Pertanyaan 03 | Referensi 03a | Referensi 03b | Referensi 03c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Sebelum Jatuh dalam Dosa |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P03 |
Daftar Isi
Doa
"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka." (Kej. 1:27)
Pengertian apologetika alkitabiah terletak pada pandangan yang tepat
akan kebenaran mengenai karakter manusia. "Kenalilah dirimu sendiri"
merupakan semboyan yang sangat populer di kalangan para pemikir sejak
awal permulaan sejarah filsafat. Pengetahuan tentang diri sendiri akan
melengkapi manusia untuk dapat melaksanakan berbagai macam tugas di
dunia ini dengan lebih baik.
Alkitab melihat sejarah dunia dan manusia dalam tiga tahap --
penciptaan, kejatuhan, dan penebusan. Manusia diciptakan, lalu jatuh
dalam kutuk dosa, kemudian ditebus dengan kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus. Sejajar dengan tiga macam perspektif ini, kita akan
mengamati karakteristik manusia dalam tiga kategori. Dalam pelajaran
ketiga ini, kita akan mengamati manusia sebelum kejatuhan. Dan dalam
dua pelajaran berikutnya, kita akan mempelajari manusia yang telah
jatuh dalam dosa dan manusia yang telah ditebus.
Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah merupakan
karakteristik penting yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain
(Kej. 1:27). Fakta ini memunyai banyak sekali implikasi yang dapat
kita pelajari. Kita harus membatasi diri kita sendiri dalam hal ini
dengan hanya mempelajari sebagian dari makna manusia diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah.
Dari luar, manusia seperti Allah dalam hal kemampuan dan
karakteristiknya secara fisik. Dari dalam, manusia dapat berpikir dan
mengembangkan pemikirannya di mana dalam hal ini hanya manusia yang
dapat melakukannya. Keunikan lain yang dimiliki manusia sebagai
makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah adalah jiwa yang
bersifat kekal (Kej. 2:7). Lebih dari itu, manusia sebagaimana
Penciptanya, telah dijadikan penguasa atas bumi ini. Sebagai wakil
Allah, ia menggali dan mengolah kekayaan ciptaan Allah untuk digunakan
sebagai pelayanan bagi Allah (Kej. 1:27-31).
Karakteristik ini berlaku dalam batas-batas tertentu bagi semua
manusia dalam dunia ini. Karena sebelum jatuh dalam dosa, manusia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah secara khusus. Dan manusia
yang diciptakan Allah ini adalah sempurna.
"... Allah telah menjadikan manusia yang jujur." (Pengkh. 7:29)
Sebelum kejatuhannya dalam dosa, manusia merupakan gambar dan rupa
Allah yang tanpa dosa. Di taman Eden, Adam dan Hawa hidup secara
harmonis dengan Allah. Mereka berjalan di hadapan Allah tanpa malu.
Paulus menjelaskan tahap ini sebagai:
"... pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kol. 3:10)
Di bagian lain, Paulus mengatakan bahwa apabila seseorang
diperbaharui menurut karakter Adam yang semula, maka ia telah:
"... diciptakan ... di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya." (Ef. 4:24)
Dari bagian firman Tuhan ini, ada dua kualitas penting dari manusia
sebelum jatuh dalam dosa yang dapat kita lihat. Pertama, dia memunyai
"pengetahuan yang benar" (Kol. 3:10). Dengan kata lain, Adam dan Hawa
tidak pernah melupakan perbedaan Pencipta dan ciptaan dalam hubungan
dengan pengetahuan mereka. Mereka bergantung pada penyataan Allah akan
diri-Nya sendiri sebagai sumber dari kebenaran mereka, dan mereka
menyamakan semua pemikiran mereka dengan standar dari kebenaran yang
Allah nyatakan. Oleh karena itu, Adam dapat diberi tugas yang sukar,
yakni untuk memelihara taman dan menamai setiap binatang di bumi. Dia
secara sadar tahu akan kebutuhannya untuk mendengarkan Allah dalam
setiap keadaan apabila ia menghendaki pengetahuan yang benar. Sebelum
kejatuhan dalam dosa, pengetahuan manusia akan kebenaran dibarengi
dengan karakter moralitasnya, di mana Adam memiliki "pengetahuan yang
benar dan suci". Adam mengerti bahwa karena sifat dari Pencipta-Nya,
maka ia harus mempelajari apa yang sepatutnya dan yang tidak
sepatutnya dari Allah.
Oleh karena bersandar pada pengetahuan Allah, Adam dan Hawa taat
secara sempurna pada semua perintah Allah dan hidup secara damai
dengan-Nya sebelum jatuh dalam dosa. Sebelum jatuh dalam dosa, dalam
segala keadaan, manusia mengetahui kebenaran dan hidup sesuai dengan
kebenaran itu.
Tanpa Dosa dan Fana
Meskipun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang
sempurna sebelum kejatuhan, namun manusia adalah manusia yang fana dan
terbatas. Allah adalah Allah yang Mahaada (1 Raj. 8:27; Yes. 66:1),
namun manusia terbatas oleh fisiknya dalam keberadaan yang terbatas.
Allah adalah Allah yang Mahakuasa (Maz. 115:3); tidak ada yang dapat
mengatasi atau melampaui kuasa-Nya. Oleh karena itu, sehebat-hebatnya
teknologi mutakhir yang telah dicapai untuk menunjukkan kehebatan
manusia, tetap tidak dapat menandingi kemahakuasaan Allah. Di hadapan
Allah, manusia tetap jauh lebih lemah dan terbatas.
Demikian juga halnya dengan keterbatasan pengetahuan manusia
dibandingkan dengan pengetahuan Allah yang lengkap dan sempurna (Ay.
37:15; Maz. 139:12; Ams. 15:3; Yer. 23:23-24). Sebagaimana penulis
surat Ibrani mengatakan:
"Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya,
sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia dan
kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibr. 4:13)
Bahkan Adam akan setuju dengan Yesaya yang mengatakan:
"Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku
dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yes. 55:9)
Tentu saja dibandingkan dengan pengetahuan Allah, pikiran manusia
"hanyalah seumpama napas" (Maz. 94:11). Demikianlah manusia terbatas
dalam pengertiannya oleh apa yang Allah nyatakan dan harus puas dengan
pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak sempurna.
"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-
hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai
selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat
ini." (Ul. 29:29)
Pengertian mengenai keterbatasan pengetahuan manusia membawa kita
kepada hal yang penting dalam diskusi yang berikutnya. Walaupun Adam
tidak mengetahui segala sesuatu, dia tetap memiliki pengetahuan yang
benar (Kol. 3:10). Pengertian manusia akan segala sesuatu yang ia
ketahui dibatasi oleh perspektifnya akan waktu dan
perubahan-perubahan yang terjadi dalam hal-hal yang ia ketahui.
Keterbatasan-keterbatasan ini merupakan bagian dari sifat penciptaan
manusia.
Namun, kita harus ingat bahwa sebelum jatuh dalam dosa, pengetahuan
Adam miliki berasal dari Allah dalam ketergantungannya pada penyataan
Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu Adam ketahui, diketahuinya
dengan benar sebab ia datang pada sumber kebenaran untuk memerolehnya,
yaitu Allah. Sangat nyata bahwa keterbatasan manusia tidak membuat ia
tidak mampu untuk mengetahui kebenaran. Sepanjang pengetahuan yang
manusia dapatkan itu berasal dari Allah, pengetahuan itu pasti benar.
Oleh karena keterbatasannya, Adam harus menghadapi misteri dalam
kehidupannya, "hal-hal yang tersembunyi" (Ul. 29:29) yang ia tidak
dapat ketahui. Dari fakta ini, kita dapat melihat bahwa manusia yang
sempurna pun tidak mampu untuk menyusun atau menyimpulkan setiap aspek
dari pengetahuan yang didapatnya ke dalam suatu gambaran lengkap yang
baik dan sempurna; selalu ada titik buntu dalam pemikirannya, yaitu
paradoks-paradoks dan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan
oleh akal pikiran manusia. Namun sebagaimana besarnya misteri ini,
pengetahuan manusia dalam tahap ini tetap dapat diperhitungkan serta
dipertanggungjawabkan kepastian dan kebenarannya.
Kepastian dan keyakinan Adam terletak pada penyataan Allah, tidak pada
kemampuannya untuk mengetahui yang terpisah dari pengetahuan Allah.
Pengetahuan Allah yang sempurna dalam segala sesuatu mengabsahkan
pengetahuan manusia yang terbatas sepanjang manusia bergantung pada
Allah. Mari kita lihat contoh dari suatu misteri yang kita hadapi atau
temui pada zaman ini.
Inkarnasi dari Juru Selamat kita, Tuhan Yesus Kristus, merupakan suatu
hal yang penuh dengan misteri. Kita mengakui bahwa Ia adalah 100%
Allah dan juga 100% manusia. Kita dapat mengerti kesejatian dari
ke-Tuhanan-Nya dan kesejatian dari kemanusiaan-Nya sampai pada taraf
tertentu, namun jika kita mencoba untuk menyelidiki lebih lanjut
implikasi dari pengajaran ini, kita akan terbentur pada batas
kemampuan kita dalam memahami hal tersebut. Misalnya, dapatkah kita
menjelaskan bagaimana Yesus "bertambah dalam hikmat-Nya" (Luk. 2:52)
apabila Ia adalah Allah yang Mahatahu? Apakah kita dapat menjelaskan
bagaimana Yesus yang adalah Allah dapat mati di atas kayu salib? Kita
dapat berusaha sekuat tenaga menjawab pertanyaan ini, namun orang yang
jujur segera akan menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini, juga
pertanyaan-pertanyaan lain yang semacamnya, adalah di luar batas
kemampuan manusia untuk mengerti.
Meski kita tidak dapat menyelami semua konsep ini, namun kita dapat
yakin bahwa Yesus adalah 100% Allah dan juga 100% manusia, dan bahwa
Ia bertambah dalam hikmat dan kemudian Ia mati. Keyakinan ini bukan
bergantung pada ketidakmampuan kita untuk mengerti secara tuntas,
melainkan karena kita percaya pada penyataan Allah.
Semakin kita mengerti akan kebenaran kristiani, kita akan menemukan
bahwa di akhir setiap pengajaran dari firman Tuhan, terlihat fakta
ketidakmampuan manusia untuk menyelami secara tuntas konsep-konsep
dalam hubungannya dengan konsep-konsep kebenaran yang lain. Ada banyak
hal-hal yang kelihatannya berlawanan satu dengan yang lain dalam
kebenaran kristiani, namun hal ini seharusnya tidak boleh menyebabkan
kita meragukan pengajaran Alkitab. Ada dua alasan mengapa kita tidak
boleh meragukan pengajaran Alkitab.
Pertama, hal itu seharusnya membuat kita sadar akan keterbatasan diri
kita. Manusia harus menyadari keberadaan mereka sebagai makhluk
ciptaan dan bersama Paulus menyatakan kalimat berikut ini:
"O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak
terselami jalan-jalan-Nya!" (Rom. 11:33)
Kedua, Alkitab tidak seharusnya diragukan pada saat kita tidak dapat
mencocokkan kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lain. Penyataan
Alkitab merupakan pemikiran Allah di mana bagi-Nya tidak ada satu hal
pun yang bersifat misteri. Allah dapat menuntaskan konsep-konsep yang
paling sukar, yang tidak dapat dituntaskan oleh pikiran manusia. Tidak
ada satu hal pun yang merupakan misteri bagi Allah; Ia mengetahui
segala sesuatu dengan sempurna. Namun, misteri merupakan keterbatasan
dari makhluk ciptaan, bukan Pencipta. Sepanjang kita bergantung
kepada-Nya dalam pengetahuan kita, misteri yang paling besar pun tidak
akan menghalangi kita dari kebenaran.
Logika, Allah, dan Manusia
Suatu hal yang terus-menerus timbul dalam suatu diskusi dan yang
memengaruhi apologetika alkitabiah adalah peranan logika dalam
hubungan antara Allah dan manusia. Dalam pelajaran ini, kita akan
membatasi pada sebagian kecil dari pertanyaan-pertanyaan yang ada.
Adam diciptakan sebagai makhluk yang dapat berpikir dan mengembangkan
pikirannya, hal ini mencerminkan hikmat Allah dan juga yang
membedakannya dengan binatang (2 Pet. 2:12, Yud. 10). Kita telah
mempelajari bahwa di taman Eden, Adam telah menggunakan akal budinya
dalam ketergantungan-Nya pada Allah. Dia membangun pola berpikir yang
sesuai dengan petunjuk Allah. Adam pasti menggunakan logika meskipun
dalam bentuk yang sederhana, dan ia menggunakannya dalam ketaatannya
pada Allah. Ia tidak pernah mengabaikan ketergantungannya pada Allah
dengan berpikir bahwa logikanya mampu memberikan penjelasan dan
pengetahuan secara terpisah dari Allah. Akibatnya, dalam menggunakan
kemampuannya, Adam menggunakan akal budi yang selalu tunduk pada
keterbatasan dan pimpinan penyataan Allah. Allah selalu dilihat
sebagai dasar dari kebenaran dan sumber dari kebenaran, karena
keadaan Adam pada saat itu adalah sebagai manusia yang diciptakan
menurut gambar Allah dan tanpa dosa.
Dari peran akal budi yang berdasarkan logika, yang dimiliki manusia
sebelum dosa masuk ke dalam dunia, maka ada beberapa pengamatan yang
dapat kita lakukan. Pertama, menggunakan akal budi dan mengembangkan
pikiran itu bukanlah sesuatu yang salah dan jahat. Kekristenan telah
mendapat berbagai macam serangan dari mereka yang mengklaim bahwa
segala sesuatu harus "masuk akal" dan "ilmiah".
Beberapa orang Kristen berpikir bahwa perlindungan satu-satunya adalah
dengan cara menolak ilmu pengetahuan dan pemakaian akal budi serta
menganggap kedua hal itu sebagai sesuatu yang jahat dan saling
bertentangan. Penggunaan akal budi bukan merupakan sesuatu yang jahat
sebab di dalam taman Eden, Adam juga menggunakan akal budi dan
mengembangkan pikirannya. Adamlah yang menamai binatang-binatang dan
yang memelihara taman. Ia tidak menghilangkan logikanya dalam
melaksanakan kehidupannya sehari-hari.
Yang perlu diperhatikan adalah bila manusia memakai akal budi dan
mengembangkan pikirannya secara berdiri sendiri atau terlepas dari
Allah, hal ini akan memimpinnya kepada ketidakbenaran dan kesalahan.
Tetapi apabila kedua hal itu dipergunakan dalam ketergantungan pada
penyataan Allah, kebenaran akan ditemukan. Menggunakan akal budi dan
mengembangkan pikiran itu sendiri tidaklah berlawanan dengan iman atau
kebenaran.
Kedua, logika tidaklah berada di atas fakta perbedaan antara Pencipta
dengan ciptaan. Saat kita berbicara tentang manusia dalam menggunakan
akal budinya, kita harus ingat bahwa logika hanya merupakan refleksi
dari hikmat dan pengetahuan Allah. Meskipun dalam firman Tuhan, Allah
merendahkan diri dan menyatakan diri-Nya dengan istilah yang sesuai
dengan daya pikir, logika manusia, namun itu tidak berarti logika
manusia berada di atas atau sejajar dengan Allah dan juga tidak
merupakan bagian dari keberadaan Allah.
Logika dalam bentuk-bentuk yang paling kompleks dan tajam tetap
berada dalam ruang lingkup ciptaan dan kualitasnya sesuai dengan
kualitas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan
dengan kualitas yang sama seperti Allah.
Oleh karena logika merupakan bagian dari ciptaan, maka logika memiliki
keterbatasan. Pertama terlihat dari logika sebagai sistem yang selalu
dalam proses berubah dan berkembang. Bahkan, ada beberapa sistem
logika yang dalam titik tertentu, berlawanan satu sama lain. Tidak ada
definisi dari "kontradiksi" yang diakui secara universal. Meskipun
semua manusia dapat saja sepakat dalam satu sistem untuk mengembangkan
suatu pemikiran, logika manusia tidak dapat dipergunakan sebagai hakim
untuk menentukan kebenaran dan ketidakbenaran.
Kekristenan, pada hal-hal tertentu, dapat dikatakan masuk akal dan
logis, namun logika menemui batas kemampuan pada saat diperhadapkan
dengan hal-hal seperti inkarnasi dari Kristus dan doktrin Tritunggal.
Logika bukanlah Allah dan tidak boleh diberikan penghormatan.
Penghormatan hanya boleh diberikan kepada Allah saja. Kebenaran hanya
ditemukan pada penghakiman Allah, bukan pada pengadilan logika.
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk menghindari dua sisi
ekstrim yang biasanya diambil dalam hubungannya dengan penggunaan akal
budi dan logika. Di satu pihak, ada manusia yang menolak menggunakan
akal budi dan setuju pada iman yang buta. Di lain pihak, ada manusia
yang memberikan logika sejumlah ruang untuk berdiri sendiri dan
terlepas dari Allah. Kedua posisi tersebut tidak sesuai dengan
karakter manusia sebelum kejatuhan. Manusia diciptakan sebagai makhluk
yang dapat berpikir dan mengembangkan pikirannya, namun ia diharapkan
menyadari keterbatasan pikirannya dan ketergantungan logikanya pada
Penciptanya.
Karakter manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia merupakan dasar
dari tugas berapologetika. Meskipun pada saat ini tidak ada seorang
pun di dunia yang sama sekali lepas dari dosa, namun ada kualitas
manusia sebelum kejatuhan yang terbawa sampai hari ini. Pada saat kita
membela iman Kristen, kita berhubungan dengan laki-laki dan perempuan
keturunan Adam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memunyai
pengertian yang kuat akan keadaan manusia sebelum kejatuhan.
-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P03)----
Doa
Ya, Tuhan, meskipun kami telah diciptakan menurut gambar dan rupa-Mu
yang sempurna, namun kami hanya manusia yang fana dan terbatas
secara fisik maupun keberadaan. Sedangkan Engkau adalah Allah Yang
Mahakuasa; tidak ada yang dapat mengatasi atau melampaui kuasa-Mu.
Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Mu sebab
segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Mu. Oleh sebab
itu, kepada-Mu sajalah kami harus memberikan pertanggungjawaban.
Amin.
(Catatan: pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)