang dilahirkan baru. Prinsip kehidupan baru yang Allah tanamkan itulah yang akan mempengaruhi pikiran, emosi dan kehendak manusia.

  5. Terjadinya kelahiran baru merupakan karya rahasia Allah semata yang tersembunyi dari manusia, sesuatu yang kita tidak ketahui (Bdk. Yoh. 3:8). Kita hanya dapat melihat akibatnya saja.


2. PERLUNYA KELAHIRAN BARU

Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah." Yohanes 3:3

Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah." Yohanes 3:5

Dari dua ayat tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk dapat masuk dalam kerajaan Allah, manusia perlu mengalami kelahiran baru. Jadi, kelahiran baru merupakan syarat yang mutlak untuk dapat masuk dalam kerajaan Allah. Tanpa kelahiran baru, manusia akan binasa. Mengapa demikian? Karena tanpa kelahiran baru dari Firman dan Roh, manusia akan tetap tinggal di dalam Adam dan berada dibawah murka Allah. Itulah perlunya kelahiran baru bagi setiap orang. Tidak ada cara lain untuk keluar dari keluarga Adam kecuali menjadi keluarga Allah dimana Kristus sebagai Kepalanya dan memiliki hidup yang kekal kecuali melalui kelahiran baru.

3. KELAHIRAN BARU ADALAH SEMATA-MATA PEKERJAAN TUHAN

Alkitab mengatakan kepada mereka yang menerima Tuhan Yesus sebagai Juru selamat bahwa mereka telah dilahirkan kembali "bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Tuhan." Yohanes 1:13

Kelahiran baru itu adalah bukan "dari darah." Ini berarti kelahiran baru itu tidak diterima atau diperoleh dari orang tua kita. Keselamatan itu tidak diwariskan melalui keturunan. Dengan perkataan lain, tidak ada seorangpun yang dilahirkan ke dunia ini langsung menjadi orang Kristen. Mempunyai ibu-bapa Kristen merupakan suatu hal yang indah. Namun hal ini tidak dapat menjadikan Anda anak Tuhan. Masing-masing kita harus dilahirkan secara perseorangan (pribadi) ke dalam keluarga Tuhan.

Kelahiran baru adalah bukan "dari keinginan daging." Ini berarti tidak ada seorangpun yang dapat menjadikan dirinya sebagai anak Tuhan dengan usahanya sendiri. Kehidupan kekal tidak dapat diusahakan tetapi harus diterima sebagai pemberian atas karunia secara cuma-cuma dari Tuhan.

Kelahiran baru adalah bukan "dari keinginan seorang laki-laki." Ini berarti tidak ada pengkhotbah atau pendeta yang dapat menjadikan Anda sebagai anak Tuhan. Tidak ada upacara gereja seperti perjamuan kudus atau pembaptisan yang dapat menjadikan Anda sebagai anak Tuhan. Menjadi anggota gereja pun tidak dapat menjadikan Anda sebagai orang Kristen. Kelahiran baru adalah "dari Tuhan." Alkitab mengatakan:

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Efesus 2:8, 9

4. KELAHIRAN BARU ADALAH OLEH FIRMAN DAN ROH

Tak seorangpun yang dapat dilahirkan baru tanpa mendengar dan percaya kepada Firman Tuhan. Tidak ada seorang pun yang dapat dilahirkan baru tanpa pekerjaan Roh Kudus. Kelahiran baru itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang menggunakan Firman Tuhan. Roh Kudus menggunakan Firman Tuhan untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita adalah orang berdosa yang memerlukan seorang Juruselamat. Roh Kudus juga menggunakan Firman Tuhan yang sama untuk menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat yang kita perlukan. Ia telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Berikut ini dua ayat Alkitab yang menjelaskannya:

"Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Tuhan yang hidup dan yang kekal." 1 Petrus 1:23

"Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh." Yohanes 3:6

5. KARYA TUHAN DALAM KELAHIRAN BARU.

Tuhan melakukan banyak hal yang indah ketika kita dilahirkan baru. Berikut ini adalah diantaranya:

  1. Tuhan Menempatkan Kita Dalam Keluarga Kristus

    Apa artinya? Artinya adalah kita tidak lagi berada di dalam Adam melainkan di dalam Kristus. Semua orang yang belum dilahirkan baru, mereka berada di dalam Adam, mewarisi dosa Adam dan berada di bawah penghukuman. Ketika seseorang dilahirkan kembali, Tuhan mengeluarkannya dari kedudukannya sebagai keluarga Adam dan diangkat menjadi anak-Nya Yoh. 1:12, 13, masuk dalam keluarga Allah dimana Kristus sebagai Kepala.

  2. Tuhan Memberikan Roh yang Baru Kepada Kita

    Ia juga mengaruniakan kepada kita Roh-Nya untuk tinggal di dalam roh kita yang baru itu. Ini disebut kelahiran kembali. Satu hal yang perlu dijelaskan di sini adalah bahwa sifat lama kita tidak dimusnahkan atau disingkirkan ketika kita dilahirkan baru, melainkan Ia memberikan Roh-Nya kepada kita untuk dapat menang atasnya. Sifat lama kita tidak akan disingkirkan sampai Yesus datang untuk membawa kita bersama-Nya di Surga. Namun dengan berdiamnya Roh Kudus di dalam kita maka kita dapat mengatasi atau mengalahkan sifat manusia lama kita yang berdosa ini.

  3. Tuhan Mengaruniakan Kehidupan Yang Kekal Kepada Kita

    Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk dalam Kerajaan Allah." Yohanes 3:5. Ayat ini memberikan jaminan bagi seseorang yang telah dilahirkan baru untuk dapat masuk dalam kerajaan Allah, artinya ialah hidup kekal bersama Allah dalam kerajaan Sorga.


6. BAGAIMANAKAH KITA TAHU BAHWA KITA SUDAH MENGALAMI KELAHIRAN BARU?

Masing-masing kita perlu memastikan apakah kita benar-benar telah mengalami kelahiran baru atau belum. Tuhan telah memberikan beberapa cara agar kita dapat mengetahuinya dengan pasti. Ada tiga hal yang membuktikannya:

  1. Kesaksian Roh Kudus

    Ketika kita dilahirkan baru, Roh Tuhan datang dan diam di dalam kita dan memberi kesaksian bersama dengan roh kita bahwa kita adalah anak Tuhan. Alkitab mengatakan:

    "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Tuhan." Roma 8:16

    Hal ini bukanlah sesuatu yang dapat dijelaskan atau dibuktikan kepada orang lain namun kita sendiri secara pribadi dapat mengetahuinya secara pasti.

  2. Firman Tuhan

    Ketika kita dilahirkan baru, Roh Tuhan akan menjadikan Firman Tuhan itu nyata di dalam hati kita dan kita akan dapat mengetahui dari Firman Tuhan bahwa kita telah diselamatkan. Alkitab mengatakan,

    "Semuanya itu telah kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal." 1 Yohanes 5:13

  3. Tingkah laku kita

    Ketika kita benar-benar dilahirkan baru, tingkah laku atau tindakan kita akan berubah. Kita mau mentaati Tuhan dan AnakNya, Yesus Kristus. Kita mulai menyukai hal-hal yang benar dan baik dan membenci apa yang salah. Kita juga akan memiliki kasih terhadap orang-orang yang belum diselamatkan dan ingin supaya mereka juga dapat diselamatkan. Selain itu, kita juga akan mengasihi orang- orang Kristen yang lain. Alkitab mengatakan: "Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita...." 1 Yohanes 3:14

Semua hal ini akan terjadi karena kita telah mengalami kelahiran baru. Sudahkah ANDA mengalami kelahiran baru?


Akhir Pelajaran (DIK-P07)

DOA

"Tuhan, terima kasih karena telah membuka jalan bagi saya untuk menjadi anak-Mu dan memanggil Engkau 'Bapa.' Hiduplah di dalam saya. Dalam Nama Yesus saya berdoa." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 08

Pertanyaan 08 | Referensi 08a | Referensi 08b | Referensi 08c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Di Dalam Kristus
Kode Pelajaran : DIK-P08

Pelajaran 08 - DI DALAM KRISTUS

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Didalam Kristus: Sebuah Perkataan Yang Indah
  2. Arti Di Dalam Kristus
  3. Berkat-berlat Di Dalam Kristus
    1. Di Dalam Kristus - Kita diampuni
    2. Di Dalam Kristus - Kita dibenarkan
    3. Di Dalam Kristus - Kita didamaikan kepada Tuhan
    4. Di Dalam Kristus - Kita dikuduskan
    5. Di Dalam Kristus - Kita dimeteraikan
    6. Dalam Kristus - Kita telah menjadi sempurna
  4. Apakah Kita Masih Dapat Berbuat Dosa Setelah Berada Di dalam Kristus?
    1. Apakah arti dari Kedudukan Kita?
    2. Apakah arti dari Keadaan Kita?

Doa

TEKS ALKITAB

Efesus 1 dan 2

AYAT KUNCI

2 Korintus 5:17

Dalam pelajaran yang lalu, kita telah menyelidiki bahwa di dunia ini terdapat dua macam keluarga yaitu keluarga Adam dan keluarga Kristus.

+-----> dalam Adam ! Tuhan melihat semua manusia ! atau ! +-----> dalam Kristus

Tuhan juga melihat saya dalam Adam atau dalam Kristus. Apakah artinya berada "dalam Adam"? Artinya kita mewarisi semua yang ada dalam Adam dan apa yang telah dilakukannya. Pada hakekatnya, kita semua berada dalam Adam - terpisah dari Tuhan dan menjadi hamba kepada dosa dan Setan. Betapa mengerikannya keadaan ini.

Namun ada kabar baik bagi kita. Ketika kita dilahirkan baru, Tuhan menempatkan kita dalam keluarga Kristus. Kita tidak dapat melakukannya sendiri tetapi Tuhan telah melakukannya bagi kita. Kita sekarang berada dalam Kristus. Bagaimanakah kita dapat masuk dan berada dalam Kristus? Tuhan sendirilah yang menempatkan kita dalam Kristus! Alkitab mengatakan, "Tetapi oleh Dia (Tuhan) kamu berada dalam Kristus...." 1 Korintus 1:30

1. DI DALAM KRISTUS: SEBUAH PERKATAAN YANG INDAH

Perkataan yang paling indah dalam seluruh Alkitab adalah "Dalam Kristus." Perkataan ini atau kata yang memiliki persamaan artinya dengan kata ini digunakan lebih dari 130 kali di dalam Perjanjian Baru! Berikut ini ada beberapa ayat yang menunjukkan kedudukan kita yang baru dalam Kristus.

"....Tuhan yang DALAM KRISTUS telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam Surga. Sebab DI DALAM DIA Tuhan telah memilih kita sebelum dunia dijadikan....." Efesus 1:3,4

"Karena kita ini buatan Tuhan diciptakan DI DALAM YESUS KRISTUS untuk melakukan pekerjaan yang baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalam-Nya." Efesus 2:10

"Jadi siapa yang ada DI DALAM KRISTUS, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." 2 Korintus 5:17

"....dan kita ada DI DALAM yang benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus....." 1 Yohanes 5:20

"DI DALAM DIA kita telah memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa." Kolose 1:14

"Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada DI DALAM KRISTUS YESUS...." Roma 8:1

"...yaitu mereka yang dikuduskan DALAM KRISTUS YESUS...." 1 Korintus 1:2

Apakah Anda sempat memperhatikan penggunaan kata-kata seperti "di dalam Kristus" dan "di dalam Dia"? Apabila Anda membaca Perjanjian Baru Anda akan memperhatikan bahwa perkataan ini banyak kali digunakan.

2. ARTI DI DALAM KRISTUS

Apakah artinya berada "DI DALAM KRISTUS"? Artinya adalah turut ambil bagian dalam semua yang ada di dalam Kristus dan apa yang telah Ia lakukan.

3. BERKAT-BERKAT DI DALAM KRISTUS

  1. Di Dalam Kristus -- Kita Diampuni

    Oleh karena kita berada di dalam Kristus, maka Tuhan telah mengampuni semua dosa kita. Alkitab mengatakan:

    "DI DALAM DIA, kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa." Kolose 1:14

  2. Di Dalam Kristus -- Kita Dibenarkan

    Apakah arti dibenarkan? Artinya adalah kita dinyatakan benar oleh Allah karena kebenaran Kristus sehingga kita terlepas dari murka Allah Roma 5:18. Bagaimanakah kita dibenarkan di hadapan Tuhan? Kita dibenarkan DI DALAM KRISTUS, yaitu melalui kematian-Nya. Yesus Kristus itu sempurna kebenaran-Nya. Oleh karena itu, sekarang Tuhan memandang kita sebagai orang yang benar di dalam Dia. Alkitab mengatakan:

    "Dia (Kristus) yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya (Tuhan) menjadi dosa karena kita, supaya DI DALAM DIA kita dibenarkan dalam Tuhan." 2 Korintus 5:21

    "Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Roma 5:9

  3. Di Dalam Kristus -- Kita Diperdamaikan dengan Allah

    Sebagai orang yang berdosa, kita adalah musuh/seteru Allah Roma 5:10. Kematian Kristus di kayu salib telah mendamaikan kita dengan Allah sehingga kita dapat bersekutu lagi denganNya. Di dalam Kristus kita telah diperdamaikan dengan Allah. Alkitab mengatakan:

    "Dan semuanya ini dari Allah yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya ...." 2 Korintus 5:18

    "Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri- Nya,..., juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan memusuhi- Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya ...." Kolose 1:20-22.

  4. Di Dalam Kristus -- Kita Dikuduskan

    Tuhan memberi nama yang baru bagi setiap orang yang percaya kepada- Nya. Ia menyebut mereka "orang-orang kudus di dalam Kristus Yesus." Perkataan "orang kudus" berarti "orang suci." Di mata Tuhan, setiap orang yang percaya adalah orang kudus di dalam Kristus. Di dalam diri kita, kita tidak kudus tetapi Tuhan memandang kita kudus di dalam Kristus. Apabila kita sendiri di hadapan Tuhan, kita berdiri di dalam kekudusan Kristus. Kita sekarang adalah orang-orang "kudus DI DALAM KRISTUS." Alkitab mengatakan:

    "kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus ...." 1 Korintus 1:2

    "...Ia membenarkan, menguduskan dan menebus kita." 1 Korintus 1:30

  5. Di Dalam Kristus -- Kita Dimeteraikan oleh Roh Kudus

    Kita sekarang telah menjadi anak-anak Tuhan dan tujuan perjalanan hidup kita adalah Surga. Tuhan telah menempatkan kita di dalam Kristus dan telah memeteraikan kita dengan Roh Kudus. Dengan meterai-Nya ini maka kita beroleh kepastian tentang keselamatan kita. Alkitab mengatakan:

    "DI DALAM DIA kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu." Efesus 1:13

  6. Di Dalam Kristus -- Kita Telah Menjadi Sempurna

    Setiap hal yang kita perlukan untuk hidup sebagai orang Kristen telah kita peroleh di dalam Kristus. Kita sekarang sempurna dan utuh di dalam Kristus. Alkitab mengatakan: "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Tuhanan, dan kamu telah dipenuhi DI DALAM DIA...." Kolose 2:9, 10

    Kesempurnaan kita disini adalah semata-mata kesempurnaan Kristus, bukan kesempurnaan kita. Di dalam diri kita sendiri, kita tidak akan pernah menjadi sempurna.


4. APAKAH KITA MASIH BISA BERBUAT DOSA SETELAH BERADA DI DALAM KRISTUS?

Sebagai anak Tuhan, kita tidak lagi berada di dalam Adam. Sekarang kita telah berada DI DALAM KRISTUS. Apakah ini berarti kita tidak akan pernah berdosa lagi? Tidaklah demikian maksudnya. Dalam surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada orang-orang yang percaya di Korintus, kita dapati adanya beberapa hal yang agak sulit dipahami. Di satu pihak, Paulus menyebut mereka sebagai orang yang telah "disucikan" dalam Yesus Kristus. Namun dalam surat yang sama, Paulus juga berbicara mengenai dosa-dosa yang mereka telah lakukan dalam kehidupan mereka. Ada di antara mereka yang sombong, saling bertengkar, dan sebagian dari mereka telah melakukan perkara- perkara asusila.

Apakah sebenarnya maksudnya? Bagaimanakah Paulus mengatakan bahwa mereka "kudus di dalam Kristus" sedangkan, pada saat yang sama mereka tidak hidup selayaknya sebagai orang Kristen? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami tentang perbedaan antara kedudukan kita dan keadaan kita yang sebenarnya.

  1. Apakah arti dari KEDUDUKAN KITA?

    Kedudukan kita ialah cara Tuhan memandang kita di dalam Kristus. Hal ini termasuk semua hal yang telah dilakukan oleh Tuhan bagi kita di dalam Kristus. Tuhan telah memberikan suatu kedudukan yang sempurna bagi kita di dalam Kristus. Apakah kedudukan kita itu selalu sempurna? Ya. Mengapa? Karena kedudukan kita itu didasarkan pada apa yang Tuhan telah lakukan untuk kita di dalam Kristus. Kita berada DI DALAM KRISTUS. Oleh karena itu, Tuhan melihat kita sebagai orang-orang yang sempurna di dalam Dia. Alkitab mengatakan,

    "Sebab oleh karena satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan (mereka yang berada di dalam Kristus)." Ibrani 10:14

  2. Apakah arti dari KEADAAN KITA?

    Keadaan kita ialah cara (perilaku) hidup kita di dunia ini. Alkitab menyebutnya sebagai "perjalanan hidup" kita. Apakah keadaan kita itu selalu sempurna? Tidak. Mengapa? Karena hal itu bergantung pada keadaan diri kita yang sebenarnya. Kita adalah orang yang berdosa. Alkitab mengatakan,

    "Jika kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita." 1 Yohanes 1:8

    Akan sangat membantu dalam kehidupan Kristen kita, apabila kita memahami bahwa KEDUDUKAN kita adalah cara Tuhan melihat atau memandang kita di dalam Kristus, sedangkan KEADAAN kita adalah cara (perilaku) kita hidup di dunia ini. Di dalam Kristus kita senantiasa sempurna di mata Tuhan. Namun di dalam diri kita sendiri, kita adalah orang yang berdosa.

    Apakah ini berarti kita puas dengan terus berbuat dosa? Tidak demikian! Tuhan ingin agar hidup kita dari hari ke hari sesuai atau berpadanan dengan kedudukan kita di dalam Kristus. Karena kita adalah "kudus di dalam Kristus" maka Tuhan ingin agar kita hidup kudus setiap hari. Alkitab mengatakan: "Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu." 1 Petrus 1:15

    Bagaimanakah kita dapat menjadi kudus? Di dalam Firman-Nya, Tuhan memberitahu kita bahwa kita harus "berjalan" dengan iman. Artinya harus mempercayai atau berpegang pada kedudukan kita yang sebenarnya di dalam Yesus Kristus. Alkitab mengatakan,

    "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap dalam Dia." Kolose 2:6

    Berikut ini ada satu rahasia yang besar bagi kehidupan Kristen:

    "Iman terhadap KEDUDUKAN KITA menjadikannya nyata dalam kehidupan kita."

    Ketika kita tahu dan sadar bahwa kita adalah "kudus di dalam Kristus," maka sepatutnyalah kita hidup kudus setiap hari. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah "orang-orang yang kudus di dalam Kristus" maka kita juga akan bertindak dan hidup seperti orang- orang kudus. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah "anak-anak Tuhan" maka sudah sepatutnyalah kita hidup sebagai anak-anak Tuhan ditengah-tengah dunia ini.

    Ketika kita berpegang pada kedudukan kita yang sebenarnya di dalam Kristus, maka Roh Kudus akan menjadikan semua hal itu nyata di dalam kehidupan kita.


Akhir Pelajaran (DIK-P08)

DOA

"Bapa yang di Surga, tolonglah saya, supaya dapat melihat bahwa saya telah berada DI DALAM KRISTUS. Karuniakan hati yang percaya bahwa saya telah diterima dan kudus di dalam Anak-Mu yang Engkau kasihi itu. Oleh kasih karunia-Mu, kiranya saya dapat hidup seperti Anak-Mu." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 09

Pertanyaan 09 | Referensi 09a | Referensi 09b | Referensi 09c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Suatu Hubungan Yang Baru
Kode Pelajaran : DIK-P09

Pelajaran 09 - SUATU HUBUNGAN YANG BARU

Daftar Isi

Ayat Alkitab

Ayat Kunci

  1. Pokok Anggur Dan Ranting-rantingnya Adalah Satu
  2. Ranting itu Berada Pada Pokok Anggur
  3. Pokok Anggur Bersatu Dengan Rantung
  4. Janji Kedatangan Roh Kudus
  5. Kedatangan Roh Kudus
  6. Rahasia Kehidupan Kristen
  7. Apakah Arti Kehidupan Kristen itu?

Doa

TEKS ALKITAB

Yohanes15:1-5

AYAT KUNCI

Yohanes 15:5

Dalam pelajaran yang lalu, kita telah belajar tentang kebenaran yang indah mengenai keberadaan kita DALAM KRISTUS. Kita tidak lagi berada di dalam Adam, melainkah kita sekarang telah berada di dalam Kristus. Karena kita telah berada di dalam Kristus, maka kita memiliki kedudukan yang baru di hadapan Tuhan. Tuhan memandang kita sempurna di dalam Kristus.

Dalam pelajaran ini kita akan belajar lebih banyak tentang apa yang terjadi ketika kita dilahirkan kembali. Kita tidak hanya memiliki kedudukan yang baru di hadapan Tuhan, melainkan kita juga telah memiliki hubungan yang baru dengan Tuhan Yesus Kristus. Hubungan yang baru ini dapat diungkapkan dalam dua kalimat yang sederhana:

  1. Saya berada dalam Kristus.
  2. Kristus berada dalam saya.

Untuk lebih memahami hubungan baru ini antara Diri-Nya sendiri dengan kita sebagai orang percaya, maka Tuhan Yesus menggunakan gambaran yang di ambil dari alam ini. Ia berkata "Aku adalah Pokok Anggur dan kamulah ranting-rantingnya." Tuhan Yesus adalah Pokok Anggur, dan orang-orang percaya adalah ranting-rantingnya.

Jadi dalam pelajaran ini setiap kali "Pokok Anggur" itu disebutkan, maka hal itu menunjuk kepada Tuhan Yesus; apabila "ranting-ranting" disebutkan, maka hal itu menunjukkan tentang diri kita sebagai orang-orang yang percaya kepada-Nya.

1. POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA ADALAH SATU

Bila kita memperhatikan Pokok Anggur dan ranting-rantingnya, maka yang terlihat adalah kesatuannya. Keduanya terjalin dalam satu kehidupan. Kehidupan yang mengalir melalui pokok anggur juga mengalir kepada ranting-rantingnya. Hal ini mengajarkan kita bahwa kita bersatu dengan Tuhan Yesus. Alkitab mengatakan, "Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia." Pada saat kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, kita telah dipersatukan dengan Dia. Sebagaimana ranting-ranting bersatu dengan pokok anggur, demikian pula kita telah dipersatukan dengan Tuhan Yesus. Kita sekarang adalah satu dengan Dia.

2. RANTING ITU BERADA PADA POKOK ANGGUR

Kalau kita mengamati lebih dalam tentang pokok anggur dan ranting- rantingnya, maka kita juga akan melihat hal yang lain. Kita bisa melihat bahwa ranting itu berada atau telah menyatu dengan pokok anggur. Hal ini mengajar kita bahwa kita berada dan telah menyatu dengan KRISTUS. Kita telah mempelajari kebenaran yang utama - bahwa kita berada dalam Kristus dan persatuan kita dengan Dia adalah persatuan yang hidup. Sebagaimana ranting itu bersatu dengan pokok anggur yang hidup, demikian pula kita telah dipersatukan dengan Tuhan Yesus Kristus yang hidup. Kita berada di dalam Kristus. Sebelum kita menjadi anak Tuhan, kita berada di dalam Adam. Kita berhubungan dengan dia. Kita memperoleh kehidupannya, dan kita memiliki sifatnya di dalam kita.

Apa yang terjadi ketika kita diselamatkan? Tuhan mengeluarkan kita dari Adam dan kita dicangkokkan kepada Kristus. Mencangkokkan sebuah ranting berarti mengeluarkan dari pokok anggur yang satu dan mencangkokkannya ke pokok anggur yang lain. Pertama ranting itu dipotong dari pokok anggur yang lama. Kemudian pokok anggur yang baru itu dilukai dengan pisau dan potongan ranting itu ditempelkan dan diikatkan dengan baik ke pokok anggur itu. Tak lama kemudian kehidupan dari pokok anggur yang baru itu mulai mengalir ke ranting yang telah dicangkokkan ke pokok anggur itu. Dan terbentuklah persatuan yang hidup.

Nah, kita bisa melihat betapa indah perkara yang Tuhan telah lakukan bagi kita. Ketika kita dilahirkan kembali, Tuhan telah mengeluarkan kita dari Adam dan Ia mencangkokkan kita kepada Kristus. Alkitab mengatakan,

"Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus........" 1 Korintus 1:30.

Kita sekarang ini telah dipersatukan dengan Tuhan Yesus Kristus di dalam suatu persatuan yang hidup. Ia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-ranting yang hidup di dalam Dia. Kita telah memiliki hubungan dengan kehidupan-Nya dan kita juga telah memiliki sifat- sifat-Nya di dalam kita. Alkitab mengatakan, bahwa kita adalah "mengambil bagian dalam kodrat ilahi...." 2 Petrus 1:4

3. POKOK ANGGUR BERSATU DENGAN RANTING

Bukan hanya ranting yang bersatu dengan pokok anggur, melainkan pokok anggur itupun telah bersatu dengan ranting. Setelah ranting dicangkokkan pada pokok anggur, maka kehidupan dari pokok anggur yang baru mulai mengalir melalui rantingnya. Inilah yang membuat ranting itu tetap hidup dan akhirnya mengeluarkan buah.

Hal ini mengajarkan kita bahwa Yesus Kristus berada di dalam kita. Bukan hanya kita yang berada di dalam Kristus, melainkan Kristus juga berada di dalam kita. Kita memiliki kehidupan Kristus yang sejati di dalam kita. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.

4. JANJI KEDATANGAN ROH KUDUS

Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia berjalan dan berbicara dengan murid-murid-Nya. Mereka sungguh menikmati saat-saat mereka yang indah bersama dengan Dia! Namun pada suatu hari, Ia mengatakan sesuatu yang membuat mereka sangat sedih. Ia mengatakan bahwa tak lama lagi Ia akan meninggalkan mereka. Namun Yesus menenangkan mereka dengan menyampaikan perkataan ini,

"Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu; "Yaitu Roh kebenaran....Kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." Yohanes 14:16,17

Tuhan Yesus menyampaikan suatu janji yang indah kepada murid-murid Nya. Ia berjanji akan mengirimkan Roh Kudus untuk menyertai mereka selama-lamanya. Dan ia tidak hanya akan menyertai mereka, melainkah Ia akan berada di dalam mereka. Kemudian Ia menambahkan perkataan ini: "Aku tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan tidak tenang: Aku akan datang kepadamu." Jadi kita melihat bahwa kedatangan Roh Kudus itu akan menjadi kedatangan Tuhan Yesus sendiri untuk tinggal di dalam mereka.

Dengan perkataan lain Tuhan Yesus berkata, "Aku akan pergi, tetapi Aku akan kembali dan tinggal di dalam kamu melalui Roh Kudus." Perkataan ini sungguh menghibur dan menguatkan para murid-Nya. Kemudian Yesus berkata: "Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu." Yohanes 14:20

Tak lama kemudian setelah Yesus mengucapkan perkataan ini, Ia disalibkan dan dikuburkan. Namun pada hari yang ketiga, Ia bangkit dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya dalam tubuh kebangkitan-Nya. Empat puluh hari kemudian Ia terangkat kembali ke Surga ke tempat di mana Ia dipermuliakan. Alkitab mengatakan,

"... dengan membangkitkan Dia (Yesus) dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di Surga. Jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang." Efesus 1:20, 21

5. KEDATANGAN ROH KUDUS

Sepuluh hari setelah kenaikan Tuhan Yesus, para murid-Nya berkumpul, berdoa dan berpuasa. Pada hari Pentakosta itu Tuhan Yesus kembali kepada murid-murid-Nya dalam bentuk yang indah dan baru. Ia datang untuk tinggal di dalam mereka.

Mulai sejak itu, setiap kali seseorang dilahirkan kembali, Roh Kristus langsung datang mendiami mereka. Alkitab mengatakan,

"Dan karena kamu adalah anak, maka Tuhan telah menyuruh Roh Anak- Nya ke dalam hati kita...." Galatia 4:6

Kristus tinggal di dalam kita melalu Roh-Nya supaya kita dapat benar-benar berkata, "Kristus hidup di dalam saya."

6. RAHASIA KEHIDUPAN KRISTEN

Kita sekarang telah menemukan salah satu rahasia terbesar dalam kehidupan Kristen. Rahasia ini adalah: Kristus hidup di dalam kita!!

Rasul Paulus menyebutnya rahasia yang terbesar. Ia menulis kepada orang-orang Kristen di Kolose perkataan ini,

"Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan." Kolose 1:27

7. APAKAH ARTI KEHIDUPAN KRISTEN ITU?

Apakah kehidupan Kristen itu merupakan usaha untuk menjadi baik? Tidak. Apakah hal itu merupakan usaha untuk meniru orang-orang Kristen yang baik? Tidak. Apakah itu merupakan usaha untuk meniru Tuhan Yesus itu sendiri? Tidak, Kehidupan Kristen itu tidaklah demikian.

Kalau begitu, apakah sebenarnya Kehidupan Kristen itu? Kehidupan Kristen itu pada hakekatnya adalah Kristus yang hidup di dalam kita. Rasul Paulus mengatakan, "Bagiku hidup adalah Kristus." Ia tidak mengatakan, "Bagiku hidup adalah berusaha menjadi seperti Kristus." Tidak. Paulus mengatakan, "Bagiku hidup adalah Kristus." Apakah maksud dari perkataan Paulus ini? Maksudnya adalah, "Bagiku hidup itu adalah memiliki Kehidupan Kristus di dalam aku."

Jadi, bagaimanakah kita menjalani Kehidupan Kristen itu? Kita menjalaninya dengan mempercayai Tuhan Yesus yang hidup di dalam kita. Daripada kita coba berusaha menjalani kehidupan Kristen dengan segala usaha kita, marilah kita membiarkan Yesus itu hidup melalui kita. Kehidupan-Nya selalu menyenangkan Bapa. Ia berkata:

"Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Yohanes 8:29.

Tuhan Yesus itu tidak pernah berubah. Kepribadian-Nya tidak berubah sejak dahulu hingga sekarang. Ia ingin hidup melalui kita. Ia akan melakukannya pada saat kita percaya kepada-Nya. Mari kita mendengarkan sekali lagi perkataan Tuhan Yesus yang indah ini, "Aku adalah Pokok anggur, kamu adalah ranting-rantingnya." Kita tidak harus mencoba menjadi ranting-ranting, karena kita adalah ranting- ranting itu. Kita telah dipersatukan dengan Dia di dalam suatu persatuan yang hidup selama-lamanya.

Ketika kita menjalani kehidupan kita setiap hari, kita harus berpegang kepada kenyataan bahwa kita telah dipersatukan dengan Kristus. Ingatlah, iman terhadap kedudukan di dalam Dia menjadi nyata di dalam kehidupan kita.

Apakah artinya? Artinya adalah bahwa ketika kita mempercayai dan berpegang kepada kenyataan bahwa kita berada di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita, maka kita menerima kekuatan untuk hidup sebagai anak Tuhan.


Akhir Pelajaran (DIK-P09)

DOA

"Tuhan Yesus, saya adalah ranting di dalam-Mu. Saya berterima kasih kepada-Mu karena saya telah berada di dalam Engkau dan Engkau berada di dalam saya. Saya tidak akan coba berusaha lagi untuk hidup sama seperti seharunya orang Kristen hidup, melainkan saya akan mempercayai Engkau untuk hidup di dalam saya setiap hari." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

DIK-Pelajaran 10

Pertanyaan 10 | Referensi 10a | Referensi 10b | Referensi 10c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Menang Atas Keinginan Daging
Kode Pelajaran : DIK-P10

Pelajaran 10 - MENANG ATAS KEINGINAN DAGING

Daftar Isi

Ayat Kunci

  1. Apa "Keinginan Daging" Itu?
  2. Dari Manakah Datangnya Keinginan Daging itu?
  3. Apa yang Terjadi Ketika Keinginan Daging Berkuasa?
  4. Bagaimana Tindakan Tuhan Terhadap Keinginan Daging ini?
    1. Tuhan Menyalibkan Kita Bersama Kristus.
    2. Tuhan Memberi Kuasa Yang Baru Kepada Kita, yaitu Roh Kudus.
      1. Siapakah Roh Kudus itu?
      2. Apa yang dilakukan oleh Roh Kudus?
  5. Bagaimana Kita Dapat Mengalahkan Keinginan Daging ?
    1. Pikiran
    2. Berserah
    3. Percaya

Doa

TEKS ALKITAB

Galatia 5:16-25, Roma 7:15 - 8:13

AYAT KUNCI

Galatia 5:16

Setiap orang Kristen menghadapi dua kuasa atau kekuatan yang berlawanan di dalam dirinya yaitu keinginan daging dan keinginan Roh. Roh Kudus ingin kita melakukan kehendak Tuhan tetapi keinginan daging ingin kita melakukan kehendak kita sendiri. Sebagian orang Kristen beranggapan bahwa sifat lama mereka telah dimusnahkan atau disingkirkan ketika mereka dilahirkan baru/diselamatkan. Namun sebenarnya tidaklah demikian keadaannya. Tuhan tidak memusnahkan atau menyingkirkan sifat lama kita yang berdosa ketika Ia menyelamatkan kita. Sebaliknya, Ia memberikan Roh-Nya untuk menakhlukkannya. Selama kita hidup di dunia ini, kita tetap akan memiliki keinginan daging dan keinginan daging ini akan selalu berlawanan dengan keinginan Roh Tuhan yang tinggal di dalam diri kita. Galatia 5:17 berkata:

"Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan ...."

Ketika kita dilahirkan baru, suatu perkara yang indah terjadi. Roh Kudus datang dan tinggal dalam kita. Dengan demikian setiap orang Kristen memiliki "daging" dan "Roh", sedangkan orang yang belum diselamatkan hanya memiliki satu sifat saja yaitu sifat "daging".

Dalam pelajaran ini, kita akan menyelidiki musuh yang ada di dalam kita yaitu keinginan daging. Kita akan melihat dari manakah asalnya, apa yang terjadi ketika keinginan daging itu menguasai kita dan bagaimana kita dapat beroleh kemenangan atasnya.

1. APA "KEINGINAN DAGING" ITU?

Keinginan daging adalah sifat manusia yang hidup tanpa Tuhan. Hal itu menggambarkan keadaan manusia di luar Tuhan. Di dalam Alkitab, Tuhan mengatakan banyak perkara mengenai kedagingan dan tidak ada satupun yang baik yang dijelaskan tentang sifat itu! Di bawah ini ada lima ciri tentang sifat kedagingan itu:

  1. Keinginan daging itu adalah sangat berdosa.
  2. Keinginan daging itu tidak mau mentaati Tuhan.
  3. Keinginan daging itu tidak dapat mengenal Tuhan.
  4. Keinginan daging itu tidak dapat menyenangkan Tuhan.
  5. Keinginan daging itu tidak dapat diubah menjadi baik.

Contoh dari bentuk perwujudan keinginan daging itu ialah kehendak diri sendiri yang membuat kita selalu ingin menuruti kehendak kita sendiri, hawa nafsu dan keinginan tubuh. Walaupun kita telah berusaha menyingkirkan semua itu dari hati kita dan menjadikan Kristus sebagai Raja kita, namun kita masih selalu digoda oleh mereka.

2. DARI MANAKAH DATANGNYA KEINGINAN DAGING ITU?

Keinginan daging kita datang dari Adam. Tuhan ingin agar Adam dikuasai atau diperintah oleh Roh-Nya. Namun Adam tidak mentaati Tuhan. Ketika ia melanggar perintah-Nya, ia mengalami kematian secara rohani. Ia telah terpisah dari Roh Tuhan. Jiwa dan tubuh Adam telah menjadi berdosa. Adam yang seharusnya dikendalikan oleh Roh Tuhan, kini telah dikendalikan oleh jiwa dan tubuhnya yang berdosa yang disebut oleh Alkitab sebagai "keinginan daging.". Oleh karena Adam adalah kepala bagi semua umat manusia maka ia telah mewariskan sifat yang telah berdosa ini kepada seluruh umat manusia.

3. APA YANG TERJADI KETIKA KEINGINAN DAGING BERKUASA?

Tahukah Anda apa yang akan terjadi ketika keinginan daging menguasai manusia? Tubuhnya akan menjadi seperti "pabrik dosa." Setiap orang tahu apa yang disebut "pabrik." Pabrik adalah gedung yang digunakan untuk memproduksi barang tertentu.

Ketika dosa menguasai manusia, maka tubuhnya menjadi seperti "pabrik dosa." Tuhan Yesus sendiri menyatakan tentang hal-hal yang diproduksi oleh pabrik ini. Ia berkata, "Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:21-23).

4. BAGAIMANA TINDAKAN TUHAN TERHADAP KEINGINAN DAGING INI?

Kita telah mempelajari bahwa keinginan daging itu tidak dimusnahkan atau disingkirkan ketika kita diselamatkan. Keadaan daging itu tetap berdosa sebagaimana keadaannya sebelum kita diselamatkan. Sifat itu tidak akan dapat diubah menjadi sesuatu yang baik. Apakah yang Tuhan lakukan?

  1. Tuhan menyalibkan kita bersama Kristus

    Mengapa Ia menyalibkan kita bersama dengan Kristus? Jawabnya adalah supaya KITA TIDAK LAGI DIKUASAI OLEH KEINGINAN DAGING. Roma 6:6 menyatakan: "Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan bersama Kristus supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa."

    Tuhan telah menghukum dosa di dalam daging itu. Keinginan daging itu masih tetap ada bersama kita tetapi ia tidak lagi berhak menguasai atau memerintah di dalam hidup kita. Kuasanya atas kita telah dipatahkan. Kita mungkin masih akan berbuat dosa lagi namun kita tidak harus melakukannya. Kita dapat berkata "Tidak" kepada keinginan daging. Alkitab mengatakan,

    "Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, TETAPI BUKAN KEPADA DAGING, supaya hidup menurut daging." Roma 8:12

    "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya." Roma 6:12

  2. Tuhan memberi Kuasa yang Baru kepada kita, yaitu Roh Kudus

    Tuhan bukan saja menghukum daging itu di kayu salib melainkan Ia juga melakukan sesuatu yang lain. Ia memberikan kita kuasa yang baru yaitu Roh Kudus. Alkitab mengatakan:

    "Dan karena kamu adalah anak, maka Tuhan telah menyuruh Roh Anak- Nya ke dalam hati kita...." Galatia 4:6

  1. Siapakah Roh Kudus itu?

    Roh Kudus itu adalah Tuhan. Ia bukanlah sekedar pengaruh atau kuasa untuk kebaikan. Ia adalah Pribadi yang hidup. Jangan sekali-kali kita mengartikan Roh Kudus itu hanya sebagai alat atau benda. Roh Kudus adalah Pribadi yang hidup dan Ia adalah Tuhan. Kita perlu selalu ingat akan kebenaran ini yaitu, "Roh Tuhan yang tinggal di dalam saya adalah Pribadi yang hidup. Ia adalah Tuhan yang diam di dalam hati saya." Roh Kudus adalah Karunia Tuhan kepada setiap anak-Nya atau orang percaya. Setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus memiliki Roh Kudus yang tinggal di dalam dia. Sekali Roh Kudus datang untuk tinggal di dalam hati kita, Ia tidak akan meninggalkan kita lagi. Tuhan Yesus berkata:

    "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu, yaitu Roh Kebenaran." Yohanes 14:16-17

  2. Apa yang dilakukan oleh Roh Kudus?

    Ada dua hal yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam diri kita:

    1. Roh Kudus berperang melawan keinginan daging.
    2. Roh Kudus memproduksikan kehidupan Kristus di dalam kita.

    Marilah kita melihat lebih lanjut mengenai kedua pekerjaan Roh Kudus ini:

    1. Roh Kudus berperang melawan keinginan daging. Kuasa daging di dalam diri kita itu sangatlah kuat. Terkadang keinginan daging ini sedemikian kuat sehingga ia sering mengalahkan kehendak kita. Kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tidak ingin lakukan. Bahkan Rasul Paulus sendiri tidak dapat melawan keinginan daging ini dengan kekuatannya sendiri. Ia berkata,

      "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." Roma 7:19

      Meskipun demikian, Tuhan tidak membiarkan kita menaklukkan keinginan daging ini dengan kekuatan kita sendiri. Ia telah memberi kepada kita suatu kuasa yang baru yaitu Roh Kudus yang akan berperang melawan sifat kedagingan itu bagi kita. Ia membenci dosa. Ia melawan setiap dosa di dalam kehidupan kita. Daging selalu ingin agar kita berdosa tetapi Roh Kudus berperang melawan dosa itu. Alkitab mengatakan,

      "Sebab keinginan daging berlawanan (berperang) dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan ......" (Galatia 5:17).

      Yang manakah lebih berkuasa - sifat kedagingan itu atau Roh? Pasti Roh. Namun Roh Kudus itu tidak akan melepaskan kita kalau kita sendiri tidak ingin dan rela untuk dilepaskan. Kita harus MEMILIH untuk dilepaskan dari perbuatan daging itu.

      Sebagai contoh, andai kata kita memiliki sifat pemarah. Ini jelas adalah perbuatan daging. Apakah kita membiarkan sifat itu terus menguasai kita atau memilih untuk dibebaskan darinya. Tuhan mengatakan bahwa keinginan daging tidak boleh menguasai kita. Sebaliknya keinginan daging itu perlu dimatikan. Apakah kita setuju dengan Tuhan mengenai hal ini? Apakah kita akan memilih untuk dilepaskan dari perbuatan daging ini? Jika demikian sebagaimana kita percaya dan berpegang kepada perihal kematian kita bersama Kristus, maka kita patut memohon agar Roh Kudus mematikan keinginan daging itu dan percaya bahwa Ia dapat melakukannya. Alkitab mengatakan:

      ".......jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Roma 8:13

    2. Roh Kudus memproduksikan Kehidupan Kristus di dalam kita. Roh Kudus bukan saja berperang melawan keinginan daging tetapi juga melakukan perkara yang lain. Ia menghasilkan kehidupan Kristus di dalam kita. Tuhan Yesus berkata: "Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku." (Yohanes 16:14). Kristus adalah kudus, lemah lembut, pengasih, suci, benar, baik hati, sabar, murah hati, setia. Roh Kudus membantu mewujudkan secara nyata sifat-sifat Kristus ini di dalam kehidupan kita. Roh Kudus menjadikan sifat- sifat dalam kehidupan Kristus ini menjadi bagian dari kehidupan kita juga. "Buah Roh" itu pada hakekatnya adalah kehidupan Kristus di dalam kita. Alkitab menyatakan kita bagaimana kehidupan itu dinyatakan:

      "Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri....." (Galatia 5:22, 23).


5. BAGAIMANA KITA DAPAT MENGALAHKAN KEINGINAN DAGING?

Sebagai orang Kristen, ada dua kuasa yang bekerja di dalam kita, sehingga kita pun akan menghadapi dua jalan pula. Kita dapat berjalan di dalam daging atau di dalam Roh.

Hidup atau berjalan di dalam daging berarti dikuasai oleh keinginan daging sedangkan berjalan di dalam Roh berarti dikuasai oleh Roh. Kita telah melihat apa yang terjadi bila kedagingan menguasai manusia. Dosa-dosa yang dahsyat yang diakibatkan oleh keinginan daging ini terjadi di dalam kehidupan setiap orang yang belum diselamatkan. Hal yang sama pula dapat terjadi di dalam kehidupan orang Kristen. Tak ada seorang Kristen yang kebal terhadap dosa kedagingan ini. Karena itu Alkitab menasihatkan kepada kita:

"Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati- hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12).

Untuk terhindar dari menuruti atau memenuhi hawa nafsu daging, maka kita harus HIDUP ATAU BERJALAN DI DALAM ROH. Artinya, kita harus senantiasa dikuasai oleh Roh Kudus. Rasul Paulus menulis,

"Maksudku ialah: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging." (Galatia 5:16). Bagaimanakah kita dapat berjalan di dalam Roh? Untuk dapat hidup atau berjalan di dalam Roh, maka ada tiga perkara yang perlu dilakukan.

  1. Kita harus memusatkan pikiran kita kepada perkara-perkara dari Roh.
  2. Kita harus berserah kepada Roh.
  3. Kita harus percaya kepada Roh. Mari kita menyelidiki mengenai ketiga perkara ini:

    1. Pikiran

      Untuk dapat berjalan di dalam Roh, kita harus memusatkan pikiran kita kepada perkara-perkara dari Roh. Kita harus memuliakan kegiatan setiap hari dengan mengadakan saat teduh bersama Tuhan dengan membaca Firman-Nya dan berbicara dengan Dia di dalam doa. Setiap hari, kita patut memusatkan pikiran kita kepada Kristus dan Firman-Nya. Pada saat pikiran kita dipenuhi dengan perkara-perkara yang dari Roh, maka kita akan menyadari pimpinan Roh Kudus itu di dalam kehidupan kita. Sebaliknya apabila pikiran kita dipenuhi dengan perkara-perkara daging, maka hal itu akan memimpin kita kepada perbuatan dosa dan akhirnya mengakibatkan pemisahan dari Tuhan yaitu kematian. Alkitab mengatakan,

      "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal daripada Roh itu." Galatia 6:8

      Perkara-perkara apakah yang memenuhi pikiran kita selama ini? Untuk perkara apakah kita menghabiskan waktu dan uang kita? Apakah perkara yang berasal dari Roh atau daging?

    2. Berserah

      Untuk dapat berjalan di dalam Roh, kita harus berserah kepada-Nya. Perkataan "berserah" berarti memberi diri kepada "Tuhan". Kita harus berkata "Ya" kepada Roh dan "Tidak" kepada daging. Jangan sekali-kali kita menyerah kepada daging. Daging itu perlu dimatikan. Alkitab mengatakan,

      "Barang siapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." (Galatia 5:24).

    3. Percaya

      Untuk dapat berjalan di dalam Roh, kita perlu percaya kepada-Nya. Kita tidak dapat mengalahkan daging itu dengan kekuatan kita sendiri. Roh Kuduslah yang akan mengalahkan keinginan daging itu dan Ia dapat melakukannya bila kita mempercayai-Nya. Bila kita bergantung penuh kepada-Nya, maka Ia akan memproduksikan kehidupan Kristus di dalam kita dan kehidupan Kristus itu akan mengalahkan keinginan daging.


Akhir Pelajaran (DIK-P10)

DOA

"Ya Tuhan Yesus, saya berterima kasih untuk Roh Kudus yang sekarang tinggal di dalam saya. Biarlah saya selalu sadar akan kehadiran-Mu. Biarlah saya percaya dan mentaati-Mu setiap saat agar saya tidak menuruti keinginan hawa nafsu daging saya." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Pertanyaan

DIK-Pertanyaan 01

Pelajaran 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Alam Semesta
Kode Pelajaran : DIK-T01

Pertanyaan 01 - PENCIPTAAN ALAM SEMESTA


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Kapan dan berapa lamakah Tuhan sudah ada dan akan ada?
  2. Dari manakah orang Kristen dapat mengetahui dengan pasti tentang penciptaan segala sesuatu?
  3. Apakah arti kata "Kejadian"?
  4. Dengan apakah Tuhan mencipta langit dan bumi serta segala isinya?
  5. Bagaimanakah keadaan segala sesuatu sesudah diciptakan oleh Tuhan?
  6. Untuk tujuan apakah Tuhan menciptakan segala sesuatu?
  7. Apakah artinya penyembahan kepada Tuhan?
  8. Apakah yang disebut dengan faham "Deisme"?
  9. Ibrani 1:3 menjelaskan bahwa Kristus menopang segala yang ada dengan firman- Nya yang penuh kuasa. Apakah arti kata "menopang"?
  10. Apakah yang terjadi jika Tuhan menarik diri dan tidak lagi memelihara ciptaan-Nya?

Pertanyaan (B):

  1. Apakah pentingnya meyakini pengajaran bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu?
  2. Bagaimana cara Allah memelihara ciptaan-Nya? Berikan contoh- contohnya.

DIK-Pertanyaan 02

Pelajaran 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-T02

Pertanyaan 02 - PENCIPTAAN MANUSIA


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Menurut Alkitab, siapakah yang menciptakan manusia?
  2. Apakah artinya, "manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah"?
  3. Bagaimanakah manusia pertama diciptakan?
  4. Sebutkan tiga teori pembagian natur manusia dalam teologia.
  5. Teori apakah yang mengatakan bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Allah memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh?
  6. Apakah dasar ayat yang dipakai oleh Teori Dikotomi dalam membagi manusia menjadi 2 bagian?
  7. Mengapa teori Monokotomi menganggap bahwa manusia merupakan pribadi yang utuh?
  8. Bagaimanakah kondisi Adam pada waktu diciptakan?
  9. Mengapa manusia disebut sempurna?
  10. Untuk tujuan apakah manusia diciptakan Tuhan?

Pertanyaan (B):

  1. Apakah pandangan tentang asal usul manusia menurut teori Evolusi (Darwin) bertentangan dengan ajaran Alkitab? Mengapa?
  2. Apakah yang menyebabkan perbedaan pendapat dari teori-teori tentang natur manusia?

DIK-Pertanyaan 03

Pelajaran 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : S e t a n
Kode Pelajaran : DIK-T03

Pertanyaan 03 - S E T A N


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Siapakah makhluk ciptaan Tuhan yang pertama kali memberontak melawan Tuhan?
  2. Mengapa malaikat tidak boleh disembah?
  3. Mengapa Lucifer dicampakkan dari kedudukannya?
  4. Apakah arti nama Setan?
  5. Siapakah yang disebut sebagai "malaikat-malaikat yang telah jatuh"?
  6. Selain malaikat-malaikat yang telah jatuh, siapa lagi yang disebut sebagai pengikut Setan?
  7. Apakah nama 2 kerajaan yang saling bertentangan di dunia ini?
  8. Apakah yang dilakukan Setan terhadap Firman Tuhan untuk menghancurkan manusia?
  9. Bagaimanakah akhir hidup Setan dan pengikut-pengikutnya?
  10. Bagaimanakah cara kita agar terhindar dari segala tipu daya Setan?

Pertanyaan (B):

  1. Mengapa Tuhan mengijinkan Lucifer memberontak kepada Tuhan? Apakah berarti Tuhan tidak berkuasa atas Lucifer?
  2. Apakah Setan memiliki kuasa? Sampai dimanakah kuasa Setan? Bagaimana kita mengalahkan Setan?

DIK-Pertanyaan 04

Pelajaran 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kejatuhan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-T04

Pertanyaan 04 - KEJATUHAN MANUSIA


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Mengapa Adam dapat berbuat dosa?
  2. Mengapa Hawa bisa tertipu oleh Setan?
  3. Dengan cara apakah Setan membuat Adam juga jatuh dalam dosa?
  4. Apakah sebenarnya dosa yang dilakukan Adam?
  5. Apakah yang dimaksud dengan kematian rohani?
  6. Bagaimana perasaan Adam dan Hawa setelah mereka jatuh dalam dosa?
  7. Janji apakah yang Tuhan berikan kepada manusia supaya manusia bisa kembali kepada Allah?
  8. Melalui siapakah janji keselamatan itu akan digenapi?
  9. Pelajaran apakah yang ingin Tuhan sampaikan pada manusia saat Ia menyembelih binatang yang tidak bersalah dan mengambil kulitnya untuk membuatkan pakaian bagi mereka?
  10. Mengapa Tuhan mau menerima korban persembahan binatang sebagai penebusan dosa pada masa Perjanjian Lama?

Pertanyaan (B):

  1. Mengapa Tuhan memberikan "kehendak bebas" kepada manusia?
  2. Bagaimanakah dosa menyebar ke seluruh umat manusia?

DIK-Pertanyaan 05

Pelajaran 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Di Dalam Adam
Kode Pelajaran : DIK-T05

Pertanyaan 05 - DI DALAM ADAM


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Mengapa Adam disebut sebagai kepala semua umat manusia ?
  2. Apakah artinya "kita ada di dalam Adam"?
  3. Bagaimanakah kita bisa berada di dalam Adam?
  4. Fakta-fakta apakah yang membuktikan bahwa kita berada di dalam Adam?
  5. Apakah yang bisa membuat manusia terpisah dari Tuhan?
  6. Perubahan apakah yang terjadi dalam hati Adam ketika ia berdosa?
  7. Apakah artinya bahwa keturunan Adam dilahirkan "menurut gambar dan rupanya"?
  8. Di bagian ayat manakah disebutkan bahwa setiap manusia berdosa berarti berada di bawah kuasa dosa?
  9. Setelah mengalami kematian, apakah yang akan terjadi pada manusia yang telah jatuh dalam dosa?
  10. Mengapa setiap orang harus dilahirkan kembali?

Pertanyaan (B):

  1. Apakah yang membedakan antara konsep dosa dalam ajaran Kristen dengan dosa dalam ajaran agama lain? Jelaskan !
  2. Apakah pernah terpikir dalam benak Anda bahwa tidak adil kalau Anda juga harus menanggung akibat dosa yang diperbuat Adam? Bagaimana Anda mengatasi hal ini?

DIK-Pertanyaan 06

Pelajaran 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Manusia Kedua dari Tuhan
Kode Pelajaran : DIK-T06

Pertanyaan 06 - MANUSIA KEDUA DARI TUHAN


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Mengapa Allah harus mengirimkan Manusia Kedua?
  2. Siapakah Manusia kedua itu?
  3. Bagaimana Manusia Kedua ini datang ke dunia?
  4. Mengapa Yesus Kristus disebut Anak Allah?
  5. Mengapa Yesus juga disebut sebagai Anak Manusia?
  6. Apakah 2 alasan penting Yesus Kristus datang ke dunia ini?
  7. Apakah tujuan Setan mencobai manusia Yesus?
  8. Mengapa Yesus tidak kalah oleh pencobaan Setan?
  9. Apakah pencobaan terbesar dan terakhir yang dialami oleh Yesus?
  10. Dampak besar apakah yang terjadi akibat peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus?

Pertanyaan (B):

  1. Bukti-bukti apakah yang dapat anda tunjukkan bahwa Yesus adalah 100% Tuhan dan 100% manusia?
  2. Apakah Allah tidak mempunyai cara alternatif lain untuk menebus manusia kecuali melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus?

DIK-Pertanyaan 07

Pelajaran 07 | Referensi 07a | Referensi 07b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kelahiran Baru
Kode Pelajaran : DIK-T07

Pertanyaan 07 - KELAHIRAN BARU


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Apakah "kelahiran baru" itu?
  2. Mengapa kelahiran baru begitu penting bagi manusia?
  3. Apakah maksudnya, "kelahiran baru itu bukan dari darah"?
  4. Apakah maksudnya, "kelahiran baru itu bukan dari keinginan daging"?
  5. Apakah maksudnya, "kelahiran baru itu bukan dari keinginan seorang laki-laki"?
  6. Siapakah yang berperan dalam karya kelahiran baru?
  7. Perpindahan kedudukan seperti apakah yang terjadi ketika kita lahir baru?
  8. Apakah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita agar bisa mengalahkan sifat-sifat lama kita?
  9. Jaminan apakah yang diberikan bagi seseorang yang telah dilahirkan baru?
  10. Bagaimanakah kita dapat mengetahui bahwa kita telah dilahirkan baru?

Pertanyaan (B):

  1. Kalau kelahiran baru adalah semata-mata karya Tuhan saja, lalu apa gunanya usaha manusia menginjili orang lain yang belum mengenal Tuhan?
  2. Dapatkah seseorang yang sudah dilahirkan baru tetap memiliki kehidupan rohani yang tidak bertumbuh?

DIK-Pertanyaan 08

Pelajaran 08 | Referensi 08a | Referensi 08b | Referensi 08c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Di Dalam Kristus
Kode Pelajaran : DIK-T08

Pertanyaan 08 - DI DALAM KRISTUS


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Apakah artinya "di dalam Kristus"?
  2. Siapakah yang menempatkan kita di dalam Kristus?
  3. Berkat-berkat apakah yang kita dapatkan di dalam Kristus?
  4. Apakah artinya "dibenarkan"?
  5. Bila tidak diperdamaikan dengan Allah, apakah posisi kita di hadapan Allah?
  6. Bagaimanakah Tuhan menyebut nama yang baru bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya?
  7. Apakah yang kita peroleh setelah kita dimeteraikan oleh Roh Kudus?
  8. Apakah artinya "kedudukan kita"?
  9. Apakah artinya "keadaan kita"?
  10. Apakah artinya bahwa kita harus "berjalan" dengan iman?

Pertanyaan (B):

  1. Di dalam Kristus, semua dosa kita diampuni dan kita dibenarkan. Tetapi mengapa setiap hari kita masih minta pengampuan untuk dosa- dosa yang kita?
  2. Iman bagaimanakah yang menjadi dasar pembenaran kita dalam Kristus?

DIK-Pertanyaan 09

Pelajaran 09 | Referensi 09a | Referensi 09b | Referensi 09c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Suatu Hubungan Yang Baru
Kode Pelajaran : DIK-T09

Pertanyaan 09 - SUATU HUBUNGAN YANG BARU


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Siapakah yang dilambangkan sebagai Pokok Anggur?
  2. Siapakah yang dilambangkan sebagai ranting-rantingnya?
  3. Apakah yang terjadi bila ranting terpisah dari pokok anggur?
  4. Apakah maksudnya kita dicangkokkan pada Pokok Anggur?
  5. Apakah artinya bahwa kita "mengambil bagian dalam kodrat ilahi"?
  6. Janji apakah yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia pergi?
  7. Disebut apakah peristiwa yang menandai kedatangan Roh Kudus pertama kali?
  8. Kapankah Allah Bapa dan Tuhan Yesus mengirimkan Roh Kudus kepada murid-murid-Nya?
  9. Apakah hakekat kehidupan Kristen itu?
  10. Bagaimanakah kita menjalani kehidupan Kristen itu?

Pertanyaan (B):

  1. Roh Penolong (Roh Kudus) yang dijanjikan oleh Kristus itu turun pada Hari Pentakosta. Apakah berarti Roh Kudus belum turun sebelumnya (dalam Perjanjian Lama)? Apakah ada perbedaan pelayanan Roh Kudus pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?
  2. Mengapa kehidupan Kristen seringkali akhirnya berubah menjadi suatu rutinitas agama dan kehilangan maknanya? Bagaimana cara menghindarkan hidup keagamaan yang hanya menjadi rutinitas saja?

DIK-Pertanyaan 10

Pelajaran 10 | Referensi 10a | Referensi 10b | Referensi 10c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Mengalahkan Keinginan Daging
Kode Pelajaran : DIK-T10

Pertanyaan 10 - MENGALAHKAN KEINGINAN DAGING


INSTRUKSI

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 01 dengan teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, lalu jawablah dengan jelas dan tepat.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:
    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!

Perhatian:

Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:

< staf-pesta(at)sabda.org >

Pertanyaan (A):

  1. Apakah "keinginan daging" itu?
  2. Dari manakah datangnya keinginan daging itu?
  3. Apa yang akan terjadi ketika keinginan daging menguasai manusia?
  4. Siapakah Roh Kudus itu?
  5. Apa yang dilakukan oleh Roh Kudus dalam diri kita?
  6. Bila Roh Kudus telah ada dalam diri kita, apa peranan kita agar Ia bisa mengalahkan keinginan daging dalam diri kita?
  7. Apakah sifat-sifat Kristus yang dihasilkan oleh Roh Kudus dalam hidup kita?
  8. Bagaimanakah caranya agar terhindar dari menuruti atau memenuhi hawa nafsu daging?
  9. Bagaimanakah caranya supaya kita dapat memusatkan pikiran kita kepada perkara-perkara dari Roh?
  10. Apakah artinya berserah kepada Tuhan?

Pertanyaan (B):

  1. Mungkinkah orang Kristen lahir baru mendapatkan kesempurnaan seperti yang disebutkan dalam 2 Kor. 7:1, Ibr. 12:23, Kol. 1:28?
  2. Bagaimana orang Kristus mendapatkan jaminan akan kepastian keselamatannya?

Referensi

DIK-Referensi 01a

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b | Referensi 01c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Alam Semesta
Kode Pelajaran : DIK-R01a

Referensi DIK-R01a diambil dari:

Judul Buku : MENGENALI KEBENARAN
Pengarang : Bruce Milne
Penerbit : Jakarta, BPK Gunung Mulia
Hal : 109 - 112 dan 115 - 118
Elektronik : Program SABDA(c)

REFERENSI PELAJARAN 01a - PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

ASAL USUL MASALAH

Apa kaitannya antara kisah Alkitab tentang penciptaan (Kej. 1-2) dan penjelasan yang diberikan para ahli ilmu alam yang kadang-kadang menolak adanya "titik permulaan" atau menempatkannya pada masa dulu yang tak terbatas ?

  1. Kisah dalam Kitab Kejadian

  2. Pasal-pasal pembukaan Kitab Kejadian sepenuhnya diilhami oleh Roh Kudus seperti bagian lain dari Alkitab. Yesus Kristus serta para rasul jelas melihatnya demikian (lihat misalnya Mat. 19:4; Mrk. 10:6; 13:19; Yoh. 1:1; Kis. 17:24; 1Kor 6:16; 11:7,9; 15:45,47; 2Kor 4:6; Ef. 5:31; Kol. 3:10; Yak. 3:9; 2Ptr 3:5; Why. 2:7; 22:2,14,19). Jadi kita tidak mempersoalkan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah, hanya tafsiran yang tepat tentang bahan tentang itu dalam Alkitab.

    Salah satu pendekatan menafsirkannya secara harfiah. Alam semesta dibentuk oleh Allah dari yang tidak ada melalui enam sabda selama enam periode berturut-turut yang terdiri dari 24 jam. Variasi pendekatan ini melihat "hari" dalam Kitab Kejadian sebagai zaman atau tahapan dalam pembentukan kosmos oleh Allah (bnd. Mzm 90:4; 2 Ptr 3:8). Variasi lain menganggap "enam hari" itu sebagai kurun waktu enam hari yang digunakan untuk menyatakan ciptaan kepada penulis Kitab Kejadian atau yang digunakan untuk menjelaskannya kepada bangsa Israel. Pendekatan lain lagi melihat keseluruhannya itu bersifat gambaran saja, rinciannya kurang penting dibandingkan dengan tema utama, yakni bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dalam alam semesta.

    Pada bagian pertama di atas ditekankan bahwa Alkitab harus ditafsirkan menurut bentuk sastranya (puisi sebagai puisi, sejarah sebagai sejarah, dst.) dan bahwa maksud si penulis harus dipertimbangkan. Dalam hal ini timbul pertanyaan, apakah Kejadian 1-2 berbentuk puisi religius atau tulisan ilmiah tentang asal semesta alam? Ataukah pasal- pasal itu menggabungkan keduanya dan menjadi kisah peristiwa yang benar-benar terjadi dan juga menyampaikan kebenaran religius?

    Dalam usaha mencari jawaban atas pertanyaan seperti ini, ada baiknya menyelidiki perikop-perikop Alkitab lain yang mengacu pada hal-hal alami. Kesimpulan-kesimpulan yang muncul adalah sebagai berikut:

    • bahasa Alkitab pada umumnya bahasa populer, yang berusaha menyampaikan berita penyelamatan kepada semua bangsa pada setiap zaman, dan oleh karena itu menggunakan bahasa populer yang tidak teknis;

    • bahasa Alkitab adalah bersifat fenomenal, artinya berkaitan dengan apa yang nampak dan menggambarkan sesuatu dari sudut pandang pengamat, sehingga matahari disebut "terbit" dan "terbenam" (walaupun sebenarnya yang bergerak adalah bumi, bukan matahari);

    • bahasa Alkitab tidak teoretis dan tidak langsung mengemukakan teori tentang hakikat benda atau suatu kosmologi tertentu, walaupun tentu saja ajarannya relevan dengan masalah-masalah seperti itu, misalnya dengan melawan dualisme dan panteisme;

    • bahasa Alkitab menyampaikan penyataan ilahi terutama melalui kebudayaan zamannya.

    Semua faktor itu perlu dipertimbangkan dengan saksama sebelum kita mengemukakan pendapat tentang tafsiran Kejadian 1 - 2 yang tepat.

  3. Persoalan lain

  4. Pertama, gagasan ciptaan waktu menimbulkan kesulitan khusus. Augustinus memperhatikan ini berabad-abad yang lalu ketika mengatakan bahwa Allah tidak mencipta di dalam waktu tetapi dengan waktu . Manusia tidak dapat memahami peristiwa seperti itu dengan tepat, oleh karena semua pemikiran kita berlandaskan pengertian waktu sebagai masa yang terdiri dari masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang. Dalam tiap sistem yang dapat diterima menurut penalaran manusia, tiap peristiwa ada masa lampaunya yang dalam prinsip dapat diketahui. Jadi tindakan mencipta pada prinsipnya tidak dapat diselidiki manusia karena tidak ada masa lampau sebelumnya: masa lampau yang dalam prinsip dapat diketahui adalah bagian dari apa yang dijadikan Allah pada saat menciptakan ruang dan waktu.

    Kedua, ruang dan waktu saling berkaitan. Terjadinya semesta alam pada titik tertentu di dalam waktu juga menyiratkan terjadinya pada titik tertentu di dalam ruang. Hal ini seharusnya membuat kita hati-hati sebelum berbicara mengenai dampak kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian itu bagi keterangan ahli fisika mengenai asal-usul alam semesta (lihat juga pembahasan tentang teori evolusi di bawah: ps 11.2b.).

    Ada banyak buku yang membahas persoalan ini secara lebih mendalam. Di sini cukuplah dikatakan bahwa kita berbicara tentang pernciptaan pada permulaan zaman karena begitulah kata Alkitab. Kita jangan ragu-ragu berbicara tentang tindakan Allah pada permulaan zaman, yang menciptakan alam semesta dari yang tidak ada. Tetapi alangkah baiknya bila kita tidak terlalu ketat mengenai penafsiran bahan Alkitab tentang caranya alam semesta itu diciptakan.

PENCIPTAAN DUNIA ROHANI

Karya penciptaan Allah tidak terbatas pada alam semesta yang dapat dilihat, tetapi meliputi juga alam rohani (Mzm 148:2,5; Kol 1:16). Waktu penciptaannya tidak disebutkan dalam Alkitab, tetapi Kejadian 1 - 2 menyarankan bahwa dunia rohani dan jasmani terjadi secara bersamaan (Kej 1:1; 2:1; namun bnd. Ayb 38:4-7).

Makhluk yang mendiami dunia rohani digambarkan dengan bermacam cara seperti: malaikat, roh, setan, kerub, seraf, anak-anak Allah, pemerintah, kuasa, penguasa (Yes. 6:2; Rm 8:38; Ef 6:7). Ada dua yang dikenal namanya, yakni Gabriel (Luk 1:26) dan Mikhael (Dan 12:1; Why 12:7). Mereka tidak memiliki tubuh jasmani (Ibr 1:7) dan dikatakan jumlahnya banyak sekali (Ul 33:2; Mzm 68:18; Mat 26:53; Mrk 5:13; Why 5:11).

Tugas mereka antara lain ialah memuja Allah (Yes 6; Why 4), melaksanakan kehendak Allah (Mzm 103:20) dan melayani "mereka yang harus memperoleh keselamatan" (Ibr 1:14). Secara khusus mereka dihubungkan dengan pelayanan dan misi Yesus (Mat 1:20; 4:11; 28:2; Yoh 20:12; Kis 1:10).

Berbeda dengan nenek moyang kita, orang Kristen kini tidak begitu memikirkan malaikat Allah. Kita enggan terhadap pokok ini karena pengaruh masyarakat modern yang tidak percaya adanya dunia rohani, kesadaran akan bahaya perasaan ingin tahu di bidang ini dan keseganan menampilkan perantara Allah dan manusia selain Kristus (keseganan yang timbul dari ekses dalam gereja tertentu). Dan Alkitab memang memberi tempat yang menonjol kepada pelayan-pelayan surgawi Allah ini. Namun perhatian yang makin besar terhadap setan-setan dan roh-roh jahat lain dalam masyarakat modern, dan daya pesona cerita-cerita fiksi tentang ilmu pengetahuan, seharusnya mendorong kita merenungkan "beribu-ribu malaikat", kumpulan meriah warga-warga tatanan surgawi yang antara lain sibuk melayani kepentingan kita (Ibr 1:14; 12:22).

Dua bahaya muncul. Ada kemungkinan orang praktis mengabaikan ajaran ini, seperti yang terjadi dalam banyak tulisan teologi modern. Pada pihak lain, orang dapat terlalu menitikberatkannya, khususnya mengenai setan. Menjadi orang Kristen alkitabiah berarti bukan saja percaya pada segala yang diajarkan oleh Alkitab, tetapi juga menjaga keseimbangan antara berbagai ajaran di dalam Alkitab. Oleh sebab itu, kita harus memandang serius terhadap pergumulan dengan kuasa-kuasa jahat, sebagaimana dilakukan Yesus dan para rasul. Namun dimensi ini tidak terlalu muncul di dalam Perjanjian Baru dan harus demikian juga dalam pemikiran kita.

Keseimbangan alkitabiah sekali lagi harus menentukan sikap dalam memikirkan roh-roh jahat. Mereka pun makhluk Allah, yang keberadaannya tergantung pada Dia, dan akhirnya merupakan pelayan maksud-Nya. Agaknya jelas bahwa mereka tidak diciptakan jahat (Kej 1:31; bnd. 2Ptr 2:4). Seperti umat manusia mereka jatuh, mungkin karena kesombongan (Yud 6). Menurut pandangan lama, berdasarkan tafsiran salah dari Kejadian 6:2 mereka jatuh karena nafsu birahi tetapi pandangan ini harus ditolak. Mengenai seluruh bidang ini tidak baik untuk berspekulasi. Iblis atau Setan (= 'lawan') sering disebut sebagai pemimpin kuasa-kuasa jahat (Mat 25:41; Yoh 8:44; 2Kor 11:14; 1Yoh 3:8; Why 12:9). Dalam Alkitab ia disebut "ilah zaman ini" (2Kor 4:4), yang aktif menentang Allah dan pemerintahan-Nya. Kristus mengalahkan Iblis dan tatanan roh-roh jahat melalui karya pendamaian-Nya (Yoh 12:31; Kol 2:15; Ibr 2:14) dan kemenangan itu akhirnya akan disempurnakan pada saat Ia datang kembali (2Tes 2:8; Why 20:10).

KARYA PEMELIHARAAN

(Hal. 115-118)

Istilah "pemeliharaan" menyebut karya sang Pencipta yang memelihara semua makhluk-Nya, bekerja dalam segala sesuatu yang terjadi di dunia dan mengarahkan segala hal kepada tujuan yang ditetapkan-Nya. Dengan demikian ajaran tentang pemeliharaan berhubungan erat dengan ajaran tentang penciptaan. Pemeliharaan menyatakan bahwa Allah yang menyebabkan dunia ini digambarkan dalam kisah Yusuf, yang diculik dan dibuang ke Mesir: pada kemudian hari peristiwa itu dilihat sebagai pemeliharaan Allah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang dilanda kelaparan (lihat Kej 45).

JANGKAUAN PEMELIHARAAN

Menurut Alkitab, pemeliharaan Allah meliputi seluruh alam semesta dan Allah bekerja dalam segala sesuatu (Mzm. 115:3; Mat. 10:30; Ef. 1:11). Gejala-gejala alam seperti angin dan hujan, bahkan yang kelihatan sebagai musibah (Luk. 13:1-5), diatur oleh Dia. Kejahatan sekalipun ada di bawah kuasa-Nya dan digunakan untuk rencana-Nya (Kej. 50:20; Kis. 2:23; Flp. 1:17-18).

Untuk mengurangi kesulitan moral yang timbul karena ajaran ini, beberapa teolog menyatakan bahwa Allah pada umumnya bekerja di "latar belakang" dengan menyediakan "masukan" yang perlu untuk hidup, yang kemudian berjalan menurut prinsip-prinsipnya sendiri secara relatif bebas. Melawan pandangan ini Calvin mengemukakan pengertian Alkitab mengenai pemeliharaan dengan menegaskan bahwa kemahakuasaan Allah berarti Ia memerintah surga dan dunia melalui pemeliharaan-Nya, dan mengatur segala sesuatu sehingga tak ada yang terjadi tanpa pertimbangan-Nya.

Sang Pemelihara yang bertindak untuk menopang dan mengarahkan dunia adalah Allah Tritunggal. Hal ini sangat penting diingat bila membedakan pandangan Kristen dengan teori kausalitas buta atau nasib, sebagaimana diajarkan oleh aliran Stoa pada zaman dulu dan dalam beberapa agama pada masa kini. Tujuan karya Allah dalam dunia adalah rencana-Nya untuk menyelamatkan dan menguduskan manusia dan rencana itu berpusat pada Yesus Kristus. Demikianlah bila kita membaca bahwa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan" bagi umat-Nya (Rm. 8:28), maka kita harus mengerti bahwa kebaikan yang dimaksud ialah hal memilih dan mengubah umat-Nya agar menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (ay 27).

Kadang-kadang dibedakan antara kausalitas Allah yang primer dan sekunder. Yang pertama berarti peristiwa-peristiwa di mana Allah bertindak langsung tanpa perantaraan manusia, seperti kebangkitan Yesus; yang kedua menyangkut peristiwa di mana Allah bertindak dengan perantaraan faktor-faktor dalam ciptaan, seperti ketika menentukan timbul tenggelamnya bangsa-bangsa atau pengaturan hidup umat-Nya sehari-hari.

Perbedaan yang serupa kadang-kadang diadakan antara kehendak Allah yang mengarahkan dan kehendak-Nya yang membiarkan. Yang pertama menyangkut peristiwa-peristiwa yang diarahkan-Nya secara berdaulat untuk penggenapan rencana anugerah dan penghakiman-Nya, sedangkan yang terakhir menyangkut peristiwa-peristiwa yang dibiarkan terjadi. Meskipun tidak selalu mudah menerapkannya dalam praktek, namun perbedaan ini perlu untuk menyangkal bahwa Allah menyebabkan kejahatan. Namun harus diingat, kalau kejadian mengerikan seperti peristiwa kayu salib dapat dikatakan terjadi oleh karena Allah menghendakinya (Kis 2:23), maka ada kemungkinan bahwa hal-hal lain yang sekarang kelihatannya menentang rencana Allah, bila dilihat dari segi kekekalan akan kelihatan sebagai sesuatu yang diperintahkan langsung oleh Dia.

PEMELIHARAAN DAN KEJAHATAN

Bagaimana kita dapat mempertemukan pemerintahan Allah dalam pemeliharaan dengan kejahatan dan dosa dalam dunia ini? Usaha memecahkan masalah ini disebut "teodiki". Dalam kepustakaan pada akhir pasal ini didaftarkan beberapa karya filsafat dan apologetika yang memakai alasan-alasan rasional untuk mencoba menyelaraskan fakta kejahatan dengan keyakinan Kristen bahwa Allah bersifat baik dan Mahakuasa.

Alkitab mengakui masih adanya rahasia dalam hal kejahatan dan dosa (2Tes 2:7). Pendekatan alkitabiah terhadap masalah kejahatan pada dasarnya bersifat praktis dan tidak banyak membahas asal usul kejahatan melainkan memberi kesaksian tentang kemenangan Kristus atas kejahatan dan membawakan penghiburan dan ketenteraman dari Allah bagi umat-Nya yang menderita. Agama Alkitab bukanlah idealisme yang terlepas dari kenyataan, yang menggambarkan kehidupan seolah-olah bebas dari kebingungan, kesedihan dan penderitaan. Dalam Alkitab kejahatan dan penderitaan selalu dilihat dalam konteks hakikat dan masa depan manusia, serta pribadi dan karya Kristus.

Dalam hal hakikat manusia, Alkitab menceritakan bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej 3; Rm 5:12-13). Dunia yang kita alami sekarang termasuk kejahatan dan penderitaan, tidak sesuai lagi dengan maksud Allah atau dalam keadaan sebagaimana diciptakan semula. Kendatipun Alkitab tidak menyingkapkan asal mula kejahatan, namun ditegaskan bahwa manusia dijadikan dengan kesanggupan untuk melawan kejahatan dan mengakui Allah saja sebagai Tuhannnya. Adam tidak mematuhi Allah dan dengan demikian dia membuka jalan masuk bagi kejahatan dan penderitaan ke dalam kehidupan manusia (Kej 3:14-19; Rm 5:12-21). Dosa sebagai pemberontakan melawan sang pencipta membawa akitab-akibat serius dan meluas untuk alam semesta yang mencerminkan kekudusan Penciptanya. Ini tidak berarti bahwa selalu ada hubungan langsung antara dosa seseorang dan penderitaan yang dialami orang itu. Namun ada kaitannya karena seluruh dosa kita bersumber dari Adam, yang menjebloskan seluruh alam semesta secara progresif maupun retrogresif ke dalam kerontokan dan kejahatan, dan dengan demikian terjadilah kemungkinan penderitaan.

Dalam hal masa depan manusia, Alkitab menempatkan kejahatan dan penderitaan dalam konteks kemenangan rencana Allah bagi manusia kelak. Dosa, kejahatan dan penderitaan bukan merupakan bagian rencana asli Allah bagi manusia, juga bukan merupakan bagian permanen dari pengalamannya. Hal-hal ini merupakan gangguan-gangguan sementara yang tidak dapat mencegah kenyataan akhir dari rencana-Nya pada saat "Allah ada di tengah-tengah manusia... Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita" (Why 21:3-4).

Dalam diri Kristus, Allah telah mengambil daging manusia dalam kepekaan dan kelemahannya, suatu dimensi penting lain lagi dari tanggapan Alkitab terhadap masalah kejahatan. Persamaan jati diri Kristus dengan kita mencapai ungkapan paling mulia di kayu salib, di mana Allah menerima penderitaan manusia menjadi penderitaan-Nya sendiri dan memasuki penderitaan manusia yang paling dalam, dengan mengubah kengerian Golgota menjadi alat pengampunan dan kegembiraan bagi semua yang percaya.

Dalam terang kebangkitan Yesus, kita lihat kemenangan Allah atas segala kuasa kejahatan dan kegelapan. Kemudian, melalui hidup baru di dalam Kristus yang dikerjakan Roh Kudus, orang dapat masuk ke dalam kerajaan Allah dan mulai mengalami kuasa-kuasa zaman yang akan datang di mana semua kuasa kebinasaan tidak ada lagi.

Dari segi kedatangan Kristus kembali, jelas bahwa tatanan dosa dan penderitaan sekarang ini bukan realitas terakhir. Kita yang berada dalam dunia tidak mendapat sudut pandang yang memadai untuk menilai sifatnya yang benar. Iman Kristen mengharapkan kembalinya Kristus, ketika ketidakadilan dan penderitaan kehidupan sekarang akan hilang dan segala sesuatu akan kelihatan dalam terang penyataan Allah serta kemenangan sepenuhnya dari rencana-Nya. Boleh dikatakan perspektif akhir Kristen sebenarnya bersifat doksologis, yaitu pemujaan Allah karena Ia menang atas segala lawan-Nya.

DIK-Referensi 01b

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Alam Semesta
Kode Pelajaran : DIK-R01b

Referensi DIK-R01b diambil dari:

Judul Buku : Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Penulis : R.C. Sproul
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Tahun : 1997
Halaman : 75 - 83

Garis Besar:

Bab 19 Penciptaan
Bab 20 Pemeliharaan

REFERENSI PELAJARAN 01b - PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

PENCIPTAAN

Semua yang ada di dalam ruang dan waktu memiliki suatu permulaan. Saya mempunyai permulaan; saudara mempunyai permulaan. Rumah-rumah yang kita tinggali mempunyai permulaan. Pakaian yang kita kenakan mempunyai permulaan. Ada waktu dimana rumah-rumah kita, pakaian kita, mobil- mobil, mesin cuci, dan kita sendiri tidak ada. Semua itu tadinya tidak ada. Semua itu merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkali.

Kita dikelilingi oleh hal-hal dan orang-orang yang memiliki permulaan, oleh karena itu kita tergoda untuk segera mengambil kesimpulan bahwa segala sesuatu ada awal mulanya. Kesimpulan seperti itu merupakan loncatan fatal ke dalam kemustahilan yang tidak ada batasnya. Hal ini merupakan hal yang fatal bagi agama dan juga bagi ilmu pengetahuan dan akal budi.

Alasannya adalah karena tadi saya mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dalam ruang dan waktu ada permulaannya. Bukankah itu sama
Halnya dengan mengatakan bahwa segala sesuatu ada permulaannya? Hal ini secara ilmiah maupun secara logika merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Alasannya adalah apabila semua yang ada pernah ada permulaannya, maka ada waktu dimana semua itu tidak ada sama sekali.

Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan. Coba bayangkan bahwa tidak ada sesuatupun yang berada. Sama sekali tidak ada apa-apa. Kita bahkan tidak dapat memahami ketidakadaan apapun sama sekali Konsep ini hanya merupakan suatu pernyataan negatif tentang sesuatu.

Apabila pada suatu waktu pernah tidak ada apa-apa sama sekali, lalu apa yang akan ada sekarang? Benar tidak ada apa-apa! Apabila tadinya tidak ada apa-apa, maka berdasarkan logika, seterusnya tidak akan pernah ada apa-apa. Kita bahkan tidak perlu mengatakan "selalu" dalam periode dimana ada kemungkinan tidak ada apa-apa.

Mengapa kita dapat merasa yakin bahwa apabila pada suatu waktu pernah tidak ada apa-apa, maka tidak akan pernah ada sesuatu apapun berada pada saat ini? Jawabannya sangat sederhana, selain fakta bahwa orang yang sangat pandai sering kali tersandung oleh suatu hal yang begitu jelas. Jawabannya adalah bahwa saudara tidak dapat mendapatkan sesuatu dari ketidakadaan. Hukum mutlak dalam ilmu pengetahuan dan logika adalah ex nihilo nihil fit (dari yang tidak ada, maka tidak ada yang dapat dihasilkan). Ketidakberadaan tidak dapat menghasilkan apapun juga. Tidak ada yang dapat tertawa, menyanyi, menangis, bekerja, menari dan bernafas. Tidak ada yang dapat tercipta. Tidak ada yang dapat melakukan sesuatu oleh karena tidak ada apa-apa. Tidak ada yang berada. Tidak ada kuasa atau kekuatan yang dapat menjadikan sesuatu menjadi ada.

Untuk sesuatu keluar dari yang tidak ada berarti sesuatu itu harus mempunyai kekuatan untuk menciptakan diri sendiri. Sesuatu itu harus mampu untuk menciptakan dirinya sendiri atau menjadikan dirinya menjadi ada, tetapi itu sesuatu yang mustahil. Bagaimana mungkin sesuatu dapat menciptakan dirinya sendiri padahal sesuatu itu belum ada. Namun, bila sesuatu itu sudah ada, maka dia tidak perlu diciptakan lagi. Untuk menciptakan diri sendiri, maka sesuatu itu harus ada dan harus tidak ada pada saat yang sama dan dalam arti yang sama. Ini merupakan sesuatu yang kontradiksi. Ini menyalahi hukum ilmiah dan rasional yang paling mendasar, yaitu hukum kontradiksi.

Apabila kita mengetahui tentang sesuatu keberadaan yang ada pada saat ini, maka kita tahu bahwa harus ada sesuatu keberadaan lain, yang entah bagaimana, di suatu tempat, yang tidak memiliki permulaan. Saya menyadari bahwa ada pemikir-pemikir yang hebat seperti Bertrand Russel yang berdebat dengan Frederick Copelston berkenaan dengan keberadaan alam semesta sebagai akibat dari "rangkaian sebab akibat yang terjadi secara tidak terbatas." Jadi, hal itu terjadi terus menerus dan tidak ada akhirnya, terus ke belakang menuju kekekalan. Sesuatu disebabkan oleh sesuatu sampai pada kekekalan. Oleh karena pernyataan ini telah diajukan oleh orang pandai, maka bukan saja dapat dikatakan suatu pernyataan yang agak bodoh, tetapi suatu pernyataan yang sangat bodoh.
Hal-hal yang bodoh dapat merupakan suatu kenyataan, tetapi konsep ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin.

Russel dapat menyangkali hukum dari yang tidak ada, tidak ada yang dapat terjadi, dan itu berarti dia harus (berdasarkan logika) bahwa apabila ada sesuatu keberadaan sekarang, maka itu berarti ada sesuatu yang sudah ada sebelumnya yang tidak memiliki permulaan. Sekarang pertanyaannya adalah apa itu atau siapa itu?

Banyak pakar yang serius percaya bahwa jawaban dari apa itu dapat ditemukan di dalam alam semesta itu sediri. Mereka berargumentasi (seperti yang dilakukan oleh Carl Sagan) bahwa tidak perlu kita melampaui dari sesuatu yang tidak memiliki permulaan, yang menjadi penyebab awal dari segala keberadaan di dunia ini. Artinya, kita tidak perlu berasumsi bahwa ada semacam "Allah" yang transenden dari alam semesta ini. Alam semesta atau sesuatu di dalamnya dapat melakukan hal itu dengan baik.

Ada suatu kesalahan yang terlihat dari penjelasan di atas. Kesalahan itu berkaitan dengan arti istilah transenden. Di dalam filsafat dan teologi, ide transeden berarti bahwa Allah ada "di atas dan melampaui" alam semesta dalam arti bahwa Ia adalah keberadaan yang lebih tinggi dari keberadaan yang lain. Keberadaan yang tertinggi itu kita sebut Allah.

Apa yang menyebabkan Keberadaaan yang tertinggi ini berbeda dengan keberadaan manusia? Perhatikan bahwa kedua konsep ini sama-sama menggunakan kata keberadaan. Pada waktu kita mengatakan bahwa Allah adalah Keberadaan yang Tertinggi, kita mengatakan bahwa Dia adalah suatu keberadaan yang berbeda dalam macamnya dengan keberadaan- keberadaan yang lain berasal dari Dia sehingga dapat, sedangkan Dia berasal dari diri-Nya sendiri untuk ada. Dia Pencipta yang kekal. Semua yang lain merupakan karya ciptaan-Nya.

Pada waktu Carl Sagan dan yang lain mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak diciptakan di dalam alam semesta dan bukan di atasnya, mereka hanya berbicara tentang alamat dari Sang Pencipta. Mereka mengatakan bahwa yang tidak diciptakan itu tinggal di sini (di alam semesta), bukan di sana (di atas atau di luar alam semesta). Sang Pencipta tetap dituntut harus merupakan Keberadaan yang Tertinggi. Sang Pencipta alam semesta bersifat misteri ini, yang merupakan penyebab dari semua ciptaan tetap merupakan keberadaan yang berada di atas dan melampaui segala bentuk keberadaan. Dengan kata lain, tetap harus ada Keberadaan yang transenden.

Semakin jauh kita berbicara mengenai "Pencipta yang berada di alam semesta ini", semakin kita melihat bahwa yang sedang dibicarakan adalah semakin seperti Allah. Dia tidak diciptakan. Dia menciptakan segala sesuatu yang lain. Dia atau sesuatu itu memiliki kekuatan pada diri-Nya sendiri untuk berada.

Yang jelas adalah apabila sesuatu berada sekarang, maka harus ada Keberadaan yang Tertinggi dari mana segala sesuatu yang keluar. Pernyataan yang pertama dari Alkitab adalah "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." Teks ini merupakan dasar bagi semua pemikiran Kristen. Ini merupakan suatu pernyataan religius, tetapi secara rasional merupakan suatu konsep yang harus demikian.

  1. Segala sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu ada permulaannya.
  2. Sesuatu tidak dapat dihasilkan dari yang tidak ada. Yang tidak ada tidak dapat melakukan apa-apa.
  3. Apabila tidak pernah ada apa-apa, maka sekarang tidak akan ada apa- apa.
  4. Sesuatu ada sekarang; oleh karena itu sesuatu harus ada dan sesuatu itu tidak ada permulaannya.
  5. Sesuatu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, oleh karena ia harus ada terlebih dahulu sebelum dia sendiri ada.
  6. Apabila ada "sebagian" dari alam semesta ini yang tidak diciptakan, maka yang tidak diciptakan itu merupakan keberadaan yang melebihi yang lain atau melampaui semua bagian yang ada permulaannya.
  7. Keberadaan yang tidak diciptakan merupakan keberadaan tertinggi (lebih tinggi dari keberadaan yang diciptakan), tidak peduli dia tinggal dimana.
  8. Transenden menunjuk kepada derajat dari suatu keberadaan, bukan padageografisnya.

Ayat-ayat Alkitab untuk bahan refleksi:

  1. Kej. 1
  2. Maz. 33:1-9
  3. Maz. 104:24-26
  4. Yer. 10:1-16
  5. Ibr. 11:3

BAB 20 PEMELIHARAAN

Di Pulau Rhode ada kota besar yang bernama Providence. Ada sesuatu yang khusus dari nama itu. Nama kota itu menarik perhatian, dan menyebabkan kita memikirkan tentang jenjang besar antara apa yang ada pada generasi yang lalu dengan masyarakat sekarang. Siapa yang akan memberi nama suatu kota Providence (pemeliharaan) pada zaman ini. Kata itu sendiri sudah kuno dan ketinggalan zaman.

Pada waktu saya membaca karya tulis orang-orang Kristen pada abad permulaan, saya terhentak dengan banyaknya penjelasan tentang pemeliharaan Allah. Kelihatannya sebelum abad ke-20, orang-orang Kristen lebih erat dengan konsep pemeliharaan Allah dalam kehidupan mereka dibandingkan dengan kita sekarang. Semangat naturalisme yang berpandangan bahwa semua peristiwa di alam ini diatur oleh kekuatan alam yang mandiri telah memberikan pengaruh pada generasi kita sekarang.

Arti dari akar kata Providence adalah "melihat sesuatu sebelumnya atau lebih dahulu," atau "menyediakan untuk." Dengan arti yang seperti itu maka kita itu tidak cukup untuk mewakili kedalaman arti dari doktrin pemeliharaan Allah. Doktrin itu bukan hanya mengajarkan bahwa Allah adalah penonton dari semua peristiwa-peristiwa yang dialami manusia. Doktrin ini bukan hanya berbicara mengenai Allah mengetahui segala sesuatu sebelum hal itu terjadi. Pengakuan iman Westminster pada abad ke 17 menjelaskan tentang pemeliharaan Allah sebagai berikut:

Allah, Pencipta Agung dari segala sesuatu, memelihara, memimpin, mengatur dan memerintah semua makhluk ciptaan, tindakan, dan benda- benda ciptaan, mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil, dengan kebijaksanaan-Nya yang paling bijak dan pemeliharaan-Nya yang kudus, sesuai dengan pengetahuan yang tidak bisa salah dari segala sesuatu sebelum terjadi yang dimiliki-Nya, dan kehendak-Nya yang bebas dan tidak berubah, bagi kemuliaan hikmat-Nya, kuasa-Nya, keadilan-Nya, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya.

Apa yang Allah ciptakan. Dia juga pelihara. Alam semesta bukan hanya bergantung kepada Allah untuk asal mulanya, tetapi juga bergantung kepada Allah untuk keberadaan alam semesta itu seterusnya. Alam semesta tidak dapat berada dan beroperasi dengan kekuatannya sendiri. Allah menopang segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya. Di dalam Dia, kita hidup, bergerak dan memiliki keberadaan kita.

Inti pengajaran dari doktrin pemeliharaan Allah adalah penekanan pada pemerintahan Allah atas alam semesta. Dia memerintah ciptaan-Nya dengan kedaulatan dan otoritas yang mutlak. Dia memerintah segala sesuatu yang akan terjadi, mulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar lingkup pemerintahan pemeliharaan Allah yang berdaulat. Dia yang membuat turunnya hujan dan yang menghancurkan kerajaan. Dia mengetahui jumlah rambut di kepala kita dan hari-hari dalam kehidupan kita.

Ada perbedaan yang krusial antara pemeliharaan Allah dengan keberuntungan, takdir atau kebetulan. Kunci dari perbedaan ini terletak pada karakter Allah. Keberuntungan adalah buta, sedangkan Allah melihat segala sesuatu. Takdir tidak berpribadi, sedangkan Allah adalah seorang Bapa. Kebetulan adalah bisu, sedangkan Allah dapat berbicara. Tidak ada kekuatan-kekuatan yang buta, tidak berpribadi yang bekerja dalam sejarah manusia. Semua terjadi oleh karena tangan Sang Pemelihara yang tidak kelihatan.

Di dalam sebuah alam semesta yang diperintah oleh Allah tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Pada dasarnya tidak ada yang disebut dengan kebetulan. Kebetulan tidak pernah ada. Kata itu hanya yang kita gunakan untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan secara matematika. Tetapi, kebetulan itu sendiri bukan merupakan suatu keberadaan yang dapat mempengaruhi realitas. Kebetulan bukan sesuatu. Itu bukan apa-apa.

Aspek yang lain dari pemeliharaan Allah disebut dengan bekerja sama. Kerja sama ini menunjuk pada kesatuan dari tindakan Allah dan manusia. Kita adalah makhluk ciptaan dengan kehendak diri kita sendiri. Kita dapat menjadikan sesuatu terjadi. Namun, kuasa yang kita keluarkan sebagai penyebab dari hal itu merupakan hal yang kedua. Kedaulatan dari pemeliharaan Allah berada di atas dan melampaui tindakan-tindakan kita. Dia bekerja berdasarkan kehendak-Nya melalui tindakan-tindakan dari kehendak manusia. Contoh yang paling jelas untuk kerja sama ini dapat kita temukan di dalam kisah Yusuf dengan saudara-saudaranya di Alkitab. Meskipun saudara-saudara Yusuf menyatakan rasa bersalah mereka atas apa yang telah mereka lakukan pada diri Yusuf, pemeliharaan Allah bekerja bahkan melalui dosa yang mereka lakukan. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya:

"Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap Aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20)

Pemeliharaan dalam bentuk campur tangan Allah dapat bekerja melalui tindakan yang paling tidak baik. Hal yang paling jahat yang pernah dilakukan oleh seorang manusia adalah pengkhianatan Yudas terhadap Yesus Kristus. Namun kematian Kristus bukan merupakan sejarah yang terjadi secara kebetulan. Hal itu terjadi berdasarkan apa yang telah diterapkan oleh kehendak Allah. Tindakan Yudas yang jahat itu membantu untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik yang pernah terjadi di dalam sejarah, yaitu penebusan. Apabila kita mengatakan bahwa hari penyaliban Kristus dalam sejarah sebagai hari "Jumat Agung" (the 'Good' Friday), itu bukanlah merupakan sesuatu kebetulan.

  1. Konsep pemeliharaan Allah tidak secara umum dipercaya pada zaman ini.
  2. Pemeliharaan Allah termasuk bahwa Allah bekerja untuk memelihara ciptaan-Nya.
  3. Pemeliharaan Allah terutama berkaitan dengan pemerintahan Allah atas ciptaan-Nya.
  4. Dengan terang pemeliharaan Allah, maka sebenarnya tidak ada kekuatan yang tidak berpribadi seperti keberuntungan, takdir atau kebetulan.
  5. Pemeliharaan Allah termasuk kerja sama, dimana Allah bekerja berdasarkan kehendak-Nya melalui kehendak dari mahluk-mahluk ciptaan-Nya

Ayat-ayat Alkitab untuk bahan refleksi:

  1. Ayub. 38:1-41:34
  2. Dan. 4:34-35
  3. Kis. 2:22-24
  4. Rom. 11:33-36

DIK-Referensi 01c

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Alam Semesta
Kode Pelajaran : DIK-R01c

Referensi DIK-R01C diambil dari:

Judul Buku : Menaklukkan Segala Pikiran kepada KRISTUS
Pengarang : Richard L. Pratt Jr.
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Tahun : 1994, 1995
Halaman : 14 - 25

Garis Besar:

Pelajaran 2 Permulaan dari Segalanya

  1. Allah dan Ciptaan-Nya
    1. Allah adalah Allah yang berdiri sendiri
    2. Ciptaan bergantung kepada Allah
    3. Allah menyatakan diri kepada manusia
      1. Melalui setiap aspek dari ciptaanNya
      2. Melalui wahyu khusus dari Allah
  2. Kebergantungan Manusia kepada Allah
    1. Kebergantungan pengetahuan manusia
    2. Kebergantungan moralitas manusia

REFERENSI PELAJARAN 01c - PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

PERMULAAN DARI SEGALANYA

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kej. 1:1).

A. Allah dan Ciptaan-Nya

Alkitab sebagai buku rohani yang disusun untuk memperlihatkan jalan dari agama yang benar, menempatkan kebenaran Allah adalah Pencipta segala sesuatu sebagai kalimat pembukaan. Penempatan kebenaran ini (yang tidak dapat dikompromikan dengan apapun juga) sebagai kalimat pembukaan dari Alkitab menyatakan betapa pentingnya untuk menyadari bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa seluruh Alkitab berisi penjelasan mengenai kebenaran yang satu ini, yaitu Allah sebagai Pencipta dan Tuhan.

Manusia tidak akan pernah dapat tinggal di taman Eden sebelum kejatuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak akan pernah terjadi. Dan pekerjaan keselamatan yang digenapi oleh kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus menjadi tidak berarti apabila tidak pernah ada penciptaan yang dilakukan oleh Allah.

Taman Eden merupakan penyataan dari keharmonisan Allah dengan ciptaan- Nya. Dosa merupakan pemberontakan dari ciptaan melawan penciptanya. Keselamatan merupakan pembebasan dari dosa dan hak ciptaan untuk dapat berdiri di hadapan Allah. Rasul Yohanes berbicara mengenai sifat yang hakiki dari aktivitas penciptaan Allah sebagai berikut: "Segala sesuatu yang dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari yang telah dijadikan." (Yoh. 1:3).

Apabila kita coba mengamati Kejadian 1:1, maka kita dapat melihat bahwa aktivitas penciptaan terdiri dari dua pembagian. Di satu pihak kita melihat seseorang yang menciptakan, dan dipihak lain kita melihat ciptaan yang Dia ciptakan. Akibatnya kita dapat melihat garis pemisah atau perbedaan yang tercipta antara Allah sebagai pencipta dengan ciptaan Allah. Kita akan sebut ini sebagai "perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan ." Ini merupakan konsep yang akan diselidiki lebih jauh dan merupakan referensi yang akan selalu dilihat kembali.

Perbedaan antara Pencipta dan Pencipta-Nya ini tidak pernah boleh kita lupakan atau dikesampingkan barang sedetik pun dalam usaha mengembangkan apologetika alkitabiah.

  1. Allah adalah Allah yang berdiri sendiri
  2. Orang-orang Kristen pada jaman ini jarang sekali berpikir bahwa Allah tidak hanya sekedar seorang kakek tua yang duduk di atas awan sambil memperhatikan segala peristiwa-peristiwa yang menyedihkan di dunia tanpa mampu berbuat apa-apa. Oleh karena itu Allah sering kali dilihat hanya sebagai Allah yang tidak ada gunanya dan tidak penting bagi dunia ini, kecuali apabila ada manusia yang memiliki kerinduan dan kebutuhan pribadi yang ingin dipenuhi oleh Allah.

    Dalam pikiran kebanyakan orang, Allah tidak ada hubungannya dengan proses yang terjadi di dunia. Mereka mengatakan bahwa: "Allah dibutuhkan hanya pada saat malapetaka dan masalah pribadi yang berat." Lebih daripada ini Allah sendiri sering dimengerti sebagai Allah yang tergantung kepada ciptaan-Nya. Dia merindukan sesuatu kiranya dapat terjadi di tengah dunia ini, namun hal sebaliknya yang tidak Ia duga dapat terjadi oleh karena tingkah manusia yang pandai. Pikiran-pikiran yang demikian telah tumbuh di gereja. Pikiran semacam ini sangat jauh dari gambaran Firman Tuhan mengenai Allah.

    Allah bukan Allah yang tidak dapat berdiri sendiri atau seperti "ayah yang manis": Dia adalah Pencipta yang Mahakuasa dan yang terus-menerus berkecimpung dan bertanggungjawab atas ciptaanNya. Roma 11:36 berbicra mengenai hal ini:

    "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

    Pengamatan yang lebih teliti pada bagian Firman Tuhan ini akan menyatakan kedalaman dari pengetahuan tentang Allah yang disajikan dalam ayat ini. Pertama, Paulus berkata bahwa semua ciptaan adalah "dari DIA." Ayat ini berarti Allah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan semua ciptaan tidak terjadi dengan sendirinya.

    Terakhir Paulus menyatakan ciptaan diciptakan "bagi DIA" ini berarti ciptaan diciptakan untuk kemuliaan Allah dan untuk menyenangkan Allah, bukan untuk manusia atau untuk ciptaan yang lain. Lebih daripada itu penjelasan yang kedua ini mengandung suatu perintah.

    Penciptaan adalah "melalui DIA." Di sini Paulus tidak berbicara mengenai awal atau akhir dari hubungan Allah dengan ciptaan. Dia berbicara mengenai Allah sebagai Pencipta yang memelihara dan menunjang keberadaan ciptaan-Nya setiap saat. Ciptaan dapat terus berlangsung keberadaannya oleh karena Allah.

    Inti dari kebenaran ini adalah sebagai berikut: Sebagaimana Allah adalah kuasa yang menciptakan dari permulaan. Dia juga adalah kuasa yang memungkinkan atau mendukung ciptaan ini terus berada sampai sekarang. Demikian juga halnya dengan sebagaimana Allah tidak diciptakan oleh ciptaan-Nya, maka Dia sekarang tidak didukung oleh ciptaan dalam hal apapun juga. Dalam Kisah Para Rasul 17:25 kita dapat baca sebagai berikut:

    "dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang."

    Sangat jelas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan sesuatu apapun yang harus atau dapat dipenuhi oleh ciptaan, oleh karena secara kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ciptaan dipenuhi oleh Allah. Allah adalah Allah yang berdiri sendiri.

  3. Ciptaan bergantung kepada Allah
  4. Apabila kita mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang berdiri sendiri, maka di lain pihak kita harus menegaskan kebergantungan secara total dari ciptaan atas Allah sebagai Pencipta. Kita ketahui bahwa kebergantungan anak-anak kepada orang tua mereka semakin berkurang saat mereka tumbuh menjadi dewasa. Bahkan bayi yang baru lahir pun pada waktu yang singkat dapat tetap hidup tanpa orang tuanya. Tetapi tidak demikian halnya dengan kebergantungan ciptaan kepada Allah. Ciptaan tidak dapat terpisah keberadaanya dari Allah atau tidak dapat berdiri sendiri barang sedetik pun tanpa kebergantungan kepada kuasa pemeliharaan Allah. Sehubungan dengan ini Firman Tuhan menyatakan sebagai berikut:

    "Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kis. 17:25)
    "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia." (Kol. 1:17)

    Allah mengatur, memenuhi kebutuhan dan memelihara segala sesuatu tanpa terkecuali. Dari yang terbesar sampai yang terkecil. Setiap aspek dari ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah untuk keberlangsungan keberadaannya.

    Kita harus setuju dengan John Calvin yang percaya bahwa Allah sebagai Pencipta harus disertai kepercayaan kepada Allah sebagai Tuhan yang mengontrol sejarah. Dunia tidak dapat berlangsung dengan kekuatannya sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. Oleh karena itu kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah. (lihat Ilustrasi 3).

    Kita dapat melihat dalam pelajaran yang berikutnya bahwa kesadaran akan perbedaan antara Allah yang berdiri sendiri dengan ciptaan yang bergantung kepada Penciptanya merupakan hal yang membedakan antara orang-orang percaya dengan orang-orang yang tidak percaya. Orang-orang Kristen berusaha untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang bergantung kepada sang Pencipta, sedangkan orang-orang yang tidak percaya mencoba untuk menyangkal kebergantungan daripada ciptaan kepada sang Pencipta.

    Penyangkalan yang sangat keras atas perbedaan Penciptaan dan ciptaan dari orang-orang tidak percaya akan dapat dilihat dari ketidakpercayaan mereka kepada keselamatan dalam Kristus dan menempatkan Allah dan ciptaan-Nya dalam saling ber gantung satu dengan yang lain dan menyatakan bahwa ciptaan hanya bergantung kepada Allah dalam taraf tertentu saja. Orang-orang tidak percaya mengemukakan dengan berbagai cara tetapi intinya adalah sama, yaitu penyangkalan akan perbedaan antara ciptaan dengan ciptaan-Nya.

  5. Allah menyatakan diri kepada manusia
  6. Sebagai orang Kristen kita harus menekankan perbedaan antara Allah dengan ciptaan-Nya. Dan kita juga tidak boleh melupakan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya kepada manusia. Walaupun Allah telah mengadopsi berbagai macam cara untuk menyatakan diri-Nya dalam waktu yang berbeda, kita akan memperhatikan dua cara yang Allah telah pilih untuk menyatakan diri-Nya dalam segala waktu.

    1. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya

      Allah secara luar biasa telah membangunkan seluruh jagad raya ini sehingga setiap bagiannya menyatakan diri-Nya kepada manusia. Setiap elemen dari dunia tanpa pengecualian menyatakan Allah dan kehendak-Nya kepada manusia.

      "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya: hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam." (Mzm. 19:1-2)

      Ciptaan dengan segala keindahan dan kemegahan menyatakan kepada kita kemegahan dari kualitas Allah dan tuntutan kebenaran yang Dia pinta dari manusia. Sebagaimana Paulus katakan dalam Roma 1:20,32:

      "Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan Keilahian-Nya dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih ... Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya".

      Meskipun manusia yang telah jatuh ke dalam dosa menyangkalinya dan orang-orang Kristen sering kali menemukan kesulitan untuk melihatnya. Alkitab mengajarkan secara jelas bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dalam setiap aspek ciptaan kepada semua manusia bahkan rupa manusia sendiri menyatakan semua itu.

      Penyataan Allah ini tidak dapat dihindari atau disangkali. Kita tidak dapat mengetahui satu aspek dari ciptaan tanpa difokuskan untuk memikirkan Penciptanya. "Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya." (Mzm. 97:6)

      Manusia dapat mengerti akan dirinya sendiri dan semua ciptaan dan sekelilingnya hanya dengan kesadaran akan perbedaan antara Pencipta dan ciptaan yang dinyatakan melalui semua itu. Dan manusia dapat mengerti kehendak Allah secara lebih jelas melalui pengamatan mereka akan ciptaan. Contohnya, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa sapi memakan rumput. Pengertian yang benar akan sapi-sapi dan rumput akan menyatakan kuasa pemeliharaan dan pemenuhan Allah serta tanggung jawab manusia untuk menaklukkan ciptaan yang lain bagi kemuliaan (lihat Kej. 1:28). Jarak terdekat antara bumi dan salah satu bintang akan dapat dimengerti dengan sesungguhnya hanya dengan kesadaran terhadap pernyataan akan Allah. Begitu besarnya jarak tahun cahaya semata-mata merupakan pekerjaan tangan Allah dan memperlihatkan kepada manusia akan kebutuhan mereka untuk merendahkan diri di hadapan Allah dan berterimakasih atas anugerah- Nya (lihat Mzm. 8:1-5).

      Sebagaimana ciptaan tidak dapat terpisah dari Allah, maka ciptaan tidak dapat berdiam diri mengenai keberadaan Allah. Semakin seseorang mengerti tentang fakta-fakta dari jagad raya ini, semakin semua itu menyatakan akan Allah dan kehendak-Nya kepada Dia.

    2. Melalui Wahyu Khusus dari Allah

      Allah dalam banyak hal terlihat selalu membarengi penyataan-Nya dalam ciptaan, yaitu dengan penyataan-Nya secara khusus mengenai diri-Nya. Dalam taman Eden Dia berbicara dengan suara-Nya kepada Adam mengenai pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Kepada para patriakh (Abraham, Musa dan lain-lain) Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi-mimpi, penampilan-penampilan, dan penglihatan- penglihatan. Kepada Musa Allah berbicara di semak yang menyala dan di atas kitab batu. Kepada para rasul Dia berbicara melalui kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus, Putra-Nya. Pada masa di mana kita hidup Allah telah berbicara melalui Alkitab sebagai Firman Tuhan yang telah diinspirasikan oleh Roh Kudus.

      Penggunaan beberapa aspek tertentu dari ciptaan untuk wahyu dimaksudkan untuk menambahkan kualitas pewahyuan dari ciptaan yang lain. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia ketaatan manusia diuji dengan wahyu khusus. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, penyataan manusia secara khusus mempunyai dua maksud yaitu untuk memperlihatkan jalan keselamatan melalui Kristus; dan untuk menolong manusia mengerti dengan lebih baik penyataan akan Allah dan kehendak-Nya dalam aspek-aspek ciptaan yang lain.

      Dosa telah menempatkan manusia di bawah penghakiman dan membutakan manusia pada kesadaran akan penyataan Allah melalui semua ciptaan. Sebagai akibatnya, Firman Allah berfungsi sebagai alat di mana melaluinya manusia mengerti akan dirinya sendiri, dunia, dan Allah.

      "Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap- tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik" (2Tim. 3:16, 17).

      Wahyu Allah melalui Firman Tuhan diberikan kepada kita untuk memimpin kita kepada pengetahuan yang benar.

      Wahyu Allah melalui semua ciptaan dan Firman Tuhan tidak menghapuskan kepastian perbedaan Penciptaan dengan ciptaan.

      Sebagaimana yang kita ketahui semua bentuk penyataan Allah kepada manusia justru menunjukkan perbedaan atau pemisahan yang harus diakui oleh manusia.

Kebergantungan Manusia kepada Allah

Pemazmur menunjukkan kepada kita untuk mengingatkan kedudukan kita sebagai manusia dengan perkataan ini:

"Ketahuilah bahwa Tuhanlah Allah: Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." (Mzm. 100:3)

Manusia tidak lebih kurang dalam kebergantungan kepada Allah dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain. Oleh karena keduanya adalah ciptaan Allah yang perlu didukung oleh Allah. Manusia merupakan mahkota dari aktivitas penciptaan Allah, tetapi ia tetap merupakan makhluk ciptaan dan akan kembali kepada debu pada suatu waktu (Kej. 2:7)

"Di dalam Dia kita hidup dan bergerak." (Kis. 17:28). Oleh karena itu apabila terpisah dari Allah kita bukanlah apa-apa. Segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia merupakan pemberian dari Allah. Sebagaimana
Halnya dengan ciptaan yang lain, apabila Allah lepas tangan daripada kita maka kita akan berhenti dari keberadaan kita. Kita berada semata- mata hanya oleh karena kehendak Allah.

Kebergantungan secara mutlak dari manusia kepada Allah mempunyai banyak implikasi, tetapi ada dua aspek dan kebutuhan kita akan Allah yang khususnya penting untuk pekerjaan apologetika selanjutnya.

  1. Kebergantungan pengetahuan manusia

  2. Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan mempengaruhi pandangan kristiani akan kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri, dunia di sekelilingnya, dan Allah. Dalam pelajaran berikut ini kita akan memperhatikan diri kita sendiri dalam hal pengetahuan secara terinci, khususnya setelah dicemari oleh dosa. Tetapi sangat penting untuk terlebih dahulu membicarakan pengetahuan manusia dalam hal yang lebih khusus.

    Seperti yang telah kita mengerti manusia secara mutlak bergantung kepada Allah. Ini termasuk pengetahuannya. Pengertian Allah akan diri- Nya dan ciptaan adalah berdiri sendiri tetapi pengetahuan manusia tidak berdiri sendiri. Pemazmur menyatakannya sbb.:

    "Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang." (Mzm. 36:10)

    Terlepas dari terang Allah melalui penyataan-Nya dalam ciptaan dan Firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengerti tentang terang. Allah mengetahui segala sesuatu. Setiap pengertian yang benar yang telah manusia dapatkan baik secara sadar atau tidak sadar, semua itu didapatkan daripada Allah. Hal ini berlaku bagi manusia pertama dan semua orang sampai sekarang. Tuhan Yesus sendiri mengakui sbb.:

    "Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh. 14:6)

    Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan:

    "sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan." (Kol. 2:3)

    Segala sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai kebenaran, termasuk kebenaran yang tidak secara langsung berkenaan dengan agama atau kerohanian bersumber daripada Allah. Dan manusia hanya mengetahuinya apabila manusia datang kepada penyataan Allah akan diri-Nya sebagai sumber dari kebenaran. Oleh karena Allahlah yang mengajarkan kepada manusia akan segala pengetahuan (Mzm. 94:10).

    Kita akan melihat kemudian bahwa kebergantungan manusia kepada Allah dalam ruang lingkup pengetahuan tidaklah berarti bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengasah pemikirannya. Dan juga tidak berarti bahwa manusia diprogram oleh Allah seperti halnya dengan sebuah komputer dalam proses pengumpulan data sehingga komputer mengetahui sesuatu. Manusia memang mempunyai kemampuan untuk dapat berpikir namun pengetahuan yang benar bergantung kepada pengetahuan Allah, dan berasal dari pengetahuan Allah yang telah dinyatakan kepada manusia.

  3. Kebergantungan moralitas manusia

  4. Sebagaimana halnya manusia harus bergantung kepada Allah untuk pengetahuan secara umum, demikian juga halnya dengan petunjuk dalam bidang moralitas. Pada saat di mana nilai-nilai dan tujuan-tujuan tradisi dipertanyakan, maka kita dipaksa untuk memikirkan bagaimana manusia dapat membedakan antara benar dan salah, atau baik dan jahat.

    Salah satu cara untuk dapat berhasil menemukan jawaban untuk pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya sekali lagi kita harus berdasar pada pengakuan perbedaan Pencipta dengan ciptaan. Sebagai Pencipta, Allah sejak semula adalah Pemberi hukum yang berdiri di atas hukum-Nya, dan yang mengharapkan ketaatan dari makhluk ciptaan-Nya.

    Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik." Dia menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Hakim yang benar yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat dan Dia tetap mengaplikasikan hak itu bagi diri-Nya sendiri sampai sekarang. Kepada Adam dan Hawa Dia berkata, "dari buah pohon tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat jangan engkau memakan buahnya" (Kej. 2:17). Kepada Musa Ia menyatakan , "Aku adalah Tuhan Allahmu ... dan jangan ada allah lain di hadapan-Ku." (Kel. 20:2,3). Mengenai Yesus, Allah mengatakan, "Ini adalah Anak yang Kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia." (Mat. 17:5).

    Tidak akan pernah ada sidang pengadilan untuk menghakimi Allah: karena Dia adalah Hakim yang tertinggi. Oleh karena itu penyataan-Nya mengenai moralitas berlaku lagi bagi semua orang dan apabila kita ingin mengetahui mengenai hal yang baik dan yang jahat, kita harus mengingat akan kebergantungan kita sebagai makhluk ciptaan kepada Allah.

    Untuk sampai kepada cara alkitabiah dalam berapologetika merupakan tugas yang sulit. Allah adalah Pencipta dan apabila kita sebagai makhluk ciptaan-Nya ingin mengetahui yang benar dan dapat memilih yang benar kita harus secara mutlak bergantung kepada penyataan-Nya.

DIK-Referensi 02a

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b | Referensi 02c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-R02a

Referensi DIK-R02a diambil dari:

Judul Buku : Teologia Sistematika 2:Doktrin Manusia
Pengarang : Louis Berkhof
Penerbit : Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tahun : 1995
Halaman : 25 - 33

Garis Besar:

2. AJARAN-AJARAN ALKITAB TENTANG ELEMEN-ELEMEN KONSTITUEN DARI NATUR MANUSIA.

3. HUBUNGAN ANTARA TUBUH DAN JIWA.

  1. Monistik.
  2. Dualistik.
    1. Occasionalisme.
    2. Paralelisme.
    3. Dualisme Realistik.

REFERENSI PELAJARAN 02a - PENCIPTAAN MANUSIA

2. AJARAN-AJARAN ALKITAB TENTANG ELEMEN-ELEMEN KONSTITUEN DARI NATUR MANUSIA.

Penjelasan yang ada sampai sekarang tentang natur manusia dalam Alkitab jelas dikotomis. Di satu pihak Alkitab mengajarkan kita untuk melihat natur manusia sebagai satu kesatuan dan bukan dalam dualitas, yang terdiri dari dua elemen berbeda yang masing-masing bergerak sepanjang garis sejajar tetapi tidaklah sungguh-sungguh bersatu membentuk satu organisme tunggal. Pendapat terdapatnya paralelisme semata di antara kedua elemen natur manusia, yang ditemukan dalam filsafat Yunani dan juga dalam karya-karya ahli filsafat berikutnya, sama sekali bertentangan dengan Alkitab. Kendatipun pandangan filsafat itu mengetahui adanya natur yang kompleks dalam diri manusia pandangan filsafat ini tidak pernah menjelaskan kenyataan ini sebagai hasil dari dua subyek dalam diri manusia. Setiap tindakan manusia selalu dilihat sebagai satu tindakan dari keseluruhan diri manusia. Yang berdosa adalah manusianya, bukan jiwanya; yang mati adalah manusia, bukan tubuhnya dan juga bukan hanya jiwa saja tetapi manusia itu baik tubuh maupun jiwanya yang ditebus dalam Kristus. Kesatuan ini telah dinyatakan dalam ayat-ayat paling awal dalam Alkitab - ayat pertama yang menyatakan kerumitan natur manusia - yaitu, Kej 2:7 "ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." Keseluruhan ayat itu berhubungan dengan manusia: "Allah membentuk manusia.... dan manusia menjadi makhluk yang hidup." Karya Allah ini tidak boleh ditafsirkan sebagai suatu proses mekanis, seolah-olah Ia pertama kali membentuk tubuh itu dari debu tanah dan kemudian memberi jiwa ke dalamnya. Ketika Allah membentuk tubuh, Ia membentuknya sedemikian sehingga oleh Roh-Nya manusia segera menjadi makhluk yang hidup. Ayub 33:4; 32:8. Kata "jiwa" dalam ayat ini tidaklah mempunyai arti sebagaimana kita sering mengartikannya - suatu arti yang agak asing dalam Perjanjian Lama - akan tetapi menunjukkan arti suatu keberadaan yang hidup, dan merupakan suatu penjabaran tentang manusia sebagai satu keseluruhan. Istilah Ibrani yang sama, nephesh chayyah (makhluk yang hidup) juga dipakai untuk menunjukkan binatang dalam Kej 1:21, 24,30. Jadi ayat ini kendatipun menunjukkan adanya dua elemen dalam diri manusia, tetaplah menekankan kesatuan organis dalam diri manusia. Dan pengertian seperti ini dapat kita temukan dalam seluruh Alkitab.

Pada saat yang sama ayat ini juga berisi bukti-bukti tentang susunan dari dua elemen natur manusia. Akan tetapi kita harus sangat hati-hati agar kita tidak mengharapkan perbedaan lebih lanjut antara tubuh sebagai elemen material, dan jiwa sebagai elemen spiritual dari natur manusia dalam Perjanjian Lama. Perbedaan ini mulai dipakai karena pengaruh filsafat Yunani. Antitesisnya - tubuh dan jiwa - sekalipun dalam pengertian Perjanjian Baru, tidaklah ditemukan dalam Perjanjian Lama. Pada kenyataannya, Bahasa Ibrani tidaklah mempunyai satu katapun yang menunjukkan tubuh sebagai suatu organisme dari jenis yang berbeda. Laidlaw berkata dalam bukunya yang berjudul The Bible Doctrine of Man' : "Antitesisnya jelas yaitu tentang yang rendah dan yang lebih tinggi; yang duniawi dan yang surgawi, yang hewani dan Ilahi. Kesatuan ini bukanlah melulu dua elemen, sebagai dua faktor yang bersatu menjadi kesatuan yang serasi - 'manusia menjadi makhluk hidup'. Jelas terbukti bahwa inilah perbedaan yang ditulis dalam Kej 2:7. Ada beberapa variasi pemakaian kata yang dipakai dalam Perjanjian Lama untuk menunjukkan elemen yang lebih rendah dalam diri manusia atau bagian-bagiannya, seperti "daging," "debu," "tulang," "usus," "ginjal" dan juga pemakaian bentuk metafora "pondok tanah liat" (Ayb 4:19). Dan ada juga sejumlah kata yang dipakai untuk menunjuk elemen yang lebih tinggi seperti "roh," "jiwa," "hati," dan "pikiran". Segera sesudah kita beralih dari Perjanjian Lama menuju Perjanjian Baru kita segera bertemu dengan pernyataan antitetis yang sangat kita kenal baik, seperti "tubuh dan jiwa", "daging dan roh". Kata bahasa Yunani yang setara jelas adalah pengaruh dari filsafat Yunani, tetapi juga dipakai dalam Septuaginta sehingga kemudian kata yang sama dipakai dalam Perjanjian Baru, sehingga dengan demikian istilah yang dipakai dalam Perjanjian Baru ini tetap memiliki kekuatan Perjanjian Lama. Pada saat yang sama pengertian antitetis tentang materi dan bukan materi sekarang juga terkait dengan istilah itu.

Orang-orang yang berpegang pada pendapat trikotomi berusaha mencari dukungan dari Alkitab, sebagaimana mereka memahaminya ada dua bagian konstituen dari natur manusia sebagai tambahan pada elemen materi atau elemen yang telah rendah itu, yaitu jiwa (Ibr: nephesh; Yun: psuche) dan roh (Ibr. ruach; Yun: pneuma). Akan tetapi kenyataan bahwa istilah-istilah ini sering sekali dipakai dalam Alkitab, tidak harus disimpulkan bahwa keduanya menyatakan komponen bagian dan bukannya aspek yang berbeda dari natur manusia. Suatu telaah yang cermat terhadap Alkitab jelas menunjukkan bahwa Alkitab memakai kata-kata tersebut secara bergantian. Kedua istilah ini menunjukkan elemen spiritual atau elemen yang lebih tinggi dalam diri manusia tetapi memakainya dari sudut pandang yang berbeda. Akan tetapi harus segera juga dipahami bahwa perbedaan istilah dalam Alkitab ini tidaklah sesuai dengan prbedaan yang sering dipakai dalam filsafat, bahwa jiwa adalah elemen spiritual dalam diri manusia seperti yang dikaitkan dengan dunia binatang, sedangkan roh adalah elemen yang sama dalam hubungannya dengan dunia spiritual yang lebih tinggi dan dengan Allah. Kenyataan berikut menunjukkan perbedaan dengan pandangan filsafat ini: Ruach-pneuma sama halnya dengan nephesh-psuche dipakai dalam penciptaan binatang, Pkh 3:21; Why 16:3. Kata psuche juga dipakai untuk menunjuk kepada Tuhan : Yes 42:1; Yer 9:9; Amos 6:8; Ibr 10:38. Orang mati yang sudah tidak bertubuh lagi disebut psuchai, Why 6:9; 20:4. Pelaksanaan keagamaan yang tertinggi disebut dilakukan oleh psuche Mark 12:30; Luk 1:46; Ibr 6:18, 19; Yak 1:21. Untuk melepaskan psuche berarti harus melepaskan semuanya. Jelas kita ketahui bahwa Alkitab memakai kedua kata itu saling bergantian. Mari kita perhatikan paralelisme yang dipakai dalam Luk 1:46-47; "Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku." Alkitab menyebut manusia sering dengan istilah "tubuh dan jiwa" (Mat 6:25; 10:28) dan di bagian lain disebutkan "tubuh dan roh" (Pkh 12:7; 1Kor 5:3,5). Kematian sering disebut sebagai berhentinya jiwa (Kej 35:18; 1Raj 17:21; Kis 15:26) dan juga berhentinya roh (Mzm 31:5; Luk 23:46; Kis 7:59). Lebih jauh lagi, baik "jiwa" maupun "roh" dipakai untuk menunjukkan elemen bukan materi dari orang mati (1Pet 3:19; Ibr 12:23; Why 6:9; 20:4). Perbedaan Alkitab yang penting adalah demikian: kata "roh" menunjukkan elemen spiritual dalam diri manusia sebagai prinsip kehidupan dan tindakan yang mengatur tubuh; sedangkan istilah "jiwa" menunjuk elemen yang sama sebagai subjek dari tindakan di dalam diri manusia, dalam Perjanjian Lama, Mzm 10:1,2; 104:1; 146:1; Yes 42:1; band. juga dengan Luk 12:19. Dalam berbagai keadaan secara khusus kata itu menunjuk kedalaman diri manusia sebagai tempat kedudukan perasaan manusia. Semua ini selaras dengan Kej 2:7: "Dan Tuhan Allah ... menghembuskan ke dalam hidungnya nafas hidup; dan manusia menjadi makhluk yang hidup." Jadi dapatlah dikatakan bahwa manusia mempunyai roh, yang juga adalah jiwa. Jadi Alkitab menunjukkan hanya dua saja elemen konstitusional dalam natur manusia yaitu tubuh dan roh atau jiwa. Pernyataan Alkitab ini juga selaras dengan kesadaran diri manusia. Kendatipun manusia sadar akan kenyataan bahwa dirinya terdiri dari elemen-elemen material dan spiritual, tak ada seorangpun yang sadar ia memiliki roh yang berbeda dengan jiwa.

Namun ada dua ayat yang tampaknya bertentangan dengan pernyataan dikotomis dari Alkitab yaitu 1Tes 5:23 "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus" dan satu lagi dalam Ibr 4:12, "Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sunsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." Akan tetapi harus selalu diingat bahwa: (a) Merupakan suatu peraturan yang harus dipegang teguh dalam eksegesis bahwa pernyataan-pernyataan perkecualian tidak boleh ditafsirkan sebagai analogia Scriptura atau sebagai pernyataan Alkitab yang biasa. Dengan melihat fakta ini beberapa orang yang mempertahankan trikotomi menerima bahwa ayat-ayat ini tidak harus membuktikan point mereka. (b) Berdasarkan Alkitab, pemakaian kata roh dan jiwa secara bersamaan tidaklah membuktikan keduanya adalah dua substansi berbeda dan Mat 22:37 tidak membuktikan bahwa Yesus menganggap hati dan jiwa dan pikiran adalah tiga substansi berbeda. (c) Dalam 1Tes 5:23 Rasul Paulus hanyalah ingin menekankan perkataan "Semoga Allah damai sejahtera menyucikan kamu semua seutuhnya," melalui suatu pernyataan epexigetis, di mana aspek-aspek berbeda dari eksistensi manusia disebutkan, dan di mana ia merasakan sangat bebas untuk menyebutkan jiwa dan roh bersamaan sebab Alkitab membedakan antara keduanya. Tentunya disini Paulus tidak akan pernah berpikir bahwa keduanya adalah dua substansi berbeda, sebab ia berkata di dalam surat-suratnya dalam Rom 8:10; 1Kor 5:5; 7:34; 2Kor 7:1; Ef 2:3; Kol 2:5. (d) Ibr 4:12 tidak boleh dianggap berarti bahwa Firman Tuhan sementara menebus ke dalam diri manusia kemudian roh dan jiwa yang kemudian dimaksudkan bahwa keduanya adalah dua substansi berbeda; tetapi ayat ini menyatakan bahwa Firman Tuhan memisahkan pemikiran dan keinginan hati manusia.

3. HUBUNGAN ANTARA TUBUH DAN JIWA.

Hubungan yang pasti antara tubuh dan jiwa telah dijelaskan dalam berbagai cara tetapi tetaplah merupakan misteri yang amat besar. Pembicaraan berikut adalah teori-teori paling penting yang berkaitan dengan masalah ini :

  1. Monistik.

  2. Ada banyak teori yang keluar dari asumsi bahwa tubuh dan jiwa adalah subtansi primitif yang sama. Sesuai dengan pendapat Materialisme, substansi primitif ini adalah materi dan roh adalah hasil dari materi. Sedangkan menurut pendapat Idealisme absolut dan Spiritualisme yang merupakan substansi primitif adalah roh dan roh ini menjadi tujuan bagi dirinya sendiri dalam apa yang disebut sebagai materi. Materi adalah hasil dari roh. Keberatan terhadap teori monistik ini adalah bahwa dua hal yang sedemikian berbeda seperti tubuh dan jiwa tidaklah dapat saling dihasilkan satu dari yang lain.

  3. Dualistik.

  4. Sebagian teori yang berasal dari asumsi akan adanya dualitas esensial dari materi dan roh dan menyatakan relasi mereka yang saling berkait satu dengan yang lain didalam berbagai cara:

    1. Occasionalisme.

    2. Menurut teori yang dikemukakan oleh Cartesius ini, materi dan roh masing-masing bekerja sesuai dengan hukum masing-masing, dan hukum- hukum ini saling berbeda sehingga tidak ada kemungkinan untuk melakukaan tindakan bersama. Apa yang tampaknya seperti itu hanya dapat dijelaskan berdasarkan prinsip bahwa pada peristiwa yang satu, Allah oleh pelaku bebas dalam diri-Nya menghasilkan suatu tindakan yang sama dalam yang lain.

    3. Paralelisme.

    4. Leibniz mengemukakan teori tentang keselarasan yang telah ditetapkan sebelumnya. Teori ini juga berlandaskan asumsi bahwa tidak ada interaksi langsung antara material dan spiritual, tetapi teori ini tidak mengasumsikan bahwa Allah menghasilkan tindakan-tindakan yang bersama melalui interferensi terus-menerus. Akan tetapi teori ini justru menyatakan bahwa Allah membuat tubuh dan jiwa sedemikian sehingga yang satu dengan tepat berhubungan dengan yang lain. Ketika tubuh bergerak, ada juga gerakan dalam jiwa sesuai dengan hukum keselarasan yang telah ditetapkan sebelumnya.

    5. Dualisme Realistik.

    6. Kenyataan-kenyataan sederhana yang kepadanya kita harus selalu kembali dan yang terkait dalam teori dualisme realistik adalah sebagai berikut: tubuh dan jiwa adalah substansi yang berbeda, yang tidak saling berinteraksi walaupun cara interaksinya tidak memakai pengujian manusia dan tetap merupakan misteri bagi kita. Persatuan antara keduanya dapat disebut persatuan hidup; keduanya saling terkait secara organis, jiwa yang bertindak di dalam tubuh dan tubuh bertindak atas jiwa. Sebagian dari tindakan-tindakan dari tubuh tergantung pada jiwa yang sadar, sedangkan yang lainnya tidak. Tindakan-tindakan jiwa dihubungkan dengan tubuh sebagai alatnya dalam hidup sekarang ini; akan tetapi dari eksistensi berlanjut dan kegiatan jiwa setelah kematian dapat diketahui bahwa jiwa ini dapat bekerja tanpa tubuh. Pandangan ini selaras dengan Alkitab dalam bagian ini. Sejumlah besar dari psikologi dewasa ini sungguh bergerak dalam alur materialisme. Ekstrim yang paling ujung adalah seperti apa yang terlihat dalam Behaviorisme tentang pikiran, dengan penyangkalan terhadap jiwa, dan bahkan juga tentang kesadaran. Semua yang dipelajari oleh Behaviorisme adalah studi tentang tingkah laku manusia.

DIK-Referensi 02b

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-R02b

Referensi DIK-R02b diambil dari:

Judul : Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan
Editor : Donald C. Stamps, M.A., M.Div.
Penerbit : Gandum Mas/Lembaga Alkitab Indonesia
Halaman : 1023-1024
Elektronik : Program SABDA(c)

Garis Besar:

KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM GAMBAR ALLAH
KOMPONEN-KOMPONEN KEPRIBADIAN MANUSIA
BERBAGAI TANGGUNG JAWAB KEPRIBADIAN MANUSIA

REFERENSI PELAJARAN 02b - PENCIPTAAN MANUSIA

ARTIKEL-ARTIKEL

"KEPRIBADIAN MANUSIA"

Nas : Pengkh 12:6-7
Ayat: "Ingatlah akan Dia (tidak ada dalam terjemahan LAI) sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya."

Dari semua makhluk yang diciptakan Allah, manusia adalah jauh lebih mulia dan paling kompleks. Akan tetapi, oleh karena kesombongan, manusia sering kali lupa bahwa Allah adalah Pencipta mereka, bahwa mereka adalah makhluk ciptaan dan bergantung pada Allah. Artikel ini menelaah perspektif alkitabiah mengenai kepribadian manusia.

"KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM GAMBAR ALLAH."

  1. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa umat manusia, oleh suatu keputusan khusus dari Allah, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kej 1:26-27. Jadi, Adam dan Hawa bukanlah hasil evolusi Kej 1:27; Mat 19:4; Mr 10:6. Karena diciptakan menurut rupa Allah, manusia mampu menanggapi dan menjalin persekutuan dengan Allah, dan mencerminkan kasih, kemuliaan, dan kekudusan-Nya. Kej 1:26

  2. Perhatikan sekurangnya tiga aspek berbeda dari gambar Allah di dalam manusia. Kej 1:26. Adam dan Hawa memiliki kesamaan moral dengan Allah, karena mereka adalah benar dan kudus (bd. Ef 4:24), dengan hati yang sanggup mengasihi dan ingin melakukan yang benar. Mereka memiliki kesamaan inteligensi (akal) dengan Allah, karena mereka diciptakan dengan roh, pikiran, perasaan, dan kuasa untuk memilih (Kej 2:19-20; 3:6-7). Dalam arti kata tertentu, susunan jasmaniah manusia adalah menurut gambar Allah dalam cara yang berbeda dengan binatang. Allah memberikan kepada manusia rupa yang dengannya Dia akan menampakkan diri dalam PL (Kej 18:1-2) dan bentuk yang sekali kelak akan dipakai oleh Anak-Nya (Luk 1:35; Fili 2:7).

  3. Ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, gambar Allah ini menjadi sangat rusak tetapi tidak seluruhnya binasa.

    1. Pasti kesamaan moral mereka dengan Allah rusak ketika mereka berdosa (bd. Kej 6:5), sehingga mereka tidak sempurna dan kudus lagi, tetapi kini cenderung berbuat dosa. Kecenderungan ini mereka turunkan kepada anak-anak mereka (bd. Kej 4:1-26; Rom 5:12 PB menegaskan kerusakan gambar Allah ini ketika menyatakan bahwa orang percaya tertebus harus dibaharui kepada kesamaan moral yang semula dari Allah (bd. Ef 4:22-24; Kol 3:10).

    2. Pada saat bersamaan, manusia berdosa masih memiliki banyak aspek kesamaan dengan Allah dalam hal akal, dengan kemampuan untuk bersekutu dan berkomunikasi dengan Dia (bd. Kej 3:8-19; Kis 17:27- 28). Dimensi gambar Allah ini juga rusak tetapi tidak dihapuskan seluruhnya ketika Adam dan Hawa berdosa di Taman Eden (bd. Kej 9:6; Yak 3:9).

"KOMPONEN-KOMPONEN KEPRIBADIAN MANUSIA."

Alkitab menyatakan bahwa kepribadian manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah itu, merupakan suatu ketritunggalan yang mencakup komponen roh, jiwa, dan tubuh (1Tes 5:23; Ibr 4:12).

  1. Allah membentuk Adam dari debu tanah (tubuh) dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (roh), dan manusia pun menjadi "makhluk yang hidup" (jiwa; Kej 2:7). Allah bermaksud agar dengan memakan buah pohon kehidupan dan menaati perintah-Nya untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia tidak akan pernah mati tetapi akan hidup selama-lamanya (bd. Kej 2:16-17; Kej 3:22-24). Hanya setelah kematian memasuki dunia sebagai akibat dosa manusia kita membaca tentang terbaginya pribadi manusia menjadi debu tanah yang kembali kepada tanah dan roh yang kembali kepada Allah (Kej 3:19; 35:18; Pengkh 12:7;Wahy 6:9; lih. art. KEMATIAN,). Dengan kata lain, pemisahan tubuh dari roh dan jiwa adalah akibat dari kutukan Allah atas umat manusia karena dosa dan akhirnya akan diperbaiki hanya pada saat kebangkitan tubuh pada hari terakhir (lih. art. KEBANGKITAN TUBUH).

  2. Jiwa (Ibr. nephesh; Yun. psyche) sering diterjemahkan "hidup", secara singkat dapat didefinisikan sebagai aspek non-materi dari pikiran, perasaan, dan kehendak dalam kepribadian manusia yang menjadi hasil perpaduan roh dan tubuh. Jiwa bersama dengan roh manusia akan hidup terus ketika tubuh seseorang meninggal. Jiwa demikian terkait dengan batin seseorang sehingga sering kali dipakai sebagai sinonim untuk "orang" (mis. Im 4:2; 7:20; Yos 20:3). Tubuh (Ibr. basar; Yun. soma) dapat didefinisikan secara singkat sebagai unsur materi seseorang yang kembali ke tanah pada saat orang itu meninggal (kadang-kadang disebut daging). Roh (Ibr. ruach; Yun. pneuma) secara singkat dapat didefinisikan sebagai unsur hidup non-materi manusia. Dalam roh ini tinggal kemampuan rohani dan hati nurani kita; melalui aspek inilah kita berhubungan dengan Roh Allah.

  3. Dari ketiga komponen yang merupakan "keseluruhan" kepribadian manusia hanya jiwa dan roh yang tidak bisa musnah dan tetap ada setelah kematian, apakah untuk tinggal di sorga (Wahy 6:9; 20:4) atau di neraka (bd. Mazm 16:10; Mat 16:26). Akan tetapi, Alkitab menandaskan bahwa selama kita hidup, orang percaya harus memelihara dengan baik tubuh mereka dengan menjauhkannya dari kebejatan dan kejahatan (Rom 6:6,12-13; 1Kor 6:13-20; 1Tes 4:3-4) dan dengan mengabdikannya kepada pelayanan Allah (Rom 6:13; 12:1; lih. art. NORMA-NORMA MORALITAS SEKSUAL). Tubuh juga akan mengalami perubahan pada hari kebangkitan sehingga kepribadian manusia pada akhirnya tertebus secara sempurna bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

"BERBAGAI TANGGUNG JAWAB KEPRIBADIAN MANUSIA."

Ketika Allah menciptakan umat manusia, Dia mempercayakan beberapa tanggung jawab kepada mereka.

  1. Allah menciptakan mereka menurut gambar-Nya sendiri supaya Ia dapat menjalin hubungan kasih pribadi dengan mereka untuk selama-lamanya dan supaya mereka dapat memuliakan Dia sebagai Tuhan. Allah begitu mendambakan umat manusia yang bergembira di dalam Dia, memuliakan diri-Nya, dan hidup dalam kebenaran dan kekudusan di hadapan-Nya sehingga ketika Iblis berhasil mencobai Adam dan Hawa untuk memberontak dan tidak menaati Allah, Tuhan berjanji akan mengirim seorang Juruselamat untuk menebus dunia. Kej 3:15

  2. Allah menghendaki manusia mengasihi diri-Nya melebihi segala sesuatu dan sesamanya seperti diri sendiri. Perintah ganda untuk mengasihi ini merangkum seluruh hukum Allah (Im 19:18; Ul 6:4-5; Mat 22:37-40;Rom 13:9-10).

  3. Allah juga menetapkan lembaga pernikahan di Taman Eden (Kej 2:21- 24). Ia bermaksud bahwa pernikahan harus bersifat monogami, hubungan seumur hidup di antara suami dengan istri (bd. Mat 19:5- 9; Ef 5:22-33). Di dalam konteks pernikahan, Allah memerintahkan agar manusia "beranakcucu dan bertambah banyak" (Kej 1:28; 9:7). Laki-laki dan wanita harus memperanakkan keturunan yang saleh dalam konteks keluarga. Allah menganggap keluarga saleh dan membesarkan anak-anak di dalam hubungan keluarga yang sehat sebagai prioritas tertinggi di dunia. Kej 1:28

  4. Allah juga memerintahkan Adam dan seluruh keturunannya untuk "taklukkanlah" bumi, dan "berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi" (Kej 1:28). Di Taman Eden itu Adam sudah menerima tanggung jawab untuk memelihara kebun itu dan memberi nama kepada semua binatang yang ada (Kej 2:15,19-20).

  5. Perhatikan bahwa ketika Adam dan Hawa berbuat dosa dengan memakan buah terlarang, sebagian dari kekuasaan mereka atas dunia beralih kepada Iblis yang kini selaku "ilah zaman ini" (2Kor 4:4) menguasai zaman jahat dewasa ini. 1Yoh 5:19 bd. Gal 1:4; Ef 6:12 Tetapi Allah masih mengharapkan agar orang percaya memenuhi maksud ilahi ini dengan memelihara dunia ini dengan baik, dengan menyerahkan segala hal di bumi ini kepada-Nya dan dengan mengelola ciptaan-Nya sehingga memuliakan Dia (bd. Mazm 8:7-9; Ibr 2:7-8).

  6. Karena kehadiran dosa di dalam dunia, Allah mengutus Anak-Nya Yesus untuk menebus dunia. Tugas berat memberitakan amanat kasih penebusan Allah itu telah diberikan kepada umat Allah, yang telah dipanggil-Nya menjadi saksi-saksi Kristus dan keselamatan-Nya hingga ke ujung bumi (Mat 28:18-20; Kis 1:8) dan untuk menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-16).

DIK-Referensi 02c

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Pencipta Manusia
Kode Pelajaran : DIK-R02c

Referensi DIK-R02c diambil dari:

Judul Buku : Mengenali Kebenaran
Penulis : Bruce Milne
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia
Tahun : 1993
Halaman : 131-139
Elektronik : Program SABDA(c)

Garis Besar:

Bab 11: MENGENALI KEBENARAN

Bab 11 : Watak Manusia
Bab 11.2 : Manusia Dalam Hubungan dengan Allah
Bab 11.2.b : Asal Usul Manusia
Bab 11.2.c : Gambar Allah
Bab 11.3 : Manusia Dalam Hubungan dengan Dirinya
Bab 11.3.a : Dikotomi atau Trikotomi?
Bab 11.3.b : Kesatuan Pribadi Manusia

REFERENSI PELAJARAN 02c - PENCIPTAAN MANUSIA

MANUSIA

Bab 11 : WATAK MANUSIA

Bab 11.1 : Pertanyaan yang abadi
Bab 11.2 : Manusia dalam hubungan dengan Allah
Bab 11.2.b : Asal usul manusia

Masalah asal manusia telah menimbulkan perdebatan yang menggairahkan dan kadang-kadang juga sengit selama dua ratus tahun terakhir ini.
Penerbitan karya Darwin, _The Origin of Species_ (1859), menyebabkan terjadinya bentrokan antara penjelasan biologis dan agama yang sudah lama membara. Kami mengakui pengilhaman sepenuhnya dan kewenangan ilahi dari perikop Alkitab yang bersangkutan dengan hal ini (Kej 1:20 -2:9). Namun dalam usaha menafsirkannya secara tepat kami ajukan dua pertanyaan yakni:

  • Bentuk sastra apa yang dipakai? dan
  • Apa maksud penulisnya?

Yang menjadi pokok persoalan adalah hubungan antara perikop-perikop Alkitab ini dengan teori evolusi. Evolusi organik secara umum dapat didefinisikan sebagai "asal usul spesies dari spesies yang sudah ada sebelumnya melalui proses penurunan dengan modifikasi". Ada empat pandangan utama tentang teori ini.

Pertama, _evolusionisme_ yakin bahwa teori evolusi mempunyai penjelasan menyeluruh mengenai asal usul manusia dan membuang segala keterangan mengenai karya suatu Pencipta. Tentu saja seorang Kristen tidak mungkin menerima pandangan tersebut.

Kedua, ada pandangan _kreationisme langsung_ yang percaya bahwa asal mula manusia adalah secara harfiah seperti yang digambarkan dalam Kejadian 2:7-8. Adam diciptakan dari debu dan Hawa dari tulang rusuknya oleh perbuatan ilahi yang khusus. Bukti paleontologis tentang perkembangan dalam spesies dan hubungan manusia dengan proses ini tentu merupakan masalah untuk pandangan ini. Bukti itu dijelaskan berdasarkan berbagai alasan, misalnya "teori air bah" yang mengatakan bahwa banjir pada zaman Nuh menjelaskan adanya bahan fosil. Menurut "teori kesenjangan", Kejadian 1:2 berarti perbuatan penciptaan pertama diikuti oleh malapetaka global yang mengakibatkan kenyataan-kenyataan geologis yang dapat diamati sekarang, dan peristiwa ini pada gilirannya diikuti oleh perbuatan penciptaan kembali yang menghasilkan dunia sebagaimana dikenal sekarang.

Ketiga, pandangan _kreationisme progresif_ menyatakan bahwa Kejadian 1:1-31 secara garis besar mencatat perbuatan-perbuatan kreatif Allah yang berturut-turut yakni dari penciptaan _ex nihilo_ (Kej 1:1) sampai pada munculnya manusia (Kej 1:27), yang dilihat sebagai tahapan penciptaan ilahi baru. Teori ini mengakui adanya perkembangan evolusioner dalam spesies-spesies utama, tetapi menerangkan kesenjangan-kesenjangan di antaranya sebagai tindakan penciptaan yang berturut-turut. Tindakan itu mungkin tidak menurut urutan yang diutarakan dalam Kejadian 1:1-31, yang memang berlainan dari yang disebutkan dalam Kejadian 21:1-31.

Keempat, _evolusi teistis_ menerima teori evolusi sebagai penjelasan umum tentang bagaimana Allah bekerja dalam menciptakan dunia dan membentuk kehidupan di dalamnya. Namun, mengenai munculnya manusia diajukan faktor lain lagi, yaitu tindakan ilahi di mana antropoid tertentu dipisahkan dan dikembangkan sampai tingkat kesadaran baru dan dalam hubungan dengan Allah.

Dalam mengevaluasi pandangan-pandangan itu harus dipertimbangkan delapan pokok berikut.

  1. Seharusnya penciptaan dari "yang tidak ada" jangan dipersoalkan. Menurut pandangan ketiga dan keempat, bahkan untuk sebagian pandangan kedua juga, ada pola sebagai berikut:

    • tindakan penciptaan pertama dari yang tidak ada mengadakan bahan baku semesta alam;
    • proses yang dikendalikan oleh Allah, yang mungkin ditandai oleh lanjutan tindakan-tindakan kreatif primer, yang membentuk semesta alam yang kita kenal sekarang ini;
    • puncak proses ini yakni penciptaan manusia secara khusus, atau sebagai suatu produk baru atau dengan pembentukan kembali dari bentuk makhluk yang sudah dikembangkan.

  2. Kita sebaiknya menghindari pandangan yang kaku tentang hal ini. Penafsir-penafsir Alkitab yang terpercaya, cerdas dan beriman pernah mendukung pandangan kedua, ketiga dan keempat di atas. Hal ini mengharuskan adanya toleransi antara orang Kristen yang keyakinannya berbeda-beda. Para ahli ilmu pengetahuan juga tidak boleh bersifat dogmatis karena evolusi masih merupakan teori saja, yang mungkin akan diganti dengan teori yang lebih tepat pada suatu waktu.

  3. Manusia berbeda dari binatang lain karena sifatnya yang luar biasa. Daya rasional, kesadaran moral, pengutamaan keindahan, pemakaian bahasa, rasa takut akan punah dan persepsi spiritual, segalanya menunjang penegasan Alkitab bahwa manusia adalah unik dalam kerangka penciptaan. Beberapa ahli ilmu pengetahuan Kristen yang lebih muda percaya bahwa dasar ilmiah teori evolusi harus dipertanyakan dan bahwa pandangan kreationisme langsung bukan saja sesuai dengan Alkitab tetapi tidak perlu bertentangan dengan penyelidikan ilmiah paling teliti tentang asal manusia.

  4. Para pendukung teori evolusi teistis menunjukkan kemanusiaan Yesus Kristus sebagai faktor yang membantu pandangan mereka. Secara jasmani, Yesus tidak berbeda dari orang-orang sezaman-Nya. Ia mendapat bentuk fisik-Nya menurut proses normal keturunan dari generasi ke generasi (bnd. Mat 1:1-17; Luk 3:23-38). Dengan begitu, keunikan-Nya tak akan tampak bagi ahli biologi abad pertama. Apakah ini situasi yang sama dengan situasi Adam dalam hubungannya dengan "nenek moyang-Nya" yang diduga berupa binatang antropoid? Memang patut dicatat bahwa sejumlah teori dan teknik ilmiah seperti astronomi Copernicus, operasi bidang kedokteran dan anestesi, pernah dinyatakan bertentangan dengan agama Alkitab, tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Mungkin juga teori tentang asal usul tubuh Adam melalui proses evolusi, nanti akan masuk kelompok teori itu.

  5. Satu pokok persoalan ialah bahwa proses penciptaan pada titik- titik perkembangan tertentu nampaknya serampangan. Bayangkanlah seekor serangga yang merayap di Borobudur: apakah serangga itu dapat mengetahui tujuan keseluruhan candi itu? Seandainya pun serangga itu dapat mengerti susunan batu-batu dalam bangunan itu dan terbang memandangnya secara keseluruhan, apakah ia dapat menangkap tujuan gedung itu menurut pemahaman manusia? Demikian juga, kita mengakui adanya tujuan ilahi bagi semesta alam karena penyataan sang Pencipta, walaupun belum tentu kita memahami semuanya.

  6. Persoalan lain yang terkait adalah mengenai kepurbaan manusia. Persoalan ini timbul karena silsilah-silsilah yang terdapat dalam Kitab Kejadian, yang menunjukkan hubungan kekeluargaan Adam dengan Abraham dan bangsa Israel (Kej 5:1-32; 11:10-27) dan menyebabkan Uskup Agung Ussher pada abad ke-17 menghitung waktu penciptaan pada tahun 4004 sM. Namun sebenarnya silsilah dalam Kitab Kejadian bukan laporan keturunan langsung dari ayah kepada anak. Silsilah tersebut merupakan hasil penyingkatan dari beberapa generasi, bahkan kadang-kadang mengacu pada dinasti dan bukan perorangan. Barangkali hal ini dapat menjelaskan umur panjang orang sebelum air bah.

    Jadi kapan Adam itu hidup? Jika bukti paleontologi dapat diterima secara umum, ia dapat ditempatkan pada bagian permulaan pada skala waktu genealogis ataupun mendekati bagian akhirnya.

    Kalau kita menempatkannya pada permulaan skala waktu, maka ini cocok dengan penegasan dalam Kisah 17:26 bahwa bangsa-bangsa diturunkan dari satu orang. Namun, untuk menyesuaikan ini dengan keseluruhan skala waktu, maka silsilah-silsilah dalam Kitab Kejadian harus dianggap meliputi 200.000 tahun. Hal ini bukan tidak mungkin. Akan tetapi ada
    Hal lain yang mempersulit pula, yaitu gambaran tentang peradaban yang sudah maju dalam Kejadian 4:26, yang menurut bukti-bukti di luar Alkitab harus ditempatkan sekitar 8.000 tahun atau paling tidak 16.000
    Tahun sM.

    Alternatifnya adalah pandangan bahwa Adam muncul agak kemudian pada skala waktu. Dengan demikian dihasilkan hubungan yang lebih baik antara skala waktu Alkitab dan skala waktu paleontologis, tetapi tidak menyelesaikan kesulitan adanya "manusia" lain yang hidup pada zaman yang sama dengan Adam. Salah satu penyelesaiannya adalah bahwa Adam mempunyai fungsi khusus sebagai wakil manusia dalam hubungan asli dengan Allah (bnd. tentang federalisme di bawah ini: ps 12.2...) dan bahwa ia mewakili semua leluhurnya serta "manusia" lain yang hidup pada zaman itu. Yang kedua itu ditingkatkan bersama dengan dia kepada tingkat manusia benar. Ini cocok dengan kesan yang diberikan Kejadian 4:16 mengenai populasi bumi.

    Namun, "manusia" lain itu (hominid) mungkin juga punah begitu saja, seperti dikatakan kebanyakan ahli antropologi akhir-akhir ini. Dalam
    Hal demikian, maka varietas bangsa-bangsa yang ada di dunia sekarang semua berasal dari satu keturunan, _homo sapiens _(Kis 17:26).

    Pada lain pihak, bukti paleontologis secara keseluruhan dapat dipertanyakan, menurut beberapa ilmuwan. Kalau begitu, mungkin juga tidakada ketegangan penting antara pandangan alkitabiah dan ilmiah.

  7. Banyak tergantung pada cara kita menafsirkan Kej 1:1-3:32. Apakah ini mitos agama? Ataukah gambaran sejarah yang terus terang, bahkan gambaran "ilmiah"? Suatu penafsiran "religius" (bahwa Kitab Kejadian mengajarkan kebenaran-kebenaran agama, bukan kebenaran- kebenaran sejarah) tentu mengurangi konflik dengan teori-teori evolusi yang umum diterima; pendekatan demikian diterima oleh cukup banyak orang Kristen, tetapi juga mempunyai kesulitan-kesulitan. Misalnya, pandangan ini tidak memberi tempat layak pada segi ruang dan waktu dalam Kejadian 1:1-3:24, misalnya lokasi taman Eden yang cukup tepat (Kej 2:8-14) dan hubungan sejarah antara Adam dengan Abraham dan Kristus (Kej 10:1-11; Luk 3:23-38; Kis 17:26). Bentuk cerita dalam Kejadian 1:1-3:24 berkesinambungan dengan Kejadian 4:1-26, demikian juga Kejadian 1:1-11:32 dan Kejadian 12:1-20. Lagi pula Kejadian 1:1- 2:25 menggambarkan dunia yang sempurna di mana penderitaan, kematian dan kejahatan kemudian masuk sebagai akibat ketidakpatuhan Adam.

    Dalam semuanya ini, kita harus mengingat sifat khusus dari peristiwa- peristiwa ini yang berada pada batasan antara dunia yang kita ketahui (yang penuh dosa) dan dunia sebelum masuknya dosa, yang tidak kita ketahui. Pengalaman kita secara tegas dibatasi oleh dosa dan kejatuhan dan peristiwa-peristiwa dalam Kejadian 1:1-2:25 berada di luar batasan itu. Jelaslah bahwa ada kesinambungan, karena Adam dan Hawa masih merupakan oknum-oknum yang sama sesudah kejatuhan mereka, namun janganlah kita terlalu cepat menentukan apa yang dimaksudkan atau yang tidak dimaksudkan oleh Kejadian 1:1-3:24.

  8. Akhirnya, kita harus menjaga supaya perdebatan mengenai hal-hal ini tidak meniadakan pernyataan pokok Alkitab, yakni bahwa umat manusia adalah makhluk yang ditempatkan Allah di dunia kepunyaan-Nya, yang berhubungan secara unik dengan Dia serta bertanggung jawab secara khusus untuk menjaga tatanan ciptaan.

Bab 11.2.b : c. Gambar Allah

Manusia dikatakan telah diciptakan "menurut gambar dan rupa" Allah (Kej 1:26). Ungkapan itu diterapkan pada Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru (2Kor 4:4; Kol 1:15; bnd. Ibr 1:3) dan dikatakan juga bahwa orang Kristen akan ikut memiliki gambar ilahi itu melalui hubungan mereka dengan Kristus (Rom 8:29; 1Kor 15:49; Kol 3:10).

Bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah membedakannya dari makhluk-makhluk lain. Dalam tradisi Kristen, "gambar" itu ditafsirkan sebagai ciri-ciri seperti pengetahuan, kesadaran moral, kesempurnaan moral asli dan kekekalan. Beberapa pakar ingin memberikan arti fisik kepada "gambar" itu (bnd. Kej 5:3), namun kenyataan bahwa Allah adalah Roh melawan pandangan ini. Pakar yang lain mengartikannya sebagai "wakil" atau "simbol", sehingga manusia merupakan wakil Allah di dunia ini (sebagaimana patung dalam agama kafir berfungsi sebagai wakil dewa yang disembah oleh umatnya; atau gambar Presiden di kantor atau sekolah merupakan simbol kekuasaannya yang berlaku di tempat itu).

Ada bermacam-macam pandangan mengenai bagaimana gambar itu dipengaruhi oleh kejatuhan. Irenaeus (130-200) membedakan antara "gambar" (Ibr. _ts‚l‚m_), yang diartikannya sebagai akal manusia dan kebebasan moral, dan "rupa" (Ibr. _demut_) yang disamakan dengan kebenaran aslinya, dan dia mengajarkan bahwa hanya "rupa" itu yang hilang pada saat kejatuhan. Tafsiran ini diikuti terus sepanjang abad pertengahan di Eropa dan membantu menghasilkan pandangan yang pada dasarnya optimistis tentang sifat manusia tersebut. Sedangkan Luther menjelaskan bahwa Kejadian 1:26 adalah contoh kesejajaran dalam bahasa Ibrani, sehingga "gambar" dan "rupa" mempunyai arti yang sama. Oleh sebab itu, gambar Allah hilang sama sekali dan hanya dapat dipulihkan melalui kelahiran kembali oleh Roh Kudus.

Namun Alkitab sebenarnya tidak berbicara tentang kehilangan total gambar Allah dan pada tempat-tempat tertentu memakai istilah itu untuk manusia yang sudah jatuh (bnd. Kej 9:6; 1Kor 11:7; Yak 3:9). Oleh sebab itu, Calvin berbicara tentang "sisa" gambar Allah dalam manusia yang telah jatuh. Sisa itu tidak memberi dasar bagi pembenaran manusia, namun masih membedakannya dari binatang dan menerangkan bakat dan prestasi manusia bukan Kristen. Beberapa pakar Belanda seperti Kuyper (1837-1920) dan Bavinck (1854-1921) memakai istilah "anugerah umum" dengan maksud bahwa Allah dalam kemurahan-Nya menahan akibat yang paling buruk dari kejatuhan dan memungkinkan kehidupan sosial yang lumayan bagi manusia.

Namun pandangan alkitabiah juga mencakup anugerah Allah melalui Yesus Kristus, karena melalui Dia gambar Allah akan pulih sepenuhnya dalam mereka yang percaya.

11.3 Manusia dalam hubungan dengan dirinya

Alkitab membedakan beberapa segi dalam sifat manusia, misalnya:

  • roh (Ibr. _ruakh_, Yun. _pneuma_);
  • jiwa (Ibr. _n'f'sy_, Yun. _psukhˆ_);
  • tubuh (hanya dalam Perjanjian Baru, Yun. _so'ma_); dan
  • daging (Ibr. _basar_, Yun. _sarx_).

Kata "hati" (Ibr. _le'v_, Yun. _kardia_) biasanya mengacu pada manusia seluruhnya, yang dilihat dari pusat pengendalian dirinya, manusia secara hakiki. Ada tiga pokok persoalan teologis yang perlu dicatat.

Bab 11.3.a : Dikotomi atau Trikotomi?

Telah terjadi perdebatan mengenai apakah manusia terdiri dari tubuh dan jiwa (dikotomi) atau tubuh, jiwa dan roh (trikotomi).

Para pendukung dikotomi menunjukkan pemakaian istilah jiwa dan roh secara berganti-ganti dalam Alkitab (bnd. Mat 6:25; 10:28; Luk 1:46 dengan Pengkh 12:7; 1Kor 5:3-5). Kematian dilukiskan sebagai "menghembuskan nafas terakhir" (Kej 35:18) dan "menyerahkan nyawa" (Mazm 31:6; Luk 23:46). Orang mati disebut "roh" (Ibr 12:23) dan juga "jiwa" (Wahy 6:9).

Pendukung trikotomi terutama mengacu pada Ibrani 4:12 dan 1Tesalonika 5:23, namun kedua ayat itu tidak dapat menentukannya dengan pasti. Dalam Ibrani 4:12 diterjemahkan "jiwa dan roh", tetapi mungkin sekali artinya firman Allah menyoroti manusia dari segi mana pun (bnd. Ibr 4:13), bukan bahwa ada pemisahan antara jiwa dan roh. 1Tesalonika 5:23 menegaskan kuasa Allah untuk menguduskan manusia seutuhnya.

Beberapa pihak, termasuk John Wesley, mengatakan bahwa manusia adalah dikotomi sebelum lahir kembali dan sesudahnya menjadi trikotomi, namun patut diragukan apakah kelahiran kembali itu memberi unsur tambahan kepada pribadi orang. Sikap ini dapat mendorong pandangan bahwa "unsur ketiga" pada orang percaya adalah Allah yang merupakan Roh Kudus itu sendiri. Secara teologis pandangan ini berbahaya karena membuka pintu pada pendapat yang hampir bersifat menghujat bahwa manusia "memiliki Allah" sebagai bagian dari dirinya. Secara pastoral pandangan ini berbahaya karena berdasarkannya orang dapat menyatakan bahwa keinginan rohnya adalah pancaran dari Roh Allah dan dengan demikian mengesampingkan koreksi dari Alkitab dan gereja.

Bab 11.3.b : Kesatuan pribadi manusia

Kini persoalan dikotomi/trikotomi sebagian besar sudah digeser dengan menekankan keterpaduan pribadi manusia. Menurut Alkitab, manusia tidak terdiri dari beberapa bagian yang digabung, apakah dua bagian atau tiga, melainkan merupakan kesatuan psikosomatis. Istilah yang digunakan Alkitab -- "tubuh", "jiwa", "roh", "hati", "akal budi" dan sebagainya -- kesemuanya hanya merupakan cara yang berbeda-beda untuk melihat pribadi yang satu itu. Penting sekali bahwa kata-kata yang diterjemahkan sebagai "jiwa" (Ibr. _n‚f‚sy_, Yun. _psukhˆ_) di tempat- tempat tertentu (1Raj 17:22; Luk 16:22) disebut terlepas dari tubuh, namun pada umumnya yang dimaksud adalah pribadi manusia seutuhnya (Yos 10:28; 1Raj 19:14; Mat 6:26; Kis 27:37).

Keterpaduan alkitabiah ini kelihatan jelas sekali bila dibandingkan dengan pemikiran filsafat Yunani. Plato melihat manusia terdiri dari dua bagian yang dapat dipisahkan yakni tubuh dan jiwa; pada saat meninggal jiwa dibebaskan, api ilahi dalam manusia meninggalkan kehidupan dalam perangkap gelap tubuh manusia untuk kehidupan di dunia nyata yang melampaui peleburan fisik. Bertentangan dengan hal itu, pandangan Alkitab tentang hidup sesudah kematian adalah kebangkitan tubuh. Manusia hanya dapat masuk dalam kehidupan sebenarnya jika ia mempunyai tubuh.

Namun dua hal perlu dikemukakan di sini. Pertama, meskipun kehidupan manusia yang sesungguhnya adalah bertubuh, namun ini tidak berarti bahwa tubuh itu mutlak perlu untuk pengungkapan dirinya yang hakiki. Perjanjian Baru dan khususnya Yesus melihat kemungkinan manusia terlepas dari tubuhnya (Mat 10:28; Luk 19:19-31; 23:43). Ini mempunyai dampak yang penting bagi keadaan sementara orang Kristen antara kematian fisiknya dan kedatangan Kristus kembali saat Ia menerima tubuh kebangkitan (bnd. di bawah: ps 34.2@@). Akan tetapi keadaan tak bertubuh ini bukan keadaan yang ideal (2Kor 5:1-10). Tujuan selengkapnya dan sesungguhnya bagi orang percaya tercapai pada kembalinya Kristus "yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia" (Fili 3:21).

Kedua, tujuan akhir manusia ini terletak dalam hubungannya dengan Allah pada tingkat rohani dan akhlak. Kendatipun hubungan ini mempunyai dampak pada setiap tingkat kehidupan manusia, termasuk tingkat lahiriah dan sosial, dan juga mengandung janji akan pembaruan akhir seluruh keberadaan manusia, namun dimensi-dimensi ini bukanlah
Hal yang pokok dari hubungan ini. Demikianlah kelahiran kembali tidak mempunyai dampak langsung bagi tubuh manusia sekarang (bnd. 2Kor 12:7; 2Tim 4:20 dsb.) ataupun bagi status sosial atau politik (1Kor 7:17- 24).

DIK-Referensi 03a

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b | Referensi 03c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : S e t a n
Kode Pelajaran : DIK-R03a

Referensi DIK-R03a diambil dari:

Judul Buku : Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen
Pengarang : R.C. Sproul
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Tahun Terbit : 1997
Halaman : Hal. 183-188

Garis Besar:

Bab 48 Setan
Bab 49 Roh Jahat

REFERENSI PELAJARAN 03a - S E T A N

S E T A N

Figur Setan sering kali dimengerti sebagai tawanan dari pesta
Halloween (hari raya yang dirayakan di Amerika untuk memperingati Setan dengan memakai kostum-kostum yang menyeramkan dan rumah-rumah dihias dengan menyeramkan pula). Setan digambarkan sebagai oknum yang memakai baju merah yang buruk. Dia memiliki kepala berbentuk seperti kepala sapi, bertanduk, berekor, dan membawa tombak berujung garpu. Figur seperti itu dipakai sebagai bahan olokan oleh orang-orang yang menolak pengajaran kekristenan yang berdasarkan Alkitab. Pada suatu waktu saya bertanya pada mahasiswa-mahasiswa di sebuah universitas, yang berjumlah kurang lebih tiga puluh orang: "Berapa orang di antara kamu yang percaya akan Allah?" Mayoritas mahasiswa-mahasiswa mengangkat tangan. Kemudian saya bertanya: "Berapa orang di antara kamu yang percaya kepada Setan?" Hanya dua orang yang mengangkat tangan.

Seorang mahasiswa secara spontan berkata: "Bagaimana mungkin orang terpelajar pada zaman ini masih percaya pada Setan? Kepercayaan pada Setan-setan merupakan kepercayaan yang bersifat takhyul, demikian juga
Halnya dengan kepercayaan kepada hantu-hantu, drakula yang jahat, dan segala sesuatu yang keluar pada malam hari."

Saya menjawab: "Ada sumber-sumber yang jauh lebih dapat dipercaya untuk percaya akan adanya Setan daripada percaya pada drakula. Kamu mungkin tidak mempercayai keabsahan dari Alkitab, tetapi sesungguhnya Alkitab merupakan sumber yang lebih dapat dipercaya daripada cerita dongeng tentang Induk Bebek."

Menyamaratakan Setan dengan tukang sihir dan drakula merupakan pelanggaran yang serius terhadap pemikiran yang sehat. Saya meneruskan diskusi saya dengan para mahasiswa tadi dengan mengajukan pertanyaan yang berikut: Apabila kamu percaya bahwa Allah tidak dapat dilihat, Pribadi yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang untuk hal yang baik, mengapa kamu sulit untuk membayangkan bahwa ada pribadi yang tidak kelihatan yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang untuk hal yang jahat?"

Mungkin persoalan kita dengan Setan terletak pada tanggapan kita terhadap karikatur, bukan terletak pada pandangan Alkitab tentang Setan. Di dalam firman Tuhan, istilah Setan berarti "musuh."

Kita mengenal dia sebagai Setan yang jahat. Dia merupakan malaikat yang telah diciptakan oleh Allah sebelum manusia diciptakan. Malaikat itu kemudian berontak terhadap Allah dan sejak saat itu terus berperang melawan Allah dan manusia. Dia disebut raja kegelapan, bapa penipu, penuduh, dan ular yang licik. Setan yang sebenarnya sangat berbeda dengan gambaran yang diberikan oleh dunia, yaitu suatu figur yang menyeramkan tapi menggelikan. Gambaran seperti itu muncul di gereja pada abad pertengahan. Gambaran yang menggelikan tentang Setan diciptakan oleh gereja untuk mengolok-olok Setan. Gereja yakin bahwa untuk menjatuhkan Setan adalah dengan membuatnya tersinggung. Oleh karena titik kelemahan Setan terletak pada kesombongannya, maka dengan menyerang kesombongannya dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengalahkannya.

Pandangan Alkitab tentang Setan jauh lebih dalam. Dia muncul sebagai "malaikat terang." Gambaran ini menunjuk pada kemampuan Setan untuk menipu manusia dengan bertopeng dibalik sesuatu yang baik. Setan adalah makhluk yang pandai memanipulasi, cerdik dan licik. Dia dapat berbicara dengan sangat menarik, dan penampilannya sangat mempesona. Raja kegelapan berjubahkan terang. Firman Tuhan juga menyatakan bahwa Setan seperti singa yang mengaum, yang selalu siap untuk menerkam mangsanya. Kristus juga digambarkan seperti singa, yaitu Singa dari Yehuda. Dia adalah penebus, yang melawan singa Setan yang siap menerkam. Kedua gambaran ini berbicara tentang kekuatan.

Bagaimanakah seharusnya orang percaya bereaksi terhadap Setan? Di satu pihak, Setan memang adalah makhluk yang menakutkan. Dalam 1Petrus 5:8 dikatakan bahwa: "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." Orang percaya tidak boleh ketakutan dalam menghadapi Setan. Setan memang lebih kuat dari kita, tetapi Kristus lebih kuat dari Setan. Alkitab menyatakan: "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia." (1Yohanes 4:4). Setan pada dasarnya adalah ciptaan, dia terbatas dan fana. Dia terbatas oleh ruang dan waktu. Dia tidak pernah dapat disejajarkan dengan Allah dalam hal apa pun juga. Setan merupakan makhluk yang lebih tinggi dari manusia; dia adalah malaikat yang jatuh, tetapi dia bukan Allah. Dia memiliki kuasa yang lebih besar dari makhluk-makhluk di bumi tetapi kuasanya sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kuasa Allah yang Mahakuasa.

  1. Setan jangan dibandingkan dengan makhluk-makhluk mistik.
  2. Setan adalah malaikat yang jatuh dengan kekuatan yang luar biasa untuk menghancurkan, menipu, dan menuduh manusia.
  3. Setan adalah makhluk yang terbatas tanpa kekuatan ilahi atau atribut ilahi.

ROH JAHAT

Roh-roh jahat adalah keberadaan supranatural yang merupakan pengikut Setan. Mereka sama dengan Setan, yang tadinya adalah malaikat- malaikat. Mereka mengikuti Setan dalam pemberontakan melawan Allah dan diusir dari surga bersama dengan Setan. Pada waktu mereka disebut di Firman Tuhan, fokus utamanya adalah pada roh jahat yang merasuk manusia.

Rasul Paulus menyatakan bahwa dewa-dewa yang disembah oleh penyembah- penyembah berhala sebenarnya tidak ada, tetapi roh-roh jahat ada dan dia yang menjerumuskan dan mengikat orang-orang pada penyembahan kepada berhala. Orang-orang yang berperan serta dalam penyembahan berhala ini, sebenarnya menyembah roh-roh jahat dan menyembah berdasarkan perintah dari roh-roh jahat.

Perjanjian Baru menyatakan beberapa karakteristik dari roh-roh jahat. Penyerangan secara mental dan fisik selalu mewarnai kehadirannya, misalnya seperti kebutaan atau menyiksa diri sendiri. Roh-roh jahat juga mengenali Kristus sebagai yang Mahakudus dari Allah. Mereka takut dan takluk pada otoritas Yesus. Juga dijelaskan bahwa roh-roh jahat memiliki pengetahuan supranatural, kekuatan supranatural, dan kemampuan untuk memberitahukan tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Pada abad pertengahan para tokoh Reformasi bereaksi dengan sangat keras melawan praktek-praktek mistik dan takhyul yang berkaitan dengan roh-roh jahat. Pada akhir abad keenam belas, praktek mengusir roh-roh jahat telah dihilangkan di gereja Lutheran.

Sementara roh-roh jahat terus bekerja, tingkat dan keparahan aktivitasnya diekspresikan secara unik di Perjanjian Baru. Waktu ini merupakan waktu pemenuhan, dimana setelah kebangkitan dan kedatangan Roh Kudus di hari Pentakosta, wilayah Setan dan pengikut-pengikutnya sangat dibatasi. Namun, Paulus dan Yohanes mengingatkan orang-orang percaya supaya pada akhir zaman ini bersiap siaga menghadapi aktivitas Setan dan roh-roh jahat yang akan semakin giat dan bertambah.

Apabila kita memperlakukan Alkitab dengan sangat serius, maka kita juga harus menghadapi dunia roh-roh jahat dengan serius. Tidak akan ada teologi tanpa hubungan dengan okultisme.

Meskipun roh-roh jahat nyata dan berkuasa, tetapi kita tidak mempunyai alasan untuk percaya bahwa Kita memang dapat digoda, diganggu, dicobai, dan dituduh oleh roh-roh jahat, tetapi mereka tidak dapat menguasai dan mengontrol kita. Setiap orang Kristen didiami oleh Roh Kudus. Kehadiran-Nya menjamin kebebasan kita dari penguasaan roh-roh jahat. Roh Kudus lebih kuat dari semua roh-roh jahat yang akan menyerang kita.

  1. Roh-roh jahat adalah malaikat yang jatuh di bawah penguasaan Setan.
  2. Roh-roh jahat menyatakan diri dengan kekkuatan yang luar biasa pada waktu Yesus ada di dalam dunia.
  3. Roh-roh jahat tidak dapat memiliki orang Kristen.

DIK-Referensi 03b

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : S e t a n
Kode Pelajaran : DIK-R03b

Referensi DIK-R03b diambil dari:

Judul Buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jilid 1)
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF
Tahun terbit : Cet. 1-1993, Cet. 2-1994
Halaman : 409-410

REFERENSI PELAJARAN 03b - S E T A N

IBLIS

IBLIS. Nama penguasa kejahatan. Ibrani satan, Yunani Satanas, arti dasarnya 'lawan' (kata itu diartikan demikian dalam Bil. 22:22). Kedua pasal pertama Ayb. menceritakan Iblis muncul dihadirat Tuhan di antara 'anak-anak Tuhan'. Kadang-kadang dikatakan bahwa dalam bagian-bagian Alkitab seperti ini, Iblis tidak dipikirkan sebagai melulu jahat, melainkan semata-mata salah satu dari makhluk-makhluk sorgawi. Harus diakui bahwa di situ belum terdapat ajaran yang berkembang seutuhnya, tapi kegiatan-kegiatan Iblis jelas merugikan Ayub. Acuan PL mengenai Iblis jarang sekali, tapi Iblis terus-menerus terlibat dalam kegiatan- kegiatan melawan kepentingan manusia. Ia membujuk Daud untuk menghitung rakyatnya (1Taw. 21:1). Ia berdiri di sebelah kanan Yosua, imam agung, dan 'mendakwa' Yosua, sehingga menimbulkan amarah Tuhan (Za 3:1 dst). Pemazmur menganggap adalah bencana jika Iblis berdiri di sebelah kanan seseorang (Mzm. 109:6, TBI 'pendakwa'). Yohanes berkata bahwa 'Iblis berbuat dosa dari mulanya' (1Yoh. 3:8), dan acuan-acuan PL mengenai Iblis mendukung hal ini.

Kebanyakan dari informasi tentang Iblis sumbernya adalah PB, di mana makhluk jahat yang teramat mengerikan ini disebut Satanas atau ho diabolos tanpa perbedaan arti, dan dalam hal-hal tertu juga disebut Beelzebul (atau Beelzeboul, atau Beezeboul, Mat. 10:25; 12:24, 27). Ungkapan-ungkapan lainnya seperti 'penguasa dunia' (Yoh. 14:30) atau 'penguasa kerajaan angkasa' (Ef. 2:2) juga digunakan. Iblis selalu dilukiskan sebagai melawan Allah, dan bekerja untuk menggagalkan maksud-maksud Allah.

Matius dan Lukas menceritakan, bahwa Yesus pada awal pekerjaan-Nya mengalami pencobaan berat, ketika Iblis mencobai Dia supaya melaksanakan tugas-Nya dengan semangat yang keliru (Mat. 4; Luk. 4; lihat juga Mrk. 1:13). Setelah itu Iblis meninggalkan-Nya 'untuk sementara', yang berarti bahwa pertarungan itu kemudian diulangi lagi. Hal ini jelas bahwa pada pernyataan bahwa 'Ia sama dengan kita, Ia telah dicobai (Ibr. 4:15). Konflik tersebut bukan kebetulan! Sebab maksud kedatangan Yesus ke dunia dinyatakan sebagai 'membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis' (1Yoh. 3:8; bnd Ibr. 2:14). Di mana-mana PB melihat konflik besar antara kekuatan Allah dan kebaikan di satu pihak, melawan kejahatan di bawah pimpinan Iblis di pihak lain. Hal ini bukanlah pikiran satu atau dua penulis saja, melainkan umum dan mendasar.

Tak dapat diragukan betapa hebat dan sengitnya konflik itu. Untuk menekankan kengeriannya, Petrus menggambarkan Iblis 'berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya' (1Ptr. 5:8). Paulus lebih memikirkan kelicikan si jahat 'Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang' (2Korintus 11:14), sehingga tidak mengherankan bila antek-anteknya nampak sangat meyakinkan dalam penyamaran mereka. Orang-orang Efesus dinasihati untuk 'mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis' (Ef. 6:11), dan ada beberapa acuan tentang 'jerat Iblis' (1Tim. 3:7; 2Tim. 2:26). Ayat- ayat seperti itu menekankan bahwa orang Kristen (dan bahkan penghulu malaikat, Yud. 9) terus terlibat dalam pertarungan yang tak henti- hentinya tanpa iba dan penuh kelicikan.

Orang Kristen tidak dapat mengundurkan diri dari pertarungan itu. Juga tidak dapat menganggap bahwa kejahatan selalu kelihatan sebagai kejahatan. Diperlukan kepintaran, keuletan, kegigihan dan keberanian. Tapi perlawanan yang mantap terhadap Iblis akan selalu berhasil. Paulus menasihati pembaca agar melawan Iblis 'dengan iman yang teguh' (1Ptr. 5:9), dan Yakobus berkata, 'lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu' (Yak. 4:7). Paulus menasihatkan agar jangan 'memberi kesempatan kepada Iblis' (Ef. 4:27), dan dampak dari mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah ialah, orang percaya dapat melawan apapun serangan si jahat (Ef. 6:11, 13). Paulus meletakkan kepercayaannya pada kesetiaan Allah. 'Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar' (1Kor. 10:13). Ia sadar benar akan kecerdikan Iblis dan yang selalu berusaha untuk 'memperoleh keuntungan atas kita'. Tapi Paulus menambahkan' kita tahu apa maksudnya' (atau seperti yang dapat diterjemahkan, 'Aku sadar akan siasat-siasatnya', 2Kor. 2:11).

Iblis senantiasa menentang Injil, sebagaimana nampak di sepanjang pelayanan Kristus. Iblis bekerja melalui pengikut-pengikut Yesus, seperti Petrus ketika menolak gagasan tentang salib dan ditegur keras, "Enyahlah Iblis' (Mat. 16:23). Iblis mempunyai rencana selanjutnya terhadap Petrus, tapi Tuhan Yesus berdoa untuknya (Luk. 22:31 dst.). Iblis bekerja juga dalam musuh-musuh Yesus. Justru Yesus menyatakan kepada musuh-musuh-Nya itu bahwa 'Iblislah yang menjadi bapakmu' (Yoh. 8:44). Semua pertentangan itu mencapai puncaknya pada masa sengsara Yesus. Pekerjaan Yudas dinyatakan sebagai kegiatan si jahat. Iblis 'masuk ke dalam' Yudas (Luk. 22:3; Yoh. 13:27). Iblis membisikkan rencana adalah hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia' (Yoh. 13:2). Dengan salib menanti di depan Yesus berkata 'penguasa dunia ini datang' (Yoh. 14:30).

Iblis terus-menerus menggodai manusia (1Kor. 7:5). Alkitab melaporkan bahwa Iblis bekerja dalam diri seorang percaya, Ananias ('mengapa hatimu dikuasai Iblis ....?', Kis. 5:3), dan dalam ihwal Elimas terang-terangan membelokkan jalan Tuhan ('hai anak Iblis ... engkau musuh segala kebenaran,' Kis 13:10). Prinsip umum diberikan dalam 1Yohanes 3:8. 'barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis.' Orang dapat begitu saja menyerahkan dirinya kepada Iblis sehingga ia menjadi milik Iblis, menjadi 'anak-anaknya' (1Yoh. 3:10). Karena itulah Alkitab berbicara tentang 'jemaah Iblis' (Why. 2:9; 3:9), dan tentang orang yang diam 'di tempat takhta Iblis' (Why. 2:13). Iblis menghalang-halangi pekerjaan para pemberita Injil (1Tes 2:18). Ia merampas benih unggul yang ditaburkan di dalam hati manusia (Mrk. 4:15). Ia menyebarkan 'anak-anak si jahat' di ladang, yaitu dunia (Mat. 13:38). Kegiatan Iblis dapat berakibat fatal atas jasmani manusia (Luk. 13:16). Ia selalu dilukiskan mempunyai banyak akal dan terus aktif.

Tapi PB tahu pasti keterbatasan-keterbatasan dan kekalahan Iblis. Kekuasaannya adalah pinjaman (Luk. 4:6). Ia dapat melakukan kegiatannya hanya dalam batas-batas yang telah ditetapkan Allah (Ayb. 1:12, 2:6; 1Kor. 10:13; Why. 20:2, 7). Bahkan ia dapat diperalat untuk suatu tujuan yang benar (1Kor. 5:5; bnd 2Kor 12:7). Yesus melihat kemenangan perdana dalam tugas ke-70 murid (Luk. 10:18), dan tentang 'api yang kekal' sebagai 'yang disediakan bagi Iblis dan malaikat- malaikatnya' (Mat. 25:41). Yohanes melihat ini terjadi (Why 20:10).

Di atas telah dikemukakan bahwa konflik dengan Iblis memuncak pada sengsara Tuhan Yesus. Di situ Yesus menyebut Iblis sebagai 'dilemparkan ke luar' (Yoh. 12:31), dan 'dihakimi' (Yoh. 16:11). Kemenangan itu secara khusus disinggung dalam Ibr. 2:14; 1Yoh. 3:8. Pekerjaan para pengkhotbah ialah 'untuk membalikkan' orang 'dari kekuasaan Iblis kepada Allah' (Kis. 26:18). Paulus berkata dengan penuh keyakinan 'Allah, sumber dalam sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu, (Rm. 16:20).

Kesaksian PB telah jelas. Iblis adalah realitas yang jahat, senantiasa memusuhi Allah dan umat-Nya. Tapi ia sudah dikalahkan total dalam hidup, kematian dan kebangkitan Kristus, dan kekalahan ini akan menjadi nyata dan genap pada akhir zaman. *ROH JAHAT.

DIK-Referensi 03c

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : S e t a n
Kode Pelajaran : DIK-R03c

Referensi DIK-R03c diambil dari:

Judul Buku : Teologi Dasar
Pengarang : Charles C. Ryrie
Penerbit : Yayasan Andi
Tahun terbit : Cet. 1-1991, Cet. 2-1992
Halaman : 181-186

Garis Besar:

PASAL 22 REALITAS TENTANG SETAN

  1. BUKTI DARI TEKS
  2. BUKTI TENTANG KEPRIBADIAN
    1. Ciri-ciri Kepribadian
    2. Penunjuk-penunjuk Kepribadian
    3. Tanggung jawab Moral Kepribadian
  3. SIFATNYA
    1. Dia adalah Ciptaan
    2. Dia adalah Makhluk Roh
  4. NAMA-NAMA SETAN

REFERENSI PELAJARAN 03c - S E T A N

REALITAS TENTANG SETAN

Penolakan atas realitas Setan biasanya didasarkan atas pertimbangan sehubungan dengan anggapan mengenai Setan sebagai personifikasi kejahatan tetapi sesungguhnya bukan sebagai makhluk yang memiliki keberadaan diri secara terpisah. Ide atau pandangan tentang "Setan" sebagai satu pribadi lebih banyak dikembangkan dalam masa Perjanjian Baru, dan ini diharuskan, sebagaimana diberitahukan kepada kita, sebagai reinterpretasi dari "berbagai legenda" dalam Perjanjian Lama. Karena, sebagaimana dinyatakan, legenda-legenda dalam Perjanjian Lama tersebut tidak mengandung ide ataupun pandangan mengenai figur khusus dari roh jahat. Selain itu, dualisme dari kepercayaan orang-orang Iran-lah, sebagaimana dikatakan, yang memberikan sumbangan gagasan kepada orang-orang Yahudi mengenai pribadi Setan selama periode Gerika -Roma (lihat T.H. Gaster, "Satan" The Interpreter's Dictionary of the Bible [New York Abingdon; 1976], 4-224-8).

I. BUKTI DARI TEKS

Jika seorang menerima Kitab Suci sebagai penyataan (wahyu) dari Allah, bukannya sekedar catatan dari pemikiran manusia mengenai Allah, maka kenyataan adanya Setan tidak dapat disangkal. Setan tidak berkembang sebagai suatu makhluk pribadi; dia ada dan bertindak secara aktif dari kitab terawal sampai terakhir dalam Kitab Suci. Tujuh kitab dalam Perjanjian Lama mengajarkan mengenai kenyataan adanya Setan (Kejadian, 1Tawarikh, Ayub, Mazmur, Yesaya, Yehezkiel, Zakaria). Setiap penulis dari Perjanjian Baru menegaskan mengenai kenyataan dan kegiatannya. Pengajaran Kristus juga memberikan gambaran dan menegaskan mengenai keberadaan Setan dan kegiatannya. Di dalam duapuluh lima dari dua puluh sembilan bagian dalam Injil yang berbicara mengenai Setan, Tuhan-lah yang membicarakannya. Dalam beberapa dari bagian-bagian tersebut tidak dapat diragukan lagi bahwa Kristus sedang menyampaikan ajaran-Nya kepada orang banyak yang tidak mengetahui atau memiliki pandangan yang keliru tentang Setan dikarenakan kepercayaan dualisme orang-orang Persia. Secara khusus perhatikan bagian-bagian seperti Mat. 13:39; Luk. 10:18 dan 11:18.

II. BUKTI TENTANG KEPRIBADIAN

  1. Ciri-ciri Kepribadian

  2. Seperti malaikat-malaikat, Setan juga dikatakan memiliki berbagai ciri kepribadian. Dia menunjukkan kecerdikannya (2Kor. 11:3); dia menyatakan emosi (Why. 12:17, marah; Luk. 22:31, memiliki keinginan); dia menunjukkan bahwa dia mempunyai kehendak (Yes. 14:12-14; 2Tim. 2:26).

  3. Penunjuk-penunjuk Kepribadian

  4. Setan dinyatakan sebagai satu pribadi baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru (Ayb. 1; Mat. 4:1-12). Perhatikan bahwa informasi dalam bagian yang terakhir ini (Kristus dicobai di padang gurun) berasal dari Tuhan; jadi Dia, dengan mempergunakan ucapan pribadi, menunjuk pada kepribadian Setan.

  5. Tanggung jawab Moral Kepribadian

  6. Jika Setan hanya sekedar personifikasi sebagaimana yang telah dipikirkan banyak orang untuk mengungkapkan ide atau pandangan mereka mengenai kejahatan, maka personifikasi seperti ini jelas tidak bisa dimintai pertanggungjawaban moral atau perbuatan-perbuatannya, karena dalam kenyataannya, tidak ada makhluk yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Tetapi Setan dituntut pertanggungjawabannya oleh Tuhan (Mat. 25:41), dan bagian ini memperingatkan kita bahwa menyangkal kenyataan adanya Setan menuntut juga penyangkalan terhadap kebenaran kata-kata Kristus.


III. SIFATNYA

  1. Dia adalah Ciptaan

  2. Dengan menganggap bahwa Yeh. 28:11-19 berbicara tentang Setan (akan dibicarakan lebih lanjut), maka bagian itu secara jelas menyatakan bahwa Setan diciptakan (ayat 15). Ini berarti bahwa dia tidak memiliki gelar-gelar atau sebutan-sebutan yang hanya dimiliki oleh Allah saja, seperti mahahadir, mahakuasa, dan mahatahu. Meskipun merupakan makhluk yang perkasa, dia mempunyai keterbatasan sebagai ciptaan. Dan sebagai ciptaan, dia harus bertanggungjawab kepada Penciptanya.

  3. Dia adalah Makhluk Roh

  4. Setan termasuk dalam golongan malaikat-malaikat yang disebut kerubim (Yeh. 28:14). Rupanya dia adalah malaikat ciptaan yang tertinggi (ayat 12). Inilah yang menjadi alasan mengapa Mikhael, penghulu malaikat, tidak berbantah-bantah dengan Setan mengenai tubuh Musa (Yud. 9). Setan bisa disebut sebagai penghulu dari semua malaikat yang jahat. Bahkan di dalam keadaannya sekarang, sebagai malaikat yang telah jatuh, dia tetap memiliki kuasa yang besar (meskipun berada di bawah izin Allah). Jadi, dia disebut sebagai ilah dari dunia ini dan penguasa dari kuasa-kuasa di udara (2Kor. 4:4; Ef. 2:2).


IV. NAMA-NAMA SETAN

Sejumlah nama yang beraneka-ragam yang diberikan kepada Setan lebih lanjut mendukung kenyataan akan keberadaannya.

Setan (dipergunakan kurang lebih sebanyak lima puluh dua kali) berasal dari kata Ibrani, satan, berarti musuh atau lawan (Za. 3:1; Mat. 4:10; Why. 12:9; 20:2).

Iblis (dipergunakan sekitar tiga puluh lima kali) berasal dari kata Yunani, diabolos, yang mengandung arti pemfitnah (Mat. 4:1; Ef. 4:27; Why. 12:9; 20:2)

Yohanes mencatatnya sebagai si jahat (Yoh. 17:15; 1Yoh. 5:18-19). Karakternya yang jahat, seperti yang dinyatakan dalam gelar tersebut, memenuhi seluruh dunia yang berada di bawah kekuasaannya. Namun demikian, pada dasarnya orang percaya tidak dapat dirusak oleh Setan.

Dalam wujud seekor ular merupakan cara penampilan Setan yang pertama kali kepada manusia (Kej. 3:1). Pelukisan watak ini, tetap dimiliki Setan di dalam Perjanjian Baru juga (2Kor. 11:3; Why. 12:9) dan menunjukkan tipu muslihat dan kelicikannya.

Setan juga digambarkan sebagai seekor naga merah yang besar (Wah. 12:3, 7, 9). Ini menegaskan sifatnya yang buas dan kejam, terutama sekali di dalam konflik. Perhatikan bahwa naga itu mempunyai ekor, dengan demikian karikatur yang menggambarkan Setan sebenarnya tidak terlalu jauh dari kenyataannya! Sebuah ilustrasi: seorang mahasiswa yang lebih tua, pada waktu ditanya oleh seorang mahasiswa yang lebih muda seperti apakan dosen Anu itu, mungkin akan menjawab, "Oh, dia itu seekor beruang!" Artinya jelas bahwa dosen itu keras dan sulit. Setan adalah seekor naga. Artinya jelas; dia sangat kejam dan buas dalam serangannya terhadap orang percaya.

Salah satu kegiatan Setan adalah menjadi pemfitnah atau pendakwa saudara-saudara (ayat 10). Dia melakukan hal ini dengan tidak henti- hentinya siang dan malam. Atas dasar apakah dia memfitnah dan mendakwa kita? Atas dasar dosa-dosa yang kita lakukan. Dan tentu saja, dia punya kasus yang tidak dapat disanggah, karena orang-orang percaya berbuat dosa, dan setiap dosa dapat merusak keselamatan kita. Akan tetapi, Tuhan kita, Pembela kita, membela kita atas dasar satu-satunya bahwa semua dosa kita sudah dibayar melalui kematian-Nya (1Yoh. 2:1- 2). Beberapa orang barangkali secara tidak sadar, membuat perbedaan antara dosa-dosa yang dapat membatalkan keselamatan kita dengan dosa- dosa yang tidak akan dapat membatalkan keselamatan kita dosa-dosa "kecil." Tetapi setiap dosa mempunyai kemampuan yang dapat menyebabkan kita kehilangan keselamatan kita jika tidak ada pembelaan yang terus- menerus dari Tuhan Yesus yang menggagalkan dakwaan yang terus-menerus dari musuh kita, si Setan.

Salah seorang guru saya beberapa tahun yang lalu adalah H.A. Ironside. Dia selalu menyebut kami sebagai "saudara-saudara muda." Pada waktu dia sampai pada ayat ini, dia akan selalu berkata, "saudara-saudara muda, Setan adalah pendakwa saudara-saudara. Marilah kita serahkan pekerjaan kotor ini kepadanya."

Setan juga sebagai penggoda, pencoba (Mat. 4:3; 1Tes. 3:5). Ini sudah merupakan pekerjaannya sejak pertemuannya yang pertama dengan manusia (Kej. 3:1). Godaannya terhadap Hawa adalah supaya Hawa menerima rencana palsu yang dia sampaikan yang tidak melibatkan larangan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Godaan atau cobaannya terhadap Kristus adalah agar Dia memperoleh kemuliaan bagi diri-Nya tanpa mengalami penderitaan di kayu Salib. Dia menggodai Ananias untuk berdusta dalam hal tidak menyerahkan secara keseluruhan jumlah uang dari penjualan tanah yang telah dia bawa (Kis. 5:3). Dia menggodai orang-orang percaya dengan ketidaksusilaan (1Kor. 7:5).

Kedudukan Setan atas dunia ini nampak jelas dalam sejumlah gelar yang diberikan kepadanya. Dia adalah "penguasa dunia ini" (Yoh. 12:31). Dia adalah "ilah zaman ini" (2Kor. 4:4). Dia adalah "penguasa kerajaan angkasa" (Ef. 2:2) dan "roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka" (ayat 2). Dia juga menyesatkan seluruh dunia (Why. 12:9; 20:3). Dia tinggal di angkasa (sama dengan "tempat-tempat di udara" dalam Ef. 6:12) dan menjadi penguasa atas kosmos ini maupun zaman ini. Kosmos merupakan kerangka kerja yang teratur dari segala sesuatu di mana manusia tinggal dan bergerak di dalamnya dan yang melawan Allah dengan cara membatasi dan memalsukan Dia. Zaman (di mana Setan adalah ilahnya) berarti "semua pemikiran, pendapat, ungkapan, spekulasi, harapan, dorongan, maksud tujuan, aspirasi yang mengambang. Semua itu terjadi setiap saat di dunia sekarang, yang barangkali tidak bisa dipahami atau pun didefinisikan secara akurat, tetapi yang merupakan suatu kekuatan yang sangat nyata dan efektif, baik bersifat moral maupun tidak bermoral, keadaan yang setiap saat diserap oleh kehidupan kita, dan yang merupakan ... informasi terselubung dari roh kosmos, atau dunia manusia yang hidup dalam keaadaan terpisah jauh dari Allah" (R.C. Trench, Synonyms of the New Testament [London: Kegan Paul, 1886], hal 218). Jenis pemerintahan atas dunia dan keadaan yang didalamnya kita tinggal adalah menggentarkan dan menakutkan. Syukurlah, bahwa Dia yang ada di dalam kita adalah lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1Yoh. 4:4).

Nama Beelzebul menunjukkan Setan sebagai kepala dari roh-roh jahat (Luk. 11:15). Pada waktu musuh-musuh Yesus menuduh bahwa Dia dikuasai oleh Beelzebul, mereka menjadikan diri mereka bersalah karena melakukan penghujatan yang paling parah.

Paulus memakai Belial sebagai nama untuk Setan dalam 2Kor. 6:15. Kata tersebut berarti kesia-siaan atau kejahatan dan secara tepat sekali menjelaskan karakter dari Setan.

Berbagai nama dan sebutan untuk Setan tidak hanya menegaskan kenyataan akan keberadaannya, tetapi juga menyatakan karakternya yang memiliki banyak muka atau penampilan dan berbagai aspek dalam pekerjaannya. Sebuah nama seringkali menyatakan sesuatu mengenai latar belakang, penampilan, karakteristik, atau kegiatan seseorang. Demikian juga halnya dengan Setan: latar belakangnya (musuh, pendakwa, penggoda), penampilannya (naga, ular), karakteristiknya (pembohong, pembunuh, penguasa), dan kegiatan-kegiatannya (pemfitnah, penggoda). Dia adalah makhluk yang berkuasa, cerdik, licik, dan kita tidak boleh mengabaikan atau merendahkan musuh kita yang sungguh-sungguh ada itu.

DIK-Referensi 04a

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kejatuhan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-R04a

Referensi DIK-R04a diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika; Doktrin Manusia
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tahun : 1994
Halaman : 81-97; 107-112

Garis Besar:

Bab 1. Asal Mula Dosa

  1. Pandangan Historis berkenaan dengan asal mula dosa
  2. Data Alkitab berkenaan dengan asal mula dosa
    1. Allah tidak boleh dianggap sebagai penyebab dosa
    2. Dosa berasal dari dunia malaikat
    3. Asal mula dosa dalam umat manusia
  3. Natur dosa yang pertama atau kejatuhan manusia
    1. Karakter formalnya
    2. Karakteer esensial dan materialnya
  4. Dosa pertama atau kejatuhan yang disebabkan oleh pencobaan
    1. Cara si penggoda
    2. Interpretasi pencobaan itu
    3. Kejatuhan karena pencobaan dan kemungkinan manusia diselamatkan
  5. Penjelasan evolusionis tentang asal mula dosa
  6. Akibat dari dosa yang pertama

REFERENSI PELAJARAN 04a - KEJATUHAN MANUSIA

MANUSIA DALAM KEADAAN DOSA

Bab 1 Asal Mula Dosa

Permasalahan mengenai asal mula kejahatan yang ada di dalam dunia telah dianggap sebagai salah satu masalah yang paling sulit baik dalam filsafat maupun teologi. Masalah ini menyebabkan manusia sangat tertarik memperhatikannya, sebab kuasa jahat sangatlah besar dan universal, sebagai suatu pengaruh yang senantiasa ada dalam hidup dan seluruh penampakkannya. Juga merupakan pengalaman sehari-hari dalam hidup setiap manusia. Para ahli filsafat masih terhalang untuk menghadapi persoalan ini. Mereka mencari jawab atas pertanyaan mengenai asal mula kejahatan dan terutama mengenai kejahatan moral yang ada di dalam dunia. Bagi sebagian orang tampaknya kesulitan ini merupakan bagian dari hidup itu sendiri sehingga mereka mencari jalan keluarnya dalam berbagai peraturan yang umum. Akan tetapi sebagian orang lain merasa pasti bahwa kejahatan itu mempunyai asal mula yaitu bahwa kejahatan ini bermula dalam pilihan bebas manusia, baik dalam eksistensi sekarang atau eksistensi sebelumnya. Pandangan-pandangan ini lebih dekat pada kebenaran yang diungkapkan Firman Tuhan.

A. Pandangan Historis Berkenaan dengan Asal Mula Dosa

Bapak Gereja yang paling awal tidaklah membicarakan secara tertentu mengenai asal mula dosa, walaupun ide bahwa dosa berasal dari pelanggaran dan kejatuhan Adam di Taman Eden dapat kita temukan dalam tulisan Irenius. Pandangan ini segera diterima di kalangan gereja, terutama dalam menentang ajaran Gnostik yang menganggap bahwa kejahatan melekat pada materi dan pengertian seperti ini adalah akibat dari Demiurgos. Pertemuan antara jiwa manusia dan materi segera dianggap sebagai dosa. Pengertian seperti ini akan menyingkirkan dosa dari karakter etisnya. Origen berusaha menjelaskan pengertiannya dengan menggunakan teori pra-eksistensinya. Menurut Origen jiwa-jiwa manusia sudah berdosa dalam masa pra-eksistensi dan ketika jiwa itu masuk ke dalam dunia, maka jiwa itu sudah berdosa. Pandangan Platonis ini mempunyai banyak sekali kesulitan untuk dapat diterima secara luas. Sepanjang abad 18 dan 19 pendapat ini diterima oleh Mueller dan Rueckert dan oleh para ahli filsafat seperti Lessing, Schelling, dan J.H.Fichte. Pada umumnya Bapak-bapak Gereja dari Yunani pada abad ketiga dan ke empat cenderung untuk mengurangi hubungan antara dosa Adam dan dosa keturunannya, sedangkan Bapak-bapak Gereja Latin mengajar dengan jelas sekali bahwa keadaan dosa yang sekarang adalah berasal dari dosa Adam di Firdaus. Ajaran Bapak-bapak Gereja Timur akhirnya mencapai puncak dalam ajaran Pelagianisme yang menyangkal adanya hubungan yang vital antara dosa Adam dan dosa manusia, sedangkan ajaran dari Gereja Barat mencapai puncak pada Agustinus yang menekankan kenyataan bahwa kita berdosa dan mengalami kenajisan karena Adam. Semi-Pelagianisme mengatakan adanya hubungan dosa manusia dengan dosa Adam, tetapi hubungan itu hanyalah berupa kekotoran yang akhirnya mengakibatkan dosa. Sepanjang abad pertengahan hubungan antara dosa Adam dan dosa manusia ini, sering disebut-sebut, tetapi hubungan ini kadang-kadang ditafsirkan menurut pandangan Agustinus, namun lebih sering menurut pendapat Semi-Pelagian. Para Reformator menerima pandangan Agustinus dan kelompok Socinian menerima pandangan Pelagius, sedangkan Arminian menerima pandangan Semi-Pelagian. Di bawah pengaruh filsafat Rasionalisme dan Evolusionisme doktrin kejatuhan manusia dan akibatnya yang fatal pada umat manusia perlahan-lahan disingkirkan.

Pengertian tentang dosa kemudian digantikan dengan pengertian tentang kejahatan, dan kejahatan ini diterangkan dengan berbagai macam cara. Kant menganggap kejahatan berada pada keadaan di atas kesadaran yang tak dapat diterangkannya. Bagi Leibniz kejahatan berkenaan dengan keterbatasan alam semesta. Schleiermacher berpendapat bahwa dosa asal berada di dalam natur manusia yang berindera, dan Ritschl mengatakan bahwa kejahatan berkenaan dengan ketidaktahuan manusia, sedangkan para ahli evolusi menganggap kejahatan sebagai pertentangan dari sifat- sifat yang masih rendah terhadap kesadaran moral yang sudah lebih berkembang. Bart mengatakan bahwa asal mula dosa sebagai suatu misteri dari predestinasi. Dosa berasal dari kejatuhan manusia tetapi kejatuhan itu sendiri bukanlah suatu peristiwa sejarah; kejatuhan itu ada dalam supra-sejarah (Urgeschichte). Adam memang orang yang pertama kali berdosa, akan tetapi ketidaktaatan Adam tidak boleh dianggap sebagai penyebab dosa di dalam dunia. Dosa manusia dalam beberapa hal berkaitan dengan keadaannya sebagai makhluk. Kisah di Firdaus semata- mata hanyalah memberikan kepada manusia informasi yang baik bahwa manusia tidak boleh berdosa.

B. Data Alkitab Berkenaan dengan Asal Mula Dosa

Dalam Alkitab disebutkan bahwa kejahatan moral yang ada dalam dunia jelas adalah dosa, yaitu pelanggaran terhadap hukum Allah. Manusia dalam naturnya melakukan pelanggaran, dan kemudian timbul pertanyaan, yaitu: bagaimana manusia memperoleh natur ini? Apa yang dikatakan Alkitab tentang hal ini?

  1. Allah tidak boleh dianggap sebagai penyebab dosa.

    Ketetapan Allah yang kekal memang memberi peluang kemungkinan masuknya dosa ke dalam dunia, tetapi kenyataan ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah penyebab dosa dalam arti bahwa Allah adalah pembuat yang bertanggung jawab atas terjadinya dosa itu. Pengertian bahwa Allah adalah pencipta yang bertanggung jawab atas dosa dalam dunia tidak pernah disebutkan dalam Alkitab. "Jauhlah dari pada Allah untuk melakukan kefasikan, dan dari pada Yang Mahakuasa untuk berbuat curang." (Ayb 34:10). Ia adalah Allah yang kudus (Yes 6:3) dan sama sekali tidak ada ketidakbenaran dalam Dia (Ul 32:4 Mzm 92:16). "Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun." (Yak 1:13). Ketika Allah menciptakan manusia maka Ia menciptakannya dengan baik dan menurut gambar dan rupaNya sendiri. Allah sangat membenci dosa, Ul 25:16; Mzm 5:4; Zakh 8:17, Luk. 16:15, dan di dalam Kristus Ia memberikan jaminan kebebasan manusia dari dosa. Berkenaan dengan semua ini maka jelas merupakan suatu penghujatan jika kita mengatakan bahwa Allah adalah pembuat dosa. Dan atas alasan itulah semua pandangan deterministik yang menganggap bahwa dosa merupakan natur yang harus ada dalam diri manusia harus ditolak. Pandangan deterministik ini pada penerapannya menjadikan Allah sebagai pembuat dosa, dan dengan demikian bertentangan dengan suara hati yang mengakui tanggung jawab manusia.

  2. Dosa berasal dari dunia malaikat.

    Alkitab mengajarkan kepada kita dalam usaha untuk melacak asal mula dosa, kita harus kembali lagi pada kejatuhan manusia yang disebutkan dalam Kej 3, dan sesuai dengan perhatian pada sesuatu yang terjadi dalam dunia malaikat. Allah menciptakan suatu bala tentara malaikat dan mereka semua sangat baik sebab mereka keluar dari tangan Sang Pencipta, Kej 1:31. Akan tetapi suatu kejatuhan terjadi dalam dunia malaikat di mana bannyak legiun malaikat jatuh tersingkir dari Allah. Waktu kejatuhan ini secara pasti tidak disebutkan, tetapi dalam Yoh 8:44 Yesus menyebut iblis sebagai pembunuh manusia sejak semula (kat' arches) dan Yohanes mengatakan dalam 1 Yoh 3:8, bahwa iblis berdosa dari mulanya. Pendapat yang masih dipegang sampai saat ini adalah bahwa kat' arches ini berarti sejak awal permulaan sejarah manusia. Hanya sedikit sekali yang dikatakan tentang dosa yang menyebabkan kejatuhan para malaikat. Mungkin dari peringatan Paulus kepada Timotius dalam 1 Tim 3:6 bahwa seorang yang baru bertobat jangan dipilih menjadi penilik jemaat supaya ia tidak menjadi sombong dan kena hukuman iblis, dapat disimpulkan bahwa dosa dari malaikat yang jatuh itu adalah dosa kesombongan, ingin menjadi seperti Allah dalam kuasa dan otoritas. Dan pengertian seperti ini tampaknya mendapat dukungan juga dari Yud 6, dimana dikatakan bahwa malaikat yang jatuh dalam dosa "tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi meninggalkan tempat kediaman mereka." Mereka tidak merasa puas dengan apa yang telah menjadi bagian mereka, dengan pemerintahan dan kuasa yang diberikan kepada mereka. Apabila keinginan untuk menjadi seperti Allah adalah pencobaan yang jelas mereka alami, dan ini juga akan menjelaskan mengapa iblis mencobai manusia dalam hal yang serupa.

  3. Asal mula dosa dalam umat manusia.

    Berkenaan dengan asal mula dosa dalam sejarah manusia, Alkitab mengajarkan bahwa dosa itu dimulai dengan pelanggaran Adam di Firdaus. Dengan demikian dimulai juga dengan tindakan yang dilakukan oleh manusia dengan kesadaran penuh. Si penggoda datang dari dunia roh dengan suatu dorongan kepada manusia bahwa dengan menempatkan dirinya sendiri dalam pertentangan dengan Allah maka ia dapat menjadi seperti Allah. Adam kalah dalam menghadapi pencobaan ini dan melakukan dosa yang pertama dengan cara makan buah yang dilarang itu. Akan tetapi kemudian persoalannya tidak berhenti sampai di situ saja, sebab oleh dosa yang pertama itu Adam menjadi budak dosa yang tidak bebas. Dosa itu membawa kekotoran yang permanen dan karenanya persatuan dalam seluruh keturunannya. Sebagai akibat dari kejatuhan ini maka bapak seluruh umat manusia ini hanya dapat menurunkan natur manusia yang telah rusak kepada keturunannya. Dari sumber yang tidak kudus kemudian dosa mengalir seperti suatu mata air yang kotor kepada seluruh generasi umat manusia, mengotori semua orang dan segala sesuatu yang berhubungan denganya. Keadaan seperti inilah yang sebenarnya menjadikan pertanyaan Ayub sedemikian penting, Siapa yang mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!" (Ayb. 14:4). Akan tetapi hal ini saja belum mencakup semuanya. Adam berdosa bukan saja sebagai bapak dari seluruh umat manusia tetapi juga sebagai kepala yang mewakili semua keturunannya; dan karena itu kesalahan oleh karena dosanya layak untuk menerima hukuman mati. Pertama-tama dalam pengertian seperti inilah dosa Adam menjadi dosa semua orang. Ini juga yang diajarkan Paulus kepada kita dalam Rom 5:12, "Sebab itu sama seperti dosa sudah masuk ke dalam dunia oleh ssatu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa." Kalimat terakhir itu berarti bahwa mereka semua telah berdosa di dalam Adam dan berdosa dengan cara sedemikian sehingga menjadikan mereka layak untuk dihukum mati. Dosa itu bukan semata-mata dianggap sebagai kekotoran, tetapi juga sebagai kesalahan yang membawa penghukuman. Allah memutuskan bahwa seluruh manusia adalah orang berdosa di dalam Adam, sama halnya dengan Ia memutuskan bahwa semua orang percaya menjadi benar dalam Yesus Kristus. Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus ketika ia berkata: "Sebab itu sama seperti oleh satu pelanggaran satu orang beroleh penghukuman demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar." (Rom. 5:18, 19).

C. Natur Dosa yang Pertama atau Kejatuhan Manusia

  1. Karakter formalnya. Dapat dikatakan bahwa melalui suatu sudut pandang yang sepenuhnya formal dosa manusia yang pertama terkait dengan dimakannya buah pengetahuan yang baik dan jahat. Kita tidak tahu pohon apakah ini sebenarnya. Mungkin saja pohon itu pohon kurma atau pohon ara, atau pohon buah yang lain. Tidak ada satupun yang membawa bahaya dalam pohon itu. Memakan buat itu saja per se tidaklah berdosa sebab tidak merupakan pelanggaran terhadap hukum moral. Hal ini berarti bahwa makan buah ini tidaklah beerdosa jika seandainya Allah tidak pernah berkata: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kamu makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau akan mati," Tidak ada pendapat yang seragam tentang mengapa pohon ini disebut sebagai pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Suatu pandangan yang agak umum adalah bahwa pohon itu dissebut demikian sebab siapa yang memakan buahnya akan memperoleh pengathuan praktis tentang yang baik dan jahat; akan tetapi agaknya tidaklah sesuai benar dengan Alkitab bahwa manusia dengan cara makan buah itu akan menjadi seperti Allah dalam mengetahui yang baik dan jahat, sebab Allah tidak pernah melakukan kejahatan, jadi tidak pernah memiliki pengatahuan praktis tentang kejahatan. Jauh lebih mungkin bahwa pohon itu disebut demikian sebab dimaksudkan untuk menyatakan:

    1. apakah masa depan manusia akan baik atau jahat; dan
    2. apakah manusia akan memperkenankan Allah menentukan baginya apa yang baik dan yang jahat atau akan menentukan sendiri bagi dirinya. Akan tetapi penjelasan apapun yang diberikan tentang nama pohon ini, perintah yang diberikan oleh Allah agar buah pohon itu tidak dimakan dimaksudkan untuk menguji ketaatan manusia. Ujian ini adalah ujian ketaatan yang murni, sebab bagaimanapun Allah tidak berusaha membenarkan atau menjelaskan larangan itu. Adam harus menunjukkan kemauannya untuk meletakkan kehendaknya di bawah kehendak Allah dalam seluruh ketaatan.

  2. Karakter esensial dan materialnya. Dosa pertama manusia adalah suatu dosa tipikal, yaitu dosa di mana esensi sesungguhnya dari dosa itu dengan jelas menyatakan dirinya sendiri. Esensi dari dosa itu terletak pada kenyataan bahwa Adam meletakkan dirinya dalam keadaan yang bertentangan dengan Allah, dan ia menolak untuk meletakkan kehendaknya di bawah kehendak Allah, dan ia menolak membiarkan Allah menentukan seluruh jalan hidupnya. Ia secara aktif berusaha mengambilnya dari tangan Allah dan menentukan masa depannya sendiri. Manusia jelas tidak mempunyai hak untuk mengklaim dengan cara menggenapi syarat-syarat dalam perjanjian kerja. Tetapi manusia telah memisahkan diri dari Allah dan bertindak seolah-olah ia memiliki hak- hak tertentu terhadap Allah. Pengertian bahwa perintah Allah adalah suatu pemutusan hak-hak manusia tampaknya sudah ada dalam pikiran Hawa ketika ia menjawab pertanyaan Iblis, ia menambahkan kata-kata "Jangan kaamu makan ataupun raba buah itu (Kej. 3:3). Jelas Hawa ingin menekankan kenyataan bahwa perintah itu agak tidak masuk akal. Bermula dari presuposisi bahwa ia memiliki hak-hak tertentu terhadap Allah, manusia mengambil pusat yang baru, yang ditemukannya dalam dirinya sendiri untuk bertindak menentang pencipta-Nya. Ini menjelaskan keinginannya untuk menjadi seperti Allah dan keraguannya berbagi elemen dapat dibedakan dari dalam dosa pertama tersebut. Dalam intelek, dosa itu adalah ketidakpercayaan dan kesombongan, dalam kehendak, dosa ingin seperti Allah dan dalam perasaan, sebagai suatu kepuasan yang tidak kudus dengan memakan buah yang terlarang.

D. Dosa Pertama atau Kejatuhan yang Disebabkan oleh Pencobaan.

  1. Cara si Penggoda. Kejatuhan manusia disebabkan oleh pencobaan dari si ular yang menaburkan dalam pikiran manusia benih-benih ketidak taatan dan ketidakpercayaan. Walaupun jelas maksud si penggoda untuk menjadikan Adam si kepala perjanjian jatuh dalam dosa, tetapi si penggoda mengarah kepada Hawa karena:

    1. Hawa bukanlah kepala perjanjian itu maka tidak memiliki rasa tanggung jawab yang sama;
    2. ia tidak menerima perintah dari Tuhan secara langsung, tetapi tidak secara langsung dan karena itu bisa merasa lebih ragu-ragu; dan
    3. mungkin ia bisa menjadi pelaku yang lebih efektif untuk mencapai hati Adam. Alur pemikiran si penggoda ini jelas. Pertama-tama ia menebarkan benih keragu-raguan dengan cara mempertanyakan maksud baik Allah dan mengatakan bahwa perintahNya membatasi kebebasan dan hak manusia. Ketika ia memperhatikan jawaban Hawa bahwa benih itu telah berakar, iblis menambahkan benih ketidakpercayaan dan kesombongan, dan menyangkal bahwa pelanggaran akan mengakibatkan kematian dan kemudian mengatakan bahwa perintah itu diberikan karena Allah mementingkan diri sendiri dan ingin agar manusia selalu berada di bawah-Nya. Iblis menekankan bahwa dengan cara makan buah pohon itu manusia akan menjadi seperti Allah. Pengharapan-pengharapan yang sedemikian tinggi menjadikan Hawa terpengaruh dan ia terus memandang kepada buah pohon itu, dan makin ia memandang semakin indah nampaknya buah itu baginya. Akhirnya Hawa mengambil dan memakan buah itu dan memberikannya kepada suaminya, lalu dimakannya juga.

  2. Interpretasi pencobaan. Beberapa usaha telah dilakukan dan masih dibuat untuk menjelaskan sifat historis kejatuhan manusia. Sebagian orang menganggap seluruh kisah kejatuhan manusia dalam Kej 3 adalah sebuah alegori yang menunjukkan bagaimana manusia mengalami kerusakan dan perubahan secara perlahan-lahan secara figuratif. Barth dan Brunner menganggap tentang keadaan manusia semula dan kejatuhan manusia adalah mitos saja. Penciptaan dan kejatuhan bukanlah peristiwa historis tetapi supra-sejarah dan karena itu kedua kisah ini tidak dapat dipahami sepenuhnya. Kisah dalam Kitab Kejadian semata-mata hanya mengajarkan kepada kita bahwa meskipun manusia sekarang tidak mampu melakukan kebaikan apapun dan takluk dibawah hukum kematian, sebenarnya tidak perlu demikian. Mungkin bagi manusia untuk dibebaskan dari dosa dan kematian oleh hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hidup seperti itulah yang digambarkan dalam kisah di Firdaus. Dan hidup seperti itu juga memberikan gambaran tentang hidup yang akan diberikan kepada kita di dalam Dia, dan yang olehnya Adam merupakan tipe-nya, yaitu Kristus. Akan tetapi bukan keadaan manusia sekarang atau yang pernah dijalani manusia dalam sepanjang sejarah tidaklah demikian.

    Firdaus bukanlah sebuah tempat yang dapat kita tunjuk, akan tetapi di sanalah tempat dimana Allah adalah Tuhan dan manusia serta segala makhluk harus taat pada kehendak-Nya. Firdaus masa lalu terletak dalam kesuraman sejarah manusia. Barth berkata: "Ketika sejarah manusia mulai; ketika waktu manusia mulia; ketika waktu dan sejarah bersamaan di mana manusia memiliki kata pertama dan kata terakhir, Firdaus sudah lenyap." Brunner berpendapat sama ketika ia mengatakan: "Sebagaimana kita menghargai penciptaan, ketika kita bertanya tentang Bagaimana, kapan dan di mana semua itu telah terjadi, demikian juga dengan kejatuhan manusia. Penciptaan dan kejatuhan sama-sama terletak di balik kenyataan historis yang nampak."

    Mereka yang tidak menyangkali sifat historis dari kisah dalam kitab Kejadian mengatakan bahwa paling tidak ular yang disebutkan itu bukanlah sebagai hewan secara harfiah akan tetapi hanyalah lambang dari keinginan, nafsu seksual, alasan-alasan untuk melakukan kesalahan, atau iblis. Ada orang lain lagi berpendapat bahwa paling tidak si ular itu harus dipandang secara kiasan. Akan tetapi semua pendapat ini serta penafsiran yang sejenis tidaklah sesuai dengan Alkitab. Bagian Alkitab yang mendahului atau dan mengikuti Kej 3:1-7 jelas berbicara sebagai kisah historis. Bahwa kisah itu memang dimaksudkan demikian oleh para penulis Alkitab dapat dibuktikan dari ayat-ayat lain seperti Ayb 31:33; Pengk 7:29; Yes 43:27; Hos 6:7; Roma 5:12,18,19; 1 Kor 5:21; 2 Korintus 11:3; 1 Tim 2:14.

    Dengan demikian kita tidak berhak untuk mengatakan bahwa ayat-ayat yang membentuk bagian integral dari seluruh kisah ini harus ditafsir secara kiasan. Lebih jauh lagi, Kej 3:1 jelas menyebutkan bahwa ular itu benar-benar binatang, dan tidak akan memberikan makna yang baik jika kata "ular" di sini diganti dengan kata "iblis". Hukuman yang diberikan dalam Kej 3:14,15 mempunyai presuposisi bahwa ular itu adalah ular secara harfiah, dan Paulus menyebutkan tentang ular itu bukan dengan cara lain dalam 2 Kor 11:3. Dan kendatipun mungkin kita bisa mengatakan bahwa ular itu mengatakan sesuatu dalam arti kiasan dengan memakai cara yang licik, tampaknya tidak mungkin jika kita menganggapnya tidak melakukan percakapan sebagaimana yang dicatat dalam Kej 3 itu.

    Keseluruhan transaksi, termasuk di dalamnya perkataan si ular memang harus diterangkan melalui pemakaian kuasa supra-manusiawi yang tidak disebutkan dalam Kej 3. Alkitab menyaksikan bahwa sebenarnya ular ini adalah alat yang dipakai iblis, dan bahwa iblis adalah si penggoda yang sesungguhnya, yang bekerja di dalam dan melalui ular, sebagaimana kemudian ia bekerja di dalam manusia, Yoh 8:44; Rom 16:20; 2 Kor 11:3; Why 12:9. Ular adalah alat yang sesuai bagi iblis, sebab sesungguhnya ular adalah personifikasi dari dosa, dan ular melambangkan dosa

    1. dalam naturnya yang licik dan selalu berusaha menjatuhkan, dan
    2. pada sengatnya yang berbisa yang dapat mematikan manusia.

  3. Kejatuhan karena pencobaan dan kemungkinan manusia diselamatkan. Telah dikatakan bahwa fakta kejatuhan manusia dalam dosa disebabkan karena pencobaan dari luar, kemungkinan menjadi salah satu alasan mengapa manusia dapat diselamatkan, yang berbeda dengan malaikat yang jatuh dalam dosa yang tidak disebabkan karena pencobaan dari luar tetapi jatuh karena dorongan dari natur di dalam diri mereka sendiri. Tidak ada sesuatu yang pasti dapat kita katakan tentang hal ini. Tetapi apapun arti penting dari pencobaan dalam kaitan tersebut, jelas tidaklah memadai untuk hanya menjelaskan bagaimana Adam yang kudus dapat jatuh ke dalam dosa. Tidak mungkin bagi kita untuk mengatakan bagaimana pencobaan dapat memperoleh titik temu dalam diri seseorang yang kudus. Dan lebih sulit lagi menjelaskan asal mula dosa dalam dunia malaikat.

E. Penjelasan Evolusionis tentang Asal Mula Dosa.

Wajar jika teori evolusi yang konsisten tidak dapat menerima doktrin tentang kejatuhan manusia dalam dosa, dan sejumlah teolog liberal telah menolak doktrin ini, karena doktrin ini dianggap bertentangan dengan teori evolusi. Memang benar ada beberapa teolog yang dapat dikatakan konservaif seperti Denney, Gore, dan Orr yang menerima, sekalipun dengan hati-hati pandangan evolusi tentang asal mula manusia dan merasakan bahwa penjelasan itu dalam beberapa pengertian memberikan ruang bagi doktrin kejatuhan manusia. Akan tetapi penting kita perhatikan bahwa mereka itu menerima kisah kejatuhan manusia dalam dosa sebagai penjelasan mistis atau alegoris dari suatu pengalaman etis atau sebagai suatu peristiwa moral yang mendadak terjadi pada permulaan sejarah yang akhirnya membawa penderitaan dan kematian. Ini berarti bahwa mereka tidak menerima kisah tentang kejatuhan manusia dalam dosa sebagai suatu penjelasan historis yang sesungguhnya dari apa yang pernah terjadi di taman Eden.

Tennant dalam kuliah-kuliahnya tentang The Origin and Propagation of Sin memberikan penjelasan yang agak terperinci dan menarik tentang asal mula dosa dari sudut pandang evolusi. Ia menyadari bahwa tidak mungkin manusia memperoleh dosa dari nenek moyangnya yang berupa binatang, sebab binatang tidak berdosa. Ini berarti bahwa semua dorongan, keinginan, nafsu dan sifat-sifat yang diwarisi manusia dari binatang tidak dapat disebut sebagai dosa. Dalam perkiraan Tennant semua sifat tadi hanyalah membentuk materi dosa, dan tidaklah menjadi dosa-dosa yang sesungguhnya sampai kesadaran moral bangkit dalam diri manusia dan semua itu kemudian diatur dalam menentukan tindakan manusia, bertentangan dengan suara hati nurani dan sanksi-sanksi etis. Tennant berpendapat bahwa dalam lintasan perkembangan dirinya manusia perlahan-lahan menjadi suatu keberadaan etis dengan suatu kehendak yang tidak pernah berhenti, tanpa menjelaskan bagaimana kehendak yang sedemikian mungkin terjadi di mana hukum evolusi tetap berpendapat dan menganggap bahwa kehendak sebagai satu-satunya penyebab dosa. Tennant mendefinisikan dosa sebagai "suatu tindakan dari kehendak yang dinyatakan dalam pikiran, perkataan atau tindakan yang bertentangan dengan suara hati seseorang, bertentangan dengan pemahamannya tentang apa yang benar dan baik, bertentangan dengan pengetahuannya tentang hukum moral dan kehendak Allah."

Sejalan dengan perkembangan umat manusia standar etis menjadi semakin pasti dan keburukan dosa semakin meningkat. Suatu lingkungan yang penuh dosa menambah kesulitan untuk menjauhkan diri dari dosa. Pandangan Tennant ini tidak memberikan ruang bagi kejatuhan manusia dalam pengertian yang biasa diterima. Kenyataannya Tennant secara eksplisit menolak doktrin kejatuhan manusia dalam dosa, yang diterima oleh seluruh pengakuan gereja sepanjang sejarah. W.H. Johnson mengatakan: "Kritik Tennant disetujui bahwa teorinya tidak memberikan ruang bagi teriakan semua hati yang berseru, yang bukan saja mengakui tindakan tindakan terpisah dari dosa, tetapi mengakui: 'Aku dibentuk dalam kesalahan; ada hukum kematian dalam diriku'."

F. Akibat dari Dosa yang Pertama.

Dosa manusia yang pertama membawa akibat sebagai berikut:

  1. Segera mengikuti dosa yang pertama, adalah kerusakan total dalam natur manusia. Dosa manusia segera merambat pada seluruh manusia dan seluruhnaturnya tidak ada yang tidak tersentuh dosa; seluruh tubuh dan jiwanya menjadi dicemari dosa. Kerusakan manusia telah dikatakan dalam Alkitab, misalnya dalam Kej 6:5; Mzm 14:3; Rom 7:18. Kerusakan total di sini bukanlah berarti bahwa natur manusia telah rusak serusak rusaknya. Dalam kehendak kerusakan ini menyatakan dirinya sebagai ketidakmampuan spiritual.

  2. Segera terkait dengan kerusakan total adalah hilangnya persekutuan dengan Allah melalui Roh Kudus. Keadaan ini adalah sisi balik dari kerusakan total itu sendiri. Keduanya dapat disatukan dalam suatu pernyataan bahwa manusia telah kehilangan gambar dan rupa Allah yaitu kebenaran yang hakiki. Manusia memutuskan hubungan dari sumber hidup dan berkat, dan hasilnya adalah suatu keadaan kematian rohani, Efe 2:1,5,12; 4:18.

  3. Perubahan keadaan manusia yang sesungguhnya juga tercermin dalam kesadaran dirinya. Mula-mula ada suatu kesadaran dalam kekotoran, yang kemudian terungkap dalam rasa malu, dan juga terlihat dalam hal bagaimana Adam menutupi ketelanjangannya. Dan kemudian ada kesadaran tentang rasa bersalah yang terlihat dalam rasa takut kepada Allah.

  4. Bukan saja kematian rohani, tetapi kematian jasmani juga disebabkan oleh dosa manusia yang pertama ini. Dari suatu keadaan posse non mori manusia turun menjadi non posse non mori. Setelah berdosa maka manusia harus kembali kepada debu dari mana ia diambil (Kej 3:19). Paulus mengatakan bahwa oleh karena satu orang maka dosa masuk ke dalam dunia dan terus diturunkan pada semua manusia (Rom 5:12) dan upah dosa adalah maut (Rom 6:33).

  5. Perubahan ini juga menghasilkan perubahan tempat tinggal yang penting. Manusia diusir dari Taman Eden sebab taman itu melambangkan persekutuan yang dekat dengan Allah dan juga lambang dari hidup yang penuh dan berkat yang sedemikian besar yang disediakan bagi manusia, jika ia tetap teguh berpegang pada Allah. Ia diusir dari pohon kehidupan karena pohon itu adalah lambang dari hidup yang dijanjikan dalam perjanjian kerja.

DIK-Referensi 04b

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kejatuhan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-R04b

Referensi DIK-R04b diambil dari:

Judul : Mengenali Kebenaran
Penulis : Bruce Milne
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia
Tahun : 1993
Halaman : 144-155
Elektronik : Program SABDA(c)

Garis Besar:

Bab 12: ==MENGENALI KEBENARAN==

Bab 12 Manusia Berdosa

  1. Kejatuhan Manusia
  2. Sifat Serta Jangkauan Dosa
    1. Sifat Dosa
    2. Jangkauan Dosa
    3. Penyebaran Dosa: Dosa Warisan
  3. Pengaruh dosa
    1. Dalam Hubungan dengan Allah
    2. Dalam Hubungan dengan Sesama
    3. Dalam Hubungan dengan Dirinya
    4. Dalam Hubungan dengan Alam Semesta
    5. Dalam Hubungan dengan Waktu
  4. Soal-soal Lain
    1. Dosa yang Tak Terampuni
    2. Kebebasan Manusia

    Ringkasan
    Bahan Alkitab
    Bahan Diskusi/penelitian
    Kepustakaan

REFERENSI PELAJARAN 04b - KEJATUHAN MANUSIA

MANUSIA BERDOSA

Pasal 11 di atas memberi gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi seandainya Adam tetap setia. Tetapi kenyataannya ia jatuh, jadi kita harus menilik umat manusia dalam dosa.

1. Kejatuhan manusia

Kejadian 3:1-7 mengisahkan tentang dosa pertama umat manusia, dan ada juga banyak lagi bahan Alkitab yang mengacu pada kejatuhan manusia ini (lihat akhir pasal ini). Lagi pula, terlepas dari acuan-acuan eksplisit itu, kejatuhan merupakan bagian integral dari seluruh berita Alkitab. Ada berapa tafsiran kisah kejatuhan yang perlu kita pertimbangkan. Pertama, pandangan harfiah melihat kisah dalam Kitab Kejadian sebagai tulisan sejarah. Inilah pandangan yang diterima secara umum di gereja selama berabad-abad dan masih terus dibela oleh banyak pendukung. Namun akhir-akhir ini timbullah pendapat-pendapat yang lain. Kedua, pandangan mitologis menolak adanya sedikit pun unsur sejarah. Pandangan ini menganggap cerita dalam Kitab Kejadian sebagai suatu gambaran religius yang menyampaikan kebenaran-kebenaran penting tentang manusia dan kondisi moralnya. Dengan demikian cerita Kejadian bukan mengenai asal dosa melainkan mengenai hakikatnya. Memang ada unsur kebenaran dalam pandangan ini dan dalam Roma 1:1-32 Paulus sedikit banyak menggunakannya ketika ia menggambarkan dosa dan pemberontakan di dunia bukan Yahudi pada zamannya. Namun pandangan ini bukanlah arti utama dari Kejadian 3:1-24 karena menolak adanya unsur sejarah dan ini jelas tidak sejalan dengan penulis-penulis Alkitab kemudian. Ketiga, pandangan "historis" menegaskan bahwa -- walaupun Kejadian 2:1-3:24: tidak selalu dapat ditafsirkan secara harfiah -- namun jelas peristiwa-peristiwa diceritakan di dalamnya yang dibatasi oleh waktu dan ruang. Alkitab berbicara tentang kejatuhan sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi (Rom 5:12-13), memberi lokasi taman Eden secara cukup jelas (Kej 2:10-14) dan menempatkan Adam pada garis sejarah yang berlanjut sampai pada Abraham dan Israel (Kej 4:1; 5:4; Kej 11:27; Luk 3:38). Jadi kejatuhan merupakan peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi dalam sejarah moral umat manusia. Untuk menafsirkan perikop yang sangat penting ini dengan tepat, ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan. (1) Ada kesulitan dalam memakai bahasa sehari-hari kita dengan keadaan sebelum kejatuhan, karena semua bahasa dibentuk oleh pengalaman sejak kejatuhan. Begitu pula, tentang waktu pengaruh-pengaruh kejatuhan itu ditiadakan oleh kedatangan kembali Kristus, Alkitab sekali lagi menggunakan semacam simbolisme untuk menggambarkan situasi masa mendatang (Wahy 21:1-22:21). (2) Berkouwer mengemukakan bahwa kejatuhan tidak mungkin dipahami sepenuhnya kalau kita tidak mengakui keterlibatan pribadi kita dalam peristiwa menyedihkan itu. Sekalipun prinsip ini tidak perlu menghambat segala pembahasan tentang sifat kejatuhan, namun sebaiknya kita hindari pendekatan yang terlalu teoretis. (3) Para evolusionis sering menolak gagasan tentang dosa dan argumen-argumen Kristen lain yang terkait. Akan tetapi orang percaya sekurang-kurangnya dapat melihat bahwa sekali kegagalan moral manusia diakui (dan bukti empiris bagi kegagalan itu cukup besar!) maka kecenderungan dalam manusia itu harus ada titik pangkal dalam waktu. Telah terjadi suatu tindakan pemberontakan pertama yang melawan norma- norma moral yang diketahui, dalam hal ini kehendak Allah. Oleh sebab itu asal dosa dapat ditempatkan dalam waktu dan dihubungkan dengan keseluruhan rangkaian peristiwa manusia. (4) Dalam Roma 5:12 (bnd. 1Kor 15:22), Paulus menggunakan kejatuhan sebagai tema pengiring penjelasan rinci mengenai karya penyelamatan Kristus. Pengaruh "satu" (yaitu "yang pertama") dosa Adam (Rom 5:16,18) ditiadakan oleh "satu perbuatan kebenaran" (Rom 5:18) Kristus dengan kematian-Nya bagi orang berdosa (bnd. Rom 3:25; 4:25; 5:8). Tidak mungkin mempertahankan analogi antara perbuatan Adam dan perbuatan Kristus jika kejatuhan tidak diterima sebagai peristiwa dalam waktu dan ruang.

2. Sifat serta jangkauan dosa

  1. Sifat dosa

    Alkitab menggunakan beraneka macam istilah untuk dosa. Hal ini tidak mengherankan karena tema utama Alkitab adalah pemberontakan manusia terhadap Allah dan jawaban-Nya yang penuh anugerah. Istilah-istilah alkitabiah serta berbagai corak artinya dapat dicari dalam ensiklopedi Alkitab. Di sini kita cukup mencatat kata-kata utama dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang diterjemahkan sebagai "dosa". Istilah paling lazim dalam Perjanjian Lama adalah khattat (misalnya Kel 32:30) serta istilah seasal kh‚t (Mazm 51:11). Kata ini muncul ratusan kali dalam Perjanjian Lama dan mengungkapkan tentang pikiran yang tidak mengenai sasaran atau membuat salah. P‚sya (Ams 28:13) mempunyai arti pemberontakan aktif, dosa atau pelanggaran terhadap kehendak Allah. Syaga (Im 4:12) mengungkapkan tentang pikiran yang memilih jalan sesat. Awon (1Raj 17:18) berkaitan dengan bentuk yang berarti memutar, dan mengacu pada rasa bersalah yang dihasilkan dosa. Kata utama untuk dosa dalam Perjanjian Baru hamartia (Mat 1:21). Kata ini juga mempunyai makna tidak kena sasaran dan meliputi gagasan kegagalan, salah dan perbuatan jahat. Adikia (1Kor 6:8) berarti ketidakjujuran atau ketidakadilan. Parabasis (Rom 4:15) mengenai pelanggaran hukum. Anomia (1Yoh 3:4) juga berarti tidak mempunyai hukum. Asebeia (Tit 2:12) mengandung arti kuat mengenai tidak mengenal Allah, sedangkan ptai" lebih berarti tergelincir secara moral (Yak 2:10). Aspek yang paling khas dari dosa adalah bahwa dosa bertujuan melawan Allah (bnd. Mazm 51:6; Rom 8:7; Yak 4:4). Setiap usaha untuk mengurangi ini, misalnya dengan mengartikan dosa sebagai sifat mementingkan diri, sangat meremehkan kegawatannya. Ungkapan dosa yang paling jelas ialah saran Iblis bahwa manusia dapat merampas tempat penciptanya, "kamu akan menjadi seperti Allah . . . " (Kej 3:5). Dalam peristiwa kejatuhan, manusia berusaha meraih persamaan dengan Allah (bnd. Fili 2:6), mencoba memberlakukan kemerdekaan dari Allah serta mempertanyakan integritas sang Pencipta dan pemeliharaan-Nya dalam kasih. Dengan sikap menghujat ia menahan dirinya dari ibadah dan kasih yang memuja, yang merupakan tanggapan manusia yang wajar terhadap Allah. Ia memberi penghormatan kepada musuh Allah dan juga memperhatikan ambisi-ambisinya sendiri.

  2. Jangkauan dosa

    Dosa itu universal. "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak" (Rom 3:10; bnd. Rom 3:1-10,23; Mazm 14:1). Hanya Yesus Kristus yang hidup sebagai orang "tidak berdosa" (Ibr 4:15). Penilaian alkitabiah ini cukup banyak dibenarkan oleh antropologi sosial dan pengalaman umum.

    Dosa itu menyeluruh bukan hanya secara geografis, tetapi mempengaruhi setiap manusia secara keseluruhan:

    • kehendak (Yoh 8:34; Rom 7:14-24; Ef 2:1-3; 2Pet 2:19);
    • pikiran dan pengertian (Kej 6:5; 1Kor 1:2; Ef 4:17);
    • perasaan (Rom 1:24-27; 1Tim 6:10; 2Tim 3:4); dan
    • ucapan dan perilaku (Mr 7:21-22; Gal 5:19-21; Yak 3:5-9).

    Keadaan ini menurut tradisi disebut "kerusakan total" (total depravity). Ini tidak berarti bahwa taraf kejahatan setiap manusia sudah maksimal, yang akan membuatnya setaraf dengan setan, tetapi bahwa tak satu pun dari segi watak yang luput dari pengaruh dosa. Tidak ada satu segi dari kepribadian manusia yang dapat dikemukakan untuk menyatakan diri benar. Kenyataan bahwa orang sewaktu-waktu berpikir, berbicara atau bertindak dengan cara yang relatif "baik" (Luk 11:13; Rom 2:14-15) tidak membantah kerusakan total, karena "baik" ini bukanlah kebajikan sepenuhnya sepanjang hidup yang memungkinkan kita menghadap kepada Tuhan. Tidak ada "suaka alam" di dalam pribadi manusia, tempat "keadaan asli" manusia tetap terpelihara. Kita jatuh secara total dan sebab itu memerlukan penebusan secara total. Alkitab juga mengajarkan mengenai kerusakan total dengan mengatakan bahwa dosa telah mempengaruhi inti manusia. Hati (Ibr. l‚v) adalah hakikat seseorang, yang telah disesatkan oleh dosa. Kita ingat pernyataan Yesus, "dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan . . . Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang" (Mr 7:21-23; bnd. Kej 6:5; Yer 17:9; Rom 3:10-18; 7:23). Justru karena "kerusakan total" dalam arti alkitabiah ini, manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Kerusakan total berarti "ketidak mampuan total".

  3. Penyebaran dosa: dosa warisan

    Hubungan antara ketidaktaatan Adam dan dosa manusia selanjutnya adalah persoalan dosa warisan. Alkitab mengajarkan bahwa dosa Adam melibatkan seluruh umat manusia. Dalam Roma 5:12 Paulus menegaskan bahwa melalui ketidaktaatan Adam, dosa dan kematian menjadi kenyataan bagi semua orang "karena semua orang telah berbuat dosa" artinya karena mereka semua berdosa di dalam dosa Adam (Rom 5:14-19; 1Kor 15:22). Ada dua penjelasan tradisional mengenai hal ini. Realisme menafsirkan kata- kata Paulus dalam Roma 5:12 secara harfiah. "Semua orang telah berbuat dosa dalam Adam" berarti bahwa semua hadir dan terlibat ketika Adam berbuat dosa. Sifat manusia umum yang universal, yang meliputi sifat pribadi semua orang, dengan satu atau lain cara hadir "dalam Adam" sehingga ketika ia berbuat dosa setiap orang berdosa dengan dia (bnd. Rom 7:4-10; Lewi ada "dalam tubuh" bapa leluhurnya, Abraham). Tafsiran ini adalah usaha menghindari kesewenangan dalam penafsiran dosa warisan. Namun, terlepas dari kesulitan dalam mengerti apa yang dimaksud dengan gagasan sifat manusia umum, maka kita masih diperhadapkan dengan kesulitan yang disebabkan oleh dampaknya bagi kemanusiaan Kristus. Jika kemanusiaan Kristus bukan bagian dari umat manusia secara umum dan universal di dalam Adam, maka kesatuannya yang hakiki dengan manusia terancam. Sebaliknya kalau Ia termasuk di dalamnya, itu berarti bahwa Ia juga turut dalam kejatuhan. Federalisme mengingat perbandingan yang diadakan antara Adam dengan Kristus (Rom 5:12-19; 1Kor 15:22,45-49), dan menerangkan bahwa solidaritas universal kita dengan Adam adalah sejenis dengan solidaritas Kristus dengan mereka yang Ia tebus, yaitu sebagai wakil, atau kepala federal. Zaman sekarang istilah federal biasanya berarti suatu sistem politik tertentu. Secara teologis istilah ini, yang artinya diturunkan dari kata Latin foedus 'perjanjian', berarti "sesuai perjanjian". Perjanjian Allah dengan Adam, yang sering disebut "perjanjian perbuatan", dilanggar oleh Adam dengan dosanya dan membawa akibat yang mengerikan bagi mereka yang ia wakili atau kepalai. Dalam Kristus, perjanjian ini diperbarui dan di bawahnya kebajikan-Nya yang sempurna menjadi jalan berkat dan penyelamatan bagi mereka yang Ia wakili atau kepalai (Kej 2:15-17; Yer 31:31; Rom 3:21-31; 5:12-12; 1Kor 11:25). Prinsip yang berlaku dalam kedua hal itu sama:

    1. oleh persatuan dengan Adam sebagai kepala perwakilan manusia, kita menjadi orang berdosa; dan
    2. oleh persatuan dengan Kristus melalui iman, kita menjadi benar.

    Prinsip ini jangan dianggap sewenang-wenang, seolah-olah manusia dihukum untuk dosa yang tidak diperbuatnya. Allah yang adil menyatakan seluruh dunia bersalah di hadapan-Nya (Rom 3:19) dan hal itu cukup nyata dalam dosa-dosa yang diperbuat baik oleh orang Yahudi maupun oleh yang bukan Yahudi (Rom 1:18-3:8). Tentu ada kaitan dengan dosa warisan "dalam Adam" (Rom 5:12), namun Alkitab umumnya mengaitkan penghakiman terakhir manusia dengan perbuatan-perbuatannya yang tidak memenuhi syarat Allah dan bukan terutama dengan persatuannya dengan Adam (misalnya Mat 7:21-27; 13:41; 25:31-46; Luk 3:9; Rom 2:5-10; Wahy 20:11-14).

3. Pengaruh dosa

Kejatuhan ke dalam dosa mempunyai pengaruh luas sekali bagi masing- masing bagian manusia yang diuraikan dalam pasal terdahulu.

  1. Dalam hubungan dengan Allah

    Inilah inti dari segala dampak dosa yang diuraikan secara rinci di bawah. Dalam hubungannya dengan Allah, dosa berarti beberapa hal.

    Pertama, kita tidak layak untuk menghadap kepada Allah. Pengusiran Adam dari Taman Eden adalah ungkapan secara geografis dari pemisahan spiritual manusia dari Allah, serta ketidaklayakan untuk menghadap Dia dan menikmati keakraban dengan Dia (Kej 3:23). Tempat kehadiran-Nya menjadi tempat yang menakutkan; pedang yang bernyala-nyala yang menutup jalan kembali ke Eden melambangkan kebenaran mengerikan bahwa dalam dosanya, manusia menghadapi pertentangan dan perlawanan Allah, yaitu murka Allah yang kudus (Kej 3:24; Mat 3:7; Rom 1:18; 1Tes 1:10). Dibandingkan dengan murka Allah, semua ketakutan dan kekuatiran manusia hanya seperti mimpi buruk saja; segala kebutuhan yang lain, betapa pentingnya atau besarnya pun memudar sampai terasa tidak penting lagi. Kedua, kita tidak sanggup melakukan kehendak Allah. Walaupun Allah memanggil dan memerintah manusia dan menawarkan kepada kita jalan kehidupan dan kebebasan, kita tidak sanggup lagi menjawab panggilan-Nya sepenuhnya. Manusia tidak bebas lagi untuk menyesuaikan diri dengan rencana Allah dan telah menjadi budak dosa (Yoh 8:34; Rom 7:21-22). Ketiga, kita tidak benar di hadapan Allah. Kegagalan untuk mematuhi kehendak atau hukum Allah mempunyai dampak lanjut yang serius bahwa manusia sudah di bawah kutukan hukum, rasa bersalah dan penghukuman yang makin bertambah bagi pelanggar hukum (Ul 27:26,28; Rom 3:19; 5:16; Gal 3:10). Keempat, kita tidak peka lagi terhadap firman Allah. Allah berbicara melalui ciptaan, melalui hukum moral, melalui bangsa Israel dalam Perjanjian Lama dan gereja dalam Perjanjian Baru, dan di atas segala-galanya melalui Firman-Nya baik yang menjelma maupun yang tertulis. Dalam keadaan berdosa manusia hanya mendengar secukupnya sehingga tidak beralasan untuk tidak percaya, namun tidak cukup untuk benar-benar mengerti jalan dan kehendak Allah. Pada akhirnya, dosa membawa manusia pada keadaan tidak mengenal Allah dan tidak sanggup mengerti hal-hal mengenai Roh. Pengaruh-pengaruh dosa ini nyata dalam keangkuhan manusia. Manusia menentang pemerintahan Allah dan menentukan diri sebagai penguasa, membuat diri sebagai patokan realitas, dan akal serta pengalaman adalah patokan kebenaran. Manusia menyatakan kekuasaan atas dunia dan memikul tanggung jawab atas masa depan ras. Keangkuhan yang paling parah berbentuk perasaan seperti raksasa yang serba bisa, yang membuat manusia seperti di Babel memanjat ke arah surga dengan maksud merendahkan Allah (bnd. Kej 11:1-9; 2Tes 2:4). Dalam lingkungan keagamaan, keangkuhan ini diungkapkan sebagai pembenaran diri. Manusia menentukan norma-norma bagi dirinya dan membenarkan diri menurut norma-norma tersebut. Ia mencari-cari alasan bagi dosa dan merasa yakin di hadapan Allah karena prestasi-prestasi moral dan religiusnya. Namun manusia tidak luput dari Allah. Hubungan yang terputus nyata sebagai ketakutan kepada Allah; bukan sikap rendah hati dari orang yang beriman (bnd. Ul 10:12) tetapi sikap ketakutan seorang buronan yang lari dari Allah yang tidak ditaatinya. Rasa takut ini dapat mendorong orang untuk mencari ilah pengganti yang tidak menyingkapkan kesalahannya. Ada yang menolak eksistensi Allah secara teori (ateisme), ada lagi yang menganut suatu paham alternatif seperti Marxisme dan melibatkan diri dalam aktivitas yang tak ada henti- hentinya. Tetapi sebenarnya semua itu hanya untuk bersembunyi dari Allah (seperti Adam dan Hawa di Eden) dan menghindari keseraman apabila harus berdiri di hadapan Allah dengan kesalahannya terpampang di depannya.

  2. Dalam hubungan dengan sesamanya

    Putusnya hubungan dengan Allah langsung mempengaruhi hubungan manusia dengan sesamanya. Adam menuduh Hawa dan mempersalahkannya mengenai kelakuannya sendiri (Kej 3:12) dan kisah kejatuhan segera disusul dengan laporan pembunuhan Habel (Kej 4:1-16). Manusia yang melawan Allah juga adalah manusia yang melawan sesamanya sebagai orang asing dan musuh, sebagai ancaman bukan teman. Dosa membawa konflik dan menghasilkan perpecahan-perpecahan besar di antara bangsa-bangsa. Dosa menyebabkan prasangka rasial dan antagonisme, dan membentuk blok-blok kekuasaan internasional yang besar. Dosa menciptakan perpecahan sosial dan dengan begitu membawa kepada konflik antar kelompok atau kelas. Dosa memisahkan orang-orang kaya dengan orang-orang miskin dan menyebabkan konflik dalam semua kelompok manusia, baik kelompok pendidikan, masyarakat, sosial, waktu senggang maupun agama. Lagi pula dosa membawa perpecahan dalam keluarga dan gereja. Secara paradoks, ancaman dari sesama membuat manusia mencari keamanan dengan membentuk berbagai persekutuan yang kadang-kadang tidak masuk akal. Dosa juga menyebabkan eksploitasi sehingga kita "memakai" sesama kita. Kita mengeksploitasi dia untuk menjaga harga diri, untuk membenarkan rencana-rencana jahat dan untuk menopang kelemahan-kelemahan diri kita. Kita membuat dia menjadi korban dari frustrasi dan perasaan bersalah kita. Eksploitasi ini bahkan dinyatakan sebagai kekerasan fisik atau psikologis, seperti dalam hubungan pria/wanita yang sepanjang sejarah bercirikan dominasi pria, penggunaan wanita untuk kepentingan egois pria dan penolakan memberinya persamaan hak dan martabat yang hakiki. Bahkan dalam mengasihi sesama kita mencoba mendapat manfaat dari tanggapan terhadap kasih itu: pemberian kita tidak lain dari penerimaan belaka. Putusnya hubungan dengan sesama sering dinyatakan sebagai ketakutan bahwa orang lain akan menjadi sadar akan pribadi kita sebenarnya dengan segala kelemahan, rasa bersalah dan rasa jijiknya. Oleh sebab itu kita mencoba bersembunyi dari dia, di satu pihak dengan memproyeksikan gambaran palsu dari diri kita dan di pihak lain dengan usaha memadamkan ancaman dari dia dengan mengotak-ngotakkannya, melihatnya sebagai anggota suatu kelompok: "kasus", "mahasiswa", "guru", "direktur", "pekerja". Salah satu hasil paling getir dari pemisahan diri dari sesama adalah pengalaman yang berulang kali terjadi ialah salah paham bahkan juga walaupun ada keinginan yang sungguh-sungguh untuk mengenal dan dikenal orang.

  3. Dalam hubungan dengan dirinya

    Dosa mengadudombakan manusia melawan dirinya; ia hidup dengan konflik batin dan perpecahan sambil berseru, "Aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku?" (Rom 7:23). Orang kehilangan arah batin dan menjadi tidak jelas bagi dirinya sendiri, sejuta dorongan yang saling bertentangan. Pengaruh dosa dinyatakan dalam penipuan diri sendiri. Kehilangan pengetahuan diri yang sebenarnya akan mengakibatkan semacam pemujaan diri atau penghakiman diri yang neurotik berdasarkan patokan yang tidak realistis. Orang tidak mampu menilai diri dengan tepat, namun juga tidak sanggup untuk menyerahkan segala hal kepada Allah dan membiarkan Dia menjadi hakim (1Kor 4:3). Konflik batin ini juga terungkap sebagai rasa malu, perasaan tidak enak dengan diri sendiri (bnd. Kej 3:7-8). Dosa telah menyita kepercayaan diri dan kesanggupan melihat diri sebagai makhluk Allah; orang malu akan dirinya. Segala ungkapan konflik batin manusia ini mengakibatkan keresahan yang tak terobati dalam dirinya. "Orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tenang, . . . 'Tiada damai bagi orang-orang fasik itu' firman Allahku" (Yes 57:20-21).

  4. Dalam hubungan dengan alam semesta

    Umat manusia kehilangan keharmonisan dengan alam. Penatalayanan lingkungan sesuai dengan kehendak Allah tergeser oleh perampasan oleh manusia yang berdosa. Ini diwujudkan sebagai eksploitasi dan perusakan dunia, tanpa memikirkan keindahannya yang tercipta ataupun nilai hakikinya. Ini juga terungkap sebagai polusi, penggunaan bahan baku yang mengotorkan samudera dan suasana secara serakah, hanya untuk kepentingan diri dengan keuntungan ekonomi belaka, kehidupan mewah dan pemuasan hati.

  5. Dalam hubungan dengan waktu

    Manusia yang jatuh ke dalam dosa hidup dalam waktu yang dibatasi karena dosa itu. Karena dosa, manusia kehilangan kekekalan (Kej 2:17; 3:19), hari-harinya terbatas. Penghakiman melalui kematian adalah pertanda penghakiman Allah nanti. Oleh Allah, manusia diberi waktu, tetapi waktu itu berjalan terus mendekati akhirnya ketika semua rencana, tujuan dan mimpi akhirnya dihentikan oleh kematian. Pengaruh dosa ini terungkap dalam materialisme manusia serta hedonisme praktis yang sebenarnya hanyalah penerapan materialisme. Kita berpegang pada dunia yang nyata bagi pancaindera sebagai usaha untuk mempunyai pegangan dalam dunia yang terus bergolak. Usaha ini juga nyata dalam keinginan untuk menciptakan tanda-tanda peringatan, bentuk-bentuk materi yang dapat memperpanjang kenangan kepada orang setelah ia tiada. Pembatasan waktu ini juga mengkibatkan kegelisahan. Kematian tak ada bandingnya untuk menyadarkan orang akan keadaannya yang tak berarti dan kelemahannya, dan menunjukkan kebodohan orang yang berlagak mulia. Bahkan kalaupun seorang mencoba menghadapi kematian dengan hati teduh, ia tidak berhasil sepenuhnya mengatasi kegelisahan ini. Takut akan kematian menguasai manusia sampai akhirnya ia juga pergi menerima hasil dosanya.

4. Soal-soal lain

  1. Dosa yang tak terampuni

    Beberapa perikop Perjanjian Baru berbicara tentang dosa yang tidak dapat diampuni, yakni dosa atau penghujatan terhadap Roh Kudus. Yesus menyinggung hal ini (Mat 12:31-32; bnd. Ibr 6:4-6; 10:26-29; 1Yoh 5:16). Ada yang menganggapnya sebagai perbuatan langsung untuk menghujat Roh Kudus, biasanya dalam hubungan dengan kesaksian-Nya mengenai Kristus. Penafsiran akhir-akhir ini melihat hakikat dosa itu lebih bersifat kristologis. Yesus membedakan antara dosa terhadap Roh Kudus dan dosa "menentang Anak Manusia" (Mat 12:32) sebelum kematian dan kebangkitan-Nya dan turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Sebelum Paskah pertama "Anak Manusia" merupakan penyataan Allah yang terselubung dan penuh teka-teki. Kegagalan mengenal Yesus selama misi- Nya di dunia (misalnya keluarga-Nya sendiri, Mr 3:21) tidak begitu serius dibandingkan dengan sikap percaya bahwa seluruh misi-Nya, khususnya karya-karya baik-Nya, adalah pekerjaan Iblis seperti yang dituduhkan orang Farisi kepada-Nya. Dengan adanya peristiwa Pentakosta, perbedaan itu hilang. Yesus diperlihatkan sebagai Anak Allah dan Injil salib diberitakan dengan kuasa Roh Kudus. Penolakan terhadap pesan ini serta terhadap Kristus yang diabadikan oleh pesan ini, berarti menolak Roh Kudus yang menyaksikan akan kebenaran-Nya (Ibr 10:29). Dosa ini tidak diampuni jika dilanjutkan, karena olehnya orang menolak harapan satu-satunya akan penebusan. Yohanes menyebutnya "dosa yang mendatangkan maut" (1Yoh 5:16).

  2. Kebebasan manusia

    Masalah arti dan batas kebebasan manusia sejak kejatuhan telah diperdebatkan dengan gigih berabad-abad. Sering perdebatan ini lebih banyak menghangatkan situasi daripada memberi kejelasan. Ini cukup sering disebabkan oleh kecenderungan mengacau permasalahan teologis dengan masalah yang jelas-jelas bersifat filsafat, yakni determinisme dan indeter-minisme. Ada paling sedikit tiga arti istilah "kebebasan". Pertama, orang mengalami kebebasan secara psikologis sehari-hari ketika dia menghadapi beberapa alternatif dan membuat pilihan. Ini meliputi hal-hal sepele, seperti "Koran mana yang akan saya beli pagi ini?" sampai pada yang serius seperti "Maukah engkau menikah dengan saya?" Inilah kebebasan yang mendasari tanggung jawab moral. Alkitab menganggap bahwa kuasa untuk memilih secara bertanggungjawab dan atas kemauan sendiri adalah milik semua orang, baik orang Kristen maupun yang bukan Kristen. Tingkat pengertian yang kedua timbul dari pertanyaan apakah perbuatan-perbuatan kita pada masa mendatang akan ditentukan oleh faktor-faktor pada masa kini dan oleh sebab itu dapat diramalkan. Agaknya Alkitab tidak membenarkan atau menolak kebebasan dalam arti ini. Yang pasti adalah bahwa watak dipengaruhi oleh perbuatan orang: keputusan dan perbuatan masa lampau membentuk tipe manusia yang ada sekarang. "Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Gal 6:7). Di lain pihak, Alkitab tidak membenarkan adanya pengurangan tanggung jawab manusia. Ketiga, segi teologis dari kebebasan muncul dengan persoalan apakah orang bukan Kristen bebas untuk menggenapi kehendak Allah, khususnya apakah mereka bebas untuk menyesali dosanya dan percaya kepada Kristus sebagai Penebus dan Tuhan. Perbudakan kemauan manusia karena kejatuhan kelihatannya tidak memungkinkan orang benar-benar secara bebas menaati Allah. Ketidaksanggupan untuk berpaling kepada Allah tanpa bantuan-Nya tercermin dalam kenyataan bahwa orang hanya dapat masuk ke dalam kerajaan surga melalui kelahiran kembali (tentang ini lihat ps 23.2.c).

Bahan Alkitab

==Kejatuhan:==

Kejadian 3:1-7; Ulangan 32:8; Ayub 31:33; Pengkhotbah 7:29; Yesaya 43:27; Hosea 6:7; Lukas 3:38; Roma 5:12 dst.; 1Korintus 15:22-23; 2Korintus 11:3; 1Tesalonika 2:13-14; 1Timotius 2:13-14; Yudas 1:14.

==Sifat dan jangkauan dosa:==

Kejadian 3:6; Mazmur 14:1-3; 51:6; Yesaya 64:6; Yeremia 17:9; Markus 7:21-22; Yohanes 8:34-35; Roma 3:9-20; 5:10; 7:14-24; Galatia 5:19-21; Efesus 4:17-18; Yakobus 3:5-9; 2Petrus 2:19.

==Pengaruh dosa:==

Kejadian 3:17-24; 4:14; 19:1-12; 1Samuel 31:1-6; Mazmur 90:5-10; Pengkhotbah 1:1-2:26; Yesaya 5:8-23; Roma 1:18-32; Efesus 2:1-3; Yakobus 5:1-6; 2Petrus 3:5-10.

DIK-Referensi 04c

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kejatuhan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-R04c

Referensi DIK-R04c diambil dari:

Judul Buku : Menaklukkan Segala Pikiran Kepada Kristus
Penulis : Richard L. Pratt Jr.
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang
Tahun : 1995
Halaman : 39 - 46

Garis Besar:

Pelajaran 4 Karakter Manusia yang berdoa

  1. Kejatuhan Umat Manusia
  2. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa

REFERENSI PELAJARAN 04c - KEJATUHAN MANUSIA

KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1 Kor. 2:14)

Pada pelajaran yang terdahulu kita telah mendiskusikan karakter manusia sebelum kejatuhan ke dalam dosa namun pengertian kita akan manusia tidaklah lengkap apabila kita tidak mempelajari akibat-akibat dari kejatuhan atas diri manusia. "Pengetahuan tentang diri kita sendiri pertama adalah berdasarkan apa yang telah diberikan pada waktu penciptaan..., kedua kita perlu mengingat akan keadaan kita yang menyedihkan dan tidak menyenangkan setelah kejatuhan Adam."

Karakter dari manusia telah berubah di bawah kutuk dosa. Manusia tidak lagi merupakan gambar Allah yang sempurna; manusia tidak lagi hidup dan berpikir sebagaimana halnya dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa. Di dalam pelajaran berikut ini dengan lebih jelas akan kita lihat bagaimana dosa telah sangat mempengaruhi manusia, sebagai akibatnya manusia telah menyangkali kebergantungannya secara mutlak kepada Allah. Untuk dapat mengerti akan kondisi manusia yang seperti ini, pertama pelajaran ini akan mendiskusikan awal mula dari kejatuhan manusia dan kemudian tahap-tahap selanjutnya setelah kejatuhan itu.

A. Kejatuhan Umat Manusia

Allah telah membuat laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya dan telah menempatkan mereka di taman Eden. Pada waktu Adam dan hawa menyadari akan keberadaan mereka sebagai mahluk ciptaan Allah. mereka dengan senang hati telah mendedikasikan diri mereka untuk melayani Allah. Waktupun berlalu dan kesetiaan manusia kepada Allah pun diuji. Allah telah menempatkan pohon pengetahuan baik dan jahat di tengah- tengah taman dan berkata:

tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati (Kej. 2:17).

Dalam hal ini banyak hal yang perlu dipertaruhkan oleh manusia daripada hanya sekedar suatu penahanan diri untuk tidak makan buah tertentu. "Pada mulanya Adam telah menyangkali pohon pengetahuan baik dan jahat untuk menguji ketaatannya dan membuktikan bahwa ia dengan sukarela berada di bawah perintah Allah." Allah telah berkata dan mewahyukan kehendak-Nya dalam hubungan dengan pohon yang terlarang itu. Adam dan Hawa ditempatkan pada posisi pengujian kesadaran mereka untuk mengakui atau menyangkali otoritas Allah dan kebergantungan mereka akan Dia.

Pasal ketiga dari kitab Kejadian berpusat pada kejatuhan manusia. Ular, yang dijelaskan dalam bagian lain dari Alkitab adalah di Iblis (lihat Kej. 3:15; Rm. 16:20), menghampiri Hawa dan mencobai dia untuk mengabaikan perintah Allah. Dengan memperhadapkan Hawa kepada pilihan yang paling penting dalam hidupnya, Iblis berkata:

Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 3:4-5).

Perkataan Iblis jelas bertolak belakang dengan wahyu Allah. Hawa diperhadapkan pada suatu pilihan: siapakah yang dapat dipercaya? Allah mengatakan "kamu akan mati" dan ular mengatakan, "kamu tidak akan mati." Perempuan itu harus percaya pada salah satu dari dua pernyataan yang berlawanan itu. Kemudian ular yang licik itu tidak puas hanya dengan mengatakan bahwa Allah membuat kesalahan. Dia bahkan menyarankan Hawa bahwa apabila ia memakan buah itu maka perbedaan akan Pencipta dengan ciptaan akan hilang. "Kamu akan menjadi seperti Allah." (Kej. 3:5) Iblis mengatakan dengan penuh kesombongan.

Hawa telah tertipu oleh tipuan dari ular yang licik. Kita dapat mengatakan bahwa tindakan Hawa ini merupakan tindakan yang sangat bodoh, tetapi rupanya pencobaan untuk menjadi seperti Allah terlalu besar untuk dihindari. Setelah semua penghormatan Hawa kepada Penciptaannya digoncangkan, Hawa memutuskan bahwa dia tidak perlu lagi untuk bergantung kepada Allah untuk mengetahui pengetahuan yang benar demikian juga untuk petunjuk yang berkenaan dengan moralitas.

Ular telah mempertanyakan akan keabsahan dan kemampuan Allah dalam
Hal-hal ini dan Hawa telah termakan oleh saran-sarannya. Sebelumnya, Hawa telah menerima wahyu Allah dengan pengakuan akan ketergantungannya secara mutlak kepada Allah namun sekarang dia telah memutuskan bahwa kebergantungan kepada Allah merupakan suatu pilihan. Pembacaan yang teliti dari Kejadian 3:6 memperlihatkan inti dari kesalahan Hawa.

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang berssma-sama dengan dia dan suaminya pun memakannya.

Hawa tidak secara langsung menolak Firman Allah dan juga tidak secara langsung menerima perkataan dari si ular. Melainkan dia mengamati pohon itu sendiri dan kemudian memutuskan karakter dari pohon itu berdasarkan pengertiannya sendiri. Dia berkata kepada dirinya sendiri "Mengapa mendengarkan kepada orang lain? Saya akan membuat hukum bagi diri sendiri: Saya akan memutuskan sendiri!" Dengan melakukan ini, maka Hawa menolak perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Dia menyamaratakan wahyu dari Allah yang berdiri sendiri dengan perkataan si ular dan menempatkan dirinya diatas mereka berdua sebagai hakim.

Hawa lalu memberikan buah itu kepada Adam. Adam memakannya dan umat manusia jatuh di bawah kuasa dosa. Ini kemudian merupakan inti dari dosa; manusia memberontak melawan kebergantungannya kepada Allah dalam segala sesuatu dan manusia berasumsi bahwa dia mampu untuk berdiri sendiri tanpa Allah.

Sangat penting untuk diingat bahwa perbedaan Pencipta dan ciptaan tetap berlangsung meskipun manusia memilih untuk mengakuinya atau tidak. Adam dan Hawa tidak menjadi lebih kurang dalam kebergantungannya mereka kepada Allah setelah kejatuhannya, dibandingkan dengan keberadaan mereka sebelum jatuh dalam dosa. Mereka hanya menolak untuk mengakui kebergantungan mereka. Seorang anak balita dapat menipu dirinya sendiri untuk berpikir bahwa dia tidak memerlukan orang tuanya tetapi penyangkalannya itu tidak membedakan dia dengan seorang anak yang bergantung kepada orang tuanya.

Sama juga halnya dengan Adam dan Hawa yang berpikir mereka berdiri sendiri terlepas dari Allah, tetapi kenyataannya mereka tetap membutuhkan Allah dalam segala sesuatu, bahkan untuk kemampuan menolak Allah. Persyaratan Allah bagi Adam dan Hawa adalah supaya mereka mengakui kebergantungan mereka dan hidup sesuai dengan keberadaan ini. Mereka telah gagal untuk memenuhi tuntutan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Mereka berpikir dirinya cukup bijak, mereka telah menjadi bodoh, sebab Firman Allah ternyata benar; dan mereka mati.

B. Akibat Kejatuhan Manusia dalam Dosa

Kejatuhan manusia ke dalam dosa di taman Eden bukan merupakan kejadian masa lalu yang terpisah dari masa kini dalam arti hanya mempunyai akibat yang sedikit bagi manusia yang hidup pada masa kini; peristiwa kejatuhan telah membuat semua manusia berada di bawah keterikatan dosa.

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rm. 5:12).

Sejak kelahiran semua manusia telah dicemarkan oleh dosa (lihat Maz. 51:5; Ef. 2:3). Sebagaimana Adam dan Hawa yang telah menolak perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan, semua manusia pun telah menyangkal wahyu Allah baik melalui semua ciptaan maupun melalui wahyu khusus (Firman Tuhan).

Paulus menjelaskan mengenai penolakan manusia akan wahyu melalui penciptaan dalam Rom. 1:18-32. Dimana Paulus mengatakan bahwa meskipun ciptaan dengan jelas menyatakan karakter Allah dan kehendak-Nya, namun manusia yang tidak percaya telah menindas "kebenaran dengan kelaliman" (ay. 18). Mereka menolak untuk mengakui Allah yang telah mewahyukan diriNya melalui ciptaan, sebab "pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap" (ay. 21). ""Mereka berbuat seolah olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh" (ay. 22) sebab mereka memilih untuk menyembah "mahluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin" (ay. 25). Oleh karena "mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk..." (ay. 28). Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa menolak untuk mengakui penyataan Allah dalam semua aspek ciptaan.

Orang-orang tidak percaya juga tidak memberikan tempat yang sewajarnya pada wahyu khusus Allah. Tuhan Yesus menggambarkan bagaimana Israel menolak kebergantungannya pada wahyu khusus Allah dalam perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (lihat Mar. 21:33-34). Penggarap-penggarap kebun anggur memperoleh mata pencaharian mereka dari kemurahan hati yang mempunyai tanah tetapi mereka menolak untuk menghormati dia. Sebagai akibatnya si pemilik tanah mengutus utusan- utusan khusus kepada si petani. Bahkan, Ia telah mengutus Anak-Nya. Namun si petani membenci mereka dan membunuh mereka semua. Sama halnya dengan semua manusia yang seharusnya tunduk kepada wahyu khusus Allah melalui Firman Tuhan, sebaliknya mereka telah menolaknya. Dosa telah mencengkeram manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak mampu lagi untuk menundukkan dirinya kepada Firman Allah.

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya (Rm. 8:7).

Oleh karena itu manusia dalam keberadaannya sebagai manusia yang berdosa tidak mampu lagi untuk memahami wahyu Allah.

ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1 Kor. 2:14).

Manusia tidak menundukkan diri mereka kepada Wahyu Allah. Manusia telah mengikuti teladan dari Adam dan Hawa yang mengira bahwa segala sesuatu harus diukur oleh "garis pengukur dari kebodohan kedagingan mereka".

Kegagalan manusia untuk mengakui wahyu Allah dalam alam semesta dan untuk menerima Tuhan sebagai alat untuk mengenal Allah dan mengethui kehendak-Nya telah membuat manusia dalam posisi yang sulit. Yeremia menyerukan pada jamannya sebagai berikut:

Sesungguhnya, mereka telah menolak Firman Tuhan, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka? (Yer. 8:9)

Apa yang dapat kita lihat apabila mata kita tertutup? Apa yang dapat memuaskan kedahagaan kita apabila sumur kita kering? Tidak ada! Sama
Halnya dengan hikmat dan pengetahuan Allah sendiri "mengajar manusia akan pengetahuan" (Maz. 97:4) melalui Wahyu-Nya. Apabila kita menolak Firman-Nya, itu berarti kita menolak semua kebenaran dan secara prinsipil kita tidak mengetahui apa-apa selain ketidakbenaran.

Takut akan Tuhan adalah permulaanpengetahuan (Ams. 1:7).

Mereka yang percaya akan hati nuraninya sendiri (Ams. 28:26) dan tidak mempunyai kerinduan untuk pengertian yang benar (Ams. 18:2) adalah bodoh. Dia membenci pengetahuan (Ams. 1:29) dan perkataan yang berpengetahuan tidak akan dapat ditemukan pada bibirnya (Ams. 10:18; 14:7; 19:1). Oleh karena penolakan mereka akan wahyu Allah, maka manusia:

hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka (Ef. 4:17-18).

Atas dasar ini dikatakan bahwa:

Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka (1 Kor. 3:20).

Selama manusia terus menerus berpaling daripada wahyu Allah akan diriNya dan kehendakNya, manusia tidak akan mampu untuk tiba pada pengetahuan yang benar akan diri mereka sendiri, dunia dan Allah.

DIK-Referensi 05a

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b | Referensi 05c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Di Dalam Adam
Kode Pelajaran : DIK-R05a

Referensi DIK-R05a diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika; Doktrin Manusia
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tahun : 1994
Halaman : 95-96

REFERENSI PELAJARAN 05a - DI DALAM ADAM

AKIBAT DARI DOSA YANG PERTAMA

Dosa manusia yang pertama membawa akibat sebagai berikut:

  1. Segera mengikuti dosa yang pertama, adalah kerusakan total dari natur manusia. Dosa manusia segera merambat pada seluruh manusia dan seluruh naturnya tidak ada yang tidak tersentuh dosa; seluruh tubuh dan jiwanya menjadi dicemari dosa. Kerusakan menusia jelas dikatakan oleh Alkitab, misalnya dalam Kej. 6:5; Mzm. 14:3; Rom. 7:18. Kerusakan total di sini bukanlah berarti manusia telah rusak serusak-rusaknya. Dalam kehendak kerusakan ini menyatakan dirinya sebagai ketidakmampuan spiritual.

  2. Segera terkait dengan kerusakan total adalah hilangnya persekutuan dengan Allah melalui Roh Kudus. Keadaan ini adalah sisi balik dari kerusakan total itu sendiri. Keduanya dapat disatukan dalam suatu pernyataan bahwa manusia telah kehilangan gambar dan rupa Allah yaitu kebenaran yang hakiki. Manusia memutuskan hubungan dari sumber hidup dan berkat, dan hasilnya adalah suatu keadaan kematian rohani. Ef. 2:1,5,12; 4:18.

  3. Perubahan keadaan manusia yang sesungguhnya juga tercermin dalam kesadaran dirinya. Mula-mula ada suatu kesadaran dalam kekotoran, yang kemudian terungkap dalam rasa malu, dan juga terlihat dalam hal bagaimana Adam menutupi ketelanjangannya. Dan kemudian ada kesadaran tentang rasa bersalah yang terlihat dalam rasa takut kepada Allah.

  4. Bukan saja kematian rohani, tetapi kematian jasmani juga disebabkan oleh dosa manusia yang pertama ini. Dari suatu keadaan 'posse non mori' manusia turun menjadi 'non pose non mori'. Setelah berdosa maka manusia harus kembali kepada debu dari mana ia diambil (Kej. 3:19). Paulus mengatakan bahwa oleh karena satu orang maka dosa masuk ke dalam dunia dan terus diturunkan pada semua manusia (Rom. 5:12 dan upah dosa adalah maut (Rom. 6:33).

  5. Perubahan ini juga menghasilkan perubahan tempat tinggal yang penting. Manusia diusir dari Taman Eden sebab taman itu melambangkan persekutuan yang dekat dengan Allah dan juga lambang dari hidup yang penuh dan berkat yang sedemikian besar yang disediakan bagi manusia, jika ia tetap teguh berpegang pada Allah. Ia diusir dari pohon kehidupan karena pohon itu adalah lambang dari hidup yang dijanjikan dalam perjanjian kerja.

DIK-Referensi 05b

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Di Dalam Adam
Kode Pelajaran : DIK-R05b

Referensi DIK-R05b diambil dari:

Judul Buku : Ikhtisar Dogmatika
Penulis : DR. R. Soedarmo
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia
Tahun : 1993
Halaman : 144-150

Garis Besar:

E. Akibat Dosa
F. Menjalarnya Dosa

  1. (a) Kesalahan warisan
    (b) Kerusakan warisan
  2. Dosa perbuatan
G. Hukuman Dosa
  1. Maut (Kej. 2:17)
  2. Hidup Manusia menjadi Rusak

REFERENSI PELAJARAN 05b - DI DALAM ADAM

E. AKIBAT DOSA

Tentang hal ini ada pandangan-pandangan yang berbeda-beda antara lain: Bahwa akibat dosa hanya terbatas pada hukuman kepada Adam dan Hawa. Bagi manusia lainnya, dosa tidak berpengaruh sedikitpun. Tiap-tiap manusia dilahirkan sebagai manusia yang sempurna.

Akan tetapi kita dapat mengatakan bahwa akibat dosa meliputi segala manusia.

Apakah akibat ini? Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dosa itu merobah arah di dalam hidup manusia. Manusia dijadikan oleh Tuhan agar menjuruskan kecakapannya kepada kemuliaan Tuhan. Dosa membelokkan jurusan ini kepada diri manusia sendiri. Manusia tidak berobah menjadi binatang, tetap menjadi manusia, hanya berlainan dari maksud yang asli. Manusia menjadi lebih rendah dari binatang. Di sinipun dapat dikatakan bahwa manusia tidak jadi nol tapi menjadi minus. Manusia dijadikan menurut gambar Tuhan, artinya: Menunjukkan Tuhan. Gambar Tuhan sekarang menjadi negatif, artinya: menunjukkan yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Dulu manusia dijadikan sebagai raja untuk memerintah bagi Tuhan, nabi untuk mengetahui kehendak Tuhan, imam untuk bekerja bagi Tuhan. Sekarang manusia menjadi raja, nabi dan imamnya sendiri. Maka dari itu gambar Tuhan pada manusia bukannya hilang tapi rusak dan terbalik sama sekali. Manusia tidak mau menjadi gambar Tuhan akan tetapi ingin menjadi ilah sendiri.

F. Menjalarnya Dosa

Pada umumnya orang berfikir: dosa adalah tindakan orang, tindakan perseorangan; maka akibat dari dosa tentu hanya terbatas pada orang itu sendiri, hukuman tentu juga hanya untuk orang itu sendiri. Seandainya ada hukuman untuk keluarga atau turunan orang itu, hukuman ini disebut tidak adil. Lain dari itu dosa adalah sesuatu yang moral, artinya: Tidak bersifat benda; jadi tidak dapat menjalar.

Begitulah pandangan a.l. Pelagius pada abad keempat, yang sudah mengatakan bahwa Adam terkena hukuman untuk dirinya sendiri, tidak ada sedikitpun yang mengenai lain orang. Akibat yang didatangkan dosa hanya bahwa Adam memberi teladan kepada keturunannya di dalam berbuat dosa. Turunannya berbuat dosa oleh sebab meniru Adam. Artinya: Turunan Adam dilahirkan baik dan dapat hidup baik. Turunan Adam dilahirkan sebagai manusia yang sehat. Murid-murid Pelagius ada yang memandang bahwa anggapan Pelagius ini terlalu jauh; maka mereka berkata: manusia dilahirkan sebagai orang yang sakit, tetapi dapat menjadi sehat dengan usahanya sendiri. Hingga zaman sekarang masih ada aliran-aliran di dalam agama Kristen yang beranggapan seperti tersebut di atas: Manusia hakekatnya baik, hanya gampang kalah di dalam perang dengan hawa nafsu (semi Pelagianisme).

Pada abad-abad yang lalu hingga sekarang masih ada juga orang-orang yang menentang pandangan tersebut. Augustinus yang menentang Pelagius; begitu juga Luther, Calvin.

Memang kalau kita membaca Kitab Suci, kita akan berpendapat bahwa anggapan tersebut di atas bukan pernyataan Firman Tuhan. Di sini diterangkan dengan jelas bahwa dosa Adam di dalam akibatnya tidak terbatas pada dirinya sendiri, akan tetapi menjalar kepada turunannya semua. Ini dapat kita baca pada permulaan Kitab Suci hingga akhirnya antara lain Kej. 3: kita di situ membaca bahwa Tuhan menjatuhkan hukumanNya bukan hanya kepada Adam saja, akan tetapi kepada manusia pertama dengan benih-benihnya (Kej. 3:15).

Mzm. 51 mengatakan juga: Dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Rm. 5:12; Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut. 1 Kor. 15:21, 22: Maut datang karena satu orang manusia.

Dengan demikian maka sudah terang sekali bahwa pandangan Kitab Suci berlainan dengan pandangan manusia. Soal yang tidak dapat disangkal lagi ialah bahwa dosa Adam dan Hawa berjangkit di dalam manusia seluruhnya.

Di dalam dogmatika kita membedakan:

  1. Dosa warisan.

  2. Dosa perbuatan.

1. Dosa warisan dibedakan lagi:

  1. Kesalahan warisan.

  2. Kerusakan warisan.

  1. Kesalahan warisan

  2. Adam dijadikan oleh Tuhan sebagai kepala manusia. Sebagai kepala umat manusia ia menerima perjanjian Tuhan dan sebagai kepala umat manusia ia melanggar perjanjian itu. Maka tidak usah mengherankan bahwa segala orang yang dikepalai Adam turut melanggar perjanjian itu. Ini sudah tentu. Perjanjian perdamaian tentu hanya ditetapkan antara dua pemimpin bangsa, akan tetapi kedua bangsa segenapnya itu dianggap menetapkan sendiri akan perjanjian perdamaian itu. Maka dari itu kalau ada seorang pemimpin yang tidak setia pada perjanjian itu, segenap bangsanya dipandang juga sebagai tidak setia. Demikian juga ada dua pihak yang berjanji yaitu: Tuhan dan Adam. Adam tidak setia akan perjanjiannya maka seluruh umat manusia turut jatuh ke dalam dosa. Sebab itu rasul Paulus dapat berkata: Karena seorang, dosa masuk ke dalam dunia (Rm 5:12), maka karena itulah sekaliannya berbuat dosa. Tuhan menghitung kesalahan kita, jadi dengan langsung. Inilah yang disebut: Kesalahan warisan.

    Bahwa kesalahan Adam dijadikan kesalahan kita juga terbukti bahwa hukuman kesalahan Adam juga dijatuhkan kepada kita (Kej. 3: benih; Rm 5: maut). Tuhan menjadikan manusia sebagai kesatuan yang organis, yang hidup, yang bertumbuh satu dari yang lain. Agar sifat Tuhan yang Maha Esa dapat bertumbuh satu dari yang lain. Agar sifat Tuhan yang Maha Esa dapat menjelma di dalam kesatuan yang organis di dalam manusia, hingga bersatu di dalam memuliakan Tuhan. Sayang sekali kesatuan ini menjadi kesatuan di dalam dosa.

  3. Kerusakan warisan

  4. Adam dijadikan sebagai benih yang akan mengeluarkan pohon yang besar. Sudah dengan sendirinya keadaan benih menentukan keadaan pohon kelak. Kalau benihnya baik, tentu akan menjadi pohon yang baik.

    Adam berbuat dosa, dijatuhi hukuman; hukuman ini juga berisi kerusakan jiwa dan tubuh. Orang-orang yang menjadi turunannya juga dilahirkan dengan kerusakan jiwa dan tubuh. Tidak hanya sakit keadaan manusia sekarang dan tidak sama sekali sehat, melainkan "mati"; tidak dapat berbuat yang baik dan terus bercenderung kepada yang jahat. Ef. 2:1: Kamu dahulu sudah mati.

    Dengan demikian sudah terang bahwa segala hidup tidak dapat timbul dari manusia sendiri, hanya Tuhan yang dapat memberikan, manusia sendiri sudah mati. Manusia sudah rusak, berarti: Kehilangan kemuliaan yang asli yang diberikan oleh Tuhan (Rm 3:23). Kerusakan warisan menjalar dengan kelahiran orang, jadi tidak langsung dilanjutkan oleh Tuhan, tetapi ada alatnya, yaitu kelahiran (Ayb 14:4, Yoh 3:6).

    Dosa warisan dapat menimbulkan pikiran: Adakah Tuhan itu adil kalau demikian? Pertama-tama kita harus insaf bahwa Tuhan itu adil. Allah yang Maha Adil, jadi adil dalam segala tindakanNya. Lain dari itu Adam dijadikan sebagai kepala umat manusia, maka segala tindakannya dengan akibat-akibatnya, terhitung sebagai tindakan kita semua yang dikepalai Adam.

2. Dosa Perbuatan

Selain dosa yang kita terima dari keturunan kita, kita juga berbuat dosa sendiri. Sudah barang tentu untuk dosa perbuatan ini dosa warisan juga berpengaruh. Terutama kerusakan warisan ini mendatangkan kelemahan kita, hingga kita tidak dapat berbuat yang baik dan bercenderung kepada yang jahat. Akan tetapi manusia tetap menjadi manusia, makhluk yang berbudi, maka ia dapat memilih. Maka manusia juga yang bertindak sendiri atau yang berbuat dosa. Dosa inilah yang disebut: Dosa perbuatan.

Dosa perbuatan juga dibedakan sebagai berikut:

Gereja RK membedakan: dosa yang dapat diampuni dan yang tidak diampuni oleh Tuhan. Pandangan ini didasarkan atas Mat 5:22. Akan tetapi maksud nas ini bukannya membedakan tindakan-tindakan hukuman dosa yang memuncak kepada dosa yang tak dapat diampuni, melainkan maksudnya di sini untuk menyatakan: Bukannya membunuh orang saja yang terkena hukum, tetapi orang yang marahpun akan dihukum juga.

Ada yang membedakan juga antara: Dosa yang dibuat dengan pikiran, perkataan dan perbuatan. Akan tetapi kalau ditinjau lebih dalam perbedaan ini tidak dapat dipertahan; sebab yang berbuat dosa ini bukannya pikiran, mulut dan tangan umpamanya, melainkan jiwa manusia atau manusia segenapnya.

Ada perbedaan yang demikian: Dosa terhadap perintah-perintah pada loh yang pertama, lebih besar daripada dosa terhadap perintah-perintah pada loh yang kedua. Pembedaan inipun tidak tepat kalau kita membaca Yak. 2:10 di mana Yakobus berkata: Bahwa barangsiapa mengabaikan salah satu dari perintah-perintah itu, ia bersalah terhadap seluruhnya.

Memang perintah Tuhan hanyalah satu: kasih. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada orang lain adalah satu. "Dengan demikian kasih adalah kegenapan (Yunani: pleroma, artinya kepenuhan) Taurat" (Rm 13:10). Maka dari itu kita hanya membedakan dosa terhadap Roh Suci dan dosa lain-lainnya.

Dosa lain-lainnya semua dapat diampuni. Selama manusia masih hidup, masih ada kemungkinan untuk menerima pengampunan dari Tuhan kalau bertobat, kalau menyesal (lihat Yes 1:18, dan lain-lain). Hanya ada satu dosa yang tidak akan mendapat pengampunan dari Tuhan, ialah yang disebut: Dosa terhadap Roh Suci.

Mat. 12:24 menceritakan, bahwa Tuhan Yesus telah menyembuhkan orang yang dirasuk Setan, akan tetapi orang Farisi berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan. "Maka Tuhan Yesus berfirman agak panjang, yang berpusat kepada Mat 12:31: "Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni." Apakah Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang Farisi pada waktu itu berbuat dosa terhadap Roh Suci? Jawaban-jawaban tentang pertanyaan ini ada yang positif, ada yang negatif, ada yang mengamini dan ada yang menyangkal.

Memang Tuhan Yesus di sini berfirman kepada umum, akan tetapi firman- Nya ditujukan kepada orang-orang Farisi: "Sebab itu Aku berkata kepadamu." Kalau kita memegang teguh caranya Tuhan Yesus berfirman secara umum, kita dapat mengatakan: Bukan orang-orang Farisi yang di maksudkan. Bagaimanapun jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut, maka satu hal sudah terang; cerita Tuhan itu adalah disimpulkan di Mat. 12:31.

Maka kita dapat mengerti apakah maksud dosa terhadap Roh Suci, yaitu: Dosa ini dibuat oleh orang yang sudah berhubungan erat dengan Tuhan Yesus, sudah melihat, kenal akan Tuhan Yesus, akan tetapi orang ini toh berkata: Yesus itu dari Setan. Orang yang sudah berhubungan erat dengan jemaat dan pikirannya sudah diterangi, hingga melihat dan kenal akan Tuhan Yesus. Kalau orang ini toh berkata: Yesus itu dari Setan asalnya, Yesus itu bukan anak Allah; perkataan inilah yang disebut. Dosa terhadap Roh Suci. Bagi dosa ini tidak ada ampun lagi. Ini dikatakan dalam Ibr 6:4-6. Atau 1Yoh 5:16, menyatakan: "Bahwa bagi orang ini tidak usah dinaikkan doa." Dosa terhadap Roh Suci itu membawa kekerasan hati. Di dalam hati orang ini tidak ada penyesalan, tidak ada kekuatiran dan bertobat.

Dengan demikian menjadi terang bagi kita: Barangsiapa takut dan kuatir kalau-kalau berbuat dosa terhadap Roh Suci, orang itu malahan dapat dikatakan dengan tegas bahwa: ia tidak berbuat dosa kepada Roh Suci.

G. Hukuman Dosa

Adakah Tuhan menghukumkan dosa manusia? Ada yang menjawab: Tidak, sebab Tuhan Maha Kasih. Ada juga yang menjawab: Tidak, sebab Tuhan tidak dapat merusak buah penjadian-Nya sendiri.

Kita harus menanyakan: Bagaimanakah jawaban Kitab Suci? Kitab Suci menyatakan dengan terang bahwa Tuhan menghukumkan dosa. Lihat Kej. 2 dan 3: Rm. 5:12 dan selanjutnya. Hal ini tidak mengherankan. Memang Tuhan dapat membiarkan dosa. Dan Allah bersifat kebenaran, maka tidak dapat mengabaikan Firman-Nya sendiri: "Sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej 2:17).

Jadi hukuman berarti:

  1. Upah bagi perbuatan yang tidak baik. Keadilan Tuhan yang harus menjatuhkan hukuman.

  2. Memurnikan yang akan bergaul dengan Tuhan, kesucian Tuhan yang memerlukan ini.

Apakah hukuman terhadap dosa? Tiga hal, yaitu:

  1. Maut (Kej 2:17)

    Maut adalah perceraian antara apa yang dihubungkan oleh Tuhan. Maka kita dapat membedakan:

    1. Perceraian antara jiwa dan tubuh. Tuhan menjadikan manusia sebagai kesatuan antara jiwa dan tubuh. Akan tetapi oleh karena dosa, kesatuan ini akan terpecah. Tubuh akan kembali pada debu, jiwa akan pergi ke kerajaan tempat jiwa. Inilah yang disebut maut badani. Maut badani tidak langsung datang sesudah manusia jatuh ke dalam dosa. Inilah sudah menunjukkan anugerah Tuhan. Tuhan masih hendak menyelamatkan manusia, memberi kemungkinan untuk bertobat. Dengan demikian tidak segenap mahluknya akan lenyap, inti dari mahluk itu akan diselamatkan.

    2. Maut adalah perceraian antara Allah dan manusia, tidak ada hubungan yang harmonis lagi. Tuhan melemparkan manusia sebab Tuhan adalah Maha Suci dan manusia adalah berdosa. Inilah yang disebut maut rohani. Maut rohani itu hukuman terhadap dosa. Tiap-tiap manusia merasakan hukuman ini. Ia merasakan perceraian maka merasakan keinginan untuk kembali lagi, akan tetapi juga merasakan takut; sebab yang dicari itu akan melemparkan manusia lagi. Apakah yang dicari ini disebut Tuhan atau Dewa, perasaan ingin mencari dan perasaan takut ini ada.

    3. Maut juga perceraian yang kekal antara Tuhan dan manusia. Jikalau manusia terus-menerus menolak Tuhan, kemungkinan yang diberikan oleh Tuhan untuk bertobat akan berakhir. Kemudian manusia akan ditolak oleh Tuhan dan dijatuhi hukuman yang kekal. Inilah yang disebut: Maut yang kekal.

  2. Hidup Manusia menjadi Rusak

    Dosa merobah hidup manusia. Dulu hidup itu penuh keenakan dan kepuasan. Manusia ditempatkan di dalam taman Eden. Sesudah dosa datang, manusia harus bekerja dengan susah payah. Di dalam faktor- faktor hidup yang tertinggi, kerusakan nampak juga, yaitu: Di dalam perkawinan, cinta perempuan menjadi keinginan nafsu, hal melahirkan anak menjadi penuh menderita, kasih orang laki-laki terhadap isteri menjadi lebih keras, disebut memerintahkan. Singkatnya: Hidup yang sempurna menjadi hidup yang penuh kesukaran dan kesusahan (bnd Kej 3:16-19).

    1 dan 2 adalah hukuman yang dijatuhkan oleh Tuhan. Ada juga hukuman yang datang oleh karena dosa sendiri, yang didatangkan oleh dosa sendiri.

    Manusia kewajibannya melayani Tuhan. Seadainya manusia tetap di dalam kewajiban ini, Tuhan yang menjadi rajanya. Ia yang akan menguasai. Akan tetapi manusia memilih Iblis. Maka dari itu sekarang Iblis yang menjadi rajanya. Iblis yang menguasai manusia. Sekarang manusia terpaksa melayani setan. Setan memperalat manusia. Gambaran yang terang sekali dari kekuasaan Setan ialah orang yang dirasuk Setan. Orang yang demikiah hanya dapat bertindak sesuai dengan maksud Setan. Yang mempunyai kekuasaan atas dia di dunia ialah Setan. Hanya ada satu pribadi yang dapat mematahkan kekuasaan ini ialah: Tuhan Yesus Kristus.

DIK-Referensi 05c

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Di Dalam Adam
Kode Pelajaran : DIK-R05c

Referensi DIK-R05c diambil dari:

Salah satu makalah yang disampaikan dalam sidang pleno Kongres Lausanne II di Manila (1989) oleh Pdt. DR. Stephen Tong.

Garis Besar:

KONSEP YANG SALAH MENGENAI DOSA
APAKAH DOSA ITU
DOSA DAN RELASI SEMESTA

REFERENSI PELAJARAN 05c - DI DALAM ADAM

KONSEP YANG SALAH MENGENAI DOSA

Meskipun manusia mencoba untuk lari dari fakta dosa, menawarkan dan menafsirkan ulang, manusia tetap tidak akan pernah dapat melarikan diri dari penyataan Allah mengenai dosa dalam Alkitab. Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa dosa dimulai dari sejarah kejatuhan Adam, manusia pertama dan wakil dari umat manusia, dan kemudian memasuki dunia. Sebelum kita berpikir mengenai pengertian dosa, pertama mari kita melihat konsep yang keliru mengenai dosa.

Pertama, Alkitab tidak memberikan satu tempatpun bagi konsep pra- eksistansi kekal dari dosa. Dosa bukan suatu keberadaan kekal yang ada dengan sendirinya. Juga dosa maupun kejahatan bukan realitas yang berdiri sendiri. Demikian juga iblis dan kuasa-kusas kejahatan. Tidak ada apapun dan siapapun, hanya Allah sendiri yang ada dengan sendirinya dan merupakan realitas yang kekal. Hanya Allah yang tanpa awal dan akhir. Alkitab langsung menolak ontologi dualisme dalam agama.

Kedua, Alkitab tidak memberikan tempat bagi konsep bahwa dosa diciptakan atau sumber dari kejahatan. Kata "kejahatan" dalam Yes. 45:7 (dalam terjemahan versi King James) harus dimengerti sebagai hukuman Allah dalam sejarah, sebagai manifestasi dari kebenaran dan pemerintahanNya kepada dunia yang berdosa, tapi bukan kejahatan secara ontologi ataupun moral.

Ketiga, Alkitab tidak memberikan tempat untuk Allah dipandang bertanggung jawab atas dosa. Mengenai hal ini, satu hal yang dapat kita lihat dari Alkitab adalah satu ijin yang misterius untuk munculnya kejahatan sebagai akibat dari salah penggunaan akan kebebasan yang diciptakan di dalam mahluk-mahluk rohani, yang juga menjadi aspek dari gambar dan rupa Allah yang harus dipertanggungjawabkan pada keadilan dan penghakiman Allah.

Maka dosa muncul dari ciptaan sendiri. Sebagai ciptaan dari yang dicipta untuk melawan Pencipta mereka. Dalam hal ini, Yesus berkata, "Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta" (Yoh. 8:44).

APAKAH DOSA ITU

Sekarang kita memikirkan tentang dosa. Alkitab mengajarkan bahwa dosa lebih dari sekedar kegagalan etika. Untuk menyatakan dosa dengan sesuatu yang tidak tepat hanya mendangkalkan arti dosa itu.

Pertama, berbicara secara philologi, dosa berarti "tidak mencapai target". Perjanjian Baru menggunakan kata hamartia untuk mengindikasikan bahwa manusia diciptakan dengan sebuah standar atau target sebagai tujuan dan arah hidup. Ini berarti kita harus bertanggung jawab kepada Allah. Ketika dosa datang, kita gagal untuk mencapai standar Allah. Setelah kejatuhan manusia, pandangan manusia mengenai target kehidupan menjadi kabur dan kehilangan kriteria arah hidup. Inilah alasan Allah untuk mengutus AnakNya untuk kembali menunjukkan standar itu dan menjadikan Dia sebagai kebenaran dan kesucian kita. Tujuan hidup manusia hanya dapat ditemukan kembali melalui contoh sempurna dari Kristus yang berinkarnasi.

Kedua, berbicara dari sudut posisi, dosa adalah satu perpindahan dari status yang mula-mula. Manusia diciptakan berbeda, dalam perbedaan posisi, dengan tujuan untuk menjadi saksi Allah, diciptakan antara Allah dan iblis, baik dan jahat. Setelah kejatuhan setan manusia diciptakan dalam kondisi netral dari kebaikan yang dapat dikonfirmasikan melalui jalan ketaatan, diciptakan sedikit lebih rendah dari Allah tetapi mempunyai dominasi atas alam, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ketaatan yang benar dari manusia dihadapan pemerintah Allah adalah rahasia untuk mengatur alam, dan untuk mencapai tujuan yang benar dari kemuliaan natur pencipta dalam hidup manusia. Segala pencobaan datang kepada manusia selalu dalam usaha mencoba untuk membawa manusia jauh dari posisi rencana Allah yang mula-mula. kemudian datang kekacauan. Hal yang sama terjadi juga kepada malaikat tertinggi dan Alkitab mengatakan, "Mereka tidak mempertahankan status mereka yang pertama" untuk menjelaskan kejatuhan mereka. Inilah satu konsep yang benar dalam mengerti mengenai dosa.

Ketiga, dosa adalah penyalahgunaan kebebasan. Penghormatan terbesar dan hak istimewa yang Allah berikan kepada manusia adalah karunia kebebasan. Kebebasan menjadi satu faktor yang tidak bisa ditawar-tawar sebagai fondasi dari nilai moral. Hasil moral hanya dapat berakar dalam kerelaan, tidak lahir karena paksaan. Arti kebebasan mempunyai dua pilihan: hidup berpusatkan Allah atau hidup berpusatkan diri sendiri. ketika manusia menaklukkan kebebasannya di bawah kebebasan Allah, itulah pengembalian kebebasan kepada pemilik kebebasan yang mula-mula. Jenis pengembalian ini mencari kesukacitaan dari kebebasan dalam batasan kebenaran dan kebaikan Allah. Sebab Allah adalah realita dari kebaikan itu sendiri, segala macam pemisahan dariNya akan menyebabkan keburukan, dan juga hidup berpusat diri sendiri jelas penyebab dosa. Terlalu berpusat pada diri sendiri akan menjadi awal ketidakbenaran. Kebebasan tanpa batas dari kebenaran Allah akan menjadi kebebasan yang salah. Bukanlah suatu kebebasan yang dimaksudkan Yesus ketika Ia berkata, "tidak seorangpun dapat mengikut Aku tanpa menyangkal dirinya sendiri."

Keempat, dosa adalah kuasa yang menghancurkan. Dosa tidak hanya gagal dalam pengaturan tapi lebih dari itu adalah kuasa yang mengikat terus menerus yang tinggal dalam orang berdosa. Paulus menggunakan bentuk tunggal dan bentuk jamak dari dosa dalam kitab Roma. Bentuk jamak dari dosa mengindikasikan perbuatan-perbuatan salah, tapi bentuk tunggal dair dosa berarti kuasa yang mengarahkan segala perbuatan dosa. Paulus mempersonifikasikan dosa sebagai kuasa yang memerintah dan prinsip yang mengatur kehidupan orang berdosa. Ia juga merusak semua aspek kehidupan kepada satu tingkatan dimana tidak ada satu aspek kehidupan pun yang tidak kena distorsi atau polusi. Inilah yang ditekankan dan dijelaskan Reformator. Berjuang melawan pengertian tidak lengkap mengenai kuasa dosa dalam Scholastisisme abad pertengahan. Dosa tidak hanya mencemarkan aspek kehendak, tapi juga berpenetrasi pada aspek emosi dan rasio. Tujuan utama dari kuasa penghancur ini untuk menyebabkan manusia menghancurkan diri sendiri dan membunuh diri sendiri seperti yang dikatakan Kierkegard, bahwa manusia dilahirkan dalam dosa. Satu-satunya kuasa yang kita miliki adalah kuasa untuk membunuh kita sendiri.

Kelima, dosa dalah penolakan terhadap kehendak Allah yang kekal. Akibat utama dari dosa tidak hanya merusak manusia tapi juga melawan kehendak Allah yang kekal melalui manusia. Inilah hal yang paling serius yang berhubungan dengan kesejahteraan rohani semesta. Calvin mengatakan, "Tiada yang lebih besar daripada kehendak Allah kecuali Allah sendiri." Ciptaan alam semesta, keselamatan umat manusia dan kebahagiaan kekal semua ada oleh kehendak Allah maka orang Kristen harus sadar pentingnya ketaatan yang setia kepada kehendak Allah. Seperti Kristus mengajarkan murid-muridNya untuk berdoa, "Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga." Alkitab juga mengajarkan kita dalam 1 Yoh. 2:17, bahwa dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

DOSA DAN RELASI SEMESTA

Dosa tidak berhenti sebagai peristiwa saja tetapi terjadi perusakan yang lebih lanjut dalam orang berdosa dan mengganggu seluruh susunan alam semesta. Dosa menghancurkan hubungan-hubungan baik secara pribadi maupun semesta, termasuk hubungan Allah dengan manusia, manusia dengan manusia. Dalam suatu pengertian yang lebih dalam dosa juga menghancurkan hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu dosa membuat mustahilnya hidup harmonis, tapi yang paling dalam adalah rusaknya hubungan manusia dengan Allah. Dari hak mula- mula yang kita miliki, kita diciptakan lebih tinggi dari alam. Alam diciptakan untuk manusia. berarti manusia menikmati, menyukai, mengatur, memelihara dan menafsirkan alam dalam menjalankan fungsi kenabiannya. Tapi dosa telah membalikkan manusia sebagai penghancur, musuh, bahkan penghancur alam. Menyelidiki alam dan menemukan kebenaran Allah yang tersembunyi didalamnya adalah dasar ilmu pengetahuan, tetapi sejak timbulnya dosa ilmu pengetahuan gagal untuk berfungsi sebagai alam untuk memuliakan Allah dan berbalik kepada kemungkinan digunakan sebagai alat setan untuk menghancurkan Allah dan manusia. sebagai akibat rusaknya hubungan antar manusia, manusia kehilangan potensi untuk merefleksikan kasih dari Allah Tritunggal, yang menjadi model bagi komunitas manusia. Saling menghargai atau menghormati, saling percaya, saling melengkapi adalah ketidakmungkinan dalam masyarakat kita. Sebaliknya kita melihat pemutlakan dari setiap individu sendiri untuk menolak orang lain dengan hidup berpusatkan pada diri sendiri yang menyebabkan tekanan dari sakit hati yang tanpa akhir dalam komunitas kita bahkan dalam hubungan internasional. Sebagai akibat dari hancurnya hubungan antara manusia dan diri sendiri, manusia menjadi musuhnya sendiri. Ia kehilangan semua damai rohani, perlindungan kekal, dan keyakinan akan arti hidup. Dan selanjutnya keberadaan manusia jadi sebuah pulau yang terisolasi dalam alam semesta, keberadaan yang lain menjadi neraka yang menyiksa dan kenihilan tampaknya sebagai suatu yang ada, yang menelan keberadaan kita ke dalam kenihilan. Semua terefleksi dalam eksistensialis atheistik moderen.

Pemutusan hubungan yang paling serus dalam hubungan atara manusia dengan Allah, menjadi penyebab putusnya hubungan-hubungan yang lain. Ketika manusia dipisahkan dari Allah menjadi tanda tidak lagi ada relasi lain yang dapat diperbaiki. Tertutup semua kemungkinan damai tiap pribadi dalam roh dan damai universal di bumi. Seluruh abad 20 adalah ladang pelaksana dari ideologi abad 19 dan kita lihat tidak ada pengharapan sejati bagi masa depan kita, juga sekarang dalam dekade akhir dari abad ini. Kita tetap menghadapi ketidaktahuan akan kemungkinan masa depan. Tidakkah kini waktu yang tepat dibandingkan waktu lain untuk tenang mengadakan evaluasi ulang? Segala kelemahan darr teologi yang muncul dari humanisme antroposentris.

Alkitab mengatakan Allah adalah kasih, Allah adalah hidup, Allah adalah terang. Ia juga Allah dari kebenaran, kebaikan dan kesucian. Apa model lingkunan yang kita miliki jika kita terpisah dari Allah yang sedemikian seperti yang dinyatakan dalam Kristus? Hanya satu kemungkinan yang tersedia bagi kita yaitu kebencian, kematian, kegelapan, penipuan, ketidakadilan dan kerusakan-kerusakan yang jelas kita lihat pada zaman ini. Tidakkah kita harus mengakui bahwa ada gap besar antara mandat kultural Allah kepada manusia dengan hasil kultural yang dicapai manusia? Itulah dosa!

DIK-Referensi 06a

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b | Referensi 06c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Manusia Kedua Dari Tuhan
Kode Pelajaran : DIK-R06a

Referensi DIK-R06a diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika; Doktrin Manusia
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tahun : 1994
Halaman : 181-190

Garis Besar:

B. Data Alkitab bagi Perjanjian Penebusan
C. Allah Putra dalam Perjanjian Penebusan
D. Tuntutan dan Janji Perjanjian Penebusan

REFERENSI PELAJARAN 06a - MANUSIA KEDUA DARI TUHAN

B. Data Alkitab bagi Perjanjian Penebusan

Istilah "permufakatan damai" diambil dari Zakh. 6:13. Coccejus dan yang lain-lainnya menjumpai dalam ayat ini suatu rujukan kepada suatu persetujuan antara Allah Bapa dan Allah Putra. Jelas pendapat seperti ini keliru sebab kata itu menunjuk pada kesatuan antara jabatan- jabatan sebagai raja dan sebagai imam dalam diri Mesias. Karakter Alkitabiah dari nama itu tidak dapat dipertahankan, akan tetapi hal ini tentu saja tidak dapat ditarik begitu saja dari realita permufakatan damai itu. Doktrin tentang permufakatan kekal ini berdasarkan kebenaran Alkitab ini:

  1. Alkitab jelas menunjuk pada kenyataan bahwa rencana penebusan sudah tercakup dalam ketetapan kekal permufakatan Allah, Ef. 1:4 dst, 3:11; 2 Tes 2:13; 2 Tim 1:9; Yak. 2:5; 1 Pet. 1:2 dst. Sekarang, kita jumpai bahwa dalam pelaksanaan penebusan dalam satu pengertian ada pembagian tugas: Allah Bapa sebagai Pengasal-mula (Originator), Allah Putra sebagai Pelaksana (Executor) dan Roh Kudus sebagai Penerap (Applier). Hal ini hanya mungkin terjadi berdasarkan persetujuan sukarela diantara pribadi-pribadi dalam Tritunggal, sehingga hubungan internal mereka membentuk suatu perjanjian kehidupan. Pada kenyataannya ke-Tritunggal-an inilah yang menjadi archetype dari perjanjian-perjanjian historis, perjanjian dalam arti yang sebenarnya dan juga sepenuhnya, pihak- pihak yang setara saling mengadakan perjanjian, yaitu sebuah "suntheke".

  2. Ada ayat-ayat dalam Alkitab yang bukan saja menunjuk pada kenyataan bahwa rencana Allah bagi keselamatan orang berdosa adalah kekal, Ef. 1:4; 3:9,11; tetapi juga menunjukkan bahwa perjanjian itu adalah natur suatu perjanjian yang sebenarnya. Kristus mengatakan tentang janji-janji yang dibuat bagiNya sebelum kedatangan-Nya ke dalam dunia. Ia berulang kali menunjuk pada suatu amanat yang telah Ia terima dari Bapa, Yoh. 5:30,43; 6:38-40; 17:4-12. Dan dalam Rom. 5:12-21 dan 1 Kor. 15:22 Ia jelas dianggap sebagai Kepala Perwakilan, yaitu: Kepada Perjanjian itu.

  3. Dimana pun kita memiliki elemen-elemen esensial dari suatu perjanjian, yaitu pihak-pihak yang membuat perjanjian, suatu janji atau janji-janji, dan sebuah syarat, di sanalah kita melihat adanya perjanjian. Dalam Mazm 2:7-9 pihak-pihak yang berjanji disebutkan dan suatu janji dinyatakan. Sifat Mesianik dari pasal ini ditunjukkan oleh Kis. 13:33; Ibr. 1:5; 5:5. Kembali dalam Maz. 40:7-9 juga dikatakan sebagai Mesianik oleh Perjanjian Baru (Ibr. 10:5-7), Sang Mesias menyatakan kesiapanNya melakukan kehendak Bapa menjadi korban bagi dosa. Kristus berulang kali menyatakan tentang suatu tugas yang telah dipercayakan Bapa kepadaNya, Yoh. 6:38-39; 10:18; 17:4. Pernyataan dalam Luk. 22:29 sangatlah penting artinya: "Dan Aku menentukan hak-hak kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa- Ku menentukannya bagi-Ku." Kata kerja yang dipakai di sini adalah "diathetemi" yang dari kata ini kemudian timbul kata "diatheke", yang artinya menunjuk sebuah perjanjian oleh karena kehendak. Lebih jauh lagi dalam Yoh. 17:5 Kristus mengklaim adanya pahala, dan dalam Yoh. 17:6,9,24 (band. juga Fil. 2:9-11). Ia menunjuk pada umatNya dan kemuliaan masa berikutnya sebagai pahala yang diberikan bagi-Nya oleh Bapa.

  4. Ada dua ayat dalam Perjanjian Lama yang menghubungkan gagasan perjanjian ini langsung dengan Mesias, yaitu Maz. 89:3, yang didasarkan atas 2 Sam. 7:12-14, dan terbukti sebagai Mesianik oleh Ibr. 1:5 dan Yes. 42:6, dimana pribadi itu yang disebut sebagai Hamba Tuhan. Kaitan ini jelas menunjukkan bahwa Hamba ini bukanlah Israel semata-mata. Lebih dari itu, ada juga ayat-ayat dimana Mesias menyebut Allah sebagai Allah-Nya, jadi dalam hal ini memakai bahasa perjanjian, yaitu Maz. 22:1 dan Maz. 40:8.

C. Allah Putra dalam Perjanjian Penebusan

  1. Kedudukan resmi Kristus dalam perjanjian ini. Kedudukan Kristus dalam perjanjian penebusan ada dua. Di tempat pertama Ia adalah Jaminan (YUN: engguos), suatu kata yang hanya satu kali dipakai dalam Ibr. 7:22. Asal kata ini tidak jelas, dan karena itu tidak dapat membantu kita menentukan arti yang sejelasnya. Akan tetapi maknanya tidaklah membingungkan. Seorang Jaminan adalah seseorang yang terikat dan bertanggung jawab atas kewajiban hukum bagi orang lain. Dalam perjanjian penebusan Kristus mengambil alih menjadi penebusan bagi dosa-dosa umat-Nya dengan cara menanggung hukuman yang seharusnya mereka tanggung, dan memenuhi semua tuntutan hukum bagi mereka. Dan dengan mengambil alih kedudukan manusia yang telah membrontak. Ia menjadi Adam yang terakhir dan dengan demikian juga menjadi Kepala Perjanjian, Wakil dari semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Dalam perjanjian penebusan maka Kristus menjadi Jaminan dan sekaligus Kepala. Ia mengambil sendiri tanggung jawab umat-Nya. Ia adalah juga Jaminan mereka dalam perjanjian anugerah, yang berkembang dari perjanjian penebusan. Timbul pertanyaan, apakah keadaan Kristus sebagai jaminan dalam permufakatan damai itu bersyarat atau tidak? Tata peradilan hukum Romawi mengenal adanya dua macam keadaan sebagai jaminan, yang satu disebut sebagai "fidejussor" dan yang lain disebut "expromissor". "Fidejussor" adalah jaminan yang bersyarat dan "expromissor" adalah jaminan yang tak bersyarat. "Fidejussor" adalah seorang penjamin yang membayarkan bagi orang lain apabila orang itu sendiri tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut. Beban kesalahan tetap dipikul oleh orang yang bersalah sampai pada saat pembayaran. Akan tetapi "expromissor" adalah suatu jaminan yang memikul sendiri dengan tanpa syarat denda hukuman orang lain, sehingga dengan demikian ia segera memikul tanggung jawab orang lain yang bersalah itu. Coccejus dan pada pengikutnya mengatakan bahwa permufakatan perdamaian Kristus menjadi "fidefussor" dan akibatnya orang percaya Perjanjian Lama tidak dapat menikmati pengampunan dosa yang selengkapnya. Dari Roma 3:25 mereka menyimpulkan bahwa orang-orang Kudus itu hanyalah "paresis" pengamat dosa dan bukanlah "aphesis" atau pengampunan yang lengkap, sampai Kristus sungguh-sungguh melakukan penebusan dosa. Akan tetapi kemudian penentang mereka menegaskan bahwa Kristus menanggung sendiri tanpa syarat demi kepuasan umat-Nya dan oleh karena itu artinya menjadi sangat khusus, yaitu "expromissor". Inilah satu-satunya pendapat yang dapat diterima, sebab:

    1. Orang percaya Perjanjian Lama mendapatkan pembenaran atau pengampunan penuh, walaupun pengetahuan tentang hal itu belum sepenuh dan sejelas Perjanjian Baru. Tidak ada perbedaan esensial antara status orang percaya dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Maz. 32:1,2,5; 51:1-2, 9-11; 103:3,12; Yes. 43:25; Rom. 3:3,6-16; Gal. 3:6-9. Pendapat Coccejus ini mengingatkan kita pada pendapat Roma Katolik dengan istilah mereka Limbus Patrum.

    2. Teori Coccejus menjadikan karya Allah dalam menyediakan penebusan bagi orang berdosa tergantung pada ketaatan yang tidak pasti dari manusia dalam keadaan yang sama sekali tidak diperingatkan. Tidak ada makna sama sekali dengan mengatakan Kristus menjadi jaminan bersyarat, seolah-olah ada kemungkinan bahwa orang berdosa harus membayar bagi dirinya sendiri. Provisi Allah dalam penebusan orang berdosa sangat mutlak. Hal ini tidak sama dengan mengatakan bahwa Ia tidak memperlakukan dan menyebut orang berdosa dan bersalah secara personal sampai ia dibenarkan melalui iman, sebab sesungguhnya inilah yang dilakukan oleh Allah.

    3. Dalam Rom 3:25, ayat yang dipakai oleh Coccejus, Rasul Paulus memakai kata "paresis" (tidak memperhatikan atau melewatkan), bukan karena orang percaya secara individual dalam Perjanjian Lama tidak menerima pengampunan dosa secara penuh tetapi dalam masa itu pengampunan dosa memakai bentuk paresis sejauh dosa belum secara cukup dihukum dalam Kristus dan kebenaran mutlak Kristus belumlah dinyatakan di atas salib.

  2. Karakter Perjanjian ini bagi Kristus. Walaupun perjanjian penebusan adalah dasar kekal bagi perjanjian anugerah dan sejauh orang berdosa terkait, juga prototype kekalnya, bagi Kristus lebih berupa perjanjian kerja dan bukan perjanjian anugerah. Bagi-Nya hukum dari perjanjian yang asli diterapkan, bahwa hidup yang kekal hanya dapat diperoleh dengan cara memenuhi tuntutan hukum. Sebagai Adam yang terakhir, kristus memberikan hidup yang kekal bagi orang berdosa sebagai upah ketaatan mereka dan sama sekali bukan sebagai pemberian tanpa jasa. Dan apa yang telah Ia lakukan sebagai Wakil dan jaminan bagi seluruh umat-Nya, mereka tidak lagi terikat dalam tugas yang harus mereka lakukan. Pekerjaan itu telah dilakukan, pahala diberikan, dan orang percaya dijadikan rekan kerja bagi buah-buah karya Kristus melalui anugerah.

  3. Karya Kristus dalam perjanjian dibatasi oleh ketetapan pemilihan. Sebagian orang mengidentifikasikan perjanjian penebusan sebagai pemilihan; tetapi jelas ini merupakan suatu kesalahan. Pemilihan selalu menunjuk pada pemilihan atas orang-orang sebagai pewaris dari kemuliaan kekal dalam Kristus. Di pihak lain Permufakatan penebusan menunjuk kepada cara dan alat di mana anugerah dan kemuliaan dipersiapkan bagi orang berdosa. Sesungguhnya pemilihan juga mengacu kepada Kristus dan berkaitan erat dengan Kristus, sebab orang percaya dikatakan dipilih dalam Dia. Dalam suatu pengertian, Kristus sendiri adalah objek pemilihan, akan tetapi dalam permufakatan penebusan, Ia adalah salah satu pihak yang melakukan perjanjian. Allah Bapa berhubungan dengan Kristus sebagai Jaminan bagi umat-Nya. Secara logis pemilihan mendahului permufakatan penebusan, karena jaminan Kristus, sama halnya dengan penebusan-Nya bersifat khusus. Jika seandainya tidak ada pemilihan yang mendahului maka tidak perlu sifatnya harus universal. Lebih lanjut, jika kita membalikkannya, sama artinya dengan menjadikan jaminan Kristus sebagai dasar pemilihan, sedangkan Alkitab mendasarkan pemilihan hanya atas kebaikan kemurahan Allah.

D. Tuntutan dan Janji Perjanjian Penebusan

  1. Tuntutan. Bapa menghendaki Anak, yang muncul dalam perjanjian ini sebagai Penjamin dan Kelapa dari umat-Nya. Sebagai Adam terakhir, Ia harus memperbaiki dosa Adam dan dari mereka yang diberikan Bapa kepadaNya. Ia harus melakukan apa yang Adam gagal lakukan dengan memegang hukum Taurat dan dengan demikian menyelamatkan kehidupan kekal bagi seluruh keturunan rohaniNya. Tuntutan ini mencakup beberapa
    Hal khusus di bawah ini;

    1. Bahwa ia harus mengalami natur manusia dengan dilahirkan oleh seorang wanita, dan dengan demikian masuk ke dalam relasi temporal; dan bahwa ia harus mengambil natur ini dengan kelemahan- kelemahannya, sekalipun tanpa dosa, Gal. 4:4,5; Ibr. 2:10,11,14,15; 4:15. Hal ini mutlak penting bahwa Ia harus menjadi satu dengan umat manusia.

    2. Bahwa Ia, sebagai Anak Allah yang di atas hukum, harus meletakkan diri-Nya dibawah hukum; bahwa Ia harus masuk, bukan sekedar ke dalam hukum alamiah, tetapi juga dalam hukum yang menyengsarakan dan mengikat, demi untuk membayar hukuman dosa dan menganugerahkan kehidupan yang kekal bagi umat pilihan, Maz. 40:7; Mat. 5:17-18; Yoh. 8:28,29; Gal. 4:4,5; Fil. 2:6-8.

    3. Bahwa Ia, setelah menganugerahkan pengampunan dosa dan kehidupan kekal kepada umat kepunyaan-Nya, harus menggenapkan kepada mereka buah-buah dari kebajikan-Nya; pengampunan yang penuh, dan pembaharuan kehidupan mereka melalui pekerjaan Roh Kudus. Dengan melakukan demikian, Ia akan memastikan bahwa orang percaya akan mengkuduskan hidup mereka bagi Allah, oh 16:14,15; 17:12, 19-22; Ibr. 2:10-13; 7:25.

  2. Janji-janji. Janji-janji Bapa adalah terkait dengan pelaksanaan tuntutan- tuntutanNya. Ia menjanjikan kepada Anak semua yang diperlukan untuk menjalankan tugas-Nya yang begitu besar dan menyeluruh, berarti tidak termasuk semua ketidak-pastian di dalam pelaksanaan perjanjian tersebut. Janji-janji termasuk:

    1. Bahwa Ia akan mempersiapkan sebuah tubuh bagi Anak, yang dapat menjadi rumah yang cocok bagiNya; suatu tubuh sebagai bagian yang dipersiapkan oleh agen langsung dari Allah dan yang tidak terkontaminasi oleh dosa, Luk. 1:35; Ibr. 10:5.

    2. Bahwa Ia akan memperlengkapi-Nya dengan karunia-karunia dan anugerah seperlunya bagi pelaksanaan tugasNya, dan khususnya mengurapiNya untuk tugas MesianikNya dengan memberikan kepadanya pada saat baptisanNya, Yes. 42:1-2; 61:1; Yoh. 3:31.

    3. Bahwa Ia akan mendukungNya di dalam pelaksanaan pekerjaanNya akan melepaskanNya dari kuasa kematian, dan dengan demikian akan memampukanNya untuk menghancurkan penguasaan Setan dan untuk menegakkan Kerajaan Allah, Yes. 42:1-7; 49:8; Maz. 16:8-11; Kis. 2:25-28.

    4. Bahwa Ia akan memampukanNya sebagai upah penyelesaian pekerjaanNya, mengirimkan Roh Kudus untuk pembentukkan tubuh rohaniNya, dan untuk mengajar, membimbing, dan menjaga Gereja, Yoh. 14:26; 15:26; 16:13, 14; Kis. 2:33.

    5. Bahwa Ia akan memberikan kepadaNya sejumlah benih sebagai upah penuntasan pekerjaanNya, satu benih yang sedemikian banyak yang dapat diperkembangbiakkan dimana tidak seorang manusiapun dapat menghitungnya, sedemikian bahwa Kerajaan Mesias secara penuh akan melingkupi orang-orang dari segala bangsa dan bahasa, Maz. 22:27; 72:17.

    6. Bahwa Ia akan menyerahkan kepadaNya semua kuasa di sorga dan dibumi untuk pemerintahanNya atas dunia ini dan gerejaNya. Mat. 28:18; Ef. 1:20-22; Fil. 2:9-11; Ibr. 2:5-9; dan pada akhirnya Ia akan mengaruniakan kepadaNya sebagai Perantara kemuliaan yang telah Ia, sebagai Anak, miliki dihadapan Bapa sejak sebelum dunia dijadikan, Yoh. 17:5.

DIK-Referensi 06b

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Manusia Kedua Dari Tuhan
Kode Pelajaran : DIK-R06b

Referensi DIK-R06b diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika
Penulis : Hendry C. Theissen
Penerbit : Gandum Mas
Tahun : 1979
Halaman : 333 - 341

Garis Besar:

  1. Kemanusiaan Kristus
    1. Yesus lahir seperti manusia lainnya
    2. Yesus tumbuh dan berkembang seperti manusia normal
    3. Ia memiliki unsur-unsur hakiki sifat manusia
    4. Ia mempunyai nama-nama manusia
    5. Ia memiliki berbagai kelemahan yang tak berdosa dari sifat manusiawi
    6. Berkali-kali ia disebut sebagai manusia
  2. Keilahian Kristus
  3. Kedua sifat Kristus
    1. Bukti perpaduan kedua sifat itu
    2. Sifat perpaduan kedua sifat itu

REFERENSI PELAJARAN 06b - MANUSIA KEDUA DARI TUHAN

I. Kemanusiaan Kristus

Kemanusiaan Kristus jarang dipersoalkan. Memang ada ajaran sesat, misalnya, Gnostisisme yang menyangkal realitas tubuh Kristus, dan ajaran Eutikhes yang menjadikan tubuh Kristus itu tubuh ilahi. Akan tetapi, bagian terbesar dari gereja mula-mula menerima ajaran bahwa Kristus adalah manusia dan Allah. Penyimpangan dari doktrin Alkitab lebih banyak terjadi karena menolak sifat ilahi Kristus dan bukan menolak sifat manusia-Nya. Karena Kristus harus menjadi manusia sesungguhnya jika Ia hendak menebus manusia dari dosa, maka soal kemanusiaan Kristus bukan hanya merupakan soal yang akademis, tetapi soal yang sangat praktis. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Yesus adalah manusia sesungguhnya?

  1. Yesus lahir seperti manusia lainnya

    Yesus lahir dari seorang wanita (Gal. 4:4). Kenyataan ini dikuatkan oleh kisah-kisah kelahiranNya dari seorang dara (Mat.1:18-2:11; Luk. 1:30-38; 2:1-20). Karena hal ini, Yesus disebut "anak Daud, anak Abraham" (Mat. 1:1) dan dikatakan bahwa Ia "menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud" (Rom. 1:3). Karena alasan yang sama, Lukas menurut asal usul Yesus sampai kepada Adam (Luk. 3:23-38). Peristiwa ini merupakan penggenapan janji kepada Hawa (Kej. 3:15) dan kepada Ahas (Yes. 7:14). Pada beberapa kesempatan Yesus disebutkan sebagai anak Yusuf, namun kita akan melihat bahwa setiap kali hal ini terjadi, orang yang melakukannya itu bukanlah sahabat Yesus atau mereka kurang mengenal Dia (Luk. 4:22; Yoh. 1:45; 6:42; bandingkan dengan Mat. 13:55). Bila ada bahaya bahwa pembaca kitab Injil akan menganggap penulis Injil tsb. bermaksud untuk menyatakan bahwa Yesus betul-betul anak Yusuf, maka penulis menambahkan sedikit penjelasan untuk menunjukkan bahwa anggapan semacam itu tidak benar. Oleh karena itu dalam Lukas 23:23 kita membaca bahwa Yesus adalah anak Yusuf "menurut anggapan orang" dan di dalam Rom. 9:5 dinyatakan bahwa Kristus berasal dari Israel dalam "keadaanNya sebagai manusia".

    Dalam kaitan ini telah diajukan satu pertanyaan penting: Bila Kristus itu lahir dari seorang perawan, apakah Ia juga mewarisi sifat yang berdosa dari ibuNya? Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak berhubungan dengan dosa. Alkitab menandaskan bahwa Yesus "tidak mengenal dosa" (II Kor. 5:21); dan bahwa Ia adalah "yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa" (Ibr. 7:26); dan bahwa "di dalam Dia tidak ada dosa" (I Yoh. 3:5). Pada saat memberitahukan bahwa Maria akan melahirkan Anak Allah, Gabriel menyebutkan Yesus sebagai "kudus" (Luk. 1:35). Iblis tidak berkuasa apa-apa atas diri Yesus (Yoh. 14:30); ia tak ada hak apapun atas Anak Allah yang tidak berdosa itu. "Dosalah yang membuat Iblis berkuasa atas manusia, tetapi di dalam Yesus tidak ada dosa." Melalui naungan ajaib Roh Kudus, Yesus lahir sebagai manusia yang tidak berdosa.

  2. Yesus tumbuh dan berkembang seperti manusia normal

    Yesus berkembang secara normal sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu dikatakan dalam Alkitab bahwa Ia "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya (Luk. 2:40), dan bahwa Ia "makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52). Perkembangan fisik dan mental Kristus ini tidak disebabkan karena sifat ilahi yang dimilikiNya, tetapi diakibatkan oleh hukum-hukum pertumbuhan manusia yang normal. Bagaimanapun juga, kenyataan bahwa Kristus tidak mempunyai tabiat duniawi dan sudah pasti turut mempengaruhi perkembangan mental dan fisikNya. Perkembangan mental Yesus bukanlah semata-mata hasil pelajaran di sekolah-sekolah pada zaman itu (Yoh. 7:15), tetapi harus dianggap sebagai hasil pendidikanNya dalam keluarga yang saleh, kebiasaan-Nya untuk selalu hadir dalam rumah ibadah (Luk. 4:16), kunjunganNya ke Bait Allah (Luk. 2:41, 46), penelaahan Alkitab yang dilakukan-Nya (Luk. 4:17), dan juga karena Ia menggunakan ayat-ayat Alkitab ketika menghadapi pencobaan, dan karena persekutuanNya dengan Allah Bapa (Markus 1:35; Yoh. 4:32-34).

  3. Ia memiliki unsur-unsur hakiki sifat manusia

    Bahwa Kristus memiliki tubuh jasmaniah jelas dari ayat-ayat yang berbunyi, "mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku" (Mat. 26:12; "yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah adalah tubuhNya sendiri" (Yoh. 2:21); "Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapatkan bagian dalam keadaan mereka (darah dan daging)" (Ibr. 2:14); "tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu" (Ibr. 10:5); "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibr. 10:10). Bahkan setelah Ia dibangkitkan Ia mengatakan, "Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu" (Luk. 24:39).

    Bukan saja Kristus memiliki tubuh manusiawi yang fisik, Ia juga memiliki unsur-unsur sifat manusiawi lainnya, seperti kecerdasan dan sifat sukarela. Ia mampu berpikir dengan logis. Alkitab berbicara tentang Dia sebagai memiliki jiwa dan/atau roh (Matius 26:38; bandingkan dengan Markus 8:12; Yoh. 12:27; 13:21; Mark. 2:8; Luk. 23:46; dalam Alkitab bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai hati dan nyawa). Ketika mengatakan bahwa Ia mengambil sifat seperti kita, kita selalu harus membedakan antara sifat manusiawi dan sifat yang berdosa; Yesus memiliki sifat manusiawi, tetapi Ia tidak memiliki sifat yang berdosa.

  4. Ia mempunyai nama-nama manusia

    Ia memiliki banyak nama manusia. Nama "Yesus", yang berarti "Juruselamat" (Mat. 1:21), adalah kata Yunani untuk nama "Yosua" di Perjanjian Lama (bandingkan Kis. 7:45; Ibr. 4:8). Ia disebut "anak Abraham" (Mat. 1:1) dan "anak Daud". Nama "anak Daud" sering kali muncul dalam Injil Matius (1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30,31; 21:9,15). Nama "Anak Manusia" terdapat lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Nama ini berkali-kali dipakai untuk Nabi Yehezkiel (2:1; 3:1; 4:1, dan seterusnya), dan sekali untuk Daniel (8:17). Nama ini dipakai ketika bernubuat tentang Kristus dalam Daniel 7:13 (bandingkan Mat. 16:28). Nama ini dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai mengacu kepada Mesias. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa imam besar merobek jubahnya ketika Kristus menerapkan nubuat Daniel ini kepada diriNya sendiri (Luk. 26:64,65). Orang-orang Yahudi memahami bahwa istilah ini menunjuk kepada Mesias (Yoh. 12:34), dan menyebut Kristus itu Anak manusia adalah sama dengan menyebut Dia Anak Allah (Luk. 22:69,70). Ungkapan ini bukan saja menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia, tetapi bahwa Ia juga adalah wakil seluruh umat manusia (bandingkan Ibr. 2:6-9).

  5. Ia memiliki berbagai kelemahan yang tak berdosa dari sifat manusiawi.

    Oleh karena itu, Yesus pernah lelah (Yoh. 4:6), lapar (Mat. 4:2; 21:18), haus (Yoh. 19:28); Ia pernah tidur (Mat. 8:24; bandingkan Maz. 121:4); Ia dicobai (Ibr. 2:18; 4:15; bandingkan Yakobus 1:113); Ia mengharapkan kekuatan dari BapaNya yang di sorga (Mar. 1:35; Yoh. 6:15; Ibr. 5:7); Ia mengadakan mukjizat (Mat. 12:28), mengajar (Kis. 1:2), dan mempersembahkan diriNya kepada Allah oleh Roh Kudus (Kis. 10:38; Ibr. 9:14). "Orang-orang Kristen memiliki seorang imam besar di sorga dengan kemampuan yang tiada terhingga untuk merasa belas kasihan terhadap mereka dalam semua bahaya, dukacita, dan pencobaan yang mereka alami dalam kehidupan, karena Ia sendiri mengalami semuanya itu, karena Ia menjadi sama dengan manusia" Kembali harus ditekankan bahwa menyebutkan kelemahan-kelemahan dalam sifat Kristus tidaklah berarti kelemahan-kelemahan yang berdosa.

  6. Berkali-kali disebut sebagai manusia

    Yesus menganggap diriNya sendiri manusia (Yoh. 8:40). Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:30), Petrus (Kis. 2:22), dan Paulus (I Kor. 15:21; Fil 2:8; bandingkan Kis. 13:38) menyebutNya manusia. Kristus benar- benar diakui sebagai manusia (Yoh. 7:27; 9:29; 10:33), sehingga Ia dikenal sebagai orang Yahudi (Yoh. 4:9); Ia dikira lebih tua dari usia sebenarnya (Yoh. 8:57; dan Ia dituduh telah menghujat Allah karena berani menyatakan bahwa diriNya lebih tinggi daripada manusia (Yoh. 10:33). Bahkan setelah bangkit, Kristus nampak sebagai manusia (Yoh. 20:15; 21:4,5). Lagi pula, sekarang ini Ia berada di sorga sebagai manusia (I Tim 2:5), akan datang kembali (Mat. 16:27,28; 25:31; 26:64- 65), serta menghakimi dunia ini dengan adil sebagai manusia (Kis. 17:31).

II. Keilahian Kristus

Ayat-ayat Alkitab dan alasan-alasan yang telah kami kemukakan ketika membicarakan perihal Trinitas untuk membuktikan kesamaan antara Kristus dengan Bapa, juga membuktikan kenyataan sifat keilahian yang dimiliki Kristus setelah Ia menjelma menjadi manusia.

Kristus memiliki sifat-sifat khas Allah; berbagai jabatan dan hak istimewa ilahi dimiliki-Nya; hal-hal yang dikatakan dalam Perjanjian Lama tentang Yehova telah dikatakan dalam Perjanjian Baru mengenai Kristus; nama-nama ilahi diberikan kepadaNya; Kristus memelihara hubungan-hubungan tertentu dengan Allah yang membuktikan keilahianNya; Ia disembah sebagai Allah dan Ia tidak menolak pemujaan itu selama Ia hidup di muka bumi ini; Kristus menyadari bahwa Ia adalah Allah yang telah menjelma. Semuanya ini merupakan rangkuman dari apa yang telah kita bahas dan pelajari sebelumnya ketika membicarakan Tritunggal.

III. Kedua Sifat Kristus

Pokok ini merupakan rahasia yang sangat dalam. Bagaimana mungkin dua sifat di dalam satu orang? sekalipun sulit untuk memahami konsep ini. Alkitab mengajarkan agar kita merenungkan rahasia Allah ini, yaitu Kristus (Kol. 2:2,3). Yesus sendiri menyatakan bahwa pengenalan yang benar akan Dia hanya akan diperoleh melalui penyataan ilahi (Mat. 11:27). Mempelajari pribadi Kristus sangatlah sulit karena kepribadianNya sangat unik; tidak ada oknum lain yang sama dengan Dia sehingga kita tidak dapat berargumentasi dari hal-hal yang sudah kita ketahui kepada hal-hal yang belum kita ketahui.

  1. Bukti Perpaduan Kedua Sifat Itu

    Pertama-tama, kita harus menjelaskan beberapa salah paham. Perpaduan sifat ilahi dengan sifat manusiawi di dalam Kristus itu tidak dapat dibandingkan dengan hubungan pernikahan, karena kedua belah pihak dalam pernikahan tetap merupakan dua pribadi yang berbeda walaupun sudah menikah. Demikian pula perpaduan kedua sifat itu tidak sama seperti perhubungan orang-orang percaya dengan Kristus. Juga tidaklah tepat untuk beranggapan bahwa sifat ilahi itu tinggal di dalam Kristus sebagaimana Kristus tinggal di dalam orang percaya, karena itu berarti bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang didiami oleh Allah dan Ia sendiri bukan Allah. Gagasan yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai kepribadian rangkap tidaklah alkitabiah. Tidak disebutkan dalam Alkitab bahwa Logos mengambil tempat pikiran dan roh manusiawi di dalam kristus, karena dalam hal demikian Kristus bersatu dengan kemanusiaan yang tidak sempurna. Demikian pula kedua sifat itu tidak bersatu untuk membentuk sifat yang ketiga, sebab dalam hal itu Kristus bukanlah manusia sejati. Juga tidak dapat dikatakan bahwa Kristus secara berangsur-angsur menerima sifat ilahi, karena dalam hal demikian keilahianNya bukanlah suatu kenyataan hakiki sebab harus diterima secara sadar oleh kemanusiaan Kristus. Gereja pada umumnya dengan tegas menyalahkan pandangan-pandangan ini sebagai tindak alkitabiah dan karena itu tidak bisa diterima.

    Bila pengertian-pengertian di atas itu salah semua, bagaimanakah kita dapat menerangkan perpaduan kedua sifat tersebut di dalam Kristus sehingga menghasilkan satu pribadi, namun dengan dua kesadaran dan dua kehendak? Sekalipun ciri khas dari sifat yang satu tidak dapat dikatakan merupakan ciri khas dari sifat lainnya, namun kedua sifat itu berada dalam satu Oknum, yaitu Kristus. Tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa Kristus adalah Yang Ilahi yang memiliki sifat manusiawi, atau bahwa Ia adalah manusia yang didiami oleh Yang Ilahi. Dalam hal yang pertama, maka sifat manusiawi tidak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya, dan dalam hal yang kedua sifat ilahi itulah yang tak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya. Oknum kedua dari Tritunggal Allah menerima keadaan manusia dengan semua ciri khasnya. Dengan demikian kepribadian kristus berdiam di dalam sifat ilahiNya, karena Allah Anak tidak bersatu dengan seorang manusia tetapi dengan sifat manusia. Terpisah dari penjelmaan sifat manusiawi Kristus tak bersifat pribadi; akan tetapi hal ini tidak benar tentang sifat ilahiNya. Begitu sempurnanya penyatuan menjadi satu pribadi ini sehingga, sebagaimana dikatakan oleh Walvoord, "Kristus pada saat yang sama memiliki sifat-sifat yang nampaknya bertolak belakang. Ia bisa lemah dan mahakuasa, bertambah dalam pengetahuan namun mahatahu, terbatas dan tidak terbatas," dan kita dapat menambahkan, Ia bisa berada di satu tempat namun Ia mahahadir.

    Yesus berbicara tentang diriNya sebagai satu pribadi yang utuh dan tunggal; Ia samasekali tidak menunjukkan adanya gejala keterbelahan pribadi. Selanjutnya, orang-orang yang berhubungan dengan Dia menganggap Dia sebagai seorang dengan kepribadian yang tunggal dan tidak terbelah. Bagaimana dengan kesadaran diriNya? Jelaslah bahwa dalam kesadaran diri yang ilahi Yesus senantiasa sadar akan keilahianNya. Kesadaran diri yang ilahi itu senantiasa beroperasi penuh, bahkan pada masa kanak-kanak. "Namun ada bukti bahwa dengan berkembangnya sifat manusiawi maka kesadaran diri yang manusiawi itu mulai aktif." Kadang-kadang Ia akan bertindak dari kesadaran diri yang manusiawi, dan pada saat-saat lain Ia bertindak dari kesadaran diri yang ilahi, namun keduanya itu tidak pernah bertentangan.

    Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kehendakNya. Pastilah, kehendak manusiawi ingin menjauhkan diri dari hal dijadikan dosa (II Kor. 5:21). Dalam kehidupanNya, Yesus berkehendak untuk melakukan kehendak BapaNya yang di sorga (Ibr. 10:7,9). Hal ini dilaksanakanNya sepenuhnya.

  2. Sifat Perpaduan Kedua Sifat itu

    Maka jika kedua sifat Kristus itu terbaur secara sempurna di dalam satu pribadi, lalu bagaimanakah sifat pembauran itu? Sebagian besar jawaban untuk pertanyaan ini telah disinggung dalam uraian sebelumnya. Tidak mungkin kami memberikan analisis kejiwaan yang tepat tentang kepribadian unik Kristus sekalipun Alkitab memberikan sedikit petunjuk.

DIK-Referensi 06c

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Manusia Kedua Dari Tuhan
Kode Pelajaran : DIK-R06c

Referensi DIK-R06c diambil dari:

Judul : Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus
Pengarang : Richard L. Pratt Jr.
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara
Tahun : 1994, 1995
Halaman : 53-55

Garis Besar:

Pelajaran 5 - Karakter Manusia Setelah Ditebus oleh Kristus

  1. Kebalikan dari Kejatuhan

REFERENSI PELAJARAN 06c - MANUSIA KEDUA DARI TUHAN

Karakter Manusia Setelah Ditebus oleh Kristus

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang
(2Kor. 5:17).

Kalau bukan karena anugerah Allah, setiap orang akan terhilang dalam dosa dan berada di bawah penghakiman Allah. Namun Allah dengan kemurahan-Nya yang besar telah mengutus anak-Nya yang Ilahi, Yesus Kristus, untuk membayar hutang dosa dengan mati di atas kayu salib dan untuk memulai suatu periode yang baru dalam kehidupan dengan kebangkitan-Nya. Semua orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan dari kutuk murka Allah dan masuk ke dalam berkat Allah. Pengamatan kita akan manusia tidaklah lengkap apabila kita belum mempertimbangkan karakter manusia yang telah ditebus oleh Allah dalam Kristus.

  1. Kebalikan dari Kejatuhan

    Kita dapat melihat bahwa aplikasi dari keselamatan dalam kehidupan seseorang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi sebagai akibat dari kejatuhan. Inti dari kejatuhan Hawa adalah kehendak untuk mandiri dan terlepas daripada Allah dengan cara menolak secara sukarela untuk menundukkan diri kepada Firman Tuhan. Hawa menolak fakta perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan dengan berpikir bahwa ia dapat mengetahui kebenaran melalui pemikiran barunya sendiri terpisah dari Allah. Hal sebaliknya terjadi pada kehidupan dari seseorang yang percaya kepada Kristus. Dengan jelas Paulus menyatakannya sebagai berikut:

    Oleh karena dunia oleh hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (1Kor. 1:21)

    Penggunaan akan hikmat manusia sebagai standar dari kebenaran, seperti apa yang dilakukan oleh Hawa, hanya akan membawa kita jauh dari Allah dan membawa kita kepada ketidakbenaran. Sebaliknya salib sebagai jalan keselamatan yang mengakibatkan kita berpaling dari kemandirian dan pikiran berdosa supaya kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Allah. Hawa berpikir bahwa dirinya sebagai manusia yang dapat berdiri sendiri dan melihat dirinya sebagai hakim yang tertinggi. Namun pada saat kita percaya dengan kesungguhan kepada Kristus, kita menyadari ketergantungan kita kepada Firman Tuhan sebagai hikmat yang tidak ada bandingnya dan sebagai kebenaran. Penerimaan Firman Tuhan ini merupakan permulaan dari penebusan dalam Kristus.

    Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm. 10:17).

    Kebalikan dari kejatuhan tidak berhenti pada tanda pertobatan, melainkan meliputi keseluruhan dari proses penebusan. Seseorang yang percaya akan berita dari Injil bersama dengan Paulus meyakini bahwa:

    Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong (Rm. 3:4).

    Berbeda dengan manusia berdosa yang cenderung untuk meninggalkan pengetahuan yang benar dan menyatakan hal yang salah (sebagai akibat dari kemandirian yang terlepas daripada Allah), maka orang-orang percaya memegang kepercayaan bahwa Firman Allah selalu dapat dipercaya oleh karena Allah selalu benar: Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya:

    Aku Tuhan, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus (Yes. 45:19).

    Firman Allah dapat dipercaya dan orang yang percaya kepada Kristus mengakui kepercayaannya secara total kepada Firman Tuhan. Lepas daripada apa yang terlihat, lepas daripada nasihat-nasihat orang lain, dan lepas daripada pencobaan dari Iblis, orang percaya menegaskan bahwa:

    Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita (1 Sam. 2:2).

    Sikap terhadap Firman Tuhan yang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan dibuat lebih jelas dengan perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus:

    Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu Ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kami disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya (2Kor, 11:2-3).

    Pada ayat-ayat ini Paulus memperingatkan orang-orang di Korintus untuk tidak berpaling dari khotbahnya mengenai Firman Tuhan, mereka harus setia hanya kepada Kristus semata-mata. Paulus memperingatkan mereka dengan cara ini oleh karena ia takut atau kuatir mereka akan jatuh pada tipu-muslihat yang sama yang telah digunakan oleh si ular pada waktu mencobai Hawa. Paulus takut mereka akan berpaling dari "kesederhanaan dan ketulusan penyembahan kepada Kristus" (2Kor. 11:3).

    Sebelum jatuh dalam dosa, Hawa hanya mendengarkan kepada Firman Allah dengan penyembahan yang hanya tertuju pada Allah. Pada waktu kejatuhan dia telah berpaling dari Firman Allah. Sebagai orang Kristen, kita secara terus menerus menerima Firman Kristus dengan penyembahan yang tanpa berprasangka. Kita harus melakukan kebalikan dari apa yang Hawa lakukan pada waktu ia berdosa. Ditebus oleh Kristus berarti mengalami kebalikan dari apa yang telah terjadi pada waktu kejatuhan (lihat ilustrasi 13).

DIK-Referensi 07a

Pelajaran 07 | Pertanyaan 07 | Referensi 07b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kelahiran Baru
Kode Pelajaran : DIK-R07a

Referensi DIK-R07a diambil dari:

Judul : Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus
Pengarang : Richard L. Pratt Jr.
Penerbit : SAAT
Tahun : 1994, 1995
Halaman : 53-55

REFERENSI PELAJARAN 07a - KELAHIRAN BARU

B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru

Pada saat kita memikirkan mengenai keselamatan dalam Kristus, biasanya kita hanya memikirkan tentang akibat dari percaya kepada Dia bagi kehidupan kekal kita. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya, saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal pengetahuan dan moralitas.

Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki kerajaan Allah dengan mengatakan sebagai berikut:

Kamu harus dilahirkan kembali (Yoh. 3:7).

Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang tidak percaya. Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam demikian pula ia telah jatuh dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan, kelahiran baru harus terjadi. Paulus menyatakannya sebagai berikut:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17).

Pada saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya dilahirkan baru secara pribadi: namun kita memasuki suatu ruang lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu, seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang berawal dari kelahiran baru.

Paulus menggunakan istilah "ciptaan yang baru" dalam pengertian suatu perintah oleh karena hal ini menunjuk kepada hubungan penebusan dengan asal mula keadaan ciptaan sebelum kejatuhan. Pada saat dunia dan manusia mulai diciptakan mereka belum dicemari oleh dosa. Namun sebagai akibat dari manusia yang memilih untuk berdiri sendiri terlepas daripada Allah, maka seluruh ciptaan telah jatuh ke dalam dosa. Pekerjaan penebusan dari Kristus dapat dikatakan merupakan pembaharuan manusia dan dunia untuk dapat kembali kepada posisi mereka yang semula pada waktu pertama diciptakan.

yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:24).

dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol. 3:10).

Orang-orang percaya dalam Kristus diperbaharui menurut sifat mereka yang semula sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Mereka diberikan kebenaran, kesucian dan pengetahuan yang benar, di mana semua itu telah hilang pada waktu kejatuhan. Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pembaharuan melalui kelahiran baru tidak hanya meliputi sebagian dari manusia. Melainkan meliputi seluruh karakternya, bahkan proses berpikirnya.

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan dan menaklukkannya kepada Kristus (2Kor. 10:5).

Orang-orang Kristen pada kenyataannya diperbaharui sampai pada tahap tertentu dalam setiap aspek pribadi mereka kepada keberadaan asal mula sebelum kejatuhan. Kita tidak diselamatkan untuk sekedar berada dalam keadaan yang manis dan menyenangkan. Namun kita diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada asal mula keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui kelahiran baru.

Sebagai gambar Allah yang telah direstorasi, manusia yang telah ditebus merindukan untuk melakukan apa yang adil pada wahyu Allah dalam semua ciptaan dan Firman Tuhan. Dia menyadari bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui bahwa hujan merupakan kondensasi dari air yang menguap. Maka dia akan bertanya apakah hujan itu dan bagaimana ia menyatakan karakter dan kehendak Allah. Apabila tidak ada dosa, hal ini tidak akan menjadi masalah. Manusia cukup hanya mengamati dunia dan mengenal Allah melaluinya. Namun oleh karena dosa "maka diperlukan penolong yang lebih baik ditambahkan untuk memimpin kita pada Penciptaan alam semesta ini secara langsung."

Penolong yang lebih baik adalah Firman Tuhan. Orang Kristen berkewajiban mendedikasikan diri untuk menyelidiki Firman Tuhan oleh karena kebenaran di dalamnya akan memimpin kita kepada pengetahuan akan keselamatan. Dan kebenaran-kebenaran itu juga akan memimpin kita kepada pengetahuan akan ciptaan menurut apa yang diwahyukan oleh Allah dan kehendak-Nya atas manusia. Ini tidak berarti bahwa Alkitab menjadi suatu buku pedoman dari ilmu pengetahuan alam. Dengan kata lain sepertinya orang Kristen tidak perlu lagi melihat pada dunia dan cukup hanya dengan membaca Alkitab untuk menemukan kebenaran ilmiah.

Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar secara umum di mana semua penyelidikan akan dunia ini harus berdasarkan atasnya. Misalnya pengetahuan yang sejati mengenai hujan menyatakan kepada kita akan kemurahan Allah dan bagaimana Allah mengharapkan kita untuk memperlakukan musuh kita dengan kebaikan (Mat. 5:45 dan seterusnya). Tentu saja penyelidikan secara ilmiah pada sifat dari hujan akan secara intensif menjelaskan pengertian orang Kristen akan hal-hal ini namun pengetahuan yang benar dari hujan ditemukan berdasarkan penyelidikan yang didasarkan pada Firman Tuhan dan dipimpin oleh Firman Tuhan.

Sebagai ciptaan yang telah diperbaharui, orang Kristen merindukan untuk mempertahankan fakta perbedaan Penciptaan dengan ciptaan dalam Hal pengetahuan dan moralitas. Sehingga orang Kristen dapat memberikan perlakuan yang tepat pada wahyu Allah.

DIK-Referensi 07b

Pelajaran 07 | Pertanyaan 07 | Referensi 07a

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kelahiran Baru
Kode Pelajaran : DIK-R07b

Referensi DIK-R07b diambil dari:

Judul Buku : Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Pengarang : R.C. Sproul
Penerbit : SAAT
Tahun : 1997
Halaman : 227-229

REFERENSI PELAJARAN 07b - KELAHIRAN BARU

KELAHIRAN BARU

Pada waktu Jimmy Carter dipilih menjadi presiden Amerika Serikat, diamenyat

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kelahiran Baru
Kode Pelajaran : DIK-R07b

Referensi DIK-R07b diambil dari:

Judul Buku : Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Pengarang : R.C. Sproul
Penerbit : SAAT
Tahun : 1997
Halaman : 227-229

REFERENSI PELAJARAN 07b - KELAHIRAN BARU

KELAHIRAN BARU

Pada waktu Jimmy Carter dipilih menjadi presiden Amerika Serikat, dia menyatakan bahwa dirinya adalah "orang Kristen yang telah lahir baru." Kemudian Charles Colson, orang penting di dalam pemerintahan Nixon di Gedung Putih, menulis buku yang laku keras, dengan judul "Born Again." Di dalamnya, dia menjelaskan secara kronologis pengalaman pertobatannya menjadi orang Kristen. Oleh karena kedua orang terkemuka ini telah mempopulerkan istilah dilahirkan baru, maka istilah itu telah menjadi bagian dari pembicaraan orang-orang modern.

Untuk menjelaskan bahwa seseorang adalah orang Kristen yang telah lahir kembali, secara teknis ini merupakan bentuk pengulangan. Sebab tidak ada orang Kristen yang tidak dilahirkan kembali. Orang Kristen yang belum lahir baru merupakan istilah yang kontradiksi. Demikian pula, istilah orang non Kristen yang dilahirkan baru merupakan suatu kontradiksi.

Tuhan Yesus yang pertama kali menyatakan bahwa kelahiran baru secara rohani merupakan suatu yang mutlak dibutuhkan untuk memasuki kerajaan Allah. Dia menyatakan kepada Nikodemus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika (dalam terjemahan New King James Version "unlesss" = "kecuali") seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah." [Yohanes 3:3] Kata "kecuali" di dalam pengajaran Tuhan Yesus menandai universalitas kondisi yang dibutuhkan untuk melihat dan memasuki kerajaan Allah. Kelahiran baru, merupakan bagian yang penting di dalam kekristenan; tanpa hal itu, tidak mungkin seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Regenerasi merupakan istilah teologis yang digunakan untuk menjelaskan kelahiran baru. Hal itu menunjuk pada suatu permulaan yang baru. Hal ini lebih dari hanya sekedar "daun yang bersemi kembali setelah musim gugur dan musim dingin." Hal ini menandai suatu kehidupan yang baru di dalam diri seseorang yang secara radikal telah diperbaharui. Petrus