DIK-Referensi 10b

Pelajaran 10 | Pertanyaan 10 | Referensi 10a | Referensi 10c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Menang Atas Keinginan Daging
Kode Pelajaran : DIK-R10b

Referensi DIK-R10b diambil dari:

Judul Buku : Ikhtisar Dogmatika
Pengarang : DR. R. Soedarmo
Penerbit : PT. BPK Gunung Mulia
Halaman : 202 - 207

REFERENSI PELAJARAN 10b - MENANG ATAS KEINGINAN DAGING

PENYUCIAN

Tuhan Yesus Kristus mencapai (memperoleh) kelepasan bagi orang percaya. Kelepasan ini pertama-tama ialah pembenaran dari dosa manusia. Dosa yang mendatangkan kutuk Allah. Kristus mencapaikan bagi manusia pembenaran berarti: bahwa orang percaya diberi kedudukan (status) sama dengan Adam sebelum jatuh ke dalam dosa. Maka dari itu masih menghadapi hukum Allah yang harus dipenuhi.

Kristus mencapai pembenaran; apakah orang percaya sekarang diwajibkan juga bekerja sendiri? Seandainya demikian, maka kelepasan yang dicapai oleh Tuhan Yesus hanya sebagian saja.

Memang manusia tidak mempunyai kesalahan lagi terhadap Allah, sebab sudah dibenarkan, tetapi belum menerima keselamatan yang sungguh, sebab belum memenuhi hukum Allah. Dan seandainya sekarang disuruh melanjutkan sendiri pekerjaan untuk mencapai keselamatan, niscaya ia tidak akan mencapainya. Sebab manusia tak mempunyai kecakapan sedikitpun pada dirinya sendiri, yang memungkinkan memenuhi pekerjaan itu.

Syukurlah Kristus mencapai kelepasan selengkapnya, yaitu kelepasan dari dosa dan juga menyelesaikan pekerjaan pemenuhan hukum Allah. Maka sekarang orang yang percaya tidak hanya mempunyai keadaan Adam sebelum jatuh ke dalam dosa, tetapi hukum Allah pun juga sudah memenuhi perjanjian perbuatan yang tidak dipenuhi Adam. Dan Ia memenuhi hukum Allah sebagai kepala perjanjian yang baru. Maka dari itu barangsiapa percaya, ia termasuk di dalam Perjanjian yang dikepalai Kristus, ia juga sudah memenuhi hukum Allah. Inilah yang disebut penyucian yang pasif artinya: orang percaya diberi penyucian Allah. Dengan tidak usah berbuat sesuatupun.

Penyucian ini tidak hanya berada di luar orang percaya, tetapi juga lambat-laun harus jadi pengalaman. Yaitu lambat-laun orang percaya harus hidup suci, memenuhi hukum Allah. Ini diperintahkan oleh Allah sendiri yang dapat kita baca di dalam Kitab Suci. Kerapkali malahan pengikut-pengikut Tuhan Yesus Kristus diwajibkan menjadi sempurna seperti Allah Bapa yang ada di Sorga juga sempurna.

Maka dari itu orang percaya harus berbuat hal-hal untuk mengorbankan diri dan menjuruskan diri kepada Allah. Ini pernah disebut perbuatan yang negatif dan positif, tetapi pada hakekatnya sama. Sebab menjuruskan hidup ke arah Tuhan Allah, itu tentu dengan mengorbankan diri sendiri. Sebab tabiat orang hanya akan menjuruskan hidup kepada dirinya sendiri. Allah mewajibkan hidup suci.

Dan bagi perbuatan-perbuatan yang baik akan diberikan upah sesuai dengan perbuatan (a.l. Mat. 19:29).

Jadi di sini seakan-akan manusia yang mengerjakan. Memang manusia harus sadar di dalam pengabdian terhadap Allah. Tentu saja pada dirinya manusia tidak cakap melaksanakan hukum Allah.

Hal itu Kristus juga mengetahui. Dan di dalam hal ini Ia juga memberi pertolongan: Ia memberikan Roh Kudus yang membantu orang percaya, agar dapat hidup dengan menjuruskan diri kepada Allah. Tetapi pertolongan Roh Suci ini tidak meniadakan kesadaran kehendak orang percaya. Orang percaya harus bertindak dengan segenap hidupnya, tetapi yang membantu ialah Roh Suci. Inilah yang disebut penyucian yang aktif, artinya: orang percaya harus bertindak. Meskipun di dalam penyucian yang aktif, orang percaya tidak akan lupa, bahwa hanya Allah yang memberikan segala sesuatu, juga penyucian. Orang percaya tidak bekerja supaya menerima penyucian, tetapi dari sebab ia sudah diberi penyucian.

Apakah orang percaya menjadi lebih suci di dalam hidupnya? Di dalam Katekismus Heildelberg pertanyaan ini dijawab: Bahwa orang yang tersuci hanya mempunyai permulaan yang kecil saja. Maka dari itu, bahwa orang percaya menjadi suci itu hanya anugerah Allah. Selama hidup orang percaya masih terikat oleh akibat-akibat dosa. Lain daripada itu bagi dia sendiri tidak ada perasaan bahwa ia telah menjadi suci. Makin lama ia berniat untuk memenuhi hukum Allah, makin terang baginya bahwa jauh sekali hidupnya dari kesucian, malahan pada rasanya makin lama makin lebih jauh. Tetapi perasaan ini berakibat bahwa ia juga makin lama makin menyandarkan diri kepada Tuhan Yesus. Makin lama makin insaf bahwa hidupnya hanya berkat anugerah.

Perbedaan antara pembenaran dan penyucian sekarang sudah terang yaitu: Pembenaran diberikan kepada orang pada saat kelahiran kedua kali. Mulai pada saat itulah Allah melihat orang itu melalui kebenaran Kristus. Dan tiap-tiap kali orang ini jatuh, pembenaran diberikan kepadanya atas nama Kristus.

Penyucian jadi dapat dibedakan demikian:

  1. Yang pasif yang sudah lengkap.
  2. Yang aktif yang dalam hidup orang diberikan Tuhan kepada orang yang percaya, yang baru menjadi sempurna kalau sudah diberi kemuliaan di Sorga.

Penyucian jadi juga aktif di dalam orang percaya, yaitu di dalam ia melakukan perbuatan-perbuatan baik. Di sini diulangi lagi bahwa perbuatan baik bukannya untuk mencapai upah keselamatan Sorga, sebab perbuatan yang terbaikpun dicemarkan oleh dosa, maka tidak baik sungguh bagi Allah. Akan tetapi perbuatan-perbuatan baik adalah untuk mengeluarkan rasa terimakasih terhadap Allah, mengucap syukur tentang anugerah yang telah diberikan, yaitu bahwa orang percaya, meskipun orang berdosa, dijadikan putera Allah. Maka sekarang orang percaya berbuat baik, agar supaya jangan mencemarkan sebutannya, yaitu putera Allah. Putera Allah ialah putera daripada Yang Maha Suci, yang juga memerintahkan: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1Ptr 1:16).

Apakah perbuatan baik itu? Katekismus (soal-jawab 91) menyatakan: hanya perbuatan yang asal dari percaya yang benar, menurut hukum Allah dan hanya bagi kehormatan Allah.

"Berasal dari percaya yang benar" artinya: percaya dalam Yesus Kristus sebagai Juruselamatku. Hal ini berakibat juga: terimakasih tentang hidup yang sudah diberikan.

"Menurut hukum Allah"; jadi bukan menurut pandangan manusia, tetapi menurut firman Allah. Jadi Allahlah yang memberikan norma.

Maksud dari perbuatan baik yaitu kehormatan Allah. Jadi bukan kehormatan orang sendiri atau agar diketahui oleh orang lain. Pun bukan keselamatan sendiri. Maka kepercayaan Kristen tidak boleh disebut Eudemonitis.

Pertanyaan yang dapat timbul sekarang ialah mengenai lawan dari perbuatan baik: Apakah orang dapat kehilangan anugerah dari sebab perbuatannya yang jahat.

Ada yang menjawab: Memang, umpamanya 1Tim 1:19,20 menyatakan hal ini. (Heimeneus dan Aleksander), 2Tim 4:10 (Demas), 2Ptr 2:1; Why 2:5 dan lain-lain.

Jawaban ini harus kita tentang. Sebab seandainya kita menjawab demikian, kita akan mengatakan bahwa pekerjaan Kristus hanya pekerjaan yang separoh saja, yaitu: orang harus berbuat baik supaya anugerah tetap kepadanya. Bahkan pada orang yang berbuat jahat pekerjaan Tuhan Yesus sia-sia belaka. Maka dari itu pekerjaan Allah dikalahkan oleh pekerjaan orang. Pandangan yang demikian itu menentang pengakuan tentang predestinasi, dan harus ditolak.

Memang Kitab Suci menyatakan berlainan daripada pandangan tadi. Permulaan dari segala sesuatu, juga dari keselamatan manusia, ialah Tuhan Allah yang disebut Yahweh, yang tidak berobah, yang Maha Tahu. Baginya tidak ada kemungkinan khilaf. Kalau ia memilih, pilihan ini tepat dan tidak akan hilang lagi. Pemilihan bukannya oleh karena Allah melihat sebelumnya, bahwa orang ini akan berbuat baik dan orang itu akan hidup jahat. Seandainya demikian Allah tergantung kepada manusia. Akan tetapi Allah memilih dengan kedaulatanNya sendiri sebelum sesuatu ada. Ia memilih kepada keselamatan dan pilihan ini tidak akan sia-sia belaka. Bacalah Rm 8:28-30 tentang rantai yang tidak putus atau tidak ada kurang satu hubunganpun: orang yang dikenal ditetapkan menjadi serupa dengan teladan Anak-dipanggil-dibenarkan-dipermuliakan. Ia tidak mungkin memulai sesuatu pekerjaan yang tidak dapat diselesaikannya. Maka rasul Paulus dapat berkata: "Aku yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menceraikan kita dari kasih Allah." Atau dengan firman Kristus sendiri: "Seorangpun tiada dapat merampas dia dari dalam tanganKu; Aku memberi kepadanya hidup yang kekal; maka tiada sekali-kali domba-domba itu akan binasa selama-lamanya."

Memang orang percaya dapat menjadi yakin tentang anugerah Allah. Sudah barang tentu hal ini tidak menimbulkan sikap orang Farisi, sebab segala sesuatu hanya dari anugerah Allah datangnya. Tak ada orang percaya berpikir: "Sekarang saya sudah mencapai maksud saya, maka saya dapat beristirahat saja, hidup dengan enak." Sebab perintah Allah tetap, bahwa kita harus hidup suci, sebab Allah adalah suci.

Tuhanlah yang memberikan ketentuan tentang anugerahNya. Dan ketentuan ini kita perlukan di dalam hidup kita sebagai orang percaya agar hidup kita sungguh-sungguh menuju kehormatan Allah. Seandainya kita senantiasa ragu-ragu tentang hal yang menjadi dasar hidup, maka hidup kita juga selalu penuh dengan kebimbangan. Akan tetapi sekarang batu loncatan kita sudah tetap, yaitu anugerah di dalam Tuhan Yesus. Maka dari itu kita dapat bekerja dengan tenang.

Tinggallah kesukaran-kesukaran di dalam nas-nas 1Tim 1:19,20; 2Tim 4:10; 2Ptr 2:1; Why 2:5. Bagaimanakah artinya nas-nas itu?

Nas-nas itu tidak menyatakan sama sekali, bahwa orang-orang yang menerima anugerah Allah dapat jatuh lagi, kehilangan anugerah lagi.

Pertama: nas-nas tersebut tidak menyatakan apakah Himeneus- Aleksander, Demas, orang-orang yang percaya sungguh-sungguh dalam Tuhan.

Kedua: Kitab Suci tidak menceritakan apakah orang-orang ini kemudian kembali lagi ataukah tidak.

Kadang-kadang Kitab Suci menyatakan, bahwa ada orang yang hatinya sudah diterangi oleh Roh, sudah melihat perbuatan Allah, malahan pernah dikatakan mengecap karunia sorgawi, beroleh bagian dari Roh Kudus (Ibr 6:4-6), namun murtad lagi. Memang hal ini mungkin. Tuhan Yesus Kristus membicarakan hal ini (ump Mrk 3:28; Luk 12:10; Mat 12:31). Orang-orang Yahudi melihat pekerjaan Tuhan Yesus Kristus, melihat dan mendengar segala bukti tentang pekerjaan Tuhan Yesus, meskipun demikian mengatakan bahwa pekerjaan itu dari setan. Di sini ada orang yang menyangkal pekerjaan Allah dengan sadar dan dikatakan bahwa itu pekerjaan setan. Jadi tidak hanya menolak saja, akan tetapi meskipun melihat terang pekerjaan Allah mengatakan itu pekerjaan setan. Maka mengenai peristiwa itu Tuhan Yesus mengatakan tentang dosa terhadap Roh Suci.

Maka orang yang bertindak demikian tidak menyesalkan tindakannya, jadi orang yang takut akan berbuat demikian malahan menunjukkan tidak melakukannya. Hal ini tidak bisa kita katakan: jatuh dari anugerah. Meskipun orang itu sudah diterangi, tidak pernah ada dalam anugerah, belum menjadi kepunyaan Allah (bnd hal 163).

Kesimpulan: anugerah Allah tidak akan hilang oleh karena perbuatan kita, orang percaya, yang jahat. Syukurlah bahwa demikian keadaannya. Bahwa anugerah tidak bergantung kepada orang, meskipun orang yang percayapun jua, akan tetapi hanya bergantung pada Allah. Oleh karena demikian orang percaya boleh dan dapat hidup dengan tenteram: Allah yang memulai, Ia yang melanjutkan, Ia yang mencapai maksudNya (Flp 1:6).

Taxonomy upgrade extras: 

DIK-Referensi 10c

Pelajaran 10 | Pertanyaan 10 | Referensi 10a | Referensi 10b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Menang Atas Keinginan Daging
Kode Pelajaran : DIK-R10c

Referensi DIK-R10c diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika
Pengarang : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 295-300

REFERENSI PELAJARAN 10c - MENANG ATAS KEINGINAN DAGING

B. PERNYATAAN DOKTRIN KETEKUNAN ORANG-ORANG KUDUS

Doktrin ini harus diungkapkan dengan pernyataan yang teliti, terutama berkenaan dengan kenyataan bahwa istilah "Ketekunan Orang-Orang Kudus" mudah sekali disalah mengerti oleh banyak orang. Pertama kali harus diingat bahwa doktrin ini bukan hanya hendak mengatakan bahwa orang pilihan pada akhirnya nanti pasti diselamatkan, walaupun Agustinus mengemukakan bentuk yang demikian. Tetapi doktrin ini sesungguhnya mengajarkan secara khusus bahwa orang pilihan itu yang sudah mengalami kelahiran kembali dan dengan jelas dipanggil oleh Tuhan untuk memasuki keadaan anugerah, tidak akan pernah sepenuhnya jatuh dari kedudukan itu sehingga gagal masuk ke dalam keselamatan kekal, walaupun mungkin di dalam hidupnya orang tersebut jatuh atau berbuat dosa. Doktrin ini mengatakan bahwa hidup orang yang mengalami kelahiran kembali dan kebiasaan yang tumbuh dari kelahiran kembali itu dalam jalan penyucian, tidak akan pernah musnah sama sekali. Lebih dari itu, kita harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan kesalahpahaman bahwa ketekunan ini dianggap sebagai milik yang terkandung dalam diri orang percaya atau sebagai satu tindakan terus-menerus dari manusia, yang olehnya ia bertekun dalam jalan keselamatan. Strong, menyebutkannya sebagai voluntari continuance di pihak orang Kristen di dalam iman dan tingkah laku yang baik, dan aspek manusiawi dari proses Spiritual tersebut, yang jika dipandang dari sisi Ilahi, maka akan menyebutnya sebagai penyucian. Pernyataan ini boleh jadi menimbulkan kesan bahwa ketekunan ini tergantung pada manusia. Akan tetapi Reformed tidak menganggap Ketekunan Orang-Orang Kudus sebagai suatu tindakan atau sikap hati orang percaya, walaupun Reformed percaya dengan sungguh bahwa manusia mempunyai sumbangsih di dalamnya sama seperti yang terjadi dalam penyucian. Mereka bahkan menekankan kenyataan bahwa orang percaya dapat jatuh, jika ia dibiarkan sendiri. Jelasnya, yang menyebabkan adanya ketekunan itu adalah Tuhan, bukan manusia. Ketekunan Orang-Orang Kudus dapat didefinisikan sebagai tindakan Roh Kudus yang terus-menerus dalam diri orang percaya, yang olehnya karya anugerah Ilahi yang dimulai dalam hati manusia terus dilanjutkan dan dibawa kepada kesempurnaan. Hanya oleh karena Allah tidak pernah membuang karya-Nya maka orang percaya dapat terus berdiri sampai pada akhirnya.

C. BUKTI-BUKTI DARI DOKTRIN KETEKUNAN ORANG-ORANG KUDUS

Doktrin ini dapat dibuktikan melalui pernyataan-pernyataan tertentu dari Alkitab dan dari kesimpulan doktrin-doktrin yang lain.

  1. Pernyataan Alkitab secara langsung.

    Ada beberapa ayat penting dalam Alkitab yang patut dipertimbangkan di sini. Dalam Yoh 10:27-29 kita membaca, "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapapun, dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan Bapa." Dalam Rom 11:29 Paulus berkata, "Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya." Hal ini berarti bahwa anugerah yang sudah dinyatakan Allah dalam panggilan-Nya tidak pernah ditarik kembali, seolah-olah Ia menyesali apa yang telah Ia lakukan itu. Pernyataan ini diberikan secara umum, walaupun dalam kaitan dimana ayat itu kita jumpai dapat kita lihat bahwa panggilan itu ditujukan kepada bangsa Israel. Paulus menghibur orang Filipi yang percaya dengan kalimat- kalimat berikut, "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Fil 1:6). Dalam 2Tes 3:3 Paulus berkata, "Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat." Dalam 2Tim 1:12, Paulus mengemukakan perasaan syukurnya dengan berkata, "Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan." Kemudian dalam 2Tim 4:18, Paulus kembali mengagungkan kenyataan bahwa Tuhan akan melepaskannya dari segala yang jahat dan akan menyelamatkannya untuk masuk ke dalam kerajaan surgawi-Nya.

  2. Bukti-bukti berdasarkan kesimpulan dari doktrin-doktrin yang lain.

    Doktrin tentang Ketekunan Orang-orang Kudus ini juga dapat kita buktikan berdasarkan kesimpulan doktrin-doktrin lain.

    1. Dari doktrin pemilihan.

      Pemilihan tidak sekedar berarti bahwa sebagian orang akan dipilih dengan suatu hak-hak khusus eksternal dan mungkin diselamatkan, jika mereka melaksanakan tugas mereka, tetapi doktrin pemilihan berkata bahwa mereka yang termasuk bilangan orang pilihan pada akhirnya akan diselamatkan dan tidak akan kehilangan keselamatan yang sempurna ini. Pemilihan ini berlaku sampai pada akhirnya, sampai kepada penggenapan keselamatan. Dalam mengerjakan pemilihan ini, Tuhan melimpahi orang percaya dengan pengaruh-pengaruh Roh Kudus yang memimpin orang tersebut, bukan saja untuk menerima Kristus, tetapi juga untuk bertekun sampai pada akhirnya dan diselamatkan.

    2. Dari doktrin perjanjian penebusan.

      Dalam perjanjian penebusan, Tuhan memberikan umat-Nya kepada Putera-Nya sebagai upah dari ketaatan Sang Putra dan juga sebagai upah penderitaan-Nya. Upah ini sudah ditetapkan dari kekekalan dan tidak dibiarkan tergantung pada kesetiaan manusia yang tidak pasti. Allah tidak mengingkari janji-Nya, karena itu tidak mungkin jika mereka yang diperhitungkan berada dalam Kristus dan sebagai bagian pembentuk dari upah-Nya, dapat dipisahkan dari Dia (Rom 8:38,39), dan bahwa mereka yang telah memasuki pernjanjian itu sebagai suatu persekutuan hidup, tidak akan pernah jatuh.

    3. Dari kebaikan dan jasa dari syafaat Kristus.

      Dalam karya penebusan, Kristus membayar harga untuk membeli pengampunan bagi orang berdosa agar mereka dapat diterima kembali. Kebenaran Kristus membentuk dasar yang sempurna bagi pembenaran orang berdosa, dan tidak mungkin bahwa seseorang yang dibenarkan oleh pembayaran yang sedemikian sempurna dan harga yang sedemikian mahal, akan jatuh ke dalam penghukuman. Lebih dari itu, Kristus melakukan syafaat terus-menerus bagi mereka yang diberikan kepada-Nya oleh Bapa, dan doa syafaat-Nya bagi umat-Nya selalu berharga dan membawa hasil, Yoh 11:42; Ibr 7:25.

    4. Dari persatuan mistis dengan Kristus.

      Mereka yang disatukan dengan Kristus melalui iman menjadi bagian dalam Roh Kudus, dan dengan demikian menjadi satu tubuh dengan Dia, yang berdenyut bersama dengan hidup Roh. Mereka hidup bersama-sama dengan Kristus dan karena Kristus hidup maka mereka juga hidup. Tidak mungkin mereka akan ditarik keluar lagi dari tubuh itu, sehingga mengacaukan apa yang sudah baik dalam keilahian. Persatuan ini permanen, sebab dimulai dalam satu penyebab yang permanen dan tidak pernah berubah, yaitu kasih Allah yang cuma-cuma dan kekal.

    5. Dari Karya Roh Kudus dalam hati.

      Dabney, dengan benar mengatakan, "Jika orang menganggap Roh Kudus memulai sebuah pekerjaan pada saat sekarang dan kemudian meninggalkannya, maka anggapan itu sangat rendah dan tidak ada harganya; anggapan itu juga berarti bahwa binar-binar kelahiran surgawi itu hanya ignis fatcus yang bernyala untuk sekejap lalu padam dan membawa kegelapan yang dalam; anggapan itu juga berarti bahwa kehidupan rohani yang diberikan dalam kelahiran baru adalah suatu vitalitas yang terjadi secara serabutan yang memberi penampilan hidup bagi jiwa yang mati, lalu penampilan itupun akhirnya mati."

      Menurut Alkitab, orang percaya sudah memiliki hidup keselamatan dan hidup kekal, Yoh 3:36; 5:24; 6:54. Dapatkah kita terus berpendapat bahwa hidup kekal tidak akan berlansung selamanya?

    6. Dari jaminan keselamatan.

      Jelas terbukti di dalam Alkitab bahwa orang percaya, di dalam hidupnya di dunia ini memperoleh jaminan keselamatan, Ibr 3:14; 6:11; 10:22; II Pet 1:10. Tidak mungkin orang percaya dapat jatuh dari anugerah itu setiap saat. Anugerah jaminan keselamatan itu hanya dapat dinikmati oleh mereka yang berdiri teguh pada keyakinan bahwa Tuhan akan menyempurnakan pekerjaan yang telah Ia mulai.

    Taxonomy upgrade extras: