Referensi

SYK-Referensi 01a

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b | Referensi 01c

Nama Kursus: SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran: Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama
Kode Referensi : SYK R01a

Referensi SYK-01a diambil dari:

Judul Buku: Teologi Sistematika (3)
Pengarang: Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1996
Halaman : 135 - 144

REFERENSI PELAJARAN 01a - YESUS ADALAH PENGGENAPAN NUBUATAN PERJANJIAN LAMA

KARYA PENGORBANAN KRISTUS

Karya keimaman Kristus ada dua hal menurut Alkitab. Tugas-Nya yang terbesar adalah, mempersembahkan korban yang cukup bagi dosa seisi dunia. Tugas ini adalah milik dari jabatan seorang imam bahwa ia harus mempersembahkan korban dan persembahan atas dosa.

PENGERTIAN TENTANG KORBAN DALAM ALKITAB

Pengertian tentang korban menempati kedudukan penting dalam Alkitab. Berbagai teori telah dikemukakan mengenai perkembangan pengertian ini, beberapa yang disebutkan berikut adalah yang terpenting:

  1. Teori pemberian, yang berpendapat bahwa korban pada mulanya dipersembahkan kepada dewa, diberikan untuk menetapkan hubungan baik dan menjaga agar dewa itu tetap senang. Pendapat ini didasarkan atas konsep yang rendah tentang Allah, dan merupakan pendapat yang sepenuhnya tidak sesuai dengan Alkitab dan apa yang dikatakan Alkitab tentang Allah. Lebih jauh lagi teori seperti ini tidak dapat menerangkan mengapa persembahan itu harus berupa seekor binatang yang telah disembelih. Alkitab memang berbicara tentang korban persembahan kepada Tuhan (Ibrani 5:1), tetapi hanya sebagai pernyataan rasa terima kasih dan bukan bertujuan agar Tuhan senang.
  2. Teori sakramen persekutuan, yang didasarkan pada pengertian totemistik yang menghormati hewan yang dianggap mempunyai natur ilahi. Pada saat-saat tertentu hewan itu disembelih untuk dijadikan makanan bagi manusia, yang diartikan bahwa manusia itu memakan allah-nya dan dengan demikian mengalami asimilasi kualitas ilahi. Akan tetapi dalam kitab Kejadian sama sekali tidak ada pandangan yang tidak spiritual dan bodoh seperti ini. Teori ini juga tidak sesuai dengan ajaran Alkitab secara keseluruhan. Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa beberapa bangsa kafir tidak mempunyai pandangan seperti ini kemudian, tetapi yang dimaksudkan di sini adalah bahwa pandangan seperti ini sepenuhnya tidak dapat diterima sebagai asal mula pandangan tentang korban dalam Alkitab.
  3. Teori pernyataan rasa hormat, menurut teori ini korban pada mulanya adalah pernyataan rasa hormat dan ketergantungan. Manusia harus mencari persekutuan yang lebih dekat dengan Allah, bukan karena kesalahan, tetapi oleh karena rasa ketergantungan dan keinginan untuk mengungkapkan rasa hormat pada Tuhan. Teori ini tidak adil terhadap kenyataan atas korban-korban awal yang dinyatakan Nuh dan Ayub; juga teori ini tidak menerangkan mengapa rasa hormat ini harus dinyatakan dalam bentuk hewan yang telah disembelih.
  4. Teori lambang, yang menganggap persembahan sebagai lambang-lambang dari persekutuan yang telah diperbaharui dengan Tuhan. Penyembelihan hewan korban terjadi hanya untuk memastikan adanya darah, yang menjadi lambang kehidupan yang dibawa ke atas mezbah, memberi arti penting persekutuan hidup dengan Allah (Keil). Teori ini sesungguhnya tidak sesuai dengan kenyataan pada korban-korban Nuh dan Ayub, juga dalam hal Abraham, ketika ia menempatkan Ishak di atas mezbah. Juga teori ini tidak menerangkan mengapa pada masa berikutnya ada begitu banyak arti penting terkandung dalam penyembelihan hewan korban itu.
  5. Teori piacular, yang menganggap korban sepenuhnya bersifat mendamaikan. Pengertian dasar atas teori ini dalam hal penyembelihan hewan korban adalah pendamaian pengganti bagi dosa-dosa orang yang mempersembahkan korban tersebut. Dalam terang Alkitab teori ini tentu lebih dapat diterima. Pengertian bahwa tindakan penyembelihan korban ini adalah ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan, apa pun elemen lain yang mungkin ada dalam pelaksanaannya, atau untuk sebuah persekutuan dengan-Nya, elemen piacular juga ada di sana dan bahkan merupakan elemen paling menonjol. Pengertian ini ditunjang oleh beberapa pemikiran berikut:

    1. Akibat yang dicatat dalam persembahan korban bakaran yang diberikan oleh Nuh bersifat penggantian, Kejadian 8:21.
    2. Ayub mempersembahkan korban tebusan bagi dosa anak-anaknya, Ayub 1:5.
    3. Teori ini menjelaskan tentang kenyataan bahwa korban secara teratur dipersembahkan dalam bentuk hewan sembelihan, mengeluarkan darah, yang menunjukkan penderitaan dan kematian dari korban itu.
    4. Teori ini selaras benar dengan kenyataan bahwa korban yang dilakukan oleh para bangsa kafir, juga bersifat sebagai pengganti.
    5. Lebih lanjut lagi, teori ini juga sesuai dengan adanya sejumlah janji tentang kedatangan Sang Penebus yang diungkapkan pada jaman sebelum Musa. Hal ini hares senantiasa diingat oleh mereka yang menganggap bahwa pengertian piacular tentang korban sudah terlalu tinggi untuk masa itu.
    6. Akhirnya, teori ini juga sesuai dengan ritual persembahan korban yang dinyatakan kepada Musa, di mana elemen penebusan sangat menonjol, ritual persembahan korban itu bukan merupakan sesuatu yang sama sekali baru.

    Di antara mereka yang percaya bahwa elemen penebusan sudah ada bahkan dalam korban-korban persembahan pada jaman sebelum Musa, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai asal mula dari tipe-tipe persembahan itu. Sebagian orang berpendapat bahwa Allah menetapkan cara-cara persembahan korban itu melalui suatu perintah Ilahi langsung, sedangkan kelompok lain berpendapat bahwa korban itu dipersembahkan berdasarkan ketaatan kepada gerakan-gerakan dalam hati yang timbul secara alamiah dalam diri manusia, yang diiringi dengan suatu refleksi. Alkitab tidak memberikan catatan tentang pernyataan secara khusus bahwa Allah memerintahkan manusia untuk melayani Dia dengan korban-korban persembahan pada masa-masa awal itu. Bukannya mustahil bahwa manusia menyatakan rasa syukur serta penyembahannya dalam bentuk korban, bahkan juga sebelum manusia jatuh dalam dosa, dan ini semua dipimpin oleh suatu dorongan di dalam hati manusia sendiri. Akan tetapi tampaknya korban penggantian sesudah manusia jatuh dalam dosa hanya mungkin berasal dari pimpinan Ilahi. Ada suatu dorongan yang sangat kuat dalam argumen Dr. A. A. Hodge yang mengatakan: "(1) Tak dapat dipahami bahwa baik sikap yang benar atau kegunaan yang mungkin dalam memberikan pemberian material pada Allah yang tak kelihatan, dan terutama dalam usaha untuk meredakan murka Allah melalui penyembelihan makhluk yang tidak dapat berpikir, dapat hadir dalam pikiran manusia sebagai suatu dorongan yang spontan. Mulanya, setiap perasaan instinktif dan dorongan pemikiran muncul untuk menyingkirkan pemikiran seperti itu. (2) Berdasarkan hipotesis bahwa Allah akan menyelamatkan manusia, tidaklah masuk akal apabila Ia harus meninggalkan manusia tanpa instruksi tentang suatu hal yang sedemikian penting yang berkenaan dengan alat-alat yang mungkin dapat dipakai untuk mendekati-Nya dan memperoleh kebaikan dari-Nya. (3) Merupakan ciri khas dari wahyu diri Allah, bahwa Allah cemburu terhadap segala sesuatu yang dilakukan manusia yang tidak diperkenankan-Nya dalam hal beribadah atau melakukan penyembahan. Allah menekankan tentang hak kedaulatan-Nya dalam memberikan peraturan ibadah dan pelayanan, agar dapat diterima. (4) Kenyataannya, bukti pertama tentang ibadah yang diterima dalam keluarga Adam menunjukkan adanya korban yang mencurahkan darah, dan dimeteraikan dengan penerimaan dari Tuhan. Semua itu terlihat dalam tindakan mula-mula tentang ibadah, Kejadian 4:3, 4. Ibadah itu diterima oleh Allah segera setelah dipersembahkan."' Korbankorban pada jaman Musa jelas ditunjuk oleh Allah.

KARYA PENGORBANAN KRISTUS DILAMBANGKAN

Karya pengorbanan Kristus dilambangkan dengan peraturan-peraturan tentang korban yang diberikan kepada Musa. Berkaitan dengan korban- korban ini beberapa hal berikut perlu diperhatikan:

  1. Natur penggantian dan pengantaraan. Berbagai penafsiran telah diberikan pada korban-korban Perjanjian Lama: (1) Bahwa korban-korban itu adalah pemberian untuk menyenangkan Allah, menyatakan rasa syukur kepada-Nya, atau untuk meredakan murka-Nya; (2) bahwa korban-korban itu adalah makanan persembahan yang melambangkan persekutuan antara manusia dan Allah; (3) bahwa korban-korban itu adalah sarana yang ditunjuk oleh Tuhan agar manusia mengaku dosa yang sangat dibenci oleh-Nya; atau (4) bahwa, dalam hal yang menyangkut pengertian tentang penggantian, korban itu sekedar merupakan lambang yang menyatakan bahwa Allah menerima orang berdosa, berdasarkan ketaatan mereka, dalam korban yang dipersembahkan bahwa mereka merindukan keselamatan. Akan tetapi Alkitab menyaksikan bahwa semua hewan persembahan di antara bangsa Israel bersifat penggantian, walau pun hal ini tidaklah selalu jelas di sana. Pengertian tentang penggantian ini makin jelas dalam hal persembahan bagi dosa dan pelanggaran, tidak begitu menonjol dalam korban bakaran, dan paling tidak nampak dalam korban pendamaian. Adanya elemen tersebut dalam korban persembahan muncul: (1) dari pernyataan yang jelas dalam Imamat 1:4; 4:29, 31, 35; 5:10; 16:7; 17:11; (2) dari penumpangan tangan yang melambangkan pemindahan dosa dan kesalahan (walaupun Cave menekankan hal yang berlawanan), Imamat 1:4; 16:21,22; (3) dari percikan darah di atas mezbah dan atas tutup pendamaian sebagai penghapusan dosa, Imamat 16:27; dan (4) dari akibat yang berulang kali dicatat tentang korban-korban itu, yaitu pengampunan dosa dari orang yang mempersembahkannya, Imamat 4:26, 31,35. Bukti-bukti Perjanjian Baru dengan mudah dapat ditambahkan, tetapi apa yang dibicarakan sudah cukup.
  2. Natur tipiko profetis korban tersebut. Korban-korban menurut peraturan Musa bukan hanya bersifat seremonial maupun simbolis, tetapi juga spiritual dan tipikal. Bersifat kenabian, dan mewakili Injil dalam hukum. Korban-korban itu juga melambangkan penderitaan Kristus yang menggantikan dan juga kematian-Nya yang mendamaikan. Kaitan antara korban korban itu dengan Kristus telah dinyatakan dalam Perjanjian Lama. Dalam Mazmur 40:7-9 Mesias diperkenalkan dengan perkataan: "Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: `Sungguh aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."' Dalam perkataan ini, Mesias sendiri menggantikan korban agung diri-Nya bagi mereka yang hidup dalam Perjanjian Lama. Bayang-bayang ini akhirnya menjadi pudar pada saat realita yang mereka bayangkan itu tiba, Ibrani 10:5-9. Dalam Perjanjian Baru ada sejumlah indikasi akan kenyataan bahwa korban-korban Musa merupakan tipe dari korban yang jauh lebih mulia dalam diri Yesus Kristus. Ada indikasi-indikasi yang jelas dan bahkan juga pernyataan yang diungkapkan, bahwa korban-korban Perjanjian Lama menggambarkan Kristus dan karya-Nya, Kolose 2:17, di mana sang rasul sungguh mempunyai gambaran yang jelas tentang korban-korban menurut hukum Musa; Ibrani 9:23, 24; 10:1; 13:11,12. Sejumlah ayat mengajarkan bahwa Kristus menggenapi bagi orang berdosa lebih tinggi dari korban-korban Perjanjian Lama yang dibawa, dan bahwa Ia menggenapinya dengan cara yang sama, 2 Korintus 5:21; Galatia 3:13; 1 Yohanes 1:7. Ia disebut sebagai Anak Domba Allah, Yohanes 1:29, yang merupakan gambaran yang jelas dari Yesaya 53 dan anak domba Paskah, "seekor domba yang tidak bercacat dan tidak bercela", I Petrus 1:19, dan bahkan sebagai "Anak domba Paskah yang telah disembelih", I Korintus 5:7. Dan karena korban menurut hukum Musa bersifat tipikal, maka korban itu memberikan sinar pada natur dari korban pendamaian yang agung dari Yesus Kristus. Banyak sekali sarjana di bawah pengaruh allran Graf-Wellhausen menyangkal sifat penggantian dan pembayaran upah dosa dari korban Perjanjian Lama walaupun sebagian dari mereka mau menerima bahwa sifat ini disebutkan dalam masa Perjanjian Lama, walaupun pada masa yang lebih belakangan dan tanpa dukungan yang cukup.
  3. Tujuan korban ini. Berkaitan dengan bagian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa korban-korban Perjanjian Lama mempunyai dua tujuan. Sejauh teokratik, perjanjian dan relasi terkait, korban itu adalah sarana yang ditunjuk di mana orang yang telah berdosa dapat diperbaharui dan mendapatkan hak-haknya, dapat menikmati keadaannya sebagai anggota teokrasi, yang semula telah dihilangkannya karena pelanggaran yang telah mereka perbuat. Mereka kemudian menggenapi tujuannya tanpa memandang semangat dan maksud di mana korban itu dibawa. Akan tetapi korban itu sendiri tidak bermaksud menggantikan moral dari pelanggaran itu. Korban itu bukanlah korban sesungguhnya yang dapat mendamaikan kesalahan moral dan menyingkirkan kecemaran moral, akan tetapi hanya lah merupakan bayang-bayang dari kenyataan yang akan datang. Dalam membicarakan Kemah Suci, penulis surat Ibrani mengatakan: "Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka" (Ibrani 9:9). Dalam bagian berikutnya ia menyebutkan bahwa korban tersebut tidak dapat menyempumakan mereka yang memberi korban tersebut, 10:1, dan tidak dapat menghapuskan dosa, 10:4. Dari sudut pandang spiritual korban itu merupakan tipikal penderitaan Kristus yang menggantikan orang berdosa, sampai pada kematian-Nya, dan dengan demikian memberikan pengampunan kepada mereka dan mereka dapat diterima di hadapan Allah sebagaimana mereka mengakui dosa mereka, dan dengan iman pada cara Tuhan dalam memberikan keselamatan. Korban itu mempunyai arti penting menyelamatkan hanya sejauh bangsa Israel memusatkan perhatian pada Sang Penebus yang akan datang dan penebusan yang dijanjikan.

BUKTI-BUKTI ALKITAB TENTANG KARYA PENGORBANAN KRISTUS

Hal yang mengejutkan dalam berita Alkitab tentang karya keimaman Kristus adalah bahwa Kristus tampil baik sebagai Imam Besar dan sekaligus sebagai korban. Hal ini sesungguhnya selaras dengan apa yang kita lihat dalam diri Kristus. Dalam Perjanjian Lama imam dan korban adalah dua hal yang terpisah, dan sejauh itu tipe korban Perjanjian Lama tidaklah sempurna. Karya keimaman Kristus paling jelas disebutkan dalam surat Ibrani, di mana Sang Pengantara disebutkan sebagai satu- satunya Imam besar yang sesungguhnya, yang sempurna, yang kekal dan ditunjuk oleh Allah sendiri, yang mengambil tempat orang berdosa, dan oleh pengorbanan-Nya sendiri Ia memperoleh penebusan yang sesungguhnya dan yang sempuma, Ibrani 5:1-10; 7:1-28; 9:11-15,24,28; 10:11-14; 19:22; 12:24, dan teristimewa ayat-ayat berikut, 5:5; 7:26; 9:14. Surat Ibrani adalah satu-satunya kitab yang menyebut Kristus sebagai Imam Besar, akan tetapi karya keimaman Kristus juga disebutkan dalam surat- surat Paulus, Roma 3:24, 25; 5:6-8; 1 Korintus 5:7; 15:3; Efesus 5:2. Penjelasan yang serupa juga dapat kita temukan dalam tulisan Yohanes, Yohanes 1:29; 3:14,15; 1 Yohanes 2:2; 4:10. Lambang ular tembaga sangat penting artinya. Ular tembaga itu sendiri tidak berbisa, akan tetapi melambangkan ikatan dosa, demikian juga Kristus, Ia yang tidak berdosa, dijadikan berdosa karena kita. Sebagaimana ular tembaga yang dinaikkan di atas tiang melambangkan pengusiran atas tulah, demikian juga Kristus yang digantung di atas tiang kayu salib membawa penghapusan dosa. Dan sebagaimana orang yang mau percaya dan memandang kepada ular tembaga itu disembuhkan, maka iman kepada Kristus menyembuhkan dan menyelamatkan jiwa. Penjelasan Petrus dalam 1 Petrus 2:24; 3:18 dan penjelasan Kristus sendiri dalam Markus 10:45 selaras dengan penjelasan sebelumnya. Tuhan dengan jelas menyatakan kepada kita bahwa penderitaan-Nya bertujuan menggantikan kita.

SYK-Referensi 01b

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c

Nama Kursus:SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran: Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama
Kode Referensi : SYK-R01b

Referensi SYK-01b diambil dari:

Judul Buku:Yesus Kristus Tuhan Kita
Pengarang: Joh. F. Walvoord
Penerbit : YAKIN, Surabaya, t.th
Halaman: 71 - 85

REFERENSI PELAJARAN 01b - YESUS ADALAH PENGGENAPAN NUBUATAN PERJANJIAN LAMA

JENIS-JENIS UTAMA DARI NUBUATAN TENTANG MESIAS

Dalam Perjanpian Lama ditemukan dua jenis utama dari nubuatan tentang Mesias. Pertama, nubuatan tentang Mesias secara umum. Yaitu nubuatan yang diungkapkan dalam bahasa yang hanya dapat digenapkan oleh Mesias sendiri. Satu contoh tentang nubuatan semacam ini terdapat dalam 1 Samuel 2:35, "Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi." Walaupun penggenapan segera dari nubuat ini barangkali dipenuhi oleh Samuel, namun mempunyai penggenapan lain di luar Samuel dan menunjuk kepada penggenapan akhir di dalam Kristus. Baik keimaman Samuel maupun garis keturunannya telah berakhir, tetapi keimaman kekal yang diramalkan dalam nubuatan ini akan sepenuhnya digenapi di dalam Kristus.

Kedua, nubuatan tentang Mesias secara pribadi. Ini sering ditemukan dalam Perjanjian Lama dan dapat diketahui dari istilah-istilah khusus. Dalam Yesaya 7:14 umpamanya, Mesias diketahui dari istilah yang tak biasa dipakai "Imanuel" yang artinya "Allah menyertai kita." Bagian itu secara istimewa membicarakan tentang Mesias yang akan datang.

SIFAT-SIFAT UMUM DARI NUBUATAN TENTANG MESIAS

Banyak nubuatan tentang Yesus Kristus cukup jelas, khususnya bila dipandang dari pernyataan Perjanjian Baru di mana penggenapannya membantu memberikan keterangan tentang isi nubuatan di dalam Perjanjian Lama itu. Bagaimanapun juga nubuatan tentang Mesias ini memiliki masalah-masalah tertentu:

  1. Bahasa dari nubuatan tentang Mesias sering samar-samar. Maksud Allah dalam kesamaran ini ialah untuk menjadikan nubuatan itu dapat dimengerti hanya oleh orang-orang percaya sejati yang diajar oleh Roh Kudus dan oleh karena itu dapat membedakan mana bagian-bagian yang merupakan nubuatan tentang Mesias. Banyak di antara bagian-bagian itu tidak dapat ditafsirkan kecuali diterangi oleh seluruh isi Firman Allah.
  2. Bahasa dari nubuatan Mesias sering bersifat kiasan. Arti kiasan itu tidak perlu tak berketentuan, karena sering kiasan itu memberikan maksud yang sangat jelas bahkan walaupun bagian tersebut barangkali perlu ditafsirkan. Misalnya, ketika Kitab Suci mengucapkan nubuatan berikut, "Suatu tunas akan keluar Bari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah" (Yesaya 11:1), jelas ayat ini menunjuk kepada Mesias sebagai Seorang yang akan diturunkan dari Isai. Di sini meskipun memakai bahasa kiasan, namun kehenaran yang dikandungnya sungguh jelas.
  3. Dalam nubuatan tentang Mesias masa depan sering dianygap sebagai masa lalu atau masa sekarang. Bahasa lbrani sering mempergunakan pengertian "sudah" dalam menulis nubuatan. Nubuat-nubuat agung dari Yesaya 53 umpamanya, ditulis seakan-akan sudah terjadi. A.B.Davidson mengemukakan, "Penggunaan ini sangat biasa dalam bahasa yang muluk- muluk dari pada nabi, yang iman dan imajinasi-nya demikian jelas memproyeksikan di depan mereka segala peristiwa atau kejadian yang mereka nubuatkan seperti tampaknya sudah terjadi. Ini bagian dari maksud Allah, dan oleh karena itu bagi nabi-nabi yang dapat memandangnya denyan jelas ini, peristiwa-peristiwa tersebut sama seperti sudah terjadi.

    Gaya bahasa seperti ini menunjukkan bahwa peristiwa yang diramalkan dalam Perjanjian Lama itu pasti digenapi bahkan walaupun akan terjadi di masa depan dan bukan di masa lalu.

  4. Seperti bentuk-bentuk nubuatan yang lain, nubuatan tentang Mesias sering dilihat secara horisontal dan bukan vertikal. Dengan perkataan lain, walaupun urutan peristiwa dalam nubuatan itu pada umumnya dinyatakan dalam Kitab Suci, tetapi nubuatan tidak selalu memberikan jarak waktu yang mestinya ada di antara dua peristiwa besar yang disebutnya. Sebagaimana biasa dinyatakan, puncak-puncak gunung nubuatan dinyatakan begitu saja tanpa menyebutkan adanya lembah-lembah yang terdapat di antaranya. Oleh karena itu, nubuatan Perjanjian Lama bisa saja melompat dari peristiwa penderitaan Kristus langsung kepada kemuliaan-Nya tanpa menyebutkan jangka waktu yang terbukti dari sejarah memisahkan kedua peristiwa besar itu.

    Fakta bahwa nubuatan tentang Mesias tidak selalu menyebutkan jangka waktu di antara beberapa peristiwa, digambarkan dalam kutipan Kristus dari Yesaya 61:1-2 di dalam Lukas 4:18-19. Ayat-ayat di Yesaya menghubungkan kedatangan pertama dan kedua dari Kristus tanpa sesuatu petunjuk bahwa di antara keduanya terdapat jangka waktu yang lebar. Tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa keduanya dipisahkan oleh jangka waktu paling sedikit lebih dari 1900 tahun. Kristus dalam kutipan-Nya menyebutkan aspek-aspek kedatangan pertama-Nya. Tetapi secara tiba- tiba berhenti tanpa menyebutkan ayat selanjutnya mengenai "hari pembalasan Allah" yang menunjuk kepada hukuman di saat kedatangan kedua kali-Nya. Apabila dimengerti benar-benar, masalah dalam menafsirkan nubuatan tentang Mesias ini tidak begitu sulit. Tetapi si penafsir harus juga hati-hati untuk mengambil kesimpulan. Kalau ada nubuatan yang kurang lengkap, perlu memeriksa dengan teliti apa yang dimaksudkan oleh penulis.

GARIS KETURUNAN MESIAS : SILSILAH-NYA

Sebuah garis keturunan mengenai kedatangan Juruselamat sudah diramalkan dalam Perjanjian Lama. Garis itu dimulai dari Adam dan Hawa, dan berjalan terus melalui fokus yang makin menyempit sampai semua faktor penting dinyatakan. Juruselamat yang akan datang itu adalah keturunan perempuan (Kejadian 3:15); di dalam garis keturunan Set (Kejadian 4:25); melalui Nuh (Kejadian 6-9); keturunan Abraham (Kejadian 12:1-3); lalu diteruskan melalui Ishak (Kejadian 17:19); Yakub (Kejadian 28:14); Yehuda (Kejadian 49:10); melalui Boaz, Obed, Isai dan Daud (2 Samuel 7:12-13) Dari sini dan selanjutnya kita perlu melihat garis silsilah di Perjanjian Baru (Matius 1:2-16; Lukas 3:23- 38).

Kisah garis keturunan Juruselamat yang akan datang ini pada satu pihak merupakan suatu demonstrasi tentang maksud dan ketetapan Allah yang berdautat dalam melaksanakan kehendak-Nya. Sebaliknya, di sepanjang sejarah garis keturunan Kristus ini terlihat pula pekerjaan yang hendak merusaknya. lblis mulai merusak umat yang baru diciptakan dengan membawa Adam dan Hawa ke dalam pencobaan dan kejatuhan (Kejadian 3:6). Kepada Adam dan Hawa yang jatuh itu Allah merberikan "protevangelium" yaitu petunjuk pertama tentang rencana Allah untuk memberikan Anak-Nya sebagai Juruselamat. Keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular tersebut (Kejadian 3:15). Pekerjaan iblis selanjutnya dinyatakan dalam pembunuhan terhadap Habel dan perusakan oleh perbuatan Kain (Kejadian 4:8). Allah menerbitkan keturunan yang baru dalam kelahiran Set (Kejadian 4:25).

Garis keturunan Mesias di Perjanjian Lama harus diambil keseluruhannya. Nubuatan yang sangat luas bahwa "keturunan perempuan itu" akan meremukkan kepala ular adalah tidak jelas kecuali ditafsirkan oleh nubuatan selanjutnya. J.Barton Payne berkata,

"Walaupun pribadi Mesias belum jelas dinyatakan, tetapi juga tidak dikesampingkan. Pernyataan-pernyataan selanjutnya tidak menghapuskan atau memperbaiki pernyataan-pernyataan sebelumnya seolah-olah yang sebelumnya itu kurang diwahyukan; melainkan justru untuk menjelaskannya. Ayat dalarn Kejadian 3:15 direncanakan oleh Roh Kudus sendiri. Ayat itu sederhana, tetapi benar, dan selaras dengan penggenapannya di kemudian hari di dalam satu pribadi yaitu Kristus."

Kerusakan umat manusia berlangsung terus sampai zaman Nuh, dan juga garis keturunan Mesias. Di sini melalui pembinaan total -- kecuali keluarga N. Allah menyucikan umat manusia dan memelihara keturunan yang saleh (Kejadiaii 6-9). Kemudian umat manusia itu rusak lagi, dan Allah mulai kembali dengan memilih Abraham (Kejadian 12:1-3) melalui siapa maksud-Nya mengenai Mesias itu diteruskan. Kitab Kejadian mencatat garis sempit tentang keturunan Abraham: Ishak (Kejadian 17:19), Yakub (Kejadian 28:14); dan Yehuda (Kejadian 49:10). Perlawanan iblis terhadap rencana Allah ini nyata di dalam terlambatnya kelahiran Ishak, tersisihkannya Esau dan terpilihnya Yakub, dan di dalam perkara yang menodai Yehuda. Di dalam anugerah kedaulatan-Nya, sekalipun demikian Allah tetap menyatakan, "tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda" (Kejadian 49:10). Nubuatan Yakub, walaupun bahasanya agak kabur, jelas maksudnya bahwa Mesias akan datang melalui Yehuda.

Hengstenberg memulai karya klasiknya mengenai Kristologi dengan pernyataan, "dalam nubuatan-nubuatan tentang Mesias yanq ada di dalam kitab Kejadian kita dapat melihat bahwa nubuatan-nubuatan itu makin lama makin jelas dan nyata. Ramalan tentang Mesias yang pertama, yang diucapkan segera sesudah kejatuhan Adam, adalah juga yang paling tak jelas." Apa yang kabur pada pertama kali dijadikan makin terang sebagaimana dibukakan dalam Perjanjian Lama itu sendiri.

Kisah Rut dan Boaz merupakan contoh lain dari rencana ilahi yang berdaulat di dalam garis keturunan Mesias. Dengan persiapan yang jelas dari Allah sendiri, garis keturunan raja Daud dihubungkan dengan Yehuda. Di dalam Alkitab, hanya sedikit kitab-kitab yang mengajarkan dengan contoh yang jelas tentang kedaulatan dan pengambilan tindakan dari Allah secara lebih limpah dari pada yang ditulis di kitab Rut.

Lukisan Perjanjian Lama tentang garis keturunan dari Daud sampai kepada Kristus tidak Iengkap. Tetapi kekurangan ini lebih dari cukup dilengkapi oleh Perjanjian Baru. Yang khusus menarik perhatian adalah adanya dua garis keturunan dari Yusuf dan Maria yang keduanya berhubungan dengan Daud. Garis-garis keturunan itu dapat dijelaskan secara paling memuaskan dengan menyatakan bahwa yang ditulis oleh Matius adalah garis keturunan Yusuf, sedangkan Lukas menulis garis keturunan Maria. Dari penafsiran ini, tampaklah bahwa Yusuf merupakan keturunan Daud melalui Salomo, dan garis keturunan raja-raja Yehuda. Maria merupakan keturunan Daud melalui anak laki-laki Daud, Natan. Seluk beluk ini adalah suatu penggenapan yang menyolok dari nubuatan Perjanjian Lama. Kepada Daud Allah telah berjanji bahwa baik keturunannya maupun takhtanya akan sampai selama-lamanya (2 Samuel 7:12-16). Kepada Salomo, anak Daud, Allah menjanjikan bahwa takhta dan kerajaannya akan berlangsung selama-lamanya, tetapi sama sekali tidak menubuatkan keturunan Salomo. Ini dapat diterangkan di dalam kemurtadan raja-raja Yehuda. Yoyakim, raja Yehuda, dikutuk dengan keras karena dosanya dan Kitab Suci menyatakan : "Ia tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam. Aku akan menghukum dia, keturunannya dan hamba-hambanya karena kesalahan mereka..." (Yeremia 36:30-31). Konya, anak laki-laki Yoyakim, ditawan ketika Yerusalem jatuh dan garis keturunan raja-raja Yehuda berakhir di sana (bd. Yeremia 22:30). Persoalannya segera timbul: Bagaimana Allah dapat menggenapkan janji-Nya kepada Daud apabila garis keturunan ini terputus? Jawabannya ialah bahwasanya garis keturunan Mesias diteruskan dan dijaga kelanjutannya melalui Natan, bukan melalui Salomo dan keturunannya. Dari ini, hak sah atas takhta Daud disalurkan melalui Salomo dan Yoyakim kepada Yusuf, dan kepada "anak laki-laki" Yusuf yaitu Kristus. Tetapi secara badaniah keturunan itu disalurkan melalui Natan dan Maria kepada Kristus. Jadi janji-janji Allah baik kepada Daud maupun kepada Salomo benar-benar digenapkan menurut apa yang tertulis di dalam dan melalui Kristus. Hal ini sekaligus merupakan contoh jelas dari ketepatan nubuatan itu, di mana Allah mengetahui sebelumnya tentang dosa-dosa raja-raja Yehuda dan kutuk yang akan menimpa mereka, dan pada saat yang sama ditentukan bahwa Kristus akan dilahirkan dari seorang dara. Apabila Yesus adalah anak kandung Yusuf secara jasmani, maka ia harus disisihkan karena kutuk yang telah menimpa Yoyakim.

Catatan-catatan Kitab Suci memberikan catatan yang tepat dan terpercaya tentang kualifikasi Kristus sebagai Pewaris atas janji- janji kepada Daud. Sarjana-sarjana konservatif setuju bahwa Kristus menggenapkan semua nubuatan ini, dan bahkan orang-orang Yahudi yang tak percaya mengharapkan bahwa Mesias yang akan datang itu akan menggenapkan nubuatan-nubuatan itu. Silsilah orang-orang Yahudi tentu saja telah di musnahkan ketika Yerusalem dihancurkan oleh orang-orang Romawi di tahun 70 M. Perjanjian Baru adalah satu-satunya catatan yang memberikan silsilah sah bagi Mesias.

NUBUATAN-NUBUATAN TENTANG KELAHIRAN KRISTUS

Nubuatan-nubuatan mengenai kelahiran Kristus merupakan nubuatan- nubuatan yang cukup jelas di Perjanjian Lama. Nubuatan mengenai garis keturunan Juruselamat yang diramalkan itu sendiri memberitahukan tentang kelahiran-Nya. Tempat kelahirannya jelas dinyatakan dalam Mikha 5:1 dan ayat itu begitu terang sehinnga kebanyakan orang tahu bahwa Bethlehem akan menjadi tempat kelahiran Mesias. Ahli Taurat dan imam-imam segera dapat memberitahukan Herodes tentang hal ini ketika orang-orang Majus datang menanyakan tempat kelahiran Raja Orang Yahudi.

Aspek-aspek lain dari kelahiran Kristus juga dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Yesaya meramalkan bahwa kelahiran-Nya akan merupakan suatu tanda : "Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu tanda : Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel" (Yesaya 7:14). Di sini, baik aspek kemanusiaan dari inkarnasi itu, kehamilan dan kelahiran-Nya, dan aspek keilahiannya terang- terangan dinyatakan -- "Imanuel" dtau "Allah menyertai kits."

Waktu kelahiran Mesias yang akan datang itu agaknya juga dinyatakan dalam batas-batas tertentu. Menurut Kejadian 49:10, Mesias harus datang (dilahirkan) sebelum pemerintahan Yahudi dihancurkan. Ini seperti ditunjukkan oleh penghancuran Yerusalem di tahun 70 M, yang mengakhiri seluruh pemerintahan Yahudi di Palestina selama berabad- abad. Nubuatan dari Daniel 9:25 -- bahwa enam puluh sembilan kali tujuh masa akan berlalu sebelum Mesias disingkirkan -- telah ditunjukkan sampai tuntas pada kematian Kristus. Walaupun tafsiran tentang nubuatan Daniel ini menyebabkan banyak perdebatan, namun disetujui oleh kebanyakan sarjana bahwa suatu tafsiran menurut apa yang tertulis akan menunjukkan kira-kira waktu dari umur hidup Yesus Kristus. Meskipun pernyataan ini tidak dimengerti sebelumnya; pada waktu itu sudah terdapat harapan yang meluas bahwa Mesias akan segera datang.

Jadi kita dapat melihat bahwa nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama, memberikan garis besar yang teliti tentang unsur-unsur utama yang berkenaan dengan kelahiran Mesias: tempatnya, waktunya, garis keturunannya, dan sifat kehamilan serta kelahiran-Nya yang ajaib.

NUBUATAN-NUBUATAN TENTANG PRIBADI KRISTUS

Kita dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu dari nubuatan - nubuatan Perjanjian Lama mengenai pribadi Kristus. Dalam satu kalimat, di sana terdapat kesaksian yang cukup lengkap tentang kemanusiaan maupun keilahian-Nya. Pernyataannya sudah tentu tidak seterang atau sekuat pernyataan dalam Perjanjian Baru, tetapi sekalipun demikian unsur unsur utamanya jelas.

Kemanusiaan Juruselamat yang akan datang itu secara praktis ada di dalam semua ayat mengenai Mesias. Dari Kejadian 3:15, di mana Mesias diuraikan sebagai keturunan perempuan, sampai kepada nubuatan-nubuatan para nabi Perjanjian Lama di kemudian hari, Mesias dinyatakan sebagai manusia. Pernyataan mengenai garis keturunan-Nya, hubungan-Nya dengan Israel, kelahiran-Nya di Bethlehem dan gelar-Nya sebagai Anak memberikan kepastian bahwa maksud nubuatan-nubuatan itu hendak menyatakan kemanusiaan-Nya. Semua orang Yahudi memang mempunyai harapan bahwa Pelepas yang akan datang itu adalah Manusia, dilahirkan dari seorang ibu Yahudi.

Aspek yang menarik perhatian dari nubuatan-nubuatan itu ialah adanya kesaksian yang berulang-ulang tentang keilahian-Nya. Menurut Yesaya 7:14, Ia harus dilahirkan oleh seorang perempuan muda (perawan). Walaupun banyak kritikan terhadap nubuatan ini, tetapi kritikan yang melawan ayat ini mau tidak mau harus juga menganggap bahwa catatan di dalam Injil Matius dan Lukas salah, apabila mereka mau "memasukakalkan" Yesaya 7:14.

Payne, sesudah membicarakan penafsiran Yesaya 7:14, mengihtisarkan suatu tafsiran yang layak tentang ayat itu,

"Kelahiran Imanuel dinyatakan sebagai tanda ajaib (7:14); dan dengan mujizat ini tidak ada peristiwa masa itu yang diketahui terjadi sama. Selanjutnya, raja Ahas bersalah dalam kesalehan yang munafik dan melelahkan Allah; maka tanda yang ditunjukkan dimaksudkan sebagai ancaman, bukan sebagai janji. Ancaman ini tidak semata-mata ditujukan kepada Ahas saja, melainkan terhadap seluruh keluarga Daud (ay. 13). Yaitu, bila Mesias harus lahir, Ia akan makan "dadih dan madu," yang merupakan suatu tanda negeri yang kena malapetaka (malapetaka itu di sini disebabkan oleh orang-orang Romawi, sebagaimana ternyata kemudian), dan oleh karena itu berarti bahwa keluarga Daud akan kehilangan kekuatannya. Maka tanda itu kemudian akan menggantikan sekali buat selama-lamanya raja-raja keluarga Ahas yang cuma manusia Yahudi biasa, yaitu Mesias sendiri."

Maksud ayat ini terang sekali. Yaitu hendak menyatakan bahwa Ia akan dikandung secara ajaib tanpa melalui seorang ayah manusia. Nubuat ini ajaib karena anak laki-laki,yang akan dilahirkan itu bukan dikandung oleh seorang wanita menurut cara yang wajar, melainkan oleh seorang perawan sejati!

Mesias dinyatakan dalam Yesaya 7:14 sebagai layak mendapat gelar Imanuel -- Allah menyertai kita. Dalam Yesaya 9:5-G, Anak yang lahir, Putera yang diberikan, diuraikan sebagai "Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai." Nubuatan tentang kelahiran-Nya dalam Mikha 5:1, menguraikan Anak yang akan lahrr itu sebagai Seorang "yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." Pernyataan ini merupakan pernyataan terkuat yang mungkin ada tentang keberadaan-Nya yang kekal sebelum la "dilahirkan" ke uunia. Gabungan kesaksian di atas ini dengan kesaksian-kesaksian lainnya memastikan hanya bila Ia datang, Mesias itu adalah Allah dan Manusia di dalam satu Pribadi.

NUBUATAN-NUBUATAN TENTANG KEHIDUPAN KRISTUS

Pernyataan yang menarik tentang kehidupan Kristus terdapat di dalam banyak nubuatan mcngenai Mesias yang menggambarkan sifat kehidupan- Nya. Pelayanan ununnNya harus didahului oleh seorang utusan, "Lihat, Aku nunyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku. Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam" (Maleakhi 3:1). Sebelumnya Yesaya telah berbicara tentang "suara yang berseru-sero : persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN" (Yesaya 40:3). Tidak diragukan lagi bahwa kedua ayat ini ditujukan kepada Yohanes Pembaptis (bd. Matius 3:3; 11:10; Markus 1:2; Lukas 7:27), dan keempat catatan Injil menulis penggenapan nubuatan ini.

Mesias yang akan datang itu dalam kehidupan-Nya harus menggenapi jabatan sebagai Nabi, Imam, dan Raja. Musa telah meramalkan kedatangan Nabi semacam itu (Ulangan 18:15-18), dan Perjanjian Baru secara khusus menunjuk kepada penggenapannya di dalam Kristus (Yohanes 1:21; 4:29; 5:46; 6:14; 8:28; 14:24; Kisah Para Rasul 3:20-23). Keimaman Kristus diramalkan dalam seluruh sistem imamat yang diberikan oleh wahyu, pertama di zaman kepala keluarga sebagai imam dan kemudian rnenurut aturan Lewi. Nubuat yang diberikan dalam 1 Samuel 2:35 dapat digenapkan seluruhnya hanya oleh Kristus, bahkan meskipun sebagian digenapkan oleh Samuel sendiri. Nubuatan dari Mazmur 110:4 yang dikutip oleh lbrani 6:6, dan dibicarakan panjang lebar dalam kitab lbrani, jelas digenapkan dalam Kristus. Zakharia menggabungkan jabatan keimaman dan rajani dalam nubuatannya, "Dialah yang akan mendirikan bait TUHAN dan dialah yang akan mendapat keagungan dan akan duduk rnemerintah di atas takhtanya" (Zakharia 6:13). Konteks ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah Kristus.

Jahatan rajani Kristus ini adalah yang mula-mula disebut dalam nubuatan dan yang paling menonjol dalam ramalan Perjanjian Lama. Mulai di zaman Abraham, Allah telah menyatakan bahwa raja-raja akan herada di antara keturunan Abraham. Kemudian garis keturunan raja-raja tu diperscmpit di dalam keturunan Yehuda (Kejadian 49:10). Petunjuk tentang seorang Raja yang istimewa dalam Kejadian 49:10 dibuat lebih I)asti di dalam kitab Bilangan 24:17. Suatu pernyataan penting ditemukan dalam ramalan yang diberika•,; kepada Daud pada ayat-ayat terkenal di 2 Samuel 7:12-16. Di sini dinyatakan bahwa keluarga Daud akan ditetapkan dalam kedatangan Mesias yang takhta-Nya dan kerajaan-Nya akan sampai selama-lamanya. Sarjana-sarjana konservatif setuju bahwa penggenapan nubuatan-nubuatan ini hanya didapatkan di dalam Kristus saja. Tafsiran ini tentu saja dikuatkan oleh Perjanjian Baru (Lukas 1:31-33), dan pokok pikirannya diteruskan di sepanjang sisa Perjanjian Lama juga.

Dalam Mazmur 2, Yehovah menyatakan bahwa la akan mendudukkan Anak-Nya ch atas takhta Sion. Kekuasaan dan pemerintahan Raja itu diheritahukan lebih dahulu dalam Mazmur 110. Nubuatan mengenai penun- intahan-Nya di bumi adalah lengkap dalam ramalan tentang Mesias (Yesaya 2:1-4; 4:1-6; 49:7; 52:15). Dalam Yesaya 9:5-6 ditegaskan.

"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan nama-Nya disebutkan orang : Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaan-Nya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan ch atas takhta Daud dan di dalam kerajaan-Nya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya."

Ayat-ayat ini mengumpulkan dalam satu pernyataan ramalan-ramalan tentang inkarnasi itu, tentang keilahian dan kekekalan Mesias, pemerintahan damai sejahtera-Nya yang akan datang di bumi, kebenaran dan keadilan kerajaan-Nya, dan fakta bahwa kerajaan itu akan menggenapkan janji-janji terhadap Daud. Janji-janji terhadap Daud dan ramalan tentang kerajaan duniawi dari Mesias adalah satu dan sama. Seluruh pasal 11 dari kitab nabi Yesaya adalah sebuah gambar dari pemerintahan raja itu.

Yeremia mengulangi aspek-aspek utama yang sama tentang Mesias yang rajani ini

"Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. la akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepada-Nya : TUHAN-keadilan kita." (Yeremia 23:5-6).

Nubuatan ini mempunyai akibat istimewa ke atas Israel. Zakharia berbicara tentang Raja yang datang sebagai Juruselamat dan Pelepas bagi umat-Nya, "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersoraksorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. la lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (Zakharia 9:9). Di sini kita melihat Kristus dalam karakternya sebagai Raja pada kedatan~an pertama kali-Nya, bertentangan dengan ayat-ayat sebelu nnya yang menunjuk kepada kerajaan itu sesudah kedatangan kedua kali-Nya. Ayat di atas ini digenapi dalam Perjanjian Baru (Matius 21 :4-9; Markus 11 :9-10; Lukas 19:37-38). Ramalan Perjanjian Lama mengenai Kristus sebagai Raja termasuk kedatanyan pertama kali-Nya dan kerajaan sesudah kedatangan kedua kali-Nya.

Bahwa Mesias itu akan menjadi Juruselamat dan Pelepas telah lama diramalkan dalam banyak bagian Perjanjian Lama dimulai dengan protevangelium dalam Kejadian 3:15. Bahkan Ayub, yang barangkali hidup sebelum zaman Kitab Suci ditulis, mengenal pengharapan akan datangnya seorang Penebus (Ayub 19:25). Hampir semua ayat yang berkenaan dengan Mesias membicarakannya. Bagian terkenal yang meramalkan pekerjaan penyelamatan Kristus tentu saja adalah Yesaya 53.

Salah satu garis penting dari nubuatan mengenai Mesias yang akan datang itu tercakup dalam gambar dari Kristus sebagai batu penjuru dan alas. Bagian utama dari Perjanjian Lama tentang hal ini ialah Yesaya 28:14-18. Banyak ayat-ayat lain mendukung pernyataan tersebut (Kejadian 49:24; 1 Raja-Raja 7:10-11; Mazmur 118:22; Yesaya 8:14; Zakharia 4:7. Bandingkan dengan ayat-ayat di Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul 4:11; Roma 9:33; 11:11; Efesus 2:20; 1 Petrus 2:6-8). Pokok pikiran dalam ayat-ayat ini ialah bahwasanya Kristus akan membawa keamanan bagi Israel.

Perjanjian Lama memberikan perhatian banyak terhadap Mesias sebagai Hamba Yehovah. Ayat-ayat penting berkenaan dengan kebenaran ini i,iLih Yesaya 42:1-7; 49:1-7; 52:13 -- 53:12. Perjanjian Baru sering menyindir nubuatan-nubuatan ini (Matius 8:17; 12:17-21; Lukas 22:37` Yohanes 12:38; Kisah Para Rasul 3:13,26; 4:27; 4:30; 8:32; Roma 10:13; 15:21; 1 Petrus 2:22-24). Istitah "Hamba Yehovah" sebagaimana didapatkan di dalam Perjanjian Lama kadang•kadang menunjuk kepada Israel, kadang-kadang kepada sisa orang Israel yang masih setia kepada Tuhan, kadang-kadang secara khusus kepada Mesias, dan di dalam Yesaya 37:35 istilah ini menunjuk kepada Daud. Pokok pikiran utama dalam ramalan•ramalan ini ialah bahwa Kristus sebagai Hamba yang taat, melalui penderitaan dan ker;ratian-Nya la menebus umat-Nya.

Dalam hubungan dengan nubuatan-nubuatan tentang kerajaan Mesias di masa depan, dinyatakan bahwa Mesias akan melakukan banyak mujizat besar. Kesaksian tentang ini tidak selalu dihubungkan khusus dengan Mesias, melainkan diberikan uraian mengenai keadaan waktu itu. Misalnya dalam Yesaya 35:5-6 tertulis, "Pads waktu itu mata orangorang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak sorai; sebab mata air memancar di padang gurun . . ." Konteks langsung dari ayat-ayat ini berhubungan dengan kerajaan Mesias, tetapi sekaligus menguraikan apa yang dilakukan oleh Mesias itu sendiri. Kristus meminta perhatian terhadap kepentingan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang ajaib sebagai suatu kesaksian mengenai diri-Nya (Yo hanes 5:36).

Secara keseluruhan, Perjanjian Lama memberikan gambaran yang rnenarik tentang Mesias yang akan datang. la harus didahului oleh seorang utusan, menjadi Juruselamat dan Pelepas, menjalankan jabatan Nabi, Imam dan Raja, menjadi batu penjuru dan alas, menggenapkan pengharapan akan datangnya seorang Hamba Yehovah yang akan menebus umat-Nya, dan melakukan banyak pekerjaan mujizat dan pekerjaan baik. Pekerjaan dan pengajaran-Nya adalah untuk menyatakan kuasa dari Roh TUHAN (Yesaya 11 :2-3).

NUHUATAN-NUBUATAN TENTANG KEMATIAN KRISTUS

Bagian Perjanjian Lama yang memberitahukan tentang kematian Kristus terutama Mazmur 22 Jan Yesaya 53, walaupun banyak ayat lain mendukung ajaran ini. Yesaya 53 menuuguhkan penderitaan Hamba Yehovah, menyatakan sebagian besar dari seluk beluk penting tentang kematian Kristus. la akan dipukuli dengan kejam, "tertikam oleh karena pemberontakan kita" dan "diremukkan oleh karena kejahatan kits" (Yesaya 53:5). Penderitaan-Nya memberikan keselamatan dan kesembuhan (Yesaya 53:5). la membisu di hadapan para penganiaya-Nya laksana seekor domba dibawa ke pembantaian. nyawa-Nya sebagai korban dosa (Yesaya 53:10). Ia akan mati di antara penjahat-penjahat, dan kuburnya di antara orang kaya (Yesaya 53:9). Penderitaan-Nya bukan disebabkan oleh dosa-Nya sendiri, karena "ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya" (Yesaya 53:9b). Pendeknya, Yesaya memberikan catatan yang teliti mengenai seluk beluk penderitaan dan kematian Kristus lengkap dengan sebab-musabab theologis bagi kematian-Nya -- la mati karena dosa-dosa manusia, untuk memuaskan tuntutan Allah . Bahkan pemeriksaan sepintas lalu terhadap catatan Perjanjian Baru me nunjukkan bahwa semua seluk beluk nubuatan ini sudah digenapi.

Tatkala berada di kayu salib, Kristus sendiri mengutip dari Mazmur 22, dan ini menujukan perhatian kita kepada nubuatan-nubuatan yang ada dalam mazmur tersebut. Mesias akan ditinggalkan oleh Allah (Mazmur 22:2), dihina dan diejek (Mazmur 22:7-9), menanggung penderitaan yang tak terkatakan (Mazmur 12:15-17), segala tulang-Nya terlepas dari sendinya (Mazmur 22:15), Ia menderita kehausan (Mazmur 22:16), tangan dan kakinya ditusuk -- suatu petunjuk tentang penyaliban (Mazmur 22:17), pakaian-Nya dibagi-bagi dan jubah-Nya diundi (Mazmur 22:10), Ia harus mati (Mazmur 22:16). Mazmur ini secara teratur memberikan gambaran jelas tentang penderitaan Kristus di kayu salib, yang digenapi setiap bagian sampai sekecil-kecilnya dalam peristiwa penyaliban yang dicatat oleh keempat Injil.

Banyak ayat-ayat lain yang bertebaran dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada kematian Kristus dan melengkapi gambaran nubuat ini. Ia akan dikhianati oleh sahabat-Nya (Mazmur 41:10), difitnah (Mazmur 35:11) dan diludahi (Yesaya 50:6), tulang-tulang-Nya tidak akan dipatahkan (Mazmur 34:21).

Tidak hanya Perjanjian Baru mencatat penggenapan nubuatan itu, tetapi Kristus sendiri melengkapkan gambaran nubuatan tentang kematian-Nya. Berkali-kali Ia meramalkan penyaliban-Nya (Matius 12:38-42; 16:21; 17:22-23; 20:18-19; 26:31; Markus 8:31; 9:31; 10: 32-34; Lukas 9:22,44; 18:31-33; Yohanes 12:32-33). Hanya sedikit kejadian lain yang diberi gambaran begitu lengkap dan terperinci sebelum terjadi. Maka kita dapat mengatakan bahwa seluruh nubuatan mempunyai titik pusat pada penderitaan dan kematian Kristus.

NUBUATAN-NUBUATAN TENTANG KEBANGKITAN KRISTUS

Walaupun banyak ayat dalam Perjanjian Lama yang memberitahukan lebih dahulu tentang kebangkitan Kristus, tetapi hanya sedikit yang ditulis khusus. Di antaranya yang penting ialah Mazmur 16:10, "Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan." Memang sudah biasa beberapa gelintir sarjana berusaha mengecilkan, dan kalau mungkin meniadakan unsur tentang Mesias dari nubuatan Perjanjian Lama. Oehler, misalnya, mengatakan bahwa ia tidak melihat petunjuk tentang adanya Mesias dalam Mazmur 16:10) A.B.Davidson tidak membicarakannya dalam tulisannya tentang nubuatan Perjanjian Lama. Bagaimanapun juga Perjanjian Baru menjadikannya jelas, kepada semua orang yang menerima bahwa Kitab Suci tak pernah salah, bahwa Mazmur 16:10 terutama ditujukan kepada Kristus. Petrus, sesudah mengutip ayat ini dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, menyatakan dengan terus terang bahwa ayat ini bukan untuk Daud melainkan ditujukan kepada Kristus (Kisah Para Rasul 2:25-31). Paulus dalam khotbahnya di Antiokhia Pisidia menyatakan bahwa ayat ...ini untuk Kristus juga (Kisah Para Rasul 13:34-37). Maka di sini kita melihat suatu tafsiran dengan penyaksian ganda dari ajaran Petrus dan Paulus yang menerima ilham ilahi. Apabila Daud mati dan tubuhnya menjadi debu, maka Kristus mati dan hidup kembali dari antara orang mati.

Selain dari pada itu kebangkitan Kristus dinuhuatkan dalam setiap ayat yang menggambarkan.Kristus sebagai pemenang atas dosa dan kuasa jahat. Beberapa ayat menyatakan kebangkitanNya.' Mazmur 22:23 meramalkan tentang Kristus, "Aku akan memasyhurkan namaMu kepada saudara- saudaraKu dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah." Ayat ini dikutil) dalam lbrani 2:12. Konteks dari Mazmur 22:23 dan Ibrani 2:12 adalah tentang kemenangan atas maut. Mazmur 118:22-24 menulis tentang "batu yang rlibuang oleh tukang-tukang bangunan telah men jadi batu penjuru." Juga ayat ini melukiskan kebangkitan sesudah penolakan. Yesaya 53:10 agaknya juga mengisyaratkan tentang kebangkitanNya. Sesudah menyebutkan kernatian Hamba Yehovah, ayat itu meneruskan, "umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya." Sulit melihat ba( gaimana ayat ini dapat digenapkan secara hurufiah sesudah kematian Kristus kecuali melalui kebangkitan.

Kesaksian Perjanjian Lama -- kecuali Mazmur 16:10 -- tentang kehangkitan Kristus ayak kurang langsung. Namun Perjanjian Baru berdang-dang meramalkan kebangkitarn Knstus secara langsung. Ayat- ayat berikut yang diucapkan oleh Kristus sendiri menunjukkan lengkapnya nubuatan kebangkitan itu : Matius 12:38-40; 16:21; 17:9,23; 20:19; 26:32; 27:63; Markus 8:31; 9:9; 9:31; 10:33-34; 14:58; Lukas 9:22; 18:33; Yohanes 2:19-21. Kebangkitan Kristus -- sama seperti ke rnatianNya -- merupakan penggenapan rencana Allah yang sudah ditentutukan sebelumnya.

NUBUATAN-NUBUATAN TENTANG KEMULIAAN-NYA

Perjanjian Lama penuh dengan ayat-ayat tentang kemuliaan Allah. Banyak di antara ayat-ayat ini dikenakan kepada Allah Tritunggal, tetapi ada juga yang merupakan nubuatan mengenai Mesias. Nubuatan-nubuatan besar dari Perjanjian Lama mengenai kerajaan mulia yang akan datang itu sendiri sebenarnya merupakan kesaksian terhadap kemuliaan Sang Raja. Salah satu maksud inti dari kerajaan seribu tahun ialah untuk menyatakan kemuliaan Allah dan kemuliaan Anak Allah. Misalnya Mazmur 24, meramalkan datangnya Raja kemuliaan, dan konteksnya menunjukkan bahwa hal itu terutama menunjuk kepada Anak Allah. Mazmur 72 yang berisi pemandangan umum tentang kerajaan yang akan datang itu, menutup dengan berkat, "Dan terpujilah kiranya namaNya yang mulia selamalamanya, dan kiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi." Yesaya meramalkan, "Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan." (Yesaya 4:2a). "Tunas" di sini agaknya menunjuk kepada Kristus. Yesaya bertanya, "Siapa dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar?" (Yesaya 63:1). Jelas dengan melihat konteksnya, ayat ini ditujukan kepada Mesias. Daniel memberikan suatu gambaran yang luas, "Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah" (Daniel 7:14).

Karena begitu banyak ayat-ayat tentang kemuliaan Mesias, yang sangat kontras dengan penderitaan-Nya, maka rasul Petrus menyebutkan persoalan ini, "Kesetamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabinabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu" (1 Petrus 1:10-11). Dengan perkataan lain, nabi-nabi Perjanjian Lama sendiri, yang menyadari adanya dua mac. m nubuatan yaitu tentang penderitaan dan kemuliaan Kristus, tidak dapat menyelaraskan kontradiksi ini.

Perjanjian Baru menguatkan kemuliaan yang akan datang ini, yang akan terjadi sesudah penderitaan. Kristus pada saat kenaikan-Nya ke sorga kembali ke kemuliaan. Kitab Suci sering menyebutkan saat' kemuliaan- Nya sekarang di sorga (Markus 16:19; Lukas 24:51; lbrani 4:14; 9:24; 1 Petrus 3:22). Dari keadaan kemuliaan ini la akan kembali untuk menjemput Gereja-Nya (Yohanes 14:1-3; 1 Korintus 15:51-52; 1 Tesalonika 4:13-18). Sesudah gereja diangkat ke dalam kemuliaan , gereja akan diadili oleh Kristus (1 Korintus 3:12-15; 9:16-27; 2 Korintus 5:8-10; Wahyu 3:11). Lalu Kristus akan kembali keduakalinya ke bumi dengan segala kemuliaan (Matius 26:64; Lukas 21:27; Kisah Para Rasul 1:11). Sesudah memerintah di bumi dimulailah pemerintahan yang kekal (1 Korintus 15:24-28). Bagaimanapun juga, dari saat kenaikan- Nya, Kristus berada dalam keadaan mulia-Nya dan segala pekerjaan serta penampakkan diri-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya. Perjanjian Baru menambahkan banyak seluk beluk terhadap garis besar nubuatan ini, tetapi fakta tentang kemuliaan-Nya juga dikuatkan oleh Perjanjian Lama.

SYK-Referensi 01c

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b

Nama Kursus:SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran:Yesus adalah Penggenapan Nubuatan Perjanjian Lama
Kode Referensi: SYK-R01c

Referensi SYK-01c diambil dari:

Judul Buku:Bukti Nubuat Sang Mesias
Pengarang: Ralph O. Muncaster
Penerbit: Gosperl Press, Batam, 2002
Halaman: 55 - 57

REFERENSI PELAJARAN 01c - YESUS ADALAH PENGGENAPAN NUBUATAN PERJANJIAN LAMA

BUKTI NUBUAT SANG MESIAS

Terdapat 322 nubuat mengenai sang Mesias dalam Perjanjian Lama. Berikut ini adalah deskripsi sang Mesias hanya dart nubuat Perjanjian Lama.

Sang Mesias akan diturunkan dari Sem (Kejadian 9,10), Abraham (Kejadian 22:18), Ishak (Kejadian 26:2-4), Yakub (Kejadian 28:14), Yehuda (Kejadian 49:10), Isai (Yesaya 11:1-5), dan Raja Daud (Samuel 7:11-16). Sebuah bintang cemerlang (Bilangan 24:17) akan muncul ketika Ia dilahirkan di kota Betlehem di tanah Efrata (Mikha 5:2). Itu akan merupakan kelahiran mukjizat oleh seorang perawan. (Yesaya 7:14)

Sang Mesias unik, Ia sudah ada sebelum kelahiran-Nya. (Mikha 5:2) Ia akan mengadakan banyak mukjizat: meneduhkan laut (Mazmur 107:29), dan membuat yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan, dan yang bisu berbicara. (Yesaya 35:4-6) Ia akan dirujuk dengan banyak cara termasuk: Allah menyertai kita, penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal dan raja damai. (Yesaya 9:6) Suatu hari Ia akan memerintah atas segalanya-semua bangsa akan sujud bertelut kepada-Nya. (Yesaya 45:23; Mazmur 22)

Sang Mesias, bagaimanapun juga, akan datang untuk menyelamatkan umat manusia. (Yesaya 53) Ia akan menjadi korban dosa manusia (Yesaya 53) dan memberikan diri-Nya kepada Yerusalem sebagai raja yang diurapi sekaligus anak domba Paskah. (Yesaya 53) Ini akan terjadi tepat 173.880 hari setelah dekrit yang dikeluarkan oleh Artahsasta untuk membangun kembali baik Yerusalem maupun Bait Suci. (Daneil 9:20-27) Jadi, empat hari sebelum paskah, sang Mesias akan menghadirkan diri- Nya kepada Yerusalem yang bersukaria dengan menunggang seekor keledai. (Zakharia 9:9) Namun kemudian Ia akan sangat menderita. (Yesaya 53) Ia akan ditolak oleh banyak orang termasuk sahabat- sahabat-Nya. (Yesaya 53) Ia akan dikhianati oleh seorang sahabat (Mazmur 41:9) untuk 30 uang perak. (Zakharia 11:12,13) Belakangan uang itu akan dilemparkan ke lantai bait suci (Zakharia 11:12,13) dan akhirnya akan diberikan kepada penuang logam.18 Ketika diadili Ia tidak akan mem (Yesaya 53) bela diri. Ia tidak akan mengatakan apa-apa kecuali yang diharuskan oleh hukum. Israel akan menolak Dia. (Yesaya 8:14)

Sang Mesias akan dibawa ke sebuah puncak bukit yang diidentifikasi Abraham sebagai "Tuhan menyediakan." (Kejadian 22) Di sana Ia akan disalibkan dengan tangan dan kaki tertusuk. (Mazmur 22) Musuh-musuh- Nya akan mengelilingi Dia, (Mazmur 22) mengolok-olok Dia, dan akan membuang undi untuk pakaian-Nya. (Mazmur 22) Ia akan berseru kepada Tuhan bertanya mengapa Ia "ditinggalkan." (Mazmur 22) Ia akan diberi cuka dan anggur. (Mazmur 69:20-22) Ia akan mati bersama para pencuri. (Yesaya 53) Namun tidak seperti pencuri-pencuri itu, tak satu pun tulang-Nya akan dipatahkan. (Mazmur 22) Jantung-Nya akan gagal (Mazmur 22)... seperti yang diindikasikan oleh darah dan air yang memancar ke luar (Mazmur 22) ketika Ia ditikam dengan sebatang tomak. (Zakharia 12:10) Ia akan dikuburkan di kuburan seorang kaya. (Yesaya 53) Dalam tiga hari Ia akan bangkit dari kematian. (Yesaya 53; Mazmur 22)

SYK-Referensi 02a

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah Firman Allah dan Anak Allah
Kode Referensi : SYK-R02a

Referensi SYK-02a diambil dari:

Judul Buku: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II M-Z
Penerbit: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2001
Halaman : 315 - 316

REFERENSI PELAJARAN 02a - YESUS ADALAH FIRMAN ALLAH DAN ANAK ALLAH

FIRMAN

    1. Ibrani davar.

    Akar kata ini berarti 'hal yang ada di belakang'. Jadi dalam suatu pengertian menunjuk kepada 'kamar di belakang rumah', yaitu Tempat Yang Maha Kudus di Bait Suci. Dalam psikologi Ibrani, ucapan seseorang dianggap dalam pengertian tertentu sebagai sebagian dari kedirian si pembicara yang mempunyai keberadaan sendiri yang nyata. Maka ucapan atau Firman Allah dalan Alkitab ialah penyataan diri-Nya sendiri, dan kata davai bisa menunjuk kepada berita-berita tersendiri yang diberikar kepada para nabi, atau kepada isi penyataan dalam keseluruhannya. Kata itu dipakai 394 kali tentang komunikasi dari Allah kepada manusia. Davar mengandung kuasa yang serupa dengan kuasa Allah yang mengucapkannya (Yes 55:11), melaksanakan kehendak- - Nya tanpa halangan, harus diperhatikan oleh para malaikat dan manusia (Mzm 103:20; Ul 12:32), tetap untuk selama-lamanya (Yes 40:8), dan tak akan kembali kepada Allah tanpa digenapi lebih dahulu (Yes 55:11). Dalam Mzm 119 davar lebih menunjuk kepada firman Allah yang tertulis.

    2. Yunani logos.

    Latar belakang. Kata ini dipakai dalam LXX untuk menerjemahkan davar (lih di atas). Dalam bahasa Yunani pada dasamya logos berarti 'kata', tapi kemudian berkembang dengan berbagai arti: dalam tata bahasa logos mengartikan kalimat yang lengkap; dalam logika mengartikan suatu pemyataan yang berdasarkan kenyataan; dalam retorika mengartikan pidato yang tersusun secara tepat.

    Dalam dunia filsafat istilah logos dipakai oleh aliran Stoa dengan mengikuti Herakleitos, untuk mengartikan kekuasaan atau tugas ilahi yang memberi kesatuan, pertalian dan makna pada alam semesta. Mereka menyebutnya logos spermatikos. Manusia dijadikan selaras dengan dasar yang sama, dan manusia itu sendiri dikatakan mempunyai logos, baik sebagai budi atau rasio (logos endiathetos) maupun sebagai kemampuan berbicara (logos proforikos). Istilah logos banyak sekali dipakai oleh ahli filsafat Filo. Ia beranggapan bahwa pikiran Yunani sudah dibayangkan dalam PL, dan ia memakai ayat-ayat seperti Mzm 33:6 untuk menerangkan bagaimana Allah yang transenden dapat menjadi Pencipta alam semesta dan menyatakan diri-Nya sendiri kepada Musa dan Bapak-bapak leluhur Israel. Ia menyamakan Logos dengan pikiran Plato tentang dunia ide-ide, sehingga kata itu mengartikan dua-duanya, baik rencana Allah maupun kuasa Allah untuk mencipta. Ia menjabarkan Logos menjadi Malaikat Yahweh dan juga Nama Yahweh dalam PL, dan menyebutnya suatu Allah yang kedua serta Manusia Idaman, pola ilahi bagi manusia yang diciptakan Allah di bumi.

    Dalam PB. Logos dipakai baik dalam arti kata biasa, maupun dengan pengertian pesan Injil Kristen (Mrk 2:2; Kis 6:2; Gal 6:6). Dalam Surat-surat Kiriman kita baca tentang Firman kehidupan (Flp 2:16), Firman kebenaran (Ef 1: 13), kabar keselamatan (Kis 13:26), berita pendamaian (2 Kor 5:19), dan pemberitaan tentang salib (1 Kor 1:18): dalam bahasa Yunani semuanya disebut logos. Logos ialah amanat dari pihak Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, yang wajib diberitakan dan ditaati.

    Pada tiga tempat kata logos dipakai secara teknis, yaitu Yoh 1:1,14; 1 Yoh 1:1-2; Why 19:13. Yoh 1:1 adalah satu-satunya kasus yang tidak meragukan. Di sini pendahuluan Injil bersifat sangat metafisis, dimana pentingnya Kristus ditafsirkan secara teologis. Silang pendapat di kalangan sarjana hanya pada masalah penentuan sumber-sumber primer dari ayat-ayat tersebut, dan arti logos yang paling pokok di sini. Upaya Yohanes terutama hanya pada penggunaan kata davar dalam PL, atau pada ajaran para rabi mengenai Kitab Taurat. Upaya ini gagal karena konsep-konsep ini tidak jelas dibedakan dari Allah yang Mahatinggi sehingga tetap berdiri tanpa perubahan pada ayat 14. Tokoh Hikmat menyediakan lebih banyak kesejajaran, tapi tidak cukup dipersamakan dengan Firman itu dalam sumber-sumber yang diteliti: ajaran mengenai Manusia Pertama atau Manusia Sorgawi yang dikemukakan oleh beberapa ahli kurang meyakinkan.

    Hanya ajaran Filo tentang Logos yang menyajikan kerangka teologis yang jelas, dimana Firman memiliki suatu kesatuan yang mirip dengan Allah dan sekaligus memiliki perbedaan dengan-Nya, mengandung kegiatan mencipta dan memelihara semesta alam, dan juga memiliki kegiatan yang bersifat menyatakan diri kepada manusia. Lebih lanjut konsep khas mengenai inkarnasi, setidak-tidaknya merupakan pengembangan yang tepat dari penyamaan Logos menurut Filo dengan Manusia Sejati. Jadi mungkin sekali di balik ini semua dijumpai penggunaan langsung dari konsep Filo atau pemikiran dari kelompok cendekiawan Yahudi yang menganut Helenisme.

    Dalam Surat 1 Yoh 1:1 istilah 'Firman Hidup' tidak mungkin mengandung arti Logos secara teknis teologis, baik konteks maupun susunannya bertentangan dengan itu. Bahkan jika surat ini berasal dari penulis yang sama dengan penulis Injil Yohanes (yang diragukan oleh beberapa ahli) surat ini mungkin berasal dari waktu yang lebih dini daripada saat diterimanya ajaran Logos yang telah berkembang penuh. Pemahaman 'Injil Kristen' adalah paling cocok untuk konteks ini.

    Dalam Why 19:13 pemahaman 'Injil' mungkin berada di balik pengenaan gelar Firman Allah kepada sang Pemenang (bnd 6:2 menurut beberapa penafsir tokoh yang berkuda harus diartikan Injil yang sedang berkembang dalam kemenangan), Kita boleh membandingkannya dengan gambaran dalam Kebijaksanaan Salomo 18:15, 16. Tapi karena dalam Wahyu tokoh itu jelas disebut Raja segala raja dan Tuhan segab tuan, pastilah ada lebih banyak makna metafisis yang terkandung di sini. Sifat sastra yang khas dari Wahyu menjelaskan mengapa arti itu tidak dikembangkan di sini seperti halnya dalam Injil ke-4.

    Tiga bagian PB tersebut menggambarkan bagaimana kepenuhan Kristus secara tetap menyita semua gambaran dan pemikiran manusia; dan bagaimana bagian-bagian lain PB menuntut tafsiran berdasarkan banyak sumber, guna menyajikan keterangan terpadu. Yesus memberi makna segar terhadap istilah-istilah yang pada waktu sebelum Dia mengandung makna lebih terbatas.

    Dalam bentuk jamak (ta logia) istilah logos berafi seluruh PL atau suatu bagiannya yang khas. Dalam Kis 7:38 'firman-firman yang hidup' menunjuk kepada Dasa Titah atau kepada seluruh isi Taurat Musa. Dalam Rm 3:2 artinya ialah PL, khususnya janji-janji Allah kepada Israel. Dalam 1 Ptr 4: 11 pemberitaan 'firman' berarti pengkhotbah wajib menjaga beritanya sedemikian rupa sehingga ia seolah-olah mengucapkan Kitab Suci yang diilhamkan. Ta Logia tampil pula dalam Ibr 5:12, di situ diterjemahkan 'laenyataan Allah'; artinya tulang punggung ajaran Kristen, yang berhubungan dengan dasar-dasar pada PL mau pun penyataan Allah yang terakhir melalui AnakNya (Ibr 1:1). Makna teologis dari ta logia ditekankan oleh B.B Warfield: 'Ta logia ialah pengumuman- pengumuman Allah yang mempunyai kekuasaan, dan di hadapannya manusia berdiri dengan hotmat dan menyembah dengan merendahkan diri'.

    3. Yunani rhema.

    Kata ini berarti kata yang diucapkan, lalu menjadi inti ucapan, dan kenyataan. Kata ini juga memperoleh pengertian 'firman Allah', seperti logos, dan dengan demikian berarti 'Injil Kristen'. Dalam perkembangannya timbul juga arti lain, yaitu pengakuan Kristen, yang membawa kepada keselamatan (Ef 5:26). Rhema diterjemahkan 'firman' dalam mis Mat 4:4; Luk 2:29; Yoh 3:34; Rm 10:8; Ef 6:17; Ibr 1:3; 1 Ptr 1:12.

SYK-Referensi 02b

Pelajaran 02| Pertanyaan 02| Referensi 02a |

Nama Kursus: SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah Firman Allah dan Anak Allah
Kode Referensi : SYK-R02b

Referensi SYK-02b diambil dari:

Judul Buku : Yesus Kristus Allah, Manusia Sejati
Pengarang : Pdt. T. Sutarman, BA., MDIV.
Penerbit: PASTI dan YAKIN, Surabaya, 1983
Halaman: 35 - 42

REFERENSI PELAJARAN 02b - YESUS ADALAH FIRMAN ALLAH DAN ANAK ALLAH

ARTI GELAR ANAK ALLAH

Gelar Anak Allah dipakai oleh beberapa pihak. Penggunaannya bergantung kepada adat kebudayaan, sehingga berbeda pula artinya. Sehubungan dengan arti gelar Anak Allah, William Barclay dalam bukunya Jesus as They Saw Him, mendaftarkan beberapa penggunaan gelar tersebut. Dalam Perjanjian Lama, malaikat-malaikat disebut anak Allah. Gelar itu tidak dipakai untuk seorang demi seorang (Ibrani 1:5), melainkan untuk malaikat secara keseluruhan. "Maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu (Kejadian 6:2). Pada awal cerita Ayub, anak-anak Allah menghadap Allah (Ayub 1:6). Pada waktu penciptaan alam semesta, bintang-bintang fajar dan anak-anak Allah bersorak-sorai bersama (Ayub 38:7). Para malaikat disebut anak Allah. Memang harus diingat bahwa ada beberapa tafsiran mengenai Kejadian 6:2. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel disebut anak Allah. Sebutan itu dituntut oleh Allah terhadap Firaun (Keluaran 4:22-23). Ketika masih kanak-kanak, Israel dikasihi oleh Allah. Dan Ia memanggil mereka dari Mesir (Hosea 11:1). Umat pilihan Allah disebut anak Allah. Raja-raja Israel disebut anak Allah. Dalam arti khusus, raja Israel dipilih oleh Allah dan dipanggil anak Allah. Berkenaan dengan Salomo, Allah berkata kepada Raja Daud: "Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku (2 Samuel 7:14). Lukas membuat silsilah Yesus secara mundur kepada Adam. Dikatakan dalam Lukas 3:38: "Kenan anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah." Adam adalah anak Allah. Dalam dunia kafir, orang-orang tertentu disebut anak Allah. Cerita mythos penuh dengan tokoh yang mengaku lahir dalam kesatuannya dengan allah tertentu yang tidak dapat mati. Herkules anak Alkmene dan Zeus. Achilles anak Thetis dan Peleus. Aleksander Agung dianggap sebagai keturunan Zeus, dan lain-lainnya.

Vos menunjukkan empat kemungkinan arti gelar Anak Allah Gelar anak Allah dalam arti nativistik (keturunan). Ciptaan Allah dapat disebut "anak Allah" sebab keberadaannya itu sebagai hasil daya cipta Allah. Adam disebut anak Allah sebagaimana Set disebut anak Adam (Lukas 3:38). Bangsa Israel juga,disebut anak Allah (Keluaran 4:22). Ada pendapat bahwa Yesus juga disebut Anak Allah dalam anti nativistik tersebut, karena kelahiran-Nya oleh Roh Kudus (Lukas 1:35; Matius 1:21).

Arti di atas sejajar dengan pandangan orang Yunani pada masa Rasul Paulus tentang kebapaan Allah secara universal. Paulus mengutip pandangan itu dalam Kisah Para Rasul 17:28: "Sebab kita ini dari keturunan Allah juga." Dengan demikian keanakan manusia terhadap Allah terjadi secara alami. Tentu saja gelar Anak Allah bagi Yesus tidak diartikan secara theologis berdasarkan kelahiran secara alami. Gelar anak Allah dalam arti moral-keagamaan. Maksudnya ialah gelar itu dipakai untuk menyatakan hubungan Allah dengan manusia yang menjadi obyek kasih-Nya. Arti itu berlaku bagi semua bangsa termasuk Israel. Terhadap Israel, pemeliharaan Allah dinyatakan bukan hanya karena keberadaan mereka oleh Allah, tetapi juga disebabkan Allah ingin menjadikan mereka sasaran kasih-Nya. Dalam Perjanjian Lama, keanakan Israel terhadap Allah selalu disebut-sebut. Demikian juga dalam Perjanjian Baru, orang yang percaya kepada Yesus disebut anak Allah karena kelahiran baru (Yohanes 1:12; 3:3), atau oleh karena pengangkatan (Roma 8:14, 19; Galatia 3:26; 4:5). Arti kedua ini juga tidak cocok bagi Yesus. Gelar Anak Allah dalam arti Messianik. Gelar ini bersifat jabatan. Keturunan Raja Daud diakui sebagai anak Allah (2 Samuel 7:14). Gelar dalam anti theologis. Dalam Perjanjian Baru, gelar Anak Allah bagi Yesus mempunyai arti yang lebih dalam daripada arti-arti di atas. Ia disebut Anak Allah sebab Ia itu Tuhan dan memiliki sifat Ilahi. Rasul Yohanes dalam Injil karangannya menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus dan juga Anak Allah. Ia mempunyai pre-eksistensi sebagai Logos, yang berarti Allah sendiri. Ia menjelma manusia untuk menyatakan Allah kepada manusia. Paulus menyatakan bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat di dalam hidup manusia (Roma 8:3; Galatia 4:4)

PENGGUNAAN GELAR ANAK ALLAH BAGI YESUS

Gelar Anak Allah dipakai untuk menyatakan karya Yesus, yang dilakukan sebelum kedatangan-Nya ke dunia ini (Ibrani 1:2b, 3a) dan pada akhir zaman (1 Korintus 15:28). Allah tidak sendirian menjadikan alam semesta ini. Ia menjadikannya bersama dengan Allah Roh Kudus dan Allah Anak. Oleh Dia (Yesus), Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh dengan kekuasaan. Biasanya penciptaan dianggap sebagai pekerjaan Allah Bapa saga. Bagaimanapun juga Alkitab menunjukkan, bahwa pekerjaan penciptaan adalah karya dari ketiga pribadi Tritunggal. Untuk Yesus (Anak Allah) jelas disebut dalam Yohanes 1:3, "segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." Dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehnya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup (1 Korintus 8:6). Pernyataan terlengkap dapat dibaca dalam Kolose 1:15-17: "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan . . . karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu ... segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia." Sebagai pencipta, Yesus ada sebelum segala sesuatu ada.

Pada akhir zaman, Yesus bekerja juga. Dalam kaitan-Nya dengan gelar Anak Manusia, Yesus melakukan karya-Nya pada waktu ada di dunia dan pada akhir zaman. Pada akhir zaman, sebagai Anak Manusia, Ia akan menyatakan kemuliaan-Nya (Matius 24:30), datang kembali ke dunia (Matius 24:27,44) dan menghakimi semua bangsa (Matius 13:41; Lukas 21:36). Tetapi sebagai Anak Allah, Yesus tidak melakukan karya di atas pada akhir zaman. Menurut 1 Korintus 15:28 pada akhir zaman Yesus akan menaklukan segala sesuatu kepada Allah, Bapa-Nya, yang jelas dua gelar di atas menekankan kekekalan Yesus yang dinyatakan dalam karya- karya-Nya pada akhir zaman.

Gelar Anak Allah menunjukkan seluruh karya Yesus bersama Bapa-Nya dari semula sampai dengan penyelesaian segala sesuatu pada akhir zaman. Implikasi dari karya yang dilakukan Yesus sebelum datang ke dunia ialah Yesus itu kekal adanya. Kekekalan dan keabadian itu menunjukkan ciri-ciri Allah sendiri. Ia ada dengan sendirinya, tidak bergantung kepada pihak lain bagi keberadaan-Nya. Itu berarti Ia sudah ada sebelum kelahiran-Nya di dunia. Bukti-bukti kekekalan-Nya dapat dilihat dalam seluruh Alkitab: Ayat-ayat dalam Perjanjian Lama berisi penjelasan tentang keberadaan-Nya sebelum datang ke dunia. Sebelum dilahirkan di Betlehem, Ia sudah ada sebelumnya, yang permulaan-Nya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Mikha 5:1). Bahkan Yesaya memberikan nama Allah Yang Perkasa kepada Kristus (Yesaya 9:5), demikian juga sebagai Bapa Yang Kekal. Perjanjian Baru berisi keterangan yang lebih tegas mengenai kekekalan Yesus. Pendahuluan Injil Yohanes biasa dianggap sebagai "peneguhan tentang kekekalan Kristus: "Pada mulanya adalah Firman; . . . dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 1:1). Perkataan "pada mulanya" agaknya menunjuk kepada suatu waktu dalam masa kekekalan yang silam yang mustahil kita datangi. Kata kerja yang dipakai juga dipilih untuk menunjukkan kekekalan, karena kata "adalah" (Yunani, en) berarti keberadaan yang terus-menerus. Kristus sendiri mengaku keberadaan-Nya sebelum Abraham ada: "Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada (Yohanes 8:58). Yesus menyatakan diri sebagai Aku yang Kekal.

Paulus mengiakan kekekalan Kristus. Dalam suratnya, ia menulis: "... Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia" (Kolose 1:16-17). Dari ayat itu dapat ditemukan bahwa Kristus sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan, dan segala sesuatu ada oleh daya cipta-Nya. Jika demikian sudah jelas bahwa Ia sendiri tidak berasal dari penciptaan.

Pernyataan Kristus sendiri juga menjadi bukti kekekalan Kristus. Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadi kan (Efesus 1:4), Aku adalah Alfa dan Omega ... (Wahyu 1:8); Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup (Wahyu 1:17). Dalam Perjanjian Baru banyak argumentasi yang menyokong kebenaran akan kekekalan Kristus. Gelar-gelar-Nya, sifat-sifat ilahi-Nya, janji janji-Nya yang kekal menyatakan keilahian-Nya. Jadi jelaslah kekekalan Kristus diakui dalam Perjanjian Baru.

SEBAB-SEBAB YESUS DISEBUT ANAK ALLAH

Di depan telah disebutkan bahwa gelar Anak Allah diberikan kepada Yesus. Pemberian itu didasarkan atas beberapa alasan. Empat alasan sebagai berikut: Pertama Yesus bersatu dengan Allah Bapa. Alasan ini menyatakan adanya hubungan yang erat antara Yesus Anak Allah dengan Allah Bapa. Banyak ayat Alkitab yang mengajarkan hal tersebut. Yesus sendiri berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30). Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakan-Nya" (Yohanes 5:19). Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada (Yohanes 8:28). Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yohanes 8:38). Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan Bapa kepada-Ku (Yohanes 12:50). Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; . . . apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku (Yohanes 14:9-11). Semua orang yang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa" (Yohanes 5:23). Semua perkataan- Nya itu menyatakan kesatuan diri-Nya dengan Allah Bapa. Kedua, Yesus adalah satu-satunya penyataan diri Allah. Yesus sendiri berkata dalam Matius 11:26-27, "Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya." Demikian juga kesaksian Rasul Yohanes menyatakan hal yang sama dengan yang diucapkan Yesus. Tidak seorang pun yang dapat menyatakan Allah kepada dunia, kecuali Yesus. Hanya orang yang menjadi satu dengan Allah saja yang dapat menyatakan diri Allah dengan jelas kepada manusia. A.M. Hunter mengatakan, "Gelar Anak Allah menggambarkan hubungan Yesus dengan Bapa yang tidak kelihatan itu. Itu menunjuk rahasia terdalam dari eksistensi-Nya, dan menyarankan agar orang menyadari bahwa Ia datang kepada manusia dari kedalaman eksistensi Allah." Orang datang dari eksistensi Allahlah yang dapat menyatakan diri Allah kepada manusia. Orang itu adalah Yesus.

Allah ingin menciptakan persekutuan yang erat dengan manusia, dan antara manusia dengan sesamanya. Karena ide itu keluar dari Allah, maka Allah harus menyatakan diri kepada manusia. Caranya adalah dengan penyataan. Menurut Ibrani 1:1-4 puncak penyataan itu ada di dalam diri Yesus. Jadi kalau Yesus berani berbicara bahwa tidak seorang pun mengenal Bapa, kecuali Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Dengan demikian hanya Yesuslah yang mampu menyatakan Allah kepada manusia dan membawa manusia kepada Allah. Ia mengenal Bapa (Yohanes 10:15) dan menjadi jalan kepada Bapa (Yohanes 14:6). Ketiga; Yesus taat dalam melaksanakan pola, rencana dan tujuan Allah bagi hidup manusia dalam penciptaan, pemeliharaan dan pendamaian. Allah mempunyai pola, rencana dan tujuan bagi hidup manusia dalam penciptaan, pemeliharaan dan pendamaian itu.

Yesus dipilih dan diutus ke dalam dunia untuk melaksanakan pola, rencana dan tujuan Bapa-Nya bagi umat manusia. Mulai berumur 12 tahun, Yesus telahh menyatakan ketaatan-Nya dalam melakukan kehendak Bapa itu. Berikut ini didaftarkan beberapa peristiwa mengenai ketaatan-Nya: 1) Mulai umur 12 tahun Yesus telah mulai melakukan pekerjaan Bapa (Lukas 2:41-52); 2) Yesus dibaptiskan untuk menggenapkan seluruh kehendak Bapa (Matius 3:13-17); 3) Ia menolak godaan Iblis, karena ingin mengikuti kehendak Bapa (Matius 4:1-11); 4) Dalam doa-Nya di Getsemani, Yesus menyerahkan diri supaya kehendak Bapa saja yang jadi dalam diri-Nya (Markus 14:32, 39); 5) Yesus mengaku bahwa Ia adalah Anak Allah di depan Mahkamah Agama Yahudi, meskipun harus menghadapi hukuman (Matius 26:57-68); 6) Rela menderita penganiayaan di kayu salib (Matius 27:39-43), bahkan sampai mati di atas kayu salib.

Berkali-kali Yesus menyatakan bahwa Ia menuruti kehendak Bapa-Nya; "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yohanes 4:34). Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yohanes 5:30).

Dari setiap peristiwa ketaatan dan kata-kata Yesus sendiri dalam hubungan-Nya dengan Allah, dapat disimpulkan bahwa Yesus sendiri sadar akan kedudukan-Nya sebagai Anak. Sebagai hasilnya, Ia selalu menaati kehendak Allah Bapa. William Barclay mengatakan dalam Injil Sinoptik kita dapat menyaksikan Yesus sebagai seorang pribadi yang hidup-Nya dimulai, dilanjutkan, dan diakhiri dalam kesadaran bahwa diri-Nya adalah Anak Allah." Yesus berhasil melaksanakan pola, rencana dan tujuan Allah bagi manusia dalam penciptaan, pemeliharaan dan pendamaian itu. Keempat,"karya a Yesus adalah karya Allah sendiri. Yesus disebut Anak Allah dalam Perjanjian Baru, karena karya yang dilakukan-Nya memadai dengan karya Allah Bapa. Karya itu ialah: Pertama, memberi hidup kepada semua orang (Yohanes 5:25,26). Yesus datang ke dunia agar manusia hidup dengan segala kelimpahan. Kedua, menjadikan orang anak Allah. Orang orang yang percaya kepada-Nya, diberi-Nya hak menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12; Galatia 3:26; 1 Yohanes 3:1-2). Ketiga, membangkitkan orang yang telah mati (Yohanes 11:41-44). Keempat, memperdamaikan, menyelamatkan dan menyucikan orang percaya (Roma 5:10; 1 Yohanes 3:7,8; 4:10,14). Kematian Yesus memperdamaikan orang percaya dengan Allah. Yang diperdamaikan pasti akan diselamatkan oleh Yesus. Yesuslah yang diutus oleh Bapa untuk menjadi Juruselamat kita. Kelima, Yesus ikut menjadikan alam semesta (Ibrani 1:2). Oleh Dia Allah menjadikan alam semesta.

Dalam Perjanjian Lama, semua bangsa Israel, termasuk rajanya disebut anak Allah. Mereka dipilih dan diutus untuk melaksanakan karya Allah di dunia. Namun demikian, tidak seorang pun dari mereka dapat melakukan karya-karya Yesus di atas. Memang hanya Yesuslah satu-satunya orang yang pernah mengajarkan karya Allah Bapa. Sebab itu ia disebut Anak Allah. Bahkan dalam Yohanes 1:14 dan 3:16 Yesus diberi gelar Anak Tunggal Bapa.

IMPILIKASI GELAR ANAK ALLAH BAGI YESUS

Di depan telah diutarakan arti gelar Anak Allah dan sebab-sebab Yesus digelari Anak Allah. Dari uraian di atas dapat diperoleh implikasi gelar Anak Allah pada diri Yesus. Pertama, Yesus mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Bapa. Bahkan tidak ada hubungan yang seerat itu dalam hidup manusia. Eksistensi Allah sama dengan eksistensi Yesus. "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30). Kedua, antara Allah Bapa dan Yesus ada kesetaraan. Dalam Filipi 2:6 Paulus menyatakan bahwa Yesus ada dalam rupa Allah. Itu berarti bahwa Kristus bukan saja sama dengan Allah, tetapi Ia adalah Allah, benar-benar Allah. Ia seujud, sehakekat dengan Dia. Ungkapan "berada dalam rupa Allah," menyatakan bahwa sebelum Kristus menjadi manusia Ia telah ada. Ia mempunyai pre-eksistensi. Ia seujud atau sehakekat dengan Allah dan Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah. Ketiga, Yesus menyatakan ketaatan yang mutlak kepada kehendak Bapa. Ketaatan seperti itu tidak akan terjadi jika Yesus bukan Anak Allah. Keempat, Yesus mengenal Allah secara istimewa. Pengenalan-Nya itu menunjukkan eratnya hubungan-Nya dengan Allah dan juga ketaatan-Nya. Karena berhubungan erat, maka Yesus mengenal dan akhirnya menaati-Nya. Pengenalan-Nya yang disebut dalam Matius 11:27 itu bukan secara mental dan akali, tetapi karena hasil hubungan-Nya yang erat tersebut. Kelima, karena Yesus itu satu dengan Allah, berhubungan erat, mengenal dan taat kepada Bapa-Nya, maka Yesus memiliki kuasa Allah. Tidak diragukan lagi bahwa Yesus memiliki kuasa yang hebat. Ia berkuasa atas alam, atas penyakit, kematian dan setan. Tanpa kuasa Allah ada pada diri Yesus, Ia tidak dapat melakukan semua pelayanan-Nya secara menakjubkan. Keenam, gelar Anak Allah dipakai di dalam kitab-kitab Injil untuk menunjukkan kesatuan Yesus dan Allah Bapa bukan untuk menunjukkan kemessiasan-Nya. Gelar Anak Allah sebagai gelar mesiasnis untuk Yesus terjadi pada perkembangan pengertian rasul-rasul selanjutnya. Dalam hubungan-Nya dengan Allah Bapa ia berada sejak semula sebagai Anak Allah bukan sebagai Mesias.

KESIMPULAN

Kesadaran Yesus akan kedudukan-Nya sebagai Anak Allah terdapat bukan hanya dalam Kitab Injil Yohanes, tetapi juga dalam Kitab Injil yang lain. Dalam Matius 11:26-27, Yesus secara langsung mengungkapkan hubungan diri-Nya dengan Bapa-Nya. Ia menyatakan diri sebagai Anak dari Bapa. Bahkan hanya Dia dan Bapa yang dapat saling mengenal dan orang yang kepadanya Anak mau menyatakan diri. Injil Yohanes beserta kitab lain yang dikarangnya dan bukubuku karangan Paulus merupakan dokumen mengenai perkembangan pengertian Kristologis, berdasarkan kesadaran Yesus akan diri-Nya sebagai Anak Allah.

Kita juga dapat menyimpulkan bahwa Yesus merasa sebagai Anak Allah dalam arti yang istimewa. Ia lain daripada orang lain. Dengan keanakan-Nya itu Yesus menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa yang tidak dapat dinyatakan oleh manusia. Untuk menghindari konsep yang salah tentang Messias, Yesus lebih banyak menggunakan gelar Anak Manusia yang erat hubungannya dengan Anak Allah. Maksud penggunaan gelar itu ialah untuk memberikan tekanan hubungan istimewa-Nya dengan Allah, bahwa Ia sebagai Anak dan Juruselamat.

Dapat disimpulkan pula, bahwa pikiran murid-murid Yesus mengenai pribadi Kristus selalu berkembang berdasarkan pengalaman. Dari karya- karya Yesus bersama murid-murid-Nya, para murid makin sadar bahwa Yesus adalah Anak Allah. Selama pelayanan mereka dengan Yesus, para murid melihat bagaimana Yesus menyucikan Bait Allah, memasuki Yerusalem pada minggu terakhir, memimpin perjamuan malam, disalibkan dan akhirnya bangkit pada hari ketiga sesudah mati. Dari situ pikiran murid-murid Yesus pada abad pertama itu menjadi jelas mengenai Mesias. Bagi mereka arti gelar Mesias berkembang mencakup Nabi, Pemberi Hukum yang Baru, Anak Allah, dan Anak Manusia.

SYK-Referensi 03a

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati Tanpa Dosa
Kode Referensi : SYK-R03a

Referensi SYK-03a diambil dari:

Judul Buku : Teologi Dasar
Pengarang : Charles C. Ryrie
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta, 1991
Halaman : 335 - 337

REFERENSI PELAJARAN 03a - YESUS ADALAH ALLAH SEJATI DAN MANUSIA SEJATI TANPA DOSA

KEALLAHAN YANG PENUH DARI KRISTUS YANG BERINKARNASI

  1. Ia Memiliki Sifat-sifat yang Hanya dimiliki oleh Allah
    1. Kekekalan. Ia mengaku sudah ada sejak kekal (Yoh. 8:58; 17:5).
    2. Mahahadir. Ia mengaku hadir di mana-mana (Mat. 18:20; 28:20).
    3. Mahatahu. Ia memperlihatkan pengetahuan tentang hal-hal yang hanya dapat diketahui jika Ia mahatahu (Mat. 16:21; Luk. 6:8; 11:7; Yoh. 4:29).
    4. Mahakuasa. Ia memperagakan dan menyatakan kekuasaan satu Pribadi yang Mahakuasa (Mat. 28:20; Mrk. 5:11-15; Yoh. 11:38-44).

    Sifat-sifat Kealahan yang lain dinyatakan bagi diri-Nya oleh orang lain (mis. "tak berubah", Ibr. 13:5), tetapi apa yang dikutip di atas tadi adalah apa yang diakui oleh-Nya bagi diri-Nya sendiri.

  2. Ia Melakukan Hal-hal yang Hanya Dapat Dilakukan oleh Allah
    1. Pengampunan. Ia mengampuni dosa selama-lamanya. Manusia mungkin dapat melakukannya untuk sementara, namun Kristus memberikan pengampunan kekal (Mrk.2:1-12).
    2. Kehidupan. Ia memberikan kehidupan rohani kepada barang siapa yang dihendaki-Nya (Yoh.5:21).
    3. Kebangkitan. Ia akan membangkitkan orang mati (Yoh. 11:43).
    4. Penghakiman. Ia akan menghakimi semua orang (Yoh. 5:22, 27). Lagi-lagi, semua contoh di atas adalah hal-hal yang Ia lakukan atau pengakuan yang diucapkan-Nya sendiri, bukan orang lain.
  3. Ia diberi Nama-nama dan Gelar-gelar Keallahan
    1. Anak Allah. Tuhan kita mempergunakan gelar bagi diri-Nya (meskipun hanya kadang-kadang, Yoh. 10:36), dan Ia mengakui kebenarannya ketika dipergunakan oleh orang lain untuk menunjuk kepada-Nya (Mat. 26:63- 64). Apakah artinya? Meskipun frase "anak dari" dapat berarti "keturunan dari", hal ini juga mengandung arti "dari kaum." Jadi, dalam Perjanjian Lama "anak- anak para nabi" berarti dari kaum nabi (1 Raj.20:35), dan "anak- anak penyanyi" berarti kaum penyanyi (Neh. 12:28). Petunjuk "Anak Allah" apabila dipergunakan untuk Tuhan kita, berarti dari kaum Allah dan merupakan suatu klaim yang kuat dan jelas untuk Keallahan yang penuh." Dalam penggunaan di antara orang Yahudi, perkataan "Anak (dari)..." umumnya tidak berarti suatu pembawahan, tetapi lebih kepada persamaan dan jati diri hakikat. Jadi, Bar Kokba, yang memimpin pemberontakan Yahudi pada 135-132 SM semasa pemerintahan Hadrian, diberi nama yang artinya 'Anak Bintang.' Diperkirakan ia memakai nama ini untuk memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Bintang yang dinubuatkan dalam Bil. 24:17. Nama 'Anak Penghiburan' (Kis. 4:36) tak pelak lagi berarti, 'Si Penghibur'. "Anak-anak Guruh' (Mrk. 3:17) mungkin sekali berarti 'Penggeledek.' 'Anak Manusia, terutama sebagaimana berlaku untuk Kristus dalam Dan. 7:13 dan selalu dalam Perjanjian Baru, hakikatnya berarti "Orang yang Mewakili". Jadi, bagi Kristus untuk mengatakan, 'Akulah Anak Allah' (Yoh. 10:36) dianggap oleh orang-orang pada masa-Nya sebagai memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah, sejajar dengan Bapa, yang menurut mereka tidak layak" (J. Oliver Buswell, A Systematic Theology of the Christian Religion [Grand Rapids: Zondervan, 19621, 1:105).
    2. Tuhan dan Allah. Yesus disebut Yahweh dalam Perjanjian Baru. Hal ini menunjukkan Keallahan-Nya yang penuh (band. Luk. 1:76 dengan Mal. 3:1 dan Am. 10:13 dengan Yl. 2:32). Ia juga disebut Allah (Yoh. 1:1; 20:28; Ibr. 1:8), Tuhan (Mat. 22:43-45), dan Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Why. 19:16).
  4. Ia Mengaku sebagai Allah.
    Mungkin peristiwa yang paling kuat dan jelas tentang pengakuan ini, terjadi pada waktu hari raya penahbisan Bait Allah di Yerusalem, ketika Ia berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yoh. 10:30). Kata "satu" di sini bukan berarti Ia dan Bapa merupakan satu Pribadi melainkan bahwa mereka merupakan kesatuan dalam sifat dan kegiatannya, suatu fakta yang benar, hanya jika Ia sama Keallahan - Nya dengan Bapa. Orang-orang yang mendengar pengakuan ini memahaminya demikian karena itu mereka segera berupaya merajam-Nya dengan alasan penghujatan karena Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah (Ay. 33).

    Bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa Yesus dari Nazaret sendiri tak pernah mengaku sebagai Allah? Dan bahwa pengikut-Nyalah yang menyatakan demi Dia? Kebanyakan dari kutipan diatas berasal dari kata-kata Kristus Sendiri. Karena itu, kita haruslah menghadapi satu-satunya pilihan: apakah yang diakui-Nya itu memang benar ataukah Ia seorang pembohong. Dan apa yang diakui-Nya itu merupakan Keallahan yang penuh dan sempurna - tak ada yang kurang atau dikurangkan semasa hidup-Nya di bumi.

SYK-Referensi 03b

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a |

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati Tanpa Dosa
Kode Referensi : SYK-R03b

Referensi SYK-03b diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sitematika
Pengarang : Henry C. Thiessen
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1992
Halaman : 333 - 341

REFERENSI PELAJARAN 03b - YESUS ADALAH ALLAH SEJATI DAN MANUSIA SEJATI TANPA DOSA

PRIBADI KRISTUS: DUA SIFAT DAN WATAK KRISTUS

Pembahasan tentang tujuan dan sifat penjelmaan Kristus dengan mudah menuntun kita untuk menguraikan dua sifat yang dimiliki Kristus: sifat manusia dan sifat Allah. Orang yang bagaimanakah Yesus Kristus dari Nazaret itu?

  1. KEMANUSIAAN KRISTUS

    Kemanusiaan Kristus jarang dipersoalkan. Memang ada ajaran-ajaran sesat, misalnya, Gnostisisme yang menyangkal realitas tubuh Kristus, dan ajaran Eutikhes yang menjadikan tubuh Kristus itu tubuh yang ilahi. Akan tetapi, bagian terbesar dari gereja mula-mula menerima ajaran bahwa Kristus adalah manusia dan Allah. Penyimpangan dari doktrin Alkitab lebih banyak terjadi karena menolak sifat ilahi Kristus dan bukan menolak sifat manusia-Nya. Karena Kristus harus menjadi manusia sesungguhnya jika Ia hendak menebus manusia dari dosa, maka soal kemanusiaan Kristus bukan hanya merupakan soal yang akademis, tetapi soal yang sangat praktis. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Yesus adalah manusia sesungguhnya?

    1. YESUS LAHIR SEPERTI MANUSIA LAINNYA

      Yesus lahir dari seorang wanita (Galatia 4:4). Kenyataan ini dikuatkan oleh kisah-kisah kelahiran-Nya dari seorang anak dara (Matius 1:18 -2:11; Lukas 1:30-38; 2:1-20). Karena hal ini, Yesus disebut "anak Daud, anak Abraham" (Matius 1:1) dan dikatakan bahwa Ia "menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud" (Roma 1:3). Karena alasan yang sama, Lukas merunut asal usul Yesus sampai kepada Adam (Lukas 3:23-38). Peristiwa ini merupakan penggenapan janji kepada Hawa (Kejadian 3:15) dan kepada Ahas (Yesaya 7:14). Pada beberapa kesempatan Yesus disebutkan sebagai anak Yusuf, namun kita akan melihat bahwa setiap kali hal ini terjadi, orang yang melakukannya itu bukanlah sahabat Yesus atau mereka kurang mengenal Dia (Lukas 4:22; Yohanes 1:45; 6:42; bandingkan dengan Matius 13:55). Bila ada bahaya bahwa pembaca kitab Injil akan menganggap penulis Injil tersebut bermaksud untuk menyatakan bahwa Yesus betul-betul anak Yusuf, maka penulis menambahkan sedikit penjelasan untuk menunjukkan bahwa anggapan semacam itu tidak benar. Oleh karena itu dalam Lukas 23:23 kita membaca bahwa Yesus adalah anak Yusuf "menurut anggapan orang" dan di dalam Roma 9:5 dinyatakan bahwa Kristus berasal dari Israel dalam "keadaan-Nya sebagai manusia."

      Dalam kaitan ini telah diajukan satu pertanyaan penting: Bila Kristus itu lahir dari seorang perawan, apakah Ia juga mewarisi sifat yang berdosa dari ibu-Nya? Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak berhubungan dengan dosa. Alkitab menandaskan bahwa Yesus "tidak mengenal dosa" (2 Korintus 5:21); dan bahwa Ia adalah "yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa" (Ibrani 7:26); dan bahwa "di dalam Dia tidak ada dosa" (1 Yohanes 3:5). Pada saat memberitahukan bahwa Maria akan melahirkan Anak Allah, Gabriel menyebutkan Yesus sebagai "kudus" (Lukas 1:35). Iblis tidak berkuasa apa-apa atas diri Yesus (Yohanes 14:30); ia tak ada hak apa pun atas Anak Allah yang tidak berdosa itu. "Dosalah yang membuat Iblis berkuasa atas manusia, tetapi di dalam Yesus tidak ada dosa." Melalui naungan ajaib Roh Kudus, Yesus lahir sebagai manusia yang tidak berdosa.

    2. YESUS TUMBUH DAN BERKEMBANG SEPERTI MANUSIA NORMAL

      Yesus berkembang secara normal sebagaimana halnya manusia. Oleh karena itu dikatakan dalam Alkitab bahwa Ia "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Lukas 2:40), dan bahwa Ia "makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Lukas 2:52). Perkembangan fisik dan mental Kristus ini tidak disebabkan karena sifat ilahi yang dimiliki-Nya, tetapi diakibatkan oleh hukum-hukum pertumbuhan manusia yang normal. Bagaimanapun juga, kenyataan bahwa Kristus tidak mempunyai tabiat duniawi dan bahwa Ia menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan, yang berdosa, sudah pasti turut mempengaruhi perkembangan mental dan fisik-Nya. Perkembangan mental Yesus bukanlah semata-mata hasil pelajaran di sekolah-sekolah pada zaman itu (Yohanes 7:15), tetapi harus dianggap sebagai hasil pendidikan-Nya dalam keluarga yang saleh, kebiasaan-Nya untuk selalu hadir dalam rumah ibadah (Lukas 4:16), kunjungan-Nya ke Bait Allah (Lukas 2:41, 46), penelaahan Alkitab yang dilakukan-Nya (Lukas 4:17), dan juga karena Ia menggunakan ayat-ayat Alkitab ketika menghadapi pencobaan, dan karena persekutuan-Nya dengan Allah Bapa (Markus 1:35; Yohanes 4:32-34).

    3. IA MEMILIKI UNSUR-UNSUR HAKIKI SIFAT MANUSIA

      Bahwa Kristus memiliki tubuh jasmaniah jelas dari ayat-ayat yang berbunyi, "mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku" (Matius 26:12); "yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri" (Yohanes 2:21); "Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapatkan bagian dalam keadaan mereka [darah dan daging]" (Ibrani 2:14); "tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku" (Ibrani 10:5); "kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibrani 10:10). Bahkan setelah Ia dibangkitkan Ia mengatakan, "Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada- Ku" (Lukas 24:39).

      Bukan saja Kristus memiliki tubuh manusiawi yang fisik, Ia juga memiliki unsur-unsur sifat manusiawi lainnya, seperti kecerdasan dan sifat sukarela. Ia mampu berpikir dengan logis. Alkitab berbicara tentang Dia sebagai memiliki jiwa dan/atau roh (Matius 26:38; bandingkan dengan Markus 8:12; Yohanes 12:27; 13:21; Markus 2:8; Lukas 23:46; dalam Alkitab bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai hati dan nyawa). Ketika mengatakan bahwa Ia mengambil sifat seperti kita, kita selalu harus membedakan antara sifat manusiawi dan sifat yang berdosa; Yesus memiliki sifat manusiawi, tetapi Ia tidak memiliki sifat yang berdosa.

    4. IA MEMPUNYAI NAMA-NAMA MANUSIA

      Ia memiliki banyak nama manusia. Nama "Yesus", yang berarti "Juruselamat" (Matius 1:21), adalah kata Yunani untuk nama "Yosua" di Perjanjian Lama (bandingkan Kisah 7:45; Ibrani 4:8). Ia disebut "anak Abraham" (Matius 1:1) dan "anak Daud". Nama "anak Daud" sering kali muncul dalam Injil Matius (1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30, 31; 21:9, 15). Nama "Anak Manusia" terdapat lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Nama ini berkali-kali dipakai untuk Nabi Yehezkiel (2:1; 3:1; 4:1, dan seterusnya), dan sekali untuk Daniel (8:17). Nama ini dipakai ketika bernubuat tentang Kristus dalam Daniel 7:13 (bandingkan Matius 16:28). Nama ini dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai mengacu kepada Mesias. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa imam besar merobek jubahnya ketika Kristus menerapkan nubuat Daniel ini kepada diri-Nya sendiri (Lukas 26:64, 65). Orang-orang Yahudi memahami bahwa istilah ini menunjuk kepada Mesias (Yohanes 12:34), dan menyebut Kristus itu Anak Manusia adalah sama dengan menyebut Dia Anak Allah (Lukas 22:69, 70). Ungkapan ini bukan saja menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia, tetapi bahwa Ia juga adalah wakil seluruh umat manusia (bandingkan Ibrani 2:6-9).

    5. IA MEMILIKI BERBAGAI KELEMAHAN YANG TAK BERDOSA DARI SIFAT MANUSIAWI

      Oleh karena itu, Yesus pernah lelah (Yohanes 4:6), lapar (Matius 4:2; 21:18), haus (Yohanes 19:28); Ia pernah tidur (Matius 8:24; bandingkan Mazmur 121:4); Ia dicobai (Ibrani 2:18; 4:15; bandingkan Yakobus 1: 13); Ia mengharapkan kekuatan dari Bapa-Nya yang di sorga (Markus 1:35; Yohanes 6:15; Ibrani 5:7); Ia mengadakan mukjizat (Matius 12:28), mengajar (Kisah 1:2), dan mempersembahkan diri-Nya kepada Allah oleh Roh Kudus (Kisah 10:38; Ibrani 9:14). "Orang-orang Kristen memiliki seorang imam besar di sorga dengan kemampuan yang tiada terhingga untuk merasa belas kasihan terhadap mereka dalam semua bahaya, dukacita, dan pencobaan yang mereka alami dalam kehidupan, karena Ia sendiri mengalami semuanya itu, karena Ia menjadi sama dengan manusia." Kembali harus ditekankan bahwa menyebutkan kelemahan-kelemahan dalam sifat Kristus tidaklah berarti kelemahan-kelemahan yang berdosa.

    6. BERKALI-KALI IA DISEBUT SEBAGAI MANUSIA

      Yesus menganggap diri-Nya sendiri manusia (Yohanes 8:40). Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:30), Petrus (Kisah 2:22), dan Paulus (1 Korintus 15:21, 47; Filipi 2:8; bandingkan Kisah 13:38) menyebut- Nya manusia. Kristus benar-benar diakui sebagai manusia (Yohanes 7:27; 9:29; 10:33), sehingga Ia dikenal sebagai orang Yahudi (Yohanes 4:9); Ia dikira lebih tua dari usia sebenarnya (Yohanes 8:57); dan Ia dituduh telah menghujat Allah karena berani menyatakan bahwa diri-Nya lebih tinggi daripada manusia (Yohanes 10:33). Bahkan setelah bangkit, Kristus nampak sebagai manusia (Yohanes 20:15; 21:4, 5). Lagi pula, sekarang ini Ia berada di sorga sebagai manusia (I Timotius 2:5), akan datang kembali (Matius 16:27, 28; 25:31; 26:64, 65), serta menghakimi dunia ini dengan adil sebagai manusia (Kisah 17:31).

  2. KEILAHIAN KRISTUS

    Ayat-ayat Alkitab dan alasan-alasan yang telah kami kemukakan ketika membicarakan perihal Trinitas untuk membuktikan kesamaan antara Kristus dengan Bapa, juga membuktikan kenyataan sifat keilahian yang dimiliki Kristus setelah Ia menjelma menjadi manusia.

    Kristus memiliki sifat-sifat khas Allah; berbagai jabatan dan hak istimewa ilahi dimiliki-Nya; hal-hal yang dikatakan dalam Perjanjian Lama tentang Yehova telah dikatakan dalam Perjanjian Baru mengenai Kristus; nama-nama ilahi diberikan kepada-Nya; Kristus memelihara hubungan-hubungan tertentu dengan Allah yang mebuktikan keilahian-Nya; Ia disembah sebagai Allah dan Ia tidak menolak pemujaan itu selama Ia hidup di muka bumi ini; Kristus menyadari bahwa Ia adalah Allah yang telah menjelma. Semuanya ini merupakan rangkuman dari apa yang telah kita bahas dan pelajari sebelumnya ketika membicarakan Tritunggal.

  3. KEDUA SIFAT KRISTUS

    Pokok ini merupakan rahasia yang sangat dalam. Bagaimana mungkin ada dua sifat di dalam satu orang? Sekalipun sulit untuk memahami konsep ini, Alkitab menganjurkan agar kita merenungkan rahasia Allah ini, yaitu Kristus (Kolose 2:2, 3). Yesus sendiri menyatakan bahwa pengenalan yang benar akan Dia hanya akan diperoleh melalui penyataan ilahi (Matius 11:27). Mempelajari pribadi Kristus sangatlah sulit karena kepribadian-Nya sangat unik; tidak ada oknum lain yang sama dengan Dia sehingga kita tidak dapat berargumentasi dari hal-hal yang sudah kita ketahui kepada hal-hal yang belum kita ketahui.

    1. BUKTI PERPADUAN KEDUA SIFAT ITU

      Pertama-tama, kita harus menjelaskan beberapa salah paham. Perpaduan sifat ilahi dengan sifat manusiawi di dalam Kristus itu tidak dapat dibandingkan dengan hubungan pemikahan, karena kedua belah pihak dalam pemikahan tetap merupakan dua pribadi yang berbeda walaupun sudah menikah. Demikian pula perpaduan kedua sifat itd tidak sama seperti perhubungan orang-orang percaya dengan Kristus. Juga tidaklah tepat untuk beranggapan bahwa sifat ilahi itu tinggal di dalam Kristus sebagaimana Kristus tinggal di dalam orang percaya, karena itu berarti bahwa Yesus hanyalah seorang manusia yang didiami oleh Allah dan la sendiri bukan Allah. Gagasan yang mengatakan bahwa Kristus mempunyai kepribadian rangkap tidaklah alkitabiah. Tidak disebutkan dalam Alkitab bahwa Logos mengambil tempat pikiran dan roh manusiawi di dalam Kristus, karena dalam hal demikian Kristus bersatu dengan kemanusiaan yang tidak sempuma. Demikian pula kedua sifat itu tidak bersatu untuk membentuk sifat yang ketiga, sebab dalam hal itu Kristus bukanlah manusia sejati. Juga tidak dapat dikatakan bahwa Kristus secara berangsur-angsur menerima sifat ilahi, karena dalam hal demikian keilahian-Nya bukanlah suatu kenyataan hakiki sebab harus diterima secara sadar oleh kemanusiaan Kristus. Gereja pada umumnya dengan tegas menyalahkan pandangan-pandangan ini sebagai tidak alkitabiah dan karena itu tidak bisa diterima.

      Bila pengertian-pengertian di atas itu salah semua, bagaimanakah kita dapat menerangkan perpaduan kedua sifat tersebut di dalam Kristus sehingga menghasilkan satu pribadi, namun dengan dua kesadaran dan dua kehendak? Sekalipun ada dua sifat, tetapi ada satu pribadi saja. Dan sekalipun ciri-ciri khas dari sifat yang satu tidak dapat dikatakan merupakan ciri khas dari sifat lainnya, namun kedua sifat itu berada dalam satu Oknum, yaitu Kristus. Tidaklah tepat untuk mengatakan bahwa Kristus adalah Yang Ilahi yang memiliki sifat manusiawi, atau bahwa Ia adalah manusia yang didiami oleh Yang Ilahi. Dalam hal yang pertama, maka sifat manusiawi tidak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya, dan dalam hal yang kedua sifat ilahi itulah yang tak akan memperoleh tempat dan peranan yang semestinya. Oknum kedua dari Tritunggal Allah menerima keadaan manusia dengan semua ciri khasnya. Dengan demikian kepribadian Kristus berdiam di dalam sifat ilahi-Nya, karena Allah Anak tidak bersatu dengan seorang manusia tetapi dengan sifat manusia. Terpisah dari penjelmaan sifat manusiawi Kristus tak bersifat pribadi; akan tetapi hal ini tidak benar tentang sifat ilahi-Nya. Begitu sempurnanya penyatuan menjadi satu pribadi ini sehingga, sebagaimana dikatakan oleh Walvoord, "Kristus pada saat yang 'sama memiliki sifat-sifat yang nampaknya bertolak belakang. Ia bisa lemah dan mahakuasa, bertambah dalam pengetahuan namun mahatahu, terbatas dan tidak terbatas," dan kita dapat menambahkan, Ia bisa berada di satu tempat namun Ia Mahahadir.

      Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai satu pribadi yang utuh dan tunggal; Ia samasekali tidak menunjukkan adanya gejala-gejala keterbelahan kepribadian. Selanjutnya, orang-orang yang berhubungan dengan Dia menganggap Dia sebagai seorang dengan kepribadian yang tunggal dan tidak terbelah. Bagaimana dengan kesadaran diri-Nya? Jelaslah bahwa dalam kesadaran diri yang ilahi Yesus senantiasa sadar akan keilahian-Nya. Kesadaran diri yang ilahi itu senantiasa beroperasi penuh, bahkan pada masa kanak-kanak. "Namun ada bukti bahwa dengan berkembangnya sifat manusiawi maka kesadaran diri yang manusiawi itu mulai aktif." Kadang-kadang Ia akan bertindak dari kesadaran diri yang manusiawi, dan pada saat-saat lain Ia bertindak dari kesadaran diri yang ilahi, namun keduanya itu tidak pernah bertentangan.

      Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kehendak-Nya. Pastilah, kehendak manusiawi ingin menjauhi salib (Matius 26:39), dan kehendak yang ilahi ingin menjauhkan diri dari hal dijadikan dosa (2 Korintus 5:21). Dalam kehidupan-Nya, Yesus berkehendak untuk melakukan kehendak Bapa-Nya yang di sorga (Ibrani 10:7, 9). Hal ini dilaksanakan-Nya sepenuhnya.

    2. SIFAT PERPADUAN KEDUA SIFAT ITU

      Maka jika kedua sifat Kristus itu terbaur secara sempurna di dalam satu pribadi, lalu bagaimanakah sifat pembauran itu? Sebagian besar jawaban untuk pertanyaan ini telah disinggung dalam uraian sebelumnya. Tidak mungkin kami memberikan analisis kejiwaan yang tepat tentang kepribadian, unik Kristus sekalipun Alkitab memberikan sedikit petunjuk.

      1. Perpaduan itu tidak bersifat teantropik. Diri Kristus adalah teantropik (artinya mempunyai sifat ilahi dan sifat manusiawi), tetapi sifat-Nya tidak. Maksudnya, seseorang dapat berbicara tentang Allah - manusia bila Ingin mengacu kepada diri Kristus; akan tetapi, kita tidak dapat berbicara tentang sifat ilahi- manusiawi, melainkan kita harus berbicara tentang adanya sifat ilahi dan sifat manusiawi di dalam Kristus. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa Kristus memiliki pengertian dan kehendak yang tak terbatas dan juga memiliki pengertian dan kehendak yang terbatas; Ia memiliki kesadaran ilahi dan kesadaran manusiawi. Kecerdasan ilahi-Nya tidak terbatas; kecerdasan manusiawi-Nya makin bertambah. Kehendak ilahi-Nya adalah mahakuasa; kehendak manusiawi-Nya hanya terbatas pada kemampuan manusia yang belum jatuh dalam dosa. Dalam kesadaran ilahi-Nya Ia dapat berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30); dalam kesadaran manusiawi-Nya Ia dapat berkata, "Aku haus" (Yohanes 19:28). Namun harus ditekankan bahwa Kristus tetap Allah- manusia.
      2. Perpaduan itu bersifat pribadi. Perpaduan kedua sifat di dalam Kristus disebut perpaduan hipostatis. Maksudnya, kedua sifat atau hakikat itu merupakan satu cara berada yang pribadi. Karena Kristus tidak bersatu dengan diri manusia, tetapi dengan sifat manusia, maka kepribadian Kristus bertempat dalam sifat ilahi-Nya.
      3. Perpaduan itu meliputi berbagai sifat dan perbuatan manusiawi dan ilahi. Baik sifat dan perbuatan yang manusiawi maupun yang ilahi dapat dilakukan oleh Sang Allah-manusia tanpa kecuali. Demikianlah berbagai sifat dan ciri khas manusia dihubungkan dengan Kristus di bawah gelar -gelar yang ilahi, "Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi" (Lukas 1:32); "mereka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia" (1 Korintus 2:8); "jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri" (Kisah 20:28). Dari ayat-ayat tersebut kita melihat bahwa Allah telah lahir dan Allah telah mati. Ada juga ayat-ayat yang menyebut berbagai ciri khas dan sifat ilahi serta menghubungkannya dengan Kristus di bawah nama-nama manusiawi-Nya, "Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia" (Yohanes 3:13); "dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?" (Yohanes 6:62); "Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya" (Roma 9:5); Kristus yang mati itu adalah Kristus yang "memenuhi semua dan segala sesuatu" (Efesus 1:23; bandingkan Matius 28:20); Dialah yang telah ditentukan oleh Allah untuk menghakimi dunia (Kisah 17:31; bandingkan Matius 25:31, 32).
      4. Perpaduan tersebut menjamin kehadiran yang tetap dari keilahian dan kemanusiaan Kristus. Kemanusiaan Kristus hadir bersama dengan keilahian-Nya di setiap tempat. Kenyataan ini menambah keindahan kenyataan bahwa Kristus ada di dalam umat-Nya. Ia hadir dalam keilahian-Nya, dan melalui perpaduan kemanusiaan-Nya dengan keilahian-Nya, maka Ia juga hadir dalam kemanusiaan-Nya

SYK-Referensi 04a

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan
Kode Referensi : SYK-R04a

Referensi SYK-04a diambil dari:

Judul Buku : Yesus Kristus Allah, Manusia Sejati
Pengarang : Pdt. Sutoyo L. Sigar M.Th.
Penerbit : PASTI dan YAKIN, Surabaya, 1983
Halaman : 61 - 71

REFERENSI PELAJARAN 04a - YESUS ADALAH JURUSELAMAT DAN TUHAN

ETYMOLOGI ISTILAH JURUSELAMAT

Istilah "Juruselamat" mewakili istilah kata bahasa Yunani soter. Kata soter mewakili kata jadian bahasa Ibrani yang berasal dari akar kata Yasha, yang biasanya menunjuk kepada "Juruselamat." Untuk memahami pengertian "Juruselamat" yang tepat, perlu kiranya menganalisa istilah tersebut secara seksama.

A. Yasha

Dari akar kata Ibrani "Yasha" ini bila diperoleh kata-kata jadian seperti "moshia," Yesha," dan "Yeshua," yang seringkali berhubungan dengan arti "keselamatan." Walaupun demikian istilah tersebut tidak jarang dipakai sebagai "Juruselamat" (Yesaya 19:20; 43:11; 49:26 dan 52:10). Dalam Hakim-Hakim 3:9,15 diterjemahkan sebagai "penyelamat," ada kemungkinan bahwa penulis berpikir mengenai "Juruselamat" yaitu sebagai Juruselamat Illahi.

Yasha dapat diartikan, "menolong," "melindungi," "membebaskan," dan "menyelamatkan." Dengan demikian kata tersebut berarti membebaskan atau mencari jalan untuk membebaskan seseorang dari beban hidup, penderitaan, dan atau bahaya. Karena pertolongan tersebut dapat menghasilkan semacam: kemenangan, kemakmuran, kebahagiaan dan keselamatan (Ulangan 20.4, Yesaya 26:1; 11 Samuel 8:6; Yesaya 60:18).

Kata itu juga dapat mengandung arti yang lebih luas, bebas dari bahaya dan kemampuan untuk mencapai tujuan (kehendak Allah). Berpindah dari bahaya kepada keselamatan memerlukan pembebasan. Biasanya pembebasan harus datang dari luar. Di dalam PerjanjianLama ada macam-macam bahaya, yang bersifat nasional maupun individu, termasuk musuh, bencana alam, seperti bahaya wabah atau kelaparan, dan penyakit. Seseorang yang menjadi penyelamat dikenal sebagai "Juruselamat.

Tetapi pada umumnya dalam Perjanjian Lama kata itu mempunyai arti keagamaan yang kuat, karena hal itu Yehovah sendiri yang membawa kebebasan atau keselamatan. Dalam hal itu Ia diketahui sebagai "Allah adalah keselamatan kita" (Mazmur 68:19-21). Walaupun keselamatan dapat dilaksanakan melalui manusia, tetapi manusia hanya bertindak sebagai agen-Nya saja. Kesemuanya itu terjadi hanya karena Allah sendiri sumbernya.

B. Soter

Kata bahasa Yunani "soter" ini biasanya diartikan "penyelamat" dan "keselamatan." Kadang-kadang terjadi, tetapi hal ini sangat jarang sekali "soter" bukan menunjuk kepada seseorang, misalnya sungai yang dengan tiba-tiba meluap untuk menghindarkan kejaran musuh. Namun demikian, hanya dewa-dewa, atau manusia yang kuat saja disebut "soteres." Friedrich menyimpulkan penggunaan soter hanya terbatas pada lingkungan manusia. Pada dasarnya seseorang yang diselamatkan tergantung pada seseorang yang menyelamatkan.

Kata itu sudah biasa dipakai di lingkungan orang Yunani yang aplikasinya untuk sebutan illahi. Dalam Perjanjian Baru khususnya berbeda dengan penggunaan lain, sebab istilah itu tidak pernah dipakai sebutan untuk menunjuk kepada manusia biasa. "Juruselamat" merupakan sifat (attribute) Allah dalam Perjanjian Lama. Hal ini agaknya yang menjadi alasan dari penggunaan Juruselamat yang erat hubungannya dengan nama Kyrios. Sebagaimana kita ketahui nama Kyrios adalah sangat berperanan penting pada permulaan Kekristenan. Karena Kyrios adalah nama di atas segala nama, sehingga tidak mengherankan bila soter sering dipakai dalam Perjanjian Baru sebagai suplemen untuk Kyrios (Filipi 3:20; 2 Petrus 1:1,11; 2:20; 3:2,18)

PERJANJIAN LAMA

Dalam Perjanjian Lama Allah disebut sebagai "Juruselamat." Kitab Mazmur (24:5; 27:1; 35:3; 62:2,6; 65:5; 79:9) dan Yesaya (12:2; 17:10; 43:3,11; 45:15,21; 60:16; 62:11; 63:8) memberikan jabatan ini kepada Allah secara jelas. Dan memang sebutan ini dapat kita temui di mana- mana di seluruh bagian Perjanjian Lama (Ulangan 32:15; 1 Samuel 10:19; Habakuk 3:18; Mikha 7:7; Yeremia 14:8, dan lain-lainnya). Walaupun demikian tentang rencana Allah mengenai keselamatan di dalam Perjanjian Lama telah menimbulkan tidak sedikit perdebatan tentang sifatnya yang tepat:

Kaum modernis dalam theophani berusaha menyesuaikan pernyataan Perjanjian Lama dengan pola evolusioner yang cenderung meniadakan setiap pernyataan tentang kasih dan kemurahan Allah sampai di bagian akhir Perjanjian Lama. Sebaliknya bagi ahli-ahli theologia konservatif telah menunjukkan kenyataan belas kasihan Allah mulai dari dari Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Maleakhi.

Adalah merupakan dasar dari Perjanjian Lama, konsep bahwa Allah adalah pembebas umat-Nya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menyelamatkan dirinya, dan tidak ada seorang pun di dunia ini mengadakan penebusan buat sesamanya. Mazmur 49:8 berbunyi, "Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya." Manusia yang menjadi "Juruselamat" di mana Allah mengangkatnya untuk membebaskan umat-Nya dari tangan musuhnya (Hakim-Hakim 3:9; 2 Raja-Raja 13:5; Nehemia 9:27, dan sebagainya), adalah "Juruselamat" sebagai alat Tuhan dan bersifat sekunder. Oleh karena itu pada setiap aspek karya Allah adalah untuk kepentingan manusia dan bukan sebagknya karya manusia untuk kepentingan Allah. Hanya Allahlah Juruselamat.

Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juruselamat selain daripada-Ku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku, demikianlah firman Tuhan, dan Akulah Allah. Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?

Penggunaan nama diri Tuhan di sini sebagai nama yang menunjukkan inti pokok: "Aku dan tidak ada nama lain yang eksis dan hidup," seperti Dia yang membuktikan eksistensinya melalui karya-Nya, dan tentu dengan karya penyelamatan-Nya. "Juruselamat" dan "Tuhan" mempunyai kesamaan di sini. Tuhan dalam pernyataan diri dalam sejarah sebelumnya dilengkapi dengan janji akan pembebasan. Dia memberitakan dan membawa keselamatan, tanpa ada yang dapat mencegahnya; misalnya suatu kuasa atau allah di Israel yang membuktikan eksistensinya, atau dalam kenyataannya memberikan suatu pertanda. Karenanya mereka harus mengakui: hanya Dia, Dia sendiri, adalah Tuhan, Allah yang Mahatinggi. Dan sejak saat itu dan untuk selamanya Dia tidak berubah, dan hanya Dia, menunjukkan sifat keilahian dan hidup kekai. Di hadapan Tuhan tidak ada allah lain, dan tidak akan ada lain kecuali Dia; karenanya itu Dialah kekal untuk selamanya.

Dan karena seluruh bagian Kitab Yesaya berkenaan dengan pembebasan Israel, alasan dan konsekwensinya, sehingga ditambahkan "tidak ada juruselamat lain daripada-Ku." Oleh karena itu Israel harus menjaga untuk tidak mencari keselamatan dan yang lain. Dalam penutupan kata memberikan pengertian kepada mereka, bahwa keselamatan tiba diwaktu pelaksanaan hukuman. Tuhan akan terus melaksanakan karya-Nya, dan apabila Dia yang sama kemarin, hari ini dan selamanya, siapakah yang dapat mencegahnya.

Dalam pasal 42:1-17 Tuhan mengintroduksikan hamba-Nya, pengantara keselamatan. Dan pasal 42:18; 43:13 mulai dengan pendekatan-Nya kembali dan berusaha untuk membawa Israel kepada keselamatan yang dari Allah, Allah yang tiada tandingannya.

Dalam bahasa Ibrani "Juruselamat" biasanya dalam bentuk participle, bukan kata benda, dimana menunjukkan kepada pemikiran Perjanjian Lama. Istilah ini bukanlah merupakan suatu gelar sebagaimana hal ini digambarkan kepada kegiatan-kegiatan Allah untuk kepentingan umat-Nya. Walaupun istilah tersebut mesianis dalam Perjanjian Lama, mesias digambarkan sebagai seseorang yang datang memberikan/menyodorkan keselamatan kepada semua bangsa (Yesaya 49:6,8; Zakharia 9:9).

PERJANJIAN BARU

Dalam Perjanjian Baru istilah "Juruselamat" tidak pernah menunjuk kepada seseorang, tetapi hanya kepada Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Tuhan dilukiskan sebagai "Juruselamat" dalam Perjanjian Baru, karena Ia menyediakan keselamatan untuk manusia dengan mengutus Anak- Nya, dan melalui Dia" (Lukas 1:47; 1 Timotius 1:1; 2:3; 4:10; Titus 1:3; 2:10; 3:4; Yudas 25). "Juruselamat" dalam Perjanjian Baru merupakan kedudukan utama Yesus, sejak mulanya Ia telah mengumumkan kepada dunia sebagai Juruselamat (Lukas 2:11). Walaupun istilah Juruselamat tidak digunakan dalam Matius, misi Yesus digambarkan dalam Injil tersebut sebagai Seseorang yang menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Matius 1:21). Pembagian dari 24 penggunaan istilah dalam Perjanjian Baru akan menunjuk hal tersebut, walaupun penggunaan istilah telah digunakan dari permulaan kekristenan, hal ini menjadi sangat penting kepada periode penutupan Perjanjian Baru. Dua pertiga dari penggunaannya nampak pada kitab-kitab bagian akhir: sepuluh di surat- surat Pastoral; lima di 2 Petrus; dan masing-masing satu di Injil Yohanes, 1 Yohanes, dan Yudas. Injil Markus dan permulaan surat-surat Paulus tidak menggunakan istilah "Juruselamat."

Sebagai tambahan berkenaan dengan "Juruselamat" dalam Perjanjian Baru memberikan pandangan yang penting pada kekristenan yang mula- mula, Yesus dilukiskan oleh Yohanes sebagai "Juruselamat dunia." Dalam surat-surat Pastoral, "penampilan Juruselamat kita" digunakan (2 Timotius 1:10; Titus 2:13), dimana menyaksikan akan kedua sifat supranatural dan kemuliaan-Nya. Istilah itu juga berhubungan dengan "kemurahan" dalam Titus 3:4.

Yesus sendiri menafsirkan misi-Nya sebagai salah satu keselamatan, berkata, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Istilah tersebut mengisyaratkan akan bahaya, bencana, dari seorang penolong. Istilah Juruselamat di kedua Kitab, Perjanjian Lama (Yesaya 53) dan Perjanjian Baru mengusahakan pembebasan dari penderitaan yang sangat dan kesusahan yang diketahui oleh umat manusia - pembebasan dari dosa Juga ada penekanan pada pelayanan Yesus berkenaan dengan si penerima pembebasan-Nya. Ia sebagai Juruselamat bukan hanya kepada yang kuat dan kaya atau mereka yang terdidik, tetapi juga seperti gembala-gembala dan orang buangan; yang disingkirkan dari masyarakat seperti Zakheus dan sebagainya.

ARTI YESUS JURUSELAMAT

PENEBUS

Sebagaimana kita telah diajarkan oleh perkataan Petrus yang terkenal, "Tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). Nama "Yesus" diberikan kepada-Nya tidaklah dengan suatu alasan dan kesempatan, atau dengan suatu keputusan seseorang, tetapi hal ini telah disampaikan dari surga oleh malaikat. Alasannya untuk itu ialah: Ia diutus agar menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya (Matius 1:21; bandingkan Lukas 1:31). Kita harus memperhatikan kata-kata sebagai berikut: jabatan sebagai Penebus yang disandang-Nya agar Ia menjadi Juruselamat kita.

Pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah yang menyatakan. "Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus" (Kisah Para Rasul 2:36). Yesus adalah Manusia, namun telah dibuktikan oleh kebangkitan dan kenaikan-Nya menjadi Allah, Tuhan dan Kristus, sebagai Mesias. Mereka harus meletakkan imannya lebih daripada kepada manusia; hal ini harus dalam Seseorang yang juga Allah yang merupakan perjanjian Mesias dalam Perjanjian Lama. Illahi dan Kemanusiaan harus disatukan agar dapat menyediakan keselamatan secara sempurna. Jutuselamat harus manusia agar dapat mati dan agar dapat menanggung hukuman atas manusia dan Dia haruslah Allah agar kematian dapat efektif untuk seluruh umat manusia. Ketika Paulus menuliskan suratnya kepada Roma, ia berkata mengenai Anak Allah, Yesus Kristus, dan kemudian menjelaskan dua fakta yang penting tentang Yesus Kristus - Kemanusiaan-Nya ("yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud") dan Keillahian-Nya ("bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa") (Roma 1:1-4). Kemudian 10:9; "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan ... kamu akan diselamatkan." Ini merupakan pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan dan imannya dalam Allah-Manusia yang menyelamatkan dari dosa.

Pernyataan dasar dari penebusan ini berarti membeli atau membayar harganya untuk sesuatu. Ini digunakan, misalnya, sebagaimana biasanya dalam kehidupan sehari-hari mengenai perumpamaan harta benda terpendam dan mutiara yang berharga yang mendorong orang untuk membeli (menebus) ladang (Matius 13:44). Dalam hubungannya dengan keselamatan kita, istilah itu berarti membayar harga karena tuntutan dosa kita agar kita dapat ditebus (Wahyu 5:9; 14:3-4; 2 Petrus 2:1; 1 Korintus 6:20; 7:23). Dan ini hanya dapat dibayar oleh darah Kristus.

Istilah ini juga ada hubungannya dengan tempat di pasar, maka seseorang yang ditebus digambarkan atau berarti dibeli dari pasar. Dengan kata lain, ide dari istilah ini ialah kematian Kristus tidak hanya membayar harganya untuk keselamatan kita tetapi juga memindahkan kita dari pasar dosa agar memberi jaminan kepada kita sehingga tidak akan pernah dikembalikan kepada perbudakan dan hukuman dosa. Kedatangan Kristus agar "menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak" (Galatia 4:5). Penggunaan istilah dalam ayat ini berarti memberi jaminan kepada kita bahwa kita tidak akan kehilangan hak sebagai anak dan kembali kepada perbudakan.

Penebusan bukan hanya penting karena telah dibeli, tetapi dapat juga berarti dibebaskan. Sekali lagi Paulus berkata bahwa kematian Kristus agar "membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk mengkuduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik" (Titus 2:14). Oleh karena itu, penebusan secara penuh konotasi berarti bahwa karena penumpahan darah Kristus orang-orang percaya telah dibeli, dipindahkan dan dibebaskan. Pembayaran harga dari Anak Allah melalui kematian-Nya seharusnya lebih memberikan motivasi kepada anak-anak Allah untuk menyerahkan diri kepada Tuhan.

Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan (Yohanes 3:14-15); jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (Yohanes 12:24). Tuhan tidak dapat mengampuni dosa berdasarkan pertobatan seseorang. Hal ini mustahil untuk kesucian Allah melakukan. Tuhan dapat mengampuni dosa hanya apabila hukaman itu dibayar lebih dahulu. Agar Allah dapat mengampuni dosa seseorang dan ia dalam waktu yang sama dibenarkan, dan Kristus membayar hukuman orang-orang berdosa (Roma 3:25-26). Kristus berkali-kali berkata bahwa Ia harus menderita dalam banyak hal, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga (Matius 16:21; Markus 8:31; Lukas 9:22; 17:25; Yohanes 12:32-34). Dua orang yang ada di kubur Yesus sesudah Ia bangkit mengingatkan perempuan-perempuan yang datang untuk mengurapi tubuh Yesus di mana Kristus berkata bahwa Ia harus disalibkan dan bangkit kembali (Lukas 24:7). Paulus mencari bukti kepada orang-orang Tesalonika akan kepentingan kematian Kristus (Kisah Para Rasul 17:3). Dari sudut Allah, kematian Kristus adalah sangat penting bila manusia diselamatkan.

Tetapi di sini kita harus merenungkan secara bersungguh-sungguh bagaimana Dia melaksanakan keselamatan bagi kita. Karenanya itu kita seharusnya tidak terbius oleh karena Dia sebagai pelaksananya, tetapi berusaha untuk memperkembangkan iman kita, menolak apa pun yang membahayakan dan yang berusaha untuk mengalihkan kepada arah yang lain. Tidak ada seorang pun yang dapat merendahkan diri terhadap-Nya dengan secara serius tanpa memperhatikan perasaan akan ketidakperkenan Allah dan perasaan memusuhi Dia.

KEMURAHAN ALLAH

Kesadaran akan murka Allah membuat kita mengucap syukur atas kasih setia-Nya di dalam Kristus.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus melihat bagaimana belas kasihan dan kemurahan Allah diperuntukkan bagi kita. Bagaimana Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal dengan satu ikrar suci karena cintanya kepada kita apabila Dia tidak siap merangkul kita dengan kebebasan-Nya. Karena sering adanya perbedaan pendapat di sini, maka saya akan mencoba untuk menghindarinya. Roh Kudus biasanya bicara demikian dalam Kitab Suci: "Tuhan adalah musuh manusia sampai mereka diperdamaikan atas anugerah melalui kematian Kristus" (Roma 5:10). "Mereka berada di bawah kutuk sampai kejahatannya dilenyapkan dengan pengorbanan Yesus" (Galatia 3:10,13). "Mereka jauh dari Allah dan melalui tubuh jasmani Kristus mereka diperdamaikan" (Kolose 1:21-22). Pernyataan yang singkat ini memberikan situasi manusia yang perlu kita mengerti bagaimana keadaan kita sangat menyedihkan dan bagaikan puing- puing apabila kita terpisah dari Kristus. Apabila hal ini tidak secara jelas dinyatakan bahwa kemarahan dan pembalasan Allah serta kematian kekal adalah akibatnya, kita dengan gemetar telah menyadari betapa mengerikan apabila hidup ini tanpa kemurahan dan belas kasihan dari Allah.

Sebuah contoh, bila Tuhan menghancurkan Saudara sementara Saudara masih dalam keadaan hidup dalam dosa, dan membuangkan Saudara, seperti Saudara ketahui, betapa celaka Saudara karena kehancuran sedang menantikan Saudara. Tetapi karena Dia berusaha dengan anugerah-Nya, atas dasar kehendak-Nya sendiri, maka tidak membiarkan Saudara terpisah dari-Nya, sehingga Saudara terlepas dari ancaman maut.

Orang tersebut mengalami dan merasakan sesuatu di mana dia merasakan kebesaran rasa belas kasihan serta kemurahan Allah. Di pihak lain, seandainya ia belajar, sebagaimana Alkitab mengajarkan, bahwa dia telah terpisah dari Allah karena dosanya, ialah mewarisi murka, dan berakibat kematian kekal, terlepas dari segala pengharapan keselamatan, segala berkat-berkat Allah, hamba setan, seorang buangan karena dosanya, yang tujuan akhimya ialah penderitaan kekal. Pada saat demikian Kristus mengetengahi sebagai advokatnya, menimpakan kesalahan itu pada diri-Nya dan menderita hukuman dari hukuman Allah, yang mengancam semua orang-orang berdosa. Di mana Dia membersihkan dengan darah-Nya karena setan yang menjadikan orang-orang melawan Allah. Dengan demikian Dia membuat kepuasan dan pengorbanan yang patut di hadapan Allah Bapa, sehingga sebagai penengah telah menentramkan murka Allah. Atas dasar ini maka terjadilah damai di antara Allah dan manusia. Dengan ikatan ini kebajikan memelihara mereka.

Kemurahan Allah merupakan basis dedikasi kita, karena Dia lebih besar dari semua tuan-tuan yang ada di dunia ini. Berkat kehidupan karena dedikasi kita dalam pelayanan kepada Allah adalah lebih pasti dan memperkaya. Mengapa banyak orang malu mendedikasikan hidup-Nya adalah sukar dimengerti!

PENDAMAI

Murka Allah menentang orang berdosa, kasih-Nya mendamaikan kita di dalam Kristus. Untuk Tuhan benar adalah sifat-Nya, tidak dapat mengasihi orang yang perbuatannya melanggar hukum-Nya, seperti yang terlihat di dalam hidup kita semua. Karena itu kita semua ada perasaan kebencian kepada Allah. Sifat nature kejahatan kita dan kelemahan hidup mengakibatkan tak berkenan di hadapan Allah, bersalah dipemandangan-Nya dan dilahirkan untuk hukuman neraka. Tetapi karena Allah menyatakan tidak ingin seorang pun binasa, terlepas dari kebaikan kita. Dan memang kasihlah sebagai sifat-Nya. Allah mengasihi mereka yang remuk hatinya, meninggalkan jalannya dan berbalik kepada jalan Tuhan. Walaupun bagaimana keadaan kita, sebagai orang berdosa, dan keji, namun kita adalah tetap ciptaan-Nya. Memang kita mati karena perbuatan kita sendiri atau pilihan kita sendiri, walaupun demikian Ia menciptakan kepada hidup. Oleh karena itu, dengan kasih Allah Bapa berlangsung dan memberikan harapan akan pendamaian di dalam Kristus, sudah barang tentu karena Ia mengasihi kita lebih dahulu (1 Yohanes 4:19), kemudian Ia mendamaikan kita dengan-Nya.

Kematian Kristus sepenuhnya membaskan tuntutan Allah yang benar mengenai hukuman atas orang berdosa (Roma 3:25; 1 Yohanes 2:2; 4: 10; Ibrani 2:17). Ajaran Perjanjian Baru tentang jalan pendamaian adalah seperti yang diajarkan Perjanjian Lama, bergantung pada konsep murka Allah yang menuntut pemuasan. Murka Allah dengan tegas disebut dalam Matius 3:7; Markus 3:5; Lukas 3:7;21:23; Yohanes 3:36; Roma 22; Efesus 5:6; Kolose 3:6; Wahyu 6.16; 11:18; 14:10; 16:19 dan 19:15. Perjanjian Baru mengajarkan tentang jalap pendamaian adalah jawaban Allah bagi problema mengenai hukuman-Nya yang adil ke atas orang berdosa.

Dalam Roma 3:25-26 "Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada mala ini supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus." Dari ayat tersebut di atas ada dua fakta yang menempatkan jalan pendamaian dalam Alkitab. Pertama, bahwasanya hal itu bukan soal memuaskan satu Allah yang bernafsu membalas dendam, melainkan memuaskan satu Allah yang adil, benar dan suci dalam segala perbuatan-Nya. Kedua, Allah semacam itu, meskipun pada satu pihak menuntut pemuasan penuh terhadap kebenaran-Nya, adalah Allah yang sama yang karena kasih-Nya kepada umat manusia yang terhilang mengutus Anak-Nya untuk menjadi jalan pendamaian.

Kristus dalam kematian-Nya di atas salib melalui pencurahan darah-Nya dan pengorbanan hidup-Nya menyelesaikan suatu terhadap keadilan ilahi yang Allah terima bagi yang berdosa. Jalan pendamaian ini memungkinkan Allah menyatakan kasih-Nya kepada manusia dan mengaruniakan kebenaran melalui pembenaran oleh iman. Keyakinan ini didukung oleh perlunya jalan-pendamaian karena dosa (Roma 3:9,23; 5:12), kebenaran Allah (Mazmur 119:137; 145:17; Roma 3:25-26), dan fakta bersejarah bahwa Kristus benar mati bagi manusia berdosa (Yesaya 53:5-7; Galatia 1:4; 3:13 dan sebagainya).

Jadi hubungan baru pendamaian ini hanya dimungkinkan oleh darah Kristus yang dicurahkan di salib Golgota. Kepada orang-orang berdosa yang diselamatkan oleh anugerah yang dahulunya jauh dan musuh oleh perbuatan jahatnya, tetapi sekarang diperdamaikan dan dinyatakan suci, tanpa noda, dan tak bercela di hadapan Allah. Tindakan perdamaian dalam kematian Kristus itu sendiri tidak mengakibatkan pendamaian bagi individu, melainkan bersifat menyediakan saja, dan memungkinkan individu itu diperdamaikan. Orang yang belum diselamatkan tak berubah dalam keadaannya semula bahkan sesudah kematian Kristus sampai saat ia percaya di mana pendamaian itu mulai berlaku bagi dia. Setelah percaya, ia masuk ke dalam hubungan baru di dalam Kristus, dan oleh Allah ia dianggap suci tanpa noda dan tak bercela. Inilah kedudukan orang yang percaya di hadapan Allah - diperdamaikan dengan Allah.

KESIMPULAN

Pembukaan rahasia rencana keselamatan dari Allah sesudah Adam merupakan kisah yang bertahap pemyataannya. Masa manusia meninggalkan pernyataan keselamatan yang diberikan dan terjerumus ke dalam kegelapan dan dosa. Semakin hari manusia semakin jauh dari Allah, hanya bagian kecil saja yang dilukiskan dalam Kitab Suci tetap percaya kepada Allah, dan menerima terang selanjutnya. Nabi Yesaya mengutarakan bahwa "masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri," dan sudah barang tentu kematian kekallah yang menantikannya. Secara jelas masalah manusia dapat diatasi dari pemyataan Kitab Suci dengan menaruh kepercayaannya kepada Kristus maka dia akan beroleh selamat (Yohanes 1:12; 3:16).

Yang menjadi masalah d: sini ialah seolah-olah ada perbedaan pendapat dengan cara keselamatan dalam Perjanjian Lama dan Baru. Untuk itu Walvoord menjelaskannya secara tepat sekali.

"Jelas bahwa orang-orang kudus di Perjanjian Lama tidak percaya kepada Kristus di dalam cara yang sama dan di dalam pengertian yang sama seperti orang-orang percaya dalam Perjanjian Baru, oleh sebab mereka hidup pada masa yang berlainan dan tidak memiliki keterangan yang sama. Dalam sifat kasus ini, perkara iman ialah mempercayai masing- masing pernyataan yang diberikan pada saat itu. Sebaliknya juga tidak ada dua jalan keselamatan. Seluruh keselamatan Allah berasal dari sang Juruselamat, Anak Allah, dan pekerjaan-Nya di kayu salib. Juga jelas bahwa keselamatan dari setiap jiwa menuntut iman. Bahkan rahmat dan kemurahan Allah tidak dapat menyelamatkan satu jiwa yang masuk kekekalan dengan tidak percaya. Dua unsur penting dari keselamatan ini - pekerjaan Kristus di kayu salib dan iman dari keselamatan Adam sampai kepada jiwa terakhir yang Allah tarik kepada diri-Nya di masa depan. Iman adalah syaratnya, dan kematian Kristus adalah dasarnya."

SYK-Referensi 04b

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan
Kode Referensi : SYK-R04b

Referensi SYK-04b diambil dari:

Judul Buku : Jawaban bagi pertanyaan orang yang belum percaya
Pengarang : Josh Mc Dowell dan Don Steward
Penerbit : Gandum Mas, Malang, t.th
Halaman : 77 - 79

REFERENSI PELAJARAN 04b - YESUS ADALAH JURUSELAMAT DAN TUHAN

MENGAPA YESUS SATU-SATUNYA JALAN KEPADA ALLAH?

Orang senantiasa menanyakan, "Apakah keistimewaan Yesus? Mengapa Dia sate-satunya jalan bagi manusia untuk dapat mengenal Allah?" Seiring dengan masalah orang-orang kafir, tidak ada pertanyaan lain yang ditanyakan lebih sering dari pertanyaan yang satu ini. Kita dituduh berpikiran sempit karena kita menegaskan bahwa tidak ada jalan lain kepada Allah.

Hal pertama yang harus kita kemukakan ialah bahwa bukan kita yang membuat-buat pernyataan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan. Ini bukan pernyataan kita, melainkan Tuhan Yesus sendiri. Kita hanya mengemukakan pernyataan-Nya, dan pernyataan para penulis Perjanjian Baru.

Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6) dan " . . . jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu" (Yohanes 8:24). Rasul Petrus menggemakan kata- kata ini, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12).

Paulus setuju, "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (1 Timotius 2:5). Jadi, seluruh Perjanjian Baru bersatu memberi kesaksian bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Allah kecuali melalui pribadi Yesus Kristus.

Untuk mengerti mengapa demikian, kita harus kembali ke permulaan. Allah yang Mahabesar telah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1) dan menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri (Kejadian 1:26). Setelah Ia selesai menciptakan, segala sesuatu sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Manusia, laki-laki dan perempuan, ditempatkan dalam suatu lingkungan yang sempurna, dengan segala kebutuhan mereka terpenuhi. Mereka diberikan hanya sebuah larangan; mereka tidak boleh makan dari buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, supaya jangan mereka mati (Kejadian 2:17).

Sayang sekali, mereka makan buah pohon itu (Kejadian 3), dan akibatnya ialah kejatuhan dalam empat hal yang berbeda. Hubungan antara Allah dan manusia sekarang putus, sebagaimana dapat terlihat dari usaha Adam dan Hawa menyembunyikan diri dari hadapan Allah (Kejadian 3:8).

Hubungan antara manusia dengan sesama manusia menjadi renggang, karena keduanya, Adam dan Hawa, saling membantah dan mencoba melemparkan kesalahan kepada yang lain (Kejadian 3:12,13).

Ikatan antara manusia dan alam juga putus, sehingga tanah menghasilkan semak duri dan rumput duri dan binatang-binatang tidak lagi jinak (Kejadian 3:17,18). Manusia juga menjadi terpisah dari dirinya sendiri. Hatinya dipenuhi perasaan kekosongan dan ketidaklengkapan, sesuatu yang tidak dialaminya sebelum kejatuhan itu.

Namun demikian, Allah berjanji akan memperbaiki segalanya dan memberikan Firman-Nya bahwa Ia akan mengutus seorang Juruselamat, atau Mesias, yang akan membebaskan seluruh ciptaan dari perbudakan dosa (Kejadian 3:15). Perjanjian Lama terus mengulangi tema ini dan bahwa suatu hari kelak Juruselamat ini akan datang ke dalam dunia dan membebaskan umat manusia.

Firman Allah sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Allah menjadi manusia dalam oknum Yesus Kristus (Yohanes 1:14,29). Yesus akhirnya mati sebagai pengganti kita supaya kita dapat mempunyai hubungan yang benar dengan Allah lagi. Kitab Suci berkata, "Allah di dalam Kristus itu memperdamaikan isi dunia ini dengan diri-Nya" dan "Ia, yang tiada mengenal dosa, telah dijadikannya dosa ganti kita, supaya kita ini akan menjadi kebenaran Allah di dalam Dia" (2 Korintus 5:19,21, TL).

Yesus telah membuka jalan! Allah telah melaksanakan semuanya, dan tanggung jawab kita ialah menerima kenyataan itu. Kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk menambah karya Kristus; segala sesuatunya telah dikerjakan bagi kita.

Jikalau umat manusia dapat mencapai Allah melaiui suatu jalan lain, maka Yesus tidak harus mati. Kematian-Nya menunjukkan fakta bahwa tidak ada jalan lain. Oleh sebab itu, tidak ada agama atau pemimpin agama lain yang dapat membawa orang kepada pengenalan akan Allah yang esa dan benar itu.

Tetapi kematian Yesus bukanlah akhir ceritanya. Marilah kita menggambarkan mengapa Vita jauh lebih suka memilih Yesus daripada para pemimpin agama lain. Seandainya sekelompok orang sedang berjalan kaki dalam sebuah hutan suaka yang sangat lebat. Pada waktu kita masuk lebih jauh ke dalam hutan, kita tersesat.

Karena menyadari bahwa mengambil jalan yang salah mungkin berarti kita akan kehilangan nyawa, maka kita mulai menjadi takut. Akan tetapi, tidak lama kemudian kita melihat di kejauhan ada dua sosok tubuh berdiri di persimpangan jalan.

Setelah berlari mendekati orang-orang ini, kita melihat bahwa yang seorang memakai seragam penjaga hutan. Ia berdiri di sana dengan keadaan sehat sekali dan hidup, sedangkan yang seorang lainnya tergeletak di tanah, mati. Sekarang, yang mana di antara kedua orang ini yang akan kita tanyai jalan keluar hutan itu. Tentu, kepada orang yang masih hidup itu.

Jika hal itu diterapkan pada hal-hal yang kekal, kita tentunya akan menanyakan oknum yang hidup mengenai jalan keluar dari keadaan berbahaya yang kita hadapi sekarang ini. Yesuslah satu-satunya yang bangkit kembali dari kematian. Hal ini membuktikan kebenaran pernyataan-Nya (Roma 1:4), Dialah Anak Allah yang tunggal dan jalan yang satu-satunya bagi manusia untuk mempunyai suatu hubungan pribadi dengan Allah yang benar dan hidup.

SYK-Referensi 04c

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan
Kode Referensi : SYK-R04c

Referensi SYK-04c diambil dari:

Judul Buku : Yesus Kristus Allah, Manusia Sejati
Pengarang : Chris Maruntika, Th.D.
Penerbit : PASTI dan YAKIN, Surabaya, 1983
Halaman : 11 - 15

REFERENSI PELAJARAN 04c - YESUS ADALAH JURUSELAMAT DAN TUHAN

YESUS ITU TUHAN

Sejarah membuktikan bahwa banyak orang Kristen yang mula-mula mati syahid karena teguh berpegang pada keyakinan mereka bahwa Yesus itu Tuhan. Mereka memilih terpaku di salib ataupun terbakar di tiang gantungan, sebagai obor di taman kaisar Romawi, daripada menyangkal Yesus, yang mereka lihat dengan mata jasmani dan mata rohani, adalah Tuhan. Bahkan bagi mereka, ciri utama seorang beriman ialah apabila orang itu mengaku bahwa Yesus itu Tuhan (Roma 10:9), karena ini berarti bahwa Roh Kudus telah berdiam dan mematrikan keyakinan itu di hatinya (1 Korintus 8:5-6). Azas ini juga menjadi tema utama ajaran dan pemberitaan mereka.

Hal ini terlihat jelas dalam pemberitaan Yohanes dan Paulus. Tentang hal ini Prof. L. Berkhof berkata,

Berdasarkan hasil penelitian sangatlah mustahil menyangkal bahwa Yohanes dan Paulus mengajar tentang ke-Tuhanan Kristus. Di dalam Injil Yohanes pandangan tentang kemuliaan Kristus terlihat dalam nats-nats berikut: Yohanes 1:1-3,14,18; 2:24,25; 3:16-18,35,36; 4:14-15; 5:18, 20-22,25-27; 11:41-44; 20:28; 1 Yohanes 1:3: 2:23; 4:14-15; 5:5,10- 13, 20. Pikiran-pikiran yang surra terdapat dalam surat-surat Paulus dan surat Ibrani, yaitu Roma 1:7; 9:5; 1 Korintus 1:1-3; 2:8; 11 Korintus 5:10; Galatia 2:20; 4:4; Filipi 2:6; Kolose 2:9;1 Timotius 3:16; Ibrani 1:1-3,5,8; dan sebagainya.

Arti Istilah Tuhan

Istilah Tuhan berasal dari kata bahasa Yunani, "Kyrios." Dalam pemakaian sehari-hari pada masa Yesus hidup di dunia ini, istilah ini bisa berarti "bapak yang kekasih," "guru yang tercinta," "majikan yang terhormat," "raja yang berkuasa," dan "Tuhan yang di sembah." Kenyataannya ialah bahwa ada terkandung di dalam istilah "Kyrios," anti umum dan arti khusus. Arti umum yang bisa digunakan bagi manusia dan Tuhan, mengandung makna kasih dan penghargaan. Arti khusus yang hanya digunakan bagi Tuhan, mengandung mhkna penyembahan.

Di dalam Perjanjian Lama kata Tuhan dipakai bagi Allah dengan pengertian penguasa Yang Maha Tinggi. William Childs Robinson menandaskan hal itu dengan menyatakan,

Sebagaimana diterapkan kepada Allah dalam Perjanjian Lama, Tuhan mengandung pengertian penggunaan secara aktif kuasa-Nya atas dunia dan dan manusia, sebagai Pencipta dan Penguasa, Pemberi hidup dan mati. Jadi Tuhan adalah suatu istilah yang menyatakan bukannya sifat metaphisik dari keilahian melainkan kuasa tertinggi dari Yang Maha Tipggi."

Istilah "Kyrios," yang artinya Tuhan digunakan di dalam Septuaginta (Firman Allah Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) untuk menggantikan kata Yahweh yaitu Allah. Ini berarti bahwa di masa sebelum Perjanjian Baru dunia mengenal Allah dengan panggilan Tuhan. Suatu persiapan yang diadakan Allah sendiri untuk memperkenalkan diri-Nya yang kelak menjelma dalam ujud berlembaga, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Allah dipanggil Tuhan (Kyrios) tidak kurang dari 150 kali dalam Perjanjian Baru. Di kala Yesus lahir dikatakan bahwa kemuliaan Tuhan bersinar meliputi gembala-gembala (Lukas 2:9). Waktu Ia mengajar Ia membaca dari buku Yesaya yang mengatakan bahwa "Roh Tuhan ada pada-Ku." Yang dimaksud dengan Tuhan dalam kedua ayat di atas ialah Allah Bapa. Istilah yang sama digunakan juga bagi Yesus Kristus. Bagi orang Kristen yang mula-mula Yesus adalah Tuhan yang juga Allah adanya.

Arti Yesus itu Tuhan

Istilah Tuhan (Kyrios) yang dikenakan kepada Yesus Kristus ternyata melibatkan arti umum dan arti khusus. Ia dikasihi, dihormati, maupun disembah sebagai Guru dan Tuhan oleh murid-murid-Nya. Panggilan Tuhan yang digunakan oleh wanita Samaria di dalam Yohanes 4:19, sesudah terjadi dialog dengan Kristus, menunjukkan penghargaan wanita itu setelah menyadari, bahwa Yesus mengetahui rahasia hidupnya. Di pihak lain, Petrus yang sesudah bergaul lama dengan Yesus Kristus dan menyaksikan mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya mengakui dengan rasa penyembahan yang dalam, bahwa ialah Tuhan Yang Kudus tempat bergantung satu-satunya dan yang menaruh perkataan hidup yang kekal (Yohanes 6:68-69). Kedua pemakaian, umum dan khusus, umumnya muncul sebelum kebangkitan Yesus Kristus. Sesudah kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, pada umumnya Ia dipanggil Tuhan hanya dalam pengertian khusus, yaitu sebagai Allah yang disembah.

Apabila nats-nats Firman Allah diteliti secara seksama, maka dapatlah ditarik kesimpulan hahwa pemakaian istilah Tuhan bagi Yesus Kristus mengandung enam pengertian. Pengertian pertama berhubungan dengan kemesiasan-Nya. Ia disebut Tuhan yang berarti mesias yang dijanjikan. Hal ini dikumandangkan oleh malaikat-malaikat di kala Ia baru menjelma ke dalam dunia. Mereka berkata, "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Lukas 2:11). Ungkapan bahasa Yunani dalam ayat ini ialah "ho estin Kristos Kyrios." "Kristos" dan "Kyrios" berada dalam bentuk nominatif yang berarti keduanya sama dan setara. Jadi tidak mungkin diterjemahkan, "Kristus yang berasal dari Tuhan" ataupun "Kristus milik Tuhan," karena "Kyrios" tidak dalam bentuk genetiva (kepunyaan atau asul) Pengertian yang tepat ialah bahwa "Kristus yang adalah Tuhan" atau "Kristus Tuhan itu." Ayat ini dan ayat-ayat lainnya (seperti Kisah Para Rasul 2:36) menegaskan bahwa Tuhan yang nama kemanusiaan-Nya Yesus adalah mesias yang dijanjikan itu sendiri.

Pengertian kedua berhubungan dengan jabatan-Nya sebagai Juruselamat penghapus dosa. Alkitab Perjanjian Baru menandaskan kepada orang-orang yang percaya kepada Kristus, bahwa mereka, "akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (2 Petrus 1:11). Orang-orang beriman jugag didorong agar "bertambah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18). Pemakaian Tuhan bagi Yesus Kristus di sini dikaitkan dengan jabatan-Nya sebagai Penyelamat manusia dari dosa dan hukuman karena dosa. (Sebagai bahan perbandingan tentang perbuatan Yesus Kristus mengampuni dosa dapat dilihat dalam Matius 9:l-8; Markus 2:1-12; Lukas 5:17-26.)

Pengertian ketiga berhubungan dengan kesatuan-Nya dengan Allah Perjanjian Lama. Alkitab berulang-kali menekankan bahwa Allah adalah Penyelamat manusia. Di dalam Perjanjian Lama misalnya dinyatakan bahwa Allah Israel adalah Juruselamat (Yesaya 45:15,21; Ulangan 32:15; 1 Samuel 10:19, dan lain-lain). Bahkan di dalam Perjanjian Baru tak kurang dari delapan kali Allah dipanggil sebagai Juruselamat (Lukas 1:47; 1 Timotius 1:1; 2:3; 4:10; Titus 1:3; 2:3; 2:10. Yehuda 25.) Ternyata Alkitab menyatakan secara jelas, bahwa Tuhan Allah yang adalah Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Ternyata Firman Allah menunjukkan secara pasti bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, adalah Allah, dan juga Juruselamat manusia.

Pengertian keempat yang terkandung dalam nama Tuhan bagi Yesus Kristus ialah berkenaan dengan kuasa-Nya. Ia penguasa waktu dan tidak dibatasi oleh waktu (Yohanes 1:1; Yesaya 9:5), termasuk juga hari Sabat (Markus 2.20). Ia penguasa yang memerintah segala yang hidup di dunia yang diciptakan-Nya itu. Pernyataan di bawah ini mempertegas kebenaran tersebut.

Matius 9:6 = "berkuasa mengampuni dosa. " Suatu demonstrasi kuasa Tuhan yang meliputi sekaligus penyembuhan dari kelumpuhan rohani (dosa) di samping penyembuhan dari kelumpuhan jasmani (ayat 7,8). Kedua perkara ini yang diselesaikan dengan beberapa patah kata saja merupakan demonstrasi kuasa-Nya. Ia memang melakukan perbuatan yang hanya Allah bisa melakukannya. Ia berkuasa atas dosa dan penyakit. Ia bahkan berkuasa atas maut. Maut memang tunduk pada perintah-Nya (Lukas 7:14-15; 8:54-55; Yohanes 5:25). Ia juga berkuasa atas iblis-iblis yang ternyata tunduk pada perintah-perintah-Nya (Matius 8:16; Lukas 4:35-36,41). Ia berkuasa atas alam semesta (Matius 8:26-27). Bahkan Ia lebih berkuasa dari segala penguasa yang mana pun (Efesus 1:20-23)6

Pengertian kelima dari nama Tuhan bagi Yesus Kristus ialah pribadi yang disembah. Hal ini terlihat di dalam upacara penyembahan (kebaktian) dan upacara Perjamuan Tuhan. Di saat kebaktian dan pemujaan, Yesus disembah sebagai satu-satunya Tuhan (1 Korintus 8:5- 6). Ia juga menjadi pusat perhatian dalam Perjamuan Suci, yang dalam Alkitab disebut Perjamuan Tuhan (1 Korintus 10:21). Bahkan permintaan doa agar terlepas dari kesukaran hidup dialamatkan kepada-Nya. Bahkan pujian dan syukur jemaat yang mula-mula di Efesus memuji Tuhan Yesus Kristus dengan segenap hati (Efesus 5:19-20). Jelaslah bahwa bagi orang-orang Kristen yang mula-mula, Yesus Kristus adalah Tuhan yang kepada-Nya, pujian, dan permohonan doa dipanjatkan.

Pengertian keenam tentang pemakaian titel Tuhan oleh Yesus Kristus menunjukkan kepada fungsinya sebagai Hakim dan Raja dikala Ia kembali yang kedua kali ke bumi di penghulung sejarah dunia. Ialah Tuhan yang akan datang dengan kuasa dan kemenangan. (Wahyu 19:1-6). Kedatangan- Nya itulah yang merupakan pengharapan yang dinantikan oleh orang-orang beriman (1 Tesalonika 2:19; 3:13; 1 Korintus 1:7-8; 2 Korintus 1:14). Ini dan masih banyak lagi ayat-ayat Kitab Suci yang merupakan pernyataan-pernyataan khusus yang membuktikan, bahwa titel Tuhan bagi Yesus merupakan titel eskatologi. Ialah Tuhan yang akan datang untuk mengadakan perhitungan terakhir dengan seluruh ciptaan-Nya.

SYK-Referensi 05a

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus Memiliki Semua Kuasa dan Penakluk Kematian
Kode Referensi : SYK-R05a

Referensi SYK-05a diambil dari:

Judul Buku : Pemahaman Alkitab Setiap Hari
Pengarang : William Barclay
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002
Halaman : 181 - 184

REFERENSI PELAJARAN 05a - YESUS MEMILIKI SEMUA KUASA DAN PENAKLUK KEMATIAN

SIAPA YESUS KRISTUS ITU BAGI PENCIPTAAN

Kolose 1:15-23

Kita masih ingat bahwa menurut pandangan Gnostik karya penciptaan dikerjakan oleh suatu allah yang lebih rendah, yang tidak mengenal dan yang memusuhi Allah sejati. Ajaran Paulus yaitu bahwa perantara Allah dalam penciptaan adalah Anak-Nya dan dalam perikop ini ia memberikan empat hal mengenai Anak yang berkaitan dengan penciptaan.

  1. Ia adalah yang sulung dari segala yang diciptakan (Kol. 1:15). Kita harus berhati-hati untuk mengaitkan arti yang benar kepada frase ini. Ini dapat diartikan bahwa Anak merupakan manusia pertama yang diciptakan, namun dalam pemikiran Ibrani dan Yunani, kata "yang sulung" (prototokos) hanya menunjuk pada pengertian yang sangat tidak berkait langsung dengan waktu. Ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, "yang sulung" adalah sebutan yang sangat umum untuk penghormatan. Contohnya, Israel sebagai suatu bangsa adalah anak sulung Allah (Kel. 4:22). Artinya adalah bangsa Israel merupakan anak yang paling dikasihi Allah. Kedua, kita harus mencatat bahwa "yang sulung" juga merupakan gelar Mesias. Dalam Mazmur 89:28, seperti yang ditafsirkan oleh orang Yahudi sendiri, janji mengenai Mesias yaitu, "Aku pun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi" "Anak sulung" jelas tidak dipakai dalam pengertian waktu, tetapi dalam pengertian penghormatan istimewa. Jadi, ketika Paulus berkata tentang Anak bahwa Ia merupakan yang sulung dari segala yang diciptakan, maksudnya yaitu bahwa penghormatan tertinggi yang dimiliki oleh ciptaan adalah milik-Nya. Apabila kita ingin mengartikan makna waktu dan penghormatan sekaligus, mungkin kita dapat menerjemahkan frase itu demikian, "Ia dilahirkan sebelum segala sesuatu diciptakan".
  2. Oleh Anaklah segala sesuatu diciptakan (ay. 16). Hal ini benar mengenai hal-hal yang ada di surga dan hal-hal yang ada di bumi, mengenai hal-hal yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Orang Yahudi sendiri, bahkan lebih-lebih lagi kaum Gnostik, mengembangkan ajaran yang amat canggih mengenai para malaikat. Berkaitan dengan kaum Gnostik kita dapat menduga bahwa malaikat adalah perantara antara manusia dan Allah. Singgasana, kerajaan, pemerintah, dan penguasa- penguasa adalah jenjang para malaikat yang berbeda, yang masing-masing menempati posisi yang berbeda di ketujuh surga. Paulus menyisihkan mereka semua sama sekali. Sebaliknya, ia ingin berkata kepada kaum Gnostik, "Kamu memberi tempat penting bagi para malaikat dalam pemikiranmu. Kamu menganggap Yesus Kristus hanya sebagai salah satu dari mereka. Sebenarnya jauh daripada itu, Dialah yang menciptakan mereka semua." Paulus menegaskan bahwa agen Allah dalam penciptaan bukanlah Allah yang lebih rendah, yang tidak mengenal dan yang memusuhi Allah, melainkan Anak-Nya sendiri.
  3. Segala sesuatu diciptakan untuk Anak (ay. 16b). Sang Anak bukan hanya pelaku penciptaan, Ia juga merupakan tujuan penciptaan. Maksudnya, penciptaan dikerjakan untuk menjadi milik-Nya dan bahwa di dalam penyembahan dan kasih dari ciptaan-Nya, la akan menemukan kehormatan dan sukacita-Nya.
  4. Paulus memakai frase yang aneh, "segala sesuatu ada di dalam Dia" (ay. 17). Ini berarti bahwa Anak itu bukan saja pelaku penciptaan sejak awal dan tujuan penciptaan pada akhirnya, melainkan di antara yang pertama dan yang terakhir itu, dalam masa itu, Dialah yang memegang seluruh dunia. Ini hendak menyatakan bahwa semua hukum yang menata dunia ini dan yang tidak menimbulkan kekacauan (chaos) adalah ungkapan pikiran Sang Anak. Hukum gravitasi dan yang lain-lain, hukum Yang menjadikan alam semesta ini berjalan bersama-sama, bukan hanya hukum-hukum yang bersifat ilmiah, melainkan juga yang bersifat ilahi.

    Jadi, Sang Anak adalah awal penciptaan, dan akhir penciptaan dan Dialah pula kuasa yang memegang seluruh ciptaan, Sang Khalik, Pemelihara dan Tujuan Akhir dunia ini.

SYK-Referensi 05b

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a |

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus Memiliki Semua Kuasa dan Penakluk Kematian
Kode Referensi : SYK-R05b

Referensi SYK-05b diambil dari:

Judul Buku : Memahami Perjanjian Baru
Pengarang : John Drane
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001
Halaman : 111 - 121

REFERENSI PELAJARAN 05b - YESUS MEMILIKI SEMUA KUASA DAN PENAKLUK KEMATIAN

KEBANGKITAN YESUS

Semua penulis Perjanjian Baru sependapat bahwa Yesus dibangkitkan pada hari ketiga setelah kematian-Nya. Reaksi kita terhadap pernyataan ini sebagian besar tentu tergantung pada keyakinan dasar kita tentang hal-hal yang supernatural. Kalau kita tidak percaya bahwa seorang yang sudah mati itu dapat dipulihkan kembali, kita harus mencari penjelasan lain tentang apa yang orang-orang Kristen pertama yakini sebagai kebangkitan Yesus. Kalau kita bersedia menerima kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa supernatural, kita akan merasa ada manfaatnya untuk memeriksa secara kritis beberapa pernyataan Perjanjian Baru.

Dalam buku ini pernyataan dalam naskah-naskah Perjanjian Baru diterima sebagaimana adanya dan hal-hal supernatural diyakini bisa saja terjadi. Hal ini tentu tidak berarti bahwa segala sesuatu yang dinyatakan mengenai Yesus dapat diterima begitu saja berdasarkan keyakinan-keyakinan dasar tadi. Sebaliknya itu berarti bahwa bahan bukti yang ada dapat diperiksa tanpa rasa takut bahwa kita akan merasa malu dengan hasil-hasil penelitian kita - apa pun bentuk hasil-hasil tersebut.

Hal yang paling mencolok mengenai kebangkitan ialah orang-orang Kristen pertama yakin sepenuhnya akan peristiwa kebangkitan serta rangkaian peristiwa-peristiwanya. Menurut keyakinan mereka, kebangkitan merupakan suatu kejadian yang nyata dan historis, yang telah terjadi di dalam dunia mereka sendiri dan yang telah memberi dampak yang luar biasa terhadap hidup mereka. Kita telah melihat bahwa tidak mudah menentukan seberapa luas tersebar kepercayaan akan kelahiran Yesus dari seorang perawan. Kita tidak tahu, umpamanya, seberapa jauh pengetahuan Paulus mengenai hal tersebut. Tetapi kita tahu, Paulus dan siapa pun juga tidak pernah menyatakan bahwa kepercayaan akan kelahiran dari seorang perawan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang Kristen.

Tetapi kebangkitan merupakan hal yang lain sama sekali. Paulus berbicara untuk seluruh jemaat mula-mula ketika ia menyatakan bahwa jika realitas kebangkitan Yesus itu disangkal, maka iman Kristen akan menjadi hampa tanpa makna: "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam doiamu" (1Kor. 15:17). Oleh karena keyakinannya itu, dalam nats yang sama Paulus selanjutnya menyebutkan saksi-saksi yang dapat memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus. Jelas ia menganggap peristiwa kebangkitan sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan oleh saksi-saksi - suatu peristiwa umum secara lahiriah dan bukan suatu pengalaman religius secara pribadi. Namun sangat menyolok bahwa Perjanjian Baru sama sekali tidak menyebut adanya saksi-saksi atas peristiwa kebangkitan- Nya sendiri, tetapi hanya memberitakan hasil-hasil peristiwa itu, yakni penampakan-penampakan Yesus yang bangkit, serta kenyataan kubur yang kosong.

BUKTI-BUKTI KEBANGKITAN

  1. Kepercayaan jemaat mula-mula

    Bukti paling tua yang kita miliki tentang kebangkitan berasal dari saat-saat segera setelah peristiwa kebangkitan tersebut terjadi. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam khotbah-khotbah di Kisah Para Rasul. Tentu Kisah Para Rasul disusun dalam bentuknya yang kita kenal sekarang, sekurang-kurangnya tiga puluh tahun setelah kematian Yesus dan mungkin malahan lima puluh tahun sesudahnya. Tetapi tidak diragukan bahwa dalam pasal-pasal pertama, penulis Kisah Para Rasul memakai bahan-bahan dari sumber-sumber yang sangat tua.

    Para ahli telah menemukan bahwa bahasa yang dipakai mengenai Yesus dalam khotbah-khotbah Kisah Para Rasul ini sangat berbeda dengan bahasa yang dipakai ketika kitab itu disusun dalam bentuknya yang terakhir. Khotbah-khotbah tersebut juga sangat berbeda dengan surat- surat Paulus, yang pasti ditulis jauh sebelum Kisah Para Rasul. Jadi kita dapat yakin bahwa khotbah-khotbah tersebut berasal dari sumber-sumber yang sangat tua.

    Khotbah-khotbah tersebut mencerminkan kekristenan yang masih bersifat Yahudi dengan seperangkat kepercayaan tentang Yesus yang diungkapkan secara sederhana. Di dalamnya terdapat suatu gambaran yang pada umumnya cukup teliti mengenai apa yang benar-benar terjadi pada masa permulaan jemaat. Menurut gambaran ini, inti berita jemaat mula-mula adalah cerita mengenai Yesus sendiri, yakni kedatangan-Nya untuk memenuhi janji-janji Allah, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya. Pemberitaan orang-orang Kristen pertama itu begitu konsisten sehingga Profesor C. H. Dodd berhasil menemukan suatu pola yang teratur dalam pernyataan-pernyataan mengenai Yesus sejak awal sekali. Ia menyebut pola pernyataan-pernyataan ini kerugma, sebuah kata Yunani yang berarti "pemberitaan". Setiap kisah asli mengenai pemberitaan Kristen mengandung pernyataan-pernyataan seperti berikut:

    1. Yesus telah menggenapi janji-janji Perjanjian Lama;
    2. Allah berkarya dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya;
    3. Yesus sekarang telah diangkat ke surga;
    4. Roh Kudus telah diberikan kepada jemaat;
    5. Yesus segera akan kembali dalam kemuliaan; dan
    6. orang yang meiEdengar berita tersebut harus memberi respons terhadap panggilannya.

    Kalau kita menghilangkan kebangkitan dari kerugma, isi pemberitaan lainnya tidak bermakna lagi. Seluruh keberadaan jemaat mula-mula didasarkan atas keyakinan bahwa Yesus sudah hidup kembali.

    Dari surat-surat Paulus dan Kisah Para Rasul kelihatan syarat bagi seorang rasul ialah bahwa ia telah melihat Yesus yang bangkit itu. Hal ini dijadikan syarat secara eksplisit ketika para rasul berkumpul guna memilih seorang pengganti Yudas Iskariot (Kis. 1:21-22) Paulus juga menyatakan bahwa penglihatannya sendiri di jalan menuju Damsyik - ketika ia melihat Yesus - memberi kepadanya status yang sama seperti para rasul yang lebih dulu (Gal. 1:11-17).

  2. Keterangan Paulus

    Bahan bukti utama yang kedua tentang kebangkitan Yesus diberikan oleh Paulus sendiri. Pentingnya keterangan dalam Kisah Para Rasul dapat diperdebatkan namun tidak demikian halnya dengan keterangan yang disampaikan Paulus (1 Kor. 15) Ia pasti menulis suratnya itu tidak lebih dari dua puluh lima tahun setelah Yesus disalibkan. Pernyataan- pernyataannya jelas merupakan keterangan paling tua tentang kepercayaan akan kebangkitan Yesus. Kalau kita membaca 1 Korintus 15 dan melihat konteksnya, kita menemukan bahwa tujuan utama Paulus bukanlah untuk memberikan argumen yang beralasan agar orang dapat percaya mengenai kebangkitan Yesus. Sebenarnya ia berusaha membantu pembaca-pembacanya untuk mengatasi masalah-masalah tertentu yang timbul dalam jemaat setempat. Informasi yang diberikannya tentang kebangkitan Yesus dari antara orang mati seakan-akan disampaikan secara kebetulan. Hal ini lebih mengesankan lagi karena ia mengingatkan orang-orang Korintus bahwa apa yang disampaikannya sudah lama diketahui mereka. Walaupun hanya dengan beberapa kalimat saja, ia memperlihatkan bahwa pada waktu yang sangat awal orang-orang Kristen - termasuk yang berada di Yunani - sudah mengenal dengan baik seluruh kisah tentang kematian dan kebangkitan Yesus.

    Dalam cerita itu Paulus menyebut sebuah peristiwa ketika Yesus yang bangkit dilihat oleh lebih dari lima ratus orang murid sekaligus, dan kebanyakan dari mereka masih hidup ketika ia menulis suratnya dan mereka dapat membenarkan apa yang dikatakannya (1Kor. 15:6). Selain itu, ia juga menyebut tentang penampakan kepada Yakobus, saudara Yesus. Menurut Paulus pertobatannya sendiri merupakan akibat perjumpaannya dengan Tuhan yang bangkit (1Kor. 15:7-8). Kitab-kitab Injil sendiri tidak memberitakan penampakan-penampakan Yesus tersebut. Padahal kitab-kitab itu mungkin sekali ditulis setelah surat Paulus kepada jemaat Korintus. Fakta kebangkitan Yesus rupanya dipercaya begitu luas, sehingga para penulis kitab-kitab Injil tidak merasa perlu mengumpulkan seluruh bahan bukti untuk itu. Sama seperti cerita- cerita lainnya, mereka hanya memilih sebagian kecil bahan yang tersedia bagi mereka.

  3. Tradisi kitab-kitab Injil

    Kalau kita berbicara tentang kebangkitan, tentunya kita mula-mula memperhatikan kisah-kisah yang terdapat pada bagian akhir keempat kitab Injil. Ada sifat-sifat khas mengenai kisah-kisah itu.

    Semua kisah itu menekankan dua fakta utama:

    1. kuburan Yesus ditemukan dalam keadaan kosong; dan
    2. Yesus yang bangkit dilihat oleh orang-orang yang berlainan pada waktu yang berbeda pula.

    Kedua bahan bukti itu penting. Fakta kubur yang kosong saja tidak membuktikan apa-apa kecuali bahwa mayat Yesus tidak ada di situ. Dan tanpa kubur yang kosong, penglihatan-penglihatan itu tidak membuktikan sesuatu yang objektif, walaupun dapat memberi keterangan mengenai keadaan jiwa para murid. Tetapi gabungan kedua fakta tersebut, kalau kedua-duanya memang benar, merupakan bahan bukti kuat yang mendukung pernyataan bahwa Yesus hidup.

    Kalau kita membaca seluruh kitab-kitab Injil, ternyata kisah-kisah tentang kebangkitan Yesus diceritakan dengan sangat sederhana dibandingkan dengan banyak cerita lain mengenai Dia. Tidak ada simbolisme yang memerlukan pengetahuan khusus untuk dapat mengertinya. Tidak ada kutipan dari Perjanjian Lama. Juga tidak ada usaha untuk mengutarakan makna teologis peristiwa-peristiwa yang dikisahkan itu. Dibandingkan dengan kisah-kisah tentang pembaptisan Yesus, misalnya, kisah-kisah tentang kebangkitan-Nya sangat berbeda.

  4. Para murid

    Bahan bukti keempat yang mendukung terjadinya peristiwa kebangkitan adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri mengenai keadaan para murid setelah kematian Yesus. Setelah guru mereka disalibkan mestinya mereka merasa tertekan dan tanpa harapan. Namun, ternyata dalam jangka waktu tujuh minggu mereka diubah menjadi saksi-saksi yang berani dan kelompok sebuah jemaat yang terus-menerus bertumbuh. Pokok utama kesaksian mereka adalah bahwa Yesus hidup dan tetap berkarya. Mereka tidak ragu-ragu menyatakan bahwa perubahan dalam hidup mereka terjadi sebagai akibat kebangkitan-Nya. Jelaslah, mereka yakin bahwa kebangkitan itu benar-benar telah terjadi. Sebab kebangkitan tersebut bukan hanya sesuatu yang mereka bicarakan. Mereka bahkan rela mati untuk itu. Orang tidak bersedia mati untuk sesuatu kecuali kalau mereka yakin sepenuhnya tentang kebenarannya.

FAKTA DAN IMAN

Jadi demikianlah diskusi tentang bukti untuk kebangkitan Yesus. Bagaimana kita mesti menanggapinya? Untuk memahami pentingnya peristiwa itu, kita harus mengingat tiga hal.

Pertama, tidak ada bukti bahwa Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada orang lain kecuali kepada pengikut-pengikut-Nya sendiri, walaupun mungkin saja Ia berbuat demikian. Para penulis Injil menulis untuk kalangan pembaca tertentu. Masing-masing mereka menulis untuk para pembaca yang adalah orang Kristen. Yang pertama-tama mereka perhatikan ialah apa yang terjadi bila orang-orang Kristen bertemu dengan Tuhan yang sudah bangkit itu.

Kedua, keterangan tentang seseorang yang masuk dan keluar dari sebuah ruangan dengan pintu terkunci, jelas bukanlah sesuatu yang biasanya dipelajari oleh ahli-ahli sejarah. Kebenaran peristiwa seperti itu tidak dapat ditentukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang lazim mengenai bahan bukti.

Ketiga, Maria Magdalena, dua orang murid di jalan ke Emaus dan murid- murid di perahu di Danau Galilea tidak mengenali Yesus yang bangkit, walaupun sudah lama mengenal-Nya, bahkan masih melihat-Nya hanya beberapa hari sebelumnya. Kenyataan itu memberi kesan bahwa penampilan fisik-Nya telah berubah sehingga membingungkan bagi saksi mata dalam memberikan keterangan.

Jadi apa yang merupakan basil penelitian kita terhadap bahan bukti tentang kebangkitan? Yang pasti jemaat mula-mula percaya Yesus telah hidup kembali. Para murid dan Pengikut-pengikut mereka tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang mengubah kehidupan mereka setelah penyaliban guru mereka. Mereka menjelaskan perubahan itu disebabkan oleh kebangkitan-Nya. Tiap pembaca Perjanjian Baru harus menerima hal itu, karena fakta perubahan dalam kehidupan para murid telah terbukti dan tidak bisa diragukan lagi. Tetapi berbicara tentang "iman kebangkitan" tidak sama dengan berbicara tentang "fakta kebangkitan". Hubungan antara fakta-fakta dan iman dibahas secara lebih terinci di bawah (pasal 12). Di sini kita hanya dapat catat bahwa pasti ada sesuatu yang dapat kita sebut sebagai "fakta kebangkitan" yang menyulut iman kebangkitan" para murid. Tetapi apa fakta itu? Ada beberapa kemungkinan yang dapat diberikan.

  1. Pengalaman Subjektif

    Apakah "fakta kebangkitan" merupakan pengalaman subjektif? Salah satu reaksi yang wajar terhadap cerita-cerita tentang kebangkitan adalah menganggap apa yang disebut "penampakan-penampakan kebangkitan" sebagai pengalaman yang subyektif belaka. Orang-orang saleh dapat menyebutnya penglihatan, sedangkan para ahli jiwa mungkin menamakannya halusinasi. Kalau kita dapat berasumsi bahwa memang itu yang terjadi, maka masalahnya sudah terpecahkan. Tetapi ada banyak fakta yang menentang penjelasan seperti itu.

    1. Kitab-kitab Injil sangat menekankan fakta bahwa kubur-Nya kosong dan bahwa baik teman maupun musuh tidak dapat memperlihatkan mayat Yesus. Tekanan itu harus dijelaskan. Orang-orang Yahudi dan Romawi tentu ingin menemukan mayat-Nya, karena hal itu akan menumpas berita Kristen untuk selama-lamanya, jadi dapat dipastikan, mereka tidak mengambilnya. Sebaliknya, para murid bersedia mempertaruhkan hidup mereka karena Yesus hidup - dan secara psikologis tidak mungkin mereka melakukan hal itu kalau mereka sendiri mengambil mayat-Nya dan menguburkan-Nya di tempat lain.
    2. Pengalaman pribadi seperti yang dialami Petrus dan Yakobus memang dapat dianggap sebagai sesuatu yang subjektif, dan penampakan Yesus kepada lima ratus orang mungkin kedengaran seperti halusinasi massal. Namun pertemuan seperti yang terjadi di jalan ke Emaus - menunjukkan ciri-ciri kisah asli. Pertemuan dua orang murid dengan Yesus tidak diwarnai emosi yang meluap-luap dan mereka mengenali Dia secara bertahap. Selain itu, beberapa keterangan untuk diperhatikan dalam kitab-kitab Injil: tubuh Yesus yang bangkit dapat dipegang; Yesus yang bangkit makan bersama murid-murid-Nya; dan Dia mengembusi mereka. Semua ini menunjukkan keyakinan para murid bahwa mereka berhadapan dengan Yesus yang mempunyai tubuh nyata, bukan cuma suatu penglihatan.
    3. Paulus pernah beberapa kali mendapat penglihatan yang bersifat ekstase (1Kor. 14:18). Tetapi menurut Paulus pengalamannya di jalan ke Damsyik lain sama sekali (1Kor. 12:1-4). Pengalaman itu sangat istimewa dan hanya dapat dibandingkan dengan penampakan Yesus yang bangkit kepada murid-Nya yang lain. Pertemuan dengan Yesus yang bangkit rupanya menjadi pengalaman unik. Memang tidak seluruhnya subjektif seperti mimpi, dan tidak seluruhnya objektif seperti fakta yang diamati oleh para ahli. Pertemuan itu mempunyai sisi subjektif dan objektif.
  2. Karangan Teologis

    Apakah "fakta kebangkitan" merupakan karangan teologis? Ada yang berpendapat "iman kebangkitan" muncul karena para murid memerlukan suatu alasan teologis untuk keyakinan mereka. Karena mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang diutus Allah, maka wajarlah orang yang menyatakan diri-Nya sebagai Mesias itu bangkit dari antara orang mati. Tetapi penjelasan ini pun tidak dapat diterima. Ada beberapa alasan untuk keberatan ini.

    Pertama, kita tidak mempunyai bahan dari sumber mana pun yang menyebutkan bahwa Sang Mesias diharapkan bangkit dari antara orang mati. Orang-orang Yahudi justru berharap Mesias akan membunuh orang- orang lain! Kalau Ia menderita dan malahan mati, maka Ia bukanlah Mesias yang ingin dikenal oleh kebanyakan orang Yahudi.

    Kedua, Perjanjian Lama menunjukkan sikap yang sangat negatif terhadap gagasan kebangkitan, dan banyak orang Yahudi menganggap hal itu tidak mungkin. Para murid sendiri kelihatannya tidak mengerti hal itu semasa pelayanan Yesus (Mrk. 9:9-10).

    Ketiga, sulit untuk memahami bagaimana gagasan kebangkitan dapat timbul dari penafsiran pengharapan-pengharapan Perjanjian Lama, sebab kisah-kisah kebangkitan sama sekali tidak ada dalam kutipan-kutipan Perjanjian Lama. Dalam hal ini terdapat perbedaan besar dengan kisah- kisah penyaliban, yang penuh dengan kutipan-kutipan seperti itu.

    Masih banyak saran aneh yang lain dikemukakan dari waktu ke waktu untuk berusaha menjelaskan "fakta kebangkitan". Tetapi seluruh bahan bukti yang besar jumlahnya itu menunjukkan bahwa "fakta kebangkitan" merupakan peristiwa historis yang benar-benar terjadi. Walaupun hal itu sulit dijelaksan secara ilmiah, tidak ada hipotesis lain yang lebih sesuai dengan seluruh bahan bukti yang ada.

MAKNA KEBANGKITAN

Kalau kita berusaha menjelaskan "fakta kebangkitan" secara ilmiah, berarti membicarakan sesuatu yang di luar pola pemikiran para murid yang pertama. Tentulah para murid sendiri tidak merasa perlu mempelajari bahan bukti tentang "fakta kebangkitan". Mereka tahu, kebangkitan itu merupakan fakta nyata oleh karena pengalaman mereka sendiri. Mereka bertemu dengan Yesus yang bangkit dan melihat bukti kubur yang kosong. Jadi tidak digumbarkan bagi kita dalam tulisan mana pun bagaimana sebenarnya kebangkitan itu berlangsung. Beberapa orang Kristen pada abad ke-2 M menganggap hal ini sebagai sesuatu yang kurang dalam Perjanjian Baru. Para penulis Perjanjian Baru seharusnya menceritakan kisah menarik tentang bagaimana rupa tubuh Yesus, bagaimana Ia keluar darii kubur dan bagaimana peristiwa itu mempengaruhi orang-orang yang menyaksikannya.

Tetapi bagi saksi-saksi pertama, rincian seperti itu bukanlah fokus perhatian utama. Bagi mereka, kebangkitan bukan hanya penutup yang menggembirakan dari kisah Yesus. Kebangkitan merupakan puncak yang wajar dari seluruh kehidupan-Nya dan membenarkan apa yang dikatakan- Nya tentang diri-Nya sendiri selama masa pelayanan-Nya. Peristiwa itu juga merupakan jaminan bahwa kehidupan dan ajaran Yesus bukanlah hanya suatu bagian menarik dalam sejarah pemikiran manusia, melainkan merupakan jalan bagi manusia untuk mengenal Allah. Itu sebabnya fakta tentang kebangkitan Yesus menjadi bagian sentral pemberitaan para murid yang disampaikan di seluruh dunia pada waktu itu.

Tetapi mengapa hal itu begitu penting? Mengapa Paulus menyatakan, tanpa kebangkitan Yesus seluruh pemberitaan Kristen itu sia-sia saja?

Pertanyaan ini sebaiknya dijawab dengan merumuskannya secara lain. Daripada bertanya apa ruginya kalau dapat dibuktikan kebangkitan itu tidak benar, kita harus bertanya apa pengaruh positif kebangkitan Yesus dalam kepercayaan orang-orang Kristen yang pertama. Kalau kita mengajukan pertanyaan ini, kita menemukan tiga hal yang dikemukakan tentang makna kebangkitan dalam Perjanjian Baru.

Pertama, melalui kebangkitan, pernyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai Anak Allah terbukti benar. Petrus berkata pada hari Pentakosta bahwa kebangkitan merupakan bukti jelas, "Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus" (Kis. 2:36). Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa Yesus "dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati . . . adalah Anak Allah yang berkuasa" (Rm. 1:4). Walaupun Yesus tanpa dosa, walaupun Dia menunjukkan wibawa-Nya dalam pengajaran dan perbuatan-Nya, walaupun Dia melakukan mujizat-mujizat-Nya, serta secara gamblang menyatakan peran utama dalam rencana Allah, kalau bukan karena kebangkitan-Nya, Ia hanya akan dianggap sebagai tokoh yang besar dan baik. Tetapi setelah Ia bangkit dari kubur, pengikut-pengikut-Nya tahu dengan pasti bahwa apa yang dikatakan-Nya tentang diri-Nya memang benar. Mereka sekarang dapat melihat dan menghargai seluruh kehidupan-Nya di bumi dengan cara yang baru dan lebih lengkap, sebagai kehidupan Allah sendiri yang hidup di antara manusia.

Kedua, kebangkitan lebih dari sekadar pengertian baru tentang Yesus yang disalibkan. Di seluruh Perjanjian Baru ditekankan, teristimewa oleh Paulus, bahwa kebangkitan Yesus - sama seperti kematian-Nya - merupakan bagian yang tak terpisahkan dari karya Allah dalam membentuk umat baru.

Orang Kristen mula-mula hidup seperti kebanyakan orang pada umumnya dan mereka tidak bercita-cita menjadi teolog. Apa yang mereka kehendaki adalah sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mendambakan hubungan pribadi dengan Allah yang akan mengubah seluruh keberadaan mereka. Mereka ingin didamaikan dengan Allah dan dilepaskan dari sikap mementingkan diri sendiri agar mereka dapat hidup lebih baik. Mereka menyadari, mereka tidak dapat mencapainya dengan mengikuti peraturan-peraturan agama atau melalui usaha-usaha sendiri. Satu-satunya hal yang dapat benar-benar mengubah kepribadian manusia adalah pusat baru dan kuasa hidup yang baru.

Paulus menemukan kuasa hidup baru ini di dalam Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati, hidup di dalam dunia nyata, dan hidup dalam kehidupan Paulus sendiri. Kenyataan ini begitu mencolok dalam kehidupannya sehari-hari sehingga Paulus dapat berkata, "Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal. 2:20). Ucapan Paulus itu berarti bahwa: Yesus hidup dalam dirinya, sehingga seluk-beluk kehidupannya diatur oleh Tuhannya yang hidup.

Untuk mengungkapkan apa yang dimaksudkannya, Paulus memakai kiasan. Ia membandingkan baptisan orang Kristen dengan kematian serta kebangkitan Yesus. Ia mengatakan, sebagaimana orang Kristen diliputi air pada waktu baptisan dan kemudian keluar dari air, begitulah juga yang harus terjadi terhadap diri mereka secara batiniah dan rohani. Dicelup dalam air adalah seperti dikuburkan (sebagaimana yang terjadi pada Yesus); keluar dari air adalah seperti bangkit kembali. Yang Paulus maksudkan dialah seseorang yang menjadi Kristen mula-mula harus bersedia "mati", agar terlepas dari keberadaannya yang lama yang mementingkan diri sendiri. Kemudian mereka dapat "dibangkitkan" kembali dan menerima keberadaan yang baru, hidup Yesus Kristus sendiri yang hidup dalam diri mereka (Rm. 6:1-11).

Jadi kebangkitan Yesus sangat penting. Seandainya Yesus hanya mati di atas kayu salib, apa yang dikatakan para teolog tentang Dia bisa saja benar. Misalnya saja, Ia dapat mati sebagai hukuman dosa, atau untuk membayar tebusan bagi kebebasan kita. Tetapi, penderitaan-Nya tidak akan mempunyai kuasa untuk mengubah hidup kita. Paulus sangat yakin tanpa kebangkitan, salib tidak akan lebih daripada sekadar satu pokok diskusi teologis yang menarik. Kebangkitan-Nya tidak akan membawa manfaat yang langgeng dalam kehidupan orang biasa. Tetapi oleh sebab kebangkitan, Paulus menemukan hidup yang baru: "Bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21). Ia yakin, hal itu akan menjadi pengalaman setiap orang yang menjadi Kristen: Yesus Kristus benar-benar hidup di dalam orang-orang yang menyerahkan diri mereka kepada-Nya.

Ketiga, kebangkitan Yesus mempunyai implikasi bagi setiap orang yang sudah memiliki hidup Kristus di dalam dirinya. Yesus mengajarkan bahwa pengikut-pengikut-Nya akan menerima "hidup kekal" (Yoh. 3:15; 4:14; 17:3). "Hidup kekal" ini meliputi dua hal. Di satu pihak istilah tersebut berarti orang Kristen menikmati hidup baru, yakni hidup dari Allah. Demikian juga Paulus menulis tentang pengalaman hidupnya sebagai pengalaman dengan Kristus yang hidup di dalam dirinya sendiri.

Tetapi memiliki hidup baru dari Allah tidak hanya berarti orang-orang Kristen mempunyai suatu dinamika baru bagi kehidupan di dunia ini. Itu juga berarti orang-orang Kristen memiliki hidup yang abadi. Ajaran Yesus ini ditekankan oleh Paulus waktu ia menulis bahwa Yesus yang bangkit itu adalah "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggap" (1Kor. 15:20). Maksudnya, kebangkitan Yesus adalah jaminan dan janji kepada pengikut-pengikut-Nya mengenai hidup abadi setelah kematian. Orang yang mengambil bagian dalam penderitaan dan kebangkitan Kristus secara rohani, diberi jaminan akan kehidupan setelah kematian yang dikuasai oleh kehadiran Allah, sama seperti dalam hidup mereka saat ini juga. Tetapi hidup itu juga sama sekali berbeda dan baru, sebab orang Kristen berharap akan mengambil bagian dalam realitas hidup yang sekarang dimiliki Yesus. Dalam kehidupan itu maut dan dosa dikalahkan untuk selama-lamanya dan diganti dengan kemenangan yang diberikan Allah "oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (1Kor. 15:57).

SYK-Referensi 06a

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b | Referensi 06c

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang
Kode Referensi : SYK-R06a

Referensi SYK-06a diambil dari:

Judul Buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1998
Halaman : 294 - 296

REFERENSI PELAJARAN 06a - YESUS ADALAH UNTUK SEMUA ORANG DAN HAKIM UNTUK SEMUA ORANG

DALAM PENGAJARAN YESUS

  1. Segi Sekarang

    Pemberitaan Yesus tentang Kerajaan memakai kata Yohanes, tapi sifatnya lebih luas. Yohanes memperhatikan penampilan Yesus beberapa lama, kemudian mulai ragu-ragu apakah Yesus betul-betul yang akan datang yang diberitakannya (Mat. 11:2,3). Pemberitaan Kerajaan oleh Yesus berbeda dengan pemberitaan Yohanes dalam dua hal. Pertama, meskipun pemberitaan tentang penghakiman dan panggilan untuk bertobat tetap ada dan tidak dikurangi maknanya, namun unsur penyelamatan dalam Kerajaan lebih ditekankan. Kedua (inilah inti dari perbedaannya), Yesus memberitakan bahwa Kerajaan bukan hanya dekat tapi sudah ada dalam Pribadi dan pelayanan Yesus sendiri. Yesus tidak banyak berkata langsung bahwa Kerajaan sudah ada (lih. khususnya Mat. 12:28 dan ayat- ayat sejajar), namun seluruh pemberitaan dan pelayanan-Nya diwarnai kenyataan itu. Dalam Dia, masa depan yang mulia telah menjadi "masa kini".

    Segi masa kini dari Kerajaan nampak dalam bermacam-macam cara pada Pribadi dan perbuatan Kristus. Dapat kelihatan dalam pengusiran setan (bnd Luk. 11:20) dan umumnya dalam kuasa Yesus untuk membuat mujizat. Dalam penyembuhan orang yang kerasukan setan, jelas bahwa Yesus telah memasuki rumah "orang kuat" untuk mengikatnya erat, dan karena itu siap menyita harta bendanya (Mat. 12:29). Kerajaan Sorga menyerbu ke dalam wilayah si jahat. Kuasa Iblis dipatahkan. Yesus melihatnya jatuh dari sorga seperti kilat. Ia memiliki dan menganugerahkan kuasa untuk menginjak-injak kekuasaan lawan. Tidak ada yang mustahil bagi mereka yang dianugerahi kuasa Yesus untuk pergi ke dalam dunia sebagai saksi Kerajaan (Luk. 10:18 dst). Segenap kegiatan Yesus melakukan mujizat adalah bukti dari kedatangan Kerajaan. Murid-Nya melihat dan mendengar kedatangan zaman keselamatan, yang banyak nabi dan orang saleh rindu untuk melihatnya tapi tidak bisa (Mat. 13:16; Luk. 10:23). Pada saat Yohanes mengutus muridnya untuk bertanya: "Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?" mereka ditunjukkan perbuatan ajaib Yesus yang sesuai dengan janji nubuat yang membuktikan Kerajaan; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar, orang kusta ditahirkan, orang mati dibangkitkan, dan kabar kesukaan diberitakan kepada orang miskin (Mat. 11:2 dst; Luk. 7:18 dst). Dalam hal terakhir ini juga, yaitu pemberitaan Kabar Kesukaan, kelihatan terobosan Kerajaan. Karena keselamatan diumumkan dan ditawarkan sebagai anugerah yang siap diberikan kepada orang miskin di hadapan Allah, orang lapar dan orang berdukacita, maka Kerajaan adalah milik mereka. Demikian juga keampunan dosa diberitakan, bukan kelak terjadi di sorga, bukan kemungkinan masa kini, tapi terjadi hari ini di bumi ini melalui Yesus sendiri: "Anak-Ku, dosa-dosamu telah diampuni; karena Anak Manusia memiliki kuasa di dunia untuk mengampuni dosa-dosa" (lih. Mrk. 2:1-12 dan ayat lain).

    Seperti jelas dalam Firman yang penuh kuasa dan yang baru dikutip, semuanya ini didasarkan pada kenyataan bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah. Kerajaan telah datang dalam Dia dan dengan Dia: Dia-lah auto-basileia (Ia sendiri Kerajaan). Penyataan diri Yesus sebagai Mesias, Anak Manusia dan Hamba Tuhan, adalah rahasia dan sekaligus penjelasan seluruh Injil.

    Mustahil untuk menerangkan perkataan Yesus tentang diri-Nya seperti beberapa orang ingin membuatnya, seolah Yesus menganggap diri hanyalah Mesias pada masa datang, Anak Manusia yang akan datang di atas awan kelak. Memang segi keakanan dari Kerajaan adalah unsur hakiki Injil, tapi dalam Injil, Yesus adalah Mesias yang hadir sekarang dan di sini. Itu tidak hanya diproklamasikan pada pembaptisan-Nya dan pada saat Dia dipermuliakan di atas gunung. Dia bukan hanya disebut Dia yang dikasihi dan dipilih Allah (judul terang tentang ke-Mesias-an), tapi juga Roh Kudus turun ke atas-Nya (Mat. 3:16) dan melengkapi-Nya dengan kekuasaan ilahi sepenuhnya (Mat. 21:27). Kitab Injil penuh dengan pernyataan bahwa Ia memiliki kuasa mutlak, Ia diperkenalkan sebagai Dia yang diutus oleh Bapak, Dia datang untuk menggenapi nubuat para nabi. Dalam kedatangan dan ajaran-Nya Alkitab digenapi bagi pendengar- Nya (Luk. 4:21). Ia datang bukan untuk meniadakan tapi untuk menggenapi Taurat (Mat. 5:17 dab), untuk memberitakan Kerajaan (Mrk. 1:38), untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk. 19:10), untuk melayani orang lain, dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:45). Rahasia Kerajaan terletak dalam hati menjadi milik Dia (Mat. 7:23; 25:41). Ringkasnya, Yesus Mesias adalah pusat dari segala berita dalam Kitab Injil tentang Kerajaan, baik segi masa kininya, maupun segi akan datangnya.

  2. Segi Akan Datang

    Walaupun dalam Kitab Injil jelas bahwa Kerajaan nampak kini dan di sini, ditunjukkan juga bahwa penampakan dalam dunia ini bersifat sementara. Itulah sebabnya pemberitaan kegiatan waktu itu yang terdapat dalam rumusan "Orang buta melihat, orang mati dibangkitkan, kepada orang miskin diberitakan Kabar Baik" diikuti dengan peringatan, "Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku" (Mat. 11:6; Luk. 7:23). "Kekecewaan" itu terletak dalam sifat tersembunyi dari Kerajaan pada masa ini. Mujizat hanyalah tanda dari tatanan lain yang berbeda dari tatanan sekarang. Belum tiba saatnya setan diserahkan pada kegelapan abadi (Mat. 8:29). Injil Kerajaan masih benih yang sedang ditaburkan. Dalam perumpamaan tentang penabur, benih yang tumbuh diam, lalang antara gandum, biji sesawi dan ragi, Yesus mengajar murid-Nya mengenai segi tersembunyi Kerajaan itu. Anak Manusia sendiri, dengan segenap kekuasaan Allah, yang akan datang di atas awan, Dia-lah Penabur benih Firman Allah. Ia digambarkan sebagai Manusia tergantung pada orang lain; burung, semak duri, manusia lain, dapat mengganggu pekerjaan-Nya. Ia harus menunggu untuk melihat hasil dari taburan-Nya. Bahkan rahasia Kerajaan lebih dalam lagi: Raja-nya datang dalam wujud hamba. Burung mempunyai sarangnya, tapi Anak Manusia (Dan. 7:13) tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Supaya dapat menerima segala sesuatu, terlebih dahulu Ia harus menyerahkan segala sesuatu. Menurut gambar Hamba Tuhan yang menderita pada Yesaya 53, Ia harus dihisabkan pada kelompok orang berdosa. Kerajaan telah datang, Kerajaan akan datang. Tapi kedatangannya adalah melalui salib. Sebelum Anak Manusia melaksanakan kekuasaan atas semua kerajaan dunia (Mat. 4:8; 28:18), Ia harus menempuh jalan ketaatan kepada Bapak supaya menggenapi segala kebenaran (Mat. 3:15). Sebab itu perwujudan Kerajaan mempunyai sejarah dalam dunia ini. Kerajaan harus diberitakan pada semua makhluk. S Sebagai benih ajaib, Kerajaan tumbuh, tidak ada orang yang mengetahui caranya (Mrk. 4:27). Dengan kekuatan di dalamnya Kerajaan menembusi rintangan dan berkembang mengatasi segalanya, karena ladang tempat benih itu ditaburkan adalah dunia (Mat 13:38). Injil Kerajaan keluar sampai kepada semua bangsa (Mat. 28:19) karena Raja dari Kerajaan adalah juga Tuhan dari Roh. Kebangkitan-Nya mendatangkan zaman baru, pemberitaan Kerajaan dan Raja-nya mencapai ujung bumi. Keputusan sudah diambil, tapi penggenapannya masih bersifat akan datang. Apa yang mulanya nampak sebagai kedatangan Kerajaan satu dan sama, diumumkan sebagai satu kenyataan yang tak terpisahkan, hampir tiba dan dekat, itu mengembangkan diri meliputi zaman baru dan wilayah jauh. Batas Kerajaan tidak sama dengan perbatasan atau sejarah Israel. Kerajaan mencakup semua bangsa dan memenuhi segala zaman sampai kedatangan akhir dunia.

SYK-Referensi 06b

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06c

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang
Kode Referensi : SYK-R06b

Referensi SYK-06b diambil dari:

Judul Buku : Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Pengarang : R.C. Sproul
Penerbit : SAAT, Malang, 1997
Halaman : 129 - 136

REFERENSI PELAJARAN 06b - YESUS ADALAH UNTUK SEMUA ORANG DAN HAKIM UNTUK SEMUA ORANG

KENAIKAN KRISTUS KE SURGA

Signifikansi Kenaikan Kristus ke surga sering kali diabaikan oleh gereja pada zaman modern ini. Kita merayakan secara khusus hari-hari seperti hari Kelahiran Kristus, hari Kematian Kristus, dan hari Kebangkitan Kristus dan menjadikannya hari libur, tetapi hari Kenaikan Kristus ke surga jarang atau sedikit sekali mendapatkan perhatian dari orang Kristen. Padahal, Kenaikan Kristus ke surga merupakan peristiwa yang sangat penting dalam penebusan. Peristiwa itu menandai momen tertinggi penghormatan kepada Kristus sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali. Pada peristiwa Kenaikan inilah Kristus memasuki kemuliaan- Nya.

Yesus menjelaskan bahwa kepergian-Nya dari dunia ini merupakan hal yang lebih baik bagi kita daripada Ia terus menerus tinggal bersama dengan kita. Pada waktu Ia pertama kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya mengenai kepergian-Nya ini, mereka sangat sedih sekali mendengar berita itu. Tetapi kemudian mereka menyadari signifikansi dari peristiwa besar itu. Lukas mencatat peristiwa Kenaikan bagi kita sebagai berikut:

"Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." (Kisah Para Rasul 1:9-11)

Kita tahu bahwa Yesus pergi di dalam awan. Ini mungkin berkaitan dengan Shekinah, yaitu awan kemuliaan Allah. Shekinah lebih bercahaya dibandingkan dengan awan-awan yang lain. Ini merupakan manifestasi secara nyata dari sinar kemuliaan Allah. Oleh karena itu, cara Yesus pergi bukan merupakan sesuatu yang biasa. Peristiwa itu merupakan saat yang penuh dengan keagungan.

Naik berarti "pergi ke atas" atau "bangkit". Namun, pada waktu istilah naik diaplikasikan pada Kristus, istilah ini mempunyai arti yang lebih dalam, kaya, dan khusus. Kenaikan Yesus adalah unik. Melampaui peristiwa pada waktu Henokh diangkat secara langsung ke surga atau kepergian Elia di dalam kereta api.

Kenaikan Yesus berarti Ia pergi ke tempat yang khusus untuk tujuan yang khusus pula. Dia pergi kepada Bapa, ke sebelah kanan Allah Bapa. Dia naik ke tahta yang memiliki otoritas atas dunia ini. Yesus pergi untuk pengangkatan-Nya, dan peneguhan-Nya sebagai Raja atas segala raja.

Yesus juga pergi untuk memasuki tempat yang mahakudus dan untuk melanjutkan pekerjaan-Nya sebagai Imam Besar. Di surga Yesus memerintah sebagai Raja dan menjadi pengantara kita dalam kedudukan- Nya sebagai Imam Besar. Dalam posisi-Nya yang tinggi ini, Ia mencurahkan Roh Kudus ke atas gereja. John Calvin memberi komentar sebagai berikut:

Setelah diangkat ke surga, Dia tidak hadir lagi secara fisik di tengah-tengah kita. Hal ini dilakukan bukan berarti Ia tidak menyertai pengikut-Nya lagi, yang masih menjadi pengembara di dunia ini, tetapi supaya Ia dapat memerintah di surga dan di dunia secara lebih langsung lagi dengan kuasa-Nya.

Pada waktu Yesus naik ke surga untuk pengangkatan-Nya sebagai Raja atas segala raja, Dia duduk di sebelah kanan Allah. Sebelah kanan Allah menyatakan kedudukan yang berotoritas. Dari posisi ini Yesus memerintah, menjalankan Kerajaan-Nya, dan berperan sebagai Hakim atas surga dan dunia.

Di sebelah kanan Allah Bapa, Yesus duduk sebagai Kepala dari Tubuh- Nya, yaitu gereja. Tetapi dari kedudukan ini, otoritas Yesus dan wilayah pemerintahan-Nya bukan hanya sebatas gereja-Nya tetapi mencakup seluruh dunia. Meskipun gereja dan negara dapat dibedakan sehubungan dengan wilayah kekuasaan Yesus, tetapi keduanya itu tidak pernah terpisah atau tercerai. Otoritas-Nya mencakup keduanya. Semua penguasa dunia harus bertanggung jawab kepada-Nya dan akan dihakimi oleh-Nya di dalam posisi-Nya sebagai Raja atas segala raja dan Tuan atas segala tuan.

Setiap orang di surga dan di dunia dituntut Allah untuk menghormati kemuliaan Yesus, dan tunduk di bawah perintah-Nya dan harus menyembah- Nya, dan takluk pada kuasa-Nya. Setiap orang pada akhirnya akan berdiri di hadapan Dia, yaitu pada waktu Hari Penghakiman terakhir.

Yesus mempunyai otoritas untuk mencurahkan Roh Kudus ke atas gereja. Tetapi Yesus tidak mencurahkan Roh Kudus sebelum Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Pelayanan Roh Kudus taat pada Allah Bapa dan Allah Anak yang secara bersama-sama mengutus-Nya untuk mengaplikasikan pekerjaan keselamatan yang telah dilakukan oleh Kristus kepada orang- orang percaya.

Selama duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Yesus tidak hanya menjalankan peran-Nya sebagai Raja atas segala raja, tetapi Dia juga menggenapi peran sebagai Hakim dunia ini. Dia adalah Hakim bagi semua bangsa dan semua orang. Meskipun Yesus memerintah sebagai Hakim kita, Dia juga telah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi Pembela kita. Dia adalah Pengacara Pembela kita. Pada Penghakiman terakhir Pembela kita akan berhadapan dengan Hakim kita. Peran Yesus sebagai pengantara orang kudus telah dirasakan oleh Stefanus pada waktu ia akan mati syahid:

"Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: 'Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah'" (Kisah Para Rasul 7:55-56)

SYK-Referensi 06c

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b

Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
Nama Pelajaran : Yesus adalah untuk Semua Orang dan Hakim untuk Semua Orang
Kode Referensi : SYK-R06c

Referensi SYK-06c diambil dari:

Judul Buku : Teologia Sistematika
Pengarang : Henry C. Thiessen
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1992
Halaman : 599 - 610

REFERENSI PELAJARAN 06c - YESUS ADALAH UNTUK SEMUA ORANG DAN HAKIM UNTUK SEMUA ORANG

PENGHAKIMAN

Sekalipun kedua peristiwa kebangkitan sebenarnya sudah menunjukkan keadaan manusia di kemudian hari, hal itu tidak akan meniadakan penghakiman. Seluruh filsafat penghakiman yang akan datang itu bertumpu pada hak Allah yang berdaulat untuk menghukum semua ketidaktaatan serta hak pribadi seseorang untuk membela diri ketika disidangkan. Sekalipun Allah itu berdaulat, sebagai Hakim seluruh bumi, Ia akan bertindak dengan adil (Kejadian 18:25). Ia akan melakukan keadilan bukan karena harus tunduk kepada suatu hukum yang ada di luar diri-Nya, melainkan sebagai ungkapan watak-Nya sendiri. Masing-masing orang akan mendapat kesempatan untuk menerangkan mengapa ia bertindak sebagaimana yang telah dilakukannya dan untuk mengetahui alasan-alasan hukuman yang dijatuhkan padanya. Semua ini merupakan faktor-faktor mendasar dari setiap pemerintahan yang benar. Sepanjang pemerintahan manusia mengatur negara sesuai dengan tatanan semacam itu, pemerintahan tersebut meniru metode pemerintahan Allah. Kini kita perlu bertanya: apakah yang diajarkan Alkitab tentang penghakiman- penghakiman yang akan datang?

KEPASTIAN PENGHAKIMAN

Adanya penghakiman baik bagi orang yang benar maupun bagi orang yang tidak benar telah diberi tahu oleh hati nurani manusia. Penulis kitab Pengkhotbah, yang berbicara dari segi pandangan manusia duniawi, mendorong setiap pemuda untuk hidup menuruti keinginan hatinya, namun menambahkan sebagai peringatan, bahwa untuk semuanya itu Allah akan menghakimi mereka (11:9). Dalam pasal yang berikutnya ia menulis, "Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" (12:14). Paulus berbicara tentang hati nurani manusia sebagai sedang menuduh atau membela manusia, mengingat, "hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus" (Roma 2:16). Sedangkan Ibrani 10:27 menyatakan bahwa orang yang berbuat dosa dengan sengaja dapat menantikan "kematian yang mengerikan akan penghakiman." Mustahil untuk memikirkan betapa dalamnya kebejatan moral manusia apabila ia tidak perlu takut akan penghakiman yang kelak terjadi. Dengan kata lain, hati nurani nampaknya mengatakan bahwa seandainya tidak akan ada penghakiman, maka penghakiman harus diadakan.

Perasaan spontan dari hati manusia ini didukung oleh Alkitab. Dalam kitab Kejadian, Abraham mengakui Allah sebagai hakim segenap bumi (18:25), dan Hana mengatakan bahwa "Tuhan mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya" (1Samuel 2:10). Daud mengatakan bahwa Tuhan "datang untuk menghakimi bumi" (1Tawarikh 16:33; band. Mazmur 96:13; 98:9), dan mengatakan bahwa "takhta-Nya didirikan-Nya untuk menjalankan penghakiman" (Mazmur 9:8). Dalam Yoel, Allah berfirman, "Baiklah bangsa-bangsa bergerak dan maju ke lembah Yosafat, sebab di sana Aku akan duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru (3:12; band. Yesaya 2:4). Kenyataan ini lebih sering ditegaskan dalam Perjanjian Baru. Yesus bersabda, "Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya" (Matius 16:27). Ketika berada di Atena, Paulus mengatakan bahwa Allah telah "menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya" (Kisah 17:31; band. Roma 2:16; 2Tesalonika 1:7-9). Paulus selanjutnya menyatakan bahwa "kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2Korintus 5: 10; band. Roma 14:10). Penulis surat Ibrani mengatakan bahwa setelah kematian datanglah penghakiman (9:27). Rasul Yohaneslah yang "melihat orang- orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu" untuk dihakimi (Wahyu 20:12). Allah telah memberikan kepastian tentang adanya penghakiman dengan membangkitkan Kristus, Sang Hakim, dari antara orang mati (Kisah 17:31).

TUJUAN PENGHAKIMAN

Mengapa perlu bagi Allah untuk melaksanakan penghakiman? Strong mengatakan, "Tujuan penghakiman akhir bukanlah untuk memastikan, melainkan untuk menyatakan watak serta penetapan berbagai keadaan lahiriah yang sesuai dengan watak tersebut." Allah sudah mengetahui keadaan semua makhluk moral, sehingga akhir zaman hanya akan menyatakan betapa adilnya penghakiman yang dilaksanakan oleh Allah. Ingatan, hati nurani, dan watak kita merupakan persiapan dan bukti untuk penyingkapan yang terakhir itu (Lukas 16:25; Roma 2:15, 16; Efesus 4:19; Ibrani 3:8; 10:27). Peristiwa-peristiwa penghakiman ini akan terjadi untuk menunjukkan keadilan Allah dalam berurusan dengan manusia. Di hadapan pengadilan Allah semua mulut akan tertutup (band. Roma 3:19). Tidak perlu beranggapan bahwa setiap orang akan mengakui bahwa ia menerima imbalan yang sesuai dengan perbuatannya, namun tersirat bahwa tidak ada orang yang akan mempunyai alasan yang tepat untuk mengeluh, dan karena itu tidak ada yang mengeluh.

SANG HAKIM

Allah yang menghakimi semua orang (Ibrani 12:23), namun Ia akan melaksanakan pekerjaan ini melalui Yesus Kristus. "Bapa ... telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak" (Yohanes 5:22) dan telah melakukan hal itu karena "Ia adalah Anak Manusia" (Yohanes 5:27). "Allah telah ... memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Kisah 17:31). Kristus akan menghakimi "orang-orang hidup dan orang- orang mati" (Kisah 10:42; 2Timotius 4:1). Ia akan menghakimi orang- orang percaya berdasarkan perbuatan mereka (2Korintus 5:10; band. Roma 14:10); binatang, nabi palsu, dengan tentara-tentara mereka (Wahyu 19:19-21); bangsa-bangsa yang berkumpul di hadapan-Nya (Matius 25:31, 32); Iblis (Wahyu 20:1-3, 10; band. Kejadian 3:15; Ibrani 2:14); bangsa-bangsa yang hidup pada masa kerajaan seribu tahun (Yesaya 2:4; Yehezkiel 37:24, 25; Daniel 7:13, 14; Wahyu 11:15); orang-orang mati yang tidak mau bertobat (Wahyu 20:11-15). Fungsi ini telah ditugaskan kepada-Nya sebagai imbalan karena Ia telah merendahkan diri-Nya (Filipi 2:9-11), dan karena Dia sendirilah yang memenuhi syarat untuk melakukan tugas tersebut. Sebagai Allah, Ia memiliki pengertian yang dalam untuk menghakimi (Yesaya 11:3) dan wewenang untuk menghakimi manusia; sebagai manusia, Ia mengerti dan ikut merasa bersama dengan manusia. Di dalam diri-Nya keadilan dan kemurahan berbaur menjadi satu sehingga sebagai hakim seluruh bumi Ia akan mengambil tindakan yang adil dan benar (Kejadian 18:25).

BERBAGAI PENGHAKIMAN

Dalam suatu survei yang lengkap tentang pokok ini kita harus mulai dengan apa yang telah terjadi di masa silam. Di dalam Kristus dosa- dosa kita telah dihakimi sekali untuk selamanya (Yesaya 53:4-6; Yohanes 1:29; 2Korintus 5:21; Galatia 3:13; Ibrani 10:10-14; 1Petrus 2:24; 1Yohanes 2:2). Dengan demikian orang percaya di dalam Kristus telah dibebaskan dari kesalahan serta hukuman dosa, karena Kristus telah mengambil alih kesalahan tersebut dan telah menjalani hukuman atas dosa itu baginya. Tidak ada orang percaya yang akan dihakimi untuk dosa-dosanya, karena ia telah dihakimi untuknya di dalam Kristus (Yohanes 5:24). Sekalipun demikian, ada penghakiman untuk orang-orang percaya saat ini, yaitu penghakiman atas dosa mereka pribadi. Paulus menasihatkan orang-orang percaya untuk menghakimi diri mcreka baik dalam kehidupan mereka sendiri (1Korintus 11:31, 32) maupun dalam kehidupan jemaat (1Korintus 5:5; 1Timotius 1:20; 5:19, 20). Allah mendisiplinkan anak-anak-Nya yang tidak taat agar mendorong mereka untuk menghakimi diri sendiri serta membuang dosa dari kehidupan mereka (2Samuel 7:14, 15; 12:13, 14; Ibrani 12:5-13). Namun dalam kesempatan ini kita akan lebih memerhatikan berbagai penghakiman yang akan datang. Kami menyebutkan berbagai penghakiman karena tidak ada penghakiman umum sebagaimana tidak ada kebangkitan umum. Unsur-unsur waktu, mereka yang dihakimi, dan masalah-masalah yang dihakimi, menunjukkan adanya paling sedikit tujuh peristiwa penghakiman yang akan datang.

  1. PENGHAKIMAN ORANG-ORANG PERCAYA

    Sebagaimana sudah kita lihat, ketika Tuhan kembali, Ia akan menghakimi orang-orang percaya berdasarkan perbuatan mereka (Roma 14:10; 1Korintus 3:11-15; 4:5; 2Korintus 5:10). Setiap orang akan diminta untuk memertanggungjawabkan pemakaian talentanya (Matius 25:14-30), uang mina (Lukas 19:11-27), serta kesempatan yang telah diberikan kepadanya (Matius 20:1-16). Hari itu akan menyatakan apakah seseorang telah membangun dengan memakai kayu, jerami, tumput kering, ataukah emas, perak, dan batu permata (1Korintus 3:12). Bila pekerjaannya dibangun dengan kayu dan sebagainya itu, maka pekerjaannya itu akan habis terbakar, tetapi ia sendiri akan diselamatkan namun seperti dari dalam api (ayat 15); bila pekerjaannya dibangun dengan memakai emas dan sebagainya itu, maka ia akan menerima upah (ayat 14). Alkitab menyebut berbagai jenis mahkota atau trofi: mahkota yang abadi (1Korintus 9:25), mahkota kebenaran (2Timotius 4:8), mahkota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10), mahkota kemuliaan (1Petrus 5:4), dan mahkota sukacita atau kemegahan (1Tesalonika 2:19; band. Filipi 4:1).

  2. PENGHAKIMAN ISRAEL

    Dalam arti yang unik, masa kesengsaraan itu akan merupakan masa kesusahan bagi Yakub, namun kita diberi tahu bahwa "ia akan diselamatkan daripadanya" (Yeremia 30:7). Kita melihat penganiayaan orang Israel sepanjang masa itu dalam kitab Wahyu (12:6, 13-17); hanya mereka yang tergolong sisa bangsa Israel yang dahinya termeterai akan bebas dari pengalaman ini (Wahyu 7:1-8). Namun, nampaknya akan ada penghakiman yang lebih lanjut lagi yang berasal dari Allah sendiri dalam kaitan dengan pengumpulan kembali orang-orang Israel yang berserakan di mana-mana. Yehezkiel, ketika membicarakan penghakiman ini, menggambarkannya sebagai proses penyingkiran pemberontak- pemberontak di antara Israel ketika sedang menuju ke tanah suci. Mereka akan dibawa keluar dari tempat pengembaraan mereka, namun mereka akan mati di padang gurun dan tidak akan masuk ke tanah Israel (Yehezkiel 20:33-38). Rupanya Maleakhi juga membicarakan penghakiman yang sama ini ketika menggambarkan Tuhan sedang duduk sebagai tukang pemurni logam, sambil mentahirkan orang-orang Lewi (3:2-5). Penghakiman-penghakiman ini terjadi di atas bumi dan berkaitan dengan kedatangan Tuhan kembali ke bumi. Penghakiman inilah yang menentukan siapa dari orang Israel yang akan kembali ke tanah suci serta menjadi anggota Israel pada masa yang akan datang.

  3. PENGHAKIMAN BABILONIA

    Dengan memakai gambaran seorang wanita, kitab Wahyu menggambarkan suatu sistem federasi agama (17:1-19:4). Pada mulanya wanita ini mengendarai seekor binatang yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat. Ini menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan gereja untuk sementara waktu akan menguasai sistem kepemimpinan politik. Namun kesepuluh tanduk (raja) akan berbalik dan membenci wanita itu, bahkan merampas segala miliknya, dan menghancurkannya. Kemudian binatang itu akan memajukan dirinya untuk mengambil alih pimpinan keagamaan tertinggi. Nampaknya akan ada koalisi yang kuat di antara perserikatan-perserikatan keagamaan dan perdagangan. Ketika Babilonia sebagai suatu sistem keagamaan dihancurkan, ia akan bangkit kembali sebagai suatu organisasi perdagangan dunia. Namun kemakmurannya tak lama bertahan. Pada suatu hari Tuhan Allah akan menghakimi dan membinasakannya sama sekali. Para pedagang dunia akan meratapi kehancurannya, tetapi para penghuni sorga akan bersorak serta menyanyi "Haleluya!" ketika hal itu terjadi. Penghakimannya akan terjadi sebelum kedatangan Tuhan kembali ke bumi (Wahyu 19:1-4, 11-21), dan ia akan dijatuhi hukuman kekal (Wahyu 19:19-21).

  4. PENGHAKIMAN BINATANG, NABI PALSU, DAN PASUKAN MEREKA

    Roh-roh jahat yang keluar dari mulut naga, binatang, dan nabi palsu menjelang berakhirnya masa kesengsaraan akan pergi ke seluruh dunia untuk mengumpulkan bangsa-bangsa guna berperang pada hari Tuhan (Wahyu 16:12-16). Nampaknya, mereka berkumpul untuk merebut Yerusalem dan menangkap orang-orang Yahudi yang ada di Palestina (Zakharia 12:1-9; 13:8-14:2); tetapi justru pada saat kemenangan mereka sudah pasti, Kristus akan turun dari sorga dengan semua pasukan-Nya (Wahyu 19:11- 16) serta turun tangan membela Israel. Maka bala tentara yang tadinya menyerang Yerusalem akan berbalik menyerang Anak Allah, namun pertempuran itu akan sangat singkat dan menentukan. Binatang dan nabi palsu akan ditangkap dan dicampakkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala (Wahyu 19:19,20), dan bala tentara mereka akan dibunuh dengan pedang yang keluar dari mulut Kristus (2Tesalonika 1:7- 10; 2:8; Wahyu 19:21). Jadi, perlawanan politik akan dipatahkan dan terbukalah jalan bagi Kristus untuk memulai pemerintahan-Nya. Patut dicamkan bahwa penghakiman ini akan terjadi ketika Kristus kembali ke bumi. Peristiwa itu akan melibatkan pasukan-pasukan dengan pemimpin- pemimpin mereka yang telah maju untuk memerangi Kristus. Hasilnya ialah bahwa mereka yang melawan Kristus akan dicampakkan ke dalam lautan api dan hukuman kekal.

  5. PENGHAKIMAN BANGSA-BANGSA

    Perikop-perikop seperti Yoel 3:11-17; Matius 25:31-46; dan 2Tesalonika 1:7-10 nampaknya berbicara mengenai penghakiman atas bangsa-bangsa. Penghakiman bangsa-bangsa harus dibedakan dengan penghakiman di hadapan takhta putih, karena penghakiman bangsa-bangsa mendahului kerajaan seribu tahun. Penghakiman bangsa-bangsa juga harus dibedakan dengan penghakiman binatang, nabi palsu, beserta bala tentara mereka. Bangsa-bangsa itulah yang mengirim bala tentara itu, namun bangsa-bangsa itu berbeda daripada pasukan-pasukan tersebut. Setelah Kristus selesai menangani pasukan-pasukan itu, Ia akan mengumpulkan bangsa-bangsa untuk dihakimi pula. Patut diperhatikan bahwa domba akan masuk ke dalam kerajaan Allah, sedangkan kambing akan masuk hukuman kekal. Namun perlu juga diperhatikan bahwa sekalipun perlakuan terhadap saudara-saudara Tuhan kita, mungkin Israel, disebut dalam hubungan dengan penghakiman ini, alasan-alasan yang lebih dalam bagi penghakiman ini terdapat dalam kenyataan bahwa golongan domba itu memiliki hidup kekal sedangkan golongan kambing tidak memilikinya.

  6. PENGHAKIMAN IBLIS DAN MALAIKAT-MALAIKATNYA

    Ketika sedang terjadi masa kesengsaraan, Iblis akan dilempar ke bumi (Wahyu 12:7-9, 12). Ketika Kristus tiba di bumi, Iblis akan diikat dan dimasukkan ke dalam jurang maut selama seribu tahun (Wahyu 20:1-3). Setelah seribu tahun, ia akan dilepaskan untuk sementara waktu. Selama waktu itu, ia akan menipu bangsa-bangsa di bumi sekali lagi dan ia akan berhasil mengumpulkan bala tentara yang sangat besar untuk berperang melawan orang-orang saleh dan kota yang dikasihi, Yerusalem (Wahyu 20:7-9; band. Yehezkiel 38, 39). Akan tetapi, api akan turun dari langit dan menghanguskan mereka semua. Tidak perlu diragukan lagi bahwa tidak lama kemudian mereka akan berdiri di hadapan takhta putih besar dan dilemparkan ke dalam lautan api bersama-sama dengan orang- orang lain yang tidak diselamatkan. Setelah itu, Iblis sendiri akan dihakimi dan dicampakkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya (Wahyu 20:9, 10). Nampaknya, pada saat itu para malaikat yang ikut memberontak bersama-sama dengan Iblis juga akan dihakimi (2Petrus 2:4, Yudas 6). Kita diberi tahu bahwa api yang kekal itu telah dipersiapkan bagi "Iblis dan malaikat-malaikatnya" (Matius 25:41), dan mungkin inilah saatnya mereka akan menerima hukuman mereka (band. Matius 8:29; Lukas 8:31).

  7. PENGHAKIMAN ORANG FASIK YANG MATI

    Penghakiman ini akan terjadi setelah kerajaan seribu tahun (Wahyu 20:11-15; 21:8). Pada akhir kerajaan seribu tahun akan terjadi kebangkitan yang kedua (Wahyu 20:5); berkat dinyatakan ke atas mereka yang ikut serta dalam kebangkitan pertama, tetapi tidak atas mereka yang baru bangkit pada kebangkitan yang kedua. Secara tidak langsung dikatakan bahwa nasib mereka tidak menyenangkan.

    Mereka adalah orang-orang yang tidak diselamatkan dari seluruh sejarah umat manusia. Mereka bangkit dan menghadap takhta putih yang besar. Rombongan ini akan meliputi yang kaya dan yang miskin, orang merdeka dan budak, raja dan rakyatnya, orang terpelajar dan yang tidak terpelajar, majikan dan karyawan; semua mereka akan berdiri sebagai terdakwa yang bersalah di hadapan Sang Hakim.

    1. Dasar penghakiman ini. Dua hal dapat dikatakan tentang dasar penghakiman ini. (1) Orang-orang ini akan dihakimi "berdasarkan apa yang ada tertulis dalam kitab-kitab itu" (Wahyu 20:12). Jelaslah, dalam kitab-kitab tercatat nama semua orang yang tidak percaya. Akan tetapi, di samping kitab-kitab itu, terdapat juga "kitab yang lain, yaitu kitab kehidupan" (Wahyu 20:12). Inilah kitab anugerah ilahi di mana tercatat nama orang-orang yang adalah ahli waris anugerah (Lukas 10:20; Wahyu 3:5; 13:8; 17:8; 20:12, 15; 21:27). Selanjutnya, (2) orang-orang ini akan dihakimi menurut perbuatan mereka. "Penghakiman akan berlangsung berdasarkan bukti yang diberikan dari catatan perbuatan dan dari kitab kehidupan." Orang percaya akan diberi pahala sesuai dengan perbuatannya, tetapi orang yang tidak percaya akan dihakimi sesuai dengan perbuatannya (band. Roma 2:5-11). Ketidaktahuan akan kehendak Tuhan tidak akan meloloskan siapa pun, tetapi akan memperbaiki hukuman (Lukas 12:47, 48).
    2. Lamanya hukuman. Semua yang namanya tidak tercatat dalam kitab kehidupan akan dicampakkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:15). Lautan api ini disebutkan sebagai kematian yang kedua (Wahyu 21:8). Kenyataan ini mengakibatkan timbulnya pertanyaan, apakah hukuman yang akan datang itu bersifat kekal? Memang demikian, berdasarkan pernyataan Firman Allah yang jelas dan dahsyat. Di antara orang kaya dan Lazarus terdapat jurang yang lebar, sehingga tidak mungkin orang pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain (Lukas 16:26). "Ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam" di Gehenna (Markus 9:48). Nampaknya kata-kata ini dikutip dari Yesaya 66:24, dan dalam ayat itu tersirat bahwa senantiasa akan ada makanan untuk ulat-ulat bangkai tersebut dan sesuatu untuk dibakar oleh api. Asap api yang menyiksa para pemuja binatang itu akan mengepul "selama-lamanya" (Wahyu 14:11). Pastilah, mereka tidak dikhususkan dari antara orang-orang fasik di dunia untuk menerima hukuman yang lebih berat daripada orang-orang lain yang sama fasiknya. Agaknya, binatang dan nabi palsu itu masih hidup setelah dihukum seribu tahun di dalam lautan api (Wahyu 19:20; 20:10). Semua orang fasik dicampakkan ke dalam lautan api yang sama (Wahyu 20:12-15; 21:8). Alangkah baiknya bagi Yudas sekiranya ia tidak dilahirkan (Matius 26:24). Hal ini tak dapat dikatakan tentang seseorang yang telah bertahun-tahun dan bahkan beribu-ribu tahun mengalami siksaan pada akhirnya akan dikembalikan kepada hidup yang berbahagia.

      Bagaimana pun juga, mungkin yang paling penting ialah arti dari kata Yunani aion dan aionios. Istilah yang pertama muncul 120 kali dalam Perjanjian Baru dan diterjemahkan sebagai "zaman" (2Korintus 4:4), "dunia" (1Korintus 1:20), "tidak akan ... untuk selama-lamanya" (Yohanes 4:14), dan "selama-lamanya" (Yohanes 6:51). Jika diberi kata depan eis maka kata tersebut senantiasa berarti jangka waktu yang tak berkesudahan. Kata sifat aionios terdapat sekitar 70 kali dalam Perjanjian Baru. Kata ini dipakai untuk menunjuk kepada Allah (Roma 16:26), Kristus (2Timotius 1:9), Roh Kudus (Ibrani 9:14), berkat- berkat bagi orang-orang yang percaya (2Tesalonika 2:16; Ibrani 9:12), hukuman orang fasik (2Tesalonika 1:9), dan seterusnya. Kadang-kadang kata ini terdapat dua kali dalam satu frase "tetap untuk seterusnya dan selamanya" (Ibrani 1:8). Perhatikan juga rujukan-rujukan macam lain ini: Mazmur 52:7; Matius 12:31, 32; Markus 3:29; Ibrani 6:4-6; 10:26-29; 2Petrus 2:17: Yudas 13. Mungkin rujukan yang paling kuat terdapat dalam Matius 25:46. Ayat itu membandingkan hukuman orang fasik yang akan berlangsung selama-lamanya dengan kebahagiaan abadi dari orang-orang yang diselamatkan. Ketika orang percaya hidup selama- lamanya di hadapan Allah, dan menikmati kemurahan-Nya, maka orang yang tidak percaya akan selama-lamanya berada jauh dari hadirat Allah yang membahagiakan.

    3. Keberatan-keberatan terhadap doktrin ini. Beberapa keberatan terhadap doktrin ini telah dikemukakan. (1) Orang-orang fasik akan dibinasakan (Mazmur 9:6; 92:8; 2Tesalonika 1:8,9). Jawaban kami ialah bahwa orang-orang pada zaman Nuh juga dibinasakan (Lukas 17:27), dan demikian pula penduduk Sodom dan Gomora (Lukas 17:29), namun mereka harus tampil untuk dihakimi (Matius 11:24). Pembinasaan tidaklah berarti pemusnahan; lebih tepat kalau dikatakan bahwa apa yang telah dibinasakan itu tidak dapat dipakai lagi sebagaimana mestinya. (2) Orang-orang fasik akan binasa (Mazmur 37:20; Amsal 10:28; Lukas 13:1- 3). Akan tetapi, binasa tidak berarti tidak ada lagi. Para murid Tuhan pernah berteriak, "Tuhan, tolonglah, kita binasa!" (Matius 8:25), tetapi mereka tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka sedang terancam kemusnahan. Imam besar Kayafas mengatakan, "Kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa" (Yohanes 11:50), tetapi ia hanya bermaksud mengungkap ketakutan kalau-kalau orang Romawi akan datang untuk memerketat penjajahan. Paulus memakai istilah yang sama ketika berbicara tentang kelemahan jasmani pada tubuh kita. Paulus mengatakan, "Meskipun keadaan kami yang lahir ini dibinasakan, tetapi keadaan yang batin kami itu dibaharui sehari-hari" (2Korintus 4:16, Terj. Lama). (3) Suatu hari yang dahsyat akan tiba bagi orang fasik yang membuat mereka tidak berakar dan tidak bercabang (Maleakhi 4:1). Namun harus diketahui bahwa ayat ini membahas keadaan tubuh saja, tubuh mereka akan terbakar, namun secara rohani mereka akan ada terus (lihat juga Amsal 2:22). (4) Dikatakan bahwa orang fasik mati dalam dosa mereka (Yehezkiel 18:4; Yohanes 8:21; Roma 6:23). Harus dingat bahwa kematian berarti pemisahan, bukan pemusnahan. Lihatlah orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31) dan jiwa-jiwa di bawah mezbah (Wahyu 6:9-11). Bila kematian pertama tidak berarti pemusnahan, bagaimana mungkin kita beranggapan bahwa kematian kedua berarti pemusnahan (Wahyu 20:15; 21:8; band. 19:20; 20: 10)? (5) Segala sesuatu akan dipulihkan. Pendapat ini merupakan penggalan dari Kisah 3:21; pernyataan sepenuhnya memang dibatasi oleh kata-kata "difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu." Ayat ini berbicara tentang datangnya kerajaan Allah di bumi. (6) Keberatan yang paling kuat yang telah dikemukakan ialah bahwa Allah yang kasih adanya tidak mungkin menghukum makhluk ciptaan-Nya untuk selama-lamanya. Akan tetapi, pendapat ini lupa bahwa pada saat kematian watak seseorang sudah tidak bisa berubah lagi, dan hukum kesesuaian menuntut bahwa yang hidup harus dipisahkan dari yang mati. Yang dipersoalkan bukanlah kasih Allah, melainkan kehidupan jiwa. Namun setelah mengatakan semuanya itu, kami mengatakan satu kali lagi bahwa akan ada tingkatan-tingkatan hukuman (Lukas 12:47,48; Roma 2:5- 8; Wahyu 20:12,13), menurut keadilan Allah.

178 Strong, Systematic Theology, hal. 1025.
179 Mounce, The Book of Revelation, hal. 366.