Referensi

GSM-Referensi 01a

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b | Referensi 01c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Pengenalan Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R01a

Referensi GSM-R01a diambil dari:

Judul Buku : Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
Judul Artikel : Cara Pandang yang Berubah
Pengarang : Helena Erika dan Sudi Ariyanto
Penerbit : Gloria Graffa
Halaman : 16 - 24

REFERENSI PELAJARAN 01a - CARA PANDANG YANG BERUBAH

Suatu hari Tuhan memberi penglihatan kepada Petrus. Dalam penglihatan itu Tuhan memperlihatkan binatang-binatang haram dan meminta Petrus memakannya. Namun, Petrus menolak. Tuhan memberikan penglihatan in sampai tiga kali. Pada kali yang ketiga Petrus tetap menolak, sampai akhirnya Tuhan berkata bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Tuhan tidak boleh dinyatakan haram oleh manusia. Beberapa saat setelah itu barulah Petrus menyadari bahwa bangsa non-Yahudi juga dapat menjadi bilangan orang percaya kepada Tuhan. Kisah selengkapnya dapat dibaca pada Kisah Para Rasul pasal 10.

Saat Yesus melakukan pelayanan di bumi, Dia pernah didatangi oleh seorang anak muda yang kaya. Dalam Matius 19:16-26, orang kaya ini merasa dirinya sempurna karena dapat melakukan hukum Taurat (ayat 20). Ia datang kepada Yesus dan menanyakan cara untuk mendapat hidup kekal. Pertanyaannya pada ayat 16 merupakan pergumulan pribadinya setelah mencapai berbagai keberhasilan atau prestasi.

Bila dilihat dari konteks zaman ini, pergumulan itu bisa dipandang sebagai pergumulan yang dihadapi oleh para eksekutif muda. Sebuah kegelisahan mendera sang eksekutif muda setelah ia berhasil mencapai posisi yang baik, memiliki mobil, dan rumah yang indah, ke mana-mana menyandang telepon seluler versi terbaru, dan berkali-kali bepergian ke luar negeri. Walaupun tentunya pertanyaan akan keselamatan tidak selalu baru timbul setelah seseorang mendapatkan keberhasilan.

Pada ayat 16, anak muda ini bertanya perbuatan baik apakah yang harus ia lakukan agar dapat masuk ke surga. Pada bagian akhir cerita kita ketahui bahwa anak muda ini pergi dengan sedih dan tidak mengikut Yesus.

Menurut saya, Petrus dan anak muda yang kaya di atas bertindak berdasarkan konsep tertentu. Kita bisa melihat dalam masyarakat atau diri kita sendiri bahwa segala tindakan dan ucapan kita berdasar pada konsep di dalam batok kepala kita atau cara pandang kita terhadap sesuatu. Pada contoh pertama Petrus bertindak atas konsep bahwa hanya orang Yahudi yang dipilih Allah, dan bangsa lain adalah orang kafir. Karena itu, orang Yahudi tidak mau bergaul dengan orang kafir.

Pada kasus kedua, anak muda yang kaya itu memegang konsep bahwa kehidupan kekal dapat diperoleh melalui perbuatan baik. Konsep memperoleh keselamatan melalui perbuatan baik ini mewakili cara berpikir saat itu tentang keselamatan, yang ternyata masih ada dalam benak banyak orang saat ini.

Allah memberikan penglihatan kepada Petrus agar Petrus mengubah konsep atau cara pandang yang dipegangnya hingga saat itu. Dengan perubahan yang dialami Petrus, Injil dapat disampaikan kepada orang-orang non- Yahudi. Pada contoh kedua, Yesus ingin mempertentangkan konsep yang dianut orang itu dengan konsep keselamatan sebagai anugerah melalui iman kepada Tuhan Yesus.

Dari contoh di atas, kita bisa melihat bahwa suatu saat Tuhan menuntut kita untuk mengubah konsep atau cara pandang kita terhadap sesuatu. Dan Tuhan ingin mengerjakan sesuatu yang lebih besar lagi melalui perubahan itu.

Konsep lama apakah yang sekarang ini masih melekat dalam kepala Anda berkaitan dengan pelayanan anak? Kami mengalami perubahan saat membantu dan melayani bersama tim MEBIG Jepang. Teman-teman lulusan sekolah teologi yang kini bersama-sama melayani di MEBIG Indonesia juga mengalami perubahan yang sama. Beberapa perubahan cara pandang itu kami uraikan di bawah ini.

  1. Pelayanan anak sama pentingnya dengan pelayanan lain, bukan sekadar agar mereka tidak mengganggu pelayanan orang dewasa.

  2. Anak-anak bukanlah manusia mini. Mereka adalah manusia yang utuh, karena itu membutuhkan Juru Selamat seperti halnya orang dewasa.

  3. Anak-anak bisa melayani Tuhan oleh kuasa Roh Kudus.

  4. Pelayan anak yang melayani kebaktian Sekolah Minggu memiliki kedudukan yang sama dengan anak-anak di hadapan Allah.

  5. Pelayan anak harus mencari cara kebaktian yang sesuai dengan dunia anak-anak dan bukannya memaksakan cara orang dewasa berbakti.

  6. Yang disampaikan dalam pelayanan anak adalah kebenaran firmanTuhan, bukannya sekadar cerita, apalagi moralisme.

  7. Yang paling penting dalam pelayanan anak bukanlah metode, melainkan penyerahan diri total dari setiap pelayan anak.

Perubahan konsep dan cara pandang ini akan mengubah cara pelayanan kita. Bila kita benar-benar mau menyerahkan diri untuk melayani anak- anak, dan benar-benar mengasihi mereka, maka kita tidak akan melayani dengan sembarangan. Kita tidak akan mengajar tanpa persiapan yang matang. Kita tidak akan menyampaikan cerita Alkitab seperti halnya dongeng pengantar tidur. Kita tidak akan menjadikan pelayanan anak sekadar seperti sebuah panti pengasuhan (baby sitting) anak-anak yang orang-tuanya sedang ikut kebaktian.

Kalau kita benar-benar mengasihi mereka, kita pasti rindu mereka mengenal Kristus sedini mungkin. Karena itu kita menyampaikan firman Tuhan yang hidup kepada mereka. Ya, firman Tuhan yang dapat mengubah hati, dan bukan sekadar cerita kosong. Kita rindu hati mereka dijamah oleh Tuhan, bukan kepalanya saja yang diisi. Agar dapat mencapai hal seperti itu, kita harus membuat kebaktian anak semenarik mungkin sehingga mereka selalu ingin datang.

Segala cara dan upaya akan kita lakukan untuk merebut mereka dari pengaruh dunia ini, dan kita harus mempersiapkan diri seperti hendak maju ke medan peperangan. Kita berpacu dengan waktu, karena zaman ini menyediakan banyak 'godaan' untuk menarik anak-anak Tuhan. Kita akan memerhatikan anak-anak yang merupakan domba titipan Sang Gembala Agung. Karena itu, kita akan menelepon atau mengunjungi anak-anak yang sudah lama tidak datang, atau yang sedang sakit, atau yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kehadiran yang singkat sekalipun akan meninggalkan kesan mendalam bagi anak-anak itu.

Dalam pelayanan, kami membantu gereja-gereja yang hendak membangun pelayanan anak yang lebih baik. Di sana, yang sering kami temukan bukanlah orang yang tidak bisa apa-apa dalam pelayanan anak. Justru kebanyakan dari mereka memiliki kemampuan bercerita yang baik, dapat membuat dan menggunakan alat peraga dengan baik, dsb. Hanya kerap kali mereka belum mengalami perubahan konsep dan cara pandang tentang anak dan pelayanan anak, serta kurang menyerahkan diri dengan segenap hati dan tenaga untuk melayani anak. Banyak di antaranya yang mengajar sebagai sambilan dari pelayanan lain, atau karena tidak ada kegiatan lain. Akibatnya, banyak yang menganggap bahwa Sekolah Minggu bukanlah kebaktian yang harus dilakukan dan dipersiapkan sebaik mungkin. Kalau Sekolah Minggu bukan kebaktian, lalu apakah acara itu: sekolah untuk meningkatkan intelektualitas, taman bermain, atau yang lain? Tak heran kalau kita melihat anak-anak ribut saat firman Tuhan disampaikan.

Untuk menguatkan bahwa yang terpenting adalah penyerahan diri dan cara pandang kita seperti yang telah kami tulis di atas, ada baiknya kita mendengarkan pendapat seorang pelayan anak yang tangguh dan yang telah dengan sungguh-sungguh bekerja untuk menjangkau anak-anak. Ia adalah Pendeta Bill Wilson.

Pendeta Bill Wilson menyatakan, "... teknik-teknik di kelas dan strategi-strategi pengajaran hanya membuang-buang waktu jika Anda tidak memedulikan anak-anak yang berusaha Anda jangkau itu dengan segenap hati. Pelayanan ini harus dimulai dari dalam. Tanpa ada api yang membakar hingga ke tulang belulang Anda, maka semua tak ada artinya, betapa pun banyaknya majalah triwulan guru yang Anda baca atau berapa tahun Anda telah menjadi guru."

Lebih jauh ia menambahkan, "Setiap Minggu, saat saya menyampaikan apa yang telah kami persiapkan dengan kerja keras, saya menganggap saat itu bagaikan surga atau neraka-karena sesungguhnya memang demikian .... Bila Anda memandang kelas Anda sebagai sesuatu yang kurang penting dibanding masalah hidup dan mati, maka Anda tidak pantas menjadi guru. Bila Anda terlambat sepuluh menit masuk ke dalam kelas setiap minggu, Anda harus berhenti menjadi guru. Anda tidak akan terus-menerus datang terlambat di tempat kerja, tetapi saya berani menduga bahwa sebagian di antara Anda melakukannya pada hari Minggu."

Pertanyaannya sekarang: apakah Anda mau melayani? Kalau jawabannya ya, apakah Anda mau melayani anak-anak di gereja? Kalau jawabannya ya, maukah Anda melakukan pelayanan itu dengan sungguh-sungguh? Anda harus mengubah konsep atau cara pandang lama Anda yang sudah tidak sesuai. Coba lihat ke dalam diri Anda, adakah konsep dan cara pandang Anda yang kurang tepat terhadap anak-anak dan pelayanan anak? Yang terpenting bukanlah metode atau cara Anda melayani, melainkan adakah hati Anda sungguh-sungguh terbakar untuk pelayanan ini? Adakah Anda rela menyerahkan diri untuk pelayanan ini? Kita tidak perlu malu mengakui bila kita salah. Tuhan menghendaki agar kita mengubah cara pandang dan cara berperilaku, sehingga dengan demikian kita akan dipakai Tuhan untuk pelayanan yang lebih baik lagi. Maukah Anda berubah?

GSM-Referensi 01b

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Pengenalan Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R01b

Referensi GSM-R01b diambil dari:

Judul Buku : Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
Judul Artikel : Sekolah Minggu (Tidak) Penting
Pengarang : Helena Erika / Sudi Ariyanto
Penerbit : Gloria Graffa
Halaman : 38 - 50

REFERENSI PELAJARAN 01b - SEKOLAH MINGGU (TIDAK) PENTING?

Jika orang kristiani dewasa ditanya, "Apakah Sekolah Minggu perlu atau penting?", apakah kira-kira jawaban mereka? Kemungkinan besar jawabannya berkisar antara: "Oh, sangat perlu", "Ya, anak-anak harus diajar mengenal Tuhan sejak kecil", "Sekolah Minggu harus diadakan." Pada dasarnya, mereka menganggap pelayanan Sekolah Minggu perlu dan penting.

Namun, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataan? Dari pengamatan terhadap beberapa gereja diketahui bahwa pada tataran praktik, keadaannya tidak seperti yang diungkapkan dengan kata-kata. Berikut adalah beberapa hal yang masih (kalau tidak mau dikatakan sangat sering) dijumpai di gereja-gereja berkaitan dengan pelayanan anak (Sekolah Minggu).

  1. Pelayanan Anak Diadakan Agar Anak-anak Tidak Mengganggu Kebaktian Orang Dewasa.

    Sikap seperti ini mungkin muncul dari pra anggapan bahwa anak-anak tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini mempunyai implikasi de facto bahwa kebaktian anak tidaklah penting. Dengan kata lain, kebaktian orang dewasa teramat sangat penting, sehingga sedikit pun tidak diizinkan ada gangguan dari anak-anak. Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan supaya dapat berbakti dengan lebih baik, melainkan agar kebaktian orang dewasa tidak terganggu. Lalu, apabila tempat kebaktian anak dekat dengan tempat kebaktian orang dewasa, maka anak-anak itu tidak diizinkan untuk memuji Tuhan dengan suara keras (yang menunjukkan kebebasan untuk memuji Tuhan), karena akan mengganggu kebaktian orang dewasa. Namun, apakah pernah terpikir bahwa puji-pujian dari kebaktian orang dewasa yang begitu keras bisa mengganggu anak-anak untuk belajar firman Tuhan? Di sini tampaklah ketidakadilan yang dilihat nyata oleh anak-anak.

  2. Fasilitas untuk Pelayanan Anak Tidak Memadai

    Ruangan yang dipakai untuk kebaktian anak kerap kali sempit dan tidak memadai. Bahkan ada gereja yang mengadakan kebaktian anak di bawah pohon. Atau di basement yang merupakan tempat parkir sebuah hotel. Sedangkan kebaktian untuk orang dewasa diadakan di ruangan hotel yang luas dan nyaman karena adanya penyejuk ruangan.

    Selain itu, jarang ada alat musik untuk anak-anak. Sementara pada kebaktian orang dewasa alat musik serta sistem suaranya sangat baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi? Dalam ucapan dikatakan bahwa kebaktian anak penting, tetapi pada kenyataannya yang menjadi pusat perhatian hanyalah orang dewasa dan pelayanan anak dinomorsekiankan. Bangku-bangku yang digunakan di kebaktian anak biasanya juga bangku bekas yang sudah tidak dipakai lagi di kebaktian dewasa. Demikian juga peralatan musiknya. Bahkan kalau di kebaktian dewasa ada pemain musik yang sangat baik, maka yang bermain musik di kebaktian anak adalah mereka yang baru saja bisa memainkan alat musik. Bila kenyataannya demikian, bagaimana kita bisa mengajar anak-anak bahwa kebaktian itu menyenangkan?

  3. Pengajar Kurang Kompeten

    Banyak orang tidak mau mengajar di kebaktian anak. Itu sebabnya gereja sering kekurangan guru, padahal anggota jemaat banyak sekali. Dari antara mereka yang mau dan memiliki beban yang besar untuk pelayanan anak, banyak yang pengetahuan dan keterampilannya kurang memadai.

    Selain itu banyak guru yang menyampaikan firman Tuhan tanpa persiapan. Pernah ada seorang guru yang keliru menyampaikan firman Tuhan dengan berkata, "Anak-anak, ketika Yesus di kayu salib, Dia berteriak, 'Ela, ela, lama sabakhtani."

    Memang sangat baik bila seseorang memiliki beban yang besar untuk pelayanan, apalagi pelayanan anak. Akan tetapi, para guru harus diperlengkapi atau memperlengkapi diri dengan keterampilan atau pengetahuan agar dapat menyampaikan berita sukacita kepada anak- anak lebih baik lagi.

    Masih ada banyak hal yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak begitu diperhatikan. Pelayanan anak biasanya diberi prioritas terakhir dari antara pelayanan-pelayanan yang lain. Inti masalah yang sebetulnya adalah pada cara memandang anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang dewasa (dalam hal ini pengajar, gembala sidang, majelis gereja, dll.) yang memandang bahwa anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa mengerti firman Tuhan, belum bisa memuji Tuhan.

    Cara pandang seperti ini termanifestasi pada sikap atau kondisi guru yang mengajar tanpa persiapan, tidak adanya pemikiran untuk menambah fasilitas pelayanan anak, atau tidak adanya pemikiran untuk mengadakan retret khusus untuk anak-anak. Yang diajarkan kepada anak hanyalah cerita-cerita yang tidak membuat mereka mengenal Tuhan lebih dalam atau menyadarkan kebutuhan mereka akan Juru Selamat.

    Cara pandang seperti ini perlu diubah, karena masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apa yang diberikan atau dialami anak-anak dalam masa kanak-kanak bisa berdampak sangat serius untuk anak itu kelak bila dewasa. Banyak orangtua yang mengusahakan pendidikan formal sebaik mungkin untuk anak-anak: dimasukkan ke sekolah yang baik, dibelikan buku pelajaran yang lengkap, dll. Akan tetapi, apakah sikap memandang penting pendidikan ini juga diterapkan dalam hal rohani? Kita harus ingat bahwa anakanak itu adalah calon-calon pemimpin bangsa, dan juga masa depan gereja. Kepemimpinan gereja di masa yang akan datang ada di tangan mereka.

    Pandangan umum bahwa pelayanan anak kurang begitu penting juga mempengaruhi pandangan orang terhadap pelayan anak. Suatu kali, MEBIG Jepang dan MEBIG Indonesia diminta untuk melayani KKR anak di suatu kota besar. Seusai acara, semua panitia sepertinya terpaku pada acara, sehingga melupakan kami yang telah melayani. Setelah turun dari panggung pun, tidak ada yang menyalami dan mengucapkan terima kasih. Lalu kami menunggu panitia yang akan mengantar pulang ke penginapan, tetapi tak seorang pun muncul. Kemudian kami menunggu di tempat parkir sambil harus mengisap asap knalpot yang tebal, namun tetap tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya kami mencoba menghubungi saudara kami yang juga menjadi panitia (pada seksi lain, bukan transportasi), dan meminta agar seseorang dapat mengantar kami dengan mobilnya. Sampai kami berangkat ke kota lain untuk pelayanan berikutnya, tak seorang pun panitia yang datang untuk mengucapkan terima kasih dan melepas kami dengan ucapan selamat jalan. Baru saat kami sudah ada di dalam mobil yang kami sewa sendiri, ada telepon yang masuk ke telepon genggam kami, dari salah seorang panitia tersebut.

    Saat itu, kami sebagai orang Indonesia merasa malu kepada mitra pelayanan kami yang jauh-jauh datang dari Jepang dengan biaya sendiri untuk melayani kita orang Indonesia. Kami membayangkan seandainya kami adalah rombongan pembicara untuk orang dewasa yang sudah terkenal, mungkin banyak orang akan menemui kami untuk mengajak makan atau menginap di rumahnya.

    Menurut Pendeta Gonbei, hal menomorsekiankan pelayanan anak mungkin timbul karena gereja memegang konsep praktis yang umum dipegang oleh kalangan di luar gereja, yaitu tidak membiarkan adanya pemborosan dan kerugian.

    Tidak membiarkan adanya pemborosan secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan bahwa mengeluarkan banyak uang untuk pelayanan anak merupakan pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyediakan alat musik, ruang kelas yang memadai, dan juga hal lain untuk pelayanan anak adalah pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyelenggarakan retret anak-anak adalah pemborosan. Sikap yang tidak mengizinkan adanya "pemborosan" ini pun kita temukan pada Markus 14:4, yaitu ketika seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu ke kepala Yesus. Waktu itu ada orang yang gusar dan berkata, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?" Di sini tampak jelas bahwa masalah ekonomi bisa mengalahkan urusan yang berdampak pada kekekalan.

    Terlalu perhitungan sikap terlalu perhitungan sering menghinggapi gereja. Segala sesuatu selalu didasarkan pada prinsip untung dan rugi. Berdasarkan prinsip ini, jelas pelayanan anak adalah pelayanan yang merugi secara ekonomi. Berapa banyak uang persembahan anak-anak? Sudah pasti jumlahnya tidak cukup untuk menyewa ruangan yang baik, membeli gitar, atau membiayai hamba Tuhan. Karena kontribusi persembahan anak-anak ini sangat kecil untuk gereja, maka dapatkah gereja disalahkan jika menyediakan fasilitas sesuai dengan kontribusinya? Tentu tidak salah jika acuannya adalah berapa banyak keuntungan yang dapat diberikan anak- anak melalui pelayanan anak. Namun, benarkah demikian seharusnya kita mengelola pelayanan ini?

    Sikap seperti ini memang sering mewarnai gereja yang ditebus oleh Tuhan Yesus. Jika tidak memberikan kontribusi yang layak, maka tidak perlulah terlalu diperhatikan. Semua tindakan harus dilakukan berdasarkan perhitungan untung-rugi. Namun, bagaimana seandainya Yesus juga melakukan analisis untung-rugi (cost-benefit analysis) sebelum Dia mau disalibkan, apakah kita akan diselamatkan?

    Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari. Untuk urusan sekolah, orang tua mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku, membayar guru privat, membeli komputer, dll. Dalam hal ini, apakah orang tua menggunakan perhitungan untung-rugi secara murni? Tentu tidak. Mereka melihat masa depan yang akan dijalani oleh anak-anak itu. Mereka harus diberi bekal agar kelak dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Bukankah pelayanan untuk anak-anak juga harus dipandang demikian? Anak-anak harus dipersiapkan untuk menerima Yesus Kristus, yang akan sangat mempengaruhi masa-masa setelah hidupnya di dunia ini berakhir. Berapa lamakah kehidupan setelah kematian bila dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini? Bila untuk kehidupan di dunia yang rentang waktunya tidak panjang seseorang mau berkorban banyak, bukankah seharusnya kita mau berkorban untuk kehidupan yang kekal?

    Cara pandang yang meremehkan anak-anak atau pelayanan anak ini perlu diubah. Jika tidak, gereja akan kehilangan berkat Tuhan. Sikap munafik yaitu lain di mulut lain di hati, atau lain di tindakan, harus segera dihentikan. Tuhan tidak menyukai sikap seperti ini dalam gereja-Nya.

GSM-Referensi 01c

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b

Nama Kursus : TRAINING GURU SEKOLAH MINGGU (GSM)
Nama Pelajaran : Pengenalan Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R01c

Referensi GSM-R01c diambil dari:

Judul Buku : Pola Mengajar Sekolah Minggu
Judul Artikel : Program Allah Untuk Gereja
Pengarang : Mavis L. Anderson
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
Halaman : 1 - 16

REFERENSI PELAJARAN 01c - PROGRAM ALLAH UNTUK GEREJA

"Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21)

Hakekat kekristenan, hakekat gereja, hakekat SM, ialah Kristus. Pengabaran Injil dalam arti yang sebenarnya bukanlah satu pertemuan yang diadakan kadang-kadang saja, tetapi adalah satu tugas yang agresif, yang berlangsung terus dan meluas, yang timbul dari kasih kepada dunia yang terhilang. Allah sangat mengasihi dunia sehingga Ia mengirimkan anak-Nya supaya kita memiliki hidup dengan berkelimpahan.

Yesus tahu bahwa pelayanan-Nya, kasih-Nya, program-Nya bagi penebusan dunia yang terhilang harus diserahkan kepada pengikut-pengikut-Nya. "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yohanes 20:21). Perkataan terakhir dari Yesus yang mengiang- ngiang di telinga murid-murid-Nya ialah, "Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8).

Program yang telah diserahkan Kristus kepada gereja-Nya ialah supaya setiap orang Kristen mau berusaha dengan segenap kesanggupannya untuk membawa anak-anak, para pemuda, dan orang-orang dewasa kepada suatu hubungan yang vital dan yang bersifat pribadi dengan Allah melalui Kristus, dan kemudian pergi dan menjadikan orang-orang lain murid- murid Tuhan. Gereja hanya dapat memenuhi program bagi dunia yang terhilang ini bila gereja telah digerakkan oleh panggilan Allah dan digiatkan oleh kuasa Roh Kudus.

KEDUDUKAN SM DALAM PROGRAM KERJA

Untuk memahami dengan jelas tentang kedudukan SM di dalam program gereja, pertama-tama perlu ada satu pengertian yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan gereja. Dalam percakapan sehari-hari kita berbicara tentang pergi ke gereja dan Sekolah Minggu. Kita mendorong setiap orang untuk pergi ke gereja setiap Minggu. Kita berbicara tentang kebaktian di gereja. Berapa jumlah ketepatan pemakaian istilah tentang gereja?

Menurut Perjanjian Baru, gereja setempat adalah tubuh yang kelihatan dari orang-orang percaya yang telah mendengar panggilan Allah dan dipersatukan kepada-Nya oleh iman di dalam Yesus Kristus. Kelompok setempat seperti itu merupakan bagian dari gereja yang am (umum), yang menjadi tubuh rohani yang dibentuk oleh orang-orang percaya sepanjang masa dan waktu.

Gereja adalah alat vital dari Tuhan yang digerakkan oleh Roh Kudus untuk maksud dan melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus untuk "jadikanlah semua bangsa murid-Ku".

Tetapi Anda berkata: "Dimana kedudukan SM itu di dalam program gereja?"

Gerakan SM didirikan di tengah-tengah penghinaan dan perlawanan. Gereja-gereja pada mulanya berpendapat bahwa pekerjaan Robert Raikes yang mendirikan SM di antara anak-anak miskin tidak akan berhasil. Tetapi sebelum Robert Raikes meninggal dunia pada tahun 1811, ia berkesempatan melihat SM-nya bertumbuh dengan pesat sehingga memiliki seperampat juta murid dan perkembangannya meluas sampai ke Amerika Serikat. George R. Merill berkata:

"Robert Raikes telah mempersembahkan kepada abad kesembilanbelas dan kepada dunia, satu alat yang paling berhasil untuk kemajuan moral dan agama yang akan disebarkan kedalam abad dua puluh untuk satu perkembangan yang jauh melebihi impian-impian yang penuh harapan."

PERKEMBANGAN SM PADA ABAD KEDUAPULUH.

Kita berada di tengah-tengah perkembangan yang mengherankan dari abad keduapuluh, namun akhirnya belum tiba. Berbagai aliran gereja yang menghargai nilai SM telah membuktikan bahwa memang SM adalah suatu alat yang potensial untuk menguatkan gereja. Marilah kita perhatikan perkembangan yang menonjol yang merupakan ciri dari SM pada abad yang keduapuluh.

  1. SM bukan lagi seperti anak yatim piatu, satu ban cadangan, sebuah ruang tambahan, ataupun merupakan suatu bagian yang terlepas dari pekerjaan gereja. SM tidak mempunyai tujuan lain, selain tujuan dari gereja. SM hampir serupa dengan gereja. Gereja dan SM tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena mereka merupakan satu kesatuan. SM ada untuk memajukan pekerjaan gereja yaitu untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan. SM bukanlah bagian dari gereja; SM merupakan gereja yang berfungsi di dalam suatu pelayanan pengajaran yang khusus. Demikianlah SM pada abad keduapuluh menempatkan kedudukannya dalam program Allah dan telah membawa satu perkembangan baru untuk gereja, sebab kini SM telah diakui sebagai satu lapangan pelayanan gerejani yang berbeda.
  2. Perkembangan kedua yang merupakan ciri masa kini ialah bahwa SM tidak lagi terdiri dari "sekelompok anak-anak miskin". Walaupun kekuatan SM terletak pada daya tariknya terhadap para pemuda, tetapi mereka yang masih memakainya sebagai usaha untuk perkembangan gereja telah lama berhenti untuk menganggap SM sebagai "SM khusus bagi anak-anak".

Pada mulanya SM dikhususkan untuk anak-anak, tetapi perkembangannya telah membuktikan bahwa bagi pemuda dan orang dewasa pun SM itu perlu. Karena pelayanan mengajar SM merupakan suatu pelayanan yang berlangsung terus, karena mempelajari Firman Tuhan merupakan makanan bagi jiwa, sama seperti kita hidup dan bernafas, penting sekali bagi gereja untuk memberikan satu pelayanan mengajar untuk semua usia. Hal ini dapat dikerjakan oleh SM! SM merupakan pelayanan pengajaran kepada seluruh keluarga.

METODE-METODE YANG DIPAKAI PADA ABAD PERTAMA.

Jikalau gereja hendak memakai SM "sebagai satu alat yang paling potensial bagi kemajuan moral dan agama", gereja haruslah mengikuti pola pengajaran abad pertama. Gereja yang mula-mula telah memulai pola bersaksi secara perseorangan untuk melaksanakan perintah Kristus. Pola ini merupakan perintah kepada setiap anggota gereja, setiap pengikut Kristus menganggapnya tanggung jawab pribadi-nya untuk bersaksi bagi Kristus. SM adalah suatu "alat yang potensial" sebab badan ini merupakan satu pelayanan perseorangan.

Gereja melalui SM-nya mendapat kesempatan yang tidak terbatas untuk melayani setiap anggota. Banyak orang Kristen ingin menjadi seorang saksi, tetapi takut dan ragu-ragu di mana mereka akan mulai. SM yang akan mengajar mereka "melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" juga menyediakan kesempatan bagi mereka untuk menaati perintah itu. Dalam SM yang hidup harus ada satu tempat pelayanan bagi setiap anggota yang telah siap untuk melayani!

Misi "The Christian and Missionary Alliance" dilahirkan dari suatu kerinduan untuk memenangkan dunia yang terhilang, dan untuk menyegarkan gereja yang suam untuk melakukan tugas ini. "'Saya berjalan mondar-mandir di pesisir Pantai Old Orchard, Maine, pada musim panas tahun 1881,' kata A.B. Simpson, 'dan meminta kepada Allah melalui suatu cara untuk membangkitkan satu gerakan pengabaran Injil yang besar yang akan mencapai daerah-daerah di dunia yang telah dilalaikan itu. Sekolah Minggu mempersembahkan satu saluran untuk melayani kepada setiap anggota gereja.'" Gereja melalui SM-nya mencapai masyarakat. Perintah untuk setiap anggota sederhana saja: "Pergilah!" Sesungguhnya tidaklah mungkin untuk memenuhi pelayanan mengajar dari gereja tanpa "pergi". Di sini SM menduduki satu kehidupan yang unik dalam program gereja yang mengikuti metode-metode abad pertama. SM mempunyai suatu pelayanan pribadi kepada setiap rumah tangga dalam masyarakat. SM telah melewati pelbagai rintangan, prasangka, sifat acuh tak acuh dan telah menumpangkan tangan di atas kepala anak-anak. Dengan kasih Kristus dan kasih sayang para orang tua melalui anak-anak dan membuka pintu-pintu yang dengan cara lain tertutup terhadap gereja.

Gereja melalui SM-nya merupakan suatu gereja yang banyak memenangkan jiwa karena pelayanan pribadinya kepada setiap orang. Kristus mengajar murid-murid-Nya untuk bekerja secara perseorangan. Mereka heran karena Yesus menggunakan begitu banyak waktu untuk kepentingan satu orang, tetapi Yesus mengetahui nilai dari jiwa itu. Ia berkata kepada kepada murid-murid-Nya bahwa mereka harus mengabarkan Injil kepada setiap orang. Gereja mempunyai kesempatan melalui SM untuk mengajar dengan setia kepada setiap orang tanpa mengenal usia.

Hal-hal ini merupakan ciri-ciri dari Gereja abad kesembilan belas dan membuktikan "bahwa SM kepada dunia memberikan satu alat yang berpengaruh untuk kemajuan moral dan agama". Gerejalah yang menemukan bahwa para guru SM menarik anggota baru dan membawa mereka kepada pengenalan secara pribadi akan Kristus. Bilamana Anda juga ikut memperjuangkan SM, hal itu akan memperkuat gereja Anda menjadi jauh lebih besar daripada yang Anda harapkan.

HASIL-HASIL YANG DICAPAI PADA JAMAN PARA RASUL

Pertumbuhan yang tetap adalah sebagian daripada program Allah untuk gereja. SM mempunyai tempat dalam program ini, sebab SM itu dikenal sebagai suatu satu faktor pengembangan yang terbesar bagi pertumbuhan gereja.

Kadang-kadang kita mendengar pernyataan seperti berikut ini, "Saya lebih suka mempunyai satu SM yang baik daripada satu yang besar" atau "Allah tidak pernah memanggil kita supaya menjadi besar." Satu analisa yang teliti mungkin melahirkan satu sikap hati yang tulus tetapi sering juga pernyataan-pernyataan seperti itu datang dari tipu muslihat iblis, dari satu hati yang acuh tak acuh, atau karena gereja mencoba menutupi kegagalannya dengan pernyataan yang kudus.

Tiap saran yang menentang jumlah yang banyak bukan datang dari sorga, karena bunyi undangan dari pintu gerbang kemuliaan ialah "Barangsiapa mau, hendaklah ia datang!" Neraka tentu saja menentang orang banyak yang mendapatkan Kristus. Iblis takut kepada Firman Allah. Iblis akan melawan jiwa-jiwa itu di bawah naungan suara hati dari Firman yang Hidup itu.

Pertumbuhan yang tetap adalah satu hasil dari program gereja rasuli. "Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan" (Kisah Para Rasul 5:14).

"Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar iman menyerahkan diri dan percaya" (Kisah Para Rasul 6:7). "Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan (Kisah Para Rasul 11:21). "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa" (Kisah Para Rasul 4:32). Menarik jiwa datang kepada Tuhan bukanlah soal senang atau tidak senang, melainkan suatu perintah Ilahi.

SM yang bertumbuh menyuburkan pertumbuhan itu ke dalam setiap tingkatan pekerjaan gereja. Bilamana SM Anda gagal dalam hal ini, maka SM itu telah gagal dalam mengambil kedudukan yang benar dalam program Allah. Sebuah SM yang bertumbuh harus berarti suatu pertambahan pengunjung pada kebaktian-kebaktian, pertemuan doa dan kelompok- kelompok latihan. Bilamana SM berhasil mencapainya, perpuluhan- perpuluhan dan persembahan-persembahan akan terus meningkat secara tetap. Sumbangan pengajaran Injil akan berarti kehidupan dan pertumbuhan baru kepada program penginjilan kita, calon-calon pekerja baru akan didaftarkan dan dilatih untuk bekerja di daerah mereka sendiri. Pertumbuhan berarti penambahan lebih banyak calon untuk pelayanan penginjilan. Pertumbuhan gereja adalah hal yang sehat. Pertumbuhan menandakan bahwa gereja itu hidup.

Pada tahap ini Anda mungkin akan melihat SM melalui sudut pandang yang lain, dengan suatu tekad baru untuk ikut serta dalam program pembangunan gereja yang ajaib. Kiranya Tuhan mengabulkan maksud Anda. Pada saat yang sama, semoga tak pernah diketahui orang lain, bahwa Anda berada di antara orang-orang yang mengesampingkan pekerjaan Allah atau yang membesar-besarkan pekerjaan dari seorang pribadi di atas kekurangan orang lain. Tidak dapat disangkal bahwa mungkin Anda berada di tengah-tengah orang yang menghina pekerjaan Allah dalam lapangan pelayanan perseorangan ini. Bilamana Anda mengambil bagian dalam pelayanan SM, Anda telah menggabungkan diri dalam satu pasukan inti yang dipersatukan untuk melakukan satu tugas yang sama, yaitu menambah anggota-anggota kepada gereja Yesus Kristus.

GSM-Referensi 02a

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b

Nama Kursus : TRAINING GURU SEKOLAH MINGGU (GSM)
Nama Pelajaran : Kriteria Guru Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R02a

Referensi GSM-R02a diambil dari:

Judul Buku : Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani
Judul Artikel : Guru Kristen
Pengarang : B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
Halaman : 35 - 38

REFERENSI PELAJARAN 02a - GURU KRISTEN

Berbicara tentang "guru Kristen", selalu ada dua hal penting yang patut menjadi perhatian utama kita dalam pembicaraan berikut ini. Pertama, mengenai kedudukan guru sebagai pribadi Kristen. Bagaimana sepatutnya ia memahami dan mengembangkan statusnya sebagai orang Kristen? Kedua, mengenai tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. Apakah peranannya sebagai guru dalam melaksanakan tugas keguruan? Bagaimana ia sepatutnya mengemban tugasnya sebagai guru berdasarkan iman Kristiani yang dianutnya?

BERTUMBUH DI DALAM KRISTUS

Perkara yang sangat penting dikembangkan oleh seorang guru Kristen adalah pengenalan mengenai jati dirinya sendiri sebagai orang Kristen. Kita memahami bahwa orang Kristen adalah "orang yang memberikan dirinya secara penuh kepada Yesus Kristus" (lihat Kisah Pararasul 11:26). Orang Kristen ialah orang yang percaya dan menyambut sepenuhnya kedudukan dan peran Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja atas kehidupannya. Pembukaan diri ini sebenarnya dimungkinkan oleh kuasa Allah sendiri, sebagai pekerjaan Allah Roh Kudus yang membuat seseorang memberi respons positif terhadap berita Injil (lihat Roma 1:16-17; 1 Korintus 15:3- 5). Dengan membuka diri, Roh Kudus berkenan hadir ke dalam hidup dan mendiami diri orang percaya. Dengan demikian, nyatalah permulaan orientasi hidup baru, perubahan hidup, pengertian rohani baru, kuasa dan dinamika hidup baru (Yohanes 3:3,5; Roma 8:9-11; 2 Korintus 3:17-18; 5:17).

Kemudian sebagai orang Kristen, guru terpanggil untuk bertumbuh ke arah pengenalan yang semakin mendalam dan lengkap tentang pribadi Yesus Kristus (bandingkan dengan Kolose 2:6-7; Galatia 2:19-20). Pengenalan tentang pribadi Yesus ini akan memungkinkan dia untuk semakin memahami kehendak Allah. Karena Yesus sendiri adalah jalan, kebenaran, dan hidup, membawa orang kepada pengenalan yang sejati akan karya Allah (Yohanes 1:18; 14:6). Sebab, Yesus menyatakan dengan tegas bahwa di luar Dia, orang tidak dapat melakukan hal yang benar bagi kemuliaan Allah (Yohanes 15:4,5,16). Di samping itu, hanya melalui persekutuan dengan Dialah, seorang guru Kristen semakin menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Dan kebenaran yang dinyatakan Allah kepada setiap orang percaya menyangkut segi kognitif (intelek- pemikiran), segi moral, etis, serta spiritual. Selanjutnya kebenaran yang harus dikejar oleh guru Kristen adalah kebenaran realitis, yaitu yang nyata dalam kehidupan. Kebenaran yang demikian akan berupaya membebaskan manusia seutuhnya (bandingkan dengan Yohanes 8:31-32; 17:17).

Masalah mengikut Yesus tidak saja terbatas kepada bagaimana kita dapat lebih memahami dan mengerti apa yang dilakukan Yesus bagi pengampunan dosa, dan jaminan kehidupan yang akan datang harus diteladaninya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pelaksanaan tugas keguruan. Howard G. Hendriks (Gangel and Hendriks, 1988), mengemukakan bahwa sedikitnya ada enam segi kehidupan Yesus yang senantiasa mengagumkan, yang perlu diteladani oleh seorang guru Kristen.

  1. Dalam segi kepribadian, Yesus memperlihatkan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Ia pun menuntut kesesuaian itu terjadi dalam diri murid-murid-Nya.
  2. PengajaranNya sederhana, realistis, tidak mengambang. AjaranNya selalu sederhana dalam arti menyinggung perkara-perkara hidup sehari- hari.
  3. Ia sangat relasional, dalam arti mementingkan hubungan antar pribadi yang harmonis.
  4. Isi beritaNya bersumber dari Dia yang mengutusNya (Matius 11:27; Yohanes 5:19). Selain tetap relevan bagi pendengarNya, ajaran Yesus bersifat otoratif dan efektif (Mat 7:28,29).
  5. Motivasi kerjaNya adalah kasih (Yohanes 1:14; Filipi 2:5-11). Ia menerima orang sebagaimana adanya, serta mendorong mereka untuk berserah kepada Allah.
  6. MetodeNya bervariasi, namun sangat kreatif. Ia bertanya dan bercerita. Ia melibatkan orang untuk memikirkan masalah yang diajukan. Selain itu, Ia mengenal orang yang dilayaniNya, tingkat perkembangan serta rohani mereka. (The Christian Educator's Handbook on Teaching (halaman 13-29), Victor Books, 1988)

Seorang guru Kristen juga perlu menyadari bahwa peranan Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pendewasaan iman dan peningkatan kualitas atau kesadaran akan kesucian hidup, tetapi juga di dalam rangka mengemban profesi sehari-hari. Roh Kudus ingin menyatakan kuasa dan kehadiranNya di dalam diri dan melalui orang. Karena itulah guru bidang studi apapun tetap memerlukan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup dan pekerjaannya. Bukan karena mengajar agama Kristen atau memimpin kelompok pemahaman Alkitab, seorang guru membutuhkan kehadiran dan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus juga menyatakan sifatNya melalui gerak-gerik dan gaya mengajar dari guru. Selanjutnya sifat- sifat yang dipancarkanNya dapat menjadi dinamika hidup dalam hubungan antar pribadi yang menyegarkan dan membangun. Sifat-sifat itu pulalah yang diharapkan mewarnai dan membentuk etos kerja seorang guru sebagai pengajar dan pendidik.

Seorang guru, sebagai pengajar iman Kristen, sudah tentu sangat memerlukan ketergantungan terhadap kuasa, urapan dan kehadiran Roh Kudus. Sebab Dialah yang sanggup membuka mata hati orang untuk memahami kebenaran (bandingkan dengan Efesus 3:16,17,18). Ia pula akan memberikan ide-ide baru dalam masa persiapan, dan bahkan sementara guru melakukan tugas mengajarnya (interaksi belajar-mengajar). Ia memberikan semangat atau entusiasme (Yun: en theos). Ia mampu meyakinkan dan menyadarkan para pendengarnya. Ia membuat interaksi di antara sesama anggota dalam kelompok belajar dinamis sehingga terasa hangat dan bermakna (Yohanes 16:11-13; 1 Yohanes 2:20,27; 3:24; 1 Korintus 2:14). Karena itulah seperti dikemukakan oleh Paulus, orang percaya harus selalu mau dipimpin dan dipenuhi Roh Kudus (Efesus 5:18; Galatia 5:16,18,25). Melalui kegiatannya, guru dapat mendorong terjadinya suasana ibadah, yang menimbulkan kekaguman dan kemuliaan Allah. Roh itulah yang membawa guru dan peserta didiknya beribadah dalam roh dan kebenaran (bandingkan dengan Yohanes 4:24).

GSM-Referensi 02b

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a |

Nama Kursus : TRAINING GURU SEKOLAH MINGGU (GSM)
Nama Pelajaran : Kriteria Guru Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R02b

Referensi GSM-R02b diambil dari:

Judul Buku : Pendidikan Agama Kristen
Judul Artikel : Apa Saja yang Merupakan Tanggung Jawab Seorang Guru Kristen?
Pengarang : Dr. E. G. Homrighausen dan Dr. I.H. Enklaar
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1993.
Halaman : 180 - 181

REFERENSI PELAJARAN 02b - APA SAJA YANG MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB SEORANG GURU KRISTEN?

  1. Menjadi penafsir iman Kristen.
    Dialah yang menguraikan dan menerangkan kepercayaan Kristen itu, karena ia harus menyampaikan harta-harta dari masa lampau kepada para pemuda yang akan menempuh masa depan. Gurulah yang dapat mengambil harta benda "Kabar Kesukaan" itu dari perbendaharaan gereja, lalu membagikannya kepada murid-muridnya. Perkara-perkara yang lama itu dibuatnya menjadi baru. Ia membentangkan di hadapan angkatan muda jemaat segala kekayaan pernyataan Allah dalam Yesus Kristus sebagaimana tersimpan dalam Alkitab dan diamanatkan kepada Gereja.

  2. Menjadi seorang gembala bagi murid-muridnya.
    Ia bertanggung jawab atas hidup rohani mereka; ia wajib membina dan memajukan hidup rohani itu. Tuhan Yesus sudah menyuruh dia: "Peliharakanlah segala anak dombaKu, gembalakanlah segala dombaKu!" Sebab itu seharusnyalah seorang guru mengenal tiap-tiap muridnya; bukan hanya namanya saja, melainkan latar belakangnya dan pribadinya juga. Ia harus mencintai mereka dan mendoakan mereka masing-masing di depan takhta Tuhan.

  3. Menjadi seorang pedoman dan pemimpin.
    Ia tak boleh menuntun muridnya masuk ke dalam kepercayaan Kristen dengan paksaan, melainkan ia harus membimbing mereka dengan halus dan lemah lembut kepada Juruselamat dunia. Sebab itu ia hendaknya menjadi teladan yang menarik orang kepada Kristus; hendaknya ia mencerminkan Roh Kristus dalam seluruh pribadinya.

  4. Menjadi seorang penginjil, yang bertanggung jawab atas penyerahan diri setiap orang pelajarnya kepada Yesus Kristus.

Belum cukup jikalau ia menyampaikan kepada mereka segala pengetahuan tentang Kristus. Tujuan pengajaran itu ialah supaya mereka sungguh- sungguh menjadi murid-murid Tuhan Yesus, yang rajin dan setia. Guru tak boleh merasa puas sebelum anak didikannya menjadi orang Kristen yang sejati.

Seorang guru harus memiliki satu perasaan tanggung jawab di dalam sistem dan tugas pendidikan. Guru SM yang merasa sudah melayani Tuhan padahal kehadirannya tidak tetap dan tidak rajin, adalah guru yang sangat tidak bertanggung jawab. Jika seorang guru sudah menerima tanggung jawab dan rela menerima tugas sebagai guru, maka ia harus rela memikul tanggung jawab itu. Setiap kali Saudara menyebutkan status sebagai guru, harus Saudara sebutkan dengan sangat berat dan penuh beban tanggung jawab.

Menjadi seorang guru harusnya memberikan suatu beban yang berat di dalam hati. Seorang guru bukanlah pekerjaan main-mainan, menjadi guru bukanlah hal permainan atau hal yang boleh dikerjakan secara sembarangan. Sebaliknya seorang guru haruslah masuk ke dalam seluruh kedalaman kebenaran dengan penuh tanggung jawab. Ini suatu hal yang sedemikian serius, karena membawa murid kepada kebenaran menuntut mereka untuk bertanggung jawab dan memberikan respon yang benar menurut kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu, seorang guru mempunyai tanggung jawab yang berat kepada murid-muridnya. Setiap tindak-tanduk Saudara, tawa Saudara, bergurau atau bersedih, harus mengandung tanggung jawab. Jangan sembarangan mengatakan hal-hal yang tidak berguna, dan jangan bergurau sedemikian rupa hingga kehilangan jarak dan hormat antara guru dan murid-murid. Jangan sembarangan memberikan janji-janji kosong, yang akhirnya Saudara sendiri tidak dapat memenuhinya, dan jangan melakukan gertakan- gertakan dan ancaman- ancaman yang tidak akan dilakukan. Itu semua akan mengakibatkan mereka tidak lagi hormat kepada Saudara dan tidak lagi memelihara jarak antara murid dan guru, yang akibatnya mereka akan menghina semua perkataan, tindakan dan semua ajaran yang Saudara lakukan.

Kesimpulan kita ialah tugas guru dalam pendidikan agama sangat penting, dan tanggung jawabnya berat. Guru itu dipanggil untuk membagikan harta abadi. Dalam tangannya ia memegang kebenaran ilahi. Dan dalam pekerjaannya ia menghadapi jiwa manusia yang besar nilainya di hadapan Allah. Oleh karena itu jangan sekalipun kita menganggap pekerjaan guru agama itu rendah atau gampang; pada hakekatnya pekerjaan itu tak kurang pentingnya dari pada tugas pendeta. Guru itu juga menjadi seorang pelayan dalam Gereja Kristus yang harus dijunjung tinggi.

GSM-Referensi 03a

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Mengenal Anak-anak
Kode Pelajaran : GSM-R03a

Referensi GSM-R03a diambil dari:

Judul : Meningkatkan Mutu Pelayanan Guru-Guru Sekolah Minggu Dengan Mengenal Psikologi Anak Dan Memahami Peranan Kunjungan Bagi Anak
Artikel : Mengenal Psikologi Anak
Penulis : Dra. Ira Dwi Putranto

REFERENSI PELAJARAN 03a - MENGENAL PSIKOLOGI ANAK

Pelayanan Sekolah Minggu bukanlah sekedar pelayanan untuk memberikan cerita-cerita Alkitab yang indah, membawakan nyanyian-nyanyian yang gembira ataupun memberikan permainan-permainan yang mengasyikkan supaya anak senang dan mau rajin datang ke Sekolah Minggu itu saja sesungguhnya ada tujuan yang jauh lebih dalam lagi. Dalam Alkitab dituliskan bahwa tugas pengajar anak-anak sekolah minggu adalah untuk melengkapi mereka bagi pelayanan dan pembangunan Tubuh Kristus sampai mencapai iman, pengetahuan dan tingkat pertumbuhan dan kedewasaan penuh dalam Kristus, sehingga dalam kedewasaan penuh itu anak mampu menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks dengan mengandalkan kebenaran Firman Tuhan (Efesus 4:11-16).

Dari rangkaian ayat tersebut harus disadari bahwa penyajian pelayanan anak-anak Sekolah Minggu haruslah merupakan proses yang dapat menampakkan adanya suatu pertumbuhan/perkembangan sejalan dengan proses perkembangan yang sedang berlangsung dalam diri anak sebagai suatu individu manusia yang unik.

Untuk itu pengajar-pengajar Sekolah Minggu perlu persiapan yang matang dalam pelayanannya, dan hal yang penting adalah pengenalan anak secara lebih dalam sebagai dasar persiapan pelayanan.

Berikut ini ada beberapa hal yang penting tentang psikologi anak yang perlu dipelajari dan dipahami sebagai dasar pelayanan.

  1. Kebutuhan dasar anak: Anak membutuhkan kasih sayang
    1. Anak membutuhkan rasa aman
    2. Anak membutuhkan penerimaan
    3. Anak membutuhkan disiplin (untuk menahan diri)
    4. Anak membutuhkan kebebasan yang wajar
    5. Anak membutuhkan penghargaan

  2. Prinsip penerimaan pengalaman pendidikan bagi anak
    1. Semua pengalaman anak dapat mempengaruhi dan membentuk watak dan arah hidupnya; sebagaimana diungkapkan oleh Dorothy Law Nolte:
    2. Jika anak hidup dengan kritikan, ia belajar untuk menghakimi.

      Jika seorang anak hidup dengan kebencian, ia belajar kejahatan.

      Jika seorang anak hidup dengan ejekan, ia belajar untuk menjadi malu.

      Jika seorang anak hidup dengan dipermalukan, ia belajar untuk merasa bersalah.

      Jika seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar keyakinan diri.

      Jika seorang anak hidup dengan pujian, ia belajar untuk menghargai.

      Jika seorang anak hidup dengan keadilan, ia belajar keadilan.

      Jika seorang anak hidup dengan aman, ia belajar aman.

      Jika seorang anak hidup dengan pengesahan, ia belajar untuk menyenangi dirinya

      Jika seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar untuk mengasihi dunia.

    3. Kepribadian anak mudah dibentuk pada usia dini.
    4. Setiap tahap perkembangan anak membutuhkan pembinaan khusus.
    5. Seorang anak sedang menunggu untuk diisi oleh orang dewasa apapun juga bentuknya.

  3. Tugas perkembangan secara umum dalam tiap-tiap tahap perkembangan

  1. Perkembangan masa kanak-kanak ciri-ciri umum yang nampak dari tugas perkembangannya:
    1. Jasmani: Pertumbuhan jasmani berjalan dengan cepat, aktif bergerak, berusaha memperoleh ketrampilan otot.
    2. Jiwani: Belajar melalui meniru, ingin tahu besar, fantasi kuat, emosional-mudah marah, ada rasa takut, suasana hati gembira, dan ingin mengasihi, sejak usia tiga tahun mempunyai konsep pribadi sifatnya, konsep berkembang dari yang khusus ke umum, konsep pemikirannya banyak dipengaruhi perasaan.
    3. Sosial: Ada sikap negativistis, suka menirukan, muncul persaingan, suka bertengkar, egoistis
    4. Rohani: Tuhan dikenal melalui bahasa dan konsep tentang Tuhan diperoleh dari keluarga khususnya orangtua Tuhan itu baik atau jahat tergantung penghayatan anak terhadap orangtuanya khususnya ayah.

  2. Perkembangan masa sekolah ciri-ciri umumnya:
    1. Jasmani: Periode ini disebut periode memanjang secara fisik fungsi organ otak mulai terbentuk mantap sehingga perkembangan kecerdasannya cukup pesat.
    2. Jiwani: Anak mulai banyak melihat dan bertanya, fantasinya berkurang karena melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin berinisiatif dan bertanggung jawab.
    3. Sosial: Anak mulai memasukkan dalam pikirannya tentang Tuhan mulai memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orang tuanya, melihat Tuhan dalam bentuk yang kongkret (manusia Yesus) dan Tuhan adalah yang suci, maha baik, lembut dan kudus, Tuhan makin lama dipandang sebagai Kristus dan dikagumi sebagai pahlawan.
    4. Rohani: Kegiatan anak mulai berkelompok dan mengarah pada tujuan tetapi masih egosentris, kegiatannya hanya satu jenis dan mulai membuat "Gang" dengan kompetisi tinggi.

  3. Perkembangan masa remaja ciri-ciri umumnya:
    1. Jasmani: Adanya perubahan jasmani yang mendadak dan cepat iramanya sehingga menimbulkan kebingungan dalam diri anak. Secara biologis remaja telah matang dan siap untuk berperan sebagai pria atau wanita.
    2. Jiwani: Perkembangan kecerdasan berkembang secara pesat, berpikirnya makin logis dan kritis, fantasi makin kuat sehingga seringkali terjadi konflik sendiri, penuh dengan cita-cita, mencari realita, kebenaran dan tujuan hidup.
    3. Sosial: Kehidupan agamanya berada dalam persimpangan jalan, ada perasaan tidak aman karena terjadi perubahan fisik, emosi dan juga berpengaruh pada imannya kadang-kadang kekuasaan tradisi kepercayaan dianggap mempersempit kebebasan dirinya yang banyak menuruti keinginan diri sendiri (suara hatinya), Dapat terjadi sikap berontak kepada Tuhan bila Tuhan dihubungkan dengan kekuasaan yang menghambatnya, atau remaja justru ingin mendekat kepada Tuhan, karena dalam Tuhan remaja menemukan teman atau sahabat yang dibutuhkan.
    4. Rohani: Pada masa ini pengaruh yang besar datang dari kelompoknya (teman sebaya), perubahan perilaku berhubungan dengan kehidupan bersama, suka berkelompok ada usaha untuk diterima dalam kelompok dan masyarakat, ingin maju, suka membantu, sopan dan memperhatikan orang lain dsb.

PERANAN KUNJUNGAN

Kunjungan ke rumah tangga adalah merupakan salah satu usaha untuk mengenal lebih dalam lagi tentang/yang berhubungan dengan kehidupan anak. Manfaat yang dapat diperoleh dari kunjungan:

  1. Membina hubungan yang lebih erat antara guru dan murid secara pribadi.
  2. Guru dapat mengenal keluarga dan kehidupan/suasana kehidupan keluarga murid.
  3. Guru dapat mengetahui sekaligus menolong menyelesaikan persoalan- persoalan yang dihadapi murid.
  4. Guru dapat mengevaluasi hasil pelayanannya yang telah diterima murid dalam kehidupannya sehari-hari.
  5. Kunjungan ke rumah tangga dapat menjadi pelengkap dan penguat pelayanan guru pada murid.
  6. Untuk menanamkan keyakinan pada keluarga/orangtua murid bahwa guru sekolah minggu turut bertanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan murid secara keseluruhan.
  7. Guru dapat membina kerjasama yang baik dengan keluarga/orangtua murid dalam proses pembinaan kerohanian murid.

Mengingat ada tujuan yang penting yang harus dicapai dalam acara kunjungan tersebut maka perlu diperhatikan bahwa kunjungan pun harus dipersiapkan dengan baik, yang penting untuk dipersiapkan:

  1. Mencari tahu lebih dulu sehubungan dengan karakter keluarga murid yang akan dikunjungi.
  2. Membuat persiapan/perencanaan kunjungan sesuai dengan karakter keluarga murid yang berhubungan dengan:
    1. Penetapan waktu kunjungan yang tepat.
    2. Penetapan petugas kunjungan yang dapat diterima (sesuai dengan karakter keluarga).
    3. Menjaga penampilan yang sopan dan berkenan bagi keluarga yang dikunjungi.
    4. Mempersiapkan penggunaan bahasa komunikasi yang baik dsb..

GSM-Referensi 03b

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a |

Nama Kursus:Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran: Mengenal Anak-anak
Kode Pelajaran: GSM-R03b

Referensi GSM-R03b diambil dari:

Judul:Pedoman Pelayan Anak
Judul Artikel:Perkembangan Alam Pikir Anak
Pengarang:Ruth Lautfer
Penerbit:Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
Halaman: 43-44 ; 51-53 ; 61-63 ; 71-72

REFERENSI PELAJARAN 03b - PERKEMBANGAN ALAM PIKIR ANAK

Sebagai guru SM kita harus mengerti secara mendalam bagaimana sebenarnya perkembangan alam pikir anak SM kita. Setelah kita membicarakan "Cara Berpikir Anak" secara umum dari artikel di atas, berikut ini kami akan sajikan secara lebih spesifik mengenai "Perkembangan Alam Pikir Anak" menurut pembagian kelas dan umur dalam Sekolah Minggu.

PERKEMBANGAN ALAM PIKIR ANAK

ANAK BATITA (Di bawah 3 Tahun)

  1. Daya konsentrasi terbatas
  2. Anak Batita belum sanggup untuk berkosentrasi dalam jangka waktu lama. Perhatian cepat dialihkan kepada kegiatan lain. Tetapi ia dapat mendengarkan sebuah cerita dengan penuh perhatian, asal ceritanya pendek, tidak melebihi lima menit. Anak batita senang bila cerita itu diceritakan ulang berkali-kali dengan kata-kata yang sama.

  3. Arti kata-kata belum pasti dimengerti
  4. Pada waktu seorang anak berumur tiga tahun ia mengenal k.l. 900 kata dan akan bertambah menjadi k.l. 1500 kata menjelang 4 tahun. Kebanyakan kata yang dipakai adalah kata benda; bentuk kalimatnya sederhana, terdiri dari dua, tiga kata saja. Tetapi mereka dapat menyebut hal-hal yang dilihat. Karena kata perbendaharaan katanya terbatas, ia belum pasti mengerti arti kata yang didengar dan dipakai atau dihafal. Karena itu perlu sekali dipakai kata-kata yang sederhana kalau membawa cerita Alkitab. Kata-kata ayat hafalan juga perlu dijelaskan.

  5. Belajar melalui panca indera
  6. Panca indera merupakan gerbang dari otak anak. Melalui melihat, mendengar, mencium, merasa, dan meraba, anak dapat mengenal dunia di sekelilingnya. Ia belajar melalui pengalaman langsung.

  7. Rasa ingin tahu
  8. Anak batita terus bertanya karena didorong rasa ingin tahu. Pertanyaan pertama merupakan: "Apa ini?" "Apa itu?". Melalui bertanya seorang anak menambah kemampuan pikiran dan pengetahuannya. Karena itu pertanyaan-pertanyaan harus dijawab dengan sabar, meskipun sewaktu-waktu membosankan.

  9. Mulai mengerti mengenai waktu
  10. Anak batita mengembangkan pengertian mengenai jarak waktu dan mulai mengerti istilah "kemarin", "hari ini", dan "hari esok". Mereka juga dapat mengingat kejadian-kejadian yang tidak terlalu lama dan berbicara mengenainya.

  11. Kesanggupan menghitung dan mengerti angka
  12. Secara rutin anak batita dapat berhitung sampai sepuluh, tetapi ia hanya dapat menguasai dua atau tiga benda pada permulaan. Kwantitas itu bertambah dengan bertambahnya umur.

ANAK KECIL (4-5 Tahun)

  1. Kuat dalam menghayal.
  2. Mereka kaya dalam hal berkhayal. Lewat kesanggupan mengkhayalnya ia mengisi kekurangan dalam pengertian. Ia sulit membedakan di antara yang benar dan yang dikhayalkan.

  3. Suka meniru
  4. Mereka suka meniru. Melalui meniru ia mencari pengalaman untuk memahami dan memasuki dunia orang dewasa yang makin lama makin menarik. Melalui meniru pula mereka mendidik dirinya sendiri. Sebab itu perlu sekali mereka melihat teladan yang baik. Karena mereka akan meniru segala sesuatu yang menarik perhatiannya, baik atau buruk.

  5. Mengembangkan pengertian akan jangka waktu
  6. Anak berumur 4 dan 5 tahun mulai mengerti mengenai minggu, bulan, dan juga mulai mengerti musim-musim. Tapi mereka tidak mempunyai pegertian luas akan masa lampau atau masa depan yang luas. Kalau bercerita kepada mereka cukup menyebut "dulu" tanpa menyebut abad dan tahunnya.

  7. Menghitung dan pengertian akan angka
  8. Seorang anak kecil sekarang sudah dapat menghitung sampai angka 30. Kemudian mereka dapat mencocokkan angka dengan benda yang sesuai. Mereka senang mempelajari nyanyian yang menyebutkan angka dan permainan jari yang memakai jari-jari dalam hal menghitung. Mereka mulai menulis angka.

  9. Menambah perbendaharaan kata
  10. Anak kecil yang banyak bergaul dengan kakak dan orang dewasa sangat beruntung dalam hal menambah kata-kata dan menjadi lancar dalam memakai bahasa. Anak berumur 4 tahun k.l. mengenal dan memakai 1550 kata, anak berumur 5 tahun 2200 kata. Mereka senang berbicara dan senang mendengar cerita.

ANAK TENGAH (6-8 Tahun)

  1. Hal menulis dan membaca
  2. Mengikuti kelas satu sampai kelas tiga SD mendorong anak mulai belajar menulis dan membaca. Mereka bangga jika dapat membaca kalimat-kalimat pada surat kabar dan majalah. Membaca buku cerita anak juga menjadi kesukaan mereka, meski dengan perlahan-lahan.

  3. Haus akan cerita
  4. Meskipun senang membaca, anak tengah belum bisa membaca dengan cepat. Sehingga mendengar cerita merupakan hal yang sangat menyenangkan. Mereka mulai membedakan antara cerita dongeng dan cerita nyata. Bila pada kelompok ini ditanamkan keyakinan bahwa Tuhan berbicara kepada kita melalui firman-Nya dan bahwa peristiwa yang diceritakan dalam Alkitab sungguh terjadi, mereka akan bersemangat dalam mendengarnya dan akan memegangnya sebagai keyakinan.

  5. Konsentrasi lebih lama
  6. Anak tengah dapat bertahan lebih lama. Hal ini dikarenakan daya konsentrasi mereka yang lebih lama. Mereka tahan mengikuti kebaktian anak yang berlangsung dalam satu jam. Mereka juga dapat mengerti dan mengikuti instruksi guru.

  7. Belum mengerti hal yang abstrak
  8. Anak tengah belum dapat mengerti hal yang abstrak, yaitu sesuatu yang tidak dapat dilihat dan dipegang. Karena itu bila dalam pelajaran yang disampaikan ada kata-kata yang abstrak, guru perlu menjelaskannya, seperti kata iman dan pengampunan. Istilah-istilah semacam itu hendaknya dijelaskan melalui peristiwa dalam cerita. Mereka hanya mengerti kata-kata dalam arti yang sebenarnya.

  9. Cara berpikir "hitam putih"
  10. Pengertian anak tengah masih sederhana dan polos. Cara berpikir mereka adalah "hitam putih". Yang baik sungguh baik dan yang jelek sungguh jelek. Mereka belum mengerti besarnya komplikasi kepribadian seseorang. Bahwa seseorang pada satu saat bisa melakukan hal yang baik dan kemudian hari melakukan hal yang tidak perlu dicontohi, masih terlalu sulit untuk pengertian mereka.

  11. Belum mempunyai pendapat sendiri
  12. Pola pemikiran anak berumur 6-8 tahun masih tergantung pada orangtua atau guru mereka. Itu berarti, pola penilaian positif yang ditanamkan oleh orangtua atau guru mempunyai pengaruh besar dalam hidup mereka. Dalam rangka membangun kepribadian anak, sebaiknya mereka diberi kesempatan untuk belajar mengambil keputusan atas hal-hal yang sederhana, juga diijinkan bertanya atau memberikan pendapat secara spontan.

  13. Hidup dari hari ke hari
  14. Keterbatasan tetapi juga keindahan dari cara hidup anak tengah adalah hidup dari hari ke hari. Mereka tidak terlalu melihat ke belakang dan tidak menguatirkan hari esok. Itu sebabnya mereka belum tertarik pada sejarah, baik sejarah umum maupun sejarah Alkitab.

ANAK BESAR (9-11 Tahun)

  1. Daya konsentrasi baik
  2. Anak besar telah mempunyai daya konsentrasi yang baik. Mereka sanggup duduk untuk mendengar cerita selama 20 - 25 menit. Kesukaan mereka mempelajari sejarah dapat diisi dengan cerita dalam urutan sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Juga dapat diajarkan mengenai peta Alkitab yang berhubungan dengan cerita yang disampaikan. Daya konsentrasi yang baik ini juga memungkinkan anak besar mempelajari ayat hafalan yang lebih panjang kalimatnya.

  3. Mempunyai banyak minat
  4. Pengalaman dan kesanggupan baru menimbulkan banyak cita-cita pada anak besar. Mereka senang berolahraga, mengumpulkan perangko atau gambar pahlawan/tokoh, juga benda-benda dari alam semesta. Banyak hal yang menarik minat anak besar. Melalui ketertarikan ini mereka menyiapkan diri untuk memilih cita-cita yang akan dikembangkan. Bila pengembangan cita-cita dibangun bersama dengan pengenalan akan Allah, masa depan akan sampai dalam takut akan Tuhan.

  5. Suka membaca
  6. Keinginan untuk menemukan banyak hal yang baru mendorong anak besar untuk membaca. Mereka tidak lagi tertarik pada cerita khayal, tetapi kepada hal yang sungguh-sungguh terjadi. Alangkah baiknya jika Sekolah Minggu membuka perpustakaan dan menyediakan buku-buku yang mengisi kebutuhan anak besar itu.

  7. Mulai berpikir logis
  8. Sejalan dengan kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang diperoleh di Sekolah Dasar, anak besar semakin terlatih dalam hal berpikir. Memahami hal ini, dalam interaksi kelas sebaiknya guru menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pikiran anak. Searah dengan perkembangan logika mereka, anak besar memperhatikan apakah hidup seseorang sesuai dengan perkataannya atau tidak. Mereka sendiri ingin berbuat hal yang benar dan menuntut orang dewasa melakukan apa yang mereka katakan.

GSM-Referensi 04a

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Hakekat Mengajar
Kode Pelajaran : GSM-R04a

Referensi GSM-R04a diambil dari:

Judul Buku : Tenik mengajar
Judul Artikel : Bagaimana Mengajar
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2000
Halaman : 33 - 42

REFERENSI PELAJARAN 04a - HAKEKAT MENGAJAR


BAGAIMANA MENGAJAR

Hukum-hukum belajar tidak berubah, tetapi pengungkapannya tidak sama dalam masyarakat yang berbeda-beda.

Sebuah peribahasa kuno mengatakan, "Orang menjadi guru karena pembawaan, bukan karena pendidikan." Akan tetapi dewasa ini para pendidik percaya bahwa banyak yang disebut bakat pembawaan itu sebenamya merupakan kebiasaan-kebiasaan yang telah diperoleh. Walaupun ada orang yang mempunyai lebih banyak bakat mengajar dari pada yang lain, para guru pasti bisa berhasil jika mereka mengikuti prinsip- prinsip ilmu mendidik yang diakui, bersemangat mengajar, mengasihi anak didiknya dan saksama dalam persiapan mereka.

Filsafat ini tidak memperkecil pekerjaan Roh Kudus. Setiap guru harus pasrah dan mau dipimpin oleh Roh Kudus. Namun demikian, kita bukannya menolak pimpinan Roh Kudus bila menggunakan hukum-hukum mengajar sama seperti kita tidak menolak pimpinan-Nya jika kita tunduk pada hukum gaya berat.

Tuhan kita Yesus Kristus selalu menjalankan hukum-hukum mengajar dan belajar. Prinsip-prinsip ini bisa diamati, dievaluasi dan digolongkan, karena memang sudah menjadi sebagian dari perangai manusia. "Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:16, 17). "Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:3).

"Ketujuh Hukum Mengajar," karangan John Milton Gregory, menetapkan pola pekerjaan seorang guru dengan mengemukakan pernyataan yang sederhana tetapi jelas mengenai faktor-faktor penting yang menguasai seni mengajar. Gregory adalah seorang yang terkemuka di bidang pendidikan. Pada umur tujuh belas tahun dia sudah menjadi guru sekolah. Kemudian dia menjadi pendeta gereja Baptis. Tak lama kemudian dia diakui sebagai seorang pendidik yang unggul. Setelah menjabat pengawas kepala dari sekolah-sekolah di negara bagiannya dan rektor perguruar tinggi di Michigan, dia bekerja keras untuk tiga belas tahun lamanya untuk mendirikan Universitas Illinois. Dia telah mendapatkan kedudukan yang pasti dalam sejarah pendidikan Amerika.

Di sini dikemukakan hukum-hukum mengajar, berdasarkan prinsip- prinsip dan teori-teori dalam buku Dr. Gregory.

HUKUM GURU

Guru Haruslah Seseorang yang Mengetahui Pelajaran atau Kebenaran atau Seni Ketrampilan yang akan Diajarkan.

Beberapa kursus pendidikan kepemimpinan memberi perhatian lebih banyak kepada cara-cara guru dari pada kepada berita Firman Allah. Hal ini bisa sangat berbahaya apabila guru tidak mengetahui dengan betul apa yang harus diajarkan. Baik berita maupun cara sangat penting. Karena alasan inilah, setengah dari kursus-kursus berijazah dari Evangelical Teacher Training Association diuntukkan guna penelaahan Alkitab dan pokok-pokok yang berhubungan dengannya. Dalam pendidikan umum, pengetahuan akan mata pelajaran sangat penting. Dalam pendidikan Kristen sangatlah penting bagi si guru untuk mengetahui Firman Allah. Pengetahuan itulah bahan yang dipakai oleh guru. Pengetahuan yang kurang sempurna akan menghasilkan pengajaran yang kurang sempurna. Apa yang tidak diketahui oleh seseorang, tak bisa diajarkannya. "Ketahuilah benar-benar pelajaran yang ingin saudara ajarkan kemudian mengajarlah dari pikiran yang diisi penuh dan dengan pengertian."

Guru harus mengetahui lebih banyak dari pada yang dapat diajarkannya dalam waktu mengajar yang telah ditetapkan, jangan hanya cukup untuk mengisi waktu itu saja. Hal ini meminta pelajaran dan penyelidikan yang sungguh-sungguh agar bisa memahami seluruh pelajarannya. Seorang guru yang menguasai bahan pelajarannya bisa merasa tentram Qementara ia mengarahkan pemikiran murid-muridrya serta mengikutsertakan mereka secara aktif. Dia harus juga mengenal setiap murid cukup baik sehingga dia bisa menerapkan pengetahuannya sendiri dalam kehidupan murid itu.

HUKUM PELAJAR

Pelajar Ialah Orang yang dengan Penuh Minat Mengikuti Pelajaran.

Lama sebelum Spurgeon menjadi seorang pendeta besar, dia berhasil dalam pekerjaannya di antara anak-anak. Dalam petunjuk-petunjuknya kepada guru-guru yang bekerja di bawahnya, dia mengatakan, "Bangkitkanlah perhatian anak-anak. Jika mereka tidak mendengar, saudara boleh saja berbicara, tetapi pembicaraan saudara akan sia- sia. Jika mereka tidak mendengarkan, maka pekerjaan yang saudara lakukan itu akan membosankan dan tak berarti, baik bagi diri saudara sendiri maupun bagi murid-murid saudara. Saudara tidak bisa melakukan apa-apa tanpa memastikan adanya perhatian mereka."

"Bangkitkan dan pikatlah perhatian dan minat murid pada pelajaran. Jangan mencoba untuk mengajar tanpa adanya perhatian."

  1. Perhatian
  2. Sampai pada usia tujuh tahun anak-anak mempunyai jangka perhatian yang singkat, mungkin satu menit saja untuk tiap tahun usia. Biasanya tidak bisa diharapkan lebih banyak dari mereka. Jangka perhatian anak-anak usia 7 tahun sampai dengan 9 tahun sudah bertambah lama. Mereka mulai menghargai kemampuan mereka sendiri dan menyukai pemikiran atau diskusi yang memakan waktu lebih lama. Pertengahan tahun pertama SD atau selama kelas dua, anak-anak sekolah yang terlatih baik mulai beralih dari banyak aktivitas jasmaniah dan menyukai aktivitas mental. Nyata sekali jangka perhatian mereka menjadi lebih panjang. Pada tingkatan mana saja seorang guru yang bijaksana mula-mula akan berusaha untuk memperoleh perhatian, kemudian meningkatkannya, baru akhirnya mengubah perhatian tersebut menjadi minat.

  3. Minat
  4. Perhatian bergantung pada minat. Lebih mudahlah untuk memperoleh dan memikat perhatian seorang murid yang berminat. Suatu perintah atau suatu permainan yang menarik perhatian dapat membangkitkan perhatian untuk sementara, tetapi hanya minat yang sungguh dapat membuat perhatian itu bertahan.

    Kemampuan untuk membangkitkan dan memelihara minat bergantung pada: menemukan bidang pemikiran murid; menjaga terhadap gangguan-gangguan dari luar; memberikan pelajaran yang cocok dengan kecakapan murid;
    mendapat kerja sama murid dalam pelajaran.

    Perhatian dan minat berkaitan secara langsung dengan motivasi. Belajar yang bermotivasi adalah cara belajar yang diinginkan oleh murid. Cara yang tercepat untuk menghasilkan belajar yang bermotivasi ialah dengan jalan menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan para murid. Jika pelajar diberi pekerjaan yang nampaknya berguna bagi mereka dan yang memenuhi kebutuhan mereka, perhatian serta minat akan terpelihara.

HUKUM BAHASA

Bahasa yang Dipakai sebagai Media antara Guru dan Murid Haruslah Bahasa yang Lazim bagi Kedua Pihak.

Pada pihak yang satu terdapat guru dengan perlengkapan yang penting, yaitu pengetahuannya; pada pihak lain terdapatlah murid dengan perhatiannya yang berminat. Langkah berikutnya adalah menetapkan hubungan yang baik di antara mereka.

Guru mungkin mempunyai perbendaharaan kata yang lebih besar, tetapi ia harus membatasi dirinya dan hanya menggunakan bahasa muridnya. Jika guru menolak atau gagal menyesuaikan diri dengan bahasa murid, pelajaran itu tidak bisa dipahami. "Pakailah kata-kata yang bisa dimengerti oleh murid dan saudara sendiri, bahasa yang jelas dan terang bagi keduanya."

Bahasa yang dipakai akan berbeda untuk tiap tingkatan usia dalam gereja. Untuk menjalankan hukum bahasa, Gregory menyarankan yang berikut ini bagi guru.

Pelajari selalu dengan saksama bahasa murid-murid.

Ungkapkan pendapat saudara sendiri sedapat-dapatnya dalam bahasa murid.

Pakailah bahasa yang paling sederhana dan kata-kata yang paling sedikit untuk menyatakan maksud.

Pakailah kalimat-kalimat pendek dengan bentuk yang paling sederhana.

Terangkan arti kata-kata baru dengan lukisan-lukisan.

Seringkali ujilah pengertian murid akan kata-kata yang dipakainya.

HUKUM PELAJARAN

Pelajaran yang Harus Dikuasai Itu Hendaknya Diterangkan Melalui Kebenaran yang Sudah Diketahui Oleh Pelajar. Hal-hal yang Tidak Diketahui Harus Diterangkan dengan Perantaraan Hal-hal yang Diketahui.

Hukum ini secara langsung berkaitan dengan pelajaran atau kebenaran yang akan diajarkan. Inilah dasar bagi semua ilmu pendidikan. "Mulailah dengan apa yang sudah diketahui betul oleh murid tentang mata pelajaran itu, atau dengan apa yang telah dialami sendiri oleh murid, - kemudian melanjutkan kepada bahan yang baru dengan berangsur- angsur dan wajar, serta membiarkan apa yang sudah diketahuinya itu menerangkan hal-hal yang belum diketahuinya."

Semua ajaran dimulai dari titik hubungan yang telah diketahui. Jika mata pelajaran itu baru sama sekali, maka harus dicari titik yang diketahui. Hukum asosiasi atau hubungan ini merupakan dasar bagi semua perkembangan mental. Kebenaran-kebenaran yang baru hanya bisa dimengerti bila dipandang dari segi kebenaran-kebenaran yang telah ada.

Tuhan kita pandai sekali memakai hukum ini. Dia senantiasa membangun kebenaran yang baru di atas fakta-fakta yang sudah terkenal. Pendengar-pendengar-Nya sudah biasa dengan Perjanjian Lama. Penyaliban-Nya itu akan mirip dengan kejadian meninggikan ular tembaga di padang gurun. Penguburan dan kebangkitan-Nya dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman nabi Yunus. Saat kedatangan-Nya kembali akan seperti zaman Nuh dan Lot. Kejadian-kejadian di masa depan dilukiskan dengan hal-hal yang sudah terjadi.

Untuk hukum pelajaran, guru harus mengetahui beberapa prosedur yang berkaitan.

  1. Hubungkan dengan pelajaran-pelajaran yang lalu
  2. Apa yang telah dipelajari boleh dianggap seperti sebagian dari hal- hal yang sudah diketahui. Jika guru telah mengajarkan pelajaran- pelajaran yang lalu itu, dia sudah mengenal keadaan muridnya. Setiap ulangan mendemontrasi hukum ini, dan cara yang paling baik untuk menjalankan prinsip ini ialah dengan mengutamakan ulangan.

  3. Lanjutkan pelajaran dengan langkah-langkah yang bertahap.
  4. Seorang atlit tidak akan menetapkan sasarannya pada ketinggian yang belum terjangkau, baru kemudian mencoba untuk melompatinya. Dia akan mulai dengan ketinggian yang bisa dilompatinya dan kemudian menaikkannya seinci demi seinci sehingga dia menetapkan rekor barunya. Demikianlah seorang murid harus bisa memahami sepenuhnya setiap kebenaran yang diajarkan sebelum dia bisa menyelidiki dan mengerti kebenaran berikutnya. Ide-ide baru menjadi sebagian pengetahuan murid dan menjadi titik tolak bagi tiap kemajuan yang baru. Jika Guru menuruti prinsip ini, ia dapat memperoleh kemajuan yang lebih cepat serta mencapai prestasi yang lebih tinggi.

  5. Terangkan dengan lukisan.
  6. Jika kemajuan dalam pelajaran itu terlalu cepat sehingga tak dapat diikuti oleh pikiran murid, maka menyebut dan menunjukkan hal-hal yang sudah diketahui murid itu akan membantu pengertiannya. Kata- kata kiasan seperti tamsil, metafora, dan ibarat telah muncul karena perlunya menghubungkan kebenaran-kebenaran sebelumnya dan situasi-situasi serta pengalaman-pengalaman yang sudah diketahui dengan pelajaran yang baru.

  7. Pedoman menuju pemindahan pelajaran.
  8. Hukum pelajaran juga berlaku untuk memindahkan apa yang telah dipelajari murid dalam satu keadaan kepada keadaan yang lain. Jika seorang murid telah belajar untuk mentaati ibu atau ayahnya, apakah dia juga akan mentaati Tuhannya ?

    Jika keadaan yang dikenal dan yang tidak dikenal itu serupa dan mempunyai cukup banyak unsur yang bersamaan, pelajar mampu memindahkan pengertiannya mengenai situasi yang satu kepada situasi yang lainnya. Guru mempunyai tanggung jawab untuk menolong murid- muridnya melihat unsur-unsur yang bersamaan itu dan penggunaan yang lebih luas dari prinsip-prinsip Alkitab yang disampaikannya.

HUKUM PROSES MENGAJAR

Mengajar Ialah Menggairahkan dan Memakai Akal Pikiran Pelajar Untuk Mengerti Pikiran Guru atau Menguasai Seni Ketrampilan yang Diajarkannya.

"Diri pelajar itu tak akan berpadu dengan agama sebelum pelajar atau pemikir itu sendiri terlibat dalam pemikirannya." Pelajar hendaknya mencernakan dan mengolah setiap bagian Alkitab ketika dia diberi santapan rohani. Aktivitas guru tidak efektif kalau dia tidak menimbulkan minat murid dan menyebabkan dia bertindak. "Rangsanglah pikiran murid agar bertindak. Jagalah agar pikirannya sedapat mungkin mendahului penyajian saudara, dengan demikian ia menjadi seorang penemu."

"Mempersiapkan seorang pelajar untuk menggunakan semua kecakapannya dengan sepenuhnya merupakan usaha yang bersifat perseorangan dan sama sekali berlawanan dengan proses produksi benar-besaran." Jika pelajar- pelajar tidak berpikir sendiri, tidak akan ada hasil-hasil yang bisa bertahan lama. Proses belajar itu dipercepat, apabila para pelajar mengadakan penyelidikan secara mandiri. Memang benar bahwa pengetahuan bisa diperoleh tanpa seorang guru, dan ada orang yang maju atas usaha sendiri serta berhasil baik, yang tidak pernah mengikuti perguruan tinggi. Akan tetapi hal ini tidak meniadakan perlunya sekolah-sekolah dan guru-guru. Seorang guru yang baik hanya menyediakan suasana yang menyenangkan agar pelajar dapat belajar sendiri. Dia tidak hanya menanamkan pengetahuan. Dia menggairahkan mereka untuk memperoleh pengetahuan itu. Dia mendorong mereka dan memberi teladan dalam cara belajar yang tekun dan serius. Dia membimbing, tetapi dia tidak menghalangi kemajuan pelajarnya.

  1. Menyediakan bahan pemikiran
  2. Proses-proses pemikiran terbatas pada pengetahuan yang telah diperoleh. Pelajar yang tidak mengetahui apa-apa tidak dapat memikir, karena ia tak mempunyai apa-apa untuk dipikirkannya. Agar seseorang bisa membandingkan, mengritik, mempertimbangkan dan memperbincangkan, pikirannya harus mengolah bahan-bahan yang telah diperolehnya. Oleh karena itu pelajar memerlukan keterangan yang berdasarkan fakta-fakta, yang dapat dipakai sebagai dasar pemikiran. Pendidikan juga mencakup proses mendesak pelajar mengungkapkan pikirannya, tetapi guru itu tak bisa meminta pelajar mengungkapkan pengetahuan yang sebelumnya tidak ditanamkan dalam pikiran pelajar itu.

  3. Merangsang Penyelidikan
  4. Penting juga untuk membangkitkan semangat menyelidik. Proses-proses pendidikan yang padat dimulai ketika pelajar menanyakan siapa, apa, bilamana, mengapa, di mana, dan bagaimana terjadi sesuatu. Pikiran yang matang menggumuli masalah-masalah alam semesta. Buah apel yang jatuh menyebabkan pikiran Newton bertanya-tanya mengenai gaya berat. Cerek air yang mendidih mengajukan masalah mesin uap kepada Watt. Pertanyaan merupakan penunjuk bagi pikiran murid dan bagi batinnya. Pertanyaannya menimbulkan kesadaran diri dan pemikiran sendiri. Guru harus menggairahkan pencarian akan pengetahuan ini, demikian juga keinginan akan pengungkapan.

  5. Memberi kepuasan
  6. Jika seorang murid mendapatkan kesenangan dari apa yang dilakukannya, dia mungkin sekali akan melanjutkan aktivitas itu. Ini dikenal sebagai imbalan atau penguatan kembali. Kecenderungannya ialah mengulangi pengalaman yang memuaskan dan menghindari pengalaman yang tidak memuaskan.

    Kepuasan akan diperoleh apabila hal belajar itu berguna bagi pelajar dalam kehidupannya sehari-harinya, dan memenuhi kehutuhannya. Guru itulah yang mempunyai kesempatan untuk menjadikan pengalaman belajar itu bermanfaat bagi setiap murid.

HUKUM PROSES BELAJAR

Belajar Ialah Memikirkan Suatu Ide atau Kebenaran Baru Sehingga Mengerti, atau Mengerjakan Suatu Seni atau Ketrampilan Baru Sehingga Menjadi Biasa.

Guru yang efektif akan membangkitkan dan membimbing aktivitas yang berasal dari diri pelajar-pelajarnya sendiri. Dia juga mengevaluasi tanggapan murid akan usaha guru. Dia menolong murid-murid mengevaluasi kebenaran baru dan mewujudkannya dalam seni dan ketrampilan dari kehidupan sehari-hari.

Belajar meminta minat dan perhatian yang aktif, serta meminta tindakan atau proses yang jelas dan terang, yang hanya bisa dilakukan oleh pelajar sendiri. Pelajar itu sendiri harus melatih pikirannya untuk memperoleh pengertian yang benar tentang fakta-fakta atau prinsip-prinsip dalam pelajaran itu. Hukum proses belajar ini penting sekali.

Pekerjaan mendidik itu lebih banyak dikerjakan oleh murid dari pada oleh guru. Belajar yang sebenarnya bukan sekedar pengulangan. Penemuan yang semula merupakan proses yang menggetarkan hati serta menggairahkan. Penemu itu meminjam fakta-fakta yang telah diketahui orang lain dan menambahkan apa yang dipelajarinya dari pengalaman. Guru memakai hukum ini untuk membimbing murid menjadi seorang penyelidik yang mandiri.

Ada tiga tahap belajar yang berbeda, dan tiap tahap itu membawa murid untuk menguasai hal belajar.

  1. Reproduksi
  2. "Mintalah kepada murid untuk mengulang dalam pikirannya pelajaran yang sedang dipelajarinya - memikirkan berbagai bagian dan penerapan dari pelajar itu sehingga dia bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sendiri." Memang mungkin untuk mengulang kata-kata yang tepat dari pelajaran apa pun dengan menghafalnya. Akan tetapi pelajar yang tidak mengerti apa yang dihafalkannya tidak bisa menghayati pelajaran itu. Dia seperti seseorang yang membeli sebuah buku dan meletakkannya di dalam perpustakaannya, tetapi tidak mempergunakannya.

  3. Tafsiran
  4. Dalam proses belajar itu sudah terjadi kemajuan yang nyata, ketika pelajar itu diajar untuk memberikan lebih banyak dari pada kata- kata atau fakta-fakta yang dipelajarinya. Jika dia mengungkapkan pendapatnya sendiri mengenai fakta-fakta itu, maka dia mengerti apa yang diajarkan kepadanya. Dia telah belajar untuk mengolah pikirannya sendiri, demikian juga pikiran orang lain. Kegagalan untuk mendesak agar pelajar mengungkapkan pemikirannya sendiri adalah kesalahan yang sering terdapat pada guru-guru yang tidak terlatih. Seorang guru yang baik jarang menanyakan pertanyaan yang memakai kata tanya "apa". Pertanyaan seperti itu dijawab dengan memberikan fakta-fakta saja. Seorang guru yang terlatih menanyakan "mengapa", sehingga murid-muridnya belajar untuk berpikir sendiri.

  5. Penerapan
  6. Pendidikan bukan sekedar memperoleh atau mengerti pengetahuan. Tidak ada pelajaran yang dipelajari secara sempurna sebelum pelajaran itu diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan adalah kekuasaan - tetapi hanya bila pengetahuan itu sudah dikuasai, dimanfaatkan, dan dipekerjakan. Menyatakan pendapat dapat melatih pikiran, tetapi menerapkan pengetahuan mempengaruhi kemauan dan mengubahkan kehidupan pelajar. Jika penerapan pribadi yang praktis diabaikan, pelajar-pelajar akan "selalu belajar, tetapi tidak akan pernah mengetahui kebenaran" ( 2 Timotius 4:7 ). Ini hanya "pengetahuan otak" saja dan tidak mengakibatkan perubahan hidup yang dilaksanakan oleh anugerah Allah.

HUKUM PENGULANGAN DAN PENERAPAN

Ujian dan Bukti Bahwa Guru Benar-benar Telah Mengajar Ialah Pengulangan, Pemikiran Kembali, Pengenalan Kembali, Penghasilan Kembali dan Penerapan dari Bahan yang Telah Diajar.

Rapat-rapat kerja seringkali dibuka dengan pembacaan notulen rapat yang lalu dan ditutup dengan notulen tentang acara kerja pada hari itu. Pada pembukaan dan penutup rapat itu segala sesuatu yang telah terjadi itu diulang. Pengulangan yang pertama menetapkan hubungan yang erat dengan rapat-rapat yang lalu. Pengulangan yang kedua menghubungkan apa yang dikerjakan pada hari itu dengan rapat berikutnya. Pentinglah mengadakan hubungan dengan pelajaran-pelajaran yang lalu pada pembukaan setiap pelajaran. Demikian pula sama pentingnya untuk menghubungkan pelajaran pada tiap hari itu dengan pelajaran berikutnya, dan menghidupkan semua ajaran dalam hidup para pelajar. "Mengulang, mengulang, sekali lagi mengulang, mereproduksi yang lama, memperdalam kesannya dengan pikiran yang baru, mengaitkannya dengan arti-arti yang baru, menemukan penerapan baru, membetulkan setiap pandangan yang keliru dan melengkapkan yang benar."

Hukum ini meliputi pengetahuan dan penggunaan tiga bidang penekanan.

  1. Mengokohkan dan menyempurnakan pengetahuan
  2. Pengulangan bukanlah sekedar mengingat kembali apa yang diajarkan. Itulah suatu usaha untuk memusatkan perhatian kembali kepada fakta- fakta dan prinsip-prinsip yang telah diajarkan sebelumnya. Juga pengulangan memberi kesempatan untuk memperoleh pengertian yang lebih dalam serta mengaitkan pengetahuan yang dahulu dengan situasi-situasi yang baru. Pandangan pertama pada sebuah lukisan tidak akan menyatakan setiap detilnya. Pembacaan ulang sebuah buku seringkali menunjukkan fakta-fakta yang tidak diperhatikan pada pembacaan yang mula-mula. Demikianlah halnya dengan penelaahan Alkitab. Tak ada buku lain yang memerlukan pembacaan dan penyelidikan yang saksama seperti Alkitab. Tak ada buku lain yang begitu penuh dengan berkat dan harta seperti buku ini. Mengulang ayat-ayat yang lazim dan digemari akan memberi pengertian baru dan memperlihatkan pelajaran-pelajaran baru.

  3. Mengingat dan meneguhkan pengetahuan
  4. Pengulangan membiasakan dan menguatkan pengetahuan itu dengan jalan menghubungkan ide-ide. Seseorang yang diperkenalkan pada sekelompok orang mungkin tidak bisa mengingat semua nama yang telah disebut itu. Beberapa saat kemudian kalau seseorang lain dikenalkan, dia akan mengulang nama-nama itu dan ingatannya akan dikuatkan. Pelajaran yang dipelajari hanya sekali, segera akan terlupa. Apa yang sering diulangi akan menjadi sebagian dari perlengkapan pengetahuan dan dapat diingat dan dipakai secara tetap. Inilah patokan sebenarnya dari prestasi belajar.

  5. Menerapkan dan mempraktekkan pengetahuan
  6. Pengulangan yang saksama, yang seringkali dilakukan, menyebabkan pengetahuan itu dapat digunakan dengan cepat. Nas-nas Alkitab yang paling banyak menolong kita ialah nas-nas yang telah diterapkan dan dipakai. Nas-nas ini diingat apabila keadaan memerlukan. Kebenaran- kebenaran yang menjadi lazim karena pengulangan membentuk sikap dan membina watak. Jika kita ingin ditopang dan dikuasai oleh kebenaran- kebenaran yang mulia, kita harus mempraktekkannya sehingga kebenaran-kebenaran tersebut menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Alkitab mengakui kebenaran ini dalam ayat yang berbunyi, "hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat." Pengulangan merupakan aktivitas yang perlu dan penting; itulah syarat yang perlu sekali bagi semua pengajaran yang benar. Tidak mengulang berarti bahwa pengajaran itu tidak sempurna.

GSM-Referensi 04b

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Hakekat Mengajar
Kode Pelajaran : GSM-R04b

Referensi GSM-R04b diterjemahkan dari:

Judul Buku : Understanding Teaching
Judul Artikel Asli : Sourches of Teaching Materials
Penulis : Kenneth O. Gangel, Ph.D.
Penerbit : Evangilical Training Association, Wheaton, Illinois -- USA, 1979
Halaman : 60 - 61

Referensi Situs
Nama Situs : www.sabda.org
Alamat URL : http://www.sabda.org/pepak/08/jun/2005//

REFERENSI PELAJARAN 04b - HAKEKAT MENGAJAR

SUMBER-SUMBER BAHAN PELAJARAN

Masalah lain seputar bahan pelajaran adalah sumber-sumber bahan pelajaran tersebut. Berikut ini kami ulas beberapa hal yang dapat Anda jadikan sebagai sumber bahan pelajaran Anda.

  1. Pengalaman Pribadi
  2. Mereka yang berhasil menulis sebuah buku adalah orang-orang yang selalu sensitif terhadap sesuatu yang terjadi di sekitar dan kehidupan mereka. Mereka dapat menerjemahkan pengalaman hidup mereka menjadi sesuatu yang menarik dan berarti dalam sebuah buku. Pelajaran dan cerita sekecil apa pun yang ada dalam buku tersebut adalah kejadian yang dialami dalam kehidupan mereka hari demi hari.

    Seorang guru yang baik harus mengembangkan kepekaan mereka terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan. Paling tidak, guru harus mempunyai pola pikir bahwa seluruh hidupnya merupakan persiapan dasar untuk mengajar. Tuhan berkenan memberikan kita berbagai macam pengalaman hidup -- pengalaman yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan. Guru yang sigap akan menangkap setiap pengalaman hidupnya sebagai bahan mengajar yang menarik.

  3. Buku-buku
  4. Seorang pengkhotbah terkenal, W.B. Riley, berulang kali mengatakan kepada murid-muridnya, lebih baik meja tanpa mentega di atasnya daripada sebuah rak tanpa buku di dalamnya. Kekayaan yang terkandung dalam sebuah buku sangat memungkinkan seorang guru memiliki persiapan bahan pelajaran yang tidak terbatas. Dengan membaca kita memiliki kesempatan yang tidak terbatas untuk mengembangkan diri.

  5. Mengamati Orang
  6. Sudah sejak lama diketahui bahwa pengamatan merupakan salah satu kunci untuk mengerti kehidupan anak-anak. Banyak hal yang dapat dipelajari tentang perkembangan anak dengan mencatat seluruh pola aktivitas dan perilaku setiap tingkatan umur mereka. Guru Kristen yang sigap selalu dapat melihat bahwa perilaku orang di sekelilingnya merupakan ilustrasi penting dalam pelajarannya.

  7. Majalah dan Koran
  8. Kami diberitahu bahwa ledakan ilmu pengetahuan akhir-akhir ini telah menghasilkan lebih banyak informasi dari yang kami ketahui pada masa sebelumnya. Untuk itu, seorang guru Kristen diharapkan selalu waspada terhadap segala perkembangan yang terjadi dalam dunia ini. Majalah dan koran merupakan sumber yang sangat penting untuk mengetahui hal tersebut. Tantangannya bukan sekadar mengumpulkan ilustrasi untuk menolong pengajaran Anda, melainkan juga untuk membuat strategi bagaimana Anda menghubungkan perkembangan dunia, tempat murid-murid Anda berada saat ini, dengan kebenaran Kristen.

    Ada dua hal penting yang harus menjadi catatan setiap guru mengenai sumber-sumber bahan pelajaran. PERTAMA, catatlah selalu kejadian, ide, atau ilustrasi yang Anda temukan untuk memudahkan jika Anda akan menggunakannya dalam bahan pelajaran Anda. Beberapa guru menemukan bahwa catatan merupakan penolong yang sangat berharga. Catatan-catatan tersebut dapat dipelajari sewaktu-waktu dan dengan mudah dimasukkan dalam dokumen formal sebagai bahan pelajaran.

    Hal penting KEDUA adalah saat kita mengumpulkan bahan dari sumber- sumber di atas, kita tidak harus langsung mencari-cari pelajaran apa yang sesuai dengan bahan-bahan tersebut. Dalam beberapa kasus ada guru yang terlebih dahulu mengajar dengan kurikulum yang sudah ditentukan. Setelah selesai mengajar guru tersebut baru akan menggunakan ilustrasi yang dia dapatkan untuk membuat pelajaran hari itu lebih berarti. Setelah itu dia akan kembali mencari ilustrasi atau materi lain yang serupa, sehingga dapat digunakan lagi saat dia mengajarkan pelajaran yang sama di waktu yang akan datang.

GSM-Referensi 04C

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Hakekat Mengajar
Kode Pelajaran : GSM-R04c

Referensi GSM-R04c diambil dari:

Judul Buku : Mereformasi Sekolah Minggu
Penulis : Pdt. Drs. Paulus Lie
Penerbit : PBMR ANDI, Yogyakarta
Halaman : 87 - 92

Referensi Situs
Nama Situs : www.sabda.org
Alamat URL : http://www.sabda.org/pepak//

REFERENSI PELAJARAN 04c - HAKEKAT MENGAJAR

Tuhan Memanggil Anda dengan Panggilan Khusus

Setiap orang yang dipanggil-Nya untuk menjadi guru sekolah minggu pasti akan dipanggil-Nya secara khusus. Perhatikan bagaimana Tuhan telah memanggil Anda dengan cara yang khusus? Perhatikan Roma 10:14-15.

"Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

Setiap guru dipanggil pada misi penyelamatan anak. Dengan meyakini panggilan ini, guru akan semakin bertambah semangat untuk melayani. Teliti sekali lagi, mengapa hari ini Anda berada di lingkungan sekolah minggu? Bagaimana cara Allah memanggil Anda? Sudahkah Anda sekarang meyakini bahwa Tuhan ternyata memanggil Anda menjadi utusan surgawi?

Panggilan adalah karunia dan kepercayaan dari Tuhan. Perhatikan: "... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" (Filipi 2:13). Allah rela memercayakan sebuah pelayanan kepada kita. Hal ini merupakan karunia yang mahaindah, sebuah kepercayaan dari Tuhan! Kita jangan menyia-nyiakan kesempatan emas melayani Tuhan.

Jika kita menjadi guru sekolah minggu, itu karena kita diutus Tuhan. Bukan karena kehendak kita sendiri, teman, dorongan pendeta, bukan karena siapa-siapa, melainkan karena diutus-Nya! Jika demikian, betapa tugas dan tanggung jawab itu diberikan oleh Tuhan sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan sajalah pelayanan kita, serta kepada Tuhanlah kita mempertanggungjawabkan pelayanan kita sebagai guru. Kita tidak dipanggil dan bertanggung jawab kepada manusia saja (baik kepada gereja, pendeta/pemimpin jemaat, komisi/departemen anak, sesama guru dan anak), tetapi terutama kepada Dia yang mengutus kita, yaitu Tuhan.

Masing-Masing Guru Diutus dengan Cara yang Unik

Tuhan dapat memakai seribu satu macam cara untuk memanggil kita menjadi guru di ladang pelayanan anak. Tuhan dapat memanggil Anda melalui:

  1. Khotbah pendeta/pengkhotbah
  2. Keprihatinan melihat keberadaan kelas sekolah minggu di suatu tempat
  3. Melalui teman/dorongan orang lain
  4. Diundang teman/guru untuk ikut melayani pada suatu waktu
  5. Mimpi
  6. Penglihatan
  7. "Keinginan melihat-lihat" keadaan sekolah minggu
  8. Tugas dari gereja/sekolah untuk mengamati pelayanan anak
  9. Membaca buku/majalah (buku kesaksian atau renungan)atau
  10. Seribu satu kemungkinan cara lainnya.

Roh Kudus memakai cara-cara di atas sebagai alat bantu atau media untuk memanggil seorang guru sekolah minggu. Roh Kudus juga yang berbicara langsung dalam hati setiap guru yang dipanggil untuk bersedia ikut ambil bagian dalam pelayanan anak ini.

"(aku) berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (Filipi 3:14). Jika Paulus mengejar panggilan surgawi sebagai hadiah, bagaimana sikap kita? Sudahkah kita mengejar, dan memenuhi panggilan surgawi dari Tuhan itu?

Panggilan Itu Sering Berkali-Kali

Sering kali, kita perlu diyakinkan oleh Tuhan tentang panggilan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan sering kali berulang-ulang memanggil kita dalam berbagai kesempatan. Cara Tuhan memanggil berbeda-beda. Tujuan dari panggilan yang berkali-kali supaya seseorang benar-benar meyakini panggilan-Nya. Karena itu, Roh Kudus memakai banyak cara sampai seseorang meyakini panggilan surgawi itu, dan masuk dalam ladang pelayanan anak. Berbahagialah Anda jika menaati panggilan Tuhan pada panggilan pertama, seperti Abraham, Filipus, dan Saulus yang langsung taat ketika diperintahkan Tuhan.

Kadang Panggilan Itu Masih Terbuka Seumur Hidup

Ketika seseorang sudah dipanggil, Roh Kudus dengan sabar menantikan pelayanannya. Terkadang seseorang mengeraskan hati untuk beberapa lama. Namun, Tuhan tidak segera menutup panggilan itu.

Jika menunda memenuhi panggilan Tuhan, kita rugi besar!

Seseorang yang menunda panggilan Tuhan sebenarnya rugi besar, karena:

  1. Kehilangan kesempatan membawa lebih banyak jiwa bagi Tuhan
  2. Menyia-nyiakan waktu memberi persembahan yang lebih baik bagi Tuhan dan
  3. Semakin tua semakin terbatas: tenaga, pikiran, waktu, daya, dan kemampuan. Berarti makin sedikit yang dapat kita berikan kepada Tuhan. Walaupun berguna, namun tidak semaksimal kalau kita menerima panggilan itu pada usia yang lebih muda!

Panggilan Bukan kepada yang Sempurna

Banyak orang beralasan "aku tidak mampu menjadi guru sekolah minggu", ia berpikir Tuhan memanggil orang yang siap pakai menjadi guru. Ia berpikir Tuhan memanggil yang sempurna, atau yang berbakat bercerita atau memimpin pujian, kreatif, dan sebagainya. Tidak! Allah memanggil orang yang bersedia memenuhi panggilan-Nya, betapapun terbatasnya orang itu. Sebab Tuhan menyertai dan membentuk serta melatih seseorang, sehingga menjadi guru yang baik bagi anak-anak. Allah melihat hati dan tidak "penampilan luar".

Samuel begitu terpesona dengan penampilan Eliab (kakak Daud), tetapi kata Allah, "Jangan pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat mata yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (1 Samuel 16:6-7).

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Dipanggil Menjadi Guru Penuh Waktu, Bukan Guru Bantu!

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Setiap guru dipanggil menjadi guru penuh waktu. Hal ini diartikan bahwa kita diminta secara serius dan dengan sepenuh hati memikirkan anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Setiap Minggu kita harus mendampingi mereka.

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Jika kita tidak sedang bertugas, kita dapat membantu guru yang bertugas, dan mendampingi anak-anak dalam berbakti, serta ikut berperan membuat kebaktian anak menjadi berkat bagi mereka. Setiap ada waktu, kita perlu menyediakan waktu untuk mengunjungi dan mengikuti persiapan mengajar dengan guru-guru lainnya. Tugas pelayanan kita di sekolah minggu akan disesuaikan Tuhan dengan talenta yang Dia berikan kepada kita.

Merasa Tidak Dipanggil Sehingga Setengah Hati

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Terkadang, ada guru yang tidak melayani dengan sepenuh hati. Ia cenderung mengajar asal-asalan, kurang bersemangat, dan suka meninggalkan pelayanannya karena kecewa. Salah satu penyebabnya karena ia kurang menghayati panggilan Tuhan kepadanya sebagai utusan surgawi bagi anak-anak.

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Belum terlambat jika Anda hendak memenuhi panggilan surgawi itu. Jika hari ini Anda diberkati Tuhan dengan kesehatan, maka belum terlambat untuk memenuhi panggilan Tuhan menjadi guru sekolah minggu.

Setiap Utusan Diperlengkapi oleh Kuasa Tuhan

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Tuhan yang memanggil tidak pernah hanya memanggil, tetapi Dia juga memperlengkapi orang yang dipanggil-Nya. Dia juga yang memberikan kemampuan untuk dapat ambil bagian dalam pelayanan anak, bahkan kuasa Tuhan mengiringi pelayanannya. Tuhan juga yang akan mencukupkan berbagai kebutuhan dan keperluan dalam pelayanannya. Tuhan juga yang akan memberikan pertumbuhan dan kemajuan dalam pelayanan.

Sebab yang Menyertai Kita Tidak Terbatas!

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Apakah Anda punya kelemahan atau keterbatasan untuk menjadi guru sekolah minggu? Percayakan hal tersebut pada Tuhan. Tugas kita adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

Pelayanan Mengembangkan Kerajaan Allah di Dunia Ini

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Memenuhi panggilan sebagai guru sekolah minggu, berarti ikut ambil bagian bersama Tuhan untuk mengembangkan Kerajaan Allah di dunia ini. Setiap orang Kristen yang terbentuk karena pelayanan kita mungkin akan menjadi pendeta, guru sekolah minggu, majelis jemaat, aktivis gereja, penginjil, guru agama, dan orang Kristen yang berdampak pada lingkungannya. Mereka diharapkan memberi kontribusi yang berharga bagi perkembangan Kerajaan Tuhan di bumi ini. Jadi, tidak ada yang sia-sia dalam melayani Tuhan. Setiap pelayanan berarti menabur "benih" yang akan dipanen suatu saat nanti.

Sadarilah Panggilan yang Berdampak Luas Itu

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Begitu banyak jiwa yang dihasilkan dari jaringan pelayanan yang berantai dan terus-menerus. Belum lagi jika kita aktif melayani sebagai guru sekolah minggu selama 20 tahun. Berapa jiwa yang kita persembahkan bagi Tuhan? Secara langsung atau tidak, oleh pelayanan anak-anak kita di kemudian hari, "buahnya" begitu banyak!

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Jadi, penuhilah panggilan pelayanan Anda. Lihatlah benih yang ditaburkan, yang akan menjadi panen yang terus berkesinambungan dan secara luar biasa menjadi berkat untuk kemuliaan Tuhan.

Setiap Murid dapat Membawa Panen Besar di Masa Depan

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Rasul Filipus pernah berkata, "Sekali-kali aku pantang kembali ke Yerusalem sebelum aku mempersembahkan jiwa-jiwa bagi Kristus, sekalipun hanya satu." Sebab Filipus sadar, yang satu (satu murid) dapat membawa panen besar di masa depan, setiap murid berharga di mata Tuhan, walau hanya satu.

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Jika Anda hari ini memiliki lebih dari satu murid, sungguh berharganya murid-murid itu bagi Tuhan. Betapa kita sangat bersyukur kalau Tuhan telah memercayakan kepada kita satu murid atau lebih.

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Lukas 1:1 dan Kisah Para Rasul 1:1. Demi seorang Teofilus, Lukas bersedia membuat dua kitab, dengan sangat serius dan sangat teliti. Semua itu pastilah disertai pengorbanan yang besar dan jerih lelah. Pengorbanan besar itu dilaluinya dengan sukacita, sebab ia sadar karya pelayanannya pastilah membawa panen tidak hanya satu! Buktinya? Dalam Kisah Para Rasul, Teofilus dipanggil dengan sebutan yang lebih akrab. Kemungkinan besar Teofilus sudah semakin dekat dengan kekristenan (atau bahkan sudah menjadi seorang percaya). Dan yang pasti, dua kitab yang ditulisnya sudah menjadi berkat bagi jutaan, bahkan mungkin miliaran orang karena tulisannya (yang diilhami dan dipimpin Roh Kudus). Sungguh, pelayanan Lukas menjadi berkat bagi begitu banyak orang!

Rangkaian Pengaruh

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Edward Kimball, seorang guru sekolah minggu, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya memberi pengaruh besar bagi perkembangan kekristenan di dunia. Ia hanya berhasil membawa seorang karyawan toko sepatu menjadi pengikut Kristus pada tahun 1858. Tapi siapa sangka, karyawan itu, yang bernama Dwight L. Moody, menjadi seorang penginjil. Tahun 1879, Moody membawa FB Meyer untuk menjadi penginjil di kampus, dan Meyer berhasil membawa J. Wilbur Chapman menjadi percaya. Chapman berhasil membawa Billy Sunday, dan bersama-sama mengadakan kebaktian penginjilan. Dalam salah satu pertemuan, seorang anak muda bernama Billy Graham menyerahkan hidupnya untuk Kristus. Melalui Billy Graham, berjuta-juta orang mendengar Injil dan menerima Kristus. Kimball telah mengawali sebuah rangkaian pengaruh yang luar biasa! Anda pun dapat melakukannya! Mari kita mulai langkah awal rangkaian pengaruh itu dengan menjadi guru sekolah minggu.

Berkat Surgawi bagi Setiap Orang yang Memenuhi Panggilan Tuhan

Jadi siapa yang dipanggil-Nya? Orang yang hatinya mengasihi Tuhan, yang penuh kerendahan hati bersedia menerima panggilan Tuhan dengan penuh ucapan syukur.

Setiap orang yang bersedia memberi diri untuk melayani Tuhan, pastilah diberkati Tuhan dalam kehidupannya. Sehingga janji: "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat. 6:33), akan menjadi kenyataan. Berkat hidup cukup dari Tuhan akan mengiringi langkah dan hidup para pelayan-Nya. Dan berkat terbesar adalah kita merasakan kehadiran-Nya dan pemeliharaan-Nya mengiringi kehidupan kita sehari-hari. Amin, haleluya

GSM-Referensi 05b

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a |

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Teknik Memimpin Kebaktian Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R05b

Referensi GSM-R05b diambil dari:

Judul Buku : Pembaruan Mengajar
Judul Artikel : Selayang Pandang Tentang Teknik Bercerita
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 92 - 94

REFERENSI PELAJARAN 05b - TEKNIK MEMIMPIN KEBAKTIAN SM

SELAYANG PANDANG TENTANG TEKNIK BERCERITA

Bercerita merupakan metode mengajar yang paling sering dipakai oleh guru-guru Sekolah Minggu dalam proses mengajar. Tuhan Yesus juga sering memakai metode bercerita untuk mengajarkan kebenaran. Sepanjang sejarah, banyak guru besar memakai metode bercerita, untuk menyampaikan pesan-pesan dan pembicaraan mereka yang penting kepada para pendengarnya. Pasal ini akan mengetengahkan secara ringkas hal- hal penting yang harus diperhatikan para pembawa cerita, dan menganalisis teknik-teknik dasar bercerita. Semoga pasal ini dapat menolong para guru menggunakan teknik bercerita dengan lebih efisien.

ORANG YANG BERCERITA

  1. Cara berpakaian: harus rapi, bersih, anggun, leluasa, wajar, dan sesuai dengan keadaan/situasi.
  2. Sikap: sikap yang baik adalah mengendalikan tubuh dengan wajar, misalnya mimik, nafas dan lain-lain harus santai, jangan tegang. Usahakan penampilan yang sopan dan leluasa.
  3. Gerak-gerik: segalanya harus wajar, hindari gerak-gerik yang berlebihan. Jangan selalu mengulang gerakan yang sama. Jangan menjadi terkenal karena suatu gerakan yang aneh. Tenang dan jangan tergesa-gesa.
  4. Pandangan mata: harus memperhatikan semua murid, juga reaksi mereka. Jangan hanya menatap pada satu arah yang sama saja.
  5. Suara: jangan terlalu diperhatikan, tapi juga jangan melalaikan penggunaan suara. Pada waktu berbicara, longgarkanlah bagian tenggorokan, tarik nafas yang dalam, kemudian kumpulkanlah suara. Karena hanya dengan berbuat demikian, barulah dapat diperoleh hasil yang paling ideal.
  6. Nada suara: perhatikan saat kapan nada suara harus tinggi, rendah, besar, kecil, cepat, lambat, berubah, berhenti dan sebagainya. Adakalanya perlu memakai suara tiruan.
  7. Ekspresi: harus dapat mengekspresikan perasaan suka, marah, sedih, gembira, takut, murung, dan lain-lain yang terdapat dalam cerita.
  8. Penggunaan istilah: pilihlah penggunaan istilah yang sesuai dengan usia murid, supaya mereka dapat mengerti isi pelajaran. Boleh menggunakan banyak bentuk dialog langsung, dan usahakan sedikit mungkin pemakaian orang ketiga atau pernyataan yang tidak langsung.<

KESELURUHAN CERITA

  1. Pendahuluan: harus menarik, jangan selalu mengulang ucapan yang sama: "Hari ini cerita yang akan Bapak sampaikan adalah ...", "Apakah kalian suka mendengar cerita", "Dahulu, dahulu kala". Pilihlah pendahuluan dengan cermat, carilah yang baru, menyenangkan dan menarik. Jangan terlalu cepat membocorkan isi atau akhir cerita.<
  2. Penyampaian cerita: harus jelas, terinci dan cukup menawan hati. Isi cerita adalah bagian yang penting, baik sikap maupun gerak- gerik jangan terlalu dibuat-buat, agar murid jangan hanya terpaku pada gerak-gerik kita dan melalaikan isi cerita itu sendiri.
  3. Perubahan: harus ada perubahan yang tidak diduga-duga, jangan selalu menyampaikan dengan cara yang datar dam tak ada, liku- likunya.

  4. Klimaks: Sebaiknya akhirilah cerita pada klimaksnya. Bila tidak, bukan saja akan menjemukan, tetapi juga membuat pendengar letih.
  5. isipan: jangan menyisipkan ajaran moral di tengah-tengah cerita. Sebenarnya tokoh dalam cerita itu sendiri, sudah cukup menjadi contoh yang dapat diteladani oleh murid, atau menjadi peringatan bagi mereka. Bila disisipkan ajaran yang membosankan, cerita itu akan kehilangan daya tariknya.
  6. Kesimpulan: cerita harus diakhiri dengan seru dan penuh kekuatan. Berikan kesan yang mendalam pada murid, jangan mengulang ucapan yang sama, atau mendadak berubah jadi datar dan membosankan: "Sampai di sini cerita hari ini! Maka ... demikian ...begin ..."

PADA SAAT BERCERITA

  1. Usahakan untuk memegang Alkitab di tangan: materi bacaan berupa buku-buku dongeng, mitos, novel, dan cerita-cerita fiktif lainnya telah membanjiri toko-toko buku. Untuk menghindari anak-anak yang masih kecil menganggap mujizat sebagai cerita fiktif, guru harus memegang Alkitab pada saat bercerita. Dengan demikian anak-anak akan mengerti bahwa Alkitab adalah firman Allah dan cerita-cerita yang terdapat dalamnya adalah cerita nyata.
  2. arus sungguh-sungguh dan bersemangat: menyampaikan cerita Alkitab harus penuh semangat. Kesungguhan hati dan sikap yang berkobar- kobar akan membuat murid merasakan pentingnya cerita Alkitab.
  3. Harus menekankan penerapannya: hanya menyampaikan cerita Alkitab saja masih belum cukup sempurna, guru harus menghubungkan kebenaran dengan kehidupan murid setiap hari, agar mereka belajar bagaimana melaksanakan kebenaran.
  4. Pada saat menyampaikan cerita Alkitab harus mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang, bagaikan berhadapan dengan orang yang sudah berada di pinggir neraka. Berupaya meyakinkannya dengan bijaksana agar ia terlepas dari tempat yang berbahaya itu dan jiwanya diselamatkan. Sebab itu, pada saat guru menyampaikan cerita Alkitab, bukan saja harus menarik, tapi juga harus mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang.

GSM-Referensi 06b

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Administrasi Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R06b

Referensi GSM-R06b diterjemahkan dari:

Judul Buku : Administering Christian Education
Pengarang : Robert K. Bower
Penerbit : Wm. B. Eerdmans Publishing Company Grand Rapids, Michigan, 1964
Halaman : 18 - 22

Judul Buku : Childhood Education in the Church
Pengarang : Robert E. Clark, dkk.
Penerbit : Moody Press, Chicago, 1986
Halaman : 236 - 237

Referensi Situs
Nama Situs : www.sabda.org
Alamat URL : http://www.sabda.org/pepak/15/jan/2002//

REFERENSI PELAJARAN 06b - ADMINISTRASI SEKOLAH MINGGU

ADMINISTRASI SEKOLAH MINGGU

Sekalipun berbeda dengan administrasi perusahaan, namun prinsip dasar penyelenggaraan administrasi Sekolah Minggu sebenarnya tidak jauh berbeda. Administrasi adalah proses penyelenggaraan kegiatan untuk mewujudkan rencana/keputusan yang telah dibuat agar menjadi kenyataan, dengan cara mengatur kerja dan mengarahkan orang-orang yang melaksanakannya. Namun, di samping persamaannya, ada juga perbedaan mendasar antara administrasi perusahaan dan administrasi Sekolah Minggu (gereja) yang perlu disadari. Usaha administrasi Sekolah Minggu tidak diarahkan untuk tujuan mencari keuntungan materi, tetapi untuk tujuan yang rohani. Penyelenggaraannya dilakukan tidak dengan prinsip duniawi tapi dengan prinsip kasih; namun demikian tidak berarti administrasi Sekolah Minggu dilaksanakan dengan cara seadanya yang tidak profesional.

Pengertian yang salah tentang pelayanan dapat mengakibatkan hasil pelayanan yang asal-asalan. Pelayanan yang benar harus menuntut standard yang profesional, karena apa yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, dan untuk suatu hasil yang bersifat kekal. Jika untuk usaha duniawi yang fana saja manusia mau melakukannya dengan baik, lebih- lebih lagi untuk hal yang rohani, untuk Tuhan. Kita harus melakukannya dengan lebih baik lagi.

A. KOMPONEN DALAM ADMINISTRASI

Komponen-komponen umum yang termasuk dalam administrasi yang efektif adalah:

  1. Planning/Rencana/Program Kerja
  2. Bagian penting dalam penyelenggaraan administrasi adalah harus ada program kerja yang dibuat sesuai dengan keputusan rapat tentang apa yang akan menjadi tujuan untuk dikerjakan (untuk jangka waktu tertentu).

  3. Organisasi
  4. Perlu ada pengaturan otoritas dan tugas sehingga pekerjaan bisa dilaksanakan dengan tepat oleh orang yang tepat dengan cara yang bertanggungjawab.

  5. Pendelegasian

  6. Pembagian tugas harus dilakukan mengingat bahwa setiap orang mempunyai keahlian/ketrampilan yang berbeda dengan orang lain.

  7. Personel/Staf
  8. Harus ada cukup orang untuk melakukan tugas-tugas yang sudah direncanakan, oleh karena itu perlu ada pertanggungjawaban dari masing-masing orang yang terlibat didalamnya

  9. Koordinasi
  10. Tugas-tugas yang tidak dikoordinasi dengan baik akan menyebabkan pekerjaan yang tumpang tindih sehingga menghasilkan kerja yang tidak efektif dan efisien.

  11. Pelaporan
  12. Pertanggungjawaban dari setiap bagian perlu dilakukan agar dapat diketahui hasil yang dicapai dan kegagalan-kegagalan yang terjadi sehingga dapat diusahakan perbaikan-perbaikan yang perlu diadakan di masa yang akan datang.

  13. Budget
  14. Memprediksi jumlah keuangan yang dibutuhkan, dan yang mampu didapatkan, dan yang mampu dipertanggungjawabkan adalah sangat penting untuk menentukan seberapa jauh program kerja dapat dilaksanakan supaya tidak macet di tengah jalan.

B. PRINSIP-PRINSIP ADMINISTRASI

Sekalipun administrasi penting untuk menjadi sarana kesuksesan penyelenggaraan Sekolah Minggu, namun perlu diingat bahwa administrasi bukanlah segala-galanya. Sekolah Minggu yang menjadikan administrasi sebagai tujuan utama akan menjadikan Sekolah Minggunya perlahan-lahan kehilangan kegairahan dan akhirnya akan mati. Oleh karena itu kita harus ingat bahwa kerapian sistem administrasi tidak sama dengan kedewasaan rohani. Banyak Sekolah Minggu yang administrasinya rapi tapi tidak ada semangat; kehidupan rohani di dalamnya mati. Tapi sebaliknya ada Sekolah Minggu yang administrasinya kacau tapi semangatnya menyala-nyala. Sekolah Minggu seperti ini akan membuang banyak tenaga karena tidak efisien, sehingga lama-lama pelaksananya akan mati kecapaian sebelum tugas selesai dijalankan. Nah, anda sebagai guru Sekolah Minggu yang bijaksana harus bisa memberi keseimbangan antara keduanya.

Berikut ini adalah bahan yang kami terjemahkan dari buku "Administering Christian Education" yang berisi beberapa prinsip administrasi gereja yang perlu diingat agar berjalan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Hal ini tentu saja juga berlaku bagi administrasi Sekolah Minggu.

  1. Orang lebih penting daripada organisasi.
    Prinsip ini bukan hanya mengikuti prinsip "demokrasi" yang diambil dari budaya barat, tetapi prinsip ini sebenarnya adalah prinsip yang diberikan oleh Alkitab sendiri [jauh sebelum budaya barat terbentuk]. Individu manusia lebih penting bagi Allah daripada organisasi (gereja). Kita percaya bahwa gereja Yesus Kristus saat ini dapat menjadi Gereja dalam pengertian yang sesungguhnya jika gereja mengangkat kepentingan individu- individu yang ada di dalamnya di atas organisasi gereja itu sendiri. Dengan kata lain, kita tidak boleh mengorbankan kepentingan individu hanya untuk mengutamakan efisisensi organisasi gereja.
  2. Setiap orang dalam Tubuh Kristus memiliki fungsi atau tugas pelayanan untuk dijalankannya.
  3. Dalam 1 Korintus 12, Rasul Paulus dengan jelas menyatakan bahwa seluruh anggota tubuh Kristus saling tergantung dan merupakan individu yang penting dengan fungsinya masing-masing. Tanggung jawab administrator dengan demikian adalah menemukan tempat- tempat yang tepat untuk setiap jemaat dapat melayani sehingga dapat meningkatkan keefektifan dan misi Allah.

  4. Tujuan utama pemimpin di gereja adalah melayani dan bukan dilayani.
  5. Kristus telah memberikan teladan bagi siapapun yang ingin belajar kepemimpinan di gereja. Yesus berfirman bahwa, "barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat. 20:27). Yesus tidak hanya mengajarkan prinsip ini tetapi juga memberikan teladan lewat kehidupanNya dan pelayananNya. Paulus mengungkapkan bahwa dirinya adalah pelayan Yesus Kristus (Rom. 1:1) dan sebagai pelayan umat gereja Korintus (2 Kor. 4:5). Pemimpin Kristen dengan demikian harus mengembangkan citra bukan sebagai diktator melainkan sebagai pelayan.

  6. Pemimpin harus rela mengemban tanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan jalannya program.
  7. Meskipun nampaknya sangat bertentangan, pemimpin harus mempunyai sikap sebagai seorang yang melayani tetapi pada saat yang sama ia juga sebagai seorang yang mau mengemban tanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan aktivitas para personil yang ditunjuknya. Demikian juga Kristus selain melayani, Ia juga memberikan perintah dan mengirim murid-murid-Nya untuk mengadakan penginjilan ke seluruh penjuru dunia. Mengatur dan memimpin menjadi hal yang penting dalam membimbing, mengarahkan dan menolong orang lain dalam pelayanannya bagi Kristus. Ini adalah tugas pemimpin dalam memimpin suatu program yang dikerjakan dengan cara yang mendidik, bukan dengan metode diktator maupun menguasai.

  8. Mendefinisikan organisasi dengan jelas adalah penting.
  9. Rasul Paulus mengungkapkan bahwa dalam gereja, ada pelayan-pelayan Tuhan yang ditunjuk untuk menjalankan tugas-tugas khusus di gereja. Uskup dan diakon, demikian pula dengan rasul, penginjil, dan nabi, dipersiapkan untuk pelayanan-pelayanan khusus. Semua tugas pelayanan yang mereka emban harus dijalankan dengan sopan dan teratur (1 Korintus 14:40). Alkitab memang tidak memberikan kepada kita pengaturan organisasi gereja yang lengkap. Namun demikian yang jelas kita harus mengikuti peraturan- peraturan umum yang menjadi bagian integral gereja seperti yang diberikan dalam kitab-kita Perjanjian Baru. Sedangkan yang lain yang menjadi pelengkap dapat diatur sesuai dengan kebutuhan yang ada.

  10. Setiap posisi dalam pelayanan di gereja adalah penting.

  11. Karena terpaksa, kita menyebut beberapa posisi dalam organisasi gereja sebagai "lebih tinggi" dan "lebih rendah". Hal ini bukan berarti mengatakan bahwa di mata Tuhan suatu pelayanan atau posisi tertentu lebih penting dari pada yang lain. Seperti yang diungkapkan Rasul Paulus:"...anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus" (1 Kor. 12:22,23). Selain itu gereja juga membuat perbedaan dalam pemberian tugas. Misalnya saja, Jetro, ayah mertua Musa mengungkapkan akan adanya perkara-perkara kecil dan perkara-perkara besar dimana perkara-perkara besar tersebut akan diadili oleh Musa sendiri (Kel. 18:22). Demikian juga para Rasul membedakan antara tugas-tugas penting dan tugas- tugas yang kurang penting (Kej. 6:1-4). Dengan demikian, jenis- jenis kerja adminsitrasi memang perlu dibedakan, tetapi yang lebih penting lagi adalah kesetiaan seseorang akan tugasnya.

GSM-Referensi 06c

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Administrasi Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R06c

Referensi GSM-R06c diambil dari:

Judul Buku : Pola Dasar Perkembangan Sekolah Minggu
Pengarang : AGLC-Teaching Ministries Accra, Ghana
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 13 - 16

Referensi Situs
Nama Situs : www.sabda.org
Alamat URL : http://www.sabda.org/pepak/15/jan/2002//

REFERENSI PELAJARAN 06c - ADMINISTRASI SEKOLAH MINGGU

BUKU CATATAN di SEKOLAH MINGGU

"Hitunglah jumlah segenap umat...catatlah nama...orang demi orang." Bilangan 1:2,3

Allah merasa bahwa bilangan, nama, dan catatan sangat penting. Dalam Alkitab Dia memberi kita sebuah buku lengkap yang disebut "Bilangan", yang merupakan catatan mengenai umat-Nya. Ayat Alkitab yang disebutkan di atas tadi, jelas menunjukkan bahwa Allah menghendaki kita membuat catatan.

Perusahaan-perusahaan tahu pentingnya pencatatan. Hanya dengan jalan membuat catatan yang tepat dapat dilihat gambaran yang benar tentang kemajuan atau kelemahan.

Catatan apa yang penting untuk suatu Sekolah Minggu yang perlu diorganisasi dengan semestinya? Tiga buku catatan khusus diperlukan, yaitu buku Catatan Seluruh Sekolah Minggu, buku Catatan Kelas, dan buku Pendaftaran. Penelitian yang saksama dalam ketiga catatan ini akan menunjukkan keadaan Sekolah Minggu.

I. BUKU CATATAN SELURUH SEKOLAH MINGGU

Untuk menunjukkan kemajuan atau kelemahan sebuah Sekolah Minggu, harus dibuat catatan tentang jumlah yang hadir, jumlah uang persembahan, jumlah tamu dan jumlah yang absen. Misalnya: jika tahun lalu pada hari Minggu pertama bulan Mei yang hadir adalah 236 orang, dan pada hari Minggu pertama bulan Mei tahun ini yang hadir hanya 214 orang, maka apa yang ditunjukkan hal itu mengenai sekolah Minggu? Apa yang ditunjukkannya mengenai guru?

Buku Catatan Seluruh Sekolah (Buku Catatan Sekretaris) akan menunjukkan enam hal kepada kita.

  1. Kehadiran

  2. Apakah kehadiran meningkat dalam tahun ini hingga melebihi tahun lalu atau lima tahun yang lalu, dapat dilihat dalam buku Catatan Seluruh Sekolah. Setiap tahun harus ada peningkatan 10%. Catatan itu juga menunjukkan jumlah murid dalam setiap kelas. Dengan demikian ditunjukkan apakah kelas itu terlalu besar sehingga perlu diadakan pembagian.

  3. Persembahan
  4. Buku catatan ini menunjukkan apakah persembahan tahun ini bertambah banyak dan lebih dari tahun lalu atau lima tahun yang lalu. Sekurang-kurangnya harus ada peningkatan 5% setiap tahunnya.

  5. Tamu
  6. Jumlah tamu dalam setiap kelas juga dicatat dalam buku Catatan Seluruh Sekolah. Sedikit-dikitnya harus ada seorang pengunjung untuk setiap 10 anggota setiap Minggunya.

  7. Yang Absen
  8. Buku ini juga menunjukkan berapa murid yang absen setiap Minggu. Dengan demikian nota perkunjungan dapat disiapkan dan tugas perkunjungan dibagikan.

  9. Kehadiran Pengurus dan Guru
  10. Dalam buku Catatan Sekretaris terdapat catatan kehadiran para guru dan pengurus. Mereka harus hadir minimal 46 kali setiap tahunnya.

  11. Keterangan Lainnya
  12. Harus disediakan sebuah buku tulis khusus untuk mencatat semua keterangan yang perlu untuk mengisi Laporan Tahunan: misalnya berapa kali diadakan Rapat Pekerja, berapa peserta dalam Kursus Pendidikan Guru, berapa anak yang diselamatkan, dan lain sebagainya. Benar, buku Catatan Seluruh Sekolah memberi gambaran yang jelas tentang prestasi dan keberhasilan sebuah Sekolah Minggu!

II. BUKU CATATAN KELAS

Setiap kelas harus memiliki buku catatannya sendiri dimana dicatat nama semua anggota kelas. Untuk itu tersedia buku Catatan Kelas Sederhana dan buku Catatan Kelas 4-6 Pokok. Setiap Minggu hal-hal tertentu harus ditandai untuk masing-masing murid.

Pencatatan memakan waktu. Mungkin bisa diangkat seorang sekretaris kelas, khususnya dalam kelas anak-anak, seorang pembantu untuk menolong mencatatkan. Sekretaris dapat memberi tanda dalam buku catatan, jika anak itu hadir, datang tepat waktu atau membawa Alkitab, dengan hanya melihat sekeliling kelas saja. Dia tidak perlu mengatakan apa-apa, kecuali dengan setengah berbisik menanyakan nama anak-anak baru yang hadir. Dia dapat mengedarkan kantong untuk persembahan. Sekretaris kelas tidak perlu mengambil waktu dari pelajaran untuk melakukan pekerjaannya. Bila buku Catatan Kelas telah selesai dikerjakan (dilakukan hanya dalam sepuluh menit pertama dari jam pelajaran), sekretaris kelas (atau pembantu) harus meletakkan kantong persembahan dan buku tersebut di kelas. Maka Sekretaris Sekolah Minggu dapat mengumpulkannya tanpa mengganggu kelas. Berikut ini ada empat alasan mengapa kita memerlukan buku Catatan Kelas:

  1. Untuk mengetahui siapa yang hadir
  2. Buku Catatan Kelas memberitahukan kepada guru siapa yang hadir untuk menerima pelajaran. Kita mengajar murid-murid, sehingga mereka belajar dan hidup mereka diubahkan. Kita mengajar untuk memenuhi kebutuhan mereka yang hadir.

  3. Untuk mengetahui siapa yang tidak hadir
  4. Jika seseorang tidak hadir, guru tidak bisa mengajarnya! Anggota "yang tidak hadir" ini harus dikunjungi selama minggu itu dan didorong untuk hadir lagi pada Minggu berikutnya. Kunjungan kepada yang tidak hadir sangat penting, dan dari buku Catatan Kelas guru dapat mengetahui siapa yang harus dikunjungi.

  5. Untuk mengenal murid
  6. Buku Catatan Kelas 4-6, memberi beberapa keterangan tambahan mengenai diri murid selain kehadirannya. Apakah masing-masing murid memiliki sebuah Alkitab? Jika seorang murid tidak pernah membawa Alkitab, mungkin dia tidak memilikinya. Apakah ada murid yang selalu datang terlambat? Mengapa? Mungkin mereka mengalami kesulitan di rumah, atau hanya karena lalai saja. Apakah murid- murid itu sudah dilahirkan kembali? Apakah mereka sudah dipenuhi oleh Roh Kudus? Guru wajib menjadi pemimpin rohani bagi murid- muridnya dan membimbing mereka ke dalam perkara-perkara Allah yang lebih dalam.

  7. Untuk mengenal para tamu (anak baru)
  8. Nama dan alamat tamu dicatat dalam buku Catatan Kelas, supaya mereka dapat dikunjungi dan diundang untuk menghadiri kelas secara teratur.

Sungguh, buku Catatan Kelas melukiskan secara tepat prestasi dan kelemahan guru maupun murid.