Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Latar Belakang dan Pertobatan Rasul Paulus |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R01a |
Referensi KRP-01a diambil dari:
| Judul Buku | : | RASUL PAULUS |
| Pengarang | : | Tom Jacobs |
| Penerbit | : | Kanisius, Yogyakarta, 1984 |
| Halaman | : | 9 - 13 |
Pertobatan Paulus diceritakan panjang lebar oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul 9:1-9, dan kemudian masih disebut dua kali lagi dalam suatu pidato Paulus (lihat 22:6-16; 26:12-18).
Paulus sendiri juga menyebutnya tetapi dengan jauh lebih sederhana. Dua teks yang secara cukup luas membicarakan pertobatannya sendiri, yakni Galatia 1:11-24 dan Filipi 3:4-14.
1. Galatia 1:11-24
Paulus menerima Injilnya dari Kristus sendiri, katanya, yakni dalam pewahyuan pada perjalanan ke Damsyik (lihat juga 1Korintus 15:8). Dari pewartaan para murid ia sudah tahu bahwa Yesus diimani sebagai Kristus. Justru itulah sebabnya bahwa ia menganiaya orang Kristen, yang dari sudut Yahudi mesti dilihat sebagai orang murtad. Tetapi pada perjalanan ke Damsyik ia mulai sadar bahwa orang Kristen benar, Yesus sungguh Almasih, Putra Allah. Bagi Paulus ini suatu pengalaman batin. Tetapi pengalaman iman ini, yang bersumber pada wahyu Allah sendiri, membuat Paulus menegaskan bahwa ia tidak menerima Injilnya dari manusia. Berulang kali ia mengatakan hal itu.
Permasalahan Paulus dengan jemaat di Galatia menyangkut soal-soal agama Yahudi. Maka Paulus menandaskan bahwa dia sendiri pernah seorang Yahudi, sampai "menganiaya jemaat Allah". Dan bukan hanya Yahudi biasa saja: "sangat rajin memelihara adat-istiadat nenek- moyang". Paulus seorang Farisi, "lebih maju daripada banyak orang sebaya". Paulus tidak memandang rendah agama Yahudi (lihat Roma 10:1-3). Tetapi "Kristus adalah pembubaran hukum Taurat" (Roma 10:4). "Sebelum iman datang, kita berada di bawah pengawasan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman dinyatakan. Maka hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang. Sekarang iman TELAH datang, karena itu kita tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun" (Galatia 3:23-24). Sebelum Kristus agama Yahudi memang baik ("hukum Taurat adalah rohani; hukum Taurat itu baik", Roma 7:14,16). Tetapi sekarang lain: Kristus telah datang, dan hukum Taurat tidak berlaku lagi.
Dan bagi Paulus perubahan ini datang pada perjalanan ke Damsyik: "Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku" (lihat 1Korintus 9:1; 15:8). Paulus begitu terkesan bahwa ia merumuskan pengalamannya dengan suatu kutipan dari nyanyian "Hamba Tuhan": "Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari rahim ibuku" (Yesaya 49:1; Yeremia 1:5). Pengalaman pada perjalanan ke Damsyik bagi Paulus betul-betul karya rahmat, tanpa jasa manusia. Tetapi bukan rahmat untuk dinikmati saja, melainkan untuk dibagikan dengan banyak orang lain. Seperti hamba Tuhan begitu juga Paulus merasa diri dipanggil untuk menjadi "terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan sampai ke ujung bumi" (Yesaya 49:6; lihat juga Kisah Para Rasul 9:15). Sebagai reaksi atas rahmat yang mempesonakan ini Paulus mengundurkan diri: "Aku berangkat ke tanah Arab." Ia tidak bicara lagi dengan siapa-siapa tetapi mengundurkan diri ke tempat yang sepi untuk mengolah dan mengunyah pengalaman yang hebat ini. Baru tiga tahun kemudian ia pergi mengunjungi Petrus, kepala para Rasul. Sungguh mengharukan pertemuan antara kedua tokoh Gereja Purba ini. Paulus, ahli kitab dan Farisi, pemimpin kelompok Yahudi, yang mendapat surat kepercayaan dari pimpinan di Yerusalem, sekarang menghadap nelayan dari Tiberias untuk mendengarkan cerita mengenai Yesus. Di kemudian hari ia akan berkata: "Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian" (2Korintus 5:16). Tetapi kunjungan ini hanya sebentar saja. Kemudian Paulus meneruskan lagi tugasnya di daerah Damsyik. Di Yerusalem ia (hampir) tidak dikenal. Paulus tidak akan menetap di pusat. la akan mengembara di seluruh dunia untuk memberitakan kabar baik mengenai kerahiman Tuhan.
2. Filipi 3:4-14
Dalam surat kepada umat di Filipi terdapat cerita lain dari Paulus mengenai pertobatannya. Di situ ia tidak begitu menyorotinya dari sudut rahmat Tuhan seperti dalam surat kepada umat di Galatia, melainkan dari perubahan yang terjadi dalam hidupnya sendiri. Suatu perubahan yang dahsyat, dan sungguh mempesonakan. Memang bukan perkara kecil bagi Paulus untuk berubah dari penganiaya jemaat Kristen menjadi Rasul Kristus.
Juga di sini Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ia berasal dari kalangan Yahudi. Ia menggambarkan secara mendetail apa yang dimaksudkan dengan "hidup secara Yahudi" (lihat Galatia 1:14; 5:3). Juga penganiayaan jemaat tidak didiamkan olehnya. Paulus tidak menyangkal asal-usul Yahudinya (lihat juga Roma 11:1; 2Korintus 11:22). Ia juga tidak menyangkal bahwa hukum Taurat pernah menjadi andalannya. "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan, sekarang kuanggap rugi." Dan bukan karena ia menyesal bahwa pernah berusaha hidup baik sebagai orang Yahudi tetapi "karena Kristus", "karena pengenalan akan Kristus". Sebab mengenal Kristus itu lebih unggul dari apa-apa saja. Maka ia juga menyebut Kristus "Tuhanku". Dan inilah keterangannya: "Siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu" (2Korintus 5:17; lihat Galatia 6:15). Orang tidak dapat mengenal Kristus dan tetap berpegang pada yang lama. Bertemu dengan Kristus berarti suatu perubahan radikal. Karena kepercayaannya akan Kristus ia memperoleh "kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan". Artinya: tanpa Kristus kita tidak dapat apa-apa (Roma 3:9: "semua ada di bawah kuasa dosa"). Tetapi Kristus "telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian dalam darah-Nya" bagi orang yang percaya (Roma 3:25). Maka "kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus" (Roma 5:1).
Di sini Paulus sudah masuk ke dalam pokok teologinya: oleh kesatuan dengan Kristus kita diterima dan dibenarkan oleh Allah. Kristus, khususnya wafat dan kebangkitan Kristus, adalah pernyataan kerahiman Allah bagi kita (lihat Roma 3:22). "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus" (2Korintus 5:19). Maka Paulus ingin menjadi satu dengan Kristus. Tidak hanya mengenal Kristus, tetapi "mengenal kuasa kebangkitan-Nya"; ingin "menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya", supaya juga ikut dengan Kristus dalam kehidupan-Nya. Sebab Allah "yang telah membangkitkan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus" (2Korintus 4:14; lihat 1Korintus 6:14). Sebab "jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu" (Roma 8:11). Kita ikut serta dengan Kristus. Dan hanya dalam kesatuan dengan Kristus itu kita dapat sampai kepada Allah. Tidak ada jalan lain. Oleh karena itu Paulus berani berseru: "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?" (Roma 8:35). Tidak ada. Sekarang ini "kewargaan kita sudah di dalam surga, dan dari situ kita menantikan Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia" (Filipi 3:21). Tentu saja, semua itu masih diharapkan. "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan" (Roma 8:24). Tetapi Paulus "mengejarnya", "berlari-lari, mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya"; berusaha untuk menangkapnya, "karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus". Paulus tidak dapat tinggal diam lagi: sekali disentuh oleh rahmat Kristus ia ditarik oleh daya kekuatan yang tak dapat ditahan lagi. "Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku, yang kuhidupi sekarang ini, adalah hidup oleh iman akan Anak Allah yang mengasihi aku, dan menyerahkan diri untuk aku" (Galatia 2:20).
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Latar Belakang dan Pertobatan Rasul Paulus |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R01b |
Referensi KRP-01b diambil dari:
| Judul Buku | : | MEMAHAMI PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | John Drane |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996 |
| Halaman | : | 289 - 296 |
Dalam sejarah Perjanjian Baru sesudah kebangkitan Yesus, perhatian beralih dari Petrus dan para murid Yesus lainnya kepada seorang tokoh penting lain dalam kehidupan jemaat mula-mula - yakni Paulus, sang Farisi. Paulus bukan satu-satunya orang Farisi yang menjadi Kristen (Kisah Para Rasul 15:5), tetapi ia memang yang paling terkenal. Berbeda dengan banyak orang Kristen Yahudi lainnya, Paulus tidak lahir di Palestina. Sama seperti banyak orang yang bertobat pada hari Pentakosta, ia seorang Yahudi Helenis. Ia berasal dari kota Tarsus di provinsi Silisia, dan dia juga seorang warga negara Roma (Kisah Para Rasul 22:3,27).
Masa muda Paulus
Mungkin sekali ada dua masa yang berbeda dalam kehidupan Paulus sewaktu muda: masa kanak-kanak yang dihabiskannya di Tarsus, dan masa muda serta awal kedewasaan di Yerusalem. Kata "dibesarkan" dalam Kisah Para Rasul 22:3 dapat berarti ketika masih bayi Paulus pindah dari Tarsus ke Yerusalem. Tetapi kebanyakan ahli berpendapat hal itu hanya mengacu pada pendidikannya. Paulus pulang ke Tarsus setelah pertobatannya (Kisah Para Rasul 9:30), jadi kelihatannya kota ini yang dianggapnya sebagai kampung halaman.
Walaupun Paulus pertama-tama dan terutama adalah seorang Yahudi, ia juga bangga terhadap Tarsus, yang merupakan kota pendidikan tinggi serta juga pusat pemerintahan dan perdagangan. Tetapi ia tidak merasa senang dengan kebudayaan di kota itu yang bersifat Yunani dan kafir. Orangtua Paulus merupakan orang-orang Yahudi dan sekaligus menjadi warga negara Roma. Walaupun mereka berusaha melindungi Paulus dari pengaruh kafir sewaktu remaja, tetapi keadaan kota Tarsus membuat setiap anak yang cerdas terpengaruh oleh bahasa dan ide-ide kebudayaan Yunani yang kafir. Pengaruh itu tampak dalam tiga rujukan sastra Yunani oleh Paulus, yakni kepada penyair-penyair Epimenides (Kisah Para Rasul 17:28), Aratus (Titus 1:12) dan Menander (1Korintus 15:33).
Sewaktu masih sangat muda, orangtua Paulus memutuskan ia harus menjadi seorang rabi (guru hukum Taurat). Sebagai seorang anak kecil di Tarsus, ia belajar tentang tradisi-tradisi umat Yahudi melalui pendidikan yang teratur di sinagoge setempat. Alkitabnya yang pertama kemungkinan besar adalah Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani.
Sewaktu tinggal di Tarsus, Paulus juga belajar membuat tenda, sebab setiap murid hukum Taurat dianjurkan mempelajari suatu ketrampilan di samping menuntut ilmu. Hal ini sangat bermanfaat bagi Paulus pada kemudian hari, sebab dengan demikian dia sanggup memperoleh nafkah sendiri sewaktu melakukan pekerjaan misionernya.
Tidak lama kemudian, Paulus dikirim dari Tarsus ke pusat dunia Yahudi, yakni Yerusalem. Di Yerusalem ia menjadi murid Rabi Gamaliel, yang merupakan cucu dan pengganti Rabi Hillel yang kesohor (kira-kira tahun 60 sM-20 M). Hillel telah mengajarkan suatu bentuk agama Yahudi yang lebih maju dan liberal, daripada saingannya, Syammai. Apa yang dikatakan Yesus tentang perceraian mungkin telah dicetuskan oleh pengikut-pengikut kedua rabi tersebut (Markus 10:1-12). Hillel menyatakan seorang lelaki dapat menceraikan istrinya kalau istrinya itu tidak menyenangkan dalam hal apa pun juga - misalnya jika ia memasak makanan sampai hangus! Tetapi Syammai berpendapat perceraian hanya dibenarkan bila telah terjadi dosa moral yang berat. Apa yang Paulus sendiri tulis mengenai pokok tersebut menunjukkan bahwa ia mengubah pendiriannya setelah menjadi Kristen.
Namun Paulus memperoleh sedikitnya satu manfaat besar dari pendidikannya menurut tradisi Hillel. Syammai berpendapat bahwa orang- orang bukan-Yahudi tidak mempunyai tempat di dalam rencana Allah. Sedangkan saingannya bukan saja menyambut mereka, tetapi secara positif telah pergi menginjili mereka. Mungkin Paulus pertama kali mendengar dari Gamaliel bahwa ada tugas besar yang perlu dikerjakan di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi di kawasan kekaisaran Roma.
Paulus mencatat kemajuan yang baik dalam studinya di Yerusalem. Menurut Paulus sendiri, ia seorang murid yang sangat berhasil (Galatia 1:14). Ia menjadi begitu penting, sehingga ketika orang-orang Kristen diadili oleh karena iman mereka, ia diberi hak "memberi suara" terhadap mereka, baik dalam jemaat sinagoge ataupun di dewan tertinggi orang Yahudi, yakni Sanhedrin (Kisah Para Rasul 26:10).
Demikianlah keterangan yang kita ketahui mengenai latar belakang dan pendidikan Paulus. Kita telah memberikan garis besar hidupnya sebelum dia bertobat. Sekarang kita harus menggali dan melihat apa yang dapat ditemukan tentang hidup masa mudanya, agar kita mengerti kepribadiannya yang rumit serta mempunyai dasar yang jelas untuk mengerti surat-suratnya.
Rupanya ada tiga pengaruh utama pada Paulus selama masa mudanya, yakni agama Yahudi, filsafat Yunani dan agama-agama rahasia.
Paulus dan agama Yahudi
Paulus sendiri tidak pernah menyebut pengaruh-pengaruh Yunani atau kafir, tetapi ia membuat banyak pernyataan tentang latar belakang serta pendidikan Yahudinya. Ia bangga akan kenyataan ia seorang Farisi yang baik. Kalau kita membaca surat-surat Paulus yang ditulisnya sebagai seorang Kristen, menjadi jelas ia tetap mempertahankan kepercayaan-kepercayaan terbaik yang diterima dari guru-gurunya. Salah satu saingan utama dari kaum Farisi adalah kaum Saduki. Kedua golongan tersebut masing-masing mewakili sayap liberal dan konservatif dari agama Yahudi. Pada setiap pokok pertikaian antara kedua golongan tersebut, Paulus mengutip dan sering memperbaiki pendirian kaum Farisi.
Kaum Farisi percaya sejarah mempunyai maksud dan tujuan. Mereka berpendapat Allah mengatur peristiwa-peristiwa menurut rencana-Nya sendiri, yang mencapai titik puncaknya dengan kedatangan sang Mesias yang akan memimpin umat-Nya. Ini sesuatu yang dapat diterima dengan baik oleh Paulus sebagai seorang Kristen. Dalam Roma 9-11 ia mengemukakan Allah mengatur jalannya sejarah dengan tujuan agar pada akhirnya orang-orang Yahudi diikutsertakan dalam persekutuan Kristen. Paulus berpikir sebagai seorang Farisi yang baik -- walaupun dia melangkah lebih jauh, sebab ia tahu Mesias telah datang dalam pribadi Yesus Kristus.
Kaum Farisi percaya akan hidup setelah kematian. Paulus menekankan hal tersebut demi keuntungannya sendiri ketika dia diadili di hadapan Sanhedrin (Kisah Para Rasul 23:6-10) dan Herodes Agripa II (Kisah Para Rasul 26:6-8). Tetapi sebagai seorang Kristen, Paulus melangkah lebih jauh lagi. Ia yakin bahwa tidak seorang pun dapat menjamin adanya kebangkitan lepas dari kenyataan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian.
Kaum Farisi percaya akan malaikat-malaikat dan setan-setan. Kaum Saduki tidak percaya akan hal-hal tersebut. Di sini juga Paulus mempertahankan kepercayaannya sebagai seorang Farisi tetapi mengubahnya dalam terang Kristus. Di salib, Kristus telah menaklukkan kuasa-kuasa jahat. Oleh sebab itu, orang-orang Kristen "lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" (Roma 8:37). Tidak seorang malaikat pun dapat menyaingi Tuhan yang telah bangkit, yang dilayani Paulus, dan yang di dalam-Nya "seluruh kepenuhan Allah berkenan diam" (Kolose 1:19).
Bukan hanya dalam soal iman Paulus memperlihatkan pengaruh latar belakang Yahudinya. Cara ia menulis, dengan memakai ayat-ayat Perjanjian Lama untuk "membuktikan" pokok-pokok teologisnya, langsung diambil dari pendidikannya selaku seorang Farisi. Pembaca surat Paulus kepada jemaat di Galatia kadang-kadang merasa heran, atau bahkan geli, bila melihat cara Paulus menafsirkan beberapa nats Perjanjian Lama. Umpamanya, ia memakai metode tafsir yang biasa dipakai para rabi Yahudi sewaktu ia menyatakan janji-janji kepada Abraham ditujukan kepada satu orang, yakni Yesus Kristus, dengan alasan kata Yunani yang diterjemahkan "keturunan" berbentuk tunggal (Galatia 3:16). Seperti para rabi, Paulus kadang-kadang mengutip sepotong nats tanpa memperhatikan konteksnya, dan menggabungkan teks-teks yang diambil dari beberapa bagian Perjanjian Lama yang sama sekali berbeda dan tidak berkaitan.
Namun dalam satu pokok penting Paulus tidak mengikuti warisan Yahudinya. Kaum Farisi merupakan orang-orang legalistik. Mereka mewajibkan pemeliharaan secara rinci bukan hanya hukum Perjanjian Lama yang tertulis, tetapi juga hukum-hukum tradisional dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak berdasarkan otoritas Alkitab. Lebih daripada itu, mereka menyatakan bahwa orang-orang yang tidak memelihara semuanya itu, tidak pernah dapat memperoleh keselamatan penuh. Paulus telah mengalami keputusasaan secara total ketika ia berusaha menjadi seorang Farisi yang baik dan memelihara Taurat. Paulus tahu ia tidak pernah dapat melakukannya. Sebab itu ia tidak pernah dapat benar-benar mengenal Allah. Sewaktu lagi merasa optimis, ia pernah berkata, "tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, aku tidak bercacat" (Filipi 3:6). Tetapi di dalam hatinya ia mengetahui ada kuasa yang lebih besar daripada kuasanya sendiri yang sedang bekerja dan mencegahnya untuk memelihara seluruh hukum Taurat. Bahkan keberhasilan yang dicapainya pun jauh dari memadai: "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Roma 7:15). Semakin Paulus berusaha melakukan yang baik, ia menemukan bahwa semakin tidak mungkin dia melakukannya.
Hanya karena ia seorang Farisi yang begitu setia, ia dapat menghargai apa yang telah dilakukan Allah bagi manusia di dalam Yesus Kristus. Ajaran Farisi menjadi cermin di mana Paulus melihat kekurangan-kekurangannya sendiri yang begitu jelas dinyatakan sehingga ia nampaknya merupakan orang "yang paling berdosa" (1Timotius 1:15). Tetapi di dalam Yesus Kristus ia melihat pencerminan dari apa yang dapat dicapainya oleh anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma: "Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat ... telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging ... Jadi ... jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan- perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup ... Roh membantu kita dalam kelemahan kita" (Roma 8:3,12,13,26).
Paulus dan Para Filsuf
Di antara banyak aliran filsafat yang ada pada waktu itu, aliran Stoik mungkin yang paling serasi bagi Paulus. Satu atau dua filsuf Stoik besar berasal dari Tarsus, dan mungkin Paulus masih ingat sedikit tentang pengajaran mereka dari masa mudanya.
Beberapa ahli berpendapat pengetahuan Paulus tentang filsafat Stoik lebih dalam daripada itu. Pada tahun 1910 Rudolf Bultmann menunjukkan bahwa cara Paulus mengemukakan pendapatnya kadang-kadang menyerupai argumen-argumen Stoik. Kedua-duanya memakai pertanyaan retoris, pernyataan singkat yang berdiri sendiri, seorang lawan khayalan yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan banyak ilustrasi yang diambil dari dunia atletik, pembangunan serta kehidupan sehari-hari. Malahan kita dapat menemukan frasa-frasa dalam pengajaran Paulus yang dapat dianggap mendukung ajaran Stoik; umpamanya pernyataannya, "segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:16-17). Dalam pidato Paulus di Atena, Lukas melaporkan bahwa Paulus benar- benar mengutip Aratus, penyair Stoik yang terkenal (Kisah Para Rasul 17:28). Beberapa dari surat Paulus juga sering mencerminkan peristilahan Stoik -- seperti waktu ia menggambarkan moralitas dengan istilah "seharusnya" atau "sepatutnya" dan "tidak pantas". Tidak perlu disangsikan lagi bahwa Paulus mengetahui dan bersimpati terhadap banyak cita-cita Stoik. Tetapi ada beberapa perbedaan yang hakiki dan penting antara kekristenan Paulus dan filsafat Stoik.
Filsafat Stoik didasarkan atas spekulasi-spekulasi filsafat mengenai sifat dunia dan manusia. "Ilah"-nya yang sebenarnya adalah akal manusia yang abstrak. Agama Kristen sangat berbeda, sebab ia dengan kokoh didasarkan pada fakta-fakta historis tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (1Korintus 15:3-11).
"Ilah" Stoik adalah abstraksi yang samar-samar, kadang-kadang dihubungkan dengan seluruh alam semesta, kadang-kadang dengan akal, dan kadang-kadang malah dengan unsur api: "Tidak kita tahu ilah apa itu, tetapi ada ilah yang berdiam" (Seneca, Surat-surat 41.2, dikutip dari Virgil). Sebaliknya Allah yang dikenal Paulus adalah Wujud pribadi yang dinyatakan dalam Kristus: "Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia" (Kolose 1:19).
Para Stoik mau menemukan "keselamatan" dalam keswasembadaan. Mereka berusaha memperoleh penguasaan atas diri sendiri agar dapat hidup secara serasi dengan alam. "Tujuan hidup adalah untuk bertindak sesuai dengan alam, yakni sekaligus baik dengan alam yang ada dalam diri kita maupun dengan alam semesta .... Jadi kehidupan yang sesuai dengan alam adalah keberadaan yang bijak dan bahagia, yang dinikmati hanya oleh orang yang selalu berusaha memelihara keserasian antara setan di dalam pribadi dengan kehendak Kuasa yang mengatur alam semesta" (Diogenes Laertius vii.1.53). Bagi Paulus, keselamatan berbeda sekali dengan gagasan tersebut. Ia menemukan bahwa keselamatan tidak bergantung pada diri sendiri, melainkan dengan penyerahan diri kepada Yesus Kristus: "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:19-20).
Filsafat Stoik tidak mempunyai masa depan; melainkan merupakan agama keputusasaan. Kebanyakan orang dianggap tidak sanggup mencapai kedewasaan moral. Masa depan mereka adalah untuk dibinasakan di mana satu siklus sejarah dunia mengikuti siklus lainnya, hanya untuk dilahirkan kembali atau di-reinkarnasi -- begitu rupa sehingga seluruh siklus dapat diulangi. Agama Kristen bertentangan dengan hal ini, dan menyatakan bahwa dunia yang kita kenal pasti akan berakhir dengan campur tangan Kristus sendiri. Kemudian akan tercipta suatu tata dunia yang sama sekali baru (1Korintus 15:20-28).
Pengaruh Stoik terhadap Paulus haruslah dianggap sangat kecil saja. Setiap orang tak luput dari pemakaian kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dikenal dari konteks lain. Tetapi kalau Paulus memakai bahasa Stoik, maka ia memberikannya arti baru. Sebab berita Paulus tentang keselamatan melalui Kristus jauh berbeda dengan berita Stoik tentang keselamatan melalui penguasaan diri.
Paulus dan Agama-agama Rahasia
Sepintas lalu, ada beberapa kemiripan antara agama-agama rahasia dan agama Kristen. Keduanya datang ke Roma dari Timur. Keduanya menawarkan "keselamatan" kepada pengikut-pengikutnya. Keduanya memakai upacara penerimaan pengikut baru (baptisan Kristen) dan santapan sakramen (perjamuan kudus Kristen). Keduanya menyapa Allah penyelamatnya sebagai "Tuhan". Jika pengikut agama rahasia menjadi Kristen, maka terkadang kepercayaan-kepercayaan rahasia terbawa ke dalam jemaat. Mungkin peristiwa seperti inilah yang menjadi sumber persoalan di jemaat di Korintus, sehingga Paulus menulis surat-surat kepada jemaatnya.
Oleh karena adanya persamaan antara agama Kristen dengan agama-agama rahasia, beberapa ahli mengira Paulus mengubah ajaran Yesus yang sederhana menjadi semacam agama rahasia. Namun tidak ada lagi ahli yang mempunyai pandangan semacam itu dewasa ini, karena tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya secara nyata. Bukti yang ada malah menunjukkan kebalikannya.
Agama-agama rahasia selalu bersedia, bahkan rindu, bergabung dengan agama-agama lain. Ini sesuatu yang selalu ditolak oleh orang-orang Kristen, karena percaya hanya mereka saja yang memiliki seluruh kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus.
Banyak bukti yang dahulu menunjukkan bahwa Paulus seorang penganut agama rahasia sekarang dianggap palsu. Umpamanya, gelar "Tuhan" yang dipakai untuk Yesus, sekarang ternyata diambil bukan dari agama- agama rahasia melainkan dari Perjanjian Lama. Pengakuan iman Kristen "semoga Tuhan kita datang" (yang ditulis dalam bentuk Aram, Maranata; 1Korintus 16:23) menunjukkan bahwa jemaat mula-mula di Yerusalem -- satu-satunya jemaat yang berbahasa Aram -- rupanya telah memberikan gelar itu kepada Yesus jauh sebelum munculnya Paulus.
Apa yang mengesankan bagi dunia kafir bukanlah kemiripan agama Kristen dengan agama-agama lain, melainkan perbedaannya. Tuduhan yang paling sering dilontarkan terhadap orang-orang Kristen adalah mereka ateis, sebab tidak mau mengakui ilah-ilah lain.
Tentu Paulus mengenal agama-agama rahasia, dan kemiripannya dengan agama Kristen. Mereka menceritakan tentang dewa-dewa yang turun dalam bentuk manusia; tentang keselamatan sebagai "mati" terhadap hidup yang lama; tentang seorang dewa yang memberikan hidup kekal; dan tentang dewa penyelamat yang dipanggil "tuhan". Ada kemungkinan Paulus, yang siap "menjadi segala-galanya bagi semua orang" (1Korintus 9:22), kadang-kadang dengan sengaja memakai ragam bahasa mereka. Tetapi kemungkinan besar ia memakainya secara tidak sadar. Sebab orang-orang terpelajar dari zamannya memakai bahasa agama-agama rahasia dengan mudah dan tanpa ikatan, sama seperti kita sering memakai bahasa astrologi populer dewasa ini. Paulus tidak menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan secara rinci tentang agama-agama rahasia. Ia tidak pernah menyebut upacara-upacara mereka secara jelas.
Latar belakang Paulus meliputi tiga dunia pemikiran: dunia Yahudi, dunia Yunani, dan dunia agama rahasia. Masing-masing dunia ini dapat memberikan sekadar keterangan tentang kepribadian dan pengajarannya. Tetapi kita akan khilaf bila menganggap Paulus hanyalah produk alami dari lingkungan kebudayaannya. Ia menganggap dirinya sendiri terutama sebagai "seorang di dalam Kristus" (2Korintus 12:2) atau seorang Kristen. Apa pun yang diperolehnya dari sumber sumber lain, ia mengakui bahwa Tuhannya yang baru mempunyai kuasa yang melebihi mereka semua, dan demi Kristus ia menganggap yang lainnya sebagai "sampah" (Filipi 3:8).
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Perjalanan Misi Paulus yang Pertama |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R02a |
Referensi KRP-02a diambil dari:
| Judul Buku | : | SURVEI PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | Merrill C. Tenney |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 1995 |
| Halaman | : | 313 - 316 |
Kisah Para Rasul 11:19-15:35
Gerakan pelayanan firman kepada bangsa-bangsa lain seperti yang dilukiskan di dalam Kisah Para Rasul dimulai pada saat didirikannya gereja di Antiokhia di Siria. Pembentukan gereja ini merupakan bagian dari penyebaran tiba-tiba yang terjadi di dalam masa peralihan. Di antara Kisah Para Rasul 8:4 dan 11:19 terdapat suatu hubungan yang jelas, seperti yang dikatakan oleh ayat yang terakhir:
"Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenesia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan." (Kisah Para Rasul 11:19-20)
Orang-orang percaya dari Siprus dan Kirene yang mengajar di Antiokhia telah menyimpang dari kebiasaan umum di antara rekan-rekannya sambil mengabarkan Injil juga kepada orang Yunani. Komentar Lukas di sini menunjukkan bahwa uraiannya tentang masa transisi lebih menekankan hal-hal baru daripada prosedur khotbah yang biasa. Antiokhia, di mana Injil diberitakan pada masa itu, begitu istimewa hingga ia menjadi pusat dari seluruh usaha misi yang baro.
Gereja di Antiokhia
Kota Antiokhia dibangun oleh Seleukus Nicator dalam tahun 300 SM. Di bawah pemerintahan raja-raja Seleuk yang pertama ia berkembang dengan pesat. Pada mulanya kota ini sepenuhnya dihuni oleh orang-orang Yunani, namun kemudian orang-orang Siria menetap di luar tembok kota dan akhirnya menyatu dengan kota sejalan dengan perkembangan kota itu. Unsur penduduk yang ketiga adalah orang-orang Yahudi, banyak di antaranya yang merupakan keturunan dari penghuni kota pertama yang didatangkan dari Babilon. Mereka mempunyai hak-hak yang sama dengan orang Yunani dan tetap menjalankan ibadat mereka di sinagoge-sinagoge. Di bawah pemerintahan Romawi, Antiokhia menjadi makmur. Karena merupakan pintu gerbang militer dan perniagaan ke Timur, ia menjadi kota yang terbesar setelah Roma dan Aleksandria.
Tahun berdirinya gereja di Antiokhia tidak dinyatakan dengan jelas. Nampaknya ia berdiri tidak lama setelah kematian Stefanus, mungkin sekitar tahun 33 hingga 40. Untuk mendapatkan ukuran dan reputasi yang cukup berarti hingga dapat menarik perhatian gereja di Yerusalem (11:22) tentu dibutuhkan beberapa waktu. Gereja di Yerusalem mengutus Barnabas untuk mengunjungi Antiokhia, di mana ia bekerja entah selama berapa lama, dan kemudian pergi ke Tarsus untuk meminta Paulus agar menjadi pembantunya (11:22-26). Mereka bekerja bersama-sama selama sekurang-kurangnya satu tahun setelah itu (11:26) sebelum Agabus meramalkan bahaya kelaparan yang akan menimpa dunia "pada zaman Claudius" (11:28). Makna yang tersirat dalam ayat ini adalah bahwa ramalan ini diberikan sebelum Claudius naik takhta pada tahun 41, dan bahwa bahaya kelaparan terjadi sesudah itu. Data kronologis lainnya diperoleh dari penyebutan tentang Herodes Agripa I (12:1), yang meninggal dunia pada tahun 44. Mungkin pelayanan di Antiokhia dimulai sekitar tahun 33 hingga 35. Bila dana bantuan kelaparan dikumpulkan sekitar tahun 44, Barnabas pasti telah mulai menjalin hubungannya dengan Antiokhia sekitar tahun 41, yang berarti bahwa Paulus mulai menjalankan tugasnya di sana pada tahun 42.
Meskipun kronologi ini tidak dapat dikatakan pasti, ia cukup sesuai dengan perkembangan kegiatan Paulus yang diketahui. Bila ia menjadi percaya dalam tahun 31 atau katakanlah 32, dan menghabiskan waktu tiga tahun di kawasan Damsyik (Galatia 1:18), ia akan tiba di Yerusalem sebelum tahun 35. Bila ia menghabiskan waktu selama satu atau dua tahun di Yerusalem sebelum kembali ke Tarsus (Kisah 9:28-30), maka ketika Barnabas datang untuk menyertainya dalam tugas barunya ia tentu sudah berkhotbah selama lima tahun di Tarsus dan Kilikia. Nampaknya ada suatu kesenjangan waktu yang cukup besar di sini, tetapi banyak kesenjangan lain dalam karangan Lukas mengenai perkara yang sama pentingnya hingga keadaan ini tidak menjadi sesuatu yang luar biasa.
Gereja di Antiokhia cukup penting, karena ia memiliki beberapa segi yang menonjol. Pertama, ia adalah induk dari gereja bagi bangsa- bangsa lain. Rumah di keluarga Komelius tidak dapat disebut gereja dalam arti yang sama dengan kelompok umat di Antiokhia, karena ia adalah suatu kelompok keluarga pribadi bukan suatu jemaat umum. Dari gereja Antiokhia berangkatlah misi resmi yang pertama ke dunia yang belum tersentuh Injil. Di Antiokhia dimulailah perdebatan yang pertama tentang status umat Kristen dari bangsa-bangsa lain. Ia merupakan pusat tempat berkumpulnya para pemimpin gereja. Secara bergantian, Petrus, Barnabas, Titus, Yohanes Markus, Yudas Barsabas, Silas, dan bila naskah Barat benar, penulis dari buku ini sendiri, semuanya dihubungkan dengan gereja di Antiokhia. Patut untuk diperhatikan bahwa dapat dikatakan mereka semuanya terlibat dalam misi kepada bangsa- bangsa lain dan disebut-sebut dalam Surat Kiriman Paulus maupun di dalam Kisah Para Rasul.
Kitab-kitab Injil mungkin berasal dari Antiokhia. Kemungkinan hubungan di antara Markus dan Lukas maupun kenyataan pertemuan mereka di Roma barangkali dapat menjawab beberapa masalah yang sering diperdebatkan dalam Masalah Sinoptis. Ignatius, uskup di Antiokhia pada akhir abad yang pertama, nampaknya nyaris hanya mengutip dari Matius, ketika ia berbicara mengenai Injil, seolah-olah Injil Matius adalah satu- satunya Injil Sinoptis yang diketahuinya. Streeter mempertahankan pendapatnya secara panjang lebar bahwa Injil Matius berasal dari Antiokhia, karena ia digunakan oleh Ignatius dan di dalam Didakhe (Ajaran Dua Belas Rasul), keduanya menurutnya adalah dokumen-dokumen orang Siria. Bila ketiga Injil Sinoptis menanamkan dasarnya pada suasana yang hidup dalam khotbah lisan gereja di Antiokhia, pelayanan firman mereka kepada dunia dapat dikatakan merupakan warisan dari gereja ini kepada bangsa-bangsa lain yang percaya dari masa yang lalu maupun masa sekarang.
Gereja di Antiokhia juga tersohor karena guru-gurunya. Di antara mereka yang disebut di dalam Kisah Para Rasul 13:1, hanya Barnabas dan Paulus yang baru dikenal dalam beberapa penyebutan belakangan, tetapi pelayanan mereka pasti telah membuat gereja ini terkenal sebagai pusat pengajaran. Jelas sekali bahwa Antiokhia telah mengalahkan Yerusalem sebagai pusat pengajaran Kristen dan sebagai markas misi penginjilan.
Mungkin perkembangan Antiokhia makin dipercepat oleh penindasan Herodes dalam tahun 44. Gereja di Yerusalem selalu dalam keadaan kekurangan dana, karena banyak anggota jemaat yang miskin yang harus selalu ditunjang oleh sumbangan-sumbangan. Bahaya kelaparan itu pasti makin melemahkan mereka, meskipun ada dana sumbangan dari Antiokhia (11:28-30). Penindasan di bawah Herodes mengakibatkan kematian Yakobus, anak Zebedeus (12:2), dan Petrus juga nyaris kehilangan nyawanya (12:17). Kisah selingan dalam 12:1-24 hanya memberikan gambaran sekilas tentang keadaan di Yerusalem, tetapi ia menunjukkan gereja yang tetap setia bertahan meskipun tekanan begitu berat, yang terus berusaha mempertahankan keberadaannya sampai saat yang terakhir.
Fakta yang paling kuat tentang gereja di Antiokhia adalah kesaksian ini. 'Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen" (11:26). Sebelum itu orang-orang yang percaya kepada Kristus dianggap sebagai suatu sekte agama Yahudi, tetapi dengan masuknya bangsa-bangsa lain ke dalam kelompok mereka dan dengan makin berkembangnya sistem pengajaran yang sangat berbeda dengan hukum Musa, dunia mulai melihat perbedaan itu dan menyebut mereka dengan julukan yang lebih tepat. "Kristen" berarti "milik Kristus" seperti Herothan berarti "milik Herodes". Mungkin nama ini dimaksudkan sebagai suatu ejekan, tetapi watak para Rasul dan kesaksian yang mereka sampaikan memberikan arti yang menyanjung.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Perjalanan Misi Paulus yang Pertama |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R02b |
Referensi KRP-02b diambil dari:
| Judul Buku | : | MEMAHAMI PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | John Drane |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996 |
| Halaman | : | 318 - 319 |
Sebagai hasil dari kunjungan-kunjungan Paulus, baik "orang-orang yang takut kepada Allah" maupun orang-orang yang kafir sama sekali, menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Paulus mulai menyadari betapa penting panggilannya itu. Pengalamannya pada waktu ini juga meyakinkannya bahwa orang-orang bukan-Yahudi yang percaya harus diterima dalam persekutuan Kristen tanpa kewajiban disunat dan memelihara peraturan- peraturan lain dari hukum Taurat. Paulus menyadari setelah pertobatannya, hubungannya yang baru dengan Yesus Kristus juga mengakibatkan suatu hubungan yang baru dengan orang-orang lain termasuk dengan orang-orang yang dibencinya dahulu. Jadi sekarang ia menginsyafi bahwa walaupun dahulu ia tergolong orang Yahudi yang ketat, ia dipersatukan dengan orang-orang bukan-Yahudi dengan cara yang baru dan lebih mendalam, begitu mereka menerima tuntutan Yesus Kristus atas hidup mereka. Setelah pengalamannya di jalan menuju Damsyik, hal itulah yang memang sudah diperkirakan terjadi atas Paulus. Telah diterangkan kepadanya waktu itu bahwa ia akan memainkan peranan yang sangat khusus di dalam usaha penyebaran berita Kristen ke seluruh dunia. Ketika Paulus dan Barnabas kembali ke Antiokhia di Siria, mereka menemukan jemaat di sana setuju dengan mereka tentang pokok tersebut, dan menyambut keberhasilan mereka menginjili orang- orang di Asia Kecil bagian selatan (Kisah Para Rasul 14:27-28).
Orang Yahudi dan Bukan-Yahudi
Tetapi keadaan bahagia itu tidak berlangsung lama. Beberapa pembawa berita dari jemaat di Yerusalem segera tiba di Antiokhia dengan sikap yang sangat berlainan. Yang lebih buruk lagi, mereka juga mengunjungi jemaat-jemaat Kristen baru yang dibangun oleh Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misionernya yang pertama (Galatia 2:11-14). Mereka mulai mengacaukan jemaat-jemaat itu dengan mengatakan Paulus hanya memberitakan setengah berita Kristen kepada mereka. Menurut Paulus, jika orang-orang bukan-Yahudi bersedia menerima tuntutan-tuntutan Kristus atas hidup mereka, mereka akan diberikan kuasa oleh Roh Kudus yang bekerja di dalam diri mereka, sehingga mereka dapat menjalankan hidup yang menyenangkan hati Allah. Bagi banyak orang Kristen Yahudi, ide tersebut adalah hujatan. Mereka percaya Allah telah menyatakan kehendak-Nya dalam Perjanjian Lama, di mana diajarkan dengan jelas jika seseorang ingin menjadi anggota persekutuan ilahi, ia harus disunat dan mengikuti banyak peraturan lainnya. Bagaimana Paulus dapat mengatakan bahwa orang-orang bukan-Yahudi ini sudah menjadi Kristen yang benar kalau mereka belum pernah mempertimbangkan implikasi sepenuhnya dari wahyu Allah dalam Perjanjian Lama? Bagaimana mungkin Paulus berani berkata bahwa moralitas Kristen dapat dicapai dengan cara yang lain daripada penerapan peraturan-peraturan Yahudi secara ketat dalam kehidupan orang Kristen?
Orang-orang Kristen baru itu menjadi bingung dengan ajaran seperti itu. Yang mereka pahami ialah mereka telah menerima berita yang disampaikan Paulus; hidup mereka telah diubah sama sekali oleh Tuhan yang sama yang menjumpai Paulus di jalan ke Damsyik, dan mereka harus percaya kepada Tuhan itu yang akan membantu mereka menjalankan hidup yang menyenangkan Allah. Banyak di antara mereka tidak pernah menjadi penganut agama Yahudi, dan tidak tahu isi Perjanjian Lama. Dan Paulus tidak memberikan petunjuk kepada mereka untuk mempelajarinya agar dapat diterima Allah.
Tetapi ketika orang-orang Kristen baru ini mulai membaca Perjanjian Lama di bawah bimbingan orang-orang Kristen Yahudi, mereka menemukan begitu banyak peraturan yang tidak mungkin dapat dipenuhi, walaupun itu dianggap perlu untuk memperoleh keselamatan. Beberapa dari mereka mencoba melakukannya, mulai dengan memelihara hari Sabat Yahudi dan mungkin juga beberapa hari raya Yahudi lainnya (Galatia 4:8-11). Sejumlah besar di antara mereka mulai mempertimbangkan sunat, agar memenuhi ketentuan Perjanjian Lama (Galatia 5:2-12). Tetapi bagian terbesar dari mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pada saat itulah berita tersebut didengar oleh Paulus. Ia sangat marah. Tidak mungkin dia langsung mengunjungi jemaat-jemaat tersebut pada waktu itu, jadi ia memutuskan untuk menulis surat kepada mereka. Surat itulah yang kita kenal sebagai Surat Galatia.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Perjalanan Misi Paulus Kedua |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R03a |
Referensi KRP-03a diambil dari:
| Judul Buku | : | KOTA-KOTA PADA ZAMAN PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | Charles Ludwig |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung, 1975 |
| Halaman | : | 41 - 49 |
Ketika Paulus mengunjungi Korintus pada sekitar tahun 50 atau 51, ia sama sekali tidak tahu bahwa Allah akan memakainya untuk menghasilkan suatu jemaat yang besar dan berpengaruh di kota yang modern ini. la juga tidak tahu bahwa kota ini akan menyaksikan lahirnya kesusasteraan Kristen. Dari pandangan manusia hal ini sama sekali tidak mungkin.
Memang, jika rasul besar ini telah dipengaruhi oleh hal-hal yang baru saja dialaminya, ia akan menjadi kecil hati, karena sebagaimana telah kita lihat, misinya ke Atena tidak merupakan sukses yang langsung dan berhasil. Dan sekarang di Korintus ia akan berhadapan dengan cemoohan orang-orang Yunani yang sama seperti yang pernah dihadapinya di Bukit Mars.
Tetapi Paulus percaya pada iman, bukan pada pengalaman! Dan demikianlah, pada saat ia berjalan masuk ke dalam rumah Laus Julia Corinthiensis -- nama seorang pejabat Romawi -- pintu-pintu mulai terbuka lebar di hadapannya. Sebenarnya, dilihat dari banyak segi, perjalanan Paulus ke Kota Korintus merupakan salah satu perjalanan yang paling berhasil dalam sejarah.
Untung bagi kita, reruntuhan Korintus masih ada dan orang masih dapat melihat sebagian dari pemandangan yang sama, dan merasakan tekanan- tekanan yang sama seperti yang dilihat dan dirasakan oleh Paulus. Demikian juga, orang bahkan dapat membaca nama seseorang yang telah bertobat dipahat di atas sebuah batu. Nama yang terpahat ini merupakan suatu petunjuk bahwa banyak orang-orang terkemuka di Korintus yang dimenangkan kepada Kristus melalui khotbahnya.
Kota Korintus kuno -- kota yang dikenal Paulus -- letaknya kurang lebih 50 mil sebelah barat Kota Atena. Sekarang suatu jalan raya yang megah menghubungkan kedua kota ini.
Pada jalan raya yang modern ini, persis sebelum Anda sampai di kota Korintus, Anda akan menyeberangi Terusan Korintus. Terusan yang panjangnya 4 mil ini memotong suatu genting tanah yang menghubungkan Peloponnesus ke Attica. Terusan ini memperpendek jarak sejauh 200 mil yang harus ditempuh kapal-kapal dari Pelabuhan Adriatic ke Piraeus -- pelabuhan laut Atena.
Nero merencanakan terusan ini pada tahun 66 -- beberapa bulan sebelum Paulus dihukum mati, jika orang percaya pada tradisi terakhir di kota Roma modern yang menyatakan bahwa Paulus meninggal pada tahun itu. H.V. Morton menerangkan kejadian itu sebagai berikut: "Pada suatu hari yang sudah ditentukan, Kaisar Nero meninggalkan Korintus dengan diiringi oleh pengawal-pengawalnya yang gagah dan ketika ia sampai di sisi terusan itu, ia mengambil sebuah lyre (alat musik kuno berbentuk seperti harpa) dan menyanyikan sebuah lirik untuk menghormati Dewa Neptune dan Amphitrite. Kemudian ia memegang sebuah sekop emas. Sesuai dengan alunan musik, ia menancapkan sekop itu ke dalam tanah dan cidukan tanah serta rumput yang ada di dalam sekop itu dimasukkan ke dalam sebuah keranjang yang digendong di punggungnya. Kemudian ia memberikan ceramah di hadapan para buruh, di antaranya ada 6000 orang Yahudi yang baru ditangkap oleh Vespasianus dari desa-desa di sisi Danau Galilea, ketika pecah perang antara orang Yahudi melawan bangsa Romawi." Mengherankan bahwa pekerjaan menggali Terusan Korintus itu dimulai oleh tawanan-tawanan perang Yahudi yang nenek moyangnya pasti telah mendengarkan khotbah Tuhan Yesus di Laut Galilea.
Tetapi Nero meninggalkan proyek ini. Ia melakukan hal ini mungkin karena suatu takhyul bahwa laut yang di sebelah kiri lebih tinggi daripada laut yang di sebelah kanan. Dua tahun kemudian ia membunuh diri.
Terusan yang ada sekarang dimulai pembangunannya oleh Perancis pada tahun 1882 dan diselesaikan oleh orang Yunani 11 tahun kemudian. Pada masa Paulus, orang Romawi menggunakan suatu sistem yang luar biasa untuk menyeberangi genting tanah itu. Mereka menggerakkan kapal dari satu sisi ke sisi lain dengan menggunakan alat-alat penggulung!
Menurut bukti-bukti yang ada dalam Perjanjian Baru, Paulus sendirian ketika ia mendekati kota ini. Timotius dan Silwanus telah dikirim ke Makedonia untuk memeriksa gereja-gereja di Filipi dan Tesalonika. Kota Korintus yang didatangi Paulus merupakan sebuah kota yang baru. Umurnya baru sekitar seratus tahun.
Tetapi daerah yang ditempati kota itu telah dihuni sejak tahun 5.000 s.M. Terletak pada suatu daerah yang strategis untuk perdagangan, dilengkapi dengan persediaan air yang cukup, dan dikelilingi oleh Dataran Korintus yang subur, kota ini merupakan suatu tempat ideal untuk hidup.
Segi lain yang menarik bagi penghuninya adalah Pegunungan Akrokorintus yang berwarna coklat yang menjulang 1875 kaki di belakang kota itu. Batu karang yang besar ini berfungsi sebagai menara pengintai untuk menyelidiki musuh. Tempat ini juga merupakan suatu tempat yang menyenangkan untuk mengungsi. Dan kemudian nama Korintus asal mulanya dari nama tempat itu. Korintus berarti pengawasan atau penjaga.
Sekelompok besar orang Yunani pertama yang pindah ke sana kira-kira tahun 1.000 s.M. Sejak saat itu, Kota Korintus tumbuh sampai menjadi kota yang terbesar di Yunani. Tetapi Korintus tidak dapat mempertahankan kedudukannya sebab antara abad keenam dan kelima s.M., Kota Atena mempunyai lebih banyak perdagangan dengan luar negeri dan Korintus menjadi kota nomor dua. Walaupun demikian, Korintus tetap merupakan kota yang makmur sampai tahun 146 s.M. Pada tahun ini konsul Romawi menyerang. Ia menduduki dan menghancurleburkan kota itu. Kaum pria dijagal, kaum wanita dan anak-anak dijual sebagai budak.
Setelah bencana ini, kota yang hancur dijarah ini tetap tidak berubah sampai hampir 100 tahun.
Tetapi riwayat kota Korintus yang gigih ini belum berakhir. Pada tahun 44 s.M. Caesar Yulius membangun kembali kota ini sebagai sebuah koloni Romawi. Kemudian ia membawa orang-orang merdeka dan penghuni-penghuni dari Italia ke tempat itu. Dengan cepat kekuatan yang telah menjadikan kota ini menjadi besar pada waktu sebelumnya mulai tumbuh lagi, dan pada waktu Paulus datang ke tempat itu, diperkirakan bahwa Korintus bersama kedua pelabuhannya memiliki jumlah penduduk hampir 600.000 orang.
Kota Korintus yang disaksikan oleh Paulus merupakan suatu kota baru yang dibangun di atas jalan Romawi. Jalan Lechaion, misalnya, lebarnya 13 meter. Jalanan ini dilapisi oleh batu-batuan keras yang diambil dari "batu gamping yang berwarna muda dari pertambangan daerah Akrokorintus". Pada setiap sisi jalan dibangun trotoar dan selokan- selokan untuk menampung saluran air hujan dari atap rumah-rumah. Dan bilamana ada jalanan mendaki yang curam, dibuat anak tangga yang lebar dan mudah didaki. Jalanan ini khusus untuk para pejalan kaki. Jadi bekas-bekas roda yang merusak jalan-jalan di Kota Pompeii tidak kelihatan di Jalan Lechaion.
Kota ini mempunyai reputasi buruk karena hal-hal yang amoral. Pada bagian belakang dari suatu deretan tiang penopang atap yang panjangnya 100 kaki, ada tiga puluh empat kedai minuman. Di kota itu ada banyak kelap malam dan pada puncak dari Akrokorintus ada kuil Dewi Aphrodite. Dalam kuil ini ada seribu imam wanita yang bertugas sebagai pelacur.
Reputasi Korintus di kerajaan itu begitu buruk sehingga perkataan "Korintus" sering dipakai untuk menyindir seseorang. Istilah ini dipakai untuk mengatakan keadaan amoral yang bejat.
Tanpa suatu badan pengurus untuk mendapatkan bantuan keuangan, Paulus harus memperoleh penghasilan. Tetapi hal ini mudah dilakukan di Korintus yang merupakan pusat industri tekstil Yunani. la segera dapat bekerja sebagai anggota staf Akwila dan Priskila. Pasangan ini menjalankan perusahaan pembuatan tenda. Mereka baru saja diusir dari Roma karena ada maklumat dari Caesar Claudius terhadap orang-orang Yahudi, jadi mereka senang membantu seorang asing di kota besar itu. Mungkin juga bahwa mereka telah menjadi orang Kristen ketika berada di Roma.
Tak lama kemudian Paulus mulai berkhotbah di rumah-rumah ibadat. Kemudian Timotius dan Silwanus muncul dengan laporan yang penuh semangat dari Makedonia. Gereja-gereja yang baru didirikan berjalan lancar. Karena gembiranya mendengar kabar baik ini, Paulus berkhotbah dengan semangat yang lebih besar dan "memberi kesaksian .... bahwa Yesus adalah Mesias" (Kisah para Rasul 18:5).
Tetapi sekali lagi orang Yahudi tidak dapat menerima pernyataan seperti itu. Dan begitulah, rumah ibadat itu tertutup bagi Paulus. Tetapi segera pintu yang lain terbuka, yaitu di rumah Titus Yustus, seorang Romawi yang memeluk agama Yahudi, "yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat" (Kisah para Rasul 18:7).
Paulus langsung berhasil di tempat itu. "Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis" (Kisah para Rasul 18:8).
Tetapi kemenangan-kemenangan di Korintus itu tidak dapat melupakan pikiran Paulus tentang keadaan di Makedonia. Gereja yang baru lahir itu masih dekat di hatinya. Akhirnya, karena ia tidak dapat bertahan untuk berpisah lebih lama lagi, ia menulis: "Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika" (1Tesalonika 1:1).
Pada waktu itu Paulus mungkin belum menyadarinya, tetapi perkataan- perkataannya itu merupakan perkataan-perkataan pertama yang ditulisnya, yang akan dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru kita. Surat ini ditulis pada kira-kira tahun 50 -- dan kita dapat menjadi agak dogmatis tentang waktunya. Mengapa? Sebab dalam Kisah para Rasul 18 kita membaca: "Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan ... Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: "Hai orang- orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu, tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya ...." (ayat 12-15).
Masalahnya sekarang ialah bagaimana menentukan kapan Galio menjadi gubernur di Akhaya. Untunglah, hal ini mungkin dilakukan karena adanya sebuah prasasti yang diketemukan di Delphi. Dari prasasti itu jelas dituliskan bahwa masa jabatan Galio lebih singkat, hanya sampai saat itu. Malang bagi Galio bersama dua saudara laki-lakinya, Mela dan Seneca, yang dihukum mati kira-kira tahun 66 atas perintah Nero, walaupun Seneca itu pernah menjadi guru Nero. (Galio dipaksa untuk bunuh diri, dan ia melakukannya dengan memotong urat-urat nadinya dan kemudian berbaring di bak mandi yang diisi air panas. Ini merupakan cara yang populer pada waktu itu.)
Tetapi Kitab-kitab Tesalonika 1 dan 2 tidak hanya terdiri dari surat-surat yang ditulis Paulus ketika ia berada di Korintus. Ketika dalam perjalanan pekabaran Injilnya yang ketiga, Paulus kembali ke Korintus dan menulis karyanya yang paling lama dan paling berpengaruh -- Kitab Roma.
Yang mengherankan ialah ketika Paulus menulis kepada Jemaat Korintus, ia mengatakan, "Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorangpun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus" (1Korintus 1:14). Dan kemudian pada bagian akhir Kitab Roma, ia menyebutkan Gayus sebagai tuan rumahnya. Dengan demikian, ada suatu bukti yang kuat bahwa Paulus menulis -- atau mendiktekan -- naskah itu sementara ia menginap di salah seorang yang sudah dibaptiskannya.
Kitab Roma menentang banyak hal tentang perbuatan yang amoral, dan seseorang dapat dengan mudah membayangkan bahwa Paulus mengarangnya setelah ia berjalan-jalan dan melihat-lihat kuil Dewi Aphrodite yang terletak di puncak Akrokorintus.
Pada bab terakhir Kitab Roma di mana Paulus memberi penghargaan kepada Gayus (16:23) ia juga berkata, "Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri ...."
Sekarang pada salah satu bagian reruntuhan Kota Korintus ada sebuah prasasti yang bertuliskan:
ERASTVS PRO AEDILITATE S P STRAVIT
Kalau diterjemahkan dari bahasa Latin, artinya: "Erastus, sebagai balasan atas kedudukannya selaku komisaris jalan dan bangunan umum, mendirikan trotoar ini dengan biayanya sendiri."
Apakah Erastus ini yang dimaksudkan oleh Paulus? Banyak penyelidik berpendapat demikian. Setidaknya para ahli purbakala berpikir bahwa prasasti ini sudah ada satu abad setelah Kristus.
Sekarang ada Kota Korintus yang baru. Letaknya agak sebelah timur kota yang lama. Tetapi karena satu dan lain hal, kota ini hanya berpenduduk 10.000 orang.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Perjalanan Misi Paulus Kedua |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R03b |
Referensi KRP-03b diambil dari:
| Judul Buku | : | MEMAHAMI PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | John Drane |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996 |
| Halaman | : | 344 - 345 |
Mungkin Pauluslah misionaris Kristen yang paling berhasil sepanjang zaman. Dalam kurun waktu kurang dari satu generasi, ia mengadakan perjalanan ke seluruh wilayah dunia Laut Tengah, dan mendirikan jemaat-jemaat Kristen yang berkembang serta aktif ke mana pun ia pergi.
Apa rahasianya? Tentunya Paulus sadar bahwa ia hanya seorang pembawa berita, dan kuasa Roh Kudus sematalah yang membawa perubahan dalam kehidupan orang yang ditemuinya. Sewaktu mengingat segala penderitaan yang dialaminya, ia menggambarkan dirinya sebagai "bejana tanah liat", hanya tempat penampung sementara dari kuasa Allah sendiri (2Korintus 4:7).
Tetapi Paulus juga seorang ahli strategi yang ulung. Rutenya tidak pernah sembarangan, dan cara-cara komunikasinya didasarkan atas pengertian yang luas tentang proses orang berpikir dan mengambil keputusan.
Paulus merupakan seorang penginjil penjelajah, tetapi ia sendiri tidak pernah mengunjungi suatu daerah terpencil! Ia dapat saja menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun di dalam melintasi wilayah yang belum dipetakan, atau menempuh jalan-jalan pedesaan menuju daerah-daerah terpencil. Tetapi ia tidak melakukan hal-hal itu. Sebaliknya, ia memanfaatkan jalan-jalan raya utama yang dibangun orang-orang Roma di seluruh wilayah kekaisaran mereka. Digabung dengan rute-rute pelayaran utama, jalan-jalan tersebut menghubungkan semua pusat kependudukan utama, dan tempat-tempat seperti itulah yang dikunjungi Paulus. Ia tahu bahwa ia tidak pernah dapat membawa Injil secara pribadi kepada setiap oknum di seluruh kekaisaran. Tetapi kalau ia dapat membangun kelompok-kelompok Kristen yang bersemangat di beberapa kota utama, maka mereka pada gilirannya dapat menyebarkan kabar baik sampai ke pelosok terpencil. Lagi pula, orang dari daerah pedesaan sering harus mengunjungi kota-kota terdekat, dan mereka pun dapat mendengar Injil, yang nantinya mereka sebarkan kembali ke sanak- saudara mereka. Itulah yang terjadi pada hari Pentakosta di Yerusalem, dan Paulus menyadari betapa besarnya potensi strategi ini. Sedikitnya satu jemaat yang kemudian menerima surat Paulus -- yakni Kolose -- telah dimulai seperti ini.
Paulus juga sadar diperlukannya variasi di dalam menyajikan berita Injil. Seorang pengejek pernah menyindir bahwa khotbah adalah "seperangkat jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diajukan siapa pun." Mungkin beberapa khotbah modern demikian sifatnya, tetapi khotbah-khotbah Paulus bukan demikian. Rahasia keberhasilan Yesus terletak dalam kemampuan-Nya untuk berbicara dengan orang-orang di mana pun mereka berada. Waktu di padang, Yesus berbicara tentang menanam gandum (Markus 4:1-9). Di keluarga, Ia berbicara tentang anak-anak (Matius 19:13-15). Dengan nelayan, pokok pembicaraan-Nya adalah ikan (Markus 1:14-18). Paulus bersikap sama. Ia pergi kepada orang-orang di tempat di mana mereka mau mendengar di sinagoge Yahudi, di pasar-pasar, bahkan di kuil-kuil kafir. Di sinagoge d Tesalonika, ia mulai dengan Perjanjian Lama (Kisah Para Rasul 17:2-3). Di Atena, ia mulai dengan "Allah yang tidak dikenal, yang dicari oleh orang-orang Yunani (Kisah Para Rasul 17:22-31). Di Efesus, ia bersedia terlibat dalam perdebatan di depan umum tentang makna Injil Kristen (Kisah Para Rasul 19:9).
Para pembaca modern surat-surat Paulus mungkin mengira bahwa pemberitaan Paulus dapat diringkaskan menjadi uraian yang abstrak tentang dosa, pembenaran atau penebusan. Tetapi bukan demikian cara Paulus berkhotbah. Ia mulai di tempat dimana para pendengarnya berada dan bersedia membicarakan kebutuhan-kebutuhan mereka. Kadang-kadang berkhotbah merupakan cara pendekatan yang salah -- dan Paulus serta rekan-rekannya selalu siap mendampingi orang orang dan menolong mereka dalam menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Itulah sebagian rahasia keberhasilan di Tesalonika: "Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya ... bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu" (1Tesalonika 2:7-8).
Sikap kepedulian terhadap orang serta keluwesan dalam pemberitaan Injil inilah yang kemudian diringkaskan Paulus dalam ucapan: "Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang... Bagi semua orang aku telah menjadi segala- galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka" (1Korintus 9:19-22).
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Perjalanan Misi Paulus Ketiga |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R04a |
Referensi KRP-R04a diambil dari:
| Judul Buku | : | SURVEI PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | Merrill C. Tenney |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 1995 |
| Halaman | : | 360 - 365 |
Efesus
Kota Efesus merupakan salah satu daerah pemukiman yang tertua di pantai sebelah barat Asia Kecil dan kota yang paling menonjol di propinsi Romawi di Asia. Asal mula kota ini tidak pernah diketahui, tetapi dalam abad kedelapan SM ia merupakan wilayah pemukiman yang menonjol dan sudah lama diambil alih oleh bangsa Yunani. Ia terletak sekitar tiga mil dari pantai di tepi Sungai Kayster, yang pada waktu itu dapat dilayari, sehingga Efesus merupakan kota pelabuhan. Lembah Sungai Kayster melandai sampai jauh ke pedalaman hingga digunakan sebagai jalur perjalanan kafilah ke Timur. Dari Efesus ada jalan- jalan raya yang menghubungkannya dengan semua kota-kota besar lainnya di propinsi itu serta jalur-jalur perniagaan yang menghubungkannya dengan wilayah utara dan timur. Ia merupakan pos yang strategis untuk mengabarkan Injil, karena para pekerja dari Efesus mempunyai hubungan dengan seluruh wilayah pedalaman Asia.
Tempat yang terkenal di Efesus adalah kuil dewi Artemis yang mahabesar. Dewi Artemis adalah dewi orang-orang Efesus yang kemudian disamakan dengan dewi Artemis orang Yunani dan Diana dari Romawi. Patungnya berupa sebuah tubuh yang berbuah dada banyak dan berkepala seorang wanita, dengan sebongkah batu besar sebagai ganti kaki. Kuil yang pertama mungkin dibangun sekitar abad yang keenam SM, tetapi belum selesai hingga tahun 400 SM. Ia dibakar sampai rata ke tanah pada tahun 356 SM dan digantikan oleh bangunan yang lebih baru dan lebih besar, 425 kaki kali 225 kaki, yang disokong oleh sumbangan dari seluruh Asia. Ia dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia dan dikunjungi oleh banyak peziarah yang akan beribadat dalam tempat pemujaannya.
Kuil ini bukan hanya merupakan pusat pemujaan saja, tetapi karena tanah dan ruangan-ruangannya dianggap suci dan tidak boleh dicemari, ia juga merupakan tempat perlindungan bagi kaum yang tertindas dan tempat penyimpanan harta.
Suatu gambaran kasar dari kuil ini terlukis pada mata uang Efesus, disertai sebutan yang digunakan dalam Kisah Para Rasul bagi kota ini, NEOKOROS, atau kota yang memelihara kuil dewi Artemis (19:35). Berbeda dengan kebanyakan orang yang terjebak dalam rutinitas ibadahnya, penduduk Asia dan Efesus khususnya menunjukkan pengabdian yang nyaris fanatik terhadap dewi Artemis. Kegairahan mereka tercermin dalam perbuatan orang banyak di gedung kesenian, yang selama dua jam penuh meneriakkan 'Besarlah Artemis dewi orang Efesus" (19:34).
Efesus tergolong sebagai kota yang bebas dan menjalankan pemerintahannya sendiri. Kekuasaan tertinggi dipegang oleh sidang rakyat yang diselenggarakan secara resmi (19:39), sedang para pemimpin atau senat kota itu berfungsi sebagai badan pembuat undang-undang. Sekretaris kota atau "panitera kota" adalah pejabat yang bertanggung jawab: ia bertugas memelihara pembukuan dan mengajukan permasalahan kepada sidang rakyat. Pengaruh kaum buruh juga kuat, karena serikat buruh tukang peraklah yang mengajukan protes bahwa ajaran Paulus telah mengancam kelangsungan hidup usaha mereka membuat cinderamata keagamaan berupa kuil-kuil dewi Artemis dari perak.
Paulus menghadapi beberapa persoalan di Efesus. Yang pertama adalah pertanyaan mengenai kelangsungan ajaran Yohanes Pembaptis, yang murid- muridnya masih tetap aktif setelah Yohanes wafat. Apolos, seorang cendekiawan Yahudi dari Aleksandria, yang telah mengajarkan tentang Yesus di Efesus, "hanya mengetahui baptisan Yohanes" (18:24 25). Pasti ia sudah mengetahui bahwa Mesias sudah datang, dan bahwa Ia sudah ditahbiskan untuk melayani Allah, dan bahwa persiapan untuk menyambut pelayanan-Nya harus meliputi pertobatan dan iman. Pengetahuannya tidak sepenuhnya salah atau menyimpang; ia masih berada pada jalur yang semestinya. Ia mengajar di sinagoge-sinagoge dan rupanya mendapatkan sambutan yang cukup baik.
Di bawah pengarahan Priskila dan Akwila pengertiannya makin bertambah luas. Suatu perbandingan dari pernyataan-pernyataan,yang berlawanan diberikan di sini: Lukas berkata bahwa Apolos "telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan" (18:25), tetapi bahwa "Priskila dan Akwila ... dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah" (18:26). Ia berangkat dari Efesus menuju Akhaya sambil membawa surat pengantar dari orang-orang yang percaya di sana dan menjadi pembela agama Kristen yang gigih, terutama di kalangan orang-orang Yahudi (18:28). Ia kemudian menjadi salah seorang sahabat dan rekan kerja kepercayaan Paulus (1Korintus 16:12; Titus 3:13).
Apolos sudah meninggalkan Efesus sebelum Paulus datang, tetapi masih ada orang-orang lain yang menyerupai dia di sana. Orang-orang ini, para murid Yohanes Pembaptis, kurang memiliki pengalaman rohani pribadi. Kenyataan ini begitu jelas kelihatan hingga ketika Paulus bertemu dengan mereka, ia bertanya apakah mereka telah menerima Roh Kudus ketika mereka menjadi percaya. Mereka menjawab bahwa mereka belum pernah mendengar bahwa Roh Kudus itu ada. Mengingat bahwa Yohanes telah meramalkan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus, nampaknya sulit untuk dipercaya bahwa mereka belum pernah mendengar tentang nama-Nya; tetapi mungkin mereka belum mendengar bahwa janji itu telah terwujud pada hari Pentakosta. Jawaban Paulus membuktikan bahwa baptisan Yohanes belum memadai untuk mendapatkan suatu pengalaman Kristen yang sempurna, karena orang yang percaya bukan hanya harus bertobat dari dosa-dosanya tetapi harus dipenuhi oleh Roh. Maka, persoalan pertama yang harus ditangani di Efesus adalah meningkatkan kualitas orang-orang yang percaya dengan tulus namun belum matang ini.
Persoalan yang kedua, dalam misi di Asia ini adalah ilmu gaib. Tukang- tukang sihir Yahudi yang diwakili oleh anak-anak Skewa, serta beratus- ratus orang lainnya membakar kitab-kitab sihirya, membuktikan betapa jauh kepercayaan takhyul dan ilmu sihir telah merasuki bangsa Yahudi di sana. Jawaban dari persoalan ini ada dua macam. Dari sudut positif, kekuasaan Kristus ternyata lebih besar daripada ilmu sihir dan ilmu tenung. Orang sakit disembuhkan, orang kerasukan setan disadarkan, dan mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan sihir begitu menyadari kesesatan jalan mereka hingga dengan sukarela membakar kitab-kitab sihir yang menjadi pegangan mereka selama ini (Kisah 19:19). Dari sudut negatif, kekhususan Injil menjadi nyata. Seorang Kristen tidak akan menambahkan kepercayaan Kristennya pada agama lain yang telah dipeluknya; ia meninggalkan kepercayaan lamanya. Pada dasarnya dalam agama Kristen tidak ada toleransi terhadap semua lawannya, dan di Efesuslah prinsip ini paling jelas diperlihatkan.
Pelayanan Paulus di Efesus sangat berhasil. Selama lebih dari dua tahun (19:8, 10) ia dapat mengajar tanpa halangan, mula-mula dalam sinagoge dan kemudian di perguruan tinggi Tiranus (19:9). la melakukan mukjizat-mukjizat yang luar biasa (19:11) dan menjangkau masyarakat yang lebih luas di propinsi itu umumnya dan di Efesus khususnya daripada di mana pun juga. Lukas mencatat bahwa "semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani" (19:10), bahwa "makin tersiarlah firman Tuhan dan makin berkuasa" (19:20), dan bahwa begitu banyaknya orang yang percaya sehingga mengancam kelangsungan ekonomi perusahaan patung berhala (19:26-27). Gereja di Efesus menjadi pusat misi dan selama berabad-abad menjadi salah satu kubu agama Kristen di Asia Kecil.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Perjalanan Misi Paulus Ketiga |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R04b |
Referensi KRP-04b diambil dari:
| Judul Buku | : | KOTA-KOTA PADA ZAMAN PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | Charles Ludwig |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung, 1975 |
| Halaman | : | 115 - 127 |
Keterangan yang ada tentang Yerusalem sangat banyak dan mudah didapat. Menurut Talmud, "Waktu dunia diciptakan, dunia menerima sepuluh bagian keindahan. Sembilan bagian jatuh ke Yerusalem . . . satu bagian jatuh tersebar di bumi." Jadi, bila seseorang hendak membahas satu aspek saja dari kota ini, diperlukan sebuah buku.
Karena itu, kita tidak akan menulis tentang kehebatan permulaan sejarah kota ini, perkembangannya yang kompleks sepanjang abad, dan juga bukan tentang beberapa peristiwa di mana kota itu dihancurkan. Tetapi kita akan membicarakan tentang kuburan Kristus dan Bait Allah yang sekarang telah diganti oleh Mesjid Al Aqsa. Yang mengherankan ialah bahwa ada banyak orang-orang Kristen yang Injili tidak mengetahui hal-hal ini. Hal ini sangat disayangkan, karena tempat- tempat ini dikunjungi oleh berjuta juta orang setiap tahun.
Ketika sedang berlibur di Yerusalem lepas dari kesibukan kampanyenya di Cina, Jenderal Charles Gordon ditemani oleh seorang pemandu wisata menuju Gereja Holy Sepulcher - gereja yang dibangun di atas kuburan Yesus dan tempat Yesus disalibkan. Gordon merasa sangat tertarik ketika pemandu wisata itu menerangkan cerita tentang gereja itu. Rupa- rupanya sampai tahun 325, letak yang sesungguhnya dari kuburan Yesus yang kosong dan tempat penyaliban Yesus belum ditemukan. Pada tahun itu Uskup Macarius dari Yerusalem menemui Dewan Nicea. Ketika itu ia menyebutkan kenyataan ini pada Konstantin dan mengemukakan bahwa tempat bersejarah itu mungkin berada di bawah Kuil Venus yang dibangun oleh Kaisar Hadrian.
Konstantin memerintahkan Macarius untuk memindahkan kuil itu dan mengadakan penyelidikan yang dilaksanakan pada tahun 326. Menurut berbagai versi cerita kuburan kosong itu ditemukan di bawah reruntuhan kuil itu. Karena sangat gembira atas penemuan itu, Konstantin memutuskan untuk mendirikan gereja di tempat itu yang akan menjadi "tempat yang paling indah di dunia."
Dengan segera Gereja Holy Sepulcher dibangun dari batu. Selama satu setengah abad bangunan ini dihancurkan dan dibangun kembali beberapa kali. Tetapi ada orang-orang yang bersikeras menyatakan bahwa beberapa bagian gereja itu masih merupakan bagian dari gereja yang pertama kali dibangun. Tetapi sewaktu Gordon melihat tempat suci itu pada tahun 1883, ia merasa sangat tidak puas. Mungkin hal ini disebabkan oleh banyaknya emas yang telah digunakan untuk "menjadikan tempat itu berharga". Tetapi hal yang tidak menyenangkannya ialah karena Gereja Holy Sepulcher ini berada di dalam tembok Yerusalem, sementara Ibrani 13:12 menyatakan bahwa Yesus "telah menderita di luar pintu gerbang."
Karena ia mempunyai waktu luang hampir selama setahun di Yerusalem, Gordon mulai mencari-cari tempat yang lebih cocok. Jenderal Gordon yang biasa dipanggil Gordon si Orang Cina, merupakan salah seorang yang paling bersemangat yang pernah hidup. Ia menjadi terkenal waktu ia menolong Cina merebut Kota Peking, bertempur di banyak tempat di dunia, dan pernah bertugas sebagai gubernur di Sudan. Ia adalah orang yang sangat eksentrik, dan ulahnya bermacam-macam. Di Cina, ia menuntut supaya gajinya diturunkan dari Rp 3.200.000 setahun menjadi Rp 1.200.000 setahun, dan ia menghabiskan 80 persen dari penghasilannya untuk obat-obatan dan kesenangan anak buahnya. Ketika Pangeran dari Wales mengundangnya untuk makan siang, ia menolak undangan itu karena ia tidur jam 9.30! Tetapi ia selalu berhasil melaksanakan tugas-tugasnya, dan seluruh Inggris mengetahui hal ini.
Dengan membawa Alkitab, Gordon mengelilingi Yerusalem untuk mencari suatu tempat yang diperkirakan dapat dikenal sebagai tempat penyaliban Kristus. Ketika ia sedang kelelahan mencari tempat itu, tiba-tiba dari jendela hotelnya ia melihat suatu karang yang berwarna coklat. Sementara ia memperhatikan tebing curam itu, ia seolah-olah sedang melihat sebuah tengkorak besar yang terpahat pada karang itu. la segera membuka Alkitab dan membaca Markus 15:22, yang berbunyi: "Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak."
Dengan perasaan gembira, ia bergegas menaiki karang itu dan menyelidikinya lebih lanjut. la mendapati bahwa karang itu terletak di luar pintu gerbang Damaskus. Kenyataan ini sesuai dengan pasal yang tertulis di Kitab Ibrani. Kemudian dalam Yohanes 19:41 ia membaca: "Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang." Hal ini jelas menunjukkan bahwa jika karang itu merupakan tempat yang sebenarnya, pastilah di dekatnya ada sebuah kuburan kuno. Segera Gordon mulai mencarinya. Tak lama kemudian ia menemukan sebuah kuburan yang telah ditemukan oleh seorang Yunani pada tahun 1867. Kuburan itu terletak hanya beberapa meter dari mata tengkorak yang mengerikan itu!
Tetapi sekali lagi ia bersikeras untuk memeriksanya dalam Perjanjian Baru. Kali ini ia tercengang oleh kata-kata dalam Markus 15:40: "Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh ..." Gordon berpikir tentang beberapa perempuan yang menonton penyaliban, dan mengingat bahwa wanita biasanya lebih pendek dari pria, ia mengambil kesimpulan bahwa jika mereka dapat melihat penyaliban itu dari "jauh", salib itu seharusnya berada di tempat yang lebih tinggi.
Gagasan ini mendebarkan hatinya. Kemudian ia mulai bertanya kepada orang-orang setempat. Dari mereka ia mempelajari bahwa menurut legenda yang tersebar luas, pada zaman dahulu para narapidana sering kali dilemparkan ke bawah dari puncak karang itu. la juga mempelajari bahwa orang-orang Arab setempat menyebut tempat itu El-Heidemiyeh - Celah. Gagasan tentang celah ini mengingatkan dia akan gempa bumi yang menggoncangkan tempat itu pada waktu penyaliban.
Walaupun ia yakin bahwa ia telah menemukan tempat yang benar, Gordon lalu menggambarkan sketsa-sketsanya dan mengirimkannya kepada Sir John E. Cowell, Pengawas Rumah Tangga Istana Buckingham. Tak lama kemudian, orang-orang yang tertarik akan hal ini berkumpul dan membuat permohonan pada surat kabar the Times untuk mengumpulkan dana sebanyak dua juta rupiah untuk membeli tanah yang berisi kuburan itu.
Dananya terkumpul dan tanah itu terbeli. Tetapi apakah itu tempat yang benar? Tak seorang pun yang mengetahuinya, dan keragu-raguan besar mulai muncul. Penggalian-penggalian di Yerusalem oleh Nona Kathleen Kenyon pada tahun 1963 menunjukkan kemungkinan adanya tembok-tembok lain. Tembok ini, yang oleh Yosephus disebut Tembok Kedua, - memungkinkan tanah di mana Gereja Holy Sepulcher didirikan menjadi di luar tembok. Lagi pula, tidak masuk akal jika Uskup Macarius sampai tidak tahu ayat-ayat yang ada dalam Kitab Ibrani yang mengatakan bahwa "Yesus telah menderita di luar pintu gerbang."
Tetapi ahli-ahli lain bersikeras mengatakan bahwa karang coklat itu tempat yang sebenarnya. Lord Elton, penulis riwayat hidup Gordon, dalam bukunya, Gordon dari Khartoum menulis: "Gordon bukanlah orang pertama yang mempertahankan bahwa Tempat Tengkorak itu merupakan tempat asli dari penyaliban Kristus, sedikitnya empat penulis sebelum Gordon, di antaranya Renan, dalam bukunya Vie de Jesus, telah mendukung teori ini. Tetapi gagasan yang telah didukung Gordonlah yang pertama-tama diterima secara luas di Inggris dan Amerika Utara."
Rider Haggard, seorang penulis novel yang terkenal yang hidup dalam masa "penemuan", menulis: "Secara kebetulan, pada tebing karang yang ada di tempat ini, yang dianggap sebagai Tempat Perajaman, dan oleh orang banyak dianggap sebagai tempat penyaliban, bentuk batu karangnya yang menghadap Yerusalem benar-benar fantastis, tetapi menurut saya, karang ini hampir menyerupai tengkorak manusia yang telah membusuk ...
"Ada bentuk dahi tengkorak yang sudah rusak, ada dua lubang dalam yang berbentuk seperti mata, ada sesuatu tonjolan yang mungkin bagian sebuah hidung, dan di bawahnya dekat permukaan tanah, mungkin bagian bibir yang sudah hancur ...
Jika dua ribu tahun yang lalu, permukaan karang itu kira-kira bentuknya masih seperti sekarang, beberapa orang-orang Yahudi yang penuh fantasi mungkin tidak akan menyebutnya, 'Tempat Tengkorak', bila mereka melihat persamaan itu. Jika demikian, mengingat tradisi mereka dan tempat itu dipakai untuk hal-hal yang mengerikan, nama itu rupa- rupanya tetap dipakai dari abad ke abad."
Pertama kali saya mengunjungi Garden Tomb (Taman Makam) - nama baru untuk Bukit Golgota yang ditemukan oleh Gordon - dijaga oleh Dr. S.J. Mattar, seorang pelarian Arab. Kepalanya agak botak, berkumis, dan berpakaian cara barat. Ia bersama isterinya pernah mengundang saya makan malam; dan sementara saya menunggu ia mengajak saya berjalan- jalan. Ia adalah orang yang paling ramah yang pernah saya kenal, dan seorang Kristen yang saleh. Sayang sekali, pada waktu Perang Enam Hari, ketika ia dan isterinya sedang bersembunyi di kuburan kosong itu, ia bermaksud untuk berlari sebentar ke rumahnya untuk mengambil sesuatu. Persis ketika ia baru keluar dari makam itu, ia ditembak oleh seorang prajurit Israel.
Kini taman yang indah ini telah diperbaiki. Sekarang ada jalanan- jalanan yang indah sekali, jembatan batu, dan bangku-bangku yang diletakkan pada tempat-tempat yang strategis bagi ribuan turis yang datang untuk bermeditasi dan berdoa. Banyak bunga yang disebutkan dalam Alkitab telah ditanam kembali di tempat itu. Disitu ditanam pagar tanaman bunga mawar, bunga geranium yang berwarna-warni, pohon cemara yang tinggi dan rimbun, dan lapangan-lapangan rumput yang luas.
Sementara waktu berjalan, semakin banyak orang menyenangi tempat ini, dan semakin banyak hal yang menambah kepercayaan orang bahwa taman itu betul-betul asli. Misalnya, beberapa tahun yang lalu, sejumlah ahli purbakala yang terkenal diminta untuk menyelidiki kuburan itu. Setelah mengadakan penyelidikan yang cukup teliti, mereka menyetujui bahwa kuburan itu sudah ada sejak zaman Herodes Agung.
Kemudian pada tahun 1952, para penjaga mulai mendapat kesulitan dengan kuburan ini dan ketika diperbaiki para pekerja menemukan bahwa tempat itu jauh lebih besar daripada yang telah diperkirakan sebelumnya. Panjangnya 19 meter dan lebarnya 12 meter dan jarak dari lantai ke langit-langit 12 meter, berarti kuburan ini cukup besar. Selain besarnya yang mengherankan, sebuah salib ditemukan melekat di salah satu dinding yang dilekatkan dengan semen buatan orang Roma. Hal ini menunjukkan bahwa tempat itu telah dipakai oleh sebuah jemaat untuk kebaktian Kristen. Apakah mungkin bahwa tempat itu dipilih sebab letaknya yang berdekatan dengan Taman Makam ini? Mungkin !
Bahkan belakangan ini, sebuah tempat pengirikan anggur ditemukan dekat makam itu. Tempat pengirikan ini mungkin menunjukkan bahwa taman itu merupakan sebuah taman bunga kepunyaan seorang kaya seperti Yusuf dari Arimatea yang membolehkan jasad Yesus ditempatkan di kuburan pribadinya. Kenyataan ini mengingatkan kita akan ramalan Yesaya: "Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan" (Yesaya 63:3).
Terlepas dari apakah Taman Makam ini asli atau tidak, tempat ini merupakan tempat yang "pasti" dikunjungi oleh para turis di Yerusalem; walaupun saya telah mengunjungi tempat itu beberapa kali, setiap kali saya kembali ke Yerusalem, tempat inilah yang pertama-tama saya datangi.
Bagi kebanyakan turis, tempat kedua yang paling menarik di Yerusalem ialah Mesjid Al Aqsa, disebut Mesjid Umar, yang sesungguhnya tidak benar. Sementara orang-orang Kristen berjalan mendekati mesjid ini dari ujung sebelah timur Jalan Rantai, banyak orang akan teringat akan sabda Yesus: "Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka, 'Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan'" (Matius 24:1,2).
Pada saat Yesus berkata demikian, Bait Allah yang baru - yang biasa disebut Rumah Ibadat Herodes - yang mulai dibangun kira-kira tahun 19- 20 s.M., masih sedang dibangun. Rumah Ibadat ini baru selesai dibangun pada tahun 64 - seperempat abad sesudah penyaliban Yesus! Dan bahkan pada waktu itu ada beberapa pekerjaan lain yang masih harus diselesaikan oleh para pekerja.
Luas Rumah Ibadat Herodes ini secara keseluruhan kira-kira dua puluh enam are. Ketika Yosephus melihat kuil itu ia merasa sangat kagum. Ia menulis: "Bangunan ini merupakan tempat yang termegah yang pernah dibuat manusia."
Tetapi bangunan yang dilihat para turis bukanlah bangunan yang megah itu, karena, seperti yang telah diramalkan oleh Yesus, pada tahun 70, Rumah Ibadat Herodes ini dihancurkan dan tidak pernah dibangun lagi. Kenyataan bahwa rumah ibadat ini tidak pernah dibangun kembali merupakan hal yang mengherankan, karena seorang kaisar Romawi yang terkenal sebagai Yulian Si Murtad, bertekad untuk membangun kembali tempat ini. Edward Gibbon menulis: "Perbaikan kembali rumah ibadat Yahudi ini diam-diam dihubungkan dengan reruntuhan gereja Kristen." Usaha-usaha Yulian digagalkan oleh "suatu gempa bumi, suatu angin ribut, dan suatu letusan gunung berapi yang hebat." (Baca The Decline and Fall of the Roman Empire.)
Setelah Titus menghancurkan Yerusalem, kota itu dibiarkan demikian. Dan kemudian, Kaisar Hadrian yang menjadi murka karena ulah orang- orang Yahudi, menghancurkan kota itu seluruhnya pada tahun 135. Ia bahkan memerintahkan agar puing-puing kota itu dilenyapkan sama sekali. Setelah itu, ia membangun kota itu berdasarkan cara Romawi dan menamakannya Aelia Capitolina. Kemudian ia mengumumkan bahwa tak seorang Yahudi pun diperkenankan memasuki kota kecuali pada kesempatan-kesempatan khusus. Yang melanggar dihukum salib. Namun demikian, orang-orang Kristen diperbolehkan menetap di kota itu.
Sejak waktu itu sampai tahun 635 tempat bekas rumah ibadat itu tetap sunyi. Dan orang-orang Kristen bergembira karena mereka teringat akan nubuatan Tuhan Yesus. Mereka juga memutuskan untuk menjaga supaya Bait Allah itu tidak pernah dibangun. Dalam kampanye mereka untuk melakukan hal ini, mereka menimbun selokan-selokan dengan reruntuhan batu. Gagasan ini menyebar ke seluruh Kerajaan Romawi dan orang-orang Kristen yang saleh, yang berharap agar Bait Allah itu tetap dalam keadaan hancur selamanya, menyokong gagasan ini, bahkan mereka yang berada sampai sejauh Konstantinopel! Demikianlah, Gunung Moria menjadi suatu bukit kotoran binatang.
Satu-satunya bagian Bait Allah yang tidak dihancurkan ialah dinding penahan sebelah barat, yang sekarang terkenal sebagai Dinding Ratapan. Tembok Barat ini - nama yang diberikan oleh orang Israel - menarik perhatian orang-orang Yahudi dari segenap penjuru dunia. Tembok itu dibangun pada zaman Herodes. Sekarang orang-orang Yahudi berdiri di depan tembok yang kokoh ini sementara mereka membaca ayat-ayat favorit mereka dari Kitab Perjanjian Lama dan memanjatkan doa. Malahan mereka menuliskan doa-doa mereka di kertas dan menyisipkan kertas itu di antara batu-batu tembok itu. Sementara mereka berdoa, mereka teringat bagaimana kuasa Tuhan memenuhi Bait Allah itu setelah bangunan itu selesai dibangun oleh Salomo. "Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah Tuhan, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan" (1Raja-Raja 8:10,11).
Tetapi Bait Allah Salomo yang luar biasa ini bertahan kurang dari empat ratus tahun. Bait Allah itu dibakar pada tahun 587 s.M. oleh Nebuzaradan - jenderal Raja Nebukadnezar - sebelas tahun setelah Raja Yoyakim ditawan ke Babel.
Bait Allah ini dibangun lagi pada tahun 516 s.M. dan terkenal sebagai Bait Allah Zerubabel. Berdasarkan alasan ini, orang akan berpikir bahwa Bait Allah Herodes merupakan Bait Allah yang ketiga. Tetapi orang-orang Yahudi bersikeras mengatakan bahwa Raja Herodes hanya membangun kembali dan memperbesar Bait Allah Zerubabel, dan bahwa Bait Allah yang dibangun oleh Zerubabel inilah yang terakhir dan merupakan Bait Allah yang kedua!
Tetapi untuk sementara marilah kita melupakan Bait Allah dan masuk ke dalam Mesjid AI Aqsa. Di dalamnya, kita bertemu dengan orang-orang Kristen, Islam dan Yahudi, karena kelompok-kelompok ini bersumber dari tempat itu. Hal yang pertama-tama menarik perhatian kita ialah karang gundul yang besar dengan sebuah lubang menembus di pusatnya. Orang mengatakan bahwa di atas karang ini - Moria - Abraham hendak mengorbankan anaknya Isak. Orang-orang Islam juga bersikeras menyatakan bahwa selama beberapa waktu Tabut Perjanjian pernah disimpan di situ, dan bahwa di atas batu inilah Muhammad menaiki kuda Bouraq dan mengadakan "Perjalanan Malam" ke surga. Menurut legenda Islam, kuda ini mempunyai sayap elang, berkepala manusia, dan bersuara manusia.
Bagi orang-orang Kristen, seluruh daerah itu penting, karena Yesus sering mendatangi Bait Allah itu dan mengajar di sana. Juga ketika orang-orang hendak merajam Dia, "Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah" (Yohanes 8:59).
Tetapi kenyataan bahwa tempat ini sekarang adalah sebuah mesjid dan bukan sebuah gereja atau sebuah Bait Allah, memaksa kita untuk mempelajari lagi sejarah. Sampai saat Yerusalem jatuh ke tangan orang Islam, seluruh daerah Bait Allah itu masih sunyi. Setelah Yerusalem jatuh, Sophronius, bapa leluhur masyarakat Yahudi yang mewakili penduduk Yerusalem, bertemu dengan jenderal yang menduduki kota, yaitu Kalifah Umar, di Bukit Zaitun untuk membicarakan syarat-syarat pendudukan.
"Sungguh, saya jamin," kata Umar, "keselamatan sepenuhnya dari kehidupan kalian, harta benda dan gereja-gereja kalian, tidak akan dihancurkan atau diduduki oleh orang Islam." Setelah mendapatkan janji ini, ia berpakaian rombeng dan mengikuti Sophronius kembali ke Yerusalem. Tak berapa lama kemudian tiba saatnya bagi orang Islam untuk berdoa. Sophronius membawa dia ke Gereja Holy Sepulcher, tetapi Umar menolak untuk berdoa di sana.
"Jika saya berdoa di dalam gereja, kalian akan kehilangan gereja itu," ia berkata. "Umat Islam akan mengambil alih gereja ini dari tangan kalian, dan mereka berkata 'Umar berdoa di sini' ". Dan tentu saja hal ini benar, karena Umar adalah kalifah Islam kedua, setelah kalifah pertama Abu Bakar, ayah mertua Muhammad!
Sophronius membawanya ke pelbagai gereja tetapi Umar tidak berbuat apa-apa. Akhirnya, Sophronius membawa Umar ke tempat bekas bangunan Bait Allah dan menunjukkan kepadanya tempat batu karang yang dikenal sebagai Moria. Karena kegembiraannya, Umar membersihkan beberapa tumpukan kotoran binatang dengan kedua tangannya. Setelah batu karang itu dibersihkan oleh para pekerja, ia mendirikan sebuah mesjid dari kayu di atasnya.
Yerusalem kemudian menjadi kota Islam dan namanya diubah menjadi El- Kuds (kudus). El-Kuds dianggap menjadi kota suci yang ketiga bagi orang Islam, Mekah adalah kota suci pertama dan Medina yang kedua. Selama satu generasi bangunan mesjid dari kayu yang didirikan Umar itu rupa-rupanya memuaskan orang banyak. Tetapi pada tahun 687 Mekah jatuh ke tangan musuh, yaitu Abdul Malik, kalifah Damaskus, yang memutuskan untuk menjadikan El-Kuds ibu kotanya. Karena keputusan ini ia memerintahkan untuk membangun Mesjid Al Aqsa.
Pada waktu itu tak ada seorang pun arsitektur Arab yang dapat memenuhi keinginannya, dan sama seperti Salomo yang mempekerjakan orang luar untuk menolong membangunkan Bait Allah yang pertama, kalifah ini mempekerjakan orang-orang Siria yang telah dipengaruhi kebudayaan Yunani. Orang-orang ini menghasilkan suatu karya agung. Dan sekarang Mesjid Al Aqsa ini merupakan model arsitektur sejenis itu yang terbaik yang masih ada. Bangunan ini telah diperbaiki secara hati-hati dari waktu ke waktu, dan dalam perbaikan ini kita dapat melihat bukti sejarah dan sifat manusia!
Dengan harapan untuk menambah kebesaran bagi namanya, seorang penipu menulis dengan huruf-huruf besar di sebelah atap pintu yang melengkung: "Qubbat ini dibangun oleh hamba Allah, Abdullah al-Imam, Pangeran orang percaya, al-Ma'moon, pada tahun 72 Hijrah, semoga Allah menerima dia dan berkenan kepadanya. Amin." Tulisan itu ditulis dalam huruf Arab di atas nama pendiri sebenarnya yang telah dihapus yaitu Abdul Malik. Yang aneh ialah bahwa penipu itu tidak mengubah tanggalnya, jadi kemunafikannya jelas terlihat.
"H" berarti "Hijrah" - yaitu pelarian Muhammad dari Mekah ke Medina. Pelarian ini terjadi pada tanggal 16 Juli tahun 622. Tahun pertama dalam kalender Islam mulai pada tanggal 1 Juli tahun itu.
Orang-orang Islam menyatakan bahwa di dalam mesjid ini ada sebuah peti emas yang berisi dua helai bulu janggut Muhammad. Apakah hal itu benar atau tidak, Mekah tetap merupakan kota nomor satu dalam dunia Islam dan Yerusalem hanyalah kota nomor tiga. Kota nomor dua ialah Medina.
Semasa Perang Salib ketika Yerusalem diduduki oleh para prajurit yang ikut dalam perang itu, Mesjid Al Aqsa dipakai sebagai gereja Kristen. Sebuah salib dipasang di atas puncak kubahnya dan batu karang yang besar ditutupi dengan marmar dan dipagari. Pagar ini perlu sebab para peziarah Kristen sering kali mengambil kepingan-kepingan batu karang itu untuk kenang-kenangan. Menurut cerita, potongan-potongan karang ini dapat ditukar dengan emas.
Salib itu tetap ada di atas kubah itu sampai hampir seabad lamanya, karena Yerusalem pada tahun 1187 diduduki kembali oleh Saladin. Sekarang Mesjid Al Aqsa berada di bawah kekuasaan Israel. Walaupun demikian mesjid ini masih dipakai oleh orang-orang Islam dan sering kali mereka tidak mengizinkan para turis memasukinya. Mesjid Al Aqsa tetap merupakan sebuah bangunan yang paling menarik di dunia. Bangunan ini dipenuhi dengan misteri, riwayat menarik dan bahkan tipu muslihat; dan untuk melacak semua cerita-cerita yang dihubungkan dengan mesjid ini akan diperlukan jangka waktu yang sangat lama dan banyak orang akan mengangkat bahu dan tersenyum.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Paulus Ditangkap dan Dipenjara |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R05a |
Referensi KRP-05a diambil dari:
| Judul Buku | : | KOTA-KOTA PADA ZAMAN PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | Charles Ludwig |
| Penerbit | : | Kalam Hidup, Bandung, 1975 |
| Halaman | : | 16 - 31 |
Kota Roma tempat Paulus dipenjarakan tidak hanya merupakan pusat pemerintahan dari seluruh daerah Laut Tengah, tetapi juga merupakan kota yang paling ramai dan paling menarik di dunia.
Kota yang dilimpahi dengan kemewahan, sejarah, dan bangunan-bangunan megah ini disebut Kota Abadi. Di samping itu, dengan mengenal kebaikan dan keburukan yang ada di sepanjang jalan-jalannya, dan di antara air mancur-air mancur umum yang berjumlah lebih dari tiga ratus buah, beberapa orang dengan alasan kuat menamakan kota itu Selokan Kerajaan. Kota Roma tempat Paulus dirantai mengandung dua ekstrim. Tetapi sebelum kita mulai menyelidiki dan memasuki jalan-jalannya, marilah kita melihat bagaimana rasul besar ini sampai ke sana. Sebab betapapun juga, surat-surat yang ditulis Paulus dan pelaksanaan hukuman mati bagi Paulus di sebelah selatan kota merupakan sumbangan yang terbesar bagi kemasyhuran kota metropolitan yang dilintasi Sungai Tiber ini.
Setelah memohon kepada Caesar, Paulus dirantai kaki dan tangannya bersama tawanan-tawanan lain dan dikirim ke Roma untuk diadili. Setelah berhasil untuk tetap hidup dalam suatu kecelakaan kapal yang mengerikan, akhirnya ia mendarat di Puteoli. Dengan izin Yulius, pejabat Romawi yang menjaga para tawanan, Paulus tinggal di sana bersama kawan-kawannya selama seminggu. Kemudian ia berjalan kaki kembali ke Roma.
Sesampainya di Pasar Apius, empat puluh tiga mil sebelah selatan ibu kota, di Jalan Apia, Paulus disambut oleh sebuah delegasi orang-orang Kristen yang telah mengadakan perjalanan selama dua hari untuk menyambutnya supaya ia merasa terhibur di tengah-tengah kegelisahan. Sepuluh mil berikutnya di sebuah tempat penginapan yang disebut Tiga Kedai, ia disambut lagi oleh delegasi lain. Di sini, seperti yang dicatat Lukas, "ia mengucap syukur kepada Allah lalu kuatlah hatinya" (Kisah para Rasul 28:15).
Tidak diketahui siapa yang mengorganisasikan kelompok-kelompok penyambutan ini, tetapi menurut dugaan, orangnya adalah Epafroditus - seseorang yang memiliki suatu karunia, dan ia dikirim oleh Paulus dari gereja di Filipi. Ada juga yang mempertanyakan mengapa orang-orang Kristen di Roma begitu antusias menyambut Paulus. Satu-satunya alasan yang masuk akal ialah karena keadaan mereka telah dibicarakan dalam Kitab Roma yang ditulis Paulus di Korintus pada tahun 55 dan 56 -- lima atau enam tahun sebelum kedatangannya di Itali.
Paulus bersama dengan tawanan-tawanan lain memasuki Kota Roma dari Porta Capena. Sekarang tempat ini tidak dapat di ketahui di mana tepatnya. Tetapi kita tahu benar bahwa tempat ini terletak di bagian permulaan dari Jalan Apia. Pada waktu itu Paulus melewati Aqua Apia, sebuah bangunan tinggi yang berfungsi untuk menyalurkan air dan pada saat itu sudah berumur 350 tahun.
Jalan Apius berasal dari nama Appius Claudius, Caesar yang mulai membangun jalanan itu di tahun 312 s.M. Pada akhir masa hidupnya ia dijuluki sebagai "si buta" Appius Claudius Caecus. Menurut legenda, ia begitu sombong atas hasil yang telah dicapainya sehingga matanya dibutakan oleh para dewa. Jalan raya yang megah ini dipakai orang terus-menerus selama seribu tahun.
Menurut perkiraan, Yulius, penjaga Paulus itu, adalah seorang anggota Pengawal Praetorian. Jika hal ini benar, Paulus mungkin segera dibawa ke markas besar Praetorian di Bukit Palatine yang terletak di pusat Kota Roma. Tetapi ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Yulius itu seorang utusan khusus dan seorang anggota Peregrini. Bila demikian halnya, Paulus mungkin telah dibawa ke perkemahan Peregrini yang terletak di sebelah kanan Bukit Caelian.
Jabatan atau tingkatan Yulius tidaklah penting. Tetapi untuk mendapatkan gambaran umum tentang Kota Roma kuno atau modern, penting untuk mengerti bahwa kota ini terdiri dari tujuh bukit rendah, dengan puncak datar yang berbatasan di sebelah barat Sungai Tiber yang berliku-liku dengan anggunnya.
Dahulu, demikian pula sekarang, orang-orang Romawi mengingat Roma karena bukit-bukit ini.
Pada waktu Paulus dipenjara, Roma diperkirakan berumur lebih dari 800 tahun. Mereka yang percaya bahwa kota ini didirikan oleh Romulus dan Remus - dua saudara kembar yang dibesarkan oleh seekor serigala - percaya bahwa kota itu didirikan pada tahun 753 s.M.
Kota ini berpenduduk kira-kira satu juta orang. Setengahnya terdiri dari para budak. Luas kota kira-kira 12 mil.
Setelah diserahkan oleh Yulius "ke kapten pengawal", Paulus diberi hak istimewa untuk tinggal bersama seorang prajurit "dalam rumah yang disewanya sendiri". Mungkin kemurahan hati ini direncanakan oleh Yulius yang telah belajar untuk menghargai dan mempercayai Paulus selama perjalanan yang mengerikan itu.
Menyewa rumah di Roma mahal, sekalipun di daerah yang paling miskin. Juvenal yang lahir di Roma sekitar tahun 60 atau 61 - kira-kira tahun kedatangan Paulus di kota itu - mengenal baik kota ini. Kepada seorang teman ia menulis: "Jika Anda dapat menahan diri untuk tidak pernah menonton sirkus, Anda dapat membeli rumah mewah di Sora ... sedangkan uang itu hanya cukup untuk menyewa sebuah loteng gelap di Roma selama setahun."
Mengingat bahwa Paulus pernah mengingatkan orang-orang Korintus, "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara" (1Korintus 4:11), kita heran mengapa ia dapat menyewa tempat, meskipun tempat yang buruk sekalipun - terutama dengan pembayaran yang sah. Jawabannya ialah bahwa sumbangan yang diberikan oleh Epafroditus mungkin cukup banyak. Tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa sebelum ia memulai perjalanannya sejauh 850 mil ke Roma, ia berkata kepada orang-orang Filipi, "Sekarang marilah kita berpikir secara liberal. Harga-harga di sini tinggi, tetapi di Roma lebih tinggi lagi."
Di Roma hanya ada sekelompok kecil golongan kelas menengah karena biasanya orang-orang Romawi kalau kaya, sangat kaya dan kalau miskin, sangat miskin. Orang-orang kaya membangun rumah-rumah yang luas dilengkapi dengan kolam renang dan taman khusus. Hanya sedikit saja rumah yang bertingkat lebih dari dua. Gudang di bawah tanah belum dikenal orang. Beberapa rumah memiliki pusat pemanasan. Kebanyakan panas itu dihasilkan oleh kompor arang yang mudah dipindah-pindahkan.
Lantainya dibuat dari beton atau ubin. Banyak di antaranya yang dihiasi dengan mosaik. Pipa ledeng dibuat dari timah - lembaran- lembaran timah dipalu dan dililitkan pada sebatang baja kecil membentuk sebuah pipa. Patung-patung yang mahal harganya menempati tempat-tempat terhormat dan lukisan-lukisan indah menghiasi dinding. Tambahan pula, kebanyakan rumah sedikitnya mempunyai sebuah air mancur, dan air hujan dialirkan dari atap melalui pancuran atap yang terbuat dari timah.
Orang-orang kaya hidup dalam kemewahan. Walaupun Lukas mengatakan kepada kita bahwa Paulus "tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya" (Kisah para Rasul 28:30), rasanya tak mungkin bahwa ia tinggal dalam sebuah rumah yang mahal. Kebanyakan para ahli setuju bahwa ruangan atau sederetan ruangan tempat tinggal Paulus itu pastilah salah satu dari rumah-rumah petak yang sangat banyak di Roma. Rumah-rumah petak itu begitu banyaknya sehingga disebut insulae -- pulau-pulau. Karena golongan pekerja tinggal di perumahan-perumahan ini, dan karena tidak ada kendaraan umum, kebanyakan insulae terletak di dekat pusat kota. Perumahan ini dibuat demikian supaya para pekerja dekat dengan tempat pekerjaannya.
Kaisar Agustus telah mengumumkan bahwa bagian muka sebuah bangunan tidak boleh dibangun lebih tinggi dari tujuh puluh kaki. Tetapi rupanya para pembangun mendapatkan suatu kelemahan dalam peraturan itu dan mereka membuat bagian belakang bangunan itu lebih tinggi daripada depannya. Martial yang hidup di Kota Roma pada tahun 64 menulis tentang "seorang malang yang tinggi lotengnya 200 anak tangga." Toko- toko dan kantor-kantor menempati lantai terbawah sebagaimana halnya dengan hotel-hotel modern.
Tanpa penerangan jalan, daerah sekitar sebuah insula menjadi berbahaya. Juvenal memberi komentar: "Dan sekarang perhatikan pelbagai bahaya di malam hari. Lihatlah betapa tingginya atap dari mana orang membuang pecahan tembikar yang sudah bocor dari jendela dan kemungkinannya jatuh di atas kepala saya. Lihat, betapa kerasnya tembikar itu terhempas hancur di atas trotoar! Ada kematian menuggu di setiap jendela yang terbuka sementara Anda melewatinya di waktu malam; Anda akan dianggap seorang bodoh, tidak bersiap-siap menghadapi kecelakaan mendadak, jika Anda pergi ke luar untuk makan malam tanpa memutuskan apa yang Anda lakukan. Anda hanya dapat berharap, dan memanjatkan doa permohonan dalam hati Anda, supaya mereka sudah cukup puas hanya dengan melemparkan air kotor dari ember ke atas kepala Anda."
Jika Epafroditus tidak secara kebetulan bertemu dengan seorang sahabat Paulus ketika ia memasuki kota itu, ia akan menghadapi banyak kesulitan dalam mencari Paulus. Hal ini bisa terjadi, karena orang Romawi tidak memberi nomor pada rumah-rumah mereka, dan jalan jalan kelas dua bahkan tidak diberi nama! Ada sebuah komedi kuno dari zaman Romawi yang masih tetap aktual untuk masa kini. Drama ini menunjukkan betapa sukarnya untuk mencari sebuah alamat di Roma. Percakapan berikut ini terjadi antara seorang budak yang bernama Syrus dan seorang tua yang bernama Demea:
| Syrus | : | Saya tidak ingat lagi nama orang yang akan saya kunjungi, tetapi saya tahu di mana ia tinggal. |
| Demea | : | Baiklah, katakan di mana tempat itu. |
| Syrus | : | Ikutilah jalan menurun ini. Tahukah Bapak serambi di samping tukang daging? |
| Demea | : | Tentu saja. |
| Syrus | : | Ikuti jalan ini lurus ke depan dan tak jauh dari situ, ada sebuah jalan menurun di depan Bapak; ikutilah terus sampai kemudian di sana ada sebuah kapel kecil dengan sebuah gang di dekatnya. |
| Demea | : | Tempat mana yang kau maksud? |
| Syrus | : | Di tempat itu ada sebuah pohon ara yang tumbuh secara liar. |
| Demea | : | Saya tahu. |
| Syrus | : | Ya, tentu saja. Ya, ampun! Betapa bodohnya saya! Bapak harus kembali lagi ke serambi tadi. Ya, lagi pula itu lebih cepat dan tidak begitu memutar. Tahukah Bapak di mana Cratinus, si orang kaya itu tinggal? |
| Demea | : | Ya. |
| Syrus | : | Baik, lewati rumahnya, kemudian belok ke kiri jalanan ini, dan belok kanan pada Kuil Diana. Sebelum Bapak mencapai pintu gerbang kota, di dekat kolam, ada seorang tukang roti di depan toko alat-alat pertukangan. Di situ tempatnya. |
Dikutip dari buku Rome Its People Life and Customs karangan Ugo Paoli.
Tetapi meskipun seseorang tahu persis ke mana ia harus pergi di dalam Kota Roma, ia mungkin masih menghadapi bahaya dalam perjalanan. Yuvenal menceritakan kepada kita bagaimana keadaan sebenarnya. "Kebanyakan orang sakit di Roma mati karena kurang tidur, penyakit itu sendiri diakibatkan oleh karena makanan yang tidak tercernakan di dalam perut. Bagaimana mungkin orang bisa tidur di penginapan yang keadaannya demikian? Siapa yang dapat tidur di Kota Roma kecuali orang-orang kaya? Di situlah letaknya akar dari kekacauan. Kereta- kereta yang simpang-siur di jalanan sempit dan berliku-liku, percakapan para pengemudi kereta ketika mereka berhenti pada sebuah warung, semua itu tidak memungkinkan seorang Drusus (seorang jenderal Romawi yang terkenal karena kekuatannya) - atau pun seekor anjing laut - dapat tidur. Bilamana orang kaya mendapat suatu panggilan tugas sosial, orang banyak membukakan jalan baginya sementara ia diusung dalam suatu kereta Liburnian yang besar. Orang kaya itu menulis atau tidur dalam perjalanan itu, sebab jendela tandunya yang tertutup menyebabkan ia bisa tertidur. Tetapi bila ia sampai di depan kita; bagaimana pun cepatnya kita menghindar, kita terhalang oleh sekelompok orang banyak di depan; dan sekelompok orang banyak lain di belakang: seorang pria menyikut saya, dan yang lain menyodok saya dengan ujung tandu; sebatang balok dan sebuah tong anggur membentur kepala saya. Kaki saya penuh dengan lumpur; kaki-kaki besar menginjak saya dari tiap sisi, dan seorang prajurit menancapkan tombaknya di atas jari kaki saya."
Kebanyakan orang Romawi yang keluar di malam hari membawa seorang budak di depannya sambil membawa sebuah lentera.
Roma mempunyai sistem pembuangan kotoran yang luas dan beberapa di antaranya masih dipakai sekarang, tetapi sudah tidak begitu berguna lagi. Di zaman Paulus, salah satu jalur utama dari jaringan ini disebut Cloaca Maxima. Sayang sekali, saluran besar yang sudah dibangun ratusan tahun sebelum tarikh Masehi ini membawa air hujan dan juga kotoran-kotoran. Bahkan lebih buruk lagi, saluran ini menuju Sungai Tiber!
Karena saluran raksasa ini membawa air dari angin topan, di jalan- jalan harus dibuat lubang-lubang besar. Akibatnya Kota Roma seringkali dipenuhi dengan bau busuk dari saluran ini.
Penemuan semen telah mendatangkan perubahan besar di Kota Roma. Caementicum dibuat dari campuran debu vulkanis dengan batu merah, pecahan marmer, dan pasir, mula-mula di kembangkan kira-kira tahun 200 s.M. Semen ini sangat keras dan tahan lama.
Dengan semen ini para insinyur mempunyai perlengkapan untuk membangun bangunan-bangunan raksasa, jalan-jalan, jembatan-jembatan, saluran air. Jumlah saluran air di Kota Roma ada empat belas. Saluran air ini panjangnya 1.300 mil - jarak dari Kota New York ke Omaha, Negara Bagian Nebraska -- saluran air yang terbuat dari batu dan bata ini dibuat melalui gunung-gunung, menyeberangi lembah-lembah, dan rawa- rawa. Saluran air ini mengirim air tiga ratus juta galon setiap hari.
Kelihatannya hal ini seperti pemakaian air yang berlebih-lebihan. Tetapi orang Romawi memerlukannya untuk air mancur mereka yang banyak jumlahnya, danau buatan, tempat pemandian umum yang luas dan taman- taman. Lebih dari itu, hampir setiap rumah memiliki sebuah bak mandi, dan orang Romawi mandi setiap hari. Tetapi kemudian, seperti juga sekarang, ada orang-orang yang menyadap saluran air itu secara diam- diam dengan maksud menghindari pembayaran. Ini berarti bahwa suatu regu penyelidikan harus dipekerjakan.
Jika Epafroditus tiba di Roma pada bulan Nopember, ia tidak akan melihat akibat dari banjir tahunan yang hampir setiap tahun terjadi. Tetapi jika ia datang di musim semi, dan jika ia datang melalui laut, ia mungkin akan merasa ngeri melihat penghancuran yang diakibatkan oleh banjir Sungai Tiber. Tacitus menulis: "Manusia tersapu oleh ombak atau terhisap oleh pusaran ombak; binatang-binatang penghela, muatan, dan mayat-mayat mengapung menghalangi jalan."
Emporium, bangunan untuk pusat perdagangan yang panjangnya seribu kaki, terletak di sebelah timur Sungai Tiber. Di sini Epafroditus dapat melihat - dan merasakan - luasnya perdagangan yang mengalir masuk dan keluar Kota Roma. Di tengah sesaknya toko-toko kecil dan para pedagang, seseorang dapat mendengarkan obrolan dan tawar-menawar yang dilakukan dalam dua belas macam bahasa. Dalam beberapa hal Emporium ini menyerupai Bazar Raksasa di Kota Istambul yang modern.
Hampir segala sesuatu dapat dibeli di Roma. Angsa-angsa dibawa melalui jalan-jalan raya dari daerah Belgium yang jauh. Hal ini dilakukan untuk memuaskan permintaan para pembeli yang ingin makan hati angsa. Dari bagian lain dunia berdatangan sutra, anggur, emas, gandum, gading gajah. Seseorang dengan mudah dapat membeli madu, kertas dari kulit, obat, buah, gelas, parfum, intan permata.
Biasanya para budak dijual pada pelelangan umum; dan karena selalu ada permintaan tetap, ada banyak tempat pelelangan budak. Pada suatu pelelangan khusus, seorang budak yang dirantai tangan dan kakinya ditempatkan pada suatu panggung dan berdiri di depan para penawar. Sebuah gulungan kertas yang bertuliskan suatu jaminan untuk enam bulan digantungkan di leher budak itu. Dalam dokumen ini ditulis nama, kebangsaan, kecakapan, dan sifat budak itu. Tak ada orang yang mau membayar mahal untuk seorang budak yang menderita penyakit ayan. Biasanya ada seorang dokter yang menjaga. Dokter akan menyuruh budak itu menanggalkan pakaiannya dan kemudian ia akan mengumumkan keadaan fisik budak itu kepada pembeli yang berminat.
Harga budak-budak ini bermacam-macam. Para saudagar seringkali ikut serta dalam pasukan-pasukan Romawi. Setiap akhir suatu kemenangan, sebuah tombak ditancapkan ke dalam tanah dan seorang pedagang budak dapat mulai membeli. Para jenderal menyenangi sistem seperti ini. Penjualan budak ini menghindarkan mereka dari persoalan tawanan perang.
Sementara para tawanan dibawa ke tempat ini untuk dijual, di atas kepala mereka masing-masing diletakkan sebuah rangkaian bunga berbentuk lingkaran yang menyatakan: sub corona venire - dijual di bawah mahkota. Tawanan perang yang dijadikan budak itu harganya paling rendah sedolar seorang. Harga murah ini bisa dimengerti sebab banyak budak akan mati sebelum mereka mencapai pasar budak di Roma. Karena tidak terbiasa menjadi budak, banyak tawanan perang yang membunuh diri. Seorang budak yang berpendidikan akan mahal harganya, karena mereka bisa dipakai untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu. Tetapi harga seorang budak biasa kurang dari 100 dolar. Horace pada sekitar tahun 65 - 68 s.M. menyebutkan tentang seorang budak yang dibeli Marcus Scaurus seharga 28.000 dolar.
Pada waktu pelelangan, para budak yang tidak memiliki suatu jaminan memakai topi dan budak-budak yang didatangkan dari luar negeri diberi tanda putih di kakinya. Alasannya ialah bahwa ada suatu tugas khusus bagi budak-budak yang datang dari luar.
Berbelanja di Roma sama halnya seperti berbelanja di suatu kota modern. Pada saat itu uang kertas belum ada. Tetapi pajak penjualan sudah ada, dan harus dibayar kontan.
Jika Epafroditus kebetulan berhenti pada suatu toko buku, ia akan melihat keterangan-keterangan dan daftar-daftar judul ditempelkan di dinding sebelah luar. Toko-toko buku Romawi menjual gulungan-gulungan surat yang dibuat dari kulit dan papirus. Mereka juga menjual banyak naskah kuno - buku-buku yang sudah dijilid. Buku-buku diterbitkan dalam setiap edisi sebanyak 1.000 jilid, dan dengan mempertimbangkan bahwa buku-buku itu harus ditulis dengan tangan, harganya cukup pantas. Buku-buku kecil dijual seharga 1,50 dolar, sementara edisi lux yang sering kali dicantumkan juga potret pengarangnya, harganya sekitar 3 dolar.
Perpustakaan, baik pribadi maupun umum, sangat populer. Salah satu perpustakaan yang terkenal ialah Bibliotheca Ulpia yang didirikan oleh Trayan. Sering kali ada ruangan-ruangan baca di tempat pemandian umum. Seperti di zaman modern ini, perpustakaan-perpustakaan yang lebih baik sering kali dikunjungi orang-orang terkemuka.
Orang Romawi senang makan dan minum. Di Kota Roma saja 25.000.000 galon anggur dihabiskan setiap tahunnya. Jadi rata-rata setiap pria, wanita, anak, budak atau warga negara menghabiskan 2 liter anggur setiap minggu.
Orang-orang yang sangat kaya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan. Suatu perjamuan khusus dimulai dari jam 4.00 sore dan berakhir tengah malam. Daging yang paling disukai ialah daging babi, dan menurut Pliny seekor babi sedikitnya dapat dihidangkan dalam lima puluh jenis masakan. Suatu makanan yang paling banyak disukai yang diciptakan oleh Tiberius dibuat dari hati seekor babi yang dimasak dengan buah ara. Pada perjamuan-perjamuan seperti ini meja-meja dihiasi dengan bunga-bunga, udara dipenuhi oleh bau parfum, dan para pelayan berpakaian rapi. Musik juga disediakan, dan wanita-wanita cantik menari, sering kali tanpa busana, atau hampir-hampir tanpa busana.
Segala macam masakan yang aneh-aneh dihidangkan di pesta itu. Belut dan siput merupakan makanan populer, begitu juga lidah burung Flamingo, sayap burung unta, dan burung penyanyi. Setelah seorang Romawi mengisi perutnya sehingga ia tidak dapat menelan makanan lagi, ia meminta izin keluar dan pergi ke vomitorium (tempat untuk memuntahkan makanan). Seneca mengeluh tentang praktek seperti ini. Ia berkata, "Vomunt ut edant, edant ut vomant - mereka muntah untuk makan dan makan untuk muntah." Setelah mereka memuntahkan isi perut, dengan terhuyung-huyung mereka kembali ke meja makan untuk makan lebih banyak lagi.
Berbagai macam suku bangsa saling berdesak-desakan di jalanan. Dan untuk mengenali mereka seseorang tidak perlu menjadi seorang ahli lebih dahulu. Kebanyakan orang Romawi bercukur rapi, yaitu sampai masa Hadrian. Guntingan rambut pertama dari seorang pemuda biasanya dipersembahkan kepada seorang dewa. Orang-orang Briton yang terbelakang cukup jelas dikenal karena badan mereka dihiasi tatto dan orangnya kasar.
Para budak juga mudah dikenal. Biasanya seorang budak memakai tunic, semacam kaos oblong yang panjangnya sampai ke lutut, dan sepatu kayu. Selain itu, jika mereka telah mencoba untuk melarikan diri, di dahinya dicap huruf F, yang berarti fugitivus. Sebagian yang lain memakai rantai metal di lehernya. Beberapa dari rantai leher ini masih disimpan dalam museum sampai sekarang. Ada sebuah kalung yang bertuliskan: Fugi. Tene me. Cum Revocaveris me d.m. Zonino, accipis solidum - "Saya telah melarikan diri. Tangkaplah saya. Jika Anda mengembalikan saya kepada majikan saya Zoninus, Anda akan menerima hadiah."
Jumlah penduduk orang Yahudi kira-kira 20.000 dan mereka berpakaian sama seperti orang-orang Yahudi yang tinggal di Yerusalem - berjenggot dan sebagainya. Walaupun mereka sering kali diusir dari Roma, biasanya kebanyakan dari antara mereka kembali lagi setelah amarah kaisar mereda. Tetapi secara keseluruhan orang-orang Yahudi tidak menonjol dalam bidang perdagangan pada waktu itu. Pedagang-pedagang terkemuka adalah orang-orang Syria dan Yunani.
Toga hanya dipakai pada kesempatan-kesempatan resmi, dan yang boleh memakainya hanyalah warga negara Romawi. Orang asing yang terkemuka pun tidak diperkenankan memakai jubah ini; dan bila seorang warga negara Romawi dibuang, ia harus meninggalkan toganya di Italia. Untuk pakaian sehari-hari, orang Romawi mengenakan blus. Tidak ada kancing atau kaos kaki. Biasanya kaum pria memotong pendek rambut mereka. Tetapi ada beberapa pesolek yang memakai rambut palsu, dan kadang- kadang ada yang mencat kepalanya yang sudah botak. Wanita-wanita modern memakai pemerah pipi, mempunyai banyak budak yang menghabiskan beberapa jam untuk memotong kuku, mengeriting rambut, dan menghitamkan alis dan bulu mata mereka. Beberapa wanita mandi air susu keledai. Popaea, isteri Nero, begitu tertarik dengan gagasan ini, sehingga ke mana pun ia pergi, ia selalu membawa serta sekawanan keledai!
Karena sampai zaman Hadrian orang-orang Romawi masih membakar mayat, maka tidak ada kuburan-kuburan bergaya barat di Italia. Dan orang- orang Romawi yang mengubur jenazah biasanya dimakamkan di pinggir jalan raya. Mereka diperkenankan melakukan hal ini asalkan monumen kuburan itu dibangun secara luas. Sisa-sisa reruntuhan kuburan ini masih dapat dilihat di sepanjang jalanan Apia.
Karena tidak mempunyai tempat kuburan untuk jenazah, orang Yahudi menggali saluran-saluran di bawah tanah di luar kota dan menguburkan jenazah-jenazah dalam dinding-dinding di bawah tanah. Batu vulkanis yang lunak yang dikenal dengan nama tuga, sangat mudah dipotong. Pada waktu itu ada pekerja-pekerja yang dikenal sebagai para penggali kuburan. Dengan demikian lahirlah suatu sistem penguburan di dalam tanah yang terkenal. Setelah kematian Paulus, orang-orang Kristen mulai membangun kuburan-kuburan baru di dalam tanah. Mereka memakai terowongan-terowongan tempat kuburan itu sebagai tempat persembunyian, dan kadang-kadang mereka menggali ruangan-ruangan yang sangat besar untuk mendapatkan tempat ibadah yang cukup luas.
Panjangnya dan luasnya tempat kuburan di dalam tanah di bawah Kota Roma yang modern itu kira-kira 600 mil.
Bilamana orang-orang asing yang miskin mati di Roma, jenazah-jenazah mereka dilemparkan ke dalam lubang persegi empat sedalam dua belas kaki di sebelah timur Bukit Esquiline. Kuburan masal ini berfungsi juga sebagai kuburan binatang. Karena lubang itu tidak ada tutupnya, bau busuknya tak tertahankan. Daerah ini seperti sebuah kota tempat pembuangan sampah. Sampah yang tidak dapat dibuang melalui sistem saluran tertentu diangkut ke tempat itu. Bukit ini juga berfungsi sebagai tempat untuk menghukum para penjahat kriminil. Setelah mereka mati tersalib, mayat mereka tidak dilepaskan dari salib itu. Tubuh yang sudah mati itu dibiarkan tergantung sehingga dapat dimakan burung, serigala dan binatang buas pemakan bangkai lain yang tinggal bergerombol di situ.
Pada akhir pemerintahannya, Agustus menyombongkan diri dan berkata, "Ketika aku menemukan Roma, kota ini dibangun dari batu merah, tapi ketika aku meninggalkannya, kota ini telah terbungkus dengan batu marmer." Dalam banyak hal memang benar. Dalam perjalanan ke tempat tinggal Paulus, Epafroditus pasti melihat batu marmer di setiap sisi jalan. Ada barisan tiang penopang atap yang tinggi terbuat dari batu marmer, bangunan-bangunan umum yang putih mengkilap, dan banyak kuil untuk memuja para dewa. Suetonius mencatat bahwa Agustus "memperbaiki kuil-kuil yang hancur dan terbakar, memperindahnya secara mewah: misalnya sebuah sumbangan untuk Capitoline Jupiter yaitu 8.000 kg emas dan juga mutiara . . ." (The Twelve Caesars, karangan Seutonius). Untuk mendapatkan keindahan, ia tidak menghemat uang.
Tetapi, bangunan Colosseum belum ada pada zaman Paulus. Sebelum bangunan ini didirikan, kebanyakan orang pergi melihat peristiwa- peristiwa olah raga di Circus Maximus.
Persoalan lalu lintas tidaklah serumit seperti di kota-kota besar sekarang. Tetapi mereka masih mengalaminya, dan mereka terpaksa mengambil tindakan drastis. Caesar Yulius mengumumkan:
Sesudah matahari terbit atau sebelum sepuluh jam pertama pada hari itu . . . seorang pun tidak diperkenankan mengendarai sebuah kereta di jalan-jalan di daerah pinggiran di mana ada banyak perumahan, kecuali ada keperluan penting ... untuk mengangkut bahan-bahan bangunan kuil- kuil para dewa yang abadi atau pekerjaan-pekerjaan demi kepentingan umum, atau memindahkan sampah-sampah kota ... (Dikutip dari The Appian Way, A Journey, karangan Dora Jane Hamblin dan Mary Jane Crunsfeld.)
Apakah lalu lintas berjalan di sebelah kanan atau di sebelah kiri tidaklah diketahui. Tetapi Albert C. Rose berpendapat bahwa sisi jalan itu "bermacam-macam, tergantung di mana si pengemudi duduk memegang kendali dan keretanya."
Kota Roma pada zaman Perjanjian Baru merupakan suatu kota tua yang kuat. Jika semasa Paulus di penjara ada orang yang berpendapat bahwa Kerajaan Romawi akan runtuh, orang itu tentu dianggap gila. Tetapi hal itu benar-benar terjadi. Dalam tabun 410, Alaric dan suku bangsa Goth menyapu Italia. Mereka bahkan menduduki Roma dan menjarahnya secara mengerikan selama tiga hari. Dan setengah abad kemudian Roma diduduki sekali lagi dan dijarah - kali ini oleh bangsa Vandal.
Ironisnya, kaisar terakhir Roma adalah seorang anak yang bernama Romulus - nama yang sama dengan pendiri kota itu menurut dongeng. Drama yang mengerikan ini memberi ilham pada seorang penyair Persia untuk menulis: "Laba-laba menenun tabir-tabir di dalam istana Caesar; burung hantu memanggil para penjaga menara Afrasiab."
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Paulus Ditangkap dan Dipenjara |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R05b |
Referensi KRP-05b diambil dari:
| Judul Buku | : | DUNIA PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | J.L Packer.Merrill C.Tenney.William White,Jr |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 1993 |
| Halaman | : | 214 - 218 |
Surat-surat Paulus merupakan cermin jiwanya. Surat-surat itu mengungkapkan motif-motif batinnya, perasaannya yang paling dalam, keyakinannya yang paling mendasar. Tanpa surat-surat yang ada itu, Paulus hanya akan menjadi figur yang tak jelas bagi kita.
Paulus lebih tertarik kepada orang-orang dan apa yang menimpa mereka dibandingkan dengan berbagai formalitas sastra. Ketika kita membaca tulisan-tulisannya, kita sering merasakan kadang-kadang kata-katanya muncul begitu tiba-tiba, ditulis secara tergesa-gesa seperti dalam pasal pertama surat Galatia. Kadang-kadang tulisannya terputus tiba- tiba dan pikirannya meloncat kepada gagasan-gagasan baru. Atau di beberapa tempat ia seperti menarik napas panjang, lalu menuliskan satu kalimat yang hampir tidak ada akhirnya.
Tulisannya dalam 2Korintus 10:10 memberi kita petunjuk tentang bagaimana surat-surat Paulus diterima dan dipandang pada saat itu. Bahkan musuh-musuh dan para pengecamnya mengakui pengaruh dari kata- katanya, karena mereka diketahui berkomentar, "surat-suratnya memang tegas dan keras . . . " (2Korintus 10:10).
Pemimpin-pemimpin yang kuat, seperti Paulus, cenderung untuk memikat atau membuat tidak senang orang-orang yang ingin mereka pengaruhi. Paulus memiliki para pengikut yang setia dan juga musuh yang sangat membencinya. Akibatnya, orang-orang yang hidup sezaman dengannya memiliki banyak pandangan yang sangat berbeda mengenai dirinya.
Tulisan-tulisan paling awal dari Paulus mendahului keempat Injil. Tulisan-tulisan itu mengungkapkan pribadi Paulus sebagai seorang yang berani (2Korintus 2:3), jujur dan memiliki motivasi yang tinggi (ayat 4-5), rendah hati (ayat 6), dan lembut (ayat 7).
Paulus tahu bagaimana membedakan antara pandangan-pandangannya sendiri dengan "perintah dari Tuhan" (1Korintus 7:25). Ia cukup rendah hati, dalam masalah-masalah tertentu ia mengatakan "menurut pendapatku" (1Korintus 7:40). Ia sangat sadar mengenai betapa penting tugas yang dipikulnya (1Korintus 9:16-17), dan mengenai fakta bahwa ia tidak lepas dari kemungkinan "ditolak" seandainya ia jatuh ke dalam pencobaan (1Korintus 9:27). Dengan hati yang luka ia teringat bahwa pernah dalam hidupnya ia "telah menganiaya Jemaat Allah" (1Korintus 15:9).
Bacalah Roma pasal 16 dengan memperhatikan baik-baik sikap murah hati Paulus terhadap rekan-rekan sekerjanya. Ia adalah orang yang mengasihi dan menghargai orang dan menjunjung tinggi persekutuan orang-orang percaya. Di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, kita melihat pribadi Paulus yang hangat dan ramah, bahkan kepada orang-orang Kristen yang belum pernah bertemu, dengannya. "... Aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka ... yang belum mengenal aku pribadi" (Kolose 2:1).
Dalam suratnya kepada jemaat Kolose, kita juga membaca mengenai seseorang yang bernama Onesimus, seorang budak yang melarikan diri (Kolose 4:9) setelah mencuri sesuatu dari tuannya, Filemon. Paulus telah memenangkan Onesimus untuk percaya pada Kristus dan telah membujuknya agar ia kembali kepada tuannya. Akan tetapi, karena mengetahui hukuman berat yang bakal dijatuhkan pada budak yang melarikan diri, rasul itu mendesak Filemon agar ia menerima Onesimus sebagai saudara seimannya. Di sini kita melihat Paulus sebagai seorang pendamai. Ia berusaha keras agar kembalinya Onesimus bisa diterima dengan kasih persaudaraan yang kristiani. Kalau menggunakan istilah yang biasa dipakai sekarang, kita bisa mengatakan bahwa Paulus menaruh Filemon dalam posisi sulit di mata jemaat dan dalam hubungan pribadinya dengan Paulus. Dan Paulus melakukan ini semua demi seseorang yang menduduki posisi terendah dalam lapisan masyarakat Romawi. Bandingkan ini dengan tingkah laku Saulus muda, yang memegangi jubah mereka yang melempari Stefanus sampai mati. Perhatikan bagaimana besarya perubahan dalam sikap Paulus terhadap
Dalam tulisan-tulisan ini kita melihat Paulus sebagai seorang teman yang hangat dan murah hati, seorang yang memiliki iman yang kuat dan penuh keberanian-walaupun berada dalam situasi yang ekstrem. Ia sepenuhnya mengabdi pada Kristus, baik dalam hidup maupun mati. Kesaksiannya merupakan realitas rohani yang mendalam, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan; baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 4:12- 13).
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Paulus di Penjara dan Akhir Hidup Paulus |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R06a |
Referensi KRP-01a diambil dari:
| Judul Buku | : | MEMAHAMI PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | John Drane |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia |
| Halaman | : | 400 - 402 |
Dalam tinjauan kita tentang kehidupan Paulus dan surat-suratnya, kita telah berasumsi bahwa surat-surat Paulus dari penjara ditulis dari Roma antara tahun 60 dan 62 M. Ini satu-satunya masa pemenjaraan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, wajarlah bila orang-orang yang membaca surat-surat Paulus sejak lama beranggapan bahwa ia menulisnya pada waktu itu.
Mengikuti pendapat profesor G. S. Duncan, beberapa ahli merasa sedikitnya satu atau dua dari empat surat itu ditulis Paulus bukan di Roma melainkan pada masa dia dipenjarakan di Efesus. Walaupun ini tidak tercatat dalam Kisah Para Rasul, pemenjaraan itu dianggap berlangsung pada waktu Paulus tinggal di Efesus selama tiga tahun. Ada banyak bukti yang mendukung hal ini.
Menjelang akhir kunjungannya ke Efesus, Paulus memberi tahu bahwa dibanding dengan pekerja-pekerja Kristen lainnya ia telah "lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara, didera di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut" (2Korintus 11:23). Dalam 1Korintus 15:32, Paulus menulis, "Aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus." Kita telah melihat bahwa ungkapan ini bersifat kiasan dan mungkin melukiskan suatu pengadilan sebelum pemenjaraan. Paulus juga menyebut "kesukaran yang kami alami di wilayah Asia" (2Korintus 1:8), yakni provinsi Roma yang ibukotanya Efesus. Di samping itu Roma 16:7, yang ditulis tidak lama setelah Paulus meninggalkan Efesus, menyebut dua orang "yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku".
Bukti lain Paulus dipenjarakan di Efesus dapat ditemukan dalam kata- kata pengantar bahasa Latin bagi kitab-kitab Perjanjian Baru yang ditulis pada abad kedua di bawah pengaruh Marcion, seorang pemimpin aliran Gnostik. Juga Kisah Paulus yang fiktif dari abad kedua menceritakan tentang pemenjaraan Paulus di Efesus, yang diikuti dengan pertarungan dengan singa-singa di gelanggang, di mana ia luput melalui campur tangan supernatural.
Gabungan bukti dari tradisi jemaat mula-mula itu, ditambah dengan ayat-ayat dalam tulisan-tulisan Paulus sendiri yang menyebut hal ini, memperkuat dugaan bahwa Paulus pernah dipenjarakan di Efesus. Memang hal itu tidak dengan sendirinya berarti ia menulis "surat- surat penjara" dari Efesus. Tetapi ada beberapa alasan positif yang telah dikemukakan untuk mendukung pendapat tersebut.
Ada yang menyatakan bahwa sahabat-sahabat Paulus yang telah menghubunginya selama pemenjaraannya, lebih mungkin melakukannya di Efesus ketimbang di Roma, yang jauh dari tempat tinggal mereka. Terhadap hal ini perlu dikemukakan bahwa kita hampir-hampir tidak tahu apa-apa mengenai teman-teman Paulus ini. Namun yang paling kita kenal dari mereka, Lukas, pasti bersama Paulus di Roma menurut Kisah Para Rasul, dan bukan di Efesus.
Telah dikemukakan pendapat bahwa budak Filemon, Onesimus, lebih mungkin akan melarikan diri ke Efesus, yang berjarak kira-kira 130 kilometer dari rumahnya di Kolose, daripada ke Roma yang berjarak 1300 kilometer. Tetapi ini pun bukan alasan yang meyakinkan, karena pada waktu itu semua jalan raya memang menuju Roma. Seorang budak yang melarikan diri mungkin sekali akan berusaha menghilang di ibukota kerajaan daripada di sebuah kota provinsi sebesar Efesus.
Dari Surat Filipi kita mendapat kesan bahwa ada banyak orang yang hilir mudik dari dan ke penjara Paulus; dan Efesus lebih dekat ke Filipi dibandingkan dengan Roma. Ini sering dijadikan alasan kuat untuk menganggap bahwa Surat Filipi telah ditulis di Efesus.
Alasan terkuat bahwa surat-surat itu ditulis di Efesus ialah dalam surat-surat tersebut Paulus mengharapkan segera dilepaskan, dan setelah itu ia berencana mengunjungi teman-temannya di Filipi dan Kolose. Tetapi dalam Roma 15:28 ia menjelaskan bahwa setelah kunjungannya ke Yerusalem, rencananya bukan mengunjungi kembali jemaat-jemaat yang telah didirikannya sebelumnya, melainkan pergi ke Spanyol.
Jadi apa yang dapat kita simpulkan dari fakta-fakta tersebut? Hampir dapat dipastikan bahwa Paulus dipenjarakan untuk beberapa waktu lamanya ketika ia tinggal di Efesus. Mungkin sekali Surat Filipi yang menyebut adanya banyak kunjungan dari Filipi ke penjara Paulus, telah ditulis pada waktu itu. Jika benar demikian, kita harus menetapkan tahun 55 dan bukan tahun 62 M sebagai tahun penulisan Surat Filipi.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a
| Nama Kursus | : | KEHIDUPAN RASUL PAULUS |
| Nama Pelajaran | : | Paulus di Penjara dan Akhir Hidup Paulus |
| Kode Pelajaran | : | KRP-R06b |
Referensi KRP-06b diambil dari:
| Judul Buku | : | SURVEI PERJANJIAN BARU |
| Pengarang | : | Merrill C. Tenney |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang, 1995 |
| Halaman | : | 413 - 422 |
Bila dianggap bahwa Paulus dibebaskan dalam tahun 60 atau 61 setelah ia naik banding kepada Kaisar, pada waktu itulah ia menghidupkan lagi kegiatan pelayanannya. Berlawanan dengan sangkaannya semula (Kisah Para Rasul 20:38), masih terbuka kesempatan baginya untuk mengunjungi kembali jemaat-jemaat di Asia. Rupanya ada beberapa penyelewengan di antara mereka, karena Paulus menasihati Timotius untuk "menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya ... " (1Timotius 1:3-4). Mereka ingin menjadi pengajar hukum Taurat, meskipun mereka belum berpengalaman dan belum memahami seluruh misterinya (1:7). Di samping mereka yang kurang berpengetahuan adalah mereka yang rusak moralnya, seperti Himeneus dan Aleksander (1:20) yang telah dijatuhi disiplin yang terberat. Perbantahan yang sia-sia (1:6) dan kebobrokan jiwa mengikuti kecenderungan ini.
Organisasi gereja berkembang menjadi makin rumit. Jabatan-jabatan telah ditetapkan dan dikejar oleh sementara orang yang ingin dianggap penting, sehingga martabat kedudukan itulah yang dikejar bukan tujuannya yang utama. Uskup, diaken, dan penatua semuanya disebutkan, meskipun mungkin kelas yang pertama dan ketiga adalah sama. Para janda yang mendapat sokongan harus "didaftarkan", dan harus mengemban suatu tugas khusus dalam pelayanan sosial gereja (5:9). Kebaktian di dalam gereja mempunyai beberapa kebiasaan khusus: berdoa dengan menadahkan tangan (2:8), kealiman dan kepatuhan wanita (2:11), membaca, berkhotbah, dan mengajar (4:13), menumpangkan tangan untuk memberikan karunia (4:14). Ketika generasi kedua dan ketiga gereja mulai timbul, teologi gereja makin dianggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya dan makin kurang dianggap penting. Pertengkaran dan perdebatan berkembang dari titik-titik perbedaan; ajaran sesat menjadi suatu bahaya yang mengancam.
Riwayat Hidup Timotius
Diri Timotius sendiri merupakan sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Dilahirkan di Listra dari seorang ayah Yunani dan ibu Yahudi, ia dididik dalam adat istiadat Yahudi dan diajari Kitab Suci sejak masih kanak-kanak. Paulus menjadikannya sebagai muridnya dalam perjalanannya yang kedua (Kisah Para Rasul 16:1-3), dan sejak itu Timotius selalu menyertainya ke mana pun ia pergi. Ia turut mengabarkan Injil di Makedonia dan Akhaya dan membantu Paulus waktu ia mengajar di Efesus selama tiga tahun, di mana ia menjadi sangat mengenal kota itu serta kebutuhan-kebutuhan jemaat di sana. Ia adalah salah seorang delegasi yang ditunjuk ke Yerusalem (20:4) dan mungkin menyertai Paulus dalam perjalanan kembali ke kota itu. Ia berada di Roma bersama Paulus pada masa pemenjaraannya yang pertama, karena namanya muncul dalam kepala surat Kolose (1:1) dan Filemon (1). Setelah Paulus dibebaskan ia mengadakan perjalanan kembali bersama Paulus dan rupanya ditinggalkan di Efesus untuk menjernihkan kekacauan yang telah berkembang di sana, sedang Paulus melanjutkan kunjungannya ke gereja-gereja di Makedonia. Pada akhir hidup Paulus ia mendampinginya di Roma (2Timotius 4:11, 21), dan ia sendiri juga dipenjarakan (Ibrani 13:23), tetapi dibebaskan kembali.
Timotius adalah orang yang dapat dipercaya namun kurang bersemangat. Ia terkesan sebagai seseorang yang belum dewasa meskipun ia pasti telah berusia sekurang-kurangnya 30 tahun ketika Paulus menugaskan dia untuk memimpin gereja di Efesus (1Timotius 4:12). Ia penakut (2Timotius 1:6,7) dan sering terganggu pencernaannya (1Timotius 5:23). Surat yang memakai namanya ini dimaksudkan untuk membesarkan hati dan meneguhkan dia untuk menerima tugas berat yang dilimpahkan Paulus kepadanya.
--cut--
Isi
Suatu ikhtisar yang terpadu dari surat ini sulit untuk dibuat karena bentuknya yang berupa percakapan dan sifatnya yang sangat pribadi. Beberapa kalimat nampaknya berada di luar konteksnya, seperti perintah, "Jangan lagi minum air saja" (5:23). Ini adalah suatu ucapan yang lumrah dalam suatu pembicaraan tidak resmi, di mana si pembicara dapat menyelipkannya begitu saja saat terpikir olehnya tanpa merencanakan suatu esei yang resmi. Kata pengantar (1:3-17) menggambarkan garis besar dari keadaan darurat yang menyebabkan Paulus meninggalkan Timotius di Efesus. Ia mengingatkan bagi Timotius pengalamannya sendiri, yang merupakan suatu pola dari panggilan untuk melayani. Ia berulang kali mengingatkan Timotius akan tanggung jawab dari panggilan itu (1:18; 4:6,12,16; 5:21; 6:11,20), seolah-olah untuk mencegahnya menarik diri dari suatu tugas yang sulit. Pelimpahan tugas ini yang dibuka oleh kata-kata "Tugas ini kuberikan kepadamu ...." (1:18), menyangkut masalah kepentingan organisasi di dalam gereja. Persoalan-persoalan ibadah jemaat, kepengurusan dan doktrin gereja dijelaskan, dan kebijaksanaan tentang kepemimpinan gereja ditegaskan. Dalam bagian teguran pribadi (4:6-6:19) Paulus menegaskan hubungan sang penginjil dengan pelayanannya sendiri serta dengan pihak-pihak di dalam jemaat, untuk menunjukkan bagaimana harus menghadapi mereka masing-masing. Himbauan Paulus yang terakhir kepada Timotius sebagai hamba Allah adalah suatu karya yang indah. Dalam keempat perintahnya, jauhilah, kejarlah, bertandinglah, rebutlah (6:11-12,14), Paulus menguraikan dengan ringkas unsur-unsur dari kehidupan pelayanan pribadi.
Latar Belakang
Menurut urutan waktunya Titus mengikuti 1Timotius. Paulus, setelah meninggalkan Efesus, pergi ke Makedonia dan mungkin dari sana berlayar ke Kreta, di mana ia pernah singgah dalam pelayarannya ke Roma. Dalam kesempatan ini ia tinggal selama beberapa lama di sana, lalu meninggalkan Titus untuk menyelesaikan pengukuhan jemaat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan di jemaat. Ada yang bertanya-tanya apakah Paulus merasa bahwa waktunya tidak banyak dan ia ingin kembali ke Efesus. karena ia berbicara mengenai mengirimkan Tikhikus ke Kreta (Titus 3:12) dalam waktu dekat. Tujuannya yang terakhir adalah Nikopolis (mungkin di Epirus), di mana ia merencanakan untuk tinggal selama musim dingin.
Keadaan di Kreta sangat mengecewakan. Gereja tidak terorganisasi dan tingkah laku para anggotanya sangat ceroboh. Bila perintah dalam pasal 2 adalah suatu petunjuk dari apa yang dibutuhkan oleh jemaat di sana, maka para prianya lalai dan ceroboh, wanita-wanita yang tua suka bergunjing dan bermabuk-mabukan, dan wanita-wanita mudanya malas dan genit. Mungkin pemberitaan Injil karunia telah memberi kesan kepada orang-orang di Kreta bahwa keselamatan oleh iman tidak ada hubungannya dengan hidup tekun dan saleh. Enam kali (1:16; 2:7, 14; 3:1,8,14) dalam surat yang pendek ini orang-orang Kristen diminta untuk melakukan perbuatan baik. Meskipun Paulus mengatakan bahwa keselamatan tidak dapat diperoleh karena perbuatan baik yang kita lakukan (3:5), ia menyatakan dengan tidak kalah tegasnya bahwa orang-orang yang percaya memelihara perbuatan baik dengan seksama.
Kerusuhan di Kreta ini disebabkan oleh gabungan dari kelemahan moral yang berasal dari sifat bawaan bangsa Kreta (1:12-13) dan perintah serta omongan sia-sia yang disebarluaskan oleh penganut Yudaisme, yang menyangkal Allah (1:16), tidak tertib (1:10), suka mengacau (1:11) dan hanya mencari keuntungan bagi diri sendiri (1:11). Guru-guru ini berbeda dengan mereka yang mengacau Galatia, karena kesalahan mereka berupa kejahatan moral, sedang yang di Galatia bersifat kepicikan pelaksanaan hukum. Keduanya dikecam oleh surat ini.
Baik 1Timotius maupun Titus ditulis untuk menasihati seorang murid yang tengah memecahkan persoalan-persoalan yang sulit sebagai gembala sidang. Titus, penerima surat ini, telah menjadi kenalan dan rekan Paulus selama 15 tahun atau lebih. Ia adalah seorang bukan Yahudi yang menjadi percaya pada masa-masa awal di Antiokhia, yang pertobatannya begitu meyakinkan hingga dijadikan teladan dari orang-orang percaya bukan Yahudi yang tidak bersunat ketika Paulus dan Barnabas pergi ke Yerusalem untuk menghadiri sidang (Galatia 2:1-3). Pasti ia menyertai Paulus dalam perjalanannya yang ketiga, karena ia bertindak sebagai utusan Paulus pada masa-masa yang sulit ketika ada pemberontakan gereja di Korintus, dan ia telah berhasil membangkitkan sesal dan mengembalikan kesetiaan mereka (2Korintus 7:6-16). Ia telah berkeliling di Makedonia untuk menjalankan pengumpulan dana yang diprakarsai oleh Paulus, dan telah dipuji dengan tulus oleh Paulus (8:16, 19, 23). Mungkin ia termasuk di antara "kami" dalam Kisah Para Rasul 20:5, meskipun ia tidak pernah disebutkan namanya di mana pun di dalam Kisah Para Rasul. Penyebutan namanya yang terakhir dalam Perjanjian Baru menyatakan bahwa ia telah pergi ke Dalmatia (2Timotius 4:17). Nampaknya ia mempunyai watak yang lebih kuat daripada Timotius dan lebih mampu menghadapi perlawanan.
--cut--
Isi
Secara umum isi dari Titus serupa dengan 1Timotius, kecuali pada penekanan yang lebih kuat pada perumusan pengakuan iman. Paulus menyatakan suatu rumusan kepercayaan Kristen yang paling lengkap dalam seluruh Perjanjian Baru dalam dua paragraf (2:11-14; 3:4-7). Perhatikanlah unsur-unsur yang terkandung dalam kedua paragraf ini:
--cut--
Titus adalah suatu ringkasan yang baik dari pengajaran azas gereja waktu ia sampai pada tahap pelembagaan. Meskipun ia ditulis bagi seorang penginjil perintis, ia mewakili suatu gereja yang telah melewati era perintisan dan telah memiliki kebijaksanaan dan iman yang mantap. Kata "sehat" menyiratkan bahwa suatu standar azas yang resmi telah ditetapkan, dan harus diikuti oleh kehidupan dan pengajaran yang benar.
Latar Belakang
Apakah keinginan Paulus untuk mengunjungi Spanyol pernah terwujud atau tidak, tidak diketahui. Klemens dari Roma (tahun 95) mengatakan di dalam suratnya bahwa Paulus "... mengajarkan kebenaran kepada seluruh dunia, dan ketika ia telah mencapai batas wilayah Barat ia memberikan kesaksiannya kepada para penguasa ...." Bila Klemens menulis dari Roma, adalah sama janggalnya bila ia menyebut Roma sebagai "batas wilayah Barat" seperti seseorang yang tinggal di Chicago menyebut kota itu sebagai batas wilayah Barat dari Amerika Serikat. Klemens tidak menyebut Spanyol, dan mungkin ia hanya menduga-duga apa yang telah dilakukan Paulus bila dianggap bahwa niatnya sudah terwujud. Akan menarik sekali bila kita dapat mengetahui apakah Paulus jadi mengabarkan Injil di sana atau tidak, dan apakah gereja yang mula-mula didirikan di Afrika Utara dan Britania telah didirikan oleh murid- murid asuhannya.
Mengapa ia ditangkap juga tidak diketahui. Bila Aleksander si tukang tembaga yang disebutkan di dalam 2Timotius 4:14 adalah sama dengan Aleksander dalam Kisah Para Rasul 19:33, orang akan menduga bahwa ia adalah pandai besi bangsa Yahudi yang bersungut-sungut terhadap Paulus karena dua hal: pemberitaan Paulus tentang berkat yang cuma-cuma bagi bangsa-bangsa lain, dan kelesuan perdagangan kuil-kuilan dewi di Efesus karena kecaman Paulus yang penuh semangat menentang pemujaan berhala. Keadaan di Efesus sangat panas. Paulus berbicara dalam 2Korintus 1:8 tentang "penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami." Dalam Kisah Para Rasul 20:19 ia menyinggung tentang "pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku." Mungkin Aleksander, yang masih merasa sakit hati atas larinya Paulus dari Efesus dan atas kerugian yang diderita perusahaannya dan perusahaan kawan-kawannya, telah mengadukannya kepada pemerintah Roma yang akhirnya menjatuhkan hukuman atasnya. Aleksander juga dikenal oleh Timotius, dan nasihat Paulus untuk berhati-hati terhadapnya menyiratkan bahwa ia berada di mana Timotius berada, mungkin di Efesus.
Maka perjalanan ke Spanyol pada masa-masa itu pastilah suatu tafsiran semata, dan jalur yang tertera pada peta paling-paling hanyalah suatu kemungkinan. Bila perjalanan Paulus tepat mengikuti jalur yang dinyatakan di dalam surat ini, berarti ia berhenti di Korintus (4:20), di mana Erastus memilih untuk tinggal di Miletus, di mana ia meninggalkan Trofimus yang sakit, dan di Troas (4:13). Urut-urutan yang benar dari perjalanan ini tidak diberikan oleh si pembawa cerita. Ia tidak singgah di Efesus, tetapi mengirimkan Tikhikus ke sana. Pasti dia ditangkap secara tiba-tiba dan dibawa ke Roma, karena ia meninggalkan rencananya yang belum selesai. Buku-buku yang ketinggalan di Troas mungkin dimaksudkan untuk diambilnya kembali nanti, tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan itu. Di mana ia ditangkap tidak diketahui; mungkin di Troas atau di Nikopolis.
Kesan umum dari surat-surat penggembalaan ini mengungkapkan suatu gereja yang tengah mempertahankan diri melawan kedengkian dan keirihatian orang-orang Yahudi yang frustrasi dan melawan ketidakacuhan yang makin parah dari orang-orang kafir yang tidak bermoral. Paulus, yang mewakili generasi perintis penyebar Injil dari masa yang lalu, melimpahkan tanggung jawabnya kepada para pembantunya yang lebih muda dan lebih bersemangat. Beberapa di antaranya, seperti Titus dan Timotius, adalah pengganti-pengganti yang baik, dan yang lain-lainnya, seperti Demas, tidak setia (2Timotius 4:10). Kedua Timotius adalah pesan terakhirnya bagi para pembantu dan sahabatnya sebelum ia menghilang dari sejarah.
--cut--
Isi
Isi surat yang terakhir ini adalah suatu panduan dari ungkapan perasaan pribadi dan kebijaksanaan kepemimpinan gereja, yang berupa kenangan dan perintah, kesedihan, dan keyakinan. Tujuan utamanya adalah untuk memperteguh Timotius untuk menerima tugas berat yang dalam waktu dekat akan dilepaskan oleh Paulus. Ia menguraikan pola penggembalaan jemaat dengan pertama-tama mengingatkan Timotius akan pengalaman pribadinya, dan dengan mengikutsertakan ia di dalamnya, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, ... berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri" (2Timotius 1:9). Berdasarkan panggilan ini, ia mendorong Timotius untuk menerima segala kesulitan seperti seorang prajurit yang maju berperang (2:3), dengan memasrahkan perencanaan strategi pada pimpinannya, dan mengabdi dengan sepenuh hati dan tanpa pernah mengeluh di mana pun tenaganya dibutuhkan. Dalam kehidupan pribadi dan dalam hubungan kemasyarakatan dengan jemaat ia harus berlaku sebagai hamba Tuhan, tidak suka berselisih tetapi selalu siap untuk membantu semua orang memahami kebenaran Tuhan.
Gambaran tentang hari-hari terakhir, seperti paragraf yang serupa dalam 1Timotius 4:1-3, adalah serangkaian ramalan yang melukiskan ciri-ciri dari keadaan yang kelak akan dihadapi gereja. Perisai yang dirumuskan Paulus untuk menahan arus kefasikan adalah pengetahuan akan Kitab Suci "yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" (2Timotius 3:15).
Perintah terakhir (4:1-6) adalah suatu karya yang indah, dan harus dipelajari dengan seksama oleh setiap calon penginjil.