Baca: Yesaya 5:1-7
“Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?†(Yes. 5:4b)
Buah merupakan hasil suatu tanaman yang selalu dinantikan oleh pemilik kebun atau ladang. Agar berbuah baik, kualitas tanaman pun perlu dijaga karena pemahaman lazim menyatakan bahwa tanaman yang baik menghasilkan buah yang baik. Untuk itu para pemilik kebun bekerja giat untuk mengupayakan terjadinya hal itu. Sejak awal mereka sudah mencangkul tanah, membuang batu-batunya, kemudian menanam bibit pilihan hingga selalu menyiangi tanaman dari waktu ke waktu. Semua itu dilakukan agar dapat menghasilkan buah yang baik. Namun, walaupun sudah melakukan itu, buah yang dipanen ternyata berkualitas tidak baik. Itulah yang terjadi pada pemilik kebun anggur yang dikisahkan dalam bahan Yesaya ini. Yang diharapkan adalah anggur manis, namun yang dipanen hanyalah anggur asam.
Sesungguhnya yang dikiaskan Yesaya dengan kebun anggur itu adalah Anda dan saya, umat percaya, dengan Tuhan sebagai pemilik kebun itu. Siapa pun kita, baik pendeta, majelis, guru, jemaat, maupun ODHA (Orang yang hidup Dengan HIV dan AIDS) adalah kebun anggur Tuhan. Ada perbuatan yang kurang terpuji berupa pelanggaran dan dosa yang membuat kita berbuah â€anggur yang asamâ€. Padahal Tuhan sudah bekerja demikian keras mengupayakan agar kebun anggur-Nya itu, yaitu diri dan hidup kita, berbuah manis.
Sesungguhnya kita dapat tetap menjadi â€anggur yang baik†walau dalam keadaan yang sulit sekalipun, misalnya dalam keadaan tubuh jasmani yang sakit. Orang-orang yang hidup dengan HIV dan AIDS, misalnya, dengan pertolongan Tuhan dapat dimampukan untuk menghasilkan anggur yang baik. Maraknya pendapat umum bahwa HIV dan AIDS tidak bisa disembuhkan kerap membuat orang yang terinfeksi bukan saja langsung menyerah atas hidupnya, namun juga mengubur harapannya sebagai orang yang beriman. Sikap ini, disadari maupun tidak, tampak seperti meragukan kuasa Allah. Seolah-olah Allah tidak mampu berkarya di tengah penyakit yang dialaminya. Padahal sering kita berkata â€tiada yang mustahil bagi Diaâ€. Allah mau iman kita tertuju pada peristiwa Golgota di mana Dia telah menanggung semua penyakit kita di sana melalui bilur-bilur dan darah-Nya. Sang pemilik kebun, Tuhan Yesus, akan menyingkirkan semua batu, semak-semak, dan halangan bagi kita untuk tetap bertumbuh dan menghasilkan buah yang baik bila memang kita bertekad melakukannya. Siapa pun kita, apa pun masalah yang kita alami, di tengah penyakit parah sekalipun, kita harus yakin bahwa Tuhan akan memampukan kita untuk tetap berkarya â€menghasilkan anggur yang baikâ€. Selama kita tetap mau berkarya bagi-Nya, tiada yang mustahil.