KURSUS ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB [TP-01-OKB]
|
Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Doa dan Membaca Alkitab |
| Kode Pelajaran | : | OKB-P01 |
DAFTAR ISI
BERTANGGUNG JAWAB DALAM HAL DOA
Bacaan Alkitab
BERTANGGUNG JAWAB DALAM HAL MEMBACA ALKITAB
Bacaan Alkitab
DOA
Bacaan Alkitab: Lukas 11:1-13
Mengapa kita harus berdoa? atau mengapa kita harus meminta Tuhan supaya mengajarkan doa kepada kita? Marilah kita mempelajari beberapa alasannya.
Firman Tuhan mengatakan, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" Yesaya 55:6. Tuhan Yesus juga mengatakan suatu perumpamaan supaya murid-muridNya tidak jemu- jemu berdoa. Lukas 18:1. 1 Tesalonika 5:17 berkata, "Tetaplah berdoa." Kemudian bacalah Lukas 21:36 dan Filipi 4:6. Setelah Anda membaca petunjuk-petunjuk ini dari Tuhan, bacalah Yohanes 14:15. Jadi, mengapa kita harus berdoa karena Firman Allah yang memerintahkan untuk berdoa.
Yesus telah mengajarkan kepada para murid-Nya agar mereka berbicara kepada Bapa di surga saat mereka berdoa. Berdoa ialah berbicara dengan Bapa yang di surga. Ini merupakan persekutuan dengan Allah. "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu" Yakobus 4:8a. Bukankah itu janji yang sangat indah? Tuhan sangat tersanjung dan senang saat melihat Anda berbicara dengan Dia dalam doa. Inilah Alasan utama mengapa kita harus berdoa karena Allah menginginkan kita untuk berdoa.
Yesus berkata bahwa Anda dapat meminta kepada Bapa Surgawi segala sesuatu yang Anda butuhkan, termasuk pada saat di mana Anda dicobai oleh Iblis dan jatuh ke dalam dosa. Anda harus berdoa dan meminta Tuhan agar melepaskan kita dari pencobaan tersebut. Jika Anda berdosa, Anda hanya bisa diampuni jika Anda mau mengakui dosa Anda kepada Tuhan lewat doa. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." 1 Yohanes 1:9. Sudahkah Anda melihat bahwa sangat penting bagi Anda untuk berdoa? Anda tidak dapat bertumbuh sebagai seorang Kristen tanpa berdoa.
Pada suatu saat Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk "tinggal tetap di dalam Dia" Yohanes 15:5-7. Sebuah cabang hanya dapat tetap hidup dan berbuah jika ia tetap bersatu pada batangnya. Demikian pula dengan orang Kristen, kita telah disatukan dengan Kristus. Inilah yang dimaksud dengan tinggal di dalam Kristus. Berbuah artinya hidup dalam suatu cara sehingga orang-orang datang untuk mengenal Kristus sebagai Juru Selamat dan mereka dikuatkan saat Anda melayani mereka. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan berdoa. Bacalah lagi Yohanes 15; Yohanes 15:7 dan Yohanes 15:16.
Perhatikan kembali bacaan Alkitab kita dalam Lukas 11:1-13. Tuhan Yesus menggunakan cerita ini untuk mengajar kita agar tidak menyerah atau tidak jemu-jemu saat kita berdoa. Ia memberi janji yang indah kepada kita di dalam Lukas 11:9-10 "Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan."
Bacalah 1 Timotius 2:1-2 dan Efesus 6:18. Sekarang berdoalah untuk orang-orang yang belum percaya supaya mereka diselamatkan. Berdoalah untuk teman-teman yang terkena pencobaan supaya menjadi kuat dan setia kepada Yesus. Berdoalah untuk orang-orang yang sakit supaya mereka disembuhkan. Berdoalah untuk para pemimpin pemerintahan supaya mereka dapat memimpin dengan bijaksana. Alkitab mengatakan, "Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya" Yakobus 5:16.
Syarat-syarat bagi doa yang dikabulkan oleh Allah:
Bacaan Alkitab: 2 Timotius 3:16.
Seorang ayah yang bijaksana dan penyayang akan selalu membuat semua harapan-harapannya diketahui dengan jelas oleh anak-anaknya. Kemudian ia mengharapkan mereka untuk mentaatinya. Demikian juga dengan Allah. Allah mengasihi kita dan menginginkan kita untuk melakukan kehendak- Nya. Ia mengajar kita di dalam Firman-Nya, yakni Alkitab bagaimana cara kita harus menjalani hidup. Mengapa sangat penting bagi kita untuk mempelajari Alkitab? Perhatikan beberapa alasan berikut ini.
Telah kita baca dalam 2 Timotius 3:16 bahwa segala tulisan di dalam Alkitab diilhami oleh Allah. Ini artinya walaupun Alkitab ditulis oleh orang-orang seperti Musa, Daud, Yesaya, Matius, Paulus, dll., tetapi mereka melakukannya di bawah bimbingan Tuhan. Oleh karena itu, pesan yang mereka tulis adalah pesan Allah bagi kita.
Anggap saja Anda sedang melamar suatu kedudukan di sekolah tertentu. Kemudian Kepala Sekolah menjawab surat lamaran Anda lewat sebuah surat yang isinya mengatakan bahwa Anda diterima untuk suatu kedudukan tertentu jika Anda datang pada hari pembukaannya. Itulah janji bapak Kepala Sekolah. Seandainya Anda tidak membaca surat itu dan hari pembukaan telah tiba, apa yang akan terjadi? Tentu saja Anda tidak diberi kedudukan karena Anda tidak datang pada hari pembukaan sesuai dengan janji Kepala Sekolah. Hal ini sama dengan janji-janji Allah di dalam Alkitab. Anda harus mengetahui janji- janji Allah dan memenuhi syarat-syarat-Nya sebelum menerima hal- hal yang menakjubkan sesuai dengan yang telah Ia janjikan. Janji- janji Allah dapat Anda ketahui jika Anda membaca Alkitab. Roma 15:4.
Banyak orang bingung memikirkan cara untuk selamat. Mengapa? Karena mereka diberitahu oleh banyak orang tentang cara yang berbeda-beda untuk bisa selamat. Ironisnya orang-orang yang memberitahu itu juga adalah orang-orang yang tersesat atau terhilang. Jadi, tidak mungkin mereka bisa selamat. Dari Alkitablah kita bisa belajar tentang satu-satunya jalan untuk memperoleh hidup yang kekal. Tidak ada jalan lain. Bacalah 2 Timotius 3:15 dan Efesus 2:8-9.
Hal ini tidak berarti bahwa Alkitab akan mendaftar segala hal yang benar dan hal yang berdosa. Tetapi ini berarti bahwa Alkitab akan mengajar Anda bagaimana hidup mengikuti kehendak Allah. Alkitab akan menghukum dan mengoreksi saat Anda gagal berjalan dalam cara itu.
Banyak orang berusaha untuk memaafkan diri sendiri atas dosa-dosa yang telah dilakukannya dengan mengatakan: "Setan lebih bijaksana dan kuat daripada saya, bagaimana mungkin saya melawan cobaan- cobaan?" Bacalah Mazmur 119:11; Matius 4:1-11 dan 1 Korintus 10:13. Alkitab akan menolong Anda untuk mengerti tentang tipuan-tipuan Iblis. Alkitab juga akan memberitahu Anda bagaimana Anda dapat menerima kekuatan dari Allah sehingga Anda dapat melawan cobaan.
Setiap orang Kristen yang sejati pasti ingin menyenangkan dan melayani Yesus Kristus. Bacalah 2 Timotius 3:17. Ayat itu mengatakan bahwa Anda akan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik dengan mengikuti pengajaran-pengajaran Firman Allah. Firman Tuhan tidak hanya memberitahukan bagaimana cara hidup Anda secara pribadi, tetapi juga memberitahukan bagaimana menggunakan Alkitab untuk menolong orang-orang yang belum diselamatkan agar datang kepada Kristus dan memperoleh kehidupan kekal. Anda juga akan belajar bagaimana dapat menolong teman sesama Kristen agar menjadi lebih kuat dalam Tuhan. Anda tidak akan lagi memberitahu orang- orang tentang apa yang Anda pikirkan, tetapi Anda dapat memberitahu mereka tentang apa yang Tuhan katakan. Hal ini akan sangat menolong mereka.
Manfaatnya banyak sekali, Anda sendiri akan menemukan banyak manfaatnya ketika Anda mulai membacanya. Bacalah Kisah Para Rasul 17:11. "Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian." Cobalah untuk membaca Alkitab secara rutin setiap hari mulai sekarang. Tiga hal di bawah ini akan menolong Anda pada saat mempelajari Firman Allah.
Tiga pertanyaan yang bagus saat Anda belajar adalah:
Pelajarilah dengan sabar.
Pelajari dengan tekun setiap hari, Roh Kudus akan menolong Anda untuk memahami kebenaran Firman Tuhan itu. Yohanes 14:26; Yohanes 16:13.
Pelajarilah dengan taat.
Tunjukkan kepada Allah bahwa Anda ingin mengerti dan mentaati-Nya, maka Ia akan menolong Anda. "Dalam hatiku Aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau." Mazmur 119:11.
DOA
"Tuhan Yesus, aku mengucap syukur karena Engkau adalah Allah yang mendengarkan doa-doa kami. Aku percaya melalui hubungan doa ini aku semakin diteguhkan akan kebaikan dan kesetiaan-Mu. Terima kasih juga untuk Alkitab yang Kau berikan kepada kami. Hanya melalui Firman-Mu inilah kami boleh dituntun untuk memperoleh keselamatan dan hidup yang berkemenangan. Ajarkan kepadaku untuk rajin mempelajari-Nya setiap hari. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Ibadah dan Persekutuan |
| Kode Pelajaran | : | OKB-P02 |
DAFTAR ISI
BERTANGGUNG JAWAB DALAM HAL IBADAH
Bacaan Alkitab
BERTANGGUNG JAWAB UNTUK PERSEKUTUAN
Bacaan Alkitab
DOA
Bacaan Alkitab: 1 Tawarikh 16:23-34
Merenunglah sejenak untuk memikirkan ini, mengapa ketika Yesus ada di dunia perlu menyembah Bapa? Mengapa orang Kristen perlu menyembah atau beribadah? Apakah keuntungannya? Perbedaan apa yang akan terjadi? Beribadah adalah pusat dari kehidupan seorang Kristen. Kelakuan orang Kristen, perkataan dan kasihnya untuk orang lain tergantung pada kasihnya kepada Allah. Dan kasihnya untuk Allah terlihat dalam kesungguhan dan kedalaman penyembahannya kepada Allah.
Bacalah Mikha 6:6-8.
Dalam Perjanjian Lama, Ibadah selalu berhubungan dengan upacara - upacara. Bagaimanapun juga, upacara tersebut tidak boleh menggantikan bagian penyembahan rohani.
Dalam Perjanjian Baru, kesederhanaan lebih penting/diutamakan dalam penyembahan orang Kristen. Penyembahan biasanya termasuk pujian, doa, pembacaan Alkitab dan pengajaran Alkitab. Penekanan dalam penyembahan adalah kerohanian, persembahan dan kasih dari dalam hati. Yesus berkata bahwa Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Yohanes 4:24.
Penyembahan adalah rencana dari Allah, bukan dari manusia. Tuhan tahu dengan pasti apa yang dibutuhkan manusia. Seseorang yang benar-benar mengasihi Allah tidak dapat hidup tanpa menyembah Tuhan, bukan untuk mendapatkan sesuatu dari Dia, tetapi karena kita mengasihi-Nya. Kita menyenangkan hati Tuhan saat kita menyembah- Nya. Bacaan Alkitab kita dalam 1 Tawarikh 16:23-24 merupakan pujian penyembahan dan ucapan syukur.
Bacalah lagi 1 Tawarikh 16:29. Tuhan memberkati orang-orang yang benar-benar menghormati Dia. Kita mempermuliakan Tuhan dengan menyiapkan pikiran kita, roh kita dan tubuh kita untuk beribadah. Bangsa Israel sangat bersungguh-sungguh dengan agama. Para imam berpakaian dengan sangat teliti untuk peran mereka di dalam penyembahan umum. Umat Allah harus disiapkan dengan berbagai cara saat mereka masuk ke dalam hadirat Allah yang kudus dalam penyembahan.
Bacalah 1 Tawarikh 16:24-27. Dalam penyembahan kita menyatakan penyelamatan Allah, kemuliaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar. Kita harus menyatakan kebenaran itu kepada semuanya yang mau mendengar dari hari ke hari.
"Bernyanyilah bagi Tuhan, hai segenap bumi, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari." 1 Tawarikh 16:23.
Orang Kristen memiliki banyak hal yang dapat dijadikan alasan untuk bersukacita, oleh sebab itu ia menyanyi. Beribadah bukanlah suatu kesedihan. Kuasa terang lebih besar daripada kuasa kegelapan. Ibadah merupakan ungkapan kesukacitaan karena Yesus Kristus telah bangkit dari kematian! Kita menyembah Tuhan yang hidup dan penuh kasih, Pencipta dan Juru Selamat kita. Kita tidak menyembah orang lain, sebab orang lain tidak melakukan apa yang telah Yesus lakukan untuk kita. Oleh sebab itu Kehidupan Kristen seharusnya diisi dengan kemenangan, kedamaian dan kasih.
Bacalah 1 Tawarikh 16:30-34. Kita gemetar di hadapan-Nya, bukan karena takut tetapi karena kagum dan sangat menghormati kemuliaan- Nya. Tuhan memerintah seluruh jagad raya, Ia adalah Raja! Dengan kekuatan-Nya, Ia menegakkan dunia. Hanya orang bebal yang berkata dalam hatinya, "tidak ada Allah" Mazmur 14:1.
Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya. Segala sesuatu adalah milik-Nya. Tuhan datang untuk menghakimi dunia ini. Ia memiliki setiap hak untuk mengadili semua yang Ia ciptakan. Ia adalah Tuhan atas semuanya. Marilah kita memuji dan menyembah-Nya.
"Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan." 1 Tawarikh 16:29.
Betapa indahnya untuk datang di hadapan-Nya! Hal ini merupakan suatu penghormatan dan tanggung jawab. Suatu penghormatan sebab Ia kudus, Maha Besar, Pencipta alam semesta, Maha Pengasih, sedangkan kita orang berdosa. Suatu tanggung jawab sebab kita tidak berani mengabaikan Dia. Kita tidak berani melupakan kasih-Nya maupun murka-Nya. Kita tidak berani kehilangan sumber kekuatan kita. Kita tidak berani mengabaikan Penyelamat kita. Kita tidak berani melupakan siapa kita, yakni orang- orang berdosa yang dibebaskan untuk kemuliaan-Nya. Kita adalah milik- Nya! "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" 1 Korintus 6:19-20.
Bacalah lagi 1 Tawarikh 16:29. Membawa suatu persembahan adalah suatu tindakan penyembahan. Penyembahan yang sejati bukan saja melibatkan diri untuk menerima, melainkan juga untuk memberi. Saat kita mempersembahkan diri kita ke dalam hadirat- Nya, kita mempersembahkan pujian kita, ucapan syukur kita dan pemberian kita. Ataupun jika kita membawa seekor kambing, seekor domba atau uang, kita membawa kemuliaan bagi-Nya, dan kita membangun gereja- Nya dengan pemberian persembahan kita.
"Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada, Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan!" 1 Tawarikh 16:28.
Semua bangsa dipanggil untuk menghormati Tuhan. Di dalam Alkitab ada waktu-waktu untuk penyembahan pribadi, tetapi lebih dititikberatkan pada penyembahan secara berkelompok. Bacalah Mazmur 42:5 dan Ibrani 10:25.
Bacalah 1 Tawarikh 16:23. Keinginan Allah yang terbesar adalah supaya seluruh dunia menyembah Dia. Ia telah menciptakan bumi dan seluruh jagad raya. Ia adalah Tuhan atas seluruh dunia. Pujian merupakan wujud kasih dan rasa terima kasih kita kepada Tuhan. Untuk itu, semua orang harus memuji Tuhan.
Bacaan Alkitab: 1 Yohanes 1:6-7; Efesus 4:1-16;Kisah Para Rasul 2:42-47.
Selain ibadah, orang Kristen juga dituntut bertanggung jawab untuk ikut dalam persekutuan.
Persekutuan berarti menerima kasih dari orang lain dan memberikan kasih kepada orang lain. Yesus membasuh kaki para murid-Nya, tetapi Ia juga membiarkan Maria membasuh kaki-Nya dengan air matanya. Yesus memberi makan 5000 orang tetapi Ia juga rela membiarkan Maria dan Marta memasak untuk-Nya. Artinya ialah kita harus saling membantu sehingga kita menjadi seperti yang Tuhan inginkan saat kita memberi dan menerima kasih di dalam persekutuan.
Bacalah Ibrani 10:24,25; 1 Yohanes 1:5-7; Kisah Para Rasul 2:42-47. Pikirkan bagaimana kita dapat menolong satu sama lainnya untuk menunjukkan kasih dan perbuatan baik. Bagaimanakah umat percaya menguatkan dan memperbaiki persekutuan mereka? Kita perlu menyediakan waktu yang berarti untuk bersama, bahkan seperti yang dilakukan orang-orang percaya setelah Pentakosta. Mereka membuat suatu rencana, memberi waktu, usaha dan tenaga demi terwujudnya suatu persekutuan. Apakah Anda sedang memberikan waktu, usaha dan tenaga Anda untuk memiliki persekutuan Kristen?
Di dalam kasih, Allah Bapa memberi kita Raja Damai, anak-Nya yaitu Yesus Kristus. Bacalah tentang kasih Yesus dalam Yohanes 13:1. Yesus akan segera meninggalkan dunia ini untuk kembali kepada Bapa Surgawi- Nya. Ia telah berdoa untuk kita semua yang percaya kepada- Nya saat Ia menyiapkan diri untuk keberangkatan ini. Bacalah dalam Yohanes 17, secara khusus Yohanes 17:11 dan Yohanes 17:22. Yesus berkata bahwa Dia dan Allah Bapa adalah satu. Apakah isi doanya untuk kita? Allah sangat mengasihi kita. Ia rindu agar kita memiliki kasih itu dan terikat kasih antara yang satu dengan yang lain. Apakah Anda rindu untuk memiliki kasih itu dan terikat kasih dengan sesama Kristen?
Persekutuan sejati membawa hasil yang positif. Saat Anda mempelajari persekutuan di hari Pentakosta, perhatikan apa yang terjadi:
Apakah persekutuan kita membawa hasil-hasil seperti ini?
Allah memerintahkan, "Barang siapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya." 1 Yohanes 4:21. Kemudian baca dalam 1 Yohanes 3:14 untuk mengetahui gambaran seorang Kristen yang sejati. Yohanes menggambarkan perubahan itu seperti pindah dari kematian menuju kehidupan. Kini tidak ada pilihan bagi orang percaya, suatu metode untuk menguji orang Kristen yang sejati yaitu hidup saling mengasihi. Dalam 1 Yohanes 2:3-6 memberitahu jika kita mengaku bahwa kita telah mengenal Allah, maka kita akan melakukan perintah- perintah-Nya. Salah satu perintah Allah itu ialah supaya kita hidup saling mengasihi. Apakah Anda telah mengenal Dia?
Masalah-masalah yang kemudian muncul dalam hubungan atau persekutuan disebabkan karena dosa seseorang atau lebih banyak orang lain lagi. Apakah dalam hal ini, Tuhan akan menerima pemberian atau persembahan-persembahan kita? Bacalah apa yang dikehendaki Tuhan Yesus dalam pengajaran atau khotbah-Nya di atas bukit (Matius 5:23-24). Yesus tidak memberitahu kita apakah orang di mezbah tersebut adalah orang yang berbuat salah atau orang yang disalahkan. Apakah yang akan kita lakukan jika kitalah yang berbuat salah itu? Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 1 Yohanes 1:9. Bacalah juga Yakobus 5:16. Tuhan memberikan sebuah janji untuk mengampuni dan membersihkan kita jika melakukan apa yang diberitahukan-Nya kepada kita.
Penulis surat Ibrani memberi kita nasihat "agar jangan sampai akar pahit muncul dan menyebabkan masalah, sehingga banyak orang tercemar." Nasihatnya adalah "Berusahalah hidup damai dengan semua orang" Ibrani 12:14-15.
Dalam suatu persekutuan kadang-kadang kita harus menghubungi beberapa orang yang mengecewakan hati kita, yang dapat menjadi sumber perpecahan dalam persekutuan. Ini di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya. Hanya kuasa Allah yang tinggal di dalam kita yang dapat mengasihi orang-orang yang menyakiti kita. Tuhan telah memberikan kepada kita kasih yang melebihi kasih manusia, yang disebut kasih agape. Kasih agape menolong kita mengasihi orang- orang yang sulit untuk dikasihi, yang tidak layak untuk menerima kasih kita dan yang tidak menginginkan kasih kita. Allah menaruh kasih ini di dalam kita. Apakah Kristus membatasi kasih-Nya? Tidak! Ia mengampuni orang-orang yang meludahi-Nya dan mencucukkan paku di tangan-Nya. "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" Lukas 23:34.
Apakah kita hidup dalam persekutuan yang bersukacita, saling membantu atau memelihara kesatuan Roh di dalam dan oleh ikatan kasih? Apakah kita hidup dalam kerendahan hati, lemah lembut dan kesabaran dan "tunjukkan kasih dalam hal saling membantu?" Bacalah Efesus 4:1-3. Itulah sebenarnya yang menjadi tujuan dari persekutuan Kristen yaitu supaya ada kebersamaan (kesatuan) dan saling membantu satu dengan yang lain.
DOA
"Tuhan Yesus Kristus, aku mengucap syukur untuk pemahaman tentang pentingnya beribadah dan menyembah Engkau. Ajarkan aku untuk senantiasa menghargai waktu ibadah sehingga aku boleh terus menikmati kehadiran-Mu. Juga ajarkan aku untuk senantiasa hidup dalam kasih dan persekutuan bersama orang-orang percaya yang lain. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab untuk Hidup Benar dan Menggunakan Karunia-karunia Rohani |
| Kode Pelajaran | : | OKB-P03 |
DAFTAR ISI
BERTANGGUNG JAWAB UNTUK HIDUP BENAR
Bacaan Alkitab
BERTANGGUNG JAWAB UNTUK MENGGUNAKAN KARUNIA-KARUNIA ROHANI
Bacaan Alkitab
DOA
Bacaan Alkitab: Roma 12:1-2; 1 Korintus 6:9-20; Mazmur 42:2.
Kebenaran berarti berdiri sebagai orang benar di hadirat Tuhan. Kita menerima kedudukan kita sebagai orang benar di hadapan Allah hanya melalui Kristus, yang telah memenuhi semua syarat hukum untuk menggantikan tempat kita. Kristuslah yang telah membenarkan kita. "Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita." 1 Korintus 1:30. Bagaimana kita mengetahui kunci tentang kehidupan yang benar sebagai orang Kristen itu? Mari kita pelajari bersama-sama.
Dalam Matius 5:6 Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan." Dalam Matius 6:33, Yesus menyatakan kebenaran yang sama di dalam cara yang berbeda, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Di dalam Alkitab Allah telah memberikan banyak undangan kepada orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Bacalah Yesaya 55:1-2; Yohanes 4:10- 14; Wahyu 21:6 dan Wahyu 22:17.
Apakah yang dimaksudkan dengan lapar dan haus akan kebenaran? Saat Anda berada di tempat yang kering dan panas untuk jangka waktu yang lama, Anda akan merasa haus. Anda akan memberikan semua yang Anda miliki hanya untuk seteguk air. Anda akan bersedia menempuh jarak yang jauh bahkan mendaki bukit batu yang akan melukai tangan dan lutut Anda, hanya untuk mendapatkan air.
Apakah Anda benar-benar lapar dan haus akan kebenaran? Apakah Anda benar-benar ingin menyingkirkan hidup Anda yang penuh dosa dan rusak? Apakah Anda ingin menjadi murni dan suci lebih dari pada yang lain? Bersediakah Anda mencari kebenaran dan keadilan walaupun Anda mungkin akan terluka dalam masa pencarian itu?
Lapar dan haus akan kebenaran tidak hanya dipraktekkan dalam hal mencari Tuhan saja tetapi juga dipraktekkan kepada saudara-saudara kita seiman. Jika kita lapar dan haus akan kebenaran, kita akan merasa terluka dengan adanya kejahatan dan masalah-masalah moral di dunia ini. Kita tidak akan tinggal tenang ketika seseorang diperlakukan sewenang-wenang karena ketidakadilan.
Kita benar-benar diperintahkan untuk lapar dan haus akan kebenaran! Kita harus mengutamakan untuk mencari Tuhan dulu dengan sungguh- sungguh sehingga kita tidak bisa berhenti lagi. Kita harus menjadi alat kebenaran dan keadilan Allah. Kita juga harus mencari kebenaran dengan sesama kita.
Dan apakah upah kita? Kita akan dipuaskan.
Ketika Anda merasa sangat panas dan kering, maka Anda akan mencari dan mencari sampai akhirnya menemukan air. Lalu Anda akan mengambilnya. Setetes air yang mengalir melalui tenggorokan Anda dan kemudian Anda minum dan minum lagi membuat Anda merasa dipuaskan.
Banyak orang lapar dan haus akan dunia. Mereka menginginkan kuasa, uang, kemasyuran dan perhatian. Akankah mereka dipuaskan dengan hal- hal tersebut? Firman Tuhan tidak mengatakan hal yang demikian, kita hanya akan dipuaskan jika kita lapar dan haus akan kebenaran. "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan." Matius 5:6.
Orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran akan dipenuhi dengan kebenaran yang jauh lebih baik dari apapun yang mereka miliki. Orang- orang yang lapar dan haus akan kebenaran harus berbalik kepada Kristus. Ketika kita menerima Kristus di dalam hidup kita melalui iman, kita diisi dengan kebenaran-Nya. Ini merupakan awal dari hidup baru kita. Hari demi hari, saat kita mencari-Nya, Ia menuntun kita untuk bertumbuh lebih lagi dan lebih lagi di dalam gambar-Nya. Bacalah Roma 12:1-2 untuk menemukan bagaimana hidup di dalam Kristus menuntun kita kepada perubahan pikiran kita.
Dalam Roma 6:12-19, kita melihat tanggapan kita kepada kebenaran yang kita terima melalui iman. Kita memilih untuk menyerahkan diri kita kepada Allah sehingga Ia bisa memakai kita untuk memenuhi tujuan-Nya di dalam dan melalui kita. Saat Yesus menjadi kebenaran kita, kita harus memberikan semua milik kita untuk Dia. Kemudian saat Ia mengisi hidup kita hari demi hari, kita hidup dengan kebenaran yang kita terima melalui iman di dalam Dia. Jika kemudian kita memberontak melawan Kristus dan Firman-Nya, ini artinya kita sedang menyerahkan hidup kita pada dosa dan menjadi alat kejahatan. Walaupun kita merasa melakukan hal-hal yang baik, kita tidak dapat memenuhi kebenaran Allah dalam kekuatan kita sendiri. Manakah yang Anda pilih: menjadi hamba dosa (untuk kejahatan) atau pelayan Allah (untuk kebenaran). Roma 13:14 menolong kita mengerti hal ini, "Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. Saat kita memilih untuk tinggal di dalam Kristus, Kebenaran sejati, kita setuju untuk hidup di dalam pengawasan-Nya."
Orang Kristen yang bertanggung jawab dalam hidup yang benar akan melakukan hal-hal ini:
Bacaan Alkitab: Roma 12:4-13; 1 Korintus 12.
Pada saat seseorang dilahirkan secara fisik, ia tentu memiliki kemampuan-kemampuan yang alamiah. Hal ini sama dengan yang dialami oleh seseorang dilahirkan kembali secara rohani, ia diberi kemampuan- kemampuan rohani. Jadi, setiap orang Kristen minimal memiliki sebuah karunia rohani. Baiklah kita pelajari bersama-sama apa itu karunia rohani, apa fungsinya, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa kita mempunyai karunia rohani, lalu bagaimana kita dapat membangunnya?
Karunia rohani adalah kemampuan khusus yang diberikan kepada orang- orang percaya oleh Roh Kudus untuk memuliakan Kristus dan membangun gereja-Nya. Karunia-karunia rohani tidak diperoleh karena pekerjaan yang baik, punya talenta atau kemampuan- kemampuan alamiah. Karunia rohani merupakan pemberian dari Tuhan, oleh sebab itu tidak mungkin seseorang mendapatkannya melalui kerja keras, memperoleh karena layak atau mempelajarinya dari buku-buku. Karunia-karunia rohani bukanlah buah Roh yang disebutkan dalam Galatia 5:22-23. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal- hal itu."
Karunia-karunia rohani adalah kemampuan-kemampuan khusus. Semua manusia dilahirkan dengan talenta atau kemampuan alami yang berbeda- beda, ada yang dapat menyanyi atau belajar memainkan sebuah alat musik dengan baik, ada yang pandai melukis gambar yang indah atau mengukir bentuk-bentuk dari kayu, dll. Tuhan memberikan kemampuan-kemampuan ini, tetapi itu bukanlah karunia rohani. Walaupun demikian, ketika kemampuan alamiah ini dipersembahkan kepada Tuhan untuk kepentingan-Nya, kemampuan itu dapat menjadi suatu cara untuk mengekspresikan sebuah karunia rohani.
Karunia-karunia rohani diberikan kepada orang-orang ketika percaya dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadi. Ini merupakan pekerjaan Roh Kudus. "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani." 1 Korintus 2:14. Bacalah 1 Korintus 12:11, Tuhan memutuskan karunia mana yang akan diberikan kepada setiap orang percaya. Saat Anda menerima Kristus sebagai Juru Selamat dan Tuhan, Anda diberikan Roh Kudus. Pada saat yang sama Anda diberi paling sedikit satu karunia rohani yang digunakan oleh Roh Kudus dalam hidup Anda. Bacalah 1 Korintus 12:7. "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah." 1 Petrus 4:10.
Karunia rohani adalah untuk memuliakan Kristus dan membangun gereja-Nya. Bacalah 1 Korintus 12:1-3; Efesus 4:12; 1 Korintus 2:12. Karunia- karunia rohani harus digunakan untuk pelayanan di dunia ini. Karunia- karunia tersebut diberikan untuk memuliakan Kristus dan menolong gereja untuk bertumbuh.
Karunia-karunia rohani adalah perlengkapan rohani orang-orang percaya untuk melakukan pekerjaan Allah dengan kuasa Allah. Rasul Paulus membandingkan gereja sebagai sebuah tubuh jasmani. Bacalah 1 Korintus 12:12-31. Tubuh memiliki banyak anggota dan setiap anggota memiliki tugas khusus. Satu bagian tidak dapat melakukan pekerjaan bagian yang lain. Mata tidak dapat mendengar, tangan tidak dapat berjalan. Demikian juga halnya dengan orang percaya, setiap orang percaya harus tahu bagaimana menggunakan karunianya. Tuhan telah memperlengkapi orang-orang percaya untuk melakukan pekerjaan- pekerjaan tertentu dalam gereja. Jika seseorang gagal menggunakan karunianya, bagian dari fungsi gereja itu akan lemah. Setiap orang percaya harus bersatu dengan karunia-karunia yang berbeda-beda itu.
Karunia-karunia rohani itu telah disebutkan dalam tiga bacaan yang berbeda di Kitab Suci. Bacalah Alkitab dan daftarlah karunia- karunia rohani yang disebutkan pada setiap bacaan:
Roma 12:4-8:
1 Korintus 12:8-10:
Efesus 4:11-12:
Bagaimana kita dapat menemukan karunia rohani kita? Ikutilah petunjuk di bawah ini:
Setiap anggota tubuh dibutuhkan untuk berfungsi secara menyeluruh. Setiap anggota tubuh Kristus dibutuhkan untuk memenuhi tujuannya di dunia ini. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membangun karunia-karunia Anda adalah:
Ijinkan Roh Kudus bebas untuk membangun karunia Anda. Bersedialah untuk dipakai. Setiap hari mintalah pada Roh Kudus untuk mengisi Anda dan menjadikan Anda sebagai berkat. "Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh." Efesus 5:18.
Terlibatlah dengan pekerjaan gereja. Karunia-karunia itu diberikan untuk membangun tubuh Kristus, yaitu gereja. Melalui gerejalah karunia-karunia rohani itu digunakan.
Cobalah cara-cara yang Anda dapat untuk menggunakan karunia Anda. Jika Anda dapat menggunakan karunia Anda melalui musik, mulailah untuk menyanyi dalam paduan suara. Jika Anda dapat mengajar, mintalah agar Anda dapat menolong program pengajaran dari gereja Anda. Saat Anda menggunakan karunia Anda, Tuhan akan memberkati yang lain melalui Anda.
Taatlah pada pelatihan karunia Anda. Ingatlah, saat karunia- karunia digunakan dengan benar maka akan menghasilkan kesatuan di gereja. Tunjukkanlah kasih Allah dengan penggunaan dari setiap karunia rohani. Tanpa kasih-Nya karunia-karunia tersebut akan memiliki efek yang kecil. Kasih Allah bekerja seperti minyak yang kudus yang menyebabkan seluruh gereja berfungsi di dalam kesatuan. Mulailah hari ini untuk menemukan dan menggunakan karunia rohani yang telah diberikan kepada Anda.
DOA
"Ya Tuhan, aku berdoa kiranya Engkau memberiku terus menerus rasa lapar dan haus akan kebenaran Firman-Mu. Jangan biarkan aku hidup dengan kebenaranku sendiri, tetapi biarlah kebenaran-Mu mengatur kehidupanku. Aku juga mengucap syukur untuk setiap karunia rohani yang Engkau berikan kepadaku. Tolonglah aku untuk bisa memakainya sesuai dengan kehendak-Mu. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Keanggotaan Gereja dan Kehidupan Keluarga |
| Kode Pelajaran | : | OKB-P04 |
DAFTAR ISI
BERTANGGUNG JAWAB DALAM KEANGGOTAAN GEREJA
Bacaan Alkitab
BERTANGGUNG JAWAB DALAM KEHIDUPAN KELUARGA
Bacaan Alkitab
DOA
Bacaan Alkitab: Kolose 1:18; Efesus 1:22; Matius 16:18.
Ketika seseorang memasak makanan dengan menggunakan arang, maka arang itu akan ditumpuk menjadi satu lalu dibakar. Arang itu akan menghasilkan panas yang cukup, api akan menyala dari padanya, sehingga makanan bisa dimasak. Bayangkan jika arang itu terpisah-pisah, setiap arang akan menyala sebentar kemudian akan berhenti menyala. Agar dapat membakar dengan api yang panas, arang-arang itu perlu disatukan sehingga setiap arang dapat menghasilkan panas pada kobaran api yang akhirnya dapat dipakai untuk memasak makanan.
Keanggotaan gereja sama halnya seperti api bara arang itu. Setiap anggotanya perlu mendukung anggota yang lainnya untuk menolong kita agar menyala dengan terang. Kita membutuhkan dukungan dari sekelompok orang Kristen lainnya agar dapat bertumbuh dan terpelihara dalam iman Kristen. Kehidupan Kristen berarti hidup dalam persekutuan dengan orang Kristen yang lain. Persekutuan inilah yang disebut jemaat Kristen. Merupakan hal yang sangat sulit bahkan tidak mungkin jika seseorang menjadi Kristen dan bertumbuh dalam imannya tanpa pertolongan dan dukungan dari orang Kristen lainnya.
Yesus Kristus mendirikan jemaat agar menolong pengikut-Nya untuk bertumbuh, sehingga mampu menolong satu dengan yang lainnya dalam kehidupan Kristen. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari tubuh Kristus, yakni jemaat. Kita perlu mengetahui dan percaya tentang beberapa hal penting mengenai gereja/jemaat.
"Ialah (Yesus Kristus) kepala tubuh, yaitu jemaat" Kolose 1:18. Kristus adalah Kepala. Dan gereja adalah tubuh Kristus.
Kepala memberi petunjuk kepada tubuh. Ia juga memberi kehidupan dari seluruh tubuh. Tanpa kepala, seluruh tubuh akan mati. Yesus Kristus memberi petunjuk kepada tubuh-Nya yaitu gereja. Tanpa Dia, tidak akan ada kehidupan sama sekali dalam gereja. Kepala tidak dapat bekerja tanpa sebuah tubuh yang dapat mewujudkan tujuannya. Menyebut Kristus sebagai Kepala Gereja menunjukkan bahwa Kristus adalah sumber kehidupan bagi gereja.
Yesus memberitahu kepada Petrus, "Aku akan mendirikan jemaatKu" Bacalah Matius 16:18. Jemaat Kristus dibangun oleh Tuhan sendiri. Yesus ingin menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang mendirikan gereja-Nya. Tuhan tahu akan kebutuhan manusia untuk bersekutu. Ia tahu pengikut-pengikut-Nya tidak akan bertumbuh dalam iman mereka tanpa tubuh (jemaat). Mereka tidak akan setia dan meneladani cara hidup-Nya. Mereka tidak akan memiliki kekuatan rohani untuk mengatasi kejahatan dan percobaan Iblis. Ia ingin agar mereka semua tahu bahwa tidak ada gereja kecuali Kristus sendiri yang mendirikannya.
"Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada." Efesus 1:22-23, (terjemahan bebas).
Rasul Paulus menyebut gereja sebagai "Tubuh Kristus." Kristus telah mati untuk membawa pengikut-Nya kepada hubungan yang benar dengan Allah dan menyatukan mereka menjadi keluarga orang-orang percaya. Keluarga itu adalah gereja. Keluarga ini, yakni tubuh ini, bertanggung jawab untuk membawa pesan Kristus dan berita keselamatan kepada seluruh dunia.
"Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" Kisah Para Rasul 2:47b.
Tidak seorangpun dapat menjadi anggota gereja sebelum ia dilahirkan kembali melalui iman dalam Tuhan Yesus Kristus. Tuhan memilih orang- orang yang merupakan anggota dari tubuh-Nya, yaitu gereja/jemaat. Tidak ada tempat di dalam gereja bagi laki- laki atau perempuan, anak laki-laki atau anak perempuan atau orang- orang muda lainnya yang tidak Tuhan tambahkan. Keselamatan, melalui iman dalam Yesus Kristus, sangat penting bagi mereka yang merupakan anggota jemaat Kristus. Anggota jemaat Kristus adalah orang-orang yang percaya dalam Yesus Kristus.
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:19-20.
Anggota-anggota tubuh Kristus adalah pekerja-pekerja Kristus di dunia pada saat ini. Kepala Gereja, yakni Kristus, memberi petunjuk dalam melakukan pekerjaan-Nya. Perintah ini diberikan kepada anggota-anggota tubuh Kristus. Setiap anggota memiliki tempatnya sendiri. Setiap anggota memiliki tugas sendiri untuk dikerjakan. Semua dikerjakan di bawah perintah Kristus, yaitu Kepala Gereja. Sebagai pengikut Kristus, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari tubuh-Nya, yaitu gereja. Ketika kita menolong untuk menguatkan kelompok ini, yaitu gereja, kita menolong untuk membangun dasar yang kuat antara hidup kita, keluarga kita dan sesama kita.
Dengan bergabung dan mendukung gereja, penyembahan lokal, pekerjaan dan pemberitaan Injil, kita menolong untuk menguatkan Kerajaan Allah di seluruh dunia.
Setiap orang tidak perlu merasa kawatir karena takut tidak diterima menjadi anggota Tubuh Kristus. Kristus adalah Kepala gereja, sehingga setiap anggota individu pasti akan diterima.
Bacaan Alkitab: Markus 10:2-12; Efesus 5:21-6:4; 1 Petrus 3:1-7.
Setiap orang percaya juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam rumah tangga Kristen. Hal ini sangatlah penting karena setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Jika rumah tangga Kristen mereka tidak menjadi teladan, bagaimana mungkin dapat bersaksi tentang Kristus di lingkungan sekitarnya.
Bacalah Alkitab: Markus 10:2-12
Alkitab mengajar dengan pasti bahwa Allah menghendaki pernikahan di dalam hidup kita. Satu masalah yang sangat serius yang dihadapi orang- orang pada masa ini ialah bahwa perpisahan dan perceraian sudah menjadi masalah yang dihadapi seluruh dunia, baik oleh para suami istri Kristen maupun para suami istri bukan Kristen. Tetapi Alkitab berkata, "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Markus 10:9. Para suami dan istri Kristen harus berusaha hidup menurut Alkitab. Mereka tentunya akan mengalami masa-masa sulit dalam pernikahan mereka. Mereka harus membuat janji setia dalam pernikahan dan mencari jalan keluar untuk setiap permasalahan yang mereka hadapi. Para suami dan istri Kristen harus meminta kepada Tuhan agar menolong mereka untuk hidup bersama seperti satu tubuh.
Bacalah Efesus 5:21-6:4
Tuhan berbicara kepada orang-orang Kristen di Efesus melalui rasul- Nya yaitu Paulus. Ia memberi mereka suatu dasar untuk membangun rumah tangga Kristen yang kuat. Ia berkata "dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus." Efesus 5:21. Merendahkan diri satu sama lain berarti setia satu sama lain. Para suami istri Kristen harus setia satu sama lain. Mereka harus memberikan diri mereka satu sama lain sebab Tuhan memerintahkan mereka untuk melakukan demikian.
Kasih adalah aspek penting lainnya dalam membangun rumah tangga Kristen. Dalam pesannya kepada para suami Kristen, Allah berkata, "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya." Efesus 5:25. Dalam beberapa kebudayaan, sangatlah jarang bagi seorang suami atau istri mengatakan kepada pasangannya "Aku cinta padamu." Agaknya seorang suami lebih suka menunjukkan cinta dan penghargaan kepada istrinya dengan melakukan sesuatu untuknya. Di beberapa budaya lainnya bagaimanapun juga seorang suami akan mengatakan dengan terbuka pada istrinya, "Aku cinta padamu." Tetapi apa yang penting adalah bukan cara suami istri menunjukkan kasih satu sama lain, melainkan bagaimana mereka menyatakan kasih dan perhatian yang bermutu.
Tuhan juga memberikan peringatan kepada para orang tua Kristen. "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak- anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Efesus 6:4. Anak-anak adalah salah satu dari pemberian yang paling berharga yang Tuhan pernah berikan kepada kita. Saat kita menerima pemberian dari seseorang, kita sangat menghargainya sehingga kadang- kadang kita menulis surat kepada orang yang memberikannya kepada kita. Berterimakasihlah kepada Tuhan atas pemberian-Nya yang berharga. Kita memelihara pemberian-Nya dengan cara yang sangat khusus.
Tuhan mengharapkan supaya kita menghargai anak-anak kita dan memeliharanya dengan cara yang khusus. Sangat menyedihkan hati Tuhan jika kita tidak merawat anak kita dan menyebabkan kemarahan mereka. Kita perlu mendidik, membimbing dan memelihara anak-anak kita di dalam cara yang diperintahkan Tuhan. Untuk melakukan hal ini kita harus mendisiplin mereka. Jika kita tidak mendisiplin mereka, orang-orang di sekitar kita mungkin akan melihat mereka dan berkata, "Ah, anak-anak macam apa ini?" atau "Mengapa anak-anak ini memiliki kelakuan seperti ini, padahal orang tua mereka Kristen?" Lebih penting lagi, kegagalan dalam mendisiplin anak kita tidak berarti menimbulkan kemarahan mereka. Tetapi bermaksud untuk membimbing kehidupan mereka dengan memperbaiki mereka saat mereka melakukan kesalahan. Dalam rumah tangga Kristen para orang tua mendisiplin anak-anak mereka dalam kasih dan merawat mereka sebagai pemberian yang berharga dari Allah.
Bacalah 1 Petrus 3:1-7
Petrus menujukan ayat-ayat ini untuk para wanita Kristen yang suaminya bukan orang Kristen. Bagaimanapun juga, kebenaran ini juga dipraktikkan oleh para pria Kristen yang istrinya bukan orang Kristen. Allah berkata, "Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada diantara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya." 1 Petrus 3:1. Para istri Kristen (dan para suami Kristen) harus menunjukkan bahwa mereka berbeda dengan orang lain. Kelakuan yang baik kadang-kadang dapat memenangkan seseorang kepada Tuhan tanpa mengkhotbahkan Firman kepadanya. Seorang istri seringkali dapat memenangkan suaminya kepada Tuhan dengan kelakuannya berbicara dan kualitas hidup berbeda yang dilihat dan diinginkan suaminya. Seorang suami Kristen yang menikah dengan wanita bukan Kristen juga harus melakukan hal yang sama dengan menunjukkan kasih dan perhatian yang tulus kepadanya.
Sebuah rumah tangga Kristen yang kuat hanya dapat tercapai jika pengajaran Allah ditaati.
DOA
"Puji syukur kunaikkan kepada-Mu, Tuhan, karena Engkau telah menempatkan aku sebagai anggota tubuh-Mu. Mampukan aku untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang telah Kaupercayakan kepadaku di gereja-Mu. Jadikan aku sebagai duta Kristus di manapun saya berada, terutama dalam keluargaku. Biarlah melalui keluarga kecil ini aku boleh menjadi saksi bagi persatuan Tubuh Kristus. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Memberi dan Menggunakan Waktu |
| Kode Pelajaran | : | OKB-P05 |
DAFTAR ISI
BERTANGGUNG JAWAB DALAM HAL MEMBERI
Bacaan Alkitab
BERTANGGUNG JAWAB DALAM PENGGUNAAN WAKTU
Bacaan Alkitab
DOA
Bacaan Alkitab: 2 Korintus 8:1-5.
Dalam pelajaran ini kita akan belajar dua hal tentang alasan mengapa kita harus memberi. Pertama, kita bertanggung jawab untuk memberi karena anugerah Allah. Kedua, ada enam bagian dalam tanggung jawab memberi berdasarkan kisah pemberian orang-orang Makedonia.
Di dalam Kejadian 1, dikatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah milik Allah. Kita adalah milik Allah; segala sesuatu di sekitar kita adalah milik Allah. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Mazmur 24:1. Jika kita tidak memiliki sesuatu, bagaimana kita bisa memberikan sesuatu untuk Allah? Anugerah Allah mengijinkan kita untuk menggunakan beberapa dari milik-Nya seakan-akan mereka adalah milik kita sendiri.
Pernahkah Anda melihat seorang ibu memberikan sebuah biskuit kepada seorang anak yang sedang ia gendong? Seringkali anak itu mencoba memberikan biskuit itu kepada ibu. Ibu tidak perlu makan biskuit anaknya karena ia memiliki sekantong biskuit untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, anak itu ingin berbagi dengan ibunya yang telah memberinya. Anugerah Allah bekerja dengan cara yang sama. Sebagai anak-Nya kita ingin berbagi dengan Dia apa yang telah Ia berikan kepada kita.
Dalam 2 Korintus 8:1-5 Paulus berbicara tentang anugerah Allah yang bekerja di Makedonia. Orang-orang Makedonia memberikan kembali kepada Allah apa yang telah Allah berikan untuk mereka. Mereka melakukan hal tersebut dengan cara membagikan berkat itu kepada orang yang membutuhkan di Yerusalem. Orang-orang Korintus telah berjanji untuk menolong, tetapi mereka tidak mengirimkan pemberian mereka. Itulah sebabnya Paulus mengirimkan surat kepada jemaat Korintus supaya hal ini menjadi pelajaran bagi mereka. Ia ingin mereka mengetahui cara orang Makedonia dalam hal memberi. 2 Korintus 8:1. Sesuatu yang mengagumkan telah terjadi! Cara orang Makedonia memberi menyenangkan hati Paulus. Ia yakin bahwa orang- orang di Korintus akan bersemangat jika mereka mengetahui apa yang telah terjadi. Ada enam hal yang telah dilakukan oleh orang-orang Makedonia yang menunjukkan pemberian yang bertanggung jawab. Mari kita lihat satu per satu.
Pertama dan hal terpenting ada dalam 2 Korintus 8:5. Mereka memberi diri mereka sendiri. Mereka memberi diri dalam dua cara: Mereka memberi diri mereka pertama dalam pertobatan dan iman agar menjadi Kristen yang lahir baru. Kemudian mereka memberikan kehidupan total mereka dalam pelayanan kepada Kristus. Seorang pemberi yang bertanggung jawab harus memulai dengan cara seperti ini. Pertama, yakinkan bahwa diri Anda sudah lahir baru dalam Kristus. Saat Anda sudah yakin, berikanlah hidup Anda seluruhnya untuk melayani Kristus. Anda berhak melangkah lebih jauh lagi dalam hal memberi jika Anda telah melakukan dua hal ini.
Kedua, mereka tidak membiarkan hal-hal di sekeliling mereka menentukan apa yang mereka beri. Banyak hal tidak berjalan dengan baik bagi orang-orang Kristen di Makedonia. Dalam 2 Korintus 8:2, Paulus menjelaskan bahwa mereka menderita dalam percobaan dan penganiayaan. Lagipula, ayat ini mengatakan bahwa mereka sangat miskin. Jika kita melihat keadaan mereka, kita melihat beberapa alasan yang bisa mereka pakai untuk tidak memberi. Tetapi mereka tidak memberi alasan. Mereka memberikan persembahan. Seorang pemberi yang bertanggung jawab tidak mencari-cari alasan, tetapi mencari kesempatan untuk memberi.
Ketiga, 2 Korintus 8:3 berkata bahwa mereka memberi berdasarkan banyaknya yang mereka miliki. Mereka yang memiliki lebih banyak memberi lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki sedikit memberi semampu mereka. Pemberian semacam ini disebut sebagai pemberian seimbang. Pemberian seimbang berarti memberi suatu bagian atau satu porsi dari apa yang Anda miliki. Perpuluhan adalah memberi sepersepuluh dari apa yang Anda miliki. Ini adalah pemberian yang seimbang. Yesus berkata bahwa kita tidak boleh melupakan untuk memberikan perpuluhan kita. Matius 23:23. Yesus memberi semangat untuk memberi secara seimbang.
Keempat, 2 Korintus 8:3 juga mengatakan bahwa mereka memberi "melebihi kemampuan mereka". Mereka memberi lebih banyak dari apa yang mampu mereka berikan. Pemberian semacam ini disebut memberi dengan pengorbanan. Dalam Markus 12:41-44, orang janda itu memberi semua yang ada padanya. Dalam Kisah Para Rasul 2:45 orang-orang Kristen memberi segala sesuatu. Tidak ada dalam Alkitab bahwa Tuhan mengatakan untuk memberi lebih sedikit daripada sepersepuluh, tetapi memberi seperpuluh tidak selalu mencukupi. Ada waktu-waktu dimana seorang pemberi yang bertanggung jawab memberi dengan pengorbanan.
Kelima, orang-orang Makedonia memberi sebab mereka ingin memberi. 2 Korintus 8:4 mengatakan bahwa mereka memohon untuk dapat memberi dan kemudian memberi dengan sukacita. Tidak ada tempat di dalam gereja untuk pemberian terpaksa. Orang-orang harus memberi dengan rela sebab mereka ingin memberi. Memberi dengan tanggung jawab berarti memberi dengan sukarela.
Keenam, mereka memberi sesuai dengan kehendak Allah. 2 Korintus 8:5. Suatu pertanyaan yang sangat sulit muncul saat kita memikirkan pemberian semacam ini. Pertanyaannya adalah, "Berapa banyak seharusnya saya memberi?" Beberapa orang berkata berikanlah semuanya dan biarkan gereja memutuskan bagian apa yang diberikan kembali kepada Anda. Beberapa gereja menghendaki para imam/pendeta mereka untuk melakukan hal ini. Beberapa pemimpin gereja berkata bahwa Anda harus memberi sejumlah yang ditentukan oleh gereja. Masih ada yang lain lagi berkata bahwa Anda harus memberi perpuluhan Anda. Jika Anda memberi perpuluhan, mereka berkata bahwa itu sudah meliputi semua tanggung jawab Anda dalam hal memberi. Orang-orang Kristen yang murni kadang-kadang berkata bahwa Anda harus memberi sampai Anda menderita. Mereka berkata bahwa memberi sampai ia menderita membuktikan bahwa ia benar-benar memberi dengan pengorbanan. Orang Kristen lainnya yang sama murninya berkata bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Mereka berkata bahwa kita tidak perlu memberi sampai menderita tetapi berilah sampai bersukacita.
Dengan jawaban-jawaban yang berbeda-beda ini, bagaimana kita dapat mengetahui mana yang benar? Hanya ada satu jawaban yang benar, kita harus memberi berdasarkan kehendak Allah. 2 Korintus 8:5. Kita harus memberi apa yang Tuhan katakan untuk kita berikan pada saat ini.
Bacaan Alkitab: Mazmur 90:12; Pengkhotbah 12:1; Pengkhotbah 3:1-11; Efesus 5:15-16.
Tuhan juga memberikan kepada setiap orang suatu pemberian yang jauh lebih berharga daripada uang. Tak seorang pun dapat membeli apa yang telah diberikan Tuhan ini. Tidak ada cara lain untuk memperoleh kecuali menerimanya dari Tuhan. Apakah pemberian itu? Itu adalah waktu. Tuhan memberikan waktu kepada kita untuk digunakan, sehingga waktu yang kita punya bukanlah benar-benar milik kita, melainkan milik Tuhan. Bagaimana kita dapat menggunakan waktu yang telah diberikan Tuhan dengan cara yang terbaik?
Bacalah Mazmur 90:12.
Pertama, kita harus merencanakan bagaimana kita ingin menggunakan waktu kita, sebagaimana Tuhan memimpin kita. Kita harus mendaftar segala sesuatu yang ingin kita lakukan, termasuk berdoa, belajar Alkitab, berbakti dan semua kegiatan kita. Jika kita merencanakannya, kita dapat memilih bagaimana kita akan menggunakan hari-hari dan jam-jam kita. Jika kita gagal berencana, waktu akan berlalu, lalu kita akan heran atau menyesali apa yang telah terjadi pada waktu itu. Tanpa sebuah rencana kita tidak akan melakukan hal- hal yang ingin kita lakukan.
Kita harus merencanakan apa yang ingin kita lakukan di dalam waktu setahun, sebulan maupun dalam waktu seminggu. Kita harus merencanakan bagaimana hari kita akan digunakan. Tulislah hal-hal yang ingin dilakukan pada selembar kertas. Bahkan waktu beberapa menitpun akan berharga jika kita merencanakan bagaimana kita akan menggunakannya. Mungkin kita memerlukan waktu rapat selama 10 menit dengan teman kita untuk merencanakan sebuah program. Kita harus memikirkan tentang apa yang harus diputuskan dan membuat daftar untuk barang-barang yang dibutuhkan. Kemudian kita akan mempertimbangkan yang terpenting untuk dilakukan pertama, sehingga jika ada beberapa hal belum selesai, paling tidak hal-hal terpenting sudah dilaksanakan. Baca lagi Mazmur 90:12.
Bacalah Mazmur 5:4.
Bagian terpenting dari setiap hari adalah memulai hari bersama dengan Tuhan. Kita harus merencanakan untuk menyediakan waktu bersama-Nya setiap pagi sebelum kita melakukan hal lainnya. Selama waktu itu kita akan memuji Tuhan dan bersyukur atas berkat-berkat- Nya. Kita perlu membaca Firman-Nya dan membiarkan Dia berbicara kepada kita. Kita akan meminta-Nya untuk memberkati permintaan- permintaan kita dan mengawasi kegiatan-kegiatan kita sepanjang hari. Tidak ada bagian dari hari itu yang terpenting dari waktu kita bersama Tuhan. Seluruh hari itu akan menjadi lebih baik jika kita memulainya bersama dengan Dia. Mungkin kita perlu bangun lebih pagi dari biasa. Akan lebih berharga jika kita kehilangan waktu beberapa menit untuk tidur agar kita dapat memulai hari bersama dengan Allah.
Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. Pengkhotbah 9:10.
Kita harus selalu menyediakan waktu yang benar untuk tanggung jawab pekerjaan atau sekolah. Ini juga merupakan pemberian dari Allah, dan kita harus mengusahakannya dengan sebaik-baiknya. Jika kita mendapat pekerjaan, kita harus bersyukur kepada Tuhan atas pekerjaan itu dan memberikan yang terbaik untuk majikan kita. Kita mengharapkan dia untuk membayar kita atas pekerjaan kita. Dia juga mengharapkan kita bekerja dengan baik karena ia menggaji kita. Kita akan berlaku tidak jujur jika kita tidak memberikan satu hari kerja yang baik untuk gaji yang kita dapatkan. Kita seharusnya jangan pernah mencoba untuk memberikan lebih sedikit dari yang majikan kita harapkan. Pekerjaan sekolah juga pantas menerima usaha terbaik kita. Kita memiliki berkat yang besar pada saat kita memiliki kesempatan untuk bersekolah. Yesus mengajarkan pentingnya mempersiapkan diri untuk pekerjaan di masa depan. Yesus sendiri menghabiskan 30 tahun sebelum Ia memulai pelayanan-Nya. Kemudian setelah dibaptis Ia pergi ke padang gurun selama 40 hari dalam persiapan untuk pekerjaan yang akan Ia lakukan. Bacalah Markus 1:9- 13. Ia juga menghabiskan banyak waktu bersama dengan para murid-Nya dan mengajar mereka sebelum mereka memulai pekerjaan mereka. Tuhan tidak akan memberikan kesempatan bersekolah jika Ia tidak ingin kita menggunakan waktu persiapan itu untuk pekerjaan di masa depan.
Kadang-kadang pelajaran-pelajaran itu kelihatannya kurang penting. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak perlu mempelajari beberapa hal yang guru ajarkan kepada kita. Penulis Pengkhotbah 3:1-11 mengajar kita bahwa ada waktu untuk segala sesuatu. Ketika Tuhan memberi kita kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru, kita harus mencoba dengan tekun untuk mengerti hal itu. Kita selalu tidak tahu bagaimana Ia merencanakan untuk menggunakannya di masa yang akan datang. Ia mungkin memiliki rencana-rencana untuk kita dimana Ia memakai pelajaran-pelajaran yang dulunya kita anggap tidak penting itu.
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Keluaran 20:8.
Tuhan menyisihkan satu hari dari seminggu dan memberitahu kita untuk menjaganya agar tetap kudus. Ini berarti bahwa pada hari yang dikhususkan untuk istirahat dan penyembahan ini, kita tidak akan melakukan aktivitas yang biasa kita lakukan sepanjang minggu. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita harus menolak semua pekerjaan. Baca Matius 12:9-12.
Hari Minggu adalah sebuah hari bagi orang Kristen pergi ke gereja dan menyembah Allah. Hari itu adalah hari untuk berdoa dan mempelajari Alkitab. Hal inilah yang terpenting untuk dilakukan orang Kristen pada hari Minggu. Hari itu juga baik untuk beristirahat, relaks/santai, mengunjungi teman-teman dan mencari kawan-kawan baru. Hari itu adalah waktu untuk memuji Tuhan yang mana kadang-kadang sulit dilakukan di sepanjang minggu yang sibuk.
Setiap hari pada waktu kita berdoa kepada Tuhan, kita harus minta kepada-Nya untuk menolong kita merencanakan jadwal hari itu. Kemudian kita harus meminta-Nya untuk memberkati segala rencana kita agar dilakukan sesuai dengan apa yang telah Ia berikan kepada kita. Kita harus meminta agar Ia menolong kita melihat cara-cara yang dapat kita lakukan untuk membantu orang lain dalam nama-Nya. Tuhan akan memberkati kita saat kita mencari pimpinan-Nya dalam menggunakan waktu kita.
DOA
"Terima kasih Bapa, untuk pelajaran yang Engkau berikan kepadaku saat ini, khususnya tentang keuangan dan tentang waktu. Aku menyadari bahwa segala sesuatu yang aku punya adalah berasal dari Engkau. Karena itu ajarkan kepadaku untuk bertanggung jawab dan mengelolanya dengan baik. Amin."
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Bersaksi dan Memuridkan Orang Lain |
| Kode Pelajaran | : | OKB-T06 |
DAFTAR ISI
BERTANGGUNG JAWAB DALAM HAL BERSAKSI
Bacaan Alkitab
BERTANGGUNG JAWAB DALAM HAL MEMURIDKAN ORANG LAIN
Bacaan Alkitab
DOA
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 1:8; Kisah Para Rasul 4:18-20; Yohanes 15:8.
Orang-orang Kristen adalah saksi dari apa yang telah Yesus lakukan untuk kita. Yesus telah menyelamatkan kita dari dosa. Sudah seharusnya sebagai saksi, kita wajib memberitahu kepada orang lain tentang apa yang telah terjadi dalam hidup kita pada saat kita menerima-Nya. Bacalah 1 Petrus 3:15.
Bacalah Yohanes 4:1-30. Dalam ayat-ayat ini kita membaca bagaimana Yesus bersaksi kepada seorang wanita Samaria di pinggir sebuah sumur. Perhatikan teladan Yesus dalam memberikan kesaksian:
Ia memulai percakapan dengan menggunakan apa yang ada di dekat-Nya. "Berilah Aku minum." Yohanes 4:7.
Dengan cepat Ia membawa percakapan itu kepada hal-hal rohani. "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya ia tidak akan haus untuk selama-lamanya." Yohanes 4:14.
Ia menyebabkan wanita itu mengakui dosa-dosanya sendiri. "Yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." Yohanes 4:18.
Ia menolak untuk diajak bertengkar. "Allah adalah Roh, dan barangsiapa yang menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Yohanes 4:24.
Ia menyatakan dengan jelas pernyataan-Nya dan menghendaki agar wanita itu membuat keputusannya sendiri tentang Dia. "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau." Yohanes 4:26.
Setelah wanita itu mendengar dan percaya kepada Yesus, dengan segera ia pergi ke kotanya sendiri dan menceritakan kepada orang- orang tentang Yesus. Tuhan Yesus adalah teladan kita dalam hal bersaksi. Ia ingin supaya orang-orang mengenal Allah Bapa-Nya. Ia berbicara kepada para nelayan, pemungut cukai, seorang hakim bahkan seorang pencuri. Dengan cara yang sama setiap orang Kristen harus bersaksi kepada seluruh dunia untuk memberitahu tentang siapa Yesus Kristus.
Bacalah Kisah Para Rasul 1:8. Dalam ayat ini, Yesus memerintahkan setiap orang Kristen untuk bersaksi, dimulai dari dalam kota atau desanya sendiri dan desa berikutnya.
Suatu saat Petrus dan Yohanes ditangkap karena berkhotbah dan memberitakan tentang nama Yesus. Kisah Para Rasul 4:18-20. Tetapi mereka membalas, "Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Kisah Para Rasul 4:20. Jawaban mereka sungguh sangat tepat. Bersaksi harus menjadi sifat alami dari setiap orang Kristen. Anda harus membagikan cerita tentang apa yang sudah terjadi dalam hidup Anda. Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 15:8, bahwa salah satu bukti dari pemuridan adalah bersaksi, atau menghasilkan buah. Jika Anda adalah murid-Nya, maka hidup Anda harus selalu penuh dengan kesaksian.
Anda dapat memberikan seluruh waktu Anda untuk berbicara kepada seseorang mengenai Yesus tetapi Anda tidak dapat mengubah kehidupannya. Ini merupakan pekerjaan Roh Kudus untuk mengubah hati setiap orang. Kisah Para Rasul 1:8 berkata: "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu." Roh Kudus akan menolong Anda saat Anda bersaksi mengenai Yesus kepada orang lain. Yesus juga telah berjanji dalam Matius 28:20, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Saat Anda bersaksi untuk Yesus, Roh-Nya bersama dengan Anda. Ia akan memberi Anda kuasa untuk bersaksi. Roh Kudus akan memimpin Anda kepada orang-orang yang telah Tuhan siapkan jika Anda berjalan di dalam Roh.
Satu cara yang baik untuk memulai suatu kesaksian ialah dengan membagikan kesaksian Anda sendiri. Beritahukanlah bagaimana Anda sebelum menerima Kristus dan bagaimana Anda setelah menerima Kristus.
Kemudian mintalah orang itu untuk membaca Roma 3:23 "Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." Dan upah dosa itu ialah maut. Roma 6:23.
Selanjutnya Anda dapat menunjukkan kebutuhan dia akan adanya keselamatan. Alkitab telah menyatakan bahwa Allah sendiri yang akhirnya harus datang ke dalam dunia menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Roma 5:8.
Sekarang, bantulah orang itu untuk mengetahui bagaimana dia bisa menerima Yesus. Ajaklah dia percaya hanya kepada Yesus saja untuk memperoleh hidup yang kekal. Caranya, bantu dia untuk mengundang Yesus masuk dalam hatinya menjadi Juru Selamat dan Tuhan di dalam doa. "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Kisah Para Rasul 4:12.
Adalah baik untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Efesus 2:8-10 dapat menolong unttuk menunjukkan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus saja.
Akhirnya, bantulah orang itu untuk yakin akan keselamatannya dengan membaca 1 Yohanes 5:12-13, "Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal."
Bacaan Alkitab: Matius 28:19-20; 2 Timotius 2:2.
Para petobat baru digambarkan seperti bayi-bayi yang baru lahir. Mereka disebut sebagai "Bayi-bayi Kristen." Seorang bayi tidak dapat bertumbuh sendiri. Ia membutuhkan perhatian ibunya untuk kesehatan, kekuatan dan pertumbuhannya. Para orang tua memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan mengasuh bayinya sampai ia dewasa. Mereka memberinya makanan, perhatian, perlindungan dan semua keperluannya.
Pemuridan adalah sebuah proses pelatihan yang menolong seorang Kristen yang baru untuk bertumbuh menjadi orang Kristen yang berguna, yang dewasa rohaninya, yang juga akan menolong orang lain untuk bertumbuh. Hal ini adalah sebuah pelatihan menanamkan prinsip-prinsip hidup kekristenan, sehingga orang itu dapat memiliki kualitas iman yang sejati, yang nantinya akan diteruskan kembali kepada orang lain.
Bacalah Matius 28:19-20.
Kita perlu memuridkan orang lain sebab Tuhan memerintahkannya. Ketika Yesus di bumi ini, banyak orang yang mengikuti Dia. Banyak yang percaya kepada-Nya dan menjadi murid-murid-Nya. Yesus tahu bahwa mereka tidak akan melanjutkan pelayanan-Nya jika Ia meninggalkan mereka tanpa dilatih. Oleh sebab itu Ia memilih keduabelas murid. Ia memilih dua belas murid-Nya karena dua alasan. Yang pertama yaitu untuk tinggal bersama mereka, dan yang kedua yaitu untuk melatih mereka (memberi mereka tanggung jawab).
Tanggung jawab yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya ialah untuk pergi dan memuridkan segala bangsa. Pertama-tama Ia melatih mereka dan kemudian sering mengirim mereka untuk melakukan apa yang Ia perintahkan kepada mereka untuk dilakukan. Ia melakukan hal ini supaya mereka akan meneruskan pelayanan-Nya setelah Ia terangkat ke surga. Hal ini merupakan perintah untuk semua orang Kristen ataupun para orang percaya. Karena itu, jikalau pemuridan adalah perintah Tuhan, kita harus mentaatinya dan mengambil tanggung jawab untuk memuridkan orang lain. Yesus berkata dalam Yohanes 15:14, "Kamu adalah sahabat- Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu." Pemuridan bukan hanya merupakan tanggung jawab pemimpin gereja saja. Yesus tidak memberikan perintah ini hanya kepada kedua belas murid-Nya, melainkan kepada semua orang percaya.
Bacalah Yohanes 15:16.
Alasan lain mengapa kita harus memuridkan orang lain adalah untuk menghasilkan orang-orang Kristen yang kuat yang akan membuat gereja- gereja menjadi kuat. Dalam Yohanes 15:16 kita membaca, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap..."
Buah yang Yesus sebutkan dalam ayat ini adalah membawa orang-orang kepada Kristus. Orang Kristen yang baru tidak dapat bertumbuh sendiri. Ia memerlukan seseorang untuk menolong dia untuk menjadi dewasa, yaitu seorang Kristen yang berguna yantg mau menolong orang lain untuk bertumbuh juga. 2 Timotius 2:2, Ayat Hafalan kita, mengajarkan bahwa pemuridan menolong untuk membuat orang-orang Kristen menjadi kuat supaya mereka juga akan memuridkan orang lain. Inilah buah yang tinggal tetap itu.
Bacalah Kolose 1:28.
Tujuan dari pemuridan adalah "supaya kita boleh menampilkan orang- orang yang dewasa di dalam Kristus." Sangat menyedihkan jika ada sebuah gereja yang mengikuti program penginjilan tetapi menolak akan pemuridan. Hasilnya ialah kemiskinan, orang-orang Kristen yang tidak dewasa, yang tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat tekanan, cobaan dan penganiayaan datang. Mereka sering berhenti pergi ke gereja dan berusaha untuk menghadapi sendiri peperangan mereka.
Pemuridan adalah suatu proses yang harus dilakukan oleh semua orang Kristen. Kita harus memuridkan sebanyak mungkin orang, yang mana mereka juga akan memuridkan orang lain. Yesus telah melakukan pekerjaan yang terhebat yakni menyelamatkan kita. Kita harus memberitahu yang lain mengenai hal ini dan memberikan semangat kepada mereka agar menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi dan Tuhan.
Paulus tidak suka melihat bayi-bayi Kristen dalam gereja. Ia selalu bertujuan untuk menghasilkan orang-orang Kristen yang dewasa. Dalam Kolose 1:28 ia berkata, Dialah yang kami beritakan, apabila tiap- tiap orang kami nasehati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Perhatikan bahwa Paulus menekankan kata "tiap-tiap orang." Ini berarti bahwa setiap orang harus dimuridkan. Setiap orang harus diajar dan dilatih. Setiap orang harus menjadi dewasa di dalam Kristus. Setiap orang harus ditampilkan kepada Kristus, bukan sebagai seorang bayi, tetapi orang dewasa dalam Kristus.
Untuk bertumbuh memerlukan waktu yang cukup lama, oleh sebab itu janganlah kita menjadi putus asa. Bersabarlah dan lihatlah selalu kepada Yesus untuk minta pertolongan dan bimbingan-Nya. Ingatlah akan janji Yesus dalam Matius 28:20 bahwa Ia akan selalu bersama Anda, sampai akhir zaman. Yesus tidak memilih Anda supaya Anda bekerja untuk-Nya. Ia memilih Anda supaya Ia dapat bekerja melalui Anda untuk mewujudkan apa yang tertinggal yang belum dilaksanakan ketika Ia naik ke surga. Jadi seorang Kristen haruslah menjadi seperti bejana (perabot rumah) yang bersih, yang siap dipakai oleh Tuhannya. Bacalah 2 Timotius 2:21.
DOA
"Terima kasih untuk pemahaman yang Tuhan berikan dalam pelajaran terakhir ini. Ajarkan saya untuk senantiasa bersaksi tentang Engkau dan memuridkan orang lain, sehingga ia juga bisa bersaksi dan memuridkan orang lain lagi. Dengan demikian setiap orang boleh mengenal dan menerima Engkau sebagai Juru Selamat dan Tuhan mereka. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pelajaran 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Doa dan Membaca Alkitab |
| Kode Pelajaran | : | OKB-T01 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Ibadah dan Persekutuan |
| Kode Pelajaran | : | OKB-T02 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab untuk Hidup Benar dan Menggunakan Karunia-karunia Rohani |
| Kode Pelajaran | : | OKB-T03 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Keanggotaan Gereja dan Kehidupan Keluarga |
| Kode Pelajaran | : | OKB-T04 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Memberi dan Menggunakan Waktu |
| Kode Pelajaran | : | OKB-T05 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Bersaksi dan Memuridkan Orang Lain |
| Kode Pelajaran | : | OKB-T06 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Doa dan Membaca Alkitab |
| Kode Pelajaran | : | OKB-R01a |
Referensi OKB-R01a diambil dari:
| Judul Buku | : | TERLALU SIBUK? JUSTRU HARUS BERDOA |
| Judul Asli | : | Pasang Surut Hidup Berdoa |
| Penulis | : | Bill Hybels |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1998 |
Beberapa bulan yang lalu saya berbicara dengan beberapa orang Kristen yang merasa malu. Mereka pernah terbiasa hidup berdoa, kata mereka. Tapi keadaan berubah. Mereka tidak berdoa lagi seperti dulu sehingga mereka merasa malu. Ada yang menggambarkannya begini:
"Waktu saya baru percaya, angan-angan berbicara dengan Allah alam semesta dan Allah mendengarkan saya mempedulikan saya, menanggapi kepentingan saya angan-angan itu membanjiri pikiran saya sehingga hampir saya tidak dapat memahaminya."
"Begitu saya tahu bahwa saya dapat melakukannya, saya mulai berdoa sepanjang hari. Saya berdoa waktu bangun. Saya berdoa di meja waktu sarapan pagi. Saya berdoa dalam perjalanan ke tempat kerja. Saya berdoa di meja saya di kantor, dengan teman-teman melalui telepon, waktu makan siang, dengan keluarga waktu makan malam, dengan anak- anak waktu mereka hendak tidur malam. Saya berdoa dengan kelompok kecil. Saya sangat senang waktu berdoa di gereja.
"Saya berdoa sepanjang waktu, dan itu membuat saya bersukacita. Allah menjawab doa-doa saya. Hidup saya berubah. Hidup orang lain berubah. Sungguh menyenangkan."
"Apa yang terjadi?" tanya saya.
"Saya tidak tahu," jawab orang itu. "Terus terang, saya tidak tahu. Rasanya hidup berdoa saya surut." Kemudian dia berkata dengan sangat sedih, "Saya jarang sekali berdoa sekarang."
Musim Tanpa Doa
Saya tahu masalah mereka. "Hampir setiap pengikut Yesus Kristus pada suatu waktu mengalami persis seperti apa yang Anda gambarkan," kata saya. "Saya tahu saya juga pernah begitu."
Waktu saya menoleh ke riwayat hidup rohani saya, saya menemukan musim tertentu di mana saya sering berdoa dengan penuh semangat. Saya dipenuhi sukacita dan harapan akan berkat Allah. Tanda ajaib terjadi dalam hidup saya, dalam hidup orang yang saya doakan dan dalam gereja saya.
Kemudian, tanpa sebab yang jelas, hidup berdoa saya mulai surut sampai saya hampir berhenti berdoa. Ya, saya masih berdoa pada waktu makan dan pada kegiatan-kegiatan di gereja tapi tidak lebih dari itu. Doa nampaknya hambar, membosankan dan tanpa arti. Musim tanpa doa itu bisa berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Lalu tiba-tiba kuat kuasa Allah melimpah lagi dalam hidup saya, seperti sebelumnya. Sekali lagi saya merasa senang datang ke hadirat Allah. Sekali lagi saya sering berdoa dan berhasil. Sampai kepudaran kambuh lagi, seperti selalu terjadi.
Apa yang menyebabkan pasang-surut dalam hidup berdoa kita? Mengapa kita kehilangan minat dalam berdoa? Mengapa kita berhenti berdoa?
Satu penyebab kita berhenti berdoa atau membiarkan hidup berdoa kita pudar, ialah bahwa kita terlalu senang - puas dengan keadaan. Itu sifat dasar manusiawi.
Bila badai mengamuk, topan menderu dan gelombang menimpa geladak, setiap orang di atas kapal berdoa seperti orang gila. Bila telepon yang menyeramkan datang di tengah malam, bila dokter berkata bahwa yang dirawat tidak begitu memberi harapan, atau waktu suami/istri kita berkata bahwa ada orang lain yang sangat menarik, doa adalah sifat dasar kedua. Dalam situasi yang sukar seperti itu, hampir setiap orang berdoa - sungguh-sungguh, berulang-ulang, penuh harapan, bahkan mati- matian.
Kemudian badai berlalu, laut tenang, angin reda dan Allah sekali lagi membuktikan diriNya setia. Sebagian besar motivasi kita untuk berdoa turun, dan mulai lagi doa yang sangat memudar.
Melupakan Allah
Dapat dipahami, hal ini mempengaruhi hati Allah. Ia sedih bila anak- anak-Nya bertindak seperti mahasiswa, yang menghubungi orang tua hanya kalau uang mereka mulai kurang.
Ada tema sedih dalam Perjanjian Lama. Allah memberkati anak-anak-Nya, tapi mereka melupakan-Nya. Ia memberkati mereka lagi, dan mereka melupakan-Nya lagi. Mereka mengalami kesukaran besar dan mohon pertolongan, dan Allah datang dan menyelamatkan mereka. Tapi mereka lagi-lagi melupakan-Nya.
Bacalah, misalnya, litani yang sedih dalam Mzm 78. Walau Allah memberikan hukum kepada Israel, dibelah-Nya laut supaya mereka bisa menyeberang, memimpin mereka melalui padang gurun, memberikan mereka makanan dan air dengan cara ajaib, dan memukul mundur musuh mereka, "Berulang kali mereka mencobai Allah; ... Mereka tidak ingat kepada kekuasaan-Nya,..." (ay 41-42). Atau dalam Mzm 106:6-13
Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setia-Mu, tetapi mereka memberontak terhadap Yang Mahatinggi di tepi Laut Teberau. Namun diselamatkan-Nya mereka oleh karena nama-Nya, untuk memperkenalkan keperkasaan-Nya. Dihardik-Nya Laut Teberau, sehingga kering, dibawa-Nya mereka berjalan melalui samudra raya seperti melalui padang gurun. Demikian diselamatkan-Nya mereka dari tangan pembenci, ditebus-Nya mereka dari tangan musuh; air menutupi para lawan mereka, seorang pun dari mereka tiada tinggal. Ketika itu percayalah mereka kepada segala firman-Nya, mereka menyanyikan puji-pujian kepada-Nya. Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak menantikan nasihat-Nya. Dengan sedih, kata pemazmur itu: "Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa" (ay 6). Kita tidak ingin melupakan Allah. Kita ingin agar hidup berdoa kita konsisten. Bagaimana kita bisa tetap mengingat kebaikan Allah? Bagaimana kita ingat untuk berdoa?
Irama Sehari-hari Kita dapat mengingat untuk berdoa sama dengan cara kita mengingat apa saja yang menjadi urusan kita dengan memasukkan doa dalam jadwal harian kita. Seperti kita lihat, Yesus menganggap bahwa pengikut-Nya akan menyediakan waktu untuk berdoa. Kalau kita merasa bahwa kita kian jarang berdoa, itu mungkin karena kita tidak pernah menjadikan doa suatu bagian tertentu dari jadwal harian kita.
Ada orang yang menentukan waktu untuk berdoa bahkan sebelum turun dari tempat tidur di pagi hari. Yang lain berdoa waktu minum kopi, atau waktu makan siang, atau persis sesudah pulang dari tempat kerja atau sekolah, atau sesudah makan malam, atau sebelum waktu tidur. Waktu yang kita pilih tidak menjadi soal, selama kita menatanya dengan setia. Doa perlu menjadi bagian dari irama hidup sehari-hari kita.
Pilihlah satu waktu pada waktu mana Anda biasanya tidak terganggu. Anda bisa menutup diri dari dunia dan mendengarkan Allah. Bersamaan dengan itu, pilihlah tempat yang dapat menjadi tempat pelarian Anda, tempat perlindungan Anda, sementara Anda duduk di hadapan hadirat Allah.
Para kenalan saya yang konsisten tiap hari berdoa dengan sungguh- sungguh dan penuh sukacita, biasanya telah memilih tempat tertentu yang mereka gunakan untuk berdoa setiap hari. Saya mengenal seorang yang berdoa sepanjang jalan ke tempat kerja, dalam kereta api lima hari seminggu. Itu empat puluh menit kalau mendapat kereta api ekspres dan kalau tidak, satu jam. Dia berkata bahwa tempat duduknya di kereta adalah tempat suci baginya.
Saya mengenal seorang yang berdoa di meja pojok di restoran sebelum bekerja tiap hari. Ada yang berdoa sambil duduk dekat pintu sorong dari kaca dengan pemandangan taman di luar. Ada yang menulis doanya dalam komputer di kantornya. Tempat apa saja bisa menjadi tempat berdoa. Yang penting, kalau kita hendak ingat untuk berdoa, ialah menentukan tempat khusus dan waktu khusus untuk bertemu dengan Tuhan.
Dosa Sehari-hari Tapi untuk kebanyakan dari kita, masalah tidak setia berdoa bukanlah karena tidak ada waktu atau tempat. Kita mempunyai tempat berdoa, dan dulu kita pergi ke sana tiap hari. Tanpa sebab tertentu semangat kita pergi ke sana sirna. Kita tidak berhasrat lagi untuk berdoa.
Kalau itu yang menggambarkan perasaan kita, kita mungkin menderita rasa salah atau malu. Sesuatu yang telah kita perbuat - atau sedang perbuat sekarang - telah menjadi rintangan antara kita dan Allah.
Kadang-kadang bila saya mencoba menolong seorang untuk mengerti mengapa mereka tidak berdoa lagi, saya berkata, "Mari kita telusuri. Apakah Anda tahu kapan Anda mulai merasa seperti ini? Apa lagi yang sedang terjadi dalam hidup Anda pada waktu itu?"
Orang yang jujur dan sadar-sendiri sering mengatakan sesuatu seperti ini, "Ya, pada waktu itu saya mulai berpesta-pora, banyak mengelana dan membiarkan hidup saya sedikit di luar kendali."
Seorang lagi berkata, "Pada waktu itu saya sangat sibuk di tempat kerja dan kerakusan memancing saya sehingga mencari uang menjadi tenaga pendorong yang merasuki hidup saya."
"Saya kira pada waktu saya menerima konseling, itu pada mulanya menolong. Tapi kemudian bukannya mengatasi masalah saya, saya terbenam dalam diri sendiri, dan saya kian menjadi pusat dunia saya sendiri. Saya mengesampingkan Allah."
"Mungkin itu pada waktu saya pindah sekamar dengan pacar saya."
Saya harus memberitahu orang-orang ini, apa pun rinciannya, dosa sehari-hari cukup kuat untuk menciptakan kesenjangan yang kian lebar dalam hubungan kita dengan Allah. Kian lebar kesenjangan itu, kian jarang kita berdoa. Dan kian jarang kita berdoa, kesenjangan itu menjadi kian lebar.
Menghina Nama Allah
Saya ingat satu waktu ketika saya tahu saya sedang berbuat dosa. Saya kebingungan mengapa doa pagi saya di kantor ternyata sangat kaku dan tidak berarti. Saya mempunyai waktu berdoa yang sangat teratur dan tempat berdoa yang tetap; tapi saya tidak mau terlibat percakapan mendalam dengan Allah.
Kemudian saya membaca firman Allah dalam Kitab Mal 1:6 "... di manakah hormat yang kepada-Ku itu? ...firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: 'Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?'" (Mal 1:6).
Banyak cara, kata Allah melalui Maleakhi. Marilah saya sebutkan beberapa.
Mereka menipu Allah. Kendati petunjuk Allah jelas untuk mempersembahkan hewan yang terbaik sebagai korban kepada Tuhan. Tapi orang Israel membawa ternak mereka yang terbaik ke pasar, di mana mereka bisa mendapatkan harga mahal untuk ternak itu. Kemudian mereka membawa hewan yang tidak berharga - yang buta, yang timpang, yang sakit hampir mati - dan membawanya ke mezbah Allah (lih Mal 1:6-8).
Mereka juga telah menipu orang miskin - menindas orang upahan, menyulitkan hidup ekonomi para janda dan curang terhadap para orang asing pendatang liar (lih Mal 3:5).
Di samping itu, mereka telah menipu keluarganya. Perceraian merajalela. "... Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: 'Oleh karena apa?' Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan istri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan istri seperjanjianmu" (Mal 2:14-15).
Melalui Maleakhi Allah berseru, "Setelah menipu Aku, orang yang tertindas di antara kamu dan bahkan keluargamu sendiri, kamu berani meminta berkat-Mu? Kamu terang-terangan berdosa kepada-Ku dan kemudian punya nyali untuk meminta kemurahan hati? Kamu memberontak melawan Aku dan mengharapkan Aku tidak terpengaruh oleh ketidakpatuhanmu? Aku sangat sedih. Dosamu menghancurkan hati-Ku. Itu terasa seperti pengkhianatan."
Kalau kita tidak hidup dalam kepatuhan kepada Allah, kita kehilangan rasa hangat dan akrab dengan Dia. Kita bisa bernostalgia dengan waktu berdoa yang dulu, tapi kita telah mendirikan satu perintang doa yang harus dirubuhkan sebelum kita bisa menikmati lagi hubungan kasih sayang dengan Dia. Kita tidak mempunyai persekutuan yang erat dan langgeng dengan Allah, kecuali kalau kita mematuhi-Nya - mutlak.
Merubuhkan Perintang
Hal yang mengherankan ialah bahwa Allah sendiri mau merubuhkan perintang yang memisahkan kita.
Alkitab menceritakan kepada kita bahwa Allah terhadap Siapa kita berdosa, Allah yang kita acungi tinju kita, merentangkan tangan-Nya kepada kita dan berkata, "Pulanglah. Kau tidak ingin hidup dengan cara demikian, bukan? Kau tidak mau menempuh jalan itu. Akuilah dosamu Anda. Katakanlah kepada-Ku bahwa hidupmu kacau-balau. Bersepakatlah dengan Aku bahwa engkau berada di jalan yang salah. Berbaliklah, dan kita akan berhubungan akrab kembali. Maka doamu akan kaya dan berarti lagi. Kita akan berjalan bersama-sama kembali."
Marilah, baiklah kita berperkara! - firman TUHAN - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yes 1:18). Kabar baik ialah bahwa Anda bisa kembali ke dalam persekutuan dengan Bapa sekarang juga. Anda boleh mengucapkan doa pertobatan: "Ya Allah, saya minta ampun atas --. Ampunilah saya. Saya mau berbalik dari cara hidup ini, dan saya mau kembali ke dalam hubungan yang akrab dengan Engkau."
Bila Anda mengucapkan doa itu, Allah akan memulihkan Anda. Anda akan berdoa dengan cara lain sesudah pemulihan itu. Anda kembali ke jalan yang benar.
Apakah Allah Tuli? Barangkali Anda menyisipkan ke dalam jadwal harian Anda acara untuk berdoa, dan Anda tidak sadar bahwa ada dosa yang memisahkan Anda dari Allah. Namun Anda tahu bahwa Anda sudah mulai menjauhi Dia. Anda hampir menghentikan doa Anda, karena merasa kecil hati. Kecewa. Atau bahkan putus asa.
Anda berdoa sungguh-sungguh agar ayah Anda selamat dalam pembedahan, tapi ternyata ia meninggal.
Anda berdoa agar putra Anda dan anak mantu akan rujuk dan tetap utuh, tapi mereka bercerai.
Anda berdoa agar bisnis Anda dapat bertahan terhadap satu pesaing baru tapi tidak berhasil.
Anda tahu bahwa dosa Anda sudah Anda akui, dan Anda mencoba menempuh hidup etis. Permintaan Anda tidak egois. Dan sekarang karena ayah Anda sudah meninggal, anak bercerai dan bisnis Anda ditutup, Allah tidak mungkin menyuruh Anda menunggu. Sudah terlambat.
Agaknya doa tidak berhasil. Mengapa membuang-buang napas Anda? Kalau surga tidak mendengar, kalau Allah tidak peduli, atau kalau Allah tidak berkuasa untuk mengubah keadaan, mengapa harus berdoa? Lebih baik menghadapi kenyataan dan berhenti membohongi diri sendiri.
Kalau Anda pernah mengalami kekecewaan yang menghancurkan yang tidak diatasi oleh doa, dan kalau Anda adalah pengikut Kristus yang jujur, Anda tentu pernah bergumul dengan pertanyaan seperti ini. Saya tidak mempunyai jawaban yang pasti bagi Anda. Ada hal-hal yang tidak akan pernah jelas selama kita hidup di dunia ini. "Hidup kami ini adalah hidup berdasarkan iman", kata Rasul Paulus, "bukan berdasarkan apa yang kelihatan" (2Kor 5:7).
Tapi saya dapat menceritakan kepada Anda perkataan Yesus kepada para rasul ketika mereka kecil hati: "Yesus menyampaikan... kepada mereka untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemu-jemu," tulis Lukas. Setelah memberikan perumpamaan untuk menggambarkan maksud-Nya, Yesus bertanya, "Tidakkah Allah akan membenarkan orang- orang pilihan-Nya yang siang-malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka..." (Luk 18:1, 7-8).
Saya meminta dengan sangat kepada kamu, kata Yesus, jangan kehilangan nyali. Berdoa terus. Bapa mendengarkan. Ia mendengarkan setiap doa yang kita panjatkan. Ia sungguh mempedulikan segala sesuatu yang mempengaruhi kita. Ia memiliki kuat kuasa yang tidak terbatas untuk menanggulangi apa saja yang mengganggu kita. Memang Ia tidak menjawab setiap doa kita sesuai yang manusia berdosa menghendakinya. Tapi Ia menghendaki kita bertahan. Ia suka bersekutu dengan kita. Ia mau melakukan apa saja yang terbaik untuk kita.
Saya Terus Berdoa Beberapa tahun yang lalu kami menyelenggarakan baptisan. Banyak orang menegaskan di depan umum keputusan mereka untuk mengikuti Kristus. Rasanya hati saya akan meledak karena kegirangan. Kemudian, di tangga, saya menemukan seorang wanita sedang menangis. Saya tidak dapat mengerti mengapa ada orang yang menangis sesudah upacara yang demikian menggembirakan, jadi saya berhenti dan bertanya apa yang terjadi dengan dia.
"Tidak," katanya, "Saya sedang bergumul. Ibu saya dibaptis hari ini." Apakah ini menjadi masalah? pikir saya. "Saya berdoa untuk dia tiap hari selama 20 tahun," katanya, dan kemudian menangis kembali. "Tolong saya agar mengerti soal ini," kata saya.
"Saya menangis," jawabnya, "karena saya nyaris - nyaris sekali - menyerah. Maksud saya, setelah 5 tahun terus-menerus berdoa saya berkata, 'Siapa yang memerlukan ini? Allah tidak mendengarkan.' Setelah 10 tahun terus-menerus berdoa saya berkata, 'Mengapa saya harus menghabiskan nafas? Setelah 15 tahun terus-menerus berdoa saya berkata, 'Ini tidak masuk akal.' Setelah 19 tahun saya berkata, 'Saya ini tolol.' Tapi saya masih berdoa terus, walaupun iman saya lemah. Saya berdoa terus, dan Ibu saya menyerahkan hidupnya kepada Kristus, dan dia dibaptis hari ini."
Wanita itu berhenti menangis dan menatap ke mata saya. "Saya tidak akan pernah meragukan kuat kuasa doa lagi," katanya.
Tanya-jawab untuk Renungan dan Pembahasan
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a |
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Doa dan Membaca Alkitab |
| Kode Pelajaran | : | OKB-R01b |
Referensi OKB-R01b diambil dari:
| Judul Buku | : | MEMBINA IMAN |
| Judul Asli | : | Menyelidiki Alkitab |
| Penulis | : | Andrew Murray |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung, 1965 |
"Betapa kucintai Taurat Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari" (Mazmur 119:97).
"Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci . . . Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku" (Yohanes 5 : 39).
"Tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya" (Ibrani 4 :2).
Pada permulaan buku ini lebih dari satu pasal dipergunakan untuk membicarakan peranan Firman Allah dalam kehidupan anugerah. Saudara- saudara pembaca, sebelum kita berpisah, sekali lagi saya ingin kembali kepada soal yang maha penting itu. Saudara-saudara yang saya kasihi, betapa pun saya menjelaskan pentingnya hal ini, pasti tidak akan cukup. Kehidupan rohani saudara sangat bergantung kepada Firman Allah. Manusia hidup dari Firman yang keluar dari mulut Allah. Oleh karena itu berusahalah dengan segenap hati untuk belajar bagaimana memakai Firman Allah dengan benar. Untuk itu terimalah petunjuk-petunjuk yang berikut:
Bacalah Firman itu dengan hati, lebih daripada sekedar dengan pengertiannya. Dengan pengertian, saya akan mengetahui dan memahami; dengan hati saya mengingini, mengasihi dan berpegang teguh. Biarlah pengertian itu tunduk kepada hati kita. Hendaklah kita takut terhadap pengertian tabiat duniawi yang tidak dapat menerima perkara-perkara rohani. Lawanlah pengertian saudara dan dengan rendah hati nantikanlah Roh Allah. Pada setiap kesempatan, di tengah-tengah saudara membaca Firman Allah, berdiam dirilah dan katakanlah kepada diri saudara sendiri: "Firman ini sekarang saya terima untuk dikasihi dan dibiarkan hidup di dalam hati saya.
Bacalah selalu Firman itu di dalam persekutuan dengan Allah yang hidup. Kuasa suatu perkataan bergantung pada keyakinan saya akan orang yang mengeluarkan perkataan itu. Pertama-tama sediakanlah hati saudara dalam persekutuan kasih dengan Allah yang hidup, dengan menyadari kehadiran-Nya dan kasih-Nya. Hadapilah Firman itu dengan keyakinan bahwa Ia, Allah yang kekal, aedang berbicara kepada saudara dan biarlah hati saudara tenang mendengarkan hanya Allah saja. Dengan demikian maka Firman itu pasti akan mejadi berkat yang besar bagi saudara.
Bacalah Firman itu sebagai Firman yang hidup, yang di dalamnya tinggal Roh Allah, dan sebagai Firman yang pasti bekerja dalam orang-orang yang percaya. Firman itu merupakan benih. Benih itu mempunyai kehidupan dan dapat tumbuh serta menghasilkan buah. Firman itu hidup, dan dengan sendirinya dapat tumbuh dan menghasilkan buah. Jika saudara tidak mengerti seluruhnya, dan saudara tidak merasakan kuasanya, simpanlah Firman itu dalam had saudara; pikirkanlah dan renungkanlah. Dengan sendirinya Firman itu akan mulai bekerja dan tumbuh dalam saudara. Roh Allah ada bersama-sama dan ada di dalam Firman itu.
Bacalah dengan tekad untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga melaksanakan Firman itu hendaklah saudara selalu bertanya: dengan Firman itu apakah yang Allah inginkan dari saya sekarang? Jikalau jawabannya adalah: Ia menginginkan saya percaya dan berharap agar Ia menggenapinya, lakukanlah segera dengan segenap pati saudara. Jikalau Firman itu memerintahkan agar saudara melakukan sesuatu, lakukanlah dengan segera. Betapa besar berkatnya apabila saya melaksanakan Firman Allah dan menyerahkan diri saya untuk bertindak dan menjadi seperti yang dikatakan dan diinginkan oleh Firman itu. Hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja.
Bacalah Firman itu, dan berilah waktu yang cukup. Saya makin melihat bahwa di dunia ini orang tidak akan mendapatkan apa-apa tanpa waktu yang cukup. Berilah waktu kepada Firman itu. Setiap kali saudara membacanya sediakanlah waktu agar Firman itu masuk ke dalam hati saudara. Berilah waktu dan sementara itu dengan gigih tetaplah berpegang pada Firman itu, dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan. Apabila saudara tekun, maka saudara akan menjadi terlatih dan menjadi lebih biasa dengan Firman itu; Firman itu mulai bekerja. Jangan tawar hati jika saudara tidak mengerti Firman itu. Bertekunlah, jangan mundur, berikanlah waktu kepada Firman itu. Kelak Firman itu akan menjadi jelas bagi saudara. Daud harus merenungkan Firman itu siang malam supaya dapat memahaminya.
Bacalah Firman itu dengan menyelidiki Alkitab. Keterangan yang terbaik mengenai Alkitab adalah Alkitab itu sendiri. Ambillah tiga atau empat ayat yang menyatakan tentang satu hal lalu bandingkanlah ayat-ayat itu. Lihatlah apa yang dikatakannya dan di mana letak perbedaan dan persamaan mengenai hal itu. Biarlah Firman Allah yang pernah satu kali dinyatakan itu, dijelaskan dan diteguhkan dengan apa yang dikatakannya pada saat yang lain mengenai hal yang sama. Ini merupakan penjelasan yang paling baik dan paling dapat dipercaya. Bahkan para penulis Alkitab yang saleh sekalipun, nmenggunakan cara pengajaran semacam ini. Janganlah mengeluh bahwa cara ini terlalu banyak membuang waktu dan usaha. Jerih payah saudara tidak akan sia-sia; jerih payah saudara akan mendapat imbalan. Di dunia ini, tanpa jerih payah, saudara tidak akan memperoleh apa-apa. Makanan kita sehari-hari sekalipun, harus kita peroleh dengan keringat kita. Barangsiapa yang ingin pergi ke sorga tidak akan dapat sampai ke sana tanpa berjerih payah. Selidikilah Alkitab, maka saudara akan mendapat imbalan yang melimpah.
Saudara-saudara seiman dalam Kristus, salah satu perkataan saya yang terakhir, dan yang paling bersungguh-sungguh kepada saudara ialah: Pertumbuhan, kuasa dan kehidupan saudara sangat bergantung kepada cara saudara memperlakukan Firman Allah. Oleh karena itu kasihilah Firman Allah; hargailah Firman itu sebagai sesuatu yang lebih manis daripada madu dan lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak. Dalam Firman itu Allah dapat dan akan mencurahkan isi hati-Nya kepada saudara. Dalam Firman itu Yesus akan menyatakan diri-Nya dan segala anugerah-Nya. Dalam Firman itu Roh Kudus akan masuk ke dalam saudara untuk membaharui hati dan seluruh pikiran saudara sesuai dengan pikiran dan kehendak Allah. Oleh sebab itu, janganlah membaca Alkitab hanya untuk mencegah kemunduran saudara, tetapi anngaplah hal itu sebagai salah satu pekerjaan utama yang harus saudara lakukan di dunia ini; supaya Allah dapat memenuhi saudara dengan Firman-Nya, supaya Ia dapat menggenapkan Firman-Nya di dalam saudara.
Tuhan Allah, merupakan anugerah yang besar bahwa Engkau berkata-kata kepada kami melalui Firman-Mu, bahwa di dalam Firman-Mu kami dapat mengetahui hati-Mu, kehendak-Mu, dan kasih-Mu. Ya Tuhan, ampunilah segala dosa kami karena kami seringkali menentang Firman-Mu yang indah itu. Tuhan, biarlah kehidupan yang baru ini lebih dikuatkan oleh Roh supaya segala keinginan hati kami hanyalah untuk tinggal tetap dalam Firman-Mu. Amin.
Di tengah-tengah Alkitab terdapat Mazmur 119, di dalamnya dengan jelas sekali dinyatakan pujian dan kasih akan Firman Allah. Tidak cukup bagi kita hanya membaca bagian-bagian Mazmur ini secara berurut; kita harus mengambil setiap pokok yang penting dan kemudian mencari apa yang dikatakan dalam bagian yang lain mengenai setiap pokok itu. Misalnya, marilah kita mengambil pokok-pokok yang berikut. Perhatikanlah ciri- ciri jawaban jawabannya, dan dengan cara ini berusahalah agar saudara benar-benar memahami apa yang diajarkan kepada kita mengenai kemuliaan Firman Allah:
Saya hanya menyebutkan beberapa pokok dan ayat. Berusahalah untuk mencari lebih banyak dan ingatlah baik-baik, sampai hati dan pikiran saudara dipenuhi dengan Firman yang ingin diberikan Roh Allah kepada saudara.
Perhatikanlah perkataan seseorang yang beriman, yaitu George Muller, "Besarnya kuasa kehidupan rohani kita itu sesuai dengan banyaknya Firman Allah yang ada dalam kehidupan dan pikiran kita. Setelah memperoleh pengalaman selama lima puluh empat tahun, saya dengan sungguh-sungguh dapat memberi pernyataan ini. Selama tiga tahun sejak saya bertobat, saya hanya sedikit sekali menggunakan Firman Allah. Setelah itu saya mulai menyelidikinya dengan rajin dan berkatnya sungguh mengherankan. Sejak itu saya telah membaca seluruh alkitab secara berurut seratus kali, dan setiap kali dengan kesukaan yang makin bertambah. Apabila saya membaca lagi mulai dari awal, Alkitab itu seakan-akan merupakan buku baru bagi saya. Saya tidak dapat melukiskan betapa besarnya berkat yang diperoleh dari penyelidikan Alkitab yang dilakukan dengan teratur dan setia setiap hari. Saya merasa dirugikan apabila suatu hari lewat tanpa saya menggunakan waktu saya untuk menikmati Firman Allah.
"Kadang-kadang teman-teman berkata, "Banyak sekali yang harus saya kerjakan sehingga tidak ada waktu untuk mempelajari Alkitab secara teratur. Saya percaya bahwa hanya sedikit sekali orang yang harus bekerja lebih berat daripada saya. Namun, bagi saya sudah merupakan suatu ketentuan bahwa saya tidak akan memulai pekerjaan saya sebelum saya mengalami persekutuan yang indah dengan Allah. Setelah itu, dengan senang hati saya menyerahkan diri saya kepada tugas-tugas dan pekerjaan yang harus saya lakukan pada hari itu - yaitu melakukan pekerjaan Allah, dengan diselingi waktu untuk berdoa yang hanya beberapa menit saja."
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Ibadah dan Persekutuan |
| Kode Pelajaran | : | OKB-R02a |
Referensi OKB-R02a diambil dari:
| Judul Buku | : | THE PURPOSE DRIVEN LIFE |
| Judul Artikel | : | Penyembahan yang Menyenangkan Allah |
| Pengarang | : | Rick Warren |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 2004 |
| Halaman | : | 113 - 119 |
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Markus 12:30
Allah Menginginkan Segenap Diri Anda
Allah tidak menginginkan sebagian dari hidup Anda. Dia meminta segenap hati Anda, segenap jiwa Anda, segenap akal budi Anda, dan segenap kekuatan Anda. Allah tidak tertarik pada komitmen separuh hati, ketaatan sebagian, dan sisa-sisa waktu dan uang Anda. Dia menginginkan pengabdian penuh Anda, bukan sedikit dari kehidupan Anda.
Seorang wanita Samaria pernah mencoba untuk berdebat dengan Yesus tentang waktu, tempat dan gaya penyembahan yang terbaik. Yesus menjawab bahwa masalah-masalah ekstern ini tidaklah penting. Di mana Anda menyembah tidaklah sepenting mengapa Anda menyembah dan seberapa banyak dari diri Anda yang Anda persembahkan kepada Allah ketika Anda menyembah. Ada cara yang benar dan salah dalam menyembah. Alkitab berkata, "Marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya." (Ibrani 12:28) Jenis penyembahan yang menyenangkan Allah memiliki empat karakteristik:
Allah senang bila penyembahan kita tepat. Orang sering kali berkata, "Saya suka berpikir tentang Allah sebagai...," lalu mereka meyampaikan gagasan mereka tentang jenis Allah yang ingin mereka sembah. Tetapi kita tidak bisa sekadar menciptakan sendiri gambar yang menyenangkan atau benar secara politis tentang Allah dan menyembahnya. Itu merupakan penyembahan berhala.
Penyembahan harus didasarkan pada kebenaran Alkitab, bukan pendapat kita mengenai Allah. Yesus berkata kepada wanita Samaria itu, "Penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 14:3)
"Menyembah dalam kebenaran" berarti menyembah Allah sebagaimana Dia benar-benar dinyatakan di dalam Alkitab.
Allah senang bila penyembahan kita bersifat otentik. Ketika Yesus berkata Anda harus "menyembah dalam roh," Dia bukan menunjuk pada Roh Kudus, tetapi pada roh Anda. Diciptakan menurut gambar Allah, Anda adalah roh yang berdiam di dalam satu tubuh, dan Allah merancang roh Anda untuk berkomunikasi dengan Dia. Penyembahan adalah roh Anda menanggapi Roh Allah.
Ketika Yesus berkata, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu" yang Dia maksudkan adalah penyembahan haruslah sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Penyembahan bukanlah sekadar mengucapkan kata-kata yang tepat; Anda harus bersungguh- sungguh dengan apa yang Anda katakan. Pujian yang tidak sungguh- sungguh bukanlah pujian sama sekali! Pujian tersebut tidak bernilai, sebuah hinaan kepada Allah.
Ketika kita menyembah, Allah melihat melewati kata-kata kita ke sikap hati kita. Alkitab berkata, "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1Samuel 16:7b)
Karena penyembahan meliputi keadaan senang akan Allah, penyembahan melibatkan emosi Anda. Allah memberi Anda emosi sehingga Anda bisa menyembah-Nya dengan perasaan yang dalam, tetapi emosi-emosi tersebut haruslah sungguh-sungguh, bukanlah pura-pura. Allah membenci kemunafikan. Dia tidak menginginkan kecakapan membuat pertunjukkan atau kepura-puraan atau kepalsuan di dalam penyembahan. Dia menginginkan kejujuran Anda, kasih yang sesungguhnya. Kita bisa menyembah Allah secara tidak sempurna, tetapi kita tidak bisa menyembah Dia secara tidak tulus.
Memang, ketulusan saja tidaklah cukup; Anda bisa saja secara tulus melakukan kesalahan. Itu sebabnya baik roh maupun kebenaran diperlukan. Penyembahan harus tepat dan otentik. Penyembahan yang menyenangkan Allah sangat berkaitan dengan emosi dan doktrin. Kita menggunakan hati kita dan juga kepala kita.
Sekarang ini banyak orang yang menyamakan rasa tergerak oleh musik dengan rasa tergerak oleh Roh, padahal ini tidaklah sama. Penyembahan sejati terjadi ketika roh Anda menanggapi Allah, bukan menanggapi bunyi musik tertentu. Sebetulnya, beberapa lagu yang sentimental dan introspektif menghalangi penyembahan karena lagu-lagu tersebut memindahkan focus kita dari Allah ke perasaan kita. Gangguan terbesar Anda di dalam penyembahan adalah diri Anda sendiri, yaitu berbagai kepentingan Anda dan kekhawatiran Anda atas apa pandangan orang lain tentang Anda.
Orang-orang Kristen sering kali berbeda tentang cara yang paling tepat atau otentik untuk mengekspresikan pujian kepada Allah, tetapi pendapat-pendapat ini biasanya hanya menunjukkan perbedaan kepribadian dan latar belakang. Banyak bentuk pujian disebutkan di dalam Alkitab, di antaranya membuat pengakuan, menyanyi, bersorak, berdiri sebagai penghormatan, berlutut, menari, membuat sorak sukacita, bersaksi, memainkan alat-alat musik, dan mengangkat tangan. (Ibrani 13:15; Mazmur 7:17; Ezra 3:11; Mazmur 149:3; 150:3; Nehemia 8:6) Gaya penyembahan terbaik adalah penyembahan yang secara paling otentik menunjukkan kasih Anda kepada Allah, berdasarkan latar belakang dan kepribadian yang Allah berikan kepada Anda.
Teman saya Gary Thomas memperhatikan bahwa banyak orang Kristen tampaknya terjebak dalam suatu situasi penyembahan, yaitu rutinitas yang tidak memuaskan, dan bukan memiliki persahabatan yang menyenangkan dengan Allah, karena mereka memaksa diri untuk menggunakan metode-metode atau gaya penyembahan yang tidak sesuai dengan cara di mana Allah secara unik membentuk mereka.
Gary bertanya-tanya, Jika Allah dengan sengaja menjadikan kita semua berbeda, mengapa setiap orang diharapkan untuk mengasihi Allah dengan cara yang sama? Ketika Gary membaca buku-buku klasik Kristen dan mewawancarai orang-orang Kristen dewasa, Gary menemukan bahwa orang- orang Kristen telah menggunakan banyak cara yang berbeda selama 2.000 tahun untuk menikmati keakraban dengan Allah: kegiatan di luar gedung, belajar, menyanyi, membaca, menari, menciptakan seni, melayani orang lain, menjalani kesunyian, menikmati persekutuan, dan ikut serta dalam banyak kegiatan lainnya.
Dalam bukunya Sacred Pathways, Gary menyebut sembilan cara orang-orang mendekat kepada Allah: Kaum Naturalis sangat terinspirasi untuk mengasihi Allah di luar gedung, dengan latar belakang yang alami. Kaum Sensate mengasihi Allah dengan indera (senses) mereka dan menghargai ibadah penyembahan yang indah melibatkan pandangan, pengecap, penciuman, dan sentuhan mereka, bukan hanya telinga mereka. Kaum tradisionalis semakin dekat dengan Allah melalui upacara-upacara, liturgi-liturgi, simbol-simbol, dan struktur-struktur yang tidak berubah. Kaum Askese lebih suka mengasihi Allah dalam kesunyian dan kesederhanaan. Kaum Aktivis mengasihi Allah lewat tindakan melawan kejahatan, memerangi ketidakadilan, dan bekerja untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik. Kaum Pemerhati mengasihi Allah dengan mengasihi sesama dan memenuhi kebutuhan mereka. Kaum Antusias mengasihi Allah melalui perayaan. Kaum Kontemplatif (Meditatif) mengasihi Allah lewat pemujaan. Kaum Intelektual mengasihi Allah dengan belajar melalui pikiran-pikiran mereka.
Tidak ada satu pendekatan "yang cocok untuk semua ukuran orang" dalam menyembah dan bersahabat dengan Allah. Satu hal yang pasti: Anda tidak mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan mencoba menjadi orang yang Allah tidak pernah maksudkan untuk menjadikan Anda seperti itu. Allah ingin agar Anda menjadi diri Anda sendiri: Itulah orang-orang yang Bapa cari: yakni orang-orang yang menjadi diri sendiri secara apa adanya dan jujur di hadapan Dia dalam penyembahan mereka." (Yohanes 4:23)
Allah senang bila penyembahan kita melibatkan akal budi. Perintah Yesus untuk "kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap akal, budimu" diulangi empat kali dalam Perjanjian Baru. Allah tidak senang jika orang menyanyikan lagu-lagu tanpa pikiran, memanjatkan doa-doa klise yang rutin, atau mengucapkan "Puji Tuhan," secara sembarangan karena kita tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan pada saat itu. Jika penyembahan tidak melibatkan akal budi, penyembahan itu tidak bermakna. Anda harus melibatkan akal budi Anda.
Yesus menyebut penyembahan yang tanpa akal sebagai "pengulangan yang sia-sia." (Matius 6:7). Bahkan istilah-istilah alkitabiah bisa menjadi klise-klise yang membosankan karena digunakan berulangulang, dan kita berhenti berpikir tentang maknanya. Jauh lebih mudah memberikan klise- klise dalam penyembahan daripada berusaha menghormati Allah dengan kata-kata dan cara-cara yang segar. Itu sebabnya saya mendorong Anda untuk membaca Alkitab di dalam berbagai terjemahan dan parafrase. Hal ini akan memperluas ekspresi Anda dalam penyembahan.
Cobalah memuji Allah tanpa menggunakan kata-kata puji, haleluyah, syukur, atau amin. Bukannya mengatakan, "Kami hanya ingin memuji-Mu," buatlah daftar kata yang memiliki makna sama dan gunakan kata-kata baru seperti mengagumi, menghargai, meninggikan, dan menghormati.
Juga, jadilah spesifik. Jika seseorang mendekati Anda dan nengucapkan, "Aku memujimu!" sepuluh kali, Anda mungkin akan berpikir, Untuk apa? Anda lebih suka menerima dua pujian yang spesifik daripada dua puluh pernyataan umum yang tidak jelas. Begitu juga dengan Allah.
Gagasan lainnya adalah membuat daftar nama-nama Allah yang berbeda dan pusatkan perhatian pada nama-nama tersebut. Nama-nama Allah bukannya tanpa makna; nama-nama tersebut memberi tahu kita tentang aspek-aspek berbeda dari karakter-Nya. Dalam Perjanjian Lama, Allah sedikit demi sedikit menyatakan Diri-Nya kepada bangsa Israel dengan memperkenalkan nama-nama baru untuk Diri-Nya sendiri, dan Dia memerintahkan kita untuk memuji nama-Nya.
Allah juga ingin agar pertemuan-pertemuan ibadah bersama kita menggunakan akal budi. Paulus memberikan satu pasal seluruhnya untuk hal ini dalam 1Korintus 14 dan menyimpulkan, "Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur." (1Korintus 14:40)
Sehubungan dengan hal ini, Allah menekankan agar ibadah penyembahan kita bisa dipahami oleh orang-orang yang belum percaya ketika mereka hadir dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita. Paulus mengatakan, "Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan "amin" atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya." (1Korintus 14:16-17). Peka terhadap orang- orang belum percaya yang menghadiri pertemuan-pertemuan ibadah Anda adalah perintah yang alkitabiah. Mengabaikan perintah ini merupakan ketidaktaatan dan ketiadaan kasih.
Allah senang bila penyembahan kita bersifat praktis. Alkitab berkata, "Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Mengapa Allah menginginkan tubuh Anda? Mengapa Dia tidak berkata, "Persembahkan rohmu"? Karena tanpa tubuh, Anda tdak bisa melakukan apapun di dunia ini. Dalam kekekalan, Anda akan menerima tubuh baru yang sudah disempurnakan dan lebih baik, tetapi sementara Anda di dunia, Allah berkata, "Berikan kepada-Ku apa yang kamu miliki!" Dia hanyalah bersikap praktis dalam soal penyembahan.
Anda pernah mendengar orang berkata, "Saya tidak bisa datang ke pertemuan nanti malam, tetapi saya akan bersamamu di dalam roh." Tahukah Anda apa artinya? Tidak ada arti. Kalimat tersebut tidak memiliki makna! Selama Anda di bumi, roh Anda hanya bisa berada di tempat tubuh Anda berada. Jika tubuh Anda tidak ada, Anda juga tidak ada.
Dalam penyembahan kita harus "mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup." Nah, kita biasanya mengaitkan konsep "persembahan" dengan sesuatu yang mati, tetapi Allah ingin agar Anda menjadi persembahan yang hidup. Dia ingin agar Anda hidup bagi Dia! Namun, masalah dengan persembahan yang hidup adalah bahwa persembahan itu bisa merangkak keluar dari mezbah, dan kita sering kali melakukannya. Kita bernyanyi, "Lasykar Kristen Maju" pada hari Minggu, kemudian pergi keluar tanpa izin pada hari Senin."
Dalam Perjanjian Lama, Allah senang pada banyak kurban persembahan karena kurban-kurban itu memberitakan sebelumnya tentang kurban Yesus bagi kita di kayu salib. Sekarang Allah senang dengan berbagai kurban persembahan yang berbeda: ucapan syukur, pujian, kerendahan hati, pertobatan, persembahan uang, doa, melayani orang lain, dan berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. (Mazmur 50:14; Ibrani 13:15; Mazmur 51:17; 54:6; Filipi 4:18; Mazmur 141:2; Ibrani13:16; Markus 12:33; Roma 12:1)
Penyembahan yang sejati membutuhkan pengorbanan. Daud menyadari hal ini dan berkata: "Aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, kurban bakaran dengan tidak membayar apa-apa." (2Samuel 24:24)
Salah satu pengorbanan yang dituntut dari kita dalam penyembahan adalah sikap mementingkan diri kita. Anda tidak mungkin meninggikan Allah dan diri Anda sendiri pada saat yang bersamaan. Anda tidak menyembah untuk dilihat oleh orang lain atau untuk menyenangkan diri Anda sendiri. Anda dengan sadar memindahkan fokus dari diri Anda sendiri.
Ketika Yesus berkata, "Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap kekuatanmu" Dia menunjukkan bahwa penyembahan membutuhkan usaha dan tenaga. Penyembahan tidak selalu menyenangkan atau enak, dan kadang- kadang penyembahan benar-benar merupakan tindakan berdasarkan kehendak, kurban dengan suka rela. Penyembahan pasif merupakan sesuatu yang bertentangan.
Ketika Anda memuji Allah meskipun Anda tidak merasa ingin melakukannya, ketika Anda bangun untuk beribadah saat Anda letih, atau ketika Anda menolong orang lain saat Anda lelah, Anda mempersembahkan kurban penyembahan kepada Allah. Ini menyenangkan Allah.
Matt Redman, seorang pemimpin penyembahan di Inggris, bercerita bagaimana gembala sidangnya mengajar gerejanya tentang makna sesungguhnya dari penyembahan. Untuk menunjukkan bahwa penyembahan lebih dari sekadar musik, sang gembala sidang melarang semua nyanyian di dalam ibadah mereka untuk beberapa waktu sementara mereka belajar menyembah dengan cara lain. Menjelang akhir dari waktu tersebut, Matt menulis lagu klasik "Heart of Worship":
Aku akan membawa bagi-Mu lebih dari sekadar lagu,
karena lagu itu sendiri bukanlah apa yang Engkau tuntut.
Engkau mencari jauh lebih dalam
daripada hal-hal yang tampak.
Engkau melihat ke dalam lubuk hatiku.
Inti masalahnya adalah masalah hati.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a |
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Ibadah dan Persekutuan |
| Kode Pelajaran | : | OKB-R02b |
Referensi OKB-R02b diambil dari:
| Judul Buku | : | THE PURPOSE DRIVEN LIFE |
| Judul Artikel | : | Memulihkan Persekutuan yang Retak |
| Pengarang | : | Rick Warren |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 2004 |
| Halaman | : | 171 - 177 |
(Allah) telah memulihkan hubungan kita dengan-Nya melalui Kristus, dan telah memberikan kepada kita pelayanan untuk memulihkan hubungan. 2Korintus 5:18
Hubungan Selalu Layak Dipulihkan
Karena inti kehidupan ialah belajar bagaimana mengasihi, Allah ingin agar kita menghargai hubungan dan berupaya untuk memeliharanya dan bukan menolaknya ketika ada keretakan, sakit hati, atau konflik. Sebetulnya, Alkitab mengajar kita bahwa Allah telah memberikan kepada kita pelayanan untuk memulihkan hubungan. (2Korintus 5:18) Karena alasan inilah sebagian Perjanjian Baru ditulis untuk mengajar kita cara bergaul dengan baik satu sama lain. Paulus menulis, "Jika ada sesuatu yang kamu peroleh karena mengikut Kristus, jika kasih-Nya telah membuat kehidupanmu berbeda, Jika berada dalam persekutuan Roh mempunyai suatu arti bagimu,... Hendaklah kamu sehati sepikir, saling mengasihi, jadilah sahabat-sahabat sejati." (Filipi 2:1-2) Paulus mengajarkan bahwa kemampuan kita untuk bergaul dengan baik dengan orang lain merupakan tanda kedewasaan rohani. (Roma 15:5)
Karena Kristus ingin agar keluarga-Nya dikenal melalui kasih kita satu sama lain, (Yohanes 13:35) persekutuan yang pecah merupakan kesaksian yang memalukan bagi orang-orang yang belum percaya. Karena itu Paulus begitu malu karena anggota jemaat Korintus terpecah menjadi golongan- golongan yang saling memerangi dan bahkan saling memperkarakan ke pengadilan. Dia menulis, "Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?" (1Korintus 6:5) Paulus terkejut bahwa tidak seorang pun di dalam gereja tersebut yang cukup dewasa untuk memecahkan perselisihan itu secara damai. Dalam surat yang sama, Paulus berkata, "Aku menasihatkan dengan sangat: Kamu harus hidup rukun satu sama lain."(1Korintus 1:10)
Jika Anda menginginkan berkat Allah atas kehidupan Anda dan Anda ingin dikenal sebagai anak Allah, Anda harus belajar untuk menjadi pembawa damai. Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." (Matius 5:9). Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata, "Berbahagialah orang-orang yang cinta damai," karena semua orang cinta damai. Yesus juga tidak berkata, "Berbahagialah orang yang tenang," yang tidak pernah terganggu oleh apapun. Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang membawa damai," yaitu orang-orang yang secara aktif berupaya menyelesaikan konflik. Pembawa damai tidak banyak karena membawa damai adalah kerja keras.
Karena Anda,dibentuk untuk menjadi bagian dari keluarga Allah dan tujuan kedua dari kehidupan Anda di bumi adalah belajar bagaimana mengasihi dan berhubungan dengan orang lain, maka membawa damai adakah salah satu keterampilan terpenting yang bisa Anda kembangkan. Sayangnya, sebagian besar dari kita tidak pernah diajar bagaimana menyelesaikan konflik.
Membawa damai bukanlah menghindari konflik. Lari dari masalah, berpura-pura masalah tersebut tidak ada, atau takut membicarakannya sebenarnya adalah sikap pengecut. Yesus, Sang Raja Damai, tidak pernah takut akan konflik. Kadang-kadang Dia memancing konflik demi kebaikan semua orang. Kadang kita perlu menghindari konflik, kadang kita perlu menciptakannya, dan kadang kita perlu menyelesaikannya. Karena itu kita harus berdoa meminta tuntunan Roh Kudus setiap saat.
Membawa damai juga bukan memenuhi keinginan musuh. Selalu menyerah, bertindak seperti keset, dan membiarkan orang lain selalu menginjak- injak Anda bukanlah apa yang Yesus pikirkan. Dalam banyak hal Yesus tidak mau menyerah, tetap bertahan menghadapi musuh yang jahat.
Bagaimana Memulihkan Suatu Hubungan
Sebagai orang-orang percaya, Allah telah "memanggil kita untuk membereskan hubungan kita satu sama lain ." (Matius 7:55) Berikut ini terdapat tujuh langkah alkitabiah untuk memulihkan persekutuan:
Bicarakanlah masalah tersebut dengan Allah. Jika Anda mau mendoakan konflik tersebut terlebih dulu dan bukan menggosipkannya dengan seorang teman, Anda akan sering menemukan bahwa Allah mengubah hati And8a atau Dia mengubah orang lain tersebut tanpa bantuan Anda. Semua hubungan Anda akan berjalan lebih lancar kalau saja Anda mau lebih banyak berdoa mengenai hubungan-hubungan tersebut.
Sebagaimana dilakukan Daud dengan mazmur-mazmurnya, gunakanlah doa untuk melontarkan perasaan ke atas. Beri tahu Allah keputusasaan Anda. Berserulah kepada-Nya Dia tidak pernah terkejut atau terganggu oleh kemarahan, luka hati, rasa tidak aman, atau emosi Anda lainnya. Jadi beri tahu Dia secara persis apa yang Anda rasakan.
Sebagian besar konflik bersumber dari kebutuhan yang tak terpenuhi. Beberapa kebutuhan ini hanya bisa dipenuhi oleh Allah. Bila Anda mengharapkan seseorang, seperti teman, pasangan, majikan, atau anggota keluarga, untuk memenuhi kebutuhan yang hanya bisa dipenuhi oleh Allah, berarti Anda sedang membuka diri Anda untuk rasa kecewa dan sedih. Tidak seorang pun bisa memenuhi semua kebutuhan Anda kecuali Allah.
Rasul Yakobus menulis bahwa banyak konflik kita yang disebabkan karena tidak adanya doa: "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu ? ... Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya... Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." (Yakobus 4:1-2) Bukannya berharap kepada Allah, kita berharap pada orang lain untuk membahagiakan lalu kita menjadi marah ketika mereka gagal. Allah berfirman, "Mengapa kamu tidak datang kepada-Ku terlebih dulu?"
Tidak peduli apakah Anda yang melukai atau yang dilukai: Allah ingin agar Anda mengambil langkah pertama. Jangan menunggu pihak lainnya. Hampirilah mereka terlebih dulu. Memulihkan persekutuan yang retak begitu penting, sehingga Yesus memerintahkan bahwa hal tersebut perlu mendapatkan prioritas melebihi ibadah bersama. Yesus berkata, "Jika kamu memasuki ruang ibadahmu, hendak memberikan persembahan dan kamu tiba-tiba teringat akan sakit hati seorang sahabat terhadapmu, tinggalkan persembahanmu dengan segera, pergilah kepada sahabat itu dan bereskan segala masalah. Setelah itu, dan hanya setelah itu, kembalilah dan kerjakan urusanmu dengan Allah." (Matius 5:23-24)
Ketika persekutuan menjadi tegang atau retak, rencanakan suatu pertemuan damai dengan segera. Jangan menunda, membuat dalih, atau berjanji, Aku akan mengurusnya suatu saat nanti." Jadwalkan sebuah pertemuan tatap muka sesegera mungkin. Penundaan hanya memperdalam rasa dendam dan membuat segalanya lebih buruk. Dalam konflik, waktu tidak menyembuhkan apapun; waktu menyebabkan luka makin bernanah.
Bertindak dengan cepat juga mengurangi kerusakan rohani bagi Anda. Alkitab mengatakan dosa, termasuk konflik yang tidak terselesaikan, menghalangi persekutuan kita dengan Allah dan membuat doa-doa kita tidak dijawab, (1Petrus 3:7; Amsal 28:9) di samping membuat kita tidak bahagia. Sahabat-sahabat Ayub mengingatkan dia, "Sakit hati sampai mati merupakan hal bodoh yang tidak berguna untuk dilakukan." (Today's English Version) dan "Kemarahanmu hanya menyakiti dirimu." (Ayub 5:2; 18:4)
Keberhasilan dari suatu pertemuan damai sering kali bergantung pada pilihan waktu dan tempat yang tepat untuk bertemu. Jangan bertemu ketika Anda lelah atau tergesa-gesa atau akan diganggu. Waktu yang terbaik adalah ketika Anda berdua ada dalam keadaan yang terbaik.
Gunakan telinga Anda lebih banyak dari mulut Anda. Sebelum mencoba memecahkan suatu perselisihan Anda harus mendengarkan perasaan- perasaan orang terlebih dulu. Paulus menasihati, "Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:4). Kata "memperhatikan" adalah dari kata Yunani skopos, yang darinya kita membentuk kata teleskop dan mikroskop. Itu berarti memperhatikan dengan teliti! Pusatkan perhatian pada perasaan-perasaan mereka, bukan pada fakta. Mulai dengan simpati, bukan solusi.
Jangan lebih dahulu mencoba membujuk orang untuk menceritakan apa yang mereka rasakan. Dengarkan saja dan biarkan mereka mengeluarkan isi hati secara emosional tanpa bersikap membela. Mengangguklah bahwa Anda paham meskipun Anda tidak setuju. Perasaan tidaklah selalu benar atau masuk akal. Sebetulnya, sakit hati membuat kita bertindak dan berpikir dengan cara-cara yang bodoh. Daud mengaku, "Ketika aku merasa kesal dan hatiku seperti tertusuk, aku bodoh dan tidak mengerti, aku seperti binatang di hadapan-Mu." (Mazmur 73:21-22). Kita semua bertindak seperti binatang terluka.
Sebaliknya, Alkitab berkata, "Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran." (Amsal 16:11) Kesabaran datang dari kebijaksanaan, dan kebijaksanaan datang dari mendengarkan pandangan orang lain. Mendengarkan sama dengan berkata, "Saya menghargai pendapat Anda, saya peduli dengan hubungan kita, dan Anda berarti bagi saya." Kata klisenya benar: Orang tidak peduli dengan apa yang kita ketahui sampai mereka tahu kita peduli.
Untuk memulihkan persekutuan "kita harus mempertimbangkan kebimbangan dan ketakutan orang lain... Marilah kita menyenangkan hati orang lain, bukan hati kita sendiri, dan melakukan apa yang baik baginya" (Roma 15:2). Dengan sabar menampung kemarahan orang lain, khususnya jika tidak didukung bukti, merupakan suatu pengorbanan. Tetapi ingatlah, inilah yang Yesus lakukan bagi Anda. Dia menanggung kemarahan yang tanpa bukti dan menyakitkan demi menyelamatkan Anda: "Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: 'Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.'" (Roma 15:3)
Jika Anda bersungguh-sungguh dalam memulihkan suatu hubungan, Anda sebaiknya mengawali dengan mengakui kesalahan atau dosa-dosa Anda sendiri. Yesus berkata itulah cara untuk melihat berbagai hal dengan lebih jelas: "Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."(Matius 7:55)
Karena kita semua memiliki kelemahan, Anda mungkin perlu meminta pihak ketiga untuk membantu Anda mengevaluasi tindakan-tindakan Anda sebelum bertemu dengan orang Yang dengannya Anda memiliki konflik. Juga mintalah kepada Allah untuk menunjukkan kepada Anda seberapa banyak masalah yang menjadi kesalahan Anda. Bertanyalah, "Akukah pembawa masalahnya? Apakah aku tidak realistis, tidak peka, atau terlalu peka?" Alkitab mengatakan, "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri." (1Yohanes 1:8)
Pengakuan merupakan alat yang penuh kuasa untuk rekonsiliasi. Seringkali cara kita menangani sebuah konflik malah menimbulkan luka yang lebih besar daripada masalah awalnya itu sendiri. Bila Anda mulai dengan secara rendah hati mengakui kesalahan-kesalahan Anda, hal tersebut meredakan kemarahan pihak lain itu dan membatalkan serangan- serangan mereka karena mereka tadinya mungkin mengira Anda akan membela diri. Jangan membuat dalih atau mengalihkan tanggung jawab; dengan jujur akui saja setiap peran yang Anda mainkan dalam konflik tersebut. Terima tanggung jawab atas kesalahan-kesalahan Anda dan mintalah pengampunan.
Anda tidak mungkin membereskan masalah jika Anda sibuk mencari siapa yang bertanggung jawab. Anda harus memilih salah satu. Alkitab berkata, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." (Amsal 15:1). Anda tidak akan pernah bisa menjelaskan pikiran. Anda dengan marah, karena itu pilihlah kata-kata Anda dengan bijak. Jawaban yang lembut selalu lebih baik ketimbang jawaban yang kasar.
Ketika memecahkan konflik, cara Anda berbicara sama pentingnya dengan apa yang Anda katakan. Jika Anda mengatakannya dengan cara menyerang, apa yang Anda katakan akan diterima dengan cara membela diri. Allah memberi tahu kita, "Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan." (Amsal 16:21). Omelan tidak pernah berhasil. Anda tidak pernah meyakinkan bila Anda kasar.
Selama Perang Dingin, kedua pihak sepakat bahwa beberapa senjata sangat merusak sehingga senjata-senjata tersebut sebaiknya tidak pernah digunakan. Saat ini senjata-senjata kimia dan biologi dilarang, dan persediaan senjata nuklir dikurangi dan dihancurkan. Demi persekutuan, Anda harus menghancurkan gudang senjata nuklir hubungan, termasuk mengutuk, meremehkan, membandingkan, mencap, mengejek, angkuh, dan kasar. Paulus merangkumnya seperti ini: "Kalau kalian berbicara, janganlah memakai kata-kata yang kotor. Pakai sajalah kata- kata yang membina dan memberi pertolongan kepada orang lain. Kata-kata seperti itu akan mendatangkan kebaikan kepada orang-orang yang mendengarnya." (Efesus 4:29)
Paulus berkata, "Sedapat dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Damai selalu memiliki label harga. Kadang damai harganya adalah sebesar kesombongan kita; seringkali harganya adalah sebesar keegoisan kita. Demi persekutuan, berusahalah sekuat mungkin untuk berkompromi, menyesuaikan diri dengan orang lain, dan menunjukkan perhatian pada apa yang mereka butuhkan. (Roma 12;10; Filipi 2:3). Sebuah parafrase dari ucapan bahagia Yesus yang ketujuh, "Kamu berbahagia bila kamu bisa menunjukkan pada orang-orang bagaimana bekerja sama dan bukannya bersaing atau berkelahi. Yaitu bila kamu menemukan siapa dirimu sebenarnya, dan tempatmu dalam keluarga Allah." (Matius 5:9)
Adalah tidak realistis kalau mengharapkan semua orang setuju dengan segala sesuatu. Rekonsiliasi mengutamakan hubungan, sementara resolusi mengutamakan masalah. Bila kita mengutamakan rekonsiliasi, masalah akan kehilangan maknanya dan seringkali menjadi tidak relevan.
Kita dapat membangun kembali hubungan meskipun kita tidak mampu menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita. Orang-orang Kristen seringkali memiliki perbedaan pendapat yang wajar dan bisa diterima, tetapi kita bisa berbeda pendapat tanpa marah-marah. Berlian yang sama tampak berbeda dari sudut yang berbeda. Allah menginginkan kesatuan, bukan keseragaman, dan kita bisa hidup bergandengan tangan tanpa sepakat atas semua masalah.
Ini tidak berarti Anda berhenti mencari pemecahan masalah. Anda mungkin perlu tetap berdiskusi dan bahkan berdebat, tapi Anda melakukannya dalam semangat keharmonisan. Rekonsiliasi berarti Anda melupakan perbedaan pendapat itu, bukan masalahnya.
Siapa yang perlu Anda hubungi sebagai hasil dari bab ini? Dengan Siapa Anda perlu memulihkan persekutuan? Jangan menunda sedikitpun. Berhentilah sekarang dan berbicaralah kepada Allah tentang orang tersebut. Kemudian angkatlah telepon dan mulailah proses itu. Ketujuh langkah ini sederhana, tetapi tidak mudah. Dibutuhkan banyak usaha untuk memulihkan sebuah hubungan. Itu sebabnya Petrus menasihatkan agar "berjuang sungguh-sungguh untuk mendapatkan perdamaian." (1Petrus 3:11). Tetapi ketika Anda mengusahakan damai, Anda melakukan apa yang ingin Allah lakukan. Itulah sebabnya Allah menyebut anak-anak-Nya pembawa damai. (Matius 5:9)
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab untuk Hidup Benar dan Menggunakan |
| karunia-karunia Rohani. | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R03a |
Referensi OKB-R03a diambil dari:
| Judul Buku | : | PURPOSE DRIVEN LIFE |
| Judul Artikel | : | Diubahkan Lewat Kebenaran |
| Pengarang | : | Rick Warren |
| Penerbit | : | Gandum Mas |
| Hal | : | 205 - 212 |
"Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4)
"Firman kasih karunia Allah bisa membuatmu menjadi apa yang Dia inginkan dan memberimu segala sesuatu yang mungkin kamu perlukan." (Kisah Para Rasul 20:32 [Msg])
Kebenaran Mengubah Kita
Pertumbuhan rohani merupakan proses menggantikan dusta dengan kebenaran. Yesus berdoa, "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman- Mu adalah kebenaran."1) Penyucian membutuhkan Penyataan Allah. Roh Allah memakai Firman Allah untuk menjadikan kita serupa dengan Anak Allah. Untuk menjadi serupa dengan Yesus, kita harus memenuhi hidup kita dengan Firman-Nya. Alkitab mengatakan, "Melalui Firman itu kita disetel dan dikembangkan untuk tugas-tugas yang Allah miliki bagi kita."2)
Firman Allah tidak seperti firman lainnya. Firman Allah itu hidup.3) Yesus berkata, "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup."4) Ketika Allah berbicara, hal-hal berubah. Segala sesuatu di sekeliling Anda, yaitu semua ciptaan, ada karena "Allah telah berfirman." Dia memerintahkan semuanya menjadi ada. Tanpa Firman Allah Anda bahkan tidak akan hidup. Yesus menunjukkan, "Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya."5)
Alkitab jauh lebih dari sekadar sebuah buku petunjuk berisi doktrin. Firman Allah menghasilkan kehidupan, menimbulkan iman, mendatangkan perubahan, membuat Iblis takut, menyebabkan mukjizat, menyembuhkan sakit hati, membangun karakter, mengubah keadaan, memberikan sukacita, mengatasi kesusahan, mengalahkan pencobaan, memberikan pengharapan, melepaskan kuasa, menyucikan pikiran kita, menciptakan berbagai hal, dan menjamin masa depan kita selamanya! Kita tidak bisa hidup tanpa Firman Allah! Jangan pernah meremehkannya. Anda harus menganggapnya sepenting makanan bagi kehidupan Anda. Ayub berkata, "Aku menghargai Firman dari mulut-Nya lebih daripada makananku setiap hari."6)
Firman Allah merupakan gizi rohani yang harus Anda makan untuk memenuhi tujuan Anda. Alkitab disebut air susu, roti, makanan keras, dan madu.7) Empat jenis makanan ini merupakan menu Roh Kudus bagi kekuatan dan pertumbuhan rohani. Petrus memberi kita nasihat, "Rindukanlah susu rohani yang murni, sehingga olehnya kamu bertumbuh dan memperoleh keselamatanmu."8)
Tinggal dalam Firman Allah
Ada lebih banyak Alkitab yang dicetak sekarang daripada sebelumnya, tetapi sebuah Alkitab di rak tidaklah berharga. Jutaan orang percaya diserang anorexia rohani, kelaparan hingga mati karena kekurangan gizi rohani. Untuk menjadi murid Yesus yang sehat, makan dari Firman Allah haruslah menjadi prioritas utama Anda. Yesus menyebutnya "tinggal." Dia berkata, "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku."9) Dalam kehidupan sehari-hari, tinggal dalam Firman Allah meliputi tiga kegiatan.
Saya harus menerima otoritas Firman Allah. Alkitab harus menjadi standar yang berotoritas bagi kehidupan saya: kompas yang saya andalkan untuk petunjuk arah, nasihat yang saya dengarkan untuk membuat keputusan-keputusan yang bijak, dan patokan yang saya gunakan untuk menilai segala sesuatu. Alkitab harus selalu merupakan penentu dalam hidup saya.
Banyak masalah kita muncul karena kita mendasarkan pilihan-pilihan kita pada berbagai otoritas yang tidak dapat diandalkan: budaya ("semua orang melakukannya"), tradisi ("kita selalu melakukannya"), nalar ("sepertinya itu masuk akal"), atau emosi ("rasanya pas"). Keempat hal ini menjadi rusak oleh peristiwa kejatuhan manusia. Apa yang kita butuhkan adalah sebuah standar yang sempurna yang tidak akan pernah membawa kita ke arah yang keliru. Hanya Firman Allah yang memenuhi kebutuhan tersebut. Salomo mengingatkan kita, "Semua firman Allah adalah murni."10) dan Paulus menjelaskan, "Segala tulisan dalam Kitab Suci merupakan Firman Allah. Semuanya berguna untuk mengajar dan membantu orang serta untuk memperbaiki kelakuan mereka dan menunjukkan kepada mereka cara untuk hidup"11)
Pada tahun-tahun pertama pelayanannya, Billy Graham mengalami suatu masa di mana dia bergumul dengan keraguan tentang keakuratan dan otoritas Alkitab. Suatu malam yang berterang bulan dia berlutut dan menangis serta berkata kepada Allah bahwa, meski ada perikol perikop yang membingungkan yang tidak dia pahami, mulai saat itu dia akan sepenuhnya mempercayai Alkitab sebagai satu-satunya otoritas bagi kehidupan dan pelayanannya. Semenjak itu, kehidupan Billy diberkati dengan kuasa dan keefektifan yang luar biasa.
Keputusan yang paling penting yang bisa Anda buat sekarang ialah menetapkan apa yang akan merupakan otoritas tertinggi bagi kehidupan Anda. Putuskan bahwa tanpa menghiraukan budaya, tradisi, nalar, atau emosi, Anda memilih Alkitab sebagai otoritas terakhir Anda. Mula-mula pastikan untuk bertanya, "Apa yang Alkitab katakan?" pada saat Anda membuat keputusan. Buatlah keputusan bahwa ketika Allah mengatakan untuk melakukan sesuatu, Anda akan mempercayai Firman Allah dan melakukannya entah itu masuk akal atau tidak atau entah Anda merasa ingin melakukannya atau tidak. Ambillah pernyataan Paulus sebagai peneguhan iman Anda secara pribadi: "Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi."12)
Saya harus menerima kebenaran Firman Allah. Tidak cukup hanya percaya Alkitab; saya harus mengisi pikiran saya dengannya sehingga Roh Kudus bisa mengubah saya dengan kebenaran itu. Ada lima cara untuk melakukan hal ini: Anda bisa menerimanya, membacanya, menelitinya, menghafalnya, dan merenungkannya.
Pertama, Anda menerima Firman Allah ketika Anda mendengarkan dan menyambutnya dengan sikap terbuka dan reseptif. Perumpamaan tentang penabur menggambarkan bagaimana sikap reseptif kita menemukan apakah Firman Allah berakar di dalam hidup kita dan menghasilkan buah atau tidak. Yesus menyebut tiga sikap yang tidak reseptif, yakni pikiran yang tertutup (tanah yang keras), pikiran yang dangkal (tanah berbatu- batu), dan pikiran yang kacau (tanah dengan semak duri), dan kemudian Dia berkata, "perhatikanlah cara kamu mendengar."13)
Setiap kali Anda merasa tidak mendapat apa-apa dari suatu khotbah atau dari seorang guru Alkitab, Anda seharusnya mengecek sikap Anda, khususnya kesombongan, karena Allah bisa berbicara bahkan melalui pengajar yang paling membosankan bila Anda bersikap rendah hati dan reseptif. Yakobus menasihati, "Terimalah dengan rendah hati (lemah lembut) perkataan yang ditanam oleh Allah di dalam hatimu, sebab perkataan itu mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan kalian."14)
Kedua, selama sebagian besar dari 2.000 tahun sejarah gereja, hanya pendeta-pendeta yang harus membaca Alkitab secara pribadi, tetapi sekarang jutaan orang bisa membacanya. Namun, banyak orang percaya lebih setia untuk membaca koran harian daripada Alkitab mereka. Tidak heran kalau kita tidak bertumbuh. Kita tidak bisa menonton televisi selama tiga jam, lalu membaca Alkitab selama tiga menit dan berharap untuk bertumbuh.
Banyak orang yang menyatakan percaya Alkitab "dari awal sampai akhir" belum pernah membacanya dari awal hingga akhir. Tetapi andaikata Anda mau membaca Alkitab lima belas menit saja sehari, Anda akan membaca dengan lengkap seluruh Alkitab sekali setahun. Jika Anda memotong satu saja program televisi yang berdurasi 30 menit setiap hari dan membaca Alkitab sebagai gantinya, Anda akan membaca seluruh Alkitab dua kali setahun.
Membaca Alkitab setiap hari akan membuat Anda tetap berada dalam jangkauan suara Allah. Itu sebabnya Allah memerintahkan raja-raja Israel untuk selalu menyimpan salinan Firman-Nya di dekat mereka: "Itulah yang harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya."15) Tetapi jangan hanya menaruh Alkitab di dekat Anda; bacalah dengan teratur! Sebuah peralatan sederhana yang berguna untuk ini ialah rencana bacaan Alkitab setiap hari. Rencana itu akan mencegah Anda untuk hanya melompat-lompat di seputar Alkitab secara acak dan meremehkan beberapa bagian. Jika Anda ingin sebuah salinan rencana bacaan Alkitab pribadi saya, lihatlah apendiks 2.
>Ketiga, meneliti, atau mempelajari, Alkitab adalah cara praktis lain untuk tinggal di dalam Firman. Perbedaan antara membaca dan meneliti Alkitab meliputi dua kegiatan tambahan: mengajukan pertanyaan- pertanyaan tentang teks dan menuliskan berbagai pengertian Anda. Anda belum benar-benar meneliti Alkitab sebelum Anda menulis pikiran- pikiran Anda di kertas atau komputer.
Tempat tidak memungkinkan saya untuk menjelaskan berbagai metode penelitian Alkitab. Ada beberapa buku yang berguna tentang metode- metode penelitian Alkitab, termasuk salah satu yang saya tulis lebih dari dua puluh tahun yang lalu.16) Rahasia untuk mengadakan penelitian Alkitab yang baik hanyalah belajar mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Metode yang berbeda menggunakan pertanyaan yang berbeda. Anda akan menemukan jauh lebih banyak jika Anda berhenti sebentar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti siapa? apa? kapan? di mana? mengapa? dan bagaimana? Alkitab mengatakan, "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."17)
Cara keempat untuk tinggal dalam Firman Allah ialah dengan menghafalnya. Kemampuan Anda untuk menghafal ialah pemberian Allah. Anda mungkin mengira Anda memiliki ingatan yang lemah, tetapi yang sebenarnya ialah, Anda telah menghafal jutaan gagasan, kebenaran, fakta, dan angka. Anda mengingat apa yang penting bagi Anda. Jika Firman Allah itu penting, Anda akan menyediakan waktu untuk mengingatnya.
Ada banyak manfaat menghafal ayat-ayat Alkitab. Itu akan membantu Anda melawan pencobaan, membuat keputusan-keputusan yang bijak, mengurangi ketegangan, membangun rasa percaya diri, memberikan nasihat yang baik, dan menyampaikan iman Anda kepada orang lain."18)
Ingatan Anda seperti otot. Semakin Anda menggunakannya, semakin kuat ia jadinya, dan menghafal ayat akan menjadi lebih mudah. Anda bisa memulai dengan memilih beberapa ayat Alkitab dari buku ini yang telah menyentuh perasaan Anda dan menuliskannya di atas sebuah kartu kecil yang bisa Anda bawa. Kemudian ulangilah keras-keras sepanjang hari Anda. Anda bisa menghafalkan ayat di manapun: sementara bekerja atau berolah raga atau berkendara atau menanti atau akan tidur. Ketiga kunci untuk menghafal ayat adalah mengulang, mengulang, dan mengulang! Alkitab berkata, "Ingatlah akan apa yang diajarkan oleh Kristus dan biarlah perkataan-Nya memperkaya hidup saudara serta menjadikan saudara bijaksana."19)
Cara kelima untuk tinggal di dalam Firman Allah ialah merenungkannya, yang Alkitab sebut "renungan" (meditation). Bagi banyak orang, ide tentang merenungkan menghasilkan gambaran-gambaran tentang menetralkan pikiran Anda dan membiarkannya mengembara. Ini jelas-jelas bertentangan dengan merenungkan yang alktiabiah. Merenungkan adalah cara berpikir yang difokuskan. Ini membutuhkan usaha yang sungguh- sungguh. Anda memilih sebuah ayat dan merenungkannya berulang-ulang kali dalam pikiran Anda.
Seperti yang saya sebutkan dalam bab 11, jika Anda mengetahui cara untuk khawatir, maka Anda telah mengetahui cara untuk merenung. Khawatir adalah Cara berpikir yang difokuskan pada sesuatu yang negatif. Merenungkan ialah melakukan hal yang sama, hanya yang difokuskan adalah Firman Allah dan bukannya masalah Anda.
Tidak ada kebiasaan lain yang bisa lebih berhasil mengubah kehidupan Anda dan menjadikan Anda lebih serupa dengan Yesus ketimbang kebiasaan merenungkan Alkitab setiap hari. Ketika kita mengambil waktu untuk merenungkan kebenaran Allah, sambil dengan sungguh-sungguh merenungkan teladan Kristus, kita "diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar."20)
Jika Anda melihat setiap kali Allah berbicara perihal merenungkan di dalam Alkitab, Anda akan kagum pada manfaat-manfaat yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang mengambil waktu untuk merenungkan Firman-Nya sepanjang hari. Salah satu alasan mengapa Allah menyebut Daud "seorang yang berkenan di hati-Ku."21) adalah karena Daud senang merenungkan Firman Allah. Daud berkata, "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."22) Sungguh-sungguh merenungkan kebenaran Allah merupakan kunci bagi doa yang dikabulkan dan rahasia bagi kehidupan yang berhasil.23)
Saya harus menerapkan prinsip-prinsipnya. Menerima, membaca, meneliti, menghafal, dan merenungkan Firman akan sia-sia jika kita gagal mempraktikkannya. Kita harus menjadi "pelaku firman"24) Inilah langkah tersulit dari semuanya, karena Iblis melawannya dengan keras. Iblis tidak peduli Anda pergi ke pendalaman Alkitab selama Anda tidak melakukan apapun dengan apa yang Anda pelajari.
Kita membodohi diri kita sendiri bila kita mengira bahwa hanya karena kita telah mendengar atau membaca atau meneliti sebuah kebenaran berarti, kita telah menghayatinya. Sesungguhnya, Anda bisa begitu sibuk pergi ke kelas atau seminar atau pertemuan Alkitab berikutnya sehingga Anda tidak memiliki waktu untuk menerapkan apa yang telah Anda pelajari. Anda melupakannya pada saat Anda pergi untuk pendalaman berikutnya. Tanpa penerapan, semua pendalaman Alkitab kita sia-sia. Yesus mengatakan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu."25) Yesus juga menunjukkan bahwa berkat Allah datang karena orang menaati kebenaran, bukan hanya mengetahuinya. Dia berkata, "Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya."26)
Alasan lain mengapa kita menghindari penerapan pribadi ialah karena hal tersebut bisa sulit atau bahkan menyakitkan. Kebenaran akan membebaskan Anda, tetapi mula-mula kebenaran tersebut mungkin membuat Anda tidak senang! Firman Allah menyingkapkan berbagai motif kita, menunjukkan kesalahan-kesalahan kita, menegur dosa-dosa kita, dan berharap agar kita berubah. Menentang perubahan merupakan sifat manusia, karena itu menerapkan Firman Allah merupakan kerja keras. Itulah sebabnya, sangat penting untuk membicarakan penerapan pribadi Anda dengan orang lain.
Tidak berlebihan kalau saya menekankan pentingnya menjadi anggota dari sebuah kelompok kecil diskusi pendalaman Alkitab. Kita selalu belajar dari orang lain kebenaran-kebenaran yang tidak pernah bisa kita pelajari sendiri. Orang lain akan membantu Anda melihat pengertian- pengertian yang bisa terlewatkan oleh Anda dan membantu Anda menerapkan kebenaran Allah dengan suatu cara yang praktis.
Cara terbaik untuk menjadi seorang "pelaku Firman" ialah selalu menulis langkah tindakan sebagai hasil dari pembacaan atau pengalaman atau perenungan Anda atas Firman Allah. Kembangkan kebiasaan untuk menulis apa tepatnya yang Anda ingin lakukan. Langkah tindakan ini seharusnya bersifat pribadi (melibatkan Anda), praktis (sesuatu yang bisa Anda kerjakan), dan bisa dibuktikan (dengan sebuah batas waktu untuk melakukannya). Setiap penerapan akan meliputi hubungan Anda dengan Allah, hubungan Anda dengan orang lain, atau karakter pribadi Anda.
Sebelum Anda membaca bab berikutnya, gunakan sedikit waktu untuk berpikir tentang pertanyaan ini: Apakah yang Allah sudah suruh Anda lakukan dalam Firman-Nya, tetapi belum mulai Anda kerjakan? Kemudian tuliskan beberapa pernyataan tindakan yang akan membantu Anda bertindak berdasarkan apa yang Anda ketahui. Anda bisa memberi tahu seorang kawan yang bisa meminta pertanggungjawaban Anda. Seperti yang dikatakan oleh D.L. Moody, "Alkitab bukan diberikan untuk meningkatkan pengetahuan kita, melainkan untuk mengubah hidup kita."
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab untuk Hidup Benar dan Menggunakan |
| karunia-karunia Rohani. | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R03b |
Referensi OKB-R03b diambil dari:
| Judul Buku | : | MANFAAT KARUNIA ROH |
| Judul Artikel | : | Berpikir dengan Serius |
| Pengarang | : | Peter Wagner |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 2000 |
| Hal | : | 250 - 263 |
Saatnya telah tiba bagi orang-orang Kristen di seluruh dunia, dalam tiap-tiap gereja, untuk mulai berpikir dengan serius mengenai diri mereka (lihat Rm. 12:3). Tentu saja, mereka tak dapat melakukan hal ini dengan sikap sombong. Namun, mereka juga tidak boleh berpura-pura rendah hati sehingga mereka dan orang lain di sekeliling mereka menjadi buta terhadap fungsi yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka di dalam Tubuh Kristus.
Saya akan menguraikan lima langkah yang telah dirancang untuk membantu Saudara dan gereja Saudara berpindah dari posisi di titik pusat dan mulai menjalankan kuasa yang ajaib yang telah disediakan oleh Allah di dalam karunia-karunia yang telah diberikan-Nya. Kelima langkah itu, sama seperti seluruh buku ini, ditujukan kepada para pendeta dan orang awam. Namun, saya perlu menekankan dua asumsi saya sebelum menguraikan lima langkah itu. Pertama-tama, saya mengasumsi bahwa gembala gereja Saudara telah yakin bahwa menemukan, mengembangkan dan menggunakan karunia-karunia Roh adalah kehendak Allah untuk jemaatnya dan bahwa ia bersedia mengambil peranan pemimpin yang aktif dalam proses ini. Saya juga mengasumsi bahwa gembala Saudara menghendaki gerejanya bertumbuh dan ia rela berkorban demi pertumbuhan itu.
Gembala adalah orang penting Allah untuk pertumbuhan suatu gereja setempat dan jika karena satu dan lain sebab ia bersikap acuh tak acuh atau bersikap menentang pertumbuhan gereja atau karunia-karunia Roh, nasihat saya ialah menangguhkan kelima langkah ini, kalau tidak kelimanya akan gagal.
LANGKAH 1: MENYETUJUI SUATU FILSAFAT PELAYANAN
Manfaat yang diperoleh setiap gereja setempat bila mempunyai filsafat pelayanan yang tersusun dengan baik sudah disebut beberapa kali. Sebagian dari filsafat pelayanan itu haruslah suatu pernyataan yang jelas mengenai apa yang dipercayai dan diharapkan oleh gereja itu mengenai karunia-karunia Roh. Jika gereja Saudara mempunyai filsafat pelayanan yang sudah ditetapkan dan filsafat itu tidak mempunyai bagian mengenai karunia-karunia Roh, saya sarankan agar filsafat tersebut diubah.
Setiap program yang Saudara adakan untuk menemukan dan menggunakan karunia-karunia Roh akan dibentuk oleh filsafat pelayanan Saudara. Saudara perlu menemukan hal-hal seperti berikut:
Marilah kita memutuskan berdasarkan filosofi kita sendiri tentang karunia-karunia Roh. Marilah kita menemukan gabungan karunia yang bagaimanakah yang telah Tuhan berikan kepada gereja kita, dan marilah kita memuji Tuhan untuk gereja-gereja lain yang mempunyai filsafat pelayanan yang berbeda.
Marilah Kita Hentikan Pertentangan
Apabila kita melakukan hal ini, dengan segera akan tampak dua keuntungan. Pertama, persaudaraan Kristen akan ditingkatkan. Sungguh, suatu hal yang menyedihkan bahwa beberapa gereja setempat telah terpecah-pecah karena karunia-karunia Roh. Kesempatan untuk terjadinya perpecahan hampir tidak ada bila jemaat telah menyetujui suatu filsafat pelayanan yang jelas. Bukan saja saudara-saudara seiman dalam suatu gereja setempat akan saling mengasihi, tetapi perasaan iri hati, cemburu, persaingan, atau fitnahan di antara gereja-gereja akan berkurang. Mengapa tidak menerima saja perbedaan-perbedaan satu sama lain dan saling mengasihi di dalam Tuhan? Saya menyukai judul buku Peter Gillquist, Let's Quit Fighting About the Holy Spirit.
Keuntungan kedua adalah pertumbuhan gereja. Semakin banyak variasi gereja dan filsafat pelayanan, semakin banyak orang akan dimenangkan untuk Kristus. Ada begitu banyak macam orang sehingga diperlukan bermacam-macam gereja untuk memenangkan mereka bagi Kristus. Pekabaran Injil yang berhasil guna akan mengalami kemunduran jika semua gereja menjadi serupa. Inilah sebabnya dalam kebanyakan hal gereja-gereja yang bergabung pada akhirnya menjadi lebih kurang anggotanya ketimbang ketika mereka masih terpisah.
LANGKAH 2: MEMULAI SUATU PROSES PERTUMBUHAN
Menemukan, mengembangkan, dan menggunakan karunia-karunia Roh dapat menjadi tujuan yang baik. Dalam beberapa kasus hal ini saja yang akan membantu sebuah gereja untuk bertumbuh. Akan tetapi, pertumbuhan gereja itu rumit dan dinamika karunia-karunia Roh hanya merupakan salah satu dari antara banyak prinsip pertumbuhan gereja. O1eh karena itu, dalam banyak hal suatu program yang menggunakan karunia-karuia Roh saja tidak akan memadai untuk mempergunakan sebaik-baiknya potensi pertumbuhan sebuah gereja. Bila karunia-karunia diteniukan, maka harus ada berbagai saluran agar karunia-karunia itu dapat digunakan dengan efektif.
Satu hal yang sangat mengecewakan ialah bila kita menemukan suatu karunia Roh, namun tidak dapat menggunakannya dalam gereja. Sebenarnya, para gembala gereja harus menyadari bahwa gereja bisa kehilangan anggota-anggota bila hal ini terjadi. Mereka akan pindah ke gereja lain di mana mereka lebih berguna.
Tidak mungkin saya menjelaskan dengan rinci di sini bagaimana mengembangkan suatu proses pertumbuhan di dalam gereja. Jalan yang paling efektif yang saya tahu ialah agar gembala sendiri mengikuti pendidikan profesional untuk bidang pertumbuhan gereja, lebih baik pada tingkat Doctor of Ministry. Gereja seharusnya bersedia membiayai pendidikan ini baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun untuk kepentingan gembala itu. Semakin banyak ahli diagnosis gereja yang profesional kini tersedia untuk gereja-gereja yang merasa memerlukan konsultasi dan pandangan orang luar. Dengan sumber daya apa pun yang ada, yang bersifat denominasional atau interdenominasional, memulai suatu proses pertumbuhan yang sehat sebelum mulai mengusahakan karunia-karunia Roh akan memberi keuntungan yang cukup besar.
LANGKAH 3: STRUKTUR YANG PERLU UNTUK KARUNIA-KARUNIA DAN PERTUMBUHAN
Dalam kedua buku saya yang berjudul Gereja Saudara Dapat Bertumbuh (Penerbit Gandum Mas, 1991) dan Leading Your Church to Growth (Regal Books, 1984), saya menguraikan pikiran saya tentang bagaimana gereja perlu disusun secara administratif untuk pertumbuhan. Satu bentuk pemerintahan gereja yang populer di Amerika, tetapi yang biasanya tidak membantu pertumbuhan dalam sebuah gereja besar, adalah bentuk pemerintahan kongregasional, di mana tiap gereja berpemerintahan sendiri. Kebanyakan pendeta dari gereja-gereja besar yang sedang bertumbuh, yang secara tradisional berpemerintahan kongregasional, entah bagaimana telah berhasil membuat stiuktur itu lebih efisien. Struktur ini dapat dijalankan dalam gereja-gereja yang kecil, tetapi bila keanggotaan mulai nielewati angka 200, struktur ini semakin kurang efektif.
Struktur yang paling mulus untuk pertumbuhan adalah struktur yang mengakui sepenuhnya kedudukan seorang gembala sebagai pemimpin dan membebaskan dia untuk menggunakan karunia atau karunia-karunia Rohnya. Dalam banyak gereja yang sedang bertumbuh, majelis gereja mengatur gereja dan gembala adalah ketua majelis itu dan presiden badan hukum, atau gelar-gelar lain seperti itu. Bila gereja mempunyai filsafat pelayanan yang telah dipikirkan baik-baik, yang satu itu dapat bekerja dengan baik. Semakin banyak majelis dan komisi dalam suatu gereja semakin banyak kesempatan untuk percekcokan, perkelahian dalam kalangan tertentu, dan perselisihan kepentingan. Hal-hal itu memperlambat proses pengambilan keputusan sehingga kadang-kadang hampir macet.
Menurut pengertian saya mengenai cara kerja Allah, hanya ada satu orang yang, di bawah Allah, memikul tanggung jawab utama terhadap suatu gereja setempat - orang itu adalah gembala senior. Tentu saja, Allah akan menganggap semua anggota bertanggung jawab atas gereja mereka, tetapi tak seorang pun yang tanggung jawabnya setingkat dengan tanggung jawab orang yang telah menerima kedudukan pimpinan yang teratas. Saya menganggap bahwa sikap yang perlu dimiliki anggota- anggota gereja terhadap gembala mereka diuraikan dalam Ibrani 13:17, "Taatilah pemimpin-penimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu."
Khotbah yang disampaikan mengenai ayat ini belum cukup. Sulit sekali bagi seorang gembala untuk menyampaikan khotbah mengenai ayat ini di dalam gerejanya sendiri sebab alasan-alasannya dengan mudah sekali dapat disalahtafsirkan. Itulah sebabnya saya selalu mengemukakan dan menekankan hal ini. Karena saya bukan gembala gereja, maka saya tak perlu khawatir tentang terjadinya salah tafsir. Akan tetapi, saya sendiri mempunyai seorang gembala di atas saya dan saya berusaha menerapkannya dalam sikap saya sendiri terhadap dirinya dan stat gereja. Banyak gembala menderita kesedihan pribadi dan rasa frustrasi yang tak berhingga oleh sebab jemaat mereka tidak mengerti atau tidak mempraktikkan prinsip ketaatan yang alkitabiah kepada orang-orang yang menjadi pemimpin. Akibat menyeluruh dari perbuatan mengabaikan prinsip ini ialah terhambatnya pertumbuhan gereja.
Hukum Parkinson dan Pertumbuhan Gereja
Kent Tucker telah mengadakan penyelidikan yang menunjukkan bahwa di banyak gereja 85 persen dari waktu yang tersedia digunakan utuk manajemen sedangkan hanya 15 persen dari waktu itu digunakan untuk pelayanan. Masalah pertumbuhan yang pokok di sini ialah proporsi waktu yang tersedia yang dihabiskan untuk perkara-perkara yang berkaitan dengan administrasi dan organisasi bila dibandingkan dengan waktu yang tersedia yang dipakai dalam pelayanan yang sesungguhnya. Hal ini sangat tidak efisien. Tidak ada perusahaan yang dapat bertahan selama sebulan dengan struktur seperti itu. Hukum Parkinson berbunyi, "Pekerjaan berkembang sedemikian rupa agar waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya terpenuhi" atau dengan kata lain orang cenderung mengada-adakan pekerjaan untuk mengisi waktu. Hukum Parkinson inilah yang sekarang merajalela dalam banyak gereja. Berbagai komisi dan dewan bisa sibuk luar biasa, tetapi pada akhirnya mereka hanya mengerjakan sedikit sekali dipandang dari segi tujuan-tujuan pelayanan gereja itu.
First Baptist Church di Modesto, California, menemukan masalah ini pada tahun 1967 dan sejak itu telah bertumbuh dengan lebih cepat. Hal itu terjadi ketika Pendeta Bill Yaeger tiba dan menjadikan administrasi gereja efisien untuk pertumbuhan. Sebelumnya gereja itu menunjukkan kemunduran 0,8 persen dalam waktu satu dasawarsa. Selama waktu 10 tahun hanya tiga orang petobat baru yang dibaptis. Di bawah pimpinan Yaeger gereja mengatur kembali strukturnya dari gereja dengan bermacam-macam dewan menjadi gereja dengan hanya satu dewan. Yaeger berkata, "Setelah kami menyederhanakan struktur organisasi gereja, maka orang-orang bebas untuk melibatkan diri dalam pekabaran Injil dan pemuridan". Setelah menyusun kembali struktur organisasinya mereka memperhitungkan bahwa 97,1 persen dari waktu yang diberikan oleh orang awam kepada gereja digunakan untuk pelayanan dan hanya 2,9 persen untuk mengelola urusan gereja. Angka pertumbuhan gereja First Baptist selama 10 tahun sesudah perubahan itu adalah 388 persen! Setidak- tidaknya satu gereja tidak membiarkan Hukum Parkinson menghentikan pertumbuhannya.
Setelah orang-orang dibebaskan dari tugas-tugas yang berkaitan dengan organisasi, yang tidak sesuai dengan karunia dari kebanyakan mereka, maka mereka dapat memakai karunia-karunia Roh mereka untuk melakukan pekerjaan yang lebih cocok untuk mereka. Banyak pemimpin gereja yang setelah menyelidiki struktur gerejanya dengan teliti, terkejut ketika mengetahui bagaimana personalia mereka disebarkan secara tidak efisien.
LANGKAH 4: MEMBUKA KARUNIA-KARUNIA ROH
Bayangkanlah pengalaman gerejawi Saudara sewaktu hari raya Natal. Pohon Natal sudah terhias dan hadiah-hadiahnya sudah tersedia. Yang harus dilakukan oleh keluarga hanyalah membuka hadiah-hadiah itu. Gereja Saudara sudah siap untuk bertumbuh. Allah sudah menyediakan berbagai karunia, tetapi hanya sedikit orang yang tahu apakah karunia- karunia itu. Sekaranglah saatnya untuk membuka karunia-karunia itu!
Menurut pengamatan saya suatu daftar periksa berisi enam hal sebaiknya dipertimbangkan untuk memproses dan mengembangkan suatu dinamika yang kuat dari karunia-karunia Roh di dalam gereja Saudara.
Karena gembala yang harus memimpin gereja ke arah pertumbuhan, maka gagasan-gagasannya perlu didengar dari mimbar. Seorang gembala yang saya kenal menyampaikan 22 khotbah secara berurutan mengenai karunia-karunia Roh dengan akibat-akibat yang dramatis baik berkenan dengan orang-orang yang menemukan karunia-karunia mereka sendiri maupun dalam ledakan pertumbuhan gereja. Banyak pendeta lain telah mengalami bahwa serangkaian khotbah mengenai karunia-karunia Roh tampaknya telah mempengaruhi pertumbuhan gereja. Para pendeta dari gereja-gereja yang telah tersusun di sekitar karunia-karunia Roh tidak hanya menyampaikan rangkaian khotbah seperti itu, tetapi secara terus-menerus menyebut karunia-karunia Roh dalam khotbah-khotbah mereka yang lain. Dan mereka tidak mcnganggap bahwa satu rangkaian khotbah saja sudah cukup. Tahun lepas tahun mereka berkhotbah mengenai pokok ini dari berbagai titik pandangan yang berbeda untuk memberi penyuluhan kepada anggota-anggota baru dan menguatkan anggota-anggota yang lebih tua.
Bila gembala berbicara banyak mengenai karunia-karunia Roh maka akan mempermudah jemaatnya untuk berbicara mengenai hal itu juga. Mereka menyadari bahwa karunia-karunia itu sekarang sedang "disenangi" dan suasana yang tercipta oleh suatu pelayanan mimbar yang kuat mengenai karunia-karunia dapat bermanfaat di segala bidang kehidupan gereja.
Jemaat bukan saja harus mendengar tentang karunia-karunia Roh dari mimbar, tetapi mereka sendiri juga harus belajar tentang karunia-karunia itu. Hal ini dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil, pada jam-jam pelajaran khusus, di kelas-kelas sekolah Minggu atau seorang diri di rumah. David C. Cook mempunyai sebuah komponen kurikulum sekolah Minggu yang bagus, yang berjudul Congratulations! You're Gifted. Charles E. Fuller Institute menyediakan bermacam-macam sumber daya yang luas mengenai karunia-karunia Roh bagi Saudara dan gereja Saudara. Banyak denominasi mempunyai bahan pelajarannya sendiri mengenai karunia-karunia Roh. Gereja Nazarene, misalnya, telah menghasilkan sekumpulan bahan yang khusus ditujukan kepada denominasi Wesley atau denominasi kesucian.
Penelaahan Alkitab akan membantu jemaat untuk benar-benar mengetahui apa karunia-karunia itu, bagaimana karunia-karunia itu cocok dengan Tubuh Kristus, dan makna karunia-karunia itu untuk tiap orang secara pribadi.
Saya telah memakai kata "orang-orang dewasa" dengan dipertimbangkan betul-betul, karena tidak semua orang Kristen dari semua usia sudah siap untuk mengerti dan menyetujui karunia Roh yang dimilikinya. Prinsip umum saya ialah apabila Saudara berumur 18 tahun dan tidak mengetahui apa karunia rohani Saudara, janganlah cemas, Saudara mungkin terlalu muda. Akan tetapi, bila Saudara berusia 25 tahun dan masih tidak mengetahui karunia Roh Saudara, sudah tiba saatnya untuk merasa cemas. Menurut pengertian saya, kemampuan untuk menemukan karunia-karunia Roh adalah suatu fungsi kedewasaan emosi. Orang yang sudah dewasa emosinya sudah siap untuk mengetahui karunia-karunianya, tetapi kcdewasaan emosi terjadi pada usia yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda. Ada orang yang sudah dewasa emosinya pada urnur 20 tahun, dan ada juga orang lain belum dewasa pada usia 30 tahun.
Orang Kristen baru yar:g dewasa emosinya hendaknya diharapkan untuk menemukan karunia mereka dalam 4 sampai 12 bulan, bergantung pada aneka ragam faktor. Salah satu hal yang pcrtama-tama harus mereka ketahui ialah bahwa Allah telah memberikan suatu karunia Roh kepada mereka dan karunia itu hanya tinggal ditemukan saja. Orang muda perlu mengetahui karunia mereka sedini mungkin. Saya telah melihat kurikulum kelas satu yang sangat baik yang dihasilkan oleh Sinode Gereja Luteran di Missouri untuk sekolah-sekolah gereja mereka. Kurikulum itu mengajarkan anak-anak dari permulaan bahwa mereka adalah bagian dari suatu Tubuh yang lebih benar dan bahwa sumbangan mereka kepada Tubuh itu sangat penting bagi Allah. Kaum muda usia sekolah lanjutan dan perguruan tinggi sebaiknya bereksperimen dengan karunia-karunia apa saja, tetapi pikiran mereka harus tetap terbuka dalam hal mengambil kesimpulan-kesimpulan yang pasti. Saya telah melihat banyak mahasiswa seminari yang mengetahui ajaran Alkitab mengenai karunia-karunia Roh, namun belum menemukan dengan pasti apakah karunia mereka itu.
Salah satu frustrasi yang saya rasakan selama bertahun-tahun mengajar karunia- karunia Roh ialah bahwa setelah saya selesai dan orang-orang telah mengerti teorinya, saya tidak dapat membawa mereka lebih jauh lagi. Kebanyakan orang yang belajar mengenai karunia-karunia Roh ingin mengetahui karunia apa yang mereka miliki, tetapi saya tidak dapat menolong banyak.
Itu sebabnya saya amat senang ketika Charles Fuller Institute mengadakan satu lokakarya yang sangat baik mengenai karunia-karunia Roh. Lokakarya ini dapat digunakan dalam setiap kelompok gereja. Pedoman untuk pemimpin terdiri atas dua pita kaset berisi ceramah saya mengenai karunia-karunia Roh dan sebuah buku kerja yang disertai jawaban untuk peserta. Selama lokakarya, yang makan waktu kira-kira enam jam, setiap peserta mengisi buku kerjanya sendiri yang antara lain berisi suatu Kuesioner Houts yang Dimodifikasi oleh Wagner. Kuesioner ini, yang direproduksi di dalam lampiran buku ini, terdiri atas 125 soal yang sangat membantu tiap orang untuk mulai memahami karunia atau karunia-karunia yang telah Allah berikan kepada mereka. Sesudah para peserta selesai mengisi buku kerja, mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil dengan lima atau enam orang yang saling mengenal, untuk membicarakan hasilhasil daftar pertanyaan itu dan melihat apakah mereka dapat saling membantu untuk mulai menemukan karunia-karunia itu. Cara ini telah diuji di ratusan gereja dengan hasil-hasil yang sangat membesarkan hati.
Beberapa gereja berbuat kekeliruan ketika mengadakan lokakarya karunia-karunia Roh seakan-akan itu hanya merupakan pelatihan rohani lain yang menyenangkan dan membangkitkan semangat. Lalu mereka pulang dan memulai sesuatu proyek yang lain. Mereka tidak mengadakan rencana- rencana pasti yang harus dilaksanakan sehingga dalam beberapa kasus hasil bersih dalam pertumbuhan gereja menjadi tak berarti.
Sewaktu proses karunia Roh sedang berjalan, jangan lupa untuk mcnetapkan sasaran bagi penemuan karunia-karunia Roh. Satu sasaran yang baik ialah bahwa 50 persen dari orang-orang dewasa dalam gereja itu akan mampu menggambarkan karunia atau karunia-karunia Roh mereka sendiri dalam waktu 12 bulan dan bahwa 20 persennya lagi akan menjalani pyoses penemuan tersebut. Setiap kelompok perlu mengembangkan suatu sistem untuk mengatur terjadinya hal itu. Orang- orang perlu dijadikan saling bertanggung-jawab untuk menemukan karunia mereka dan kemudian menggunakannya.
Menemukan, mengembangkan, dan menggunakan karunia-karunia Roh hendaknya menjadi bagian yang tetap dari kehidupan gereja dan gaya hidup jemaat, seperti doa atau penelaahan Alkitab atau Perjamuan Kudus. Hal ini hendaknya digairahkan dengan berbagai buku, khotbah, dan pelajaran sekolah Minggu, dan kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas yang menolong orang-orang untuk menggunakan karunia-karunia mereka. Timotius sudah tidak memakai karunianya lagi dan Paulus harus mendorong dia (lihat 1 Tim. 4:14). Hal itu dapat terjadi pada diri kita juga apabila kita tidak berhati-hati.
Mungkin aksi yang dilakukan oleh Gereja Lutheran St. Paul di Detroit, Michigan, dapat menjadi contoh bagi orang lain yang berminat untuk menetapkan karunia-karunia Roh ke dalam proses pertumbuhan mereka. Gereja itu, yang telah menunjukkan angka pertumbuhan yang sehat, mendapati bahwa karunia-karunia Roh merupakan suatu kunci yang penting. Sebagai akibatnya, Pendeta Wayne Pohl telah mcnambah pada stafnya seorang anggota baru purnawaktu, Arthur Beyer, dengan gelar Minister of Spiritual Gifts, untuk membantu memelihara pertumbuhan gereja itu.
LANGKAH 5: MENGHARAPKAN BERKAT ALLAH
Pengajaran mengenai karunia-karunia Roh tidak diciptakan oleh seorang konsultan ketepatgunaan manajemen atau oleh sebuah departemen pertumbuhan gereja atau oleh suatu seminari teologi atau bahkan oleh suatu dewan gereja. Pengajaran megenai karunia-karunia Roh secara langsung berasal dari Firman Allah. Dengan demikian kita mempunyai keyakinan yang kita perlukan untuk berkata dengan penuh percaya bahwa karunia-karunia Roh adalah cara Allah bagi umat-Nya untuk bekerja sama satu dengan yang lain. Inilah caranya untuk melakukan pekerjaan Allah apakah itu saling memedulikan, belajar lebih banyak mengenai iman, merayakan kebangkitan Yesus Kristus, atau menjangkau orang terhilang dengan berita kasih Allah. Inilah caranya untuk mengadakan jenis pertumbuhan gereja yang membangun manusia seutuhnya dan segenap Tubuh Kristus.
Iman merupakan kuncinya. Tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah (lihat Ibr. 11:6). Iman adalah pengharapan: pengharapan bahwa Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita. Pengharapan bahwa kita dapat menjadi orang seperti yang dikehendaki oleh Allah. Pengharapan bahwa Ia telah memberi karunia-karunia kepada kita dan bahwa kita akan merasa benar-benar nyaman apabila kita melakukan kehendak-Nya dengan jalan menggunakan karunia-karunia Roh.
Iman memberitahukan kita bahwa Allah ingin gereja-Nya bertumbuh. Ia ingin agar domba-domba-Nya yang terhilang ditemukan dan dibawa ke kandang. Ia akan melakukannya melalui karunia-karunia yang telah diberikan-Nya kepada masing-masing kita demi kemuliaan-Nya.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab untuk Hidup Benar dan Menggunakan |
| karunia-karunia Rohani. | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R03c |
| Judul Buku | : | MANFAAT KARUNIA ROH |
| Judul Artikel | : | Apakah Karunia-karunia Roh Itu? |
| Pengarang | : | Peter Wagner |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 2000 |
| Hal | : | 265 - 270 |
Kedua puluh tujuh karunia Roh:
Karunia nubuat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menerima dan menyampaikan suatu pesan langsung dari Allah kepada umat-Nya melalui ucapan yang diurapi oleh Allah.
Karunia pelayanan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengenali kebutuhan-kebutuhan yang belum dipenuhi yang termasuk suatu tugas yang berhubungan dengan pekerjaan Tuhan serta menggunakan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan itu dan membantu mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
Karunia mengajar adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menyampaikan informasi yang berkaitan dengan kesehatan dan pelayanan Tubuh itu dan anggota-anggotanya dengan cara sedemikian rupa sehingga orang lain akan belajar.
Karunia memberi nasihat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk memberikan kata-kata penghiburan, simpati, dorongan, dan nasihat dengan cara sedemikian rupa kepada anggota- anggota lain dalam Tubuh itu sehingga mereka merasa tertolong dan dipulihkan.
Karunia membagi-bagikan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menyumbangkan dari sumber penghasilan mereka kepada pekerjaan Tuhan dengan kemurahan hati dan dengan sukacita.
Karunia kepemimpinan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menetapkan sasaran-sasaran sesuai dengan maksud tujuan Allah untuk masa yang, akan datang serta mengkomunikasikan sasaran-sasaran ini kepada orang lain dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka dengan sukarela dan rukun bekerja bersama-sama untuk mencapai sasaran-sasaran itu demi kemuliaan Allah.
Karunia kemurahan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk merasa empati dan belas kasihan yang sungguh-sungguh terhadap orang-orang, baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen, yang menderita masalah fisik, mental, atau emosional, serta mewujudkan belas kasihan itu dalam perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang hati yang mencerminkan kasih Kristus dan meringankan penderitaan itu.
Karunia hikmat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengetahui pikiran Roh Kudus dengan cara sedemikian rupa sehingga menerima wawasan tentang bagaimana caranya pengetahuan tertentu dapat diterapkan dengan sebaik-sebaiknya untuk keperluan-keperluan khusus yang timbul dalam Tubuh Kristus.
Karunia pengetahuan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menemukan, mengumpulkan, menganalisis, dan menjelaskan informasi dan gagasan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan kesejahteraan Tubuh itu.
Karunia iman adalah kemampuan istimewa yang diberikan Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk dapat mengerti dengan kepercayaan yang luar biasa kehendak dan maksud tujuan Allah bagi masa depan pekerjaan-Nya.
Karunia penyembuhan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk bertindak sebagai perantara manusiawi. Melalui mereka Allah berkenan menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan terlepas dari penggunaan cara-cara alami.
Karunia mukjizat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk bertindak sebagai perantara manusia. Melalui mereka Allah berkenan melakukan perbuatan-perbuatan yang berkuasa yang menurut pengamatan orang-orang yang menyaksikannya telah mengubah prosedur yang biasa terjadi dalam alam.
Karunia membedakan bermacam- macam roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus yang memungkinkan mereka mengetahui dengan pasti apakah perilaku tertentu yang mengaku berasal dari Tuhan itu sungguh-sungguh dari Tuhan, dari manusia, atau dari Iblis.
Karunia bahasa roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus (A) untuk berbicara kepada Allah dalam suatu bahasa yang tidak pernah mereka pelajari dan/atau (B) untuk menerima dan menyampaikan suatu pesan langsung dari Allah kepada umat-Nya melalui suatu ucapan yang diurapi Allah dalam bahasa yang tidak pernah mereka pelajari.
Karunia menafsirkan bahasa roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk memberitahukan dalam bahasa sehari-hari pesan yang telah disampaikan dalam bahasa roh.
Karunia rasul adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menerima dan menjalankan kepemimpinan umum atas sejumlah gereja dengan kekuasaan luar biasa dalam soal-soal rohani yang secara spontan diakui dan dihargai oleh gereja-gereja itu.
Karunia pertolongan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menginvestasikan bakat-bakat yang mereka miliki dalam kehidupan dan pelayanan anggota-anggota lain dari Tubuh Kristus, sehingga memungkinkan orang yang ditolong untuk meningkatkan keefektifan karunia-karunia Roh yang dimilikinya.
Karunia kepengurusan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengerti dengan jelas tujuan-tujuan yang dekat dan tujuan-tujuan jangka panjang dari satu kesatuan tertentu dalam Tubuh Kristus sehingga dapat merencanakan dan melaksanakan rencana-rencana yang berhasil guna untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
Karunia pemberita Injil adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menyampaikan Injil kepada oran-orang yang tidak percaya dengan cara sedemikian rupa hingga pria dan wanita menjadi murid Tuhan Yesus dan anggota Tubuh Kristus yang bertanggung jawab.
Karunia gembala adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menerima tanggung jawab pribadi jangka panjang demi kesejahteraan rohani sekelompok orang percaya.
Karunia hidup lajang adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk tetap membujang dan menyenanginya, untuk tidak menikah dan tidak menderita godaan-godaan seksual yang berlebihan.
Karunia hidup miskin secara sukarela adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk meninggalkan kesenangan materiil dan kemewahan serta menerima gaya hidup pribadi yang sama dengan mereka yang hidup pada taraf kemiskinan dalam suatu masyarakat tertentu agar dapat melayani Tuhan dengan lebih efektif.
Karunia mati sebagai martir adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk mengalami penderitaan karena iman bahkan sampai mati sekalipun sambil terus-menerus memperlihatkan sikap bersukacita dan berkemenangan yang mendatangkan kemuliaan kepada Allah.
Karunia memberi tumpangan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk membuka rumah mereka dan menyambut dengan hangat orang-orang yang membutuhkan makanan dan penginapan.
Karunia misionaris adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk melayani dalam suatu kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaannya sendiri dengan karunia-karunia Roh lain apa saja yang mereka miliki.
Karunia doa syafaat adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk berdoa secara teratur selama waktu-waktu yang agak lama dam sering melihat jawaban-jawaban khusus untuk doa mereka, dalam kadar lebih besar daripada yang diharapkan dari orang Kristen yang biasa.
Karunia pelepasan adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam Tubuh Kristus untuk menghalau setan-setan dan roh- roh jahat.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggungjawab dalam Hal Keanggotaan Gereja dan |
| Kehidupan Keluarga | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R04a |
Referensi OKB-R04a diambil dari:
| Judul Buku | : | ANDA DAN GEREJA |
| Judul Artikel | : | Tugas Jemaat Kristus |
| Penulis | : | Walter Mohr |
| Penerbit | : | YAKIN, Surabaya, 1981 |
| Halaman | : | 34 - 42 |
Jemaat Kristus mempunyai tiga tugas utama. Pertama tugas kepada Allah, kedua tugas kepada dunia, ketiga tugas kepada anggota-anggota jemaat sendiri. Mari kita selidiki satu per satu ketiga tugas jemaat Kristus ini:
Pertama, penyembahan. Inilah tugas jemaat kepada Allah. Tugas jemaat yang paling mulia. Sebenarnya dalam Perjanjian Lama, misaiirya kitab Mazmur, ada banyak ditulis soal penyembahan. Ketika Yesus bercakap- cakap dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub, pembicaraan sampai kepada soal penyembahan. Yesus berkata, "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran " (Yohanes 4:23-24). Di sini kita lihat bahwa bukan tempat yang penting dalam penyembahan, melainkan sikap hati seseorang. Bapa "menghendaki" orang menyembah. Kata "menghendaki" di sini berarti berkenan, mencari, merindukan. Tugas jemaat kepada Allah ialah memelihara hubungan erat dengan Allah, menyembah Dia, memuliakan Dia di tengah-tengah dunia dengan menyembah- Nya. Kosonglah pelayanan kita, apabila tidak mau mengambil waktu untuk menunggu di hadirat-Nya.
Di sorga sekarang malaikat-malaikat dan orang-orang kudus sedang menyembah Allah (Wahyu 4:8-11; 5:9-14; 7:9-12). Kelak kita semua akan menyembah Allah di sorga untuk selamalamanya.
Penyembahan yang benar ialah memusatkan hati kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada-Nya. Ini berarti tidak memikirkan kebutuhan diri sendiri maupun berkat-berkat yang Tuhan berikan, tetapi memikirkan TUHAN itu sendiri. Kata yang umum dipakai dalam Perjanjian Baru ialah "proskuneo" (kira-kira 60 x) dan diterjemahkan sebagai "menyembah." Tetapi kata itu sendiri sebenarnya berarti "mencium tangan."
Mengikuti suatu kebaktian gereja belum tentu suatu penyembahan. Mengapa? Banyak orang merasa ikut kebaktian sudah berarti menyembah Allah. Kadang-kadang tidak. Sebab penyembahan tidak terikat pada satu tempat (Yohanes 4:20), melainkan pada keadaan hati orang yang menyembah.Menyanyi, memuji, memikirkan kebesaran Allah dapat merupakan penyembahan yang memperkenankan Allah dan menguatkan kita.
Penyembahan yang benar bukan ucapan-ucapan indah saja, tetapi menyangkut diri kita dan segala yang ada pada kita. Penyembahan yang benar akan mempersembahkan apa? Dalam Injil Matius ada satu contoh yang indah mengenai penyembahan kepada Allah. Orang-orang majus dari Timur datang ke tanah Palestina - bukan untuk meminta atau memperoleh sesuatu, melainkan - untuk menyembah Dia, Anak Allah yang lahir di kandang Betlehem. Memohon, meminta,mengharap sesuatu dari Tuhan itu baik. Namun ada yang lebih, baik, yaitu menyembah Dia. Orang-orang majus itu datang untuk menyembah Dia (Matius 2:11). Perhatikan bagaimana mereka menyembah. Dengan membuka tempat penyimpanan harta bendanya! Mereka menyembah dengan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.
Jadi, penyembahan yang sejati mencakup: mempersembahkan diri dan tubuhnya kepada Tuhan (Roma 12:1). Ini berarti hidup bagi Tuhan. Bukan di mulut saja kita menyembah Tuhan, tetapi dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Mempersembahkan sebagian dari harta benda kita kepada Tuhan (1 Korintus 16:2). Lebih dahulu harus mempersembahkan diri (2 Korintus 8:5), kemudian barulah dapat mempersembahkan harta kita kepada Tuhan dengan kerelaan hati karena mengasihi Tuhan. Ingat, segala harta benda yang ada pada kita itu pun sebenarnya milik Tuhan, yang dipercayakan oleh-Nya kepada kita untuk dipergunakan bagi kemuliaan-Nya (2 Korintus 9:7).
Kedua, penginjilan. Inilah tugas jemaat kepada dunia. Tugas yang penting sekali. Tugas pokok. Bukan sesuatu yang asing bagi kita. Ini adalah pesan/perintah/amanat agung dari Tuhan Yesus yang terakhir sebelum la naik ke sorga (Matius 28:19; Kis.Ras. 1:8). "Pergilah . . . jadikanlah . . . saksikanlah."
Tuhan Yesus sendiri memberikan contoh yang indah (Lukas 19:10). "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Sekarang ini masih tugas kita.
Tugas ini adalah tugas seluruh jemaat Kristus. Jemaat yang melalaikan ini akan mati. Di mana ada jemaat yang lupa akan tugasnya dalam penginjilan, jemaat itu akan segera mati. Jemaat itu akan jadi kering, tandus. Ada satu syarat mutlak bagi jemaat yang mau hidup: bersaksi, menginjil. Ingin dewasa secara rohani, bersaksi! Kadang-kadang ada orang yang berpandangan, karena di dalam gereja masih banyak persoalan, mari kita membereskan dahulu apa yang di dalam, mengajar, mengajar, mengajar, baru sesudah itu semua beres, kita keluar . . .! Saya tidak setuju. Keyakinan saya, sering ada banyak persoalan di dalam jemaat karena kita tidak mau keluar bersaksi, tak mau bekerja. Ini sama dengan tubuh orang yang sakit-sakitan terus karena orang itu tidak pernah mau bergerak, tidak mau latihan, tidak mau bekerja! Bergerak membikin tubuh jadi sehat. Bila ada jemaat yang lemah, ajaklah jemaat itu keluar bersaksi. Itu akan menyehatkannya.
Penginjilan ini adalah tugas seluruh anggota jemaat. Bukan tugas khusus bagi gembala atau penginjil saja (Kis. Ras. 8:1,4). Ya memang, ada pemberita-pemberita Injil yang diberi karunia khusus untuk itu. Tetapi siapa yang memulai jemaat Kristus di Roma? Tak seorang pun mengetahuinya. Juga di tempat-tempat lain. Belum tentu seorang penginjil yang memulai membuka jemaat di sana. Belum tentu seorang rasul. Malahan mungkin sekali jemaat-jemaat itu dimulai oleh orang- orang Kristen biasa saja. Oleh kaum awam. Sebenarnya orang Kristen biasa lebih mudah mendekati orang-orang lain di sekitarnya dari pada seorang pendeta atau penginjil mencoba mendekati mereka. Kaum awam dengan sesama kaum awam tidak kaku hubungannya. Karena itu malah lebih gampang orang Kristen biasa memenangkan jiwa bagi Kristus, bila dilihat dari segi hubungannya ini. Tetapi gereja zaman sekarang sering membuat kesalahan besar: mereka menggaji seorang-pendeta, menyerahkan semua tugas kepadanya termasuk mencari jiwa-jiwa baru, sedangkan kaum awam dilupakan atau dibiarkan duduk mendengarkan saja di bangku-bangku gereja seminggu sekali. Tidak heran bahwa gereja sukar sekali untuk maju!
Rasul Paulus memberikan satu prinsip yang indah sekali kepada kita (2 Timotius 2:2). "Apa yang telah engkau dengar dari padaku . . . percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." Artinya, sebanyak mungkin anggota jemaat diikutsertakan dalam aktivitas pemberitaan Firman Tuhan, sehingga mereka dapat memenangkan jiwa-jiwa lain lagi. Prinsip pelipat-gandaan ini hendaknya dijadikan pedoman jemaat dan dipakai oleh setiap saksi Tuhan.
Tetapi jemaat perlu insaf bahwa penginjilan bukan berarti seluruh dunia akan percaya kepada Tuhan Yesus. Dari kenyataan kita sadar bahwa hanya sebagian kecil saja yang akan percaya. Dalam Matius 7:12-14 kita membaca hanya sedikit yang masuk pada jalan yang sempit. Banyak yang masuk pada jalan yang lebar. Banyak orang tidak mau masuk pada jalan sempit itu. Oh betapa indah apabila banyak yang mau masuk jalan sempit. Tetapi dalam keseluruhan dunia ini, sedikit saja yang mau. Meskipun demikian, pemberitaan Injil perlu dibawa ke mana-mana. Perumpamaan empat macam tanah menjelaskan hal yang sama. Banyak yang mendengar, banyak pula yang mulai memperhatikan. Malahan banyak yang kelihatan sungguh percaya. Wah, orang-orang itu cepat maju. Namun ia tidak mau mencabut cinta dunia yang lama. Saingan terlalu keras. Akhirnya layulah. Kekayaan menariknya kembali dari Tuhan. Yang berhasil sampai berbuah, akhirnya hanya seperempat saja dari keseluruhan yang mendengar.
Kita tidak dapat membawa segenap dunia kepada Kristus, tetapi kita harus membawa Kristus kepada segenap dunia! Ini tidak mudah, tetapi bagaimana pun juga, ini tugas jemaat Kristus kepada dunia.
Ketiga, pemeliharaan dan pengawasan. Inilah tugas jemaat kepada para anggotanya. Tugas yang berat. Sering dalam gereja pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota jemaat kurang memadai. Barangkali pendeta senang apabila banyak orang datang ke kebaktiannya, sedangkan bagaimana keadaan rohani orangorang itu tidak diperhatikan. Ada pula pendeta yang sibuk menjaga agar tidak ada seorangpun anggota gerejanya yang sesat terhilang ke kandang orang Iain. Ini semua baik, tetapi jangan itu saja! Pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota lebih dari pada ini.
Apakah maksudnya pemeliharaan? Ini pemeliharaan bagi para orang kudus di dalam jemaat Kristus. Pemeliharaan ini mencakup beberapa faktor.
Pertama, persekutuan adalah satu unsur penting dalam pemeliharaan (Kis. Ras. 4:23; 2:42; Ibrani 10:24,25). Persekutuan ini bukan melulu dalam kebaktian di gereja, tetapi juga dalam kunjungan, doa, saling menasihati dan saling melayani. Cuma saya ingin menambahkan sesuatu mengenai persekutuan ini. Persekutuan jangan sampai mengambil seluruh waktu orang Kristen! Memang persekutuan penting sekali, tetapi tidak usah setiap malam ada persekutuan atau kebaktian. Kalau orang-orang Kristen setiap waktu "dipaksa" ikut persekutuan saja, kapan ia dapat bersekutu dengan keluarganya? Nanti tanggung jawab dalam keluarga masing-masing dapat terlalai dan rumah tangga bisa berantakan. Kalau selalu persekutuan saja, kapan akan keluar menginjil? Kekristenan tidak terdiri dari "kesibukan dalam persekutuan" belaka. Hendaklah ada keseimbangan dengan yang lain-lain.
Kedua, pengajaran Firman Allah juga penting dalam pemeliharaan (Kis. Ras. 2:42; Efesus 4:12-16). Para anggota jemaat seharusnya sungguh memerhatikan acara Bible Study di gereja. Sedangkan gereja yang tak mempunyai Bible Study bagi para anggotanya, harus mengadakannya. Jemaat setempat mestinya juga berfungsi sebagai Sekolah Alkitab yang praktis yang membawa orang percaya baru kepada kedewasaan rohani. Tuhan Yesus tidak membuka sekolah Alkitab. Kedua belas rasul pun tidak membuka sekolah Alkitab. Tetapi Tuhan Yesus dan rasul-rasul sungguh mengajarkan Firman Allah kepada orangorang percaya. Ini tidak berarti kita tidak boleh mendirikan sekolah Alkitab. Boleh saja! Hanya, hendaknya setiap jemaat Kristus menjadi tempat di mana Firman Allah sungguh diajarkan.
Ketiga, pelayanan upacara-upacara, yaitu baptisan dan perjamuan Tuhan, juga termasuk dalam tugas pemeliharaan jemaat.
Keempat, pelayanan sosial - yang menyangkut kebutuhan jasmani anggota jemaat setempat juga perlu diperhatikan. Dalam Kisah Para Rasul 6:1-6 ada contoh di mana kebutuhan sosial janda-janda di dalam jemaat itu sangat diperhatikan dan diurus dengan baik. Malah keduabelas rasul itu membentuk semacam panitia yang anggota-anggotanya diambil dari jemaat itu sendiri untuk menolong para janda tersebut. Ayat-ayat lain yang menyebutkan hal ini ialah antara lain, 1Timotius 5:3-6; Roma 12:13; Kis. Ras. 11:27-30; dan sebagainya. Malahan rasul Paulus menganjurkan agar apabila satu jemaat di suatu tempat sedang menderita kekurangan, maka jemaat di tempat lain harus berusaha menolongnya (2 Korintus 8:1- 15). Mengapa Alkitab menganjurkan demikian? Seperti kata Paulus, "supaya ada keseimbangan" di antara orang Kristen! Jangan sampai di dalam jemaat duduk dua orang bersama-sama, di mana yang satu datang ke kebaktian naik mobil dengan perut kenyang dan kantong penuh uang, sedangkan yang lain berjalan kaki dengan perut lapar dan kantong kempis, dan tidak diperhatikan sama sekali oleh yang berkelebihan itu! Kasih Kristus di antara orang Kristen seyogyanya jangan hanya di bibir saja, melainkan harus dinyatakan dalam perbuatan. Dan saya yakin, apabila dunia melihat bagaimana di antara sesama orang Kristen ada satu kasih yang nyata - yaitu saling tolong menolong dan saling memerhatikan kebutuhan yang lain - akan ada lebih banyak orang yang mau bertobat kepada Tuhan Yesus dari pada sekarang ini di mana orang- orang Kristen dalam jemaat masing-masing hanya memikirkan kepentingannya sendiri! Cuma, perlu dicatat bahwa pelayanan sosial ini harus dikerjakan atau diberikan dengan hati-hati dan bijaksana agar bantuan jasmani itu tidak disalahgunakan oleh sebagian orang. Harus dijaga agar orang tidak lantas menggantungkan dirinya kepada bantuan gereja, melainkan supaya ia tetap berharap dan memandang kepada Tuhan Yesus. Orang-orang Injili yang "terlalu injili" sering menutup mata terhadap kebutuhan jasmani orang lain. Mereka berpendapat bahwa yang terpenting adalah jiwa. Memang betul, tetapi mereka lupa bahwa kebutuhan jasmani juga diperlukan. Hanya sekali lagi, untuk melayani kebutuhan jasmani bagi orang lain ini jemaat harus memakai banyak kebijaksanaan.
Kemudian, apakah maksudnya pengawasan? Pengawasan bagi orang-orang kudus dalam jemaat juga mencakup beberapa faktor. Tidak mudah seorang gembala melakukan pengawasan terhadap anggota-anggotanya, lebih mudah ia mengawasi penyesat-penyesat dari luar. Itulah sebabnya tugas pengawasan terhadap para anggota ini sering dilalaikan. Misalnya, kepada seorang anggota jemaat yang rajin ikut kebaktian, yang banyak memberikan uangnya, apabila kemudian orang ini hidupnya menyeleweng dari firman Tuhan, sulit sekali si pendeta menegor dia. Atau, iblis akan selalu membisikkan ke telinga kita, "eh, siapakah engkau yang mau menegor orang lain? Apakah engkau sendiri sudah sempurna? ..." Memang tidak ada yang sempurna. Tetapi apabila ada dosa yang nyata di dalam jemaat, maka jemaat setempat mesti bertindak. Mari kita lihat beberapa faktor berhubungan dengan pengawasan ini.
Pertama, jemaat Kristus adalah jemaat yang suci dan tugas pengawasan jemaat dipercayakan oleh Tuhan kepada jemaat itu sendiri (Matius 18:15-17). Jadi, jemaat setempat mempunyai tanggung jawab untuk mendekati anggotanya yang bersalah. Atau datang kepada anggota yang hampir-hampir jatuh dalam suatu jerat. Dengan mengingat diri sendiri tidak sempurna, dan dengan kasih Tuhan, kita hendaknya menasihati orang itu. "Saudara, kalau seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri (Galatia 6:1,2). Tetapi apa yang sering terjadi dalam gereja bila ada seorang anggotanya yang hidupnya mulai main-main dengan dosa? Bukannya kita datang kepada orang itu langsung untuk menasihati dia, melainkan semua orang di gereja mulai berbisik-bisik satu kepada yang lain mengenai orang itu, tanpa ada seorang pun yang mau menasihati dia. Sebaliknya orang itu malah menjadi bahan pembicaraan semua orang. Ini tidak menolong orang tersebut. Malahan kita justru menjerumuskan dia ke dalam jurang dosa! Betapa sering kita bersalah di hadapan Tuhan dalam masalah ini.
Jemaat yang lalai dalam tugas pengawasan ini - meskipun tugas ini tidak mudah akan "ketularan dosa" (1 Korintus 5:6-7). Misalnya, ada seorang anggota jemaat, bahkan salah satu dari majelis, yang mulai dihinggapi penyakit minum-minuman keras. Apabila ia dibiarkan saja tanpa didekati, dinasihati dan ditegor, tidak lama kemudian seluruh jemaat dapat menjadi kumpulan para pemabuk. Apabila orang itu kemudian menambah minuman kerasnya dengan rokok, maka seluruh jemaat juga dapat akhirnya menjadi perokok. Satu dapat merusakkan semuanya.
Pengawasan jemaat mempunyai dua tujuan: menyatakan dan mengeluarkan orang yang tidak benar-benar bertobat dan yang hidupnya hanya senang dalam dosa dari persekutuan Kristen (jemaat). Lihat 1 Yohanes 2:19. Juga mengajar orang percaya - tetapi yang main-main dengan dosa - agar ia sadar dan kembali kepada jalan yang benar.
Tetapi, bagaimana tugas pengawasan ini dapat dilaksanakan dengan baik? Alkitab memberikan beberapa petunjuk mengenai pelaksana tugas ini:
Pelaksanaan tugas pengawasan ini perlu dalam kesalahan- kesalahan sebagai berikut:
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggungjawab dalam Hal Keanggotaan Gereja dan |
| Kehidupan Keluarga | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R04b |
Referensi OKB-R04b diambil dari:
| Judul Buku | : | PRIORITAS: MANA YANG LEBIH DULU? |
| Judul Artikel | : | Anda dan Keluarga Anda |
| Penulis | : | J. Grant Howard |
| Penerbit | : | YAKIN, Surabaya, 1981 |
| Halaman | : | 96 - 105 |
Kesadaran yang berkembang
Sebuah kelahiran menciptakan suatu tatanan relasi keluarga yang baru. Bayi pertama menjadi putra atau putri dengan ayah dan ibu, dan sejumlah kakek dan nenek, paman dan Bibi, serta para saudara sepupu. Kalau terjadi kelahiran rohani, hal itu akan berpengaruh terhadap keluarga, karena merupakan tambahan tanggung jawab di dalam semua relasi keluarga. Ayah dan ibu yang menjadi Kristen bertanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak mereka secara Alkitabiah. Kalau suami-isteri diselamatkan, mereka dapat menerapkan kebenaran Alkitabiah ke dalam pernikahan mereka.
Sudut Pandang
keluarga sama pentingnya dengan relasi lainnya. Sama penting dengan gereja, pekerjaan, dan relasi Anda lainnya.
Anda Sebagai Pribadi
Sebagai anak Anda bertanggung jawab untuk menghormati dan taat kepada orang tua Anda (Efesus 6:1-4). Anda tidak boleh mempraktekkan sikap balas dendam terhadap saudara Anda (Roma 12:17-18). Sebagai orang bujang, relasi Anda dengan lawan jenis harus murni (1 Tesalonika 4:1- 8). Dalam mencari jodoh, Anda harus mencari saudara seiman yang dapat bekerjasama mengembangkan pernikahan Alkitabiah (1 Korintus 7:39). Sebagai orang bujang, Anda harus berpegang teguh pada konsep pribadi Anda, seksualitas Anda, dan potensi rohani Anda (1 Korintus 7:1-40).
Di mana posisi Anda sebagai orang bujang? Apakah Anda tahu artinya berbicara dan bertindak dengan bijaksana terhadap lawan jenis? Apakah Anda melakukannya? Apakah Anda sedang mengembangkan konsep pribadi yang sehat sebagai orang bujang? Apakah Anda mengatasi dorongan seks Anda dengan cara yang berkenan kepada Allah? Sebagai janda atau duda, apakah Anda berpikir secara benar, mengalami perasaan yang benar, dan bertindak benar?
Sebagai orang bujang, Anda memiliki tanggung jawab Alkitabiah. Kewajiban Anda untuk mengetahuinya dan melakukannya. Bagi Anda, semua tanggung jawab itu adalah prioritas utama. Jangan tertipu dengan pemikiran bahwa Anda baru dapat melakukan kehendak Allah apabila Anda menikah.
Anda Sebagai Pasangan
Pernikahan merupakan hidup berpasangan. Hidup berpasangan berhasil kalau kedua pihak melakukan apa yang seharusnya. Bukan hanya sementara atau sewaktu-waktu, tapi secara teratur. Suami harus mengasihi dan memimpin (Efesus 5:25-33). Istri harus tunduk dan hormat (Efesus 5:22- 24, 33). Keduanya harus meninggalkan, bersatu, dan menjadi satu (Kejadian 2:24). Keduanya harus saling menyerahkan diri dalam seksualitas (1 Korintus 7:2-7). Suami harus berusaha memahami sang istri dan memperlakukannya seperti dirinya sendiri (1 Petrus 3:7). Seandainya satu pihak bukan Kristen, pihak lain harus dapat mencerminkan kehidupan yang memuliakan Tuhan sehingga menarik pasangannya untuk bertobat (1 Petrus 3:1-6). Perkataan keduanya harus selalu tulus dan tepat, untuk membangun dan mempersatukan serta bukan untuk menghancurkan dan memecah belah (Efesus 4:25-32).
Keduanya tetap merupakan anak yang harus memiliki relasi dengan orang tua mereka serta orang tua pasangan mereka. Keduanya tidak sempurna dan cenderung mementingkan diri sendiri, sulit untuk terus sebagai pendamping, sombong, komunikator yang buruk, bergantung pada orang lain serta tidak jujur. Gejala semacam ini dapat timbul dalam setiap pernikahan. Keduanya harus rela mengambil tindakan yang perlu untuk mengatasinya atau mencegahnya. Kalau terjadi perpisahan atau perceraian atau kematian, maka keduanya harus menghadapi suatu relasi dan perasaan yang baru. Kalau mereka menikah kembali, maka mereka akan berusaha memperhatikan agar relasi yang baru ini berhasil.
Di mana posisi Anda sekarang dalam pernikahan? Tanggung jawab Alkitabiah yang mana yang Anda pikul sekarang? Bidang apa saja yang Anda hindari selama ini? Kebutuhan apa dari pasangan Anda yang dapat Anda penuhi? Apakah Anda sedang mengembangkan kemampuan untuk memutuskan hal-hal yang perlu dilakukan dalam pernikahan Anda? Apakah perasaan Anda dimanfaatkan dengan baik atau dibiarkan merusak diri Anda dan relasi Anda? Relasi Anda dengan pasangan Anda merupakan tanggung jawab prioritas utama. Apakah Anda sudah menempatkannya dengan tepat?
Anda Sebagai Orang tua
Datanglah anak sehingga Anda memiliki tanggung jawab dalam mendidik, melatih, mengoreksi, dan mengendalikan (Ulangan 6:4-9; Efesus 6:4). Setiap kali seorang anak lahir, Anda menambah tanggung jawab prioritas utama. Pikirkanlah itu! Kebutuhan anak selalu berjalan dan berubah. Orang tua harus memenuhi kebutuhan itu, dengan menambahkannya ke dalam kebutuhan mereka sendiri. Kebutuhan Anda yang terbesar ialah berpaut pada perintah Allah.
Sementara anak bertumbuh, ia butuh teman bermain, berjalan, membaca, mendengar, dan bertumbuh. Orang tua harus menerima anak sebagaimana adanya. Godaan yang datang ialah untuk menjadikan mereka seperti kakak mereka, atau seperti kita. Anak mendukakan orang tua. Karena itu, orang tua sangat kuatir. Anak bertumbuh, meninggalkan rumah dan menikah. Orang tua lalu menjadi ipar dan kakek dan pembimbing.
Menjadi orang tua merupakan tanggung jawab dari Allah yang menempati prioritas utama. Apakah Anda mengetahui kehendak Allah bagi Anda sebagai orang tua? Apakah Anda melakukannya? Apakah Anda hanya berfungsi sebagai orang tua pada akhir minggu atau liburan, atau apakah Anda menerimanya sebagai tanggung jawab harian?
Meluaskan Kemampuan Anda untuk Mengasihi.
Kita telah telusuri bersama keluarga secara umum serta meneliti bagian-bagiannya. Sekarang kita akan memerhatikan satu pokok khusus: kasih. Kasih merupakah kekuatan yang memampukan kita melaksanakan perintah Allah, dan bertindak atas inisiatif sendiri dengan tepat untuk memenuhi kebutuhan yang benar.
Kebenaran itu pasti menang.
Mengasihi Pasangan Anda
Suami - kasihilah istrimu! Bagaimana caranya? Buatlah suatu gagasan dan bertindaklah dengan tepat untuk memenuhi kebutuhan pasangan Anda.
Istri memerlukan suami yang memberi makanan, pakaian, dan rumah untuknya dan anak-anaknya. Lakukanlah. Di rumah istri setiap hari bercakap-cakap dengan anaknya. Ia membutuhkan persekutuan dengan orang dewasa dan percakapan dengan orang dewasa. Sediakanlah itu. Berkorbanlah untuk melakukan hal itu. Istri juga memerlukan kata-kata kasih sayang, pujian, dukungan, keluhan, dan sebagainya. Berikan semua itu padanya. Jangan menanti sampai ia memohonkannya dari suami. Ambillah inisiatif. Berkorbanlah untuk melakukan hal itu. Berkorbanlah juga untuk memenuhi janji Anda kepadanya.
Istri - kasihilah suamimu! Lakukanlah dengan cara yang sama. Mulailah mengambil inisiatif dan berkorbanlah untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau Anda melakukan hal itu dalam pernikahan Anda, maka hal itu akan menghilangkan omelan, karena omelan merupakan reaksi seseorang yang kebutuhannya tidak terpenuhi. Hal tersebut di atas juga akan meneguhkan relasi Anda dengan pasangan Anda. Setiap kali Anda melakukannya ingatlah untuk berkata bahwa Anda mencintainya. Kebutuhan yang lebih dalam dari pasangan Anda mungkin baru terpenuhi dengan pengorbanan yang lebih besar pada pihak Anda. Kalau Anda merasa mudah untuk mengasihi pasangan Anda, hal itu mungkin menunjukkan bahwa Anda tidak berusaha dengan baik!
Mengasihi Anak Anda
Orang tua - kasihilah anak-anakmu!
Apa yang dibutuhkan remaja? Mereka yakin bahwa mereka hanya membutuhkan sedikit sekali peraturan, kalau ada. Banyak waktu yang dihabiskan di luar rumah. Memakai telepon tanpa batas. Hak untuk meremehkan orang lain, misalnya: guru, orang tua, dan saudara kandung. Kebebasan menjawab pertanyaan dengan seenaknya.
Sebagai orang tua, Anda harus dapat memisahkan kebutuhan yang benar dari yang tidak benar serta tindakan yang tepat guna memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan perkataan lain, Anda harus menentukan perintah Allah yang akan Anda jalankan dalam relasi Anda dengan remaja, dan perintah Allah yang harus mereka jalankan.
Remaja yang merendahkan orang lain harus diingatkan dengan bijaksana namun tegas bahwa tingkah laku semacam itu adalah salah. Itulah cars kita mengasihi remaja. Sebagai remaja yang bertumbuh menjadi dewasa, tingkah lakunya menjadi prioritas utama baginya dan bagi Anda. Remaja mungkin belum menyadari hal ini. Tapi orang tua harus menyadarinya. Untuk itu dibutuhkan pengorbanan.
Anak berusia lebih muda. Mungkin balita. Apa yang mereka butuhkan? Mereka membutuhkan pertumbuhan. Kita berusaha mempercepat proses ini dengan berusaha mendidik anak untuk bersikap sebagai orang dewasa. Hal itu tidak salah. Tetapi mengharap anak balita bertumbuh menjadi dewasa dalam sekejap adalah tidak masuk akal. Anak perlu bertumbuh dan merasa diterima sebagaimana adanya.
Hal itu menuntut pengorbanan, karena orang dewasa sukar berpaling kembali ke dunia kanak-kanak. Tapi itu cara Anda mengasihi anak pra sekolah. Anda yang berinisiatif dan berkorban untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka perlu dijaga, didengarkan, diajak bermain, dibacakan ceritera. Sepatu mereka perlu ditalikan, rambut disisirkan, mainan diatur kembali, sepeda diperbaiki, pertanyaan dijawab, hasil ulangan mereka diperiksa.
Hal itu tidak berarti bahwa kita membiarkan diri dikendalikan oleh anak sehingga kita gagal memenuhi kebutuhan kita yang pokok. Seorang ibu yang menggendong anaknya setiap kali ia menangis secara bertahap akan gagal memenuhi kebutuhannya sendiri akan suasana pribadi, santai, bersama dengan suaminya. Anak mungkin berpikir bahwa ia perlu diasuh siang malam, namun sebenarnya itu bukan kebutuhannya yang benar. Orang tua yang melakukannya tidak bertindak dengan tepat untuk memenuhi kebutuhan anak dan dirinya sendiri.
Mengasihi Orang tua Anda
Anak - kasihilah orang tuamu!
Apa yang dibutuhkan orang tua Anda? Tidak ada. Mereka orang dewasa. Kedewasaan berarti memiliki semua yang mereka butuhkan. Benar? Tidak benar. Mereka masih memerlukan surat seperti ini.
IBU:
Saya sedang duduk dan merenungkan kembali betapa ibu telah begitu setia memasak untuk 6 orang selama bertahun-tahun. Saya baru menyadari betapa hal itu merupakan beban yang maha berat. Saya heran bagaimana ibu dapat melakukan semua itu.
Hal ini mungkin berarti bahwa saya sedang bertumbuh menjadi dewasa - sambil menyadari serta menghargai, semua pelayanan kasih yang ibu telah berikan selama bertahun-tahun tanpa mengeluh sekalipun. Saya yakin bahwa hal itu terjadi karena Ibu mengasihi kami, bukan? Saya amat mengasihi Ibu. Peluk dan cium dari anakmu. TUTI.
Itu surat dari seorang putri berumur 21 tahun, yang sudah lulus dari pendidikannya dan sekarang bekerja mencari nafkah sendiri. Surat semacam itu menjawab kebutuhan seorang ibu. Ibu akan membaca surat itu berulang kali di depan semua orang. Lalu ibu akan meletakkan surat itu dalam sebuah bingkai. Tuti harus berkorban untuk menulis surat semacam itu.
Galilah kedalaman kasih agape ini. Apa yang dibutuhkan mertua? Diundang secara berkala? Konsultasi? Mengatakan bahwa usaha mereka untuk mengatur ruang tamu Anda patut dihargai, tapi Anda akan menatanya sendiri? Itu tidak mudah, bukan? Sulit untuk Anda katakan, dan sulit untuk mereka terima. Tapi kasih tidak hanya mengerjakan perkara yang mudah. Kasih mengerjakan apa yang perlu dan yang benar, "belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok" (Titus 3:14).
Sementara itu ...
Rumah tangga lebih didahulukan daripada gereja karena dalam 1 Timotius 3:4-5, 12 diajarkan bahwa kepemimpinan seseorang dalam keluarga memampukan atau menggagalkan kepemimpinannya di gereja. Tapi bagian itu tidak mengatakan bahwa keluarga lebih penting daripada gereja. Sebaliknya bagian itu menekankan bahwa keluarga merupakan bukti nyata di mana kita dapat menilai keterampilan dan ketulusan seseorang sebagai ayah dan suami.
Gereja sama penting dengan keluarga karena konteks luasnya sebagai alat untuk melengkapkan seseorang dengan Firman Allah untuk berfungsi dengan benar di keluarga, menunjukkan kepemimpinan yang bermutu, dan menjadi pemimpin gereja (2 Timotius 3:16-17, Titus 1:9). Selanjutnya, dunia sama pentingnya sebagai bukti seperti halnya dengan keluarga, karena seorang pemimpin gereja harus memiliki nama baik di luar rumah dan di luar gereja (1 Timotius 3:7). Sekali lagi kita melihat kelemahan dari usaha untuk menyusun urutan tanggung jawab Alkitabiah.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggungjawab dalam Hal Keanggotaan Gereja dan |
| Kehidupan Keluarga | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R04c |
Referensi OKB-R04c diambil dari:
| Judul Buku | : | JALAN GOLGOTA |
| Judul Artikel | : | Kebangunan Rohani di dalam Rumah Tangga |
| Penulis | : | Roy and Revel Hession |
| Penerbit | : | YAKIN, Surabaya, 1981 |
| Halaman | : | 49 - 58 |
Beribu-ribu tahun yang lalu di dalam taman yang terindah yang pernah dikenal oleh dunia, berdiamlah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka dibentuk menurut peta Penciptanya, mereka hidup hanyalah untuk memuliakan Dia setiap saat sepanjang hari. Dengan kerendahan hati mereka menerima kedudukannya sebagai makhluk terhadap Sang Pencinta -- kedudukan yang penuh dengan kepatuhan dan sikap menurut yang sempurna kepada kehendak-Nya. Karena mereka selalu menundukkan kemauannya kepada kehendak-Nya, karena mereka hidup bagi Dia dan bukan bagi dirinya sendiri, maka mereka juga senantiasa tunduk seorang terhadap yang lain. Jadi di dalam rumah tangga yang pertama, di dalam taman yang indah itu, terdapatlah keselarasan, damai, kasih sayang dan persatuan yang sempurna, bukan saja dengan Allah, tetapi antara seorang dengan yang lain juga.
Kemudian pada suatu hari keselarasan itu remuk, karena si ular beserta dengan dosa menyelundup ke dalam rumah tangga yang berpusatkan Allah itu. Maka sekarang, karena mereka telah kehilangan damai dan persekutuan dengan sesamanya, mereka tidak lagi hidup bagi Allah melainkan masing-masing hidup untuk dirinya sendiri. Mereka menjadi allah bagi dirinya sendiri, dan karena mereka tidak lagi hidup bagi Allah maka mereka tidak lagi hidup untuk sesamanya. Sebagai ganti damai, kasih dan kesatuan, terjadilah perselisihan dan kebencian atau dengan kata lain DOSA.
Kebangunan Rohani Dimulai dalam Rumah Tangga
Ke dalam rumah tanggalah pertama-tama dosa itu masuk. Di dalam rumah tanggalah barangkali kita lebih banyak berdosa daripada di tempat lain dan kepada rumah tanggalah terutama kebangunan rohani perlu datang. Kebangunan rohani sungguh-sungguh sangat diperlukan di dalam gereja, di dalam negara, dan di dunia, tetapi kebangunan rohani di dalam gereja tanpa kebangunan rohani di dalam rumah tangga-rumah tangga akan merupakan suatu kemunafikan belaka. Rumah tangga ialah tempat yang paling sukar, sekaligus menjadi tempat yang paling perlu untuk memulainya.
Tetapi sebelum kita meneruskan hal ini, marilah kita mengingatkan diri kita lagi, apakah arti sebenarnya kebangunan rohani itu? Kebangunan rohani semata-mata berarti hidup baru, di dalam hati orang di mana kehidupan rohaninya telah surut -- tetapi bukan hidup baru penuh dengan usaha si "aku" atau kegiatan-kegiatan yang diikhtiarkan oleh si "aku". Bukanlah hidup manusia, melainkan hidup Allah, hidup Tuhan Yesus yang memenuhi kita dan mengalir melalui kita. Hidup itu dinyatakan di dalam persekutuan dan persatuan dengan mereka yang hidup bersama-sama dengan kita; tak ada apa-apa antara kita dengan Allah, maka tak ada apa-apa pula antara kita dengan mereka. Rumah tangga adalah tempat lebih dahulu daripada segala tempat-tempat lain di mana hidup baru ini harus dialami. Tetapi alangkah berbedanya pengalaman dari kebanyakan kita yang menyebut dirinya orang-orang Kristen tetapi di dalam rumah tangga mereka masih ada sakit hati, pertengkaran, sikap mementingkan diri sendiri dan dendam; atau mereka yang dalam rumah tangganya tidak ada masalah tetapi tidak ada persatuan dan persekutuan, yang seharusnya menjadi ciri dari orang-orang Kristen yang hidup bersama-sama. Segala sesuatu yang menyisip di antara kita dengan orang lain, akan menyisip juga di antara kita dengan Allah, dan merusakkan hubungan kita dengan Dia, sehingga hati kita tidak berlimpah-limpah dengan hidup Ilahi.
Apakah yang Salah di dalam Rumah Tangga Kita?
Sekarang, apakah sebenarnya yang salah di dalam rumah tangga kita? Bila kita berkata-kata tentang rumah tangga, kita maksudkan hubungan antara suami isteri, orangtua dengan anak-anak, saudara laki-laki dengan saudara perempuan, atau antara orang-orang lain siapapun yang disebabkan oleh macam-macam keadaan terpaksa hidup bersama-sama.
Hal pertama yang keliru dalam banyak keluarga ialah bahwa kita tidak sungguh-sungguh terbuka dan berterus terang satu dengan yang lain. Kita banyak hidup di belakang tirai yang tertutup. Orang-orang lain tidak tahu orang seperti apakah kita ini sebenarnya dan kita tidak mau mereka mengetahuinya. Bahkan, mereka yang hidup di dalam hubungan yang amat karib dengan kita, tidak mengetahui apa yang ada dalam hati kita -- kesukaran-kesukaran, peperangan-peperangan, pergumulan-pergumulan, kegagalan-kegagalan kita, dan juga tidak tahu dari dosa apakah Tuhan Yesus harus menyucikan kita berkali-kali. Sikap kurang terus terang dan kurang terbuka ini senantiasa adalah akibat dari dosa. Akibat pertama dari dosa pertama menyebabkan Adam dan Hawa bersembunyi dari hadapan Allah di belakang pohon-pohon di Taman Eden. Mereka yang dahulu demikian berterus-terang terhadap Allah dan satu terhadap yang lain, pada waktu itu bersembunyi dari hadapan Allah, karena dosa; dan jika mereka bersembunyi dari hadapan Allah, Saudara sudah dapat memastikan bahwa mereka segera mulai tidak berterus-terang seorang terhadap yang lain. Ada reaksi-reaksi dan pikiran-pikiran di dalam hati Adam yang tak boleh diketahui oleh Hawa, demikian pula ada hal- hal serupa yang tersembunyi di dalam hati Hawa. Maka demikianlah seterusnya sejak saat itu. Karena ada sesuatu yang kita sembunyikan dari hadapan Allah, kita juga menyembunyikannya dari hadapan sesama kita. Di belakang dinding sikap menyisih itu, yang berlaku sebagai topeng, kita menutupi si"aku" kita yang sebenarnya. Kadang-kadang kita bersembunyi dengan cara yang luar biasa sekali yaitu di belakang kelakuan pura-pura jenaka. Kita takut bersikap serius karena kita tidak ingin orang lain terlalu dekat dengan kita dan mengetahui bagaimana kita ini sebenarnya, lalu dengan jalan itu kita mempertahankan siasat gertak sambal. Kita tidak bersungguh-sungguh seorang terhadap yang lain dan tak seorangpun dapat bersekutu dengan orang yang tidak bersungguh-sungguh, dan demikianlah persatuan dan persekutuan erat mustahil ada di dalam rumah tangga itu. Inilah yang dinamakan oleh Kitab Suci "berjalan di dalam kegelapan" -- karena kegelapan itu ialah segala sesuatu yang menyembunyikan.
Kegagalan Mengasihi
Hal kedua yang salah di dalam rumah tangga kita ialah kegagalan kita untuk saling mengasihi dengan sungguh-sungguh. "Nah", kata seseorang, "hal itu tak dapat dikatakan tentang keluargaku, karena tak ada orang yang dapat mengasihi orang lain lebih daripada suamiku dan kami saling mencintai". Tetapi tunggu dahulu! Jawaban itu bergantung kepada apakah yang Saudara maksudkan dengan kasih. Kasih bukanlah berarti suatu perasaan sentimentil saja, dan bukan suatu hawa nafsu kuat. Bagian yang terkenal dalam 1Korintus 13 menerangkan kepada kita tentang kasih yang sejati dan jika kita menguji diri kita menurut ini, maka kita mungkin mendapatkan, bahwa sesudah ditinjau lagi, kita hampir tidak saling mencintai sama sekali dan tingkah laku kita semuanya menuju kepada hal yang berlawanan sekali -- dan lawan kasih ialah benci. Marilah kita menyelidiki beberapa hal yang dikatakan dalam pasal itu tentang cinta-kasih.
"Kasih itu panjang sabar dan penyayang".
"Kasih itu tiada dengki".
"Kasih itu tiada memegahkan dirinya, tidak sombong".
"Kasih itu tiada melakukan yang tiada senonoh (tiada kasar)"
"Kasih itu tiada mencari keuntungan bagi dirinya saja, tidak
pemarah, tiada menyimpan kesalahan orang (tidak mempertimbangkan
pikiran-pikiran yang tidak ramah tentang orang lain)."
Apakah kita dapat lulus dalam ujian seperti itu di dalam rumah tangga kita? Seringkali kita justru bertindak sebaliknya.
Kita berkali-kali kurang sabar satu terhadap yang lain, dan bahkan tidak ramah di dalam cara kita menjawab kembali atau memberikan reaksi. Alangkah seringnya iri hati terdapat di dalam suatu rumah tangga. Seorang suami dan isteri dapat saling iri hati atas pembawaan- pembawaannya, bahkan mengenai kemajuan rohani mereka. Para orangtua mungkin iri hati terhadap anak-anaknya, dan betapa seringnya terdapat iri hati yang pahit antara saudara-saudara laki-laki dengan saudara- saudara perempuan.
Juga bagaimanakah mengenai "tiada melakukan yang tiada senonoh" yang berarti budi bahasa? Budi bahasa ialah kasih dalam hal yang kecil- kecil, tetapi di dalam hal yang kecil-kecil inilah kita tergelincir. Kita sangka kita dapat "kurang mempertahankan budi-bahasa" di rumah.
Alangkah seringnya kita congkak. Kecongkakan itu kelihatan dalam segala macam cara. Kita menyangka kitalah yang benar-benar tahu, kita menghendaki jalan kita sendiri, maka kita menggoda atau bertindak sebagai tuan besar terhadap orang lain itu dan sifat ini menuju kepada kecenderungan menghina dia juga. Justru sikap kita bahwa kita lebih utama daripada orang lain itu menempatkan kita di atasnya. Dalam dasar hati kita, kita mengejikan seseorang, kita mencelanya atas segala hal -- namun kita mengira kita memberi kasih sayang.
Lalu bagaimana tentang "tiada mencari keuntungan dirinya saja"? Hal itu berarti: berpusat kepada diri sendiri saja. Sering dalam keseharian kita, kita lebih mendahulukan keinginan dan kepentingan kita daripada keinginan dan kepentingan saudara kita.
Alangkah mudahnya kita ini menjadi "pemarah"! Alangkah cepatnya kita ini panas hati terhadap sesuatu di dalam saudara kita! Alangkah seringnya kita membiarkan pikiran yang kurang ramah atau perasaan sakit hati atas sesuatu yang telah diperbuat atau yang dilalaikan oleh saudara kita! Namun kita mengatakan bahwa tak ada kegagalan dalam cinta-kasih di rumah tangga kita. Hal-hal ini terjadi tiap hari, tetapi kita menganggapnya enteng saja. Kesemuanya ini adalah lawannya cinta-kasih, dan lawannya kasih ialah kebencian. Ketidak-sabaran itu kebencian, iri hati itu kebencian, kesombongan itu kebencian, begitu juga sikap mementingkan diri sendiri, sikap mudah tersinggung dan mendendam. Dan kebencian adalah DOSA. "Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang" (1Yohanes 2:9). Alangkah banyaknya ketegangan-ketegangan, rintangan-rintangan, dan perselisihan yang disebabkan oleh semuanya itu, maka persekutuan baik dengan Allah maupun dengan manusia lain menjadi mustahil.
Satu-satunya Jalan Keluar
Soalnya sekarang ialah apakah saya mengingini hidup baru, kebangunan rohani, di dalam rumah tangga saya? Saya harus menantang hati saya mengenai hal ini. Apakah saya siap meneruskan kehidupan dalam keadaan sekarang ini atau apakah saya benar-benar lapar akan hidup baru, yaitu hidup-Nya, di dalam rumahku? Karena tak akan terjadi, kecuali jika saya sungguh-sungguh lapar, saya bersedia mengambil langkah-langkah yang sangat diperlukan. Langkah pertama yang harus saya ambil ialah menyebut dosa sebagai dosa (dosaku, bukan dosa orang lain itu) lalu membawanya ke kayu salib, dan percaya bahwa Tuhan Yesus pada saat itu juga menyucikan saya dari dosa.
Pada saat kita menundukkan kepala kita pada kayu salib, maka kasih- Nya yang begitu besar bagi orang lain, kepanjang-sabaran-Nya, dan bersabar hati-Nya mengalir ke dalam hati kita. Darah-Nya yang indah itu menyucikan kita dari kurang cinta kasih dan dendam dan Roh Suci memenuhi kita dengan pembawaan Tuhan Yesus sendiri. 1Korintus 13 itu tidak lain dari pembawaan Tuhan Yesus, dan kesemuanya itu merupakan karunia semata-mata, karena pembawaan-Nya akan menjadi pembawaan kita, jikalau Dia milik kita. Proses yang penuh dengan berkat ini dapat terjadi pada tiap kalipun, bila permulaan dosa dan perasaan kurang cinta kasih itu menyelundup ke dalam hati kita, maka pancuran darah yang menyucikan itu senantiasa dapat kita pergunakan setiap saat, sepanjang masa.
Kesemuanya ini akan menetapkan kita supaya sungguh-sungguh berjalan pada jalan salib di rumah tangga kita. Sebentar-sebentar kita akan melihat tempat-tempat dimana kita harus menyerahkan hak-hak kita, sebagaimana Tuhan Yesus menyerahkan hak-hak-Nya bagi kita. Kita akan harus insyaf bahwa hal di dalam kita yang memberikan reaksi begitu tajam terhadap sikap egoistis dan kesombongan orang lain itu hanya semata-mata sikap egoistis dan kesombongan kita sendiri yang enggan kita korbankan. Kita akan harus menerima cara-cara dan perbuatan- perbuatan orang lain itu sebagai kehendak Allah bagi kita, lalu dengan rendah hati menundukkan kepala kita kepada semua keadaan yang diatur oleh Tuhan. Ini bukan berarti bahwa kita harus menerima sikap egoistis orang lain itu sebagai kehendak Allah bagi mereka -- jauh dari pada itu -- tetapi hanya sebagai kehendak Allah bagi kita. Sejauh berkenaan dengan orang lain itu, Allah mungkin menghendaki memakai kita, jika kita hancur, maka kita dipakai untuk menolong dia supaya ia insyaf akan kebutuhannya. Sudah tentu, jika kita seorang bapak atau ibu, kita akan sering diperlukan untuk mengoreksi anak kita dengan kekukuhan. Tetapi janganlah hal ini dilakukan oleh karena pendorong yang egoistis, melainkan hanya karena cinta kasih terhadap orang lain itu dan karena kerinduan akan kepentingannya saja. Kesenangan, dan hak-hak kita sendiri harus diserahkan. Hanya dengan demikianlah kasih sayang Tuhan Yesus akan dapat memenuhi kita dan menyatakan dirinya melalui kita.
Bilamana kita telah dihancurkan di Golgota kita harus bersedia mendamaikan hal-hal yang salah dengan orang lain -- kadang-kadang bahkan dengan anak-anak kita. Ini, seringkali, merupakan ujian atas kehancuran hati kita. Kehancuran hati adalah kebalikan dari kekerasan hati. Kekerasan hati mengatakan: "Itu kesalahanmu" tetapi hati yang hancur mengatakan: "Itu kesalahanku". Alangkah lainnya suasana yang akan terjadi di dalam rumah tangga kita bila mereka mendengar kita berkata demikian. Biarlah kita ingat bahwa di kayu salib hanya ada tempat untuk seorang saja: Kita tak dapat mengatakan: "Saya telah bersalah tetapi Saudara bersalah juga, Saudara harus datang juga". Tidak, Saudara harus datang sendiri sambil mengatakan: "Saya yang bersalah". Di dalam hati orang lain itu Tuhan akan bekerja lebih melalui kehancuran kita daripada melalui apa saja yang dapat kita perbuat atau katakan. Tetapi, mungkin kita harus menantikan -- barangkali lama sekali. Tetapi, itu akan hanya menyebabkan kita lebih sama rasa (bersimpati) dengan Allah karena, seperti telah dikatakan oleh seseorang "Ia juga harus menunggu lama sekali sejak usaha-Nya yang mulia untuk membereskan hal-hal dengan manusia walaupun tak ada salah pada pihak-Nya". Tetapi Allah pasti mau mengabulkan doa kita dan membawa orang lain itu ke Golgota juga. Di sanalah kita akan menjadi satu; di sanalah dinding pemisah di antara kita itu akan diruntuhkan dan di sana kita akan dapat berjalan di dalam terang, di dalam keterusterangan dengan Tuhan Yesus dan dengan sesama kita, saling mengasihi dengan hati yang suci murni dan asyik. Dosa memang hampir satu-satunya hal yang kita miliki bersama dengan tiap orang lain; dan demikian pada kaki Tuhan Yesus di mana dosa disucikan ialah satu- satunya tempat di mana kita dapat bersatu. Persatuan yang sungguh- sungguh dapat kita bayangkan sebagai dua orang atau lebih dari dua orang yang berdosa, bersama-sama ada di Golgota.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Memberi dan Menggunakan |
| Waktu | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R05a |
Referensi OKB-R05a diambil dari:
| Judul Buku | : | MEMBERI SECARA KRISTEN |
| Judul Artikel | : | Mengapa Kita Memberi? |
| Penulis | : | V.S. Azariah |
| Penerbit | : | Bpk Gunung Mulia, Jakarta, 1982 |
| Halaman | : | 15 - 20 |
Jika kita telah mengumpulkan uang, jika pengumpulan derma telah selesai, pasar-derma telah habis, maka pertanyaan kita yang pertama ialah : "Nah, berapakah hasilnya?" Kitab Injil menghadapkan, kita kepada pertanyaan "Mengapa engkau memberi?"
Sebelum orang-orang Yahudi mulai makan, mereka mengucapkan dahulu ayat yang pertama dari Mazmur 24: "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." Dengan demikian mereka selalu ingat bahwa makanan, roti atau nasi, itu suatu keajaiban suatu pemberian Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Tuhan adalah Sang Pencipta.
Oleh karena itu Tuhan adalah Pemberi juga. Hanya yang mempunyai sesuatulah yang dapat memberi sesuatu. Tuhan adalah satu-satunya pemilik segala sesuatu dan karena itu Dialah juga yang menjadi Pemberi. Waktu Daud berterima kasih kepada Tuhan atas segala apa yang telah terkumpul untuk mendirikan rumah kebaktian ia mengucapkan: "Kepunyaan-Mulah, o, Tuhan, segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Siapakah kami ini yang mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini. Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu (bnd. 1Tawarikh 29:11,12,14).
Tidak dapat lebih jelas lagi. Semua yang pernah kita terima datangnya dari Tuhan. Setiap hari ada suatu pemberian dari tangan Tuhan. Setiap hari kita diberi hidup sekali lagi sebagai suatu pemberian. Paulus bersabda kepada orang Yunani di Athena, demikian "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada." (Kisah Para Rasul 17:28). Jika kita setelah 25 atau 30 tahun mengundurkan diri dari pekerjaan, kita ingin mengenangkan kembali hidup yang berguna. Sehabis bekerja keras sepanjang hari kadang-kadang kita dapat beristirahat di kursi dengan muka yang membayangkan kepuasan hati. Jika segala sesuatu dapat berjalan seperti yang kita harapkan, kita merasa sangat senang. Itu baik sekali asal kita tahu bahwa adanya kita di dunia ini hanya karena Tuhan.
Tuhan adalah juga Pembebas. Sebab baru saja kita menerima dunia ini dengan segala isinya dari Tuhan untuk diusahakan kita sudah berkata: "Bagus, jadi ini semua kepunyaan kita." Akan kita urus sendiri lebih lanjut. Untuk itu kita tidak memerlukan Tuhan lagi. Dengan mudah kita membelakangi Tuhan dan mengira bahwa kita dapat membereskan dunia ini. Dan secara jujur, kita ini memang sukar diajar. Sebab setelah 20 abad lamanya kita masih mempunyai pendapat bahwa jika kita semua mau berusaha sekeras-kerasnya, kita dapat membereskan dunia bersama-sama. Untuk itu kita tidak membutuhkan Tuhan.
Tapi Tuhan telah menghindarkan kita karena kasih-Nya yang tidak terhingga itu dari pikiran yang salah yang hanya dapat mengakibatkan kematian saja dengan mengutus Yesus Kristus ke dunia.
Seperti Ia telah melepaskan orang Israel dari padang gurun dan memberi mereka tanah Kanaan, begitu pulalah Ia melepaskan kita dari padang gurun yang telah kita buat sendiri dari dalam hidup ini. Dengan perantaraan Yesus Kristus Ia mau mengaku kita lagi sebagai anak-anak- Nya sebagai milik-Nya. Saya baca dalam Katekismus "Inilah satu-satunya penghibur hati dalam hidup dan di akhirat bahwa saya dalam hidup tidak ditinggalkan seorang diri melainkan menjadi milik Yesus Kristus, Juruselamat saya yang setia."
Jika ini belum jelas, kita tinggalkan dahulu buku kwitansi dan dompet tertutup. Tuhan tidak menghitung dengan angka dengan 5 atau 6 nol. Tuhan berhitung dengan hati. Tuhan tidak mencintai orang yang banyak memberi melainkan orang yang memberi dengan suka hati. Artinya orang yang dengan tenang datang kepada Tuhan dengan membawa segaia yang ada padanya serta berkata: "Tuhan, semua ini kepunyaan-Mu, Engkau yang telah memberikannya kepadaku, karena Yesus Kristus telah melepaskan aku dari diriku sendiri maka aku tahu sekarang, apa yang harus kupersembahkan kepada-Mu."
Jadi jika ada orang bertanya: ya mengapa aku harus memberi? Jawabnya mudah saja: karena Tuhan itu Pencipta, karena Tuhan itu Pemberi, dan karena Tuhan telah mengaruniai kita. Dan kesimpulannya ialah, bahwa kita akan mengasihi Tuhan dengan seluruh hati kita, dengan seluruh jiwa kita dan dengan seluruh akal budi kita dan sesama kita seperti diri sendiri.
Itu tidak mudah, tetapi Kristus tahu siapa kita ini. Jika kita sebenarnya tidak menghendaki menjadi sesuatu, maka kita menyembunyikan diri di balik berbagai-bagai pertanyaan: "Siapakah Tuhan itu, siapakah sesama kita, apakah mengasihi itu?" Oleh karena itu Ia memberi contoh- contoh yang praktis kepada kitsa dengan jalan perumpamaan.
Guna menghindarkan kesalah-pahaman: Tuhan tidak benci kepada orang kaya. Tuhan itu bukan hanya Tuhan bagi orang miskin. la pun bukan pula hanya Tuhan bagi orang kaya. Tuhan adalah Bapa semua umat manusia. Dan dalam perumpamaan itu Ia memberi ingat kepada kita terhadap kelobaan. Kita semua mempunyai keinginan untuk mengumpulkan dan menimbun. Yang seorang untuk hari tuanya. Yang lain untuk dapat berbelanja banyak dan supaya dapat hidup senang. Yang lain lagi ingin memberikan pendidikan tinggi kepada anak-anaknya. Kelirukah itu! Halnya itu sendiri tidak salah. Hanya Tuhan ingin memperingatkan kita bahwa hal itu bukannya hal yang terpenting dalam hidup kita. Ada orang-orang yang terlalu mementingkan usaha dan pekerjaannya sehingga ia tidak tahu lagi bahwa pekerjaan itu hanya merupakan suatu syarat saja untuk dapat mencapai tujuan. Petani tersebut tadi tidak tahu lagi bahwa Tuhanlah yang memberi, bahwa Tuhan yang menentukan apa yang telah la berikan; uang, hasil bumi dan akhirnya juga nyawanya. Oleh karena itu hartanya merintangi dia. Itulah yang menyebabkan kematiannya.
Dan anehnya Yesus Kristus memuji juru kunci itu karena ia telah berbuat cerdik sekali. Sebab Ia bersabda: "Orang ini telah mempergunakan kesempatan yang diberikan oleh tuannya kepadanya untuk menolong dirinya. Karena anak-anak dunia ini terlebih cerdik di dalam pergaulannya daripada anak-anak terang." (bnd. Lukas 16:1-15).
Di sini Kristus tidak berkata, bahwa kita boleh berbuat curang untuk dapat menolang diri. Sebaliknya, setelah perumpamaan itu Ia memberi ingat kepada kita supaya berlaku jujur terhadap harta milik orang lain. Itu bukan suatu peringatan yang tidak perlu. Tidak jarang kita mendengar bahwa sebuah koperasi gagal karena orang yang dipercaya mengurus keuangan bermain curang atau uang itu dibelanjakannya untuk diri sendiri. Hampir tiap hari kita membaca dalam surat kabar bahwa ada orang dipecat dari jabatannya karena mempergunakan uang jawatan bagi kepentingannya sendiri atau main curang mengenai bahan-bahan.
Janganlah kita lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata: "Ah, orang-orang jahat!" Sebab kita sendirilah juru kunci yang korup itu. Yang dimaksud oleh Yesus Kristus tidak lain ialah saudara dan saya, bukan orang lain. Kita menerima dari Tuhan yang seorang banyak yang lain hanya sedikit. Tetapi kita menerimanya sebagai barang yang harus kita urus sebagai barang pinjaman supaya dapat kita pergunakan dalam berbakti kepada Tuhan dan untuk sesama manusia. Dan apakah yang kita perbuat dengan itu? Berterima kasih pun kita tidak tahu. Kita terima itu semuanya dan berkata "Nah, kita pergunakan dengan sekehendak hati kita sendiri! Oleb karena itu Tuhan akan memecat kita dan kita harus memberikan pertanggungan jawab tentang apa yang telah kita perbuat dengan barang-barang itu. Tuhan memuji juru kunci itu karena ia sungguh-sungguh mencari pemecahan entah bagaimana caranya. Tetapi kita, kita berjalan terus dengan tak peduli, meskipun kita telah mendapat penerangan meskipun Tuhan telah menunjukkan kepada kita jalan yang benar, bagaimana kita harus msnggunakan waktu kita, uang kita, ya hidup kita, untuk kemuliaan-Nya.
Di bidang ekonomi demikian juga halnya. Orang harus menanamkan uangnya pada sesuatu jika orang ingin mendapat untung. Anehnya dalam suatu perusahaan tiap orang tahu bahwa orang harus membuang dahulu jika ingin mendapat kembali. Tetapi bagi kita masih sukar untuk percaya bahwa jika kita memberikan sesuatu karena kehendak Kristus, kita akan menjadi lebih kaya juga karenanya.
"Tidak seorangpun," sabda Kristus, "yang tidak akan menerima kembali, jika ia menyerahkan rumah atau barang-barangnya demi Aku." Itu tidak berarti bahwa kepercayaan itu semacam perdagangan tukar menukar atau spekulasi. Orang yang berniaga tidak akan tahu sebelumnya apakah ia akan menderita kerugian atau tidak. Tetapi dalam kepercayaan orang yang mempersembahkan sesuatu tahu benar bahwa ia akan menjadi lebih kaya dalam Tuhan.
Sekarang saudara akan berkata: "Ya, dahulu memang dapat, tetapi sekarang sudah tak mungkin lagi." Pertama, kita harus mengerti betul- betul bahwa setiap orang bebas untuk menjual miliknya. Menurut peraturan gereja tidak seorang pun dipaksa untuk memberi. Tentang hal itu, baik dahulu maupun sekarang tetap sama. Kedua, lebih lanjut dinyatakan dalam Kisah Para Rasul, bahwa hal tersebut tak dapat langsung berjalan. Tetapi tak akan merubah prinsip utamanya. Kita bersama-sama saling bertanggung-jawab. Kita semua harus menjaga agar tak ada kekurangan. Demikian juga tentang uang. Kita bertanggung-jawab terhadap orang yang kelaparan, terhadap para korban gempa bumi dan banjir dan lain-lain.
Apa yang kita miliki, kita sediakan untuk mereka yang tidak mempunyainya sebab semuanya itu bukan kepunyaan kita, melainkan kepunyaan Tuhan.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Memberi dan Menggunakan |
| Waktu | ||
| Kode Pelajaran | : | OKB-R05b |
Referensi OKB-R05b diambil dari:
| Judul Buku | : | WAKTU BERSAMA ALLAH |
| Judul Artikel | : | Prinsip Pengaturan Waktu |
| Penulis | : | Peter V. Deison |
| Penerbit | : | Yayasan Gloria, Yogyakart, 1992 |
| Halaman | : | 13 - 22 |
Prinsip pengaturan waktu sebenarnya sederhana dan mudah, dimengerti. Namun, kenyataannya ada banyak kesulitan yang berhubungan dengan waktu teduh disebabkan oleh masalah ini! Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, "Bila Anda tidak berjumpa dengan Allah di pagi hari, maka Dia tidak akan menyertai Anda sepanjang hari itu"? Lalu, apakah Anda merasa bersalah? Itulah yang dirasakan oleh kebanyakan orang. Atau, pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, "Saya telah berdoa selama dua jam pagi ini. Luar biasa!" Namun lagilagi kita diliputi perasaan sedih dan bersalah, karena kita tahu kehidupan doa kita belumlah memadai.
Rasa bersalah dapat muncul karena banyak sebab. Sebagian mungkin karena alasan yang jelas, tetapi sebagian lagi mungkin karena kesalahpahaman mengenai waktu yang digunakan untuk bersekutu dengan- Nya. Renungkan sejenak dan ingatlah bahwa yang menjadi dasar persekutuan Anda dengan Tuhan adalah waktu bagi Allah-bagi hubungan Anda dengan-Nya. Waktu teduh adalah saat untuk mengenal dan mengasihi Dia sebagai pribadi-sebagai sahabat-secara lebih baik. Dia adalah pribadi yang mampu berpikir, membuat pilihan, dan merasakan-seba- gaimana Dia juga menciptakan kita demikian. Kita dapat mengasihi-Nya, meskipun kita tidak dapat melihat-Nya.
Waktu teduh adalah waktu yang dipersembahkan bagi seseorang. Kita tidak akan pernah dapat menjalin persahabatan dengan seseorang hanya dengan berbincang-bincang dengannya di pagi hari. Tentu saja tidak benar bahwa Tuhan tidak akan menyertai kita jika kita tidak bersekutu dengan-Nya pada pagi hari. Ini adalah pandangan yang sangat sempit tentang Allah. Suatu hubungan tidak bergantung semata-mata pada banyaknya waktu yang diberikan untuk seseorang. Kualitas waktu sangat penting. Jadi, bila jumlah waktu itu penting, maka terlebih lagi kita harus mengevaluasi penggunaan waktu kita tiap-tiap hari.
Jangan gunakan pengalaman orang lain sebagai ukuran bagi kita. Memang Anda dapat belajar dari pengalaman orang lain, tetapi yang lebih berarti adalah hubungan Anda secara pribadi dengan-Nya.
Tetapkan Waktu Khusus. Begitu Anda memutuskan bahwa persekutuan dengan Allah menjadi prioritas, tetapkan waktu khusus untuk mengembangkan persekutuan itu. Waktu yang Anda tetapkan menjadi patokan Anda. Jika hal itu telah ditetapkan dan dilaksanakan, maka bila suatu saat diperlukan perubahan waktu, Anda dapat bersikap fleksibel. Tetapkanlah suatu waktu tertentu untuk bersekutu dengan Tuhan; pagi, sore, atau malam hari.
Kendala kendala yang perlu dihindari. Menetapkan waktu khusus membantu kita untuk menghindari beberapa kendala.
Allah berkata, "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal" (Yeremia 31:3). Kasih-Nya kepada kita sungguh besar. Kasih-Nya kepada kita dan kepastian akan hal itu adalah satu-satunya faktor pendorong yang dapat mengubah kemalasan dan sikap legalisme kita. Penetapan waktu khusus yang teratur akan menguatkan motivasi itu.
Interupsi tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam diri kita. Salah satu gangguan terbesar yang berasal dari dalam adalah dorongan yang kuat untuk membereskan pekerjaan yang belum selesai, misalnya membersihkan meja belajar yang berantakan. Sering kali pula ketika kita duduk untuk membaca Alkitab atau berdoa, perhatian kita beralih pada surat-surat yang belum selesai ditulis, majalah yang belum selesai dibaca, proyek yang belum selesai dikerjakan. Akhirnya, waktu yang kita rencanakan untuk bersekutu dengan Tuhan terlewat begitu saja karena kita beranggapan bahwa hal-hal itu hanya membutuhkan sedikit waktu untuk dikerjakan. Istri saya bersikap praktis dalam hal ini. Ia akan menutupi meja yang berantakan dengan sebuah handuk besar. Dengan demikian perhatiannya tidak lagi diganggu oleh daftar "hal-hal yang harus dilakukan" atau proyek-proyek yang belum terselesaikan.
Kita perlu menetapkan waktu dan tempat yang tepat sehingga sesedikit mungkin mendapat gangguan sehubungan dengan hal-hal yang harus kita lakukan. Waspadalah senantiasa terhadap gangguan-gangguan. Gangguan yang datang akan merusak atau menghilangkan kesempatan kita untuk bersekutu dengan Allah.
Yesus secara pribadi juga bersekutu dengan Allah. Dalam Markus 1:35 dikatakan, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Yesus sering kali ingin menyendiri, namun sulit bagi-Nya untuk dapat sendirian. Kadangkala Dia harus bangun jauh lebih pagi dari orang lain, sebab sepanjang waktu Dia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang membawa berbagai kebutuhan mereka.
Daud menetapkan waktu teduh bersama Allah (Mazmur 5:4; 59:17). Ia juga menetapkan waktu untuk menaikkan puji-pujian dan ucapan syukur di Bait Allah (1 Tawarikh 23:28-32).
Bersikap Realistis. Bila kita menetapkan waktu khusus untuk bersekutu dengan Allah, kita harus realistis dengan jadwal kegiatan dan jam tidur kita. Kemudian kita harus menentukan waktu yang terbaik untuk bersekutu dengan Allah dan menyesuaikan jadwal kegiatan kita dengan waktu teduh tersebut. Saya menyatakan hal ini karena dua alasan. Hal ini tidak saja akan menjadi saat yang terbaik bagi kita, tetapi juga bagi Allah. Inilah saatnya kita memberi persembahan bagi Dia, dan tentunya kita ingin mempersembahkan yang terbaik bagi-Nya.
Allah mengerti bahwa kita sering mendapat gangguan, seperti menghadiri pertemuan-pertemuan penting, mengejar batas waktu, mengurus anak-anak yang sedang sakit, menemui dokter, dan sebagainya. Bila kita hanya dapat menyediakan waktu 10 menit, kebanyakan dari kita sering berkata, "Saga tidak akan memperoleh apa-apa hanya dengan 10 menit," lalu kita tidak melakukannya. Inilah akar masalahnya. Kita memandang waktu yang ada bukan sebagai waktu untuk bersama dengan Allah sebagai sahabat, namun sebagai saat untuk memperoleh sesuatu bagi diri kita. Adalah lebih baik bila kita mempersembahkan diri pada menit-menit tersebut daripada berkata, "Saya tidak akan mendapatkan apa-apa."
Bila kita mau bersikap seperti ini, kuantitas waktu kita juga akan meningkat seiring dengan pengaruh yang kita rasakan. Semakin dalam saya mencintai istri saya, semakin banyak waktu yang ingin saya habiskan bersamanya. Semakin dalam kasih Anda kepada Allah, meski hanya dapat menyatakan kasih dalam waktu singkat, lama kelamaan waktu yang Anda gunakan akan bertambah dengan sendirinya. Anda akan rindu bertemu dengan Dia dan tidak melakukannya sekadar untuk memenuhi kewajiban.
Tentu saja kita tidak akan mengalami hubungan yang lebih dalam bila kita hanya menyediakan waktu 10 menit setiap hari. Kita juga membutuhkan waktu lebih lama. Semakin sering kita memberikan kesempatan, meski singkat dan terbatas, semakin mudah bagi kita untuk memberikan lebih banyak waktu kepada-Nya. Yang jelas, dengan mempertahankan pengaturan waktu yang telah kita tentukan, kita akan lebih merasakan arti dan manfaatnya. Jangan salah mengerti. Berhati- hatilah untuk tidak sekadar meningkatkan kuantitas waktu, tetapi lakukanlah karena kita meiaang ingin melakukannya.
Tetapkan Waktu Teduh yang Sarna Setiap Hari. Prinsip kedua adalah segera setelah Anda menetapkan waktu teduh khusus, lakukanlah itu pada waktu yang sama. Jika mungkin, lebih baik bila kita menetapkan waktu yang sama setiap hari daripada jadwal yang selalu berubah-ubah. Ada alasan yang baik untuk hal ini.
Pikiran kita bekerja berdasarkan pola dan struktur tertentu. Bila kita selalu mengerjakan sesuatu yang sama pada wakta tertentu, pikiran kita secara otomatis akan terpola demikian. Kita akan berfungsi dan menghasilkan sesuatu berdasarkan pola pikir yang kita kembangkan. Kita adalah makhluk yang cenderung bergerak berdasarkan kebiasaan. Jadi, memiliki waktu khusus untuk bersekutu akan membuat pikiran kita bekerja secara otomatis ke arah itu. Dengan demikian, pada waktu-waktu tersebut pikiran dan hati kita sudah siap untuk menerima hal-hal yang berkenaan dengar. masalah rohani.
Bagi mereka yang jadwalnya sering berubah atau harus menjalani pergantian jam kerja secara periodik, memang sukar untuk memiliki waktu yang konsisten. Namun Allah memahami tanggung-jawab yang Dia berikan kepada kita. Dia memahami setiap situasi yang Dia izinkan terjadi dalam hidup kita. Dan Dia akan menolong kita menyesuaikan diri dalam situasi tersebut. Yang penting, kita harus berusaha menjalankan pola tertentu, sebab dengan demikian pola pikir kita dapat bekerja dengan baik.
Sediakan Cukup Waktu. Prinsip ketiga berkaitan dengan pertanyaan seberapa banyak waktu yang kita sediakan. Bersekutu dengan Allah adalah persabatan yang dilandasi dengan kasih, sebab itu lamanya waktu sulit dibatasi. Bila Anda sedang jatuh cinta kepada seseorang, Anda tidak akan menghitung menit-menit yang Anda lalui bersama orang tersebut, namun sebaliknya menghitung menit-menit ketika Anda tidak bersamanya. Yang paling penting di sini adalah kita perlu menyediakan waktu yang cukup untuk mencapai tujuan.
Mencapai Tujuan Anda. Bila saya akan menikah dan hanya berjumpa tunangan saya lima menit setiap hari, saya tidak akan dapat membangun hubungan yang mendalam. Karena itu, kita perlu memastikan apakah waktu yang kita sediakan benar-benar cukup. Sepuluh menit dalam satu hari mungkin tidak cukup untuk mencapai tujuan yang berarti. Dua puluh atau tiga puluh menit adalah waktu minimum bagi pikiran kita untuk bekerja, merenungkan apa yang kita peroleh, dan memikirkan penerapannya. Ada satu perkecualian dalam prinsip ini. Bila Anda baru memulainya untuk pertama kali, awalilah dengan waktu minimum 10 menit dan jadikan itu sebagai kebiasaan. Kemudian perpanjanglah menjadi 20 atau 30 menit sesegera mungkin. Intinya, berikanlah kepada Allah semua yang Anda miliki. Berusahalah sungguh-sungguh mencapai tujuan Anda-bersekutu dengan-Nya.
Melipatgandakan waktu Anda. Sering kali kita tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak memiliki waktu untuk bersaat teduh. Padahal kenyataannya justru sebaliknya, dengan bersaat teduh kita dapat memperoleh lebih banyak waktu. Amsal 10:27 mengatakan, "Takut akan Tuhan memperpanjang umur." The Living Bible menerjemahkannya menjadi, "takut akan Allah menambah jumlah jam tiap-tiap hari." Pengalaman membuktikan hal ini. Martin Luther berkata bahwa ada begitu banyak pekerjaan yang hares dilakukannya dalam sehari sehingga ia harus menghabiskan waktu minimal empat jam untuk berdoa. Ia membuktikan bahwa waktu yang dipakainya bersama Allah tak pernah memperpendek waktunya untuk bekerja, sebaliknya justru memperbanyak. Hal ini benar sebab Allah mempertajam pikiran kita, menenangkan kecemasan-kecemasan kita, memperkuat daya ingat kita, dan memungkinkan kita untuk bekerja lebih efisien. Seseorang yang berjalan dengan Allah akan selalu efektif dalam bekerja. Kedamaian batin yang diperolehnya ketika bersekutu dengan Allah memungkinkannya untuk melakukan pekerjaan- pekerjaan yang lebih berkualitas sehingga masih akan ada energi yang tersisa untuk hari itu. Waktu yang kita pakai bersama Allah justru akan selalu menambah waktu bagi diri Anda sendiri. Semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Anda akan menerima.
Menghindari Masalah Kebiasaan. Satu keuntungan penting bila kita menetapkan waktu khusus adalah menghindarkan masalah kebiasaan. Hal ini mungkin tampak bertolak belakang dengan apa yang pernah kita pelajari. Persekutuan bersama Allah tidak harus terdiri dari 50% membaca Alkitab dan 50% berdoa, atau 75% ini dan 25% itu. Kita adalah makhluk yang memiliki kebiasaan dan pada umumnya kita menyukai hal-hal yang sudah teratur dan dapat diduga. Kebiasaan memang dapat membantu, tetapi dapat pula membahayakan. Mengapa? Bila kita menjadi begitu terpaku pada kebiasaan, maka Roh Kudus akan sukar bekerja secara fleksibel dalam diri kita.
Mungkin ada kalanya Roh Kudus berkata, "Bacalah perikop itu sedikit lebih lama, karena ada kebenaran-kebenaran yang perlu kamu pelajari dengan sungguh-sungguh." Atau, "Sepanjang hari ini, gunakanlah waktu untuk mempelajari perikop ini. Bagi-Ku yang penting kamu memahami bagian ini. Karena dalam waktu dekat Aku merencanakan sesuatu bagimu melalui kebenaran ini." Atau, "Ada seseorang yang ingin Aku percayakan dalam hatimu. Jangan berhenti berdoa hanya karena sudah pukul 06.50. Aku ingin kau berdoa sepanjang waktu karena orang ini benar-benar membutuhkan doamu."
Kita membutuhkan fleksibilitas dan kesediaan diri untuk menaklukkan kebiasaan dalam waktu-waktu yang telah kita tetapkan. Bila kita terus- menerus melakukan hal yang sama setiap hari, sebaiknya kita mencoba berubah dan peka terhadap dorongan Roh Kudus. Adanya waktu khusus untuk bersekutu akan membantu kita memperoleh kepekaan terhadap Roh Kudus karena adanya kekonsistenan. Waktu yang tidak teratur akan membuat kita mudah kacau sebab kita malah mencoba mempelajari bagian yang terlewat, atau yang sudah pernah dipelajari.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Bersaksi dan Memuridkan Orang Lain |
| Kode Pelajaran | : | OKB-R06a |
Referensi OKB-R06a diambil dari:
| Judul Buletin | : | SANGKAKALA |
| Judul Artikel | : | Penginjilan Sebagai Gaya Hidup |
| Penulis | : | Cucuk Kustiawan, S.H. -- Pekerja Mahasiswa |
| Halaman | : | 1-2 |
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, tetapi lebih kepada sharing pengalaman bagaimana ketika dulu saya membagi Injil dalam pekerjaan.
Apakah penginjilan itu?
Penginjilan adalah memberitakan tentang karya Kristus yang sudah mati karena dosa-dosa kita, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga (1Korintus 15:3-4), serta menantang orang untuk bertobat dari dosanya (Kisah Para Rasul 26:18) lalu mengharapkan dia percaya pada karya Kristus itu untuk kemudian menerima-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi, sehingga ia memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 20:30-31).
Mengapa kita harus memberitakan Injil?
Sebagai orang percaya, sejak kita pecaya kita sudah ditetapkan sebagai saksi (Kisah Para Rasul 1:8). Oleh karena itu, sangat tidak wajar bila kita tidak memberitakan apa yang telah kita alami (1Yohanes 1:3). Kesaksian kita itu sangat dibutuhkan orang karena menentukan nasib orang -- apakah mereka akan selamat atau binasa (Markus 16:15-16). Tuhan memerintahkan (Markus 16:15-16), sehingga kalau kita tidak memberitakan Injil, kita tidak taat pada perintah Allah. Memberitakan Injil Kristus adalah kemurahan. Siapakah kita ini sehingga layak menyampaikan berita agung itu, tetapi justru kepada kita disampaikan berita itu dan dipercaya untuk menyampaikannya pada orang lain? (1Tesalonika 2:4). Penginjilan sebagai gaya hidup
Oleh karena alasan-alasan tersebut, maka sebenarnya tugas penginjilan itu melekat pada diri kita. Tidak bisa tidak, kita harus menginjili. Bahkan, Rasul Paulus mengatakan: "celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." (1Korintus 9:16). Injil itu tinggal dalam hidup kita, maka penginjilan sebagai gaya hidup adalah bahwa pikiran, sikap, kata-kata, tindakan kita adalah ekspresi dari Injil itu. Kita memberitakan Injil kapanpun, kepada siapapun, dimanapun berada, baik atau tidak baik waktunya, karena Injil adalah hidup dan hidup kita dipengaruhi oleh Injil itu.
Penginjilan di tengah pekerjaan
Sebenarnya secara prinsip dimanapun kita menginjili sama dengan: melakukan pendekatan, memberitakan injilnya dan menantang orang untuk percaya pada Kristus, meneguhkan keyakinan keselamatannya.
Walaupun kita tahu bahwa semua ini kita lakukan dengan bergantung pada Roh Kudus, namun secara teknis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menginjili dalam konteks pekerjaan: pada tahap pendekatan, karena teman kerja adalah bagian dari orang yang kita temui setiap hari yang melihat hidup kita. Maka kita perlu memiliki cara hidup yang baik dalam kata-kata, tindakan, dan pikiran/ide-ide. Kesaksian hidup yang baik menjadi daya tarik di tengah dunia pekerjaan yang cenderung berkompromi terhadap dosa. Selain itu, biasanya dalam dunia pekerjaan yang sering menjadi pokok pembicaraan adalah tentang anak, suami, istri, pekerjaan itu sendiri, kedudukan/pangkat, dan materi. Untuk itu, jadilah pendengar yang baik bagi rekan kerja kita yang curhat tentang pokok-pokok itu. Orang senang bila ada yang mau mendengarkan, sehingga bisa menjadi pintu masuk untuk menyampaikan Injil. Penting juga untuk memiliki sikap hati yang rela untuk membantu/melayani, karena sering dalam dunia kerja segala sesuatu diukur/diperhitungkan berdasarkan uang; menghasilkan atau tidak, untung atau rugi, dsb.
Jika kedekatan dan keterbukaan sudah terbangun, maka kita bisa mulai masuk untuk membagikan Injil itu kepada rekan kita. Yang penting beranilah, jangan sungkan, pakewuh, takut, ragu. Saya dulupun mengalami (bahkan sampai sekarang). Teknisnya bisa dilakukan dengan menjelaskan Injil melalui ilustrasi jembatan, traktat, menceritakan kesaksian pribadi kita ketika diselamatkan atau kombinasi dari berbagai cara tersebut, kemudian menantang orang untuk percaya pada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Meneguhkan keyakinan keselamatannya. Jika rekan kita mau percaya kita bersyukur, karena kita sudah dilayakkan Allah untuk memberitakan Injil. Jika mereka belum mau percaya atau belum mau meresponi berita Injil itu, maka sikap kita selanjutnya haruslah tetap mengasihi/bersahabat/menolong. Agar penginjilan terus ada dalam hidup kita, maka kita perlu mendoakan dan merencanakan dengan konkrit kepada siapa, dengan cara apa, kapan dilakukan, dimana (apakah cukup di kantor, di rumahnya atau di tempat lain) dan dengan cara bagaimana? Akhir kata, kita harus terus mengingat bahwa: memberitakan Injil adalah suatu kemurahan dan anugerah.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB) |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung Jawab dalam Hal Bersaksi dan Memuridkan Orang Lain |
| Kode Pelajaran | : | OKB-R06b |
Referensi OKB-R06b diambil dari:
| Judul Buku | : | Metode Penginjilan |
| Judul Artikel | : | Hal-Hal yang Harus Dihindari dalam Mengabarkan Injil |
| Penulis | : | D.W. Ellis |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 1993 |
| Halaman | : | 171 - 175 |
Berikut ini adalah beberapa petunjuk praktis tentang pelaksanaan pekabaran Injil, yang didasarkan pada pengalaman D.W. Ellis dalam mengabarkan Injil selama beberapa tahun di Indonesia.
Hal-hal yang sebaiknya dihindari dalam mengabarkan Injil secara pribadi :
Kita harus mampu menyesuaikan khotbah dengan keadaan tanpa mengingkari amanat Alkitab sebagai Firman Allah yang berdaulat. Lalu kita pasrah dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Sementara itu kita harus berusaha menghindari beberapa hal di bawah ini, supaya pemberitaan Injil secara pribadi itu dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.
Entah bagaimanapun juga, sikap-laku kita dan ucapan-ucapan kita jangan sekali-kali menimbulkan kesan, bahwa kita hendak memperdagangkan Injil atau hendak memaksakan Injil itu kepada teman bicara kita.
Sebagai pekabar Injil, kita harus bersikap wajar, sopan, rendah hati dan jangan bersikap sok mengetahui lebih banyak tentang segala sesuatu daripada mereka.
Bila memberikan kesaksian pribadi, bersaksilah dengan sejujur- jujurnya dan terus terang. Dan jika ada yang mengajukan pertanyaan yang tidak kita jawab, jujurlah mengakuinya dan berkata, "Maaf, saya belum tahu jawabnya. Saya akan berusaha mencari jawabannya dari orang lain. Bila dapat, akan saya beritahukan kepada Anda." Janganlah lupa mencari jawaban yang memuaskan, baik melalui buku atau dari seorang ahli, lalu meneruskan jawaban itu kepadanya.
Kita adalah juru berita, bukan juru debat. Adalah biasa dalam perdebatan, masing-masing pihak ngotot mempertahankan keyakinannya, bahkan dengan mencari-cari alasan. Hasil akhir debat umumnya tidak ada titik temu. Lagi pula dalam dunia komunikasi, perdebatan adalah kendala yang menjurus kepada kegagalan. Andaikata pun satu pihak menang secara logis dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya, besar kemungkinan ia kalah secara psikologis sebagai akibatnya. Artinya, kita menang dengan imbalan yang kalah akan tersinggung dan menutup diri. Hasil akhir, kita sendirilah yang kalah sebab gagal membawa orang itu kepada Kristus.
Kita harus mengarahkan perhatian teman bicara kita kepada Kristus secara positif, dengan memakai hal-hal yang positif dari kepercayaan kita.
Meskipun tujuan kita adalah untuk menerangkan Injil sejelas- jelasnya, kita tidak boleh memborong semua kesempatan bicara. Kita harus memberi waktu kepada teman bicara kita, supaya selain dia merasa dihormati, dia juga mendapat kesempatan mengeluarkan isi hatinya. Dengan demikian kita mengetahui bagaimana membimbing dia selanjutnya.
Setiap upaya meyakinkan seseorang, apalagi mengubah keyakinan imannya, adalah sangat berat dan sukar, dan bahkan bagi masyarakat Asia sangat peka. Karena itu kita dituntut bijaksana dan harus dipimpin oleh Roh Kudus.
Lugaslah menggunakan Alkitab. Menjejali atau membanjiri seseorang dengan ayat-ayat Alkitab bisa mengakibatkan orang itu muak. Kita harus sadar bahwa ayat-ayat Alkitab masih asing bagi dia. Memahami apalagi menafsirkannya masih sangat sukar baginya. Karena itu cukuplah mengemukakan ayat-ayat yang terkait dengan penjelasan sederhana.
Satu atau dua ayat yang jelas dimengerti karena diterangkan dengan tepat dan sederhana, dampaknya akan jauh lebih baik. Ayat yang tepat adalah ibarat sejemput garam yang menggiurkan cita rasa dan selera.
Mengabarkan Injil secara pribadi sifatnya memang sangat pribadi. Penuh kesungguhan namun santai, bebas dan bersahabat. Suasana demikian dapat terganggu dalam pertemuan lebih dua orang. Karena MIP (mengabarkan Injil secara pribadi) diharapkan akan sampai pada tahap pertobatan dan pengambilan keputusan, yang sangat penting dan sangat pribadi. Maka pertemuan lebih dari dua orang perlu dihindari karena akan mengganggu, apalagi kehadiran orang ketiga, keempat dan seterusnya.
Namun, karena sifatnya yang sangat pribadi itu, baiklah kita bijaksana supaya MIP ini berlangsung antara orang sejenis, dan bila mungkin sebaya. Tapi ini bukanlah syarat mutlak, melainkan kebijaksanaan.
Istilah-istilah teologis dan dogmatis (misalnya pembenaran, pengudusan, penebusan) besar kemungkinannya akan membingungkan orang-orang yang belum pernah mengerti hal-hal rohani, terutama orang-orang yang berpendidikan sederhana. Istilah-istilah yang lazim dalam dunia Kristen dengan makna bahkan dengan ajaran tertentu, belum tentu dinalar dengan pengertian yang sama oleh teman bicara kita. Karena itu adalah bijaksana menggunakan bahasa sehari-hari.
Ungkapan yang lazim pun, seperti 'percaya' misalnya, menuntut kehati-hatian. Mengatakan kepada teman bicara yang kita kabari Injil, bahwa dia harus 'percaya' kepada Tuhan Yesus, bisa menjurus ke pemahaman yang dangkal sebelum ia memahami makna yang dikandung dalam kata 'percaya' sebagaimana dimaksudkan dalam Firman Allah.
Bukanlah hak seseorang mengatakan kepada siapa pun juga, 'Sekarang Anda sudah beroleh keselamatan'. Kita tidak dapat membaca isi hati orang lain dan mengetahui apakah ia sungguh-sungguh percaya sehingga diterima Tuhan.
Dasar kepastian adalah Firman Allah, perubahan hidup dan kesaksian Roh dalam hati orang-orang yang bertobat. Yang dapat kita lakukan ialah membantu mereka dengan menunjuk ayat-ayat dari Firman Allah dan menanyakan,
"Apa yang dikatakan Firman Tuhan tentang hal keselamatan?",
"Bagaimana pengertian Anda mengenai hal ini?"
Kepastian akan keselamatan harus timbul langsung dari Firman Allah yang diterapkan dalam hati seseorang oleh Roh Kudus, bukan berdasarkan kata-kata kita.
Belum tentu kita akan berhasil membawa seseorang kepada Kristus. Ternyata dalam hal ini ada orang yang dikaruniai lebih besar dibandingkan orang lain. Namun ketidaksamaan itu bukan berarti kita bebas dari tanggung jawab dan kesetiaan memberitakan Injil. Kita wajib setia, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah.
Peranan kita sering hanya merupakan satu mata rantai dari untaian rantai yang panjang, yang pada akhirnya akan berhasil membawa seseorang kepada Kristus. Yang perlu kita sadari ialah, apabila satu mata rantai itu tidak berperan, maka akibatnya rantai itu akan putus.
Senjata rohani, yaitu 'pedang Roh' dan 'segala doa' (Efesus 6:17-18), tidak boleh dilupakan. Hanya Roh Kudus-lah yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati secara rohani. Tanpa Roh segala sesuatu yang kita kerjakan tidak akan berhasil.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB |
| Nama Pelajaran | : | Bertanggung jawab dalam Hal Bersaksi dan Memuridkan Orang Lain |
| Kode Pelajaran | : | OKB-R06c |
Referensi OKB-R06c diambil dari:
| Judul Buku | : | PENGGANDAAN MURID-MURID |
| Judul Artikel | : | Mengapa Membina Murid |
| Penulis | : | Waylon B. Moore |
| Penerbit | : | Penerbit Gandum Mas, Malang, 1981 |
| Halaman | : | 27-34 |
"Apakah Saudara akan menghabiskan waktu yang sama banyaknya dalam persiapan untuk memenuhi keperluan seorang seperti dalam menyiapkan sebuah khotbah bagi lima ribu orang? Sejauh manakah kepercayaan Saudara akan potensi seseorang?" [K. Bruce Miller]
Sekurang-kurangnya ada tiga contoh utama dalam Alkitab tentang membina murid-murid, yaitu pembinaan murid dalam Perjanjian Lama, dan pelayanan Yesus secara umum dan pribadi.
Pemuridan dalam Perjanjian Lama
Konsep membagikan kepada orang lain tentang apa yang telah disampaikan Tuhan kepada kita, sudah berusia berabad-abad. Musa membukakan hati dan hidupnya kepada Yosua. Tetapi pendekatan berbagi tanggung jawab ini tidak berasal dari Musa sendiri. Allah menetapkan pola pendidikan ini dengan jalan memerintahkan Musa untuk membagi hidupnya dengan Yosua dalam Ulangan 3:28. "Dan berilah perintah kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanLah hatinya, sebab dialah yang akan menyeberang di depan bangsa ini ...."
Segala sesuatu yang telah diajarkan Allah kepada Musa, hendaknya dilimpahkan kepada Yosua, muridnya. Ini berarti Musa menghabiskan banyak waktu pribadinya bersama Yosua agar Yosua dapat belajar dengan cara pengamatan dan percakapan. Musa, hamba Allah, menjadi saluran manusiawi untuk mengembangkan Yosua menjadi seorang hamba Allah.
Mengapa Allah harus memerintahkan Musa untuk melepaskan diri dari pola pelayanan kepada beribu-ribu orang untuk menjangkau satu jiwa saja? Karena manusia cenderung untuk melihat keperluan orang banyak secara massal daripada melihat potensi dalam kehidupan satu orang yang telah diserahkan kepada seluruh kehendak Allah. Seperti yang pernah dikatakan oleh Sam Shoemaker, "Manusia tidak dibentuk secara borongan dari massa yang bersifat sedang-sedang, tetapi dibentuk seorang demi seorang." (Sam Shoemaker, Revive The Church Beginning With Me, New York: Harper Brothers, 1948, page 112)
Elia juga mempunyai murid-murid dalam sekolah untuk nabi-nabi muda. Melalui kelompok itulah Allah akan bekerja untuk mendatangkan kebangunan rohani atau hukuman atas Israel. Di antara mereka terdapat seorang pemuda, Elisa namanya, yang sehati dengan dia. Mengherankan sekali, Elisa meminta kepada Elia untuk memberikan dua bagian dari kuasa Allah. Ia telah menyaksikan mujizat dan kuasa Allah yang bekerja melalui lengan Elia yang kuat. Melalui disiplin dan berbagai visi Elisa telah belajar untuk meminta perkara-perkara yang besar dari Allah.
Masih ada contoh-contoh lain dalam Perjanjian Lama mengenai orang yang menanam hidupnya dalam hidup orang lain: Daud dengan pahlawan- pahlawannya; para patriarkh yang mendidik anak-anak mereka; dan perintah-perintah konkrit kepada para ayah untuk mendidik anak- anaknya yang kemudian mereka juga akan mendidik anak-anak mereka juga (lihat Ulangan 4:9 dan 6:6-7). Perhatian pada hubungan guru-murid ini memberikan dasar bagi pelayanan pemuridan dalam Perjanjian Baru.
Pelayanan Tuhan Yesus kepada Umum
Tuhan Yesus mempunyai pelayanan yang luas kepada masyarakat umum, yang meliputi empat pendekatan pokok.
IA BERKHOTBAH. Orang banyak mendengar tentang kerajaan, tentang penghukuman atas kemunafikan agama, dan tentang sifat-sifat Allah melalui khotbah-khotbah Tuhan Yesus. Ia mengungkap hal-hal baru tentang konsepsi-konsepsi Perjanjian Lama yang terkubur dalam tradisi. Ia menyatakan kebenaran pokok yang lebih mulia dari konsepsi mengharapkan keselamatan dengan jalan melakukan hukum Taurat. "Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat" (Markus 12:37) ketika Ia berkhotbah dengan kasih dan penuh wibawa.
IA MENGAJAR. Tak pernah ada orang yang mengajar seperti Dia. Ia mengajar kepada orang banyak di lereng-lereng bukit dengan pemandangan Danau Galilea, kepada kelompok-kelompok di desa-desa, kepada orang seorang dalam rumahnya, kepada orang yang ingin tahu, dan kepada mereka yang membaktikan dirinya. Ia menyatakan kebenaran yang murni melalui perumpamaan-perumpamaan yang menerangi realitas kehidupan. Tidak mengherankan bahwa Ia menggunakan kesepuluh metode mengajar yang dicatat oleh sarjana-sarjana modern (F.H. Roberts, Master's Thesis, Dallas Seminary, 1955, pages iii - iv).
IA MENYEMBUHKAN. Tak seorang pun yang meninggalkan Tuhan Yesus tanpa disembuhkan sama sekali. Pada suatu saat, banyak orang berkumpul di sekeliling-Nya, "Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar daripada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya" (Lukas 6:19). Dunia tanpa rumah sakit dan asuransi pengobatan telah menemukan Tabib yang Agung.
IA MENGADAKAN MUJIZAT. Orang banyak berkerumun dan menyaksikan ketika Tuhan menyembuhkan orang kusta, memberikan penglihatan kepada orang buta, memberi makan orang banyak dan membangkitkan orang mati. Murid- murid-Nya takjub ketika Ia meredakan angin ribut. Dalam keheningan setelah angin ribut diredakan, mereka melihat Yesus berjalan di atas air melalui kabut menuju perahu mereka.
Menurut sejarah, Gereja Kristus telah merangkum semua aspek dalam pelayanan Kristus kepada umum, tetapi sering kali Gereja melalaikan teladan yang diberikan Kristus dalam pelayanan-Nya kepada orang seorang.
Pelayanan Yesus kepada Orang Seorang
Yesus juga mempunyai pelayanan perseorangan yang strategis, yang begitu sederhana sehingga diabaikan sebagai suatu prinsip misi Gereja. Kristus membaktikan diri-Nya untuk membina murid-murid yang akan melipatgandakan berita tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan- Nya kepada semua bangsa. Ia berkata,
"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)
Jika kita hendak mengikut seluruh pelayanan Tuhan Yesus, maka Gereja harus memperluas pelayanannya baik dalam penginjilan maupun dalam memantapkan orang-orang bertobat. Sewaktu para petobat bertumbuh, mereka pun harus diajar bagaimana mendidik dan melatih orang percaya yang nantinya akan menjangkau orang lain juga melalui proses pelipatgandaan rohani.
Memenangkan jiwa bukan menjadikan murid, tetapi memenangkan jiwa penting sekali agar murid-murid dapat melipatgandakan diri mereka dalam kehidupan orang lain. Penginjilan merupakan mata rantai yang pertama dalam rantai pelipatgandaan rohani.
Gereja-gereja yang terlalu mengutamakan baptisan dan program gereja, atau menaruh perhatian yang terlampau besar pada "kualitas keanggotaan" harus mempertimbangkan kembali perintah Kristus untuk menjadikan murid-murid. Menyelamatkan jiwa dan membina murid tak terpisahkan dalam Kitab Suci.
Pemuridan Merupakan Metode yang Dapat Dilaksanakan
Ketika meninjau kembali motivasi saya untuk menjadikan orang lain murid Tuhan, saya teringat bagaimana ada seorang yang memperhatikan saya. Di samping memberi perhatian yang penuh kasih, ia juga melimpahkan ke dalam hidup saya segala sesuatu yang telah dipelajarinya dari Allah. Semuanya ini telah mengubah kehidupan saya. Menjadikan murid tidak dinilai sebagai sesuatu yang mengagumkan, tidak digolongkan menurut denominasi; tetapi hasilnya selalu lebih baik dari apa pun yang telah saya alami selama tiga puluh tahun bekerja dengan orang-orang lain. Ada beberapa alasan untuk hal ini.
Pemuridan merupakan salah satu cara yang strategis untuk mendapatkan suatu pelayanan pribadi yang tak terbatas. Pelayanan ini dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, di mana saja dan di antara kelompok umur apa saja.
Pemuridan merupakan pelayanan yang paling mudah disesuaikan. Karena tidak perlu dilakukan dalam kerangka waktu atau susunan organisasi tertentu, maka orang yang menjadikan murid ini dapat bertindak dengan sangat fleksibel.
Pemuridan merupakan cara yang paling cepat dan paling terjamin untuk mengerahkan seluruh tubuh Kristus untuk penginjilan. Tujuan pemuridan bukan sekedar memperoleh lebih banyak murid, karena kelompok yang terdiri dari orang-orang yang telah diselamatkan segera akan mati jika mereka tidak berusaha secara efektif untuk merembes ke dalam dunia yang terhilang ini. Salah satu cara yang tercepat untuk meningkatkan baptisan dan memperdalam kualitas kehidupan orang-orang yang telah dimenangkan bagi Kristus ialah melalui pemuridan. Menjadikan semua bangsa murid tidak hanya menjadi hasil penginjilan, tetapi juga suatu sarana untuk menginjili dunia ini.
Dalam jangka panjang pemuridan mempunyai potensi yang lebih besar untuk menghasilkan buah daripada pelayanan lainnya. Tuhan ingin agar kita berakar dan dibangun di dalam Dia dan teguh dalam iman (lihat Kolose 2:7). Ini memerlukan waktu dan perhatian. Menaruh perhatian pada orang merupakan unsur penting. Tindak lanjut dilakukan oleh seseorang bukan oleh sesuatu.
Pemuridan akan memperlengkapi gereja setempat dengan pemimpin- pemimpin awam yang dewasa, yang berpusat pada Kristus dan Firman-Nya. Ada banyak orang yang memenuhi bangku-bangku gereja, tetapi pekerjaannya hanya sedikit. Pekerja-pekerja merupakan hasil usaha pemuridan yang dipimpin oleh Roh dalam gereja. Membangun dalam kehidupan orang lain merupakan rencana Allah untuk mendapatkan diaken- diaken baru, guru-guru, dan pemimpin gereja lainnya. Himbauan komisi pencalonan untuk pekerja-pekerja akan menjadi sorak pujian bagi Allah apabila anggota-anggota gereja melipatgandakan murid-murid yang serupa Kristus.