PEMELIHARAAN ORANG-ORANG KUDUS ALKITABIAH

PEMELIHARAAN ORANG-ORANG KUDUS YANG ALKITABIAH
OLEH: JOKO HADI. R
GBIA MARTURIA KRISTUS
BAB I
PENDAHULUAN

Tulisan ini akan membahas tentang pengajaran atau doktrin pemeliharaan (perseverance) keselamatan. Pemahaman tentang suatu keselamatan jiwa atau pemeliharaan terhadap orang yang percaya di masa sekarang, pengajaran tentang doktrin pemeliharaan ini sangat penting untuk dipahami dengan baik oleh setiap orang percaya. Iman kekristenan seharusnya merupakan iman yang pasti sebab iman Kristen memiliki dasar yang sudah baku dan tepat yaitu Alkitab. Alkitab sebagai dasar dari segala pengajaran telah menyingkapkan berbagai pemahaman yang salah terhadap satu doktrin atau pengajaran. Dengan demikian pemahaman terhadap pemeliharaan orang-orang kudus haruslah selalu selaras dengan kitab suci (Alkitab).
Keselarasan terhadap pemahaman pemeliharaan orang-orang kudus atau orang-orang percaya yang hanya berpatokkan dengan Alkitab sebagai dasar dari segala pengajaran kekristenan akan diuraikan dalam karya tulis ini. Denominasi kekristenan yang saat ini menyatakan bahwa pemahaman atau doktrinnya juga berdasarkan pada ayat-ayat Alkitab, menyatakan bahwa apa yang diimani tentang doktrin pemeliharaan terhadap orang-orang percaya merupakan yang paling sempurna. Namun apakah benar semua anggapan yang dipegang atau dipercayai oleh denominasi-denominasi kekristenan saat ini sesuai dan selaras dengan Alkitab yang merupakan satu-satunya Firman Tuhan yang tidak memiliki kesalahan?.
Pemahaman terhadap doktrin pemeliharaan yang tidak jarang juga menjadi bahan perdebatan oleh para theolog-theolog akan diselaraskan dengan mengetengahkan Alkitab yang menjadi otoritas mutlak untuk menilai setiap hasil pemikiran manusia sehingga apakah hasil pemikiran itu akan selalu selaras dengan Alkitab dan akal sehat manusia?. Berbagai kesalahan dan pernyataan yang dipercayai akan dinyatakan hanya melalui Alkitab sebagai standar kebenaran dan semua pembahasan akan disajikan dalam karya tulis ini lebih lanjut dalam tiap bab pembahasan.

Latar Belakang

Doktrin pemeliharaan orang-orang kudus seringkali dianggap sebagai doktrin yang sudah saklek atau benar, sehingga berbagai denominasi bahkan pribadi yang mengaku kristen sangat jarang meneliti lebih dalam apakah pemahaman tentang keselamatan dan pemeliharaan orang-orang kudus atau orang percaya sudah sesuai dengan standar kebenaran yaitu Alkitab?.
Pemahaman bahwa manusia diselamatkan karena telah dipilih sejak kekekalan, sehingga setiap orang juga selalu dipelihara, biarpun pribadi yang telah dipilih itu mempercayai iman Islam, Budha, Hindu, Mormon, dan bahkan Animisme. Dengan pernyataan yang dinyatakan sebagai berikut:
Perseverance of the saint, ajaran yang dirumuskan oleh Agustinus bahwa mereka yang dipilih tidak pernah berdosa sampai kehilangan keselamatan. Dimana Allah yang Maha Kuasa maka Dia sudah pasti menetapkan sejak kekekalan orang yang dipilih untuk diselamatkan, sementara yang lain yang tidak dipilih akan dihukum .

Sehingga apakah pemahaman yang demikian selaras dengan Alkitab?. Berbagai argumentasi kelompok atau denominasi yang mengusung lima pokok poin Calvinis tetap kukuh pada pemahaman yang telah diimani sehingga hal ini sangat mendorong untuk semakin menyelidiki dan menyatakan mana yang paling Alkitabiah.
Pemeliharaan orang-orang percaya karena hasil usaha dan hanya tanggung jawab manusia seperti yang dinyatakan oleh pengikut-pengikut Arminius yang disebut Arminian memandang manusia itu secara optimistis. Sehingga menyatakan bahwa manusia itu sendiri dapat dan wajib berusaha untuk mendapatkan keselamatan . Satu pandangan yang juga menyatakan bahwa keselamatan yang bersifat sinergitis, yaitu pemahaman bahwa keselamatan dipahami sebagai usaha bersama diantara kemauan bebas manusia dan anugerah ilahi . Pengajaran seperti pernyataan diatas juga banyak yang mengimaninya. Serta pemahaman bahwa jika manusia sekali menerima keselamatan maka pribadi tersebut akan tetap terpelihara walaupun dalam kondisi yang tidak berada lagi di dalam Kristus, bagaimana pandangan pengajaran pemeliharaan yang demikian?
Dengan beraneka ragam pemahaman pemeliharaan maka sering terjadi pertentangan dan bahkan saling menyerang walaupun masih dalam satu bendera kekristenan. Keegoisan manusia membawa pada pemahaman yang semakin tidak teratur dan bahkan mengesampingkan Alkitab yang merupakan dasar utama dari setiap doktrin atau pengajaran di dalam kekristenan. Dengan kondisi yang demikian adakah jalan keluar atau proses penyelesaian masalah terhadap pemahaman yang salah dalam doktrin pemeliharaan orang-orang kudus atau orang-orang percaya?.

Tujuan Penulisan

Denominasi atau aliran kekristenan sangat beraneka ragam dengan berbagai pemahaman dan pandangan terhadap satu doktrin atau pengajaran. Dengan keaneka ragaman itu akan membuat setiap orang yang berada di dalam sebuah denominasi kekristenan untuk semakin meneliti dan menyelidiki apakah pemahaman yang diimani saat ini sesuai dengan Alkitab sebagai standar kebenaran.
Merupakan salah satu alasan yang tepat untuk mengetengahkan satu bahan perbandingan sehingga berbagai pemahaman yang dipegang oleh satu denominasi menjadi nyata apakah pemahaman yang dipercaya oleh denominasi kekristenan terhadap satu doktrin itu benar-benar telah final dan tidak bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab yang lain jika dibandingkan. Pemahaman dokrin pemeliharaan orang-orang kudus akan menjadi satu hal yang sangat mendasar (fundamental) sebab jika seseorang gagal dalam pemahaman terhadap doktrin ini, maka akan sangat besar kemungkinannya orang tersebut akan tersesat dan bahkan terhilang dari lingkup janji keselamatan untuk memperoleh hidup yang kekal.
Keselamatan jiwa manusia merupakan satu hal yang sangat penting dan dalam karya tulis ini juga yang menjadi tujuan utama adalah supaya setiap pribadi mendapatkan kasih karunia keselamatan yang Alkitabiah. Sebab jika seseorang gagal dalam pemahaman keselamatan jiwa maka satu hal yang pasti akan diperoleh adalah penghukuman kekal di Neraka, sebab Neraka adalah tempat yang pasti untuk setiap pribadi yang menolak kasih karunia dari Tuhan Yesus. Dengan banyaknya jiwa atau pribadi yang terancam masuk ke dalam penghukuman di Neraka maka hal keselamatan serta cara memperoleh hidup yang kekal juga menjadi tujuan penulisan karya tulis ini. Wacana atau pola pandang yang benar terhadap satu pengajaran juga mengetengahkan argumentasi yang selaras dengan akal sehat manusia akan menjadi satu hal yang menarik untuk dipelajari. Semangat untuk mempelajari satu pemahaman hendaknya dimiliki oleh setiap orang yang rindu pada kebenaran yang murni. Menjadikan setiap orang semakin haus dan rindu untuk menyelidiki kebenaran dalam terang kebenaran Akitab yang merupakan poin utama yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini.

BAB II
KESELAMATAN DAN PEMELIHARAAN

Allah menciptakan dunia beserta isinya baik adanya dan dengan keadaan yang baik adanya itu adalah kondisi manusia pada masa awal setelah penciptaan serta memiliki satu hak yang istimewa, dimana manusia pertama Adam dan Hawa dapat berdialog langsung dengan Sang Pencipta alam semesta ini. Namun dengan satu kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, manusia ternyata gagal dalam menghadapi ujian. Manusia diberikan ujian untuk menaati satu perintah atau justru menentang perintah itu, dimana Allah pencipta langit dan bumi memberikan satu perintah bahwa manusia dilarang untuk memakan buah yang ada ditengah taman. Namun dengan kehendak bebasnya, Hawa ternyata gagal dan perempuan pertama di muka bumi itu memilih memakan buah yang dilarang untuk dimakan oleh Tuhan Allah pencipta langit dan bumi.
Adam sebagai pendamping yang setia dan juga merupakan kepala rumah tangga pertama di dunia memberikan teladan yang baik, walau dengan keputusan Adam dan juga dengan kesadaran yang penuh dari Adam, laki-laki pertama di alam semesta itu juga memilih untuk memakan buah yang ditawarkan oleh sang penolongnya yaitu Hawa. Dengan demikian mereka berdua telah jatuh dalam pelanggaran yang akan membawa mereka ke dalam kebinasaan kekal yaitu di Neraka. Dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa maka Allah dengan kemahatahuan-Nya menyatakan kepada manusia akan mengirimkan Sang Juruselamat bagi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa yang mendatangkan maut, (Bilangan 25: 12; Amsal 20:22b;Yohanes 3:17) merupakan ayat-ayat Alkitab yang menyatakan janji keselamatan bagi manusia. Sebab manusia tidak akan mampu bisa terlepas dari belenggu dosa jika tanpa Sang Juruselamat (Tukang penyelamat manusia).
Keselamatan merupakan satu hal yang pokok dalam kehidupan umat manusia daripada kebutuhan akan makanan, sandang dan papan. Keselamatan jiwa atau kemerdekaan dari belenggu dosa telah dijanjikan oleh Allah dalam Injil yang pertama (proto injil) dinyatakan Allah pada manusia pertama yaitu Adam dan Hawa (Kejadian 3: 15). Sebagaimana telah dinyatakan bahwa manusia yang memang pada dasarnya memiliki sifat untuk berbuat dosa, maka penebusan atau keselamatanlah yang dapat membuat manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak mengalami hukuman di neraka yang bersifat kekal, itu sangatlah diperlukan bagi pribadi lepas pribadi. Keselamatan adalah satu hal yang tidak mungkin untuk diwakilkan pada orang lain ataupun pada satu kelompok.
Pentingnya Injil keselamatan itu maka ketika Hawa melahirkan Kain, dirinya menyangka bahwa Kainlah juruselamat padahal Hawa keliru dengan anggapannya bahwa Kain adalah juruselamat yang dijanjikan . Keselamatan adalah satu hal yang harus terlebih dahulu diselesaikan setelah seorang manusia atau pribadi beranjak dewasa dan memahami mana yang salah dan mana yang benar (akil balik). Sebab jika hal keselamatan tidak segera diselesaikan maka pribadi yang telah bertumbuh dewasa itu akan diperhadapkan pada posisi sebagai orang berdosa yang tidak mungkin dapat terlepas dari dosa tanpa mau menyerahkan segala dosanya pada Sang Juruselamat yang akan menanggungnya.
Manusia yang telah menggunakan kehendak bebasnya untuk memperoleh keselamatan jiwanya juga harus memiliki satu pemahaman bahwa dirinya telah termasuk dalam lingkup pemeliharaan Allah, dimana manusia yang telah diselamatkan menerima janji pemeliharaan dari Allah. Dengan janji pemeliharaan yang dari Allah, maka manusia benar-benar mendapat satu jaminan penyertaan Allah dalam segenap perjalanan hidupnya dengan tetap beriman teguh pada penebusan dosa yang telah dilakukan oleh Pribadi yang tanpa dosa yaitu Yesus Kristus. Pemeliharaan manusia juga memiliki satu koridor atau jalur yang telah ditetapkan oleh Allah, dimana dan dalam kondisi yang bagaimanakah manusia yang telah mendapatkan keselamatan termasuk dalam pemeliharaan Allah pada setiap orang-orang kudusnya? Sehingga jangan menimbulkan satu anggapan bahwa Allah tetap akan memelihara manusia walaupun dalam kondisi yang menentang Allah. Pemeliharaan Allah akan diperoleh dengan syarat dan bukan tanpa syarat, dimana syarat utama adalah manusia haruslah menerima Kristus Yesus sebagai Sang Juruselamatnya. Maka pemeliharaa itu akan diberikan pada manusia yang percaya, dalam artian pemeliharaan yang lebih khusus.

A. Cara Penyelamatan Manusia Dari Dosa
Manusia yang telah jatuh dalam dosa merupakan pribadi yang tidak dapat lepas dari belenggu dosa yang akan membawa manusia pada penghukuman yang kekal di neraka, sehingga dengan kasih karunia Allah pada manusia maka Allah mengirim Sang Juruselamat bagi manusia. Keselamatan manusia telah ditentukan dan diajarkan dalam Firman Tuhan dalam Alkitab. Lalu sekarang bagaimana caranya supaya manusia yang jatuh ke dalam dosa dapat diselamatkan?.Seperti ungkapan yang dikatakan oleh Emerson “Siapapun yang ingin menjadi manusia haruslah menjadi seseorang non-konformis” . Karena manusia dilahirkan sebagai orang yang bebas, dalam pengertian bukan bebas untuk berkehendak sesuka hatinya namun bebas dalam memilih atau menolak suatu keselamatan. Seperti Rasul Paulus yang mencontohkan bagaimana dirinya menggunakan kehendak bebasnya untuk lebih mengutamakan menjadi Pemberita Injil yang menyelamatkan daripada sebagai penganut agama Yudaisme yang justru menganiaya jemaat Kristus. Sehingga saat ini Injil yang benar masih bisa dinyatakan, itu juga menjadi bagian dari pengorbanan Rasul Paulus.
Mendapatkan keselamatan jiwa hanya diajarkan oleh Alkitab yang memberikan satu jaminan bagi yang mau mengimaninya, dan dari Alkitab memberikan satu pernyataan tentang jalan menuju keselamatan, DR. Suhento Liauw dalam penelahannya melalui Alkitab menuliskan ada lima langkah untuk menuju Sorga. Langkah pertama: mengakui bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi beserta segala isinya (Kejadian 1:1). Langkah kedua: mengakui bahwa anda adalah orang berdosa (Kejadian 6: 5; Roma 3: 23). Langkah ketiga: memahami cara menyelesaikan masalah dosa (Roma 6:23; II Korintus 5: 21; Petrus 2: 24). Langkah keempat: mengenal lingkup anugerah Yesus Kristus (Yohanes 1: 29; Ibrani 2: 9; I Petrus 2: 24). Langkah kelima: mengambil keputusan serta menyatakan diri sebagai orang berdosa dan berterima kasih kepada Yesus yang telah menggantikan hukuman manusia yang diakibatkan oleh dosa. Dan kemudian berdoa “Yesus, saya mengaku bahwa saya orang berdosa. Terimakasih atas pengorbananMu di kayu salib. Saya menyambutMu sebagai Juruselamat saya. Amin” .
Mendapatkan keselamatan telah diajarkan oleh Alkitab sebagai pedoman dasar di dalam kekristenan, sehingga sudah menjadi satu kepatutan untuk menelaah setiap pengajaran dengan patokan Alkitab. Begitu banyaknya pemahaman tentang keselamatan yang diajarkan akan membuat banyak jiwa yang tidak mencari kebenaran yang murni akan tersesat, dan bahkan masuk ke dalam penghukuman yang kekal yaitu Neraka. Sesuatu yang patut dipahami saat ini apakah setiap pengajaran yang menjanjikan jalan keselamatan atau jalan untuk masuk sorga itu benar?, karena jika semua pengajaran yang ada saat ini tentang jalan keselamatan itu benar, mengapa antara satu pemahaman pengajaran dengan pemahaman pengajaran yang lain saling bertentangan? Bahkan karena pertentangan itu tidaklah jarang yang menimbulkan kekerasan dan bahkan peperangan. Jadi juga dapat ditarik satu kesimpulan atau satu garis pembeda yang berisikan bahwa tidak semua pengajaran tentang keselamatan yang ada sekarang ini benar karena tidaklah mungkin semuanya benar, maka kita sebagai orang yang diberikan hikmat dan akal budi untuk menilai segala sesuatu dapat membedakan setiap pengajaran itu mana yang benar-benar dari Allah yang hidup. Maka sudah jelas bahwa ada yang benar dari semua pengajaran yang salah, karena juga tidaklah mungkin semua pengajaran tentang keselamatan yang ada saat ini semua salah. Allah pencipta langit dan bumi ini tentunya tidaklah mungkin akan membiarkan semua umat manusia terjerumus dalam kesalahan yang mengakibatkan manusia dalam penghukuman yang kekal tanpa memberikan satu solusi atau jalan keluar untuk bebas dari masalah dosa.
Jalan keluar atau solusi tentang keselamatan tentunya diberikan oleh Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya, itu adalah jalan keluar yang selalu selaras dengan akal sehat manusia. Jika satu ajaran yang memang sudah tidak masuk akal manusia dan bahkan banyak pertentangan yang tidak ada solusinya, maka sudahlah jelas bahwa pengajaran itu adalah pengajaran yang salah. Sebagaimana dalam kekristenan diajarkan secara terperinci dan juga dapat diselidiki setiap poin-poin yang menyatakan jalan keselamatan dalam Alkitab, maka menjadi satu alasan yang pokok untuk menerima ajaran Alkitab sebagai ajaran yang benar-benar murni. Pengajaran-pengajaran yang diajarkan oleh Alkitab juga tidaklah pernah menimbulkan kekerasan, dan justru menjadi satu larangan bagi setiap orang yang menerima Alkitab sebagai Firman Tuhan untuk menggunakan kekerasan sebagai sarana untuk membela satu argumentasi seperti dalam Matius 22: 37-39 yang menyatakan hukum yang terutama dalam kekristenan.
Jalan keselamatan yang benar juga pastilah yang selalu disertai dengan berbagai argumentasi, sebagai tanda bahwa pengajaran itu benar-benar selaras dengan pola pikir manusia. Karena seringkali satu argumen yang sebenarnya sudah tidak masuk akal namun karena dipertahankan dengan kekerasan atau kekuatan fisik maka orang-orang yang tadinya tidak sejalan menjadi mau menerima pengajaran itu, karena adanya intimidasi atau ancaman oleh pemegang argumentasi yang salah itu. Saat ini seharusnya ada satu kesadaran bahwa jika adanya kekerasan dan intimidasi maka sudah sangatlah jelas itu bukan ajaran yang dari Tuhan pencipta langit dan bumi ini. Secara umum manusia mengakui bahwa Allah pencipta langit dan bumi ini adalah Allah yang penuh dengan kasih dan kesabaran. Sangatlah tidak masuk akal jika ada satu kekerasan dan itu merupakan satu ajaran dari Allah yang hidup, sangat tidak masuk logika manusia. Sebagaimana adanya permasalahan tentang apakah Allah dengan sengaja membiarkan kejahatan merajalela di dunia saat ini dengan kenyataan bahwa manusia makin lama makin bejat kelakuannya?
Kebejatan dan kerusakan manusia bukanlah satu hal yang perlu diperdebatkan. Dalam kitab Roma 3:23; 3:10; Mazmur 14: 3, dengan jelas memberikan satu jawaban mengapa manusia dengan keadaan yang ada pada saat ini, dikarenakan manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Sehingga Allah dalam kemahatahuan-Nya menghendaki bahwa manusia yang telah diberikan satu kehendak bebas, untuk memilih manakah yang benar-benar kehendak dan pengajaran yang dari Allah yang maha segala-galanya. Adanya kejahatan merupakan bukti adanya dosa pada setiap manusia, dengan demikian seharusnya manusia menyadari betapa diperlukannya satu kepastian untuk mendapatkan posisi semula manusia, yaitu posisi yang kudus di hadapan Allah.
1. Karya Penebusan yang Tak Terbatas
Manusia yang ada dalam dunia ini tidak terbatas jumlahnya, dalam tiap jam bahkan menit ada manusia baru yang dilahirkan dan juga ada yang mati. Satu fakta yang jelas bahwa Angka Kematian Ibu melahirkan 307 per 100.000 kelahiran hidup atau 20.000 per hari berarti 50,5 per hari atau 2,1 per jam . Dengan melihat fakta yang terjadi, sebagai orang yang peduli terhadap jiwa-jiwa yang ada di sekitar kita maka keselamatan adalah satu hal yang sangat penting untuk diberitakan. Dan sesuai dengan janji Tuhan kepada manusia yang akan mengirim Juruselamat bagi manusia, maka Yesus Kristus sebagai Pribadi yang menebus manusia dan karya penebusan Kristus adalah untuk semua manusia (1 Yoh 2: 2). Penebusan atau yang bisa juga disebut dengan pendamaian terhadap semua manusia yang tanpa batas juga dinyatakan dalam Roma 3: 21-26 dengan jelas menyatakan bahwa setiap orang baik orang PL ataupun PB dosanya diperdamaikan oleh Kristus.
Bukti-bukti yang dinyatakan oleh Alkitab sangatlah banyak tentang penebusan yang tak terbatas, seperti dalam Kis. 3 : 15 “ Demikianlah Ia, pemimpin kepada hidup” merupakan salah satu yang menyatakan bahwa setiap yang berkenan memperoleh hidup haruslah mengikuti pimpinan Tuhan Yesus, sehingga tidak ada batasan. Serta sebagaimana dalam jemaat yang oleh karena “darah Anak-Nya sendiri” memperoleh tebusan (Kis. 20: 28), dalam kenyataan yang terjadi banyak dari jemaat dalam satu tubuh Tuhan yang menolak penebusan itu (orang yang dalam lingkungan kebenaran namun tidak menerima kebenaran, atau jemaatnya benar namun ada pribadi yang di dalam jemaat yang benar itu tidak dilahirkan kembali).
Bukti yang lain terhadap penebusan yang tak terbatas adalah ayat-ayat Alkitab ini (1Kor 15:3; Ibr 9:28; 10:14), menjadi pendamaian bagi kita dengan memuaskan murka Allah yang adil (Rom 3:25; Ibr 2:17; 1Yoh 2:2; 4:10), mendamaikan umat-Nya dengan Allah (Rom 5:20; 2Kor 5:20) dan menebus kita dari kutuk hukum Taurat (Gal 3:13). Penebusan yang tak terbatas yang juga selaras dengan keselamatan adalah satu kasih karunia (Yohanes 1:17; Roma 6:14; Galatia 3:23) . Tentunya ini membuka pemahaman tentang penebusan yang tak terbatas, dan merupakan satu hal yang telah dinyatakan oleh kebenaran Alkitab yang tanpa salah sehingga bukti-bukti yang demikian banyaklah yang menguatkan pengajaran penebusan Tuhan Yesus yang tak terbatas. Sebagai satu titik pemahaman bagi setiap orang yang percaya pada penebusan Tuhan Yesus maka janganlah membatasi lingkup penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, keuniversalan penebusan Yesus bagi manusia justru merupakan satu berkat yang melimpah bagi seluruh umat manusia.
Keterbatasan penebusan Yesus Kristus bukanlah satu kabar sukacita bagi manusia, karena jika benar Tuhan telah membatasi setiap pribadi yang akan ditebusnya maka sama artinya dengan mengatakan bahwa Allah telah menentukan sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian orang untuk masuk dalam penghukuman. Sangatlah nampak dengan pemahaman bahwa penebusan Kristus terbatas maka seakan-akan membuat pernyataan yang menuduh bahwa Allah adalah Pribadi yang kejam, dimana hanya akan menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya saja. Begitu banyak juga para theolog yang menyatakan atau melampirkan ayat-ayat dalam Alitab yang menyatakan pemilihan dari orang-orang yang telah ditetapkan untuk diselamatkan. Hal yang harus dipahami dari pemilihan ini adalah memang kita orang yang telah mendapatkan kepastian masuk dalam kerajaan Surga adalah pribadi yang dipilih, namun pemahaman atau penjelasan yang harusnya menjadi satu argumentasi adalah bahwa seperti satu analogi sebagai berikut: pribadi yang mau menerima Kristus sebagai Juruselamatnya seperti orang yang masuk melalui sebuah pintu, setelah pribadi itu masuk pribadi itu menoleh ke belakang dan pribadi itu melihat bahwa namanya ternyata telah tercatat diatas ambang pintu masuk sebagai orang pilihan. Bukannya sebelum pribadi itu diselamatkan dirinya telah menyatakan bahwa dirinya adalah orang pilihan. Ini tentunya satu argumentasi yang lebih masuk akal manusia dalam menjelaskan perihal pilihan untuk diselamatkan.
2. Pribadi yang Mampu Menebus
Pemahaman tentang satu Pribadi yang mampu menebus haruslah dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya pengikut Kristus (Kristen), sebab jika seorang Kristen gagal dalam menjelaskan perihal Pribadi yang mampu menebus maka segala yang diimaninya akan menjadi sia-sia. Pribadi yang mampu untuk menebus juga dinyatakan oleh Alkitab sebagai dasar pengajaran di dalam kekristenan dan juga memberikan pandangan tentang Pribadi yang mampu menebus, ayat-ayat berikut secara jelas ataupun tersirat menyatakan hal itu. Yehezkiel 33.11, “. . . Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya . . .” Yohanes 4.42, “. . . Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” 2 Korintus 5.14–15, “. . . bahwa satu orang sudah mati untuk semua orang maka mereka semua sudah mati . . . Kristus telah mati untuk semua orang.” 1 Timotius 2.3–6, “. . . Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan . . . yaitu manusia Yesus Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia . . . .” 2 Petrus 3.9, “. . . Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 1 Yohanes 2.2, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”
Banyak pernyataan Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus adalah Pribadi yang mampu dan merupakan penebus umat manusia (1 Korintus 1:30; Galatia 3:13; 4:5; Ibrani 9:15; Matius 20: 28; Markus 10: 45; I Timotius 2: 6; Efesus 1: 7; Kolose 1: 14). Dengan jelas pernyataan-pernyataan bahwa Yesus adalah benar-benar Pribadi yang mampu menebus manusia dari dosa, dan karena Pribadi Kristus adalah Pribadi yang memang tidak berasal dari daging tetapi dari Roh Kudus. Seperti yang dinyatakan oleh Petrus dalam 1 Petrus 2:22 bahwa Yesus adalah Pribadi yang tidak berdosa, sehingga Dia mampu untuk menebus dosa semua manusia. Dimana oleh karena ketidaktaatan satu orang, semua manusia menjadi manusia yang berdosa dan oleh ketaatan satu orang manusia dapat terlepas dari dosa (Roma 5: 19).
Bukti-bukti yang juga mendukung bahwa Yesus adalah Pribadi yang mampu menebus dimana begitu banyaknya nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Lama yang digenapi oleh Yesus, beberapa nubuatan Perjanjian Lama yang digenapi oleh Yesus:
Dilahirkan dari seorang perawan, dinubuatkan dalam Yesaya 7:14 “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda. Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel.” Digenapi di dalam Matius 1:18,24,25; Lukas 1:26-35. Anak Allah, dinubuatkan di dalam Mazmur 2:7; I Tawarikh 17:11-14; II Samuel 7:12-16 “Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan; Ia berkata kepadaku: ‘Anak-Ku Engkau! Engkau telah kuperanakkan pada hari ini.‘”. Nubuatan ini digenapi di dalam Matius 13:17 “… lalu terdengarlah suara dari Surga yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.’” Lihat juga di dalam Matius 16:16; Markus 9:7; Lukas 9:35; 22:70; Kisah Para Rasul 13:30-33; Yohanes 1:34,49. Dia akan disebut Tuhan, ”Demikianlah firman Tuhan kepada tuanku: ‘duduklah disebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuhmu menjadi tumpuan kakimu.’” (Mazmur 110:1; Yesaya 23:6). Nubuatan ini digenapi dalam Lukas 2:11; Matius 22:43-45 . Sehingga dengan sangat jelas yang menyatakan bahwa Yesus Kristus benar-benar Pribadi yang mampu menebus manusia dari dosa-dosanya.
Selain itu dengan fakta-fakta yang ada menyatakan bahwa banyak sekali pribadi yang benar-benar mengalami perubahan secara rohani yang dikarenakan menerima Kristus sebagai Juruselamatnya secara pribadi. Seperti para martir yang telah rela mengorbankan nyawa dan harta mereka demi menjaga kebenaran dan beriman pada Kristus yang merupakan Pribadi yang mampu untuk menebus dosa dunia. Seperti kisah para murid-murid Tuhan Yesus dan para Rasul yang tercatat mereka rela mengalami penderitaan demi mempertahankan iman yang benar, seperti kisah Tomas yang memberitakan Injil ke Persia, Parthia, dan India. Di Calamina - India, Tomas disiksa oleh orang kafir yang marah, tubuhnya ditusuk tombak dan dilemparkan ke dalam nyala api oven . Hal ini menguatkan juga bahwa Kristus benar-benar Allah yang mampu menebus, dimana para saksinya rela mengorbankan nyawanya. Seperti catatan sejarah yang juga menyatakan adanya penyiksaan yang paling kejam dari semua penganiayaan di zaman Gereja Purba yang dilakukan atas nama Kaisar Diocletianus (th 284-304 M). Sejak Nero (54-68) hingga Diocletianus, bangsa Romawi sebentar-sebentar menganiaya orang Kristen dalam berbagai tingkat kekejaman . Josh McDowell merupakan tokoh yang menyatakan dirinya mengalami perubahan setelah menerima Yesus Kristus.
“ Pada tanggal 19 Desember 1959, jam 8:30 malam, pada tahun kedua saya di universitas, saya menjadi seorang Kristen. Malam itu saya berdoa. Saya memohon empat hal untuk membangun hubungan dengan Kristus yang sudah bangkit dan hidup yang sejak saat itu mengubah hidup saya. Pertama-tama saya berkata “Tuhan Yesus terima kasih karena Engkau telah wafat disalib untukku.” Kedua saya berkata,”Aku mengakui hal-hal dalam hidupku yang tidak berkenan kepada-Mu dan memohon kepada-Mu untuk mengampuni dan membersihkan diriku .”
Inilah satu bukti yang nyata bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi yang mampu mengubah hidup seseorang dan bahkan Dia adalah Pribadi yang menebus dosa umat manusia.

B. Peranan Manusia Dalam Keselamatan
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna memiliki satu pola pikir dan kehendak. Dengan pola pikir yang dimiliki oleh manusia maka seringkali manusia pada umumnya selalu menginginkan untuk menemukan satu hal yang dianggap oleh manusia atau pribadi yang lain hebat. Dengan demikian begitu banyaknya pernyataan-pernyataan yang sebenarnya hanya untuk mendapatkan sanjungan dari manusia yang lain. Sementara dalam kekristenan adalah satu hal yang sangat menegaskan bahwa sebagai manusia yang memiliki kehendak serta pola pikir maka segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia adalah untuk kemuliaan Tuhan.
Manusia tidak memiliki peranan sedikitpun dalam mendapatkan keselamatan karena keselamatan adalah kasih karunia dari Tuhan kita Yesus Kristus “ sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2: 8-9). Karena merupakan kasih karunia maka manusia haruslah memiliki satu iman atau hanya percaya pada Yesus yang telah mati di atas kayu salib untuk menebus segala dosa kita. Sehingga sudah menjadi satu ketetapan untuk memahami apa maksud percaya di dalam Tuhan Yesus Kristus itu? Itu berarti mengabdikan hidup sepenuhnya kepada Yesus, mengakui Dia secara terbuka, tanpa malu, bahkan sampai mati. Dan itu adalah komitmen yang Allah agungkan. Keselamatan kita adalah pemberian dari anugerah-Nya . Manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih percaya pada penebusan Tuhan Yesus untuk segala dosanya atau menolaknya, atau yang dapat disebut sebagai sisi tanggung jawab manusia bahkan seperti dalam Matius 11:28. Tuhan memanggil orang berdosa dan panggilan itu mengindikasikan pada tanggung jawab kepada manusia berdosa untuk memutuskan datang dan mendapatkan sentosa di dalam Yesus Kristus . Dan hal menentukan atau memilih bukanlah yang disebut dengan usaha manusia namun keinginan dan ketetapan untuk percaya adalah satu sikap hati dari manusia bukan satu usaha.
Alkitab yang dengan sangat nyata mengajarkan bahwa seberapa hebatnya usaha manusia untuk mendapatkan keselamatan akan tetap menjadi sia-sia karena keselamatan atau pengampunan dari dosa hanya akan terjadi apabila adanya penumpahan darah (Ibrani 9: 22), sehingga usaha manusia tidaklah akan menuai hasil dalam mencari suatu keselamatan. Sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa karena pemahaman penebusan karena usaha manusia, maka Paus Katolik pernah mengeluarkan surat penebusan dosa yang diperjualbelikan, dan dengan demikian dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membeli surat penebusan dosa itu maka akan benar-benar mendapat pengampunan. Dengan adanya surat penebusan dosa itu juga reformasi dalam kekristenan terjadi dan tentunya juga masih banyak contoh lain yang merupakan usaha manusia untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman dosa dengan berbagai usaha yang dijalaninya, bahkan ada yang sampai dengan cara menyiksa dirinya sendiri (aketikisme) guna mendapatkan kesempurnaan atau kesucian untuk masuk ke dalam hidup yang kekal.
Usaha manusia dengan menyiksa diri sangatlah populer sampai masa sekarang ini, namun sebenarnya secara akal sehat sangatlah tidak memungkinkan orang dapat terlepas dari dosa yang mengakibatkan setiap orang yang terlahir dari keturunan Adam masuk dalam penghukuman yang kekal. Karena keselamatan hanya ada pada Allah sendiri dan Allah telah menyatakan cinta-Nya pada manusia dengan mengirim Yesus Kristus sebagai penebus dosa manusia, karena Kristus merupakan Allah sendiri yang mampu menebus dosa manusia.

C. Pemeliharaan Setelah Diselamatkan
Seseorang yang mendapatkan satu barang yang sangat berharga dan merupakan pemberian dari seseorang yang sangat dia hormati, secara akal sehat orang tersebut pasti akan memelihara barang tersebut bahkan sangat mungkin sampai mengorbankan dirinya demi barang yang sangat berharga itu. Banyak ketidakpahaman oleh seseorang tentang satu barang yang berharga maka sangat mungkin dari kita walaupun sebenarnya telah diberikan satu hal yang sangat berharga, namun seringkali menyia-nyiakan dan bahkan ada yang menolaknya. Begitu juga halnya dengan keselamatan jiwa adalah satu hal yang sangat berharga dalam kehidupan manusia, namun seringkali karena kekurang pahaman terhadap betapa berharganya keselamatan jiwa kita, maka tak jarang orang-orang yang mengaku “Kristen” dan telah diselamatkan namun tidak memahami tentang pemeliharaan setelah seseorang diselamatkan atau mendapatkan satu jaminan untuk masuk dalam Kerajaan Sorga.
Pemeliharaan setelah seseorang diselamatkan haruslah dipahami oleh setiap orang yang mengaku dirinya telah diselamatkan, jika seseorang gagal dalam memahami hal ini maka akibatnya akan seperti pribadi yang sebenarnya telah memiliki satu benda yang berharga namun karena kurang memahami bahwa yang diterimanya adalah satu yang sangat berharga maka pribadi itu akan menyia-nyiakan satu yang sebenarnya sangat berharga. Pandangan atau satu wacana yang sangat menarik untuk diketahui adalah bagimanakah sebenarnya sikap orang yang telah menerima keselamatan jiwanya?. Sehingga jangan seperti dalam perumpamaan Alkitab yang menyatakan bahwa … babi jika diberikan mutiara maka mutiara itu akan diinjak-injaknya, karena tidak mengetahui bahwa mutiara adalah satu benda yang sangat berharga dan memiliki nilai yang mahal. Pemeliharaan yang dari Allah dan juga merupakan kedaulatan dari Allah bahwa Allah menetapkan setiap orang yang sudah diselamatkan harus tetap tinggal di dalam anugerah (Ibrani 3: 14; II Yohanes 1:9; I Korintus 15:2) .
1. Satu Jaminan yang Pasti
Pengikut Kristus (Kristen) adalah yang memiliki satu pedoman atau dasar yang pasti. Maka pada satu hal yang sangat penting yaitu jiwa manusia dalam kekristenanlah yang memberikan satu jaminan untuk setiap pribadi yang mau percaya untuk masuk dalam kerajaan Sorga. Kenyataan yang juga telah seringkali kita pahami begitu banyaknya pengajaran tentang bagaimana supaya manusia terlepas dari dosa, namun dari begitu banyaknya pengajaran itu tidak ada yang memberikan satu jaminan yang pasti bagi yang mau mempercayainya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga kecuali dalam kekristenan.
Dalam kekristenan sendiri yang terdiri dari berbagai denominasi atau aliran tentu banyak sekali pemahaman tentang kepastian untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, dimana jika ada orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen namun jika ditanyakan tentang apakah sudah memiliki satu kepastian untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga, tidak sedikit yang belum memiliki satu kepastian. Hal demikan banyak terjadi karena dalam gereja atau jemaat dimana pribadi tersebut berbakti tidaklah diajarkan tentang bagaimana mendapatkan kepastian masuk Sorga secara jelas dan sistematis. Sehingga tak jarang orang yang mengaku diri sebagai orang Kristen tidak mampu untuk menjelaskan bahwa dalam kekristenan ada satu jaminan yang pasti untuk masuk dalam hidup yang kekal yaitu di Sorga. Keadaan yang demikian sekarang sangat sering dijumpai dalam segala kondisi kehidupan orang Kristen.
Alkitab yang merupakan otoritas kebenaran atau sebagai standar kekristenan untuk mendasarkan segala pengajarannya menyatakan pada setiap orang percaya bahwa ada satu jaminan yang pasti di dalam Yesus Kristus.
“… Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. 10 Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya”. (Roma 5: 9-10).
Dengan Firman Tuhan yang menyatakan satu kepastian maka sebagai orang yang beriman ini menjadi satu kegembiraan yang tiada taranya, dimana ada kata pasti dan bukan kata mudah-mudahan. Jaminan yang pasti tentunya akan sangat memberi satu kenyamanan bagi setiap pribadi yang mengimaninya. Jangan sampai ada pribadi yang ternyata lebih senang dan bersukacita dengan pengajaran yang menyatakan satu hal yang belum pasti atau yang hanya mudah-mudahan. Bahkan dalam kekristenan selain ada satu jaminan yang pasti juga memberikan satu janji yang begitu besar terhadap orang yang mau untuk mengimani pengorbanan Yesus diatas kayu salib sebagai tebusan atas segala dosanya.
Memiliki satu jaminan yang pasti maka dalam kekristenan juga memberikan sebutan yang baru bagi setiap orang yang percaya, dimana setelah seseorang mendapatkan satu jaminan keselamatan maka juga disebut sebagai warga Sorga (Filipi 3:20), orang-orang kudus (I Korintus 1: 2), lahir baru (Yohanes 3: 3), anak-anak Allah (Yohanes 1: 12), hamba Allah (Roma 6: 22) .
2. Berkat Rohani yang Terus Tercurah
Berkat merupakan satu hal yang sangat disenangi oleh setiap manusia, setiap manusia tentulah selalu memohon berkat dalam setiap doa-doa yang diutarakan kepada Tuhan. Sehingga merupakan satu hal yang begitu indah dalam kehidupan Kristen dimana ada satu jaminan kepastian, ternyata juga ada janji berkat-berkat rohani yang akan terus tercurah. Sebagaimana janji Allah kepada Abraham bahwa akan menjadi berkat (Kejadian 12: 2; 28: 14), juga seperti dinyatakan bahwa berkat ada diatas kepala orang benar (Amsal 10:6a), berkat bagi orang yang mendengarkan suara Tuhan Allah kita (Ulangan 28:2), juga penegasan dari Kristus sebagai Raja bahwa kita yang percaya dan yang juga disebut akan duduk disebelah kanan Sang Raja yaitu Kristus akan mendapat berkat (Matius 25:34), dan juga yang dinyatakan dalam Galatia 3:8 bahwa oleh karena kita telah diselamatkan oleh iman pada Yesus Kristus maka akan menjadi saluran berkat.
Berkat yang merupakan satu hal yang sangat diharapkan oleh setiap orang terkadang hanya berpatokan pada berkat yang secara jasmani yaitu kekayaan dan kehormatan duniawi, pemahaman yang seperti itu adalah satu hal yang perlu diperbaiki, karena dengan pemahaman bahwa yang akan didapat adalah berkat-berkat jasmani maka akan menjadi satu pertentangan dimana bahwa setiap pribadi yang mau benar-benar mengikut Yesus haruslah rela untuk menderita dan bahkan miskin secara duniawi. Namun juga bukan satu kesalahan jika ada orang yang benar-benar mengikut Kristus itu juga menerima berkat jasmani yang melimpah, karena janji yang tentang berkat bagi orang yang lahir baru adalah berkat secara rohani, dimana selalu ada sukacita dan hikmat bagi setiap pribadi yang telah dilahirkan kembali, merupakan satu alasan yang sangat tepat untuk bersukacita adalah karena menerima berkat keselamatan jiwa.

D. Jangkauan Pemeliharaan
Gambaran satu bencana yang diakibatkan oleh kebocoran pipa gas beracun yang berada di satu tempat, tentunya tidak semua daerah yang ada disekitar pipa gas beracun itu terkena dampak atau bahaya akibat satu radiasi. Dengan ilustrasi diatas dapat juga diaplikasikan dengan pemeliharaan Tuhan Allah pencipta langit dan bumi ini kepada orang-orang yang telah diselamatkan. Karena kasih Allah yang sangat besar pada setiap orang yang telah diselamatkan maka Allah kita juga merupakan Allah yang kaya dalam segala hal sehingga pribadi yang telah menerima keselamatan juga dapat disebut sebagai pribadi yang kaya namun ada hal yang perlu disadari juga bahwa kekayaan yang dari Allah memiliki satu jalur, dan begitu pula dengan hal pemeliharaan. Sehingga jangkauan pemeliharaan itu memiliki batas-batas tertentu dari setiap pribadi yang telah diselamatkan. Jangkauan pemeliharaan terhadap orang atau pribadi yang telah diselamatkan dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:
1. Rohani
Jangkauan pemeliharaan dalam hal rohani mencakup beberapa hal yang dapat diperincikan dalam setiap kehidupan pribadi lepas pribadi, secara umum berkat-berkat rohani telah diberikan oleh Allah ketika Kristus rela mati di kayu salib untuk menebus segala dosa dunia. Berkat-berkat rohani juga dinyatakan oleh Rasul Paulus sebagai kekayaan Rohani, dimana ada berkat dari Allah Bapa, Allah Anak, serta dari Allah Roh Kudus selain itu dimana Alkitab menyatakan tentang jangkauan pemeliharaan terhadap orang percaya meliputi sejak pribadi itu menerima Kristus maka telah tercakup dalam pemeliharaan orang-orang kudus. Sebagaimana dalam hal pemeliharaan yang secara rohani telah dinyatakan dengan jelas bahwa sebagai orang yang rohani maka Allah akan memelihara orang-orang kudusnya bahkan seperti biji mata-Nya (Mazmur 17: 8). Dalam perihal kerohanian, pernyataan pemeliharaan dengan tegas bahwa tidaklah bersifat tanpa syarat atau dalam kondisi apapun. Pemeliharaan secara rohani akan tetap nyata pada diri pribadi yang telah ditebus dari dosa, apabila pribadi yang bersangkutan jangan sampai kandas imannya (I Timotius 1:19), dimana dengan ayat Firman Tuhan ini menyadarkan dan bahkan menegor setiap pribadi untuk tetap berada dalam kondisi kerohanian yang benar yaitu tetap di dalam Kristus Yesus.
Pemeliharaan secara rohani juga dinyatakan oleh Allah dalam penyertaan-Nya bagi setiap pribadi yang benar-benar berada di dalam Dia, sebagai contoh dimana Allah pada masa Perjanjian Lama benar-benar terbukti menyertai umat pilihan yaitu bangsa Yahudi, karena Tuhan Allah mengetahui bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang sepatutnya menjadi teladan dan contoh bagi bangsa-bangsa yang lain. Sehingga penyertaan Allah juga secara terbuka diketahui oleh orang lain (Zakaria 8:23), sehingga pemeliharaan yang secara rohani nyata dalam pemeliharaan Allah. Serta satu iman yang nyata yang dikatakan oleh Hizkia kepada rakyatnya bahwa sebagai satu bangsa pilihan Allah maka pasti ada penyertaan dari Allah Bapa (II Tawarikh 32:8).
Pada masa Perjanjian Lama pemeliharaan Allah memiliki batasan bagi bangsa pilihan, dan jika saat ini dalam masa Perjanjian Baru penyertaan yang secara rohani juga memiliki batasan tersendiri. Penyertaan atau pemeliharaan Allah dalam saat ini yaitu kepada jemaat lokal, pemeliharaan ini terbatas kepada jemaat lokal karena jemaat lokallah yang merupakan sang pemelihara kebenaran yang Alkitabiah, selain itu dalam jemaat lokallah Allah mencurahkan berkatnya. Jemaat yang merupakan pilihan Allah di masa sekarang untuk menjalankan fungsinya sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (I Timotuis 3:15). Dengan keberadaan jemaat maka disitulah orang-orang benar bersekutu dan berbakti, dimana jika orang yang mengaku dirinya sebagai orang yang mencintai kebenaran yang Alkitabiah maka tidak akan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibrani 10: 25). Pada batasan jemaat lokal yang Alkitabiahlah Allah memberikan pemeliharaannya dalam hal kerohanian.
2. Jasmani
Sifat jasmani atau sesuatu yang lahiriah merupakan satu hal yang langsung nampak dengan indra mata dan indra perasa manusia, sehingga pemeliharaan Allah terhadap orang-orang yang telah diselamatkan seringkali dapat disaksikan oleh indra yang dimiliki oleh manusia, sehingga kebanyakan “kekristenan” menjadi salah kaprah dalam memahami pemeliharaan secara jasmani. Ini yang dikarenakan begitu banyaknya suguhan kesaksian dari orang-orang yang sukses setelah mengikuti satu kebaktian kebangkitan rohani. Bahkan banyak dari para “hamba Tuhan” yang justru juga menyuguhkan pengajaran yang bersifat menjanjikan berkat secara jasmani, dengan demikian jemaat yang tadinya benar-benar menginginkan satu kebenaran yang murni menjadi salah arah dan justru mengarah hanya kepada kebaikan atau pemeliharaan secara jasmani.
Fakta-fakta dari kesalahan pemahaman tentang pemeliharaan orang-orang percaya atau orang-orang kudus, dalam hal jasmani inilah yang juga menyebabkan injil keselamatan menjadi sulit untuk diterima oleh orang-orang yang memang telah terjerumus dalam permasalahan berkat secara jasmani atau duniawi. Dengan sangat jelas dinyatakan dalam Alkitab bahwa jangan sampai pribadi yang telah mencintai kebenaran menjadi terbalik pemahamannya malah mencari mamon atau harta duniawi. Seperti dalam kisahnya Demas yang tadinya mencintai kebenaran yang dikarenakan secara kedagingan dia tidak mendapatkan kenikmatan dan justru seringkali mendapatkan kesulitan maka Demas lebih memilih berbalik pada kehidupan duniawinya (2 Timotius 4:2). Pernyataan Alkitab tentunya sangat berbeda dengan keinginan dunia ini, dimana Alkitab menyatakan bahwa setelah manusia diselamatkan seharusnya jangan mengharapkan hal-hal yang bersifat jasmani, tetapi sebenarnya harus menyadari bahwa sesuatu yang bersifat daging adalah satu hal yang akan musnah dan hanya kesia-siaan (Pengkhotbah 1).
Rasul Paulus memberikan pengajaran tentang perihal kehidupan dalam Kristus, dengan sangat nyata bahwa sebagai orang yang telah ditebus dari cara hidupnya yang sia-sia maka secara jelas tidak adanya janji untuk pemeliharaan secara jasmani atau yang bersifat daging, dimana setelah orang dibenarkan atau ditebus menyadari bahwa hidup yang dihidupinya saat ini bukanlah hidup yang dimilikinya lagi melainkan hidup yang merupakan kepunyaan Kristus . Bahkan Rasul Paulus mengajarkan bahwa janganlah merasa bahwa pribadinya sangatlah berharga sehingga dalam segala aspek harus terpelihara, justru menjadi satu kebalikan bahwa hendaknya kepribadian yang bersifat manusiawi dan duniawi haruslah ditepis dan disingkirkan sehingga benar-benar hanya Kristus yang hidup dalam diri setiap orang yang telah diselamatkan atau dilahirkan kembali, bukan mengharapkan pemeliharan secara jasmani. MASIH BERSAMBUNG DENGAN PEMBAHASAN BERDAGAI PAHAM PEMELIHARAAN DARI BERBAGAI DENOMINASI.