SIM - Referensi 04a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Studi Injil Markus
Nama Pelajaran : Pelayanan Kristus di Perea
Kode Pelajaran : SIM-R04a

Referensi SIM-R04a diambil dari:

Judul Buku : Tafsiran Matthew Henry Injil Markus
Judul Artikel : Pelayanan Yesus di Perea
Penulis : Matthew Henry
Penerbit : Momentum
Halaman : 213 -- 233

REFERENSI PELAJARAN 04a - PELAYANAN KRISTUS DI PEREA

PELAYANAN YESUS DI PEREA

PELAYANAN YESUS DI PEREA DIMULAI DARI:

Perdebatan Kristus dengan orang Farisi mengenai perceraian (ay. 1-12). Penghiburan yang Dia berikan kepada anak-anak kecil yang dibawa kepada-Nya untuk diberkati (ay. 13-16). Ujian yang dilakukan-Nya terhadap orang kaya yang menanyakan apa yang harus dilakukannya supaya bisa masuk surga (ay. 17-22). Pembicaraan-Nya dengan murid-murid sehubungan dengan pertanyaan orang kaya tersebut, mengenai bahaya menjadi orang kaya (ay. 23-27), dan keuntungan menjadi miskin karena Dia (ay. 28-31). Pemberitahuan-Nya lagi kepada murid-murid-Nya mengenai penderitaan dan kematian-Nya yang semakin mendekat (ay. 28-34). Nasihat yang Dia berikan kepada Yakobus dan Yohanes, untuk lebih menginginkan menderita bersama Dia daripada memerintah bersama-Nya (ay. 15-45). Kesembuhan Bartimeus, seorang pengemis buta yang malang (ay. 46-52). Inti dari semua perikop ini juga kita jumpai di dalam Matius 19 dan 20.

  1. PENGAJARAN MENGENAI PERCERAIAN (10:1-12)
  2. Yesus Tuhan kita adalah seorang Pengkhotbah keliling. Dia tidak berada di satu tempat untuk waktu yang lama karena seluruh tanah Kanaan adalah wilayah gereja-Nya atau daerah penggembalaan-Nya. Oleh karena itu, Dia mengunjungi setiap bagiannya dan memberikan perintah kepada mereka yang berada di setiap pelosok negeri itu. Dalam perikop ini, kita mendapati Dia sedang berada di perbatasan Yudea, arah ke timur seberang Sungai Yordan, belum lama berselang, Dia berada di perbatasan paling barat, dekat Tirus dan Sidon. Jadi, perjalanan-Nya seperti jalan keliling matahari, yang dari terik dan panasnya tiada sesuatu pun yang bisa luput. Nah, di sini kita mendapati Dia:

    1. Ke mana pun Dia pergi, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia; mereka mendatangi-Nya lagi, seperti yang mereka lakukan saat Dia berada di tempat itu sebelumnya, dan, seperti biasa, Dia mengajar mereka lagi. Perhatikanlah, berkhotbah merupakan pekerjaan tetap Kristus. Inilah pekerjaan yang biasa Dia lakukan pada waktu dahulu, dan karena itu, di mana pun Dia datang, Dia melakukan apa yang biasa dikerjakan-Nya itu. Dalam Injil Matius dikatakan, "Dia menyembuhkan mereka," sedangkan dalam Injil Markus ini disebutkan, "Dia mengajar mereka," karena kesembuhan itu dilakukan untuk meneguhkan pengajaran-Nya dan supaya orang mau mengikutinya, sedangkan pengajaran-Nya digunakan untuk menjelaskan dan menggambarkan kesembuhan yang Dia lakukan. Dia kembali mengajar mereka. Perhatikanlah, orang-orang yang sudah pernah diajar oleh Kristus pun perlu untuk diajarkan kembali, inilah sifat sejati dari ajaran Kristen, bahwa selalu ada lagi yang harus dipelajari, bahwa kita ini makhluk pelupa, jadi perlu selalu diingatkan kembali mengenai apa telah kita ketahui.

    2. Kita mendapati-Nya berdebat dengan orang Farisi yang iri dengan kemajuan jangkauan pelayanan rohani-Nya, dan melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menghalangi dan menentang-Nya, mengalihkan perhatian-Nya, dan membingungkan-Nya untuk menghasut orang-orang untuk menentang-Nya.

  3. KASIH KRISTUS KEPADA ANAK-ANAK (10:13-16)
  4. Dalam ayat 10:13-16, menunjukkan pembawaan yang ramah dan lembut dalam memperhatikan anak-anak kecil, yang merupakan sifat luar biasa yang dimiliki oleh Yesus Tuhan kita. Sifat ini bukan hanya mendorong anak-anak kecil untuk menyerahkan diri mereka kepada Kristus sejak mereka masih sangat muda, tetapi juga bisa menyemangati orang-orang dewasa, yang selalu sadar akan kelemahan dan sifat kekanak-kanakan mereka, dan karena itu menjadi tidak berdaya dan tidak berguna akibat kelemahan itu, persis seperti anak-anak.
    Dalam perikop ini diceritakan tentang:

    1. Anak-anak kecil dibawa kepada Kristus. Orang tua atau pengasuh mereka membawa mereka kepada Kristus supaya Dia menjamah mereka, sebagai tanda bahwa Dia memerintah atas dan memberkati mereka. Tidak tampak bahwa anak-anak itu memerlukan kesembuhan jasmani atas penyakit apa saja. Dan, mereka juga belum mempunyai kemampuan untuk diajar.

    2. Para orang tua itu sangat peduli dengan keadaan jiwa anak-anak mereka, yang merupakan bagian yang paling penting, dan inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama dari para orang tua mengenai anak-anak mereka, sebab jiwa merupakan bagian utama dari kehidupan mereka dan apabila jiwa mereka baik, baik pula hidup mereka itu.

    3. Para orang tua itu percaya bahwa berkat Kristus akan mendatangkan kebaikan bagi jiwa anak-anak mereka sehingga mereka membawa anak-anak itu kepada-Nya, supaya Dia menjamah mereka. Mereka melakukan ini dengan kesadaran bahwa Dia dapat menjangkau hati mereka, jika tidak ada lagi ruang dapat dikatakan atau diperbuat orang tua terhadap mereka. Sekarang, Kristus ada di surga, dan kita boleh menyerahkan anak-anak kita kepada-Nya, sebab dari situ Dia dapat menjangkau mereka dengan berkat-Nya. Dengan demikian, kita bisa bertindak dengan iman untuk mendapatkan kepenuhan dan kebesaran anugerah-Nya karena inilah kebaikan yang selalu Dia berikan kepada keturunan orang yang setia, yaitu pewaris janji untuk kita dan anak cucu kita, khususnya janji besar mengenai pencurahan Roh-Nya atas keturunan kita, dan berkat-Nya kepada anak cucu kita.

    4. Murid-murid menghalangi anak-anak dibawa kepada Kristus. Murid-murid memarahi orang-orang yang membawa anak-anak tersebut; seolah-olah mereka tahu pasti pikiran Guru mereka dalam hal ini, padahal belum lama berselang, Dia memperingatkan mereka untuk tidak menyesatkan anak-anak kecil.

    5. Dorongan yang diberikan Kristus.
      1. Dia merasa sangat sedih karena murid-murid-Nya menghalau anak-anak itu menjauh daripada-Nya: Ketika Yesus melihat hal itu. Dia marah (ay. 14). "Apa maksud kalian? Apakah kalian mau menghalangi-Ku untuk melakukan yang baik, untuk melakukan yang baik bagi generasi penerus ini, bagi kawanan domba-domba kecil ini?" Kristus sangat marah terhadap murid-murid-Nya sendiri jika mereka mengacaukan orang-orang yang berniat datang kepada-Nya atau hendak membawa anak-anak mereka kepada-Nya.

      2. Dia memerintahkan supaya anak-anak tersebut dibawa kepada-Nya, dan tidak boleh ada perkataan atau perbuatan apa pun untuk menghalang-halangi mereka. Biarkan anak-anak kecil, segera setelah mereka mampu berdiri sendiri, untuk datang kepada-Ku sehingga mereka bisa memanjatkan doa permohonan mereka kepada-Ku dan menerima pengajaran dari-Ku. Anak-anak kecil dengan puji-pujian mereka akan selalu siap disambut di takhta anugerah.

      3. Dia mengakui mereka sebagai anggota jemaat-Nya, seperti halnya dalam jemaat Yahudi. Ketika datang untuk meneguhkan Kerajaan Allah di tengah-tengah manusia, Dia memakai kesempatan tersebut untuk mengumumkan bahwa Kerajaan Allah itu mengakui anak-anak kecil sebagai warga Kerajaan Allah, dan mengakui hak istimewa mereka sebagai warga. Demikianlah, Kerajaan Allah itu harus diteruskan oleh orang-orang demikian, mereka harus disambut ketika masih kecil supaya mereka bisa dijaga sejak itu untuk menanggung nama Kristus.

      4. Supaya bisa diakui dan diberkati oleh Kristus, kita semua harus memiliki sifat dan pembawaan seperti yang terdapat pada anak-anak kecil. Kita harus menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil [ay. 15), yaitu kita harus menanggapi Kristus dan anugerah-Nya seperti yang dilakukan anak-anak kecil kepada orang tua, pengasuh, dan guru mereka.

  5. PENGHARAPAN SEORANG MUDA YANG TIDAK DAPAT MASUK SURGA (10:17-31)

    1. Di sini, kita menyaksikan suatu pertemuan yang memberikan pengharapan antara Kristus dan seorang muda. Begitulah ia digambarkan sebagai seorang pemuda (Mat. 19:20, 22), dan juga seorang pemimpin (Luk. 18:18), seseorang yang berkualitas. Beberapa keadaan yang digambarkan di sini, yang tidak kita dapatkan dalam Injil Matius, tampaknya membuat perjumpaan orang muda ini dengan Kristus menjadi semakin menjanjikan.

    2. Dia datang dengan berlari-lari untuk menjumpai Kristus, yang memperlihatkan bahwa ia seorang yang rendah hati. Ia mengesampingkan daya tarik dan kebesarannya sebagai seorang pemimpin, ketika ia datang kepada Kristus, yang menandakan bahwa ia sangat bersungguh-sungguh dan dalam kesusahan besar. Ia berlarut dengan tergesa-gesa, sangat rindu untuk berbicara dengan Kristus. Sekarang, ia memiliki kesempatan untuk memperoleh nasihat dari Nabi yang besar ini, mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kedamaiannya, dan ia tidak mau kehilangan kesempatan tersebut.

    3. Orang itu mendatangi Kristus ketika dia sedang di tengah jalan, di tengah-tengah banyak orang. Dia tidak bersikeras untuk berbicara secara pribadi dengan Yesus pada waktu malam, seperti yang dilakukan Nikodemus. Walaupun dia seorang pemimpin sama seperti Nikodemus, tanpa rasa malu, dia langsung menggunakan kesempatan untuk mendapatkan nasihat Yesus ketika menemukan-Nya.

    4. Dia bertelut di hadapan-Nya, yang menandakan besarnya penghargaan dan penghormatannya kepada Yesus sebagai seorang Guru yang datang dari Allah, dan kesungguhannya untuk belajar pada Yesus. Dia bertelut di hadapan Tuhan yesus, sebagai seorang yang tidak hanya menghormati-Nya, tetapi juga akan selalu menaati-Nya. Dia bertelut, sebagai seorang yang sungguh-sungguh mengerahkan jiwanya kepada Yesus.

    5. Pertanyaannya kepada Yesus sangat serius dan berbobot, yakni "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Hidup yang kekal merupakan suatu inti dari pengakuan imannya walaupun pada masa itu disangkal oleh orang-orang Saduki, salah satu partai yang berkuasa. Dia bertanya apakah yang harus dilakukannya sekarang supaya dia bisa hidup bahagia selamanya. Kebanyakan orang bertanya apakah yang selamanya bisa mereka miliki di dalam dunia ini (Mzm. 4:6), semua yang baik, sedangkan dia bertanya apa yang selamanya harus dia lakukan di dalam dunia ini supaya bisa menikmati hal-hal yang sangat baik di dalam dunia yang lain. Dia tidak bertanya siapakah yang dapat membuat kita bisa melihat yang baik? Melainkan dia bertanya, "Siapakah yang bisa membuat kita melakukan yang baik?" Dia menanyakan sesuatu yang bisa membuatnya bahagia dalam pengertian perbuatan yang harus dilakukannya, yaitu "summum bonum" -- inti dari yang baik, seperti yang dicari-cari Raja Salomo, apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk mereka lakukan (Pkh. 2:3).

    6. Inilah bagian yang menyedihkan antara Kristus dan orang muda tersebut.

    7. Kristus memberikan perintah untuk menguji dia supaya dengan perintah tersebut akan tampak apakah dia benar-benar menginginkan kehidupan yang kekal dan berusaha keras untuk mendapatkannya. Tampaknya, hati orang muda itu sangat menginginkannya, dan jika benar begitu, seharusnya dia bertindak demikian. Namun, apakah dia menginginkan kehidupan kekal itu dengan sepenuh hati? Baiklah dia diuji untuk itu. Orang muda itu pergi setelah mendengar perkataan Yesus (ay.22); dia pergi dengan sedih. Dia merasa menyesal tidak dapat menjadi pengikut Kristus dengan cara yang lebih mudah daripada meninggalkan segalanya untuk mengikuti Dia, bahwa dia tidak dapat memperoleh kehidupan kekal dan sekaligus dapat menjaga harta miliknya yang bersifat sementara itu. Akan tetapi, walaupun tidak dapat memenuhi syarat menjadi seorang murid, dia tidak menunjukkan sifat munafik. Sejujurnya, dia pergi dengan sedih. Di sini, kita dapat melihat kebenaran dalam penyataan bahwa kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24) karena ketika dia berpegang kepada Mamon, sebenarnya dia telah merendahkan Kristus, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih memilih dunia di hadapan-Nya, dia berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan di pasar, dan sekarang dia pergi dengan sedih hati dan meninggalkan keinginannya itu karena ia tidak sanggup membayar harga untuk mendapatkan kehidupan kekal itu. Ada dua kata yang berlaku dalam penawaran, pernyataan saja bukanlah suatu persetujuan. Yang menghancurkan orang muda ini adalah dia mempunyai harta yang banyak: demikianlah kekayaan orang bodoh menghancurkan mereka, dan orang-orang yang menghabiskan hari-hari mereka dalam kekayaan akan tergoda untuk berkata kepada Allah, "Tinggalkanlah kami!" atau kepada hati mereka, "Tinggalkan Allah!"

      Inilah pembicaraan Kristus dengan murid-murid-Nya. Kita terdorong untuk menginginkan Kristus memperhalus perkataan-Nya yang membuat laki-laki muda ini merasa takut untuk mengikuti Dia. Kita juga mungkin tergoda untuk meminta Kristus memberikan penjelasan yang bisa menghilangkan sifat keras dari perkataan-Nya itu. Namun, Dia mengetahui hati manusia. Karena itu, Dia tidak mau membujuk orang muda itu supaya mengikuti Dia hanya karena Dia seorang yang kaya dan juga seorang pemimpin.

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar