DAL-Referensi 06b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Doktrin Alkitab
Nama Pelajaran : Peranan dan Manfaat Alkitab Dalam Kehidupan
Kode Pelajaran : DAL - R06b

Referensi DAL - R06b diambil dari:

Halaman :
Judul Buku : ALKITAB: BUKU UNTUK MASA KINI
Judul artikel : Orang Kristen dan Alkitab [II]
Penulis : John R.W. Stott
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab: Jakarta, 1990
69 -- 77


Janji keselamatan

Sudah kita pelajari bahwa tujuan utama Allah memberikan Alkitab kepada kita ialah untuk menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (2 Tim. 3:15). Karena itu Alkitab mengisahkan tentang Yesus, menubuatkan tentang Dia dalam Perjanjian Lama, mengungkapkan riwayat pelayanan-Nya di dunia, dan membeberkan tentang kepenuhan pribadi dan karya-Nya dalam surat-surat kiriman. Lebih dari itu, Alkitab bukan saja menyatakan Yesus sebagai Juruselamat yang cukup untuk dipercayai, tetapi juga mendorong kita datang kepada-Nya dan menaruh iman di dalam Dia. Alkitab berjanji bahwa bila kita bertindak demikian, kita akan memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita dan karunia pembebasan dari Roh Kudus. Alkitab penuh janji-janji keselamatan. Ia menjanjikan pola hidup baru sebagai umat baru bagi mereka yang menyambut panggilan Yesus Kristus. Yesus memberikan janji semacam itu kepada Petrus dalam peristiwa pembasuhan kaki, ketika Dia berkata, "kamu sudah bersih" (Yoh. 13:10). Tentu Petrus mengingat terus dan percaya akan janji tersebut. Bahkan kelak sesudah Dia menyangkal Tuhan, Petrus tak dibuang. Tentu dia harus bertobat, diampuni dan diutus ulang. Tetapi dia tidak perlu mandi ulang, sebab dia sudah bersih. Kata-kata Yesus pasti meyakinkan hatinya dan menenangkan nuraninya yang mempersalahkan.

Ingatkah Anda kisah "Perjalanan seorang musafir" karangan John Bunyan. Si Kristen dan si Penuh Harap sesudah tersesat karena mengikuti jalan setapak padang, mereka dijebloskan ke dalam tahanan bawah tanah dari Istana Bimbang. Pemiliknya, Raksasa Putus Asa mendapatkan mereka tertidur pulas, padahal seharusnya mereka berdoa. Tahanan tersebut gelap, kotor dan berbau busuk. Di sana mereka terbaring sejak Rabu pagi sampai Sabtu malam, tanpa sekeping roti, setetes air, secercah sinar atau apa pun lainnya. Esoknya raksasa membawa pentungan kayu, mencaci maki keduanya, lalu mementungi keduanya. Hari berikutnya, istrinya menyuruh suaminya untuk menasihati mereka agar bertindak sendiri membunuh diri, entah dengan pisau, tali atau racun. Raksasa Putus Asa selalu membisikkan korban-korbannya untuk membunuh diri. Pada hari ketiga dia membawa mereka ke kebun istananya dan menunjukkan "tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak" para pendahulu mereka. "Semua ini", ujar raksasa menyeringai, "adalah para musafir seperti kalian. Mereka memasuki kebunku; ketika saatnya tiba, kucabik-cabik mereka. Dalam sepuluh hari hal yang sama akan kubuat kepadamu. Masuk ke guamu kembali..."

Selama hari-hari itu, si Kristen dan si Penuh Harap, kisah Bunyan, "ada dalam keadaan pedih seperti biasanya." Tampaknya tak mungkin melarikan diri. Lalu pada kira-kira tengah malam, mereka berdoa dan terus berdoa sampai fajar menyingsing." Sesaat kemudian, si Kristen segera berbicara, "betapa tololnya saya! Terkapar dalam kurungan busuk ini, padahal dapat bergerak bebas. Dalam kantong saya ada kunci bernama "Janji Ilahi" yang dapat membuka semua pintu Istana Bimbang ini," "Luar biasa", seru si Penuh Harap, "Ini baru kabar baik, saudaraku, keluarkan dan gunakan segera!" si Kristen setengah berlari ke pintu kurungan bawah tanah itu. "Dengan mudah pintu itu dibukanya", lalu pintu luar, kemudian pintu gerbang besi dan bergegas mereka melarikan diri. Terbangun oleh derit pintu gerbang besi, Raksasa bangkit mengejar mereka, tetapi "kakinya kejang, ia terjerembab, mengerang."

Di dada Anda pun terdapat kunci bernama Janji, karena Allah sudah memberikannya kepada Anda dalam Alkitab. Pernahkah Anda menggunakannya untuk melarikan diri dari Istana Bimbang? Ketika Iblis mengusik nurani kita dan berusaha meyakinkan bahwa orang berdosa seperti kita tak mungkin lagi diampuni, hanya ketergantungan penuh iman pada janji janji Allah yang diberikan-Nya kepada mereka yang bertobat, dapat membebaskan kita dari tuduhannya. Ketika bimbang, kita harus belajar bertumpu pada janji pimpinan-Nya; ketika takut, pada janji perlindungan-Nya; ketika sendiri, pada janji penyertaan-Nya. Janji-janji Allah dapat membentengi hati dan pikiran kita. Itulah janji-janji keselamatan-Nya.

Dalam kaitan ini saya perlu menghubungkan pembahasan ini dengan dua Sakramen Injil, yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Walaupun gereja-gereja Protestan memiliki pandangan berbeda-beda, namun Sakramen adalah tanda terhadap janji-janji Allah. Keduanya adalah tanda kasih karunia Allah, tanda yang secara tampak menjanjikan penyucian, pengampunan dan kehidupan baru bagi mereka yang bertobat dan beriman kepada Yesus. Keduanya mendatangkan dan menguatkan iman kita.


Perintah untuk ditaati

Dalam memanggil keluar suatu umat bagi diri-Nya sendiri, Allah memberitahu mereka tentang ciri umat yang dikehendaki-Nya dari mereka. Mereka adalah umat-Nya yang khusus; Dia mengharapkan terjadinya kelakuan khusus pula dari mereka. Karena itu Dia memberikan Sepuluh Titah sebagai intisari kehendak-Nya yang kemudian digarisbesarkan oleh Yesus dalam Khotbah-Nya di Bukit yang menyingkapkan implikasi-implikasinya kepada kita. Kebenaran murid-murid-Nya harus melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mat. 5:20). Yang dimaksudkan-Nya ialah suatu kebenaran yang lebih dalam, dari dasar hati, suatu ketaatan sukarela dan radikal.

Khususnya zaman ini penting sekali menekankan panggilan Allah agar kita menaati hukum-hukum moral-Nya, karena sedikitnya ada dua kelompok yang menolak hal ini. Pertama, mereka yang menganjurkan "Moralitas Baru" atau "Etika Situasi" yang mulai dikembangkan di tahun 1960. Menurut mereka, satu-satunya hukum mutlak Allah ialah kasih, dan semua hukum lainnya telah dihapuskan dan kasih sendiri cukup untuk dijadikan patokan bagi kelakuan Kristen. Apa pun yang merupakan ungkapan kasih, baik adanya; apa pun yang tidak berkesesuaian dengan kasih, jahat, adanya. Tentu saja kasih sejati (pengorbanan diri demi melayani sesama) adalah kebajikan Kristen yang terutama dan untuk dapat menjalankannya dituntut dari kita banyak hal. Namun demikian, kasih membutuhkan garis pedoman, dan pedoman inilah yang disediakan Allah dalam perintah-perintah-Nya. Kasih tidak meniadakan hukum tetapi menggenapinya (Rm. 13:8-10).

Kedua, golongan Injili yang menafsirkan penegasan Paulus bahwa "Kristus adalah kegenapan Taurat" (Rm. 10:4) dan bahwa "kamu tidak berada di bawah hukum Taurat" berarti orang Kristen tidak wajib lagi menaati hukum-hukum moral Allah. Melakukan itu, menurut mereka adalah suatu "legalisme" yang bertentangan dengan kemerdekaan yang telah Kristus berikan untuk kita. Tetapi mereka menyalahartikan Paulus. Legalisme yang Paulus tolak bukan ketaatan pada hukum moral Allah itu sendiri, tetapi usaha mendapatkan kebaikan dan pengampunan dari Allah dengan ketaatan demikian. Ini mustahil, tulisnya, sebab "tidak seorang pun dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat" (Rm. 3:20).

Sekali kita dibenarkan hanya oleh kasih karunia Allah semata, kita dinyatakan benar di hadapan-Nya oleh kasih karunia-Nya yang cuma-cuma melalui Kristus, segera pula kita dimasukkan ke bawah kewajiban menjalankan hukum-Nya yang memang ingin kita taati. Sesungguhnya Kristus mati bagi kita "supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita" (Rm. 8:3-4). Allah menempatkan Roh-Nya di dalam hati-hati kita untuk menuliskan hukum-Nya di sana (Yer. 31:33; Yeh. 36:27; Gal. 5:22-23). Kebebasan Kristen kita adalah kebebasan untuk taat, bukan kebebasan untuk tidak taat. Sebagaimana yang diutarakan Yesus berulang kali, jika kita mengasihi Dia kita akan memelihara perintah-perintah-Nya (Yoh. 14:15,21-24; 15:14). Dan di dalam Alkitablah perintah-perintah-Nya itu dapat ditemukan.

Jadi, di dalam Alkitab Allah memberikan kepada kita penyataan diri-Nya yang mendorong kita untuk menyembah Dia; janji-janji keselamatan yang membangkitkan iman kita; dan perintah-perintah yang mengungkapkan kehendak-Nya dan menuntut ketaatan kita. Inilah makna kemuridan Kristen. Tiga unsur hakikinya ialah ibadah, iman dan ketaatan. Dan ketiganya dibangkitkan oleh firman Allah. Penyembahan adalah tanggapan terhadap penyataan diri Allah, suatu keterlibatan diri dalam pemujaan kepada Allah yang akan melumpuhkan egoisme kita. Iman adalah penumpuan keyakinan kepada janji-janji Allah. Iman membebaskan kita dari gelombang kehidupan Kristen, jatuh-bangun jatuh-bangun, Senin-Kamis. Tak ada yang dapat membebaskan Anda dari pasang-surut sedemikian kecuali janji-janji Allah. Perasaan kita seperti gelombang, sedangkan janji-janji Allah kekal teguh. Ketaatan adalah penyerahan diri penuh karena kasih kepada kehendak Allah. Anda dibebaskannya dari rawa ketidakpastian moral dan mendirikan kaki-kaki Anda di atas batu karang perintah-perintah Allah yang bersifat mutlak.

Tambahan pula, penyembahan, iman dan ketaatan, ketiga unsur pokok kemuridan ini membuat kita menengok ke luar dari diri kita. Dalam penyembahan kita terlibat dalam kemuliaan Allah, dalam iman dengan janji-janji-Nya, dalam ketaatan dengan perintah-perintah-Nya. Kemuridan Kristen yang sejati tidak pernah bersikap melihat ke dalam diri. Alkitab adalah buku yang membebaskan secara menakjubkan. Ia menarik kita keluar dari diri kita sendiri, dan sebagai gantinya membuat kita obsesi akan Allah, akan kemuliaan, janji dan kehendak-Nya. Mengasihi Allah (dan sesama demi Dia) memerdekakan kita dari perbudakan, sifat mementingkan diri sendiri. Orang Kristen yang tenggelam dalam dirinya sendiri mengalami kelumpuhan. Hanya terang firman Allah yang membuat kita menatap kepada-Nya, dapat membebaskan kita dari kelumpuhan karena pementingan diri tadi.

Kesimpulan

Pentingnya Alkitab dalam kehidupan Kristen menelanjangi dampak buruk yang ditimbulkan oleh teologia liberal. Dengan mengurangi keyakinan orang banyak terhadap keandalan Alkitab, teologia liberal menutup kemungkinan bagi kemuridan Kristen. Izinkan saya menjelaskan hal ini. Semua orang Kristen setuju bahwa di dalam kemuridan termasuk unsur penyembahan, iman dan ketaatan. Penyembahan, iman dan ketaatan merupakan unsur-unsur hakiki kehidupan Kristen kita. Kita tidak dapat hidup sebagai orang Kristen tanpa adanya unsur-unsur tadi. Namun tak satu pun mungkin dijalankan tanpa adanya suatu Alkitab yang dapat dipercaya.

Bagaimana mungkin kita menyembah Allah jika kita tidak tahu siapa Dia, bagaimana keadaan diri-Nya atau bentuk ibadah macam apakah yang menyukakan hati-Nya? Orang Kristen tidak seperti orang-orang di Athena yang menyembah kepada allah yang tak dikenal. Kita harus lebih dahulu tahu siapa Allah, sebelum kita dapat menyembah Dia. Dan Alkitablah yang memberitahukan kepada kita siapa dan bagaimana Dia.

Juga, bagaimana mungkin kita percaya atau beriman kepada Allah jika kita tidak mengetahui janji-janji-Nya? Iman bukan kata lain untuk takhayul atau untuk percaya membabi buta. Iman adalah kepercayaan yang beralasan. Iman bertumpu pada janji-janji Allah dan pada sifat Allah yang memberikan janji tersebut. Tanpa janji-janji Allah, iman kita akan melayu dan mati. Janji-janji Allah tersebut ditemukan di dalam Alkitab.

Juga, bagaimana dapat kita menaati Allah, jika kita tidak mengetahui kehendak dan perintah-perintah-Nya? Ketaatan Kristen bukan ketaatan buta, tetapi ketaatan penuh kesadaran dan kasih. Allah telah menyatakan perintah-perintah-Nya kepada kita di dalam Alkitab dan menunjukkan bahwa perintah-perintah-Nya itu tidak memberatkan.

Jadi, tanpa penyataan Allah tidak mungkin terjadi penyembahan; tanpa janji Allah tidak mungkin tumbuh iman; tanpa perintah Allah tidak mungkin keluar ketaatan. Karena itu tanpa Alkitab, kemuridan adalah mustahil.

Sadarkah kita betapa besar berkat yang kita terima dengan memiliki Alkitab di tangan kita? Allah telah menyediakan apa yang kita perlukan dalam kemuridan kita. Dia telah menyatakan diri-Nya kepada kita, keselamatan dan kehendak-Nya. Dia telah membuka kemungkinan agar kita dapat menyembah, mempercayai dan menaati Dia. Dengan kata lain, Alkitab memungkinkan kita hidup sebagai anak-anak-Nya yang kekasih dalam dunia ini.

Karena itu tiap hari kita harus datang kepada Alkitab dengan hati penuh harap. Pengalaman bosan yang kita rasakan ketika membaca Alkitab disebabkan oleh kebiasaan membaca sekadar rutin, tanpa sikap berharap-harap. Kita tidak melakukannya dengan keyakinan bahwa Allah ingin, mampu dan rindu berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Kita harus datang kepada Alkitab tiap hari dengan permohonan seperti yang diucapkan Samuel: "Berbicaralah Tuhan, sebab hambamu ini mendengar. Pasti Dia akan berbicara! Kadang-kadang melalui firman-Nya Dia akan memberikan penyataan tentang diri-Nya; kita akan menyelami sebagian dari kemuliaan-Nya; hati kita akan tersentuh dalam; dan kita akan tersungkur menyembah Dia. Kadang-kadang melalui firman-Nya Dia memberikan kita janji-Nya; kita memegang dan menyimpannya dan berkata. "Tuhan, semua ini tak akan kulepaskan, sampai ia menjadi milikku dan sampai ia digenapi." Kadang-kadang melalui Alkitab Dia memberikan perintah-Nya; kita perlu bertobat dari ketidaktaatan kita; dan dengan bantuan anugerah-Nya kita perlu berdoa memperbesar tekad kita menaati Dia di waktu-waktu mendatang.

Penyataan, janji dan perintah ini harus kita pelihara dalam akal budi dan ingatan kita sampai ia bertumbuh menjadi perbendaharaan kebenaran dalam kehidupan kita. Dari perbendaharaan tersebut kelak, ketika dibutuhkan, kita dapat mengambil keluar kebenaran-kebenaran atau janji-janji atau perintah-perintah yang sesuai dengan situasi yang sedang kita hadapi. Tanpa ini, kita menyebabkan diri kita berputar-putar dalam ketidakdewasaan. Hanya jika kita merenungkan firman Allah, mendengarkan sabda-Nya, mendengarkan suara-Nya dan memberikan respons kepada-Nya dalam bentuk penyembahan, iman dan ketaatan, kita akan bertumbuh menuju kedewasaan dalam Kristus.

Taxonomy upgrade extras: