Tanggal 20 November 2006 silam, bangsa kita mendapat kunjungan kenegaraan George W Bush. Sambutan pro dan kontra bertebaran luar biasa. Kita geli menyaksikan alasan sikap mereka yang kontra. " Bush orang paling munafik di seluruh dunia, maka tolak saja!" demikian bunyi sms di TV pada acara Bedah Editorial Malam. " Siapapun umat Islam yang tidak ikut demo dan menolak Bush dosa berat," demikian kata Abubakar Baasyir. Amin Rais dan masih banyak tokoh agama juga ikut demo menolak Bush dan ada pula yang membakar bendera AS.
Padahal, mereka juga orang-orang yang gemar pakai blue jeans, lulusan AS, makan ayam Mac Donald, pakai komputer Microsoft, dan masih banyak produk Amerika yang digandrunginya. Kalau demikian, siapakah yang lebih munafik, Bush atau para pendemo itu?
Kita hidup dalam dunia media massa dan budaya berbau massal pula. Akibatnya, acapkali kita sering membenarkan, apapun yang disuarakan dan dilakukan secara massal. Kekuatan massa juga luar biasa mempengaruhi bahkan mengubah banyak sendi kehidupan ini. Dalam situasi ini ada bahaya, individu kehilangan arti, juga kehilangan daya kritis. Segalanya serba takut dan disetir oleh massa tanpa identitas jelas.
Hidup kita diwarnai dengan sikap tertutup dan sombong. Para pelajar merasa diri sudah tahu dan mampu, sehingga malas belajar. Para pemimpin merasa diri sudah mengerti dan menutup diri terhadap kritik dan koreksi. Orang-orang beragama menganggap dirinya benar dan mengadili orang lain sesuka hati. Agama menjadi kebenaran yang tertutup karena terdiri atas dogmanya masing-masing.
Masyarakat yang bersikap demikian sulit berkembang karena merasa diri beres dan sukar bertobat. Dia merasa sudah mumpuni, tidak membutuhkan tambahan isi dari orang lain. Bahkan, Tuhan pun tidak mereka butuhkan.
Dunia pun cenderung menutup semua akses dari Tuhan. Manusia terlampau yakin dengan kemampuannya. Aneka jenis pengembangan ilmu dan teknologi dianggap sebagai andalan. Tuhan sudah mati. Akibatnya, kondisi hidup mereka semakin parah bak pasien yang menolak mengakui bahwa tubuhnya sakit.
Dalam hidup, kita kerapkali melakukan tindakan hanya sepotong, sehingga membuat kita tidak waras. Kita merasa sudah hebat dan berjasa apabila telah bekerja keras. Padahal, yang dicari cuma pengakuan diri. Kita menganggap diri paling penting dan berguna, apabila berotak cerdas. Padahal, yang muncul cuma ingin dihargai. Kita melihat diri suci dan penyelamat, apabila sudah berdoa dan berlaku tapa. Padahal, yang nomor satu cuma demi kemuliaan diri sendiri.
Orang semacam ini berusaha menemukan suatu tempat bagi dirinya untuk dapat melakonkan suatu peran dalam upayanya menyembunyikan hakikat dosa serta kesalahannya dari orang lain maupun dirinya sendiri. Tetapi sekarang, ia mengalami kesulitan dalam menjalankan perannya di dunia nyata. Ia telah disesatkan oleh pemikiran bahwa, ia telah menjadi sebagaimana yang dikiranya hanya dapat dilakukannya dalam kepura-puraan--lebih baik dibandingkan semua orang.
Di masa lalu memang pernah terjadi pemberangusan besar-besaran terhadap semua pihak yang menentang Gereja. Bahkan tidak salah kiranya kalau disebutkan bahwa pada masa-masa itu memang terjadi hegemoni kekuasaan Gereja. Pada saat itu, lahirlah sebuah institusi buatan Gereja yang terkenal karena kejahatan dan kekejamannya, yang disebut sebagai "Inkuisisi".
Metode "Inkuisisi" ini juga digunakan oleh Gereja Protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka.
Sebagian tokoh Gereja (tentu saja) berusaha melakukan pembelaan yang apologetik dalam masalah ini. Namun menurut Peter de Rosa dalam bukunya Vicars og Christ: The Dark Side of the Papacy menulis bahwa hal ini hanya menambahkan unsur kemunafikan terhadap sebuah kejahatan (" it merely added hypocricy to wickedness"). Yang juga sangat mengherankan bagaimana cara-cara penyiksaan keji dalam inkuisisi ini dihalalkan oleh mereka yang disebut sebagai "Orang-orang Suci" atau rohaniwan.
Yesus merangkum seluruh hidupnya dalam tindakan menuju hidup sejati yang menyeluruh dan utuh. Inilah pelajaran penting untuk mengubah halauan hidup. Tanpa proses seperti itu sebenarnya kita adalah orang-orang yang tidak waras.
Yesus merajut hidupnya dalam pikiran yang jernih dan suci. Pelayanan yang jujur dan penuh kasih, dan tujuan yang hakiki dan Ilahi. Semua bermuara pada penyelamatan manusia dan kemuliaan Bapa. Yesus dipandang tidak waras lagi, kerena pelbagai sebab:
Pertama, fokus pelayananNya diluar batas kewajaran. Makan pun sampai terlewatkan.
Kedua, kemampuanNya tidak sekadar kata, tetapi tindakan nyata yang penuh kuasa. Setan-setan pun tunduk
kepadaNya.
Ketiga, pemikiran dan visiNya tidak hanya berkutat pada yang insani, tetapi jauh menuju kepada Yang Ilahi.
Hanya mata batin yang jujur dan suci akan mampu memahami. Yesus dipandang tidak waras manakala ditinjau sebatas pandangan mata fisik dan batin yang dangkal. Namun, Yesus justru menyembuhkan kita yang sebenarnya tidak waras karena digerogoti oleh kuasa setan yang egois.
Yesus memberi kesadaran baru bagi orang beriman. Tujuan hidup direncanakan dan dirumuskan bukan sekadar dari pengalaman dan pemikiran. Semuanya mesti selalu bersumber dari dorongan roh. Yang istimewa, Yesus membuka pernyataan visiNya dengan kata-kata,"Roh Tuhan ada padaKu." Ini artinya, kesadaran, keyakinan, dan tekadNya pertama-tama berasal dari Roh Tuhan. Hal ini lebih jelas kalau kita ingat peristiwa sebelumnya saat Ia dibimbing oleh Roh sejak kembali dari padang gurun untuk mati raga dan berpuasa. Visi yang dinyatakanNya sepenuhnya bersumber dari Roh Tuhan.
Sungguhpun serius dan hebat dalam pemikiran dan visi, kita percaya bahwa Tuhanlah yang menerangi dan memberi jalan dalam langkah perwujudanNya. Dialah yang meneguhkan dalam kelemahan, memberi semangat dalam kelesuan, dan kepercayaan iman dalam ketakutan. Rohlah yang menjadi daya dalam penderitaan dan aneka kesulitan.
Soli Deo Gloria!