Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Sepuluh Perintah yang Diberikan |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R01a |
Referensi SHA-01a diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z |
| Judul Artikel | : | Taurat |
| Penyunting | : | J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 451 - 452, 453 - 454 |
Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan tora (bahasa Ibrani) dan nomos (bahasa Yunani), yang masing-masing muncul kira-kira 200 kali, dengan 'hukum Taurat', 'hukum' saja, atau 'Taurat' saja.
Ada perbedaan pendapat yang luas tentang asal usul kata tora, tapi dapat dipastikan ada kaitannya dengan kata kerja hora yang berarti memimpin, mengajar, mendidik dan dibanyak tempat dapat diterjemahkan dengan 'pengajaran', misal dalam Yesaya 1:10 dan Hagai 2:11-13.
Ajaran seperti itu diberikan oleh para bapak, atau orang bijaksana yang menyapa murid-muridnya dengan sebutan 'anak' (Amsal 3:1; 6:23; 7:2; 13:14), atau oleh para ibu (Amsal 1:8; 6:20; 31:26). Kata-kata yang sejajar adalah mutsar, 'petunjuk'; khokhma, 'kebijaksanaan'; dan khususnya mitswa, 'perintah'. Tapi kebanyakan pengajaran itu berasal bukan dari manusia, melainkan dari Allah. Tora tidak pernah digunakan bila menggambarkan komunikasi langsung antara Allah dan manusia. Sebab itu dalam cerita Kejadian tidak banyak dijumpai (kecuali Kejadian 26:5 saja). Tora diberikan oleh Allah, tapi melalui perantara-perantara manusia seperti Musa, para imam, para nabi atau hamba Tuhan (Yesaya 42:4).
Sejak permulaan istilah tora digunakan untuk menggambarkan ajaran mengenai suatu hal, keputusan-keputusan yang diambil untuk memecahkan soal yang musykil. Contoh yang baik ditemukan dalam Hagai 2:11-13, dimana ditanyakan keputusan para imam mengenai soal ketahiran. Keputusan para imam, petunjuk mereka bagi tingkah laku umat disebut tora, 'ajaran'.
Tugas untuk memberi petunjuk-petunjuk macam itu dipercayakan kepada para imam oleh Allah (Maleakhi 2:6-7), dan oleh sebab itu keputusan-keputusan mereka memunyai kekuatan ilahi. Keputusan-keputusan yang penting berlaku lebih lama daripada peristiwa yang menjadi sebab lahirnya keputusan itu. Keputusan-keputusan itu dipelihara oleh umat yang hidupnya dikuasai oleh keputusan tersebut. Tradisi lisan pada akhirnya mengumpulkan keputusan-keputusan tersebut menjadi kesimpulan ajaran yang diperkenalkan oleh para imam, yang bukan hanya menjadi perantara dari keputusan-keputusan ilahi itu, tapi mereka juga menjadi penerus keputusan-keputusan tersebut kepada angkatan berikutnya.
Pada waktunya kumpulan-kumpulan torot itu dituliskan. Himpunan petunjuk untuk upacara-upacara keagamaan atau hal-hal lain, juga disebut sebuah tora, sering dalam bentuk tunggal, walaupun bentuk jamak juga dijumpai. Tora yang tertulis seperti itu dijaga oleh para imam di tempat kudus (Ulangan 31:24-26). Pada akhir perkembangan ini segenap Pentateukh (lima Kitab Musa) atau bahkan seluruh PL dikutip sebagai 'tora itu'. Jadi ajaran ilahi adalah bagian dari tugas imam-imam, tapi sementara memberikan ajaran ilahi para imam juga menunaikan tugas nabi, karena kekuasaan dari tora mereka bersandar pada wahyu. Jadi para nabi sering juga memberikan tora (Yesaya 1:10; 8:16, 20; 30:9-10). Ini tidak berarti bahwa sebelum nabi-nabi abad 8 sM bersuara, tidak ada tora; Hos. 8:12 secara jelas menyebut himpunan torot yang tertulis.
Pada umumnya kita dapat mengatakan bahwa teguran-teguran para nabi bagi pendengarnya yang mula-mula, tiada nilainya bila sebelumnya tidak ada tora yang diketahui dengan baik maupun diterima umum kekuatannya. Sama seperti nabi-nabi menyampaikan pemberitaan mereka dalam bentuk puitis berirama, ajaran ilahi nampaknya sering mempunyai kerangka puitis yang tetap, yang pasti dianjurkan untuk lebih mudah diingat orang. Dalam Keluaran 21:12 dab sebagai contoh, ada sederetan ayat yang masing-masing terdiri atas 3-2 tekanan metris, dan semuanya berakhir dengan 'pastilah ia dihukum mati'. Dengan cara yang sama kita baca dalam Ulangan 27:15 dan ayat berikutnya dua belas baris, masing-masing dengan empat tekanan, dan semua dimulai dengan 'Terkutuklah orang yang ...' Dasa Titah dan pasangan-pasangannya di bagian kitab lainnya (Keluaran 20:l-17; Ulangan 5:6-21; Keluaran 34:1-26) menunjukkan bentuk yang lebih berkembang, di mana pertimbangan-pertimbangan metris tidak lagi memainkan peranan penting.
Pengaruh tora dalam hidup bangsa Israel banyak sekali, kendati penulis-penulis pada waktu itu mengeluh bahwa tora diabaikan. Telah disinggung bahwa nubuat di Israel mengandaikan adanya tora dalam bentuk lisan atau tertulis (bnd. Mikha 6:8; Hosea 4:2; Yeremia 7:9). Kitab-kitab seperti Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja menyajikan sejarah Israel dari sudut pandang tora, sambil menunjukkan bahwa waktu-waktu ketaatan kepada Allah adalah waktu-waktu kelimpahan kebendaan maupun kerohanian, sementara bila tora diabaikan maka tibalah bencana menimpa Israel. Mazmur 1, 19 dan 119 memuliakan tora sebagai anugerah Allah yang terbesar. Bahkan dalam Amsal, seperti telah kita lihat tora sering diberi arti pengajaran manusia, hukum ilahi dipuji sebagai permulaan segala hikmat dan kebahagiaan (lih. Amsal 28:4,7, 9; 28:18). Penetapan Pentateukh pada akhirnya sebagai buku pegangan dasar dari semua tora, bertepatan dengan hilangnya semangat kenabian, menyebabkan bangkitnya kelompok pimpinan kerohanian baru. yaitu 'ahli-ahli Taurat', dan Ezra merupakan teladan pertama (Ezra 7:6; Nehemia 8:1-8). Bersamaan dengan pekerjaan mereka, pusat-pusat kerohanian Israel bergeser dari Bait Allah ke tempat-tempat ibadah. Bagi bangsa yang terserak-serak di kemudian hari, tora terbukti lebih penting dari ibadah korban di Yerusalem. Tora diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di wilayah-wilayah dan negara-negara di mana orang Yahudi tinggal. Penerjemahan istilah tora ke dalam Yunani nomos sering dikritik, dan kritik ini sering cukup kuat alasannya, sebabnya ialah karena tora itu memunyai makna yang lebih luas dan lebih dalam. Khususnya tora mencakupi (nomos tidak) Allah yang hidup dan maha kasih sebagai Pemberi pengajaran ini. Tapi orang tidak boleh lupa, bahwa Septuaginta dalam hubungan ini didahului bagian-bagian dari Kitab Ezra yang berbahasa Aram, dimana tora diterjemahkan dengan kata Aram (aslinya bahasa Persia) dan seterusnya; dalam Ezra 7:26 dan seterusnya digunakan baik dengan arti hukum negara Persia dan juga dengan arti tora ilahi. Namun, benarlah bahwa dengan cara demikian langkah- langkah permulaan telah diambil, yang pada akhirnya bertumbuh ke arah konsepsi tora yang legalistik saja, seperti yang kemudian dijumpai di lingkungan kelompok-kelompok Yahudi pada zaman PB. Dalam konsepsi ini Tuhan yang hidup dan penuh kasih telah menghilang di belakang pasal-pasal hukum ataupun tafsiran-tafsiran mengenai hukum itu. Mengenai nomos (Hukum, Taurat) dalam PB.
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Sepuluh Perintah yang Diberikan |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R01b |
Referensi SHA-01b diambil dari:
| Judul Buku | : | Menggali Isi Alkitab 1 |
| Judul Artikel | : | Kitab Keluaran |
| Pengarang | : | J. Sidlow Baxter |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 2001 |
| Halaman | : | 83 - 92 |
Bacalah 3 kali Keluaran 19-24.
BAGIAN II: HUKUM TAURAT (19-24)
Bagian ini menceritakan tentang pemberian hukum Taurat dan pengikatan Perjanjian Musa. Hukum Taurat terdiri dari 3 bagian: KESEPULUH PERINTAH, hukum Perdata, dan Syariat.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat untuk dapat mengerti dengan baik maksud pemberian hukum Taurat, yang menandai hubungan baru antara Allah dan bangsa Israel, dan yang dinamakan Perjanjian Musa.
Pertama-tama harus dicatat, bahwa Perjanjian Musa itu sebenarnya bukanlah perjanjian baru, melainkan perkembangan dalam dan dari Perjanjian Abraham. Pokok perjanjian yang diberikan kepada Israel di Gunung Sinai dikemukakan sbb.
"Kamu sendiri telah melihat apa yang Kukatakan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus." (19:4-6).
Dalam kedua bagian firman ini kata 'ingat' menunjuk kepada Perjanjian Abraham, dan istimewa kepada Kejadian 15 dan 17, yang menerangkan hal METERAI (15:17-18) dan TANDA (17:10) akan Perjanjian Abraham itu. Antara Kejadian 17 dan Keluaran 2:24 tidak terdapat sebutan tentang sesuatu perjanjian lain. Sebab itu tak dapat keliru lagi bahwa apabila Allah berfirman kepada Israel di Gunung Sinai memelihara perjanjian-Ku' maka ini berkenaan dengan Perjanjian Abraham.
- Abraham menerima perjanjian itu berdasarkan IMAN (Kejadian 15:6).
- Cara Abraham harus 'memelihara Perjanjian itu' ialah dengan tinggal tetap di dalam iman. "Hiduplah di hadapan-Ku dengan tak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau" (Kejadian 17:1-2).
Tatkala Perjanjian Sinai diiringi perintah memelihara Perjanjian, maka pemberian hukum Taurat maksudnya bukan untuk mengubah dasar iman menjadi dasar amal. Karena mengenal hati manusia berdosa, maka Allah menyuruh Israel menjalankan hukum kesusilaan tidak dengan maksud untuk menjadikan TAURAT sebagai dasar yang baru bagi perdamaian dengan Allah. Bergandengan dengan Kesepuluh Perintah yang merupakan pengluasan Perjanjian Abraham, Allah memberikan syariat yang menunjuk kepada penebusan Kristus, dan memperlihatkan dasar penerimaan yang sebenarnya, yaitu perdamaian atas dasar iman. Kanaan harus diduduki, dan umat Israel masih akan diberkati, keduanya atas dasar perjanjian dan iman.
Mereka berkata, "Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan" (24:7). Tak dapat disangkal bahwa nada dasar dari andalan mereka pada dan dalam diri sendiri ini adalah kesombongan.
Dalam hikmat-Nya yang berdaulat, dan dengan mengetahui akhir dari mulanya, Allah dengan sabar menerima bangsa Israel dalam pendirian mereka yang demikian itu, dan memberi mereka Perjanjian Taurat disertai janji, bahwa mereka akan dianugerahi berkat yang melimpah-limpah jika taat kepada hukum-hukum yang diberikan-Nya. Tapi dalam kelanjutan sikap Israel yang salah itu, di Sinai dan sesudahnya, kita lihat bagaimana pengalaman mereka di bawah Perjanjian Musa berwujud dalam tragedi yang paling menyedihkan dalam sejarah Israel.
Jika pemberian Perjanjian Taurat tidak dimaksudkan untuk menyisihkan dasar iman Perjanjian Abraham, maka apakah sebabnya hukum-hukum Taurat diberikan? Taurat itu diberikan berdasarkan tiga alasan:
Apabila Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Abraham dan Bapak- bapak leluhur Israel cukup dengan lisan, sekarang tidak mungkin lagi. Di mana Israel telah menjadi suatu bangsa dan diperintah secara teokrasi, maka sekarang dibutuhkan suatu ukuran kesusilaan tertulis dan permanen, yang mengungkapkan cita-cita Ilahi mengenai tabiat dan kelakuan (Ulangan 4:8; Mazmur 19:7-9; 119:142).
Suatu benda akan nampak hitam jika diletakkan di depan latar belakang yang putih dan terang; demikian juga dosa akan segera nampak dan dapat dikenal, jika diterangi dengan hukum Taurat. Tapi hati manusia tak mungkin mengenali dosa, sebab hati manusia telah bercacat dosa. Sebab itu Paulus berkata, "Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak" (Roma 5:20). "Karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Roma 3:20). "Oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa" (Roma 7:7). "Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran" (Galatia 3:19) artinya, supaya dosa nampak menjadi kesalahan kepada Allah.
Suatu keharusan mutlak ialah bahwa hak-hak istimewa Israel yang unik, yang diberikan kepadanya selaku bangsa yang terpilih untuk memenuhi panggilannya yang mulia, harus dilindungi oleh pengakuan rendah hati dan khidmat akan kesucian Allah yang tak terganggu gugat, agar hak-hak itu jangan membuat bangsa menjadi sombong. Tidak percuma bahwa pernyataan Alkitab, ditinjau secara keseluruhan, pertama-tama mengutarakan KUAT KUASA Allah sebagaimana nampak khusus dalam penjadian alam semesta, air bah, Babel, kehancuran Sodom, dan keluaran Israel. Kemudian KESUCIAN Allah sebagaimana nampak khusus dalam Taurat Musa dan dalam sikap dan tindakan-tindakan Allah terhadap bangsa Israel; dan baru sesudah itu KASIH Allah khususnya nampak dalam Injil Kristus. Dari urutan ini nyatalah bahwa KASIH Allah harus dilindungi oleh perasaan khidmat, karena menyadari kuat kuasa- Nya yang maha hebat dan kesucian-Nya.
Istilah khas yang dipakai Tuhan Yesus untuk Allah ialah Bapak. Tapi harus dicamkan baik-baik, bahwa baru setelah Kristus datang selaku mahkota penyataan Allah, maka sebutan 'Bapak' itu diberi tempat utama. Mengenai Allah selaku Bapak tanpa terlebih dahulu mengenali kuat kuasa dan kesucian-Nya, adalah sesuatu yang bisa membuat kebenaran tentang Kebapakan Ilahi menjadi kosong. Salah satu kesalahan aliran-aliran teologia modern tertentu, ialah memisahkan kasih Allah dari kuat kuasa dan kesucian-Nya.
Lambang kesucian ialah api. Sebab itu hukum Taurat diberikan di tengah-tengah api di Gunung Sinai (19:18; 24:17), dan dengan larangan-larangan yang keras sekali (19:10-13, 21-25). Israel harus insaf bahwa Taurat berhubungan dengan Allah Yang Mahasuci (Ulangan 28:58; 33:2; Mazmur 68:17; Ibrani 12:18, 29). Selaku ungkapan kesucian Ilahi, maka Taurat yang diberikan kepada Musa tidak boleh dihampiri. Dalam Kesepuluh Perintah (istimewa kalau ditafsirkan secara rohani sebagaimana dilakukan Tuhan Yesus -- Matius 5:21-28) kita melihat kesucian Allah dalam keagungan-Nya yang tak terhingga. Dalam hukum Perdata, dengan penolakannya yang mutlak terhadap perbuatan-perbuatan jahat dan kompromi- kompromi, kesucian Allah nampak dalam kekerasan penolakan itu. Dan dalam syariat, yang mengatur ibadat Israel, kita melihat kesucian Allah dalam hal tak diperkenankan-Nya pelanggaran sedikit jua pun. Allah Sinai adalah Allah Yang Mahasuci; Allah Yang Mahasuci adalah 'Api yang menghanguskan' (Ulangan 4:24).
Bagaimanakah hubungan Taurat Musa dengan Perjanjian Abraham? Ada 3 macam hubungannya sbb:
Israel, sebagai suatu bangsa, telah melanggar HUKUM TAURAT dan PERJANJIAN MUSA (lih 1 Raja-Raja 19:10; 2 Raja-Raja 17:15; 18:12; Mazmur78:37; Yeremia 11:10; 31:32; Yehezkiel 16:59; Hosea 8:1; Ibrani 8:9, dll).
Tapi apakah yang dimaksud dengan melanggar hukum Taurat dan Perjanjian Musa itu? Apakah maksudnya bahwa anggota-anggota bangsa itu tidak mampu memenuhi tuntutan Kesepuluh Perintah ... dan hanya berdasarkan alasan itu ditawan dan dibuang dari negerinya? Tidak, tatkala Allah memberi Kesepuluh Perintah, Ia juga memberi syariat yang menunjuk kepada Kristus, dan yang memperlihatkan dasar penerimaan yang benar, yaitu oleh penebusan karena iman.
Kita perlu mengerti cara penggunaan kata 'taurat' dalam PL. Pertama, hanya sekali atau dua kali kata itu digunakan untuk menyebut 'Kesepuluh Perintah' (Keluaran 24:12). Kedua, kata itu dipakai untuk menyebut masing-masing hukum Perdata dan 'syariat' -- 'Inilah hukum tentang korban bakaran' dsb (Imamat 6:9, 14, 25; 14:22; dll). Ketiga, kata itu kebanyakan dipakai untuk menyebut segenap peraturan Musa, baik Kesepuluh Perintah maupun hukum Perdata dan syariat. Ketiganya tercakup dalam perkataan Taurat atau hukum Taurat. Pemakaian dalam arti luas ini kita lihat dalam Ulangan 4:8, 44-45; Yosua 8:34; 1 Raja-Raja 2:3; Daniel 9:11-13; Maleakhi 4:4.
Sebab itu, jika dikatakan bahwa Israel melanggar hukum Taurat dan dengan demikian melanggar Perjanjian, maka yang dimaksudkan bukanlah bahwa orang-orang Israel secara perseorangan melanggar Kesepuluh Firman, melainkan bahwa bangsa itu selaku keseluruhan tidak memelihara syarat-syarat utama perjanjian itu sebagaimana tercantum dalam hukum Perdata dan syariat itu. Di bawah ini diutarakan beberapa contoh:
Contoh-contoh lainnya yang menyatakan dosa Israel misalnya: tidak memegang Paskah Tuhan (2 Tawarikh 30:5), tidak memelihara hari-hari Sabat (Yehezkiel 20:13); dan tidak mempersembahkan persepuluhan (Maleakhi 3:8).
Dengan cara-cara demikianlah Israel, sebagai suatu bangsa, melanggar hukum Taurat, dan memperkosa perjanjian, serta mengabaikan pemanggilan Allah.
Akhirnya, uraian tentang Taurat dalam hubungannya dengan Injil. Hukum Taurat dibatalkan dalam Kristus dalam 3 hal:
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Pertama dan Kedua |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R02a |
Referensi SHA-02a diambil dari:
| Judul Buku | : | Agama Israel Kuno |
| Judul Artikel | : | Mono-Yahwisme |
| Pengarang | : | Dr. I.J. Cairns |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001) |
| Halaman | : | 75 - 76 |
Semuanya ini memperlihatkan bahwa Yahweh adalah Allah orang Israel, sehingga Israel harus selalu berurusan dengan Dia. Dialah dasar segala pengharapan Israel. Oleh karena itu, Israel sebagai bangsa, disebut warisan atau bahkan milik Yahweh (1 Samuel 26:15; 2 Samual 14:16; 20:19; 21:3). Istilah "warisari" ini, di bagian lain dalam Perjanjian Lama, dikenakan pada tanah (negeri) Israel. Jadi, istilah tersebut mengandung implikasi bahwa baik sebagai negeri maupun sebagai bangsa, Israel adalah milik Yahweh pribadi. Di sini berlangsung suatu hubungan yang sah dan tak dapat dipecahkan antara Israel dengan Yahweh, Allah Israel, sehingga konsep hubungan itu menguasai seluruh hidup keagamaan Israel, baik sebagai bangsa maupun sebagai individu.
Sifat kemutlakan hubungan itu meniadakan segala ilah asing dan segala wadah keagamaan kecuali yang diberikan Yahweh sendiri. Tentunya hal itu belum berarti bahwa Yahweh sudah diakui sebagai Allah yang satu-satunya dalam arti mutlak dan universal.
Sudah cukup jelas dalam karangan ini bahwa adanya ilah-ilah di luar Israel masih diakui. Misalnya, waktu Daud lari dari Saul (1 Samuel 26:19), Daud mengeluh bahwa dia sedang diusir dari masyarakat warisan Yahweh serta disuruh pergi beribadah kepada allah lain. Ucapan ini membuktikan adanya anggapan pada waktu itu bahwa Yahweh terikat pada wilayah-Nya sendiri sehingga ada asumsi bahwa di luar batas-batas tanah Israel ada ilah-ilah selain Yahweh yang berwibawa itu. Konsep tentang adanya hubungan antara ilah dengan negeri atau tanah masih terbukti juga dari periode kemudian (2 Raja-Raja 5:17). Naaman, orang Siria itu, membawa sedikit tanah dari Israel ketika kembali ke Siria karena anggapannya bahwa hanya di atas tanah itulah orang dapat beribadah kepada Yahweh.
Jadi, cukup jelas bahwa pada masa kerajaan Daud-Salomo belum ada monoteisme dalam arti universal. Agama Israel pada waktu itu dapat disebut suatu mono-Yahwisme. Jadi, Yahweh dijunjung tinggi sebagai Sang Utama dan diakui sebagai Yang Berdaulat bukan hanya di Sinai, melainkan juga di Mesir dan di Kanaan, bahkan menguasai bintang- bintang dan planet-planet (bnd. Hakim-Hakim 5 dan Mazmur 68). Akan tetapi, eksistensi ilah-ilah di luar Israel juga diakui. Mungkin dibandingkan dengan Yahweh, ilah-ilah tersebut dianggap kurang berdaya (bnd. cerita tentang Yahweh dan Dagon dalam 1 Samuel 4 dyb.). Namun, eksistensi mereka tidak disangkal dan kadang-kadang kuasanya dapat dirasakan juga (bnd. 2 Raja-Raja 3:27).
Bahwa pada waktu itu pemikiran tentang ilah-ilah belum sepenuhnya konsisten, merupakan bukti bahwa kepercayaan Israel terhadap Yahweh belum dipikirkan secara teoritis atau teologis. Agaknya masih dialami suatu ketegangan apabila kita memikirkan hubungan antara Allah dan ilah-ilah itu. Adanya ketegangan itu tidak mengurangi rasa khusyuk Israel di hadapan Allah atau mempengaruhi hubungan antara Allah dan Israel, tetapi merupakan suatu kekurangan dalam hal konseptualisasi. Memang, sejak dulu Yahweh digambarkan sebagai Allah segala ilah yang tak bertara dan yang tak ada bandingannya di antara oknum-oknum sorgawi, namun barulah kemudian manusia mengakui Dia sebagai Oknum satu-satunya yang berhak disebut ilahi.
Ketidakkonsistenan antara praktik agama dan teologi ini mengandung suatu kelemahan yang dapat menghasilkan sinkretisme dan memang kadang-kadang justru sinkretisme itulah yang muncul. Kekurangan dalam bidang teologi itulah yang merupakan faktor penting mengapa Israel sering tertarik pada praktik keagamaan yang berlaku di kalangan orang Kanaan di sekitar mereka. Namun, justru ketegangan- ketegangan dan pergumulan-pergumulan yang timbul karena daya tarik agama Kanaan itu membuka jalan sehingga akhirnya Israel menyadari juga bahwa kemutlakan Yahweh berlaku secara universal. Namun, proses mencapai kesadaran yang demikian itu memerlukan waktu ratusan tahun.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Pertama dan Kedua |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R02b |
Referensi SHA-02b diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Fakta Alkitab (Bible Almanac - I) |
| Judul Artikel | : | Berbagai Pandangan Mengenai Akhirat |
| Pengarang | : | J.I. Packer; Merrill C. Tenney; William White, Jr. |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 2001 |
| Halaman | : | 176 - 181 |
Ciri-ciri Umum Agama Penyembah Berhala:
Ciri-ciri tertentu biasa terdapat pada kebanyakan agama penyembah berhala. Mereka semua memunyai pandangan hidup yang sama, yang dipusatkan pada tempat dan martabatnya. Perbedaan-perbedaan di antara agama bangsa Sumer dan Asyur-Babel atau di antara agama Yunani dan Romawi sangat kecil.
Bagian terbesar dari agama-agama ini adalah politeistis; yang berarti bahwa agama-agama tersebut mengakui banyak dewa dan setan. Setelah diterima di pantheon (kumpulan dewa-dewa di suatu kebudayaan), maka dewa itu tidak dapat dikucilkan dari situ. Dewa atau dewi itu telah memperoleh "kedudukan tetap sebagai ilah."
Setiap kebudayaan piliteistis mewarisi pikiran-pikiran keagamaannya dari para pendahulunya atau memerolehnya dalam perang. Misalnya, Nanna adalah dewa bulan bagi bangsa Sumer dan Sin menjadi dewa bulan bagi bangsa Babel. Inanna adalah dewi kesuburan dan ratu langit bagi bangsa Sumer, demikian juga Isytar bagi bangsa Babel. Bangsa Romawi hanya mengambil alih para dewa Yunani dan memberikan nama-nama Romawi kepadanya. Demikianlah, dewa Romawi, Yupiter, adalah setara dengan Zeus sebagai dewa langit; Minerva setara dengan Atena sebagai dewi hikmat; Neptunus setara dengan Poseidon sebagai dewa laut; dan lain sebagainya. Dengan kata lain, gagasan dewa itu sama; hanya selubung budayanya yang berbeda. Demikianlah satu kebudayaan purba dapat menerima agama dari kebudayaan yang lain tanpa mengubah atau menghentikan langkahnya. Setiap kebudayaan tidak hanya mengklaim dewa-dewa dari peradaban yang sebelumnya; tetapi juga mengklaim berbagai mitos mereka dan menjadikannya miliknya dengan hanya beberapa perubahan kecil.
Dewa-dewa utama sering kali dikaitkan dengan suatu fenomena alam. Jadi, Utu/Shamasy adalah matahari dan juga dewa matahari; Enki/Ea adalah laut dan juga dewa laut; Nanna/Sin adalah bulan dan juga dewa bulan. Kebudayaan-kebudayaan penyembah berhala tidak membedakan di antara unsur alam dan kekuatan apa pun di balik unsur tersebut. Manusia pada zaman purba berjuang melawan kekuatan-kekuatan alam yang tak dapat dikendalikannya, kekuatan-kekuatan yang dapat bersifat dermawan tetapi juga bersikap tidak ramah. Hujan yang cukup dapat menjamin hasil panen yang luar biasa banyaknya, tetapi terlalu banyak hujan akan merusakkan hasil panen itu. Hidup betul-betul tak dapat diramalkan, terutama karena dewa-dewa dianggap berubah-ubah dan bertingkah, sanggup berbuat yang baik atau pun yang jahat. Manusia dan para dewa menjalani jenis kehidupan yang sama; para dewa mengalami masalah dan frustrasi yang sama dengan yang dialami manusia. Paham ini disebut monisme. Jadi, ketika Mazmur 19:2 menyatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya," pemazmur mencemoohkan kepercayaan orang Mesir dan orang Babel. Bangsa-bangsa yang menyembah berhala ini tidak dapat membayangkan bahwa alam semesta memenuhi suatu rencana ilahi yang meliputi segala sesuatu.
Orang Mesir juga menghubungkan dewa mereka dengan fenomena alam: Shu (udara), Re/Horus (matahari), Khonsu (bulan), Nut (langit), dan seterusnya. Kecenderungan yang sama terlihat dalam penyembahan orang Het kepada Wurusemu (dewi matahari), Taru (badai), Telipihu (tumbuh-tumbuhan), dan beberapa dewa gunung. Di antara orang Kanaan, El adalah allah yang agung di surga, Baal adalah dewa badai, Yam adalah dewa laut, dan Shemesy serta Yareah adalah berturut-turut dewa matahari dan dewa bulan. Oleh sebab susunan yang membingungkan dari para dewa alam ini maka para penyembah berhala tidak dapat berbicara tentang "alam semesta" (universe). Ia tidak dapat memahami satu kekuatan inti yang mempersatukan segala sesuatu dan menjadi pangkal keberadaan segala sesuatu. Si penyembah berhala percaya bahwa ia tinggal di "multiverse" (alam yang dikuasai oleh banyak dewa).
Suatu sifat lain yang umum terdapat pada pemujaan berhala adalah ikonografi keagamaan (pembuatan patung atau totem untuk dipuja). Semua agama ini memuja berhala. Hanya Israel yang secara resmi bersifat aniconic (yaitu, tidak mempunyai patung, tidak ada gambar- gambar yang mewakili Allah). Patung-patung Yahweh, seperti anak lembu jantan yang dibuat oleh Harun dan Yerobeam (Keluaran 32; 1 Raj 12:26 dst.) dilarang dalam hukum yang kedua.
Akan tetapi sejarah agama mereka tidak selalu bersifat aniconis. Bangsa Israel menyembah berhala sementara mereka hidup dalam perhambaan di Mesir (Yos 24:14); dan meskipun Tuhan telah membuang berhala mereka (Kel 20:1-5), orang Moab menarik mereka ke penyembahan berhala lagi (Bilangan 25:1-2). Penyembahan berhala mengakibatkan kejatuhan para pemimpin Israel pada periode yang berbeda-beda dalam sejarahnya dan akhirnya Allah mengizinkan bangsa ini dikalahkan "karena kurban-kurban mereka" kepada berhala (Hosea 4:19).
Kebanyakan agama penyembahan berhala menggambarkan ilah mereka secara antropomorfis (yaitu sebagai berwujud manusia). Sebenarnya, hanya seorang pakar yang dapat memandang sebuah gambar dewa-dewa dan orang-orang Babel lalu mengatakan yang mana dewa dan yang mana manusia. Para seniman Mesir biasanya menggambarkan dewa mereka sebagai pria dan wanita yang berkepala binatang. Horus adalah seorang laki-laki yang berkepala rajawali. Sekhmet adalah seorang perempuan yang berkepala singa betina. Anubis seorang laki-laki berkepala serigala, Hathor seorang perempuan berkepala sapi, dan lain sebagainya. Dewa-dewa orang Het dapat dikenal dari gambar senjata yang diletakkan di bahu mereka, atau dari sebuah benda lain yang khusus seperti sebuah topi baja dengan sepasang tanduk. Dewa-dewa Yunani juga digambarkan sebagai manusia, tetapi tanpa ciri-ciri yang kasar dari dewa-dewa bangsa Semit.
Apa maknanya menggambar dewa-dewa sebagai manusia? Pasal-pasal pertama kitab Kejadian mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kejadian 1:27), tetapi para penyembah berhala berusaha menjadikan dewa-dewa itu menurut gambar mereka sendiri. Artinya, dewa-dewa para penyembah berhala itu hanyalah makhluk manusia yang diperluas. Berbagai mitos dunia purba mengasumsikan bahwa para dewa memunyai keperluan yang sama dengan keperluan manusia, kelemahan vang sama dan ketidaksempurnaan yang sama. Jikalau ada perbedaan antara dewa-dewa penyembah berhala dan manusia, maka itu hanya merupakan perbedaan tingkat. Para dewa itu adalah manusia yang dijadikan "lebih besar dari kehidupan ini." Sering kali dewa-dewa itu hanya merupakan proyeksi dari kota atau kotapraja.
Kebanyakan agama penyembahan berhala mempersembahkan binatang untuk menenangkan dewa mereka yang banyak tingkahnya; beberapa agama bahkan mempersembahkan manusia. Oleh karena para penyembah kafir ini percaya bahwa dewa mereka mempunyai keinginan-keinginan manusiawi, mereka juga mempersembahkan kurban sajian dan curahan kepada mereka (bdg. Yesaya 57:5-6; Yeremia 7:18).
Orang Kanaan percaya bahwa kurban-kurban memunyai kekuatan gaib yang membuat para penyembah mendapat simpati dan menjadi seirama dengan dunia fisik. Akan tetapi, para dewa itu berubah-ubah, maka kadang-kadang para penyembah itu mempersembahkan kurban untuk memastikan kemenangan atas musuh mereka (bdg. 2 Raja-Raja 3:26-27). Barangkali, inilah sebabnya raja-raja yang telah merosot akhlaknya di Israel dan Yehuda ikut mempersembahkan kurban-kurban secara kafir (bdg. 1 Raja-Raja 21:25-26). Mereka menginginkan bantuan gaib dalam memerangi musuh mereka, orang Babel dan orang Asyur - lebih disukai bantuan dari dewa-dewa yang sama yang telah membuat musuh mereka menang.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Ketiga dan Keempat |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R03a |
Referensi SHA-03a diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z |
| Judul Artikel | : | Sumpah |
| Penyunting | : | J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 425 - 426 |
Ibrani sy vu'a dan 'ala; Yunani horkos. Dari kedua kata Ibrani ini 'ala' paling kuat. Artinya pengutukan atas seseorang yang mengingkari sumpah; sy vu'a berasal dari kata untuk 'tujuh', bilangan keramat, terkait dengan upacara penyumpahan.
Sumpah adalah kutukan atas orang yang melanggar kata-katanya sendiri (1 Sam 19:6), atau apabila dia tidak mengatakan kebenaran (Markus 14:71). Gagasan memohon kutukan atas diri sendiri, telah mendorong beberapa ahli mengemukakan, bahwa bila seorang Ibrani bersumpah atas nama Allah, maka ia telah memberikan kebebasan kepada Allah untuk bertindak, atau 'memercayakan kepada Allah tugas bertindak terhadap seseorang yang melakukan sumpah palsu atau kesaksian palsu' (A Lelievre, Vocabulary of the Bible [red. J.-J von Allmen], 1958).
Mengucapkan sumpah bermacam cara (Kejadian 24:2-3; Ulangan 32:40) dan rumusan (Kejadian 31:50; Bilangan 5:22; Hakim-Hakim 8:19; 2 Raja-Raja 2:2; Yeremia 42:5; Matius 5:34- 36; 23:16). Sering dampak-dampak yg mengerikan dari sumpah yang tidak dipenuhi tidak dikemukakan (2 Samuel 3:9; tapi lih. Yeremia 29:22).
Pentingnya sumpah ditekankan dalam hukum Musa (Kel 20:7; Im 19:12). Orang Israel dilarang mengucapkan sumpah demi dewa-dewa (Yeremia 12:16; Amsal 8:14). Yehezkiel bicara tentang orang yg melanggar sumpah dapat dihukum mati (Yer 17:16 dab), tapi dalam hukum Taurat sumpah palsu oleh saksi, dan menyangkal dengan sumpah atas sesuatu yg diterima atau diperoleh (Imamat 5:1-4; 6:1-3) dapat ditebus dengan korban pengakuan dosa (Imamat 5:5 dab; 6:4 dab).
Kristus mengajarkan bahwa sumpah mengikat (Matius 5:33). Percakapan sehari-hari orang Kristen haruslah sama sucinya dengan sumpahnya. Dia tidak boleh memunyai dua ukuran tentang kebenaran, seperti orang Yahudi tertentu yang memakai ukuran licik berkaitan dengan sumpah. Dalam Kerajaan Allah pada akhirnya sumpah tidak diperlukan (Matius 5:34-37). Kristus sendiri diperhadapkan dengan sumpah (Matius 26:63 dab), dan Paulus juga bersumpah (2 Korintus 1:23; Galatia 1:20).
Alkitab mencatat bahwa Allah mengikat diri-Nya dengan sumpah (Ibranin 6:13-18). Tuhan berjanji akan melaksanakan janji-janji-Nya kepada umat perjanjian-Nya, yaitu janji-janji-Nya kepada Bapak-bapak leluhur (Kejadian 1:24), janji-janji-Nya kepada wangsa Daud (Mazmur 89:19-37, 49), janji- janji-Nya kepada Raja-Imam Mesianis (Mazmur 110:1-4). Jaminan atas semua janji itu ialah Yesus Kristus, pada siapa mereka mendapat jawaban 'ya' ('amin') (2 Korintus 1:19 dab; bnd. Yesaya 65:16). Dalam kedatangan-Nya, Yesus Kristus memenuhi janji-janji Allah yang lama kepada bapak-bapak leluhur (Lukas 1:68-73; 2:6-14), kepada Daud (Kisah 2:30), dan kepada Raja-Imam PL (Ibrani 7:20 dab, 28).
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Ketiga dan Keempat |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R03b |
Referensi SHA-03b diambil dari:
| Judul Buku | : | Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z |
| Judul Artikel | : | Sabat |
| Penyunting | : | J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today |
| Penerbit | : | Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 335 - 336 |
(Ibrani syabbat, dari akar kata syavat, 'berhenti', 'melepaskan'). Alkitab menetapkan bahwa satu dari 7 hari harus diindahkan sebagai hari suci bagi Allah. Dari alasan yang dikemukakan untuk mengindahkan sabat dalam Kesepuluh Hukum, kita ketahui bahwa istirahat sabat itu ditetapkan sendiri oleh Allah saat penciptaan. Karena itu sabat adalah tata tertib penciptaan (Keluaran 20:8-11).
Dalam peristiwa penciptaan kata sabat tidak muncul. Tapi akar kata dari mana perkataan itu dijabarkan, ada (Kejadian 2:2). Karya penciptaan berlangsung 6 hari; pada hari ketujuh Allah istirahat (harfiah 'berhenti') dari pekerjaan-Nya. Dengan demikian timbul perbedaan antara 6 hari kerja dan 1 hari istirahat. Ini benar, walaupun 6 hari kerja itu dimengerti sebagai jangka waktu yang lebih panjang dari 24 jam. Bahasanya adalah bahasa manusiawi, karena Allah bukanlah Pekerja yang lelah, yang memerlukan istirahat. Namun pola itu ditetapkan di sini untuk diikuti oleh manusia.
Keluaran 20:11 menyatakan bahwa Allah 'beristirahat' (Ibrani wayyanakh) pada hari ketujuh, dan Keluaran 31:17 mengemukakan bahwa Ia berhenti dari pekerjaan-Nya dan 'disegarkan' (wayyinnafasy). Bahasanya sengaja bernada keras, agar manusia mengerti kepentingan memandang sabat sebagai hari di mana ia sendiri harus beristirahat dari pekerjaannya sehari-hari.
Bertentangan dengan uraian di atas, pendapat lain mengatakan bahwa sabat berasal dari Babel. Benar, kata Babel sabbatum berhubungan dengan kata Ibrani yang serupa, namun arti kedua kata itu sangat berbeda. Pertama, bagi orang Babel satu minggu adalah 5 hari. Penelitian atas tulisan-tulisan pada lempeng-lempeng batu mengungkapkan, bahwa hari-hari yang dinyatakan sebagai sabbatum bukanlah hari-hari berhenti kerja. Data-data perjanjian dari Mari (Tell el-Hariri) menunjukkan bahwa pekerjaan dilaksanakan kadang- kadang dalam jangka waktu beberapa hari lamanya, tanpa berhenti pada setiap hari ketujuh. Alkitab jelas mengaitkan asal mula sabat dengan contoh yang dilakukan Allah sendiri.
Hukum ke-4 memerintahkan untuk mengindahkan sabat. Kejadian tidak pernah menyebut sabat terpisah dari penciptaan. Namun ada singgungan tentang jangka waktu 7 hari (lih. Kej 7:4, 10; 8:10, 12; 29:27 dab). Dapat dicatat kisah Ayub yang menceritakan 7 putranya mengadakan pesta masing-masing pada harinya sendiri-sendiri. Ini diiringi doa-doa dan korban-korban oleh Ayub demi anak-anak itu (Ayb 1:4, 5). Kegiatan ini bukan hanya satu kali dan tidak pernah terulang lagi, melainkan kegiatan yang dilakukan secara teratur. Hal ini mungkin merupakan petunjuk ibadah pada hari pertama dalam putaran suatu kurun hari. Setidak-tidaknya prinsip bahwa 1 hari dari 7 hari dikuduskan bagi Tuhan, nampaknya sudah diakui di sini.
Dalam Keluaran 16:21-30 disebut secara langsung tentang sabat yang dikaitkan dengan pemberian 'manna'. Sabat di sini dinyatakan sebagai anugerah Tuhan (ay 29), yang diperuntukkan bagi istirahat dan kepentingan umat (ay 30). Orang tidak usah bekerja pada hari sabat (yaitu untuk mengumpulkan manna) karena jatah ganda sudah disediakan pada hari ke-6.
Dengan demikian sabat dikenal oleh Israel, dan perintah untuk mengindahkannya wajib dimengerti. Dalam Kesepuluh Hukum dijelaskan bahwa sabat adalah milik Tuhan. Sebab itu pertama-tama sabat adalah hari-Nya, dan alasan dasar untuk mengindahkan sabat ialah bahwa hari itu adalah kepunyaan-Nya. Sabat adalah hari yang telah diberkati-Nya dan dikhususkan-Nya untuk peringatan. Ini tidak bertentangan dengan Kesepuluh Hukum yang dinyatakan dalam Ulangan 5:12. Dalam bagian Alkitab ini umat diperintahkan untuk mengindahkan sabat dengan cara sebagaimana telah diperintahkan Tuhan (acuannya adalah Keluaran 20:8-11), dan bahwa sabat milik Tuhan dinyatakan lagi (ay 14). Namun suatu alasan tambahan bersifat imbuhan diberikan dalam pelaksanaan perintah itu. Israel diperintahkan mengindahkan sabat juga agar "hambamu laki-laki dan hambamu perempuan dapat beristirahat sama seperti engkau". Di sini kemanusiaan ditekankan; tapi di sini juga ditekankan bahwa sabat diadakan untuk manusia. Israel pernah menjadi budak di Mesir dan sudah dibebaskan; Israel harus menerapkan belas kasihan sabat terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka, karena orang-orang itu adalah budak.
Dalam Kitab-kitab Pentateukh lainnya peraturan mengenai sabat dicatat. Menarik sekali bahwa acuan mengenai sabat ada dalam setiap kitab dari ke-4 kitab terakhir Pentateukh. Kejadian menyajikan tentang istirahat ilahi; ke-4 kitab lainnya menekankan tentang penetapan hari sabat. Hal ini menunjukkan pentingnya lembaga sabat itu. Peraturan mengenai sabat dapat dikatakan integral dan esensial bagi dasar hukum PL, yaitu Pentateukh (lih. Keluaran 31:13-16; 34:21; 35:2; Imamat 19:3, 30; 23:3, 38).
Terkait dengan ini muncullah pentingnya peraturan sabat berupa hukuman berat yang dikenakan terhadap orang yang mengingkari sabat. Ada seorang laki-laki mengumpulkan ranting-ranting kayu pada hari sabat. Untuk perbuatan ini pernyataan khusus dari Tuhan diundangkan, bahwa laki-laki itu harus dibunuh. (Lih. J. Weingreen, From Bible to Mishna, 1976, hlm. 83 dst.) Dia menyangkal prinsip dasar sabat, yakni bahwa hari itu adalah milik Tuhan dan karenanya harus diindahkan sesuai perintah Tuhan (Bilangan 15:32-36).
Rumusan-rumusan para nabi didasarkan pada Pentateukh. 'Sabat' sering dihubungkan dengan 'bulan baru' (2 Raja-Raja 4:23; Amsal 8:5; Hosea 2:11; Yesaya 1: 13; Yehezkiel 46:3). Apabila nabi-nabi seperti Hosea (2:11) menyebut hukuman ilahi terhadap bulan baru, sabat dan pesta lain, para nabi bukannya mengutuk begitu saja; mereka mengutuk penyalahgunaan sabat dan peraturan-peraturan Pentateukh lainnya.
Namun para nabi memang menunjuk kepada berkat-berkat yang menyertai perlakuan yang benar terhadap sabat. Ada orang yang mengotori sabat dan berbuat jahat pada hari itu (Yesaya 56:2-4), dan adalah keharusan menjauhi hal-hal demikian. Menurut suatu bagian yang dianggap klasik (Yesaya 58:13), Yesaya mengemukakan berkat-berkat yang menyertai perlakuan yang benar terhadap sabat. Hari itu bukanlah hari pada saat mana orang boleh berbuat apa saja menurut kemauannya, melainkan hari di mana ia harus melakukan kehendak Tuhan. Bukannya manusia, melainkan Tuhan-lah yang boleh menentukan bagaimana hari sabat harus diperlakukan. Mengakui bahwa hari itu suci bagi Tuhan akan membawa pengalaman yang sungguh-sungguh akan janji-janji-Nya.
Selama zaman Persia, mengindahkan sabat diberi penekanan lagi. Larangan kegiatan dagang pada hari Sabat (Amsal 8:5) dan mengangkut barang-barang pada hari Sabat (Yer 17:21 dab) yang telah diketahui sebelum Pembuangan, ditetapkan lagi oleh Nehemia (10:31; 13:15-22). Tapi selama masa antar Perjanjian, suatu perubahan terjadi perlahan-lahan terhadap pengertian mengenai maksud sabat. Di sinagoge-sinagoge hukum Taurat dipelajari pada hari sabat. Lama-kelamaan tradisi lisan berkembang di lingkungan masyarakat Yahudi, dan perhatian lebih dipusatkan kepada hal-hal kecil dalam memperingati hari itu.
Dua traktat dari Misyna, Shabbath dan Erubim, menyajikan ajaran tentang bagaimana sabat harus diperingati secara rinci. Rincian tata cara dan tradisi manusia yang menjadi beban atas perintah-perintah Allah -- itulah yang dikecam Tuhan Yesus. Kecaman-kecaman-Nya bukan ditujukan kepada lembaga sabat itu sendiri maupun ajaran PL. Tapi Ia menentang golongan Farisi yang telah menjadikan Firman Tuhan tidak berpengaruh akibat tradisi lisan yang membebani Firman itu. Kristus menyebut diri-Nya adalah Tuhan atas hari Sabat (Markus 2:28). Dengan penyataan itu Ia bukannya meremehkan makna dan pentingnya sabat, dan sama sekali tidak menentang peraturan PL. Ia semata-mata menunjukkan arti sabat yang sesungguhnya bagi manusia, dan menyatakan hak-Nya untuk berbicara karena Ia sendiri adalah Tuhan dari sabat.
Sebagai Tuhan dari sabat, Yesus Kristus pergi ke sinagoge pada hari Sabat, sesuai kebiasaan-Nya (Lukas 4:16). Cara-Nya memperingati sabat sesuai peraturan PL guna mengindahkan hari itu suci bagi Tuhan.
Dalam ketidaksetujuan-Nya dengan orang Farisi (Matius 12:1-14; Markus 2:23- 28; Lukas 6:1-11) Tuhan Yesus menunjukkan kepada masyarakat Yahudi kesalahpahaman mereka mengenai perintah-perintah PL. Mereka telah membuat pengudusan sabat lebih keras daripada yang diperintahkan Allah sendiri. Tidak salah makan pada hari Sabat, sekalipun makanan itu harus didapat dengan memetik gandum di ladang. Juga tidak salah berbuat baik pada hari Sabat. Menyembuhkan adalah perbuatan belas kasihan, dan Tuhan dari hari Sabat itu penuh belas kasihan (lih. juga Yohanes 5:1-18; Lukas 13:10-17; 14:1-6).
Pada hari pertama Tuhan bangkit dari kematian, justru orang Kristen berkumpul pada hari itu untuk beribadah kepada Kristus yang bangkit (Why 1:10). Hari ini adalah hari Tuhan, dan dengan demikian adalah sabat yang telah ditetapkan pada penciptaan.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) | |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh | |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R04a |
Referensi SHA-04a diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Surat Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika |
| Judul Artikel | : | Kewajiban Bersama |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002 |
| Halaman | : | 247 - 248 |
Etika Kristen menyebutkan tugas anak adalah menghormati orang tuanya. Namun, selalu ada persoalan di dalam hubungan antara orang tua dan anak. Bila orang tua terlalu longgar dalam disiplin (easy-going), si anak akan bertumbuh menjadi tidak disiplin dan tidak cocok untuk menghadapi kehidupan. Namun, yang sebaliknya juga bukannya tanpa bahaya. Semakin ketat orang tua, semakin mungkin ia selalu mengoreksi dan memarahi anaknya. Karena ia ingin anaknya melakukan yang baik, maka ia selalu berada di atas anaknya.
Kita ingat, contohnya, pertanyaan tragis dari Mary Lamb, "Mengapa saya tampaknya tidak mampu melakukan apa pun yang menyenangkan ibuku?" Kita ingat pernyataan yang pedas dari John Newton, "Saya tahu bahwa ayahku mengasihiku, tetapi tampaknya ia tak ingin saya melihat hal itu." Kritik terus-menerus adalah akibat dari kasih yang keliru.
Bahaya dari semua ini yaitu bahwa si anak dapat patah semangat. Bengel berkata tentang "bahaya untuk kawula muda adalah semangat yang patah" (Fractus animus pestis iuventutis). Merupakan salah satu fakta yang tragis bahwa Luther pada masa hidupnya pernah mendapati dirinya sukar berdoa "Bapa Kami". Kata bapa dalam benaknya tidak berarti apa-apa kecuali ketegasan yang kaku. Tugas orang tua adalah menegakkan disiplin, tetapi juga memberi dorongan semangat. Luther sendiri berkata, "Simpanlah rotan, dan engkau akan merusak si anak. Ini sungguh benar. Namun, di samping rotan berilah apel kepadanya ketika ia melakukan yang baik."
Sir Arnold Lunn, dalam bukunya Memory to Memory, mengutip suatu peristiwa tentang Marsekal Montgomery dari sebuah buku karya M.E. Clifton James. Montgomery terkenal sebagai seorang yang amat berdisiplin, tetapi ada segi lain dalam dirinya. Clifton James adalah "duplikat"-nya yang resmi dan sedang mengamatinya selama latihan untuk hari H. "Dalam jarak beberapa meter dari tempat saya berdiri, seorang serdadu yang sangat muda, tampaknya masih mabuk laut setelah menempuh perjalanannya, berusaha keras untuk menyusul rekan-rekannya yang ada di depan. Saya dapat membayangkan bahwa, sambil ikut menghayati perasaannya, senapan dan perlengkapannya pastilah beratnya sama seperti satu ton. Sepatu botnya yang berat menariknya ke dalam pasir, tetapi saya dapat melihat bahwa ia sedang berjuang keras untuk menutupi keletihannya. Persis ketika ia berhasil menyusul kami, ia tersandung dan jatuh tersungkur. Setengah menangis, ia bangkit dan mulai berjalan ke arah yang salah. Monty cepat menghampirinya dan dengan senyum yang bersahabat ia membalikkan tubuhnya. 'Ke arah ini, Nak. Engkau berbuat yang baik - sangat baik. Namun, jangan kehilangan kontak dengan teman-teman di depanmu.' Ketika anak muda itu sadar siapa orang yang telah memberinya bantuan dengan cara bersahabat, terlihat jelas wajahnya memancarkan kekaguman yang lugu." Itu disebabkan karena Montgomery memadukan antara disiplin dan pemberian semangat sehingga seorang tentara kroco di Armada ke-Delapan merasa setara dengan seorang kolonel di armada mana pun.
Semakin baik orang tua, ia harus semakin menghindari bahaya yang dapat mematahkan semangat anak-anaknya dan untuk itu ia harus menerapkan disiplin dan memberi dorongan semangat secara seimbang.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R04b |
Referensi SHA-04b diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Matius Ps. 1-10 |
| Judul Artikel | : | Kemarahan yang Dilarang |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 232 - 239 |
Matius 5:21-22
Di sini kita temukan satu contoh norma baru yang diberlakukan oleh Yesus. Hukum yang lama mengatakan: "Jangan engkau membunuh" (Keluaran 20:13). Tetapi Yesus mengatakan, bahwa marah kepada saudara kandung pun dilarang. Jadi tidaklah cukup kalau seseorang tidak memukul orang lain. Yang dianggap cukup bagi orang tersebut ialah kalau ia sama sekali tidak memunyai perasaan kasar atau jahat kepada sesamanya. Di dalam perikop ini Yesus berargumentasi seperti yang dilakukan oleh para rabi. Yesus menunjukkan, bahwa Ia pun cakap untuk memakai cara perdebatan seperti yang dipakai oleh para bijak waktu itu. Di dalam perikop ini ada pentahapan kemarahan dan pentahapan hukuman yang bisa diterima sesuai dengan tahap-tahap kemarahan tersebut.
Kata yang kedua adalah orge yang melukiskan kemarahan sebagai sesuatu yang berurat dan berakar dan sulit dihilangkan. Orge adalah kemarahan yang berjangka panjang. Kemarahan itu yang tetap hangat di dalam diri seseorang; dan akan demikian terus dalam jangka waktu yang panjang, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa padam. Kemarahan seperti itu patut mendapatkan hukuman. Kemarahan seperti itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang bersangkutan untuk diperhadapkan kepada pengadilan setempat. Pengadilan setempat adalah suatu dewan yang memunyai wewenang untuk menyatakan keadilan. Pengadilan setempat itu terdiri dari para tua-tua desa yang jumlahnya berbeda-beda, sesuai dengan penduduk desa tersebut. Jadi di sini Yesus mengutuk kemarahan seperti itu. Alkitab pun secara jelas melarang kemarahan. "Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yakobus 1:20). Paulus juga meminta agar para pengikutnya membuang semua "marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor (Kolose 3 :8). Para pemikir bukan Kristen pun menganggap kemarahan itu sebagai ketololan. Cicero mengatakan, bahwa kalau kemarahan itu masuk ke dalam percaturan, maka "tak ada suatu pun yang dapat dikerjakan secara benar dan bermakna". Seneca secara jelas mengatakan, bahwa kemarahan adalah "suatu sakit jiwa ringan".
Jadi Yesus sama sekali melarang kemarahan yang mendendam, kemarahan yang tak bila dilupakan, tak bisa didamaikan, dan kemarahan yang berusaha membalas dendam. Kalau kita mentaati Yesus, maka semua kemarahan harus hilang dari hidup kita, khususnya kemarahan yang selalu hendak muncul setiap waktu. Kita semua diperingatkan, bahwa tidak ada seorang Kristen pun yang boleh kehilangan kesabaran karena adanya kesalahan pribadi yang harus ditanggungnya. Orang Kristen tidak boleh kehilangan kesabaran, meskipun ia menanggung beban kesalahan pribadi.
KATA-KATA PENGHINAAN
Matius 5:21,22
Pertama-tama setiap orang yang menyebut saudaranya dengan sebutan Rhaka (bahasa Yunani) haruslah dikutuk. Kata bahasa Yunani rhaka agak sulit untuk diterjemahkan, karena kata itu lebih bermakna dalam nada suaranya ketimbang dalam artinya. Nada suara yang keluar dari kata itu mengandung makna kesombongan. Orang yang disebut rhaka berarti orang yang dianggap tolol, tak berotak, dan berkepala kosong. Kata rhaka itu hanya dipakai oleh orang-orang yang sombong dan berhati tinggi, yang selalu menghina serta merendahkan sesamanya. Kata rhaka itu dipakai di dalam ayat 22 dari perikop Matius yang sedang kita pelajari ini.
Dahulu ada sebuah cerita tentang seorang Rabi Yahudi yang bernama Simon bin Eliezer. Cerita itu menuturkan, bahwa rabi Simon sedang berjalan pulang dari rumah gurunya, dan sangat merasa bangga akan buah pikirannya yang baik, keterpelajarannya serta kebaikan dirinya sendiri. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang biasa yang kurang tahu sopan santun. Orang tersebut memberi salam kepada rabi Simon. Tetapi rabi Simon dengan sombong menjawab: "Eh, kamu rhaka! Kamu jelek! Apakah semua orang di desamu jelek seperti kamu?" Orang tersebut menjawab: "Mengenai hal itu, saya kurang tahu. Tapi silakanlah Anda memberitahu Sang Pencipta yang telah menciptakan aku, bahwa aku jelek dan ciptaan-Nya pun jelek!" Jawaban orang tersebut telah menempelak dosa kesombongan rabi Simon itu.
Dosa kesombongan dapat memperoleh hukuman yang lebih berat. Dosa kesombongan itu dapat dihukum oleh Sanhedrin, yaitu pengadilan tinggi Yahudi. Memang hal itu tidak harus kita pahami secara harafiah. Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah, bahwa "Dosa yang terkandung dalam kemarahan yang berkepanjangan itu buruk; dan dosa yang terkandung dalam kesombongan itu lebih buruk lagi".
Tidak ada dosa lain seperti dosa kesombongan. Ada kesombongan yang berasal dari kebanggaan asal-usul diri pribadi; sedangkan gengsi adalah suatu hal yang menjijikkan dan tercela. Ada juga kesombongan yang muncul karena kedudukan dan uang; demikian juga kebanggaan karena kekayaan dan uang adalah hal yang menjijikkan dan hina. Ada juga kesombongan yang berasal dari ilmu pengetahuan; dan dari antara semua gengsi, maka gengsi intelektual adalah yang paling sulit dipahami, karena yang paling mengesankan setiap orang bijak adalah keacuh- acuhannya sendiri. Kita tidak boleh memandang orang lain dengan kesombongan dan gengsi kita; lebih-lebih orang lain yang baginya Kristus telah mati di kayu salib.
Jadi Yesus mengatakan, bahwa barangsiapa merusak nama dan reputasi saudaranya, ia patut mendapatkan hukuman yang terberat, yaitu hukuman api neraka.
Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan dengan 'neraka' adalah gehena. Kata ini memunyai sejarah. Kata ini secara umum sering dipakai oleh orang-orang Yahudi (Matius 5:22, 29, 30; 10: 28; 18:9 ; 23:5, 33; Markus 9:43, 45, 47; Lukas 12:5; Yakobus 3:6). Arti sebenarnya adalah Lembah Hinnom. Lembah Hinnom adalah sebuah lembah di sebelah barat laut Yerusalem. Lembah itu terkenal sebagai tempat di mana raja Ahaz memperkenalkan penyembahan kepada dewa kafir Molokh. Dalam penyembahan itu dipersembahkan juga bayi-bayi dengan cara membakar mereka. Kitab 2 Tawarikh menceritakan, bahwa raja Ahaz "membakar juga korban di Lebak Ben-Hinnom dan membakar anak-araknya sebagai korban dalam api" (2 Tawarikh 28:3). Kemudian raja Yosia, yaitu raja Israel yang mengadakan pembaharuan agama pada pertengahan abad ke-7 SM, menghapuskan penyembahan atau ibadah itu, dan memerintahkan agar lembah itu disebut sebagai tempat yang terkutuk untuk selama-lamanya. Penulis kitab 2 Raja-raja menceritakan, bahwa raja Yosia "menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinnom, supaya jangan orang mempersembahkan anak- anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh" (2 Raja-Raja 23:10). Sebagai akibat dari semuanya itu maka Lembah Hinnom menjadi tempat pembuangan bagi orang-orang yang tidak disukai di Yerusalem. Di situlah mereka itu dibuang dan dibinasakan. Tempat itu menjadi tempat yang sangat mengerikan, di mana orang-orang jahat yang terhukum dibuang dan dibakar. Di situ selalu ada api membara, asap tebal dan hitam yang membubung, dan banyak cacing yang kelaparan serta menunggu mangsa (Markus 9:44-48). Jadi gehenna, yaitu Lembah Hinnom, di dalam pikiran setiap orang merupakan tempat orang-orang yang terkutuk dan menjijikkan, di mana semua hal yang jahat dan tak berguna, termasuk manusia, dibuang dan dibinasakan. Itulah sebabnya maka nama itu dipersamakan dengan nama tempat di mana terdapat kuasa Allah yang menghancurkan, yaitu neraka.
Jadi Yesus menekankan, bahwa merusak reputasi dan nama baik seseorang merupakan hal yang paling jahat. Yesus sama sekali tidak suka kepada orang yang senang memfitnah, menuturkan cerita palsu serta mempergunjingkan orang lain. Perbuatan seperti itu akan merusak, bahkan mematikan reputasi dan nama baik orang lain tersebut. Dan perbuatan seperti itu patut mendapatkan hukuman yang terberat. Perbuatan seperti itu adalah dosa yang patut membawa pelakunya masuk ke neraka.
Di atas telah kita katakan, bahwa adanya tingkat-tingkat hukuman itu tidak harus kita pahami secara hurufiah. Yang sebenarnya hendak dikatakan oleh Yesus adalah sebagai berikut: "Pada zaman dahulu semua orang mengutuk pembunuhan; dan pembunuhan memang merupakan perbuatan yang salah. Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa bukan hanya tindakan lahiriah seseorang saja yang mendapat hukuman, tetapi pikiran dan angan-angan yang ada di dalam hatinya pun tak luput dari pandangan dan hukuman Allah. Kemarahan yang mendarah daging adalah jelek; percakapan yang penuh kesombongan lebih jelek lagi; dan pembicaraan yang sembrono dan keliru tentang orang lain sehingga mematikan nama baik orang tersebut merupakan hal yang paling jelek". Orang yang selalu marah, berbicara sombong dan merusak nama baik orang lain, barangkali tidak pernah melakukan tindakan pembunuhan. Tetapi orang yang demikian itu sebenarnya adalah pembunuh di dalam hatinya.
Salah satu hal aneh yang terdapat dalam Kotbah Di Bukit ialah adanya beberapa kesempatan di mana Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap beberapa hal yang mereka telah tahu. Para guru Yahudi telah selalu menekankan pentingnya kewajiban utama, yaitu mengatakan kebenaran. "Dunia ini berdiri teguh di atas tiga hal, yaitu keadilan, kebenaran dan damai." "Empat macam orang yang pasti akan tersingkir dari hadirat Allah, yaitu pengejek, munafik, penipu dan pemfitnah." "Orang yang plintat-plintut sama jahatnya dengan penyembah berhala." Para pengikut mazab Shammai bersikap begitu taat dan keras kepada kebenaran, sehingga mereka melarang adanya sopan-santun dan basabasi sosial, seperti umpamanya, memuji-muji kecantikan wajah pengantin wanita padahal sebenarnya hanya biasa saja, atau mengatakan bahwa makanan ini lezat padahal sebenarnya biasa saja.
Para guru Yahudi tersebut akan lebih lagi menekankan kebenaran tersebut apabila kebenaran itu dijamin dan dikukuhkan dengan sumpah. Perjanjian Baru berulang kali menyatakan hal ini. Alkitab pun menyatakan: "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7). Perintah ini tidak ada hubungannya dengan sumpah dalam arti pemakaian bahasa yang jelek. Perintah itu bermaksud untuk mengutuk setiap orang yang menyampaikan sumpah atau janji dalam nama Allah, bahwa sesuatu itu benar, tetapi sumpahnya itu sebenarnya palsu. "Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu" (Bilangan 30:2). "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu" (UI 23:21).
Tetapi pada zaman Yesus ada dua hal yang tidak memuaskan mengenai sumpah itu.
Yang pertama adalah yang kita sebut sumpah percuma, yaitu suatu pernyataan sumpah yang sebenarnya tidak perlu dan tidak pada tempatnya. Pada waktu itu orang sudah merasa biasa untuk memulai ucapan-ucapannya dengan mengatakan: "Demi hidup" atau "Demi kepalaku" atau "Biarlah aku tak melihat kejayaan Israel lagi, jika ...." Para rabi Yahudi menandaskan, bahwa mereka yang mengucapkan sumpah serapah adalah berdosa dan salah. Mereka mengatakan: "Ya dari orang benar adalah ya, dan tidak mereka adalah tidak."
Ada satu peringatan penting di sini. Banyak orang yang terlalu sering memakai kata-kata atau bahasa yang suci secara ngawur dan tanpa makna. Mereka menyebut nama-nama yang suci dengan bibir mereka dengan cara yang tidak hormat dan tanpa pikir. Nama-nama yang suci hendaklah tetap dipakai untuk hal-hal yang suci saja.
Yang kedua adalah kebiasaan Yahudi yang lebih buruk dari yang pertama tadi, yang boleh kita sebut sumpah pengelakan, atau sumpah cuci tangan. Orang-orang Yahudi membagi sumpah ke dalam dua kelompok, yaitu sumpah yang mengikat dan sumpah yang tidak mengikat. Setiap sumpah yang memakai nama Allah adalah sumpah yang mengikat secara mutlak. Dan setiap sumpah yang diucapkan tanpa nama Allah masuk dalam kelompok sumpah yang tidak mengikat. Konsekwensinya ialah, bahwa setiap orang yang bersumpah dengan nama Allah dalam bentuk dan ucapan yang bagaimana pun, ia harus secara mutlak menepatinya. Tetapi kalau ia bersumpah demi langit, bumi, Yerusalem, atau kepalanya sendiri, ia boleh merasa bebas untuk melanggarnya. Akibat dari semuanya ini ialah bahwa sumpah-sumpah pengelakan atau sumpah-sumpah yang dilakukan tanpa nama Allah berhamburan, dan semua orang berusaha untuk cuci-tangan dari kewajiban dan tanggung-jawabnya.
Di balik sumpah itu terdapat satu hal yang penting. Jika nama Allah dipakai, maka Allah menjadi pihak yang terlibat di dalam sumpah itu. Sedangkan kalau nama Allah tidak dipakai, maka Allah tidak memunyai sangkut-paut dengan ikatan yang ada. Soal pokok yang hendak disampaikan oleh Yesus sangatlah jelas. Yesus hendak mengatakan, bahwa meskipun ada usaha manusia untuk tidak melibatkan Allah di dalam ikatan sumpah itu, sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat menyingkirkan Allah dari dalam ikatan itu. Allah selalu ada di sana. Langit adalah takhta-Nya; bumi adalah alas kaki-Nya. Yerusalem adalah kota Allah; kepala manusia bukanlah milik manusia itu sendiri; tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bukan milik Allah. Dan karena itu, tidaklah jadi soal, apakah nama Allah disebut dengan kata atau tidak, sebab Allah sendiri telah berada di sana.
Selanjutnya Yesus memberitahukan kebenaran kekal yang besar. Hidup ini tidak bisa dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, di mana Allah terlibat dan di mana Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa membagi hidupnya, lalu mengatakan, bahwa di bagian ini Allah terlibat, sedang di bagian lain Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku bahasa yang satu, sedangkan di pelabuhan, kantor dan pabrik berlaku bahasa yang lain. Kita juga tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku norma tingkah-laku yang satu, sedangkan di dunia perdagangan berlaku norma yang lain. Kenyataan yang benar ialah, bahwa Allah tidak butuh kita undang untuk masuk ke dalam bagian-bagian tertentu dari hidup kita, serta kita keluarkan dari bagianbagian hidup kita yang lainnya. Allah berada di mana-mana, di sepanjang hidup dan kegiatan kita sepanjang waktu. Ia ada di mana saja menurut kehendak-Nya sendiri. la tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nama-Nya. Ia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan. Dan tidak ada ucapan sumpah dan yang semacamnya, yang bisa mengelakkan keterlibatan Allah di dalam ikatan yang terbentuk, meskipun nama-Nya tidak disebutkan. Oleh karena itu kita perlu menganggap semua sumpah atau janji sebagai sesuatu yang suci, apalagi kalau kita ingat bahwa sumpah atau janji itu kita lakukan di hadirat Allah.
AKHIR DARI SUMPAH ATAU JANJI
Matius 5:33-37 (lanjutan)
Perikop kita diakhiri dengan perintah agar apabila seseorang mengatakan "ya" maka ia harus mengatakan "ya", dan tidak lebih dari itu. Demikian pula apabila ia harus mengatakan "tidak" maka ia harus mengatakan "tidak", dan tidak lebih dari itu.
Makna yang hendak diungkapkan adalah bahwa setiap orang tidak usah lagi memerlukan sumpah atau janji untuk menopang atau menjamin kebenaran dari segala sesuatu yang diucapkannya. Jaminan dan saksinya haruslah terletak pada dirinya sendiri. Seorang guru dan ahli pidato Yunani yang besar, yang bernama Isokrates, mengatakan: "Orang harus berusaha menjalani kehidupan yang lebih banyak mendatangkan kepercayaan pada dirinya sendiri, ketimbang kepercayaan yang diperolehnya dengan sumpah." Clement dari Alexandria juga menekankan, agar orang-orang Kristen menghayati dan mnenjalani hidup serta menampakkan sifat-sifat kristianinya sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak perlu minta sumpahnya untuk mempercayainya. Masyarakat yang kita cita-citakan ialah masyarakat, di mana kebenaran perkataan setiap warganya dapat dipercaya, dan janji setiap orang benar-benar dipenuhi tanpa jaminan sumpah.
Apakah perkataan Yesus itu kemudian berarti larangan bagi kita untuk mengucapkan sumpah, seperti umpamanya di ruang pengadilan? Ada dua kelompok orang yang dengan tegas menolak mengucapkan sumpah. Kelompok pertama adalah orang-orang Esseni, yaitu anggota salah satu sekte agama Yahudi kuno. Mengenai mereka itu Yosephus pernah menulis: "mereka sangat menonjol dalam hal saling mempercayai, dan mereka adalah pelayan-pelayan perdamaian. Segala yang mereka katakan dapat dipercaya melebihi sebuah sumpah atau janji. Mereka tidak pernah melakukan sumpah. Sumpah mereka anggap lebih buruk dari perkataan palsu. Karena mereka mengatakan, bahwa orang yang tak dapat dipercaya tanpa sumpah adalah orang yang sudah terkutuk."
Kelompok kedua yang sekarang masih ada dalam jumlah yang besar, terutama di Inggris, adalah kelompok Quakers atau kelompok Persekutuan Persaudaraan. Dalam keadaan yang bagaimanapun orang-orang Quakers itu tidak akan pernah mengangkat sumpah. Paling jauh, atau maksimal, yang akan dilakukan oleh George Fox, pemimpin Quakers, adalah memakai kata "Sesungguhnya". Ia menulis: "Saya tidak pernah menyebabkan orang lain berbuat salah selama saya bekerja. Selama saya melakukan pekerjaan saya, saya hanya memakai kata "Sesungguhnya". Dan waktu itu muncul ungkapan yang mengatakan: "Kalau George Fox mengatakan 'Sesungguhnya', maka tak ada seorang pun yang meragukannya." Pada zaman dahulu kelompok Essenilah yang tidak mengangkat sumpah, maka pada zaman kini kelompok Quakers.
Benarkah garis pikiran yang mereka ambil dalam hat ini? Kalau kita lihat di dalam Alkitab, kita temukan, bahwa dalam beberapa kesempatan dan kejadian Paulus sendiri melakukan sumpah itu. Dalam suratnya ke Jemaah Korintus ia menulis: "Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku . . . bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu" (2 Korintus 1:23). Juga dalam suratnya ke Jemaah Galatia dia menulis: "Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutulis kepadamu ini benar, aku tidak berdusta" (Galatia 1:20). Dengan tulisannya yang demikian itu maka Paulus sudah mengangkat sumpah. Yesus sendiri tidak menolak ketika diri-Nya diminta untuk menyatakan sesuatu di atas sumpah. Ketika Yesus diadili, maka sang Imam Besar berkata kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak" (Matius 26:63). Jadi bagaimanakah jawaban terhadap pertanyaan kita di atas?
Untuk itu marilah kita lihat bagian akhir dari perikop yang kita pelajari ini (Matius 5:37). Di situ dikatakan agar orang mengatakan "ya" jika "ya" dan "tidak" jika "tidak". Lalu akhirnya dikatakan "Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat". Bagian akhir ayat ini bisa mengandung salah satu dari dua arti yang berikut.
Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah yang berikut: orang yang memang benar, tidak perlu mengangkat sumpah; kebenaran perkataannya dan pemenuhan janjinya tidak memerlukan jaminan seperti itu. Tetapi kenyataan bahwa sumpah kadang-kadang masih diperlukan menjadi bukti, bahwa manusia bukanlah manusia yang baik dan bahwa dunia ini bukan dunia yang baik.
Dengan demikian kita memperoleh dua macam kewajiban dari perkataan Yesus itu. Pertama, kita wajib berusaha agar orang lain melihat kebaikan kita sehingga mereka tidak perlu meminta kita mengangkat sumpah. Kedua, kita wajib berusaha dengan giat agar kepalsuan dan ketidak benaran di dunia berkurang-kurang sedemikian rupa sehingga perlunya sumpah itu bisa dihapuskan.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a |Referensi 04b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R04c |
Referensi SHA-04c diambil dari:
| Judul Buku | : | Hidup Damai dengan Seks |
| Pengarang | : | Dr. Paul Gunadi |
| Penerbit | : | SAAT, Malang, 2001 |
| Halaman | : | 12 - 17 |
Zaman ini adalah zaman yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan keberhasilan ekonomi. Di tengah-tengah kesibukan untuk mencapai status sosial yang layak, manusia membutuhkan kelegaan. Jalan keluarnya adalah rekreasi sebagai obat kelegaan yang kita butuhkan.
Bagi sebagian orang, rekreasi adalah seks dan jadilah seks sebagai wadah rekreasi. Seks ditekankan, dipromosikan, dan disajikan sebagai obat dari segala ketegangan. Akibatnya nyata, di mana-mana kita dapat menyaksikan atraksi yang mengandung dan mengundang seks seolah-olah tanpa seks segalanya hambar. Setiap hari kita, mau tak mau, bertemu dengan seks - di jalanan, tontonan, dan pembicaraan. Sedikit demi sedikit nilai moral non-kristen dan rangsangan seksual memasuki dan mempengaruhi kita. Semuanya terjadi tanpa kita terlalu menyadarinya.
Seorang Kristen harus berendam dalam genangan firman Tuhan sehingga firman-Nya sungguh meresap masuk ke dalam hati kita. Firman-Nya bukan saja akan memberi kita pengetahuan tentang kehendak-Nya, tetapi juga kekuatan untuk menguasai dorongan seks. Pikiran yang diisi dengan firman Tuhan adalah pikiran yang lebih bersih dari pikiran-pikiran liar tentang seks. Pikiran yang telah diendapi oleh firman Tuhan akan lebih menyediakan wadah bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam batin kita. Sebagaimana saya kemukakan tadi, kita tidak akan berhasil menghilangkan dorongan seksual; yang dapat kita lakukan adalah mengendalikannya. Pada waktu kita mengisi pikiran dengan firman Tuhan, sebenarnya kita sedang menciptakan keadaan di mana Roh Kudus dapat bekerja dengan lebih leluasa mengendalikan keinginan naluri seks itu. Di sini saya tidak mengatakan bahwa Roh Kudus tidak dapat bekerja tanpa kerja sama kita. Allah yang Mahakuasa tentu dapat berbuat apa saja. Namun saya mengamati dalam kehidupan pribadi saya. Roh Kudus menginginkan kerja sama dengan saya untuk menghasilkan buah penguasaan diri. Ketaatan dan kerinduan kita akan firman-Nya adalah prasyarat untuk hidup dalam penguasaan Roh Kudus.
Walaupun kita telah mengisi pikiran dengan firman Tuhan, namun apabila kita tidak hidup disiplin, niscaya kita akan terus dikuasai oleh naluri seks. Oleh karena penguasaan dorongan seksual merupakan salah satu bentuk disiplin diri, maka diperlukan pula disiplin dalam aspek- aspek kehidupan yang lainnya. Kita perlu mendisiplin tubuh dan pikiran kita agar naluri seks tidak hidup liar.
Pikiran dan tubuh tidaklah terpisahkan; yang satu mempengaruhi yang lainnya. Pada waktu pikiran saya kusut, rasanya tubuh saya pun pegal- pegal, berolah raga pun tidak ingin. Sebaliknya, jika tubuh saya sedang tidak dalam kondisi prima, misalnya karena jarang berolah raga, pikiran saya sering melantur dan perasaan saya mudah terombang-ambing. Selain berolah raga, saya menganjurkan agar Saudara hidup teratur. Tidurlah dengan cukup, yakni antara 7 sampai 9 jam per hari. Tidurlah dan bangunlah pada waktu yang sama setiap harinya. Makanlah secara teratur dan jangan makan terlalu banyak sampai kekenyangan. Sudah tentu kita perlu makan makanan yang bergizi. Biasakan hari-hari kita diisi dengan kegiatan yagn teratur. Rencanakan kegiatan hari libur dengan seksama pula, sebab acap kali hari libur yang kosong memberi peluang untuk pikiran dan tubuh kita lari ke arah dorongan seksual.
Pada waktu kita sedang santai, kita dapat mendengarkan tembang rohani yang menyerap ke dalam sukma kita. Atau kita bisa juga mendengarkan rekaman khotbah yang bermanfaat bagi pikiran dan hati kita. Tatkala pikiran kita mulai bercabang ke arah seks, kita perlu mengalihkannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan lain. Ingatlah, bahwa naluri seks adalah suatu kekuatan yang membutuhkan penyaluran dalam bentuk kegiatan. Hampa kegiatan adalah tempat empuk bagi naluri seks untuk menjamur dan menekan kita.
Sebagai guyonan, saya mendefinisikan SEKS sebagai Saking Enak Kesucian Sirna. Godaan seksual adalah godaan dosa yang biasanya kita tangkal dengan setengah hati. Di pihak yang satu kita menginginkannya, di pihak lain kita mengharamkannya. Disambut salah, dilepas sayang. Jadi, biasanya kita terbelit dalam siklus ini. Menjauhkan diri dari godaan seks untuk sementara waktu, kemudian menghampiri godaan untuk "menguji" kekuatan kita, ternyata gagal, dan kita pun lalu menjauhkan diri dari godaan seks, tapi setelah itu menghampirinya lagi, dan seterusnya.
Dalam 1 Korintus 6;18 Tuhan memerintahkan kita untuk "menjauhkan diri dari percabulan". Perintah yang sama diulang kembali dalam 2 Timotius 2;22, "jauhilah nafsu orang muda." Kata "jauhkan" dalam kedua ayat ini sebetulnya berasal dari kata "melarikan diri." Kata ini digunakan dalam Matius 2:14 ("menyingkir" ke Mesir) takkala Yusuf membawa Maria dan Tuhan Yesus melarikan diri ke Mesir setelah diperingatkan oleh malaikat Tuhan. Kata ini menekankan suatu reaksi yang cepat tatkala melihat bahaya mengancam, yakni melarikan diri guna menyelamatkan diri. Dalam menghadapi godaan seksual, langkah perncegahan adalah langkah teraman dan terbaik. Tidak ada langkah lain yang dapat menandinginya. Yusuf mengerti bahwa di balik godaan seksual tersembunyi bahaya besar. Itulah sebabnya ia pun melarikan diri dari sergapan istri Potifar dan tidak berupaya meyakinkan diri bahwa ia mampu melawannya (Kej 39:12-13). Pencegahan memang jauh lebih baik daripada kejatuhan!
Godaan terbesar setelah berupaya namun jatuh adalah menyerah. Saya menyadari hal ini. Namun saya mengingat nasehat seorang penulis Kristen dari Inggrus bernama C.S. Lewis yang mendorong kita agar tidak menyerah. Lewis menekankan bahwa yang terpenting adalah usaha kita menguasai diri dan melawan godaan. Meskipun adakalanya gagal, namun Tuhan mencatat upaya kita melawan godaan itu. Lewis memberikan contoh tentang pemberian nilau ujian. Jika kita menyerah total dan mengosongkan kertas ujian, sudah pasti kita akan menerima nilai 0 besar. Tetapi apabila kita berusaha menjawab dengan mengisinya sebisa kita, biasanya kita mendapatkan nilai lebih dari 0. Sebagai seorang guru, saya membenarkan ilustrasinya itu. Murid yang mengosongkan kertas ujian, niscaya menerima nilai 0. Namun apabila ia menulis sesuatu dalam usahanya menjawab, meskipun salah tetap saya akan beri nilai.
Saudara sekalian! Perjuangan mengendalikan naluri seks merupakan proses yang tak henti-hentinya. Sebenarnya proses ini akan terus berlanjut hingga kita meninggalkan dunia yang fana ini. Ada orang yang berhasil menjaga kesuciannya masa remaja dan pemuda, tapi jatuh setelah berusia setengah baya. Setiap saat kita dapat digoda dan diuji. Malanglah kita apabila yang menahan kita untuk tidak berdosa hanyalah ketakutan, sebagaimana dikatakan oleh Lewis B. Smedes, seorang dosen teologi di Fuller Seminary. Prinsip ketakutan hanya akan berlaku jika rasa takut itu ada. Apabila rasa takut itu lenyap, kita pun menjadi berani -- berani berdosa. Tuhan ingin melihat usaha kita dan berapa kerasnya kita berusaha. Jadi, janganlah menyerah! Perjalanan kita masih panjang. Kesempatan untuk jatuh ke dalam dosa seksual tidak hanya hadir pada masa remaja. Ia selalu hadir dan menyertai kita sepanjang umur. Oleh karena itu kita perlu selalu berjaga-jaga -- sekarang dan seterusnya.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R05a |
Referensi SHA-R05a diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Matius Ps. 1-10 |
| Judul Artikel | : | Perkataan yang Dapat Diandalkan dan Dipercaya |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995 |
| Halaman | : | 266 - 273 |
Salah satu hal aneh yang terdapat dalam khotbah Di Bukit ialah adanya beberapa kesempatan di mana Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap beberapa hal yang mereka telah tahu. Para guru Yahudi telah selalu menekankan pentingnya kewajiban utama, yaitu mengatakan kebenaran. "Dunia ini berdiri teguh di atas tiga hal, yaitu keadilan, kebenaran dan damai." "Empat macam orang yang pasti akan tersingkir dari hadirat Allah, yaitu pengejek, munafik, penipu dan pemfitnah." "Orang yang plintat-plintut sama jahatnya dengan penyembah berhala." Para pengikut mazab Shammai bersikap begitu taat dan keras kepada kebenaran, sehingga mereka melarang adanya sopan-santun dan basa-basi sosial, seperti umpamanya, memuji-muji kecantikan wajah pengantin wanita padahal sebenarnya hanya biasa saja, atau mengatakan bahwa makanan ini lezat padahal sebenarnya biasa saja.
Para guru Yahudi tersebut akan lebih lagi menekankan kebenaran tersebut apabila kebenaran itu dijamin dan dikukuhkan dengan sumpah. Perjanjian Baru berulang kali menyatakan hal ini. Alkitab pun menyatakan: "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Keluaran 20:7). Perintah ini tidak ada hubungannya dengan sumpah dalam arti pemakaian bahasa yang jelek. Perintah itu bermaksud untuk mengutuk setiap orang yang menyampaikan sumpah atau janji dalam nama Allah, bahwa sesuatu itu benar, tetapi sumpahnya itu sebenarnya palsu. "Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu" (Bilangan 30:2). "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu" (Ulangan 23:21).
Tetapi pada zaman Yesus ada dua hal yang tidak memuaskan mengenai sumpah itu.
Yang pertama adalah yang kita sebut sumpah percuma, yaitu suatu pernyataan sumpah yang sebenarnya tidak perlu dan tidak pada tempatnya. Pada waktu itu orang sudah merasa biasa untuk memulai ucapan-ucapannya dengan mengatakan: "Demi hidup" atau "Demi kepalaku" atau "Biarlah aku tak melihat kejayaan Israel lags, jika ...." Para rabi Yahudi menandaskan, bahwa mereka yang mengucapkan sumpah serapah adalah berdosa dan salah. Mereka mengatakan: "Ya dari orang benar adalah ya, dan tidak mereka adalah tidak."
Ada satu peringatan penting di sini. Banyak orang yang terlalu sering memakai kata-kata atau bahasa yang suci secara ngawur dan tanpa makna. Mereka menyebut nama-nama yang suci dengan bibir mereka dengan cara yang tidak hormat dan tanpa pikir. Nama-nama yang suci hendaklah tetap dipakai untuk hal-hal yang suci saja.
Yang kedua adalah kebiasaan Yahudi yang lebih buruk dari yang pertama tadi, yang boleh kita sebut sumpah pengelakan, atau sumpah suci tangan. Orang-orang Yahudi membagi sumpah ke dalam dua kelompok, yaitu sumpah yang mengikat dan sumpah yang tidak mengikat. Setiap sumpah yang memakai nama Allah adalah sumpah yang mengikat secara mutlak. Dan setiap sumpah yang diucapkan tanpa nama Allah masuk dalam kelompok sumpah yang tidak mengikat. Konsekwensinya ialah, bahwa setiap orang yang bersumpah dengan nama Allah dalam bentuk dan ucapan yang bagaimanapun, ia harus secara mutlak menepatinya. Tetapi kalau ia bersumpah demi langit, bumi, Yerusalem, atau kepalanya sendiri, ia boleh merasa bebas untuk melanggarnya. Akibat dari semuanya ini ialah bahwa sumpah-sumpah pengelakan atau sumpah-sumpah yang dilakukan tanpa nama Allah berhamburan, dan semua orang berusaha untuk cuci-tangan dari kewajiban dan tanggung-jawabnya.
Di balik sumpah itu terdapat satu hal yang penting. Jika nama Allah dipakai, maka Allah menjadi pihak yang terlibat di dalam sumpah itu. Sedangkan kalau nama Allah tidak dipakai, maka Allah tidak mempunyai sangkut-paut dengan ikatan yang ada. Soal pokok yang hendak disampaikan oleh Yesus sangatlah jelas. Yesus hendak mengatakan, bahwa meskipun ada usaha manusia untuk tidak melibatkan Allah di dalam ikatan sumpah itu, sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat menyingkirkan Allah dari dalam ikatan itu. Allah selalu ada di sana. Langit adalah takhta-Nya; bumi adalah alas kaki-Nya. Yerusalem adalah kota Allah; kepala manusia bukanlah milik manusia itu sendiri; tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bukan milik Allah. Dan karena itu, tidaklah jadi soal, apakah nama Allah disebut dengan kata atau tidak, sebab Allah sendiri telah berada di sana.
Selanjutnya Yesus memberitahukan kebenaran kekal yang besar. Hidup ini tidak bisa dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, di mana Allah terlibat dan di mana Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa membagi hidupnya, lalu mengatakan, bahwa di bagian ini Allah terlibat, sedang di bagian lain Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku bahasa yang satu, sedangkan di pelabuhan, kantor dan pabrik berlaku bahasa yang lain. Kita juga tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku norma tingkah-laku yang satu, sedangkan di dunia perdagangan berlaku norma yang lain. Kenyataan yang benar ialah, bahwa Allah tidak butuh kita undang untuk masuk ke dalam bagian-bagian tertentu dari hidup kita, serta kita keluarkan dari bagian-bagian hidup kita yang' lainnya. Allah berada di mana-mana, di sepanjang hidup dan kegiatan kita sepanjang waktu. Ia ada di mana saja menurut kehendak-Nya sendiri. la tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nama-Nya. Ia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan. Dan tidak ada ucapan sumpah dan yang semacamnya, yang bisa mengelakkan keterlibatan Allah di dalam ikatan yang terbentuk, meskipun nama-Nya tidak disebutkan. Oleh karena itu kita perlu menganggap semua sumpah atau janji sebagai sesuatu yang suci, apalagi kalau kita ingat bahwa sumpah atau janji itu kita lakukan di hadirat Allah.
Perikop kita diakhiri dengan perintah agar apabila seseorang mengatakan "ya" maka ia harus mengatakan "ya", dan tidak lebih dari itu. Demikian pula apabila ia harus mengatakan "tidak" maka ia harus mengatakan "tidak", dan tidak lebih dari itu.
Makna yang hendak diungkapkan adalah bahwa setiap orang tidak usah lagi memerlukan sumpah atau janji untuk menopang atau menjamin kebenaran dari segala sesuatu yang diucapkannya. Jaminan dan saksinya haruslah terletak pada dirinya sendiri. Seorang guru dan ahli pidato Yunani yang besar, yang bernama Isokrates, mengatakan: "Orang harus berusaha menjalani kehidupan yang lebih banyak mendatangkan kepercayaan pada dirinya sendiri, ketimbang kepercayaan yang diperolehnya dengan sumpah." Clement dari Alexandria juga menekankan, agar orang-orang Kristen menghayati dan mnenjalani hidup serta menampakkan sifat-sifat kristianinya sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak perlu minta sumpahnya untuk mempercayainya. Masyarakat yang kita cita-citakan ialah masyarakat, di mana kebenaran perkataan setiap warganya dapat dipercaya, dan janji setiap orang benar-benar dipenuhi tanpa jaminan sumpah.
Apakah perkataan Yesus itu kemudian berarti larangan bagi kita untuk mengucapkan sumpah, seperti umpamanya di ruang pengadilan? Ada dua kelompok orang yang dengan tegas menolak mengucapkan sumpah. Kelompok pertama adalah orang-orang Esseni, yaitu anggota salah satu sekte agama Yahudi kuno. Mengenai mereka itu Yosephus pernah menulis: "mereka sangat menonjol dalam hal saling mempercayai, dan mereka adalah pelayan-pelayan perdamaian. Segala yang mereka katakan dapat dipercaya melebihi sebuah sumpah atau janji. Mereka tidak pernah melakukan sumpah. Sumpah mereka anggap lebih buruk dari perkataan palsu. Karena mereka mengatakan, bahwa orang yang tak dapat dipercaya tanpa sumpah adalah orang yang sudah terkutuk."
Kelompok kedua yang sekarang masih ada dalam jumlah yang besar, terutama di Inggris, adalah kelompok Quakers atau kelompok Persekutuan Persaudaraan. Dalam keadaan yang bagaimanapun orang-orang Quakers itu tidak akan pernah mengangkat sumpah. Paling jauh, atau maksimal, yang akan dilakukan oleh George Fox, pemimpin Quakers, adalah memakai kata "Sesungguhnya". Ia menulis: "Saya tidak pernah menyebabkan orang lain berbuat salah selama saya bekerja. Selama saya melakukan pekerjaan saya, saya hanya memakai kata "Sesungguhnya". Dan waktu itu muncul ungkapan yang mengatakan: "Kalau George Fox mengatakan 'Sesungguhnya', maka tak ada seorang pun yang meragukannya."
Pada zaman dahulu kelompok Essenilah yang tidak mengangkat sumpah, maka pada zaman kini kelompok Quakers.
Benarkah garis pikiran yang mereka ambil dalam hat ini? Kalau kita lihat di dalam Alkitab, kita temukan, bahwa dalam beberapa kesempatan dan kejadian Paulus sendiri melakukan sumpah itu. Dalam suratnya ke Jemaah Korintus ia menulis: "Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku . . . bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu" (2 Korintus 1:23). Juga dalam suratnya ke Jemaah Galatia dia menulis: "Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutulis kepadamu ini benar, aku tidak berdusta" (Galatia 1:20). Dengan tulisannya yang demikian itu maka Paulus sudah mengangkat sumpah. Yesus sendiri tidak menolak ketika diri-Nya diminta untuk menyatakan sesuatu di atas sumpah. Ketika Yesus diadili, maka sang Imam Besar berkata kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak" (Matius 26:63). Jadi bagaimanakah jawaban terhadap pertanyaan kita di atas?
Untuk itu marilah kita lihat bagian akhir dari perikop yang kita pelajari ini (Matius 5:37). Di situ dikatakan agar orang mengatakan "ya" jika "ya" dan "tidak" jika "tidak". Lalu akhirnya dikatakan "Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat". Bagian akhir ayat ini bisa mengandung salah satu dari dua arti yang berikut.
Kalau memang dianggap perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang, maka keperluan itu muncul dari adanya kejahatan di dalam diri manusia. Kalau di dalam diri manusia tidak ada yang jahat, maka sumpah pun tidak akan diperlukan. Dengan kata-kata lain, kenyataan bahwa kadang-kadang dirasa perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang, menjadi bukti akan kejahatan hakekat manusia yang tanpa Kristus.
Kenyataan menyatakan bahwa di dalam hal-hal tertentu dirasa perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang. Kenyataan itu muncul dari kenyataan lain, yaitu bahwa dunia ini adalah dunia yang jahat. Di dalam dunia yang sempurna, yaitu di dalam Kerajaan Allah, pengambilan sumpah itu sama sekali tidak diperlukan. Pengambilan sumpah itu diperlukan hanya karena kejahatan dunia ini.
Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah yang berikut: orang yang memang benar, tidak perlu mengangkat sumpah; kebenaran perkataannya dan pemenuhan janjinya tidak memerlukan jaminan seperti itu. Tetapi kenyataan bahwa sumpah kadang-kadang masih diperlukan menjadi bukti, bahwa manusia bukanlah manusia yang baik dan bahwa dunia ini bukan dunia yang baik.
Dengan demikian kita memperoleh dua macam kewajiban dari perkataan Yesus itu. Pertama, kita wajib berusaha agar orang lain melihat kebaikan kita sehingga mereka tidak perlu meminta kita mengangkat sumpah. Kedua, kita wajib berusaha dengan giat agar kepalsuan dan ketidak benaran di dunia berkurang-kurang sedemikian rupa. sehingga perlunya sumpah itu bisa dihapuskan.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R05b |
Referensi SHA-05b diambil dari:
| Judul Buku | : | Itu kan Boleh |
| Judul Artikel | : | Jangan Mencuri |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung |
| Halaman | : | 33 - 34 |
Keluaran 20:15.
Hukum kedelapan ini mempersoalkan dasar-dasar kita bermasyarakat. Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial. Kita tidak mampu untuk hidup sendiri-sendiri. Kita harus hidup bermasyarakat, kecuali kita diutus ke lingkup Selatan atau Utara dengan tugas khusus, misalnya di bidang geologi! Tetapi bukan itu yang dipersoalkan sekarang. Persyaratan apakah yang berlaku atas kita, sehingga kita dapat bermasyarakat seperti yang Tuhan kehendaki. Tak lain daripada keterbukaan, kejujuran, kebenaran; sehingga satu dengan yang lain dapat saling mempercayai. Saling mempercayai menjadi unsur terpenting dalam masyarakat yang stabil dan sejahtera. Selain itu kita perlu mendefinisikan istilah mencuri, yaitu mengambil hak milik seseorang, misalnya harta, barang yang konkrit -- pasti kita sudah memaklumi pencurian semacam itu. Tetapi bagaimana dengan:
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a |Referensi 05b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R05c |
Referensi SHA-05c diambil dari:
| Judul Buku | : | Itu kan Boleh |
| Judul Artikel | : | Jangan Mengingini |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung |
| Halaman | : | 36 - 38 |
Keluaran 20:17.
Sesungguhnya hukum yang terakhir ini merupakan kunci kemenangan yang membuka pintu pelaksanaan hukum Allah. Dengan terbukanya rahasia ini, kita mampu menjalankan bukan hanya hukum kesepuluh ini, tetapi juga hukum-hukum Allah yang lainnya.
Dalam arti apakah "jangan mengingini" merupakan kunci kemenangan bagi orang-orang beriman? Apabila seseorang jatuh ke dalam dosa maka kejatuhannya itu merupakan akibat suatu proses yang bertahap:
Sebuah pikiran sesat melintasi akal kita. Bagaimanapun juga pikiran tersebut menuntut suatu tanggapan dari kita: apakah kita menerima atau menolaknya, mengelak atau menunda-nunda respon kita. Pokoknya kita tidak dapat bersikap pasif. Seandainya kita menerima pikiran sesat tadi, apakah yang terjadi? Kita segera memasuki
Seandainya pikiran kita bersifat serakah, mungkin kita akan melalui suatu proses berikut ini. Katakanlah si A tertarik akan uang seribu rupiah yang terletak di meja makan. Pikirannya mulai bekerja: "Wah seribu rupiah! Kebetulan dompetku lagi kosong!" Lalu ia membayangkan apa yang sedang dibutuhkannya: "makanan ekstra untuk menempuh ujian semester, batere baru untuk radio" dan sebagainya. Kalau si A tidak berdisiplin, tahap kedua akan segera memasuki tahap ketiga, yaitu
"Yah, saya perlu, saya mau ... saya ingin mendengarkan laporan olah raga tentang pertandingan antara A dengan B." Jika keinginan sudah menguasai pikiran kita, maka nafsu akan menang dan menggagalkan segala usaha kita untuk tidak mencuri. Volisi kita kalah karena dikuasai oleh emosi yang disebut: Master Passion (Keinginan yang sangat besar).
Pada tahap ketiga disiplin tak dapat membantu lagi; kita tidak sanggup untuk berdisiplin karena usaha tersebut sudah terlambat, maka tahap keempat akan segera menyusul, yaitu:
Pelaksanaan kesesatan yang sudah dipikirkan, dibayangkan dan diinginkan.
Nah, dengan demikian kita sudah mengerti larangan hukum yang kesepuluh ini; jangan mengingini ...!! Keinginan di sini merupakan suatu Master Passion, suatu emosi yang menguasai dan tidak terkendalikan. Sekarang apakah kesimpulan kita? Hendaklah kita dengan gigih mendisiplinkan pikiran-pikiran kita sejak dari tahap permulaannya. Kalau malas berdisiplin, kalau bersikap "seseng" (segan sengsara) atau "empang" (maunya enak dan gampang) maka kita pasti jatuh ke dalam dosa. Selain dari semuanya ini, hukum kesepuluh mengingatkan kita akan kelemahan manusia yang mungkin paling mendalam dalam jiwa kita dan paling membahayakan, yaitu keserakahan, oportunisme, materialisme. Keserakahan dan isi hati berjalan sejajar, tak dapat dipisahkan, maka hukum kesepuluh memperincikan beberapa ciri keserakahan:
"Jangan mengingini rumah sesamamu (harta milik), jangan mengingini isterinya atau hambanya ... (kebahagiaan rumah tangga, kekasihnya) atau lembunya atau keledainya (perlengkapan dan modalnya), atau apa pun yang dipunyai sesamamu" (Keluaran 20:l7).
Dengan tegas Tuhan menyebutkan dua bidang khusus dalam hukum yang kesepuluh ini, ialah materi dan seks. Rupanya dua bidang inilah yang paling sering menjatuhkan manusia dalam dosa. Rasul Paulus pun memperingatkan kita, "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang." Keserakahan membuat kita "menyimpang dari iman". (1 Timotius 6:10), sehingga kehilangan pegangan -- harapan dan arah tujuan. Wah -- celaka! Maka untuk terakhir kalinya kita bertanya: Benarkah Hukum Allah itu sudah usang?
Betapa ajaibnya Firman Tuhan yang menjanjikan bahwa Allah akan menulisi hati umat-Nya dengan Hukum-hukum Allah, sehingga ketaatan kepada perintah-perintah-Nya dan kepada norma-norma kehidupan yang benar bukan lagi menjadi beban melainkan kesukaan, bukan lagi keberatan melainkan kebahagiaan. Bagaimana sikap Anda sendiri terhadap Sepuluh Hukum Allah?
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum yang Terutama |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R06a |
Referensi 06 diambil dari:
| Judul Buku | : | Etika Kristen Bagian Umum |
| Judul Artikel | : | Pokok Hukum Taurat |
| Pengarang | : | DR. J. Verkuyl |
| Penerbit | : | Gunung Mulia |
| Halaman | : | 139 - 149 |
Isi Injil dapat disimpulkan dalam satu kalimat: Allah adalah kasih. Bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang mengasihi kita dan kasih-Nya tetap dicurahkan terus kepada kita. Kasih-Nya tidak kunjung padam. Itulah Injil.
Hukum Taurat pun dapat disimpulkan dalam satu kalimat: di dalam Hukum Taurat-Nya, Allah menuntut kasih: "Kasih itu adalah kegenapan Hukum Taurat". Allah menuntut apa yang diberikan-Nya, yakni kasih. Bukan yang lainnya. Tidak lebih dari itu. Tidak kurang dari itu. Allah memberikan semuanya. Diri-Nya sendiri. Itulah Injil.
Allah menuntut semuanya. Diri kita sendiri. Itulah perintah. Perintah itu banyak, tetapi semua perintah memunyai sesuatu hubungan dengan perintah kasih. Perintah kasih itu dalam Perjanjian Lama dirumuskan dalam kitab Ulangan 6:4 dan 5.
Dalam Perjanjian Baru Yesus bertolak kembali dari perumusan itu (Matius 22:37-40): "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".
Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Dua buah perintah yang bersama-sama menjadi dwi-tunggal.
Banyak di antara ahli teologi dan filsafat yang memadukan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama manusia.
Ahli filsafat Immanuel Kant mengatakan, bahwa kasih kepada Allah terdapat di dalam kasih kepada sesama manusia.
Ahli teologi Albrecht Ritschl, yang menuruti jejak Kant, mengatakan bahwa kasih kepada Allah tidak dapat berdiri sendiri. Kasih kepada Allah dinyatakan dalam kasih kepada sesama manusia. Ritschl mendasarkan hal itu pada 1 Yohanes 4:19-21 dan 1 Yohanes 5:1-3 (hal mana sebetulnya tidak benar).
Lebih-lebih lagi paham Richard Rothe dan Walter Rauschenbusch! Mereka mempersamakan kasih kepada Allah itu dengan pemenuhan kewajiban kita dalam pekerjaan kita. Emil Brunner pun mempersatukan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama manusia dan mengatakan, bahwa hubungan antara kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama manusia adalah seperti mata air dan sungainya, pohon dan buahnya.
Betulkah itu? Adakah keberatan-keberatan terhadap jalan pikiran itu? Jika kita memikirkan masalah ini, haruslah kita mulai dengan memegang teguh, bahwa ada kesatuan batin antara kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.
Yesus berfirman: ada dua buah perintah. Tetapi kedua perintah itu merupakan dwi-tunggal. Jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah, tetapi tidak mengasihi sesama manusia, maka pada hakikatnya kita tidak mengasihi Allah. Sebab Allah mengasihi manusia. Allah berkenan kepada manusia. Siapa mengasihi Allah haruslah pula mengasihi manusia yang telah dijadikan menurut gambar-Nya.
Demikianlah pula sebaliknya. Barangsiapa mengatakan bahwa ia mengasihi manusia, tetapi tidak mengasihi Allah, maka pada hakikatnya ia tidak mengasihi sesama manusia. Sebab Allah adalah satu-satunya sumber kasih yang sejati. Tanpa Allah berarti tanpa kasih, sebab Allah itu kasih.
Kesatuan inti perintah kasih yang dwi-tunggal ini penting sekali bagi Etika Kristen. Di dalam mistik (ilmu tasawuj) selalu terdapat kecenderungan akan memupuk kasih kepada Allah yang bersifat mistik, yang tidak memerhatikan kebutuhan sesama manusia. Kasih yang mistis semacam ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasih yang sejati kepada Allah yang hidup. Itulah merupakan suatu cara penyembahan diri sendiri.
Orang yang mengasihi Allah secara mistik ini mengatakan juga bahwa ia mengasihi Allah, tetapi pada hakikatnya ia memuja diri sendiri. Mistik adalah semacam, "utismus" (autisme) si-Aku yang menjadi pusat (egosentrisitas).
Sebaliknya tampaklah bermacam-macam bentuk paham humanisme, yang menganjurkan mengasihi sesama manusia tanpa mengasihi Allah. Juga pengajaran yang demikian itu sia-sia belaka. Sebab kasih kepada sesama manusia itu tidak mungkin dan tidak dapat terjadi tanpa kasih kepada Allah.
Jadi kesatuan inti di dalam perintah kasih yang dwi-tunggal itu harus senantiasa diakui oleh Etika Kristen. Tetapi sebaliknya, tidak boleh diabaikan juga, bahwa kedua bagian dari pokok Hukum Taurat itu merupakan hal yang berdiri sendiri.
Kasih kepada Allah tidak sama dengan kasih kepada sesama manusia. Garis tegak lurus (vertikal), yakni hubungan dengan Allah, tidak lama dengan garis datar (horizontal), yakni hubungan dengan sesama manusia.
Loh pertama Hukum Taurat memang merupakan suatu dwi-tunggal dengan loh kedua Hukum Taurat itu. Tetapi loh pertama Hukum Taurat itu harus dibedakan dari loh kedua.
Di dalam bermacam-macam buku pelajaran Etika Kristen, hal itu kerap kali dilupakan. Ada juga buku-buku pelajaran Etika Kristen yang sama sekali tidak membicarakan tentang kasih kepada Allah. Keempat hukum yang pertama dari Kesepuluh Titah Tuhan itu dengan sepatah kata pun tidak disebut-sebutnya. Di dalam buku-buku pelajaran itu tidak diajarkan tentang melawan penyembahan berhala, penyembahan patung, melawan pencemaran nama Tuhan, dan melawan pencemaran hari Sabat yang kudus (hari Minggu).
Kasih kepada Allah tak disinggungnya sama sekali. Buku-buku pelajaran itu hanya membicarakan hubungan antara manusia dengan sesama manusianya. Itu tidak benar. Di dalam Etika Kristen haruslah terdapat pembicaraan tentang kasih kepada Allah dan berbagai segi dari kasih itu janganlah kita abaikan. Di dalam Etika umum semuanya ini belum lagi dijelaskan. Ini termasuk tugas Etika khusus.
Di sini hanya diberikan beberapa uraian pendahuluan yang singkat mengenai kasih kepada Allah, kasih kepada sesama manusia dan kasih kepada diri sendiri.
Apakah artinya mengasihi Allah? Menurut Alkitab, artinya adalah membalas kasih Allah kepada kita. "Kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu telah mengasihi kita. Dan yang telah mengutus Anak- Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yohanes 4:19 dan 1 Yohanes 4:10). Mengasihi Allah berarti hidup dari kasih-Nya, yakni dikuasai oleh anugerah Allah. Mengasihi Allah ialah menerima dan memberi lagi, disayangi dan menyayangi.
Di dalam titah yang pertama dan terutama sudah kelihatan dengan terang, betapa sunguh-sungguh Allah meminta hati kita dan jiwa kita. Tuhan yang memberikan yang "terdalam' kepada kita, yakni diri-Nya sendiri, hati-Nya, Ia pun meminta kepada kita yang "terdalam" yang terakhir, yakni hatikits.
Dia pertama-tama tidak meminta kemauan kita. Dia pertama-tama tidak meminta perasaan dan emosi kita. Bukan pula milik dan waktu kita yang diminta-Nya. Tetapi yang diminta-Nya ialah apa yang diberikan-Nya kepada kita: hati, jiwa. Jika itu kita berikan kepada-Nya, maka Ia telah mendapat semuanya. Dengan demikian kita menyerahkan juga kepada-Nya: pikiran kita, perasaan kita, kehendak kita, waktu kita, milik kita, perkataan kita dan perbuatan kita.
Tuhan, yang mau menjadi Allah kita dengan sebulat-bulatnya (Akulah TUHAN, Allahmu), menghendaki supaya kita dengan sebulat-bulatnya hidup untuk Dia. Apa sebenarnya arti kasih kepada Allah itu, dapat dibaca antara lain di dalam keempat hukum yang pertama dari Dasatitah, yang kelak akan kita bicarakan.
Di sini hanyalah ditunjukkan, bahwa kasih kepada Allah itu juga meminta perhatian yang khusus dari kita. Kasih kepada Allah itu tidak hanya diusahakan di dalam kasih kepada sesama manusia. Kasih kepada Allah meminta juga kepada kita supaya kita menyediakan waktu yang khusus untuk melakukan kasih itu di dalam doa dan pembacaan Alkitab dan perenungan (meditasi) dan sebagainya.
Yesus Kristus tidak membuang kehidupan keagamaan dalam pengertian khusus. Bahkan sebaliknya. Ia membicarakannya dengan panjang lebar. Ia mau membersihkan kehidupan keagamaan itu dari motif-motif yang salah dan mengisinya dengan kasih kepada Allah yang sejati, (bnd. dengan Khotbah di Bukit dalam Mat 6:1-18).
Tepat sekali peringatan Soe di dalam Ethieknya, bahwa jika usaha mengasihi Allah itu menjadi tipis atau kabur, maka usaha mengasihi sesama manusia pun menjadi tipis atau kabur juga. Ia bertanya, "Apakah kasih kepada sesama manusia itu tumbuh sejak berkurangnya kasih kepada Allah dan berkurangnya usaha mengasihi ini?"
Dengan kesungguhan yang sesungguh-sungguhnya, Allah menuntut dari kita kasih kepada sesama manusia. Sebagaimana kasih kepada Allah didasarkan atas kasih Allah kepada kita, demikian pula kasih kita kepada sesama manusia didagarkan atas kasih Allah kepada sesama manusia.
Bahwa Allah berkenan akan manusia, itu telah dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Anak manusia sudah datang untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Allah mengasihi manusia bukan karena kebajikannya, bukan karena kesalehannya, ataupun kebangsaannya. Tetapi Kasih Allah ialah kasih kepada orang yang jatuh, orang berdosa, orang jahat dan orang fasik. Di dalam Kasih itulah terletak sumber kasih kita kepada sesama manusia.
Allah menuntut supaya kita mengasihi sesama manusia demi kehendak Kristus. Jadi di dalam Alkitab dasar-dasar kasih kepada sesama manusia itu bukan terletak pada bangsa dan suku bangsa, bukan pada kepentingan golongan, pada sifat-sifat yang menarik hati dari sesama manusia, pada peri kelakuannya yang baik, pada bakat-bakatnya atau miliknya. Tetapi, dasar-dasarnya terletak pada Yesus Kristus. Hanya di dalam dan oleh Yesus Kristus orang dapat menjadi sesama manusia bagi kita.
Dengan tepat Barth mengatakan, bahwa pengertian sesama manusia itu adalah pengertian kekristenan. Pengertian sesama manusia itu barulah diterima dengan kesadaran oleh umum melalui agama Kristen. Manusia maupun segolongan manusia, menurut kodratnya, tidak mengenal kasih kepada sesama manusia. Menurut kodratnya, manusia memang memunyai rasa kekeluargaan, rasa kebangsaan, rasa golongan, kesadaran akan kepentingan golongan, tetapi tidak memunyai kasih kepada sesama manusia. Kita manusia menurut kodratnya, tidak memunyai rasa kemanusiaan. Paling-paling kita hanya "family minded", tetapi tidak "social minded". Karena manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya, maka Allah menjadi manusia.
Allah yang "berperi-kemanusiaan". Di dalam Yesus Kristus Allah telah menyatakan, apa peri kemanusiaan itu. Di dalam dan karena Yesus Kristus barulah kita dapat mengenal sesama manusia.
Apa yang dimaksud dengan kasih kepada sesama manusia di dalam Alkitab, dapat kita lihat dari perumpamaan "Orang Samaria yang Murah Hati" yang menaruh belas kasihan. Bertanyalah seorang ahli Taurat, siapakah gerangan sesama manusianya itu. Ia menyangka dapat menjawab sendiri pertanyaaan itu. Jawabnya di dalam kehidupan sehari-hari adalah: "Aku memilih sesamaku manusia. Sesamaku manusia ialah: bangsaku sendiri dan di dalam lingkungan bangsa itu yang kuutamakan, yakni orang dari golonganku sendiri". Tetapi di dalam perumpamaan "Orang Samaria yang Murah Hati" itu, Tuhan Yesus menyatakan bahwa bukanlah kita sendiri yang menentukan, siapa yang menjadi sesama manusia kita. Allah juga yang menentukan untuk siapa kita layak menjadi sesama manusia.
Sesama manusia ialah misalnya orang yang sedang menderita kesukaran, yang ditempatkan Allah pada jalan hidup kita. Kita harus menjadi sesama manusia orang itu demi kehendak Allah.
Ketika orang Samaria melihat si korban yang sedang menderita kesukaran itu, ia tidak menanyakan: Apakah orang itu termasuk golonganku? Termasuk partaiku? Samakah agama kami? Tetapi ia sadar, bahwa di situ ada orang yang sedang ditimpa sengsara. Ia hidup dari kemurahan Allah, ia pun menjadi alat kemurahan Allah untuk orang yang ditimpa kesengsaraan. Ia tidak memilih sesama manusianya sendiri. Allah menempatkan seorang manusia di jalan hidupnya dan untuk dialah ia harus menjadi sesama manusia demi kehendak Allah.
Untuk siapakah kita harus menjadi sesama manusia? Pertanyaan ini tidak dapat kita jawab sendiri. Allah juga yang menjawab pertanyaan ini untuk kita di dalam keadaan yang konkret. Di dalam keadaan itu Allah menunjukkan kepada kita, untuk siapa kita harus menjadi sesama manusia. Sudah selayaknya kita harus menjadi sesama manusia bagi mereka yang berhubungan dengan kita karena bermacam-macam pertalian; keluarga kita, bangsa kita, teman sekerja dsb. Jika kita tidak menjadi sesama manusia bagi orang-orang yang betul-betul dekat dalam arti yang sebenarnya dan yang bersama-sama dengan kita, bagaimanakah hati kita akan dapat terbuka untuk orang lain yang ada di luar lingkungan tadi?
Suatu peribahasa Inggris mengatakan: "Charity begins at home: penyataan kasih dimulai di rumah". Dan peribahasa Jerman mengatakan tentang orang yang di jalan bagaikan malaikat, tetapi di rumah seperti setan: "Strassenengel und Hausteufel".
Paulus menunjukkan pula, bahwa sudah selayaknya kita harus memunyai kasih kepada sesama manusia di dalam lingkungan orang-orang yang paling erat hubungannya dengan kita. Ia menulis dalam Galatia 6:10: "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman". Tetapi, jika kasih itu terbatas pada orang dari bangsa kita, dari suku bangsa atau marga, dari persekutuan gereja kita atau agama, maka kita tidak mengetahui apa yang disebut kasih kepada sesama manusia menurut pengertian Alkitab. Jika mata kita betul-betul terbuka, jika kita hidup dari belas kasihan Allah, maka kita akan kerapkali menemukan orang-orang di luar lingkungan kita, yang ditempatkan Allah di jalan kita, supaya kita menjadi sesama manusia baginya. Bahkan tuntutan kasih kepada sesama manusia itu dapat berarti kasih kepada "orang yang paling jauh ". Sebab sesama manusia kita itu tidak selalu orang yang menurut tempatnya tinggal dekat dengan kita. Ia dapat juga beribu-ribu kilometer jauhnya dari kita.
Ketika Paulus di dalam mimpinya mendengar orang Makedonia berseru: "Datanglah dan tolonglah kami", maka ia mendengar seruan orang yang tergolong "orang yang terjauh", jika dilihat dari Asia Kecil. Paulus suka membatasi kasih akan sesama manusia itu pada golongan- golongan yang dikenalnya, bangsa-bangsa Sem dan orang-orang Asia Kecil. Ia belum pernah berhubungan dengan bangsa Eropah. Tetapi Allah sudah menjelaskan kepadanya pada malam itu, bahwa ia harus pula menjadi sesama manusia bagi bangsa Eropah.
Jika di suatu tempat ada suatu bencana, misalnya pada waktu gunung Merapi meletus, pada waktu air bah di Tiongkok, pada waktu gempa bumi di Chili, maka mungkinlah dengan tiba-tiba Allah menggerakkan orang yang jauh tempat tinggalnya menjadi sesama manusia bagi mereka yang tertimpa bencana itu!
Kita diperkenankan hidup dari kasih Allah kepada manusia. Allah mengasihi dunia ini. Allah mengasihi segala bangsa. Jika kita hidup dari kasih itu, maka kasih kepada sesama manusia itu tidak ada batas-batasnya. Allah tidak mendirikan tembok-tembok pembatasan. Allah tidak menarik lingkaran-lingkaran pembatasan di sekeliling bangsa-bangsa tertentu saja. Kasih Allah tidak terhenti oleh karena batas-batas tertentu. Oleh karena itu, maka kita pun tidak boleh membatasi kasih kita terhadap sesama manusia.
"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Seperti dirimu sendiri. Bolehkah kita mengasihi diri kita sendiri?
Banyak ahli teologi berpendapat, bahwa tidak benar bila orang memerintahkan supaya mengasihi diri sendiri. (Demikianlah misalnya dalam tulisan-tulisan Luther dan Karl Barth.)
Pendapat lain (pada hemat kami tepatlah ini) mengatakan bahwa orang boleh mengasihi diri sendiri. Ada dua macam kasih kepada diri sendiri. Ada kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat, itu termasuk dosa. Dan ada kasih kepada diri sendiri yang dilahirkan dari kasih Allah kepada kita, manusia. Kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat itu adalah egoisme. Manusia, menurut kodratnya, selalu ingin menempatkan diri sendiri di pusat. Ia mencari kehormatan diri sendiri, kebesaran nama sendiri, kepentingan diri sendiri, kebahagiaan sendiri, kesukaan sendiri.
Di dalam cerita dewa-dewa Yunani dikisahkan tentang Narcissus, seorang dewa remaja yang congkak, gila bersolek. Narcissus selalu melihat bayangannya di dalam air kolam. Tersenyum ia demi melihat bayangannya itu. Ia memuji-muji dirinya sendiri.
Kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat itu adalah Narcisme. Kasih semacam itu janganlah diubah, diperbaiki, ataupun disublimasikan, tetapi haruslah dimatikan. Harus disalibkan bersama-sama Kristus. Kasih kepada diri sendiri semacam itu haruslah disangkal! Kita harus belajar mengatakan "tidak" terhadap kasih itu, dengan kekuatan Kristus. Jika kita sungguh-sungguh mengenal Yesus, maka kits sendiri harus dijatuhkan dari takhta kita. Barulah kita sadar bahwa kita sendiri bukan semacam dewa-dewa kecil. Tetapi hanya "anak yang hilang", yang tidak berharga dan yang berdosa.
Akan tetapi, jika kita mengalami, bahwa Allah mau menerima kita kembali, anak yang sudah hilang, jika kita diperkenankan hidup dari kasih Allah kepada kita sebagai orang-orang yang hina, maka bolehlah kita memandang diri kita sebagai anak-anak di dalam keluarga Bapa, sebagai ahli waris di dalam Kerajaan Allah, sebagai hamba sahaya Tuhan Yesus. Kita boleh hidup dari belas kasihan Allah, dan sebagai anak-anak Allah yang lain kita pun mendapat tempat di dalam Rumah Bapa, kita boleh menjadi peserta. Maka barulah timbul kasih kepada diri sendiri yang berlainan sama sekali dengan kasih kepada diri sendiri yang menurut kodrat itu dan yang sia-sia belaka.
Peran utama di dalam kasih kepada diri sendiri yang sia-sia ini adalah kita sendiri. Sedangkan di dalam kasih kepada diri sendiri yang diperbarui dan dikuduskan itu bukanlah kita sendiri yang merupakan peran utama, tetapi kita menjadi hamba sahaya dari Pemeran Utama: Yesus Kristus.
"Kasih kepada diri sendiri yang sejati ialah patuh pada perintah yang besar dan terutama" (Soe). Biji gandum menghasilkan buahnya, bila ia mati tertanam dalam tanah. Kasih kepada diri sendiri yang sejati tumbuh seimbang dengan kematian kasih kepada diri sendiri yang sia-sia itu. Barangsiapa menyangkal diri sendiri, maka ia akan menemukan bahwa jalan penyangkalan diri dan penyerahan diri kepada Yesus adalah jalan keselamatan, juga bagi hidup kita sendiri.
Barangsiapa mengaku tidak layak disebut anak Allah, akan mengetahui bahwa Allah memberi tempat juga kepada kita di antara anak-anak-Nya. Di samping berjuta-juta anak Allah, kita pun boleh menemukan tempat di dalam keseluruhan itu.
Sebagai penutup uraian mengenai Hukum Taurat ini, haruslah dipaparkan soal hubungan antara Hukum Taurat dan perintah-perintah khusus serta penerapannya di dalam berbagai lapangan hidup.
Di dalam Alkitab tidak hanya terdapat Hukum Taurat, tetapi terdapat juga banyak perintah yang konkret pada Kesepuluh Titah Tuhan, pada Khotbah di Bukit, pada surat-surat kiriman rasul-rasul.
Di dalam kenyataan hidup, di semua lapangan hidup, kita berhubungan dengan banyak masalah kesusilaan yang serba sulit dan dengan keadaan-keadaan yang tidak terhitung banyaknya, di mana kita bertanya: Apakah yang dikehendaki Allah dari kita di dalam keadaan ini? Apakah yang disuruhkan-Nya, sekarang dan di sini? Hubungan apakah yang terdapat antara perintah kasih yang dwi-tunggal dengan perintah-perintah lainnya itu? Adakah perintah kasih yang dwi- tunggal itu terpisah dari perintah yang khusus?
Jika kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini menurut Alkitab, maka hanya ada satu jawaban. Perintah yang khusus itu merupakan uraian, gambaran pengenaan, dan penyataan dari perintah kasih yang dwi- tunggal tersebut.
Sebagaimana di dalam suatu lagu, kadang-kadang hanya satu lagu pokok (tema) yang disusun dalam berbagai cara, demikianlah Allah menyusun perintah dwi-tunggal itu di dalam bennacam-macam bentuk, tetapi pokoknya di manapun juga adalah tetap sama. Kasih itu tetap menjadi penggenapan Hukum Taurat. Di manapun juga! Di dalam setiap keadaan dan di semua lapangan hidup.
Hal ini terutama di bagian khusus Etika, tidak boleh dilupakan sama sekali. Nanti kita akan membicarakan tentang Etika sosial, ekonomi, politik, kebudayaan. Dan di situ ada bahaya besar, yaitu berbuat seolah-olah di lapangan-lapangan khusus itu kita hanya berhubungan dengan hukum dan suruhan-suruhan yang lain.
Sesungguhnya tidaklah demikian! Tiap-tiap masalah di dalam Etika; soal kelamin misalnya, haruslah dikembalikan kepada soal: Apakah yang dituntut oleh kasih kepada sesama manusia itu dari kita? Tiap- tiap masalah di dalam Etika politik haruslah dikembalikan kepada pertanyaan: Apakah yang dituntut oleh kasih kepada sesama manusia itu dari kita? Etika kebudayaan penuh dengan masalah yang serba sulit. Tetapi masalah-masalah yang tersulit pun haruslah dihadapkan kepada terang perintah: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia.
Sebagaimana jari-jari roda berputar pada satu sumbu, demikianlah pula perintah-perintah adalah bagaikan jari-jari yang berputar pada satu pusat, yaitu perintah pusat. Sebagaimana tiap titik pada lingkaran memunyai hubungan yang tetap dengan titik pusat, demikianlah pula semua perintah khusus memunyai hubungan yang tetap dengan pusat perintah Allah. Segala yang dituntut oleh Allah di dalam hukum-Nya, bergantung kepada Hukum Taurat.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum yang Terutama |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R06b |
Referensi SHA-06b diambil dari:
| Judul Buku | : | Pandangan Agama Kristen Tentang New Morality |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung, 1983 |
| Halaman | : | 52 - 63 |
Kita harus sungguh-sungguh memahami istilah kasih, yang sering disalahgunakan. Pada umumnya arti kasih agak kabur bagi kita dan kita kurang mampu membedakan antara perjuangan New Morality yang berdasarkan kasih dengan ajaran Kitab Suci yang diringkaskan dengan kasih dan diutamakan dalam seluruh Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:37,39).
Menurut Rasul Paulus orang yang bertindak dalam kasih menggenapkan hukum. "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Roma 13:10). "Tujuan nasihat itu ialah kasih" (1 Timotius 1:5). Tuhan Yesus pun telah memberikan hukum baru kepada kita, yaitu hukum kasih yang tersurat dalam Injil Yohanes 13:34.
Dalam hal ini perlu kita perhatikan, bahwa Kristus tidak menyatakan kehendak Allah yang baru, sebab kehendak-Nya tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Tetapi Tuhan Yesus menyatakan cara pelaksanaan yang baru.
New Morality berdiri atas dasar kasih dan menuntut kebebasan kasih. Dengan kekuatan kita sendiri tidak mungkin kita mengasihi dalam arti Kristen, walaupun kita ingin mengasihi dan kita mengerti bahwa kita harus saling mengasihi. Tetapi orang yang hidupnya diikat dengan Kristus, yang dipersatukan dengan Dia dalam kasih, menggali dari sumber kasih yang sejati, sehingga dapat mencurahkan kasih Allah yang terlebih dahulu dicurahkan ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (Roma 5:5).
Tetapi apakah perbedaan antara kasih dalam Kitab Suci dengan kasih dalam New Morality?
Sebelum menelaah kasih yang diajarkan dalam Kitab Suci, baiklah kita membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia. Perbedaan ini pernah dikemukakan oleh Dr. Toyotome, walaupun dalam bentuk lain, ketika memimpin kursus penginjilan di kota Bandung beberapa tahun yang lalu. Ia membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia seperti berikut:
KASIH ALLAH
Kasih Kendati Pun (KK)
Kasih Meskipun (KM)
Kasih Biarpun (KB)
Kasih Sekalipun (KS)
KASIH MANUSIA
Kasih Manusia (KK)
Kasih Karena (KK)
Dengan huruf-huruf ini perbedaan pokok antara kedua kasih tersebut dapat kita lihat dengan jelas.
Kasih manusia, kasih kalau, senantiasa mengharapkan sesuatu, menantikan sesuatu. Tidak pernah terlepas dari tanggapan serta reaksi obyek yang dikasihi. Kasih manusia senantiasa bersifat materialistis dan menuntut beberapa syarat yang harus dipenuhi dahulu. "Kalau engkau mengikuti kehendakku ... kalau engkau meminta maaf . . . kalau engkau ... maka aku ..."
Begitu juga kasih karena sikap itu pun "berechnend" (sikap yang mempertimbangkan untung rugi atau memperhitungkan segala sesuatu). Kasih karena bukan kasih yang murni dan spontan, melainkan kasih yang egois yang keluar dari hati yang materialistis, yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dalam segala hal. Sama dengan sikap "kalau", sikap "karena" juga tidak terlepas dari tanggapan serta reaksi obyeknya. "Kalau saya lulus, baru saya mau mengikuti Kristus." "Kalau anak saya selamat dalam operasi, saya bersedia dibaptis." Karena si A sering mentraktir dan berfoya-foya, maka si B mau bergaul dengan dia serta menjadi pacarnya.
Kasih Allah tidak pernah memperhitungkan sesuatu, tidak pernah menuntut sesuatu dari kita. Kasih Allah dicurahkan kepada kita kendati pun, walaupun ... sekalipun kita lemah, kendati pun kita ditaklukkan oleh dosa dan masih berseteru dengan Dia, namun demikian Tuhan Yesus mati ganti kita (Roma 5:6-10). Meskipun Kristus tidak bersalah dan walaupun tidak berdosa, kendati pun umat manusia menyalibkan Dia, namun Anak Allah yang tunggal itu menyerahkan nyawa-Nya ganti kita, dan karena kasih-Nya, menanggung dosa isi dunia ini. Maka kita melihat dengan nyata bahwa kasih Allah itu terlepas dari reaksi kita; hati Kristus terdorong oleh kasih yang murni. Walaupun kita jahat, durhaka serta keras kepala, tidak layak diperhatikan atau dikasihi, namun tetap Tuhan menyatakan isi hati-Nya terhadap kita sekalian. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).
Dalam 1 Yohanes 3:12-16 Rasul Yohanes melukiskan ciri-ciri khas dari kasih Allah, yaitu pelayanan dan pengorbanan. Sebagai contoh Yohanes membedakan antara Kain dan Kristus. Kain mengorbankan saudaranya Habel demi kepentingan diri sendiri, sedangkan Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya untuk serta demi keselamatan kita. Kain membenci Habel, sebab Allah membenarkan hidup Habel melalui persembahannya, sedangkan dosa Kain dinyatakan ketika persembahannya ditolak oleh Allah. Kita dapat membayangkan perkembangan dalam hubungan antara kedua saudara tersebut. Tiap kali Kain bertemu dengan adiknya, Habel, ia teringat kembali akan peristiwa persembahan, sehingga makin lama makin meadalam rasa dendam, iri dan benci terhadap saudaranya dan pada akhirnya Kain mengambil keputusan membunuh adiknya, Habel, Habel harus mati; tidak mungkin kedua saudara itu hidup bersama. Seorang harus dikorbankan, supaya yang seorang lagi dapat hidup dengan senang dan tidak terganggu pikirannya karena terkenang akan peristiwa yang memalukan itu. Sudah barang tentu bukan Kain yang dikorbankan, "Kain tidak akan mengorbankan nyawanya." Kain senantiasa harus hidup. Kain tidak akan mengalah. Kain senantiasa harus menang bagaimana pun nasib saudaranya. Kain akan senantiasa mengorbankan bukan dirinya sendiri, melainkan hidup saudaranya.
Betapa indahnya kasih Kristus yang tidak memikirkan diri-Nya, yang rela mengorbankan bahkan nyawa-Nya untuk kita. Memang SATU HARUS MATI, tetapi yang dikorbankan bukan Anda, bukan siapa-siapa, bukan seorang manusia pun, melainkan hanya diri Tuhan Yesus Kristus. Kain membunuh supaya ia boleh hidup. Kristus mati supaya kita boleh hidup dalam Tuhan. Betapa besar kontras antara kasih Allah dengan kasih manusia. Kita mengasihi asal hal itu menguntungkan. Allah mengasihi, walaupun Anak-Nya harus mati tersalib untuk pengampunan dosa kita. Walaupun manusia tidak mengucapkan syukur dan terima kasih, walaupun manusia sama sekali kurang insaf, namun Allah tidak menahan Anak-Nya yang tunggal sekalipun, melainkan menyerahkan-Nya supaya kita memeroleh hidup yang kekal di dalam Dia.
Manusia bertitik tolak dari segi keuntungan diri sendiri, Allah bertitik tolak dari segi kepentingan obyek-Nya, meskipun obyek itu penuh dengan dosa dan kenajisan, penuh dengan keakuan dan keangkuhan.
Kasih Allah itu bebas, spontan, murni, penuh pengampunan dan rahmat serta penuh pengorbanan. Segi pengorbanan diistimewakan dalam istilah:
C.H. Dodd pernah mendefinisikan Agape seperti berikut: "Agape is not primarily an emotion or affection, it is primarily an active determination of the will." Pada hakekatnya Agape bukan suatu emosi, bukan rasa cinta, meiainkan suatu sikap yang bertekad akan bertindak. Kemauan manusia diaktifkan lebih dari perasaannya. Definisi lain berbunyi sebagai berikut: "Agape itu kehendak dan usaha seseorang untuk mencari serta mengusahakan Summum Bonum bagi sesamanya (highest good - kebahagiaan yang tertinggi)." Definisi lain juga diajukan, misalnya "Disinterested Agape love can only mean impartial love, inclusive love, indiscriminate love, love for Tony, Dick and Harry. Agape is possible as love wills the neighbour's good whether we like him or not" (kasih agape tidak memilih bulu, mengasihi semua, tidak membedakan antara satu dengan yang lain. Agape itu ditujukan kepada sekalian termasuk juga orang-orang kecil dan orang biasa). Kita hanya dapat mengasihi begitu rupa, kalau kita menghendaki kebahagiaan sesama kita, meskipun barangkali kita kurang menyukainya.
Filia merupakan kasih yang wajar dalam lingkungan kekeluargaan serta persahabatan. Pernah Filia serta Agape diringkaskan demikian: "Filia cannot be commanded, turned on at will, Agape can." Seakan- akan kita dapat memasang Agape pada setiap waktu terhadap segala orang tanpa memilih bulu. Sedangkan Filia tak dapat "dipasang" demikian, Filia tak dapat diperintahkan, Filia tak dapat disuruh!
"Friendship, romance, selfrealization are reciprocal loves; Agape is not so. It seeks the good in anybody, everybody." Dalam kasih persahabatan dan romance (Filia) kita merealisasikan diri; kedua belah pihak saling mengasihi, sedang Agape merupakan sikap seseorang, bukan perasaan, merupakan good will terhadap sesamanya.
Tuhan Yesus mewujudkan Agape dengan "Not an inner feeling, a full heart or what not, but the work of love, which was His life". (Bukan perasaan hati, melainkan pekerjaan kasih, yakni hidup-Nya sendiri.) Selain dari Agape dan Filia manusia juga mengenal Eros atau Romantic Love.
Istilah Eros tidak disebut dalam Alkitab, walaupun Eros sering dibahas. Tetapi justru Eroslah yang menjadi persoalan dalam pembahasan New Morality, sebab kasih yang dialami dalam pergaulan muda-mudi, pria-wanita dan dalam kehidupan seksual itu Eros.
Menurut Morgan Derham, Romantic Love sering dijelaskan dan sering dipandang sebagai "an overwhelming all-conquering passion uniting a man and a woman in a bond of complete abandonment o each other with an almost sacred intensity" Eros diartikan sebagai suatu perasaan yang sangat kuat, yang mempersatukan pria dengan wanita dalam ikatan yang demikian erat, sehingga saling menyerahkan diri secara total; maka ikatan mereka seolah-olah bagaikan sakramen.
Sudah kita utarakan bahwa New Morality menuntut kebebasan dalam pengalaman kasih dan dalam hal ini justru Eros yang dimaksudkan. Maka "saling menyerahkan diri" merangkap juga penyerahan fisik sebelum atau di luar pernikahan yang sah.
Apakah sikap orang Kristen terhadap Romantic Love? Apakah Romantic Love itu dosa? Bukan. Sama sekali tidak. Kasih Eros pun berasal dari Allah, sama seperti Agape dan Filia, dan merupakan karunia yang dianugerahkan kepada manusia untuk memperkaya kehidupan kita. Namun seperti anugerah-anugerah lain, Eros dapat disalahgunakan dan bila disalahgunakan, maka Eros mendatangkan banyak kesusahan dan penderitaan, bukan kebahagiaan. Kalau Eros tidak dikontrol di bidang fisik, maka kasih spiritual dapat dilukai serta dirusak, bahkan dipadamkan dan dimatikan oleh seks. Eros harus dipelajari serta dikontrol. Oleh karena itulah Allah menjaga dan melindungi kasih dengan membatasi seks pada hubungan nikah yang sah. Kasih tidak terbit dari seks; seks tidak mendahului kasih. Sebaliknya, kasih memuncak ke arah seks.
W. Trobisch menceritakan sebuah film yang diperlihatkan di negara Jerman pada zaman Hitler sekitar tahun 1940. Dalam film itu seorang dokter membunuh isterinya yang sangat menderita karena penyakit yang ganas. Isterinya tidak dapat ditolong lagi dengan obat apa pun, sehingga akhirnya sang suami membunuh isteri yang dikasihinya dengan memberikan obat yang jauh melebihi dosis yang patut. Dalam pengadilan kemudian sang suami hanya menjelaskan sebagai berikut: "Aku mengasihi isteriku." Dokter tersebut berani membunuh isteri atas nama kasih, berani mengabaikan hukum Allah yang berbunyi, "Jangan kamu membunuh." Dengan menyingkirkan hukum Allah dokter itu jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa disadarinya.
Kalau kita berani membuang hukum Allah tentang perzinahan, atas nama kasih (maksudnya Eros - Romantic Love), maka kita pun jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa kita sadari. Seks di luar nikah atau sebelum nikah selalu merugikan, sebab kasih yang dilindungi oleh hukum Allah menjadi mati. Hal ini akan kita bahas dalam pasal yang berikut.
Romantic Love sebagai karunia Allah tidak mulai dengan seks. Kasih Eros yang dialami dalam bidang emosi yang kuat sekali, menyebabkan penyerahan total dari dua orang, akan tetapi bukan penyerahan langsung dalam bidang fisik, sebab Eros berkembang dalam beberapa tahap.
Menurut C.S. Lewis, dalam tahap pertama ketika dua orang mulai tertarik, mereka saling menghormati dan menjunjung tinggi tabiat dan kepribadian masing-masing, sehingga mereka sangat bergemar pada setiap pertemuan. Sukacita dan rasa bahagia yang dialami mempengaruhi seluruh kehidupan mereka, termasuk juga hubungan dengan orang lain. Misalnya seseorang yang pada umumnya bersifat keras, kurang ramah dan acuh tak acuh, melalui pengalaman Eros tahap pertama ini dapat berubah 180 derajat; sikap angkuh menjadi rendah, sikap yang keras menjadi lembut. Segala sesuatu yang negatif mengalami perubahan yang sangat menggembirakan. Bahkan seorang egois, seorang introvert, akan berubah menjadi ekstrovert yang penuh perhatian terhadap sesamanya. Memang perubahan yang mendadak positif ini tidak dapat disaksikan secara mutlak dalam setiap orang yang mengalami Romantic Love. Perubahan ini belum tentu merupakan pembaharuan sifat yang tetap - sebagaimana Eros pun merupakan pengalaman sementara.
Dalam tahap pertama ini kedua belah pihak mengkonsentrasikan segala usaha pada pengenalan watak dan akhlak masing-masing. Karena begitu tertarik, maka dalam pandangan mereka tidak ada orang yang dapat menandingi kekasihnya. Pada tahap pertama pikiran mereka belum menjurus kepada seks, sebab mereka masih mengutamakan "the true worth of human personality" (nilai-nilai hakiki daripada kepribadian). Komunikasi mereka terbatas pada percakapan, diskusi dan pertukaran pikiran.
Dalam tahap kedua komunikasi mulai mendalam, perhatian mereka dicurahkan kepada kchidupan masing-masing, pada tanggapan serta reaksi. Kini mereka berkomunikasi melalui observasi terhadap gerak- gerik kekasihnya, baik di hadapan umum, maupun di rumah atau di ruang kuliah. Bagaimana sikapnya kalau tak sadar ada yang memerhatikan? Bagaimana tingkah laku dalam menghadiri pesta atau perayaan? Bagaimana sikapnya terhadap - uang kalau baru menerima wesel dari orang-tuanya atau bagaimana kalau "lagi kosong dompetnya"? Apakah kekasih itu sering berfoya-foya, senang mentraktir teman-teman atau apakah dia kikir serta kecil jiwanya? Apa hobinya? Bagaimana sikapnya terhadap masalah sosial? Bagaimana sikapnya terhadap agama? Dan terutama terhadap Tuhan Yesus sendiri? Dalam tahap kedua ini persahabatan semakin mendalam. Kedua belah pihak hormat-menghormati. Perkenalan pada tahap ini sangat penting justru sebelum mereka mendirikan rumah tangga dan sebelun mereka memasuki "Two in Oneship".
Dalam tahap ketiga Romantic Love mulai berkembang ke arah komunikasi fisik, mata, suara, nada pembicaraan, juga tangan, semuanya menjadi aktif sebagai alat komunikasi. Mereka harus waspada dalam tahap ketiga ini, sebab kalau kontak fisik sudah dimulai, dorongan untuk komunikasi fisik bertambah kuat, bahkan menjadi dominan atau master passion (dorongan keras yang dikuasai oleh emosi dan bukan oleh intelek). Bilamana kontak fisik diutamakan dalam pergaulan, maka pengenalan akan karakter kurang diperhatikan dan akhirnya berhenti sama sekali. Demikian pula halnya dengan "intelligent discernment of personal qualities" (pengertian mendalam tentang sifat-sifat pribadi). Lama- kelamaan pergaulan itu mundur serta nafsu mengambil alih peranan. Betapa pentingnya kita berdisiplin, justru pada tahap ketiga ini agar pengenalan jangan terganggu serta jangan berhenti. Di sini kita harus menyampaikan suatu peringatan. Romantic Love kita terima dari Allah melalui seorang kekasih dan bukan daripada kekasih itu sendiri.
Dengan kata lain kekasih itu merupakan saluran kasih, bukan sumbernya. Satu-satunya sumber kasih ialah Allah sendiri.
Kadang-kadang karena kurang menyadari hal itu dan karena merasa berbahagia dalam pergaulannya, seorang pemuda ingin memiliki kekasihnya dengan secepat mungkin. Si pemuda yakin ia akan membahagiakan temannya dan sebaliknya ia senantiasa akan berbahagia dengan dia. Tetapi si pemuda lupa, bahwa dia atau kekasihnya bukan sumber kasih, bukan sumber kebahagiaan, melainkan salurannya. Pengalaman sehari-hari dalam rumah tangga sangat berlainan dari pengalaman kita dalam masa Eros. Bahkan si dia yang dijunjung tinggi demikian rupa memunyai kelemahan-kelemahan sama saja seperti manusia yang lain. Si dia yang memunyai adat dan sifat-sifat yang mengecewakan. Suaranya sering terdengar kasar, kadang-kadang malas dan masakannya terlalu royal. Reaksinya acap kali lambat, si dia suka gosip dan sebagainya. Memang kalau kita mengharapkan kasih dari dia, kita pasti mengalami kekecewaan. Jika kita tidak memandang Tuhan sendiri, yang menjadi sumber hidup dan sumber kasih, maka hubungan nikah akan mundur, malah pernikahart itu mulai terancam dan bahkan dapat menuju kehancuran. Satu pihak mulai merasa bosan serta kecewa dan pada akhirnya berusaha mencari sumber kasih baru, yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya.
Selaku orang yang beriman bagaimana sikap kita terhadap kasih Eros? Baiklah kita perhatikan beberapa fakta.
Jika pada tahap ketiga baru kita mulai berdisiplin, maka pasti kita sudah terlambat, sebab keinginan dan kerinduan akan menguasai tindakan kita karena merupakan "overmastering passion". Tidak mungkin kita stop kalau sudah memasuki tahap ketiga, yaitu tahap keinginan. Keinginan akan mengatasi intelek. Kita harus stop pada tahap pikiran. Disiplin dapat dipelajari dan dikembangkan kalau dengan tegas kita mengkonsentrasikan pikiran kita pada hal-hal yang positif, hal-hal yang benar, yang suci, yang manis dan hal-hal yang akan membangun mental (Filipi 4:8).
Paulus menyuruh orang-orang Kristen memusatkan pikiran pada "perkara yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2). Dalam hal ini kita harus tegas. Eros tanpa disiplin akan ambruk, akan merugikan, malahan dapat membahayakan seluruh masa depan kita.
Sewaktu-waktu disiplin terwujud dalant keputusan untuk menolak Romantic Love. Keputusan semacam itu tidak dapat diambil secara emosional, melainkan dengan kemauan yang bulat dan teguh. Kita harus bertidak dengan penuh konsekwensinya.
Menurut C.S. Lewis, "Eros is heart-breakingly sincere and ready for any sacrifice except renunciation, ready for any sacrifice except acknowledgement that Romantic Love is not supreme as if it owned no higher law than its own."
Eros itu tulus ikhlas, sungguh-sungguh dan bersedia untuk pengorbanan. Hanya satu hal yang tidak mungkin dikorbankan oleh Eros, yakni dirinya sendiri. Eros tidak akan menyangkali dirinya dan Eros tidak akan mengakui instansi hukum yang lebih tinggi daripada hukum Eros.
Kita akan mengakhiri pembahasan Eros dengan suatu peringatan: sama dengan karunia-karunia umum yang lain, Eros pun harus tunduk pada hukum Allah. Eros tidak akan terlepas dari kehendak serta tujuan Allah, walaupun Alkitab tidak mengandung petunjuk tentang karunia- karunia umum yang kita terima dari Allah. Percuma kita mencari pedoman atau penjelasan dalam Alkitab tentang karunia-karunia umum, untuk boleh memanfaatkannya. Kita hanya membuang-buang waktu dan tenaga, sebab Tuhan telah mengaruniakan kepada kita Common Sense, akal budi, maka akal budi itulah memimpin kita supaya jangan menyalahgunakan karunia Allah itu, melainkan supaya menggunakannya demi kemuliaan nama-Nya. Kita harus berdoa dan bersandar kepada Tuhan agar Tuhan sendiri sudi membimbing kita, sebab dalam hal ini pun Tuhan ingin memperkaya dan memperluas kehidupan umat-Nya. Di luar pimpinan Tuhan, kita mudah dijerat dan masuk ke dalam kerajaan Iblis, di mana His mencari kejayaannya untuk membinasakan dan menghancurkan kita. Jika kita tidak waspada, kita akan diperdayakan olehnya dengan Eros.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum yang Terutama |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R06b |
Referensi SHA-06b diambil dari:
| Judul Buku | : | Pandangan Agama Kristen Tentang New Morality |
| Pengarang | : | Dorothy I. Marx |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung, 1983 |
| Halaman | : | 52 - 63 |
Kita harus sungguh-sungguh memahami istilah kasih, yang sering disalahgunakan. Pada umumnya arti kasih agak kabur bagi kita dan kita kurang mampu membedakan antara perjuangan New Morality yang berdasarkan kasih dengan ajaran Kitab Suci yang diringkaskan dengan kasih dan diutamakan dalam seluruh Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:37,39).
Menurut Rasul Paulus orang yang bertindak dalam kasih menggenapkan hukum. "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Roma 13:10). "Tujuan nasihat itu ialah kasih" (1 Timotius 1:5). Tuhan Yesus pun telah memberikan hukum baru kepada kita, yaitu hukum kasih yang tersurat dalam Injil Yohanes 13:34.
Dalam hal ini perlu kita perhatikan, bahwa Kristus tidak menyatakan kehendak Allah yang baru, sebab kehendak-Nya tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Tetapi Tuhan Yesus menyatakan cara pelaksanaan yang baru.
New Morality berdiri atas dasar kasih dan menuntut kebebasan kasih. Dengan kekuatan kita sendiri tidak mungkin kita mengasihi dalam arti Kristen, walaupun kita ingin mengasihi dan kita mengerti bahwa kita harus saling mengasihi. Tetapi orang yang hidupnya diikat dengan Kristus, yang dipersatukan dengan Dia dalam kasih, menggali dari sumber kasih yang sejati, sehingga dapat mencurahkan kasih Allah yang terlebih dahulu dicurahkan ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (Roma 5:5).
Tetapi apakah perbedaan antara kasih dalam Kitab Suci dengan kasih dalam New Morality?
Sebelum menelaah kasih yang diajarkan dalam Kitab Suci, baiklah kita membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia. Perbedaan ini pernah dikemukakan oleh Dr. Toyotome, walaupun dalam bentuk lain, ketika memimpin kursus penginjilan di kota Bandung beberapa tahun yang lalu. Ia membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia seperti berikut:
KASIH ALLAH
Kasih Kendati Pun (KK)
Kasih Meskipun (KM)
Kasih Biarpun (KB)
Kasih Sekalipun (KS)
KASIH MANUSIA
Kasih Manusia (KK)
Kasih Karena (KK)
Dengan huruf-huruf ini perbedaan pokok antara kedua kasih tersebut dapat kita lihat dengan jelas.
Kasih manusia, kasih kalau, senantiasa mengharapkan sesuatu, menantikan sesuatu. Tidak pernah terlepas dari tanggapan serta reaksi obyek yang dikasihi. Kasih manusia senantiasa bersifat materialistis dan menuntut beberapa syarat yang harus dipenuhi dahulu. "Kalau engkau mengikuti kehendakku ... kalau engkau meminta maaf . . . kalau engkau ... maka aku ..."
Begitu juga kasih karena sikap itu pun "berechnend" (sikap yang mempertimbangkan untung rugi atau memperhitungkan segala sesuatu). Kasih karena bukan kasih yang murni dan spontan, melainkan kasih yang egois yang keluar dari hati yang materialistis, yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dalam segala hal. Sama dengan sikap "kalau", sikap "karena" juga tidak terlepas dari tanggapan serta reaksi obyeknya. "Kalau saya lulus, baru saya mau mengikuti Kristus." "Kalau anak saya selamat dalam operasi, saya bersedia dibaptis." Karena si A sering mentraktir dan berfoya-foya, maka si B mau bergaul dengan dia serta menjadi pacarnya.
Kasih Allah tidak pernah memperhitungkan sesuatu, tidak pernah menuntut sesuatu dari kita. Kasih Allah dicurahkan kepada kita kendati pun, walaupun ... sekalipun kita lemah, kendati pun kita ditaklukkan oleh dosa dan masih berseteru dengan Dia, namun demikian Tuhan Yesus mati ganti kita (Roma 5:6-10). Meskipun Kristus tidak bersalah dan walaupun tidak berdosa, kendati pun umat manusia menyalibkan Dia, namun Anak Allah yang tunggal itu menyerahkan nyawa-Nya ganti kita, dan karena kasih-Nya, menanggung dosa isi dunia ini. Maka kita melihat dengan nyata bahwa kasih Allah itu terlepas dari reaksi kita; hati Kristus terdorong oleh kasih yang murni. Walaupun kita jahat, durhaka serta keras kepala, tidak layak diperhatikan atau dikasihi, namun tetap Tuhan menyatakan isi hati-Nya terhadap kita sekalian. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).
Dalam 1 Yohanes 3:12-16 Rasul Yohanes melukiskan ciri-ciri khas dari kasih Allah, yaitu pelayanan dan pengorbanan. Sebagai contoh Yohanes membedakan antara Kain dan Kristus. Kain mengorbankan saudaranya Habel demi kepentingan diri sendiri, sedangkan Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya untuk serta demi keselamatan kita. Kain membenci Habel, sebab Allah membenarkan hidup Habel melalui persembahannya, sedangkan dosa Kain dinyatakan ketika persembahannya ditolak oleh Allah. Kita dapat membayangkan perkembangan dalam hubungan antara kedua saudara tersebut. Tiap kali Kain bertemu dengan adiknya, Habel, ia teringat kembali akan peristiwa persembahan, sehingga makin lama makin meadalam rasa dendam, iri dan benci terhadap saudaranya dan pada akhirnya Kain mengambil keputusan membunuh adiknya, Habel, Habel harus mati; tidak mungkin kedua saudara itu hidup bersama. Seorang harus dikorbankan, supaya yang seorang lagi dapat hidup dengan senang dan tidak terganggu pikirannya karena terkenang akan peristiwa yang memalukan itu. Sudah barang tentu bukan Kain yang dikorbankan, "Kain tidak akan mengorbankan nyawanya." Kain senantiasa harus hidup. Kain tidak akan mengalah. Kain senantiasa harus menang bagaimana pun nasib saudaranya. Kain akan senantiasa mengorbankan bukan dirinya sendiri, melainkan hidup saudaranya.
Betapa indahnya kasih Kristus yang tidak memikirkan diri-Nya, yang rela mengorbankan bahkan nyawa-Nya untuk kita. Memang SATU HARUS MATI, tetapi yang dikorbankan bukan Anda, bukan siapa-siapa, bukan seorang manusia pun, melainkan hanya diri Tuhan Yesus Kristus. Kain membunuh supaya ia boleh hidup. Kristus mati supaya kita boleh hidup dalam Tuhan. Betapa besar kontras antara kasih Allah dengan kasih manusia. Kita mengasihi asal hal itu menguntungkan. Allah mengasihi, walaupun Anak-Nya harus mati tersalib untuk pengampunan dosa kita. Walaupun manusia tidak mengucapkan syukur dan terima kasih, walaupun manusia sama sekali kurang insaf, namun Allah tidak menahan Anak-Nya yang tunggal sekalipun, melainkan menyerahkan-Nya supaya kita memeroleh hidup yang kekal di dalam Dia.
Manusia bertitik tolak dari segi keuntungan diri sendiri, Allah bertitik tolak dari segi kepentingan obyek-Nya, meskipun obyek itu penuh dengan dosa dan kenajisan, penuh dengan keakuan dan keangkuhan.
Kasih Allah itu bebas, spontan, murni, penuh pengampunan dan rahmat serta penuh pengorbanan. Segi pengorbanan diistimewakan dalam istilah:
C.H. Dodd pernah mendefinisikan Agape seperti berikut: "Agape is not primarily an emotion or affection, it is primarily an active determination of the will." Pada hakekatnya Agape bukan suatu emosi, bukan rasa cinta, meiainkan suatu sikap yang bertekad akan bertindak. Kemauan manusia diaktifkan lebih dari perasaannya. Definisi lain berbunyi sebagai berikut: "Agape itu kehendak dan usaha seseorang untuk mencari serta mengusahakan Summum Bonum bagi sesamanya (highest good - kebahagiaan yang tertinggi)." Definisi lain juga diajukan, misalnya "Disinterested Agape love can only mean impartial love, inclusive love, indiscriminate love, love for Tony, Dick and Harry. Agape is possible as love wills the neighbour's good whether we like him or not" (kasih agape tidak memilih bulu, mengasihi semua, tidak membedakan antara satu dengan yang lain. Agape itu ditujukan kepada sekalian termasuk juga orang-orang kecil dan orang biasa). Kita hanya dapat mengasihi begitu rupa, kalau kita menghendaki kebahagiaan sesama kita, meskipun barangkali kita kurang menyukainya.
Filia merupakan kasih yang wajar dalam lingkungan kekeluargaan serta persahabatan. Pernah Filia serta Agape diringkaskan demikian: "Filia cannot be commanded, turned on at will, Agape can." Seakan- akan kita dapat memasang Agape pada setiap waktu terhadap segala orang tanpa memilih bulu. Sedangkan Filia tak dapat "dipasang" demikian, Filia tak dapat diperintahkan, Filia tak dapat disuruh!
"Friendship, romance, selfrealization are reciprocal loves; Agape is not so. It seeks the good in anybody, everybody." Dalam kasih persahabatan dan romance (Filia) kita merealisasikan diri; kedua belah pihak saling mengasihi, sedang Agape merupakan sikap seseorang, bukan perasaan, merupakan good will terhadap sesamanya.
Tuhan Yesus mewujudkan Agape dengan "Not an inner feeling, a full heart or what not, but the work of love, which was His life". (Bukan perasaan hati, melainkan pekerjaan kasih, yakni hidup-Nya sendiri.) Selain dari Agape dan Filia manusia juga mengenal Eros atau Romantic Love.
Istilah Eros tidak disebut dalam Alkitab, walaupun Eros sering dibahas. Tetapi justru Eroslah yang menjadi persoalan dalam pembahasan New Morality, sebab kasih yang dialami dalam pergaulan muda-mudi, pria-wanita dan dalam kehidupan seksual itu Eros.
Menurut Morgan Derham, Romantic Love sering dijelaskan dan sering dipandang sebagai "an overwhelming all-conquering passion uniting a man and a woman in a bond of complete abandonment o each other with an almost sacred intensity" Eros diartikan sebagai suatu perasaan yang sangat kuat, yang mempersatukan pria dengan wanita dalam ikatan yang demikian erat, sehingga saling menyerahkan diri secara total; maka ikatan mereka seolah-olah bagaikan sakramen.
Sudah kita utarakan bahwa New Morality menuntut kebebasan dalam pengalaman kasih dan dalam hal ini justru Eros yang dimaksudkan. Maka "saling menyerahkan diri" merangkap juga penyerahan fisik sebelum atau di luar pernikahan yang sah.
Apakah sikap orang Kristen terhadap Romantic Love? Apakah Romantic Love itu dosa? Bukan. Sama sekali tidak. Kasih Eros pun berasal dari Allah, sama seperti Agape dan Filia, dan merupakan karunia yang dianugerahkan kepada manusia untuk memperkaya kehidupan kita. Namun seperti anugerah-anugerah lain, Eros dapat disalahgunakan dan bila disalahgunakan, maka Eros mendatangkan banyak kesusahan dan penderitaan, bukan kebahagiaan. Kalau Eros tidak dikontrol di bidang fisik, maka kasih spiritual dapat dilukai serta dirusak, bahkan dipadamkan dan dimatikan oleh seks. Eros harus dipelajari serta dikontrol. Oleh karena itulah Allah menjaga dan melindungi kasih dengan membatasi seks pada hubungan nikah yang sah. Kasih tidak terbit dari seks; seks tidak mendahului kasih. Sebaliknya, kasih memuncak ke arah seks.
W. Trobisch menceritakan sebuah film yang diperlihatkan di negara Jerman pada zaman Hitler sekitar tahun 1940. Dalam film itu seorang dokter membunuh isterinya yang sangat menderita karena penyakit yang ganas. Isterinya tidak dapat ditolong lagi dengan obat apa pun, sehingga akhirnya sang suami membunuh isteri yang dikasihinya dengan memberikan obat yang jauh melebihi dosis yang patut. Dalam pengadilan kemudian sang suami hanya menjelaskan sebagai berikut: "Aku mengasihi isteriku." Dokter tersebut berani membunuh isteri atas nama kasih, berani mengabaikan hukum Allah yang berbunyi, "Jangan kamu membunuh." Dengan menyingkirkan hukum Allah dokter itu jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa disadarinya.
Kalau kita berani membuang hukum Allah tentang perzinahan, atas nama kasih (maksudnya Eros - Romantic Love), maka kita pun jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa kita sadari. Seks di luar nikah atau sebelum nikah selalu merugikan, sebab kasih yang dilindungi oleh hukum Allah menjadi mati. Hal ini akan kita bahas dalam pasal yang berikut.
Romantic Love sebagai karunia Allah tidak mulai dengan seks. Kasih Eros yang dialami dalam bidang emosi yang kuat sekali, menyebabkan penyerahan total dari dua orang, akan tetapi bukan penyerahan langsung dalam bidang fisik, sebab Eros berkembang dalam beberapa tahap.
Menurut C.S. Lewis, dalam tahap pertama ketika dua orang mulai tertarik, mereka saling menghormati dan menjunjung tinggi tabiat dan kepribadian masing-masing, sehingga mereka sangat bergemar pada setiap pertemuan. Sukacita dan rasa bahagia yang dialami mempengaruhi seluruh kehidupan mereka, termasuk juga hubungan dengan orang lain. Misalnya seseorang yang pada umumnya bersifat keras, kurang ramah dan acuh tak acuh, melalui pengalaman Eros tahap pertama ini dapat berubah 180 derajat; sikap angkuh menjadi rendah, sikap yang keras menjadi lembut. Segala sesuatu yang negatif mengalami perubahan yang sangat menggembirakan. Bahkan seorang egois, seorang introvert, akan berubah menjadi ekstrovert yang penuh perhatian terhadap sesamanya. Memang perubahan yang mendadak positif ini tidak dapat disaksikan secara mutlak dalam setiap orang yang mengalami Romantic Love. Perubahan ini belum tentu merupakan pembaharuan sifat yang tetap - sebagaimana Eros pun merupakan pengalaman sementara.
Dalam tahap pertama ini kedua belah pihak mengkonsentrasikan segala usaha pada pengenalan watak dan akhlak masing-masing. Karena begitu tertarik, maka dalam pandangan mereka tidak ada orang yang dapat menandingi kekasihnya. Pada tahap pertama pikiran mereka belum menjurus kepada seks, sebab mereka masih mengutamakan "the true worth of human personality" (nilai-nilai hakiki daripada kepribadian). Komunikasi mereka terbatas pada percakapan, diskusi dan pertukaran pikiran.
Dalam tahap kedua komunikasi mulai mendalam, perhatian mereka dicurahkan kepada kchidupan masing-masing, pada tanggapan serta reaksi. Kini mereka berkomunikasi melalui observasi terhadap gerak- gerik kekasihnya, baik di hadapan umum, maupun di rumah atau di ruang kuliah. Bagaimana sikapnya kalau tak sadar ada yang memerhatikan? Bagaimana tingkah laku dalam menghadiri pesta atau perayaan? Bagaimana sikapnya terhadap - uang kalau baru menerima wesel dari orang-tuanya atau bagaimana kalau "lagi kosong dompetnya"? Apakah kekasih itu sering berfoya-foya, senang mentraktir teman-teman atau apakah dia kikir serta kecil jiwanya? Apa hobinya? Bagaimana sikapnya terhadap masalah sosial? Bagaimana sikapnya terhadap agama? Dan terutama terhadap Tuhan Yesus sendiri? Dalam tahap kedua ini persahabatan semakin mendalam. Kedua belah pihak hormat-menghormati. Perkenalan pada tahap ini sangat penting justru sebelum mereka mendirikan rumah tangga dan sebelun mereka memasuki "Two in Oneship".
Dalam tahap ketiga Romantic Love mulai berkembang ke arah komunikasi fisik, mata, suara, nada pembicaraan, juga tangan, semuanya menjadi aktif sebagai alat komunikasi. Mereka harus waspada dalam tahap ketiga ini, sebab kalau kontak fisik sudah dimulai, dorongan untuk komunikasi fisik bertambah kuat, bahkan menjadi dominan atau master passion (dorongan keras yang dikuasai oleh emosi dan bukan oleh intelek). Bilamana kontak fisik diutamakan dalam pergaulan, maka pengenalan akan karakter kurang diperhatikan dan akhirnya berhenti sama sekali. Demikian pula halnya dengan "intelligent discernment of personal qualities" (pengertian mendalam tentang sifat-sifat pribadi). Lama- kelamaan pergaulan itu mundur serta nafsu mengambil alih peranan. Betapa pentingnya kita berdisiplin, justru pada tahap ketiga ini agar pengenalan jangan terganggu serta jangan berhenti. Di sini kita harus menyampaikan suatu peringatan. Romantic Love kita terima dari Allah melalui seorang kekasih dan bukan daripada kekasih itu sendiri.
Dengan kata lain kekasih itu merupakan saluran kasih, bukan sumbernya. Satu-satunya sumber kasih ialah Allah sendiri.
Kadang-kadang karena kurang menyadari hal itu dan karena merasa berbahagia dalam pergaulannya, seorang pemuda ingin memiliki kekasihnya dengan secepat mungkin. Si pemuda yakin ia akan membahagiakan temannya dan sebaliknya ia senantiasa akan berbahagia dengan dia. Tetapi si pemuda lupa, bahwa dia atau kekasihnya bukan sumber kasih, bukan sumber kebahagiaan, melainkan salurannya. Pengalaman sehari-hari dalam rumah tangga sangat berlainan dari pengalaman kita dalam masa Eros. Bahkan si dia yang dijunjung tinggi demikian rupa memunyai kelemahan-kelemahan sama saja seperti manusia yang lain. Si dia yang memunyai adat dan sifat-sifat yang mengecewakan. Suaranya sering terdengar kasar, kadang-kadang malas dan masakannya terlalu royal. Reaksinya acap kali lambat, si dia suka gosip dan sebagainya. Memang kalau kita mengharapkan kasih dari dia, kita pasti mengalami kekecewaan. Jika kita tidak memandang Tuhan sendiri, yang menjadi sumber hidup dan sumber kasih, maka hubungan nikah akan mundur, malah pernikahart itu mulai terancam dan bahkan dapat menuju kehancuran. Satu pihak mulai merasa bosan serta kecewa dan pada akhirnya berusaha mencari sumber kasih baru, yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya.
Selaku orang yang beriman bagaimana sikap kita terhadap kasih Eros? Baiklah kita perhatikan beberapa fakta.
Jika pada tahap ketiga baru kita mulai berdisiplin, maka pasti kita sudah terlambat, sebab keinginan dan kerinduan akan menguasai tindakan kita karena merupakan "overmastering passion". Tidak mungkin kita stop kalau sudah memasuki tahap ketiga, yaitu tahap keinginan. Keinginan akan mengatasi intelek. Kita harus stop pada tahap pikiran. Disiplin dapat dipelajari dan dikembangkan kalau dengan tegas kita mengkonsentrasikan pikiran kita pada hal-hal yang positif, hal-hal yang benar, yang suci, yang manis dan hal-hal yang akan membangun mental (Filipi 4:8).
Paulus menyuruh orang-orang Kristen memusatkan pikiran pada "perkara yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2). Dalam hal ini kita harus tegas. Eros tanpa disiplin akan ambruk, akan merugikan, malahan dapat membahayakan seluruh masa depan kita.
Sewaktu-waktu disiplin terwujud dalant keputusan untuk menolak Romantic Love. Keputusan semacam itu tidak dapat diambil secara emosional, melainkan dengan kemauan yang bulat dan teguh. Kita harus bertidak dengan penuh konsekwensinya.
Menurut C.S. Lewis, "Eros is heart-breakingly sincere and ready for any sacrifice except renunciation, ready for any sacrifice except acknowledgement that Romantic Love is not supreme as if it owned no higher law than its own."
Eros itu tulus ikhlas, sungguh-sungguh dan bersedia untuk pengorbanan. Hanya satu hal yang tidak mungkin dikorbankan oleh Eros, yakni dirinya sendiri. Eros tidak akan menyangkali dirinya dan Eros tidak akan mengakui instansi hukum yang lebih tinggi daripada hukum Eros.
Kita akan mengakhiri pembahasan Eros dengan suatu peringatan: sama dengan karunia-karunia umum yang lain, Eros pun harus tunduk pada hukum Allah. Eros tidak akan terlepas dari kehendak serta tujuan Allah, walaupun Alkitab tidak mengandung petunjuk tentang karunia- karunia umum yang kita terima dari Allah. Percuma kita mencari pedoman atau penjelasan dalam Alkitab tentang karunia-karunia umum, untuk boleh memanfaatkannya. Kita hanya membuang-buang waktu dan tenaga, sebab Tuhan telah mengaruniakan kepada kita Common Sense, akal budi, maka akal budi itulah memimpin kita supaya jangan menyalahgunakan karunia Allah itu, melainkan supaya menggunakannya demi kemuliaan nama-Nya. Kita harus berdoa dan bersandar kepada Tuhan agar Tuhan sendiri sudi membimbing kita, sebab dalam hal ini pun Tuhan ingin memperkaya dan memperluas kehidupan umat-Nya. Di luar pimpinan Tuhan, kita mudah dijerat dan masuk ke dalam kerajaan Iblis, di mana His mencari kejayaannya untuk membinasakan dan menghancurkan kita. Jika kita tidak waspada, kita akan diperdayakan olehnya dengan Eros.