Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c
| Nama Kursus | : | Training Guru Sekolah Minggu Kelas Pemula (GSM) |
| Nama Pelajaran | : | Pengenalan Sekolah Minggu |
| Kode Pelajaran | : | GSM-P01 |
DAFTAR ISI
Doa
Untuk melayani dengan baik seorang guru Sekolah Minggu perlu mengerti dengan jelas dasar-dasar alkitabiah mengapa Allah menghendaki kita dan gereja-Nya memberikan perhatian kepada pelayanan untuk anak-anak. Tidak jarang Sekolah Minggu dianggap sebagai pelayanan sampingan gereja karena secara proporsional gereja memang seringkali memberikan pelayanan yang jauh lebih besar kepada jemaat dewasa dibandingkan kepada anak-anak. Oleh karena itu, melalui pelajaran pertama ini mari kita belajar lebih jauh tentang panggilan pelayanan Sekolah Minggu.
Mempelajari apa yang Alkitab katakan tentang anak-anak dan juga melalui sejarah pelayanan SM, kita dapat menarik prinsip-prinsip tentang pentingnya gereja mendidik anak-anak dengan pokok-pokok iman Kristen.
Pelayanan Anak Masa Perjanjian Lama (Ulangan 6:4-7)
Kalau kita menelusuri kembali zaman Perjanjian Lama, maka sebenarnya Alkitab telah memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan rohani anak. Pada masa itu pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga (Ulangan 6:4-7). Sejak sebelum usia lima tahun anak telah dididik oleh orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh. Pada masa pembuangan di Babilonia (500 SM), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah Sinagoge di mana mereka dapat belajar firman Tuhan kembali, termasuk di antara mereka adalah anak-anak kecil. Orang tua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia di bawah lima tahun ke Sinagoge. Di sana mereka dididik oleh guru-guru sukarelawan yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru menjadi fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Pelayanan Anak Masa Perjanjian Baru (1 Timotius 3:15)
Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diizinkan pulang ke Palestina, mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah Sinagoge ini di Palestina sampai masa Perjanjian Baru. Sebagaimana anak-anak Yahudi yang lain, ketika masih kecil Tuhan Yesus juga menerima pengajaran Taurat di Sinagoge. Dan pada usia dua belas tahun Yesus sanggup bertanya jawab dengan para ahli Taurat di Bait Allah. Tradisi mendidik anak-anak secara ketat terus berlangsung sampai pada masa rasul-rasul (1 Timotius 3:15) dan gereja mula-mula. Namun, tempat untuk mendidik anak perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di Sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul.
Tetapi sayang sekali pada abad pertengahan gereja tidak lagi memelihara kebiasaan mendidik anak seperti abad-abad sebelumnya. Bahkan orang dewasa pun tidak lagi mendapatkan pengajaran firman Tuhan dengan baik. Barulah pada masa Reformasi, gerakan pengembalian kepada pengajaran Alkitab dibangkitkan lagi, dan pendidikan terhadap anak-anak mulai digalakkan kembali, khususnya melalui kelas Katekismus (kateksasi). Untuk itu, hanya para pekerja gereja sajalah yang diizinkan untuk terlibat dalam pembinaan. Namun, kurangnya orang yang terlatih untuk mengajarkan kelas Katekismus menyebabkan pelayanan anak menjadi mundur bahkan perlahan-lahan tidak lagi menjadi perhatian utama gereja dan diadakan hanya sebagai prasyarat bagi anak-anak yang akan menerima konfirmasi (baptis sidi).
Sejarah Sekolah Minggu
Barulah pada abad 18, seorang wartawan Inggris bernama Robert Raikes, digerakkan oleh rasa cinta kepada anak-anak, membuat suatu gerakan yang akhirnya mendorong lahirnya pelayanan Sekolah Minggu.
Pada masa akhir abad 18, Inggris sedang dilanda suatu krisis ekonomi yang sangat parah. Setiap orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan anak-anak dipaksa bekerja untuk bisa mendapatkan penghidupan yang layak. Pada saat itu, wartawan Robert Raikes mendapat tugas untuk meliput berita tentang anak-anak gelandangan di Gloucester bagi sebuah harian (koran) milik ayahnya. Apa yang dilihat Robert sangat memprihatinkan sebab anak- anak gelandangan itu harus bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Apa yang dilakukan anak-anak pada hari Minggu itu? Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi mereka yang dihabiskan untuk bersenang-senang. Tapi karena mereka tidak pernah mendapat pendidikan (karena tidak bersekolah), anak-anak itu menjadi sangat liar. Mereka minum-minum dan melakukan berbagai macam kenakalan dan kejahatan.
Melihat keadaan itu Robert Raikes bertekad untuk mengubah keadaan. Ia dengan beberapa teman mencoba melakukan pendekatan kepada anak-anak tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di sebuah dapur milik Ibu Meredith di kota Scooty Alley. Selain mendapat makanan, di sana mereka juga diajarkan sopan santun termasuk membaca dan menulis. Tapi hal paling indah yang diterima anak-anak di situ adalah mereka mendapat kesempatan mendengar cerita-cerita Alkitab. Pada mulanya pelayanan ini sangat tidak mudah. Banyak anak yang datang dalam keadaan yang sangat kotor dan berbau. Namun, dengan cara mendidik yang disiplin, kadang dengan pukulan rotan yang dilakukan dengan penuh cinta kasih, anak-anak itu akhirnya belajar untuk mau dididik dengan baik, sehingga semakin lama semakin banyak anak yang datang ke dapur Ibu Meredith. Semakin banyak juga guru yang disewa untuk mengajar mereka, bukan hanya untuk belajar membaca dan menulis tapi juga Firman Tuhan; perjuangan yang sangat sulit tapi melegakan. Dalam waktu empat tahun sekolah yang diadakan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan ke kota-kota lain di Inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.
Mula-mula, gereja tidak mengakui kehadiran gerakan Sekolah Minggu yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi karena kegigihannya menulis ke berbagai publikasi dan membagikan visi pelayanan anak ke masyarakat Kristen di Inggris, dan juga atas bantuan John Wesley (pendiri gereja Methodis), akhirnya kehadiran Sekolah Minggu diterima oleh gereja. Mula-mula hanya oleh gereja Methodis, namun akhirnya juga oleh gereja-gereja Protestan lain. Ketika Robert Raikes meninggal dunia tahun 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Dari pelayanan anak ini, Inggris tidak hanya diselamatkan dari revolusi sosial, tapi juga diselamatkan dari generasi yang tidak mengenal Tuhan.
Gerakan Sekolah Minggu yang dimulai di Inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika. Dan dari para misionaris yang pergi melayani ke negara-negara Asia, akhirnya pelayanan anak melalui Sekolah Minggu juga hadir di Indonesia.
Ada beberapa alasan mengapa masa anak-anak menjadi masa yang istimewa dan penting untuk kita perhatikan.
Masa anak-anak adalah masa yang paling banyak diingat. Masa anak-anak diingat paling banyak dan membekas paling lama dibandingkan dengan masa-masa umur yang lain.
Masa anak-anak adalah masa di mana anak paling banyak belajar. Dunia anak-anak adalah dunia baru yang penuh dengan pengalaman-pengalaman baru yang menggairahkan untuk dijelajahi. Pengetahuan dan pengalaman apa saja yang disajikan di hadapan mereka akan mereka lahap. Masa anak-anak adalah masa yang haus untuk belajar.
Masa anak-anak adalah masa pembentukan yang paling mudah. Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh kepolosan karena hati mereka masih jujur dan bersih, belum banyak dicemari oleh dosa yang jahat. Kebiasaan-kebiasaan buruk belum terbentuk. Oleh karena itu, jika anak mendapat pengajaran yang baik di masa kecil maka hidup masa dewasanya akan jauh lebih mudah untuk dibentuk.
Para pelayan anak, khususnya yang ada di kota besar, sering dihadapkan pada situasi yang lebih rumit. Tidak semua anak yang dilayani adalah anak-anak yang ceria, polos, dan haus untuk belajar. Tidak jarang mereka datang dari lingkungan yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Banyak di antara mereka yang menjadi korban kejahatan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya.
Tantangan lain yang sering muncul justru dari gereja sendiri. Banyak gereja yang belum memberi perhatian serius terhadap pelayanan anak. Pelayanan anak seringkali hanya berfungsi sebagai tempat penitipan anak selagi orang tua mereka ada dalam kebaktian gereja. Gereja juga sering tidak memasukkan pelayanan anak sebagai bagian dari program gereja. Pada kenyataanya, anak-anak jemaat sebenarnya adalah generasi jemaat masa depan gereja. Oleh karena itu, jika gereja tidak memberikan perhatian kepada pelayanan anak, gereja sedang menghadapi masa depan yang suram.
Rencana Tuhan terhadap manusia meliputi rencana Tuhan terhadap anak-anak juga. Dalam Kejadian 1:28, Tuhan memerintahkan manusia untuk berkembang dan bertambah banyak. Tuhanlah yang membentuk manusia sejak dia masih bakal anak di dalam kandungan ibunya, sekaligus merancang kehidupan yang akan dilaluinya (Mazmur 139). Tuhan juga ingin memulihkan bangsa Israel dengan membentuk generasi baru yang bisa masuk ke tanah Kanaan (Bilangan 21:4-9). Tuhan juga merencanakan pembangunan Yerusalem baru yang penuh dengan anak-anak laki-laki dan perempuan yang bermain di jalanan (Zakaria 8:3).
Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, anak-anak yang lahir telah mewarisi dosa (Mazmur 51:7), dan anak-anak juga akan menghadap takhta pengadilan Allah (Wahyu 20:12-15). Oleh karena itu, anak-anak juga membutuhkan keselamatan dari Tuhan (Matius 18:14). Melalui kuasa kelahiran baru Roh Kudus, Tuhan memberikan rencana baru bagi manusia, termasuk anak-anak. Mereka akan bertumbuh menjadi milik kepunyaan-Nya dan berkarya bagi kemuliaan-Nya (Roma 11:36).
Anak-anak yang memiliki hati yang lemah lembut, merupakan tanah yang baik dan ladang yang paling cocok untuk ditanami kebenaran Alkitab. Alkitab pun mencatat bahwa anak-anak dapat percaya kepada Tuhan, dapat menyesali dosanya, dan dapat memeroleh keselamatan dari Tuhan, bahkan orang dewasa patut meneladani sikap anak-anak ini (Markus 10:15).
Sebagai pelayan Tuhan, kita telah dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam membentuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Melalui kita, Tuhan ingin agar anak-anak ini mengenal Pencipta mereka; bertemu dengan Dia dan diubahkan menjadi ciptaan baru. Pelayanan anak atau Sekolah Minggu tidak semata-mata dibentuk untuk mendidik mereka menjadi anak-anak manis yang mempunyai sikap baik budi. Itu bukan tujuan utama Tuhan bagi anak-anak. Tapi, pertama, mereka harus berjumpa secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Dan apa yang telah dimulai oleh-Nya, akan disempurnakan-Nya pula.
Pendidikan rohani melalui pelayanan anak dan Sekolah Minggu akan menjadi dasar pertumbuhan rohani seorang anak untuk dapat mengenal kebenaran Alkitab, menyembah dan memuji Tuhan, serta mengasihi pekerjaan-Nya. Apabila mereka telah dimenangkan, generasi selanjutnya juga telah dimenangkan karena merekalah penerus dan pemimpin generasi yang akan datang. Tidak bisa disangkal bahwa 50% anggota jemaat gereja pada umumnya berasal dari anggota Sekolah Minggu. Oleh karena itu, kita perlu melayani anak-anak dan memberi perhatian besar kepada mereka. Jika kita memenangkan anak-anak, kita tahu kita sedang memenangkan gereja masa depan.
"Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat" (Amsal 29:18). Pertanyaan: apakah yang mendasari didirikannya Sekolah Minggu di tempat Anda melayani? Sekolah Minggu tidak didirikan karena keinginan manusia saja. Allahlah yang menggerakkan manusia yang dikasihi-Nya untuk memiliki kerinduan menjangkau jiwa-jiwa "kecil" bagi kerajaan-Nya. Visi Sekolah Minggu adalah melihat jauh ke depan kepada kerinduan Allah untuk bersekutu dengan manusia, di antaranya adalah anak-anak yang masih muda belia, supaya melalui mereka kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan.
"Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu." (Matius 19:14). Pertanyaan: apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan untuk Sekolah Minggu tempat kita melayani? Melalui Sekolah Minggu kita ingin agar anak-anak dapat dengan bebas datang kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia menjadi Juruselamat pribadi mereka.
"Gembalakanlah domba-domba (kecil)-KU." (Yoh 21:18). SM bertujuan untuk:
menjadi sarana yang dapat dipakai Allah untuk mengumpulkan anak-anak dan memberitakan Firman Tuhan kepada mereka;
menjadi sarana agar anak-anak mendapat siraman kasih Allah melalui persekutuan yang diadakan;
menjadi sarana agar anak-anak dimuridkan dan menjadi alat bagi pelebaran kerajaan-Nya.
DOA
"Terima kasih Tuhan atas panggilan mulia yang Kau berikan padaku. Aku rindu menjadi hamba-Mu yang bertanggung jawab terhadap domba-domba kecil yang Kau percayakan kepadaku. Pakailah hidupku Tuhan." Amin
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | Training Guru Sekolah Minggu (GSM) |
| Nama Pelajaran | : | Kriteria Guru Sekolah Minggu |
| Kode Pelajaran | : | GSM-P02 |
DAFTAR ISI
Doa
Apakah untuk menjadi guru Sekolah Minggu (SM) dituntut persyaratan, kewajiban dan tanggung jawab tertentu? Jawabannya, tergantung dari bagaimana hasil yang diharapkan. Jika puas dengan hasil yang asal-asalan, guru SM tidak perlu dituntut memiliki hal-hal tersebut. Tetapi jika menginginkan hasil yang baik, maka guru SM perlu dituntut memiliki persyaratan, kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Dalam pelajaran kedua ini kita akan mencoba mempelajari dengan teliti kriteria seorang guru Sekolah Minggu agar kita dapat memberikan hasil yang maksimal dan berkenan kepada Tuhan.
Ada satu anggapan keliru yang beredar di kalangan masyarakat Kristen, yang mengatakan bahwa siapa saja bisa menjadi pelayan Tuhan. Karena Tuhan itu Maha Kasih, Ia pasti mau menerima siapa saja untuk melayani Dia. Memang benar bahwa Tuhan tidak memilih orang berdasarkan kepandaiannya, kebaikannya, atau kemampuannya saja. Namun demikian ini tidak boleh diartikan bahwa orang yang melayani Tuhan tidak perlu belajar keras, tidak perlu berusaha memberikan yang terbaik dan tidak perlu menjadi pandai. Mari kita renungkan ayat-ayat berikut ini.
"Janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." (Yakobus 3:1)
"Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan," (2 Timotius 2:24)
"Mereka (diaken/pelayan Tuhan) juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat." (1 Timotius 3:10)
"sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat (pelayan Tuhan) harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah ..." (Titus 1:7)
Dari sebagian ayat-ayat Alkitab di atas kita mengetahui bahwa Tuhan memiliki tuntutan yang cukup tinggi bagi mereka yang ingin melayani- Nya. Demikian juga untuk guru-guru SM, yang adalah hamba-hamba Tuhan. Di atas bahu guru SM tergantung masa depan generasi penerus jemaat/gereja Tuhan. Jika Tuhan telah memanggil Anda untuk menjadi guru SM, Tuhan berhak membentuk dan memperlengkapi Anda dengan kemampuan yang sesuai dengan panggilan yang telah Ia berikan. Tapi ini semua merupakan proses sehingga tidak berarti Anda harus sudah memiliki semua kemampuan terlebih dahulu baru boleh menjadi guru SM. Roh Kudus akan terus-menerus memimpin hidup kita supaya hidup kita semakin hari menjadi semakin sempurna seperti Kristus.
Secara ideal, berikut ini adalah syarat-syarat dasar yang harus diusahakan untuk dimiliki oleh seorang guru SM:
Memiliki hati yang baru (Yohanes 3:3; 1 Korintus 2:14; 2 Korintus 5:17). Guru SM haruslah seorang yang rohnya telah diperbarui oleh Roh Kudus atau sudah lahir baru. Guru SM yang mengenal Tuhan Yesus secara pribadi dan sungguh-sungguh mengalami kasih-Nya yang luar biasa akan dapat dengan mudah menceritakan kepada anak-anak yang dilayaninya siapakah Yesus yang sesungguhnya.
Memiliki hati yang lapar (1 Petrus 2:2; Yohanes 6:35). Guru SM haruslah seorang yang rindu memiliki hati yang selalu lapar dan haus akan Firman Tuhan. Dari persekutuannya dengan firman Tuhan, guru bertumbuh dan siap menjadi berkat karena hidupnya adalah seperti aliran air yang tidak pernah kering.
Memiliki hati yang taat (Filipi 1:21-22; Galatia 2:20-21). Hidup seorang guru SM adalah milik Kristus. Karena itu, hidupnya adalah hidup yang taat sebagai hamba yang setia dan rela menjalankan apa yang dikehendaki oleh Tuannya.
Memiliki hati yang disiplin (Roma 12:11; 2 Korintus 4:8). Guru SM harus bergumul untuk memiliki hati yang disiplin dan tidak tergoyahkan karena kesulitan. Guru juga harus berani memaksa diri untuk tidak hanyut dalam kejenuhan karena rutinitas belajar dan mengajar. Hati yang disiplin akan menolong kita untuk senantiasa melayani secara konsisten, berapi-api, dan terus memberikan kemajuan.
Memiliki hati yang mengasihi (Yohanes 3:16; Efesus 4:1-2). Guru SM yang telah mengalami kasih Tuhan akan sanggup mengasihi anak-anak didiknya, sekalipun kadang mereka nakal, bandel, dan sulit dikasihi. Setiap anak berharga di mata Tuhan. Kasih Tuhan memungkinkan kita untuk mau berkorban dan terus mengasihi dengan kasih yang tanpa pamrih karena pelayanan kita didorong oleh motivasi yang benar, yaitu mengasihi Tuhan dan anak-anak didik kita.
Memiliki hati yang beriman (Amsal 3:5; 2 Timotius 1:12). Guru SM harus senantiasa bersandar pada Tuhan dan bukan pada kekuatan sendiri. Ingatlah bahwa hidup kita bukanlah hidup karena melihat, tapi karena percaya bahwa semua kekuatan kita datangnya dari Dia yang memberinya dengan berkelimpahan.
Memiliki hati yang mau diajar (Yesaya 50:4; 1 Timotius 4:6). Sebelum guru SM melayani dan mengajar anak-anak, mereka harus terlebih dahulu mau belajar dan dilatih dengan pokok-pokok kebenaran firman Tuhan. Guru yang baik adalah juga murid yang baik dalam kebenaran. Oleh karena itu, seorang guru harus rendah hati bersedia dikritik dan ditegur supaya ia bisa terus lebih baik.
Memiliki hati yang suci (1 Petrus 1:15; 1 Timotius 4:12). Hidup suci adalah modal utama bagi seorang pelayan Tuhan yang ingin memberikan teladan hidup yang benar dan berkenan kepada Tuhan. Seorang pelayan Tuhan tidak akan membiarkan hidupnya dikotori oleh kebiasan buruk dan perbuatan-perbuatan dosa yang akan mempermalukan nama Tuhan.
Seorang guru SM baru dapat disebut guru yang baik apabila dia dengan sepenuh hati mau melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya. Ada tujuh hal yang dituntut dari seorang guru SM:
Mengajar (Teaching) -- 1 Timotius 2:7
Yang disebut "mengajar" adalah suatu proses belajar-mengajar (Teaching-Learning Proccess). Di dalam proses belajar mengajar ini, guru harus dapat mewujudkan perubahan dalam diri murid, baik perubahan dalam pengetahuan, pemikiran maupun sikap atau tingkah laku. Melalui Alkitab Paulus menyebutkan, dalam kehidupannya sebagai pengajar, ia menjadi alat Roh Kudus untuk mewujudkan perubahan atas diri orang lain: yang tadinya tidak percaya menjadi percaya; yang tadinya tidak memahami kebenaran menjadi memahami kebenaran; yang tadinya menentang sekarang taat.
Menggembalakan (Shepherding) -- Yehezkiel 34:2-6; Yohanes 10:11-18
Nabi Yehezkiel menegur gembala pada zaman itu yang tidak menunaikan kewajibannya dengan baik. Berbeda dengan yang kita lihat dalam Tuhan Yesus, seorang Gembala yang baik itu. Guru SM harus meneladani Yesus dalam menggembalakan domba-domba kecil-Nya. Seorang gembala memunyai hati yang rela berkorban. Meskipun menghadapi kesulitan, ia tidak akan meninggalkan dan membiarkan domba-dombanya sendirian; ia juga mengenal setiap dombanya, bahkan bersedia membawa domba yang masih berada di luar untuk masuk ke dalam kandangnya; ia pun wajib menyediakan makanan rohani untuk kebutuhan dombanya, termasuk kebutuhan intelektual, emosi dan mental.
Kebapaan (Fathering) -- 1 Korintus 4:15
Paulus berkata, "Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus Yesus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu." Banyak guru yang dapat memberi nasehat dan menegur, namun sedikit di antara mereka yang dapat merangkul, membesarkan, dan mendidik murid-muridnya dalam Injil. Seorang guru bukan hanya dapat menggurui, tapi juga dapat membagikan hati dan hidupnya sebagai seorang bapa yang mengasihi anaknya.
Memberikan Teladan (Modeling) -- 1 Korintus 11:1; Filipi 3:17; 1 Tesalonika 1:5- 6; 2 Tesalonika 3:7; 1 Timotius 4:11-13
Paulus, selaku guru, sangat berani menuntut orang-orang Kristen untuk meneladaninya sebagaimana ia telah meneladani Kristus. Paulus menasihati Timotius, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." Seorang guru akan memunyai pengaruh yang amat besar terhadap muridnya apabila ia terus memberi masukan positif yang dapat ditiru, baik dalam cara berpikirnya maupun tutur katanya. Oleh karena itu, seorang guru perlu selalu memerhatikan dirinya sendiri apakah ia patut menjadi teladan yang baik bagi muridnya.
Menginjili (Evangelizing) -- 1 Timotius 2:7
Selaku guru, Paulus mengajar orang untuk memercayai Kristus sebagai sasaran utamanya, demikian juga seharusnya seorang guru SM. Mengajar bukan hanya mengisi murid dengan kebenaran yang bersifat kognitif saja, tetapi terutama mengisi kebutuhan jiwa mereka dengan kasih dan iman yang menyelamatkan. Karena itu, bawalah anak-anak didik untuk mendengar berita Injil supaya keselamatan sampai kepada jiwa mereka.
Mendoakan (Praying) -- 2 Tesalonika 1:11-12
Kewajiban lain dari seorang guru SM adalah mendoakan muridnya satu per satu dengan menyebut nama dan kebutuhan mereka masing-masing. Yakinkan bahwa Anda cukup dekat dengan mereka sehingga tahu apa yang harus didoakan; apakah itu untuk keluarganya, sekolahnya, atau lingkungan masyarakat tempat pergaulan mereka, dll. Mereka sangat membutuhkan pertolongan Allah dan Andalah yang akan ikut memperjuangkannya.
Meraih Kesempatan (Catching) -- 2 Timotius 4:2
Satu hal penting lain yang harus dipenuhi oleh guru SM adalah meraih kesempatan. Manusia di dunia ini tidak hidup dalam kekekalan. Kesempatan sering datang hanya sekejap dan dalam waktu yang tidak diduga. Bila guru SM sanggup memanfaatkannya, walaupun mungkin hanya dengan sepatah kata atau satu sikap, mungkin juga dengan satu doa syafaat, hal ini dapat memberikan pengaruh kekal bagi murid-muridnya. "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran".
Jika kita diberikan karunia mengajar, Tuhan ingin kita menggunakannya dan mengembangkannya secara maksimal bagi kemajuan pekerjaan-Nya dan kedewasaan iman kita. Milikilah kerinduan untuk terus belajar sehingga pelayanan kita semakin efektif dan strategis. Untuk itu, marilah sekali lagi kita melihat dengan lebih jelas teladan yang telah diberikan oleh Yesus, Sang Guru Agung kita.
Yesus memiliki panggilan yang jelas.
Yesus datang dari Allah karena itu Ia tahu persis untuk apa Dia datang (Yohanes 7:16-17). Demikian juga seorang guru SM harus tahu panggilannya untuk mengajar, membimbing dan menuntun anak-anaknya dalam pengenalan mereka kepada Tuhan.
Yesus menjalankan disiplin rohani.
Yesus dalam banyak kesempatan membuktikan bahwa Ia memiliki hubungan yang intim dengan Bapa-Nya yang di surga. Seorang guru SM yang tidak akrab dengan firman Tuhan, tidak menjalankan kehidupan doanya dengan tekun dan tidak memiliki disiplin rohani lainya, maka tidak mungkin ia memiliki kekuatan untuk bertahan.
Yesus membiarkan anak-anak datang kepada-Nya.
Yesus mengasihi anak-anak dan ingin mereka datang kepada-Nya (Mat. 18:2-5). Guru SM mengasihi anak-anak bukan karena mereka baik, lucu dan menyenangkan. Mereka juga mengasihi ketika anak-anak tidak pantas dikasihi karena guru SM memiliki kasih Kristus yang dapat mengasihi tanpa pamrih.
Yesus menggunakan beragam metode.
Dia mengajar, memimpin diskusi, mengajukan pertanyaan, bercerita, menggunakan kehidupannya sehari-hari sebagai bahan ilustrasi dan bertatap muka secara langsung dengan orang-orang yang dijumpainya. Guru SM harus terus belajar supaya kemampuan dan ketrampilannya dalam mengajar semakin bertambah.
Yesus mengajar dengan penuh kuasa.
Tidak seperti para ahli Taurat dan orang Farisi, banyak orang melihat Yesus mengajar dengan penuh kuasa. Jika seorang guru SM mengajar hanya sebatas dengan pengetahuannya dan kemampuannya berbicara saja maka apa yang diajarkan tidak akan membawa dampak yang kekal. Ketergantungannya pada karya Roh Kudus untuk membuat apa yang diajarkan menjadi hidup dan dipakai oleh Allah harus menjadi kesadaran utama seorang guru.
DOA
"Tuhan Yesus, aku sadar aku bukan orang yang cukup layak untuk menjadi seorang guru bagi anak-anak. Tetapi aku mau belajar menjadi guru yang baik seperti yang Kau teladankan. Tolonglah aku, ya Tuhan. " Amin
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | Training Guru Sekolah Minggu (GSM) |
| Nama Pelajaran | : | Mengenal Anak |
| Kode Pelajaran | : | GSM-P03 |
DAFTAR ISI
Doa
Murid adalah bagian sentral dalam pelayanan SM, karena anaklah yang menjadi objek dalam pelayanan. Karena itu kita perlu mengenal mereka dengan baik supaya target dan sasaran pelayanan bisa tercapai dengan baik. Tanpa mengenal mereka maka kita tidak tahu apa yang menjadi kebutuhan utama mereka, bagaimana mereka belajar dan bagaimana menjangkau mereka.
Walaupun setiap anak adalah unik, namun Alkitab berkata bahwa seorang anak adalah manusia utuh yang memiliki karakteristik rohani yang sama, yaitu:
Anak adalah karunia Tuhan.
Memang setiap anak lahir dari seorang ayah dan ibu, namun demikian terbentuknya anak dalam kandungan adalah karya keajaiban yang semata-mata hanya dapat terjadi karena kehendak Tuhan. Karena itu seorang anak yang lahir adalah karunia Tuhan sekalipun kadang-kadang kelahirannya tidak dikehendaki oleh kedua orang tuanya.
Anak adalah berharga di mata Tuhan.
Sikap Tuhan Yesus ketika menyambut anak-anak menunjukkan bahwa anak-anak tidak pernah dipandang sebelah mata oleh Tuhan. Anak-anak disambut dan diberkati sebagai seorang pribadi yang perlu dilayani dan diperhatikan karena jiwa mereka berharga di mata Tuhan.
Anak adalah manusia yang berdosa.
Setiap anak adalah ciptaan Tuhan yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Namun gambar dan rupa Allah tersebut rusak setelah kejatuhan manusia dalam dosa. Sejak itu setiap manusia adalah berdosa di mata Tuhan, termasuk anak-anak. Mereka lahir di dunia sebagai orang berdosa yang suatu ketika nanti akan menerima penghukuman yang kekal.
Anak adalah manusia yang memerlukan keselamatan.
Puji Tuhan, bahwa keselamatan melalui darah Kristus juga disediakan bagi anak-anak. Melalui pemberitaan Injil, Roh Kudus dapat memampukan mereka untuk menerima kelahiran baru dan mendapatkan hidup yang baru dalam Kristus.
Macam-macam kebutuhan anak
Ada kebutuhan umum yang dimiliki oleh setiap anak. Namun demikian masing-masing anak memiliki derajat dan standard kebutuhan yang berbeda-beda tergantung dari latar belakang keluarga, kebiasaan, pendidikan dan lingkungan dimana ia dibesarkan.
Kebutuhan akan kasih dan perhatian
Dengan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya anak akan tumbuh menjadi orang-orang yang mampu menerima dirinya dengan baik dan peduli dengan lingkungannya.
Kebutuhan akan rasa aman dan sejahtera
Anak yang memiliki rasa aman akan tumbuh dengan kepribadian yang tegar dan keberanian untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang datang dalam hidupnya.
Kebutuhan akan pendidikan dan pengajaran
Dengan pendidikan dan pengajaran yang tepat anak akan tumbuh dengan kemampuan yang maksimal dan potensi yang tergali serta moral yang baik untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di sekitarnya.
Kebutuhan akan kebebasan untuk mengekspresikan diri
Potensi maksimal bisa tercapai jika anak ditempatkan dalam kondisi yang kondusif untuk bebas berekspresi. Kebebasan ini adalah kebebasan positif yang diwujudkan dalam bentuk kata-kata, tulisan, gambar dll.
Kebutuhan akan rasa diterima dan dihargai
Perasaan diterima dan dihargai sangat dibutuhkan anak agar anak memiliki citra diri yang positif dan rasa percaya diri yang kuat.
Tips mengenal kebutuhan anak SM
Supaya dapat lebih memahami kebutuhan dan keperluan murid-murid, ada baiknya seorang guru SM memperlengkapi diri dengan membuat catatan khusus mengenai kondisi dan kebutuhan murid-muridnya.
Di bawah ini ada beberapa langkah sederhana yang dapat Anda lakukan untuk dapat semakin "mengenal" murid-murid Anda:
Mengadakan kunjungan ke rumah murid dan bertemu dengan keluarganya.
Memperhatikan murid ketika dia sedang mengadakan kegiatan bersama murid lain, misalnya amatilah bagaimana ia berinteraksi, bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berbicara, dll.
Memberikan kegiatan dimana murid dapat bercerita mengenai keluarganya, hobinya dan kegiatan-kegiatan yang disukainya.
Memberikan perhatian khusus kepada anak, misalnya: memberikan pelajaran tambahan, memberikan hadiah/perhatian pada hari ulang tahunnya, mengajak ke toko buku atau pameran, mengunjungi ketika sakit, dll.
Mencatat peristiwa-peristiwa khusus yang terjadi ketika bersama dengan anak, misalnya: melihat ekspresi anak ketika sedih, kecewa, marah, gembira, antusias, dll.
Berikut adalah pembedaan karakteristik umur anak sesuai dengan keadaan jasmani, mental, sosial, emosi dan rohani.
DOA
"Tuhan Yesus, aku bersyukur Engkau tolong aku untuk mengenal anak-anak yang Engkau percayakan kepadaku. Ajarlah aku untuk mengasihi mereka, baik melalui kelebihan-kelebihan mereka atau kekurangan-kekurangan mereka. Berilah aku kesabaran untuk melihat mereka bertumbuh sebagaimana Engkau melihatnya. Amin.
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]
Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | Training Guru Sekolah Minggu (GSM) |
| Nama Pelajaran | : | Hakekat Mengajar |
| Kode Pelajaran | : | GSM-P04 |
DAFTAR ISI
Doa
Seluruh kegiatan Sekolah Minggu sebenarnya berpusat pada kepentingan gereja dalam mengajar kebenaran firman Allah kepada anak-anak yang dididiknya. Oleh karena itu, hakekat mengajar (apa dan bagaimana cara mengajar) ditentukan oleh kepentingan sentral ini. Oleh karena itu, jika kegiatan Sekolah Minggu (apapun bentuknya) tidak dipusatkan untuk kepentingan mengajar kebenaran firman Tuhan, maka seringkali Sekolah Minggu tidak ubahnya seperti tempat penitipan anak atau taman hiburan bagi anak. Pelajaran 4 ini diharapkan dapat menolong setiap guru untuk mengerti apa yang Alkitab katakan tentang mandat mengajar, apa tujuan SM mengajar dan apa saja yang dapat diajarkan oleh guru.
Ada dua pertanyaan penting yang harus dijawab dalam mandat mengajar:
Pertama, adalah atas fondasi apa mandat mengajar didasarkan?
Kedua, adalah siapa saja yang berperan serta dalam melaksanakan mandat mengajar?
Dasar panggilan mengajar bagi gereja Tuhan adalah Alkitab.
Matius 28:18-20
Berdasarkan Matius 28:18-20, kita tahu bahwa Kristuslah yang memberikan mandat mengajar bagi umat Kristen, khususnya guru-guru SM.
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Mandat mengajar yang disebutkan dalam dari ayat di atas seharusnya membuat orang Kristen sangat tersentuh karena menyadari bahwa saat ini gereja masih membutuhkan jutaan guru SM, bukan hanya untuk mengajar umat Tuhan dari segala bangsa dan segala tempat di seluruh dunia tentang pengetahuan Alkitab, tapi juga untuk mengajarkan anak-anak SM bagaimana hidup menjadi murid-murid Kristus yang taat dan setia kepada Gurunya.
"Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
Panggilan Allah 2000 tahun y.l. ini masih berlaku hingga sekarang. Ayat ini sangat istimewa karena merupakan dasar panggilan Allah untuk menjadikan guru SM sebagai kawan sekerja-Nya. Sebuah panggilan yang sangat terhormat karena guru-guru SM diberikan kesempatan untuk menemukan mutiara-mutiara mentah yang kalau digosok akan menjadi batu permata yang sangat berharga.
Untuk mandat mengajar ini terlaksana, guru SM tidak dapat melaksanakannya sendiri. Oleh karena itu, perlu dipahami juga peserta lain dalam melaksanakan mandat mengajar:
Dalam proses belajar mengajar di SM, Roh Kuduslah yang sebenarnya mengambil peran yang paling penting. Sebaik dan sepandai apapun guru SM tidak akan mungkin dapat mengubah hati manusia kecuali Roh Kudus campur tangan. Roh Kuduslah yang mampu membuka hati anak-anak SM sehingga mereka mengalami kuasa firman Tuhan dalam hidupnya.
Guru SM yang memiliki dedikasi tinggi akan melihat bahwa tugas menjalankan SM bukanlah sekedar membimbing dan mentransfer informasi tentang Alkitab ke dalam pikiran anak-anak SM. Tugas guru yang utama adalah menciptakan kondisi yang kondusif agar Roh Kudus bisa bekerja leluasa mengisi hati anak-anak SM dengan kebenaran firman Tuhan.
Murid adalah objek utama dalam mencapai tujuan mengajar. Tanpa murid maka gereja tidak dapat mengukur apakah mereka telah berhasil menjalankan mandat mengajar. Karena itu dalam mengajar guru harus ingat bahwa tujuan mengajar bukanlah bagi kesenangan anak semata, tetapi bagi menjalankan panggilan Tuhan untuk membawa anak-anak SM kembali kepada Penciptanya.
Jika pusat kegiatan Sekolah Minggu adalah untuk menjalankan mandat mengajar yang diberikan Tuhan kepada gereja-Nya maka gereja memiliki tujuan utama mengajar yang jelas, yaitu memenuhi panggilan Allah untuk menjadikan anak-anak SM sebagai murid-murid-Nya. Namun demikian tujuan utama ini tentu perlu dijabarkan kedalam beberapa tujuan mengajar yang lebih terukur sehingga pencapaiannya dapat diamati dengan jelas.
Guru-guru SM yang telah lahir baru mengerti bahwa tujuan mengajar anak bukanlah sekedar menjadikan mereka anak-anak yang manis-manis dan tidak nakal, tetapi untuk membawa mereka kepada Kristus supaya mereka dijamah Tuhan dan mengalami hidup yang berkelimpahan, yaitu hidup baru di dalam Kristus.
Sementara mengajar, guru SM harus ingat bahwa apa yang diajarkan kepada anak-anak haruslah nilai-nilai iman Kristen yang bernilai kekal yang tidak akan luntur oleh waktu dan jaman. Nilai-nilai iman Kristen tersebut, tidak lain dan tidak bukan, adalah pengajaran- pengajaran firman Tuhan yang berdasar pada prinsip-prinsip Alkitab.
Suatu kehormatan bagi seorang guru SM jika ia dipercayakan Tuhan untuk mengajar anak-anak, karena jika yang diajarkan guru kepada anak SM adalah prinsip-prinsip firman Tuhan, maka Tuhan akan memakainya untuk membentuk hidup dan masa depan anak. Dengan cara demikian guru SM telah menjadi kawan sekerja Allah untuk menuntun anak mendapatkan prinisp-prinsip dalam menemukan kehendak Allah bagi hidupnya.
Untuk dapat mencapai tujuan mengajar yang sudah dijabarkan sebelumnya, maka gereja Tuhan harus memberi perhatian yang ketat pada bahan-bahan apa yang dipakai Sekolah Minggu untuk mengajar Kebenaran firman Tuhan. Menyeleksi bahan-bahan mengajar merupakan salah satu faktor penting yang akan mendukung kesuksesan pelayanan Sekolah Minggu. Untuk itu akan sangat baik jika kita perhatikan sumber-sumber utama dan sumber-sumber pendukung dalam mengajar SM.
Bahan sumber utama ini harus dimiliki guru untuk menjadi bagian utama dalam hidup dan pelayannnya sebagai guru SM.
Alkitab adalah sumber utama yang harus menjadi dasar dan pedoman utama dalam mengajar. Karena itu untuk mengajar dengan baik guru harus mempelajari Alkitab secara sistematik dan menguasai garis besar isi Alkitab. Jika guru SM tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Alkitab maka akan sulit bagi guru untuk menilai apakah prinsip-prinsip ajaran yang diberikan kepada anak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan atau tidak.
Secara ideal, gereja setempat seharusnya menyediakan buku Kurikulum Sekolah Minggu yang dibuat sendiri oleh tim Pembina gereja sehingga apa yang diajarkan di SM adalah sesuai dengan garis-garis pengajaran gereja (dogma gereja) dan program gereja. Namun hal ini masih sulit dilaksanakan di gereja-gereja di Indonesia karena terbatasnya orang-orang yang mampu membuatnya. Oleh karena itu, banyak sekali gereja yang membeli buku Kurikulum Pelajaran yang sudah jadi yang umumnya dibuat oleh lembaga pelayanan anak dan dijual di toko-toko buku Kristen. Di Indonesia, buku-buku Kurikulum Pelajaran SM yang banyak beredar, misalnya: Suara Sekolah Minggu, Buku Pintar Sekolah Minggu, dll.
Untuk menjamin bahan kurikulum ini dapat dipakai dengan baik oleh guru, sangat penting SM menyediakan waktu dimana guru-guru SM dapat bertemu (minimal seminggu sekali) untuk membicarakan tentang persiapan mengajar. Selain menjadi kebiasaan bagi guru untuk disiplin dalam menyiapkan pelajaran, waktu pertemuan ini juga sangat bermanfaat untuk guru bisa saling belajar dan berbagi berkat dan pergumulan untuk menambah semangat dalam melayani.
Sekalipun sangat penting, namun gereja pada umumnya masih belum menyediakannya bagi guru. Buku Pedoman Guru ini berisi pokok-pokok penting pelayanan SM yang harus diketahui oleh guru sebelum (juga sesudah) terlibat dalam pelayanan SM. Diantaranya mencakup tentang visi, misi dan tujuan SM setempat, juga informasi singkat tentang sejarah berdirinya SM gereja setempat dan perkembangannya hingga sekarang (berapa jumlah kelas, jumlah guru, jumlah anak dan fasilitas yang dimiliki SM, statistik SM, kegiatan-kegiatan yang pernah diadakan SM, dll). Selain itu, bagian penting lain yang harus ada dalam buku pedoman guru ini adalah prinsip-prinsip penting yang harus diketahui guru dalam mengajar dan juga aturan-aturan SM yang harus diikuti dan diperhatikan SM. Jika memungkinkan bisa dilampirkan lembaran komitmen guru yang ditandatangani guru yang bersangkutan untuk menjadi pengingat akan kesediaannya dalam melayani di SM.
Bahan sumber pendukung ini penting dimiliki oleh guru secara pribadi, namun jika belum memungkinkan SM dapat menyediakannya di perpustakaan guru SM/gereja sehingga guru dapat memakainya sewaktu-waktu. Buku-buku bahan pendukung tersebut adalah:
Buku-buku ini sangat penting digunakan oleh guru untuk menolongnya dapat menginterpretasi dan mengajarkannya dengan fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Buku-buku tersebut antara lain: Konkordansi, Kamus Alkitab, Peta Alkitab, Tafsir Alkitab, Ilustrasi Kotbah dll.
Buku-buku ini akan menolong guru SM untuk belajar sendiri tentang pokok-pokok penting iman Kristen sehingga guru memiliki fondasi iman yang kuat dan alkitabiah. Namun karena ada berbagai aliran sistem teologia, maka guru perlu memilih buku-buku yang sesuai dengan sistem pengajaran gereja setempat.
Buku-buku praktika ini penting bagi guru SM untuk menambah wawasan, kemampuan dan ketrampilan dalam mengajar. Dalam bentuk lain, secara rutin gereja bisa menolong guru-guru dengan memberikan training/seminar/workshop yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar dan mengelola kelas.
Di dalam buku tulisan John Milton Gregory, yang berjudul "Tujuh Hukum mengajar" terdapat prinsip hukum-hukum mengajar yang sangat berguna bagi guru SM untuk mempelajari dan menerapkannya ketika ia mengajar. [Silakan membaca penjelasan poko ini secara lebih detail dalam bahan-bahan Referensi Pel. 4]
Pengajar/Guru harus tahu dan menguasai apa yang diajarkan.
Murid harus memiliki gairah untuk memperhatikan dan menyerap sebanyak mungin pelajaran yang diberikan.
Guru harus memakai bahasa yang sesuai dengan kemampuan murid; singkat, pendek dan sederhana.
Bahan mengajar haruslah membangun dari apa yang sudah ada, artinya murid harus sudah menguasai pelajaran yang lalu (lama) sebelum diberikan pelajaran yang baru.
Guru membantu murid untuk mandiri, artinya menolong murid untuk dapat menemukan sendiri kebenaran dan mengembangkannya untuk kebutuhannya yang lebih pribadi.
Pelajaran yang diberikan kepada murid harus diberikan dalam suasana yang kondusif agar dapat dimengerti, diterima dan dilaksanakan.
Ujian/test harus diberikan untuk meneguhkan hasil yang telah dicapai.
DOA
"Terima kasih Tuhan untuk hikmat yang Kau berikan, sehingga aku boleh dipakai Tuhan untuk menjadi kawan sekerja-Mu dalam membimbing anak- anak kecil ini untuk bertemu dan mengenal-Mu secara pribadi. Biarlah Engkau terus bimbing aku agar aku bisa menggali Kebenaran-Mu untuk aku ajarkan kepada anak-anak-Mu ini. Amin"
[Catatan: Tugas Pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b
| Nama Kursus | : | Training Guru Sekolah Minggu (GSM) |
| Nama Pelajaran | : | Teknik Memimpin Kebaktian Sekolah Minggu |
| Kode Pelajaran | : | GSM-P05 |
DAFTAR ISI
Doa
Pada pelajaran ini, kita akan membahas hal-hal praktis (teknis) tentang bagaimana menjalankan kebaktian di Sekolah Minggu. Secara sistematis, kita akan membahas kegiatan-kegiatan yang bisa/biasa dilakukan sepanjang kebaktian SM dan juga persiapannya.
Kelas persiapan sebaiknya dilakukan beberapa hari sebelum hari Kebaktian SM. Ada banyak kepentingan untuk mengadakan pertemuan kelas persiapan. Diantaranya:
Usahakan agar guru SM (dan anak-anak SM yang terlibat dalam kebaktian) datang 15 menit sebelum acara kebaktian dimulai. Waktu 15 menit ini akan digunakan secara efektif untuk mempersiapkan awal kebaktian yang baik, antara lain:
Guru-guru dan semua anak yang terlibat dalam kebaktian berdoa bersama, khususnya untuk memohon agar Tuhan memimpin dan memberkati kebaktian dari awal hingga akhir. Mohon pertolongan Tuhan agar setiap guru/anak yang bertugas dipakai Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya.
Anak-anak bergantian dilibatkan dalam tim penyambutan, untuk menyambut setiap anak yang datang di kebaktian dengan memberikan salam dan jabatan tangan sebagai tanda persaudaraan.
Melakukan absensi sebaiknya dilakukan ketika anak datang, sehingga guru dapat bertemu dengan anak-anak secara pribadi.
Pujian di kelas Sekolah Minggu dapat membawa pengaruh yang besar bagi seluruh jalannya kebaktian, terutama untuk memuji Tuhan dan mempersiapkan hati anak dalam menerima Firman Tuhan. Apabila suasana puji-pujian monoton dan lesu, maka anak maupun guru akan sulit untuk membangun suasana ibadah yang penuh sukacita.
Ketua SM atau Pemimpin Pujian perlu memberikan kata-kata sambutan dan salam selamat datang kepada semua anak sebelum kebaktian dimulai. Berikan kata-kata positif yang penuh semangat supaya anak-anak berantisipasi menikmati kebaktian SM.
Ciptakan suasana yang riang gembira, karena itulah sifat anak-anak yang selalu dibawa dimanapun mereka berada. Nyanyikan lagu- lagu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Jangan lupa memberi penjelasan kepada anak-anak tentang isi lagu yang dinyanyikan supaya anak tidak hanya asal menyanyi tetapi menghayati kata-kata pujian yang dinyanyikan. Berikan kata-kata penyemangat di sela lagu-lagu, tapi hindarkan kecenderungan untuk berkotbah.
Mengajak anak-anak berinteraksi dan berpartisipasi secara kreatif selama acara pujian sangat menolong sehingga mereka tidak membuat keributan (karena bosan). Misalnya, menyanyi bersahut-sahutan, memperbolehkan anak memilih lagu, maju ke depan untuk memuji Tuhan berdua/bertiga/berempat, menyanyi dengan gerakan, menyanyi dengan aneka variasi tepuk tangan, dengan boneka, dll. Kreasi-kreasi tersebut dapat digabung agar suasana pujian menjadi semakin menarik. Silakan membuat kreasi sendiri atau belajar dari orang lain untuk membangun suasana pujian yang indah. Tutuplah dengan lagu penyembahan/lembut dan doa untuk menenangkan hati anak untuk dapat mendengarkan Firman Tuhan dengan tenang.
Beberapa hal penting yang harus dihindari oleh pemimpin pujian:
Acara persembahan lebih baik dilakukan pada tengah-tengah acara pujian supaya anak-anak diajar untuk memberi dalam suasana pujian yang riang gembira. Ada berapa variasi metode yang bisa dilakukan untuk acara persembahan, misalnya mengucapkan ayat hafalan sehingga anak diingatkan dengan ayat firman Tuhan pentingnya memberi dengan sukacita. Bisa juga diiringi dengan pujian yang sesuai. Pada acara persembahan ini sangat disarankan agar gurupun ikut memberikan persembahan supaya menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.
Kantong persembahan bisa juga diedarkan sebelum Acara Cerita (Firman Tuhan) atau sesudahnya. Tapi agar tidak menganggu acara penyampaian Firman Tuhan, mengedarkan kantong persembahan ditengah-tengah acara pujian lebih dianjurkan.
Banyak guru (terutama guru baru) takut untuk bercerita di depan kelas, karena selain harus bisa membawakan cerita dengan menarik, ia pun harus bisa mempesona anak sehingga anak mendengarkan cerita dengan perhatian hingga selesai. Bercerita sebenarnya adalah suatu ketrampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh semua guru. Kalau guru SM mengerti dan menguasai prinsip-prinsip bercerita yang efektif, maka bercerita di depan kelas tidak akan lagi menjadi hal yang menakutkan.
Tidak ada guru yang cukup bodoh untuk mau bercerita di depan kelas tanpa terlebih dahulu melakukan persiapan. Sepandai-pandainya guru bercerita, ia tetap harus melakukan persiapan. Persiapan apa yang perlu dilakukan guru?
- Mengidentifikasi cerita dengan baik.
- Membuat garis besar cerita.
- Review fakta-fakta dalam cerita (sampai betul-betul hafal).
- Berlatihlah bercerita (imajinasikan cerita tersebut dengan mata tertutup dan melihat diri Anda bercerita).
Waktu bercerita adalah waktu yang paling berharga karena saat inilah guru SM menaburkan benih kebenaran Firman Tuhan dalam hati anak-anak, karena itu gunakan waktu ini sebaik-baiknya. Untuk mencapai hasil yang maksimal berikut beberapa hal penting yang harus diingat guru ketika menyampaikan cerita:
- Karakter (Tokoh utama dalam cerita).
- Problem (Peristiwa yang dialami tokoh utama).
- Aksi (Respon dari tokoh utama).
- Akhir cerita (Bagaimana tokoh utama menghadapi probemnya)
Sesuai dengan perkembangan usia anak-anak, maka ada kareakteristik unik yang bisa dikenali guru dan menggunakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal:
Masalah yang terbesar adalah anak pada usia ini belum bisa berkonsentrasi dalam waktu yang lama, karena itu guru harus bisa menarik perhatiannya sehingga bisa berkonsentrasi lebih lama.
- Harus berbicara dengan suara keras dan bervariasi (misalnya memakai jenis suara yang berbeda untuk masing-masing tokoh yang berbicara)
- Hindari cerita yang memerlukan lebih dari satu pokok pikiran, karena itu cerita harus pendek dan sederhana. Harus menggunakan banyak ekspresi wajah/mimik muka, khususnya mata.
- Banyak melakukan interaksi supaya mereka terlibat, misalnya bertanya atau minta mereka menirukan.
- Karena anak usia ini sulit duduk diam, maka guru harus sering mengajaknya bergerak, mis. berdiri, berputar dll.. Pakailah alat peraga untuk menarik perhatian mereka.
Konsentrasi anak usia ini sudah lebih panjang (10-15 menit), tapi daya imaginasi mereka sangat tinggi dan keinginan tahu mereka sangat besar sehingga mereka sering hidup dalam dunianya sendiri, kecuali bila guru bisa menarik perhatiannya dengan tepat.
- Berikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan cerita, misalnya memberikan pertanyaan sesudah usai cerita.
- Hubungkan cerita dengan hal-hal yang menarik perhatian mereka atau pengalaman-pengalaman mereka.
- Jangan mudah terganggu dengan pertanyaan yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah guru bercerita. Layanilah pada batas- batas tertentu untuk memuaskan keinginan tahu mereka.
- Selipkan humor atau teka-teki dalam cerita Anda agar suasana tidak membosankan mereka.
- Lakukan interaksi sesudah selesai bercerita misalnya dengan menunjukkan gambar-gambar, buku dll.
Jiwa petualangan bertumbuh pesar pada usia ini. Memberikan tantangan-tantangan kecil selalu akan disambut dengan baik.
- Rangsang pikiran mereka dengan pokok-pokok diskusi dari cerita yang disampaikan.
- Bercerita sambil melakukan penyelidikan Alkitab akan sangat menarik bagi kelas Madya.
- Memberi pertanyaan lebih banyak dan tunjukkan semangat. Beri perhatian ekstra kepada mereka yang bandel dan suka mengganggu pada saat Anda bercerita.
- Anak kelas Madya sangat suka dianggap dewasa. Terbukalah dengan mereka dan ceritakan sedikit kehidupan pribadi yang patut diteladani mereka.
- Berceritalah sebagaimana layaknya seorang detektif, karena mereka suka menebak-nebak.
- Anak Madya biasanya menjadi pemuja pahlawan. Mereka pasti tertarik dengan cerita kepahlawanan dalam Alkitab, seperti Daud, Ester, Debora, Daniel, dsb.
Berdoa sebaiknya menjadi acara puncak sesudah acara cerita (Firman Tuhan), karena di dalam doa ini anak dapat langsung merelasikan apa yang sudah diajarkan dengan Tuhan dan meresponinya. Ajarkan kepada mereka bahwa berdoa bukanlah sekedar minta-minta, tapi berkomunikasi dengan Allah secara pribadi, sebagaimana berbicara kepada sahabat.
Pada saat berdoa, guru akan menuntun anak-anak mengarahkan hati kepada Tuhan dan memberi respon atas Firman Tuhan yang telah didengar. Untuk anak-anak kecil, guru dapat menuntun mereka dengan memimpin doa dan anak-anak menirukannya. Untuk anak-anak yang lebih besar guru dapat menunjuk salah seorang anak untuk memimpin doa dengan diberikan beberapa pokok doa sebelumnya.
Pada acara doa ini, selain untuk meresponi Firman Tuhan, guru/anak juga bisa menambah pokok doa lain, misalnya:
Karena doa adalah waktu istimewa bertemu dengan Tuhan maka tanamkan beberapa prinsip-prinsip penting dalam acara doa bersama:
Acara Kebaktian SM bisa ditutup dengan guru berdiri di depan pintu keluar untuk memberi salam kepada anak-anak yang pulang. Bagi anak yang lebih besar, guru bisa melibatkan mereka untuk berpartisipasi membersihkan ruangan dan alat-alat yang dipakai dalam kebaktian. Lalu tutuplah dengan doa bersama, khususnya mereka yang bertugas dalam kebaktian, untuk mengucap syukur atas pimpinan Tuhan.
DOA
"Tuhan, terima kasih untuk kesempatan istimewa yang Engkau berikan kepadaku agar bisa dipakai untuk mengajarkan kebenaran kepada anak- anak. Ini merupakan suatu tugas istimewa, ajar aku untuk selalu mempersiapkan setiap pelayanan dengan kesungguhan hati. Amin."
[Catatan: Tugas Pertanyaan ada di lembar terpisah.]
Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | Training Guru Sekolah Minggu (GSM) |
| Nama Pelajaran | : | Administrasi Sekolah Minggu |
| Kode Pelajaran | : | GSM-P06 |
DAFTAR ISI
Doa
Pengelolaan administrasi Sekolah Minggu sangat dibutuhkan mengingat Sekolah Minggu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebuah sekolah (dalam skala yang lebih kecil). Jika pengelolaan administrasi SM dilaksanakan dengan baik maka akan memberi dampak yang positif terhadap perkembangan SM selanjutnya. Sebaliknya, jika administrasi SM tidak terurus maka masa depan perkembangan SM juga akan suram. Hal ini tidak berarti kita mengecilkan peranan Roh Kudus dalam perkembangan pelayanan SM, namun Roh Kudus adalah Roh yang tertib, pengaturan SM yang baik akan menciptakan kondisi yang sehat bagi Roh Kudus untuk bekerja lebih leluasa.
Pentingnya peranan administrasi SM tidak dapat dilepaskan dari bagaimana gereja memandang pelayanan SM. Jika gereja menganggap SM sebagai bagian integral dari pelayanan gereja, maka secara kedudukan, SM pasti memiliki tempat dalam stuktur organisasi gereja. Namun, lepas dari pandangan gereja, SM seharusnya merupakan bagian dari struktur gereja sehingga program-progam yang dijalankan SM pun harus sejalan dengan program-program gereja. Demikian juga dalam hal kepengurusan SM, gereja sedikit banyak akan memiliki andil dalam penentuan kepengurusan SM, baik dalam hal bentuk stuktur organisasinya ataupun pemilihan personilnya.
Oleh karena itu, agar administrasi SM bisa berjalan dengan baik maka hal pertama yang harus dilakukan adalah membicarakan kejelasan kesepakatan kedudukan antara gereja dan SM. Jika tercapai kesepakatan maka hal ini akan sangat menolong kelancaran pelaksanaan administrasi SM di masa yang akan datang. Karena setiap gereja memiliki struktur dan kebijakan yang berbeda terhadap pelayanan SM, maka apa yang akan kita bahas selanjutnya adalah kerangka besar pelayanan administrasi secara umum. Jadi dalam praktek, pelaksanaan tiap-tiap SM pasti akan berbeda-beda, karena harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan yang ada.
Tidak dapat disangkal bahwa dalam penyelenggaraan organisasi apapun, termasuk dalam pelayanan SM, selalu ada beberapa unsur yang menjadi komponen penting dalam organisasi. Dalam hal organisasi SM, kita akan membicarakan 3 hal utama, yaitu: Kepengurusan SM, Program SM dan Kelas SM.
Sekolah Minggu bisa terlaksana dengan baik karena adanya orang-orang yang mengurusnya. Kepengurusan SM ini dibagi dalam beberapa jenjang sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Sekalipun tiap gereja menggunakan istilah-istilah yang berbeda dalam kepengurusan SMnya, namun pada dasarnya memiliki kesamaan dalam menjalankan fungsinya. Berikut adalah kepengurusan yang biasa ada dalam SM.
Kepemimpinan kepengurusan SM, biasanya terdiri dari 3 personil Pengurus Inti, yaitu Ketua, Sekretaris dan Bendahara (bisa ditambah wakil Ketua), yang secara keseluruhan memiliki tugas utama, a.l.:
- Bertanggung jawab atas pembuatan rencana tahunan/rutin untuk program/kegiatan, keuangan dan administrasi SM.
- Bertanggung jawab atas jalannya kelancaran seluruh pelaksanaan kegiatan/program SM, juga keuangan dan administrasi SM.
- Memberi pengarahan dan membuat keputusan-keputusan penting dalam pelaksanaan harian SM.
- Membuat laporan rutin tertulis kepada gereja dan mewakili SM dalam rapat umum gereja.
- Memimpin rapat rutin internal SM.
- Memikirkan pengembangan SM dan strategi pelayanan yang tepat.
Untuk gereja yang besar, kepengurusan inti di atas bisa diluaskan lagi dengan adanya departemen-departemen dalam SM, misalnya:
- Departemen Kebaktian Anak
- Departemen Pembinaan (Anak dan Guru)
- Departemen Administrasi/Umum (Kantor SM)
- Departemen Literatur (Perpustakaan dan Buletin SM)
- Departemen Musik SM
- Departemen Konseling
- dll.
Perluasan kepengurusan ini tergantung dari kebutuhan masing-masing SM. Masing-masing departemen akan dipimpin/diurus oleh seorang koordinator atau sebuah tim yang bertanggung jawab langsung kepada Pengurus Inti SM. Pemilihan koordinator, selain didasarkan pada dedikasi dan kesungguhannya melayani, juga pada kemampuan dan keahlian dalam bidang yang dipimpinnya. Misalnya, seorang guru SM yang senang dan pandai dalam hal musik menjadi Koordinator Departemen Musik, dst.
Selain kepemimpinan kepengurusan inti, dan koordinator departemen, di bawah mereka terdapat Kepala-kepala Kelas SM yang membawahi masing-masing kelas SM. Tugas utama Kepala Kelas adalah:
- Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kebaktian di kelas masing- masing, termasuk keuangan dan admin kelas.
- Menyusun jadwal untuk guru-guru yang bertugas di kebaktian kelas.
- Mengatur jadwal visitasi untuk anak-anak SM yang tidak hadir.
- Selalu hadir dalam kebaktian anak, kecuali karena berhalangan, maka ia akan menugasi wakil/guru lain untuk menggantikannya.
- Melaksanakan tugas di kebaktian sesuai dengan jadwal.
Guru-guru Kelas adalah orang-orang kunci yang menjadi motor dalam SM. Tanpa mereka maka anak-anak tidak dapat terlayani dengan baik, karena Guru-guru Kelas inilah yang langsung berhubungan dengan anak- anak secara rutin. Kepala Kelas bekerjasama dengan Guru-guru kelas, mempimpin kebaktian SM sesuai dengan yang sudah dijadwalkan, baik itu tugas memimpin pujian, bercerita atau tugas lainnya. Sangat tidak menutup kemungkinan bahwa Pengurus Inti atau Koordinator Departemen juga merangkap menjadi Guru Kelas.
Salah satu tugas utama Pengurus inti SM adalah bersama seluruh anggotanya merencanakan program/kegiatan SM tahunan. Secara umum, program-program yang dilaksanakan dalam SM, antara lain:
Pelaksanaan program-program ini tergantung dari seberapa rapi organisasi SMnya. Untuk SM yang baik, program-program ini sudah tertata dalam rencana tahunan sehingga tidak ada program dadakan (instant). Karena sudah terencana maka jauh-jauh hari program ini sudah dipikirkan baik-baik bagaimana melaksanakannya dan dari mana anggarannya.
Pelayanan SM terdiri dari kelas-kelas SM yang dibagi berdasar kelompok-kelompok umur. Pembagian kelompok umur ini adalah sbb.:
[Tapi penamaan kelompok bisa bermacam-macam dan pembagian kelompok umur pun tidak baku, tergantung dari masing-masing gereja.]
- Kelas Batita (anak di bawah umur 3 tahun)
[Kadang disebut juga Kelas Bayi atau Kelas Bermain.]
- Kelas Balita (anak di atas 3 tahun di bawah umur 5 tahun)
[Kadang disebut juga Kelas Indria atau Kelas TK atau Kelas Kanak-kanak]
- Kelas Pratama (anak umur 6-8 tahun)
[Kadang disebut juga Kelas Kecil]
- Kelas Madya (anak umur 9-11)
[Kadang disebut juga Kelas Tanggung]
- Kelas Pra-Remaja (anak umur 12-14 tahun)
[Kadang disebut juga Kelas Besar]
Untuk gereja-gereja besar pembagian kelas rata-rata seperti di atas. Jumlah ideal per kelas SM adalah 20 anak, namun demikian hal ini sulit diikuti oleh gereja-gereja pada umumnya karena biasanya gereja tidak memiliki gedung Sekolah Minggu sendiri yang dibentuk dalam kelas-kelas.
Untuk gereja yang mendapat pinjaman gedung sekolah umum sebagai tempat penyelenggaraan SM, hal ini sangat menguntungkan karena jika jumlah guru memungkinkan maka mereka mendapat kebebasan untuk membagi kelas dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Jika ada kelompok umur yang memiliki jumlah melebihi target kelas, maka mereka dapat membuka kelas-kelas paralel.
Untuk gereja-gereja yang memakai rumah-rumah tangga sebagai tempat pertemuan SM maka pembagian kelas harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Demikian juga jika jumlah guru yang mengajar kurang memadai jumlahnya maka pembagian kelas harus disuaikan dengan kondisi yang ada.
Sekolah Minggu yang disiplin akan menerapkan sistem administrasi yang rapi guna menunjang kemajuan pelayanan yang ada. Banyak hal yang perlu dikerjakan sebagai tugas administrasi kelas. Namun demikian, kita tidak akan membahas secara detail, tapi hanya bagian-bagian besarnya saja.
Setiap kelas harus memiliki catatan tentang data anak-anak yang hadir di kelas. Untuk itu buatlah Kartu Data Anak yang berisi data-data penting, misalnya nama, alamat, tgl. lahir, foto, jumlah saudara, nama orang tua, agama orang tua, gereja orang tua dan catatan-catatan pribadi lain (apakah sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat, adakah latar belakang lain yang berkaitan dengan pertumbuhan rohaninya, dll). Kartu ini harus diisi oleh setiap anak di kelas, sehingga dapat dipakai bilamana diperlukan. Simpanlah kartu-kartu ini dalam urutan abjad. Kartu ini bisa dibuat sendiri sesuai dengan kebutuhan.
Ada banyak sistem yang bisa dipakai untuk mencatat kehadiran anak:
Kartu ini berisi catatan tentang anak yang tidak hadir minggu itu. Kartu ini digunakan sebagai pengingat bagi guru untuk melakukan visitasi ke anak yang tidak hadir tersebut, khususnya jika ia tidak hadir karena sakit atau masalah lainnya.
Kartu ini untuk mencatat perkembangan anak-anak, khususnya jika ada kehasilan yang dikerjakan oleh anak. Misalnya, berani maju ke depan untuk menyanyi, berdoa, bersaksi, menulis puisi/kesaksian, membawa teman baru, menghafal ayat dll..
Dari semua catatan-catatan yang dikumpulkan dalam kelas, guru dapat membuat statistik, terutama tentang perkembangan kehadiran anak dan juga keaktifan anak di SM. Jika setiap kelas membuatnya, maka kartu ini akan sangat berguna untuk menjadi laporan kegiatan SM bulanan/tahunan.
Jika SM menyediakan perpustakaan untuk anak, maka perlu disediakan kartu peminjaman untuk mencatat buku-buku yang dipinjam dan dikembalikan oleh anak.
Di dalamnya selain berisi tanda tangan kehadiran guru, juga catatan guru tentang hal-hal penting/menarik yang terjadi hari itu di kelas. Bisa ditambahkan juga catatan khusus tentang hal-hal yang harus dilakukan guru minggu berikutnya (semacam to do list guru). Kartu ini bisa dipakai sebagai bagian dari pertanggungjawaban guru, bukan hanya kepada pengurus SM, tapi terutama kepada diri sendiri.
Mencatat jumlah uang persembahan yang diterima setiap minggunya, juga persembahan-persembahan khusus lainnya, misalnya perpuluhan, dll.
Untuk mencatat barang-barang apa saja yang menjadi milik kelas, termasuk daftar buku perpustakaan, lemari, meja, kursi, alat musik, dll.
Buku-buku catatan ini tentu ada jangka waktu hidupnya, karena itu setiap tahun harus diperbarui. Jika dengan disiplin guru SM melakukan semua pencatatan ini, maka SM akan menuai keuntungan karena setiap perkembangan dapat dilihat, dianalisa bahkan diantisipasi.
DOA
"Berikan kepadaku hati yang disiplin, ya Tuhan, supaya aku mampu menjadi alat-Mu yang berguna bagi perkembangan pelayanan-Mu. Ajariku untuk memberi perhatian pada hal-hal kecil yang terjadi di kelas supaya aku semakin menghargai karya-Mu yang indah di hati anak-anak-Mu ini. Amin!"
[Catatan: Tugas Pertanyaan ada di lembar terpisah.]