Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b
| Nama Kursus | : | Training Guru Sekolah Minggu (GSM) |
| Nama Pelajaran | : | Teknik Memimpin Kebaktian Sekolah Minggu |
| Kode Pelajaran | : | GSM-P05 |
DAFTAR ISI
Doa
Pada pelajaran ini, kita akan membahas hal-hal praktis (teknis) tentang bagaimana menjalankan kebaktian di Sekolah Minggu. Secara sistematis, kita akan membahas kegiatan-kegiatan yang bisa/biasa dilakukan sepanjang kebaktian SM dan juga persiapannya.
Kelas persiapan sebaiknya dilakukan beberapa hari sebelum hari Kebaktian SM. Ada banyak kepentingan untuk mengadakan pertemuan kelas persiapan. Diantaranya:
Usahakan agar guru SM (dan anak-anak SM yang terlibat dalam kebaktian) datang 15 menit sebelum acara kebaktian dimulai. Waktu 15 menit ini akan digunakan secara efektif untuk mempersiapkan awal kebaktian yang baik, antara lain:
Mempersiapkan Tempat dan Fasilitas
Berdoa Bersama
Guru-guru dan semua anak yang terlibat dalam kebaktian berdoa bersama, khususnya untuk memohon agar Tuhan memimpin dan memberkati kebaktian dari awal hingga akhir. Mohon pertolongan Tuhan agar setiap guru/anak yang bertugas dipakai Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya.
Menyambut Anak-anak SM datang
Anak-anak bergantian dilibatkan dalam tim penyambutan, untuk menyambut setiap anak yang datang di kebaktian dengan memberikan salam dan jabatan tangan sebagai tanda persaudaraan.
Absensi Murid
Melakukan absensi sebaiknya dilakukan ketika anak datang, sehingga guru dapat bertemu dengan anak-anak secara pribadi.
Pujian di kelas Sekolah Minggu dapat membawa pengaruh yang besar bagi seluruh jalannya kebaktian, terutama untuk memuji Tuhan dan mempersiapkan hati anak dalam menerima Firman Tuhan. Apabila suasana puji-pujian monoton dan lesu, maka anak maupun guru akan sulit untuk membangun suasana ibadah yang penuh sukacita.
Salam Selamat Datang
Ketua SM atau Pemimpin Pujian perlu memberikan kata-kata sambutan dan salam selamat datang kepada semua anak sebelum kebaktian dimulai. Berikan kata-kata positif yang penuh semangat supaya anak-anak berantisipasi menikmati kebaktian SM.
Memuji Tuhan
Ciptakan suasana yang riang gembira, karena itulah sifat anak- anak yang selalu dibawa dimanapun mereka berada. Nyanyikan lagu- lagu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Jangan lupa memberi penjelasan kepada anak-anak tentang isi lagu yang dinyanyikan supaya anak tidak hanya asal menyanyi tetapi menghayati kata- kata pujian yang dinyanyikan. Berikan kata-kata penyemangat di sela lagu-lagu, tapi hindarkan kecenderungan untuk berkotbah.
Mengajak anak-anak berinteraksi dan berpartisipasi secara kreatif selama acara pujian sangat menolong sehingga mereka tidak membuat keributan (karena bosan). Misalnya, menyanyi bersahut-sahutan, memperbolehkan anak memilih lagu, maju ke depan untuk memuji Tuhan berdua/bertiga/berempat, menyanyi dengan gerakan, menyanyi dengan aneka variasi tepuk tangan, dengan boneka, dll. Kreasi-kreasi tersebut dapat digabung agar suasana pujian menjadi semakin menarik. Silakan membuat kreasi sendiri atau belajar dari orang lain untuk membangun suasana pujian yang indah. Tutuplah dengan lagu penyembahan/lembut dan doa untuk menenangkan hati anak untuk dapat mendengarkan Firman Tuhan dengan tenang.
Beberapa hal penting yang harus dihindari oleh pemimpin pujian:
Persembahan
Acara persembahan lebih baik dilakukan pada tengah-tengah acara pujian supaya anak-anak diajar untuk memberi dalam suasana pujian yang riang gembira. Ada berapa variasi metode yang bisa dilakukan untuk acara persembahan, misalnya mengucapkan ayat hafalan sehingga anak diingatkan dengan ayat firman Tuhan pentingnya memberi dengan sukacita. Bisa juga diiringi dengan pujian yang sesuai. Pada acara persembahan ini sangat disarankan agar gurupun ikut memberikan persembahan supaya menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.
Kantong persembahan bisa juga diedarkan sebelum Acara Cerita (Firman Tuhan) atau sesudahnya. Tapi agar tidak menganggu acara penyampaian Firman Tuhan, mengedarkan kantong persembahan ditengah-tengah acara pujian lebih dianjurkan.
Banyak guru (terutama guru baru) takut untuk bercerita di depan kelas, karena selain harus bisa membawakan cerita dengan menarik, ia pun harus bisa mempesona anak sehingga anak mendengarkan cerita dengan perhatian hingga selesai. Bercerita sebenarnya adalah suatu ketrampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh semua guru. Kalau guru SM mengerti dan menguasai prinsip-prinsip bercerita yang efektif, maka bercerita di depan kelas tidak akan lagi menjadi hal yang menakutkan.
Mempersiapkan Cerita
Tidak ada guru yang cukup bodoh untuk mau bercerita di depan kelas tanpa terlebih dahulu melakukan persiapan. Sepandai- pandainya guru bercerita, ia tetap harus melakukan persiapan. Persiapan apa yang perlu dilakukan guru?
Waktu Bercerita
Waktu bercerita adalah waktu yang paling berharga karena saat inilah guru SM menaburkan benih kebenaran Firman Tuhan dalam hati anak-anak, karena itu gunakan waktu ini sebaik-baiknya. Untuk mencapai hasil yang maksimal berikut beberapa hal penting yang harus diingat guru ketika menyampaikan cerita:
Memahami Tahapan Usia Anak
Sesuai dengan perkembangan usia anak-anak, maka ada kareakteristik unik yang bisa dikenali guru dan menggunakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal:
Bercerita dalam Kelas Indria (4-6 tahun)
Masalah yang terbesar adalah anak pada usia ini belum bisa berkonsentrasi dalam waktu yang lama, karena itu guru harus bisa menarik perhatiannya sehingga bisa berkonsentrasi lebih lama.
Bercerita dalam Kelas Pratama (7-9 tahun)
Konsentrasi anak usia ini sudah lebih panjang (10-15 menit), tapi daya imaginasi mereka sangat tinggi dan keinginan tahu mereka sangat besar sehingga mereka sering hidup dalam dunianya sendiri, kecuali bila guru bisa menarik perhatiannya dengan tepat.
Bercerita dalam Kelas Madya (10-12 tahun)
Jiwa petualangan bertumbuh pesar pada usia ini. Memberikan tantangan-tantangan kecil selalu akan disambut dengan baik.
Berdoa sebaiknya menjadi acara puncak sesudah acara cerita (Firman Tuhan), karena di dalam doa ini anak dapat langsung merelasikan apa yang sudah diajarkan dengan Tuhan dan meresponinya. Ajarkan kepada mereka bahwa berdoa bukanlah sekedar minta-minta, tapi berkomunikasi dengan Allah secara pribadi, sebagaimana berbicara kepada sahabat.
Pada saat berdoa, guru akan menuntun anak-anak mengarahkan hati kepada Tuhan dan memberi respon atas Firman Tuhan yang telah didengar. Untuk anak-anak kecil, guru dapat menuntun mereka dengan memimpin doa dan anak-anak menirukannya. Untuk anak-anak yang lebih besar guru dapat menunjuk salah seorang anak untuk memimpin doa dengan diberikan beberapa pokok doa sebelumnya.
Pada acara doa ini, selain untuk meresponi Firman Tuhan, guru/anak juga bisa menambah pokok doa lain, misalnya:
Karena doa adalah waktu istimewa bertemu dengan Tuhan maka tanamkan beberapa prinsip-prinsip penting dalam acara doa bersama:
Acara Kebaktian SM bisa ditutup dengan guru berdiri di depan pintu keluar untuk memberi salam kepada anak-anak yang pulang. Bagi anak yang lebih besar, guru bisa melibatkan mereka untuk berpartisipasi membersihkan ruangan dan alat-alat yang dipakai dalam kebaktian. Lalu tutuplah dengan doa bersama, khususnya mereka yang bertugas dalam kebaktian, untuk mengucap syukur atas pimpinan Tuhan.
DOA
"Tuhan, terima kasih untuk kesempatan istimewa yang Engkau berikan kepadaku agar bisa dipakai untuk mengajarkan kebenaran kepada anak- anak. Ini merupakan suatu tugas istimewa, ajar aku untuk selalu mempersiapkan setiap pelayanan dengan kesungguhan hati. Amin."
[Catatan: Tugas Pertanyaan ada di lembar terpisah.]