KELAHIRAN YESUS YANG AJAIB

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Ketika Tuhan Yesus menjelma menjadi manusia, kehidupan-Nya ditandai dengan banyak keajaiban. Salah satu keajaiban dari kehidupan Yesus yang akan dipelajari melalui tulisan ini adalah kelahiran-Nya. Dalam Matius 1:18-25, tercatat tiga keajaiban yang dapat kita pelajari tentang kelahiran Tuhan Yesus.

PERTAMA, bayi Yesus yang berada dalam kandungan Maria bukan merupakan hasil dari hubungan seorang laki-laki dan perempuan, melainkan berasal dari Roh Kudus (Matius 1:20). Karena berasal dari Roh Kudus, berarti kandungan Maria adalah kandungan yang bersifat kudus dan supernatural. Karena sifat kandungan yang demikian, banyak ahli teologi sulit menerimanya dan menganggapnya sebagai cerita dongeng.

Gambar: Quote Lukas 2

Akan tetapi, kalau kita mempelajari karya Roh Kudus dalam Alkitab, kandungan Maria yang berasal dari Roh Kudus bukanlah suatu hal yang tidak masuk akal. Kejadian 1:1-2 menggambarkan kondisi awal bumi. Dikatakan bahwa bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudra raya. Dengan deskripsi seperti demikian, jelaslah bahwa pada mulanya bumi tidak ada kehidupan. Kemudian, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Dalam bahasa aslinya, “melayang-layang” digambarkan seperti induk ayam yang mengerami telurnya, yang setelah melewati suatu jangka waktu, dari dalam telur itu keluarlah anak ayam. Inilah kehidupan yang baru. Selain itu, dalam ayat 1 dikatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kata “menciptakan” di sini dalam bahasa aslinya mengandung pengertian bahwa sebelum langit dan bumi diciptakan tidak ada kehidupan, tetapi dengan perkataan Allah yang berkuasa, bumi yang sebelumnya tidak mempunyai kehidupan, kemudian menjadi memiliki kehidupan. Semua ini bisa terjadi karena Allah itu berkuasa, dan Roh Kudus adalah pemberi hidup.

Jika kita dapat menerima uraian di atas, kita dapat pula menerima bayi Yesus yang ada dalam kandungan Maria. Bukanlah hal yang sulit bila Roh Kudus dengan kuasa-Nya menjadikan bayi Yesus hidup dalam kandungan Maria. Malaikat Tuhan berkata kepada Maria, “Roh Kudus akan datang atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungimu. Itulah sebabnya, Anak yang akan lahir itu adalah kudus dan akan disebut Anak Allah.” (Lukas 1:35). Kita sendiri tidak tahu bagaimana pekerjaan Roh Kudus sehingga bayi Yesus ada. Ini adalah suatu misteri. Yang jelas, Allah hanya meminjam kandungan Maria untuk melahirkan bayi Yesus. Kemudian, kita dapat pula membaca di dalam Kitab Suci bagaimana Allah menciptakan Adam tanpa melalui laki-laki dan perempuan. Hawa diciptakan melalui laki-laki tanpa perempuan, sedangkan Tuhan Yesus lahir melalui perempuan tanpa laki-laki. Semua peristiwa ini sekali lagi membuktikan bahwa bagi Allah tidak ada yang sulit. With God, all things are possible.

Hal yang paling mendasar adalah ketika Natal tidak dijadikan sebagai peristiwa bagi hati untuk senantiasa membuka diri kepada Yesus. Inilah yang menjadi koreksi bagi kita, yaitu Natal menjadi suatu hal yang penting.

Akan tetapi, pertanyaannya adalah: mengapa bayi Yesus harus lahir tidak boleh melalui hubungan laki-laki dan perempuan? Ini disebabkan bayi Yesus harus bebas dari segala dosa dan cela, dengan demikian Dia baru bisa memenuhi kriteria untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Ketika Allah memberikan Kristus kepada manusia, Dia memberikan yang terbaik. Bagaimana dengan kita?

KEDUA, bayi itu harus diberi nama Yesus karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21). Bayi Yesus yang akan lahir melalui kandungan Maria mempunyai satu misi, yakni menyelamatkan umat manusia dari dosa. Ada satu pertanyaan yang terus saya gumulkan selama ini. Sebelum kedatangan Kristus ke dalam dunia, di dunia ini telah ada banyak agama. Semua agama ini mengajarkan manusia berbuat baik dan bagaimana masuk surga. Bila demikian, mengapa Kristus masih harus datang? Kristus datang karena Dia ingin mengerjakan apa yang tidak dapat dikerjakan oleh agama, yakni menyelamatkan umat manusia dari dosa. Di sinilah, kita mulai mengerti Kristus harus lahir tanpa dosa. Sebelum kelahiran Tuhan Yesus, kondisi seluruh manusia berada dalam keadaan yang amat suram karena dosa. Dalam Roma 3:23 dikatakan, “Sebab semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Akibat dosa, datanglah maut (Roma 6:23).

Gambar: Quote William Barclay

Banyak orang tidak menyadari kondisi ini, dan senantiasa menggambarkan dosa sebagai suatu tindakan yang melawan hukum: mencuri, berbohong, membunuh, dan sebagainya. Karena itu, mereka berpendapat jika mereka tidak melakukan hal-hal ini, mereka bukan orang jahat dan tidak membutuhkan Tuhan. Sebaliknya, Rasul Paulus tidak sekadar menggambarkan dosa sebagai suatu perbuatan yang melanggar perbuatan hukum, tetapi dosa sebagai suatu keberadaan, suatu kekuatan yang bercokol dalam hati manusia. Dan, dosa ini mengendalikan manusia sehingga manusia menjadi tidak berdaya. Paulus berkata dalam Roma 7:15-18, “Sebab, aku tidak mengerti apa yang kulakukan karena aku tidak melakukan hal yang kuinginkan, melainkan aku melakukan hal yang kubenci. ... Jadi sekarang, bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang hidup di dalamku.”

Kita bersyukur, dengan kelahiran bayi Yesus, yang kemudian hari akan mati di atas kayu salib, kuasa atau kekuatan dosa yang membelenggu manusia telah dipatahkan. Hal ini seperti yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 15:54-57, “Kematian sudah ditelan dalam kemenangan. Hai kematian, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut adalah dosa, dan kuasa dosa adalah Hukum Taurat. Namun, kita bersyukur kepada Allah yang memberikan kita kemenangan melalui Tuhan kita, Yesus Kristus.”

KETIGA, Anak itu akan dinamakan Imanuel yang berarti Allah menyertai kita (Matius 1:23). Banyak ahli teologi berpendapat bahwa ayat ini merupakan penggenapan nubuat Yesaya 7:14, “Karena itu, Tuhan sendiri akan memberimu satu tanda ini: Seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, nama-Nya akan disebut: Imanuel.”

Gambar: Quote Jan Hus

Ayat ini merupakan suatu nubuat yang diucapkan oleh Nabi Yesaya 700 tahun sebelum kelahiran bayi Yesus. Pada waktu itu, takhta Raja Ahaz (ayah Hizkia) sedang terancam oleh suatu koalisi antara raja Israel (Pekah) dan raja Syria (Rezin). Konspirasi kedua raja bertujuan untuk meruntuhkan dinasti Daud dan menggantikannya dengan sebuah kerajaan yang sesuai dengan pilihan mereka. Dalam situasi yang gawat ini, Tuhan mengutus Nabi Yesaya untuk meyakinkan Raja Ahaz supaya dia tetap percaya bahwa Tuhan akan menolongnya. Untuk meyakinkan Raja Ahaz, dia boleh meminta suatu tanda dari Tuhan. Namun, Raja Ahaz tidak mau, bahkan lari minta pertolongan kepada Raja Asyur.

Tuhan amat sedih dengan perbuatan Raja Ahaz, tetapi Dia tetap memberikan suatu tanda kepada Raja Ahaz, yakni seorang perempuan akan melahirkan seorang anak, dan Dia akan dinamakan Imanuel. Dengan kelahiran anak itu, Tuhan menyatakan bahwa walau Raja Ahaz telah meninggalkan Tuhan, tetapi Tuhan tetap akan menyertai Ahaz dan menyelamatkannya dari tangan koalisi raja Israel dan Syria. Di kemudian hari, kelahiran Tuhan Yesus yang disebut sebagai Imanuel, akan menjalankan fungsinya, yakni menyertai segenap umat manusia.

Acap kali hidup kita dipenuhi oleh berbagai permasalahan sehingga ada yang bertanya, “Bila dikatakan bahwa Tuhan menyertai saya, mengapa hidup saya memiliki begitu banyak masalah? Satu masalah belum selesai, yang lain datang lagi.” Syukur, ada seorang pengarang Kristen yang mencoba menjawab semua pertanyaan ini dengan menulis demikian:

Anak-Ku tersayang,

Manusia sangat bingung dengan cara-Ku bekerja. Mereka pikir pekerjaan-Ku adalah melepaskan segala kesulitan mereka. Aku harus memperbaiki setiap kondisi buruk dan membuat setiap keadaan menjadi sempurna.

Maaf, itu bukan tugas-Ku. Aku akan memperbaiki beberapa dari keadaanmu, tetapi kamu tetap akan mendapat sejumlah persoalan. Kabar gembiranya adalah bahwa jika kamu mengenal Aku, kamu akan mengetahui bahwa Aku selalu bersamamu. Aku akan membimbingmu melewati kesukaran-kesukaranmu dan keluar dari sisi yang lain.

Anggaplah kehidupanmu sebagai sebuah hutan belukar, dan Aku adalah pembimbingmu. Aku tidak akan mengubah hutan belukar itu menjadi Disneyland. Namun, Aku akan membimbingmu melewati hutan belukar itu. Manakala hidupmu menjadi liar, janganlah takut. Melekat erat-erat sajalah. Aku akan membantumu melewatinya.

Pembimbingmu,

Tuhan

Audio Kelahiran Kristus yang Ajaib

Diambil dari:
Judul buku : Buletin Gereja Kristen Abdiel (GKA) GLORIA Surabaya, edisi 3/Desember 2004
Judul artikel : Kelahiran Kristus yang Ajaib
Penulis artikel : Pdt. William Liem
Halaman : 4 -- 5
Kategori: 

Komentar