"Supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu"
(Yoh 15:12-17: Kis 15:19-20)
"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh 15:12-17)
· Perintah hidup saling mengasihi kiranya diajarkan oleh semua agama, namun mengapa sering terjadi tawuran, permusuhan dan pembunuhan, saling membenci dst.., meskipun mereka mengakui diri sebagai umat beragama. Mengapa suami-isteri telah sekian tahuh menikah serta dianugerahui anak-anak kemudian bercerai? Hemat saya hal itu disebabkan oleh kesalahfahaman atau keterbatasan pengertian perihal cintakasih. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi sebagaimana Tuhan telah mengasihi kita. Pedoman atau barometer cintakasih atau cintakasih Tuhan kepada kita, manusia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita diajak dan dipanggil untuk hidup dan bertindak saling mengasihi dengan meneladan cintakasihNya kepada kita semua. Yesus telah menyerahkan atau mempersembahkan Diri seutuhnya sehingga menderita, wafat di kayu salib demi keselamatan dan kebahagiaan kita. CintakasihNya kepada kita sungguh total tanpa syarat. Marilah kita wujudkan saling mengasihi dengan saling memberikan diri satu sama lain tanpa syarat, dan tentu saja kami berharap pertama-tama dan terutama hal ini dihayati oleh para suami-isteri yang telah saling berjanji baik dalam untung dan malang, sehat maupun sakit, sampai mati. Keteladanan anda sebagai suami-isteri dalam saling mengasihi bagi anak-anak anda sungguh dibutuhkan, sehingga anak-anak kelak kemudian ketika menjadi dewasa akan hidup dan bertindak saling mengasihi. Kepada kita semua, segenap umat beriman, kami ajak untuk menghayati diri sebagai yang dikasihi oleh Tuhan secara melimpah ruah dan kemudian meneruskan atau menyalurkannya bagi sesamanya dimana pun dan kapan pun.
"Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah." (Kis 15:19-20)
· Demikian usul atau pendapat Paulus dan Barnabas dalam menanggapi perkembangan jumlah umat yang menimbulkan pertanyaan atau masalah. "Kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah", inilah yang hendaknya kita tanggapi dan laksanakan. Jangan mengahalang-halangi atau mempersulit orang untuk berbuat baik, itulah yang harus kita hayati. Saya sungguh merasa prihatin bahwa izin untuk mendirikan rumah ibadat (kapel, gereja) lebih sulit daripada izin membangun losmen/tempat penginapan, hotel, dst…, padahal rumah ibadat merupakan sarana untuk membantu orang semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, sementara itu telah menjadi rahasia umum bahwa tempat-tempat penginapan saat ini sering disalahgunakan untuk perbuatan maksiat atau pelacuran. Maka dengan ini kami berharap kepada para pejabat atau kepala daerah untuk tidak mempersulit izin pendirian atau pembangunan rumah ibadat. Demikian juga hendaknya tidak dilarang penggunaan rumah atau tempat tinggal untuk kegiatan ibadat atau doa bersama. Hidup beragama merupakan hak asasi manusia, maka para pejabat pemerintah tidak mungkin mempersulit kehidupan umat beragama, dan jika mempersulit berarti mereka tidak beriman. Dan tentu saja tidak hanya para pejabat, melainkan kita semua demikian juga, yaitu jika mempersulit penghayatan hidup beragama orang lain berarti tidak beriman atau tidak ber-Tuhan. Marilah kita bangun, kembangkan dan perdalam kehidupan bersama antar umat beragama, dan hendaknya jangan mudah tergoda oleh jabatan atau uang untuk mengacau kehidupan umat beragama. (Ign Sumarya SJ)
"Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap;
aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.
Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi,
aku mau membangunkan fajar!
Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa,
ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;
sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit,
dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.
Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah!
Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!" (Mzm 97:8-12)
oktav,
"Ad Maiorem Dei Gloriam"