KURSUS SEPULUH HUKUM ALLAH[TP-03-SHA]
|
Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Sepuluh Perintah yang Diberikan |
| Kode Pelajaran | : | SHA-P01 |
Daftar Isi
BACAAN ALKITAB
PENDAHULUAN
DOA
BACAAN ALKITAB: Kel.31:18; 32:15-16; 19:1-25; 20:1-26
Sudah ada sekitar 3,300 tahun, sejak Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada umat Israel hingga sampai sekarang ini. Hal ini menarik untuk diingat bahwa peristiwa itu terjadi di atas Gunung Sinai, yang terletak di negara Saudi Arabia saat ini.
Sebelum Sepuluh Perintah diberikan, umat Israel telah diperbudak di Mesir selama lebih dari empat ratus tahun. Tetapi, kemudian Allah melepaskan umat pilihan-Nya dan menuntun mereka keluar dari perbudakan di Mesir menuju tanah yang sudah dijanjikan pada mereka. Tanah ini disebut Tanah Perjanjian, yaitu tanah di mana Anak Manusia akan dilahirkan 1,300 tahun kemudian. Selama 40 tahun, bangsa Yahudi harus mengembara di padang belantara menunggu Allah mengijinkan mereka memasuki Tanah Perjanjian. Mengapa? Karena Allah mempunyai banyak pelajaran yang akan diberikan kepada umat Israel sebelum Dia mengijinkan mereka memiliki tanah tersebut.
Pelajaran-pelajaran itu berupa Sepuluh Perintah yang merupakan bagian luar biasa dari rencana Allah bagi umat yang dikasihi-Nya. Isi dari Perintah-perintah ini ialah tentang peraturan untuk kehidupan manusia, dengan satu tujuan agar seluruh bangsa Israel dan setiap orang dalam bangsa tersebut mendapat kebahagiaan. Allah menginginkan yang terbaik untuk umat pilihan-Nya. Allah tahu bahwa mereka tidak bisa hidup bahagia jika mereka tidak mempunyai aturan-aturan yang menuntun mereka. Tidak akan ada kebahagiaan tanpa adanya hukum-hukum. Keadaan tanpa hukum ini disebut Allah sebagai dosa. Tujuan Allah adalah bukan untuk membebani mereka dengan hukum-hukum dan aturan yang berat. Allah menghendaki umat-Nya bahagia dan makmur. Tahukah Anda bahwa sebagian besar orang Kristen bahkan tidak bisa menghafal Sepuluh Perintah tersebut? Mereka bahkan sering tidak menggunakannya. Kita perlu ingat bahwa para nabi dan rasul tidak lupa atau ceroboh terhadap hukum Allah. Yesaya mengatakan bahwa kedatangan Yesus Kristus akan "...memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia." Yesaya 42:21b. Rasul Paulus dalam Roma 7:12 mengatakan bahwa "...hukum Taurat adalah kudus..."
Hukum Allah adalah kekal. Kita akan selalu memerlukan Sepuluh Perintah Allah.
Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga. Keluaran 19:1 menunjukkan bahwa mereka tiba di padang belantara di kaki gunung Sinai yang saat itu berupa padang pasir. Musa, yang dipimpin oleh Allah sampai ke tempat itu, sendirian mendaki gunung. Di sanalah Allah berbicara kepadanya. Allah mengingatkan Musa bagaimana Dia membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir. "Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi" (Keluaran 19:5).
Dalam ayat di atas, Allah membuat suatu ketetapan yang juga dikenal dengan sebuah janji. Allah berjanji bahwa Dia akan membuat orang- orang Yahudi menjadi umat-Nya yang khusus dan akan memberkati mereka dengan berbagai cara yang luar biasa. Allah sudah membuat rencana untuk mengutus Anak-Nya sendiri ke dalam dunia. Melalui bangsa Yahudilah Yesus Kristus datang ke dunia kurang lebih 1,300 tahun kemudian. Semua janji Tuhan mengandung syarat. Allah selalu mengatakan, "Aku akan melakukan ini jika kamu melakukan itu." Allah menghendaki orang-orang Yahudi menaati Dia dan memegang perintah- perintah-Nya. Allah menghendaki Israel menjadi bangsa yang kudus dan Dia juga menghendaki Indonesia menjadi suatu bangsa yang kudus.
Alkitab mengatakan bahwa Musa kemudian turun dari gunung dan mengatakan kepada bangsa Israel segala sesuatu yang sudah dikatakan Allah. Orang-orang Israel setuju terhadap rencana Allah, dan mereka mengatakan, "Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan." ayat 8.
Ada banyak alasan mengapa Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada umat Israel dan kepada kita. Marilah kita lihat daftar beberapa alasan tersebut:
Sepuluh Perintah Allah banyak menjelaskan kepada kita tentang sifat Allah dan mengajarkan kepada kita bahwa Allah adalah kudus, murni dan baik dan juga bahwa Allah adalah kasih. Sepuluh Perintah Allah banyak mengajarkan kepada kita tentang Allah itu sendiri. Allah menuliskannya karena Dia mengasihi kita. Perintah-perintah tersebut menghendaki agar kita baik sama seperti Dia baik; murni sebagaimana Dia murni dan kudus sebagaimana Dia kudus. Sepuluh Perintah tersebut mengajarkan bahwa Allah adalah roh dan kita harus menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
Perhatikan bahwa aturan-aturan tersebut adalah untuk orang-orang yang mau menguduskan diri mereka yang berarti mau memurnikan diri mereka. Selama tiga hari mereka harus siap mendengarkan Allah berbicara pada mereka. Orang-orang tidak akan menjejakkan kaki di gunung itu atau bahkan menyentuh batas gunung itu. Allah memperingatkan mereka bahwa jika mereka tidak taat dan mencoba untuk mendaki gunung untuk melihat Dia, mereka akan mati.
Pada suatu pagi terjadi guntur, kilat dan awan yang gelap diatas gunung tersebut, serta ada suara trompet yang keras, dan semua orang menjadi sangat takut.
Musa memimpin orang-orang keluar kemah untuk bertemu dengan Allah. Mereka berdiri di kaki gunung. Muncul api dan asap di puncak gunung dan bumi bergetar dengan keras. Suara trompet terdengar makin keras. Kemudian Musa berbicara mewakili umat Israel. Allah menjawab dengan suara yang keluar dari awan-awan sehingga semua orang dapat mendengar-Nya. Kemudian Tuhan turun ke atas gunung Sinai. Dia memanggil Musa untuk mendaki gunung. Lalu Musa naik untuk bertemu dengan Allah.
Orang-orang sangat ingin bertemu dengan Allah, namun Dia mengutus Musa turun untuk memperingatkan orang-orang bahwa mereka akan mati jika berusaha untuk masuk dalam hadirat-Nya. Bahkan para imam pun tidak diperbolehkan naik. Allah hanya mengundang Musa dan Harun untuk naik dan berbicara dengan-Nya.
Allah adalah kudus dan manusia berdosa. Manusia yang sudah berdosa tidak bisa memandang Allah yang kudus dan hidup. Baru setelah 1,300 tahun kemudian, Yesus akan mati di atas kayu salib untuk dosa-dosa kita. Hal ini memungkinkan bagi orang berdosa untuk datang ke hadirat Tuhan yang kudus dan hidup.
Allah berbicara pada hari itu dan memberikan Sepuluh Perintah/Hukum yang akan kita pelajari dengan seksama dalam pelajaran-pelajaran berikutnya. Orang-orang yang berdosa sangat takut ketika mereka mendengar bunyi guntur, melihat kilat yang menyambar-nyambar, mendengar suara trompet yang keras dan melihat gunung itu mengeluarkan asap. Mereka meminta Musa untuk berbicara pada Tuhan karena takut mereka akan mati jika mendengar suara Tuhan. Musa mengatakan pada mereka bahwa mereka tidak perlu takut kepada Allah jika mereka belajar untuk menghormati dan menaati Allah serta menghindari dosa.
Allah bahkan bersembunyi dari Musa dalam kegelapan yang sangat gelap. Allah yang kudus ingin manusia yang berdosa mengetahui bahwa Dia sudah berbicara kepada Musa. Allah tidak ingin manusia yang berdosa melupakan siapa yang memberi perintah-perintah tersebut. Manusia tidak membuat hukum-hukum atau perintah-perintah ini, tetapi Allah sendiri yang membuatnya. Kesepuluh hukum ini adalah untuk bangsa Yahudi dan juga untuk semua orang.
Pertama kali Allah mengucapkan sepuluh perintah tersebut. Kemudian Dia menuliskan perintah-perintah itu di kedua sisi dari dua loh batu. Allah mengatakan bahwa perintah tersebut adalah "...ditulisi oleh jari Allah" (Keluaran 31:18). Alkitab juga berkata bahwa "Kedua loh itu ialah pekerjaan Allah dan tulisan itu ialah tulisan Allah, ditukik pada loh-loh itu." (Keluaran 32:16). Selama berabad- abad, Perintah-perintah tersebut disimpan dalam Tabut Perjanjian, suatu tempat khusus untuk menyimpan Hukum-hukum Allah. Tabut Perjanjian itu kemudian diletakkan dalam ruangan Maha Kudus di dalam Kemah Suci atau setelah Bait Allah dibangun pada zaman raja Salomo dalam ruangan Maha Kudus di dalam Bait Allah.
Sepuluh Perintah tersebut adalah dasar dari hukum-hukum dalam kehidupan bangsa Yahudi. Empat hukum yang pertama berhubungan dengan sikap manusia terhadap Tuhan. Enam hukum yang terakhir membicarakan tentang sikap manusia terhadap sesamanya. Menghormati Allah dan sesama adalah dasar dari Sepuluh Perintah Allah.
Allah memberikan Kesepuluh Perintah untuk kebahagiaan seluruh manusia. Sepuluh Perintah tersebut bukan bersifat sementara. Mereka akan tetap untuk selama-lamanya karena Allah adalah kekal. Perintah-perintah tersebut mencerminkan sifat Allah. Kesepuluh perintah tersebut bersifat menyeluruh karena diperuntukkan bagi semua manusia di mana-mana. Hukum-hukum itu adalah untuk setiap insan di berbagai negara dan suku. Hukum-hukum itu juga ditetapkan untuk pria dan wanita dari setiap generasi turun temurun. Hukum- hukum tersebut adalah untuk kita dan anak cucu kita.
Dan yang perlu kita ingat ialah bahwa Sepuluh Perintah untuk kehidupan manusia tersebut tidak dapat diubah, sama seperti maksud dan kehendak Allah yang memberikan hukum tersebut tidak dapat diubah.
DOA
"Bapa, terima kasih atas pengertian yang Engkau berikan kepadaku untuk memahami bahwa seluruh hukum-Mu kudus. Engkau memberikan perintah-perintah-Mu untuk kebahagian hidup seluruh umat manusia. Berikan aku hikmat dan kemampuan agar dapat melakukan setiap perintah- Mu. Terima kasih Bapa. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Pertama dan Kedua |
| Kode Pelajaran | : | SHA-P02 |
DAFTAR ISI
DOA
Bacaan Alkitab: Keluaran 20:1-3
Ayat Hafalan:
"Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku." Keluaran 20:3
Alkitab mengatakan, Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: "Akulah Tuhan Allahmu yang membawa Engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan" (Keluaran 20:1-2). Setelah firman yang singkat ini, Allah memberikan perintah yang pertama dari Sepuluh Perintah Allah, yang akan kita sebut sebagai SEPULUH HUKUM UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA.
Peraturan pertama untuk kehidupan itu mengatakan,
"Jangan ada padamu allah lain dihadapan-Ku." (Keluaran 20:3).
Perintah ini merupakan sesuatu yang baru di antara agama-agama di dunia dan berbeda dari perintah yang ada karena karena pada masa itu manusia beribadah kepada banyak dewa dan patung-patung dari berbagai bentuk. Mereka berpikir bahwa satu dewa akan menolong mereka dalam cinta, dewa lain menolong mereka jika sakit, dan yang lain lagi akan menolong mereka dalam perang. Mereka bahkan mempunyai dewa yang mereka pikir dapat menolong mereka dalam kematian. Sehingga untuk beribadah kepada satu Allah saja jelas merupakan hal yang baru bagi bangsa ini. Bahkan orang-orang Yahudi sendiri pun kadang-kadang beribadah kepada ilah-ilah palsu sebelum Sepuluh Perintah tersebut diberikan.
Itulah sebabnya, ketika Allah memanggil dan memilih bangsa Yahudi ini menjadi milik-Nya, hukum pertama yang harus dilakukan untuk kebahagiaan mereka adalah: "Janganlah ada padamu allah lain dihadapan- Ku." Apakah arti perintah ini?
Cocok sekali jika perintah yang pertama dimulai dengan Allah. Pada awalnya Allah mengatakan "Akulah", artinya Allah betul-betul ada dan Dia hidup. Alkitab tidak perlu membuktikan bahwa Allah itu ada, Alkitab hanya perlu menyatakan bahwa Allah itu ada. Segala sesuatu yang hidup berakar dalam Allah. Benar bahwa Allah adalah sumber dari segala yang hidup yang akan mendatangkan kebahagiaan. Kita bisa menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang sejati hanya di dalam Dia.
Perintah ini juga mengajarkan bahwa Allah adalah suatu pribadi. Allah tidak hanya ada, tetapi Dia juga Allah sebagai suatu pribadi. Ini berarti bahwa Dia mengetahui dan memperhatikan kita semua. Dia mengetahui nama kita, masalah kita, pencobaan-pencobaan yang kita alami, dosa-dosa kita, kekuatan kita dan kelemahan-kelemahan kita. Hukum-hukum Allah bersifat pribadi, dan seperti juga Allah, hukum- hukum itu bersifat kekal. Allah mengatakan, ENGKAU. Kata yang bersifat pribadi ini menunjuk kepada kita masing-masing. Allah melihat kita dan mengetahui kita semua satu per satu. Setiap perintah tersebut adalah Firman yang bersifat pribadi dan hidup. Setiap perintah itu adalah untuk Anda dan saya secara pribadi. Allah adalah Allah yang hidup dan bersifat pribadi.
"Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan" Keluaran 20:2.
Perintah ini juga mengajarkan bahwa Allah secara pribadi ada untuk membebaskan kita keluar dari kesulitan-kesulitan kita. Bangsa Yahudi menjadi budak di tanah Mesir, Allah memandang dan mengasihi mereka. Dia membebaskan dan memberikan mereka seorang pemimpin yaitu Musa. Dia membelah Laut Merah agar umat Israel dapat menyeberang. Dia membuat air keluar dari batu ketika mereka perlu air untuk melepas dahaga. Dia mengirimkan burung puyuh di padang gurun sehingga orang-orang mendapatkan makanan. Dia mengirimkan makanan dari surga sehingga mereka tidak kelaparan. Dia memberikan tiang awan dan tiang api yang menuntun, menerangi dan menaungi mereka. Allah memberikan sepuluh peraturan untuk kebahagiaan mereka. Dan Perintah Pertama ini adalah rencana Allah untuk mencegah supaya manusia tidak sengsara tetapi mendapatkan kebahagiaan. Allah ingin supaya kita bergantung kepada-Nya dan bukan kepada seseorang atau sesuatu. Allah adalah sumber dari semua kebaikan dan kita dapat bergantung kepada-Nya.
Hukum ini mengatakan bahwa setiap manusia dapat mempunyai satu- satunya Allah sebagai milik pribadinya sendiri. Allah tidak berubah, tetapi pemikiran kita tentang Allah itulah yang sering berubah. Allah tetap sama untuk selama-lamanya. Alkitab mengatakan, "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama- lamanya" (Ibrani 13:8). Ada suatu kabar yang baik yaitu bahwa Allah tersedia untuk setiap orang. Ketika kita memiliki Allah, kita memiliki segala sesuatu. Mengatakan bahwa Allah memperhatikan berarti mengatakan bahwa Allah mengasihi. Allah yang secara pribadi mengasihi kita pasti akan membebaskan kita dari dosa dan maut sama seperti Dia membebaskan umat Israel. Fakta yang menunjukkan bahwa Dia adalah Allah kita, cukup untuk menguatkan semangat dari orang Kristen yang terlemah atau terkuat sekalipun.
Sekarang kita sampai kepada inti dari perintah ini. Alkitab mengatakan, HANYA ADA SATU ALLAH. Hanya ada satu yang bersifat ilahi. Hanya Allah yang layak menerima ibadah kita. "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup." (1 Korintus 8:6). Pembacaan Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa janganlah kita menempatkan ilah-ilah lain dihadapan atau di samping Allah. Allah menginginkan kasih kita yang sepenuh hati. Tidak bisa ada kesetiaan yang terbagi antara kepada Dia dan kepada yang lain. Alkitab mengatakan, "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan," Ulangan 6:4-6.
Perintah ini mengajarkan bahwa umat Israel harus menyembah Allah saja dan mereka harus berbalik dari semua ilah-ilah yang lain. Ada banyak bentuk penyembahan kepada roh-roh di Indonesia. Lebih dari itu, banyak tradisi di Indonesia yang bertentangan dengan penyembahan yang sejati kepada Allah. Perintah ini adalah untuk semua orang: "Janganlah ada padamu Allah lain dihadapan-Ku." (Keluaran 20:3). Allah harus menjadi yang pertama dalam hidup Anda.
Perintah ini jelas mengatakan,"Jika kamu berbalik dari ilah-ilah yang palsu, maka kamu akan memiliki Aku." Kita akan menemukan Allah ketika kita bersedia untuk meninggalkan segala sesuatu yang lain demi untuk menemukan Dia. Orang-orang Yahudi pada masa itu dapat memiliki Allah hanya jika mereka mau meninggalkan ilah-ilah yang palsu dari bangsa-bangsa lain. Tuhan Yesus mengatakan, "Jika seseorang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkan Dia dan makan bersama-sama dia dan dia bersama-sama Aku." (Wahyu 3:20). Hal ini berarti bahwa jika kita mau meninggalkan ilah-ilah yang lain maka kita akan mengenal Allah yang sejati. Perintah ini bagi kita bukan hanya hukum yang melarang ("janganlah ada padamu") melainkan suatu kabar baik yang cemerlang.
Sekali waktu Martin Luther pernah mengatakan, "Apa pun yang menjadi tempat bergantung dan bersandar hatimu, itulah ilahmu." Bangsa Israel tergoda untuk menempatkan dewa-dewa palsu di tempat yang menjadi milik satu-satunya Allah yang sejati. Mereka mencoba untuk menyembah Allah dan ilah-ilah yang lain pada saat yang sama. Orang- orang Kristen seharusnya tidak meninggalkan iman mereka kepada Allah. Tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen yang justru memiliki hal-hal dalam kehidupannya yang mendapat bagian dari kesetiaan mereka, di samping kesetiaan mereka kepada Allah. Bagi beberapa orang hal-hal tersebut adalah kekayaan atau bahkan pendidikan. "Maka berkatalah Yesus kepadanya: Enyahlah iblis! Sebab ada tertulis: engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan hanya kepada Dia saja engkau berbakti." (Matius 4:10).
Pertanyaannya adalah bukan apakah kita percaya melainkan siapa atau apa yang kita percayai. Perintah ini menjelaskan bahwa manusia akan memberikan kesetiaan mereka kepada Allah yang sejati ataukah kepada dewa-dewa yang palsu. Siapa atau apakah yang kamu sembah? Siapa pun atau apa pun yang menerima ketaatan dan kasihmu yang terbesar adalah ilah bagimu. Ingatlah bahwa Anda berada di bawah kuasa yang Anda pilih untuk Anda taati. "Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?" (Roma 6:16). Allah menginginkan tempat pertama dalam kehidupan dan hati kita. Tuhan kita Yesus Kristus mengatakan, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." (Yohanes 14:15). Alkitab mengatakan, "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!" (Yosua 24:15).
Bacaan Alkitab: Keluaran 20:4-6
Ayat Hafalan:
"Jangan membuat bagimu patung..." Keluaran 20:4
Kita telah mempelajari bahwa perintah yang pertama "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20:3), adalah suatu perintah yang jelas untuk menyembah Allah. Perintah Kedua "Jangan membuat bagimu patung..." (Keluaran 20:4) menunjuk pada semua lambang dari dewa (ilah-ilah) yang mungkin dapat dibuat dan disembah atau digunakan manusia sebagai pengganti dari penyembahan kepada Allah yang sejati. Inti dari Perintah Kedua ini adalah berhubungan dengan membuat dan menyembah berhala.
Salah satu alasan mengapa Allah memberikan perintah ini kepada mereka, karena bangsa Israel ada dalam bahaya penyembahan berhala. Ketika bangsa Israel menjadi budak di tanah Mesir. Bangsa Mesir adalah bangsa yang menyembah banyak dewa. Mereka menyembah matahari, bulan dan bintang. Mereka juga menyembah binatang- binatang seperti ular, kerbau, buaya, dan bahkan kumbang-kumbang. Merupakan hal yang alamiah bagi manusia untuk menyembah karena Allah memang menciptakan manusia seperti itu. Tetapi, karena keterbatasan kita sebagai manusia, keinginan alamiah ini kadang- kadang berubah menjadi sesuatu yang buruk dan bukan sesuatu yang baik. Memang baik untuk menyembah jika kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Ibadah yang palsu tidak pernah baik. Hal ini selalu menjauhkan manusia dari Tuhan dan bukan mendekat kepada-Nya. Umat Israel dalam bahaya jatuh ke dalam ibadah yang palsu. Waktu di tanah Mesir, tetangga-tetangga mereka menyembah berhala, sehingga memudahkan bangsa Yahudi untuk menjadi penyembah berhala. Allah memberikan Perintah Kedua untuk kehidupan manusia ini, supaya manusia tidak lagi ragu-ragu bahwa Allah mengharapkan mereka hanya menyembah Dia. Dia bahkan tidak ingin mereka menyembah-Nya dengan sebuah berhala yang mewakili-Nya.
Kita mungkin memulai dengan bertanya "Mengapa Allah melarang manusia untuk membuat patung atau sesuatu yang mewakili Allah?" Ada dua alasan mengapa Allah mencela penyembahan berhala. Pertama adalah bahwa patung-patung itu merampas pengetahuan tentang Allah dari manusia. Segala bentuk apa pun yang mewakili Allah buatan manusia adalah salah. Hal-hal tersebut merendahkan dan menghina Allah. Hal- hal tersebut juga menipu dan membuat manusia menjadi jahat. Rasul Paulus mengatakan kepada orang-orang di Athena, yang merupakan penyembah-penyembah berhala yang besar "Allah ... tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.... “Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia." (Kisah Para Rasul 17:24-25, 29).
"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24). Kita juga harus ingat bahwa Sang Pencipta selalu lebih besar dan berkuasa dari apa yang diciptakan-Nya. Ketika orang-orang menyembah berhala, kita bisa melihat bahwa mereka pasti jatuh dalam dosa dan jalan-jalan yang jahat. Mereka menjadi jauh dari usaha mereka untuk melakukan yang terbaik dan mengambil jalan keluar yang mudah. Lebih mudah untuk menyembah berhala yang terbuat dari perak atau emas daripada hidup kudus bagi Allah.
Alasan yang lain mengapa Allah melarang penyembahan berhala adalah bahwa Allah hanya mempunyai satu bentuk yaitu diri-Nya sendiri dan bentuk itu kudus. Bentuk ini ada dalam pribadi Yesus Kristus. "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan." (Kolose 1:15). Kristus sendiri secara utuh dapat menyatakan Allah yang mulia. Tak ada orang lain di seluruh alam semesta yang berhak untuk mengatakan "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." (Yohanes 14:9). Satu-satunya pernyataan kasih Allah yang sempurna adalah dalam sosok Yesus Kristus. Hanya di hadapan-Nya kita dapat betul- betul menyembah Allah Bapa. Kristus tidak pernah menolak penyembahan. Sebagai contoh, Dia telah menyembuhkan orang buta dan yang menderita kusta. Hal ini telah membuat kagum murid-murid dan para wanita yang semuanya menyembah di kaki-Nya. Tak seorang pun yang mencela mereka.
Keserakahan (menginginkan sesuatu yang bukan menjadi miliknya) adalah bentuk dari penyembahan berhala, Kolose 3:5. "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala..." Penyembahan berhala berasal dari hati manusia yang jahat. Berhala-berhala yang nampak merupakan ciptaan dari nafsu batiniah manusia. Kita mungkin mengatakan bahwa ada dua macam berhala yaitu berhala yang nampak (di luar manusia) dan tidak nampak (di dalam hati manusia). Berhala-berhala yang nampak mungkin terbuat dari kayu, batu, perak, emas atau benda-benda yang lain. Allah menghendaki supaya kita tidak membuat dan menyembah ilah-ilah seperti itu. Bentuk berhala yang lain adalah berhala-berhala dalam hati yang bersumber dari nafsu manusia. Mungkin itu berupa nafsu untuk mendapatkan kekuasaan atau uang, nafsu kedagingan, keinginan mata atau kesombongan hidup. Kita bahkan harus berhati-hati akan penyembahan terhadap roh-roh jahat dan kuasa kegelapan, termasuk segala jenis sihir. Allah juga menghendaki agar kita tidak menyembah dan melayani dewa-dewa yang memisahkan kita dari pada-Nya. Ada sesuatu dalam diri manusia yang merupakan penyembah berhala dan ini harus mati. Yang pasti, orang Kristen seharusnya tidak mempraktikkan penyembahan berhala, baik yang nampak maupun yang tidak nampak (keinginan kita yang melebihi atau menentang kehendak Allah), karena kita akan menemui kesulitan untuk menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan bebas.
Hukum yang kedua membawa suatu peringatan yang menentang penyembahan berhala. Hukum itu memberitahu kita bahwa Allah adalah Allah yang cemburu. Hal ini berarti bahwa Allah tidak menghendaki kita membagi kasih kita untuk-Nya dengan ilah-ilah yang lain. Allah menghendaki kita untuk menyembah dan melayani Dia saja. Allah melarang kita untuk membuat berhala apa pun juga atau menyembahnya karena penyembahan berhala akan membelokkan hati kita ke ilah-ilah yang lain. Allah tidak menghendaki adanya saingan bagi-Nya. Yehowa adalah Allah yang menghukum mereka yang berbalik menjauhi-Nya. Setiap orang yang menyembah berhala akan menderita. Lebih dari itu, anak cucu mereka akan menderita juga. Hukuman akan jatuh kepada para penyembah berhala. Hukum ini memerlukan perhatian pada kemurnian ibadah. Hukum ini mengingatkan kita bahwa persekutuan dengan Allah bersifat langsung. Kita tidak perlu melalui seorang pendeta untuk bisa mencapai telinga dan hati Allah. Setiap orang dapat datang kepada Allah melalui Yesus Kristus. Sekali lagi, Allah memerintahkan kita untuk mengasihi dan menyembah-Nya dan untuk memegang perintah-perintah-Nya. Ini adalah jalan untuk menemukan kebahagiaan yang sejati. Allah telah berjanji untuk memberkati kita dan anak cucu kita jika kita mengasihi dan melayani-Nya dan memegang perintah-perintah-Nya.
DOA
"Tuhan, ampunilah aku apabila Engkau mendapati aku memiliki hati yang tidak sepenuhnya untuk Engkau. Ajarkan aku memiliki sikap yang selalu menempatkan Engkau lebih tinggi dari segala-galanya, karena hanya Engkaulah yang layak disembah dan dipuja. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Ketiga dan Keempat |
| Kode Pelajaran | : | SHA-P03 |
DAFTAR ISI
PERINTAH KETIGA
Bacaan Alkitab
Ayat Hafalan
PERINTAH KEEMPAT
Bacaan Alkitab
Ayat Hafalan
DOA
Bacaan Alkitab: Keluaran 20:8-11
Ayat Hafalan:
"Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7).
Peraturan ketiga untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah pada umat-Nya berhubungan dengan nama Allah dan kebenaran. Perintah tersebut mengatakan, "Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7).
Martin Luther mengatakan mengenai perintah ini. "Kita harus takut dan mengasihi Tuhan supaya kita tidak mengutuk, bersumpah, membaca mantera, berbohong atau menipu dengan menggunakan nama-Nya, tetapi memanggil nama-Nya di dalam setiap waktu dan menyembah-Nya dalam doa, pujian dan ucapan syukur." Martin Luther menyimpulkan sedalam- dalamnya dari perintah yang diberikan untuk kebahagiaan kita ini.
Perintah ini melarang beberapa hal. Baiklah kita mempelajarinya dengan seksama dan melihat apakah kehidupan kita diatur oleh hukum Tuhan ini.
Pada masa Perjanjian Lama, nama seseorang adalah sangat penting karena nama itu mencerminkan sifatnya. Nama yang bagus adalah sesuatu yang membawa kebanggaan keluarga. Nama baik adalah sesuatu yang harus dilindungi dengan cara apa pun juga. Sebuah nama mencerminkan kehormatan seseorang, keluarganya dan posisi seseorang di masyarakat. Hampir ada seratus nama bagi Allah dalam Perjanjian Lama. Setiap nama itu menerangkan pada kita sesuatu tentang sifat Allah. Dalam Perjanjian Baru kita juga membaca tentang beberapa nama yang diberikan pada Yesus. Nama-nama ini menjelaskan kepada kita tentang sifat-Nya. Nama-nama itu menjelaskan seperti apa Dia. Marilah kita membuat daftar beberapa nama yang diberikan dalam Alkitab untuk Yesus:
Nama Allah adalah kudus karena nama ini mencerminkan pribadi-Nya. Perintah ini melarang kita untuk berbicara dengan nama Allah yang kudus sebagai kata-kata kutuk. Salah satu kesempatan di mana beberapa orang menggunakan nama Allah adalah ketika mereka menggunakannya sebagai kata-kata mengumpat. Mengumpat menunjukkan rohani yang sakit. Jika kita sungguh-sungguh mengenal Allah, kita tidak akan menggunakan nama-Nya dengan sia-sia dengan cara apa pun yang tidak ada artinya. Nama Allah atau Kristus, harus digunakan dengan semestinya untuk memuliakan daripada untuk menghina Allah. Orang-orang kafir bahkan memperlakukan nama dewa-dewa mereka dengan penghargaan yang tinggi. Seberapa jauh kita seharusnya lebih menghormati nama Tuhan dan Juruselamat kita?
Perintah ini juga melarang sumpah palsu dalam pengadilan. Di Amerika, ketika seseorang muncul di pengadilan untuk memberikan kesaksian, dia akan meletakkan tangannya di atas Alkitab untuk bersumpah bahwa ia akan bersaksi dengan benar. Dia kemudian menyatakan bahwa dia akan mengatakan "kebenaran yang seutuhnya, tidak akan mengatakan yang lain kecuali kebenaran itu sendiri, jadi tolonglah aku, ya Allah." Setiap orang yang meletakkan tangannya di atas Alkitab seperti itu berarti dihadapan umum memanggil Allah sebagai saksinya bahwa dia mengatakan kebenaran. Melakukan hal ini dan kemudian berbohong adalah masalah yang sangat serius. Hal ini melanggar perintah Allah yang ketiga ini, dan Allah mengatakan bahwa Dia akan menghukum barang siapa yang melakukan hal ini.
Perintah ini menunjuk pada kekudusan sumpah yang diambil di hadapan Allah dan pentingnya berkata benar setiap waktu. Kata-kata adalah seperti mata pisau, Anda harus berhati-hati menggunakannya. Kata- kata seorang Kristen harus bisa dipercaya. Seorang Kristen harus memegang kata-kata dan janjinya. Sebuah janji adalah suatu hal yang sangat serius, dan jika kita melanggar kata-kata kita, berarti kita juga melanggar perintah ini. Jika hal itu terjadi, maka berarti kita sedang menunjukkan pada orang-orang bahwa kita tidak bisa dipercaya. Berbohong, menipu dan mencuri adalah seperti tiga bersaudara yang jahat.
Pada jaman Musa, ada orang-orang yang lupa mengatakan kebenaran. Kita hidup di jaman di mana ada orang-orang yang sudah lupa mengatakan kebenaran. Tuhan Yesus mengatakan "Jangan sekali-sekali bersumpah..." Matius 5:34. Perintah ini sebenarnya secara sederhana bermaksud untuk mengatakan, "katakanlah kebenaran."
Nama Allah adalah kudus dan murni. Jika kita menyebut diri kita orang Kristen, maka kita harus berhati-hati untuk tidak menggunakan nama Allah dengan cara yang tidak semestinya. Hukum ini memerintahkan pada kita untuk hidup dan berbicara kebenaran. Tuhan Yesus mengatakan "dikuduskanlah nama-Mu..." (Matius 6:9), ketika berdoa Bapa Kami. Kata "dikuduskanlah" berarti "diberkatilah" dan mengandung maksud pemujaan dan penghormatan. Kita harus menghormati nama Allah setiap waktu, karena nama Allah mencerminkan diri-Nya sendiri.
Jika kita mengaku Tuhan sebagai Allah kita, kita harus berhati-hati untuk tidak membawa malu atas-Nya dengan kata-kata atau perbuatan yang tidak murni atau pengakuan yang tidak tulus. Menyebut diri Anda sebagai seorang Kristen namun bertindak sebagai seorang kafir adalah bentuk dosa lain yang menentang perintah yang ketiga ini.
Perintah ini diakhiri dengan suatu peringatan yang serius dari Allah yang mengatakan "Tuhan akan memandang bersalah kepada orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." Allah mengatakan bahwa jika kita melecehkan nama-Nya, mengutuk, bersumpah palsu di pengadilan, atau menggunakan nama Allah dengan cara yang tidak semestinya, Dia akan meminta pertanggungjawaban dan menghukum kita. Rasul Paulus memberikan peringatan kepada Timotius mengenai orang- orang Kristen. Peringatan ini mengatakan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan." 2Timotius 2:19. (Kejahatan berarti dosa).
Marilah kita berhati-hati untuk menghormati nama Allah dalam setiap cara dan selalu berbicara kebenaran, sehingga kita dapat membawa hormat dan kemuliaan bagi nama Allah.
Bacaan Alkitab: Keluaran 20:8-11
Ayat Hafalan:
"Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat." Keluaran 20:8.
Perintah Keempat yang diberikan Allah untuk kehidupan manusia adalah "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu." Keluaran 20:8-10.
Mudah untuk memikirkan bahwa jika kita melanggar Perintah yang Keempat, hal itu tidak akan seserius jika melanggar sembilan perintah yang lainnya. Tetapi, barang siapa yang hendak melanggar perintah yang keempat, maka dalam hatinya sudah memiliki niat untuk melanggar perintah yang lain atau bahkan semua perintah yang ada.
Inti dari perintah ini adalah menyatakan bahwa kita harus menguduskan semua waktu, pekerjaan dan masih istirahat demi Allah.
Kata "Sabat" menunjuk kepada hari ketujuh, dan itu berarti hari Sabtu. Dalam hitungan kalender Yahudi, hari sabat di mulai dari jam 6 sore. Mengenai hari ini, Allah berfirman, "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat." Ini bukanlah yang pertama kali perintah ini diberikan kepada umat Israel, karena Allah mengatakan "ingatlah." Sejak awal mula penciptaan, Allah sudah memberikan perintah ini kepada manusia. Kitab Kejadian menjelaskan kepada kita bahwa Allah menciptakan dunia dalam enam hari dan pada hari yang ketujuh Allah berhenti. Inti kata Sabat berarti "Beristirahat setelah bekerja keras." Orang-orang lupa untuk memelihara perintah Allah yang sebenarnya. Karena itu Allah memperingatkan mereka bahwa mereka hendaklah mengambil satu hari dari tujuh hari yang ada sebagai hari yang kudus untuk beristirahat dan beribadah. Hari Sabat orang Yahudi berbeda. Hari itu merupakan karunia dari Allah dan menjadi hari yang dihormati. Allah memberikan perintah ini karena Dia sudah menunjukkan contoh dan bekerja enam hari dalam menciptakan dunia kemudian Dia berhenti pada hari yang ketujuh.
Selanjutnya hukum ini mengatakan, "enam hari lamanya Engkau akan bekerja..." Ada yang lebih dalam mengenai perintah ini daripada hanya sekedar perhatian satu hari untuk beristirahat. Hukum ini juga merupakan suatu perintah untuk bekerja keras dan menentang kemalasan. Perintah keempat adalah suatu perintah untuk bekerja keras selama enam hari dengan rajin, juga untuk beristirahat satu hari agar dapat memberikan penghormatan kepada Allah. Seseorang yang membuang waktu pada satu dari enam hari yang tersedia sama bersalahnya di hadapan Allah seperti orang yang bekerja di hari Sabat. Itu artinya, kita harus menggunakan dengan baik enam hari yang diberikan Tuhan untuk bekerja keras dan memberikan satu hari, yaitu hari Sabat untuk beristirahat demi Allah. Merupakan hal yang berbahaya jika mengabaikan hari yang kudus ini. Hari tersebut adalah milik Allah. Dalam kehidupan Kekristenan tidak ada tempat bagi penidur atau pemalas. Ini adalah suatu perintah yang menentang kemalasan. Jelas bahwa satu hari dari tujuh hari yang ada harus menjadi hari yang kudus. Kita harus menjaganya tetap kudus dengan menghindarkannya dari segala kerja dan usaha manusia. Kita musti menguduskan satu hari dalam seminggu untuk beristirahat dalam hadirat Allah.
Pekerjaan kadang-kadang sulit untuk didapatkan, juga sulit untuk dipertahankan. Kita tidak harus keluar dari pekerjaan. Alkitab justru mengatakan bahwa setiap orang harus bekerja. Jika seseorang tidak dapat bekerja untuk mendapatkan upah, maka dia harus bekerja tanpa upah. Kita selalu bisa bekerja. Seorang pengangguran janganlah tinggal tanpa melakukan pekerjaan. Dalam Amsal 14:23 kita membaca, "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja." Ini adalah janji dari Allah sendiri. Allah mengatakan, jika seseorang bekerja keras di rumah atau tetangga sekitarnya, meskipun dia tidak mempunyai penghasilan yang tetap, akan ada keuntungan karena kerja kerasnya, yaitu keuntungan moral dan finansial (uang). Tuhan Yesus mengatakan, "Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Allah mengatakan bahwa jika kita mencari kerajaan Allah dan kebenarannya dan memberi diri kita untuk bekerja keras dalam ketaatan kepada perintah Allah, maka Dialah yang akan mengatur hidup kita dan menyediakan kebutuhan- kebutuhan kita. Rasul Paulus mengatakan, "Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (Kolose 3:23- 24).
Bangsa Yahudi membuat hari Sabat menjadi hari yang penuh dengan mengatakan, "janganlah kamu melakukan ini dan itu." Mereka membatasi hari itu dengan banyak peraturan sehingga menjadi sebuah beban untuk menjaga hari itu sebagai hari yang kudus.
Hari Tuhan adalah hari bagi kita untuk beristirahat dan beribadah. Orang-orang Kristen yang mula-mula mengubah hari untuk beribadah itu. Mengapa? Karena Tuhan Yesus menyatakan kemenangan-Nya atas kuasa dosa, dengan cara bangkit dari kematian-Nya pada hari pertama, yaitu hari Minggu. Oleh karena itu sebagian besar orang Kristen menganggap hari Minggu sebagai hari untuk istirahat dan beribadah. Hari itu bukanlah hari Sabat atau hari ketujuh dalam satu minggu. Hari itu adalah hari pertama dalam satu minggu.
Gereja Kristen memelihara hari ini sejak awal mulanya dan menyebutnya sebagai hari Tuhan.
Hal-hal yang kita pilih untuk kita kerjakan pada hari Minggu menunjukkan seperti apa kita dan apa yang kita pikirkan tentang Kristus. Penggunaan terbesar dari hari Minggu adalah sebagai hari ibadah dan istirahat. Ibadah dan istirahat berjalan bersama-sama. Setiap orang memerlukan hari yang kudus ini. Jika kita melupakan hari ini, sama artinya kita sedang melupakan Allah.
Hari Minggu adalah hari bagi keluarga untuk bersama-sama, bagi antara teman untuk saling bertemu, bagi orang-orang percaya untuk beribadah bersama-sama. Beribadah berarti bertumbuh dengan kuat secara rohani. "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru." Yesaya 40:31.
Perintah keempat menyisihkan hari yang ketujuh sebagai hari Tuhan, satu hari yang dikhususkan untuk beristirahat dan beribadah. Allah memberikan hari Sabat bagi bangsa Yahudi pada jaman dahulu kala. Hari Minggu adalah bagi orang Kristen untuk semua generasi. Tujuannya tetap sama: satu hari untuk beristirahat dan menghormati Allah. Apa yang sedang kita pikirkan sekarang, tentang hari Sabat orang Yahudi atau Hari Tuhan bagi orang Kristen, kedua-duanya merupakan jenis hari yang dikhususkan.
Hari Sabat harus menjadi hari yang kudus. Sejak awal, hari ini sudah menjadi satu hari yang kudus. Allah sendiri menghargainya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. Bukan hanya hari itu menjadi hari yang kudus, tetapi yang lebih penting, hari itu harus menjadi hari ibadah. Bagi sebagian besar orang Kristen, hari Minggu adalah hari yang sudah ditetapkan untuk menyembah dan memuji Tuhan. Setiap hari Minggu kesannya seperti "Minggu Kebangkitan". Hari itu adalah waktu untuk menyembah Kristus yang telah mati disalibkan bagi kita di atas Kalvari.
Hari Minggu adalah hari yang diciptakan untuk manusia. Sejak awalnya, Allah menginginkan hari yang khusus untuk menjadi hari perhentian bagi manusia. Hari istirahat itu dimaksudkan juga khususnya untuk melindungi mereka yang hari-harinya bukan sepenuhnya mereka miliki. Hari itu bahkan memberi kesempatan kepada para budak untuk beristirahat. Hari yang khusus ini memberikan keuntungan kepada manusia karena sesuai dengan kebutuhan manusia. Allah tidak pernah bermaksud untuk membuat hari ini menjadi beban bagi manusia. Hari tersebut dimaksudkan sebagai hari istirahat dan bersukacita. Hari itu adalah hari untuk kebaikan manusia. Yesus selalu memberikan manfaat bagi manusia di atas hari itu sendiri. Dunia yang beradab saat ini berhutang kepada gereja Kristen dengan adanya hari bebas untuk bekerja.
Hari Sabat seharusnya menjadi hari yang bahagia. Sejak awal Allah bermaksud demikian sehingga barangsiapa yang letih dapat beristirahat dari kerja keras mereka. Hari itu adalah hari berkat bagi semua, hari penyegaran pikiran dan tubuh. Karena kasih Allah bagi kita, Dia memberikan pada kita hari itu untuk beribadah kepada-Nya dan untuk beristirahat.
Arti dan tujuan hari itu tetap tidak berubah. Sampai hari ini hari itu tetap menjadi hari istirahat, ibadah dan penghormatan kepada Allah.
Hari tersebut sungguh-sungguh adalah milik Tuhan.
DOA
"Tuhan tolonglah aku agar dapat menggunakan mulutku untuk mengatakan sesuatu yang benar tentang Engkau, kapan pun dan di mana pun aku berada. Tolonglah juga agar aku dapat menggunakan hari-hari yang Kau percayakan untuk berkarya dan beristirahat demi kemuliaan nama-Mu. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Kelima, Keenam dan Ketujuh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-P04 |
DAFTAR ISI
PERINTAH KELIMA
Bacaan Alkitab
Ayat Hafalan
PERINTAH KEENAM
Bacaan Alkitab
Ayat Hafalan
PERINTAH KETUJUH
Bacaan Alkitab
Ayat Hafalan
DOA
Bacalah: Efesus 6:1-9
Ayat Hafalan:
"Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." Keluaran 20:12.
Peraturan kelima untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah adalah "Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu kepadamu." (Keluaran 20:12). Perintah ini berhubungan dengan hal-hal yang membuat keberhasilan seperti kebahagiaan, keamanan, singkatnya hal-hal yang biasanya kita inginkan.
Rasul Paulus menyebut perintah ini dalam Efesus 6:1-9 sebagai perintah pertama yang disertai dengan janji. Perikop ini memberikan kepada kita suatu gambaran dari rumah tangga bahagia yang dibangun dengan kuat di atas penghormatan, ketaatan dan kasih. Rumah tangga seperti ini adalah merupakan kemuliaan dan kekuatan suatu bangsa. Ketika kita mengasuh seorang anak dalam rumah tangga Kristen yang baik berarti suasana dalam perintah pertama itulah yang akan anak itu pelajari. Orang tua mempunyai tanggung jawab sejak awal memberikan pengajaran kepada anaknya untuk mengasihi dan menaati ayah dan ibunya. Dia akan belajar bersikap dengan penghormatan yang semestinya untuk orang lain. Inilah dasar dari hidup yang baik. Marilah kita ingat bahwa penghormatan pada orang tua bukanlah hanya sifat dari agama Kristen. Sebagian besar agama di dunia menjunjung tinggi prinsip yang baik ini. Sebagai umat Kristen, kita harus memandang Kristus sebagai teladan kita dalam mengasihi orang tua. Tuhan Yesus mengasihi Yusuf dan Maria sebagai orang orang tuanya.
Paulus, dalam Efesus 6:1-9 menerapkan janji pada umat Kristen ketika dia mengatakan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian." Efesus 6:1.
Ini merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk menaati orang tua mereka karena dengan melakukan demikian, mereka akan lebih mudah dan lebih "secara alami" untuk taat kepada Bapa mereka di surga. Inilah alasan mengapa ketaatan kepada perintah ini mengandung janji keadaan yang lebih baik dan juga umur yang panjang. Mereka yang taat, akan hidup lebih berkelimpahan daripada mereka yang tidak taat. Setiap anak harus mempunyai kesempatan untuk taat. Anak-anak perlu mengingat bahwa orang tua memiliki pengetahuan lebih karena pengalaman hidupnya daripada mereka. Banyak orang tua yang sudah membayar dengan mahal untuk pengetahuan yang mereka miliki. Anak- anak janganlah melupakan hal ini dan harus menghormati orang tua dalam seluruh hidup mereka.
Sebagai anak-anak, kita harus menghormati orang tua dengan cara menaati dan selalu berbicara dengan sukacita dan hormat. Cara bicara kita harus dengan penghormatan yang semestinya. Sebagai pria dan wanita yang dewasa, kita harus selalu menunjukkan rasa hormat pada orang tua kita. Kita harus selalu peka terhadap perasaan mereka dan siap untuk memberi bantuan yang mereka perlukan. Anak- anak harus memberikan rasa hormat pada orang tua, kakek nenek, paman dan bibi dan juga kepada semua orang yang sudah dewasa khususnya yang lebih tua dari kita. Ada tingkatan kasih dan penghormatan yang harus diberikan kepada orang tua. Orang lain tidak bisa menerima penghormatan seperti itu.
Allah mengatakan pada kita bahwa kita hendaknya menaati orang tua kita dan memberikan penghargaan yang tinggi. Orang-orang yang menghormati orang tua mereka tidak akan pernah berhenti untuk merawat orang tua mereka, bahkan ketika perbuatan orang tua mereka mendukakan Allah dan manusia. jika Anda tidak pernah mengungkapkan rasa hormat sebelumnya, maka setelah orang tua Anda meninggal, akan menjadi tidak begitu berarti mengungkapkan hormat Anda kepada orang tua, sia-sialah bagaimanapun dalamnya dukacita Anda karena kematian mereka.
Manusia memiliki kecenderungan untuk menyerupai mereka yang dihormati. Untuk itu, hal yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua agar dapat mendorong anak-anak memiliki rasa hormat terhadap kita ialah kita harus menjadi pria atau wanita yang baik sebagaimana seharusnya. Pria dan wanita yang baik harus memiliki sifat-sifat yang baik yaitu, kita seharusnya menjadi ikhlas, tidak egois, dan dipenuhi kebaikan. Orang tua janganlah hanya memberikan nasihat yang baik kepada anak-anaknya. Mereka seharusnya hidup pula di dalam nasihat yang baik itu. Anak-anak pun seharusnya dihormati selayaknya orang tua dihormati oleh anak-anaknya. Kasih seharusnya ada dalam setiap rumah tangga. kasihlah yang dapat mempererat hubungan antara orang tua terhadap anak-anak, dan anak- anak terhadap orang tua.
Prinsip menghormati tidak hanya ditujukan kepada orang tua, tetapi juga bagi mereka yang sudah ditetapkan di atas kita. Kita harus menghormati Presiden Indonesia. Kita harus menghormati pejabat pemerintah yang sudah ditetapkan di atas kita. Kita harus menghormati para guru, gembala, dan para pemimpin agama yang lain. Kita seharusnya memberikan penghormatan ini karena demikianlah seharusnya.
Selain itu, marilah kita jangan lupa bahwa kita selayaknya memberikan ketaatan kita pada otoritas yang tertinggi yaitu Allah. Karena anak-anak harus menghormati dengan rasa terima kasih kepada orang tua, maka manusia juga harus menghormati Allah. Kita harus melayani Dia dengan ucapan syukur untuk semua yang telah Dia lakukan bagi kita dengan jalan memberikan Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus. Jadi, marilah kita menghormati orang tua kita, sehingga kita akan panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan Allah kepada kita.
Bacaan Alkitab: Matius 5:21-22.
Ayat Hafalan:
"Jangan membunuh." Keluaran 20:13.
Peraturan keenam untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah adalah "Jangan membunuh." Keluaran 20:13. Perintah ini berarti menghormati jiwa manusia dan menentang pembunuhan dan kekejaman.
Lihatlah pada kata "membunuh." Kata itu adalah kata yang jelek yang mempunyai arti yang mengerikan. Alkitab mencatat pembunuhan yang pertama kali dilakukan oleh Kain terhadap adiknya Habel. Sejak saat itu, manusia melakukan perbuatan membunuh dan dibunuh karena keinginan-keinginan yang jahat dan dosa yang ada dalam hidup mereka. Asal mula pembunuhan dimulai dari hati manusia. Pembunuhan tidak pernah dimulai dengan niat membunuh, melainkan dimulai dengan benih kecemburuan, kepahitan, keinginan yang mementingkan diri sendiri, iri hati atau kebencian. Hasilnya adalah kehancuran tubuh dan dalam beberapa kejadian, juga kehancuran jiwa manusia.
Ada banyak tingkat pembunuhan yang dikenal masyarakat dan hukum. Ada pembunuhan berencana yang dihasilkan dari niat dalam hati, yaitu suatu sikap yang ingin melihat orang lain menderita. Ada pembunuhan yang tidak direncanakan, yaitu ketika seseorang balas dendam pada orang lain yang telah bersalah kepada mereka. Kadang- kadang pembunuhan semacam ini disebabkan oleh penghinaan, atau ketika seseorang sedang mabuk dan selanjutnya melakukan pembunuhan yang tiba-tiba tanpa berpikir atau merencanakan sebelumnya. Kemudian ada bunuh diri, yaitu menghilangkan nyawa sendiri. Ada juga pembunuhan bayi karena hati yang jahat. Apa pun bentuknya, Tuhan Yesus menentang segala macam pembunuhan. Dia mengatakan, "Sebab barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang." (Matius 26:52).
Alasan diberikannya Perintah Keenam yang berbunyi, "jangan membunuh" didasarkan pada kenyataan bahwa hidup adalah karunia dari Allah. Perintah ini diterapkan untuk nyawa manusia dan bukan binatang, mengapa? Karena kehidupan jiwa adalah kudus dalam pandangan Allah. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh membunuh binatang, burung atau ikan untuk dimanan. Tetapi lebih dari pada itu, kita tidak boleh mengambil nyawa seseorang. Hanya Allah yang bisa memberikan kehidupan, dan tak seorang pun yang berhak untuk menghancurkan hidup manusia. Allah menciptakan manusia menurut citra Allah dengan diberikan roh di dalamnya. Binatang tidak memiliki roh. Ketika seseorang membunuh orang lain, dia menghancurkan sesuatu yang seperti Allah. Ini adalah salah dalam pandangan Allah.
Dalam kotbah di bukit, Tuhan Yesus mengatakan, "Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya Kafir harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala." Matius 5:21-22.
Yesus mengatakan bahwa motivasi hati, pikiran dan sikap kita sangat penting karena hal-hal tersebut muncul dalam tindakan kita. Tuhan Yesus sudah melampaui tegasnya hukum yang tertulis itu dan mencapai inti dari hukum itu sendiri. Dia mengatakan kepada kita supaya jangan marah terhadap saudara kita (atau orang lain) karena kemarahan adalah merupakan benih yang dapat berubah menjadi pembunuhan jika kita tidak berhati-hati. Menurut pemikiran Tuhan Yesus, marah karena mementingkan diri sendiri adalah sikap yang salah. Jika seseorang marah kepada orang lain, perbedaannya dengan orang yang membunuh hanyalah dalam tingkat kejahatannya, tetapi pada dasarnya sama saja. Kemarahan itu sering berbahaya dan mungkin berubah menjadi mematikan. Satu bahaya kemarahan adalah hal itu cenderung mengeras dalam hati. Kita harus meninggalkan kebencian karena seseorang yang benci berpotensi untuk menjadi seorang pembunuh. Tuhan Yesus memberikan perhatian terhadap perasaan kita kepada sesama, "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul...pembunuhan..." Markus 7:21-22.
Kita perlu mengerti bahwa kita bisa membunuh seseorang dengan lebih banyak cara selain mengambil nyawanya secara langsung. Ada cara- cara lain untuk membunuh seseorang yang sama efektifnya adalah seperti memenggal kepalanya atau menembaknya. Menyebut seseorang tak berguna atau sering memperlakukan dia dengan buruk berarti membunuh kepribadiannya, meskipun tubuhnya sendiri tidak dirugikan. Kita bahkan harus berhati-hati untuk tidak "membunuh" sifat orang lain karena jika kita "membunuh" sifatnya, kita mungkin menghancurkan orang itu atau menyebabkan dia membunuh dirinya sendiri.
Perintah ini melarang tindakan lain yang mematikan, yaitu sikap tidak mempedulikan jiwa orang lain. Sikap ini mungkin merupakan dosa yang paling berbahaya bagi semua orang baik anggota gereja atau bukan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita hendaknya "Saling mengasihi" Yohanes 13:34. Jika kita melakukan hal itu, maka berarti kita juga melaksanakan perintah ini yaitu, "Jangan membunuh."
Bacaan Alkitab: Matius 5:27-32
Ayat Hafalan:
"Jangan berzina." Keluaran 20:14.
Peraturan Ketujuh untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah adalah "Jangan berzinah." Keluaran 20:14. Perintah ini berhubungan dengan kemurnian hati. Ini adalah suatu perintah yang menentang perzinaan dan kecemaran. Perintah ini diberikan Allah untuk menjaga rumah tangga dan keluarga.
Perintah Ketujuh ini bukan hanya melarang perzinaan, tetapi juga termasuk menghindari segala bentuk kecemaran; kumpul kebo (hubungan sex di luar pernikahan, khususnya antara pasangan yang belum menikah); serta semua buku, nyanyian, gambar jorok yang cenderung mengotori dan merendahkan pikiran dan tubuh adalah bertentangan dengan hukum Allah ini.
Perzinaan adalah dosa antara seorang laki-laki yang membuat hubungan cinta dengan istri orang lain saat suaminya sedang tidak di rumah. Hal itu juga berarti dosa dari seorang istri yang mempunyai seorang "teman" yang bukan suaminya. Berarti juga dosa dari seorang suami yang meninggalkan istri dan keluarganya karena mencari yang lain. Ini adalah dosa yang bertentangan dengan kemurnian pernikahan Kristen.
Seorang Kristen harus menjaga matanya untuk tidak melihat perbuatan -perbuatan, buku-buku atau gambar-gambar yang jorok. Seorang Kristen harus menjaga lidah dan telinganya dari pembicaraan yang kotor. Seorang Kristen harus menjaga pikirannya dari pikiran- pikiran yang kotor dan tubuhnya dari tindakan-tindakan yang kotor. Inilah aturannya: jika Anda tergelincir dalam dosa kedagingan, cepatlah bertobat, dan akan diampuni. Saat Anda diampuni, jauhkan hal itu dari pikiran Anda, dan janganlah mencoba untuk memikirkannya lagi. Kitab Amsal dalam Perjanjian Lama mengatakan, "Siapa yang melakukan zina tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri." Amsal 6:32.
Pada awal penciptaan manusia, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Ini berarti nafsu birahi adalah sesuatu yang menjadi bagian dalam hidup manusia (mempengaruhi seluruh tubuh, jiwa dan roh kita). Allah telah mengaruniakan hal itu untuk dapat digunakan secara benar. Allah juga telah merencanakan sejak semula bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk mendapatkan seorang istri. Mereka akan bersatu dalam suatu hubungan yang kudus untuk membentuk sosok manusia yang utuh. Merupakan bagian dari rencana Allah pula bahwa kita harus mengasihi dan menghormati pasangan kita. Benar bahwa banyak orang yang bukan Kristen memiliki kehidupan yang setara dengan kehidupan binatang. Namun, marilah kita ingat bahwa tingkat kehidupan binatang adalah untuk binatang dan bukan untuk manusia. Allah menciptakan manusia dengan tingkat kehidupan yang lebih tinggi daripada apa yang Dia ciptakan untuk binatang.
Pernikahan adalah merupakan hubungan yang kudus. Hukum Allah ini melindungi hak-hak suami dan istri dalam kehidupan pernikahan. Seperti perintah yang keenam "Jangan membunuh" maka perintah ini, yang berdasarkan pada kekudusan kepribadian manusia, menghendaki kita untuk mengasihi dan saling menghormati kepribadian orang lain.
Allah melarang perzinaan karena merugikan manusia. Allah mengasihi kita dan menghendaki kita memiliki dan menikmati hal-hal yang terbaik dalam hidup. Perzinaan meninggalkan perasaan bersalah, takut dan membawa pada ketidakbahagiaan, bahkan kadang-kadang membawa pada kematian itu sendiri. Seorang suami atau istri yang tidak setia berarti melakukan ketidakjujuran. Kita tidak bisa berbuat tidak jujur tanpa menyinggung orang lain.
Dalam Matius 5:27-32 Tuhan Yesus berbicara mengenai perintah ini, yaitu perintah yang diberikan kepada Musa dan bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama. Walaupun demikian, perintah ini masih dapat kita terapkan pada hari ini. Tuhan Yesus mengatakan bahwa cara kita berpikir dalam hati tentang orang lain mempengaruhi kita. Tak seorang pun yang dapat langsung menyerah pada pikiran-pikiran yang kotor tanpa ada perubahan secara emosi. Tuhan Yesus mengatakan bahwa hati yang penuh dengan hawa nafsu bersifat menghancurkan diri sendiri, Dia mencela sikap hati yang penuh dengan hawa nafsu karena adanya hubungan langsung antara perasaan dan tindakan. Niat hari ini mungkin menjadi tindakan pada hari esok.
Penulis Perjanjian Baru, Yakobus, menjelaskan pada kita bahwa kemurnian tindakan tergantung pada kemurnian pikiran. Yesus selalu mempedulikan motivasi dari seorang manusia. Pikiran-pikiran yang dipenuhi hawa nafsu mengurangi penghargaan akan sifat keilahian dan nilai dari manusia yang diciptakan menurut citra Allah. Karena perzinaan membawa kesengsaraan dan penderitaan pada banyak orang di mana-mana, Tuhan Yesus mendorong kita untuk mempunyai hati dan tindakan yang murni. Tuhan Yesus mengatakan, "Berbahagialah mereka yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah." Matius 5:8.
Jika Anda jatuh dalam dosa, ingatlah bahwa ada harapan bagi Anda, yaitu Tuhan Yesus, orang yang paling mengasihi Anda, mengatakan kepada orang yang telah jatuh: "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Yohanes 8:11. Paulus mengatakan, "Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging." Galatia 5:16. Allah mengasihi kita dan akan menolong kita agar dapat hidup kudus bagi-Nya hari lepas hari.
DOA
"Bapa, berikanlah aku hati untuk selalu menaruh hormat kepada orang tua setiap saat. Berikan pula kepadaku hati yang menghormati kehidupan orang lain. Apabila aku berpikir tentang seks, ajarkan aku untuk melihat bahwa seks adalah sesuatu yang kudus dari Engkau dan harus digunakan dengan benar. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-P05 |
DAFTAR ISI
PERINTAH KEDELAPAN
Ayat Hafalan
PERINTAH KESEMBILAN
Ayat Hafalan
PERINTAH KESEPULUH
Ayat Hafalan
DOA
A. PERINTAH KEDELAPAN
Ayat Hafalan:
"Jangan mencuri." Keluaran 20:15.
Perintah kedelapan untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah adalah "Jangan mencuri." (Keluaran 20:15). Perintah ini berhubungan dengan penghormatan akan hak milik orang lain dan juga berhubungan dengan kejujuran. Perintah ini juga mengajarkan kepada kita bahwa kita harus jujur terhadap diri kita dan kepada sesama kita.
Seseorang yang mengambil milik orang lain mengatakan, "Hanya orang tolol yang akan bekerja untuk hidup. Jika kamu pandai, kamu dapat mendapatkan apa yang kamu inginkan tanpa bekerja." Seorang pengambil barang milik orang lain mungkin seorang pencuri, pencopet, penjambret atau seorang pencuri mobil. Dia mungkin memakai nama orang lain, menjadi seorang majikan yang menipu karyawannya, membawa pistol dan merampok bank, atau mungkin dia merampok orang dengan kekerasan. Dia selalu berpikir bahwa dia pandai dan uang banyak bisa didapatkan tanpa bekerja. Seorang pencuri adalah seseorang yang membuat orang lain miskin untuk memperkaya dirinya sendiri. Para pencuri selalu bertindak yang tidak baik. Mereka mementingkan diri sendiri, tamak dan boros, dan mencuri selalu membawa kepada kebohongan, penipuan dan kekerasan. Biasanya akhir dari seorang pencuri adalah ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.
Manusia mencuri karena banyak alasan. Kadang-kadang manusia belajar mencuri karena dia lapar dan tidak ada seorang pun yang dia tahu dapat menolongnya. Tentu saja hal ini salah, tapi sungguh kasihan orang seperti itu. Kadang-kadang seseorang belajar mencuri karena teman-temannya mempengaruhinya. Banyak orang yang memutuskan untuk membantu dalam suatu perampokan karena dia lemah dan sia-sia atau malu untuk mengatakan tidak. Kadang-kadang seseorang cepat tergoda. Beberapa orang mencuri karena iri hati. Mereka tidak rela melihat orang lain berhasil atau lebih kaya dari mereka. "Mengapa dia memiliki mobil yang bagus dan aku hanya mempunyai sebuah sepeda? Padahal aku dan dia setara." Oleh karena itu kemudian dia mencuri. Namun, alasan yang paling umum untuk mencuri adalah hanya karena kemalasan saja. Mencuri kelihatannya sangat mudah. "Mengapa aku harus bekerja? Aku dapat bersenang-senang. Aku dapat berkeliling kota. Aku dapat minum-minum, bergaul dengan gadis-gadis yang cantik, memakai pakaian yang mahal-mahal." Kemudian orang tersebut mencuri dan masuk penjara.
Ada banyak cara untuk melanggar perintah ke delapan: upah yang tidak sesuai, pelayanan yang tidak memuaskan, pendapatan yang tidak jujur, kekejaman, pemerasan, dan penghancuran dari hak milik majikan. Hal- hal tersebut merupakan bentuk-bentuk pencurian yang sangat membahayakan masyarakat. Ada hubungan yang dekat antara manusia dengan miliknya. Pada jaman dahulu, hukuman untuk mencuri adalah mati. Dalam Perjanjian Lama, semua hak milik adalah merupakan karunia Tuhan, karena itu dikuduskan.
Mencuri berarti mengambil milik orang lain dan memberikannya kepada orang lain atau kepada diri sendiri. Mencuri adalah perbuatan dosa yang adalah salah di pandangan mata Allah, dan menuju ketamakan atau keserakahan, penghinaan dan ketidakhormatan kita kepada orang lain. Mencuri adalah suatu perbuatan yang menuju pada ketamakan atau keserakahan, keegoisan kita, kurangnya cinta kasih dan perhatian kita pada sesama. Bahkan menyontek di kelas adalah suatu bentuk pencurian. Beberapa orang mencuri dalam berbagai permainan atau pertandingan. Apakah gunanya Anda memenangkan pertandingan jika Anda tidak memenangkannya dengan adil?
Perintah ini menentang pencurian dan ketidakjujuran dalam bentuk apa pun. Kita melukai seseorang jika kita mencuri atau merusak nama baiknya. Jika kita berkata yang tidak benar tentang nama baik dan sifatnya, berarti kita melakukan sesuatu yang salah terhadapnya. Hal ini juga berarti mencuri di pandangan mata Allah. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa merampok semangat orang lain, seperti nama baiknya, yang akhirnya membuat hidupnya hancur. Semua ini termasuk larangan dalam perintah kedelapan, "Jangan mencuri."
Pencuri yang paling banyak dikenal dalam sejarah Kekristenan adalah Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid yang dipercaya Yesus sebagai bendahara. Yudas Iskariot menyimpan uang untuk keperluan pribadinya, yang sebenarnya harus dijaganya untuk Tuhan. Yudas tidak mengerti bahwa ukuran seorang manusia bukanlah dari apa yang dia miliki melainkan dari apa yang dilakukannya.
Apa yang Anda miliki di kantong mungkin akan habis, tapi apa yang Anda miliki di hati dan pikiranmu akan tetap tinggal di sana. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa lebih berguna untuk menyimpan harta kita di surga, "Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya" (Matius 6:20). Jika kita adalah seorang Kristen, tak ada seorang pun yang dapat mencuri keselamatan kita, bahkan setan pun tidak bisa melakukannya. Ini tidak berarti kita harus menjadi seorang Kristen KTP (hanya karena di KTP kita tertulis bahwa kita beragama Kristen maka kita disebut orang Kristen). Anda harus mempunyai hubungan yang pribadi dengan Kristus dalam hati Anda untuk bisa menjadi seorang Kristen yang sejati. Rasul Paulus mengatakan, "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri..." (Efesus 4:28). Jika kita telah mencuri, kita harus memberikan ganti rugi kepada orang yang barangnya kita curi dan minta maaf. Kita harus membuat segala sesuatu benar di mata Allah dan manusia.
Jika kita bijaksana, kita akan mentaati perintah Allah ini. Jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain adalah jalan menuju kebahagiaan yang sejati.
B. PERINTAH KESEMBILAN
Ayat Hafalan:
"Jangan mengucapkan saksi dusta" Keluaran 20:16
Peraturan kesembilan untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah adalah, "Jangan mengucapkan saksi dusta" Keluaran 20:16). Perintah ini ada hubungannnya dengan berkata benar. Dengan bahasa yang sederhana perintah ini mengatakan, berkatalah jujur kapan pun dan di mana pun Anda berada. Ini adalah perintah dalam hidup yang mendasari kebahagiaan dan kesehatan. Ini adalah perintah yang harus dilakukan dengan mengendalikan lidah kita. Perintah ini melindungi nama baik, sedangkan perintah kedelapan melindungi hak milik pribadi. Kenyataanya kebohongan cenderung melukai seseorang lebih dari perampokan. Memberikan kesaksian palsu adalah kejahatan bila kita berkata bohong di bawah sumpah di pengadilan hukum. Hal ini termasuk juga berbisik- bisik untuk sesuatu yang jahat, memberikan cerita burung, rayuan gombal, kebenaran yang disembunyikan sebagian, pernyataan yang dilebih-lebihkan dan kepura-puraan, menghakimi atau menuduh orang lain, serta motivasi yang jahat dan kebohongan. Segala bentuk kebohongan yang cenderung untuk mengganggu atau menyinggung hak milik seseorang, kepribadian atau sifatnya bertentangan dengan isi hukum ini. Kita juga melanggar hukum ini jika kita menahan kebenaran yang membuat seseorang kehilangan hak milik atau nama baik. Arti sebenarnya dari perintah ini adalah mengatakan hal-hal yang tidak benar dalam bentuk apa pun juga. Allah menegaskannya dengan mengatakan JANGANLAH!
Bacalah Kejadian 3. Kita mungkin menanyakan pertanyaan berikut ini kepada diri kita sendiri, "Apakah sumber dari segala dusta?" Alkitab menceritakan kepada kita bahwa untuk mengetahui cerita mengenai kebohongan kita harus melihat kembali ke Taman Eden. Allah mengatakan supaya jangan makan buah yang dilarang-Nya, sebab pada waktu memakannya, "Pastilah engkau mati" (Kejadian 2:17). Tetapi Setan, dalam bentuk ular, berkata kepada Hawa, "Engkau tidak akan mati" (Kejadian 3:4). Dalam hal ini, Setan telah memutarbalikkan kebenaran firman Allah, dia adalah pendusta besar. Ketika Hawa percaya pada kebohongan Setan lebih daripada kebenaran Allah, maka dosa yang pertama telah masuk ke dalam dunia. Sejak saat itu akibat-akibat dusta yang mengerikan ada bersama dengan kita.
Setan adalah sumber dari semua dusta dan karena itulah maka dia disebut "Bapa segala pendusta" (Yohanes 8:44). Nama-nama yang diberikan dalam Alkitab untuk setan menggambarkan sifatnya sebagai seorang pembohong. Dia adalah pemimpin dari semua pembohong. Mempercayai kebohongan Setan dari pada kebenaran Allah adalah hal utama yang membawa seseorang menuju penghancuran dan hukuman yang kekal di neraka. Manusia mati dan menghadapi hukuman yang kekal di neraka karena mereka telah percaya kepada orang yang salah, yaitu Setan. Allah mengatakan "Sebab upah dosa adalah maut...." (Roma 6:23), tetapi manusia mengatakan bahwa Allah adalah seorang pembohong. Manusia telah memilih untuk percaya Setan daripada percaya kepada Allah. Bagi manusia tidak ada harapan kecuali mengakui bahwa hal itu adalah dusta dan berbalik kepada Kristus yang dapat mengubah hatinya yang dusta.
Ada banyak alasan mengapa orang berkata dusta. Beberapa orang berkata dusta untuk melarikan diri dari kebenaran. Beberapa manusia berdusta karena secara alamiah mereka memang seperti itu. Para pendusta menunjukkan sifat yang mereka miliki dan juga sifat bapak mereka (yaitu setan). Beberapa orang berbohong karena bentuk yang salah dari mengasihi diri sendiri. Mereka berusaha untuk menempatkan diri mereka dalam posisi sebaik mungkin sementara meletakkan orang lain dalam posisi seburuk mungkin. Beberapa orang berbohong karena sombong. Mereka terlalu sombong jika mengatakan kebenaran. Kesombongan memisahkan manusia dari Allah sejak awalnya. Kristus datang untuk memulihkan kerendahan hati. Beberapa orang berdusta supaya kelihatan berbeda, mendapat perhatian, mendapat simpati atau bergurau. Beberapa orang berdusta karena tidak tahu bagaimana mengatakan kebenaran. Jika seandainya mereka pernah tahu bagaimana mengatakan kebenaran, mereka telah lupa hal itu. Beberapa orang berdusta karena itulah jalan keluar yang termudah. Telah disebutkan bahwa seseorang berdusta untuk melarikan diri dari hukuman manusia yang bersifat sementara, namun harus menghadapi penghakiman Allah yang kekal.
Ada banyak cara untuk berkata dusta. Bohong yang sederhana adalah yang biasa dikatakan anak-anak. Meskipun mereka tidak mengatakan kebenaran, mereka tidak berniat untuk menyebabkan kerugian yang serius. Banyak orang berbohong dengan hanya mengatakan sebagian kebenaran. Beberapa orang berdusta dengan pernyataan yang berlebihan, dengan mengatakan kebenaran lebih dari yang sebenarnya. Kebenaran yang setengah-setengah adalah kebenaran yang disembunyikan, sementara pernyataan yang berlebihan adalah kebenaran yang dilebih-lebihkan. Semuanya berbahaya dan memiliki kadar dusta yang sama. Cara lain untuk berdusta adalah memberikan kesaksian palsu di pengadilan. Gosip yang merugikan adalah cara lain melanggar perintah ini. Memberikan cerita burung dan berbisik- bisik untuk niat yang tidak baik terhadap orang lain melanggar perintah ini. Cara lain dalam memberikan kesaksian yang palsu adalah dengan merayu. Bentuk lain dari dusta adalah mengatakan satu hal tetapi melakukan yang lain. Salah satu bentuk dusta yang paling berbahaya adalah menunjuk pada sesuatu yang tidak benar, meskipun orang itu tidak secara langsung menyatakannya. Kita bisa berbohong dengan tidak mengatakan apa pun juga sementara kita sebenarnya dapat mengatakannya. Ketika kita mendengar gosip dan mengetahui bahwa itu adalah dusta dan kita tetap diam, berarti kita telah memberikan kesaksian palsu.
Berdusta adalah merupakan hal yang serius karena hal ini mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Berbohong itu seperti memukul seseorang dari belakang (mengatakan sesuatu tentang seseorang tanpa diketahui oleh orang tersebut karena tidak berani berhadapan muka) dan juga seperti memfitnah. Berdusta menuju pada ketamakan atau keserakahan roh yang tidak memiliki kasih sama sekali. Kasih tidak memberikan tempat untuk kejahatan. Seseorang pernah berkata, "Satu-satunya pengobatan untuk roh yang sudah kritis adalah kasih dalam dosis yang besar." Dusta juga menimbulkan masalah, kepahitan, dan sakit hati. Kita kehilangan hormat terhadap orang yang melakukan dusta. Dusta adalah suatu hal yang serius karena menghancurkan dasar dari kehidupan yang sehat dan bahagia. Dusta juga menghancurkan rumah tangga dan nilai-nilai kerohanian. Dan yang paling penting, dusta ialah suatu hal yang serius karena mempengaruhi hubungan kita, tidak hanya dengan manusia, tetapi juga dengan Tuhan. Allah mengecam dusta. Dia menggolongkan para pendusta dengan para pembunuh, pezinah, tukang sihir dan bahkan penyembah berhala.
"Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang- orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." (Wahyu 21:8).
Dusta membawa manusia jauh dari Allah dan menuju neraka dan penghukuman yang kekal. Hal utama yang dihasilkan oleh dusta adalah memisahkan kita dari Allah.
Jadi perintah ini secara positif mengatakan, "Katakanlah kebenaran setiap waktu jika kamu ingin bahagia dan menolong sesama." Kita akan mengatakan kebenaran dengan roh yang mengasihi. Orang-orang Kristen harus mengatakan kebenaran karena Yesus mengatakan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup...." (Yohanes 14:6). Seorang Kristen seharusnya menjadi seperti Kristus. Allah tertarik pada sifat dan dasar yang paling utama yaitu kebenaran.
C. PERINTAH KESEPULUH
Ayat Hafalan:
"Jangan mengingini..." Keluaran 20:17.
Peraturan kesepuluh untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah adalah, "Jangan mengingini..." Keluaran 20:17. Ini adalah perintah terakhir yang diberikan Allah di Gunung Sinai. Perintah yang kesepuluh ini merupakan kesimpulan dari kesembilan perintah sebelumnya. Walaupun demikian, perintah terakhir ini berbeda dengan perintah-perintah yang lain. Perintah-perintah yang lain dihubungkan dengan tindakan-tindakan yang nampak. Perintah yang kesepuluh berhubungan dengan keinginan. Perintah yang lain melarang tindakan dosa. Perintah ini melarang keinginan dosa. Jika kita bisa memegang perintah ini dengan sempurna, dan jika kita bisa menjaga keinginan kita supaya murni dan baik, maka tidak akan terlalu sulit untuk memegang perintah-perintah yang lainnya. Mementingkan diri sendiri adalah akar dari segala dosa. Ketamakan adalah keengganan untuk percaya kepada Tuhan. Ketamakan adalah juga tindakan tanpa iman. Kesombongan diungkapkan melalui ketamakan dan kedengkian, yang ada dalam sikap hati manusia. Perintah ini menunjuk pada sifat dan kedengkian manusia. "Janganlah iri hati." itulah sebenarnya isi dari perintah Tuhan yang kesepuluh. Di samping perintah yang pertama, perintah yang kesepuluh adalah perintah yang paling penting dari semuanya. Perintah yang pertama berhubungan dengan ilah-ilah yang lain. Perintah Kesepuluh berhubungan dengan keinginan akan hal-hal yang bertentangan dengan hukum yang dapat menghilangkan posisi Allah dalam kehidupan seseorang. Paulus mengatakan bahwa keserakahan adalah sama dengan penyembahan berhala.
Kata "Tamak atau Serakah" berarti menghendaki atau menginginkan sesuatu. Tamak atau serakah juga berarti memiliki keinginan yang bertentangan dengan hukum untuk memiliki sesuatu. Ada banyak keinginan semacam ini.
Pelajarilah contoh-contoh berikut mengapa Allah berfirman kepada kita supaya tidak tamak atau serakah.
Kita dapat menolong diri kita sendiri untuk mengalahkan ketamakan atau keserakahan dengan menolak untuk memperhatikan hal-hal yang dilarang Allah. Sangat baik untuk tidak melihat dengan keinginan untuk memiliki pada apa yang Anda tidak bisa miliki. Dengan pertolongan Tuhan, hal ini sangatlah mungkin. Alihkan perhatian Anda dari apa yang sudah dilarang Allah, dan perhatikanlah apa yang Dia ijinkan.
Ingatlah bahwa ketamakan atau keserakahan adalah suatu hal yang berasal dari dalam hati. Kita perlu untuk benar dihadapan Allah mulai dari dalam hati. Kita harus menyerahkan diri kita kepada Yesus Kristus. Kita harus tiba di tempat dalam hati kita yang mengatakan, "Bukan kehendak ketamakan atau keserakahan melainkan kehendak-Mu (Tuhan) yang terjadi." Puas dengan apa yang kita miliki adalah kebalikan dari ketamakan atau keserakahan.
Mengenai ketamakan atau keserakahan, Tuhan Yesus mengatakan, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada hartanya" (Lukas 12:15). Dua kali Rasul Paulus mengatakan pada kita bahwa ketamakan atau keserakahan adalah suatu bentuk dari penyembahan berhala. Yakobus menyatakan bahwa orang yang tamak, yang menempatkan dunia menjadi nomor satu adalah merupakan kebencian bagi Tuhan. "Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah" (Yakobus 4:4). Paulus mengatakan, "tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah -- artinya penyembah berhala -- yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah" (Efesus 5:5).
Rahasia hidup adalah bukan mendapatkan melainkan memberi. Bukan apa yang kita dapatkan melainkan apa yang kita berikan itulah yang akan diperhitungkan. Seseorang dengan roh yang puas atau dengan apa yang ada padanya adalah seorang yang sungguh beruntung. Inilah jawaban dari masalah ketamakan atau keserakahan. Jika seseorang memiliki roh yang puas, ada suatu kekuatan dari dalam yang lebih besar daripada segala materi yang ada di luar tubuh.
DOA
"Bapa berikan aku kemampuan untuk dapat selalu mengatakan yang benar kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun aku berada. Serta ajarkanku untuk memiliki sikap hidup yang selalu merasa cukup dengan apa yang ada padaku, sehingga aku tidak mengingini atau bahkan mengambil milik orang lain. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum yang Terutama |
| Kode Pelajaran | : | SHA-P06 |
DAFTAR ISI
BACAAN ALKITAB
AYAT HAFALAN
DOA
Bacaan Alkitab: Matius 22:34-40.
Ayat Hafalan:
"Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." Matius 22:37.
Kita sekarang sudah menyelesaikan pelajaran kita tentang Sepuluh Perintah Allah, atau yang sudah kita sebut sebagai Sepuluh Hukum Allah untuk Kehidupan Manusia. Peraturan-peraturan untuk kebahagiaan manusia ini diberikan 1,300 tahun sebelum kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Sekarang marilah alihkan perhatian kita pada Perjanjian Baru dan melihat apa yang Tuhan kita katakan tentang perintah yang terbesar ini.
Dari pembacaan kita dalam Matius 22:34-40, ada seorang ahli hukum Taurat atau orang Farisi yang baru saja bertanya kepada Tuhan Yesus dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya tidak diberikan dengan ketulusan hati. Dia bertanya hanya untuk mengukur pengetahuan Tuhan Yesus dan bukan untuk mencari tahu bagi dirinya sendiri. Orang-orang Yahudi adalah masyarakat yang mempunyai banyak peraturan. Ada ratusan peraturan dalam kehidupan mereka. Di samping Sepuluh Perintah Allah, ada lebih dari 600 peraturan lain yang harus ditaati oleh masyarakat Yahudi. Allah memberikan Sepuluh Perintah, tetapi manusia membuat sebagian besar perintah-perintah yang lain. Ahli Taurat ini menanyakan suatu pertanyaan yang pasti membingungkan setiap orang yang memperhatikan perintah-perintah tersebut dengan sungguh-sungguh. Dia menanyakan perintah mana yang paling penting dan paling mendasar. Untuk pertanyaan yang ditanyakan dengan tidak tulus ini, Tuhan Yesus memberikan jawaban yang tulus. Apakah jawaban-Nya? Kasihlah jawaban- Nya, kasih untuk Allah dan kasih untuk manusia. Kedua perintah ini adalah seperti hubungan mata rantai yang pertama dan yang terakhir. Segala sesuatu diantaranya adalah bergantung pada dua mata rantai ini. Agama yang sejati dimulai dan diakhiri pada kasih kepada Tuhan dan kepada sesama. Kasihilah Tuhan dan sesamamu. Inilah yang dikatakan Tuhan Yesus.
Perintah untuk mengasihi Tuhan Allah dan manusia ini sebenarnya bukanlah dua peraturan melainkan satu. Kasih bagi Tuhan Allah dan kasih bagi sesama manusia adalah dua bagian dari satu keutuhan. Secara "alamiah" kedua perintah tersebut saling berkaitan. Jika kita adalah seorang yang bijaksana, kita akan memberikan penekanan pada kedua perintah tersebut.
Iman dalam Tuhan Allah adalah penting jika kita berharap untuk menghargai sesama kita. Tidak akan ada kasih terhadap Tuhan tanpa kasih terhadap sesama. Menurut Rasul Yohanes "Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya" (1Yohanes 4:20).
Tuhan Yesus memberikan satu ujian yang jelas dalam pemuridan. Dia menunjukkan bahwa pemuridan bukan sekedar mengucapkan syahadat (apa yang kita ucapkan itulah yang kita percayai). Hal ini bukan masalah denominasi atau kehadiran dalam kebaktian di gereja. Hal ini jauh melebihi hal-hal tersebut. Tuhan Yesus menyatakan "Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:35). Tanda yang nyata dari orang-orang Kristen yang mula-mula adalah mereka saling mengasihi. Hal itu masih menjadi tanda bagi orang-orang Kristen.
Karena itu, ada satu perintah yang penting dalam kehidupan manusia. Yaitu mengasihi Tuhan dengan hati yang tidak terbagi-bagi, dan mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri kita sendiri.
Apa maksud mengasihi Tuhan Allah? Mengasihi Tuhan Allah berarti mentaati Dia. "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku." (Yohanes 14:21). Mengasihi Tuhan Allah adalah masuk dalam hubungan sahabat dengan Dia. "Kamu adalah sahabat- Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu" (Yohanes 15:14). Persahabatan memiliki dua sisi. Jika memang Allah adalah sahabat kita, berarti apa yang menarik bagi Dia adalah juga yang menarik bagi kita. Segala sesuatu yang saya lakukan harus memperhatikan dia. Dia tertarik pada semua bagian hidup kita. Ini nyata karena Dia adalah sahabat kita. Jika kita hendak memiliki persahabatan yang sejati, maka Allah dan kita akan memiliki selera yang sama. Dia tertarik pada gereja kita. Karena itu, kita harus tertarik juga pada banyak orang yang di luar gereja (karena milik Allah). Saya mungkin memulai sebagai seorang murid dengan rasa tertarik yang sedikit. Tetapi, jika saya akan menjadi sahabat Allah sepenuhnya, saya seharusnya mempedulikan semua orang di dunia seperti Allah mempedulikan mereka. Tujuan Allah harus menjadi tujuan saya. Mengasihi Allah, adalah berarti mentaati Dia dan setia pada-Nya. Saya akan menjadikan rencana dan maksud-Nya bagi dunia sebagai rencana dan maksud saya juga.
Apakah artinya mengasihi sesama? Mengasihi sesama manusia, dalam pandangan Kristen, bukan berarti kita menikmati rasa persahabatan pada seseorang sama seperti kepada yang lain. Kita harus adil, tidak pilih kasih, dengan mengesampingkan kesukaan dan ketidaksukaan kita. Mengasihi menurut pandangan Kristen adalah memiliki maksud yang baik terhadap sesama manusia. Kasih itu bersifat aktif. Rasul Paulus menggambarkan kasih dengan cara seperti ini, "Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1 Korintus 13:4-7).
Jika Anda tidak melakukan sesuatu dengan kasih, tak satu pun yang Anda lakukan menjadi sesuatu hal yang penting. Kasih memberikan nilai bahkan terhadap hal terkecil yang kita lakukan. Bahkan memberikan secangkir air dingin dapat menjadi sesuatu yang tak ternilai. Berjabatan tangan atau senyuman sering kali menjadi lebih berharga daripada emas. Tuhan Yesus menceritakan tentang seorang janda yang memberikan persembahan sangat sedikit dan bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Tetapi, karena dia memberikan persembahan itu dari hatinya yang mengasihi Allah, Tuhan Yesus sangat bersukacita. Dan apa yang dikatakan Tuhan Yesus tentang Janda ini? Ia mengatakan bahwa janda itu telah memberikan lebih banyak jika dibandingkan dengan yang lainnya. Hal yang terkecil sekalipun dapat menjadi bernilai jika dilakukan dengan kasih dan ikhlas.
Kasih penting karena kasih menggenapi hukum. Rasul Paulus mengatakan bahwa kasih tidak melakukan hal yang buruk kepada sesama. Jika kita mengasihi sesama, kita tidak akan memberikan kesaksian yang dusta tentang mereka. Jika kita mengasihi mereka, kita tidak akan mengambil keuntungan dari mereka. Kita tidak akan mencuri dari mereka, baik itu menurut hukum atau tidak. Jika kita mengasihi, kita tidak akan membunuh. Kasih membangun tembok pertahanan di sekeliling setiap manusia. Jika kita mengasihi sesama kita, kita tidak akan dengan sengaja merugikan mereka dengan cara apa pun juga.
Kasih menggenapi hukum dengan cara tidak melakukan hal yang merugikan, tetapi juga menggenapi hukum dengan melakukan segala kemungkinan yang baik. Kasih akan melakukan hal-hal yang besar jika mungkin. Jika tidak mungkin, maka kasih akan melakukan hal-hal yang kecil. Kasih akan menghiasi sebuah istana jika ada kesempatan. Jika tidak, kasih tetap akan mengubah rumah yang kecil menjadi indah.
Kasih penting karena merupakan kekuatan yang paling besar di bumi. Kasih membawa manusia dalam misi yang paling berani dan penuh perjuangan. Kasih membuat seseorang tetap di tempat tugasnya sementara orang lain tidak mau. Kasih bahkan memiliki kuasa mengubah keacuhan menjadi persahabatan. Kasih memiliki kuasa untuk mengatasi kebencian. Inilah kuasa yang paling luar biasa di seluruh dunia.
Bagaimana kita seharusnya memegang perintah Allah yang pertama dan yang terbesar ini? Ada empat hal yang dapat kita lakukan:
Yesus percaya bahwa kuasa kasih akan mengubahkan manusia. Yesus mengetahui bahwa kemenangan akhir adalah dalam kasih dan bukan dalam kebencian.
Ketika seseorang yakin akan kasih dari seorang temannya, kenyataan itu membuat kasihnya sendiri secara spontan muncul. "Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yohanes 4:19). Paulus berkata bahwa Yesus Anak Allah, "...yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:20).
Kadang-kadang sulit untuk mengungkapkan kasih. Kita memiliki kasih dalam hati, tetapi karena suatu alasan, sulit untuk memberitakannya kepada orang lain. Mungkin kasih kita kecil pada awalnya, tetapi ketika kita mengungkapkannya, kasih itu menjadi semakin bertumbuh. Kita secara alamiah mengasihi mereka yang telah menolong kita, yang menghiburkan kita dalam kesengsaraan kita dan menolong memenuhi kebutuhan kita. Ada sesuatu mengenai kehidupan yang penuh pengorbanan bagi orang lain dan membuat orang tersebut sangat kita sayangi. Hal ini adalah seperti ibu yang biasanya mengasihi anaknya sehingga dia membuat pengorbanan yang besar dan yang terbaik. Hal itu juga merupakan satu alasan mengapa lebih diberkati memberi daripada menerima. Ungkapkan kasih yang Anda miliki dan kasih itu akan bertumbuh.
Jika Anda menerima Kristus sebagai Juruselamat Anda, secara otomatis Anda menerima kasih Allah Bapa. Anda akan menemukan kasih dan ingin membagikan kasih itu kepada mereka yang tidak mengenal Dia.
Jika Anda melakukan apa yang tertulis dalam Hukum yang Terutama, maka akan mudah untuk memegang Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada kita semua ratusan tahun yang lalu.
DOA
"Bapa berikan aku kemampuan untuk dapat selalu memberikan kasih yang sejati kepada Engkau, dengan selalu taat kepada setiap perintah-Mu, juga kemampuan untuk dapat memberikan kasih yang sejati kepada sesama, sehingga dengan demikian aku dapat menjalankan Sepuluh Perintah yang Engkau berikan untuk kebahagiaan hidup kami sebagai manusia. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pelajaran 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Sepuluh Perintah Yang Diberikan |
| Kode Pelajaran | : | SHA-T01 |
INSTRUKSI
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
PERTANYAAN (A):
PERTANYAAN (B):
Pelajaran 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Pertama dan Kedua |
| Kode Pelajaran | : | SHA-T02 |
INSTRUKSI
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
PERTANYAAN (A):
PERTANYAAN (B):
Pelajaran 03 | Referensi 03a | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Ketiga dan Keempat |
| Kode Pelajaran | : | SHA-T03 |
INSTRUKSI
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
PERTANYAAN (A):
PERTANYAAN (B): ---------------
Pelajaran 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Kelima, Keenam dan Ketujuh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-T04 |
INSTRUKSI
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
PERTANYAAN (A):
PERTANYAAN (B):
Pelajaran 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Perintah Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-T05 |
INSTRUKSI
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
PERTANYAAN (A):
PERTANYAAN (B):
Pelajaran 06 | Referensi 06a | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum yang Terutama |
| Kode Pelajaran | : | SHA-T06 |
INSTRUKSI
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
PERTANYAAN (A):
PERTANYAAN (B):
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Sepuluh Perintah yang Diberikan |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R01a |
Referensi SHA-01a diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z |
| Judul Artikel | : | Taurat |
| Penyunting | : | J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 451 - 452, 453 - 454 |
Asal usul Kata Tora (Taurat)
Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan tora (bahasa Ibrani) dan nomos (bahasa Yunani), yang masing-masing muncul kr 200 kali, dengan 'hukum Taurat', 'hukum' saja, atau 'Taurat' saja.
Ada perbedaan pendapat yang luas tentang asal usul kata tora, tapi dapat dipastikan ada kaitannya dengan kata kerja hora yang berarti memimpin, mengajar, mendidik dan dibanyak tempat dapat diterjemahkan dengan 'pengajaran', misal dalam Yes. 1:10 dan Hag 2:11-13.
Asal usul Tora
Ajaran seperti itu diberikan oleh para bapak, atau orang bijaksana yang menyapa murid-muridnya dengan sebutan 'anak' (Ams 3:1; 6:23; 7:2; 13:14), atau oleh para ibu (Ams 1:8; 6:20; 31:26). Kata-kata yang sejajar adalah mutsar, 'petunjuk'; khokhma, 'kebijaksanaan'; dan khususnya mitswa, 'perintah'. Tapi kebanyakan pengajaran itu berasal bukan dari manusia, melainkan dari Allah. Tora tidak pernah digunakan bila menggambarkan komunikasi langsung antara Allah dan manusia. Sebab itu dalam cerita Kejadian tidak banyak dijumpai (kecuali Kej 26:5 saja). Tora diberikan oleh Allah, tapi melalui perantara-perantara manusia seperti Musa, para imam, para nabi atau hamba Tuhan (Yes 42:4).
Sejak permulaan istilah tora digunakan untuk menggambarkan ajaran mengenai suatu hal, keputusan-keputusan yang diambil untuk memecahkan soal yang musykil. Contoh yang baik ditemukan dalam Hag 2:11-13, dimana ditanyakan keputusan para imam mengenai soal ketahiran. Keputusan para imam, petunjuk mereka bagi tingkah laku umat disebut tora, 'ajaran'.
Tugas untuk memberi petunjuk-petunjuk macam itu dipercayakan kepada para imam oleh Allah (Mal 2:6-7), dan oleh sebab itu keputusan- keputusan mereka mempunyai kekuatan ilahi. Keputusan-keputusan yang penting berlaku lebih lama daripada peristiwa yang menjadi sebab lahirnya keputusan itu. Keputusan-keputusan itu dipelihara oleh umat yang hidupnya dikuasai oleh keputusan tersebut. Tradisi lisan pada akhirnya mengumpulkan keputusan-keputusan tersebut menjadi kesimpulan ajaran yang diperkenalkan oleh para imam, yang bukan hanya menjadi perantara dari keputusan-keputusan ilahi itu, tapi mereka juga menjadi penerus keputusan-keputusan tersebut kepada angkatan berikutnya.
Pada waktunya kumpulan-kumpulan torot itu dituliskan. Himpunan petunjuk untuk upacara-upacara keagamaan atau hal-hal lain, juga disebut sebuah tora, sering dalam bentuk tunggal, walaupun bentuk jamak juga dijumpai. Tora yang tertulis seperti itu dijaga oleh para imam di tempat kudus (Ul 31:24-26). Pada akhir perkembangan ini segenap Pentateukh (lima Kitab Musa) atau bahkan seluruh PL dikutip sebagai 'tora itu'. Jadi ajaran ilahi adalah bagian dari tugas imam-imam, tapi sementara memberikan ajaran ilahi para imam juga menunaikan tugas nabi, karena kekuasaan dari tora mereka bersandar pada wahyu. Jadi para nabi sering juga memberikan tora (Yes 1:10; 8:16, 20; 30:9-10). Ini tidak berarti bahwa sebelum nabi-nabi abad 8 sM bersuara, tidak ada tora; Hos. 8:12 secara jelas menyebut himpunan torot yang tertulis.
Pada umumnya kita dapat mengatakan bahwa teguran-teguran para nabi bagi pendengarnya yang mula-mula, tiada nilainya bila sebelumnya tidak ada tora yang diketahui dengan baik maupun diterima umum kekuatannya. Sama seperti nabi-nabi menyampaikan pemberitaan mereka dalam bentuk puitis berirama, ajaran ilahi nampaknya sering mempunyai kerangka puitis yang tetap, yang pasti dianjurkan untuk lebih mudah diingat orang. Dalam Kel 21:12 dab sebagai contoh, ada sederetan ayat yang masing-masing terdiri atas 3-2 tekanan metris, dan semuanya berakhir dengan 'pastilah ia dihukum mati'. Dengan cara yang sama kita baca dalam Ul 27:15 dan ayat berikutnya dua belas baris, masing-masing dengan empat tekanan, dan semua dimulai dengan 'Terkutuklah orang yang ...' Dasa Titah dan pasangan- pasangannya di bagian kitab lainnya (Kel 20:l-17; Ul 5:6-21; Kel 34:1-26) menunjukkan bentuk yang lebih berkembang, di mana pertimbangan-pertimbangan metris tidak lagi memainkan peranan penting.
Tora dalam Kehidupan Israel
Pengaruh tora dalam hidup bangsa Israel banyak sekali, kendati penulis-penulis pada waktu itu mengeluh bahwa tora diabaikan. Telah disinggung bahwa nubuat di Israel mengandaikan adanya tora dalam bentuk lisan atau tertulis (bnd. Mi 6:8; Hos 4:2; Yer 7:9). Kitab- kitab seperti Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja menyajikan sejarah Israel dari sudut pandang tora, sambil menunjukkan bahwa waktu- waktu ketaatan kepada Allah adalah waktu-waktu kelimpahan kebendaan maupun kerohanian, sementara bila tora diabaikan maka tibalah bencana menimpa Israel. Mazmur 1, 19 dan 119 memuliakan tora sebagai anugerah Allah yang terbesar. Bahkan dalam Amsal, seperti telah kita lihat tora sering diberi arti pengajaran manusia, hukum ilahi dipuji sebagai permulaan segala hikmat dan kebahagiaan (lih. Amsal 28:4,7, 9; 28:18). Penetapan Pentateukh pada akhirnya sebagai buku pegangan dasar dari semua tora, bertepatan dengan hilangnya semangat kenabian, menyebabkan bangkitnya kelompok pimpinan kerohanian baru. yaitu 'ahli-ahli Taurat', dan Ezra merupakan teladan pertama (Ezr 7:6; Neh 8:1-8). Bersamaan dengan pekerjaan mereka, pusat-pusat kerohanian Israel bergeser dari Bait Allah ke tempat-tempat ibadah. Bagi bangsa yang terserak-serak di kemudian hari, tora terbukti lebih penting dari ibadah korban di Yerusalem. Tora diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di wilayah-wilayah dan negara-negara di mana orang Yahudi tinggal. Penerjemahan istilah tora ke dalam Yunani nomos sering dikritik, dan kritik ini sering cukup kuat alasannya, sebabnya ialah karena tora itu mempunyai makna yang lebih luas dan lebih dalam. Khususnya tora mencakupi (nomos tidak) Allah yang hidup dan maha kasih sebagai Pemberi pengajaran ini. Tapi orang tidak boleh lupa, bahwa Septuaginta dalam hubungan ini didahului bagian-bagian dari Kitab Ezra yang berbahasa Aram, dimana tora diterjemahkan dengan kata Aram (aslinya bahasa Persia) dan seterusnya; dalam Ezr. 7:26 dan seterusnya digunakan baik dengan arti hukum negara Persia dan juga dengan arti tora ilahi. Namun, benarlah bahwa dengan cara demikian langkah- langkah permulaan telah diambil, yang pada akhirnya bertumbuh ke arah konsepsi tora yang legalistik saja, seperti yang kemudian dijumpai di lingkungan kelompok-kelompok Yahudi pada zaman PB. Dalam konsepsi ini Tuhan yang hidup dan penuh kasih telah menghilang di belakang pasal-pasal hukum ataupun tafsiran-tafsiran mengenai hukum itu. Mengenai nomos (Hukum, Taurat) dalam PB.
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Sepuluh Perintah yang Diberikan |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R01b |
Referensi SHA-01b diambil dari:
| Judul Buku | : | Menggali Isi Alkitab 1 |
| Judul Artikel | : | Kitab Keluaran |
| Pengarang | : | J. Sidlow Baxter |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 2001 |
| Halaman | : | 83 - 92 |
Bacalah 3 kali Kel 19-24.
BAGIAN II: HUKUM TAURAT (19-24)
Bagian ini menceritakan tentang pemberian hukum Taurat dan pengikatan Perjanjian Musa. Hukum Taurat terdiri dari 3 bagian: KESEPULUH PERINTAH, hukum Perdata, dan Syariat.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat untuk dapat mengerti dengan baik maksud pemberian hukum Taurat, yang menandai hubungan baru antara Allah dan bangsa Israel, dan yang dinamakan Perjanjian Musa.
Pertama-tama harus dicatat, bahwa Perjanjian Musa itu sebenarnya bukanlah perjanjian baru, melainkan perkembangan dalam dan dari Perjanjian Abraham. Pokok perjanjian yang diberikan kepada Israel di Gunung Sinai dikemukakan sbb.
"Kamu sendiri telah melihat apa yang Kukatakan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus." (19:4-6).
Apakah yang dimaksud dengan 'Perjanjian-Ku'? Hal itu disebutkan di sini tanpa penjelasan, sebagai sesuatu yang bangsa Israel sudah dianggap mengetahuinya. Kita hanya dapat mengetahuinya, dengan cara kembali kepada ayat-ayat terdahulu di mana terdapat perkataan 'perjanjian'. Ini kita temui dalam Keluaran dua kali: 2:24 -- "Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub" dan 6:3- 4, -- "Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan .... Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku".
Dalam kedua bagian firman ini kata 'ingat' menunjuk kepada Perjanjian Abraham, dan istimewa kepada Kejadian 15 dan 17, yang menerangkan hal METERAI (15:17-18) dan TANDA (17:10) akan Perjanjian Abraham itu. Antara Kejadian 17 dan Keluaran 2:24 tidak terdapat sebutan tentang sesuatu perjanjian lain. Sebab itu tak dapat keliru lagi bahwa apabila Allah berfirman kepada Israel di Gunung Sinai memelihara perjanjian-Ku' maka ini berkenaan dengan Perjanjian Abraham.
Pemberian hukum Taurat di Sinai dan pembentukan Perjanjian Musa itu sering menimbulkan salah paham, karena orang tidak menangkap hubungannya dengan Perjanjian Abraham. Ada dua fakta asasi yang amat penting harus kita sadari sekitar Perjanjian Abraham.
Tatkala Perjanjian Sinai diiringi perintah memelihara Perjanjian, maka pemberian hukum Taurat maksudnya bukan untuk mengubah dasar iman menjadi dasar amal. Karena mengenal hati manusia berdosa, maka Allah menyuruh Israel menjalankan hukum kesusilaan tidak dengan maksud untuk menjadikan TAURAT sebagai dasar yang baru bagi perdamaian dengan Allah. Bergandengan dengan Kesepuluh Perintah yang merupakan pengluasan Perjanjian Abraham, Allah memberikan syariat yang menunjuk kepada penebusan Kristus, dan memperlihatkan dasar penerimaan yang sebenarnya, yaitu perdamaian atas dasar iman. Kanaan harus diduduki, dan umat Israel masih akan diberkati, keduanya atas dasar perjanjian dan iman.
Mengapa Perjanjian Musa membawa bangsa Israel kepada 'kutuk hukum Taurat' dan tidak membawa kepada berkat yang lebih penuh? Karena bangsa Israel sendiri salah caranya menyambut hukum Taurat. Seperti nyata dalam ceritanya dan terbukti dari sejarah selanjutnya, bangsa Israel sendiri dari mulanya telah menggeser tekanan dari dasar iman ke dasar amal, sehingga selanjutnya mereka berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rom 10:3). Lihatlah respons mereka yang penuh andalan pada diri sendiri di Gunung Sinai itu. "Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: Segala yang difirmankan Tuhan, akan kami lakukan" (Kel 19:8).
Mereka berkata, "Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan" (24:7). Tak dapat disangkal bahwa nada dasar dari andalan mereka pada dan dalam diri sendiri ini adalah kesombongan.
Dalam hikmat-Nya yang berdaulat, dan dengan mengetahui akhir dari mulanya, Allah dengan sabar menerima bangsa Israel dalam pendirian mereka yang demikian itu, dan memberi mereka Perjanjian Taurat disertai janji, bahwa mereka akan dianugerahi berkat yang melimpah-limpah jika taat kepada hukum-hukum yang diberikan-Nya. Tapi dalam kelanjutan sikap Israel yang salah itu, di Sinai dan sesudahnya, kita lihat bagaimana pengalaman mereka di bawah Perjanjian Musa berwujud dalam tragedi yang paling menyedihkan dalam sejarah Israel.
Maksud Hukum Taurat Diberikan
Jika pemberian Perjanjian Taurat tidak dimaksudkan untuk menyisihkan dasar iman Perjanjian Abraham, maka apakah sebabnya hukum-hukum Taurat diberikan? Taurat itu diberikan berdasarkan tiga alasan:
Untuk menjadi ukuran kebenaran
Apabila Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Abraham dan Bapak- bapak leluhur Israel cukup dengan lisan, sekarang tidak mungkin lagi. Di mana Israel telah menjadi suatu bangsa dan diperintah secara teokrasi, maka sekarang dibutuhkan suatu ukuran kesusilaan tertulis dan permanen, yang mengungkapkan cita-cita Ilahi mengenai tabiat dan kelakuan (Ul 4:8; Mzm 19:7-9; 119:142).
Untuk menunjukkan dan menandakan dosa
Suatu benda akan nampak hitam jika diletakkan di depan latar belakang yang putih dan terang; demikian juga dosa akan segera nampak dan dapat dikenal, jika diterangi dengan hukum Taurat. Tapi hati manusia tak mungkin mengenali dosa, sebab hati manusia telah bercacat dosa. Sebab itu Paulus berkata, "Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak" (Rom 5:20). "Karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Rom 3:20). "Oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa" (Rom 7:7). "Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran" (Gal 3:19) artinya, supaya dosa nampak menjadi kesalahan kepada Allah.
Untuk menyatakan kesucian Allah
Suatu keharusan mutlak ialah bahwa hak-hak istimewa Israel yang unik, yang diberikan kepadanya selaku bangsa yang terpilih untuk memenuhi panggilannya yang mulia, harus dilindungi oleh pengakuan rendah hati dan khidmat akan kesucian Allah yang tak terganggu gugat, agar hak-hak itu jangan membuat bangsa menjadi sombong. Tidak percuma bahwa pernyataan Alkitab, ditinjau secara keseluruhan, pertama-tama mengutarakan KUAT KUASA Allah sebagaimana nampak khusus dalam penjadian alam semesta, air bah, Babel, kehancuran Sodom, dan keluaran Israel. Kemudian KESUCIAN Allah sebagaimana nampak khusus dalam Taurat Musa dan dalam sikap dan tindakan-tindakan Allah terhadap bangsa Israel; dan baru sesudah itu KASIH Allah khususnya nampak dalam Injil Kristus. Dari urutan ini nyatalah bahwa KASIH Allah harus dilindungi oleh perasaan khidmat, karena menyadari kuat kuasa- Nya yang maha hebat dan kesucian-Nya.
Istilah khas yang dipakai Tuhan Yesus untuk Allah ialah Bapak. Tapi harus dicamkan baik-baik, bahwa baru setelah Kristus datang selaku mahkota penyataan Allah, maka sebutan 'Bapak' itu diberi tempat utama. Mengenai Allah selaku Bapak tanpa terlebih dahulu mengenali kuat kuasa dan kesucian-Nya, adalah sesuatu yang bisa membuat kebenaran tentang Kebapakan Ilahi menjadi kosong. Salah satu kesalahan aliran-aliran teologia modern tertentu, ialah memisahkan kasih Allah dari kuat kuasa dan kesucian-Nya.
Lambang kesucian ialah api. Sebab itu hukum Taurat diberikan di tengah-tengah api di Gunung Sinai (19:18; 24:17), dan dengan larangan-larangan yang keras sekali (19:10-13, 21-25). Israel harus insaf bahwa Taurat berhubungan dengan Allah Yang Mahasuci (Ul 28:58; 33:2; Mzm 68:17; Ibr 12:18, 29). Selaku ungkapan kesucian Ilahi, maka Taurat yang diberikan kepada Musa tidak boleh dihampiri. Dalam Kesepuluh Perintah (istimewa kalau ditafsirkan secara rohani sebagaimana dilakukan Tuhan Yesus -- Mat 5:21-28) kita melihat kesucian Allah dalam keagungan-Nya yang tak terhingga. Dalam hukum Perdata, dengan penolakannya yang mutlak terhadap perbuatan-perbuatan jahat dan kompromi- kompromi, kesucian Allah nampak dalam kekerasan penolakan itu. Dan dalam syariat, yang mengatur ibadat Israel, kita melihat kesucian Allah dalam hal tak diperkenankan-Nya pelanggaran sedikit jua pun. Allah Sinai adalah Allah Yang Mahasuci; Allah Yang Mahasuci adalah 'Api yang menghanguskan' (Ul 4:24).
Hukum Taurat dan Perjanjian Abraham
Bagaimanakah hubungan Taurat Musa dengan Perjanjian Abraham? Ada 3 macam hubungannya sbb:
Hukum Taurat adalah yang DITAMBAHKAN kepada Perjanjian Abraham. 'Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran -- sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu' (Gal 3:19). Jelaslah bahwa Taurat tidak diberikan untuk meniadakan Perjanjian Abraham yang dasarnya adalah iman. Taurat diberikan sebagai sisipan, bukan untuk menghapuskan. Untuk menjadi tambahan, bukan untuk mengurangkan.
Hukum Taurat TIDAK MEMBATALKAN Perjanjian Abraham. 'Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit 430 tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, itu tidak berasal dari janji; tapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham' (Gal 3:17,18).
Hukum Taurat, sebab salah terima oleh Israel, menjatuhkan hukuman mati atas kesalahan, dengan demikian mendatangkan kutuk yang MERINTANGI BERKAT Perjanjian Abraham. Tapi di dalam Kristus kutuk itu telah dilenyapkan, sehingga berkat Perjanjian Abraham dapat disampaikan oleh sebab iman. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat ... supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu" (Gal 3:13-14).
Hukum Taurat dan Sejarah Israel
Israel, sebagai suatu bangsa, telah melanggar HUKUM TAURAT dan PERJANJIAN MUSA (lih 1 Raj 19:10; 2 Raj 17:15; 18:12; Mzm 78:37; Yer 11:10; 31:32; Yeh 16:59; Hos 8:1; Ibr 8:9, dll).
Tapi apakah yang dimaksud dengan melanggar hukum Taurat dan Perjanjian Musa itu? Apakah maksudnya bahwa anggota-anggota bangsa itu tidak mampu memenuhi tuntutan Kesepuluh Perintah ... dan hanya berdasarkan alasan itu ditawan dan dibuang dari negerinya? Tidak, tatkala Allah memberi Kesepuluh Perintah, Ia juga memberi syariat yang menunjuk kepada Kristus, dan yang memperlihatkan dasar penerimaan yang benar, yaitu oleh penebusan karena iman.
Kita perlu mengerti cara penggunaan kata 'taurat' dalam PL. Pertama, hanya sekali atau dua kali kata itu digunakan untuk menyebut 'Kesepuluh Perintah' (Kel 24:12). Kedua, kata itu dipakai untuk menyebut masing-masing hukum Perdata dan 'syariat' -- 'Inilah hukum tentang korban bakaran' dsb (Im 6:9, 14, 25; 14:22; dll). Ketiga, kata itu kebanyakan dipakai untuk menyebut segenap peraturan Musa, baik Kesepuluh Perintah maupun hukum Perdata dan syariat. Ketiganya tercakup dalam perkataan Taurat atau hukum Taurat. Pemakaian dalam arti luas ini kita lihat dalam Ul 4:8, 44-45; Yos 8:34; 1 Raj 2:3; Dan 9:11-13; Mal 4:4.
Sebab itu, jika dikatakan bahwa Israel melanggar hukum Taurat dan dengan demikian melanggar Perjanjian, maka yang dimaksudkan bukanlah bahwa orang-orang Israel secara perseorangan melanggar Kesepuluh Firman, melainkan bahwa bangsa itu selaku keseluruhan tidak memelihara syarat-syarat utama Perjanjian itu sebagaimana tercantum dalam hukum Perdata dan syariat itu. Di bawah ini diutarakan beberapa contoh:
Israel diwajibkan mengadakan Tahun Sabat sekali 7 tahun, dan Tahun Yobel sekali 50 tahun, pada kesempatan mana segala hamba harus dimerdekakan dan segala hutang harus dianggap lunas. Lihat Im 25 yang menguraikan hal-hal menarik tentang itu dan berkat- berkat yang dijanjikan. Sabat-sabat itu adalah 'tanda' perjanjian antara Allah dan Israel (Kel 31:13). Pada Sabat seluruh negeri harus berhenti, dalam pengakuan penuh syukur akan kemurahan hati Allah, Pemilik yang sah dari tanah. Bila Israel setia mengadakan Sabat itu, maka berkat yang berlimpah-limpah membayangi mereka. Tapi, sejak mula pertama Israel tidak pernah mengadakannya. Tidak ada ayat-ayat Alkitab yang menceritakan bahwa bangsa itu pernah menepati segala Sabat (lih Yer 34:8-22). Karena ketidaksetiaan akan kewajiban itulah maka bangsa itu diperhamba oleh raja Babel 70 tahun lamanya. Tujuh puluh tahun yang dijalani bangsa itu dalam suatu sabat 'penghukuman' yang panjang (10x7)! Lihat hubungan mencolok antara Yer 25:11 dengan 2 Taw 36:21, kemudian baca Im 26:3235, karena inilah penjelasan atas kedua firman itu.
Israel dilarang mengikat perjanjian dengan bangsa-bangsa sekitarnya, dengan saksama Israel harus menjaga supaya terpisah dari mereka -- dan ini beralasan sekali (lih Kel 23:24-33; 34:12-17; Ul 7:1-6, dll). Namun demikian, mulai dari permulaan sekali, Israel sudah melalaikan firman itu (lih Yos 9:14-16; Hak 2:2; 3:5-6, dsb).
Israel diharuskan menjauhkan diri dari penyembahan berhala dan pemakaian patung-patung dalam ibadat (lih Kel 20:2-5; Ul 4:12- 20; 17:2-7). Namun demikian, sejak semula Israel telah melanggar larangan itu (lih 2:11-23; Yer 2:28; 11:10; dan cerita yang menyeramkan dalam 2 Raj 17:17-23).
Contoh-contoh lainnya yang menyatakan dosa Israel misalnya: tidak memegang Paskah Tuhan (2 Taw 30:5), tidak memelihara hari- hari Sabat (Yeh 20:13); dan tidak mempersembahkan persepuluhan (Mal 3:8).
Dengan cara-cara demikianlah Israel, sebagai suatu bangsa, melanggar hukum Taurat, dan memperkosa perjanjian, serta mengabaikan pemanggilan Allah.
Hukum Taurat dan Injil
Akhirnya, uraian tentang Taurat dalam hubungannya dengan Injil. Hukum Taurat dibatalkan dalam Kristus dalam 3 hal:
Pelaksanaan Kesepuluh Perintah selaku syarat pembenaran diri sendiri secara definitif dianggap tidak berlaku lagi, karena "Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya" (Rom 10:4). Meskipun seluruh Kesepuluh Perintah kecuali perintah ke-4 (mengenai Sabat), dimasukkan ke dalam etika Perjanjian Baru, namun masing- masing perintah itu dimasukkan secara tersendiri, bukan sebagai bagian dari sistem hukum Musa. Hal menepati Kesepuluh Firman bukan lagi suatu KEHARUSAN untuk memperoleh keselamatan, melainkan AKIBAT yang timbul dengan sendirinya selaku sambutan atas penyelamatan itu.
Pelaksanaan 'syariat' Taurat selaku jalan supaya diterima oleh Allah, sekarang dibuang dan diganti, karena segala syarat agama pada zaman Musa hanyalah lambang dan bayang-bayang saja, yang penggenapan dan pewujudannya ialah Kristus (Kol 2:17; Ibr 9:22- 10:18).
Hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi selaku suatu zaman atau metode yang dipakai Allah terhadap manusia dalam suatu periode tertentu, karena Injil telah membawa suatu zaman yang baru sama sekali bagi Israel dan sekalian bangsa seutuhnya. Zaman-zaman dalam waktu lalu adalah zaman-zaman menurut suatu PERINTAH LAHIRIAH; sedang zaman anugerah yang baru itu adalah suatu zaman menurut 'ROH', suatu PERINTAH BATINIAH - (lih 2 Kor 3-4). Yang pertama adalah peraturan obyektif; sedang yang ke-2 adalah perubahan subyektif. Yang pertama adalah suatu etika yang mengutuki, yang ke-2 adalah suatu dinamika yang memperbarui. "Apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh." (Rm 8:3,4).
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Pertama dan Kedua |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R02a |
Referensi SHA-02a diambil dari:
| Judul Buku | : | Agama Israel Kuno |
| Judul Artikel | : | Mono-Yahwisme |
| Pengarang | : | Dr. I.J. Cairns |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001) |
| Halaman | : | 75 - 76 |
Umat dan Tanah Sebagai "Warisan Yahweh"
Semuanya ini memperlihatkan bahwa Yahweh adalah Allah orang Israel, sehingga Israel harus selalu berurusan dengan Dia. Dialah dasar segala pengharapan Israel. Oleh karena itu, Israel sebagai bangsa, disebut warisan atau bahkan milik Yahweh (1 Sam 26:15; 2 Sam 14:16; 20:19; 21:3). Istilah "warisari" ini, di bagian lain dalam Perjanjian Lama, dikenakan pada tanah (negeri) Israel. Jadi, istilah tersebut mengandung implikasi bahwa baik sebagai negeri maupun sebagai bangsa, Israel adalah milik Yahweh pribadi. Di sini berlangsung suatu hubungan yang sah dan tak dapat dipecahkan antara Israel dengan Yahweh, Allah Israel, sehingga konsep hubungan itu menguasai seluruh hidup keagamaan Israel, baik sebagai bangsa maupun sebagai individu.
Sifat kemutlakan hubungan itu meniadakan segala ilah asing dan segala wadah keagamaan kecuali yang diberikan Yahweh sendiri. Tentunya hal itu belum berarti bahwa Yahweh sudah diakui sebagai Allah yang satu-satunya dalam arti mutlak dan universal.
Pengakuan Terhadap Adanya Ilah-ilah
Sudah cukup jelas dalam karangan ini bahwa adanya ilah-ilah di luar Israel masih diakui. Misalnya, waktu Daud lari dari Saul (1 Sam 26:19), Daud mengeluh bahwa dia sedang diusir dari masyarakat warisan Yahweh serta disuruh pergi beribadah kepada allah lain. Ucapan ini membuktikan adanya anggapan pada waktu itu bahwa Yahweh terikat pada wilayah-Nya sendiri sehingga ada asumsi bahwa di luar batas-batas tanah Israel ada ilah-ilah selain Yahweh yang berwibawa itu. Konsep tentang adanya hubungan antara ilah dengan negeri atau tanah masih terbukti juga dari periode kemudian (2 Raj 5:17). Naaman, orang Siria itu, membawa sedikit tanah dari Israel ketika kembali ke Siria karena anggapannya bahwa hanya di atas tanah itulah orang dapat beribadah kepada Yahweh.
Monoteisme yang Praktis
Jadi, cukup jelas bahwa pada masa kerajaan Daud-Salomo belum ada monoteisme dalam arti universal. Agama Israel pada waktu itu dapat disebut suatu mono-Yahwisme. Jadi, Yahweh dijunjung tinggi sebagai Sang Utama dan diakui sebagai Yang Berdaulat bukan hanya di Sinai, melainkan juga di Mesir dan di Kanaan, bahkan menguasai bintang- bintang dan planet-planet (bnd. Hak 5 dan Mzm 68). Akan tetapi, eksistensi ilah-ilah di luar Israel juga diakui. Mungkin dibandingkan dengan Yahweh, ilah-ilah tersebut dianggap kurang berdaya (bnd. cerita tentang Yahweh dan Dagon dalam 1 Sam 4 dyb.). Namun, eksistensi mereka tidak disangkal dan kadang-kadang kuasanya dapat dirasakan juga (bnd. 2 Raj 3:27).
Bahwa pada waktu itu pemikiran tentang ilah-ilah belum sepenuhnya konsisten, merupakan bukti bahwa kepercayaan Israel terhadap Yahweh belum dipikirkan secara teoritis atau teologis. Agaknya masih dialami suatu ketegangan apabila kita memikirkan hubungan antara Allah dan ilah-ilah itu. Adanya ketegangan itu tidak mengurangi rasa khusyuk Israel di hadapan Allah atau mempengaruhi hubungan antara Allah dan Israel, tetapi merupakan suatu kekurangan dalam hal konseptualisasi. Memang, sejak dulu Yahweh digambarkan sebagai Allah segala ilah yang tak bertara dan yang tak ada bandingannya di antara oknum-oknum sorgawi, namun barulah kemudian manusia mengakui Dia sebagai Oknum satu-satunya yang berhak disebut ilahi.
Ketidakkonsistenan antara praktik agama dan teologi ini mengandung suatu kelemahan yang dapat menghasilkan sinkretisme dan memang kadang-kadang justru sinkretisme itulah yang muncul. Kekurangan dalam bidang teologi itulah yang merupakan faktor penting mengapa Israel sering tertarik pada praktik keagamaan yang berlaku di kalangan orang Kanaan di sekitar mereka. Namun, justru ketegangan- ketegangan dan pergumulan-pergumulan yang timbul karena daya tarik agama Kanaan itu membuka jalan sehingga akhirnya Israel menyadari juga bahwa kemutlakan Yahweh berlaku secara universal. Namun, proses mencapai kesadaran yang demikian itu memerlukan waktu ratusan tahun.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Pertama dan Kedua |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R02b |
Referensi SHA-02b diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Fakta Alkitab (Bible Almanac - I) |
| Judul Artikel | : | Berbagai Pandangan Mengenai Akhirat |
| Pengarang | : | J.I. Packer; Merrill C. Tenney; William White, Jr. |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 2001 |
| Halaman | : | 176 - 181 |
Ciri-ciri Umum Agama Penyembah Berhala:
Ciri-ciri tertentu biasa terdapat pada kebanyakan agama penyembah berhala. Mereka semua mempunyai pandangan hidup yang sama, yang dipusatkan pada tempat dan martabatnya. Perbedaan-perbedaan di antara agama bangsa Sumer dan Asyur-Babel atau di antara agama Yunani dan Romawi sangat kecil.
Banyak Ilah.
Bagian terbesar dari agama-agama ini adalah politeistis; yang berarti bahwa agama-agama tersebut mengakui banyak dewa dan setan. Setelah diterima di pantheon (kumpulan dewa-dewa di suatu kebudayaan), maka dewa itu tidak dapat dikucilkan dari situ. Dewa atau dewi itu telah memperoleh "kedudukan tetap sebagai ilah."
Setiap kebudayaan piliteistis mewarisi pikiran-pikiran keagamaannya dari para pendahulunya atau memperolehnya dalam perang. Misalnya, Nanna adalah dewa bulan bagi bangsa Sumer dan Sin menjadi dewa bulan bagi bangsa Babel. Inanna adalah dewi kesuburan dan ratu langit bagi bangsa Sumer, demikian juga Isytar bagi bangsa Babel. Bangsa Romawi hanya mengambil alih para dewa Yunani dan memberikan nama-nama Romawi kepadanya. Demikianlah, dewa Romawi, Yupiter, adalah setara dengan Zeus sebagai dewa langit; Minerva setara dengan Atena sebagai dewi hikmat; Neptunus setara dengan Poseidon sebagai dewa laut; dan lain sebagainya. Dengan kata lain, gagasan dewa itu sama; hanya selubung budayanya yang berbeda. Demikianlah satu kebudayaan purba dapat menerima agama dari kebudayaan yang lain tanpa mengubah atau menghentikan langkahnya. Setiap kebudayaan tidak hanya mengklaim dewa-dewa dari peradaban yang sebelumnya; tetapi juga mengklaim berbagai mitos mereka dan menjadikannya miliknya dengan hanya beberapa perubahan kecil.
Dewa-dewa utama sering kali dikaitkan dengan suatu fenomena alam. Jadi, Utu/Shamasy adalah matahari dan juga dewa matahari; Enki/Ea adalah laut dan juga dewa laut; Nanna/Sin adalah bulan dan juga dewa bulan. Kebudayaan-kebudayaan penyembah berhala tidak membedakan di antara unsur alam dan kekuatan apa pun di balik unsur tersebut. Manusia pada zaman purba berjuang melawan kekuatan- kekuatan alam yang tak dapat dikendalikannya, kekuatan- kekuatan yang dapat bersifat dermawan tetapi juga bersikap tidak ramah. Hujan yang cukup dapat menjamin hasil panen yang luar biasa banyaknya, tetapi terlalu banyak hujan akan merusakkan hasil panen itu. Hidup betul-betul tak dapat diramalkan, terutama karena dewa- dewa dianggap berubah-ubah dan bertingkah, sanggup berbuat yang baik atau pun yang jahat. Manusia dan para dewa menjalani jenis kehidupan yang sama; para dewa mengalami masalah dan frustrasi yang sama dengan yang dialami manusia. Paham ini disebut monisme. Jadi, ketika Mazmur 19:2 menyatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya," pemazmur mencemoohkan kepercayaan orang Mesir dan orang Babel. Bangsa-bangsa yang menyembah berhala ini tidak dapat membayangkan bahwa alam semesta memenuhi suatu rencana ilahi yang meliputi segala sesuatu.
Orang Mesir juga menghubungkan dewa mereka dengan fenomena alam: Shu (udara), Re/Horus (matahari), Khonsu (bulan), Nut (langit), dan seterusnya. Kecenderungan yang sama terlihat dalam penyembahan orang Het kepada Wurusemu (dewi matahari), Taru (badai), Telipihu (tumbuh-tumbuhan), dan beberapa dewa gunung. Di antara orang Kanaan, El adalah allah yang agung di surga, Baal adalah dewa badai, Yam adalah dewa laut, dan Shemesy serta Yareah adalah berturut-turut dewa matahari dan dewa bulan. Oleh sebab susunan yang membingungkan dari para dewa alam ini maka para penyembah berhala tidak dapat berbicara tentang "alam semesta" (universe). Ia tidak dapat memahami satu kekuatan inti yang mempersatukan segala sesuatu dan menjadi pangkal keberadaan segala sesuatu. Si penyembah berhala percaya bahwa ia tinggal di "multiverse" (alam yang dikuasai oleh banyak dewa).
Pemujaan Berhala.
Suatu sifat lain yang umum terdapat pada pemujaan berhala adalah ikonografi keagamaan (pembuatan patung atau totem untuk dipuja). Semua agama ini memuja berhala. Hanya Israel yang secara resmi bersifat aniconic (yaitu, tidak mempunyai patung, tidak ada gambar- gambar yang mewakili Allah). Patung-patung Yahweh, seperti anak lembu jantan yang dibuat oleh Harun dan Yerobeam (Kel 32; 1 Raj 12:26 dst.) dilarang dalam hukum yang kedua.
Akan tetapi sejarah agama mereka tidak selalu bersifat aniconis. Bangsa Israel menyembah berhala sementara mereka hidup dalam perhambaan di Mesir (Yos 24:14); dan meskipun Tuhan telah membuang berhala mereka (Kel 20:1-5), orang Moab menarik mereka ke penyembahan berhala lagi (Bil 25:1-2). Penyembahan berhala mengakibatkan kejatuhan para pemimpin Israel pada periode yang berbeda-beda dalam sejarahnya dan akhirnya Allah mengizinkan bangsa ini dikalahkan "karena kurban-kurban mereka" kepada berhala (Hos 4:19).
Kebanyakan agama penyembahan berhala menggambarkan ilah mereka secara antropomorfis (yaitu sebagai berwujud manusia). Sebenarnya, hanya seorang pakar yang dapat memandang sebuah gambar dewa-dewa dan orang-orang Babel lalu mengatakan yang mana dewa dan yang mana manusia. Para seniman Mesir biasanya menggambarkan dewa mereka sebagai pria dan wanita yang berkepala binatang. Horus adalah seorang laki-laki yang berkepala rajawali. Sekhmet adalah seorang perempuan yang berkepala singa betina. Anubis seorang laki-laki berkepala serigala, Hathor seorang perempuan berkepala sapi, dan lain sebagainya. Dewa-dewa orang Het dapat dikenal dari gambar senjata yang diletakkan di bahu mereka, atau dari sebuah benda lain yang khusus seperti sebuah topi baja dengan sepasang tanduk. Dewa- dewa Yunani juga digambarkan sebagai manusia, tetapi tanpa ciri- ciri yang kasar dari dewa-dewa bangsa Semit.
Keselamatan Diperoleh dengan Usaha Sendiri.
Apa maknanya menggambar dewa-dewa sebagai manusia? Pasal-pasal pertama kitab Kejadian mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej 1:27), tetapi para penyembah berhala berusaha menjadikan dewa-dewa itu menurut gambar mereka sendiri. Artinya, dewa-dewa para penyembah berhala itu hanyalah makhluk manusia yang diperluas. Berbagai mitos dunia purba mengasumsikan bahwa para dewa mempunyai keperluan yang sama dengan keperluan manusia, kelemahan vang sama dan ketidaksempurnaan yang sama. Jikalau ada perbedaan antara dewa-dewa penyembah berhala dan manusia, maka itu hanya merupakan perbedaan tingkat. Para dewa itu adalah manusia yang dijadikan "lebih besar dari kehidupan ini." Sering kali dewa-dewa itu hanya merupakan proyeksi dari kota atau kotapraja.
Kurban.
Kebanyakan agama penyembahan berhala mempersembahkan binatang untuk menenangkan dewa mereka yang banyak tingkahnya; beberapa agama bahkan mempersembahkan manusia. Oleh karena para penyembah kafir ini percaya bahwa dewa mereka mempunyai keinginan-keinginan manusiawi, mereka juga mempersembahkan kurban sajian dan curahan kepada mereka (bdg. Yes 57:5-6; Yer 7:18).
Orang Kanaan percaya bahwa kurban-kurban mempunyai kekuatan gaib yang membuat para penyembah mendapat simpati dan menjadi seirama dengan dunia fisik. Akan tetapi, para dewa itu berubah-ubah, maka kadang-kadang para penyembah itu mempersembahkan kurban untuk memastikan kemenangan atas musuh mereka (bdg. 2 Raj 3:26-27). Barangkali, inilah sebabnya raja-raja yang telah merosot akhlaknya di Israel dan Yehuda ikut mempersembahkan kurban-kurban secara kafir (bdg. 1 Raj 21:25-26). Mereka menginginkan bantuan gaib dalam memerangi musuh mereka, orang Babel dan orang Asyur - lebih disukai bantuan dari dewa-dewa yang sama yang telah membuat musuh mereka menang.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Ketiga dan Keempat |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R03a |
Referensi SHA-03a diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z |
| Judul Artikel | : | Sumpah |
| Penyunting | : | J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 425 - 426 |
Ibrani sy vu'a dan 'ala; Yunani horkos. Dari kedua kata Ibrani ini 'ala' paling kuat. Artinya pengutukan atas seseorang yang mengingkari sumpah; sy vu'a berasal dari kata untuk 'tujuh', bilangan keramat, terkait dengan upacara penyumpahan.
Sumpah adalah kutukan atas orang yang melanggar kata-katanya sendiri (1 Sam 19:6), atau apabila dia tidak mengatakan kebenaran (Mrk 14:71). Gagasan memohon kutukan atas diri sendiri, telah mendorong beberapa ahli mengemukakan, bahwa bila seorang Ibrani bersumpah atas nama Allah, maka ia telah memberikan kebebasan kepada Allah untuk bertindak, atau 'mempercayakan kepada Allah tugas bertindak terhadap seseorang yang melakukan sumpah palsu atau kesaksian palsu' (A Lelievre, Vocabulary of the Bible [red. J.-J von Allmen], 1958).
Mengucapkan sumpah bermacam cara (Kej 24:2-3; Ul 32:40) dan rumusan (Kej 31:50; Bil 5:22; Hak 8:19; 2 Raj 2:2; Yer 42:5; Mat 5:34- 36; 23:16). Sering dampak-dampak yg mengerikan dari sumpah yang tidak dipenuhi tidak dikemukakan (2 Sam 3:9; tapi lih. Yer 29:22).
Pentingnya sumpah ditekankan dalam hukum Musa (Kel 20:7; Im 19:12). Orang Israel dilarang mengucapkan sumpah demi dewa-dewa (Yer 12:16; Am 8:14). Yehezkiel bicara tentang orang yg melanggar sumpah dapat dihukum mati (Yer 17:16 dab), tapi dalam hukum Taurat sumpah palsu oleh saksi, dan menyangkal dengan sumpah atas sesuatu yg diterima atau diperoleh (Im 5:1-4; 6:1-3) dapat ditebus dengan korban pengakuan dosa (Im 5:5 dab; 6:4 dab).
Kristus mengajarkan bahwa sumpah mengikat (Mat 5:33). Percakapan sehari-hari orang Kristen haruslah sama sucinya dengan sumpahnya. Dia tidak boleh mempunyai dua ukuran tentang kebenaran, seperti orang Yahudi tertentu yg memakai ukuran licik berkaitan dengan sumpah. Dalam Kerajaan Allah pada akhirnya sumpah tidak diperlukan (Mat 5:34-37). Kristus sendiri diperhadapkan dengan sumpah (Mat 26:63 dab), dan Paulus juga bersumpah (2 Kor 1:23; Gal 1:20).
Alkitab mencatat bahwa Allah mengikat diri-Nya dengan sumpah (Ibr 6:13-18). Tuhan berjanji akan melaksanakan janji-janji-Nya kepada umat perjanjian-Nya, yaitu janji-janji-Nya kepada Bapak-bapak leluhur (Kej 1:24), janji-janji-Nya kepada wangsa Daud (Mzm 89:19-37, 49), janji- janji-Nya kepada Raja-Imam Mesianis (Mzm 110:1-4). Jaminan atas semua janji itu ialah Yesus Kristus, pada siapa mereka mendapat jawaban 'ya' ('amin') (2 Kor 1:19 dab; bnd. Yes 65:16). Dalam kedatangan-Nya, Yesus Kristus memenuhi janji-janji Allah yang lama kepada bapak-bapak leluhur (Luk 1:68-73; 2:6-14), kepada Daud (Kis 2:30), dan kepada Raja-Imam PL (Ibr 7:20 dab, 28).
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Ketiga dan Keempat |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R03b |
Referensi SHA-03b diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z |
| Judul Artikel | : | Sabat |
| Penyunting | : | J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : |
(Ibrani syabbat, dari akar kata syavat, 'berhenti', 'melepaskan'). Alkitab menetapkan bahwa satu dari 7 hari harus diindahkan sebagai hari suci bagi Allah. Dari alasan yang dikemukakan untuk mengindahkan sabat dalam Kesepuluh Hukum, kita ketahui bahwa istirahat sabat itu ditetapkan sendiri oleh Allah saat penciptaan. Karena itu sabat adalah tata tertib penciptaan (Kel 20:8-11).
Dalam peristiwa penciptaan kata sabat tidak muncul. Tapi akar kata dari mana perkataan itu dijabarkan, ada (Kej 2:2). Karya penciptaan berlangsung 6 hari; pada hari ketujuh Allah istirahat (harfiah 'berhenti') dari pekerjaan-Nya. Dengan demikian timbul perbedaan antara 6 hari kerja dan 1 hari istirahat. Ini benar, walaupun 6 hari kerja itu dimengerti sebagai jangka waktu yang lebih panjang dari 24 jam. Bahasanya adalah bahasa manusiawi, karena Allah bukanlah Pekerja yang lelah, yang memerlukan istirahat. Namun pola itu ditetapkan di sini untuk diikuti oleh manusia.
Kel 20:11 menyatakan bahwa Allah 'beristirahat' (Ibrani wayyanakh) pada hari ketujuh, dan Kel 31:17 mengemukakan bahwa Ia berhenti dari pekerjaan-Nya dan 'disegarkan' (wayyinnafasy). Bahasanya sengaja bernada keras, agar manusia mengerti kepentingan memandang sabat sebagai hari di mana ia sendiri harus beristirahat dari pekerjaannya sehari-hari.
Bertentangan dengan uraian di atas, pendapat lain mengatakan bahwa sabat berasal dari Babel. Benar, kata Babel sabbatum berhubungan dengan kata Ibrani yang serupa, namun arti kedua kata itu sangat berbeda. Pertama, bagi orang Babel satu minggu adalah 5 hari. Penelitian atas tulisan-tulisan pada lempeng-lempeng batu mengungkapkan, bahwa hari-hari yang dinyatakan sebagai sabbatum bukanlah hari-hari berhenti kerja. Data-data perjanjian dari Mari (Tell el-Hariri) menunjukkan bahwa pekerjaan dilaksanakan kadang- kadang dalam jangka waktu beberapa hari lamanya, tanpa berhenti pada setiap hari ketujuh. Alkitab jelas mengaitkan asal mula sabat dengan contoh yang dilakukan Allah sendiri.
Hukum ke-4 memerintahkan untuk mengindahkan sabat. Kejadian tidak pernah menyebut sabat terpisah dari penciptaan. Namun ada singgungan tentang jangka waktu 7 hari (lih. Kej 7:4, 10; 8:10, 12; 29:27 dab). Dapat dicatat kisah Ayub yang menceritakan 7 putranya mengadakan pesta masing-masing pada harinya sendiri-sendiri. Ini diiringi doa-doa dan korban-korban oleh Ayub demi anak-anak itu (Ayb 1:4, 5). Kegiatan ini bukan hanya satu kali dan tidak pernah terulang lagi, melainkan kegiatan yang dilakukan secara teratur. Hal ini mungkin merupakan petunjuk ibadah pada hari pertama dalam putaran suatu kurun hari. Setidak-tidaknya prinsip bahwa 1 hari dari 7 hari dikuduskan bagi Tuhan, nampaknya sudah diakui di sini.
Dalam Kel 16:21-30 disebut secara langsung tentang sabat yang dikaitkan dengan pemberian 'manna'. Sabat di sini dinyatakan sebagai anugerah Tuhan (ay 29), yang diperuntukkan bagi istirahat dan kepentingan umat (ay 30). Orang tidak usah bekerja pada hari sabat (yaitu untuk mengumpulkan manna) karena jatah ganda sudah disediakan pada hari ke-6.
Dengan demikian sabat dikenal oleh Israel, dan perintah untuk mengindahkannya wajib dimengerti. Dalam Kesepuluh Hukum dijelaskan bahwa sabat adalah milik Tuhan. Sebab itu pertama-tama sabat adalah hari-Nya, dan alasan dasar untuk mengindahkan sabat ialah bahwa hari itu adalah kepunyaan-Nya. Sabat adalah hari yang telah diberkati-Nya dan dikhususkan-Nya untuk peringatan. Ini tidak bertentangan dengan Kesepuluh Hukum yang dinyatakan dalam Ul 5:12 dab. Dalam bagian Alkitab ini umat diperintahkan untuk mengindahkan sabat dengan cara sebagaimana telah diperintahkan Tuhan (acuannya adalah Kel 20:8-11), dan bahwa sabat milik Tuhan dinyatakan lagi (ay 14). Namun suatu alasan tambahan bersifat imbuhan diberikan dalam pelaksanaan perintah itu. Israel diperintahkan mengindahkan sabat juga agar "hambamu laki- laki dan hambamu perempuan dapat beristirahat sama seperti engkau". Di sini kemanusiaan ditekankan; tapi di sini juga ditekankan bahwa sabat diadakan untuk manusia. Israel pernah menjadi budak di Mesir dan sudah dibebaskan; Israel harus menerapkan belas kasihan sabat terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka, karena orang-orang itu adalah budak.
Dalam Kitab-kitab Pentateukh lainnya peraturan mengenai sabat dicatat. Menarik sekali bahwa acuan mengenai sabat ada dalam setiap kitab dari ke-4 kitab terakhir Pentateukh. Kejadian menyajikan tentang istirahat ilahi; ke-4 kitab lainnya menekankan tentang penetapan hari sabat. Hal ini menunjukkan pentingnya lembaga sabat itu. Peraturan mengenai sabat dapat dikatakan integral dan esensial bagi dasar hukum PL, yaitu Pentateukh (lih. Kel 31:13-16; 34:21; 35:2 dab; Im 19:3, 30; 23:3, 38).
Terkait dengan ini muncullah pentingnya peraturan sabat berupa hukuman berat yang dikenakan terhadap orang yang mengingkari sabat. Ada seorang laki-laki mengumpulkan ranting-ranting kayu pada hari sabat. Untuk perbuatan ini pernyataan khusus dari Tuhan diundangkan, bahwa laki-laki itu harus dibunuh. (Lih. J. Weingreen, From Bible to Mishna, 1976, hlm. 83 dst.) Dia menyangkal prinsip dasar sabat, yakni bahwa hari itu adalah milik Tuhan dan karenanya harus diindahkan sesuai perintah Tuhan (Bil 15:32-36).
Rumusan-rumusan para nabi didasarkan pada Pentateukh. 'Sabat' sering dihubungkan dengan 'bulan baru' (2 Raj 4:23; Am 8:5; Hos 2:11; Yes 1: 13; Yeh 46:3). Apabila nabi-nabi seperti Hosea (2:11) menyebut hukuman ilahi terhadap bulan baru, sabat dan pesta lain, para nabi bukannya mengutuk begitu saja; mereka mengutuk penyalahgunaan sabat dan peraturan-peraturan Pentateukh lainnya.
Namun para nabi memang menunjuk kepada berkat-berkat yang menyertai perlakuan yang benar terhadap sabat. Ada orang yang mengotori sabat dan berbuat jahat pada hari itu (Yes 56:2-4), dan adalah keharusan menjauhi hal-hal demikian. Menurut suatu bagian yang dianggap klasik (Yes 58:13), Yesaya mengemukakan berkat-berkat yang menyertai perlakuan yang benar terhadap sabat. Hari itu bukanlah hari pada saat mana orang boleh berbuat apa saja menurut kemauannya, melainkan hari di mana ia harus melakukan kehendak Tuhan. Bukannya manusia, melainkan Tuhan-lah yang boleh menentukan bagaimana hari sabat harus diperlakukan. Mengakui bahwa hari itu suci bagi Tuhan akan membawa pengalaman yang sungguh-sungguh akan janji-janji-Nya.
Selama zaman Persia, mengindahkan sabat diberi penekanan lagi. Larangan kegiatan dagang pada hari Sabat (Am 8:5) dan mengangkut barang-barang pada hari Sabat (Yer 17:21 dab) yang telah diketahui sebelum Pembuangan, ditetapkan lagi oleh Nehemia (10:31; 13:15-22). Tapi selama masa antar Perjanjian, suatu perubahan terjadi perlahan- lahan terhadap pengertian mengenai maksud sabat. Di sinagoge-sinagoge hukum Taurat dipelajari pada hari sabat. Lama-kelamaan tradisi lisan berkembang di lingkungan masyarakat Yahudi, dan perhatian lebih dipusatkan kepada hal-hal kecil dalam memperingati hari itu.
Dua traktat dari Misyna, Shabbath dan Erubim, menyajikan ajaran tentang bagaimana sabat harus diperingati secara rinci. Rincian tata cara dan tradisi manusia yang menjadi beban atas perintah-perintah Allah -- itulah yang dikecam Tuhan Yesus. Kecaman-kecaman-Nya bukan ditujukan kepada lembaga sabat itu sendiri maupun ajaran PL. Tapi Ia menentang golongan Farisi yang telah menjadikan Firman Tuhan tidak berpengaruh akibat tradisi lisan yang membebani Firman itu. Kristus menyebut diri-Nya adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:28). Dengan penyataan itu Ia bukannya meremehkan makna dan pentingnya sabat, dan sama sekali tidak menentang peraturan PL. Ia semata-mata menunjukkan arti sabat yang sesungguhnya bagi manusia, dan menyatakan hak-Nya untuk berbicara karena Ia sendiri adalah Tuhan dari sabat.
Sebagai Tuhan dari sabat, Yesus Kristus pergi ke sinagoge pada hari Sabat, sesuai kebiasaan-Nya (Luk 4:16). Cara-Nya memperingati sabat sesuai peraturan PL guna mengindahkan hari itu suci bagi Tuhan.
Dalam ketidaksetujuan-Nya dengan orang Farisi (Mat 12:1-14; Mrk 2:23- 28; Luk 6:1-11) Tuhan Yesus menunjukkan kepada masyarakat Yahudi kesalahpahaman mereka mengenai perintah-perintah PL. Mereka telah membuat pengudusan sabat lebih keras daripada yang diperintahkan Allah sendiri. Tidak salah makan pada hari Sabat, sekalipun makanan itu harus didapat dengan memetik gandum di ladang. Juga tidak salah berbuat baik pada hari Sabat. Menyembuhkan adalah perbuatan belas kasihan, dan Tuhan dari hari Sabat itu penuh belas kasihan (lih. juga Yoh 5:1-18; Luk 13:10-17; 14:1-6).
Pada hari pertama Tuhan bangkit dari kematian, justru orang Kristen berkumpul pada hari itu untuk beribadah kepada Kristus yang bangkit (Why 1:10). Hari ini adalah hari Tuhan, dan dengan demikian adalah sabat yang telah ditetapkan pada penciptaan.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) | |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh | |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R04a |
Referensi SHA-04a diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Surat Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika |
| Judul Artikel | : | Kewajiban Bersama |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002 |
| Halaman | : | 247 - 248 |
Etika Kristen menyebutkan tugas anak adalah menghormati orang-tuanya. Namun, selalu ada persoalan di dalam hubungan antara orang tua dan anak. Bila orang tua terlalu longgar dalam disiplin (easy-going), si anak akan bertumbuh menjadi tidak disiplin dan tidak cocok untuk menghadapi kehidupan. Namun, yang sebaliknya juga bukannya tanpa bahaya. Semakin ketat orang tua, semakin mungkin ia selalu mengoreksi dan memarahi anaknya. Karena ia ingin anaknya melakukan yang baik, maka ia selalu berada di atas anaknya.
Kita ingat, contohnya, pertanyaan tragis dari Mary Lamb, "Mengapa saya tampaknya tidak mampu melakukan apa pun yang menyenangkan ibuku?" Kita ingat pernyataan yang pedas dari John Newton, "Saya tahu bahwa ayahku mengasihiku - tetapi tampaknya ia tak ingin saya melihat hal itu." Kritik terus-menerus adalah akibat dari kasih yang keliru.
Bahaya dari semua ini yaitu bahwa si anak dapat patah semangat. Bengel berkata tentang "bahaya untuk kawula muda adalah semangat yang patah" (Fractus animus pestis iuventutis). Merupakan salah satu fakta yang tragis bahwa Luther pada masa hidupnya pernah mendapati dirinya sukar berdoa "Bapa Kami". Kata bapa dalam benaknya tidak berarti apa-apa kecuali ketegasan yang kaku. Tugas orang tua adalah menegakkan disiplin, tetapi juga memberi dorongan semangat. Luther sendiri berkata, "Simpanlah rotan, dan engkau akan merusak si anak. Ini sungguh benar. Namun, di samping rotan berilah apel kepadanya ketika ia melakukan yang baik."
Sir Arnold Lunn, dalam bukunya Memory to Memory, mengutip suatu peristiwa tentang Marsekal Montgomery dari sebuah buku karya M.E. Clifton James. Montgomery terkenal sebagai seorang yang amat berdisiplin - tetapi ada segi lain dalam dirinya. Clifton James adalah "duplikat"-nya yang resmi dan sedang mengamatinya selama latihan untuk hari H. "Dalam jarak beberapa meter dari tempat saya berdiri, seorang serdadu yang sangat muda, tampaknya masih mabuk laut setelah menempuh perjalanannya, berusaha keras untuk menyusul rekan-rekannya yang ada di depan. Saya dapat membayangkan bahwa, sambil ikut menghayati perasaannya, senapan dan perlengkapannya pastilah beratnya sama seperti satu ton. Sepatu botnya yang berat menariknya ke dalam pasir, tetapi saya dapat melihat bahwa ia sedang berjuang keras untuk menutupi keletihannya. Persis ketika ia berhasil menyusul kami, ia tersandung dan jatuh tersungkur. Setengah menangis, ia bangkit dan mulai berjalan ke arah yang salah. Monty cepat menghampirinya dan dengan senyum yang bersahabat ia membalikkan tubuhnya. 'Ke arah ini, Nak. Engkau berbuat yang baik - sangat baik. Namun, jangan kehilangan kontak dengan teman-teman di depanmu.' Ketika anak muda itu sadar siapa orang yang telah memberinya bantuan dengan cara bersahabat, terlihat jelas wajahnya memancarkan kekaguman yang lugu." Itu disebabkan karena Montgomery memadukan antara disiplin dan pemberian semangat sehingga seorang tentara kroco di Armada ke-Delapan merasa setara dengan seorang kolonel di armada mana pun.
Semakin baik orang tua, ia harus semakin menghindari bahaya yang dapat mematahkan semangat anak-anaknya dan untuk itu ia harus menerapkan disiplin dan memberi dorongan semangat secara seimbang.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R04b |
Referensi SHA-04b diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Matius Ps. 1-10 |
| Judul Artikel | : | Kemarahan yang Dilarang |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 232 - 239 |
Matius 5:21-22
Di sini kita temukan satu contoh norma baru yang diberlakukan oleh Yesus. Hukum yang lama mengatakan: "Jangan engkau membunuh" (Kel 20:13). Tetapi Yesus mengatakan, bahwa marah kepada saudara kandung pun dilarang. Jadi tidaklah cukup kalau seseorang tidak memukul orang lain. Yang dianggap cukup bagi orang tersebut ialah kalau ia sama sekali tidak mempunyai perasaan kasar atau jahat kepada sesamanya. Di dalam perikop ini Yesus berargumentasi seperti yang dilakukan oleh para rabi. Yesus menunjukkan, bahwa Ia pun cakap untuk memakai cara perdebatan seperti yang dipakai oleh para bijak waktu itu. Di dalam perikop ini ada pentahapan kemarahan dan pentahapan hukuman yang bisa diterima sesuai dengan tahap-tahap kemarahan tersebut.
Di dalam perikop ini dikatakan adanya orang yang marah terhadap saudaranya. Kata bahasa Yunani yang dipakai di sini ialah orgizesthai. Di dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk marah. Kata itu adalah thumos, yang melukiskan kemarahan seperti nyala api yang keluar dari bahan yang mudah terbakar. Kemarahan seperti itu akan cepat membesar, tetapi juga cepat padam. Kemarahan seperti itu cepat muncul, tetapi juga cepat hilang.
Kata yang kedua adalah orge yang melukiskan kemarahan sebagai sesuatu yang berurat dan berakar dan sulit dihilangkan. Orge adalah kemarahan yang berjangka panjang. Kemarahan itu yang tetap hangat di dalam diri seseorang; dan akan demikian terus dalam jangka waktu yang panjang, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa padam. Kemarahan seperti itu patut mendapatkan hukuman. Kemarahan seperti itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang bersangkutan untuk diperhadapkan kepada pengadilan setempat. Pengadilan setempat adalah suatu dewan yang mempunyai wewenang untuk menyatakan keadilan. Pengadilan setempat itu terdiri dari para tua-tua desa yang jumlahnya berbeda-beda, sesuai dengan penduduk desa tersebut. Jadi di sini Yesus mengutuk kemarahan seperti itu. Alkitab pun secara jelas melarang kemarahan. "Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yak 1:20). Paulus juga meminta agar para pengikutnya membuang semua "marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor (Kol 3 :8). Para pemikir bukan Kristen pun menganggap kemarahan itu sebagai ketololan. Cicero mengatakan, bahwa kalau kemarahan itu masuk ke dalam percaturan, maka "tak ada suatu pun yang dapat dikerjakan secara benar dan bermakna". Seneca secara jelas mengatakan, bahwa kemarahan adalah "suatu sakit jiwa ringan".
Jadi Yesus sama sekali melarang kemarahan yang mendendam, kemarahan yang tak bila dilupakan, tak bisa didamaikan, dan kemarahan yang berusaha membalas dendam. Kalau kita mentaati Yesus, maka semua kemarahan harus hilang dari hidup kita, khususnya kemarahan yang selalu hendak muncul setiap waktu. Kita semua diperingatkan, bahwa tidak ada seorang Kristen pun yang boleh kehilangan kesabaran karena adanya kesalahan pribadi yang harus ditanggungnya. Orang Kristen tidak boleh kehilangan kesabaran, meskipun ia menanggung beban kesalahan pribadi.
Selanjutnya Yesus berbicara tentang dua peristiwa di mana kemarahan berubah menjadi kata-kata fitnah dan penghinaan. Para pemimpin Yahudi pun melarang kemarahan dan kata-kata seperti itu. Para guru Yahudi itu mengajarkan agar setiap orang Yahudi tidak melakukan "kata-kata keras" dan "dosa penghinaan". Mereka mengatakan: "Ada tiga kelompok orang yang akan jatuh ke dalam neraka dan tak akan pernah kembali, yaitu para pelacur, orang-orang yang secara terang-terangan mempermalukan sesamanya, dan mereka yang menghina tetangganya". Baik kemarahan yang terpendam dalam hati maupun kemarahan yang terucapkan, sama-sama dilarang.
Matius 5:21,22 (lanjutan)
Pertama-tama setiap orang yang menyebut saudaranya dengan sebutan Rhaka (bahasa Yunani) haruslah dikutuk. Kata bahasa Yunani rhaka agak sulit untuk diterjemahkan, karena kata itu lebih bermakna dalam nada suaranya ketimbang dalam artinya. Nada suara yang keluar dari kata itu mengandung makna kesombongan. Orang yang disebut rhaka berarti orang yang dianggap tolol, tak berotak, dan berkepala kosong. Kata rhaka itu hanya dipakai oleh orang-orang yang sombong dan berhati tinggi, yang selalu menghina serta merendahkan sesamanya. Kata rhaka itu dipakai di dalam ayat 22 dari perikop Matius yang sedang kita pelajari ini.
Dahulu ada sebuah cerita tentang seorang Rabi Yahudi yang bernama Simon bin Eliezer. Cerita itu menuturkan, bahwa rabi Simon sedang berjalan pulang dari rumah gurunya, dan sangat merasa bangga akan buah pikirannya yang baik, keterpelajarannya serta kebaikan dirinya sendiri. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang biasa yang kurang tahu sopan santun. Orang tersebut memberi salam kepada rabi Simon. Tetapi rabi Simon dengan sombong menjawab: "Eh, kamu rhaka! Kamu jelek! Apakah semua orang di desamu jelek seperti kamu?" Orang tersebut menjawab: "Mengenai hal itu, saya kurang tahu. Tapi silakanlah Anda memberitahu Sang Pencipta yang telah menciptakan aku, bahwa aku jelek dan ciptaan-Nya pun jelek!" Jawaban orang tersebut telah menempelak dosa kesombongan rabi Simon itu.
Dosa kesombongan dapat memperoleh hukuman yang lebih berat. Dosa kesombongan itu dapat dihukum oleh Sanhedrin, yaitu pengadilan tinggi Yahudi. Memang hal itu tidak harus kita fahami secara harafiah. Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah, bahwa "Dosa yang terkandung dalam kemarahan yang berkepanjangan itu buruk; dan dosa yang terkandung dalam kesombongan itu lebih buruk lagi".
Tidak ada dosa lain seperti dosa kesombongan. Ada kesombongan yang berasal dari kebanggaan asal-usul diri pribadi; sedangkan gengsi adalah suatu hal yang menjijikkan dan tercela. Ada juga kesombongan yang muncul karena kedudukan dan uang; demikian juga kebanggaan karena kekayaan dan uang adalah hal yang menjijikkan dan hina. Ada juga kesombongan yang berasal dari ilmu pengetahuan; dan dari antara semua gengsi, maka gengsi intelektual adalah yang paling sulit dipahami, karena yang paling mengesankan setiap orang bijak adalah keacuh- acuhannya sendiri. Kita tidak boleh memandang orang lain dengan kesombongan dan gengsi kita; lebih-lebih orang lain yang baginya Kristus telah mati di kayu salib.
Selanjutnya Yesus berbicara tentang orang yang menyebut sesamanya dengan sebutan moros. Kata bahasa Yunani moros juga berarti tolol. Tetapi orang yang moros adalah orang yang tolol secara moral. Ia adalah orang yang bertingkah laku secara tolol. Sang juru mazmur pernah berkata-kata tentang seorang tolol yang di dalam hatinya mengatakan, bahwa Allah itu tidak ada (Mzm 14:1). Orang yang demikian itu adalah orang yang bertingkah laku secara tolol, yang hidupnya tak bermoral, dan yang dengan angan-angannya mengatakan bahwa Allah tidak ada. Untuk menyebut seseorang itu moros bukan berarti untuk mengkritik kemampuan mental orang tersebut, melainkan untuk melontarkan umpatan- umpatan pada karakter moral orang tersebut. Dengan kata-kata lain, menyebut seseorang dengan moros berarti menghilangkan nama dan reputasi orang tersebut serta mencapnya sebagai pribadi yang tak kenal aturan serta tak bermoral.
Jadi Yesus mengatakan, bahwa barangsiapa merusak nama dan reputasi saudaranya, ia patut mendapatkan hukuman yang terberat, yaitu hukuman api neraka.
Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan dengan 'neraka' adalah gehena. Kata ini mempunyai sejarah. Kata ini secara umum sering dipakai oleh orang-orang Yahudi (Mat 5:22, 29, 30; 10: 28; 18:9 ; 23:5, 33; Mrk 9:43, 45, 47; Luk 12:5; Yak 3:6). Arti sebenarnya adalah Lembah Hinnom. Lembah Hinnom adalah sebuah lembah di sebelah barat laut Yerusalem. Lembah itu terkenal sebagai tempat di mana raja Ahaz memperkenalkan penyembahan kepada dewa kafir Molokh. Dalam penyembahan itu dipersembahkan juga bayi-bayi dengan cara membakar mereka. Kitab 2 Tawarikh menceritakan, bahwa raja Ahaz "membakar juga korban di Lebak Ben-Hinnom dan membakar anak-araknya sebagai korban dalam api" (2 Taw 28:3). Kemudian raja Yosia, yaitu raja Israel yang mengadakan pembaharuan agama pada pertengahan abad ke-7 SM, menghapuskan penyembahan atau ibadah itu, dan memerintahkan agar lembah itu disebut sebagai tempat yang terkutuk untuk selama-lamanya. Penulis kitab 2 Raja-raja menceritakan, bahwa raja Yosia "menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinnom, supaya jangan orang mempersembahkan anak- anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh" (2 Raj 23:10). Sebagai akibat dari semuanya itu maka Lembah Hinnom menjadi tempat pembuangan bagi orang-orang yang tidak disukai di Yerusalem. Di situlah mereka itu dibuang dan dibinasakan. Tempat itu menjadi tempat yang sangat mengerikan, di mana orang-orang jahat yang terhukum dibuang dan dibakar. Di situ selalu ada api membara, asap tebal dan hitam yang membubung, dan banyak cacing yang kelaparan serta menunggu mangsa (Mrk 9:44-48). Jadi gehenna, yaitu Lembah Hinnom, di dalam pikiran setiap orang merupakan tempat orang-orang yang terkutuk dan menjijikkan, di mana semua hal yang jahat dan tak berguna, termasuk manusia, dibuang dan dibinasakan. Itulah sebabnya maka nama itu dipersamakan dengan nama tempat di mana terdapat kuasa Allah yang menghancurkan, yaitu neraka.
Jadi Yesus menekankan, bahwa merusak reputasi dan nama baik seseorang merupakan hal yang paling jahat. Yesus sama sekali tidak suka kepada orang yang senang memfitnah, menuturkan cerita palsu serta mempergunjingkan orang lain. Perbuatan seperti itu akan merusak, bahkan mematikan reputasi dan nama baik orang lain tersebut. Dan perbuatan seperti itu patut mendapatkan hukuman yang terberat. Perbuatan seperti itu adalah dosa yang patut membawa pelakunya masuk ke neraka.
Di atas telah kita katakan, bahwa adanya tingkat-tingkat hukuman itu tidak harus kita pahami secara hurufiah. Yang sebenarnya hendak dikatakan oleh Yesus adalah sebagai berikut: "Pada zaman dahulu semua orang mengutuk pembunuhan; dan pembunuhan memang merupakan perbuatan yang salah. Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa bukan hanya tindakan lahiriah seseorang saja yang mendapat hukuman, tetapi pikiran dan angan-angan yang ada di dalam hatinya pun tak luput dari pandangan dan hukuman Allah. Kemarahan yang mendarah daging adalah jelek; percakapan yang penuh kesombongan lebih jelek lagi; dan pembicaraan yang sembrono dan keliru tentang orang lain sehingga mematikan nama baik orang tersebut merupakan hal yang paling jelek". Orang yang selalu marah, berbicara sombong dan merusak nama baik orang lain, barangkali tidak pernah melakukan tindakan pembunuhan. Tetapi orang yang demikian itu sebenarnya adalah pembunuh di dalam hatinya.
Salah satu hal aneh yang terdapat dalam Kotbah Di Bukit ialah adanya beberapa kesempatan di mana Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap beberapa hal yang mereka telah tahu. Para guru Yahudi telah selalu menekankan pentingnya kewajiban utama, yaitu mengatakan kebenaran. "Dunia ini berdiri teguh di atas tiga hal, yaitu keadilan, kebenaran dan damai." "Empat macam orang yang pasti akan tersingkir dari hadirat Allah, yaitu pengejek, munafik, penipu dan pemfitnah." "Orang yang plintat-plintut sama jahatnya dengan penyembah berhala." Para pengikut mazab Shammai bersikap begitu taat dan keras kepada kebenaran, sehingga mereka melarang adanya sopan-santun dan basabasi sosial, seperti umpamanya, memuji-muji kecantikan wajah pengantin wanita padahal sebenarnya hanya biasa saja, atau mengatakan bahwa makanan ini lezat padahal sebenarnya biasa saja.
Para guru Yahudi tersebut akan lebih lagi menekankan kebenaran tersebut apabila kebenaran itu dijamin dan dikukuhkan dengan sumpah. Perjanjian Baru berulang kali menyatakan hal ini. Alkitab pun menyatakan: "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Kel 20:7). Perintah ini tidak ada hubungannya dengan sumpah dalam arti pemakaian bahasa yang jelek. Perintah itu bermaksud untuk mengutuk setiap orang yang menyampaikan sumpah atau janji dalam nama Allah, bahwa sesuatu itu benar, tetapi sumpahnya itu sebenarnya palsu. "Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu" (Bil 30:2). "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu" (UI 23:21).
Tetapi pada zaman Yesus ada dua hal yang tidak memuaskan mengenai sumpah itu.
Yang pertama adalah yang kita sebut sumpah percuma, yaitu suatu pernyataan sumpah yang sebenarnya tidak perlu dan tidak pada tempatnya. Pada waktu itu orang sudah merasa biasa untuk memulai ucapan-ucapannya dengan mengatakan: "Demi hidup" atau "Demi kepalaku" atau "Biarlah aku tak melihat kejayaan Israel lagi, jika ...." Para rabi Yahudi menandaskan, bahwa mereka yang mengucapkan sumpah serapah adalah berdosa dan salah. Mereka mengatakan: "Ya dari orang benar adalah ya, dan tidak mereka adalah tidak."
Ada satu peringatan penting di sini. Banyak orang yang terlalu sering memakai kata-kata atau bahasa yang suci secara ngawur dan tanpa makna. Mereka menyebut nama-nama yang suci dengan bibir mereka dengan cara yang tidak hormat dan tanpa pikir. Nama-nama yang suci hendaklah tetap dipakai untuk hal-hal yang suci saja.
Yang kedua adalah kebiasaan Yahudi yang lebih buruk dari yang pertama tadi, yang boleh kita sebut sumpah pengelakan, atau sumpah cuci tangan. Orang-orang Yahudi membagi sumpah ke dalam dua kelompok, yaitu sumpah yang mengikat dan sumpah yang tidak mengikat. Setiap sumpah yang memakai nama Allah adalah sumpah yang mengikat secara mutlak. Dan setiap sumpah yang diucapkan tanpa nama Allah masuk dalam kelompok sumpah yang tidak mengikat. Konsekwensinya ialah, bahwa setiap orang yang bersumpah dengan nama Allah dalam bentuk dan ucapan yang bagaimana pun, ia harus secara mutlak menepatinya. Tetapi kalau ia bersumpah demi langit, bumi, Yerusalem, atau kepalanya sendiri, ia boleh merasa bebas untuk melanggarnya. Akibat dari semuanya ini ialah bahwa sumpah-sumpah pengelakan atau sumpah-sumpah yang dilakukan tanpa nama Allah berhamburan, dan semua orang berusaha untuk cuci-tangan dari kewajiban dan tanggung-jawabnya.
Di balik sumpah itu terdapat satu hal yang penting. Jika nama Allah dipakai, maka Allah menjadi pihak yang terlibat di dalam sumpah itu. Sedangkan kalau nama Allah tidak dipakai, maka Allah tidak mempunyai sangkut-paut dengan ikatan yang ada. Soal pokok yang hendak disampaikan oleh Yesus sangatlah jelas. Yesus hendak mengatakan, bahwa meskipun ada usaha manusia untuk tidak melibatkan Allah di dalam ikatan sumpah itu, sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat menyingkirkan Allah dari dalam ikatan itu. Allah selalu ada di sana. Langit adalah takhta-Nya; bumi adalah alas kaki-Nya. Yerusalem adalah kota Allah; kepala manusia bukanlah milik manusia itu sendiri; tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bukan milik Allah. Dan karena itu, tidaklah jadi soal, apakah nama Allah disebut dengan kata atau tidak, sebab Allah sendiri telah berada di sana.
Selanjutnya Yesus memberitahukan kebenaran kekal yang besar. Hidup ini tidak bisa dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, di mana Allah terlibat dan di mana Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa membagi hidupnya, lalu mengatakan, bahwa di bagian ini Allah terlibat, sedang di bagian lain Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku bahasa yang satu, sedangkan di pelabuhan, kantor dan pabrik berlaku bahasa yang lain. Kita juga tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku norma tingkah-laku yang satu, sedangkan di dunia perdagangan berlaku norma yang lain. Kenyataan yang benar ialah, bahwa Allah tidak butuh kita undang untuk masuk ke dalam bagian-bagian tertentu dari hidup kita, serta kita keluarkan dari bagianbagian hidup kita yang lainnya. Allah berada di mana-mana, di sepanjang hidup dan kegiatan kita sepanjang waktu. Ia ada di mana saja menurut kehendak-Nya sendiri. la tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nama-Nya. Ia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan. Dan tidak ada ucapan sumpah dan yang semacamnya, yang bisa mengelakkan keterlibatan Allah di dalam ikatan yang terbentuk, meskipun nama-Nya tidak disebutkan. Oleh karena itu kita perlu menganggap semua sumpah atau janji sebagai sesuatu yang suci, apalagi kalau kita ingat bahwa sumpah atau janji itu kita lakukan di hadirat Allah.
Matius 5:33-37 (lanjutan)
Perikop kita diakhiri dengan perintah agar apabila seseorang mengatakan "ya" maka ia harus mengatakan "ya", dan tidak lebih dari itu. Demikian pula apabila ia harus mengatakan "tidak" maka ia harus mengatakan "tidak", dan tidak lebih dari itu.
Makna yang hendak diungkapkan adalah bahwa setiap orang tidak usah lagi memerlukan sumpah atau janji untuk menopang atau menjamin kebenaran dari segala sesuatu yang diucapkannya. Jaminan dan saksinya haruslah terletak pada dirinya sendiri. Seorang guru dan ahli pidato Yunani yang besar, yang bernama Isokrates, mengatakan: "Orang harus berusaha menjalani kehidupan yang lebih banyak mendatangkan kepercayaan pada dirinya sendiri, ketimbang kepercayaan yang diperolehnya dengan sumpah." Clement dari Alexandria juga menekankan, agar orang-orang Kristen menghayati dan mnenjalani hidup serta menampakkan sifat-sifat kristianinya sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak perlu minta sumpahnya untuk mempercayainya. Masyarakat yang kita cita-citakan ialah masyarakat, di mana kebenaran perkataan setiap warganya dapat dipercaya, dan janji setiap orang benar-benar dipenuhi tanpa jaminan sumpah.
Apakah perkataan Yesus itu kemudian berarti larangan bagi kita untuk mengucapkan sumpah, seperti umpamanya di ruang pengadilan? Ada dua kelompok orang yang dengan tegas menolak mengucapkan sumpah. Kelompok pertama adalah orang-orang Esseni, yaitu anggota salah satu sekte agama Yahudi kuno. Mengenai mereka itu Yosephus pernah menulis: "mereka sangat menonjol dalam hal saling mempercayai, dan mereka adalah pelayan-pelayan perdamaian. Segala yang mereka katakan dapat dipercaya melebihi sebuah sumpah atau janji. Mereka tidak pernah melakukan sumpah. Sumpah mereka anggap lebih buruk dari perkataan palsu. Karena mereka mengatakan, bahwa orang yang tak dapat dipercaya tanpa sumpah adalah orang yang sudah terkutuk."
Kelompok kedua yang sekarang masih ada dalam jumlah yang besar, terutama di Inggris, adalah kelompok Quakers atau kelompok Persekutuan Persaudaraan. Dalam keadaan yang bagaimanapun orang-orang Quakers itu tidak akan pernah mengangkat sumpah. Paling jauh, atau maksimal, yang akan dilakukan oleh George Fox, pemimpin Quakers, adalah memakai kata "Sesungguhnya". Ia menulis: "Saya tidak pernah menyebabkan orang lain berbuat salah selama saya bekerja. Selama saya melakukan pekerjaan saya, saya hanya memakai kata "Sesungguhnya". Dan waktu itu muncul ungkapan yang mengatakan: "Kalau George Fox mengatakan 'Sesungguhnya', maka tak ada seorang pun yang meragukannya." Pada zaman dahulu kelompok Essenilah yang tidak mengangkat sumpah, maka pada zaman kini kelompok Quakers.
Benarkah garis pikiran yang mereka ambil dalam hat ini? Kalau kita lihat di dalam Alkitab, kita temukan, bahwa dalam beberapa kesempatan dan kejadian Paulus sendiri melakukan sumpah itu. Dalam suratnya ke Jemaah Korintus ia menulis: "Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku . . . bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu" (2 Kor 1:23). Juga dalam suratnya ke Jemaah Galatia dia menulis: "Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutulis kepadamu ini benar, aku tidak berdusta" (Gal 1:20). Dengan tulisannya yang demikian itu maka Paulus sudah mengangkat sumpah. Yesus sendiri tidak menolak ketika diri-Nya diminta untuk menyatakan sesuatu di atas sumpah. Ketika Yesus diadili, maka sang Imam Besar berkata kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak" (Mat 26:63). Jadi bagaimanakah jawaban terhadap pertanyaan kita di atas?
Untuk itu marilah kita lihat bagian akhir dari perikop yang kita pelajari ini (Mat 5:37). Di situ dikatakan agar orang mengatakan "ya" jika "ya" dan "tidak" jika "tidak". Lalu akhirnya dikatakan "Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat". Bagian akhir ayat ini bisa mengandung salah satu dari dua arti yang berikut.
Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah yang berikut: orang yang memang benar, tidak perlu mengangkat sumpah; kebenaran perkataannya dan pemenuhan janjinya tidak memerlukan jaminan seperti itu. Tetapi kenyataan bahwa sumpah kadang-kadang masih diperlukan menjadi bukti, bahwa manusia bukanlah manusia yang baik dan bahwa dunia ini bukan dunia yang baik.
Dengan demikian kita memperoleh dua macam kewajiban dari perkataan Yesus itu. Pertama, kita wajib berusaha agar orang lain melihat kebaikan kita sehingga mereka tidak perlu meminta kita mengangkat sumpah. Kedua, kita wajib berusaha dengan giat agar kepalsuan dan ketidak benaran di dunia berkurang-kurang sedemikian rupa sehingga perlunya sumpah itu bisa dihapuskan.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a |Referensi 04b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R04c |
Referensi SHA-04c diambil dari:
| Judul Buku | : | Hidup Damai dengan Seks |
| Pengarang | : | Dr. Paul Gunadi |
| Penerbit | : | SAAT, Malang, 2001 |
| Halaman | : | 12 - 17 |
Zaman ini adalah zaman yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan keberhasilan ekonomi. Di tengah-tengah kesibukan untuk mencapai status sosial yang layak, manusia membutuhkan kelegaan. Jalan keluarnya adalah rekreasi sebagai obat kelegaan yang kita butuhkan.
Bagi sebagian orang, rekreasi adalah seks dan jadilah seks sebagai wadah rekreasi. Seks ditekankan, dipromosikan, dan disajikan sebagai obat dari segala ketegangan. Akibatnya nyata, di mana-mana kita dapat menyaksikan atraksi yang mengandung dan mengundang seks seolah-olah tanpa seks segalanya hambar. Setiap hari kita, mau tak mau, bertemu dengan seks - di jalanan, tontonan, dan pembicaraan. Sedikit demi sedikit nilai moral non-kristen dan rangsangan seksual memasuki dan mempengaruhi kita. Semuanya terjadi tanpa kita terlalu menyadarinya.
Seorang Kristen harus berendam dalam genangan firman Tuhan sehingga firman-Nya sungguh meresap masuk ke dalam hati kita. Firman-Nya bukan saja akan memberi kita pengetahuan tentang kehendak-Nya, tetapi juga kekuatan untuk menguasai dorongan seks. Pikiran yang diisi dengan firman Tuhan adalah pikiran yang lebih bersih dari pikiran-pikiran liar tentang seks. Pikiran yang telah diendapi oleh firman Tuhan akan lebih menyediakan wadah bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam batin kita. Sebagaimana saya kemukakan tadi, kita tidak akan berhasil menghilangkan dorongan seksual; yang dapat kita lakukan adalah mengendalikannya. Pada waktu kita mengisi pikiran dengan firman Tuhan, sebenarnya kita sedang menciptakan keadaan di mana Roh Kudus dapat bekerja dengan lebih leluasa mengendalikan keinginan naluri seks itu. Di sini saya tidak mengatakan bahwa Roh Kudus tidak dapat bekerja tanpa kerja sama kita. Allah yang Mahakuasa tentu dapat berbuat apa saja. Namun saya mengamati dalam kehidupan pribadi saya. Roh Kudus menginginkan kerja sama dengan saya untuk menghasilkan buah penguasaan diri. Ketaatan dan kerinduan kita akan firman-Nya adalah prasyarat untuk hidup dalam penguasaan Roh Kudus.
Walaupun kita telah mengisi pikiran dengan firman Tuhan, namun apabila kita tidak hidup disiplin, niscaya kita akan terus dikuasai oleh naluri seks. Oleh karena penguasaan dorongan seksual merupakan salah satu bentuk disiplin diri, maka diperlukan pula disiplin dalam aspek- aspek kehidupan yang lainnya. Kita perlu mendisiplin tubuh dan pikiran kita agar naluri seks tidak hidup liar.
Pikiran dan tubuh tidaklah terpisahkan; yang satu mempengaruhi yang lainnya. Pada waktu pikiran saya kusut, rasanya tubuh saya pun pegal- pegal, berolah raga pun tidak ingin. Sebaliknya, jika tubuh saya sedang tidak dalam kondisi prima, misalnya karena jarang berolah raga, pikiran saya sering melantur dan perasaan saya mudah terombang-ambing. Selain berolah raga, saya menganjurkan agar Saudara hidup teratur. Tidurlah dengan cukup, yakni antara 7 sampai 9 jam per hari. Tidurlah dan bangunlah pada waktu yang sama setiap harinya. Makanlah secara teratur dan jangan makan terlalu banyak sampai kekenyangan. Sudah tentu kita perlu makan makanan yang bergizi. Biasakan hari-hari kita diisi dengan kegiatan yagn teratur. Rencanakan kegiatan hari libur dengan seksama pula, sebab acap kali hari libur yang kosong memberi peluang untuk pikiran dan tubuh kita lari ke arah dorongan seksual.
Pada waktu kita sedang santai, kita dapat mendengarkan tembang rohani yang menyerap ke dalam sukma kita. Atau kita bisa juga mendengarkan rekaman khotbah yang bermanfaat bagi pikiran dan hati kita. Tatkala pikiran kita mulai bercabang ke arah seks, kita perlu mengalihkannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan lain. Ingatlah, bahwa naluri seks adalah suatu kekuatan yang membutuhkan penyaluran dalam bentuk kegiatan. Hampa kegiatan adalah tempat empuk bagi naluri seks untuk menjamur dan menekan kita.
Sebagai guyonan, saya mendefinisikan SEKS sebagai Saking Enak Kesucian Sirna. Godaan seksual adalah godaan dosa yang biasanya kita tangkal dengan setengah hati. Di pihak yang satu kita menginginkannya, di pihak lain kita mengharamkannya. Disambut salah, dilepas sayang. Jadi, biasanya kita terbelit dalam siklus ini. Menjauhkan diri dari godaan seks untuk sementara waktu, kemudian menghampiri godaan untuk "menguji" kekuatan kita, ternyata gagal, dan kita pun lalu menjauhkan diri dari godaan seks, tapi setelah itu menghampirinya lagi, dan seterusnya.
Dalam 1 Korintus 6;18 Tuhan memerintahkan kita untuk "menjauhkan diri dari percabulan". Perintah yang sama diulang kembali dalam 2 Timotius 2;22, "jauhilah nafsu orang muda." Kata "jauhkan" dalam kedua ayat ini sebetulnya berasal dari kata "melarikan diri." Kata ini digunakan dalam Matius 2:14 ("menyingkir" ke Mesir) takkala Yusuf membawa Maria dan Tuhan Yesus melarikan diri ke Mesir setelah diperingatkan oleh malaikat Tuhan. Kata ini menekankan suatu reaksi yang cepat tatkala melihat bahaya mengancam, yakni melarikan diri guna menyelamatkan diri. Dalam menghadapi godaan seksual, langkah perncegahan adalah langkah teraman dan terbaik. Tidak ada langkah lain yang dapat menandinginya. Yusuf mengerti bahwa di balik godaan seksual tersembunyi bahaya besar. Itulah sebabnya ia pun melarikan diri dari sergapan istri Potifar dan tidak berupaya meyakinkan diri bahwa ia mampu melawannya (Kej 39:12-13). Pencegahan memang jauh lebih baik daripada kejatuhan!
Godaan terbesar setelah berupaya namun jatuh adalah menyerah. Saya menyadari hal ini. Namun saya mengingat nasehat seorang penulis Kristen dari Inggrus bernama C.S. Lewis yang mendorong kita agar tidak menyerah. Lewis menekankan bahwa yang terpenting adalah usaha kita menguasai diri dan melawan godaan. Meskipun adakalanya gagal, namun Tuhan mencatat upaya kita melawan godaan itu. Lewis memberikan contoh tentang pemberian nilau ujian. Jika kita menyerah total dan mengosongkan kertas ujian, sudah pasti kita akan menerima nilai 0 besar. Tetapi apabila kita berusaha menjawab dengan mengisinya sebisa kita, biasanya kita mendapatkan nilai lebih dari 0. Sebagai seorang guru, saya membenarkan ilustrasinya itu. Murid yang mengosongkan kertas ujian, niscaya menerima nilai 0. Namun apabila ia menulis sesuatu dalam usahanya menjawab, meskipun salah tetap saya akan beri nilai.
Saudara sekalian! Perjuangan mengendalikan naluri seks merupakan proses yang tak henti-hentinya. Sebenarnya proses ini akan terus berlanjut hingga kita meninggalkan dunia yang fana ini. Ada orang yang berhasil menjaga kesuciannya masa remaja dan pemuda, tapi jatuh setelah berusia setengah baya. Setiap saat kita dapat digoda dan diuji. Malanglah kita apabila yang menahan kita untuk tidak berdosa hanyalah ketakutan, sebagaimana dikatakan oleh Lewis B. Smedes, seorang dosen teologi di Fuller Seminary. Prinsip ketakutan hanya akan berlaku jika rasa takut itu ada. Apabila rasa takut itu lenyap, kita pun menjadi berani -- berani berdosa. Tuhan ingin melihat usaha kita dan berapa kerasnya kita berusaha. Jadi, janganlah menyerah! Perjalanan kita masih panjang. Kesempatan untuk jatuh ke dalam dosa seksual tidak hanya hadir pada masa remaja. Ia selalu hadir dan menyertai kita sepanjang umur. Oleh karena itu kita perlu selalu berjaga-jaga -- sekarang dan seterusnya.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R05a |
Referensi SHA-R05a diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Matius Ps. 1-10 |
| Judul Artikel | : | Perkataan yang Dapat Diandalkan dan Dipercaya |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 266 - 273 |
Salah satu hal aneh yang terdapat dalam Kotbah Di Bukit ialah adanya beberapa kesempatan di mana Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap beberapa hal yang mereka telah tahu. Para guru Yahudi telah selalu menekankan pentingnya kewajiban utama, yaitu mengatakan kebenaran. "Dunia ini berdiri teguh di atas tiga hal, yaitu keadilan, kebenaran dan damai." "Empat macam orang yang pasti akan tersingkir dari hadirat Allah, yaitu pengejek, munafik, penipu dan pemfitnah." "Orang yang plintat-plintut sama jahatnya dengan penyembah berhala." Para pengikut mazab Shammai bersikap begitu taat dan keras kepada kebenaran, sehingga mereka melarang adanya sopan-santun dan basa-basi sosial, seperti umpamanya, memuji-muji kecantikan wajah pengantin wanita padahal sebenarnya hanya biasa saja, atau mengatakan bahwa makanan ini lezat padahal sebenarnya biasa saja.
Para guru Yahudi tersebut akan lebih lagi menekankan kebenaran tersebut apabila kebenaran itu dijamin dan dikukuhkan dengan sumpah. Perjanjian Baru berulang kali menyatakan hal ini. Alkitab pun menyatakan: "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Kel 20:7). Perintah ini tidak ada hubungannya dengan sumpah dalam arti pemakaian bahasa yang jelek. Perintah itu bermaksud untuk mengutuk setiap orang yang menyampaikan sumpah atau janji dalam nama Allah, bahwa sesuatu itu benar, tetapi sumpahnya itu sebenarnya palsu. "Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu" (Bil 30:2). "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu" (UI 23:21).
Tetapi pada zaman Yesus ada dua hal yang tidak memuaskan mengenai sumpah itu.
Yang pertama adalah yang kita sebut sumpah percuma, yaitu suatu pernyataan sumpah yang sebenarnya tidak perlu dan tidak pada tempatnya. Pada waktu itu orang sudah merasa biasa untuk memulai ucapan-ucapannya dengan mengatakan: "Demi hidup" atau "Demi kepalaku" atau "Biarlah aku tak melihat kejayaan Israel lags, jika ...." Para rabi Yahudi menandaskan, bahwa mereka yang mengucapkan sumpah serapah adalah berdosa dan salah. Mereka mengatakan: "Ya dari orang benar adalah ya, dan tidak mereka adalah tidak."
Ada satu peringatan penting di sini. Banyak orang yang terlalu sering memakai kata-kata atau bahasa yang suci secara ngawur dan tanpa makna. Mereka menyebut nama-nama yang suci dengan bibir mereka dengan cara yang tidak hormat dan tanpa pikir. Nama-nama yang suci hendaklah tetap dipakai untuk hal-hal yang suci saja.
Yang kedua adalah kebiasaan Yahudi yang lebih buruk dari yang pertama tadi, yang boleh kita sebut sumpah pengelakan, atau sumpah suci tangan. Orang-orang Yahudi membagi sumpah ke dalam dua kelompok, yaitu sumpah yang mengikat dan sumpah yang tidak mengikat. Setiap sumpah yang memakai nama Allah adalah sumpah yang mengikat secara mutlak. Dan setiap sumpah yang diucapkan tanpa nama Allah masuk dalam kelompok sumpah yang tidak mengikat. Konsekwensinya ialah, bahwa setiap orang yang bersumpah dengan nama Allah dalam bentuk dan ucapan yang bagaimana pun, ia harus secara mutlak menepatinya. Tetapi kalau ia bersumpah demi langit, bumi, Yerusalem, atau kepalanya sendiri, ia boleh merasa bebas untuk melanggarnya. Akibat dari semuanya ini ialah bahwa sumpah-sumpah pengelakan atau sumpah-sumpah yang dilakukan tanpa nama Allah berhamburan, dan semua orang berusaha untuk cuci-tangan dari kewajiban dan tanggung-jawabnya.
Di balik sumpah itu terdapat satu hal yang penting. Jika nama Allah dipakai, maka Allah menjadi pihak yang terlibat di dalam sumpah itu. Sedangkan kalau nama Allah tidak dipakai, maka Allah tidak mempunyai sangkut-paut dengan ikatan yang ada. Soal pokok yang hendak disampaikan oleh Yesus sangatlah jelas. Yesus hendak mengatakan, bahwa meskipun ada usaha manusia untuk tidak melibatkan Allah di dalam ikatan sumpah itu, sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat menyingkirkan Allah dari dalam ikatan itu. Allah selalu ada di sana. Langit adalah takhta-Nya; bumi adalah alas kaki-Nya. Yerusalem adalah kota Allah; kepala manusia bukanlah milik manusia itu sendiri; tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bukan milik Allah. Dan karena itu, tidaklah jadi soal, apakah nama Allah disebut dengan kata atau tidak, sebab Allah sendiri telah berada di sana.
Selanjutnya Yesus memberitahukan kebenaran kekal yang besar. Hidup ini tidak bisa dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, di mana Allah terlibat dan di mana Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa membagi hidupnya, lalu mengatakan, bahwa di bagian ini Allah terlibat, sedang di bagian lain Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku bahasa yang satu, sedangkan di pelabuhan, kantor dan pabrik berlaku bahasa yang lain. Kita juga tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku norma tingkah-laku yang satu, sedangkan di dunia perdagangan berlaku norma yang lain. Kenyataan yang benar ialah, bahwa Allah tidak butuh kita undang untuk masuk ke dalam bagian-bagian tertentu dari hidup kita, serta kita keluarkan dari bagian-bagian hidup kita yang' lainnya. Allah berada di mana-mana, di sepanjang hidup dan kegiatan kita sepanjang waktu. Ia ada di mana saja menurut kehendak-Nya sendiri. la tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nama-Nya. Ia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan. Dan tidak ada ucapan sumpah dan yang semacamnya, yang bisa mengelakkan keterlibatan Allah di dalam ikatan yang terbentuk, meskipun nama-Nya tidak disebutkan. Oleh karena itu kita perlu menganggap semua sumpah atau janji sebagai sesuatu yang suci, apalagi kalau kita ingat bahwa sumpah atau janji itu kita lakukan di hadirat Allah.
Perikop kita diakhiri dengan perintah agar apabila seseorang mengatakan "ya" maka ia harus mengatakan "ya", dan tidak lebih dari itu. Demikian pula apabila ia harus mengatakan "tidak" maka ia harus mengatakan "tidak", dan tidak lebih dari itu.
Makna yang hendak diungkapkan adalah bahwa setiap orang tidak usah lagi memerlukan sumpah atau janji untuk menopang atau menjamin kebenaran dari segala sesuatu yang diucapkannya. Jaminan dan saksinya haruslah terletak pada dirinya sendiri. Seorang guru dan ahli pidato Yunani yang besar, yang bernama Isokrates, mengatakan: "Orang harus berusaha menjalani kehidupan yang lebih banyak mendatangkan kepercayaan pada dirinya sendiri, ketimbang kepercayaan yang diperolehnya dengan sumpah." Clement dari Alexandria juga menekankan, agar orang-orang Kristen menghayati dan mnenjalani hidup serta menampakkan sifat-sifat kristianinya sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak perlu minta sumpahnya untuk mempercayainya. Masyarakat yang kita cita-citakan ialah masyarakat, di mana kebenaran perkataan setiap warganya dapat dipercaya, dan janji setiap orang benar-benar dipenuhi tanpa jaminan sumpah.
Apakah perkataan Yesus itu kemudian berarti larangan bagi kita untuk mengucapkan sumpah, seperti umpamanya di ruang pengadilan? Ada dua kelompok orang yang dengan tegas menolak mengucapkan sumpah. Kelompok pertama adalah orang-orang Esseni, yaitu anggota salah satu sekte agama Yahudi kuno. Mengenai mereka itu Yosephus pernah menulis: "mereka sangat menonjol dalam hal saling mempercayai, dan mereka adalah pelayan-pelayan perdamaian. Segala yang mereka katakan dapat dipercaya melebihi sebuah sumpah atau janji. Mereka tidak pernah melakukan sumpah. Sumpah mereka anggap lebih buruk dari perkataan palsu. Karena mereka mengatakan, bahwa orang yang tak dapat dipercaya tanpa sumpah adalah orang yang sudah terkutuk."
Kelompok kedua yang sekarang masih ada dalam jumlah yang besar, terutama di Inggris, adalah kelompok Quakers atau kelompok Persekutuan Persaudaraan. Dalam keadaan yang bagaimanapun orang-orang Quakers itu tidak akan pernah mengangkat sumpah. Paling jauh, atau maksimal, yang akan dilakukan oleh George Fox, pemimpin Quakers, adalah memakai kata "Sesungguhnya". Ia menulis: "Saya tidak pernah menyebabkan orang lain berbuat salah selama saya bekerja. Selama saya melakukan pekerjaan saya, saya hanya memakai kata "Sesungguhnya". Dan waktu itu muncul ungkapan yang mengatakan: "Kalau George Fox mengatakan 'Sesungguhnya', maka tak ada seorang pun yang meragukannya."
Pada zaman dahulu kelompok Essenilah yang tidak mengangkat sumpah, maka pada zaman kini kelompok Quakers.
Benarkah garis pikiran yang mereka ambil dalam hat ini? Kalau kita lihat di dalam Alkitab, kita temukan, bahwa dalam beberapa kesempatan dan kejadian Paulus sendiri melakukan sumpah itu. Dalam suratnya ke Jemaah Korintus ia menulis: "Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku . . . bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu" (2 Kor 1:23). Juga dalam suratnya ke Jemaah Galatia dia menulis: "Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutulis kepadamu ini benar, aku tidak berdusta" (Gal 1:20). Dengan tulisannya yang demikian itu maka Paulus sudah mengangkat sumpah. Yesus sendiri tidak menolak ketika diri-Nya diminta untuk menyatakan sesuatu di atas sumpah. Ketika Yesus diadili, maka sang Imam Besar berkata kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak" (Mat 26:63). Jadi bagaimanakah jawaban terhadap pertanyaan kita di atas?
Untuk itu marilah kita lihat bagian akhir dari perikop yang kita pelajari ini (Mat 5:37). Di situ dikatakan agar orang mengatakan "ya" jika "ya" dan "tidak" jika "tidak". Lalu akhirnya dikatakan "Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat". Bagian akhir ayat ini bisa mengandung salah satu dari dua arti yang berikut.
Kalau memang dianggap perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang, maka keperluan itu muncul dari adanya kejahatan di dalam diri manusia. Kalau di dalam diri manusia tidak ada yang jahat, maka sumpah pun tidak akan diperlukan. Dengan kata-kata lain, kenyataan bahwa kadang-kadang dirasa perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang, menjadi bukti akan kejahatan hakekat manusia yang tanpa Kristus.
Kenyataan menyatakan bahwa di dalam hal-hal tertentu dirasa perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang. Kenyataan itu muncul dari kenyataan lain, yaitu bahwa dunia ini adalah dunia yang jahat. Di dalam dunia yang sempurna, yaitu di dalam Kerajaan Allah, pengambilan sumpah itu sama sekali tidak diperlukan. Pengambilan sumpah itu diperlukan hanya karena kejahatan dunia ini.
Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah yang berikut: orang yang memang benar, tidak perlu mengangkat sumpah; kebenaran perkataannya dan pemenuhan janjinya tidak memerlukan jaminan seperti itu. Tetapi kenyataan bahwa sumpah kadang-kadang masih diperlukan menjadi bukti, bahwa manusia bukanlah manusia yang baik dan bahwa dunia ini bukan dunia yang baik.
Dengan demikian kita memperoleh dua macam kewajiban dari perkataan Yesus itu. Pertama, kita wajib berusaha agar orang lain melihat kebaikan kita sehingga mereka tidak perlu meminta kita mengangkat sumpah. Kedua, kita wajib berusaha dengan giat agar kepalsuan dan ketidak benaran di dunia berkurang-kurang sedemikian rupa. sehingga perlunya sumpah itu bisa dihapuskan.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R05b |
Referensi SHA-05b diambil dari:
| Judul Buku | : | Itu kan Boleh |
| Judul Artikel | : | Jangan Mencuri |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung |
| Halaman | : | 33 - 34 |
Keluaran 20:15.
Hukum kedelapan ini mempersoalkan dasar-dasar kita bermasyarakat. Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Kita tidak mampu untuk hidup sendiri-sendiri. Kita harus hidup bermasyarakat, kecuali kita diutus ke lingkup Selatan atau Utara dengan tugas khusus, misalnya di bidang geologi! Tetapi bukan itu yang dipersoalkan sekarang. Persyaratan apakah yang berlaku atas kita, sehingga kita dapat bermasyarakat seperti yang Tuhan kehendaki. Tak lain daripada keterbukaan, kejujuran, kebenaran; sehingga satu dengan yang lain dapat saling mempercayai. Saling mempercayai menjadi unsur terpenting dalam masyarakat yang stabil dan sejahtera. Selain itu kita perlu mendefinisikan istilah mencuri, yaitu mengambil hak milik seseorang, misalnya harta, barang yang konkrit -- pasti kita sudah memaklumi pencurian semacam itu. Tetapi bagaimana dengan:
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a |Referensi 05b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R05c |
Referensi SHA-05c diambil dari:
| Judul Buku | : | Itu kan Boleh |
| Judul Artikel | : | Jangan Mengingini |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung |
| Halaman | : | 36 - 38 |
Keluaran 20:17.
Sesungguhnya hukum yang terakhir ini merupakan kunci kemenangan yang membuka pintu pelaksanaan hukum Allah. Dengan terbukanya rahasia ini, kita mampu menjalankan bukan hanya hukum kesepuluh ini, tetapi juga hukum-hukum Allah yang lainnya.
Dalam arti apakah "jangan mengingini" merupakan kunci kemenangan bagi orang-orang beriman? Apabila seseorang jatuh ke dalam dosa maka kejatuhannya itu merupakan akibat suatu proses yang bertahap:
Tahap pikiran:
Sebuah pikiran sesat melintasi akal kita. Bagaimanapun juga pikiran tersebut menuntut suatu tanggapan dari kita: apakah kita menerima atau menolaknya, mengelak atau menunda-nunda respon kita. Pokoknya kita tidak dapat bersikap pasif. Seandainya kita menerima pikiran sesat tadi, apakah yang terjadi? Kita segera memasuki
Tahap bayangan atau imaginasi:
Seandainya pikiran kita bersifat serakah, mungkin kita akan melalui suatu proses berikut ini. Katakanlah si A tertarik akan uang seribu rupiah yang terletak di meja makan. Pikirannya mulai bekerja: "Wah seribu rupiah! Kebetulan dompetku lagi kosong!" Lalu ia membayangkan apa yang sedang dibutuhkannya: "makanan ekstra untuk menempuh ujian semester, batere baru untuk radio" dan sebagainya. Kalau si A tidak berdisiplin, tahap kedua akan segera memasuki tahap ketiga, yaitu
Tahap mengingini susu atau batu batere untuk radio itu:
"Yah, saya perlu, saya mau ... saya ingin mendengarkan laporan olah raga tentang pertandingan antara A dengan B." Jika keinginan sudah menguasai pikiran kita, maka nafsu akan menang dan menggagalkan segala usaha kita untuk tidak mencuri. Volisi kita kalah karena dikuasai oleh emosi yang disebut: Master Passion (Keinginan yang sangat besar).
Pada tahap ketiga disiplin tak dapat membantu lagi; kita tidak sanggup untuk berdisiplin karena usaha tersebut sudah terlambat, maka tahap keempat akan segera menyusul, yaitu:
Tahap pelanggaran:
Pelaksanaan kesesatan yang sudah dipikirkan, dibayangkan dan diinginkan.
Nah, dengan demikian kita sudah mengerti larangan hukum yang kesepuluh ini; jangan mengingini ...!! Keinginan di sini merupakan suatu Master Passion, suatu emosi yang menguasai dan tidak terkendalikan. Sekarang apakah kesimpulan kita? Hendaklah kita dengan gigih mendisiplinkan pikiran-pikiran kita sejak dari tahap permulaannya. Kalau malas berdisiplin, kalau bersikap "seseng" (segan sengsara) atau "empang" (maunya enak dan gampang) maka kita pasti jatuh ke dalam dosa. Selain dari semuanya ini, hukum kesepuluh mengingatkan kita akan kelemahan manusia yang mungkin paling mendalam dalam jiwa kita dan paling membahayakan, yaitu keserakahan, oportunisme, materialisme. Keserakahan dan isi hati berjalan sejajar, tak dapat dipisahkan, maka hukum kesepuluh memperincikan beberapa ciri keserakahan:
"Jangan mengingini rumah sesamamu (harta milik), jangan mengingini isterinya atau hambanya ... (kebahagiaan rumah tangga, kekasihnya) atau lembunya atau keledainya (perlengkapan dan modalnya), atau apa pun yang dipunyai sesamamu" (Keluaran 20:l7).
Dengan tegas Tuhan menyebutkan dua bidang khusus dalam hukum yang kesepuluh ini, ialah materi dan seks. Rupanya dua bidang inilah yang paling sering menjatuhkan manusia dalam dosa. Rasul Paulus pun memperingatkan kita, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang." Keserakahan membuat kita "menyimpang dari iman". (1 Timotius 6:10), sehingga kehilangan pegangan -- harapan dan arah tujuan. Wah -- celaka! Maka untuk terakhir kalinya kita bertanya: Benarkah Hukum Allah itu sudah usang?
Betapa ajaibnya Firman Tuhan yang menjanjikan bahwa Allah akan menulisi hati umat-Nya dengan Hukum-hukum Allah, sehingga ketaatan kepada perintah-perintah-Nya dan kepada norma-norma kehidupan yang benar bukan lagi menjadi beban melainkan kesukaan, bukan lagi keberatan melainkan kebahagiaan. Bagaimana sikap Anda sendiri terhadap Sepuluh Hukum Allah?
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum yang Terutama |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R06a |
Referensi 06 diambil dari:
| Judul Buku | : | Etika Kristen Bagian Umum |
| Judul Artikel | : | Pokok Hukum Taurat |
| Pengarang | : | DR. J. Verkuyl |
| Penerbit | : | Gunung Mulia |
| Halaman | : | 139 - 149 |
Isi Injil dapat disimpulkan dalam satu kalimat: Allah alalah kasih. Bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang mengasihi kita dan kasih-Nya tetap dicurahkan terus kepada kita. Kasih-Nya tidak kunjung padam. Itulah Injil.
Hukum Taurat pun dapat disimpulkan dalam satu kalimat: di dalam Hukum Taurat-Nya, Allah menuntut kasih: "Kasih itu adalah kegenapan Hukum Taurat". Allah menuntut apa yang diberikan-Nya, yakni kasih. Bukan yang lainnya. Tidak lebih dari itu. Tidak kurang dari itu. Allah memberikan semuanya. Diri-Nya sendiri. Itulah Injil.
Allah menuntut semuanya. Diri kita sendiri. Itulah perintah. Perintah itu banyak, tetapi semua perintah mempunyai sesuatu hubungan dengan perintah kasih. Perintah kasih itu dalam Peijanjian Lama dirumuskan dalam Kitab Ulangan 6:4 dan 5.
Dalam Perjanjian Baru Yesus bertolak kembali dari perumusan itu (Mat. 22:37-40): Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".
Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Dua buah perintah yang bersama-sama menjadi dwi-tunggal.
Bagaimanakah hubungan antara kedua bagian perintah kasih yang dwi- tunggal itu?
Banyak di antara ahli teologi dan filsafat yang memadukan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama manusia.
Ahli filsafat Immanuel Kant mengatakan, bahwa kasih kepada Allah terdapat di dalam kasih kepada sesama manusia.
Ahli teologi Albrecht Ritschl, yang menuruti jejak Kant, mengatakan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat berdiri sendiri. Kasih kepada Allah dinyatakan dalam kasih kepada sesama manusia. Ritschl mendasarkan hal itu pada 1 Yohanes 4:19-21 dan 1 Yohanes 5:1-3 (hal mana sebetulnya tidak benar).
Lebih-lebih lagi paham Richard Rothe dan Walter Rauschenbusch! Mereka mempersamakan kasih kepada Allah itu dengan pemenuhan kewajiban kita dalam pekerjaan kita. Emil Brunner pun mempersatukan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama manusia dan mengatakan, bahwa hubungan antara kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama manusia adalah seperti mata air dan sungainya, pohon dan buahnya.
Betulkah itu? Adakah keberatan-keberatan terhadap jalan pikiran itu? Jika kita memikirkan masalah ini, haruslah kita mulai dengan memegang teguh, bahwa ada kesatuan batin antara kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.
Yesus berfirman: ada dua buah perintah. Tetapi kedua perintah itu merupakan dwi-tunggal. Jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah, tetapi tidak mengasihi sesama manusia, maka pada hakikatnya kita tidak mengasihi Allah. Sebab Allah mengasihi manusia. Allah berkenan kepada manusia. Siapa mengasihi Allah haruslah pula mengasihi manusia yang telah dijadikan menurut gambar-Nya.
Demikianlah pula sebaliknya. Barangsiapa mengatakan bahwa ia mengasihi manusia, tetapi tidak mengasihi Allah, maka pada hakikatnya ia tidak mengasihi sesama manusia. Sebab Allah adalah satu-satunya sumber kasih yang sejati. Tanpa Allah berarti tanpa kasih, sebab Allah itu kasih.
Kesatuan inti perintah kasih yang dwi-tunggal ini penting sekali bagi Etika Kristen. Di dalam mistik (ilmu tasawuj) selalu terdapat kecenderungan akan memupuk kasih kepada Allah yang bersifat mistik, yang tidak memperhatikan kebutuhan sesama manusia. Kasih yang mistis semacam ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasih yang sejati kepada Allah yang hidup. Itulah merupakan suatu cara penyembahan diri sendiri.
Orang yang mengasihi Allah secara mistik ini mengatakan juga bahwa ia mengasihi Allah, tetapi pada hakikatnya ia memuja diri sendiri. Mistik adalah semacam, "utismus" (autisme) si-Aku yang menjadi pusat (egosentrisitas).
Sebaliknya tampaklah bermacam-macam bentuk paham humanisme, yang menganjurkan mengasihi sesama manusia tanpa mengasihi Allah. Juga pengajaran yang demikian itu sia-sia belaka. Sebab kasih kepada sesama manusia itu tidak mungkin dan tidak dapat terjadi tanpa kasih kepada Allah.
Jadi kesatuan inti di dalam perintah kasih yang dwi-tunggal itu harus senantiasa diakui oleh Etika Kristen. Tetapi sebaliknya, tidak boleh diabaikan juga, bahwa kedua bagian dari pokok Hukum Taurat itu merupakan hal yang berdiri sendiri.
Kasih kepada Allah tidak sama dengan kasih kepada sesama manusia. Garis tegak lurus (vertikal), yakni hubungan dengan Allah, tidak lama dengan garis datar (horizontal), yakni hubungan dengan sesama manusia.
Loh pertama Hukum Taurat memang merupakan suatu dwi-tunggal dengan loh kedua Hukum Taurat itu. Tetapi loh pertama Hukum Taurat itu harus dibedakan dari loh kedua.
Di dalam bermacam-macam buku pelajaran Etika Kristen, hal itu kerap kali dilupakan. Ada juga buku-buku pelajaran Etika Kristen yang sama sekali tidak membicarakan tentang kasih kepada Allah. Keempat hukum yang pertama dari Kesepuluh Titah Tuhan itu dengan sepatah kata pun tidak disebut-sebutnya. Di dalam buku-buku pelajaran itu tidak diajarkan tentang melawan penyembahan berhala, penyembahan patung, melawan pencemaran nama Tuhan, dan melawan pencemaran hari Sabat yang kudus (hari Minggu).
Kasih kepada Allah tak disinggungnya sama sekali. Buku-buku pelajaran itu hanya membicarakan hubungan antara manusia dengan sesama manusianya. Itu tidak benar. Di dalam Etika Kristen haruslah terdapat pembicaraan tentang kasih kepada Allah dan berbagai segi dari kasih itu janganlah kita abaikan. Di dalam Etika umum semuanya ini belum lagi dijelaskan. Ini termasuk tugas Etika khusus.
Di sini hanya diberikan beberapa uraian pendahuluan yang singkat mengenai kasih kepada Allah, kasih kepada sesama manusia dan kasih kepada diri sendiri.
Kasih kepada Allah
Apakah artinya mengasihi Allah? Menurut Alkitab, artinya adalah membalas kasih Allah kepada kita. "Kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu telah mengasihi kita. Dan yang telah mengutus Anak- Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yoh. 4:19 dan 1 Yoh. 4:10). Mengasihi Allah berarti hidup dari kasih-Nya, yakni dikuasai oleh anugerah Allah. Mengasihi Allah ialah menerima dan memberi lagi, disayangi dan menyayangi.
Di dalam titah yang pertama dan terutama sudah kelihatan dengan terang, betapa sunguh-sungguh Allah meminta hati kita dan jiwa kita. Tuhan yang memberikan yang "terdalam' kepada kita, yakni diri-Nya sendiri, hati-Nya, Ia pun meminta kepada kita yang "terdalam" yang terakhir, yakni hatikits.
Dia pertama-tama tidak meminta kemauan kita. Dia pertama-tama tidak meminta perasaan dan emosi kita. Bukan pula milik dan waktu kita yang diminta-Nya. Tetapi yang diminta-Nya ialah apa yang diberikan- Nya kepada kita: hati, jiwa. Jika itu kita berikan kepada-Nya, maka Ia telah mendapat semuanya. Dengan demikian kita menyerahkan juga kepada-Nya: pikiran kita, perasaan kita, kehendak kita, waktu kita, milik kita, perkataan kita dan perbuatan kita.
Tuhan, yang mau menjadi Allah kita dengan sebulat-bulatnya (Akulah TUHAN, Allahmu), menghendaki supaya kita dengan sebulat-bulatnya hidup untuk Dia. Apa sebenarnya arti kasih kepada Allah itu, dapat dibaca antara lain di dalam keempat hukum yang pertama dari Dasatitah, yang kelak akan kita bicarakan.
Di sini hanyalah ditunjukkan, bahwa kasih kepada Allah itu juga meminta perhatian yang khusus dari kita. Kasih kepada Allah itu tidak hanya diusahakan di dalam kasih kepada sesama manusia. Kasih kepada Allah meminta juga kepada kita supaya kita menyediakan waktu yang khusus untuk melakukan kasih itu di dalam doa dan pembacaan Alkitab dan perenungan (meditasi) dan sebagainya.
Yesus Kristus tidak membuang kehidupan keagamaan dalam pengertian khusus. Bahkan sebaliknya. Ia membicarakannya dengan panjang lebar. Ia mau membersihkan kehidupan keagamaan itu dari motif-motif yang salah dan mengisinya dengan kasih kepada Allah yang sejati, (bnd. dengan Khotbah di Bukit dalam Mat 6:1-18).
Tepat sekali peringatan Soe di dalam Ethieknya, bahwa jika usaha mengasihi Allah itu menjadi tipis atau kabur, maka usaha mengasihi sesama manusia pun menjadi tipis atau kabur juga. Ia bertanya, "Apakah kasih kepada sesama manusia itu tumbuh sejak berkurangnya kasih kepada Allah dan berkurangnya usaha mengasihi ini?"
Kasih kepada sesama manusia
Dengan kesungguhan yang sesungguh-sungguhnya, Allah menuntut dari kita kasih kepada sesama manusia. Sebagaimana kasih kepada Allah didasarkan atas kasih Allah kepada kita, demikian pula kasih kita kepada sesama manusia didagarkan atas kasih Allah kepada sesama manusia.
Bahwa Allah berkenan akan manusia, itu telah dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Anak manusia sudah datang untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Allah mengasihi manusia bukan karena kebajikannya, bukan karena kesalehannya, ataupun kebangsaannya. Tetapi Kasih Allah ialah kasih kepada orang yang jatuh, orang berdosa, orang jahat dan orang fasik. Di dalam Kasih itulah terletak sumber kasih kita kepada sesama manusia.
Allah menuntut supaya kita mengasihi sesama manusia demi kehendak Kristus. Jadi di dalam Alkitab dasar-dasar kasih kepada sesama manusia itu bukan terletak pada bangsa dan suku bangsa, bukan pada kepentingan golongan, pada sifat-sifat yang menarik hati dari sesama manusia, pada peri kelakuannya yang baik, pada bakat- bakatnya atau miliknya. Tetapi, dasar-dasarnya terletak pada Yesus Kristus. Hanya di dalam dan oleh Yesus Kristus orang dapat menjadi sesama manusia bagi kita.
Dengan tepat Barth mengatakan, bahwa pengertian sesama manusia itu adalah pengertian kekristenan. Pengertian sesama manusia itu barulah diterima dengan kesadaran oleh umum melalui agama Kristen. Manusia maupun segolongan manusia, menurut kodratnya, tidak mengenal kasih kepada sesama manusia. Menurut kodratnya, manusia memang mempunyai rasa kekeluargaan, rasa kebangsaan, rasa golongan, kesadaran akan kepentingan golongan, tetapi tidak mempunyai kasih kepada sesama manusia. Kita manusia menurut kodratnya, tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Paling-paling kita hanya "family minded", tetapi tidak "social minded". Karena manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya, maka Allah menjadi manusia.
Allah yang "berperi-kemanusiaan". Di dalam Yesus Kristus Allah telah menyatakan, apa peri kemanusiaan itu. Di dalam dan karena Yesus Kristus barulah kita dapat mengenal sesama manusia.
Apa yang dimaksud dengan kasih kepada sesama manusia di dalam Alkitab, dapat kita lihat dari perumpamaan "Orang Samaria yang Murah Hati" yang menaruh belas kasihan. Bertanyalah seorang ahli Taurat, siapakah gerangan sesama manusianya itu. Ia menyangka dapat menjawab sendiri pertanyaaan itu. Jawabnya di dalam kehidupan sehari-hari adalah: "Aku memilih sesamaku manusia. Sesamaku manusia ialah: bangsaku sendiri dan di dalam lingkungan bangsa itu yang kuutamakan, yakni orang dari golonganku sendiri". Tetapi di dalam perumpamaan "Orang Samaria yang Murah Hati" itu, Tuhan Yesus menyatakan bahwa bukanlah kita sendiri yang menentukan, siapa yang menjadi sesama manusia kita. Allah juga yang menentukan untuk siapa kita layak menjadi sesama manusia.
Sesama manusia ialah misalnya orang yang sedang menderita kesukaran, yang ditempatkan Allah pada jalan hidup kita. Kita harus menjadi sesama manusia orang itu demi kehendak Allah.
Ketika orang Samaria melihat si korban yang sedang menderita kesukaran itu, ia tidak menanyakan: Apakah orang itu termasuk golonganku? Termasuk partaiku? Samakah agama kami? Tetapi ia sadar, bahwa di situ ada orang yang sedang ditimpa sengsara. Ia hidup dari kemurahan Allah, ia pun menjadi alat kemurahan Allah untuk orang yang ditimpa kesengsaraan. Ia tidak memilih sesama manusianya sendiri. Allah menempatkan seorang manusia di jalan hidupnya dan untuk dialah ia harus menjadi sesama manusia demi kehendak Allah.
Untuk siapakah kita harus menjadi sesama manusia? Pertanyaan ini tidak dapat kita jawab sendiri. Allah juga yang menjawab pertanyaan ini untuk kita di dalam keadaan yang konkret. Di dalam keadaan itu Allah menunjukkan kepada kita, untuk siapa kita harus menjadi sesama manusia. Sudah selayaknya kita harus menjadi sesama manusia bagi mereka yang berhubungan dengan kita karena bermacam-macam pertalian; keluarga kita, bangsa kita, teman sekerja dsb. Jika kita tidak menjadi sesama manusia bagi orang-orang yang betul-betul dekat dalam arti yang sebenarnya dan yang bersama-sama dengan kita, bagaimanakah hati kita akan dapat terbuka untuk orang lain yang ada di luar lingkungan tadi?
Suatu peribahasa Inggris mengatakan: "Charity begins at home: penyataan kasih dimulai di rumah". Dan peribahasa Jerman mengatakan tentang orang yang di jalan bagaikan malaikat, tetapi di rumah seperti setan: "Strassenengel und Hausteufel".
Paulus menunjukkan pula, bahwa sudah selayaknya kita harus mempunyai kasih kepada sesama manusia di dalam lingkungan orang- orang yang paling erat hubungannya dengan kita. Ia menulis dalam Galatia 6:10: "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman". Tetapi, jika kasih itu terbatas pada orang dari bangsa kita, dari suku bangsa atau marga, dari persekutuan gereja kita atau agama, maka kita tidak mengetahui apa yang disebut kasih kepada sesama manusia menurut pengertian Alkitab. Jika mata kita betul-betul terbuka, jika kita hidup dari belas kasihan Allah, maka kita akan kerapkali menemukan orang-orang di luar lingkungan kita, yang ditempatkan Allah di jalan kita, supaya kita menjadi sesama manusia baginya. Bahkan tuntutan kasih kepada sesama manusia itu dapat berarti kasih kepada "orang yang paling jauh ". Sebab sesama manusia kita itu tidak selalu orang yang menurut tempatnya tinggal dekat dengan kita. Ia dapat juga beribu-ribu kilometer jauhnya dari kita.
Ketika Paulus di dalam mimpinya mendengar orang Makedonia berseru: "Datanglah dan tolonglah kami", maka ia mendengar seruan orang yang tergolong "orang yang terjauh", jika dilihat dari Asia Kecil. Paulus suka membatasi kasih akan sesama manusia itu pada golongan- golongan yang dikenalnya, bangsa-bangsa Sem dan orang-orang Asia Kecil. Ia belum pernah berhubungan dengan bangsa Eropah. Tetapi Allah sudah menjelaskan kepadanya pada malam itu, bahwa ia harus pula menjadi sesama manusia bagi bangsa Eropah.
Jika di suatu tempat ada suatu bencana, misalnya pada waktu gunung Merapi meletus, pada waktu air bah di Tiongkok, pada waktu gempa bumi di Chili, maka mungkinlah dengan tiba-tiba Allah menggerakkan orang yang jauh tempat tinggalnya menjadi sesama manusia bagi mereka yang tertimpa bencana itu!
Kita diperkenankan hidup dari kasih Allah kepada manusia. Allah mengasihi dunia ini. Allah mengasihi segala bangsa. Jika kita hidup dari kasih itu, maka kasih kepada sesama manusia itu tidak ada batas-batasnya. Allah tidak mendirikan tembok-tembok pembatasan. Allah tidak menarik lingkaran-lingkaran pembatasan di sekeliling bangsa-bangsa tertentu saja. Kasih Allah tidak terhenti oleh karena batas-batas tertentu. Oleh karena itu, maka kita pun tidak boleh membatasi kasih kita terhadap sesama manusia.
Kasih kepada diri sendiri
"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Seperti dirimu sendiri. Bolehkah kita mengasihi diri kita sendiri?
Banyak ahli teologi berpendapat, bahwa tidak benar bila orang memerintahkan supaya mengasihi diri sendiri. (Demikianlah misalnya dalam tulisan-tulisan Luther dan Karl Barth.)
Pendapat lain (pada hemat kami tepatlah ini) mengatakan bahwa orang boleh mengasihi diri sendiri. Ada dua macam kasih kepada diri sendiri. Ada kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat, itu termasuk dosa. Dan ada kasih kepada diri sendiri yang dilahirkan dari kasih Allah kepada kita, manusia. Kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat itu adalah egoisme. Manusia, menurut kodratnya, selalu ingin menempatkan diri sendiri di pusat. Ia mencari kehormatan diri sendiri, kebesaran nama sendiri, kepentingan diri sendiri, kebahagiaan sendiri, kesukaan sendiri.
Di dalam cerita dewa-dewa Yunani dikisahkan tentang Narcissus, seorang dewa remaja yang congkak, gila bersolek. Narcissus selalu melihat bayangannya di dalam air kolam. Tersenyum ia demi melihat bayangannya itu. Ia memuji-muji dirinya sendiri.
Kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat itu adalah Narcisme. Kasih semacam itu janganlah diubah, diperbaiki, ataupun disublimasikan, tetapi haruslah dimatikan. Harus disalibkan bersama-sama Kristus. Kasih kepada diri sendiri semacam itu haruslah disangkal! Kita harus belajar mengatakan "tidak" terhadap kasih itu, dengan kekuatan Kristus. Jika kita sungguh-sungguh mengenal Yesus, maka kits sendiri harus dijatuhkan dari takhta kita. Barulah kita sadar bahwa kita sendiri bukan semacam dewa-dewa kecil. Tetapi hanya "anak yang hilang", yang tidak berharga dan yang berdosa.
Akan tetapi, jika kita mengalami, bahwa Allah mau menerima kita kembali, anak yang sudah hilang, jika kita diperkenankan hidup dari kasih Allah kepada kita sebagai orang-orang yang hina, maka bolehlah kita memandang diri kita sebagai anak-anak di dalam keluarga Bapa, sebagai ahli waris di dalam Kerajaan Allah, sebagai hamba sahaya Tuhan Yesus. Kita boleh hidup dari belas kasihan Allah, dan sebagai anak-anak Allah yang lain kita pun mendapat tempat di dalam Rumah Bapa, kita boleh menjadi peserta. Maka barulah timbul kasih kepada diri sendiri yang berlainan sama sekali dengan kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat itu dan yang sia-sia belaka.
Peran utama di dalam kasih kepada diri sendiri yang sia-sia ini adalah kita sendiri. Sedangkan di dalam kasih kepada diri sendiri yang diperbarui dan dikuduskan itu bukanlah kita sendiri yang merupakan peran utama, tetapi kita menjadi hamba sahaya dari Pemeran Utama: Yesus Kristus.
"Kasih kepada diri sendiri yang sejati ialah patuh pada perintah yang besar dan terutama" (Soe). Biji gandum menghasilkan buahnya, bila ia mati tertanam dalam tanah. Kasih kepada diri sendiri yang sejati tumbuh seimbang dengan kematian kasih kepada diri sendiri yang sia-sia itu. Barangsiapa menyangkal diri sendiri, maka ia akan menemukan bahwa jalan penyangkalan diri dan penyerahan diri kepada Yesus adalah jalan keselamatan, juga bagi hidup kita sendiri.
Barangsiapa mengaku tidak layak disebut anak Allah, akan mengetahui bahwa Allah memberi tempat juga kepada kita di antara anak-anak- Nya. Di samping berjuta-juta anak Allah, kita pun boleh menemukan tempat di dalam keseluruhan itu.
Hubungan antara pokok Hukum Taurat dan penerapan khusus Hukum Taurat di dalam lapangan hidup tertentu
Sebagai penutup uraian mengenai Hukum Taurat ini, haruslah dipaparkan soal hubungan antara Hukum Taurat dan perintah-perintah khusus serta penerapannya di dalam berbagai lapangan hidup.
Di dalam Alkitab tidak hanya terdapat Hukum Taurat, tetapi terdapat juga banyak perintah yang konkret pada Kesepuluh Titah Tuhan, pada Khotbah di Bukit, pada surat-surat kiriman rasul-rasul.
Di dalam kenyataan hidup, di semua lapangan hidup, kita berhubungan dengan banyak masalah kesusilaan yang serba sulit dan dengan keadaan-keadaan yang tidak terhitung banyaknya, di mana kita bertanya: Apakah yang dikehendaki Allah dari kita di dalam keadaan ini? Apakah yang disuruhkan-Nya, sekarang dan di sini? Hubungan apakah yang terdapat antara perintah kasih yang dwi-tunggal dengan perintah-perintah lainnya itu? Adakah perintah kasih yang dwi- tunggal itu terpisah dari perintah yang khusus?
Jika kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini menurut Alkitab, maka hanya ada satu jawaban. Perintah yang khusus itu merupakan uraian, gambaran pengenaan, dan penyataan dari perintah kasih yang dwi- tunggal tersebut.
Sebagaimana di dalam suatu lagu, kadang-kadang hanya satu lagu pokok (tema) yang disusun dalam berbagai cara, demikianlah Allah menyusun perintah dwi-tunggal itu di dalam bennacam-macam bentuk, tetapi pokoknya di manapun juga adalah tetap sama. Kasih itu tetap menjadi penggenapan Hukum Taurat. Di manapun juga! Di dalam setiap keadaan dan di semua lapangan hidup.
Hal ini terutama di bagian khusus Etika, tidak boleh dilupakan sama sekali. Nanti kita akan membicarakan tentang Etika sosial, ekonomi, politik, kebudayaan. Dan di situ ada bahaya besar, yaitu berbuat seolah-olah di lapangan-lapangan khusus itu kita hanya berhubungan dengan hukum dan suruhan-suruhan yang lain.
Sesungguhnya tidaklah demikian! Tiap-tiap masalah di dalam Etika; soal kelamin misalnya, haruslah dikembalikan kepada soal: Apakah yang dituntut oleh kasih kepada sesama manusia itu dari kita? Tiap- tiap masalah di dalam Etika politik haruslah dikembalikan kepada pertanyaan: Apakah yang dituntut oleh kasih kepada sesama manusia itu dari kita? Etika kebudayaan penuh dengan masalah yang serba sulit. Tetapi masalah-masalah yang tersulit pun haruslah dihadapkan kepada terang perintah: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.
Sebagaimana jari-jari roda berputar pada satu sumbu, demikianlah pula perintah-perintah adalah bagaikan jari-jari yang berputar pada satu pusat, yaitu perintah pusat. Sebagaimana tiap titik pada lingkaran mempunyai hubungan yang tetap dengan titik pusat, demikianlah pula semua perintah khusus mempunyai hubungan yang tetap dengan pusat perintah Allah. Segala yang dituntut oleh Allah di dalam hukum-Nya, bergantung kepada Hukum Taurat.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum yang Terutama |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R06b |
Referensi SHA-06b diambil dari:
| Judul Buku | : | Pandangan Agama Kristen Tentang New Morality |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung, 1983 |
| Halaman | : | 52 - 63 |
Kita harus sungguh-sungguh memahami istilah kasih, yang sering disalahgunakan. Pada umumnya arti kasih agak kabur bagi kita dan kita kurang mampu membedakan antara perjuangan New Morality yang berdasarkan kasih dengan ajaran Kitab Suci yang diringkaskan dengan kasih dan diutamakan dalam seluruh Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" dan "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:37,39).
Menurut Rasul Paulus orang yang bertindak dalam kasih menggenapkan hukum. "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Roma 13:10). "Tujuan nasihat itu ialah kasih" (1 Timotius 1:5). Tuhan Yesus pun telah memberikan hukum baru kepada kita, yaitu hukum kasih yang tersurat dalam Injil Yohanes 13:34.
Dalam hal ini perlu kita perhatikan, bahwa Kristus tidak menyatakan kehendak Allah yang baru, sebab kehendak-Nya tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Tetapi Tuhan Yesus menyatakan cara pelaksanaan yang baru.
New Morality berdiri atas dasar kasih dan menuntut kebebasan kasih. Dengan kekuatan kita sendiri tidak mungkin kita mengasihi dalam arti Kristen, walaupun kita ingin mengasihi dan kita mengerti bahwa kita harus saling mengasihi. Tetapi orang yang hidupnya diikat dengan Kristus, yang dipersatukan dengan Dia dalam kasih, menggali dari sumber kasih yang sejati, sehingga dapat mencurahkan kasih Allah yang terlebih dahulu dicurahkan ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (Roma 5:5).
Tetapi apakah perbedaan antara kasih dalam Kitab Suci dengan kasih dalam New Morality?
Sebelum menelaah kasih yang diajarkan dalam Kitab Suci, baiklah kita membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia. Perbedaan ini pernah dikemukakan oleh Dr. Toyotome, walaupun dalam bentuk lain, ketika memimpin kursus penginjilan di kota Bandung beberapa tahun yang lalu. Ia membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia seperti berikut:
KASIH ALLAH
Kasih Kendati Pun (KK)
Kasih Meskipun (KM)
Kasih Biarpun (KB)
Kasih Sekalipun (KS)
KASIH MANUSIA
Kasih Manusia (KK)
Kasih Karena (KK)
Dengan huruf-huruf ini perbedaan pokok antara kedua kasih tersebut dapat kita lihat dengan jelas.
Kasih manusia, kasih kalau, senantiasa mengharapkan sesuatu, menantikan sesuatu. Tidak pernah terlepas dari tanggapan serta reaksi obyek yang dikasihi. Kasih manusia senantiasa bersifat materialistis dan menuntut beberapa syarat yang harus dipenuhi dahulu. "Kalau engkau mengikuti kehendakku ... kalau engkau meminta maaf . . . kalau engkau ... maka aku ..."
Begitu juga kasih karena sikap itu pun "berechnend" (sikap yang mempertimbangkan untung rugi atau memperhitungkan segala sesuatu). Kasih karena bukan kasih yang murni dan spontan, melainkan kasih yang egois yang keluar dari hati yang materialistis, yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dalam segala hal. Sama dengan sikap "kalau", sikap "karena" juga tidak terlepas dari tanggapan serta reaksi obyeknya. "Kalau saya lulus, baru saya mau mengikuti Kristus." "Kalau anak saya selamat dalam operasi, saya bersedia dibaptis." Karena si A sering mentraktir dan berfoya-foya, maka si B mau bergaul dengan dia serta menjadi pacarnya.
Kasih Allah tidak pernah memperhitungkan sesuatu, tidak pernah menuntut sesuatu dari kita. Kasih Allah dicurahkan kepada kita kendati pun, walaupun ... sekalipun kita lemah, kendati pun kita ditaklukkan oleh dosa dan masih berseteru dengan Dia, namun demikian Tuhan Yesus mati ganti kita (Roma 5:6-10). Meskipun Kristus tidak bersalah dan walaupun tidak berdosa, kendati pun umat manusia menyalibkan Dia, namun Anak Allah yang tunggal itu menyerahkan nyawa-Nya ganti kita, dan karena kasih-Nya, menanggung dosa isi dunia ini. Maka kita melihat dengan nyata bahwa kasih Allah itu terlepas dari reaksi kita; hati Kristus terdorong oleh kasih yang murni. Walaupun kita jahat, durhaka serta keras kepala, tidak layak diperhatikan atau dikasihi, namun tetap Tuhan menyatakan isi hati-Nya terhadap kita sekalian. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).
Dalam 1 Yohanes 3:12-16 Rasul Yohanes melukiskan ciri-ciri khas dari kasih Allah, yaitu pelayanan dan pengorbanan. Sebagai contoh Yohanes membedakan antara Kain dan Kristus. Kain mengorbankan saudaranya Habel demi kepentingan diri sendiri, sedangkan Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya untuk serta demi keselamatan kita. Kain membenci Habel, sebab Allah membenarkan hidup Habel melalui persembahannya, sedangkan dosa Kain dinyatakan ketika persembahannya ditolak oleh Allah. Kita dapat membayangkan perkembangan dalam hubungan antara kedua saudara tersebut. Tiap kali Kain bertemu dengan adiknya, Habel, ia teringat kembali akan peristiwa persembahan, sehingga makin lama makin meadalam rasa dendam, iri dan benci terhadap saudaranya dan pada akhirnya Kain mengambil keputusan membunuh adiknya, Habel, Habel harus mati; tidak mungkin kedua saudara itu hidup bersama. Seorang harus dikorbankan, supaya yang seorang lagi dapat hidup dengan senang dan tidak terganggu pikirannya karena terkenang akan peristiwa yang memalukan itu. Sudah barang tentu bukan Kain yang dikorbankan, "Kain tidak akan mengorbankan nyawanya." Kain senantiasa harus hidup. Kain tidak akan mengalah. Kain senantiasa harus menang bagaimana pun nasib saudaranya. Kain akan senantiasa mengorbankan bukan dirinya sendiri, melainkan hidup saudaranya.
Betapa indahnya kasih Kristus yang tidak memikirkan diri-Nya, yang rela mengorbankan bahkan nyawa-Nya untuk kita. Memang SATU HARUS MATI, tetapi yang dikorbankan bukan Anda, bukan siapa-siapa, bukan seorang manusia pun, melainkan hanya diri Tuhan Yesus Kristus. Kain membunuh supaya ia boleh hidup. Kristus mati supaya kita boleh hidup dalam Tuhan. Betapa besar kontras antara kasih Allah dengan kasih manusia. Kita mengasihi asal hal itu menguntungkan. Allah mengasihi, walaupun Anak-Nya harus mati tersalib untuk pengampunan dosa kita. Walaupun manusia tidak mengucapkan syukur dan terima kasih, walaupun manusia sama sekali kurang insaf, namun Allah tidak menahan Anak-Nya yang tunggal sekalipun, melainkan menyerahkan-Nya supaya kita memperoleh hidup yang kekal di dalam Dia.
Manusia bertitik tolak dari segi keuntungan diri sendiri, Allah bertitik tolak dari segi kepentingan obyek-Nya, meskipun obyek itu penuh dengan dosa dan kenajisan, penuh dengan keakuan dan keangkuhan.
Kasih Allah itu bebas, spontan, murni, penuh pengampunan dan rahmat serta penuh pengorbanan. Segi pengorbanan diistimewakan dalam istilah:
AGAPE (Yunani - kasih).
C.H. Dodd pernah mendefinisikan Agape seperti berikut: "Agape is not primarily an emotion or affection, it is primarily an active determination of the will." Pada hakekatnya Agape bukan suatu emosi, bukan rasa cinta, meiainkan suatu sikap yang bertekad akan bertindak. Kemauan manusia diaktifkan lebih dari perasaannya. Definisi lain berbunyi sebagai berikut: "Agape itu kehendak dan usaha seseorang untuk mencari serta mengusahakan Summum Bonum bagi sesamanya (highest good - kebahagiaan yang tertinggi)." Definisi lain juga diajukan, misalnya "Disinterested Agape love can only mean impartial love, inclusive love, indiscriminate love, love for Tony, Dick and Harry. Agape is possible as love wills the neighbour's good whether we like him or not" (kasih agape tidak memilih bulu, mengasihi semua, tidak membedakan antara satu dengan yang lain. Agape itu ditujukan kepada sekalian termasuk juga orang- orang kecil dan orang biasa). Kita hanya dapat mengasihi begitu rupa, kalau kita menghendaki kebahagiaan sesama kita, meskipun barangkali kita kurang menyukainya.
FILIA: Kasih saudara, kasih persaudaraan.
Filia merupakan kasih yang wajar dalam lingkungan kekeluargaan serta persahabatan. Pernah Filia serta Agape diringkaskan demikian: "Filia cannot be commanded, turned on at will, Agape can." Seakan- akan kita dapat memasang Agape pada setiap waktu terhadap segala orang tanpa memilih bulu. Sedangkan Filia tak dapat "dipasang" demikian, Filia tak dapat diperintahkan, Filia tak dapat disuruh!
"Friendship, romance, selfrealization are reciprocal loves; Agape is not so. It seeks the good in anybody, everybody." Dalam kasih persahabatan dan romance (Filia) kita merealisasikan diri; kedua belah pihak saling mengasihi, sedang Agape merupakan sikap seseorang, bukan perasaan, merupakan good will terhadap sesamanya.
Tuhan Yesus mewujudkan Agape dengan "Not an inner feeling, a full heart or what not, but the work of love, which was His life". (Bukan perasaan hati, melainkan pekerjaan kasih, yakni hidup-Nya sendiri.) Selain dari Agape dan Filia manusia juga mengenal Eros atau Romantic Love.
EROS atau ROMANTIC LOVE
Istilah Eros tidak disebut dalam Alkitab, walaupun Eros sering dibahas. Tetapi justru Eroslah yang menjadi persoalan dalam pembahasan New Morality, sebab kasih yang dialami dalam pergaulan muda-mudi, pria-wanita dan dalam kehidupan seksual itu Eros.
Menurut Morgan Derham, Romantic Love sering dijelaskan dan sering dipandang sebagai "an overwhelming all-conquering passion uniting a man and a woman in a bond of complete abandonment o each other with an almost sacred intensity" Eros diartikan sebagai suatu perasaan yang sangat kuat, yang mempersatukan pria dengan wanita dalam ikatan yang demikian erat, sehingga saling menyerahkan diri secara total; maka ikatan mereka seolah-olah bagaikan sakramen.
Sudah kita utarakan bahwa New Morality menuntut kebebasan dalam pengalaman kasih dan dalam hal ini justru Eros yang dimaksudkan. Maka "saling menyerahkan diri" merangkap juga penyerahan fisik sebelum atau di luar pernikahan yang sah.
Apakah sikap orang Kristen terhadap Romantic Love? Apakah Romantic Love itu dosa? Bukan. Sama sekali tidak. Kasih Eros pun berasal dari Allah, sama seperti Agape dan Filia, dan merupakan karunia yang dianugerahkan kepada manusia untuk memperkaya kehidupan kita. Namun seperti anugerah-anugerah lain, Eros dapat disalahgunakan dan bila disalahgunakan, maka Eros mendatangkan banyak kesusahan dan penderitaan, bukan kebahagiaan. Kalau Eros tidak dikontrol di bidang fisik, maka kasih spiritual dapat dilukai serta dirusak, bahkan dipadamkan dan dimatikan oleh seks. Eros harus dipelajari serta dikontrol. Oleh karena itulah Allah menjaga dan melindungi kasih dengan membatasi seks pada hubungan nikah yang sah. Kasih tidak terbit dari seks; seks tidak mendahului kasih. Sebaliknya, kasih memuncak ke arah seks.
W. Trobisch menceritakan sebuah film yang diperlihatkan di negara Jerman pada zaman Hitler sekitar tahun 1940. Dalam film itu seorang dokter membunuh isterinya yang sangat menderita karena penyakit yang ganas. Isterinya tidak dapat ditolong lagi dengan obat apa pun, sehingga akhirnya sang suami membunuh isteri yang dikasihinya dengan memberikan obat yang jauh melebihi dosis yang patut. Dalam pengadilan kemudian sang suami hanya menjelaskan sebagai berikut: "Aku mengasihi isteriku." Dokter tersebut berani membunuh isteri atas nama kasih, berani mengabaikan hukum Allah yang berbunyi, "Jangan kamu membunuh." Dengan menyingkirkan hukum Allah dokter itu jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa disadarinya.
Kalau kita berani membuang hukum Allah tentang perzinahan, atas nama kasih (maksudnya Eros - Romantic Love), maka kita pun jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa kita sadari. Seks di luar nikah atau sebelum nikah selalu merugikan, sebab kasih yang dilindungi oleh hukum Allah menjadi mati. Hal ini akan kita bahas dalam pasal yang berikut.
Romantic Love sebagai karunia Allah tidak mulai dengan seks. Kasih Eros yang dialami dalam bidang emosi yang kuat sekali, menyebabkan penyerahan total dari dua orang, akan tetapi bukan penyerahan langsung dalam bidang fisik, sebab Eros berkembang dalam beberapa tahap.
Menurut C.S. Lewis, dalam tahap pertama ketika dua orang mulai tertarik, mereka saling menghormati dan menjunjung tinggi tabiat dan kepribadian masing-masing, sehingga mereka sangat bergemar pada setiap pertemuan. Sukacita dan rasa bahagia yang dialami mempengaruhi seluruh kehidupan mereka, termasuk juga hubungan dengan orang lain. Misalnya seseorang yang pada umumnya bersifat keras, kurang ramah dan acuh tak acuh, melalui pengalaman Eros tahap pertama ini dapat berubah 180 derajat; sikap angkuh menjadi rendah, sikap yang keras menjadi lembut. Segala sesuatu yang negatif mengalami perubahan yang sangat menggembirakan. Bahkan seorang egois, seorang introvert, akan berubah menjadi ekstrovert yang penuh perhatian terhadap sesamanya. Memang perubahan yang mendadak positif ini tidak dapat disaksikan secara mutlak dalam setiap orang yang mengalami Romantic Love. Perubahan ini belum tentu merupakan pembaharuan sifat yang tetap - sebagaimana Eros pun merupakan pengalaman sementara.
Dalam tahap pertama ini kedua belah pihak mengkonsentrasikan segala usaha pada pengenalan watak dan akhlak masing-masing. Karena begitu tertarik, maka dalam pandangan mereka tidak ada orang yang dapat menandingi kekasihnya. Pada tahap pertama pikiran mereka belum menjurus kepada seks, sebab mereka masih mengutamakan "the true worth of human personality" (nilai-nilai hakiki daripada kepribadian). Komunikasi mereka terbatas pada percakapan, diskusi dan pertukaran pikiran.
Dalam tahap kedua komunikasi mulai mendalam, perhatian mereka dicurahkan kepada kchidupan masing-masing, pada tanggapan serta reaksi. Kini mereka berkomunikasi melalui observasi terhadap gerak- gerik kekasihnya, baik di hadapan umum, maupun di rumah atau di ruang kuliah. Bagaimana sikapnya kalau tak sadar ada yang memperhatikan? Bagaimana tingkah laku dalam menghadiri pesta atau perayaan? Bagaimana sikapnya terhadap - uang kalau baru menerima wesel dari orang-tuanya atau bagaimana kalau "lagi kosong dompetnya"? Apakah kekasih itu sering berfoya-foya, senang mentraktir teman-teman atau apakah dia kikir serta kecil jiwanya? Apa hobinya? Bagaimana sikapnya terhadap masalah sosial? Bagaimana sikapnya terhadap agama? Dan terutama terhadap Tuhan Yesus sendiri? Dalam tahap kedua ini persahabatan semakin mendalam. Kedua belah pihak hormat-menghormati. Perkenalan pada tahap ini sangat penting justru sebelum mereka mendirikan rumah tangga dan sebelun mereka memasuki "Two in Oneship".
Dalam tahap ketiga Romantic Love mulai berkembang ke arah komunikasi fisik, mata, suara, nada pembicaraan, juga tangan, semuanya menjadi aktif sebagai alat komunikasi. Mereka harus waspada dalam tahap ketiga ini, sebab kalau kontak fisik sudah dimulai, dorongan untuk komunikasi fisik bertambah kuat, bahkan menjadi dominan atau master passion (dorongan keras yang dikuasai oleh emosi dan bukan oleh intelek). Bilamana kontak fisik diutamakan dalam pergaulan, maka pengenalan akan karakter kurang diperhatikan dan akhirnya berhenti sama sekali. Demikian pula halnya dengan "intelligent discernment of personal qualities" (pengertian mendalam tentang sifat-sifat pribadi). Lama- kelamaan pergaulan itu mundur serta nafsu mengambil alih peranan. Betapa pentingnya kita berdisiplin, justru pada tahap ketiga ini agar pengenalan jangan terganggu serta jangan berhenti. Di sini kita harus menyampaikan suatu peringatan. Romantic Love kita terima dari Allah melalui seorang kekasih dan bukan daripada kekasih itu sendiri.
Dengan kata lain kekasih itu merupakan saluran kasih, bukan sumbernya. Satu-satunya sumber kasih ialah Allah sendiri.
Kadang-kadang karena kurang menyadari hal itu dan karena merasa berbahagia dalam pergaulannya, seorang pemuda ingin memiliki kekasihnya dengan secepat mungkin. Si pemuda yakin ia akan membahagiakan temannya dan sebaliknya ia senantiasa akan berbahagia dengan dia. Tetapi si pemuda lupa, bahwa dia atau kekasihnya bukan sumber kasih, bukan sumber kebahagiaan, melainkan salurannya. Pengalaman sehari-hari dalam rumah tangga sangat berlainan dari pengalaman kita dalam masa Eros. Bahkan si dia yang dijunjung tinggi demikian rupa mempunyai kelemahan-kelemahan sama saja seperti manusia yang lain. Si dia yang mempunyai adat dan sifat-sifat yang mengecewakan. Suaranya sering terdengar kasar, kadang-kadang malas dan masakannya terlalu royal. Reaksinya acap kali lambat, si dia suka gosip dan sebagainya. Memang kalau kita mengharapkan kasih dari dia, kita pasti mengalami kekecewaan. Jika kita tidak memandang Tuhan sendiri, yang menjadi sumber hidup dan sumber kasih, maka hubungan nikah akan mundur, malah pernikahart itu mulai terancam dan bahkan dapat menuju kehancuran. Satu pihak mulai merasa bosan serta kecewa dan pada akhirnya berusaha mencari sumber kasih baru, yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya.
Selaku orang yang beriman bagaimana sikap kita terhadap kasih Eros? Baiklah kita perhatikan beberapa fakta.
Eros tidak akan selalu berakhir dengan pernikahan. Sewaktu-waktu Tuhan mengaruniakan pengalaman Romantic Love dengan maksud tertentu. Tuhan dan rencana Allah dalam hal ini pun sesuai dengan Roma 8:28 yang isinya sebagai berikut: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalarn segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Segala sesuatu mendatangkan kebaikan, bahkan kekecewaan kita dalam pergaulan, bahkan Eros yang tidak berakhir dengan pernikahan. Dalam hal ini orang Kristen yakin betul, walaupun sewaktu-waktu kita menderita lahir batin, kita tidak ragu-ragu akan pimpinan Allah atau kebijaksanaan-Nya ataupun kasih-Nya.
Eros harus dikontrol dan diberi disiplin. Untuk memperoleh dan mengembangkan disiplin, lebih dahulu harus kita ketahui istilahnya yang berasal dari bahasa Latin: Discipulus (murid). Kita menjadi seorang murid yang digembleng, khususnya secara mental. Watak kita dilatih ke arah self-control supaya dapat menguasai diri. Disiplin merupakan instruksi, latihan yang memberi arah kepada pikiran kita dan membentuk, memperkokoh, serta menyempurnakan karakter. Disiplin akan diperoleh dengan mentaati peraturan-peraturan tertentu. Disiplin berhasil dengan perkembangan mental dan fisik dalam diri kita. Disiplin harus dipelajari dan dipraktekkan dalam self-control melalui instruksi-instruksi yang kita taati dengan saksama. Mengapa kita sering lemah menghadapi tantangan hidup, mengapa usaha kita sering gagal, sehingga kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri dan merasa rendah, walaupun kita mempunyai cita-cita yang cukup mulia serta merindukan suatu mutu kehidupan yang tinggi? Mengapa kita sering gagal dalam kehidupan sehari-hari, walaupun kita mengidam-idamkan standard yang sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus yang terkandung dalarn Perjanjian Baru? Mengapa pengalaman kita begitu memalukan? Soalnya ialah kita kurang memahami dan kurang mempraktekkan disiplin. Memang definisi tentang self-control dan latihan mental cukup jelas, namun kita kurang menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Disiplin mulai dalam alam pikiran. Dalam Roma 8:1-7 Rasul Paulus menjelaskan bahwa tindak tanduk kita terbit dari pada pikiran kita. Pikiran duniawi akan menghasilkan perbuatan-perbuatan duniawi. Sebaliknya orang yang memikirkan hal- hal rohani akan melakukannya juga dengan apa-apa yang dipelajarinya dalam hal-hal tersebut. Demikian juga halnya dengan dosa yang mengikat kita dengan belenggu yang hanya dapat dipatahkan oleh Kristus. Dosa juga mulai dalam alam pikiran kita. Mustahil kita berdosa, kalau tidak melalui suatu proses tertentu lebih dahulu: mula-mula kita memikirkan hal terlarang, lalu kita membayangkan, kemudian merindukan, baru kita melaksanakan hal tersebut. Disiplin seharusnya mulai pada tahap pertama, yaitu tahap pikiran dan bukan pada tahap terakhir.
Jika pada tahap ketiga baru kita mulai berdisiplin, maka pasti kita sudah terlambat, sebab keinginan dan kerinduan akan menguasai tindakan kita karena merupakan "overmastering passion". Tidak mungkin kita stop kalau sudah memasuki tahap ketiga, yaitu tahap keinginan. Keinginan akan mengatasi intelek. Kita harus stop pada tahap pikiran. Disiplin dapat dipelajari dan dikembangkan kalau dengan tegas kita mengkonsentrasikan pikiran kita pada hal-hal yang positif, hal-hal yang benar, yang suci, yang manis dan hal-hal yang akan membangun mental (Filipi 4:8).
Paulus menyuruh orang-orang Kristen memusatkan pikiran pada "perkara yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2). Dalam hal ini kita harus tegas. Eros tanpa disiplin akan ambruk, akan merugikan, malahan dapat membahayakan seluruh masa depan kita.
Sewaktu-waktu disiplin terwujud dalant keputusan untuk menolak Romantic Love. Keputusan semacam itu tidak dapat diambil secara emosional, melainkan dengan kemauan yang bulat dan teguh. Kita harus bertidak dengan penuh konsekwensinya.
Eros harus dipelajari dan diketahui secara matang dan mendalam. Sudah kita kemukakan bahwa Eros ditentukan untuk membahayakan dan bukan untuk membahayakan. Dalam pembahasan Romantic Love, C.S. Lewis pernah mengatakan bahwa adakalanya Eros berkata-kata dalam hati kita dengan suara yang manis dan merdu, seperti suara Tuhan sendiri. Tetapi pada ketika yang lain Eros mendorong kita untuk berbuat jahat. Kecenderungan yang terkandung dalam lubuk hati manusia dapat digerakkan oleh Eros, haik ke arah kebajikan maupun ke arah kejahatan. Eros sering mendorong seseorang mengambil tindakan frustrasi dan keputusasaan, sehingga terjadi pembunuhan atau bunuh diri. Eros tidak mengenal batas kalau emosi sudah meluap-luap; Eros tidak tertahan lagi dan kerap kali berakhir dalam kecelakaan.
Menurut C.S. Lewis, "Eros is heart-breakingly sincere and ready for any sacrifice except renunciation, ready for any sacrifice except acknowledgement that Romantic Love is not supreme as if it owned no higher law than its own."
Eros itu tulus ikhlas, sungguh-sungguh dan bersedia untuk pengorbanan. Hanya satu hal yang tidak mungkin dikorbankan oleh Eros, yakni dirinya sendiri. Eros tidak akan menyangkali dirinya dan Eros tidak akan mengakui instansi hukum yang lebih tinggi daripada hukum Eros.
Eros harus tunduk kepada Allah. Sudah barang tentu dalam hati manusia ada yang bertakhta; seharusnya Tuhanlah yang bertakhta, tetapi kerap kali Eros menggeser Tuhan dan menjadi ilah yang disembah lebih dari segala sesuatu. Manusia diciptakan agar sujud menyembah Allah, dan kalau kita durhaka dan berbalik dari Tuhan, maka kita mengabdikan diri bukan kepada Allah, melainkan kepada diri sendiri, nafsu kita, kemauan kita, kepada kasih Eros, atau kepada ideal kasih. Manusia senantiasa akan mencari kepuasan dan kebahagiaan, akan tetapi jika kita tidak mencarinya dalam Tuhan, maka kepuasan sejati tidak akan kita peroleh atau nikmati. Orang yang mencari kepuasan dalam Eros, hanya menemui dukacita serta kesusahan.
Kita akan mengakhiri pembahasan Eros dengan suatu peringatan: sama dengan karunia-karunia umum yang lain, Eros pun harus tunduk pada hukum Allah. Eros tidak akan terlepas dari kehendak serta tujuan Allah, walaupun Alkitab tidak mengandung petunjuk tentang karunia- karunia umum yang kita terima dari Allah. Percuma kita mencari pedoman atau penjelasan dalam Alkitab tentang karunia-karunia umum, untuk boleh memanfaatkannya. Kita hanya membuang-buang waktu dan tenaga, sebab Tuhan telah mengaruniakan kepada kita Common Sense, akal budi, maka akal budi itulah memimpin kita supaya jangan menyalahgunakan karunia Allah itu, melainkan supaya menggunakannya demi kemuliaan nama-Nya. Kita harus berdoa dan bersandar kepada Tuhan agar Tuhan sendiri sudi membimbing kita, sebab dalam hal ini pun Tuhan ingin memperkaya dan memperluas kehidupan umat-Nya. Di luar pimpinan Tuhan, kita mudah dijerat dan masuk ke dalam kerajaan Iblis, di mana His mencari kejayaannya untuk membinasakan dan menghancurkan kita. Jika kita tidak waspada, kita akan diperdayakan olehnya dengan Eros.