Rasanya sudah banyak orang mengerti bahwa menjadi kristen bukan berarti terbebas dari segala masalah.
Yang belum dimengerti mungkin adalah masalah apakah yang harus dihadapi oleh umat kristiani.
Banyak orang beranggapan bahwa masalah orang kristen adalah masalah penganiayaan, dari segi iman tentunya.
Apalagi buat kita yang berada di Indonesia, di beberapa daerah, masih banyak penindasan terjadi terhadap umat
kristiani baik terlihat ataupun tidak. Tetapi apakah benar masalah umat kristen ini hanya masalah penganiayaan?
Ternyata anggapan yang dianut tersebut tidak sama dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Faktanya,
orang kristen sangat sibuk dengan berbagai masalah, jauh dari masalah penganiayaan.
Contoh masalah-masalah yang ada di sekitar orang kristen adalah; lama mendapat pekerjaan adalah masalah,
terlilit hutang adalah masalah, saat sakit adalah masalah, kecopetan juga masalah, tertipu, terhina, juga problem
anak-anak dan pasangan suami istri adalah masalah, pekerjaan yang membosankan, pendapatan yang tidak pernah
cukup, bentrok dengan orang lain, khotbah pendeta yang kurang greget, gedung gereja yang kurang megah,
kecewa, stress, bosan, kurang tidur, kecanduan obat terlarang, blue film, merokok, tidak punya teman dan bahkan
bentuk tubuh yang dirasa tidak pas-pun bisa dijadikan bahan untuk menjadi ‘masalah’.
Celakanya, banyak nasehat dari teman sesama kristen yang cenderung tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah
memperkeruh dan tragisnya sampai mematikan iman seseorang. Mereka dengan mudahnya mengatakan; oh mungkin
kamu kurang iman, mungkin cara berdoamu salah, coba deh selidiki hatimu pasti ada sesuatu yang belum beres,
pasti ada yang salah di dirimu, doamu kurang banyak atau kurang khusuk, masak sih masalahmu gak selesai-selesai?
Di alkitab kan sudah dikatakan iman sebesar biji sesawi aja mampu untuk memindahkan gunung, kurang sungguh-
sungguh ya? Sudahlah… habis ini pasti deh akan beres dsb… dsb…
Bagaimana kalau orang yang dinasehati tesebut sudah berdoa dengan sungguh-sungguh, beriman penuh, berserah,
berusaha dan berharap dengan sungguh? Apakah jawaban itu tidak sama dengan mengadilinya? Bahwa dia belum
benar di mata Allah, belum cukup iman dsb. Bisa juga dikatakan, apakah masalah-masalah tadi adalah sesuai
dengan apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan orang-orang percaya? Tidak bukan? Lalu, apakah masalah
yang sesuai dengan kehendak Tuhan?
Rancangan Allah buatku adalah Damai Sejahtera
Yer. 29:11; Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah
firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu
hari depan yang penuh harapan.
Rancangan Allah sudah jelas, yaitu Damai Sejahtera. Yang perlu dimengerti, hal-hal apakah yang dijadikan ukuran
untuk merasakan damai sejahtera. Karena ukuran Damai Sejahteranya Allah berbeda dengan damai sejahtera yang
manusia harapkan.
Damai sejahtera buatku adalah yang dari Tuhan
Mat. 11:29; Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan
jiwamu akan mendapat ketenangan.
Ukuran damai sejahtera, adalah dari Tuhan saja. Belajarlah pada Tuhan. Kalau semua masalah seperti yang tersebut
di atas mampu menghilangkan damai sejahtera kita. Sudah barang tentu bukan iman kita yang salah, bukan pula
Tuhan yang tidak mendengar doa kita. Tetapi ada kesalah-pahaman dalam merasakan damai sejahtera, yaitu dalam
memahami ukuran yang dipakai untuk merasakan damai sejahtera itu.
Saat yang membahagiakan (damai sejahtera) anak kecil seperti bermain games atau computer tanpa batas, tentu
malah mengkhawatirkan (bukan damai sejahtera) bagi orang tuanya.
Imanku adalah kepada Tuhan
Lukas 9:23; Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Iman kita tidak diukur dengan kebahagiaan duniawi.
Masalah-masalah di atas adalah murni masalah duniawi. Kita bermasalah karena tidak mendapat kenyamanan duniawi,
sama saja dengan egois.
Iman kita, sepertinya diukur oleh keinginan kita. Kita menghendaki hidup di zona nyaman. Ini berarti kita belum
menyangkal diri kita, tetapi masih memperjuangkannya.
Masalah duniawi bukanlah masalah
Kolose 3:2; Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
Masalah-masalah yang ada di dunia, adalah masalah duniawi. Ini berbeda dengan apa yang Tuhan kehendaki bagi
kita untuk dipikirkan. Kita akan selalu menderita kalau memikirkan perkara-perkara duniawi. Tuhan sudah memberikan
gambaran dengan jelas, apa yang dimaksudkan dengan menderita. Dan itu tidak berhubungan dengan perkara-perkara duniawi.
Tidaklah heran banyak diantara kita yang kehilangan sukacita dan damai sejahtera karena menghadapi berbagai macam masalah.
Tuhan menghendaki fokus kita, hanya kepadaNya. Karena Tuhan juga memfokuskan diriNya hanya kepada kita. Tuhan vs kita.
Mengalihkan fokus kita kepada hal-hal lain, malahan akan menjauhkan bahkan mengaburkan pandangan kita kepadaNya.
Tuhan melihat diri kita, hati kita, keberadaan kita. Bukan melihat pada apa yang kita punya, kekurangan kita,
kemiskinan kita, status kita dan semua embel-embel yang kita bawa.
Mengapa kita tidak bisa bersuka cita kalau sedang menderita (versi duniawi)? Karena fokus kita adalah pada penderitaan itu.
Kadang malah kita berpikir mengapa Tuhan diam saja?
Tuhan tidak diam, Tuhan tetap berfokus pada kita, Tuhan menunggu kita dengan sabar untuk berfokus padaNya, dengan
atau tanpa embel-embel penderitaan yang kita bawa tadi. Tuhan mengerti kelemahan kita, yang sulit sekali membedakan
hal-hal yang perlu kita pikirkan, yang terkadang telah merebut fokus kita kepadaNya.
Wahyu 2:3; Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
Apakah penderitaan yang kita rasakan saat ini adalah penderitaan karena namaNya?
Ataukah penderitaan karena masalah-masalah yang timbul dari diriku sendiri?
Tuhan sedang menunggu kita untuk berfokus padaNya dan akan memberikan Damai SejahteraNya pada jiwa kita,
bukan pada keinginan kita di dunia. Amin.