DAL-Referensi 05a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Doktrin Alkitab
Nama Pelajaran : Otoritas Alkitab
Kode Pelajaran : DAL - R05a

Referensi DAL - R05a diambil dari:

Judul Buku : PENGANTAR THEOLOGI SISTEMATIK: PROLEGOMENA DAN DOKTRIN WAHYU, ALKITAB, DAN ALLAH
Judul artikel : Atribut-atribut Alkitab
Penulis : Cornelius Van Til
Penerbit : Momentum: Surabaya, 2010
Halaman : 258 - 262


Keniscayaan

Yang pertama adalah atribut keniscayaan. Keniscayaan ini harus diperhatikan dari sudut pandang suatu pergumulan yang intens antara Allah dan Iblis atas jiwa manusia. Kita telah melihat bagaimana manusia berdosa, yang pada dasarnya membenci Allah, adalah sekutu Iblis, tidak peduli apa pun yang mungkin terlihat di permukaan sebagai buah dari anugerah yang tidak menyelamatkan. Ketika Allah memasukkan "prinsip khusus" [1] ke dalam dunia yang berdosa, Allah memasukkan prinsip khusus ke dalam wilayah musuh. Bukan berarti bahwa umat manusia merupakan hak milik Iblis. Hak milik atas manusia dan dunia ini ada di tangan Allah. Akan tetapi, Iblis telah mengambil dunia dan jiwa manusia yang telah terasing dari Allah. Maka Iblis dan antek-anteknya akan menghancurkan prinsip khusus ini kapan pun dan di mana pun ia muncul. Proses karya penebusan oleh Allah ini mencapai klimaksnya sejauh menyangkut Pribadi Kristus, ketika Iblis melawan-Nya dengan semua cara yang mungkin. Sudah pasti Iblis akan berupaya untuk mencegah prinsip khusus ini melaksanakan misinya bagi seluruh dunia. Jika suatu interpretasi yang otoritatif tidak diberikan kepada fakta-fakta yang menebus, jika penginterpretasian diserahkan kepada manusia, sudah pasti wahyu Allah yang redemtif tidak akan mampu mencapai seluruh bagian dunia dan mempertahankan dirinya sampai akhir zaman. Bahkan jika kita beranggapan bahwa kebanyakan orang yang menerima wahyu ini bersikap simpatik kepadanya karena mereka telah ditebus, pasti akan selalu ada orang lain yang akan menyimpangkan kebenaran. Selain itu, bahkan orang yang telah ditebuskan tidak mampu untuk mengetahui sepenuhnya dan tanpa kesalahan tentang makna karya Allah yang redemtif di dalam semua arti pentingnya yang luas. Maka gereja-gereja Protestan telah berkeyakinan bahwa inskripturasi isi wahyu khusus Allah adalah niscaya agar wahyu khusus ini (1) bisa bertahan melalui segala zaman, (2) bisa menjangkau semua umat manusia, (3) bisa ditawarkan kepada manusia secara objektif, dan (4) bisa memiliki kesaksian bagi kebenarannya di dalam dirinya sendiri [2].


Otoritas

Atribut kedua dari Alkitab yang dibicarakan para Reformator adalah otoritas yang dimilikinya. Otoritas ini tercakup dalam ide keniscayaan. Alkitab adalah niscaya karena suatu wahyu yang otoritatif adalah niscaya. Kita telah melihat bahwa orang berdosa dari dirinya sendiri tidak akan mengakui bahwa dia tidak normal dalam interpretasinya terhadap kehidupan. Maka dia juga menolak untuk mengakui bahwa Allah adalah yang Ultimat sedangkan dirinya tidak bisa menjadi apa pun selain sebagai titik awal yang langsung di dalam situasi pengetahuan. Orang berdosa ingin menjadi otonomis. Maka dia akan mencoba untuk menempatkan dirinya sebagai hakim atas hal yang tiba kepada dirinya sebagai wahyu. Jika wahyu Allah tiba kepada manusia dengan cara seperti ini, yaitu mengakui manusia berdosa berotonomi dan berkemampuan untuk menilai kebenaran wahyu berdasarkan dirinya sendiri, sudah pasti bahwa orang berdosa tidak akan pernah bisa terlepas dari posisinya yang berotonomi. Maka tidak akan ada seorang pun yang menentang wahyu itu. Allah sendiri dengan demikian akan terlihat mendukung manusia di dalam penipuan terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itulah kita melihat bahwa wahyu tiba kepada orang berdosa dengan klaim akan otoritas mutlak atas manusia. Wahyu ini menuntut manusia untuk menundukkan pikiran kepadanya di dalam ketaatan [3]. Demikianlah konsep keniscayaan dan otoritas saling meliputi. Tidak akan ada keniscayaan akan hal apa pun selain akan sebuah wahyu yang otoritatif, dan sebaliknya, ada suatu keniscayaan yang mutlak akan suatu wahyu yang otoritatif.


Kejelasan

Atribut ketiga dari Alkitab adalah kejelasan (perspicuity) [4]. Jika diperlukan campur tangan interpretor manusia antara Alkitab dan orang-orang yang menerima Alkitab itu, yaitu umat manusia secara umum, tetap akan ada kesempatan bagi Iblis untuk memasukkan interpretasinya yang salah. Dan juga dengan demikian, otoritas Alkitab tetap akan tumbang. Jika ada keniscayaan wahyu yang otoritatif, maka juga ada keniscayaan wahyu yang jelas, Kita harus melihat dengan tepat apa yang dimaksudkan dengan kejelasan Alkitab. Maksudnya adalah bahwa tidak perlu ada interpretor manusia di antara Alkitab dan orang-orang yang menerimanya. Keniscayaan ini menentang klerikalisme. Ini tidak berarti bahwa manusia yang menempatkan diri mereka bersama-sama kita di bawah Alkitab, dan yang ditahbiskan Allah untuk mengkhotbahkan Firman, tidak bisa melayani kita untuk memiliki pemahaman yang lebih baik akan Alkitab. Kejelasan Alkitab secara sempurna konsisten dengan ajaran Protestan tentang tugas pengkhotbah Firman, tetapi diarahkan untuk menentang ide Katolik Roma bahwa tidak ada umat awam Gereja yang boleh menginterpretasikan Alkitab bagi dirinya sendiri secara langsung. Doktrin ini dengan demikian harus dipertahankan secara pasti untuk menentang Romanisme.

Kejelasan tidak berarti bahwa setiap bagian dari Alkitab sama mudahnya untuk dipahami. Yang dimaksudkan adalah bahwa dengan kepintaran yang biasa saja, setiap orang, tanpa intervensi seorang hamba Tuhan, bisa mendapatkan poin utama dari hal-hal yang perlu dia ketahui.

"Fundamentalisme" juga kadang menyalahgunakan doktrin ini. Di bawah slogan kembali kepada Alkitab, aliran ini sering mengabaikan pemahaman yang lebih dalam atas Alkitab yang telah didapatkan Gereja pada generasi-generasi sebelumnya. Pemahaman ini telah tersimpan di dalam kredo-kredo gereja. Orang yang mengabaikan kredo-kredo dengan slogan kembali kepada Alkitab telah menghina Roh yang telah memimpin gereja ke dalam segala kebenaran [5].


Kecukupan

Atribut keempat dari Alkitab adalah kecukupan. Hal ini tercakup di dalam keniscayaan, otoritas, dan kejelasan Alkitab. Interpretasi manusia bukan rusak sebagian, melainkan seluruhnya. Jika ada satu bagian dari interpretasi manusia yang harus ditambahkan kepada intepretasi Allah untuk menjadikannya lengkap, maka tidak akan ada wahyu yang otoritatif. Maka kecukupan ini merupakan hal yang niscaya, sebagaimana kejelasan juga niscaya, agar tidak ada campuran interpretasi manusia yang perlu ditambahkan berkenaan dengan wahyu khusus dari Allah. Para Reformator berpegang pada atribut ini khususnya dalam menentang semua bentuk sekterianisme, sebagaimana mereka berpegang pada atribut kejelasan dalam menentang klerikalisme, dan sebagaimana mereka berpegang pada otoritas dalam menentang otonomi [9]. Semua atribut ini saling melingkupi dan meliputi dan adalah baik untuk melihat bahwa memang demikianlah halnya. Keempat atribut Alkitab sama-sama pentingnya, karena jika tidak memiliki semuanya, kita tidak akan memiliki satu pun. Semua persoalan ini berpusat pada suatu interpretasi yang benar secara mutlak yang tiba kepada dunia yang dipenuhi interpretasi yang salah.

Keterangan:

[1] Yang dimaksudkan dengan "prinsip khusus" adalah setiap hal yang telah Allah lakukan demi penebusan umat-Nya (1) secara objektif, melalui karya Kristus, dan (2) secara subjektif melalui penerapan karya Kristus ini oleh Roh Kudus.

[2] Meskipun ia tidak mengembangkan rubrik ini lebih lanjut, Van Til mempertentangkannya dengan beragam pandangan yang bertolak belakang dalam bagian berikutnya. Rubrik ini merupakan pernyataan yang tegas tentang keniscayaan Alkitab karena adanya kekuatan perseteruan dengan Allah.

[3] Lihat 2 Korintus 10:4-6. Van Til kembali menunjukkan keprihatinan apologetisnya: tanpa otoritas yang seharusnya, ketidakpercayaan tidak mungkin ditantang sampai ke akar-akarnya.

[4] Kata perspicuity berarti clarity (kejelasan) atau, tidak boleh dicampuradukkan dengan perspicaciousness, yang berarti lucidity (gamblang sehingga mudah dimengerti) atau discerment (pemahaman yang tajam).

[5] Dalam bagian ini Van Til merefleksikan posisi Protestan klasik tentang kejelasan Alkitab bersama kebutuhan akan para pengajar, yang bertolak belakang dengan posisi Katolik Roma tentang otoritas tradisi (magistrasi gereja) atas Alkitab. Van Til menegur kaum "fundamentalis" karena merendahkan kredo-kredo gereja, dan menegaskan pengertian yang tepat tentang tradisi. Kejelasan Alkitab tidak berarti bahwa setiap bagian sama jelasnya atau sama mudahnya untuk dimengerti, tetapi bahwa apa yang perlu kita ketahui benar-benar diberikan dengan jelas. Lihat 2 Petrus 3:16.

[6] Kita bisa mencatat bahwa dalam bidat ("sekterianisme"), wahyu-wahyu tambahan atau kitab-kitab baru sering diklaim sebagai tambahan yang niscaya bagi Alkitab yang "tidak memadai."

Taxonomy upgrade extras: