Definisi Tentang Akhir Zaman

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Pendahuluan

Setiap pengungkapan ekspresi ide, pengetahuan dan konsep pikiran baik melalui media bahasa lisan atau pun tulisan memerlukan kalimat-kalimat, dan kalimat ini pada umumnya terdiri atas rangkaian kata-kata yang masing-masing memiliki makna dan istilah yang definitif.

Mempelajari eskatologi sebagai salah satu cabang dari teologi, yang khusus mempelajari hal-hal yang berkenaan dengan "zaman akhir" dan "akhir zaman" bukanlah sesuatu yang mudah. Hal ini akan semakin sulit apabila kita tidak memiliki pemahaman yang umum dan memadai atas istilah-istilah yang pasti akan kita temui di sana.

Artikel ini ingin menerangkan sesederhana mungkin apakah yang menjadi definisi tentang akhir zaman. Meskipun ada berbagai aliran eskatologi yang berkenaan dengan "milenium" namun kami hanya ingin meninjau pandangan yang umum dikenal sebagai Pramilenialisme, Pascamilenialisme dan Amilenialisme. Kemudian sesudah diperbandingkan dengan pandangan Alkitab baik dari perspektif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, pada bagian terakhir kami mencoba memberikan kesimpulan apakah yang dimaksud dengan definisi tentang akhir zaman.

Pandangan Pramilenialisme Historis

Secara eksplisit aliran ini tidak memberikan definisi yang pasti tentang akhir zaman. Namun melalui pemahaman terhadap isi kepercayaan yang mereka yakini, secara implisit kita berusaha menangkap definisi ini.

Selayang pandang doktrin mereka mengenai hal-hal akhir adalah sebagai berikut [1].

  1. Berdasarkan penafsiran "sepotong" dari 2 Petrus 3:8, dikatakan bahwa dunia ini sudah berjalan sepanjang 6000 tahun karena seribu tahun diwakili dengan satu hari "penciptaan".

  2. Menjelang akhir dari masa "hari keenam", yang dimulai dengan kedatangan Kristus pertama kalinya, penderitaan dan penganiayaan terhadap umat percaya meningkat sampai pada puncaknya yaitu bangkitnya Antikristus (1 Tesalonika 2:3-10, 1 Yohanes 2:18).

  3. Saat Antikristus sedang berkuasa penuh, Kristus akan datang dengan kemuliaan-Nya, mengatasi semua musuh-musuh-Nya, membangkitkan orang Kristen yang telah meninggal dan mendirikan Kerajaan Seribu tahun (inilah "hari ketujuh", Sabat).

  4. Pada akhir dari periode ini si jahat akan bangkit untuk menghadapi penghakiman terakhir.

  5. Akhir dari semuanya ini ciptaan baru akan tampak (2 Petrus 3, Wahyu 22).

Di sini kita mengetahui bahwa yang dimaksud dengan akhir zaman adalah masa yang meliputi akhir "hari keenam" hingga "hari ketujuh" secara penuh. Tidak jelas apakah bagi aliran ini konotasi akhir zaman sama dengan zaman akhir.

Pandangan Premilenialisme Dispensasionalisme

Sistem Dispensasionalisme ini membagi zaman menjadi tujuh bagian. Secara ringkas ajaran mereka sebagai berikut.

  1. Bangsa Israel akan menduduki tempat yang istimewa di bidang ekonomi, dan ini merupakan bentuk sementara dari Kerajaan Allah. Karena kemurtadan mereka, kerajaan digulingkan dan menunggu pemulihannya pada waktu Mesias datang.

  2. Gereja hanya merupakan suatu sisipan di dalam sejarah kerajaan. Ini disebut semacam selang waktu yang mendatangkan berkat anugerah Injil bagi bangsa-bangsa lain.

  3. Kedatangan Kristus sudah dekat, dan Ia akan datang bilamana saja. Tidak ada suatu kejadian pun yang harus digenapi lebih dahulu sebelum Ia datang.

  4. Kedatangan Kristus yang kedua terdiri dari dua peristiwa yang terpisah yang diselangi tujuh tahun. Yang pertama adalah bagi para orang suci-Nya, sedang yang kedua bagi kaum Israel. Sesudah periode ini Kristus akan datang kembali bersama orang suci-Nya. Bangsa-bangsa yang masih hidup akan dihakimi, para suci yang mati pada penganiayaan yang besar akan dibangkitkan, Antikristus dihancurkan dan setan diikat (Wahyu 20:1-2).

  5. Kemudian Kerajaan Seribu Tahun akan didirikan di bumi. Warga yang sesungguhnya adalah orang-orang Yahudi saja, sedang orang kafir adalah warga yang diadopsi. Kristus akan bertakhta di Yerusalem. Bait Allah akan dibangun lagi dan persembahan dilakukan lagi. Kejadian ini akan disusul dengan perdamaian dan kemakmuran, dan pada periode ini dunia akan bertobat.

  6. Pada akhir milenium setan akan dilepaskan sejenak. Gog dan Magog akan bangkit melawan kota suci, tetapi Allah akan berintervensi dan setan dikalahkan, lalu dibuang ke lautan api. Semua orang mati yang belum bangkit akan dibangkitkan dan menghadap takhta pengadilan Allah.

  7. Kemudian sesudahnya akan diikuti kerajaan surga yang kekal.

Jadi bagi mereka definisi akhir zaman meliputi masa kedatangan Kristus pertama, selang waktu tujuh tahun, kedatangan kedua kali, diikuti kerajaan seribu tahun hingga penghakiman terakhir.

Pandangan Pascamilenialisme

Orang-orang penganut pascamilenialisme percaya keempat hal berikut.

  1. Kristus akan datang kembali sesudah Kerajaan Seribu Tahun.
  2. Kerajaan Allah diperluas semasa di dunia ini melalui pekabaran Injil dan pekerjaan Roh Kudus.
  3. Ketika kedatangan Kristus kembali terjadi kebangkitan umum, disusul dengan penghakiman umum, setelah itu mulailah kerajaan kekal.
  4. Kerajaan Allah adalah sekarang ini dan bersifat rohani. Gereja adalah lembaga ilahi yang mengakibatkan kedatangan Kristus dalam kuasa kerajaan-Nya.

Jadi bagi mereka definisi akhir zaman meliputi kedatangan Kristus kembali, kebangkitan umum dan penghakiman umum.

Pandangan Amilenialisme

Menurut William E. Cox, yang mewakili golongan ini dikatakan bahwa bahasa Yunani menggambarkan dua jenis tindakan yang berbeda. Yang pertama berupa garis tindakan yang linier, sedangkan yang lain berupa titik tindakan yang punktilinier (tepat). Hal kedatangan Kristus kedua kali lebih berupa tindakan tepat pada satu titik peristiwa. Istilah-istilah lain yang sinonim dengan kedatangan kedua kali ini adalah: hari Tuhan, hari Tuhan Yesus, hari Yesus Kristus, hari Kristus, harinya Allah, hari itu, hari terakhir, penyataan Kristus, penampakan Kristus, hari-Nya, kedatangan Kristus. Semuanya ini menunjuk pada suatu kejadian yang sama [2].

Boleh dikatakan bahwa definisi akhir zaman adalah masa yang meliputi sejumlah kejadian (kedatangan Tuhan kedua kali, kebangkitan, penghakiman, pemberian pahala bagi para suci, penghukuman bagi orang jahat dan ditutupnya sejarah serta menghantar kepada keadaan final, penyempurnaan kerajaan Allah dan penghukuman akhir bagi setan).

Perspektif Perjanjian Lama

Ayat-ayat yang menyebutkan istilah akhir zaman hanyalah sedikit; di antaranya adalah yang terdapat di dalam kitab Daniel (Daniel 8:19; 11:27,35; 12:4,9,13). Semuanya ini terdapat di dalam bagian catatan mengenai penglihatan yang diterima oleh Daniel. Dalam bukunya, Peter Wongso menyebutkan bahwa kata "Acharith" [Strong #319] atau "Acharon" [Strong #314] berasal dari bahasa Ibrani, yang dalam Septuaginta diterjemahkan sebagai "akhir zaman" atau "yang akhir". Istilah "Eskhata" [Strong #2078] digunakan sebanyak 25 kali [3]. Namun harus diingat bahwa tidak semua kata-kata ini menunjukkan hubungan dengan Eskatologi, kata "Eskhata" lebih berkonotasi pada urutan waktu atau tempat dalam arti yang umum.

Bagian Daniel 12 merupakan bagian yang paling jelas membicarakan hal akhir zaman. Sekalipun demikian, perkara akhir zaman masihlah tersembunyi dan termeterai bagi Daniel, sehingga ia tidak dapat memahaminya. Jadi amatlah sulit bagi kita untuk mendapatkan definisi yang tepat mengenai akhir zaman apabila kita hanya menyelidiki bagian nas Perjanjian Lama saja. Meskipun Perjanjian Lama jelas mempunyai hubungan yang menunjuk kepada bagian akhir dari zaman, namun penggenapan dan penafsiran maknanya harus dilihat dari perspektif Perjanjian Baru.

Perspektif Perjanjian Baru

Perjanjian Baru membedakan istilah "zaman akhir" dengan "akhir zaman". Ayat-ayat yang memuat terminologi "zaman akhir" adalah 1 Korintus 10:11; Ibrani 1:2; 1 Petrus 1:5; 2 Petrus 3:3. Adapun pengertian dari "zaman akhir" ini menunjuk kepada satu masa, yang di masa itu Allah telah berbicara kepada manusia dengan perantara Anak-Nya sendiri, masa ini berlangsung terus sampai "akhir zaman". Sedangkan ayat-ayat yang memuat terminologi "akhir zaman" adalah Matius 13:39,40; 28:20; Yohanes 6:39,54; 11:24; 12:48. Matius memakai kata Yunani "sunteleia aionos" yang berarti "akhir atau kelengkapan suatu masa atau zaman", sedangkan Yohanes memakai istilah Yunani "eskhate hemera" yang berarti "hari terakhir". Kedua jenis istilah ini jelas berkaitan dengan peristiwa-peristiwa eskatologis.

Di sini kita dapat melihat bahwa "akhir zaman" merupakan masa-masa terakhir dari "zaman akhir". Secara sederhana dapat dikatakan bahwa periode yang disebut dengan "zaman akhir" diawali dengan kedatangan Kristus yang pertama kali, yang terbentang hingga penutupan zaman; sedangkan saat-saat "akhir zaman" lebih terpusat pada kedatangan Kristus kedua kalinya, juga berlangsung hingga penutupan zaman. Meskipun yang disebut belakangan ini adalah relatif cukup singkat dibandingkan dengan yang disebut terdahulu.

Kesimpulan

Dari berbagai pandangan di atas tampaklah bahwa semua aliran memercayai kedatangan Kristus kedua kali pada akhir zaman nanti. Kedatangan ini akan disertai dengan bermacam peristiwa-peristiwa eskatologis, seperti: kebangkitan, pengangkatan, penghakiman, dan disusul dengan masuknya atau lebih tepat tibanya keadaan final yang bersifat kekal.

Alkitab juga memusatkan ajaran eskatologisnya pada momen kedatangan Kristus kedua kalinya. Meskipun zaman akhir sudah datang semenjak Kristus berinkarnasi, namun akhir zaman dititikberatkan pada kedatangan-Nya kedua kali.

Dengan pengertian di atas, kita dapat mendefinisikan "akhir zaman" sebagai:

"Suatu masa di penghujung zaman akhir, secara kronologis berada di bagian akhir dari masa Perjanjian Baru, yang juga merupakan jangka waktu sebelum dan sesudah kedatangan Kristus kedua kali pada saat mana sejarah alam semesta akan berakhir dan beralih pada keadaan final yang kekal."

Catatan Kaki:

[1] G.I. Williamson, The Westminster Confession of Faith (Philadelphia: Presbyterian & Reformed 1964), 26.
[2] William E. Cox, Amillennialism Today. (Phillipsburg: Presbyterian & Reformed, 1966). 83, 84.
[3] Peter Wongso, Hermeneutika Eskatologi: Metode Penafsiran Ajaran Akhir Zaman. (Malang. SAAT, 1989), 5.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jurnal PELITA ZAMAN, volume 5, nomor 1 (1990)
Penulis : Andreas Hauw
Penerbit : Yayasan Pengembangan Pelayanan Kristen
Pelita Zaman, Bandung 1990
Halaman : 37 -- 41
Kategori: 

Komentar