Pelajaran

PPL-Pelajaran 01

Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c


Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Pentingnya Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P01


Pelajaran 01 - PENTINGNYA PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Mengapa penting mempelajari Perjanjian Lama?
    1. Perjanjian Lama adalah Bagian dari Rencana Allah
    2. Perjanjian Lama adalah Bukti akan Kedaulatan dan Kesetiaan Allah
    3. Perjanjian Lama adalah Firman Allah
    4. Perjanjian Lama adalah Nubuat bagi Perjanjian Baru
  2. Mengapa sulit mempelajari Perjanjian Lama?
    1. Halangan Bahasa
    2. Halangan Budaya
    3. Halangan Ketekunan
    4. Halangan Praduga yang Salah

Doa

PENTINGNYA PERJANJIAN LAMA

MENGAPA PENTING MEMPELAJARI PERJANJIAN LAMA?

Umat Kristen pada umumnya dapat menerima Alkitab Perjanjian Baru (PB) dengan mudah karena Alkitab PB adalah dokumen yang memberi kesaksian tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan dan pengajaran Kristus yang penuh kuasa serta sejarah pendirian gereja- Nya. Tetapi, bagaimana dengan Perjanjian Lama? Sering umat Kristen bertanya, apakah gunanya mempelajari kitab-kitab Perjanjian Lama? Bukankah PL lebih banyak berbicara tentang cerita usang dari sejarah bangsa Yahudi (Israel) dan tentang raja-raja dan nabi-nabi dan tokoh-tokoh yang tidak ada hubungan langsung dengan kita sekarang? Dapatkah kita menerima keseluruhan PL sebagai Firman Allah yang berotoritas mutlak dalam hidup kita?

Pertanyan-pertanyaan di atas sangat penting untuk dijawab. Pelajaran pertama dari Kursus Pengantar Perjanjian Lama (PPL) ini akan menolong kita untuk melihat PL dari sudut pandang keseluruhan kebenaran Alkitab supaya kita dapat melihat dengan jelas relevansinya bagi kehidupan Kristen kita sekarang.

Marilah kita mulai dengan menjawab pertanyaan, mengapa penting mempelajari Perjanjian Lama?

  1. Perjanjian Lama adalah Bagian dari Rencana Allah

    Cara Allah menyatakan Diri-Nya kepada manusia adalah dengan memberikan Penyataan Umum dan Penyataan Khusus, yaitu melalui alam, sejarah, hati nurani manusia dan juga melalui Firman dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Di dalam Penyataan-penyataan inilah Allah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia (Rom 1:19-20; Yes. 52:10).

    Dalam Perjanjian Lama, Allah memakai hamba-hamba-Nya, dengan latar belakang satu bangsa, yaitu bangsa Israel, untuk menjadi sarana dalam menyampaikan Penyataan-penyataan rencana-Nya kepada manusia (Yes 49:6). Oleh karena itu sejarah lahirnya bangsa Israel dan bagaimana Allah menyertai, menghukum dan memberkati bangsa ini (yang kita pelajari melalui kitab-kitab PL) seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan iman Kristen. Karena melalui sejarah bangsa ini Allah sebenarnya sedang memberitahukan kepada manusia tentang Diri-Nya; siapakah Dia dan apakah rencana- Nya bagi umat manusia, termasuk rencana-Nya bagi kita yang hidup sekarang. Dengan mempelajari PL, maka kita akan melihat bagaimana Allah secara progresif menyatakan Diri-Nya untuk dikenal; pertama melalui bangsa pilihan-Nya (Israel), lalu selanjutnya melalui orang- orang yang dipilih-Nya pada masa Perjanjian Baru (Rom 1:16).

  2. Perjanjian Lama adalah Bukti akan Kedaulatan dan Kesetiaan Allah

  3. Dibalik cerita sejarah bangsa Israel, PL juga menjadi bukti penting akan kedaulatan Allah atas seluruh alam semesta yang diciptakan- Nya, termasuk di dalamnya manusia. Dialah yang mengawasi sejarah dan yang akan menyelesaikan rencana-Nya tepat pada waktu yang sudah ditetapkan-Nya (Fil 1:6). Dia juga yang memilih hamba-hamba-Nya sesuai dengan kedaulatan-Nya untuk melaksanakan rencana kekal-Nya. Di sini sekaligus PL juga menjadi bukti penyataan progresif akan kesetiaan Allah (Yes. 25:1). Allah turut bekerja dalam sejarah, termasuk ketika Israel tidak taat, tetapi Allah tetap setia pada janji-Nya (Rom 3:3). Oleh karena itu kitab-kitab PB tidak mungkin dilepaskan dari PL; Allah PB adalah juga Allah PL yang setia melaksanakan rencana kedaulatan-Nya (keselamatan) bagi umat pilihan- Nya.

  4. Perjanjian Lama adalah Firman Allah

  5. Mengakui bahwa PL adalah Firman Allah adalah bagian yang penting dari iman Kristen, karena apabila kita mengakui otoritasnya maka berarti kita bersedia tunduk pada otoritas tsb. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana kita tahu dan yakin bahwa kitab- kitab PL adalah Firman Allah yang berotoritas? Berikut ini adalah beberapa bukti bahwa PL adalah Firman Allah.

    Pertama, bukti dari dalam Alkitab sendiri:

    1. Yesus mengakui otoritas PL Selama Yesus hidup di dunia Ia mengakui otoritas PL secara penuh. Hal ini terbukti jelas dalam kitab-kitab Injil bagaimana Yesus selalu mengutip PL untuk menunjukkan dasar otoritas dan pengajaran-Nya. Misalnya pada waktu Ia dicobai (Mat 4:1-11). Juga ketika Yesus harus mengklaim kedudukan-Nya sebagai Anak Allah (Yoh. 10:31-36). Sikap Yesus yang menjunjung tinggi PL cukup menjadi bukti bahwa PL memiliki otoritas sebagai Firman Allah.
    2. Para Rasul mengakui otoritas PL Diantara para Rasul tidak ada bukti satupun yang memperlihatkan bahwa mereka tidak mempercayai PL sebagai inspirasi dari Allah. Di antara para rasul, Paulus adalah yang paling jelas memberikan pengakuan secara penuh akan otoritas PL. 2 Tim. 3:16, "tulisan" yang dimaksud pada waktu itu adalah tulisan dari kitab-kitab PL.
    3. Para penulis Alkitab mengakui otoritas PL Pola pengakuan otoritas PL juga dijumpai pada penulis-penulis PB lain, seperti Yakobus atau penulis kitab Ibrani. Mereka melihat PL bukan sebagai rangkaian sejarah dan peraturan yang mati, tetapi merupakan kisah yang hidup tentang karya Allah yang menyelamatkan manusia (Yak 1:22-23; Ibr. 4:12).

    4. Bukti dari luar Alkitab:

    5. Bapak-bapak gereja secara aklamasi menerima pengakuan akan otoritas PL melalui pengkanonan Alkitab. Dinyatakan bahwa masing-masing Kitab PL menunjukkan sifat yang tidak dapat dipisahkan dari pengilhaman ilahi.
    6. Allahlah yang memberi inspirasi kepada para penulis PL. Itulah sebabnya sekalipun para penulis PL hidup pada jaman dan latar belakang yang berbeda, berita yang mereka sampaikan tidak ada yang saling bertentangan, malah sebaliknya memberikan satu benang merah berita yang menunjuk pada karya keselamatan Allah.
    7. Secara praktis terbukti bahwa kitab-kitab PL telah menjadi standard kebenaran dan memberikan manfaat yang sanggup mengubah kehidupan manusia, karena Allahlah yang ada dibalik penulisan itu.

  6. Perjanjian Lama berisi Nubuatan bagi Perjanjian Baru

    Kitab-kitab dalam PL banyak menunjuk pada nubuatan-nubuatan yang akhirnya digenapi pada masa PB (Mat. 9:31; Luk 24:44; Rom 10:4). Keseluruhan dan kelengkapan berita keselamatan harus dimulai dari PL dan diakhiri dengan PB; sehingga jelas keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Oleh karena itu PL harus dipelajari sebagai sumber dan landasan untuk mengerti penggenapan rencana agung Allah.

    Kitab-kitab dalam PL juga penuh dengan tipologi-tipologi yang kalau dipelajari akan menolong pembaca kitab-kitab PB untuk mengerti lebih jelas KEUTUHAN KESELURUHAN KEBENARAN Alkitab.

MENGAPA SULIT MEMPELAJARI PERJANJIAN LAMA?

Dari uraian di atas kita melihat bahwa penting sekali kita mempelajari Penyataan Allah yang bersifat progresif itu mulai dari masa PL supaya kita mendapatkan konteks lengkap bagaimana Penyataan Allah itu diberikan. Namun demikian mempelajari kitab-kitab PL tidaklah tanpa halangan. Ada faktor-faktor penghambat yang kadang menyulitkan kita mengerti maksud sesungguhnya berita dalam PL. Kesulitan-kesulitan tsb. dapat dijelaskan sbb.:

  1. Halangan Bahasa
    Kitab-kitab asli PL disampaikan dalam bahasa Ibrani kuno yang kadang tidak dapat secara jelas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

  2. Halangan Budaya
    Seluruh konteks PL adalah budaya bangsa Israel kuno yang informasi sejarahnya tidak dapat kita pahami dengan lengkap.

  3. Halangan Ketekunan
    Kurangnya ketekunan dalam mempelajari Alkitab secara menyeluruh dan berkesinambungan.

  4. Halangan Praduga yang Salah
    Sering kita telah memiliki praduga yang salah tentang PL sehingga kita cenderung hanya memilih berita yang kita sukai dan mengerti, tapi kemudian mengabaikan isi berita PL yang lain.



Akhir Pelajaran (PPL-P01)


DOA

"Ya Allah, saya bersyukur bahwa Engkau berkenan untuk menyatakandiri-Mu kepada bangsa Israel sedemikian rupa sehingga saya sekarangdapat belajar mengenal tentang Engkau lebih baik. Tapi doronglahsaya untuk tidak cepat puas hanya sampai di sini. Ajarkan sayauntuk semakin rindu mempelajari Firman-Mu dalam PL sehingga sayabisa menjadi semakin dekat dan mengenal kehendak-Mu lebih baik." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

PPL-Pelajaran 02

Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Latar Belakang Geografis Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P02


Pelajaran 02 - LATAR BELAKANG GEOGRAFIS PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Mengapa Penting Mempelajari Latar Belakang Geografi PL?
  2. Ruang Lingkup Geografi PL
    1. Geografis secara fisik
    2. Geografis secara politik
    3. Geografis secara sejarah
  3. Makna Teologis Latar Belakang Geografis PL
  4. Peta Geografis Perjanjian Lama

Doa

LATAR BELAKANG GEOGRAFIS PERJANJIAN LAMA

1. MENGAPA PENTING MEMPELAJARI LATAR BELAKANG GEOGRAFI PL?

Pada pelajaran yang pertama telah kita pelajari bahwa melalui kitab-kitab PL, yang berisi sejarah bangsa Israel, Allah telah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia. Untuk itu Allah telah melibatkan Diri dalam sejarah hidup umat pilihan-Nya yang dibatasi dalam ruang dan waktu. Kisah sejarah bangsa Israel dalam Kitab-kitab PL bukanlah karya sastra yang direka-reka dan direncanakan oleh pikiran manusia. Kita patut bersyukur bahwa Alkitab adalah unik dibandingkan dengan kitab suci-kitab suci agama lain, karena Alkitab menyebutkan banyak sekali nama-nama tempat yang memang pernah ada di dunia ini. Itulah sebabnya ada dua alasan penting untuk mempelajari latar belakang geografis dunia PL:

  1. untuk menjadi bukti bahwa sejarah umat Allah dalam PL adalah sejarah yang sungguh terjadi di suatu tempat, di suatu waktu di dunia ini.

  2. supaya kita dapat mengerti dan menginterpretasikan teks Alkitab dengan lebih baik; ada ribuan nama tempat, gunung, sungai, bukit, laut dll. dalam Alkitab sehingga diperlukan pengetahuan yang cukup tentang data-data geografis tsb. untuk dapat menafsirkan ayat dengan tepat.

2. RUANG LINGKUP GEOGRAFIS PL

Adapun lingkup geografis PL dapat dilihat dari beberapa sisi:

  1. Geografi secara fisik; berhubungan dengan bumi secara fisik: gunung, sungai, lembah, dan struktur tanah, angin dan cuaca dll. Semua ini mempengaruhi bagaimana masyarakat hidup di daerah itu; tipe bangunan rumahnya, tipe pekerjaannya, gaya hidupnya dll.

  2. Geografi secara politis; sehubungan dengan pengaturan kelompok masyarakat yang ada, dari kelompok masyarakat sederhana yang tinggal berpindah-pindah (nomandi) sampai akhirnya membentuk suatu daerah pemukiman yang memiliki daerah teritori yang jelas dan bahkan menjadi kerajaan yang berkuasa atas daerah yang lebih luas.

  3. Geografi secara sejarah; berhubungan dengan perkembangan sejarah masyarakat dalam satu tempat dan satu waktu. Alkitab mencatat bagaimana, di mana dan kapan Allah menyatakan Diri dan rencana- Nya pada umat pilihan-Nya.

(Untuk penjelasan dan contoh-contoh lebih lengkap lihat Referensi- referensi Pelajaran 02)

3. MAKNA TEOLOGIS LATAR BELAKANG GEOGRAFIS PL

Tanah Perjanjian

Wilayah tanah Kanaan memiliki porsi muatan makna teologis yang sangat besar dalam seluruh kitab PL, karena tanah Kanaan merupakan komponen utama dalam perjanjian Allah dengan bangsa pilihan-Nya, Israel. Hal ini dimulai ketika Abraham dipanggil untuk pergi ke tanah yang akan Tuhan berikan kepadanya dan bangsa keturunannya, yaitu Tanah Perjanjian, (Kej. 11:31 - 12:10). Wilayah Tanah Perjanjian itu disebutkan "mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat" (Kej. 15:18) dan janji itu dikonfirmasi lagi kepada Ishak (Kej. 26:3) dan juga kepada Yakub (Kej. 28:13).

Luas tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham tidaklah jelas batasnya. Namun dapat dipastikan lebih luas dari negeri Kanaan, karena ketika Lot memilih untuk tinggal di lembah Yordan yang subur dan banyak air di sebelah timur, Abraham tinggal di tanah Kanaan, dan di situlah Tuhan berkata kepada Abraham: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama- lamanya." (Kej. 13:14-15).

Ratusan tahun kemudian ketika Musa mengingatkan bangsa Israel akan Tanah Perjanjian yang Tuhan telah berikan kepada mereka, maka Musa menjelaskan batas-batas tanah itu sebagai, "Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu. Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya." (Ul. 1:7-8). Dan saat itu bangsa Israel telah menduduki tanah bahkan sampai ke TransJordan, yang lebih luas dari batas Tanah Perjanjian.

Pada masa Yosua, Tuhan memberi perintah kepada Yosua untuk mengambil seluruh teritori seperti yang telah disebutkan oleh Musa (Yos. 1:4). Namun selama masa itu Israel gagal untuk mendapatkan seluruh tanah yang telah Tuhan janjikan, sebab utamanya adalah karena ketidaktaatan mereka kepada Tuhan, sehingga Tuhan menghukum mereka dengan tidak memberikan seluruh tanah itu kepada bangsa Israel. Dan selama masa raja-raja Israel, tidak ada satu raja pun yang berhasil mendapatkan seluruh Tanah Perjanjian itu kecuali Daud (itupun masih ada satu bagian tanah, Tanah orang Het yang tidak menjadi kekuasaan Israel).

Sebagai kesimpulan dapat di katakan bahwa konsep Tanah dan Perjanjian dalam PL saling memiliki kaitan yang erat. Tanah merupakan anugerah Tuhan yang dijamin di atas perjanjian (covenant) yang sah. Oleh karena itu Tanah Perjanjian merupakan simbol akan ketergantungan mereka pada Tuhan. Hubungan Israel dengan tanah itu merupakan indikasi hubungan mereka dengan Tuhan. Apabila mereka taat kepada Tuhan maka kemakmuran yang luar biasa akan terjadi di atas tanah itu (Ul. 22). Sebaliknya, ketidaktaatan bangsa Israel akan perintah Tuhan akan berakhir dengan dibuangnya mereka dari Tanah Perjanjian (Ul. 4:25-28; 28:63-68; Yos. 23:13-16; I Raj. 9:6- 9; 2 Raj. 17:22-23; dll.). Dan akibatnya pada masa-masa itu orang Israel harus hidup di tanah pembuangan dan dijajah bangsa-bangsa lain.

Namun karena janji bahwa Tuhan akan setia menyertai bangsa ini, maka tidak untuk selamanya bangsa Israel tinggal di tanah pembuangan. Pada jaman Ezra, sejarah PL mulai diwarnai dengan pertobatan dan perjanjian untuk menjauhkan diri dari pemcemaran dosa dari bangsa kafir (Ez. 9:10-15) sehingga bangsa Israel akhirnya pulang kembali ke tanah airnya dan tinggal di tanah yang Tuhan janjikan itu.

4. PETA GEOGRAFIS PERJANJIAN LAMA

(Lihat Peta Geografis Perjanjian Lama yang ada dalam program Alkitab SABDA)



Akhir Pelajaran (PPL-P02)


DOA

"Allah Yahweh, Allah sumber segala berkat, saya bersyukur karena Engkaulah yang menyediakan tanah di mana saya tinggal saat ini. Saya bersyukur bahwa Engkau sediakan segala sesuatunya itu untuk kebaikan saya. Ajarkan kepada saya untuk senantiasa ingat bahwa tempat dimana saya berada adalah anugerah Tuhan. Di sinilah Tuhan ingin saya berkarya dan memuliakan nama Tuhan. Oleh karena itu Allah, berikan saya kekuatan agar saya senantiasa hidup suci di hadapan Tuhan. Amin."

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

PPL-Pelajaran 03

Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c


Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Sejarah Singkat Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P03


Pelajaran 03 - SEJARAH PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Hal-hal penting yang perlu diketahui dalam mempelajari sejarah PL

    1. Sejarah PL adalah sejarah KEHIDUPAN MANUSIA YANG NYATA
    2. Sejarah PL adalah PEKERJAAN ALLAH
    3. Sejarah PL adalah SEJARAH KESELAMATAN
  2. Kronologis Sejarah PL
    1. Jaman Adam sampai Abraham (kira-kira 5000 - 4000 SM)
    2. Jaman Patriakh-Patriakh (kira-kira 2000 - 1400 SM)
    3. Jaman Keluaran/Eksodus dari Mesir (kira-kira 2000 - 1400 SM)
    4. Jaman Hakim-Hakim (kira-kira 1400-1050 SM)
    5. Jaman Kerajaan Bersatu (kira-kira 1050 - 931 SM)
    6. Jaman Kerajaan Terpisah (kira-kira 930 - 586 SM)
    7. Jaman pembuangan di Babel dan kembali ke tanah Israel (kira-kira 587 B.C).

Doa

SEJARAH SINGKAT PERJANJIAN LAMA

Seperti yang telah disinggung pada pelajaran sebelumnya bahwa sebagian besar Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama berisi cerita sejarah, khususnya tentang sejarah bangsa Israel. Cerita-cerita tsb. bukanlah cerita yang sekedar kita dengar lalu kita lupakan, karena ada makna teologis yang dapat ditarik kalau kita mempelajari dengan teliti dan dengan tujuan yang benar.

Mempelajari sejarah PL harus dimulai dengan kerinduan untuk mengerti maksud dan rencana Allah berintervensi (turut campur tangan) dalam sejarah manusia. Hal inilah juga yang mendorong para ahli Alkitab untuk meneliti dan menyusun urutan kejadian-kejadian dalam Alkitab untuk melihat kembali bagaimana Allah berkarya, menyatakan Diri-Nya dan bagaimana Ia bertindak dan berhubungan dengan manusia. Tindakan Allah dalam sejarah ciptaan-Nya ini membuktikan akan penyertaan dan pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya. Apa yang Allah kerjakan dan tunjukkan di masa lampau dalam sejarah Perjanjian Lama, memberikan dampak dan pengharapan bagi kita yang hidup pada masa kini.

Untuk lebih jelasnya di bawah ini adalah hal-hal penting yang perlu diketahui dalam mempelajari sejarah PL ini.

1. HAL-HAL PENTING YANG PERLU DIKETAHUI DALAM MEMPELAJARI SEJARAH PL

  1. Sejarah PL adalah Sejarah KEHIDUPAN MANUSIA YANG NYATA

  2. Sejarah PL bukanlah cerita-cerita usang belaka dari suatu bangsa yang hanya rekaan manusia. Sejarah PL adalah kisah dari sebuah bangsa yang betul-betul ada di dunia, yang telah dipilih Allah untuk menjadi saluran kasih-Nya. Setiap kejadian yang ada dalam sejarah PL merupakan sebuah mata rantai sejarah Keselamatan Allah yang panjang yang saling menyambung, karena kisah yang ada dalam PL tsb. satu dengan yang lain memiliki hubungan/kaitan yang sangat erat, baik hubungan sebagai kelanjutan cerita, tapi juga hubungan akan penggenapan atas nubuat yang telah diberikan sebelumnya.

  3. Sejarah PL adalah PEKERJAAN ALLAH

  4. Alkitab PL bukan saja meliputi cerita kronologis bangsa Israel dari permulaan pemilihan sampai jaman Yesus Kristus, tapi adalah sejarah pekerjaan Allah yang terus menerus dinyatakan di dalam kehidupan orang-orang Israel agar mereka mengerti tujuan pekerjaan dan rencana karya Allah untuk keselamatan mereka serta menjadikan mereka rekan kerja Allah.

  5. Sejarah PL adalah SEJARAH KESELAMATAN

  6. Dari peristiwa-peristiwa yang disusun secara kronologis maka terlihatlah suatu benang merah berita inti dalam seluruh sejarah umat manusia, yaitu Sejarah Keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Manusia yang telah jatuh dalam dosa dan terputus hubungan dengan Allah diberikan pengharapan baru; dan pada setiap generasi, sejarah mencatat, Allah selalu mengulangi panggilan-Nya agar manusia berbalik dan menerima keselamatan yang dari Tuhan.

Dari tiga hal di atas jelaslah bahwa untuk mempelajari sejarah PL kita harus melihat keseluruhan beritanya dalam konteks yang tepat. Sejarah PL bukan berisi perintah-perintah yang harus kita ikuti atau cerita yang bisa kita ambil dan mengerti secara terpisah- pisah, karena masing-masing peristiwa memiliki latarbelakang historis yang menuju ke satu berita utama, yaitu berita Keselamatan. Oleh karena itu mempelajari sejarah PL akan menolong kita secara langsung untuk mempelajari konteks dalam menafsirkan berita PL secara benar.

2. KRONOLOGIS SEJARAH PL

Sebelum memberikan garis besar sejarah seluruh PL, perlu terlebih dahulu kita mengerti bagaimana para ahli Alkitab dan sejarah menentukan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa tsb. secara kronologis.

Penentuan waktu kronologis sejarah PL (dari masa penciptaan, Adam dan seterusnya) tidak begitu mudah untuk dipastikan, karena Alkitab sendiri tidak ditulis untuk maksud memberikan catatan kronologis yang urut dan lengkap. Tujuan Alkitab mencatat peristiwa-peristiwa penting adalah untuk memberikan gambaran sehubungan dengan bagaimana Allah bertindak terhadap manusia pada tempat dan waktu saat itu. Salah satu cara menentukan waktu kejadian penciptaan Adam adalah dengan teori Ussher (sekalipun sekarang teori ini tidak populer), yaitu dengan cara menjumlahkan kebelakang genealogi- genealogi (silsilah) dan data-data kronologis lain yang terdapat dalam PL (dengan asumsi bahwa silsilah-silsilah PL semua lengkap dan berurutan). Dengan cara ini ditentukan bahwa waktu penciptaan Adam adalah thn. 4004 SM (Sebelum Masehi). Banyak orang masih memakai pedoman pentarikhan waktu Ussher ini sebagai pedoman pengurutan kronologisnya saja, sedangkan penentuan tahunnya tidak diikuti.

Berikut ini adalah garis besar pembagian sejarah PL secara kronologis:

  1. Jaman Adam sampai Abraham (kira-kira 5000 - 4000 SM)

  2. Jaman ini oleh beberapa sarjana ditempatkan dalam ruang waktu antara 5000-4000 SM, walaupun ada banyak pandangan yang berbeda- beda tentang penetapan waktu ini.

    Dalam jaman ini dicatat dua peristiwa besar:

    1. Air bah (Kejadian 6:13; 9:17) - 3000 SM, tahun ini ditentukan dengan memperhatikan kesamaan antara Air Bah di dalam Alkitab dengan sebuah kisah air bah yang berasal dari Babel.

    2. Menara Babel (Kejadian 11:1-9) - 3000-2000 SM, karena kejadiannya ini tidak lama sesudah air bah, (dimana semua manusia masih tinggal di satu daerah).

  3. Jaman Patriakh-Patriakh (kira-kira 2000 - 1400 SM)

  4. Kisah pengembaraan Abraham dalam Kejadian 12-50 dapat diyakinkan dari berbagai keterangan yang cocok sekali dengan lingkungan kebudayaan periode tahun 2000-1600 SM, dimana cara hidup orang-orang jaman itu adalah mengembara (nomandik). Tanah Palestina saat itu masih jarang penduduknya sehingga pengembaraan masih dapat dilakukan dengan bebas di daerah-daerah yang subur, bahkan dari daerah Mesopotamia (tempat asal Abraham) ke Palestina.

  5. Jaman Keluaran/Eksodus dari Mesir (kira-kira 2000 - 1400 SM)

  6. Ada dua periode besar pada jaman ini yang berjalan kira-kira 430 tahun (Kel. 12:40-41). Pertama adalah masa Abraham dipanggil Tuhan sampai Yakub masuk ke Mesir (Kej. 12:4; 2:15; 25:26; 47:9). Dan kedua adalah masa bgs. Israel di Mesir sampai keluar dari Mesir. Thn. 1290 SM diperkirakan sebagai tahun keluarnya (Eksodus) bangsa Israel dari Mesir. Saat itu diperkirakan umur Musa adalah 80 tahun.

  7. Jaman Hakim-Hakim (kira-kira 1400-1050 SM)

  8. Jaman ini adalah masa sesudah kematian Yosua. Dalam periode ini ada 13 hakim yang ditunjuk Tuhan untuk memimpin bangsa Israel hidup di Tanah Perjanjian. (Daftar Hakim-hakim lihat di bahan Referensi).

    Masa Hakim-hakim ini dianggap sebagai masa gelap bangsa Israel, diungkapkan sebagai masa dimana "setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri." (Hak. 17:6). Pada masa ini sepertinya Tuhan tidak bekerja, baik melalui mujizat maupun tanda-tanda lain yang menyertai. Kehidupan bangsa Israel sangat mundur bukan hanya secara rohani tapi juga dalam hal keamanan dan kesejahteraan jasmani. Mereka sering dikalahkan, dirampok dan diperlakukan sangat buruk oleh bangsa-bagsa lain yang lebih kuat. Kunci dari masalah ini adalah karena dosa-dosa yang diperbuat oleh bangsa Israel, sehingga Tuhan meninggalkan mereka.

  9. Jaman Kerajaan Bersatu (kira-kira 1050 - 931 SM)

  10. Dalam rangkaian sejarah bangsa Israel, periode jaman ini dapat dikatakan sebagai jaman yang paling gemilang dan makmur. Israel menjadi bangsa yang memiliki derajat tinggi diantara bangsa- bangsa di sekitarnya. Hal ini ditandai dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam berbagai bidang (ilmu pengetahuan, kesusasteraan, pembangunan dll.)

    Tapi pada pihak yang lain sistem pemerintahan "Teokrasi", yaitu kepemimpinan langsung oleh Tuhan, mulai ditinggalkan oleh bangsa Israel. Tuhan mengijinkan mereka memiliki raja sendiri untuk memerintah karena kedegilan hati bangsa ini. Tetapi Tuhan memberikan peringatan yang jelas (I Sam. 8) bahwa mereka akan menyesal dikemudian hari. (Daftar Raja-raja Israel dapat dilihat di bahan Referensi).

  11. Jaman Kerajaan Terpecah (kira-kira 930 - 586 SM)

  12. Kejayaan kerajaan Israel berakhir setelah pemerintahan raja Salomo, karena kemudian kerajaan ini mulai pecah dan runtuh sedikit demi sedikit dan akhirnya hancur karena kejahatan mereka di mata Tuhan dan penyembahan-penyembahan mereka kepada patung- patung berhala.

    Karena janji dan kesetiaan Tuhan pada bangsa ini maka tak henti-hentinya Tuhan berbicara dengan mengirimkan utusan-utusan-Nya. Pada jaman ini beberapa nabi dibangkitkan Tuhan untuk menyampaikan Firman-Nya kepada raja dan rakyat dari kedua kerajaan yang pecah ini. (Daftar nabi-nabi dapat dilihat di bahan Referensi).

  13. Jaman pembuangan di Babel dan kembali ke tanah Israel (kira-kira 587 B.C).

  14. Periode pertama jaman ini adalah masa yang sulit bagi bangsa Israel. Mereka berkali-kali jatuh ke tangan bangsa lain, dijajah dan ditindas, bahkan mereka sempat dibuang ke tanah asing untuk menjadi bangsa tawanan. Hal ini Tuhan ijinkan terjadi karena Tuhan sedang menghukum bangsa Israel atas dosa dan kejahatan mereka dengan harapan supaya mereka mengoreksi diri lalu berbalik kepada Tuhan.

    Pada saat yang sama Tuhan juga mengirimkan nabi-nabi-Nya untuk berbicara tentang janji kesetiaan Tuhan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka asal mereka mau berbalik dan mentaati perintah Tuhan. (Daftar nabi-nabi dapat dilihat di bahan Referensi).

    Di tanah pembuangan inilah bangsa Yahudi dan Yudaisme dilahirkan. Orang-orang yang Tuhan pakai, seperti Ezra dan Nehemia, berhasil memimpin bangsa ini untuk kembali menegakkan "monotheisme" dan menghargai Firman Tuhan yang diajarkan oleh nenek moyang dari generasi-generasi sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah Hukum Taurat sebagai pusat pengajaran mereka.

Periode kedua dari jaman ini adalah kembalinya bangsa Yahudi ke tanah Palestina yaitu setelah tahun 539 SM, ketika Raja Koresy dari Persia menaklukkan Babel dan bangsa Israel pulang ke tempat asal dan membangun bangsa dan tempat ibadah mereka kembali.

  • Rombongan pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Sesbazar (Ezra 1:11; 5:14) 538 SM dimana fondasi Bait Suci diletakkan.

  • Rombongan kedua dipimpin oleh Hagai dan Zakharia 520 SM berjumlah 42.360 orang (Ezra 2:64). Bait Suci selesai dibangun.
  • Tahun 458 SM ada pengutusan dilakukan oleh Ezra beserta serombongan besar orang Yahudi (Ezra 7:1-7) dan tahun 445 SM Nehemia datang ke Yerusalem menyelesaikan pembangunannya.

Pada akhir sejarah Perjanjian Lama kita ketahui bahwa orang-orang Yahudi yang pulang ke tanah air mereka memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi Hukum Taurat dan tempat ibadah Bait Suci karena mereka memiliki keyakinan yang teguh bahwa merekalah umat pilihan Allah. Sampai pada permulaan sejarah Perjanjian Baru kita masih melihat bahwa bangsa dan agama Yahudi berkembang terus dengan subur.



Akhir Pelajaran (PPL-P03)


DOA

"Allah yang hidup, kami bersyukur bahwa Engkau selalu setia sekalipun kami sering tidak setia. KesetiaanMu dan janjiMu adalah jaminan bagi kami untuk tetap hidup dan layak disebut sebagai anak-anak Allah." Amin.

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

PPL-Pelajaran 04

Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b


Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Budaya Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P04


Pelajaran 04 - BUDAYA PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Struktur Masyarakat PL
    1. Keluarga
    2. Lembaga Pernikahan
      1. Suami
      2. Istri
      3. Anak-anak
    3. Anggota Masyarakat lain
  2. Kehidupan Ibadah PL
  3. Sistem Pendidikan PL

BUDAYA PERJANJIAN LAMA

Membicarakan tentang sosio-budaya PL adalah sangat luas, oleh karena itu dalam pelajaran ini pembahasan akan dibatasi hanya pada struktur masyarakat, kehidupan ibadah, dan sistem pendidikan masa PL.

1. STRUKTUR MASYARAKAT PERJANJIAN LAMA

KELUARGA adalah unit utama dalam struktur masyarakat PL, karena memang sejak dari semula Allah memulai rencana penebusan-Nya melalui satu keluarga, yaitu keluarga Abraham. Dan melalui keluarga Abraham inilah Allah memanggil keluar umat-Nya untuk membina suatu hubungan yang istimewa dengan Dia, yang dikokohkan dengan membuat suatu Perjanjian (Covenant). Itu sebabnya anggota yang termasuk dalam Perjanjian ini adalah mereka yang disebut sebagai "keturunan" (secara jasmani) Abraham - dan selanjutnya keturunan Ishak dan Yakub (Im. 26:42,45). Kata "keturunan" ini (Ibr. 'ab' artinya bapak) muncul seribu dua ratus kali dalam PL. Konsep "keturunan" secara fisik sangat penting bagi bangsa Israel, karena disitulah ikatan keanggotaan dalam Perjanjian didasarkan. Oleh sebab itu tidak heran jika banyak sekali ditemui catatan silsilah dalam Alkitab, termasuk dalam kitab-kitab PB (Mat. 1 dan Luk. 3). Jika mereka termasuk dalam silsilah itu maka mereka memiliki hak sebagai anggota masyarakat Yahudi yang terikat dalam hubungan Perjanjian dengan Allah.

  1. Keluarga

  2. Dasar pelembagaan keluarga diletakkan oleh Allah sendiri dalam Kej. 2, sebagai kesatuan ikatan yang permanen antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Istilah Ibrani yang dipakai untuk keluarga adalah 'misphahah' dan 'bayit' yang arti harafiahnya adalah "rumah" (bhs. Inggris 'household' atau dalam bhs. Indonesia lebih tepat "rumah tangga") yaitu diartikan sebagai mereka yang tinggal dalam satu atap rumah. Namun demikian, dalam PL sering kali keluarga bukan hanya terdiri dari suami, istri dan anak-anak, karena (tergantung dari konteksnya) yang dimaksud keluarga dalam PL lebih cenderung sebagai perluasan keluarga, yaitu suami, istri, anak-anak (sampai dua/tiga generasi), budak-budaknya dan termasuk juga keluarga dekat lain yang tinggal bersama, bahkan kadang seluruh suku juga disebut sebagai satu keluarga (1 Taw.13:14).

    Lembaga Perkawinan

    Ikatan permanen antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam perkawinan yang diresmikan oleh Allah sendiri sebelum kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 1:26-27). Perkawinan dalam PL diterima sebagai suatu norma umum (tidak ada kata "bujangan" dalam bahasa Ibrani). Ketika Allah memberikan Hawa kepada Adam, dikatakan, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kej. 2:23) sebagai pengakuan Adam akan keserupaan dan kesepadanannya dengan Hawa. Hubungan permanen perkawinan/pernikahan yang harmonis yang diciptakan oleh Allah ini rusak setelah manusia jatuh dalam dosa. Dan sejak itu, institusi pernikahan menjadi kabur dan akibatnya manusia lebih cenderung untuk merusak daripada mempertahankannya. Dalam seluruh PL ada ditunjukkan bentuk-bentuk penyelewengan pernikahan yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Israel, misalnya dalam praktek-praktek poligami dan perceraian (Baca Referensi 1 - Poligami dan Perceraian PL).

    1. Suami

      Dalam masyarakat PL, suami mempunyai kedudukan sebagai "tuan" yang memerintah atas istri dan anak-anak dan keluarga anak- anaknya, juga seluruh anggota keluarga yang lain dan budak- budaknya. Tapi pada sisi yang lain, suami juga menjadi penangungjawab atas semua tindakan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya. Oleh karena itu tidak jarang kepala keluarga akan menanggung hinaan, bahkan hukuman, untuk tindakan yang dilakukan oleh anak-anaknya (keluarganya). Suami juga mempunyai tanggungjawab untuk mencarikan istri/suami bagi anak- anaknya. Untuk itu ia harus paham betul hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehubungan dengan pernikahan menurut hukum bangsa Israel (Im. 18; Ul. 7; 20). Silsilah keluarga PL diurutkan dengan mengikuti keturunan dari suami, karena suamilah yang memberi identitas dan nama bagi keluarganya. Itu sebabnya dalam hukum Israel disebutkan berbagai peraturan untuk melindungi kelangsungan keluarga (Im. 25:47-49; Yer. 32:68; Ruth 2,3,4).

      Suami PL juga mempunyai fungsi sebagai imam bagi keluarganya. Ia diharapkan memimpin seluruh keluarganya dalam mengikuti perayaan-perayaan keagamaan Yahudi. Seluruh tanggungjawab pendidikan anak-anak, khususnya anaknya laki-laki juga ada di tangannya. Sebagai negara yang dikelilingi oleh bangsa-bangsa kafir, tugas ini merupakan tugas yang tidak ringan.

    2. Istri

      Sekalipun kelihatannya tanggungjawab suami lebih besar, namun tidak berarti bahwa istri PL pasif. Amsal 31 menceritakan secara panjang lebar tentang tugas-tugas seorang istri yang berbudi dan ideal. Dari tugas yang begitu banyak itu, tugas utama istri adalah untuk menghasilkan keturunan. Tapi itu bukan berarti tugas satu-satunya. Dari Amsal 31 dapat diambil kesimpulan bahwa istri PL tidak hanya melakukan tugas yang sehubungan dengan anak-anak dan rumah saja, Alkitab pada dasarnya memberikan tanggung-jawab yang besar bagi istri PL untuk menguasai bidang- bidang lain di luar rumahnya. Dalam peristiwa-peristiwa khusus, PL juga mencatat istri-istri menjalankan tugas-tugas yang tidak lazim dilakukan dalam budaya Israel, mis. memimpin perang (Debora), menjadi nabi (Miryam), bertindak untuk suami (Abigail), dll.

      Dalam perkawinan Yahudi, istri dengan kerelaan menundukkan diri di bawah suaminya dan mengambil kedudukan sebagai "penolong" (Kej, 2:18). Setelah melahirkan anak mereka akan menyusui anak- anaknya sampai usia dua atau tiga tahun. Pendidikan anak sampai usia lima tahun adalah tanggung jawab ibu, namun kemudian anak laki-laki akan dididik oleh ayahnya, sedangkan anak perempuan akan diajar oleh ibunya bagaimana menjadi seorang istri dan ibu yang sukses. Kesuksesan istri menjalankan keluarga seringkali menjadi ukuran bagaimana suami Yahudi akan dihormati di antara para pemimpin Israel.

    3. Anak-anak

      Anak-anak adalah berkat dari Tuhan, buah yang diharapkan dari perkawinan. Itu sebabnya keluarga PL selalu mengharapkan sebuah keluarga yang besar. Merupakan suatu dukacita dan aib bagi keluarga PL yang tidak dikaruniai anak, seperti peristiwa yang menimpa Sara dan Hana. Sebaliknya banyak puji-pujian yang ditujukan bagi wanita yang melahirkan banyak anak (Maz. 128).

    Anak dalam PL diterima sebagai anggota masyarakat Israel secara penuh. Oleh karena itu tanggungjawab memelihara dan mendidik mereka adalah juga tanggungjawab masyarakat, selain tentu saja keluarganya. Ul. 6:4-9 merupakan perintah langsung dari Tuhan akan pentingnya pendidikan anak, untuk itu yang harus diperhatikan adalah:

    1. Orang tua yang mengasihi Tuhan dan menyimpan Firman Tuhan dalam hatinya menjadi teladan bagi anak-anaknya (ay. 4-6).

    2. Firman Tuhan harus menjadi percakapan utama dalam keluarga supaya tertanam dalam diri anak-anak (ay. 7).
    3. Firman Tuhan harus dilahirkan dalam tingkah laku sehari-hari (ay. 7-9).

    Anak laki-laki dalam keluarga Yahudi adalah tumpuan harapan bagi pemeliharaan masa tua orang tuanya, yaitu supaya mereka mendapat penguburan yang layak. Anak sulung dalam keluarga Yahudi, baik laki-laki maupun perempuan, mendapat tempat yang istimewa. Sepanjang hidupnya ia akan dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang lebih besar atas tindakannya dan tindakan saudara- saudaranya yang lain. Apabila orang tuanya mati, anak sulung akan mendapat bagian warisan dua kali lipat. Jika ayahnya tidak memiliki anak laki-laki maka anak perempuan akan mewarisi seluruh harta ayahnya jika ia menikah dengan kaum keluarganya sendiri. Dibandingkan dengan bangsa-bangsa tetangga Israel, anak perempuan Yahudi mendapatkan perlakukan yang jauh lebih baik.

    Anak perempuan Yahudi diijinkan menikah sesudah usia 12 tahun. Pada usia itu diharapkan ia telah mempelajari semua kecakapan mengurus rumah tangga dan bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik. Sebelum menikah maka ayahnya memiliki hak penuh atas putrinya. Ayah jugalah yang bertanggungjawab mencarikan suami bagi putrinya. Sesudah menikah maka ibu mertuanya akan mengambil alih pendidikan selanjutnya. Apabila karena sesuatu hal suaminya mati, maka ia akan dinikahkan dengan saudara laki-laki dari suaminya untuk menyelamatkan garis keturunan keluarganya. Namun jika suaminya tidak memiliki saudara laki-laki lain yang dapat menikahinya, maka seringkali ia akan kembali ke rumah ayahnya lagi (contoh kasus Ruth dalam keluarga Naomi).

  3. Strata Dalam Masyarakat PL

  4. Sekalipun tidak ditonjolkan, ada perbedaan klas-klas dalam masyarakat PL, khususnya setelah jaman kerajaan terbentuk. Perbedaan antara mereka yang kaya dan miskin menjadi sangat nyata. Beberapa orang mendapat penghasilan dari tanah yang berlebihan dan akhirnya menjadi kaya. Tapi ada juga yang karena melakukan praktik- praktik yang tidak adil sehingga menekan pihak lain untuk mendapatkan keuntungan, sehingga mereka yang tidak diuntungkan menjadi miskin. Berikut ini adalah perbedaan strata dalam masyarakat PL secara umum:

    1. Kelompok masyarakat yang berpengaruh
      Mereka adalah para tua-tua agama dan kepala rumah tangga. Setelah jaman kerajaan, muncul kelompok yang disebut sebagai para pemuka, yaitu pembantu-pembantu raja dan juga para pahlawan.

    2. Penduduk asli setempat
      Mereka yang memiliki tanah dan tinggal sebagai penduduk asli di Palestina.
    3. Penduduk asing
      Mereka adalah pendatang dan orang bebas (bukan budak) tetapi tidak memiliki hak penuh sebagai warganegara Palestina.
    4. Pekerja upahan
      Mereka tidak memiliki tanah, hidup sebagai tenaga upahan.
    5. Pedagang
      Mereka adalah orang-orang asing yang datang untuk berdagang.
    6. Budak-budak
      Mereka bukan hanya orang Israel saja (yang miskin), tetapi juga pendatang asing yang hidup sebagai tawanan perang. Perbudakan adalah salah satu kebiasaan cara hidup pada masa PL (Baca Referensi 2 - Perbudakan).

2. SISTEM IBADAH PL

Israel dikelilingi oleh bangsa-bangsa tetangga yang tidak mengenal Allah (kafir). Itu sebabnya Allah berkali-kali harus mengingatkan bangsa Israel untuk tidak mengikuti kebiasaan peribadahan bangsa- bangsa tsb. Namun demikian telah berulang kali terjadi bangsa Israel tidak taat dan selalu jatuh pada dosa yang sangat dibenci Allah yaitu menyembah kepada ilah yang lain. Tidak jarang Tuhan menghukum mereka, bahkan dengan menyerahkan mereka untuk dikalahkan dan dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Cara-cara beribadah bagaimanakah yang diikuti bangsa Israel sehingga membuat Allah Yahweh murka dan menghukum mereka?

Berikut ini adalah beberapa karakteristik penyembahan agama kafir:

  1. Mereka memiliki banyak tuhan (dewa), karena kebanyakan agama kafir adalah politheistik.

  2. Mereka menyembah kepada patung-patung, atau gambaran-gambaran yang menyerupai binatang, manusia atau benda-benda lain sebagai simbol akan allah mereka.
  3. Keselamatan adalah usaha manusia untuk melepaskan diri dari kecenderungan berbuat dosa.
  4. Mereka percaya bahwa persembahan-persembahan yang mereka bawa kepada ilah-ilah mereka dapat memberikan kekuatan gaib yang akan menghindarkan mereka dari kecelakaan atau bahaya.

Dibandingkan dengan penyembahan yang dilakukan oleh bangsa Israel kepada Allah Yahweh, Israel sendiri sebenarnya mempunyai cara-cara ritual yang telah dipelihara sejak masa Adam dan Hawa; juga Kain dan Habel. Dari contoh-contoh itu jelas bahwa Allah menerima penyembahan manusia (Kej. 4:6). Tidak dikatakan dengan jelas oleh Alkitab mengapa mereka harus memberikan korban persembahan, tapi dari konteks Kejadian 4, terlihat bahwa persembahan itu diberikan sebagai ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan yang disertai dengan harapan bahwa Allah akan senantiasa memelihara mereka di hari-hari kemudian. Tetapi Alkitab juga tidak menjelaskan mengapa Allah menerima persembahan Habel tetapi Kain tidak. Tapi inilah pertama kali disebutkan dalam Alkitab korban persembahan memakai binatang. Dan sejak itu persembahan binatang dipakai sebagai korban bakaran untuk menjadi salah satu tata upacara yang dilakukan dalam ibadah.

Pada masa Musa penyembahan kepada Allah tidak lagi dilakukan di tanah terbuka, tapi di kemah pertemuan Bait Suci, sedangkan penjelasan secara lengkap diberikan dalam Kel. 27:1-3, sesuai perintah yang diterima Musa dari Allah, dan Musa sendiri bertindak sebagai imam, menjadi perantara antara Allah dan umat Israel. Pada masa iman-iman, bangsa Israel telah memiliki kelompok imam yang dipilih dari keturunan keluarga Harun, suku Lewi, yang bertugas untuk mengatur tata ibadah kepada Allah. Kitab Imamat mencatat berbagai macam peraturan tata ibadah bagi bangsa Israel. Tidak selalu bangsa Israel melakukan ibadah yang benar, karena ibadah yang sejati bukanlah tergantung dari tempat dan tata caranya tetapi dari sikap hati yang benar. Tapi sering kali bangsa Israel tidak memiliki hati yang tertuju kepada Tuhan, sehingga tata ibadahpun tidak ada gunanya.

Ketika akhirnya bangsa Israel dihukum karena telah meninggalkan Tuhan, dan Tuhan menyerahkan mereka sebagai tawanan kepada bangsa- bangsa lain, barulah bangsa Israel menyadari betapa pentingnya kembali beribadah kepada Tuhan dan memelihara Taurat-Nya. Oleh karena itu dalam rangka menyelamatkan kehancuran bangsa ini karena tidak lagi hidup sebagai umat Tuhan, maka Ezra, Bapak Yudaisme, mulai mengembalikan/membangkitkan kesukaan untuk beribadah dan memelihara Firman Tuhan agar bangsa ini boleh berjalan sesuai dengan jalan Tuhan. Tetapi karena di tanah pembuangan mereka tidak dapat lagi pergi beribadah ke Yerusalem (apalagi Bait Allah di Yerusalem telah dihancurkan musuh), maka didirikanlah tempat ibadah sinagoge di tanah pembuangan Babel. Di sinilah akhirnya agama Yudaisme lahir dan berkembang. Sekalipun di sinagoge mereka tidak lagi memberikan korban bakaran seperti di Bait Suci, namun di sinagoge ini bangsa Israel belajar Taurat Tuhan dengan teliti dan tradisi nenek moyang mereka terpelihara dengan baik sampai dengan masa Perjanjian baru.

3. SISTEM PENDIDIKAN PL

Keluarga menjadi pusat dimana pendidikan diberikan pada masa PL, khususnya oleh mereka yang telah berumur. Sumber bijaksana dan pengetahuan, dipercaya oleh bangsa Israel, didapatkan dari pertambahan umur seseorang. Oleh karena itu orang-orang muda akan belajar segala sesuatu dari orang-orang tua (tua-tua) yang ada di sekitar mereka. Keluarga memiliki tanggung jawab penuh bagi pendidikan anak-anaknya, khususnya pendidikan rohani. Tidak ada pilihan untuk mereka menyerahkan pendidikan ini kepada orang lain karena alasan kesibukan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, anak-anak Israel pada usia balita dididik oleh ibu mereka. Ketika anak laki-laki cukup besar maka ayah akan memperkenalkan mereka pada pekerjaannya sehari-hari, dan sejak itu anak akan terus mendengar didikan ayahnya sambil bekerja. Sedangkan ibu akan bertanggung jawab terhadap pendidikan anak perempuannya, untuk menjadikannya istri dan ibu yang baik. Setiap makan malam orang tua akan menggunakan waktu berkumpul dengan keluarganya dan mengajarkan nilai-nilai luhur ajaran nenek moyang mereka, dengan meminta anak-anak yang terkecil dalam keluarga untuk menanyakan apa saja yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Jika seorang anak Yahudi mendapat didikan dari orang lain selain ayahnya sendiri, maka ia juga akan memanggilnya "ayah". Hal pertama yang diajarkan kepada mereka adalah pelajaran tentang sejarah bangsa Israel, dalam bentuk kredo-kredo dimana inti sari sejarah Israel telah diformulakan. Dan untuk itu anak harus menghafal luar kepala selama satu tahun. Namun demikian pada dasarnya tidak ada sekolah formal pada masa PL. Anak belajar bersama dengan orang tuanya dan orang dewasa yang lain dengan terlibat dalam urusan kehidupan sehari-hari. Mereka bertanya dan belajar sepanjang kehidupan mereka melalui setiap kesempatan yang datang, dan orang tua akan selalu siap memberikan penjelasan.



Akhir Pelajaran (PPL-P04)


DOA

"Jika bukan karena pemeliharan-Mu, ya Allah, maka tak mungkin kami dapat memilih cara hidup yang berkenan kepada-Mu. Begitu banyak godaan, karena dunia sering menawarkan gaya hidup yang kelihatannya lebih baik, lebih mudah dan lebih menarik, padahal ujungnya membinasakan. Oleh karena itu, berilah kami hati yang bijaksana agar kami selalu ingat bahwa Engkaulah junjungan kami, bahwa untuk Engkaulah kami hidup. Amin!"

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

PPL-Pelajaran 05

Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c


Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Kanon Alkitab Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P051


Pelajaran 05 - KANON ALKITAB PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Pengertian/Definisi
    1. Arti Etimologis
    2. Arti Figuratif
    3. Arti Teologis
  2. Sejarah Kanon PL
  3. Pembentukan Kanon PL
    1. Ucapan-ucapan yang Berotoritas
    2. Dokument (Tulisan) yang Berotoritas
    3. Kumpulan Tulisan yang Berotoritas
    4. Kanon yang Ditetapkan
  4. Penerimaan Kanon PL
  5. Susunan Kanon PL

Doa

KANON ALKITAB PERJANJIAN LAMA

1. PENGERTIAN/DEFINISI "KANON"

Untuk mengerti lebih jelas apa yang dimaksud dengan Kanon Alkitab PL, marilah terlebih dahulu kita mempelajari pengertian kata "Kanon".

  1. Arti Etimologis
    "Kanon" berasal dari kata Yunani 'kanon', artinya "buluh". Karena pemakaian buluh dalam kehidupan sehari-hari jaman itu adalah untuk mengukur, maka kata "kanon" dipastikan memiliki arti harafiah sebagai batang tongkat/kayu pengukur atau penggaris. (Yeh. 40:3; 42:16 = tongkat pengukur)

  2. Arti Figuratif
    Namun demikian kata "kanon" juga memiliki arti figuratif sebagai peraturan atau standard norma (kaidah) dalam hal etika, sastra, dsb.

  3. Arti Teologis
    Dalam sejarah gereja abad pertama kata "kanon" dipakai untuk menunjuk pada peraturan atau pengakuan iman. Tetapi pada pertengahan abad keempat (dimulai oleh Athanasius), kata ini lebih sering dipakai untuk menunjuk pada Alkitab yang memiliki dua arti, yaitu:

    1. Daftar naskah kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi standard peraturan-peraturan tertentu, yang diterima oleh gereja sebagai kitab kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah.

    2. Kumpulan kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang diterima sebagai Firman Tuhan yang tertulis, yang berotoritas penuh (menjadi patokan= Gal. 6:16) bagi iman dan kehidupan manusia.

2. SEJARAH KANON PL

Kanon PL tidak mengalami banyak kesulitan untuk diterima karena pada waktu kita-kitab PL itu selesai ditulis, saat itu juga langsung diterima sebagai kitab-kitab yang memiliki otoritas yang diinspirasikan oleh Allah. Kitab-kitab (yang berupa gulungan- gulungan) disimpan bersama-sama dengan Tabut Perjanjian yaitu di Kemah Tabernakel dan kemudian dibawa ke Bait Allah. Para imam memelihara kitab-kitab itu dan mereka juga yang membuat salinan- salinannya apabila diperlukan. Ul. 17:18; 31:9; 24:26; 1 Sam. 10:25; 2 Raj. 22:8; 2 Taw. 34:14

Pada waktu bangsa Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan pada tahun 587 SM, kitab-kitab itu dibawa bersama-sama ke tanah pembuangan (Dan. 9:2). Pusat ibadah mereka kini bukan lagi Bait Allah di Yerusalem, tetapi beralih kepada kitab-kitab yang berotoritas itu. Setelah pembangunan kembali Bait Allah, kitab- kitab itupun tetap dipelihara dan dipindahkan ke tempat yang baru. (Ezr. 7:6; Neh. 8:1; Yer. 27:21-22).

Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun 430SM. Menurut tradisi diakui bahwa imam Ezralah yang memainkan peranan penting dalam proses pengumpulan dan penyusunan kitab-kitab PL ini. Selain kitab-kitab Pentateuk (Kejadian sampai Ulangan) yang sangat dihargai, kitab-kitab para nabi juga biasa dibaca dalam ibadah Yahudi (di sinagoge), juga pada waktu jaman PB (Luk. 4:16-19).

Pada tahun 90M para ahli Taurat dan pemimpin bangsa Yahudi melakukan persidangan di Yamnia. Salah satu keputusan yang diambil dalam persidangan itu adalah penerimaan Kanon PL, yaitu 39 kitab sebagai Kanon Alkitab PL (seperti yang kita pakai sekarang). Jadi penetapan itu sebenarnya hanya memberikan pengakuan akan kitab- kitab yang memang sudah lama dipakai dalam ibadah orang Yahudi.

3. Pembentukan Kanon PL

Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa pada umumnya kitab-kitab PL langsung diterima sebagai kitab yang berotoritas. Namun demikian bukan berarti tidak ada proses pembentukan sampai akhirnya kitab- kitab itu dikanonkan. Paling tidak ada 4 tahap yang dikenal dalam proses pembentukan kanon kitab PL:

  1. Ucapan-ucapan yang Berotoritas
    Prinsip pengkanonan kitab dimulai ketika bgs. Israel menerima 10 perintah/hukum-hukum dari Tuhan melalui Musa di gunung Sinai. Perintah-perintah itu disampaikan kepada Musa sebagai perkataan (ucapan) Tuhan yang memiliki otoritas penuh. Dan umat Tuhan yang menerima Perintah-perintah itu wajib tunduk kepada wewenangnya, bahkan generasi-generasi berikutnya juga tunduk pada otoritas Perkataan Tuhan itu.

  2. Dokumen (Tertulis) yang Berotoritas
    Agar Perintah/Perkataan Tuhan itu menjadi warisan yang akan menuntun generasi-generasi berikutnya, maka Musa secara teliti menjabarkannya (memberikan tambahan penjelasan) dalam bentuk tulisan (Kel. 24:3), lalu umat Lewi diperintahkan untuk menyimpan tulisan/dokumen itu di samping Tabut Perjanjian Allah (Ul. 31:24- 26). Demikian juga dengan perkataan-perkataan Tuhan lain yang Tuhan sampaikan sepanjang sejarah bangsa Israel melalui nabi-nabi-Nya, Tuhan seringkali memerintahkan agar apa yang Tuhan ucapkan itu dituliskan untuk menjadi peringatan bagi umat-Nya. (Ul. 31:19, Yes. 30:2; Hos. 2:2). Tulisan-tulisan itu menjadi dokumen-dokumen yang sangat berotoritas, karena di sanalah bangsa Israel telah diikat dalam perjanjian (covenant) dengan Allah sebagai bangsa umat pilihan-Nya.

  3. Kumpulan Tulisan yang Berotoritas
    Menurut tradisi, selama ratusan tahun, tulisan/dokumen-dokumen yang berotoritas itu dikumpulkan sebagai kitab-kitab Ibrani, yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

    1. Kitab-kitab Hukum (5 Kitab Pentateuk)

    2. Kitab-kitab Nabi-nabi (Nabi Besar dan Nabi Kecil)
    3. Kitab-kitab Mazmur/Ucapan Bijaksana (Mazmur, Amsal, dll.)

    Pengelompokan ini mungkin sekaligus menunjukkan bagaimana tahap- tahap pembentukan kanon itu terjadi, sesuai dgn. pokok bahasannya. Namun demikian prosedur penyortiran tulisan-tulisan itu memang tidak jelas. Yang dapat diketahui hanyalah bahwa para pemuka agama Yahudi dengan dipimpin oleh Roh Allah menyepakati pilihan kumpulan tulisan itu sebagai tulisan-tulisan yang berotoritas yang harus diterima oleh seluruh umat.

  4. Kanon yang Diresmikan
    Sebagian besar Tulisan-tulisan yang berotoritas (yang sudah dikelompokkan di atas) telah ditulis dan dikumpulkan sesudah masa Pembuangan yaitu kira-kira thn. 550 SM (sebelum Masehi). Namun Pengesahan pengelompokan "Kanon Ibrani" itu dikenal baru sesudah thn. 150 SM. Kemungkinan besar Kanon inilah yang juga dikenal oleh masyarakat Yahudi pada jaman Yesus, karena Yesus menyebutkan: "dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Luk. 24:44).

    Suatu Konsili di Yamnia pada thn. 90 M, yang dihadiri oleh tokoh- tokoh utama agama Yahudi (rabi), melalui suatu konsensus bersama, akhirnya memberikan penetapan terhadap Kanon PL yang terdiri dari 39 kitab (sama dengan yang dimiliki dalam Alkitab agama Kristen).

4. PENERIMAAN KANON PL

Istilah penerimaan Kanon PL lebih disukai dari pada penetapan Kanon PL, karena memang pada dasarnya manusia/gereja hanya menerima kitab-kitab PL tsb. sebagai tulisan-tulisan yang berotoritas. Adapun dasar penerimaan "Kanon PL" adalah sbb.:

  1. Adanya bukti dari dalam Alkitab sendiri.
    Alkitab memberikan kesaksian bahwa perkataan-perkataan yang ditulis bukan berasal dari manusia, seperti dikatakan: "Beginilah Firman Tuhan......" atau "Tuhan berkata....."

  2. Ditulis oleh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah.
    Pada umumnya penulis-penulis kitab PL adalah mereka yang ditunjuk oleh Allah dan menduduki jabatan seperti imam, nabi, hakim, dan raja.

  3. Pengaruh kuasa Allah dalam tulisan-tulisannya.
    Perkataan ilahi yang dituliskan mempunyai kuasa untuk memberikan pengajaran kebenaran yang mengubah hidup manusia.

  4. Adanya bukti tentang keaslian naskah dan tulisannya.
    Bukti-bukti arkeologi memberikan dukungan akan keotentikannya.

  5. Secara aklamasi diterima oleh umat Allah secara luas.
    Otoritas tulisan tsb. diakui oleh para pemimpin masyarakat keagamaan Ibrani melalui pimpinan Roh Allah.

5. SUSUNAN KANON KITAB PL

(Dapat dilihat di Referensi 2 [PPL-R05])



Akhir Pelajaran (PPL-P05)


DOA

"Firman-Mu adalah harta yang paling berharga bagi jiwaku. Sungguh indah aku boleh melihat bagaimana Firman-Mu itu Engkau turunkan kepada manusia. Sekali lagi aku boleh menyaksikan kesetiaan dan kasih-Mu kepada manusia yang berdosa ini. Hanya dengan Firman-Mulah maka aku akan dapat belajar untuk hidup lebih dekat kepada-Mu. Aku bersyukur Tuhan karena hanya dekat dengan-Mu, hatiku mendapat kelegaan." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

PPL-Pelajaran 06

Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b


Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Hubungan Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru
Kode Pelajaran : PPL-P06


Pelajaran 06 - HUBUNGAN PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Daftar Isi

  1. Perbedaan dan Persamaan antara PL dan PB
    1. Perbedaan antara PL dan PB
    2. Persamaan antara PL dan PB
  2. Perjanjian Lama adalah Bagian dari Seluruh Kebenaran Alkitab
  3. Perjanjian Lama adalah Bayang-bayang dari apa yang akan datang (PB)
  4. Yesus Kristus adalah Puncak dari Berita PL dan PB

Doa

HUBUNGAN PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Satu pertanyaan penting akan timbul ketika kita mulai mempelajari Alkitab Perjanjian Lama secara serius, yaitu apa hubungan Perjanjian Lama (PL) dengan Perjanjian Baru (PB)? Memang PL adalah bagian dari Alkitab, yang berotoritas, namun bagaimana menempatkannya dalam KESELURUHAN KEBENARAN Firman Tuhan? Apakah PL dan PB mempunyai nilai dan arti yang sama? Hal ini bisa membingungkan, karena seringkali peranan PL dalam iman dan kehidupan tidak begitu ditekankan dan dipahami oleh gereja. Sebaliknya PB kelihatan lebih sering ditonjolkan karena dianggap maksud-maksud Allah bagi gereja-Nya lebih nyata diungkapkan di sana.

Meskipun alasan di atas tidak seluruhnya salah, namun sangat tidak tepat kalau kita hanya mendasarkan diri pada pengetahuan PB saja untuk mengerti KESELURUHAN KEBENARAN Alkitab, karena pengenalan tentang Allah dalam Alkitab dimulai dari PL. Oleh karena itu dalam pelajaran ini kita akan secara khusus melihat hubungan antara PL dan PB, supaya dalam mempelajari Alkitab kita mengerti sistematika keutuhan kebenaran berita Alkitab.

1. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA PL DAN PB

  1. Perbedaan antara PL dan PB

    Apakah ada perbedaan antara PL dan PB? Ya ada, tetapi ketika kita membicarakan tentang perbedaan PL dan PB, perlu dimengerti bahwa perbedaan di sini bukan berarti adanya pertentangan. Kita melihat ada perbedaan dalam hal jangkauan dan keluasan pembahasan antara PL dan PB, namun demikian hal-hal tsb. tidak saling bertentangan.

    Misalnya:

    • PL bercerita tentang hubungan Allah dengan bangsa Israel, tetapi PB lebih banyak bercerita tentang hubungan Allah (melalui Yesus dan Para Rasul) dengan jemaat-Nya (gereja-Nya).
    • PL menolong kita mengerti sifat-sifat Allah yang suci, adil dan benar, tetapi PB lebih menekankan kepada sifat-sifat Allah yang kasih, sabar dan pemurah.
    • PL memberikan panggilan keselamatan dari satu orang (Abraham) kepada satu bangsa (Israel). Tetapi PB memberikan panggilan keselamatan dari satu bangsa (Israel) kepada bangsa-bangsa lain.
    • PL memberikan gambaran penebusan dosa melalui korban bakaran yang tidak sempurna karena harus dilakukan berkali-kali, tetapi PB memberikan aplikasi penebusan yang sempurna dalam Yesus Kristus, yang dilakukan sekali dan untuk selama-lamanya.

  2. Persamaan antara PL dan PB

    Persamaan antara PL dan PB tidak dimaksudkan untuk mensejajarkan kedudukan dan nilai antara PL dan PB, namun persamaan di sini untuk menyatakan bahwa tidak ada pertentangan antara PL dan PB. Sebaliknya kita melihat bahwa PL dan PB adalah dua perjanjian yang kebenarannya saling menguatkan satu dengan yang lain.

    Misalnya:

    • PL percaya pada Allah sebagai Pencipta alam semesta dan isinya demikian juga PB.
    • PL menceritakan tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, PB menegaskan bahwa dosa telah menguasai manusia.
    • PL mencatat bagaimana Allah menyatakan Diri-Nya dan kehendak- Nya dan PB secara konsisten melihat penyataan Diri Allah itu secara lebih luas dan lengkap.
    • PL melihat bayang-bayang janji keselamatan, PB melihat fakta janji keselamatan itu dengan jelas.
    • PL membicarakan nubuat Mesias yang akan datang sedangkan PB menggenapkan nubuat datangnya Mesias di dalam Yesus Kristus.

2. PERJANJIAN LAMA ADALAH BAGIAN DARI KESELURUHAN KEBENARAN ALKITAB

Untuk mengerti hubungan antara PL dan PB, perlu terlebih dahulu dipahami bahwa PL dan PB adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. PL dan PB yang berdiri sendiri adalah seperti satu bagian cerita yang belum selesai atau seperti satu pembahasan yang tidak memiliki kesimpulan (konklusi). Namun demikian PL adalah sepenuhnya Firman Allah yang berisi penyataan Allah tentang Diri- Nya dan rencana-Nya dan yang secara progresif terus menerus dibukakan menjadi lebih dalam dan lebih lengkap sampai kepada puncaknya yaitu ketika Ia menyatakan Diri-Nya dalam Yesus Kristus di PB. Oleh karena itu sebagai Penyataan Allah yang progresif, baik PL dan PB adalah Firman Allah dan masing-masing adalah bagian dari Kebenaran Allah. Namun demikian bagian bukanlah keseluruhan. Masing-masing bagian tidak lengkap tanpa bagian yang lain. PB jelas tidak lengkap tanpa PL. Ketergantungan PB pada PL ditunjukkan bahkan dari pertama halaman kitab PB dimulai, yaitu Mat. 1:1 "Inilah silsilah Yesus...." Seluruh urutan dan nama-nama dalam silsilah Tuhan Yesus tsb. hanya akan dipahami kalau kita terlebih dahulu mempelajari PL.

3. PERJANJIAN LAMA ADALAH BAYANG-BAYANG DARI APA YANG AKAN DATANG (PB)

Seperti telah dibahas pada pelajaran sebelumnya bahwa dalam PL Allah telah menyatakan tentang Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia melalui sejarah bangsa Israel. Dari bagaimana Allah berhubungan dengan bangsa Israel kita bisa memahami sifat-sifat Allah. Juga dari hal-hal yang Allah nyatakan kita melihat kerinduan dan rencana Allah untuk memanggil bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain untuk kembali kepada-Nya dan bersekutu dengan-Nya. Namun demikian tidak mudah memahami secara penuh PL, baik yang menceritakan sifat-sifat, kerinduan atau rencana Allah, karena PL banyak sekali dipenuhi dengan simbol-simbol, gambaran-gambaran dan nubuatan-nubuatan yang tidak dapat secara langsung dimengerti maksudnya. Banyak dari simbol-simbol, gambaran-gambaran, nubuatan- nubuatan, dan hukum-hukum dan upacara-upacara yang ditujukan sebagai janji dan menjadi bayang-bayang untuk hal-hal yang akan Allah lakukan dan genapi di masa yang Perjanjian Baru (Ibr. 10:1). Oleh karena itu untuk mengerti hal-hal yang Allah nyatakan dalam PL kita perlu sekali mendapatkan penerangan dari PB. Tanpa diterangi oleh PB, maka PL akan selamanya menjadi kitab-kitab yang misterius yang tidak akan dipahami beritanya.

4. YESUS KRISTUS ADALAH PUNCAK DARI BERITA PL DAN PB

Kemanakah sebenarnya PL ingin memimpin pembacanya? Kepada Kristus! Kristus adalah puncak berita yang ingin disampaikan oleh Alkitab, karena Ia adalah Pengantara bagi Perjanjian yang baru (Ibr. 9:15). Seluruh rangkaian peristiwa PL, juga termasuk pengajaran-pengajaran hukum dan nubuatan-nubuatan yang disampaikan oleh para nabi-nabi PL, semuanya itu (baik secara langsung maupun tidak langsung) menunjuk kepada gambaran akan kedatangan, hidup dan misi Kristus di dunia ini, yaitu melaksanakan rencana keselamatan Allah kepada manusia.

Bukti-bukti Alkitab

  1. Yesus adalah pusat dari sejarah PL

    Ketika berjalan dengan dua murid di jalan Emaus, Lukas mencatat bahwa "Ia (Yesus) menjelaskan kepada mereka apa YANG TERTULIS TENTANG DIA dalam SELURUH KITAB SUCI, mulai dari KITAB-KITAB MUSA dan segala KITAB NABI-NABI."

  2. Yesus adalah penggenapan Hukum Taurat

    Dalam Mat. 5:17 Yesus berkata, "jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan HUKUM TAURAT atau KITAB PARA NABI. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."

  3. Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat PL

    Tuhan Yesus berkata kepada 10 murid-Nya yang dicatat di Lukas 24:44-47, "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua YANG ADA TERTULIS tentang AKU dalam KITAB TAURAT MUSA dan KITAB NABI-NABI DAN KITAB MAZMUR. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem."

Namun suatu teguran yang sangat ironis karena sekalipun Allah telah menyatakan maksud rencana-Nya dalam Yesus Kristus melalui para nabi dan utusan-utusan-Nya, bangsa Israel tetap saja menolak Yesus dan tidak mau menerima Dia. Seperti yang dikatakan dalam Yoh. 5:39 and 40, ketika Yesus sedang bercakap-cakap dengan orang-orang Yahudi, Ia berkata: "Kamu menyelidiki KITAB-KITAB SUCI, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab- kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu TIDAK MAU DATANG KEPADA-KU untuk memperoleh hidup itu."

Oleh karena itu pada pelajaran PPL yang terakhir ini, marilah kita menyadari betapa pentingnya menempatkan Kristus sebagai pusat sejarah PL dan PB karena di dalam Kristuslah kita dapat melihat kepenuhan Allah dinyatakan. Biarlah mulai saat ini kita bisa melihat PL dengan terang PB untuk kita dapat menggali kekayaan Firman Tuhan (Alkitab) ini dengan sebaik mungkin. Seperti teladan penulis-penulis PB yang menggunakan PL untuk menjelaskan tentang Yesus dan juga menggunakan Yesus untuk menjelaskan PL.



Akhir Pelajaran (PPL-P06)


DOA

"Kami bersyukur Tuhan karena Engkau berkenan menyatakan Diri-Mu kepada kami dalam bahasa manusia (Alkitab) sehingga kami sekarang boleh menerimanya sebagai harta rohani yang tak ternilai. Ajarkan kepada kami untuk mau dengan teliti mempelajarinya, merenungkannya dan mengaplikasikannya dalam hidup kami. Pimpinlah umat-Mu pada jaman ini untuk mengerti rencana Tuhan melalui Firman-Mu ini, supaya genaplah apa yang Engkau rencanakan dan biarlah Kerajaan-Mu datang di tengah- tengah kami. Amin."

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]