(perenungan bagi suami)
"Mas, saya ini punya dua dapur," kata seorang tetangga dengan bangga dalam sebuah pembicaraan waktu bertemu saat dia pindah rumah sebagai penghuni baru di perumahan tempat saya tinggal.
Saya hanya berpikir, mungkin di rumahnya dibuat dua dapur: satu dapur basah dan satu dapur kering. Terus terang saya tidak paham apa maksudnya, tapi saya segan untuk bertanya lebih lanjut karena umurnya jauh lebih tua. Saya hanya meneruskan mendengar penjelasannya, karena pasti dari situ akan ketemu apa yang dimaksud dengan dua dapur tersebut.
Dia bercerita kalau mempunyai usaha pemancar radio swasta. Satu di luar Jawa satu di Jakarta. Dia punya tiga anak, dua di luar Jawa dan satu di perumahan ini. Saya sempat keceplosan, "Yang di luar Jawa ikut siapa?" Dengan bangga dia menjawab, "Ada mamanya juga di sana," padahal setahu saya di perumahan ini dia tinggal bersama dengan istri dan satu anaknya. Jadi ternyata maksud 'punya dua dapur' itu adalah eufimisme dari kata 'punya dua istri' !
Walaupun saya adalah pengikut Kristus, tapi 'dua dapur' ini bukan hal yang begitu asing. Nenek dari keluarga bapak adalah istri pertama, karena keluarga bapak adalah non Kristen. Jadi kalau merayakan lebaran, saya diajak bersilaturahmi juga ke keluarga paman dan bibi dari nenek ke dua dan ketiga (seperti di cerita komik silat saja...) Memang kakek adalah pejabat pemerintah yang terpandang sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup para istrinya secara cukup.
Pada generasi ke dua, ada juga beberapa paman yang mempunyai lebih dari satu dapur. Selain pengusaha, mereka juga adalah tokoh agama. Tapi rupanya bapak saya tidak mau mengikuti jejak tersebut, karena bapak merasakan dampak "kurang kasih sayang" dari orang tuanya. Bapak tidak ingin apa yang pernah dialami terulang lagi dalam keluarganya, sehingga bapak memilih untuk menjadi seorang pengikut Kristus yang tidak memperbolehkan umatNya memiliki dapur lebih dari satu.
Waktu bekerja di sini, saya melihat ternyata dalam kehidupan masyarakat betawi mempunyai istri lebih dari satu adalah hal yang lumrah, terutama bagi laki-laki yang kaya, tokoh masyarakat atau pemuka agama. Karena katanya syarat untuk bisa memiliki istri lebih dari satu adalah harus mampu mencukupi kebutuhan nafkah lahir dan batin, serta bisa berlaku adil. Ada seorang staf di bagian engineering yang dengan bangga berkata bahwa dia punya empat istri. Bujubuneng yak ... Dikatakan bahwa empat adalah batasan normatif di agamannya. Bahkan karena mampu, ada seorang lurah di daerah ini yang mempunyai istri sampai empat kali dua alias delapan orang. Bujubuneng lagi dah ....
Ada banyak alasan yang digunakan sebagai pembenaran terhadap hidup berkeluarga dengan dapur lebih dari satu. Yang utama tentu saja bahwa agama mengijinkan hal itu, katanya maksimal sampai empat.
Alasan berikutnya adalah untuk mencegah perbuatan zinah jika hubungan tersebut dilakukan di luar pernikahan. Jadi supaya tidak menjadi dosa, maka hubungan itu kemudian diresmikan dalam ikatan perkawinan. Ini banyak dijumpai dalam pola 'kawin kontrak' yang dilakukan oleh para wisatawan dari negara-negara timur tengah, terhadap perempuan di daerah puncak. Selama masa liburan mereka 'menikahi' perempuan di daerah puncak, dan saat liburan selesai 'istri'nya dicerai. Karena usia perkawinan semacam ini singkat dan dalam periode tertentu selama masa liburan maka ini dinamakan 'kawin kontrak" - mengambil terminologi 'karyawan kontrak' yang bekerja di pabrik.
Ada alasan lain yang mungkin berbau sosial, yaitu azas pemerataan. Maksudnya begini: jumlah perempuan di Indonesia itu lebih banyak dibandingkan laki-laki. Nah, supaya memberikan kesempatan bagi para perempuan Indonesia untuk memenuhi hukum agama mengenai kewajiban untuk menikah, maka para laki-laki memberi kesempatan yang seluas-luasnya agar para perempuan yang masih lajang bersedia untuk dijadikan istri yang kedua dan seterusnya.
FUNGSI SOSIAL
Tetapi apakah benar seperti itu kenyataannya di lapangan? Berdasarkan hasil survey kependudukan tahun 2008, jumlah penduduk Indonesia adalah 237,512,355 orang, dengan pembagian menurut usia yang berumur antara 0-14 tahun adalah 67,518,333 orang; umur antara 15-64 tahun adalah 156,143,169 orang, dan umur 65 tahun ke atas adalah 13,850,835 orang. Usia 15-64 tahun adalah tergolong usia produktif dan pernikahan bisa dilakukan di dalamnya.
Berikutnya kita coba lihat lebih rinci di dalam rentang usia 15-64 tahun tersebut, apakah benar jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, sehingga laki-laki bisa menjalankan fungsi 'sosial'nya dengan mempunyai dapur lebih dari satu.
Ternyata dari 156,143,169 orang tersebut, laki-lakinya berjumlah 78,330,830 orang dan perempuannya berjumlah 77,812,339 orang. Jika dibandingkan antara laki-laki dan perempuan, maka jumlah perempuannya masih defisit sebesar 518,491 orang. Ternyata masih kurang sebanyak setengah juta perempuan! Itu artinya kalau satu laki-laki punya istri satu perempuan, berikutnya masih ada setengah juta laki-laki yang tidak kebagian istri. Dan itu artinya iklan perjodohan hanya akan berisi setengah juta laki-laki yang masih merindukan bertemu seorang pasangan hidup. Bayangkan!
Jika tidak kebagian perempuan di usia 15-64 tahun, mungkin para laki-laki itu bisa mencoba melabuhkan pilihannya ke usia yang lebih tinggi yaitu 65 tahun ke atas. Karena menurut data kependudukan, dari 13,850,853 penduduk yang berusia 65 tahun ke atas, laki-lakinya berjumlah 6,151,305 orang dan perempuan berjumlah 7,699,548 orang. Jadi ada surplus perempuan sebanyak 1,548,243 orang. Ada satu setengah juta perempuan yang bisa dijadikan pilihan bagi setengah juta laki-laki usia 15-64 tahun yang merindukan pasangan hidup. Secara matematis itu baru bisa memenuhi harapan para laki-laki yang ingin memiliki banyak dapur: satu banding tiga !
Tapi kemudian apakah mereka mau menikah dengan para perempuan yang umurnya 65 tahun ke atas? Umumnya yang saya jumpai, para laki-laki yang menginginkan dapur lebih dari satu selalu memilih perempuan yang lebih muda dan lebih cantik dari istri pertamanya; lebih muda dan cantik dari istri kedua dan begitu seterusnya.
Jadi menurut data matematis perbandingan penduduk, alasan fungsi sosial bagi laki-laki untuk memiliki dapur lebih dari satu tampaknya tidak relevan bagi penduduk Indonesia. Mungkin lebih terkesan mengada-ada. Bahkan angka perbandingan laki-laki dan perempuan di survey tersebut menunjukkan bahwa para perempuan di Indonesia lebih berumur panjang. Sebetulnya itu juga peringatan bagi para laki-laki agar cepat bertobat.
SELINGKUH
Suatu hari istri uring-uringan ketika mendengar ada tetangga yang selingkuh. Si tetangga sedang berbelanja perlengakapan rumah tangga dengan seorang perempuan muda cantik yang bukan istrinya dan tampak begitu mesra. Pada saat itu ada teman istri yang melihat mereka dan melaporkan hasil pandangan matanya ke teman-teman yang lain.
Seperti biasa, perempuan mempunyai rasa solidaritas yang tinggi, apalagi istrinya yang tinggal satu perumahan dengan kita tampak begitu soleh dengan dua anaknya. Saya hanya bisa mencoba mendinginkan suasana dengan berkata, "Sudahlah ... itu khan mereka, bukan rumah tangga kita."
Tapi pertanyaan masih terus dilanjutkan, seolah-olah saya yang berselingkuh, "Terus mengapa mesti berselingkuh. Padahal kelihatannya rumah tangganya harmonis, punya anak dia cowok cewek yang manis lagi." Saya yang habis akal kemudian mencoba menjawab sekenanya, "Karena dia sedang mengikuti jejak pimpinan agamanya. Khan mereka boleh punya istri sampai empat."
Masih saja ada sebuah pertanyaan lanjutan, "Kenapa masti selingkuh. Itu khan menyakiti hati perempuan yang sudah menjadi istri yang baik?" ... Nah berikutnya saya harus berpikir keras untuk menarik benang merah dari jawaban pertama.
Dari rumor yang beredar, si tetangga ini kemudian melangsungkan pernikahan agama. Tentu saja istrinya marah-marah mengetahui hal itu, tetapi karena penjelasan yang baik dari si suami - akhirnya dia bisa menerima kenyataan bahwa dia menjadi istri pertama. Setelah beberapa waktu, terjadi rekonsiliasi antara istri pertama dan kedua, sehingga si tetangga itu secara resmi menyandang gelar laki-laki dengan dua dapur.
Dari peristiwa tersebut, benang merah terhadap pertanyaan "mengapa selingkuh" terjawablah sudah. Ternyata selingkuh adalah langkah awal untuk bisa memiliki dapur lebih dari satu. Mengapa bisa begitu? Karena saya percaya 99.99% perempuan pasti tidak ada yang mau dimadu. Saya tidak kebayang kalau ada seorang istri dengan sukacita mencarikan istri kedua, ketiga dan keempat bagi suaminya. Kalau pun ada, itu luar biasa sekali. Patut dimasukkan ke dalam catatan rekor di MURI, seperti seorang tokoh agama yang tajir dari kabupaten Semarang yang beritanya begitu heboh belakangan ini.
PERJALANAN DUA DAPUR
Ada seorang staf di kantor yang terlibat dalam cinlok (cinta lokasi). Saya sudah memberikan nasihat supaya sadar, karena anaknya sudah SD dan saya melihat istrinya setia menjalankan usaha di rumah. Tapi memang gebetannya yang di sini lebih muda, cantik dan rupanya si doi juga mau. Dalam perjalanannya si istri berulangkali mendamprat suaminya dan si perempuan. Tapi seperti kata pepatah: anjing menggonggong kafilah berlalu. Setelah beberapa tahun berpacaran, akhirnya keluarga si wanita meminta dinikahi - dan pernikahan resmi pun dilakukan. Karena secara agama itu sah, maka istri pertama tidak bisa berbuat apa-apa.
Sekarang ini istri pertama punya dua anak cewek cowok dan istri kedua punya anak cowok cewek. Keduanya sudah melakukan rekonsiliasi, dan jatah kehadiran si suami diatur seminggu dibagi dua - katanya demi keadilan. Untuk keadilan juga, jika istri kedua dibelikan perabot rumah tangga atau peralatan elektronik lainnya, maka yang pertama juga harus dibelikan dengan jenis dan warna yang sama. Itu demi keadilan ...
Suatu kali istri pertama dibelikan motor bebek Honda. Beberapa bulan kemudian istri kedua dibelikan motor - tapi memilih Honda Matic Vario. Si istri pertama rupanya merasa diperlakukan tidak adil, sehingga kemudian motor bebek Hondanya diganti dengan Honda Matic Vario juga dengan warna dan model yang sama persis. Itu juga demi keadilan ...
Rupanya pengalaman ini tidak luput dari pengamatan teman-temannya yang lain dan dijadikan pembelajaran. Sekarang ini ada lagi staf yang lain yang menjalin cinlok untuk mempersiapkan punya dapur kedua. Sekali lagi saya hanya bisa menyarankan untuk tetap setia pada istrinya, karena tetap saja landasan kehidupapan pernikahannya berbeda dengan yang saya anut. Mereka diperbolehkan memiliki istri sampai empat orang, sedangkan untuk saya - Tuhan Yesus hanya memberikan sebuah tulang rusuk untuk seumur hidup. Bukan dua, tiga atau bahkan empat buah tulang rusuk.
* * * * *
Ternyata dasar keyakinan itu sangat memperngaruhi langkah yang akan ditempuh oleh seorang laki-laki di dalam hidup rumah tangganya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan pernikahan Kristen dengan non Kristen. Kalau sekarang kita melihat berita para selebriti di TV atau bahkan teman maupun tetangga yang kawin cerai atau punya 'dua dapur' atau lebih, sebetulnya itu adalah hal yang sangat bisa dipahami.
Bagi mereka jodoh adalah sesuatu yang harus terus menerus dicari, sehingga setelah berpuluh tahun menikah pun mereka bisa bercerai dan berkata dengan penuh penyesalan, "Rupanya tidak jodoh..."
Hal menarik lain yang harus dipahami mengapa seorang laki-laki berselingkuh adalah karena ada dasar agama dimana mereka bisa memiliki istri lebih dari satu. Tetapi ternyata untuk bisa mempunyai istri lagi tidak bisa dilakukan dengan cara terbuka; sehinnga untuk mencapai tujuan itu biasanya diawali dengan jalan sembunyi-sembunyi, selingkuh, kemudian baru disahkan secara resmi secara agama. Atau sebaliknya, supaya kegiatan selingkuhnya tidak menjadi dosa, maka diresmikan dalam ikatan perkawinan yang kedua, ketiga dan seterusnya - atau bisa juga mengambil paket 'kawin kontrak'.
Kalau kemudian para pasangan yang nikahnya diberkati di gereja berpikir untuk melakukan hal-hal di atas, maka sebaiknya harus direnungkan kembali dalam-dalam hubungannya dengan Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat; yang sudah meletakkan sebuah landasan pasti sebuah pernikahan kudus :
- "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kejadian 2:24)
- "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Markus 10:9)
- "(Penatua adalah) orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib" (Titus 1:6)
GBU
Indriatmo