Pelajaran 01|Pertanyaan 01|Referensi 01b |Referensi 01c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Dasar yang Kokoh |
| Kode Referensi | : | AUA I-R01a |
Referensi AUA I-R01a diambil dari:
| Judul buku | : | Pedoman Apologetika Kristen |
| Judul artikel | : | Mengenai Apologetika |
| Pengarang | : | Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli |
| Penerbit | : | Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2006 |
| Halaman | : | 23 -- 31 |
MENGENAI APOLOGETIKA
Jawaban-Jawaban terhadap Keberatan-Keberatan dalam Melakukan Apologetik.
Kebanyakan orang tidak senang atau mengabaikan apologetik karena hal itu tampaknya bersifat terlalu intelektual, abstrak, dan rasional. Mereka mengemukakan bahwa kehidupan, kasih, moralitas, dan kekudusan itu jauh lebih penting daripada akal.
Mereka yang memiliki pola berpikir sedemikian memang benar; namun mereka tidak sempat memperhatikan bahwa sebenarnya mereka pun sedang terlibat dalam proses berpikir. Kita tak dapat menghindar dari hal ini. Yang hanya dapat kita hindari adalah melakukannya secara baik. Selain itu, akal itu sebenarnya adalah sahabat, bukan musuh iman dan menjadi sahabat kekudusan, karena akal itu adalah jalan menuju kebenaran, dan kekudusan berarti mengasihi Allah yang adalah Kebenaran.
Bukan hanya berpikir secara apologetik mengantar seseorang kepada iman dan kekudusan, melainkan iman dan kekudusan juga mengantar kepada berpikir secara apologetik. Karena kekudusan berarti mengasihi Allah, dan mengasihi Allah berarti menaati kehendak Allah, dan kehendak Allah bagi kita adalah mengenal Dia dan "siap sedia memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu" (1 Ptr. 3:15).
Akhirnya, fakta bahwa apologetik tidak sepenting seperti kasih tidak berarti bahwa apologetik itu tidak sangat, sangat penting. Fakta bahwa kesehatan tidak sepenting seperti hikmat tidak berarti bahwa kesehatan itu tidak sangat penting - misalnya jauh lebih penting cari uang.
Seluruh argumentasi yang dikemukakan dalam buku ini, dan di dalam buku-buku lain mengenai apologetik yang pernah ditulis, kurang nilainya di hadapan Allah dibandingkan dengan perbuatan kasih kepadanya atau kepada sesama Anda. Tetapi walaupun salah satu dari argumentasi ini sangat baik, argumentasi itu sendiri memiliki nilai yang melebihi nilai uang yang Anda belanjakan.
Sebuah alasan lain yang lebih dalam mengapa sebagian orang tidak menyenangi hal berpikir secara apologetik adalah karena mereka memutuskan untuk percaya atau tidak dengan hati mereka ketimbang dengan kepala mereka. Bahkan argumentasi yang paling sempurna pun tidak menggerakkan hati orang seperti emosi, keinginan, dan pengalaman nyata. Kebanyakan dari kita mengetahui bahwa hati kita, bukan kepala kita, yang menjadi pusat kita. Tetapi apologetik masuk sampai ke hati kita melalui kepala kita. Kepala itu sangat penting karena berfungsi menjadi pintu yang menuju ke hati. Kita hanya akan dapat mengasihi apa yang kita kenal atau ketahui.
Selanjutnya, akal itu minimal memiliki kuasa untuk memveto. Kita tak dapat mempercayai sesuatu yang kita ketahui tidak benar, dan kita tak dapat mengasihi sesuatu yang kita percayai tidak nyata. Argumentasi- argumentasi mungkin tidak akan mengantar Anda kepada iman, tetapi pasti hal-hal itu dapat menjauhkan Anda dari iman. Karena itu kita harus terjun dan ikut serta dalam peperangan argumentasi ini.
Argumentasi-argumentasi dapat mengantar Anda kepada iman, sama seperti sebuah mobil dapat mengantar Anda ke tepi pantai. Mobil itu rak yang dapat berenang; Anda harus meloncat masuk ke dalam air untuk dapat berenang. Namun Anda tak dapat meloncat ke dalam air apabila Anda berada ratusan kilometer dari pantai laut. Anda pertama-tama membutuhkan mobil yang akan membawa Anda ke tempat di mana Anda dapat membuat loncatan iman ke dalam air laut. Iman adalah sebuah loncatan, namun itu adalah loncatan dalam terang, bukan dalam kegelapan.
Kepala itu laksana seorang navigator kapal. Hati itu laksana kapten kapal. (Yang dimaksud Kitab Suci dengan "hati" lebih dekat dengan "kehendak" daripada "perasaan".) Keduanya penting. Masing-masing saling menaati satu dengan yang lain dengan cara yang berbeda.
Alasan-Alasan untuk Melakukan Apologetik
Alasan pertama, bagi orang Kristen adalah karena ketaatan kepada kehendak Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk memberi pertanggungjawaban (alasan) bagi iman merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan praktis mengapa kita melakukan apologetik, yaitu: untuk meyakinkan orang tidak percaya dan untuk mengajar dan membangun orang percaya.
Kalaupun tak ada orang tak percaya yang perlu diyakinkan, kita masih harus memberikan pertanggungjawaban atas iman kita, karena iman itu tidak berdiri sendiri, melainkan menghasilkan atasan- atasan sama seperti iman itu menghasilkan perbuatan baik. Iman itu mendidik akal dan akal memeriksa isi dari "iman yang telah disampaikan kepada orang- orang kudus" (Yud. 3).
Selain itu, iman bagi orang Kristen adalah iman kepada Allah yang adalah kasih, Kekasih jiwa kita, dan Yang kita kasihi; dan semakin hati kita mengasihi seseorang, semakin besar keinginan pikiran kita untuk mengenal pribadi yang kita kasihi itu. Iman dengan sendirinya mengantar kepada akal melalui perantaraan kasih. Jadi iman itu mengantar kepada akal, dan akal mengantar kepada iman - itulah yang ingin diperlihatkan oleh buku ini. Demikianlah akal dan iman adalah sahabat, sekawan, pasangan, partner.
Apologetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan karena iman dan akal sebagai dua sahabat itu memiliki musuhmusuh yang sama. Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama perlengkapan peperangan. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan tentang peperangan rohani di mana apologetik itu juga turut terlibat:
"Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2 Kor. 10:3-5).
Dalam peperangan ini kita mempertahankan iman maupun akal, karena akal adalah sahabat kebenaran, dan ketiadaan iman itu adalah ketiadaan kebenaran. Dalam mempertahankan iman, kita menguasai kembali teritorial pikiran yang kita miliki, atau yang menjadi milik Allah. Seluruh teritorial itu adalah milik Allah. Sebagaimana yang dikatakan Arthur Holmes, "Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah."
Namun peperangan itu adalah untuk melawan ketidakpercayaan, bukan untuk melawan orang tidak percaya, sama seperti insulin yang diperuntukkan bagi penyakit diabetes, bukannya untuk penderita diabetes. Sasaran dari apologetik bukanlah kemenangan, melainkan kebenaran. Kedua pihak akan menang. Ucapan Abraham Lincoln juga dapat diterapkan kepada argumentasi apologetik: "Cara yang terbaik untuk dapat mengalahkan musuh Anda adalah menjadikannya teman Anda."
Kami mengundang para kritik!ts, mereka yang skeptis, untuk berdialog dengan kami dan menulis kepada kami - demi mewujudkan kebersamaan dalam mencari kebenaran, dan demi untuk (kurang penting) memperbaiki edisi-edisi masa depan buku ini. Salah satu dari beberapa hal dalam kehidupan ini yang tak dapat membahayakan kita, adalah mencari kebenaran itu secara jujur.
Mengenai Metodologi
Suatu pendahuluan atau perkenalan kepada apologetik biasanya membahas mengenai metodologi. Namun kami tidak melakukan hal ini. Kami percaya bahwa dewasa ini pertanyaan-pertanyaan yang sekunder mengenai metodologi sering menyelewengkan perhatian kita dari pertanyaan- pertanyaan primer mengenai kebenaran. Tujuan kami adalah "kembali kepada hal-hal dasar". Kami tidak memiliki kapak metodologi khusus untuk menebang. Kami coba menggunakan standar- standar rasionalitas yang masuk akal dan prinsip-prinsip logika yang diterima secara universal dalam pembahasan-pembahasan kami. Kami mengumpulkan dan mempertajam argumentasi-argumentasi seperti orang-orang yang senang koleksi batu-batu permata berharga yang mengumpulkan dan kemudian memoles batu-batu itu supaya kelihatan lebih indah; para pembaca dapat menyusunnya sesuai dengan berbagai situasi atau latar belakang mereka sendiri.
Namun kami harus menyampaikan satu hal mengenai metodologi, yaitu: bagaimana untuk tidak menggunakan buku [bahan] ini.
Kami telah mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi apologetik adalah seperti perlengkapan perang. Ini merupakan metafora yang berbahaya, karena perlengkapan perang ini tak pernah digunakan untuk memukul kepala orang. Argumentasi adalah kegiatan manusia yang merupakan bagian dari konteks sosial dan psikologis yang lebih luas. Konteks ini mencakup: (1) jiwa seutuhnya (psyche) dari dua orang yang terlibat dalam suatu kegiatan dialog, (2) hubungan antara dua orang, (3) situasi di mana mereka sendiri sedang berada, dan (4) situasi sosial, kultural, dan historikal yang lebih luas di sekitar mereka. Bahkan faktor-faktor nasional, politik, rasial, dan seksual pun mempengaruhi situasi apologetis. Seseorang tidak boleh menggunakan argumentasi- argumentasi sama yang digunakan dalam berdiskusi dengan wanita India ketika berhadapan dengan seorang remaja Afrika-Amerika dari Los Angeles.
Dengan perkataan lain, walaupun argumentasi-argumentasi itu adalah senjata-senjata, fungsinya lebih menyerupai sebuah pedang daripada sebuah bom. Kita ketahui bahwa bom tidak akan mempedulikan sasarannya. Juga tidak perlu banyak menjadi masalah tentang siapa yang menjatuhkan bom itu. Namun untuk sebuah pedang, sangat penting sekali siapa yang mengayunkannya, karena pedang itu adalah kepanjangan tangan dari orang yang memegangnya. Demikian pula, sebuah argumentasi dalam apologetik, bila benar-benar digunakan dalam dialog, merupakan kepanjangan tangan dari orang yang terlibat dalam argumentasi itu. Nada suara, kesungguhan, kepedulian, perhatian, sikap main mendengar, dan menghargai dari orang yang berargumentasi sangat penting dan menentukan seperti logikanya, bahkan terkadang lebih penting. Dunia ini dapat dimenangkan bagi Kristus bukan melalui argumentasi- argumentasi, melainkan melalui kekudusan: "Ucapan Anda terdengar sedemikian nyaring sehingga saya hampir tak dapat mendengarkan apa yang Anda katakan."
Kebutuhan Akan Apologetik Dewasa Ini
Apologetik secara khusus sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya di saat dunia sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan jalan dan berbagai krisis.
Peradaban Barat untuk pertama kalinya dalam sejarah sedang menghadapi bahaya sekarat. Alasannya bersifat spiritual. Peradabannya sedang kehilangan kehidupannya, jiwanya; dan jiwa yang dimaksud adalah iman Kristen. Infeksi yang sedang mematikannya bukan multikulturalisme kemajemukan budaya atau agama dan kepercayan lain - melainkan monokulturalisme sekularisme - ketiadaan iman, ketiadaan jiwa. Abad kita ini ditandai oleh pembasmian kelompok orang tertentu, kekacauan seksual, dan penyembahan uang. Apabila para nabi tidak mengucapkan kebohongan, maka kita akan mengalami kehancuran, kecuali jika kita bertobat dan "memutar kembali jarum jamnya" (bukan secara teknologi, melainkan secara spiritual). Gereja Yesus Kristus tidak akan pernah mati, namun peradaban kita bisa mati. Apabila pintu-pintu neraka tidak akan dapat menguasai gereja, maka dunia ini pun pasti tidak akan bisa melakukannya. Kami melaksanakan apologetik bukan untuk menyelamatkan gereja, melainkan untuk menyelamatkan dunia.
Kita bukan hanya sedang nenghadapi krisis kultural dan kemasyarakatan, melainkan kita pun sedang berada di tengah krisis filosofis dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah "krisis kebenaran". Ide mengenai kebenaran objektif semakin diabaikan, ditinggalkan atau diserang - bukan hanya dari sisi praktis, melainkan juga dari sisi teoritis, secara langsung dan terbuka, terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan dan media, yang membentuk pikiran-pikiran kita.
Hal yang terakhir, tingkat yang terdalam dari krisis yang kita hadapi bukanlah bersifat kultural atau intelektual, melainkan spiritual. Yang dipertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia, lelaki maupun wanita yang baginya Kristus telah mati. Sebagian orang berpikir bahwa hari kiamat telah dekat. Kami bersikap skeptis terhadap ramalan seperti itu, namun kami mengetahui satu hal yang pasti: setiap orang sedang mendekati ajalnya, kematian dan hukuman kekal setiap hari. Peradaban kita bisa saja bertahan lagi sampai satu abad lagi, tetapi Anda sendiri tidak akan dapat bertahan. Anda segera akan menghadap Tuhan tanpa dapat menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya Anda mulai belajar mengasihi dan mencari terang itu selama masih ada kesempatan, supaya Anda akan menikmati sukacita dan bukan ketakutan untuk selama-lamanya. Adalah hal yang tak sesuai dewasa ini untuk menulis hal-hal seperti ini pada masa kini -- suatu kenyataan yang berbicara banyak sekali tentang kesehatan spiritual dari masa gaya burung unta yang sedang kita hadapi ini.
Kekristenan Belaka atau Ortodoks
Kami membatasi diri kami dalam buku ini pada kepercayaan kepercayaan inti yang dikenal oleh seluruh orang Kristen ortodoks - yang disebut oleh C.S. Lewis "Kekristenan Belaka". Istilah belaka tidak diartikan sesuatu "denominasi yang terendah" yang abstrak, melainkan menunjukkan intisari atau pokok iman seperti yang disimpulkan dalam Pengakuan Iman Rasuli. Intisari pengajaran yang kuno dan tak berubah ini telah mempersatukan orang-orang, percaya yang berbeda-beda satu dengan yang lain dan telah dipergunakan pula untuk menentang orang yang tidak percaya yang berada di banyak gereja dan denominasi maupun yang berada di luar. Para teolog liberal (atau modernis, atau demytologis atau revisionis) tidak akan senang dengan buku ini, terutama tentang argumentasi- argumentasinya mengenai mukjizat-mukjizat, keabsahan Kitab Suci, realita kebangkitan, keilahian Kristus, dan realita mengenai surga dan neraka. Kami mengundang mereka untuk bergabung bersama-sama dengan mereka yang mengaku diri bukan orang-orang percaya untuk coba mengemukakan sanggahan-sanggahan terhadap argumentasi- argumentasi ini. Kami juga mengundang mereka untuk mulai mempraktekkan "pemberian label kebenaran" yang lebih akurat dalam menjelaskan posisi mereka sendiri.
Para pembaca liberal mungkin akan mencap buku ini sebagai buku "konservatif" atau "sayap kanan". Istilah-istilah itu tidak tepat atau tak cocok.
Istilah "konservatif" yang berlawanan dengan "progresif", mengacu kepada sesuatu dalam waktu dan sejarah, bukan kebenaran-kebenaran kekal, melainkan pendapat-pendapat atau cara-cara masa lampau yang bertentangan dengan mash depan. Sesuatu yang "progresif" pada suatu waktu dapat menjadi "konservatif" pada waktu yang lain. Pertanyaan apakah Allah, surga, atau mukjizat-mukjizat ada merupakan pertanyaan yang tidak menyangkut pendapat-pendapat yang terikat dengan waktu, melainkan menyangkut realita-realita yang tidak berubah.
Istilah "sayap kanan" mengacu kepada orientasi politik. pasca Revolusi Perancis, yang bertentangan dengan "sayap kiri" (kira-kira sosialis), yang sama sekali tak ada kaitannya dengan apologetik Kristen. Kebenaran atau kekeliruan sosialisme dalam politik tak ada kaitannya dengan eksistensi atau noneksistensi Allah.
Istilah teologis yang tepat bagi mereka yang menamakan diri teolog "liberal" atau "sayap kiri" atau "progresif" adalah "heretik". Secara definisi, seorang heretik adalah seorang yang menyeleweng atau meninggalkan doktrin yang esensial (dari istilah Yunani haireomai yang berarti "memilih sendiri"). Oleh karena kebanyakan kaum heretik masa kini tidak lagi percaya kepada pokok-pokok doktrin esensial, maka mereka tidak menerima label ini.
Keberatan yang mereka kemukakan masih memiliki bobot karena gereja pernah ternoda oleh Peristiwa Inquisisi, di mana gereja melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan kaurri liberal yaitu: mengacaukan ajaran sesat dengan orang-orang sesat. Peristiwa Inquisisi Spanyol keliru menghancurkan orang-orang heretik demi untuk dengan benar menghancurkan ajaran heretik; kaum "liberal" modern keliru mengasihi ajaran heretik demi untuk dengan benar mengasihi kawan heretik.
Apologetik bertujuan membela kekristenan ortodoks. Para penyeleweng dari kebenaran tidak senang berapologetik untuk kekristenan ortodoks karena mereka tidak mempercayai kekristenan ortodoks itu. Mereka lebih senang meminta maaf untuk itu, daripada berupaya membelanya.
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Dasar yang Kokoh |
| Kode Referensi | : | AUA I-R01b |
Referensi AUA I-R01b diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Carm |
| URL | : | http://www.carm.org/apologetics.htm |
| Judul artikel | : | Introduction to Apologetics |
| Pengarang | : | Matthew J. Slick |
| Penerbit | : | 1995 - 2007 |
PENGANTAR APOLOGETIKA
Istilah "apologetika" berasal dari kata Yunani, "apologia". Artinya suatu pembelaan-pembelaan lisan. Istilah ini dipakai delapan kali di Perjanjian Baru: Kis. 22:1; 25:16; 1Kor. 9:3; 2Kor. 7:11; Flp. 1:7-8; 2 Tim. 4:16 dan 1Pet. 3:15.
"Kuduskanlah KRISTUS di dalam hatimu sebagai TUHAN! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." (1 Petrus 3:15. TB.)
"Apologetika" adalah pekerjaan untuk meyakinkan orang agar mengubah cara pandang mereka".
Apologetika Kristen adalah cabang kekristenan yang berkenaan dengan hal menjawab segala kritik yang melawan atau pertanyaan tentang wahyu Allah di dalam Kristus dan Alkitab. Hal ini termasuk mempelajari transmisi manuskrip alkitabiah, filsafat, biologi, matematika, evolusi, dan logika. Tetapi apologetika dapat juga berisi suatu jawaban sederhana terhadap pertanyan tentang Yesus atau sebuah ayat Alkitab.
Apologetika bisa bersifat defensif dan opensif. Filipi 1:7-8, memberikan kepada kita sifat defensifnya, "Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian." 2 Korintus 10:5-6 memberikan kepada kita sifat ofensifnya, "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna." Seorang pembela dapat dan harus membela alasannya untuk percaya (1 Pet. 3:15). Tetapi dia juga boleh menyerang. Ia dapat mencari orang-orang yang melawan Kekristenan (2 Kor. 10:5). Tentu, ia harus mengadakan persiapan sebelumnya dan semua pembelaan harus dilakukan dengan kelemahlembutan.
Apologetika adalah pekerjaan untuk meyakinkan orang agar mengubah cara pandang mereka. Hal ini mirip dengan berkhotbah karena tujuan akhirnya adalah membela dan menyajikan keabsahan dan pentingnya Injil. Ini adalah sebuah upaya untuk membujuk pendengar untuk mengubah keyakinan dan hidup mereka untuk menerimaan kebenaran alkitabiah dan menerima keselamatan dari Kristus.
Pada dasarnya, apologetika adalah sebuah pembuktian atau presupposisi[onal]. Apologetika evidesial berhubungan dengan bukti-bukti kekristenan, seperti: kebangkitan Yesus, manuskrip Alkitab, penggenapan nubuatan, mujizat-mujizat, dll. Apologetika presuposisional berhubungan dengan presuposisi-presuposisi dari pihak-pihak yang menantang Kekristenan, karena presuposisi-presuposisi itu berpengaruh pada bagaimana sudut pandang seseorang dalam melihat bukti dan alasan. Di beberapa debat dalam apologetika Kristen berkaitan dengan penggunaan bukti-bukti, alasan-alasan, filsafat-filsafat, dsb.
Haruskah seorang apologis hanya menggunakan kriteria yang dapat diterima oleh orang yang tidak percaya? Apakah kita boleh menggunakan Alkitab sebagai sebuah pembelaan posisi kita atau haruskah kita membuktikan Kekristenan tanpa Alkitab? Apakah alasan saja dapat membuktikan kebenaran keberadaan Allah atau kebenaran kekristenan? Ada berapa seharusnya alasan dan bukti yang digunakan di dalam terang pengajaran Kitab Suci sehingga Allahlah yang membukakan pikiran untuk dapat memahami? Apakah doa, penggunaan Alkitab, dan sifat keberdosaan dari orang tidak percaya berperan di dalam kesaksian? Bagaimana faktor-faktor itu berpengaruh dalam membawa seseorang yang tidak percaya untuk beriman? Pertanyaan-pertanyaan ini mudah; jawabannya ialah tidak.
Yesus memilih seorang yang cerdas-seorang terdidik secara agamawi sebagai rasul. Dia adalah Paulus. Rasul yang lain adalah nelayan sederhana, seorang pemungut pajak, seorang doktor, dll. Mereka adalah orang-orang biasa pada masanya yang bersedia dan rindu untuk dipakai oleh Tuhan. Mereka dilengkapi oleh Roh Allah dan mereka menjadi seperti bejana Allah. Allah menggunakan segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya. Jadi, kita melakukan tugas apologetika atas dasar iman.
Tuhan sudah memanggil setiap orang Kristen untuk mempersiapkan suatu pembelaan tentang imannya. Artinya, Anda dipanggil untuk memberikan alasan terhadap pertanyaan tentang kekeristenan. Anda tidak harus seorang bergelar Ph.D. atau Anda telah kuliah di Seminari. Tetapi Anda harus siap, paling tidak memberikan sebuah jawaban untuk kepercayaan Anda. Jika Anda menemui bahwa Anda tidak dapat melakukannya, berdoalah sungguh-sungguh dan mulailah belajar.
Apa Yang Anda Pelajari?
Anda dapat berdoa dan meminta Tuhan untuk mengajar Anda tentang apa yang Dia inginkan untuk Anda ketahui. Mintalah kepada-Nya untuk memberikan kepada Anda suatu beban untuk sesuatu yang Anda pelajari. Tidak masalah, apapun itu. Minta saja! Apa saja yang membuat Anda tertarik di dalamnya adalah apa yang harus Anda pelajari tentangnya karena kemungkinan sesuatu yang Allah ingin Anda ketahui untuk dipakai kelak. Seperti alat-alat, lebih banyak yang Anda punya, maka lebih banyak yang dapat Anda kerjakan.
Cara lain untuk menemukan kehendak Allah bagi Anda adalah belajar dalam segala keadaan. Andaikanlah, ada seorang Saksi Yehova datang di depan pintu rumah Anda dan berdebat tentang keilahian Kristus dengan Anda dan Anda tidak mengetahui bagaimana caranya untuk membela secara Alkitabiah. Dalam kasus ini, Anda sadar bahwa Anda perlu belajar ayat-ayat pelajaran Alkitabiah yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia. Atau mungkin seorang teman kerja bertanya kepada Anda tentang bagaimana Anda tahu bahwa Alkitab itu benar? Jika Anda tidak mempunyai suatu jawaban, berdoa dan mulailah mencari jawabannya. Pergilah ke toko buku Kristen dan belilah beberapa judul buku yang dimaksud. Ceritakan ke Pastor Anda. Anda akan belajar.
Suatu saat Allah akan membuat ayat atau judul di dalam Alkitab menjadi "hidup" bagi Anda dan mungkin ayat itu akan nampak aneh atau menarik perhatian Anda. Anda bisa mencari komentari atau buku tafsiran dan mempelajarinya. Anda juga dapat bertanya kepada yang lain tentang hal ini. Dengan demikian, Anda telah mempersiapkan diri Anda sendiri dengan belajar untuk persiapan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan hal-hal penting lain dari seseorang untuk digiring kepada kebenaran. Anda akan terpesona betapa banyak detail-detail yang dapat digunakan oleh Allah untuk menolong Anda dalam kesaksian Anda, bahkan melaui semuanya itu, ayat-ayat yang Anda anggap asing tiba-tiba "hidup."
Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Dasar yang Kokoh |
| Kode Referensi | : | AUA I-R01c |
Referensi AUA I-R01c diambil dari:
| Judul buku | : | Pedoman Apologetik Kristen 1 |
| Judul artikel | : | Alasan-alasan untuk Melakukan Apologetika |
| Penulis | : | Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli |
| Penerbit | : | Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2006 |
| Halaman | : | 25 -- 29 |
ALASAN-ALASAN UNTUK MELAKUKAN APOLOGETIKA
Alasan pertama, bagi orang Kristen adalah karena ketaatan kepada kehendak Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk memberi pertanggungjawaban (alasan) bagi iman merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan praktis mengapa kita melakukan apologetik, yaitu: untuk meyakinkan orang tidak percaya dan untuk mengajar dan membangun orang percaya.
Kalaupun tak ada orang tak percaya yang perlu diyakinkan, kita masih harus memberikan pertanggungjawaban atas iman kita, karena iman itu tidak berdiri sendiri, melainkan menghasilkan alasan-alasan sama seperti iman itu menghasilkan perbuatan baik. iman itu mendidik akal dan akal memeriksa isi dari "iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus" (Yud. 3).
Selain itu, iman bagi orang Kristen adalah iman kepada Allah yang adalah kasih, Kekasih jiwa kita, dan Yang kita kasihi; dan semakin hati kita mengasihi seseorang, semakin besar keinginan pikiran kita untuk mengenal pribadi yang kita kasihi itu. Iman dengan sendirinya mengantar kepada akal melalui perantaraan kasih. Jadi iman itu mengantar kepada akal, dan akal mengantar kepada iman - itulah yang ingin diperlihatkan oleh buku ini. Demikianlah akal dan iman adalah sahabat, sekawan, pasangan, partner.
Apologetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan karena iman dan akal sebagai dua sahabat itu memiliki musuh-musuh yang sama. Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama perlengkapan peperangan. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan tentang peperangan rohani di mana apologetik itu juga turut terlibat:
"Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2 Kor. 10:3-5).
Dalam peperangan ini kita mempertahankan iman maupun akal, karena akal adalah sahabat kebenaran, dan ketiadaan iman itu adalah ketiadaan kebenaran. Dalam mempertahankan iman, kita menguasai kembali teritorial pikiran yang kita miliki, atau yang menjadi milik Allah. Seluruh teritorial itu adalah milik Allah. Sebagaimana yang dikatakan Arthur Holmes, "Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah."
Namun peperangan itu adalah untuk melawan ketidakpercayaan, bukan untuk melawan orang tidak percaya, sama seperti insulin yang diperuntukkan bagi penyakit diabetes, bukannya untuk penderita diabetes. Sasaran dari apologetik bukanlah kemenangan, melainkan kebenaran. Kedua pihak akan menang. Ucapan Abraham Lincoln juga dapat diterapkan kepada argumentasi apologetik: "Cara yang terbaik untuk dapat mengalahkan musuh Anda adalah menjadikannya teman Anda."
Kami mengundang para kritikus: mereka yang skeptis, untuk berdialog dengan kami dan menulis kepada kami - demi mewujudkan kebersamaan dalam mencari kebenaran, dan demi untuk (kurang penting) memperbaiki edisi-edisi masa depan buku ini. Salah satu dari beberapa hal dalam kehidupan ini yang tak dapat membahayakan kita, adalah mencari kebenaran itu secara jujur.
Mengenai Metodologi
Suatu pendahuluan atau perkenalan kepada apologetik biasanya membahas mengenai metodologi. Namun kami tidak melakukan hal ini. Kami percaya bahwa dewasa ini pertanyaan-pertanyaan yang sekunder mengenai metodologi sering menyelewengkan perhatian kita dari pertanyaan-pertanyaan primer mengenai kebenaran. Tujuan kami adalah "kembali kepada hal-hal dasar". Kami tidak memiliki kapak metodologi khusus untuk menebang. Kami coba menggunakan standar-standar rasionalitas yang masuk akal dan prinsip-prinsip logika yang diterima secara universal dalam pembahasan-pembahasan kami. Kami mengumpulkan dan mempertajam argumentasi-argumentasi seperti orang-orang yang senang koleksi batu-batu permata berharga yang mengumpulkan dan kemudian memoles batu-batu itu supaya kelihatan lebih indah; para pembaca dapat menyusunnya sesuai dengan berbagai situasi atau latar belakang mereka sendiri.
Namun kami harus menyampaikan satu hal mengenai metodologi, yaitu: bagaimana untuk tidak menggunakan buku ini.
Kami telah mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi apologetik adalah seperti perlengkapan perang. Ini merupakan metafora yang berbahaya, karena perlengkapan perang ini tak pernah digunakan untuk memukul kepala orang. Argumentasi adalah kegiatan manusia yang merupakan bagian dari konteks sosial dan psikologis yang lebih luas. Konteks ini mencakup (1) jiwa seutuhnya (psyche) dari dua orang yang terlibat dalam suatu kegiatan dialog, (2) hubungan antara dua orang, (3) situasi di mana mereka sendiri sedang berada, dan (4) situasi sosial, kultural, dan historikal yang lebih luas di sekitar mereka. Bahkan faktor-faktor nasional, politik, rasial, dan seksual pun mempengaruhi situasi apologetis. Seseorang tidak boleh menggunakan argumentasi-argumentasi sama yang digunakan dalam berdiskusi dengan wanita India ketika berhadapan dengan seorang remaja Afrika-Amerika dari Los Angeles.
Dengan perkataan lain, walaupun argumentasi-argumentasi itu adalah senjata-senjata, fungsinya lebih menyerupai sebuah pedang daripada sebuah bom. Kita ketahui bahwa bom tidak akan mempedulikan sasarannya. Juga tidak perlu banyak menjadi masalah tentang siapa yang menjatuhkan bom itu. Namun untuk sebuah pedang, sangat penting sekali siapa yang mengayunkannya, karena pedang itu adalah kepanjangan tangan dari orang yang memegangnya. Demikian pula, sebuah argumentasi dalam apologetik, bila benar-benar digunakan dalam dialog, merupakan kepanjangan tangan dari orang yang terlibat dalam argumentasi itu. Nada suara, kesungguhan, kepedulian, perhatian, sikap mau mendengar, dan menghargai dari orang yang berargumentasi sangat penting dan menentukan seperti logikanya, bahkan terkadang lebih penting. Dunia ini dapat dimenangkan bagi Kristus bukan melalui argumentasi-argumentasi, melainkan melalui kekudusan: "Ucapan Anda terdengar sedemikian nyaring sehingga saya hampir tak dapat mendengarkan apa yang Anda katakan."
Kebutuhan Akan Apologetik Dewasa Ini
Apologetik secara khusus sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya di saat dunia sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan jalan dan berbagai krisis.
Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis kultural dan kemasyarakatan, melainkan kita pun sedang berada di tengah krisis filosofis dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah "krisis kebenaran" (menggunakan istilah dari Ralph Martin). Ide mengenai kebenaran objektif semakin diabaikan, ditinggalkan atau diserang - bukan hanya dari sisi praktis, melainkan juga dari sisi teoritis, secara langsung dan terbuka, terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan dan media, yang membentuk pikiran-pikiran kita. (Lihat Pasal 16 untuk pembelaan mengenai konsep mendasar tentang kebenaran objektif.)
Hal yang terakhir, tingkat yang terdalam dari krisis yang kita hadapi bukanlah bersifat kultural atau intelektual, melainkan spiritual. Yang dipertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia, lelaki maupun wanita yang baginya Kristus telah mati. Sebagian orang berpikir bahwa hari kiamat telah dekat. Kami bersikap skeptis terhadap ramalan seperti itu, namun kami mengetahui satu hal yang pasti: setiap orang sedang mendekati ajalnya, kematian dan hukuman kekal setiap hari. Peradaban kita bisa saja bertahan lagi sampai satu abad lagi, tetapi Anda sendiri tidak akan dapat bertahan. Anda segera akan menghadap Tuhan tanpa dapat menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya Anda mulai belajar mengasihi dan mencari terang itu selama masih ada kesempatan, supaya Anda akan menikmati sukacita dan bukan ketakutan untuk selama-lamanya. Adalah hal yang tak sesuai dewasa ini untuk menulis hal-hal seperti ini pada masa kini -- suatu kenyataan yang berbicara banyak sekali tentang kesehatan spiritual dari masa gaya burung unta yang sedang kita hadapi ini.
Buku ini diupayakan untuk berfungsi seperti peta penunjuk jalan dalam mencari kebenaran tentang Allah. Peta penunjuk jalan sangat berguna setiap waktu, khususnya pada masa-masa ini di mana terjadi banyak perubahan besar sehingga banyak orang berkeliling-keliling dalam keadaan tersesat, sedangkan peta yang tua itu (Alkitab) dihina, dirusak atau ditinggalkan.
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b | Referensi 02c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Permulaan dari Segalanya |
| Kode Referensi | : | AUA I-R02a |
Referensi AUA I-R02a diambil dari:
| Judul buku | : | Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen |
| Judul artikel | : | Wahyu Khusus dan Alkitab |
| Pengarang | : | R.C. Sproul |
| Penerbit | : | Seminari Alkitab Asia Tenggara |
| Halaman | : | 17 -- 19 |
WAHYU KHUSUS DAN ALKITAB
Pada waktu Tuhan Yesus dicobai oleh setan di padang gurun, Ia menghardik setan dengan perkataan: "Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). Secara historis, gereja telah meneruskan pengajaran Tuhan Yesus dengan meneguhkan bahwa Alkitab merupakan vox Dei, yaitu "suara Allah" atau verbum Dei, yaitu "Firman Allah". Menyebut Alkitab sebagai Firman Allah tidak menyatakan bahwa Alkitab ditulis oleh tangan Allah sendiri atau Alkitab itu jatuh dari surga dengan parasut. Alkitab sendiri menyatakan ada banyak penulis manusia yang menulis Alkitab. Apabila kita mempelajari Firman Allah dengan teliti, maka kita dapat melihat bahwa setiap manusia yang menulis memiliki gaya bahasa masing-masing, perbendaharaan bahasa sendiri, penekanan sendiri, perspektif sendiri dan lain sebagainya. Apabila Alkitab dinyatakan sebagai hasil karya manusia, bagaimana Alkitab dapat dikatakan sebagai Firman Allah?
Alkitab disebut sebagai Firman Allah oleh karena pengakuan dari Alkitab yang menyatakan bahwa penulis tidak sekedar menyatakan pemikiran mereka. Perkataan mereka diinspirasikan oleh Allah. Rasul Paulus menulis: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Kata inspirasi diterjemahkan dari kata Yunani "dinafaskan oleh Allah". Allah menafaskan Alkitab, sama halnya dengan kita mengeluarkan nafas dari mulut kita pada waktu kita berbicara, jadi dapat dikatakan bahwa Allah berbicara melalui Alkitab.
Meskipun Firman Tuhan datang kepada kita melalui penulisan tangan manusia, tetapi sumber utamanya adalah Allah. Sebagaimana halnya para nabi berkata: "Demikianlah Firman Tuhan". Dan Tuhan Yesus juga berkata: "Firman-Mu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17), dan "Firman Tuhan tidak dapat dibatalkan" (Yohanes 10:35).
Kata inspirasi juga berkaitan dengan proses, dimana Roh Kudus membimbing penulisan Firman Tuhan. Roh Kudus membimbing para penulis sehingga kata-kata mereka merupakan Firman Allah. Kita tidak tahu bagaimana cara Allah membimbing penulisan pertama dari Alkitab. Tetapi yang pasti inspirasi tidak berarti bahwa Allah mendikte pesan-pesannya pada mereka yang menulis Alkitab. Apa yang terjadi adalah Roh Kudus mengkomunikasikan Firman Allah kepada penulis manusia.
Orang Kristen mengakui infalibilitas dan ineransi dari Alkitab oleh karena Allah merupakan Penulis utama dari Alkitab, dan oleh karena itu, Allah tidak mungkin menginspirasikan hal yang salah. Firman-Nya adalah benar dan dapat dipercaya. Setiap literatur yang secara normal dihasilkan oleh manusia ada kemungkinan salah, tetapi Alkitab bukan merupakan hasil produksi manusia secara normal. Apabila Alkitab diinspirasikan dan dibimbing proses penulisannya oleh Allah, maka Alkitab tidak dapat salah.
Ini tidak berarti bahwa terjemahan Alkitab yang kita miliki sekarang ini tanpa kesalahan, tetapi yang dimaksudkan di sini adalah manuskrip yang asli secara mutlak adalah benar. Ini tidak berarti juga bahwa setiap pemyataan di Alkitab adalah benar. Misalnya: penulis dari kitab Pengkhotbah menyatakan bahwa "tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi" (Pengkhotbah 9:1). Penulis berbicara dari sudut pandang keputusasaan manusia. Apabila kita melihat bagian lain dari Firman Tuhan maka kita mengetahui bahwa pernyataan itu tidak benar. Namun dalam hal ini Alkitab berbicara tentang kebenaran, yaitu kebenaran tentang pemikiran yang salah dari seseorang yang putus asa.
Ayat-Ayat Alkitab Untuk Bahan Refleksi:
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Permulaan dari Segalanya |
| Kode Referensi | : | AUA I-R02b |
Referensi AUA I-R02b diambil dari:
| Judul buku | : | Pengakuan Baptis 1689 |
| Judul artikel | : | Pemeliharaan Allah |
| Penerjemah | : | Dr. Charles W. Cole |
| Penerbit | : | Carey Publication, 1996 |
| Halaman | : | 13 -- 15 |
PEMELIHARAAN ALLAH
Allah yang tak terbatas dalam kuasa dan kebijaksanaan telah menciptakan segala sesuatu, menopang, memimpin, mengatur dan memerintah segala yang diciptakan-Nya [1]. Usaha Allah itu meliputi segala makhluk dan benda, baik yang agung maupun yang remeh [2]. Pengaturan dan pemeliharaan Allah itu mahabijaksana dan mahasuci. Pengaturan dan pemeliharaan itu dilaksanakan menurut kemampuan Allah, untuk tanpa salah, tahu terlebih dahulu segala yang akan terjadi dan menurut keputusan kehendak-Nya yang tak terbatas dan mutlak [3]. Allah menggenapi maksud dan rencana-Nya yang semua bagi semua yang diciptakan. Pengaturan dan pemeliharaan Allah mendatangkan kepujian dan kemuliaan bagi kebijaksanaan Allah, kuasa-Nya, keadilan-Nya, kebaikan-Nya dan belas kasihan-Nya.
Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau yang terjadi di luar pengawasan dan pengetahuan Allah[1]. Allah adalah sebab yang pertama bagi segala akibat[2]. Segala sesuatu dilakukan tanpa perubahan dan tanpa kekeliruan, menurut pengetahuan dan ketetapan Allah yang berhubungan denganNya. Allah dengan pengaturan dan pemeliharaan-Nya menguasai segala sesuatu yang terjadi supaya penyebab yang kedua yang berjalan secara bebas, atau yang, berupa hukum tetap atau yang bergantung pada penyebab lain menggenapi rencana dan maksud Allah[3].
Kemahakuasaan, kemahabijaksanaan dan kebaikan Allah yang tanpa batas di dalam menyatakan diri-Nya dalam segala sesuatu, sehingga kejatuhan manusia ke dalam dosa yang pertama dan semua tindakan berdosa baik yang dibuat oleh malaikat maupun oleh manusia berjalan sesuai dengan rencana-Nya yang berdaulat [1]. Bukan berarti bahwa Allah yang mengizinkan orang berdosa, melainkan Allah menurut kebijaksanaan- Nya membatasi, mengatur dan menguasai dengan berbagai-bagai cara tindakan dosa agar tujuan-Nya yang suci tercapai [2]. Namun demikian dosa yang dilakukan baik oleh malaikat atau manusia bukan berasal dari Allah. Allah yang paling suci dan paling benar mustahil menjadi pangkal atau penyetuju dosa [3].
Allah yang paling benar, bijaksana dan murah hati sering membiarkan umat-Nya untuk beberapa waktu lamanya mengalami bermacam-macam godaan dan mengalami kedosaan hatinya. Hal itu diperbuat-Nya untuk mengajar umat-Nya menjadi rendah hati dengan menyatakan kepadanya betapa kuatnya kejahatan dan penipuan yang masih tinggal di dalam hati mereka [1]. Hal ini diperbuat untuk menghukum umat-Nya bagi dosa yang telah pernah diperbuat. Allah bertujuan supaya mereka menjadi sadar terhadap keperluan mereka untuk selalu bergantung kepada-Nya dan untuk menolong mereka menjadi lebih waspada terhadap dosa di kemudian hari. Rencana dan tujuan Allah yang adil dan suci dijalankan dengan cara di atas atau lainnya agar semua yang terjadi pada orang pilihan-Nya sesuai dengan ketentuan-Nya, untuk kemuliaan-Nya dan untuk kebaikan orang terpilih itu [2].
Allah sebagai hakim yang adil berlaku berbeda kepada orang yang jahat dan tidak mengenal-Nya. Allah memberikan kepada mereka kebutaan hati dan kekerasan hati karena dosa mereka [1]. Ia tidak memberikan kepadanya kasih karunia yang dapat membuat hati dan akal budi menjadi terang [2]. Karunia yang pernah diberikan kepadanya kadang-kadang diambil kembali [3]. Ia memberikan kesempatan kepada orang yang hatinya jahat untuk berdosa [4]. Dengan kata lain, Ia menyerahkan mereka pada nafsu yang busuk, pada pencobaan dunia dan kepada kuasa Setan, sehingga mereka mengeraskan hatinya [5]. Kekerasan hati terjadi dengan sarana yang sama dengan yang dipakai Allah untuk melunakkan hati orang yang lain.
Pengaturan dan pemeliharaan Allah meliputi semua makhluk, tetapi dengan cara istimewa Allah memelihara Gereja-Nya. Segala sesuatu dikuasai-Nya demi kebaikan Gereja [1].
Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Permulaan dari Segalanya |
| Kode Referensi | : | AUA I-R02c |
Referensi AUA I-R02c diambil dari:
| Judul buku | : | Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah |
| Judul artikel | : | Tidak Ada Batasan |
| Penulis | : | J.I. Packer |
| Penerbit | : | Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2002 |
| Halaman | : | 94 -- 99 |
TIDAK ADA BATASAN
Bagaimana kita dapat membentuk pemahaman yang benar tentang kebesaran Allah? Alkitab mengajar kita bahwa ada dua langkah yang harus kita tempuh. Pertama adalah dengan menyingkirkan dari pikiran kita batasan- batasan untuk Allah yang akan membuat-Nya menjadi kecil. Kedua adalah dengan membandingkan Dia dengan kuasa dan kekuatan yang kita pandang besar.
Contoh untuk langkah pertama, kita dapat lihat dalam Mazmur 139. Di situ pemazmur merenungkan sifat kehadiran, pengetahuan, dan kuasa Allah yang tidak terbatas dan tidak terukur, dalam kaitannya dengan manusia. Ia mengatakan, kita selalu berada dalam hadirat Allah. Anda dapat memisahkan diri dari sesama manusia, tetapi Anda tidak dapat melepaskan diri dari Pencipta Anda. "Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku ... Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu? Jika aku mendaki langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati (dunia di bawah), di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tanganmu menuntun aku dan tanganmu memegang aku" (ay. 5-10). Kegelapan, yang dapat menyembunyikan aku dari mata manusia, tidak dapat menyembunyikan aku dari mata Allah (ay. 11-12).
Seperti halnya tidak ada batasan untuk kehadiran-Nya di depan saya, demikian pula tidak ada batasan untuk pengetahuan-Nya atas saya. Seperti halnya saya tidak pernah dibiarkan sendiri, saya juga tidak pernah dapat pergi tanpa terperhatikan. "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri (semua tindakan dan gerakanku); Engkau mengerti pikiranku (semua yang ada dalam pikiranku) dari jauh ... Segala jalanku (semua kebiasaan, rencana, tujuan, keinginan, maupun kehidupanku sampai saat ini) Kau maklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan (diucapkan atau dipikirkan), sesungguhnya semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN" (ay. 1- 4).
Saya dapat menyembunyikan hati saya, masa lalu saya, dan rencana masa depan saya, dari orang-orang di sekitar saya. Akan tetapi, saya tidak dapat menyembunyikan apa pun dari Allah. Saya dapat berbicara sedemikian rupa sehingga menipu orang lain dan mereka tidak tahu siapa saya sebenarnya. Akan tetapi, tak ada satu pun yang saya katakan atau kerjakan dapat menipu Allah. Pandangan-Nya menembus semua kepura- puraan dan hal-hal yang saya sembunyikan. Ia mengenal saya sebagaimana adanya, jauh lebih baik daripada saya mengenal diri saya.
Allah yang kehadiran dan pengawasan-Nya dapat saya hindari akan merupakan allah yang kecil dan tidak berarti. Tetapi, Allah yang sejati adalah besar dan dahsyat sebab Ia selalu menyertai saya dan mata-Nya selalu tertuju kepada saya. Kehidupan menjadi hal yang menakjubkan jika Anda menyadari bahwa Anda melewatkan setiap saat dalam kehidupan Anda dalam pandangan dan penyertaan Pencipta yang mahatahu dan mahahadir.
Tetapi, itu belum semua. Allah yang Mahatahu adalah juga Allah yang Mahakuasa. Kekuasaan-Nya yang dahsyat telah dinyatakan kepada saya melalui rumitnya dan menakjubkannya tubuh jasmani saya, yang Ia ciptakan bagi saya. Ketika berhadapan dengan hal ini, perenungan pemazmur berubah menjadi penyembahan. "Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat" (ay. 14).
Jadi, inilah langkah pertama untuk memahami kebesaran Allah; untuk menyadari betapa tak terbatas hikmat-Nya dan hadirat-Nya, dan kuasa- Nya. Ada banyak ayat Alkitab lain yang mengajarkan pelajaran yang sama terutama, Ayub 38-41. Pasal-pasal di mana Allah sendiri menggunakan pemahaman Elihu bahwa "Allah diliputi keagungan yang dahsyat" (37:22) dan menempatkan di depan Ayub peragaan yang menakjubkan tentang hikmat dan kuasa-Nya di alam. Ia bertanya kepada Ayub apakah ia dapat menandingi "keagungan"Nya (40:9-11) dan meyakinkan dia bahwa karena ia tidak bisa, maka ia jangan mengandaikan menemukan kesalahan dalam cara Allah menangani kasus Ayub sendiri, yang juga jauh melampaui pemahaman Ayub. Tetapi, kita tidak dapat membahas hal ini terlalu jauh saat ini.
Allah yang Tidak Dapat Dibandingkan
Untuk contoh langkah kedua, mari kita lihat dalam Yesaya 40. Di sini Allah berbicara kepada orang-orang yang perasaannya sama dengan perasaan kebanyakan orang Kristen pada masa kini: orang-orang yang remuk hati, orang-orang yang ketakutan, orang-orang yang menyembunyikan keputusasaannya, orang-orang yang ditimpa gelombang peristiwa buruk selama beberapa saat; orang-orang yang sudah tidak percaya lagi bahwa rencana Kristus dapat berjalan dengan sempurna. Sekarang lihat bagaimana Allah melalui nabi-Nya berargumentasi dengan mereka.
Lihatlah pekerjaan yang telah Aku lakukan, firman Tuhan. Dapatkah kamu melakukannya? Dapatkah seorang manusia melakukannya? "Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing atau bukit-bukti dengan neraca?" (ay. 12). Apakah kamu cukup bijaksana dan cukup kuat untuk melakukannya? Tetapi Aku sanggup; atau Aku tidak dapat menciptakan dunia ini sama sekali. Lihatlah Allahmu!
Sekarang lihatlah pada bangsa-bangsa, Nabi Yesaya melanjutkan kata- katanya, pada kekuasaan nasional yang besar, yang padanya kamu merasa mendapat belas kasihan. Asyur, Mesir, Babel - kamu mengagumi mereka dan merasa takut kepada mereka. Tentara dan sumber daya mereka jauh melampaui tentara dan sumber dayamu. Tetapi, sekarang lihatlah bagaimana Allah menangani kekuasaan yang dahsyat yang sangat kamu takuti itu. "Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca ... Segala bangsa seperti, tidak ada di hadapan-Nya, mereka dianggap-Nya hampa dan sia-sia saja" (ay. 15 dst.). Kamu gemetar di depan bangsa-bangsa, karena kamu jauh lebih lemah daripada mereka, tetapi Allah jauh lebih besar daripada bangsa-bangsa sehingga mereka tidak ada apa-apanya di hadapanNya. Lihatlah Allahmu!
Sekarang lihatlah pada dunia. Lihatlah ukuran, variasi, dan kerumitannya. Pikirkan tentang 5 miliar penduduk dunia yang mendiaminya dan lihatlah langit yang luas di atasnya. Betapa kecilnya Anda dan saya, dibandingkan dengan seluruh planet tempat kita tinggal! Namun, apa jadinya jika seluruh planet yang dahsyat ini dibandingkan dengan Allah? "Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman" (ay. 22).
Dunia ini membuat kita semua merasa kecil, tetapi Allah membuat dunia ini terasa kecil. Dunia ini adalah tumpuan kaki-Nya dan di atas-Nya Ia duduk dengan aman. Ia jauh lebih besar daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya sehingga semua kegiatan yang membuat asyik jutaan orang di dalamnya tidak mempengaruhi Dia, seperti halnya belalang yang mengerik dan melompat di bawah sinar matahari musim panas tidak mempengaruhi kita. Lihatlah Allahmu!
Keempat, lihatlah pada tokoh-tokoh dunia yang besar - para pembesar yang hukum-hukum dan kebijakannya menentukan kesejahteraan jutaan orang; para calon penguasa dunia, diktator, dan pembangun kekaisaran, yang dengan kekuasaan mereka menerjunkan dunia ke dalam perang. Pikirkan tentang Sanherib dan Nebukadnezar. Pikirkan tentang Aleksander, Napoleon, Hitler. Pikirkan tentang Kosygin, Nixon, dan Mao Tse-tung. Apakah Anda mengira bahwa orang-orang terkenal itu sungguh- sungguh menentukan jalan dunia ini? Pikirkan sekali lagi sebab Allah jauh lebih besar daripada tokoh-tokoh dunia yang besar. Ia menurunkan raja-raja menjadi nol dan menurunkan para penguasa dunia ini menjadi tidak ada apa-apanya" (ay. 23). Ia adalah, seperti dikatakan Buku Doa, "satu-satunya penguasa atas raja-raja". Lihatlah Allahmu!
Tetapi, kita belum selesai. Yang terakhir, lihatlah pada bintang- bintang. Pengalaman paling menakjubkan yang secara universal dikenal manusia adalah berdiri sendirian pada malam yang cerah dan memandang bintang-bintang. Tidak ada hal yang melebihi dalam memberi kesan adanya jarak dan kejauhan. Tidak ada hal yang membuat seseorang merasakan ketidakberartian dan kekecilannya dibandingkan pengalaman itu. Dan kita, yang hidup di abad ruang angkasa, dapat melengkapi pengalaman universal ini dengan pengetahuan ilmiah tentang faktor- faktor yang terlibat di dalamnya - jumlah bintang yang miliaran, jaraknya yang miliaran tahun cahaya. Pikiran kita pusing, imajinasi kita tidak dapat menangkap hal itu. Jika kita berusaha memahami kedalaman angkasa luar yang tidak terselami, secara mental kita tak berdaya dan pusing tujuh keliling.
Tetapi, apa pengaruh hal itu bagi Allah? "Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya. Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia Mahakuasa dan Mahakuat" (ay. 26). Allahlah yang memanggil keluar bintang- bintang. Allahlah yang pertama kali menempatkan mereka di luar angkasa. Ia adalah Pencipta dan Tuhan. Mereka semua ada dalam tangan- Nya dan tunduk pada kehendak-Nya. Demikianlah kuasa-Nya dan keagungan- Nya. Lihatlah Allahmu!
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa |
| Kode Referensi | : | AUA I-R03a |
Referensi AUA I-R03a diambil dari:
| Judul buku | : | Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah |
| Judul artikel | : | Gambar yang Orisinal |
| Penulis | : | Anthony A. Hoekama |
| Penerbit | : | Momentum, Surabaya 2003 |
| Halaman | : | 105 -- 106 |
GAMBAR YANG ORISINAL
Untuk memahami gambar Allah dalam kandungan alkitabiah yang sepenuhnya, kita harus melihatnya di dalam terang penciptaan, kejatuhan dan penebusan. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, kita melihat gambar yang orisinal. Meskipun kita tidak tahu bagaimana persisnya gambar Allah menyatakan diri pada tahap itu [32], kita bisa mengasumsikan bahwa pasangan manusia pertama mencitrakan Allah dengan taat dan tanpa dosa. Menurut Augustinus, manusia pada saat itu "bisa tidak berdosa" [33]. Maka kita juga bisa mengasumsikan bahwa pada tahap ini, Adam dan Hawa menjalani ketiga bentuk relasi yang telah kita bahas di atas dengan taat dan tanpa dosa: di dalam menyembah dan melayani Allah, di dalam mengasihi dan melayani sesama, dan di dalam berkuasa dan memelihara wilayah ciptaan di mana Allah telah menempatkan mereka.
Tetapi, masih diperlukan komentar tambahan. Meskipun pasangan manusia pertama ini tidak berdosa dan hidup dalam apa yang sering disebut para teolog sebagai "tahap integritas" (stage of integrity), mereka belum tiba di akhir perjalanan. Mereka belum menjadi penyandang gambar Allah yang telah berkembang sepenuhnya; mereka seharusnya maju ke satu tahap yang lebih tinggi, di mana ketidakberdosaan mereka tidak akan bisa hilang. Pada tahap yang pertama ini, masih ada kemungkinan untuk berdosa. Bavinck menyatakannya sebagai berikut:
Adam tidak berdiri di akhir melainkan di awal perjalanan; ia berada dalam kondisi yang bersifat sementara, sehingga kondisi ini tidak bisa tetap bertahan seperti itu dan harus berlalu, baik menuju tahap kemuliaan yang lebih tinggi atau menuju kejatuhan dalam dosa dan maut [34].
Selanjutnya, menurut Bavinck, fakta bahwa Adam dan Hawa masih harus hidup dengan kemungkinan dapat berdosa, bisa disebut sebagai batasan dari gambar Allah:
Adam ... memiliki posse non peccare [bisa tidak berdosa] tetapi belum memiliki non posse peccare [tidak bisa berdosa]. Dia masih hidup di dalam kemungkinan dapat berdosa ... dia belum memiliki kasih yang sempurna dan tidak berubah yang meniadakan semua rasa takut. Jadi, para teolog Reformed benar saat menegaskan bahwa kemungkinan ini, yaitu kemungkinan untuk berubah-ubah dan kemampuan untuk berbuat dosa ini ... bukanlah suatu aspek atau isi dari gambar Allah, melainkan batasan, limitasi, atau ujung dari gambar Allah [35].
Hal ini jelas: integritas yang di dalamnya Adam dan Hawa bereksistensi sebelum Kejatuhan bukanlah keadaan sempurna yang telah digenapkan dan tak mungkin berubah. Manusia memang diciptakan menurut gambar Allah pada mulanya, tetapi ia belum menjadi "produk akhir." Dia masih perlu bertumbuh dan diuji. Allah hendak menetapkan apakah manusia akan taat kepada-Nya secara bebas dan sukarela. Untuk alasan inilah Allah memberikan sebuah "perintah larangan" kepada Adam, "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej. 2:16-17). Jika Adam dan Hawa menaati perintah ini, siapa yang tahu akan menjadi seperti apa sejarah umat manusia. Tetapi, sangat disesalkan, mereka tidak taat sehingga mereka menjatuhkan diri mereka dan seluruh umat manusia yang lahir setelah mereka, ke dalam keadaan berdosa.
Catatan Kaki:
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa |
| Kode Referensi | : | AUA I-R03b |
Referensi AUA I-R03b diambil dari:
| Judul buku | : | Teologi Sistematika |
| Judul artikel | : | Watak Semula Manusia |
| Pengarang | : | Henry C. Thiessen |
| Penerbit | : | Gandum Mas, 2003 |
| Halaman | : | 236 -- 240 |
WATAK SEMULA MANUSIA
Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan memakai ungkapan "menurut gambar dan rupa Allah" (Kej. 1:26-27; 5:1; 9:6; 1Kor. 11:7; Yak. 3:9). Nampaknya tidak ada perbedaan berarti di antara kata-kata Ibrani "gambar" dan "rupa", sehingga kita tidak perlu mencari-cari perbedaan itu. Namun perlu kiranya kita membahas apakah gambar dan rupa itu.
KESAMAAN ITU BUKAN KESAMAAN JASMANIAH
Allah adalah Roh sehingga tidak memiliki anggota-anggota tubuh seperti manusia. Beberapa kalangan menggambarkan Allah sebagai manusia yang agung dan luhur, namun pandangan semacam ini salah. Mazmur 17:15 mengatakan, "Pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu." Namun ayat ini tidak memaksudkan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau dikatakan bahwa ayat ini menurut konteksnya berbicara mengenai persamaan dalam kebenaran (lihat 1 Yoh. 3:2-3). Musa telah melihat "rupa Tuhan" (Bil. 12:8), walaupun wajah Allah tidak dapat dilihat (Kel. 33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki kesamaan jasmaniah dengan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah, manusia memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan dalam keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apa pun di dalam dirinya, dan tidak bisa mati. Nampaknya pada mulanya Allah merencanakan supaya manusia makan dari tumbuh-tumbuhan saja (Kej. 1:29), tetapi kemudian Ia mengizinkan daging hewan untuk dimakan (Kej. 9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Allah mengizinkan manusia memakan daging, Allah samasekali tidak memberikan peraturan mengenai hewan haram dan hewan halal meskipun perbedaan antara yang haram dan yang halal sudah diketahui (Kej. 7:2). Peraturan itu diberi kemudian untuk mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku untuk jangka waktu tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15; Roma 14:1-12; Kolose 2:16).
KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MENTAL
Hodge mengatakan, Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga. Sifat-sifat hakiki dari roh ialah akal budi, hati nurani, dan kehendak. Roh adalah unsur yang mampu bernalar, bersifat moral, dan oleh karena itu juga herkehendak bebas. Ketika menciptakan manusia menurut gambar-Nya Allah menganugerahkan kepadanya sifat-sifat yang dimiliki-Nya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia berbeda dari semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta berkedudukan jauh lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk golongan yang sama dengan Allah sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi dengan Penciptanya. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia ini ... Juga merupakan keadaan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan karena itu merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak diciptakan menurut gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama dengan binatang-binatang yang akhirnya binasa.
Pernyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab. Dalam pengudusan, manusia "terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (Kol. 3:10). Tentu saja, pembaharuan ini dimulai pada saat kelahiran baru terjadi, tetapi dilanjutkan dalam pengudusan. Bahwa manusia diberi kemampuan intelektual yang tinggi tersirat dalam perintah untuk mengusahakan taman Eden serta memeliharanya (Kej. 2:15), juga perintah untuk menguasai bumi beserta segala isinya (Kej. 1:26, 28), dan dalam pemyataan bahwa manusia memberi nama kepada segala binatang di bumi (Kej. 2:19-20). Kesamaan dengan Allah ini tidak dapat dihapus, dan karena kesamaan tersebut memungkinkan manusia memperoleh penebusan, maka kehidupan manusia yang belum dilahirkan baru juga berharga (Kej. 9:6; 1 Kor. 11:7; Yak. 3:9). Betapa berbcdanya gambaran ini tentang keadaan mula-mula manusia dengan pandangan evolusi, yang menganggap manusia yang pertama hanya sedikit di atas binatang liar yang tidak hanya bodoh, tetapi sama sekali tanpa kemampuan mental apa pun.
KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MORAL
Beberapa pihak telah membuat kekeliruan karena menganggap bahwa gambar dan rupa Allah yang menjadi karakter asli manusia ketika diciptakan itu hanya terdapat dalam sifat rasionalnya; sedangkan yang lain membatasi kesamaan itu pada kekuasaan manusia saja. Yang lebih tepat ialah bahwa kesamaan itu terdapat dalam sifat rasional manusia dan dalam persesuaian moralnya dengan Allah. Hodge mengatakan, Manusia adalah gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia itu roh, unsur yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah sepantasnya manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang biasanya disebut oleh para teolog Reformasi sebagai gambar Allah yang hakiki dan bukan yang insidental.
Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan Allah sudah jelas dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru itu "diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef. 4:24), maka pastilah tepat untuk menyimpulkan bahwa pada mulanya manusia memiliki baik kebenaran maupun kekudusan. Konteks Kejdian 1 dan 2 membuktikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia dapat bersekutu dengan Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman (Hab. 1:13). Pengkhotbah 7:29 mendukung pendapat ini. Di situ tercatat bahwa Allah telah menciptakan "manusia yang jujur". Kenyataan ini dapat juga kita simpulkan dari Kejadian 1:31 yang mengatakan bahwa "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Kata "segala" mencakup juga manusia sehingga pemyataan itu tidaklah benar apabila manusia diciptakan dengan keadaan moral yang tidak sempurna.
Apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran dan kesucian mula-mula? Yang jelas, kebenaran dan kesucian mula-mula bukanlah hakikat manusia, karena dengan demikian watak manusia pasti sudah tidak ada lagi ketika ia berbuat dosa. Kekudusan dan kebenaran mula-mula tersebut juga bukan pemberian dari luar, yaitu sesuatu yang ditambahkan kepada manusia setelah ia diciptakan, karena dikatakan bahwa manusia memiliki gambar ilahi itu ketika diciptakan, dan bukan karena dikaruniakan kepadanya setelah diciptakan. Shedd menerangkannya sebagai berikut, Kekudusan bukanlah sekadar keadaan tidak berdosa. Tidaklah memadai untuk mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa. Hal ini dapat dikatakan apabila manusia samasekali tidak mcmiliki watak yang moral entah itu benar atau salah. Manusia diciptakan tidak hanya sebagai makhluk yang tidak berdosa secara negatif, tetapi juga sebagai makhluk kudus secara positif. Keadaan manusia yang diperbaharui adalah pemulihan keadaannya yang semula; dan kebenaran manusia yang telah diperbaharui disebut dalam Alkitab sebagai kata 'theon', Ef. 4:21, dan sebagai "kekudusan yang sesungguhnya", Ef. 4:24. Ini merupakan watak yang positif, dan bukan sekadar keadaan tidak berdosa saja. Kadang- kadang hal ini disebut sebagai kekudusan yang "diciptakan bersama", sebagai berlawanan dengan kekudusan yang menurut beberapa orang telah dianugerahkan oleh Allah kepada manusia setelah ia diciptakan. Kekudusan mula-mula ini dapat diartikan sebagai kecenderungan kasih sayang dan kemauan manusia, sekalipun disertai kekuatan pilihan yang jahat, ke arah pengenalan yang rohani akan Allah serta hal-hal rohani lainnya. Kekudusan mula-mula ini berbeda dengan kekudusan yang disempurnakan dari orang-orang saleh, sebagaimana kasih sayang yang naluriah dan keadaan tidak berdosa yang kekanak-kanakan adalah berbeda dari kckudusan yang telah dimatangkan dan diperkuat oleh pencobaan.
KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN SOSIAL
Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih sayang-Nya. Yang menjadi sasaran kasih sayang-Nya adalah Oknum-Oknum lain di dalam ketritunggalan-Nya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka Ia menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manusia senantiasa mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Pertama-tama, manusia menemukan persahabatan ini dengan Allah sendiri. Manusia "mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk" (Kej. 3:8). Hal ini menyatakan secara tak langsung bahwa manusia berkomunikasi dengan Allah Penciptanya. Allah telah menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri, dan manusia menemukan kepuasan tertinggi dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan tetapi, di samping itu Allah juga menganugerahkan persahabatan manusiawi. Ia menciptakan wanita, karena, sebagaimana dikatakan-Nya sendiri, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kej. 2:18). Agar persekutuan ini menjadi sangat mesra, Ia menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Adam mengakui bahwa Hawa adalah tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya, maka dinamakannya "perempuan". Dan oleh sebab hubungan yang begitu intim di antara keduanya, "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej. 2:24). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan sifat sosial, sebagaimana Allah mennpunyai sifat sosial. Kasih dan perhatian sosial manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam watak manusia.
Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa |
| Kode Referensi | : | AUA I-R03c |
Referensi AUA I-R03c diambil dari:
| Judul buku | : | Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah |
| Judul artikel | : | Ajaran Perjanjian Lama |
| Pengarang | : | Anthony A. Hoekhema |
| Penerbit | : | Momentum, 2003 |
| Halaman | : | 15 -- 20 |
AJARAN PERJANJIAN LAMA
Perjanjian Lama tidak banyak berbicara tentang gambar Allah. Konsep ini dibicarakan secara eksplisit hanya dalam tiga bagian Perjanjian Lama, semuanya di kitab Kejadian: 1:26-28; 5:1-3; dan 9:6. Orang juga bisa berpendapat bahwa Mazmur 8 mendeskripsikan apa yang dimaksudkan dengan penciptaan manusia menurut gambar Allah, tetapi frasa "gambar Allah" tidak ada di sana. Kita akan memerhatikan keempat bagian Perjanjian Lama ini secara berurutan.
Kejadian 1:26-28 berbunyi:
(ayat 26) Berfirmanlah Allah: "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas se- gala binatang melata yang merayap di bumi." (ayat 27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (ayat 28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung- burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Kejadian 1 mengajarkan keunikan penciptaan manusia, yakni bahwa sementara Allah menciptakan setiap hewan "menurut jenisnya" (ay. 21,2425), hanya manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (ay. 26-27). Herman Bavinck menyatakannya sebagai berikut:
Seluruh dunia merupakan penyataan Allah, cermin dari nilai-nilai dan kesempurnaan-Nya; dengan cara dan menurut ukurannya masing-masing, setiap makhluk merupakan perwujudan dari pemikiran ilahi. Tetapi di antara semua ciptaan, hanya manusia yang merupakan gambar Allah, penyataan yang tertinggi dan terkaya akan Allah, dan oleh karena itu, merupakan kepala dan puncak dari seluruh penciptaan.
Hal pertama yang begitu menyedot perhatian kita pada saat membaca Kejadian 1:26 adalah kata kerja utamanya yang berbentuk jamak, "Berfirmanlah Allah: `Baiklah Kita menjadrkan manusia...." Ini mengindikasikan bahwa penciptaan manusia memiliki kelas tersendiri, karena ungkapan ini tidak dipakai untuk ciptaan lain yang mana pun. Banyak teolog telah mencoba untuk menjelaskan bentuk jamak ini. Penjelasan bahwa hal ini merupakan "kemuliaan dalam bentuk jamak" sangat tidak mungkin, karena bentuk jamak seperti ini tidak ditemukan di bagian Alkitab lain. Yang lain beranggapan bahwa Allah di sini tengah berbicara dengan para malaikat. Kita juga harus menolak penafsiran ini karena Allah tidak pernah dikatakan meminta masukan dari malaikat, karena mereka yang juga dicipta tak bisa menciptakan manusia, dan karena manusia tidak dijadikan menurut rupa malaikat. Kita harus menafsirkan bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa Allah tidak bereksistensi sebagai keberadaan yang tersendiri, melainkan sebagai keberadaan yang memiliki persekutuan dengan "yang lain." Meski kita tak bisa mengatakan bahwa di bagian ini kita memiliki ajaran yang jelas tentang Trinitas, kita bisa mempelajari bahwa Allah bereksistensi sebagai satu "pluralitas." Apa yang dinyatakan secara tidak langsung di sini akan dikembangkan lebih lanjut dalam Perjanjian Baru menjadi dokrin Trinitas.
Juga harus diperhatikan bahwa ada sebuah perencanaan yang mendahului penciptaan manusia: "Marilah Kita menjadikan manusia...." Hal ini sekali lagi menunjukkan keunikan dalam penciptaan manusia. Perencanaan ilahi seperti ini tidak pernah dikaitkan dengan ciptaan lain.
Kata yang diterjemahkan sebagai manusia dalam ayat ini berasal dari kata Ibrani adam. Kata ini kadang dipakai sebagai nama diri, Adam (lihat, misalnya, Kejadian 5:1, "Inilah daftar keturunan Adam"). Tetapi, kata ini bisa juga berarti manusia pada umumnya. Dalam pengertian ini, kata tersebut memiliki makna yang sama dengan kata Jerman Mensch: bukan laki-laki dalam keberbedaannya dengan perempuan, melainkan manusia dalam keberbedaannya dari ciptaan yang non manusia, yaitu manusia sebagai laki-laki atau perempuan, atau manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Dalam pengertian Inilah kata tersebut dipakai di dalam Kejadian 1:26 dan 27. Kadang kata adam juga dipakai untuk menunjuk umat manusia (lihat misalnya Kejadian 6:5, "ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi"). Karena berkat yang terdapat di Kejadian 1:28 teraplikasikan kepada seluruh umat manusia, kita bahkan bisa mengatakan bahwa ayat 26 dan 27 mendeskripsikan penciptaan umat manusia, meski kita kemudian harus membatasi pemyataan ini sebagai berikut: Allah menciptakan lakilaki dan perempuan itu, yang mana dari keduanyalah semua umat manusia akan dilahirkan.
Kita sekarang sampai pada kata-kata yang penting: "menurut gambar dan rupa Kita." Kata yang diterjemahkan sebagai gambar adalah tselem, dan yang diterjemahkan sebagai rupa adalah demuth. Di dalam bahasa Ibrani tak ada kata sambung di antara kedua ungkapan tersebut; teks Ibrani hanya berbunyi "marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar rupa Kita." Baik Septuaginta maupun Vulgata memasukkan kata dan, sehingga memberi kesan bahwa "gambar" dan "rupa" mengacu kepada dua hal yang berbeda. Tetapi, teks bahasa Ibrani memperjelas bahwa tak ada perbedaan yang esensial di antara keduanya: "menurut gambar Kita" hanyalah suatu cara lain untuk mengatakan "menurut rupa Kita." Hal ini akan terbukti dengan menelaah pemakaian kedua kata ini di bagian ini dan di dua bagian kitab Kejadian lainnya. Dalam Kejadian 1:26, baik kata gambar maupun rupa dipakai; dalam Kejadian 1:27 hanya kata gambar yang dipakai. Dalam Kejadian 5:3 kedua kata dipakai, tetapi kali ini dengan urutan yang berbeda: menurut rupa dan gambar [Adam]. Dan sekali lagi dalam Kejadian 9:6 hanya kata gambar yang dipakai. Jika kata-kata ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan aspek-aspek manusia yang berbeda, maka keduanya takkan dipakai dengan cara seperti yang baru kita lihat, yaitu bisa dipertukarkan.
Tetapi, meski kedua kata ini biasa dipakai sebagai sinonim, kita bisa menemukan sedikit perbedaan di antara keduanya. Kata Ibrani untuk gambar, tselem, diturunkan dari akar kata yang bermakna "mengukir" atau "memotong." Maka kata ini bisa dipakai untuk mendeskripsikan ukiran berbentuk binatang atau manusia. Ketika diaplikasikan pada penciptaan manusia di dalam Kejadian 1, kata tselem ini mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah, artinya manusia merupakan suatu representasi Allah. Kata Ibrani untuk rupa, demuth di dalam Kejadian 1 bermakna "menyerupai." Jadi, orang bisa berkata bahwa kata demuth di Kejadian 1 mengindikasikan bahwa gambar tersebut juga merupakan keserupaan, "gambar yang menyerupai Kita." Kedua kata itu memberi tahu kita bahwa manusia merepresentasikan Allah dan menyerupai Dia dalam hal-hal tertentu.
Bagaimana manusia menyerupai Allah tidak dinyatakan secara spesifik dan eksplisit di dalam kisah penciptaan, meskipun kita bisa melihat bahwa keserupaan-keserupaan tertentu dengan Allah terimplikasikan di sana. Misalnya, dari Kejadian 1:26 kita bisa menarik kesimpulan bahwa kekuasaan atas binatang dan atas seluruh bumi merupakan satu aspek dari gambar Allah. Di dalam menjalankan kekuasaan ini manusia menjadi serupa dengan Allah, karena Allah memiliki kuasa yang tertinggi dan ultimat atas bumi. Dari ayat 27 kita bisa menyimpulkan bahwa aspek lain dari gambar Allah menyangkut perihal penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Karena Allah adalah Roh (Yoh. 4:24), maka kita tak boleh menyimpulkan bahwa keserupaan dengan Allah dalam hal ini ditemukan di dalam perbedaan fisik antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Keserupaan ini harus ditemukan di dalam fakta bahwa laki- laki memerukan pendampingan perempuan, bahwa manusia merupakan makhluk sosial, bahwa kaum perempuan melengkapi kaum laki-laki dan kaum laki- laki melengkapi kaum perempuan. Dalam hal ini manusia mencerminkan Allah, yang bereksistensi bukan sebagai Keberadaan yang terasing, melainkan berada di dalam persekutuan-persekutuan yang pada tahap penyataan selanjutnya digambarkan sebagai persekutuan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dari fakta bahwa Allah memberkati umat manusia dan memberikan mandat kepada mereka (ay. 28), kita bisa menyimpulkan bahwa umat manusia juga menyerupai Allah dalam hal mereka adalah keberadaan yang berpribadi dan bertanggung jawab, yang bisa diajak berbicara oleh Allah dan yang bertanggung jawab kepada Allah sebagai Pencipta dan Penguasa atas mereka. Sebagaimana Allah di sini dinyatakan sebagai satu Pribadi (di kemudian hari di dalam sejarah penyataan, hal ini diperluas menjadi tiga Pribadi) yang mampu membuat keputusan dan memerintah, maka manusia adalah pribadi yang juga mampu membuat keputusan dan memerintah.
Sementara meneruskan penelaahan kita terhadap Kejadian 1:26-28, kita melihat berkat Allah bagi manusia dalam ayat 28 (sebagaimana ayat 22 menunjukkan berkat Allah bagi binatang). Bagian terakhir dari berkat ini sangat mirip dengan apa yang dikatakan mengenai manusia dalam ayat 26, "supaya mereka berkuasa." Hanya saja kata kerja di sini berbentuk orang kedua jamak dan ditujukan kepada orangtua pertama kita. Kata-kata mengenai kekuasaan manusia ini didahului oleh kata- kata yang tidak ditemukan dalam ayat 26, "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi." Perintah untuk beranak cucu dan bertambah banyak mengimplikasikan lembaga pernikahan, yang penetapannya dikisahkan dalam Kejadian 2:18-24.
Dalam memberikan berkat-Nya, Allah berjanji akan memampukan manusia untuk berkembang biak dan menghasilkan keturunan yang akan memenuhi bumi; Dia juga berjanji akan memampukan mereka menaklukkan bumi dan berkuasa atas binatang-binatang dan atas bumi itu sendiri. Kata-kata ini merupakan berkat, tetapi juga mengandung perintah atau mandat. Allah memerintahkan manusia untuk beranak cucu dan berkuasa. Ini secara umum disebut mandat budaya: perintah untuk memerintah bumi atas nama Allah dan membangun budaya yang memuliakan Allah.
Sebelum kita beralih ke bagian teks berikutnya, ada satu hal lagi yang perlu dicatat. Ayat 31 berbunyi, "Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik." "Segala yang dijadikan-Nya" ini mencakup juga manusia. Maka, saat manusia bermula dari tangan Sang Pencipta, ia tidak rusak, bobrok, atau berdosa; manusia berada dalam kondisi berintegritas, tidak bersalah, dan kudus. Apa pun yang terdapat dalam diri manusia saat ini, yang jahat atau menyimpang, bukan merupakan bagian dari penciptaannya yang semula. Saat diciptakan, manusia sangat baik adanya.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia yang Berdosa |
| Kode Referensi | : | AUA I-R04a |
Referensi AUA I-R04a diambil dari:
| Judul buku | : | Teologi Sistematika 2: Doktrin Manusia |
| Judul artikel | : | Natur Dosa yang Pertama atau Kejatuhan Manusia |
| Penulis | : | Louis Berkhof |
| Penerbit | : | Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1994 |
| Halaman | : | 87 -- 89 |
Natur Dosa yang Pertama atau Kejatuhan Manusia
Karakter formalnya.
Dapat dikatakan bahwa melalui suatu sudut pandang yang sepenuhnya formal dosa manusia yang pertama terkait dengan dimakannya buah pengetahuan yang baik dan jahat. Kita tidak tahu pohon apakah ini sebenarnya. Mungkin saja pohon itu pohon kurma atau pohon ara, atau pohon buah yang lain. Tidak ada satupun yang membawa bahaya dalam pohon itu. Memakan buah itu saja per se tidaklah berdosa sebab tidak merupakan pelanggaran terhadap hukum moral. Hal ini berarti bahwa makan buah ini tidaklah berdosa jika seandainya Allah tidak pernah berkata: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kamu makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau akan mati." Tidak ada pendapat yang seragam tentang mengapa pohon ini disebut sebagai pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Suatu pandangan yang agak umum adalah bahwa pohon itu disebut demikian sebab siapa yang memakan buahnya akan memperoleh pengetahuan praktis tentang yang baik dan jahat; akan tetapi agaknya tidaklah sesuai benar dengan Alkitab bahwa manusia dengan cara makan buah itu akan menjadi seperti Allah dalam mengetahui yang baik dan jahat, sebab Allah tidak pernah melakukan kejahatan, jadi tidak pernah memiliki pengetahuan praktis tentang kejahatan. Jauh lebih mungkin bahwa pohon itu disebut demikian sebab dimaksudkan untuk menyatakan: (a) apakah masa depan manusia akan baik atau jahat; dan (b) apakah manusia akan memperkenankan Allah menentukan baginya apa yang baik dan yang jahat atau akan menentukan sendiri bagi dirinya. Akan tetapi penjelasan apapun yang diberikan tentang nama pohon ini, perintah yang diberikan oleh Allah agar buah pohon itu tidak dimakan dimaksudkan untuk menguji ketaatan manusia. Ujian ini adalah ujian ketaatan yang murni, sebab bagaimanapun Allah tidak berusaha membenarkan atau menjelaskan larangan itu. Adam harus menunjukkan kemauannya untuk meletakkan kehendaknya di bawah kehendak Allah dalam seluruh ketaatan.
Karakter esensial dan materialnya
Dosa pertama manusia adalah suatu dosa tipikal, yaitu dosa di mana esensi sesungguhnya dari dosa itu dengan jelas menyatakan dirinya sendiri. Esensi dari dosa itu terletak pada kenyataan bahwa Adam meletakkan dirinya dalam keadaan yang bertentangan dengan Allah, dan ia menolak untuk meletakkan kehendaknya di bawah kehendak Allah, dan menolak membiarkan Allah menentukan seluruh jalan hidupnya. Ia secara aktif berusaha mengambilnya dari tangan Allah dan menentukan masa depannya sendiri. Manusia jelas tidak mempunyai hak untuk mengklaim Allah dan manusia hanya dapat menetapkan suatu klaim dengan cara menggenapi syarat- syarat dalam perjanjian kerja. Tetapi manusia telah memisahkan diri dari Allah dan bertindak seolah-olah ia memiliki hak- hak tertentu terhadap Allah. Pengertian bahwa perintah Allah adalah suatu pemutusan hak-hak manusia tampaknya sudah ada dalam pikiran Hawa ketika ia menjawab pertanyaan Iblis, ia menambahkan kata-kata, "Jangan kamu makan ataupun raba buah itu (Kej 3:3). Jelas Hawa ingin menekankan kenyataan bahwa perintah itu agak tidak masuk akal. Bermula dari presuposisi bahwa ia memiliki hak-hak tertentu terhadap Allah, manusia mengambil pusat yang baru, yang ditemukannya dalam dirinya sendiri untuk bertindak menentang pencipta-Nya. Ini menjelaskan keinginannya untuk menjadi seperti Allah dan keraguannya akan kebaikan Tuhan dalam memberikan perintah. Tentunya berbagai elemen dapat dibedakan dari dalam dosa pertama tersebut. Dalam intelek, dosa itu adalah ketidakpercayaan dan kesombongan, dalam kehendak, dosa ingin seperti Allah dan dalam perasaan, sebagai suatu kepuasan yang tidak kudus dengan memakan buah yang terlarang.
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia yang Berdosa |
| Kode Referensi | : | AUA I-R04b |
Referensi AUA I-R04b diambil dari:
| Judul buku | : | Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah |
| Judul artikel | : | Karakter Esensial Dosa |
| Penulis | : | Anthony A. Hoekama |
| Penerbit | : | Momentum, Surabaya 2003 |
| Halaman | : | 217 -- 221 |
KARAKTER ESENSIAL DOSA
Dosa selalu berkaitan dengan Allah dan kehendak-Nya. Banyak orang menyamakan dosa dengan ketidaksempurnaan - yaitu ketidaksempurnaan yang merupakan aspek yang normal dari natur manusia. "Tak seorang pun yang sempurna," "Setiap orang melakukan kesalahan," "Kamu 'kan hanya manusia," dan banyak pernyataan senada menunjukkan pemikiran ini. Bertentangan dengan ini, kita harus menyatakan dengan tegas bahwa, sesuai Alkitab, dosa selalu merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah. Meskipun ada banyak hukum di dalam Alkitab, khususnya di kelima kitab pertama Perjanjian Lama, apa yang dimaksudkan dengan hukum di sini adalah sekelompok kecil perintah yang kita akui meringkaskan apa yang Allah inginkan dari manusia, yaitu Sepuluh Perintah.
Meskipun hukum ini Allah berikan kepada bangsa Israel di Gunung Sinai,
hukum ini tidak berisi standar moral yang benar-benar asing bagi
manusia. Lewis Smedes menyatakannya demikian:
Apa yang Musa bawa dari Sinai mendukung satu moralitas yang umum bagi umat manusia, yang ditegaskan oleh hati nurani setiap kali ia dilanggar dalam praktik. Orang-orang yang hanya tahu sedikit dan tidak terlalu memedulikan apa yang Alkitab katakan, tetap mengetahui apa yang sebenarnya Alkitab inginkan dalam kehidupan moral, meski hal itu bertentangan dengan diri mereka sendiri. Paulus menganggap bahwa, sejauh menyangkut moralitas, orang-orang yang tidak pernah mendengar tentang perintah Allah, dengan cara tertentu mengenal kehendak-Nya [5].
Untuk membuktikan pernyataan terakhir ini, Smedes meneruskan dengan mengutip Roma 2:14-16:
Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.
Tetapi, apa yang "tertulis di dalam hati" orang-orang yang tidak pernah membaca Alkitab, secara khusus dijabarkan dalam Sepuluh Perintah yang terdapat di Keluaran 20 dan Ulangan 5. Dari Alkitab yang sama orang percaya tahu bahwa melanggar perintah Allah merupakan dosa. Dengan kata lain, seperti dinyatakan Katekismus Heidelberg, orang Kristen belajar mengetahui dosa mereka dari hukum Allah.[6] Ayat-ayat Alkitab berikut ini menegaskannya: "Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Rom. 3:20b); "Oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: 'Jangan mengingini"' (Rom. 7:7b); "Jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran" (Yak. 2:9); "Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (1 Yoh. 3:4).
Mazmur 51:6 menyatakan bahwa semua dosa, bahkan dosa terhadap sesama, juga merupakan dosa terhadap Allah. Daud telah begitu luar biasa berdosa terhadap Batsyeba dan Uria; akan tetapi ketika ia akhirnya mengakui dosanya, ia berkata kepada Allah, "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat." Daud tidak bermaksud mengatakan bahwa ia tidak berdosa terhadap orang lain, tetapi di dalam kedalaman pertobatannya, ia tiba pada suatu keyakinan bahwa semua dosa pada akhirnya merupakan dosa terhadap Allah. Dosa orang tua pertama kita merupakan ketidaktaatan pada perintah Allah, dan setiap dosa yang terjadi setelah itu bisa dilihat sebagai hal yang sama.
Jadi, secara mendasar, dosa merupakan perlawanan terhadap Allah, pemberontakan terhadap Allah yang berakar pada kebencian terhadap Allah. Mengutip kembali Katekismus Heidelberg, "Aku memiliki kecenderungan alamiah untuk membenci Allah dan sesamaku" [7]. Sebagai bukti, Katekismus ini mengacu pada Roma 8:7, "Keinginan daging [keinginan manusia secara alamiah] adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah, hal ini memang tidak mungkin baginya."
Tetapi, sebelum kita meninggalkan poin ini, ada hal lain yang perlu dikatakan. Agar bisa terpahami sepenuhnya, dosa harus dilihat bukan hanya dalam terang hukum tetapi juga dalam terang Injil. Injil - kabar baik tentang apa yang telah Kristus perbuat untuk menyelamatkan kita dari dosa - merupakan hal yang niscaya justru karena kita telah melanggar hukum Allah. Saat kita melihat apa yang harus Kristus alami untuk menyelamatkan kita dari dosa, atau melihat ke Kalvari dan mendengar seruan Kristus yang menyayat hati, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46), kita melihat betapa menakutkannya dosa itu. Pernyataan murka Allah terhadap dosa yang ditunjukkan di salib Kristus, yang telah dijadikan dosa demi kita (2 Kor. 5:21), menyatakan beratnya kesalahan kita yang tak terukur ini. Ketika menanggapi pertanyaan, "Mengapa Allah tidak bisa serta-merta menghapus dosa manusia tanpa menuntut korban pendamaian?" Anselmus berkata, "Anda belum memikirkan betapa berat beban dosa itu" [8]. Tetapi, Injil tak hanya menunjukkan kebusukan dosa kita; Injil juga memproklamirkan cara kita bisa dilepaskan dari dosa, dan oleh karena itu menyerukan agar kita bertobat.
Dosa bersumber dalam apa yang Alkitab sebut sebagai "hati. " Augustinus sering berkata bahwa dosa bersumber dalam kehendak manusia: "Jika kehendak itu sendiri bukanlah sebab pertama dosa, maka sama sekali tak ada sebab pertama" [9]. Tetapi, apa yang lazim kita sebut sebagai "kehendak" hanyalah nama lain bagi totalitas pribadi yang membuat keputusan. Kita tak pernah memakai kehendak yang "terisolasi"; apa yang kita sebut berkehendak selalu melibatkan aspek-aspek lain seperti intelek dan emosi, Di balik kehendak ada pribadi yang menghendaki.
Jadi, dengan memakai bahasa alkitabiah, saya memilih untuk berkata bahwa dosa bersumber di dalam hati. Saya di sini memakai konsep hati sebagaimana dipakai di dalam Alkitab: untuk menunjuk inti batiniah dari satu pribadi; "organ" untuk berpikir, merasa dan menghendaki; titik pusat dari semua fungsi kita [10]. Dengan kata lain, dosa bukan bersumber di dalam tubuh atau di dalam salah satu kapasitas manusia yang mana pun, melainkan bersumber di dalam pusat keberadaannya, yaitu hatinya. Karena dosa telah meracuni sumber kehidupan itu sendiri, seluruh kehidupan sudah pasti terpengaruh olehnya.
Dosa mencakup pikiran sekaligus tindakan. Menurut hukum Dukungan alkitabiah untuk poin ini bisa ditemukan dalam ayat-ayat berikut: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan" (Ams. 4:23); "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?" (Yer. 17:9); "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat" (Mat. 15:19); "Orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya" (Luk. 6:45b).
Manusia, perbuatan salah hanya berkenaan dengan apa yang seorang lakukan atau tidak lakukan, bukan dengan apa yang seorang pikirkan; tak seorang pun dipenjarakan karena pikiran yang keliru (kecuali pikiran itu telah diungkapkan). Tetapi hukum Allah menjangkau jauh lebih dalam. Bahwa pikiran bisa berdosa sebagaimana ucapan dan perbuatan, terlihat jelas dari hukum kesepuluh yang melarang sikap mengingini. Yesus dengan jelas mengajarkan bahwa sekalipun pikiran untuk berzinah belum diwujudkan, itu tetap merupakan dosa: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya" (Mat. 5:28). Dalam Galatia 5:16, 17 dan 24, Paulus juga berbicara tentang "keinginan daging." Daging di sini berarti keseluruhan natur manusia di bawah perbudakan dosa; NIV menerjemahkan epithumian sarkos di ayat 16 sebagai "desires of the sinful nature" ("hasrat dari natur berdosa"). Jelas dalam ayat-ayat ini, kata Yunani epithumia (hasrat) berarti hasrat yang tidak baik, hasrat akan hal-hal terlarang. Jadi, terjemahan KJV, "lust of the flesh," mungkin lebih akurat dan juga lebih jelas daripada terjemahan RSV, "desires of the flesh." Ketika Paulus berkata, "Keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging" (ay. 17), ia menekankan fakta bahwa selain perbuatan berdosa, terdapat pula keinginan yang berdosa.
Catatan Kaki:
Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia yang Berdosa |
| Kode Referensi | : | AUA I-R04c |
Referensi AUA I-R04c diambil dari:
| Judul buku | : | Pengakuan Baptis 1689 |
| Judul artikel | : | Perjanjian Allah |
| Penerjemah | : | Dr. Charles W. Cole |
| Penerbit | : | Carey Publication, 1996 |
| Halaman | : | 16 -- 17 |
PERJANJIAN ALLAH
Jarak antara Allah dan manusia ciptaan-Nya demikian jauh sehingga walaupun manusia berakal dan layak menaati Allah sebagai Pencipta, mustahil manusia memperoleh pahala kehidupan dari Allah. Karena itu secara sukarela Allah berkenan merendahkan diri menjadi sarana agar manusia mendapat hidup, yaitu dengan membuat suatu perjanjian [1].
Lagi pula karena kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan dirinya di bawah kutukan hukum Allah, Allah berkenan membuat perjanjian kasih karunia [1]. Dengan perjanjian itu Allah menawarkan dengan sukarela kehidupan dan keselamatan oleh Yesus Kristus kepada orang berdosa [2]. Di samping itu Allah mengharuskan orang berdosa beriman kepada-Nya, supaya mereka dapat diselamatkan. Ia juga berjanji memberikan Roh Kudus kepada semua yang dipilih bagi hidup kekal supaya mereka dijadikan bersedia dan mampu percaya [3].
Perjanjian Allah diwahyukan di dalam Injil. Pertama-tama diwahyukan kepada Adam dalam janji keselamatan oleh benih perempuan, kemudian tahap demi tahap dinyatakan selengkapnya dalam Perjanjian Baru [1]. Keselamatan orang terpilih berdasar perjanjian penebusan abadi antara Bapa dan Putra [2]. Hanya melalui kasih karunia yang disampaikan demi perjanjian itu keturunan Adam yang telah diselamatkan diberikan hidup yang diberkati [3]. Manusia sama sekali tidak dapat diterima Allah atas dasar pemberkatan Adam dalam keadaan sebelum kejatuhannya ke dalam dosa.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus |
| Kode Referensi | : | AUA I-R05a |
Referensi AUA I-R05a diambil dari:
| Judul buku | : | Diselamatkan Oleh Anugerah |
| Judul artikel | : | Regenerasi |
| Pengarang | : | Anthony A. Hoekhema |
| Penerbit | : | Momentum, Jakarta, 2001 |
| Halaman | : | 133 -- 147 |
REGENERASI
Tiga Pengertian Regenerasi.
Alkitab membicarakan regenerasi dalam tiga pengertian yang berbeda tetapi berkaitan: (1) sebagai permulaan kehidupan rohani yang baru, yang ditanamkan di dalam diri kita oleh Roh Kudus, memampukan kita untuk bertobat dan percaya (Yoh. 3:3,5); (2) sebagai manifestasi pertama dari hidup baru yang telah ditanamkan (Yak. 1:18; 1 Pet. 1:23); dan (3) sebagai pemulihan keseluruhan ciptaan dalam kesempurnaannya yang final (Mat. 19:28).
Dalam pengertian lebih sempit, regenerasi dapat didefinisikan sebagai karya Roh Kudus yang dengannya Roh Kudus mula-mula membawa orang-orang ke dalam kesatuan yang hidup dengan Kristus, mengubah hati mereka sehingga mereka yang dulunya mati secara rohani menjadi hidup secara rohani, dan sekarang berkemampuan dan berkehendak untuk bertobat dari dosa, mempercayai Injil dan melayani Tuhan.
Ajaran Alkitab Mengenai Regenerasi
Menurut Perjanjian Lama.
Di dalam Perjanjian Lama kita sudah mendapatkan pengajaran bahwa hanya Allah yang menyebabkan perubahan radikal yang diperlukan untuk memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan-Nya. Di Ulangan 30:6, kita menemukan bahwa pembaharuan rohani kita dideskripsikan secara figuratif sebagai sunat terhadap hati: "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup." Karena hati merupakan inti rohani dari satu pribadi, maka ayat ini mengajarkan bahwa Allah harus membersihkan diri rohani kita sebelum kita dapat benar-benar mengasihi-Nya. Apa yang kita sebut regenerasi dideskripsikan oleh Yeremia dengan kata-kata ini: "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku" (31:33). Untuk mendeskripsikan regenerasi ini Yehezkiel menggunakan suatu gambaran yang walaupun merefleksikan cara berpikir Perjanjian Lama, namun masih sering kita pakai sekarang: "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat" (36:26; band. 11:19). Di sini Allah, melalui Yehezkiel, menjanjikan kepada mereka yang dibuang ke Babilonia bahwa di masa yang akan datang Dia akan memperbaharui kerohanian mereka.
Menurut Perjanjian Baru
Perjanjian Baru memberikan pengajaran yang lebih lengkap dan lebih kaya mengenai regenerasi daripada Perjanjian Lama. Di dalam Injil- Injil Sinoptik, kata "regenerasi" tidak dipakai dalam arti "lahir baru." Akan tetapi ide itu tetap hadir di sana. Ketika Yesus berkata, "Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik" (Mat. 7:17), Dia mengimplikasikan bahwa pohon itu harus dijadikan baik sebelum dapat menghasilkan buah yang baik. Ketika Yesus menegaskan, "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya" (Mat. 15:13), Dia mengimplikasikan bahwa tanaman-tanaman yang telah ditanam oleh Bapa sorgawi-Nya tidak akan dicabut. Pernyataan-pernyataan seperti ini dengan jelas menunjukkan kebutuhan akan regenerasi.
Mungkin tidak ada bagian di dalam Perjanjian Baru yang mengajarkan kedaulatan karya Allah di dalam regenerasi sejelas pasal ketiga dari Injil Yohanes (3:1-8). Kita telah mempelajari bahwa pelaku ilahi dari regenerasi adalah Roh Kudus. Bahwa kehidupan baru yang diterima berbeda secara radikal dari kehidupan biologis biasa, dan bahwa meskipun regenerasi merupakan kejadian yang misterius, kita dapat mengetahui bahwa itu telah terjadi dengan mengamati buahnya.
Walaupun Titus 3:5 merupakan satu-satunya bagian di mana Paulus mempergunakan kata "regenerasi", tetapi kiasan mengenai regenerasi di dalam surat-suratnya begitu sering muncul. Di Efesus 2:5 Paulus menegaskan bahwa ketika kita mati di dalam pelanggaran, Allah menghidupkan kita bersama Kristus. Di Efesus 2:10 dan 2Korintus 5:17 Paulus memakai suatu gambaran baru bagi regenerasi: regenerasi merupakan suatu jenis keberadaan baru yang mencengangkan kita, sehingga ia hanya dapat dibandingkan dengan suatu penciptaan baru: "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus"; "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru." Dari penyataan-pernyataan Paulus juga kita mempelajari bahwa regenerasi merupakan buah dari karya pemurnian dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh, yang terjadi di dalam kesatuan dengan Kristus, dan bahwa ini berarti kita sekarang menjadi bagian dari ciptaan baru Allah yang ajaib.
Petrus juga membicarakan regenerasi di dalam suratnya yang pertama. Dia memakai kata anagennao, yang berarti "memperanakkan kembali" atau "menyebabkan untuk dilahirkan kembali": "Karena [di dalam rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati" (1 Pet. 1:3). Kita dilahirkan kembali, melalui kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Kebangkitan Kristus sungguh merupakan sumber kehidupan rohani kita yang baru; karena Allah menjadikan kita hidup bersama- sama dengan Kristus, kehidupan baru kita merupakan suatu sharing terhadap kehidupan kebangkitan Kristus. Petrus melihat regenerasi dalam perspektif eskatologis: awal hidup baru kita di dalam Kristus menyibakkan pemandangan yang mulia dari warisan kekal kita.
Di 1 Yohanes 2:29 kita melihat bahwa orang yang mengalami regenerasi adalah orang yang terus menerus melakukan hal yang benar: "Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, [telah] lahir dari pada-Nya" Kata kerja yang diterjemahkan sebagai "[telah] lahir" adalah dalam bentuk perfect tense (gegennetai), yang mengindikasikan bahwa orang ini telah diregenerasikan di waktu lampau dan terus-menerus menunjukkan bukti regenerasi itu di saat ini. Orang yang telah diregenerasikan adalah orang yang kehidupan luarnya ditandainya oleh karakteristik berikut: dia melakukan apa yang benar, tidak terus hidup di dalam doa, mengasihi sesamanya yang percaya, percaya bahwa Yesus adalah Kristus, dan akan terus mengalahkan dunia ini.
Sekarang kita ringkaskan apa yang telah kita dapatkan dari penelaahan Alkitabiah mengenai regenerasi: regenerasi merupakan suatu perubahan radikal dari kematian rohani menjadi kehidupan rohani, yang dikerjakan oleh Roh Kudus - suatu perubahan dimana kita sepenuhnya pasif. Perubahan ini yang mencakup suatu perubahan rohani dari natur kita, merupakan buah dari anugerah Allah yang berdaulat, dan terjadi di dalam kesatuan dengan Kristus.
Berdasarkan studi eksegetis, regenerasi di dalam pengertian sebagai suatu penanaman kehidupan rohani yang baru, bukanlah suatu karya di mana manusia bekerja bersama Allah, melainkan suatu karya di mana hanya Allah sebagai Pelaku tunggalnya. Dengan kata lain, regenerasi bersifat "monergistik, karya Allah sendiri, bukan "synergistik," sesuatu yang dicapai melalui kerja sama Allah dan manusia.
Alkitab mengajarkan bahwa regenerasi merupakan suatu karya Allah dimana manusia hanya bersikap pasif. Dari ajaran-ajaran Alkitabiah mengenai regenerasi ini, kita mengetahui kedaulatan mutlak Allah di dalam soteriologi: keselamatan kita merupakan karya Allah dari awalnya. Karena itu, hanya Allah yang layak menerima semua pujian!
Natur Esensial Dari Regenerasi
Regenerasi itu sangat misterius - pertama-tama, karena sesuai dengan definisinya regenerasi merupakan karya Allah; kedua, karena kita tidak pernah dapat mengamati atau merasakan regenerasi; kita hanya dapat mengamati efek-efeknya. Memahami regenerasi dalam pengertiannya yang lebih sempit, sebagai penanaman suatu kehidupan baru, kita tidak pernah dapat yakin kapan regenerasi itu terjadi, kita hanya dapat mendeduksi dari bukti-bukti tertentu dengan kepastian yang besar atau kecil (kepastian yang lebih baru jika menyangkut diri kita sendiri, dan lebih kecil jika menyangkut orang lain) bahwa regenerasi itu terjadi.
Tiga komentar mengenai natur esensial dari regenerasi:
Regenerasi merupakan perubahan yang terjadi secara seketika.
Regenerasi bukan suatu proses bertahap seperti pengudusan yang progresif. Di Efesus 2:5, regenerasi dideskripsikan sebagai menjadikan pendosa yang telah mati hidup kembali; kata kerja yang diterjemahkan "menghidupkan kita bersama-sama Kristus," synezoopoiesen memakai bentuk aorist tense yang berarti tindakan yang seketika atau sekejap. Dalam Kisah 16:14, kita membaca mengenai konversi yang dialami Lidia: "Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus." Peristiwa pembukaan hati ini jelas mendeskripsikan regenerasi. Kata yang diterjemahakan menjadi "membuka" (dienoixen) juga dalam bentuk aorist tense. Regenerasi itu sendiri pastilah bersifat seketika, karena tidak ada kondisi pertengahan di antara kehidupan dengan kematian.
Regenerasi merupakan perubahan yang supranatural.
Regenerasi, penciptaan baru, pembangkitan dari kematian dan menghidupkan adalah sedemikian jelas diajarkan oleh Alkitab, di mana Allah sendiri yang bekerja di dalam diri kita tanpa bantuan kita. Tetapi regenerasi ini pasti tidak terjadi hanya dengan ajaran dari luar, persuasi moral, atau dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga setelah Allah selesai berkarya manusialah yang tetap berkuasa memutuskan apakah dirinya mau dilahirbarukan, atau diubah, atau tidak. Sebaliknya, regenerasi secara keseluruhan merupakan karya supranatural, karya yang paling berkuasa, paling memberikan sukacita, karya yang ajaib, tersembunyi dan tidak terkatakan, yang mana kuasa untuk melakukannya tidak kurang atau lebih rendah dari kuasa untuk menciptakan atau membangkitkan dari orang mati, seperti yang diajarkan oleh Alkitab.
Regenerasi merupakan perubahan yang radikal.
Karena istilah "radikal" berasal dari kata Latin untuk "akar" (radix), maka ini berarti regenerasi merupakan suatu perubahan pada akar natur kita.
Regenerasi berarti pemberian atau "penanaman " kehidupan rohani yang baru. Di saat regenerasi inilah pendosa yang mati menjadi hidup secara rohani, penolakannya terhadap Allah diubah menjadi penerimaan, dan kebencian kepada Allah diubah menjadi kasih. Regenerasi berarti orang yang tadinya di luar Kristus sekarang telah berada di dalam Kristus. Karena itulah perubahan ini disebut radikal, bukan sekedar perubahan pada kulitnya saja.
Regenerasi merupakan suatu perubahan yang mempengaruhi keseluruhan pribadi. Regenerasi merupakan suatu perubahan total - suatu perubahan yang mecakup keseluruhan pribadi itu. Dalam istilah yang Alkitabiah, regenerasi merupakan pemberian hati yang baru. Dan hati di dalam Alkitab adalah inti rohani dari satu pribadi, pusat dari seluruh aktivitas; sumber yang darinya mengalir keluar semua pengalaman mental dan rohani, dan sebagainya. Sumber inilah yang diperbaharui di dalam regenerasi. Akan tetapi perlu ditambahkan bahwa regenerasi bukan berarti penyingkiran seluruh kecenderungan berdosa. Meskipun orang yang telah diregenerasikan adalah manusia yang baru, namun dia belum sempurna.
Regenerasi merupakan suatu perubahan yang terjadi di bawah kesadaran. Hal ini jelas, pertama-tama dari cara Alkitab mendeskripsikan kondisi natural kita. Jika kita, sebagaimana yang dikatakan Alkitab, sesuai natur kita adalah mati di dalam dosa, cemar, tidak tunduk terhadap hukum Allah, tidak mampu menerima hal-hal yang berasal dari Roh Allah, maka kita tidak dapat secara sadar memutuskan untuk mengubah diri kita menjadi kondisi yang bertentangan dengan natur kita tersebut. Kita harus diubah pada akar keberadaan kita, dengan cara yang supranatural. Dengan demikian perubahan ini haruslah, seperti yang dikatakan para psikolog, di bawah radar - akan tetapi merupakan suatu yang pasti menampakkan dirinya di dalam kehidupan sadar kita.
Lebih lanjut lagi, bahwa perubahan ini terjadi di bahwa kesadaran kita juga jelas di dalam istilah-istilah yang dipergunakan Alkitab untuk mendeskripsikan regenerasi: "Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru"; "jika dia tidak dilahirkan dari atas"; "yang lahir dari daging adalah daging, dan yang lahir dari Roh adalah roh"; "dihidupkan bersama dengan Kristus." Ungkapan-ungkapan seperti ini menunjukkan suatu transformasi yang begitu radikal sehingga pasti merupakan suatu perubahan pada akar keberadaan kita di bawah sadar. Karena itulah, di dalam regenerasi, dengan pengertian yang lebih sempit, kita tidak aktif, melainkan pasif.
Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus |
| Kode Referensi | : | AUA I-R05b |
Referensi AUA I-R05b diambil dari:
| Judul buku | : | Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen |
| Judul artikel | : | Kelahiran Baru |
| Pengarang | : | R.C. Sproul |
| Penerbit | : | Seminari Alkitab Asia Tenggara |
| Halaman | : | 227 -- 229 |
KELAHIRAN BARU
Pada waktu Jimmy Carter dipilih menjadi presiden Amerika Serikat, dia menyatakan bahwa dirinya adalah "orang Kristen yang telah lahir baru". Kemudian Charles Colson, orang penting di dalam pemerintahan Nixon di Gedung Putih, menulis buku yang laku keras, dengan judul "Born Again". Di dalamnya, dia menjelaskan secara kronologis pengalaman pertobatannya menjadi orang Kristen. Oleh karena kedua orang terkemuka ini telah mempopulerkan istilah dilahirkan baru, maka istilah ini telah menjadi bagian dari pembicaraan orang-orang modern.
Untuk menjelaskan bahwa seseorang adalah orang Kristen yang telah lahir kembali, secara teknis ini merupakan bentuk pengulangan. Sebab tidak ada orang Kristen yang tidak dilahirkan kembali. Orang Kristen yang belum lahir baru merupakan istilah yang kontradiksi. Demikian pula, istilah orang non Kristen yang dilahirkan baru merupakan suatu kontradiksi.
Tuhan Yesus yang pertama kali menyatakan bahwa kelahiran baru secara rohani merupakan sesuatu yang mutlak dibutuhkan untuk memasuki kerajaan Allah. Dia menyatakan kepada Nikodemus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika (dalam terjemahan New King James Version "unless" = "kecuali") seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3) Kata kecuali di dalam pengajaran Tuhan Yesus menandai universalitas kondisi yang dibutuhkan untuk melihat dan memasuki kerajaan Allah. Kelahiran baru, merupakan bagian yang penting di dalam kekristenan; tanpa hal itu, tidak mungkin seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Regenerasi merupakan istilah teologis yang digunakan untuk menjelaskan kelahiran baru. Hal itu menunjuk pada suatu permulaan yang baru. Hal ini lebih dari hanya sekedar "daun yang bersemi kembali setelah musim gugur dan musim dingin". Hal ini menandai suatu kehidupan yang baru di dalam diri seseorang yang secara radikal telah diperbaharui. Petrus berbicara kepada orang percaya: "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh Firman Allah, yang hidup dan yang kekal" (1Petrus 1:23).
Regenerasi merupakan pekerjaan Roh Kudus atas diri mereka yang secara rohani telah mati (lihat Efesus 2:1-10). Roh Kudus menciptakan kembali hati manusia, membangkitkannya dari kematian secara rohani kepada kehidupan secara rohani. Orang yang mengalami regenerasi adalah ciptaan yang baru. Dimana, pada mulanya mereka tidak memiliki posisi, kecenderungan, atau kerinduan untuk hal-hal yang berasal dari Allah, sekarang, mereka berpaling dan memiliki kecenderungan kepada Allah. Di dalam regenerasi, Allah menanamkan suatu kerinduan untuk Diri-Nya sendiri di dalam hati manusia yang tadinya tidak dimiliki oleh manusia.
Regenerasi tidak boleh disamakan dengan pengalaman pertobatan seseorang. Sama halnya dengan kelahiran merupakan permulaan kita, dimana kita memasuki suatu kehidupan di luar kandungan, demikian pula dengan kelahiran baru secara rohani merupakan titik awal dari kehidupan rohani kita. Hal ini terjadi atas dasar inisiatif dari Allah dan merupakan suatu tindakan yang berdaulat, langsung, terjadi secara instan. Suatu kesadaran dari pertobatan kita dapat terjadi secara bertahap, namun kelahiran baru itu sendiri terjadi secara instan. Tidak ada yang hanya sebagian dilahirkan baru sama halnya dengan tidak ada seorang perempuan yang hamil sebagian.
Regenerasi bukan merupakan buah dari iman, tetapi regenerasi mendahului iman, yaitu sebagai kondisi yang dibutuhkan oleh seseorang untuk beriman. Kita juga tidak berpaling pada regenerasi atau bekerja sama sebagai rekan kerja dengan Roh Kudus untuk menghasilkan regenerasi. Kita tidak memutuskan dan memilih untuk diregenerasikan. Allah memutuskan untuk meregenerasikan kita sebelum kita akan pernah memilih untuk menerima Dia. Secara pasti, setelah kita diregenerasikan oleh kedaulatan dari anugerah Allah, kita memang memilih, bertindak, bekerja sama, dan percaya pada Kristus. Allah tidak beriman untuk kita. Kita dibenarkan berdasarkan iman kita sendiri. Apa yang Allah lakukan adalah membangkitkan kita ke dalam kehidupan secara rohani, membebaskan kita dari kegelapan, keterikatan, dan dari kematian secara rohani. Allah memungkinkan kita mempunyai iman dan aktual bagi kita. Dia membangkitkan iman di dalam diri kita.
.
Ayat-Ayat Alkitab Untuk Bahan Refleksi:
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Filsafat Non-Kristen dan Kristen |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-R06a |
Referensi AUA I-R06a diambil dari:
| Judul buku | : | Iman, Rasio dan Kebenaran |
| Judul artikel | : | Keterbatasan Rasio |
| Pengarang | : | Stephen Tong |
| Penerbit | : | Institut Reformed, Jakarta, 1996 |
| Halaman | : | 37 -- 49 |
Natur Rasio
Apakah rasio mempunyai keterbatasan? Untuk ini manusia harus menyadari naturnya yang: dicipta, terbatas dan tercemar, 'created, limited and polluted'. Demikianlah kondisi dari rasio manusia. Rasio manusia tidak datang sendiri. Rasio itu dicipta oleh Allah. Rasio manusia juga terbatas di dalam fungsinya, seturut dengan keterbatasan manusia itu sendiri, sebagai ciptaan Allah. Dan karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, maka seluruh manusia rasionya juga telah tercemar.
Jika seseorang mengerti dan menyadari natur rasio seperti ini, maka bagaimanapun orang itu memperkembangkan rasionya semaksimal mungkin, ia tetap harus mengakui bahwa ia tetap hanyalah manusia yang terbatas. Ia juga akan mengerti dan menyadari bahwa pencemaran dosa juga sudah melingkupi aspek rasio juga. Manusia tidak mungkin dapat membuktikan keberadaan dan diri Allah secara tepat. Manusia hanya dapat menerima Allah yang mewahyukan diri di dalam alam.
Pencemaran dan kuasa dosa telah melanda sampai ke semua aspek manusia, baik sifat rasio, sifat hukum, sifat moral, juga sifat kekal dan keberadaan manusia. Tidak ada satu aspek pun yang tidak tercemar oleh dosa.
Bukankah para ilmuwan bukan Kristen dapat menemukan penemuan- penemuan ilmiah yang begitu baik dan cukup akurat, bahkan banyak ilmuwan Kristen yang lebih bodoh daripada mereka? Bukankah ini suatu bukti dan fakta bahwa orang bukan Kristen fungsi rasionya dapat lebih baik? Oleh karena itu, celakalah para pelajar Kristen yang tidak mau belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik. Apakah ini berarti rasio orang bukan Kristen tidak tercemar, atau mungkin juga rasio orang Kristen masih tercemar sehingga tidak berfungsi dengan baik?
Jikalau ilmuwan-ilmuwan bukan Kristen dapat menemukan penemuan- penemuan ilmiah, yang adalah ciptaan Allah, dengan sangat akurat, karena rasio mereka berfungsi begitu jemih dan begitu baik, mengapa semua itu tidak menjadikan mereka kembali mempermuliakan Allah, yang adalah Sumber serta asal dari semua ilmu pengetahuan? Hal ini disebabkan karena mereka bisa mengerti wahyu umum dan semua yang ajaib di dalam ciptaan ini tanpa bisa mengasosiasikan dengan Kebenaran sebagai sumber dari semua pengetahuan ini, akhirnya mereka tidak sanggup mengembalikan kemuliaan kepada Pencipta, dan mereka kemudian mempermuliakan diri sendiri.
Lingkup Rasio
Kita kini herlu memikirkan apa yang dipikirkan atau dikerjakan oleh rasio. Hal ini meliputi kategori-kategori penjelajahan fungsi rasio. Salah satu tujuannya, manusia diciptakan untuk berpikir. Oleh karena itu, kini kita mempersempit salah satu tujuan penciptaan ini, yaitu hanya di wilayah rasio.
Hampir tidak ada manusia yang tidak berpikir. Memang ada manusia yang tidak suka berpikir. Tetapi untuk dapat tidak berpikir, manusia harus berpikir bagaimana caranya menghindar dari tugas berpikir. Ketika manusia berpikir, pikiran rasio manusia paling sedikit dapat dibagi menjadi tiga kategori atau bidang pikiran yang besar, yaitu: (1) memikirkan hal - hal di bawah diri manusia, (2) memikirkan hal- hal di dalam diri manusia, dan (3) memikirkan hal- hal yang lebih jauh, lebih besar dan lebih tinggi daripada diri manusia.
Manusia memikirkan hal-hal yang berada di bawah diri manusia, di dalam diri manusia dan di atas diri manusia. Hal-hal yang berada di bawah diri manusia adalah alam semesta ini, yang di dalam diri manusia, adalah manusia itu sendiri, dan yang di atas diri manusia adalah Allah. Allah - manusia - alam merupakan urutan dari atas ke bawah di dalam kategori pengetahuan manusia. Urutan ini tidak boleh dibalikkan. Mengenal Allah adalah pengenalan sistem terbuka, mengenal alam adalah sistem tertutup. Itu alasan di dalam Kolose 3, Paulus berkata tentang bagaimana mempergunakan rasio dengan baik: "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." Jangan pikirkan hal-hal yang di dunia saja, tetapi pikirkan juga hal-hal surgawi.
Lingkup Rasio dan Alam
Pada saat seseorang berpikir ke bawah, ia mempergunjingkan masalah alam. Mungkin ia memikirkan bagaimana bunga bertumbuh. Kemudian menyelidiki jenis bunga itu, menganalisis dan mengkategorikannya. Maka ia menemukan suatu pelajaran yang berkaitan tentang tumbuh-tumbuhan. Jika menyelidiki kucing, harimau, gajah dll., maka saya menemukan satu bidang studi yang disebut sebagai Zoologi. Jika says menyelidiki lapisan-lapisan bumi, sifat-sifat tanah dsb., maka saya akan mengkategorikannya sebagai Geologi. Demikian juga proses-proses kimia dikategorikan di dalam Ilmu Kimia, dalil atau rumus-rumus alam diselidiki di dalam Ilmu Fisika, cara-cara perhitungan di dalam Matematika, dsb. Sistem-sistem pelajaran ini di dalam bahasa Yunani di akhiri dengan akhiran "logi" karena di setiap "logi" ini dituntut pertanggungjawaban rasionil yang disebut sebagai logika. Logika dipakai oleh logikos (manusia) dalam usaha untuk mengerti Logos. Logos adalah kuasa universal yang mengatur segala sesuatu dan merupakan esensi dasar segala sesuatu.
Semua usaha untuk menyelidiki segala sesuatu yang ada di bawah manusia disebut sebagai 'Sains science' atau ilmu pengetahuan. Istilah science berasal dari bahasa Latin: 'scio' yang berarti "Saya tahu". Apakah yang diketahui? Ketika seseorang mempelajari ilmu fisika, maka ia mengetahui fisika. Pengetahuan yang says ketahui tentang fisika, disebut sebagai ilmu fisika. Tetapi harap kita camkan, bahwa sebelum para ilmuwan menyelidiki ilmu apapun di dalam alam semesta ini, ia harus terlebih dahulu mempunyai satu set pra-anggapan yang didasarkan pada iman bahwa ia bisa tahu! Karena saya percaya saya bisa tabu, maka saya berusaha untuk mengetahui. Kemudian saya mulai menyelidiki dan pada akhirnya saya betul-betul tahu. Semua ini merupakan proses, mulai dari iman sampai pada pengetahuan.
Tidak ada satu penemuan apapun di dalam bidang ilmu yang tidak didasarkan pada pra-anggapan yang bersifat imaniah. Iman lebih penting dari pada rasio. Ketika seseorang menyelidiki sesuatu, ia yakin dan memiliki kepercayaan bahwa ia dapat mengetahui, sehingga dengan dorongan itu ia mulai menyelidiki. Semua penelitian dan pengujian ilmiah didasarkan pada suatu keyakinan yaitu iman. Maka, iman mendahului pengetahuan. Oleh karena itu, anggapan bahwa jika rasio bekerja maka iman tidak diperlukan, atau jika rasio yang menggarap sesuatu maka iman boleh dibunuh adalah tidak benar. Anggapan seperti ini sama sekali tidak benar, bahkan di dalam bidang ilmiah sekalipun.
Setiap orang yang melakukan studi, baik menggunakan metode induksi, deduksi atau metode lainnya, tanpa disadari ia telah jatuh kepada hakikat yang paling dasar, yaitu iman. Di dalam menyelidiki, seseorang menginginkan bukti. Tetapi sebelum bukti itu muncul, ia telah memulai dengan suatu pra-anggapan yang bersifat iman.
Alangkah naifnya orang yang mengatakan, "orang Kristen bodoh, semua harus pakai iman baru mendapatkan bukti. Kalau saya tidak punya bukti, saya pasti tidak mau beriman, karena saya orang rasionil." Kalimat itu omong kosong. "Buktikan baru saya percaya" merupakan kalimat yang sering kita dengar. Padahal kalimat itupun merupakan iman kepercayaan. Kalau terbukti baru dapat dipercaya adalah hal yang belum pernah dibuktikan, sehingga untuk meyakinkan perlunya bukti untuk dapat mempercayai sesuatu; itu merupakan iman.
Lingkup Rasio dan Manusia
Setelah jemu memikirkan hal-hal di bawah diri manusia, maka manusia biasanya mulai memikirkan di dalam dirinya sendiri. Mulai memikirkan bagaimana tubuh dapat bertumbuh dan menampilkan bermacam-macam postur yang berbeda. Di dalam tori ballet, gerakan tubuh mengungkapkan perasaan hati seseorang dan dapat menyentuh mereka yang melihatnya. Kemudian mulai memikirkan mengapa manusia makan nasi, tetapi tumbuh rambut, tumbuh alis, tumbuh kuku. Anehnya, rambut di kepala semakin lama semakin panjang, tetapi alis tidak. Apa jadinya jika terbalik? Lebih jauh Iagi, manusia mulai memikirkan bagaimana pikirannya dapat berpikir. Saya sedang memikirkan pikiran. Jadi saya sedang menggunakan pikiran untuk berpikir bagaimana pikiran saya itu berpikir. Maka yang berpikir adalah pikiran, sedangkan yang dipikirkan juga pikiran. Maka sampai pads tahap ini, tanpa disadari rasio sedang menghadapi jalan buntu, karena subyek dan obyek kini menjadi satu.
Ketika manusia menggunakan pikiran untuk mengetahui bagaimana pikiran itu berpikir, maka ia sedang masuk ke dalam siklus-diri- sendiri "self-eyclus". Siklus seperti ini tidak akan pernah berakhir. Dalam hal ini kita membuktikan bahwa rasio mempunyai keterbatasan.
Pada waktu seseorang memakai pikiran untuk memikirkan bagaimana pikiran itu berpikir, maka ia paling banyak hanya dapat menemukan syaraf-syaraf otak yang mana yang dipergunakan untuk berpikir. Tetapi kita tidak pernah akan mengerti bagaimana sel-sel itu memikirkan apa yang kita pikir. Tidak ada satu manusia pun yang dapat sampai pada pengertian terakhir itu, kecuali Pencipta pikiran itu sendiri. Seorang sastrawan Amerika Serikat, Ralph Waldo Emerson (1803-1882), mengatakan: "Ironic terbesar bagi mata adalah ia dapat melihat segala sesuatu, tetapi ia tidak dapat melihat diri sendiri." Bahkan mata kanan tidak dapat melihat mata kiri. Demikian pula ketika pikiran mau memikirkan segala sesuatu, ia sendiri mengalami kesulitan untuk memikirkan diri sendiri. Sebabnya adalah karena adanya limitasi. Rasio telah mengalami jalan buntu, tetapi ia tidak mau mengakuinya, bahkan ia mau melompat lebih jauh lagi.
Lingkup Rasio dan Allah
Rasio bukan hanya mau memikirkan hal-hal di dalam diri manusia atau rasio itu saja, bahkan manusia mau memikirkan hal-hal di atas diri manusia dan iasio itu sendiri. Ia mau memikirkan tentang Allah.
Manusia, dengan rasio yang dicipta, mau mengerti, mau menganalisis Allah pencipta rasio. Usaha ini merupakan suatu lelucon yang terlampau besar, merupakan keberanian yang terlampau nekad. Usaha ini adalah usaha yang mustahil. Tidak mungkin rasio memikirkan Allah yang mencipta rasio itu sendiri. Tetapi manusia yang bodoh tidak mengerti dan menganggap dapat mengerti Allah dengan rasio.
Saya tidak ingin mematahkan pengharapan manusia untuk mengerti Allah, tetapi manusia tidak mungkin mengerti Allah melalui rasio yang Allah cipta. Manusia hanya dapat mengerti Allah melalui inisiatif pewahyuan Allah kepada manusia.
Allah telah mewahyukan diri kepada manusia dan Allah telah menyatakan diri kepada rasio manusia, sehingga rasio manusia yang terbatas dicerahkan oleh cahaya wahyu dan kebenaran itu, sehingga ia dapat kembali kepada kebenaran.
Kesimpulan
Ketika saya memikirkan hal-hal di bawah saya, maka saya menjadi subyek dan alam yang di bawah menjadi obyek. Allah memang memberikan hak kepada manusia untuk boleh mengerti alam yang berada di bawahnya. Manusia memang dicipta lebih tinggi daripada alam. Itulah alasannya sehingga semua penemuan ilmiah adalah hal yang sewajarnya. Tidak ada hal yang dapat dimegahkan. Semua itu adalah usaha yang wajar saja. Dalam hal itu, manusia hanya mempergunakan rasio yang dicipta oleh Allah untuk menemukan kebenaran-kebenaran dan dalil-dalil yang disimpan oleh Allah di dalam alam. Ilmu adalah hal yang wajar dan merupakan hak bagi manusia yang berasio, karena manusia adalah peta dan teladan Allah. Sampai tahap ini, manusia mutlak dapat mengetahui ilmu di dalam alam.
Pengetahuan akan ilmu adalah pengetahuan yang rendah sifatnya, karena ilmu hanya merupakan sistem-sistem pengetahuan yang diungkapkan melalui rasio manusia yang merupakan anugerah Allah, untuk menemukan dalil-dalil ciptaan yang memang disembunyikan di dalam alam. Ini adalah kebenaran yang paling rendah. Pengetahuan alam merupakan tingkat yang paling rendah diantara tingkatan- tingkatan pengetahuan, karena tahap ini hanya menemukan sesuatu yang telah disimpan oleh Allah di dalam alam. Ilmuwan-ilmuwan tidak boleh sombong setelah menemukan keajaiban ciptaan. Mereka hanya boleh mempermuliakan Allah karena mereka boleh menemukan dalil- dalil yang tersembunyi itu. Penemuan ilmu hanyalah penemuan ciptaan di dalam alam, sehingga penemuan ilmu jauh berada di bawah teologi.
Istilah "menemukan" perlu ditegaskan, yaitu sebelum ditemukan, dalil itu sebenarnya telah ada. Sebelum Albert Einstein (1879- 1955) menemukan hukum relativitasnya, hukum itu sudah ada dan sudah berlaku di dalam alam. Setelah Einstein menemukan hukum ini, maka manusia baru mengetahui bahwa hukum ini dapat dipakai untuk meledakkan uranium menjadi tenaga yang besar sekali. Namun, bagaimanapun juga dalil ini telah ada di dalam alam, sehingga penemunya tidak berhak menjadi sombong di hadapan Tuhan Allah. Oleh karena itu, biarlah setiap ilmuwan mengembalikan kemuliaan kepada Allah.
Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Filsafat Non-Kristen dan Kristen |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-R06b |
Referensi AUA I-R06b diambil dari:
| Judul buku | : | Iman, Rasio dan Kebenaran |
| Judul artikel | : | Kebenaran |
| Pengarang | : | Stephen Tong |
| Penerbit | : | Institut Reformed, Jakarta, 1996 |
| Halaman | : | 60 -- 74 |
KEBENARAN
Pada waktu manusia belum kembali kepada kebenaran, ia selalu menganggap bahwa dirinyalah kebenaran itu. Akibatnya, semakin lama ia hidup di dunia, ia menjadi semakin kukuh dan semakin menganggap dirinya benar. Inilah kelemahan manusia. Kekakuan ini dapat berlanjut terus, sampai akhirnya ia memutuskan bahwa dirinya tidak dapat bersalah. Sampai tingkat ini, ia telah mempersamakan diri dengan Allah. Pada saat seperti itu, Tuhan akan tidak senang dan membiarkan ia mati saja. Maka orang itu mati. Orang muda tidak terlalu berani mengatakan dia yang benar, tetapi semakin tua ia akan semakin kaku juga, dan pads saat tua sekali ia mulai memutlakkan diri seperti orang tua sebelumnya, maka ia pun mati. Sehingga di dalam alam semesta tetap hanya ada Satu Allah yang memang mutlak dan kekal.
Manusia dapat terus memproses dirinya masuk ke dalam kekakuan, sehingga akhirnya ia tidak lagi mempunyai lubang keterbukaan terhadap keterbatasan rasio. Oleh karena itu, jangan sekali-kali memutlakkan rasio. Sebelum seseorang mengembalikan rasio kepada kebenaran, ia akan selalu menganggap dirinyalah kebenaran itu.
Kristus sebagai Kebenaran Asali
Setiap agama pasti mengaku memiliki kebenaran atau dirinya kebenaran. Dalam hal seperti ini setiap orang dituntut untuk sungguh-sungguh mempelajari di manakah kebenaran sejati itu berada.
Di dalam Alkitab, kita melihat bagaimana Kristus menjadi satu- satunya yang di dalam sejarah yang sah mengatakan bahwa diri-Nyalah kebenaran (Yoh 14:6). Andaikata Ia bukan kebenaran dan mengaku sebagai kebenaran, maka pasti akan ada kesenjangan yang besar di dalam hidup- Nya. Tindakan demikian akan menjadikan Kristus seorang pembohong atau pendusta yang terbesar di dalam alam semesta, karena penipuan seperti ini bukan sekadar penipuan untuk mengambil sedikit uang, atau sekadar memutar balik suatu kejadian, atau mempermainkan hukum, tetapi ini merupakan penipuan yang berskala dunia, karena mengaku sebagai kebenaran. Tetapi jikalau memang Kristus adalah kebenaran, maka manusia tidak boleh sembarangan memberikan penafsiran yang tidak benar terhadap proklamasi yang sangat agung ini.
Mengapa tidak ada seorang tokoh agama atau tokoh filsafat pun di sepanjang sejarah manusia, selain Kristus, yang boleh mengatakan: "Akulah Kebenaran"? Hanya ada dua kemungkinan: (1) Kristus memang pembohong, dan (2) memang Ia sungguh-sungguh kebenaran. Kalau memang Kristus pembohong, silakan buktikan apakah Dia pembohong terbesar, dan jika Ia memang adalah kebenaran itu sendiri, maka setiap orang wajib takluk kepada-Nya. Setiap manusia harus membagi- bagikan sekuat kemampuan rasio kits untuk membawa orang lain kembali kepada Kebenaran. Itu sebabnya, tugas orang Kristen berat dan sangat serius.
Berbagai macam Kebenaran
Ketika rasio kembali kepada kebenaran, ini disebut iman. Oleh karena itu, iman bukan sekedar mengatakan "saya percaya" lalu dibaptis dan menjadi anggota gereja. Iman adalah keseluruhan pribadi seseorang sebagai manusia dengan rasio yang kembali kepada kebenaran. Iman adalah penaklukkan kebebasan manusia kepada kedaulatan Allah. Maka iman merupakan tindakan secara keseluruhan.
Kebenaran harus menyangkut beberapa tingkatan:
Kebenaran Fakta
Yang 'ya', katakan 'ya' dan yang 'tidak', katakan 'tidak'. Itulah fakta. Kalimat seperti ini adalah kalimat dari Tuhan Yesus yang diri- Nya adalah Kebenaran itu. Pada tingkatan pertama, kebenaran harus sesuai dengan fakta. Mungkin fakta itu bersalah, tetapi ketika Saudara menyatakan fakta yang pada hakikatnya salah, sambil menunjukkan kesalahannya, maka Saudara sedang mengatakan kebenaran. Ketika Saudara menyaksikan kebenaran seorang anak yang membunuh ayahnya di hadapan pengadilan, maka Saudara sedang melakukan kebenaran. Tetapi bukan berarti pembunuhan itu adalah kebenaran. Faktanya yang adalah kebenaran. Inilah aspek pertama, yaitu: Kebenaran adalah fakta. Ini adalah aspek yang paling rendah.
Fakta hanya menyatakan kesungguhan keberadaan sesuatu atau peristiwa, tanpa memberikan penilaian fakta itu sendiri pada hakikatnya benar atau tidak benar. Peristiwa yang saya saksikan mungkin tidak cocok dengan prinsip kebenaran yang lebih tinggi. Penemuan-penemuan di dalam alam semesta, yang merumuskan begitu banyak dalil-dalil dan aksioma- aksioma di berbagai bidang studi, adalah fakta. Tetapi fakta bukanlah kebenaran menyeluruh, hanya menyatakan hal-hal yang "memang demikian". Tetapi istilah "memang demikian" tetap relatif.
Kebenaran Sejarah
Kebenaran ini juga disebut sebagai kebenaran yang bersifat fakta Sejarah. Indonesia merdeka pads tahun 1945. Ini adalah kebenaran, tetapi kebenaran ini berbeda dari kebenaran ilmu. Ketika kita mempelajari dan mengetahuinya, kita mendapatkan kebenaran. Peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi. Demikian pula jika kita mengetahui bahwa presiden Amerika Serikat, John Kennedy (1917-1963) dibunuh pads tahun 1963. Pada tahun 1986 presiden Filipina, Ferdinand Marcos (1917-1989) tumbang dari kedudukannya dan diusir keluar dari Filipina. Semua peristiwa ini pernah terjadi pads waktu yang disebutkan. Ini kebenaran. Tetapi banyak kebenaran yang benar-benar terjadi, pada hakikatnya tidak sesuai dengan kebenaran yang sejati. Sejarah terkadang merupakan catatan tentang kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi, di mana catatan itu sendiri tidak salah. Aspek Sejarah adalah "dengan tidak Salah mencatat hal-hal yang Salah."
Kebenaran Manusia
Kebenaran-kebenaran yang disebutkan di atas adalah kebenaran yang mati, bukan kebenaran yang hidup. Tetapi kini ada kebenaran yang berada di dalam diri manusia, yaitu kebenaran yang menyangkut kehidupan itu sendiri, kebenaran-kebenaran yang menyangkut kehormatan dan harkat manusia, hak asasi manusia, yang terjadi di dalam masyarakat. Jika kebenaran ini diganggu gugat, maka akan timbul akibat dan penyakit yang disebut sebagai penyakit jiwa, baik pribadi atau seluruh bangsa. Penyakit jiwa yang berakibat dan berpengaruh terhadap sekitarnya akan menghasilkan problema sosial, sehingga timbullah sosiologi. Sosiologi mempelajari terbentuknya masyarakat, munculnya kesuli tan-kesulitan dalam masyarakat dan bagaimana menyelesaikan semua kesulitan dan gejala yang tidak benar di dalam masyarakat. Ini adalah kebenaran juga.
Kebenaran Relasi
Kebenaran juga mencakup kebenaran di dalam relasi antar oknum. Hubungan atau relasi antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam, antara manusia dengan ilah-ilah atau setan- setan. Fakta adanya relasi, bagaimana cara berelasi dan seberapa jauh relasi itu mungkin terjadi, juga merupakan kebenaran yang harus dimengerti. Kebenaran sampai tingkat ini sudah melampaui wilayah fisika, tetapi tetap perlu dipelajari. Kebenaran seperti ini memang kebenaran yang perlu diketahui, tetapi tetap bukan Kebenaran yang tertinggi itu sendiri.
Kebenaran Pencipta
Kebenaran yang tertinggi adalah mengenal Pencipta. Kebenaran yang tertinggi pada hakikatnya adalah Tuhan Allah sendiri, yaitu Kebenaran itu sendiri. Kebenaran ada pada-Nya, karena Ia yang menciptakan segala sesuatu, Ia yang menentukan semua rumus dan dalil, yang telah disimpan di dalam alam semesta. Ia juga yang mengatur seluruh pergerakan alam semesta. Ia Penentu segala sesuatu. Jangan sekali-kali ada orang yang mencoba menurunkan Allah dari posisi-Nya sebagai Pencipta untuk dikurung di dalam dunia ciptaan yang dicipta oleh Dia sendiri. Itu adalah tindakan bunuh diri. Allah berada di luar semua dalil alamiah. Hidup ini sendiri sudah tidak dapat dikurung oleh hukum-hukum dan dalil- dalil yang kaku dan sempit.
Rasio dan Kesetiaan pada Kebenaran
Iman dalam bahasa Yunani: pistis dan dalam bahasa Latin: fide. Di dalam bahasa Inggris ada istilah: fidelity? Istilah ini merupakan perkembangan dari istilah fide atau Iman. Iman berarti setia kepada kebenaran. Inilah istilah yang paling singkat dan tepat untuk Iman.
Banyak kaum intelektual merasa kalau percaya kepada Yesus Kristus berarti membunuh rasio dan memusnahkan fungsi intelektual. Saya tidak meminta Saudara membunuh rasio dan menjadi percaya tahyul. Silakan rage, tetapi dengan hati nurani yang murni dan motivasi yang jujur ingin mencari kebenaran, bukan mau menegakkan kebenaran sendiri. Akhirnya Tuhan pasti akan memimpin Saudara. Dan ketika Saudara mengerti bagaimana penafsiran kebenaran yang sejati, Saudara mungkin menjadi setia. Ketika Saudara setia kepada kebenaran, berarti Saudara dapat beriman.
Tidak benar orang yang mengatakan jika seseorang mencapai pengetahuan yang tinggi sekali, ia tidak dapat beriman dan tidak dapat percaya Yesus Kristus. Mereka mungkin percaya kepada Yesus Kristus, asal kita dapat menjelaskan kebenaran sebenar mungkin, sehingga mereka mengetahui penafsiran yang benar. Itulah tugas kita sebagai orang Kristen. Setiap orang Kristen harus mampu menjelaskan iman kits sejelas dan sebenar mungkin, dan untuk itu kita perlu belajar banyak hal.
Martin Luther pernah mengatakan kalimat yang mengejutkan: "Rasio itu pelacur." Mengapa? Karena rasio selalu mencari alasan untuk mendukung apa yang telah ia tetapkan terlebih dahulu. Kalau seseorang sudah berniat berbuat dosa, lalu ia mencari berbagai macam alasan, sehingga jika ia ditanya ia dapat membela diri untuk menyatakan dirinya tidak bersalah. Dengan demikian ia sudah memperalat rasio untuk menaati ketidaksetiaan manusia yang tidak berarah. Oleh karena itu, rasio disebut sebagai pelacur. Jika isteri Saudara hari ini mengatakan kepada Saudara "Engkau suamiku", lalu esok mengatakan kepada orang lain "Engkau suamiku", lalu esoknya lagi berbicara dengan nada yang merdu kalimat yang sama kepada orang lain lagi, maka Saudara pasti akan benci sekali kepadanya. Itulah kemungkinan rasio Saudara: Kita perlu mempertahankan kesetiaan rasio kits di hadapan Tuhan, karena rasio kita adalah mempelai Tuhan yang adalah kebenaran. Kesetiaan ini disebut sebagai fide, yaitu: iman. Gereja adalah mempelai Kristus, pikiran adalah mempelai dari kebenaran Kristus. Biarlah pikiran kita dipenuhi oleh firman. Tuhan menciptakan otak dan Tuhan mewahyukan kebenaran, supaya otak yang dicipta tersebut dipimpin dan dipenuh oleh kebenaran yang diwahyukan.