Silabus AUA




KURSUS APOLOGETIKA UNTUK AWAM I [AUA I]

Download Materi :
TEXT | HTML | PDF

  1. Penjelasan Lengkap:

    Kursus AUA I adalah bagian pertama dari 2 bagian Kursus Apologetika untuk Awam yang disiapkan. Di AUA I ini akan dipelajari pokok-pokok penting bagaimana membangun "rumah apologetika" Kristen, khususnya dengan mempelajari tentang Allah dan karakter manusia ketika diciptakan, jatuh dalam dosa dan ditebus oleh Kristus. Akan dipelajari pula perbedaan mendasar antara filsafat Kristen dan non-Kristen.

    [Modul ini adalah modifikasi dari buku "Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus" oleh Richard L. Pratt Jr., terbitan Seminar Alkitab Asia Tenggara, Malang]

  2. Tujuan Pelajaran
    Sesudah mengerjakan seluruh pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikan Kursus DIK, maka diharapkan peserta akan dapat:

    1. Menjelaskan "rumah apologetika" bagaimana yang seharusnya dibangun oleh orang Kristen
    2. Mengulang beberapa pokok pengajaran penting tentang karakter
      manusia yang diciptakan oleh Tuhan, baik ketika diciptakan, jatuh dalam dosa dan ditebus oleh Kristus.
    3. Menyebutkan dengan jelas perbedaan antara filsafat Kristen dan non-Kristen.
  3. Materi Pelajaran (6 Pelajaran)
    1. PELAJARAN 01: DASAR YANG KOKOH
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan akan mempelajari
      tentang pengertian apologetika secara alkitabiah dan kepentingannya.
    2. Baca Online : Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

    3. PELAJARAN 02: PERMULAAN DARI SEGALANYA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengerti konsep Allah sebagai Pencipta dan perbedaan esensial antara Pencita dan yang dicipta.
    4. Baca Online : Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

    5. PELAJARAN 03: KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengetahui dengan jelas karakter manusia ketika diciptakan Tuhan, yaitu sebagai gambar Allah yang sempurna.
    6. Baca Online : Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c

    7. PELAJARAN 04: KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mempelajari tentang akibat kejatuhan manusia dalam dosa dan pengaruhnya dalam setiap aspek kehidupan manusia.
    8. Baca Online : Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c

    9. PELAJARAN 05: KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS KRISTUS
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat mengerti dengan jelas kebaikan Allah menyelamatkan manusia dari kutuk dosa dan menempatkannya kembali sebagai gambar Allah seperti semula.
    10. Baca Online : Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b

    11. PELAJARAN 06: FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN
      Tujuan: Dalam pelajaran ini peserta diharapkan dapat membedakan
      dengan jelas antara filsafat non-Kristen dan Kristen dan mengerti dilema yang diharapi orang non-Kristen agar dapat ditemukan titik temu untuk menginjili mereka.
    12. Baca Online : Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b

Bahan Referensi AUA I
=================

Berikut ini adalah daftar buku yang dipakai sebagai referensi untuk membantu peserta PESTA mendapatkan penjelasan-penjelasan yang lebih dalam dan luas tentang pokok-pokok materi yang dibahas dalam Kursus APOLOGETIKA UNTUK AWAM I. Karena tujuannya adalah untuk melengkapi, maka akan sangat baik jika Anda bisa mengusahakan memiliki buku-buku tsb. dalam bentuk cetaknya untuk kebutuhan di masa y.a.d..

  • Berkhof, Louis, TEOLOGI SISTEMATIKA, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta: 1994.
  • Cole, Dr. Charles W., PENGAKUAN BAPTIS 1689, Carey Publication: 1996.
  • Hoekhema, Anthony A., DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH, Momentum, Jakarta: 2001
  • Hoekama, Anthony A., MANUSIA: CIPTAAN MENURUT GAMBAR ALLAH, Momentum, Surabaya: 2003
  • J.I. Packer, Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah, Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2002
  • Kreeft, Peter & Tacelli, Ronald K., PEDOMAN APOLOGETIKA KRISTEN, Yayasan Kalam Hidup, Bandung: 2006.
  • Sproul, R.C., KEBENARAN-KEBENARAN DASAR IMAN KRISTEN, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.
  • Thiessen, Henry C., TEOLOGI SISTEMATIKA, Gandum Mas, Malang: 2003.
  • Tong, Stephen, IMAN, RASIO DAN KEBENARAN, Institut Reformed, Jakarta: 1996.
  • Nama situs: Carm, http://www.carm.org/apologetics.htm, Introduction to Apologetics, by Matthew J. Slick

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

Pelajaran

AUA-I Pelajaran 01

Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Pelajaran: AUA I-P01

Pelajaran 01 - DASAR YANG KOKOH



Daftar Isi

  1. Rumah Apologetika
  2. Pengertian Apologetika Alkitabiah
  3. Kepentingan Apologetika

Doa


DASAR YANG KOKOH

"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan siap
sedialah pada segala sesuatu untuk memberi pertanggungan jawab
kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu
tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah
lembut dan hormat." (1 Pet. 3:15)

Kehidupan yang taat pada firman Tuhan adalah seperti rumah yang
dibangun di atas dasar yang teguh. Akhir dari khotbah Tuhan Yesus di
atas bukit berkata:

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia
sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas
batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin
melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di
atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan
tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang
mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan
datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah
rumah itu dan hebatlah kerusakkannya." (Mat. 7:24-27)

Tuhan Yesus menunjuk pada suatu fakta yang nyata, yakni kekuatan
fondasi menentukan kemampuan rumah itu untuk dapat bertahan dari deras
dan kuatnya angin yang menerjang. Jika seseorang membangun rumahnya di
atas pasir, rumah itu akan runtuh; tetapi jika ia membangunnya di atas
batu yang kokoh, rumah itu akan tetap berdiri teguh, walaupun
diterjang angin badai yang dahsyat. Mempelajari pelajaran-pelajaran
ini seperti membangun sebuah rumah di mana kita akan tinggal tenang
ketika ada hujan dan angin dari orang-orang tak percaya yang menyerang
rumah tersebut karena kita yakin bahwa kita membangun dasar rumah kita
dari batu yang kokoh -- firman Kristus.

Sebelum meletakkan dasar, sebaiknya kita mengetahui rumah macam apa
yang akan kita bangun. Karena itu, mari kita mulai dengan memikirkan
dasar ini.

A. Rumah Apologetika

Istilah "apologetika" sering kali disalahmengerti karena biasanya
dipakai saat kita bersalah kepada seseorang dan kita merasa perlu
mendatangi orang tersebut untuk meminta maaf. Namun dalam
pelajaran-pelajaran berikut, istilah ini akan dipakai secara terbatas
untuk pengertian khusus.

Kata "apologetika" berasal dari bahasa Yunani "apologia". Kata ini
sering dipakai dalam literatur non-Kristen dan Kristen (Perjanjian
Baru). Contohnya, "The Apology of Socrates" adalah sebuah catatan
pembelaan Socrates yang disajikannya dalam sidang di Athena. Justin
Martyr, dalam "Apology"nya, berusaha memberikan pembelaan untuk
saudara-saudara seimannya dari tuduhan orang-orang tidak percaya.
Pada waktu Paulus berdiri di hadapan banyak orang di Yerusalem, ia
berkata, "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah apa yang
hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." (Kis. 22:1).
Berapologetika, dalam hal ini berarti memberikan pembelaan; jadi
"apologetika" adalah studi yang mempelajari bagaimana mengembangkan
dan menggunakan pembelaan itu secara langsung.

Apologetika memang merupakan suatu bidang yang mendapatkan perhatian
secara khusus dari berbagai agama dan filsafat. Tetapi dalam
pelajaran-pelajaran ini, perhatian kita hanya akan ditujukan pada
pembelaan kebenaran kristiani yang telah diwahyukan kepada manusia
melalui firman Tuhan dalam Alkitab. Apologetika semacam ini disebut
"apologetika Kristen", yakni pembelaan filsafat hidup Kristen terhadap
berbagai bentuk filsafat hidup non-Kristen (Cornelius Van Til,
Apologetics). Karena itu, kita tidak akan mempelajari apologetika
secara umum, namun hanya apologetika yang berkaitan dengan
kekristenan. Sesuai dengan analogi yang telah diberikan di atas, rumah
yang akan kita bangun dalam pelajaran-pelajaran berikut ini adalah
rumah apologetika Kristen.

B. Pengertian Apologetika Alkitabiah

Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai fondasi kokoh yang harus
mendasari setiap area kehidupan kita, fondasi kokoh itu adalah firman
Allah. Firman Allah adalah satu-satunya fondasi yang dapat memberikan
kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap berdiri teguh di tengah badai
dosa yang dahsyat dan menghancurkan. Alkitab Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru adalah firman Allah. Merupakan pengakuan umum semua
orang Kristen bahwa Alkitab adalah:

"Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
(2 Tim. 3:16, 17)

Alkitab adalah penuntun berotoritas yang mutlak bagi setiap orang
percaya; tanpa Alkitab, kita hanya akan menerka-nerka pikiran Allah,
tetapi dengan Alkitab, semua petunjuk dan pimpinan Allah dalam setiap
aspek kehidupan menjadi pasti dan jelas. Seperti pemazmur katakan:

"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Maz.
119:105)

Tidaklah cukup kalau hanya menyebutkan Alkitab sebagai fondasi untuk
berapologetika karena orang percaya yang tidak terlatih pun tahu bahwa
otoritas Alkitab merupakan hal yang terpenting dalam kebutuhan
pembelaan iman. Serangan terbesar dalam iman Kristen ditujukan kepada
Alkitab itu sendiri. Alkitab sering kali dituduh mengandung banyak
kesalahan dan hanya memunyai sedikit otoritas yang tidak berbeda
dengan tulisan literatur lainnya. Karena kita harus sering membela
keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, hubungan apologetika
dengan Alkitab kadang-kadang disalahmengerti. Sebagai firman Tuhan,
Alkitab adalah fondasi di mana kita membangun pembelaan kita dan juga
merupakan salah satu kepercayaan yang harus kita pertahankan. Dua
peran Alkitab ini yang kadang kita lupakan.

Ada orang-orang Kristen yang memiliki pandangan yang keliru mengenai
karakter Alkitab sebagai fondasi dan cenderung membangun pembelaan
mereka hanya di atas dasar hikmat dan kemampuan berpikir manusia.
Firman Tuhan ditempatkan sebagai atap dari bangunan yang didukung
oleh apologetika mereka. Kesulitan untuk mendukung firman Tuhan
dengan bangunan yang didasarkan pada hikmat manusia sebagai otoritas
yang tertinggi, sering kali menjadi terlampau berat.
Pembangun-pembangun rumah semacam itu mungkin akan menutup mata dan
mengatakan hal yang sebaliknya atau menyangkalinya, tetapi kehancuran
rumah tidak dapat dihindarkan, bagaikan rumah yang dibangun di atas
pasir.

Sebagai pengikut Kristus, kita harus selalu ingat untuk membangun
pembelaan iman Kristen kita di atas fondasi yang kuat, yaitu Alkitab.
Dengan demikian, tidak akan ada beban yang terlampau berat untuk
ditunjang dan tidak akan ada angin yang terlalu kencang untuk ditahan.
Apologetika harus membela Alkitab dengan ketaatan secara mutlak kepada
prinsip-prinsip pembelaan dan petunjuk yang diwahyukan oleh Alkitab
sendiri.

Peranan Alkitab sebagai penuntun dalam berapologetika dapat terlihat
dengan jelas dalam 1 Pet. 3:15:

"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap
sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada
tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang
pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut
dan hormat.

Pada konteks sebelumnya, Petrus menulis tentang penderitaan yang harus
dihadapi orang-orang Kristen pada masa itu. Petrus tahu bahwa dalam
masa penderitaan, serangan-serangan dari dunia yang berdosa sering
kali dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang melayani Kristus dan
harus tetap percaya dan taat pada-Nya. Petrus berharap para pembaca
suratnya akan memberikan tanggapan yang tepat atas
pertanyaan-pertanyaan yang para penganiaya mereka mungkin akan
lontarkan. Karena itu, Petrus memberikan petunjuk untuk mempersiapkan
diri menghadapi penderitaan itu dengan memohon supaya mereka memunyai
sikap yang tepat terhadap Kristus.

Kita harus memerhatikan dengan saksama bagaimana Petrus menyusun
petunjuk dalam ayat-ayat berikut ini. Pertama, Petrus berkata,
"Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" dan kemudian ia
menambahkan, "siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab ...." Sebelum pembelaan atau jawaban diberikan,
Kristus harus dikuduskan terlebih dulu sebagai Tuhan yang memerintah
dan mengatur setiap segi kehidupan kita.

Perhatikanlah bahwa kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam
hati kita. Ini tidak berarti hanya emosi saja yang harus didasarkan
pada Kristus, sementara pikiran kita bebas melakukan apa yang
dikehendakinya. Tidak juga berarti bahwa ke-Tuhanan Kristus harus
tinggal hanya dalam hati kita yang terdalam dan tidak pernah
memengaruhi jawaban-jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan dari
dunia. Firman Tuhan mengajarkan bahwa hati adalah pusat personalitas
kita, yang darinya "terpancar kehidupan" (Ams. 4:23). Hati tidak hanya
memerintah emosi, tetapi juga pikiran dan setiap aspek kehidupan
lainnya. Lebih dari itu, menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati
kita berarti ke-Tuhanan-Nya juga akan efektif dalam semua yang kita
ekspresikan, termasuk pembelaan iman kita. Karena itu, menurut Petrus,
penaklukkan terhadap otoritas Kristus merupakan hal yang sangat
penting dalam melakukan pembelaan yang benar dan tepat. Sebagai Tuhan,
Kristus akan memimpin pada saat kita melakukan pembelaan iman.
Pimpinan ini datang melalui firman-Nya, dan tanpa pimpinan-Nya, segala
sesuatu akan menjadi sia-sia.

Dalam pelajaran berikut, kita akan memerhatikan bagaimana membangun
pembelaan untuk iman Kristen yang didasarkan pada batu karang yang
teguh, yaitu Alkitab. Ada beragam buku yang mengajarkan bagaimana
membela kebenaran iman Kristen. Keanekaragaman ini sering kali
membingungkan orang Kristen. Namun di tengah kebingungan ini, ada satu
hal yang tetap jelas bagi kita, yaitu jangan mengadopsi cara
berapologetika hanya karena orang-orang terkenal menggunakannya, atau
karena ternyata banyak yang berhasil, atau karena memberikan kekuatan
kepada iman percaya kita. Jika kita rindu membangun pembelaan yang
akan selalu tegak berdiri dan tidak pernah goyah dan jatuh, kita harus
membangunnya di atas dasar firman Allah.

C. Kepentingan Apologetika

Mempelajari apologetika dan mengembangkan kemampuan berapologetika
secara benar adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Dari yang
tertua sampai yang termuda, terkaya sampai yang termiskin, terpandai
sampai yang sederhana, setiap orang yang telah percaya pada
keselamatan dalam Yesus Kristus bertanggung jawab untuk mempelajari
apologetika. Namun sering kali, maksud baik orang Kristen melaksanakan
tanggung jawab ini gagal secara serius.

Salah satu alasan yang biasa dikemukakan untuk mengabaikan apologetika
terletak pada kesalahmengertian dari apa yang Tuhan Yesus katakan
dalam Mat. 10:19: "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu
kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena
semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga."

Kesalahmengertian yang serius berkenaan dengan ayat ini, khususnya
jika kita membaca terjemahan dari King James: "... give no thought how
or what ye shall speak ...." ("... tidak perlu dipikirkan bagaimana
atau apa yang harus kita katakan ...."). Ayat tersebut sering kali
ditafsirkan bahwa kita harus bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus
saat membela iman kita. Karena itu, kita tidak perlu mempersiapkan
diri dengan mempelajari cara berapologetika.

Lebih jauh dikatakan bahwa orang yang mempelajari apologetika malah
menunjukkan bahwa ia kurang beriman dan hatinya tidak sungguh-sungguh
berserah pada Allah. Penafsiran seperti ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan sebab tidak memertimbangkan pengamatan secara
menyeluruh terhadap konteks dari ayat tersebut dan juga firman Tuhan
secara keseluruhan.

Perlu diperhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan "jangan pikirkan
tentang apa yang akan kamu katakan" seperti yang sering dimengerti
oleh pembaca terjemahan King James. Ayat ini sebenarnya berkenaan
dengan peringatan Tuhan Yesus supaya orang-orang percaya jangan cemas
dan kuatir. Pada ayat-ayat sebelumnya (Mat. 10:19), Tuhan Yesus
mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan diserahkan ke hadapan para
gubernur dan raja. Kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan
orang-orang penting seperti itu tentu merupakan pengalaman yang sangat
menggentarkan. Karena itu, Tuhan Yesus mendorong dan memberi semangat
kepada para murid-Nya untuk tidak cemas dan takut. Segala ketakutan
harus lenyap sebab mereka tidak akan sendiri. Tuhan Yesus mengatakan
bahwa Roh Kudus dari Allah akan memberikan kepada kita kekuatan dan
hikmat saat kita membutuhkannya. Seperti apa yang rasul Paulus
katakan: "Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang
membantu aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku
...." (2 Tim. 4:16, 17)

Sangatlah penting untuk dimengerti bahwa jaminan akan diberikannya
kekuatan dari Roh Kudus tidak boleh dipakai untuk mengganti ketekunan
dan kesetiaan dalam mempelajari dan mempersiapkan diri untuk
berapologetika. Contoh lain, meski kita dianjurkan untuk tidak kuatir
akan makanan dan pakaian (lihat Mat. 6:25, dst.), kita tetap diminta
berjerih payah bekerja untuk mendapatkannya. Demikian juga halnya
dengan berapologetika, kita harus memenuhi tanggung jawab kita untuk
mempersiapkan diri.

Petrus menulis bahwa kita harus "selalu bersiap sedia (sudah
mempersiapkan diri) untuk memberikan jawaban" (1 Pet. 3:15). Karena
itu, mereka yang mengabaikan hal ini berarti tidak taat secara mutlak
kepada ke-Tuhanan Kristus dan tidak bergantung pada Roh Kudus, sebab
ketaatan dan penyerahan yang sungguh-sungguh akan dinyatakan dengan
mempelajari apologetika secara serius.

Alasan lain yang sering dipakai untuk mengabaikan apologetika adalah
alasan bahwa pembelaan iman merupakan pekerjaan mereka yang terlatih
(seperti pendeta atau sarjana teologi), bukan tugas orang Kristen
awam. Dosen teologi dan pendeta diharapkan dapat memberikan jawaban
secara sistematis, sebab apologetika bersifat terlalu filosofis,
abstrak, dan tidak praktis bagi kaum awam. Oleh karena itu,
banyak orang Kristen yang berpikir bahwa tugas mereka hanyalah
mengabarkan Injil. Dan kalau ada pertanyaan mengenai kredibilitas iman
Kristen, mereka akan membawa orang itu kepada pendeta, yang dianggap
sebagai "tenaga ahli".

Memang benar bahwa dosen teologi dan pendeta memunyai tanggung jawab
yang lebih berat dalam berapologetika daripada kebanyakan kaum awam,
namun ini tidak berarti berapologetika adalah tanggung jawab pendeta
dan dosen saja. Setiap orang percaya bertanggung jawab untuk dapat
berapologetika. Ayat yang telah kita pelajari mengatakan bahwa tidak
ada pengecualian bagi orang Kristen dalam berapologetika (1 Pet.
3:15). Setiap orang harus siap untuk menderita bagi Kristus dan
memberikan jawaban serta pembelaan atas pengharapan mereka di dalam
Kristus.

Lebih dari itu, Paulus secara jelas menyatakan bahwa setiap orang
percaya harus menjadi pembela iman. Sebagai rasul, Paulus secara
khusus "dipilih untuk menjadi pembela Injil" (Flp. 1:16). Tetapi
Paulus mengerti bahwa pekerjaan berapologetika bukan hanya tanggung
jawabnya sendiri. Karena itu, ia berkata pada orang-orang Filipi:

"Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua,
sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut
mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik
pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan
meneguhkan Berita Injil." (Flp. 1:7)

Paulus dipenjara karena berkhotbah mengenai Injil, tetapi orang-orang
Kristen di Filipi tidak meninggalkannya. Mereka mengirimkan
pemberian-pemberian yang disampaikan oleh wakil gereja mereka.
Malahan, mereka sangat terlibat dengan pelayanan Paulus sehingga
mereka juga "mengalami hal yang sama" (Flp. 1:30) seperti Paulus.
Salah satu yang mereka alami dijelaskan sebagai "pembelaan dan
pengukuhan dari Injil" (Flp. 1:7). Orang-orang Filipi dihargai dan
dipuji karena mereka membela iman Kristen dengan serius. Demikian pula
setiap orang yang membela iman Kristennya akan dihargai dan dipuji
oleh Allah.

Kepentingan apologetika dapat dilihat dari berbagai segi lain.
Kemampuan untuk memertahankan kepercayaan kita akan membuat
penginjilan lebih efektif. Kita tidak perlu takut mengemukakan masalah
kekristenan di antara kawan-kawan dan tetangga kita bila kita mampu
memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka. Kita tidak perlu
takut menghadapi orang tidak percaya dari kalangan intelektual bila
kita mampu memertahankan iman kepercayaan kita. Semangat penginjilan
akan bertambah dengan memelajari apologetika. Lebih dari itu, keraguan
orang yang mendengar Injil sering kali menjadi sirna setelah mendengar
jawaban yang benar atas pertanyaan dari keraguan mereka.

Selain itu, apologetika alkitabiah dapat menguatkan iman orang-orang
percaya. Banyak orang Kristen yang terkena wabah keragu-raguan.
Keraguan ini sering menjadi penyebab orang percaya kehilangan
kemampuannya melayani Kristus. Apologetika memampukan orang percaya
mengatasi berbagai macam pencobaan, seperti jatuh dalam
ketidaksetiaan yang mungkin akan dialami. Kemampuan ini juga akan
memungkinkan mereka kreatif dalam pelayanan.

Bagi orang Kristen yang belum pernah mengalami keraguan, mempelajari
apologetika secara sungguh-sungguh akan membuatnya semakin bertambah
yakin dan bersemangat untuk lebih taat menjadi anak Tuhan. Apologetika
adalah subjek yang sangat penting, yang seharusnya menjadi perhatian
semua orang percaya.

Dalam pelajaran yang berikut, kita akan membangun satu bata demi satu
bata dari rumah apologetika yang sangat penting ini. Rumah ini akan
dibangun secara kokoh atas dasar firman Tuhan. Satu pengharapan kami
adalah orang percaya akan diperlengkapi untuk lebih baik lagi melayani
Tuhan dan untuk membangun kerajaan-Nya dengan ketaatan pada-Nya. Serta
secara efektif dapat memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang.

-Akhir Pelajaran (AUA I-P01)--

Doa

Ya, Tuhan, Engkaulah dasar iman dan pengharapan kami. Ajarkan kepada
kami untuk memiliki sikap yang siap sedia memertanggungjawabkan
iman kami kepada mereka yang memintanya. Tapi terlebih dahulu,
berikan kami kekuatan untuk menguduskan Engkau dalam hati kami
sebagai Tuhan dan Juru Selamat supaya hidup kami sungguh
mememuliakan Engkau. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 02

Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Pelajaran: AUA I-P02

Pelajaran 02 - PERMULAAN DARI SEGALANYA



Daftar Isi

  1. Allah dan Ciptaan-Nya

    1. Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa
      Pun)
    2. Ciptaan Bergantung pada Allah
    3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia
      1. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya
      2. Melalui Penyataan Khusus Allah
  2. Ketergantungan Manusia kepada Allah
    1. Ketergantungan Pengetahuan Manusia
    2. Ketergantungan Moralitas Manusia

Doa


PERMULAAN DARI SEGALANYA

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kej. 1:1)

Dalam pelajaran kedua ini, kita akan mengembangkan prinsip-prinsip dan
penerapan pembelaan iman Kristen berdasarkan kebenaran Alkitab sebagai
firman Tuhan. Sesuai dengan keyakinan ini, ada beberapa hal yang harus
dibahas. Pertama, kita akan memulainya dengan mempelajari konsep
penciptaan secara alkitabiah.

  1. Allah dan Ciptaan-Nya

    Alkitab menempatkan kebenaran bahwa Allah adalah Pencipta segala
    sesuatu sebagai kalimat pembukaannya. Hal ini menyatakan betapa
    pentingnya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh
    karena itu, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa seluruh Alkitab
    berisi penjelasan mengenai kebenaran yang satu ini, yakni Allah
    sebagai Pencipta dan Tuhan.

    Taman Eden merupakan penyataan (wahyu) dari keharmonisan Allah dengan
    ciptaan-Nya. Dosa merupakan pemberontakan ciptaan melawan
    Penciptanya. Keselamatan merupakan pembebasan dari dosa dan hak
    ciptaan untuk dapat berdiri di hadapan Allah. Rasul Yohanes berbicara
    mengenai sifat yang hakiki dari aktivitas penciptaan Allah sebagai
    berikut: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada
    suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yoh. 1:3)

    Jika kita mengamati Kej. 1:1, kita dapat melihat bahwa aktivitas
    penciptaan terdiri dari dua bagian. Di satu pihak, kita melihat
    Seseorang yang menciptakan. Di pihak lain, kita melihat ciptaan yang
    Ia ciptakan. Akibatnya, kita dapat melihat garis pemisah atau pembeda
    antara Allah sebagai Pencipta dengan ciptaan-Nya. Kita akan menyebut
    hal ini sebagai "perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan". Ini
    merupakan konsep yang akan diselidiki lebih jauh dan merupakan
    referensi yang akan selalu kita lihat kembali.

    Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya ini tidak boleh kita lupakan
    atau kesampingkan barang sedetik pun dalam usaha mengembangkan
    apologetika alkitabiah.

    1. Allah adalah Allah yang Tidak Bergantung atas Apa Pun (Siapa Pun)

      Orang-orang Kristen pada zaman ini kadang masih berpikir bahwa Allah
      hanyalah gambaran dari seorang kakek tua yang duduk di atas awan
      sambil memerhatikan semua peristiwa menyedihkan yang terjadi di dunia
      ini tanpa mampu berbuat apa-apa. Karena itu, Allah sering dilihat
      sebagai Allah yang tidak berguna dan tidak penting bagi dunia ini,
      kecuali jika manusia sendiri yang memiliki kerinduan dan kebutuhan
      pribadi yang ingin dipenuhi oleh Allah.

      Dalam pikiran kebanyakan orang, Allah tidak ada hubungannya dengan
      proses yang terjadi di dunia. Mereka mengatakan bahwa "Allah
      dibutuhkan hanya jika ada malapetaka atau masalah pribadi yang berat".
      Lebih dari itu, Allah sendiri sering dimengerti sebagai Allah yang
      bergantung pada ciptaan-Nya. Dia merindukan sesuatu terjadi di tengah
      dunia ini, namun yang Ia dapatkan adalah sebaliknya, yang tidak Ia
      duga, karena kepandaian tingkah manusia. Pikiran-pikiran demikian,
      yang jauh dari gambaran firman Tuhan, juga tumbuh di gereja.

      Allah bukanlah Allah yang tidak dapat berdiri sendiri atau seperti
      "ayah yang hanya bisa duduk manis"; padahal Ia adalah Pencipta yang
      Mahakuasa serta terus-menerus terlibat dan bertanggung jawab atas
      ciptaan-Nya. Roma 11:36 berbicara mengenai hal ini:

      "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada
      Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"

      Pengamatan yang lebih teliti pada bagian firman Tuhan ini akan
      menyatakan kedalaman dari pengetahuan tentang Allah. Pertama, Paulus
      berkata bahwa semua ciptaan adalah "dari Dia". Ayat ini berarti Allah
      menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan semua ciptaan tidak
      terjadi dengan sendirinya. Kedua, Paulus mengatakan ciptaan diciptakan
      "bagi Dia". Ini berarti ciptaan diciptakan untuk kemuliaan Allah dan
      untuk menyenangkan Allah, bukan untuk manusia atau ciptaan lain.

      Penciptaan adalah "melalui Dia". Di sini, Paulus tidak berbicara
      mengenai awal atau akhir dari hubungan Allah dengan ciptaan-Nya. Ia
      berbicara mengenai Allah sebagai Pencipta yang memelihara dan
      menunjang keberadaan ciptaan-Nya setiap saat sampai akhir. Ciptaan
      dapat terus melangsungkan keberadaannya oleh karena Allah.

      Inti dari kebenaran ini adalah: Sebagaimana Allah berkuasa menciptakan
      dari permulaan, Dia juga berkuasa memungkinkan atau mendukung ciptaan
      ini untuk terus ada sampai sekarang. Demikian juga Allah tidak
      diciptakan oleh ciptaan-Nya, Dia sekarang pun tidak didukung oleh
      ciptaan-Nya dalam hal apa pun juga.

      "dan (Allah) juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah
      Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan
      nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kis. 17:25)

      Sangat jelas dikatakan bahwa Allah tidak membutuhkan apa pun yang
      harus atau dapat dipenuhi oleh ciptaan-Nya, karena pada kenyataannya
      yang terjadi adalah sebaliknya, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
      ciptaan dipenuhi oleh Allah. Allah adalah Allah yang tidak bergantung
      atas apa pun atau siapa pun.

    2. Ciptaan Bergantung pada Allah

      Jika kita mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak bergantung
      pada apa pun (siapa pun), di lain pihak kita harus menegaskan
      ketergantungan ciptaan pada Allah sebagai Pencipta. Kita tahu bahwa
      ketergantungan anak pada orang tua akan semakin berkurang saat mereka
      tumbuh menjadi dewasa. Bahkan bayi yang baru lahir pun, pada waktu
      yang singkat masih dapat hidup tanpa orang tuanya. Tetapi tidak
      demikian halnya dengan ketergantungan ciptaan kepada Allah. Ciptaan
      tidak dapat memisahkan keberadaannya dari Allah atau tidak dapat
      berdiri sendiri sedetik pun tanpa kuasa pemeliharaan Allah. Demikian
      kata firman Tuhan:

      "Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada
      semua orang." (Kis. 17:25)

      "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada
      di dalam Dia." (Kol. 1:17)

      Allah mengatur, memenuhi kebutuhan, dan memelihara segala sesuatu
      tanpa terkecuali. Dari yang terbesar sampai yang terkecil, setiap
      aspek dari ciptaan secara keseluruhan bergantung kepada Allah untuk
      kelangsungan keberadaannya.

      Kita harus setuju dengan John Calvin, bahwa kepercayaan pada Allah
      sebagai Pencipta harus disertai dengan kepercayaan bahwa Allah adalah
      Pengontrol sejarah. Dunia tidak dapat berlangsung dengan kekuatannya
      sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. Karena
      itu, kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung
      kepada Allah.

      Kita dapat melihat dalam pelajaran yang berikutnya bahwa kesadaran
      akan perbedaan antara Allah yang berdiri sendiri dengan ciptaan yang
      bergantung pada Penciptanya merupakan hal yang membedakan antara
      orang-orang Kristen dengan non-Kristen. Orang Kristen berusaha melihat
      segala sesuatu dari sudut pandang ciptaan yang bergantung pada sang
      Pencipta, sedangkan orang non-Kristen mencoba untuk menyangkal
      ketergantungannya dari sang Pencipta.

      Penyangkalan yang sangat keras atas perbedaan Pencipta dan ciptaan
      dari orang-orang tidak percaya akan dapat dilihat dari
      ketidakpercayaan mereka pada keselamatan dalam Kristus. Mereka
      menempatkan Allah dan ciptaan-Nya saling bergantung dan mengatakan
      bahwa ciptaan bergantung pada Allah hanya dalam taraf tertentu saja.
      Orang tidak percaya mengemukakannya dengan berbagai cara, tetapi pada
      intinya adalah sama -- penyangkalan akan perbedaan antara Pencipta dan
      ciptaan.

    3. Allah Menyatakan Diri kepada Manusia

      Sebagai orang Kristen, kita harus menekankan perbedaan antara Allah
      (Pencipta) dan ciptaan-Nya. Kita juga tidak boleh melupakan bahwa
      Allah telah menyatakan diri-Nya sendiri dan kehendak-Nya kepada
      manusia. Walaupun Allah telah mengadopsi berbagai cara untuk
      menyatakan diri-Nya pada waktu yang berbeda, kita akan memerhatikan
      dua cara yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya sepanjang waktu.

      1. Melalui Setiap Aspek dari Ciptaan-Nya

        Secara luar biasa, Allah telah membangun seluruh jaga raya ini
        sehingga setiap bagiannya menyatakan diri-Nya kepada manusia. Setiap
        elemen dari dunia, tanpa kecuali, menyatakan Allah dan kehendak-Nya
        kepada manusia.

        "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan
        pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan
        malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam." (Maz. 19:1-2)

        Ciptaan dengan segala keindahan dan kemegahannya menyatakan kemegahan
        dan kualitas Allah dan tuntutan kebenaran yang Ia minta dari
        manusia. Sebagaimana yang dikatakan Paulus dalam Roma 1:20, 32:

        "Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang
        kekal dan Keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya
        sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih ....
        Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah,
        yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian patut
        dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka
        juga setuju dengan mereka yang melakukannya."

        Meskipun manusia, yang telah jatuh dalam dosa, menyangkalinya dan
        orang-orang Kristen sering kali menemukan kesulitan untuk melihatnya,
        Alkitab mengajarkan secara jelas bahwa Allah telah menyatakan
        diri-Nya dalam setiap aspek ciptaan dan semua manusia, bahkan rupa
        manusia sendiri menyatakan semua itu.

        Penyataan Allah ini tidak dapat dihindari atau disangkali. Kita tidak
        dapat mengetahui satu aspek dari ciptaan tanpa memikirkan
        Penciptanya. "Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa
        melihat kemuliaan-Nya." (Maz. 97:6)

        Contohnya, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa sapi makan rumput.
        Pengertian yang benar akan sapi dan rumput akan menyatakan kuasa
        pemeliharaan Allah serta tanggung jawab manusia untuk menaklukkan
        ciptaan yang lain bagi kemuliaan Allah (lihat Kej. 1:28). Jarak
        terdekat antara bumi dan salah satu bintang akan dapat dimengerti
        hanya dengan kesadaran terhadap penyataan Allah. Begitu besarnya jarak
        tahun cahaya semata-mata merupakan pekerjaan tangan Allah dan
        memerlihatkan kepada manusia akan kebutuhan mereka untuk merendahkan
        diri di hadapan Allah dan bersyukur atas anugerah-Nya (lihat Maz.
        8:1-5).

        Sebagaimana ciptaan tidak dapat terpisah dari Allah, ciptaan tidak
        dapat berdiam diri mengenai keberadaan Allah. Semakin seseorang
        mengerti tentang fakta-fakta dari jagat raya ini, semakin kita
        menyadari bahwa semua itu menyatakan Allah dan kehendak-Nya.

      2. Melalui Penyataan Khusus Allah

        Dalam banyak hal, Allah selalu membarengi penyataan-Nya akan ciptaan
        dengan penyataan-Nya secara khusus mengenai diri-Nya. Di taman Eden,
        Allah berbicara dengan suara-Nya kepada Adam mengenai pohon
        pengetahuan yang baik dan jahat. Kepada para patriakh (Abraham, Musa,
        dll.), Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi-mimpi dan
        penglihatan-penglihatan. Kepada Musa, Allah berbicara di semak duri
        yang menyala dan di atas kitab batu. Kepada para rasul, Ia berbicara
        melalui kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus, Putra-Nya. Pada masa
        kini, Allah berbicara melalui Alkitab sebagai firman Tuhan yang telah
        diinspirasikan oleh Roh Kudus.

        Penggunaan beberapa aspek tertentu dari ciptaan untuk menyatakan
        wahyu dimaksudkan untuk menambahkan kualitas pewahyuan dari ciptaan
        yang lain. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, ketaatan manusia diuji
        dengan wahyu khusus. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa,
        penyataan secara khusus memunyai dua maksud, yakni untuk
        memerlihatkan jalan keselamatan melalui Kristus dan untuk menolong
        manusia mengerti lebih baik tentang penyataan akan Allah dan
        kehendak-Nya dalam aspek-aspek ciptaan lain.

        Dosa telah menempatkan manusia di bawah penghakiman dan membutakan
        kesadaran manusia terhadap penyataan Allah melalui semua ciptaan.
        Akibatnya, firman Allah berfungsi sebagai alat di mana melaluinya
        manusia mengerti akan dirinya sendiri, dunia, dan Allah.

        "Segala tulisan yang diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk
        mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
        dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
        manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
        (2 Tim. 3:16, 17)

        Penyataan (wahyu) Allah melalui firman Tuhan diberikan kepada kita
        untuk memimpin kita kepada pengetahuan yang benar. Penyataan Allah
        melalui semua ciptaan dan firman Tuhan tidak menghapuskan kepastian
        perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Sebagaimana kita ketahui, semua
        bentuk penyataan Allah pada manusia justru menunjukkan perbedaan atau
        pemisahan yang harus diakui oleh manusia.

  2. Ketergantungan Manusia kepada Allah

    Pemazmur mengingat kedudukan kita sebagai manusia dengan perkataan
    ini:

    "Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah: Dialah vang menjadikan kita dan
    punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." (Maz.
    100:3)

    Manusia tidak lebih dan tidak kurang dalam hal ketergantungannya pada
    Allah dibandingkan ciptaan Allah yang lain; keduanya
    adalah ciptaan Allah yang perlu Ia dukung. Manusia
    merupakan mahkota dari aktivitas penciptaan Allah, tetapi ia tetap
    merupakan makhluk ciptaan dan akan kembali kepada debu nantinya (Kej.
    2:7).

    "Di dalam Dia kita hidup dan bergerak." (Kis. 17:28). Karena itu, bila
    terpisah dari Allah, kita bukanlah apa-apa. Segala sesuatu yang
    dimiliki manusia merupakan pemberian Allah. Layaknya ciptaan lain,
    bila Allah lepas tangan atas kita, kita akan berhenti dari keberadaan
    kita karena kita ada semata-mata hanya karena kehendak-Nya.

    Ketergantungan manusia secara mutlak pada Allah memunyai banyak
    implikasi, namun ada dua aspek dari kebutuhan kita akan Allah yang
    secara khusus penting untuk pekerjaan apologetika selanjutnya.

    1. Ketergantungan Pengetahuan Manusia

      Perbedaan antara Pencipta dan ciptaan memengaruhi pandangan iman
      Kristen akan kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri, dunia
      di sekelilingnya, dan Allah. Dalam pelajaran berikut ini, kita akan
      memerhatikan diri kita sendiri dalam hal pengetahuan, khususnya
      setelah dicemari oleh dosa.

      Jika manusia secara mutlak bergantung pada Allah, maka demikian juga
      dalam hal pengetahuan. Pengetahuan Allah akan diri-Nya dan ciptaan
      adalah berdiri sendiri, namun pengetahuan manusia tidak. Pemazmur
      mengatakan:

      "Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat
      terang." (Maz. 36:10)

      Lepas dari pengetahuan Allah melalui penyataan-Nya dalam ciptaan dan
      firman Tuhan, kita tidak akan pernah mengerti pengetahuan apa pun.
      Allah mengetahui segala sesuatu, karena itu kita bergantung pada
      pengetahuan-Nya untuk dapat mengetahui sesuatu. Setiap pengertian yang
      benar yang telah manusia dapatkan, baik secara sadar atau tidak sadar,
      semua itu didapatkan dari Allah. Hal ini berlaku bagi manusia pertama
      dan semua orang sampai sekarang. Tuhan Yesus sendiri mengakuinya:

      "Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh.
      14:6)

      Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan mengatakan:

      "sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan
      pengetahuan." (Kol. 2:3)

      Segala sesuatu yang dapat dinyatakan sebagai kebenaran, termasuk
      kebenaran yang tidak secara langsung berkenaan dengan agama atau
      kerohanian, bersumber dari Allah. Manusia hanya dapat mengetahuinya
      apabila manusia datang kepada penyataan Allah akan diri-Nya sebagai
      sumber kebenaran. Oleh karena Allahlah yang mengajarkan kepada
      manusia akan segala pengetahuan (Maz. 94:10).

      Kita akan melihat kemudian bahwa ketergantungan manusia pada Allah
      dalam ruang lingkup pengetahuan tidaklah berarti bahwa manusia tidak
      memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengasah pikirannya. Juga tidak
      berarti bahwa manusia diprogram oleh Allah seperti halnya sebuah
      komputer dalam memproses pengumpulan data sehingga komputer mengetahui
      sesuatu. Manusia memang memunyai kemampuan untuk dapat berpikir, namun
      pengetahuan yang benar bergantung pada pengetahuan dari Allah yang
      telah dinyatakan pada manusia.

    2. Ketergantungan Moralitas Manusia

      Sebagaimana halnya manusia harus bergantung pada Allah untuk
      pengetahuan secara umum, demikian juga halnya dengan petunjuk dalam
      moralitas. Pada saat nilai-nilai dan tujuan-tujuan tradisi
      dipertanyakan, kita dipaksa untuk memikirkan bagaimana manusia dapat
      membedakan antara yang benar dan yang salah, atau yang baik dan yang
      jahat.

      Salah satu cara untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan
      kita harus sekali lagi kembali pada pengakuan akan perbedaan antara
      Pencipta dengan ciptaan. Sebagai Pencipta, sejak semula Allah adalah
      Pemberi hukum yang berdiri di atas hukum-Nya dan yang mengharapkan
      ketaatan dari makhluk ciptaan-Nya.

      Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Ia menyatakan diri-Nya
      sebagai satu-satunya Hakim yang benar yang dapat membedakan antara
      yang baik dan yang jahat. Dia juga mengaplikasikan hak itu bagi diri-
      Nya sendiri sampai sekarang. Kepada Adam dan Hawa, Ia berkata, "tetapi
      pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah
      kaumakan buahnya ...." (Kej. 2:17). Kepada Musa, Ia menyatakan, "Aku
      adalah Tuhan Allahmu ... dan jangan ada allah lain di hadapan-Ku."
      (Kel. 20:2, 3). Mengenai Yesus, Allah mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang
      Kukasihi dan kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia." (Mat. 17:5)

      Tidak akan pernah ada sidang pengadilan yang dapat menghakimi Allah;
      karena Ia adalah Hakim yang tertinggi. Oleh karena itu, penyataan-Nya
      mengenai moralitas berlaku bagi semua orang, dan apabila kita ingin
      mengetahui mengenai hal yang baik dan yang jahat, kita harus ingat
      akan ketergantungan kita pada Allah.

-Akhir Pelajaran (AUA I-P02)--

Doa

Ya, Tuhan, beri kami ketetapan hati untuk mengakui Engkau sebagai
Pencipta langit dan bumi, yang terus-menerus terlibat dan
bertanggung jawab atas ciptaan-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu
menyadari akan kedaulatan-Mu supaya kami memiliki hati yang
bijaksana. Biarlah hidup kami boleh berpusat pada Engkau, melalui
Engkau, dan bagi Engkau. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 03

Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Pelajaran: AUA I-P03

Pelajaran 03 - KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA



Daftar Isi

  1. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah
  2. Tanpa Dosa dan Fana
  3. Logika, Allah, dan Manusia

Doa


KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA

"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka." (Kej. 1:27)

Pengertian apologetika alkitabiah terletak pada pandangan yang tepat
akan kebenaran mengenai karakter manusia. "Kenalilah dirimu sendiri"
merupakan semboyan yang sangat populer di kalangan para pemikir sejak
awal permulaan sejarah filsafat. Pengetahuan tentang diri sendiri akan
melengkapi manusia untuk dapat melaksanakan berbagai macam tugas di
dunia ini dengan lebih baik.

Alkitab melihat sejarah dunia dan manusia dalam tiga tahap --
penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Manusia diciptakan, lalu jatuh
dalam kutuk dosa, kemudian ditebus dengan kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus. Sejajar dengan tiga macam perspektif ini, kita akan
mengamati karakteristik manusia dalam tiga kategori. Dalam pelajaran
ketiga ini, kita akan mengamati manusia sebelum kejatuhan. Dan dalam
dua pelajaran berikutnya, kita akan mempelajari manusia yang telah
jatuh dalam dosa dan manusia yang telah ditebus.

  1. Manusia dalam Rupa dan Gambar Allah

    Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah merupakan
    karakteristik penting yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain
    (Kej. 1:27). Fakta ini memunyai banyak sekali implikasi yang dapat
    kita pelajari. Kita harus membatasi diri kita sendiri dalam hal ini
    dengan hanya mempelajari sebagian dari makna manusia diciptakan
    menurut gambar dan rupa Allah.

    Dari luar, manusia seperti Allah dalam hal kemampuan dan
    karakteristiknya secara fisik. Dari dalam, manusia dapat berpikir dan
    mengembangkan pemikirannya di mana dalam hal ini hanya manusia yang
    dapat melakukannya. Keunikan lain yang dimiliki manusia sebagai
    makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah jiwa yang
    bersifat kekal (Kej. 2:7). Lebih dari itu, manusia sebagaimana
    Penciptanya, telah dijadikan penguasa atas bumi ini. Sebagai wakil
    Allah, ia menggali dan mengolah kekayaan ciptaan Allah untuk digunakan
    sebagai pelayanan bagi Allah (Kej. 1:27-31).

    Karakteristik ini berlaku dalam batas-batas tertentu bagi semua
    manusia dalam dunia ini. Karena sebelum jatuh dalam dosa, manusia
    diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara khusus. Dan manusia
    yang diciptakan Allah ini adalah sempurna.

    "... Allah telah menjadikan manusia yang jujur." (Pengkh. 7:29)

    Sebelum kejatuhannya dalam dosa, manusia merupakan gambar dan rupa
    Allah yang tanpa dosa. Di taman Eden, Adam dan Hawa hidup secara
    harmonis dengan Allah. Mereka berjalan di hadapan Allah tanpa malu.
    Paulus menjelaskan tahap ini sebagai:

    "... pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kol. 3:10)

    Di bagian lain, Paulus mengatakan bahwa apabila seseorang
    diperbaharui menurut karakter Adam yang semula, maka ia telah:

    "... diciptakan ... di dalam kebenaran dan kekudusan yang
    sesungguhnya." (Ef. 4:24)

    Dari bagian firman Tuhan ini, ada dua kualitas penting dari manusia
    sebelum jatuh dalam dosa yang dapat kita lihat. Pertama, dia memunyai
    "pengetahuan yang benar" (Kol. 3:10). Dengan kata lain, Adam dan Hawa
    tidak pernah melupakan perbedaan Pencipta dan ciptaan dalam hubungan
    dengan pengetahuan mereka. Mereka bergantung pada penyataan Allah akan
    diri-Nya sendiri sebagai sumber dari kebenaran mereka, dan mereka
    menyamakan semua pemikiran mereka dengan standar dari kebenaran yang
    Allah nyatakan. Oleh karena itu, Adam dapat diberi tugas yang sukar,
    yakni untuk memelihara taman dan menamai setiap binatang di bumi. Dia
    secara sadar tahu akan kebutuhannya untuk mendengarkan Allah dalam
    setiap keadaan apabila ia menghendaki pengetahuan yang benar. Sebelum
    kejatuhan dalam dosa, pengetahuan manusia akan kebenaran dibarengi
    dengan karakter moralitasnya, di mana Adam memiliki "pengetahuan yang
    benar dan suci". Adam mengerti bahwa karena sifat dari Pencipta-Nya,
    maka ia harus mempelajari apa yang sepatutnya dan yang tidak
    sepatutnya dari Allah.

    Oleh karena bersandar pada pengetahuan Allah, Adam dan Hawa taat
    secara sempurna pada semua perintah Allah dan hidup secara damai
    dengan-Nya sebelum jatuh dalam dosa. Sebelum jatuh dalam dosa, dalam
    segala keadaan, manusia mengetahui kebenaran dan hidup sesuai dengan
    kebenaran itu.

  2. Tanpa Dosa dan Fana

    Meskipun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang
    sempurna sebelum kejatuhan, namun manusia adalah manusia yang fana dan
    terbatas. Allah adalah Allah yang Mahaada (1 Raj. 8:27; Yes. 66:1),
    namun manusia terbatas oleh fisiknya dalam keberadaan yang terbatas.
    Allah adalah Allah yang Mahakuasa (Maz. 115:3); tidak ada yang dapat
    mengatasi atau melampaui kuasa-Nya. Oleh karena itu, sehebat-hebatnya
    teknologi mutakhir yang telah dicapai untuk menunjukkan kehebatan
    manusia, tetap tidak dapat menandingi kemahakuasaan Allah. Di hadapan
    Allah, manusia tetap jauh lebih lemah dan terbatas.

    Demikian juga halnya dengan keterbatasan pengetahuan manusia
    dibandingkan dengan pengetahuan Allah yang lengkap dan sempurna (Ay.
    37:15; Maz. 139:12; Ams. 15:3; Yer. 23:23-24). Sebagaimana penulis
    surat Ibrani mengatakan:

    "Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya,
    sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia dan
    kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibr. 4:13)

    Bahkan Adam akan setuju dengan Yesaya yang mengatakan:

    "Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku
    dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yes. 55:9)

    Tentu saja dibandingkan dengan pengetahuan Allah, pikiran manusia
    "hanyalah seumpama napas" (Maz. 94:11). Demikianlah manusia terbatas
    dalam pengertiannya oleh apa yang Allah nyatakan dan harus puas dengan
    pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak sempurna.

    "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-
    hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai
    selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat
    ini." (Ul. 29:29)

    Pengertian mengenai keterbatasan pengetahuan manusia membawa kita
    kepada hal yang penting dalam diskusi yang berikutnya. Walaupun Adam
    tidak mengetahui segala sesuatu, dia tetap memiliki pengetahuan yang
    benar (Kol. 3:10). Pengertian manusia akan segala sesuatu yang ia
    ketahui dibatasi oleh perspektifnya akan waktu dan
    perubahan-perubahan yang terjadi dalam hal-hal yang ia ketahui.
    Keterbatasan-keterbatasan ini merupakan bagian dari sifat penciptaan
    manusia.

    Namun, kita harus ingat bahwa sebelum jatuh dalam dosa, pengetahuan
    Adam miliki berasal dari Allah dalam ketergantungannya pada penyataan
    Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu Adam ketahui, diketahuinya
    dengan benar sebab ia datang pada sumber kebenaran untuk memerolehnya,
    yaitu Allah. Sangat nyata bahwa keterbatasan manusia tidak membuat ia
    tidak mampu untuk mengetahui kebenaran. Sepanjang pengetahuan yang
    manusia dapatkan itu berasal dari Allah, pengetahuan itu pasti benar.

    Oleh karena keterbatasannya, Adam harus menghadapi misteri dalam
    kehidupannya, "hal-hal yang tersembunyi" (Ul. 29:29) yang ia tidak
    dapat ketahui. Dari fakta ini, kita dapat melihat bahwa manusia yang
    sempurna pun tidak mampu untuk menyusun atau menyimpulkan setiap aspek
    dari pengetahuan yang didapatnya ke dalam suatu gambaran lengkap yang
    baik dan sempurna; selalu ada titik buntu dalam pemikirannya, yaitu
    paradoks-paradoks dan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan
    oleh akal pikiran manusia. Namun sebagaimana besarnya misteri ini,
    pengetahuan manusia dalam tahap ini tetap dapat diperhitungkan serta
    dipertanggungjawabkan kepastian dan kebenarannya.

    Kepastian dan keyakinan Adam terletak pada penyataan Allah, tidak pada
    kemampuannya untuk mengetahui yang terpisah dari pengetahuan Allah.
    Pengetahuan Allah yang sempurna dalam segala sesuatu mengabsahkan
    pengetahuan manusia yang terbatas sepanjang manusia bergantung pada
    Allah. Mari kita lihat contoh dari suatu misteri yang kita hadapi atau
    temui pada zaman ini.

    Inkarnasi dari Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus, merupakan suatu
    hal yang penuh dengan misteri. Kita mengakui bahwa Ia adalah 100%
    Allah dan juga 100% manusia. Kita dapat mengerti kesejatian dari
    ke-Tuhanan-Nya dan kesejatian dari kemanusiaan-Nya sampai pada taraf
    tertentu, namun jika kita mencoba untuk menyelidiki lebih lanjut
    implikasi dari pengajaran ini, kita akan terbentur pada batas
    kemampuan kita dalam memahami hal tersebut. Misalnya, dapatkah kita
    menjelaskan bagaimana Yesus "bertambah dalam hikmat-Nya" (Luk. 2:52)
    apabila Ia adalah Allah yang Mahatahu? Apakah kita dapat menjelaskan
    bagaimana Yesus yang adalah Allah dapat mati di atas kayu salib? Kita
    dapat berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan ini, namun orang yang
    jujur segera akan menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini, juga
    pertanyaan-pertanyaan lain yang semacamnya, adalah di luar batas
    kemampuan manusia untuk mengerti.

    Meski kita tidak dapat menyelami semua konsep ini, namun kita dapat
    yakin bahwa Yesus adalah 100% Allah dan juga 100% manusia, dan bahwa
    Ia bertambah dalam hikmat dan kemudian Ia mati. Keyakinan ini bukan
    bergantung pada ketidakmampuan kita untuk mengerti secara tuntas,
    melainkan karena kita percaya pada penyataan Allah.

    Semakin kita mengerti akan kebenaran kristiani, kita akan menemukan
    bahwa di akhir setiap pengajaran dari firman Tuhan, terlihat fakta
    ketidakmampuan manusia untuk menyelami secara tuntas konsep-konsep
    dalam hubungannya dengan konsep-konsep kebenaran yang lain. Ada banyak
    hal-hal yang kelihatannya berlawanan satu dengan yang lain dalam
    kebenaran kristiani, namun hal ini seharusnya tidak boleh menyebabkan
    kita meragukan pengajaran Alkitab. Ada dua alasan mengapa kita tidak
    boleh meragukan pengajaran Alkitab.

    Pertama, hal itu seharusnya membuat kita sadar akan keterbatasan diri
    kita. Manusia harus menyadari keberadaan mereka sebagai makhluk
    ciptaan dan bersama Paulus menyatakan kalimat berikut ini:

    "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
    Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak
    terselami jalan-jalan-Nya!" (Rom. 11:33)

    Kedua, Alkitab tidak seharusnya diragukan pada saat kita tidak dapat
    mencocokkan kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lain. Penyataan
    Alkitab merupakan pemikiran Allah di mana bagi-Nya tidak ada satu hal
    pun yang bersifat misteri. Allah dapat menuntaskan konsep-konsep yang
    paling sukar, yang tidak dapat dituntaskan oleh pikiran manusia. Tidak
    ada satu hal pun yang merupakan misteri bagi Allah; Ia mengetahui
    segala sesuatu dengan sempurna. Namun, misteri merupakan keterbatasan
    dari makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sepanjang kita bergantung
    kepada-Nya dalam pengetahuan kita, misteri yang paling besar pun tidak
    akan menghalangi kita dari kebenaran.

  3. Logika, Allah, dan Manusia

    Suatu hal yang terus-menerus timbul dalam suatu diskusi dan yang
    memengaruhi apologetika alkitabiah adalah peranan logika dalam
    hubungan antara Allah dan manusia. Dalam pelajaran ini, kita akan
    membatasi pada sebagian kecil dari pertanyaan-pertanyaan yang ada.

    Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan
    pikirannya, hal ini mencerminkan hikmat Allah dan juga yang
    membedakannya dengan binatang (2 Pet. 2:12, Yud. 10). Kita telah
    mempelajari bahwa di taman Eden, Adam telah menggunakan akal budinya
    dalam ketergantungan-Nya pada Allah. Dia membangun pola berpikir yang
    sesuai dengan petunjuk Allah. Adam pasti menggunakan logika meskipun
    dalam bentuk yang sederhana, dan ia menggunakannya dalam ketaatannya
    pada Allah. Ia tidak pernah mengabaikan ketergantungannya pada Allah
    dengan berpikir bahwa logikanya mampu memberikan penjelasan dan
    pengetahuan secara terpisah dari Allah. Akibatnya, dalam menggunakan
    kemampuannya, Adam menggunakan akal budi yang selalu tunduk pada
    keterbatasan dan pimpinan penyataan Allah. Allah selalu dilihat
    sebagai dasar dari kebenaran dan sumber dari kebenaran, karena
    keadaan Adam pada saat itu adalah sebagai manusia yang diciptakan
    menurut gambar Allah dan tanpa dosa.

    Dari peran akal budi yang berdasarkan logika, yang dimiliki manusia
    sebelum dosa masuk ke dalam dunia, maka ada beberapa pengamatan yang
    dapat kita lakukan. Pertama, menggunakan akal budi dan mengembangkan
    pikiran itu bukanlah sesuatu yang salah dan jahat. Kekristenan telah
    mendapat berbagai macam serangan dari mereka yang mengklaim bahwa
    segala sesuatu harus "masuk akal" dan "ilmiah".

    Beberapa orang Kristen berpikir bahwa perlindungan satu-satunya adalah
    dengan cara menolak ilmu pengetahuan dan pemakaian akal budi serta
    menganggap kedua hal itu sebagai sesuatu yang jahat dan saling
    bertentangan. Penggunaan akal budi bukan merupakan sesuatu yang jahat
    sebab di dalam taman Eden, Adam juga menggunakan akal budi dan
    mengembangkan pikirannya. Adamlah yang menamai binatang-binatang dan
    yang memelihara taman. Ia tidak menghilangkan logikanya dalam
    melaksanakan kehidupannya sehari-hari.

    Yang perlu diperhatikan adalah bila manusia memakai akal budi dan
    mengembangkan pikirannya secara berdiri sendiri atau terlepas dari
    Allah, hal ini akan memimpinnya kepada ketidakbenaran dan kesalahan.
    Tetapi apabila kedua hal itu dipergunakan dalam ketergantungan pada
    penyataan Allah, kebenaran akan ditemukan. Menggunakan akal budi dan
    mengembangkan pikiran itu sendiri tidaklah berlawanan dengan iman atau
    kebenaran.

    Kedua, logika tidaklah berada di atas fakta perbedaan antara Pencipta
    dengan ciptaan. Saat kita berbicara tentang manusia dalam menggunakan
    akal budinya, kita harus ingat bahwa logika hanya merupakan refleksi
    dari hikmat dan pengetahuan Allah. Meskipun dalam firman Tuhan, Allah
    merendahkan diri dan menyatakan diri-Nya dengan istilah yang sesuai
    dengan daya pikir, logika manusia, namun itu tidak berarti logika
    manusia berada di atas atau sejajar dengan Allah dan juga tidak
    merupakan bagian dari keberadaan Allah.

    Logika dalam bentuk-bentuk yang paling kompleks dan tajam tetap
    berada dalam ruang lingkup ciptaan dan kualitasnya sesuai dengan
    kualitas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan
    dengan kualitas yang sama seperti Allah.

    Oleh karena logika merupakan bagian dari ciptaan, maka logika memiliki
    keterbatasan. Pertama terlihat dari logika sebagai sistem yang selalu
    dalam proses berubah dan berkembang. Bahkan, ada beberapa sistem
    logika yang dalam titik tertentu, berlawanan satu sama lain. Tidak ada
    definisi dari "kontradiksi" yang diakui secara universal. Meskipun
    semua manusia dapat saja sepakat dalam satu sistem untuk mengembangkan
    suatu pemikiran, logika manusia tidak dapat dipergunakan sebagai hakim
    untuk menentukan kebenaran dan ketidakbenaran.

    Kekristenan, pada hal-hal tertentu, dapat dikatakan masuk akal dan
    logis, namun logika menemui batas kemampuan pada saat diperhadapkan
    dengan hal-hal seperti inkarnasi dari Kristus dan doktrin Tritunggal.
    Logika bukanlah Allah dan tidak boleh diberikan penghormatan.
    Penghormatan hanya boleh diberikan kepada Allah saja. Kebenaran hanya
    ditemukan pada penghakiman Allah, bukan pada pengadilan logika.

    Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk menghindari dua sisi
    ekstrim yang biasanya diambil dalam hubungannya dengan penggunaan akal
    budi dan logika. Di satu pihak, ada manusia yang menolak menggunakan
    akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain pihak, ada manusia
    yang memberikan logika sejumlah ruang untuk berdiri sendiri dan
    terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai dengan
    karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan sebagai makhluk
    yang dapat berpikir dan mengembangkan pikirannya, namun ia diharapkan
    menyadari keterbatasan pikirannya dan ketergantungan logikanya pada
    Penciptanya.

    Karakter manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia merupakan dasar
    dari tugas berapologetika. Meskipun pada saat ini tidak ada seorang
    pun di dunia yang sama sekali lepas dari dosa, namun ada kualitas
    manusia sebelum kejatuhan yang terbawa sampai hari ini. Pada saat kita
    membela iman Kristen, kita berhubungan dengan laki-laki dan perempuan
    keturunan Adam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memunyai
    pengertian yang kuat akan keadaan manusia sebelum kejatuhan.

-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P03)----

Doa

Ya, Tuhan, meskipun kami telah diciptakan menurut gambar dan rupa-Mu
yang sempurna, namun kami hanya manusia yang fana dan terbatas
secara fisik maupun keberadaan. Sedangkan Engkau adalah Allah Yang
Mahakuasa; tidak ada yang dapat mengatasi atau melampaui kuasa-Mu.
Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Mu sebab
segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Mu. Oleh sebab
itu, kepada-Mu sajalah kami harus memberikan pertanggungjawaban.
Amin.

(Catatan: pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 04

Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia yang Berdosa
Kode Pelajaran: AUA I-P04

Pelajaran 04 - KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA



Daftar Isi

  1. Kejatuhan Umat Manusia
  2. Akibat Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa
  3. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

Doa


KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA

"Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh
Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak
dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara
rohani." (1 Kor. 2:14)

Pada pelajaran sebelumnya, kita telah mendiskusikan karakter manusia
sebelum jatuh dalam dosa. Namun, pengertian kita akan manusia tidaklah
lengkap apabila kita tidak mempelajari sebab akibat dari kejatuhan
manusia. "Pengetahuan tentang diri kita sendiri, yang pertama adalah
berdasarkan pada apa yang telah diberikan pada waktu penciptaan ...,
kedua, kita perlu mengingat akan keadaan kita yang menyedihkan dan
tidak menyenangkan setelah kejatuhan Adam."

Karakter manusia telah berubah di bawah kutuk dosa. Manusia bukan
merupakan gambar Allah yang sempurna lagi; manusia tidak lagi hidup
dan berpikir sebagaimana halnya Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam
dosa. Dalam pelajaran berikut, kita akan melihat lebih jelas lagi
bagaimana dosa sangat memengaruhi manusia dan sebagai akibatnya
manusia telah menyangkali ketergantungannya secara mutlak pada Allah.

  1. Kejatuhan Umat Manusia

    Allah telah membuat laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya dan
    telah menempatkan mereka di taman Eden. Saat Adam dan Hawa menyadari
    akan keberadaan mereka sebagai makhluk ciptaan Allah, mereka dengan
    senang hati mendedikasikan diri mereka untuk melayani Allah. Waktu pun
    berlalu dan kesetiaan manusia kepada Allah diuji. Allah telah
    menempatkan pohon pengetahuan baik dan jahat di tengah-tengah taman,
    dan berkata:

    "tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
    janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya
    pastilah engkau mati." (Kej. 2:17)

    Dalam hal ini, banyak yang perlu dipertaruhkan manusia dari hanya
    sekadar menahan diri untuk tidak makan buah tersebut. "Pada mulanya
    Adam berhasil menghindari pohon pengetahuan baik dan jahat serta
    membuktikan bahwa ia dengan sukarela berada di bawah perintah Allah."
    Allah telah berkata dan mewahyukan kehendak-Nya tentang pohon yang
    terlarang itu. Adam dan Hawa ditempatkan pada posisi untuk menguji
    kesadaran mereka apakah mengakui atau menyangkali otoritas Allah dan
    ketergantungan mereka akan Dia.

    Pasal ketiga dari kitab Kejadian berpusat pada kejatuhan manusia.
    Ular, yang disebut Alkitab si Iblis (Kej. 3:15; Rom. 16:20),
    menghampiri Hawa dan mencobainya untuk mengabaikan perintah Allah.
    Dengan menghadapkan Hawa pada pilihan yang paling penting dalam
    hidupnya, Iblis berkata:

    "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa
    pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan
    menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
    (Kej. 3:4-5)

    Perkataan Iblis jelas bertolak belakang dengan penyataan (wahyu)
    Allah. Hawa dihadapkan pada pilihan, siapakah yang dapat dipercaya?
    Allah mengatakan "kamu akan mati" dan ular berkata "kamu tidak akan
    mati". Perempuan itu harus percaya pada salah satu dari dua pernyataan
    yang berlawanan itu. Kemudian ular yang licik itu tidak puas hanya
    dengan mengatakan bahwa Allah membuat kesalahan. Ia bahkan membujuk
    Hawa untuk percaya bahwa bila ia memakan buah itu, perbedaan antara
    Pencipta dan ciptaan akan hilang. "Kamu akan menjadi seperti Allah,"
    (Kej. 3:5) kata Iblis dengan penuh kesombongan.

    Hawa tertipu oleh tipuan ular yang licik. Kita dapat mengatakan bahwa
    tindakan Hawa ini merupakan tindakan yang sangat bodoh, namun rupanya
    pencobaan untuk menjadi seperti Allah terlalu besar untuk dihindari.
    Setelah semua penghormatan Hawa kepada Penciptanya digoncangkan, Hawa
    memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada Allah untuk mengetahui
    pengetahuan yang benar, demikian juga untuk petunjuk yang berkenaan
    dengan moralitas.

    Ular mempertanyakan keabsahan dan kemampuan Allah dalam hal-hal ini,
    dan Hawa telah termakan oleh saran-sarannya. Sebelumnya, Hawa menerima
    wahyu Allah dan mengakui ketergantungannya secara mutlak pada Allah.
    Namun, sekarang ia memutuskan bahwa ketergantungannya pada Allah
    merupakan suatu pilihan. Pembacaan yang teliti dari Kej. 3:6
    memerlihatkan inti dari kesalahan Hawa.

    "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan
    sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi
    pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan
    diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan
    suaminya pun memakannya."

    Hawa tidak secara langsung menolak firman Allah dan menerima perkataan
    dari si ular. Melainkan, ia mengamati sendiri pohon itu dan kemudian
    memutuskan karakter dari pohon itu berdasarkan pengertiannya sendiri.
    Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Mengapa mendengarkan orang lain?
    Aku akan membuat hukum bagi diriku sendiri; Aku akan memutuskan
    sendiri!" Dengan melakukannya, Hawa menolak perbedaan antara Pencipta
    dan ciptaan. Dia menyamaratakan wahyu Allah yang berdiri sendiri
    dengan perkataan si ular dan menempatkan dirinya di atas mereka berdua
    sebagai hakim.

    Hawa lalu memberikan buah itu kepada Adam. Adam memakannya dan sejak
    itu umat manusia jatuh di bawah kuasa dosa. Ini merupakan inti dari
    dosa; manusia memberontak melawan ketergantungannya pada Allah dan
    manusia berasumsi bahwa dia mampu untuk berdiri sendiri tanpa Allah.

    Sangat penting untuk diingat bahwa perbedaan Pencipta dan ciptaan
    tetap berlangsung meskipun manusia memilih untuk tidak mengakuinya.
    Adam dan Hawa tidak menjadi berkurang dalam ketergantungannya pada
    Allah setelah kejatuhan dibanding dengan keberadaan mereka sebelum
    jatuh dalam dosa. Mereka hanya menolak untuk mengakui ketergantungan
    mereka. Seorang anak balita dapat menipu dirinya sendiri untuk
    berpikir bahwa ia tidak memerlukan orang tuanya, namun penyangkalannya
    ini tidak membedakan kenyataan bahwa ia tergantung pada orang tuanya.

    Sama halnya dengan Adam dan Hawa yang berpikir mereka berdiri sendiri
    terlepas dari Allah, kenyataannya mereka tetap membutuhkan Allah dalam
    segala sesuatu, bahkan untuk kemampuan menolak Allah. Persyaratan
    Allah bagi Adam dan Hawa adalah supaya mereka mengakui ketergantungan
    mereka dan hidup sesuai dengan kebenaran ini. Mereka telah gagal untuk
    memenuhi tuntutan Allah dan jatuh ke dalam dosa. Mereka berpikir
    dirinya cukup bijak, mereka telah menjadi bodoh, sebab firman Allah
    ternyata benar; dan mereka mati.

  2. Akibat Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa

    Kejatuhan manusia ke dalam dosa di taman Eden bukan kejadian masa lalu
    yang terpisah dari masa kini, dalam arti hanya memunyai akibat yang
    sedikit bagi manusia yang hidup pada masa kini; peristiwa kejatuhan
    telah membuat semua manusia berada di bawah belenggu dosa.

    "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu
    orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah
    menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat
    dosa." (Rom. 5:12)

    Sejak lahir, semua manusia telah dicemarkan oleh dosa (Maz. 51:5; Ef.
    2:3). Sebagaimana Adam dan Hawa yang telah menolak perbedaan antara
    Pencipta dan ciptaan, semua manusia telah menyangkal wahyu Allah, baik
    melalui semua ciptaan maupun melalui wahyu khusus (firman Tuhan).

    Paulus menjelaskan penolakan manusia akan wahyu melalui penciptaan
    dalam Rom. 1:18-32. Paulus mengatakan bahwa meskipun ciptaan dengan
    jelas menyatakan karakter Allah dan kehendak-Nya, namun manusia yang
    tidak percaya telah menindas "kebenaran dengan kelaliman" (ay. 18).
    Mereka menolak untuk mengakui Allah yang telah mewahyukan diri-Nya
    melalui ciptaan sebab "pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka
    yang bodoh menjadi gelap" (ay. 21). "Mereka berbuat seolah-olah mereka
    penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh" (ay. 22), sebab
    mereka memilih untuk menyembah "makhluk dengan melupakan Penciptanya
    yang harus dipuji selama-lamanya, amin" (ay. 25). Oleh karena "mereka
    tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka
    kepada pikiran-pikiran yang terkutuk ...." (ay. 28). Manusia yang
    telah jatuh dalam dosa, menolak untuk mengakui penyataan Allah dalam
    semua aspek.

    Orang-orang yang tidak percaya juga tidak memberikan tempat yang
    sewajarnya pada wahyu khusus Allah. Tuhan Yesus menggambarkan
    bagaimana Israel menolak ketergantungannya pada wahyu khusus Allah
    dalam perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur (Mat.
    21:33-44). Penggarap-penggarap kebun anggur memeroleh mata pencaharian
    mereka dari kemurahan hati si empunya tanah, tetapi mereka menolak
    untuk menghormatinya. Akibatnya, si pemilik tanah mengutus
    utusan-utusan khusus kepada si petani. Bahkan, Ia telah mengutus
    Anak-Nya. Namun, si petani membencinya, bahkan membunuh Anak itu. Sama
    halnya dengan semua manusia yang seharusnya tunduk kepada wahyu khusus
    Allah melalui firman Tuhan, sebaliknya mereka telah menolaknya. Dosa
    telah mencengkeram manusia sedemikian rupa sehingga manusia tidak
    mampu lagi menundukkan dirinya kepada firman Allah.

    "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena
    ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin
    baginya." (Rom. 8:7)

    "ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai
    secara rohani." (1 Kor. 2:14)

    Manusia tidak menundukkan diri pada wahyu Allah. Manusia telah
    mengikuti teladan Adam dan Hawa yang mengira bahwa segala sesuatu
    harus diukur oleh "garis pengukur dari kebodohan kedagingan mereka".

    Kegagalan manusia untuk mengakui wahyu Allah dalam alam semesta dan
    untuk menerima firman Tuhan sebagai alat untuk mengenal Allah dan
    mengetahui kehendak-Nya, telah membuat manusia berada di posisi yang
    sulit. Yeremia menyerukan pada zamannya sebagai berikut:

    "Sesungguhnya, mereka telah menolak Firman Tuhan, maka
    kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?" (Yer. 8:9)

    Apa yang dapat kita lihat bila mata kita tertutup? Apa yang dapat
    memuaskan dahaga kita bila sumur kita kering? Tidak ada! Sama halnya
    dengan hikmat dan pengetahuan. Allah sendiri "mengajar manusia akan
    pengetahuan" (Maz. 97:4) melalui wahyu-Nya. Jika kita menolak firman-
    Nya, itu berarti kita menolak semua kebenaran, dan secara prinsipil,
    kita tidak mengetahui apa-apa selain ketidakbenaran.

    "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan." (Ams. 1:7)

    Karena penolakan mereka akan wahyu Allah, maka manusia:

    "hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah
    dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh
    dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di
    dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka." (Ef. 4:17-18)

    Atas dasar ini, dikatakan bahwa:

    "Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya
    semuanya sia-sia belaka." (1 Kor. 3:20)

  3. Ketidakkonsistenan dan Permukaan Kebenaran

    Akibat dosa, orang-orang yang tidak percaya sangat jelas menolak
    kebenaran yang diwahyukan melalui firman Tuhan, dan secara
    sembarangan menyalahtafsirkan dunia sekelilingnya. Namun, tidak semua
    pemikiran dan pernyataan orang-orang itu dapat diartikan salah.
    Bagaimana mereka dapat berpikir dan mengekspresikan ide-ide yang
    benar? Orang-orang percaya dan tidak percaya sama-sama menyatakan
    bahwa dua tambah dua adalah empat. Ada beberapa peristiwa dalam
    Alkitab yang menyatakan bahwa orang-orang yang telah jatuh ke dalam
    dosa dapat memiliki kebenaran (Mat. 23:1, dst.; Kis. 17:28).
    Bagaimana kita dapat mengerti hal-hal ini dalam hubungan penolakan
    manusia yang berdosa akan Allah sebagai sumber kebenaran?

    Pemecahan masalah ini terletak pada pengamatan yang lebih dekat atas
    kondisi manusia yang telah jatuh dan dua aspek dari pengetahuannya.
    Pertama, meskipun orang-orang tidak percaya menolak wahyu Allah
    mengenai diri-Nya, mereka tidak dapat secara terus-menerus menolak
    secara konsisten. Dasar dari ketidakkonsistenan dalam taraf tertentu
    adalah karena manusia berdosa tetap merupakan gambar Allah dan tetap
    memiliki banyak kemampuan yang telah dimilikinya sejak semula (Kej.
    9:6; Yak. 3:9). Oleh anugerah umum, Allah telah menahan akibat dosa
    dan pencemaran sehingga orang-orang non-Kristen tetap dapat berpikir
    dan bertindak atau bereaksi sesuai dengan keberadaan mereka sebagai
    gambar Allah, walaupun mereka tidak mengakui Allah sebagai Pencipta.

    "Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh
    dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat,
    maka walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi
    hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka
    menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati
    mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka
    saling menuduh atau saling membela." (Rom. 2:14, 15)

    Manusia yang telah jatuh dalam dosa, memulai pendapatnya tentang
    ketidaktergantungan dirinya pada Allah dan kemampuan untuk mengetahui
    kebenaran terpisah dari Allah. Apabila ia mengembangkan asumsi ini
    secara terus-menerus dengan konsisten, ia tidak akan menemukan
    pengetahuan yang benar sebab ketergantungan pada Allah adalah jalan
    satu-satunya untuk mendapatkan kebenaran. Karena itu, orang-orang yang
    tidak percaya tidak berhasil dan telah gagal.

    Sejalan dengan ketidaksinambungan usaha orang-orang yang tidak percaya
    untuk menahan dan menyangkali wahyu Allah, kita dapat mengerti
    kemampuan mereka untuk mengetahui kebenaran saat kita melihat karakter
    dari pemahaman mereka akan kebenaran. "Kapasitas manusia yang telah
    jatuh dalam dosa untuk mengerti ... merupakan sesuatu yang labil dan
    transisi dalam pandangan Allah ...." Orang-orang yang tidak percaya
    mampu untuk mengetahui kebenaran, hanya saja mereka gagal memberi
    kesinambungan dalam prinsip-prinsip berpikir mereka yang berdosa
    sehingga menyebabkan pengetahuan mereka hanya terlihat benar di
    permukaan saja.

    Berikut ini adalah analogi yang akan menolong kita untuk lebih
    mengerti. Perkataan Tuhan Yesus kepada orang Farisi sering kali
    menunjukkan perbedaan antara perilaku mereka secara luar dengan
    motivasi mereka dari dalam hati. Nilai dari tugas rohani yang sangat
    besar telah dicemari oleh motivasi mereka yang merasa diri paling
    benar dan sombong. Amsal mengatakan bahwa:

    "Korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi doa orang
    jujur dikenan-Nya." (Ams. 15:8)

    Orang-orang Farisi memiliki kerohanian yang hanya terlihat dari luar
    saja, namun kesucian mereka atau kerohanian mereka telah dicemari oleh
    apa yang ada di belakang tindakan yang terlihat dari luar.

    Perbedaan yang serupa dapat kita terapkan dalam area pengetahuan
    secara umum. Kita tidak boleh pernah merasa puas dengan penampilan
    yang kelihatannya merupakan pernyataan yang benar dari manusia yang
    berdosa. Kita harus berhati-hati dengan apa yang terletak di balik
    ide-ide yang ditunjukkan. Misalnya, Saksi Yehova dengan jujur dapat
    mengatakan, "Yesus adalah Tuhan." Kita semua akan setuju dengan
    pernyataan ini sebagai hal yang benar secara permukaan. Namun, Saksi
    Yehova menolak ke-Tuhanan Kristus dan berpendapat bahwa ke-Tuhanan
    Kristus merupakan keberadaan-Nya sebagai malaikat yang khusus. Oleh
    karena itu, kita harus memertimbangkan dan mengatakan bahwa pernyataan
    mereka tidak benar.

    Alasan kita untuk menyetujui dan menyangkali suatu pernyataan pada
    saat bersamaan disebabkan oleh perbedaan antara permukaan pernyataan
    dengan apa yang ada di balik pernyataan itu. Pemisahan ini dapat nyata
    karena apa yang dikatakan oleh seseorang berbeda dengan maksud di
    balik perkataannya tersebut.

    Salah satu cara untuk menyelidiki suatu pernyataan adalah dengan cara
    selalu menanyakan apa yang dimaksud dengan perkataan atau
    pemikirannya. Manusia yang telah jatuh dalam dosa dapat mengatakan
    bahwa dunia ini bulat, namun apa yang dimaksudkan "dunia" oleh mereka?
    Apakah merupakan hasil ciptaan Allah yang dinyatakan oleh firman Tuhan
    atau sebagai hasil dari proses evolusi yang berlangsung sangat lama?
    Mereka dapat mengatakan bahwa kejujuran adalah baik dan pembunuhan
    adalah jahat. Namun, apa yang mereka maksudkan dengan "baik dan
    jahat"? Apakah baik dan jahat itu didefinisikan oleh hukum Allah atau
    hukum yang lain? Sama halnya dengan pohon yang indah yang baru saja
    ditanam di tanah yang beracun, demikian juga orang tidak percaya yang
    menyangkali kebenaran dan tidak mau kembali kepada wahyu Allah yang
    tidak dapat disangkali. Tanda kemandirian mereka yang terpisah dari
    Allah, dapat terlihat benar dari permukaan. Kadang-kadang, kita harus
    melihat jauh ke dalam sebelum kita dapat menemukan pengertian yang
    salah.

    Akar dari setiap ide dan pernyataan yang dikemukakan oleh orang yang
    tidak percaya adalah berdasarkan asumsi bahwa "saya tidak bergantung
    pada Allah dan mengetahui hal ini dari diri saya sendiri terpisah
    dari Allah dan pertimbangan kehendak-Nya".

    Untuk menyimpulkan pandangan yang tepat dari pernyataan yang benar,
    yang dibuat oleh orang tidak percaya, dapat dikatakan bahwa mereka
    benar dan juga salah. Orang-orang yang tidak percaya mungkin dapat
    berpikir dan berbicara tentang kebenaran dalam pengertian bahwa
    pikiran mereka bisa berasal dari wahyu Allah yang tidak dapat
    dihindari dan dihasilkan dari anugerah umum Allah melalui kualitas
    manusia sebagai gambar Allah yang tidak dapat disangkali. Lebih dari
    itu, mereka benar dalam pengertian bahwa wahyu Allah memang sebenarnya
    mengiyakan pernyataan mereka dari permukaan. Diharapkan kebenaran yang
    mereka dapatkan secara permukaan ini dapat memimpin mereka kepada
    pengakuan akan Allah dan ketaatan kepada-Nya.

    Bersamaan dengan pernyataan bahwa orang tidak percaya itu benar, kita
    dapat juga mengatakan pernyataan orang-orang tidak percaya adalah
    tidak benar. Oleh karena pernyataan-pernyataan itu bukan merupakan
    hasil dari kerelaan untuk taat kepada wahyu Allah, melainkan sebagai
    hasil dari penyangkalan fakta perbedaan antara Pencipta dengan
    ciptaan.

    Pernyataan-pernyataan orang tidak percaya dinyatakan tidak benar oleh
    karena struktur pemikiran mereka memimpinnya kepada pengertian yang
    salah dan membawa mereka jauh dari penyembahan kepada Allah. Pada
    dasarnya, dapat dikatakan bahwa komitmen kepada kemandirian manusia
    terlepas dari Allah, membuat semua pernyataan orang tidak percaya
    salah.

    Pengertian akan kondisi manusia setelah kejatuhannya dalam dosa dan
    keberadaan orang-orang yang tetap dalam ketidakpercayaan merupakan
    hal yang sangat penting bagi apologetika kristen. Kesadaran akan
    ketidakadaan harapan dan keterbatasan pikiran orang-orang yang tidak
    percaya, memberi petunjuk dan keyakinan kepada orang-orang percaya
    dalam memertahankan imannya.

Akhir Pelajaran (AUA I-P04)---

Doa

Ya, Tuhan, kami menyadari bahwa karakter kami telah berubah di bawah
kutuk dosa. Kami bukan lagi gambar Allah yang sempurna. Hal ini
tercermin dari hidup dan cara pikir kami yang jauh dari suci. Dosa
sangat memengaruhi kami sehingga kami selalu menyangkali
ketergantungan kami secara mutlak pada Allah. Oleh sebab itu,
tolong kami untuk menyadari kebodohan ini. Hindarkan kami dari
pikiran yang sia-sia, pengertian yang gelap dan jauh dari hidup
persekutuan dengan Allah. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di lembar lain)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 05

Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus
Kode Pelajaran: AUA I-P05

Pelajaran 05 - KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS KRISTUS



Daftar Isi

  1. Kebalikan dari Kejatuhan
  2. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru
  3. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

Doa


KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS KRISTUS

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
5:17)

Kalau bukan karena anugerah Allah, setiap orang akan tetap terkutuk
dalam dosa dan berada di bawah penghakiman murka Allah. Namun, Allah
dengan kemurahan-Nya yang besar telah mengutus Anak-Nya yang ilahi,
Yesus Kristus, untuk membayar hutang dosa dengan mati di atas kayu
salib serta memulai suatu periode kehidupan baru dalam kebangkitan-
Nya. Semua orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan dari kutuk murka
Allah dan masuk ke dalam berkat Allah. Pengamatan kita akan manusia
tidaklah lengkap apabila kita belum memertimbangkan karakter manusia
yang telah ditebus oleh Allah dalam Kristus.

  1. Kebalikan dari Kejatuhan

    Kita dapat melihat bahwa aplikasi dari keselamatan dalam kehidupan
    seseorang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi sebagai akibat
    dari kejatuhan. Inti dari kejatuhan Hawa adalah kehendak untuk mandiri
    dan lepas dari Allah dengan cara menolak secara sukarela untuk
    menundukkan diri pada firman Tuhan. Hawa menolak fakta perbedaan
    antara Pencipta dengan ciptaan, dengan berpikir bahwa ia dapat
    mengetahui kebenaran melalui pikiran barunya sendiri yang terpisah
    dari Allah. Hal sebaliknya terjadi pada kehidupan seseorang yang
    percaya kepada Kristus. Dengan jelas, Paulus menyatakannya:

    "Oleh karena dunia oleh hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh
    hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya
    oleh kebodohan pemberitaan Injil." (1 Kor. 1:21)

    Penggunaan hikmat manusia sebagai standar kebenaran, seperti apa yang
    dilakukan oleh Hawa, akan membawa kita jauh dari Allah dan membawa
    kita kepada ketidakbenaran. Sebaliknya, salib adalah jalan keselamatan
    yang mengakibatkan kita berpaling dari kemandirian dan pikiran berdosa
    supaya kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Allah. Hawa
    berpikir bahwa sebagai manusia, ia dapat berdiri sendiri dan melihat
    serta menempatkan dirinya sebagai hakim yang tertinggi. Namun, saat
    kita percaya dengan kesungguhan pada Kristus, kita akan menyadari
    bahwa ketergantungan kita pada firman Tuhan sebagai hikmat tidak ada
    bandingnya karena Dialah sumber kebenaran. Penerimaan firman Tuhan ini
    merupakan permulaan dari penebusan dalam Kristus.

    "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman
    Kristus." (Rom. 10:17)

    Kebalikan dari kejatuhan tidak berhenti pada tanda pertobatan,
    melainkan meliputi keseluruhan dari proses penebusan. Seseorang yang
    percaya akan berita Injil, bersama dengan Paulus, meyakini bahwa:

    "Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong."
    (Rom. 3:4)

    Berbeda dengan manusia berdosa yang cenderung meninggalkan pengetahuan
    yang benar dan menyatakan hal yang salah (sebagai akibat dari
    kemandirian yang terlepas dari Allah), orang-orang percaya memegang
    kepercayaan bahwa firman Allah selalu dapat dipercaya oleh karena
    Allah selalu benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya:

    "Aku, Tuhan, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang
    lurus." (Yes. 45:19)

    Firman Allah dapat dipercaya dan orang yang percaya pada Kristus
    mengakui kepercayaannya secara total pada firman Tuhan. Lepas dari
    apa yang terlihat, lepas dari nasihat-nasihat orang lain, dan lepas
    dari pencobaan oleh Iblis, orang percaya menegaskan bahwa:

    "Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain
    kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita." (1
    Sam. 2:2)

    Sikap terhadap firman Tuhan yang merupakan kebalikan dari apa yang
    terjadi pada waktu kejatuhan, diperjelas oleh perkataan Paulus kepada
    orang-orang Korintus:

    "Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu Ilahi. Karena aku
    telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu
    sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau
    pikiran kami disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada
    Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan
    kelicikannya." (2 Kor. 11:2-3)

    Pada ayat-ayat ini, Paulus memeringatkan orang-orang di Korintus untuk
    tidak berpaling dari khotbahnya mengenai firman Tuhan, mereka harus
    setia hanya kepada Kristus semata. Paulus memeringatkan mereka karena
    ia takut dan kuatir mereka akan jatuh dalam tipu muslihat yang sama
    yang telah digunakan oleh si ular saat mencobai Hawa. Paulus takut
    mereka akan berpaling dari "kesederhanaan dan ketulusan penyembahan
    kepada Kristus" (2 Kor. 11:3).

    Sebelum jatuh dalam dosa, Hawa hanya mendengarkan firman Allah dengan
    penyembahan yang hanya tertuju pada Allah. Saat jatuh, ia telah
    berpaling dari firman Allah. Sebagai orang Kristen, kita secara
    terus-menerus menerima firman Kristus dengan penyembahan yang tanpa
    berprasangka. Kita harus melakukan kebalikan dari apa yang Hawa
    lakukan saat ia berdosa. Ditebus oleh Kristus berarti mengalami
    kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan.

  2. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru

    Saat kita berpikir tentang keselamatan dalam Kristus, biasanya kita
    hanya memikirkan tentang akibat dari percaya pada-Nya, yaitu menerima
    kehidupan yang kekal. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya,
    saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan
    kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal
    pengetahuan dan moralitas.

    Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki
    kerajaan Allah dengan berkata:

    "Kamu harus dilahirkan kembali." (Yoh. 3:7)

    Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang yang tidak percaya.
    Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam, demikian pula ia telah jatuh
    dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan. Karena itu, ia harus
    mengalami kelahiran baru. Paulus menyatakan:

    "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
    lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
    5:17)

    Saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya
    dilahirkan baru secara pribadi; namun kita memasuki suatu ruang
    lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu,
    seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang
    berawal dari kelahiran baru.

    Paulus menggunakan istilah "ciptaan yang baru" dalam pengertian suatu
    perintah karena hal ini menunjuk pada hubungan penebusan dengan asal
    mula keadaan ciptaan sebelum kejatuhan. Saat dunia dan manusia
    diciptakan, mereka belum dicemari oleh dosa. Namun, sebagai akibat
    dari manusia yang memilih untuk berdiri sendiri terlepas dari Allah,
    maka seluruh ciptaan telah jatuh dalam kutuk dosa. Pekerjaan penebusan
    dari Kristus dapat dikatakan merupakan pembaharuan manusia untuk dapat
    kembali kepada posisi mereka yang semula, yaitu pada waktu pertama
    diciptakan oleh Allah.

    "... yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam
    kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Ef. 4:24)

    "dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui
    untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya."
    (Kol. 3:10)

    Orang-orang percaya dalam Kristus diperbaharui menurut sifat mereka
    yang semula sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa
    Allah. Mereka diberikan kebenaran, kesucian, dan pengetahuan yang
    benar, di mana semua itu hilang pada waktu kejatuhan dalam dosa.
    Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pembaharuan melalui
    kelahiran baru tidak hanya meliputi sebagian dari manusia, melainkan
    meliputi keseluruhan karakternya, bahkan proses berpikirnya.

    "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu
    yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan
    dan menaklukkannya kepada Kristus." (2 Kor. 10:5)

    Orang-orang Kristen pada kenyataannya diperbaharui sampai pada tahap
    di mana setiap aspek pribadi mereka berada pada keberadaan asal
    sebelum kejatuhan dalam dosa. Kita tidak diselamatkan untuk sekadar
    berada dalam keadaan yang manis dan menyenangkan. Namun, kita
    diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada asal mula
    keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui kelahiran baru. Sebagai
    gambar Allah yang telah dipulihkan, manusia yang telah ditebus rindu
    untuk melakukan apa yang adil sesuai wahyu Allah bagi semua ciptaan
    dan firman Tuhan. Ia menyadari bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui
    bahwa hujan merupakan kondensasi dari air yang menguap. Ia akan
    bertanya apakah hujan dan bagaimana ia menyatakan karakter dan
    kehendak Allah. Apabila tidak ada dosa, hal ini tidak akan menjadi
    masalah. Manusia cukup hanya mengamati dunia dan mengenal Allah
    melaluinya. Namun, oleh karena dosa, "maka diperlukan Penolong yang
    lebih baik untuk memimpin kita pada Pencipta alam semesta ini secara
    langsung".

    Penolong yang lebih baik adalah firman Tuhan dan Roh Kudus. Orang
    Kristen berkewajiban mendedikasikan diri untuk menyelidiki firman
    Tuhan oleh karena Roh Kudus yang ada di dalam kita akan memimpin kita
    kepada pengetahuan akan keselamatan. Roh Kudus juga akan memimpin kita
    kepada kebenaran pengetahuan tentang ciptaan menurut apa yang
    diwahyukan oleh Allah dan kehendak-Nya atas manusia. Ini tidak berarti
    bahwa Alkitab menjadi suatu buku pedoman dari ilmu pengetahuan alam.
    Dengan kata lain, tidak betul bahwa orang Kristen tidak perlu lagi
    melihat pada dunia dan cukup hanya dengan membaca Alkitab untuk
    menemukan kebenaran ilmiah.

    Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar secara umum di mana
    semua penyelidikan akan dunia ini harus berdasarkan atasnya. Misalnya,
    pengetahuan yang sejati mengenai hujan menyatakan kepada kita akan
    kemurahan Allah dan bagaimana Allah mengharapkan kita untuk
    memperlakukan musuh kita dengan kebaikan (Mat. 5:45), dan seterusnya.
    Tentu saja penyelidikan secara ilmiah dari sifat hujan akan secara
    intensif menjelaskan pengertian orang Kristen akan hal-hal ini. Namun,
    pengetahuan yang benar tentang hujan ditemukan berdasarkan
    penyelidikan yang didasarkan pada firman Tuhan dan dipimpin oleh
    firman Tuhan.

    Sebagai ciptaan yang telah diperbaharui, orang Kristen rindu untuk
    memertahankan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dalam hal
    pengetahuan dan moralitas sehingga orang Kristen dapat memberikan
    perlakuan yang tepat pada wahyu Allah.

  3. Orang Percaya dan Dosa yang Masih Tertinggal

    Kehidupan orang Kristen bukannya tanpa kesalahan. Meskipun ia telah
    diperbaharui kembali kepada kondisi asalnya seperti sebelum
    kejatuhan, pembaharuan ini tidaklah sempurna sampai kedatangan Tuhan
    Yesus yang kedua kalinya. Orang Kristen berkecimpung dalam peperangan
    yang dahsyat antara kebenaran dan dosa. Paulus menjelaskan konflik
    ini sebagai berikut:

    "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan
    keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya
    bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang
    kamu kehendaki." (Gal. 5:17)

    Roh Kudus yang tinggal di antara orang-orang percaya, berada dalam
    peperangan dengan pikiran kedagingan manusia. Sebagai akibatnya, ada
    dua prinsip yang bekerja dalam diri orang percaya, yang satu kepada
    ketaatan dan yang lain pada ketidaktaatan. Walaupun orang Kristen
    berusaha untuk bergantung pada Allah dengan memerhatikan wahyu-Nya
    untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan dan moralitas, namun ia
    mungkin kadang akan gagal dalam melaksanakan keinginannya secara
    terus-menerus. Pada waktu tertentu, orang Kristen dapat kembali
    kepada dosa yang terjadi pada waktu kejatuhan dengan memberontak atau
    mengabaikan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan.

    Penurunan ini dengan sendirinya memerlihatkan penolakan pengakuan atas
    wahyu Allah dalam semua aspek kehidupan, termasuk ketaatan akan firman
    Tuhan. Sebagaimana orang tidak percaya tidak dapat terlepas sepenuhnya
    dari kualitas penciptaan sebagai manusia yang diciptakan menurut
    gambar Allah, demikian pula orang Kristen tidak dapat terlepas
    sepenuhnya dari dosa yang masih tertinggal dalam hidupnya. Ia tidak
    selalu konsisten dengan prinsipnya akan ketergantungan secara total
    kepada Allah. Dan karenanya, ia tetap dapat melakukan kesalahan dalam
    pikiran dan tindakannya.

    Dengan alasan ini, maka orang Kristen secara berulang-ulang didorong
    untuk menghindari dan menolak dosa. Paulus berkata:

    "... bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah
    dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi
    di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti
    keinginannya." (Rom. 6:11-12)

    Dan dalam bentuk pernyataan yang positif, ia berkata:

    "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
    oleh pembaharuan budimu." (Rom. 12:2)

    Ketergantungan kita pada Allah untuk pengetahuan dan moralitas tidak
    datang secara otomatis dalam hidup orang Kristen. Hal ini harus
    disertai dengan usaha yang serius, di mana kita sungguh berusaha untuk
    mendapatkan "penyucian di mana tanpanya, tidak ada seorang pun akan
    dapat melihat Allah" (Ibr. 12:14). Ini merupakan tugas yang panjang
    dan sulit, namun kita harus terus-menerus berusaha apabila kita ingin
    mengenal Allah dan kehendak-Nya. Saat kita berpikir bahwa kemampuan
    orang Kristen untuk mengetahui kebenaran disebabkan oleh kelahiran
    baru dan berpaling dari kejatuhan, kita juga harus ingat bahwa dosa
    masih memengaruhi kehidupan orang Kristen.

    Karakter manusia yang telah ditebus oleh Kristus merupakan pengertian
    yang mendasar bagi apologetika alkitabiah. Pekerjaan Kristus di atas
    kayu salib dan dalam kebangkitan-Nya, telah memerbaharui pengetahuan
    yang sejati dan kebenaran bagi orang yang percaya kepada-Nya.
    Meskipun dosa masih ada, namun orang yang telah ditebus oleh Kristus
    dapat bergantung kepada Allah untuk pengetahuan dan moralitasnya.

-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P05)----

Doa

Ya, Tuhan, kami bersyukur karena Engkau terus-menerus memerbaharui
roh, jiwa, seluruh karakter, serta proses berpikir kami dari hari ke
hari. Engkau kembali memberikan kebenaran, kesucian, dan
pengetahuan-Mu itu kepada kami. Oleh sebab itu, biarlah kami,
sebagai orang percaya, terus terdorong untuk menghindari dan menolak
dosa sambil meyakini bahwa kami telah mati bagi dosa dan hidup bagi
Allah dalam Kristus Yesus. Tuhan, tolong kami agar dosa jangan
berkuasa lagi di dalam tubuh kami yang fana ini dan agar kami tidak
lagi menuruti keinginannya. Amin.

(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

AUA-I Pelajaran 06

Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Filsafat Non-Kristen dan Kristen
Kode Pelajaran: AUA I-P06

Pelajaran 06 - FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN



Daftar Isi

  1. Struktur Filsafat Non-Kristen dan Filsafat Kristen

    1. Struktur Filsafat Non-Kristen
    2. Struktur Filsafat Kristen
  2. Dilema Orang Non-Kristen dan Jawabannya
    1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah
    2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia
    3. Pemikiran Mengenai Manusia
  3. Mitos dari Netralitas

Doa


FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN

"Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan
filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan
roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus." (Kol. 2:8)

Dari pengamatan singkat akan karakter manusia, terlihat fakta adanya
dua macam kelompok manusia yang hidup di sekitar kita hari ini. Kedua
kelompok ini memegang pandangan yang berlawanan mengenai Allah, dunia,
dan diri mereka sendiri. Dua pandangan ini akan disebut filsafat
Kristen, yang berakar pada ketergantungan secara total pada Allah; dan
filsafat non-Kristen, yang berakar pada kemandirian, terlepas dari
Allah. Kedua pandangan ini memengaruhi setiap aspek kehidupan
orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam berapologetika, sangat
penting untuk mengetahui kedua filsafat ini dengan jelas.

  1. Struktur Filsafat Non-Kristen dan Filsafat Kristen

    1. Struktur Filsafat Non-Kristen

      Dalam Ef. 4:17-19, Paulus menjelaskan keberadaan orang non-Kristen
      untuk menyatakan bentuk filsafat yang mereka hasilkan. Mereka
      berjalan:

      "Sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan
      pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari
      hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam
      mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah
      tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan
      mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran."

      Orang non-Kristen menyangkali fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan
      dan memalingkan diri dari Allah supaya terlepas dari Allah. Akibatnya,
      mereka hidup dalam kesia-siaan. Semua usaha mereka adalah kegelapan
      dan kefanaan.

      Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan perkataan Paulus untuk
      mendapatkan pengertian yang tepat. Dalam pernyataan itu, Paulus tidak
      melawan filsafat secara umum; ia sendiri adalah seorang ahli filsafat.
      Yang ia lawan adalah filsafat yang mengadopsi kemandirian untuk lepas
      dari Allah, yang akan menghasilkan kehancuran dan kematian kekal.

      Mungkin kita berpikir bahwa Paulus terlalu berlebihan dalam
      mengomentari soal ini, namun perkataannya yang berikut ini justru
      membuktikan kesungguhannya:

      "Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan
      filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan
      roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus." (Kol. 2:8)

      Filsafat orang non-Kristen berdasar pada kemandirian pikiran manusia
      dan kesetiaan atas "tradisi manusia" serta "prinsip-prinsip dasar dari
      dunia". Tidak ada yang benar bagi mereka selain bisa dibuktikan benar
      oleh pikiran manusia yang mandiri.

      Untuk lebih jelasnya, Paulus menunjukkan karakter filsafat non-Kristen
      yang dengan tegas menolak Kristus dan bersikeras memertahankan
      kemandirian mereka. Orang-orang yang mengambil posisi netral juga
      telah menolak pernyataan Kristus sebagai Tuhan atas seluruh alam
      semesta. Oleh karena itu, filsafat non-Kristen dapat diumpamakan
      sebagai bangunan yang atapnya mendukung fondasinya; tidak ada dasar
      yang kokoh di bawahnya.

    2. Struktur Filsafat Kristen

      Filsafat Kristen menunjukkan usaha untuk menghindarkan diri dari
      kesia-siaan yang berasal dari kemandirian. Seperti yang dikatakan
      oleh Rasul Paulus:

      "Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah,
      supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita." (1 Kor.
      2:12)

      Paulus selanjutnya menyatakan sifat dari komitmen agamawi yang
      merupakan dasar dari filsafat Kristen:

      "Sebab dalam Dialah (Kristus) berdiam secara jasmaniah seluruh
      kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah
      kepala semua pemerintah dan penguasa." (Kol. 2:9-10)

      Paulus memberikan tiga prinsip yang penting sehubungan dengan
      filsafat Kristen:

      - "Di dalam Dia, seluruh kepenuhan ilahi tinggal." Kristus adalah
      penyataan Allah dalam bentuk fisik. Karena itu, filsafat manusia
      harus berdasarkan pada komitmen bahwa Kristus adalah yang
      diwahyukan Allah dalam Alkitab. Hanya Allah yang mengetahui alam
      semesta ini secara mendalam dan menyeluruh; hanya Dia yang dapat
      mengajarkan kebenaran kepada manusia. Karena Kristus adalah Allah,
      maka kita harus menyerahkan diri pada-Nya apabila kita ingin
      memiliki kebenaran.

      - "Di dalam Dia, kamu telah menjadi sempurna." Hanya melalui
      persekutuan dengan Kristus dalam iman, kita dimungkinkan untuk
      dapat melihat Allah, dunia, dan diri kita sendiri dengan tepat dan
      benar. Lepas dari iman pada Kristus sebagai komitmen dasar hidup,
      kita tidak mungkin mendapatkan filsafat yang benar.

      - "Dia adalah kepala dari segala pemerintah dan penguasa." Apabila
      kita lebih memercayai prinsip yang tidak bergantung secara total
      pada Allah sebagai dasar pikiran kita, maka ini sama dengan
      menganggap bahwa ada otoritas lain yang melebihi Kristus. Padahal
      tidak ada pengadilan yang dapat mengadili Kristus. Tidak ada hakim
      di atas Dia.

      Oleh karena itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh Kristus harus
      diterima sebagai kebenaran, sebab Dialah yang memiliki otoritas
      mutlak/terakhir atas segala sesuatu. Setiap aspek dari filsafat
      kristiani harus bersandar pada komitmen ketergantungannya pada Allah.
      Filsafat Kristen dapat digambarkan sebagai suatu bangunan yang besar
      dan disangga oleh satu tiang utama -- Kristus.

      Komitmen orang Kristen akan ketergantungannya pada Allah sering kali
      disalahmengerti dalam dua hal:

      Pertama, komitmen pada Kristus dianggap hanya dilaksanakan apabila
      berurusan dengan masalah-masalah gerejawi. Oleh karena itu,
      persoalan-persoalan sekuler tidak perlu didasarkan pada komitmen
      ketergantungan mutlak pada Allah. Pandangan ini sangat tidak benar.
      Komitmen ketergantungan secara mutlak pada Allah harus dilaksanakan
      dalam setiap aspek kehidupan manusia. Contohnya, dalam bercocok tanam,
      orang-orang percaya harus menyadari bahwa pengetahuannya adalah
      berasal dari Allah.

      "Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam
      dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai
      kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya? Mengenai adat kebiasaan ia
      telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya." (Yes. 28:25-26)

      Semua hikmat dan pengetahuan kita berasal dari Allah.

      "yang memberi kita akal budi melebihi binatang di bumi, dan hikmat
      melebihi burung di udara?" (Ay. 35:11)

      Orang Kristen berusaha untuk bergantung pada Allah dalam segala
      sesuatu supaya dapat mengatasi segala sesuatu sesuai dengan prinsip
      berikut:

      "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau
      perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil
      mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kol. 3:17)

      Kedua, komitmen ketergantungan pada Allah disalahmengerti secara total
      dalam pengertian bahwa filsafat Kristen hanya sekadar membaca firman
      Tuhan dan berdoa. Padahal, orang-orang Kristen tidak mendapatkan
      keseluruhan filsafat mereka hanya dari Alkitab dan berdoa, walaupun
      kedua hal itu paling utama. Orang Kristen juga melihat dunia dan
      menemukan jawaban atas pertanyaannya setelah secara aktif melakukan
      pengamatan dan penganalisaan.

      Allah tidak mewahyukan jawaban secara rinci dalam Alkitab atas setiap
      pertanyaan yang diajukan manusia. Yang Allah berikan kepada kita
      adalah prinsip-prinsip sebagai pedoman untuk membangun filsafat kita.
      Saat Allah memerintahkan nabi Nuh untuk membangun bahtera, petunjuk
      tertentu diberikan melalui wahyu khusus, namun hal-hal yang terperinci
      dipelajari dengan menerapkan prinsip-prinsip sesuai dengan kondisi
      yang ada. Misalnya, Allah mengatakan kepada nabi Nuh untuk memplester
      bahtera itu, namun jumlah aspal yang akan dipergunakan tidak
      diberitahukan oleh Allah. Karena itu, nabi Nuh harus menentukan
      sendiri jumlah aspal dengan melihat seberapa banyak yang diperlukan
      untuk menjaga bahtera dari kebocoran. Filsafat Kristen bukan hanya
      membaca Alkitab dan berdoa. Tetapi merupakan sebuah konstruksi yang
      dibangun berdasarkan prinsip firman Tuhan.

      Tuduhan yang sering kali diberikan kepada orang Kristen adalah bahwa
      komitmen orang Kristen akan ketergantungan pada Allah merupakan hasil
      keputusannya yang mandiri. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa
      ketergantungannya pada Allah adalah proses kemandirian orang Kristen
      yang memutuskan bahwa kekristenan merupakan pilihan yang terbaik.
      Memang, seakan-akan terlihat seperti itu jika dilihat dari sudut
      pandang orang non-Kristen. Namun, orang Kristen menyadari bahwa
      kenyataannya tidak demikian. Orang Kristen tidak mendasarkan
      kemandiriannya saat menyerahkan diri untuk bergantung kepada Allah.
      Terlebih dahulu, ia telah diberi anugerah kelahiran baru, lepas dari
      kehendaknya sendiri. Oleh karena anugerah Allahlah, ia dimungkinkan
      untuk menyerahkan dirinya pada ketergantungan secara total pada Allah.

      "Hal itu tidak bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang,
      tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Rom. 9:16)

      Sirkulasi pemikiran orang Kristen terdiri dari pengakuan bahwa tidak
      ada yang lebih tinggi daripada otoritas Allah dan firman-Nya.
      Sirkulasi pemikiran orang non-Kristen merupakan bukti dari pemikiran
      yang mandiri dan lepas dari Allah yang berusaha untuk mendukung
      dirinya sendiri. Perbedaan kedua pandangan ini membentuk jurang
      pemisah yang besar yang hanya bisa dijembatani oleh anugerah
      kelahiran baru dari Allah.

  2. Dilema Orang Non-Kristen dan Jawabannya

    Saat manusia menolak fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dan
    menyerahkan dirinya kepada kemandirian yang lepas dari Allah, manusia
    dihadapkan pada suatu dilema yang tidak dapat dihindari oleh
    orang-orang non-Kristen. Suatu analogi dapat kita lihat dalam teater
    Yunani kuno, di mana aktor yang sama sering kali harus memainkan
    berbagai peran dengan cara menggonta-ganti topengnya. Demikian juga
    halnya dengan orang non-Kristen yang tidak mengenal kebenaran Allah,
    mereka terpaksa harus memakai dua topeng. Saat berpaling kepada Allah,
    mereka menyatakan keyakinannya yang mutlak bahwa fakta perbedaan
    Pencipta dengan ciptaan-Nya adalah tidak benar; karena itu, ia memakai
    topeng "keyakinan yang mutlak". Namun ketika berpaling dari Allah,
    mereka berada pada posisi di mana ia tidak memunyai dasar yang kuat
    untuk pengetahuan. Karena itu, ia harus menggunakan topeng
    "ketidakyakinan yang mutlak".

    Suatu saat, orang non-Kristen memakai topeng yang satu dan memakai
    topeng yang lain pada saat lain. Sesungguhnya, mereka diperhadapkan
    pada suatu dilema yang tidak dapat dipecahkan di balik topeng itu, di
    mana kedua-duanya, pada saat yang sama, yakin secara mutlak dan tidak
    yakin secara mutlak. Pembukaan atau upaya menyingkapkan topeng orang
    tidak percaya dan memerlihatkan dilema ini kepada mereka, merupakan
    bagian penting dalam pembelaan (apologetika) alkitabiah.

    Apabila orang yang non-Kristen bersikeras untuk berpegang pada
    pandangannya, maka dia harus mengabaikan secara total kesadarannya
    akan keterbatasan manusia. Sering kali, keadaan ini diperlihatkan oleh
    orang non-Kristen sebagai usaha untuk menghindari kesombongan atau
    membuat dogma (memutlakkan sesuatu). Mereka akan mengatakan bahwa kita
    tidak yakin akan apa yang kita pikir kita tahu, atau bahwa kita hanya
    akan sampai kepada "pengetahuan yang berdasarkan pada suatu
    kemungkinan". Pernyataan ini kelihatannya seperti "kerendahan hati"
    pada permukaannya, namun sebenarnya merupakan pernyataan keyakinan dan
    ketidakyakinannya yang mutlak pada waktu bersamaan.

    Titik ini akan sangat menolong untuk menggambarkan lebih lanjut
    bagaimana filsafat orang non-Kristen memerlihatkan dilema "keyakinan
    yang mutlak bahwa tidak ada keyakinan-keyakinan yang mutlak".
    Penjelasan akan diberikan berdasarkan tiga hal utama dari pemikiran
    manusia -- tentang Allah, dunia di luar manusia, dan manusia sendiri.
    Penjelasan ini bukan merupakan penjelasan yang mendalam karena kita
    hanya akan memerlihatkan beberapa contoh untuk mendukung gambaran yang
    akan diberikan. Hal-hal ini sangat penting bagi apologetika
    alkitabiah.

    Filsafat Kristen menyediakan jawaban atas dilema orang non-Kristten.
    Kristus adalah dasar dari kepastian manusia dan jawaban atas
    ketidakpastian yang ditemukan. Allah dilihat sebagai sumber dari
    segala pengetahuan, maka orang Kristen tidak lagi dihadapkan pada
    masalah pasti dan tidak pasti yang tidak terpecahkan. Memang ada
    kepastian dan ketidakpastian dalam filsafat kristiani, namun itu semua
    ada di bawah bimbingan ke-Tuhanan Kristus.

    Di satu pihak, orang Kristen memiliki kepastian akan pengetahuan
    manusia selama ia bergantung pada wahyu Allah. Mendasari filsafat kita
    atas Allah dan wahyu-Nya, berarti menerima secara pasti hal-hal yang
    telah diwahyukan. Kepastian orang Kristen tidak dihancurkan oleh apa
    yang tidak diketahuinya karena Allah mengetahui segala sesuatu secara
    mendalam dan menyeluruh. Oleh karena itu, Ia dapat menyediakan
    pengetahuan yang cukup bagi manusia, bahkan dalam keterbatasan manusia
    sekalipun. Manusia akan mengetahuinya dengan benar tanpa disertai rasa
    takut akan salah.

    Di pihak lain, memang ada ketidakpastian dalam diri orang Kristen. Ia
    menyadari bahwa tidak mungkin ia mampu memahami semua pengetahuan. Ini
    berkenaan dengan hal-hal yang melampaui akal budinya dan yang belum
    dinyatakan Allah kepada manusia. Dalam hal-hal seperti itu, orang
    Kristen mengakui ketidakpastiannya, tetapi tetap percaya pada hikmat
    Allah dan pengertian-Nya yang sempurna. Contohnya, orang percaya tidak
    mampu untuk memecahkan misteri ke-Tuhanan dan kemanusiaan Tuhan Yesus.
    Namun, ia percaya bahwa hal itu bukanlah suatu misteri bagi Allah dan
    hal itu pasti benar karena Allah yang mengatakannya. Ketergantungan
    pada Allah ialah tetap memercayai-Nya dalam hal-hal yang belum dapat
    kita pahami sepenuhnya sekalipun. Dapat dikatakan, orang Kristen dapat
    memiliki ketidakpastian yang bergantung pada pengetahuan Allah yang
    sempurna.

    Supaya kita dapat melihat dengan jelas perbedaan antara kepastian dan
    ketidakpastian antara orang Kristen dan orang non-Kristen, kita akan
    melihat beberapa gambaran berikut ini.

    1. Pemikiran Berkenaan dengan Allah

      Salah satu keterbatasan filsafat non-Kristen adalah dalam hal
      pertanyaan akan keberadaan Allah. Di satu pihak, orang non-Kristen
      (mungkin seorang ateis) berpegang pada keyakinan yang mutlak bahwa
      Allah tidak ada. Untuk berpegang pada pandangan ini, orang ateis
      berusaha untuk mengabaikan fakta keterbatasannya dalam menyelidiki
      seluruh alam semesta dan mendorongnya menyadari bahwa mereka tidak
      yakin secara mutlak akan keberadaan Allah. Oleh karena orang
      non-Kristen belum menyelidiki semua kemungkinan yang membuktikan
      keberadaan Allah, ia tidak dapat yakin secara mutlak bahwa Allah tidak
      ada.

      Orang Kristen memiliki kepastian yang bergantung pada Allah mengenai
      keberadaan dan karakter Allah melalui wahyu Allah dalam Alkitab. Allah
      telah berfirman dan menyatakan diri-Nya bahwa Ia dapat dikenali oleh
      mereka yang menyerahkan dirinya untuk percaya kepada Anak-Nya. Namun,
      orang Kristen memiliki ketidakpastian yang bergantung pada Allah
      karena ia tidak mengetahui segala sesuatu mengenai Allah. Allah
      merahasiakan sebagian mengenai diri-Nya. Selain itu, dosa yang tersisa
      dalam kehidupan orang percaya menahannya untuk mengetahui apa yang
      telah diwahyukan sebagaimana seharusnya. Namun demikian,
      ketidakpastian ini tidak menghancurkan segala sesuatu yang dapat
      diketahui oleh orang Kristen mengenai Allah, sebab Allah memiliki
      semua pengertian dan pengetahuan akan segala sesuatu.

    2. Pemikiran Mengenai Dunia di Luar Diri Manusia

      Dilema dari filsafat orang non-Kristen dapat dilihat pula dari apa
      yang dikatakan mengenai lingkungan ciptaan di sekitar mereka. Klaim
      akan keyakinan yang mutlak telah dikemukakan, misalnya, saat mereka
      mengatakan bahwa dunia ini, dalam pengertian tertentu, merupakan dunia
      yang teratur dan dapat dimengerti. Mereka yakin secara mutlak bahwa
      keteraturan yang telah benar-benar diamati merupakan suatu realitas
      dari dunia ini. Namun, orang tidak percaya diperhadapkan pada fakta
      bahwa ia belum dan tidak dapat menyelidiki keseluruhan dari dunia di
      luar dirinya, sehingga ia tidak dapat menghindari ketidakpastian yang
      mutlak.

      Kepastian yang bergantung pada Allah dapat ditemukan dalam pandangan
      Kristen yang mengajarkan bahwa Allah telah menciptakan dunia yang
      teratur ini. Orang Kristen dapat mengerti tentang dunia ini sebab
      Allah telah menyediakan garis-garis petunjuk dalam Alkitab untuk dapat
      mengerti dunia ini. Ketidakpastian hadir dalam pandangan kristiani
      untuk beberapa alasan. Membutuhkan waktu untuk menerapkan pengajaran
      Alkitab ke dalam setiap aspek dari keseluruhan alam semesta ini. Lebih
      dari itu, kehadiran dosa menyebabkan orang Kristen mungkin mengabaikan
      Alkitab sehingga salah mengerti akan dunia, Alkitab, atau
      kedua-duanya. Akibatnya, filsafat Kristen memiliki ketergantungan
      kepastian dan ketergantungan ketidakpastian dalam memertimbangkan
      dunia di luar dirinya.

    3. Pemikiran Mengenai Manusia

      Bukanlah hal yang mengejutkan apabila orang non-Kristen juga
      memerlihatkan ketidakkonsistenan pemikiran ketika membicarakan diri
      mereka sendiri. Dengan beragam cara, orang non-Kristen menyelewengkan
      gambaran manusia secara alkitabiah sebagai manusia menurut gambar
      Allah dan menggantikannya dengan konsep mereka sendiri, lepas dari
      ketergantungannya pada Allah. Mereka bisa mengatakan tentang manusia
      seperti yang mereka mau. Apa pun masalahnya, orang non-Kristen
      sebenarnya membuat klaim yang berpegang pada kepastian yang mutlak dan
      mengabaikan fakta keterbatasan dari penyelidikan mereka sebagai
      manusia, serta akhirnya mengembalikan diri mereka pada ketidakpastian
      yang mutlak.

      Ketika memikirkan dirinya sendiri, orang Kristen kembali diperhadapkan
      pada kepastian dan ketidakpastian dalam ketergantungannya pada Allah.
      Orang Kristen mengetahui bahwa ia merupakan gambar Allah karena Allah
      mewahyukannya dalam Alkitab. Namun, ada misteri mengenai diri kita
      sendiri di mana orang Kristen tidak mampu memahaminya. Lebih dari itu,
      dosa menyebabkan orang Kristen salah mengerti dan kadang menolak
      kebenaran dari karakter mereka sendiri. Namun, orang Kristen
      menyerahkan dirinya pada pengertian bahwa secara menyeluruh, Allah
      mengerti karakter manusia. Oleh karena itu, saat orang Kristen berada
      dalam ketidakpastian yang bergantung pada Allah, saat itu pula mereka
      berada dalam kepastian yang bergantung kepada Allah.

  3. Mitos dari Netralitas

    Setelah kita melihat perbedaan filsafat non-Kristen dan Kristen, maka
    penting bagi kita untuk tahu bahwa dua filsafat inilah yang menjadi
    pilihan manusia, tidak ada daerah netral di antara keduanya. Dalam
    kerangka berpikir abad ke-20, yang menghargai ilmu pengetahuan, banyak
    orang non-Kristen mengklaim bahwa mereka sulit sekali untuk tiba pada
    keyakinan mereka setelah melihat dunia dari pandangan yang netral.
    Hampir tidak pernah satu hari berlalu tanpa kita mendengar seseorang
    mengatakan, "Saya hanya ingin berhubungan dengan fakta objektif
    sebagaimana adanya. Saya ingin menghindarkan diri dari pertanyaan-
    pertanyaan yang bersifat rohani/agamawi." Walaupun kalimat ini
    dinyatakan dengan ketulusan, namun orang non-Kristen sebenarnya sangat
    jauh dari keberadaan netral (objektif). "Kejujuran yang netral" yang
    mereka kemukakan hanyalah bentuk lain dari penyerahan kepada
    kemandirian yang lepas dari ketergantungan pada Allah. Sebagaimana
    yang dikatakan oleh Tuhan Yesus:

    "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak
    mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan." (Mat. 12:30)

    Meskipun terlihat aneh, ada juga orang Kristen yang berusaha
    untuk menemukan tempat netral. Bahkan konsep daerah netral di antara
    orang non-Kristen dan Kristen telah merupakan konsep dasar yang
    banyak dipakai dalam berapologetika di masa lampau. Pada dasarnya,
    orang-orang Kristen berusaha mencari titik pertemuan pada dasar yang
    sama dengan orang non-Kristen di mana di atasnya mereka ingin
    membangun kredibilitas kristiani. Sangatlah penting dalam
    perkembangan apologetika untuk melihat beberapa hal yang dikatakan
    atau dianggap sebagai konsep netral dan melihat mengapa mereka
    sebenarnya sama sekali tidak netral.

    Konsisten dalam logika merupakan prinsip yang disuguhkan, di mana
    orang Kristen dan orang non-Kristen bersepakat. Apabila kita bermaksud
    untuk memerlihatkan kebenaran kekristenan kepada orang non-Kristen,
    maka kita dapat memberikan logika dari kepercayaan kita pada Allah,
    Kristus, dan Alkitab. Dengan suatu pengharapan bahwa penjelasan
    berdasarkan logika ini dapat meyakinkan atau memenangkan mereka ke
    dalam Kerajaan Allah, atau paling tidak ke arah itu. Namun, walaupun
    kita setuju akan keharusan berpikir secara logis, pengertian kristiani
    akan keterbatasan dan fungsi logika sangat berbeda dengan apa yang
    dimengerti oleh orang-orang non-Kristen. Pemikiran manusia, dalam
    bentuk yang paling murni dan yang paling lengkap, tetap tidak lebih
    dari pemikiran makhluk yang diciptakan Allah dan yang telah
    dipengaruhi oleh bentuk pemikiran yang subjektif. Jadi pada dasarnya,
    logika pun tidak ada yang bersifat netral.

    Juga, sebenarnya tidak ada fakta dari ilmu pengetahuan di mana orang
    Kristen dan orang non-Kristen memegangnya sebagai satu kesepakatan.
    Baik dalam psikologi, biologi, sejarah, matematika, filsafat, teologi,
    dan lain-lain. Fakta-fakta ilmiah pada dasarnya dimengerti secara
    berlainan oleh orang Kristen dan non-Kristen. Tidak ada daerah netral
    untuk berbicara mengenai "fakta-fakta" tanpa pengaruh dari komitmen
    dasar kita, yang pada dasarnya berbeda.

    Karena perbedaan yang begitu jelas, bagaimana orang Kristen dapat
    berkomunikasi secara efektif dengan orang non-Kristen? Jawaban atas
    pertanyaan ini terletak pada fakta bahwa meskipun tidak ada
    netralitas, ada titik temu di antara orang Kristen dan non-Kristen,
    yaitu di tempat-tempat yang memiliki persamaan -- dunia di mana kita
    hidup, keberadaan kita sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar
    Allah, dan penawaran Injil yang bersifat anugerah.

    Orang Kristen dan non-Kristen sama-sama hidup di dunia yang sama,
    kita hidup di bumi yang sama, belanja di toko yang sama, dan makan
    makanan yang sama. Dalam pengertian ini, kita dapat melakukan fungsi
    secara mekanis yang sama. Sebagai gambar Allah, manusia yang telah
    jatuh tetap dapat berargumentasi, berpikir, merasakan sesuatu, dan
    dapat menggunakan bahasa manusia. Akibatnya, kita dapat berkomunikasi
    dan benar-benar sampai pada kesepakatan, meskipun hanya secara
    permukaan saja, sebab perbedaan kita yang radikal tetap ada. Lebih
    dari itu, sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, orang
    non-Kristen mengenal Allah dan tuntutan-Nya dalam hati mereka.
    Walaupun mereka berusaha untuk menyangkalinya, namun setiap fakta
    dari ciptaan berbicara kepada mereka tentang Allah. Bahkan
    pembicaraan orang Kristen mengenai kesadaran akan Allah akan
    menyebabkan mereka tidak dapat luput dari kesadarannya akan Allah.

    Kita hanya dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang non-Kristen
    karena kekuatan dan pekerjaan kelahiran baru yang dilakukan Roh Kudus,
    yang selalu ada dan bekerja. Melalui Injil yang diberitakan, Roh Kudus
    membuka hati dan membawa seseorang pada iman pada Kristus. Pengakuan
    akan konsep mitos netralitas tidak akan menghancurkan semua
    pengharapan untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang
    non-Kristen. Sebenarnya, dengan kesadaran bahwa tidak ada netralitas,
    kita mulai berkomunikasi dengan orang non-Kristen dengan cara yang
    relevan dengan kebutuhan mereka akan Kristus. Tanpa pengakuan akan
    adanya perspektif-perspektif ini, apologetika alkitabiah tidak dapat
    dikembangkan.

Akhir Pelajaran (AUA I-P06)---

Doa

Ya, Tuhan, kami bersyukur karena Engkau memberikan dasar kepercayaan
yang kokok dalam firman-Mu. Dengan demikian, kami tidak lagi
terombang-ambing oleh apa pun yang dikatakan, diklaim, dan diakui
oleh dunia. Sebaliknya, bimbinglah kami untuk bisa membawa
kebenaran-Mu kepada dunia. Hanya karena pekerjaan-Mulah, mereka akan
bisa dimenangkan. Amin.

(Catatan: pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)



PESTA=========Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam==========PESTA

Pertanyaan

AUA-I Pertanyaan 01

Pelajaran 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Pelajaran: AUA I-P01

Pelajaran 01 - DASAR YANG KOKOH



*Instruksi*

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 05 dengan
    teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah
    dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan
    Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:

    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!


Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas
ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK
ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Kata Apologetika berasal dari kata Yunani, Apologia, artinya
    [...........].
  2. Mempelajari bidang Apologetika diumpamakan seperti membangun rumah,
    dimana bagian terpenting dari pembangunan ini adalah [...........].
  3. Firman Tuhan adalah satu-satunya [..........] untuk membangun
    rumah apologetika Kristen yang kuat.
  4. Serangan yang terbesar pada iman Kristen ditujukan kepada
    [........].
  5. Menurut Petrus (1 Pet. 3:15), hal pertama yang harus dilakukan
    orang Kristen untuk dapat melakukan apologetika dengan benar
    adalah [............]
  6. Tugas apologetika seharusnya dilakukan oleh [..........]
  7. Ayat yang sering disalahmengerti dan dipakai orang Kristen untuk
    menghindarkan diri dari tugas apologetika adalah [............]
  8. Kepentingan apologetika dapat dilihat dari beberapa segi. Sebutkan
    tiga kepentingan berapologetika bagi orang-orang Kristen yang
    melakukan:

  9. [........]
  10. [........]
  11. [........]

PERTANYAAN (B):

  1. Apakah betul bahwa banyak orang Kristen yang merasa tidak mampu
    untuk melakukan tugas berapologetika? Mengapa? Bagaimana
    mengatasinya?
  2. Sebutkan contoh tokoh-tokoh dalam Alkitab yang melakukan
    apologetika dan bagaimana hasilnya?

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan
BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >



PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Pertanyaan 02

Pelajaran 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Pelajaran: AUA I-P02

Pelajaran 02 - PERMULAAN DARI SEGALANYA



*Instruksi*

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 05 dengan
    teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah
    dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan
    Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:

    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!


Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas
ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK
ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Permulaan Alkitab (Kejadian 1:1) merupakan deklarasi seluruh isi
    Alkitab, yang menyatakan bahwa [ ............. ]
  2. Prinsip pertama apologetika yang harus kita pahami adalah adanya
    perbedaan antara Allah sebagai [.............] dan manusia
    sebagai [...........].
  3. Ayat yang memberikan konfirmasi bahwa Allah sampai hari ini terus
    menerus terlibat dan bertanggung jawab atas ciptaan-Nya adalah
    [ ..........].
  4. Kesimpulan tentang Allah yang terdapat dalam ayat Kis. 17:25
    adalah [ .......... ].
  5. Ketergantungan manusia para Allah bersifat [...........].
  6. Berikan beberapa contoh tentang cara yang Allah pilih untuk
    menyatakan diri-Nya secara umum sepanjang waktu? [............]
  7. Cara khusus yang Allah pilih untuk menyatakan diri-Nya adalah
    melalui [.............]
  8. Penyataan-penyataan yang Allah ingin sampaikan kepada manusia
    sering terhalangi oleh [..........] sehingga manusia dibutakan
    dari kehendak Allah.
  9. Lepas dari [............], manusia pada dasarnya tidak mungkin
    akan pernah mengerti pengetahuan apa pun dengan benar.
  10. Pada saat Allah berkata, "Ini adalah baik," Dia menyatakan diri-
    Nya sebagai satu-satunya [...........] yang benar, yang dapat
    memutuskan apa yang baik dan apa yang jahat.

PERTANYAAN (B):

  1. Jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta,
    apakah berarti bahwa agama-agama lain harus mengakutinya?
    Mengapa?
  2. Apakah implikasi dari pernyataan bahwa Allah adalah sumber
    moralitas bagi orang Kristen?

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan
BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >



PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Pertanyaan 03

Pelajaran 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Pelajaran: AUA I-P03

Pelajaran 03 - KARAKTER MANUSIA SEBELUM JATUH DALAM DOSA



*Instruksi*

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 05 dengan
    teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah
    dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan
    Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:

    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!


Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas
ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK
ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Alkitab melihat sejarah dunia dan manusia dalam tiga tahap --
    [........., ............., .............]
  2. Kemampuan manusia yang dapat berpikir dan mengembangkan pikirannya
    tidak dimiliki oleh mahluk ciptaan lain, hal ini disebabkan karena
    manusia memiliki [...............] Allah.
  3. Menurut Kol. 3:10, salah satu kualitas penting dari manusia sebelum
    jatuh dalam dosa adalah manusia memiliki [............] yang benar.
  4. Di taman Eden, Adam telah menggunakan akal budinya dalam ketaatan
    pada Allah, yaitu ketika ia [................]
  5. Meskipun manusia diciptakan Allah dengan sempurna tapi, manusia
    adalah mahluk ciptaan yang [............].
  6. Semua pengetahuan yang Adam miliki sebelum jatuh dalam dosa adalah
    benar sebab ia mendapatkannya dari sumber kebenaran, yaitu
    [...............]
  7. Penyataan Alkitab merupakan pemikiran Allah di mana bagi-Nya tidak
    ada satu hal pun yang bersifat [...........].
  8. Akal budi (logika) tidak akan menjadi sesuatu yang jahat, asal
    [...............]
  9. Kekristenan, pada hal-hal tertentu, dapat menemui kebuntuan untuk
    dapat dimengerti secara kemampuan logika manusia, contohnya
    [............].
  10. Manusia disarankan untuk tidak berdiri pada 2 sisi ekstrim, yaitu
    menolak menggunakan [.............] dan setuju pada iman yang
    buta atau sangat mengandalkan [...........] sehingga terlepas dari
    ketergantungannya pada Allah.

PERTANYAAN (B):

  1. Dalam banyak hal, kita mengakui bahwa manusia memiliki
    keterbatasan, terutama dalam pengetahuan. Tapi di tengah
    keterbatasan itu mengapa sebagai orang Kristen kita disarankan
    untuk tidak perlu takut mengalami ketersesatan?
  2. Mengapa memahami kedudukan manusia sebelum jatuh dalam dosa sangat
    penting untuk dapat memulai berapologetika?

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan
BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >



PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Pertanyaan 04

Pelajaran 04 | Referensi 04a | Referensi 04b | Referensi 04c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia yang Berdosa
Kode Pelajaran: AUA I-P04

Pelajaran 04 - KARAKTER MANUSIA YANG BERDOSA



*Instruksi*

<

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 05 dengan
    teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah
    dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan
    Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:

    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!


Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas
ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK
ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Allah menguji kesetiaan Adam dan Hawa akan otoritas Allah dengan
    menempatkan [...............].
  2. Cara setan menjatuhkan adalah dengan membujuk Hawa untuk percaya
    bahwa perbedaan antara [.............] dan [............] akan
    hilang dan manusia akan "menjadi seperti Allah,"
  3. Inti dari dosa adalah pemberontakan melawan [............]
    manusia pada Allah dan manusia berasumsi bahwa dia mampu untuk
    berdiri sendiri tanpa Allah.
  4. Peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa telah membuat semua
    manusia berada di bawah [................].
  5. Roma 1:18-32 menceritakan bahwa manusia yang telah jatuh dalam
    dosa, menolak untuk mengakui [ .............] dalam semua aspek
    ciptaan.
  6. Oleh anugerah umum, Allah telah menahan akibat dosa dan pencemaran
    sehingga orang yang tidak percaya tetap dapat berpikir dan
    bertindak atau bereaksi sesuai dengan keberadaan mereka sebagai
    [.............] walaupun mereka tidak mengakui Allah sebagai
    Pencipta.
  7. Selama manusia terus menerus berpaling daripada Allah, maka
    manusia tidak akan mampu untuk tiba pada [.............] yang benar
    akan diri mereka sendiri, dunia, dan Allah.
  8. Saksi Yehova adalah contoh dari salah satu kebenaran yang hanya
    ditunjukkan dari permukaannya saja. Mereka bisa berkata bahwa
    "Yesus adalah Tuhan", tapi pendapat mereka yang sebenarnya adalah
    [...............].
  9. Akar dari setiap ide dan pernyataan yang dikemukakan oleh orang
    yang tidak percaya adalah berdasarkan pada [........... ] bahwa
    "saya tidak bergantung pada Allah".
  10. Pernyataan-pernyataan orang tidak percaya dinyatakan tidak benar
    karena struktur pemikiran mereka tidak memimpin orang pada
    [...............] kepada Allah.

PERTANYAAN (B):

  1. Apa hubungan perbuatan dosa Adam dengan kita (manusia) sekarang?
    Apakah manusia sekarang masih bisa berbuat baik di hadapan manusia?
    Mengapa?
  2. Bagaimana cara menyadarkan orang ateis bahwa Allah ada dan mereka
    tidak mungkin hidup terlepas dari Allah?

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan
BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >



PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Pertanyaan 05

Pelajaran 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus
Kode Pelajaran: AUA I-P05

Pelajaran 05 - KARAKTER MANUSIA SETELAH DITEBUS OLEH KRISTUS



*Instruksi*

<

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 05 dengan
    teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah
    dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan
    Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:

    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!


Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas
ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK
ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Inti dari kejatuhan Hawa adalah keinginan untuk mandiri dan lepas
    dari [.............] pada Allah dan menolak untuk secara sukarela
    menundukkan diri pada Firman Tuhan.
  2. Permulaan dari penebusan dalam Kristus adalah pada saat kita
    [.............] dengan kesungguhan pada Kristus dan menyadari
    ketergantungan kita kepada Firman Tuhan sebagai hikmat yang benar.
  3. Pertobatan hanyalah salah satu tanda dari keseluruhan proses
    [.............]
  4. Sebagai orang Kristen, kita diminta secara terus-menerus menerima
    kebenaran [..............] dengan penyembahan yang tanpa
    berprasangka.
  5. Kita diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada
    asal mula keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui
    [..........].
  6. Manusia yang telah mengalami kelahiran baru diberikan [............], [..............] dan [...............] yang benar, di mana semua itu hilang pada waktu kejatuhan dalam dosa.
  7. Manusia baru dalam Kristus membutuhkan Penolong untuk dapat
    dipimpin kepada Pencipta alam semesta secara langsung. Penolong itu
    adalah [...............] dan [................].
  8. Namun demikian, meskipun manusia telah diperbaharui kembali kepada
    kondisi asalnya seperti sebelum kejatuhan, pembaharuan ini tidaklah
    sempurna sampai [................].
  9. Karena orang Kristen belum saat ini sepenuhnya dapat terlepas dari
    pengaruh dosa, maka [...............] yang tinggal di dalam hati
    akan menolongnya berperang melawan kuasa kedagingan.
  10. Ketergantungan orang percaya pada Allah untuk pengetahuan dan
    moralitas tidak datang secara [...............] bagi orang
    Kristen, tetapi harus disertai dengan usaha yang serius untuk
    mendapatkan penyucian.

PERTANYAAN (B):

  1. Apa maksud dari pengertian bahwa kelahiran baru dapat menghasilkan
    kebalikan dari posisi/status manusia setelah jatuh ke dalam dosa?

  2. Mengapa orang-orang Kristen yang sudah lahir baru hidupnya sering
    masih dipenuhi dengan pergumulan melawan kedagingan?

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan
BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >



PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Pertanyaan 06

Pelajaran 06 | Referensi 06a | Referensi 06b | Referensi 06c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Filsafat Non-Kristen dan Kristen
Kode Pelajaran: AUA I-P06

Pelajaran 06 - FILSAFAT NON-KRISTEN DAN KRISTEN



*Instruksi*

Harap setiap peserta mengikuti petunjuk mengerjakan tugas sbb.:

  1. Bacalah Bahan Pelajaran dan semua Referensi Pelajaran 06 dengan
    teliti.
  2. Bacalah Pertanyaan (A) dan (B) di bawah ini, kemudian jawablah
    dengan benar dan lengkap.
  3. Apabila Anda mendapatkan kesulitan sehubungan dengan isi Bahan
    Pelajaran, silakan menghubungi Pembimbing di:

    < yulia(at)in-christ.net >

Selamat mengerjakan!


Perhatian:

Setelah Anda menjawab tugas tertulis ini, mohon kirim kembali tugas
ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan BUKAN DALAM BENTUK
ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >

PERTANYAAN (A):

  1. Filsafat [............] berdasar pada kemandirian pikiran manusia
    yang lepas dari Allah. Sedangkan filsafat [.............] berakar
    pada ketergantungan total pada Allah.
  2. Filsafat Kristen dapat digambarkan sebagai suatu bangunan yang
    besar dan disangga oleh satu tiang utama, yaitu [............].
  3. Komitmen ketergantungan mutlak pada Allah tidak hanya untuk urusan
    masalah gerejawi, tapi juga untuk [............].
  4. Perbedaan antara filsafat yang berdasar pada kemandirian pikiran
    manusia dan filsafat yang berakar pada ketergantungan pada Allah,
    membentuk jurang pemisah yang besar, yang hanya bisa dijembatani
    dengan [.............] dari Allah.
  5. Filsafat [.............] memerlihatkan dilema bahwa mereka memiliki
    "keyakinan yang mutlak bahwa tidak ada keyakinan-keyakinan yang
    mutlak".
  6. Kepastian orang Kristen tidak dihancurkan oleh apa yang tidak
    diketahuinya, karena [.............] menyediakan pengetahuan yang
    cukup bagi manusia, bahkan dalam keterbatasan manusia sekalipun.
  7. Hanya melalui persekutuan dengan [............] dalam iman, kita
    dimungkinkan untuk dapat melihat Allah, dunia, dan diri kita
    sendiri dengan tepat dan benar.
  8. Ketidakpastian orang Kristen akan ketergantungan pengetahuan pada
    Allah disebabkan oleh 2 hal: pertama, ia memiliki [............]
    dalam kemampuan untuk mengetahui semua hal tentang wahyu yang Tuhan
    berikan; kedua, [............] menyebabkan orang Kristen salah
    mengerti dan kadang menolak kebenaran wahyu Allah.
  9. Untuk memulai berkomunikasi dengan orang non-Kristen dengan cara
    yang efektif dan relevan maka kita harus memberikan kesadaran
    bahwa tidak daerah yang dikatakan, [..............], dimana orang
    Kristen dan non-Kristen bisa memegangnya sebagai satu kesepakatan.
  10. Apabila kita berharap memenangkan orang non-Kristen ke dalam
    Kerajaan Allah, atau paling tidak ke arah itu, maka kita dapat
    memerlihatkan kebenaran kekristenan dengan [............] yang
    tepat atas kepercayaan kita pada Allah, Kristus, dan Alkitab.

PERTANYAAN (B):

  1. Jelaskan pendapat Anda, mengapa filsafat non-Kristen dan filsafat
    Kristen memiliki jurang pemisah yang tidak mungkin bisa dijembatani
    oleh usaha manusia?

  2. Untuk menginjili orang non-Kristen kita harus bisa menemukan titik
    temu sehingga orang non-Kristen dan Kristen bisa memulai berbicara.
    Berikan contoh titik temu yang Anda ketahui.

Kirimkan kembali tugas ini dalam bentuk plain text (e-mail biasa) dan
BUKAN DALAM BENTUK ATTACHMENT ke:

==> < staf-pesta(at)sabda.org >



PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

Referensi

AUA-I Referensi 01a

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b | Referensi 01c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Referensi: AUA I-R01a

Referensi AUA I-R01a diambil dari:

Judul buku: Pedoman Apologetika Kristen
Judul artikel: Mengenai Apologetika
Pengarang: Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2006
Halaman: 23 -- 31


MENGENAI APOLOGETIKA

A. Jawaban-Jawaban terhadap Keberatan-Keberatan dalam Melakukan
Apologetik.

Kebanyakan orang tidak senang atau mengabaikan apologetik karena
hal itu tampaknya bersifat terlalu intelektual, abstrak, dan
rasional. Mereka mengemukakan bahwa kehidupan, kasih, moralitas,
dan kekudusan itu jauh lebih penting daripada akal.

Mereka yang memiliki pola berpikir sedemikian memang benar; namun
mereka tidak sempat memperhatikan bahwa sebenarnya mereka pun
sedang terlibat dalam proses berpikir. Kita tak dapat menghindar
dari hal ini. Yang hanya dapat kita hindari adalah melakukannya
secara baik. Selain itu, akal itu sebenarnya adalah sahabat, bukan
musuh iman dan menjadi sahabat kekudusan, karena akal itu adalah
jalan menuju kebenaran, dan kekudusan berarti mengasihi Allah yang
adalah Kebenaran.

Bukan hanya berpikir secara apologetik mengantar seseorang kepada
iman dan kekudusan, melainkan iman dan kekudusan juga mengantar
kepada berpikir secara apologetik. Karena kekudusan berarti
mengasihi Allah, dan mengasihi Allah berarti menaati kehendak
Allah, dan kehendak Allah bagi kita adalah mengenal Dia dan "siap
sedia memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang
meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu" (1 Ptr. 3:15).

Akhirnya, fakta bahwa apologetik tidak sepenting seperti kasih
tidak berarti bahwa apologetik itu tidak sangat, sangat penting.
Fakta bahwa kesehatan tidak sepenting seperti hikmat tidak berarti
bahwa kesehatan itu tidak sangat penting - misalnya jauh lebih
penting cari uang.

Seluruh argumentasi yang dikemukakan dalam buku ini, dan di dalam
buku-buku lain mengenai apologetik yang pernah ditulis, kurang
nilainya di hadapan Allah dibandingkan dengan perbuatan kasih
kepadanya atau kepada sesama Anda. Tetapi walaupun salah satu dari
argumentasi ini sangat baik, argumentasi itu sendiri memiliki nilai
yang melebihi nilai uang yang Anda belanjakan.

Sebuah alasan lain yang lebih dalam mengapa sebagian orang tidak
menyenangi hal berpikir secara apologetik adalah karena mereka
memutuskan untuk percaya atau tidak dengan hati mereka ketimbang
dengan kepala mereka. Bahkan argumentasi yang paling sempurna pun
tidak menggerakkan hati orang seperti emosi, keinginan, dan
pengalaman nyata. Kebanyakan dari kita mengetahui bahwa hati kita,
bukan kepala kita, yang menjadi pusat kita. Tetapi apologetik masuk
sampai ke hati kita melalui kepala kita. Kepala itu sangat penting
karena berfungsi menjadi pintu yang menuju ke hati. Kita hanya akan
dapat mengasihi apa yang kita kenal atau ketahui.

Selanjutnya, akal itu minimal memiliki kuasa untuk memveto. Kita
tak dapat mempercayai sesuatu yang kita ketahui tidak benar, dan
kita tak dapat mengasihi sesuatu yang kita percayai tidak nyata.
Argumentasi-argumentasi mungkin tidak akan mengantar Anda kepada
iman, tetapi pasti hal-hal itu dapat menjauhkan Anda dari iman.
Karena itu kita harus terjun dan ikut serta dalam peperangan
argumentasi ini.

Argumentasi-argumentasi dapat mengantar Anda kepada iman, sama
seperti sebuah mobil dapat mengantar Anda ke tepi pantai. Mobil itu
rak yang dapat berenang; Anda harus meloncat masuk ke dalam air
untuk dapat berenang. Namun Anda tak dapat meloncat ke dalam air
apabila Anda berada ratusan kilometer dari pantai laut. Anda
pertama-tama membutuhkan mobil yang akan membawa Anda ke tempat di
mana Anda dapat membuat loncatan iman ke dalam air laut. Iman
adalah sebuah loncatan, namun itu adalah loncatan dalam terang,
bukan dalam kegelapan.

Kepala itu laksana seorang navigator kapal. Hati itu laksana kapten
kapal. (Yang dimaksud Kitab Suci dengan "hati" lebih dekat dengan
"kehendak" daripada "perasaan".) Keduanya penting. Masing-masing
saling menaati satu dengan yang lain dengan cara yang berbeda.

B. Alasan-Alasan untuk Melakukan Apologetik

Alasan pertama, bagi orang Kristen adalah karena ketaatan kepada
kehendak Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk
memberi pertanggungjawaban (alasan) bagi iman merupakan
ketidaktaatan kepada Allah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan
praktis mengapa kita melakukan apologetik, yaitu: untuk meyakinkan
orang tidak percaya dan untuk mengajar dan membangun orang percaya.

Kalaupun tak ada orang tak percaya yang perlu diyakinkan, kita
masih harus memberikan pertanggungjawaban atas iman kita, karena
iman itu tidak berdiri sendiri, melainkan menghasilkan atasan-
atasan sama seperti iman itu menghasilkan perbuatan baik. Iman itu
mendidik akal dan akal memeriksa isi dari "iman yang telah
disampaikan kepada orang- orang kudus" (Yud. 3).

Selain itu, iman bagi orang Kristen adalah iman kepada Allah yang
adalah kasih, Kekasih jiwa kita, dan Yang kita kasihi; dan semakin
hati kita mengasihi seseorang, semakin besar keinginan pikiran kita
untuk mengenal pribadi yang kita kasihi itu. Iman dengan sendirinya
mengantar kepada akal melalui perantaraan kasih. Jadi iman itu
mengantar kepada akal, dan akal mengantar kepada iman - itulah yang
ingin diperlihatkan oleh buku ini. Demikianlah akal dan iman adalah
sahabat, sekawan, pasangan, partner.

Apologetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan karena
iman dan akal sebagai dua sahabat itu memiliki musuhmusuh yang
sama. Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama
perlengkapan peperangan. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan
tentang peperangan rohani di mana apologetik itu juga turut
terlibat:

"Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang
secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah
senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan
kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu
yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang
pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan
menaklukkannya kepada Kristus" (2 Kor. 10:3-5).

Dalam peperangan ini kita mempertahankan iman maupun akal, karena
akal adalah sahabat kebenaran, dan ketiadaan iman itu adalah
ketiadaan kebenaran. Dalam mempertahankan iman, kita menguasai
kembali teritorial pikiran yang kita miliki, atau yang menjadi
milik Allah. Seluruh teritorial itu adalah milik Allah. Sebagaimana
yang dikatakan Arthur Holmes, "Seluruh kebenaran adalah kebenaran
Allah."

Namun peperangan itu adalah untuk melawan ketidakpercayaan, bukan
untuk melawan orang tidak percaya, sama seperti insulin yang
diperuntukkan bagi penyakit diabetes, bukannya untuk penderita
diabetes. Sasaran dari apologetik bukanlah kemenangan, melainkan
kebenaran. Kedua pihak akan menang. Ucapan Abraham Lincoln juga
dapat diterapkan kepada argumentasi apologetik: "Cara yang terbaik
untuk dapat mengalahkan musuh Anda adalah menjadikannya teman
Anda."

Kami mengundang para kritik!ts, mereka yang skeptis, untuk
berdialog dengan kami dan menulis kepada kami - demi mewujudkan
kebersamaan dalam mencari kebenaran, dan demi untuk (kurang
penting) memperbaiki edisi-edisi masa depan buku ini. Salah satu
dari beberapa hal dalam kehidupan ini yang tak dapat membahayakan
kita, adalah mencari kebenaran itu secara jujur.

C. Mengenai Metodologi

Suatu pendahuluan atau perkenalan kepada apologetik biasanya
membahas mengenai metodologi. Namun kami tidak melakukan hal ini.
Kami percaya bahwa dewasa ini pertanyaan-pertanyaan yang sekunder
mengenai metodologi sering menyelewengkan perhatian kita dari
pertanyaan-pertanyaan primer mengenai kebenaran. Tujuan kami adalah
"kembali kepada hal-hal dasar". Kami tidak memiliki kapak
metodologi khusus untuk menebang. Kami coba menggunakan standar-
standar rasionalitas yang masuk akal dan prinsip-prinsip logika
yang diterima secara universal dalam pembahasan-pembahasan kami.
Kami mengumpulkan dan mempertajam argumentasi-argumentasi seperti
orang-orang yang senang koleksi batu-batu permata berharga yang
mengumpulkan dan kemudian memoles batu-batu itu supaya kelihatan
lebih indah; para pembaca dapat menyusunnya sesuai dengan berbagai
situasi atau latar belakang mereka sendiri.

Namun kami harus menyampaikan satu hal mengenai metodologi, yaitu:
bagaimana untuk tidak menggunakan buku [bahan] ini.

Kami telah mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi apologetik
adalah seperti perlengkapan perang. Ini merupakan metafora yang
berbahaya, karena perlengkapan perang ini tak pernah digunakan
untuk memukul kepala orang. Argumentasi adalah kegiatan manusia
yang merupakan bagian dari konteks sosial dan psikologis yang lebih
luas. Konteks ini mencakup (1) jiwa seutuhnya (psyche) dari dua
orang yang terlibat dalam suatu kegiatan dialog, (2) hubungan
antara dua orang, (3) situasi di mana mereka sendiri sedang berada,
dan (4) situasi sosial, kultural, dan historikal yang lebih luas di
sekitar mereka. Bahkan faktor-faktor nasional, politik, rasial, dan
seksual pun mempengaruhi situasi apologetis. Seseorang tidak boleh
menggunakan argumentasi-argumentasi sama yang digunakan dalam
berdiskusi dengan wanita India ketika berhadapan dengan seorang
remaja Afrika-Amerika dari Los Angeles.

Dengan perkataan lain, walaupun argumentasi-argumentasi itu adalah
senjata-senjata, fungsinya lebih menyerupai sebuah pedang daripada
sebuah bom. Kita ketahui bahwa bom tidak akan mempedulikan
sasarannya. Juga tidak perlu banyak menjadi masalah tentang siapa
yang menjatuhkan bom itu. Namun untuk sebuah pedang, sangat penting
sekali siapa yang mengayunkannya, karena pedang itu adalah
kepanjangan tangan dari orang yang memegangnya. Demikian pula,
sebuah argumentasi dalam apologetik, bila benar-benar digunakan
dalam dialog, merupakan kepanjangan tangan dari orang yang terlibat
dalam argumentasi itu. Nada suara, kesungguhan, kepedulian,
perhatian, sikap main mendengar, dan menghargai dari orang yang
berargumentasi sangat penting dan menentukan seperti logikanya,
bahkan terkadang lebih penting. Dunia ini dapat dimenangkan bagi
Kristus bukan melalui argumentasi-argumentasi, melainkan melalui
kekudusan: "Ucapan Anda terdengar sedemikian nyaring sehingga saya
hampir tak dapat mendengarkan apa yang Anda katakan."

E. Kebutuhan Akan Apologetik Dewasa Ini

Apologetik secara khusus sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya di
saat dunia sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan jalan dan
berbagai krisis.

(1). Peradaban Barat untuk pertama kalinya dalam sejarah sedang
menghadapi bahaya sekarat. Alasannya bersifat spiritual.
Peradabannya sedang kehilangan kehidupannya, jiwanya; dan jiwa yang
dimaksud adalah iman Kristen. Infeksi yang sedang mematikannya
bukan multikulturalisme kemajemukan budaya atau agama dan
kepercayan lain - melainkan monokulturalisme sekularisme -
ketiadaan iman, ketiadaan jiwa. Abad kita ini ditandai oleh
pembasmian kelompok orang tertentu, kekacauan seksual, dan
penyembahan uang. Apabila para nabi tidak mengucapkan kebohongan,
maka kita akan mengalami kehancuran, kecuali jika kita bertobat dan
"memutar kembali jarum jamnya" (bukan secara teknologi, melainkan
secara spiritual). Gereja Yesus Kristus tidak akan pernah mati,
namun peradaban kita bisa mati. Apabila pintu-pintu neraka tidak
akan dapat menguasai gereja, maka dunia ini pun pasti tidak akan
bisa melakukannya. Kami melaksanakan apologetik bukan untuk
menyelamatkan gereja, melainkan untuk menyelamatkan dunia.

(2). Kita bukan hanya sedang nenghadapi krisis kultural dan
kemasyarakatan, melainkan kita pun sedang berada di tengah krisis
filosofis dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah
"krisis kebenaran". Ide mengenai kebenaran objektif semakin
diabaikan, ditinggalkan atau diserang - bukan hanya dari sisi
praktis, melainkan juga dari sisi teoritis, secara langsung dan
terbuka, terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan dan media, yang
membentuk pikiran-pikiran kita.

(3). Hal yang terakhir, tingkat yang terdalam dari krisis yang kita
hadapi bukanlah bersifat kultural atau intelektual, melainkan
spiritual. Yang dipertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia, lelaki
maupun wanita yang baginya Kristus telah mati. Sebagian orang
berpikir bahwa hari kiamat telah dekat. Kami bersikap skeptis
terhadap ramalan seperti itu, namun kami mengetahui satu hal yang
pasti: setiap orang sedang mendekati ajalnya, kematian dan hukuman
kekal setiap hari. Peradaban kita bisa saja bertahan lagi sampai
satu abad lagi, tetapi Anda sendiri tidak akan dapat bertahan. Anda
segera akan menghadap Tuhan tanpa dapat menyembunyikan sesuatu.
Sebaiknya Anda mulai belajar mengasihi dan mencari terang itu
selama masih ada kesempatan, supaya Anda akan menikmati sukacita
dan bukan ketakutan untuk selama-lamanya. Adalah hal yang tak
sesuai dewasa ini untuk menulis hal-hal seperti ini pada masa kini
-- suatu kenyataan yang berbicara banyak sekali tentang kesehatan
spiritual dari masa gaya burung unta yang sedang kita hadapi ini.

F. Kekristenan Belaka atau Ortodoks

Kami membatasi diri kami dalam buku ini pada kepercayaan
kepercayaan inti yang dikenal oleh seluruh orang Kristen ortodoks -
yang disebut oleh C.S. Lewis "Kekristenan Belaka". Istilah belaka
tidak diartikan sesuatu "denominasi yang terendah" yang abstrak,
melainkan menunjukkan intisari atau pokok iman seperti yang
disimpulkan dalam Pengakuan Iman Rasuli. Intisari pengajaran yang
kuno dan tak berubah ini telah mempersatukan orang-orang, percaya
yang berbeda-beda satu dengan yang lain dan telah dipergunakan pula
untuk menentang orang yang tidak percaya yang berada di banyak
gereja dan denominasi maupun yang berada di luar. Para teolog
liberal (atau modernis, atau demytologis atau revisionis) tidak
akan senang dengan buku ini, terutama tentang argumentasi-
argumentasinya mengenai mukjizat-mukjizat, keabsahan Kitab Suci,
realita kebangkitan, keilahian Kristus, dan realita mengenai surga
dan neraka. Kami mengundang mereka untuk bergabung bersama-sama
dengan mereka yang mengaku diri bukan orang-orang percaya untuk
coba mengemukakan sanggahan-sanggahan terhadap argumentasi-
argumentasi ini. Kami juga mengundang mereka untuk mulai
mempraktekkan "pemberian label kebenaran" yang lebih akurat dalam
menjelaskan posisi mereka sendiri.

Para pembaca liberal mungkin akan mencap buku ini sebagai buku
"konservatif" atau "sayap kanan". Istilah-istilah itu tidak tepat
atau tak cocok.

Istilah "konservatif" yang berlawanan dengan "progresif", mengacu
kepada sesuatu dalam waktu dan sejarah, bukan kebenaran-kebenaran
kekal, melainkan pendapat-pendapat atau cara-cara masa lampau yang
bertentangan dengan mash depan. Sesuatu yang "progresif" pada suatu
waktu dapat menjadi "konservatif" pada waktu yang lain. Pertanyaan
apakah Allah, surga, atau mukjizat-mukjizat ada merupakan
pertanyaan yang tidak menyangkut pendapat-pendapat yang terikat
dengan waktu, melainkan menyangkut realita-realita yang tidak
berubah.

Istilah "sayap kanan" mengacu kepada orientasi politik. pasca
Revolusi Perancis, yang bertentangan dengan "sayap kiri" (kira-kira
sosialis), yang sama sekali tak ada kaitannya dengan apologetik
Kristen. Kebenaran atau kekeliruan sosialisme dalam politik tak ada
kaitannya dengan eksistensi atau noneksistensi Allah.

Istilah teologis yang tepat bagi mereka yang menamakan diri teolog
"liberal" atau "sayap kiri" atau "progresif" adalah "heretik".
Secara definisi, seorang heretik adalah seorang yang menyeleweng
atau meninggalkan doktrin yang esensial (dari istilah Yunani
haireomai yang berarti "memilih sendiri"). Oleh karena kebanyakan
kaum heretik masa kini tidak lagi percaya kepada pokok-pokok
doktrin esensial, maka mereka tidak menerima label ini.

Keberatan yang mereka kemukakan masih memiliki bobot karena gereja
pernah ternoda oleh Peristiwa Inquisisi, di mana gereja melakukan
kesalahan yang sama seperti yang dilakukan kaurri liberal yaitu:
mengacaukan ajaran sesat dengan orang-orang sesat. Peristiwa
Inquisisi Spanyol keliru menghancurkan orang-orang heretik demi
untuk dengan benar menghancurkan ajaran heretik; kaum "liberal"
modern keliru mengasihi ajaran heretik demi untuk dengan benar
mengasihi kawan heretik.

Apologetik bertujuan membela kekristenan ortodoks. Para penyeleweng
dari kebenaran tidak senang berapologetik untuk kekristenan
ortodoks karena mereka tidak mempercayai kekristenan ortodoks itu.
Mereka lebih senang meminta maaf untuk itu, daripada berupaya
membelanya.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 01b

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Referensi: AUA I-R01b

Referensi AUA I-R01b diterjemahkan dari:

Nama situs: Carm
URL: http://www.carm.org/apologetics.htm
Judul artikel: Introduction to Apologetics
Pengarang: Matthew J. Slick
Penerbit: 1995 - 2007


PENGANTAR APOLOGETIKA

Istilah "apologetika" berasal dari kata Yunani, "apologia". Artinya
suatu pembelaan-pembelaan lisan. Istilah ini dipakai delapan kali di
Perjanjian Baru: Kis. 22:1; 25:16; 1Kor. 9:3; 2Kor. 7:11; Flp. 1:7-8;
2 Tim. 4:16 dan 1Pet. 3:15.

"Kuduskanlah KRISTUS di dalam hatimu sebagai TUHAN! Dan siap sedialah
pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap
orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan
yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." (1
Petrus 3:15. TB.)

"Apologetika" adalah pekerjaan untuk meyakinkan orang agar mengubah
cara pandang mereka".

Apologetika Kristen adalah cabang kekristenan yang berkenaan dengan
hal menjawab segala kritik yang melawan atau pertanyaan tentang
wahyu Allah di dalam Kristus dan Alkitab. Hal ini termasuk
mempelajari transmisi manuskrip alkitabiah, filsafat, biologi,
matematika, evolusi, dan logika. Tetapi apologetika dapat juga berisi
suatu jawaban sederhana terhadap pertanyan tentang Yesus atau sebuah
ayat Alkitab.

Apologetika bisa bersifat defensif dan opensif. Filipi 1:7-8,
memberikan kepada kita sifat defensifnya, "Memang sudahlah sepatutnya
aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam
hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih
karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan,
maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. Sebab
Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus
merindukan kamu sekalian." 2 Korintus 10:5-6 memberikan kepada kita
sifat ofensifnya, "Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan
setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang
pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya
kepada Kristus dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap
kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna." Seorang
pembela dapat dan harus membela alasannya untuk percaya (1 Pet.
3:15). Tetapi dia juga boleh menyerang. Ia dapat mencari orang-orang
yang melawan Kekristenan (2 Kor. 10:5). Tentu, ia harus mengadakan
persiapan sebelumnya dan semua pembelaan harus dilakukan dengan
kelemahlembutan.

Apologetika adalah pekerjaan untuk meyakinkan orang agar mengubah
cara pandang mereka. Hal ini mirip dengan berkhotbah karena tujuan
akhirnya adalah membela dan menyajikan keabsahan dan pentingnya
Injil. Ini adalah sebuah upaya untuk membujuk pendengar untuk
mengubah keyakinan dan hidup mereka untuk menerimaan kebenaran
alkitabiah dan menerima keselamatan dari Kristus.

Pada dasarnya, apologetika adalah sebuah pembuktian atau
presupposisi[onal]. Apologetika evidesial berhubungan dengan bukti-
bukti kekristenan, seperti: kebangkitan Yesus, manuskrip Alkitab,
penggenapan nubuatan, mujizat-mujizat, dll. Apologetika
presuposisional berhubungan dengan presuposisi-presuposisi dari
pihak-pihak yang menantang Kekristenan, karena presuposisi-
presuposisi itu berpengaruh pada bagaimana sudut pandang seseorang
dalam melihat bukti dan alasan. Di beberapa debat dalam apologetika
Kristen berkaitan dengan penggunaan bukti-bukti, alasan-alasan,
filsafat-filsafat, dsb.

Haruskah seorang apologis hanya menggunakan kriteria yang dapat
diterima oleh orang yang tidak percaya? Apakah kita boleh menggunakan
Alkitab sebagai sebuah pembelaan posisi kita atau haruskah kita
membuktikan Kekristenan tanpa Alkitab? Apakah alasan saja dapat
membuktikan kebenaran keberadaan Allah atau kebenaran kekristenan?
Ada berapa seharusnya alasan dan bukti yang digunakan di dalam terang
pengajaran Kitab Suci sehingga Allahlah yang membukakan pikiran untuk
dapat memahami? Apakah doa, penggunaan Alkitab, dan sifat keberdosaan
dari orang tidak percaya berperan di dalam kesaksian? Bagaimana
faktor-faktor itu berpengaruh dalam membawa seseorang yang tidak
percaya untuk beriman? Pertanyaan-pertanyaan ini mudah; jawabannya
ialah tidak.

Yesus memilih seorang yang cerdas-seorang terdidik secara agamawi
sebagai rasul. Dia adalah Paulus. Rasul yang lain adalah nelayan
sederhana, seorang pemungut pajak, seorang doktor, dll. Mereka adalah
orang-orang biasa pada masanya yang bersedia dan rindu untuk dipakai
oleh Tuhan. Mereka dilengkapi oleh Roh Allah dan mereka menjadi
seperti bejana Allah. Allah menggunakan segala sesuatu untuk
kemuliaan-Nya. Jadi, kita melakukan tugas apologetika atas dasar
iman.

Tuhan sudah memanggil setiap orang Kristen untuk mempersiapkan suatu
pembelaan tentang imannya. Artinya, Anda dipanggil untuk memberikan
alasan terhadap pertanyaan tentang kekeristenan. Anda tidak harus
seorang bergelar Ph.D. atau Anda telah kuliah di Seminari. Tetapi
Anda harus siap, paling tidak memberikan sebuah jawaban untuk
kepercayaan Anda. Jika Anda menemui bahwa Anda tidak dapat
melakukannya, berdoalah sungguh-sungguh dan mulailah belajar.

Apa Yang Anda Pelajari?
-----------------------

Anda dapat berdoa dan meminta Tuhan untuk mengajar Anda tentang apa
yang Dia inginkan untuk Anda ketahui. Mintalah kepada-Nya untuk
memberikan kepada Anda suatu beban untuk sesuatu yang Anda pelajari.
Tidak masalah, apapun itu. Minta saja! Apa saja yang membuat Anda
tertarik di dalamnya adalah apa yang harus Anda pelajari tentangnya
karena kemungkinan sesuatu yang Allah ingin Anda ketahui untuk
dipakai kelak. Seperti alat-alat, lebih banyak yang Anda punya, maka
lebih banyak yang dapat Anda kerjakan.

Cara lain untuk menemukan kehendak Allah bagi Anda adalah belajar
dalam segala keadaan. Andaikanlah, ada seorang Saksi Yehova datang di
depan pintu rumah Anda dan berdebat tentang keilahian Kristus dengan
Anda dan Anda tidak mengetahui bagaimana caranya untuk membela secara
Alkitabiah. Dalam kasus ini, Anda sadar bahwa Anda perlu belajar
ayat-ayat pelajaran Alkitabiah yang mengajarkan bahwa Yesus adalah
Allah yang menjadi Manusia. Atau mungkin seorang teman kerja bertanya
kepada Anda tentang bagaimana Anda tahu bahwa Alkitab itu benar? Jika
Anda tidak mempunyai suatu jawaban, berdoa dan mulailah mencari
jawabannya. Pergilah ke toko buku Kristen dan belilah beberapa judul
buku yang dimaksud. Ceritakan ke Pastor Anda. Anda akan belajar.

Suatu saat Allah akan membuat ayat atau judul di dalam Alkitab
menjadi "hidup" bagi Anda dan mungkin ayat itu akan nampak aneh atau
menarik perhatian Anda. Anda bisa mencari komentari atau buku
tafsiran dan mempelajarinya. Anda juga dapat bertanya kepada yang
lain tentang hal ini. Dengan demikian, Anda telah mempersiapkan diri
Anda sendiri dengan belajar untuk persiapan menjawab pertanyaan-
pertanyaan dan hal-hal penting lain dari seseorang untuk digiring
kepada kebenaran. Anda akan terpesona betapa banyak detail-detail
yang dapat digunakan oleh Allah untuk menolong Anda dalam kesaksian
Anda, bahkan melaui semuanya itu, ayat-ayat yang Anda anggap asing
tiba-tiba "hidup."

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 01c

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Dasar yang Kokoh
Kode Referensi: AUA I-R01c

Referensi AUA I-R01c diambil dari:

Judul buku: Pedoman Apologetik Kristen 1
Judul artikel: Alasan-alasan untuk Melakukan Apologetika
Penulis: Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2006
Halaman: 25 -- 29


ALASAN-ALASAN UNTUK MELAKUKAN APOLOGETIKA

Alasan pertama, bagi orang Kristen adalah karena ketaatan kepada
kehendak Allah yang dinyatakan dalam firman-Nya. Penolakan untuk
memberi pertanggungjawaban (alasan) bagi iman merupakan ketidaktaatan
kepada Allah. Sekurang-kurangnya ada dua alasan praktis mengapa kita
melakukan apologetik, yaitu: untuk meyakinkan orang tidak percaya dan
untuk mengajar dan membangun orang percaya.

Kalaupun tak ada orang tak percaya yang perlu diyakinkan, kita masih
harus memberikan pertanggungjawaban atas iman kita, karena iman itu
tidak berdiri sendiri, melainkan menghasilkan alasan-alasan sama
seperti iman itu menghasilkan perbuatan baik. iman itu mendidik akal
dan akal memeriksa isi dari "iman yang telah disampaikan kepada orang-
orang kudus" (Yud. 3).

Selain itu, iman bagi orang Kristen adalah iman kepada Allah yang
adalah kasih, Kekasih jiwa kita, dan Yang kita kasihi; dan semakin
hati kita mengasihi seseorang, semakin besar keinginan pikiran kita
untuk mengenal pribadi yang kita kasihi itu. Iman dengan sendirinya
mengantar kepada akal melalui perantaraan kasih. Jadi iman itu
mengantar kepada akal, dan akal mengantar kepada iman - itulah yang
ingin diperlihatkan oleh buku ini. Demikianlah akal dan iman adalah
sahabat, sekawan, pasangan, partner.

Apologetik itu juga dapat diumpamakan seperti peperangan karena iman
dan akal sebagai dua sahabat itu memiliki musuh-musuh yang sama.
Argumentasi-argumentasi apologetik adalah seumpama perlengkapan
peperangan. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan tentang peperangan
rohani di mana apologetik itu juga turut terlibat:

"Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang
secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah
senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa
Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami
mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang
dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan
Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada
Kristus" (2 Kor. 10:3-5).

Dalam peperangan ini kita mempertahankan iman maupun akal, karena akal
adalah sahabat kebenaran, dan ketiadaan iman itu adalah ketiadaan
kebenaran. Dalam mempertahankan iman, kita menguasai kembali
teritorial pikiran yang kita miliki, atau yang menjadi milik Allah.
Seluruh teritorial itu adalah milik Allah. Sebagaimana yang dikatakan
Arthur Holmes, "Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah."

Namun peperangan itu adalah untuk melawan ketidakpercayaan, bukan
untuk melawan orang tidak percaya, sama seperti insulin yang
diperuntukkan bagi penyakit diabetes, bukannya untuk penderita
diabetes. Sasaran dari apologetik bukanlah kemenangan, melainkan
kebenaran. Kedua pihak akan menang. Ucapan Abraham Lincoln juga dapat
diterapkan kepada argumentasi apologetik: "Cara yang terbaik untuk
dapat mengalahkan musuh Anda adalah menjadikannya teman Anda."

Kami mengundang para kritikus: mereka yang skeptis, untuk berdialog
dengan kami dan menulis kepada kami - demi mewujudkan kebersamaan
dalam mencari kebenaran, dan demi untuk (kurang penting) memperbaiki
edisi-edisi masa depan buku ini. Salah satu dari beberapa hal dalam
kehidupan ini yang tak dapat membahayakan kita, adalah mencari
kebenaran itu secara jujur.

Mengenai Metodologi

Suatu pendahuluan atau perkenalan kepada apologetik biasanya membahas
mengenai metodologi. Namun kami tidak melakukan hal ini. Kami percaya
bahwa dewasa ini pertanyaan-pertanyaan yang sekunder mengenai
metodologi sering menyelewengkan perhatian kita dari pertanyaan-
pertanyaan primer mengenai kebenaran. Tujuan kami adalah "kembali
kepada hal-hal dasar". Kami tidak memiliki kapak metodologi khusus
untuk menebang. Kami coba menggunakan standar-standar rasionalitas
yang masuk akal dan prinsip-prinsip logika yang diterima secara
universal dalam pembahasan-pembahasan kami. Kami mengumpulkan dan
mempertajam argumentasi-argumentasi seperti orang-orang yang senang
koleksi batu-batu permata berharga yang mengumpulkan dan kemudian
memoles batu-batu itu supaya kelihatan lebih indah; para pembaca dapat
menyusunnya sesuai dengan berbagai situasi atau latar belakang mereka
sendiri.

Namun kami harus menyampaikan satu hal mengenai metodologi, yaitu:
bagaimana untuk tidak menggunakan buku ini.

Kami telah mengatakan bahwa argumentasi-argumentasi apologetik adalah
seperti perlengkapan perang. Ini merupakan metafora yang berbahaya,
karena perlengkapan perang ini tak pernah digunakan untuk memukul
kepala orang. Argumentasi adalah kegiatan manusia yang merupakan
bagian dari konteks sosial dan psikologis yang lebih luas. Konteks ini
mencakup (1) jiwa seutuhnya (psyche) dari dua orang yang terlibat
dalam suatu kegiatan dialog, (2) hubungan antara dua orang, (3)
situasi di mana mereka sendiri sedang berada, dan (4) situasi sosial,
kultural, dan historikal yang lebih luas di sekitar mereka. Bahkan
faktor-faktor nasional, politik, rasial, dan seksual pun mempengaruhi
situasi apologetis. Seseorang tidak boleh menggunakan argumentasi-
argumentasi sama yang digunakan dalam berdiskusi dengan wanita India
ketika berhadapan dengan seorang remaja Afrika-Amerika dari Los
Angeles.

Dengan perkataan lain, walaupun argumentasi-argumentasi itu adalah
senjata-senjata, fungsinya lebih menyerupai sebuah pedang daripada
sebuah bom. Kita ketahui bahwa bom tidak akan mempedulikan sasarannya.
Juga tidak perlu banyak menjadi masalah tentang siapa yang menjatuhkan
bom itu. Namun untuk sebuah pedang, sangat penting sekali siapa yang
mengayunkannya, karena pedang itu adalah kepanjangan tangan dari orang
yang memegangnya. Demikian pula, sebuah argumentasi dalam apologetik,
bila benar-benar digunakan dalam dialog, merupakan kepanjangan tangan
dari orang yang terlibat dalam argumentasi itu. Nada suara,
kesungguhan, kepedulian, perhatian, sikap mau mendengar, dan
menghargai dari orang yang berargumentasi sangat penting dan
menentukan seperti logikanya, bahkan terkadang lebih penting. Dunia
ini dapat dimenangkan bagi Kristus bukan melalui argumentasi-
argumentasi, melainkan melalui kekudusan: "Ucapan Anda terdengar
sedemikian nyaring sehingga saya hampir tak dapat mendengarkan apa
yang Anda katakan."

Kebutuhan Akan Apologetik Dewasa Ini

Apologetik secara khusus sangat dibutuhkan dewasa ini, khususnya di
saat dunia sedang diperhadapkan pada tiga persimpangan jalan dan
berbagai krisis.

1. Peradaban Barat untuk pertama kalinya dalam sejarah sedang
menghadapi bahaya sekarat. Alasannya bersifat spiritual. Peradabannya
sedang kehilangan kehidupannya, jiwanya; dan jiwa yang dimaksud adalah
iman Kristen. Infeksi yang sedang mematikannya bukan multikulturalisme
kemajemukan budaya atau agama dan kepercayan lain - melainkan
monokulturalisme sekularisme - ketiadaan iman, ketiadaan jiwa. Abad
kita ini ditandai oleh pembasmian kelompok orang tertentu, kekacauan
seksual, dan penyembahan uang. Apabila para nabi tidak mengucapkan
kebohongan, maka kita akan mengalami kehancuran, kecuali jika kita
bertobat dan "memutar kembali jarum jamnya" (bukan secara teknologi,
melainkan secara spiritual). Gereja Yesus Kristus tidak akan pernah
mati, namun peradaban kita bisa mati. Apabila pintu-pintu neraka tidak
akan dapat menguasai gereja, maka dunia ini pun pasti tidak akan bisa
melakukannya. Kami melaksanakan apologetik bukan untuk menyelamatkan
gereja, melainkan untuk menyelamatkan dunia.

2. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis kultural dan
kemasyarakatan, melainkan kita pun sedang berada di tengah krisis
filosofis dan intelektual. Krisis yang kita sedang hadapi adalah
"krisis kebenaran" (menggunakan istilah dari Ralph Martin). Ide
mengenai kebenaran objektif semakin diabaikan, ditinggalkan atau
diserang - bukan hanya dari sisi praktis, melainkan juga dari sisi
teoritis, secara langsung dan terbuka, terutama oleh lembaga-lembaga
pendidikan dan media, yang membentuk pikiran-pikiran kita. (Lihat
Pasal 16 untuk pembelaan mengenai konsep mendasar tentang kebenaran
objektif.)

3. Hal yang terakhir, tingkat yang terdalam dari krisis yang kita
hadapi bukanlah bersifat kultural atau intelektual, melainkan
spiritual. Yang dipertaruhkan adalah jiwa-jiwa manusia, lelaki maupun
wanita yang baginya Kristus telah mati. Sebagian orang berpikir bahwa
hari kiamat telah dekat. Kami bersikap skeptis terhadap ramalan
seperti itu, namun kami mengetahui satu hal yang pasti: setiap orang
sedang mendekati ajalnya, kematian dan hukuman kekal setiap hari.
Peradaban kita bisa saja bertahan lagi sampai satu abad lagi, tetapi
Anda sendiri tidak akan dapat bertahan. Anda segera akan menghadap
Tuhan tanpa dapat menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya Anda mulai belajar
mengasihi dan mencari terang itu selama masih ada kesempatan, supaya
Anda akan menikmati sukacita dan bukan ketakutan untuk selama-lamanya.
Adalah hal yang tak sesuai dewasa ini untuk menulis hal-hal seperti
ini pada masa kini -- suatu kenyataan yang berbicara banyak sekali
tentang kesehatan spiritual dari masa gaya burung unta yang sedang
kita hadapi ini.

Buku ini diupayakan untuk berfungsi seperti peta penunjuk jalan dalam
mencari kebenaran tentang Allah. Peta penunjuk jalan sangat berguna
setiap waktu, khususnya pada masa-masa ini di mana terjadi banyak
perubahan besar sehingga banyak orang berkeliling-keliling dalam
keadaan tersesat, sedangkan peta yang tua itu (Alkitab) dihina,
dirusak atau ditinggalkan.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTAndidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 02a

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b | Referensi 02c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Referensi: AUA I-R02a

Referensi AUA I-R02a diambil dari:

Judul buku: Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen
Judul artikel: Wahyu Khusus dan Alkitab
Pengarang: R.C. Sproul
Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman: 17 -- 19


WAHYU KHUSUS DAN ALKITAB

Pada waktu Tuhan Yesus dicobai oleh setan di padang gurun, Ia
menghardik setan dengan perkataan: "Manusia tidak hidup dari roti
saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah."
(Matius 4:4). Secara historis, gereja telah meneruskan pengajaran
Tuhan Yesus dengan meneguhkan bahwa Alkitab merupakan vox Dei, yaitu
"suara Allah" atau verbum Dei, yaitu "Firman Allah". Menyebut Alkitab
sebagai Firman Allah tidak menyatakan bahwa Alkitab ditulis oleh
tangan Allah sendiri atau Alkitab itu jatuh dari surga dengan parasut.
Alkitab sendiri menyatakan ada banyak penulis manusia yang menulis
Alkitab. Apabila kita mempelajari Firman Allah dengan teliti, maka
kita dapat melihat bahwa setiap manusia yang menulis memiliki gaya
bahasa masing-masing, perbendaharaan bahasa sendiri, penekanan
sendiri, perspektif sendiri dan lain sebagainya. Apabila Alkitab
dinyatakan sebagai hasil karya manusia, bagaimana Alkitab dapat
dikatakan sebagai Firman Allah?

Alkitab disebut sebagai Firman Allah oleh karena pengakuan dari
Alkitab yang menyatakan bahwa penulis tidak sekedar menyatakan
pemikiran mereka. Perkataan mereka diinspirasikan oleh Allah. Rasul
Paulus menulis: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk
memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2
Timotius 3:16). Kata inspirasi diterjemahkan dari kata Yunani
"dinafaskan oleh Allah". Allah menafaskan Alkitab, sama halnya dengan
kita mengeluarkan nafas dari mulut kita pada waktu kita berbicara,
jadi dapat dikatakan bahwa Allah berbicara melalui Alkitab.

Meskipun Firman Tuhan datang kepada kita melalui penulisan tangan
manusia, tetapi sumber utamanya adalah Allah. Sebagaimana halnya para
nabi berkata: "Demikianlah Firman Tuhan". Dan Tuhan Yesus juga
berkata: "Firman-Mu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17), dan "Firman
Tuhan tidak dapat dibatalkan" (Yohanes 10:35).

Kata inspirasi juga berkaitan dengan proses, dimana Roh Kudus
membimbing penulisan Firman Tuhan. Roh Kudus membimbing para penulis
sehingga kata-kata mereka merupakan Firman Allah. Kita tidak tahu
bagaimana cara Allah membimbing penulisan pertama dari Alkitab. Tetapi
yang pasti inspirasi tidak berarti bahwa Allah mendikte pesan-pesannya
pada mereka yang menulis Alkitab. Apa yang terjadi adalah Roh Kudus
mengkomunikasikan Firman Allah kepada penulis manusia.

Orang Kristen mengakui infalibilitas dan ineransi dari Alkitab oleh
karena Allah merupakan Penulis utama dari Alkitab, dan oleh karena
itu, Allah tidak mungkin menginspirasikan hal yang salah. Firman-Nya
adalah benar dan dapat dipercaya. Setiap literatur yang secara normal
dihasilkan oleh manusia ada kemungkinan salah, tetapi Alkitab bukan
merupakan hasil produksi manusia secara normal. Apabila Alkitab
diinspirasikan dan dibimbing proses penulisannya oleh Allah, maka
Alkitab tidak dapat salah.

Ini tidak berarti bahwa terjemahan Alkitab yang kita miliki sekarang
ini tanpa kesalahan, tetapi yang dimaksudkan di sini adalah manuskrip
yang asli secara mutlak adalah benar. Ini tidak berarti juga bahwa
setiap pemyataan di Alkitab adalah benar. Misalnya: penulis dari kitab
Pengkhotbah menyatakan bahwa "tidak ada pekerjaan, pertimbangan,
pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan
pergi" (Pengkhotbah 9:1). Penulis berbicara dari sudut pandang
keputusasaan manusia. Apabila kita melihat bagian lain dari Firman
Tuhan maka kita mengetahui bahwa pernyataan itu tidak benar. Namun
dalam hal ini Alkitab berbicara tentang kebenaran, yaitu kebenaran
tentang pemikiran yang salah dari seseorang yang putus asa.

1. Inspirasi merupakan proses dimana Allah menafaskan Firman-Nya.
2. Allah merupakan Sumber utama dari Alkitab.
3. Allah merupakan Pembimbing utama dari Alkitab.
4. Hanya manuskrip yang asli dari Alkitab yang tanpa salah.

AYAT-AYAT ALKITAB UNTUK BAHAN REFLEKSI:

1. Mazmur 119
2. Yohanes 17:17
3. 1 Tesalonika 2:13
4. 2 Timotius 3:15-17
5. 2 Petrus 1 :20-21

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 02b

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Referensi: AUA I-R02b

Referensi AUA I-R02b diambil dari:

Judul buku: Pengakuan Baptis 1689
Judul artikel: Pemeliharaan Allah
Penerjemah: Dr. Charles W. Cole
Penerbit: Carey Publication, 1996
Halaman: 13 -- 15


PEMELIHARAAN ALLAH

1. Allah yang tak terbatas dalam kuasa dan kebijaksanaan telah
menciptakan segala sesuatu, menopang, memimpin, mengatur dan
memerintah segala yang diciptakan-Nya.[1] Usaha Allah itu meliputi
segala makhluk dan benda, baik yang agung maupun yang remeh.[2]
Pengaturan dan pemeliharaan Allah itu mahabijaksana dan mahasuci.
Pengaturan dan pemeliharaan itu dilaksanakan menurut kemampuan Allah,
untuk tanpa salah, tahu terlebih dahulu segala yang akan terjadi dan
menurut keputusan kehendak-Nya yang tak terbatas dan mutlak.[3] Allah
menggenapi maksud dan rencana-Nya yang semua bagi semua yang
diciptakan. Pengaturan dan pemeliharaan Allah mendatangkan kepujian
dan kemuliaan bagi kebijaksanaan Allah, kuasa-Nya, keadilan-Nya,
kebaikan-Nya dan belas kasihan-Nya.

[1] Ibr 1:3; Ayb 38:1 1; Yes 46:10, 11; Mzm 135:6
[2] Mat 10:29-31
[3] Ef 1:11

2. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan atau yang terjadi
di luar pengawasan dan pengetahuan Allah.[1] Allah adalah sebab yang
pertama bagi segala akibat.[2] Segala sesuatu dilakukan tanpa
perubahan dan tanpa kekeliruan, menurut pengetahuan dan ketetapan
Allah yang berhubungan denganNya. Allah dengan pengaturan dan
pemeliharaan-Nya menguasai segala sesuatu yang terjadi supaya penyebab
yang kedua yang berjalan secara bebas, atau yang, berupa hukum tetap
atau yang bergantung pada penyebab lain menggenapi rencana dan maksud
Allah.[3]

[1] Kis 2;23
[2] Ams 16:33
[3] Kej 8:22

3. Biasanya, di dalam pemeliharaan-Nya, Allah menggunakan sarana-
sarana, namun Ia pun bebas untuk tidak menggunakannya. Allah bebas
memberikan kuasa yang luar biasa kepada sarana-sarana yang dipakai
atau untuk bekerja dengan cara supaya melawan sarana-sarana biasa.
Semua dilakukan sekehendak hati Allah.[1]

[1] Yes 55:10, 11; Dan 3:27; Hos 1:7; 2Kis 27:31, 44; Rm 4:19-21

4. Kemahakuasaan, kemahabijaksanaan dan kebaikan Allah yang tanpa
batas di dalam menyatakan diri-Nya dalam segala sesuatu, sehingga
kejatuhan manusia ke dalam dosa yang pertama dan semua tindakan
berdosa baik yang dibuat oleh malaikat maupun oleh manusia berjalan
sesuai dengan rencana-Nya yang berdaulat.[1] Bukan berarti bahwa Allah
yang mengizinkan orang berdosa, melainkan Allah menurut kebijaksanaan-
Nya membatasi, mengatur dan menguasai dengan berbagai-bagai cara
tindakan dosa agar tujuan-Nya yang suci tercapai.[2] Namun demikian
dosa yang dilakukan baik oleh malaikat atau manusia bukan berasal dari
Allah. Allah yang paling suci dan paling benar mustahil menjadi
pangkal atau penyetuju dosa.[3]

1. Rm 11:33-34; 2Sam 24:1; 1Taw 21:1
2. 2Raja 19:28; Mzm 76:11; Kej. 50:20; Yes 10:6, 7, 12
3. Mzm 50:21; 1Yoh 2:16

5. Allah yang paling benar, bijaksana dan murah hati sering membiarkan
umat-Nya untuk beberapa waktu lamanya mengalami bermacam-macam godaan
dan mengalami kedosaan hatinya. Hal itu diperbuat-Nya untuk mengajar
umat-Nya menjadi rendah hati dengan menyatakan kepadanya betapa
kuatnya kejahatan dan penipuan yang masih tinggal di dalam hati
mereka.[1] Hal ini diperbuat untuk menghukum umat-Nya bagi dosa yang
telah pernah diperbuat. Allah bertujuan supaya mereka menjadi sadar
terhadap keperluan mereka untuk selalu bergantung kepada-Nya dan untuk
menolong mereka menjadi lebih waspada terhadap dosa di kemudian hari.
Rencana dan tujuan Allah yang adil dan suci dijalankan dengan cara di
atas atau lainnya agar semua yang terjadi pada orang pilihan-Nya
sesuai dengan ketentuan-Nya, untuk kemuliaan-Nya dan untuk kebaikan
orang terpilih itu.[2]

[1] 2Taw 32:25, 26, 31; 2Sam 24: 1; 2Kor 12:7-9
[2] Rm 8:28

6. Allah sebagai hakim yang adil berlaku berbeda kepada orang yang
jahat dan tidak mengenal-Nya. Allah memberikan kepada mereka kebutaan
hati dan kekerasan hati karena dosa mereka.[1] Ia tidak memberikan
kepadanya kasih karunia yang dapat membuat hati dan akal budi menjadi
terang.[2] Karunia yang pernah diberikan kepadanya kadang-kadang
diambil kembali.[3] Ia memberikan kesempatan kepada orang yang hatinya
jahat untuk berdosa.[4] Dengan kata lain, Ia menyerahkan mereka pada
nafsu yang busuk, pada pencobaan dunia dan kepada kuasa Setan,
sehingga mereka mengeraskan hatinya.[5] Kekerasan hati terjadi dengan
sarana yang sama dengan yang dipakai Allah untuk melunakkan hati orang
yang lain.

[1] Rm 1:24, 26, 28; 11:7, 8
[2] Ul 29:4
[3] Mat 13:12
[4] Mzm 81:12, 13; UI 2:30; 2Tes 2:10-12
[5] Kel 8:15, 32; Yes 6:9, 10; 1Pet 2:7, 8

7. Pengaturan dan pemeliharaan Allah meliputi semua makhluk, tetapi
dengan cara istimewa Allah memelihara Gereja-Nya. Segala sesuatu
dikuasai-Nya demi kebaikan Gereja.[1]

[1] 1Tim 4:10; Ams 9:8, 9; Yes 43:3-5

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 02c

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b



PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA


Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Permulaan dari Segalanya
Kode Referensi: AUA I-R02c

Referensi AUA I-R02c diambil dari:

Judul buku: Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah
Judul artikel: Tidak Ada Batasan
Penulis: J.I. Packer
Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2002
Halaman: 94 -- 99


TIDAK ADA BATASAN

Bagaimana kita dapat membentuk pemahaman yang benar tentang kebesaran
Allah? Alkitab mengajar kita bahwa ada dua langkah yang harus kita
tempuh. Pertama adalah dengan menyingkirkan dari pikiran kita batasan-
batasan untuk Allah yang akan membuat-Nya menjadi kecil. Kedua adalah
dengan membandingkan Dia dengan kuasa dan kekuatan yang kita pandang
besar.

Contoh untuk langkah pertama, kita dapat lihat dalam Mazmur 139. Di
situ pemazmur merenungkan sifat kehadiran, pengetahuan, dan kuasa
Allah yang tidak terbatas dan tidak terukur, dalam kaitannya dengan
manusia. Ia mengatakan, kita selalu berada dalam hadirat Allah. Anda
dapat memisahkan diri dari sesama manusia, tetapi Anda tidak dapat
melepaskan diri dari Pencipta Anda. "Dari belakang dan dari depan
Engkau mengurung aku ... Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu, ke
mana aku dapat lari dari hadapanMu? Jika aku mendaki langit, Engkau di
sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati (dunia di
bawah), di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan
membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tanganmu menuntun aku dan
tanganmu memegang aku" (ay. 5-10). Kegelapan, yang dapat
menyembunyikan aku dari mata manusia, tidak dapat menyembunyikan aku
dari mata Allah (ay. 11-12).

Seperti halnya tidak ada batasan untuk kehadiran-Nya di depan saya,
demikian pula tidak ada batasan untuk pengetahuan-Nya atas saya.
Seperti halnya saya tidak pernah dibiarkan sendiri, saya juga tidak
pernah dapat pergi tanpa terperhatikan. "TUHAN, Engkau menyelidiki dan
mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri (semua
tindakan dan gerakanku); Engkau mengerti pikiranku (semua yang ada
dalam pikiranku) dari jauh ... Segala jalanku (semua kebiasaan,
rencana, tujuan, keinginan, maupun kehidupanku sampai saat ini) Kau
maklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan (diucapkan atau
dipikirkan), sesungguhnya semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN" (ay. 1-
4).

Saya dapat menyembunyikan hati saya, masa lalu saya, dan rencana masa
depan saya, dari orang-orang di sekitar saya. Akan tetapi, saya tidak
dapat menyembunyikan apa pun dari Allah. Saya dapat berbicara
sedemikian rupa sehingga menipu orang lain dan mereka tidak tahu siapa
saya sebenarnya. Akan tetapi, tak ada satu pun yang saya katakan atau
kerjakan dapat menipu Allah. Pandangan-Nya menembus semua kepura-
puraan dan hal-hal yang saya sembunyikan. Ia mengenal saya sebagaimana
adanya, jauh lebih baik daripada saya mengenal diri saya.

Allah yang kehadiran dan pengawasan-Nya dapat saya hindari akan
merupakan allah yang kecil dan tidak berarti. Tetapi, Allah yang
sejati adalah besar dan dahsyat sebab Ia selalu menyertai saya dan
mata-Nya selalu tertuju kepada saya. Kehidupan menjadi hal yang
menakjubkan jika Anda menyadari bahwa Anda melewatkan setiap saat
dalam kehidupan Anda dalam pandangan dan penyertaan Pencipta yang
mahatahu dan mahahadir.

Tetapi, itu belum semua. Allah yang Mahatahu adalah juga Allah yang
Mahakuasa. Kekuasaan-Nya yang dahsyat telah dinyatakan kepada saya
melalui rumitnya dan menakjubkannya tubuh jasmani saya, yang Ia
ciptakan bagi saya. Ketika berhadapan dengan hal ini, perenungan
pemazmur berubah menjadi penyembahan. "Aku bersyukur kepada-Mu oleh
karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat" (ay. 14).

Jadi, inilah langkah pertama untuk memahami kebesaran Allah; untuk
menyadari betapa tak terbatas hikmat-Nya dan hadirat-Nya, dan kuasa-
Nya. Ada banyak ayat Alkitab lain yang mengajarkan pelajaran yang sama
terutama, Ayub 38-41. Pasal-pasal di mana Allah sendiri menggunakan
pemahaman Elihu bahwa "Allah diliputi keagungan yang dahsyat" (37:22)
dan menempatkan di depan Ayub peragaan yang menakjubkan tentang hikmat
dan kuasa-Nya di alam. Ia bertanya kepada Ayub apakah ia dapat
menandingi "keagungan"Nya (40:9-11) dan meyakinkan dia bahwa karena
ia tidak bisa, maka ia jangan mengandaikan menemukan kesalahan dalam
cara Allah menangani kasus Ayub sendiri, yang juga jauh melampaui
pemahaman Ayub. Tetapi, kita tidak dapat membahas hal ini terlalu jauh
saat ini.

Allah yang Tidak Dapat Dibandingkan

Untuk contoh langkah kedua, mari kita lihat dalam Yesaya 40. Di sini
Allah berbicara kepada orang-orang yang perasaannya sama dengan
perasaan kebanyakan orang Kristen pada masa kini: orang-orang yang
remuk hati, orang-orang yang ketakutan, orang-orang yang
menyembunyikan keputusasaannya, orang-orang yang ditimpa gelombang
peristiwa buruk selama beberapa saat; orang-orang yang sudah tidak
percaya lagi bahwa rencana Kristus dapat berjalan dengan sempurna.
Sekarang lihat bagaimana Allah melalui nabi-Nya berargumentasi dengan
mereka.

Lihatlah pekerjaan yang telah Aku lakukan, firman Tuhan. Dapatkah kamu
melakukannya? Dapatkah seorang manusia melakukannya? "Siapa yang
menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan
jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung
dengan dacing atau bukit-bukti dengan neraca?" (ay. 12). Apakah kamu
cukup bijaksana dan cukup kuat untuk melakukannya? Tetapi Aku sanggup;
atau Aku tidak dapat menciptakan dunia ini sama sekali. Lihatlah
Allahmu!

Sekarang lihatlah pada bangsa-bangsa, Nabi Yesaya melanjutkan kata-
katanya, pada kekuasaan nasional yang besar, yang padanya kamu merasa
mendapat belas kasihan. Asyur, Mesir, Babel - kamu mengagumi mereka
dan merasa takut kepada mereka. Tentara dan sumber daya mereka jauh
melampaui tentara dan sumber dayamu. Tetapi, sekarang lihatlah
bagaimana Allah menangani kekuasaan yang dahsyat yang sangat kamu
takuti itu. "Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air
dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca ... Segala
bangsa seperti, tidak ada di hadapan-Nya, mereka dianggap-Nya hampa
dan sia-sia saja" (ay. 15 dst.). Kamu gemetar di depan bangsa-bangsa,
karena kamu jauh lebih lemah daripada mereka, tetapi Allah jauh lebih
besar daripada bangsa-bangsa sehingga mereka tidak ada apa-apanya di
hadapanNya. Lihatlah Allahmu!

Sekarang lihatlah pada dunia. Lihatlah ukuran, variasi, dan
kerumitannya. Pikirkan tentang 5 miliar penduduk dunia yang
mendiaminya dan lihatlah langit yang luas di atasnya. Betapa kecilnya
Anda dan saya, dibandingkan dengan seluruh planet tempat kita tinggal!
Namun, apa jadinya jika seluruh planet yang dahsyat ini dibandingkan
dengan Allah? "Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang
penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti
kain dan memasangnya seperti kemah kediaman" (ay. 22).

Dunia ini membuat kita semua merasa kecil, tetapi Allah membuat dunia
ini terasa kecil. Dunia ini adalah tumpuan kaki-Nya dan di atas-Nya Ia
duduk dengan aman. Ia jauh lebih besar daripada dunia dan semua yang
ada di dalamnya sehingga semua kegiatan yang membuat asyik jutaan
orang di dalamnya tidak mempengaruhi Dia, seperti halnya belalang yang
mengerik dan melompat di bawah sinar matahari musim panas tidak
mempengaruhi kita. Lihatlah Allahmu!

Keempat, lihatlah pada tokoh-tokoh dunia yang besar - para pembesar
yang hukum-hukum dan kebijakannya menentukan kesejahteraan jutaan
orang; para calon penguasa dunia, diktator, dan pembangun kekaisaran,
yang dengan kekuasaan mereka menerjunkan dunia ke dalam perang.
Pikirkan tentang Sanherib dan Nebukadnezar. Pikirkan tentang
Aleksander, Napoleon, Hitler. Pikirkan tentang Kosygin, Nixon, dan Mao
Tse-tung. Apakah Anda mengira bahwa orang-orang terkenal itu sungguh-
sungguh menentukan jalan dunia ini? Pikirkan sekali lagi sebab Allah
jauh lebih besar daripada tokoh-tokoh dunia yang besar. Ia menurunkan
raja-raja menjadi nol dan menurunkan para penguasa dunia ini menjadi
tidak ada apa-apanya" (ay. 23). Ia adalah, seperti dikatakan Buku Doa,
"satu-satunya penguasa atas raja-raja". Lihatlah Allahmu!

Tetapi, kita belum selesai. Yang terakhir, lihatlah pada bintang-
bintang. Pengalaman paling menakjubkan yang secara universal dikenal
manusia adalah berdiri sendirian pada malam yang cerah dan memandang
bintang-bintang. Tidak ada hal yang melebihi dalam memberi kesan
adanya jarak dan kejauhan. Tidak ada hal yang membuat seseorang
merasakan ketidakberartian dan kekecilannya dibandingkan pengalaman
itu. Dan kita, yang hidup di abad ruang angkasa, dapat melengkapi
pengalaman universal ini dengan pengetahuan ilmiah tentang faktor-
faktor yang terlibat di dalamnya - jumlah bintang yang miliaran,
jaraknya yang miliaran tahun cahaya. Pikiran kita pusing, imajinasi
kita tidak dapat menangkap hal itu. Jika kita berusaha memahami
kedalaman angkasa luar yang tidak terselami, secara mental kita tak
berdaya dan pusing tujuh keliling.

Tetapi, apa pengaruh hal itu bagi Allah? "Arahkanlah matamu ke langit
dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh
segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka
sekaliannya. Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia Mahakuasa
dan Mahakuat" (ay. 26). Allahlah yang memanggil keluar bintang-
bintang. Allahlah yang pertama kali menempatkan mereka di luar
angkasa. Ia adalah Pencipta dan Tuhan. Mereka semua ada dalam tangan-
Nya dan tunduk pada kehendak-Nya. Demikianlah kuasa-Nya dan keagungan-
Nya. Lihatlah Allahmu!

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 03a

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03b | Referensi 03c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA


Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Referensi: AUA I-R03a

Referensi AUA I-R03a diambil dari:

Judul buku: Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah
Judul artikel: Gambar yang Orisinal
Penulis: Anthony A. Hoekama
Penerbit: Momentum, Surabaya 2003
Halaman: 105 -- 106


GAMBAR YANG ORISINAL

Untuk memahami gambar Allah dalam kandungan alkitabiah yang
sepenuhnya, kita harus melihatnya di dalam terang penciptaan,
kejatuhan dan penebusan. Sebelum manusia jatuh dalam dosa, kita
melihat gambar yang orisinal. Meskipun kita tidak tahu bagaimana
persisnya gambar Allah menyatakan diri pada tahap itu,[32] kita bisa
mengasumsikan bahwa pasangan manusia pertama mencitrakan Allah dengan
taat dan tanpa dosa. Menurut Augustinus, manusia pada saat itu "bisa
tidak berdosa."[33] Maka kita juga bisa mengasumsikan bahwa pada tahap
ini, Adam dan Hawa menjalani ketiga bentuk relasi yang telah kita
bahas di atas dengan taat dan tanpa dosa: di dalam menyembah dan
melayani Allah, di dalam mengasihi dan melayani sesama, dan di dalam
berkuasa dan memelihara wilayah ciptaan di mana Allah telah
menempatkan mereka.

Tetapi, masih diperlukan komentar tambahan. Meskipun pasangan
manusia pertama ini tidak berdosa dan hidup dalam apa yang sering
disebut para teolog sebagai "tahap integritas" (stage of
integrity), mereka belum tiba di akhir perjalanan. Mereka belum
menjadi penyandang gambar Allah yang telah berkembang sepenuhnya;
mereka seharusnya maju ke satu tahap yang lebih tinggi, di mana
ketidakberdosaan mereka tidak akan bisa hilang. Pada tahap yang
pertama ini, masih ada kemungkinan untuk berdosa. Bavinck
menyatakannya sebagai berikut:

Adam tidak berdiri di akhir melainkan di awal perjalanan; ia berada
dalam kondisi yang bersifat sementara, sehingga kondisi ini tidak
bisa tetap bertahan seperti itu dan harus berlalu, baik menuju
tahap kemuliaan yang lebih tinggi atau menuju kejatuhan dalam dosa
dan maut.[34]

Selanjutnya, menurut Bavinck, fakta bahwa Adam dan Hawa masih harus
hidup dengan kemungkinan dapat berdosa, bisa disebut sebagai batasan
dari gambar Allah:

Adam ... memiliki posse non peccare [bisa tidak berdosa] tetapi
belum memiliki non posse peccare [tidak bisa berdosa]. Dia masih
hidup di dalam kemungkinan dapat berdosa ... dia belum memiliki
kasih yang sempurna dan tidak berubah yang meniadakan semua rasa
takut. Jadi, para teolog Reformed benar saat menegaskan bahwa
kemungkinan ini, yaitu kemungkinan untuk berubah-ubah dan kemampuan
untuk berbuat dosa ini ... bukanlah suatu aspek atau isi dari
gambar Allah, melainkan batasan, limitasi, atau ujung dari gambar
Allah.[35]

Hal ini jelas: integritas yang di dalamnya Adam dan Hawa bereksistensi
sebelum Kejatuhan bukanlah keadaan sempurna yang telah digenapkan dan
tak mungkin berubah. Manusia memang diciptakan menurut gambar Allah
pada mulanya, tetapi ia belum menjadi "produk akhir." Dia masih perlu
bertumbuh dan diuji. Allah hendak menetapkan apakah manusia akan taat
kepada-Nya secara bebas dan sukarela. Untuk alasan inilah Allah
memberikan sebuah "perintah larangan" kepada Adam, "Semua pohon dalam
taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon
pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan
buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati"
(Kej. 2:16-17). Jika Adam dan Hawa menaati perintah ini, siapa yang
tahu akan menjadi seperti apa sejarah umat manusia. Tetapi, sangat
disesalkan, mereka tidak taat sehingga mereka menjatuhkan diri mereka
dan seluruh umat manusia yang lahir setelah mereka, ke dalam keadaan
berdosa.

Catatan Kaki:

[32] Sebagaimana terlihat jelas melalui pernyataan ini, posisi yang
diambil oleh buku ini adalah bahwa Kejatuhan yang tercatat di
dalam Kejadian 3 merupakan peristiwa historis. Poin ini akan
dijabarkan secara mendetail di dalam bab 7.
[33] On Correction and Grace, 33. Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa
Latin, "posse non peccare."
[34] Dogmatiek, 2:606 (terj. penulis).
[35] Ibid., hlm. 617 (terj. penulis). Bdk. juga Wm. Shedd, Dogmatic
Theology, vol. 2 (1888; Grand Rapids; Zondervan, t.t.), hlm.
150 -- 152

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 03b

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Referensi: AUA I-R03b

Referensi AUA I-R03b diambil dari:

Judul buku: Teologi Sistematika
Judul artikel: Watak Semula Manusia
Pengarang: Henry C. Thiessen
Penerbit: Gandum Mas, 2003
Halaman: 236 -- 240


WATAK SEMULA MANUSIA

Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia dengan memakai
ungkapan "menurut gambar dan rupa Allah" (Kej. 1:26-27; 5:1; 9:6;
1Kor. 11:7; Yak. 3:9). Nampaknya tidak ada perbedaan berarti di antara
kata-kata Ibrani "gambar" dan "rupa", sehingga kita tidak perlu
mencari-cari perbedaan itu. Namun perlu kiranya kita membahas apakah
gambar dan rupa itu.

A. KESAMAAN ITU BUKAN KESAMAAN JASMANIAH
----------------------------------------

Allah adalah Roh sehingga tidak memiliki anggota-anggota tubuh seperti
manusia. Beberapa kalangan menggambarkan Allah sebagai manusia yang
agung dan luhur, namun pandangan semacam ini salah. Mazmur 17:15
mengatakan, "Pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu."
Namun ayat ini tidak memaksudkan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau
dikatakan bahwa ayat ini menurut konteksnya berbicara mengenai
persamaan dalam kebenaran (lihat 1 Yoh. 3:2-3). Musa telah melihat
"rupa Tuhan" (Bil. 12:8), walaupun wajah Allah tidak dapat dilihat
(Kel. 33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki kesamaan jasmaniah
dengan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah, manusia
memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan dalam
keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apa pun di
dalam dirinya, dan tidak bisa mati. Nampaknya pada mulanya Allah
merencanakan supaya manusia makan dari tumbuh-tumbuhan saja (Kej.
1:29), tetapi kemudian Ia mengizinkan daging hewan untuk dimakan (Kej.
9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Allah mengizinkan
manusia memakan daging, Allah samasekali tidak memberikan peraturan
mengenai hewan haram dan hewan halal meskipun perbedaan antara yang
haram dan yang halal sudah diketahui (Kej. 7:2). Peraturan itu diberi
kemudian untuk mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku
untuk jangka waktu tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15;
Roma 14:1-12; Kolose 2:16).

B. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MENTAL
--------------------------------------

Hodge mengatakan, Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga.
Sifat-sifat hakiki dari roh ialah akal budi, hati nurani, dan
kehendak. Roh adalah unsur yang mampu bernalar, bersifat moral, dan
oleh karena itu juga herkehendak bebas. Ketika menciptakan manusia
menurut gambar-Nya Allah menganugerahkan kepadanya sifat-sifat yang
dimiliki-Nya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia berbeda dari
semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta berkedudukan jauh
lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk golongan yang sama
dengan Allah sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi dengan
Penciptanya. Kesamaan sifat antara Allah dan manusia ini ... Juga
merupakan keadaan yang diperlukan untuk mengenal Allah dan karena itu
merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak diciptakan
menurut gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama
dengan binatang-binatang yang akhirnya binasa.

Pernyataan Hodge ini dikuatkan oleh Alkitab. Dalam pengudusan, manusia
"terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar
menurut gambar Khaliknya" (Kol. 3:10). Tentu saja, pembaharuan ini
dimulai pada saat kelahiran baru terjadi, tetapi dilanjutkan dalam
pengudusan. Bahwa manusia diberi kemampuan intelektual yang tinggi
tersirat dalam perintah untuk mengusahakan taman Eden serta
memeliharanya (Kej. 2:15), juga perintah untuk menguasai bumi beserta
segala isinya (Kej. 1:26, 28), dan dalam pemyataan bahwa manusia
memberi nama kepada segala binatang di bumi (Kej. 2:19-20). Kesamaan
dengan Allah ini tidak dapat dihapus, dan karena kesamaan tersebut
memungkinkan manusia memperoleh penebusan, maka kehidupan manusia yang
belum dilahirkan baru juga berharga (Kej. 9:6; 1 Kor. 11:7; Yak. 3:9).
Betapa berbcdanya gambaran ini tentang keadaan mula-mula manusia
dengan pandangan evolusi, yang menganggap manusia yang pertama hanya
sedikit di atas binatang liar yang tidak hanya bodoh, tetapi
sama sekali tanpa kemampuan mental apa pun.

C. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN MORAL
-------------------------------------

Beberapa pihak telah membuat kekeliruan karena menganggap bahwa gambar
dan rupa Allah yang menjadi karakter asli manusia ketika diciptakan
itu hanya terdapat dalam sifat rasionalnya; sedangkan yang lain
membatasi kesamaan itu pada kekuasaan manusia saja. Yang lebih tepat
ialah bahwa kesamaan itu terdapat dalam sifat rasional manusia dan
dalam persesuaian moralnya dengan Allah. Hodge mengatakan, Manusia
adalah gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan ilahi
di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia itu roh,
unsur yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah
sepantasnya manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang
biasanya disebut oleh para teolog Reformasi sebagai gambar Allah yang
hakiki dan bukan yang insidental.

Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan Allah sudah jelas
dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru itu "diciptakan
menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya" (Ef. 4:24), maka pastilah tepat untuk menyimpulkan bahwa
pada mulanya manusia memiliki baik kebenaran maupun kekudusan. Konteks
Kejdian 1 dan 2 membuktikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia
dapat bersekutu dengan Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman
(Hab. 1:13). Pengkhotbah 7:29 mendukung pendapat ini. Di situ tercatat
bahwa Allah telah menciptakan "manusia yang jujur". Kenyataan ini
dapat juga kita simpulkan dari Kejadian 1:31 yang mengatakan bahwa
"Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Kata
"segala" mencakup juga manusia sehingga pemyataan itu tidaklah benar
apabila manusia diciptakan dengan keadaan moral yang tidak sempurna.

Apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran dan kesucian mula-mula? Yang
jelas, kebenaran dan kesucian mula-mula bukanlah hakikat manusia,
karena dengan demikian watak manusia pasti sudah tidak ada lagi ketika
ia berbuat dosa. Kekudusan dan kebenaran mula-mula tersebut juga bukan
pemberian dari luar, yaitu sesuatu yang ditambahkan kepada manusia
setelah ia diciptakan, karena dikatakan bahwa manusia memiliki gambar
ilahi itu ketika diciptakan, dan bukan karena dikaruniakan kepadanya
setelah diciptakan. Shedd menerangkannya sebagai berikut, Kekudusan
bukanlah sekadar keadaan tidak berdosa. Tidaklah memadai untuk
mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan tidak berdosa. Hal
ini dapat dikatakan apabila manusia samasekali tidak mcmiliki watak
yang moral entah itu benar atau salah. Manusia diciptakan tidak hanya
sebagai makhluk yang tidak berdosa secara negatif, tetapi juga sebagai
makhluk kudus secara positif. Keadaan manusia yang diperbaharui adalah
pemulihan keadaannya yang semula; dan kebenaran manusia yang telah
diperbaharui disebut dalam Alkitab sebagai kata 'theon', Ef. 4:21, dan
sebagai "kekudusan yang sesungguhnya", Ef. 4:24. Ini merupakan watak
yang positif, dan bukan sekadar keadaan tidak berdosa saja. Kadang-
kadang hal ini disebut sebagai kekudusan yang "diciptakan bersama",
sebagai berlawanan dengan kekudusan yang menurut beberapa orang telah
dianugerahkan oleh Allah kepada manusia setelah ia diciptakan.
Kekudusan mula-mula ini dapat diartikan sebagai kecenderungan kasih
sayang dan kemauan manusia, sekalipun disertai kekuatan pilihan yang
jahat, ke arah pengenalan yang rohani akan Allah serta hal-hal rohani
lainnya. Kekudusan mula-mula ini berbeda dengan kekudusan yang
disempurnakan dari orang-orang saleh, sebagaimana kasih sayang yang
naluriah dan keadaan tidak berdosa yang kekanak-kanakan adalah berbeda
dari kckudusan yang telah dimatangkan dan diperkuat oleh pencobaan.

D. KESAMAAN ITU ADALAH KESAMAAN SOSIAL
--------------------------------------

Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih sayang-Nya. Yang
menjadi sasaran kasih sayang-Nya adalah Oknum-Oknum lain di dalam
ketritunggalan-Nya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka Ia
menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manusia
senantiasa mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Pertama-tama,
manusia menemukan persahabatan ini dengan Allah sendiri. Manusia
"mendengar bunyi langkah Tuhan Allah yang berjalan-jalan dalam taman
itu pada waktu hari sejuk" (Kej. 3:8). Hal ini menyatakan secara tak
langsung bahwa manusia berkomunikasi dengan Allah Penciptanya. Allah
telah menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri, dan manusia
menemukan kepuasan tertinggi dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan
tetapi, di samping itu Allah juga menganugerahkan persahabatan
manusiawi. Ia menciptakan wanita, karena, sebagaimana dikatakan-Nya
sendiri, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan
menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kej. 2:18).
Agar persekutuan ini menjadi sangat mesra, Ia menciptakan perempuan
dari tulang rusuk laki-laki. Adam mengakui bahwa Hawa adalah tulang
dari tulangnya dan daging dari dagingnya, maka dinamakannya
"perempuan". Dan oleh sebab hubungan yang begitu intim di antara
keduanya, "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan
bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej.
2:24). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan sifat sosial,
sebagaimana Allah mennpunyai sifat sosial. Kasih dan perhatian sosial
manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam watak manusia.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 03c

Pelajaran 03 | Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa
Kode Referensi: AUA I-R03c

Referensi AUA I-R03c diambil dari:

Judul buku: Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah
Judul artikel: Ajaran Perjanjian Lama
Pengarang: Anthony A. Hoekhema
Penerbit: Momentum, 2003
Halaman: 15 -- 20


AJARAN PERJANJIAN LAMA

Perjanjian Lama tidak banyak berbicara tentang gambar Allah.
Konsep ini dibicarakan secara eksplisit hanya dalam tiga bagian
Perjanjian Lama, semuanya di kitab Kejadian: 1:26-28; 5:1-3; dan 9:6.
Orang juga bisa berpendapat bahwa Mazmur 8 mendeskripsikan apa yang
dimaksudkan dengan penciptaan manusia menurut gambar Allah, tetapi
frasa "gambar Allah" tidak ada di sana. Kita akan memerhatikan keempat
bagian Perjanjian Lama ini secara berurutan.

Kejadian 1:26-28 berbunyi:

(26) Berfirmanlah Allah: "Baiklah kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut
dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan
atas se- gala binatang melata yang merayap di bumi." (27) Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
(28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan
taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-
burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Kejadian 1 mengajarkan keunikan penciptaan manusia, yakni bahwa
sementara Allah menciptakan setiap hewan "menurut jenisnya" (ay.
21,2425), hanya manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah
(ay. 26-27). Herman Bavinck menyatakannya sebagai berikut:

Seluruh dunia merupakan penyataan Allah, cermin dari nilai-nilai dan
kesempurnaan-Nya; dengan cara dan menurut ukurannya masing-masing,
setiap makhluk merupakan perwujudan dari pemikiran ilahi. Tetapi di
antara semua ciptaan, hanya manusia yang merupakan gambar Allah,
penyataan yang tertinggi dan terkaya akan Allah, dan oleh karena
itu, me rupakan kepala dan puncak dari seluruh penciptaan.

Hal pertama yang begitu menyedot perhatian kita pada saat membaca
Kejadian 1:26 adalah kata kerja utamanya yang berbentuk jamak,
"Berfirmanlah Allah: `Baiklah Kita menjadrkan manusia...." Ini
mengindikasikan bahwa penciptaan manusia memiliki kelas tersendiri,
karena ungkapan ini tidak dipakai untuk ciptaan lain yang mana pun.
Banyak teolog telah mencoba untuk menjelaskan bentuk jamak ini.
Penjelasan bahwa hal ini merupakan "kemuliaan dalam bentuk jamak"
sangat tidak mungkin, karena bentuk jamak seperti ini tidak ditemukan
di bagian Alkitab lain. Yang lain beranggapan bahwa Allah di sini
tengah berbicara dengan para malaikat. Kita juga harus menolak
penafsiran ini karena Allah tidak pernah dikatakan meminta masukan
dari malaikat, karena mereka yang juga dicipta tak bisa menciptakan
manusia, dan karena manusia tidak dijadikan menurut rupa malaikat.
Kita harus menafsirkan bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa Allah
tidak bereksistensi sebagai keberadaan yang tersendiri, melainkan
sebagai keberadaan yang memiliki persekutuan dengan "yang lain." Meski
kita tak bisa mengatakan bahwa di bagian ini kita memiliki ajaran yang
jelas tentang Trinitas, kita bisa mempelajari bahwa Allah
bereksistensi sebagai satu "pluralitas." Apa yang dinyatakan secara
tidak langsung di sini akan dikembangkan lebih lanjut dalam Perjanjian
Baru menjadi dokrin Trinitas.

Juga harus diperhatikan bahwa ada sebuah perencanaan yang mendahului
penciptaan manusia: "Marilah Kita menjadikan manusia...." Hal ini
sekali lagi menunjukkan keunikan dalam penciptaan manusia. Perencanaan
ilahi seperti ini tidak pernah dikaitkan dengan ciptaan lain.

Kata yang diterjemahkan sebagai manusia dalam ayat ini berasal dari
kata Ibrani adam. Kata ini kadang dipakai sebagai nama diri, Adam
(lihat, misalnya, Kejadian 5:1, "Inilah daftar keturunan Adam").
Tetapi, kata ini bisa juga berarti manusia pada umumnya. Dalam
pengertian ini, kata tersebut memiliki makna yang sama dengan kata
Jerman Mensch: bukan laki-laki dalam keberbedaannya dengan perempuan,
melainkan manusia dalam keberbedaannya dari ciptaan yang non manusia,
yaitu manusia sebagai laki-laki atau perempuan, atau manusia sebagai
laki-laki dan perempuan. Dalam pengertian Inilah kata tersebut dipakai
di dalam Kejadian 1:26 dan 27. Kadang kata adam juga dipakai untuk
menunjuk umat manusia (lihat misalnya Kejadian 6:5, "ketika dilihat
TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi"). Karena berkat yang
terdapat di Kejadian 1:28 teraplikasikan kepada seluruh umat manusia,
kita bahkan bisa mengatakan bahwa ayat 26 dan 27 mendeskripsikan
penciptaan umat manusia, meski kita kemudian harus membatasi pemyataan
ini sebagai berikut: Allah menciptakan lakilaki dan perempuan itu,
yang mana dari keduanyalah semua umat manusia akan dilahirkan.

Kita sekarang sampai pada kata-kata yang penting: "menurut gambar dan
rupa Kita." Kata yang diterjemahkan sebagai gambar adalah tselem, dan
yang diterjemahkan sebagai rupa adalah demuth. Di dalam bahasa Ibrani
tak ada kata sambung di antara kedua ungkapan tersebut; teks Ibrani
hanya berbunyi "marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar rupa
Kita." Baik Septuaginta maupun Vulgata memasukkan kata dan, sehingga
memberi kesan bahwa "gambar" dan "rupa" mengacu kepada dua hal yang
berbeda. Tetapi, teks bahasa Ibrani memperjelas bahwa tak ada
perbedaan yang esensial di antara keduanya: "menurut gambar Kita"
hanyalah suatu cara lain untuk mengatakan "menurut rupa Kita." Hal ini
akan terbukti dengan menelaah pemakaian kedua kata ini di bagian ini
dan di dua bagian kitab Kejadian lainnya. Dalam Kejadian 1:26, baik
kata gambar maupun rupa dipakai; dalam Kejadian 1:27 hanya kata gambar
yang dipakai. Dalam Kejadian 5:3 kedua kata dipakai, tetapi kali ini
dengan urutan yang berbeda: menurut rupa dan gambar [Adam]. Dan sekali
lagi dalam Kejadian 9:6 hanya kata gambar yang dipakai. Jika kata-kata
ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan aspek-aspek manusia yang
berbeda, maka keduanya takkan dipakai dengan cara seperti yang baru
kita lihat, yaitu bisa dipertukarkan.

Tetapi, meski kedua kata ini biasa dipakai sebagai sinonim, kita bisa
menemukan sedikit perbedaan di antara keduanya. Kata Ibrani untuk
gambar, tselem, diturunkan dari akar kata yang bermakna "mengukir"
atau "memotong." Maka kata ini bisa dipakai untuk mendeskripsikan
ukiran berbentuk binatang atau manusia. Ketika diaplikasikan pada
penciptaan manusia di dalam Kejadian 1, kata tselem ini
mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah, artinya manusia
merupakan suatu representasi Allah. Kata Ibrani untuk rupa, demuth di
dalam Kejadian 1 bermakna "menyerupai." Jadi, orang bisa berkata
bahwa kata demuth di Kejadian 1 mengindikasikan bahwa gambar tersebut
juga merupakan keserupaan, "gambar yang menyerupai Kita." Kedua kata
itu memberi tahu kita bahwa manusia merepresentasikan Allah dan
menyerupai Dia dalam hal-hal tertentu.

Bagaimana manusia menyerupai Allah tidak dinyatakan secara spesifik
dan eksplisit di dalam kisah penciptaan, meskipun kita bisa melihat
bahwa keserupaan-keserupaan tertentu dengan Allah terimplikasikan di
sana. Misalnya, dari Kejadian 1:26 kita bisa menarik kesimpulan bahwa
kekuasaan atas binatang dan atas seluruh bumi merupakan satu aspek
dari gambar Allah. Di dalam menjalankan kekuasaan ini manusia menjadi
serupa dengan Allah, karena Allah memiliki kuasa yang tertinggi dan
ultimat atas bumi. Dari ayat 27 kita bisa menyimpulkan bahwa aspek
lain dari gambar Allah menyangkut perihal penciptaan manusia sebagai
laki-laki dan perempuan. Karena Allah adalah Roh (Yoh. 4:24), maka
kita tak boleh menyimpulkan bahwa keserupaan dengan Allah dalam hal
ini ditemukan di dalam perbedaan fisik antara kaum laki-laki dan kaum
perempuan. Keserupaan ini harus ditemukan di dalam fakta bahwa laki-
laki memerukan pendampingan perempuan, bahwa manusia merupakan makhluk
sosial, bahwa kaum perempuan melengkapi kaum laki-laki dan kaum laki-
laki melengkapi kaum perempuan. Dalam hal ini manusia mencerminkan
Allah, yang bereksistensi bukan sebagai Keberadaan yang terasing,
melainkan berada di dalam persekutuan-persekutuan yang pada tahap
penyataan selanjutnya digambarkan sebagai persekutuan antara Bapa,
Anak dan Roh Kudus. Dari fakta bahwa Allah memberkati umat manusia dan
memberikan mandat kepada mereka (ay. 28), kita bisa menyimpulkan bahwa
umat manusia juga menyerupai Allah dalam hal mereka adalah keberadaan
yang berpribadi dan bertanggung jawab, yang bisa diajak berbicara oleh
Allah dan yang bertanggung jawab kepada Allah sebagai Pencipta dan
Penguasa atas mereka. Sebagaimana Allah di sini dinyatakan sebagai
satu Pribadi (di kemudian hari di dalam sejarah penyataan, hal ini
diperluas menjadi tiga Pribadi) yang mampu membuat keputusan dan
memerintah, maka manusia adalah pribadi yang juga mampu membuat
keputusan dan memerintah.

Sementara meneruskan penelaahan kita terhadap Kejadian 1:26-28, kita
melihat berkat Allah bagi manusia dalam ayat 28 (sebagaimana ayat 22
menunjukkan berkat Allah bagi binatang). Bagian terakhir dari berkat
ini sangat mirip dengan apa yang dikatakan mengenai manusia dalam
ayat 26, "supaya mereka berkuasa." Hanya saja kata kerja di sini
berbentuk orang kedua jamak dan ditujukan kepada orangtua pertama
kita. Kata-kata mengenai kekuasaan manusia ini didahului oleh kata-
kata yang tidak ditemukan dalam ayat 26, "Beranakcuculah dan
bertambah banyak; penuhilah bumi." Perintah untuk beranak cucu dan
bertambah banyak mengimplikasikan lembaga pernikahan, yang
penetapannya dikisahkan dalam Kejadian 2:18-24.

Dalam memberikan berkat-Nya, Allah berjanji akan memampukan manusia
untuk berkembang biak dan menghasilkan keturunan yang akan memenuhi
bumi; Dia juga berjanji akan memampukan mereka menaklukkan bumi dan
berkuasa atas binatang-binatang dan atas bumi itu sendiri. Kata-kata
ini merupakan berkat, tetapi juga mengandung perintah atau mandat.
Allah memerintahkan manusia untuk beranak cucu dan berkuasa. Ini
secara umum disebut mandat budaya: perintah untuk memerintah bumi
atas nama Allah dan membangun budaya yang memuliakan Allah.

Sebelum kita beralih ke bagian teks berikutnya, ada satu hal lagi yang
perlu dicatat. Ayat 31 berbunyi, "Maka Allah melihat segala yang
dijadikanNya itu, sungguh amat baik." "Segala yang dijadikan-Nya" ini
mencakup juga manusia. Maka, saat manusia bermula dari tangan Sang
Pencipta, ia tidak rusak, bobrok, atau berdosa; manusia berada dalam
kondisi berintegritas, tidak bersalah, dan kudus. Apa pun yang
terdapat dalam diri manusia saat ini, yang jahat atau menyimpang,
bukan merupakan bagian dari penciptaannya yang semula. Saat
diciptakan, manusia sangat baik adanya.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 04a

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia yang Berdosa
Kode Referensi: AUA I-R04a

Referensi AUA I-R04a diambil dari:

Judul buku: Teologi Sistematika 2: Doktrin Manusia
Judul artikel: Natur Dosa yang Pertama atau Kejatuhan Manusia
Penulis: Louis Berkhof
Penerbit: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1994
Halaman: 87 -- 89


Natur Dosa yang Pertama atau Kejatuhan Manusia

1. Karakter formalnya. Dapat dikatakan bahwa melalui suatu sudut
pandang yang sepenuhnya formal dosa manusia yang pertama terkait
dengan dimakannya buah pengetahuan yang baik dan jahat. Kita tidak
tahu pohon apakah ini sebenarnya. Mungkin saja pohon itu pohon kurma
atau pohon ara, atau pohon buah yang lain. Tidak ada satupun yang
membawa bahaya dalam pohon itu. Memakan buah itu saja per se tidaklah
berdosa sebab tidak merupakan pelanggaran terhadap hukum moral. Hal
ini berarti bahwa makan buah ini tidaklah berdosa jika seandainya
Allah tidak pernah berkata: "Semua pohon dalam taman ini boleh
kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang
baik dan yang jahat itu, janganlah kamu makan buahnya, sebab pada hari
engkau memakannya pastilah engkau akan mati." Tidak ada pendapat yang
seragam tentang mengapa pohon ini disebut sebagai pohon pengetahuan
yang baik dan jahat. Suatu pandangan yang agak umum adalah bahwa pohon
itu disebut demikian sebab siapa yang memakan buahnya akan memperoleh
pengetahuan praktis tentang yang baik dan jahat; akan tetapi agaknya
tidaklah sesuai benar dengan Alkitab bahwa manusia dengan cara makan
buah itu akan menjadi seperti Allah dalam mengetahui yang baik dan
jahat, sebab Allah tidak pernah melakukan kejahatan, jadi tidak pernah
memiliki pengetahuan praktis tentang kejahatan. Jauh lebih mungkin
bahwa pohon itu disebut demikian sebab dimaksudkan untuk menyatakan:
(a) apakah masa depan manusia akan baik atau jahat; dan (b) apakah
manusia akan memperkenankan Allah menentukan baginya apa yang baik dan
yang jahat atau akan menentukan sendiri bagi dirinya. Akan tetapi
penjelasan apapun yang diberikan tentang nama pohon ini, perintah yang
diberikan oleh Allah agar buah pohon itu tidak dimakan dimaksudkan
untuk menguji ketaatan manusia. Ujian ini adalah ujian ketaatan yang
murni, sebab bagaimanapun Allah tidak berusaha membenarkan atau
menjelaskan larangan itu. Adam harus menunjukkan kemauannya untuk
meletakkan kehendaknya di bawah kehendak Allah dalam seluruh ketaatan.

2. Karakter esensial dan materialnya. Dosa pertama manusia adalah
suatu dosa tipikal, yaitu dosa di mana esensi sesungguhnya dari dosa
itu dengan jelas menyatakan dirinya sendiri. Esensi dari dosa itu
terletak pada kenyataan bahwa Adam meletakkan dirinya dalam keadaan
yang bertentangan dengan Allah, dan ia menolak untuk meletakkan
kehendaknya di bawah kehendak Allah, dan menolak membiarkan Allah
menentukan seluruh jalan hidupnya. Ia secara aktif berusaha
mengambilnya dari tangan Allah dan menentukan masa depannya sendiri.
Manusia jelas tidak mempunyai hak untuk mengklaim Allah dan manusia
hanya dapat menetapkan suatu klaim dengan cara menggenapi syarat-
syarat dalam perjanjian kerja. Tetapi manusia telah memisahkan diri
dari Allah dan bertindak seolah-olah ia memiliki hak-hak tertentu
terhadap Allah. Pengertian bahwa perintah Allah adalah suatu pemutusan
hak-hak manusia tampaknya sudah ada dalam pikiran Hawa ketika ia
menjawab pertanyaan Iblis, ia menambahkan kata-kata, "Jangan kamu
makan ataupun raba buah itu (Kej 3:3). Jelas Hawa ingin menekankan
kenyataan bahwa perintah itu agak tidak masuk akal. Bermula dari
presuposisi bahwa ia memiliki hak-hak tertentu terhadap Allah, manusia
mengambil pusat yang baru, yang ditemukannya dalam dirinya sendiri
untuk bertindak menentang pencipta-Nya. Ini menjelaskan keinginannya
untuk menjadi seperti Allah dan keraguannya akan kebaikan Tuhan dalam
memberikan perintah. Tentunya berbagai elemen dapat dibedakan dari
dalam dosa pertama tersebut. Dalam intelek, dosa itu adalah
ketidakpercayaan dan kesombongan, dalam kehendak, dosa ingin seperti
Allah dan dalam perasaan, sebagai suatu kepuasan yang tidak kudus
dengan memakan buah yang terlarang.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 04b

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c



PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia yang Berdosa
Kode Referensi: AUA I-R04b

Referensi AUA I-R04b diambil dari:

Judul buku: Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah
Judul artikel: Karakter Esensial Dosa
Penulis: Anthony A. Hoekama
Penerbit: Momentum, Surabaya 2003
Halaman: 217 -- 221


KARAKTER ESENSIAL DOSA

Dosa selalu berkaitan dengan Allah dan kehendak-Nya. Banyak orang
menyamakan dosa dengan ketidaksempurnaan - yaitu ketidaksempurnaan
yang merupakan aspek yang normal dari natur manusia. "Tak seorang pun
yang sempurna," "Setiap orang melakukan kesalahan," "Kamu 'kan hanya
manusia," dan banyak pernyataan senada menunjukkan pemikiran ini.
Bertentangan dengan ini, kita harus menyatakan dengan tegas bahwa,
sesuai Alkitab, dosa selalu merupakan pelanggaran terhadap hukum
Allah. Meskipun ada banyak hukum di dalam Alkitab, khususnya di kelima
kitab pertama Perjanjian Lama, apa yang dimaksudkan dengan hukum di
sini adalah sekelompok kecil perintah yang kita akui meringkaskan apa
yang Allah inginkan dari manusia, yaitu Sepuluh Perintah.

Meskipun hukum ini Allah berikan kepada bangsa Israel di Gunung Sinai,
hukum ini tidak berisi standar moral yang benar-benar asing bagi
manusia. Lewis Smedes menyatakannya demikian:

Apa yang Musa bawa dari Sinai mendukung satu moralitas yang umum
bagi umat manusia, yang ditegaskan oleh hati nurani setiap kali ia
dilanggar dalam praktik. Orang-orang yang hanya tahu sedikit dan
tidak terlalu memedulikan apa yang Alkitab katakan, tetap
mengetahui apa yang sebenarnya Alkitab inginkan dalam kehidupan
moral, meski hal itu bertentangan dengan diri mereka sendiri.
Paulus menganggap bahwa, sejauh menyangkut moralitas, orang-orang
yang tidak pernah mendengar tentang perintah Allah, dengan cara
tertentu mengenal kehendak-Nya.[5]

Untuk membuktikan pernyataan terakhir ini, Smedes meneruskan dengan
mengutip Roma 2:14-16:

Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh
dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat,
maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi
hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka
menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati
mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka
saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari,
bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan
menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh
Kristus Yesus.

Tetapi, apa yang "tertulis di dalam hati" orang-orang yang tidak
pernah membaca Alkitab, secara khusus dijabarkan dalam Sepuluh
Perintah yang terdapat di Keluaran 20 dan Ulangan 5. Dari Alkitab yang
sama orang percaya tahu bahwa melanggar perintah Allah merupakan dosa.
Dengan kata lain, seperti dinyatakan Katekismus Heidelberg, orang
Kristen belajar mengetahui dosa mereka dari hukum Allah.[6] Ayat-ayat
Alkitab berikut ini menegaskannya: "Oleh hukum Taurat orang mengenal
dosa" (Rm. 3:20b); "Oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena
aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak
mengatakan: 'Jangan mengingini"' (Rm. 7:7b); "Jikalau kamu memandang
muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu
melakukan pelanggaran" (Yak. 2:9); "Setiap orang yang berbuat dosa,
melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah"
(1 Yoh. 3:4).

Mazmur 51:6 menyatakan bahwa semua dosa, bahkan dosa terhadap sesama,
juga merupakan dosa terhadap Allah. Daud telah begitu luar biasa
berdosa terhadap Batsyeba dan Uria; akan tetapi ketika ia akhirnya
mengakui dosanya, ia berkata kepada Allah, "Terhadap Engkau, terhadap
Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap
jahat." Daud tidak bermaksud mengatakan bahwa ia tidak berdosa
terhadap orang lain, tetapi di dalam kedalaman pertobatannya, ia tiba
pada suatu keyakinan bahwa semua dosa pada akhirnya merupakan dosa
terhadap Allah. Dosa orang tua pertama kita merupakan ketidaktaatan
pada perintah Allah, dan setiap dosa yang terjadi setelah itu bisa
dilihat sebagai hal yang sama.

Jadi, secara mendasar, dosa merupakan perlawanan terhadap Allah,
pemberontakan terhadap Allah yang berakar pada kebencian terhadap
Allah. Mengutip kembali Katekismus Heidelberg, "Aku memiliki
kecenderungan alamiah untuk membenci Allah dan sesamaku."[7] Sebagai
bukti, Katekismus ini mengacu pada Roma 8:7, "Keinginan daging
[keinginan manusia secara alamiah] adalah perseteruan terhadap Allah,
karena ia tidak takluk kepada hukum Allah, hal ini memang tidak
mungkin baginya."

Tetapi, sebelum kita meninggalkan poin ini, ada hal lain yang perlu
dikatakan. Agar bisa terpahami sepenuhnya, dosa harus dilihat bukan
hanya dalam terang hukum tetapi juga dalam terang Injil. Injil - kabar
baik tentang apa yang telah Kristus perbuat untuk menyelamatkan kita
dari dosa - merupakan hal yang niscaya justru karena kita telah
melanggar hukum Allah. Saat kita melihat apa yang harus Kristus alami
untuk menyelamatkan kita dari dosa, atau melihat ke Kalvari dan
mendengar seruan Kristus yang menyayat hati, "Allah-Ku, Allah-Ku,
mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46), kita melihat betapa
menakutkannya dosa itu. Pernyataan murka Allah terhadap dosa yang
ditunjukkan di salib Kristus, yang telah dijadikan dosa demi kita
(2Kor. 5:21), menyatakan beratnya kesalahan kita yang tak terukur ini.
Ketika menanggapi pertanyaan, "Mengapa Allah tidak bisa serta-merta
menghapus dosa manusia tanpa menuntut korban pendamaian?" Anselmus
berkata, "Anda belum memikirkan betapa berat beban dosa itu."[8]
Tetapi, Injil tak hanya menunjukkan kebusukan dosa kita; Injil juga
memproklamirkan cara kita bisa dilepaskan dari dosa, dan oleh karena
itu menyerukan agar kita bertobat.

Dosa bersumber dalam apa yang Alkitab sebut sebagai "hati. "
Augustinus sering berkata bahwa dosa bersumber dalam kehendak manusia:
"Jika kehendak itu sendiri bukanlah sebab pertama dosa, maka sama
sekali tak ada sebab pertama."[9] Tetapi, apa yang lazim kita sebut
sebagai "kehendak" hanyalah nama lain bagi totalitas pribadi yang
membuat keputusan. Kita tak pernah memakai kehendak yang "terisolasi";
apa yang kita sebut berkehendak selalu melibatkan aspek-aspek lain
seperti intelek dan emosi, Di balik kehendak ada pribadi yang
menghendaki.

Jadi, dengan memakai bahasa alkitabiah, saya memilih untuk berkata
bahwa dosa bersumber di dalam hati. Saya di sini memakai konsep hati
sebagaimana dipakai di dalam Alkitab: untuk menunjuk inti batiniah
dari satu pribadi; "organ" untuk berpikir, merasa dan menghendaki;
titik pusat dari semua fungsi kita.[10] Dengan kata lain, dosa bukan
bersumber di dalam tubuh atau di dalam salah satu kapasitas manusia
yang mana pun, melainkan bersumber di dalam pusat keberadaannya, yaitu
hatinya. Karena dosa telah meracuni sumber kehidupan itu sendiri,
seluruh kehidupan sudah pasti terpengaruh olehnya.

Dukungan alkitabiah untuk poin ini bisa ditemukan dalam ayat-ayat
berikut: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari
situlah terpancar kehidupan" (Ams. 4:23); "Betapa liciknya hati, lebih
licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang
dapat mengetahuinya?" (Yer. 17:9); "Karena dari hati timbul segala
pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah
palsu dan hujat" (Mat. 15:19); "Orang yang jahat mengeluarkan barang
yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan
mulutnya, meluap dari hatinya" (Luk. 6:45b).

Dosa mencakup pikiran sekaligus tindakan. Menurut hukum manusia,
perbuatan salah hanya berkenaan dengan apa yang seorang lakukan atau
tidak lakukan, bukan dengan apa yang seorang pikirkan; tak seorang pun
dipenjarakan karena pikiran yang keliru (kecuali pikiran itu telah
diungkapkan). Tetapi hukum Allah menjangkau jauh lebih dalam. Bahwa
pikiran bisa berdosa sebagaimana ucapan dan perbuatan, terlihat jelas
dari hukum kesepuluh yang melarang sikap mengingini. Yesus dengan
jelas mengajarkan bahwa sekalipun pikiran untuk berzinah belum
diwujudkan, itu tetap merupakan dosa: "Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah
berzinah dengan dia di dalam hatinya" (Mat. 5:28). Dalam Galatia 5:16,
17 dan 24, Paulus juga berbicara tentang "keinginan daging." Daging di
sini berarti keseluruhan natur manusia di bawah perbudakan dosa; NIV
menerjemahkan epithumian sarkos di ayat 16 sebagai "desires of the
sinful nature" ("hasrat dari natur berdosa"). Jelas dalam ayat-ayat
ini, kata Yunani epithumia (hasrat) berarti hasrat yang tidak baik,
hasrat akan hal-hal terlarang. Jadi, terjemahan KJV, "lust of the
flesh," mungkin lebih akurat dan juga lebih jelas daripada terjemahan
RSV, "desires of the flesh." Ketika Paulus berkata, "Keinginan Roh
berlawanan dengan keinginan daging" (ay. 17), ia menekankan fakta
bahwa selain perbuatan berdosa, terdapat pula keinginan yang berdosa.

Catatan Kaki:

[5] Mere Morality (Grand Rapids: Eerdmans, 1983), him. 10.
[6] Katekismus Heidelberg, Pertanyaan dan Jawaban 3.
[7] Jawaban 5 (terj. 1975, Christian Reformed Church).
[8] Cur Deus Homo (Why God Became Man). Buku I, Bab 21: "Nondum
considerasti quanti ponderis sit peccatum."
[9] De Libero Arbitrio, 111. 17.
[10] Pemahaman bahwa "hati" adalah titik pusat dari seluruh fungsi
temporal kita telah dikembangkan belakangan ini khususnya oleh
D.H. Th. Vollenhoven (Het Calvinisme en de Reformatie van de
Wijsbegeerte [Amsterdam: H. J. Paris, 19331) dan Herman
Dooyeweerd (De Wijsbegeerte der Wetsidee, 3 vol. [Amsterdam: H.J.
Paris, 1935]). Ringkasan dari pandangan mereka terdapat di dalam
tulisan KL Popma, "Het Uitgangspunt van de Wijsbegeerte der
Wetsidee en het Calvinisme," di dalam De Reformatie van het
Calvinistisch Denken, ed. C.P. Boodt (The Hague: Guido de Bres,
1939). Lihat juga pembahasan mengenai ungkapan Alkitab untuk
"hati" dalam bab 11 buku ini.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 04c

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04b


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia yang Berdosa
Kode Referensi: AUA I-R04c

Referensi AUA I-R04c diambil dari:

Judul buku: Pengakuan Baptis 1689
Judul artikel: Perjanjian Allah
Penerjemah: Dr. Charles W. Cole
Penerbit: Carey Publication, 1996
Halaman: 16 -- 17


PERJANJIAN ALLAH

1. Jarak antara Allah dan manusia ciptaan-Nya demikian jauh sehingga
walaupun manusia berakal dan layak menaati Allah sebagai Pencipta,
mustahil manusia memperoleh pahala kehidupan dari Allah. Karena itu
secara sukarela Allah berkenan merendahkan diri menjadi sarana agar
manusia mendapat hidup, yaitu dengan membuat suatu perjanjian.[1]

[1] Ayb 35:7, 8; Luk 17:10

2. Lagi pula karena kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan dirinya
di bawah kutukan hukum Allah, Allah berkenan membuat perjanjian kasih
karunia.[1] Dengan perjanjian itu Allah menawarkan dengan sukarela
kehidupan dan keselamatan oleh Yesus Kristus kepada orang berdosa.[2]
Di samping itu Allah mengharuskan orang berdosa beriman kepada-Nya,
supaya mereka dapat diselamatkan. Ia juga berjanji memberikan Roh
Kudus kepada semua yang dipilih bagi hidup kekal supaya mereka
dijadikan bersedia dan mampu percaya.[3]

[1] Kej 2:17; Gal 3:10; Rm 3:20, 21
[2] Rm 8:3; Mrk 16:15, 16; Yoh 3:16
[3] Yeh 36:26, 27; Yoh 6:44, 45; Mzm 110:3

3. Perjanjian Allah diwahyukan di dalam Injil. Pertama-tama diwahyukan
kepada Adam dalam janji keselamatan oleh benih perempuan, kemudian
tahap demi tahap dinyatakan selengkapnya dalam Perjanjian Baru.[1]
Keselamatan orang terpilih berdasar perjanjian penebusan abadi antara
Bapa dan Putra.[2] Hanya melalui kasih karunia yang disampaikan demi
perjanjian itu keturunan Adam yang telah diselamatkan diberikan hidup
yang diberkati.[3] Manusia sama sekali tidak dapat diterima Allah atas
dasar pemberkatan Adam dalam keadaan sebelum kejatuhannya ke dalam
dosa.

[1] Kej 3:15; Ibr 1:1
[2] 2Tim 1:9; Tit 1:2
[3] Ibr 11:6, 13; Rm 4:1-5, 2; Kis 4:12; Yoh 8:56

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 05a

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus
Kode Referensi: AUA I-R05a

Referensi AUA I-R05a diambil dari:

Judul buku: Diselamatkan Oleh Anugerah
Judul artikel: Regenerasi
Pengarang: Anthony A. Hoekhema
Penerbit: Momentum, Jakarta, 2001
Halaman: 133 -- 147


REGENERASI

1. Tiga Pengertian Regenerasi.

Alkitab membicarakan regenerasi dalam tiga pengertian yang berbeda
tetapi berkaitan: (1) sebagai permulaan kehidupan rohani yang baru,
yang ditanamkan di dalam diri kita oleh Roh Kudus, memampukan kita
untuk bertobat dan percaya (Yoh. 3:3,5); (2) sebagai manifestasi
pertama dari hidup baru yang telah ditanamkan (Yak. 1:18; 1 Pet.
1:23); dan (3) sebagai pemulihan keseluruhan ciptaan dalam
kesempurnaannya yang final (Mat. 19:28).

Dalam pengertian lebih sempit, regenerasi dapat didefinisikan
sebagai karya Roh Kudus yang dengannya Roh Kudus mula-mula membawa
orang-orang ke dalam kesatuan yang hidup dengan Kristus, mengubah
hati mereka sehingga mereka yang dulunya mati secara rohani menjadi
hidup secara rohani, dan sekarang berkemampuan dan berkehendak
untuk bertobat dari dosa, mempercayai Injil dan melayani Tuhan.

2. Ajaran Alkitab Mengenai Regenerasi

(1). Menurut Perjanjian Lama.

Di dalam Perjanjian Lama kita sudah mendapatkan pengajaran bahwa
hanya Allah yang menyebabkan perubahan radikal yang diperlukan
untuk memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat
kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan-Nya. Di Ulangan
30:6, kita menemukan bahwa pembaharuan rohani kita dideskripsikan
secara figuratif sebagai sunat terhadap hati: "Dan TUHAN, Allahmu,
akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau
mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu, supaya engkau hidup." Karena hati merupakan inti rohani
dari satu pribadi, maka ayat ini mengajarkan bahwa Allah harus
membersihkan diri rohani kita sebelum kita dapat benar-benar
mengasihi-Nya. Apa yang kita sebut regenerasi dideskripsikan oleh
Yeremia dengan kata-kata ini: "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam
batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan
menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku" (31:33).
Untuk mendeskripsikan regenerasi ini Yehezkiel menggunakan suatu
gambaran yang walaupun merefleksikan cara berpikir Perjanjian Lama,
namun masih sering kita pakai sekarang: "Kamu akan Kuberikan hati
yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan
menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati
yang taat" (36:26; band. 11:19). Di sini Allah, melalui Yehezkiel,
menjanjikan kepada mereka yang dibuang ke Babilonia bahwa di masa
yang akan datang Dia akan memperbaharui kerohanian mereka.

(2). Menurut Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru memberikan pengajaran yang lebih lengkap dan lebih
kaya mengenai regenerasi daripada Perjanjian Lama. Di dalam Injil-
Injil Sinoptik, kata "regenerasi" tidak dipakai dalam arti "lahir
baru." Akan tetapi ide itu tetap hadir di sana. Ketika Yesus
berkata, "Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang
baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak
baik" (Mat. 7:17), Dia mengimplikasikan bahwa pohon itu harus
dijadikan baik sebelum dapat menghasilkan buah yang baik. Ketika
Yesus menegaskan, "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku
yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya" (Mat. 15:13), Dia
mengimplikasikan bahwa tanaman-tanaman yang telah ditanam oleh Bapa
sorgawi-Nya tidak akan dicabut. Pernyataan-pernyataan seperti ini
dengan jelas menunjukkan kebutuhan akan regenerasi.

Mungkin tidak ada bagian di dalam Perjanjian Baru yang mengajarkan
kedaulatan karya Allah di dalam regenerasi sejelas pasal ketiga
dari Injil Yohanes (3:1-8). Kita telah mempelajari bahwa pelaku
ilahi dari regenerasi adalah Roh Kudus. Bahwa kehidupan baru yang
diterima berbeda secara radikal dari kehidupan biologis biasa, dan
bahwa meskipun regenerasi merupakan kejadian yang misterius, kita
dapat mengetahui bahwa itu telah terjadi dengan mengamati buahnya.

Walaupun Titus 3:5 merupakan satu-satunya bagian di mana Paulus
mempergunakan kata "regenerasi", tetapi kiasan mengenai regenerasi
di dalam surat-suratnya begitu sering muncul. Di Efesus 2:5 Paulus
menegaskan bahwa ketika kita mati di dalam pelanggaran, Allah
menghidupkan kita bersama Kristus. Di Efesus 2:10 dan 2Korintus
5:17 Paulus memakai suatu gambaran baru bagi regenerasi: regenerasi
merupakan suatu jenis keberadaan baru yang mencengangkan kita,
sehingga ia hanya dapat dibandingkan dengan suatu penciptaan baru:
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus";
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru."
Dari penyataan-pernyataan Paulus juga kita mempelajari bahwa
regenerasi merupakan buah dari karya pemurnian dan pembaharuan yang
dikerjakan oleh Roh, yang terjadi di dalam kesatuan dengan Kristus,
dan bahwa ini berarti kita sekarang menjadi bagian dari ciptaan
baru Allah yang ajaib.

Petrus juga membicarakan regenerasi di dalam suratnya yang pertama.
Dia memakai kata anagennao, yang berarti "memperanakkan kembali"
atau "menyebabkan untuk dilahirkan kembali": "Karena [di dalam
rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh
kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati" (1 Pet. 1:3).
Kita dilahirkan kembali, melalui kebangkitan Kristus dari antara
orang mati. Kebangkitan Kristus sungguh merupakan sumber kehidupan
rohani kita yang baru; karena Allah menjadikan kita hidup bersama-
sama dengan Kristus, kehidupan baru kita merupakan suatu sharing
terhadap kehidupan kebangkitan Kristus. Petrus melihat regenerasi
dalam perspektif eskatologis: awal hidup baru kita di dalam Kristus
menyibakkan pemandangan yang mulia dari warisan kekal kita.

Di 1 Yohanes 2:29 kita melihat bahwa orang yang mengalami
regenerasi adalah orang yang terus menerus melakukan hal yang
benar: "Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu
juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, [telah] lahir
dari pada-Nya" Kata kerja yang diterjemahkan sebagai "[telah]
lahir" adalah dalam bentuk perfect tense (gegennetai), yang
mengindikasikan bahwa orang ini telah diregenerasikan di waktu
lampau dan terus-menerus menunjukkan bukti regenerasi itu di saat
ini. Orang yang telah diregenerasikan adalah orang yang kehidupan
luarnya ditandainya oleh karakteristik berikut: dia melakukan apa
yang benar, tidak terus hidup di dalam doa, mengasihi sesamanya
yang percaya, percaya bahwa Yesus adalah Kristus, dan akan terus
mengalahkan dunia ini.

Sekarang kita ringkaskan apa yang telah kita dapatkan dari
penelaahan Alkitabiah mengenai regenerasi: regenerasi merupakan
suatu perubahan radikal dari kematian rohani menjadi kehidupan
rohani, yang dikerjakan oleh Roh Kudus - suatu perubahan dimana
kita sepenuhnya pasif. Perubahan ini yang mencakup suatu perubahan
rohani dari natur kita, merupakan buah dari anugerah Allah yang
berdaulat, dan terjadi di dalam kesatuan dengan Kristus.

Berdasarkan studi eksegetis, regenerasi di dalam pengertian sebagai
suatu penanaman kehidupan rohani yang baru, bukanlah suatu karya di
mana manusia bekerja bersama Allah, melainkan suatu karya di mana
hanya Allah sebagai Pelaku tunggalnya. Dengan kata lain, regenerasi
bersifat "monergistik, karya Allah sendiri, bukan "synergistik,"
sesuatu yang dicapai melalui kerja sama Allah dan manusia.

Alkitab mengajarkan bahwa regenerasi merupakan suatu karya Allah
dimana manusia hanya bersikap pasif. Dari ajaran-ajaran Alkitabiah
mengenai regenerasi ini, kita mengetahui kedaulatan mutlak Allah di
dalam soteriologi: keselamatan kita merupakan karya Allah dari
awalnya. Karena itu, hanya Allah yang layak menerima semua pujian!

3. Natur Esensial Dari Regenerasi

Regenerasi itu sangat misterius - pertama-tama, karena sesuai
dengan definisinya regenerasi merupakan karya Allah; kedua, karena
kita tidak pernah dapat mengamati atau merasakan regenerasi; kita
hanya dapat mengamati efek-efeknya. Memahami regenerasi dalam
pengertiannya yang lebih sempit, sebagai penanaman suatu kehidupan
baru, kita tidak pernah dapat yakin kapan regenerasi itu terjadi,
kita hanya dapat mendeduksi dari bukti-bukti tertentu dengan
kepastian yang besar atau kecil (kepastian yang lebih baru jika
menyangkut diri kita sendiri, dan lebih kecil jika menyangkut orang
lain) bahwa regenerasi itu terjadi.

Tiga komentar mengenai natur esensial dari regenerasi:

(1) Regenerasi merupakan perubahan yang terjadi secara seketika.

Regenerasi bukan suatu proses bertahap seperti pengudusan yang
progresif. Di Efesus 2:5, regenerasi dideskripsikan sebagai
menjadikan pendosa yang telah mati hidup kembali; kata kerja
yang diterjemahkan "menghidupkan kita bersama-sama Kristus,"
synezoopoiesen memakai bentuk aorist tense yang berarti
tindakan yang seketika atau sekejap. Dalam Kisah 16:14, kita
membaca mengenai konversi yang dialami Lidia: "Tuhan membuka
hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh
Paulus." Peristiwa pembukaan hati ini jelas mendeskripsikan
regenerasi. Kata yang diterjemahakan menjadi "membuka"
(dienoixen) juga dalam bentuk aorist tense. Regenerasi itu
sendiri pastilah bersifat seketika, karena tidak ada kondisi
pertengahan di antara kehidupan dengan kematian.

(2) Regenerasi merupakan perubahan yang supranatural.

Regenerasi, penciptaan baru, pembangkitan dari kematian dan
menghidupkan adalah sedemikian jelas diajarkan oleh Alkitab, di
mana Allah sendiri yang bekerja di dalam diri kita tanpa
bantuan kita. Tetapi regenerasi ini pasti tidak terjadi hanya
dengan ajaran dari luar, persuasi moral, atau dengan suatu cara
yang sedemikian rupa sehingga setelah Allah selesai berkarya
manusialah yang tetap berkuasa memutuskan apakah dirinya mau
dilahirbarukan, atau diubah, atau tidak. Sebaliknya, regenerasi
secara keseluruhan merupakan karya supranatural, karya yang
paling berkuasa, paling memberikan sukacita, karya yang ajaib,
tersembunyi dan tidak terkatakan, yang mana kuasa untuk
melakukannya tidak kurang atau lebih rendah dari kuasa untuk
menciptakan atau membangkitkan dari orang mati, seperti yang
diajarkan oleh Alkitab.

(3) Regenerasi merupakan perubahan yang radikal.

Karena istilah "radikal" berasal dari kata Latin untuk "akar"
(radix), maka ini berarti regenerasi merupakan suatu perubahan
pada akar natur kita.

(a) Regenerasi berarti pemberian atau "penanaman " kehidupan
rohani yang baru . Di saat regenerasi inilah pendosa yang mati
menjadi hidup secara rohani, penolakannya terhadap Allah diubah
menjadi penerimaan, dan kebencian kepada Allah diubah menjadi
kasih. Regenerasi berarti orang yang tadinya di luar Kristus
sekarang telah berada di dalam Kristus. Karena itulah perubahan
ini disebut radikal, bukan sekedar perubahan pada kulitnya
saja.

(b) Regenerasi merupakan suatu perubahan yang mempengaruhi
keseluruhan pribadi. Regenerasi merupakan suatu perubahan total
- suatu perubahan yang mecakup keseluruhan pribadi itu. Dalam
istilah yang Alkitabiah, regenerasi merupakan pemberian hati
yang baru. Dan hati di dalam Alkitab adalah inti rohani dari
satu pribadi, pusat dari seluruh aktivitas; sumber yang darinya
mengalir keluar semua pengalaman mental dan rohani, dan
sebagainya. Sumber inilah yang diperbaharui di dalam
regenerasi. Akan tetapi perlu ditambahkan bahwa regenerasi
bukan berarti penyingkiran seluruh kecenderungan berdosa.
Meskipun orang yang telah diregenerasikan adalah manusia yang
baru, namun dia belum sempurna.

(c) Regenerasi merupakan suatu perubahan yang terjadi di bawah
kesadaran. Hal ini jelas, pertama-tama dari cara Alkitab
mendeskripsikan kondisi natural kita. Jika kita, sebagaimana
yang dikatakan Alkitab, sesuai natur kita adalah mati di dalam
dosa, cemar, tidak tunduk terhadap hukum Allah, tidak mampu
menerima hal-hal yang berasal dari Roh Allah, maka kita tidak
dapat secara sadar memutuskan untuk mengubah diri kita menjadi
kondisi yang bertentangan dengan natur kita tersebut. Kita
harus diubah pada akar keberadaan kita, dengan cara yang
supranatural. Dengan demikian perubahan ini haruslah, seperti
yang dikatakan para psikolog, di bawah radar - akan tetapi
merupakan suatu yang pasti menampakkan dirinya di dalam
kehidupan sadar kita.

Lebih lanjut lagi, bahwa perubahan ini terjadi di bahwa
kesadaran kita juga jelas di dalam istilah-istilah yang
dipergunakan Alkitab untuk mendeskripsikan regenerasi: "Aku
akan memberikan kepadamu hati yang baru"; "jika dia tidak
dilahirkan dari atas"; "yang lahir dari daging adalah daging,
dan yang lahir dari Roh adalah roh"; "dihidupkan bersama dengan
Kristus." Ungkapan-ungkapan seperti ini menunjukkan suatu
transformasi yang begitu radikal sehingga pasti merupakan suatu
perubahan pada akar keberadaan kita di bawah sadar. Karena
itulah, di dalam regenerasi, dengan pengertian yang lebih
sempit, kita tidak aktif, melainkan pasif.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 05b

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA



Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus
Kode Referensi: AUA I-R05b

Referensi AUA I-R05b diambil dari:

Judul buku: Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen
Judul artikel: Kelahiran Baru
Pengarang: R.C. Sproul
Penerbit: Seminari Alkitab Asia Tenggara
Halaman: 227 -- 229


KELAHIRAN BARU

Pada waktu Jimmy Carter dipilih menjadi presiden Amerika Serikat, dia
menyatakan bahwa dirinya adalah "orang Kristen yang telah lahir baru".
Kemudian Charles Colson, orang penting di dalam pemerintahan Nixon di
Gedung Putih, menulis buku yang laku keras, dengan judul "Born Again".
Di dalamnya, dia menjelaskan secara kronologis pengalaman
pertobatannya menjadi orang Kristen. Oleh karena kedua orang terkemuka
ini telah mempopulerkan istilah dilahirkan baru, maka istilah ini
telah menjadi bagian dari pembicaraan orang-orang modern.

Untuk menjelaskan bahwa seseorang adalah orang Kristen yang telah
lahir kembali, secara teknis ini merupakan bentuk pengulangan. Sebab
tidak ada orang Kristen yang tidak dilahirkan kembali. Orang Kristen
yang belum lahir baru merupakan istilah yang kontradiksi. Demikian
pula, istilah orang non Kristen yang dilahirkan baru merupakan suatu
kontradiksi.

Tuhan Yesus yang pertama kali menyatakan bahwa kelahiran baru secara
rohani merupakan sesuatu yang mutlak dibutuhkan untuk memasuki
kerajaan Allah. Dia menyatakan kepada Nikodemus: "Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika (dalam terjemahan New King James Version
"unless" = "kecuali") seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat
melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3) Kata kecuali di dalam
pengajaran Tuhan Yesus menandai universalitas kondisi yang dibutuhkan
untuk melihat dan memasuki kerajaan Allah. Kelahiran baru, merupakan
bagian yang penting di dalam kekristenan; tanpa hal itu, tidak mungkin
seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Regenerasi merupakan istilah teologis yang digunakan untuk menjelaskan
kelahiran baru. Hal itu menunjuk pada suatu permulaan yang baru. Hal
ini lebih dari hanya sekedar "daun yang bersemi kembali setelah musim
gugur dan musim dingin". Hal ini menandai suatu kehidupan yang baru di
dalam diri seseorang yang secara radikal telah diperbaharui. Petrus
berbicara kepada orang percaya: "Karena kamu telah dilahirkan kembali
bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh
Firman Allah, yang hidup dan yang kekal." (1Petrus 1:23)

Regenerasi merupakan pekerjaan Roh Kudus atas diri mereka yang secara
rohani telah mati (lihat Efesus 2:1-10). Roh Kudus menciptakan kembali
hati manusia, membangkitkannya dari kematian secara rohani kepada
kehidupan secara rohani. Orang yang mengalami regenerasi adalah
ciptaan yang baru. Dimana, pada mulanya mereka tidak memiliki posisi,
kecenderungan, atau kerinduan untuk hal-hal yang berasal dari Allah,
sekarang, mereka berpaling dan memiliki kecenderungan kepada Allah. Di
dalam regenerasi, Allah menanamkan suatu kerinduan untuk Diri-Nya
sendiri di dalam hati manusia yang tadinya tidak dimiliki oleh
manusia.

Regenerasi tidak boleh disamakan dengan pengalaman pertobatan
seseorang. Sama halnya dengan kelahiran merupakan permulaan kita,
dimana kita memasuki suatu kehidupan di luar kandungan, demikian pula
dengan kelahiran baru secara rohani merupakan titik awal dari
kehidupan rohani kita. Hal ini terjadi atas dasar inisiatif dari Allah
dan merupakan suatu tindakan yang berdaulat, langsung, terjadi secara
instan. Suatu kesadaran dari pertobatan kita dapat terjadi secara
bertahap, namun kelahiran baru itu sendiri terjadi secara instan.
Tidak ada yang hanya sebagian dilahirkan baru sama halnya dengan tidak
ada seorang perempuan yang hamil sebagian.

Regenerasi bukan merupakan buah dari iman, tetapi regenerasi
mendahului iman, yaitu sebagai kondisi yang dibutuhkan oleh seseorang
untuk beriman. Kita juga tidak berpaling pada regenerasi atau bekerja
sama sebagai rekan kerja dengan Roh Kudus untuk menghasilkan
regenerasi. Kita tidak memutuskan dan memilih untuk diregenerasikan.
Allah memutuskan untuk meregenerasikan kita sebelum kita akan pernah
memilih untuk menerima Dia. Secara pasti, setelah kita diregenerasikan
oleh kedaulatan dari anugerah Allah, kita memang memilih, bertindak,
bekerja sama, dan percaya pada Kristus. Allah tidak beriman untuk
kita. Kita dibenarkan berdasarkan iman kita sendiri. Apa yang Allah
lakukan adalah membangkitkan kita ke dalam kehidupan secara rohani,
membebaskan kita dari kegelapan, keterikatan, dan dari kematian secara
rohani. Allah memungkinkan kita mempunyai iman dan aktual bagi kita.
Dia membangkitkan iman di dalam diri kita.

1. Semua yang benar-benar orang Kristen pasti sudah lahir baru.
2. Semua orang yang sudah lahir baru, pasti orang Kristen.
3. Kelahiran baru merupakan kondisi yang harus ada supaya orang
dapat memasuki Kerajaan Allah.
4. Regenerasi merupakan pekerjaan Roh Kudus yang didasarkan atas
kedaulatan-Nya dan anugerah-Nya.
5. Regenerasi mendahului iman. Hal ini merupakan inisiatif Allah
di dalam keselamatan.

AYAT-AYAT ALKITAB UNTUK BAHAN REFLEKSI:
1. Ulangan 30:6
2. Yehezkiel 36:26-27
3. Roma 8:30
4. Titus 3:4-7

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 06a

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Filsafat Non-Kristen dan Kristen
Kode Pelajaran: AUA I-R06a

Referensi AUA I-R06a diambil dari:





Judul buku: Iman, Rasio dan Kebenaran
Judul artikel: Keterbatasan Rasio
Pengarang: Stephen Tong
Penerbit: Institut Reformed, Jakarta, 1996
Halaman: 37 -- 49


KETERBATASAN RASIO

1. Natur Rasio

Apakah rasio mempunyai keterbatasan? Untuk ini manusia harus
menyadari naturnya yang: dicipta, terbatas dan tercemar, 'created,
limited and polluted'. Demikianlah kondisi dari rasio manusia.
Rasio manusia tidak datang sendiri. Rasio itu dicipta oleh Allah.
Rasio manusia juga terbatas di dalam fungsinya, seturut dengan
keterbatasan manusia itu sendiri, sebagai ciptaan Allah. Dan karena
manusia telah jatuh ke dalam dosa, maka seluruh manusia rasionya
juga telah tercemar.

Jika seseorang mengerti dan menyadari natur rasio seperti ini, maka
bagaimanapun orang itu memperkembangkan rasionya semaksimal
mungkin, ia tetap harus mengakui bahwa ia tetap hanyalah manusia
yang terbatas. Ia juga akan mengerti dan menyadari bahwa pencemaran
dosa juga sudah melingkupi aspek rasio juga. Manusia tidak mungkin
dapat membuktikan keberadaan dan diri Allah secara tepat. Manusia
hanya dapat menerima Allah yang mewahyukan diri di dalam alam.

Pencemaran dan kuasa dosa telah melanda sampai ke semua aspek
manusia, baik sifat rasio, sifat hukum, sifat moral, juga sifat
kekal dan keberadaan manusia. Tidak ada satu aspek pun yang tidak
tercemar oleh dosa.

Bukankah para ilmuwan bukan Kristen dapat menemukan penemuan-
penemuan ilmiah yang begitu baik dan cukup akurat, bahkan banyak
ilmuwan Kristen yang lebih bodoh daripada mereka? Bukankah ini
suatu bukti dan fakta bahwa orang bukan Kristen fungsi rasionya
dapat lebih baik? Oleh karena itu, celakalah para pelajar Kristen
yang tidak mau belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang
baik. Apakah ini berarti rasio orang bukan Kristen tidak tercemar,
atau mungkin juga rasio orang Kristen masih tercemar sehingga tidak
berfungsi dengan baik?

Jikalau ilmuwan-ilmuwan bukan Kristen dapat menemukan penemuan-
penemuan ilmiah, yang adalah ciptaan Allah, dengan sangat akurat,
karena rasio mereka berfungsi begitu jemih dan begitu baik, mengapa
semua itu tidak menjadikan mereka kembali mempermuliakan Allah,
yang adalah Sumber serta asal dari semua ilmu pengetahuan? Hal ini
disebabkan karena mereka bisa mengerti wahyu umum dan semua yang
ajaib di dalam ciptaan ini tanpa bisa mengasosiasikan dengan
Kebenaran sebagai sumber dari semua pengetahuan ini, akhirnya
mereka tidak sanggup mengembalikan kemuliaan kepada Pencipta, dan
mereka kemudian mempermuliakan diri sendiri.

2. Lingkup Rasio

Kita kini herlu memikirkan apa yang dipikirkan atau dikerjakan oleh
rasio. Hal ini meliputi kategori-kategori penjelajahan fungsi
rasio. Salah satu tujuannya, manusia diciptakan untuk berpikir.
Oleh karena itu, kini kita mempersempit salah satu tujuan
penciptaan ini, yaitu hanya di wilayah rasio.

Hampir tidak ada manusia yang tidak berpikir. Memang ada manusia
yang tidak suka berpikir. Tetapi untuk dapat tidak berpikir,
manusia harus berpikir bagaimana caranya menghindar dari tugas
berpikir. Ketika manusia berpikir, pikiran rasio manusia paling
sedikit dapat dibagi menjadi tiga kategori atau bidang pikiran yang
besar, yaitu: (1) memikirkan hal - hal di bawah diri manusia, (2)
memikirkan hal- hal di dalam diri manusia, dan (3) memikirkan hal-
hal yang lebih jauh, lebih besar dan lebih tinggi daripada diri
manusia.

Manusia memikirkan hal-hal yang berada di bawah diri manusia, di
dalam diri manusia dan di atas diri manusia. Hal-hal yang berada di
bawah diri manusia adalah alam semesta ini, yang di dalam diri
manusia, adalah manusia itu sendiri, dan yang di atas diri manusia
adalah Allah. Allah - manusia - alam merupakan urutan dari atas ke
bawah di dalam kategori pengetahuan manusia. Urutan ini tidak boleh
dibalikkan. Mengenal Allah adalah pengenalan sistem terbuka,
mengenal alam adalah sistem tertutup. Itu alasan di dalam Kolose 3,
Paulus berkata tentang bagaimana mempergunakan rasio dengan baik:
"Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." Jangan
pikirkan hal-hal yang di dunia saja, tetapi pikirkan juga hal-hal
surgawi.

a. Lingkup Rasio dan Alam

Pada saat seseorang berpikir ke bawah, ia mempergunjingkan
masalah alam. Mungkin ia memikirkan bagaimana bunga bertumbuh.
Kemudian menyelidiki jenis bunga itu, menganalisis dan
mengkategorikannya. Maka ia menemukan suatu pelajaran yang
berkaitan tentang tumbuh-tumbuhan. Jika menyelidiki kucing,
harimau, gajah dll., maka saya menemukan satu bidang studi yang
disebut sebagai Zoologi. Jika says menyelidiki lapisan-lapisan
bumi, sifat-sifat tanah dsb., maka saya akan mengkategorikannya
sebagai Geologi. Demikian juga proses-proses kimia dikategorikan
di dalam Ilmu Kimia, dalil atau rumus-rumus alam diselidiki di
dalam Ilmu Fisika, cara-cara perhitungan di dalam Matematika,
dsb. Sistem-sistem pelajaran ini di dalam bahasa Yunani di
akhiri dengan akhiran "logi" karena di setiap "logi" ini
dituntut pertanggungjawaban rasionil yang disebut sebagai
logika. Logika dipakai oleh logikos (manusia) dalam usaha untuk
mengerti Logos. Logos adalah kuasa universal yang mengatur
segala sesuatu dan merupakan esensi dasar segala sesuatu.

Semua usaha untuk menyelidiki segala sesuatu yang ada di bawah
manusia disebut sebagai 'Sains science' atau ilmu pengetahuan.
Istilah science berasal dari bahasa Latin: 'scio' yang berarti
"Saya tahu". Apakah yang diketahui? Ketika seseorang mempelajari
ilmu fisika, maka ia mengetahui fisika. Pengetahuan yang says
ketahui tentang fisika, disebut sebagai ilmu fisika. Tetapi
harap kita camkan, bahwa sebelum para ilmuwan menyelidiki ilmu
apapun di dalam alam semesta ini, ia harus terlebih dahulu
mempunyai satu set pra-anggapan yang didasarkan pada iman bahwa
ia bisa tahu! Karena saya percaya saya bisa tabu, maka saya
berusaha untuk mengetahui. Kemudian saya mulai menyelidiki dan
pada akhirnya saya betul-betul tahu. Semua ini merupakan proses,
mulai dari iman sampai pada pengetahuan.

Tidak ada satu penemuan apapun di dalam bidang ilmu yang tidak
didasarkan pada pra-anggapan yang bersifat imaniah. Iman lebih
penting dari pada rasio. Ketika seseorang menyelidiki sesuatu,
ia yakin dan memiliki kepercayaan bahwa ia dapat mengetahui,
sehingga dengan dorongan itu ia mulai menyelidiki. Semua
penelitian dan pengujian ilmiah didasarkan pada suatu keyakinan
yaitu iman. Maka, iman mendahului pengetahuan. Oleh karena itu,
anggapan bahwa jika rasio bekerja maka iman tidak diperlukan,
atau jika rasio yang menggarap sesuatu maka iman boleh dibunuh
adalah tidak benar. Anggapan seperti ini sama sekali tidak
benar, bahkan di dalam bidang ilmiah sekalipun.

Setiap orang yang melakukan studi, baik menggunakan metode
induksi, deduksi atau metode lainnya, tanpa disadari ia telah
jatuh kepada hakikat yang paling dasar, yaitu iman. Di dalam
menyelidiki, seseorang menginginkan bukti. Tetapi sebelum bukti
itu muncul, ia telah memulai dengan suatu pra-anggapan yang
bersifat iman.

Alangkah naifnya orang yang mengatakan, "orang Kristen bodoh,
semua harus pakai iman baru mendapatkan bukti. Kalau saya tidak
punya bukti, saya pasti tidak mau beriman, karena saya orang
rasionil." Kalimat itu omong kosong. "Buktikan baru saya
percaya" merupakan kalimat yang sering kita dengar. Padahal
kalimat itupun merupakan iman kepercayaan. Kalau terbukti baru
dapat dipercaya adalah hal yang belum pernah dibuktikan,
sehingga untuk meyakinkan perlunya bukti untuk dapat mempercayai
sesuatu; itu merupakan iman.

b. Lingkup Rasio dan Manusia

Setelah jemu memikirkan hal-hal di bawah diri manusia, maka
manusia biasanya mulai memikirkan di dalam dirinya sendiri.
Mulai memikirkan bagaimana tubuh dapat bertumbuh dan menampilkan
bermacam-macam postur yang berbeda. Di dalam tori ballet,
gerakan tubuh mengungkapkan perasaan hati seseorang dan dapat
menyentuh mereka yang melihatnya. Kemudian mulai memikirkan
mengapa manusia makan nasi, tetapi tumbuh rambut, tumbuh alis,
tumbuh kuku. Anehnya, rambut di kepala semakin lama semakin
panjang, tetapi alis tidak. Apa jadinya jika terbalik? Lebih
jauh Iagi, manusia mulai memikirkan bagaimana pikirannya dapat
berpikir. Saya sedang memikirkan pikiran. Jadi saya sedang
menggunakan pikiran untuk berpikir bagaimana pikiran saya itu
berpikir. Maka yang berpikir adalah pikiran, sedangkan yang
dipikirkan juga pikiran. Maka sampai pads tahap ini, tanpa
disadari rasio sedang menghadapi jalan buntu, karena subyek dan
obyek kini menjadi satu.

Ketika manusia menggunakan pikiran untuk mengetahui bagaimana
pikiran itu berpikir, maka ia sedang masuk ke dalam siklus-diri-
sendiri `self-eyclus'. Siklus seperti ini tidak akan pernah
berakhir. Dalam hal ini kita membuktikan bahwa rasio mempunyai
keterbatasan.

Pada waktu seseorang memakai pikiran untuk memikirkan bagaimana
pikiran itu berpikir, maka ia paling banyak hanya dapat
menemukan syaraf-syaraf otak yang mana yang dipergunakan
untuk berpikir. Tetapi kita tidak pernah akan mengerti bagaimana
sel-sel itu memikirkan apa yang kita pikir. Tidak ada satu
manusia pun yang dapat sampai pada pengertian terakhir itu,
kecuali Pencipta pikiran itu sendiri. Seorang sastrawan Amerika
Serikat, Ralph Waldo Emerson (1803-1882), mengatakan: "Ironic
terbesar bagi mata adalah ia dapat melihat segala sesuatu,
tetapi ia tidak dapat melihat diri sendiri." Bahkan mata kanan
tidak dapat melihat mata kiri. Demikian pula ketika pikiran mau
memikirkan segala sesuatu, ia sendiri mengalami kesulitan untuk
memikirkan diri sendiri. Sebabnya adalah karena adanya limitasi.
Rasio telah mengalami jalan buntu, tetapi ia tidak mau
mengakuinya, bahkan ia mau melompat lebih jauh lagi.

c. Lingkup Rasio dan Allah

Rasio bukan hanya mau memikirkan hal-hal di dalam diri manusia
atau rasio itu saja, bahkan manusia mau memikirkan hal-hal di
atas diri manusia dan iasio itu sendiri. Ia mau memikirkan
tentang Allah.

Manusia, dengan rasio yang dicipta, mau mengerti, mau
menganalisis Allah pencipta rasio. Usaha ini merupakan suatu
lelucon yang terlampau besar, merupakan keberanian yang
terlampau nekad. Usaha ini adalah usaha yang mustahil. Tidak
mungkin rasio memikirkan Allah yang mencipta rasio itu sendiri.
Tetapi manusia yang bodoh tidak mengerti dan menganggap dapat
mengerti Allah dengan rasio.

Saya tidak ingin mematahkan pengharapan manusia untuk mengerti
Allah, tetapi manusia tidak mungkin mengerti Allah melalui rasio
yang Allah cipta. Manusia hanya dapat mengerti Allah melalui
inisiatif pewahyuan Allah kepada manusia.

Allah telah mewahyukan diri kepada manusia dan Allah telah
menyatakan diri kepada rasio manusia, sehingga rasio manusia
yang terbatas dicerahkan oleh cahaya wahyu dan kebenaran itu,
sehingga ia dapat kembali kepada kebenaran.

3. Kesimpulan

Ketika saya memikirkan hal-hal di bawah saya, maka saya menjadi
subyek dan alam yang di bawah menjadi obyek. Allah memang
memberikan hak kepada manusia untuk boleh mengerti alam yang berada
di bawahnya. Manusia memang dicipta lebih tinggi daripada alam.
Itulah alasannya sehingga semua penemuan ilmiah adalah hal yang
sewajarnya. Tidak ada hal yang dapat dimegahkan. Semua itu adalah
usaha yang wajar saja. Dalam hal itu, manusia hanya mempergunakan
rasio yang dicipta oleh Allah untuk menemukan kebenaran-kebenaran
dan dalil-dalil yang disimpan oleh Allah di dalam alam. Ilmu adalah
hal yang wajar dan merupakan hak bagi manusia yang berasio, karena
manusia adalah peta dan teladan Allah. Sampai tahap ini, manusia
mutlak dapat mengetahui ilmu di dalam alam.

Pengetahuan akan ilmu adalah pengetahuan yang rendah sifatnya,
karena ilmu hanya merupakan sistem-sistem pengetahuan yang
diungkapkan melalui rasio manusia yang merupakan anugerah Allah,
untuk menemukan dalil-dalil ciptaan yang memang disembunyikan di
dalam alam. Ini adalah kebenaran yang paling rendah. Pengetahuan
alam merupakan tingkat yang paling rendah diantara tingkatan-
tingkatan pengetahuan, karena tahap ini hanya menemukan sesuatu
yang telah disimpan oleh Allah di dalam alam. Ilmuwan-ilmuwan tidak
boleh sombong setelah menemukan keajaiban ciptaan. Mereka hanya
boleh mempermuliakan Allah karena mereka boleh menemukan dalil-
dalil yang tersembunyi itu. Penemuan ilmu hanyalah penemuan ciptaan
di dalam alam, sehingga penemuan ilmu jauh berada di bawah teologi.

Istilah "menemukan" perlu ditegaskan, yaitu sebelum ditemukan,
dalil itu sebenarnya telah ada. Sebelum Albert Einstein (1879-
1955) menemukan hukum relativitasnya, hukum itu sudah ada dan sudah
berlaku di dalam alam. Setelah Einstein menemukan hukum ini, maka
manusia baru mengetahui bahwa hukum ini dapat dipakai untuk
meledakkan uranium menjadi tenaga yang besar sekali. Namun,
bagaimanapun juga dalil ini telah ada di dalam alam, sehingga
penemunya tidak berhak menjadi sombong di hadapan Tuhan Allah. Oleh
karena itu, biarlah setiap ilmuwan mengembalikan kemuliaan kepada
Allah.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA

AUA-I Referensi 06b

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06a


PESTA // PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGIA AWAM \\ PESTA





Nama Kursus: APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I)
Nama Pelajaran: Filsafat Non-Kristen dan Kristen
Kode Pelajaran: AUA I-R06b

Referensi AUA I-R06b diambil dari:





Judul buku: Iman, Rasio dan Kebenaran
Judul artikel: Kebenaran
Pengarang: Stephen Tong
Penerbit: Institut Reformed, Jakarta, 1996
Halaman: 60 -- 74


KEBENARAN

Pada waktu manusia belum kembali kepada kebenaran, ia selalu
menganggap bahwa dirinyalah kebenaran itu. Akibatnya, semakin lama ia
hidup di dunia, ia menjadi semakin kukuh dan semakin menganggap
dirinya benar. Inilah kelemahan manusia. Kekakuan ini dapat berlanjut
terus, sampai akhirnya ia memutuskan bahwa dirinya tidak dapat
bersalah. Sampai tingkat ini, ia telah mempersamakan diri dengan
Allah. Pada saat seperti itu, Tuhan akan tidak senang dan membiarkan
ia mati saja. Maka orang itu mati. Orang muda tidak terlalu berani
mengatakan dia yang benar, tetapi semakin tua ia akan semakin kaku
juga, dan pads saat tua sekali ia mulai memutlakkan diri seperti orang
tua sebelumnya, maka ia pun mati. Sehingga di dalam alam semesta tetap
hanya ada Satu Allah yang memang mutlak dan kekal.

Manusia dapat terus memproses dirinya masuk ke dalam kekakuan,
sehingga akhirnya ia tidak lagi mempunyai lubang keterbukaan terhadap
keterbatasan rasio. Oleh karena itu, jangan sekali-kali memutlakkan
rasio. Sebelum seseorang mengembalikan rasio kepada kebenaran, ia akan
selalu menganggap dirinyalah kebenaran itu.

1. Kristus sebagai Kebenaran Asali

Setiap agama pasti mengaku memiliki
kebenaran atau dirinya kebenaran. Dalam hal seperti ini setiap
orang dituntut untuk sungguh-sungguh mempelajari di manakah
kebenaran sejati itu berada.

Di dalam Alkitab, kita melihat bagaimana Kristus menjadi satu-
satunya yang di dalam sejarah yang sah mengatakan bahwa diri-
Nyalah kebenaran (Yoh 14:6). Andaikata Ia bukan kebenaran dan
mengaku sebagai kebenaran, maka pasti akan ada kesenjangan yang
besar di dalam hidup-Nya. Tindakan demikian akan menjadikan Kristus
seorang pembohong atau pendusta yang terbesar di dalam alam
semesta, karena penipuan seperti ini bukan sekadar penipuan untuk
mengambil sedikit uang, atau sekadar memutar balik suatu kejadian,
atau mempermainkan hukum, tetapi ini merupakan penipuan yang
berskala dunia, karena mengaku sebagai kebenaran. Tetapi jikalau
memang Kristus adalah kebenaran, maka manusia tidak boleh
sembarangan memberikan penafsiran yang tidak benar terhadap
proklamasi yang sangat agung ini.

Mengapa tidak ada seorang tokoh agama atau tokoh filsafat pun di
sepanjang sejarah manusia, selain Kristus, yang boleh mengatakan:
"Akulah Kebenaran"? Hanya ada dua kemungkinan: (1) Kristus memang
pembohong, dan (2) memang Ia sungguh-sungguh kebenaran. Kalau
memang Kristus pembohong, silakan buktikan apakah Dia pembohong
terbesar, dan jika Ia memang adalah kebenaran itu sendiri, maka
setiap orang wajib takluk kepada-Nya. Setiap manusia harus membagi-
bagikan sekuat kemampuan rasio kits untuk membawa orang lain
kembali kepada Kebenaran. Itu sebabnya, tugas orang Kristen berat
dan sangat serius.

2. Berbagai macam Kebenaran

Ketika rasio kembali kepada kebenaran, ini disebut iman. Oleh
karena itu, iman bukan sekedar mengatakan "saya percaya" lalu
dibaptis dan menjadi anggota gereja. Iman adalah keseluruhan
pribadi seseorang sebagai manusia dengan rasio yang kembali kepada
kebenaran. Iman adalah penaklukkan kebebasan manusia kepada
kedaulatan Allah. Maka iman merupakan tindakan secara
keseluruhan.

Kebenaran harus menyangkut beberapa tingkatan:

a. Kebenaran Fakta

Yang `ya', katakan `ya' dan yang `tidak', katakan `tidak'.
Itulah fakta. Kalimat seperti ini adalah kalimat dari Tuhan
Yesus yang diri-Nya adalah Kebenaran itu. Pada tingkatan
pertama, kebenaran harus sesuai dengan fakta. Mungkin fakta itu
bersalah, tetapi ketika Saudara menyatakan fakta yang pada
hakikatnya salah, sambil menunjukkan kesalahannya, maka Saudara
sedang mengatakan kebenaran. Ketika Saudara menyaksikan
kebenaran seorang anak yang membunuh ayahnya di hadapan
pengadilan, maka Saudara sedang melakukan kebenaran. Tetapi
bukan berarti pembunuhan itu adalah kebenaran. Faktanya yang
adalah kebenaran. Inilah aspek pertama, yaitu: Kebenaran adalah
fakta. Ini adalah aspek yang paling rendah.

Fakta hanya menyatakan kesungguhan keberadaan sesuatu atau
peristiwa, tanpa memberikan penilaian fakta itu sendiri pada
hakikatnya benar atau tidak benar. Peristiwa yang saya saksikan
mungkin tidak cocok dengan prinsip kebenaran yang lebih tinggi.
Penemuan-penemuan di dalam alam semesta, yang merumuskan begitu
banyak dalil-dalil dan aksioma-aksioma di berbagai bidang
studi, adalah fakta. Tetapi fakta bukanlah kebenaran menyeluruh,
hanya menyatakan hal-hal yang "memang demikian". Tetapi istilah
"memang demikian" tetap relatif.

b. Kebenaran Sejarah

Kebenaran ini juga disebut sebagai kebenaran yang bersifat fakta
Sejarah. Indonesia merdeka pads tahun 1945. Ini adalah
kebenaran, tetapi kebenaran ini berbeda dari kebenaran ilmu.
Ketika kita mempelajari dan mengetahuinya, kita mendapatkan
kebenaran. Peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi. Demikian pula
jika kita mengetahui bahwa presiden Amerika Serikat, John
Kennedy (1917-1963) dibunuh pads tahun 1963. Pada tahun 1986
presiden Filipina, Ferdinand Marcos (1917-1989) tumbang dari
kedudukannya dan diusir keluar dari Filipina. Semua peristiwa
ini pernah terjadi pads waktu yang disebutkan. Ini kebenaran.
Tetapi banyak kebenaran yang benar-benar terjadi, pada
hakikatnya tidak sesuai dengan kebenaran yang sejati. Sejarah
terkadang merupakan catatan tentang kesalahan-kesalahan yang
pernah terjadi, di mana catatan itu sendiri tidak salah. Aspek
Sejarah adalah "dengan tidak Salah mencatat hal-hal yang Salah."

c. Kebenaran Manusia

Kebenaran-kebenaran yang disebutkan di atas adalah kebenaran
yang mati, bukan kebenaran yang hidup. Tetapi kini ada kebenaran
yang berada di dalam diri manusia, yaitu kebenaran yang
menyangkut kehidupan itu sendiri, kebenaran-kebenaran yang
menyangkut kehormatan dan harkat manusia, hak asasi manusia,
yang terjadi di dalam masyarakat. Jika kebenaran ini diganggu
gugat, maka akan timbul akibat dan penyakit yang disebut sebagai
penyakit jiwa, baik pribadi atau seluruh bangsa. Penyakit jiwa
yang berakibat dan berpengaruh terhadap sekitarnya akan
menghasilkan problema sosial, sehingga timbullah sosiologi.
Sosiologi mempelajari terbentuknya masyarakat, munculnya kesuli
tan-kesulitan dalam masyarakat dan bagaimana menyelesaikan semua
kesulitan dan gejala yang tidak benar di dalam masyarakat. Ini
adalah kebenaran juga.

d. Kebenaran Relasi

Kebenaran juga mencakup kebenaran di dalam relasi antar oknum.
Hubungan atau relasi antara manusia dengan manusia, antara
manusia dengan alam, antara manusia dengan ilah-ilah atau setan-
setan. Fakta adanya relasi, bagaimana cara berelasi dan seberapa
jauh relasi itu mungkin terjadi, juga merupakan kebenaran yang
harus dimengerti. Kebenaran sampai tingkat ini sudah melampaui
wilayah fisika, tetapi tetap perlu dipelajari. Kebenaran seperti
ini memang kebenaran yang perlu diketahui, tetapi tetap bukan
Kebenaran yang tertinggi itu sendiri.

e. Kebenaran Pencipta

Kebenaran yang tertinggi adalah mengenal Pencipta. Kebenaran
yang tertinggi pada hakikatnya adalah Tuhan Allah sendiri, yaitu
Kebenaran itu sendiri. Kebenaran ada pada-Nya, karena Ia yang
menciptakan segala sesuatu, Ia yang menentukan semua rumus dan
dalil, yang telah disimpan di dalam alam semesta. Ia juga yang
mengatur seluruh pergerakan alam semesta. Ia Penentu segala
sesuatu. Jangan sekali-kali ada orang yang mencoba menurunkan
Allah dari posisi-Nya sebagai Pencipta untuk dikurung di dalam
dunia ciptaan yang dicipta oleh Dia sendiri. Itu adalah tindakan
bunuh diri. Allah berada di luar semua dalil alamiah. Hidup ini
sendiri sudah tidak dapat dikurung oleh hukum-hukum dan dalil-
dalil yang kaku dan sempit.

3. Rasio dan Kesetiaan padA Kebenaran

Iman dalam bahasa Yunani: pistis dan dalam bahasa Latin: fide. Di
dalam bahasa Inggris ada istilah: fidelity? Istilah ini merupakan
perkembangan dari istilah fide atau Iman. Iman berarti setia kepada
kebenaran. Inilah istilah yang paling singkat dan tepat untuk Iman.

Banyak kaum intelektual merasa kalau percaya kepada Yesus Kristus
berarti membunuh rasio dan memusnahkan fungsi intelektual. Saya
tidak meminta Saudara membunuh rasio dan menjadi percaya tahyul.
Silakan rage, tetapi dengan hati nurani yang murni dan motivasi
yang jujur ingin mencari kebenaran, bukan mau menegakkan kebenaran
sendiri. Akhirnya Tuhan pasti akan memimpin Saudara. Dan ketika
Saudara mengerti bagaimana penafsiran kebenaran yang sejati,
Saudara mungkin menjadi setia. Ketika Saudara setia kepada
kebenaran, berarti Saudara dapat beriman.

Tidak benar orang yang mengatakan jika seseorang mencapai
pengetahuan yang tinggi sekali, ia tidak dapat beriman dan tidak
dapat percaya Yesus Kristus. Mereka mungkin percaya kepada Yesus
Kristus, asal kita dapat menjelaskan kebenaran sebenar mungkin,
sehingga mereka mengetahui penafsiran yang benar. Itulah tugas kita
sebagai orang Kristen. Setiap orang Kristen harus mampu menjelaskan
iman kits sejelas dan sebenar mungkin, dan untuk itu kita perlu
belajar banyak hal.

Martin Luther pernah mengatakan kalimat yang mengejutkan: "Rasio
itu pelacur." Mengapa? Karena rasio selalu mencari alasan untuk
mendukung apa yang telah ia tetapkan terlebih dahulu. Kalau
seseorang sudah berniat berbuat dosa, lalu ia mencari berbagai
macam alasan, sehingga jika ia ditanya ia dapat membela diri untuk
menyatakan dirinya tidak bersalah. Dengan demikian ia sudah
memperalat rasio untuk menaati ketidaksetiaan manusia yang tidak
berarah. Oleh karena itu, rasio disebut sebagai pelacur. Jika
isteri Saudara hari ini mengatakan kepada Saudara "Engkau suamiku",
lalu esok mengatakan kepada orang lain "Engkau suamiku", lalu
esoknya lagi berbicara dengan nada yang merdu kalimat yang sama
kepada orang lain lagi, maka Saudara pasti akan benci sekali
kepadanya. Itulah kemungkinan rasio Saudara: Kita perlu
mempertahankan kesetiaan rasio kits di hadapan Tuhan, karena rasio
kita adalah mempelai Tuhan yang adalah kebenaran. Kesetiaan ini
disebut sebagai fide, yaitu: iman. Gereja adalah mempelai Kristus,
pikiran adalah mempelai dari kebenaran Kristus. Biarlah pikiran
kita dipenuhi oleh firman. Tuhan menciptakan otak dan Tuhan
mewahyukan kebenaran, supaya otak yang dicipta tersebut dipimpin
dan dipenuh oleh kebenaran yang diwahyukan.

----------------------------------------------------------------------
PESTA ======Pendidikan Elektronik Studi Teologia Kaum Awam====== PESTA