TUHAN YESUS MENANGIS

“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Lukas 13:34

Iya,… gue uda tahu! Gue uda kenal ma Tuhan Yesus kok dari gua bayi malah. Kan uda sekolah minggu dari kecil, sekolah juga sekolah Kristen, gue uda tahu semuanya kok. Sekarang aja gue rajin banget ke gereja, en uda mulai aktif lho pelayanan. Kalo malem, cari aja gue di gereja, kan gereja itu rumah keduanya gue. Gue itu uda jadi pengurus, majelis, uda sering ikut persekutuan doa, ikut Bible Study, dll. Mau apa lagi seh?!

Eits,… tunggu dulu. Apa iya uda kenal Tuhan Yesus dari kecil menjadi jaminan bahwa kita benar-benar uda kenal Tuhan Yesus. Kalau gereja uda jadi rumah kedua kita, apa iya itu juga jaminan kalo kerohanian kita juga uda ok? Coba kita lihat ada apa dengan Yerusalem.

Kota Yerusalem itu adalah pusat agama Yahudi, tempat Bait Allah berada. Setiap ada perayaan besar, bangsa Yahudi pasti ke Yerusalem. Di Yerusalem juga banyak terdapat ahli Taurat dan orang Farisi, juga tempat belajar hukum taurat. Jadi secara kasat mata, kota Yerusalem itu ‘rohani’ banget dech! Bahkan bisa dibilang sebagi pusatnya.

Tapiiii, .. kok aneh ya? Kenapa Tuhan Yesus menangisi kota Yerusalem yang terlihat sangat rohani ini(Lukas 19:41, “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, ia menangisinya”)? Bayangkan, Alkitab itu jarang-jarang mencatat Tuhan Yesus menangis lho! Kalau samapi Tuhan Yesus menangis, pasti ada sesuatu yang sangat penting ayng sangat melukai hati Tuhan. Apa itu? Coba kita liat di Lukas 13:34 . Apa yang ditangisii Tuhan Yesus? Yerusalem adalah tempat nabi-nabi dibunuh lho!!? (Uehh!!!... kok, bisa? Trus yang bunuh siapa?) Ya… Yerusalem, alias orang-orang yang mengatakan dirinya rohani dan kenal Tuhan, bahkan telah sangat mengerti Hukum taurat. Kalo bisa dibilang dijaman sekarang, ya… orang2 Kristen, para pengurus, pelayan, majelis bahkan hamba Tuhan! (Lho, kok bisa? Kan mereka uda “sangat rohani”, ga mungkin!!)

Matius 21:
33 "Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.
34 Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.
35 Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.
36 Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.
37 Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
38 Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.
39 Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.
40 Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?"
41 Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."
42 Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.
44 (Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.)"
45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.

Yup, Imam-Imam kepala dan Orang Farisi lah yang dimaksudkan oleh Yesus. Padahal imam kepala dan orang Farisi adalah orang-prang yang sangat tahu akan Firman Tuhan, bahkan yang mengajarkan kepada jemaat. Orang pemimpin agama, yang disegani dan dihormati. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?

Dalam perumpamaan diatas, sangat jelas, para penggarap kebun anggur itu membunuh para hamba pemilik kebun anggur, karena para penggarap itu tidak mau menyerahkan hasil kebun anggur yang “telah dengan jerih lelah digarap” kepada pemilik kepun anggur itu. Mungkin dipikiran mereka, “ kenapa kita harus kasih hasil panen anggur ini? kan kita yang telah menanam, memelihara, memetik, memeras, dll. Kita yang uda capek2 kerja, kok ga menikmati hasilnya. Trus, sekarang ada orang lain yang mau minta hasil panen anggur kita? Wah, ke enakan!” Dan juga anak yang menjadi ahli waris kebun itu dibunuh, agar warisan (kebun anggur) itu menjadi milik mereka sepenuhnya. Lihat betapa serakah dan tidak tahu dirinya para penggarap ini.

Coba kita introspeksi diri. Kita mungkin memiliki peranan yang sangat penting di gereja, entah sebagai pengurus, majelis, pengajar, dll. Sudah begitu banyak yang kita korbankan untuk pelayanan ini. Mulai dari waktu, tenaga, uang, korban persaan juga, dll. Trus, bagaimana jikalau tiba-tiba anak rohani yang kita didik tiba-tiba merasa terbenban untuk pelayanan di beda komisi/ bidang dengan kita, bahkan mungkin di gereja lain? Apakah kita berfikir, “eh… mengapa ada yang mencuri domba gue?”. Lalu jika kita sudah capek-capek membangun sebuah visi misi komisi/ bidang, tiba-tiba datanglah seorang hamba Tuhan baru, yang tak lama kemudian mengobrak-abrik semuanya, bahkan pengajaran kita dikritik, dibilang “itu salah!”. Apa respon kita? Jika kita berbenturan pendapat saat rapat, saat apa yang terjadi tidak seperti apa yang menjadi idealis kita, apa respon kita? Saat semua berubah, kita tidak lagi dihargai seperti dulu, saat muncul orang baru, yang terlihat seperti “saingan kita”, lebih muda dari kita, namun sangat berkharisma dan disegani banyak orang. Apa respon kita?

Jika kita marah, tidak bisa terima, melancarkan siasat baru, melancarkan seranagn balik, sebisa mungkin kita harus bertahan,…mungkin…. Jangan-jangan… kitalah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Kitalah imam kepala dan orang farisi yang membunuh para nabi bahkan Tuhan Yesus sendiri. Mengapa? Karena kita sudah menganggap pelayanan kita, gereja kita sebagai milik kita yang harus dipertahankan, bahkan dari Tuhan sendiri. Kita lupa, bahwa kita bukan pemilik gereja, kita bukan pemilik pelayanan. Kita ini hanya penggarap, orang upahan! Kita ini hanya hamba dan bukan tuan. Jika kita marah karena harga diri kita diserang, terancam, mungkin kita telah lupa siapa kita sebenarnya.Jika kebenaran yang diberitakan mengancam posisi uenaknya kita, lalu kita marah dan menyerang balik? Lupakah kita siapa kita? JIka pelayanan ini milik Tuhan, bukankah hanya Tuhan yang patut menerima hasil jerih lelah kita, yaitu anggur2 itu, segala kemuliaan dan hormat? Jika Tuhan memintanya dari kita, bukankah itu adalah hak-Nya Tuhan, mengapa kita bersitenggang, dan menanggap orang lain telah mengambil hak kita dan menyerang kita?. Apakah benar selama ini kita sedang bekerja di kerajaan Tuhan? Ataukah kita sedang mendirikan kerajaan kita yang beratas namakan Tuhan?

Kepada orang inilah Tuhan Yesus menangis, Ia seperti induk ayam yang ingin mengumpulkan anak-anaknya, tapi… kita sering tidak mau mendengar… mengeraskan hati dan menolak Tuhan. Menolak kebenaran Firman-Nya. Karena kita ingin bertahta diatas kerajaan kita sendiri. Kita ingin memiliki pelayanan dan gereja ini. Dan.. kita lah yang telah membunuh Yesus sebagai ahli waris yang seharusnya menjadi kepala atas gereja dan yang bertahta diatas semuanya, sama seperti imam kepala yang membunuh Tuhan Yesus karena menganggap Dia adalah saingan/ musuh yang hendak mengancam posisi uenak mereka. Apakah Tuhan Yesus sedang menangisi kita?...... hanya kita yang tahu jawabannya.

Jika kita tidak berubah, menolak teguran dan panggilan Tuhan untuk balik kepadaNya, ingat ayat 43. “Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”. Pada akhirnya, semuanya tetap akan diambil dari pada kita… karena kita memang bukan pemilik semuanya. Dan Tuhan sudah tidak mempercayakan lagi kepada kita. Sedih bukan?..... Jangan biarkan Tuhan Yesus menangisi kita.