Pelajaran

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Pelajaran 05

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Kanon Alkitab Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : Perjanjian Lama-P05

Pelajaran 05 - KANON ALKITAB PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Definisi Kanon
    1. Arti Etimologis
    2. Arti Figuratif
    3. Arti Teologis
  2. Sejarah Kanon Perjanjian Lama
  3. Pembentukan Kanon Perjanjian Lama
    1. Ucapan-Ucapan Yang Berotoritas
    2. Dokumen (Tulisan) Yang Berotoritas
    3. Kumpulan Tulisan Yang Berotoritas
    4. Kanon Yang Ditetapkan
  4. Penerimaan Kanon Perjanjian Lama

Doa

Kanon Alkitab Perjanjian Lama

  1. Definisi Kanon

    Untuk mengerti lebih jelas apa yang dimaksud dengan Kanon Alkitab Perjanjian Lama (selanjutnya akan disingkat PL), marilah terlebih dahulu kita mempelajari pengertian kata "Kanon".

    1. Arti Etimologis

      "Kanon" berasal dari kata Yunani 'kanon', artinya "buluh". Dalam bahasa Ibrani, juga terdapat kata "qaneh" yang artinya adalah "gelagah" atau "batang" papirus, sejenis tanaman serai atau tebu manis. Karena pemakaian buluh dalam kehidupan sehari-hari zaman itu adalah untuk mengukur, maka kata "kanon" dipastikan memiliki arti harafiah sebagai batang tongkat, kayu pengukur atau penggaris. (Yehezkiel 40:3; 42:16 = tongkat pengukur)

    2. Arti Figuratif

      Namun demikian kata "kanon" juga memiliki arti figuratif sebagai peraturan atau standar norma (kaidah) dalam hal etika, sastra, dan sebagainya.

    3. Arti Teologis

      Dalam sejarah gereja abad pertama kata "kanon" dipakai untuk menunjuk pada peraturan atau pengakuan iman (kredo). Tetapi, pada pertengahan abad keempat (dimulai oleh Athanasius), kata ini lebih sering dipakai untuk menunjuk pada Alkitab yang memiliki dua arti, yaitu:

      1. Daftar naskah kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi standar peraturan-peraturan tertentu, yang diterima oleh gereja sebagai kitab kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah.

      2. Kumpulan kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang diterima sebagai Firman Tuhan yang tertulis, yang berotoritas penuh (menjadi patokan = Galatia 6:16) bagi iman dan kehidupan manusia.

  2. Sejarah Kanon Perjanjian Lama

    Kitab-kitab PL disampaikan, ditulis dan dihimpun dalam kurun waktu lebih dari 1000 tahun. Semuanya ditulis dalam bahasa Ibrani kecuali sebagai kitab Daniel (Pasal 2:4-7:28) dan sebagian kitab Ezra yang ditulis dengan menggunakan bahasa Aram. Pada mulanya kisah-kisah mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan umat Israel disampaikan dari mulut ke mulut. Baru sekitar tahun 1200-1000 sM, kisah-kisah tersebut mulai dituliskan. Sekitar 600 tahun sM, kitab Ulangan dijadikan norma pelaksanaan keagamaan, yaitu dalam rangkaian pembaruan yang diadakan oleh Raja Yosia (2 Raja-raja 22-23). Sekitar tahun 400 sM, Taurat diterima sebagai tulisan suci. Kitab Nabi-nabi diterima sebagai tulisan suci antara tahun 400 sampai 200 sM. Sedangkan, kitab-kitab yang lainnya seperti puisi, pengajaran, nubuat, dan sejarah diterima sebagai tulisan suci menjelang zaman Perjanjian Baru (selanjutnya akan disingkat PB). Walaupun demikian, pada waktu itu masih ada kitab-kitab yang diragukan kewibawaannya untuk masuk menjadi kanon PL. Kitab-kitab itu adalah Pengkhotbah, Yehezkiel, Ester dan Kidung Agung.

    Kanon PL tidak mengalami banyak kesulitan untuk diterima karena pada waktu kitab-kitab PL itu selesai ditulis, saat itu juga langsung diterima sebagai kitab-kitab yang memiliki otoritas yang diinspirasikan oleh Allah. Kitab-kitab (yang berupa gulungan-gulungan) disimpan bersama-sama dengan Tabut Perjanjian yaitu di Kemah Tabernakel Musa dan kemudian dibawa ke Bait Allah. Para imam memelihara kitab-kitab itu dan mereka juga yang membuat salinan-salinannya apabila diperlukan. Salinan teks inilah yang disebut dengan teks Massoreth. Para imam atau orang-orang berhikmat, mengkhususkan diri mereka untuk menyalin satu per satu kitab dalam PL dengan tulisan tangan. Para massorah membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan proses penyalinan Alkitab yang semuanya disalin dengan tulisan tangan dalam abjad Ibrani (Ulangan 17:18; 31:9; 24:26; 1 Samuel 10:25; 2 Raja-raja 22:8; 2 Tawarikh 34:14).

    Pada waktu bangsa Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan oleh pasukan Babelonia pada tahun 587 sM, kitab-kitab itu dibawa bersama-sama ke tanah pembuangan (Daniel 9:2). Pusat ibadah mereka kini bukan lagi Bait Allah di Yerusalem. Selama masa pembuangan, bangsa Yahudi beribadah di sinagoge. Setelah pembangunan kembali Bait Allah pada masa Zerubabel, Ezra dan Nehemia, kitab-kitab itu pun tetap dipelihara dan dipindahkan ke tempat yang baru. (Ezra 7:6; Nehemia 8:1; Yeremia 27:21-22).

    Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun 430 sM. Menurut tradisi, diakui bahwa imam Ezralah yang memainkan peranan penting dalam proses pengumpulan dan penyusunan kitab-kitab PL ini. Selain kitab-kitab Pentateukh (Kejadian sampai Ulangan) yang sangat dihargai, kitab-kitab para nabi juga biasa dibaca dalam ibadah-ibadah Yahudi (di sinagoge), juga pada waktu zaman PB (Lukas 4:16-19).

    Pada tahun 90 M, guru-guru agama Yahudi di bawah pimpinan Johannan ben Zakkai mengadakan persidangan di Jamnia (Jabneh). Mereka meninjau, menimbang tulisan-tulisan itu dan membakukan daftar kitab-kitab yang dimasukkan dalam kanon Kitab Suci PL. Mereka memutuskan untuk menerima 39 kitab sebagai Kanon PL, serta menolak buku-buku tambahan yang dimuat dalam Septuaginta (LXX). Jadi, penetapan itu sebenarnya hanya memberikan pengakuan akan kitab-kitab yang memang sudah lama dipakai dalam ibadah orang Yahudi.

  3. Pembentukan Kanon Perjanjian Lama

    Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa pada umumnya kitab-kitab PL langsung diterima sebagai kitab yang berotoritas. Namun demikian bukan berarti tidak ada proses pembentukan sampai akhirnya kitab-kitab itu dikanonkan. Paling tidak ada 4 tahap yang dikenal dalam proses pembentukan kanon kitab PL:

    1. Ucapan-ucapan yang Berotoritas

      Israel mulai mengenal konsep kanon ketika mereka menerima hukum Taurat dengan perantaraan Musa di Gunung Sinai. Allah memberikan firman-Nya, Israel berikrar untuk menaatinya dan Musa mencatatnya dalam bentuk tulisan (Keluaran 24:3-4). Benih-benih kanon telah ada lebih awal daripada itu, yaitu ketika orang-orang Israel semakin menyadari peranan mereka yang khusus dalam rencana keselamatan Allah. Mereka harus menjunjung tinggi perintah-perintah dan janji-janji Tuhan Allah yang dikukuhkan kepada bapak-bapak leluhur Israel sebagai firman Allah yang kudus dan suci, yang dapat memberikan kekuatan dan penghiburan.

      Prinsip pengkanonan kitab dimulai ketika bangsa Israel menerima 10 perintah atau hukum-hukum dari Tuhan melalui Musa di gunung Sinai. Perintah-perintah itu disampaikan kepada Musa sebagai perkataan (ucapan) Tuhan yang memiliki otoritas penuh. Dan, umat Tuhan yang menerima Perintah-perintah itu wajib tunduk kepada wewenangnya, bahkan generasi-generasi berikutnya juga tunduk pada otoritas Perkataan Tuhan itu.

    2. Dokumen (Tertulis) yang Berotoritas

      Agar Perintah atau Perkataan Tuhan itu menjadi warisan yang akan menuntun generasi-generasi berikutnya, maka Musa secara teliti menjabarkannya (memberikan tambahan penjelasan) dalam bentuk tulisan (Keluaran 24:3), lalu umat Lewi diperintahkan untuk menyimpan tulisan atau dokumen itu di samping Tabut Perjanjian Allah (Ulangan 31:24-26). Demikian juga dengan perkataan-perkataan Tuhan yang lainnya yang Tuhan Allah sampaikan sepanjang sejarah bangsa Israel melalui nabi-nabi-Nya, Tuhan seringkali memerintahkan agar apa yang Tuhan ucapkan itu dituliskan untuk menjadi peringatan bagi umat-Nya. (Ulangan 31:19, Yesaya 30:2; Hosea 2:2). Tulisan-tulisan itu menjadi dokumen-dokumen yang sangat berotoritas, karena di sanalah bangsa Israel telah diikat dalam perjanjian (convenant) dengan Allah sebagai bangsa umat pilihan-Nya.

      Menurut Ulangan 31:24-26, Musa "selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab" dan memerintahkan orang-orang Lewi," letakkanlah di samping tabut perjanjian ... supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau." Otoritas yang mengikat dari kitab itu ditegaskan kembali kepada Yosua, 'Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam ..." (Yosua 1:8). Penemuan kembali kitab Taurat pada tahun ke-18 pemerintahan Yosia (621 sM) merupakan peristiwa penting dalam perkembangan kanon PL (2 Raja-raja 22). Berbeda dengan raja-raja Mesir dan Asyur yang cenderung untuk menyamakan kehendak mereka dengan hukum, Yosia mengakui otoritas gulungan naskah yang ditemukan dan memahami hukum Allah yang tertulis sebagai perintah mutlak yang harus ditaati (2 Raja-raja 23:3). Inti konsep kanon adalah: orang mendengar dan menaati sebuah kitab, serta merasa yakin bahwa Allah berbicara melalui kitab itu.

    3. Kumpulan Tulisan yang Berotoritas

      Menurut tradisi, selama ratusan tahun, tulisan atau dokumen-dokumen yang berotoritas itu dikumpulkan sebagai kitab-kitab Ibrani, yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

      1. Kitab-kitab Taurat (5 Kitab Pentateukh)

        Kelima kitab pertama dalam kanon PL disebut kitab Taurat, yang terdiri dari kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Kitab Taurat disebut juga kitab-kitab Musa atau kitab-kitab hukum. Kemungkinan besar kitab-kitab Taurat terkumpul dan tersusun pada zaman Daud memerintah bangsa Israel sebagai raja (sekitar tahun 1000 SM). Diperkirakan, beberapa bagian kecil dari kitab Taurat diperbaiki yang berlangsung selama berabad-abad hingga zaman Ezra (kira-kira tahun 400 SM). Kitab-kitab Taurat merupakan bagian terpenting dalam kanon Yahudi.

      2. Kitab-kitab Nabi-nabi (Nabi Besar dan Nabi Kecil)

        Dalam kanon Ibrani, kitab Nabi-nabi Besar dan Nabi-nabi kecil biasanya disebut dengan "kitab Nabi-nabi Terdahulu" dan "kitab Nabi-nabi Kemudian". Kitab Nabi-nabi Terdahulu menceritakan sejarah Israel mulai dari pendudukan Kanaan sampai pembuangan ke Babel (tahun 1250 - 550 SM). Kitab Nabi-nabi Terdahulu terdiri dari kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja. Kitab Nabi-nabi Kemudian merupakan kitab para pemberita firman Allah, ditulis oleh para nabi sebelum masa pembuangan, seperti Kitab Amos, Hosea, Mikha, Yesaya, Zefanya, Yeremia, Nahum dan Habakuk.

      3. Kitab-kitab Mazmur/Ucapan Bijaksana (Mazmur, Amsal, dll.)

        Golongan kitab-kitab atau "Ketubim" memiliki sifat yang lebih rumit, karena sifatnya setiap kitab beraneka ragam. Kitab-kitab terdiri dari kitab Mazmur, Ayub, Amsal, Kidung Agung, Ratapan, Daniel, Ezra, Nehemia, Tawarikh, dan Ester. Sebagian besar kitab-kitab PL ini ditulis atau dikumpulkan selama dan sesudah masa pembuangan (setelah 550 SM), meskipun beberapa bahan, khususnya dalam kitab Mazmur dan Amsal, berasal dari zaman kerajaan (1000-587 SM). Hampir dapat pastikan, kumpulan itu disatukan sebelum tahun 150 SM, meskipun bukti tentang penggunaan Kitab Ester sangat sedikit. Bangsa Yehuda sangat menyadari masa lampau mereka pada masa setelah pembuangan. Bangsa Yehuda sangat terguncang dengan peristiwa pembuangan tersebut. Oleh karena itu, mereka berupaya membangun kembali bangsa mereka berdasarkan warisan leluhur untuk menghindari penghukuman lainnya yang mendatangkan malapetaka. Tokoh-tokoh pada masa itu seperti, Zerubabel, Ezra dan Nehemia berupaya membangun kembali kota Yerusalem, dan menekankan pentingnya tulisan-tulisan suci dan tulisan-tulisan yang berotoritas.

        Pengelompokan ini mungkin sekaligus menunjukkan bagaimana tahap-tahap pembentukan kanon itu terjadi, sesuai dengan pokok bahasannya. Namun, prosedur penyortiran tulisan-tulisan itu memang tidak jelas. Yang dapat diketahui hanyalah bahwa para pemuka agama Yahudi dengan dipimpin oleh Roh Allah menyepakati pilihan kumpulan tulisan itu sebagai tulisan-tulisan yang berotoritas yang harus diterima oleh seluruh umat.

    4. Kanon yang Diresmikan

      Sebagian besar Tulisan-tulisan yang berotoritas (yang sudah dikelompokkan di atas) telah ditulis dan dikumpulkan sesudah masa Pembuangan yaitu kira-kira tahun 550 SM (sebelum Masehi). Namun Pengesahan pengelompokan "Kanon Ibrani" itu dikenal baru sesudah tahun 150 SM. Kemungkinan besar Kanon inilah yang juga dikenal oleh masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, karena Yesus menyebutkan: "dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Lukas 24:44).

      Suatu Konsili di Jamnia pada tahun 90 M, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh utama agama Yahudi (rabi), melalui suatu konsensus bersama, akhirnya memberikan penetapan terhadap Kanon PL yang terdiri dari 39 kitab (sama dengan yang dimiliki dalam Alkitab agama Kristen).

  4. Penerimaan Kanon Perjanjian Lama

    Istilah penerimaan Kanon PL lebih disukai dari pada penetapan Kanon PL, karena memang pada dasarnya manusia/gereja hanya menerima kitab-kitab PL tersebut sebagai tulisan-tulisan yang berotoritas. Adapun dasar penerimaan "Kanon PL" adalah sebagai berikut:

    1. Adanya bukti dari dalam Alkitab sendiri.

      Alkitab memberikan kesaksian bahwa perkataan-perkataan yang ditulis bukan berasal dari manusia, seperti dikatakan: "Beginilah Firman Tuhan ..." atau "Tuhan berkata ..."

    2. Ditulis oleh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah.

      Pada umumnya penulis-penulis kitab PL adalah mereka yang ditunjuk oleh Allah dan menduduki jabatan seperti imam, nabi, hakim, dan raja.

    3. Pengaruh kuasa Allah dalam tulisan-tulisannya.

      Perkataan ilahi yang dituliskan mempunyai kuasa untuk memberikan pengajaran kebenaran yang mengubah hidup manusia.

    4. Adanya bukti tentang keaslian naskah dan tulisannya.

      Bukti-bukti arkeologi memberikan dukungan akan keotentikannya.

    5. Secara aklamasi diterima oleh umat Allah secara luas.

      Otoritas tulisan tersebut diakui oleh para pemimpin masyarakat keagamaan Ibrani melalui pimpinan Roh Allah.

      *) Catatan: Susunan kanon kitab PL dapat disimak di referensi.



Akhir Pelajaran (PPL-P05)

DOA

"Firman-Mu adalah harta yang paling berharga bagi jiwaku. Sungguh indah aku boleh melihat bagaimana Firman-Mu itu Engkau turunkan kepada manusia. Sekali lagi aku boleh menyaksikan kesetiaan dan kasih-Mu kepada manusia yang berdosa ini. Hanya dengan firman-Mu maka aku akan dapat belajar untuk hidup lebih dekat kepada-Mu. Aku bersyukur Tuhan karena hanya dekat dengan-Mu, hatiku mendapat kelegaan." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Pelajaran 04

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Budaya Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P04

Pelajaran 04 - BUDAYA PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Struktur Masyarakat Perjanjian Lama
  2. Sistem Ibadah Perjanjian Lama
  3. Sistem Pendidikan Perjanjian Lama

Doa

BUDAYA PERJANJIAN LAMA

Pembahasan tentang sosio - budaya PL sangat luas, oleh karena itu dalam pelajaran ini pembahasan akan dibatasi hanya pada struktur masyarakat, kehidupan ibadah, dan sistem pendidikan masa PL.

  1. Struktur Masyarakat Perjanjian Lama

    Keluarga adalah unit utama dalam struktur masyarakat PL, karena memang sejak dari semula Allah memulai rencana penebusan-Nya melalui satu keluarga, yaitu keluarga Abraham. Dan melalui keluarga Abraham inilah Allah memanggil keluar umat-Nya untuk membina suatu hubungan yang istimewa dengan Dia, yang dikokohkan dengan membuat suatu Perjanjian (Covenant). Itu sebabnya anggota yang termasuk dalam Perjanjian ini adalah mereka yang disebut sebagai "keturunan" (secara jasmani) Abraham - dan selanjutnya keturunan Ishak dan Yakub (Imamat 26:42,45). Kata "keturunan" ini (dalam bhs. Ibrani 'ab' artinya 'bapak') muncul seribu dua ratus kali dalam PL. Konsep "keturunan" secara fisik sangat penting bagi bangsa Israel, karena di situlah ikatan keanggotaan dalam Perjanjian didasarkan. Oleh sebab itu tidak heran jika banyak sekali ditemui catatan silsilah dalam Alkitab, termasuk dalam kitab-kitab PB (Matius 1; Lukas 3). Jika mereka termasuk dalam silsilah itu maka mereka memiliki hak sebagai anggota masyarakat Yahudi yang terikat dalam hubungan Perjanjian dengan Allah.

    1. Keluarga

      Dasar pelembagaan keluarga diletakkan oleh Allah sendiri dalam Kejadian 2, sebagai kesatuan ikatan yang permanen antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Istilah Ibrani yang dipakai untuk keluarga adalah 'misphahah' dan 'bayit' yang arti harafiahnya adalah "rumah" (bhs. Inggris 'household' atau dalam bhs. Indonesia lebih tepat "rumah tangga") yaitu diartikan sebagai mereka yang tinggal dalam satu atap rumah. Namun demikian, dalam PL sering kali keluarga bukan hanya terdiri dari suami, istri dan anak-anak, karena (tergantung dari konteksnya) yang dimaksud keluarga dalam PL lebih cenderung sebagai perluasan keluarga, yaitu suami, istri, anak-anak (sampai dua/tiga generasi), budak-budaknya dan termasuk juga keluarga dekat lain yang tinggal bersama, bahkan kadang seluruh suku juga disebut sebagai satu keluarga (1 Tawarikh 13:14).

      1. Suami

        Dalam masyarakat PL, suami mempunyai kedudukan sebagai "tuan" yang memerintah atas istri dan anak-anak dan keluarga anak-anaknya, juga seluruh anggota keluarga yang lain dan budak-budaknya. Tapi pada sisi yang lain, suami juga menjadi penanggung jawab atas semua tindakan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya. Oleh karena itu, tidak jarang kepala keluarga akan menanggung hinaan, bahkan hukuman, untuk tindakan yang dilakukan oleh anak-anaknya (keluarganya). Suami juga mempunyai tanggung jawab untuk mencarikan istri/suami bagi anak-anaknya. Untuk itu ia harus paham betul hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehubungan dengan pernikahan menurut hukum bangsa Israel (Imamat 18; Ulangan 7; 20). Silsilah keluarga PL diurutkan dengan mengikuti keturunan dari suami, karena suamilah yang memberi identitas dan nama bagi keluarganya. Itu sebabnya dalam hukum Israel disebutkan berbagai peraturan untuk melindungi kelangsungan keluarga (Imamat 25:47-49; Yeremia 32:68; Rut 2,3,4).

        Suami PL juga mempunyai fungsi sebagai imam bagi keluarganya. Ia diharapkan memimpin seluruh keluarganya dalam mengikuti perayaan-perayaan keagamaan Yahudi. Seluruh tanggung jawab pendidikan anak-anak, khususnya anaknya laki-laki juga ada di tangannya. Sebagai negara yang dikelilingi oleh bangsa-bangsa kafir, tugas ini merupakan tugas yang tidak ringan.

      2. Istri

        Sekalipun kelihatannya tanggung jawab suami lebih besar, namun tidak berarti bahwa istri PL pasif. Amsal 31 menceritakan, secara panjang lebar tentang tugas-tugas seorang istri yang berbudi dan ideal. Dari tugas yang begitu banyak itu, tugas utama istri adalah untuk menghasilkan keturunan. Tapi itu bukan berarti tugas satu-satunya. Dari Amsal 31 dapat diambil kesimpulan bahwa istri PL tidak hanya melakukan tugas yang sehubungan dengan anak-anak dan rumah saja, Alkitab pada dasarnya memberikan tanggung jawab yang besar bagi istri PL untuk menguasai bidang-bidang lain di luar rumahnya. Dalam peristiwa-peristiwa khusus, PL juga mencatat istri-istri menjalankan tugas-tugas yang tidak lazim dilakukan dalam budaya Israel, misalnya memimpin perang (Debora), menjadi nabi (Miryam), bertindak untuk suami (Abigail), dll.).

        Dalam perkawinan Yahudi, istri dengan kerelaan menundukkan diri di bawah suaminya dan mengambil kedudukan sebagai "penolong" (Kejadian 2:18). Setelah melahirkan anak mereka akan menyusui anak-anaknya sampai usia dua atau tiga tahun. Pendidikan anak sampai usia lima tahun adalah tanggung jawab ibu, namun kemudian anak laki-laki akan dididik oleh ayahnya, sedangkan anak perempuan akan diajar oleh ibunya bagaimana menjadi seorang istri dan ibu yang sukses. Kesuksesan istri menjalankan keluarga seringkali menjadi ukuran bagaimana suami Yahudi akan dihormati di antara para pemimpin Israel.

      3. Anak-anak

        Anak-anak adalah berkat dari Tuhan, buah yang diharapkan dari perkawinan. Itu sebabnya keluarga PL selalu mengharapkan sebuah keluarga yang besar. Merupakan suatu dukacita dan aib bagi keluarga PL yang tidak dikaruniai anak, seperti peristiwa yang menimpa Sara dan Hana. Sebaliknya banyak puji-pujian yang ditujukan bagi wanita yang melahirkan banyak anak (Mazmur 128).

        Anak dalam PL diterima sebagai anggota masyarakat Israel secara penuh. Oleh sebab itu, tanggung jawab memelihara dan mendidik mereka adalah juga tanggungjawab masyarakat, selain tentu saja keluarganya. Ulangan 6:4-9 merupakan perintah langsung dari Tuhan akan pentingnya pendidikan anak, untuk itu yang harus diperhatikan adalah:

        1. Orang tua yang mengasihi Tuhan dan menyimpan Firman Tuhan dalam hatinya menjadi teladan bagi anak-anaknya (ayat 4-6).

        2. Firman Tuhan harus menjadi percakapan utama dalam keluarga supaya tertanam dalam diri anak-anak (ayat 7).

        3. Firman Tuhan harus dilahirkan dalam tingkah laku sehari-hari (ayat 7-9).

      4. Anak laki-laki dalam keluarga Yahudi adalah tumpuan harapan bagi pemeliharaan masa tua orang tuanya, yaitu supaya mereka mendapat penguburan yang layak. Anak sulung dalam keluarga Yahudi, baik laki-laki maupun perempuan, mendapat tempat yang istimewa. Sepanjang hidupnya ia akan dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang lebih besar atas tindakannya dan tindakan saudara-saudaranya yang lain. Apabila orang tuanya mati, anak sulung akan mendapat bagian warisan dua kali lipat. Jika ayahnya tidak memiliki anak laki-laki maka anak perempuan akan mewarisi seluruh harta ayahnya jika ia menikah dengan kaum keluarganya sendiri. Dibandingkan dengan bangsa-bangsa tetangga Israel, anak perempuan Yahudi mendapatkan perlakukan yang jauh lebih baik.

        Anak perempuan Yahudi diizinkan menikah sesudah usia 12 tahun. Pada usia itu diharapkan ia telah mempelajari semua kecakapan mengurus rumah tangga dan bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik. Sebelum menikah maka ayahnya memiliki hak penuh atas putrinya. Ayah jugalah yang bertanggung jawab mencarikan suami bagi putrinya. Sesudah menikah maka ibu mertuanya akan mengambil alih pendidikan selanjutnya. Apabila karena sesuatu hal suaminya mati, maka ia akan dinikahkan dengan saudara laki-laki dari suaminya untuk menyelamatkan garis keturunan keluarganya. Namun jika suaminya tidak memiliki saudara laki-laki lain yang dapat menikahinya, maka seringkali ia akan kembali ke rumah ayahnya lagi (contoh kasus Rut dalam keluarga Naomi).

  2. Strata Dalam Masyarakat Perjanjian Lama

    Sekalipun tidak ditonjolkan, ada perbedaan kelas-kelas dalam masyarakat PL, khususnya setelah zaman kerajaan terbentuk. Perbedaan antara mereka yang kaya dan miskin menjadi sangat nyata. Beberapa orang mendapat penghasilan dari tanah yang berlebihan dan akhirnya menjadi kaya. Tapi ada juga yang karena melakukan praktik-praktik yang tidak adil sehingga menekan pihak lain untuk mendapatkan keuntungan, sehingga mereka yang tidak diuntungkan menjadi miskin. Berikut ini adalah perbedaan strata dalam masyarakat PL secara umum:

    1. Kelompok masyarakat yang berpengaruh Mereka adalah para tua-tua agama dan kepala rumah tangga. Setelah zaman kerajaan, muncul kelompok yang disebut sebagai para pemuka, yaitu pembantu-pembantu raja dan juga para pahlawan.

    2. Penduduk asli setempat Mereka yang memiliki tanah dan tinggal sebagai penduduk asli di Palestina.

    3. Penduduk asing Mereka adalah pendatang dan orang bebas (bukan budak) tetapi tidak memiliki hak penuh sebagai warganegara Palestina.

    4. Pekerja upahan Mereka tidak memiliki tanah, hidup sebagai tenaga upahan.

    5. Pedagang Mereka adalah orang-orang asing yang datang untuk berdagang.

    6. Budak-budak Mereka bukan hanya orang Israel saja (yang miskin), tetapi juga pendatang asing yang hidup sebagai tawanan perang. Perbudakan adalah salah satu kebiasaan cara hidup pada masa PL (Baca Referensi 2 - Perbudakan).

  3. Sistem Ibadah Perjanjian Lama

    Israel dikelilingi oleh bangsa-bangsa tetangga yang tidak mengenal Allah (kafir). Itu sebabnya Allah berkali-kali harus mengingatkan bangsa Israel untuk tidak mengikuti kebiasaan peribadahan bangsa-bangsa. Namun, telah berulang kali terjadi bangsa Israel tidak taat dan selalu jatuh pada dosa yang sangat dibenci Allah yaitu menyembah kepada ilah yang lain. Tidak jarang Tuhan menghukum mereka, bahkan dengan menyerahkan mereka untuk dikalahkan dan dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Cara-cara beribadah bagaimanakah yang diikuti bangsa Israel sehingga membuat Allah murka dan menghukum mereka?

    Berikut ini adalah beberapa karakteristik penyembahan agama kafir:

    1. Mereka memiliki banyak tuhan (dewa), karena kebanyakan agama kafir adalah politeisme.

    2. Mereka menyembah kepada patung-patung, atau gambaran-gambaran yang menyerupai binatang, manusia atau benda-benda lain sebagai simbol akan allah mereka.

    3. Keselamatan adalah usaha manusia untuk melepaskan diri dari kecenderungan berbuat dosa.

    4. Mereka percaya bahwa persembahan-persembahan yang mereka bawa kepada ilah-ilah mereka dapat memberikan kekuatan gaib yang akan menghindarkan mereka dari kecelakaan atau bahaya.

    Pada masa Musa penyembahan kepada Allah tidak lagi dilakukan di tanah terbuka, tapi di kemah pertemuan Bait Suci, sedangkan penjelasan secara lengkap diberikan dalam Keluaran 27:1-3, sesuai perintah yang diterima Musa dari Allah, dan Musa sendiri bertindak sebagai imam, menjadi perantara antara Allah dan umat Israel. Pada masa imam-imam, bangsa Israel telah memiliki kelompok imam yang dipilih dari keturunan keluarga Harun, suku Lewi, yang bertugas untuk mengatur tata ibadah kepada Allah. Kitab Imamat mencatat berbagai macam peraturan tata ibadah bagi bangsa Israel. Tidak selalu bangsa Israel melakukan ibadah yang benar, karena ibadah yang sejati bukanlah tergantung dari tempat dan tata caranya tetapi dari sikap hati yang benar. Tapi sering kali bangsa Israel tidak memiliki hati yang tertuju kepada Tuhan, sehingga tata ibadah pun tidak ada gunanya.

    Ketika akhirnya bangsa Israel dihukum karena telah meninggalkan Tuhan, dan Tuhan menyerahkan mereka sebagai tawanan kepada bangsa-bangsa lain, barulah bangsa Israel menyadari betapa pentingnya kembali beribadah kepada Tuhan dan memelihara Taurat-Nya. Oleh karena itu dalam rangka menyelamatkan kehancuran bangsa ini karena tidak lagi hidup sebagai umat Tuhan, maka Ezra, Bapak Yudaisme, mulai mengembalikan/membangkitkan kesukaan untuk beribadah dan memelihara Firman Tuhan agar bangsa ini boleh berjalan sesuai dengan jalan Tuhan. Tetapi karena di tanah pembuangan mereka tidak dapat lagi pergi beribadah ke Yerusalem (apalagi Bait Allah di Yerusalem telah dihancurkan musuh), maka didirikanlah tempat ibadah sinagoge di tanah pembuangan Babel. Di sinilah akhirnya agama Yudaisme lahir dan berkembang. Sekalipun di sinagoge mereka tidak lagi memberikan korban bakaran seperti di Bait Suci, namun di sinagoge ini bangsa Israel belajar Taurat Tuhan dengan teliti dan tradisi nenek moyang mereka terpelihara dengan baik sampai dengan masa Perjanjian baru.

  4. Sistem Pendidikan Perjanjian Lama

    Keluarga menjadi pusat di mana pendidikan diberikan pada masa PL, khususnya oleh mereka yang telah berumur. Sumber bijaksana dan pengetahuan, dipercaya oleh bangsa Israel, didapatkan dari pertambahan umur seseorang. Oleh karena itu orang-orang muda akan belajar segala sesuatu dari orang-orang tua (tua-tua) yang ada di sekitar mereka. Keluarga memiliki tanggung jawab penuh bagi pendidikan anak-anaknya, khususnya pendidikan rohani. Tidak ada pilihan untuk mereka menyerahkan pendidikan ini kepada orang lain karena alasan kesibukan.

    Seperti telah disebutkan sebelumnya, anak-anak Israel pada usia balita dididik oleh ibu mereka. Ketika anak laki-laki cukup besar maka ayah akan memperkenalkan mereka pada pekerjaannya sehari-hari, dan sejak itu anak akan terus mendengar didikan ayahnya sambil bekerja. Sedangkan ibu akan bertanggung jawab terhadap pendidikan anak perempuannya, untuk menjadikannya istri dan ibu yang baik. Setiap makan malam orang tua akan menggunakan waktu berkumpul dengan keluarganya dan mengajarkan nilai-nilai luhur ajaran nenek moyang mereka, dengan meminta anak-anak yang terkecil dalam keluarga untuk menanyakan apa saja yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

    Jika seorang anak Yahudi mendapat didikan dari orang lain selain ayahnya sendiri, maka ia juga akan memanggilnya "ayah". Hal pertama yang diajarkan kepada mereka adalah pelajaran tentang sejarah bangsa Israel, dalam bentuk kredo-kredo di mana inti sari sejarah Israel telah dirumuskan. Dan, untuk itu anak harus menghafal luar kepala selama satu tahun. Namun demikian pada dasarnya tidak ada sekolah formal pada masa PL. Anak belajar bersama dengan orang tuanya dan orang dewasa yang lain dengan terlibat dalam urusan kehidupan sehari-hari. Mereka bertanya dan belajar sepanjang kehidupan mereka melalui setiap kesempatan yang datang, dan orang tua akan selalu siap memberikan penjelasan.



Akhir Pelajaran (PPL-P04)

DOA

"Jika bukan karena pemeliharan-Mu, ya Allah, maka tak mungkin kami dapat memilih cara hidup yang berkenan kepada-Mu. Begitu banyak godaan, karena dunia sering menawarkan gaya hidup yang kelihatannya lebih baik, lebih mudah dan lebih menarik, padahal ujungnya membinasakan. Oleh sebab itu, berilah kami hati yang bijaksana agar kami selalu ingat bahwa Engkaulah junjungan kami, bahwa untuk Engkaulah kami hidup. Amin."

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Pelajaran 01

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Pentingnya Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P01

Pelajaran 01 - PENTINGNYA PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Mengapa penting mempelajari Perjanjian Lama?
    1. Perjanjian Lama adalah Bagian dari Rencana Allah
    2. Perjanjian Lama adalah Bukti akan Kedaulatan dan Kesetiaan Allah
    3. Perjanjian Lama adalah Firman Allah
    4. Perjanjian Lama adalah Nubuat bagi Perjanjian Baru
  2. Mengapa sulit mempelajari Perjanjian Lama?
    1. Halangan Bahasa
    2. Halangan Budaya
    3. Halangan Ketekunan
    4. Halangan Praduga yang Salah

Doa

Mempelajari kitab-kitab Perjanjian Lama merupakan pengalaman menarik bagi setiap orang yang ingin mengerti lebih jelas dan gamblang tentang pekerjaan Allah dalam Perjanjian Lama (akan disingkat PL). Mengapa mempelajari PL? Karena PL berperan sebagai latar belakang sejarah bagi Perjanjian Baru sehingga kita dapat mengerti Perjanjian Baru. Perjanjian Lama merupakan dasar yang sangat penting dalam memahami Perjanjian Baru. Karena Perjanjian Baru (akan disingkat PB) terlindung dalam PL dan PL dinyatakan dalam PB. Hal ini terbukti dengan adanya lebih 600 ayat dari PL di dalam Perjanjian Baru baik sebagai petikan langsung atau pun tidak langsung. Dalam pelajaran ini akan dipaparkan mengenai pentingnya mempelajari Perjanjian Lama.

  1. Mengapa Penting Mempelajari Perjanjian Lama?

    Ada beberapa hal tentang pentingnya mempelajari PL. Pertama, PL merupakan dasar dari seluruh pengajaran Yesus, Paulus dan semua murid lainnya. Jadi, sangat wajar bagi kita untuk belajar PL. Kedua, banyak orang percaya tidak bertumbuh dengan baik karena kurangnya pemahaman tentang Alkitab terutama tentang PL. Ada banyak salah pengertian soal peranan PL dalam kehidupan orang percaya, di mana PL dianggap sebagai bayangan saja bagi Perjanjian Baru (akan disingkat PB). Padahal kegenapan PB atas PL justru memperkaya kita membaca kebenaran firman Tuhan, di mana PL bisa menjadi penuntun bagi kehidupan orang percaya. Berkaitan dengan teks, setidaknya kurang lebih ada 4000 referensi pemakaian PL dalam PB. Sedangkan, dalam kaitan teologis banyak konsep dalam PL dan PB yang pada dasarnya memiliki kaitan yang sangat erat (contoh: kurban, penebusan, dan keselamatan).

    Pada umumnya umat Kristen dapat menerima Alkitab PB dengan mudah karena Alkitab Perjanjian Baru adalah dokumen yang memberi kesaksian tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan dan pengajaran Kristus yang penuh kuasa serta sejarah pendirian gereja-Nya. Akan Tetapi, bagaimana dengan PL? Sering umat Kristen bertanya, apakah gunanya mempelajari kitab-kitab PL? Bukankah PL lebih banyak berbicara tentang cerita usang dari sejarah bangsa Yahudi (Israel) tentang raja-raja, nabi-nabi dan tokoh-tokoh yang tidak ada hubungan langsung dengan kita sekarang? Dapatkah kita menerima keseluruhan PL sebagai firman Allah yang berotoritas mutlak dalam hidup kita?

    Pertanyan di atas sangat penting untuk dijawab. Pelajaran pertama dari Pengantar Perjanjian Lama (PPL) ini akan menolong kita untuk melihat PL dari sudut pandang keseluruhan kebenaran Alkitab supaya kita dapat melihat dengan jelas relevansinya bagi kehidupan Kristen kita sekarang.

    Marilah kita mulai dengan menjawab pertanyaan, mengapa penting mempelajari PL?

    1. Perjanjian Lama adalah Bagian dari Rencana Allah

      Cara Allah menyatakan Diri-Nya kepada manusia adalah dengan memberikan pernyataan umum dan pernyataan khusus, yaitu melalui alam, sejarah, hati nurani manusia dan juga melalui firman dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Di dalam Penyataan-penyataan inilah Allah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia (Roma 1:19-20; Yesaya 52:10).

      Dalam PL, Allah memakai hamba-hamba-Nya, dengan latar belakang satu bangsa, yaitu bangsa Israel, untuk menjadi sarana dalam menyampaikan Penyataan- penyataan rencana-Nya kepada manusia (Yesaya 49:6). Oleh sebab itu, sejarah lahirnya bangsa Israel dan bagaimana Allah menyertai, menghukum dan memberkati bangsa ini (yang kita pelajari melalui kitab-kitab PL) seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan iman Kristen. Karena melalui sejarah bangsa ini Allah sebenarnya sedang memberitahukan kepada manusia tentang Diri-Nya; siapakah Dia dan apakah rencana-Nya bagi umat manusia, termasuk rencana- Nya bagi kita yang hidup sekarang. Dengan mempelajari PL, maka kita akan melihat bagaimana Allah secara progresif menyatakan Diri-Nya untuk dikenal; pertama melalui bangsa pilihan-Nya (Israel), lalu selanjutnya melalui orang-orang yang dipilih-Nya pada masa PB (Roma 1:16).

    2. Perjanjian Lama adalah Bukti akan Kedaulatan dan Kesetiaan Allah

      Di balik cerita sejarah bangsa Israel, PL juga menjadi bukti penting akan kedaulatan Allah atas seluruh alam semesta yang diciptakan-Nya, termasuk di dalamnya manusia. Dialah yang mengawasi sejarah dan yang akan menyelesaikan rencana-Nya tepat pada waktu yang sudah ditetapkan-Nya (Filipi 1:6). Dia juga yang memilih hamba-hamba-Nya sesuai dengan kedaulatan-Nya untuk melaksanakan rencana kekal-Nya. Di sini sekaligus PL juga menjadi bukti penyataan progresif akan kesetiaan Allah (Yesaya 25:1). Allah turut bekerja dalam sejarah, termasuk ketika Israel tidak taat, tetapi Allah tetap setia pada janji-Nya (Roma 3:3). Oleh karena itu, kitab-kitab PB tidak mungkin dilepaskan dari PL; Allah PB adalah juga Allah PL yang setia melaksanakan rencana kedaulatan-Nya (keselamatan) bagi umat pilihan-Nya.

    3. Perjanjian Lama adalah Firman Allah

      Mengakui bahwa PL adalah Firman Allah adalah bagian yang penting dari iman Kristen, karena apabila kita mengakui otoritasnya maka berarti kita bersedia tunduk pada otoritas. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana kita tahu dan yakin bahwa kitab-kitab PL adalah Firman Allah yang berotoritas? Berikut ini adalah beberapa bukti bahwa PL adalah firman Allah.

      Pertama, bukti dari dalam Alkitab sendiri:

      1. Yesus mengakui otoritas Perjanjian Lama

        Selama Yesus hidup di dunia Ia mengakui otoritas PL secara penuh. Hal ini terbukti jelas dalam kitab-kitab Injil bagaimana Yesus selalu mengutip PL untuk menunjukkan dasar otoritas dan pengajaran-Nya. Misalnya pada waktu Ia dicobai (Matius 4:1-11). Juga ketika Yesus harus mengklaim kedudukan-Nya sebagai Anak Allah (Yohanes 10:31-36). Sikap Yesus yang menjunjung tinggi PL cukup menjadi bukti bahwa PL memiliki otoritas sebagai firman Allah.

      2. Para Rasul mengakui otoritas Perjanjian Lama

        Di antara para Rasul tidak ada bukti satu pun yang memperlihatkan bahwa mereka tidak memercayai PL sebagai inspirasi dari Allah. Di antara para rasul, Paulus adalah yang paling jelas memberikan pengakuan secara penuh akan otoritas PL. Dalam 2 Timotius 3:16, "tulisan" yang dimaksud pada waktu itu adalah tulisan dari kitab-kitab PL.

      3. Para penulis Alkitab mengakui otoritas Perjanjian Lama

        Pola pengakuan otoritas PL juga dijumpai pada penulis-penulis PB lain, seperti Yakobus atau penulis kitab Ibrani. Mereka melihat PL bukan sebagai rangkaian sejarah dan peraturan yang mati, tetapi merupakan kisah yang hidup tentang karya Allah yang menyelamatkan manusia (Yakobus 1:22-23; Ibrani 4:12).

      4. Bukti dari luar Alkitab:

      5. Bapak-bapak gereja secara aklamasi menerima pengakuan akan otoritas PL melalui pengkanonan Alkitab. Dinyatakan bahwa masing-masing Kitab PL menunjukkan sifat yang tidak dapat dipisahkan dari pengilhaman ilahi.

      6. Allahlah yang memberi inspirasi kepada para penulis PL. Itulah sebabnya sekalipun para penulis PL hidup pada zaman dan latar belakang yang berbeda, berita yang mereka sampaikan tidak ada yang saling bertentangan, malah sebaliknya memberikan satu benang merah berita yang menunjuk pada karya keselamatan Allah.

      7. Secara praktis terbukti bahwa kitab-kitab PL telah menjadi standar kebenaran dan memberikan manfaat yang sanggup mengubah kehidupan manusia, karena Allahlah yang ada di balik penulisan itu.

    4. Perjanjian Lama berisi Nubuat bagi Perjanjian Baru

      Kitab-kitab dalam PL banyak menunjuk pada nubuat-nubuat yang akhirnya digenapi pada masa PB (Matius 9:31; Lukas 24:44; Roma 10:4). Keseluruhan dan kelengkapan berita keselamatan harus dimulai dari PL dan diakhiri dengan PB; sehingga jelas keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Sebab itu, PL harus dipelajari sebagai sumber dan landasan untuk mengerti penggenapan rencana agung Allah.

      Kitab-kitab dalam PL juga penuh dengan tipologi, kalau dipelajari akan menolong pembaca kitab-kitab PB untuk mengerti lebih jelas keutuhan keseluruhan kebenaran Alkitab.

  2. Mengapa Sulit Mempelajari Perjanjian Lama?

    Salah satu alasan mengapa orang Kristen masa kini kesulitan mempelajari Perjanjian Lama adalah karena jarang membaca. Selain itu, juga minimnya baca dan menggali kitab Perjanjian Lama. Perjanjian Lama adalah firman Tuhan yang benar dan sama berotoritas dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama memperlihatkan sisi kebutuhan manusia berdosa akan Juru Selamat yang membebaskan. Sedangkan, Perjanjian Baru menunjuk langsung kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juru Selamat. Perjanjian Lama tidak bertentangan dengan Perjanjian Baru. Keduanya, mengajarkan hal yang sama yaitu seseorang diselamatkan karena percaya kepada karya penyelamatan Yesus Kristus. Dari uraian di atas kita melihat bahwa penting sekali kita mempelajari Penyataan Allah yang bersifat progresif itu mulai dari masa PL supaya kita mendapatkan konteks lengkap mengenai Penyataan Allah secara komprehensif. Akan tetapi, mempelajari kitab-kitab PL tidaklah tanpa halangan. Ada faktor-faktor penghambat yang kadang menyulitkan kita mengerti maksud sesungguhnya berita dalam PL. Kesulitan-kesulitan itu mencakup:

    1. Halangan Bahasa

      Kitab PL ditulis dicatat dalam dua bahasa yaitu, bahasa Ibrani dan bahasa Aram (Kejadian 31:47; Yeremia 10:11; Ezra 4:8). Dalam PL terdapat empat jenis sastra dasar yaitu: hukum, kisah sejarah, syair dan nubuat. Bahasa Ibrani PL adalah suatu sistem penulisan abjad dan tergolong sebagai bahasa Semit Barat Laut yang jauh berbeda dengan sistem penulisan suku kata dari bangsa Asyur dan Babel. Sebab itu, kitab-kitab PL sebagian besar disampaikan dalam bahasa Ibrani kuno yang kadang tidak dapat secara jelas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Rumpun bahasa Semit disebut sesuai dengan nama anak-anak Sem, anak Nuh, yang dianggap nenek moyang bangsa-bangsa Timur Tengah (menurut Kejadian). Dalam rumpun bahasa yang sama terdapat juga bahasa Arab. Semua bahasa Semit ditulis dari kanan ke kiri, sesuai dengan kebiasaan pada zaman kuno.

      Pada awalnya, huruf-huruf Ibrani hanya berupa huruf-huruf mati tanpa adanya huruf vokal. Pada tahun 500 M, kaum Masora/Massoreth menambahkan tanda-tanda vokal dalam Alkitab Ibrani. Kaum Masora adalah kelompok kaum cendekiawan Yahudi yang berhasil menetapkan pengucapan baku bahasa Ibrani dalam Alkitab. Kata-kata dalam bahasa Ibrani, sama seperti bahasa Semit yang lainnya, yaitu setiap akar kata terdiri dari tiga huruf mati.

      Pada abad ke-8 SM, kerajaan Asyur melakukan ekspansi ke daerah Barat. Oleh karena itu, bahasa Aram dipakai secara resmi sebagai bahasa diplomasi dan perdagangan di seluruh wilayah kerajaan Asyur. Bahasa Aram menjadi bahasa kedua di wilayah Timur Tengah pada waktu itu, sehingga tidak mengherankan apabila terdapat beberapa kata dalam Alkitab PL yang ditulis dengan menggunakan bahasa Aram. Para ahli kitab sangat berhati-hati dalam mempelajari dan menyelidiki bagian-bagian tertentu dalam Alkitab Ibrani. Para petugas kerajaan Yehuda juga menggunakan bahasa Aram dalam berdiplomasi, panitera-panitera kerajaan sebelum masa pembuangan menggunakan bahasa Aram sebagai bahasa utama.

    2. Halangan Budaya

      Bangsa Israel adalah sebuah bangsa pengembara yang hidup selalu berpindah-pindah (nomad). Hal ini sesuai dengan nenek moyang mereka, yaitu Abraham yang dipanggil Tuhan dari Ur-Kasdim menuju tanah Kanaan. Dalam menuju tanah perjanjian, Abraham singgah di beberapa tempat seperti di Sikhem dan Mesir, kebiasaan Abraham ini menjadi pola kehidupan bagi keturunannya, yakni Israel. Israel menjadi budak di Mesir dan mengembara selama 40 tahun di padang gurun. Kehidupan masyarakat Israel pada mulanya adalah seorang penggembala, sama seperti Abraham. Namun, setelah memasuki tanah Kanaan, bangsa Israel mulai mengenal sistem pertanian dan perkebunan. Daerah-daerah di sepanjang sungai Yordan diusahakan menjadi tempat pertanian yang subur.

      Bangsa Israel memiliki budaya yang berkaitan erat dengan leluhur mereka dan tanah Kanaan yang mereka diami. Penduduk asli negeri Kanaan adalah orang-orang yang menyembah berhala dan melakukan praktik poligami. Sebab itu, bangsa Israel juga melakukan poligami, dan sering mereka berpaling dari Allah dan menyembah dewa-dewi penduduk Kanaan. Israel juga mengenal sistem sosial dalam kemasyarakatan. Strata sosial tersebut terlihat di penduduk Israel, meskipun bukan dalam sistem kasta. Terdapat perbedaan kelompok orang-orang kaya, orang-orang miskin, budak, imam-imam, raja dan pegawai istana, dan orang-orang non-Yahudi yang masuk menjadi orang Yahudi yang biasanya dikenal dengan nama "Proselit".

    3. Halangan Ketekunan

      Minimnya ketekunan dalam mempelajari firman Tuhan secara mendalam menyebabkan kurangnya pemahaman yang luas dan komprehensif. Tanpa pengetahuan yang cukup, bisa menjadi salah satu faktor kesulitan dalam mempelajari PL. Setiap orang yang ingin belajar kitab-kitab PL harus memiliki ketekunan untuk belajar dan menelaah konteks dan isi kitab-kitab PL. Kurangnya ketekunan dalam mempelajari Alkitab secara menyeluruh dan berkesinambungan menyebabkan kita tidak dapat menggabungkan relasi PL dan PB secara komprehensif.

    4. Halangan Praduga yang Salah

      Sering kita telah memiliki praduga yang salah tentang PL sehingga kita cenderung hanya memilih berita yang kita sukai dan mengerti, tapi kemudian mengabaikan isi berita PL yang lain. Oleh sebab itu, kita perlu melihat keseluruhan teks dan konteks kitab yang sedang kita pelajari, sehingga kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang makna berita PL. Cara untuk menghilangkan praduga yang salah adalah dengan berlatih tekun dan memiliki kemauan untuk mempelajari lebih serius kitab-kitab PL.



Akhir Pelajaran (PPL-P01)

DOA

"Ya Allah, saya bersyukur bahwa Engkau berkenan untuk menyatakan Diri-Mu kepada bangsa Israel sedemikian rupa sehingga saya sekarang dapat belajar mengenal tentang Engkau lebih baik. Tapi doronglah saya untuk tidak cepat puas hanya sampai di sini. Ajarkan saya untuk semakin rindu mempelajari Firman-Mu dalam PL sehingga saya bisa menjadi semakin dekat dan mengenal kehendak-Mu lebih baik." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Pelajaran 02

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Latar Belakang Geografis Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P02

Pelajaran 02 - LATAR BELAKANG GEOGRAFIS PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Mengapa Penting Mempelajari Latar Belakang Geografi Perjanjian Lama?
  2. Ruang Lingkup Geografi Perjanjian Lama
    1. Geografis Secara Fisik
    2. Geografis Secara Politik
    3. Geografis Secara Sejarah
  3. Makna Teologis Latar Belakang Geografis (Tanah Perjanjian)
  4. Peta Geografis Perjanjian Lama

Doa

LATAR BELAKANG GEOGRAFIS PERJANJIAN LAMA

  1. Mengapa Penting Mempelajari Latar Belakang Geografi Perjanjian Lama?

    Pada pelajaran yang pertama telah kita pelajari bahwa melalui kitab-kitab Perjanjian Lama (selanjutnya akan disingkat PL), yang berisi sejarah bangsa Israel, Allah telah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia. Untuk itu Allah telah melibatkan Diri dalam sejarah hidup umat pilihan-Nya yang dibatasi dalam ruang dan waktu. Kisah sejarah bangsa Israel dalam Kitab-kitab PL bukanlah karya sastra yang direka-reka dan direncanakan oleh pikiran manusia. Kita patut bersyukur bahwa Alkitab adalah unik dibandingkan dengan kitab suci agama lain, karena Alkitab menyebutkan banyak sekali nama-nama tempat yang memang pernah ada di dunia ini. Itulah sebabnya ada dua alasan penting untuk mempelajari latar belakang geografis dunia PL:

    1. untuk menjadi bukti bahwa sejarah umat Allah dalam PL adalah sejarah yang sungguh terjadi di suatu tempat, di suatu waktu di dunia ini.

    2. supaya kita dapat mengerti dan menginterpretasikan teks Alkitab dengan lebih baik; ada ribuan nama tempat, gunung, sungai, bukit, laut dll. dalam Alkitab sehingga diperlukan pengetahuan yang cukup tentang data-data geografis tersebut. untuk dapat menafsirkan ayat dengan tepat.

  2. Ruang Lingkup Geografis Perjanjian Lama

    Adapun lingkup geografis Perjanjian Lama dapat dilihat dari beberapa sisi:

    1. Geografi secara fisik, berkaitan dengan bumi secara fisik seperti gunung, sungai, lembah, dan struktur tanah, angin dan cuaca dll. Semua ini memengaruhi bagaimana masyarakat hidup di daerah itu; tipe bangunan rumahnya, tipe pekerjaannya, gaya hidupnya dll..

      Daerah peristiwa-peristiwa dalam PL pada dasarnya termasuk lembah utara dan Delta sungai Nil, semenanjung Sinai, Palestina, Fenisia, Aram, lembah-lembah sungai Efrat dan Tigris, dan Mesopotamia. Pada masa sekarang ini, daerah-daerah tersebut disebut dengan sebutan "sabit yang subur" (Fertile Crescent). Tanah Palestina atau Kanaan adalah sebuah wilayah yang terletak di antara Laut Tengah (Mediterania) di sebelah Barat dan Padang Gurun Arab di sebelah Timur. Luas tanah Kanaan sebagaimana yang sering diucapkan dalam kitab-kitab dalam Perjanjian Lama adalah, "dari Dan sampai Bersyeba" (Hakim-hakim 20:1, I Samuel 3:10). Nama Palestina berasal dari nama "Filistin", sebab pendudukan negeri tersebut menduduki dataran pantai.

      Pada umumnya, tanah Palestina berupa daerah pegunungan. Di antara gunung-gunung, terdapat lembah-lembah yang cukup subur. Orang Israel adalah orang yang tinggal dan menduduki daerah pegunungan, oleh sebab itu, bangsa Israel tidak cakap berperang di tanah yang datar (Hakim-hakim 1:19), walaupun mereka mulai memakai pasukan kuda untuk melawan Siria dan Asyur. Oleh karena itu, bani Israel tidak dapat mempertahankan bagian dataran pantai dalam waktu yang lama. Dan, dataran atau lembah Esdralon merupakan tempat berperang bagi bangsa Israel, tetapi sering kali bangsa Israel tidak meraih hasil yang baik saat berperang di lembah Esdralon. Pada sendirinya, tanah Palestina terbagi menjadi empat bidang yang membujur dari arah Utara ke Selatan.

    2. Geografi secara politis, berkaitan dengan pengaturan kelompok masyarakat yang ada, dari kelompok masyarakat sederhana yang tinggal berpindah-pindah (nomad) sampai akhirnya membentuk suatu daerah pemukiman yang memiliki daerah teritorial yang jelas dan bahkan menjadi kerajaan yang berkuasa atas daerah yang lebih luas.

      Pemberian tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian didasarkan kepada janji Allah kepada Abraham. Abraham bukanlah penduduk asli tanah Kanaan, tetapi Abraham berasal dari Mesopotamia, di sebuah kota yang bernama Ur-kasdim. Pada dasarnya, Abraham tidak mengenal siapa Allah, sebab penduduk Mesopotamia adalah orang-orang Kafir yang menyembah berhala. Abraham dipanggil Allah untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi menuju tanah perjanjian. Abraham tidak tahu pasti di mana tanah perjanjian itu berada, tetapi dengan iman, ia terus pergi menuju tanah yang dijanjikan Tuhan. Semasa Abraham hidup, Abraham pernah menempati tanah Kanaan. Pada masa terjadi keributan antara hamba-hamba Lot dan hamba-hamba Abraham, akhirnya Abraham dan Lot memutuskan untuk berpisah. Lot memilih daerah di sekitar sungai Yordan yang hijau dan subur, sementara Abraham memilih daerah yang sebaliknya. Pada saat itulah, Tuhan Allah berfirman bahwa tanah itu akan menjadi miliknya dan keturunannya.

      Masa Teokrasi, bisa dikatakan bahwa Israel mulai menegakkan sebuah kerajaan dan menentukan batas-batas wilayah secara politis. Masa pemerintahan Saul, luas kerajaan Israel tidaklah seluas pemerintahan Daud. Daud menggantikan Saul sebagai raja Israel, kemudian Daud mulai berperang melawan musuh-musuh Israel dan luas wilayah pun bertambah. Secara teritorial, kerajaan Israel menjadi semakin luas dan Allah menyerahkan musuh-musuh Israel ke dalam tangan Daud, sehingga negeri itu diberkati oleh Tuhan. Hingga masa pemerintahan Salomo, luas kerajaan semakin luas. Namun, ketika Salomo meninggal dunia, maka kerajaan Israel pecah menjadi dua bagian, yaitu menjadi kerajaan Israel Utara dan kerajaan Israel Selatan. Kerajaan Israel Utara terdiri dari 10 suku yang dipimpin oleh Yerobeam bin Nebat, dengan ibu kota di Samaria. Sedangkan, kerajaan Israel Selatan dipimpin oleh Rehabeam anak Salomo, yang terdiri dari 2 suku, yakni Yehuda dan Benyamin, dengan ibu kota di Yerusalem.

    3. Geografi secara sejarah, berkaitan dengan perkembangan sejarah masyarakat dalam satu tempat dan satu waktu. Alkitab mencatat bagaimana, di mana dan kapan Allah menyatakan Diri dan rencana-Nya pada umat pilihan-Nya.

      Abraham adalah nenek moyang bangsa Israel. Secara khusus, Allah memanggil Abraham untuk menuju tanah perjanjian. Bangsa Israel sendiri adalah bangsa yang menduduki tanah Kanaan dan berbaur dengan penduduk asli negeri itu. Pada masa Yakub, kelaparan hebat melanda tanah Kanaan, sehingga Yakub dan keluarganya yang berjumlah 70 orang (Kejadian 46:27) pergi ke Mesir. Di Mesir, bani Israel mendiami tanah Gosyen dan jumlah mereka semakin bertambah banyak, hingga akhirnya Firaun yang tidak mengenal Yusuf, memerintah Mesir dan mulai menindas bangsa Israel.

      Hingga, pada masa Yosua, Israel baru menduduki tanah Kanaan setelah masa keluar dari Mesir. Janji yang Allah ikat dengan Abraham, digenapi pada masa Yosua dan bangsa Israel mendiami tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah. Allah menyatakan Diri dan rencana-Nya kepada bangsa Israel, dan rencana-rencana yang Allah janjikan telah digenapi dan penyertaan dan pemeliharaan Allah senantiasa ada dan melimpah bagi Israel.

    *) Untuk penjelasan dan contoh-contoh lebih lengkap simak referensi

  3. Makna Teologis Latar Belakang Geografis (Tanah Perjanjian)

    1. Allah yang Mengikat Perjanjian

      Wilayah tanah Kanaan memiliki porsi muatan makna teologis yang sangat besar dalam seluruh kitab PL, karena tanah Kanaan merupakan komponen utama dalam perjanjian Allah dengan bangsa pilihan-Nya, Israel. Hal ini dimulai ketika Abraham dipanggil untuk pergi ke tanah yang akan Tuhan berikan kepadanya dan bangsa keturunannya, yaitu Tanah Perjanjian, (Kejadian 11:31; 12:10). Wilayah Tanah Perjanjian itu disebutkan "mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat" (Kejadian 15:18) dan janji itu dikonfirmasi lagi kepada Ishak (Kejadian 26:3) dan juga kepada Yakub (Kejadian 28:13).

      Perjanjian adalah sebuah janji yang diucapkan dengan sungguh-sungguh yang diikat oleh sumpah, yang bisa merupakan ucapan lisan ataupun tindakan simbolis. Dalam PL, perjanjian bertumpu pada janji Allah. Perjanjian Allah dengan Abraham didasari dalam Kejadian 12:1-3, yaitu pada saat Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan negerinya. Allah menjanjikan negeri atau tanah kepada Abraham. Kemudian, Allah berjanji bahwa Abraham akan menjadi bapa dari sebuah besar bangsa, hingga pada akhirnya, Allah berjanji bahwa Allah akan menjadi Allah Abraham dan keturunannya. Perjanjian ini diprakarsai oleh Allah sendiri dan Allahlah yang berinisiatif untuk mengikat dan mengadakan perjanjian.

      Luas tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham tidaklah jelas batasnya. Namun dapat dipastikan lebih luas dari negeri Kanaan, karena ketika Lot memilih untuk tinggal di lembah Yordan yang subur dan banyak air di sebelah timur, Abraham tinggal di tanah Kanaan, dan di situlah Tuhan berkata kepada Abraham: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya." (Kejadian 13:14-15).

      Tanah Kanaan dijanjikan kepada bangsa Israel, ini artinya bangsa Israel harus menyingkirkan penduduk asli tanah Kanaan. Yosua memimpin bangsa Israel untuk menaklukan tanah Kanaan dengan suatu "perang kudus" melawan penduduk asli tanah Kanaan. Hukuman yang adil diberikan oleh Allah kepada Israel, karena pada masa penaklukan tanah tersebut, mereka jatuh ke dalam dosa dengan menyembah dewa-dewa kesuburan orang Kanaan, yakni Baal dan Asyera. Tanah Kanaan sudah menjadi keji oleh penduduknya dengan berbuat keji dan menyembah berhala. Oleh sebab itu, umat Israel harus menyingkirkan semuanya itu dan menyucikan tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham dan keturunannya.

      Ratusan tahun kemudian ketika Musa mengingatkan bangsa Israel akan Tanah Perjanjian yang Tuhan telah berikan kepada mereka, maka Musa menjelaskan batas-batas tanah itu sebagai, "Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu. Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya." (Ulangan 1:7-8). Dan saat itu bangsa Israel telah menduduki tanah bahkan sampai ke Transyordan, yang lebih luas dari batas Tanah Perjanjian.

      Pada masa Yosua, Tuhan memberi perintah kepada Yosua untuk mengambil seluruh teritorial seperti yang telah disebutkan oleh Musa (Yosua 1:4). Namun selama masa itu Israel gagal untuk mendapatkan seluruh tanah yang telah Tuhan janjikan, sebab utamanya adalah karena ketidaktaatan mereka kepada Tuhan, sehingga Tuhan menghukum mereka dengan tidak memberikan seluruh tanah itu kepada bangsa Israel. Dan selama masa raja-raja Israel, tidak ada satu raja pun yang berhasil mendapatkan seluruh Tanah Perjanjian itu kecuali Daud (itu pun masih ada satu bagian tanah, Tanah orang Het yang tidak menjadi kekuasaan Israel).

    2. Implikasi Teologis Perjanjian Allah dengan Tanah Perjanjian

      Allah adalah pribadi yang mengikat perjanjian dengan orang-orang yang dipilih dan dikehendaki-Nya, seperti Nuh, Abraham, Musa dan Daud. Mengapa Allah mengikat perjanjian? Apakah yang mendasari perjanjian tersebut? Bagaimana sifat perjanjian tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu seringkali menjadi pertanyaan bagi orang-orang Kristen, dan orang Kristen mulai belajar untuk menemukan jawaban di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut.

      Perjanjian terjadi karena Allah yang berinisiatif untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan manusia. Semua perjanjian didasari atas kasih Allah kepada manusia. Melalui perjanjian-perjanjian tersebut, Allah ingin menyatakan bahwa Allah adalah kasih, kasih ini dinyatakan dalam Imamat 26:12 yaitu, "Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku." Inilah kehendak Allah dan ketetapan ini tidak boleh diabaikan. Bagi bangsa Israel sendiri, tanah Perjanjian merupakan salah satu identitas bagi mereka. Tanah Kanaan tidak hanya bersifat teritorial saja yang harus diduduki, tetapi lebih dari pada itu, Allah telah menjanjikan tanah tersebut, maka mereka akan berupaya untuk menduduki tanah Kanaan.

      Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa konsep Tanah dan Perjanjian dalam PL saling memiliki kaitan yang erat. Tanah merupakan anugerah Tuhan yang dijamin di atas perjanjian (convenant) yang sah. Sebab itu, Tanah Perjanjian merupakan simbol akan ketergantungan mereka pada Tuhan. Hubungan Israel dengan tanah itu merupakan indikasi hubungan mereka dengan Tuhan. Apabila mereka taat kepada Tuhan maka kemakmuran yang luar biasa akan terjadi di atas tanah itu (Ulangan 22). Sebaliknya, ketidaktaatan bangsa Israel akan perintah Tuhan akan berakhir dengan dibuangnya mereka dari Tanah Perjanjian (Ulangan 4:25-28; 28:63-68; Yosua 23:13-16; 1 Raja-raja 9:6- 9; 2 Raja-raja 17:22-23; dll.). Dan, akibatnya pada masa-masa itu orang Israel harus hidup di tanah pembuangan dan dijajah bangsa-bangsa lain.

      Namun, karena janji bahwa Tuhan akan setia menyertai bangsa ini, maka tidak untuk selamanya bangsa Israel tinggal di tanah pembuangan. Sebagaimana perkataan nabi Yeremia, bahwa mereka dibuang ke Babel hanya selama 70 tahun. Pada zaman Ezra, yaitu pada masa Kerajaan Media-Persia mulai berkuasa. Koresy memerintahkan bahwa bangsa Israel yang dalam masa pembuangan bisa kembali ke tanah air mereka. Sehingga, bangsa Israel kembali pulang ke Kanaan dalam tiga tahap pemulangan, yang pertama dipimpin oleh Zerubabel, tahap yang kedua dipimpin oleh Ezra dan tahap yang ketiga dipimpin oleh Nehemia. Sejarah PL mulai diwarnai dengan pertobatan dan perjanjian untuk menjauhkan diri dari pencemaran dosa dari bangsa kafir (baca Ezra 9:10-15) sehingga bangsa Israel akhirnya pulang kembali ke tanah airnya dan tinggal di tanah yang Tuhan janjikan itu.

*) Catatan: Peta geografis PL dapat dilihat di situs Alkitab SABDA. Alamat URL:
http://alkitab.sabda.org/map.php?index=map



Akhir Pelajaran (PPL-P02)

DOA

"Tuhan, Allah sumber segala berkat, saya bersyukur karena Engkaulah yang menyediakan tanah di mana saya tinggal saat ini. Saya bersyukur bahwa Engkau sediakan segala sesuatunya itu untuk kebaikan saya. Ajarkan kepada saya untuk senantiasa ingat bahwa tempat di mana saya berada adalah anugerah Tuhan. Di sinilah Tuhan ingin saya berkarya dan memuliakan nama Tuhan. Oleh karena itu Allah, berikan saya kekuatan agar saya senantiasa hidup suci di hadapan Tuhan. Amin."

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Pelajaran 03

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Sejarah Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P03

Pelajaran 03 - SEJARAH SINGKAT PERJANJIAN LAMA

Daftar Isi

  1. Hal-hal Penting Dalam Mempelajari Sejarah Perjanjian Lama
    1. Sejarah Perjanjian Lama adalah Sejarah Kehidupan Manusia yang Nyata
    2. Sejarah Perjanjian Lama adalah Pekerjaan Allah
    3. Sejarah Perjanjian Lama adalah Sejarah Keselamatan
  2. Kronologis Sejarah Perjanjian Lama
    1. Zaman Adam sampai Abraham (kira-kira 5000 - 4000 sM)
    2. Zaman Patriark-Patriark (kira-kira 2000 - 1400 sM)
    3. Zaman Keluar dari Mesir (kira-kira 2000 - 1400 sM)
    4. Zaman Hakim-Hakim (kira-kira 1400-1050 sM)
    5. Zaman Kerajaan Bersatu (kira-kira 1050 - 931 sM)
    6. Zaman Kerajaan Terpisah (kira-kira 930 - 586 sM)
    7. Zaman pembuangan di Babel dan kembali ke tanah Israel (kira-kira 587 sM)

Doa

SEJARAH SINGKAT PERJANJIAN LAMA

Seperti yang telah disinggung pada pelajaran sebelumnya bahwa sebagian besar Kitab-kitab dalam PL berisi cerita sejarah, khususnya tentang sejarah bangsa Israel. Cerita-cerita tersebut bukanlah cerita yang sekadar kita dengar lalu kita lupakan, karena ada makna teologis yang dapat ditarik kalau kita mempelajari dengan teliti dan dengan tujuan yang benar.

Perjanjian Lama memperlihatkan kepada kita sejarah zaman purba dari sudut pandang ilahi. Sejarah dikemukakan dan bersifat linear - yakni, sebagai permulaan, titik pusat (Yesus Kristus), dan akhir. Diperlihatkannya kepada kita bahwa sejarah berlangsung secara bertahap dengan setiap tahap dibangun di atas tahap yang sebelumnya. Perjanjian Lama harus dilihat sebagai penyajian sifat-sifat Allah dalam perbuatan. Kita dapat mengetahui siapa Allah itu dan seperti apa Dia dengan jalan mendengar apa yang sudah dan yang akan dilakukan-Nya. Sesudah kita mengetahui siapa Dia, dan seperti apa Dia, maka tanggapan yang selayaknya adalah penyembahan, komitmen dan pelayanan.

Alkitab menerangkan bahwa Allah bekerja untuk mengendalikan sejarah sesuai dengan rencana-Nya. Tidak seperti sejarah-sejarah lain yang ditulis dalam dunia zaman purba, Alkitab tidak melakukan penyembahan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pahlawan. Alkitab memperlihatkan tokoh-tokoh utama dalam sejarah sebagaimana adanya, bahkan ketika hal ini mungkin menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang serius. Misalnya, bagaimana Daud (sebagai penulis mazmur) dapat melakukan pembunuhan, perzinaan, dan poligami (2 Samuel 11-12). Namun, Alkitab dengan terus terang mengatakan bahwa ia telah melakukan semuanya itu. PL mencatat sejumlah mukjizat yang menampakkan kuasa Allah. Berbagai mukjizat tersebar di seluruh narasi, tetapi secara khusus muncul dalam hubungannya dengan Musa, Yosua, Samuel, Elia dan Elisa (misalnya 1 Raja-raja 17:17-24). Kejadian-kejadian yang ajaib ini tidak diangkat sebagai kejadian yang biasa dalam kehidupan orang-orang ini. Kejadian-kejadian itu menyatakan kuasa Allah.

Mempelajari sejarah PL harus dimulai dengan kerinduan untuk mengerti maksud dan rencana Allah berintervensi (turut campur tangan) dalam sejarah manusia. Hal inilah juga yang mendorong para ahli Alkitab untuk meneliti dan menyusun urutan kejadian-kejadian dalam Alkitab untuk melihat kembali bagaimana Allah berkarya, menyatakan Diri-Nya dan bagaimana Ia bertindak dan berhubungan dengan manusia. Tindakan Allah dalam sejarah ciptaan-Nya ini membuktikan akan penyertaan dan pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya. Apa yang Allah kerjakan dan tunjukkan di masa lampau dalam sejarah PL, memberikan dampak dan pengharapan bagi kita yang hidup pada masa kini.

Sejarah PL mempunyai banyak ciri yang menarik. Kejadian-kejadian digambarkan dengan sangat jelas, hidup, dan ringkas, tetapi tidak selalu mengikuti urutan kronologis yang ketat (misalnya Kejadian 2, kitab Hakim-Hakim). Alkitab memusatkan perhatian pada persoalan yang penting dari segi teologis, maka beberapa hal tidak disebutkan sama sekali dan hal-hal lain diuraikan dengan terperinci. Inti sejarah PL adalah cara Allah mengerjakan keselamatan dengan Kristus sebagai perwujudan dan sasarannya. Amanatnya jelas, baik di Kitab Samuel, Raja-Raja maupun di kitab Tawarikh, namun kedua "sejarah" ini berbeda. Yang pertama memperlihatkan sejarah melalui pandangan para nabi, sedangkan yang kedua menggambarkan sejarah dari segi pandangan imam atau hanya menyajikan suatu kejadian. Kedua sejarah ini saling melengkapi dan tidak bertentangan.

Untuk lebih jelasnya di bawah ini adalah hal-hal penting yang perlu diketahui dalam mempelajari sejarah PL ini.

  1. Hal-hal Penting Dalam Mempelajari Sejarah Perjanjian Lama

    1. Sejarah Perjanjian Lama adalah Sejarah Kehidupan Manusia yang Nyata

      Sejarah PL bukanlah cerita-cerita usang belaka dari suatu bangsa yang hanya rekaan manusia. Sejarah PL adalah kisah dari sebuah bangsa yang betul-betul ada di dunia, yang telah dipilih Allah untuk menjadi saluran kasih-Nya. Setiap kejadian yang ada dalam sejarah PL merupakan sebuah mata rantai sejarah Keselamatan Allah yang panjang yang saling menyambung, karena kisah yang ada dalam PL tersebut. satu dengan yang lain memiliki hubungan atau kaitan yang sangat erat, baik hubungan sebagai kelanjutan cerita, tapi juga hubungan akan penggenapan atas nubuat yang telah diberikan sebelumnya.

    2. Sejarah Perjanjian Lama adalah Pekerjaan Allah

      Alkitab PL bukan saja meliputi cerita kronologis bangsa Israel dari permulaan pemilihan sampai zaman Yesus Kristus, tapi adalah sejarah pekerjaan Allah yang terus menerus dinyatakan di dalam kehidupan orang-orang Israel agar mereka mengerti tujuan pekerjaan dan rencana karya Allah untuk keselamatan mereka serta menjadikan mereka rekan kerja Allah.

    3. Sejarah Perjanjian Lama adalah Sejarah Keselamatan

      Dari peristiwa-peristiwa yang disusun secara kronologis maka terlihatlah suatu benang merah dalam seluruh sejarah umat manusia, yaitu Sejarah Keselamatan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Manusia yang telah jatuh dalam dosa dan terputus hubungan dengan Allah diberikan pengharapan baru; dan pada setiap generasi, sejarah mencatat, Allah selalu mengulangi panggilan-Nya agar manusia berbalik dan menerima keselamatan yang dari Tuhan.

      Dari tiga hal di atas jelaslah bahwa untuk mempelajari sejarah PL kita harus melihat keseluruhan beritanya dalam konteks yang tepat. Sejarah PL bukan berisi perintah-perintah yang harus kita ikuti atau cerita yang bisa kita ambil dan mengerti secara terpisah-pisah, karena masing-masing peristiwa memiliki latar belakang historis yang menuju ke satu berita utama, yaitu berita Keselamatan. Oleh karena itu mempelajari sejarah PL akan menolong kita secara langsung untuk mempelajari konteks dalam menafsirkan berita PL secara benar.

  2. Kronologis Sejarah Perjanjian Lama

    Sebelum memberikan garis besar sejarah seluruh PL, perlu terlebih dahulu kita mengerti bagaimana para ahli Alkitab dan sejarah menentukan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa secara kronologis.

    Penentuan waktu kronologis sejarah PL (dari masa penciptaan, Adam dan seterusnya) tidak begitu mudah untuk dipastikan, karena Alkitab sendiri tidak ditulis untuk maksud memberikan catatan kronologis yang urut dan lengkap. Tujuan Alkitab mencatat peristiwa-peristiwa penting adalah untuk memberikan gambaran sehubungan dengan bagaimana Allah bertindak terhadap manusia pada tempat dan waktu saat itu. Salah satu cara menentukan waktu kejadian penciptaan Adam adalah dengan teori Ussher (sekalipun sekarang teori ini tidak populer), yaitu dengan cara menjumlahkan ke belakang genealogi (silsilah) dan data-data kronologis lain yang terdapat dalam PL (dengan asumsi bahwa silsilah-silsilah PL semua lengkap dan berurutan). Dengan cara ini ditentukan bahwa waktu penciptaan Adam adalah tahun 4004 sM. Banyak orang masih memakai pedoman tarikh waktu Ussher ini sebagai pedoman pengurutan kronologisnya saja, sedangkan penentuan tahunnya tidak diikuti.

    Berikut ini adalah garis besar pembagian sejarah Perjanjian Lama secara kronologis:

    1. Zaman Adam sampai Abraham (kira-kira 5000 - 4000 sM)

      Zaman ini oleh beberapa sarjana ditempatkan dalam ruang waktu antara 5000-4000 sM, walaupun ada banyak pandangan yang berbeda-beda tentang penetapan waktu ini.

      Dalam zaman ini dicatat dua peristiwa besar:

      1. Air bah (Kejadian 6:13; 9:17) - 3000 sM, tahun ini ditentukan dengan memperhatikan kesamaan antara Air Bah di dalam Alkitab dengan sebuah kisah air bah yang berasal dari Babel.

      2. Menara Babel (Kejadian 11:1-9) - 3000-2000 sM, karena kejadiannya ini tidak lama sesudah air bah, (di mana semua manusia masih tinggal di satu daerah).

    2. Zaman Patriark-Patriark (kira-kira 2000 - 1400 sM)

      Kisah pengembaraan Abraham dalam Kejadian 12-50 dapat diyakinkan dari berbagai keterangan yang cocok sekali dengan lingkungan kebudayaan periode tahun 2000 -1600 sM, di mana cara hidup orang-orang zaman itu adalah mengembara (nomad). Tanah Palestina saat itu masih jarang penduduknya sehingga pengembaraan masih dapat dilakukan dengan bebas di daerah-daerah yang subur, bahkan dari daerah Mesopotamia (tempat asal Abraham) ke Palestina.

    3. Zaman Keluar dari Mesir (kira-kira 2000 - 1400 sM)

      Ada dua periode besar pada zaman ini yang berjalan kira-kira 430 tahun (Keluaran 12:40-41). Pertama adalah masa Abraham dipanggil Tuhan sampai Yakub masuk ke Mesir (Kejadian 12:4; 2:15; 25:26; 47:9). Kedua, adalah masa bangsa Israel di Mesir sampai keluar dari Mesir tahun 1290 sM diperkirakan sebagai tahun keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Saat itu, diperkirakan umur Musa adalah 80 tahun.

    4. Zaman Hakim-Hakim (kira-kira 1400-1050 sM)

      Zaman ini adalah masa sesudah kematian Yosua. Dalam periode ini ada 13 hakim yang ditunjuk Tuhan untuk memimpin bangsa Israel hidup di Tanah Perjanjian.

      *) Daftar Hakim-hakim lihat di bahan Referensi

      Masa Hakim-hakim ini dianggap sebagai masa gelap bangsa Israel, diungkapkan sebagai masa, "Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri." (Hakim-Hakim 17:6). Pada masa ini sepertinya Tuhan tidak bekerja, baik melalui mukjizat maupun tanda-tanda lain yang menyertai. Kehidupan bangsa Israel sangat mundur bukan hanya secara rohani tapi juga dalam hal keamanan dan kesejahteraan jasMani. Mereka sering dikalahkan, dirampok dan diperlakukan sangat buruk oleh bangsa-bagsa lain yang lebih kuat. Kunci dari masalah ini adalah karena dosa-dosa yang diperbuat oleh bangsa Israel, sehingga Tuhan meninggalkan mereka.

    5. Zaman Kerajaan Bersatu (kira-kira 1050 - 931 sM)

      Dalam rangkaian sejarah bangsa Israel, periode zaman ini dapat dikatakan sebagai zaman yang paling gemilang dan makmur. Israel menjadi bangsa yang memiliki derajat tinggi di antara bangsa-bangsa di sekitarnya. Hal ini ditandai dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam berbagai bidang (ilmu pengetahuan, kesusasteraan, pembangunan dll.)

      Akan tetapi, pada pihak yang lain sistem pemerintahan "Teokrasi", yaitu kepemimpinan langsung oleh Tuhan, mulai ditinggalkan oleh bangsa Israel. Tuhan mengizinkan mereka memiliki raja sendiri untuk memerintah karena kedegilan hati bangsa ini. Tetapi Tuhan memberikan peringatan yang jelas (1 Samuel 8) bahwa mereka akan menyesal di kemudian hari.

      *) Daftar Raja-raja Israel dapat dilihat di bahan Referensi.

    6. Zaman Kerajaan Terpecah (kira-kira 930 - 586 sM)

      Kejayaan kerajaan Israel berakhir setelah pemerintahan raja Salomo, karena kemudian kerajaan ini mulai pecah dan runtuh sedikit demi sedikit dan akhirnya hancur karena kejahatan mereka di mata Tuhan dan penyembahan-penyembahan mereka kepada patung-patung berhala.

      Karena janji dan kesetiaan Tuhan pada bangsa ini maka tak henti-hentinya Tuhan berbicara dengan mengirimkan utusan-utusan-Nya. Pada zaman ini beberapa nabi dibangkitkan Tuhan untuk menyampaikan firman-Nya kepada raja dan rakyat dari kedua kerajaan yang pecah ini.

      *) Catatan: Daftar nabi-nabi dapat dilihat di bahan Referensi.

    7. Zaman pembuangan di Babel dan kembali ke tanah Israel (kira-kira 587 sM).

      Periode pertama zaman ini adalah masa yang sulit bagi bangsa Israel. Mereka berkali-kali jatuh ke tangan bangsa lain, dijajah dan ditindas, bahkan mereka sempat dibuang ke tanah asing untuk menjadi bangsa tawanan. Hal ini Tuhan izinkan terjadi karena Tuhan sedang menghukum bangsa Israel atas dosa dan kejahatan mereka dengan harapan supaya mereka mengoreksi diri lalu berbalik kepada Tuhan.

      Pada saat yang sama Tuhan juga mengirimkan nabi-nabi-Nya untuk berbicara tentang janji kesetiaan Tuhan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan mereka asal mereka mau berbalik dan mentaati perintah Tuhan.

      *) Catatan: Daftar nabi-nabi dapat dilihat di bahan Referensi.

      Di tanah pembuangan inilah bangsa Yahudi dan Yudaisme dilahirkan. Orang-orang yang Tuhan pakai, seperti Ezra dan Nehemia, berhasil memimpin bangsa ini untuk kembali menegakkan "Monoteisme" dan menghargai firman Tuhan yang diajarkan oleh nenek moyang dari generasi-generasi sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah Hukum Taurat sebagai pusat pengajaran mereka.

      Periode kedua dari zaman ini adalah kembalinya bangsa Yahudi ke tanah Palestina yaitu setelah tahun 539 sM, ketika Raja Koresy dari Persia menaklukkan Babel dan bangsa Israel pulang ke tempat asal dan membangun bangsa dan tempat ibadah mereka kembali.

      • Rombongan pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Sesbazar (Ezra 1:11; 5:14) 538 sM di mana fondasi Bait Suci diletakkan.

      • Rombongan kedua dipimpin oleh Hagai dan Zakharia 520 sM berjumlah 42.360 orang (Ezra 2:64). Bait Suci selesai dibangun.

      • Tahun 458 sM ada pengutusan dilakukan oleh Ezra beserta serombongan besar orang Yahudi (Ezra 7:1-7) dan tahun 445 sM Nehemia datang ke Yerusalem menyelesaikan pembangunannya.

      Pada akhir sejarah PL kita ketahui bahwa orang-orang Yahudi yang pulang ke tanah air mereka memiliki komitmen untuk menjunjung tinggi Hukum Taurat dan tempat ibadah Bait Suci karena mereka memiliki keyakinan yang teguh bahwa merekalah umat pilihan Allah. Sampai pada permulaan sejarah PB kita masih melihat bahwa bangsa dan agama Yahudi berkembang terus dengan subur.



Akhir Pelajaran (PPL-P03)

DOA

"Allah yang hidup, kami bersyukur bahwa Engkau selalu setia sekalipun kami sering tidak setia. Kesetiaan-Mu dan janji-Mu adalah jaminan bagi kami untuk tetap hidup dan layak disebut sebagai anak-anak Allah." Amin.

Taxonomy upgrade extras: 

PPL-Pelajaran 06

Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Kode Pelajaran : PPL-P06

Pelajaran 06 - HUBUNGAN PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Daftar Isi

  1. Perbedaan Dan Persamaan Antara Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru
    Perbedaan Antara Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru
    Persamaan Antara Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru
  2. Perjanjian Lama Adalah Bagian Dari Seluruh Kebenaran Alkitab
  3. Perjanjian Lama Adalah Bayang-Bayang Dari Apa Yang Akan Datang (Perjanjian Baru)
  4. Yesus Kristus Adalah Puncak Dari Berita Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru
  5. Pentingnya Mempelajari Perjanjian Lama

Doa

Hubungan Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru

Kitab Suci gereja Kristen terdiri dari dua perjanjian, yaitu PL dan Perjanjian Baru (selanjutnya akan disingkat PL dan PB). Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu Alkitab, yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Sekalipun PL dan PB memiliki rentang waktu tersendiri, tetapi keduanya berorientasi kepada Yesus Kristus sebagai Mesias yang dinubuatkan dalam PL, telah datang dalam PB. Perjanjian Lama tetap merupakan bagian yang terpenting dari Alkitab Kristen karena kedua perjanjian itu membentuk satu catatan dari wahyu penebusan yang progresif dari Allah kepada umat manusia. Janji dari perjanjian yang terdahulu atau PL telah digenapi, seperti yang dituliskan oleh penulis Surat Ibrani yang disebut dengan perjanjian yang "lebih mulia" (Ibrani 8:6).

Satu pertanyaan penting akan timbul ketika kita mulai mempelajari Alkitab PL secara serius, yaitu apa hubungan PL dengan PB? Memang PL adalah bagian dari Alkitab, yang berotoritas, namun bagaimana menempatkannya dalam keseluruhan kebenaran Firman Tuhan? Apakah PL dan PB mempunyai nilai dan arti yang sama? Hal ini sering kali membingungkan, karena seringkali peranan PL dalam iman dan kehidupan tidak begitu ditekankan dan dipahami oleh gereja. Sebaliknya PB kelihatan lebih sering ditonjolkan karena dianggap maksud-maksud dan pernyataan Allah bagi gereja-Nya lebih nyata diungkapkan di dalam PB.

Meskipun alasan di atas tidak seluruhnya salah, namun sangat tidak tepat kalau kita hanya mendasarkan diri pada pengetahuan PB saja untuk mengerti dan memahami keseluruhan kebenaran Alkitab, karena pengenalan tentang Allah dalam Alkitab dimulai dari PL. Oleh karena itu dalam pelajaran ini kita akan secara khusus melihat hubungan antara PL dan PB, supaya dalam mempelajari Alkitab kita dapat mengerti dan memahami sistematika keutuhan kebenaran berita Alkitab.

  1. Perbedaan Dan Persamaan Antara Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru

    1. Perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

      Apakah ada perbedaan antara PL dan PB? Ya ada, tetapi ketika kita membicarakan tentang perbedaan PL dan PB, perlu dimengerti bahwa perbedaan di sini bukan berarti adanya pertentangan. Kita melihat ada perbedaan dalam hal jangkauan dan keluasan pembahasan antara PL dan PB, namun demikian hal-hal tersebut tidak saling bertentangan.

      Misalnya:

      • Perjanjian Lama bercerita tentang hubungan Allah dengan bangsa Israel, tetapi PB lebih banyak bercerita tentang hubungan Allah (melalui Yesus dan Para Rasul) dengan jemaat-Nya (gereja-Nya).

      • Perjanjian Lama menolong kita mengerti sifat-sifat Allah yang suci, adil dan benar, tetapi PB lebih menekankan kepada sifat-sifat Allah yang kasih, sabar dan pemurah.

      • Perjanjian Lama memberikan panggilan keselamatan dari satu orang (Abraham) kepada satu bangsa (Israel). Tetapi, PB memberikan panggilan keselamatan dari satu bangsa (Israel) kepada bangsa-bangsa lain.

    2. Persamaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

      Persamaan antara PL dan PB tidak dimaksudkan untuk menyejajarkan kedudukan dan nilai antara PL dan PB, namun persamaan di sini untuk menyatakan bahwa tidak ada pertentangan antara PL dan PB. Sebaliknya kita melihat bahwa PL dan PB adalah dua perjanjian yang kebenarannya saling menguatkan satu dengan yang lain.

      Misalnya:

      • Perjanjian Lama percaya pada Allah sebagai Pencipta alam semesta dan isinya demikian juga PB.

      • Perjanjian Lama menceritakan tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, PB menegaskan bahwa dosa telah menguasai manusia.

      • Perjanjian Lama mencatat bagaimana Allah menyatakan Diri-Nya dan kehendak-Nya dan PB secara konsisten melihat penyataan Diri Allah itu secara lebih luas dan lengkap.

      • Perjanjian Lama melihat bayang-bayang janji keselamatan, PB melihat fakta janji keselamatan itu dengan jelas.

      • Perjanjian Lama membicarakan nubuat Mesias yang akan datang sedangkan PB menggenapkan nubuat datangnya Mesias di dalam Yesus Kristus.

  2. Perjanjian Lama adalah Bagian Dari Keseluruhan Kebenaran Alkitab

    Untuk mengerti hubungan antara PL dan PB, perlu terlebih dahulu dipahami bahwa PL dan PB adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Perjanjian Lama dan PB yang berdiri sendiri adalah seperti satu bagian cerita yang belum selesai atau seperti satu pembahasan yang tidak memiliki kesimpulan (konklusi). Namun, PL adalah sepenuhnya firman Allah yang berisi penyataan Allah tentang Diri-Nya dan rencana-Nya dan yang secara progresif terus menerus dibukakan menjadi lebih dalam dan lebih lengkap sampai kepada puncaknya yaitu ketika Ia menyatakan Diri-Nya dalam Yesus Kristus di PB. Sebab itu, sebagai Penyataan Allah yang progresif, baik PL dan PB adalah Firman Allah dan masing-masing adalah bagian dari Kebenaran Allah. Namun demikian bagian bukanlah keseluruhan. Masing-masing bagian tidak lengkap tanpa bagian yang lain. Perjanjian Baru jelas tidak lengkap tanpa PL. Ketergantungan PB pada PL ditunjukkan bahkan dari pertama halaman kitab PB dimulai, yaitu Matius 1:1 "Inilah silsilah Yesus ...." Seluruh urutan dan nama-nama dalam silsilah Tuhan Yesus tersebut hanya akan dipahami kalau kita terlebih dahulu mempelajari PL.

  3. Perjanjian Lama adalah Bayang-Bayang dari Apa Yang Akan Datang (Perjanjian Baru)

    Seperti telah dibahas pada pelajaran sebelumnya bahwa dalam PL, Allah telah menyatakan tentang Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia melalui sejarah bangsa Israel. Dari bagaimana Allah berhubungan dengan bangsa Israel kita bisa memahami sifat-sifat Allah. Juga dari hal-hal yang Allah nyatakan kita dapat melihat kerinduan dan rencana Allah untuk memanggil bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain untuk kembali kepada-Nya dan bersekutu dengan-Nya. Namun demikian tidak mudah memahami secara penuh PL, baik yang menceritakan sifat-sifat, kerinduan atau rencana Allah, karena PL banyak sekali dipenuhi dengan simbol-simbol, gambaran-gambaran dan nubuat-nubuat yang tidak dapat secara langsung dimengerti maksudnya. Banyak dari simbol-simbol, gambaran-gambaran, nubuat-nubuat, dan hukum-hukum dan upacara-upacara yang ditujukan sebagai janji dan menjadi bayang-bayang untuk hal-hal yang akan Allah lakukan dan genapi di masa PB (Ibrani 10:1). Untuk mengerti hal-hal yang Allah nyatakan dalam PL, kita perlu sekali mendapatkan penerangan dari PB. Tanpa diterangi oleh PB, maka PL akan selamanya menjadi kitab-kitab yang misterius yang tidak akan dipahami beritanya.

  4. Yesus Kristus Adalah Puncak dari Berita Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

    Sebenarnya, kemana PL ingin memimpin pembacanya? Perjanjian Lama ingin mengarahkan setiap pembacanya kepada Kristus! Kristus adalah puncak berita yang ingin disampaikan oleh Alkitab, karena Ia adalah Pengantara bagi Perjanjian yang baru (Ibrani 9:15). Seluruh inti pemberitaan Alkitab, baik PL maupun PB adalah Yesus Kristus, sehingga dapat dikatakan bahwa Alkitab bersifat Kristosentris. Seluruh rangkaian peristiwa PL, juga termasuk pengajaran-pengajaran hukum dan nubuat-nubuat yang disampaikan oleh para nabi-nabi PL, semuanya itu (baik secara langsung maupun tidak langsung) menunjuk kepada gambaran akan kedatangan, hidup dan misi Kristus di dunia ini, yaitu melaksanakan rencana keselamatan Allah kepada manusia.

    Bukti-bukti Alkitab

    1. Yesus adalah pusat dari sejarah Perjanjian Lama

      Ketika berjalan dengan dua murid di jalan Emaus, Lukas mencatat bahwa "Ia (Yesus) menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi."

    2. Yesus adalah penggenapan Hukum Taurat

      Dalam Matius 5:17 Yesus berkata, "jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."

    3. Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama

      Tuhan Yesus berkata kepada 10 murid-Nya yang dicatat dalam Lukas 24:44- 47, "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab-kitab Nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem."

      Namun, suatu teguran yang sangat ironis karena sekalipun Allah telah menyatakan maksud rencana-Nya dalam Yesus Kristus melalui para nabi dan utusan-utusan-Nya, bangsa Israel tetap saja menolak Yesus dan tidak mau menerima Dia. Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 5:39 dan 40, ketika Yesus sedang bercakap-cakap dengan orang-orang Yahudi, Ia berkata: "Kamu menyelidiki kitab-kitab suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu."

      Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama memiliki tema perjanjian. Tema-tema teologis dalam PL merupakan sebuah kerangka dasar yang dikembangkan dalam PB. Mesias yang dinubuatkan dan dijanjikan dalam PL, telah digenapi dalam sosok Tuhan Yesus Kristus. Maka, PB adalah menggenapi nubuat dalam PL mengenai sosok Mesias yang dijanjikan. Selain itu, dengan jelas bahwa Tuhan Yesus menggunakan kitab-kitab PL dalam berkhotbah dan sering kali Tuhan Yesus mengutip perkataan nabi Yesaya. Berdasarkan keterangan ini, kita bisa memperoleh pelajaran yang berharga bahwa PL dan PB adalah Alkitab yang sama-sama berotoritas.

      Oleh sebab itu, pada pelajaran Pengantar Perjanjian Lama yang terakhir ini, marilah kita menyadari betapa pentingnya menempatkan Kristus sebagai pusat sejarah PL dan PB karena di dalam Kristuslah kita dapat melihat kepenuhan Allah dinyatakan. Biarlah mulai saat ini kita bisa melihat PL dengan terang PB untuk kita dapat menggali kekayaan Firman Tuhan (Alkitab) ini dengan sebaik mungkin. Seperti teladan penulis-penulis PB yang menggunakan PL untuk menjelaskan tentang Yesus dan juga menggunakan Yesus untuk menjelaskan PL.

  5. Pentingnya Mempelajari Perjanjian Lama

    Perjanjian Lama adalah serangkaian buku-buku yang ditulis lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Oleh sebab itu, beberapa bahkan banyak orang bertanya apakah PL itu masih perlu dipelajari pada masa sekarang ini. Jika kita membeli baju yang baru, maka baju yang lama akan dibuang. Jika kita memasuki orde baru, maka tatanan yang lama tidak dipakai lagi. Bagaimana dengan PL? Apakah masih relevan? Atau sudah usang?

    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat dijawab dengan beberapa pokok di bawah ini:

    1. Perjanjian Lama merupakan Alkitab Tuhan Yesus

      • Yesus mengenal sejarah PL

      • Yesus mendasarkan pengajaran-Nya pada PL

      • Yesus menggunakan PL untuk melawan percobaan dari Iblis (Matius 4:1-11)

      • Yesus menyatakan bahwa nubuat-nubuat dalam PL digenapi dalam diri-Nya (Lukas 4:16-21, Yohanes 15:25)

    2. Perjanjian Lama sering dikutip oleh Perjanjian Baru

      Terdapat kurang lebih 2560 kutipan dari PL dalam PB, yaitu kurang lebih 350 kutipan langsung, dan 2300 kutipan tidak langsung serta persamaan bahasa. Dengan kata lain, terdapat rata-rata satu kutipan PL dalam setiap tiga ayat dalam PB. Kitab dalam PL yang paling banyak dikutip dalam PB adalah Kitab Yesaya dan Kitab Mazmur.

    3. Perjanjian Lama merupakan dasar pengertian Perjanjian Baru

      • Dari segi bahasa (PB ditulis dalam Yunani yang banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa dalam PL)

      • Dari segi sejarah (sejarah PL dilanjutkan oleh sejarah PB)

      • Dari segi teologi (tema-tema teologi PL, seperti penciptaan, dosa, hukuman, pertobatan, kurban, keselamatan dan sebagainya menjadi dasar teologi PB)

    4. Allah yang Esa dinyatakan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

      Allah Israel adalah Allah yang sama dengan Yesus Kristus:

      • Sifat-Nya sama (Mahakuasa, Mahakudus, Mahapengasih, dll.)

      • Rencana-Nya sama (menyelamatkan manusia dan penyempurnaan dunia yang diciptakan-Nya)

      • tuntutan-Nya sama (hidup yang suci, kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia)

    5. Perjanjian Lama mengandung sastra yang indah

      Kitab-kitab dalam PL mengandung sastra yang indah, termasuk cerita yang termasyhur, seperti cerita Yusuf, Rut, Daud, Elisa, Yunus, Ester dan sebagainya. Terdapat juga puisi-puisi yang bagus yang terdapat dalam kitab Ayub, Mazmur, Yesaya, dll..



Akhir Pelajaran (PPL-P06)

DOA

"Kami bersyukur Tuhan karena Engkau berkenan menyatakan Diri-Mu kepada kami dalam bahasa manusia (Alkitab) sehingga kami sekarang boleh menerimanya sebagai harta rohani yang tak ternilai. Ajarkan kepada kami untuk mau dengan teliti mempelajarinya, merenungkannya dan mengaikasikannya dalam hidup kami. Pimpinlah umat-Mu pada zaman ini untuk mengerti rencana Tuhan melalui Firman-Mu ini, supaya genap apa yang Engkau rencanakan dan biarlah Kerajaan-Mu datang di tengah-tengah kami. Amin."

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: