Ada beberapa contoh kehidupan di masyarakat Jepang yang menarik untuk dipelajari.
Tidak kenal menyerah & harus berusaha keras
Waktu saya bermain puzzle dengan anak-anak teman saya di Jepang, papa dan mamanya memberi semangat kami semua, "Ganbatte ne!" (Ayo berusaha!). Anak yang satu sudah selesai, dan dia gantian memberi semangat kepada yang belum selesai, "Ganbatte!" Akhirnya tinggal saya yang belum selesai, dan mereka beramai-ramai memberi semangat "Ganbatte! Ganbatte!.." sampai saya berhasil meletakkan kepingan terakhir. Saya melihat tidak ada yang mengejek terhadap yang belum selesai menyusun puzzle dan secara spontan dengan riang memberi semangat terhadap yang belum selesai. Semangat terus berusaha dan tidak kenal menyerah ini ternyata ditanamkan sejak dini oleh orang tua kepada anak-anak dari rumah di dalam keluarga. "Ganbatte kudasai" (Ayo berusaha) adalah kata yang mudah didengar di mana-mana.
Di TV disiarkan secara langsung pertandingan eksibisi antara team volley putri Jepang dan Kuba yang diadakan di Tokyo. Team volley putri Kuba adalah team yang terkuat di dunia, dan team Jepang memiliki peringkat jauh di bawahnya. Pada saat pertandingan dilakukan, luar biasa dukungan penonton di stadion terhadap team tuan rumah. Sangat gegap gempita. Team Jepang berlaga dengan keras, tidak kenal menyerah dan mati-matian. Satu persatu angka dikumpulkan, tetapi bukan oleh tuan rumah. Tapi team tuan rumah tetap bersemangat dan dukungan penonton semakin hebat menjelang skor akhir. Hasilnya adalah 24-3 untuk team Kuba. Team Jepang berusaha mengejar dengan bermain jatuh bangun lebih semangat.
Dan akhirnya mereka berhasil menutup pertandingan 25-4 untuk kemenangan team Kuba. Tetapi yang terlihat di stadion dan lapangan adalah layaknya perayaan sebuah kemenangan team. Penonton bersorak-sorai karena tambahan 1 angka sebelum ditutup dengan susah payah oleh team Kuba. Mereka semua tetap bersemangat dan terus berusaha sampai detik terakhir; dan usaha dari seluruh team tuan rumah dihargai oleh penonton sebagai sebuah kemenangan yang gemilang.
Menghormati milik orang lain
Saya sering heran melihat buah jeruk, apel atau buah lainnya bergantungan di pinggir jalan atau depan rumah di Jepang. Saya hanya pikir, ini suatu pemandangan yang mustahil ada di Bekasi.
Suatu hari saya diajak teman saya memancing di laut. Setelah mobil diparkir, kami berjalan turun ke pantai melewati kebun jeruk. Kebunnya sangat luas dan semuanya sedang berbuah lebat. Banyak juga yang berjatuhan busuk di tanah. Karena melihat begitu berlimpah, saya bicara dengan teman saya, "Saya ambil satu yah.." Ternyata dia menggelengkan kepala. "Kenapa?" saya tanya. Dia menjawab, "Karena bukan kita yang menanam." Oh pantas, banyak pohon yang berbuah di tepi jalan dan buahnya dibiarkan berjatuhan begitu saja. Orang tidak mengambil, karena bukan mereka yang menanam.
Membuang sampah pada tempatnya
Di kota besar, sebagaimana di negara maju yang lain - keadaannya bersih sekali. Semua orang membuang sampah pada tempatnya. Bahkan dimana-mana tersedia beberapa tempat sampah: tempat sampah botol beling, tempat sampah kaleng (can), tempat sampah botol plastik & tempat sampah barang yang bisa terbakar. Saya berpikir bahwa itu hanya terjadi di kota-kota besar saja. Ternyata waktu di desa pun keadaannya sama saja. Dimana-mana bersih, bahkan di tepi sawah sekali pun. Ternyata orang di desa juga membuang sampah pada tempatnya.
Di Yokohama ada taman sakura di seberang gereja Baptist International Yokohama. Pada bulan April saat pohon sakura berbunga, taman itu penuh dengan orang-orang yang piknik dengan membawa teman & keluarga. Ribuan orang. Mereka menggelar tikar dan beberapa mendirikan tenda di bawah pohon sakura. Mereka makan minum, menyanyi karaoke, bermain gitar, bermain baseball dan bermain dengan binatang piaraannya; benar-benar menikmati suasana indahnya bunga sakura yang sedang bermekaran. Pohon sakura besarnya seperti pohon mangga. Jika berbunga semua daunnya gugur digantikan dengan bunga di seluruh cabangnya. Itu adalah waktu yang tidak pernah disia-siakan oleh orang Jepang karena bunga sakura hanya mekar setahun sekali selama satu minggu. Sore hari semua orang - ribuan orang itu, berkemas-kemas untuk pulang.
Saat mereka semuanya sudah meninggalkan lapangan dan taman Sakura, lapangan hijau terlihat bersih sekali, seolah-olah tidak pernah ada orang yang datang ke tempat itu sebelumnya. Lebih bersih dibandingkan dengan pagi harinya saat masih terlihat bunga-bunga yang gugur. Di tempat itu tidak tampak satu pun petugas kebersihan. Sebagai gantinya, di halaman parkir di luar taman, tertumpuk plastik-plastik yang berisi sampah bekas makanan dan barang-barang sisa pikinik. Plastik-plastik itu juga sudah terkelompok sesuai dengan jenisnya: sampah botol beling, sampah kaleng (can), sampah kaleng plastik, dan sampah yang bisa terbakar. Di tempat itu baru terlihat satu-satunya tukang sampah di areal taman Sakura yang sangat luas. Dia sedang mengoperasikan mobil sampah yang menaikkan kotak-kotak sampah secara otomatis.
Pemerintah Jepang tidak mempunyai banyak petugas kebersihan karena semua orang dari kota sampai pelosok desa membuang sampah pada tempatnya. Anak-anak di rumah sudah terbiasa memilah-milah pembuangan sampah dan melakukannya dengan tepat.
Mengapa mereka bisa?
Sikap hidup orang Jepang dan anak-anaknya yang tak kenal menyerah, menghormati milik orang lain maupun lingkungan bisa terjadi karena anak-anak dididik langsung oleh ibunya. Anak-anak di Jepang melakukan tepat seperti yang diajarkan oleh orang tuanya. Itu sama dengan kebiasaan anak orang Kristen yang diajar ibunya untuk selalu berdoa sebelum makan. Banyak istri teman saya yang berpendidikan tinggi dan mempunyai karier yang baik. Tetapi setelah menikah mereka berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, mendidik anak dan mengurus rumah tangga.
Waktu saya tanya, "Mengapa berhenti bekerja. Apakah tidak sayang pendidikannya yang tinggi tidak dipakai?" gantian mereka bertanya, "Apakah di rumah itu tidak memerlukan pendidikan yang tinggi?". Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Saya tidak bisa menjawab karena ibu saya juga berpendidikan tetapi memilih untuk tidak bekerja dan mendidik anak-anaknya sendiri; dan saya merasakan anugerah yang besar bahwa saya bisa dididik secara pribadi oleh orang tua saya. Anak-anak belajar hidup secara tepat seperti apa yang diajarkan di rumah.
Di Indonesia banyak keluarga yang sukses dan ekonominya mapan. Umumnya mereka memiliki suami dan istri yang berpendidikan dan keduanya bekerja. Karena kedua orang tuanya bekerja, anak-anak mereka diasuh dan dididik oleh pembantunya. Memang anak-anak itu bisa menyelesaikan pendidikan yang setinggi-tingginya dan mendapat dukungan finansial yang kuat. Tetapi ada satu hal yang berbeda yaitu: pola pikir dan jiwa mereka bukan duplikasi dari orang tuanya mereka - tetapi duplikasi dari pembantunya. Pola pikir dan jiwa seorang pelayan yang digaji dibawah UMR. Indonesia punya banyak orang kaya dan orang jenius; tetapi dengan tanpa memiliki hati sekarang bangsa ini sedang menghancurkan dirinya sendiri melalui perusakan sumber alam, korupsi maupun tindak kejahatan yang mengerikan.
Firman Allah telah mengatakan dari sejak jaman purbakala di dalam kitab Kejadian, bahwa laki-laki harus bekerja keras untuk mencari nafkah, dan istri mengurus anak dan rumah tangga. Keduanya memiliki peranan yang sama penting untuk membangun keluarga Allah yang kuat. Laki-laki adalah kepala keluarga dan istri adalah penolongnya yang sepadan. Keduanya diciptakan oleh Allah pada mulanya untuk melengkapi satu dengan yang lainnya - bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mendidik keturunannya tepat sesuai dengan firman Allah.
Saya bersyukur bahwa sekarang ini di beberapa gereja, kesadaran akan esensi dasar rumah tangga ini kembali dihidupkan dan ditumbuhkan kembali melalui camp Wanita Bijak dan Pria Sejati. Suami dan istri diajar untuk memahami dan melaksanakan kebenaran firman Allah yang meletakkan dasar rumah tangga. Suami adalah imam dan kepala rumah tangga. Istri adalah murid Kristus yang menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya.
--------------
GBU
Indriatmo