Pelajaran ini membahas tentang hal-hal penting yang berkenaan dengan pengajaran-pengajaran yang ada di Alkitab. Pelajaran Dasar Pengajaran Alkitab ini mencakup beberapa pokok bahasan antara lain pengajaran tentang Alkitab, Tri Tunggal, Setan, Dosa, Keselamatan, Gereja & Pengabdian Kristen, Baptisan, Perjamuan Kudus, dan Akhir Jaman. Dasar Pengajaran Alkitab sangat penting dipelajari karena akan menolong kita mengerti kebenaran-kebenaran yang Allah berikan kepada umat-Nya melalui Firman Tuhan (Alkitab).
Sesudah mengerjakan seluruh pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikan Kursus DPA, maka diharapkan peserta akan dapat:
Berikut ini adalah daftar buku yang dipakai sebagai referensi untuk membantu peserta PESTA mendapatkan penjelasan-penjelasan yang lebih dalam dan luas tentang pokok-pokok materi yang dibahas dalam Kursus DASAR PENGAJARAN ALKITAB. Karena tujuannya adalah untuk melengkapi, maka akan sangat baik jika Anda bisa mengusahakan memiliki buku-buku tsb. dalam bentuk cetaknya untuk kebutuhan di masa y.a.d..
Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Alkitab
Kode Pelajaran : DPA-P01
Daftar Isi
Bacaan Alkitab
Pendahuluan
Doa
Bacaan Alkitab
2 Timotius 3:16.
Dalam pelajaran ini kita akan belajar beberapa kebenaran yang akan membantu Anda menjadi seorang Kristen jika Anda mempercayainya. Kebenaran-kebenaran ini juga akan menolong Anda untuk bertumbuh dalam kehidupan Kristen jika Anda orang yang sudah percaya. Tujuan dari pelajaran-pelajaran ini adalah untuk menolong Anda bertumbuh dalam pengetahuan Anda tentang firman Tuhan.
Pelajaran pertama adalah pengetahuan tentang Alkitab dan bagaimana cara kita mendapatkan Alkitab tersebut. Kita akan mendiskusikan tentang kebenaran Alkitab.
Alkitab disusun dari beberapa buku kecil, yang sudah digabungkan bersama-sama untuk dijadikan suatu buku yang besar. Ketika kita melihat isi Alkitab, kita dapat melihat bahwa Alkitab dibagi menjadi beberapa bagian, dari setiap bagian itu mempunyai nama yang berbeda. Bagian-bagian tersebut dinamakan kitab-kitab. Anda akan melihat bahwa Alkitab diawali dengan Kejadian dan dengan Wahyu. Beberapa tahun yang lalu, ke enam puluh enam kitab tersebut merupakan kitab-kitab yang terpisah. Sekarang kitab-kitab tersebut sudah dikumpulkan untuk membentuk suatu kitab yang besar yang disebut Alkitab.
Alkitab terdiri dari dua bagian besar. Bagian pertama terdiri dari tiga puluh sembilan kitab yang dinamakan Perjanjian Lama. Ini ditulis sebelum Tuhan Yesus lahir. Bagian kedua terdiri dari dua puluh tujuh kitab yang disebut Perjanjian Baru. Ini ditulis setelah Tuhan Yesus lahir.
Alkitab merupakan sebuah buku yang sudah tua. Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab ditulis kira-kira 1500 tahun sebelum Tuhan Yesus lahir. Kitab Wahyu, kitab yang terakhir ditulis kira-kira 100 tahun setelah Tuhan Yesus lahir. Kita dapat mengetahui bahwa Alkitab ditulis dalam jangka waktu lebih dari 1600 tahun. Kitab terakhir dari Alkitab ditulis kira-kira 2000 tahun yang lalu. Alkitab merupakan sebuah buku tua, namun kita akan melihat bahwa berita-beritanya masih benar sampai saat ini, sama seperti saat Alkitab itu ditulis. Kita tahu bahwa Alkitab akan selalu benar dulu, sekarang dan selamanya.
Kira-kira ada empat puluh orang yang menulis Alkitab. Banyak orang yang tidak mengerti ketika kita mengatakan bahwa manusia yang menulis Alkitab, namun Alkitab disebut sebagai firman Allah.
Contoh dibawah ini mungkin dapat membantu. Seseorang ingin menulis surat kepada seorang teman, tetapi dia tidak mengerti bagaimana cara menulis surat. Kemudian dia memanggil seseorang yang dapat menulis dan mengatakan kepadanya apa yang ingin dia katakan. Orang itu yang menulis surat itu. Ketika temannya menerima surat itu, dia akan mengetahui bahwa surat itu dari temannya, meskipun yang menulis surat itu orang lain. Demikianlah kira-kira Alkitab ditulis. Allah berkata kepada orang-orang tentang apa yang ingin Dia katakan kepada seluruh umat di dunia dan orang-orang tersebut menulis pesan Allah tersebut sehingga kita dapat mengetahui kebenaran Allah.
Lihatlah empat alasan mengapa kita percaya bahwa Alkitab itu benar.
Kita percaya bahwa Alkitab itu benar karena menceritakan satu cerita. Misalnya kita harus memilih kira-kira empat puluh orang dan memberikan kepada mereka enam puluh enam lembar kertas. Beberapa dari mereka akan menerima satu lembar sementara yang lainnya akan menerima lebih. Sekarang kita bayangkan bahwa mereka diharuskan menggambar bagian dari suatu gambar di atas kertas mereka masing-masing. Kemudian mereka dikirim ke tempat-tempat yang berbeda supaya mereka tidak bisa bercakap-cakap satu dengan yang lain. Kemudian kita mengumpulkan lembaran-lembaran kertas tersebut. Akan menjadi sesuatu yang aneh bila lembaran-lembaran tersebut akan cocok dan menjadi satu bentuk gambar yang lengkap. Kita akan mengatakan bahwa hal ini tidak akan terjadi, kecuali jika seseorang telah membuat gambar itu dan mengatakan pada yang lain apa yang akan mereka gambar. Demikianlah cara penulisan Alkitab. Allah berfirman kepada orang-orang apa yang harus mereka tulis, dan Alkitab membentuk gambar yang luar biasa akan Allah dan kasih-Nya pada kita.
Kita percaya akan kebenaran Alkitab karena Alkitab sudah membuktikan bahwa dirinya benar. Kita baca dalam sejarah bahwa sesuatu hal terjadi, tetapi saat kita kembali pada Alkitab, kita menemukan bahwa kejadian tersebut sudah dinubuatkan banyak tahun kejadian. Kita tahu bahwa Alkitab adalah benar saat kita mencoba mengetahui kebenarannya. Alkitab mengatakan kepada kita untuk melakukan hal tertentu, dan pada saat kita mencobanya kita menemukan Alkitab berbicara tentang kebenaran.
Allah sudah membuat hati kita supaya dapat mengetahui kebenaran-kebenaran rohani, seperti Dia sudah membuat tangan dan mata kita untuk mengenal hal-hal yang bersifat jasmaniah. Ketika hujan, tangan kita akan merasakan hujan dan mata kita akan melihatnya. Dengan cara yang sama Allah sudah membuat hati kita agar kita dapat merasakan dan melihat kebenaran firman-Nya.
Allah akan menolong kita untuk mengetahui bahwa Alkitab itu benar. Jika kita sungguh-sungguh ingin mengetahui Jalan Tuhan, agar kita bisa mengikutinya, ada janji yang luar biasa yang diberikan dalam Yohanes 7:16-17. "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri," Dengan kata lain, apabila kita benar-benar mencari tentang kebenaran, Allah akan menunjukkan kepada kita.
Allah memberikan Alkitab untuk semua orang. Alkitab bukanlah suatu buku yang hanya diperuntukkan bagi satu negara atau ras manusia. Perjanjian Lama pertama ditulis dalam bahasa Ibrani dan Perjanjian Baru pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani. Dari situ diterjemahkan ke berbagai bahasa. Rencana Allah adalah Alkitab diperuntukkan bagi semua orang dan hal ini diperjelas dalam Matius 28:19-20. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Matius 28:19- 20.
DOA
"Tuhan Yesus, kami sangat bersyukur karena Engkau sudah memberikan Alkitab kepada kami. Terima kasih karena telah membantu kami mengerti kehendak-Mu melalui Firman Tuhan. Kami rindu bisa lebih lagi mengerti apa yang Engkau mau dari hidup kami. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus, Amin"
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain]
Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus
Kode Pelajaran : DPA-P02
Daftar Isi
Bacaan Alkitab
Pendahuluan
Doa
Bacaan Alkitab
Kejadian 1:1, Matius 1:21, Kisah Para Rasul 1:8
Dalam pelajaran ini kita akan mendiskusikan tentang beberapa hal yang sudah kita pelajari tentang Allah dari Alkitab. Kita akan mempelajari nama-Nya, sifat Allah dan tiga pribadi dari satu Allah kita.
Pelajaran ini juga membahas tentang beberapa hal penting tentang Yesus. Kita akan mempelajari Kristus sebagai Tuhan, keberadaan Kristus secara fisik, mempelajari kelahiran-Nya, kehidupan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Kita akan melihat Yesus sebagai manusia dan sebagai Allah.
Kita juga akan membahas tentang pribadi ketiga dari Trinitas yaitu Roh Kudus. Kadang-kadang banyak hal yang salah dimengerti tentang Roh Kudus, tetapi ketika kita mempelajari pelajaran ini, kita akan melihat beberapa hal yang dikatakan Alkitab tentang Roh Kudus.
Ketika kita menggunakan kata Allah, tidak ada pertanyaan tentang artinya. Kita langsung berpikir tentang Allah yang besar, pencipta segala sesuatu.
Allah memberikan diri-Nya sendiri sebuah nama yang dengan nama itu Dia ingin dikenal, "Aku inilah Tuhan. Inilah nama-Ku." Yesaya 42:8. Nama Tuhan adalah suatu nama yang bersifat pribadi. Banyak ilah dengan berbagai nama yang berbeda di sembah di dunia pada saat ini. Tetapi nama Allah yang benar adalah Tuhan. Kata Tuhan dalam bahasa Ibrani, yaitu Yahweh, adalah suatu nama yang menggambarkan sifat Allah. Dalam nama ini, terdapat suatu maksud yang bersifat kekal dan tidak pernah berubah.
Nama Allah adalah kudus. Perintah ketiga dari sepuluh perintah Allah mengatakan, "Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan" Keluaran 20:7.Kita harus berhati-hati dengan tidak menggunakan nama Allah dengan sembarangan seperti dalam bersumpah. Kita bertanggung jawab kepada Allah dalam hal ini.
Di dalam Alkitab kita menemukan beberapa pernyataan mengenai sifat Allah itu.
ALLAH ADALAH ROH
Yesus berkata demikian dalam Yohanes 4:24. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Allah bukanlah manusia dengan tubuh daging. Dia adalah roh yang hidup. Dia terbebas dari semua hal yang dibutuhkan oleh tubuh jasmani. Hal ini sulit bagi pikiran kita untuk mengerti tentang keberadaan Allah.
ALLAH ADALAH TERANG
Ini adalah penjelasan tentang Allah yang diberikan Yohanes: "Allah adalah terang dan di dalam Dia tidak ada kegelapan." 1Yohanes 1:5. Kegelapan adalah suatu gambaran dari ketidakpedulian, kesalahan dan dosa. Terang adalah gambaran dari hikmat dan kemurnian. Allah bijaksana dalam segala hal dan sempurna adanya.
Ada beberapa hal dalam kehidupan kita yang mungkin menyebabkan kita ragu-ragu akan kasih Allah. Tetapi jika Anda mengerti mengapa Allah mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal, Anda tidak akan mempunyai keragu-raguan lagi. Baca Yohanes 3:16 "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Yesus Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Roma 5:8. Kasih Allah adalah sempurna, tidak ada satu orang pun di dalam dunia ini yang mau memberikan nyawanya untuk menggantikan dosa orang lain, selain Yesus.
"Allah itu kekal. Allah itu tak berawal dan tak berakhir. Dia adalah Allah yang kekal. "dari selama-lamanya dan untuk selama-lamanya Engkaulah Tuhan." Mazmur 90:2.
Allah berada di segala tempat dalam waktu yang sama. Hal ini tidak berarti bahwa Dia terpisah secara samar-samar di seluruh dunia, tetapi bahwa Allah secara utuh berada di mana pun dalam waktu yang sama. "Dia tidak jauh dari kita masing-masing sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak dan kita ada." Kisah Para Rasul 17:27-28.
Allah mengetahui semua hal. Dia mengetahui semua di masa lalu, di masa sekarang dan semua hal di masa datang. Dia tahu tentang segala sesuatu dan setiap makhluk. "Sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya semua telah Engkau ketahui, ya Tuhan." Mazmur 139:4.
Allah memiliki semua kuasa. "Satu kali Allah berfirman, dua hal yang kudengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya." Mazmur 62:12. Lebih dari sekali Alkitab berkata bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Ada satu pengertian bahwa Allah adalah Bapa untuk semua orang. Allah adalah Bapa untuk semua orang hanya dalam pengertian bahwa Ia adalah pencipta dan pemelihara semua orang. Ada beberapa orang yang menafsirkan kebenaran ini sebagai bukti bahwa semua orang akan diselamatkan dan masuk Kerajaan Allah. Hal itu tidak benar.
Ketika seseorang masuk ke dalam kelahiran baru bersama Allah, melalui Yesus Kristus, maka Allah menjadi seperti Bapa mereka di surga. "Tetapi semua orang yang menerimanya diberikannya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah." Yohanes 1:12.
Ada tiga pribadi dalam satu Allah yang disebut Trinitas. Hal ini berarti bahwa Allah dinyatakan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Masalah ini sulit dimengerti, tetapi hal ini diajarkan dengan jelas dalam Alkitab. Kita jangan pernah berpikir bahwa sesuatu tidak bisa benar hanya karena kita tidak bisa mengertinya secara utuh. Pengajaran-pengajaran tentang Trinitas mungkin tidak bisa sepenuhnya dimengerti, tetapi bisa sepenuhnya diterima dan dipercayai, karena diajarkan dengan jelas dalam Alkitab.
Kita diajarkan bahwa Yesus dan Bapa adalah satu: "Aku dan Bapa adalah satu" Yohanes 10:30. "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau; berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?" Yohanes 14:9.
Kita diajarkan bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah satu. Ketika Yesus mengajarkan tentang kedatangan Penghibur, yaitu Roh Kudus, Dia membuat keberadaan Roh Kudus sama dengan keberadaan-Nya sendiri. "Dan aku akan meminta kepada Bapaku dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain supaya Ia menyertai kamu yaitu Roh Kebenaran." Yohanes 14:16-17.
Kita diajarkan bahwa Allah dan Roh Kudus adalah satu. Petrus mengajar bahwa dusta terhadap Roh Kudus berarti dusta kepada Allah: "Tetapi Petrus berkata: Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian hasil dari penjualan tanahmu? Engkau bukan mendustai manusia tetapi mendustai Allah." Kisah Para Rasul 5:3-4.
Ketika kita merenungkan ayat-ayat di atas, kita melihat Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu. Mungkin ilustrasi berikut ini dapat menjelaskan bagaimana seseorang bisa menjadi tiga dan tiga bisa menjadi satu. Bayangkan seorang pria. Adalah sesuatu yang mungkin jika seorang pria bisa menjadi seorang anak, suami dan ayah pada waktu yang sama. Namun dia tetap satu. Pria tersebut dinyatakan (diketahui) dengan tiga cara. Allah adalah satu Allah, namun Dia telah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.
Keberadaan Kristus tidak dimulai dari kelahiran-Nya. Dia sudah ada pada masa lampau yang kekal.
Fakta yang menyebutkan bahwa Kristus ada sebelum Dia datang ke dunia dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Hanya ada sedikit bagian yang dapat di kutip di sini. Kita mulai dengan Yohanes 1:1-2 "Pada mulanya adalah firman; firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah." Paulus menyatakan dalam Kolose 1:16-17, bahwa segala sesuatu diciptakan oleh-Nya: "karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu... Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."
Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia ada sebelum Dia datang ke dunia. Lebih dari sekali Yesus berbicara mengenai keberadaan-Nya pada masa lampau yang kekal. Pada orang-orang Yahudi yang tidak percaya Dia berkata: Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku ada." Yohanes 8:58. Abraham hidup sekitar 2.000 tahun sebelum Yesus lahir, meskipun demikian, Yesus tetap membuat pernyataan tersebut. Juga, dalam salah satu doa-Nya, Yesus berkata, "Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada" Yohanes 17:5.
Yesus, Anak Allah yang Kekal, datang ke dunia dan mengambil rupa seorang manusia. "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" Yohanes 1:14. Dua natur Yesus adalah :
YESUS ADALAH MANUSIA SEJATI
Yesus menyebut diri-Nya sendiri seringkali dengan sebutan "Anak Manusia." Seluruh cerita Alkitab menampilkan Dia sebagai manusia. Dia hidup seperti manusia. Tubuh-Nya bertumbuh: "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." Lukas 2:52.
YESUS ADALAH ALLAH YANG SEJATI
Yesus bukan hanya Anak Manusia, Dia juga Anak Allah. Dia sendiri mengatakan bahwa Dia adalah Anak Allah: "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." Yohanes 14:9b. "Aku dan Bapa adalah satu." Yohanes 10:30.
Yesus bersifat ilahi karena kelahiran-Nya adalah bersifat ilahi. Tidak pernah ada kelahiran bayi seperti bayi Yesus di Betlehem. Matius mengatakan: "Kelahiran Yesus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri." Matius 1:18. Barangsiapa menyangkal kelahiran Yesus dari seorang perawan, dia menyangkal kebenaran Firman Allah.
Kita mengetahui bahwa Yesus adalah bersifat ilahi karena hidup-Nya. Yesus hidup dalam kehidupan yang sempurna. Penulis kitab Ibrani berkata tentang Dia: "...sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" Ibrani 4:15.
Kita mengetahui bahwa Yesus bersifat ilahi karena hal-hal yang diajarkan-Nya. Ketika orang-orang dikirim dari Yerusalem untuk menangkap Yesus dan membawa Dia di hadapan para hakim, mereka kembali tanpa mendapatkan Yesus. Ketika mereka ditanya mengenai kegagalan mereka, mereka menjawab: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu." Yohanes 7:46.
Kita mengetahui bahwa Yesus adalah bersifat ilahi karena kemuliaan kebangkitan-Nya. Paulus menyatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah merupakan bukti yang nyata dari keilahian-Nya: "tentang anak-Nya yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita." Roma 1:3-4.
Penyaliban Kristus adalah merupakan kejahatan yang terburuk sepanjang masa. Tetapi, hal ini adalah merupakan pernyataan yang luar biasa akan kasih Allah: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih- Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Roma 5:8.
Kematian Kristus di kayu salib menunjukkan kasih Allah. Yesus tidak disalibkan karena Dia tidak berdaya di tangan musuh-musuh-Nya. "oleh karena Aku memberikan nyawaku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri." Yohanes 10:17-18.
Yesus Kristus mati untuk kita, dan menggantikan tempat kita. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." 2Korintus 5:21.
Yesus mati sekali untuk seluruh umat manusia. Tidak akan ada Juruselamat yang lain karena dunia tidak akan perlu Juruselamat yang lain. "Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada jaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban- Nya.... demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang." Ibrani 9:26-28.
Yesus mati di atas kayu salib dan dikuburkan di kuburan milik Yusuf Arimatea. Tetapi Dia tidak mati hari ini! Pada hari yang ke tiga dia bangkit dari kubur dan hidup selamanya. "Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia." Roma 6:9.
Kebangkitan Kristus melengkapi pekerjaan di atas kayu salib. Kristus yang mati tidak bisa menjadi Juruselamat. Kebangkitan-Nya memberikan jaminan bahwa Allah sudah menerima karya-Nya yang dahsyat di atas kayu salib. Paulus mengatakan: "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." 1Korintus 15:17.
Kebangkitan Kristus memberikan bukti tentang kehidupan di atas kematian. Selama bertahun-tahun seluruh manusia mencoba menemukan bukti yang nyata tentang kekekalan. Paulus berkata, "dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa." 2Timotius 1:10.
Kebangkitan Kristus memberikan janji tentang bagaimana cara orang- orang yang mengikut Kristus nantinya dibangkitkan. "Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya" Filipi 3:20- 21.
Alkitab menyatakan Roh Kudus sebagai suatu pribadi dan bukan hanya sebagai pengaruh atau kuasa atas pekerjaan di dunia. Roh Kudus dinyatakan seperti suatu pribadi yang sedang melakukan pekerjaan. Dia memberi kesaksian, Dia membetulkan, Dia menghibur, Dia mengajar, Dia membimbing, Dia berusaha keras, dan Dia menolong. Kata-kata seperti tersebut di atas hanya dapat digunakan dalam hubungannya dengan suatu pribadi. Sebagai suatu pribadi, Roh Kudus dipengaruhi oleh perbuatan orang lain. Oleh sebab itu, jika orang percaya hidup dalam kebenaran Firman Tuhan maka Roh Kudus aktif berkarya dalam diri orang tersebut, tetapi jikalau tidak maka Roh Kudus berperan pasif, atau biasa disebut "mendukakan Roh Kudus", Efesus 4:30.
Roh Kudus adalah Allah. Ketika menegur Ananias, Petrus berkata: "Mengapa hatimu dikuasai Iblis sehingga kamu mendustai Roh Kudus?" Kisah Para Rasul 5:3. Dikatakan bahwa Roh Kudus ada di mana-mana. Digambarkan memiliki kuasa yang besar dalam 1Korintus 12:11. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Roh Kudus mengerjakan pekerjaan Allah. Dia menginsyafkan akan dosa. Dia membawa kehidupan yang baru ketika Dia masuk ke dalam hati. Dalam Roma 8:11 mengatakan bahwa kebangkitan adalah merupakan karya dari Roh Kudus. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus di antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
Sebelum dunia diciptakan, Roh Kudus sudah ada.
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air" Kejadian 1:1-2."
Kita mempunyai catatan tentang kejadian yang besar ini dalam Kisah Para Rasul 2:1-4. "Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah- lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya"
Karya Roh Kudus dalam setiap pribadi adalah sebagai berikut:
Roh Kudus menginsyafkan akan dosa seseorang. Dia menyatakan dosa dan hukuman atas dosa tersebut pada seseorang. Dia membuat seseorang tahu bahwa dia telah bersalah di hadapan Allah.
Roh Kudus memimpin orang yang berdosa pada jalan keselamatan. Ketika seseorang diinsyafkan akan dosanya, dia mungkin akan melakukan satu atau dua hal: dia mungkin mengeraskan hatinya dan menolak Roh Kudus, atau dia mungkin membuka hatinya dengan iman dan mengijinkan Roh Kudus masuk. Ketika seseorang membuka hatinya, maka Roh Kudus akan masuk dan melakukan pekerjaan anugerah yang disebut kelahiran baru.
Roh Kudus menolong orang Kristen untuk bertumbuh dengan kuat dan menjadi seperti Yesus. Dia menolong orang Kristen untuk menjadi semakin kudus. Pertumbuhan ini hanya terjadi jika kita mendengar Roh Kudus dan melakukan apa yang Dia katakan kepada kita untuk melakukannya.
Roh Kudus adalah penolong yang agung bagi hati manusia. Dia tidak pernah berhenti berusaha untuk membimbing dan menghibur.
Roh Kudus menyatakan kebenaran pada akal dan hati orang percaya.
Roh Kudus memberikan jaminan bagi orang-orang Kristen bahwa mereka adalah anak Allah.
Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa Roh Kudus tinggal di hati para orang percaya. Tubuh orang percaya disebut bait Roh Kudus. Roh Kudus membangun gereja yang terdiri dari orang-orang percaya. Roh Kudus membimbing gereja untuk melakukan hal-hal yang lebih besar bagi Allah. Yesus berjanji pada para murid bahwa mereka akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun atas mereka. Tanpa Roh Kudus, gereja merupakan suatu organisasi yang lemah dan tak berdaya.
Roh Kudus bekerja di hati orang yang tidak percaya juga. Dia datang ke dunia untuk menginsyafkan akan dosa. "Akan dosa karena mereka tetap tidak percaya kepadaku" Yohanes 16:9. Roh Kudus menerangkan kepada orang yang tidak percaya akan kenyataan dosa. Dia menunjukkan bahwa dosa yang terbesar dari semuanya adalah dosa karena ketidakpercayaan. Roh Kudus menginsyafkan kebenaran. "Akan kebenaran, karena aku pergi kepada Bapa, dan kamu tidak melihat aku lagi." Yohanes 16:10. Tidak ada seorang pun yang mengakui adanya kebenaran dalam dirinya, karena semua orang telah berbuat dosa.
Roh Kudus memberitahukan seseorang akan penghakiman Allah yang akan datang. "Akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum" Yohanes 6:11. Dosa membawa penghakiman. Hal ini dibuktikan dengan penghakiman yang dijatuhkan atas Setan.
Buah-buah Roh Kudus disebutkan dalam Galatia 5:22-23.
Buah-buah yang pertama nampak dalam kehidupan batin: kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Kasih yang dibicarakan di sini bukanlah perasaan nafsu yang sering disebut cinta. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih luas dan lebih tinggi daripada cinta. Ini adalah hal yang mendasar dalam kehidupan, sesuatu yang hanya dapat diberikan oleh Roh Kudus.
Buah-buah yang kedua nampak dalam kehidupan yang bisa dilihat: kesabaran, kebaikan, kemurahan. Kesabaran berarti tetap tenang pada saat mengalami sesuatu yang tidak benar atau ketidakadilan. Ini adalah suatu kemampuan untuk menerima penghinaan tanpa merasa sakit hati, dan tetap menjaga sikap kita ketika ejekan dan fitnah diberikan.
Buah-buah yang ketiga nampak dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri: kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Kesetiaan berarti ketaatan kepada Allah dan kepada manusia. Kelemahlembutan tidak berarti kelemahan. Tuhan Yesus lemah lembut, tetapi Dia bukanlah seorang yang lemah. Hal yang terakhir adalah penguasaan diri. Merupakan hal yang sulit untuk mengendalikan diri sendiri. Kita harus melawan nafsu dan hal-hal yang jahat dalam sifat alamiah kita. Kita sering kalah. Satu-satunya kuasa yang dapat memberikan kemenangan atas kejahatan adalah Roh Kudus.
DOA
"Bapa, kami sadar bahwa keberadaan-Mu sempurna. Engkau selalu ada bagi kami, manusia yang Kau tebus ini. Engkau memperhatikan, menyelamatkan dan menghibur kami. Kami ingin lebih dekat lagi pada-Mu Tuhan. Amin."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain]
Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Setan, Dosa dan Keselamatan
Kode Pelajaran : DPA-P03
Daftar Isi
Bacaan Alkitab
Pendahuluan
Doa
Bacaan Alkitab
Roma 3:23, Ibrani 2:3.
Ada banyak pertanyaan yang diajukan tentang setan yang tidak bisa dijawab karena Allah memilih tidak mengatakannya pada kita. Tetapi keterangan yang cukup telah diberikan dalam Alkitab untuk menjawab beberapa pertanyaan yang umum dan memberikan pengertian pada kita tentang musuh rohani kita tersebut.
Manusia, karena pilihannya sendiri, telah berdosa kepada Allah. Dia memerlukan keselamatan. Melalui hidup, kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah membuka jalan keselamatan untuk semua manusia. Tetapi, hal ini tidak berarti bahwa semua manusia akan diselamatkan. Beberapa syarat tertentu harus dipenuhi sebelum seseorang dapat diselamatkan.
Alkitab mengatakan bahwa ia adalah kepala dari roh-roh jahat, yang jumlahnya banyak sekali. Dari mana mereka berasal, kita hanya memiliki sedikit keterangan. Dari beberapa bagian Alkitab yang menjelaskan segala sesuatu tentang mereka, kita percaya bahwa mereka diciptakan pertama kali tanpa dosa. Dibawah kepemimpinan setan, mereka memberontak melawan Allah dan diusir dari hadirat-Nya.
Alkitab berbicara tentang kejatuhan mereka: "Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar." Yudas 1:6. Petrus berkata, "Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman." 2Petrus 2:4.
Setan menjadi musuh Allah dan memimpin tentaranya untuk melawan Allah dengan berbagai cara yang mungkin. Karena itu, ketika Allah menciptakan manusia, iblis berusaha untuk menghancurkan manusia.
Namanya berarti bahwa dia adalah seorang musuh. Dia menentang Allah dan semua yang mau mengikuti Allah. Dia mencobai, dia menipu, dan dia mencari orang-orang yang bisa ditarik ke neraka bersama-sama dia. Dia bekerja hanya untuk dirinya sendiri.
Hukuman yang kekal adalah merupakan akhir dari setan dan semua yang mengikuti dia. "Dan iblis yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya." Wahyu 20:10. Dan Ia akan berkata juga pada mereka yang ada di sebelah kiri-Nya, ‘Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah tersedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya" Matius 25:41.
Sebelum kita belajar tentang permulaan dosa, kita perlu melihat jawaban dari satu pertanyaan yang umum. Mengapa Allah yang Mahakuasa, yang membenci dosa, mengijinkan dosa masuk ke dalam dunia? Jika Allah hendak menciptakan manusia yang bisa memberikan pada-Nya kasih dan ketaatan yang sejati, manusia tersebut pasti juga diberi kuasa untuk memilih, yaitu membenci dan tidak taat kepada Allah atau mengasihi dan mentaati Allah.
Allah tidak memberikan kesempatan pada dosa di Taman Eden, tetapi memberikan kesempatan pada manusia untuk memilih menjadi taat atau tidak taat kepada-Nya. Dia melakukan demikian supaya manusia dapat memilih untuk mengasihi dan mentaati Dia. Tetapi ketika manusia memilih untuk tidak taat, maka dosa masuk ke dalam dunia.
Bacalah dengan seksama Kejadian 2:8 sampai Kejadian 3:24. Ayat-ayat tersebut, yang menceritakan tentang dosa yang pertama, membantu kita untuk mengerti berbagai hal tentang dosa.
Apakah dosa itu? Dosa adalah penolakan terhadap kehendak Allah sehingga seseorang tidak melakukan apa yang seharusnya menjadi kehendak Allah. Inilah apa yang sesungguhnya dilakukan Adam dan Hawa. Mereka mengetahui kehendak Allah tetapi mereka memilih untuk menolaknya sehingga mereka bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Segala sesuatu yang menghalangi antara Allah dan kita adalah dosa.
Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita membaca bahwa semua orang telah berbuat dosa. Salomo mengatakan, "Karena tidak ada manusia yang tidak berdosa." 1Raja-raja 8:46. Yohanes berkata: "Jika kita berkata bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita." 1Yohanes 1:10. Roma 3:23 berkata: "Sebab semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah"
"Semua" adalah sebuah kata yang pendek, tapi kata ini mencakup semua manusia dari semua generasi yang dikenal dunia. Kata ini menjangkau seberang lautan dan benua dan termasuk seluruh umat manusia di dunia pada saat ini. Kata ini juga menjangkau sampai akhir jaman dan mencakup seluruh generasi yang belum datang.
Ini bukan hanya kesaksian dari Alkitab. Ini juga merupakan hal yang kita alami. Tidak pernah terdapat seorang pria atau wanita yang betul-betul murni dan benar. Tak seorang pun kecuali Yesus yang pernah hidup tanpa dosa. Mereka yang sudah mencapai pertumbuhan Kristiani yang paling tinggi sekalipun, pasti masih bisa mengakui kegagalan dan dosa mereka. Tidak semua orang telah berbuat dosa yang sama. Beberapa orang telah masuk ke dalam dosa yang lebih dalam dari yang lain. Meskipun demikian, tidak ada seorang pun yang tanpa dosa.
Satu kata yang paling sesuai untuk menyebutkan akibat dosa adalah kematian. Dosa adalah pelanggaran akan hukum Allah. Hukum Allah disertai dengan hukuman kematian/maut. Kepada Adam dan Hawa Dia berkata, "tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Kejadian 2:17. Ada dua macam kematian, dan keduanya adalah merupakan akibat dosa.
Kematian Jasmani.
Salah satu bagian dari hukuman atas dosa adalah kematian tubuh. Seandainya tidak ada dosa, maka tidak akan ada kematian jasmani. Allah sudah menyediakan sesuatu yang luar biasa, seandainya mereka lepas dari maut dan tidak berbuat dosa. Allah menempatkan pohon kehidupan di taman Eden. Sesungguhnya mereka bisa memakan buahnya dan mendapat hidup kekal. Tetapi, mereka malah makan buah dari pohon yang terlarang. Mulai saat itu dan sampai hari ini, maut menguasai dunia. Semua yang tinggal di bumi akan mati.
Kematian Rohani.
Maut bukanlah suatu kepunahan, melainkan suatu pemisahan dengan kebinasaan yang menyertainya. Kematian fisik berarti pemisahan antara jiwa dan raga. Kematian jasmani ini berakhir dengan pemisahan yang kekal dengan Allah, hukuman yang kekal atas jiwa, jika manusia tidak datang kepada Allah. "dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Allah dan dari kemuliaan kekuatan-Nya." 2Tesalonika 1:8-9.
Kebinasaan yang kekal dari jiwa ini disebut sebagai kematian yang kedua. Ada satu kematian pertama dan ada satu kematian kedua, seperti juga ada satu kelahiran yang pertama dan satu kelahiran yang kedua. Ada satu kelahiran jasmani dan satu kelahiran rohani. Keduanya yaitu kelahiran tubuh kita dan kelahiran baru bagi jiwa kita. Seperti juga kelahiran, ada satu kematian yang pertama dan satu kematian yang kedua yaitu kematian tubuh dan kematian jiwa. Keduanya adalah akibat dosa. Kelahiran secara rohani adalah lebih mulia daripada kelahiran jasmani. Tetapi kematian jiwa (secara rohani) adalah lebih mengerikan dari pada kematian jasmani.
Ada dua bagian dalam keselamatan: bagian ilahi dan bagian manusiawi; bagian Allah dan bagian manusia. Bagian ilahi adalah kelahiran baru yang diberikan oleh Roh Allah dalam hati orang percaya. Kita menyebutnya pengakuan iman yang baru dan ini sebagai bagian manusia. Pengakuan iman yang baru berarti perubahan arah. Ketika seseorang mengalami pengakuan iman yang baru, jalan hidupnya berubah. Ada dua tahap pengakuan iman:
Pertobatan
Sebelum seseorang dapat diselamatkan, dia harus bertobat atas dosa-dosanya. Apakah pertobatan itu?
Pertobatan adalah lebih dari sekedar kesadaran. Tak seorang pun dapat diselamatkan sampai dia merasa sadar akan dosa-dosanya dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Lihatlah perbedaan antara orang Farisi dengan pemungut cukai. Orang Farisi tersebut tidak melakukan apa-apa. Dia seorang yang berdosa, tetapi dia tidak merasa sadar akan dosa-dosanya. Pemungut cukai itu berteriak: "Ya, Allah, kasihanilah aku, orang yang berdosa." Lukas 18:13. Dia menyadari keadaannya yang berdosa dihadapan Allah.
Pertobatan adalah lebih daripada perasaan berdukacita, menderita karena dosa. Banyak orang yang merasa berdukacita karena dosa mereka, namun mereka tidak bertobat. Alkitab berkata tentang dua macam dukacita; yaitu dukacita ilahi dan dukacita dunia: Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 2Korintus 7:10.
Pertobatan adalah perubahan pikiran tentang dosa dan dalam hubungannya dengan Allah, dan tentu saja, perubahan hidup. Pertobatan adalah berbalik dari dosa dalam takut akan Allah. Meskipun demikian, sekedar perubahan bukanlah berarti pertobatan yang sejati. Seseorang mungkin berubah karena berbagai alasan. Pertobatan yang sejati adalah merupakan pengalaman batin yang nampak dalam perubahan yang bisa dilihat dari cara hidup seseorang.
Pertobatan adalah penting. Ini bukanlah keselamatan, tetapi merupakan sesuatu yang menyertai keselamatan. Keselamatan tidak akan terjadi tanpa pertobatan.
Ketika seseorang sungguh-sungguh bertobat, dia tidak hanya memutuskan untuk tidak melanjutkan berbuat dosa, tetapi juga memperbaiki dosa-dosanya di masa lampau seperti yang dilakukan Zakheus dalam Lukas 19:8. Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
Bagian yang kedua, setelah pertobatan adalah:
Iman
Iman yang membawa keselamatan bukanlah iman terhadap sebuah buku, bahkan meskipun buku tersebut adalah Alkitab. Juga bukanlah iman kepada sebuah syahadat, bagaimanapun bagusnya syahadat tersebut. Ini bukanlah iman kepada sebuah lembaga, meskipun lembaga tersebut adalah gereja. Iman yang menyelamatkan adalah iman kepada Tuhan Yesus Kristus Anak Allah.
Ada beberapa unsur iman.
Adanya kepercayaan. Ini disebut bagian intelektual dari iman. Supaya dapat diselamatkan, seseorang harus percaya sesuatu. Selanjutnya, karena imannya adalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dia harus percaya sesuatu tentang Kristus. Dia harus percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang sejati yang datang ke dunia untuk hidup tanpa dosa, mati karena dosa-dosa kita dan bangkit kembali dari antara orang mati untuk menjadi Juruselamat bagi semua orang berdosa yang mau percaya. Sebagai contoh, ada seseorang yang terjatuh ke jurang, kemudian tim sar menawarkan pertolongan dengan cara mengulurkan tali kepada orang tersebut. Pada saat itu, orang yang terjatuh ke jurang harus membuat pilihan, apakah percaya bahwa tim sar dapat menyelamatkan dia melalui tali, atau tidak percaya dan menolak pertolongan tim sar. Begitu juga dengan orang yang ingin diselamatkan, apakah memilih untuk percaya pada Yesus yang menawarkan keselamatan atau menolak-Nya.
Harus ada penerimaan. Agar diselamatkan, seseorang harus menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya pribadi. Dia harus mengakui sendiri karya keselamatan Kristus. Seseorang mungkin percaya bahwa makanan dapat menjaga tubuh tetap hidup, tetapi dia akan kelaparan sampai mati jika tidak memakan makanan tersebut.
Iman termasuk di dalamnya penyerahan. Iman yang menyelamatkan bukan hanya kepercayaan kepada Kristus dan penerimaan Kristus sebagai Juruselamat, tetapi juga penyerahan kepada Kristus. Seseorang yang sadar akan dosanya, sadar juga bahwa dia adalah seseorang yang terhilang. Dia mencari Yesus Kristus, harapan keselamatan satu- satunya dan menyerahkan dirinya sendiri kepada Dia sebagai Tuhan atas hidupnya.
Untuk hal yang sangat penting ini perlu adanya pemikiran yang jernih dan perhatian yang serius pada Alkitab, karena dalam hal ini banyak orang yang membuat kesalahan.
Keselamatan adalah suatu karunia.
"tetapi karunia Allah, ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus Tuhan kita" Roma 6:23. Perbuatan yang baik tidak akan menyelamatkan kita. Kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan yang baik. Perbuatan baik adalah wujud ucapan syukur kita pada Allah karena telah memberikan keselamatan pada kita. Hal ini sudah menjadi suatu pelajaran yang sulit dipelajari bagi orang-orang. Mereka sudah berusaha keras untuk mendapatkan keselamatan dengan perbuatan baik atau kehidupan mereka yang baik.
Seseorang harus memiliki pengalaman keselamatan secara pribadi.
Banyak orang yang mungkin diselamatkan pada waktu yang sama, tetapi setiap orang harus mengalami keselamatan untuk dirinya sendiri. "Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah." Roma 14:12. Setiap orang bisa berbicara secara pribadi kepada Allah. Orang tersebut tidak perlu seorang pendeta atau sponsor untuk mendekatkan diri kepada Allah. Setiap orang harus bebas untuk membaca dan mengerti firman Tuhan untuk dirinya sendiri. Dia harus bebas menyembah Tuhan sesuai dengan bimbingan Tuhan dalam hatinya.
Keselamatan ada Tiga Tahap.
Ada tahap permulaan, tahap pertumbuhan dan kemudian ada pengalaman akhir yang membawa kita untuk hidup bersama Allah. Ada keselamatan dari rasa bersalah karena dosa, keselamatan dari kuasa dosa, dan akhirnya, keselamatan dari kehadiran dosa.
Keselamatan Berlangsung Selama-lamanya.
Ketika seseorang sungguh- sungguh diselamatkan, keselamatannya itu berlangsung untuk selama- lamanya. Hal ini benar oleh karena Allah telah menjanjikannya; lebih dari itu, arti dari kata-katanya menyatakannya juga. Keselamatan berarti kelahiran baru. Pada waktu orang diselamatkan, ia lahir dari Allah. Ini merupakan suatu pengalaman bagi setiap orang. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, kita menerima karunia hidup yang kekal, sebab kita sudah menjadi anak- anak Allah.
Keselamatan Disediakan Bagi Setiap Orang.
Kasih Allah akan isi dunia ini membuat Dia mengirim Anak-Nya ke dunia. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" Yohanes 3:16.
DOA
"Tuhan Yesus, saya ingin sekali menjadi bagian dalam kerajaan-Mu yang kekal dan menikmati keselamatan dari Engkau. Oleh sebab itu, saya mau untuk bertobat, meninggalkan kehidupan saya yang lama dan menuju pada kehidupan yang baru bersama Engkau. Terima kasih atas perlindungan dari-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus saya berdoa, AMIN."
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain]
Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Gereja dan Pengabdian
Kode Pelajaran : DPA-P04
Daftar Isi
Bacaan Alkitab
Pendahuluan
Doa
Bacaan Alkitab
Matius 16:18, Lukas 12:42.
Ketika seorang ahli bangunan membangun sebuah rumah, dia harus mengikuti rencana yang sudah di gambar. Allah dalam Perjanjian Baru telah menunjukkan kepada kita rencana-Nya tentang gereja. Kita harus mengikuti rencana-Nya dengan benar jika kita akan membangun sebuah gereja yang dapat menyenangkan hati Allah.
Dalam Perjanjian Baru kata "gereja" ditulis seratus empat belas kali. Seringkali kata tersebut menunjuk kepada suatu kelompok orang Kristen yang tinggal dan berbakti di suatu tempat tertentu. Tetapi beberapa kali kata tersebut digunakan untuk mengartikan semua orang percaya yang sungguh-sungguh dan sudah dilahirkan kembali. Kalau kata "gereja" digunakan dengan cara ini, maka kita berpikir bahwa gereja adalah sebagai kerajaan Allah.
Waktu kita mempelajari tentang gereja, kita akan berpikir tentang gereja setempat, atau para orang percaya di suatu tempat yang diatur secara organisasi.
Dalam pelajaran ini, kita juga akan melihat pada apa yang Allah harapkan dari seorang Kristen. Kita akan mempelajari tentang apa yang Dia ingin kita lakukan dengan hidup kita. Kita tidak akan melupakan apa yang sudah Dia berikan di dunia untuk membuat hidup kita lebih baik. Sebagai seorang kristen, seharusnya kita memberikan uang, diri, waktu dan segala hal dalam hidup kita kepada Tuhan, sebagai wujud pengabdian kita pada Tuhan.
Gereja setempat bisa didefinisikan (local) sebagai kelompok dari orang-orang percaya yang dibaptiskan, yang bergabung bersama-sama secara sukarela, diatur berdasarkan pola Perjanjian Baru, dan hidup dalam ketaatan kepada Kristus.
Secara umum ada tiga tugas gereja yaitu Koinonia, Diakonia dan Marturia. Koinonia berarti gereja dipanggil untuk bersekutu, diakonia berarti gereja dipanggil untuk melayani dan marturia berarti gereja dipanggil untuk menjadi saksi.
Ada beberapa syarat yang disebutkan dalam Perjanjian Baru tentang keanggotaan gereja.
Para anggota harus sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat. Seluruh anggota gereja mengakui bahwa sudah dilahirkan kembali dan sudah pindah dari maut ke dalam hidup melalui Yesus Kristus. Anggota gereja berbeda dengan orang-orang yang lain, dalam hal mereka telah memiliki jaminan hidup yang kekal. Tidak ada seorang pun yang pernah dilahirkan ke dalam gereja. "Dan setiap hari Allah menambahkan jumlah orang-orang yang diselamatkan." Kisah Para Rasul 2:47.
Para anggota harus dibaptis. Dari inilah suatu gereja dibentuk yaitu dari suatu kelompok orang-orang percaya yang sudah dibaptiskan! Tidak ada catatan dalam Perjanjian Baru dimana para anggota gereja tidak dibaptiskan. "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis" Kisah Para Rasul 2:41.
Para anggota harus taat. Tuhan Yesus berkata, "Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu." Yohanes 14:15. Anggota gereja bukan hanya mau untuk mempelajari apa yang Tuhan Yesus ajarkan, tapi mereka juga harus bersedia mentaati perintah- perintah-Nya.
Apakah pola Perjanjian Baru bagi organisasi gereja? Ada dua sifat yang pokok:
Gereja Perjanjian Baru bersifat demokratis.Gereja Perjanjian Baru memiliki keanggotaan yang bersifat sukarela. Gereja terbentuk dari orang-orang yang bergabung dalam persekutuan gereja tersebut karena mereka ingin. Tidak ada seorang pun yang menjadi anggota gereja karena kelahiran. Tak seorang pun yang menjadi anggota gereja karena bertentangan dengan kehendaknya.
Setiap anggota dari gereja Perjanjian Baru mempunyai kesempatan yang sama. Setiap orang memiliki hak yang sama juga. Yang tua dan yang muda, yang kaya dan yang miskin, yang berpendidikan dan yang tidak semua adalah sama. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk memegang kekuasaan gereja.
Kepala gereja Perjanjian Baru adalah Tuhan Yesus Kristus. Kristus melalui Roh Kudus akan memimpin setiap orang Kristen dan mengarahkan tubuh gereja.
Gereja Perjanjian Baru bersifat mengatur dirinya sendiri. Tidak ada kekuasaan di atas satu gereja. Setiap satu gereja, dibawah pimpinan Allah, mengatur urusannya sendiri.
Gereja Perjanjian Baru adalah sebuah organisasi yang bebas.Bebas dalam hubungannya dengan gereja lain. Tidak ada gereja, yang meskipun kuat dan berpengaruh, mempunyai wewenang atas gereja lain yang mungkin kecil.
Bebas dalam hubungannya dengan pemerintah. Pemerintah tidak dapat mengendalikan suatu gereja. Tidak ada gereja yang mencoba mempunyai wewenang atas pemerintah.
Kata gembala, penatua, dan pendeta, digunakan secara bergantian dalam Perjanjian Baru. Dalam Kisah Para Rasul 20:17, Paulus memanggil para penatua gereja di Efesus. Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. Dalam ayat 28 dia mengatakan kepada mereka bahwa Roh Kudus telah membuat mereka sebagai penjaga (pendeta).
Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak- Nya sendiri. Dia juga mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan memberi makan (menggembalakan) gereja. Mungkin pertanyaan ini akan muncul, "Siapa yang seharusnya menjadi gembala gereja?" Seorang gembala haruslah seorang yang merasa dipimpin oleh Allah untuk tanggung jawab semacam ini. Kita menjumpai syarat-syarat yang diberikan Allah dalam 1Timotius 3:1-7 dan Titus 1:7-9.
Diaken.Gereja Perjanjian Baru juga memiliki diaken-diaken. Syarat-syarat dari diaken terdapat dalam 1 Timotius 3:8-13. Mereka pertama kali dipilih dalam Kisah Para Rasul 6. Para diaken akan menjadi pelayan yang membantu melaksanakan pekerjaan Kristus di dalam dan melalui gereja. Sebagai pemimpin rohani, mereka dihormati tetapi hal ini sama sekali tidak memberi mereka wewenang untuk mencoba menguasai gereja.
Hal pertama yang hendak kita lakukan adalah melihat arti dari kata ini, yaitu pengabdian. Sebenarnya, seorang abdi adalah penjaga atau pengatur sebuah rumah, atau pengawas dari sebuah bangunan. Dia adalah orang yang mempekerjakan para pembantu, yang bertanggung jawab jika ada acara resepsi, dan yang mewakili tuannya dalam urusan bisnis atau dalam pengadilan.
Fakta yang mengatakan bahwa Allah adalah pencipta dan pemilik segala sesuatu dan bahwa manusia adalah seorang abdi sudah disebutkan secara jelas dalam Alkitab. Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, semua hukum, Kitab Injil, dan perintah-perintah Allah mengajarkan kebenaran-kebenaran ini.
Pelayanan Kristen menjadi berarti apabila seorang Kristen setuju dengan ketiga hal berikut ini:
Allah memiliki segala sesuatu, termasuk hidupnya.
Dia bertanggung-jawab kepada Tuhan tentang bagaimana dia menggunakan hidup dan kepunyaannya.
Dia bersedia mencari petunjuk Tuhan jika dia ingin mencoba untuk menjadi abdi yang baik.
Pengabdian dalam Perjanjian Lama adalah suatu hal terpenting dalam agama Yahudi. Umat harus menjadi abdi-abdi yang baik dari suatu hukum dan hal-hal yang lain. "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau? Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan dirumah-Ku, dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." Maleakhi 3:8-10.
Pengabdian yang diajarkan oleh Yesus. Tentu saja, Yesus membayar persepuluhan, karena Dia menggenapi hukum sebelumnya. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." Matius 5:17. Yesus setuju dengan adanya persepuluhan, tetapi pada saat yang sama Dia mengingatkan orang- orang bahwa ada satu hal yang lebih penting dalam melaksanakan ibadah yang sejati yang lebih dari sekedar memberikan persembahan persepuluhan. Dia mengatakan, "Tetapi celakalah kamu, hai orang- orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, minggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan." Lukas 11:42.
Pengabdian seperti yang diajarkan dalam surat-surat yang ditulis para rasul. Orang-orang Kristen hendaknya mendukung gembala mereka sehingga dia bisa memberikan seluruh waktunya mengerjakan pekerjaan dimana dia dipanggil Tuhan untuk hal itu. "Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu." 1Korintus 9:14. Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita dan Dia akan memberkati mereka. Bacalah 2Korintus 9:7-8. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Ketika seorang Kristen memberikan persembahan persepuluhannya, persembahan ini merupakan suatu pemberian kepada Bapa di surga."Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup." Ibrani 7:8.
Allah mengajarkan kepada kita banyak hal tentang pengabdian. Namun, kita tidak punya cukup tempat untuk menyebutkan semua hal tersebut. Kita akan mencoba mendaftar beberapa diantaranya di sini.
Kita harus menjadi abdi-abdi yang baik dari diri kita sendiri. "...Sebab bukan hartamu yang Kucari..." 2Korintus 12:14. Tujuan dari pengabdian Kristen adalah untuk memberikan hidup kita sepenuhnya sehingga kita tidak jatuh dalam dosa karena mementingkan diri sendiri. Cara yang terbaik bagi kita adalah menceritakan tentang Kristus kepada orang lain.
Kita harus menjadi abdi-abdi yang baik dari waktu. "Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." Efesus 5:16. Seorang penemu dan penulis berkebangsaan Amerika yang terkenal, Benjamin Franklin, mengatakan, "Apakah Anda mengasihi hidup Anda? Jika demikian, janganlah memboroskan waktu, karena hidup terbentuk dari waktu. Sadarlah akan pengabdian Anda kepada waktu. Carilah setiap hari bimbingan Ilahi dalam menggunakan waktu Anda sehingga setiap hari biarlah terlihat sesuatu yang bernilai yang dapat dicapai."
Kita harus menjadi abdi-abdi yang baik dari kecakapan/kemampuan yang kita miliki. "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh oleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah" 1Petrus 4:10. Seorang Kristen yang tulus adalah seseorang yang bukan hanya percaya kepada Kristus untuk keselamatannya, tetapi juga menggunakan kecakapan dan keahliannya untuk kemuliaan Tuhan.
Kita harus menjadi abdi yang baik untuk uang kita. Kita sudah banyak mendengar tentang persembahan persepuluhan. Kata ini berarti sepersepuluh. Allah ingin supaya kita memberikan sepersepuluh dari uang kita pada-Nya. Kalau Anda mempunyai Rp.10.000,00, maka berarti Anda berhutang Rp. 1.000,00 kepada Tuhan. "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku, dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." Maleakhi 3:10. Uang ini menunjukkan seberapa banyak waktu, pikiran dan kerja keras Anda. Memberikan uang yang sudah Anda dapatkan berarti memberikan sebagian dari diri Anda sendiri.
Kita harus menjadi abdi-abdi yang baik dari Injil. "...Dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea, dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Kisah Para Rasul 1:8. Pengabdian terhadap Injil berarti suatu kewajiban dari setiap orang Kristen untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya tentang Kristus kepada orang lain. Memang, menjadi abdi yang baik dari Injil seharusnya menjadi pekerjaan yang utama dari setiap anak Tuhan.
Anda bisa melihat bahwa pengabdian mencakup sikap Anda. Hal ini mencakup bagaimana Anda menggunakan hak milik Anda. Lebih dari pada itu, hal ini juga mencakup bagaimana Anda hidup setiap hari. Abdi seperti apa Anda? Berdoalah dan mintalah supaya Tuhan menolong Anda menjadi seorang abdi yang baik.
DOA
Bapa, menjadi abdi-Mu yang taat dan setia adalah kerinduan hamba. Ajarilah hamba untuk mengerti kehendak-Mu dalam hidup hamba, supaya semakin hari semakin terpancar kemuliaan-Mu melalui kehidupan hamba-Mu ini. Dalam nama Yesus, Amin.
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain]
Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Pembaptisan dan Perjamuan Tuhan
Kode Pelajaran : DPA-P05
Daftar Isi
Bacaan Alkitab
Pendahuluan
Doa
Bacaan Alkitab
1Korintus 11:26.
Gereja mempunyai dua upacara (sakramen). Yaitu baptisan dan perjamuan Tuhan (Perjamuan Kudus). Baptisan adalah suatu cara untuk menjadi seorang anggota gereja. Sedangkan perjamuan Tuhan adalah untuk para anggota gereja. Keduanya bukan dipikirkan atau di desain oleh manusia; Tuhan Yesus sendiri yang memberikan perintah kepada mereka (para murid). Keduanya diberikan untuk menunjukkan suatu gambaran tentang apa yang sudah diperbuat-Nya bagi kita. Untuk bisa mengikuti bentuk dan cara yang ditunjukkan oleh teladan dan pengajaran-pengajaran Tuhan kita Yesus Kristus, maka perlu untuk melaksanakan kedua sakramen ini sebagai bagian dari ketaatan yang sempurna kepada Kristus.
Suatu kata dalam bahasa Yunani, yaitu "baptidzo" adalah kata yang diserap dalam bahasa Inggris menjadi "baptize" dan dalam bahasa Indonesia menjadi "upacara baptis." Makna sesungguhnya dari kata ini adalah, diletakkan dibawah permukaan air, dicelupkan. Pada jaman literatur Yunani kuno, kata ini digunakan ketika seseorang berbicara tentang sesuatu yang tenggelam. Dibaptiskan, artinya, seseorang di kuburkan di dalam air (dimasukkan ke bawah permukaan air). Kemudian dia di angkat dari air, seperti Yesus bangkit dari kubur. Yesus memberikan tindakan pembaptisan ini sebagai tanda bahwa seseorang sudah dibawa dalam hidup yang baru. Gereja mula-mula mempraktekkan baptisan dengan cara menenggelamkan. "...dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus..." Kisah Para Rasul 8:38- 39. Ini adalah merupakan ilustrasi dari menenggelamkan.
Yohanes Pembaptis adalah yang pertama menggunakan baptisan sebagai suatu sakramen dalam kekristenan: "Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;" Yohanes 1:6. Yohanes mengaku bahwa dia diutus untuk membaptis. "...Tetapi Dia, yang mengutus Aku untuk membaptis dengan air..." Yohanes 1:33.
Yesus memberikan persetujuan-Nya atas pembaptisan dengan memberi diri dibaptis, seperti yang diceritakan dalam Matius 3:13-17. Perintah-Nya yang terakhir pada murid-murid-Nya mengenai semua bangsa adalah; "...baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus," Matius 28:19.
Hanya seorang yang sudah mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya dihadapan jemaat yang bisa dibaptiskan. Jika pembaptisannya tidak menunjukkan imannya sendiri dalam Kristus dan tidak menggambarkan dilaluinya kematian menuju hidup yang kekal, pembaptisan tersebut bukanlah pembaptisan menurut Perjanjian Baru.
Seseorang yang belum mengerti arti pembaptisan belum layak untuk dibaptis. Tidak seorang pun yang dapat dibaptiskan atas nama orang lain, sama seperti juga tidak ada orang yang diselamatkan atas nama orang lain. Seseorang yang belum mencapai usia dimana dia bisa mengerti Alkitab dengan baik tentang keselamatan, tidak bisa dibaptiskan. Perjanjian Baru tidak mengajarkan bahwa bayi bisa dibaptiskan. Pembaptisan adalah merupakan suatu pilihan pribadi, untuk mentaati perintah Kristus. Seseorang yang percaya dalam Kristus harus minta kepada suatu gereja untuk membaptiskan dia sesuai dengan pengakuan kepercayaannya.
Tiga macam kebenaran digambarkan dalam upacara baptisan. Pembaptisan menunjuk kembali pada penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus. Pembaptisan juga menyatakan suatu pengalaman perubahan (perubahan hidup) dalam kehidupan orang percaya: kematian manusia lama dalam dosa dan bangkitnya manusia baru dalam Kristus. Ini menggambarkan kebangkitan tubuh saat kedatangan Tuhan.
Ketika tubuh kita masuk dalam air, hal ini menggambarkan bahwa manusia duniawi kita sudah mati dan dikuburkan bersama-sama dengan kematian kristus. Ketika tubuh kita keluar dari air, hal ini menggambarkan bahwa kita telah bangkit dari kematian bersama-sama dengan kebangkitan Kristus dan menjadi manusia yang baru, yaitu manusia yang lahir baru.
Tuhan kita memulai Perjamuan Kudus di ruang atas sebelum kematian-Nya di kayu salib. Ini dijadikan sebagai peringatan akan kematian-Nya bagi kita. Ketika Dia memberikan roti yang sudah dipecah-pecah kepada murid-murid-Nya, Dia berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." Matius 26:26. Kemudian, ketika Dia memberikan kepada mereka cawan, Dia berkata: "Minumlah kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa." Matius 26:27-28. Sebenarnya tidak ada kekuatan atau kuasa yang tersimpan dalam roti atau anggur itu. Keduanya mengingatkan kita akan tubuh Tuhan yang terpecah-pecah dan darah-Nya yang tercurah.
Perjamuan Kudus merupakan upacara gereja. Ini dilaksanakan oleh gereja dan diikuti oleh mereka yang sudah memenuhi syarat-syarat yang tertulis dalam Perjanjian Baru.
Orang-orang yang tidak percaya tidak boleh mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Ini juga bukan untuk seorang anak yang belum mengerti. Bukan pula untuk orang luar yang ingin ikut hanya untuk kesenangan. Bukan untuk orang kafir yang hanya ingin pamer. Ini adalah untuk orang-orang yang dosanya sudah diampuni oleh Tuhan Yesus Kristus. Biasanya yang mengikuti perjamuan kudus adalah orang-orang yang telah menerima sakramen baptisan kudus.
Perjamuan Kudus memerlukan pengujian yang jujur atas diri sendiri. Kita harus mengoreksi diri kita sendiri untuk melihat apakah kita memiliki dosa dalam diri kita. Ini adalah waktu untuk menyingkirkan semua dosa dan mohon pengampunan Tuhan saat kita ingat apa yang sudah Kristus perbuat bagi kita.
Upacara ini mengingatkan kita akan kematian dan darah Tuhan kita Yesus Kristus yang telah tercurah. Dia mati karena dosa-dosa kita, karena kita memerlukan seorang Juruselamat, dan karena Dia rela untuk menjadi Juruselamat. Sangat penting untuk mengingat apa yang Yesus perintahkan pada para pengikutnya untuk melaksanakan Perjamuan Tuhan. Dia katakan, "Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Daku" Yesus juga memberikan arti dari roti dan cawan. Dia mengatakan bahwa cawan adalah simbol dari darah-Nya sebagai darah perjanjian baru. Allah sudah berjanji untuk membuat suatu perjanjian yang baru dengan umatnya Yeremia 31:31-34. Yesus mengumumkan bahwa inilah perjanjian baru tersebut yaitu bahwa hanya melalui darah-Nya yang tercurah seseorang dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya. Dia mati sehingga kita beroleh hidup yang kekal.
DOA
Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau telah memberikan teladan dan perintah kepada kami. Kami bersyukur atas karya penebusan-Mu di kayu salib. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin.
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain]
Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Kedatangan Kembali Tuhan, Kebangkitan Orang Mati, Penghakiman dan Kehidupan yang Kekal
Kode Pelajaran : DPA-P6
Daftar Isi
Bacaan Alkitab
Pendahuluan
Doa
Bacaan Alkitab
1Tesalonika 4:17, Ibrani 9:27, Yohanes 3:36.
Kedatangan Yesus untuk kedua kali dan kebangkitan dari kematian adalah sesuatu yang diharapkan bahkan diimani oleh orang Kristen. Alkitab mungkin tidak menceritakan kepada kita apa yang ingin kita ketahui tentang kedatangan Yesus kembali, tetapi ada beberapa hal yang kita bisa yakini.
Beberapa orang percaya akan ada lebih dari satu penghakiman, sementara yang lainnya berpikir bahwa akan ada satu kali. Tetapi, semuanya percaya bahwa akan ada penghakiman. Dalam Perjanjian Baru terdapat firman yang jelas seperti ini. "Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati." Kisah Para Rasul 17:31. Dia sudah membebaskan kita. Manusia dapat memilih untuk menerima atau menolak Allah. Oleh sebab itu, kita bertanggung jawab akan hidup kita kepada-Nya.
Setelah kebangkitan manusia, yang kemudian diikuti dengan adanya penghakiman, hanya akan ada satu tempat tinggal yang kekal, surga atau neraka. Setiap manusia akan menjalani kekekalan dalam surga atau neraka. Oleh sebab itu, marilah kita lihat apa yang Firman Allah ajarkan tentang kedua tempat itu.
Tidak ada kebenaran yang lebih jelas dinyatakan dalam firman Tuhan selain daripada ayat di bawah ini. Ketika murid-murid sedang berdiri di Bukit Zaitun, sambil memandang ke langit pada pengangkatan Tuhan, Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: 'Hai orang-orang Galilea mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." Kisah Para Rasul 1:10-11. Beberapa ayat lain yang akan membantu kita untuk mengerti hal ini. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; 1Tesalonika 4:16. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Yohanes 14:28. Bacalah Matius 24.
Kedatangan-Nya akan bersifat pribadi dan dapat dilihat. Dia akan datang kembali dengan cara yang pribadi sama seperti waktu Dia terangkat. Selain dari itu, kedatangannya akan bisa dilihat oleh semua orang. "Lihat, Ia datang dengan awan-awan, dan setiap mata akan melihat Dia." Wahyu 1:7. Kedatangan-Nya akan lebih dari sekedar suatu hadirat rohani.
Kedatangan-Nya akan bersifat tiba-tiba dan tak disangka-sangka. Ini adalah suatu gambaran yang diberikan sendiri oleh Tuhan Yesus tentang kedatangan-Nya. Kedatangan-Nya akan cepat seperti kilat: "Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia." Matius 24:27. Orang-orang di dunia tidak akan menyangka akan hal itu. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap 2Petrus 3:10.
Kedatangan-Nya akan berada dalam kemuliaan yang agung. "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya, dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya." Matius 25:31. "Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekayaan dan kemuliaan-Nya." Markus 13:26.
Banyaknya kebingungan tentang Kedatangan yang Kedua dari Kristus muncul karena manusia berusaha untuk menetapkan waktu kedatangan-Nya. Tidak pernah ada suatu masa sejak pengangkatan-Nya dimana orang-orang tidak mengharapkan kedatangan-Nya pada masa generasi mereka atau dengan kata lain semua orang pasti mengharapkan kedatangan Tuhan pada masa generasi mereka; hal ini termasuk juga pada masa rasul Paulus.
Hanya Bapa yang tahu waktu kedatangan Yesus dari surga. "Tetapi tentang hari atau saat itu, tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja." Markus 13:32. Tidak perlu kita berusaha mencari tahu rahasia-rahasia yang sudah diputuskan Allah untuk tidak diberitahukan kepada kita. Sikap kita hanyalah mengharapkan dan berjaga-jaga menyambut kedatangan-Nya. "Karena itu berjaga- jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." Matius 24:42.
Kedatangan-Nya dan orang-orang yang tidak diselamatkan. "Dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam surga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya."2Tesalonika 1:7-9.
Kedatangan-Nya dan orang-orang yang diselamatkan. "Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum" Yohanes 5:28-29. "Sesudah itu kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa, demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan." 1Tesalonika 4:17.
Orang benar dan orang fasik keduanya akan dibangkitkan dari kematian. Hal ini di ajarkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Daniel 12:2, kita menjumpai pernyataan: "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal." Paulus mengatakan: "aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar." Kisah Para Rasul 24:15.
Fakta tentang kebangkitan Yesus adalah sebagai berikut. Tak dapat disangkal lagi bahwa Yesus benar-benar mati di kayu salib. Dia disalibkan di muka umum, di hadapan orang banyak yang berkumpul untuk menyaksikan. Musuh-musuhnya yakin bahwa Dia sudah mati. Para prajurit yang sudah terlatih untuk membunuh, memeriksa untuk mengetahui apakah Dia mati. Sebatang tombak ditusukkan ke pinggang-Nya untuk meyakinkan bahwa Ia meninggal. Darah dan air mengalir keluar. Demikian juga kebangkitan-Nya adalah sesuatu yang pasti terjadi. "Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup." Kisah Para Rasul 1:3. Baca juga 1Korintus 15:3-8. Pengharapan kebangkitan kita adalah kenyataan akan kebangkitan Yesus dan janji-Nya kepada kita; "Tinggal sesaat lagi, dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup." Yohanes 14:19.
Bentuk kebangkitan Kristus. Kita tidak mengetahui banyak hal tentang bentuk tubuh Yesus setelah dibangkitkan. Namun beberapa hal sudah dinyatakan dalam Alkitab dan kita akan merenungkan hal-hal tersebut:
Tubuh Yesus dikuburkan di dalam kuburan yang kemudian dibangkitkan. "Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya." Matius 28:6.
Tubuh yang sudah dibangkitkan tersebut adalah benar-benar tubuh manusia. Lukas 24:39.
Tubuh yang sudah dibangkitkan berbeda dengan tubuh kita secara dunia. "Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka." Lukas 24:31.
Tubuh Yesus yang sudah dibangkitkan diangkat ke surga. "... terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka." Kisah Para Rasul 1:9.
Tubuh yang sudah dibangkitkan akan sama seperti tubuh yang mati secara nyata. Tubuh Yesus keluar dari kubur. Dia menunjukkan dirinya pada murid-murid-Nya bahwa Ia hidup dan menunjukkan kepada mereka bekas paku di tangan-Nya. Mungkin kita juga akan kelihatan seperti diri kita sendiri nantinya saat dibangkitkan supaya dapat mengenali satu dengan yang lain.
Tubuh yang sudah dibangkitkan juga berbeda dengan tubuh yang sudah mati. "Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa 1Korintus 15:50. Tubuh yang sudah dibangkitkan akan tidak dapat binasa, berkuasa, mulia dan bersifat rohani. Itu akan seperti tubuh Kristus yang sudah dimuliakan.
Alasan mengapa diadakan penghakiman adalah karena manusia bertanggung jawab kepada Allah sebagai pencipta dunia dan manusia. Manusia bertanggung jawab kepada Allah. Allah menciptakan dan memelihara manusia dengan keberadaan yang baik dan memberikan kepadanya segala sesuatu yang dimilikinya dalam hidup. Manusia hidup dalam dunia milik Allah. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah dikatakan oleh para pujangga-pujanggamu: "Sebab kita ini dari keturunan Allah juga" Kisah Para Rasul 17:28. Dia sudah membebaskan kita. Manusia dapat memilih untuk menolak Allah. Oleh sebab itu, kita bertanggung jawab akan hidup kita kepada-Nya.
Karunia berupa anugerah Allah untuk manusia yang berdosa tidak membuat manusia menjadi tidak bertanggung jawab kepada Allah. Justru hal ini memperbesar tanggung jawabnya. Karena Allah sudah memberikan kepada manusia dengan kasih karunia, maka cara setiap manusia dalam menerima atau menolak anugerah-Nya akan dipertanggungjawabkan dalam penghakiman. "Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Yesus Kristus." Roma 2:16.
Firman Allah mengatakan kepada kita bahwa akan datang suatu hari dimana Allah akan menghakimi semua orang. "Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati." Kisah Para Rasul 17:31
Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus yang akan menjadi hakim. Hal ini jelas dalam ayat yang tersebut di atas, Kisah Para Rasul 17:31.
Seseorang yang telah menjadi Juruselamat, adalah orang yang dihadapan-Nya manusia harus berdiri untuk dihakimi. Dulu Yesus Kristus berdiri di hadapan Pilatus. Suatu hari, Pilatus pasti berdiri di hadapan Yesus Kristus.
Apakah tujuan penghakiman? Kita dapat mengatakannya sebagai berikut:
Tujuannya adalah untuk membuktikan kenyataan tentang kebenaran Allah. Untuk menunjukkan bahwa Dia menggenapi segala Firman-Nya. Selain itu, Dia akan memberi upah kepada orang-orang percaya sesuai dengan kesetiaan mereka. Penghakiman juga akan membuktikan bahwa Dia akan menghukum orang-orang jahat dan yang tidak percaya.
Tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana sesungguhnya keadaan setiap manusia. Hal ini akan membuktikan semua firman dan perbuatan Allah seperti yang tertulis dalam Alkitab. Penghakiman akan menunjukkan bagaimana manusia berbuat kepada orang lain. Dengan kata lain, penghakiman akan menunjukkan perbuatan yang sudah dilakukannya dalam hidup orang lain.
Tujuan dari penghakiman adalah untuk menunjukkan kepada setiap manusia suatu "nasib" yang sesuai dengan cara dia hidup di dunia. Hal ini tidak berarti bahwa seorang manusia harus menunggu sampai saat penghakiman terakhir untuk mengetahui apakah dia diselamatkan atau tidak. Hal ini juga tidak berarti bahwa seorang manusia harus menunggu penghakiman terakhir supaya dia dapat menikmati hasil dari kehidupannya yang baik atau yang jahat. Ini berarti bahwa dalam penghakiman terakhir manusia dapat mendapatkan hak milik yang penuh akan upah selama hidupnya di dunia.
Manusia berada dalam penghukuman Allah karena dosanya. Dia tetap tinggal dalam penghukuman karena menolak Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhannya. Ketika manusia menolak kasih dan anugerah Allah dalam Yesus Kristus, maka tidak ada lagi pertolongan baginya. Mereka yang hidup dan mati dengan menolak Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka akan dihukum pada saat penghakiman. "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum, barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat." Yohanes 3:18-19. "Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu." Wahyu 20:15.
Tak seorang pun yang akan diselamatkan karena kebenaran atau kehidupannya yang baik namun karena dia sudah bertobat, menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan berdiri di hadapan Allah dalam kebenaran yang sudah diberikan Yesus Kristus dengan kematian-Nya. "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum." Yohanes 3:18.
"Dan yang tidak mengenal dosa, telah dibuatnya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." 2Korintus 5:21.
Surga berarti berada selama-lamanya dalam hadirat Allah. Tidak akan ada lagi pemisahan dengan Allah. Setiap orang Kristen akan sampai pada kehidupannya yang terakhir sebagai seorang anggota dari orang-orang yang telah ditebus, dan Kristus sebagai kepalanya. Kita akan mengalami berkat dari penebusan di surga.
Di manakah letak surga? Surga bukanlah semata-mata sebuah tempat, melainkan suatu keadaan dimana setiap orang Kristen akan berada setelah meninggal. Surga adalah merupakan kebebasan dari dosa dan persekutuan yang penuh dengan Allah. "Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru dimana terdapat kebenaran" 2Petrus 3:13. Surga adalah sebuah tempat juga merupakan suatu keberadaan. Apakah surga akan berada di atas bumi? Tak seorang pun yang tahu.
Surga akan merupakan kebebasan total dari dosa. Surga adalah suatu keberadaan seperti Kristus. "Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" 1Yohanes 3:2b.
Surga akan merupakan suatu kehidupan persekutuan dengan Allah. Persekutuan orang Kristen dengan Allah adalah sukacita yang utama dalam kehidupan di surga. Kehidupan ini akan membawa sukacita, pengharapan dan kuasa. Ini adalah persekutuan yang lebih penuh dengan Allah yang diinginkan setiap orang Kristen dalam kehidupan selanjutnya. Paulus berkata bahwa jauh lebih baik untuk meninggal dan bersama-sama dengan Tuhan. Bacalah Filipi 1:23. Penjelasan ini adalah diberikan bagi mereka yang memiliki pengharapan yang besar akan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua yang kita jumpai dalam Perjanjian Baru.
Surga akan merupakan suatu tempat yang bebas dari penderitaan dunia, seperti kesengsaraan, sakit, dan kematian. "Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" Wahyu 21:4. "Kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, duka dan keluh akan menjauh" Yesaya 51:11b. Akan ada kemenangan yang total atas segala bentuk kejahatan dan penderitaan.
Surga akan merupakan pelayanan yang terus menerus kepada Allah. Surga bukanlah sebuah tempat untuk seorang manusia yang malas. Ini merupakan tempat kehidupan yang berkelimpahan, dan kehidupan merupakan aktivitas. Makhluk ciptaan akan melayani pencipta mereka.
Terlebih lagi, surga akan merupakan tempat pertumbuhan yang terus menerus. Paulus menunjukkan bahwa iman, pengharapan dan kasih tak terpisahkan dari kehidupan orang Kristen 1Korintus 13:13.
Neraka adalah suatu tempat yang nyata. Beberapa orang menyangkal akan keberadaan dari suatu tempat penderitaan yang kekal yang disebut neraka. Manusia dapat juga menyangkal keberadaan matahari, tetapi matahari itu sendiri masih ada. Alkitab mengajarkan bahwa neraka adalah suatu tempat yang nyata dan Yesus mati supaya kita tidak perlu menderita di sana. Bacalah dengan seksama Lukas 16:19-31. Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya. 2Tesalonika 1:9 sekarang.
Neraka adalah sebuah tempat di mana tidak ada jalan keluar sama sekali. Allah sudah menawarkan anugerah secara cuma-cuma dalam Yesus Kristus untuk semua orang. Tetapi, ketika seseorang hidup dan mati dengan menolak anugerah Allah, maka tidak akan ada lagi pengharapan baginya. Tidak ada kesempatan kedua untuk lepas dari neraka. "Selain daripada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang." Lukas 16:26.
Neraka adalah suatu tempat bagi mereka yang menolak anugerah Allah dalam Yesus Kristus. Allah tidak menginginkan siapapun juga masuk neraka. "Karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat" 2Petrus 3:9b.
Karena kasih-Nya kepada kita, Allah membuat jalan keselamatan dengan mengutus Yesus untuk mati demi kita. Kalau seseorang menyenangi jalan-jalannya yang berdosa sehingga dia menolak untuk bertobat dan percaya kepada Yesus, maka dia harus menerima upah dari dosanya sendiri. "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat" Yohanes 3:18-19. "Di dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya" Yohanes 1:4-5.
DOA
Tuhan Yesus, saya sudah belajar tentang keajaiban-keajaiban Mu Saya mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya pribadi, dan saya mengundang Yesus untuk masuk dalam hati saya. Terima kasih Tuhan, dalam nama-Mu saya berdoa, Amin
[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain]
Pelajaran 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Alkitab
Kode Pelajaran : DPA-T01
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Ganti (at) dengan @
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Pelajaran 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus
Kode Pelajaran : DPA-T02
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Ganti (at) dengan @
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Pelajaran 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Setan, Dosa dan Keselamatan
Kode Pelajaran : DPA-T03
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Ganti (at) dengan @
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Pelajaran 04 | Referensi 04a | Referensi 04b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Gereja dan Pengabdian
Kode Pelajaran : DPA-T04
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Ganti (at) dengan @
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Pelajaran 05 | Referensi 05a | Referensi 05b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Pembaptisan dan Perjamuan Tuhan
Kode Pelajaran : DPA-T05
Ganti (at) dengan @
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Pelajaran 06 | Referensi 06a | Referensi 06b
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Kedatangan Kembali Tuhan, Kebangkitan Orang Mati, Penghakiman dan Kehidupan yang Kekal
Kode Pelajaran : DPA-T06
Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:
Ganti (at) dengan @
Selamat mengerjakan!
Perhatian:
Setelah lembar jawaban di bawah ini diisi, mohon dikirim kembali dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan bukan dalam bentuk attachment ke:
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Alkitab
Kode Pelajaran : DPA-R01a
Referensi DPA-R01a diambil dari:
Judul Buku : Bibliografi Doktrin Alkitab
Penulis : Trivena Ambarsari
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2002
Halaman : 5 - 27
PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar di segala bidang, tak terkecuali publikasi. Buku dan karya tulis semakin banyak dan cepat diproduksi. Dengan mudah kita dapat menemukan ratusan judul buku untuk satu bidang tertentu, misalnya kedokteran atau psikologi. Buku sudah menjadi bagian hidup manusia. Buku, majalah atau koran tersebut mungkin menambah pengetahuan kita, bahkan mungkin tingkah laku kita juga berubah setelah membacanya; misalnya kita semakin waspada terhadap makan kita, setelah membaca artikel bahwa makanan sangat mempengaruhi kesehatan kita. Tetapi dengan bergantinya jaman, buku- buku tersebut juga turut berganti. Ada yang lengser karena salah, kuno atau perlu direvisi supaya dapat mengikuti perkembangan jaman.
Di antara jutaan buku tersebut, adakah buku yang menjelaskan dengan tuntas hal-hal terpenting yang kita butuhkan dalam hidup ini? Adakah buku yang dengan tepat menceritakan asal-usul kita, memberitahu kita tentang tujuan hidup di bumi ini dan kemanakah kita akan pergi setelah kehidupan ini berakhir? Hanya ada satu buku yang menjelaskan semua itu secara berkuasa dan tidak pernah menjadi usang bagi manusia di bumi ini, yaitu Alkitab.
Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering dan bunga gugur tetapi Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. (1 Ptr 1:24-25a)
APAKAH ALKITAB ITU
Keberadaan Allah yang Mahakudus tak mungkin dihampiri manusia berdosa, akibatnya manusia tidak akan pernah dapat menemukan Allah Sejati. Oleh karena kasih-Nya, Allah telah berinisiatif untuk menyatakan diri-Nya dikenali oleh manusia.
Semenjak dunia ini diciptakan, Allah senantiasa menyatakan diri-Nya kepada manusia, baik melalui Wahyu Umum, maupun Wahyu Khusus. Alkitab merupakan wahyu khusus Allah. Wahyu (revelation/ penyataan) berasal dari kata Latin "revelatio" yang berarti menampakkan sesuatu yang tadinya tersembunyi' jadi pewahyuan merupakan berbagai tindakan dan cara Allah menyatakan diri-Nya.
Wahyu Umum
Wahyu Umum berarti Allah menyatakan diri-Nya secara umum (kepada semua orang) melalui alam semesta, sejarah dunia ini, serta hati nurani manusia - di mana semua manusia seharusnya dapat melihat bahwa Allah itu ada. Alam semesta bagaikan cermin yang memantulkan kemuliaan Allah, Sang Pencipta. Sehingga sebenarnya tak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa Allah itu tidak ada, kecuali orang bebal yang bodoh (Maz 14: 1; Rom 1: 18-23). Sedangkan bagi mereka yang terbuka hati dan pikirannya, kemuliaan Allah nyata dengan begitu ajaib - mulai dari ribuan juta benda angkasa yang berada di alam semesta hingga partikel- partikel penyusun atom yang terdiri dari molekul terkecil. Sungguh Allah yang luar biasa, dan Ia benar-benar ada!
Wahyu Khusus
Wahyu Khusus berarti Allah menyatakan diri-Nya secara Khusus , hanya kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya saja, melalui Alkitab dan Kristus. Tujuan dari Wahyu Khusus ini adalah membawa orang kepada pengenalan yang lebih mendalam tentag Allah dan mendapatkan keselamatan (Yoh 20:30-31). Wahyu Khusus ini bersifat supranatural (melampaui jangkauan pemahaman rasio manusia) dan progresif (tidak diberikan sekaligus, tetapi di berikan secara bertahap dan semakin lanjut semakin lebih jelas). (Ibrani 1:1-2a)
ALKITAB SEBAGAI WAHYU ALLAH
Diantara jutaan buku-buku yang ada di dunia ini, bagaimanakah kita dapat meyakini bahwa Alkitab adalah benar-benar Firman Allah dan bukan sekedar buku biasa? Ternyata Alkitab memiliki beberapa keunikan yang membuktikan bahwa hanya Allah saja yang dapat melakukan hal itu.
Keunikan Sejarah
Keseluruhan Alkitab terdiri dari 66 kitab, yaitu 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Kitab yang pertama ditulis mulai sejak sekitar tahun 1400 sebelum Masehi, oleh nabi Musa. Sedangkan kitab terakhir ditulis sekitar tahun 100 Masehi. Berarti jarak waktu penulisannya adalah sekitar 1500 tahun. Meskipun demikian, topik utama pembahasan dalam Alkitab tetap konsisten dan tidak memerlukan perbaikan atau perubahan apapun untuk tetap benar di tengah perkembangan jaman sekarang ini. Sungguh ajaib bukan! Tanpa campur tangan Allah, tidak mungkin ada karya tulis seperti itu, yang dapat melintasi ruang dan waktu sedemikian panjang dengan tetap benar. Dapat dibayangkan betapa janggal dan sulit untuk memadukan karya ilmiah atau sastra dari jaman tahun 900 dengan karya ilmiah atau sastra di zaman modern, abad 21 ini. Sekalipun sepanjang jaman Alkitab merupakan kitab yang paling dibenci oleh banyak orang dan selalu ada upaya untuk menghancurkannya, ternyata hingga hari ini Alkitab masih tetap ada, dan bahkan merupakan buku yang paling laris dibeli orang.
Keunikan Arkeologi
Meskipun Alkitab mencatat 1 tentang mujizat-mujizat yang luar biasa tentang kebangkitan orang mati, kesembuhan, pengusiran setan dan lain- lainnya, kita tetap memerlukan bukti-bukti arkeologi untuk menentukan kebenaran peristiwa-peristiwa sejarah yang tercantum di dalamnya. Mujizat-mujizat yang tercatat dalam Kitab suci tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, karena sifatnya yang khusus (baca: ajaib, melampaui rasio manusia); namun data-data mengenai orang, tempat, dan peristiwa yang disebutkan oleh Alkitab tetap harus dapat diselidiki secara arkeologis. Dan ternyata memang penemuan arkeologi banyak membuktikan kebenaran hal sejarah dan geografi yang dicatat oleh Alkitab, misalnya penemuan di Tell Mardikh yang berupa sekitar 15.000 lempengan tanah liat yang beberapa diantaranya bila diterjemahkan menyebutkan tentang kota Sodom dan Gomora. Bahkan Sir William Ramsay yang begitu menentang Alkitab, setelah 30 tahun menyelidiki dan melihat sendiri bukti-bukti arkeologi yang memaparkan kebenaran Alkitab, akhirnya ia bertobat dan percaya kepada Alkitab, baginya Alkitab adalah kitab yang terakurat.
Jikalau penulis Alkitab memberikan data sejarah yang tidak tepat, tentunya orang akan meragukan apakah Alkitab layak dipercayai dalam hal-hal yang tidak dapat dibuktikan (misalnya: mujizat, eksistensi Allah yang tidak kelihatan secara fisik). Sebaliknya, jika para penulis Alkitab itu akurat dalam memberitakan hal-hal yang telah terjadi, maka tentunya mereka tidak dapat diabaikan begitu saja apabila mereka menyebutkan hal-hal yang luar biasa.
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a
Nama Kursus : DASAR PENGAJARAN ALKITAB
Nama Pelajaran : Alkitab
Kode Pelajaran : DPA-R01b
Referensi DPA-R01b diambil dari:
Judul Buku : Mengenal Alkitab Anda
Disusun dan disunting : Daud H. Soesilo
Penerbit : Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta, 2002
Halaman : 13 - 22
Kitab-kitab dari Alkitab dikumpulkan secara bertahap dalam kurun waktu kurang-lebih 1500 tahun. Penulisannya oleh orang-orang yang berbeda, dalam berbagai bahasa (Ibrani, Aram dan Yunani) serta di tempat yang berbeda juga (Mesopotamia, Babilonia, Mesir, Palestina, Roma dan Yunani).
Kanonisasi berasal dari kata Yunani "kanon " yang berarti ukuran/patokan (bnd. Gal. 6:16; 2Kor. 10:13, 15-16). Prosesnya sendiri cukup rumit dan memakan waktu yang lama. Arti umum Kanon Alkitab adalah kumpulan atau daftar kitab-kitab/buku-buku yang diakui sebagai patokan iman dan pelaksanaannya. Adapun rintisan kanonisasi tersebut dapat dilihat dari dalam Alkitab itu sendiri, misalnya dalam Ul. 4:12; 12:32; Yer. 26:2; Ams. 30:6; Pkh. 3:14; 2Ptr. 3:15-16; Why. 22:6-8,18- 19.
Jadi, kanonisasi Alkitab adalah pengakuan pada buku-buku yang benar- benar merupakan bagian dari Kitab Suci - yakni yang diilhami oleh Allah, dan pengesahannya sebagai kumpulan tulisan suci yaitu Firman Allah dalam bahasa manusia, karena di dalamnya dimuat Sabda Allah yang tertulis. Sabda inilah yang menyatakan kasih Allah dan kehendak Allah yang bermanfaat bagi umat manusia di segala zaman.
Bagian ini sebenarnya adalah Kitab Suci umat Yahudi yang disampaikan, ditulis dan dihimpun dalam waktu lebih dari 1000 tahun. Semuanya ditulis dalam bahasa Ibrani kecuali sebagian buku Daniel (2:4-7:28) dan sebagian buku Ezra (4:8-6:18; 7:12-26), yang ditulis dalam bahasa Aram. (Bahasa Aram adalah bahasa resmi pada masa kejayaan Kerajaan Persia.)
Pada mulanya kisah-kisah mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan umat Israel disampaikan dari mulut ke mulut. Baru sekitar tahun 1200-1000 S.M. kisah-kisah itu mulai dituliskan. Sekitar 600 tahun S.M. Buku Ulangan dijadikan norma pelaksanaan keagamaan, yaitu dalam rangkaian pembaruan-pembaruan yang diadakan oleh Raja Yosia (2 Raj. 22-23). Sekitar tahun 400 S.M. Taurat atau "Kelima Buku Musa" (bhs. Yunani "Pentateukh") diterima sebagai tulisan suci. Buku Nabi-nabi diterima sebagai tulisan suci antara tahun 400 sampai 200 S.M. Buku-buku lain yang berisi puisi, pengajaran, nubuatan, dan sejarah diterima sebagai tulisan suci menjelang zaman Perjanjian Baru. Walaupun begitu pada waktu itu masih ada buku-buku yang diragukan kewibawaannya sebagai tulisan suci, antara lain Pengkhotbah, Ester, Yehezkiel dan Kidung Agung.
Demikianlah Kanon Ibrani terus bertambah; akan tetapi setelah jatuhnya kota Yerusalem ke dalam tangan musuh kurang lebih tahun 70 Tarikh Masehi, kecenderungan Kanon Ibrani adalah membatasi tulisan-tulisan yang diterima sebagai Kitab Suci.
Selanjutnya sekitar tahun 90, guru-guru agama Yahudi di bawah pimpinan Johannan ben Zakkai mengadakan sidang di Jamnia (Jabneh). Mereka meninjau, menimbang tulisan-tulisan itu, dan membakukan Kitab Suci mereka. Mereka memutuskan untuk menerima 39 buku yang merupakan Kitab Suci, serta menolak buku-buku tambahan yang dimuat dalam Septuaginta, yaitu terjemahan pertama Kitab Suci ke dalam bahasa Yunani. Buku-buku tambahan ini aslinya tidak ditulis dalam bahasa Ibrani tetapi Yunani. Buku-buku inilah kemudian dikenal dengan sebutan Deuterokanonika - artinya 'kanon kedua' - yang terdiri dari: Tobit, Yudit, Tambahan- tambahan pada Buku Ester, Kebijaksanaan Salomo, Yesus anak Sirakh, Barukh, Surat Nabi Yeremia, Tambahan-tambahan pada Buku Daniel, serta 1 Makabe dan 2 Makabe.
Berdasarkan kata-kata Paulus tentang dua perjanjian, umat Kristiani menyebut ke-39 buku dalam Kanon Ibrani ini Perjanjian Lama, karena bagian ini berisi perjanjian Allah khususnya dengan Abraham dan keturunannya. Ini untuk membedakannya dari Perjanjian Baru, yang merupakan perjanjian yang diperbarui antara Allah dengan semua orang, yaitu melalui pribadi Yesus Kristus. Memang Perjanjian Lama sudah dipakai pada zaman rasul-rasul dan dalam kebaktian-kebaktian Kristiani. Perjanjian Lama dianggap penting dalam hubungannya dengan Kristus dan pekerjaan-Nya. Penting juga dicatat bahwa Perjanjian Lama adalah Alkitab Yesus Kristus - ajaran Yesus didasarkan pada Perjanjian Lama, dan Yesus menyatakan bahwa nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama digenapi dalam diri-Nya.
Pada awal abad ke-3, Bapa-bapa Gereja mulai membedakan buku-buku Deuterokanonika dari ke-39 buku Perjanjian Lama, tetapi mereka masih memakai keduanya. Pada abad ke-4 sampai dengan abad pertengahan, dalam Sidang-sidang Gereja setempat, mula-mula dimasukkan 39 buku Perjanjian Lama, 27 buku Perjanjian Baru, dan Buku-buku Deuterokanonika dalam kanon Alkitab. Walaupun seorang Bapa Gereja yang bernama Jerome tidak menyetujui bahwa buku-buku Deuterokanonika adalah tulisan suci, tetapi secara tradisi pemakaian buku-buku itu berjalan terus.
Setelah Reformasi, Gereja Protestan menolak buku-buku Deuterokanonika yang mereka sebut sebagai Apokripa - artinya 'tersembunyi'. Sebaliknya Gereja Roma Katolik pada Sidang Gereja (Konsili) di Trent tahun 1546 menentukan satu daftar buku-buku yang termasuk kanon, termasuk di dalamnya buku-buku Deuterokanonika. Sedangkan Gereja Yunani Ortodoks pada Sidang Sinode di Yerusalem tahun 1672 menerima buku-buku yang diperdebatkan itu, sedang Barukh, 1 Makabe dan 2 Makabe ditolak. (Patut dicatat bahwa penulis-penulis Perjanjian Baru mengutip 38 dari ke-39 buku Perjanjian Lama. Tetapi penulis-penulis Perjanjian Baru tidak mengutip dari Deuterokanonika.)
Pembagian Perjanjian Lama dalam Teks Ibrani
Sebenarnya ke-39 buku Perjanjian Lama itu menurut Kanon Ibrani hanyalah 24 buku. Berbeda dari urutan ke-39 buku Perjanjian Lama dalam Alkitab Kristiani, ke-24 buku dalam naskah Ibrani dikelompokkan dalam 3 bagian. Sebenarnya perbedaan ini bukanlah perbedaan isinya, melainkan sekadar perbedaan penghitungan dan pengelompokkannya. Pada umumnya Alkitab Kristiani mengikuti apa yang disebut Kanon Yunani (dikenal juga dengan sebutan Kanon Alexandria) yang dikelompokkan dalam 4 bagian. Berikut ini disampaikan pengelompokkan menurut Kanon Ibrani dan Kanon Yunani:
Kanon Ibrani:
Taurat
Seringkali bagian ini disebut Pentateukh. Bagian ini merupakan dasar Alkitab Ibrani, dan tidak ada perbedaan pengelompokkan antara Kanon Ibrani dan Kanon Yunani.
Berisi: peraturan-peraturan mengenai tingkah laku hidup, cara ibadah yang sesuai dengan kehendak Allah, serta asal-usul bangsa Israel.
Nabi-nabi:
"Nabi-nabi Terdahulu" memuat lebih banyak sejarah. "Nabi-nabi Terkemudian" lebih banyak memuat nubuatan-nubuatan, sebab itu dalam Kanon Yunani digolongkan 'Nubuat'. "Nabi-nabi Besar" dan "Nabi-nabi Kecil" bukan menyatakan perbedaan status kenabian mereka, melainkan sekadar perbedaan besar dan kecilnya buku, yaitu banyak dan sedikitnya tulisan dalam buku itu; yang lebih banyak disebut "Nabi- nabi Besar", yang lebih sedikit disebut "Nabi-nabi Kecil".
Berisi: sejarah bersatunya 12 suku bangsa Israel dan pemberitaan- pemberitaan (nubuatan-nubuatan) dari Allah agar mereka kembali pada jalan yang ditentukan Allah.
Kitab-kitab:
Sering juga bagian ini disebut Hagiographa. Kelompok ini dibagi dalam Kanon Yunani menurut jenisnya: Mazmur, Amsal, Ayub dan Kidung Agung dikelompokkan sebagai 'Sastra'; Rut, Ester, Ezra-Nehemia dan Tawarikh dikelompokkan 'Sejarah'; sedang Ratapan dan Daniel dikelompokkan 'Nubuat'.
Berisi: puisi dan kidung/nyanyian, nasihat-nasihat untuk hidup, filsafat, dan sejarah.
Bagian ini adalah tulisan suci umat Kristiani yang ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat Kristiani yang baru mengenal Kristus dan ajaran-Nya, dan untuk menentang ajaran-ajaran yang salah. Mulanya orang-orang Kristiani melanjutkan kebiasaan membaca dari Perjanjian Lama. Pengikut-pengikut Yesus yang mengenal Yesus semasa hidup-Nya dapat mengisahkan riwayat Yesus dan ajaran-Nya. Tetapi setelah rasul-rasul Yesus meninggal dunia, tulisan-tulisan mengenai Yesus dan ajaran-Nya makin bertambah peranannya.
Buku-buku yang termasuk dalam Perjanjian Baru ini, ditulis dalam jangka waktu kurang lebih 60 tahun dan ditulis dalam bahasa Yunani Koine yaitu bahasa Yunani sehari-hari (bukan bahasa sastra). Dengan demikian Perjanjian Baru melengkapi Perjanjian Lama yaitu dengan memberikan panduan tentang bagaimana membentuk gereja, petunjuk- petunjuk mengenai ajaran-ajaran dan patokan kepercayaan gereja. Dengan demikian Alkitab Kristiani sekarang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjajian Baru.
Seperti halnya Kanon Ibrani, Perjanjian Baru pun dikanonkan dengan tujuan yang sama. Surat-surat Paulus telah dipakai dalam kebaktian- kebaktian jemaat dan dibacakan sebagai khotbah. Pada tahun 95 Masehi surat-surat ini dikumpulkan dan menjadi bagian yang baku dalam kebaktian-kebaktian jemaat, begitu juga dengan Kisah Rasul-rasul. Surat Yakobus, Petrus, Yohanes, dan Yudas yang juga dipakai dalam kebaktian-kebaktian jemaat, ditambahkan pada surat-surat Paulus dan menjadi satu kumpulan surat pada tahun 100-105.
Sementara itu kisah dari mulut ke mulut tentang Yesus Kristus dituliskan antara tahun 70-100. Injil Markus, Matius dan Lukas-yang disebut Injil Sinoptik-ditulis lebih awal daripada Injil Yohanes. Injil (b. Yunani "euanggelion" yang artinya Kabar Baik) sudah banyak dipakai oleh masyarakat Kristiani. Ke-4 Injil itu dikumpulkan dan dibakukan pada tahun 150. Akhirnya pada tahun 180, Injil dan surat- surat digabungkan menjadi satu pengakuan kepercayaan dan sumber iman Kristiani.
Saat itu juga beredar tulisan-tulisan lain dalam bahasa Yunani seperti: 1 Clement, Surat Barnabas, Hermas, Didakhe/Ajaran 12 Rasul, Surat-surat Ignatius dan Polycarpus. (Catatan: Injil Barnabas yang sering dianggap "menghebohkan", ternyata tidak termasuk dalam tulisan- tulisan lain ini karena baru ditulis sekitar abad 13-16 M. Naskah aslinya ada yang ditulis dalam bahasa Italia dan ada juga yang ditulis dalam bahasa Spanyol.)
Kejadian-kejadian berikut ini telah mendorong Kanonisasi Perjanjian Baru. Pada tahun 140, seorang guru yang berpengaruh bernama Marcion membuat suatu daftar yang memuat buku-buku yang menurut ukurannya sendiri "suci"-yaitu Injil Lukas dan sejumlah Surat Paulus. Marcion menolak semua buku Perjanjian Lama karena berlatar belakang Yahudi dan tidak bersangkut-paut dengan kekristenan. Kejadian ini menyebabkan pemimpin-pemimpin gereja menyadari akan kebutuhan satu daftar yang diakui dan disahkan oleh gereja.
Pada akhir abad kedua terdapat beberapa Kanon antara lain dari Irenaeus, Muratorian, Tertullian dan Clement dari Alexandria yang merupakan daftar sementara dari buku-buku yang diilhami. Walau demikian, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yakobus, Yudas, lbrani dan Wahyu masih dipermasalahkan kewibawaannya sebagai tulisan suci.
Pada tahun 200, untuk menghadapi tantangan suatu ajaran sesat Gnostik (ajaran yang menekankan bahwa pengetahuan akan kebenaran rohani adalah pengetahuan yang dirahasiakan dan hanya mereka yang mengetahui akan diselamatkan), gereja menentukan bahwa buku-buku yang diilhami adalah:
Pada awal abad ke-3, seorang imam dan pakar Alkitab yang bernama Origen memperjelas keadaan dengan menggolongkan buku-buku sebagai berikut:
Kemudian Eusebius membuat daftar yang makin mendekati Perjanjian Baru kita yang sekarang ini. Akhirnya, pada tahun 367 daftar yang disampaikan oleh Athanasius, Uskup Alexandria, menjadi daftar baku tulisan suci yang memuat ke-27 buku Perjanjian Baru. Jadi, ke-27 buku Perjanjian Baru dan ke-39 buku Perjanjian Lama inilah yang menjadi ke- 66 buku Alkitab kita dalam bentuk yang sekarang ini.
Pembagian Perjanjian Baru:
Buku-buku Perjanjian Baru, dapat dikelompokkan dalam 4 bagian:
Injil:
Ketiga Injil pertama disebut: Injil Sinoptik yang artinya dilihat dari pandangan yang sama. Memang ke-3 Injil itu susunan dan ungkapan katanya mirip satu sama lain.
Berisi: Kehidupan dan ajaran Kristus, merupakan dasar seluruh Perjanjian Baru.
Kisah Rasul-rasul:
Berisi: keadaan Gereja Kristiani mula-mula, dan bagaimana pengabar- pengabar Injil khususnya Petrus dan Paulus menyebarkan iman Kristiani ke dunia sekitar mereka.
Surat-surat:
1-2 Timotius dan Titus disebut Surat Pastoral (Penggembalaan). Yakobus, 1-2 Petrus, Yudas, 1-3 Yohanes disebut Surat Umum.
Berisi: surat-surat pribadi untuk perorangan dan surat-surat umum untuk dibacakan di depan jemaat/gereja.
Wahyu:
Berisi: apa yang dilihat oleh Yohanes, yaitu pergumulan antara Gereja Kristus dengan Iblis, dan puncak kemenangan Allah yang memerintah sebagai Raja.
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mendapat kewibawaannya dari Yesus Kristus, Sang Firman Allah sendiri. Kewibawaan Yesus lebih besar daripada kewibawaan Perjanjian Lama (bnd. Mat. 5:21-22; 27-28; 31-32; 33-34; 38-39; 43-44 "Kalian tahu ada ajaran seperti ini ..., tetapi sekarang Aku berkata kepadamu ..."). Karena itu gereja menerima kewibawaan Perjanjian Baru paling tidak setingkat dengan kewibawaan Perjanjian Lama. Rasul Paulus pun menekankan bahwa apa yang disampaikannya diterimanya dari Tuhan Yesus, atau adalah ajaran Tuhan Yesus (bnd. lKor. 7:10; 9:14; 11:23-26;1Tes. 4:15).
Jadi, Perjanjian Lama berwibawa atas gereja karena Yesus memeteraikan kewibawaan-Nya atas Perjanjian Lama dan menafsirkannya sebagai pembuka jalan bagi diri-Nya. Perjanjian Baru berwibawa atas gereja karena rasul-rasul memberi kesaksian tentang pribadi Yesus Kristus. Dengan kata lain, kewibawaan Alkitab terletak pada Allah yang telah berfirman kepada umat manusia melalui perjanjian Allah dalam Perjanjian Lama dart kesaksian tentang Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru, agar kita dapat mendengar, menerima dan menyambut Firman Allah yaitu Yesus Kristus sendiri.
Betapa besar jasa penyalin-penyalin naskah Alkitab! Dari proses penulisan dan kanonisasi yang panjang dart berliku-liku tersebut, tampak sekali ketekunan dan ketelitian penyalin-penyalin naskah Alkitab. Walaupun dalam penyalinan naskah Alkitab selang beratus-ratus tahun kesalahan menulis dan menyalin tidak dapat dihindarkan, perbedaan yang ada tidak mengaburkan ajaran-ajaran yang penting dan pokok tentang iman Kristiani. Kita telah melihat bahwa proses Kanonisasi Alkitab secara ketat membedakan antara ajaran yang dinyatakan dari Allah dan ajaran-ajaran yang salah. Jadi, sekarang kita dapat membaca Alkitab kita dengan yakin bahwa isi Alkitab benar- benar Firman Allah.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b | Referensi 02c
| Nama Kursus | : | DASAR PENGAJARAN ALKITAB |
| Nama Pelajaran | : | Allah, Yesus dan Roh Kudus |
| Kode Pelajaran | : | DPA-R02a |
Referensi DPA-R02a diambil dari:
| Judul Buku | : | Teologi Sistematika 1 |
| Pengarang | : | Louis Berkhof |
| Penerbit | : | Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1993 |
| Halaman | : | 150 - 157 |
Garis Besar:
Doktrin Allah Tritunggal paling tepat dibicarakan secara ringkas dalam kaitannya dengan berbagai proposisi, yang akhirnya membentuk satu ringkasan iman gereja tentang hal ini.
Allah adalah satu dalam esensiNya atau dalam natur konstitusional- Nya. Sebagai Bapa Gereja masa awal memakai istilah "substantia" sebagai kata yang sinonim dengan kata "essentia", tetapi para penulis berikutnya menghindari pemakaian ini berkenaan dengan fakta bahwa dalam gereja Latin kata "substantia" dipakai untuk menunjuk pengertian "hupostasis" dan juga "ousia" dan dengan demikian menjadi amat membingungkan. sekarang ini istilah "substantia" dan "esensi" sering dipakai bergantian. Tidak ada keberatan akan hal ini, sejauh kita senantiasa ingat bahwa sebenarnya kedua kata ini mempunyai sedikit perbedaan arti. Shedd membedakan kedua kata itu demikian: "Esensi berasal dari kata esse, yang artinya 'ada' atau 'adalah' (to be) dan menunjuk kepada keberadaan yang energik. kata "substansi" berasal dari kata "substare" dan menunjukkan arti menerangkan Allah sebagai sum-total dari kesempurnaan yang tidak terbatas; Istilah "substansi" menggambarkan Allah sebagai dasar terpenting dari kegiatan yang tidak terbatas. Jika dibandingkan maka esensi adalah satu kata yang aktif, sedangkan substansi adalah kata yang pasif. Esensi adalah istilah spiritual, dan substansi adalah istilah material. Kita membicarakan tentang substansi material dan bukannya materi esensial." Karena kesatuan Allah telah dibicarakan dalam bagian sebelumnya, sekarang tidak lagi perlu kita membicarakan hal ini lagi. Proposisi berkenaan dengan kesatuan Allah didasarkan atas ayat-ayat seprti Ul 6:4; Yak 2:9 tentang eksistensi diri dan ketidakberubahan Allah, dan berdasarkan kenyataan bahwa Ia diidentifikasikan dengan kesemprunaanNya sebagaimana ketika Ia disebut sebagai hidup, terang, kebenaran dan sebagainya.
Hal ini dibuktikan oleh berbagai ayat yang mensubstansikan doktrin tentang Allah Tritunggal. Untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan ini dalam diri Allah, para penulis Yunani biasanya memakai istilah hupostatis, sedangkan para pengarang Latin memakai istilah persona dan kadang-kadang substantia. Karena istilah hupostatis bisa menyesatkan dan istilah persona bisa menimbulkan kebingungan, orang- orang terpelajar memilih satu kata lain yaitu subsistentia. Perbedaan dari istilah-istilah yang dipakai menunjukkan kenyataan bahwa ketidaklengkapan mereka selalu dirasakan. Pada umumnya disetujui bahwa istilah "person" hanya merupakan pengungkapan yang tidak sempurna dari ide ini. Dalam pemilihan kata yang umum dari subsitentia ini menunjukkan arti rasional dan moral individual yang terpisah, memiliki kesadaran diri, dan sadar akan identitasnya walaupun terjadi berbagai perubahan. Pengalaman mengajarkan bahwa di mana kita memiliki seseorang, kita juga memiliki esensi individual yang berbeda. Setiap orang adalah individu yang berbeda dan terpisah, yang di dalamnya natur manusia diindividualkan. Akan tetapi dalam diri Allah tidak ada tiga individu bersama-sama dan terpisah satu dengan yang lain, tetapi hanyalah perbedaan diri pribadi dari esensi Ilahi, yang bukan saja secara generik tetapi juga secara numerik adalah satu. Sebagai akibatnya banyak orang lebih suka berbicara tentang tiga hipostasis dalam diri Allah, tiga cara keberadaan yang berbeda, bukan manifestasi, seperti dikemukakan oleh Sabelius, akan tetapi tentang eksistensi atau subsistensi. Itulah sebabnya maka Calvin berkata: "dengan menyebut istilah "person", aku maksudkan adalah satu subsistensi dari esensi Ilahi, - satu subsisten yang sementara terikat pada dua yang lain, berbeda dari keduanya dalam sifat-sifat yang tidak saling tukar- menukar." Hal ini jelas diperkenankan dan dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman, tetapi pernyataan ini tidak boleh menyebabkan kita kehilangan pandangan akan adanya fakta bahwa perbedaan diri dalam Keberadaan Ilahi mengandung pengertian berbeda antara "Aku" dan "Engkau" dan "Dia" dalam Keberadaan Allah, yang menunjukkan hubungan-hubungan pribadi dari satu kepada yang lain, Mat 3:16; 4:1; Yoh 1:18; 3:16; 5:20; 14:26; 15:26; 16:13-15.
Hal ini berarti bahwa esensi ilahi tidaklah dibagi-bagi di antara ketiga pribadi, tetapi secara penuh dengan segala kesempurnaannya dalam setiap pribadi, sehingga mereka memiliki kesatuan numerik dalam esensi. Natur Ilahi berbeda dengan natur manusia dalam hal bahwa natur ilahi dapat hadir secara subsisten sepenuhnya dan tidak terbagi dalam lebih dari satu pribadi. Jika tiga pribadi di antara manusia hanya memiliki satu kesatuan spesifik dari natur atau esensi,yaitu saling membagi dalam jenis natur atau esensi, pribadi- pribadi dalam diri Allah memiliki kesatuan numerik dari esensinya, yaitu mempunyai esensi yang identik. Natur atau esensi manusia dapat dianggap sebagai spesies yang dengannya setiap manusia mempunyai bagian individual, sehingga ada kesatuan spesifik (dari kata spesies); tetapi natur ilahi tidaklah terbagi dan dengan demikian identik dalam pribadi-pribadi Allah Tritunggal. Natur ini secara numerik adalah satu dan sama, dan dengan demikian kesatuan esensi dalam setiap pribadi adalah kesatuan numerik. Dari sini kemudian berlanjut bahwa esensi ilahi bukanlah eksistensi yang berdiri sendiri seiring dalam ketiga pribadi. Natur itu tidak memiliki eksistensi di luar dan terpisah dari ketiga pribadi. Jika seandainya memiliki, maka tidak mungkin ada kesatuan yang benar, tetapi suatu pemecahan sehingga dapat membawa ke arah tetratheisme. Perbedaan personal adalah satu dalam esensi ilahi. Sebagaimana biasa disebutkan, memiliki tiga macam cara subsistensi. Kesimpulan lain yang mengikuti yang sebelumnya, adalah bahwa tidak mungkin ada subordinasi dalam hal keberadaan esensial bagi satu pribadi dari Allah Tritunggal kepada pribadi yang lain, dan dengan demikian tidak ada perbedaan dalam kemuliaan pribadi. Posisi ini harus senantiasa kita pegang dalam menghadapi ajaran subordinasianisme dari Origen dan Bapa-Bapa Gereja abad mula-mula, dan dalam menghadapi pandangan Arminian, Clarke, dan teolog Anglican yang lain. Satu-satunya subordinasi yang boleh kita bicarakan adalah subordinasi berkenaan dengan tingkatan dan hubungan. Terutama ketika kita memikirkan tentang hubungan dari ketiga pribadi dalam esensi ilahi, di mana kita tidak dapat memberikan analogi sama sekali dan kita sepenuhnya sadar bahwa Tritunggal adalah suatu misteri jauh di luar jangkauan pemahman kita. Itulah kemuliaan Allah yang tidak terjangkau. Sebagaimana natur manusia terlau kaya dan terlalu penuh untuk dimasukkan dalam diri satu individu tunggal, dan mencapai ekspresi cukup hanya dalam kemanusiaan saja sebagai satu keutuhan, demikian juga keberadaan Ilahi membuka diri-Nya sendiri dalam segala kepenuhan dan hanya dalam tiga bentuk subsistensi yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Ada satu tingkatan tertentu dalam Tritunggal ontologis. Dalam subsistensi personal Allah Bapa adalah yang pertama, Allah Putra yang kedua dan Allah Roh Kudus adalah yang ketiga. Tak perlu dikatakan bahwa tingkatan seperti ini sama sekali tidak berurusan dengan prioritas waktu atau kemuliaan esensial, akan tetapi hanya pada tingkatan logis derivasi. Allah Bapa tidak diperanakkan dari atau mendahului pribadi-pribadi yang lain; Allah Putra secara kekal diperanakkan oleh Bapa dan Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak dari kekal sampai kekal. 'Dihasilkan' dan 'dikeluarkan dari' terjadi dalam Keberadaan Ilahi, dan menyiratkan seolah-oleh ada subordinasi dari cara subsistensi personal, tetapi sesungguhnya tidak ada subordinasi jika ditinjau dari kepemilikian esensi ilahi. Tritunggal ontologis ini dan juga tingkatan setaranya adalah dasar metafisik dari Tritunggal ekonomis. Itulah sebabnya wajar saja bahwa tingkatan yang ada dalam eksistensi Tritunggal esensial harus senantiasa tercermin dalam opera ad extra yang lebih tertuju dari masing-masing pribadi. Alkitab dengan jelas mengungkapkan tingaktan ini dalam apa yang disebut sebagai praepositiones distinctionales: ek, dia dan en, yang dipakai untuk mengemukakan pemikiran bahwa segala sesuatu keluar dari Bapa, melalui Putra dan di dalam Roh Kudus.
Pernyataan ini disebut juga sebagai opera ad intra, sebab mereka adalah karya-karya dalam Keberadaan Ilahi yang tidak terjadi dalam makhluk ciptaan. Kesemuanya adalah tindakan pribadi yang tidak dilaksanakan oleh ketiga pribadi secara bekerja sama. Opera ad intra berbeda dengan opera ad extra atau kegiatan-kegiatan dan akibat-akibat di mana Allah Tritunggal dinyatakan keluar. Tindakan seperti ini tidak pernah merupakan pekerjaan dari satu pribadi secara eksklusif, tetapi selalu merupakan karya dari Keberadaan Ilahi secara keseluruhan. Pada saat yang sama benar juga bahwa dalam tingkatan kecermatan dari karya Allah sebagian dari opera ad extra disebut dengan lebih tertentu pada satu pribadi, dan sebagian lagi lebih tertentu pada pribadi yang lain. Walaupun semuanya adalah karya dari ketiga pribadi secara bersama-sama, penciptaan terutama dikatakan sebagai karya dari Allah Bapa, penebusan adalah karya Allah Putra dan pnyucian adalah karya Roh Kudus. Tingkatan dalam karya Ilahi ini menunjuk kemabali dari tingkatan esensial dalam diri Allah dan membentuk dasar bagi apa yang secara umum dikenal sebagai Tritunggal yang cermat.
Tritunggal adalah satu misteri, bukan semata-mata dalam pengertian Alkitabiah bahwa Tritunggal adalah satu kebenaran, yang semula tersembunyi tetapi sekarang diungkapkan: akan tetapi dalam pengertian bahwa manusia tidak dapat memahami sepenuhnya dan menjadikannya sulit dimengerti. Pengertian tentang Tritunggal ini sulit dipahami dalam sebagian dari hubungan-hubungan dan cara pengungkapannya, akan tetapi mudah dipahami dalam natur esensialnya. Banyak usaha yang dilakukan untuk menjelaskan misteri ini lebih bersifat spekulatif daripada teologis. Usaha-usaha ini dihasilkan dalam perkembangan dari konsep-konsep triteistik dan modalistik tentang Allah, dalam penyangkalan baik kesatuan dari esensi ilahi atau kenyataan dari perbedaan-perbedaan pribadi dalam esensi itu. Kesulitan sesungguhnya tetrletak pada hubungan di mana pribadi-pribadi dalam Allah Tritunggal berhadapan dengan esensi ilahi dan dalam berhadapan satu dengan lainnya; dan ini adalah kesulitan yang tak dapat disingkirkan oleh gereja, tetapi gereja hanya dapat mengurangi sampai pada proporsi yang tepat dengan definisi yang tepat dari istilah itu. Gereja tak pernah mencoba menjelaskan misteri dari Tritunggal dengan suatu cara sehingga kesalahan-kesalahan yang mungkin membahayakan dapat dihindari.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02c
| Nama Kursus | : | DASAR PENGAJARAN ALKITAB |
| Nama Pelajaran | : | Allah, Yesus dan Roh Kudus |
| Kode Pelajaran | : | DPA-R02b |
Referensi DPA-R03B diambil dari:
| Judul Buku | : | Teologi Sistematika 3 |
| Pengarang | : | Louis Berkhof |
| Penerbit | : | Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1996 |
| Halaman | : | 31 - 39 |
Garis Besar:
B. Natur-Natur Kristus
| Buku | : | TEOLOGI SISTEMATIKA 3 |
| Judul | : | Natur-Natur Kristus |
| Halaman | : | 31 - 39 |
| Edisi | : | |
| Penulis | : | Louis Berkhof |
B. Natur-Natur Kristus
Sejak masa yang paling awal dan terutama sejak Konsili Chalcedon, gereja mengakui doktrin dua natur Kristus. Konsili ini tidak menyelesaikan permasalahan yang dikemukakan oleh seseorang yang pada saat yang sama adalah Allah dan manusia, akan tetapi hanya berusaha menjelaskan bahwa jalan keluar lain yang ditawarkan jelas terbukti keliru. Dan gereja menerima doktrin dua natur dalam satu pribadi bukan karena gereja memiliki pengetahuan yang lengkap tentang misteri ini, akan tetapi karena gereja jelas melihat di dalamnya terdapat sebuah misteri yang diungkapkan oleh Firman Tuhan. Sejak saat itu doktrin ini telah menjadi dan tetap menjadi bagian pengakuan iman, yang jauh melebihi kemampuan pengertian manusia.
Kaum Rasionalis menyerang doktrin ini dengan mengatakan bahwa doktrin ini tidak diperlukan, akan tetapi gereja tetap teguh pada pendiriannya dalam pengakuan kebenaran ini, walaupun berkali-kali dikatakan bahwa hal tersebut bertentangan dengan pikiran. Dalam pengakuan ini Roma Katolik dan Protestan saling bahu-membahu. Akan tetapi sejak akhir abad delapan belas, doktrin ini terus menerus dijadikan pokok serangan. Abad Pencerahan dimulai, dan dikatakan bahwa manusia tidaklah berharga jika menerima otoritas Alkitab yang sesungguhnya bertentangan dengan akal manusia. Apa yang tidak sesuai dengan pernyataan baru ini dianggap salah. Para ahli filsafat individual dan para teolog sekarang berusaha mencari jalan keluar atas persoalan yang timbul mengenai Yesus, dengan tujuan supaya mereka dapat menawarkan kepada gereja satu pengganti bagi doktrin dua natur. Mereka memulai titik awalnya dalam diri manusia Yesus, dan bahkan setelah satu abad penelitian yang penuh perjuangan, akhirnya menemukan bahwa di dalam diri Yesus hanyalah manusia dengan elemen Ilahi. Mereka tidak berhasil bangkit dan melihat-Nya sebagai Tuhan dan Allah mereka.
Schleiermacher menyebut Yesus sebagai manusia dengan kesadaran keallahan yang luar biasa; Ritschl menyebut-Nya sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai Allah; Wendt melihat Yesus sebagai manusia yang terus menerus memiliki persekutuan kasih dengan Allah; Beyschlag menyebut Yesus sebagai manusia yang dipenuhi Allah; dan Sanday menyebutNya sebagai manusia sejati yang memiliki perasaan keilahian di alam bawah sadar-Nya; - tetapi betapapun definisi itu diberikan, Kristus tetap disebut sebagai manusia. Sekarang ini aliran liberal yang diwakili oleh Harnack, aliran eskatologis yang diwakili oleh Weiss dan Schweitzer, dan yang lebih baru lagi aliran perbandingan agama yang dikepalai oleh Bousset dan Kirsopp Lake, setuju untuk menelanjangi Kristus dari Keilahian-Nya yang benar, dan menjadikan- Nya hanya sekedar manusia. Bagi kelompok yang pertama, Tuhan kita hanyalah guru etika yang agung, bagi kelompok kedua Ia hanyalah seorang pengamat apokaliptik dan bagi kelompok ketiga Ia adalah pemimpin tanpa kelompok tertentu untuk tujuan pemuliaan. Mereka menganggap Kristus yang dimiliki gereja adalah hasil ciptaan Hellenisme atau Yudaisme, atau gabungan dari keduanya. Akan tetapi sekarang ini keseluruhan epistemologi abad lalu dipertanyakan kembali, dan kemampuan akal manusia untuk menafsirkan kebenaran yang tertinggi sungguh-sungguh dipertanyakan. Ada tekanan baru dalam hal wahyu. Dan para teolog yang sangat berpengaruh seperti Barth dan Brunner, Edwin Lewis dan Nathaniel Micklem, tidak ragu-ragu mengakui iman mereka terhadap doktrin dua natur. Sungguh amat penting bagi kita untuk memegang teguh doktrin ini, sebagaimana dirumuskan oleh Konsili Chalcedon dan disebutkan dalam patokan pengakuan iman kita.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus
Kode Pelajaran : DPA-R02c
Referensi DPA-R02c diambil dari:
Judul Buku : Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Disusun dan disunting : R.C SPROUL
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1997
Halaman : 151 - 153
Salah satu penemuan yang berguna di zaman modern ini adalah lampu baterai atau orang Inggris menyebutnya "the torch". Pada saat listrik mati dan kegelapan menyelimuti rumah kita, lampu baterai merupakan penyelamat kita. Fungsinya adalah untuk menerangi kegelapan sehingga kita dapat melihat apa yang ada di sekeliling kita. Lampu itu berfungsi untuk menerangi pemandangan.
Alkitab bukan sebuah kitab kegelapan. Sebaliknya, Alkitab adalah sumber terang yang sangat dibutuhkan. Pemazmur menyebut Firman Tuhan sebagai "pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105).
Tidak semua bagian dari Firman Tuhan secara sederajat jelas untuk dimengerti oleh kita. Ada bagianbagian tertentu di Alkitab yang sulit untuk dipahami. Kita berusaha untuk mendapatkan penerangan supaya dapat mengerti arti dari teks itu. Akibat dosa atas kita telah menyebabkan kegelapan pada pikiran kita. Di dalam natur kejatuhan kita, kita adalah makhluk kegelapan yang sangat membutuhkan terang.
Meskipun Firman Tuhan itu sendiri merupakan terang bagi kita, namun kita membutuhkan penerangan tambahan supaya kita dapat dengan jelas menerima terang itu. Roh Kudus yang sama yang telah menginspirasikan Firman Tuhan, bekerja untuk menerangi Firman Tuhan supaya kita dapat memahami dan menerimanya. Dia memberikan penerangan tambahan pada terang itu. Iluminasi merupakan pekerjaan Roh Kudus. Dia menolong kita untuk mendengar, menerima, dan secara tepat mengerti berita Firman Allah. Sebagaimana yang ditulis rasul Paulus:
Tetapi seperti ada tertulis:
Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.' Karena kepada isi kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah (1 Korintus 2:9-11)
Pada ayat ini Paulus memberikan analogi dari pengalaman manusia. Anda dapat belajar banyak hal mengenai saya dengan cara mengamati saya atau dari apa yang anda dengar tentang saya, tetapi anda tidak dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikiran saya atau roh saya, kecuali saya memutuskan untuk menyatakannya. Hanya saya yang tahu apa yang saya pikirkan. (Meskipun ada kalanya saya yakin bahwa istri saya dapat membaca pikiran saya).
Demikian pula halnya dengan Roh Kudus yang mengetahui pikiran Allah. Paulus mengatakan bahwa Roh Kudus "menyelidiki" hal-hal yang tersembunyi dari Allah. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus harus menyelidiki dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ke dalam pikiran Allah supaya dapat mengetahui. Dia tidak berusaha untuk mencari informasi yang tidak Dia miliki. Dia "menyelidiki" sebagai lampu sorot yang menyinari malam supaya dapat menerangi apa yang berada di dalam kegelapan.
Iluminasi jangan dibingungkan dengan wahyu. Pada zaman ini merupakan hal yang biasa orang berbicara mengenai wahyu yang diterima secara pribadi dari Roh I`udus. Pekerjaan Roh Kudus dalam iluminasi tidak memberikan informasi yang baru atau wahyu yang baru yang tidak terdapat dalam Firman Tuhan yang kud,.is.
Kekristenan Reformasi dengan tegas menyangkal bahwa Allah memberikan wahyu yang baru pada hari ini. Roh Kudus masih bekerja untuk memberi iluminasi pada apa yang telah diwahyukan di Firman Tuhan. Roh Kudus menolong kita untuk mengerti Alkitab, untuk meyakinkan kita akan kebenaran Firman Tuhan, dan untuk mengaplikasikan kebenaran itu ke dalam kehidupan kita. Dia bekerja dengan Firman dan melalui Firman. Tugas-Nya tidak pemah mengajarkan hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Oleh karena itu, kita harus terus menguji apa yang kita dengar dengan Firman Tuhan. Firman "ihan merupakan buku Roh Kudus.
RINGKASAN
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b | Referensi 03c
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Dosa, Setan dan Keselamatan
Kode Pelajaran : DPA-R03a
Referensi DPA-R03a diambil dari:
Judul Buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I: A-L
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih OMF, Jakarta, 1994
Halaman : 409 - 410
Nama penguasa kejahatan. Ibrani satan, Yunani Satanas, arti dasarnya 'lawan' (kata itu diartikan demikian dlm Bil 22:22). Kedua ps pertama Ayb menceritakan Iblis muncul di hadirat Tuhan di antara 'anak-anak Tuhan'. Kadang-kadang dikatakan bahwa dalam bg-bg Alkitab seperti ini, Iblis tidak dipikirkan sebagai melulu jahat, melainkan semata-mata salah satu dari makhluk-makhluk sorgawi. Harus diakui bahwa di situ belum terdapat ajaran yang berkembang seutuhnya, tapi kegiatan-kegiatan Iblis jelas merugikan Ayub. Acuan PL mengenai Iblis jarang sekali, tapi Iblis terus-menerus terlibat dalam kegiatan- kegiatan melawan kepentingan manusia. Ia membujuk Daud untuk menghitung rakyatnya (1 Taw 21:1). Ia berdiri di sebelah kanan Yosua, imam agung, dan 'mendakwa' Yosua, sehingga menimbulkan amarah Tuhan (Za 3:1 dst). Pemazmur menganggap adalah bencana jika Iblis berdiri di sebelah kanan seseorang (Mzm 109:6, TBI 'pendakwa'). Yohanes berkata bahwa 'Iblis berbuat dosa dari mulanya' (1 Yoh 3:8), dan acuan-acuan PL mengenai Iblis mendukung hal ini.
Kebanyakan dari informasi tentang Iblis sumbernya adalah PB, di mana makhluk jahat yang teramat mengerikan ini disebut Satanas atau ho diabolos tanpa perbedaan arti, dan dalam hal-hal tertentu juga disebut Beelzebul (atau Beelzeboul, atau Beezeboul, Mat 10:25; 12:24, 27). Ungkapan-ungkapan lainnya seperti 'penguasa dunia' (Yoh 14:30) atau 'penguasa kerajaan angkasa' (Ef 2:2) juga digunakan. Iblis selalu dilukiskan sebagai melawan Allah, dan bekerja untuk menggagalkan maksud-maksud Allah.
Matius dan Lukas menceritakan, bahwa Yesus pada awal pekerjaan-Nya mengalami pencobaan berat, ketika Iblis mencobai Dia supaya melaksanakan tugas-Nya dengan semangat yang keliru (Mat 4; Luk 4; lih juga Mrk 1: 13). Setelah itu Iblis meninggalkan-Nya 'untuk sementara', yang berarti bahwa pertarungan itu kemudian diulangi lagi. Hal ini jelas pada pernyataan bahwa 'Ia sama dengan kita, Ia telah dicobai' (Ibr 4:15). Konflik tersebut bukan kebetulan! Sebab maksud kedatangan Yesus ke dunia dinyatakan sebagai 'membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis' (1 Yoh 3:8; bnd Ibr 2:14). Di mana-mana PB melihat konflik besar antara kekuatan Allah dan kebaikan di satu pihak, melawan kejahatan di bawah pimpinan Iblis di pihak lain. Hal ini bukanlah pikiran satu atau dua penulis saja, melainkan umum dan mendasar.
Tak dapat diragukan betapa hebat dan sengitnya konflik itu. Untuk menekankan kengeriannya, Petrus menggambarkan Iblis 'berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya' (1 Ptr 5:8). Paulus lebih memikirkan kelicikan si jahat. 'Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang' (2 Kor 11:14), sehingga tidak mengherankan bila antek-anteknya nampak sangat meyakinkan dalam penyamaran mereka. Orang-orang Efesus dinasihati untuk 'mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis' (Ef 6:11), dan ada beberapa acuan tentang jerat Iblis' (1 Tim 3:7; 2 Tim 2:26). Ay-ay seperti itu menekankan bahwa orang Kristen (dan bahkan penghulu malaikat, Yud 9) terus terlibat dalam pertarungan yang tak henti-hentinya tanpa iba dan penuh kelicikan.
Orang Kristen tidak dapat mengundurkan diri dari pertarungan itu. Juga tidak dapat menganggap bahwa kejahatan selalu kelihatan sebagai kejahatan. Diperlukan kepintaran, keuletan, kegigihan dan keberanian. Tapi perlawanan yang mantap terhadap Iblis akan selalu berhasil. Paulus menasihati pembaca agar melawan Iblis 'dengan iman yang teguh' (1 Ptr 5:9), dan Yakobus berkata, 'lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu' (Yak 4:7). Paulus menasihatkan agar jangan 'memberi kesempatan kepada Iblis' (Ef 4:27), dan dampak dari mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah ialah, orang percaya dapat melawan apa pun serangan si jahat (Ef 6: l 1, 13). Paulus meletakkan kepercayaannya pada kesetiaan Allah. 'Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar' (1 Kor 10: 13). Ia sadar benar akan kecerdikan Iblis dan yang selalu berusaha untuk 'memperoleh keuntungan atas kita'. Tapi Paulus menambahkan 'kita tabu apa maksudnya' (atau seperti yang dapat diterjemahkan, 'Aku sadar akan siasat-siasatnya', 2 Kor 2:11).
Iblis senantiasa menentang Injil, sebagaimana nampak di sepanjang pelayanan Kristus. Iblis bekerja melalui pengikut-pengikut Yesus, seperti Petrus ketika menolak gagasan tentang salib dan ditegur keras, 'Enyahlah Iblis' (Mat 16:23). Iblis mempunyai rencana selanjutnya terhadap Petrus, tapi Tuhan Yesus berdoa untuknya (Luk 22:31 dst). Iblis bekerja juga dalam musuh-musuh Yesus. Justru Yesus menyatakan kepada musuh-musuh-Nya itu bahwa 'Iblislah yang menjadi bapakmu' (Yoh 8:44). Semua pertentangan itu mencapai puncaknya pada masa sengsara Yesus. Pekerjaan Yudas dinyatakan sebagai kegiatan si jahat. Iblis 'masuk ke dalam' Yudas (Luk 22:3; Yoh 13:27). Iblis 'membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianan Dia' (Yoh 13:2). Dengan salib menanti di depan Yesus berkata 'penguasa dunia ini datang' (Yoh 14:30).
Iblis terus-menerus menggodai manusia (1 Kor 7:5). Alkitab melaporkan bahwa Iblis bekerja dalam diri seorang percaya Ananias ('mengapa hatimu dikuasai Iblis ..." Kis 5:3), dan dalam ihwal Elimas terang- terangan membelokkan jalan Tuhan ('hai anak Iblis ... engkau musuh segala kebenaran,' Kis 13: 10). Prinsip umum diberikan dalam I Yoh 3:8, 'barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dan Iblis.' Orang dapat begitu saja menyerahkan dirinya kepada Iblis sehingga ia menjadi milik Iblis, menjadi 'anak- anaknya' (1 Yoh 3:10). Karena itulah Alkitab berbicara tentang 'jemaah Iblis' (Why 2:9; 3:9), dan tentang orang yang diam 'di tempat takhta Iblis' (Why 2:13). Iblis menghalang- halangi pekerjaan para pemberita Injil (1 Tes 2: 18). Ia merampas benih unggul yang ditaburkan di dalam hati manusia (Mrk 4:15). Ia menyebarkan 'anak- anak si jahat' di ladang, yaitu dunia (Mat 13:38). Kegiatan Iblis dapat berakibat fatal atas jasmani manusia (Luk 13:16). Ia selalu dilukiskan mempunyai banyak akal dan terus aktif.
Tapi PB tahu pasti keterbatasan-keterbatasan dan kekalahan Iblis. Kekuasaannya adalah pinjaman (Luk4:6). Ia dapat, melakukan kegiatannya hanya dalam batas-batas yang telah ditetapkan Allah (Ayb 1: 12; 2:6; 1 Kor 10: 13; Why 20:2,7), Bahkan ia dapat diperalat untuk suatu tujuan yang benar (1 Kor 5:5; bnd 2 Kor 12:7). Yesus melihat kemenangan perdana dalam tugas ke-70 murid (Luk 10: 18), dan tentang 'api yang kekal' sebagai 'yang disediakan bagi Iblis dan malaikat-malaikatnya' (Mat 25:41). Yohanes melihat ini terjadi (Why 20:10).
Di atas telah dikemukakan bahwa konflik dengan Iblis memuncak pada sengsara Tuhan Yesus. Di situ Yesus menyebut Iblis sebagai 'dilemparkan ke luar' (Yoh 12:31), dan 'dihakimi' (Yoh 16:11). Kemenangan itu secara khusus - disinggung dalam Ibr 2:14; 1 Yoh 3:8. Pekerjaan para pengkhotbah ialah 'untuk membalikkan' orang 'dari kekuasaan Iblis kepada Allah' (Kis 26:18). Paulus berkata dengan penuh keyakinan 'Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu' (Rm 16:20).
Kesaksian PB telah jelas. Iblis adalah realitas yang jahat, senantiasa memusuhi Allah dan umat-Nya. Tapi ia sudah dikalahkan total dalam hidup, kematian dan kebangkitan Kristus, dan kekalahan ini akan menjadi nyata dan gena paila akhir zaman.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03c
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Dosa, Setan dan Keselamatan
Kode Pelajaran : DPA-R03b
Referensi DPA-R03b diambil dari:
Judul Buku : Dosa Keadilan & Penghakiman
Pengarang : Sthephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1992
Halaman : 43 - 51
Dosa itu apa? Istilah "dosa" muncul sangat banyak di dalam Alkitab, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Kalau kita melihat istilah yang dipakai dalam Ibrani adalah hatta. Istilah ini berarti jatuh dan mengurangi standard dari Tuhan yang suci itu (falling short of the standard of God). Jadi Allah telah menetapkan suatu standard. Pada waktu kita lepas, kita turun dari standard yang ditetapkan oleh Allah, itu disebut hatta (dosa), sehingga baiklah kita mengerti istilah dosa, bukan dengan cara dunia dalam pengertian hukum. Waktu bcrbicara tentang hukum berarti mereka sudah secara tidak sadar sudah menyetujui bahwa fakta dosa sudah ada di dalam dunia. Perkembangan yang terakhir, baik di Sorbone University di Paris sebagai sekolah yang terbesar dan terkenal di dunia Latin, maupun di beberapa sekolah yang tertinggi di Amerika seperti Harvard dan Yale University, menunjukkan bahwa mereka berusaha untuk mencairkan atau berusaha untuk mengurangi konsep- konsep tentang keseriusan dosa. Meskipun demikian mereka tidak mungkin menolak bahwa fakta dosa itu memang ada di dalam dunia. Berdasarkan pengertian akan fakta dosa secara serius, maka agama mempunyai tempat dan akar yang cukup kuat dan tidak mungkin dapat dicabut oleh kebudayaan mana pun.
Dosa merupakan suatu fakta dan dalam pengertian hukum dunia adalah pelanggaran terhadap sesuatu yang sudah secara perjanjian bersama (konsensus) ditetapkan oleh ahli-ahli hukum agar menjadi patokan untuk mengatur hidup sosial dan etika dalam masyarakat. Jikalau ahli-ahli hukum sudah menyetujui secara konsensus lalu mencantumkan di dalam hukum suatu negara, maka apa yang dicantumkan itu menjadi standard negara itu. Barangsiapa berbuat sesuatu yang melanggar konsensus yang dicatat dalam hukum itu, disebut dosa. Di sini saya melihat kelemahan dari semua negara, semua hukum dari dunia ini ialah mereka hanya sanggup melihat dosa dari aspek yang paling rendah yaitu kelakuan yang salah.
Sekali lagi, meskipun dalam hukum ditentukan perbedaan hukuman atas kesalahan dengan rencana atau yang tidak berencana, tetapi tidak ada suatu hukum yang bisa langsung menghukum orang yang mempunyai niat atau rencana di dalam hati namun belum melakukan sesuatu di luar. Maksudnya, jikalau seseorang mempunyai hati yang ingin mencuri, tidak ada hukum di dunia yang boleh langsung memenjarakan dia, kecuali dia sudah melaksanakannya. Dengan demikian di seluruh dunia, pengertian hukum dan keadilan hanyalah dapat mengerti dosa di dalam hal yang superficial (yang tampak di permukaan). Dunia hanya mengerti dan menetapkan dosa berdasarkan sesuatu perbuatan yang dianggap melanggar suatu konsensus tentang hukum.
Tetapi Alkitab tidak demikian. Alkitab berkata dengan jelas, "yang membenci seseorang, sudah membunuh" (Mat.5:21-22). Disini etika Kristen adalah etika yang melampaui perbuatan yang nyata di dunia. Etika Kristen merupakan etika yang langsung ditujukan kepada motivasi seseorang secara terbuka di hadapan Tuhan. Allah sedemikian marah seperti api yang menyala-nyala. Allah yang menembus hati sanubari manusia dan tidak melihat perbuatan di luar, tetapi Dia melihat motivasi Saudara di dalam.
Dosa dan keadilan Allah, kebenaran Allah menuntut kepada keseluruhan hidup kita, mulai dari motivasi di dalam, segala rencana di dalam, pikiran di dalam, mentalitas di dalam, sikap yang setengah di dalam setengah di luar, sampai perbuatan yang seluruhnya di luar. Semua ini dituntut oleh Tuhan. Menjadi seorang manusia berarti menjadi orang yang dicipta menurut peta dan teladan Allah dan dicipta supaya dia berdiri dan bertanggungjawab secara pribadi kepada Tuhan Allah. (To be a man as chafed under the image and the likeness of God is to exist with oneself alone before God) Tidak ada yang lain yang bisa menghalangi. Saya di hadapan Allah harus mempertanggungjawabkan segala motivasi saya, semua bibit pikiran saya, semua sikap mentalitas saya, semua sikap dan sifat pribadi saya, semua perkataan saya. Ketotalan ini, totalitas dan tanggung jawab ini, menjadikan Kekristenan seperti apa yang dikatakan Kierkegaard bahwa menjadi orang Kristen terlalu sulit, karena Allah bukan menuntut hal-hal yang tampak di luar. Hukum-hukum di dunia terlalu rendah. Mereka hanya bisa menunjukkan Saudara berdosa setelah mereka menemukan dan membuktikan bahwa Saudara sudah berbuat, mengaku, atau sudah mengekspresikan apa yang Saudara inginkan di dalam perbuatan yang merugikan orang lain. Tetapi Kekristenan dan iman Kristen bukan demikian. Ia telah menuntut keseluruhan Saudara sampai ke dalam hati sanubarimu yang sedalam-dalamnya sampai ke dalam motivasi Saudara di hadapan Tuhan dimana orang tidak lihat Tuhannya. Menjadi orang Kristen memang tidak mudah.
Di dalam dunia abad 20 ini terlalu banyak gereja ingin mendapatkan anggota sebanyak mungkin, maka mereka menurunkan derajat mute Kekristenan menjadi kekristenan yang mudah diterima, mudah dilaksanakan, namun itu bukanlah Kekristenan yang sejati. Turun lebih rendah daripada standard yang telah ditetapkan oleh Tuhan, itulah dosa.
Alkitab memakai istilah ini 580 kali di dalam PL. Istilah hatta merupakan suatu istilah yang begitu menyedihkan Tuhan. Karena di dalam istilah ini Kekristenan dan Alkitab. Orang Kristen menunjukkan suatu hal yang tidak ada pada agama lain, yaitu Allah telah menetapkan suatu standard bagi Saudara, sehingga Saudara tidak bisa hidup sembarangan. Di dalam agama-agama yang lain, mereka mempunyai standard mereka sendiri. Mereka mempunyai tujuan mereka sendiri dan tujuan yang mereka harapkan itu berdasarkan diri mereka yang sudah jatuh ke dalam dosa, yang tidak mereka sadari. Mereka ingin mencapai suatu hidup yang tinggi yang suci. Namun bagaimanapun tingginya tujuan itu hanyalah merupakan hasil dari otak yang sudah jatuh di dalam dosa. Sedangkan waktu Allah mengatakan hatta, berarti Saudara sudah lebih rendah daripada standard yang sudah ditetapkan oleh Allah sendiri. Itu artinya dosa.
Dosa jangan hanya dimengerti sebagai mencuri, berzinah, berjudi, main pelacur, atau mabuk-mabuk, itu memang tidak benar. Itu dosa, Tetapi hal itu merupakan hal yang superfisial, yang ditujukan di luar. Tuntutan Alkitab jauh lebih dalam dan lebih lengkap, secara totalitas daripada itu. Suatu standard telah ditetapkan Allah bagi manusia sebagai syarat atau kriteria tingkah laku dan moralitas manusia. Itu yang disebut kebenaran dan keadilan Allah.
Istilah kedua di dalam bahasa Ibrani adalah Avon. Ini berarti sesuatu guilty (kesalahan) atau suatu hal yang mengakibatkan kita merasa kita patut dihukum. Istilah ini sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Suatu perasaan di dalam diri kita yang menganggap diri cacat atau perasaan di dalam jiwa yang merasa diri kurang benar, sehingga kita selalu merasa mau menegur diri. Hal ini bersangkut paut dengan fungsi hati nurani yang diberikan hanya kepada manusia saja. Tidak ada binatang yang mempunyai guilty feeling, tidak ada binatang yang bisa menegur diri karena merasakari sesuatu hal yang tidak benar yang sudah diperbuatnya. Tetapi manusia tidak demikian. Setelah Saudara berbuat kurang sopan terhadap seseorang, Saudara akan pikir Iagi, "Wah, mengapa tadi saya berbuat begitu ya? Seharusnya saya tidak begini, tapi mengapa begini dan toh sudah begini lalu bagaimana atau terus begini." Saudara mempunyai perasaan berhutang atau perasaan bahwa Saudara patut dihukum. Perasaan sedemikian berdasarkan suatu pikiran dari apa yang sudah Saudara kerjakan, lalu hal itu dikaitkan dcngan diri Saudara sebagai status dalam kcadaan patut dihukum, itu disebut guilty, avon.
Alkitab memakai istilah ketiga dalam bahasa Ibrani, yaitu Pesha. Pesha berarti semacam pelanggaran. Pelanggaran berarti ada suatu batas yang sudah ditetapkan, tetapi Saudara melewatinya atau sudah ada suatu standard namun bukan saja tidak bisa mencapai tetapi juga Saudara mau melawan atau melanggar. Maka pengertian ini bersangkut paut dengan suatu pengetahuan yang jelas, ditambah dengan kemauan yang tidak mau taat. Saya tahu apa itu baik, tapi saya sengaja melawan. Saya tahu batas sudah di situ, tetapi saya sengaja mau melewatinya. Tahu batas dan tahu tidak baik, tapi sengaja melewati, itu disebut pesha.
Jadi disini kita melihat dosa dinyatakan oleh Alkitab, wahyu Tuhan, begitu jelas di dalam ketiga aspek yang besar. Pertama, tidak mencapai atau menyeleweng dari standard yang ditetapkan Allah. Kedua, merupakan suatu hal yang salah atau sesuatu yang tidak seharusnya Saudara kerjakan, tapi Saudara kerjakan. Waktu Saudara sadar, Saudara tahu sudah berlaku tidak benar. Ketiga, adalah suatu pelanggaran yang sengaja dari seseorang. Kalau kita meneliti semua yang menjadi pcngalaman kita masing-masing, maka Saudara mau tidak mau harus mengakui Firman Tuhan yang diwahyukan Tuhan dalam kitab suci ini betul-betul benar.
Dalam Alkitab PB ada 2 istilah dalam bahasa Yunani yang penting sekali.
Adikia berarti perbuatan yang tidak benar. Hal ini merupakan perbuatan lahiriah atau dari luar, yang dinilai merupakan sesuatu perbuatan yang tidak benar sama seperti yang dikatakan oleh hukum- hukum dunia tentang orang bersalah. Di pengadilan ketika semua pemeriksaan sudah selesai, maka hakim akan memvonis, bahwa Saudara bersalah. Itulah adikia, berarti Saudara sudah berbuat salah.
Tetapi Perjanjian Baru sama dengan Perjanjian Lama, sama-sama adalah wahyu yang diberikan oleh Allah yang suci, satu sumber, satu Roh Kudus, satu Allah yang memberikan wahyu baik kepada Perjanjian Lama dengan media bahasa Ibrani maupun kepada orang-orang di Perjanjian Baru dengan media bahasa Yunani. Sumbernya satu, Allah yang satu, standard yang satu.
Istilah kedua dalam Perjanjian Baru adalah hamartia yang artinya adalah kehilangan, meleset dari target atau sasaran yang ditetapkan. Jika saya melepaskan satu anak panah menuju pada satu sasaran yang sudah jelas, yaitu lingkaran tertentu yang harus dicapai, tetapi anak panah itu jatuh satu meter sebelum sasaran itu, maka itu disebut hamartia. Sekali lagi saya berusaha untuk melepaskan panah, tetapi kini bukan tidak sampai, tapi terus lewat jauh dari target yang ditetapkan, itupun disebut hamartia. Atau ketiga kalinya saya melepaskan panah, panah itu terbang menuju sasaran, namun menancap 2 cm. dari sasaran, berhenti di pinggir target itu, itu tetap artinya hamartia.
Jadi disini tidak peduli kurang berapa meter, lebih berapa cm. atau meleset hanya beberapa mm., itu semua dianggap sama. Hanya mereka yang betul-betul kena dengan sasaran asli, itu yang dianggap benar. Yang lain semua dianggap hamartia.
Dari kelima istilah, tiga dalam bahasa Ibrani, di PL dan dua dalam bahasa Yunani, kita melihat suatu gambaran yang jelas, manusia dicipta bukan untuk kebebasan yang tanpa arah, tetapi manusia dicipta dengan standard yang sudah ditetapkan!
Tugas seumur hidup yang paling penting bagi Saudara ialah menemukan target yang Tuhan tetapkan bagi Saudara demi kemuliaan Allah. Kalau kita sudah tepat pada target yang Tuhan tetapkan bagi kita, barulah kita menjadi satu manusia yang tidak ada pelanggaran atau tidak ada keadaan jatuh daripada standard asli, baru kita disebut orang benar, orang yang sesuai dengan kehendak Allah. Saya harap melalui pembinaan seperti ini, kita mengoreksi konsep-konsep yang tidak benar.
JIka Saudara mengikuti kebaktian puluhan ribu kali atau ratusan kali di gereja setiap minggu, tetapi teologi Saudara tidak dibereskan, kalau iman Saudara tidak dibereskan oleh Firman Alkitab sendiri, Saudara menjadi orang Kristen yang terus terjerumus di dalam konsep- konsep yang salah, maka bagaimana giat pun tidak berguna. Karena Saudara belum pernah menemukan target itu apa, belum pernah menemukan definisi yang benar itu apa. Pengertian-pengertian yang mengoreksi membuat kita mendapatkan suatu integrasi yang betul-betul lengkap dan mengerti Firman Tuhan. dengan baik lalu membuat pelayanan kita menjadi baik.
Dari hatta, avon, pesha, adikia, hamartia, ini arti istilah dosa dalam seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru begitu jelas bahwa kalau standard yang ditetapkan oleh Tuhan kita lepas atau kita kurangi atau kita belum mencapainya, disebut oleh Tuhan sebagai dosa.
Seumur hidup saya harus bertanya, "Tuhan sudahkah saya mencapai standard yang telah Tuhan tetapkan bagi saya?" Kalau belum, saya masih banyak kekurangan yang dianggap dosa oleh Tuhan. Demikian juga dengan Saudara. Namun pada zaman ini, orang bukan saja tidak mau mencapai standard yang lebih tinggi, malahan minta diturunkan supaya cocok dengan pasaran sekarang.
Kekristenan yang sedemikian tidak berpengharapan. Kekristenan akan dirusak, akan digerogoti. Pada saat saya berkata demikian, orang mengkritik, "Pendeta ini suka mengkritik, merasa hanya dia yang benar, yang lain ddak benar." Jika Saudara belum pemah tahu betul- betul apa itu "benar", Saudara tidak akan pernah sadar bahwa Saudara pasti tidak akan menemukan yang tidak sempurna itu sebagai yang tidak sempurna. Mungkin setelah saya meninggal baru orang mengerti apa yang sudah saya kerjakan semasa saya hidup, tapi sudah terlambat.
Satu jaman ini akan digerogoti oleh pengertian-pengertian tidak sempurna, tidak tepat, sehingga Kekristenan akan dirusakkan oleh mereka yang disebut pemimpin-pemimpin gereja. Kapan iman Kristen akan diluruskan kembali? Kapankah kita bertobat dan setia kepada Firman Tuhan, dimana seluruh dunia akan lenyap tetapi Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya? Hari ini kita boleh melihat orang tidak senang terhadap pembahasan semacam ini, tetapi saya berkata, "Suatu hari gereja yang tidak selalu setia kepada Firman Tuhan harus diadili terlebih dahulu. Dan pada saat itu sudah terlambat." Allah tidak mengadili berapa banyak pendengar Saudara atau berapa pandainya Saudara. Tidak! Allah akan bertanya, "Apa yang Saudara ajarkan?"
Saudara yang menjadi guru sekolah minggu jangan kira Saudara masuk kelas untuk menipu anak-anak agar mereka diam-diam tidak bermain di kelas, itu bukan guru sekolah minggu; jangan kira Saudara menjadi majelis dapat bergaya dengan memakai dasi hari Minggu seperti malaikat bersayap dua. Jangan kira Saudara sudah lulus dari sekolah teologi, Saudara dapat berkotbah lalu Saudara merasa begitu penting, begitu hebat berdiri di atas mimbar. Setiap kalimat yang tidak beres, harus Saudara pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Setiap ajaran yang Saudara tidak pertanggungjawabkan sungguh-sungguh akan merusak orang lain dan pada akhirnya gereja akan dirugikan, iman Kristen akan diubah oleh pengertian yang tidak benar. Saudara harus berdiri untuk dihukum oleh Tuhan. Dengan sikap seperti itulah akhirnya saya dengan gentar melayani Tuhan dan teras-menerus mendidik dan berkata kepada murid-murid saya, "Hari-hari, berkotbahlah sesuai hanya dengan Firman Tuhan saja, bukan semau sendiri. Jangan mengganti Firman Tuhan dengan ilmu pendidikan! Jangan mengganti Firman Tuhan dengan ilmu jiwa! Jangan mengganti Firman Tuhan dengan cara-cara dunia yang anthroposentris! Firman Tuhan adalah Firman Tuhan!"
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Dosa, Setan dan Keselamatan
Kode Pelajaran : DPA-R03c
Referensi DPA-R03B diambil dari:
Judul Buku : Diselamatkan oleh Anugerah
Pengarang : Antony A. Hoekema
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2001
Halaman : 47 - 52
Menurut kalimat dari Pengakuan Iman Westminster, Roh Kudus adalah "satu-satunya Pelaku efisien dalam penerapan penebusan." Paulus mengajarkan bahwa Allah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, melainkan melalui pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit. 3:5); Paulus meyakinkan jemaat Galatia bahwa kita hidup oleh Roh (maksudnya bukan hanya secara fisik, tetapi khususnya kehidupan rohani, Gal. 5:25). Yesus sendiri memberitahu para murid bahwa Roh memberi hidup yang kekal (Yoh. 6:63). Sebagai Pribadi yang menerapkan penebusan ke dalam hati dan hidup kita, Roh Kudus hidup dan berdiam bersama kita dan di dalam kita (Yoh. 14:17; Rom. 8:9; 1 Kor. 3:16; 2Tim. 1: 14).
Peran utama Roh Kudus dalam proses keselamatan kita adalah menyatukan kita dengan Kristus. Paulus mengungkapkan pemikiran ini dengan cara yang paling jelas dalam 1 Korintus 12:13, "Sebab dalam [dengan] satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh" - dan jelas dari konteks sebelumnya bahwa tubuh yang satu ini adalah Kristus. Dengan kata lain, Paulus "merujuk seluruh kehidupan baru ini, baik dalam hal sumbernya maupun realisasinya serta pengkomunikasiannya, kepada Roh Kudus, yaitu merupakan pekerjaan, kuasa dan karunia-Nya."
Dalam bab selanjutnya, saya akan membahas mengenai kesatuan dengan Kristus (union with Christ) sebagai hal yang sentral dalam soteriologi. Namun, di bagian ini, harus disebutkan bahwa Roh Kudus- lah yang menyatukan kita dengan Kristus. Roh Kudus disebut Roh Allah (2Kor. 3:17), Roh Kristus (Rom. 8:9; 1Pet. 1:11), Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19), atau Roh Anak-Nya (Gal. 4:6). Ketika seseorang mengambil bagian di dalam Kristus, maka dia juga mengambil bagian di dalam Roh Kudus. Paulus mengilustrasikan poin ini secara dramatis dalam suratnya kepada jemaat Roma. Dalam Roma 8:9 dia mendeskripsikan orang-orang percaya sebagai mereka yang tidak hidup di dalam daging (en sarki) tetapi dalam Roh (en pneumati). Kemudian Paulus menyebut Roh Kudus sebagai Roh Allah dan Roh Kristus. Tetapi di ayat 10 dia mendeskripsikan orang-orang percaya sebagai mereka yang di dalamnya Kristus berada (berdiam). Maka berada di dalam Kristus dan di dalam Roh bukanlah dua hal yang berlainan, melainkan hal yang sama.
Karena itu, kita tidak terkejut saat mendapati semua unsur dasar di dalam proses keselamatan diperhitungkan kepada Roh Kudus sebagai Penciptanya. Regenerasi atau kelahiran baru dikatakan sebagai karya Roh: "Aku berkata kepadamu," kata Yesus kepada Nikodemus, "sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Yoh. 3:5). Pernyataan Paulus dalam Titus 3:5 bahwa Allah menyelamatkan kita "oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" juga memperhitungkan regenerasi atau kelahiran baru sebagai pekerjaan Roh.
Bagaimana dengan konversi? Konversi, atau berbalik kepada Allah, umumnya dipahami mencakup dua aspek: pertobatan dan iman. Kedua aspek ini dideskripsikan oleh Alkitab sebagai karunia Roh Kudus. Dalam Kisah 11:5, ketika mendeskripsikan konversi Kornelius, seorang non Yahudi, kepada orang-orang percaya di Yerusalem, Petrus mengatakan, "dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka [Kornelius dan seisi rumahnya], sama seperti dahulu ke atas kita." Tanggapan jemaat di Yerusalem (yang terdiri dari orang- orang Kristen berbangsa Yahudi) diungkapkan dalam ayat 18: "Ketika mereka mendengar hal itu... [mereka] memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan [metanoia] yang memimpin kepada hidup." Allah memberikan pertobatan kepada bangsa non Yahudi, yaitu melalui Roh yang datang ke atas diri mereka.
Iman juga merupakan karunia Roh. Dalam 1 Korintus 2, Paulus menunjukkan bahwa hanya melalui Roh-Nya, Allah menyatakan hikmat-Nya kepada kita (ay. 9), sehingga kita dapat memahami apa yang telah dikaruniakan Allah kepada kita secara limpah (ay. 12) - yaitu kebenaran mengenai Kristus yang tidak dipahami oleh penguasa dunia ini ketika mereka menyalibkan Tuhan yang mulia (ay. 8). Poin yang sama juga diungkapkan dengan begitu jelas dalam 1 Korintus 12:3, "Tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan" [kata-kata yang hanya dapat diucapkan oleh orang percaya, selain oleh Roh Kudus."
Roh juga memberikan kepada kita jaminan keselamatan, yang merupakan salah satu tanda paling penting dari iman yang sehat. Dalam Roma 8:16 Paulus memberitahukan kepada kita, "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." Karena bentuk tenses dari kata yang diterjemahkan dengan "bersaksi" (symmartyrei) ini dalam bentuk present, yang mengimplikasikan tindakan yang terus-menerus, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kesaksian Roh ini bukan kejadian yang terjadi sewaktu-waktu atau sekali untuk selamanya, melainkan kejadian yang terus berlanjut di sepanjang hidup orang percaya.
Apakah Perjanjian Baru mengindikasikan pembenaran, yang umumnya dipahami sebagai karya Allah Bapa, dihubungkan dengan Roh Kudus? Ya, bahkan lebih dari sekali. Karena kita dibenarkan oleh iman, dan fakta bahwa iman merupakan karunia Roh, sebagaimana ditunjukkan di atas, maka secara jelas berkat ini dikaitkan dengan Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Tidak ada ayat Perjanjian Baru yang mengaitkan pembenaran secara langsung dengan Roh Kudus lebih jelas daripada 1 Korintus 6:11, di mana Paulus memberitahu pembacanya, "Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita." Kedua frase kesimpulan (yang merujuk kepada Kristus dan Roh) diterapkan kepada ketiga kata kerja sebelumnya: "disucikan," "dikuduskan," dan "dibenarkan." Di dalam teks bahasa Yunani, masing- masing frase ini dimulai dengan kata en, yang biasanya diterjemahkan "dalam" (Ing.= in); maka kita dapat memahami frase kedua menjadi "dalam Roh Allah kita" (versi ASV, NASB, RSV berbunyi "in the Spirit of our God"). Maknanya adalah: "dalam kesatuan dengan" atau "dalam hubungan dengan" Roh. Maka pembenaran kita tidak terpisahkan dari karya Roh Kudus.
Salah satu berkat dari pembenaran kita adalah pengadopsian kita menjadi anak-anak Allah. Berkat ini juga secara erat dikaitkan dengan Roh Kudus. Kita membaca mengenai hal ini di Galatia 4:4-6. Allah mengutus Anak-Nya, demikian Paulus memberitahu kita, sehingga "kita diterima menjadi anak" (ay. 5, NIV: receive the full rights of sons - menerima hak sepenuhnya sebagai anak-anak). Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi "hak sepenuhnya sebagai anak-anak" adalah huiothesia, suatu istilah yang dipergunakan dalam papirus yang berasal dari masa awal Kekristenan untuk menyatakan tindakan legal pengadopsian seseorang sebagai anak. Paulus meneruskan, "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (ay. 6) Dengan kata lain, adalah Roh Kudus, yang tinggal di dalam diri kita, yang memanggil Allah sebagai Bapa, dengan demikian meyakinkan kita bahwa kita bukan lagi budak, melainkan anak-anak Allah.
Poin yang sama juga diberikan dalam Roma 8. Di ayat 15, Paulus mengatakan, "Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak (huiothesia) Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Di sini secara khusus ditunjukkan bahwa kita, orang-orang percaya memanggil Allah sebagai Bapa, walaupun kita melakukannya oleh atau melalui Roh Kudus. Bukan hanya sampai di situ, karena dengan mengikuti bimbingan Roh Kudus kita belajar untuk hidup sebagai anak- anak Allah: "[mereka] yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah" (ay. 14).
Bahwa pengudusan kita juga diperhitungkan sebagai pekerjaan Roh Kudus tidaklah mengejutkan kita. Sesungguhnya, nama "Roh Kudus" telah menyatakan bahwa Roh dikaitkan dengan kekudusan dan pengudusan. Di 2 Tesalonika 2:13 Paulus mengucap syukur kepada Allah atas para pembaca suratnya: "Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu." Di Roma 15:16 Paulus mendeskripsikan pekerjaannya sebagai pelayan Kristus bagi bangsa-bangsa non-Yahudi agar "bangsa-bangsa non-Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus." Tetapi memperhitungkan pengudusan kepada Roh Kudus tidak hanya dilakukan oleh Paulus. Petrus memulai suratnya yang pertama dengan memanggil pembacanya sebagai "orang- orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh" (1:2). Selaras dengan ayat-ayat seperti ini, Pengakuan Iman Westminster menyebut Roh Kudus sebagai "Roh Kristus yang menguduskan."
Roh Kudus juga secara tidak terpisahkan terlibat di dalam pemeliharaan (preservation) atas diri kita, atau ketekunan (perseverance) kita di dalam iman. Ada dua ungkapan Alkitab yang menarik perhatian kita: "meterai" dan "jaminan" (pledge). Dalam Efesus 4:30, Roh dikatakan sebagai meterai dari keselamatan final kita, "Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan." Di dalam Perjanjian Baru, sebuah meterai seringkali merupakan tanda kepemilikan; dimeteraikan oleh Roh berarti dipisahkan untuk menjadi milik Allah. Tetapi dalam ayat ini, "dimeteraikan oleh Roh" juga bermakna bahwa Roh akan menjaga kita agar tetap berada di dalam persekutuan dengan Allah sampai hari terakhir keselamatan.
Demikian juga di dalam Efesus 1: 13-14, Paulus mendorong kita dengan mengatakan, "di dalam Dia [Kristus], kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah." Kata yang diterjemahkan sebagai "jaminan" adalah arrabon. Paulus menegaskan, bahwa jika kita memiliki Roh di dalam diri kita, maka kita memiliki jaminan bahwa kemuliaan mendatang yang merupakan warisan kita di dalam Kristus suatu hari nanti pasti akan menjadi milik kita - tidak ada satu pun yang dapat merebut warisan itu dari kita.
Kata arrabon juga digunakan untuk Roh di dua ayat yang lain. Di dalam 2 Korintus 1:22, kita mempelajari bahwa Allah telah "memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita." Dan di dalam 2 Korintus 5:5, Paulus mengajarkan kepada kita bahwa Allah sedang mempersiapkan suatu "tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal" (ay. 1), "mengaruniakan Roh kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita." Dengan kata lain, Roh Kudus dengan cara yang misterius tetapi luar biasa, memampukan kita untuk bertekun di dalam kehidupan ini sebagai orang Kristen hingga hari di mana kita akan masuk ke dalam bumi baru yang telah disempurnakan, yang telah diwariskan kepada kita.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Gereja dan Pengabdian
Kode Pelajaran : DPA-R04a
Referensi DPA-R04a diambil dari:
Judul Buku : Kebenaran Masa Kini (5)
Penulis : Dick Iverson dan Bill Scheidler
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1997
Halaman : 169 - 181
Betapa menakjubkan kebenaran ini! Tujuan Kristus memberikan lima jawatan ini bukan hanya supaya mereka melakukan pelayanan itu. Tujuannya justru untuk memampukan semua orang kudus, supaya mereka yang akan melayani! Jadi, tujuan dari pelayanan para pemimpin adalah untuk membantu semua anggota Tubuh Kristus agar menemukan "tempat"nya di mana mereka harus melayani dan peran apa yang harus mereka lakukan dalam Tubuh Kristus. Di sini kita akan membicarakan bagaimana Allah kini mau memakai Tubuh Kristus untuk mencapai tujuan-Nya, dan bagaimana tiap orang yang telah lahir baru diberi fungsi di dalam Tubuh itu. Tiap orang percaya merupakan sebagian dari seluruh pelayanan Tubuh Kristus.
Semenjak menjelma menjadi manusia dan dilahirkan melalui seorang perawan, Yesus Kristus memiliki suatu tubuh. Ketika menjadi manusia, Ia memiliki tubuh yang terdiri dari darah dan daging. Ia dijadikan serupa dengan manusia (Filipi 2:7). Tubuh-Nya merupakan suatu tubuh yang telah dipersiapkan oleh Roh Allah (Lukas 1:34-35; Ibrani 1:5). Tubuhnya lengkap, dengan segala peralatannya yang serba rumit. Tubuh itu terdiri dari banyak bagian. Dalam tubuh itulah Yesus melayani di bumi. Tubuh inilah yang dipakai-Nya, pada waktu Ia mengulurkan tangan untuk menjamah orang sakit dan menyembuhkan mereka. Tubuh jasmani Yesus sama sekali tidak mempunyai cacat dosa. Ia dapat menjamah manusia-manusia yang penuh dosa, tetapi Ia sendiri tidak dapat dinodai oleh dosa. Tidak ada dosa dalam diri-Nya, karena itu tubuh Yesus tidak bisa sakit atau mengalami kematian. Di dalam diri-Nya terdapat kehidupan, dan kehidupan itu adalah cahaya terang bagi umat manusia (Yohanes 1:4). Ia penuh dengan kehidupan Roh (Lukas 4:14).
Itulah tubuh jasmani Yesus Kristus. Itulah tubuh melalui mana Yesus melayani kebutuhan manusia pada waktu itu. Tetapi tentu saja tubuh itu membatasi pelayanan Yesus. Selama Yesus hidup sebagai manusia di dunia, Ia terbatas oleh ruang dan waktu. Pada tiap saat Ia hanya dapat berada di satu tempat saja. Karena itulah Yesus berkata kepada murid- murid-Nya bahwa lebih baik Ia pergi (Yohanes 16:7).
Ketika Yesus naik ke sorga, Ia memberikan Roh-Nya untuk mengatur dan mengarahkan Tubuh Kristus yang baru, TUBUH ROHANI-Nya, yaitu Gereja. Sekarang Kristus bekerja di dalam dan lewat Tubuh ROHANI tersebut, di mana Ia sendiri menjadi Kepalanya. Oleh karena ini merupakan Tubuh yang Rohani, hal ini hanya dapat dimengerti secara rohani. Mahluk manusia atau mata kepala manusia tidak pernah bisa melihat atau membayangkan adanya Tubuh seperti itu. Tetapi Alkitab jelas menunjukkan adanya Tubuh seperti itu (1 Korintus 2:14). Mari kita lihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai Tubuh ini:
Kristus ada bersama Umat-Nya pada waktu ini. Namun hal ini tidak mengurangi kebenaran bahwa kelak pada akhir zaman Ia akan kelihatan lagi pada waktu Ia datang kembali ke dunia. Tetapi menurut Alkitab, terlebih dahulu Kristus harus nampak di dalam Umat-Nya, sebelum Ia menjemput mereka yang menjadi milik-Nya (Maleakhi 3:1; Kolose 3:4; Mazmur 102:17).
Kolose 1:27 - "Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! "
Roma 8:9-10 - "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. "
Rombongan besar orang-orang yang didiami oleh Roh Kudus ini bersama- sama membentuk Gereja, yaitu Tubuh-Nya (Efesus 1:23).
Gereja Lokal merupakan penjelmaan yang nampak dari Yesus Kristus di atas bumi. Oleh karena itu Tubuh ini sebenarnya didiami oleh Kristus dan menyatu dengan Dia.
Efesus 5:30-32 - "Karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki- laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. "
Kristus sudah begitu menyatu dengan Gereja, tidak mungkin untuk memisahkan Kristus dari Gereja-Nya. Betapa kagetnya Saulus ketika mengetahui bahwa menganiaya Gereja berarti menganiaya Kristus sendiri (Kisah Para Rasul 9:1-6). Matius 10:40 - "Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Efesus 5:29 - "Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat. "
Gereja Lokal terdiri dari darah dan daging, sama seperti tubuh jasmani Yesus dahulu juga terdiri dari darah dan daging (1 Korintus 6:15-20; 11:29-32).
Ibrani 2:14 - "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memutuskan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut. "
Pada waktu seseorang lahir baru, ia bukan lagi menjadi miliknya sendiri. Ia menjadi bagian dari Tubuh Kristus. Tiap orang percaya merupakan bagian yang penting dari Tubuh rohani ini (1 Korintus 6:15- 20).
1 Korintus 6:15 - "Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!"
1 Korintus 12:27 - "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing- masing adalah anggotanya. "
Pada waktu ini Kristus ingin hidup melalui Tubuh rohani-Nya yang ada di bumi, yaitu Gereja.
Galatia 2:20 - "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyediakan diri-Nya untuk aku. "
Kristus hanya memiliki satu tubuh jasmani. Demikian juga Ia hanya mempunyai satu Tubuh rohani. Tuhan mengatakan bahwa hanya ada satu Tubuh (Efesus 4:4). Tidak dikatakan bahwa baru kelak di kemudian hari akan ada satu Tubuh, pada waktu Tuhan datang kedua kali. Tetapi Tubuh itu sudah ada sekarang. Tubuh ini anggotanya terdiri dari orang-orang Yahudi maupun orang-orang Kafir - semua orang yang telah menerima Kristus telah diterima dalam Dia yang dikasihi (Efesus 2:16; Kolose 1:24-27).
Efesus 2:16 - "Dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. "
Persatuan antara Kristus dan Gereja seperti ini sungguh merupakan suatu misteri, suatu hal yang sulit dimengerti oleh manusia. Ini merupakan suatu rencana yang tersembunyi dalam diri Allah sejak sebelum dunia dijadikan, dan baru mulai terungkap melalui kayu salib.
Efesus 3:3-6 - "Yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di alas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan Gereja Sebagai Tubuh Kristus dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan-Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus."
Tubuh Kristus merupakan suatu Tubuh yang terus menerus bertumbuh dan bertambah dewasa. Di luar Kristus dan Tubuh-Nya, tidak ada sesuatu apa pun yang dapat membantu Tubuh ini. Yesus Kristus menyediakan segala yang diperlukan Tubuh bagi "pembangunan "nya (Efesus 4:12).
Setiap bagian Tubuh Kristus berhubungan erat dengan Kristus dan dengan tiap orang percaya lainnya (Efesus 4:16). Ada banyak orang Kristen yang mengatakan bahwa mereka hanya memerlukan Kristus, lain tidak. Tetapi Kristus pada saat ini sedang melayani semua anggota melalui Tubuh-Nya. Jika Saudara memutuskan hubungan dengan Tubuh Kristus, itu berarti Saudara memutuskan hubungan dengan Kristus.
Alkitab berkata bahwa hanya ada SATU Tubuh (Efesus 4:4). Tidak sulit untuk mengerti bahwa suatu tubuh jasmani tidak mungkin berfungsi dengan baik, kalau ada bagian-bagian yang tidak dapat bekerja sama. Demikian juga dengan alam rohani. Jika kita ingin berfungsi dengan efektif, kita perlu bekerja sama dengan harmonis. Itulah yang hendak dilakukan Allah di zaman akhir ini. Ia ingin mengumpulkan seluruh Tubuh Kristus menjadi satu. Kita tidak berbicara mengenai persatuan dalam arti lahiriah (walaupun itu akan terjadi juga sebagai akibatnya), tetapi kita berbicara mengenai suatu persatuan batiniah yang benar-benar terjadi karena karya Roh Allah.
Persatuan merupakan suatu kekuatan yang dahsyat. Dalam perkara-perkara duniawi sekali pun, jika orang dapat bekerja sama dengan mencari kepentingan, tujuan dan sasaran yang sama, mereka dapat berprestasi luar biasa, melakukan hal-hal yang kelihatannya mustahil. Allah memperhatikan hal ini, ketika Ia sendiri mengacaukan bahasa manusia di Menara Babel (Kejadian 11). Jika prinsip itu berlaku dalam hal duniawi, betapa lebih dahsyatnya kekuatan dari suatu Tubuh rohani yang terdiri dari orang-orang yang bersatu karena kepentingan, tujuan dan sasaran yang sama. Karen itu siasat Iblis adalah supaya Tubuh Kristus tetap dalam keadaan bingung dan kacau. Hanya dengan cara itu ia dapat mempertahankan kekuasaannya.
Pada mesa restorasi yang terjadi di zaman Nehemia, rahasia keberhasilan yang dicapai umat Allah waktu itu bukanlah bahwa mereka tidak mendapatkan perlawanan siapa pun. Sesungguhnya banyak sekali perlawanan yang dihadapi. Tetapi sebabnya mengapa mereka berhasil menyelesaikan pekerjaan restorasi itu adalah tidak lain karena mereka memiliki persatuan seperti itu. Tiap orang berada di tempatnya yang tepat, masing-masing melakukan pekerjaannya sendiri. Bukan tiga atau empat orang yang mencoba melakukan pekerjaan yang sama secara tumpang- tindih, tetapi ada tugas yang dibiarkan lowong dan terbengkalai. Sebaliknya, mereka mengakui pelayanan dari orang lain dan bersatu (Nehemia 4).
Untuk dapat memiliki persatuan seperti itu, kita harus mengakui dan menerima pelayanan orang-orang lain. Itulah sebenarnya hakikat dari Tubuh Kristus secara seutuhnya. Di bawah ini kami berikan dasardasar Alkitab mengenai peranan dan hubungan kita satu sama lain di dalam Tubuh Kristus, supaya seluruh Tubuh Kristus dapat melayani dengan efektif:
Untuk dapat melayani bersama-sama sebagai suatu Tubuh, kita harus menyadari dan mengakui bahwa kita ini merupakan anggota satu sama lain (Roma 12: 4-5; 1 Korintus 6:1 S; 12: 727; Efesus 4:16, 25; 5:30).
1 Korintus 10:17 - "Karena roti adalah satu, maka kita, sekali pun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu. "
Untuk dapat melayani bersama-sama sebagai satu Tubuh, anggota- anggota Tubuh itu harus berdamai satu sama lain (Markus 9:50; Matius 5:23; 1 Tesalonika 5:13). Gereja Sebagai Tubuh Kristus.
Tubuh yang menikmati hubungan damai tidak menyimpan dendam (Yakobus 5:9; 1 Petrus 4:9).
Tubuh yang mempunyai hubungan damai tidak saling memfitnah (gosip bisa menghancurkan pelayanan bersama sebagai satu Tubuh) (Yakobus 4:11).
Tubuh yang berdamai tidak menganggap anggota yang satu lebih tinggi daripada anggota yang lain (1 Timotius 5:21; 1 Korintus 12:25).
Tubuh yang berdamai tidak menghakimi satu sama lain dengan kejam (Roma 2:1; Y4:13).
Untuk dapat melayani bersama-sama sebagai satu Tubuh, para anggota Tubuh harus mendahulukan kepentingan anggota-anggota lainnya. Tidak boleh mementingkan diri sendiri.
Mereka saling mendahului memberi hormat (Roma 12:10; Filipi 2:3-4; 1 Petrus 5:5).
Mereka tidak bermegah hati satu sama lain, dan berpikir bahwa pelayanan mereka lebih utama daripada yang lainnya (1 Korintus 4:6-7).
Mereka saling menanggung beban satu sama lain (Galatia 6.:2).
Mereka saling menunjukkan sikap tenggang rasa (Ibrani 10:24- 25; Efesus 5:33).
Mereka tunduk satu sama lain dengan kerendahan hati yang sungguh-sungguh (Efesus 5:21).
Mereka saling melayani dalam kasih (Yohanes 13:3435; 1 Tesalonika 3:12; 4:9).
Untuk dapat melayani bersama-sama sebagai satu Tubuh, anggota- anggota Tubuh harus selalu berupaya menguatkan para anggota lainnya (Efesus 4:16; 1 Tesalonika 5:11; Roma 14:19).
Bila semua hal ini terlaksana dengan baik, kita siap untuk melayani satu sama lain sebagai Tubuh Kristus.
Roma 1 S: 5-6 - "Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Yesus Kristus, sehingga dengan satu had dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. "
Silakan membaca 1 Korintus 12 - 14 terlebih dahulu.
1 Korintus 12 - 14 memberi jawaban, bagaimana caranya Tubuh ini berfungsi. Rasul Paulus memulai pasal 12 dengan mengatakan, "Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya" (Perlu diketahui, bahwa dalam teks asli bahasa Yunani tidak terdapat kata "karunia-karunia" - "gifts" dalam bhs. Inggris - sebab kata itu ditambahkan sendiri oleh penterjemah Alkitab hanya untuk memudahkan pengertian. Jadi, mungkin lebih tepat jika diterjemahkan "perkara-perkara rohani" - "spiritual things" dalam bhs. Inggris). Demikianlah kata pengantar Paulus sebelum ia mulai membicarakan bagaimana Tubuh itu akan melayani bersama-sama. Lalu ia menguraikan aneka ragam pelayanan yang terdapat dalam Tubuh Kristus. Ada rupa-rupa karunia; ada rupa-rupa pengurusan (pelayanan atau jasa); ada rupa-rupa pekerjaan (kegiatan). Tetapi semuanya adalah pekerjaan Roh yang sama. Sesungguhnya, Allah yang bekerja melalui semua itu di dalam semua anggotaTubuh Kristus. Paulus ingin agar semua mengerti bahwa kita adalah rekan sekerja Allah -- Allah sendiri yang bekerja di dalam diri kita.
Kita perlu melihat jelas gambaran yang dilukiskan oleh rasul Paulus. Di dalam Kristus terdapat kesempurnaan dari semua pelayanan, karunia dan pekerjaan. Ia adalah semua di dalam segala-galanya. Ketika Ia naik ke sorga, kepenuhan-Nya (kesempurnaan-Nya) seakan dipecah-pecah menjadi banyak bagian yang kecil-kecil, yang dibagikan oleh Roh Allah kepada masing-masing anggota dari Tubuh Kristus. Kita telah dijadikan peserta dalam pelayanan Kristus. Sebagaimana setiap bagian dari tubuh jasmani mempunyai fungsi tertentu, demikian juga dengan tiap anggota atau bagian dari Tubuh Kristus. Tiap bagian dari tubuh jasmani bermanfaat bagi tubuh secara keseluruhan. Demikian juga tiap anggota dari Tubuh Kristus mempunyai tempat dan peranan atau fungsinya yang diperlukan. Tiap bagian atau anggota memiliki karunia yang berbeda, sesuai dengan anugerah yang telah dibagikan (Roma 12:6), tetapi tiap bagian atau anggota mempunyai peranan penting.
Walaupun Saudara bukan menjadi tangan atau salah satu dari lima jawatan pelayanan itu, bukan berarti Saudara bukan sebagian dari Tubuh Kristus. Mungkin Saudara hanya menjadi bagian kaki, tetapi itu penting untuk pelayanan seorang diaken (hamba). Meskipun Saudara bukan bagian mata dan tidak mempunyai pengertian rohani yang mendalam mengenai Firman Allah, bukan berarti bahwa Saudara bukan bagian dari Tubuh Kristus. Bisa saja Saudara menjadi bagian telinga, yaitu orang yang punya hubungan akrab dengan Kepala Tubuh, sehingga bisa mendengar suara Allah secara istimewa. Atau mungkin Saudara adalah bagian penciuman, yaitu orang yang dapat menangkap apa yang sedang dipikirkan oleh Allah. Kita perlu mengerti bahwa semua hal itu penting agar seluruh Tubuh dapat berfungsi. Kita tidak bisa berfungsi tanpa ada mata, telinga, kaki, tangan atau pun indera penciuman. Semua itu perlu agar Tubuh berfungsi dengan baik.
Tubuh berfungsi dengan baik, apabila tiap bagian dari Tubuh melakukan apa yang memang direncanakan Allah baginya. Jika kaki mencoba menjadi tangan, itu akan sia-sia. Kaki tidak mungkin mengambil makanan dengan begitu gampang seperti tangan. Tidak mungkin untuk memainkan suatu alat musik dengan begitu mahir seperti tangan. Jika dipaksakan, itu hanya akan menimbulkan kejengkelan dan kegagalan. Tetapi jika kaki hanya berusaha melakukan apa yang direncanakan Allah baginya, ia akan berhasil dan mendapatkan kepuasan. Jika dipanggil menjadi kaki lalu mencoba menjadi tangan, siapa yang harus membawa tubuh itu sampai ke tempat tujuannya? Tangan tentu tidak dapat melakukannya. Tangan tidak dirancang untuk memikul beban tubuh. Jika kaki mencoba menjadi tangan, berarti ada sebagian pelayanan yang terbengkalai. Kita perlu mengerti bahwa Allah tidak menghakimi kita atas dasar apakah kita ini kaki atau tangan. Ia mengadili kita dengan memperhatikan kesetiaan kita di dalam melakukan apa yang diperintahkan. Dan pasti perintah-Nya berlainan untuk masing-masing bagian Tubuh.
Masalah utama kita adalah bahwa kita suka menilai suatu pelayanan dengan memperbandingkannya dengan pelayanan yang lain. Allah sendiri tidak melakukan hal itu. Ia tidak menganggap pelayanan yang satu lebih penting daripada yang lainnya. Ia memberikan tugas pelayanan sebagaimana dikehendaki-Nya, dan Ia yang paling mengetahui. Allah hanya menginginkan "alat" atau bagian yang setia melakukan tugasnya, sebagaimana Ia kehendaki.
Tubuh berfungsi dengan baik apabila tiap anggota Tubuh melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Tiap bagian Tubuh perlu menanyakan kepada Tuhan, apa pelayanan yang harus dilakukannya. Tidak ada bagian Tubuh yang tidak mempunyai fungsi apa-apa. Jika Allah telah menaruh Saudara di dalam Tubuh-Nya, berarti Saudara mempunyai suatu pelayanan tersendiri.
1 Korintus 14:26 - Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. " Roma 12:6-8 - "DemilEianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman yita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah lata menasihati. Siapa yang membagi-bagi sesuatu, hendaklah ia melakukan-Nya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."
Mengingat tujuan yang istimewa yang telah diberitakan Allah, mengingat rencana Allah yang mulia bagi Tubuh Kristus, dan mengingat hubungan semua bagian Tubuh yang saling terkait satu sama lain, sesungguhnya tidak mungkin orang yang percaya mendapatkan sukses dan kepuasan sejati di luar Tubuh Kristus, yaitu Gereja. Ketika Kristus jadi manusia dahulu, tubuh jasmani-Nya kelihatan di dunia. Demikian juga Tubuh Kristus sekarang dapat terlihat nyata di dunia. Tanpa bergabung kepada Tubuh Kristus yang kelihatan, yaitu Jemaat Lokal, berarti hubungan Saudara dengan Tubuh-Nya terputus. Begitu Saudara memenggal- kaki Saudara, maka kaki itu kehilangan fungsinya. Kaki itu hanya berfungsi bila berhubungan dengan tubuh. Pelayanan-pelayanan kita hanya berguna atau membangun Tubuh Kristus, jika hubungan dengan Tubuh (Jemaat) cukup baik. Bila hubungan itu ada, darah yang mengalirkan kehidupan akan membersihkan, menyembuhkan dan memberi makanan kepada semua dan setiap bagian Tubuh.
Sesuatu yang mengerikan terjadi, jika kita memutuskan hubungan dengan Gereja, yaitu Tubuh Kristus. Menolak Tubuh Kristus, berarti menolak Kepalanya juga. Kaki yang terpotong tidak lagi menaati perintah dan petunjuk dari otak. Menolak Tubuh Kristus, berarti menolak garis komando Allah dan bertindak seolah-olah ia tidak berada di bawah hukum. Ini sama saja dengan tidak mengenal aturan Kebenaran Masa Kini hukum. Allah menyebut hal itu pemberontakan.
Banyak orang yang pada waktu ini ingin untuk dipakai oleh Allah, tetapi mereka menolak untuk tunduk kepada otoritas Tubuh Kristus. Bila kita mengerti bagaimana pandangan Allah mengenai Tubuh Kristus, tidak sulit bagi kita untuk mengerti mengapa pemberontakan begitu dikutuk oleh-Nya (Yesaya 1:19-23).
1 Samuel 1:23 - "Sebab pendurhakaan (pemberontakan, dlm bhs. Inggris) adalah sama dengan dosa bertenung dan kedegilan sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja. "
Amsal 17::11 - "orang durhaka (pemberontak) hanya mencari kejahatan, tetapi terhadap dia akan disuruh utusan yang kejam."
Yeremia 28:16 - "Sebab itu beginilah firman TUHAN: sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad (menyebarkan pemberontakan) terhadap TUHAN."
Mazmur 68.7 - "Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia, tetapi pemberontak pemberontak tinggal di tanah yang gundul."
Matius 7:21-23 - "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan." Gereja Sebagai Tubuh Kristus Allah memberi kita perintah tegas agar jangan melalaikan untuk berhimpun bersama-sama. Bila kita rajin berkumpul sebagai Tubuh Kristus, kita akan dikuatkan. Tubuh Kristus akan dibina dan rencana Allah akan terlaksana di dalam dan melalui Tubuh Kristus, yaitu Gereja.
Ibrani 10:25 - "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang pari Tuhan yang mendekat. "
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Gereja dan Pengabdian
Kode Pelajaran : DPA-R04b
Referensi DPA-R04b diambil dari:
Judul Buku : Memberi Secara Kriten
Penulis : V.S. Azariah
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1982
Halaman : 26 - 30
Alkitab bukanlah semacam kitab tuntunan, yang memuat peraturan- peraturan tentang apa yang harus Anda kerjakan. Anda tidak akan dapat menemukan daftar dari bermacam-macam tujuan yang harus disumbang. Tidak akan terdapat juga suatu tabel, yang menyatakan berapa persembahan yang menjadi tanggungan Anda dari pendapat yang Anda terima. Tuhan hanya meminta kasih kita kepada-Nya dan berdasarkan besarnya kasih itulah kita memberi.
Namun Dia mau menunjukkan jalan baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, agar kita bebas memilih dan memberi. Tentang orang Israel kita baca, bahwa mereka dapat memberikan persembahannya kepada Tuhan dengan tiga cara:
Untuk kebaktian. Untuk itu yang terutama diperlukan ialah sebuah tempat pertemuan, mula-mula berbentuk kemah dan kemudian sebuah rumah atau bait. Pembangunan kedua tempat kebaktian itu terlaksana karena pemberian orang Israel yang spontan dan sukarela. Untuk mendirikan kemah pertemuan orang Israel memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan. Laki-laki dan perempuan membawa emas, perak, tembaga, kain lenan yang halus, bulu kambing, kayu akasia, minyak untuk pelita. Dipintal sendiri bulu kambing itu oleh orang perempuan. Semua orang itu menyerahkan sesuatu sebagai persembahan sukarela untuk Tuhan. (Kel 35 :4-29). Di samping itu harus selalu tersedia minyak untuk pelita, roti persembahan, kemenyan di atas mezbah dan binatang-binatang untuk korban.
Untuk hamba-hamba Allah para imam dan orang Lewi. Orang-orang itu dapat mengerjakan pekerjaannya, apabila mereka dibebaskan dari tanggungan mencari makan. Setelah Tuhan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel, tiap-tiap suku mendapat sebagian dari tanah itu. Tetapi orang Lewi dan para imam tidak menerima bagian. Dan karena mereka itu sehari-harinya menjalankan kebaktian di hadapan Tuhan, maka tiap orang Israel harus menyerahkan sebagian dari penghasilannya kepada mereka. Tuhan menganggap itu sebagai persembahan kepada Dia sendiri. Di dalam Bilangan 18:21-24 kita baca antara lain : "Sebab kepada orang Lewi kuberikan sebagai bagiannya persepuluhan, yang harus dikumpulkan oleh orang Israel sebagai kewajibannya" dan dalam Ulangan 18:1-5 ditambahkan pula hasil yang pertama dari gandum, minyak dan anggur dan bulu domba yang pertama.
Untuk orang miskin. Orang miskin mempunyai pula hak akan pemberian orang Israel. Jika ada suatu perayaan, orang Israel harus membagi-bagikan pemberian kepada anak-anak yatim piatu, janda-janda dan orang miskin. Jika ada seikat gandum tertinggal di ladang, orang tidak boleh mengambilnya kembali, melainkan harus dibiarkan di sana untuk orang miskin. Begitu juga dengan buaki zaitun, orang tidak perlu memeriksa kembali, apakah masih ada beberapa buah yang ketinggalan di pohon. Yang ketinggalan itu menjadi bagian orang yang kekurangan (Im 19:9, 10). Dalam Ulangan 26:12 Tuhan berkata kepada orang Israel: "Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan engkau sudah selesai mnegambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmuu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang."
Jadi dengan dasar selalu adanya orang miskin, Yesus Kristus pun berkata: "orang miskin selalu ada padamu." Meski kita bekerja keras untuk perbaikan keadaan sosial dan ekonomi, selalu kita akan diperingatkan, bahwa kita hidup dalam dunia yang tidak sempurna. Itu tidak meniadakan tugas kita dari Tuhan untuk memelihara orang yang kekurangan. Tidak untuk memerlihatkan betapa baik hati kita, melainkan untuk mengembalikan apa yang telah kita terima kepada-Nya melalui orang miskin.
Ada tiga cara untuk memberi seperti di atas:
Untuk gereja. Tuhan minta kepada kita membuat tempat di mana Dia dapat disembah. Tidakkah itu dapat dilakukan dengan tidak usah ada bangunan? Tentu saja dapat, karena Tuhan tidak terikat pada sesuatu tempat. Tetapi pertemuan-pertemuan di suatu tempat yang tertentu, di mana kita dapat mendengarkan Firman Tuhan, memerkuat persekutuan orang suci. Tambahan pula sebuah gereja merupakan peringatan bagi mereka yang belum percaya kepada-Nya. Suatu peringatan, meskipun sangat sederhana. bahwa Tuhan sedang mendirikan Gereja-Nya di dunia ini.
Di India-Selatan orang berkata: "Janganlah mendirikan rumah di dusun yang tidak ada kuilnya." Mendirikan gereja, adalah satu dari hal-hal yang nyata, yang dapat dilakukan bersama oleh orang Kristen. Sesuatu yang dapat dilihat itu menarik perhatian. Oleh karena itu orang gemar mengerjakannya. Dan apa yang harus kita kerjakan dengan kasih dan sukacita harus kita dorong, lebih-lebih karena hal itu minta pengorbanan dari manusia.
Untuk para hamba Tuhan yang mencurahkan hidupnya dalam pekerjaan Tuhan. Jika sepanjang hari mereka sibuk mengurusi jemaat atau mengabarkan Injil kepada mereka yang belum mengenalnya, maka ia harus dipelihara oleh jemaat. Yakobus berkata, bahwa seorang pekerja itu harus seharga dengan upahnya dan seorang pendeta harus dapat hidup dengan cukup. Ia harus dapat menerima kedatangan orang, dapat memberikan pendidikan yang cukup kepada anak-anaknya, pendeknya dapat hidup patut sebagai manusia.
Dan sebaliknya kita dapat minta dari hamba Tuhan tersebut sesuai dengan apa yang diberikan oleli jemaat kepadanya yaitu, bahwa ia harus menyediakan seluruh waktunya untuk kepentingan pekerjaan gereja dan Pekabaran Injil. Ini bukan suatu peringatan yang tidak perlu. Kerap kali kita jumpai, bahwa ada pendeta atau pekerja gereja lainnya, yang mempunyai usaha sendiri, memergunakan sebagian besar dari waktunya untuk kepentingan usahanya. Hal itu tak boleh terjadi, dan hal itu harus kita cegah.
Untuk orang miskin. Di Indonesia pengertian orang miskin ini hanya terdapat di kota-kota saja. Orang miskin di desa-desa juga ada, tetapi sebagian besar mereka selalu ditopang oleh keluarganya atau oleh masyarakat di situ. Baru jika ia lepas dari ikatan sosial mereka itu, ia menjadi orang yang diseyogiakan minta pertolongan jemaat. Meski demikian pengertian pemeliharaan orang miskin itu tidak hanya harus kita batasi pada orang yang tidak mempunyai harta saja. Ada pula orang yang membutuhkan pertolongan kita dengan cara yang lain, karena mereka itu buta atau lumpuh. orang yang membutuhkan pertolongan selalu ada di sekitar kita. Bukannya suatu pertolongan dengan sikap congkak yang datang dari orang yang hanya sesekali berbuat kebajikan, melainkan dari orang yang mau menolong karena kasihnya kepada Tuhan, yang memberikan segalanya kepada kita, termasuk memberikan Anak-Nya.
Untuk Pekabaran Injil. Pemberitaan Injil itulah yang menjadi alasan bagi berdirinya jemaat. Apabila jemaat itu berhenti mengerjakan Pekabaran Injil, maka jemaat itu telah tidak berdiri sebagai gereja lagi, hanya menjadi suatu perkumpulan keagamaan biasa. Injil itu tidak hanya harus dikabarkan di sekeliling kita, melainkan harus sampai ke ujung dunia. Itu tidak berarti, bahwa kita harus pergi sendiri-sendiri. Kalau demikian malahan kita tidak akan saling bertemu. Tetapi tiap orang Kristen harus berdoa dan bekerja dan berkorban bagi semua umat manusia yang belum mengenal Kristus. Jadi juga memberi untuk para utusan Injil ke luar negeri. Ini tidak hanya berlaku bagi gereja-gereja di Barat, melainkan juga gereja- gereja Timur. Pengutusan bukannya merupakan kegemaran beberapa gelintir manusia, tetapi menjadi tugas semua orang yang menjunjung nama Kristus.
Jika kita sudah tahu untuk apa kita memberi, maka bersama itu pula timbul pertanyaan : "Berapa yang harus kita beri ?
Marilah kita kembali sebentar kepada bangsa Israel. Telah kita ketahui, bahwa mereka memberikan:
Sepersepuluh dari hasil ladang dan kebunnya
Anak pertama dari kambing dan domba. Juga hasil pertama dari gandum, minyak, anggur dan bermacam-macam buah-buahan ladang;
Pemberian sukarela pada hari raya-hari raya tertentu, kelahiran, sakit dan sebagainya.
Kita tidak lagi hidup di bawah peraturan-peraturan yang khusus mengenai soal memberi, seperti sepersepuluh bagian dari tanah atau hasil buah-buahan. Jadi tidak seorang pun dapat dipaksa atau diharuskan untuk memberikan persepuluhan itu. Kalau orang mau berbuat begitu secara sukarela, itu bagus sekali.
Sejak itu semua pemberian itu sukarela. "Semua itu kepunyaanmu," kata Paulus, "tetapi kamu milik Kristus dan Kristus milik Allah.' Itu artinya, hubungan kita dengan Tuhann terdiri dari rasa syukur dan kasih. Tuhan telah memberikan segalanya kepada kita. Tuhan telah menganugrahkan kepada kita Putera-Nya. Dan yang siapa banyak diampuni, ia juga banyak mengasihi dan hal itu dengan sendirinya akan menggerakkan dia untuk mengembalikan kepada Tuhan apa yang telah diterimanya dari pada-Nya.
Jadi satu-satunya ukuran ialah: "Tuhan, apa yang Kau kehendaki supaya aku memberi." Masih Anda anggap sukarkah untuk menentukan sendiri apa yang harus Anda persembahkan dengan sukarela? Tentunya tidak! Hal itu akan senantiasa memberi dorongan lebih besar kepada Anda untuk mempersembahkan barang-barang itu ke hadapan Tuhan. Hal itu akan memperkaya hidup Anda, karena lebih mendekatkan Anda kepada Kristus.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Pembaptisan dan Perjamuan Tuhan
Kode Pelajaran : DPA-R05a
Referensi DPA-R05a diambil dari:
Judul Buku : Teologi Sistematika
Penulis : Henry C. Tiessen
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1993
Halaman : 497 - 507
Ada dua upacara gereja: baptisan dan Perjamuan Kudus. Kedua upacara ini dikenal dengan nama sakramen. Di samping kedua sakramen ini yang diterima oleh gereja-gereja Protestan, Gereja Katolik Roma mempunyai lima sakramen lagi: yaitu pentahbisan, peneguhan, perkawinan, penebusan dosa, dan perminyakan suci yang diberikan kepada orang Katolik pada saat kematian. Dalam teologi Katolik Roma "setiap sakramen menganugerahkan atau meningkatkan kasih karunia yang menguduskan. Kasih karunia yang menguduskan ini dikenal sebagai kasih karunia sakramental karena berkaitan dengan hak untuk memperoleh pertolongan adikodrati yang perlu dan berguna untuk mencapai tujuan tiap-tiap sakramen itu." Sekalipun gereja-gereja Calvinis hanya menerima dua upacara gereja yaitu baptisan dan Perjamuan Kudus, keduanya juga dianggap sebagai sarana untuk memperoleh kasih karunia. Berkhof menulis, "Sebagai tanda dan meterai, kedua sakramen ini merupakan sarana untuk memperoleh kasih karunia, maksudnya, sarana untuk menguatkan kasih karunia batiniah yang dikerjakan di dalam hati oleh Roh Kudus." Agar menghindari mistisisme dan sakramentarianisme yang ditunjukkan oleh istilah "sakramen", mungkin lebih baik untuk memakai istilah "peraturan" untuk kedua upacara gereja itu. Sebuah peraturan gereja dapat dibatasi sebagai suatu upacara lahiriah yang ditetapkan oleh Kristus untuk dilaksanakan di dalam gereja sebagai suatu tanda yang kelihatan mengenai kebenaran iman Kristen yang menyelamatkan. Baptisan atau Perjamuan Kudus tidak memberikan kasih karunia khusus, meskipun kita memang bertumbuh dalam kasih karunia Tuhan Yesus ketika kita menaati perintah Kristus dan mengingat Kristus serta pengorbanan-Nya untuk kepentingan kita. Namun, pertumbuhan ini tidak terjadi melalui peraturan gereja itu sendiri. Sekarang kita akan membahas kedua peraturan gereja tersebut.
BAPTISAN
Mulai dari khotbah Yohanes Pembaptis dan sepanjang bagian-bagian yang berhubungan dengan sejarah dan doktrin dalam Perjanjian Baru, seorang pembaca Alkitab secara terus-menerus dihadapkan pada baptisan. Baptisan dapat dilihat dari berbagai segi.
PENETAPANNYA
Menjelang kenaikan-Nya Yesus memberi amanat berikut kepada murid- murid-Nya, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Matius 28:19, 20; band. Markus 16:15, 16). Amanat inilah yang ditaati oleh para rasul setelah kedatangan Roh Kudus (Kisah 2:41; 8:12, 38; 9:18; 10:48; 16:15, 33; 18:8). Tantangan yang diucapkan oleh Petrus kepada sidang pendengarnya berbunyi, "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu" (Kisah 2:38). Kelihatannya bahwa pada waktu para rasul memberitakan Injil dan orang-orang menanggapi khotbah mereka, maka mereka langsung dibaptis. Jadi, pertobatan, iman, dan baptisan berkaitan erat sekali. Sekalipun demikian, jelaslah bahwa baptisan tidak berperan apa-apa dalam penyelamatan seseorang; sebaliknya, baptisan terjadi segera sesudah seseorang diselamatkan. Kornelius dibaptis setelah ia menerima Roh Kudus (Kisah 10:44-48). Bruce mengatakan, "Pikiran bahwa orang Kristen bisa tidak dibaptis sama sekali tidak terpikir dalam Perjanjian Baru.
Baptisan Perjanjian Baru berbeda dengan baptisan Yohanes Pembaptis (Kisah 10:37; 13:24, 18:25; 19:3). Baptisan Yohanes Pembaptis merupakan baptisan pertobatan sebagai persiapan untuk memasuki Kerajaan Allah yang telah dinubuatkan oleh para nabi (Maleakhi 3:1; 4:5, 6; Matius 3:1-12; Markus 1:2-8; Lukas 3:2-17; Yohanes 1: 19-36). Baptisan Perjanjian Baru lebih dikaitkan dengan penyatuan orang percaya dengan Kristus.
ARTINYA
Peraturan baptisan melambangkan penyatuan orang percaya dengan Kristus dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (Roma 6:3, 4; Kolose 2:12; 1 Petrus 3:21). Dalam baptisan orang percaya itu mengakui bahwa ia berada di dalam Kristus ketika Kristus dihukum mati karena dosa umat manusia, bahwa ia dikuburkan bersama-sama dengan Kristus, dan bahwa ia ikut bangkit kepada hidup baru di dalam Kristus. Baptisan melambangkan bahwa orang percaya disamakan dengan Kristus, karena orang percaya dibaptiskan dalam (atau "ke dalam") nama Tuhan Yesus (Kisah 2:38; 8:16). Hal ini dilakukan pada saat seseorang yang bertobat berseru kepada nama Tuhan (Kisah 22:16). Baptisan merupakan pengakuan yang terang-terangan di depan umum bahwa Kristus adalah Tuhan (Roma 10:9, 10). Akan tetapi, sebelum dibaptis dengan air seseorang harus mendapatkan ajaran (Matius 28:19), bertobat (Kisah 2:38), dan memiliki iman (Kisah 2:41; 8:12; 18:8; Galatia 3:26, 27), karena Baptisan air tidak mengakibatkan penyatuan orang percaya itu dengan Kristus, tetapi mensyaratkan dan melambangkannya.
Bila membaca beberapa bagian Alkitab dengan sepintas lalu, seakan-akan ayat-ayat itu mengajarkan bahwa baptisan dapat menyelamatkan. Empat ayat utama semacam itu ialah, "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum" (Markus 16:16); "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus" (Kisah 2:38); "Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan" (Kisah 22:16); dan "Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan" (1 Petrus 3:21). Tetapi dalam semua hal ini, iman harus ada terlebih dulu. Urutannya menurut Alkitab ialah pertobatan, kepercayaan, baptisan. Pernyataan Yohanes Pembaptis, "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan" (Matius 3:11) memiliki susunan kalimat Yunani yang sama dengan pernyataan Petrus, "... memberi dirimu dibaptis ... untuk pengampunan dosamu" (Kisah 2:38). Pastilah, Yohanes menganggap bahwa pertobatan terjadi lebih dahulu; dan demikian juga, pengampunan terjadi lebih dahulu sebelum baptisan. Alkitab sangat jelas bahwa penyucian dari dosa bukanlah hasil baptisan (Kisah 15:9; 1 Yohanes 1:9), tetapi bahwa tindakan baptisan itu berkaitan erat sekali dengan tindakan iman sehingga sering kali keduanya diungkapkan sebagai satu tindakan. Saucy mengatakan,
Berkat-berkat Injil diterima oleh iman. Sekalipun demikian, ketika iman yang menyelamatkan tersebut dilanjutkan secara objektif melalui baptisan, maka Tuhan memakai tindakan tersebut untuk memperkuat kenyataan keselamatan yang telah diterima oleh iman sebelumnya. Iman seseorang dikuatkan pada saat itu diungkapkan secara terang-terangan, dan tindakan-tindakan penyelamatan itu dimeteraikan dan disahkan secara lebih mendalam lagi di dalam hati orang percaya itu.
Baptisan bukan saja melambangkan penyatuan orang yang bertobat dengan Kristus, baptisan juga merupakan sarana lahiriah untuk menyatakan bahwa orang yang bertobat itu sudah diterima menjadi anggota jemaat lokal. Pada waktu ia menjadi anggota tubuh Kristus, ia juga harus menghubungkan diri dengan jemaat lokal. Bila seseorang menanggapi panggilan keselamatan, maka sama seperti yang dilakukan oleh orang- orang percaya di Perjanjian Baru, ia harus dibaptis dan secara resmi menjadi anggota masyarakat Kristen (Kisah 2:41).
CARANYA
Dewasa ini terdapat tiga cara untuk membaptis orang: dipercik, dituangkan, dan diselamkan. Di dalam ketiga bentuk baptisan ini masih terdapat berbagai variasi, misalnya cara percik/tuang/selam sebanyak tiga kali dan pembaptisan ke belakang atau ke depan. Pada umumnya orang setuju bahwa istilah "dibaptis" berarti "dicelupkan", sehingga baptisan dengan cara diselamkan paling cocok dengan makna istilah itu. Selanjutnya, sejarah gereja mendukung baptisan dengan cara diselamkan. Memercik dan menuangkan air baru dipakai karena ada kekurangan air atau sebagai penyesuaian terhadap orang-orang yang sakit, dan sudah lanjut usia. Arti baptisan sebagai lambang penyatuan dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus paling baik digambarkan dengan cara selam. Juga, kejadian turun ke dalam air untuk kemudian keluar kembali ketika sida-sida dari Etiopia dibaptis oleh Filipus nampaknya menyiratkan pembaptisan secara selam (Kisah 8:38-39; lihat juga Markus 1:10; Yohanes 3:23). Kita harus selalu berhati-hati untuk tidak menjadikan cara pembaptisan itu lebih penting daripada kebenaran yang dilambangkannya; sehingga sekalipun cara pembaptisan selam menggambarkan penyatuan kita dengan Kristus secara paling baik, beberapa pertimbangan lahiriah mungkin membuat cara-cara baptisan yang lain itu perlu.
ORANG-ORANG YANG DIBAPTIS
Baptisan diperuntukkan bagi orang-orang yang secara pribadi dan sukarela bersedia menanggapi panggilan keselamatan. Dalam Perjanjian Baru, calon baptisan adalah orang yang akan diajar (Matius 18:20), yang telah menerima Firman Allah (Kisah 2:41), dan yang telah menerima Roh Kudus (Kisah 10:47). Beberapa orang dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kisah 10:48; 16:15, 33; 18:8; 1 Korintus 1:16), sehingga ada yang menafsirkan bahwa berarti bayi-bayi juga dibaptis. Telah dianjurkan bahwa baptisan bayi semacam ini sama dengan upacara sunat dalam Perjanjian Lama. Untuk menanggapi pendapat semacam ini, kami mengatakan bahwa "seisi rumah" seperti dipakai di atas belum tentu berarti bahwa bayi; dan selanjutnya, dalam kasus-kasus tersebut maka mereka yang dibaptis itu adalah orang-orang yang sudah mendengar pemberitaan Firman Allah (Kisah 10:44) dan percaya (Kisah 16:31, 34). Tidak pernah Alkitab mengajarkan bahwa bayi harus dibaptis. Penyerahan anak kepada Tuhan oleh orang tuanya merupakan cara yang lebih dapat dipertanggung-jawabkan daripada baptisan bayi.
PERJAMUAN KUDUS
Peraturan yang kedua ini disebut dengan beberapa nama. (1) Dalam surat 1 Korintus upacara ini disebut perjamuan Tuhan (11:20). (2) Ini juga disebut "memecahkan roti" (Kisah 2:42), sebuah istilah umum yang dipakai untuk hal makan bersama. (3) Perjamuan Kudus juga disebut "komuni" (artinya: persekutuan) yang merupakan terjemahan dari istilah Yunani koinonia dalam 1 Korintus 10:16, "Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?" Dan akhimya (4), Perjamuan Kudus disebut juga "Ekaristi" yang merupakan istilah Yunani untuk pengucapan syukur, yang diambil dari,perbuatan mengucap syukur sebelum memakan roti dan meminum anggur. Makan bersama yang dilakukan sebelum Perjamuan Kudus disebut perjamuan agape atau perjamuan kasih (Yudas 12).
PENETAPANNYA
Paulus menulis, "Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti" (1 Korintus 11:23), untuk kemudian dilanjutkannya dengan suatu penjelasan terinci tentang Perjamuan Kudus. Kisah tentang sejarah penetapan Perjamuan Kudus dapat ditemukan dalam ketiga Injil sinoptik (Matius 26:2628; Markus 14:22-24; dan Lukas 22:17-20). Sekalipun kita tidak memperoleh keterangan banyak tentang pelaksanaan Perjamuan Kudus sebagaimana halnya baptisan, upacara ini selalu dilaksanakan dalam gereja mula-mula. Upacara ini merupakan bagian yang penting dari gereja di Yerusalem yang masih sangat muda ketika itu. Jelas bahwa Perjamuan Kudus dihubungkan dengan tiga kegiatan gerejani lainnya: pengajaran doktrin, persekutuan, dan doa (Kisah 2:42). Dalam ayat ini setiap kegiatan itu disertai kata sandang tertentu yang berarti bahwa setiap kegiatan itu merupakan bagian khusus dan integral dari kebaktian, umum gereja. Paulus menulis bahwa apa yang diberitakannya kepada jemaat di Korintus telah diterimanya dari Tuhan sendiri (1 Korintus 11:23). Ini berarti bahwa ketika mendirikan gereja di Korintus ia langsung memerkenalkan Perjamuan Kudus kepada mereka. Dalam surat 1 Korintus ini Rasul Paulus sekadar mengingatkan mereka akan ajaran-ajaran kebaktian Perjamuan Kudus yang telah diajarkan kepada mereka ketika gereja tersebut didirikan. Dari masukan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Paulus menetapkan upacara Perjamuan Kudus dalam semua jemaat lokal yang didirikannya, sesuatu yang pasti dilakukan oleh rasul-rasul lainnya juga.
ARTI
Perjamuan Kudus merupakan peringatan akan Kristus. Yesus mengatakan, " . . . Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" (1 Korintus 11:24). Maksud peringatan dalam ayat ini bukan sekadar peringatan akan kematian seorang syahid, tetapi peringatan akan Kristus sebagai Oknum yang hidup. Pentinglah bahwa orang-orang percaya abad pertama berkumpul pada hari pertama setiap minggu, yaitu hari kebangkitan, untuk memecahkan roti bersama (Kisah 20:7). Yesus harus diperingati sebagai Oknum yang hidup senantiasa dan yang senantiasa hadir di antara umat-Nya (Matius 28:20).
Perjamuan Kudus adalah tanda perjanjian baru. Tanda perjanjian baru tersebut adalah cawan. Cawan melambangkan darah yang dicurahkan oleh Tuhan kita untuk mengesahkan perjanjian baru itu. Yesus mengatakan, "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu" (Lukas 22:20; band. 1 Korintus 11:25). Injil Matius mengungkapkannya sebagai berikut, "Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Matius 26:28). Perjanjian baru ini dengan demikian menyediakan pengampunan dosa bagi orang percaya (Ibrani 10:16-18). Perjanjian baru ini lebih baik daripada perjanjian dengan Musa (11 Korintus 3:6- 18; Ibrani 7:22; 12:24). Jadi, dengan makan dan minum unsur-unsur Perjamuan Kudus kita diingatkan kembali akan pengampunan sempurna yang disediakan Kristus bagi kita.
Perjamuan Kudus mengumumkan kematian Kristus. Paulus menulis, "Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang" (1 Korintus 11:26). Pada saat orang-orang percaya berkumpul sebagai peringatan akan Kristus, mereka secara aktif mengumumkan kematian Kristus kepada dunia. Baik fakta kematian Kristus maupun maknanya diumumkan oleh anggota-anggota tubuh-Nya pads saat Perjamuan Kudus.
Perjamuan Kudus adalah nubuat mengenai kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Upacara ini harus dilaksanakan sampai Kristus datang kembali (1 Korintus 11:26). Upacara ini bukan saja melihat ke belakang kepada kematian-Nya, tetapi juga ke depan kepada kedatangan-Nya kembali untuk menjemput umat-Nya. Pada perjamuan terakhir itu Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, "... Mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi basil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku" (Matius 26:29). Hendriksen mengatakan tentang pernyataan Tuhan Yesus ini, "Karena itu, kita melihat bahwa Perjamuan Kudus tidak sekadar menunjuk ke belakang kepada apa yang telah dilakukan Yesus Kristus bagi kita, tetapi juga ke depan kepada apa yang masih akan dilakukan-Nya bagi kita sekalian." Makan dan minum Perjamuan Kudus bersama-sama mengingatkan orang percaya akan perjumpaan kembali yang penuh sukacita serta kebahagiaan yang tak henti-hentinya yang menanti kita semua ketika bertemu dengan Tuhan.
Perjamuan Kudus adalah persekutuan dengan Kristus dan dengan umat- Nya. Ini merupakan saat-saat pribadi ketika orang-orang yang telah ditebus berkumpul sekeliling Yesus Kristus untuk bersekutu. Meja perjamuan ini mengingatkan orang-orang yang berbakti akan semua persediaan yang telah disediakan oleh Kristus bagi anak-anak-Nya. Kita duduk pada perjamuan Tuhan, bukannya pada perjamuan roh-roh jahat (1 Korintus 10:21). Kristus adalah penjamu yang tidak kelihatan pada perjamuan itu. Selanjutnya, orang percaya diingatkan akan kerendahan hati Kristus dan tanggung jawab kita untuk saling melayani. Pada Perjamuan Tuhan inilah Yesus membasuh kaki para murid, suatu perbuatan yang menunjukkan kerendahan hati, kesetiaan, dan kasih. Yesus berkata, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:14, 15).
Apabila Kristus hadir di tengah-tengah persekutuan orang-orang percaya pada kebaktian Perjamuan Kudus, apakah sifat kehadiran-Nya itu? Beberapa pandangan telah diajukan. Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya ada di dalam roti dan anggur itu. Ketika unsur-unsur itu didoakan, maka unsur-unsur tersebut benar-benar menjadi tubuh dan darah Kristus. Tafsiran ini, yang disebut "transubstansiasi", harus ditolak berdasarkan beberapa pertimbangan. (1) Kristus hadir ketika Ia mengatakan bahwa unsur-unsur itu adalah tubuh-Nya dan darahNya. Jelaslah, Ia sedang memakai kata- kata kiasan. (2) Kata-kata "Inilah tubuh-Ku" (1 Korintus 11:24) bersifat kiasan, artinya "ini mewakili tubuh-Ku." (3) Yesus sendiri berkata bahwa memakan tubuh-Nya dan meminum darah-Nya itu berarti datang kepada-Nya dan percaya (Yohanes 6:35; band. ayat 53-58). Ide untuk benar-benar makan daging manusia dan minum darah manusia akan merupakan sesuatu yang menjijikkan bagi pikiran orang Yahudi. Tentu saja, orang-orang Yahudi pada masa hidup Yesus akan memberi reaksi yang hebat sekali terhadap pikiran seperti itu. Meminum darah adalah perbuatan yang dilarang keras (Kejadian 9:4; Imamat 3:17; Kisah 15:29). Dan (5) upacara Paskah sendiri merupakan perayaan simbolis yang memperingati kelepasan Israel dari perhambaan di Mesir (Keluaran 12). Karena unsur-unsur Perjamuan Kudus telah diambil dari Perjamuan Paskah maka simbolisme unsur-unsur dalam kebaktian Perjamuan Kudus itu akan sesuai dengan simbolisme yang dipakai dalam Perjamuan Paskah.
Suatu pandangan lain mengenai kehadiran Kristus disebut sebagai "konsubstansiasi". Menurut pandangan ini, yang merupakan pendapat gereja Lutheran, maka orang yang mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, akan makan dan minum tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya di dalam, bersama-sama dan di bawah unsur roti dan anggur itu. Unsur- unsur itu sendiri tetap tidak berubah, tetapi hal memakan dan meminumnya setelah doa pengucapan syukur itu menyampaikan Kristus kepada orang yang makan, bersama-sama dengan unsur-unsur itu. Hal ini dianggap sebagai benar-benar makan dan minum dari Kristus. Akan tetapi, pandangan ini juga mempunyai masalah-masalah yang sama seperti ajaran transubstansiasi. Yesus menetapkan prinsip yang benar, "Rohlah yang memberi hidup, daging samasekali tidak berguna. Perkataan- perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup" (Yohanes 6:63).
Orang lain, yang berusaha untuk menghindari makna sakramental dan mistik dari kehadiran Kristus di dalam unsur-unsur Perjamuan Kudus, telah menganggap bahwa Perjamuan Kudus itu tidak lebih daripada upacara yang memperingati kematian Kristus. Walaupun Kristus hadir secara rohani, perbuatan makan dan minum unsur-unsur itu menandakan iman para peserta kepada-Nya dan kepada karya penebusan-Nya. Pandangan ini menolak kehadiran jasmani Kristus di dalam unsur-unsur itu.
Pandangan aliran Calvinis adalah di antara konsubstansiasi dan peringatan. Entah bagaimana, kehadiran dinamis Kristus di dalam unsur- unsur Perjamuan Kudus diberlakukan di dalam diri orang percaya pada waktu ia makan dan minum unsur-unsur itu. Menurut Paulus, cawan itu adalah "persekutuan dengan darah Kristus" dan roti adalah "persekutuan dengan tubuh Kristus" (1 Korintus 10:16). Unsur-unsur itu melambangkan kehadiran-Nya. Saucy menulis, "Oleh karena itu, mengambil bagian dalam kehadiran-Nya bukanlah makan dan minum secara jasmani, melainkan suatu hubungan batiniah yang erat dengan diri Kristus yang memakai perbuatan yang lahiriah untuk mengungkapkan iman rohani di dalam basin." Kehadiran-Nya di dalam Perjamuan Kudus sama saja dengan kehadiran-Nya di dalam Firman Allah. Mungkin sebaiknya upacara Perjamuan Kudus itu terutama kita pandang sebagai suatu peringatan, sementara pada saat yang sama kita mengakui kehadiran Kristus di tengah-tengah kita ketika kita makan dan minum unsur-unsur yang melambangkan tubuh dan darah-Nya. Sudah tentu, perbuatan menerima unsur-unsur itu dapat melambangkan hal menerima Kristus secara rohani dan hubungan yang erat dengan Dia.
ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL BAGIAN
Syarat-syarat untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus adalah kelahiran kembali dan hidup taat kepada Kristus. Bahwa kelahiran kembali merupakan suatu syarat sudahlah jelas dari kenyataan bahwa Tuhan memberi peraturan ini kepada para murid-Nya (Matius 26:26-28), para murid melakukannya di antara kalangan mereka sendiri (Kisah 2:42, 46; 20:7; 1 Korintus 11:18-22), dan tiap peserta diminta untuk menyelidiki dirinya sendiri untuk mengetahui apakah ia layak atau tidak layak mengambil bagian dari unsur-unsur Perjamuan Kudus (1 Korintus 11:27-29). Bahwa hidup taat kepada Kristus merupakan suatu syarat sudahlah jelas dari kenyataan bahwa orang-orang yang jatuh ke dalam dosa harus dikucilkan dari gereja (1 Korintus 5:11-13; 2 Tesalonika 3:6, 11-15), sama seperti mereka yang mengajarkan ajaran sesat (Titus 3:10; 2 Yohanes 10 dan 11) serta menimbulkan perpecahan dan pertikaian (Roma 16:17). Sepanjang pengetahuan kami, baptisan air mendahului hal mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus di dalam kehidupan gereja yang mula-mula, tetapi tidak ada perintah mengenai hal itu, juga tidak ada bukti bahwa orang percaya dilarang mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus sebelum mereka dibaptis. Juga tidak ada bukti bahwa menjadi anggota gereja setempat merupakan suatu syarat untuk mengambil bagian. Upacara ini adalah "perjamuan Tuhan" bukan perjamuan gereja. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa masing-masing orang diminta untuk memeriksa diri sendiri mengenai kelayakannya untuk datang ke perjamuan itu; jemaat tidak diberi wewenang untuk menghakimi orang-orang percaya, kecuali dalam kasus perilaku yang melanggar peraturan, ajaran sesat, atau ikut serta dalam perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran Alkitab.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Pembaptisan dan Perjamuan Tuhan
Kode Pelajaran : DPA-R05b
Referensi DPA-R05b diambil dari:
Judul Buku : Teologi Sistematika (5)
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1997
Halaman : 144 - 150
Orang-orang Baptis berbeda dari orang Kristen lainnya di dunia dalam pendapat mereka bahwa selam yang diikuti oleh munculnya kembali seseorang dari dalam air merupakan cara pembaptisan yang paling tepat. Cara seperti ini menurut mereka sebagai cara yang mutlak perlu dalam baptisan, sebab ritual ini dimaksudkan menjadi lambang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dan juga kematian dan kebangkitan orang yang dibaptiskan itu bersama Kristus. Sekarang timbul dua pertanyaan dan yang terbaik jika pertanyaan itu dipikirkan sesuai dengan urutan ini: (1) Hal penting apakah yang dilambangkan dalam baptisan? dan (2) Apakah selam adalah cara baptisan yang paling tepat? Urutan pertanyaan ini sesuai, sebab pertanyaan pertama lebih penting dari pertanyaan ke dua dan jawaban bagi pertanyaan ke dua tergantung pada jawaban yang diberikan pada pertanyaan pertama.
HAL PENTING APAKAH YANG DILAMBANGKAN DALAM BAPTISAN?
Menurut orang Baptis, selam yang kemudian diikuti keluarnya seseorang dari dalam air adalah hal penting dalam simbolisme baptisan. Jika seseorang tidak menerima hal ini sama artinya dengan menolak baptisan itu sendiri. Menurut mereka pengertian baptisan yang sesungguhnya ditunjukkan dalam hal seseorang masuk ke dalam air dan keluar dari dalamnya. Kalau toh penyelaman seperti itu secara natural menyangkut suatu pembasuhan atau pemurnian, sebenarnya hanya kebetulan saja. Baptisan akan tetap merupakan baptisan bahkan juga seandainya kita dicelupkan kepada sesuatu yang tidak berfungsi membersihkan. Mereka mendasarkan pendapatnya atas Mrk 10:38,39; Luk 12:50; Rm 6:3,4; Kol 2:12. Tetapi sesungguhnya kedua ayat yang pertama hanyalah sekedar menunjukkan pengertian bahwa Kristus akan mengalami penderitaan dan sama sekali tidak membicarakan tentang sakramen baptisan. Kedua ayat yang lain sajalah yang sesungguhnya membicarakan persoalan ini. Tetapi pokok pembahasan yang sesungguhnya juga bukan persoalan yang kita bicarakan, sebab kedua ayat itu tidak secara langsung membicarakan baptisan dengan air. Yang dibicarakan dalam kedua ayat itu adalah baptisan rohaniah. Ayat itu membicarakan kelahiran kembali dengan penggambaran tentang mati dan bangkit kembali. Jelas bahwa ayat-ayat itu tidak bermaksud menggambarkan bahwa baptisan adalah lambang dari kematian dan kebangkitan Kristus. Jika seandainya baptisan di sini dianggap sebagai lambang, maka baptisan itu akan melambangkan kematian dan kebangkitan dari orang percaya. Tetapi karena hal ini hanyalah sebuah kiasan mengenai kelahiran kembali orang tersebut, maka perkataan ini menjadikan baptisan sebagai gambaran dari sebuah gambaran.
Teologi Reformed memiliki konsep yang sepenuhnya. berbeda tentang hal yang esensial dalam simbolisme baptisan. Teologi Reformed mengemukakan hal ini dalam pengertian pemurnian. Heidelberg Catechism menanyakan dalam pertanyaan ke-69, "Bagaimana Anda dalam baptisan kudus melambangkan dan memeteraikan bahwa Anda memiliki bagian dalam korban Kristus di salib?" Jawabnya adalah: "Jadi, karena Kristus telah menetapkan pembasuhan secara fisik dengan air dan menambahkan janji bahwa saya telah dibasuh dengan darah-Nya dan Roh-Nya dari kecemaran jiwa saya, yaitu dari dosa-dosa saya, maka sepantasnyalah saya dibasuh dengan air secara fisik, yang olehnya kekotoran tubuh pada umumnya terbasuh." Pengertian tentang pembersihan atau pemurnian merupakan hal yang jelas sekali dalam semua tindakan pembasuhan yang ada dalam Perjanjian Lama dan juga dalam baptisan Yohanes (Mzm 51:7; Yeh 36:25; Yoh 3:25,26). Kita dapat menganggap bahwa dalam kaitan ini baptisan Yesus sepenuhnya sejalan dengan baptisan sebelumnya. Jika Yesus bermaksud menyatakan bahwa baptisan-Nya adalah sesuatu yang baru dan sama sekali berbeda dengan baptisan masa sebelumnya, tentunya Ia sudah menunjukkan maksud-Nya dengan jelas supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Alkitab berulang-ulang menjelaskan bahwa baptisan melambangkan pembersihan spiritual atau pemurnian spiritual (Kis 2:38; 22:16; Rm 6:4 dst; 1 Kor 6: 11; Tit 3:5; Ibr 10:22; 1 Ptr 3:21; Why 1:5). Inilah hal yang sebenarnya yang ditekankan oleh Alkitab, dan Alkitab tidak pernah menyebutkan mengenai masuk ke bawah lalu muncul kembali sebagai sesuatu yang penting.
APAKAH SELAM CARA BAPTISAN YANG PALING TEPAT?
Pendapat yang masih tetap dipegang oleh orang-orang di luar kalangan Baptis adalah, selama pengertian dasar baptisan (yaitu pengertian mengenai pemurnian) dinyatakan dalam upacara baptisan, cara pembaptisan tidak menjadi persoalan. Baptisan boleh dilakukan dengan cara selam, percik, atau pencurahan air. Alkitab memakai istilah generik untuk menunjukkan tindakan yang dirancang untuk menghasilkan satu akibat tertentu, yaitu pembersihan atau pemurnian. Tetapi Alkitab tidak pernah menyebutkan penetapkan cara tertentu yang bisa menghasilkan akibat yang diharapkan. Yesus tidak memberikan resep untuk melakukan cara baptisan tertentu. Yesus jelas tidak memberikan kepentingan baptisan seperti yang dilakukan oleh orang Baptis. Juga contoh-contoh baptisan dalam Alkitab tidak memberikan cara baptisan tertentu. Tidak pernah terjadi satu peristiwa pun yang di dalamnya kita diberi tahu secara jelas bagaimana baptisan harus dilakukan. Tetapi orang Baptis menekankan bahwa sesungguhnya Tuhan memerintahkan baptisan selam dan mereka yang melakukan baptisan selain dengan cara selam berarti tidak taat kepada otoritas Tuhan. Untuk membuktikan penekanan ini, orang Baptis menerjemahkan kata bapto dan baptizo yang dipakai oleh Alkitab sebagai "membaptiskan". Kata baptizo merupakan bentuk yang lebih intensif atau frekuentatif dari kata bapto, walaupun dalam pemakaian umum perbedaan itu tidak menjadi masalah. Bapto sering dipakai dalam Perjanjian Lama, tetapi dalam Perjanjian Baru hanya muncul empat kali yaitu dalam Luk 16:24; Yoh 13:26; Why 19:13 dan dalam ke empat pemakaian itu sama sekali tidak menunjuk pada baptisan Kristen. Orang Baptis terlalu percaya diri dan pernah mengatakan bahwa kata kerja ini hanya mungkin berarti "mencelup". Tetapi sejak Carson (salah seorang yang sangat berpengaruh dari kalangan Baptis) menyimpulkan bahwa kata itu juga mempunyai arti lain yaitu "mewarnai", sehingga bisa saja diterjemahkan "mewarnai dengan cara mencelup" atau bahkan juga berarti "mewarnai dengan cara apa pun". Akibatnya kata itu tidak menunjukkan tentang cara membaptiskan.' Kemudian timbul pertanyaan lain, yaitu apakah baptizo, yang dipakai 76 kali, dan kata yang dipakai oleh Tuhan berasal dari kata bapto dalam arti utama atau arti sekunder. Dr. Carson menjawab bahwa kata baptizo berasal dari kata bapto dalam arti "mencelup". Carson berkata, "Saya telah tunjukkan bahwa kata bapto sebagai akar kata ini mempunyai dua arti, yaitu "mencelup" dan "mewarnai". Saya tegaskan bahwa baptizo hanya mempunyai satu arti penting saja. Arti kata baptizo ini didasarkan atas anti utama kata bapto dan bukan arti keduanya...Pendapat saya adalah, kata itu selalu menunjuk arti mencelup; dan tidak mungkin berarti lain selain cara baptisan itu. Orang Baptis harus memegang pendapat ini jika mereka hendak membuktikan bahwa Tuhan memerintahkan baptisan selam.
Tetapi kenyataannya, sebagaimana dapat kita lihat dalam bahasa Yunani klasik maupun bahasa Yunani Perjanjian Baru pendapat seperti itu tidak ada dasarnya. Bahkan juga Dr. Gale yang mungkin merupakan penulis paling terpelajar yang berusaha mempertahankan pendapat itu, merasa sulit untuk mengubah pendapat itu. Wilson dalam karyanya yang menakjubkan Infant Baptism yang sebagian merupakan jawaban terhadap pendapat Dr. Carson mengutip Dr. Gale dengan mengatakan: "Kata baptizo barangkali tidak sedemikian mengungkapkan tindakan menaruh seseorang berada di bawah air sebagaimana keadaan sesuatu pada kondisi itu, tidak perduli bagaimana bisa terjadi seperti itu, apakah dimasukkan dalam air, atau air itu yang dibawa pada benda tersebut. Walaupun sesungguhnya cara yang paling umum adalah membawa benda itu ke dalam air, tetapi sesungguhnya tidak harus begitu maksudnya." Wilson dengan jelas menunjukkan bahwa menurut pemakaian bahasa Yunani, baptisan dimungkinkan melalui beberapa cara. Wilson berkata, "Biarlah elemen pembaptisan mengelilingi obyeknya dan dalam persoalan dengan zat cair, apakah keadaan relatif ini dihasilkan dengan cara menyelamkan, memercikkan, menyiamkan atau cara yang lain, pemakaian bahasa Yunani menunjukkan bahwa hal itu dapat diterima." Selanjutnya ia menunjukkan dengan sangat rinci bahwa kita tidak mungkin tetap berpendapat bahwa kata baptizo selalu melambangkan cara penyelaman dalam Perjanjian
Jelas bagi kita bahwa kata bapto dan baptizo mempunyai anti yang lain, seperti "membasuh", "memundikan", dan juga "memurnikan dengan cara membasuh". Pengertian tentang membasuh atau memurnikan lambat laun menjadi pengertian yang jelas, sedangkan cara bagaimana hal itu dilaksanakan makin tidak dibicarakan lagi. Bahwa pemurnian ini dimungkinkan melalui pemercikan dapat kita lihat dalam Bil 8:7; 19:13,18,19,20; Mzm 51:7; Yeh 36:25; Ibr 9: 10. Dalam Yudit 12:7 dan Mrk 7:3,4 tidak bisa kita artikan mencelup. Juga pengertian mencelup tidak bisa kita terapkan dalam ayat-ayat: Mat 3:11; Luk 11:37,38; 12:50; Rm 6:3; 1 Kor 12:13; Ibr 9:10 (cf. ay. 13,14,19,21); 1 Kor 10:1,2. Maka kata baptizo tidak harus berarti "menyelamkan". Karena Perjanjian Baru tidak pernah secara eksplisit mengemukakan bahwa baptisan harus selalu dilakukan dengan selam, maka beban untuk membuktikan arti kata itu menjadi beban orang Baptis saja. Apakah Yohanes Pembaptis harus melakukan suatu pekerjaan berat untuk menyelamkan sedemikian banyak orang itu satu per satu ke dalam sungai Yordan, dan mungkinkah dia melakukannya, atau apakah ia sekedar mencurahkan air atas mereka sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebagian prasasti jaman itu? Apakah para rasul memperoleh cukup banyak air di Yerusalem dan apakah mereka mendapatkan fasilitas yang mereka perlukan untuk membaptiskan 3000 orang dalam satu hari dengan cara selam? Di manakah bukti yang kuat untuk menunjukkan bahwa mereka melakukan cara lain selain cara baptisan Perjanjian Lama? Apakah Kis 9:18 menunjukkan juga bahwa Paulus meninggalkan tempat di mana Ananias bertemu dengannya supaya Paulus dapat diselamkan ke dalam sebuah kolam atau sungai? Tidakkah cerita tentang baptisan Kornelius memberikan kesan bahwa air yang dibawa dan mereka yang hadir itu dibaptiskan dalam rumah mereka? (Kis 10:47,48). Adakah bukti bahwa kepala penjara di Filipi tidak dibaptis di dalam penjara atau di satu tempat dekat penjara itu tetapi membiarkan para tawanannya dibawa ke sungai sehingga ia kemudian bisa dibaptiskan? Beranikah kepala penjara itu membawa tawanannya ke luar kota ketika ia diperintahkan untuk menjaga mereka agar jangan sampai lari? (Kis 16:22-23). Bahkan juga cerita tentang baptisan sida-sida dari Etiopia (Kis 8:36-38) yang sering dianggap sebagai bukti Alkitab yang paling kuat tentang baptisan selam, tidak dapat dianggap sebagai bukti yang konklusif. Suatu telaah yang cermat dari pemakaian kata depan eis menunjukkan bahwa Lukas memakai kata depan ini bukan sekedar dalam pengertian masuk ke dalam, tetapi juga dalam pengertian ke, sehingga sangat mungkin kita mengartikan ayat 38 itu menjadi: "dan mereka berdua pergi ke air itu, baik Filipus maupun sida-sida tersebut dan Filipus membaptiskannya." Dan kendati pun kata itu dimaksudkan untuk menunjukkan arti bahwa mereka masuk ke dalam air, tetaplah belum bisa membuktikan tentang baptisan selam sebab menurut gambar-gambar yang ditemukan dari abad mula-mula, mereka yang dibaptiskan dengan cara percik juga berdiri di air. Tentu saja mungkin bahwa pada jaman para rasul, ada orang yang dibaptis dengan cara selam, tetapi kenyataan bahwa Perjanjian Baru tidak pemah bermaksud untuk menekankan selam membuktikan bahwa cara selam tidaklah esensial. Selam memang cara yang bisa dilakukan untuk baptisan, tetapi percik pun demikian juga, sebab semua itu melambangkan pemurnian. Dalam ayat-ayat yang disebutkan di atas kita melihat bahwa dalam Perjanjian Lama pembasuhan (baptisan) terjadi dengan cara dipercik. Dalam nubuatan yang menunjukkan akan datangnya Roh Kudus pada jaman Perjanjian Barin Tuhan berkata: "Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih yang akan mentahirkan kamu," (Yeh 36:25). Hal yang dilambangkan dalam baptisan yaitu Roh yang memurnikan, dicurahkan atas Gereja (Yo 2:28,29; Kis 2:4;33). Penulis surat Ibrani berkata bahwa hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni (Ibr 10:22).
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Kedatangan Kembali Tuhan, Kebangkitan Orang Mati, Penghakiman dan Kehidupan yang Kekal
Kode Pelajaran : DPA-R06a
Referensi DPA-R06a diambil dari:
Judul Buku : Kebenaran Masa Kini
Penulis : Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993 Halaman : 94 - 108
Sarana-sarana atau alat yang pernah Tuhan pakai untuk menjalankan penghakiman, yaitu:
Allah mencipta manusia dengan hati nurani, maka Allah memakai hati nurani untuk menjadi alat penghakiman bagi manusia. Hati nurani memang tidak dapat diandalkan secara mutlak, dan penghukuman hati nurani tidak mutlak benar, karena hati nurani sendiri sudah dicemari oleh kebudayaan, agama, segala macam opini bersama (public opinion), tradisi dan oleh segala macam kebiasaan, penderitaan dan dosa diri sendiri. Fungsi hati nurani sudah dirusakkan oleh semua hal itu.
Memang hati nurani memiliki suatu ketegasan, mempunyai tugas untuk menghakimi manusia, namun demikian hati nurani bisa terlalu peka (over-sensitive), bisa kurang peka, bisa juga didistorsi (dicemari), dan bisa juga mendapatkan polusi yang menakutkan. Ketika seorang dari agama lain sedang makan makanan yang lezat, tiba-tiba diberitahu bahwa makanan tersebut dimasak dengan unsur-unsur yang haram, hati nuraninya akan memersalahkan dia. Tetapi orang Kristen tidak akan dipengaruhi oleh pemberitahuan sedemikian. Hati nurani ternyata dipengaruhi oleh standar-standar dan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh otoritas agama, kebudayaan, tradisi, opini dan kebiasaan-kebiasaan hidup.
Orang yang pertama kali mencari pelacur bukan main takutnya, tetapi yang sudah biasa bukan main nikmatnya. Hati nuraninya sudah tertidur. Tetapi mau tidak mau setiap manusia akan mengalami hal sedemikian. Pada saat permulaan jatuh ke dalam dosa, hati nurani Saudara akan memberikan teguran yang luar biasa keras kepada Saudara. Tetapi celakalah Saudara jika hati nurani Saudara sudah tidak lagi memberikan teguran kepada Saudara.
Setiap kali kita memikirkan penghakiman Tuhan, kita selalu berasosiasi kepada penghakiman yang terakhir sesudah kita mati. Tetapi jangan kira Allah menghakimi hanya pada penghakiman terakhir, karena sekarang pun Allah sedang menjalankan penghakiman melalui hati nurani yang selalu menegur Saudara. Kalau Saudara sungguh-sungguh takut kepada Allah, Saudara pasti akan mempunyai kepekaan mendengarkan teguran hati nurani. Namun demikian, saya harus mengkoreksi satu kemungkinan kesalahan, yaitu hati nurani kadang-kadang terlalu sensitif.
Ada orang-orang yang hati nuraninya terlalu peka, sehingga mereka takut kawin, karena mereka menganggap kalau bersetubuh itu merupakan dosa besar, sehingga ada wanita yang dipengaruhi oleh agama-agama yang kurang bertanggung jawab menganggap tidur dengan suami sendiri merupakan dosa besar. Kepekaan sedemikian adalah kepekaan yang terlalu besar, karena seks memang pemberian Tuhan. Kita memang tidak mau melakukan itu di luar pernikahan, tetapi kita juga tidak perlu merasa berdosa, jika kita melakukannya di dalam pernikahan. Terlalu pekanya hati nurani akan menyebabkan kita hidup di dalam kesusahan dan penderitaan yang sangat besar, tanpa upah Tuhan.
Kekristenan yang sejati mengajarkan kepada kita, apakah di dalam wadah yang boleh kita nikmati, di mana kita lakukan itu merupakan adikia, sesuatu pelanggaran, atau hamartia, sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan tuntut.
Allah memberikan penghakiman kepada manusia melalui turunnya Hukum Taurat. Kita telah melihat bahwa hati nurani menghentikan manusia dengan menyumbat mulut manusia yang berusaha untuk melawan Allah. Kita telah melihat bahwa hati nurani berfungsi untuk menundukkan manusia ke bawah hukuman Allah, sehingga manusia harus takluk, tidak ada jalan lain, manusia harus taat kepada Tuhan.
Hukum Taurat juga memberikan pengenalan akan dosa dengan membuka pikiran manusia. Manusia menjadi tahu bahwa ia telah berdosa. Kita sadar bahwa kita orang berdosa, lalu hati nurani bagaikan rontgen yang memberitahukan kepada kita akan kecelakaan yang akan menimpa kita, yaitu kita sedang menuju kepada kematian, sehingga kita harus lari kepada Yesus Kristus, untuk mendapatkan pertolongan melalui salib dan kebangkita-Nya. Hati nurani menghakimi kita, hukum Taurat menghakimi kita; keduanya ini dipakai Tuhan menjadi alat-Nya di dalam pelaksanaan penghakiman.
Allah menghakimi kita melalui masyarakat. Orang-orang yang berbuat dosa terlalu hebat mendapatkan celaan yang besar dari masyarakat. Tempat satu-satunya di dunia, di mana manusia dikubur bukan dengan peti mati tetapi di kubur di dalam tempayan yang besar adalah di Bagan Siapi-api. Mayat itu ditelungkupkan dan dimasukkan ke dalam tempayan, lalu tempayan itu dibalikkan. Setiap tahun, pada hari upacara peringatan orang mati, mereka menulis surat dan ditempel di tempayan itu supaya orang mati tersebut bisa membacanya. Kuburan mereka merupakan suatu tempat di mana kita akan melihat begitu banyak gentong (tempayan) tertelungkup. Tetapi ketika keluar dari wilayah kuburan itu, pemandu saya memberi tahu bahwa ada mayat yang hanya diletakkan di tampi yang besar, di mana tulang-tulang tengkorak, dan tulang- tulang tubuh dijemur begitu saja di bawah matahari. Ketika saya tanyakan mengapa mereka tidak dikubur seperti yang lainnya, maka pemandu itu mengatakan bahwa mereka tidak berhak dikuburkan karena pada saat mereka hidup mereka adalah pencuri, perampok, pemabuk dsb., sehingga ketika meninggal dihukum oleh masyarakat dengan tidak dikuburkan, tetapi harus dijemur sedemikian. Ketika saya perhatikan, ada yang tulangnya putih dan ada yang tulangnya coklat. Ketika saya tanya mengapa ada tulang yang berwarna coklat, ia memberikan jawaban yang mengejutkan saya, yaitu karena mereka dulunya terlalu banyak minum ganja atau menjadi perokok, pemabuk, sehingga akibat keracunan, warna dari ganja itu menembus sampai ke tulangnya. Terlalu banyak minum alkohol memang membunuh begitu banyak sel di dalam otak, yang tidak mungkin kembali lagi. Satu cangkir alkohol membunuh paling sedikit 2 juta sel otak.
Kita tidak mungkin lari dari hukuman Tuhan, janganlah kita bermain- main dengan hal itu. Kita bukan anjing, kita bukan binatang. Kita dicipta menurut peta dan teladan Allah, dan kita dicipta untuk memermuliakan Allah. Maka sampai mati pun tulangnya masih bisa bersaksi: "Aku peminum candu, aku perokok..."
Mengapa mereka tidak dikuburkan? Karena masyarakat menghakiminya. Kalau seorang ketahuan menjadi pelacur, langsung orang- orang melihatnya secara berbeda. Orang yang berdosa dihina oleh masyarakat Ini namanya hukuman masyarakat.
Masyarakat mempunyai ukuran untuk menilai orang, yang tidak boleh kita abaikan, sekalipun masyarakat itu sendiri mempunyai banyak kelemahan. Orang yang terus menipu, melarikan uang orang lain, dia tidak akan punya muka untuk melarikan diri dari mata orang lain. Mengapa Tuhan membuat wajah kita berbeda? Kalau semua sama akan merepotkan, yang suka menipu dan yang suka menolong orang wajahnya sama. Tuhan sengaja membuat manusia berbeda, sehingga wajah Saudara merupakan suatu ciri, yang membuat kita tidak bisa melarikan diri. Ini membuat manusia bisa dihakimi oleh masyarakat.
Allah adalah Allah yang adil, yang menghakimi manusia berdasarkan hati nurani, hukum Taurat dan masyarakat, dan kemudian pemerintahan.
Pemerintah didirkan oleh Allah, tidak ada pemerintah yang kuasanya bukan datang dari Allah. Kalimat ini merupakan kalimat yang tercantum di dalam Alkitab (Rom.13:1). Semua kuasa politik dan pemerintahan datangnya dari Allah. Banyak pemerintah yang senang dengan ayat ini, karena dengan ayat ini mereka seolah-olah mempunyai wibawa dari Allah, sehingga banyak pemerintah yang paling lalim ingin memakai ayat-ayat ini untuk menyerang orang Kristen.
Apa artinya semua kuasa pemerintahan dari Allah:
Iman Kristen bukanlah iman main-main, Alkitab memberikan kepada kita pengertian jauh melebihi apa yang pernah kita pikirkan atau dengarkan atau yang pernah kita pelajari. Allah memberikan kuasa kepada pemerintah, setiap pemerintah menerima kuasa dari Allah. Kuasa yang diberikan paling sedikit mencakup dua bidang besar. (1) Pemerintah berhak menarik pajak dari rakyat, yang disebut sebagai kuasa pengaturan ekonomi Kekristenan berdasarkan wahyu Tuhan yang mengatur manusia dan menghendaki manusia hidup teratur dalam segala sesuatu. (2) Pemerintah mempunyai kuasa untuk memakai pedang. Itu berarti pemerintah mempunyai sistem pertahanan dan militer. Ini merupakan kuasa pengaturan militer.
Sistem ekonomi dan sistem militer merupakan dua kuasa besar yang ada di dalam pemerintahan, yang diberikan oleh Allah kepada pemerintah, supaya pemerintah mengetahui bagaimana membela diri, bagaimana melawan musuh, dan bagaimana mempertahankan negara, dan untuk menjaga keamanan. Dalam bagian ini Alkitab secara tegas mengatakan, hendaknya pemerintah memberikan pahala kepada mereka yang baik, dan menghukum mereka yang melakukan kejahatan. Disini kita melihat kuasa penghakiman yang keempat. Allah menghakimi manusia melalui memberikan kuasa kepada pemerintahan untuk menghakimi manusia.
Dalam hal ini, sama seperti hati nurani yang mungkin dinodai, dipolusi dan didistorsikan oleh dosa, banyak pemerintahan dunia yang juga sudah tidak taat kepada Tuhan. Hendaklah Saudara berdoa supaya raja-raja di dalam pemerintahan Saudara, supaya orang-orang yang berkuasa di negara Saudara mempunyai perasaan yang takut kepada Allah dan mempunyai sikap yang sungguh-sungguh di dalam mengadili dan memerintah rakyatnya.
Orang Kristen pada umumnya harus taat kepada pemerintah, dan harus menaati apa yang diperintahkan oleh pemerintah itu, kecuali mandat yang Tuhan berikan untuk mengadakan revolusi untuk menggulingkan pemerintah, tetapi siapa orangnya, kita tidak boleh sembarangan menganggap bahwa diri kitalah orangnya.
Tuhan memberikan kuasa kepada pemerintah. Namun jika pemerintah itu sudah tidak mau taat kepada Allah, Ia memberikan toleransi sampai pada suatu saat kepenuhan dosa dari suatu pemerintahan sudah memuncak, maka Allah akan memakai cara lain untuk merubah pemerintahan itu, seperti kerusakan komunisme di Rusia dan Eropa Timur. Pemerintahan yang dibangun bertahun-tahun, hanya membutuhkan waktu beberapa bulan dan beberapa minggu saja untuk menghancurkannya. Jika Allah sudah marah, pemerintahan yang bagaimana pun kuatnya, yang memiliki bom-bom atom dan bom-bom nuklir seperti Rusia, ketika Tuhan katakan "Waktumu sudah tiba", ia tidak akan dapat bertahan.
Jangan kita bermain-main dengan Tuhan. Allah adalah Allah yang memiliki kuasa terakhir. Selama seseorang masih diberikan hak untuk memerintah, ia masih bisa memerintah, tetapi ketika Allah mengatakan "cukup", maka ia tidak mungkin bisa berkuasa lebih lama lagi. Jangan Saudara kira manusia boleh ditakuti.
Ketika saya berkhotbah di Hongkong, saya mengingatkan bahwa orang Hong Kong tidak perlu terlalu takut tahun 1997. Mungkin Deng Shiao Ping yang harus lebih takut untuk tahun itu, karena pada tahun itu, usianya sudah 93 tahun. Mungkin ia tidak akan sampai ke usia itu.
Pada saat saya berkhotbah di Manila, Filipina, saya menyerukan agar Presiden dan seluruh rakyat Filipina harus sungguh- sungguh bertobat. Pada saat itu panitia ketakutan, karena Marcos yang saat itu masih berkuasa, telah menjadi Presiden selama 20 tahun. Mereka mengkuatirkan kalau 2 tahun kemudian, saya akan mengalami kesulitan untuk datang lagi ke Filipina. Saya katakan, mungkin dua tahun lagi, ia tidak lagi memerintah. Dia boleh 20 tahun memerintah, saat itu saya sudah 30 tahun berkhotbah. Dua tahun kemudian, ketika saya kembali ke Filipina, ia sudah diusir dari Filipina, sedangkan saya masih berkhotbah. Siapa yang lebih berkuasa? Allah atau manusia? Pemerintah-pemerintah kalau tidak takut kepada Allah, dan berbuat dosa terus, pada suatu hari Tuhan akan menyingkirkan pemerintah itu, karena Allah lebih besar dari segala pemerintahan.
Allah memakai hati nurani, memakai hukum Taurat, memakai masyarakat dan memakai pemerintahan untuk menghakimi manusia, tetapi Saudara harus ingat bahwa Allah sendiri lebih berkuasa dan lebih besar dari segala sesuatu.
Pada saat Yusuf Roni ditahan dan diadili, banyak pendeta yang dipanggil untuk menjadi saksi. Tetapi kebanyakan pendeta yang dipanggil untuk menjadi saksi begitu ketakutan, sampai paling tidak ada 6 pendeta yang berbohong di pengadilan. Yusuf Roni sampai terheran-heran, pendeta yang mengundang saya berkhotbah di sana, mengapa ketika dipanggil untuk bersaksi, mereka begitu ketakutan. Maka di dalam bukunya Pembelaku Yang Agung, ia berulang kali menulis "Ya Tuhan, kiranya Tuhan mengampuni pendeta-pendeta sedemikian." Pendeta yang seharusnya mengabarkan pengampunan kini membutuhkan pengampunan karena sudah tidak bertanggung jawab. Pengadilan-pengadilan belum tentu adil, tetapi Allah pasti adil adanya.
Penghakiman Allah yang paling keras, yang paling hebat, yang paling mengerikan yang pemah terjadi atas seseorang adalah penghakiman Allah pada saat Yesus Kristus dipaku di kayu salib. Jangan Saudara kira Yesus diadili oleh orang biasa, jangan kira Yesus dipaku di kayu salib karena kuasa dari Herodes, atau kuasa Hanas dan Kayafas, juga bukan kuasa dari Pilatus, atau dari rakyat Israel. Yesus di paku di kayu salib justru karena penghakiman Allah ditimpakan kepada-Nya. Di dalam Yes 53:10 dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa Yahweh telah menetapkan untuk meremukkan Dia, karena Dia sedang mengganti Saudara dan saya, Dia sedang menebus dosa Saudara dan saya.
Yesus diadili dan dihakimi di Golgota adalah karena dosa Saudara dan dosa saya. Inilah penghakiman yang paling berat dan penting. Ayat "..karena bilur- bilur-Nya kita menjadi sembuh" (Yes 53:5) janganlah hanya dimengerti sebagai kesembuhan penyakit badan. Penyakit badan tidak terlalu penting, penyakit rohani Saudara jauh lebih penting, penyakit jiwa Saudara lebih penting, dan penyakit status rohani Saudara di hadapan Allah, itulah yang terpenting. Seperti seruan Yeremia "Kembalilah hai anak-anak yang murtad! Aku akan menyembuhkan engkau dari (penyakit) murtadmu." (Yer 3:22) Penyakit jasmani tidak terlalu penting, karena setiap orang suatu hari pasti harus mati. Mengapa Saudara datang kepada Yesus hanya untuk mencari kesembuhan badan saja? Pendeta yang selalu meneriakkan: "Datanglah kesini, saya akan memberikan kesembuhan" akan menarik banyak orang datang. Tetapi setelah tubuh Saudara disembuhkan, namun jiwa dan iman Saudara yang sakit tidak pernah disembuhkan, apa gunanya Saudara menjadi Kristen? "Bilur-Nya menyembuhkan aku" bukan hanya untuk kesembuhan badan, sekalipun saya percaya hal itu dan Tuhan akan selalu melakukan hal itu. Namun lebih penting dari itu adalah jiwa Saudara yang sudah murtad, yang sudah jauh dari Tuhan itu perlu juga disembuhkan oleh bilur-bilur Yesus Kristus.
"Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhatiap dia, dam bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dam kesengsaraan kita yang dipikulnya." (Yes 53:3-4).
Kristus mati dan dikutuk karena dosa kita. Inilah hukuman yang Allah Bapa timpakan kepada Yesus.
Pada waktu Injil diberitakan, firman Tuhan dikabarkan, Kristus yang mati dan bangkit menjadi satu-satunya kabar baik yang diberitakan kepada manusia. Pada saat itu juga, Roh Kudus bekerja untuk menghakimi manusia.
Orang yang memaku Yesus di kayu salib, pada saat itu mereka merasa tidak bersalah, karena ia merasa hanya menjalankan tugas saja. Setelah selesai bisa pulang. Orang Yahudi juga merasa bahwa Yesus terlalu kurang ajar, terlalu mengganggu, sehingga setelah Yesus mati mereka tidak terganggu lagi. Mereka merasa sudah selesai, tetapi sebenarnya mereka tidak pernah bisa menyelesaikan persoalan mereka karena mereka membenci Yesus Kristus. Yesus Kristus disalibkan, dibunuh, tetapi pada hari yang ketiga, Roh Kudus bekerja di tengah-tengah orang yang pernah memaku Dia, Roh Kudus bekerja mulai dari Yerusalem, dan Roh Kudus dicurahkan sebagai penggenapan janji Allah akan pengiriman Roh Kudus, dan berita Injil disampaikan. Hari itu, ada 3000 orang yang tertusuk hatinya karena Roh Kudus sedang menjalankan penghakiman.
Di dalam Yoh 16: 1-11, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa jika Ia tidak pergi Roh Kudus tidak akan datang, dan kalau Roh Kudus itu turun, Ia akan menginsyafkan dunia akan dosa, keadilan dan penghakiman.
Roh Kudus akan bekerja pada saat orang dengan jujur memberitakan Injil Kristus. Siapa saja, pendeta-pendeta, pemberita Injil, jika Saudara sungguh- sungguh, dengan hati yang jujur dan tulus memberitakan Injil, tidak mungkin Roh Kudus tidak bekerja. Pemuda-pemudi jangan takut bersaksi bagi Tuhan, jangan takut menjadi hamba Tuhan. Tidak peduli Saudara berbicara dengan kurang fasih, tidak peduli tersendat-sendat, terlalu pandai atau kurang pandai, asal Saudara berani berdiri dan bersaksi sungguh-sungguh meninggikan Kristus yang tersalib, tidak mungkin Roh Kudus tidak menyertai Saudara, karena Roh Kudus datang untuk memermuliakan Kristus. Tetapi jika Saudara memberitakan diri sendiri, Roh Kudus akan meninggalkan Saudara. Jika Kristus yang diberitakan, Roh Kudus akan menyertai dan memeteraikan orang tersebut.
Ada seseorang mengatakan kepada saya bahwa selama ini ia begitu takut bersaksi, tetapi sungguh ia tidak sangka ketika ia bersaksi, banyak orang menangis. Siapa bilang Saudara tidak bisa bersaksi? Siapa bilang Saudara tidak bisa melayani Tuhan? Siapa bilang Saudara tidak bisa dipakai oleh Roh Kudus? Itu semua karena Saudara belum pernah mencobanya, kurang memberanikan diri. Saya harap setelah ini Saudara rela berlutut dan berdoa, "Tuhan aku mau melayani Engkau, berikan kekuatan kepadaku, aku mau memermuliakan nama-Mu." Maka hari ini juga Saudara akan dipakai oleh Tuhan.
Pada saat Roh Kudus menjalankan penghakiman, ada sesuatu yang mengherankan sekali terjadi. Manusia yang dulu menganggap diri sendiri benar, dan menganggap Yesus salah, sehingga Yesus perlu dipaku, dan manusia merasa berhak menghakimi Dia, kini diputar-balikkan. Manusia kini menjadi sadar bahwa Kristus yang benar, kita sendiri yang berdosa. Bukan Kristus yang harus diadili, tetapi Kristus-lah yang seharusnya menghakimi kita. Lalu manusia itu rebah di hadapan Tuhan dengan segala kerendahan hati dan tangisan yang menyatakan pertobatan yang sejati. Iman langsung timbul di dalam hatinya.
Roh Kudus mengakibatkan Saudara rendah hati, menjadikan Saudara sadar akan dosa Saudara. Kalau bukan Roh Kudus yang menghakimi seseorang, tidak mungkin manusia mau menyadari dosa. Kalau seorang pendeta menyatakan dan terus-menerus menuding Saudara berdosa, Saudara akan jengkel kepadanya, tetapi jika pendeta itu berkhotbah, "Kamu berdosa!", lalu Roh Kudus bekerja di dalam hatimu, maka Saudara sadar bahwa Saudara berdosa.
Pada saat John Sung berkhotbah di Manila dengan begitu keras, maka banyak orang Tionghoa yang terlalu mementingkan sopan-santun yang pura-pura, menganggap ia sebagai pendeta gila, sehingga dilaporkan ke konsulat. Maka konsul itu datang untuk mendengarkan "orang gila" itu. Tetapi Roh Kudus terus bekerja. Setelah khotbah, John Sung berteriak, "Yang suka berzinah, cepat bertobat dan maju ke depan!" Satu persatu orang maju. Juga ketika ia berteriak: "Siapa yang memiliki wanita lain selain isteri sendiri, cepat bertobat dan maju!" Konsul itu heran luar biasa, mereka mau mengakui kebusukan diri mereka sendiri di hadapan umum. Ia sendiri adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Peking, dimana pada saat itu Mao Tse Dong masih menjadi penjaga perpustakaan. Setahu dia, orang yang berdosa sulit disuruh mengaku. Orang seperti itu harus dipukul, disiksa dsb. baru bisa mengaku. Mengapa di sini orang dengan begitu mudah mau mengaku? Ia melihat beratus orang menangis dan maju, berdoa minta pengampunan dosa. Akhirnya Konsul ini pun maju juga. Kejadian seperti ini bukanlah kuasa hukum. Polisi hanya bisa memakai pukulan supaya Saudara mengaku dosa. Manusia memakai uang, memakai kuasa militer, memakai pengacara untuk menakut-nakuti Saudara supaya Saudara mengaku dosa. Tetapi Roh Kudus tidak demikian. Roh Kudus memberikan suatu visi bahwa cinta Tuhan begitu besar, bahwa Kristus mati bagi Saudara di atas kayu salib, maka tidak ada jalan lain bagi Saudara kecuali merendahkan diri dan mengaku dosa. Penghakiman Roh Kudus adalah memakai kematian Kristus.
Melalui kematian dan kebangkitan Kristus Allah sudah membuka atau sudah memindahkan dan menggantikan penghakiman yang seharusnya ke atas Saudara, menjadi ke atas salib, ke atas Anak-Nya sendiri. Penghakiman Roh Kudus menciptakan pengharapan baru di dalam hati Saudara, melepaskan Saudara dari kekerasan hati Saudara, dari kedegilan Saudara dan dari pemberontakan terhadap Allah, dan kembali kepada Allah dengan segala kerendahan hati, dan mengaku dosa di hatiapan Allah.
Penghakiman juga dilakukan Roh Kudus melalui Gereja Tuhan. Gereja adalah salah satu wadah yang Tuhan pakai untuk menjalankan penghakiman Ilahi. Gereja mempunyai hak, gereja harus menjalankan keadilan Allah, sehingga anggota-anggota gereja harus mematuhkan diri kepada seluruh peraturan yang sesuai dengan kehendak Allah.
Yang berzinah, jika ia seorang penatua atau majelis, tegurlah ia dan berhentikan dia dari menerima Perjamuan Suci. Penghakiman gereja harus sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi saat ini tidak terjadi hal yang demikian. Gereja-gereja sendiri kini berkompromi dengan dosa. Majelis dan anggota bersama-sama bekerja mencari pelacur, sehingga keduanya saling mendiamkan.
Suatu kali saya naik kapal terbang dari Surabaya ke Jakarta. Saat itu cukup banyak tempat kosong, dan saya melihat ada seorang yang lari dari depan, lalu duduk di sebelah saya. Ia seharusnya duduk di kelas Eksekutif, sedangkan saya duduk di kelas Ekonomi. Ia rela meninggalkan kelas Eksekutif untuk mencari orang yang ia kenal. Ia menemui saya dan duduk di sebelah saya. Lalu ia bertanya, bolehkah ia menjadi majelis, padahal ia sudah sering berzinah. Ia menduga saya akan mengatakan bahwa hal itu tidak apa-apa, cinta Tuhan besar, dan ia akan diampuni. Tetapi saya secara tegas mengatakan bahwa ia harus bertobat. Gereja adalah tempat yang dipakai Tuhan untuk menghakimi.
Tetapi saya bukan bermaksud menyatakan ini agar gereja menjadi sombong dan setiap hari menghakimi orang lain. Gereja adalah juga tempat yang Tuhan pakai untuk mengampuni dan untuk memberitakan Injil. Yang tidak mau meninggalkan dosa, dosanya akan tetap padanya, yang mau mengaku dosa, dosanya akan diampuni, yang dinyatakan terikat, akan tetap terikat di sorga, dan yang dilepaskan, akan terlepas di sorga (Mat 16:19) Semua ini dinyatakan oleh Alkitab. Biarlah gereja, pemimpin gereja, pendeta, majelis semua yang melibatkan diri dengan tangan duniawi ini untuk mengerjakan pekerjaan sorgawi, hendaklah dengan kesucian hati, dengan kemurnian tangan, dan dengan pikiran yang mengabdi kepada Tuhan, dan dengan jiwa yang menyerahkan diri kepada Tuhan, melaksanakan tugas sebagai gereja seturut yang dicatat di dalam Alkitab. Itulah yang wajar.
Apakah artinya ini? Pada saat Kristus kembali untuk kedua kalinya, Ia akan mengadili semua orang Kristen. Pengadilan ini tidak bersangkut paut dengan status dosa Saudara. Kita telah membahas bahwa Paulus menggunakan dua macam istilah untuk melukiskan dosa, yaitu dosa yang dalam bentuk tunggal, dan dosa dalam bentuk jamak. Pada saat ia menyatakan "saya ada di bawah dosa", maka ditulis dalam bentuk tunggal, tetapi ketika ia mengatakan "saya melakukan banyak kesalahan", ditulis dalam bentuk jamak. Secara status dosa, kita tidak lagi dihukum, karena sebagai orang berdosa, status kita ini sudah diganti oleh Kristus di atas kayu salib. Kita adalah orang berdosa yang statusnya sudah diwakili oleh Kristus di Golgota. Jadi pada saat Kristus datang kembali, Ia tidak akan menghakimi kita akan status dosa kita dan menuntut kita binasa, karena kita yang sudah sungguh-sungguh lahir baru, yang sudah sungguh-sungguh bertobat, yang sudah dimeterai oleh Roh Kudus, tidak lagi diadili karena status dosa.
Tetapi orang Kristen tetap harus diadili oleh pengadilan untuk segala pelayanan kita, kesetiaan kita, dan ibadah kita, murni atau tidak, di hadapan Tuhan. Ini yang disebut sebagai penghakiman atas keluarga Allah di hatiapan takhta Kristus. (The judgment of the household of God before His throne). Di dalam pengadilan ini, Allah menghakimi anak-anak-Nya; pendeta-pendeta, majelis-majelis dan setiap orang. Kristen jangan mengira sebagai orang Kristen Saudara berhak berbuat sembarangan karena Saudara adalah "anak emas" Tuhan. Alkitab berkata, "Engkau menganggap dirimu lebih baik dari yang lain? Engkau mengira begitu dimanja dan akan menerima sesuatu keistimewaan? Engkau mengira bahwa engkau akan bisa menghindarkan diri? Ketahuilah bahwa penghakiman Allah akan dimulai dari rumah Allah sendiri." Penghakiman Allah akan dimulai dari rumah-Nya sendiri, mulai dari anak-anak-Nya sendiri, mulai dari Saudara dan saya yang berdiri di hahapan Allah.
Siapakah yang bisa berdiri? Siapakah yang bisa bertahan? Karena baik pendeta, majelis, maupun penginjil-penginjil besar yang dijunjung di hatiapan manusia, tidak ada perkecualian di hadapan Allah. Kalau di dunia ada banyak orang yang menghormati Saudara, jangan berharap nanti di sorga malaikat-malaikat atau Roh Kudus akan datang untuk menghormati Saudara, karena hukuman Allah justru mulai dari keluarga Allah sendiri.
Jangan mengira kalau kita menegur orang dunia yang berdosa pasti akan masuk neraka, maka orang Kristen boleh sembarangan. Tidak ada keistimewaan, tidak ada hak khusus. Baiklah kita sebagai orang Kristen hidup lebih berhati-hati dan waspada. Pelayanan kita harus lebih diperhatikan.
Kalau kita melayani Tuhan dengan hati nurani yang suci, dengan suatu kemurnian untuk memermuliakan Tuhan, maka dengan sendirinya kuasa itu akan ditambahkan terus kepada kita. Bukan hal kuantitas, tetapi kuasa untuk memurnikan, kuasa untuk membangkitkan iman, kuasa untuk memberikan kekuatan, kuasa untuk tahan uji, kuasa untuk melawan segala penganiayaan dan kesulitan, dan kuasa untuk mempertahankan diri setia sampai kedatangan Tuhan.
Pada hari terakhir, di hadapan Takhta Putih dari Kristus semua orang jahat akan bangkit, semua orang baik juga akan bangkit, dan akan dihakimi oleh Tuhan di hadapan Pengadilan yang Terakhir (The Final Judgment). Orang baik maupun orang jahat semuanya akan dibangkitkan dan semua harus menghadap kepada Tuhan, dan Alkitab mengatakan bahwa Allah akan mengadili semua orang atas semua yang mereka perbuat (Rom.2:6).
Allah menyelamatkan seseorang bukan karena apa yang ia perbuat, tetapi Allah menyelamatkan seseorang karena apa yang Kristus perbuat bagi dia. Tetapi Allah akan mengadili seseorang akan apa yang ia perbuat Kedua hal ini harus dibedakan secara tegas. Pada saat Saudara diadili, Saudara diadili berdasarkan kelakuan kejahatan, segala pikiran dan perbuatan Saudara yang tidak senonoh, yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Tuhan akan datang kembali dan penghakiman pasti akan dilaksanakan, tidak ada satu pun dosa yang bisa diloloskan dari penghakiman Allah.
Sudahkah-saudara bertobat, dan beriman kepada Kristus? Sudahkah Saudara membuka hati Saudara dan menerima Tuhan yang mati dan bangkit bagi Saudara? Sudahkah Saudara merendahkan hati dan mengatakan "disini saya dan saat ini saya datang kepada-Mu"?
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a
Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Kedatangan Kembali Tuhan, Kebangkitan Orang Mati, Penghakiman dan Kehidupan yang Kekal
Kode Pelajaran : DPA-R06b
Referensi DPA-R06b diambil dari:
Judul Buku : Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani
Penulis : Dave Hagelberg
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997
Halaman : 367 - 379
Sesudah pemberontakan yang paling akhir, terjadi penghakiman yang terakhir. Pada saat itu langit dan bumi yang lama berakhir. Tampak suatu "takhta putih yang besar", dan lenyaplah bumi dan surga. Zaman Kerajaan Seribu Tahun diakhiri: Penghukuman yang dikisahkan di sini khusus untuk orang yang tidak pernah percaya pada Tuhan Yesus. Mereka, berdasarkan perbuatan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api itu. Mereka dihakimi dan dihukum sesuai dengan perbuatan mereka.
20:11 Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya bumi dan langit melarikan diri dan tidak ditemukan lagi tempatnya.
Dalam pasal 4:2 takhta Allah merupakan yang paling menarik perhatian Yohanes. Lebih-lebih dalam pasal 20:11 saat bumi dan langit sudah melarikan diri, sesuai dengan apa yang dinubuatkan dalam Yesaya 51:6 dan 2 Petrus 3:11-13.2
Identitas Dia yang duduk di atas takhta putih yang besar tidak diuraikan. Dalam Wahyu pasal 4-5 Allah Bapa duduk di atas takhta-Nya, tetapi dalam pasal 3:21 kita membaca bahwa Tuhan Yesus ikut duduk di utas takhta Bapa-Nya! Dalam Yohanes 5:22, 30; 8:16; :12:47-50 ada kesan bahwa baik Allah Bapa maupun Tuhan Yesus adalah Hakim.
Sebenarnya tidak dikatakan apakah takhta putih yang besar tersebut adalah satu dengan takhta Tuhan Yesus; yang Dia janjikan kepada barangsiapa yang menang dalam pasal 3:21. Kalau sama, berarti orang percaya yang menang akan ikut menghakimi mereka yang tidak percaya. Dalam 1 Korintus 6:3, Rasul Paulus berkata, "Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat?"
20:12 Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecii, berdiri di depan, takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
Dalam pasal 20:5 dikatakan bahwa "orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa seribu tahun itu". Di sini mereka sudah dibangkitkan untuk dihakimi. Mereka yang disebut orang-orang mati, besar dan kecil bukan mereka yang bangkit atau pun mereka yang "diangkat" sebelum Masa Kesengsaraan (1 Tesalonika 4:46-17). Mereka bukan orang-orang yang mati syahid karena tidak mau menyembah Anti- Kristus. Kebangkitan mereka sudah diceritakan dalam pasal 20:4. Mereka; yang disebut orang-orang mati adalah mereka yang tidak percaya pada Kristus. Mereka yang disebut mati dalam ayat ini adalah mereka yang tidak percaya pada Kristus, sedangkan mereka yang dibangkitkan dalam pasal 20:4 dikatakan "hidup kembali". Mereka yang dibangkitkan pada kebangkitan yang pertama (pasal 20:4) masuk daiam kemuliaan yang kekal, sedangkan mereka yang dibangkitkan pada kebangkitan yang kedua (pasal 20:12) tetap disebut orang-orang mati, karena mereka masuk dalam hukuman kekal.
Kalau demikian, apakah orang percaya tidak mengalami penghakiman? Dalam Injil Yohanea pasal 5:24 Tuhan Yesus menjawab: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah-pindah dari dalam maut ke daiam hidup." Memang ada penghakiman untuk orang percaya, tetapi penghakiman itu bukan untuk menentukan siapa yang boleh masuk surga, melainkan untuk menilai perbuatan setiap orang, untuk menentukan pahala dan mahkota yang akan dibagi, seperti apa yang diuraikan dalam 1 Korintus 3:12-15; 9:25-27; 2 Timotius 4:8 Ibrani 11:35; Yakobus 1:12; Wahyu 2:10, 26- 28; dan 3:21.
Mereka, yang disebut sebagai orang-orang mati, tidak dihakimi dengan sembarangan, tetapi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di daiam kitab-kitab itu. Rupanya di dalam semuca kitab itu, perbuatan mereka ditulis, dan mereka dihakimi menurut catatan yang ada tentang perbuatan mereka. Selain kitab itu, ada satu lagi, yaitu kitab kehidupan, yang sudah disebutkan dalam pasal 3:5.
Orang yang tidak menerima pengampunan melalui pengorbanan Anak Domba Allah akan dihakimi nsenurut perbuatan mereka. Firman Allah sangat jelas mengenai hal ini. Lihatlah Mazmur 62:12; Yeremia 17:10; Roma 2:6; dan 1 Petrus 1:17.2 20:13 Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut-maut menyerahkan orang- orang mati yang ada di dalamnya, dan, mereka dihakimi masing- masing menurut perbuatannya.
Supaya penghakiman yang disebutkan di atas dapat terjadi, laut dan maut dan kerajaan maut harus menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya. Penafsir yang cenderung mencela Firman Tuhan berkata bahwa ada kontradikei antara ayat 11, saat bumi sudah tidak ada lagi, dan ayat 13, saat laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya. Tetapi sikap yang demikian malah menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan tidak begitu memahami ciri sastra apokaliptik, yang memang agak lebih bebas daripada peraturan logika dan waktu.
Yohanes mengulangi dan menegaskan bahwa mereka dihakimi, masing- masing menurut perbuatannya, dan Tuhan Allah tidak akan mengampuni seorang pun tanpa dasar pengorbanan Tuhan Yesus, Anak Domba Allah. Bagaimana pun juga, dasar pengampunan tersebut tidak berlaku bagi mereka, karena mereka tidak percaya kepada Yesus Kristus.
20:14 Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.
Mungkin apa yang dikatakan dalam pasal 20:13 hanya diulangi di sini. Kalau begitu, maka Yohanes memakai suatu kiasan yang berarti bahwa maut, yaitu mereka yang dipegang oleh kuasa maut, diserahkan ke dalam lautan api itu.
Tetapi tampaknya sesuatu yang lebih dalam terkandung dalam ayat ini. Maut dan kerajaan maut merupakan kuasa yang terakhir yang harus dikalahkan oleh Tuhan Yesus. Apa yang diuraikan secara logis dalam 1 Korintus 15:24-28 dan 15:54-55 dikisahkan melalui sastra apokaliptik dalam Wahyu 21:13-14.
Kematian yang kedua disebutkan dalam pasal 2:11; 20:6, 14; dan 21:8.
20:15. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.
Ayat ini merupakan ringkasan mengenai penghakiman takhta putih. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa satu-satunya syarat untuk bisa lepas dari lautan api, yakni nama kita harus tertulis di dalam kitab kehidupan itu. Orang yang tidak mempunyai kewarganegaraan dalam Kerajaan Allah harus dilemparkan ke dalam lautan api itu. Tidak ada tempat lain.
Penglihatan yang terakhir ini terjadi sesudah Penghukuman Takhta Putih, dan juga sesudah Kerajaan Seribu Tahun. Bumi dan langit yang lama sudah tidak ada lagi: Peralihan ini, antara Kerajaan Seribu Tahun dan kerajaan yang kekal (dengan "langit yang baru dan bumi yang baru") juga diceritakan dalam 1 Korintus 15:24, yang berbunyi, "Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan." Dalam penglihatan ini Yerusalem yang baru dinyatakan sebagai pusat dari ciptaan baru.
21:1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
Dalam Yesaya 65:17 nabi berkata, "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati." Apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya juga diceritakan oleh rasul Yohanes.
Yohanes melihat bahwa laut pun tidak ada lagi. Para penafsir mengemukakan beberapa alasan untuk menjelaskan hal ini. Mungkin hal ini karena zaman itu mereka takut terhadap laut, tetapi Mounce merasa bahwa alasan yang lebih tepat adalah karena di dalam Firman Allah laut sering mengacu pada "orang-orang fasik", seperti dalam Yesaya 57:20 dan Wahyu pasal 13:1 dan 13:6-7.
21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Apa yang disebutkan secara sepintas dalam ayat ini akan diuraikan lebih lanjut dalam pasal 21:9-22:5. Antara seluruh langit baru dan surga baru yang dilihat Yohanes, yang menonjol adalah Yerusalem yang baru. Inilah kota yang kedua dan wanita yang kedua. Pemakaian kata kudus dan baru mengingatkan kita bahwa Kota Babel najis dan lama.
Sepertinya mustahil, sebuah kota turun dari surga, dari Allah! Kalau dianggap mustahil, bukankah menciptakan "langit baru dan bumi baru" lebih mustahil lagi? Kota itu turun dari surga, dari Allah sehingga kita tidak ditugaskan untuk membangun Yerusalem itu.
Beasley-Murray menulis, "Bagi Yohanes, ciptaan baru menjadi penting karena di situlah Kota Allah. Demikian juga kota itu sangat berarti, karena di situlah terjadi persekutuan yang kudus antara Allah dan ciptaan-Nya." Menurut Ibrani 12:22-23 saat ini Allah dan "roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna" berada di Yerusalem surgawi.
Dalam nas ini kita melihat bahwa tempat persekutuan itu akan turun ke bumi.
Kota itu berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya, seperti apa yang dikatakan dalam Yesaya 54:5, "Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya." Bandingkanlah juga Galatia 4:26.
Adanya kota yang mulia itu mengingatkan para pembaca bahwa Tuhan Allah akan memerintah atas bangsa-bangsa, dan mereka akan tunduk kepada-Nya.
Istilah bagaikan mengingatkan kita bahwa pengantin perempuan adalah kiasan, sama seperti pasal 17:18 menjelaskan bahwa Pelacur Besar itu adalah kiasan untuk Kota Babel.
21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari surgai itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
Inilah yang paling pokok. Kalimat yang diucapkan dari surga itu merangkum tujuan Kitab Wahyu, dan tujuan dari sejarah manusia, yaitu pahala yang dirindukan oleh setiap orang yang mengasihi Tuhan Allah: Ia. akan diam bersama-sama dengan mereka.
Dalam seruan ini genaplah janji Firman Allah kepada-barang siapa yang menang. Imamat 26:11-12 berkata,--"Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu. Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku," Yeremia 31:33 berkata, "...Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku." Yehezkiel 37:27 berkata, "Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku." Zakharia 8:8 berkata, "dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran."
Pada waktu umat Israel berada di padang gurun, kemah Allah ada di tengah-tengah mereka, sebagai pernyataan hadirat Allah. Injil Yohanes pasal 1:14 bila diterjemahkan secara harfiah berbunyi, "Firman itu telah menjadi manusia, dan berkemah di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya."
21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka; dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Yesaya 25:8 berkata, "Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka...."
Dalam pasal 7:17 kita membaca bahwa "Allah akan menghapus segala air mata dari mata" mereka yang mati syahid pada Masa Kesengsaraan. Rupanya peristiwa ini lain, karena ini terjadi setelah Kerajaan Seribu Tahun. Siapa yang menangis pada masa Kerajaan Seribu Tahun? Mungkinkah mereka, yang percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, tetapi tidak menang, sehingga tidak dapat menikmati pahala-pahala yang dijanjikan dan diceritakan dalam Kitab Wahyu? Rasul Paulus menyebutkan keadaan orang itu dalam 1 Korintus 3:15.
Apa yang dikatakan dalam pasal 20:14 dikembangkan dalam ayat ini, sehingga segala kesusahan, seperti air mata, maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita, ikut ditiadakan. Bandingkanlah Yesaya 35:10; 51:11; 1 Korintus 15:24 dan 54. Yang akan menghapus segala air mata adalah Allah sendiri!
21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan Firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah setia dan benar.
Rupanya dalam ayat ini Allah Bapa yang berbicara, padahal dalam Kitab Wahyu Dia jarang berbicara, kecuali berkata Aku di dalam pasal 1:8; 11:3;-18:4; dan 21:5-7.
Apa yang sudah terjadi dalam pribadi setiap orang yang percaya pada Tuhan Yesus, yaitu apa yang diuraikan dalam 1 Korintus 5:17 ("Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang"), juga akan terjadi-pada seluruh ciptaan Allah, sesuai dengan Roma 8:21, yang berbunyi "...makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk, ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak- anak Allah".
Sangatlah penting untuk meyakini kebenaran tersebut, supaya Firman ini diterima sebagai perkataan yang setia dan benar. Hanya dengan keyakinan itu orang dapat memperjuangkan pahala yang diceritakan dalam Kitab Wahyu.
21:6 Firman-Nya lagi kepadaku: "Aku menjadi Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma- cuma dari mata air kehidupan.
Pada saat itu, saat rencana Allah sudah digenapi, Dia sudah menjadi Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.
Begitulah Injil yang diuraikan dalam Firman Tuhan: dengan cuma-cuma kita menerima kewarganegaraan dalam Kerajaan Allah, tanpa kita memperjuangkan apa-apa.
Dalam Yesaya 55:1 ada suatu ajakan yang indah, "Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah!" Dalam Yeremia 2:13 Tuhan Allah menyebut diri-Nya sebagai "sumber air yang hidup". Demikian juga. dalam Yohanes 4: 10 dan 4:14. Tema kehausan akan Allah ada dalam Mazmur 42:2-3; 36:9; dan 63:2.
Dalam Kitab Wahyu ada dua minuman yang jauh berbeda. Ada orang-orang yang minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan dan ada orang lain yang minum dari cawan emas yang penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulan Pelacur Besar.
21:7 Barangsiapa menang, " akan Kuberikan kepadanya semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.
Pasal 21:6 menyebutkan apa yang disediakan bagi setiap "orang yang haus", sedangkan ayat ini menyebutkan apa yang disediakan bagi setiap orang yang menang.
Istilah anak yang dipakai dalam ayat ini tidak menunjuk kepada anak yang menjadi anggota keluarga karena kelahiran, tetapi menunjuk pada anak yang sudah ditetapkan sebagai ahli waris oleh ayahnya.
Jadi dalam ayat ini Allah Bapa menegaskan bahwa setiap orang percaya, yang memenuhi syarat ketaatan (yang diuraikan misalnya dalam pasal 2- 3) akan mewarisi warisan yang luar biasa dan dia juga akan memperoleh hubungan yang khusus dan erat dengan Allah Bapa. Bandingkanlah Kejadian 17:7 dan 2 Samuel 7:14.
21:8 Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunub; orang-orang sundal, tukang- tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang inilah kematian yang kedua."
Pada awal Kerajaan Seribu Tahun mungkin masih ada orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir di antara orang yang haus yang akan diberi "minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan". Mereka haus, tetapi oleh karena ikatan Iblis atau ikatan-ikatan yang lain, mereka tidak berhasil melepaskan diri dari kebiasaan dosa-dosa yang tersebut di atas. Jelas mereka: tidak "menang", dan tidak memperoleh bagian dalam janji-janji barangsiapa yang menang, tetapi akhirnya, berkat anugerah Allah, mereka dilepaskan dari kebiasaan-kebiasaan yang menjijikkan itu sehingga pada akhir Kerajaan Seribu Tahun tidak ada lagi perilaku seperti itu di antara kita yang sudah ditebus. Mereka` yang hidupnya seperti itu adalah orang yang tidak pernah percaya kepada Anak Domba Allah, dan harus dihukum di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang.