GSM-Pelajaran 01

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01b | Referensi 01c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu Kelas Pemula (GSM)
Nama Pelajaran : Pengenalan Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-P01

Pelajaran 01 - PENGENALAN SEKOLAH MINGGU

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

  1. DASAR-DASAR PELAYANAN ANAK DAN SEJARAH SEKOLAH MINGGU
    1. Pelayanan Anak Masa Perjanjian Lama
    2. Pelayanan Anak Masa Perjanjian Baru
    3. Sejarah Sekolah Minggu
  2. MENGAPA ANAK-ANAK?
    1. Masa kanak-kanak yang istimewa
    2. Tantangan Melayani Anak
    3. Rencana Tuhan Bagi Anak-Anak
    4. Panggilan Pembina Anak dalam Melayani Anak
  3. SEKOLAH MINGGU (SM) YANG MEMILIKI PANGGILAN
    1. Visi Sekolah Minggu
    2. Misi Sekolah Minggu
    3. Tujuan Sekolah Minggu

Doa

PENDAHULUAN

Untuk melayani dengan baik seorang guru Sekolah Minggu perlu mengerti dengan jelas dasar-dasar alkitabiah mengapa Allah menghendaki kita dan gereja-Nya memberikan perhatian kepada pelayanan untuk anak-anak. Tidak jarang Sekolah Minggu dianggap sebagai pelayanan sampingan gereja karena secara proporsional gereja memang seringkali memberikan pelayanan yang jauh lebih besar kepada jemaat dewasa dibandingkan kepada anak-anak. Oleh karena itu, melalui pelajaran pertama ini mari kita belajar lebih jauh tentang panggilan pelayanan Sekolah Minggu.

A. DASAR-DASAR PELAYANAN ANAK DAN SEJARAH SEKOLAH MINGGU

Mempelajari apa yang Alkitab katakan tentang anak-anak dan juga melalui sejarah pelayanan SM, kita dapat menarik prinsip-prinsip tentang pentingnya gereja mendidik anak-anak dengan pokok-pokok iman Kristen.

  1. Pelayanan Anak Masa Perjanjian Lama (Ulangan 6:4-7)
    Kalau kita menelusuri kembali zaman Perjanjian Lama, maka sebenarnya Alkitab telah memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan rohani anak. Pada masa itu pembinaan rohani anak dilakukan sepenuhnya dalam keluarga (Ulangan 6:4-7). Sejak sebelum usia lima tahun anak telah dididik oleh orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh. Pada masa pembuangan di Babilonia (500 SM), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah Sinagoge di mana mereka dapat belajar firman Tuhan kembali, termasuk di antara mereka adalah anak-anak kecil. Orang tua wajib mengirimkan anak-anaknya yang berusia di bawah lima tahun ke Sinagoge. Di sana mereka dididik oleh guru-guru sukarelawan yang mahir dalam kitab Taurat. Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru menjadi fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

  2. Pelayanan Anak Masa Perjanjian Baru (1 Timotius 3:15)
    Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diizinkan pulang ke Palestina, mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah Sinagoge ini di Palestina sampai masa Perjanjian Baru. Sebagaimana anak-anak Yahudi yang lain, ketika masih kecil Tuhan Yesus juga menerima pengajaran Taurat di Sinagoge. Dan pada usia dua belas tahun Yesus sanggup bertanya jawab dengan para ahli Taurat di Bait Allah. Tradisi mendidik anak-anak secara ketat terus berlangsung sampai pada masa rasul-rasul (1 Timotius 3:15) dan gereja mula-mula. Namun, tempat untuk mendidik anak perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di Sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul.

    Tetapi sayang sekali pada abad pertengahan gereja tidak lagi memelihara kebiasaan mendidik anak seperti abad-abad sebelumnya. Bahkan orang dewasa pun tidak lagi mendapatkan pengajaran firman Tuhan dengan baik. Barulah pada masa Reformasi, gerakan pengembalian kepada pengajaran Alkitab dibangkitkan lagi, dan pendidikan terhadap anak-anak mulai digalakkan kembali, khususnya melalui kelas Katekismus (kateksasi). Untuk itu, hanya para pekerja gereja sajalah yang diizinkan untuk terlibat dalam pembinaan. Namun, kurangnya orang yang terlatih untuk mengajarkan kelas Katekismus menyebabkan pelayanan anak menjadi mundur bahkan perlahan-lahan tidak lagi menjadi perhatian utama gereja dan diadakan hanya sebagai prasyarat bagi anak-anak yang akan menerima konfirmasi (baptis sidi).

  3. Sejarah Sekolah Minggu
    Barulah pada abad 18, seorang wartawan Inggris bernama Robert Raikes, digerakkan oleh rasa cinta kepada anak-anak, membuat suatu gerakan yang akhirnya mendorong lahirnya pelayanan Sekolah Minggu.

    Pada masa akhir abad 18, Inggris sedang dilanda suatu krisis ekonomi yang sangat parah. Setiap orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan anak-anak dipaksa bekerja untuk bisa mendapatkan penghidupan yang layak. Pada saat itu, wartawan Robert Raikes mendapat tugas untuk meliput berita tentang anak-anak gelandangan di Gloucester bagi sebuah harian (koran) milik ayahnya. Apa yang dilihat Robert sangat memprihatinkan sebab anak- anak gelandangan itu harus bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Apa yang dilakukan anak-anak pada hari Minggu itu? Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi mereka yang dihabiskan untuk bersenang-senang. Tapi karena mereka tidak pernah mendapat pendidikan (karena tidak bersekolah), anak-anak itu menjadi sangat liar. Mereka minum-minum dan melakukan berbagai macam kenakalan dan kejahatan.

    Melihat keadaan itu Robert Raikes bertekad untuk mengubah keadaan. Ia dengan beberapa teman mencoba melakukan pendekatan kepada anak-anak tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di sebuah dapur milik Ibu Meredith di kota Scooty Alley. Selain mendapat makanan, di sana mereka juga diajarkan sopan santun termasuk membaca dan menulis. Tapi hal paling indah yang diterima anak-anak di situ adalah mereka mendapat kesempatan mendengar cerita-cerita Alkitab. Pada mulanya pelayanan ini sangat tidak mudah. Banyak anak yang datang dalam keadaan yang sangat kotor dan berbau. Namun, dengan cara mendidik yang disiplin, kadang dengan pukulan rotan yang dilakukan dengan penuh cinta kasih, anak-anak itu akhirnya belajar untuk mau dididik dengan baik, sehingga semakin lama semakin banyak anak yang datang ke dapur Ibu Meredith. Semakin banyak juga guru yang disewa untuk mengajar mereka, bukan hanya untuk belajar membaca dan menulis tapi juga Firman Tuhan; perjuangan yang sangat sulit tapi melegakan. Dalam waktu empat tahun sekolah yang diadakan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan ke kota-kota lain di Inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.

    Mula-mula, gereja tidak mengakui kehadiran gerakan Sekolah Minggu yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi karena kegigihannya menulis ke berbagai publikasi dan membagikan visi pelayanan anak ke masyarakat Kristen di Inggris, dan juga atas bantuan John Wesley (pendiri gereja Methodis), akhirnya kehadiran Sekolah Minggu diterima oleh gereja. Mula-mula hanya oleh gereja Methodis, namun akhirnya juga oleh gereja-gereja Protestan lain. Ketika Robert Raikes meninggal dunia tahun 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Dari pelayanan anak ini, Inggris tidak hanya diselamatkan dari revolusi sosial, tapi juga diselamatkan dari generasi yang tidak mengenal Tuhan.

    Gerakan Sekolah Minggu yang dimulai di Inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika. Dan dari para misionaris yang pergi melayani ke negara-negara Asia, akhirnya pelayanan anak melalui Sekolah Minggu juga hadir di Indonesia.

B. MENGAPA ANAK-ANAK?

  1. Masa Anak-Anak yang Istimewa
  2. Ada beberapa alasan mengapa masa anak-anak menjadi masa yang istimewa dan penting untuk kita perhatikan.

    1. Masa anak-anak adalah masa yang paling banyak diingat. Masa anak-anak diingat paling banyak dan membekas paling lama dibandingkan dengan masa-masa umur yang lain.

    2. Masa anak-anak adalah masa di mana anak paling banyak belajar. Dunia anak-anak adalah dunia baru yang penuh dengan pengalaman-pengalaman baru yang menggairahkan untuk dijelajahi. Pengetahuan dan pengalaman apa saja yang disajikan di hadapan mereka akan mereka lahap. Masa anak-anak adalah masa yang haus untuk belajar.

    3. Masa anak-anak adalah masa pembentukan yang paling mudah. Dunia anak-anak adalah dunia yang penuh kepolosan karena hati mereka masih jujur dan bersih, belum banyak dicemari oleh dosa yang jahat. Kebiasaan-kebiasaan buruk belum terbentuk. Oleh karena itu, jika anak mendapat pengajaran yang baik di masa kecil maka hidup masa dewasanya akan jauh lebih mudah untuk dibentuk.

  3. Tantangan Melayani Anak
  4. Para pelayan anak, khususnya yang ada di kota besar, sering dihadapkan pada situasi yang lebih rumit. Tidak semua anak yang dilayani adalah anak-anak yang ceria, polos, dan haus untuk belajar. Tidak jarang mereka datang dari lingkungan yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang. Banyak di antara mereka yang menjadi korban kejahatan orang dewasa dan lingkungan sekitarnya.

    Tantangan lain yang sering muncul justru dari gereja sendiri. Banyak gereja yang belum memberi perhatian serius terhadap pelayanan anak. Pelayanan anak seringkali hanya berfungsi sebagai tempat penitipan anak selagi orang tua mereka ada dalam kebaktian gereja. Gereja juga sering tidak memasukkan pelayanan anak sebagai bagian dari program gereja. Pada kenyataanya, anak-anak jemaat sebenarnya adalah generasi jemaat masa depan gereja. Oleh karena itu, jika gereja tidak memberikan perhatian kepada pelayanan anak, gereja sedang menghadapi masa depan yang suram.

  5. Rencana Tuhan Bagi Anak-anak
  6. Rencana Tuhan terhadap manusia meliputi rencana Tuhan terhadap anak-anak juga. Dalam Kejadian 1:28, Tuhan memerintahkan manusia untuk berkembang dan bertambah banyak. Tuhanlah yang membentuk manusia sejak dia masih bakal anak di dalam kandungan ibunya, sekaligus merancang kehidupan yang akan dilaluinya (Mazmur 139). Tuhan juga ingin memulihkan bangsa Israel dengan membentuk generasi baru yang bisa masuk ke tanah Kanaan (Bilangan 21:4-9). Tuhan juga merencanakan pembangunan Yerusalem baru yang penuh dengan anak-anak laki-laki dan perempuan yang bermain di jalanan (Zakaria 8:3).

    Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, anak-anak yang lahir telah mewarisi dosa (Mazmur 51:7), dan anak-anak juga akan menghadap takhta pengadilan Allah (Wahyu 20:12-15). Oleh karena itu, anak-anak juga membutuhkan keselamatan dari Tuhan (Matius 18:14). Melalui kuasa kelahiran baru Roh Kudus, Tuhan memberikan rencana baru bagi manusia, termasuk anak-anak. Mereka akan bertumbuh menjadi milik kepunyaan-Nya dan berkarya bagi kemuliaan-Nya (Roma 11:36).

    Anak-anak yang memiliki hati yang lemah lembut, merupakan tanah yang baik dan ladang yang paling cocok untuk ditanami kebenaran Alkitab. Alkitab pun mencatat bahwa anak-anak dapat percaya kepada Tuhan, dapat menyesali dosanya, dan dapat memeroleh keselamatan dari Tuhan, bahkan orang dewasa patut meneladani sikap anak-anak ini (Markus 10:15).

  7. Panggilan Guru SM untuk Melayani Anak
  8. Sebagai pelayan Tuhan, kita telah dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam membentuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Melalui kita, Tuhan ingin agar anak-anak ini mengenal Pencipta mereka; bertemu dengan Dia dan diubahkan menjadi ciptaan baru. Pelayanan anak atau Sekolah Minggu tidak semata-mata dibentuk untuk mendidik mereka menjadi anak-anak manis yang mempunyai sikap baik budi. Itu bukan tujuan utama Tuhan bagi anak-anak. Tapi, pertama, mereka harus berjumpa secara pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Dan apa yang telah dimulai oleh-Nya, akan disempurnakan-Nya pula.

    Pendidikan rohani melalui pelayanan anak dan Sekolah Minggu akan menjadi dasar pertumbuhan rohani seorang anak untuk dapat mengenal kebenaran Alkitab, menyembah dan memuji Tuhan, serta mengasihi pekerjaan-Nya. Apabila mereka telah dimenangkan, generasi selanjutnya juga telah dimenangkan karena merekalah penerus dan pemimpin generasi yang akan datang. Tidak bisa disangkal bahwa 50% anggota jemaat gereja pada umumnya berasal dari anggota Sekolah Minggu. Oleh karena itu, kita perlu melayani anak-anak dan memberi perhatian besar kepada mereka. Jika kita memenangkan anak-anak, kita tahu kita sedang memenangkan gereja masa depan.

C. SEKOLAH MINGGU YANG MEMILIKI PANGGILAN

  1. Visi Sekolah Minggu
  2. "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat" (Amsal 29:18). Pertanyaan: apakah yang mendasari didirikannya Sekolah Minggu di tempat Anda melayani? Sekolah Minggu tidak didirikan karena keinginan manusia saja. Allahlah yang menggerakkan manusia yang dikasihi-Nya untuk memiliki kerinduan menjangkau jiwa-jiwa "kecil" bagi kerajaan-Nya. Visi Sekolah Minggu adalah melihat jauh ke depan kepada kerinduan Allah untuk bersekutu dengan manusia, di antaranya adalah anak-anak yang masih muda belia, supaya melalui mereka kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan.

  3. Misi Sekolah Minggu
  4. "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu." (Matius 19:14). Pertanyaan: apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan untuk Sekolah Minggu tempat kita melayani? Melalui Sekolah Minggu kita ingin agar anak-anak dapat dengan bebas datang kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia menjadi Juruselamat pribadi mereka.

  5. Tujuan Sekolah Minggu
  6. "Gembalakanlah domba-domba (kecil)-KU." (Yoh 21:18). SM bertujuan untuk:

    1. menjadi sarana yang dapat dipakai Allah untuk mengumpulkan anak-anak dan memberitakan Firman Tuhan kepada mereka;

    2. menjadi sarana agar anak-anak mendapat siraman kasih Allah melalui persekutuan yang diadakan;

    3. menjadi sarana agar anak-anak dimuridkan dan menjadi alat bagi pelebaran kerajaan-Nya.


Akhir Pelajaran (GSM-P01)

DOA

"Terima kasih Tuhan atas panggilan mulia yang Kau berikan padaku. Aku rindu menjadi hamba-Mu yang bertanggung jawab terhadap domba-domba kecil yang Kau percayakan kepadaku. Pakailah hidupku Tuhan." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: