For Your Info

Semua manusia menghadapi kesulitan atau masalah yang berbeda dan terkadang
kesulitan ini sangat berat untuk dihadapi. Jika kita merasa tidak mampu lagi, terpaksa,
tidak pasti apakah kita bisa melaluinya atau tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan,
kita akan stress.

Berdasar kesimpulan para ahli penelitian, stress sangat berhubungan dengan kesehatan.
Stress akan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dengan cara
menurunkan jumlah fighting desease cells. Akibatnya, orang tersebut cenderung sering
dan mudah terserang penyakit yang cenderung lama masa penyembuhannya karena tubuh
tidak banyak memproduksi sel-sel kekebalan tubuh, ataupun sel-sel antibodi banyak
yang kalah.

Dua orang peneliti yaitu Plaut dan Friedman (1981) berhasil menemukan hubungan
antara stress dengan kesehatan. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa stress
sangat berpotensi mempertinggi peluang seseorang untuk terinfeksi penyakit, terkena
alergi serta menurunkan sistem autoimmune-nya. Selain itu ditemukan pula bukti
penurunan respon antibodi tubuh di saat mood seseorang sedang negatif, dan akan
meningkat naik pada saat mood seseorang sedang positif.

Peneliti yang lain yaitu Dantzer dan Kelley (1989) berpendapat tentang stress dihubungkan
dengan daya tahan tubuh. Katanya, pengaruh stress terhadap daya tahan tubuh ditentukan
pula oleh jenis, lamanya, dan frekuensi stress yang dialami seseorang. Peneliti lain juga
mengungkapkan, jika stress yang dialami seseorang itu sudah berjalan sangat lama, akan
membuat letih health promoting response dan akhirnya melemahkan penyediaan hormon
adrenalin dan daya tahan tubuh.

Gejala stress bisa menyebabkan seperti ini: Stress Warning Signs and Symptoms

Cognitive Symptoms: / Emotional Symptoms:

Memory problems / Moodiness
Indecisiveness / Agitation
Inability to concentrate / Restlessness
Trouble thinking clearly / Short temper
Poor judgment / Irritability, impatience
Seeing only the negative / Inability to relax
Anxious or racing thoughts / Feeling tense and “on edge”
Constant worrying / Feeling overwhelmed
Loss of objectivity / Sense of loneliness and isolation
Fearful anticipation / Depression or general unhappiness

Physical Symptoms: / Behavioral Symptoms:

Headaches or backaches / Eating more or less
Muscle tension and stiffness / Sleeping too much or too little
Diarrhea or constipation / Isolating yourself from others
Nausea, dizziness / Procrastination, neglecting responsibilities
Insomnia / Using alcohol, cigarettes, or drugs to relax
Chest pain, rapid heartbeat / Nervous habits (e.g. nail biting, pacing)
Weight gain or loss / Teeth grinding or jaw clenching
Skin breakouts (hives, eczema) / Overdoing activities (e.g. exercising, shopping)
Loss of sex drive / Overreacting to unexpected problems
Frequent colds / Picking fights with others

10 besar penyebab kematian karena stress:
Spouse’s death, Divorce, Marriage separation, Jail term, Death of a close relative,
Injury or illness, Marriage, Fired from job, Marriage reconciliation, Retirement

Begitu banyak dampak dari satu sebab yaitu stress di atas, dialami tidak hanya oleh
orang dewasa bahkan anak-anak juga. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan
untuk mengatasi gejala stress, yaitu pemahaman terhadap masalah. Dalam hal ini
harus disadari, selama kita hidup, masalah akan selalu ada. Besar kecilnya masalah
yang kita hadapi juga tergantung kepada pemahaman kita sendiri. Karena masalah
yang oleh seseorang dianggap besar, ternyata belum tentu demikian bagi orang lain.
Perbedaan terletak pada keinginan dan harapan masing-masing dalam mencapai
tujuan (prioritas).

Firman Tuhan mengatakan:
1Kor. 6:12
Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna.
Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku
diperhamba oleh suatu apapun.
1Kor. 10:23
"Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.
"Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Kalau kita mempunyai prioritas untuk hal-hal duniawi, sudah pasti tindakan kita
tidak akan pernah benar. Karena benar-tidaknya tindakan itu, akan dinilai atau
berdasarkan pada penilaian duniawi. Apa yang benar bagi kita tidak berarti benar
juga bagi orang lain.

Tetapi apa yang bagi kita sudah benar, juga menurut orang lain sudah benar,
ternyata belum tentu hal itu benar, dan itu tidak akan membuat tindakan kita
selanjutnya tanpa kesalahan. Selama hidup di dunia, kita akan dihadapkan pada
dua kemungkinan. Yaitu kemungkinan untuk benar dan kemungkinan untuk salah.
Tidak mungkin kita akan benar terus dan juga tidak mungkin kita akan salah terus.

Yang perlu dipikirkan, apakah yang kita dan orang rasa benar itu 'benar' di mata Allah.
Dan bagaimana kita memperbaiki apa yang kita pikir dan orang lain pikir salah tadi
sehingga 'benar' di mata Allah.

Allah berfirman : Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Kol 3:2)
Tentu Allah sudah tahu jauh-jauh hari jika kita memikirkan perkara yang di bumi,
kita akan stress.