Saya punya pengalaman mengenai buah semangka. Waktu pertama kali ke Jepang, saya kangen banget makan semangka. Bahasa Jepang semangka adalah "suika".
Nah di bazar musim panas saya melihat ada semangka bulat yang dijual, dan menarik sekali. Di depannya terpasang harga 300 yen. Saya hitung dengan rupiah (rate waktu itu 1 yen = 60 rupiah. Sekarang 1 yen = 125 rupiah), harganya adalah 18,000 rupiah. Itu harga sebuah semangka bulat yang murah sekali di Jepang. Saya pikir ini pasti karena bazar - jadi semangkanya dijual murah.
Terus saya buru-buru ambil itu semangka dan saya bawa ke kasir, sambil menyodorkan tiga koin 100 yen. Tapi di petugas di kasir dengan ramah bilang masih kurang 2,700 yen lagi. Saya bingung dan jawab, bukannya harganya 300 yen? Semangka ditinggal di kasir dan si petugas dengan sabar dan ramah mempersilahkan saya mengikutinya ke tempat semangka dipajang.
Sampai di depan tumpukan semangka, saya dengan yakin tunjuk harganya 3.00. Si penjaga tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar penjelasan saya. Kemudian giliran dia menjelaskan angka yang tertera di situ. Dengan ramah dia menjelaskan bahwa di belakang angka 3.00 masih ada satu tulisan kanji "sen", yang artinya "ribu". Jadi kalau 3.00 diikuti "sen", itu bacanya san-sen atau "tiga ribu". Si penjaga memberi penjelasan sabar seperti bu guru teladan. "Komattana" giliran saya yang bengong. Harga satu semangka bulat di bazar itu 3 ribu yen atau 180 ribu rupiah - mahal banget.
Tapi karena si petugas begitu ramah dan saya sudah pengen makan itu semangka, akhirnya saya menyodorkan tiga lembar seribuan yen. Si penjaga mengembalikan uang koin tiga ratus yen yang telah saya berikan, dan menyerahkan bungkusan semangka seharga tiga ribu yen itu. Kemudian dia membungkuk dengan hormat dan mengucapkan "Domo arigato gozaimashita. Mata onegaishimasu" (Terima kasih banyak. Nanti silahkan berkunjung lagi). Saya mengangguk dan menjawab dengan pendek "iie", sambil garuk-garuk kepala.
Rupanya waktu itu saya masih belum paham penulisan harga-harga dengan tulisan kanji. Dari situ saya jadi ingat diluar kepala bentuk huruf kanji "seribu", karena diberi pelajaran oleh "bu guru" yang ramah dan sabar di bazar musim panas ... :-)
* * * * *
Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas (Amsal 3:14,15)
GBU
Indriatmo