KURSUS SIAPAKAH YESUS KRISTUS [TS-01-SYK]
|
Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b |Referensi 01c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama |
| Kode Pelajaran | : | SYK-P01 |
Ayat Hafalan
Pada pelajaran pertama ini, Anda akan mempelajari Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang disebutkan dalam kitab PL. Pada masa itu, domba digunakan sebagai korban penghapus dosa (korban yang dibunuh dan diletakkan di atas mezbah) yang sifatnya tidak kekal (karena harus dilakukan setiap tahun). Tetapi Yesus yang adalah Allah sendiri turun ke dalam dunia menjadi Anak Domba untuk dikorbankan sebagai penghapus dosa yang sifatnya kekal, karena dilakukan satu kali untuk selamanya. Di samping itu, Anda juga akan belajar bagaimana kitab PL telah berbicara mengenai prosesi kedatangan Anak Domba Allah ke dalam dunia dan bagaimana kitab Perjanjian Baru (PB) menunjukkan bahwa nubuat-nubuat ini digenapi dalam diri Yesus Kristus. Anda perlu ingat bahwa para nabi PL hidup dan berbicara ratusan tahun sebelum Yesus lahir. Mereka berbicara sebagaimana Tuhan mengajar mereka melalui Roh Kudus. Dan hal-hal yang mereka katakan itu benar-benar terjadi.
Ayat Hafalan:
"Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29)
Yohanes Pembaptis mengatakan secara langsung bahwa Yesus adalah "Anak Domba Allah". Kata-kata tersebut mempunyai arti yang besar bagi para pendengarnya karena seekor domba mempunyai fungsi sebagai korban penghapus dosa mulai dari zaman PL hingga saat Yohanes mengeluarkan perkataan itu. Jika Anda ingin mengerti dengan benar gambaran yang diberikan kepada Yesus ini dan apa yang sudah Dia perbuat untuk umat manusia, maka kita harus belajar tentang korban anak-anak domba dalam PL.
Dalam PL, ada banyak perintah yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Ada hal-hal tertentu yang tidak boleh mereka lakukan. Ada juga hal- hal yang harus mereka lakukan. Bila seseorang mengetahui kehendak Allah dan menolak untuk menaatinya, orang tersebut berdosa terhadap Allah. Dosa adalah penolakan untuk melakukan kehendak Allah karena kita memilih melakukan kehendak kita sendiri.
Sebagai contoh, bayangkanlah seandainya ada seorang laki-laki yang hidup pada masa PL. Laki-laki ini telah berdosa terhadap Allah. Sesudah berdosa, dia sangat menyesal dan mulai berpikir, "Apa yang harus saya perbuat?" Lalu dia pergi kepada Imam dan berkata, "Saya telah berdosa melawan Allah. Apa yang harus saya perbuat?"
Imam itu akan menjelaskan kepadanya bahwa dosa adalah suatu hal yang sangat serius bagi Allah. Orang itu harus dihukum atau harus ada orang lain yang menggantikan hukuman bagi dosa-dosanya. Yang jelas, dosa membawa akibat, yaitu hukuman. Selanjutnya, imam akan memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah memberikan suatu rencana sehingga seekor domba dapat dikorbankan untuk menghapus dosanya. Artinya, domba itu harus menderita hukuman sebagai pengganti orang berdosa tersebut. Dengan demikian dosa-dosanya dapat diampuni. Bacalah Imamat 4:32-35.
Andai kata orang tadi memohon, "Biarkanlah saya mengakui dosa saya padamu dan barangkali Allah akan mengampuninya." Maka imam itu akan menjawab, "Tidak! Sesuai ketetapan Allah, di mana ada dosa, di situ juga harus ada kematian untuk membayar hukuman atas dosa tersebut."
Ia mungkin berkata, "Saya berjanji bahwa saya tidak akan melakukan dosa lagi. Dapatkah dosa ini diampuni tanpa mengorbankan seekor domba?" Imam akan menjawab, "Tidak, sesuai dengan ketetapan Allah, jika seseorang ingin agar dosa-dosanya diampuni, maka harus ada darah yang tertumpah" (Ibrani 9:22). Akhirnya, setiap manusia perlu meyadari bahwa jika dia benar-benar menghendaki agar dosa-dosanya dapat diampuni, ia harus mengikuti ketetapan Allah, yaitu mengorbankan seekor anak domba sebagai pengganti.
Allah telah menguraikan secara jelas dalam Alkitab bahwa jenis anak domba yang dikorbankan harus yang terbaik atau tanpa cacat; tidak sakit, terluka, atau yang tidak sempurna. Oleh sebab itu, ketika seseorang membawa seekor anak domba kepada Imam, dia akan memeriksanya dengan sangat cermat untuk meyakinkan bahwa anak domba tersebut benar-benar telah memenuhi semua kriteria (memiliki semua kualitas) yang ditetapkan dalam PL.
Allah sendiri telah menyampaikan pernyataan mengenai Yesus demikian, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Matius 3:17). Yesus adalah satu-satunya pribadi yang memenuhi semua kualifikasi seperti anak domba dalam PL. Dia adalah pribadi yang sempurna dan tanpa dosa. Dengan demikian, Dia dapat menjadi korban "Anak Domba" untuk menggantikan hukuman atas dosa-dosa kita.
Jika domba yang dibawa telah dipandang baik oleh imam, ada dua hal akan terjadi. Pertama, si pembawa korban akan meletakkan tangan mereka di atas kepala anak domba tadi dan mengakui dosanya. Ini adalah suatu gambaran bahwa dosa yang telah diakui orang itu telah dipindahkan dan diletakkan di atas anak domba tersebut.
Kedua, domba yang memikul dosa dan kesalahan orang tadi harus mati. Imam membawa domba tersebut dan dikorbankan menurut petunjuk yang diberikan oleh Allah. Anak domba yang tak bersalah itu telah mati untuk manusia yang bersalah.
Inilah yang terjadi ketika Yesus mati di atas kayu salib. Sebagai Anak Domba Allah, Dia menanggung dosa-dosa kita pada diri-Nya sendiri. Dia menderita dan mati oleh karena dosa-dosa kita. Hal ini terjadi supaya kita memperoleh pengampunan dosa dan kehidupan kekal selama-lamanya. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2Korintus 5:21).
Melalui pelajaran ini, Anda perlu memahami beberapa hal secara jelas. Ini benar dalam masa PL dan juga masa kini, jika seseorang mencari pengampunan atas dosa-dosanya, hal-hal berikut inilah yang harus terjadi.
Dengan mengerti hal-hal di atas dan tentang korban domba, Anda dapat lebih mengerti akan apa yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika dia memanggil Yesus dengan sebutan "Anak Domba Allah". Yang dia maksudkan ialah bahwa Yesus adalah Juru Selamat tanpa dosa yang telah Allah utus ke dalam dunia untuk mati menanggung dosa-dosa kita.
Dalam pelajaran ini, kita akan mempelajari beberapa kebenaran agung yang berhubungan dengan Tuhan kita, Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan dalam firman Tuhan, yaitu Alkitab. Ratusan tahun sebelum Yesus lahir, para nabi dari Perjanjian Lama (PL) telah banyak berbicara tentang pesan Allah kepada manusia. Pesan itu adalah bahwa Allah akan mengirimkan seorang Juru Selamat (seseorang yang akan membebaskan manusia dari dosa dan menjadikannya benar di hadapan Allah) ke dalam dunia. Mereka tidak hanya membicarakan prosesi kedatangan-Nya, tetapi juga hal-hal tertentu yang akan terjadi dalam kehidupan-Nya.
Ayat Hafalan:
"Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barang siapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama- Nya." (Kisah Para Rasul 10:43)
Ayat tersebut adalah perkataan Rasul Petrus ketika berkhotbah di hadapan sekelompok orang. Dia mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan para nabi tentang Yesus dan bagaimana keselamatan (menjadi benar di hadapan Allah) dapat diterima lewat iman dalam Yesus. Artinya, semua hal yang berhubungan dengan diri-Nya telah diberitahukan (dinubuatkan) jauh sebelum ia lahir ke dalam dunia ini.
Mikha menyampaikan kata-kata ini lebih dari tujuh ratus tahun sebelum Yesus dilahirkan. Memang mustahil bagi manusia bisa mempunyai pengetahuan seperti itu. Hanya oleh Roh Kudus yang bisa memberitahukannya. Melalui Matius 2:1-6 kita tahu bahwa Yesus adalah orang yang menggenapi nubuat dalam PL ini.
Ketika Yesaya berbicara tentang seorang perawan yang akan melahirkan Yesus, ia sama sekali tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Ini juga merupakan sesuatu yang mustahil bahwa seorang perawan dapat melahirkan, jika bukan karena kuasa dari Allah yang menyebabkan perkara itu bisa terjadi. Tetapi dari Lukas 1:26-35, kita tahu bagaimana Maria, seorang perawan (dia belum menikah), menjadi ibu Yesus. Meskipun Yusuf diketahui sebagai ayah Yesus, firman Allah mengajarkan dengan jelas kepada kita bahwa Yusuf dan Maria tidak hidup bersama sebagai suami istri sampai Yesus lahir. Kita mempelajari hal ini dalam Matius 1:18-25. Semuanya terjadi tepat seperti yang Allah firmankan Allah lewat Nabi Yesaya.
Ketika membaca PB, kita menemukan janji yang telah diucapkan oleh Yesaya ini benar-benar digenapi. Yesus dipenuhi Roh Allah, yang disebut Roh Kudus dalam PB. Bacalah dengan teliti Yohanes 1:32-34. "Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada- Nya" (Yohanes 3:34-35).
Sudah bertahun-tahun orang Israel menantikan seorang Juru Selamat sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi. Tetapi mereka tidak tahu seperti apa Juru Selamat yang akan diutus Allah kepada mereka. Mereka mengharapkan seorang Juru Selamat yang bisa menyelamatkan mereka dari musuh-musuh Israel dan memberikan kekayaan dan kuasa yang besar. Tapi Allah mengutus Yesus bukan untuk melakukan keinginan manusia tapi untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Karena itu Yesus datang memberitahukan tentang dosa manusia dan kebutuhan untuk berpaling dari dosa-dosa mereka. Manusia menjadi menolak Yesus. Nubuat ini telah disampaikan lama sebelum terjadi dan dari kitab PB kita membaca bagaimana pemerintah dan pemimpin agama membenci Yesus dan akhirnya memakukan-Nya di atas kayu salib. Bacalah penolakan akan Yesus di dalam Matius 27:22-23, "Kata Pilatus kepada mereka, 'Jika begitu apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut Kristus?' Mereka semua berseru. 'Ia harus disalibkan!' Katanya, 'Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?' Namun mereka makin keras berteriak, 'Ia harus disalibkan!'"
Nubuat ini menerangkan dengan jelas bagaimana Yesus masuk ke Yerusalem dengan kemenangan-Nya, seperti manusia yang rendah hati mengendarai seekor keledai. Sekarang bacalah Matius 21:1-9. Peristiwa ini juga terjadi dalam hidup Yesus tepat seperti yang telah dijanjikan Nabi Zakharia jauh sebelumnya.
Ayat ini menceritakan kepada kita bahwa pengkhianatan terhadap Yesus dilakukan oleh seorang sahabat karib-Nya. Sahabat yang dimaksud ialah Yudas Iskariot. Dia hidup bersama Yesus selama 3 tahun sebagai salah seorang murid-Nya. Dia ikut melayani, tapi hatinya tidak benar dihadapan Allah. Dalam Yohanes 12:6 dikatakan bahwa hal itu dikatakannya bukan karena ia memerhatikan nasib orang- orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Karena cintanya akan uang, dia setuju mengkhianati Yesus dan ini merupakan penggenapan dari nubuatan dari Mazmur 41:10, "Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku." Bacalah bagaimana nubuat tersebut telah digenapi dalam Matius 26:14-16.
Dalam PL, banyak nubuat yang menceritakan kematian Yesus, yang tidak bisa dipelajari semuanya dalam pelajaran singkat ini. Kita akan memerhatikan beberapa dari nubuatan-nubuatan itu. Pertama, bacalah kematian Yesus di atas kayu salib dalam Matius 27:27-50. Sekarang, mari kita lihat beberapa ayat dalam PL yang menubuatkan peristiwa-peristiwa yang benar terjadi dari kematian Yesus itu.
Sekarang, bacalah Kisah Para Rasul 2:22-27. Ketika Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta, dia menggunakan ayat-ayat dari Mazmur 16:10 sebagai bukti bahwa Allah telah menubuatkan kebangkitan Yesus. Ketika Petrus selesai menyampaikan pesannya, banyak orang insaf bahwa Yesus telah memenuhi nubuat-nubuat dalam PL. Mereka kemudian percaya bahwa Yesus pasti Juru Selamat yang dijanjikan dalam PL. Hari itu, sekitar tiga ribu orang berpaling dari dosa- dosa mereka dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Ketika mereka melakukan hal ini, mereka menerima pengampunan dosa dan hidup yang kekal.
DOA
"Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mau datang ke dunia ini. Kedatangan-Mu tidak Engkau sembunyikan, tetapi Engkau telah sampaikan lewat para nabi jauh sebelum semuanya terjadi. Engkau datang sebagai Anak Domba Allah yang sempurna dan tanpa dosa dengan tujuan menggantikan hukuman atas dosa-dosaku, sehingga aku beroleh pengampunan dosa dan dinyatakan benar di hadapan Allah. Terima kasih Tuhan. Amin"
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Firman Allah dan Anak Allah |
| Kode Pelajaran | : | SYK-P02 |
Ayat Hafalan
Ayat Hafalan:
"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan
kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan
kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan
kebenaran" (Yohanes 1:14)
Sebagaimana Anda pelajari dalam Yohanes 1:1-14, Anda akan membaca istilah "Firman". Mungkin ada pertanyaan dalam pikiran Anda, "Siapakah atau apakah Firman itu?" Ayat hafalan di atas memberikan jawaban bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Karena hal ini, setiap orang bisa mengetahui dengan pasti bahwa Firman tersebut adalah Yesus. Tetapi mengapa Yesus disebut Firman? Allah mengirim Yesus dengan tujuan supaya pesan-pesan-Nya diketahui oleh manusia. Melalui Yesuslah kita mengetahui hal-hal yang ada dalam hati Allah, yaitu melalui pengajaran-Nya, tindakan-Nya dan terutama dari sifat- sifat-Nya. Yesus itulah penggenapan pesan Allah, bahkan Yesus itulah pesan Allah sendiri, yaitu Firman-Nya. Dia adalah pesan Allah untuk semua orang di segala zaman. Jadi, kita melihat bahwa "Firman" adalah satu dari beberapa nama untuk menyebutkan Yesus. Sekarang, lihatlah beberapa kebenaran agung tentang Allah yang Yesus perlihatkan kepada kita sebagaimana diungkapkan firman Allah.
Yesus berkata, "Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). Banyak orang mempunyai pertanyaan ini dalam hati mereka, "Apa sifat alamiah Allah yang benar?" Tidak mungkin untuk menggambarkan dengan tepat sifat alamiah dari seseorang, apalagi bila orang itu adalah Allah. Akan jauh lebih baik jika kita bisa melihat orang tersebut. Itulah yang telah terjadi dalam diri Yesus. Allah membiarkan kita melihat diri-Nya dalam Yesus Kristus. Nabi-nabi dalam PL telah mencoba beberapa cara yang berbeda untuk menerangkan sifat alamiah Allah yang benar pada manusia. Yang mereka katakan adalah benar, tapi mereka tidak pernah sanggup menerangkan segalanya tentang Allah. Ini hanya bisa diketahui dengan melihat Allah sendiri. Dan kini, manusia bisa melihat Allah seutuhnya dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah firman Allah untuk manusia sehingga manusia boleh sungguh-sungguh mengetahui sifat alamiah Allah.
Setiap manusia merasakan kebutuhan yang sama akan Allah dalam hatinya. Mereka mengetahui bahwa mereka telah berdosa terhadap Allah. Mereka tahu bahwa dosa menjadi penghalang antara manusia dan Allah. Mereka mulai berpikir, "Bagaimana saya bisa membuat hal-hal yang benar antara saya dengan Allah?" Dalam usaha mereka melakukan hal-hal yang benar, mereka melakukan hal-hal yang berbeda. Beberapa orang menyembah pada nenek moyang mereka. Beberapa menyembah dewa- dewa yang terbuat dari kayu dan batu. Beberapa orang membunuh binatang untuk sebuah persembahan. Sebagian orang mengikuti pengajaran-pengajaran manusia. Semuanya itu tidak ada yang benar. Jika seorang manusia menginginkan keselamatan dari Allah, dia tidak boleh mengikuti pikiran-pikirannya atau pikiran-pikiran manusia yang lain. Dia harus belajar dan mengikuti rencana Allah.
Yesus adalah firman Allah yang melalui-Nya manusia beroleh jalan kebenaran bagi keselamatan dirinya. Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6).
Anda sudah melihat bahwa Yesus adalah firman Allah untuk manusia yang menunjukkan rencana keselamatan Allah kepada manusia. Yesus adalah juga firman Allah untuk manusia yang telah selamat. Jadi, manusia yang sudah diselamatkan tersebut bisa mengetahui bagaimana seharusnya dia hidup. Orang-orang Kristen seharusnya membaca Alkitab dengan saksama. Mereka seharusnya mempelajari kehidupan Yesus. Kehendak Allah, di atas segala-galanya, telah dinyatakan dalam hidup Yesus. Ketika Yesus berpikir tentang penderitaan besar yang akan dialami di atas kayu salib, Dia berdoa pada Allah, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Matius 26:39). Jika ada cara untuk melarikan diri dari penderitaan di atas kayu salib, Yesus mau melarikan diri. Tetapi hasrat melakukan kehendak Allah lebih besar daripada keinginan untuk melarikan diri dari penderitaan yang akan datang. Karena Yesus meletakkan kehendak Allah di atas keinginan sendiri, ada jalan keselamatan untuk kita pada hari ini.
Kita juga harus mengingat hal ini. Yesus adalah firman Allah untuk semua manusia. Dia tidak hanya menerangkan pada manusia bahwa mereka harus mematuhi Allah, tapi Dia menunjukkan pada mereka bagaimana harus mematuhi Allah. Mereka harus melakukan itu dengan meletakkan keinginan Allah di atas semua keinginan dalam hidup mereka.
Seorang guru tidak bisa mengajarkan mata pelajaran yang sulit kepada anak-anak sekolah dasar. Mereka baru mulai belajar. Oleh karena itu, pertama kali mereka akan belajar hal-hal yang sederhana. Kemudian bila mereka belajar dengan baik, mereka siap untuk belajar hal-hal yang lebih tinggi. Perjanjian Lama (PL) adalah seperti sekolah dasar. Permulaan kebenaran yang agung yang diajarkan dalam PL dan kebenaran-kebenaran lain perlu untuk dipelajari dengan baik. Tapi dalam Yesus kita memperoleh pengertian yang lebih banyak tentang Allah dan hidup sesudah kematian. Pengajaran mengenai hidup sesudah mati lebih jelas dalam Perjanjian Baru (PB) daripada dalam PL. Yesus adalah firman Allah yang membuat kebenaran-kebenaran ini menjadi jelas bagi kita. Jika kita ingin mengerti segala sesuatu mengenai kehidupan sesudah kematian, kita harus mempelajari apa yang Dia ajarkan.
Bila kebenaran telah diberitakan, hal yang lain tidak perlu ditambahkan. Allah telah berbicara tentang kebenaran yang penuh melalui keselamatan dan hidup orang Kristen dalam Yesus Kristus. Dalam Kolose 1:15, mengenai Yesus kita membaca, "Ia adalah gambar Allah yang tak kelihatan." Allah telah ditunjukkan dengan sempurna dalam Yesus Kristus. Jadi, jika manusia ingin mengetahui kebenaran tentang Allah, dia harus belajar kebenaran ini dari Yesus Kristus. Orang lain berkata, "Tapi Allah memberitahukan pada kami lebih daripada tulisan yang ada dalam Alkitab. Kami mempunyai Alkitab dan kebenaran yang ditambahkan." INI ADALAH SUATU KEBOHONGAN. Hal-hal yang telah Allah tunjukkan tentang diri sendiri sudah dilengkapi dengan sempurna dalam Yesus Kristus.
Jika sebuah gambar telah sempurna dilukis, apa saja yang ditambahkan atau diambil akan merusak gambar itu. Allah telah digambarkan secara sempurna dalam diri Yesus. Kapan saja seseorang mencoba mengambil atau menambahkan sesuatu pada gambar Allah, yang kita lihat dalam Yesus Kristus, maka dia sedang merusak gambar Allah itu.
Allah telah berbicara dengan jelas tentang mereka yang mencoba mengubah Alkitab dengan cara apa pun juga. Dalam buku terakhir di Alkitab, dibuat jelas bahwa seseorang yang datang dengan "penambahan" tidak datang dari Allah. "Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: 'Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, Allah akan menambahkan kepadanya melapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan- perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini'" (Wahyu 22:18-19).
Ayat Hafalan:
Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak
yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." (Matius 3:17)
Beberapa orang mungkin berkata begini, "Kami setuju bahwa Yesus adalah Anak Allah. Mengapa? Karena semua manusia adalah anak Allah. Allah telah menciptakan kita semua dan Dia Bapa kami di surga." Hal ini tidak seperti apa yang diajarkan Alkitab mengenai Yesus sebagai Anak Allah. Alkitab mengajarkan bahwa Yesus adalah satu-satunya Anak Allah. Tidak ada, dan tidak akan pernah ada yang lain yang dihubungkan dengan Anak Allah seperti Yesus.
Bacalah dengan saksama Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-35. Dari ayat- ayat ini, kita belajar hal-hal berikut. Yusuf dan Maria merencanakan pernikahan. Kemudian Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria dan berbicara kepadanya bahwa dia akan mempunyai anak. Maria menjawab bahwa ini tidak mungkin karena dia seorang perawan. Gabriel menjelaskan kepadanya bahwa Roh dari Tuhan akan datang ke atasnya dan anak itu akan menjadi Putra Allah. Ketika Yusuf mendengar bahwa Maria telah mengandung seorang bayi, Yusuf berencana untuk memutuskan pertunangan. Akan tetapi, seorang malaikat menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi dan menjelaskan kepadanya bagaimana Maria menjadi hamil. Kemudian Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya, tetapi mereka tidak hidup bersama-sama sebagai suami istri sampai Yesus dilahirkan. Kita melihat bahwa Yesus tidak mempunyai ayah secara duniawi karena Maria telah hamil dari Roh Allah.
Bacalah lagi Lukas 1:35, "Jawab malaikat itu kepadanya: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah." Dari kata-kata Malaikat Gabriel itu, siapakah Yesus? Kita segera melihat bahwa hanya ada satu jawaban, Yesus adalah Anak Allah. Beberapa orang mencoba menjadi sangat bijak dan mengajukan banyak pertanyaan mengenai siapa Yesus. Malaikat dari surga tidak mempunyai pertanyaan tentang hal ini. Malaikat Gabriel tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Bacalah Yohanes 1:29-34 dan pelajarilah ayat-ayat ini. Allah telah mengirim Yohanes Pembaptis untuk menyiapkan hati manusia supaya mereka menerima Yesus, Juru Selamat yang dijanjikan. Yohanes Pembaptis menjadi pembuka jalan dengan memanggil manusia untuk bertobat (menyesal atas dosa-dosa dan berpaling dari dosa-dosa). Allah juga menceritakan kepada Yohanes Pembaptis bagaimana dia akan bisa mengenali Penyelamat yang dijanjikan bila Dia datang. Bagaimana Yohanes Pembaptis mengetahui-Nya? Bacalah ayat 33. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Roh Allah turun dan tinggal di atas Yesus, Yohanes Pembaptis langsung mengetahui Yesus adalah Juru Selamat yang dijanjikan.
Ayat-ayat berikut mengajar kita dengan sangat jelas. "Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan, 'Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan'" (Matius 3:16-17). Di bagian lain disebutkan pula, "Dan tiba-tiba, sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, 'Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia'" (Matius 17:5). Demikian pula ayat ini, "Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia'" (Markus 9:7). Lalu, "Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka" (Lukas 9:34-35). Murid-murid mengerti dengan jelas bahwa suara yang mereka dengar adalah suara Tuhan. Bertahun-tahun kemudian ketika Petrus sedang menulis hal-hal yang terjadi di atas Gunung Transfigurasi (gunung tempat Yesus nampak dalam terang yang berkilau-kilauan), dia berkata bahwa Yesus telah menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa. Mereka mendengar suara yang berkata, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (2Petrus 1:17-18). Allah ingin manusia mengerti siapa Yesus.
Ada beberapa contoh dalam Alkitab tentang roh-roh jahat yang mengenal Yesus dan berkata bahwa Dia adalah Anak Allah. Marilah kita lihat dua contoh ini. Bacalah Lukas 8:26-39. Dalam ayat-ayat ini, iblis-iblis menyatakan bahwa Yesus adalah seorang yang mempunyai kuasa menghancurkan mereka. Sekarang, baca juga Markus 1:23-27. Di sini roh jahat berkata bahwa Yesus adalah yang kudus dari Allah. Perhatikan bahwa Yesus memerintahkan roh jahat untuk diam. Dia tidak ingin Setan atau orang-orang yang dipenuhi oleh roh Setan menanyakan siapakah yang seharusnya menceritakan tentang Yesus. "Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu." Orang yang disuruh Yesus itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya (Lukas 8:39). Kehidupan orang itu dibuat menjadi benar oleh kuasa Yesus. Dan orang-orang seperti dialah yang diinginkan Yesus untuk menceritakan kepada orang lain tentang Dia.
Bacalah Matius 16:13-17. "Maka kata Yesus kepada kedua belas murid- Nya: 'Apakah kamu tidak mau pergi juga?' Jawab Simon Petrus kepada- Nya: 'Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal: dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah'" (Yohanes 6:67-69). Murid- murid telah hidup dengan Yesus selama kira-kira tiga tahun. Mereka mengamati kehidupan-Nya secara dekat. Mereka telah mendengarkan pengajaran-Nya tentang hal-hal yang luar biasa mengenai Allah. Mereka telah melihat hidup-Nya yang tanpa dosa. Mereka telah melihat mujizat-mujizat besar (pekerjaan-pekerjaan yang menakjubkan) yang Dia lakukan. Karena hal-hal ini, mereka tahu bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah.
Ketika Yesus di pengadilan, orang-orang mendengar kesaksian- kesaksian dan keterangan-keterangan di mana tak seorang pun menemukan orang yang bisa membuktikan bahwa Yesus bersalah dan melakukan dosa. Mereka mengajukan pertanyaan ini pada Yesus, "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?" Yesus memberikan jawaban yang sangat berterus terang, "Akulah Dia" (Markus 14:60- 62). Jika Yesus berkata bahwa dia bukan Anak Allah, kemungkinan hidup-Nya tidak akan berakhir. Namun, Dia menolak berdusta tentang hal itu. Dia ingin orang mengerti bahwa Dia adalah Anak Allah.
Ketika Yesus bersama dengan murid-murid-Nya, kerap kali Dia menceritakan kepada mereka bahwa Dia akan dibunuh dan pasti akan bangkit dari kubur pada hari ketiga. "Sejak waktu itu, Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Matius 16:21). "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku (Yohanes 10:17-18). Bacalah juga Yohanes 2:18-22, musuh-musuh Yesus juga mendengarkan kata-kata ini. Itulah sebabnya, mungkin mereka melakukan segala-galanya untuk menghentikan kebangkitan Yesus. Mereka meletakkan sebuah batu yang sangat besar di pintu masuk dari gua di mana tubuh Yesus dikubur. Mereka minta prajurit-prajurit untuk menjaga pintu masuk. Kekuatan manusia tidak pernah bisa menghentikan pekerjaan Allah. Yesus bangkit dari kematian seperti yang telah Dia katakan. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia berbicara benar. Itu bukti bahwa Dia adalah sungguh-sungguh Anak Allah. Dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa atas kematian (Roma 1:4).
Alkitab sangat jelas berbicara tentang Yesus. Dulu dan sekarang, Dia adalah Anak Allah. Mengatakan bahwa hal ini tidak benar berarti mengatakan bahwa firman Allah tidak benar. Marilah kita menerima kebenaran tentang Yesus dan memercayai-Nya selalu sebagai Anak Allah dan Juru Selamat.
DOA
"Bapa, terima kasih karena Engkau mau mengirimkan Yesus Kristus yang adalah Firman untuk menjadi daging, sehingga aku mengerti apa yang menjadi kehendak hati-Mu atas hidupku. Aku juga bersyukur karena Yesus yang Engkau kirimkan itu merupakan satu-satunya Anak Tunggal Bapa dan tidak ada yang lain. Melalui Dialah aku dibenarkan dan diterima sebagai anak-anak-Mu. Amin."
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati Tanpa Dosa |
| Kode Pelajaran | : | SYK-P03 |
Ayat Hafalan
Ayat Hafalan:
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1)
Dalam pelajaran yang lalu kita telah belajar bahwa Yesus adalah firman Allah dan Anak Allah. Dalam pelajaran ini, kita akan melihat bahwa Yesus juga adalah Allah sendiri. Mungkin Anda bertanya, "Saya tidak mengerti ini -- bagaimana Yesus bisa menjadi firman Allah, Anak Allah, dan juga Allah itu sendiri?" Di awal pelajaran ini, baiklah kita memahami bersama bahwa Allah lebih besar daripada pengertian kita. Manusia memiliki pemikiran yang terbatas sehingga tidak bisa memikirkan Allah dengan sempurna. Kita tidak mengenal Allah karena kepandaian yang kita miliki. Dalam 1Korintus 1:21 kita membaca, "Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, ...." Tetapi puji syukur kepada Allah karena Ia memilih menyatakan itu kepada kita. Itulah tujuan kita dalam pelajaran ini, untuk belajar bagaimana Allah mengajar melalui Alkitab mengenai Yesus. Kita akan melihat bahwa Alkitab sangat jelas mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah.
Kita akan memerhatikan dua ayat yang menceritakan bahwa Yesus adalah Allah. Pertama, Yohanes 1:1, ayat hafalan pertama kita untuk pelajaran ini. Kita telah belajar dalam pelajaran kedua, bahwa kata "Firman" menunjuk kepada Yesus. Ayat ini menerangkan kepada kita, "... dan Firman itu adalah Allah." Jika ada yang berkata bahwa Allah dan Firman (Yesus) tidak sama, berarti ia setuju bahwa Alkitab tidak benar.
Ayat kedua yang ingin kita lihat adalah Roma 9:4-5, "Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa- bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!" Ayat ini berbicara tentang anak-anak Israel (bangsa Israel) dan bagaimana mereka menerima Hukum Taurat dan janji-janji Allah. Hal itu menerangkan bagaimana Yesus secara fisik dilahirkan dalam bangsa mereka. Dengan kata lain, dalam pandangan manusia, Yesus akan jadi orang Israel. Tapi ayat ini juga menceritakan pada kita bahwa Kristus di atas segala-galanya, dihormati sebagai Allah selama-lamanya.
Kebenaran bahwa Yesus adalah Allah tidak ditemukan dalam dua ayat itu saja, masih ada fakta-fakta yang lain. Oleh karena itu, kita juga akan belajar di bagian lain yang memuat kebenaran yang lebih jelas lagi kepada kita.
Semua dosa adalah melawan Allah. Pada masa lalu, Raja Daud berdoa pada Allah dan berkata, "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa" (Mazmur 51:6). Satu-satunya pribadi yang bisa mengampuni dosa adalah Pribadi kepada siapa manusia berdosa. Kita akan melihat bahwa Yesus mempunyai kuasa mengampuni dosa.
Bacalah Markus 2:1-12. Dari ayat-ayat ini, kita belajar hal-hal berikut. Yesus berkata kepada orang lumpuh itu bahwa dosa-dosanya diampuni. Musuh-musuh Yesus berkata bahwa hanya Allah saja bisa mengampuni dosa. Mereka benar tentang hal itu. Karena itu mereka menganggap Yesus melakukan kejahatan karena Dia mengatakan memiliki kuasa yang hanya mungkin dipunyai oleh Allah sendiri. Tapi kemudian Yesus menyembuhkan orang itu, dan hal ini membuktikan pada orang- orang bahwa Dia sungguh-sungguh punya kuasa untuk mengampuni dosa, karena menurut mereka kelumpuhan orang itu adalah karena dosa- dosanya. Mari kita memikirkannya dengan cara sebagai berikut. Andai kata di sini ada sebuah rumah yang kita tahu bahwa dia adalah orang yang mempunyai kunci itu. Jika kita melihat orang itu datang ke rumah, kemudian mengambil kunci dan membuka pintu, kita akan mengetahui bahwa dialah pemilik dari rumah itu. Kita mengetahui bahwa hanya Allah yang bisa mengampuni dosa. Oleh sebab itu, bila kita melihat Yesus datang dengan kuasa untuk mengampuni dosa, kita tahu bahwa Yesus adalah Allah.
Yohanes 5:23 berkata, "Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia." Dalam ayat ini, Yesus menyatakan dengan jelas bahwa manusia akan menghormati Dia sebagaimana mereka menghormati Bapa. Jikalau Anda mulai membaca dari ayat 16, Anda akan menemukan bahwa orang-orang Yahudi mau membunuh Yesus. Orang-orang Yahudi berkata bahwa Yesus telah mengajar bahwa Dia sama dengan Allah (ayat 18). Jika Yesus tidak menjadi sama dengan Allah, Dia sudah tentu akan membenarkan mereka. Dia akan membuat itu jelas bagi mereka bahwa Ia tidak sama dengan Allah. Apakah Dia melakukan ini? Tidak. Malahan Yesus memberitahukan kepada mereka bahwa "Semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa."
Perhatikan dalam Filipi 2:6, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan." Ayat ini menceritakan bahwa Yesus telah menjadi Allah sebelum Ia datang di dunia. Yesus tidak pernah berpikir bahwa Dia merampas hak Allah dengan menjadi sejajar dengan Allah, melainkan Ia sedang menyatakan sejajar dengan Allah karena Ia adalah Allah itu sendiri.
Perhatikan dua kenyataan berikut. Pertama, dalam Kisah Rasul 14:8- 18, kita membaca bahwa Paulus dan Barnabas sedang mengajar di Listra (dengan kuasa Yesus.) Orang banyak yang melihat mereka mengatakan bahwa ada dewa-dewa yang telah turun dari sorga. Paulus dan Barnabas dengan segera memperbaiki kesalahan ini dan memberitahukan kepada orang-orang itu bahwa mereka manusia sama seperti mereka yang tidak patut untuk diagung-agungkan. Tindakan ini tepat seperti yang seharusnya mereka lakukan.
Kedua, ketika Yohanes mendapat mimpi dari surga, ia jatuh tersungkur menyembah orang yang berbicara kepadanya. Orang itu memberitahukan bahwa dia tidak seharusnya melakukan demikian. Hanya Allah yang harus disembah. "Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: 'Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara- saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat'" (Wahyu 19:10). Malaikat yang berbicara kepada Yohanes menolak disembah karena dia tahu bahwa hanya Allah yang patut disembah. Dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Sekarang bacalah Yohanes 20:27-29. Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri kepada Tomas. Ketika Tomas menyadari bahwa itu benar-benar Yesus yang telah bangkit dari kematian, dia berkata, "Ya Tuhanku dan Allahku." Apakah Yesus menolak untuk memperbaiki panggilan Allah yang ditujukan kepadanya? Tidak. Yesus menerima apa yang Tomas katakan. Mengapa? Karena Dia memang Allah.
Kadang-kadang orang tidak mau memuliakan Yesus seperti mereka memuliakan Bapa. Mereka membuat lelucon dan berkata, "Jika Yesus adalah Allah, itu artinya Allah mati di atas kayu salib." Sebenarnya, tepat yang Alkitab ajarkan kepada kita dalam 2Korintus 5:19, "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus."
Kita juga membaca hal ini dalam Kisah Para Rasul 20:28, "Karena itu, jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri." Paulus sedang berbicara kepada penatua-penatua Gereja di Efesus. Dia mengatakan kepada mereka bagaimana mereka harus memelihara Gereja Tuhan, yang dibeli dengan darah-Nya sendiri. Apabila Anda membaca ayat ini dengan saksama, Anda akan melihat bahwa Paulus sedang berbicara tentang Allah. Dia menyebut gereja dengan "Gereja Allah" dan kemudian menambahkan, "yang Allah beli dengan darah-Nya sendiri."
Bila kita melihat diri kita, kita melihat banyak hal yang terlalu sulit kita mengerti. Jika kita tidak bisa mengerti hal-hal yang diciptakan oleh Allah, betapa bodohnya kita meminta untuk mengerti semua hal-hal yang ada dalam diri Allah. Tetapi hal-hal yang Allah ajarkan kepada kita bisa kita percayai. Kita telah melihat bagaimana Alkitab benar-benar mengajar bahwa Yesus adalah Allah. Kita boleh tidak mengerti tentang semua itu, tetapi kita bisa mempercayai hal itu karena Allah telah mengajarkan itu kepada kita. Keajaiban itu adalah bahwa Allah telah datang ke dunia dalam rupa manusia, hidup di antara manusia, dan mati untuk dosa-dosa mereka sehingga mereka memiliki hidup selama-lamanya melalui iman kepada- Nya.
Ayat Hafalan:
"Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15)
Sebelumnya, kita telah belajar tentang Yesus yang adalah Allah sejati. Kini, kita juga akan belajar bahwa Yesus adalah seorang Manusia sejati. Kita akan melihat bagaimana Yesus menjadi manusia dalam segala hal seperti kita kecuali bahwa Dia tanpa dosa. Jika kita hendak mengerti sifat alami yang sejati dari Yesus, kita harus mengerti bahwa Dia adalah Allah dan juga manusia.
Marilah kita memikirkan hal ini. Jika Anda memiliki sebuah mata uang di tangannya, maka ia tahu bahwa itu adalah satu mata uang. Tapi dia juga mengetahui bahwa mata uang itu mempunyai dua sisi. Itulah sifat Yesus, Ia adalah satu, tetapi memiliki dua sisi, sisi Allah dan sisi manusia. Sebagaimana yang kita pelajari tentang Yesus yang menjadi manusia, marilah kita juga mengingat bahwa Dia adalah Allah. Ayat hafalan kita di atas memberitahu kedudukan Sang Imam Besar kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang pernah menjadi manusia sama seperti kita, hanya Dia tidak berbuat dosa. Marilah kita pelajari hal ini bersama- sama.
Sekarang, pikirkanlah hal-hal yang Alkitab terangkan kepada kita tentang Yesus yang menyebabkan kita mengetahui bahwa Dia adalah juga manusia.
Meskipun Allah adalah Bapa-Nya, Dia dikandung dalam rahim Maria dengan kuasa Roh Kudus. Dia bertumbuh dan dilahirkan seperti semua bayi-bayi yang lain dilahirkan. "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat" (Galatia 4:4).
Tubuh Yesus seperti tubuh kita. Kita tahu ini karena alasan- alasan berikut:
Perasaan Yesus seperti perasaan kita.
"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:14-15). Dalam ayat ini Yesus disebut Imam Besar Agung kita. Selanjutnya dikatakan bahwa Dia dicobai dalam segala hal seperti kita dicobai. Kita jangan berpikir bahwa satu-satunya saat Yesus dicobai adalah ketika Setan datang kepada-Nya setelah Dia tidak makan selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Yesus dicobai dibanyak waktu yang berbeda dan dengan cara yang berbeda.
Suatu kali, Setan bahkan mencobai Yesus melalui Simon Petrus, salah seorang murid-Nya. Ketika Yesus memberitahukan murid-murid-Nya bagaimana Dia harus segera menderita dan mati, Petrus berbicara dengan kata-kata yang bersemangat bahwa hal seperti itu tidak akan pernah terjadi pada-Nya. Setan telah memakai Petrus untuk menggoda Yesus untuk menghindari kematian di atas kayu salib. Jika Setan bisa membujuk Yesus melepaskan diri dari kematian di atas kayu salib, tidak ada keselamatan bagi umat manusia. Yesus mengerti benar apa yang sedang Setan coba lakukan melalui Petrus. Itulah sebabnya, Yesus berbicara kepada Petrus sebagaimana tertulis dalam Matius 16:23, "Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: 'Enyahlah Iblis, Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.' Bacalah Matius 16:21-23. Kita semua harus mengerti ini. Ada saat-saat di mana Setan akan mencobai kita lewat teman-teman kita.
Ada hal-hal lain yang seharusnya kita mengerti tentang cobaan terhadap Yesus. Dia menolak mempergunakan kuasa untuk membuat pencobaan lebih ringan. Ketika Dia merasa lapar, Setan mencobai-Nya untuk mengubah batu-batu menjadi roti. Yesus mempunyai kuasa untuk melakukan itu. Namun, Ia menolak mempergunakan kuasa untuk meringankan cobaan-cobaan yang dibebankan Setan pada-Nya. Kenapa? Karena jika demikian, Dia tidak akan pernah dicobai seperti kita dicobai, Dia tidak bisa betul-betul seperti kita. Contohnya, seorang yang lapar, yang merampok atau mencuri, mungkin mencoba memaafkan dirinya sendiri dengan berkata, "Ya, ketika Yesus lapar Dia mengubah batu menjadi roti. Saya tidak bisa melakukan itu, tapi saya akan menghilangkan rasa lapar saya dengan mencuri." Karena itulah Yesus dengan berani rela menderita dan hasilnya Dia memperoleh kekuatan penuh dari pencobaan-pencobaan, Dia bisa mengerti secara penuh dan berbagi perasaan akan pencobaan- pencobaan kita. Dia juga akan memberikan kuasa kepada kita atas Setan, sebagaimana Dia lakukan jika kita memutuskan bergantung kepada-Nya.
Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini. "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15). "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (Korintus 5:21). "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya" (1Petrus 2:22). Ini adalah satu cara di mana Yesus, sebagai manusia, berbeda dari semua umat manusia. Semua manusia telah berdosa, tetapi Yesus tanpa dosa.
Banyak orang tidak mengerti bahwa ada dua cara-cara manusia berdosa. Cara pertama adalah dengan melakukan hal-hal yang kita ketahui adalah jahat. Alkitab menerangkan pada kita beberapa hal yang Allah tidak ingin kita lakukan. Tapi jika ia tetap melakukan hal-hal ini, maka dia melawan Allah dan ia berdosa.
Cara kedua dari perbuatan dosa adalah gagal melakukan hal yang kita ketahui benar. Allah menerangkan pada kita bahwa ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan. Bila kita lalai melakukan hal-hal ini, kita berdosa terhadap Allah. Dalam Yakobus 4:17 kita membaca, "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."
Bila kita berkata bahwa Yesus adalah tanpa dosa, kita menunjukkan bahwa Dia tidak pernah melakukan apa pun yang jahat di mata Allah. Kita juga menunjukkan bahwa Dia selalu melakukan apa pun yang baik di mata Allah. Dia tidak pernah melakukan yang jahat. Dia tidak pernah gagal melakukan yang baik.
Dalam 2Korintus 5:21, kita belajar bahwa Yesus yang tidak berdosa, namun menjadi berdosa untuk kita sehingga kita dibuat menjadi benar di hadapan Allah melalui Yesus. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." Jika seandainya Yesus berdosa, Dia tidak bisa menggantikan tempat orang-orang berdosa. Dia akan menerima hukuman atas dosa-dosanya sendiri.
Contohnya, dua orang membunuh seorang pria. Mereka diadili dan kedapatan bersalah. Kemudian seorang dari mereka berkata kepada hakim, "Tuan, biarkan saya mati menggantikan teman saya." Dengan segera hakim akan menjawab, "Tidak. Kamu dua-duanya bersalah. Dia harus mati untuk kesalahan yang dia lakukan dan kamu mati untuk kesalahanmu sendiri." Orang yang bersalah harus menderita karena kesalahannya sendiri.
Yesus adalah orang yang tidak berdosa dan tidak pernah melakukan dosa. Itulah sebabnya, Dia dapat menggantikan hukuman atas dosa- dosa kita.
DOA
"Ya Yesus, aku bangga bisa mengenal-Mu lebih dalam. Sebelum kedatangan-Mu ke dunia, jarak antara manusia dengan Allah begitu jauh, tetapi kini aku tahu bahwa Engkau adalah Allah itu sendiri, yang membuat hubungan manusia dengan Allah menjadi sangat dekat. Aku bangga bahwa dalam keberadaan-Mu sebagai Allah, Engkau mau merendahkan diri menjadi manusia yang sangat rendah, sehingga Engkau benar-benar memahami keberadaanku. Terpujilah Engkau Yesus. Amin."
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b |Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Juru Selamat dan Tuhan |
| Kode Pelajaran | : | SYK-P04 |
Ayat Hafalan
Ayat Hafalan:
"Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (Matius 1:21)
Dalam pelajaran yang pertama, Anda telah belajar tentang apa yang dilakukan Yesus untuk menyelamatkan kita. Dia mati sebagai Anak Domba Allah karena dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, kita menyebut-Nya sebagai "Juru Selamat". Kini Anda akan belajar lebih dalam tentang Yesus sebagai Juru Selamat. Keselamatan itu diberikan-Nya dengan cuma-cuma bagi semua orang yang bertobat dari dosa-dosa mereka dan yang percaya kepada-Nya.
Beberapa orang dari kalangan Kristen sering mengajukan pertanyaan seperti ini, "Bagaimana nasib orang dari agama lain? Akankah mereka diselamatkan? Bagaimana kalau hidup mereka lebih baik daripada orang Kristen?" Alkitab memberi jawaban: "Tidak ada keselamatan di luar Yesus, karena Ia adalah Anak Allah satu-satunya yang dapat menyelamatkan."
Misalnya, ada seseorang yang ingin pergi dari satu kota ke kota lain. Untuk bisa sampai ke sana hanya ada satu jalan yang harus dipilih. Orang itu menjadi bingung ketika mulai mempersiapkan perjalanannya. Dalam kebingungannya, dia memilih jalan yang salah. Dengan tulus dia mengira bahwa dia berjalan di jalan yang benar. Walaupun tulus, dia tidak akan pernah tiba di tempat yang ingin dituju. Banyak orang seperti itu, bersungguh-sungguh tulus tapi mereka keliru memilih jalan. Dalam Amsal 14:12 kita membaca, "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut."
Yesus membuat hal itu menjadi sangat jelas, bahwa tidak seorang pun yang dapat datang kepada Allah, kecuali melalui-Nya. "Kata Yesus kepadanya: 'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku'" (Yohanes 14:6).
Kisah Rasul 4:12 juga dikatakan, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Ayat Alkitab ini mengajarkan bahwa jika seseorang percaya pada jalan lain selain Yesus Kristus untuk mendapatkan keselamatan, maka orang itu salah jalan.
Hal berikut yang harus Anda mengerti tentang Yesus sebagai Juru Selamat ialah bahwa Yesus menyelamatkan manusia dari dosa. Beberapa orang percaya bahwa jika mereka menjadi seorang Kristen, mereka diselamatkan dari semua penyakit dan kesusahan/kesulitan. Sehingga ketika mereka sakit atau mengalami kesulitan, mereka merasa bahwa Yesus telah gagal melakukan hal-hal yang seharusnya Dia lakukan untuk mereka. Ini karena mereka tidak mengerti maksud Yesus sebagai Juru Selamat. Bila kita membaca Alkitab tentang kehidupan murid- murid Yesus, kita mengamati bahwa mereka juga menderita berbagai kesulitan. Beberapa orang dipukuli. Beberapa orang yang lain dipenjarakan. Bahkan beberapa orang dibunuh. Kesulitan-kesulitan mereka alami karena mereka menjadi pengikut Yesus. Jadi, bukan karena kejahatan mereka. Mereka tidak mengeluh. Mereka menyadari bahwa Yesus telah menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka dan mereka telah mempunyai tempat tinggal yang kekal di surga bersama Dia. Marilah kita sekarang pikirkan tentang dosa yang membawa maut.
Yesus menyelamatkan kita dari hukuman dosa.
"Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal" (Matius 25:46). Bacalah Lukas 16:19-31; Wahyu 20:11-15. Dalam ayat-ayat ini, Anda akan belajar bahwa di sana ada satu tempat hukuman yang mengerikan untuk selama-lamanya bagi setiap orang yang menolak jalan Tuhan. Hukuman kekal bagi orang berdosa. Yesus mati di atas kayu salib dan menderita menggantikan posisi kita sebagai orang berdosa sehingga kita tidak harus menanggung penghukuman dosa-dosa kita. Kita memahami bahwa Yesus menyelamatkan kita dari hukuman dosa.
Yesus menyelamatkan kita dari kuasa dosa.
Orang-orang yang mencoba melepaskan dosa dari kehidupannya akan segera menyadari bahwa dosa mempunyai kuasa yang sangat membelenggu. Mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki kekuatan menjauhkan dosa-dosa tersebut. "Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik" (Roma 7:18). Ketika seseorang menjadi orang Kristen, Yesus menyelamatkannya dari kuasa dosa. Yesus menaruh Roh Kudus ke dalam hati orang Kristen. Dengan demikian, orang Kristen mendapat kemenangan atas dosa karena kuasa Yesus di dalam dirinya, sebagaimana tertulis dalam Filipi 4:13, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."
Yesus menyelamatkan kita dari perbuatan dosa.
Manusia pada dasarnya mencintai dosa. Dia mencari jalan untuk berbuat dosa. Mungkin dia suka mencuri, berjudi, dosa seks, berbohong atau dosa-dosa lainnya. Bila tidak ada kesempatan melakukan dosa, ia tidak merasa bahagia. Itulah orang yang belum percaya.
Berbeda halnya dengan orang-orang yang sudah menerima Kristus. Dia memiliki hati nurani yang baru. Dia rindu melakukan kehendak Allah dalam hidupnya. Oleh karena itu, dosa menjadi masalah besar baginya. Tapi suatu hari Yesus akan menyelamatkan semua orang Kristen dari dosa dan semua kesulitan yang disebabkan oleh dosa. Yesus akan membawa orang-orang Kristen hidup bersama-Nya di surga selama-lamanya. Di dalam surga tidak akan ada lagi dosa, kesedihan, kematian, kelaparan atau kesusahan. Bacalah Wahyu pasal 21 dan 22. Ayat-ayat tersebut akan menolong Anda memahami bahwa semua orang akan bersukacita dan bahagia di tempat yang sudah Allah sediakan bagi anak-anak-Nya.
Sebagai Juru Selamat, Yesus mengerjakan lebih dari sekadar menyelamatkan kita dari dosa. Dia menyelamatkan kita dengan satu tujuan agar kita hidup menyenangkan Allah. Suatu hari, seorang pendeta berbicara dengan beberapa orang tentang dosa yang biasa mereka lakukan. Suatu dosa yang telah mereka perbuat cukup lama. Mereka tidak menyadari bahwa dosa itu sangat jelek di mata Allah. Pendeta tersebut menjelaskan tentang keseriusan akibat dosa itu. Setelah mendengarnya, salah seorang dari mereka berkata kepada pendeta tersebut, "Kalau begitu yang harus kami miliki adalah hati dan hidup yang baru sehingga kami mampu melakukan apa yang pendeta ajarkan."
Itulah yang Yesus lakukan bagi setiap orang bila Dia menyelamatkannya. Dia memberikan suatu kehidupan dan hati yang baru. Dalam 2Korintus 5:17, kita membaca firman Tuhan sebagai berikut, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang!"
Pada saat seseorang memiliki hati dan hidup yang baru, dia akan rindu melakukan kehendak Allah. Ada seorang laki-laki yang sangat berdosa. Dia telah melakukan banyak kejahatan dan bila dia bertemu dengan orang di jalan, orang pun takut padanya. Suatu malam, laki- laki tersebut membuka hatinya bagi Yesus. Dia memercayai Yesus untuk keselamatannya. Dia meninggalkan teman-temannya yang jahat termasuk cara hidupnya yang jahat. Kemudian dia bersaksi kepada orang lain tentang Yesus dan bagaimana mereka juga dapat diselamatkan. Allah memakai laki-laki tersebut secara ajaib setelah dia menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya.
Rasul Paulus menuliskan kepada orang-orang Kristen di Korintus dan mengatakan hal ini kepada mereka, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu " (1Korintus 6:19-20).
Jadi, setiap orang yang hidupnya sudah diselamatkan oleh Yesus seharusnya memberikan hidupnya hanya untuk melayani Allah dan bukan melayani dosa lagi.
Ayat Hafalan:
"Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." (Kisah Para Rasul 2:36)
Selanjutnya, dalam pelajaran ini Anda juga akan mempelajari kebenaran agung lain yang berhubungan dengan Yesus. Anda akan mengetahui bahwa Yesus adalah Tuhan. Sebagai Tuhan, Yesus sendiri berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku" (Lukas 9:23). Yesus menyampaikan kata-kata tersebut agar setiap orang yang ingin mengikuti-Nya mengerti bahwa kekristenan bukanlah sesuatu yang mudah. Kadang-kadang pengikut-pengikut (orang yang percaya kepada) Yesus akan menghadapi bahaya besar. Yesus sendiri menghadapinya sampai akhirnya, pada kematian yang paling menyakitkan -- mati di atas kayu salib. Sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita harus bersedia berjalan di jalan Tuhan dan melakukan kehendak Allah berapa pun harga yang harus di bayar.
Dalam Alkitab kata "Tuhan" mempunyai arti yang kuat. Tuhan lebih dari sekadar gelar yang diberikan kepada seseorang. Penggunaan kata "Tuhan" dalam Alkitab berarti "tuan". Jika ia menjadi tuan atas sesuatu, maka sesuatu itu adalah kepunyaannya dan dia mempunyai kuasa penuh atasnya. Dia dapat perlakukan benda-benda tersebut sesuai dengan kehendaknya.
Jika Anda membeli sebuah sepeda, Anda menjadi pemilik atas sepeda itu. Anda juga mempunyai kuasa untuk menggunakan dan memperlakukan sepeda itu. Sama seperti itulah arti ketuhanan Yesus Kristus.
Ada dua alasan mengapa Yesus adalah Tuhan atas setiap orang Kristen.
Yesus adalah Tuhan atas setiap orang Kristen karena Dia telah membayar harga untuk menyelamatkan setiap orang Kristen dari dosa dan penghukuman kekal karena dosa. Dalam 1Korintus 6:19-20, kita membaca ayat-ayat ini, "Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" Beberapa ayat lain yang berkaitan dengan hal ini ditemukan dalam 1Petrus 1:18-19. "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana; bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat." Jadi, Anda dapat melihat bahwa Yesus berkuasa atas kehidupan setiap orang Kristen karena Yesus telah membeli orang itu dengan kematian-Nya di atas kayu salib.
Beberapa orang mau mengakui Yesus sebagai Tuhan hanya dengan mulut mereka saja. Yesus tidak menerima pengakuan seperti ini. Dalam Lukas 6:46 Yesus mengajukan satu pertanyaan, "Mengapa kamu berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" Yesus berbicara lagi mengenai hal ini dalam Matius 7:21, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga." Yesus menginginkan orang yang sungguh-sungguh menerima-Nya sebagai Juru Selamat dan juga sebagai Tuhan dalam seluruh hidupnya. Apabila seorang Kristen mengetahui kehendak Allah tentang kehidupannya, dia akan mencoba melakukannya. Berikut ini ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang Kristen.
Yesus ingin orang Kristen mengakui-Nya sebagai Juru Selamat dan Tuhan. Orang Kristen seharusnya tidak malu mengakui Yesus. "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 10: 32-33).
Memang benar banyak orang menolak menerima Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan mereka. Beberapa orang menertawakan orang Kristen yang hidup sesuai kehendak Tuhan Yesus Kristus. Namun, suatu hari kelak, orang-orang ini akan menyadari kesalahan mereka. Bacalah dalam Filipi 2:5-11. Mereka akan muncul di hadapan Yesus ketika mereka berdiri di hadapan Allah untuk dihakimi. Mereka akan melihat Yesus sedang duduk di atas takhta dan siap sedia untuk menghakimi mereka. Maka mereka akan mengetahui kekeliruan besar mereka. Tapi waktu bertobat telah berlalu. Pada hari terakhir, Tuhan Yesus hanya akan menerima setiap orang yang menerima-Nya sebagai Juru Selamat dan Tuhan ketika mereka masih hidup di dunia.
DOA
"Tuhan Yesus, aku ingin menjadikan Engkau Juru Selamat dan Tuhan bagi hidupku. Karena itu ambillah hidupku menjadi milik-Mu. Dan biarlah hidupku senantiasa mencerminkan kehendak-Mu. Karena itu Tuhan, tolonglah aku untuk terus belajar hidup bagi kemuliaan-Mu. Amin"
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus Memiliki Semua Kuasa dan Penakluk Kematian |
| Kode Pelajaran | : | SYK-P05 |
Ayat Hafalan
Ayat Hafalan:
"Yesus mendekati mereka dan berkata: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi" (Matius 28:18)
Yesus telah mati di kayu salib dan pada hari yang ketiga Dia bangkit dari kematian. Selama empat puluh hari setelah kebangkitan-Nya itu, Dia bertemu dengan murid-murid-Nya beberapa kali pada waktu yang berbeda. Para murid mengetahui bahwa Yesus telah mati di atas kayu salib, dikuburkan, dan sekarang hidup kembali. Mereka telah melihat- Nya dan berbicara secara langsung dengan-Nya. Mereka menjamah-Nya dengan tangan mereka sendiri. Lalu pada akhir hari ke-40, Yesus memanggil semua murid-murid untuk berkumpul. Seperti yang dikatakan- Nya pada mereka, Dia mengucapkan kata-kata yang kita temukan dalam ayat hafalan pelajaran di atas, "Kepadaku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi" Yesus ingin para murid mengerti kuasa-Nya dengan baik. Kemudian setelah selesai berbicara dengan murid-murid-Nya, Yesus terangkat ke sorga. Mereka berdiri dan memandang sampai Dia menghilang di balik awan.
Jadi, orang Kristen tidak menyembah seorang Juru Selamat yang mati dan dikuburkan. Mereka menyembah Anak Allah yang bangkit, hidup, dan penuh kuasa. Dalam pelajaran kelima ini, kita akan bersama-sama mempelajari apa yang dikatakan oleh Alkitab mengenai Yesus yang memiliki semua kuasa, termasuk kuasa yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan oleh mata manusia. Ketika Yesus hidup di dunia, Dia menunjukkan kuasa-Nya dalam berbagai cara dan dalam waktu yang berbeda. Marilah sekarang kita melihat bagaimana Ia menunjukkan kuasa-Nya yang hebat itu.
Yesus Berkuasa atas Alam
Marilah kita lihat bagaimana Yesus berkuasa meneduhkan angin dalam kitab Matius 8:23-27. Pada waktu itu, Yesus bersama murid- murid-Nya berangkat naik perahu, tetapi tiba-tiba angin badai mengamuk di atas danau dan menghantam perahu mereka, sehingga mereka sangat ketakutan. Lalu mereka membangunkan Yesus yang tertidur di buritan kapal. Yesus kemudian meneduhkan angin itu sehingga danau menjadi tenang kembali.
Kita juga mengetahui bagaimana Yesus kuasa-Nya berjalan di atas air (Yohanes 6:16-21).
Kita juga mengetahui kuasa-Nya ketika melihat bagaimana Ia melipatgandakan lima roti dan dua ikan kecil sehingga lima ribu orang laki-laki dapat diberi makan. Bahkan setelah setiap orang kenyang, masih ada sisa makanan dua belas keranjang. (Yohanes 6:5-14).
Kita juga melihat kuasa-Nya ketika memerintahkan pohon ara dan menyebabkannya menjadi kering (Matius 21:18-21).
Yesus tidak hanya memiliki kuasa membuat langit dan bumi, tapi juga memiliki kuasa memelihara segala sesuatu dari kerusakan. Dunia yang kita diami sekarang akan hancur jika bukan karena kuasa dari Yesus. Setiap hari kita diizinkan hidup di dunia ini karena kuasa Yesus. "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:16-17).
Yesus Berkuasa atas Roh-roh Jahat
Ada beberapa bagian dalam Perjanjian Baru yang dapat kita baca bahwa kuasa Yesus lebih besar daripada kuasa setan dan roh-roh jahat. Lihatlah salah satu bagian ini. Bacalah dengan teliti Lukas 8:26-39. Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas pekerjaan Setan. Pekerjaan Setan adalah merusak. Setan menentang Allah dan orang yang ingin menyenangkan Allah. Ketika roh-roh jahat dari Setan berada dalam hati seseorang, Setan bekerja untuk merusaknya. Yesus mengusir Setan keluar dengan Kuasa-Nya. Kemudian mereka masuk ke dalam babi-babi yang sedang makan di sekitar tempat itu. Akibatnya, babi-babi merusak dirinya sendiri dengan berlari masuk ke dalam danau dan mati di sana. Kuasa Setan selalu mencoba merusak segala sesuatu yang baik.
Kuasa Yesus selalu siap sedia menolong setiap orang yang sungguh- sungguh ingin menerima pertolongan-Nya. Kita bisa menerima pertolongan yang kita perlukan karena kuasa Yesus lebih besar daripada kuasa Setan.
Beberapa orang disembuhkan dengan kuasa Yesus. Perhatikan beberapa dari peristiwa tersebut.
Penyakit kusta adalah penyakit kulit yang buruk dan pada masa Yesus tak seorang pun yang sakit kusta dapat disembuhkan. Dalam Markus 1:40-42, kita membaca seorang berpenyakit kusta yang datang kepada Yesus dan memohon pertolongan. "Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: 'Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.' Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: 'Aku mau, jadilah engkau tahir.' Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia menjadi tahir." Yesus menyembuhkannya dengan satu sentuhan tangan.
Dalam Markus 5:25-34, kita melihat bagaimana seorang wanita yang sakit selama dua belas tahun yang telah berobat kepada beberapa dokter dan telah menghabiskan uangnya dalam usahanya agar sembuh. Tidak seorang pun dapat menolongnya, tetapi ketika dia menjamah jubah Yesus, dia segera sembuh.
Ada banyak contoh lain saat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, tapi kita tidak akan membaca semua kisah tersebut dalam pelajaran ini. Satu hal yang harus kita ingat terus ialah bahwa tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan Yesus. Dia memiliki kuasa yang sempurna mengatasi semua penyakit.
Pertanyaan yang sering diajukan ialah, "Bagaimana saya dapat memperoleh pengampunan dosa-dosa saya?" Beberapa orang mencoba mendapatkan pengampunan dengan mengakui dosa-dosanya kepada seorang imam. Yang lain berharap menemukan pengampunan dengan menggabungkan diri pada satu gereja. Beberapa orang lainnya berharap mendapat pengampunan pada waktu dibaptiskan. Tetapi Alkitab mengajarkan kita bahwa tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa.
Hanya Yesus yang mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Bacalah kembali Markus 2:1-12. Perhatikan khususnya ayat 10. "Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" Ini membuktikan bahwa Dia memiliki kuasa ini.
Jika Anda sedang mencari pengampunan atas dosa, Anda dapat yakin bahwa pengampunan dosa hanya ada dalam Yesus Kristus saja. "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya" (Efesus 1:7). "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). "Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada- Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya" (Kisah Para Rasul 10:43).
Ayat Hafalan:
"Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut." (Wahyu 1:18)
Sejak semula, manusia telah mengenal kematian sebagai musuh yang tidak dapat ditaklukkan. Manusia telah mencoba dengan banyak cara untuk meluputkan diri dari kematian tetapi selalu pada waktunya tiba, di mana mereka mati dan ini berarti kematian menjadi pemenang.
Semua orang Kristen seharusnya penuh sukacita karena kita mengikuti seseorang yang lebih besar daripada seorang guru besar atau nabi. Dia adalah Anak Allah yang hidup dan Dia memiliki semua kuasa di surga dan di bumi. Ini berarti Dia juga berkuasa atas kematian. Dia adalah Sang Penakhluk kematian. Dia telah rela untuk dihukum mati oleh orang-orang berdosa. Tetapi pada hari ketiga Dia bangkit dari kematian sebagai bukti bahwa kematian tidak akan pernah menang dari-Nya, melainkan Dialah yang telah menakhlukkan kematian.
Selanjutnya, kita akan melihat bagaimana Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas kematian.
Bacalah Matius 9:23-26 menceritakan tentang anak perempuan kepala rumah ibadah yang sudah meninggal. Ketika Yesus mengatakan kepada mereka bahwa anak itu tidak mati tetapi sedang tidur, mereka menertawakan-Nya karena mereka melihat jasad anak yang mati itu. Yesus masuk ke dalam ruangan dan menghidupkan anak itu. Sebagaimana kita membangunkan seseorang anak yang sedang tidur, demikianlah Yesus mampu memanggil anak ini dari kematian.
Dalam Lukas 7:11-17 kita membaca kisah pertemuan Yesus dengan serombongan orang yang akan menguburkan seorang laki-laki, anak tunggal dari seorang janda. Ibu yang malang ini ditinggal sendirian. Yesus berbelas kasihan padanya. Yesus memerintahkan laki-laki yang mati itu bangkit, dan dia taat. Bayangkanlah keterkejutan dan sukacita yang dialami oleh orang-orang tersebut.
Lalu dalam Yohanes 11:1-46, Yesus membangkitkan Lazarus. Lazarus adalah teman Yesus. Maria dan Marta adalah saudara perempuan Lazarus. Mereka mengirim berita kepada Yesus ketika Lazarus masih sakit. Ketika Yesus sampai di rumah mereka, Lazarus ternyata sudah mati empat hari sebelumnya. Keluarganya dan teman-temannya telah menguburkannya. Tetapi Yesus meminta untuk menggulingkan batu yang menutup kuburan Lazarus. Kemudian Yesus memerintahkan Lazarus untuk keluar. Sebagai jawaban suara Yesus, Lazarus berjalan keluar dari kuburnya.
Berdasarkan fakta-fakta itu, secara pasti Yesus membuktikan kuasa- Nya memberikan hidup kepada yang telah mati. Tetapi ini bukan yang terbesar, kuasa yang terbesar adalah ketika Yesus sendiri yang telah mati dan bangkit dan menaklukkan kematian.
Yesus tahu bahwa Dia akan dihukum mati jauh sebelum hal itu terjadi. Dia juga tahu bahwa Dia akan bangkit dari kematian pada hari ketiga. "Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid- murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Matius 16:21). "Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea" (Matius 26:32). "Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati" (Markus 9:9).
Yesus menceritakan hal-hal ini pada murid-murid-Nya sebelum semuanya terjadi. Dia memberitahukannya sehingga ketika Dia menggenapi janji-Nya dan bangkit dari kematian, murid-murid-Nya lebih percaya kepada-Nya. "Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi" (Yohanes 14:29).
Agar setiap orang sungguh-sungguh memahami kemenangan Yesus atas kematian, kita harus memahami bahwa Yesus benar-benar mati. Dia tidak sekadar pingsan atau pura-pura seperti mati. Amatilah fakta- fakta berikut. Bacalah dengan teliti Lukas 23:32-56 dan Yohanes 19:16-42.
Yesus mati dalam kerumunan banyak orang. Dia tidak mati di tempat tersembunyi yang hanya dihadiri orang tertentu saja. Banyak orang telah menyaksikan kematian-Nya, bahkan hampir sebagian besar penduduk Yerusalem datang untuk mengamati Yesus mati di atas kayu salib. Tidak ada keragu-raguan dalam pikiran orang-orang tersebut. Mereka tahu bahwa Yesus telah mati di atas kayu salib.
Ada tiga golongan yang benar-benar yakin bahwa Yesus sungguh mati. Pertama, para prajurit. Prajurit-prajurit ini terlatih untuk membunuh. Mereka mengetahui kematian Yesus sebab mereka melihat-Nya. Mereka tahu bahwa Yesus telah mati. Bahkan salah seorang dari prajurit-prajurit tetap menombak lambung Yesus. Ketika dia melakukan hal itu, darah dan air keluar. Ini menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh telah mati. Kedua, musuh-musuh Yesus juga ada di sana untuk meyakinkan bahwa Yesus telah mati. Mereka pasti tidak akan mengizinkan Yesus di ambil dari kayu salib jika mereka tidak pasti bahwa Yesus telah mati. Ketiga, di sana juga ada orang-orang yang mengasihi Yesus. Mereka juga yakin bahwa Yesus telah mati. Seandainya ketika mereka mempersiapkan penguburan-Nya dan tangan mereka merasakan adanya tanda-tanda kehidupan sekecil apa pun, pasti mereka tidak akan pernah mengubur-Nya. Tidak ada keraguan tentang fakta bahwa Yesus sungguh-sungguh telah mati.
Walaupun Yesus benar-benar telah mati, semua usaha untuk membunuh Yesus sia-sia saja. Pada hari ketiga kuburan itu telah kosong. Yesus telah bangkit. Sesudah kebangkitan-Nya, beberapa kali Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Mereka berbicara dengan- Nya. Mereka menyentuh-Nya dengan tangan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa itu adalah Yesus dan Dia hidup dari antara orang mati. Yesus memang telah mati. Dia sudah dikuburkan. Tetapi lihatlah, Dia telah menaklukkan kematian. Sekarang Dia hidup untuk selama-lamanya. Baca juga Lukas 24:1-53; Yohanes 20:1-31; Yohanes 21:1-25.
Ada dua hal penting yang ingin kita tekankan melalui pelajaran ini berkaitan dengan kebangkitan Yesus dari antara orang mati.
Kebangkitan-Nya dari kematian membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup. Kita juga membaca hal ini dalam Roma 1:4, "dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita."
Yesus memiliki kuasa atas kematian dan membangkitkan semua orang mati di hari penghakiman. Penjelasan lebih rinci tentang apa yang akan terjadi pada waktu kebangkitan itu akan dijelaskan dalam pelajaran terakhir dari kursus ini. Karena itu, "... janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara- Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum" (Yohanes 5:28-29).
Kita harus bergembira karena kita bisa menyembah dan melayani Juru Selamat yang adalah penakluk kematian. Dia dapat menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, membangkitkan kita dari kematian, dan mengangkat kita untuk hidup bersama-Nya selama-lamanya. Kita seharusnya mempelajari berita ini dengan baik dan membagikan berita ini kepada orang yang belum mendengar atau kepada orang yang belum mengerti.
DOA
"Bapa yang aku kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, sekarang aku yakin dan percaya bahwa kuasa-Mua sungguh luar biasa. Bahkan atas kematian kuasa-Mu nyata. Ajarkan kepadaku untuk tidak lagi takut pada kematian, karena Engkau telah mengalahkannya. Tidak ada lagi kuasa di dunia ini, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan oleh mata manusia, yang melebihi kuasa-Mu. Kuagungkan sungguh nama-Mu Tuhan. Amin."
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang |
| Kode Pelajaran | : | SYK-P06 |
Ayat Hafalan
Ayat Hafalan:
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)
Pada mulanya, Setan membawa Adam dan Hawa masuk dalam dosa melalui satu dusta. Akibatnya, Adam dan Hawa harus mempertanggungjawabkan dosa-dosa mereka karena mereka lebih memercayai kebohongan Setan daripada kebenaran Allah. Sampai sekarang Setan masih terus membawa orang-orang ke dalam dosa dengan kebohongannya. Salah satu dusta besar yang disebarkan Setan di Indonesia pada masa kini adalah bahwa Yesus hanyalah Allah untuk orang-orang kulit putih, bukan untuk orang-orang Indonesia. Siapa yang mendengar dan mengikuti dusta ini akan terhilang selama-lamanya.
Setiap orang yang membaca dan percaya pada Alkitab, tidak akan pernah tertipu dengan dusta ini. Kita seharusnya mengerti bahwa hanya ada satu Allah. Dia adalah Allah untuk semua orang. Dialah yang menjadikan semua orang. Alkitab mengajarkan pada kita bahwa Allah yang satu ini hanya mempunyai satu rencana keselamatan. Rencana keselamatan ini berlaku sama untuk setiap orang di dunia ini. Agar beroleh keselamatan, raja-raja dan ratu-ratu demikian juga orang- orang yang paling miskin dan hina, harus bertobat dan memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Para dosen/guru di universitas atau orang yang tidak berpendidikan juga harus bertobat dan memercayai Yesus. Orang kulit hitam, coklat, kuning dan putih, semua harus bertobat dan memercayai Yesus dengan cara yang sama jika mereka mau memperoleh keselamatan dan hidup kekal. Ya, hanya ada satu Allah, satu Juru Selamat dan satu jalan keselamatan.
Setan telah berdusta ketika dia mengatakan bahwa Yesus hanya untuk orang-orang bangsa tertentu saja. Alkitab menjelaskan dan mengatakan bahwa Yesus adalah untuk setiap orang yang percaya. Perhatikanlah firman Allah mengenai hal ini.
Perhatikan Kejadian 22:18, "Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat karena engkau mendengarkan firman-Ku." Kemudian perhatikan pula Galatia 3:16, "Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya." Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" yaitu banyak orang (bentuk jamak), tetapi hanya satu orang, yaitu "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. Ayat dalam kitab Kejadian tersebut mengajarkan bahwa Allah menunjukkan rencana kemurahan-Nya kepada semua orang di dunia ini melalui anak Abraham. Kemudian ayat dalam Galatia mengacu kepada janji dalam kitab Kejadian itu, bahwa rencana kemurahan Allah akan ditunjukkan melalui keturunan langsung dari Abraham, yaitu Yesus Kristus. Allah telah menjelaskan di dalam Alkitab PL bahwa Juru Selamat yang dijanjikan itu adalah untuk semua orang di dunia.
Dalam Yesaya 49, kita membaca satu nubuatan mengenai Juru Selamat yang dijanjikan itu. Kita menemukan ayat-ayat mengenai Pribadi yang dijanjikan tersebut dalam bagian terakhir dari ayat 6, "Aku akan membuat Engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari-Ku sampai ke ujung bumi." Yesus berkata bahwa Dialah terang dunia. Hal itu pasti. Allah telah merencanakan bahwa Yesus haruslah menjadi suatu terang yang menunjukkan jalan keselamatan kepada semua bangsa di dunia ini.
"Lalu kata malaikat itu kepada mereka: 'Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud'" (Lukas 2:10-11). Para malaikat menyampaikan berita yang Allah berikan pada mereka. Dalam berita yang Allah berikan tersebut, malaikat menyatakan dengan jelas bahwa Yesus adalah Juru Selamat untuk semua orang.
Ketika Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Yesus, dia berkata tentang Yesus dengan kata-kata ini, "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). Yohanes Pembaptis mengerti bahwa Yesus tidak datang menyelamatkan satu ras manusia. Yohanes menyatakan bahwa Yesus akan menjadi Juru Selamat bagi setiap orang yang akan bertobat dan mempercayai-Nya.
Sebelum terangkat ke surga, Yesus sendiri berbicara kepada murid- murid-Nya dan berkata, "Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Yesus mengatakan kepada para murid bahwa berita keselamatan adalah untuk setiap orang di dunia ini.
Renungkanlah ayat hafalan untuk pelajaran ini, Yohanes 3:16. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Dari ayat tersebut kita belajar bahwa Allah mengasihi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kita juga belajar bahwa Allah telah memberikan Yesus, Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang akan memercayai Yesus tidak akan terhilang, tetapi mempunyai hidup yang kekal.
Setan akan berusaha membuat kita percaya bahwa Yesus hanyalah untuk sekelompok orang saja, tapi hal itu adalah satu dusta yang melawan kebenaran yang diajarkan Allah. Allah menjelaskan bahwa Yesus adalah Juru Selamat setiap orang. Setiap orang yang bertobat dan percaya kepada Yesus akan mempunyai hidup yang kekal. Biarlah kita tidak sampai tertipu oleh dusta Setan. Kita harus percaya kepada Allah.
Ayat Hafalan:
"Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak." (Yohanes 5:22)
Banyak orang akan menjadi sangat terkejut ketika mereka mengetahui bahwa ada begitu banyak orang yang bertindak sebagai seorang hakim pada hari-hari ini, dan itu benar. Setiap hari ada orang mendengar tentang Yesus Kristus. Mereka mendengar bagaimana Yesus mati untuk mereka dan bagaimana mereka harus bertobat dan menerima-Nya sebagai Juru Selamat dan Tuhan-Nya. Beberapa orang percaya Yesus mati untuk dosa-dosa mereka sehingga mereka bertobat dan menerima-Nya. Tetapi beberapa yang lain menolak dan menentang Yesus. Demikianlah mereka telah menjadi hakim atas Yesus dalam keputusannya.
Dalam Alkitab, kita membaca tentang seorang yang menghakimi Yesus. Namanya adalah Pontius Pilatus. Dia mendengarkan pengadilan Yesus. Kemudian dia bertanya, "Apa yang akan saya lakukan terhadap orang yang disebut Kristus ini?" Ketika kerumunan orang yang sedang marah itu berteriak bahwa Yesus harus dibunuh di atas kayu salib, Pilatus menyetujuinya dan mengizinkan Yesus dihukum mati. Pilatus membuat kesalahan dengan membiarkan musuh-musuh Yesus memutuskan bagaimana cara dia seharusnya menghukum Anak Allah. Yang dilakukan oleh orang- orang tersebut adalah tindakan sedang menghakimi Yesus.
Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa akan tiba harinya Yesus akan menghakimi semua manusia. Perhatikan apa yang diajarkan Alkitab tentang Yesus sebagai Hakim atas semua orang. Anda harus sadar bahwa Alkitab tidak memberikan semua bukti-bukti penghakiman yang akan datang karena bukan itu tujuannya. Alkitab menerangkan kepada kita kedatangan hari penghakiman, sehingga kita bisa mempersiapkan diri untuk hal tersebut. Hal yang paling penting adalah mengetahui cara mempersiapkan diri untuk menghadapi hari penghakiman itu. Marilah kita mempelajari apa yang Alkitab katakan tentang hal ini.
Bacalah dengan teliti Yohanes 5:26-30. Sekarang pikirkan beberapa kebenaran yang diajarkan bagian ini pada kita.
Allah telah memberikan kuasa kepada Yesus untuk menghakimi. "Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia" (Yohanes 5:27).
Penghakiman Yesus akan berlaku secara adil. "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yohanes 5:30).
Semua orang akan dibangkitkan dari kubur, dengan demikian mereka dapat hadir pada hari penghakiman itu. Besar dan kecil, kaya dan miskin, orang baik dan jahat, semua orang dari berbagai suku bangsa akan hadir di sana. Alkitab mengatakan, "Semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara- Nya dan maju ke depan" (Yohanes 5:28-29).
Bacalah Matius 25:31-46 dan Wahyu 20:11-15 secara teliti. Alkitab membuat hal itu sangat jelas kepada kita, bahwa setiap orang pasti hadir pada hari penghakiman itu. Tidak ada seorang pun yang luput. Berikut ini beberapa hal yang akan terjadi pada waktu itu.
Wahyu 20:11-15 kembali menceritakan hal pemisahan itu kepada kita. Pada teks tersebut, suatu ide yang berbeda digunakan untuk mengajarkan kebenaran yang sama. Semua orang yang tidak diselamatkan akan mempunyai catatan karya mereka dalam sebuah buku dan mereka akan dihakimi sesuai dengan karya mereka. Nama orang-orang percaya akan tertulis dalam Buku Kehidupan. Satu hal lagi yang harus Anda mengerti sebelum melanjutkan pelajaran ini, yaitu bahwa tidak akan terjadi kesalahan-kesalahan dalam penghakiman itu karena Yesus sendiri yang akan menjadi hakim, semua fakta dalam kehidupan seseorang akan diketahui-Nya.
Orang-orang Kristen masuk dalam kehidupan kekal. Yesus membuat hal ini sangat jelas bahwa domba-domba-Nya, yakni orang-orang yang namanya tertulis di dalam Buku Kehidupan, akan memasuki kehidupan yang kekal bersama-Nya. Mereka yang telah menerima Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan saat mereka hidup di dunia, akan diterima oleh Tuhan Yesus pada waktu itu.
Mereka yang tidak memercayai Yesus sebagai Anak Allah akan dihakimi sesuai pekerjaan-pekerjaan mereka dan dilemparkan ke dalam lautan api. Beberapa ayat mengajarkan kepada kita, bahwa manusia melakukan kesalahan karena tidak percaya dalam nama Yesus. Bacalah Yohanes 3:18. Pikirkan tentang itu dalam pola pikir berikut ini. Misalnya, ada seorang laki-laki melanggar hukum. Dia ditangkap dan di bawa ke depan hakim. Hakim akan mendengar perkara itu dan menemukan orang tersebut bersalah. Dia mengatakan bahwa laki-laki itu harus membayar denda atau di penjara. Andai kata seorang teman dari laki-laki terhukum tersebut datang dan berkata bahwa dia akan membayar denda tersebut, tetapi laki-laki itu menolak dan tak mengizinkan siapa pun untuk membayar denda untuknya, maka hakim akan berkata, "Baiklah, jika kamu menolak pertolongan, kamu harus di penjara." Laki-laki itu kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Seseorang bisa menerangkan tentang hal itu dan mengatakan bahwa laki-laki itu telah dipenjara karena dia telah melanggar hukum. Yang lain bisa mengatakan bahwa laki-laki itu telah di penjara karena dia menolak pertolongan yang ditawarkan oleh seseorang padanya. Kedua orang itu menyatakan kebenaran. Orang tersebut bersalah karena kejahatannya. Dia tetap berada di bawah hukuman karena dia menolak pertolongan yang ditawarkan kepadanya.
Demikian pula halnya manusia yang terhilang, mereka dihukum karena dosa-dosanya. "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 6:23). Yesus telah membayar hukuman untuk dosa-dosa manusia yang terhilang ini dengan mati di atas kayu salib. Jika manusia menolak keselamatan yang ditawarkan Yesus kepadanya, manusia itu tetap tinggal dibawah penghukuman karena dia telah menolak Yesus. Tidak ada pertolongan atau harapan lain bagi setiap orang yang menolak keselamatan yang Yesus tawarkan.
Orang yang menolak Yesus, selama hidupnya di dunia, suatu hari akan berdiri di hadapan Yesus, di mana Ia akan menjadi hakim baginya. Jika Ia menolak semua yang telah dilakukan baginya, Yesus yang adalah Hakim yang Mahakudus akan menolaknya pada hari itu. Dia akan dicampakkan ke dalam lautan api -- suatu tempat bagi penghukuman kekal. "Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu" (Wahyu 20:14-15).
DOA
"Segala puji syukur hanya bagi-Mu, ya, Tuhan Yesus. Karena Allah yang aku kenal adalah Allah atas segala manusia. Kekuasaan-Mu adalah tertinggi dan mutlak atas semua orang. Karena itu aku sujud menyembah Engkau sebagai Hakim yang layak untuk mengadili semua orang. Biarlah manusia sepanjang abad dan zaman tunduk pada penghakiman-Mu. Amin."
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pelajaran 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama |
| Kode Pertanyaan | : | SYK-T01 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
< yulia(a t)in-christ.net >
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
==> < kusuma(a t)in-christ.net > dan di copy ke
< staf-pesta(a t)sabda.org >
***Catatan: Ganti (a t) dengan @
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Firman Allah dan Anak Allah |
| Kode Pertanyaan | : | SYK-T02 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
< yulia(a t)in-christ.net >
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
==> < kusuma(a t)in-christ.net > dan di copy ke
< staf-pesta(a t)sabda.org >
***Catatan: Ganti (a t) dengan @
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 03 | Referensi 03a | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati Tanpa Dosa |
| Kode Pertanyaan | : | SYK-T03 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
< yulia(a t)in-christ.net >
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
==> < kusuma(a t)in-christ.net > dan di copy ke
< staf-pesta(a t)sabda.org >
***Catatan: Ganti (a t) dengan @
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Juru Selamat dan Tuhan |
| Kode Pertanyaan | : | SYK-T04 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
< yulia(a t)in-christ.net >
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
==> < kusuma(a t)in-christ.net > dan di copy ke
< staf-pesta(a t)sabda.org >
***Catatan: Ganti (a t) dengan @
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 05 | Referensi 05a | Referensi 05b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus Memiliki Semua Kuasa dan Penakluk Kematian |
| Kode Pertanyaan | : | SYK-T05 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
< yulia(a t)in-christ.net >
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
==> < kusuma(a t)in-christ.net > dan di copy ke
< staf-pesta(a t)sabda.org >
***Catatan: Ganti (a t) dengan @
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
..............
Pertanyaan (B):
Pelajaran 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang |
| Kode Pertanyaan | : | SYK-T06 |
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
< yulia(a t)in-christ.net >
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
==> < kusuma(a t)in-christ.net > dan di copy ke
< staf-pesta(a t)sabda.org >
***Catatan: Ganti (a t) dengan @
Selamat mengerjakan!
Pertanyaan (A):
Pertanyaan (B):
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b | Referensi 01c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama |
| Kode Referensi | : | SYK-R01a |
Referensi SYK-01a diambil dari:
| Judul Buku | : | Teologi Sistematika (3) |
| Pengarang | : | Louis Berkhof |
| Penerbit | : | Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1996 |
| Halaman | : | 135 - 144 |
Karya keimaman Kristus ada dua hal menurut Alkitab. Tugas-Nya yang terbesar adalah, mempersembahkan korban yang cukup bagi dosa seisi dunia. Tugas ini adalah milik dari jabatan seorang imam bahwa ia harus mempersembahkan korban dan persembahan atas dosa.
Pengertian tentang korban menempati kedudukan penting dalam Alkitab. Berbagai teori telah dikemukakan mengenai perkembangan pengertian ini, beberapa yang disebutkan berikut adalah yang terpenting:
Pengertian ini ditunjang oleh beberapa pemikiran berikut:
Di antara mereka yang percaya bahwa elemen penebusan sudah ada bahkan dalam korban-korban persembahan pada jaman sebelum Musa, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai asal mula dari tipe-tipe persembahan itu. Sebagian orang berpendapat bahwa Allah menetapkan cara-cara persembahan korban itu melalui suatu perintah Ilahi langsung, sedangkan kelompok lain berpendapat bahwa korban itu dipersembahkan berdasarkan ketaatan kepada gerakan-gerakan dalam hati yang timbul secara alamiah dalam diri manusia, yang diiringi dengan suatu refleksi. Alkitab tidak memberikan catatan tentang pernyataan secara khusus bahwa Allah memerintahkan manusia untuk melayani Dia dengan korban-korban persembahan pada masa-masa awal itu. Bukannya mustahil bahwa manusia menyatakan rasa syukur serta penyembahannya dalam bentuk korban, bahkan juga sebelum manusia jatuh dalam dosa, dan ini semua dipimpin oleh suatu dorongan di dalam hati manusia sendiri. Akan tetapi tampaknya korban penggantian sesudah manusia jatuh dalam dosa hanya mungkin berasal dari pimpinan Ilahi. Ada suatu dorongan yang sangat kuat dalam argumen Dr. A. A. Hodge yang mengatakan: "(1) Tak dapat dipahami bahwa baik sikap yang benar atau kegunaan yang mungkin dalam memberikan pemberian material pada Allah yang tak kelihatan, dan terutama dalam usaha untuk meredakan murka Allah melalui penyembelihan makhluk yang tidak dapat berpikir, dapat hadir dalam pikiran manusia sebagai suatu dorongan yang spontan. Mulanya, setiap perasaan instinktif dan dorongan pemikiran muncul untuk menyingkirkan pemikiran seperti itu. (2) Berdasarkan hipotesis bahwa Allah akan menyelamatkan manusia, tidaklah masuk akal apabila Ia harus meninggalkan manusia tanpa instruksi tentang suatu hal yang sedemikian penting yang berkenaan dengan alat-alat yang mungkin dapat dipakai untuk mendekati-Nya dan memperoleh kebaikan dari-Nya. (3) Merupakan ciri khas dari wahyu diri Allah, bahwa Allah cemburu terhadap segala sesuatu yang dilakukan manusia yang tidak diperkenankan-Nya dalam hal beribadah atau melakukan penyembahan. Allah menekankan tentang hak kedaulatan-Nya dalam memberikan peraturan ibadah dan pelayanan, agar dapat diterima. (4) Kenyataannya, bukti pertama tentang ibadah yang diterima dalam keluarga Adam menunjukkan adanya korban yang mencurahkan darah, dan dimeteraikan dengan penerimaan dari Tuhan. Semua itu terlihat dalam tindakan mula-mula tentang ibadah, Kej 4:3, 4. Ibadah itu diterima oleh Allah segera setelah dipersembahkan."' Korbankorban pada jaman Musa jelas ditunjuk oleh Allah.
Karya pengorbanan Kristus dilambangkan dengan peraturan-peraturan tentang korban yang diberikan kepada Musa. Berkaitan dengan korban- korban ini beberapa hal berikut perlu diperhatikan:
Hal yang mengejutkan dalam berita Alkitab tentang karya keimaman Kristus adalah bahwa Kristus tampil baik sebagai Imam Besar dan sekaligus sebagai korban. Hal ini sesungguhnya selaras dengan apa yang kita lihat dalam diri Kristus. Dalam Perjanjian Lama imam dan korban adalah dua hal yang terpisah, dan sejauh itu tipe korban Perjanjian Lama tidaklah sempurna. Karya keimaman Kristus paling jelas disebutkan dalam surat Ibrani, di mana Sang Pengantara disebutkan sebagai satu- satunya Imam besar yang sesungguhnya, yang sempurna, yang kekal dan ditunjuk oleh Allah sendiri, yang mengambil tempat orang berdosa, dan oleh pengorbanan-Nya sendiri Ia memperoleh penebusan yang sesungguhnya dan yang sempuma, Ibr 5:1-10; 7:1-28; 9:11-15,24,28; 10:11-14; 19:22; 12:24, dan teristimewa ayat-ayat berikut, 5:5; 7:26; 9:14. Surat Ibrani adalah satu-satunya kitab yang menyebut Kristus sebagai Imam Besar, akan tetapi karya keimaman Kristus juga disebutkan dalam surat- surat Paulus, Rm 3:24, 25; 5:6-8; 1 Kor 5:7; 15:3; Ef 5:2. Penjelasan yang serupa juga dapat kita temukan dalam tulisan Yohanes, Yoh 1:29; 3:14,15; 1 Yoh 2:2; 4:10. Lambang ular tembaga sangat penting artinya. Ular tembaga itu sendiri tidak berbisa, akan tetapi melambangkan ikatan dosa, demikian juga Kristus, Ia yang tidak berdosa, dijadikan berdosa karena kita. Sebagaimana ular tembaga yang dinaikkan di atas tiang melambangkan pengusiran atas tulah, demikian juga Kristus yang digantung di atas tiang kayu salib membawa penghapusan dosa. Dan sebagaimana orang yang mau percaya dan memandang kepada ular tembaga itu disembuhkan, maka iman kepada Kristus menyembuhkan dan menyelamatkan jiwa. Penjelasan Petrus dalam 1 Ptr 2:24; 3:18 dan penjelasan Kristus sendiri dalam Mrk 10:45 selaras dengan penjelasan sebelumnya. Tuhan dengan jelas menyatakan kepada kita bahwa penderitaan-Nya bertujuan menggantikan kita.
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama |
| Kode Referensi | : | SYK-R01b |
Referensi SYK-01b diambil dari:
| Judul Buku | : | Yesus Kristus Tuhan Kita |
| Pengarang | : | Joh. F. Walvoord |
| Penerbit | : | YAKIN, Surabaya, t.th |
| Halaman | : | 71 - 85 |
Dalam Perjanpian Lama ditemukan dua jenis utama dari nubuatan tentang Mesias. Pertama, nubuatan tentang Mesias secara umum. Yaitu nubuatan yang diungkapkan dalam bahasa yang hanya dapat digenapkan oleh Mesias sendiri. Satu contoh tentang nubuatan semacam ini terdapat dalam 1 Samuel 2:35, "Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi." Walaupun penggenapan segera dari nubuat ini barangkali dipenuhi oleh Samuel, namun mempunyai penggenapan lain di luar Samuel dan menunjuk kepada penggenapan akhir di dalam Kristus. Baik keimaman Samuel maupun garis keturunannya telah berakhir, tetapi keimaman kekal yang diramalkan dalam nubuatan ini akan sepenuhnya digenapi di dalam Kristus.
Kedua, nubuatan tentang Mesias secara pribadi. Ini sering ditemukan dalam Perjanjian Lama dan dapat diketahui dari istilah-istilah khusus. Dalam Yesaya 7:14 umpamanya, Mesias diketahui dari istilah yang tak biasa dipakai "Imanuel" yang artinya "Allah menyertai kita." Bagian itu secara istimewa membicarakan tentang Mesias yang akan datang.
Banyak nubuatan tentang Yesus Kristus cukup jelas, khususnya bila dipandang dari pernyataan Perjanjian Baru di mana penggenapannya membantu memberikan keterangan tentang isi nubuatan di dalam Perjanjian Lama itu. Bagaimanapun juga nubuatan tentang Mesias ini memiliki masalah-masalah tertentu :
Gaya bahasa seperti ini menunjukkan bahwa peristiwa yang diramalkan dalam Perjanjian Lama itu pasti digenapi bahkan walaupun akan terjadi di masa depan dan bukan di masa lalu.
Fakta bahwa nubuatan tentang Mesias tidak selalu menyebutkan jangka waktu di antara beberapa peristiwa, digambarkan dalam kutipan Kristus dari Yesaya 61:1-2 di dalam Lukas 4:18-19. Ayat-ayat di Yesaya menghubungkan kedatangan pertama dan kedua dari Kristus tanpa sesuatu petunjuk bahwa di antara keduanya terdapat jangka waktu yang lebar. Tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa keduanya dipisahkan oleh jangka waktu paling sedikit lebih dari 1900 tahun. Kristus dalam kutipan-Nya menyebutkan aspek-aspek kedatangan pertama-Nya. Tetapi secara tiba- tiba berhenti tanpa menyebutkan ayat selanjutnya mengenai "hari pembalasan Allah" yang menunjuk kepada hukuman di saat kedatangan kedua kali-Nya. Apabila dimengerti benar-benar, masalah dalam menafsirkan nubuatan tentang Mesias ini tidak begitu sulit. Tetapi si penafsir harus juga hati-hati untuk mengambil kesimpulan. Kalau ada nubuatan yang kurang lengkap, perlu memeriksa dengan teliti apa yang dimaksudkan oleh penulis.
Sebuah garis keturunan mengenai kedatangan Juruselamat sudah diramalkan dalam Perjanjian Lama. Garis itu dimulai dari Adam dan Hawa, dan berjalan terus melalui fokus yang makin menyempit sampai semua faktor penting dinyatakan. Juruselamat yang akan datang itu adalah keturunan perempuan (Kejadian 3:15); di dalam garis keturunan Set (Kejadian 4:25); melalui Nuh (Kejadian 6-9); keturunan Abraham (Kejadian 12:1-3); lalu diteruskan melalui Ishak (Kejadian 17:19); Yakub (Kejadian 28:14); Yehuda (Kejadian 49:10); melalui Boaz, Obed, Isai dan Daud (2 Samuel 7:12-13) Dari sini dan selanjutnya kita perlu melihat garis silsilah di Perjanjian Baru (Matius 1:2-16; Lukas 3:23- 38).
Kisah garis keturunan Juruselamat yang akan datang ini pada satu pihak merupakan suatu demonstrasi tentang maksud dan ketetapan Allah yang berdautat dalam melaksanakan kehendak-Nya. Sebaliknya, di sepanjang sejarah garis keturunan Kristus ini terlihat pula pekerjaan yang hendak merusaknya. lblis mulai merusak umat yang baru diciptakan dengan membawa Adam dan Hawa ke dalam pencobaan dan kejatuhan (Kejadian 3:6). Kepada Adam dan Hawa yang jatuh itu Allah merberikan "protevangelium" yaitu petunjuk pertama tentang rencana Allah untuk memberikan Anak-Nya sebagai Juruselamat. Keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular tersebut (Kejadian 3:15). Pekerjaan iblis selanjutnya dinyatakan dalam pembunuhan terhadap Habel dan perusakan oleh perbuatan Kain (Kejadian 4:8). Allah menerbitkan keturunan yang baru dalam kelahiran Set (Kejadian 4:25).
Garis keturunan Mesias di Perjanjian Lama harus diambil keseluruhannya. Nubuatan yang sangat luas bahwa "keturunan perempuan itu" akan meremukkan kepala ular adalah tidak jelas kecuali ditafsirkan oleh nubuatan selanjutnya. J.Barton Payne berkata,
"Walaupun pribadi Mesias belum jelas dinyatakan, tetapi juga tidak dikesampingkan. Pernyataan-pernyataan selanjutnya tidak menghapuskan atau memperbaiki pernyataan-pernyataan sebelumnya seolah-olah yang sebelumnya itu kurang diwahyukan; melainkan justru untuk menjelaskannya. Ayat dalarn Kejadian 3:15 direncanakan oleh Roh Kudus sendiri. Ayat itu sederhana, tetapi benar, dan selaras dengan penggenapannya di kemudian hari di dalam satu pribadi yaitu Kristus."
Kerusakan umat manusia berlangsung terus sampai zaman Nuh, dan juga garis keturunan Mesias. Di sini melalui pembinaan total -- kecuali keluarga N. Allah menyucikan umat manusia dan memelihara keturunan yang saleh (Kejadiaii 6-9). Kemudian umat manusia itu rusak lagi, dan Allah mulai kembali dengan memilih Abraham (Kejadian 12:1-3) melalui siapa maksud-Nya mengenai Mesias itu diteruskan. Kitab Kejadian mencatat garis sempit tentang keturunan Abraham: Ishak (Kejadian 17:19), Yakub (Kejadian 28:14); dan Yehuda (Kejadian 49:10). Perlawanan iblis terhadap rencana Allah ini nyata di dalam terlambatnya kelahiran Ishak, tersisihkannya Esau dan terpilihnya Yakub, dan di dalam perkara yang menodai Yehuda. Di dalam anugerah kedaulatan-Nya, sekalipun demikian Allah tetap menyatakan, "tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda" (Kejadian 49:10). Nubuatan Yakub, walaupun bahasanya agak kabur, jelas maksudnya bahwa Mesias akan datang melalui Yehuda.
Hengstenberg memulai karya klasiknya mengenai Kristologi dengan pernyataan, "dalam nubuatan-nubuatan tentang Mesias yanq ada di dalam kitab Kejadian kita dapat melihat bahwa nubuatan-nubuatan itu makin lama makin jelas dan nyata. Ramalan tentang Mesias yang pertama, yang diucapkan segera sesudah kejatuhan Adam, adalah juga yang paling tak jelas." Apa yang kabur pada pertama kali dijadikan makin terang sebagaimana dibukakan dalam Perjanjian Lama itu sendiri.
Kisah Rut dan Boaz merupakan contoh lain dari rencana ilahi yang berdaulat di dalam garis keturunan Mesias. Dengan persiapan yang jelas dari Allah sendiri, garis keturunan raja Daud dihubungkan dengan Yehuda. Di dalam Alkitab, hanya sedikit kitab-kitab yang mengajarkan dengan contoh yang jelas tentang kedaulatan dan pengambilan tindakan dari Allah secara lebih limpah dari pada yang ditulis di kitab Rut.
Lukisan Perjanjian Lama tentang garis keturunan dari Daud sampai kepada Kristus tidak Iengkap. Tetapi kekurangan ini lebih dari cukup dilengkapi oleh Perjanjian Baru. Yang khusus menarik perhatian adalah adanya dua garis keturunan dari Yusuf dan Maria yang keduanya berhubungan dengan Daud. Garis-garis keturunan itu dapat dijelaskan secara paling memuaskan dengan menyatakan bahwa yang ditulis oleh Matius adalah garis keturunan Yusuf, sedangkan Lukas menulis garis keturunan Maria. Dari penafsiran ini, tampaklah bahwa Yusuf merupakan keturunan Daud melalui Salomo, dan garis keturunan raja-raja Yehuda. Maria merupakan keturunan Daud melalui anak laki-laki Daud, Natan. Seluk beluk ini adalah suatu penggenapan yang menyolok dari nubuatan Perjanjian Lama. Kepada Daud Allah telah berjanji bahwa baik keturunannya maupun takhtanya akan sampai selama-lamanya (2 Samuel 7:12-16). Kepada Salomo, anak Daud, Allah menjanjikan bahwa takhta dan kerajaannya akan berlangsung selama-lamanya, tetapi sama sekali tidak menubuatkan keturunan Salomo. Ini dapat diterangkan di dalam kemurtadan raja-raja Yehuda. Yoyakim, raja Yehuda, dikutuk dengan keras karena dosanya dan Kitab Suci menyatakan : "Ia tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam. Aku akan menghukum dia, keturunannya dan hamba-hambanya karena kesalahan mereka..." (Yeremia 36:30-31). Konya, anak laki-laki Yoyakim, ditawan ketika Yerusalem jatuh dan garis keturunan raja-raja Yehuda berakhir di sana (bd. Yeremia 22:30). Persoalannya segera timbul: Bagaimana Allah dapat menggenapkan janji-Nya kepada Daud apabila garis keturunan ini terputus? Jawabannya ialah bahwasanya garis keturunan Mesias diteruskan dan dijaga kelanjutannya melalui Natan, bukan melalui Salomo dan keturunannya. Dari ini, hak sah atas takhta Daud disalurkan melalui Salomo dan Yoyakim kepada Yusuf, dan kepada "anak laki-laki" Yusuf yaitu Kristus. Tetapi secara badaniah keturunan itu disalurkan melalui Natan dan Maria kepada Kristus. Jadi janji-janji Allah baik kepada Daud maupun kepada Salomo benar-benar digenapkan menurut apa yang tertulis di dalam dan melalui Kristus. Hal ini sekaligus merupakan contoh jelas dari ketepatan nubuatan itu, di mana Allah mengetahui sebelumnya tentang dosa-dosa raja-raja Yehuda dan kutuk yang akan menimpa mereka, dan pada saat yang sama ditentukan bahwa Kristus akan dilahirkan dari seorang dara. Apabila Yesus adalah anak kandung Yusuf secara jasmani, maka ia harus disisihkan karena kutuk yang telah menimpa Yoyakim.
Catatan-catatan Kitab Suci memberikan catatan yang tepat dan terpercaya tentang kualifikasi Kristus sebagai Pewaris atas janji- janji kepada Daud. Sarjana-sarjana konservatif setuju bahwa Kristus menggenapkan semua nubuatan ini, dan bahkan orang-orang Yahudi yang tak percaya mengharapkan bahwa Mesias yang akan datang itu akan menggenapkan nubuatan-nubuatan itu. Silsilah orang-orang Yahudi tentu saja telah di musnahkan ketika Yerusalem dihancurkan oleh orang-orang Romawi di tahun 70 M. Perjanjian Baru adalah satu-satunya catatan yang memberikan silsilah sah bagi Mesias.
Nubuatan-nubuatan mengenai kelahiran Kristus merupakan nubuatan- nubuatan yang cukup jelas di Perjanjian Lama. Nubuatan mengenai garis keturunan Juruselamat yang diramalkan itu sendiri memberitahukan tentang kelahiran-Nya. Tempat kelahirannya jelas dinyatakan dalam Mikha 5:1 dan ayat itu begitu terang sehinnga kebanyakan orang tahu bahwa Bethlehem akan menjadi tempat kelahiran Mesias. Ahli Taurat dan imam-imam segera dapat memberitahukan Herodes tentang hal ini ketika orang-orang Majus datang menanyakan tempat kelahiran Raja Orang Yahudi.
Aspek-aspek lain dari kelahiran Kristus juga dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Yesaya meramalkan bahwa kelahiran-Nya akan merupakan suatu tanda : "Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu tanda : Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel" (Yesaya 7:14). Di sini, baik aspek kemanusiaan dari inkarnasi itu, kehamilan dan kelahiran-Nya, dan aspek keilahiannya terang- terangan dinyatakan -- "Imanuel" dtau "Allah menyertai kits."
Waktu kelahiran Mesias yang akan datang itu agaknya juga dinyatakan dalam batas-batas tertentu. Menurut Kejadian 49:10, Mesias harus datang (dilahirkan) sebelum pemerintahan Yahudi dihancurkan. Ini seperti ditunjukkan oleh penghancuran Yerusalem di tahun 70 M, yang mengakhiri seluruh pemerintahan Yahudi di Palestina selama berabad- abad. Nubuatan dari Daniel 9:25 -- bahwa enam puluh sembilan kali tujuh masa akan berlalu sebelum Mesias disingkirkan -- telah ditunjukkan sampai tuntas pada kematian Kristus. Walaupun tafsiran tentang nubuatan Daniel ini menyebabkan banyak perdebatan, namun disetujui oleh kebanyakan sarjana bahwa suatu tafsiran menurut apa yang tertulis akan menunjukkan kira-kira waktu dari umur hidup Yesus Kristus. Meskipun pernyataan ini tidak dimengerti sebelumnya; pada waktu itu sudah terdapat harapan yang meluas bahwa Mesias akan segera datang.
Jadi kita dapat melihat bahwa nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama, memberikan garis besar yang teliti tentang unsur-unsur utama yang berkenaan dengan kelahiran Mesias: tempatnya, waktunya, garis keturunannya, dan sifat kehamilan serta kelahiran-Nya yang ajaib.
Kita dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu dari nubuatan - nubuatan Perjanjian Lama mengenai pribadi Kristus. Dalam satu kalimat, di sana terdapat kesaksian yang cukup lengkap tentang kemanusiaan maupun keilahian-Nya. Pernyataannya sudah tentu tidak seterang atau sekuat pernyataan dalam Perjanjian Baru, tetapi sekalipun demikian unsur unsur utamanya jelas.
Kemanusiaan Juruselamat yang akan datang itu secara praktis ada di dalam semua ayat mengenai Mesias. Dari Kejadian 3:15, di mana Mesias diuraikan sebagai keturunan perempuan, sampai kepada nubuatan-nubuatan para nabi Perjanjian Lama di kemudian hari, Mesias dinyatakan sebagai manusia. Pernyataan mengenai garis keturunan-Nya, hubungan-Nya dengan Israel, kelahiran-Nya di Bethlehem dan gelar-Nya sebagai Anak memberikan kepastian bahwa maksud nubuatan-nubuatan itu hendak menyatakan kemanusiaan-Nya. Semua orang Yahudi memang mempunyai harapan bahwa Pelepas yang akan datang itu adalah Manusia, dilahirkan dari seorang ibu Yahudi.
Aspek yang menarik perhatian dari nubuatan-nubuatan itu ialah adanya kesaksian yang berulang-ulang tentang keilahian-Nya. Menurut - Yesaya 7:14, la harus dilahirkan oleh seorang perempuan muda (perawan). Walaupun banyak kritikan terhadap nubuatan ini, tetapi kritikan yang melawan ayat ini mau tidak mau harus juga menganggap bahwa catatan di dalam Injil Matius dan Lukas salah, apabila mereka mau "memasukakalkan" Yesaya 7:14.
Payne, sesudah membicarakan penafsiran Yesaya 7:14, mengihtisarkan suatu tafsiran yang layak tentang ayat itu,
"Kelahiran Imanuel dinyatakan sebagai tanda ajaib (7:14); dan dengan mujizat ini tidak ada peristiwa masa itu yang diketahui terjadi sama. Selanjutnya, raja Ahas bersalah dalam kesalehan yang munafik dan melelahkan Allah; maka tanda yang ditunjukkan dimaksudkan sebagai ancaman, bukan sebagai janji. Ancaman ini tidak semata-mata ditujukan kepada Ahas saja, melainkan terhadap seluruh keluarga Daud (ay. 13). Yaitu, bila Mesias harus lahir, Ia akan makan "dadih dan madu," yang merupakan suatu tanda negeri yang kena malapetaka (malapetaka itu di sini disebabkan oleh orang-orang Romawi, sebagaimana ternyata kemudian), dan oleh karena itu berarti bahwa keluarga Daud akan kehilangan kekuatannya. Maka tanda itu kemudian akan menggantikan sekali buat selama-lamanya raja-raja keluarga Ahas yang cuma manusia Yahudi biasa, yaitu Mesias sendiri."
Maksud ayat ini terang sekali. Yaitu hendak menyatakan bahwa Ia akan dikandung secara ajaib tanpa melalui seorang ayah manusia. Nubuat ini ajaib karena anak laki-laki,yang akan dilahirkan itu bukan dikandung oleh seorang wanita menurut cara yang wajar, melainkan oleh seorang perawan sejati !
Mesias dinyatakan dalam Yesaya 7:14 sebagai layak mendapat gelar Imanuel -- Allah menyertai kita. Dalam Yesaya 9:5-G, Anak yang lahir, Putera yang diberikan, diuraikan sebagai "Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai." Nubuatan tentang kelahiran-Nya dalam Mikha 5:1, menguraikan Anak yang akan lahrr itu sebagai Seorang "yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." Pernyataan ini merupakan pernyataan terkuat yang mungkin ada tentang keberadaan-Nya yang kekal sebelum la "dilahirkan" ke uunia. Gabungan kesaksian di atas ini dengan kesaksian-kesaksian lainnya memastikan hanya bila Ia datang, Mesias itu adalah Allah dan Manusia di dalam satu Pribadi.
Pernyataan yang menarik tentang kehidupan Kristus terdapat di dalam banyak nubuatan mcngenai Mesias yang menggambarkan sifat kehidupan- Nya. Pelayanan ununnNya harus didahului oleh seorang utusan, "Lihat, Aku nunyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku. Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam" (Maleakhi 3:1). Sebelumnya Yesaya telah berbicara tentang "suara yang berseru-sero : persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN" (Yesaya 40:3). Tidak diragukan lagi bahwa kedua ayat ini ditujukan kepada Yohanes Pembaptis (bd. Matius 3:3; 11:10; Markus 1:2; Lukas 7:27), dan keempat catatan Injil menulis penggenapan nubuatan ini.
Mesias yang akan datang itu dalam kehidupan-Nya harus menggenapi jabatan sebagai Nabi, Imam, dan Raja. Musa telah meramalkan kedatangan Nabi semacam itu (Ulangan 18:15-18), dan Perjanjian Baru secara khusus menunjuk kepada penggenapannya di dalam Kristus (Yohanes 1:21; 4:29; 5:46; 6:14; 8:28; 14:24; Kisah Para Rasul 3:20-23). Keimaman Kristus diramalkan dalam seluruh sistem imamat yang diberikan oleh wahyu, pertama di zaman kepala keluarga sebagai imam dan kemudian rnenurut aturan Lewi. Nubuat yang diberikan dalam 1 Samuel 2:35 dapat digenapkan seluruhnya hanya oleh Kristus, bahkan meskipun sebagian digenapkan oleh Samuel sendiri. Nubuatan dari Mazmur 110:4 yang dikutip oleh lbrani 6:6, dan dibicarakan panjang lebar dalam kitab lbrani, jelas digenapkan dalam Kristus. Zakharia menggabungkan jabatan keimaman dan rajani dalam nubuatannya, "Dialah yang akan mendirikan bait TUHAN dan dialah yang akan mendapat keagungan dan akan duduk rnemerintah di atas takhtanya" (Zakharia 6:13). Konteks ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah Kristus.
Jahatan rajani Kristus ini adalah yang mula-mula disebut dalam nubuatan dan yang paling menonjol dalam ramalan Perjanjian Lama. Mulai di zaman Abraham, Allah telah menyatakan bahwa raja-raja akan herada di antara keturunan Abraham. Kemudian garis keturunan raja-raja tu diperscmpit di dalam keturunan Yehuda (Kejadian 49:10). Petunjuk tentang seorang Raja yang istimewa dalam Kejadian 49:10 dibuat lebih I)asti di dalam kitab Bilangan 24:17. Suatu pernyataan penting ditemukan dalam ramalan yang diberika•,; kepada Daud pada ayat-ayat terkenal di 2 Samuel 7:12-16. Di sini dinyatakan bahwa keluarga Daud akan ditetapkan dalam kedatangan Mesias yang takhta-Nya dan kerajaan-Nya akan sampai selama-lamanya. Sarjana-sarjana konservatif setuju bahwa penggenapan nubuatan-nubuatan ini hanya didapatkan di dalam Kristus saja. Tafsiran ini tentu saja dikuatkan oleh Perjanjian Baru (Lukas 1:31-33), dan pokok pikirannya diteruskan di sepanjang sisa Perjanjian Lama juga.
Dalam Mazmur 2, Yehovah menyatakan bahwa la akan mendudukkan Anak-Nya ch atas takhta Sion. Kekuasaan dan pemerintahan Raja itu diheritahukan lebih dahulu dalam Mazmur 110. Nubuatan mengenai penun- intahan-Nya di bumi adalah lengkap dalam ramalan tentang Mesias (Yesaya 2:1-4; 4:1-6; 49:7; 52:15). Dalam Yesaya 9:5-6 ditegaskan.
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan nama-Nya disebutkan orang : Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaan-Nya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan ch atas takhta Daud dan di dalam kerajaan-Nya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya."
Ayat-ayat ini mengumpulkan dalam satu pernyataan ramalan-ramalan tentang inkarnasi itu, tentang keilahian dan kekekalan Mesias, pemerintahan damai sejahtera-Nya yang akan datang di bumi, kebenaran dan keadilan kerajaan-Nya, dan fakta bahwa kerajaan itu akan menggenapkan janji-janji terhadap Daud. Janji-janji terhadap Daud dan ramalan tentang kerajaan duniawi dari Mesias adalah satu dan sama. Seluruh pasal 11 dari kitab nabi Yesaya adalah sebuah gambar dari pemerintahan raja itu.
Yeremia mengulangi aspek-aspek utama yang sama tentang Mesias yang rajani ini
"Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. la akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepada-Nya : TUHAN-keadilan kita." (Yeremia 23:5-6).
Nubuatan ini mempunyai akibat istimewa ke atas Israel. Zakharia berbicara tentang Raja yang datang sebagai Juruselamat dan Pelepas bagi umat-Nya, "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersoraksorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. la lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (Zakharia 9:9). Di sini kita melihat Kristus dalam karakternya sebagai Raja pada kedatan~an pertama kali-Nya, bertentangan dengan ayat-ayat sebelu nnya yang menunjuk kepada kerajaan itu sesudah kedatangan kedua kali-Nya. Ayat di atas ini digenapi dalam Perjanjian Baru (Matius 21 :4-9; Markus 11 :9-10; Lukas 19:37-38). Ramalan Perjanjian Lama mengenai Kristus sebagai Raja termasuk kedatanyan pertama kali-Nya dan kerajaan sesudah kedatangan kedua kali-Nya.
Bahwa Mesias itu akan menjadi Juruselamat dan Pelepas telah lama diramalkan dalam banyak bagian Perjanjian Lama dimulai dengan protevangelium dalam Kejadian 3:15. Bahkan Ayub, yang barangkali hidup sebelum zaman Kitab Suci ditulis, mengenal pengharapan akan datangnya seorang Penebus (Ayub 19:25). Hampir semua ayat yang berkenaan dengan Mesias membicarakannya. Bagian terkenal yang meramalkan pekerjaan penyelamatan Kristus tentu saja adalah Yesaya 53.
Salah satu garis penting dari nubuatan mengenai Mesias yang akan datang itu tercakup dalam gambar dari Kristus sebagai batu penjuru dan alas. Bagian utama dari Perjanjian Lama tentang hal ini ialah Yesaya 28:14-18. Banyak ayat-ayat lain mendukung pernyataan tersebut (Kejadian 49:24; 1 Raja-Raja 7:10-11; Mazmur 118:22; Yesaya 8:14; Zakharia 4:7. Bandingkan dengan ayat-ayat di Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul 4:11; Roma 9:33; 11:11; Efesus 2:20; 1 Petrus 2:6-8). Pokok pikiran dalam ayat-ayat ini ialah bahwasanya Kristus akan membawa keamanan bagi Israel.
Perjanjian Lama memberikan perhatian banyak terhadap Mesias sebagai Hamba Yehovah. Ayat-ayat penting berkenaan dengan kebenaran ini i,iLih Yesaya 42:1-7; 49:1-7; 52:13 -- 53:12. Perjanjian Baru sering menyindir nubuatan-nubuatan ini (Matius 8:17; 12:17-21; Lukas 22:37` Yohanes 12:38; Kisah Para Rasul 3:13,26; 4:27; 4:30; 8:32; Roma 10:13; 15:21; 1 Petrus 2:22-24). Istitah "Hamba Yehovah" sebagaimana didapatkan di dalam Perjanjian Lama kadang•kadang menunjuk kepada Israel, kadang-kadang kepada sisa orang Israel yang masih setia kepada Tuhan, kadang-kadang secara khusus kepada Mesias, dan di dalam Yesaya 37:35 istilah ini menunjuk kepada Daud. Pokok pikiran utama dalam ramalan•ramalan ini ialah bahwa Kristus sebagai Hamba yang taat, melalui penderitaan dan ker;ratian-Nya la menebus umat-Nya.
Dalam hubungan dengan nubuatan-nubuatan tentang kerajaan Mesias di masa depan, dinyatakan bahwa Mesias akan melakukan banyak mujizat besar. Kesaksian tentang ini tidak selalu dihubungkan khusus dengan Mesias, melainkan diberikan uraian mengenai keadaan waktu itu. Misalnya dalam Yesaya 35:5-6 tertulis, "Pads waktu itu mata orangorang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak sorai; sebab mata air memancar di padang gurun . . ." Konteks langsung dari ayat-ayat ini berhubungan dengan kerajaan Mesias, tetapi sekaligus menguraikan apa yang dilakukan oleh Mesias itu sendiri. Kristus meminta perhatian terhadap kepentingan pekerjaan - pekerjaan-Nya yang ajaib sebagai suatu kesaksian mengenai diri-Nya (Yo hanes 5:36).
Secara keseluruhan, Perjanjian Lama memberikan gambaran yang rnenarik tentang Mesias yang akan datang. la harus didahului oleh seorang utusan, menjadi Juruselamat dan Pelepas, menjalankan jabatan Nabi, Imam dan Raja, menjadi batu penjuru dan alas, menggenapkan pengharapan akan datangnya seorang Hamba Yehovah yang akan menebus umat-Nya, dan melakukan banyak pekerjaan mujizat dan pekerjaan baik. Pekerjaan dan pengajaran-Nya adalah untuk menyatakan kuasa dari Roh TUHAN (Yesaya 11 :2-3).
Bagian Perjanjian Lama yang memberitahukan tentang kematian Kristus terutama Mazmur 22 Jan Yesaya 53, walaupun banyak ayat lain mendukung ajaran ini. Yesaya 53 menuuguhkan penderitaan Hamba Yehovah, menyatakan sebagian besar dari seluk beluk penting tentang kematian Kristus. la akan dipukuli dengan kejam, "tertikam oleh karena pemberontakan kita" dan "diremukkan oleh karena kejahatan kits" (Yesaya 53:5). Penderitaan-Nya memberikan keselamatan dan kesembuhan (Yesaya 53:5). la membisu di hadapan para penganiaya-Nya laksana seekor domba dibawa ke pembantaian. nyawa-Nya sebagai korban dosa (Yesaya 53:10). Ia akan mati di antara penjahat-penjahat, dan kuburnya di antara orang kaya (Yesaya 53:9). Penderitaan-Nya bukan disebabkan oleh dosa-Nya sendiri, karena "ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya" (Yesaya 53:9b). Pendeknya, Yesaya memberikan catatan yang teliti mengenai seluk beluk penderitaan dan kematian Kristus lengkap dengan sebab-musabab theologis bagi kematian-Nya -- la mati karena dosa-dosa manusia, untuk memuaskan tuntutan Allah . Bahkan pemeriksaan sepintas lalu terhadap catatan Perjanjian Baru me nunjukkan bahwa semua seluk beluk nubuatan ini sudah digenapi.
Tatkala berada di kayu salib, Kristus sendiri mengutip dari Mazmur 22, dan ini menujukan perhatian kita kepada nubuatan-nubuatan yang ada dalam mazmur tersebut. Mesias akan ditinggalkan oleh Allah (Mazmur 22:2), dihina dan diejek (Mazmur 22:7-9), menanggung penderitaan yang tak terkatakan (Mazmur 12:15-17), segala tulang-Nya terlepas dari sendinya (Mazmur 22:15), Ia menderita kehausan (Mazmur 22:16), tangan dan kakinya ditusuk -- suatu petunjuk tentang penyaliban (Mazmur 22:17), pakaian-Nya dibagi-bagi dan jubah-Nya diundi (Mazmur 22:10), Ia harus mati (Mazmur 22:16). Mazmur ini secara teratur memberikan gambaran jelas tentang penderitaan Kristus di kayu salib, yang digenapi setiap bagian sampai sekecil-kecilnya dalam peristiwa penyaliban yang dicatat oleh keempat Injil.
Banyak ayat-ayat lain yang bertebaran dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada kematian Kristus dan melengkapi gambaran nubuat ini. Ia akan dikhianati oleh sahabat-Nya (Mazmur 41:10), difitnah (Mazmur 35:11) dan diludahi (Yesaya 50:6), tulang-tulang-Nya tidak akan dipatahkan (Mazmur 34:21).
Tidak hanya Perjanjian Baru mencatat penggenapan nubuatan itu, tetapi Kristus sendiri melengkapkan gambaran nubuatan tentang kematian-Nya. Berkali-kali Ia meramalkan penyaliban-Nya (Matius 12:38-42; 16:21; 17:22-23; 20:18-19; 26:31; Markus 8:31; 9:31; 10: 32-34; Lukas 9:22,44; 18:31-33; Yohanes 12:32-33). Hanya sedikit kejadian lain yang diberi gambaran begitu lengkap dan terperinci sebelum terjadi. Maka kita dapat mengatakan bahwa seluruh nubuatan mempunyai titik pusat pada penderitaan dan kematian Kristus.
Walaupun banyak ayat dalam Perjanjian Lama yang memberitahukan lebih dahulu tentang kebangkitan Kristus, tetapi hanya sedikit yang ditulis khusus. Di antaranya yang penting ialah Mazmur 16:10, "Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan." Memang sudah biasa beberapa gelintir sarjana berusaha mengecilkan, dan kalau mungkin meniadakan unsur tentang Mesias dari nubuatan Perjanjian Lama. Oehler, misalnya, mengatakan bahwa ia tidak melihat petunjuk tentang adanya Mesias dalam Mazmur 16:10) A.B.Davidson tidak membicarakannya dalam tulisannya tentang nubuatan Perjanjian Lama. Bagaimanapun juga Perjanjian Baru menjadikannya jelas, kepada semua orang yang menerima bahwa Kitab Suci tak pernah salah, bahwa Mazmur 16:10 terutama ditujukan kepada Kristus. Petrus, sesudah mengutip ayat ini dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, menyatakan dengan terus terang bahwa ayat ini bukan untuk Daud melainkan ditujukan kepada Kristus (Kisah Para Rasul 2:25-31). Paulus dalam khotbahnya di Antiokhia Pisidia menyatakan bahwa ayat ...ini untuk Kristus juga (Kisah Para Rasul 13:34-37). Maka di sini kita melihat suatu tafsiran dengan penyaksian ganda dari ajaran Petrus dan Paulus yang menerima ilham ilahi. Apabila Daud mati dan tubuhnya menjadi debu, maka Kristus mati dan hidup kembali dari antara orang mati.
Selain dari pada itu kebangkitan Kristus dinuhuatkan dalam setiap ayat yang menggambarkan.Kristus sebagai pemenang atas dosa dan kuasa jahat. Beberapa ayat menyatakan kebangkitanNya.' Mazmur 22:23 meramalkan tentang Kristus, "Aku akan memasyhurkan namaMu kepada saudara- saudaraKu dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah." Ayat ini dikutil) dalam lbrani 2:12. Konteks dari Mazmur 22:23 dan Ibrani 2:12 adalah tentang kemenangan atas maut. Mazmur 118:22-24 menulis tentang "batu yang rlibuang oleh tukang-tukang bangunan telah men jadi batu penjuru." Juga ayat ini melukiskan kebangkitan sesudah penolakan. Yesaya 53:10 agaknya juga mengisyaratkan tentang kebangkitanNya. Sesudah menyebutkan kernatian Hamba Yehovah, ayat itu meneruskan, "umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya." Sulit melihat ba( gaimana ayat ini dapat digenapkan secara hurufiah sesudah kematian Kristus kecuali melalui kebangkitan.
Kesaksian Perjanjian Lama -- kecuali Mazmur 16:10 -- tentang kehangkitan Kristus ayak kurang langsung. Namun Perjanjian Baru berdang-dang meramalkan kebangkitarn Knstus secara langsung. Ayat- ayat berikut yang diucapkan oleh Kristus sendiri menunjukkan lengkapnya nubuatan kebangkitan itu : Matius 12:38-40; 16:21; 17:9,23; 20:19; 26:32; 27:63; Markus 8:31; 9:9; 9:31; 10:33-34; 14:58; Lukas 9:22; 18:33; Yohanes 2:19-21. Kebangkitan Kristus -- sama seperti ke rnatianNya -- merupakan penggenapan rencana Allah yang sudah ditentutukan sebelumnya.
Perjanjian Lama penuh dengan ayat-ayat tentang kemuliaan Allah. Banyak di antara ayat-ayat ini dikenakan kepada Allah Tritunggal, tetapi ada juga yang merupakan nubuatan mengenai Mesias. Nubuatan-nubuatan besar dari Perjanjian Lama mengenai kerajaan mulia yang akan datang itu sendiri sebenarnya merupakan kesaksian terhadap kemuliaan Sang Raja. Salah satu maksud inti dari kerajaan seribu tahun ialah untuk menyatakan kemuliaan Allah dan kemuliaan Anak Allah. Misalnya Mazmur 24, meramalkan datangnya Raja kemuliaan, dan konteksnya menunjukkan bahwa hal itu terutama menunjuk kepada Anak Allah. Mazmur 72 yang berisi pemandangan umum tentang kerajaan yang akan datang itu, menutup dengan berkat, "Dan terpujilah kiranya namaNya yang mulia selamalamanya, dan kiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi." Yesaya meramalkan, "Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan." (Yesaya 4:2a). "Tunas" di sini agaknya menunjuk kepada Kristus. Yesaya bertanya, "Siapa dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar?" (Yesaya 63:1). Jelas dengan melihat konteksnya, ayat ini ditujukan kepada Mesias. Daniel memberikan suatu gambaran yang luas, "Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah" (Daniel 7:14).
Karena begitu banyak ayat-ayat tentang kemuliaan Mesias, yang sangat kontras dengan penderitaan-Nya, maka rasul Petrus menyebutkan persoalan ini, "Kesetamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabinabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu" (1 Petrus 1:10-11). Dengan perkataan lain, nabi-nabi Perjanjian Lama sendiri, yang menyadari adanya dua mac. m nubuatan yaitu tentang penderitaan dan kemuliaan Kristus, tidak dapat menyelaraskan kontradiksi ini.
Perjanjian Baru menguatkan kemuliaan yang akan datang ini, yang akan terjadi sesudah penderitaan. Kristus pada saat kenaikan-Nya ke sorga kembali ke kemuliaan. Kitab Suci sering menyebutkan saat' kemuliaan- Nya sekarang di sorga (Markus 16:19; Lukas 24:51; lbrani 4:14; 9:24; 1 Petrus 3:22). Dari keadaan kemuliaan ini la akan kembali untuk menjemput Gereja-Nya (Yohanes 14:1-3; 1 Korintus 15:51-52; 1 Tesalonika 4:13-18). Sesudah gereja diangkat ke dalam kemuliaan , gereja akan diadili oleh Kristus (1 Korintus 3:12-15; 9:16-27; 2 Korintus 5:8-10; Wahyu 3:11). Lalu Kristus akan kembali keduakalinya ke bumi dengan segala kemuliaan (Matius 26:64; Lukas 21:27; Kisah Para Rasul 1: 11). Sesudah memerintah di bumi dimulailah pemerintahan yang kekal (1 Korintus 15:24-28). Bagaimanapun juga, dari saat kenaikan- Nya, Kristus berada dalam keadaan mulia-Nya dan segala pekerjaan serta penampakkan diri-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya. Perjanjian Baru menambahkan banyak seluk beluk terhadap garis besar nubuatan ini, tetapi fakta tentang kemuliaan-Nya juga dikuatkan oleh Perjanjian Lama.
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama |
| Kode Referensi | : | SYK-R01c |
Referensi SYK-01c diambil dari:
| Judul Buku | : | Bukti Nubuat Sang Mesias |
| Pengarang | : | Ralph O. Muncaster |
| Penerbit | : | Gosperl Press, Batam, 2002 |
| Halaman | : | 55 - 57 |
Terdapat 322 nubuat mengenai sang Mesias dalam Perjanjian Lama. Berikut ini adalah deskripsi sang Mesias hanya dart nubuat Perjanjian Lama.
Sang Mesias akan diturunkan dari Sem (Kejadian 9,10), Abraham (Kejadian 22:18), Ishak (Kejadian 26:2-4), Yakub (Kejadian 28:14), Yehuda (Kejadian 49:10), Isai (Yesaya 11:1-5), dan Raja Daud (Samuel 7:11-16). Sebuah bintang cemerlang (Bilangan 24:17) akan muncul ketika Ia dilahirkan di kota Betlehem di tanah Efrata (Mikha 5:2). Itu akan merupakan kelahiran mukjizat oleh seorang perawan. (Yesaya 7:14)
Sang Mesias unik, Ia sudah ada sebelum kelahiran-Nya. (Mikha 5:2) Ia akan mengadakan banyak mukjizat: meneduhkan laut (Mazmur 107:29), dan membuat yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan, dan yang bisu berbicara. (Yesaya 35:4-6) Ia akan dirujuk dengan banyak cara termasuk: Allah menyertai kita, penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal dan raja damai. (Yesaya 9:6) Suatu hari Ia akan memerintah atas segalanya-semua bangsa akan sujud bertelut kepada-Nya. (Yesaya 45:23; Mazmur 22)
Sang Mesias, bagaimanapun juga, akan datang untuk menyelamatkan umat manusia. (Yesaya 53) Ia akan menjadi korban dosa manusia (Yesaya 53) dan memberikan diri-Nya kepada Yerusalem sebagai raja yang diurapi sekaligus anak domba Paskah. (Yesaya 53) Ini akan terjadi tepat 173.880 hari setelah dekrit yang dikeluarkan oleh Artahsasta untuk membangun kembali baik Yerusalem maupun Bait Suci. (Daneil 9:20-27) Jadi, empat hari sebelum paskah, sang Mesias akan menghadirkan diri- Nya kepada Yerusalem yang bersukaria dengan menunggang seekor keledai. (Zakharia 9:9) Namun kemudian Ia akan sangat menderita. (Yesaya 53) Ia akan ditolak oleh banyak orang termasuk sahabat- sahabat-Nya. (Yesaya 53) Ia akan dikhianati oleh seorang sahabat (Mazmur 41:9) untuk 30 uang perak. (Zakharia 11:12,13) Belakangan uang itu akan dilemparkan ke lantai bait suci (Zakharia 11:12,13) dan akhirnya akan diberikan kepada penuang logam.18 Ketika diadili Ia tidak akan mem (Yesaya 53) bela diri. Ia tidak akan mengatakan apa-apa kecuali yang diharuskan oleh hukum. Israel akan menolak Dia. (Yesaya 8:14)
Sang Mesias akan dibawa ke sebuah puncak bukit yang diidentifikasi Abraham sebagai "Tuhan menyediakan." (Kejadian 22) Di sana Ia akan disalibkan dengan tangan dan kaki tertusuk. (Mazmur 22) Musuh-musuh- Nya akan mengelilingi Dia, (Mazmur 22) mengolok-olok Dia, dan akan membuang undi untuk pakaian-Nya. (Mazmur 22) Ia akan berseru kepada Tuhan bertanya mengapa Ia "ditinggalkan." (Mazmur 22) Ia akan diberi cuka dan anggur. (Mazmur 69:20-22) Ia akan mati bersama para pencuri. (Yesaya 53) Namun tidak seperti pencuri-pencuri itu, tak satu pun tulang-Nya akan dipatahkan. (Mazmur 22) Jantung-Nya akan gagal (Mazmur 22)... seperti yang diindikasikan oleh darah dan air yang memancar ke luar (Mazmur 22) ketika Ia ditikam dengan sebatang tomak. (Zakharia 12:10) Ia akan dikuburkan di kuburan seorang kaya. (Yesaya 53) Dalam tiga hari Ia akan bangkit dari kematian. (Yesaya 53; Mazmur 22)
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Firman Allah dan Anak Allah |
| Kode Referensi | : | SYK-R02a |
Referensi SYK-02a diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II M-Z |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2001 |
| Halaman | : | 315 - 316 |
2. Yunani logos. Latar belakang. Kata ini dipakai dalam LXX untuk menerjemahkan davar (lih di atas). Dalam bahasa Yunani pada dasamya logos berarti 'kata', tapi kemudian berkembang dengan berbagai arti: dalam tata bahasa logos mengartikan kalimat yang lengkap; dalam logika mengartikan suatu pemyataan yang berdasarkan kenyataan; dalam retorika mengartikan pidato yang tersusun secara tepat.
Dalam dunia filsafat istilah logos dipakai oleh aliran Stoa dengan mengikuti Herakleitos, untuk mengartikan kekuasaan atau tugas ilahi yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta. Mereka menyebutnya logos spermatikos. Manusia dijadikan selaras dengan dasar yang sama, dan manusia itu sendiri dikatakan mempunyai logos, baik sebagai budi atau rasio (logos endiathetos) maupun sebagai kemampuan berbicara (logos proforikos). Istilah logos banyak sekali dipakai oleh ahli filsafat Filo. Ia beranggapan bahwa pikiran Yunani sudah dibayangkan dalam PL, dan ia memakai ayat-ayat seperti Mzm 33:6 untuk menerangkan bagaimana Allah yang transenden dapat menjadi Pencipta alam semesta dan menyatakan diri-Nya sendiri kepada Musa dan Bapak-bapak leluhur Israel. Ia menyamakan Logos dengan pikiran Plato tentang dunia ide-ide, sehingga kata itu mengartikan dua-duanya, baik rencana Allah maupun kuasa Allah untuk mencipta. Ia menjabarkan Logos menjadi Malaikat Yahweh dan juga Nama Yahweh dalam PL, dan menyebutnya suatu Allah yang kedua serta Manusia Idaman, pola ilahi bagi manusia yang diciptakan Allah di bumi.
Dalam PB. Logos dipakai baik dalam arti kata biasa, maupun dengan pengertian pesan Injil Kristen (Mrk 2:2; Kis 6:2; Gal 6:6). Dalam Surat-surat Kiriman kita baca tentang Firman kehidupan (Flp 2:16), Firman kebenaran (Ef 1: 13), kabar keselamatan (Kis 13:26), berita pendamaian (2 Kor 5:19), dan pemberitaan tentang salib (1 Kor 1:18): dalam bahasa Yunani semuanya disebut logos. Logos ialah amanat dari pihak Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, yang wajib diberitakan dan ditaati.
Pada tiga tempat kata logos dipakai secara teknis, yaitu Yoh 1:1,14; 1 Yoh 1:1-2; Why 19:13. Yoh 1:1 adalah satu-satunya kasus yang tidak meragukan. Di sini pendahuluan Injil bersifat sangat metafisis, dimana pentingnya Kristus ditafsirkan secara teologis. Silang pendapat di kalangan sarjana hanya pada masalah penentuan sumber-sumber primer dari ayat-ayat tersebut, dan arti logos yang paling pokok di sini. Upaya Yohanes terutama hanya pada penggunaan kata davar dalam PL, atau pada ajaran para rabi mengenai Kitab Taurat. Upaya ini gagal karena konsep-konsep ini tidak jelas dibedakan dari Allah yang Mahatinggi sehingga tetap berdiri tanpa perubahan pada ayat 14. Tokoh Hikmat menyediakan lebih banyak kesejajaran, tapi tidak cukup dipersamakan dengan Firman itu dalam sumber-sumber yang diteliti: ajaran mengenai Manusia Pertama atau Manusia Sorgawi yang dikemukakan oleh beberapa ahli kurang meyakinkan.
Hanya ajaran Filo tentang Logos yang menyajikan kerangka teologis yang jelas, dimana Firman memiliki suatu kesatuan yang mirip dengan Allah dan sekaligus memiliki perbedaan dengan-Nya, mengandung kegiatan mencipta dan memelihara semesta alam, dan juga memiliki kegiatan yang bersifat menyatakan diri kepada manusia. Lebih lanjut konsep khas mengenai inkarnasi, setidak-tidaknya merupakan pengembangan yang tepat dari penyamaan Logos menurut Filo dengan Manusia Sejati. Jadi mungkin sekali di balik ini semua dijumpai penggunaan langsung dari konsep Filo atau pemikiran dari kelompok cendekiawan Yahudi yang menganut Helenisme.
Dalam Surat 1 Yoh 1:1 istilah 'Firman Hidup' tidak mungkin mengandung arti Logos secara teknis teologis, baik konteks maupun susunannya bertentangan dengan itu. Bahkan jika surat ini berasal dari penulis yang sama dengan penulis Injil Yohanes (yang diragukan oleh beberapa ahli) surat ini mungkin berasal dari waktu yang lebih dini daripada saat diterimanya ajaran Logos yang telah berkembang penuh. Pemahaman 'Injil Kristen' adalah paling cocok untuk konteks ini.
Dalam Why 19:13 pemahaman 'Injil' mungkin berada di balik pengenaan gelar Firman Allah kepada sang Pemenang (bnd 6:2 menurut beberapa penafsir tokoh yang berkuda harus diartikan Injil yang sedang berkembang dalam kemenangan), Kita boleh membandingkannya dengan gambaran dalam Kebijaksanaan Salomo 18:15, 16. Tapi karena dalam Wahyu tokoh itu jelas disebut Raja segala raja dan Tuhan segab tuan, pastilah ada lebih banyak makna metafisis yang terkandung di sini. Sifat sastra yang khas dari Wahyu menjelaskan mengapa arti itu tidak dikembangkan di sini seperti halnya dalam Injil ke-4.
Tiga bagian PB tersebut menggambarkan bagaimana kepenuhan Kristus secara tetap menyita semua gambaran dan pemikiran manusia; dan bagaimana bagian-bagian lain PB menuntut tafsiran berdasarkan banyak sumber, guna menyajikan keterangan terpadu. Yesus memberi makna segar terhadap istilah-istilah yang pada waktu sebelum Dia mengandung makna lebih terbatas.
Dalam bentuk jamak (ta logia) istilah logos berafi seluruh PL atau suatu bagiannya yang khas. Dalam Kis 7:38 'firman-firman yang hidup' menunjuk kepada Dasa Titah atau kepada seluruh isi Taurat Musa. Dalam Rm 3:2 artinya ialah PL, khususnya janji-janji Allah kepada Israel. Dalam 1 Ptr 4: 11 pemberitaan 'firman' berarti pengkhotbah wajib menjaga beritanya sedemikian rupa sehingga ia seolah-olah mengucapkan Kitab Suci yang diilhamkan. Ta Logia tampil pula dalam Ibr 5:12, di situ diterjemahkan 'laenyataan Allah'; artinya tulang punggung ajaran Kristen, yang berhubungan dengan dasar-dasar pada PL mau pun penyataan Allah yang terakhir melalui AnakNya (Ibr 1:1). Makna teologis dari ta logia ditekankan oleh B.B Warfield: 'Ta logia ialah pengumuman- pengumuman Allah yang mempunyai kekuasaan, dan di hadapannya manusia berdiri dengan hotmat dan menyembah dengan merendahkan diri'.
3. Yunani rhema. Kata ini berarti kata yang diucapkan, lalu menjadi inti ucapan, dan kenyataan. Kata ini juga memperoleh pengertian 'firman Allah', seperti logos, dan dengan demikian berarti 'Injil Kristen'. Dalam perkembangannya timbul juga arti lain, yaitu pengakuan Kristen, yang membawa kepada keselamatan (Ef 5:26). Rhema diterjemahkan 'firman' dalam mis Mat 4:4; Luk 2:29; Yoh 3:34; Rm 10:8; Ef 6:17; Ibr 1:3; 1 Ptr 1:
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a |
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Firman Allah dan Anak Allah |
| Kode Referensi | : | SYK-R02b |
Referensi SYK-02b diambil dari:
| Judul Buku | : | Yesus Kristus Allah, Manusia Sejati |
| Pengarang | : | Pdt. T. Sutarman, BA., MDIV. |
| Penerbit | : | PASTI dan YAKIN, Surabaya, 1983 |
| Halaman | : | 35 - 42 |
Gelar Anak Allah dipakai oleh beberapa pihak. Penggunaannya bergantung kepada adat kebudayaan, sehingga berbeda pula artinya. Sehubungan dengan arti gelar Anak Allah, William Barclay dalam bukunya Jesus as They Saw Him, mendaftarkan beberapa penggunaan gelar tersebut. Dalam Perjanjian Lama, malaikat-malaikat disebut anak Allah. Gelar itu tidak dipakai untuk seorang demi seorang (Ibrani 1:5), melainkan untuk malaikat secara keseluruhan. "Maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu (Kejadian 6:2). Pada awal cerita Ayub, anak-anak Allah menghadap Allah (Ayub 1:6). Pada waktu penciptaan alam semesta, bintang-bintang fajar dan anak-anak Allah bersorak-sorai bersama (Ayub 38:7). Para malaikat disebut anak Allah. Memang harus diingat bahwa ada beberapa tafsiran mengenai Kejadian 6:2. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel disebut anak Allah. Sebutan itu dituntut oleh Allah terhadap Firaun (Keluaran 4:22-23). Ketika masih kanak-kanak, Israel dikasihi oleh Allah. Dan Ia memanggil mereka dari Mesir (Hosea 11:1). Umat pilihan Allah disebut anak Allah. Raja-raja Israel disebut anak Allah. Dalam arti khusus, raja Israel dipilih oleh Allah dan dipanggil anak Allah. Berkenaan dengan Salomo, Allah berkata kepada Raja Daud: "Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku (2 Samuel 7:14). Lukas membuat silsilah Yesus secara mundur kepada Adam. Dikatakan dalam Lukas 3:38: "Kenan anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah." Adam adalah anak Allah. Dalam dunia kafir, orang-orang tertentu disebut anak Allah. Cerita mythos penuh dengan tokoh yang mengaku lahir dalam kesatuannya dengan allah tertentu yang tidak dapat mati. Herkules anak Alkmene dan Zeus. Achilles anak Thetis dan Peleus. Aleksander Agung dianggap sebagai keturunan Zeus, dan lain-lainnya.
Vos menunjukkan empat kemungkinan arti gelar Anak Allah Gelar anak Allah dalam arti nativistik (keturunan). Ciptaan Allah dapat disebut "anak Allah" sebab keberadaannya itu sebagai hasil daya cipta Allah. Adam disebut anak Allah sebagaimana Set disebut anak Adam (Lukas 3:38). Bangsa Israel juga,disebut anak Allah (Keluaran 4:22). Ada pendapat bahwa Yesus juga disebut Anak Allah dalam anti nativistik tersebut, karena kelahiran-Nya oleh Roh Kudus (Lukas 1:35; Matius 1:21).
Arti di atas sejajar dengan pandangan orang Yunani pada masa Rasul Paulus tentang kebapaan Allah secara universal. Paulus mengutip pandangan itu dalam Kisah Para Rasul 17:28: "Sebab kita ini dari keturunan Allah juga." Dengan demikian keanakan manusia terhadap Allah terjadi secara alami. Tentu saja gelar Anak Allah bagi Yesus tidak diartikan secara theologis berdasarkan kelahiran secara alami. Gelar anak Allah dalam arti moral-keagamaan. Maksudnya ialah gelar itu dipakai untuk menyatakan hubungan Allah dengan manusia yang menjadi obyek kasih-Nya. Arti itu berlaku bagi semua bangsa termasuk Israel. Terhadap Israel, pemeliharaan Allah dinyatakan bukan hanya karena keberadaan mereka oleh Allah, tetapi juga disebabkan Allah ingin menjadikan mereka sasaran kasih-Nya. Dalam Perjanjian Lama, keanakan Israel terhadap Allah selalu disebut-sebut. Demikian juga dalam Perjanjian Baru, orang yang percaya kepada Yesus disebut anak Allah karena kelahiran baru (Yohanes 1:12; 3:3), atau oleh karena pengangkatan (Roma 8:14, 19; Galatia 3:26; 4:5). Arti kedua ini juga tidak cocok bagi Yesus. Gelar Anak Allah dalam arti Messianik. Gelar ini bersifat jabatan. Keturunan Raja Daud diakui sebagai anak Allah (2 Samuel 7:14). Gelar dalam anti theologis. Dalam Perjanjian Baru, gelar Anak Allah bagi Yesus mempunyai arti yang lebih dalam daripada arti-arti di atas. Ia disebut Anak Allah sebab Ia itu Tuhan dan memiliki sifat Ilahi. Rasul Yohanes dalam Injil karangannya menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus dan juga Anak Allah. Ia mempunyai pre-eksistensi sebagai Logos, yang berarti Allah sendiri. Ia menjelma manusia untuk menyatakan Allah kepada manusia. Paulus menyatakan bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat di dalam hidup manusia (Roma 8:3; Galatia 4:4)
Gelar Anak Allah dipakai untuk menyatakan karya Yesus, yang dilakukan sebelum kedatangan-Nya ke dunia ini (Ibrani 1:2b, 3a) dan pada akhir zaman (1 Korintus 15:28). Allah tidak sendirian menjadikan alam semesta ini. Ia menjadikannya bersama dengan Allah Roh Kudus dan Allah Anak. Oleh Dia (Yesus), Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh dengan kekuasaan. Biasanya penciptaan dianggap sebagai pekerjaan Allah Bapa saga. Bagaimanapun juga Alkitab menunjukkan, bahwa pekerjaan penciptaan adalah karya dari ketiga pribadi Tritunggal. Untuk Yesus (Anak Allah) jelas disebut dalam Yohanes 1:3, "segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." Dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehnya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup (1 Korintus 8:6). Pernyataan terlengkap dapat dibaca dalam Kolose 1:15-17: "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan . . . karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu ... segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia." Sebagai pencipta, Yesus ada sebelum segala sesuatu ada.
Pada akhir zaman, Yesus bekerja juga. Dalam kaitan-Nya dengan gelar Anak Manusia, Yesus melakukan karya-Nya pada waktu ada di dunia dan pada akhir zaman. Pada akhir zaman, sebagai Anak Manusia, Ia akan menyatakan kemuliaan-Nya (Matius 24:30), datang kembali ke dunia (Matius 24:27,44) dan menghakimi semua bangsa (Matius 13:41; Lukas 21:36). Tetapi sebagai Anak Allah, Yesus tidak melakukan karya di atas pada akhir zaman. Menurut 1 Korintus 15:28 pada akhir zaman Yesus akan menaklukan segala sesuatu kepada Allah, Bapa-Nya, yang jelas dua gelar di atas menekankan kekekalan Yesus yang dinyatakan dalam karya- karya-Nya pada akhir zaman.
Gelar Anak Allah menunjukkan seluruh karya Yesus bersama Bapa-Nya dari semula sampai dengan penyelesaian segala sesuatu pada akhir zaman. Implikasi dari karya yang dilakukan Yesus sebelum datang ke dunia ialah Yesus itu kekal adanya. Kekekalan dan keabadian itu menunjukkan ciri-ciri Allah sendiri. Ia ada dengan sendirinya, tidak bergantung kepada pihak lain bagi keberadaan-Nya. Itu berarti Ia sudah ada sebelum kelahiran-Nya di dunia. Bukti-bukti kekekalan-Nya dapat dilihat dalam seluruh Alkitab: Ayat-ayat dalam Perjanjian Lama berisi penjelasan tentang keberadaan-Nya sebelum datang ke dunia. Sebelum dilahirkan di Betlehem, Ia sudah ada sebelumnya, yang permulaan-Nya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Mikha 5:1). Bahkan Yesaya memberikan nama Allah Yang Perkasa kepada Kristus (Yesaya 9:5), demikian juga sebagai Bapa Yang Kekal. Perjanjian Baru berisi keterangan yang lebih tegas mengenai kekekalan Yesus. Pendahuluan Injil Yohanes biasa dianggap sebagai "peneguhan tentang kekekalan Kristus: "Pada mulanya adalah Firman; . . . dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 1:1). Perkataan "pada mulanya" agaknya menunjuk kepada suatu waktu dalam masa kekekalan yang silam yang mustahil kita datangi. Kata kerja yang dipakai juga dipilih untuk menunjukkan kekekalan, karena kata "adalah" (Yunani, en) berarti keberadaan yang terus-menerus. Kristus sendiri mengaku keberadaan-Nya sebelum Abraham ada: "Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada (Yohanes 8:58). Yesus menyatakan diri sebagai Aku yang Kekal.
Paulus mengiakan kekekalan Kristus. Dalam suratnya, ia menulis: "... Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia" (Kolose 1:16-17). Dari ayat itu dapat ditemukan bahwa Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan, dan segala sesuatu ada oleh daya cipta-Nya. Jika demikian sudah jelas bahwa Ia sendiri tidak berasal dari penciptaan.
Pernyataan Kristus sendiri juga menjadi bukti kekekalan Kristus. Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadi kan (Efesus 1:4), Aku adalah Alfa dan Omega ... (Wahyu 1:8); Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup (Wahyu 1:17). Dalam Perjanjian Baru banyak argumentasi yang menyokong kebenaran akan kekekalan Kristus. Gelar-gelar-Nya, sifat-sifat ilahi-Nya, janji janji-Nya yang kekal menyatakan keilahian-Nya. Jadi jelaslah kekekalan Kristus diakui dalam Perjanjian Baru.
Di depan telah disebutkan bahwa gelar Anak Allah diberikan kepada Yesus. Pemberian itu didasarkan atas beberapa alasan. Empat alasan sebagai berikut: Pertama Yesus bersatu dengan Allah Bapa. Alasan ini menyatakan adanya hubungan yang erat antara Yesus Anak Allah dengan Allah Bapa. Banyak ayat Alkitab yang mengajarkan hal tersebut. Yesus sendiri berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30). Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakan-Nya" (Yohanes 5:19). Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada (Yohanes 8:28). Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yohanes 8:38). Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan Bapa kepada-Ku (Yohanes 12:50). Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; . . . apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku (Yohanes 14:9-11). Semua orang yang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa" (Yohanes 5:23). Semua perkataan- Nya itu menyatakan kesatuan diri-Nya dengan Allah Bapa. Kedua, Yesus adalah satu-satunya penyataan diri Allah. Yesus sendiri berkata dalam Matius 11:26-27, "Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya." Demikian juga kesaksian Rasul Yohanes menyatakan hal yang sama dengan yang diucapkan Yesus. Tidak seorang pun yang dapat menyatakan Allah kepada dunia, kecuali Yesus. Hanya orang yang menjadi satu dengan Allah saja yang dapat menyatakan diri Allah dengan jelas kepada manusia. A.M. Hunter mengatakan, "Gelar Anak Allah menggambarkan hubungan Yesus dengan Bapa yang tidak kelihatan itu. Itu menunjuk rahasia terdalam dari eksistensi-Nya, dan menyarankan agar orang menyadari bahwa Ia datang kepada manusia dari kedalaman eksistensi Allah." Orang datang dari eksistensi Allahlah yang dapat menyatakan diri Allah kepada manusia. Orang itu adalah Yesus.
Allah ingin menciptakan persekutuan yang erat dengan manusia, dan antara manusia dengan sesamanya. Karena ide itu keluar dari Allah, maka Allah harus menyatakan diri kepada manusia. Caranya adalah dengan penyataan. Menurut Ibrani 1:1-4 puncak penyataan itu ada di dalam diri Yesus. Jadi kalau Yesus berani berbicara bahwa tidak seorang pun mengenal Bapa, kecuali Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Dengan demikian hanya Yesuslah yang mampu menyatakan Allah kepada manusia dan membawa manusia kepada Allah. Ia mengenal Bapa (Yohanes 10:15) dan menjadi jalan kepada Bapa (Yohanes 14:6). Ketiga; Yesus taat dalam melaksanakan pola, rencana dan tujuan Allah bagi hidup manusia dalam penciptaan, pemeliharaan dan pendamaian. Allah mempunyai pola, rencana dan tujuan bagi hidup manusia dalam penciptaan, pemeliharaan dan pendamaian itu.
Yesus dipilih dan diutus ke dalam dunia untuk melaksanakan pola, rencana dan tujuan Bapa-Nya bagi umat manusia. Mulai berumur 12 tahun, Yesus telahh menyatakan ketaatan-Nya dalam melakukan kehendak Bapa itu. Berikut ini didaftarkan beberapa peristiwa mengenai ketaatan-Nya: 1) Mulai umur 12 tahun Yesus telah mulai melakukan pekerjaan Bapa (Lukas 2:41-52); 2) Yesus dibaptiskan untuk menggenapkan seluruh kehendak Bapa (Matius 3:13-17); 3) Ia menolak godaan Iblis, karena ingin mengikuti kehendak Bapa (Matius 4:1-11); 4) Dalam doa-Nya di Getsemani, Yesus menyerahkan diri supaya kehendak Bapa saja yang jadi dalam diri-Nya (Markus 14:32, 39); 5) Yesus mengaku bahwa Ia adalah Anak Allah di depan Mahkamah Agama Yahudi, meskipun harus menghadapi hukuman (Matius 26:57-68); 6) Rela menderita penganiayaan di kayu salib (Matius 27:39-43), bahkan sampai mati di atas kayu salib.
Berkali-kali Yesus menyatakan bahwa Ia menuruti kehendak Bapa-Nya; "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yohanes 4:34). Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yohanes 5:30).
Dari setiap peristiwa ketaatan dan kata-kata Yesus sendiri dalam hubungan-Nya dengan Allah, dapat disimpulkan bahwa Yesus sendiri sadar akan kedudukan-Nya sebagai Anak. Sebagai hasilnya, Ia selalu menaati kehendak Allah Bapa. William Barclay mengatakan dalam Injil Sinoptik kita dapat menyaksikan Yesus sebagai seorang pribadi yang hidup-Nya dimulai, dilanjutkan, dan diakhiri dalam kesadaran bahwa diri-Nya adalah Anak Allah." Yesus berhasil melaksanakan pola, rencana dan tujuan Allah bagi manusia dalam penciptaan, pemeliharaan dan pendamaian itu. Keempat,"karya a Yesus adalah karya Allah sendiri. Yesus disebut Anak Allah dalam Perjanjian Baru, karena karya yang dilakukan-Nya memadai dengan karya Allah Bapa. Karya itu ialah: Pertama, memberi hidup kepada semua orang (Yohanes 5:25,26). Yesus datang ke dunia agar manusia hidup de=n ngan segala kelimpahan. Kedua, menjadikan orang anak Allah. Orang orang yang percaya kepada-Nya, diberi-Nya hak menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12; Galatia 3:26; 1 Yohanes 3:1-2). Ketiga, membangkitkan orang yang telah mati (Yohanes 11:41-44). Keempat, memperdamaikan, menyelamatkan dan menyucikan orang percaya (Roma 5:10; 1 Yohanes 3:7,8; 4:10,14). Kematian Yesus memperdamaikan orang percaya dengan Allah. Yang diperdamaikan pasti akan diselamatkan oleh Yesus. Yesuslah yang diutus oleh Bapa untuk menjadi Juruselamat kita. Kelima, Yesus ikut menjadikan alam semesta (Ibrani 1:2). Oleh Dia Allah menjadikan alam semesta.
Dalam Perjanjian Lama, semua bangsa Israel, termasuk rajanya disebut anak Allah. Mereka dipilih dan diutus untuk melaksanakan karya Allah di dunia. Namun demikian, tidak seorang pun dari mereka dapat melakukan karya-karya Yesus di atas. Memang hanya Yesuslah satu-satunya orang yang pernah mengajarkan karya Allah Bapa. Sebab itu ia disebut Anak Allah. Bahkan dalam Yohanes 1:14 dan 3:16 Yesus diberi gelar Anak Tunggal Bapa.
Di depan telah diutarakan arti gelar Anak Allah dan sebab-sebab Yesus digelari Anak Allah. Dari uraian di atas dapat diperoleh implikasi gelar Anak Allah pada diri Yesus. Pertama, Yesus mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Bapa. Bahkan tidak ada hubungan yang seerat itu dalam hidup manusia. Eksistensi Allah sama dengan eksistensi Yesus. "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30). Kedua, antara Allah Bapa dan Yesus ada kesetaraan. Dalam Filipi 2:6 Paulus menyatakan bahwa Yesus ada dalam rupa Allah. Itu berarti bahwa Kristus bukan saja sama dengan Allah, tetapi Ia adalah Allah, benar-benar Allah. Ia seujud, sehakekat dengan Dia. Ungkapan "berada dalam rupa Allah," menyatakan bahwa sebelum Kristus menjadi manusia Ia telah ada. Ia mempunyai pre-eksistensi. Ia seujud atau sehakekat dengan Allah dan Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah. Ketiga, Yesus menyatakan ketaatan yang mutlak kepada kehendak Bapa. Ketaatan seperti itu tidak akan terjadi jika Yesus bukan Anak Allah. Keempat, Yesus mengenal Allah secara istimewa. Pengenalan-Nya itu menunjukkan eratnya hubungan-Nya dengan Allah dan juga ketaatan-Nya. Karena berhubungan erat, maka Yesus mengenal dan akhirnya menaati-Nya. Pengenalan-Nya yang disebut dalam Matius 11:27 itu bukan secara mental dan akali, tetapi karena hasil hubungan-Nya yang erat tersebut. Kelima, karena Yesus itu satu dengan Allah, berhubungan erat, mengenal dan taat kepada Bapa-Nya, maka Yesus memiliki kuasa Allah. Tidak diragukan lagi bahwa Yesus memiliki kuasa yang hebat. Ia berkuasa atas alam, atas penyakit, kematian dan setan. Tanpa kuasa Allah ada pada diri Yesus, Ia tidak dapat melakukan semua pelayanan-Nya secara menakjubkan. Keenam, gelar Anak Allah dipakai di dalam kitab-kitab Injil untuk menunjukkan kesatuan Yesus dan Allah Bapa bukan untuk menunjukkan kemessiasan-Nya. Gelar Anak Allah sebagai gelar mesiasnis untuk Yesus terjadi pada perkembangan pengertian rasul-rasul selanjutnya. Dalam hubungan-Nya dengan Allah Bapa ia berada sejak semula sebagai Anak Allah bukan sebagai Mesias.
Kesadaran Yesus akan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah terdapat bukan hanya dalam Kitab Injil Yohanes, tetapi juga dalam Kitab Injil yang lain. Dalam Matius 11:26-27, Yesus secara langsung mengungkapkan hubungan diri-Nya dengan Bapa-Nya. Ia menyatakan diri sebagai Anak dari Bapa. Bahkan hanya Dia dan Bapa yang dapat saling mengenal dan orang yang kepadanya Anak mau menyatakan diri. Injil Yohanes beserta kitab lain yang dikarangnya dan bukubuku karangan Paulus merupakan dokumen mengenai perkembangan pengertian Kristologis, berdasarkan kesadaran Yesus akan diri-Nya sebagai Anak Allah.
Kita juga dapat menyimpulkan bahwa Yesus merasa sebagai Anak Allah dalam arti yang istimewa. Ia lain daripada orang lain. Dengan keanakan-Nya itu Yesus menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa yang tidak dapat dinyatakan oleh manusia. Untuk menghindari konsep yang salah tentang Messias, Yesus lebih banyak menggunakan gelar Anak Manusia yang erat hubungannya dengan Anak Allah. Maksud penggunaan gelar itu ialah untuk memberikan tekanan hubungan istimewa-Nya dengan Allah, bahwa Ia sebagai Anak dan Juruselamat.
Dapat disimpulkan pula, bahwa pikiran murid-murid Yesus mengenai pribadi Kristus selalu berkembang berdasarkan pengalaman. Dari karya- karya Yesus bersama murid-murid-Nya, para murid makin sadar bahwa Yesus adalah Anak Allah. Selama pelayanan mereka dengan Yesus, para murid melihat bagaimana Yesus menyucikan Bait Allah, memasuki Yerusalem pada minggu terakhir, memimpin perjamuan malam, disalibkan dan akhirnya bangkit pada hari ketiga sesudah mati. Dari situ pikiran murid-murid Yesus pada abad pertama itu menjadi jelas mengenai Mesias. Bagi mereka arti gelar Mesias berkembang mencakup Nabi, Pemberi Hukum yang Baru, Anak Allah, dan Anak Manusia.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati Tanpa Dosa |
| Kode Referensi | : | SYK-R03a |
Referensi SYK-03a diambil dari:
| Judul Buku | : | Teologi Dasar |
| Pengarang | : | Charles C. Ryrie |
| Penerbit | : | Yayasan Andi, Yogyakarta, 1991 |
| Halaman | : | 335 - 337 |
Sifat-sifat Kealahan yang lain dinyatakan bagi diri-Nya oleh orang lain (mis. "tak berubah", Ibr. 13:5), tetapi apa yang dikutip di atas tadi adalah apa yang diakui oleh-Nya bagi diri-Nya sendiri.
Mungkin peristiwa yang paling kuat dan jelas tentang pengakuan ini, terjadi pada waktu hari raya penahbisan Bait Allah di Yerusalem, ketika Ia berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yoh. 10:30). Kata "satu" di sini bukan berarti Ia dan Bapa merupakan satu Pribadi melainkan bahwa mereka merupakan kesatuan dalam sifat dan kegiatannya, suatu fakta yang benar, hanya jika Ia sama Keallahan - Nya dengan Bapa. Orang-orang yang mendengar pengakuan ini memahaminya demikian karena itu mereka segera berupaya merajam-Nya dengan alasan penghujatan karena Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah (Ay. 33).
Bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret sendiri tak pernah mengaku sebagai Allah? Dan bahwa pengikut-Nyalah yang menyatakan demi Dia? Kebanyakan dari kutipan diatas berasal dari kata-kata Kristus Sendiri. Karena itu, kita haruslah menghadapi satu-satunya pilihan: apakah yang diakui-Nya itu memang benar ataukah Ia seorang pembohong. Dan apa yang diakui-Nya itu merupakan Keallahan yang penuh dan sempurna - tak ada yang kurang atau dikurangkan semasa hidup-Nya di bumi.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a |
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati Tanpa Dosa |
| Kode Referensi | : | SYK-R03b |
Referensi SYK-03b diambil dari:
| Judul Buku | : | Teologi Sitematika |
| Pengarang | : | Henry C. Thiessen |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 1992 |
| Halaman | : | 333 - 341 |
Pembahasan tentang tujuan dan sifat penjelmaan Kristus dengan mudah menuntun kita untuk menguraikan dua sifat yang dimiliki Kristus: sifat manusia dan sifat Allah. Orang yang bagaimanakah Yesus Kristus dari Nazaret itu?
Kemanusiaan Kristus jarang dipersoalkan. Memang ada ajaran-ajaran sesat, misalnya, Gnostisisme yang menyangkal realitas tubuh Kristus, dan ajaran Eutikhes yang menjadikan tubuh Kristus itu tubuh yang ilahi. Akan tetapi, bagian terbesar dari gereja mula-mula menerima ajaran bahwa Kristus adalah manusia dan Allah. Penyimpangan dari doktrin Alkitab lebih banyak terjadi karena menolak sifat ilahi Kristus dan bukan menolak sifat manusia-Nya. Karena Kristus harus menjadi manusia sesungguhnya jika Ia hendak menebus manusia dari dosa, maka soal kemanusiaan Kristus bukan hanya merupakan soal yang akademis, tetapi soal yang sangat praktis. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Yesus adalah manusia sesungguhnya?
Yesus lahir dari seorang wanita (Galatia 4:4). Kenyataan ini dikuatkan oleh kisah-kisah kelahiran-Nya dari seorang anak dara (Matius 1:18 -2:11; Lukas 1:30-38; 2:1-20). Karena hal ini, Yesus disebut "anak Daud, anak Abraham" (Matius 1:1) dan dikatakan bahwa Ia "menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud" (Roma 1:3). Karena alasan yang sama, Lukas merunut asal usul Yesus sampai kepada Adam (Lukas 3:23-38). Peristiwa ini merupakan penggenapan janji kepada Hawa (Kejadian 3:15) dan kepada Ahas (Yesaya 7:14). Pada beberapa kesempatan Yesus disebutkan sebagai anak Yusuf, namun kita akan melihat bahwa setiap kali hal ini terjadi, orang yang melakukannya itu bukanlah sahabat Yesus atau mereka kurang mengenal Dia (Lukas 4:22; Yohanes 1:45; 6:42; bandingkan dengan Matius 13:55). Bila ada bahaya bahwa pembaca kitab Injil akan menganggap penulis Injil tersebut bermaksud untuk menyatakan bahwa Yesus betul-betul anak Yusuf, maka penulis menambahkan sedikit penjelasan untuk menunjukkan bahwa anggapan semacam itu tidak benar. Oleh karena itu dalam Lukas 23:23 kita membaca bahwa Yesus adalah anak Yusuf "menurut anggapan orang" dan di dalam Roma 9:5 dinyatakan bahwa Kristus berasal dari Israel dalam "keadaan-Nya sebagai manusia."
Dalam kaitan ini telah diajukan satu pertanyaan penting: Bila Kristus itu lahir dari seorang perawan, apakah Ia juga mewarisi sifat yang berdosa dari ibu-Nya? Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak berhubungan dengan dosa. Alkitab menandaskan bahwa Yesus "tidak mengenal dosa" (2 Korintus 5:21); dan bahwa Ia adalah "yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa" (Ibrani 7:26); dan bahwa "di dalam Dia tidak ada dosa" (1 Yohanes 3:5). Pada saat memberitahukan bahwa Maria akan melahirkan Anak Allah, Gabriel menyebutkan Yesus sebagai "kudus" (Lukas 1:35). Iblis tidak berkuasa apa-apa atas diri Yesus (Yohanes 14:30); ia tak ada hak apa pun atas Anak Allah yang tidak berdosa itu. "Dosalah yang membuat Iblis berkuasa atas manusia, tetapi di dalam Yesus tidak ada dosa." Melalui naungan ajaib Roh Kudus, Yesus lahir sebagai manusia yang tidak berdosa.
Yesus berkembang secara normal sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu dikatakan dalam Alkitab bahwa Ia "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Lukas 2:40), dan bahwa Ia "makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Lukas 2:52). Perkembangan fisik dan mental Kristus ini tidak disebabkan karena sifat ilahi yang dimiliki-Nya, tetapi diakibatkan oleh hukum-hukum pertumbuhan manusia yang normal. Bagaimanapun juga, kenyataan bahwa Kristus tidak mempunyai tabiat duniawi dan bahwa Ia menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan, yang berdosa, sudah pasti turut mempengaruhi perkembangan mental dan fisik-Nya. Perkembangan mental Yesus bukanlah semata-mata hasil pelajaran di sekolah-sekolah pada zaman itu (Yohanes 7:15), tetapi harus dianggap sebagai hasil pendidikan-Nya dalam keluarga yang saleh, kebiasaan-Nya untuk selalu hadir dalam rumah ibadah (Lukas 4:16), kunjungan-Nya ke Bait Allah (Lukas 2:41, 46), penelaahan Alkitab yang dilakukan-Nya (Lukas 4:17), dan juga karena Ia menggunakan ayat-ayat Alkitab ketika menghadapi pencobaan, dan karena persekutuan-Nya dengan Allah Bapa (Markus 1:35; Yohanes 4:32-34).
Bahwa Kristus memiliki tubuh jasmaniah jelas dari ayat-ayat yang berbunyi, "mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku" (Matius 26:12); "yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri" (Yohanes 2:21); "Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapatkan bagian dalam keadaan mereka [darah dan daging]" (Ibrani 2:14); "tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku" (Ibrani 10:5); "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibrani 10:10). Bahkan setelah Ia dibangkitkan Ia mengatakan, "Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada- Ku" (Lukas 24:39).
Bukan saja Kristus memiliki tubuh manusiawi yang fisik, Ia juga memiliki unsur-unsur sifat manusiawi lainnya, seperti kecerdasan dan sifat sukarela. Ia mampu berpikir dengan logis. Alkitab berbicara tentang Dia sebagai memiliki jiwa dan/atau roh (Matius 26:38; bandingkan dengan Markus 8:12; Yohanes 12:27; 13:21; Markus 2:8; Lukas 23:46; dalam Alkitab bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai hati dan nyawa). Ketika mengatakan bahwa Ia mengambil sifat seperti kita, kita selalu harus membedakan antara sifat manusiawi dan sifat yang berdosa; Yesus memiliki sifat manusiawi, tetapi Ia tidak memiliki sifat yang berdosa.
Ia memiliki banyak nama manusia. Nama "Yesus", yang berarti "Juruselamat" (Matius 1:21), adalah kata Yunani untuk nama "Yosua" di Perjanjian Lama (bandingkan Kisah 7:45; Ibrani 4:8). Ia disebut "anak Abraham" (Matius 1:1) dan "anak Daud". Nama "anak Daud" sering kali muncul dalam Injil Matius (1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30, 31; 21:9, 15). Nama "Anak Manusia" terdapat lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Nama ini berkali-kali dipakai untuk Nabi Yehezkiel (2:1; 3:1; 4:1, dan seterusnya), dan sekali untuk Daniel (8:17). Nama ini dipakai ketika bernubuat tentang Kristus dalam Daniel 7:13 (bandingkan Matius 16:28). Nama ini dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai mengacu kepada Mesias. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa imam besar merobek jubahnya ketika Kristus menerapkan nubuat Daniel ini kepada diri-Nya sendiri (Lukas 26:64, 65). Orang-orang Yahudi memahami bahwa istilah ini menunjuk kepada Mesias (Yohanes 12:34), dan menyebut Kristus itu Anak Manusia adalah sama dengan menyebut Dia Anak Allah (Lukas 22:69, 70). Ungkapan ini bukan saja menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia, tetapi bahwa Ia juga adalah wakil seluruh umat manusia (bandingkan Ibrani 2:6-9).
Oleh karena itu, Yesus pernah lelah (Yohanes 4:6), lapar (Matius 4:2; 21:18), haus (Yohanes 19:28); Ia pernah tidur (Matius 8:24; bandingkan Mazmur 121:4); Ia dicobai (Ibrani 2:18; 4:15; bandingkan Yakobus 1: 13); Ia mengharapkan kekuatan dari Bapa-Nya yang di sorga (Markus 1:35; Yohanes 6:15; Ibrani 5:7); Ia mengadakan mukjizat (Matius 12:28), mengajar (Kisah 1:2), dan mempersembahkan diri-Nya kepada Allah oleh Roh Kudus (Kisah 10:38; Ibrani 9:14). "Orang-orang Kristen memiliki seorang imam besar di sorga dengan kemampuan yang tiada terhingga untuk merasa belas kasihan terhadap mereka dalam semua bahaya, dukacita, dan pencobaan yang mereka alami dalam kehidupan, karena Ia sendiri mengalami semuanya itu, karena Ia menjadi sama dengan manusia." Kembali harus ditekankan bahwa menyebutkan kelemahan-kelemahan dalam sifat Kristus tidaklah berarti kelemahan-kelemahan yang berdosa.
Yesus menganggap diri-Nya sendiri manusia (Yohanes 8:40). Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:30), Petrus (Kisah 2:22), dan Paulus (1 Korintus 15:21, 47; Filipi 2:8; bandingkan Kisah 13:38) menyebut- Nya manusia. Kristus benar-benar diakui sebagai manusia (Yohanes 7:27; 9:29; 10:33), sehingga Ia dikenal sebagai orang Yahudi (Yohanes 4:9); Ia dikira lebih tua dari usia sebenarnya (Yohanes 8:57); dan Ia dituduh telah menghujat Allah karena berani menyatakan bahwa diri-Nya lebih tinggi daripada manusia (Yohanes 10:33). Bahkan setelah bangkit, Kristus nampak sebagai manusia (Yohanes 20:15; 21:4, 5). Lagi pula, sekarang ini Ia berada di sorga sebagai manusia (I Timotius 2:5), akan datang kembali (Matius 16:27, 28; 25:31; 26:64, 65), serta menghakimi dunia ini dengan adil sebagai manusia (Kisah 17:31).
Ayat-ayat Alkitab dan alasan-alasan yang telah kami kemukakan ketika membicarakan perihal Trinitas untuk membuktikan kesamaan antara Kristus dengan Bapa, juga membuktikan kenyataan sifat keilahian yang dimiliki Kristus setelah Ia menjelma menjadi manusia.
Kristus memiliki sifat-sifat khas Allah; berbagai jabatan dan hak istimewa ilahi dimiliki-Nya; hal-hal yang dikatakan dalam Perjanjian Lama tentang Yehova telah dikatakan dalam Perjanjian Baru mengenai Kristus; nama-nama ilahi diberikan kepada-Nya; Kristus memelihara hubungan-hubungan tertentu dengan Allah yang mebuktikan keilahian-Nya; Ia disembah sebagai Allah dan Ia tidak menolak pemujaan itu selama Ia hidup di muka bumi ini; Kristus menyadari bahwa Ia adalah Allah yang telah menjelma. Semuanya ini merupakan rangkuman dari apa yang telah kita bahas dan pelajari sebelumnya ketika membicarakan Tritunggal.
Pokok ini merupakan rahasia yang sangat dalam. Bagaimana mungkin ada dua sifat di dalam satu orang? Sekalipun sulit untuk memahami konsep ini, Alkitab menganjurkan agar kita merenungkan rahasia Allah ini, yaitu Kristus (Kolose 2:2, 3). Yesus sendiri menyatakan bahwa pengenalan yang benar akan Dia hanya akan diperoleh melalui penyataan ilahi (Matius 11:27). Mempelajari pribadi Kristus sangatlah sulit karena kepribadian-Nya sangat unik; tidak ada oknum lain yang sama dengan Dia sehingga kita tidak dapat berargumentasi dari hal-hal yang sudah kita ketahui kepada hal-hal yang belum kita ketahui.
Pertama-tama, kita harus menjelaskan beberapa salah paham. Perpaduan sifat ilahi dengan sifat manusiawi di dalam Kristus itu tidak dapat dibandingkan dengan hubungan pemikahan, karena kedua belah pihak dalam pemikahan tetap merupakan dua pribadi yang berbeda walaupun sudah menikah. Demikian pula perpaduan kedua sifat itd tidak sama seperti perhubungan orang-orang percaya dengan Kristus. Juga tidaklah tepat untuk beranggapan bahwa sifat ilahi itu tinggal di dalam Kristus sebagaimana Kristus tinggal di dalam orang percaya, karena itu berarti bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang didiami oleh Allah dan la sendiri bukan Allah. Gagasan yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai kepribadian rangkap tidaklah alkitabiah. Tidak disebutkan dalam Alkitab bahwa Logos mengambil tempat pikiran dan roh manusiawi di dalam Kristus, karena dalam hal demikian Kristus bersatu dengan kemanusiaan yang tidak sempuma. Demikian pula kedua sifat itu tidak bersatu untuk membentuk sifat yang ketiga, sebab dalam hal itu Kristus bukanlah manusia sejati. Juga tidak dapat dikatakan bahwa Kristus secara berangsur-angsur menerima sifat ilahi, karena dalam hal demikian keilahian-Nya bukanlah suatu kenyataan hakiki sebab harus diterima secara sadar oleh kemanusiaan Kristus. Gereja pada umumnya dengan tegas menyalahkan pandangan-pandangan ini sebagai tidak alkitabiah dan karena itu tidak bisa diterima.
Bila pengertian-pengertian di atas itu salah semua, bagaimanakah kita dapat menerangkan perpaduan kedua sifat tersebut di dalam Kristus sehingga menghasilkan satu pribadi, namun dengan dua kesadaran dan dua kehendak? Sekalipun ada dua sifat, tetapi ada satu pribadi saja. Dan sekalipun ciri-ciri khas dari sifat yang satu tidak dapat dikatakan merupakan ciri khas dari sifat lainnya, namun kedua sifat itu berada dalam satu Oknum, yaitu Kristus. Tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa Kristus adalah Yang Ilahi yang memiliki sifat manusiawi, atau bahwa Ia adalah manusia yang didiami oleh Yang Ilahi. Dalam hal yang pertama, maka sifat manusiawi tidak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya, dan dalam hal yang kedua sifat ilahi itulah yang tak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya. Oknum kedua dari Tritunggal Allah menerima keadaan manusia dengan semua ciri khasnya. Dengan demikian kepribadian Kristus berdiam di dalam sifat ilahi-Nya, karena Allah Anak tidak bersatu dengan seorang manusia tetapi dengan sifat manusia. Terpisah dari penjelmaan sifat manusiawi Kristus tak bersifat pribadi; akan tetapi hal ini tidak benar tentang sifat ilahi-Nya. Begitu sempurnanya penyatuan menjadi satu pribadi ini sehingga, sebagaimana dikatakan oleh Walvoord, "Kristus pada saat yang 'sama memiliki sifat-sifat yang nampaknya bertolak belakang. Ia bisa lemah dan mahakuasa, bertambah dalam pengetahuan namun mahatahu, terbatas dan tidak terbatas," dan kita dapat menambahkan, Ia bisa berada di satu tempat namun Ia Mahahadir.
Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai satu pribadi yang utuh dan tunggal; Ia samasekali tidak menunjukkan adanya gejala-gejala keterbelahan kepribadian. Selanjutnya, orang-orang yang berhubungan dengan Dia menganggap Dia sebagai seorang dengan kepribadian yang tunggal dan tidak terbelah. Bagaimana dengan kesadaran diri-Nya? Jelaslah bahwa dalam kesadaran diri yang ilahi Yesus senantiasa sadar akan keilahian-Nya. Kesadaran diri yang ilahi itu senantiasa beroperasi penuh, bahkan pada masa kanak-kanak. "Namun ada bukti bahwa dengan berkembangnya sifat manusiawi maka kesadaran diri yang manusiawi itu mulai aktif." Kadang-kadang Ia akan bertindak dari kesadaran diri yang manusiawi, dan pada saat-saat lain Ia bertindak dari kesadaran diri yang ilahi, namun keduanya itu tidak pernah bertentangan.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kehendak-Nya. Pastilah, kehendak manusiawi ingin menjauhi salib (Matius 26:39), dan kehendak yang ilahi ingin menjauhkan diri dari hal dijadikan dosa (2 Korintus 5:21). Dalam kehidupan-Nya, Yesus berkehendak untuk melakukan kehendak Bapa-Nya yang di sorga (Ibrani 10:7, 9). Hal ini dilaksanakan-Nya sepenuhnya.
Maka jika kedua sifat Kristus itu terbaur secara sempurna di dalam satu pribadi, lalu bagaimanakah sifat pembauran itu? Sebagian besar jawaban untuk pertanyaan ini telah disinggung dalam uraian sebelumnya. Tidak mungkin kami memberikan analisis kejiwaan yang tepat tentang kepribadian, unik Kristus sekalipun Alkitab memberikan sedikit petunjuk.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan |
| Kode Referensi | : | SYK-R04a |
Referensi SYK-04a diambil dari:
| Judul Buku | : | Yesus Kristus Allah, Manusia Sejati |
| Pengarang | : | Pdt. Sutoyo L. Sigar M.Th. |
| Penerbit | : | PASTI dan YAKIN, Surabaya, 1983 |
| Halaman | : | 61 - 71 |
Istilah "Juruselamat" mewakili istilah kata bahasa Yunani soter. Kata soter mewakili kata jadian bahasa Ibrani yang berasal dari akar kata Yasha, yang biasanya menunjuk kepada "Juruselamat." Untuk memahami pengertian "Juruselamat" yang tepat, perlu kiranya menganalisa istilah tersebut secara seksama.
Dari akar kata Ibrani "Yasha" ini bila diperoleh kata-kata jadian seperti "moshia," Yesha," dan "Yeshua," yang seringkali berhubungan dengan arti "keselamatan." Walaupun demikian istilah tersebut tidak jarang dipakai sebagai "Juruselamat" (Yesaya 19:20; 43:11; 49:26 dan 52:10). Dalam Hakim-Hakim 3:9,15 diterjemahkan sebagai "penyelamat," ada kemungkinan bahwa penulis berpikir mengenai "Juruselamat" yaitu sebagai Juruselamat Illahi.
Yasha dapat diartikan, "menolong," "melindungi," "membebaskan," dan "menyelamatkan." Dengan demikian kata tersebut berarti membebaskan atau mencari jalan untuk membebaskan seseorang dari beban hidup, penderitaan, dan atau bahaya. Karena pertolongan tersebut dapat menghasilkan semacam: kemenangan, kemakmuran, kebahagiaan dan keselamatan (Ulangan 20.4, Yesaya 26:1; 11 Samuel 8:6; Yesaya 60:18).
Kata itu juga dapat mengandung arti yang lebih luas, bebas dari bahaya dan kemampuan untuk mencapai tujuan (kehendak Allah). Berpindah dari bahaya kepada keselamatan memerlukan pembebasan. Biasanya pembebasan harus datang dari luar. Di dalam PerjanjianLama ada macam-macam bahaya, yang bersifat nasional maupun individu, termasuk musuh, bencana alam, seperti bahaya wabah atau kelaparan, dan penyakit. Seseorang yang menjadi penyelamat dikenal sebagai "Juruselamat.
Tetapi pada umumnya dalam Perjanjian Lama kata itu mempunyai arti keagamaan yang kuat, karena hal itu Yehovah sendiri yang membawa kebebasan atau keselamatan. Dalam hal itu Ia diketahui sebagai "Allah adalah keselamatan kita" (Mazmur 68:19-21). Walaupun keselamatan dapat dilaksanakan melalui manusia, tetapi manusia hanya bertindak sebagai agen-Nya saja. Kesemuanya itu terjadi hanya karena Allah sendiri sumbernya.
Kata bahasa Yunani "soter" ini biasanya diartikan "penyelamat" dan "keselamatan." Kadang-kadang terjadi, tetapi hal ini sangat jarang sekali "soter" bukan menunjuk kepada seseorang, misalnya sungai yang dengan tiba-tiba meluap untuk menghindarkan kejaran musuh. Namun demikian, hanya dewa-dewa, atau manusia yang kuat saja disebut "soteres." Friedrich menyimpulkan penggunaan soter hanya terbatas pada lingkungan manusia. Pada dasarnya seseorang yang diselamatkan tergantung pada seseorang yang menyelamatkan.
Kata itu sudah biasa dipakai di lingkungan orang Yunani yang aplikasinya untuk sebutan illahi. Dalam Perjanjian Baru khususnya berbeda dengan penggunaan lain, sebab istilah itu tidak pernah dipakai sebutan untuk menunjuk kepada manusia biasa. "Juruselamat" merupakan sifat (attribute) Allah dalam Perjanjian Lama. Hal ini agaknya yang menjadi alasan dari penggunaan Juruselamat yang erat hubungannya dengan nama Kyrios. Sebagaimana kita ketahui nama Kyrios adalah sangat berperanan penting pada permulaan Kekristenan. Karena Kyrios adalah nama di atas segala nama, sehingga tidak mengherankan bila soter sering dipakai dalam Perjanjian Baru sebagai suplemen untuk Kyrios (Filipi 3:20; 2 Petrus 1:1,11; 2:20; 3:2,18)
Dalam Perjanjian Lama Allah disebut sebagai "Juruselamat." Kitab Mazmur (24:5; 27:1; 35:3; 62:2,6; 65:5; 79:9) dan Yesaya (12:2; 17:10; 43:3,11; 45:15,21; 60:16; 62:11; 63:8) memberikan jabatan ini kepada Allah secara jelas. Dan memang sebutan ini dapat kita temui di mana- mana di seluruh bagian Perjanjian Lama (Ulangan 32:15; 1 Samuel 10:19; Habakuk 3:18; Mikha 7:7; Yeremia 14:8, dan lain-lainnya). Walaupun demikian tentang rencana Allah mengenai keselamatan di dalam Perjanjian Lama telah menimbulkan tidak sedikit perdebatan tentang sifatnya yang tepat:
Kaum modernis dalam theophani berusaha menyesuaikan pernyataan Perjanjian Lama dengan pola evolusioner yang cenderung meniadakan setiap pernyataan tentang kasih dan kemurahan Allah sampai di bagian akhir Perjanjian Lama. Sebaliknya bagi ahli-ahli theologia konservatif telah menunjukkan kenyataan belas kasihan Allah mulai dari dari Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Maleakhi.
Adalah merupakan dasar dari Perjanjian Lama, konsep bahwa Allah adalah pembebas umat-Nya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menyelamatkan dirinya, dan tidak ada seorang pun di dunia ini mengadakan penebusan buat sesamanya. Mazmur 49:8 berbunyi, "Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya." Manusia yang menjadi "Juruselamat" di mana Allah mengangkatnya untuk membebaskan umat-Nya dari tangan musuhnya (Hakim-Hakim 3:9; 2 Raja-Raja 13:5; Nehemia 9:27, dan sebagainya), adalah "Juruselamat" sebagai alat Tuhan dan bersifat sekunder. Oleh karena itu pada setiap aspek karya Allah adalah untuk kepentingan manusia dan bukan sebagknya karya manusia untuk kepentingan Allah. Hanya Allahlah Juruselamat.
Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juruselamat selain daripada-Ku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku, demikianlah firman Tuhan, dan Akulah Allah. Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?
Penggunaan nama diri Tuhan di sini sebagai nama yang menunjukkan inti pokok: "Aku dan tidak ada nama lain yang eksis dan hidup," seperti Dia yang membuktikan eksistensinya melalui karya-Nya, dan tentu dengan karya penyelamatan-Nya. "Juruselamat" dan "Tuhan" mempunyai kesamaan di sini. Tuhan dalam pernyataan diri dalam sejarah sebelumnya dilengkapi dengan janji akan pembebasan. Dia memberitakan dan membawa keselamatan, tanpa ada yang dapat mencegahnya; misalnya suatu kuasa atau allah di Israel yang membuktikan eksistensinya, atau dalam kenyataannya memberikan suatu pertanda. Karenanya mereka harus mengakui: hanya Dia, Dia sendiri, adalah Tuhan, Allah yang Mahatinggi. Dan sejak saat itu dan untuk selamanya Dia tidak berubah, dan hanya Dia, menunjukkan sifat keilahian dan hidup kekai. Di hadapan Tuhan tidak ada allah lain, dan tidak akan ada lain kecuali Dia; karenanya itu Dialah kekal untuk selamanya.
Dan karena seluruh bagian Kitab Yesaya berkenaan dengan pembebasan Israel, alasan dan konsekwensinya, sehingga ditambahkan "tidak ada juruselamat lain daripada-Ku." Oleh karena itu Israel harus menjaga untuk tidak mencari keselamatan dan yang lain. Dalam penutupan kata memberikan pengertian kepada mereka, bahwa keselamatan tiba diwaktu pelaksanaan hukuman. Tuhan akan terus melaksanakan karya-Nya, dan apabila Dia yang sama kemarin, hari ini dan selamanya, siapakah yang dapat mencegahnya.
Dalam pasal 42:1-17 Tuhan mengintroduksikan hamba-Nya, pengantara keselamatan. Dan pasal 42:18; 43:13 mulai dengan pendekatan-Nya kembali dan berusaha untuk membawa Israel kepada keselamatan yang dari Allah, Allah yang tiada tandingannya.
Dalam bahasa Ibrani "Juruselamat" biasanya dalam bentuk participle, bukan kata benda, dimana menunjukkan kepada pemikiran Perjanjian Lama. Istilah ini bukanlah merupakan suatu gelar sebagaimana hal ini digambarkan kepada kegiatan-kegiatan Allah untuk kepentingan umat-Nya. Walaupun istilah tersebut mesianis dalam Perjanjian Lama, mesias digambarkan sebagai seseorang yang datang memberikan/menyodorkan keselamatan kepada semua bangsa (Yesaya 49:6,8; Zakharia 9:9).
Dalam Perjanjian Baru istilah "Juruselamat" tidak pernah menunjuk kepada seseorang, tetapi hanya kepada Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Tuhan dilukiskan sebagai "Juruselamat" dalam Perjanjian Baru, karena Ia menyediakan keselamatan untuk manusia dengan mengutus Anak- Nya, dan melalui Dia" (Lukas 1:47; 1 Timotius 1:1; 2:3; 4:10; Titus 1:3; 2:10; 3:4; Yudas 25). "Juruselamat" dalam Perjanjian Baru merupakan kedudukan utama Yesus, sejak mulanya Ia telah mengumumkan kepada dunia sebagai Juruselamat (Lukas 2:11). Walaupun istilah Juruselamat tidak digunakan dalam Matius, misi Yesus digambarkan dalam Injil tersebut sebagai Seseorang yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Matius 1:21). Pembagian dari 24 penggunaan istilah dalam Perjanjian Baru akan menunjuk hal tersebut, walaupun penggunaan istilah telah digunakan dari permulaan kekristenan, hal ini menjadi sangat penting kepada periode penutupan Perjanjian Baru. Dua pertiga dari penggunaannya nampak pada kitab-kitab bagian akhir: sepuluh di surat- surat Pastoral; lima di 2 Petrus; dan masing-masing satu di Injil Yohanes, 1 Yohanes, dan Yudas. Injil Markus dan permulaan surat-surat Paulus tidak menggunakan istilah "Juruselamat."
Sebagai tambahan berkenaan dengan "Juruselamat" dalam Perjanjian Baru memberikan pandangan yang penting pada kekristenan yang mula- mula, Yesus dilukiskan oleh Yohanes sebagai "Juruselamat dunia." Dalam surat-surat Pastoral, "penampilan Juruselamat kita" digunakan (2 Timotius 1:10; Titus 2:13), dimana menyaksikan akan kedua sifat supranatural dan kemuliaan-Nya. Istilah itu juga berhubungan dengan "kemurahan" dalam Titus 3:4.
Yesus sendiri menafsirkan misi-Nya sebagai salah satu keselamatan, berkata, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Istilah tersebut mengisyaratkan akan bahaya, bencana, dari seorang penolong. Istilah Juruselamat di kedua Kitab, Perjanjian Lama (Yesaya 53) dan Perjanjian Baru mengusahakan pembebasan dari penderitaan yang sangat dan kesusahan yang diketahui oleh umat manusia - pembebasan dari dosa Juga ada penekanan pada pelayanan Yesus berkenaan dengan si penerima pembebasan-Nya. Ia sebagai Juruselamat bukan hanya kepada yang kuat dan kaya atau mereka yang terdidik, tetapi juga seperti gembala-gembala dan orang buangan; yang disingkirkan dari masyarakat seperti Zakheus dan sebagainya.
Sebagaimana kita telah diajarkan oleh perkataan Petrus yang terkenal, "Tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). Nama "Yesus" diberikan kepada-Nya tidaklah dengan suatu alasan dan kesempatan, atau dengan suatu keputusan seseorang, tetapi hal ini telah disampaikan dari surga oleh malaikat. Alasannya untuk itu ialah: Ia diutus agar menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya (Matius 1:21; bandingkan Lukas 1:31). Kita harus memperhatikan kata-kata sebagai berikut: jabatan sebagai Penebus yang disandang-Nya agar Ia menjadi Juruselamat kita.
Pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah yang menyatakan. "Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus" (Kisah Para Rasul 2:36). Yesus adalah Manusia, namun telah dibuktikan oleh kebangkitan dan kenaikan-Nya menjadi Allah, Tuhan dan Kristus, sebagai Mesias. Mereka harus meletakkan imannya lebih daripada kepada manusia; hal ini harus dalam Seseorang yang juga Allah yang merupakan perjanjian Mesias dalam Perjanjian Lama. Illahi dan Kemanusiaan harus disatukan agar dapat menyediakan keselamatan secara sempurna. Jutuselamat harus manusia agar dapat mati dan agar dapat menanggung hukuman atas manusia dan Dia haruslah Allah agar kematian dapat efektif untuk seluruh umat manusia. Ketika Paulus menuliskan suratnya kepada Roma, ia berkata mengenai Anak Allah, Yesus Kristus, dan kemudian menjelaskan dua fakta yang penting tentang Yesus Kristus - Kemanusiaan-Nya ("yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud") dan Keillahian-Nya ("bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa") (Roma 1:1-4). Kemudian 10:9; "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan ... kamu akan diselamatkan." Ini merupakan pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan dan imannya dalam Allah-Manusia yang menyelamatkan dari dosa.
Pernyataan dasar dari penebusan ini berarti membeli atau membayar harganya untuk sesuatu. Ini digunakan, misalnya, sebagaimana biasanya dalam kehidupan sehari-hari mengenai perumpamaan harta benda terpendam dan mutiara yang berharga yang mendorong orang untuk membeli (menebus) ladang (Matius 13:44). Dalam hubungannya dengan keselamatan kita, istilah itu berarti membayar harga karena tuntutan dosa kita agar kita dapat ditebus (Wahyu 5:9; 14:3-4; 2 Petrus 2:1; 1 Korintus 6:20; 7:23). Dan ini hanya dapat dibayar oleh darah Kristus.
Istilah ini juga ada hubungannya dengan tempat di pasar, maka seseorang yang ditebus digambarkan atau berarti dibeli dari pasar. Dengan kata lain, ide dari istilah ini ialah kematian Kristus tidak hanya membayar harganya untuk keselamatan kita tetapi juga memindahkan kita dari pasar dosa agar memberi jaminan kepada kita sehingga tidak akan pernah dikembalikan kepada perbudakan dan hukuman dosa. Kedatangan Kristus agar "menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak" (Galatia 4:5). Penggunaan istilah dalam ayat ini berarti memberi jaminan kepada kita bahwa kita tidak akan kehilangan hak sebagai anak dan kembali kepada perbudakan.
Penebusan bukan hanya penting karena telah dibeli, tetapi dapat juga berarti dibebaskan. Sekali lagi Paulus berkata bahwa kematian Kristus agar "membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk mengkuduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik" (Titus 2:14). Oleh karena itu, penebusan secara penuh konotasi berarti bahwa karena penumpahan darah Kristus orang-orang percaya telah dibeli, dipindahkan dan dibebaskan. Pembayaran harga dari Anak Allah melalui kematian-Nya seharusnya lebih memberikan motivasi kepada anak-anak Allah untuk menyerahkan diri kepada Tuhan.
Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan (Yohanes 3:14-15); jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (Yohanes 12:24). Tuhan tidak dapat mengampuni dosa berdasarkan pertobatan seseorang. Hal ini mustahil untuk kesucian Allah melakukan. Tuhan dapat mengampuni dosa hanya apabila hukaman itu dibayar lebih dahulu. Agar Allah dapat mengampuni dosa seseorang dan ia dalam waktu yang sama dibenarkan, dan Kristus membayar hukuman orang-orang berdosa (Roma 3:25-26). Kristus berkali-kali berkata bahwa Ia harus menderita dalam banyak hal, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga (Matius 16:21; Markus 8:31; Lukas 9:22; 17:25; Yohanes 12:32-34). Dua orang yang ada di kubur Yesus sesudah Ia bangkit mengingatkan perempuan-perempuan yang datang untuk mengurapi tubuh Yesus di mana Kristus berkata bahwa Ia harus disalibkan dan bangkit kembali (Lukas 24:7). Paulus mencari bukti kepada orang-orang Tesalonika akan kepentingan kematian Kristus (Kisah Para Rasul 17:3). Dari sudut Allah, kematian Kristus adalah sangat penting bila manusia diselamatkan.
Tetapi di sini kita harus merenungkan secara bersungguh-sungguh bagaimana Dia melaksanakan keselamatan bagi kita. Karenanya itu kita seharusnya tidak terbius oleh karena Dia sebagai pelaksananya, tetapi berusaha untuk memperkembangkan iman kita, menolak apa pun yang membahayakan dan yang berusaha untuk mengalihkan kepada arah yang lain. Tidak ada seorang pun yang dapat merendahkan diri terhadap-Nya dengan secara serius tanpa memperhatikan perasaan akan ketidakperkenan Allah dan perasaan memusuhi Dia.
Kesadaran akan murka Allah membuat kita mengucap syukur atas kasih setia-Nya di dalam Kristus.
Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus melihat bagaimana belas kasihan dan kemurahan Allah diperuntukkan bagi kita. Bagaimana Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal dengan satu ikrar suci karena cintanya kepada kita apabila Dia tidak siap merangkul kita dengan kebebasan-Nya. Karena sering adanya perbedaan pendapat di sini, maka saya akan mencoba untuk menghindarinya. Roh Kudus biasanya bicara demikian dalam Kitab Suci: "Tuhan adalah musuh manusia sampai mereka diperdamaikan atas anugerah melalui kematian Kristus" (Roma 5:10). "Mereka berada di bawah kutuk sampai kejahatannya dilenyapkan dengan pengorbanan Yesus" (Galatia 3:10,13). "Mereka jauh dari Allah dan melalui tubuh jasmani Kristus mereka diperdamaikan" (Kolose 1:21-22). Pernyataan yang singkat ini memberikan situasi manusia yang perlu kita mengerti bagaimana keadaan kita sangat menyedihkan dan bagaikan puing- puing apabila kita terpisah dari Kristus. Apabila hal ini tidak secara jelas dinyatakan bahwa kemarahan dan pembalasan Allah serta kematian kekal adalah akibatnya, kita dengan gemetar telah menyadari betapa mengerikan apabila hidup ini tanpa kemurahan dan belas kasihan dari Allah.
Sebuah contoh, bila Tuhan menghancurkan Saudara sementara Saudara masih dalam keadaan hidup dalam dosa, dan membuangkan Saudara, seperti Saudara ketahui, betapa celaka Saudara karena kehancuran sedang menantikan Saudara. Tetapi karena Dia berusaha dengan anugerah-Nya, atas dasar kehendak-Nya sendiri, maka tidak membiarkan Saudara terpisah dari-Nya, sehingga Saudara terlepas dari ancaman maut.
Orang tersebut mengalami dan merasakan sesuatu di mana dia merasakan kebesaran rasa belas kasihan serta kemurahan Allah. Di pihak lain, seandainya ia belajar, sebagaimana Alkitab mengajarkan, bahwa dia telah terpisah dari Allah karena dosanya, ialah mewarisi murka, dan berakibat kematian kekal, terlepas dari segala pengharapan keselamatan, segala berkat-berkat Allah, hamba setan, seorang buangan karena dosanya, yang tujuan akhimya ialah penderitaan kekal. Pada saat demikian Kristus mengetengahi sebagai advokatnya, menimpakan kesalahan itu pada diri-Nya dan menderita hukuman dari hukuman Allah, yang mengancam semua orang-orang berdosa. Di mana Dia membersihkan dengan darah-Nya karena setan yang menjadikan orang-orang melawan Allah. Dengan demikian Dia membuat kepuasan dan pengorbanan yang patut di hadapan Allah Bapa, sehingga sebagai penengah telah menentramkan murka Allah. Atas dasar ini maka terjadilah damai di antara Allah dan manusia. Dengan ikatan ini kebajikan memelihara mereka.
Kemurahan Allah merupakan basis dedikasi kita, karena Dia lebih besar dari semua tuan-tuan yang ada di dunia ini. Berkat kehidupan karena dedikasi kita dalam pelayanan kepada Allah adalah lebih pasti dan memperkaya. Mengapa banyak orang malu mendedikasikan hidup-Nya adalah sukar dimengerti!
Murka Allah menentang orang berdosa, kasih-Nya mendamaikan kita di dalam Kristus. Untuk Tuhan benar adalah sifat-Nya, tidak dapat mengasihi orang yang perbuatannya melanggar hukum-Nya, seperti yang terlihat di dalam hidup kita semua. Karena itu kita semua ada perasaan kebencian kepada Allah. Sifat nature kejahatan kita dan kelemahan hidup mengakibatkan tak berkenan di hadapan Allah, bersalah dipemandangan-Nya dan dilahirkan untuk hukuman neraka. Tetapi karena Allah menyatakan tidak ingin seorang pun binasa, terlepas dari kebaikan kita. Dan memang kasihlah sebagai sifat-Nya. Allah mengasihi mereka yang remuk hatinya, meninggalkan jalannya dan berbalik kepada jalan Tuhan. Walaupun bagaimana keadaan kita, sebagai orang berdosa, dan keji, namun kita adalah tetap ciptaan-Nya. Memang kita mati karena perbuatan kita sendiri atau pilihan kita sendiri, walaupun demikian Ia menciptakan kepada hidup. Oleh karena itu, dengan kasih Allah Bapa berlangsung dan memberikan harapan akan pendamaian di dalam Kristus, sudah barang tentu karena Ia mengasihi kita lebih dahulu (1 Yohanes 4:19), kemudian Ia mendamaikan kita dengan-Nya.
Kematian Kristus sepenuhnya membaskan tuntutan Allah yang benar mengenai hukuman atas orang berdosa (Roma 3:25; 1 Yohanes 2:2; 4: 10; Ibrani 2:17). Ajaran Perjanjian Baru tentang jalan pendamaian adalah seperti yang diajarkan Perjanjian Lama, bergantung pada konsep murka Allah yang menuntut pemuasan. Murka Allah dengan tegas disebut dalam Matius 3:7; Markus 3:5; Lukas 3:7;21:23; Yohanes 3:36; Roma 22; Efesus 5:6; Kolose 3:6; Wahyu 6.16; 11:18; 14:10; 16:19 dan 19:15. Perjanjian Baru mengajarkan tentang jalap pendamaian adalah jawaban Allah bagi problema mengenai hukuman-Nya yang adil ke atas orang berdosa.
Dalam Roma 3:25-26 "Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada mala ini supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus." Dari ayat tersebut di atas ada dua fakta yang menempatkan jalan pendamaian dalam Alkitab. Pertama, bahwasanya hal itu bukan soal memuaskan satu Allah yang bernafsu membalas dendam, melainkan memuaskan satu Allah yang adil, benar dan suci dalam segala perbuatan-Nya. Kedua, Allah semacam itu, meskipun pada satu pihak menuntut pemuasan penuh terhadap kebenaran-Nya, adalah Allah yang sama yang karena kasih-Nya kepada umat manusia yang terhilang mengutus Anak-Nya untuk menjadi jalan pendamaian.
Kristus dalam kematian-Nya di atas salib melalui pencurahan darah-Nya dan pengorbanan hidup-Nya menyelesaikan suatu terhadap keadilan ilahi yang Allah terima bagi yang berdosa. Jalan pendamaian ini memungkinkan Allah menyatakan kasih-Nya kepada manusia dan mengaruniakan kebenaran melalui pembenaran oleh iman. Keyakinan ini didukung oleh perlunya jalan-pendamaian karena dosa (Roma 3:9,23; 5:12), kebenaran Allah (Mazmur 119:137; 145:17; Roma 3:25-26), dan fakta bersejarah bahwa Kristus benar mati bagi manusia berdosa (Yesaya 53:5-7; Galatia 1:4; 3:13 dan sebagainya).
Jadi hubungan baru pendamaian ini hanya dimungkinkan oleh darah Kristus yang dicurahkan di salib Golgota. Kepada orang-orang berdosa yang diselamatkan oleh anugerah yang dahulunya jauh dan musuh oleh perbuatan jahatnya, tetapi sekarang diperdamaikan dan dinyatakan suci, tanpa noda, dan tak bercela di hadapan Allah. Tindakan perdamaian dalam kematian Kristus itu sendiri tidak mengakibatkan pendamaian bagi individu, melainkan bersifat menyediakan saja, dan memungkinkan individu itu diperdamaikan. Orang yang belum diselamatkan tak berubah dalam keadaannya semula bahkan sesudah kematian Kristus sampai saat ia percaya di mana pendamaian itu mulai berlaku bagi dia. Setelah percaya, ia masuk ke dalam hubungan baru di dalam Kristus, dan oleh Allah ia dianggap suci tanpa noda dan tak bercela. Inilah kedudukan orang yang percaya di hadapan Allah - diperdamaikan dengan Allah.
Pembukaan rahasia rencana keselamatan dari Allah sesudah Adam merupakan kisah yang bertahap pemyataannya. Masa manusia meninggalkan pernyataan keselamatan yang diberikan dan terjerumus ke dalam kegelapan dan dosa. Semakin hari manusia semakin jauh dari Allah, hanya bagian kecil saja yang dilukiskan dalam Kitab Suci tetap percaya kepada Allah, dan menerima terang selanjutnya. Nabi Yesaya mengutarakan bahwa "masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri," dan sudah barang tentu kematian kekallah yang menantikannya. Secara jelas masalah manusia dapat diatasi dari pemyataan Kitab Suci dengan menaruh kepercayaannya kepada Kristus maka dia akan beroleh selamat (Yohanes 1:12; 3:16).
Yang menjadi masalah d: sini ialah seolah-olah ada perbedaan pendapat dengan cara keselamatan dalam Perjanjian Lama dan Baru. Untuk itu Walvoord menjelaskannya secara tepat sekali.
"Jelas bahwa orang-orang kudus di Perjanjian Lama tidak percaya kepada Kristus di dalam cara yang sama dan di dalam pengertian yang sama seperti orang-orang percaya dalam Perjanjian Baru, oleh sebab mereka hidup pada masa yang berlainan dan tidak memiliki keterangan yang sama. Dalam sifat kasus ini, perkara iman ialah mempercayai masing- masing pernyataan yang diberikan pada saat itu. Sebaliknya juga tidak ada dua jalan keselamatan. Seluruh keselamatan Allah berasal dari sang Juruselamat, Anak Allah, dan pekerjaan-Nya di kayu salib. Juga jelas bahwa keselamatan dari setiap jiwa menuntut iman. Bahkan rahmat dan kemurahan Allah tidak dapat menyelamatkan satu jiwa yang masuk kekekalan dengan tidak percaya. Dua unsur penting dari keselamatan ini - pekerjaan Kristus di kayu salib dan iman dari keselamatan Adam sampai kepada jiwa terakhir yang Allah tarik kepada diri-Nya di masa depan. Iman adalah syaratnya, dan kematian Kristus adalah dasarnya."
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan |
| Kode Referensi | : | SYK-R04b |
Referensi SYK-04b diambil dari:
| Judul Buku | : | Jawaban bagi pertanyaan orang yang belum percaya |
| Pengarang | : | Josh Mc Dowell dan Don Steward |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, t.th |
| Halaman | : | 77 - 79 |
Orang senantiasa menanyakan, "Apakah keistimewaan Yesus? Mengapa Dia sate-satunya jalan bagi manusia untuk dapat mengenal Allah?" Seiring dengan masalah orang-orang kafir, tidak ada pertanyaan lain yang ditanyakan lebih sering dari pertanyaan yang satu ini. Kita dituduh berpikiran sempit karena kita menegaskan bahwa tidak ada jalan lain kepada Allah.
Hal pertama yang harus kita kemukakan ialah bahwa bukan kita yang membuat-buat pernyataan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan. Ini bukan pernyataan kita, melainkan Tuhan Yesus sendiri. Kita hanya mengemukakan pernyataan-Nya, dan pernyataan para penulis Perjanjian Baru.
Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6) dan " . . . jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu" (Yohanes 8:24). Rasul Petrus menggemakan kata- kata ini, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12).
Paulus setuju, "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (1 Timotius 2:5). Jadi, seluruh Perjanjian Baru bersatu memberi kesaksian bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Allah kecuali melalui pribadi Yesus Kristus.
Untuk mengerti mengapa demikian, kita harus kembali ke permulaan. Allah yang Mahabesar telah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1) dan menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri (Kejadian 1:26). Setelah Ia selesai menciptakan, segala sesuatu sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Manusia, laki-laki dan perempuan, ditempatkan dalam suatu lingkungan yang sempurna, dengan segala kebutuhan mereka terpenuhi. Mereka diberikan hanya sebuah larangan; mereka tidak boleh makan dari buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, supaya jangan mereka mati (Kejadian 2:17).
Sayang sekali, mereka makan buah pohon itu (Kejadian 3), dan akibatnya ialah kejatuhan dalam empat hal yang berbeda. Hubungan antara Allah dan manusia sekarang putus, sebagaimana dapat terlihat dari usaha Adam dan Hawa menyembunyikan diri dari hadapan Allah (Kejadian 3:8).
Hubungan antara manusia dengan sesama manusia menjadi renggang, karena keduanya, Adam dan Hawa, saling membantah dan mencoba melemparkan kesalahan kepada yang lain (Kejadian 3:12,13).
Ikatan antara manusia dan alam juga putus, sehingga tanah menghasilkan semak duri dan rumput duri dan binatang-binatang tidak lagi jinak (Kejadian 3:17,18). Manusia juga menjadi terpisah dari dirinya sendiri. Hatinya dipenuhi perasaan kekosongan dan ketidaklengkapan, sesuatu yang tidak dialaminya sebelum kejatuhan itu.
Namun demikian, Allah berjanji akan memperbaiki segalanya dan memberikan Firman-Nya bahwa Ia akan mengutus seorang Juruselamat, atau Mesias, yang akan membebaskan seluruh ciptaan dari perbudakan dosa (Kejadian 3:15). Perjanjian Lama terus mengulangi tema ini dan bahwa suatu hari kelak Juruselamat ini akan datang ke dalam dunia dan membebaskan umat manusia.
Firman Allah sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Allah menjadi manusia dalam oknum Yesus Kristus (Yohanes 1:14,29). Yesus akhirnya mati sebagai pengganti kita supaya kita dapat mempunyai hubungan yang benar dengan Allah lagi. Kitab Suci berkata, "Allah di dalam Kristus itu memperdamaikan isi dunia ini dengan diri-Nya" dan "Ia, yang tiada mengenal dosa, telah dijadikannya dosa ganti kita, supaya kita ini akan menjadi kebenaran Allah di dalam Dia" (2 Korintus 5:19,21, TL).
Yesus telah membuka jalan! Allah telah melaksanakan semuanya, dan tanggung jawab kita ialah menerima kenyataan itu. Kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk menambah karya Kristus; segala sesuatunya telah dikerjakan bagi kita.
Jikalau umat manusia dapat mencapai Allah melaiui suatu jalan lain, maka Yesus tidak harus mati. Kematian-Nya menunjukkan fakta bahwa tidak ada jalan lain. Oleh sebab itu, tidak ada agama atau pemimpin agama lain yang dapat membawa orang kepada pengenalan akan Allah yang esa dan benar itu.
Tetapi kematian Yesus bukanlah akhir ceritanya. Marilah kita menggambarkan mengapa Vita jauh lebih suka memilih Yesus daripada para pemimpin agama lain. Seandainya sekelompok orang sedang berjalan kaki dalam sebuah hutan suaka yang sangat lebat. Pada waktu kita masuk lebih jauh ke dalam hutan, kita tersesat.
Karena menyadari bahwa mengambil jalan yang salah mungkin berarti kita akan kehilangan nyawa, maka kita mulai menjadi takut. Akan tetapi, tidak lama kemudian kita melihat di kejauhan ada dua sosok tubuh berdiri di persimpangan jalan.
Setelah berlari mendekati orang-orang ini, kita melihat bahwa yang seorang memakai seragam penjaga hutan. Ia berdiri di sana dengan keadaan sehat sekali dan hidup, sedangkan yang seorang lainnya tergeletak di tanah, mati. Sekarang, yang mana di antara kedua orang ini yang akan kita tanyai jalan keluar hutan itu. Tentu, kepada orang yang masih hidup itu.
Jika hal itu diterapkan pada hal-hal yang kekal, kita tentunya akan menanyakan oknum yang hidup mengenai jalan keluar dari keadaan berbahaya yang kita hadapi sekarang ini. Yesuslah satu-satunya yang bangkit kembali dari kematian. Hal ini membuktikan kebenaran pernyataan-Nya (Roma 1:4), Dialah Anak Allah yang tunggal dan jalan yang satu-satunya bagi manusia untuk mempunyai suatu hubungan pribadi dengan Allah yang benar dan hidup.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan |
| Kode Referensi | : | SYK-R04c |
Referensi SYK-04c diambil dari:
| Judul Buku | : | Yesus Kristus Allah, Manusia Sejati |
| Pengarang | : | Chris Maruntika, Th.D. |
| Penerbit | : | PASTI dan YAKIN, Surabaya, 1983 |
| Halaman | : | 11 - 15 |
Sejarah membuktikan bahwa banyak orang Kristen yang mula-mula mati syahid karena teguh berpegang pada keyakinan mereka bahwa Yesus itu Tuhan. Mereka memilih terpaku di salib ataupun terbakar di tiang gantungan, sebagai obor di taman kaisar Romawi, daripada menyangkal Yesus, yang mereka lihat dengan mata jasmani dan mata rohani, adalah Tuhan. Bahkan bagi mereka, ciri utama seorang beriman ialah apabila orang itu mengaku bahwa Yesus itu Tuhan (Roma 10:9), karena ini berarti bahwa Roh Kudus telah berdiam dan mematrikan keyakinan itu di hatinya (1 Korintus 8:5-6). Azas ini juga menjadi tema utama ajaran dan pemberitaan mereka.
Hal ini terlihat jelas dalam pemberitaan Yohanes dan Paulus. Tentang hal ini Prof. L. Berkhof berkata,
Berdasarkan hasil penelitian sangatlah mustahil menyangkal bahwa Yohanes dan Paulus mengajar tentang ke-Tuhanan Kristus. Di dalam Injil Yohanes pandangan tentang kemuliaan Kristus terlihat dalam nats-nats berikut: Yohanes 1:1-3,14,18; 2:24,25; 3:16-18,35,36; 4:14-15; 5:18, 20-22,25-27; 11:41-44; 20:28; 1 Yohanes 1:3: 2:23; 4:14-15; 5:5,10- 13, 20. Pikiran-pikiran yang surra terdapat dalam surat-surat Paulus dan surat Ibrani, yaitu Roma 1:7; 9:5; 1 Korintus 1:1-3; 2:8; 11 Korintus 5:10; Galatia 2:20; 4:4; Filipi 2:6; Kolose 2:9;1 Timotius 3:16; Ibrani 1:1-3,5,8; dan sebagainya.
Istilah Tuhan berasal dari kata bahasa Yunani, "Kyrios." Dalam pemakaian sehari-hari pada masa Yesus hidup di dunia ini, istilah ini bisa berarti "bapak yang kekasih," "guru yang tercinta," "majikan yang terhormat," "raja yang berkuasa," dan "Tuhan yang di sembah." Kenyataannya ialah bahwa ada terkandung di dalam istilah "Kyrios," anti umum dan arti khusus. Arti umum yang bisa digunakan bagi manusia dan Tuhan, mengandung makna kasih dan penghargaan. Arti khusus yang hanya digunakan bagi Tuhan, mengandung mhkna penyembahan.
Di dalam Perjanjian Lama kata Tuhan dipakai bagi Allah dengan pengertian penguasa Yang Maha Tinggi. William Childs Robinson menandaskan hal itu dengan menyatakan,
Sebagaimana diterapkan kepada Allah dalam Perjanjian Lama, Tuhan mengandung pengertian penggunaan secara aktif kuasa-Nya atas dunia dan dan manusia, sebagai Pencipta dan Penguasa, Pemberi hidup dan mati. Jadi Tuhan adalah suatu istilah yang menyatakan bukannya sifat metaphisik dari keilahian melainkan kuasa tertinggi dari Yang Maha Tipggi."
Istilah "Kyrios," yang artinya Tuhan digunakan di dalam Septuaginta (Firman Allah Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) untuk menggantikan kata Yahweh yaitu Allah. Ini berarti bahwa di masa sebelum Perjanjian Baru dunia mengenal Allah dengan panggilan Tuhan. Suatu persiapan yang diadakan Allah sendiri untuk memperkenalkan diri-Nya yang kelak menjelma dalam ujud berlembaga, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Allah dipanggil Tuhan (Kyrios) tidak kurang dari 150 kali dalam Perjanjian Baru. Di kala Yesus lahir dikatakan bahwa kemuliaan Tuhan bersinar meliputi gembala-gembala (Lukas 2:9). Waktu Ia mengajar Ia membaca dari buku Yesaya yang mengatakan bahwa "Roh Tuhan ada pada-Ku." Yang dimaksud dengan Tuhan dalam kedua ayat di atas ialah Allah Bapa. Istilah yang sama digunakan juga bagi Yesus Kristus. Bagi orang Kristen yang mula-mula Yesus adalah Tuhan yang juga Allah adanya.
Istilah Tuhan (Kyrios) yang dikenakan kepada Yesus Kristus ternyata melibatkan arti umum dan arti khusus. Ia dikasihi, dihormati, maupun disembah sebagai Guru dan Tuhan oleh murid-murid-Nya. Panggilan Tuhan yang digunakan oleh wanita Samaria di dalam Yohanes 4:19, sesudah terjadi dialog dengan Kristus, menunjukkan penghargaan wanita itu setelah menyadari, bahwa Yesus mengetahui rahasia hidupnya. Di pihak lain, Petrus yang sesudah bergaul lama dengan Yesus Kristus dan menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya mengakui dengan rasa penyembahan yang dalam, bahwa ialah Tuhan Yang Kudus tempat bergantung satu-satunya dan yang menaruh perkataan hidup yang kekal (Yohanes 6:68-69). Kedua pemakaian, umum dan khusus, umumnya muncul sebelum kebangkitan Yesus Kristus. Sesudah kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, pada umumnya Ia dipanggil Tuhan hanya dalam pengertian khusus, yaitu sebagai Allah yang disembah.
Apabila nats-nats Firman Allah diteliti secara seksama, maka dapatlah ditarik kesimpulan hahwa pemakaian istilah Tuhan bagi Yesus Kristus mengandung enam pengertian. Pengertian pertama berhubungan dengan kemesiasan-Nya. Ia disebut Tuhan yang berarti mesias yang dijanjikan. Hal ini dikumandangkan oleh malaikat-malaikat di kala Ia baru menjelma ke dalam dunia. Mereka berkata, "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Lukas 2:11). Ungkapan bahasa Yunani dalam ayat ini ialah "ho estin Kristos Kyrios." "Kristos" dan "Kyrios" berada dalam bentuk nominatif yang berarti keduanya sama dan setara. Jadi tidak mungkin diterjemahkan, "Kristus yang berasal dari Tuhan" ataupun "Kristus milik Tuhan," karena "Kyrios" tidak dalam bentuk genetiva (kepunyaan atau asul) Pengertian yang tepat ialah bahwa "Kristus yang adalah Tuhan" atau "Kristus Tuhan itu." Ayat ini dan ayat-ayat lainnya (seperti Kisah Para Rasul 2:36) menegaskan bahwa Tuhan yang nama kemanusiaan-Nya Yesus adalah mesias yang dijanjikan itu sendiri.
Pengertian kedua berhubungan dengan jabatan-Nya sebagai Juruselamat penghapus dosa. Alkitab Perjanjian Baru menandaskan kepada orang-orang yang percaya kepada Kristus, bahwa mereka, "akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (2 Petrus 1:11). Orang-orang beriman jugag didorong agar "bertambah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18). Pemakaian Tuhan bagi Yesus Kristus di sini dikaitkan dengan jabatan-Nya sebagai Penyelamat manusia dari dosa dan hukuman karena dosa. (Sebagai bahan perbandingan tentang perbuatan Yesus Kristus mengampuni dosa dapat dilihat dalam Matius 9:l-8; Markus 2:1-12; Lukas 5:17-26.)
Pengertian ketiga berhubungan dengan kesatuan-Nya dengan Allah Perjanjian Lama. Alkitab berulang-kali menekankan bahwa Allah adalah Penyelamat manusia. Di dalam Perjanjian Lama misalnya dinyatakan bahwa Allah Israel adalah Juruselamat (Yesaya 45:15,21; Ulangan 32:15; 1 Samuel 10:19, dan lain-lain). Bahkan di dalam Perjanjian Baru tak kurang dari delapan kali Allah dipanggil sebagai Juruselamat (Lukas 1:47; 1 Timotius 1:1; 2:3; 4:10; Titus 1:3; 2:3; 2:10. Yehuda 25.) Ternyata Alkitab menyatakan secara jelas, bahwa Tuhan Allah yang adalah Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Ternyata Firman Allah menunjukkan secara pasti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, adalah Allah, dan juga Juruselamat manusia.
Pengertian keempat yang terkandung dalam nama Tuhan bagi Yesus Kristus ialah berkenaan dengan kuasa-Nya. Ia penguasa waktu dan tidak dibatasi oleh waktu (Yohanes 1:1; Yesaya 9:5), termasuk juga hari Sabat (Markus 2.20). Ia penguasa yang memerintah segala yang hidup di dunia yang diciptakan-Nya itu. Pernyataan di bawah ini mempertegas kebenaran tersebut.
Matius 9:6 = "berkuasa mengampuni dosa. " Suatu demonstrasi kuasa Tuhan yang meliputi sekaligus penyembuhan dari kelumpuhan rohani (dosa) di samping penyembuhan dari kelumpuhan jasmani (ayat 7,8). Kedua perkara ini yang diselesaikan dengan beberapa patah kata saja merupakan demonstrasi kuasa-Nya. Ia memang melakukan perbuatan yang hanya Allah bisa melakukannya. Ia berkuasa atas dosa dan penyakit. Ia bahkan berkuasa atas maut. Maut memang tunduk pada perintah-Nya (Lukas 7:14-15; 8:54-55; Yohanes 5:25). Ia juga berkuasa atas iblis-iblis yang ternyata tunduk pada perintah-perintah-Nya (Matius 8:16; Lukas 4:35-36,41). Ia berkuasa atas alam semesta (Matius 8:26-27). Bahkan Ia lebih berkuasa dari segala penguasa yang mana pun (Efesus 1:20-23)6
Pengertian kelima dari nama Tuhan bagi Yesus Kristus ialah pribadi yang disembah. Hal ini terlihat di dalam upacara penyembahan (kebaktian) dan upacara Perjamuan Tuhan. Di saat kebaktian dan pemujaan, Yesus disembah sebagai satu-satunya Tuhan (1 Korintus 8:5- 6). Ia juga menjadi pusat perhatian dalam Perjamuan Suci, yang dalam Alkitab disebut Perjamuan Tuhan (1 Korintus 10:21). Bahkan permintaan doa agar terlepas dari kesukaran hidup dialamatkan kepada-Nya. Bahkan pujian dan syukur jemaat yang mula-mula di Efesus memuji Tuhan Yesus Kristus dengan segenap hati (Efesus 5:19-20). Jelaslah bahwa bagi orang-orang Kristen yang mula-mula, Yesus Kristus adalah Tuhan yang kepada-Nya, pujian, dan permohonan doa dipanjatkan.
Pengertian keenam tentang pemakaian titel Tuhan oleh Yesus Kristus menunjukkan kepada fungsinya sebagai Hakim dan Raja dikala Ia kembali yang kedua kali ke bumi di penghulung sejarah dunia. Ialah Tuhan yang akan datang dengan kuasa dan kemenangan. (Wahyu 19:1-6). Kedatangan- Nya itulah yang merupakan pengharapan yang dinantikan oleh orang-orang beriman (1 Tesalonika 2:19; 3:13; 1 Korintus 1:7-8; 2 Korintus 1:14). Ini dan masih banyak lagi ayat-ayat Kitab Suci yang merupakan pernyataan-pernyataan khusus yang membuktikan, bahwa titel Tuhan bagi Yesus merupakan titel eskatologi. Ialah Tuhan yang akan datang untuk mengadakan perhitungan terakhir dengan seluruh ciptaan-Nya.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus Memiliki Semua Kuasa dan Penakluk Kematian |
| Kode Referensi | : | SYK-R05a |
Referensi SYK-05a diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002 |
| Halaman | : | 181 - 184 |
Kita masih ingat bahwa menurut pandangan Gnostik karya penciptaan dikerjakan oleh suatu allah yang lebih rendah, yang tidak mengenal dan yang memusuhi Allah sejati. Ajaran Paulus yaitu bahwa perantara Allah dalam penciptaan adalah Anak-Nya dan dalam perikop ini ia memberikan empat hal mengenai Anak yang berkaitan dengan penciptaan.
Jadi, Sang Anak adalah awal penciptaan, dan akhir penciptaan dan Dialah pula kuasa yang memegang seluruh ciptaan, Sang Khalik, Pemelihara dan Tujuan Akhir dunia ini.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a |
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus Memiliki Semua Kuasa dan Penakluk Kematian |
| Kode Referensi | : | SYK-R05b |
Referensi SYK-05b diambil dari:
| Judul Buku | : | Memahami Perjanjian Baru |
| Pengarang | : | John Drane |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001 |
| Halaman | : | 111 - 121 |
Semua penulis Perjanjian Baru sependapat bahwa Yesus dibangkitkan pada hari ketiga setelah kematian-Nya. Reaksi kita terhadap pernyataan ini sebagian besar tentu tergantung pada keyakinan dasar kita tentang hal- hal yang supernatural. Kalau kita tidak percaya bahwa seorang yang sudah mati itu dapat dipulihkan kembali, kita harus mencari penjelasan lain tentang apa yang orang-orang Kristen pertama yakini sebagai kebangkitan Yesus. Kalau kita bersedia menerima kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa supernatural, kita akan merasa ada manfaatnya untuk memeriksa secara kritis beberapa pernyataan Perjanjian Baru.
Dalam buku ini pernyataan dalam naskah-naskah Perjanjian Baru diterima sebagaimana adanya dan hal-hal supernatural diyakini bisa saja terjadi. Hal ini tentu tidak berarti bahwa segala sesuatu yang dinyatakan mengenai Yesus dapat diterima begitu saja berdasarkan keyakinan-keyakinan dasar tadi. Sebaliknya itu berarti bahwa bahan bukti yang ada dapat diperiksa tanpa rasa takut bahwa kita akan merasa malu dengan hasil-hasil penelitian kita - apa pun bentuk hasil-hasil tersebut.
Hal yang paling mencolok mengenai kebangkitan ialah orang-orang Kristen pertama yakin sepenuhnya akan peristiwa kebangkitan serta rangkaian peristiwa-peristiwanya. Menurut keyakinan mereka, kebangkitan merupakan suatu kejadian yang nyata dan historis, yang telah terjadi di dalam dunia mereka sendiri dan yang telah memberi dampak yang luar biasa terhadap hidup mereka. Kita telah melihat bahwa tidak mudah menentukan seberapa luas tersebar kepercayaan akan kelahiran Yesus dari seorang perawan. Kita tidak tahu, umpamanya, seberapa jauh pengetahuan Paulus mengenai hal tersebut. Tetapi kita tahu, Paulus dan siapa pun juga tidak pernah menyatakan bahwa kepercayaan akan kelahiran dari seorang perawan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang Kristen.
Tetapi kebangkitan merupakan hal yang lain sama sekali. Paulus berbicara untuk seluruh jemaat mula-mula ketika ia menyatakan bahwa jika realitas kebangkitan Yesus itu disangkal, maka iman Kristen akan menjadi hampa tanpa makna: "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam doiamu" (1Kor. 15:17). Oleh karena keyakinannya itu, dalam nats yang sama Paulus selanjutnya menyebutkan saksi-saksi yang dapat memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus. Jelas ia menganggap peristiwa kebangkitan sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan oleh saksi-saksi - suatu peristiwa umum secara lahiriah dan bukan suatu pengalaman religius secara pribadi. Namun sangat menyolok bahwa Perjanjian Baru sama sekali tidak menyebut adanya saksi-saksi atas peristiwa kebangkitan- Nya sendiri, tetapi hanya memberitakan hasil-hasil peristiwa itu, yakni penampakan-penampakan Yesus yang bangkit, serta kenyataan kubur yang kosong.
Bukti paling tua yang kita miliki tentang kebangkitan berasal dari saat-saat segera setelah peristiwa kebangkitan tersebut terjadi. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam khotbah-khotbah di Kisah Para Rasul. Tentu Kisah Para Rasul disusun dalam bentuknya yang kita kenal sekarang, sekurang-kurangnya tiga puluh tahun setelah kematian Yesus dan mungkin malahan lima puluh tahun sesudahnya. Tetapi tidak diragukan bahwa dalam pasal-pasal pertama, penulis Kisah Para Rasul memakai bahan-bahan dari sumber-sumber yang sangat tua.
Para ahli telah menemukan bahwa bahasa yang dipakai mengenai Yesus dalam khotbah-khotbah Kisah Para Rasul ini sangat berbeda dengan bahasa yang dipakai ketika kitab itu disusun dalam bentuknya yang terakhir. Khotbah-khotbah tersebut juga sangat berbeda dengan surat- surat Paulus, yang pasti ditulis jauh sebelum Kisah Para Rasul. Jadi kita dapat yakin bahwa khotbah-khotbah tersebut berasal dari sumber-sumber yang sangat tua.
Khotbah-khotbah tersebut mencerminkan kekristenan yang masih bersifat Yahudi dengan seperangkat kepercayaan tentang Yesus yang diungkapkan secara sederhana. Di dalamnya terdapat suatu gambaran yang pada umumnya cukup teliti mengenai apa yang benar-benar terjadi pada masa permulaan jemaat. Menurut gambaran ini, inti berita jemaat mula-mula adalah cerita mengenai Yesus sendiri, yakni kedatangan-Nya untuk memenuhi janji-janji Allah, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya. Pemberitaan orang-orang Kristen pertama itu begitu konsisten sehingga Profesor C. H. Dodd berhasil menemukan suatu pola yang teratur dalam pernyataan-pernyataan mengenai Yesus sejak awal sekali. Ia menyebut pola pernyataan-pernyataan ini kerugma, sebuah kata Yunani yang berarti "pemberitaan". Setiap kisah asli mengenai pemberitaan Kristen mengandung pernyataan-pernyataan seperti berikut:
Kalau kita menghilangkan kebangkitan dari kerugma, isi pemberitaan lainnya tidak bermakna lagi. Seluruh keberadaan jemaat mula-mula didasarkan atas keyakinan bahwa Yesus sudah hidup kembali.
Dari surat-surat Paulus dan Kisah Para Rasul kelihatan syarat bagi seorang rasul ialah bahwa ia telah melihat Yesus yang bangkit itu. Hal ini dijadikan syarat secara eksplisit ketika para rasul berkumpul guna memilih seorang pengganti Yudas Iskariot (Kis. 1:21-22) Paulus juga menyatakan bahwa penglihatannya sendiri di jalan menuju Damsyik - ketika ia melihat Yesus - memberi kepadanya status yang sama seperti para rasul yang lebih dulu (Gal. 1:11-17).
Bahan bukti utama yang kedua tentang kebangkitan Yesus diberikan oleh Paulus sendiri. Pentingnya keterangan dalam Kisah Para Rasul dapat diperdebatkan namun tidak demikian halnya dengan keterangan yang disampaikan Paulus (1 Kor. 15) Ia pasti menulis suratnya itu tidak lebih dari dua puluh lima tahun setelah Yesus disalibkan. Pernyataan- pernyataannya jelas merupakan keterangan paling tua tentang kepercayaan akan kebangkitan Yesus. Kalau kita membaca 1 Korintus 15 dan melihat konteksnya, kita menemukan bahwa tujuan utama Paulus bukanlah untuk memberikan argumen yang beralasan agar orang dapat percaya mengenai kebangkitan Yesus. Sebenarnya ia berusaha membantu pembaca-pembacanya untuk mengatasi masalah-masalah tertentu yang timbul dalam jemaat setempat. Informasi yang diberikannya tentang kebangkitan Yesus dari antara orang mati seakan-akan disampaikan secara kebetulan. Hal ini lebih mengesankan lagi karena ia mengingatkan orang-orang Korintus bahwa apa yang disampaikannya sudah lama diketahui mereka. Walaupun hanya dengan beberapa kalimat saja, ia memperlihatkan bahwa pada waktu yang sangat awal orang-orang Kristen - termasuk yang berada di Yunani - sudah mengenal dengan baik seluruh kisah tentang kematian dan kebangkitan Yesus.
Dalam cerita itu Paulus menyebut sebuah peristiwa ketika Yesus yang bangkit dilihat oleh lebih dari lima ratus orang murid sekaligus, dan kebanyakan dari mereka masih hidup ketika ia menulis suratnya dan mereka dapat membenarkan apa yang dikatakannya (1Kor. 15:6). Selain itu, ia juga menyebut tentang penampakan kepada Yakobus, saudara Yesus. Menurut Paulus pertobatannya sendiri merupakan akibat perjumpaannya dengan Tuhan yang bangkit (1Kor. 15:7-8). Kitab-kitab Injil sendiri tidak memberitakan penampakan-penampakan Yesus tersebut. Padahal kitab-kitab itu mungkin sekali ditulis setelah surat Paulus kepada jemaat Korintus. Fakta kebangkitan Yesus rupanya dipercaya begitu luas, sehingga para penulis kitab-kitab Injil tidak merasa perlu mengumpulkan seluruh bahan bukti untuk itu. Sama seperti cerita- cerita lainnya, mereka hanya memilih sebagian kecil bahan yang tersedia bagi mereka.
Kalau kita berbicara tentang kebangkitan, tentunya kita mula-mula memperhatikan kisah-kisah yang terdapat pada bagian akhir keempat kitab Injil. Ada sifat-sifat khas mengenai kisah-kisah itu.
Semua kisah itu menekankan dua fakta utama:
Kedua bahan bukti itu penting. Fakta kubur yang kosong saja tidak membuktikan apa-apa kecuali bahwa mayat Yesus tidak ada di situ. Dan tanpa kubur yang kosong, penglihatan-penglihatan itu tidak membuktikan sesuatu yang objektif, walaupun dapat memberi keterangan mengenai keadaan jiwa para murid. Tetapi gabungan kedua fakta tersebut, kalau kedua-duanya memang benar, merupakan bahan bukti kuat yang mendukung pernyataan bahwa Yesus hidup.
Kalau kita membaca seluruh kitab-kitab Injil, ternyata kisah-kisah tentang kebangkitan Yesus diceritakan dengan sangat sederhana dibandingkan dengan banyak cerita lain mengenai Dia. Tidak ada simbolisme yang memerlukan pengetahuan khusus untuk dapat mengertinya. Tidak ada kutipan dari Perjanjian Lama. Juga tidak ada usaha untuk mengutarakan makna teologis peristiwa-peristiwa yang dikisahkan itu. Dibandingkan dengan kisah-kisah tentang pembaptisan Yesus, misalnya, kisah-kisah tentang kebangkitan-Nya sangat berbeda.
Bahan bukti keempat yang mendukung terjadinya peristiwa kebangkitan adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri mengenai keadaan para murid setelah kematian Yesus. Setelah guru mereka disalibkan mestinya mereka merasa tertekan dan tanpa harapan. Namun, ternyata dalam jangka waktu tujuh minggu mereka diubah menjadi saksi-saksi yang berani dan kelompok sebuah jemaat yang terus-menerus bertumbuh. Pokok utama kesaksian mereka adalah bahwa Yesus hidup dan tetap berkarya. Mereka tidak ragu-ragu menyatakan bahwa perubahan dalam hidup mereka terjadi sebagai akibat kebangkitan-Nya. Jelaslah, mereka yakin bahwa kebangkitan itu benar-benar telah terjadi. Sebab kebangkitan tersebut bukan hanya sesuatu yang mereka bicarakan. Mereka bahkan rela mati untuk itu. Orang tidak bersedia mati untuk sesuatu kecuali kalau mereka yakin sepenuhnya tentang kebenarannya.
Jadi demikianlah diskusi tentang bukti untuk kebangkitan Yesus. Bagaimana kita mesti menanggapinya? Untuk memahami pentingnya peristiwa itu, kita harus mengingat tiga hal.
Pertama, tidak ada bukti bahwa Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada orang lain kecuali kepada pengikut-pengikut-Nya sendiri, walaupun mungkin saja Ia berbuat demikian. Para penulis Injil menulis untuk kalangan pembaca tertentu. Masing-masing mereka menulis untuk para pembaca yang adalah orang Kristen. Yang pertama-tama mereka perhatikan ialah apa yang terjadi bila orang-orang Kristen bertemu dengan Tuhan yang sudah bangkit itu.
Kedua, keterangan tentang seseorang yang masuk dan keluar dari sebuah ruangan dengan pintu terkunci, jelas bukanlah sesuatu yang biasanya dipelajari oleh ahli-ahli sejarah. Kebenaran peristiwa seperti itu tidak dapat ditentukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang lazim mengenai bahan bukti.
Ketiga, Maria Magdalena, dua orang murid di jalan ke Emaus dan murid- murid di perahu di Danau Galilea tidak mengenali Yesus yang bangkit, walaupun sudah lama mengenal-Nya, bahkan masih melihat-Nya hanya beberapa hari sebelumnya. Kenyataan itu memberi kesan bahwa penampilan fisik-Nya telah berubah sehingga membingungkan bagi saksi mata dalam memberikan keterangan.
Jadi apa yang merupakan basil penelitian kita terhadap bahan bukti tentang kebangkitan? Yang pasti jemaat mula-mula percaya Yesus telah hidup kembali. Para murid dan Pengikut-pengikut mereka tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang mengubah kehidupan mereka setelah penyaliban guru mereka. Mereka menjelaskan perubahan itu disebabkan oleh kebangkitan-Nya. Tiap pembaca Perjanjian Baru harus menerima hal itu, karena fakta perubahan dalam kehidupan para murid telah terbukti dan tidak bisa diragukan lagi. Tetapi berbicara tentang "iman kebangkitan" tidak sama dengan berbicara tentang "fakta kebangkitan". Hubungan antara fakta-fakta dan iman dibahas secara lebih terinci di bawah (pasal 12). Di sini kita hanya dapat catat bahwa pasti ada sesuatu yang dapat kita sebut sebagai "fakta kebangkitan" yang menyulut iman kebangkitan" para murid. Tetapi apa fakta itu? Ada beberapa kemungkinan yang dapat diberikan.
Apakah "fakta kebangkitan" merupakan pengalaman subjektif? Salah satu reaksi yang wajar terhadap cerita-cerita tentang kebangkitan adalah menganggap apa yang disebut "penampakan-penampakan kebangkitan" sebagai pengalaman yang subyektif belaka. Orang-orang saleh dapat menyebutnya penglihatan, sedangkan para ahli jiwa mungkin menamakannya halusinasi. Kalau kita dapat berasumsi bahwa memang itu yang terjadi, maka masalahnya sudah terpecahkan. Tetapi ada banyak fakta yang menentang penjelasan seperti itu.
Apakah "fakta kebangkitan" merupakan karangan teologis? Ada yang berpendapat "iman kebangkitan" muncul karena para murid memerlukan suatu alasan teologis untuk keyakinan mereka. Karena mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus Allah, maka wajarlah orang yang menyatakan diri-Nya sebagai Mesias itu bangkit dari antara orang mati. Tetapi penjelasan ini pun tidak dapat diterima. Ada beberapa alasan untuk keberatan ini.
Pertama, kita tidak mempunyai bahan dari sumber mana pun yang menyebutkan bahwa Sang Mesias diharapkan bangkit dari antara orang mati. Orang-orang Yahudi justru berharap Mesias akan membunuh orang- orang lain! Kalau Ia menderita dan malahan mati, maka Ia bukanlah Mesias yang ingin dikenal oleh kebanyakan orang Yahudi.
Kedua, Perjanjian Lama menunjukkan sikap yang sangat negatif terhadap gagasan kebangkitan, dan banyak orang Yahudi menganggap hal itu tidak mungkin. Para murid sendiri kelihatannya tidak mengerti hal itu semasa pelayanan Yesus (Mrk. 9:9-10).
Ketiga, sulit untuk memahami bagaimana gagasan kebangkitan dapat timbul dari penafsiran pengharapan-pengharapan Perjanjian Lama, sebab kisah-kisah kebangkitan sama sekali tidak ada dalam kutipan-kutipan Perjanjian Lama. Dalam hal ini terdapat perbedaan besar dengan kisah- kisah penyaliban, yang penuh dengan kutipan-kutipan seperti itu.
Masih banyak saran aneh yang lain dikemukakan dari waktu ke waktu untuk berusaha menjelaskan "fakta kebangkitan". Tetapi seluruh bahan bukti yang besar jumlahnya itu menunjukkan bahwa "fakta kebangkitan" merupakan peristiwa historis yang benar-benar terjadi. Walaupun hal itu sulit dijelaksan secara ilmiah, tidak ada hipotesis lain yang lebih sesuai dengan seluruh bahan bukti yang ada.
Kalau kita berusaha menjelaskan "fakta kebangkitan" secara ilmiah, berarti membicarakan sesuatu yang di luar pola pemikiran para murid yang pertama. Tentulah para murid sendiri tidak merasa perlu mempelajari bahan bukti tentang "fakta kebangkitan". Mereka tahu, kebangkitan itu merupakan fakta nyata oleh karena pengalaman mereka sendiri. Mereka bertemu dengan Yesus yang bangkit dan melihat bukti kubur yang kosong. Jadi tidak digumbarkan bagi kita dalam tulisan mana pun bagaimana sebenarnya kebangkitan itu berlangsung. Beberapa orang Kristen pada abad ke-2 M menganggap hal ini sebagai sesuatu yang kurang dalam Perjanjian Baru. Para penulis Perjanjian Baru seharusnya menceritakan kisah menarik tentang bagaimana rupa tubuh Yesus, bagaimana Ia keluar darii kubur dan bagaimana peristiwa itu mempengaruhi orang-orang yang menyaksikannya.
Tetapi bagi saksi-saksi pertama, rincian seperti itu bukanlah fokus perhatian utama. Bagi mereka, kebangkitan bukan hanya penutup yang menggembirakan dari kisah Yesus. Kebangkitan merupakan puncak yang wajar dari seluruh kehidupan-Nya dan membenarkan apa yang dikatakan- Nya tentang diri-Nya sendiri selama masa pelayanan-Nya. Peristiwa itu juga merupakan jaminan bahwa kehidupan dan ajaran Yesus bukanlah hanya suatu bagian menarik dalam sejarah pemikiran manusia, melainkan merupakan jalan bagi manusia untuk mengenal Allah. Itu sebabnya fakta tentang kebangkitan Yesus menjadi bagian sentral pemberitaan para murid yang disampaikan di seluruh dunia pada waktu itu.
Tetapi mengapa hal itu begitu penting? Mengapa Paulus menyatakan, tanpa kebangkitan Yesus seluruh pemberitaan Kristen itu sia-sia saja?
Pertanyaan ini sebaiknya dijawab dengan merumuskannya secara lain. Daripada bertanya apa ruginya kalau dapat dibuktikan kebangkitan itu tidak benar, kita harus bertanya apa pengaruh positif kebangkitan Yesus dalam kepercayaan orang-orang Kristen yang pertama. Kalau kita mengajukan pertanyaan ini, kita menemukan tiga hal yang dikemukakan tentang makna kebangkitan dalam Perjanjian Baru.
Pertama, melalui kebangkitan, pernyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai Anak Allah terbukti benar. Petrus berkata pada hari Pentakosta bahwa kebangkitan merupakan bukti jelas, "Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus" (Kis. 2:36). Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa Yesus "dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati . . . adalah Anak Allah yang berkuasa" (Rm. 1:4). Walaupun Yesus tanpa dosa, walaupun Dia menunjukkan wibawa-Nya dalam pengajaran dan perbuatan-Nya, walaupun Dia melakukan mujizat-mujizat-Nya, serta secara gamblang menyatakan peran utama dalam rencana Allah, kalau bukan karena kebangkitan-Nya, Ia hanya akan dianggap sebagai tokoh yang besar dan baik. Tetapi setelah Ia bangkit dari kubur, pengikut-pengikut-Nya tahu dengan pasti bahwa apa yang dikatakan-Nya tentang diri-Nya memang benar. Mereka sekarang dapat melihat dan menghargai seluruh kehidupan-Nya di bumi dengan cara yang baru dan lebih lengkap, sebagai kehidupan Allah sendiri yang hidup di antara manusia.
Kedua, kebangkitan lebih dari sekadar pengertian baru tentang Yesus yang disalibkan. Di seluruh Perjanjian Baru ditekankan, teristimewa oleh Paulus, bahwa kebangkitan Yesus - sama seperti kematian-Nya - merupakan bagian yang tak terpisahkan dari karya Allah dalam membentuk umat baru.
Orang Kristen mula-mula hidup seperti kebanyakan orang pada umumnya dan mereka tidak bercita-cita menjadi teolog. Apa yang mereka kehendaki adalah sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mendambakan hubungan pribadi dengan Allah yang akan mengubah seluruh keberadaan mereka. Mereka ingin didamaikan dengan Allah dan dilepaskan dari sikap mementingkan diri sendiri agar mereka dapat hidup lebih baik. Mereka menyadari, mereka tidak dapat mencapainya dengan mengikuti peraturan-peraturan agama atau melalui usaha-usaha sendiri. Satu-satunya hal yang dapat benar-benar mengubah kepribadian manusia adalah pusat baru dan kuasa hidup yang baru.
Paulus menemukan kuasa hidup baru ini di dalam Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati, hidup di dalam dunia nyata, dan hidup dalam kehidupan Paulus sendiri. Kenyataan ini begitu mencolok dalam kehidupannya sehari-hari sehingga Paulus dapat berkata, "Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal. 2:20). Ucapan Paulus itu berarti bahwa: Yesus hidup dalam dirinya, sehingga seluk-beluk kehidupannya diatur oleh Tuhannya yang hidup.
Untuk mengungkapkan apa yang dimaksudkannya, Paulus memakai kiasan. Ia membandingkan baptisan orang Kristen dengan kematian serta kebangkitan Yesus. Ia mengatakan, sebagaimana orang Kristen diliputi air pada waktu baptisan dan kemudian keluar dari air, begitulah juga yang harus terjadi terhadap diri mereka secara batiniah dan rohani. Dicelup dalam air adalah seperti dikuburkan (sebagaimana yang terjadi pada Yesus); keluar dari air adalah seperti bangkit kembali. Yang Paulus maksudkan dialah seseorang yang menjadi Kristen mula-mula harus bersedia "mati", agar terlepas dari keberadaannya yang lama yang mementingkan diri sendiri. Kemudian mereka dapat "dibangkitkan" kembali dan menerima keberadaan yang baru, hidup Yesus Kristus sendiri yang hidup dalam diri mereka (Rm. 6:1-11).
Jadi kebangkitan Yesus sangat penting. Seandainya Yesus hanya mati di atas kayu salib, apa yang dikatakan para teolog tentang Dia bisa saja benar. Misalnya saja, Ia dapat mati sebagai hukuman dosa, atau untuk membayar tebusan bagi kebebasan kita. Tetapi, penderitaan-Nya tidak akan mempunyai kuasa untuk mengubah hidup kita. Paulus sangat yakin tanpa kebangkitan, salib tidak akan lebih daripada sekadar satu pokok diskusi teologis yang menarik. Kebangkitan-Nya tidak akan membawa manfaat yang langgeng dalam kehidupan orang biasa. Tetapi oleh sebab kebangkitan, Paulus menemukan hidup yang baru: "Bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21). Ia yakin, hal itu akan menjadi pengalaman setiap orang yang menjadi Kristen: Yesus Kristus benar-benar hidup di dalam orang-orang yang menyerahkan diri mereka kepada-Nya.
Ketiga, kebangkitan Yesus mempunyai implikasi bagi setiap orang yang sudah memiliki hidup Kristus di dalam dirinya. Yesus mengajarkan bahwa pengikut-pengikut-Nya akan menerima "hidup kekal" (Yoh. 3:15; 4:14; 17:3). "Hidup kekal" ini meliputi dua hal. Di satu pihak istilah tersebut berarti orang Kristen menikmati hidup baru, yakni hidup dari Allah. Demikian juga Paulus menulis tentang pengalaman hidupnya sebagai pengalaman dengan Kristus yang hidup di dalam dirinya sendiri.
Tetapi memiliki hidup baru dari Allah tidak hanya berarti orang-orang Kristen mempunyai suatu dinamika baru bagi kehidupan di dunia ini. Itu juga berarti orang-orang Kristen memiliki hidup yang abadi. Ajaran Yesus ini ditekankan oleh Paulus waktu ia menulis bahwa Yesus yang bangkit itu adalah "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggap" (1Kor. 15:20). Maksudnya, kebangkitan Yesus adalah jaminan dan janji kepada pengikut-pengikut-Nya mengenai hidup abadi setelah kematian. Orang yang mengambil bagian dalam penderitaan dan kebangkitan Kristus secara rohani, diberi jaminan akan kehidupan setelah kematian yang dikuasai oleh kehadiran Allah, sama seperti dalam hidup mereka saat ini juga. Tetapi hidup itu juga sama sekali berbeda dan baru, sebab orang Kristen berharap akan mengambil bagian dalam realitas hidup yang sekarang dimiliki Yesus. Dalam kehidupan itu maut dan dosa dikalahkan untuk selama-lamanya dan diganti dengan kemenangan yang diberikan Allah "oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (1Kor. 15:57).
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang |
| Kode Referensi | : | SYK-R06a |
Referensi SYK-06a diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1998 |
| Halaman | : | 294 - 296 |
Pemberitaan Yesus tentang Kerajaan memakai kata Yohanes, tapi sifatnya lebih luas. Yohanes memperhatikan penampilan Yesus beberapa lama, kemudian mulai ragu-ragu apakah Yesus betul-betul yang akan datang yang diberitakannya (Mat. 11:2,3). Pemberitaan Kerajaan oleh Yesus berbeda dengan pemberitaan Yohanes dalam dua hal. Pertama, meskipun pemberitaan tentang penghakiman dan panggilan untuk bertobat tetap ada dan tidak dikurangi maknanya, namun unsur penyelamatan dalam Kerajaan lebih ditekankan. Kedua (inilah inti dari perbedaannya), Yesus memberitakan bahwa Kerajaan bukan hanya dekat tapi sudah ada dalam Pribadi dan pelayanan Yesus sendiri. Yesus tidak banyak berkata langsung bahwa Kerajaan sudah ada (lih. khususnya Mat. 12:28 dan ayat- ayat sejajar), namun seluruh pemberitaan dan pelayanan-Nya diwarnai kenyataan itu. Dalam Dia, masa depan yang mulia telah menjadi "masa kini".
Segi masa kini dari Kerajaan nampak dalam bermacam-macam cara pada Pribadi dan perbuatan Kristus. Dapat kelihatan dalam pengusiran setan (bnd Luk. 11:20) dan umumnya dalam kuasa Yesus untuk membuat mujizat. Dalam penyembuhan orang yang kerasukan setan, jelas bahwa Yesus telah memasuki rumah "orang kuat" untuk mengikatnya erat, dan karena itu siap menyita harta bendanya (Mat. 12:29). Kerajaan Sorga menyerbu ke dalam wilayah si jahat. Kuasa Iblis dipatahkan. Yesus melihatnya jatuh dari sorga seperti kilat. Ia memiliki dan menganugerahkan kuasa untuk menginjak-injak kekuasaan lawan. Tidak ada yang mustahil bagi mereka yang dianugerahi kuasa Yesus untuk pergi ke dalam dunia sebagai saksi Kerajaan (Luk. 10:18 dst). Segenap kegiatan Yesus melakukan mujizat adalah bukti dari kedatangan Kerajaan. Murid-Nya melihat dan mendengar kedatangan zaman keselamatan, yang banyak nabi dan orang saleh rindu untuk melihatnya tapi tidak bisa (Mat. 13:16; Luk. 10:23). Pada saat Yohanes mengutus muridnya untuk bertanya: "Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?" mereka ditunjukkan perbuatan ajaib Yesus yang sesuai dengan janji nubuat yang membuktikan Kerajaan; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar, orang kusta ditahirkan, orang mati dibangkitkan, dan kabar kesukaan diberitakan kepada orang miskin (Mat. 11:2 dst; Luk. 7:18 dst). Dalam hal terakhir ini juga, yaitu pemberitaan Kabar Kesukaan, kelihatan terobosan Kerajaan. Karena keselamatan diumumkan dan ditawarkan sebagai anugerah yang siap diberikan kepada orang miskin di hadapan Allah, orang lapar dan orang berdukacita, maka Kerajaan adalah milik mereka. Demikian juga keampunan dosa diberitakan, bukan kelak terjadi di sorga, bukan kemungkinan masa kini, tapi terjadi hari ini di bumi ini melalui Yesus sendiri: "Anak-Ku, dosa-dosamu telah diampuni; karena Anak Manusia memiliki kuasa di dunia untuk mengampuni dosa-dosa" (lih. Mrk. 2:1-12 dan ayat lain).
Seperti jelas dalam Firman yang penuh kuasa dan yang baru dikutip, semuanya ini didasarkan pada kenyataan bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Kerajaan telah datang dalam Dia dan dengan Dia: Dia-lah auto-basileia (Ia sendiri Kerajaan). Penyataan diri Yesus sebagai Mesias, Anak Manusia dan Hamba Tuhan, adalah rahasia dan sekaligus penjelasan seluruh Injil.
Mustahil untuk menerangkan perkataan Yesus tentang diri-Nya seperti beberapa orang ingin membuatnya, seolah Yesus menganggap diri hanyalah Mesias pada masa datang, Anak Manusia yang akan datang di atas awan kelak. Memang segi keakanan dari Kerajaan adalah unsur hakiki Injil, tapi dalam Injil, Yesus adalah Mesias yang hadir sekarang dan di sini. Itu tidak hanya diproklamasikan pada pembaptisan-Nya dan pada saat Dia dipermuliakan di atas gunung. Dia bukan hanya disebut Dia yang dikasihi dan dipilih Allah (judul terang tentang ke-Mesias-an), tapi juga Roh Kudus turun ke atas-Nya (Mat. 3:16) dan melengkapi-Nya dengan kekuasaan ilahi sepenuhnya (Mat. 21:27). Kitab Injil penuh dengan pernyataan bahwa Ia memiliki kuasa mutlak, Ia diperkenalkan sebagai Dia yang diutus oleh Bapak, Dia datang untuk menggenapi nubuat para nabi. Dalam kedatangan dan ajaran-Nya Alkitab digenapi bagi pendengar- Nya (Luk. 4:21). Ia datang bukan untuk meniadakan tapi untuk menggenapi Taurat (Mat. 5:17 dab), untuk memberitakan Kerajaan (Mrk. 1:38), untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk. 19:10), untuk melayani orang lain, dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:45). Rahasia Kerajaan terletak dalam hati menjadi milik Dia (Mat. 7:23; 25:41). Ringkasnya, Yesus Mesias adalah pusat dari segala berita dalam Kitab Injil tentang Kerajaan, baik segi masa kininya, maupun segi akan datangnya.
Walaupun dalam Kitab Injil jelas bahwa Kerajaan nampak kini dan di sini, ditunjukkan juga bahwa penampakan dalam dunia ini bersifat sementara. Itulah sebabnya pemberitaan kegiatan waktu itu yang terdapat dalam rumusan "Orang buta melihat, orang mati dibangkitkan, kepada orang miskin diberitakan Kabar Baik" diikuti dengan peringatan, "Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku" (Mat. 11:6; Luk. 7:23). "Kekecewaan" itu terletak dalam sifat tersembunyi dari Kerajaan pada masa ini. Mujizat hanyalah tanda dari tatanan lain yang berbeda dari tatanan sekarang. Belum tiba saatnya setan diserahkan pada kegelapan abadi (Mat. 8:29). Injil Kerajaan masih benih yang sedang ditaburkan. Dalam perumpamaan tentang penabur, benih yang tumbuh diam, lalang antara gandum, biji sesawi dan ragi, Yesus mengajar murid-Nya mengenai segi tersembunyi Kerajaan itu. Anak Manusia sendiri, dengan segenap kekuasaan Allah, yang akan datang di atas awan, Dia-lah Penabur benih Firman Allah. Ia digambarkan sebagai Manusia tergantung pada orang lain; burung, semak duri, manusia lain, dapat mengganggu pekerjaan-Nya. Ia harus menunggu untuk melihat hasil dari taburan-Nya. Bahkan rahasia Kerajaan lebih dalam lagi: Raja-nya datang dalam wujud hamba. Burung mempunyai sarangnya, tapi Anak Manusia (Dan. 7:13) tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Supaya dapat menerima segala sesuatu, terlebih dahulu Ia harus menyerahkan segala sesuatu. Menurut gambar Hamba Tuhan yang menderita pada Yesaya 53, Ia harus dihisabkan pada kelompok orang berdosa. Kerajaan telah datang, Kerajaan akan datang. Tapi kedatangannya adalah melalui salib. Sebelum Anak Manusia melaksanakan kekuasaan atas semua kerajaan dunia (Mat. 4:8; 28:18), Ia harus menempuh jalan ketaatan kepada Bapak supaya menggenapi segala kebenaran (Mat. 3:15). Sebab itu perwujudan Kerajaan mempunyai sejarah dalam dunia ini. Kerajaan harus diberitakan pada semua makhluk. S Sebagai benih ajaib, Kerajaan tumbuh, tidak ada orang yang mengetahui caranya (Mrk. 4:27). Dengan kekuatan di dalamnya Kerajaan menembusi rintangan dan berkembang mengatasi segalanya, karena ladang tempat benih itu ditaburkan adalah dunia (Mat 13:38). Injil Kerajaan keluar sampai kepada semua bangsa (Mat. 28:19) karena Raja dari Kerajaan adalah juga Tuhan dari Roh. Kebangkitan-Nya mendatangkan zaman baru, pemberitaan Kerajaan dan Raja-nya mencapai ujung bumi. Keputusan sudah diambil, tapi penggenapannya masih bersifat akan datang. Apa yang mulanya nampak sebagai kedatangan Kerajaan satu dan sama, diumumkan sebagai satu kenyataan yang tak terpisahkan, hampir tiba dan dekat, itu mengembangkan diri meliputi zaman baru dan wilayah jauh. Batas Kerajaan tidak sama dengan perbatasan atau sejarah Israel. Kerajaan mencakup semua bangsa dan memenuhi segala zaman sampai kedatangan akhir dunia.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang |
| Kode Referensi | : | SYK-R06b |
Referensi SYK-06b diambil dari:
| Judul Buku | : | Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen |
| Pengarang | : | R.C. Sproul |
| Penerbit | : | SAAT, Malang, 1997 |
| Halaman | : | 129 - 136 |
Signifikansi Kenaikan Kristus ke surga sering kali diabaikan oleh gereja pada zaman modern ini. Kita merayakan secara khusus hari-hari seperti hari Kelahiran Kristus, hari Kematian Kristus, dan hari Kebangkitan Kristus dan menjadikannya hari libur, tetapi hari Kenaikan Kristus ke surga jarang atau sedikit sekali mendapatkan perhatian dari orang Kristen. Padahal, Kenaikan Kristus ke surga merupakan peristiwa yang sangat penting dalam penebusan. Peristiwa itu menandai momen tertinggi penghormatan kepada Kristus sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali. Pada peristiwa Kenaikan inilah Kristus memasuki kemuliaan- Nya.
Yesus menjelaskan bahwa kepergian-Nya dari dunia ini merupakan hal yang lebih baik bagi kita daripada Ia terus menerus tinggal bersama dengan kita. Pada waktu Ia pertama kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya mengenai kepergian-Nya ini, mereka sangat sedih sekali mendengar berita itu. Tetapi kemudian mereka menyadari signifikansi dari peristiwa besar itu. Lukas mencatat peristiwa Kenaikan bagi kita sebagai berikut:
"Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." (Kisah Para Rasul 1:9-11)
Kita tahu bahwa Yesus pergi di dalam awan. Ini mungkin berkaitan dengan Shekinah, yaitu awan kemuliaan Allah. Shekinah lebih bercahaya dibandingkan dengan awan-awan yang lain. Ini merupakan manifestasi secara nyata dari sinar kemuliaan Allah. Oleh karena itu, cara Yesus pergi bukan merupakan sesuatu yang biasa. Peristiwa itu merupakan saat yang penuh dengan keagungan.
Naik berarti "pergi ke atas" atau "bangkit". Namun, pada waktu istilah naik diaplikasikan pada Kristus, istilah ini mempunyai arti yang lebih dalam, kaya, dan khusus. Kenaikan Yesus adalah unik. Melampaui peristiwa pada waktu Henokh diangkat secara langsung ke surga atau kepergian Elia di dalam kereta api.
Kenaikan Yesus berarti Ia pergi ke tempat yang khusus untuk tujuan yang khusus pula. Dia pergi kepada Bapa, ke sebelah kanan Allah Bapa. Dia naik ke tahta yang memiliki otoritas atas dunia ini. Yesus pergi untuk pengangkatan-Nya, dan peneguhan-Nya sebagai Raja atas segala raja.
Yesus juga pergi untuk memasuki tempat yang mahakudus dan untuk melanjutkan pekerjaan-Nya sebagai Imam Besar. Di surga Yesus memerintah sebagai Raja dan menjadi pengantara kita dalam kedudukan- Nya sebagai Imam Besar. Dalam posisi-Nya yang tinggi ini, Ia mencurahkan Roh Kudus ke atas gereja. John Calvin memberi komentar sebagai berikut:
Setelah diangkat ke surga, Dia tidak hadir lagi secara fisik di tengah-tengah kita. Hal ini dilakukan bukan berarti Ia tidak menyertai pengikut-Nya lagi, yang masih menjadi pengembara di dunia ini, tetapi supaya Ia dapat memerintah di surga dan di dunia secara lebih langsung lagi dengan kuasa-Nya.
Pada waktu Yesus naik ke surga untuk pengangkatan-Nya sebagai Raja atas segala raja, Dia duduk di sebelah kanan Allah. Sebelah kanan Allah menyatakan kedudukan yang berotoritas. Dari posisi ini Yesus memerintah, menjalankan Kerajaan-Nya, dan berperan sebagai Hakim atas surga dan dunia.
Di sebelah kanan Allah Bapa, Yesus duduk sebagai Kepala dari Tubuh- Nya, yaitu gereja. Tetapi dari kedudukan ini, otoritas Yesus dan wilayah pemerintahan-Nya bukan hanya sebatas gereja-Nya tetapi mencakup seluruh dunia. Meskipun gereja dan negara dapat dibedakan sehubungan dengan wilayah kekuasaan Yesus, tetapi keduanya itu tidak pernah terpisah atau tercerai. Otoritas-Nya mencakup keduanya. Semua penguasa dunia harus bertanggung jawab kepada-Nya dan akan dihakimi oleh-Nya di dalam posisi-Nya sebagai Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan.
Setiap orang di surga dan di dunia dituntut Allah untuk menghormati kemuliaan Yesus, dan tunduk di bawah perintah-Nya dan harus menyembah- Nya, dan takluk pada kuasa-Nya. Setiap orang pada akhirnya akan berdiri di hadapan Dia, yaitu pada waktu Hari Penghakiman terakhir.
Yesus mempunyai otoritas untuk mencurahkan Roh Kudus ke atas gereja. Tetapi Yesus tidak mencurahkan Roh Kudus sebelum Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Pelayanan Roh Kudus taat pada Allah Bapa dan Allah Anak yang secara bersama-sama mengutus-Nya untuk mengaplikasikan pekerjaan keselamatan yang telah dilakukan oleh Kristus kepada orang- orang percaya.
Selama duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Yesus tidak hanya menjalankan peran-Nya sebagai Raja atas segala raja, tetapi Dia juga menggenapi peran sebagai Hakim dunia ini. Dia adalah Hakim bagi semua bangsa dan semua orang. Meskipun Yesus memerintah sebagai Hakim kita, Dia juga telah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi Pembela kita. Dia adalah Pengacara Pembela kita. Pada Penghakiman terakhir Pembela kita akan berhadapan dengan Hakim kita. Peran Yesus sebagai pengantara orang kudus telah dirasakan oleh Stefanus pada waktu ia akan mati syahid:
"Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: 'Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah'" (Kisah Para Rasul 7:55-56)
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang |
| Kode Referensi | : | SYK-R06c |
Referensi SYK-06c diambil dari:
| Judul Buku | : | Teologia Sistematika |
| Pengarang | : | Henry C. Thiessen |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 1992 |
| Halaman | : | 599 - 610 |
Sekalipun kedua peristiwa kebangkitan sebenarnya sudah menunjukkan keadaan manusia di kemudian hari, hal itu tidak akan meniadakan penghakiman. Seluruh filsafat penghakiman yang akan datang itu bertumpu pada hak Allah yang berdaulat untuk menghukum semua ketidaktaatan serta hak pribadi seseorang untuk membela diri ketika disidangkan. Sekalipun Allah itu berdaulat, sebagai Hakim seluruh bumi, Ia akan bertindak dengan adil (Kejadian 18:25). Ia akan melakukan keadilan bukan karena harus tunduk kepada suatu hukum yang ada di luar diri-Nya, melainkan sebagai ungkapan watak-Nya sendiri. Masing-masing orang akan mendapat kesempatan untuk menerangkan mengapa ia bertindak sebagaimana yang telah dilakukannya dan untuk mengetahui alasan-alasan hukuman yang dijatuhkan padanya. Semua ini merupakan faktor-faktor mendasar dari setiap pemerintahan yang benar. Sepanjang pemerintahan manusia mengatur negara sesuai dengan tatanan semacam itu, pemerintahan tersebut meniru metode pemerintahan Allah. Kini kita perlu bertanya: apakah yang diajarkan Alkitab tentang penghakiman- penghakiman yang akan datang?
Adanya penghakiman baik bagi orang yang benar maupun bagi orang yang tidak benar telah diberi tahu oleh hati nurani manusia. Penulis kitab Pengkhotbah, yang berbicara dari segi pandangan manusia duniawi, mendorong setiap pemuda untuk hidup menuruti keinginan hatinya, namun menambahkan sebagai peringatan, bahwa untuk semuanya itu Allah akan menghakimi mereka (11:9). Dalam pasal yang berikutnya ia menulis, "Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" (12:14). Paulus berbicara tentang hati nurani manusia sebagai sedang menuduh atau membela manusia, mengingat, "hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus" (Roma 2:16). Sedangkan Ibrani 10:27 menyatakan bahwa orang yang berbuat dosa dengan sengaja dapat menantikan "kematian yang mengerikan akan penghakiman." Mustahil untuk memikirkan betapa dalamnya kebejatan moral manusia apabila ia tidak perlu takut akan penghakiman yang kelak terjadi. Dengan kata lain, hati nurani nampaknya mengatakan bahwa seandainya tidak akan ada penghakiman, maka penghakiman harus diadakan.
Perasaan spontan dari hati manusia ini didukung oleh Alkitab. Dalam kitab Kejadian, Abraham mengakui Allah sebagai hakim segenap bumi (18:25), dan Hana mengatakan bahwa "Tuhan mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya" (1Samuel 2:10). Daud mengatakan bahwa Tuhan "datang untuk menghakimi bumi" (1Tawarikh 16:33; band. Mazmur 96:13; 98:9), dan mengatakan bahwa "takhta-Nya didirikan-Nya untuk menjalankan penghakiman" (Mazmur 9:8). Dalam Yoel, Allah berfirman, "Baiklah bangsa-bangsa bergerak dan maju ke lembah Yosafat, sebab di sana Aku akan duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru (3:12; band. Yesaya 2:4). Kenyataan ini lebih sering ditegaskan dalam Perjanjian Baru. Yesus bersabda, "Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" (Matius 16:27). Ketika berada di Atena, Paulus mengatakan bahwa Allah telah "menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya" (Kisah 17:31; band. Roma 2:16; 2Tesalonika 1:7-9). Paulus selanjutnya menyatakan bahwa "kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2Korintus 5: 10; band. Roma 14:10). Penulis surat Ibrani mengatakan bahwa setelah kematian datanglah penghakiman (9:27). Rasul Yohaneslah yang "melihat orang- orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu" untuk dihakimi (Wahyu 20:12). Allah telah memberikan kepastian tentang adanya penghakiman dengan membangkitkan Kristus, Sang Hakim, dari antara orang mati (Kisah 17:31).
Mengapa perlu bagi Allah untuk melaksanakan penghakiman? Strong mengatakan, "Tujuan penghakiman akhir bukanlah untuk memastikan, melainkan untuk menyatakan watak serta penetapan berbagai keadaan lahiriah yang sesuai dengan watak tersebut." Allah sudah mengetahui keadaan semua makhluk moral, sehingga akhir zaman hanya akan menyatakan betapa adilnya penghakiman yang dilaksanakan oleh Allah. Ingatan, hati nurani, dan watak kita merupakan persiapan dan bukti untuk penyingkapan yang terakhir itu (Lukas 16:25; Roma 2:15, 16; Efesus 4:19; Ibrani 3:8; 10:27). Peristiwa-peristiwa penghakiman ini akan terjadi untuk menunjukkan keadilan Allah dalam berurusan dengan manusia. Di hadapan pengadilan Allah semua mulut akan tertutup (band. Roma 3:19). Tidak perlu beranggapan bahwa setiap orang akan mengakui bahwa ia menerima imbalan yang sesuai dengan perbuatannya, namun tersirat bahwa tidak ada orang yang akan mempunyai alasan yang tepat untuk mengeluh, dan karena itu tidak ada yang mengeluh.
Allah yang menghakimi semua orang (Ibrani 12:23), namun Ia akan melaksanakan pekerjaan ini melalui Yesus Kristus. "Bapa ... telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak" (Yohanes 5:22) dan telah melakukan hal itu karena "Ia adalah Anak Manusia" (Yohanes 5:27). "Allah telah ... memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Kisah 17:31). Kristus akan menghakimi "orang-orang hidup dan orang- orang mati" (Kisah 10:42; 2Timotius 4:1). Ia akan menghakimi orang- orang percaya berdasarkan perbuatan mereka (2Korintus 5:10; band. Roma 14:10); binatang, nabi palsu, dengan tentara-tentara mereka (Wahyu 19:19-21); bangsa-bangsa yang berkumpul di hadapan-Nya (Matius 25:31, 32); Iblis (Wahyu 20:1-3, 10; band. Kejadian 3:15; Ibrani 2:14); bangsa-bangsa yang hidup pada masa kerajaan seribu tahun (Yesaya 2:4; Yehezkiel 37:24, 25; Daniel 7:13, 14; Wahyu 11:15); orang-orang mati yang tidak mau bertobat (Wahyu 20:11-15). Fungsi ini telah ditugaskan kepada-Nya sebagai imbalan karena Ia telah merendahkan diri-Nya (Filipi 2:9-11), dan karena Dia sendirilah yang memenuhi syarat untuk melakukan tugas tersebut. Sebagai Allah, Ia memiliki pengertian yang dalam untuk menghakimi (Yesaya 11:3) dan wewenang untuk menghakimi manusia; sebagai manusia, Ia mengerti dan ikut merasa bersama dengan manusia. Di dalam diri-Nya keadilan dan kemurahan berbaur menjadi satu sehingga sebagai hakim seluruh bumi Ia akan mengambil tindakan yang adil dan benar (Kejadian 18:25).
Dalam suatu survei yang lengkap tentang pokok ini kita harus mulai dengan apa yang telah terjadi di masa silam. Di dalam Kristus dosa- dosa kita telah dihakimi sekali untuk selamanya (Yesaya 53:4-6; Yohanes 1:29; 2Korintus 5:21; Galatia 3:13; Ibrani 10:10-14; 1Petrus 2:24; 1Yohanes 2:2). Dengan demikian orang percaya di dalam Kristus telah dibebaskan dari kesalahan serta hukuman dosa, karena Kristus telah mengambil alih kesalahan tersebut dan telah menjalani hukuman atas dosa itu baginya. Tidak ada orang percaya yang akan dihakimi untuk dosa-dosanya, karena ia telah dihakimi untuknya di dalam Kristus (Yohanes 5:24). Sekalipun demikian, ada penghakiman untuk orang-orang percaya saat ini, yaitu penghakiman atas dosa mereka pribadi. Paulus menasihatkan orang-orang percaya untuk menghakimi diri mcreka baik dalam kehidupan mereka sendiri (1Korintus 11:31, 32) maupun dalam kehidupan jemaat (1Korintus 5:5; 1Timotius 1:20; 5:19, 20). Allah mendisiplinkan anak-anak-Nya yang tidak taat agar mendorong mereka untuk menghakimi diri sendiri serta membuang dosa dari kehidupan mereka (2Samuel 7:14, 15; 12:13, 14; Ibrani 12:5-13). Namun dalam kesempatan ini kita akan lebih memerhatikan berbagai penghakiman yang akan datang. Kami menyebutkan berbagai penghakiman karena tidak ada penghakiman umum sebagaimana tidak ada kebangkitan umum. Unsur-unsur waktu, mereka yang dihakimi, dan masalah-masalah yang dihakimi, menunjukkan adanya paling sedikit tujuh peristiwa penghakiman yang akan datang.
Sebagaimana sudah kita lihat, ketika Tuhan kembali, Ia akan menghakimi orang-orang percaya berdasarkan perbuatan mereka (Roma 14:10; 1Korintus 3:11-15; 4:5; 2Korintus 5:10). Setiap orang akan diminta untuk memertanggungjawabkan pemakaian talentanya (Matius 25:14-30), uang mina (Lukas 19:11-27), serta kesempatan yang telah diberikan kepadanya (Matius 20:1-16). Hari itu akan menyatakan apakah seseorang telah membangun dengan memakai kayu, jerami, tumput kering, ataukah emas, perak, dan batu permata (1Korintus 3:12). Bila pekerjaannya dibangun dengan kayu dan sebagainya itu, maka pekerjaannya itu akan habis terbakar, tetapi ia sendiri akan diselamatkan namun seperti dari dalam api (ayat 15); bila pekerjaannya dibangun dengan memakai emas dan sebagainya itu, maka ia akan menerima upah (ayat 14). Alkitab menyebut berbagai jenis mahkota atau trofi: mahkota yang abadi (1Korintus 9:25), mahkota kebenaran (2Timotius 4:8), mahkota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10), mahkota kemuliaan (1Petrus 5:4), dan mahkota sukacita atau kemegahan (1Tesalonika 2:19; band. Filipi 4:1).
Dalam arti yang unik, masa kesengsaraan itu akan merupakan masa kesusahan bagi Yakub, namun kita diberi tahu bahwa "ia akan diselamatkan daripadanya" (Yeremia 30:7). Kita melihat penganiayaan orang Israel sepanjang masa itu dalam kitab Wahyu (12:6, 13-17); hanya mereka yang tergolong sisa bangsa Israel yang dahinya termeterai akan bebas dari pengalaman ini (Wahyu 7:1-8). Namun, nampaknya akan ada penghakiman yang lebih lanjut lagi yang berasal dari Allah sendiri dalam kaitan dengan pengumpulan kembali orang-orang Israel yang berserakan di mana-mana. Yehezkiel, ketika membicarakan penghakiman ini, menggambarkannya sebagai proses penyingkiran pemberontak- pemberontak di antara Israel ketika sedang menuju ke tanah suci. Mereka akan dibawa keluar dari tempat pengembaraan mereka, namun mereka akan mati di padang gurun dan tidak akan masuk ke tanah Israel (Yehezkiel 20:33-38). Rupanya Maleakhi juga membicarakan penghakiman yang sama ini ketika menggambarkan Tuhan sedang duduk sebagai tukang pemurni logam, sambil mentahirkan orang-orang Lewi (3:2-5). Penghakiman-penghakiman ini terjadi di atas bumi dan berkaitan dengan kedatangan Tuhan kembali ke bumi. Penghakiman inilah yang menentukan siapa dari orang Israel yang akan kembali ke tanah suci serta menjadi anggota Israel pada masa yang akan datang.
Dengan memakai gambaran seorang wanita, kitab Wahyu menggambarkan suatu sistem federasi agama (17:1-19:4). Pada mulanya wanita ini mengendarai seekor binatang yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Ini menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan gereja untuk sementara waktu akan menguasai sistem kepemimpinan politik. Namun kesepuluh tanduk (raja) akan berbalik dan membenci wanita itu, bahkan merampas segala miliknya, dan menghancurkannya. Kemudian binatang itu akan memajukan dirinya untuk mengambil alih pimpinan keagamaan tertinggi. Nampaknya akan ada koalisi yang kuat di antara perserikatan-perserikatan keagamaan dan perdagangan. Ketika Babilonia sebagai suatu sistem keagamaan dihancurkan, ia akan bangkit kembali sebagai suatu organisasi perdagangan dunia. Namun kemakmurannya tak lama bertahan. Pada suatu hari Tuhan Allah akan menghakimi dan membinasakannya sama sekali. Para pedagang dunia akan meratapi kehancurannya, tetapi para penghuni sorga akan bersorak serta menyanyi "Haleluya!" ketika hal itu terjadi. Penghakimannya akan terjadi sebelum kedatangan Tuhan kembali ke bumi (Wahyu 19:1-4, 11-21), dan ia akan dijatuhi hukuman kekal (Wahyu 19:19-21).
Roh-roh jahat yang keluar dari mulut naga, binatang, dan nabi palsu menjelang berakhirnya masa kesengsaraan akan pergi ke seluruh dunia untuk mengumpulkan bangsa-bangsa guna berperang pada hari Tuhan (Wahyu 16:12-16). Nampaknya, mereka berkumpul untuk merebut Yerusalem dan menangkap orang-orang Yahudi yang ada di Palestina (Zakharia 12:1-9; 13:8-14:2); tetapi justru pada saat kemenangan mereka sudah pasti, Kristus akan turun dari sorga dengan semua pasukan-Nya (Wahyu 19:11- 16) serta turun tangan membela Israel. Maka bala tentara yang tadinya menyerang Yerusalem akan berbalik menyerang Anak Allah, namun pertempuran itu akan sangat singkat dan menentukan. Binatang dan nabi palsu akan ditangkap dan dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala (Wahyu 19:19,20), dan bala tentara mereka akan dibunuh dengan pedang yang keluar dari mulut Kristus (2Tesalonika 1:7- 10; 2:8; Wahyu 19:21). Jadi, perlawanan politik akan dipatahkan dan terbukalah jalan bagi Kristus untuk memulai pemerintahan-Nya. Patut dicamkan bahwa penghakiman ini akan terjadi ketika Kristus kembali ke bumi. Peristiwa itu akan melibatkan pasukan-pasukan dengan pemimpin- pemimpin mereka yang telah maju untuk memerangi Kristus. Hasilnya ialah bahwa mereka yang melawan Kristus akan dicampakkan ke dalam lautan api dan hukuman kekal.
Perikop-perikop seperti Yoel 3:11-17; Matius 25:31-46; dan 2Tesalonika 1:7-10 nampaknya berbicara mengenai penghakiman atas bangsa-bangsa. Penghakiman bangsa-bangsa harus dibedakan dengan penghakiman di hadapan takhta putih, karena penghakiman bangsa-bangsa mendahului kerajaan seribu tahun. Penghakiman bangsa-bangsa juga harus dibedakan dengan penghakiman binatang, nabi palsu, beserta bala tentara mereka. Bangsa-bangsa itulah yang mengirim bala tentara itu, namun bangsa-bangsa itu berbeda daripada pasukan-pasukan tersebut. Setelah Kristus selesai menangani pasukan-pasukan itu, Ia akan mengumpulkan bangsa-bangsa untuk dihakimi pula. Patut diperhatikan bahwa domba akan masuk ke dalam kerajaan Allah, sedangkan kambing akan masuk hukuman kekal. Namun perlu juga diperhatikan bahwa sekalipun perlakuan terhadap saudara-saudara Tuhan kita, mungkin Israel, disebut dalam hubungan dengan penghakiman ini, alasan-alasan yang lebih dalam bagi penghakiman ini terdapat dalam kenyataan bahwa golongan domba itu memiliki hidup kekal sedangkan golongan kambing tidak memilikinya.
Ketika sedang terjadi masa kesengsaraan, Iblis akan dilempar ke bumi (Wahyu 12:7-9, 12). Ketika Kristus tiba di bumi, Iblis akan diikat dan dimasukkan ke dalam jurang maut selama seribu tahun (Wahyu 20:1-3). Setelah seribu tahun, ia akan dilepaskan untuk sementara waktu. Selama waktu itu, ia akan menipu bangsa-bangsa di bumi sekali lagi dan ia akan berhasil mengumpulkan bala tentara yang sangat besar untuk berperang melawan orang-orang saleh dan kota yang dikasihi, Yerusalem (Wahyu 20:7-9; band. Yehezkiel 38, 39). Akan tetapi, api akan turun dari langit dan menghanguskan mereka semua. Tidak perlu diragukan lagi bahwa tidak lama kemudian mereka akan berdiri di hadapan takhta putih besar dan dilemparkan ke dalam lautan api bersama-sama dengan orang- orang lain yang tidak diselamatkan. Setelah itu, Iblis sendiri akan dihakimi dan dicampakkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya (Wahyu 20:9, 10). Nampaknya, pada saat itu para malaikat yang ikut memberontak bersama-sama dengan Iblis juga akan dihakimi (2Petrus 2:4, Yudas 6). Kita diberi tahu bahwa api yang kekal itu telah dipersiapkan bagi "Iblis dan malaikat-malaikatnya" (Matius 25:41), dan mungkin inilah saatnya mereka akan menerima hukuman mereka (band. Matius 8:29; Lukas 8:31).
Penghakiman ini akan terjadi setelah kerajaan seribu tahun (Wahyu 20:11-15; 21:8). Pada akhir kerajaan seribu tahun akan terjadi kebangkitan yang kedua (Wahyu 20:5); berkat dinyatakan ke atas mereka yang ikut serta dalam kebangkitan pertama, tetapi tidak atas mereka yang baru bangkit pada kebangkitan yang kedua. Secara tidak langsung dikatakan bahwa nasib mereka tidak menyenangkan.
Mereka adalah orang-orang yang tidak diselamatkan dari seluruh sejarah umat manusia. Mereka bangkit dan menghadap takhta putih yang besar. Rombongan ini akan meliputi yang kaya dan yang miskin, orang merdeka dan budak, raja dan rakyatnya, orang terpelajar dan yang tidak terpelajar, majikan dan karyawan; semua mereka akan berdiri sebagai terdakwa yang bersalah di hadapan Sang Hakim.
Bagaimana pun juga, mungkin yang paling penting ialah arti dari kata Yunani aion dan aionios. Istilah yang pertama muncul 120 kali dalam Perjanjian Baru dan diterjemahkan sebagai "zaman" (2Korintus 4:4), "dunia" (1Korintus 1:20), "tidak akan ... untuk selama-lamanya" (Yohanes 4:14), dan "selama-lamanya" (Yohanes 6:51). Jika diberi kata depan eis maka kata tersebut senantiasa berarti jangka waktu yang tak berkesudahan. Kata sifat aionios terdapat sekitar 70 kali dalam Perjanjian Baru. Kata ini dipakai untuk menunjuk kepada Allah (Roma 16:26), Kristus (2Timotius 1:9), Roh Kudus (Ibrani 9:14), berkat- berkat bagi orang-orang yang percaya (2Tesalonika 2:16; Ibrani 9:12), hukuman orang fasik (2Tesalonika 1:9), dan seterusnya. Kadang-kadang kata ini terdapat dua kali dalam satu frase "tetap untuk seterusnya dan selamanya" (Ibrani 1:8). Perhatikan juga rujukan-rujukan macam lain ini: Mazmur 52:7; Matius 12:31, 32; Markus 3:29; Ibrani 6:4-6; 10:26-29; 2Petrus 2:17: Yudas 13. Mungkin rujukan yang paling kuat terdapat dalam Matius 25:46. Ayat itu membandingkan hukuman orang fasik yang akan berlangsung selama-lamanya dengan kebahagiaan abadi dari orang-orang yang diselamatkan. Ketika orang percaya hidup selama- lamanya di hadapan Allah, dan menikmati kemurahan-Nya, maka orang yang tidak percaya akan selama-lamanya berada jauh dari hadirat Allah yang membahagiakan.
178 Strong, Systematic Theology, hal. 1025.
179 Mounce, The Book of Revelation, hal. 366.