Perjalanan untuk Hidup Bagi Allah

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Sebagai orang Kristen, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah umat pilihan Allah, terutama dalam konteks Perjanjian Lama. Kita akan segera dibawa untuk membayangkan kisah sebuah bangsa kecil yang dipimpin oleh Allah Sang Pencipta sampai tiba di Tanah Perjanjian, yaitu Kanaan, dan hidup di sana. Bangsa ini tidak lain lagi adalah bangsa Israel, sebuah bangsa yang tidak besar jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di tanah Kanaan.

Kisah dari bangsa pilihan Allah di Perjanjian Lama ini menjadi sebuah tipologi akan hidup umat Allah di Perjanjian Baru yang dibebaskan dari dosa oleh kematian Yesus Kristus di kayu salib dan diberikan hidup yang baru di dalam kebangkitan-Nya. Secara umum, proses ini dapat digambarkan dalam tiga fase penting: dipilih dan dipanggil, dipimpin keluar, dan hidup setia.

Dipilih dan Dipanggil oleh Allah Menjadi Umat-Nya

Dipanggil dan dipilih

Bangsa Israel merupakan bangsa yang dimulai dari panggilan Allah kepada Abraham. Abraham yang waktu itu masih bernama Abram mendengar panggilan dari Allah yang memerintahkannya untuk keluar dari kota Ur, tempat ia tinggal, menuju suatu tempat baru, yang bahkan tidak diberitahukan oleh Allah pada waktu itu kepadanya. Ur merupakan satu dari tiga kota utama dalam peradaban Sumeria di Mesopotamia pada waktu itu. Abram diminta oleh Allah untuk meninggalkan kota yang begitu maju dan nyaman menuju suatu tanah yang tidak jelas seperti apa. Namun, dengan penuh ketaatan, Abram keluar dari kota tersebut dan pergi ke tanah yang dijanjikan Allah.

Bagaimana Allah memilih Abram keluar dari tanah Ur -- untuk nanti dipanggil dan dipimpin menjadi umat-Nya ini -- menjadi gambaran bagaimana kita sekarang sebagai umat Allah sudah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan untuk menjadi umat-Nya juga. Seperti bagaimana Allah memilih Abram tanpa alasan yang kita ketahui, begitu pula Allah memilih kita, bukan karena kita hidup cukup baik atau kita hidup cukup taat, melainkan karena murni kerelaan kehendak-Nya dalam kedaulatan dan keabsolutan-Nya.

Tidak ada andil apa pun dari kita sebagai manusia yang dapat bersumbangsih dalam pemilihan-Nya pada kita. Fakta bahwa kita begitu tidak berdaya dan tidak memiliki andil sedikit pun dalam pemilihan ini seharusnya tidak membuat kita putus asa, melainkan membuat kita bersyukur dengan sangat karena anugerah-Nya menyatakan cinta kasih-Nya melalui pilihan-Nya kepada kita, manusia berdosa yang layak menerima kebinasaan.

Dipimpin Keluar dari Kegelapan

Setelah Abraham sampai di tanah Kanaan, akhirnya istrinya, Sara, hamil dan melahirkan seorang anak yang menjadi anak yang dijanjikan oleh Allah kepada Abraham, yaitu Ishak. Ishak kemudian memperanakkan Esau dan Yakub yang melahirkan dua belas suku Israel. Di antara dua belas anak, Yusuf paling disayang oleh Yakub melebihi saudara-saudaranya. Yusuf akhirnya dijual oleh saudara-saudaranya ke Mesir sebagai budak untuk menyingkirkannya.

Yusuf yang hendak disingkirkan justru akhirnya menjadi tangan kanan Firaun untuk menyelamatkan Mesir dari kelaparan yang melanda dunia waktu itu. Ketika Yusuf memimpin Mesir inilah, dia kembali bertemu dengan saudara-saudaranya, para pemimpin suku Israel yang kemudian memutuskan untuk tinggal di Mesir dan menghindarkan diri dari kelaparan. Namun, masalah timbul ketika bangsa Israel ini tidak memutuskan untuk kembali ke Tanah Perjanjian, melainkan tetap tinggal di tanah Mesir yang makmur tersebut.

Ketika pemerintah Mesir yang asli digulingkan, Firaun baru tidak mengenal jasa Yusuf yang luar biasa. Ia memerintahkan agar setiap orang Israel dijadikan budak. Perbudakan ini menjadi simbol yang menggambarkan kita yang ada pada zaman ini, yaitu terbelenggu oleh dosa di bawah cengkeraman Iblis. Kita tidak dapat keluar dari belenggu ini sendiri karena kita semua telah jatuh dalam dosa. Sesama orang yang berdosa tidaklah dapat menebus orang berdosa. Dalam konteks bangsa Israel, Musa dipilih oleh Allah untuk membawa keluar bangsa Israel dari Mesir dan kembali ke Tanah Perjanjian. Sosok seorang Musa ini menjadi sosok yang menggambarkan Kristus yang nanti akan datang ke dunia melepaskan kita dari belenggu dosa.

Dipimpinnya bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan ini menjadi sebuah gambaran harapan bagi kita yang hidup diselamatkan oleh Allah melalui Kristus. Seperti umat Israel dibebaskan dari belenggu perbudakan menjadi umat yang bebas, kita juga sudah dibebaskan dari belenggu dosa menjadi umat Allah yang bebas. Namun, kita perlu sadar satu hal bahwa Musa mengatakan kepada Firaun agar melepaskan bangsa Israel untuk sebuah tujuan, yaitu beribadah kepada Allah Sang Pencipta. Tujuan kita dibebaskan dari belenggu dosa pun serupa dengan itu. Kita dibebaskan hanya untuk satu hal, hidup sebagai satu umat bagi Allah dan memuliakan Dia.

Hidup bagi Kristus

Hidup bagi Allah

Tantangan bangsa Israel tidak berhenti sampai keluar dari Mesir saja. Terdapat satu fase yang sangat krusial, yaitu bangsa Israel berulang-ulang kali gagal untuk terus setia hidup bagi Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama. Setelah dipimpin keluar dari Mesir, bangsa Israel terus berkeluh kesah sepanjang perjalanan menuju tanah Kanaan. Bahkan, beberapa kali Allah bersabar dan memenuhi keluh kesah mereka dengan mengirimkan burung untuk mereka makan dan air untuk mereka minum. Namun, hal ini tidak membuat umat Israel menjadi taat kepada Allah. Mereka tetap menjadi bangsa yang tegar tengkuk sampai Allah menghukum seluruh generasi yang keluar dari Mesir mati di padang gurun, kecuali Kaleb dan Yosua, sebelum akhirnya memasuki Kanaan.

Bahkan, jika kita tarik lebih jauh lagi melihat seluruh kehidupan bangsa Israel sepanjang Perjanjian Lama, kita dapat melihat sebuah bangsa yang begitu mudah berubah hati menjadi tidak setia. Raja-raja kerajaan Israel dan Yehuda menggambarkan betapa kedua bangsa tersebut mudah sekali berpindah menyembah ilah-ilah lain. Allah kemudian mendidik mereka dengan memakai bangsa yang tidak mengenal Dia untuk menjadi bidak catur-Nya dalam menghancurkan Israel dan Yehuda.

Kisah kehidupan bangsa Israel ini dengan jelas menggambarkan kehidupan kita pada zaman ini. Kita yang mengaku Kristen seperti bangsa Israel yang sering memberontak dari Allah, tidak ingin kehendak-Nya, melainkan hanya ingin kehendak pribadi kita yang terjadi. Kita sering mengatakan bahwa Kristus adalah Tuhan kita, tetapi apakah kita sudah hidup tunduk kepada Tuhan kita? Allah berfirman kepada bangsa Israel dalam Kitab Imamat 26. Pasal ini dibagi menjadi dua bagian yang amat kontras: berkat yang akan diterima ketika manusia taat dan kutuk yang akan diterima jika kita tidak taat. Kedua sisi ini bagaikan hitam dan putih yang absolut, tidak ada abu-abu di antara keduanya. Hidup kita adalah hidup yang taat kepada seluruh Taurat-Nya dan kehendak-Nya atau hidup yang tidak taat kepada-Nya. Janganlah kita menghibur diri kita dengan mengatakan bahwa kita sudah pergi ke gereja, membaca Alkitab, atau bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi hidup kita di luar itu sama saja dengan dunia ini. Allah tidak pernah hanya meminta sebagian dari hidup kita. Dia selalu meminta agar kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, takluk kepada-Nya, dan mengikut Dia.

Berkat yang kita terima ketika kita dapat taat kepada Allah sebenarnya sudah kita terima sebelum kita dapat berespons, yaitu respons kita untuk taat itu sendirilah yang merupakan berkat terbesar yang kita terima. Yesus mengatakan dalam Matius 6:33 bahwa ketika kita mencari Kerajaan Allah, maka semua berkat lainnya itu hanyalah merupakan tambahan saja.

Kutuk pun sama dengan itu. Kutuk terbesar yang diterima seseorang adalah ketika ia tidak dapat taat kepada Allah dan akhirnya harus dibinasakan dalam neraka. Kita tidak perlu iri atau heran melihat orang yang begitu licik dan berdosa dapat hidup begitu nyaman dan enak. Mereka justru tidak sadar bahwa demi mendapatkan hal yang merupakan tambahan tersebut, mereka melepaskan berkat terbesar yang Allah berikan, yakni iman dan ketaatan di dalam Kristus.

Oleh sebab itu, kita semua sebagai umat pilihan Allah yang sudah dikeluarkan dari belenggu dosa, mari hidup menjadi umat Allah yang taat kepada seluruh Taurat-Nya. Tidak tegar tengkuk dan terus hidup berdasarkan materi, melainkan hidup berdasarkan anugerah terbesar, yaitu keselamatan yang Allah berikan kepada kita melalui darah Kristus yang sudah mati dan bangkit bagi kita. Dengan demikian, hidup kita boleh dipakai untuk menggenapi setiap rencana-Nya dan memuliakan nama-Nya di dunia ini.

Kehidupan bangsa Israel, umat pilihan Allah, mempunyai satu tujuan gambaran, yakni menunggu kedatangan Sang Mesias yang akan melepaskan umat-Nya dari perbudakan dosa. Demikian juga kehidupan orang Kristen hari ini, seluruh perjuangan ketaatan kita seharusnya merupakan gambaran iman kita akan datangnya Kristus yang kedua kali sebagai Raja Kekal. Dialah yang akan membawa kita ke surga, menghidupi hidup yang seutuhnya lepas dari dosa dan yang seutuhnya hanya menjalankan kehendak Allah, menggenapkan rencana-Nya, dan memuliakan nama-Nya. Mari kita hidup dengan menyatakan iman menunggu kembalinya Sang Raja untuk memberikan pelepasan sejati bagi umat-Nya. Soli Deo Gloria!

Sumber asli:
Nama situs : Buletin Pillar
Alamat situs : http://www.buletinpillar.org/artikel/perjalanan-untuk-hidup-bagi-allah
Penulis : David Kurniawan
Tanggal akses : 4 Januari 2017
Kategori: 

Komentar