Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c
| Nama Kursus | : | PENGANTAR PERJANJIAN LAMA |
| Nama Pelajaran | : | Pentingnya Mempelajari Perjanjian Lama |
| Kode Pelajaran | : | PPL-R01b |
Referensi PPL-R01b diambil dari:
| Judul Buku | : | MARI MENGENAL PERJANJIAN LAMA |
| Judul Artikel | : | Pentingnya Mempelajari Perjanjian Lama |
| Penulis | : | Dr. David L. Baker |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997 |
| Halaman | : | 13-14 |
REFERENSI 01b - PENTINGNYA MEMPELAJARI PERJANJIAN LAMA
PENTINGNYA MEMPELAJARI PERJANJIAN LAMA
Perjanjian Lama adalah kumpulan buku-buku yang dikarang lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Maka bisa saja dipertanyakan apakah Perjanjian Lama itu masih perlu dipelajari pada zaman yang modern ini. Kalau kita membeli baju baru, yang lama dapat dibuang. Kalau kita memasuki Orde Baru, yang lama tidak berlaku lagi. Bagaimana tentang Perjanjian Lama? Apakah masih perlu? Ataukah sudah usang? Apakah tidak ada buku-buku baru yang lebih penting untuk dibaca dan dihayati pada akhir abad kedua puluh ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat dijawab dengan beberapa pokok.- Perjanjian lama merupakan Alkitab Yesus Kristus:
- Yesus mengenal sejarah Perjanjian Lama (misalnya Yoh 3:14; bnd. Bil 21:4-9);
- Yesus mendasarkan pengajaranNya pada Perjanjian Lama (lihat Mat. 5:17; bnd. Mark 11:17);
- Yesus menggunakan pengajaranNya untuk menentang pencobaan (lihat Mat. 4:1-11);
- Yesus menyatakan bahwa nubuat-nubuat Perjanjian Lama digenapi dalam diriNya (misalnya Luk. 4:16-21; Yoh 15:25).
- Perjanjian lama sering dikutip oleh Perjanjian Baru. Ada kurang lebih 2650 kutipan dari Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru, yaitu kurang lebih 350 kutipan langsung, dan 2300 kutipan tidak langsung, serta persamaan bahasa. Dengan kata lain, terdapat rata- rata satu kutipan Perjanjian Lama dalam setiap tiga ayat Perjanjian baru. Kitab Yesaya dan mazmur paling sering dikutip (masing-masing lebih dari 400 kali); dan hanya kitab Kidung Agung yang tidak dikutip dalam Perjanjian Baru.
- Perjanjian lama merupakan dasar untuk pengertian Perjanjian baru antara lain:
- dari segi bahasa (Perjanjian Baru ditulis dalam sejenis bahasa Yunani yang banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa Perjanjian Lama);
- dari segi sejarah (sejarah Perjanjian lama dilanjutkan oleh sejarah Perjanjian Baru); dan
- dari segi teologi (tema-tema teologi Perjanjian lama, seperti penciptaan, dosa, hukuman, pertobatan, kurban, keselamatan dan sebagainya menjadi dasar teologi Perjanjian Baru).
- Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dinyatakan Allah yang Esa. Allah Israel adalah sama dengan Bapa Yesus Kristus:
- sifatNya sama (mahakuasa, mahakudus, mahapengasih, dsb.);
- rencanaNya sama (untuk keselamatan manusia dan penyempurnaan dunia yang diciptakanNya);
- tuntutanNya sama (hidup yang suci; kasih kepada Allah dan sesama manusia).
- Perjanjian Lama merupakan firman Allah. Allah berbicara (berfirman) melalui Perjanjian lama, sebagaimana juga melalui Perjanjian Baru, untuk menyatakan kasihNya dan untuk menyampaikan kehendakNya kepada manusia.
- Perjanjian Lama mengandung sastra yang indah, termasuk cerita yang termasyur, seperti cerita Yusuf, Rut, Daud, Elisa, Yunus, Ester dan sebagainya; dan puisi yang bagus seperti dalam Kitab Ayub, Mazmur, Yesaya dan lain-lain.
sabda.org