DAL-Referensi 03a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Doktrin Alkitab
Nama Pelajaran : Inspirasi
Kode Pelajaran : DAL - R03a

Referensi DAL - R03a diambil dari:

Judul Buku : KEUNGGULAN ANUGERAH MUTLAK: KUMPULAN REFLEKSI TEOLOGIS ATAS IMAN KRISTEN
Judul artikel : Perspikuitas dan Holoskopositas Alkitab
Penulis : Dr. Joseph Tong
Penerbit : STT Bandung, 2006
Halaman : 85 - 93

Banyak literatur yang berbicara tentang pengertian teori inspirasi Kristen. Sebagian besar dari literatur tersebut menekankan pada penggambaran doktrin inspirasi dalam konteks pewahyuan Allah. Inspirasi pada dasarnya adalah sebuah bentuk khusus dari wahyu ilahi, di mana Allah melakukan sebuah tindakan pengakomodasian, dengan membiarkan kebenaran-Nya yang absolut dan tidak terbatas, menjadi sebuah bentuk yang terbatas dan relative dalam ekspresi bahasa manusia. Di dalam pengertian semacam itu, Roh Kudus bekerja secara misterius di dalam hati para hamba—Nya yang terpilih, mengangkat individualitas dan kemampuan khusus mereka, untuk merekam wahyu Allah. Sedangkan Roh Kudus "menghidupi" tulisan tersebut, sehingga tulisan tersebut membawa tanda inspirasi. Roh Kudus juga bekerja di dalam hati orang-orang percaya dan gereja dalam bentuk sebuah kesaksian internal (testimonium intern), yang menuntun gereja dan umat-Nya dalam proses kanonisasi untuk menerima tulisan-tulisan yang telah diinspirasikan sebagai firman Allah dalam bahasa manusia. Pendapat ini dapat disimpulkan dan disingkat dalam hal-hal berikut ini.

  1. Inspirasi Alkitab adalah organik, bukan mekanik atau sesederhana inspirasi literal seperti penulis-penulis literatur secara umum.

  2. Inspirasi Alkitab bersifat mandat penuh, bukan sebagian. Dengan kata lain, inspirasi melingkupi totalitas keseluruhan Alkitab. Semua dan setiap bagian dari Alkitab merupakan karya Allah melalui pekerjaan Roh Kudus, yang diselesaikan pada saat, tempat, serta latar belakang budaya yang berbeda, di mana Roh Kudus bergerak dan menuntun hamba-hamba Allah untuk menyelesaikan semua tulisan dengan satu tema, dalam keharmonisan, tanpa konflik atau kontradiksi.

  3. Inspirasi Alkitab dilakukan secara verbal. Kepercayaan ini meneguhkan bahwa inspirasi Allah adalah dalam bentuk bahasa manusia, dan itu merupakan bahasa Alkitab. Sekalipun muncul dalam banyak budaya dan sejarah yang berbeda, akan tetapi saling terikat dan terhubung satu dengan yang lainnya di dalam pekerjaan Roh Kudus.

  4. Inspirasi Alkitab adalah inerant dan sempurna. Itu merupakan catatan manusia tentang kebenaran Allah sampai keselamatan, kebenaran, kepastian, ketidakberubahan, serta nilai yang paling tinggi. Alkitab tidak pernah menggagalkan umat-Nya.

Singkatnya, inspirasi dari Alkitab bukan merupakan bentuk pendiktean, atau para penulis dilihat sebagai sebuah pena dalam tangan Allah. Mereka adalah para hamba Allah yang sederhana dan jujur, yang dipanggil dan dipilih dalam anugerah Allah, di mana Roh Allah datang kepada mereka, menggunakan kecerdasan, kemampuan, dan kepribadian, untuk menuliskan wahyu Allah yang telah diberikan kepada mereka. Mereka menuliskannya dalam bentuk kata-kata bagi umat-Nya di sepanjang generasi. Alkitab merekam apa yang dinyatakan serta meneguhkannya di bawah pemeliharaan yang ilahi, untuk menjadi warisan gereja.

Berdasarkan asumsi semacam itulah kita melihat Alkitab secara serius. Sekalipun kita tidak mengambil Alkitab sebagai dasar yang absolut bagi iman, namun kita tetap dengan serius harus menegaskan bahwa tanpa Alkitab, tidak mungkin ada kebenaran dan pengetahuan yang komprehensif tentang Allah dan wahyu Allah. Hal ini berada dalam konteks wahyu Allah yang khusus; Allah memberi kita Kristus dan Alkitab. Karena alasan inilah, gereja tidak hanya percaya bahwa Alkitab adalah Firman yang menyaksikan Kristus serta membawa manusia kepada Kristus, tetapi benar-benar adalah firman Allah, firman Allah yang hidup dari Allah yang hidup!

Berdasarkan penekanan iman kita yang semacam itulah, kita melihat bahwa ada dua karakteristik unik dari Alkitab yang tidak dimiliki oleh kanon atau kitab iman yang lainnya, yaitu "perspicuity" (sifat Alkitab yang jelas dan menjelaskan diri sendiri) dan "holoscopicity" (sifat Alkitab yang utuh).

Kejelasan Alkitab

Sekalipun Alkitab bukan merupakan keseluruhan dari wahyu Allah, Alkitab merupakan penyataan diri Allah dalam bentuk yang tertulis, yang diselesaikan melalui karya inspirasi. Alkitab merupakan wahyu yang berisi kebenaran yang jelas (conspicuity) dan tajam (perspicuity). "Conspicuity" artinya wahyu yang sangat jelas, yang merupakan sebuah pernyataan yang didampingi oleh wahyu umum dalam ciptaan yang menyaksikan kuasa yang mulia, kemurahan yang absolut, serta ketuhanan Allah. "Perspicuity" berarti bahwa wahyu bertujuan untuk memberi manusia hikmat dan pengetahuan yang cukup tentang Allah untuk keselamatan. Dalam konteks "perspicuity" dari Alkitab, manusia berseru dalam ketaatan bahwa, "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." (Ulangan 29:29)

Berdasarkan keyakinan terhadap "perspicuity" Allah, kita percaya bahwa manusia yang tidak berpendidikan atau buta huruf sekalipun, akan dapat mengerti dengan baik wahyu Alkitab dan mendapatkan pengetahuan tentang Allah ke arah kebenaran dan keselamatan. Sebaliknya, orang yang berpendidikan baik, tidak akan menghabiskan pengetahuan tentang Allah dengan membaca Alkitab bagi dirinya sendiri. Bagi mereka yang merindukan Allah di dalam Roh, mereka akan menemukan kepuasan di dalam firman Allah dalam Alkitab, sehingga tidak ada kebutuhan untuk wahyu khusus di luar Alkitab.

"Perspicuity" Alkitab menggambarkan kesenangan Allah untuk mengundang anak-anak-Nya, agar dapat menerima pernyataan diri-Nya dalam Alkitab, sehingga mereka dapat menikmati keindahan yang tidak pernah berakhir dari kebenaran dan kuasa firman-Nya, dan menjadi puas di dalam Alkitab dan semua yang ada di dalamnya. Gagasan "perspicuity" ini disempurnakan dalam pengertian "holoscopicity" dari Alkitab, yang dijelaskan sebagai berikut:

Kesatuan Alkitab

Kata "holoscopicity" berasal dari pelajaran fisika, biologi, dan fotografi. Kata ini secara umum disebut dengan "holography". Kata ini mengacu pada kenyataan bahwa bagian-bagian tubuh mewakili seluruh tubuh. Seperti sebuah gambar holographic, bahkan bagian yang paling kecil sekalipun mengandung gambar secara keseluruhan, ketika observasi dipresentasikan. Hal ini juga berlaku dalam ilmu fisika, biologi, arkeologi, dan astronomi. Di mana seorang peneliti dapat mendapatkan pengetahuan biologi secara keseluruhan melalui mempelajari sel-sel, bahkan melalui satu gen di dalam sel; atau spesialis pohon dapat mengetahui kondisi pohon dengan mempelajari daunnya; seorang arkeologis dapat menarik kesimpulan tentang kehidupan manusia kuno dengan hanya memiliki satu buah gigi, sebatang tulang atau fosil; seorang astronomologis dapat memiliki pengetahuan tentang alam semesta dengan mengobservasi mikrosom di dalam hubungannya dengan makrosom, dan seterusnya. Bisa dikatakan bahwa "holoscpicity" merupakan salah satu asumsi dasar bagi semua peneliti ilmu pengetahuan.

Alkitab Adalah Firman Allah yang Jelas

Kita jelas percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah, bukan merupakan sebuah kumpulan dari kata-kata Allah. Dengan kata lain, seluruh pesan Alkitab dapat dilihat dari bagian-bagiannya, sebaliknya totalitas dari bagian-bagian tersebut adalah firman Allah. Dengan kerangka pengertian semacam ini, kita mengambil posisi sebagai berikut:

  1. Teks Alkitab Tidak Dapat Dimengerti di Luar Konteksnya
  2. Mengambil pesan Alkitab keluar dari konteks merupakan sebuah tindakan egois dari ketidakpercayaan, serta pemberontakan terhadap kebenaran. Konsekuensinya adalah penghancuran diri sendiri. Seseorang yang melakukan hal tersebut, secara langsung akan menemukan bahwa dia memiliki pola pikir yang kontradiktif tanpa penyelesaian. Jalannya buntu dan menjadi lebih sempit serta ke arah penghancuran diri sendiri. Ini merupakan peringatan yang jelas bagi para ekstremis dan bidat dalam kekristenan.

  3. Jaminan Pengetahuan yang Cukup akan Kebenaran
  4. Menjawab pertanyaan tentang sampai di mana luasnya pengetahuan seseorang tentang Alkitab, dan kebenaran alkitabiah akan menjamin keselamatannya? Kita harus menjawab pertanyaan ini dalam terang "holoscopicity" Alkitab. Pertanyaan tersebut pada dasarnya tidak mengarah pada hal yang sifatnya kuantitatif dari pengetahuan tentang kebenaran. Ketika kita mengetahui bahwa Alkitab adalah firman Allah, sehingga baik bagian yang paling kecil, bahkan satu kata dari Alkitab adalah firman Allah secara keseluruhan. Dengan kata lain, "holoscopicity" dari Alkitab meyakinkan bahwa kapanpun seseorang mendengarkan firman Allah, apabila Roh Kudus membuka hati dan pikirannya, dia dimampukan untuk percaya dan diselamatkan di dalam Kristus, menuju kehidupan yang kekal (Kisah Para Rasul 16:13-15). "Holoscopicity" Alkitab meyakinkan kita akan pengetahuan tentang kebenaran yang mengarah pada keselamatan, bahkan dengan menguraikan hanya satu kata dari Alkitab.

  5. Kerinduan Umat Allah dan Kepuasan Mereka
  6. "Holoscopicity" Alkitab meyakinkan bahwa sekali kita membaca, maka kita akan selalu merasa haus akan kebenaran. Alkitab menuntun kita untuk mencari kebenaran, untuk meninggalkan doktrin yang dangkal dan masuk ke dalam kesempurnaan (Ibrani 6:1). Ini adalah alasan mengapa ketika seseorang mulai membaca Alkitab, dia akan menemukan kesukaan dalam pembacaannya, dan didorong ke dalam usaha yang tidak pernah berakhir untuk mengejar dan mencari kehendak Allah, sampai akhirnya dia menjadi puas di dalam Kristus (Filipi 3:12).

  7. Keharusan Prinsip-Prinsip Hermeneutika
  8. Arus utama teologi ortodoks mengansumsikan bahwa prinsip dasar hermeunetika, diekspresikan dalam formula "Scriptura Scripturae intepres". Prinsip ini telah dimengerti secara luas dan diterapkan oleh orang-orang injili ketika mereka mengutip ayat Alkitab. Akan tetapi, apabila kita memahami makna dari "holoscopicity" Alkitab, maka prinsip "Scriptura Scripturae interpres" harus dimengerti dalam prinsip Alkitab menafsirkan dirinya sendiri. Di atas penekanan semacam itulah, kita dapat melihat koherensi dan saling keterkaitan dari setiap bagian Alkitab, dan melihat bagaimana semua bagian bertemu menjadi sebuah tema sentral. Berdasarkan asumsi kesatuan organik dari Alkitab yang semacam itulah, Allah telah memelihara kontinuitas, kesatuan, dan kelengkapan Alkitab. Kemudian kita memiliki keberanian untuk bersaksi tentang kesetiaan Allah yang pasti, dengan mengatakan, "biarlah yang memiliki firman-Ku mengatakannya dengan setia. Karena apa yang akan dilakukan jerami terhadap gandum?" kata Tuhan. (Yeremia 23:28)

  9. Wahyu yang Sempurna dan Keseluruhan Inspirasi Allah
  10. Seperti yang telah kita katakan, sekalipun Alkitab bukan merupakan wahyu Allah secara keseluruhan, akan tetapi itu merupakan pernyataan Allah yang lengkap, yang diberikan kepada kita melalui inspirasi. Ini merupakan pengakuan iman gereja bagi semua generasi, untuk menerima Alkitab sebagai sebuah kanon yang tertutup. Berdasarkan pengakuan semacam itulah, gereja menolak segala macam tulisan di luar Alkitab sebagai kanon, yang memiliki otoritas atau yang dapat digunakan sebagai fondasi bagi iman dan praktik Kristiani.

Menurut pendapat Agustinus, kita manyadari bahwa gereja memerlukan iluminasi untuk mengerti kebenaran Alkitab, sekalipun wahyu atau karya iluminasi serta inspirasi lainnya dapat dipertimbangkan, khususnya bagi pemupukan rohani pribadi dan instruksi di dalam gereja. Akan tetapi, mereka tidak pernah diberlakukan sebagai fondasi atau arah iman gereja. Konsep ini merupakan konsekuensi dari penekanan sifat yang lengkap dari "perspicuity" dan "holoscopicity" Alkitab. Alkitab sebagai kanon yang tertutup sangat jelas. Oleh karena itu, kita tidak memerlukan wahyu yang lainnya, baik itu personal maupun komunal, untuk melengkapi iman berdasarkan sifat "holographic" dari setiap bagiannya. Seseorang yang gagal untuk menghargai "holoscopicity" Alkitab, pasti mengalami kegagalan untuk membuka pintu bagi kebenaran dirinya sendiri.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, teologi dalam pendekatan Reformed menyatakan bahwa Alkitab merupakan wahyu khusus yang Allah berikan bagi gereja dalam bentuk inspirasi, di mana Allah menyatakan diri-Nya sendiri dan mengizinkan pernyataan diri-Nya direkam dalam bahasa manusia dalam bentuk tulisan. Alkitab merupakan wahyu khusus, firman Allah yang dikomunikasikan kepada kita dalam bahasa manusia, yang telah melewati proses kanonisasi, dan meliputi juga pemeliharaan melalui kesaksian internal dari Roh Kudus. Gereja menerima Alkitab sebagai kanon tertutup bagi semua gereja, di mana saja dan kapan saja. Alkitab juga merupakan satu bentuk wahyu Allah yang umum, yang merupakan hikmat yang terbaik dan literatur yang paling indah di seluruh dunia dan tidak ada duanya.

Di samping itu, konteks dari pengertian wahyu khusus dalam keselamatan adalah meneguhkan bahwa Alkitab merupakan anugerah Allah yang khusus. Alkitab merupakan buku yang kudus, yang Allah berikan bagi umat-Nya. Di bawah karya dari Roh Kudus dan dalam bentuk kesaksian internal, gereja dituntun untuk mengkonfirmasikan keontetikannya, serta menyatakan bahwa ia merupakan kanon yang tertutup, untuk dibaca dan dinikmati bagi anak-anak-Nya. Untuk itu Alkitab merupakan sesuatu yang bisa digunakan sebagai doktrin, teguran, koreksi, serta instruksi dalam kebenaran, bahwa umat Allah harus lengkap sepenuhnya bagi setiap pekerjaan baik (2 Timotius 3:16), ... untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci (Roma 15:4), ... sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di salam hatimu (2 Petrus 1:19). Untuk alasan semacam inilah, di bawah jaminan penuh dari "perspicuity" dan "holoscopicity" Alkitab, kita harus seperti orang Berea, menerima Firman dengan segenap kesiapan, serta mencari Kitab Suci setiap hari (Kisah Para Rasul 17:11).

Tulisan ini telah dimuat dalam Jurnal Teologi STULOS 2/1, STT Bandung, Mei 2003, Hal. 113-120