KRP - Referensi 01

Nama Kelas : Kehidupan Rasul Paulus
Nama Pelajaran : Latar Belakang dan Pertobatan Paulus
Kode Referensi : KRP-R01

Referensi 01 -- Latar Belakang dan Pertobatan Rasul Paulus

KRP-Referensi 01b

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a

Nama Kursus : KEHIDUPAN RASUL PAULUS
Nama Pelajaran : Latar Belakang dan Pertobatan Rasul Paulus
Kode Pelajaran : KRP-R01b

Referensi KRP-01b diambil dari:

Judul Buku : MEMAHAMI PERJANJIAN BARU
Pengarang : John Drane
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996
Halaman : 289 - 296

REFERENSI PELAJARAN 01b - LATAR BELAKANG DAN PERTOBATAN RASUL PAULUS

SIAPA PAULUS ITU?

Dalam sejarah Perjanjian Baru sesudah kebangkitan Yesus, perhatian beralih dari Petrus dan para murid Yesus lainnya kepada seorang tokoh penting lain dalam kehidupan jemaat mula-mula - yakni Paulus, sang Farisi. Paulus bukan satu-satunya orang Farisi yang menjadi Kristen (Kisah Para Rasul 15:5), tetapi ia memang yang paling terkenal. Berbeda dengan banyak orang Kristen Yahudi lainnya, Paulus tidak lahir di Palestina. Sama seperti banyak orang yang bertobat pada hari Pentakosta, ia seorang Yahudi Helenis. Ia berasal dari kota Tarsus di provinsi Silisia, dan dia juga seorang warga negara Roma (Kisah Para Rasul 22:3,27).

Masa muda Paulus

Mungkin sekali ada dua masa yang berbeda dalam kehidupan Paulus sewaktu muda: masa kanak-kanak yang dihabiskannya di Tarsus, dan masa muda serta awal kedewasaan di Yerusalem. Kata "dibesarkan" dalam Kisah Para Rasul 22:3 dapat berarti ketika masih bayi Paulus pindah dari Tarsus ke Yerusalem. Tetapi kebanyakan ahli berpendapat hal itu hanya mengacu pada pendidikannya. Paulus pulang ke Tarsus setelah pertobatannya (Kisah Para Rasul 9:30), jadi kelihatannya kota ini yang dianggapnya sebagai kampung halaman.

  1. Tarsus
  2. Walaupun Paulus pertama-tama dan terutama adalah seorang Yahudi, ia juga bangga terhadap Tarsus, yang merupakan kota pendidikan tinggi serta juga pusat pemerintahan dan perdagangan. Tetapi ia tidak merasa senang dengan kebudayaan di kota itu yang bersifat Yunani dan kafir. Orangtua Paulus merupakan orang-orang Yahudi dan sekaligus menjadi warga negara Roma. Walaupun mereka berusaha melindungi Paulus dari pengaruh kafir sewaktu remaja, tetapi keadaan kota Tarsus membuat setiap anak yang cerdas terpengaruh oleh bahasa dan ide-ide kebudayaan Yunani yang kafir. Pengaruh itu tampak dalam tiga rujukan sastra Yunani oleh Paulus, yakni kepada penyair-penyair Epimenides (Kisah Para Rasul 17:28), Aratus (Titus 1:12) dan Menander (1Korintus 15:33).

    Sewaktu masih sangat muda, orangtua Paulus memutuskan ia harus menjadi seorang rabi (guru hukum Taurat). Sebagai seorang anak kecil di Tarsus, ia belajar tentang tradisi-tradisi umat Yahudi melalui pendidikan yang teratur di sinagoge setempat. Alkitabnya yang pertama kemungkinan besar adalah Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani.

    Sewaktu tinggal di Tarsus, Paulus juga belajar membuat tenda, sebab setiap murid hukum Taurat dianjurkan mempelajari suatu ketrampilan di samping menuntut ilmu. Hal ini sangat bermanfaat bagi Paulus pada kemudian hari, sebab dengan demikian dia sanggup memperoleh nafkah sendiri sewaktu melakukan pekerjaan misionernya.

  3. Yerusalem
  4. Tidak lama kemudian, Paulus dikirim dari Tarsus ke pusat dunia Yahudi, yakni Yerusalem. Di Yerusalem ia menjadi murid Rabi Gamaliel, yang merupakan cucu dan pengganti Rabi Hillel yang kesohor (kira-kira tahun 60 sM-20 M). Hillel telah mengajarkan suatu bentuk agama Yahudi yang lebih maju dan liberal, daripada saingannya, Syammai. Apa yang dikatakan Yesus tentang perceraian mungkin telah dicetuskan oleh pengikut-pengikut kedua rabi tersebut (Markus 10:1-12). Hillel menyatakan seorang lelaki dapat menceraikan istrinya kalau istrinya itu tidak menyenangkan dalam hal apa pun juga - misalnya jika ia memasak makanan sampai hangus! Tetapi Syammai berpendapat perceraian hanya dibenarkan bila telah terjadi dosa moral yang berat. Apa yang Paulus sendiri tulis mengenai pokok tersebut menunjukkan bahwa ia mengubah pendiriannya setelah menjadi Kristen.

    Namun Paulus memperoleh sedikitnya satu manfaat besar dari pendidikannya menurut tradisi Hillel. Syammai berpendapat bahwa orang- orang bukan-Yahudi tidak mempunyai tempat di dalam rencana Allah. Sedangkan saingannya bukan saja menyambut mereka, tetapi secara positif telah pergi menginjili mereka. Mungkin Paulus pertama kali mendengar dari Gamaliel bahwa ada tugas besar yang perlu dikerjakan di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi di kawasan kekaisaran Roma.

    Paulus mencatat kemajuan yang baik dalam studinya di Yerusalem. Menurut Paulus sendiri, ia seorang murid yang sangat berhasil (Galatia 1:14). Ia menjadi begitu penting, sehingga ketika orang-orang Kristen diadili oleh karena iman mereka, ia diberi hak "memberi suara" terhadap mereka, baik dalam jemaat sinagoge ataupun di dewan tertinggi orang Yahudi, yakni Sanhedrin (Kisah Para Rasul 26:10).

    Demikianlah keterangan yang kita ketahui mengenai latar belakang dan pendidikan Paulus. Kita telah memberikan garis besar hidupnya sebelum dia bertobat. Sekarang kita harus menggali dan melihat apa yang dapat ditemukan tentang hidup masa mudanya, agar kita mengerti kepribadiannya yang rumit serta mempunyai dasar yang jelas untuk mengerti surat-suratnya.

    Rupanya ada tiga pengaruh utama pada Paulus selama masa mudanya, yakni agama Yahudi, filsafat Yunani dan agama-agama rahasia.

Paulus dan agama Yahudi

Paulus sendiri tidak pernah menyebut pengaruh-pengaruh Yunani atau kafir, tetapi ia membuat banyak pernyataan tentang latar belakang serta pendidikan Yahudinya. Ia bangga akan kenyataan ia seorang Farisi yang baik. Kalau kita membaca surat-surat Paulus yang ditulisnya sebagai seorang Kristen, menjadi jelas ia tetap mempertahankan kepercayaan-kepercayaan terbaik yang diterima dari guru-gurunya. Salah satu saingan utama dari kaum Farisi adalah kaum Saduki. Kedua golongan tersebut masing-masing mewakili sayap liberal dan konservatif dari agama Yahudi. Pada setiap pokok pertikaian antara kedua golongan tersebut, Paulus mengutip dan sering memperbaiki pendirian kaum Farisi.

  • Kaum Farisi percaya sejarah mempunyai maksud dan tujuan. Mereka berpendapat Allah mengatur peristiwa-peristiwa menurut rencana-Nya sendiri, yang mencapai titik puncaknya dengan kedatangan sang Mesias yang akan memimpin umat-Nya. Ini sesuatu yang dapat diterima dengan baik oleh Paulus sebagai seorang Kristen. Dalam Roma 9-11 ia mengemukakan Allah mengatur jalannya sejarah dengan tujuan agar pada akhirnya orang-orang Yahudi diikutsertakan dalam persekutuan Kristen. Paulus berpikir sebagai seorang Farisi yang baik -- walaupun dia melangkah lebih jauh, sebab ia tahu Mesias telah datang dalam pribadi Yesus Kristus.

  • Kaum Farisi percaya akan hidup setelah kematian. Paulus menekankan hal tersebut demi keuntungannya sendiri ketika dia diadili di hadapan Sanhedrin (Kisah Para Rasul 23:6-10) dan Herodes Agripa II (Kisah Para Rasul 26:6-8). Tetapi sebagai seorang Kristen, Paulus melangkah lebih jauh lagi. Ia yakin bahwa tidak seorang pun dapat menjamin adanya kebangkitan lepas dari kenyataan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian.

  • Kaum Farisi percaya akan malaikat-malaikat dan setan-setan. Kaum Saduki tidak percaya akan hal-hal tersebut. Di sini juga Paulus mempertahankan kepercayaannya sebagai seorang Farisi tetapi mengubahnya dalam terang Kristus. Di salib, Kristus telah menaklukkan kuasa-kuasa jahat. Oleh sebab itu, orang-orang Kristen "lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita" (Roma 8:37). Tidak seorang malaikat pun dapat menyaingi Tuhan yang telah bangkit, yang dilayani Paulus, dan yang di dalam-Nya "seluruh kepenuhan Allah berkenan diam" (Kolose 1:19).

    Bukan hanya dalam soal iman Paulus memperlihatkan pengaruh latar belakang Yahudinya. Cara ia menulis, dengan memakai ayat-ayat Perjanjian Lama untuk "membuktikan" pokok-pokok teologisnya, langsung diambil dari pendidikannya selaku seorang Farisi. Pembaca surat Paulus kepada jemaat di Galatia kadang-kadang merasa heran, atau bahkan geli, bila melihat cara Paulus menafsirkan beberapa nats Perjanjian Lama. Umpamanya, ia memakai metode tafsir yang biasa dipakai para rabi Yahudi sewaktu ia menyatakan janji-janji kepada Abraham ditujukan kepada satu orang, yakni Yesus Kristus, dengan alasan kata Yunani yang diterjemahkan "keturunan" berbentuk tunggal (Galatia 3:16). Seperti para rabi, Paulus kadang-kadang mengutip sepotong nats tanpa memperhatikan konteksnya, dan menggabungkan teks-teks yang diambil dari beberapa bagian Perjanjian Lama yang sama sekali berbeda dan tidak berkaitan.

    Namun dalam satu pokok penting Paulus tidak mengikuti warisan Yahudinya. Kaum Farisi merupakan orang-orang legalistik. Mereka mewajibkan pemeliharaan secara rinci bukan hanya hukum Perjanjian Lama yang tertulis, tetapi juga hukum-hukum tradisional dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak berdasarkan otoritas Alkitab. Lebih daripada itu, mereka menyatakan bahwa orang-orang yang tidak memelihara semuanya itu, tidak pernah dapat memperoleh keselamatan penuh. Paulus telah mengalami keputusasaan secara total ketika ia berusaha menjadi seorang Farisi yang baik dan memelihara Taurat. Paulus tahu ia tidak pernah dapat melakukannya. Sebab itu ia tidak pernah dapat benar-benar mengenal Allah. Sewaktu lagi merasa optimis, ia pernah berkata, "tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, aku tidak bercacat" (Filipi 3:6). Tetapi di dalam hatinya ia mengetahui ada kuasa yang lebih besar daripada kuasanya sendiri yang sedang bekerja dan mencegahnya untuk memelihara seluruh hukum Taurat. Bahkan keberhasilan yang dicapainya pun jauh dari memadai: "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Roma 7:15). Semakin Paulus berusaha melakukan yang baik, ia menemukan bahwa semakin tidak mungkin dia melakukannya.

    Hanya karena ia seorang Farisi yang begitu setia, ia dapat menghargai apa yang telah dilakukan Allah bagi manusia di dalam Yesus Kristus. Ajaran Farisi menjadi cermin di mana Paulus melihat kekurangan-kekurangannya sendiri yang begitu jelas dinyatakan sehingga ia nampaknya merupakan orang "yang paling berdosa" (1Timotius 1:15). Tetapi di dalam Yesus Kristus ia melihat pencerminan dari apa yang dapat dicapainya oleh anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma: "Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat ... telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging ... Jadi ... jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan- perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup ... Roh membantu kita dalam kelemahan kita" (Roma 8:3,12,13,26).

Paulus dan Para Filsuf

Di antara banyak aliran filsafat yang ada pada waktu itu, aliran Stoik mungkin yang paling serasi bagi Paulus. Satu atau dua filsuf Stoik besar berasal dari Tarsus, dan mungkin Paulus masih ingat sedikit tentang pengajaran mereka dari masa mudanya.

Beberapa ahli berpendapat pengetahuan Paulus tentang filsafat Stoik lebih dalam daripada itu. Pada tahun 1910 Rudolf Bultmann menunjukkan bahwa cara Paulus mengemukakan pendapatnya kadang-kadang menyerupai argumen-argumen Stoik. Kedua-duanya memakai pertanyaan retoris, pernyataan singkat yang berdiri sendiri, seorang lawan khayalan yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan banyak ilustrasi yang diambil dari dunia atletik, pembangunan serta kehidupan sehari-hari. Malahan kita dapat menemukan frasa-frasa dalam pengajaran Paulus yang dapat dianggap mendukung ajaran Stoik; umpamanya pernyataannya, "segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:16-17). Dalam pidato Paulus di Atena, Lukas melaporkan bahwa Paulus benar- benar mengutip Aratus, penyair Stoik yang terkenal (Kisah Para Rasul 17:28). Beberapa dari surat Paulus juga sering mencerminkan peristilahan Stoik -- seperti waktu ia menggambarkan moralitas dengan istilah "seharusnya" atau "sepatutnya" dan "tidak pantas". Tidak perlu disangsikan lagi bahwa Paulus mengetahui dan bersimpati terhadap banyak cita-cita Stoik. Tetapi ada beberapa perbedaan yang hakiki dan penting antara kekristenan Paulus dan filsafat Stoik.

  • Filsafat Stoik didasarkan atas spekulasi-spekulasi filsafat mengenai sifat dunia dan manusia. "Ilah"-nya yang sebenarnya adalah akal manusia yang abstrak. Agama Kristen sangat berbeda, sebab ia dengan kokoh didasarkan pada fakta-fakta historis tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (1Korintus 15:3-11).

  • "Ilah" Stoik adalah abstraksi yang samar-samar, kadang-kadang dihubungkan dengan seluruh alam semesta, kadang-kadang dengan akal, dan kadang-kadang malah dengan unsur api: "Tidak kita tahu ilah apa itu, tetapi ada ilah yang berdiam" (Seneca, Surat-surat 41.2, dikutip dari Virgil). Sebaliknya Allah yang dikenal Paulus adalah Wujud pribadi yang dinyatakan dalam Kristus: "Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia" (Kolose 1:19).

  • Para Stoik mau menemukan "keselamatan" dalam keswasembadaan. Mereka berusaha memperoleh penguasaan atas diri sendiri agar dapat hidup secara serasi dengan alam. "Tujuan hidup adalah untuk bertindak sesuai dengan alam, yakni sekaligus baik dengan alam yang ada dalam diri kita maupun dengan alam semesta .... Jadi kehidupan yang sesuai dengan alam adalah keberadaan yang bijak dan bahagia, yang dinikmati hanya oleh orang yang selalu berusaha memelihara keserasian antara setan di dalam pribadi dengan kehendak Kuasa yang mengatur alam semesta" (Diogenes Laertius vii.1.53). Bagi Paulus, keselamatan berbeda sekali dengan gagasan tersebut. Ia menemukan bahwa keselamatan tidak bergantung pada diri sendiri, melainkan dengan penyerahan diri kepada Yesus Kristus: "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:19-20).

  • Filsafat Stoik tidak mempunyai masa depan; melainkan merupakan agama keputusasaan. Kebanyakan orang dianggap tidak sanggup mencapai kedewasaan moral. Masa depan mereka adalah untuk dibinasakan di mana satu siklus sejarah dunia mengikuti siklus lainnya, hanya untuk dilahirkan kembali atau di-reinkarnasi -- begitu rupa sehingga seluruh siklus dapat diulangi. Agama Kristen bertentangan dengan hal ini, dan menyatakan bahwa dunia yang kita kenal pasti akan berakhir dengan campur tangan Kristus sendiri. Kemudian akan tercipta suatu tata dunia yang sama sekali baru (1Korintus 15:20-28).

Pengaruh Stoik terhadap Paulus haruslah dianggap sangat kecil saja. Setiap orang tak luput dari pemakaian kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang dikenal dari konteks lain. Tetapi kalau Paulus memakai bahasa Stoik, maka ia memberikannya arti baru. Sebab berita Paulus tentang keselamatan melalui Kristus jauh berbeda dengan berita Stoik tentang keselamatan melalui penguasaan diri.

Paulus dan Agama-agama Rahasia

Sepintas lalu, ada beberapa kemiripan antara agama-agama rahasia dan agama Kristen. Keduanya datang ke Roma dari Timur. Keduanya menawarkan "keselamatan" kepada pengikut-pengikutnya. Keduanya memakai upacara penerimaan pengikut baru (baptisan Kristen) dan santapan sakramen (perjamuan kudus Kristen). Keduanya menyapa Allah penyelamatnya sebagai "Tuhan". Jika pengikut agama rahasia menjadi Kristen, maka terkadang kepercayaan-kepercayaan rahasia terbawa ke dalam jemaat. Mungkin peristiwa seperti inilah yang menjadi sumber persoalan di jemaat di Korintus, sehingga Paulus menulis surat-surat kepada jemaatnya.

Oleh karena adanya persamaan antara agama Kristen dengan agama-agama rahasia, beberapa ahli mengira Paulus mengubah ajaran Yesus yang sederhana menjadi semacam agama rahasia. Namun tidak ada lagi ahli yang mempunyai pandangan semacam itu dewasa ini, karena tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya secara nyata. Bukti yang ada malah menunjukkan kebalikannya.

  • Agama-agama rahasia selalu bersedia, bahkan rindu, bergabung dengan agama-agama lain. Ini sesuatu yang selalu ditolak oleh orang-orang Kristen, karena percaya hanya mereka saja yang memiliki seluruh kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus.

  • Banyak bukti yang dahulu menunjukkan bahwa Paulus seorang penganut agama rahasia sekarang dianggap palsu. Umpamanya, gelar "Tuhan" yang dipakai untuk Yesus, sekarang ternyata diambil bukan dari agama- agama rahasia melainkan dari Perjanjian Lama. Pengakuan iman Kristen "semoga Tuhan kita datang" (yang ditulis dalam bentuk Aram, Maranata; 1Korintus 16:23) menunjukkan bahwa jemaat mula-mula di Yerusalem -- satu-satunya jemaat yang berbahasa Aram -- rupanya telah memberikan gelar itu kepada Yesus jauh sebelum munculnya Paulus.

  • Apa yang mengesankan bagi dunia kafir bukanlah kemiripan agama Kristen dengan agama-agama lain, melainkan perbedaannya. Tuduhan yang paling sering dilontarkan terhadap orang-orang Kristen adalah mereka ateis, sebab tidak mau mengakui ilah-ilah lain.

Tentu Paulus mengenal agama-agama rahasia, dan kemiripannya dengan agama Kristen. Mereka menceritakan tentang dewa-dewa yang turun dalam bentuk manusia; tentang keselamatan sebagai "mati" terhadap hidup yang lama; tentang seorang dewa yang memberikan hidup kekal; dan tentang dewa penyelamat yang dipanggil "tuhan". Ada kemungkinan Paulus, yang siap "menjadi segala-galanya bagi semua orang" (1Korintus 9:22), kadang-kadang dengan sengaja memakai ragam bahasa mereka. Tetapi kemungkinan besar ia memakainya secara tidak sadar. Sebab orang-orang terpelajar dari zamannya memakai bahasa agama-agama rahasia dengan mudah dan tanpa ikatan, sama seperti kita sering memakai bahasa astrologi populer dewasa ini. Paulus tidak menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan secara rinci tentang agama-agama rahasia. Ia tidak pernah menyebut upacara-upacara mereka secara jelas.

Latar belakang Paulus meliputi tiga dunia pemikiran: dunia Yahudi, dunia Yunani, dan dunia agama rahasia. Masing-masing dunia ini dapat memberikan sekadar keterangan tentang kepribadian dan pengajarannya. Tetapi kita akan khilaf bila menganggap Paulus hanyalah produk alami dari lingkungan kebudayaannya. Ia menganggap dirinya sendiri terutama sebagai "seorang di dalam Kristus" (2Korintus 12:2) atau seorang Kristen. Apa pun yang diperolehnya dari sumber sumber lain, ia mengakui bahwa Tuhannya yang baru mempunyai kuasa yang melebihi mereka semua, dan demi Kristus ia menganggap yang lainnya sebagai "sampah" (Filipi 3:8).

KRP-Referensi 05b

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a

Nama Kursus : KEHIDUPAN RASUL PAULUS
Nama Pelajaran : Paulus Ditangkap dan Dipenjara
Kode Pelajaran : KRP-R05b

Referensi KRP-05b diambil dari:

Judul Buku : DUNIA PERJANJIAN BARU
Pengarang : J.L Packer.Merrill C.Tenney.William White,Jr
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1993
Halaman : 214 - 218

REFERENSI PELAJARAN 05b - PAULUS DITANGKAP DAN DIPENJARA

KEPRIBADIAN PAULUS DALAM SURAT-SURATNYA

Surat-surat Paulus merupakan cermin jiwanya. Surat-surat itu mengungkapkan motif-motif batinnya, perasaannya yang paling dalam, keyakinannya yang paling mendasar. Tanpa surat-surat yang ada itu, Paulus hanya akan menjadi figur yang tak jelas bagi kita.

Paulus lebih tertarik kepada orang-orang dan apa yang menimpa mereka dibandingkan dengan berbagai formalitas sastra. Ketika kita membaca tulisan-tulisannya, kita sering merasakan kadang-kadang kata-katanya muncul begitu tiba-tiba, ditulis secara tergesa-gesa seperti dalam pasal pertama surat Galatia. Kadang-kadang tulisannya terputus tiba- tiba dan pikirannya meloncat kepada gagasan-gagasan baru. Atau di beberapa tempat ia seperti menarik napas panjang, lalu menuliskan satu kalimat yang hampir tidak ada akhirnya.

Tulisannya dalam 2Korintus 10:10 memberi kita petunjuk tentang bagaimana surat-surat Paulus diterima dan dipandang pada saat itu. Bahkan musuh-musuh dan para pengecamnya mengakui pengaruh dari kata- katanya, karena mereka diketahui berkomentar, "surat-suratnya memang tegas dan keras . . . " (2Korintus 10:10).

Pemimpin-pemimpin yang kuat, seperti Paulus, cenderung untuk memikat atau membuat tidak senang orang-orang yang ingin mereka pengaruhi. Paulus memiliki para pengikut yang setia dan juga musuh yang sangat membencinya. Akibatnya, orang-orang yang hidup sezaman dengannya memiliki banyak pandangan yang sangat berbeda mengenai dirinya.

Tulisan-tulisan paling awal dari Paulus mendahului keempat Injil. Tulisan-tulisan itu mengungkapkan pribadi Paulus sebagai seorang yang berani (2Korintus 2:3), jujur dan memiliki motivasi yang tinggi (ayat 4-5), rendah hati (ayat 6), dan lembut (ayat 7).

Paulus tahu bagaimana membedakan antara pandangan-pandangannya sendiri dengan "perintah dari Tuhan" (1Korintus 7:25). Ia cukup rendah hati, dalam masalah-masalah tertentu ia mengatakan "menurut pendapatku" (1Korintus 7:40). Ia sangat sadar mengenai betapa penting tugas yang dipikulnya (1Korintus 9:16-17), dan mengenai fakta bahwa ia tidak lepas dari kemungkinan "ditolak" seandainya ia jatuh ke dalam pencobaan (1Korintus 9:27). Dengan hati yang luka ia teringat bahwa pernah dalam hidupnya ia "telah menganiaya Jemaat Allah" (1Korintus 15:9).

Bacalah Roma pasal 16 dengan memperhatikan baik-baik sikap murah hati Paulus terhadap rekan-rekan sekerjanya. Ia adalah orang yang mengasihi dan menghargai orang dan menjunjung tinggi persekutuan orang-orang percaya. Di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, kita melihat pribadi Paulus yang hangat dan ramah, bahkan kepada orang-orang Kristen yang belum pernah bertemu, dengannya. "... Aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka ... yang belum mengenal aku pribadi" (Kolose 2:1).

Dalam suratnya kepada jemaat Kolose, kita juga membaca mengenai seseorang yang bernama Onesimus, seorang budak yang melarikan diri (Kolose 4:9) setelah mencuri sesuatu dari tuannya, Filemon. Paulus telah memenangkan Onesimus untuk percaya pada Kristus dan telah membujuknya agar ia kembali kepada tuannya. Akan tetapi, karena mengetahui hukuman berat yang bakal dijatuhkan pada budak yang melarikan diri, rasul itu mendesak Filemon agar ia menerima Onesimus sebagai saudara seimannya. Di sini kita melihat Paulus sebagai seorang pendamai. Ia berusaha keras agar kembalinya Onesimus bisa diterima dengan kasih persaudaraan yang kristiani. Kalau menggunakan istilah yang biasa dipakai sekarang, kita bisa mengatakan bahwa Paulus menaruh Filemon dalam posisi sulit di mata jemaat dan dalam hubungan pribadinya dengan Paulus. Dan Paulus melakukan ini semua demi seseorang yang menduduki posisi terendah dalam lapisan masyarakat Romawi. Bandingkan ini dengan tingkah laku Saulus muda, yang memegangi jubah mereka yang melempari Stefanus sampai mati. Perhatikan bagaimana besarya perubahan dalam sikap Paulus terhadap

Dalam tulisan-tulisan ini kita melihat Paulus sebagai seorang teman yang hangat dan murah hati, seorang yang memiliki iman yang kuat dan penuh keberanian-walaupun berada dalam situasi yang ekstrem. Ia sepenuhnya mengabdi pada Kristus, baik dalam hidup maupun mati. Kesaksiannya merupakan realitas rohani yang mendalam, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan; baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 4:12- 13).

OKB-Referensi 02a

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b

Nama Kursus : ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB)
Nama Pelajaran : Bertanggung Jawab dalam Hal Ibadah dan Persekutuan
Kode Pelajaran : OKB-R02a

Referensi OKB-R02a diambil dari:

Judul Buku : THE PURPOSE DRIVEN LIFE
Judul Artikel : Penyembahan yang Menyenangkan Allah
Pengarang : Rick Warren
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2004
Halaman : 113 - 119

REFERENSI PELAJARAN 02a - PENYEMBAHAN YANG MENYENANGKAN ALLAH"

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Markus 12:30

Allah Menginginkan Segenap Diri Anda

Allah tidak menginginkan sebagian dari hidup Anda. Dia meminta segenap hati Anda, segenap jiwa Anda, segenap akal budi Anda, dan segenap kekuatan Anda. Allah tidak tertarik pada komitmen separuh hati, ketaatan sebagian, dan sisa-sisa waktu dan uang Anda. Dia menginginkan pengabdian penuh Anda, bukan sedikit dari kehidupan Anda.

Seorang wanita Samaria pernah mencoba untuk berdebat dengan Yesus tentang waktu, tempat dan gaya penyembahan yang terbaik. Yesus menjawab bahwa masalah-masalah ekstern ini tidaklah penting. Di mana Anda menyembah tidaklah sepenting mengapa Anda menyembah dan seberapa banyak dari diri Anda yang Anda persembahkan kepada Allah ketika Anda menyembah. Ada cara yang benar dan salah dalam menyembah. Alkitab berkata, "Marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya." (Ibrani 12:28) Jenis penyembahan yang menyenangkan Allah memiliki empat karakteristik:

Allah senang bila penyembahan kita tepat. Orang sering kali berkata, "Saya suka berpikir tentang Allah sebagai...," lalu mereka meyampaikan gagasan mereka tentang jenis Allah yang ingin mereka sembah. Tetapi kita tidak bisa sekadar menciptakan sendiri gambar yang menyenangkan atau benar secara politis tentang Allah dan menyembahnya. Itu merupakan penyembahan berhala.

Penyembahan harus didasarkan pada kebenaran Alkitab, bukan pendapat kita mengenai Allah. Yesus berkata kepada wanita Samaria itu, "Penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 14:3)

"Menyembah dalam kebenaran" berarti menyembah Allah sebagaimana Dia benar-benar dinyatakan di dalam Alkitab.

Allah senang bila penyembahan kita bersifat otentik. Ketika Yesus berkata Anda harus "menyembah dalam roh," Dia bukan menunjuk pada Roh Kudus, tetapi pada roh Anda. Diciptakan menurut gambar Allah, Anda adalah roh yang berdiam di dalam satu tubuh, dan Allah merancang roh Anda untuk berkomunikasi dengan Dia. Penyembahan adalah roh Anda menanggapi Roh Allah.

Ketika Yesus berkata, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu" yang Dia maksudkan adalah penyembahan haruslah sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Penyembahan bukanlah sekadar mengucapkan kata-kata yang tepat; Anda harus bersungguh- sungguh dengan apa yang Anda katakan. Pujian yang tidak sungguh- sungguh bukanlah pujian sama sekali! Pujian tersebut tidak bernilai, sebuah hinaan kepada Allah.

Ketika kita menyembah, Allah melihat melewati kata-kata kita ke sikap hati kita. Alkitab berkata, "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1Samuel 16:7b)

Karena penyembahan meliputi keadaan senang akan Allah, penyembahan melibatkan emosi Anda. Allah memberi Anda emosi sehingga Anda bisa menyembah-Nya dengan perasaan yang dalam, tetapi emosi-emosi tersebut haruslah sungguh-sungguh, bukanlah pura-pura. Allah membenci kemunafikan. Dia tidak menginginkan kecakapan membuat pertunjukkan atau kepura-puraan atau kepalsuan di dalam penyembahan. Dia menginginkan kejujuran Anda, kasih yang sesungguhnya. Kita bisa menyembah Allah secara tidak sempurna, tetapi kita tidak bisa menyembah Dia secara tidak tulus.

Memang, ketulusan saja tidaklah cukup; Anda bisa saja secara tulus melakukan kesalahan. Itu sebabnya baik roh maupun kebenaran diperlukan. Penyembahan harus tepat dan otentik. Penyembahan yang menyenangkan Allah sangat berkaitan dengan emosi dan doktrin. Kita menggunakan hati kita dan juga kepala kita.

Sekarang ini banyak orang yang menyamakan rasa tergerak oleh musik dengan rasa tergerak oleh Roh, padahal ini tidaklah sama. Penyembahan sejati terjadi ketika roh Anda menanggapi Allah, bukan menanggapi bunyi musik tertentu. Sebetulnya, beberapa lagu yang sentimental dan introspektif menghalangi penyembahan karena lagu-lagu tersebut memindahkan focus kita dari Allah ke perasaan kita. Gangguan terbesar Anda di dalam penyembahan adalah diri Anda sendiri, yaitu berbagai kepentingan Anda dan kekhawatiran Anda atas apa pandangan orang lain tentang Anda.

Orang-orang Kristen sering kali berbeda tentang cara yang paling tepat atau otentik untuk mengekspresikan pujian kepada Allah, tetapi pendapat-pendapat ini biasanya hanya menunjukkan perbedaan kepribadian dan latar belakang. Banyak bentuk pujian disebutkan di dalam Alkitab, di antaranya membuat pengakuan, menyanyi, bersorak, berdiri sebagai penghormatan, berlutut, menari, membuat sorak sukacita, bersaksi, memainkan alat-alat musik, dan mengangkat tangan. (Ibrani 13:15; Mazmur 7:17; Ezra 3:11; Mazmur 149:3; 150:3; Nehemia 8:6) Gaya penyembahan terbaik adalah penyembahan yang secara paling otentik menunjukkan kasih Anda kepada Allah, berdasarkan latar belakang dan kepribadian yang Allah berikan kepada Anda.

Teman saya Gary Thomas memperhatikan bahwa banyak orang Kristen tampaknya terjebak dalam suatu situasi penyembahan, yaitu rutinitas yang tidak memuaskan, dan bukan memiliki persahabatan yang menyenangkan dengan Allah, karena mereka memaksa diri untuk menggunakan metode-metode atau gaya penyembahan yang tidak sesuai dengan cara di mana Allah secara unik membentuk mereka.

Gary bertanya-tanya, Jika Allah dengan sengaja menjadikan kita semua berbeda, mengapa setiap orang diharapkan untuk mengasihi Allah dengan cara yang sama? Ketika Gary membaca buku-buku klasik Kristen dan mewawancarai orang-orang Kristen dewasa, Gary menemukan bahwa orang- orang Kristen telah menggunakan banyak cara yang berbeda selama 2.000 tahun untuk menikmati keakraban dengan Allah: kegiatan di luar gedung, belajar, menyanyi, membaca, menari, menciptakan seni, melayani orang lain, menjalani kesunyian, menikmati persekutuan, dan ikut serta dalam banyak kegiatan lainnya.

Dalam bukunya Sacred Pathways, Gary menyebut sembilan cara orang-orang mendekat kepada Allah: Kaum Naturalis sangat terinspirasi untuk mengasihi Allah di luar gedung, dengan latar belakang yang alami. Kaum Sensate mengasihi Allah dengan indera (senses) mereka dan menghargai ibadah penyembahan yang indah melibatkan pandangan, pengecap, penciuman, dan sentuhan mereka, bukan hanya telinga mereka. Kaum tradisionalis semakin dekat dengan Allah melalui upacara-upacara, liturgi-liturgi, simbol-simbol, dan struktur-struktur yang tidak berubah. Kaum Askese lebih suka mengasihi Allah dalam kesunyian dan kesederhanaan. Kaum Aktivis mengasihi Allah lewat tindakan melawan kejahatan, memerangi ketidakadilan, dan bekerja untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik. Kaum Pemerhati mengasihi Allah dengan mengasihi sesama dan memenuhi kebutuhan mereka. Kaum Antusias mengasihi Allah melalui perayaan. Kaum Kontemplatif (Meditatif) mengasihi Allah lewat pemujaan. Kaum Intelektual mengasihi Allah dengan belajar melalui pikiran-pikiran mereka.

Tidak ada satu pendekatan "yang cocok untuk semua ukuran orang" dalam menyembah dan bersahabat dengan Allah. Satu hal yang pasti: Anda tidak mendatangkan kemuliaan bagi Allah dengan mencoba menjadi orang yang Allah tidak pernah maksudkan untuk menjadikan Anda seperti itu. Allah ingin agar Anda menjadi diri Anda sendiri: Itulah orang-orang yang Bapa cari: yakni orang-orang yang menjadi diri sendiri secara apa adanya dan jujur di hadapan Dia dalam penyembahan mereka." (Yohanes 4:23)

Allah senang bila penyembahan kita melibatkan akal budi. Perintah Yesus untuk "kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap akal, budimu" diulangi empat kali dalam Perjanjian Baru. Allah tidak senang jika orang menyanyikan lagu-lagu tanpa pikiran, memanjatkan doa-doa klise yang rutin, atau mengucapkan "Puji Tuhan," secara sembarangan karena kita tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan pada saat itu. Jika penyembahan tidak melibatkan akal budi, penyembahan itu tidak bermakna. Anda harus melibatkan akal budi Anda.

Yesus menyebut penyembahan yang tanpa akal sebagai "pengulangan yang sia-sia." (Matius 6:7). Bahkan istilah-istilah alkitabiah bisa menjadi klise-klise yang membosankan karena digunakan berulangulang, dan kita berhenti berpikir tentang maknanya. Jauh lebih mudah memberikan klise- klise dalam penyembahan daripada berusaha menghormati Allah dengan kata-kata dan cara-cara yang segar. Itu sebabnya saya mendorong Anda untuk membaca Alkitab di dalam berbagai terjemahan dan parafrase. Hal ini akan memperluas ekspresi Anda dalam penyembahan.

Cobalah memuji Allah tanpa menggunakan kata-kata puji, haleluyah, syukur, atau amin. Bukannya mengatakan, "Kami hanya ingin memuji-Mu," buatlah daftar kata yang memiliki makna sama dan gunakan kata-kata baru seperti mengagumi, menghargai, meninggikan, dan menghormati.

Juga, jadilah spesifik. Jika seseorang mendekati Anda dan nengucapkan, "Aku memujimu!" sepuluh kali, Anda mungkin akan berpikir, Untuk apa? Anda lebih suka menerima dua pujian yang spesifik daripada dua puluh pernyataan umum yang tidak jelas. Begitu juga dengan Allah.

Gagasan lainnya adalah membuat daftar nama-nama Allah yang berbeda dan pusatkan perhatian pada nama-nama tersebut. Nama-nama Allah bukannya tanpa makna; nama-nama tersebut memberi tahu kita tentang aspek-aspek berbeda dari karakter-Nya. Dalam Perjanjian Lama, Allah sedikit demi sedikit menyatakan Diri-Nya kepada bangsa Israel dengan memperkenalkan nama-nama baru untuk Diri-Nya sendiri, dan Dia memerintahkan kita untuk memuji nama-Nya.

Allah juga ingin agar pertemuan-pertemuan ibadah bersama kita menggunakan akal budi. Paulus memberikan satu pasal seluruhnya untuk hal ini dalam 1Korintus 14 dan menyimpulkan, "Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur." (1Korintus 14:40)

Sehubungan dengan hal ini, Allah menekankan agar ibadah penyembahan kita bisa dipahami oleh orang-orang yang belum percaya ketika mereka hadir dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita. Paulus mengatakan, "Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan "amin" atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya." (1Korintus 14:16-17). Peka terhadap orang- orang belum percaya yang menghadiri pertemuan-pertemuan ibadah Anda adalah perintah yang alkitabiah. Mengabaikan perintah ini merupakan ketidaktaatan dan ketiadaan kasih.

Allah senang bila penyembahan kita bersifat praktis. Alkitab berkata, "Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Mengapa Allah menginginkan tubuh Anda? Mengapa Dia tidak berkata, "Persembahkan rohmu"? Karena tanpa tubuh, Anda tdak bisa melakukan apapun di dunia ini. Dalam kekekalan, Anda akan menerima tubuh baru yang sudah disempurnakan dan lebih baik, tetapi sementara Anda di dunia, Allah berkata, "Berikan kepada-Ku apa yang kamu miliki!" Dia hanyalah bersikap praktis dalam soal penyembahan.

Anda pernah mendengar orang berkata, "Saya tidak bisa datang ke pertemuan nanti malam, tetapi saya akan bersamamu di dalam roh." Tahukah Anda apa artinya? Tidak ada arti. Kalimat tersebut tidak memiliki makna! Selama Anda di bumi, roh Anda hanya bisa berada di tempat tubuh Anda berada. Jika tubuh Anda tidak ada, Anda juga tidak ada.

Dalam penyembahan kita harus "mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup." Nah, kita biasanya mengaitkan konsep "persembahan" dengan sesuatu yang mati, tetapi Allah ingin agar Anda menjadi persembahan yang hidup. Dia ingin agar Anda hidup bagi Dia! Namun, masalah dengan persembahan yang hidup adalah bahwa persembahan itu bisa merangkak keluar dari mezbah, dan kita sering kali melakukannya. Kita bernyanyi, "Lasykar Kristen Maju" pada hari Minggu, kemudian pergi keluar tanpa izin pada hari Senin."

Dalam Perjanjian Lama, Allah senang pada banyak kurban persembahan karena kurban-kurban itu memberitakan sebelumnya tentang kurban Yesus bagi kita di kayu salib. Sekarang Allah senang dengan berbagai kurban persembahan yang berbeda: ucapan syukur, pujian, kerendahan hati, pertobatan, persembahan uang, doa, melayani orang lain, dan berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. (Mazmur 50:14; Ibrani 13:15; Mazmur 51:17; 54:6; Filipi 4:18; Mazmur 141:2; Ibrani13:16; Markus 12:33; Roma 12:1)

Penyembahan yang sejati membutuhkan pengorbanan. Daud menyadari hal ini dan berkata: "Aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, kurban bakaran dengan tidak membayar apa-apa." (2Samuel 24:24)

Salah satu pengorbanan yang dituntut dari kita dalam penyembahan adalah sikap mementingkan diri kita. Anda tidak mungkin meninggikan Allah dan diri Anda sendiri pada saat yang bersamaan. Anda tidak menyembah untuk dilihat oleh orang lain atau untuk menyenangkan diri Anda sendiri. Anda dengan sadar memindahkan fokus dari diri Anda sendiri.

Ketika Yesus berkata, "Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap kekuatanmu" Dia menunjukkan bahwa penyembahan membutuhkan usaha dan tenaga. Penyembahan tidak selalu menyenangkan atau enak, dan kadang- kadang penyembahan benar-benar merupakan tindakan berdasarkan kehendak, kurban dengan suka rela. Penyembahan pasif merupakan sesuatu yang bertentangan.

Ketika Anda memuji Allah meskipun Anda tidak merasa ingin melakukannya, ketika Anda bangun untuk beribadah saat Anda letih, atau ketika Anda menolong orang lain saat Anda lelah, Anda mempersembahkan kurban penyembahan kepada Allah. Ini menyenangkan Allah.

Matt Redman, seorang pemimpin penyembahan di Inggris, bercerita bagaimana gembala sidangnya mengajar gerejanya tentang makna sesungguhnya dari penyembahan. Untuk menunjukkan bahwa penyembahan lebih dari sekadar musik, sang gembala sidang melarang semua nyanyian di dalam ibadah mereka untuk beberapa waktu sementara mereka belajar menyembah dengan cara lain. Menjelang akhir dari waktu tersebut, Matt menulis lagu klasik "Heart of Worship":

Aku akan membawa bagi-Mu lebih dari sekadar lagu,
karena lagu itu sendiri bukanlah apa yang Engkau tuntut.
Engkau mencari jauh lebih dalam
daripada hal-hal yang tampak.
Engkau melihat ke dalam lubuk hatiku.

Inti masalahnya adalah masalah hati.

OKB-Referensi 05a

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05b | Referensi 05c

Nama Kursus : ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB)
Nama Pelajaran : Bertanggung Jawab dalam Hal Memberi dan Menggunakan
Waktu
Kode Pelajaran : OKB-R05a

Referensi OKB-R05a diambil dari:

Judul Buku : MEMBERI SECARA KRISTEN
Judul Artikel : Mengapa Kita Memberi?
Penulis : V.S. Azariah
Penerbit : Bpk Gunung Mulia, Jakarta, 1982
Halaman : 15 - 20

REFERENSI PELAJARAN 05a - MENGAPA KITA MEMBERI?

Jika kita telah mengumpulkan uang, jika pengumpulan derma telah selesai, pasar-derma telah habis, maka pertanyaan kita yang pertama ialah : "Nah, berapakah hasilnya?" Kitab Injil menghadapkan, kita kepada pertanyaan "Mengapa engkau memberi?"

Sebelum orang-orang Yahudi mulai makan, mereka mengucapkan dahulu ayat yang pertama dari Mazmur 24: "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." Dengan demikian mereka selalu ingat bahwa makanan, roti atau nasi, itu suatu keajaiban suatu pemberian Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Tuhan adalah Sang Pencipta.

Oleh karena itu Tuhan adalah Pemberi juga. Hanya yang mempunyai sesuatulah yang dapat memberi sesuatu. Tuhan adalah satu-satunya pemilik segala sesuatu dan karena itu Dialah juga yang menjadi Pemberi. Waktu Daud berterima kasih kepada Tuhan atas segala apa yang telah terkumpul untuk mendirikan rumah kebaktian ia mengucapkan: "Kepunyaan-Mulah, o, Tuhan, segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Siapakah kami ini yang mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini. Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu (bnd. 1Tawarikh 29:11,12,14).

Tidak dapat lebih jelas lagi. Semua yang pernah kita terima datangnya dari Tuhan. Setiap hari ada suatu pemberian dari tangan Tuhan. Setiap hari kita diberi hidup sekali lagi sebagai suatu pemberian. Paulus bersabda kepada orang Yunani di Athena, demikian "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada." (Kisah Para Rasul 17:28). Jika kita setelah 25 atau 30 tahun mengundurkan diri dari pekerjaan, kita ingin mengenangkan kembali hidup yang berguna. Sehabis bekerja keras sepanjang hari kadang-kadang kita dapat beristirahat di kursi dengan muka yang membayangkan kepuasan hati. Jika segala sesuatu dapat berjalan seperti yang kita harapkan, kita merasa sangat senang. Itu baik sekali asal kita tahu bahwa adanya kita di dunia ini hanya karena Tuhan.

Tuhan adalah juga Pembebas. Sebab baru saja kita menerima dunia ini dengan segala isinya dari Tuhan untuk diusahakan kita sudah berkata: "Bagus, jadi ini semua kepunyaan kita." Akan kita urus sendiri lebih lanjut. Untuk itu kita tidak memerlukan Tuhan lagi. Dengan mudah kita membelakangi Tuhan dan mengira bahwa kita dapat membereskan dunia ini. Dan secara jujur, kita ini memang sukar diajar. Sebab setelah 20 abad lamanya kita masih mempunyai pendapat bahwa jika kita semua mau berusaha sekeras-kerasnya, kita dapat membereskan dunia bersama-sama. Untuk itu kita tidak membutuhkan Tuhan.

Tapi Tuhan telah menghindarkan kita karena kasih-Nya yang tidak terhingga itu dari pikiran yang salah yang hanya dapat mengakibatkan kematian saja dengan mengutus Yesus Kristus ke dunia.

Seperti Ia telah melepaskan orang Israel dari padang gurun dan memberi mereka tanah Kanaan, begitu pulalah Ia melepaskan kita dari padang gurun yang telah kita buat sendiri dari dalam hidup ini. Dengan perantaraan Yesus Kristus Ia mau mengaku kita lagi sebagai anak-anak- Nya sebagai milik-Nya. Saya baca dalam Katekismus "Inilah satu-satunya penghibur hati dalam hidup dan di akhirat bahwa saya dalam hidup tidak ditinggalkan seorang diri melainkan menjadi milik Yesus Kristus, Juruselamat saya yang setia."

Jika ini belum jelas, kita tinggalkan dahulu buku kwitansi dan dompet tertutup. Tuhan tidak menghitung dengan angka dengan 5 atau 6 nol. Tuhan berhitung dengan hati. Tuhan tidak mencintai orang yang banyak memberi melainkan orang yang memberi dengan suka hati. Artinya orang yang dengan tenang datang kepada Tuhan dengan membawa segaia yang ada padanya serta berkata: "Tuhan, semua ini kepunyaan-Mu, Engkau yang telah memberikannya kepadaku, karena Yesus Kristus telah melepaskan aku dari diriku sendiri maka aku tahu sekarang, apa yang harus kupersembahkan kepada-Mu."

Jadi jika ada orang bertanya: ya mengapa aku harus memberi? Jawabnya mudah saja: karena Tuhan itu Pencipta, karena Tuhan itu Pemberi, dan karena Tuhan telah mengaruniai kita. Dan kesimpulannya ialah, bahwa kita akan mengasihi Tuhan dengan seluruh hati kita, dengan seluruh jiwa kita dan dengan seluruh akal budi kita dan sesama kita seperti diri sendiri.

Itu tidak mudah, tetapi Kristus tahu siapa kita ini. Jika kita sebenarnya tidak menghendaki menjadi sesuatu, maka kita menyembunyikan diri di balik berbagai-bagai pertanyaan: "Siapakah Tuhan itu, siapakah sesama kita, apakah mengasihi itu?" Oleh karena itu Ia memberi contoh- contoh yang praktis kepada kitsa dengan jalan perumpamaan.

  1. Pertama Ia menceritakan tentang seorang petani yang kaya yang mempunyai tanah luas dan yang pada suatu ketika hasil panenannya terlalu banyak sehingga timbul pikirannya: "Apakah perlunya aku bingung. Kuperluas lumbung-lumbungku dan kusimpan semua itu dan aku tinggal hidup bersenang." Tetapi Tuhan bersabda: "Congkak benar orang ini, malam ini juga nyawanya akan dituntut daripadanya dan siapa yang akan menikmati semua itu, ia tidak akan tahu " (bnd Lukas 12:13-21) .

    Guna menghindarkan kesalah-pahaman: Tuhan tidak benci kepada orang kaya. Tuhan itu bukan hanya Tuhan bagi orang miskin. la pun bukan pula hanya Tuhan bagi orang kaya. Tuhan adalah Bapa semua umat manusia. Dan dalam perumpamaan itu Ia memberi ingat kepada kita terhadap kelobaan. Kita semua mempunyai keinginan untuk mengumpulkan dan menimbun. Yang seorang untuk hari tuanya. Yang lain untuk dapat berbelanja banyak dan supaya dapat hidup senang. Yang lain lagi ingin memberikan pendidikan tinggi kepada anak-anaknya. Kelirukah itu! Halnya itu sendiri tidak salah. Hanya Tuhan ingin memperingatkan kita bahwa hal itu bukannya hal yang terpenting dalam hidup kita. Ada orang-orang yang terlalu mementingkan usaha dan pekerjaannya sehingga ia tidak tahu lagi bahwa pekerjaan itu hanya merupakan suatu syarat saja untuk dapat mencapai tujuan. Petani tersebut tadi tidak tahu lagi bahwa Tuhanlah yang memberi, bahwa Tuhan yang menentukan apa yang telah la berikan; uang, hasil bumi dan akhirnya juga nyawanya. Oleh karena itu hartanya merintangi dia. Itulah yang menyebabkan kematiannya.

  2. Dalam sebuah perumpamaan lain. Kristus menceriterakan tentang seorang juru kunci yang menggelapkan uang yang mengacaukan uang tuannya. Tetapi ada orang-orang memberitahukan hal itu kepada tuannya dan tuan itu memutuskan akan memecat pegawai tadi. Tetapi sebelum memberi pertanggungan jawab kepada tuannya pikir juru kunci itu, "ini adalah kesempatan yang baik untuk menolong diriku." Orang-orang yang berutang diberinya kesempatan untuk mengubah perjanjiannya, bahwa mereka boleh membayar kurang. Jika ia sekarang menolong mereka, nanti apabila ia dipecat tentulah mereka mau menolong dia. Kepada orang yang berhutang 100 kaleng minyak ia berkata: "Coretlah itu semuanya dan tulislah 50 kaleng." Dengan demikian ia berusaha untuk menutupi kelebihan uang yang dipungutnya.

    Dan anehnya Yesus Kristus memuji juru kunci itu karena ia telah berbuat cerdik sekali. Sebab Ia bersabda: "Orang ini telah mempergunakan kesempatan yang diberikan oleh tuannya kepadanya untuk menolong dirinya. Karena anak-anak dunia ini terlebih cerdik di dalam pergaulannya daripada anak-anak terang." (bnd. Lukas 16:1-15).

    Di sini Kristus tidak berkata, bahwa kita boleh berbuat curang untuk dapat menolang diri. Sebaliknya, setelah perumpamaan itu Ia memberi ingat kepada kita supaya berlaku jujur terhadap harta milik orang lain. Itu bukan suatu peringatan yang tidak perlu. Tidak jarang kita mendengar bahwa sebuah koperasi gagal karena orang yang dipercaya mengurus keuangan bermain curang atau uang itu dibelanjakannya untuk diri sendiri. Hampir tiap hari kita membaca dalam surat kabar bahwa ada orang dipecat dari jabatannya karena mempergunakan uang jawatan bagi kepentingannya sendiri atau main curang mengenai bahan-bahan.

    Janganlah kita lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata: "Ah, orang-orang jahat!" Sebab kita sendirilah juru kunci yang korup itu. Yang dimaksud oleh Yesus Kristus tidak lain ialah saudara dan saya, bukan orang lain. Kita menerima dari Tuhan yang seorang banyak yang lain hanya sedikit. Tetapi kita menerimanya sebagai barang yang harus kita urus sebagai barang pinjaman supaya dapat kita pergunakan dalam berbakti kepada Tuhan dan untuk sesama manusia. Dan apakah yang kita perbuat dengan itu? Berterima kasih pun kita tidak tahu. Kita terima itu semuanya dan berkata "Nah, kita pergunakan dengan sekehendak hati kita sendiri! Oleb karena itu Tuhan akan memecat kita dan kita harus memberikan pertanggungan jawab tentang apa yang telah kita perbuat dengan barang-barang itu. Tuhan memuji juru kunci itu karena ia sungguh-sungguh mencari pemecahan entah bagaimana caranya. Tetapi kita, kita berjalan terus dengan tak peduli, meskipun kita telah mendapat penerangan meskipun Tuhan telah menunjukkan kepada kita jalan yang benar, bagaimana kita harus msnggunakan waktu kita, uang kita, ya hidup kita, untuk kemuliaan-Nya.

  3. Apakah yang harus kita kerjakan? "Juallah harta milikmu," sabda Kristus, "untuk dibagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkannya. Dan dengan jalan demikian kumpulkanlah sebuah modal yang tiada berkesudahan di surga. Disana tidak ada pencuri yang akan mengambilnya, di sana tidak ada yang akan merampoknya, dan di sana tiada ngengat membinasakannya. Sebab di mana harta bendamu kau letakkan, di situlah juga hatimu setip hari. (bnd. Lukas 12:32-34).

    Di bidang ekonomi demikian juga halnya. Orang harus menanamkan uangnya pada sesuatu jika orang ingin mendapat untung. Anehnya dalam suatu perusahaan tiap orang tahu bahwa orang harus membuang dahulu jika ingin mendapat kembali. Tetapi bagi kita masih sukar untuk percaya bahwa jika kita memberikan sesuatu karena kehendak Kristus, kita akan menjadi lebih kaya juga karenanya.

    "Tidak seorangpun," sabda Kristus, "yang tidak akan menerima kembali, jika ia menyerahkan rumah atau barang-barangnya demi Aku." Itu tidak berarti bahwa kepercayaan itu semacam perdagangan tukar menukar atau spekulasi. Orang yang berniaga tidak akan tahu sebelumnya apakah ia akan menderita kerugian atau tidak. Tetapi dalam kepercayaan orang yang mempersembahkan sesuatu tahu benar bahwa ia akan menjadi lebih kaya dalam Tuhan.

  4. "Lihatlah janda yang miskin itu," sabda Kristus, "ia memberikan dua keping uang tembaga." Jadi boleh kami katakan 2 sen! Itu tidak banyak dibandingkan dengan apa yang diberikan oleh orang-orang lain, terutama oleh para hartawan. Tetapi janda itu lebih banyak memberi karena ia memberikan semua yang ada padanya, sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya. Tuhan tidak memandang kepada apa yang kita berikan, tetapi kepada apa yang ada pada kita (Markus 12:41-44). Janda itu tidak memirkan, bagaamana ia nanti makan. Ia pun tidak bertanya, untuk apakah itu. Ia mempersembahkan kepada Tuhan dan ia percaya bahwa Tuhan akan mempergunakan uang itu untuk kebaikan.
  5. Dapat juga kita mengambil suatu pelajaran dari jemaat pertama di Yerusalem. Di dalam Kitab Kisah Para Rasuh kita baca bahwa segala barang itu menjadi milik bersama dan tidak ada seorang pun yang kekurangan, sebab tiap orang menjual barang miliknya, rumah dan tanah, dan diberikannya kepada para Rasul dan semua itu dibagi-bagikan kepada masing-masing orang menurut kebutuhannya (bnd. Kisah Para Rasul 2:44,45 )

    Sekarang saudara akan berkata: "Ya, dahulu memang dapat, tetapi sekarang sudah tak mungkin lagi." Pertama, kita harus mengerti betul- betul bahwa setiap orang bebas untuk menjual miliknya. Menurut peraturan gereja tidak seorang pun dipaksa untuk memberi. Tentang hal itu, baik dahulu maupun sekarang tetap sama. Kedua, lebih lanjut dinyatakan dalam Kisah Para Rasul, bahwa hal tersebut tak dapat langsung berjalan. Tetapi tak akan merubah prinsip utamanya. Kita bersama-sama saling bertanggung-jawab. Kita semua harus menjaga agar tak ada kekurangan. Demikian juga tentang uang. Kita bertanggung-jawab terhadap orang yang kelaparan, terhadap para korban gempa bumi dan banjir dan lain-lain.

    Apa yang kita miliki, kita sediakan untuk mereka yang tidak mempunyainya sebab semuanya itu bukan kepunyaan kita, melainkan kepunyaan Tuhan.