Di singapura, jarang terjadi problem lalu lintas macet. Kalaupun ada, biasanya karena ada hal-hal luar biasa terjadi
seperti kecelakaan, perbaikan jalan, dsb. Bagi orang singapura, istilah macet pasti dihubungkan dengan jam-jam
kantor, meskipun kemacetan itu sebenarnya tidak lama dan hanya beberapa menit. Tidak seperti di Jakarta yang
kabarnya sampai berjam-jam.
Lalu lintas di Singapore sangat rapi, polisi hampir tidak kelihatan. Tempat parkir cukup tersedia, teratur dan rapi.
Untuk menghindari pengemudi yang ugal-ugalam, di beberapa bagian jalan disediakan kamera. Kamera bisa
merekam saat terjadi pelanggaran, seperti tidak mematuhi traffic light, ataupun yang ngebut melampaui batas
yang ditentukan. Rambu-rambu di sepanjang jalanan sangat jelas, untuk jalan highway bahkan disediakan rambu
yang berisi informasi beberapa jalan yang penuh, sehingga pengemudi bisa memilih jalur lain untuk menghindari
kemacetan.
Bagi jalan-jalan strategis seperti city area, dikenakan pajak (sejenis tol) tapi secara elektronik. Jadi tiap-tiap mobil
harus mempunyai alat yang memakai cashcard dengan jalan memotong secara otomatis harga yang harus di bayar.
Hampir semua tempat parkir di mall juga sudah menggunakan sistem ini. Dengan fasilitas yang demikian rapi dan
serba teratur, ternyata masih juga ada pengemudi yang melanggar. Di jalan besar yang diberi batas kecepatan,
pengemudi menyiasati dengan cara menjalankan mobilnya sesuai rambu, hanya setelah dekat dengan camera saja.
Dan kembali ngebut setelah melewatinya.
Polisi terkadang menyiasati dengan cara memonitor secara manual. Biasanya mereka menunggu di trotoar sambil
membawa camera. Kalau di highway, mereka terkadang menunggu sambil bersembunyi di jembatan penyebrangan.
Tapi ternyata banyak juga pengemudi yang tahu tempat-tempat mana yang ada polisinya. Termasuk teman saya
yang sangat jeli. Dia mengemudi dengan waspada dan berjaga-jaga mencari kemungkinan adanya polisi pengintai.
Dan kalau ketemu, dengan bangganya dia akan mengemudi dengan sangat tertib. Setelah lewat, dia tidak akan
peduli lagi. Tapi kalau dia lengah dan tidak tahu, sehingga terekam sedang melanggar, dia akan marah-marah
sekali dan menyalahkan polisi dan sistem lalu lintas itu dengan berbagai alasan. Padahal secara logika, polisi itu
sama sekali tidak bersalah, dan tidak ada hubungannya dengan keisengan polisi dalam mencari point demi
integritasnya seperti yang teman saya pikirkan.
Seperti inikah kira-kira kehidupan kekristenan kita?
Kita cenderung melanggar apa yang sudah jelas-jelas dilarang. Segala aturan (firman) yang tersedia yang sebenarnya
diberikan demi terjaminnya keselamatan sering diabaikan dan bahkan dilanggar. Kita mentaati hal-hal yang kita
anggap perlu dan kita butuhkan, tetapi mengabaikan hal-hal yang kita anggap remeh dan dapat kita atasi. Teman
saya sering menggerutu mengapa dia harus mengikuti aturan dan harus mengemudi perlahan-lahan kalau jalanan
lagi sepi?
Dia tidak pernah berpikir bahwa keselamatan adalah lebih penting daripada sekedar taat (mentaati) peraturan.
Apa bedanya jalanan sepi atau ramai? Kalau kita selalu taat, pasti kecelakaan bisa diminimalkan, denda pun tidak
mungkin dikenakan.
Demikian juga dengan iman kekristenan. Mengapa harus melakukan doa-doa jika hidup kita mulus-mulus saja?
Mengapa harus berhati-hati dalam memutuskan setiap masalah sedangkan menurut kita hal itu sangat mudah
dan sederhana. Mengapa harus melibatkan Tuhan setiap waktu? Kita akan mendekat pada Tuhan jika sedang
membutuhkan saja. Bahkan ada orang mengatakan, Tuhan memakai penderitaan untuk memanggil kita supaya
mendekat padaNya. Benarkah demikian? Apakah ini benar-benar kehendak Tuhan?
Saya kira tidak demikian. Alangkah lucunya jika kita menyalahkan Tuhan karena kita mengalami kecelakaan gara-gara
kesalahan kita sendiri. Oh… Tuhan ingin aku mendekat padaNya… Bagaimanakah ini?
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN,
yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang
penuh harapan.
(Yer 29:11)
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
(Ams 4:23)
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari
orang yang dapat ditelannya.
(1 Ptr 5:8)
Kita boleh merasa saat ini kita bisa mengatasi segalanya. Tetapi kita harus selalu sadar bahwa iblis menunggu kelengahan
kita. Bukankah lebih enak mengemudi dengan taat sehingga kita berjalan dengan penuh percaya diri, daripada mengemudi
dengan tegang untuk menghindari tertangkap basah saat tidak taat. Tidakkah itu sama dengan mencobai diri sendiri dan
mencobai Tuhan tentunya, bukan sebaliknya.