KURSUS APOLOGETIKA UNTUK AWAM I [AUA I]
Bahan Referensi AUA I Berikut ini adalah daftar buku yang dipakai sebagai referensi untuk membantu peserta PESTA mendapatkan penjelasan-penjelasan yang lebih dalam dan luas tentang pokok-pokok materi yang dibahas dalam Kursus APOLOGETIKA UNTUK AWAM I. Karena tujuannya adalah untuk melengkapi, maka akan sangat baik jika Anda bisa mengusahakan memiliki buku-buku tsb. dalam bentuk cetaknya untuk kebutuhan di masa y.a.d..
---------------------------------------------------------------------- |
Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Dasar yang Kokoh |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P01 |
Doa
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan siap
sedialah pada segala sesuatu untuk memberi pertanggungan jawab
kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu
tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah
lembut dan hormat." (1 Pet. 3:15)
Kehidupan yang taat pada firman Tuhan adalah seperti rumah yang
dibangun di atas dasar yang teguh. Akhir dari khotbah Tuhan Yesus di
atas bukit berkata:
"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia
sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas
batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di
atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan
tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang
mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan
datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah
rumah itu dan hebatlah kerusakkannya." (Mat. 7:24-27)
Tuhan Yesus menunjuk pada suatu fakta yang nyata, yakni kekuatan
fondasi menentukan kemampuan rumah itu untuk dapat bertahan dari deras
dan kuatnya angin yang menerjang. Jika seseorang membangun rumahnya di
atas pasir, rumah itu akan runtuh; tetapi jika ia membangunnya di atas
batu yang kokoh, rumah itu akan tetap berdiri teguh, walaupun
diterjang angin badai yang dahsyat. Mempelajari pelajaran-pelajaran
ini seperti membangun sebuah rumah di mana kita akan tinggal tenang
ketika ada hujan dan angin dari orang-orang tak percaya yang menyerang
rumah tersebut karena kita yakin bahwa kita membangun dasar rumah kita
dari batu yang kokoh -- firman Kristus.
Sebelum meletakkan dasar, sebaiknya kita mengetahui rumah macam apa
yang akan kita bangun. Karena itu, mari kita mulai dengan memikirkan
dasar ini.
A. Rumah Apologetika
Istilah "apologetika" sering kali disalahmengerti karena biasanya
dipakai saat kita bersalah kepada seseorang dan kita merasa perlu
mendatangi orang tersebut untuk meminta maaf. Namun dalam
pelajaran-pelajaran berikut, istilah ini akan dipakai secara terbatas
untuk pengertian khusus.
Kata "apologetika" berasal dari bahasa Yunani "apologia". Kata ini
sering dipakai dalam literatur non-Kristen dan Kristen (Perjanjian
Baru). Contohnya, "The Apology of Socrates" adalah sebuah catatan
pembelaan Socrates yang disajikannya dalam sidang di Athena. Justin
Martyr, dalam "Apology"nya, berusaha memberikan pembelaan untuk
saudara-saudara seimannya dari tuduhan orang-orang tidak percaya.
Pada waktu Paulus berdiri di hadapan banyak orang di Yerusalem, ia
berkata, "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah apa yang
hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." (Kis. 22:1).
Berapologetika, dalam hal ini berarti memberikan pembelaan; jadi
"apologetika" adalah studi yang mempelajari bagaimana mengembangkan
dan menggunakan pembelaan itu secara langsung.
Apologetika memang merupakan suatu bidang yang mendapatkan perhatian
secara khusus dari berbagai agama dan filsafat. Tetapi dalam
pelajaran-pelajaran ini, perhatian kita hanya akan ditujukan pada
pembelaan kebenaran kristiani yang telah diwahyukan kepada manusia
melalui firman Tuhan dalam Alkitab. Apologetika semacam ini disebut
"apologetika Kristen", yakni pembelaan filsafat hidup Kristen terhadap
berbagai bentuk filsafat hidup non-Kristen (Cornelius Van Til,
Apologetics). Karena itu, kita tidak akan mempelajari apologetika
secara umum, namun hanya apologetika yang berkaitan dengan
kekristenan. Sesuai dengan analogi yang telah diberikan di atas, rumah
yang akan kita bangun dalam pelajaran-pelajaran berikut ini adalah
rumah apologetika Kristen.
B. Pengertian Apologetika Alkitabiah
Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai fondasi kokoh yang harus
mendasari setiap area kehidupan kita, fondasi kokoh itu adalah firman
Allah. Firman Allah adalah satu-satunya fondasi yang dapat memberikan
kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap berdiri teguh di tengah badai
dosa yang dahsyat dan menghancurkan. Alkitab Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru adalah firman Allah. Merupakan pengakuan umum semua
orang Kristen bahwa Alkitab adalah:
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
(2 Tim. 3:16, 17)
Alkitab adalah penuntun berotoritas yang mutlak bagi setiap orang
percaya; tanpa Alkitab, kita hanya akan menerka-nerka pikiran Allah,
tetapi dengan Alkitab, semua petunjuk dan pimpinan Allah dalam setiap
aspek kehidupan menjadi pasti dan jelas. Seperti pemazmur katakan:
"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Maz.
119:105)
Tidaklah cukup kalau hanya menyebutkan Alkitab sebagai fondasi untuk
berapologetika karena orang percaya yang tidak terlatih pun tahu bahwa
otoritas Alkitab merupakan hal yang terpenting dalam kebutuhan
pembelaan iman. Serangan terbesar dalam iman Kristen ditujukan kepada
Alkitab itu sendiri. Alkitab sering kali dituduh mengandung banyak
kesalahan dan hanya memunyai sedikit otoritas yang tidak berbeda
dengan tulisan literatur lainnya. Karena kita harus sering membela
keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, hubungan apologetika
dengan Alkitab kadang-kadang disalahmengerti. Sebagai firman Tuhan,
Alkitab adalah fondasi di mana kita membangun pembelaan kita dan juga
merupakan salah satu kepercayaan yang harus kita pertahankan. Dua
peran Alkitab ini yang kadang kita lupakan.
Ada orang-orang Kristen yang memiliki pandangan yang keliru mengenai
karakter Alkitab sebagai fondasi dan cenderung membangun pembelaan
mereka hanya di atas dasar hikmat dan kemampuan berpikir manusia.
Firman Tuhan ditempatkan sebagai atap dari bangunan yang didukung
oleh apologetika mereka. Kesulitan untuk mendukung firman Tuhan
dengan bangunan yang didasarkan pada hikmat manusia sebagai otoritas
yang tertinggi, sering kali menjadi terlampau berat.
Pembangun-pembangun rumah semacam itu mungkin akan menutup mata dan
mengatakan hal yang sebaliknya atau menyangkalinya, tetapi kehancuran
rumah tidak dapat dihindarkan, bagaikan rumah yang dibangun di atas
pasir.
Sebagai pengikut Kristus, kita harus selalu ingat untuk membangun
pembelaan iman Kristen kita di atas fondasi yang kuat, yaitu Alkitab.
Dengan demikian, tidak akan ada beban yang terlampau berat untuk
ditunjang dan tidak akan ada angin yang terlalu kencang untuk ditahan.
Apologetika harus membela Alkitab dengan ketaatan secara mutlak kepada
prinsip-prinsip pembelaan dan petunjuk yang diwahyukan oleh Alkitab
sendiri.
Peranan Alkitab sebagai penuntun dalam berapologetika dapat terlihat
dengan jelas dalam 1 Pet. 3:15:
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap
sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada
tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang
pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut
dan hormat.
Pada konteks sebelumnya, Petrus menulis tentang penderitaan yang harus
dihadapi orang-orang Kristen pada masa itu. Petrus tahu bahwa dalam
masa penderitaan, serangan-serangan dari dunia yang berdosa sering
kali dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang melayani Kristus dan
harus tetap percaya dan taat pada-Nya. Petrus berharap para pembaca
suratnya akan memberikan tanggapan yang tepat atas
pertanyaan-pertanyaan yang para penganiaya mereka mungkin akan
lontarkan. Karena itu, Petrus memberikan petunjuk untuk mempersiapkan
diri menghadapi penderitaan itu dengan memohon supaya mereka memunyai
sikap yang tepat terhadap Kristus.
Kita harus memerhatikan dengan saksama bagaimana Petrus menyusun
petunjuk dalam ayat-ayat berikut ini. Pertama, Petrus berkata,
"Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" dan kemudian ia
menambahkan, "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab ...." Sebelum pembelaan atau jawaban diberikan,
Kristus harus dikuduskan terlebih dulu sebagai Tuhan yang memerintah
dan mengatur setiap segi kehidupan kita.
Perhatikanlah bahwa kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam
hati kita. Ini tidak berarti hanya emosi saja yang harus didasarkan
pada Kristus, sementara pikiran kita bebas melakukan apa yang
dikehendakinya. Tidak juga berarti bahwa ke-Tuhanan Kristus harus
tinggal hanya dalam hati kita yang terdalam dan tidak pernah
memengaruhi jawaban-jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan dari
dunia. Firman Tuhan mengajarkan bahwa hati adalah pusat personalitas
kita, yang darinya "terpancar kehidupan" (Ams. 4:23). Hati tidak hanya
memerintah emosi, tetapi juga pikiran dan setiap aspek kehidupan
lainnya. Lebih dari itu, menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati
kita berarti ke-Tuhanan-Nya juga akan efektif dalam semua yang kita
ekspresikan, termasuk pembelaan iman kita. Karena itu, menurut Petrus,
penaklukkan terhadap otoritas Kristus merupakan hal yang sangat
penting dalam melakukan pembelaan yang benar dan tepat. Sebagai Tuhan,
Kristus akan memimpin pada saat kita melakukan pembelaan iman.
Pimpinan ini datang melalui firman-Nya, dan tanpa pimpinan-Nya, segala
sesuatu akan menjadi sia-sia.
Dalam pelajaran berikut, kita akan memerhatikan bagaimana membangun
pembelaan untuk iman Kristen yang didasarkan pada batu karang yang
teguh, yaitu Alkitab. Ada beragam buku yang mengajarkan bagaimana
membela kebenaran iman Kristen. Keanekaragaman ini sering kali
membingungkan orang Kristen. Namun di tengah kebingungan ini, ada satu
hal yang tetap jelas bagi kita, yaitu jangan mengadopsi cara
berapologetika hanya karena orang-orang terkenal menggunakannya, atau
karena ternyata banyak yang berhasil, atau karena memberikan kekuatan
kepada iman percaya kita. Jika kita rindu membangun pembelaan yang
akan selalu tegak berdiri dan tidak pernah goyah dan jatuh, kita harus
membangunnya di atas dasar firman Allah.
C. Kepentingan Apologetika
Mempelajari apologetika dan mengembangkan kemampuan berapologetika
secara benar adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Dari yang
tertua sampai yang termuda, terkaya sampai yang termiskin, terpandai
sampai yang sederhana, setiap orang yang telah percaya pada
keselamatan dalam Yesus Kristus bertanggung jawab untuk mempelajari
apologetika. Namun sering kali, maksud baik orang Kristen melaksanakan
tanggung jawab ini gagal secara serius.
Salah satu alasan yang biasa dikemukakan untuk mengabaikan apologetika
terletak pada kesalahmengertian dari apa yang Tuhan Yesus katakan
dalam Mat. 10:19: "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu
kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena
semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga."
Kesalahmengertian yang serius berkenaan dengan ayat ini, khususnya
jika kita membaca terjemahan dari King James: "... give no thought how
or what ye shall speak ...." ("... tidak perlu dipikirkan bagaimana
atau apa yang harus kita katakan ...."). Ayat tersebut sering kali
ditafsirkan bahwa kita harus bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus
saat membela iman kita. Karena itu, kita tidak perlu mempersiapkan
diri dengan mempelajari cara berapologetika.
Lebih jauh dikatakan bahwa orang yang mempelajari apologetika malah
menunjukkan bahwa ia kurang beriman dan hatinya tidak sungguh-sungguh
berserah pada Allah. Penafsiran seperti ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan sebab tidak memertimbangkan pengamatan secara
menyeluruh terhadap konteks dari ayat tersebut dan juga firman Tuhan
secara keseluruhan.
Perlu diperhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan "jangan pikirkan
tentang apa yang akan kamu katakan" seperti yang sering dimengerti
oleh pembaca terjemahan King James. Ayat ini sebenarnya berkenaan
dengan peringatan Tuhan Yesus supaya orang-orang percaya jangan cemas
dan kuatir. Pada ayat-ayat sebelumnya (Mat. 10:19), Tuhan Yesus
mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan diserahkan ke hadapan para
gubernur dan raja. Kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan
orang-orang penting seperti itu tentu merupakan pengalaman yang sangat
menggentarkan. Karena itu, Tuhan Yesus mendorong dan memberi semangat
kepada para murid-Nya untuk tidak cemas dan takut. Segala ketakutan
harus lenyap sebab mereka tidak akan sendiri. Tuhan Yesus mengatakan
bahwa Roh Kudus dari Allah akan memberikan kepada kita kekuatan dan
hikmat saat kita membutuhkannya. Seperti apa yang rasul Paulus
katakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang
membantu aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku
...." (2 Tim. 4:16, 17)
Sangatlah penting untuk dimengerti bahwa jaminan akan diberikannya
kekuatan dari Roh Kudus tidak boleh dipakai untuk mengganti ketekunan
dan kesetiaan dalam mempelajari dan mempersiapkan diri untuk
berapologetika. Contoh lain, meski kita dianjurkan untuk tidak kuatir
akan makanan dan pakaian (lihat Mat. 6:25, dst.), kita tetap diminta
berjerih payah bekerja untuk mendapatkannya. Demikian juga halnya
dengan berapologetika, kita harus memenuhi tanggung jawab kita untuk
mempersiapkan diri.
Petrus menulis bahwa kita harus "selalu bersiap sedia (sudah
mempersiapkan diri) untuk memberikan jawaban" (1 Pet. 3:15). Karena
itu, mereka yang mengabaikan hal ini berarti tidak taat secara mutlak
kepada ke-Tuhanan Kristus dan tidak bergantung pada Roh Kudus, sebab
ketaatan dan penyerahan yang sungguh-sungguh akan dinyatakan dengan
mempelajari apologetika secara serius.
Alasan lain yang sering dipakai untuk mengabaikan apologetika adalah
alasan bahwa pembelaan iman merupakan pekerjaan mereka yang terlatih
(seperti pendeta atau sarjana teologi), bukan tugas orang Kristen
awam. Dosen teologi dan pendeta diharapkan dapat memberikan jawaban
secara sistematis, sebab apologetika bersifat terlalu filosofis,
abstrak, dan tidak praktis bagi kaum awam. Oleh karena itu,
banyak orang Kristen yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah
mengabarkan Injil. Dan kalau ada pertanyaan mengenai kredibilitas iman
Kristen, mereka akan membawa orang itu kepada pendeta, yang dianggap
sebagai "tenaga ahli".
Memang benar bahwa dosen teologi dan pendeta memunyai tanggung jawab
yang lebih berat dalam berapologetika daripada kebanyakan kaum awam,
namun ini tidak berarti berapologetika adalah tanggung jawab pendeta
dan dosen saja. Setiap orang percaya bertanggung jawab untuk dapat
berapologetika. Ayat yang telah kita pelajari mengatakan bahwa tidak
ada pengecualian bagi orang Kristen dalam berapologetika (1 Pet.
3:15). Setiap orang harus siap untuk menderita bagi Kristus dan
memberikan jawaban serta pembelaan atas pengharapan mereka di dalam
Kristus.
Lebih dari itu, Paulus secara jelas menyatakan bahwa setiap orang
percaya harus menjadi pembela iman. Sebagai rasul, Paulus secara
khusus "dipilih untuk menjadi pembela Injil" (Flp. 1:16). Tetapi
Paulus mengerti bahwa pekerjaan berapologetika bukan hanya tanggung
jawabnya sendiri. Karena itu, ia berkata pada orang-orang Filipi:
"Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua,
sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut
mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik
pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan
meneguhkan Berita Injil." (Flp. 1:7)
Paulus dipenjara karena berkhotbah mengenai Injil, tetapi orang-orang
Kristen di Filipi tidak meninggalkannya. Mereka mengirimkan
pemberian-pemberian yang disampaikan oleh wakil gereja mereka.
Malahan, mereka sangat terlibat dengan pelayanan Paulus sehingga
mereka juga "mengalami hal yang sama" (Flp. 1:30) seperti Paulus.
Salah satu yang mereka alami dijelaskan sebagai "pembelaan dan
pengukuhan dari Injil" (Flp. 1:7). Orang-orang Filipi dihargai dan
dipuji karena mereka membela iman Kristen dengan serius. Demikian pula
setiap orang yang membela iman Kristennya akan dihargai dan dipuji
oleh Allah.
Kepentingan apologetika dapat dilihat dari berbagai segi lain.
Kemampuan untuk memertahankan kepercayaan kita akan membuat
penginjilan lebih efektif. Kita tidak perlu takut mengemukakan masalah
kekristenan di antara kawan-kawan dan tetangga kita bila kita mampu
memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kita tidak perlu
takut menghadapi orang tidak percaya dari kalangan intelektual bila
kita mampu memertahankan iman kepercayaan kita. Semangat penginjilan
akan bertambah dengan memelajari apologetika. Lebih dari itu, keraguan
orang yang mendengar Injil sering kali menjadi sirna setelah mendengar
jawaban yang benar atas pertanyaan dari keraguan mereka.
Selain itu, apologetika alkitabiah dapat menguatkan iman orang-orang
percaya. Banyak orang Kristen yang terkena wabah keragu-raguan.
Keraguan ini sering menjadi penyebab orang percaya kehilangan
kemampuannya melayani Kristus. Apologetika memampukan orang percaya
mengatasi berbagai macam pencobaan, seperti jatuh dalam
ketidaksetiaan yang mungkin akan dialami. Kemampuan ini juga akan
memungkinkan mereka kreatif dalam pelayanan.
Bagi orang Kristen yang belum pernah mengalami keraguan, mempelajari
apologetika secara sungguh-sungguh akan membuatnya semakin bertambah
yakin dan bersemangat untuk lebih taat menjadi anak Tuhan. Apologetika
adalah subjek yang sangat penting, yang seharusnya menjadi perhatian
semua orang percaya.
Dalam pelajaran yang berikut, kita akan membangun satu bata demi satu
bata dari rumah apologetika yang sangat penting ini. Rumah ini akan
dibangun secara kokoh atas dasar firman Tuhan. Satu pengharapan kami
adalah orang percaya akan diperlengkapi untuk lebih baik lagi melayani
Tuhan dan untuk membangun kerajaan-Nya dengan ketaatan pada-Nya. Serta
secara efektif dapat memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang.
-Akhir Pelajaran (AUA I-P01)--
Doa
Ya, Tuhan, Engkaulah dasar iman dan pengharapan kami. Ajarkan kepada
kami untuk memiliki sikap yang siap sedia memertanggungjawabkan
iman kami kepada mereka yang memintanya. Tapi terlebih dahulu,
berikan kami kekuatan untuk menguduskan Engkau dalam hati kami
sebagai Tuhan dan Juru Selamat supaya hidup kami sungguh
mememuliakan Engkau. Amin.
(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)
Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Permulaan dari Segalanya |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P02 |
Daftar Isi
Doa
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kej. 1:1)
Dalam pelajaran kedua ini, kita akan mengembangkan prinsip-prinsip dan
penerapan pembelaan iman Kristen berdasarkan kebenaran Alkitab sebagai
firman Tuhan. Sesuai dengan keyakinan ini, ada beberapa hal yang harus
dibahas. Pertama, kita akan memulainya dengan mempelajari konsep
penciptaan secara alkitabiah.
Allah dan Ciptaan-Nya
Alkitab menempatkan kebenaran bahwa Allah adalah Pencipta segala
sesuatu sebagai kalimat pembukaannya. Hal ini menyatakan betapa
pentingnya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh
karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa seluruh Alkitab
berisi penjelasan mengenai kebenaran yang satu ini, yakni Allah
sebagai Pencipta dan Tuhan.
Taman Eden merupakan penyataan (wahyu) dari keharmonisan Allah dengan
ciptaan-Nya. Dosa merupakan pemberontakan ciptaan melawan
Penciptanya. Keselamatan merupakan pembebasan dari dosa dan hak
ciptaan untuk dapat berdiri di hadapan Allah. Rasul Yohanes berbicara
mengenai sifat yang hakiki dari aktivitas penciptaan Allah sebagai
berikut: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada
suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yoh. 1:3)
Jika kita mengamati Kej. 1:1, kita dapat melihat bahwa aktivitas
penciptaan terdiri dari dua bagian. Di satu pihak, kita melihat
Seseorang yang menciptakan. Di pihak lain, kita melihat ciptaan yang
Ia ciptakan. Akibatnya, kita dapat melihat garis pemisah atau pembeda
antara Allah sebagai Pencipta dengan ciptaan-Nya. Kita akan menyebut
hal ini sebagai "perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan". Ini
merupakan konsep yang akan diselidiki lebih jauh dan merupakan
referensi yang akan selalu kita lihat kembali.
Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya ini tidak boleh kita lupakan
atau kesampingkan barang sedetik pun dalam usaha mengembangkan
apologetika alkitabiah.
Orang-orang Kristen pada zaman ini kadang masih berpikir bahwa Allah
hanyalah gambaran dari seorang kakek tua yang duduk di atas awan
sambil memerhatikan semua peristiwa menyedihkan yang terjadi di dunia
ini tanpa mampu berbuat apa-apa. Karena itu, Allah sering dilihat
sebagai Allah yang tidak berguna dan tidak penting bagi dunia ini,
kecuali jika manusia sendiri yang memiliki kerinduan dan kebutuhan
pribadi yang ingin dipenuhi oleh Allah.
Dalam pikiran kebanyakan orang, Allah tidak ada hubungannya dengan
proses yang terjadi di dunia. Mereka mengatakan bahwa "Allah
dibutuhkan hanya jika ada malapetaka atau masalah pribadi yang berat".
Lebih dari itu, Allah sendiri sering dimengerti sebagai Allah yang
bergantung pada ciptaan-Nya. Dia merindukan sesuatu terjadi di tengah
dunia ini, namun yang Ia dapatkan adalah sebaliknya, yang tidak Ia
duga, karena kepandaian tingkah manusia. Pikiran-pikiran demikian,
yang jauh dari gambaran firman Tuhan, juga tumbuh di gereja.
Allah bukanlah Allah yang tidak dapat berdiri sendiri atau seperti
"ayah yang hanya bisa duduk manis"; padahal Ia adalah Pencipta yang
Mahakuasa serta terus-menerus terlibat dan bertanggung jawab atas
ciptaan-Nya. Roma 11:36 berbicara mengenai hal ini:
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada
Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"
Pengamatan yang lebih teliti pada bagian firman Tuhan ini akan
menyatakan kedalaman dari pengetahuan tentang Allah. Pertama, Paulus
berkata bahwa semua ciptaan adalah "dari Dia". Ayat ini berarti Allah
menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan semua ciptaan tidak
terjadi dengan sendirinya. Kedua, Paulus mengatakan ciptaan diciptakan
"bagi Dia". Ini berarti ciptaan diciptakan untuk kemuliaan Allah dan
untuk menyenangkan Allah, bukan untuk manusia atau ciptaan lain.
Penciptaan adalah "melalui Dia". Di sini, Paulus tidak berbicara
mengenai awal atau akhir dari hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Ia
berbicara mengenai Allah sebagai Pencipta yang memelihara dan
menunjang keberadaan ciptaan-Nya setiap saat sampai akhir. Ciptaan
dapat terus melangsungkan keberadaannya oleh karena Allah.
Inti dari kebenaran ini adalah: Sebagaimana Allah berkuasa menciptakan
dari permulaan, Dia juga berkuasa memungkinkan atau mendukung ciptaan
ini untuk terus ada sampai sekarang. Demikian juga Allah tidak
diciptakan oleh ciptaan-Nya, Dia sekarang pun tidak didukung oleh
ciptaan-Nya dalam hal apa pun juga.
"dan (Allah) juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah
Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan
nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kis. 17:25)
Sangat jelas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun yang
harus atau dapat dipenuhi oleh ciptaan-Nya, karena pada kenyataannya
yang terjadi adalah sebaliknya, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
ciptaan dipenuhi oleh Allah. Allah adalah Allah yang tidak bergantung
atas apa pun atau siapa pun.
Jika kita mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak bergantung
pada apa pun (siapa pun), di lain pihak kita harus menegaskan
ketergantungan ciptaan pada Allah sebagai Pencipta. Kita tahu bahwa
ketergantungan anak pada orang tua akan semakin berkurang saat mereka
tumbuh menjadi dewasa. Bahkan bayi yang baru lahir pun, pada waktu
yang singkat masih dapat hidup tanpa orang tuanya. Tetapi tidak
demikian halnya dengan ketergantungan ciptaan kepada Allah. Ciptaan
tidak dapat memisahkan keberadaannya dari Allah atau tidak dapat
berdiri sendiri sedetik pun tanpa kuasa pemeliharaan Allah. Demikian
kata firman Tuhan:
"Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada
semua orang." (Kis. 17:25)
"Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada
di dalam Dia." (Kol. 1:17)
Allah mengatur, memenuhi kebutuhan, dan memelihara segala sesuatu
tanpa terkecuali. Dari yang terbesar sampai yang terkecil, setiap
aspek dari ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah untuk
kelangsungan keberadaannya.
Kita harus setuju dengan John Calvin, bahwa kepercayaan pada Allah
sebagai Pencipta harus disertai dengan kepercayaan bahwa Allah adalah
Pengontrol sejarah. Dunia tidak dapat berlangsung dengan kekuatannya
sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. Karena
itu, kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung
kepada Allah.
Kita dapat melihat dalam pelajaran yang berikutnya bahwa kesadaran
akan perbedaan antara Allah yang berdiri sendiri dengan ciptaan yang
bergantung pada Penciptanya merupakan hal yang membedakan antara
orang-orang Kristen dengan non-Kristen. Orang Kristen berusaha melihat
segala sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang bergantung pada sang
Pencipta, sedangkan orang non-Kristen mencoba untuk menyangkal
ketergantungannya dari sang Pencipta.
Penyangkalan yang sangat keras atas perbedaan Pencipta dan ciptaan
dari orang-orang tidak percaya akan dapat dilihat dari
ketidakpercayaan mereka pada keselamatan dalam Kristus. Mereka
menempatkan Allah dan ciptaan-Nya saling bergantung dan mengatakan
bahwa ciptaan bergantung pada Allah hanya dalam taraf tertentu saja.
Orang tidak percaya mengemukakannya dengan berbagai cara, tetapi pada
intinya adalah sama -- penyangkalan akan perbedaan antara Pencipta dan
ciptaan.
Sebagai orang Kristen, kita harus menekankan perbedaan antara Allah
(Pencipta) dan ciptaan-Nya. Kita juga tidak boleh melupakan bahwa
Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya kepada
manusia. Walaupun Allah telah mengadopsi berbagai cara untuk
menyatakan diri-Nya pada waktu yang berbeda, kita akan memerhatikan
dua cara yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya sepanjang waktu.
Secara luar biasa, Allah telah membangun seluruh jaga raya ini
sehingga setiap bagiannya menyatakan diri-Nya kepada manusia. Setiap
elemen dari dunia, tanpa kecuali, menyatakan Allah dan kehendak-Nya
kepada manusia.
"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan
malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam." (Maz. 19:1-2)
Ciptaan dengan segala keindahan dan kemegahannya menyatakan kemegahan
dan kualitas Allah dan tuntutan kebenaran yang Ia minta dari
manusia. Sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam Roma 1:20, 32:
"Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang
kekal dan Keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya
sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih ....
Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah,
yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut
dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka
juga setuju dengan mereka yang melakukannya."
Meskipun manusia, yang telah jatuh dalam dosa, menyangkalinya dan
orang-orang Kristen sering kali menemukan kesulitan untuk melihatnya,
Alkitab mengajarkan secara jelas bahwa Allah telah menyatakan
diri-Nya dalam setiap aspek ciptaan dan semua manusia, bahkan rupa
manusia sendiri menyatakan semua itu.
Penyataan Allah ini tidak dapat dihindari atau disangkali. Kita tidak
dapat mengetahui satu aspek dari ciptaan tanpa memikirkan
Penciptanya. "Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa
melihat kemuliaan-Nya." (Maz. 97:6)
Contohnya, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa sapi makan rumput.
Pengertian yang benar akan sapi dan rumput akan menyatakan kuasa
pemeliharaan Allah serta tanggung jawab manusia untuk menaklukkan
ciptaan yang lain bagi kemuliaan Allah (lihat Kej. 1:28). Jarak
terdekat antara bumi dan salah satu bintang akan dapat dimengerti
hanya dengan kesadaran terhadap penyataan Allah. Begitu besarnya jarak
tahun cahaya semata-mata merupakan pekerjaan tangan Allah dan
memerlihatkan kepada manusia akan kebutuhan mereka untuk merendahkan
diri di hadapan Allah dan bersyukur atas anugerah-Nya (lihat Maz.
8:1-5).
Sebagaimana ciptaan tidak dapat terpisah dari Allah, ciptaan tidak
dapat berdiam diri mengenai keberadaan Allah. Semakin seseorang
mengerti tentang fakta-fakta dari jagat raya ini, semakin kita
menyadari bahwa semua itu menyatakan Allah dan kehendak-Nya.
Dalam banyak hal, Allah selalu membarengi penyataan-Nya akan ciptaan
dengan penyataan-Nya secara khusus mengenai diri-Nya. Di taman Eden,
Allah berbicara dengan suara-Nya kepada Adam mengenai pohon
pengetahuan yang baik dan jahat. Kepada para patriakh (Abraham, Musa,
dll.), Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi-mimpi dan
penglihatan-penglihatan. Kepada Musa, Allah berbicara di semak duri
yang menyala dan di atas kitab batu. Kepada para rasul, Ia berbicara
melalui kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus, Putra-Nya. Pada masa
kini, Allah berbicara melalui Alkitab sebagai firman Tuhan yang telah
diinspirasikan oleh Roh Kudus.
Penggunaan beberapa aspek tertentu dari ciptaan untuk menyatakan
wahyu dimaksudkan untuk menambahkan kualitas pewahyuan dari ciptaan
yang lain. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, ketaatan manusia diuji
dengan wahyu khusus. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa,
penyataan secara khusus memunyai dua maksud, yakni untuk
memerlihatkan jalan keselamatan melalui Kristus dan untuk menolong
manusia mengerti lebih baik tentang penyataan akan Allah dan
kehendak-Nya dalam aspek-aspek ciptaan lain.
Dosa telah menempatkan manusia di bawah penghakiman dan membutakan
kesadaran manusia terhadap penyataan Allah melalui semua ciptaan.
Akibatnya, firman Allah berfungsi sebagai alat di mana melaluinya
manusia mengerti akan dirinya sendiri, dunia, dan Allah.
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
(2 Tim. 3:16, 17)
Penyataan (wahyu) Allah melalui firman Tuhan diberikan kepada kita
untuk memimpin kita kepada pengetahuan yang benar. Penyataan Allah
melalui semua ciptaan dan firman Tuhan tidak menghapuskan kepastian
perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Sebagaimana kita ketahui, semua
bentuk penyataan Allah pada manusia justru menunjukkan perbedaan atau
pemisahan yang harus diakui oleh manusia.
Ketergantungan Manusia kepada Allah
Pemazmur mengingat kedudukan kita sebagai manusia dengan perkataan
ini:
"Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah: Dialah vang menjadikan kita dan
punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." (Maz.
100:3)
Manusia tidak lebih dan tidak kurang dalam hal ketergantungannya pada
Allah dibandingkan ciptaan Allah yang lain; keduanya
adalah ciptaan Allah yang perlu Ia dukung. Manusia
merupakan mahkota dari aktivitas penciptaan Allah, tetapi ia tetap
merupakan makhluk ciptaan dan akan kembali kepada debu nantinya (Kej.
2:7).
"Di dalam Dia kita hidup dan bergerak." (Kis. 17:28). Karena itu, bila
terpisah dari Allah, kita bukanlah apa-apa. Segala sesuatu yang
dimiliki manusia merupakan pemberian Allah. Layaknya ciptaan lain,
bila Allah lepas tangan atas kita, kita akan berhenti dari keberadaan
kita karena kita ada semata-mata hanya karena kehendak-Nya.
Ketergantungan manusia secara mutlak pada Allah memunyai banyak
implikasi, namun ada dua aspek dari kebutuhan kita akan Allah yang
secara khusus penting untuk pekerjaan apologetika selanjutnya.
Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan memengaruhi pandangan iman
Kristen akan kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri, dunia
di sekelilingnya, dan Allah. Dalam pelajaran berikut ini, kita akan
memerhatikan diri kita sendiri dalam hal pengetahuan, khususnya
setelah dicemari oleh dosa.
Jika manusia secara mutlak bergantung pada Allah, maka demikian juga
dalam hal pengetahuan. Pengetahuan Allah akan diri-Nya dan ciptaan
adalah berdiri sendiri, namun pengetahuan manusia tidak. Pemazmur
mengatakan:
"Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat
terang." (Maz. 36:10)
Lepas dari pengetahuan Allah melalui penyataan-Nya dalam ciptaan dan
firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengerti pengetahuan apa pun.
Allah mengetahui segala sesuatu, karena itu kita bergantung pada
pengetahuan-Nya untuk dapat mengetahui sesuatu. Setiap pengertian yang
benar yang telah manusia dapatkan, baik secara sadar atau tidak sadar,
semua itu didapatkan dari Allah. Hal ini berlaku bagi manusia pertama
dan semua orang sampai sekarang. Tuhan Yesus sendiri mengakuinya:
"Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh.
14:6)
Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan:
"sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan
pengetahuan." (Kol. 2:3)
Segala sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai kebenaran, termasuk
kebenaran yang tidak secara langsung berkenaan dengan agama atau
kerohanian, bersumber dari Allah. Manusia hanya dapat mengetahuinya
apabila manusia datang kepada penyataan Allah akan diri-Nya sebagai
sumber kebenaran. Oleh karena Allahlah yang mengajarkan kepada
manusia akan segala pengetahuan (Maz. 94:10).
Kita akan melihat kemudian bahwa ketergantungan manusia pada Allah
dalam ruang lingkup pengetahuan tidaklah berarti bahwa manusia tidak
memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengasah pikirannya. Juga tidak
berarti bahwa manusia diprogram oleh Allah seperti halnya sebuah
komputer dalam memproses pengumpulan data sehingga komputer mengetahui
sesuatu. Manusia memang memunyai kemampuan untuk dapat berpikir, namun
pengetahuan yang benar bergantung pada pengetahuan dari Allah yang
telah dinyatakan pada manusia.
Sebagaimana halnya manusia harus bergantung pada Allah untuk
pengetahuan secara umum, demikian juga halnya dengan petunjuk dalam
moralitas. Pada saat nilai-nilai dan tujuan-tujuan tradisi
dipertanyakan, kita dipaksa untuk memikirkan bagaimana manusia dapat
membedakan antara yang benar dan yang salah, atau yang baik dan yang
jahat.
Salah satu cara untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan
kita harus sekali lagi kembali pada pengakuan akan perbedaan antara
Pencipta dengan ciptaan. Sebagai Pencipta, sejak semula Allah adalah
Pemberi hukum yang berdiri di atas hukum-Nya dan yang mengharapkan
ketaatan dari makhluk ciptaan-Nya.
Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Ia menyatakan diri-Nya
sebagai satu-satunya Hakim yang benar yang dapat membedakan antara
yang baik dan yang jahat. Dia juga mengaplikasikan hak itu bagi diri-
Nya sendiri sampai sekarang. Kepada Adam dan Hawa, Ia berkata, "tetapi
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah
kaumakan buahnya ...." (Kej. 2:17). Kepada Musa, Ia menyatakan, "Aku
adalah Tuhan Allahmu ... dan jangan ada allah lain di hadapan-Ku."
(Kel. 20:2, 3). Mengenai Yesus, Allah mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang
Kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia." (Mat. 17:5)
Tidak akan pernah ada sidang pengadilan yang dapat menghakimi Allah;
karena Ia adalah Hakim yang tertinggi. Oleh karena itu, penyataan-Nya
mengenai moralitas berlaku bagi semua orang, dan apabila kita ingin
mengetahui mengenai hal yang baik dan yang jahat, kita harus ingat
akan ketergantungan kita pada Allah.
-Akhir Pelajaran (AUA I-P02)--
Doa
Ya, Tuhan, beri kami ketetapan hati untuk mengakui Engkau sebagai
Pencipta langit dan bumi, yang terus-menerus terlibat dan
bertanggung jawab atas ciptaan-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu
menyadari akan kedaulatan-Mu supaya kami memiliki hati yang
bijaksana. Biarlah hidup kami boleh berpusat pada Engkau, melalui
Engkau, dan bagi Engkau. Amin.
(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)
Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P03 |
Daftar Isi
Doa
"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka." (Kej. 1:27)
Pengertian apologetika alkitabiah terletak pada pandangan yang tepat
akan kebenaran mengenai karakter manusia. "Kenalilah dirimu sendiri"
merupakan semboyan yang sangat populer di kalangan para pemikir sejak
awal permulaan sejarah filsafat. Pengetahuan tentang diri sendiri akan
melengkapi manusia untuk dapat melaksanakan berbagai macam tugas di
dunia ini dengan lebih baik.
Alkitab melihat sejarah dunia dan manusia dalam tiga tahap --
penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Manusia diciptakan, lalu jatuh
dalam kutuk dosa, kemudian ditebus dengan kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus. Sejajar dengan tiga macam perspektif ini, kita akan
mengamati karakteristik manusia dalam tiga kategori. Dalam pelajaran
ketiga ini, kita akan mengamati manusia sebelum kejatuhan. Dan dalam
dua pelajaran berikutnya, kita akan mempelajari manusia yang telah
jatuh dalam dosa dan manusia yang telah ditebus.
Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah merupakan
karakteristik penting yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain
(Kej. 1:27). Fakta ini memunyai banyak sekali implikasi yang dapat
kita pelajari. Kita harus membatasi diri kita sendiri dalam hal ini
dengan hanya mempelajari sebagian dari makna manusia diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah.
Dari luar, manusia seperti Allah dalam hal kemampuan dan
karakteristiknya secara fisik. Dari dalam, manusia dapat berpikir dan
mengembangkan pemikirannya di mana dalam hal ini hanya manusia yang
dapat melakukannya. Keunikan lain yang dimiliki manusia sebagai
makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah jiwa yang
bersifat kekal (Kej. 2:7). Lebih dari itu, manusia sebagaimana
Penciptanya, telah dijadikan penguasa atas bumi ini. Sebagai wakil
Allah, ia menggali dan mengolah kekayaan ciptaan Allah untuk digunakan
sebagai pelayanan bagi Allah (Kej. 1:27-31).
Karakteristik ini berlaku dalam batas-batas tertentu bagi semua
manusia dalam dunia ini. Karena sebelum jatuh dalam dosa, manusia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara khusus. Dan manusia
yang diciptakan Allah ini adalah sempurna.
"... Allah telah menjadikan manusia yang jujur." (Pengkh. 7:29)
Sebelum kejatuhannya dalam dosa, manusia merupakan gambar dan rupa
Allah yang tanpa dosa. Di taman Eden, Adam dan Hawa hidup secara
harmonis dengan Allah. Mereka berjalan di hadapan Allah tanpa malu.
Paulus menjelaskan tahap ini sebagai:
"... pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kol. 3:10)
Di bagian lain, Paulus mengatakan bahwa apabila seseorang
diperbaharui menurut karakter Adam yang semula, maka ia telah:
"... diciptakan ... di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya." (Ef. 4:24)
Dari bagian firman Tuhan ini, ada dua kualitas penting dari manusia
sebelum jatuh dalam dosa yang dapat kita lihat. Pertama, dia memunyai
"pengetahuan yang benar" (Kol. 3:10). Dengan kata lain, Adam dan Hawa
tidak pernah melupakan perbedaan Pencipta dan ciptaan dalam hubungan
dengan pengetahuan mereka. Mereka bergantung pada penyataan Allah akan
diri-Nya sendiri sebagai sumber dari kebenaran mereka, dan mereka
menyamakan semua pemikiran mereka dengan standar dari kebenaran yang
Allah nyatakan. Oleh karena itu, Adam dapat diberi tugas yang sukar,
yakni untuk memelihara taman dan menamai setiap binatang di bumi. Dia
secara sadar tahu akan kebutuhannya untuk mendengarkan Allah dalam
setiap keadaan apabila ia menghendaki pengetahuan yang benar. Sebelum
kejatuhan dalam dosa, pengetahuan manusia akan kebenaran dibarengi
dengan karakter moralitasnya, di mana Adam memiliki "pengetahuan yang
benar dan suci". Adam mengerti bahwa karena sifat dari Pencipta-Nya,
maka ia harus mempelajari apa yang sepatutnya dan yang tidak
sepatutnya dari Allah.
Oleh karena bersandar pada pengetahuan Allah, Adam dan Hawa taat
secara sempurna pada semua perintah Allah dan hidup secara damai
dengan-Nya sebelum jatuh dalam dosa. Sebelum jatuh dalam dosa, dalam
segala keadaan, manusia mengetahui kebenaran dan hidup sesuai dengan
kebenaran itu.
Tanpa Dosa dan Fana
Meskipun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang
sempurna sebelum kejatuhan, namun manusia adalah manusia yang fana dan
terbatas. Allah adalah Allah yang Mahaada (1 Raj. 8:27; Yes. 66:1),
namun manusia terbatas oleh fisiknya dalam keberadaan yang terbatas.
Allah adalah Allah yang Mahakuasa (Maz. 115:3); tidak ada yang dapat
mengatasi atau melampaui kuasa-Nya. Oleh karena itu, sehebat-hebatnya
teknologi mutakhir yang telah dicapai untuk menunjukkan kehebatan
manusia, tetap tidak dapat menandingi kemahakuasaan Allah. Di hadapan
Allah, manusia tetap jauh lebih lemah dan terbatas.
Demikian juga halnya dengan keterbatasan pengetahuan manusia
dibandingkan dengan pengetahuan Allah yang lengkap dan sempurna (Ay.
37:15; Maz. 139:12; Ams. 15:3; Yer. 23:23-24). Sebagaimana penulis
surat Ibrani mengatakan:
"Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya,
sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia dan
kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibr. 4:13)
Bahkan Adam akan setuju dengan Yesaya yang mengatakan:
"Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku
dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yes. 55:9)
Tentu saja dibandingkan dengan pengetahuan Allah, pikiran manusia
"hanyalah seumpama napas" (Maz. 94:11). Demikianlah manusia terbatas
dalam pengertiannya oleh apa yang Allah nyatakan dan harus puas dengan
pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak sempurna.
"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-
hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai
selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat
ini." (Ul. 29:29)
Pengertian mengenai keterbatasan pengetahuan manusia membawa kita
kepada hal yang penting dalam diskusi yang berikutnya. Walaupun Adam
tidak mengetahui segala sesuatu, dia tetap memiliki pengetahuan yang
benar (Kol. 3:10). Pengertian manusia akan segala sesuatu yang ia
ketahui dibatasi oleh perspektifnya akan waktu dan
perubahan-perubahan yang terjadi dalam hal-hal yang ia ketahui.
Keterbatasan-keterbatasan ini merupakan bagian dari sifat penciptaan
manusia.
Namun, kita harus ingat bahwa sebelum jatuh dalam dosa, pengetahuan
Adam miliki berasal dari Allah dalam ketergantungannya pada penyataan
Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu Adam ketahui, diketahuinya
dengan benar sebab ia datang pada sumber kebenaran untuk memerolehnya,
yaitu Allah. Sangat nyata bahwa keterbatasan manusia tidak membuat ia
tidak mampu untuk mengetahui kebenaran. Sepanjang pengetahuan yang
manusia dapatkan itu berasal dari Allah, pengetahuan itu pasti benar.
Oleh karena keterbatasannya, Adam harus menghadapi misteri dalam
kehidupannya, "hal-hal yang tersembunyi" (Ul. 29:29) yang ia tidak
dapat ketahui. Dari fakta ini, kita dapat melihat bahwa manusia yang
sempurna pun tidak mampu untuk menyusun atau menyimpulkan setiap aspek
dari pengetahuan yang didapatnya ke dalam suatu gambaran lengkap yang
baik dan sempurna; selalu ada titik buntu dalam pemikirannya, yaitu
paradoks-paradoks dan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan
oleh akal pikiran manusia. Namun sebagaimana besarnya misteri ini,
pengetahuan manusia dalam tahap ini tetap dapat diperhitungkan serta
dipertanggungjawabkan kepastian dan kebenarannya.
Kepastian dan keyakinan Adam terletak pada penyataan Allah, tidak pada
kemampuannya untuk mengetahui yang terpisah dari pengetahuan Allah.
Pengetahuan Allah yang sempurna dalam segala sesuatu mengabsahkan
pengetahuan manusia yang terbatas sepanjang manusia bergantung pada
Allah. Mari kita lihat contoh dari suatu misteri yang kita hadapi atau
temui pada zaman ini.
Inkarnasi dari Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus, merupakan suatu
hal yang penuh dengan misteri. Kita mengakui bahwa Ia adalah 100%
Allah dan juga 100% manusia. Kita dapat mengerti kesejatian dari
ke-Tuhanan-Nya dan kesejatian dari kemanusiaan-Nya sampai pada taraf
tertentu, namun jika kita mencoba untuk menyelidiki lebih lanjut
implikasi dari pengajaran ini, kita akan terbentur pada batas
kemampuan kita dalam memahami hal tersebut. Misalnya, dapatkah kita
menjelaskan bagaimana Yesus "bertambah dalam hikmat-Nya" (Luk. 2:52)
apabila Ia adalah Allah yang Mahatahu? Apakah kita dapat menjelaskan
bagaimana Yesus yang adalah Allah dapat mati di atas kayu salib? Kita
dapat berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan ini, namun orang yang
jujur segera akan menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini, juga
pertanyaan-pertanyaan lain yang semacamnya, adalah di luar batas
kemampuan manusia untuk mengerti.
Meski kita tidak dapat menyelami semua konsep ini, namun kita dapat
yakin bahwa Yesus adalah 100% Allah dan juga 100% manusia, dan bahwa
Ia bertambah dalam hikmat dan kemudian Ia mati. Keyakinan ini bukan
bergantung pada ketidakmampuan kita untuk mengerti secara tuntas,
melainkan karena kita percaya pada penyataan Allah.
Semakin kita mengerti akan kebenaran kristiani, kita akan menemukan
bahwa di akhir setiap pengajaran dari firman Tuhan, terlihat fakta
ketidakmampuan manusia untuk menyelami secara tuntas konsep-konsep
dalam hubungannya dengan konsep-konsep kebenaran yang lain. Ada banyak
hal-hal yang kelihatannya berlawanan satu dengan yang lain dalam
kebenaran kristiani, namun hal ini seharusnya tidak boleh menyebabkan
kita meragukan pengajaran Alkitab. Ada dua alasan mengapa kita tidak
boleh meragukan pengajaran Alkitab.
Pertama, hal itu seharusnya membuat kita sadar akan keterbatasan diri
kita. Manusia harus menyadari keberadaan mereka sebagai makhluk
ciptaan dan bersama Paulus menyatakan kalimat berikut ini:
"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak
terselami jalan-jalan-Nya!" (Rom. 11:33)
Kedua, Alkitab tidak seharusnya diragukan pada saat kita tidak dapat
mencocokkan kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lain. Penyataan
Alkitab merupakan pemikiran Allah di mana bagi-Nya tidak ada satu hal
pun yang bersifat misteri. Allah dapat menuntaskan konsep-konsep yang
paling sukar, yang tidak dapat dituntaskan oleh pikiran manusia. Tidak
ada satu hal pun yang merupakan misteri bagi Allah; Ia mengetahui
segala sesuatu dengan sempurna. Namun, misteri merupakan keterbatasan
dari makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sepanjang kita bergantung
kepada-Nya dalam pengetahuan kita, misteri yang paling besar pun tidak
akan menghalangi kita dari kebenaran.
Logika, Allah, dan Manusia
Suatu hal yang terus-menerus timbul dalam suatu diskusi dan yang
memengaruhi apologetika alkitabiah adalah peranan logika dalam
hubungan antara Allah dan manusia. Dalam pelajaran ini, kita akan
membatasi pada sebagian kecil dari pertanyaan-pertanyaan yang ada.
Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan
pikirannya, hal ini mencerminkan hikmat Allah dan juga yang
membedakannya dengan binatang (2 Pet. 2:12, Yud. 10). Kita telah
mempelajari bahwa di taman Eden, Adam telah menggunakan akal budinya
dalam ketergantungan-Nya pada Allah. Dia membangun pola berpikir yang
sesuai dengan petunjuk Allah. Adam pasti menggunakan logika meskipun
dalam bentuk yang sederhana, dan ia menggunakannya dalam ketaatannya
pada Allah. Ia tidak pernah mengabaikan ketergantungannya pada Allah
dengan berpikir bahwa logikanya mampu memberikan penjelasan dan
pengetahuan secara terpisah dari Allah. Akibatnya, dalam menggunakan
kemampuannya, Adam menggunakan akal budi yang selalu tunduk pada
keterbatasan dan pimpinan penyataan Allah. Allah selalu dilihat
sebagai dasar dari kebenaran dan sumber dari kebenaran, karena
keadaan Adam pada saat itu adalah sebagai manusia yang diciptakan
menurut gambar Allah dan tanpa dosa.
Dari peran akal budi yang berdasarkan logika, yang dimiliki manusia
sebelum dosa masuk ke dalam dunia, maka ada beberapa pengamatan yang
dapat kita lakukan. Pertama, menggunakan akal budi dan mengembangkan
pikiran itu bukanlah sesuatu yang salah dan jahat. Kekristenan telah
mendapat berbagai macam serangan dari mereka yang mengklaim bahwa
segala sesuatu harus "masuk akal" dan "ilmiah".
Beberapa orang Kristen berpikir bahwa perlindungan satu-satunya adalah
dengan cara menolak ilmu pengetahuan dan pemakaian akal budi serta
menganggap kedua hal itu sebagai sesuatu yang jahat dan saling
bertentangan. Penggunaan akal budi bukan merupakan sesuatu yang jahat
sebab di dalam taman Eden, Adam juga menggunakan akal budi dan
mengembangkan pikirannya. Adamlah yang menamai binatang-binatang dan
yang memelihara taman. Ia tidak menghilangkan logikanya dalam
melaksanakan kehidupannya sehari-hari.
Yang perlu diperhatikan adalah bila manusia memakai akal budi dan
mengembangkan pikirannya secara berdiri sendiri atau terlepas dari
Allah, hal ini akan memimpinnya kepada ketidakbenaran dan kesalahan.
Tetapi apabila kedua hal itu dipergunakan dalam ketergantungan pada
penyataan Allah, kebenaran akan ditemukan. Menggunakan akal budi dan
mengembangkan pikiran itu sendiri tidaklah berlawanan dengan iman atau
kebenaran.
Kedua, logika tidaklah berada di atas fakta perbedaan antara Pencipta
dengan ciptaan. Saat kita berbicara tentang manusia dalam menggunakan
akal budinya, kita harus ingat bahwa logika hanya merupakan refleksi
dari hikmat dan pengetahuan Allah. Meskipun dalam firman Tuhan, Allah
merendahkan diri dan menyatakan diri-Nya dengan istilah yang sesuai
dengan daya pikir, logika manusia, namun itu tidak berarti logika
manusia berada di atas atau sejajar dengan Allah dan juga tidak
merupakan bagian dari keberadaan Allah.
Logika dalam bentuk-bentuk yang paling kompleks dan tajam tetap
berada dalam ruang lingkup ciptaan dan kualitasnya sesuai dengan
kualitas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan
dengan kualitas yang sama seperti Allah.
Oleh karena logika merupakan bagian dari ciptaan, maka logika memiliki
keterbatasan. Pertama terlihat dari logika sebagai sistem yang selalu
dalam proses berubah dan berkembang. Bahkan, ada beberapa sistem
logika yang dalam titik tertentu, berlawanan satu sama lain. Tidak ada
definisi dari "kontradiksi" yang diakui secara universal. Meskipun
semua manusia dapat saja sepakat dalam satu sistem untuk mengembangkan
suatu pemikiran, logika manusia tidak dapat dipergunakan sebagai hakim
untuk menentukan kebenaran dan ketidakbenaran.
Kekristenan, pada hal-hal tertentu, dapat dikatakan masuk akal dan
logis, namun logika menemui batas kemampuan pada saat diperhadapkan
dengan hal-hal seperti inkarnasi dari Kristus dan doktrin Tritunggal.
Logika bukanlah Allah dan tidak boleh diberikan penghormatan.
Penghormatan hanya boleh diberikan kepada Allah saja. Kebenaran hanya
ditemukan pada penghakiman Allah, bukan pada pengadilan logika.
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk menghindari dua sisi
ekstrim yang biasanya diambil dalam hubungannya dengan penggunaan akal
budi dan logika. Di satu pihak, ada manusia yang menolak menggunakan
akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain pihak, ada manusia
yang memberikan logika sejumlah ruang untuk berdiri sendiri dan
terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai dengan
karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan sebagai makhluk
yang dapat berpikir dan mengembangkan pikirannya, namun ia diharapkan
menyadari keterbatasan pikirannya dan ketergantungan logikanya pada
Penciptanya.
Karakter manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia merupakan dasar
dari tugas berapologetika. Meskipun pada saat ini tidak ada seorang
pun di dunia yang sama sekali lepas dari dosa, namun ada kualitas
manusia sebelum kejatuhan yang terbawa sampai hari ini. Pada saat kita
membela iman Kristen, kita berhubungan dengan laki-laki dan perempuan
keturunan Adam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memunyai
pengertian yang kuat akan keadaan manusia sebelum kejatuhan.
-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P03)----
Doa
Ya, Tuhan, meskipun kami telah diciptakan menurut gambar dan rupa-Mu
yang sempurna, namun kami hanya manusia yang fana dan terbatas
secara fisik maupun keberadaan. Sedangkan Engkau adalah Allah Yang
Mahakuasa; tidak ada yang dapat mengatasi atau melampaui kuasa-Mu.
Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Mu sebab
segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Mu. Oleh sebab
itu, kepada-Mu sajalah kami harus memberikan pertanggungjawaban.
Amin.
(Catatan: pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)
Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia yang Berdosa |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P04 |
Daftar Isi
Doa
"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh
Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak
dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara
rohani." (1 Kor. 2:14)
Pada pelajaran sebelumnya, kita telah mendiskusikan karakter manusia
sebelum jatuh dalam dosa. Namun, pengertian kita akan manusia tidaklah
lengkap apabila kita tidak mempelajari sebab akibat dari kejatuhan
manusia. "Pengetahuan tentang diri kita sendiri, yang pertama adalah
berdasarkan pada apa yang telah diberikan pada waktu penciptaan ...,
kedua, kita perlu mengingat akan keadaan kita yang menyedihkan dan
tidak menyenangkan setelah kejatuhan Adam."
Karakter manusia telah berubah di bawah kutuk dosa. Manusia bukan
merupakan gambar Allah yang sempurna lagi; manusia tidak lagi hidup
dan berpikir sebagaimana halnya Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam
dosa. Dalam pelajaran berikut, kita akan melihat lebih jelas lagi
bagaimana dosa sangat memengaruhi manusia dan sebagai akibatnya
manusia telah menyangkali ketergantungannya secara mutlak pada Allah.
Allah telah membuat laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya dan
telah menempatkan mereka di taman Eden. Saat Adam dan Hawa menyadari
akan keberadaan mereka sebagai makhluk ciptaan Allah, mereka dengan
senang hati mendedikasikan diri mereka untuk melayani Allah. Waktu pun
berlalu dan kesetiaan manusia kepada Allah diuji. Allah telah
menempatkan pohon pengetahuan baik dan jahat di tengah-tengah taman,
dan berkata:
"tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya
pastilah engkau mati." (Kej. 2:17)
Dalam hal ini, banyak yang perlu dipertaruhkan manusia dari hanya
sekadar menahan diri untuk tidak makan buah tersebut. "Pada mulanya
Adam berhasil menghindari pohon pengetahuan baik dan jahat serta
membuktikan bahwa ia dengan sukarela berada di bawah perintah Allah."
Allah telah berkata dan mewahyukan kehendak-Nya tentang pohon yang
terlarang itu. Adam dan Hawa ditempatkan pada posisi untuk menguji
kesadaran mereka apakah mengakui atau menyangkali otoritas Allah dan
ketergantungan mereka akan Dia.
Pasal ketiga dari kitab Kejadian berpusat pada kejatuhan manusia.
Ular, yang disebut Alkitab si Iblis (Kej. 3:15; Rom. 16:20),
menghampiri Hawa dan mencobainya untuk mengabaikan perintah Allah.
Dengan menghadapkan Hawa pada pilihan yang paling penting dalam
hidupnya, Iblis berkata:
"Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa
pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan
menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
(Kej. 3:4-5)
Perkataan Iblis jelas bertolak belakang dengan penyataan (wahyu)
Allah. Hawa dihadapkan pada pilihan, siapakah yang dapat dipercaya?
Allah mengatakan "kamu akan mati" dan ular berkata "kamu tidak akan
mati". Perempuan itu harus percaya pada salah satu dari dua pernyataan
yang berlawanan itu. Kemudian ular yang licik itu tidak puas hanya
dengan mengatakan bahwa Allah membuat kesalahan. Ia bahkan membujuk
Hawa untuk percaya bahwa bila ia memakan buah itu, perbedaan antara
Pencipta dan ciptaan akan hilang. "Kamu akan menjadi seperti Allah,"
(Kej. 3:5) kata Iblis dengan penuh kesombongan.
Hawa tertipu oleh tipuan ular yang licik. Kita dapat mengatakan bahwa
tindakan Hawa ini merupakan tindakan yang sangat bodoh, namun rupanya
pencobaan untuk menjadi seperti Allah terlalu besar untuk dihindari.
Setelah semua penghormatan Hawa kepada Penciptanya digoncangkan, Hawa
memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada Allah untuk mengetahui
pengetahuan yang benar, demikian juga untuk petunjuk yang berkenaan
dengan moralitas.
Ular mempertanyakan keabsahan dan kemampuan Allah dalam hal-hal ini,
dan Hawa telah termakan oleh saran-sarannya. Sebelumnya, Hawa menerima
wahyu Allah dan mengakui ketergantungannya secara mutlak pada Allah.
Namun, sekarang ia memutuskan bahwa ketergantungannya pada Allah
merupakan suatu pilihan. Pembacaan yang teliti dari Kej. 3:6
memerlihatkan inti dari kesalahan Hawa.
"Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan
sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi
pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan
diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan
suaminya pun memakannya."
Hawa tidak secara langsung menolak firman Allah dan menerima perkataan
dari si ular. Melainkan, ia mengamati sendiri pohon itu dan kemudian
memutuskan karakter dari pohon itu berdasarkan pengertiannya sendiri.
Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Mengapa mendengarkan orang lain?
Aku akan membuat hukum bagi diriku sendiri; Aku akan memutuskan
sendiri!" Dengan melakukannya, Hawa menolak perbedaan antara Pencipta
dan ciptaan. Dia menyamaratakan wahyu Allah yang berdiri sendiri
dengan perkataan si ular dan menempatkan dirinya di atas mereka berdua
sebagai hakim.
Hawa lalu memberikan buah itu kepada Adam. Adam memakannya dan sejak
itu umat manusia jatuh di bawah kuasa dosa. Ini merupakan inti dari
dosa; manusia memberontak melawan ketergantungannya pada Allah dan
manusia berasumsi bahwa dia mampu untuk berdiri sendiri tanpa Allah.
Sangat penting untuk diingat bahwa perbedaan Pencipta dan ciptaan
tetap berlangsung meskipun manusia memilih untuk tidak mengakuinya.
Adam dan Hawa tidak menjadi berkurang dalam ketergantungannya pada
Allah setelah kejatuhan dibanding dengan keberadaan mereka sebelum
jatuh dalam dosa. Mereka hanya menolak untuk mengakui ketergantungan
mereka. Seorang anak balita dapat menipu dirinya sendiri untuk
berpikir bahwa ia tidak memerlukan orang tuanya, namun penyangkalannya
ini tidak membedakan kenyataan bahwa ia tergantung pada orang tuanya.
Sama halnya dengan Adam dan Hawa yang berpikir mereka berdiri sendiri
terlepas dari Allah, kenyataannya mereka tetap membutuhkan Allah dalam
segala sesuatu, bahkan untuk kemampuan menolak Allah. Persyaratan
Allah bagi Adam dan Hawa adalah supaya mereka mengakui ketergantungan
mereka dan hidup sesuai dengan kebenaran ini. Mereka telah gagal untuk
memenuhi tuntutan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Mereka berpikir
dirinya cukup bijak, mereka telah menjadi bodoh, sebab firman Allah
ternyata benar; dan mereka mati.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa di taman Eden bukan kejadian masa lalu
yang terpisah dari masa kini, dalam arti hanya memunyai akibat yang
sedikit bagi manusia yang hidup pada masa kini; peristiwa kejatuhan
telah membuat semua manusia berada di bawah belenggu dosa.
"Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu
orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah
menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat
dosa." (Rom. 5:12)
Sejak lahir, semua manusia telah dicemarkan oleh dosa (Maz. 51:5; Ef.
2:3). Sebagaimana Adam dan Hawa yang telah menolak perbedaan antara
Pencipta dan ciptaan, semua manusia telah menyangkal wahyu Allah, baik
melalui semua ciptaan maupun melalui wahyu khusus (firman Tuhan).
Paulus menjelaskan penolakan manusia akan wahyu melalui penciptaan
dalam Rom. 1:18-32. Paulus mengatakan bahwa meskipun ciptaan dengan
jelas menyatakan karakter Allah dan kehendak-Nya, namun manusia yang
tidak percaya telah menindas "kebenaran dengan kelaliman" (ay. 18).
Mereka menolak untuk mengakui Allah yang telah mewahyukan diri-Nya
melalui ciptaan sebab "pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka
yang bodoh menjadi gelap" (ay. 21). "Mereka berbuat seolah-olah mereka
penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh" (ay. 22), sebab
mereka memilih untuk menyembah "makhluk dengan melupakan Penciptanya
yang harus dipuji selama-lamanya, amin" (ay. 25). Oleh karena "mereka
tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka
kepada pikiran-pikiran yang terkutuk ...." (ay. 28). Manusia yang
telah jatuh dalam dosa, menolak untuk mengakui penyataan Allah dalam
semua aspek.
Orang-orang yang tidak percaya juga tidak memberikan tempat yang
sewajarnya pada wahyu khusus Allah. Tuhan Yesus menggambarkan
bagaimana Israel menolak ketergantungannya pada wahyu khusus Allah
dalam perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (Mat.
21:33-44). Penggarap-penggarap kebun anggur memeroleh mata pencaharian
mereka dari kemurahan hati si empunya tanah, tetapi mereka menolak
untuk menghormatinya. Akibatnya, si pemilik tanah mengutus
utusan-utusan khusus kepada si petani. Bahkan, Ia telah mengutus
Anak-Nya. Namun, si petani membencinya, bahkan membunuh Anak itu. Sama
halnya dengan semua manusia yang seharusnya tunduk kepada wahyu khusus
Allah melalui firman Tuhan, sebaliknya mereka telah menolaknya. Dosa
telah mencengkeram manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak
mampu lagi menundukkan dirinya kepada firman Allah.
"Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena
ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin
baginya." (Rom. 8:7)
"ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai
secara rohani." (1 Kor. 2:14)
Manusia tidak menundukkan diri pada wahyu Allah. Manusia telah
mengikuti teladan Adam dan Hawa yang mengira bahwa segala sesuatu
harus diukur oleh "garis pengukur dari kebodohan kedagingan mereka".
Kegagalan manusia untuk mengakui wahyu Allah dalam alam semesta dan
untuk menerima firman Tuhan sebagai alat untuk mengenal Allah dan
mengetahui kehendak-Nya, telah membuat manusia berada di posisi yang
sulit. Yeremia menyerukan pada zamannya sebagai berikut:
"Sesungguhnya, mereka telah menolak Firman Tuhan, maka
kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?" (Yer. 8:9)
Apa yang dapat kita lihat bila mata kita tertutup? Apa yang dapat
memuaskan dahaga kita bila sumur kita kering? Tidak ada! Sama halnya
dengan hikmat dan pengetahuan. Allah sendiri "mengajar manusia akan
pengetahuan" (Maz. 97:4) melalui wahyu-Nya. Jika kita menolak firman-
Nya, itu berarti kita menolak semua kebenaran, dan secara prinsipil,
kita tidak mengetahui apa-apa selain ketidakbenaran.
"Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan." (Ams. 1:7)
Karena penolakan mereka akan wahyu Allah, maka manusia:
"hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah
dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh
dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di
dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka." (Ef. 4:17-18)
Atas dasar ini, dikatakan bahwa:
"Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya
semuanya sia-sia belaka." (1 Kor. 3:20)
Akibat dosa, orang-orang yang tidak percaya sangat jelas menolak
kebenaran yang diwahyukan melalui firman Tuhan, dan secara
sembarangan menyalahtafsirkan dunia sekelilingnya. Namun, tidak semua
pemikiran dan pernyataan orang-orang itu dapat diartikan salah.
Bagaimana mereka dapat berpikir dan mengekspresikan ide-ide yang
benar? Orang-orang percaya dan tidak percaya sama-sama menyatakan
bahwa dua tambah dua adalah empat. Ada beberapa peristiwa dalam
Alkitab yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah jatuh ke dalam
dosa dapat memiliki kebenaran (Mat. 23:1, dst.; Kis. 17:28).
Bagaimana kita dapat mengerti hal-hal ini dalam hubungan penolakan
manusia yang berdosa akan Allah sebagai sumber kebenaran?
Pemecahan masalah ini terletak pada pengamatan yang lebih dekat atas
kondisi manusia yang telah jatuh dan dua aspek dari pengetahuannya.
Pertama, meskipun orang-orang tidak percaya menolak wahyu Allah
mengenai diri-Nya, mereka tidak dapat secara terus-menerus menolak
secara konsisten. Dasar dari ketidakkonsistenan dalam taraf tertentu
adalah karena manusia berdosa tetap merupakan gambar Allah dan tetap
memiliki banyak kemampuan yang telah dimilikinya sejak semula (Kej.
9:6; Yak. 3:9). Oleh anugerah umum, Allah telah menahan akibat dosa
dan pencemaran sehingga orang-orang non-Kristen tetap dapat berpikir
dan bertindak atau bereaksi sesuai dengan keberadaan mereka sebagai
gambar Allah, walaupun mereka tidak mengakui Allah sebagai Pencipta.
"Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh
dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat,
maka walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi
hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka
menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati
mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka
saling menuduh atau saling membela." (Rom. 2:14, 15)
Manusia yang telah jatuh dalam dosa, memulai pendapatnya tentang
ketidaktergantungan dirinya pada Allah dan kemampuan untuk mengetahui
kebenaran terpisah dari Allah. Apabila ia mengembangkan asumsi ini
secara terus-menerus dengan konsisten, ia tidak akan menemukan
pengetahuan yang benar sebab ketergantungan pada Allah adalah jalan
satu-satunya untuk mendapatkan kebenaran. Karena itu, orang-orang yang
tidak percaya tidak berhasil dan telah gagal.
Sejalan dengan ketidaksinambungan usaha orang-orang yang tidak percaya
untuk menahan dan menyangkali wahyu Allah, kita dapat mengerti
kemampuan mereka untuk mengetahui kebenaran saat kita melihat karakter
dari pemahaman mereka akan kebenaran. "Kapasitas manusia yang telah
jatuh dalam dosa untuk mengerti ... merupakan sesuatu yang labil dan
transisi dalam pandangan Allah ...." Orang-orang yang tidak percaya
mampu untuk mengetahui kebenaran, hanya saja mereka gagal memberi
kesinambungan dalam prinsip-prinsip berpikir mereka yang berdosa
sehingga menyebabkan pengetahuan mereka hanya terlihat benar di
permukaan saja.
Berikut ini adalah analogi yang akan menolong kita untuk lebih
mengerti. Perkataan Tuhan Yesus kepada orang Farisi sering kali
menunjukkan perbedaan antara perilaku mereka secara luar dengan
motivasi mereka dari dalam hati. Nilai dari tugas rohani yang sangat
besar telah dicemari oleh motivasi mereka yang merasa diri paling
benar dan sombong. Amsal mengatakan bahwa:
"Korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi doa orang
jujur dikenan-Nya." (Ams. 15:8)
Orang-orang Farisi memiliki kerohanian yang hanya terlihat dari luar
saja, namun kesucian mereka atau kerohanian mereka telah dicemari oleh
apa yang ada di belakang tindakan yang terlihat dari luar.
Perbedaan yang serupa dapat kita terapkan dalam area pengetahuan
secara umum. Kita tidak boleh pernah merasa puas dengan penampilan
yang kelihatannya merupakan pernyataan yang benar dari manusia yang
berdosa. Kita harus berhati-hati dengan apa yang terletak di balik
ide-ide yang ditunjukkan. Misalnya, Saksi Yehova dengan jujur dapat
mengatakan, "Yesus adalah Tuhan." Kita semua akan setuju dengan
pernyataan ini sebagai hal yang benar secara permukaan. Namun, Saksi
Yehova menolak ke-Tuhanan Kristus dan berpendapat bahwa ke-Tuhanan
Kristus merupakan keberadaan-Nya sebagai malaikat yang khusus. Oleh
karena itu, kita harus memertimbangkan dan mengatakan bahwa pernyataan
mereka tidak benar.
Alasan kita untuk menyetujui dan menyangkali suatu pernyataan pada
saat bersamaan disebabkan oleh perbedaan antara permukaan pernyataan
dengan apa yang ada di balik pernyataan itu. Pemisahan ini dapat nyata
karena apa yang dikatakan oleh seseorang berbeda dengan maksud di
balik perkataannya tersebut.
Salah satu cara untuk menyelidiki suatu pernyataan adalah dengan cara
selalu menanyakan apa yang dimaksud dengan perkataan atau
pemikirannya. Manusia yang telah jatuh dalam dosa dapat mengatakan
bahwa dunia ini bulat, namun apa yang dimaksudkan "dunia" oleh mereka?
Apakah merupakan hasil ciptaan Allah yang dinyatakan oleh firman Tuhan
atau sebagai hasil dari proses evolusi yang berlangsung sangat lama?
Mereka dapat mengatakan bahwa kejujuran adalah baik dan pembunuhan
adalah jahat. Namun, apa yang mereka maksudkan dengan "baik dan
jahat"? Apakah baik dan jahat itu didefinisikan oleh hukum Allah atau
hukum yang lain? Sama halnya dengan pohon yang indah yang baru saja
ditanam di tanah yang beracun, demikian juga orang tidak percaya yang
menyangkali kebenaran dan tidak mau kembali kepada wahyu Allah yang
tidak dapat disangkali. Tanda kemandirian mereka yang terpisah dari
Allah, dapat terlihat benar dari permukaan. Kadang-kadang, kita harus
melihat jauh ke dalam sebelum kita dapat menemukan pengertian yang
salah.
Akar dari setiap ide dan pernyataan yang dikemukakan oleh orang yang
tidak percaya adalah berdasarkan asumsi bahwa "saya tidak bergantung
pada Allah dan mengetahui hal ini dari diri saya sendiri terpisah
dari Allah dan pertimbangan kehendak-Nya".
Untuk menyimpulkan pandangan yang tepat dari pernyataan yang benar,
yang dibuat oleh orang tidak percaya, dapat dikatakan bahwa mereka
benar dan juga salah. Orang-orang yang tidak percaya mungkin dapat
berpikir dan berbicara tentang kebenaran dalam pengertian bahwa
pikiran mereka bisa berasal dari wahyu Allah yang tidak dapat
dihindari dan dihasilkan dari anugerah umum Allah melalui kualitas
manusia sebagai gambar Allah yang tidak dapat disangkali. Lebih dari
itu, mereka benar dalam pengertian bahwa wahyu Allah memang sebenarnya
mengiyakan pernyataan mereka dari permukaan. Diharapkan kebenaran yang
mereka dapatkan secara permukaan ini dapat memimpin mereka kepada
pengakuan akan Allah dan ketaatan kepada-Nya.
Bersamaan dengan pernyataan bahwa orang tidak percaya itu benar, kita
dapat juga mengatakan pernyataan orang-orang tidak percaya adalah
tidak benar. Oleh karena pernyataan-pernyataan itu bukan merupakan
hasil dari kerelaan untuk taat kepada wahyu Allah, melainkan sebagai
hasil dari penyangkalan fakta perbedaan antara Pencipta dengan
ciptaan.
Pernyataan-pernyataan orang tidak percaya dinyatakan tidak benar oleh
karena struktur pemikiran mereka memimpinnya kepada pengertian yang
salah dan membawa mereka jauh dari penyembahan kepada Allah. Pada
dasarnya, dapat dikatakan bahwa komitmen kepada kemandirian manusia
terlepas dari Allah, membuat semua pernyataan orang tidak percaya
salah.
Pengertian akan kondisi manusia setelah kejatuhannya dalam dosa dan
keberadaan orang-orang yang tetap dalam ketidakpercayaan merupakan
hal yang sangat penting bagi apologetika kristen. Kesadaran akan
ketidakadaan harapan dan keterbatasan pikiran orang-orang yang tidak
percaya, memberi petunjuk dan keyakinan kepada orang-orang percaya
dalam memertahankan imannya.
Akhir Pelajaran (AUA I-P04)---
Doa
Ya, Tuhan, kami menyadari bahwa karakter kami telah berubah di bawah
kutuk dosa. Kami bukan lagi gambar Allah yang sempurna. Hal ini
tercermin dari hidup dan cara pikir kami yang jauh dari suci. Dosa
sangat memengaruhi kami sehingga kami selalu menyangkali
ketergantungan kami secara mutlak pada Allah. Oleh sebab itu,
tolong kami untuk menyadari kebodohan ini. Hindarkan kami dari
pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap dan jauh dari hidup
persekutuan dengan Allah. Amin.
(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di lembar lain)
Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P05 |
Daftar Isi
Doa
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
5:17)
Kalau bukan karena anugerah Allah, setiap orang akan tetap terkutuk
dalam dosa dan berada di bawah penghakiman murka Allah. Namun, Allah
dengan kemurahan-Nya yang besar telah mengutus Anak-Nya yang ilahi,
Yesus Kristus, untuk membayar hutang dosa dengan mati di atas kayu
salib serta memulai suatu periode kehidupan baru dalam kebangkitan-
Nya. Semua orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan dari kutuk murka
Allah dan masuk ke dalam berkat Allah. Pengamatan kita akan manusia
tidaklah lengkap apabila kita belum memertimbangkan karakter manusia
yang telah ditebus oleh Allah dalam Kristus.
Kita dapat melihat bahwa aplikasi dari keselamatan dalam kehidupan
seseorang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi sebagai akibat
dari kejatuhan. Inti dari kejatuhan Hawa adalah kehendak untuk mandiri
dan lepas dari Allah dengan cara menolak secara sukarela untuk
menundukkan diri pada firman Tuhan. Hawa menolak fakta perbedaan
antara Pencipta dengan ciptaan, dengan berpikir bahwa ia dapat
mengetahui kebenaran melalui pikiran barunya sendiri yang terpisah
dari Allah. Hal sebaliknya terjadi pada kehidupan seseorang yang
percaya kepada Kristus. Dengan jelas, Paulus menyatakannya:
"Oleh karena dunia oleh hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh
hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya
oleh kebodohan pemberitaan Injil." (1 Kor. 1:21)
Penggunaan hikmat manusia sebagai standar kebenaran, seperti apa yang
dilakukan oleh Hawa, akan membawa kita jauh dari Allah dan membawa
kita kepada ketidakbenaran. Sebaliknya, salib adalah jalan keselamatan
yang mengakibatkan kita berpaling dari kemandirian dan pikiran berdosa
supaya kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Allah. Hawa
berpikir bahwa sebagai manusia, ia dapat berdiri sendiri dan melihat
serta menempatkan dirinya sebagai hakim yang tertinggi. Namun, saat
kita percaya dengan kesungguhan pada Kristus, kita akan menyadari
bahwa ketergantungan kita pada firman Tuhan sebagai hikmat tidak ada
bandingnya karena Dialah sumber kebenaran. Penerimaan firman Tuhan ini
merupakan permulaan dari penebusan dalam Kristus.
"Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman
Kristus." (Rom. 10:17)
Kebalikan dari kejatuhan tidak berhenti pada tanda pertobatan,
melainkan meliputi keseluruhan dari proses penebusan. Seseorang yang
percaya akan berita Injil, bersama dengan Paulus, meyakini bahwa:
"Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong."
(Rom. 3:4)
Berbeda dengan manusia berdosa yang cenderung meninggalkan pengetahuan
yang benar dan menyatakan hal yang salah (sebagai akibat dari
kemandirian yang terlepas dari Allah), orang-orang percaya memegang
kepercayaan bahwa firman Allah selalu dapat dipercaya oleh karena
Allah selalu benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya:
"Aku, Tuhan, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang
lurus." (Yes. 45:19)
Firman Allah dapat dipercaya dan orang yang percaya pada Kristus
mengakui kepercayaannya secara total pada firman Tuhan. Lepas dari
apa yang terlihat, lepas dari nasihat-nasihat orang lain, dan lepas
dari pencobaan oleh Iblis, orang percaya menegaskan bahwa:
"Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain
kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita." (1
Sam. 2:2)
Sikap terhadap firman Tuhan yang merupakan kebalikan dari apa yang
terjadi pada waktu kejatuhan, diperjelas oleh perkataan Paulus kepada
orang-orang Korintus:
"Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu Ilahi. Karena aku
telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu
sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau
pikiran kami disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada
Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan
kelicikannya." (2 Kor. 11:2-3)
Pada ayat-ayat ini, Paulus memeringatkan orang-orang di Korintus untuk
tidak berpaling dari khotbahnya mengenai firman Tuhan, mereka harus
setia hanya kepada Kristus semata. Paulus memeringatkan mereka karena
ia takut dan kuatir mereka akan jatuh dalam tipu muslihat yang sama
yang telah digunakan oleh si ular saat mencobai Hawa. Paulus takut
mereka akan berpaling dari "kesederhanaan dan ketulusan penyembahan
kepada Kristus" (2 Kor. 11:3).
Sebelum jatuh dalam dosa, Hawa hanya mendengarkan firman Allah dengan
penyembahan yang hanya tertuju pada Allah. Saat jatuh, ia telah
berpaling dari firman Allah. Sebagai orang Kristen, kita secara
terus-menerus menerima firman Kristus dengan penyembahan yang tanpa
berprasangka. Kita harus melakukan kebalikan dari apa yang Hawa
lakukan saat ia berdosa. Ditebus oleh Kristus berarti mengalami
kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan.
Saat kita berpikir tentang keselamatan dalam Kristus, biasanya kita
hanya memikirkan tentang akibat dari percaya pada-Nya, yaitu menerima
kehidupan yang kekal. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya,
saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan
kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal
pengetahuan dan moralitas.
Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki
kerajaan Allah dengan berkata:
"Kamu harus dilahirkan kembali." (Yoh. 3:7)
Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang yang tidak percaya.
Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam, demikian pula ia telah jatuh
dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan. Karena itu, ia harus
mengalami kelahiran baru. Paulus menyatakan:
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
5:17)
Saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya
dilahirkan baru secara pribadi; namun kita memasuki suatu ruang
lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu,
seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang
berawal dari kelahiran baru.
Paulus menggunakan istilah "ciptaan yang baru" dalam pengertian suatu
perintah karena hal ini menunjuk pada hubungan penebusan dengan asal
mula keadaan ciptaan sebelum kejatuhan. Saat dunia dan manusia
diciptakan, mereka belum dicemari oleh dosa. Namun, sebagai akibat
dari manusia yang memilih untuk berdiri sendiri terlepas dari Allah,
maka seluruh ciptaan telah jatuh dalam kutuk dosa. Pekerjaan penebusan
dari Kristus dapat dikatakan merupakan pembaharuan manusia untuk dapat
kembali kepada posisi mereka yang semula, yaitu pada waktu pertama
diciptakan oleh Allah.
"... yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam
kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Ef. 4:24)
"dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui
untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya."
(Kol. 3:10)
Orang-orang percaya dalam Kristus diperbaharui menurut sifat mereka
yang semula sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa
Allah. Mereka diberikan kebenaran, kesucian, dan pengetahuan yang
benar, di mana semua itu hilang pada waktu kejatuhan dalam dosa.
Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pembaharuan melalui
kelahiran baru tidak hanya meliputi sebagian dari manusia, melainkan
meliputi keseluruhan karakternya, bahkan proses berpikirnya.
"Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu
yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan
dan menaklukkannya kepada Kristus." (2 Kor. 10:5)
Orang-orang Kristen pada kenyataannya diperbaharui sampai pada tahap
di mana setiap aspek pribadi mereka berada pada keberadaan asal
sebelum kejatuhan dalam dosa. Kita tidak diselamatkan untuk sekadar
berada dalam keadaan yang manis dan menyenangkan. Namun, kita
diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada asal mula
keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui kelahiran baru. Sebagai
gambar Allah yang telah dipulihkan, manusia yang telah ditebus rindu
untuk melakukan apa yang adil sesuai wahyu Allah bagi semua ciptaan
dan firman Tuhan. Ia menyadari bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui
bahwa hujan merupakan kondensasi dari air yang menguap. Ia akan
bertanya apakah hujan dan bagaimana ia menyatakan karakter dan
kehendak Allah. Apabila tidak ada dosa, hal ini tidak akan menjadi
masalah. Manusia cukup hanya mengamati dunia dan mengenal Allah
melaluinya. Namun, oleh karena dosa, "maka diperlukan Penolong yang
lebih baik untuk memimpin kita pada Pencipta alam semesta ini secara
langsung".
Penolong yang lebih baik adalah firman Tuhan dan Roh Kudus. Orang
Kristen berkewajiban mendedikasikan diri untuk menyelidiki firman
Tuhan oleh karena Roh Kudus yang ada di dalam kita akan memimpin kita
kepada pengetahuan akan keselamatan. Roh Kudus juga akan memimpin kita
kepada kebenaran pengetahuan tentang ciptaan menurut apa yang
diwahyukan oleh Allah dan kehendak-Nya atas manusia. Ini tidak berarti
bahwa Alkitab menjadi suatu buku pedoman dari ilmu pengetahuan alam.
Dengan kata lain, tidak betul bahwa orang Kristen tidak perlu lagi
melihat pada dunia dan cukup hanya dengan membaca Alkitab untuk
menemukan kebenaran ilmiah.
Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar secara umum di mana
semua penyelidikan akan dunia ini harus berdasarkan atasnya. Misalnya,
pengetahuan yang sejati mengenai hujan menyatakan kepada kita akan
kemurahan Allah dan bagaimana Allah mengharapkan kita untuk
memperlakukan musuh kita dengan kebaikan (Mat. 5:45), dan seterusnya.
Tentu saja penyelidikan secara ilmiah dari sifat hujan akan secara
intensif menjelaskan pengertian orang Kristen akan hal-hal ini. Namun,
pengetahuan yang benar tentang hujan ditemukan berdasarkan
penyelidikan yang didasarkan pada firman Tuhan dan dipimpin oleh
firman Tuhan.
Sebagai ciptaan yang telah diperbaharui, orang Kristen rindu untuk
memertahankan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dalam hal
pengetahuan dan moralitas sehingga orang Kristen dapat memberikan
perlakuan yang tepat pada wahyu Allah.
Kehidupan orang Kristen bukannya tanpa kesalahan. Meskipun ia telah
diperbaharui kembali kepada kondisi asalnya seperti sebelum
kejatuhan, pembaharuan ini tidaklah sempurna sampai kedatangan Tuhan
Yesus yang kedua kalinya. Orang Kristen berkecimpung dalam peperangan
yang dahsyat antara kebenaran dan dosa. Paulus menjelaskan konflik
ini sebagai berikut:
"Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan
keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya
bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang
kamu kehendaki." (Gal. 5:17)
Roh Kudus yang tinggal di antara orang-orang percaya, berada dalam
peperangan dengan pikiran kedagingan manusia. Sebagai akibatnya, ada
dua prinsip yang bekerja dalam diri orang percaya, yang satu kepada
ketaatan dan yang lain pada ketidaktaatan. Walaupun orang Kristen
berusaha untuk bergantung pada Allah dengan memerhatikan wahyu-Nya
untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan dan moralitas, namun ia
mungkin kadang akan gagal dalam melaksanakan keinginannya secara
terus-menerus. Pada waktu tertentu, orang Kristen dapat kembali
kepada dosa yang terjadi pada waktu kejatuhan dengan memberontak atau
mengabaikan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan.
Penurunan ini dengan sendirinya memerlihatkan penolakan pengakuan atas
wahyu Allah dalam semua aspek kehidupan, termasuk ketaatan akan firman
Tuhan. Sebagaimana orang tidak percaya tidak dapat terlepas sepenuhnya
dari kualitas penciptaan sebagai manusia yang diciptakan menurut
gambar Allah, demikian pula orang Kristen tidak dapat terlepas
sepenuhnya dari dosa yang masih tertinggal dalam hidupnya. Ia tidak
selalu konsisten dengan prinsipnya akan ketergantungan secara total
kepada Allah. Dan karenanya, ia tetap dapat melakukan kesalahan dalam
pikiran dan tindakannya.
Dengan alasan ini, maka orang Kristen secara berulang-ulang didorong
untuk menghindari dan menolak dosa. Paulus berkata:
"... bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah
dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi
di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti
keinginannya." (Rom. 6:11-12)
Dan dalam bentuk pernyataan yang positif, ia berkata:
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
oleh pembaharuan budimu." (Rom. 12:2)
Ketergantungan kita pada Allah untuk pengetahuan dan moralitas tidak
datang secara otomatis dalam hidup orang Kristen. Hal ini harus
disertai dengan usaha yang serius, di mana kita sungguh berusaha untuk
mendapatkan "penyucian di mana tanpanya, tidak ada seorang pun akan
dapat melihat Allah" (Ibr. 12:14). Ini merupakan tugas yang panjang
dan sulit, namun kita harus terus-menerus berusaha apabila kita ingin
mengenal Allah dan kehendak-Nya. Saat kita berpikir bahwa kemampuan
orang Kristen untuk mengetahui kebenaran disebabkan oleh kelahiran
baru dan berpaling dari kejatuhan, kita juga harus ingat bahwa dosa
masih memengaruhi kehidupan orang Kristen.
Karakter manusia yang telah ditebus oleh Kristus merupakan pengertian
yang mendasar bagi apologetika alkitabiah. Pekerjaan Kristus di atas
kayu salib dan dalam kebangkitan-Nya, telah memerbaharui pengetahuan
yang sejati dan kebenaran bagi orang yang percaya kepada-Nya.
Meskipun dosa masih ada, namun orang yang telah ditebus oleh Kristus
dapat bergantung kepada Allah untuk pengetahuan dan moralitasnya.
-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P05)----
Doa
Ya, Tuhan, kami bersyukur karena Engkau terus-menerus memerbaharui
roh, jiwa, seluruh karakter, serta proses berpikir kami dari hari ke
hari. Engkau kembali memberikan kebenaran, kesucian, dan
pengetahuan-Mu itu kepada kami. Oleh sebab itu, biarlah kami,
sebagai orang percaya, terus terdorong untuk menghindari dan menolak
dosa sambil meyakini bahwa kami telah mati bagi dosa dan hidup bagi
Allah dalam Kristus Yesus. Tuhan, tolong kami agar dosa jangan
berkuasa lagi di dalam tubuh kami yang fana ini dan agar kami tidak
lagi menuruti keinginannya. Amin.
(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)
Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Filsafat Non-Kristen dan Kristen |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P06 |
Daftar Isi
Doa
"Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan
filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan
roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus." (Kol. 2:8)
Dari pengamatan singkat akan karakter manusia, terlihat fakta adanya
dua macam kelompok manusia yang hidup di sekitar kita hari ini. Kedua
kelompok ini memegang pandangan yang berlawanan mengenai Allah, dunia,
dan diri mereka sendiri. Dua pandangan ini akan disebut filsafat
Kristen, yang berakar pada ketergantungan secara total pada Allah; dan
filsafat non-Kristen, yang berakar pada kemandirian, terlepas dari
Allah. Kedua pandangan ini memengaruhi setiap aspek kehidupan
orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam berapologetika, sangat
penting untuk mengetahui kedua filsafat ini dengan jelas.
Dalam Ef. 4:17-19, Paulus menjelaskan keberadaan orang non-Kristen
untuk menyatakan bentuk filsafat yang mereka hasilkan. Mereka
berjalan:
"Sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan
pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari
hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam
mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah
tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan
mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran."
Orang non-Kristen menyangkali fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan
dan memalingkan diri dari Allah supaya terlepas dari Allah. Akibatnya,
mereka hidup dalam kesia-siaan. Semua usaha mereka adalah kegelapan
dan kefanaan.
Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan perkataan Paulus untuk
mendapatkan pengertian yang tepat. Dalam pernyataan itu, Paulus tidak
melawan filsafat secara umum; ia sendiri adalah seorang ahli filsafat.
Yang ia lawan adalah filsafat yang mengadopsi kemandirian untuk lepas
dari Allah, yang akan menghasilkan kehancuran dan kematian kekal.
Mungkin kita berpikir bahwa Paulus terlalu berlebihan dalam
mengomentari soal ini, namun perkataannya yang berikut ini justru
membuktikan kesungguhannya:
"Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan
filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan
roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus." (Kol. 2:8)
Filsafat orang non-Kristen berdasar pada kemandirian pikiran manusia
dan kesetiaan atas "tradisi manusia" serta "prinsip-prinsip dasar dari
dunia". Tidak ada yang benar bagi mereka selain bisa dibuktikan benar
oleh pikiran manusia yang mandiri.
Untuk lebih jelasnya, Paulus menunjukkan karakter filsafat non-Kristen
yang dengan tegas menolak Kristus dan bersikeras memertahankan
kemandirian mereka. Orang-orang yang mengambil posisi netral juga
telah menolak pernyataan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh alam
semesta. Oleh karena itu, filsafat non-Kristen dapat diumpamakan
sebagai bangunan yang atapnya mendukung fondasinya; tidak ada dasar
yang kokoh di bawahnya.
Filsafat Kristen menunjukkan usaha untuk menghindarkan diri dari
kesia-siaan yang berasal dari kemandirian. Seperti yang dikatakan
oleh Rasul Paulus:
"Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah,
supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita." (1 Kor.
2:12)
Paulus selanjutnya menyatakan sifat dari komitmen agamawi yang
merupakan dasar dari filsafat Kristen:
"Sebab dalam Dialah (Kristus) berdiam secara jasmaniah seluruh
kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah
kepala semua pemerintah dan penguasa." (Kol. 2:9-10)
Paulus memberikan tiga prinsip yang penting sehubungan dengan
filsafat Kristen:
- "Di dalam Dia, seluruh kepenuhan ilahi tinggal." Kristus adalah
penyataan Allah dalam bentuk fisik. Karena itu, filsafat manusia
harus berdasarkan pada komitmen bahwa Kristus adalah yang
diwahyukan Allah dalam Alkitab. Hanya Allah yang mengetahui alam
semesta ini secara mendalam dan menyeluruh; hanya Dia yang dapat
mengajarkan kebenaran kepada manusia. Karena Kristus adalah Allah,
maka kita harus menyerahkan diri pada-Nya apabila kita ingin
memiliki kebenaran.
- "Di dalam Dia, kamu telah menjadi sempurna." Hanya melalui
persekutuan dengan Kristus dalam iman, kita dimungkinkan untuk
dapat melihat Allah, dunia, dan diri kita sendiri dengan tepat dan
benar. Lepas dari iman pada Kristus sebagai komitmen dasar hidup,
kita tidak mungkin mendapatkan filsafat yang benar.
- "Dia adalah kepala dari segala pemerintah dan penguasa." Apabila
kita lebih memercayai prinsip yang tidak bergantung secara total
pada Allah sebagai dasar pikiran kita, maka ini sama dengan
menganggap bahwa ada otoritas lain yang melebihi Kristus. Padahal
tidak ada pengadilan yang dapat mengadili Kristus. Tidak ada hakim
di atas Dia.
Oleh karena itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh Kristus harus
diterima sebagai kebenaran, sebab Dialah yang memiliki otoritas
mutlak/terakhir atas segala sesuatu. Setiap aspek dari filsafat
kristiani harus bersandar pada komitmen ketergantungannya pada Allah.
Filsafat Kristen dapat digambarkan sebagai suatu bangunan yang besar
dan disangga oleh satu tiang utama -- Kristus.
Komitmen orang Kristen akan ketergantungannya pada Allah sering kali
disalahmengerti dalam dua hal:
Pertama, komitmen pada Kristus dianggap hanya dilaksanakan apabila
berurusan dengan masalah-masalah gerejawi. Oleh karena itu,
persoalan-persoalan sekuler tidak perlu didasarkan pada komitmen
ketergantungan mutlak pada Allah. Pandangan ini sangat tidak benar.
Komitmen ketergantungan secara mutlak pada Allah harus dilaksanakan
dalam setiap aspek kehidupan manusia. Contohnya, dalam bercocok tanam,
orang-orang percaya harus menyadari bahwa pengetahuannya adalah
berasal dari Allah.
"Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam
dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai
kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya? Mengenai adat kebiasaan ia
telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya." (Yes. 28:25-26)
Semua hikmat dan pengetahuan kita berasal dari Allah.
"yang memberi kita akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat
melebihi burung di udara?" (Ay. 35:11)
Orang Kristen berusaha untuk bergantung pada Allah dalam segala
sesuatu supaya dapat mengatasi segala sesuatu sesuai dengan prinsip
berikut:
"Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau
perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil
mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kol. 3:17)
Kedua, komitmen ketergantungan pada Allah disalahmengerti secara total
dalam pengertian bahwa filsafat Kristen hanya sekadar membaca firman
Tuhan dan berdoa. Padahal, orang-orang Kristen tidak mendapatkan
keseluruhan filsafat mereka hanya dari Alkitab dan berdoa, walaupun
kedua hal itu paling utama. Orang Kristen juga melihat dunia dan
menemukan jawaban atas pertanyaannya setelah secara aktif melakukan
pengamatan dan penganalisaan.
Allah tidak mewahyukan jawaban secara rinci dalam Alkitab atas setiap
pertanyaan yang diajukan manusia. Yang Allah berikan kepada kita
adalah prinsip-prinsip sebagai pedoman untuk membangun filsafat kita.
Saat Allah memerintahkan nabi Nuh untuk membangun bahtera, petunjuk
tertentu diberikan melalui wahyu khusus, namun hal-hal yang terperinci
dipelajari dengan menerapkan prinsip-prinsip sesuai dengan kondisi
yang ada. Misalnya, Allah mengatakan kepada nabi Nuh untuk memplester
bahtera itu, namun jumlah aspal yang akan dipergunakan tidak
diberitahukan oleh Allah. Karena itu, nabi Nuh harus menentukan
sendiri jumlah aspal dengan melihat seberapa banyak yang diperlukan
untuk menjaga bahtera dari kebocoran. Filsafat Kristen bukan hanya
membaca Alkitab dan berdoa. Tetapi merupakan sebuah konstruksi yang
dibangun berdasarkan prinsip firman Tuhan.
Tuduhan yang sering kali diberikan kepada orang Kristen adalah bahwa
komitmen orang Kristen akan ketergantungan pada Allah merupakan hasil
keputusannya yang mandiri. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa
ketergantungannya pada Allah adalah proses kemandirian orang Kristen
yang memutuskan bahwa kekristenan merupakan pilihan yang terbaik.
Memang, seakan-akan terlihat seperti itu jika dilihat dari sudut
pandang orang non-Kristen. Namun, orang Kristen menyadari bahwa
kenyataannya tidak demikian. Orang Kristen tidak mendasarkan
kemandiriannya saat menyerahkan diri untuk bergantung kepada Allah.
Terlebih dahulu, ia telah diberi anugerah kelahiran baru, lepas dari
kehendaknya sendiri. Oleh karena anugerah Allahlah, ia dimungkinkan
untuk menyerahkan dirinya pada ketergantungan secara total pada Allah.
"Hal itu tidak bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang,
tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Rom. 9:16)
Sirkulasi pemikiran orang Kristen terdiri dari pengakuan bahwa tidak
ada yang lebih tinggi daripada otoritas Allah dan firman-Nya.
Sirkulasi pemikiran orang non-Kristen merupakan bukti dari pemikiran
yang mandiri dan lepas dari Allah yang berusaha untuk mendukung
dirinya sendiri. Perbedaan kedua pandangan ini membentuk jurang
pemisah yang besar yang hanya bisa dijembatani oleh anugerah
kelahiran baru dari Allah.
Saat manusia menolak fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dan
menyerahkan dirinya kepada kemandirian yang lepas dari Allah, manusia
dihadapkan pada suatu dilema yang tidak dapat dihindari oleh
orang-orang non-Kristen. Suatu analogi dapat kita lihat dalam teater
Yunani kuno, di mana aktor yang sama sering kali harus memainkan
berbagai peran dengan cara menggonta-ganti topengnya. Demikian juga
halnya dengan orang non-Kristen yang tidak mengenal kebenaran Allah,
mereka terpaksa harus memakai dua topeng. Saat berpaling kepada Allah,
mereka menyatakan keyakinannya yang mutlak bahwa fakta perbedaan
Pencipta dengan ciptaan-Nya adalah tidak benar; karena itu, ia memakai
topeng "keyakinan yang mutlak". Namun ketika berpaling dari Allah,
mereka berada pada posisi di mana ia tidak memunyai dasar yang kuat
untuk pengetahuan. Karena itu, ia harus menggunakan topeng
"ketidakyakinan yang mutlak".
Suatu saat, orang non-Kristen memakai topeng yang satu dan memakai
topeng yang lain pada saat lain. Sesungguhnya, mereka diperhadapkan
pada suatu dilema yang tidak dapat dipecahkan di balik topeng itu, di
mana kedua-duanya, pada saat yang sama, yakin secara mutlak dan tidak
yakin secara mutlak. Pembukaan atau upaya menyingkapkan topeng orang
tidak percaya dan memerlihatkan dilema ini kepada mereka, merupakan
bagian penting dalam pembelaan (apologetika) alkitabiah.
Apabila orang yang non-Kristen bersikeras untuk berpegang pada
pandangannya, maka dia harus mengabaikan secara total kesadarannya
akan keterbatasan manusia. Sering kali, keadaan ini diperlihatkan oleh
orang non-Kristen sebagai usaha untuk menghindari kesombongan atau
membuat dogma (memutlakkan sesuatu). Mereka akan mengatakan bahwa kita
tidak yakin akan apa yang kita pikir kita tahu, atau bahwa kita hanya
akan sampai kepada "pengetahuan yang berdasarkan pada suatu
kemungkinan". Pernyataan ini kelihatannya seperti "kerendahan hati"
pada permukaannya, namun sebenarnya merupakan pernyataan keyakinan dan
ketidakyakinannya yang mutlak pada waktu bersamaan.
Titik ini akan sangat menolong untuk menggambarkan lebih lanjut
bagaimana filsafat orang non-Kristen memerlihatkan dilema "keyakinan
yang mutlak bahwa tidak ada keyakinan-keyakinan yang mutlak".
Penjelasan akan diberikan berdasarkan tiga hal utama dari pemikiran
manusia -- tentang Allah, dunia di luar manusia, dan manusia sendiri.
Penjelasan ini bukan merupakan penjelasan yang mendalam karena kita
hanya akan memerlihatkan beberapa contoh untuk mendukung gambaran yang
akan diberikan. Hal-hal ini sangat penting bagi apologetika
alkitabiah.
Filsafat Kristen menyediakan jawaban atas dilema orang non-Kristten.
Kristus adalah dasar dari kepastian manusia dan jawaban atas
ketidakpastian yang ditemukan. Allah dilihat sebagai sumber dari
segala pengetahuan, maka orang Kristen tidak lagi dihadapkan pada
masalah pasti dan tidak pasti yang tidak terpecahkan. Memang ada
kepastian dan ketidakpastian dalam filsafat kristiani, namun itu semua
ada di bawah bimbingan ke-Tuhanan Kristus.
Di satu pihak, orang Kristen memiliki kepastian akan pengetahuan
manusia selama ia bergantung pada wahyu Allah. Mendasari filsafat kita
atas Allah dan wahyu-Nya, berarti menerima secara pasti hal-hal yang
telah diwahyukan. Kepastian orang Kristen tidak dihancurkan oleh apa
yang tidak diketahuinya karena Allah mengetahui segala sesuatu secara
mendalam dan menyeluruh. Oleh karena itu, Ia dapat menyediakan
pengetahuan yang cukup bagi manusia, bahkan dalam keterbatasan manusia
sekalipun. Manusia akan mengetahuinya dengan benar tanpa disertai rasa
takut akan salah.
Di pihak lain, memang ada ketidakpastian dalam diri orang Kristen. Ia
menyadari bahwa tidak mungkin ia mampu memahami semua pengetahuan. Ini
berkenaan dengan hal-hal yang melampaui akal budinya dan yang belum
dinyatakan Allah kepada manusia. Dalam hal-hal seperti itu, orang
Kristen mengakui ketidakpastiannya, tetapi tetap percaya pada hikmat
Allah dan pengertian-Nya yang sempurna. Contohnya, orang percaya tidak
mampu untuk memecahkan misteri ke-Tuhanan dan kemanusiaan Tuhan Yesus.
Namun, ia percaya bahwa hal itu bukanlah suatu misteri bagi Allah dan
hal itu pasti benar karena Allah yang mengatakannya. Ketergantungan
pada Allah ialah tetap memercayai-Nya dalam hal-hal yang belum dapat
kita pahami sepenuhnya sekalipun. Dapat dikatakan, orang Kristen dapat
memiliki ketidakpastian yang bergantung pada pengetahuan Allah yang
sempurna.
Supaya kita dapat melihat dengan jelas perbedaan antara kepastian dan
ketidakpastian antara orang Kristen dan orang non-Kristen, kita akan
melihat beberapa gambaran berikut ini.
Salah satu keterbatasan filsafat non-Kristen adalah dalam hal
pertanyaan akan keberadaan Allah. Di satu pihak, orang non-Kristen
(mungkin seorang ateis) berpegang pada keyakinan yang mutlak bahwa
Allah tidak ada. Untuk berpegang pada pandangan ini, orang ateis
berusaha untuk mengabaikan fakta keterbatasannya dalam menyelidiki
seluruh alam semesta dan mendorongnya menyadari bahwa mereka tidak
yakin secara mutlak akan keberadaan Allah. Oleh karena orang
non-Kristen belum menyelidiki semua kemungkinan yang membuktikan
keberadaan Allah, ia tidak dapat yakin secara mutlak bahwa Allah tidak
ada.
Orang Kristen memiliki kepastian yang bergantung pada Allah mengenai
keberadaan dan karakter Allah melalui wahyu Allah dalam Alkitab. Allah
telah berfirman dan menyatakan diri-Nya bahwa Ia dapat dikenali oleh
mereka yang menyerahkan dirinya untuk percaya kepada Anak-Nya. Namun,
orang Kristen memiliki ketidakpastian yang bergantung pada Allah
karena ia tidak mengetahui segala sesuatu mengenai Allah. Allah
merahasiakan sebagian mengenai diri-Nya. Selain itu, dosa yang tersisa
dalam kehidupan orang percaya menahannya untuk mengetahui apa yang
telah diwahyukan sebagaimana seharusnya. Namun demikian,
ketidakpastian ini tidak menghancurkan segala sesuatu yang dapat
diketahui oleh orang Kristen mengenai Allah, sebab Allah memiliki
semua pengertian dan pengetahuan akan segala sesuatu.
Dilema dari filsafat orang non-Kristen dapat dilihat pula dari apa
yang dikatakan mengenai lingkungan ciptaan di sekitar mereka. Klaim
akan keyakinan yang mutlak telah dikemukakan, misalnya, saat mereka
mengatakan bahwa dunia ini, dalam pengertian tertentu, merupakan dunia
yang teratur dan dapat dimengerti. Mereka yakin secara mutlak bahwa
keteraturan yang telah benar-benar diamati merupakan suatu realitas
dari dunia ini. Namun, orang tidak percaya diperhadapkan pada fakta
bahwa ia belum dan tidak dapat menyelidiki keseluruhan dari dunia di
luar dirinya, sehingga ia tidak dapat menghindari ketidakpastian yang
mutlak.
Kepastian yang bergantung pada Allah dapat ditemukan dalam pandangan
Kristen yang mengajarkan bahwa Allah telah menciptakan dunia yang
teratur ini. Orang Kristen dapat mengerti tentang dunia ini sebab
Allah telah menyediakan garis-garis petunjuk dalam Alkitab untuk dapat
mengerti dunia ini. Ketidakpastian hadir dalam pandangan kristiani
untuk beberapa alasan. Membutuhkan waktu untuk menerapkan pengajaran
Alkitab ke dalam setiap aspek dari keseluruhan alam semesta ini. Lebih
dari itu, kehadiran dosa menyebabkan orang Kristen mungkin mengabaikan
Alkitab sehingga salah mengerti akan dunia, Alkitab, atau
kedua-duanya. Akibatnya, filsafat Kristen memiliki ketergantungan
kepastian dan ketergantungan ketidakpastian dalam memertimbangkan
dunia di luar dirinya.
Bukanlah hal yang mengejutkan apabila orang non-Kristen juga
memerlihatkan ketidakkonsistenan pemikiran ketika membicarakan diri
mereka sendiri. Dengan beragam cara, orang non-Kristen menyelewengkan
gambaran manusia secara alkitabiah sebagai manusia menurut gambar
Allah dan menggantikannya dengan konsep mereka sendiri, lepas dari
ketergantungannya pada Allah. Mereka bisa mengatakan tentang manusia
seperti yang mereka mau. Apa pun masalahnya, orang non-Kristen
sebenarnya membuat klaim yang berpegang pada kepastian yang mutlak dan
mengabaikan fakta keterbatasan dari penyelidikan mereka sebagai
manusia, serta akhirnya mengembalikan diri mereka pada ketidakpastian
yang mutlak.
Ketika memikirkan dirinya sendiri, orang Kristen kembali diperhadapkan
pada kepastian dan ketidakpastian dalam ketergantungannya pada Allah.
Orang Kristen mengetahui bahwa ia merupakan gambar Allah karena Allah
mewahyukannya dalam Alkitab. Namun, ada misteri mengenai diri kita
sendiri di mana orang Kristen tidak mampu memahaminya. Lebih dari itu,
dosa menyebabkan orang Kristen salah mengerti dan kadang menolak
kebenaran dari karakter mereka sendiri. Namun, orang Kristen
menyerahkan dirinya pada pengertian bahwa secara menyeluruh, Allah
mengerti karakter manusia. Oleh karena itu, saat orang Kristen berada
dalam ketidakpastian yang bergantung pada Allah, sa