| Nama Kelas | : | Membina Pernikahan Kristen |
| Nama Pelajaran | : | Berbagai Bentuk dari Keluarga |
| Kode Pelajaran | : | MPK-P04 |
Pelajaran 04 -- Berbagai Bentuk dari Keluarga
Daftar Isi
- Keluarga Tanpa Anak
- Pola Perjanjian Lama
- Pola Perjanjian Baru
- Prinsip Baru dari Tuhan Yesus
- Beberapa Kepercayaan yang Salah
- Keluarga dengan Orang Tua Tunggal
- Penyebab Menjadi Orang Tua Tunggal
- Pasangan Meninggal
- Perceraian
- Tidak Menikah (Anak di Luar Nikah)
- Mengisi Peran yang Hilang
- Jika Hanya Ibu
- Jika Hanya Ayah
- Orang Tua yang Tidak Sepadan (Beda Agama)
Doa
Pelajaran 04 -- Berbagai Bentuk dari Keluarga
Ketika kita berpikir tentang sebuah keluarga, pada umumnya kita berpikir tentang pasangan suami istri dan anak-anaknya. Dalam Pelajaran ini, kita akan melihat pola keluarga yang berbeda. Ada pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak, ada keluarga yang hanya memiliki satu orang tua, dan ada juga pasangan suami istri yang tidak sepadan. Allah mengasihi semua pola keluarga ini jika mereka mau menyerahkan diri kepada Tuhan.
- Keluarga Tanpa Anak
- Pola Perjanjian Lama
- Pola Perjanjian Baru
- Prinsip Baru dari Tuhan Yesus
- Beberapa Kepercayaan yang Salah
- "Tidak punya anak adalah kesalahan istri."
- "Tidak mempunyai anak berarti pernikahannya gagal."
- "Tidak mempunyai anak merupakan hukuman Allah atas dosa."
- "Jika mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, mereka pasti akan mendapatkan anak."
- Keluarga dengan Orang Tua Tunggal
- Penyebab Menjadi Orang Tua Tunggal
- Pasangan Meninggal
Tidak semua keluarga dikaruniai anak oleh Tuhan. Jika kembali kepada prinsip keluarga sejati, yang mengharapkan keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak, kondisi tanpa anak akan membuat keluarga merasakan kekurangan. Kita perlu belajar apa yang dikatakan Alkitab mengenai keluarga tanpa anak dan bagaimana Tuhan melihat kondisi keluarga ini.
Pada masa Perjanjian Lama (PL), mempunyai banyak anak dianggap sebagai berkat bagi keluarga. Banyak anak artinya Tuhan berpihak pada mereka. "Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN." (Mzm. 128:3-4) Sebaliknya, tidak mempunyai anak dianggap sebagai aib, suatu tanda bahwa Allah tidak memberkati mereka. Namun di pihak lain, kita juga melihat bahwa tanpa anak, keluarga PL sebenarnya masih dihargai. Elkana berkata kepada istrinya Hana yang tidak mempunyai anak, "Bukankah engkau lebih berharga bagiku daripada sepuluh anak laki-laki?" (1Sam. 1:8).
Bangsa Israel tinggal di antara bangsa-bangsa penyembah dewa-dewa kesuburan. Namun, bangsa Israel memandang Allah sebagai sumber Pemberi hidup dan berkat satu-satunya, "buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu" (Ul. 28:4). Bacalah Kej. 30:1-2 untuk mendengarkan tangisan Rahel yang mengeluh kepada suaminya karena tidak memiliki anak. Yakub dengan marah menjawab "Akukah pengganti Allah yang telah menghalangi engkau mengandung?"
Dalam Perjanjian Baru (PB), setelah kedatangan Sang Mesias, ada perubahan sikap terhadap ibu. Ada perubahan secara berangsur-angsur tentang pemikiran bahwa hal paling utama bagi wanita adalah memiliki anak. Nilai dari seorang wanita tidak lagi bergantung pada jumlah anak yang dilahirkannya. Namun, titik beratnya beralih dari kelahiran secara fisik menjadi kelahiran secara rohani, yaitu menjadi keluarga Allah melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
Dalam 1Tim. 5 juga disebutkan tentang hal mempunyai anak. Paulus menasihatkan untuk menangani masalah janda-janda yang masih muda, mengikuti apa yang diinginkan oleh budaya setempat, yaitu menikah lagi dan mempunyai anak. Alasannya adalah masalah moral (1Tim. 5:11) dan masalah beban hidup (1Tim. 5:16).
Tuhan Yesus menghormati ibu-Nya, Maria. Namun, Ia menunjukkan bahwa dalam pandangan Allah, seorang wanita tidak hanya dihargai karena kemampuannya melahirkan anak, tetapi karena melakukan kehendak Tuhan. Bacalah dalam Luk. 11:27 tentang wanita yang berteriak di antara orang banyak, "Diberkatilah rahim yang telah melahirkan Engkau dan buah dada yang menyusui Engkau." Yesus menjawab, "Berbahagialah orang-orang yang mendengarkan firman Allah dan menaatinya." Ada banyak karunia lain yang sama pentingnya dengan karunia memiliki anak. Seseorang dapat menyenangkan Allah dengan mempunyai anak atau tanpa anak.
Ada beberapa idealisme dalam pernikahan. Salah satunya adalah pernikahan dipandang sebagai alat prokreasi (alat atau sarana untuk mempunyai anak). Anak adalah fokus atau orientasi utama dalam pernikahan. Ini adalah pemikiran yang salah. Pemikiran apa lagi yang salah?
Yang benar: Tidak mempunyai anak bukanlah "kesalahan" suami ataupun istri. Saat ini, ada cara-cara medis yang dapat dilakukan untuk menolong pasangan untuk mempunyai anak, dan mereka hendaknya tidak ragu-ragu untuk meminta nasihat dari dokter yang kompeten.
Yang benar: Meskipun tidak ada anak-anak yang dilahirkan, ada banyak alasan pernikahan dapat terus bertahan, berbahagia, dan diberkati. Mempunyai anak hanya salah satu alasan adanya pernikahan. Dapat saling berbagi kasih, membantu untuk menjadi apa yang Allah inginkan, menguatkan, dan menghibur -- semuanya itu dapat memberikan kepuasan yang penuh. Kemampuan melahirkan anak belum membuktikan apa-apa. Masih ada banyak lagi yang bisa ditunjukkan untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang ibu atau ayah yang baik.
Yang benar: Tidak dikaruniai anak bukanlah tanda bahwa Allah sedang menghukum dosa kita. Anak adalah salah satu karunia Allah, masih ada banyak karunia lain yang dapat Allah berikan untuk Anda.
Yang benar: Jika sepasang suami istri mengasihi Allah, mereka harus percaya bahwa apa pun yang diberikan Allah kepada mereka adalah yang terbaik, dan bukan terbaik nomor dua. Jika pasangan telah berkonsultasi dengan dokter yang baik, sudah melaksanakan nasihatnya, dan berdoa dengan sungguh-sungguh supaya mendapatkan anak -- tetapi kemudian tidak ada anak yang dilahirkan -- Tuhan mempunyai sesuatu yang lebih baik bagi pasangan tersebut.
Ada keluarga yang hanya mempunyai satu orang tua (orang tua tunggal/single parent). Apa penyebabnya? Mari kita simak poin-poin berikut.
Hal-hal yang bisa menyebabkan orang tua menjadi "single parent" bisa karena kematian, perceraian, atau hidup yang tidak bertanggung jawab sehingga memiliki anak di luar nikah.
Yang Allah inginkan adalah sebuah rumah tangga lengkap, yang terdiri dari ayah dan ibu yang saling mengasihi. Namun, banyak orang yang akhirnya membesarkan anak-anak seorang diri. Meski demikian, kita patut berterima kasih kepada orang tua tunggal yang rela menerima tanggung jawab ini.
Ketika anak-anak kehilangan salah satu dari orang tua karena kematian, orang tua yang masih hidup mempunyai tugas yang berat untuk mengasuh anak-anak sendirian. Sementara itu, ia juga berduka dan hidup menyesuaikan diri setelah pasangannya meninggal.
<