Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b |Referensi 01c
| Nama Kursus | : | SIAPAKAH YESUS KRISTUS? |
| Nama Pelajaran | : | Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama |
| Kode Pelajaran | : | SYK-P01 |
Ayat Hafalan
Pada pelajaran pertama ini, Anda akan mempelajari Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah yang disebutkan dalam kitab PL. Pada masa itu, domba digunakan sebagai korban penghapus dosa (korban yang dibunuh dan diletakkan di atas mezbah) yang sifatnya tidak kekal (karena harus dilakukan setiap tahun). Tetapi Yesus yang adalah Allah sendiri turun ke dalam dunia menjadi Anak Domba untuk dikorbankan sebagai penghapus dosa yang sifatnya kekal, karena dilakukan satu kali untuk selamanya. Di samping itu, Anda juga akan belajar bagaimana kitab PL telah berbicara mengenai prosesi kedatangan Anak Domba Allah ke dalam dunia dan bagaimana kitab Perjanjian Baru (PB) menunjukkan bahwa nubuat-nubuat ini digenapi dalam diri Yesus Kristus. Anda perlu ingat bahwa para nabi PL hidup dan berbicara ratusan tahun sebelum Yesus lahir. Mereka berbicara sebagaimana Tuhan mengajar mereka melalui Roh Kudus. Dan hal-hal yang mereka katakan itu benar-benar terjadi.
Ayat Hafalan:
"Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29)
Yohanes Pembaptis mengatakan secara langsung bahwa Yesus adalah "Anak Domba Allah". Kata-kata tersebut mempunyai arti yang besar bagi para pendengarnya karena seekor domba mempunyai fungsi sebagai korban penghapus dosa mulai dari zaman PL hingga saat Yohanes mengeluarkan perkataan itu. Jika Anda ingin mengerti dengan benar gambaran yang diberikan kepada Yesus ini dan apa yang sudah Dia perbuat untuk umat manusia, maka kita harus belajar tentang korban anak-anak domba dalam PL.
Dalam PL, ada banyak perintah yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Ada hal-hal tertentu yang tidak boleh mereka lakukan. Ada juga hal- hal yang harus mereka lakukan. Bila seseorang mengetahui kehendak Allah dan menolak untuk menaatinya, orang tersebut berdosa terhadap Allah. Dosa adalah penolakan untuk melakukan kehendak Allah karena kita memilih melakukan kehendak kita sendiri.
Sebagai contoh, bayangkanlah seandainya ada seorang laki-laki yang hidup pada masa PL. Laki-laki ini telah berdosa terhadap Allah. Sesudah berdosa, dia sangat menyesal dan mulai berpikir, "Apa yang harus saya perbuat?" Lalu dia pergi kepada Imam dan berkata, "Saya telah berdosa melawan Allah. Apa yang harus saya perbuat?"
Imam itu akan menjelaskan kepadanya bahwa dosa adalah suatu hal yang sangat serius bagi Allah. Orang itu harus dihukum atau harus ada orang lain yang menggantikan hukuman bagi dosa-dosanya. Yang jelas, dosa membawa akibat, yaitu hukuman. Selanjutnya, imam akan memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah memberikan suatu rencana sehingga seekor domba dapat dikorbankan untuk menghapus dosanya. Artinya, domba itu harus menderita hukuman sebagai pengganti orang berdosa tersebut. Dengan demikian dosa-dosanya dapat diampuni. Bacalah Imamat 4:32-35.
Andai kata orang tadi memohon, "Biarkanlah saya mengakui dosa saya padamu dan barangkali Allah akan mengampuninya." Maka imam itu akan menjawab, "Tidak! Sesuai ketetapan Allah, di mana ada dosa, di situ juga harus ada kematian untuk membayar hukuman atas dosa tersebut."
Ia mungkin berkata, "Saya berjanji bahwa saya tidak akan melakukan dosa lagi. Dapatkah dosa ini diampuni tanpa mengorbankan seekor domba?" Imam akan menjawab, "Tidak, sesuai dengan ketetapan Allah, jika seseorang ingin agar dosa-dosanya diampuni, maka harus ada darah yang tertumpah" (Ibrani 9:22). Akhirnya, setiap manusia perlu meyadari bahwa jika dia benar-benar menghendaki agar dosa-dosanya dapat diampuni, ia harus mengikuti ketetapan Allah, yaitu mengorbankan seekor anak domba sebagai pengganti.
Allah telah menguraikan secara jelas dalam Alkitab bahwa jenis anak domba yang dikorbankan harus yang terbaik atau tanpa cacat; tidak sakit, terluka, atau yang tidak sempurna. Oleh sebab itu, ketika seseorang membawa seekor anak domba kepada Imam, dia akan memeriksanya dengan sangat cermat untuk meyakinkan bahwa anak domba tersebut benar-benar telah memenuhi semua kriteria (memiliki semua kualitas) yang ditetapkan dalam PL.
Allah sendiri telah menyampaikan pernyataan mengenai Yesus demikian, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Matius 3:17). Yesus adalah satu-satunya pribadi yang memenuhi semua kualifikasi seperti anak domba dalam PL. Dia adalah pribadi yang sempurna dan tanpa dosa. Dengan demikian, Dia dapat menjadi korban "Anak Domba" untuk menggantikan hukuman atas dosa-dosa kita.
Jika domba yang dibawa telah dipandang baik oleh imam, ada dua hal akan terjadi. Pertama, si pembawa korban akan meletakkan tangan mereka di atas kepala anak domba tadi dan mengakui dosanya. Ini adalah suatu gambaran bahwa dosa yang telah diakui orang itu telah dipindahkan dan diletakkan di atas anak domba tersebut.
Kedua, domba yang memikul dosa dan kesalahan orang tadi harus mati. Imam membawa domba tersebut dan dikorbankan menurut petunjuk yang diberikan oleh Allah. Anak domba yang tak bersalah itu telah mati untuk manusia yang bersalah.
Inilah yang terjadi ketika Yesus mati di atas kayu salib. Sebagai Anak Domba Allah, Dia menanggung dosa-dosa kita pada diri-Nya sendiri. Dia menderita dan mati oleh karena dosa-dosa kita. Hal ini terjadi supaya kita memperoleh pengampunan dosa dan kehidupan kekal selama-lamanya. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2Korintus 5:21).
Melalui pelajaran ini, Anda perlu memahami beberapa hal secara jelas. Ini benar dalam masa PL dan juga masa kini, jika seseorang mencari pengampunan atas dosa-dosanya, hal-hal berikut inilah yang harus terjadi.
Dengan mengerti hal-hal di atas dan tentang korban domba, Anda dapat lebih mengerti akan apa yang dimaksud Yohanes Pembaptis ketika dia memanggil Yesus dengan sebutan "Anak Domba Allah". Yang dia maksudkan ialah bahwa Yesus adalah Juru Selamat tanpa dosa yang telah Allah utus ke dalam dunia untuk mati menanggung dosa-dosa kita.
Dalam pelajaran ini, kita akan mempelajari beberapa kebenaran agung yang berhubungan dengan Tuhan kita, Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan dalam firman Tuhan, yaitu Alkitab. Ratusan tahun sebelum Yesus lahir, para nabi dari Perjanjian Lama (PL) telah banyak berbicara tentang pesan Allah kepada manusia. Pesan itu adalah bahwa Allah akan mengirimkan seorang Juru Selamat (seseorang yang akan membebaskan manusia dari dosa dan menjadikannya benar di hadapan Allah) ke dalam dunia. Mereka tidak hanya membicarakan prosesi kedatangan-Nya, tetapi juga hal-hal tertentu yang akan terjadi dalam kehidupan-Nya.
Ayat Hafalan:
"Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barang siapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama- Nya." (Kisah Para Rasul 10:43)
Ayat tersebut adalah perkataan Rasul Petrus ketika berkhotbah di hadapan sekelompok orang. Dia mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan para nabi tentang Yesus dan bagaimana keselamatan (menjadi benar di hadapan Allah) dapat diterima lewat iman dalam Yesus. Artinya, semua hal yang berhubungan dengan diri-Nya telah diberitahukan (dinubuatkan) jauh sebelum ia lahir ke dalam dunia ini.
Mikha menyampaikan kata-kata ini lebih dari tujuh ratus tahun sebelum Yesus dilahirkan. Memang mustahil bagi manusia bisa mempunyai pengetahuan seperti itu. Hanya oleh Roh Kudus yang bisa memberitahukannya. Melalui Matius 2:1-6 kita tahu bahwa Yesus adalah orang yang menggenapi nubuat dalam PL ini.
Ketika Yesaya berbicara tentang seorang perawan yang akan melahirkan Yesus, ia sama sekali tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Ini juga merupakan sesuatu yang mustahil bahwa seorang perawan dapat melahirkan, jika bukan karena kuasa dari Allah yang menyebabkan perkara itu bisa terjadi. Tetapi dari Lukas 1:26-35, kita tahu bagaimana Maria, seorang perawan (dia belum menikah), menjadi ibu Yesus. Meskipun Yusuf diketahui sebagai ayah Yesus, firman Allah mengajarkan dengan jelas kepada kita bahwa Yusuf dan Maria tidak hidup bersama sebagai suami istri sampai Yesus lahir. Kita mempelajari hal ini dalam Matius 1:18-25. Semuanya terjadi tepat seperti yang Allah firmankan Allah lewat Nabi Yesaya.
Ketika membaca PB, kita menemukan janji yang telah diucapkan oleh Yesaya ini benar-benar digenapi. Yesus dipenuhi Roh Allah, yang disebut Roh Kudus dalam PB. Bacalah dengan teliti Yohanes 1:32-34. "Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada- Nya" (Yohanes 3:34-35).
Sudah bertahun-tahun orang Israel menantikan seorang Juru Selamat sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi. Tetapi mereka tidak tahu seperti apa Juru Selamat yang akan diutus Allah kepada mereka. Mereka mengharapkan seorang Juru Selamat yang bisa menyelamatkan mereka dari musuh-musuh Israel dan memberikan kekayaan dan kuasa yang besar. Tapi Allah mengutus Yesus bukan untuk melakukan keinginan manusia tapi untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Karena itu Yesus datang memberitahukan tentang dosa manusia dan kebutuhan untuk berpaling dari dosa-dosa mereka. Manusia menjadi menolak Yesus. Nubuat ini telah disampaikan lama sebelum terjadi dan dari kitab PB kita membaca bagaimana pemerintah dan pemimpin agama membenci Yesus dan akhirnya memakukan-Nya di atas kayu salib. Bacalah penolakan akan Yesus di dalam Matius 27:22-23, "Kata Pilatus kepada mereka, 'Jika begitu apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut Kristus?' Mereka semua berseru. 'Ia harus disalibkan!' Katanya, 'Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?' Namun mereka makin keras berteriak, 'Ia harus disalibkan!'"
Nubuat ini menerangkan dengan jelas bagaimana Yesus masuk ke Yerusalem dengan kemenangan-Nya, seperti manusia yang rendah hati mengendarai seekor keledai. Sekarang bacalah Matius 21:1-9. Peristiwa ini juga terjadi dalam hidup Yesus tepat seperti yang telah dijanjikan Nabi Zakharia jauh sebelumnya.
Ayat ini menceritakan kepada kita bahwa pengkhianatan terhadap Yesus dilakukan oleh seorang sahabat karib-Nya. Sahabat yang dimaksud ialah Yudas Iskariot. Dia hidup bersama Yesus selama 3 tahun sebagai salah seorang murid-Nya. Dia ikut melayani, tapi hatinya tidak benar dihadapan Allah. Dalam Yohanes 12:6 dikatakan bahwa hal itu dikatakannya bukan karena ia memerhatikan nasib orang- orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Karena cintanya akan uang, dia setuju mengkhianati Yesus dan ini merupakan penggenapan dari nubuatan dari Mazmur 41:10, "Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku." Bacalah bagaimana nubuat tersebut telah digenapi dalam Matius 26:14-16.
Dalam PL, banyak nubuat yang menceritakan kematian Yesus, yang tidak bisa dipelajari semuanya dalam pelajaran singkat ini. Kita akan memerhatikan beberapa dari nubuatan-nubuatan itu. Pertama, bacalah kematian Yesus di atas kayu salib dalam Matius 27:27-50. Sekarang, mari kita lihat beberapa ayat dalam PL yang menubuatkan peristiwa-peristiwa yang benar terjadi dari kematian Yesus itu.
Sekarang, bacalah Kisah Para Rasul 2:22-27. Ketika Petrus berkhotbah pada hari Pentakosta, dia menggunakan ayat-ayat dari Mazmur 16:10 sebagai bukti bahwa Allah telah menubuatkan kebangkitan Yesus. Ketika Petrus selesai menyampaikan pesannya, banyak orang insaf bahwa Yesus telah memenuhi nubuat-nubuat dalam PL. Mereka kemudian percaya bahwa Yesus pasti Juru Selamat yang dijanjikan dalam PL. Hari itu, sekitar tiga ribu orang berpaling dari dosa- dosa mereka dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Ketika mereka melakukan hal ini, mereka menerima pengampunan dosa dan hidup yang kekal.
DOA
"Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mau datang ke dunia ini. Kedatangan-Mu tidak Engkau sembunyikan, tetapi Engkau telah sampaikan lewat para nabi jauh sebelum semuanya terjadi. Engkau datang sebagai Anak Domba Allah yang sempurna dan tanpa dosa dengan tujuan menggantikan hukuman atas dosa-dosaku, sehingga aku beroleh pengampunan dosa dan dinyatakan benar di hadapan Allah. Terima kasih Tuhan. Amin"
[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]