Dikalangan orang-orang Kristiani khotbah di bukit merupakan ajaran Yesus yang kontroversial. Orang tidak menyangkal keluhuran isinya, namun mempertanyakan penerapan praktisnya. Mengasihi musuh, mengampuni orang yang sedang menyakiti, alangkah bagusnya dan mulianya, kalau bisa dilakukan.
Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga (Mat. 5:3). Ini merupakan salah satu diantara khotbah Yesus di bukit. Kalimat ini merupakan sebuah kata-kata penghiburan dan pengharapan bagi mereka saat dalam kekurangan yang tingkat perekonomian yang minim atau biasa di sebut dengan perekonomian pas-pas'an (orang yang tidak mampu secara finansial). Tapi tidaklah mudah untuk berbahagia dan bersukacita bagi mereka yang tidak mampu dan miskin apalagi sedang diperhadapkan pada kebutuhan yang mendesak dan mendadak dalam hidupnya. Orang yang mengalami hal ini mungkin bisa dikatakan orang yang kurang beruntung karena hidupnya penuh pergumulan setiap harinya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya setiap hari. Bisa dibayangkan bagaimana mengatasi hal demikian ini mengingat tidak adanya satu pengharapan dan tempat untuk mengadu untuk keadaan yang sedang dialaminya. Lebih mudah orang yang kaya bersukacita dengan keberadaan hidup yang terjamin dan dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan hatinya.
Banyak orang tidak memahami khotbah di bukit ini, bukan memahami kata-katanya yang lugas dan mudah dimengerti tapi memahami kata-kata yang sedehana itu untuk dapat diaplikasikan dan dilakukan. Sepertinya prinsip ini tidak begitu relevan untuk orang yang dirundung kemiskinan, beban hidup bahkan sakit penyakit yang membuatnya untuk bergumul dengan penyakitnya setiap hari. karena mustahil sekali untuk dapat berbahagia dan mengucap syukur ketika mengalami pergumulan hidup yang menyakitkan ini. Pelajaran yang sangat sulit diterima oleh akal dan nalar kita. Bagaimana mungkin orang yang mengalami hal yang tidak menyenangkan dan mungkin dapat dikatakan duri dalam daging dapat berbahagia? Apa yang membuat dapat berbahagia? Apa yang sebenarnya Yesus mau sampaikan dalam khotbah di bukit ini?
Dari kalimat khotbah di bukit Yesus ingin mengatakan:
Yang disebut berbahagia oleh Yesus adalah orang-orang yang secara harafiah serta kasat mata adalah orang-orang yang kekurangan dan dan tidak mampu. Bukankah orang-orang yang seperti ini dapat dikatakan "orang-orang yang menderita" lebih pas. Ternyata orang-orang yang seperti ini Yesus mengatakan bahwa ia yang empunya Kerajaan Sorga. Luar biasa pengharapan yang Tuhan berikan kepada mereka yang lemah dan tidak berdaya, Ia mengasihi dan memperhatikan orang-orang lemah dan tidak berpengharapan. Puji Tuhan kita mempunyai Allah yang tidak pernah meninggalkan kita dan selalu memberi pertolongan disaat kita terjepit dan tidak mampu melakukan satu apapun untuk keluar dari pergumulan hidup yang mencekam dan menghantui hidup kita setiap saat. Mungkin saat ini kita tidak merasakan hidup yang berlimpah, memiliki property yang menunjang hidup dihari tua kita, deposito di bank dsb.. Tapi satu hal yang perlu kita ingat, kita masih punya Tuhan Yesus yang selalu siap menolong kita tanpa batas waktu, Ia selalu siap 24 jam menanti setiap pergumulan kita. Kenyamanan hidup mungkin tidak membuat kita untuk berharap dan bergantung kepada-Nya sepenuhnya, Tapi terkadang Tuhan membuat tangan kita kosong supaya hati kita menjadi penuh, membuat kita kehilangan agar kita bisa mendapatkan-Nya, mengijinkan kita menangis agar kita lebih jernih melihat-Nya, Amin.