Ada beberapa perkataan ayah saya, yang membekas di hati saya dan anak-anaknya walaupun beliau sudah lama tidak ada.
Yang pertama adalah tentang uang.
Ayah saya selalu mengatakan jangan mengukur harga dirimu dengan uang. Karena dirimu adalah sangat jauh berharga. Untuk memilih jodoh pun, beliau selalu berpesan, lihatlah hatinya, jangan uangnya. Kepada kakak yang laki-laki beliau selalu berpesan, jangan cari isteri yang lebih kaya, karena kamu tidak akan didengarnya. Untuk saya dan kakak perempuan saya juga selalu dikatakan, kalau memlilih suami jangan yang kaya, yang cukup saja asalkan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Kalau suami terlalu kaya, dia akan mempunyai isteri banyak dan pasti kamu akan seperti burung dalam sangkar. Meskipun di sangkar emas, tetapi hati kamu menderita.
Yang ke dua dan sama pentingnya adalah mengenai makanan.
Ayah akan sangat murka, bila kita bertengkar gara-gara berebut makanan (tentunya waktu kita masih kecil). Katanya, ayah sangat malu kalau melihat anaknya bertengkar. Uang dan makanan bisa dicari lain kali, tapi saudara… dimana kalian akan mencarinya?
Yang ke tiga adalah tentang arti persaudaraan itu sendiri.
Dimana diantara kami berlima, selalu ada saja masalah yang memicu kepada pertengkaran. Entah itu perang mulut, sampai tonjok-tonjokan. Terutama untuk kakak lelaki.
Dengan marah ayah saya akan memanggil semua anaknya, baik yang terlibat pertikaian ataupun tidak. Dan dengan suaranya yang tidak pernah keras beliau berkata; sekarang ayah masih hidup, kalian selalu bertengkar. Bagaimana nanti kalau orang tua sudah tidak ada, apakah semua akan hidup sendiri-sendiri?
Saudara adalah sangat penting, terutama nanti disaat kalian sudah besar. Dimana jika salah satu ada yang mengalami kesulitan, dia akan minta tolong pada saudaranya. Kalau ayah masih hidup, ayah yang akan bertanggung jawab pada kesulitan kalian, tetapi kalau ayah sudah tidak ada, semuanya akan bertanggung jawab pada saudara lainnya. Biasanya kita semua akan menunduk diam.
Ayah saya, dimata saya adalah seorang yang lucu, pintar mendalang, suka menyanyi uyon-uyon, mengenal segala hal dalam perwayangan, jarang sekali marah, dan yang terpenting beliau sangat sayang pada anak-anaknya, santai dan sangat menikmati hidup. Ayah saya yang tidak tamat sekolah dasar, tidak pandai berdagang (sering ditipu), tapi mampu mengasuh anak hanya mengandalkan hati yang jujur dan kebaikan. Beberapa kali beliau tertipu oleh pelanggan yang berhutang ataupun teman-temannya. Tetapi beliau tidak pernah mengeluh, karena baginya, berbuat baik adalah kebanggaan dan harga diri. Pantang baginya untuk menagih, walaupun itu adalah haknya. Hutang adalah pemberian yang boleh dikembalikan dan boleh tidak. Waktu itu beliau belum mengenal kasih Tuhan kita.
Ayah saya yang bagi manusia adalah bodoh, mampu melindungi dan memelihara anak-anaknya, mampu memberikan ajaran dan membekali anak-anaknya dengan nasehat-nasehat karena dia sangat mengasihi anak-anaknya. Saya juga mencintainya, karena itu saya berusaha menjadi anak yang baik, taat dan manis di hadapan beliau. Karena hanya ingin mendengar pujiannya dan hanya ingin menyenangkannya.
Bagaimana dengan Bapa kita yang di sorga? Yang menciptakan alam raya dan segala isinya, yang datang ke dunia karena KasihNya pada kita dan untuk menggenapi FirmanNya, yang telah menyediakan Roh KudusNya untuk menemani kita selamanya. Demikian besar kasih Bapa pada kita, sampai-sampai Dia tidak pernah meninggalkan kita. Masih adakah keraguan di hati kita untuk percaya akan kekuatan FirmanNya? KemuliaannYa? Dan terutama KasihNya? Sudahkah kita mengingat-ingat perkataanNya? Dan rindu untuk melakukan FirmanNya? Rindu untuk menyenangkanNya?
Mat. 7:11
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."
1Ptr. 5:7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.