Apakah Hermeneutika yang Alkitabiah?

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Hermeneutika alkitabiah adalah pelajaran prinsip dan metode penafsiran Alkitab. Dua Timotius 2:15 memerintahkan orang percaya supaya terlibat dalam hermeneutika: "Hendaklah engkau berusaha sungguh-sungguh supaya diakui oleh Allah sebagai orang yang layak bekerja ... mengajarkan dengan tepat ajaran-ajaran benar dari Allah." Tujuan dari hermeneutika alkitabiah adalah membantu kita menafsirkan, mengerti, dan menerapkan ajaran Alkitab dengan tepat.

Lima Roti Dua Ikan

Peraturan utama dari hermeneutika alkitabiah ialah bahwa Alkitab harus ditafsirkan secara harfiah. Kita perlu mengerti Alkitab dengan makna yang sederhana, kecuali jika perikop yang dipelajari dimaksud berupa simbolik atau menggunakan kata kiasan lainnya. Alkitab menuliskan apa yang dimaksud. Sebagai contoh, ketika Yesus berbicara mengenai memberi makan pada "lima ribu orang" di dalam Markus 8:19, peraturan hermeneutika menetapkan bahwa jumlah lima ribu harus dimengerti secara harfiah - ada kerumunan besar orang lapar berjumlah lima ribu orang yang diberi makan roti dan ikan sungguhan oleh mukjizat sang Juru Selamat. Upaya untuk "merohanikan" jumlah itu atau menolak mukjizat itu sama dengan mengabaikan teks serta tujuan bahasanya, yakni menyampaikan pesan. Ada beberapa penafsir yang berusaha menarik kesimpulan yang tidak diutarakan dan tidak dimaksudkan demikian dalam Alkitab, seolah-olah setiap ayat mempunyai makna rohani terpendam yang perlu dibongkar. Hermeneutika alkitabiah membuat kita setia pada makna yang diutarakan Alkitab dan menghindarkan kita dari alegorisasi ayat Alkitab yang seharusnya kita pahami secara harfiah.

Peraturan kedua dalam hermeneutika alkitabiah adalah bahwa ayat harus ditafsirkan menurut penempatannya dalam sejarah, secara tata bahasa aslinya, dan dalam konteksnya. Menafsirkan sebuah ayat menurut penempatannya dalam sejarah menyaratkan kita memahami kebudayaan, latar belakang, dan situasi yang menyebabkan ayat tersebut. Sebagai contoh, untuk memahami pelarian Yunus dalam Yunus 1:1-3, kita harus memahami hubungan sejarah antara bangsa Asyur dengan Israel. Menafsirkan ayat menurut tata bahasanya menyaratkan pemahaman tata bahasa dan nuansa istilah bahasa Ibrani dan Yunani. Sebagai contoh, ketika Paulus menulis tentang "Allah yang Maha Besar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus" dalam Titus 2:13, tata bahasa mengajar bahwa Allah dan Juru Selamat keduanya merupakan istilah yang sejajar dan keduanya berupa keterangan bagi Yesus Kristus - dalam kata lain, Paulus dengan jelas menjuluki Yesus sebagai "Allah yang Maha Besar." Menafsirkan ayat menurut konteksnya juga mensyaratkan pertimbangan kita pada ayat sebelum dan sesudahnya, pasalnya, kitabnya, dan secara umum, Alkitab secara menyeluruh. Sebagai contoh, banyak pernyataan yang membingungkan dalam Pengkhotbah lebih mudah dimengerti dengan latar belakang konteksnya - kitab Pengkhotbah dituliskan menurut sudut pandang duniawi "di bawah matahari" (Pengkhotbah 1:3). Ungkapan di bawah matahari ini muncul setidaknya tiga puluh kali dalam kitab ini, sehingga disediakan konteks bahwa semua di dunia ini merupakan "kesia-siaan."

Peraturan ketiga dalam hermeneutika alkitabiah adalah bahwa Alkitab merupakan penafsir terbaik tentang dirinya. Dengan alasan tersebut, kita selalu membandingkan Alkitab dengan bagian Alkitab lainnya dalam menafsirkan makna sebuah pembacaan. Sebagai contoh, kecaman Yesaya terhadap upaya Yehuda menggalang dukungan Mesir dan mengandalkan pasukan berkuda yang kuat (Yesaya 31:1) dimotivasi oleh perintah khusus Allah yang melarang Israel untuk pergi ke Mesir dan membeli kuda mereka (Ulangan 17:16).

Ada orang yang menghindari topik hermeneutika karena kepercayaan mereka bahwa pelajaran itu akan membatasi kemampuan mereka untuk mendapatkan kebenaran baru dari firman Allah atau memadamkan penerangan firman yang dikaruniakan oleh Roh Kudus. Kepercayaan tersebut tidak pada tempatnya. Hermeneutika alkitabiah berhubungan dengan pencarian penafsiran yang benar mengenai teks yang diilhamkan. Tujuan dari hermeneutika alkitabiah adalah melindungi kita dari penerapan ajaran Alkitab yang salah, atau dari bias yang mewarnai pengertian kita. Firman Allah adalah kebenaran (Yohanes 17:17). Kita ingin melihat kebenaran, mengetahui kebenaran, dan hidup sesuai kebenaran itu sebaik mungkin, dan oleh karena itu hermeneutika alkitabiah itu sangat penting.

Diambil dari:
Nama situs : Got Questions
Alamat artikel : https://www.gotquestions.org/Indonesia/hermeneutika-alkitabiah.html
Judul asli artikel : Apakah Hermeneutika yang Alkitabiah?
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Kategori: 
Taxonomy upgrade extras: