Keselamatan

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Jika berbicara mengenai keselamatan ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dan pikirkan sehingga kita mengerti bagaimana keselamatan itu terjadi.

Keselamatan dalam Beberapa Pandangan

Keselamatan dalam pandangan kekristenan terbagi menjadi 4 pandangan. Pandangan ini mungkin akan membuat kita bingung yang mana pandangan yang benar. Jika kita tidak belajar benar-benar tentang kebenaran maka kita pasti akan salah memahami. Ada 4 pandangan tentang keselamatan yaitu:

1. Agustinianism. Pandangan ini mengatakan bahwa keselamatan itu diberikan secara total kepada manusia karena manusia sudah mati di dalam dosa sehingga tidak mampu berbuat apa yang berkenan pada Allah. Tetapi, keselamatan itu diberikan hanya kepada orang-orang pilihan. Jadi, tidak ada tindakan manusia untuk bisa diselamatkan Allah. itu semata-mata anugerah Allah kepada orang-orang pilihan-Nya. Tetapi ketika diselamatkan, manusia diberi kemampuan untuk bisa menaati Allah karena sudah tidak mati dalam dosa lagi.

2. Pelagianism. Pandangan ini menyatakan bahwa ketika manusia dilahirkan, manusia mempunyai kemampuan untuk bisa hidup yang semestinya untuk memperoleh keselamatan. Jadi, Tuhan tidak mempunyai campur tangan. Tuhan hanya melihat dan memperhitungkan apa yang dilakukan manusia itu untuk menganggap dia layak masuk surga.

3. Semi Pelagianism. Pandangan ini menyatakan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah namun diawali dengan tindakan manusia yakni percaya lalu Tuhan menganugerahkan keselamatan itu kepadanya. Pandangan ini mengatakan bahwa manusia harus bisa berbuat apa yang perlu untuk keselamatan dan Tuhan menolongnya untuk bisa mencapainya. Jika dia tidak berusaha melakukan apa yang perlu untuk keselamatan, otomatis dia tidak akan mendapatkan keselamatan. Pandangan ini menganggap manusia bisa mendapatkan keselamatan dengan perbuatannya tetapi dia harus dalam pertolongan Allah.

4. Semi Agustinianism. Pandangan yang terakhir ini mirip dengan Agustinus. Manusia diselamatkan secara total oleh anugerah Allah. Tetapi keselamatan itu diberikan kepada semua manusia. Keselamatan ini akan memampukan semua orang untuk memilih dan melakukan apa yang perlu untuk keselamatan. Jadi, kurang lebih pemahamannya seperti ini: Keselamatan itu (ditawarkan) untuk semua orang tanpa kecuali dan keselamatan itu memampukan manusia untuk memilih apa yang harus dia lakukan dalam keselamatan. Jika orang tersebut gagal dalam memilih maka orang itu harus menanggung sendiri akibatnya.

Mungkin ada yang memiliki pandangan yang pertama, ada juga yang kedua, ada yang ketiga, keempat, dan ada juga yang memilih untuk menggabungkan yang ketiga dan yang keempat. Kita ada di pilihan mana? Kita jangan melihat yang mana yang lebih masuk akal, tetapi yang mana yang Alkitabiah.

Sebelum kita menentukan mana yang alkitabiah, maka kita akan coba memahami sejarah keselamatan yang menyatakan keselamatan bisa hilang dan keselamatan tidak bisa hilang.

1. Calvinism. Pandangan ini menyatakan bahwa keselamatan tidak bisa hilang. Pandangan ini menyatakan bahwa sekali selamat tetap selamat. Pandangan ini juga menyatakan bahwa apakah Allah tidak mampu melindungi orang yang Dia selamatkan? Pandang ini menyatakan bahwa orang yang diselamatkan bukan tidak berdosa tetapi ketika berdosa, dia akan menyadari dosanya dan kembali kepada Allah karena pekerjaan Roh Kudus. Pandangan ini dianut oleh Aliran Calvinism yakni aliran Reformed dan Presbiterian. Calvin bukanlah yang pertama kali memiliki pandangan ini.

2. Arminianism. Pandangan ini adalah pandangan yang menganggap bahwa keselamatan bisa hilang. Pandangan ini menyatakan bahwa keselamatan bisa saja hilang karena orang yang diselamatkan itu murtad atau kembali hidup dalam dosa. Arminian bukanlah yang pertama kali menganut pandangan ini

Mungkin kita ada yang setuju dengan Calvin, ada juga yang setuju dengan Arminian atau mungkin ada yang setuju dengan keduanya? Bagaimana mungkin bisa setuju keduanya? Yang setuju keduanya menyatakan bahwa keselamatan tidak bisa hilang tetapi kalau dia melakukan dosa yang mendatangkan maut ataupun dosa menghujat Roh Kudus maka keselamatannya bisa hilang. Buat saya pandangan itu ujung-ujungnya Arminian. artinya keselamatan bisa hilang juga. Dia mengatakan kalau dosanya tidak berat, maka keselamatannya tidak bisa hilang. Saya secara pribadi menganggap pandangan ini tidak benar. Lalu manakah yang benar?

Kejatuhan Manusia dan Rencana Keselamatan

Allah menciptakan seluruh isi dunia sebelum manusia diciptakan. Ini bukan tanpa alasan. Karena apa yang menjadi ciptaan Allah itu akan menjadi milik manusia. Allah menciptakan manusia pada hari yang terakhir dan menciptkan manusia sebagai makhluk yang paling mulia yakni segambar dan serupa dengan Allah. Hal ini tidak bisa diartikan secara harfiah karena llah itu Roh. Segambar dan serupa dengan Allah artinya manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, manusia menyandang gambar dan rupa Allah. Seperti yang telah dijelaskan pada Doktrin Allah di atas, maka manusia juga memiliki atributatribut Allah, misalnya kebajikan, kebenaran, keadilan dan kekudusan (dengan kata lain, manusia memiliki potensi seperti Allah.

Manusia juga diberikan kebebasan oleh Allah yaitu kebebasan yang bertanggung jawab. Manusia bukan robot. Semua makanan/buah pohon dalam Taman Eden boleh manusia makan kecuali sebuah pohon yang ada di tengah-tengah taman itu. Apakah Tuhan sudah tahu bahwa manusia pasti akan makan buah itu? Tuhan tahu. Lalu mengapa Tuhan menempatkan buah itu di taman itu? Apakah supaya manusia jatuh? Owh bukan. Allah sama sekali tidak ikut campur dalam kejatuhan manusia. Itu karena kesalahan sendiri. Apakah manusia bebas? Ya. Apakah sebebas-bebasnya? Tidak. Melainkan kebebasan yang bertanggung jawab. Dengan menempatkan buah itu di tengah Taman Eden itu artinya manusia harus bertanggung jawab. Dengan demikian, sebagai manusia tentu saja harus menjaga kepercayaan Tuhan. Jangan Tuhan yang disalahkan. Kita berkata mengapa Tuhan menempatkan buah itu di Taman Eden. Yang salah manusia, mengapa dia makan buah itu?

Lampu merah di pasang oleh polisi agar tidak terjadi kecelakaan. Apakah yang salah polisi yang menempatkan lampu merah jika orang melanggar lampu merah tersebut? Coba pikirkan! Manusiakah kita jika kita tidak diberikan kepercayaan. Manusia diciptakan sempurna, segambar dan serupa dengan Allah. Maka sudah seharusnya manusia bisa bertanggung jawab dengan tidak makan buah itu tetapi faktanya tidak. Jika saudara tidak dipercayakan sesuatu hal yang harus dipercayakan, manusiakah saudara?

Ketika manusia sudah diberikan kebebasan yang bertanggung jawab tersebut, datanglah si ular penggoda itu lalu menggoda perempuan itu sehingga manusia jatuh kedalam dosa akibat perbuatannya sendiri. Lalu Allah menjanjikan bahwa “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”. Sejak semula Allah sudah menyiapkan keselamatan bagi manusia bahkan sebelum manusia berdosa. Hal itu tidak wajib Allah lakukan. Allah tidak perlu melakukan itu. Yang perlu dan wajib Allah lakukan hanya satu yaitu membinasakan manusia. Tetapi proses penyelamatan ini berjalan panjang mulai dari pemanggilan Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Yosua,...Daud,.... Allah memberikan hukum Taurat. Tidak ada yang salah pada hukum Taurat. Yang salah adalah manusia karena manusia bukan menaatinya malah jadi pelanggarnya.

Sampai akhirnya Kristus datang menggenapi semua tuntutan Taurat melalui penyaliban Kristus. Kita akan memikirkan betapa mahalnya dan betapa dalamnya arti penderitaan Kristus. Berikut kita akan memikirkan bagaimana Allah menyelamatkan manusia melalui pengorbanan Kristus.

Keselamatan Manusia dan Salib Kristus

Apa hubungannya? Dalam Ibrani 9:22 dikatakan bahwa tidak ada pengampunan tanpa penumpahan darah. Dalam PL, segala sesuatu disucikan dengan darah yaitu darah anak lembu dan darah domba jantan yang tidak bercela. Tetapi dalam PB, semuanya digenapi dalam Kristus. Kristuslah yang menjadi domba jantan yang tidak bercela itu. Kristus lahir dari seorang perawan Maria dengan demikian hal itu untuk membuktikan kesucian Kristus. Hanya Kristus yang tidak bercela dan hanya Kristus yang bisa menebus manusia. Tidak ada yang lain. Kristus bukan menebus manusia dari Iblis tetapi dari Allah. Dengan penebusan itu maka manusia yang tidak benar menjadi dibenarkan. Manusia yang berdosa diampuni. Kristus yang adalah Allah, yang bersatu dengan Allah, tidak terpisahkan dari Allah, menjadi terpisah dari Allah pada waktu tersalib. Hal yang tidak mungkin terjadi akhirnya terjadi yakni Allah dan Kristus terpisah. Hal ini betapa mahalnya harga penebusan itu. Sebelum ditangkap, Kristus berdoa “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Apakah yang Kristus minta agar lalu dari pada-Nya? Penderitaan? Cambukan? Salib? Bukan. Bukan itu. Tetapi keterpisahan dari Allah. Itu yang Yesus minta supaya lalu daripada-Nya. Dia yang adalah Allah, mati terpaku di kayu salib. Suatu kematian yang hina pada saat itu. Itulah Kristus. Dengan jalan demikian, kita diperdamaikan dengan Allah. Kita tidak mungkin bisa kembali kepada Allah kalau Allah tidak campur tangan untuk membawa kita kepada-Nya. Apakah Allah wajib menebus manusia? Apakah Allah wajib mengorbankan diri-Nya untuk manusia? Tidak. Semua itu dilakukan-Nya karena kasih-Nya. Allah bisa saja melenyapkan manusia yang ada dan menggantinya dengan yang baru. Apa susahnya buat Tuhan? Tetapi dia tidak melakukan itu. Dia memilih untuk mengorbankan diri-Nya untuk umat pilihan-Nya. Tidak semua manusia tetapi hanya untuk umat pilihan-Nya. Dalam Matius 1:21 dikatakan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Jadi, tidak semua orang. Ketika Kristus mati, maka umat-Nya pasti diselamatkan. Ketika Allah sudah menyelamatkan seseorang, bagaimana mungkin bisa hilang lagi keselamatan itu? Kalau bisa hilang, berarti keselamatan itu tidak punya kekuatan. Yang punya kekuatan adalah manusia. Siapakah manusia? Mampukah dia menyelamatkan dirinya sendiri? Mampukah dia menghilangkan keselamatan itu? Sehebat apakah manusia? Ketika manusia makan buah yang terlarang itu maka manusia sudah mati. Baik secara fisik, rohani, maupun kematian kekal nanti. Nach, jika seseorang diselamatkan karena kemampuan manusia untuk merespon, maka yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin seorang yang yang mati bisa merespon? Perhatikan itu! Manusia mati tidak mungkin bisa merespon. Itu sebabnya tanpa campur tangan Allah, manusia tidak mungkin diselamatkan. Allah memberikan hidup itu kepada manusia sehingga dia mampu merespon dan insaf akan dosanya dan dia percaya. Semuanya itu karena Allah sendiri yang bertindak.

Siapakah umat pilihan-Nya itu? Tidak ada yang tahu selain Allah sendiri. Jadi kita jangan GR bahwa kita diselamatkan. Belum tentu. Jadi, melalui salib terbuka jalan keselamatan bagi manusia.

Anugerah dan Keselamatan

Manusia diselamatkan karena anugerah. Itu benar. Dalam Ef 2:8-9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Jadi kita diselamatkan karena anugerah oleh iman. Kita bahas “oleh iman” tersebut sebentar dengan Judul “Iman dan Keselamatan”. Kita diselamatkan karena anugerah tanpa campur tangan kita sedikit pun dari kita. Apakah kebaikan kita, Kehebatan, Kemampuan kita bisa menyelamatkan kita? Tidak bisa. Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Efesus tersebut dalam ef. 2:8-9 bahwa kita diselamatkan bukan karena hasil usaha kita maupun pekerjaan kita. Jangan kita memegahkan diri jika kita diselamatkan. Lalu bagaimana dengan ayat Firman Tuhan yang menganjurkan kita untuk mengerjakan keselamatan? Itu setelah kita diselamatkan. Itu akan kita bahas dalam judul “Kerjakan keselamatan dan Keselamatan”. Anugerah keselamatan tidak diberikan kepada semua orang. Hanya kepada orang tertentu, dan ketika kita sudah diselamatkan, maka tidak mungkin akan hilang karena kita dimeterai dengan Roh Kudus. Jika keselamatan bisa hilang, maka darah Kristus masih dikalahkan oleh kebebalan kita. Darah Kristus masih belum kuat untuk menyelamatkan kita. Tidak. Saya percaya darah Kristus tidak ternilai sehingga siapapun yang terpilih untuk diselamatkan, tidak akan mungkin hilang.

Mungkin kita akan bertanya, “Bagaimana dengan mereka yang murtad?” Mereka bukan sudah diselamatkan tetapi karena mereka memang tidak diselamatkan. Tetapi mereka melayani Tuhan. Jawaban saya adalah Tuhan tahu mana umat pilihan-Nya. Karena mereka melayani Tuhan maka kita bilang mereka diselamatkan? Jadi, apakah kita pikir setelah kita melayani Tuhan, kita mau menuntut apa yang kita lakukan untuk Tuhan? Oh tidak. Berarti pelayananmu tidak benar-benar untuk Tuhan tetapi untuk dirimu sendiri. Apa yang kita lakukan tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah Tuhan sudah lakukan untuk kita. Jadi, sekalipun dia sudah melayani Tuhan (Sesuai dengan pandangan orang lain), belum tentu dia adalah orang yang diselamatkan. Perhatiakan, apakah dia pendeta, penatua, pastur, para majelis belum tentu diselamatkan. Camkan itu! Hati-hati. Jangan kita sombong.

Kita diselamatkan hanya oleh karena anugerah. Bukan karena pekerjaan kita, usaha kita, pelayanan kita, atau apapun itu yang bersifat usaha kita supaya mendapatkan keselamatan. Bukan semuanya itu penyebab kita diselamatkan. Bersyukurlah jika kita adalah orang yang terpilih itu. Jika kita orang yang diselamatkan itu. Allah memilih kita sejak sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:11). Coba lihat betapa istimewanya kita. Dari mana kita tahu bahwa kita diselamatkan? Dari buah yang kita hasilkan. Buah apa itu? Buah Roh. Ingat kita bisa memiliki buah Roh juga karena pemberian Tuhan. Apakah kita berbuah? Mari lihat hidup kita masing-masing.

Iman dan Keselamatan

Tadi sebelumnya kita dah bahas bahwa kita diselamatkan karena anugerah oleh (melalui) iman. Apakah kita beriman dulu baru bisa diselamatkan? Apa artinya iman itu? Kalau kita harus beriman dulu, maka ada usaha dulu baru diselamatkan. Namun Ef. 2:8-9 tadi sangat menolak bahwa ada usaha kita baru kita diselamatkan. Lalu bagaimana kita akan memahami hal ini? Yang pertama iman itu kita dapatkan dan kita peroleh karena Tuhan sendiri yang memberi. Sama seperti kita bisa insaf akan dosa itu semua adalah pekerjaan Roh Kudus (Yoh. 16:8). Jadi kita diselamatkan karena anugerah melalui iman. Sebab tanpa iman kita tidak mungkin berkenan pada Allah (Ibr. 11:6). Bagaimana mungkin kita bisa diselamatkan tanpa Tuhan berikan dahulu iman itu? Karena kita diselamatkan hanya melalui iman. Iman itu timbul dari pendengaran Firman Yesus. Namun, kita bisa berimanpun adalah anugerah. Dengan iman maka kita tahu kita diselamatkan, dengan iman maka Tuhan menyelamatkan. Sampai di sini saya harap bisa dimengerti.

Jadi kita diselamatkan karena anugerah melalui iman. Namun kita bisa berimanpun karena anugerah. Jadi tidak ada usaha kita sama sekali.

Kerjakan Keselamatan dan Keselamatan

Mungkin akan menjadi timbul pertanyaan : Jikalau keselamatan itu karena anugerah mengapa harus dikerjakan? Perhatikan:

1. Kita mengerjakan keselamatan karena kita sudah diselamatkan lebih dahulu

2. Keselamatan yang kita kerjakan bukan untuk mempertahankan keselamatan tetapi menjadi bukti bahwa kita diselamatkan. Dengan berbuah, kita mempunyai bukti bahwa kita diselamatkan.

3. Bukti itu bukan untuk Allah tetapi untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Orang yang diselamatkan Allah pasti akan tekun mengerjakan keselamatan-Nya. Allah yang akan memampukannya. Dia bukan orang sempurna tetapi dia akan terus mengejar kesempurnaan itu. Dia bukan tidak pernah salah namun ketika dia salah, dia gelisah dan kembali kepada Allah. Mungkin akan ada petobat baru dan rupanya orang itu diselamatkan. Orang itu adalah pilihan Allah. Jawaban saya adalah itu adalah kedaulatan Allah. Tuhan membiarkan dia dahulu hidup dalam keberdosaannya namun apabila genap waktu Tuhan, Tuhan pasti akan memanggil orang itu kembali. Namun kita tidak akan pernah tahu siapa yang diselamatkan itu dan tidak perlu kita cari tahu. Itu tidak penting tetapi mari kita menghasilkan buah. Bertandinglah kita dalam hidup ini!

Komentar