Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b | Referensi 05c
| Nama Kursus | : | APOLOGETIKA UNTUK AWAM I (AUA I) |
| Nama Pelajaran | : | Karakter Manusia Setelah Ditebus Kristus |
| Kode Pelajaran | : | AUA I-P05 |
Daftar Isi
Doa
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
5:17)
Kalau bukan karena anugerah Allah, setiap orang akan tetap terkutuk
dalam dosa dan berada di bawah penghakiman murka Allah. Namun, Allah
dengan kemurahan-Nya yang besar telah mengutus Anak-Nya yang ilahi,
Yesus Kristus, untuk membayar hutang dosa dengan mati di atas kayu
salib serta memulai suatu periode kehidupan baru dalam kebangkitan-
Nya. Semua orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan dari kutuk murka
Allah dan masuk ke dalam berkat Allah. Pengamatan kita akan manusia
tidaklah lengkap apabila kita belum memertimbangkan karakter manusia
yang telah ditebus oleh Allah dalam Kristus.
Kita dapat melihat bahwa aplikasi dari keselamatan dalam kehidupan
seseorang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi sebagai akibat
dari kejatuhan. Inti dari kejatuhan Hawa adalah kehendak untuk mandiri
dan lepas dari Allah dengan cara menolak secara sukarela untuk
menundukkan diri pada firman Tuhan. Hawa menolak fakta perbedaan
antara Pencipta dengan ciptaan, dengan berpikir bahwa ia dapat
mengetahui kebenaran melalui pikiran barunya sendiri yang terpisah
dari Allah. Hal sebaliknya terjadi pada kehidupan seseorang yang
percaya kepada Kristus. Dengan jelas, Paulus menyatakannya:
"Oleh karena dunia oleh hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh
hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya
oleh kebodohan pemberitaan Injil." (1 Kor. 1:21)
Penggunaan hikmat manusia sebagai standar kebenaran, seperti apa yang
dilakukan oleh Hawa, akan membawa kita jauh dari Allah dan membawa
kita kepada ketidakbenaran. Sebaliknya, salib adalah jalan keselamatan
yang mengakibatkan kita berpaling dari kemandirian dan pikiran berdosa
supaya kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Allah. Hawa
berpikir bahwa sebagai manusia, ia dapat berdiri sendiri dan melihat
serta menempatkan dirinya sebagai hakim yang tertinggi. Namun, saat
kita percaya dengan kesungguhan pada Kristus, kita akan menyadari
bahwa ketergantungan kita pada firman Tuhan sebagai hikmat tidak ada
bandingnya karena Dialah sumber kebenaran. Penerimaan firman Tuhan ini
merupakan permulaan dari penebusan dalam Kristus.
"Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman
Kristus." (Rom. 10:17)
Kebalikan dari kejatuhan tidak berhenti pada tanda pertobatan,
melainkan meliputi keseluruhan dari proses penebusan. Seseorang yang
percaya akan berita Injil, bersama dengan Paulus, meyakini bahwa:
"Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong."
(Rom. 3:4)
Berbeda dengan manusia berdosa yang cenderung meninggalkan pengetahuan
yang benar dan menyatakan hal yang salah (sebagai akibat dari
kemandirian yang terlepas dari Allah), orang-orang percaya memegang
kepercayaan bahwa firman Allah selalu dapat dipercaya oleh karena
Allah selalu benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya:
"Aku, Tuhan, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang
lurus." (Yes. 45:19)
Firman Allah dapat dipercaya dan orang yang percaya pada Kristus
mengakui kepercayaannya secara total pada firman Tuhan. Lepas dari
apa yang terlihat, lepas dari nasihat-nasihat orang lain, dan lepas
dari pencobaan oleh Iblis, orang percaya menegaskan bahwa:
"Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain
kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita." (1
Sam. 2:2)
Sikap terhadap firman Tuhan yang merupakan kebalikan dari apa yang
terjadi pada waktu kejatuhan, diperjelas oleh perkataan Paulus kepada
orang-orang Korintus:
"Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu Ilahi. Karena aku
telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu
sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau
pikiran kami disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada
Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan
kelicikannya." (2 Kor. 11:2-3)
Pada ayat-ayat ini, Paulus memeringatkan orang-orang di Korintus untuk
tidak berpaling dari khotbahnya mengenai firman Tuhan, mereka harus
setia hanya kepada Kristus semata. Paulus memeringatkan mereka karena
ia takut dan kuatir mereka akan jatuh dalam tipu muslihat yang sama
yang telah digunakan oleh si ular saat mencobai Hawa. Paulus takut
mereka akan berpaling dari "kesederhanaan dan ketulusan penyembahan
kepada Kristus" (2 Kor. 11:3).
Sebelum jatuh dalam dosa, Hawa hanya mendengarkan firman Allah dengan
penyembahan yang hanya tertuju pada Allah. Saat jatuh, ia telah
berpaling dari firman Allah. Sebagai orang Kristen, kita secara
terus-menerus menerima firman Kristus dengan penyembahan yang tanpa
berprasangka. Kita harus melakukan kebalikan dari apa yang Hawa
lakukan saat ia berdosa. Ditebus oleh Kristus berarti mengalami
kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan.
Saat kita berpikir tentang keselamatan dalam Kristus, biasanya kita
hanya memikirkan tentang akibat dari percaya pada-Nya, yaitu menerima
kehidupan yang kekal. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya,
saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan
kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal
pengetahuan dan moralitas.
Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki
kerajaan Allah dengan berkata:
"Kamu harus dilahirkan kembali." (Yoh. 3:7)
Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang yang tidak percaya.
Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam, demikian pula ia telah jatuh
dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan. Karena itu, ia harus
mengalami kelahiran baru. Paulus menyatakan:
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Kor.
5:17)
Saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya
dilahirkan baru secara pribadi; namun kita memasuki suatu ruang
lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu,
seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang
berawal dari kelahiran baru.
Paulus menggunakan istilah "ciptaan yang baru" dalam pengertian suatu
perintah karena hal ini menunjuk pada hubungan penebusan dengan asal
mula keadaan ciptaan sebelum kejatuhan. Saat dunia dan manusia
diciptakan, mereka belum dicemari oleh dosa. Namun, sebagai akibat
dari manusia yang memilih untuk berdiri sendiri terlepas dari Allah,
maka seluruh ciptaan telah jatuh dalam kutuk dosa. Pekerjaan penebusan
dari Kristus dapat dikatakan merupakan pembaharuan manusia untuk dapat
kembali kepada posisi mereka yang semula, yaitu pada waktu pertama
diciptakan oleh Allah.
"... yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam
kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Ef. 4:24)
"dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui
untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya."
(Kol. 3:10)
Orang-orang percaya dalam Kristus diperbaharui menurut sifat mereka
yang semula sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa
Allah. Mereka diberikan kebenaran, kesucian, dan pengetahuan yang
benar, di mana semua itu hilang pada waktu kejatuhan dalam dosa.
Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pembaharuan melalui
kelahiran baru tidak hanya meliputi sebagian dari manusia, melainkan
meliputi keseluruhan karakternya, bahkan proses berpikirnya.
"Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu
yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan
dan menaklukkannya kepada Kristus." (2 Kor. 10:5)
Orang-orang Kristen pada kenyataannya diperbaharui sampai pada tahap
di mana setiap aspek pribadi mereka berada pada keberadaan asal
sebelum kejatuhan dalam dosa. Kita tidak diselamatkan untuk sekadar
berada dalam keadaan yang manis dan menyenangkan. Namun, kita
diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada asal mula
keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui kelahiran baru. Sebagai
gambar Allah yang telah dipulihkan, manusia yang telah ditebus rindu
untuk melakukan apa yang adil sesuai wahyu Allah bagi semua ciptaan
dan firman Tuhan. Ia menyadari bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui
bahwa hujan merupakan kondensasi dari air yang menguap. Ia akan
bertanya apakah hujan dan bagaimana ia menyatakan karakter dan
kehendak Allah. Apabila tidak ada dosa, hal ini tidak akan menjadi
masalah. Manusia cukup hanya mengamati dunia dan mengenal Allah
melaluinya. Namun, oleh karena dosa, "maka diperlukan Penolong yang
lebih baik untuk memimpin kita pada Pencipta alam semesta ini secara
langsung".
Penolong yang lebih baik adalah firman Tuhan dan Roh Kudus. Orang
Kristen berkewajiban mendedikasikan diri untuk menyelidiki firman
Tuhan oleh karena Roh Kudus yang ada di dalam kita akan memimpin kita
kepada pengetahuan akan keselamatan. Roh Kudus juga akan memimpin kita
kepada kebenaran pengetahuan tentang ciptaan menurut apa yang
diwahyukan oleh Allah dan kehendak-Nya atas manusia. Ini tidak berarti
bahwa Alkitab menjadi suatu buku pedoman dari ilmu pengetahuan alam.
Dengan kata lain, tidak betul bahwa orang Kristen tidak perlu lagi
melihat pada dunia dan cukup hanya dengan membaca Alkitab untuk
menemukan kebenaran ilmiah.
Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar secara umum di mana
semua penyelidikan akan dunia ini harus berdasarkan atasnya. Misalnya,
pengetahuan yang sejati mengenai hujan menyatakan kepada kita akan
kemurahan Allah dan bagaimana Allah mengharapkan kita untuk
memperlakukan musuh kita dengan kebaikan (Mat. 5:45), dan seterusnya.
Tentu saja penyelidikan secara ilmiah dari sifat hujan akan secara
intensif menjelaskan pengertian orang Kristen akan hal-hal ini. Namun,
pengetahuan yang benar tentang hujan ditemukan berdasarkan
penyelidikan yang didasarkan pada firman Tuhan dan dipimpin oleh
firman Tuhan.
Sebagai ciptaan yang telah diperbaharui, orang Kristen rindu untuk
memertahankan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan dalam hal
pengetahuan dan moralitas sehingga orang Kristen dapat memberikan
perlakuan yang tepat pada wahyu Allah.
Kehidupan orang Kristen bukannya tanpa kesalahan. Meskipun ia telah
diperbaharui kembali kepada kondisi asalnya seperti sebelum
kejatuhan, pembaharuan ini tidaklah sempurna sampai kedatangan Tuhan
Yesus yang kedua kalinya. Orang Kristen berkecimpung dalam peperangan
yang dahsyat antara kebenaran dan dosa. Paulus menjelaskan konflik
ini sebagai berikut:
"Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan
keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya
bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang
kamu kehendaki." (Gal. 5:17)
Roh Kudus yang tinggal di antara orang-orang percaya, berada dalam
peperangan dengan pikiran kedagingan manusia. Sebagai akibatnya, ada
dua prinsip yang bekerja dalam diri orang percaya, yang satu kepada
ketaatan dan yang lain pada ketidaktaatan. Walaupun orang Kristen
berusaha untuk bergantung pada Allah dengan memerhatikan wahyu-Nya
untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan dan moralitas, namun ia
mungkin kadang akan gagal dalam melaksanakan keinginannya secara
terus-menerus. Pada waktu tertentu, orang Kristen dapat kembali
kepada dosa yang terjadi pada waktu kejatuhan dengan memberontak atau
mengabaikan fakta perbedaan Pencipta dengan ciptaan.
Penurunan ini dengan sendirinya memerlihatkan penolakan pengakuan atas
wahyu Allah dalam semua aspek kehidupan, termasuk ketaatan akan firman
Tuhan. Sebagaimana orang tidak percaya tidak dapat terlepas sepenuhnya
dari kualitas penciptaan sebagai manusia yang diciptakan menurut
gambar Allah, demikian pula orang Kristen tidak dapat terlepas
sepenuhnya dari dosa yang masih tertinggal dalam hidupnya. Ia tidak
selalu konsisten dengan prinsipnya akan ketergantungan secara total
kepada Allah. Dan karenanya, ia tetap dapat melakukan kesalahan dalam
pikiran dan tindakannya.
Dengan alasan ini, maka orang Kristen secara berulang-ulang didorong
untuk menghindari dan menolak dosa. Paulus berkata:
"... bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah
dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi
di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti
keinginannya." (Rom. 6:11-12)
Dan dalam bentuk pernyataan yang positif, ia berkata:
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
oleh pembaharuan budimu." (Rom. 12:2)
Ketergantungan kita pada Allah untuk pengetahuan dan moralitas tidak
datang secara otomatis dalam hidup orang Kristen. Hal ini harus
disertai dengan usaha yang serius, di mana kita sungguh berusaha untuk
mendapatkan "penyucian di mana tanpanya, tidak ada seorang pun akan
dapat melihat Allah" (Ibr. 12:14). Ini merupakan tugas yang panjang
dan sulit, namun kita harus terus-menerus berusaha apabila kita ingin
mengenal Allah dan kehendak-Nya. Saat kita berpikir bahwa kemampuan
orang Kristen untuk mengetahui kebenaran disebabkan oleh kelahiran
baru dan berpaling dari kejatuhan, kita juga harus ingat bahwa dosa
masih memengaruhi kehidupan orang Kristen.
Karakter manusia yang telah ditebus oleh Kristus merupakan pengertian
yang mendasar bagi apologetika alkitabiah. Pekerjaan Kristus di atas
kayu salib dan dalam kebangkitan-Nya, telah memerbaharui pengetahuan
yang sejati dan kebenaran bagi orang yang percaya kepada-Nya.
Meskipun dosa masih ada, namun orang yang telah ditebus oleh Kristus
dapat bergantung kepada Allah untuk pengetahuan dan moralitasnya.
-------------------Akhir Pelajaran (AUA I-P05)----
Doa
Ya, Tuhan, kami bersyukur karena Engkau terus-menerus memerbaharui
roh, jiwa, seluruh karakter, serta proses berpikir kami dari hari ke
hari. Engkau kembali memberikan kebenaran, kesucian, dan
pengetahuan-Mu itu kepada kami. Oleh sebab itu, biarlah kami,
sebagai orang percaya, terus terdorong untuk menghindari dan menolak
dosa sambil meyakini bahwa kami telah mati bagi dosa dan hidup bagi
Allah dalam Kristus Yesus. Tuhan, tolong kami agar dosa jangan
berkuasa lagi di dalam tubuh kami yang fana ini dan agar kami tidak
lagi menuruti keinginannya. Amin.
(Catatan: Pertanyaan tertulis ada di bagian terpisah)