DIK-Referensi 07a

Pelajaran 07 | Pertanyaan 07 | Referensi 07b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kelahiran Baru
Kode Pelajaran : DIK-R07a

Referensi DIK-R07a diambil dari:

Judul : Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus
Pengarang : Richard L. Pratt Jr.
Penerbit : SAAT
Tahun : 1994, 1995
Halaman : 53-55

REFERENSI PELAJARAN 07a - KELAHIRAN BARU

B. Pembaharuan Melalui Kelahiran Baru

Pada saat kita memikirkan mengenai keselamatan dalam Kristus, biasanya kita hanya memikirkan tentang akibat dari percaya kepada Dia bagi kehidupan kekal kita. Hal ini penting, namun untuk lebih tepatnya, saat ini kita perlu memfokuskan dengan lebih teliti pada kepentingan kebalikan dari kejatuhan dan akibatnya pada karakter manusia dalam hal pengetahuan dan moralitas.

Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus persyaratan untuk memasuki kerajaan Allah dengan mengatakan sebagai berikut:

Kamu harus dilahirkan kembali (Yoh. 3:7).

Kelahiran baru harus terjadi pada diri orang tidak percaya. Sebagaimana ia telah lahir di dalam Adam demikian pula ia telah jatuh dalam belenggu dosa, sebagai suatu permulaan, kelahiran baru harus terjadi. Paulus menyatakannya sebagai berikut:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17).

Pada saat kita diselamatkan dari dosa-dosa kita, kita tidak hanya dilahirkan baru secara pribadi: namun kita memasuki suatu ruang lingkup keberadaan yang baru (ciptaan yang baru). Oleh karena itu, seluruh kehidupan orang percaya adalah untuk mengalami perubahan yang berawal dari kelahiran baru.

Paulus menggunakan istilah "ciptaan yang baru" dalam pengertian suatu perintah oleh karena hal ini menunjuk kepada hubungan penebusan dengan asal mula keadaan ciptaan sebelum kejatuhan. Pada saat dunia dan manusia mulai diciptakan mereka belum dicemari oleh dosa. Namun sebagai akibat dari manusia yang memilih untuk berdiri sendiri terlepas daripada Allah, maka seluruh ciptaan telah jatuh ke dalam dosa. Pekerjaan penebusan dari Kristus dapat dikatakan merupakan pembaharuan manusia dan dunia untuk dapat kembali kepada posisi mereka yang semula pada waktu pertama diciptakan.

yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:24). dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol. 3:10).

Orang-orang percaya dalam Kristus diperbaharui menurut sifat mereka yang semula sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Mereka diberikan kebenaran, kesucian dan pengetahuan yang benar, di mana semua itu telah hilang pada waktu kejatuhan. Perhatian khusus harus diberikan pada fakta bahwa pembaharuan melalui kelahiran baru tidak hanya meliputi sebagian dari manusia. Melainkan meliputi seluruh karakternya, bahkan proses berpikirnya.

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan dan menaklukkannya kepada Kristus (2Kor. 10:5).

Orang-orang Kristen pada kenyataannya diperbaharui sampai pada tahap tertentu dalam setiap aspek pribadi mereka kepada keberadaan asal mula sebelum kejatuhan. Kita tidak diselamatkan untuk sekedar berada dalam keadaan yang manis dan menyenangkan. Namun kita diperbaharui sebagai ciptaan baru dan dikembalikan kepada asal mula keberadaan kita sebagai gambar Allah melalui kelahiran baru.

Sebagai gambar Allah yang telah direstorasi, manusia yang telah ditebus merindukan untuk melakukan apa yang adil pada wahyu Allah dalam semua ciptaan dan Firman Tuhan. Dia menyadari bahwa tidaklah cukup hanya mengetahui bahwa hujan merupakan kondensasi dari air yang menguap. Maka dia akan bertanya apakah hujan itu dan bagaimana ia menyatakan karakter dan kehendak Allah. Apabila tidak ada dosa, hal ini tidak akan menjadi masalah. Manusia cukup hanya mengamati dunia dan mengenal Allah melaluinya. Namun oleh karena dosa "maka diperlukan penolong yang lebih baik ditambahkan untuk memimpin kita pada Penciptaan alam semesta ini secara langsung."

Penolong yang lebih baik adalah Firman Tuhan. Orang Kristen berkewajiban mendedikasikan diri untuk menyelidiki Firman Tuhan oleh karena kebenaran di dalamnya akan memimpin kita kepada pengetahuan akan keselamatan. Dan kebenaran-kebenaran itu juga akan memimpin kita kepada pengetahuan akan ciptaan menurut apa yang diwahyukan oleh Allah dan kehendak-Nya atas manusia. Ini tidak berarti bahwa Alkitab menjadi suatu buku pedoman dari ilmu pengetahuan alam. Dengan kata lain sepertinya orang Kristen tidak perlu lagi melihat pada dunia dan cukup hanya dengan membaca Alkitab untuk menemukan kebenaran ilmiah.

Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip dasar secara umum di mana semua penyelidikan akan dunia ini harus berdasarkan atasnya. Misalnya pengetahuan yang sejati mengenai hujan menyatakan kepada kita akan kemurahan Allah dan bagaimana Allah mengharapkan kita untuk memperlakukan musuh kita dengan kebaikan (Mat. 5:45 dan seterusnya). Tentu saja penyelidikan secara ilmiah pada sifat dari hujan akan secara intensif menjelaskan pengertian orang Kristen akan hal-hal ini namun pengetahuan yang benar dari hujan ditemukan berdasarkan penyelidikan yang didasarkan pada Firman Tuhan dan dipimpin oleh Firman Tuhan.

Sebagai ciptaan yang telah diperbaharui, orang Kristen merindukan untuk mempertahankan fakta perbedaan Penciptaan dengan ciptaan dalam Hal pengetahuan dan moralitas. Sehingga orang Kristen dapat memberikan perlakuan yang tepat pada wahyu Allah.

Taxonomy upgrade extras: 

DIK-Referensi 07b

Pelajaran 07 | Pertanyaan 07 | Referensi 07a

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Kelahiran Baru
Kode Pelajaran : DIK-R07b

Referensi DIK-R07b diambil dari:

Judul Buku : Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen
Pengarang : R.C. Sproul
Penerbit : SAAT
Tahun : 1997
Halaman : 227-229

REFERENSI PELAJARAN 07b - KELAHIRAN BARU

Pada waktu Jimmy Carter dipilih menjadi presiden Amerika Serikat, dia menyatakan bahwa dirinya adalah "orang Kristen yang telah lahir baru." Kemudian Charles Colson, orang penting di dalam pemerintahan Nixon di Gedung Putih, menulis buku yang laku keras, dengan judul "Born Again." Di dalamnya, dia menjelaskan secara kronologis pengalaman pertobatannya menjadi orang Kristen. Oleh karena kedua orang terkemuka ini telah mempopulerkan istilah dilahirkan baru, maka istilah itu telah menjadi bagian dari pembicaraan orang-orang modern.

Untuk menjelaskan bahwa seseorang adalah orang Kristen yang telah lahir kembali, secara teknis ini merupakan bentuk pengulangan. Sebab tidak ada orang Kristen yang tidak dilahirkan kembali. Orang Kristen yang belum lahir baru merupakan istilah yang kontradiksi. Demikian pula, istilah orang non Kristen yang dilahirkan baru merupakan suatu kontradiksi.

Tuhan Yesus yang pertama kali menyatakan bahwa kelahiran baru secara rohani merupakan suatu yang mutlak dibutuhkan untuk memasuki kerajaan Allah. Dia menyatakan kepada Nikodemus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika (dalam terjemahan New King James Version "unlesss" = "kecuali") seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah." [Yohanes 3:3] Kata "kecuali" di dalam pengajaran Tuhan Yesus menandai universalitas kondisi yang dibutuhkan untuk melihat dan memasuki kerajaan Allah. Kelahiran baru, merupakan bagian yang penting di dalam kekristenan; tanpa hal itu, tidak mungkin seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Regenerasi merupakan istilah teologis yang digunakan untuk menjelaskan kelahiran baru. Hal itu menunjuk pada suatu permulaan yang baru. Hal ini lebih dari hanya sekedar "daun yang bersemi kembali setelah musim gugur dan musim dingin." Hal ini menandai suatu kehidupan yang baru di dalam diri seseorang yang secara radikal telah diperbaharui. Petrus berbicara kepada orang percaya: "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana tetapi dari benih yang tidak fana, oleh Firman Allah, yang hidup dan yang kekal." [1Petrus 1:23]

Regenerasi merupakan pekerjaan Roh Kudus atas diri mereka yang secara rohani telah mati (lihat Efesus 2:1-10). Roh Kudus menciptakan kembali hati manusia, membangkitkannya dari kematian secara rohani kepada kehidupan secara rohani. Orang yang mengalami regenerasi adalah ciptaan yang baru. Di mana, pada mulanya mereka tidak memiliki posisi, kecenderungan, atau kerinduan untuk hal-hal yang berasal dari Allah, sekarang mereka berpaling dan memiliki kecenderungan kepada Allah. Di dalam regenerasi, Allah menanamkan suatu kerinduan untuk Diri-Nya sendiri di dalam hati manusia yang tidak dimiliki oleh manusia.

Regenerasi tidak boleh disamakan dengan pengalaman pertobatan seseorang. Sama halnya dengan kelahiran merupakan permulaan kita, dimana kita memasuki suatu kehidupan di luar kandungan, demikian awal dari kehidupan rohani kita. Hal ini terjadi atas dasar inisiatif dari Allah dan merupakan suatu tindakan yang berdaulat, langsung, terjadi secara instan. Suatu kesadaran dan pertobatan kita dapat terjadi secara bertahap, namun kelahiran baru ini sendiri terjadi secara instan. Tidak ada yang hanya sebagian dilahirkan baru, sama halnya dengan tidak ada seorang perempuan yang hamil sebagian.

Regenerasi bukan merupakan buah dari iman, tetapi regenerasi mendahului iman, yaitu sebuah kondisi yang dibutuhkan oleh seseorang untuk beriman. Kita juga tidak berpaling pada regenerasi atau bekerja sama sebagai rekan kerja dengan Roh Kudus untuk menghasilkan regenerasi. Kita tidak memutuskan dan memilih untuk diregenerasikan. Allah memutuskan untuk meregenerasikan kita sebelum kita akan pernah memilih untuk menerima Dia. Secara pasti, setelah kita diregenerasikan oleh kedaulatan dari anugerah Allah, kita memang memilih, bertindak, bekerja sama, dan percaya pada Kristus. Allah tidak beriman untuk kita. Kita dibenarkan berdasarkan iman kita sendiri. Apa yang Allah lakukan adalah membangkitkan kita ke dalam kehidupan secara rohani, membebaskan kita dari kegelapan, keterikatan, dan dari kematian secara rohani. Allah memungkinkan kita mempunyai iman dan aktual bagi kita. Dia membangkitkan iman di dalam diri kita.

Taxonomy upgrade extras: 

DIK-Referensi 10b

Pelajaran 10 | Pertanyaan 10 | Referensi 10a | Referensi 10c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Menang Atas Keinginan Daging
Kode Pelajaran : DIK-R10b

Referensi DIK-R10b diambil dari:

Judul Buku : Ikhtisar Dogmatika
Pengarang : DR. R. Soedarmo
Penerbit : PT. BPK Gunung Mulia
Halaman : 202 - 207

REFERENSI PELAJARAN 10b - MENANG ATAS KEINGINAN DAGING

PENYUCIAN

Tuhan Yesus Kristus mencapai (memperoleh) kelepasan bagi orang percaya. Kelepasan ini pertama-tama ialah pembenaran dari dosa manusia. Dosa yang mendatangkan kutuk Allah. Kristus mencapaikan bagi manusia pembenaran berarti: bahwa orang percaya diberi kedudukan (status) sama dengan Adam sebelum jatuh ke dalam dosa. Maka dari itu masih menghadapi hukum Allah yang harus dipenuhi.

Kristus mencapai pembenaran; apakah orang percaya sekarang diwajibkan juga bekerja sendiri? Seandainya demikian, maka kelepasan yang dicapai oleh Tuhan Yesus hanya sebagian saja.

Memang manusia tidak mempunyai kesalahan lagi terhadap Allah, sebab sudah dibenarkan, tetapi belum menerima keselamatan yang sungguh, sebab belum memenuhi hukum Allah. Dan seandainya sekarang disuruh melanjutkan sendiri pekerjaan untuk mencapai keselamatan, niscaya ia tidak akan mencapainya. Sebab manusia tak mempunyai kecakapan sedikitpun pada dirinya sendiri, yang memungkinkan memenuhi pekerjaan itu.

Syukurlah Kristus mencapai kelepasan selengkapnya, yaitu kelepasan dari dosa dan juga menyelesaikan pekerjaan pemenuhan hukum Allah. Maka sekarang orang yang percaya tidak hanya mempunyai keadaan Adam sebelum jatuh ke dalam dosa, tetapi hukum Allah pun juga sudah memenuhi perjanjian perbuatan yang tidak dipenuhi Adam. Dan Ia memenuhi hukum Allah sebagai kepala perjanjian yang baru. Maka dari itu barangsiapa percaya, ia termasuk di dalam Perjanjian yang dikepalai Kristus, ia juga sudah memenuhi hukum Allah. Inilah yang disebut penyucian yang pasif artinya: orang percaya diberi penyucian Allah. Dengan tidak usah berbuat sesuatupun.

Penyucian ini tidak hanya berada di luar orang percaya, tetapi juga lambat-laun harus jadi pengalaman. Yaitu lambat-laun orang percaya harus hidup suci, memenuhi hukum Allah. Ini diperintahkan oleh Allah sendiri yang dapat kita baca di dalam Kitab Suci. Kerapkali malahan pengikut-pengikut Tuhan Yesus Kristus diwajibkan menjadi sempurna seperti Allah Bapa yang ada di Sorga juga sempurna.

Maka dari itu orang percaya harus berbuat hal-hal untuk mengorbankan diri dan menjuruskan diri kepada Allah. Ini pernah disebut perbuatan yang negatif dan positif, tetapi pada hakekatnya sama. Sebab menjuruskan hidup ke arah Tuhan Allah, itu tentu dengan mengorbankan diri sendiri. Sebab tabiat orang hanya akan menjuruskan hidup kepada dirinya sendiri. Allah mewajibkan hidup suci.

Dan bagi perbuatan-perbuatan yang baik akan diberikan upah sesuai dengan perbuatan (a.l. Mat. 19:29).

Jadi di sini seakan-akan manusia yang mengerjakan. Memang manusia harus sadar di dalam pengabdian terhadap Allah. Tentu saja pada dirinya manusia tidak cakap melaksanakan hukum Allah.

Hal itu Kristus juga mengetahui. Dan di dalam hal ini Ia juga memberi pertolongan: Ia memberikan Roh Kudus yang membantu orang percaya, agar dapat hidup dengan menjuruskan diri kepada Allah. Tetapi pertolongan Roh Suci ini tidak meniadakan kesadaran kehendak orang percaya. Orang percaya harus bertindak dengan segenap hidupnya, tetapi yang membantu ialah Roh Suci. Inilah yang disebut penyucian yang aktif, artinya: orang percaya harus bertindak. Meskipun di dalam penyucian yang aktif, orang percaya tidak akan lupa, bahwa hanya Allah yang memberikan segala sesuatu, juga penyucian. Orang percaya tidak bekerja supaya menerima penyucian, tetapi dari sebab ia sudah diberi penyucian.

Apakah orang percaya menjadi lebih suci di dalam hidupnya? Di dalam Katekismus Heildelberg pertanyaan ini dijawab: Bahwa orang yang tersuci hanya mempunyai permulaan yang kecil saja. Maka dari itu, bahwa orang percaya menjadi suci itu hanya anugerah Allah. Selama hidup orang percaya masih terikat oleh akibat-akibat dosa. Lain daripada itu bagi dia sendiri tidak ada perasaan bahwa ia telah menjadi suci. Makin lama ia berniat untuk memenuhi hukum Allah, makin terang baginya bahwa jauh sekali hidupnya dari kesucian, malahan pada rasanya makin lama makin lebih jauh. Tetapi perasaan ini berakibat bahwa ia juga makin lama makin menyandarkan diri kepada Tuhan Yesus. Makin lama makin insaf bahwa hidupnya hanya berkat anugerah.

Perbedaan antara pembenaran dan penyucian sekarang sudah terang yaitu: Pembenaran diberikan kepada orang pada saat kelahiran kedua kali. Mulai pada saat itulah Allah melihat orang itu melalui kebenaran Kristus. Dan tiap-tiap kali orang ini jatuh, pembenaran diberikan kepadanya atas nama Kristus.

Penyucian jadi dapat dibedakan demikian:

  1. Yang pasif yang sudah lengkap.
  2. Yang aktif yang dalam hidup orang diberikan Tuhan kepada orang yang percaya, yang baru menjadi sempurna kalau sudah diberi kemuliaan di Sorga.

Penyucian jadi juga aktif di dalam orang percaya, yaitu di dalam ia melakukan perbuatan-perbuatan baik. Di sini diulangi lagi bahwa perbuatan baik bukannya untuk mencapai upah keselamatan Sorga, sebab perbuatan yang terbaikpun dicemarkan oleh dosa, maka tidak baik sungguh bagi Allah. Akan tetapi perbuatan-perbuatan baik adalah untuk mengeluarkan rasa terimakasih terhadap Allah, mengucap syukur tentang anugerah yang telah diberikan, yaitu bahwa orang percaya, meskipun orang berdosa, dijadikan putera Allah. Maka sekarang orang percaya berbuat baik, agar supaya jangan mencemarkan sebutannya, yaitu putera Allah. Putera Allah ialah putera daripada Yang Maha Suci, yang juga memerintahkan: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (1Ptr 1:16).

Apakah perbuatan baik itu? Katekismus (soal-jawab 91) menyatakan: hanya perbuatan yang asal dari percaya yang benar, menurut hukum Allah dan hanya bagi kehormatan Allah.

"Berasal dari percaya yang benar" artinya: percaya dalam Yesus Kristus sebagai Juruselamatku. Hal ini berakibat juga: terimakasih tentang hidup yang sudah diberikan.

"Menurut hukum Allah"; jadi bukan menurut pandangan manusia, tetapi menurut firman Allah. Jadi Allahlah yang memberikan norma.

Maksud dari perbuatan baik yaitu kehormatan Allah. Jadi bukan kehormatan orang sendiri atau agar diketahui oleh orang lain. Pun bukan keselamatan sendiri. Maka kepercayaan Kristen tidak boleh disebut Eudemonitis.

Pertanyaan yang dapat timbul sekarang ialah mengenai lawan dari perbuatan baik: Apakah orang dapat kehilangan anugerah dari sebab perbuatannya yang jahat.

Ada yang menjawab: Memang, umpamanya 1Tim 1:19,20 menyatakan hal ini. (Heimeneus dan Aleksander), 2Tim 4:10 (Demas), 2Ptr 2:1; Why 2:5 dan lain-lain.

Jawaban ini harus kita tentang. Sebab seandainya kita menjawab demikian, kita akan mengatakan bahwa pekerjaan Kristus hanya pekerjaan yang separoh saja, yaitu: orang harus berbuat baik supaya anugerah tetap kepadanya. Bahkan pada orang yang berbuat jahat pekerjaan Tuhan Yesus sia-sia belaka. Maka dari itu pekerjaan Allah dikalahkan oleh pekerjaan orang. Pandangan yang demikian itu menentang pengakuan tentang predestinasi, dan harus ditolak.

Memang Kitab Suci menyatakan berlainan daripada pandangan tadi. Permulaan dari segala sesuatu, juga dari keselamatan manusia, ialah Tuhan Allah yang disebut Yahweh, yang tidak berobah, yang Maha Tahu. Baginya tidak ada kemungkinan khilaf. Kalau ia memilih, pilihan ini tepat dan tidak akan hilang lagi. Pemilihan bukannya oleh karena Allah melihat sebelumnya, bahwa orang ini akan berbuat baik dan orang itu akan hidup jahat. Seandainya demikian Allah tergantung kepada manusia. Akan tetapi Allah memilih dengan kedaulatanNya sendiri sebelum sesuatu ada. Ia memilih kepada keselamatan dan pilihan ini tidak akan sia-sia belaka. Bacalah Rm 8:28-30 tentang rantai yang tidak putus atau tidak ada kurang satu hubunganpun: orang yang dikenal ditetapkan menjadi serupa dengan teladan Anak-dipanggil-dibenarkan-dipermuliakan. Ia tidak mungkin memulai sesuatu pekerjaan yang tidak dapat diselesaikannya. Maka rasul Paulus dapat berkata: "Aku yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menceraikan kita dari kasih Allah." Atau dengan firman Kristus sendiri: "Seorangpun tiada dapat merampas dia dari dalam tanganKu; Aku memberi kepadanya hidup yang kekal; maka tiada sekali-kali domba-domba itu akan binasa selama-lamanya."

Memang orang percaya dapat menjadi yakin tentang anugerah Allah. Sudah barang tentu hal ini tidak menimbulkan sikap orang Farisi, sebab segala sesuatu hanya dari anugerah Allah datangnya. Tak ada orang percaya berpikir: "Sekarang saya sudah mencapai maksud saya, maka saya dapat beristirahat saja, hidup dengan enak." Sebab perintah Allah tetap, bahwa kita harus hidup suci, sebab Allah adalah suci.

Tuhanlah yang memberikan ketentuan tentang anugerahNya. Dan ketentuan ini kita perlukan di dalam hidup kita sebagai orang percaya agar hidup kita sungguh-sungguh menuju kehormatan Allah. Seandainya kita senantiasa ragu-ragu tentang hal yang menjadi dasar hidup, maka hidup kita juga selalu penuh dengan kebimbangan. Akan tetapi sekarang batu loncatan kita sudah tetap, yaitu anugerah di dalam Tuhan Yesus. Maka dari itu kita dapat bekerja dengan tenang.

Tinggallah kesukaran-kesukaran di dalam nas-nas 1Tim 1:19,20; 2Tim 4:10; 2Ptr 2:1; Why 2:5. Bagaimanakah artinya nas-nas itu?

Nas-nas itu tidak menyatakan sama sekali, bahwa orang-orang yang menerima anugerah Allah dapat jatuh lagi, kehilangan anugerah lagi.

Pertama: nas-nas tersebut tidak menyatakan apakah Himeneus- Aleksander, Demas, orang-orang yang percaya sungguh-sungguh dalam Tuhan.

Kedua: Kitab Suci tidak menceritakan apakah orang-orang ini kemudian kembali lagi ataukah tidak.

Kadang-kadang Kitab Suci menyatakan, bahwa ada orang yang hatinya sudah diterangi oleh Roh, sudah melihat perbuatan Allah, malahan pernah dikatakan mengecap karunia sorgawi, beroleh bagian dari Roh Kudus (Ibr 6:4-6), namun murtad lagi. Memang hal ini mungkin. Tuhan Yesus Kristus membicarakan hal ini (ump Mrk 3:28; Luk 12:10; Mat 12:31). Orang-orang Yahudi melihat pekerjaan Tuhan Yesus Kristus, melihat dan mendengar segala bukti tentang pekerjaan Tuhan Yesus, meskipun demikian mengatakan bahwa pekerjaan itu dari setan. Di sini ada orang yang menyangkal pekerjaan Allah dengan sadar dan dikatakan bahwa itu pekerjaan setan. Jadi tidak hanya menolak saja, akan tetapi meskipun melihat terang pekerjaan Allah mengatakan itu pekerjaan setan. Maka mengenai peristiwa itu Tuhan Yesus mengatakan tentang dosa terhadap Roh Suci.

Maka orang yang bertindak demikian tidak menyesalkan tindakannya, jadi orang yang takut akan berbuat demikian malahan menunjukkan tidak melakukannya. Hal ini tidak bisa kita katakan: jatuh dari anugerah. Meskipun orang itu sudah diterangi, tidak pernah ada dalam anugerah, belum menjadi kepunyaan Allah (bnd hal 163).

Kesimpulan: anugerah Allah tidak akan hilang oleh karena perbuatan kita, orang percaya, yang jahat. Syukurlah bahwa demikian keadaannya. Bahwa anugerah tidak bergantung kepada orang, meskipun orang yang percayapun jua, akan tetapi hanya bergantung pada Allah. Oleh karena demikian orang percaya boleh dan dapat hidup dengan tenteram: Allah yang memulai, Ia yang melanjutkan, Ia yang mencapai maksudNya (Flp 1:6).

Taxonomy upgrade extras: 

DIK-Referensi 10c

Pelajaran 10 | Pertanyaan 10 | Referensi 10a | Referensi 10b

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Menang Atas Keinginan Daging
Kode Pelajaran : DIK-R10c

Referensi DIK-R10c diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika
Pengarang : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 295-300

REFERENSI PELAJARAN 10c - MENANG ATAS KEINGINAN DAGING

B. PERNYATAAN DOKTRIN KETEKUNAN ORANG-ORANG KUDUS

Doktrin ini harus diungkapkan dengan pernyataan yang teliti, terutama berkenaan dengan kenyataan bahwa istilah "Ketekunan Orang-Orang Kudus" mudah sekali disalah mengerti oleh banyak orang. Pertama kali harus diingat bahwa doktrin ini bukan hanya hendak mengatakan bahwa orang pilihan pada akhirnya nanti pasti diselamatkan, walaupun Agustinus mengemukakan bentuk yang demikian. Tetapi doktrin ini sesungguhnya mengajarkan secara khusus bahwa orang pilihan itu yang sudah mengalami kelahiran kembali dan dengan jelas dipanggil oleh Tuhan untuk memasuki keadaan anugerah, tidak akan pernah sepenuhnya jatuh dari kedudukan itu sehingga gagal masuk ke dalam keselamatan kekal, walaupun mungkin di dalam hidupnya orang tersebut jatuh atau berbuat dosa. Doktrin ini mengatakan bahwa hidup orang yang mengalami kelahiran kembali dan kebiasaan yang tumbuh dari kelahiran kembali itu dalam jalan penyucian, tidak akan pernah musnah sama sekali. Lebih dari itu, kita harus berjaga-jaga terhadap kemungkinan kesalahpahaman bahwa ketekunan ini dianggap sebagai milik yang terkandung dalam diri orang percaya atau sebagai satu tindakan terus-menerus dari manusia, yang olehnya ia bertekun dalam jalan keselamatan. Strong, menyebutkannya sebagai voluntari continuance di pihak orang Kristen di dalam iman dan tingkah laku yang baik, dan aspek manusiawi dari proses Spiritual tersebut, yang jika dipandang dari sisi Ilahi, maka akan menyebutnya sebagai penyucian. Pernyataan ini boleh jadi menimbulkan kesan bahwa ketekunan ini tergantung pada manusia. Akan tetapi Reformed tidak menganggap Ketekunan Orang-Orang Kudus sebagai suatu tindakan atau sikap hati orang percaya, walaupun Reformed percaya dengan sungguh bahwa manusia mempunyai sumbangsih di dalamnya sama seperti yang terjadi dalam penyucian. Mereka bahkan menekankan kenyataan bahwa orang percaya dapat jatuh, jika ia dibiarkan sendiri. Jelasnya, yang menyebabkan adanya ketekunan itu adalah Tuhan, bukan manusia. Ketekunan Orang-Orang Kudus dapat didefinisikan sebagai tindakan Roh Kudus yang terus-menerus dalam diri orang percaya, yang olehnya karya anugerah Ilahi yang dimulai dalam hati manusia terus dilanjutkan dan dibawa kepada kesempurnaan. Hanya oleh karena Allah tidak pernah membuang karya-Nya maka orang percaya dapat terus berdiri sampai pada akhirnya.

C. BUKTI-BUKTI DARI DOKTRIN KETEKUNAN ORANG-ORANG KUDUS

Doktrin ini dapat dibuktikan melalui pernyataan-pernyataan tertentu dari Alkitab dan dari kesimpulan doktrin-doktrin yang lain.

  1. Pernyataan Alkitab secara langsung.

    Ada beberapa ayat penting dalam Alkitab yang patut dipertimbangkan di sini. Dalam Yoh 10:27-29 kita membaca, "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapapun, dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan Bapa." Dalam Rom 11:29 Paulus berkata, "Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya." Hal ini berarti bahwa anugerah yang sudah dinyatakan Allah dalam panggilan-Nya tidak pernah ditarik kembali, seolah-olah Ia menyesali apa yang telah Ia lakukan itu. Pernyataan ini diberikan secara umum, walaupun dalam kaitan dimana ayat itu kita jumpai dapat kita lihat bahwa panggilan itu ditujukan kepada bangsa Israel. Paulus menghibur orang Filipi yang percaya dengan kalimat- kalimat berikut, "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus" (Fil 1:6). Dalam 2Tes 3:3 Paulus berkata, "Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat." Dalam 2Tim 1:12, Paulus mengemukakan perasaan syukurnya dengan berkata, "Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan." Kemudian dalam 2Tim 4:18, Paulus kembali mengagungkan kenyataan bahwa Tuhan akan melepaskannya dari segala yang jahat dan akan menyelamatkannya untuk masuk ke dalam kerajaan surgawi-Nya.

  2. Bukti-bukti berdasarkan kesimpulan dari doktrin-doktrin yang lain.

    Doktrin tentang Ketekunan Orang-orang Kudus ini juga dapat kita buktikan berdasarkan kesimpulan doktrin-doktrin lain.

  3. Dari doktrin pemilihan.

    Pemilihan tidak sekedar berarti bahwa sebagian orang akan dipilih dengan suatu hak-hak khusus eksternal dan mungkin diselamatkan, jika mereka melaksanakan tugas mereka, tetapi doktrin pemilihan berkata bahwa mereka yang termasuk bilangan orang pilihan pada akhirnya akan diselamatkan dan tidak akan kehilangan keselamatan yang sempurna ini. Pemilihan ini berlaku sampai pada akhirnya, sampai kepada penggenapan keselamatan. Dalam mengerjakan pemilihan ini, Tuhan melimpahi orang percaya dengan pengaruh-pengaruh Roh Kudus yang memimpin orang tersebut, bukan saja untuk menerima Kristus, tetapi juga untuk bertekun sampai pada akhirnya dan diselamatkan.

  4. Dari doktrin perjanjian penebusan.

    Dalam perjanjian penebusan, Tuhan memberikan umat-Nya kepada Putera-Nya sebagai upah dari ketaatan Sang Putra dan juga sebagai upah penderitaan-Nya. Upah ini sudah ditetapkan dari kekekalan dan tidak dibiarkan tergantung pada kesetiaan manusia yang tidak pasti. Allah tidak mengingkari janji-Nya, karena itu tidak mungkin jika mereka yang diperhitungkan berada dalam Kristus dan sebagai bagian pembentuk dari upah-Nya, dapat dipisahkan dari Dia (Rom 8:38,39), dan bahwa mereka yang telah memasuki pernjanjian itu sebagai suatu persekutuan hidup, tidak akan pernah jatuh.

  5. Dari kebaikan dan jasa dari syafaat Kristus.

    Dalam karya penebusan, Kristus membayar harga untuk membeli pengampunan bagi orang berdosa agar mereka dapat diterima kembali. Kebenaran Kristus membentuk dasar yang sempurna bagi pembenaran orang berdosa, dan tidak mungkin bahwa seseorang yang dibenarkan oleh pembayaran yang sedemikian sempurna dan harga yang sedemikian mahal, akan jatuh ke dalam penghukuman. Lebih dari itu, Kristus melakukan syafaat terus-menerus bagi mereka yang diberikan kepada-Nya oleh Bapa, dan doa syafaat-Nya bagi umat-Nya selalu berharga dan membawa hasil, Yoh 11:42; Ibr 7:25.

  6. Dari persatuan mistis dengan Kristus.

    Mereka yang disatukan dengan Kristus melalui iman menjadi bagian dalam Roh Kudus, dan dengan demikian menjadi satu tubuh dengan Dia, yang berdenyut bersama dengan hidup Roh. Mereka hidup bersama-sama dengan Kristus dan karena Kristus hidup maka mereka juga hidup. Tidak mungkin mereka akan ditarik keluar lagi dari tubuh itu, sehingga mengacaukan apa yang sudah baik dalam keilahian. Persatuan ini permanen, sebab dimulai dalam satu penyebab yang permanen dan tidak pernah berubah, yaitu kasih Allah yang cuma-cuma dan kekal.

  7. Dari Karya Roh Kudus dalam hati.

    Dabney, dengan benar mengatakan, "Jika orang menganggap Roh Kudus memulai sebuah pekerjaan pada saat sekarang dan kemudian meninggalkannya, maka anggapan itu sangat rendah dan tidak ada harganya; anggapan itu juga berarti bahwa binar-binar kelahiran surgawi itu hanya ignis fatcus yang bernyala untuk sekejap lalu padam dan membawa kegelapan yang dalam; anggapan itu juga berarti bahwa kehidupan rohani yang diberikan dalam kelahiran baru adalah suatu vitalitas yang terjadi secara serabutan yang memberi penampilan hidup bagi jiwa yang mati, lalu penampilan itupun akhirnya mati."

    Menurut Alkitab, orang percaya sudah memiliki hidup keselamatan dan hidup kekal, Yoh 3:36; 5:24; 6:54. Dapatkah kita terus berpendapat bahwa hidup kekal tidak akan berlansung selamanya?

  8. Dari jaminan keselamatan.

    Jelas terbukti di dalam Alkitab bahwa orang percaya, di dalam hidupnya di dunia ini memperoleh jaminan keselamatan, Ibr 3:14; 6:11; 10:22; II Pet 1:10. Tidak mungkin orang percaya dapat jatuh dari anugerah itu setiap saat. Anugerah jaminan keselamatan itu hanya dapat dinikmati oleh mereka yang berdiri teguh pada keyakinan bahwa Tuhan akan menyempurnakan pekerjaan yang telah Ia mulai.

Taxonomy upgrade extras: 

OKB-Referensi 04a

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : ORANG KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB (OKB)
Nama Pelajaran : Bertanggungjawab dalam Hal Keanggotaan Gereja dan
Kehidupan Keluarga
Kode Pelajaran : OKB-R04a

Referensi OKB-R04a diambil dari:

Judul Buku : ANDA DAN GEREJA
Judul Artikel : Tugas Jemaat Kristus
Penulis : Walter Mohr
Penerbit : YAKIN, Surabaya, 1981
Halaman : 34 - 42

REFERENSI PELAJARAN 04a - TUGAS JEMAAT KRISTUS"

Jemaat Kristus mempunyai tiga tugas utama. Pertama tugas kepada Allah, kedua tugas kepada dunia, ketiga tugas kepada anggota-anggota jemaat sendiri. Mari kita selidiki satu per satu ketiga tugas jemaat Kristus ini:

Pertama, penyembahan. Inilah tugas jemaat kepada Allah. Tugas jemaat yang paling mulia. Sebenarnya dalam Perjanjian Lama, misaiirya kitab Mazmur, ada banyak ditulis soal penyembahan. Ketika Yesus bercakap- cakap dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub, pembicaraan sampai kepada soal penyembahan. Yesus berkata, "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran " (Yohanes 4:23-24). Di sini kita lihat bahwa bukan tempat yang penting dalam penyembahan, melainkan sikap hati seseorang. Bapa "menghendaki" orang menyembah. Kata "menghendaki" di sini berarti berkenan, mencari, merindukan. Tugas jemaat kepada Allah ialah memelihara hubungan erat dengan Allah, menyembah Dia, memuliakan Dia di tengah-tengah dunia dengan menyembah- Nya. Kosonglah pelayanan kita, apabila tidak mau mengambil waktu untuk menunggu di hadirat-Nya.

Di sorga sekarang malaikat-malaikat dan orang-orang kudus sedang menyembah Allah (Wahyu 4:8-11; 5:9-14; 7:9-12). Kelak kita semua akan menyembah Allah di sorga untuk selamalamanya.

Penyembahan yang benar ialah memusatkan hati kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada-Nya. Ini berarti tidak memikirkan kebutuhan diri sendiri maupun berkat-berkat yang Tuhan berikan, tetapi memikirkan TUHAN itu sendiri. Kata yang umum dipakai dalam Perjanjian Baru ialah "proskuneo" (kira-kira 60 x) dan diterjemahkan sebagai "menyembah." Tetapi kata itu sendiri sebenarnya berarti "mencium tangan."

Mengikuti suatu kebaktian gereja belum tentu suatu penyembahan. Mengapa? Banyak orang merasa ikut kebaktian sudah berarti menyembah Allah. Kadang-kadang tidak. Sebab penyembahan tidak terikat pada satu tempat (Yohanes 4:20), melainkan pada keadaan hati orang yang menyembah.Menyanyi, memuji, memikirkan kebesaran Allah dapat merupakan penyembahan yang memperkenankan Allah dan menguatkan kita.

Penyembahan yang benar bukan ucapan-ucapan indah saja, tetapi menyangkut diri kita dan segala yang ada pada kita. Penyembahan yang benar akan mempersembahkan apa? Dalam Injil Matius ada satu contoh yang indah mengenai penyembahan kepada Allah. Orang-orang majus dari Timur datang ke tanah Palestina - bukan untuk meminta atau memperoleh sesuatu, melainkan - untuk menyembah Dia, Anak Allah yang lahir di kandang Betlehem. Memohon, meminta,mengharap sesuatu dari Tuhan itu baik. Namun ada yang lebih, baik, yaitu menyembah Dia. Orang-orang majus itu datang untuk menyembah Dia (Matius 2:11). Perhatikan bagaimana mereka menyembah. Dengan membuka tempat penyimpanan harta bendanya! Mereka menyembah dengan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.

Jadi, penyembahan yang sejati mencakup: mempersembahkan diri dan tubuhnya kepada Tuhan (Roma 12:1). Ini berarti hidup bagi Tuhan. Bukan di mulut saja kita menyembah Tuhan, tetapi dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Mempersembahkan sebagian dari harta benda kita kepada Tuhan (1 Korintus 16:2). Lebih dahulu harus mempersembahkan diri (2 Korintus 8:5), kemudian barulah dapat mempersembahkan harta kita kepada Tuhan dengan kerelaan hati karena mengasihi Tuhan. Ingat, segala harta benda yang ada pada kita itu pun sebenarnya milik Tuhan, yang dipercayakan oleh-Nya kepada kita untuk dipergunakan bagi kemuliaan-Nya (2 Korintus 9:7).

Kedua, penginjilan. Inilah tugas jemaat kepada dunia. Tugas yang penting sekali. Tugas pokok. Bukan sesuatu yang asing bagi kita. Ini adalah pesan/perintah/amanat agung dari Tuhan Yesus yang terakhir sebelum la naik ke sorga (Matius 28:19; Kis.Ras. 1:8). "Pergilah . . . jadikanlah . . . saksikanlah."

Tuhan Yesus sendiri memberikan contoh yang indah (Lukas 19:10). "Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Sekarang ini masih tugas kita.

Tugas ini adalah tugas seluruh jemaat Kristus. Jemaat yang melalaikan ini akan mati. Di mana ada jemaat yang lupa akan tugasnya dalam penginjilan, jemaat itu akan segera mati. Jemaat itu akan jadi kering, tandus. Ada satu syarat mutlak bagi jemaat yang mau hidup: bersaksi, menginjil. Ingin dewasa secara rohani, bersaksi! Kadang-kadang ada orang yang berpandangan, karena di dalam gereja masih banyak persoalan, mari kita membereskan dahulu apa yang di dalam, mengajar, mengajar, mengajar, baru sesudah itu semua beres, kita keluar . . .! Saya tidak setuju. Keyakinan saya, sering ada banyak persoalan di dalam jemaat karena kita tidak mau keluar bersaksi, tak mau bekerja. Ini sama dengan tubuh orang yang sakit-sakitan terus karena orang itu tidak pernah mau bergerak, tidak mau latihan, tidak mau bekerja! Bergerak membikin tubuh jadi sehat. Bila ada jemaat yang lemah, ajaklah jemaat itu keluar bersaksi. Itu akan menyehatkannya.

Penginjilan ini adalah tugas seluruh anggota jemaat. Bukan tugas khusus bagi gembala atau penginjil saja (Kis. Ras. 8:1,4). Ya memang, ada pemberita-pemberita Injil yang diberi karunia khusus untuk itu. Tetapi siapa yang memulai jemaat Kristus di Roma? Tak seorang pun mengetahuinya. Juga di tempat-tempat lain. Belum tentu seorang penginjil yang memulai membuka jemaat di sana. Belum tentu seorang rasul. Malahan mungkin sekali jemaat-jemaat itu dimulai oleh orang- orang Kristen biasa saja. Oleh kaum awam. Sebenarnya orang Kristen biasa lebih mudah mendekati orang-orang lain di sekitarnya dari pada seorang pendeta atau penginjil mencoba mendekati mereka. Kaum awam dengan sesama kaum awam tidak kaku hubungannya. Karena itu malah lebih gampang orang Kristen biasa memenangkan jiwa bagi Kristus, bila dilihat dari segi hubungannya ini. Tetapi gereja zaman sekarang sering membuat kesalahan besar: mereka menggaji seorang-pendeta, menyerahkan semua tugas kepadanya termasuk mencari jiwa-jiwa baru, sedangkan kaum awam dilupakan atau dibiarkan duduk mendengarkan saja di bangku-bangku gereja seminggu sekali. Tidak heran bahwa gereja sukar sekali untuk maju!

Rasul Paulus memberikan satu prinsip yang indah sekali kepada kita (2 Timotius 2:2). "Apa yang telah engkau dengar dari padaku . . . percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." Artinya, sebanyak mungkin anggota jemaat diikutsertakan dalam aktivitas pemberitaan Firman Tuhan, sehingga mereka dapat memenangkan jiwa-jiwa lain lagi. Prinsip pelipat-gandaan ini hendaknya dijadikan pedoman jemaat dan dipakai oleh setiap saksi Tuhan.

Tetapi jemaat perlu insaf bahwa penginjilan bukan berarti seluruh dunia akan percaya kepada Tuhan Yesus. Dari kenyataan kita sadar bahwa hanya sebagian kecil saja yang akan percaya. Dalam Matius 7:12-14 kita membaca hanya sedikit yang masuk pada jalan yang sempit. Banyak yang masuk pada jalan yang lebar. Banyak orang tidak mau masuk pada jalan sempit itu. Oh betapa indah apabila banyak yang mau masuk jalan sempit. Tetapi dalam keseluruhan dunia ini, sedikit saja yang mau. Meskipun demikian, pemberitaan Injil perlu dibawa ke mana-mana. Perumpamaan empat macam tanah menjelaskan hal yang sama. Banyak yang mendengar, banyak pula yang mulai memperhatikan. Malahan banyak yang kelihatan sungguh percaya. Wah, orang-orang itu cepat maju. Namun ia tidak mau mencabut cinta dunia yang lama. Saingan terlalu keras. Akhirnya layulah. Kekayaan menariknya kembali dari Tuhan. Yang berhasil sampai berbuah, akhirnya hanya seperempat saja dari keseluruhan yang mendengar.

Kita tidak dapat membawa segenap dunia kepada Kristus, tetapi kita harus membawa Kristus kepada segenap dunia! Ini tidak mudah, tetapi bagaimana pun juga, ini tugas jemaat Kristus kepada dunia.

Ketiga, pemeliharaan dan pengawasan. Inilah tugas jemaat kepada para anggotanya. Tugas yang berat. Sering dalam gereja pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota jemaat kurang memadai. Barangkali pendeta senang apabila banyak orang datang ke kebaktiannya, sedangkan bagaimana keadaan rohani orangorang itu tidak diperhatikan. Ada pula pendeta yang sibuk menjaga agar tidak ada seorangpun anggota gerejanya yang sesat terhilang ke kandang orang Iain. Ini semua baik, tetapi jangan itu saja! Pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota lebih dari pada ini.

Apakah maksudnya pemeliharaan? Ini pemeliharaan bagi para orang kudus di dalam jemaat Kristus. Pemeliharaan ini mencakup beberapa faktor.

Pertama, persekutuan adalah satu unsur penting dalam pemeliharaan (Kis. Ras. 4:23; 2:42; Ibrani 10:24,25). Persekutuan ini bukan melulu dalam kebaktian di gereja, tetapi juga dalam kunjungan, doa, saling menasihati dan saling melayani. Cuma saya ingin menambahkan sesuatu mengenai persekutuan ini. Persekutuan jangan sampai mengambil seluruh waktu orang Kristen! Memang persekutuan penting sekali, tetapi tidak usah setiap malam ada persekutuan atau kebaktian. Kalau orang-orang Kristen setiap waktu "dipaksa" ikut persekutuan saja, kapan ia dapat bersekutu dengan keluarganya? Nanti tanggung jawab dalam keluarga masing-masing dapat terlalai dan rumah tangga bisa berantakan. Kalau selalu persekutuan saja, kapan akan keluar menginjil? Kekristenan tidak terdiri dari "kesibukan dalam persekutuan" belaka. Hendaklah ada keseimbangan dengan yang lain-lain.

Kedua, pengajaran Firman Allah juga penting dalam pemeliharaan (Kis. Ras. 2:42; Efesus 4:12-16). Para anggota jemaat seharusnya sungguh memerhatikan acara Bible Study di gereja. Sedangkan gereja yang tak mempunyai Bible Study bagi para anggotanya, harus mengadakannya. Jemaat setempat mestinya juga berfungsi sebagai Sekolah Alkitab yang praktis yang membawa orang percaya baru kepada kedewasaan rohani. Tuhan Yesus tidak membuka sekolah Alkitab. Kedua belas rasul pun tidak membuka sekolah Alkitab. Tetapi Tuhan Yesus dan rasul-rasul sungguh mengajarkan Firman Allah kepada orangorang percaya. Ini tidak berarti kita tidak boleh mendirikan sekolah Alkitab. Boleh saja! Hanya, hendaknya setiap jemaat Kristus menjadi tempat di mana Firman Allah sungguh diajarkan.

Ketiga, pelayanan upacara-upacara, yaitu baptisan dan perjamuan Tuhan, juga termasuk dalam tugas pemeliharaan jemaat.

Keempat, pelayanan sosial - yang menyangkut kebutuhan jasmani anggota jemaat setempat juga perlu diperhatikan. Dalam Kisah Para Rasul 6:1-6 ada contoh di mana kebutuhan sosial janda-janda di dalam jemaat itu sangat diperhatikan dan diurus dengan baik. Malah keduabelas rasul itu membentuk semacam panitia yang anggota-anggotanya diambil dari jemaat itu sendiri untuk menolong para janda tersebut. Ayat-ayat lain yang menyebutkan hal ini ialah antara lain, 1Timotius 5:3-6; Roma 12:13; Kis. Ras. 11:27-30; dan sebagainya. Malahan rasul Paulus menganjurkan agar apabila satu jemaat di suatu tempat sedang menderita kekurangan, maka jemaat di tempat lain harus berusaha menolongnya (2 Korintus 8:1- 15). Mengapa Alkitab menganjurkan demikian? Seperti kata Paulus, "supaya ada keseimbangan" di antara orang Kristen! Jangan sampai di dalam jemaat duduk dua orang bersama-sama, di mana yang satu datang ke kebaktian naik mobil dengan perut kenyang dan kantong penuh uang, sedangkan yang lain berjalan kaki dengan perut lapar dan kantong kempis, dan tidak diperhatikan sama sekali oleh yang berkelebihan itu! Kasih Kristus di antara orang Kristen seyogyanya jangan hanya di bibir saja, melainkan harus dinyatakan dalam perbuatan. Dan saya yakin, apabila dunia melihat bagaimana di antara sesama orang Kristen ada satu kasih yang nyata - yaitu saling tolong menolong dan saling memerhatikan kebutuhan yang lain - akan ada lebih banyak orang yang mau bertobat kepada Tuhan Yesus dari pada sekarang ini di mana orang- orang Kristen dalam jemaat masing-masing hanya memikirkan kepentingannya sendiri! Cuma, perlu dicatat bahwa pelayanan sosial ini harus dikerjakan atau diberikan dengan hati-hati dan bijaksana agar bantuan jasmani itu tidak disalahgunakan oleh sebagian orang. Harus dijaga agar orang tidak lantas menggantungkan dirinya kepada bantuan gereja, melainkan supaya ia tetap berharap dan memandang kepada Tuhan Yesus. Orang-orang Injili yang "terlalu injili" sering menutup mata terhadap kebutuhan jasmani orang lain. Mereka berpendapat bahwa yang terpenting adalah jiwa. Memang betul, tetapi mereka lupa bahwa kebutuhan jasmani juga diperlukan. Hanya sekali lagi, untuk melayani kebutuhan jasmani bagi orang lain ini jemaat harus memakai banyak kebijaksanaan.

Kemudian, apakah maksudnya pengawasan? Pengawasan bagi orang-orang kudus dalam jemaat juga mencakup beberapa faktor. Tidak mudah seorang gembala melakukan pengawasan terhadap anggota-anggotanya, lebih mudah ia mengawasi penyesat-penyesat dari luar. Itulah sebabnya tugas pengawasan terhadap para anggota ini sering dilalaikan. Misalnya, kepada seorang anggota jemaat yang rajin ikut kebaktian, yang banyak memberikan uangnya, apabila kemudian orang ini hidupnya menyeleweng dari firman Tuhan, sulit sekali si pendeta menegor dia. Atau, iblis akan selalu membisikkan ke telinga kita, "eh, siapakah engkau yang mau menegor orang lain? Apakah engkau sendiri sudah sempurna? ..." Memang tidak ada yang sempurna. Tetapi apabila ada dosa yang nyata di dalam jemaat, maka jemaat setempat mesti bertindak. Mari kita lihat beberapa faktor berhubungan dengan pengawasan ini.

Pertama, jemaat Kristus adalah jemaat yang suci dan tugas pengawasan jemaat dipercayakan oleh Tuhan kepada jemaat itu sendiri (Matius 18:15-17). Jadi, jemaat setempat mempunyai tanggung jawab untuk mendekati anggotanya yang bersalah. Atau datang kepada anggota yang hampir-hampir jatuh dalam suatu jerat. Dengan mengingat diri sendiri tidak sempurna, dan dengan kasih Tuhan, kita hendaknya menasihati orang itu. "Saudara, kalau seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri (Galatia 6:1,2). Tetapi apa yang sering terjadi dalam gereja bila ada seorang anggotanya yang hidupnya mulai main-main dengan dosa? Bukannya kita datang kepada orang itu langsung untuk menasihati dia, melainkan semua orang di gereja mulai berbisik-bisik satu kepada yang lain mengenai orang itu, tanpa ada seorang pun yang mau menasihati dia. Sebaliknya orang itu malah menjadi bahan pembicaraan semua orang. Ini tidak menolong orang tersebut. Malahan kita justru menjerumuskan dia ke dalam jurang dosa! Betapa sering kita bersalah di hadapan Tuhan dalam masalah ini.

Jemaat yang lalai dalam tugas pengawasan ini - meskipun tugas ini tidak mudah akan "ketularan dosa" (1 Korintus 5:6-7). Misalnya, ada seorang anggota jemaat, bahkan salah satu dari majelis, yang mulai dihinggapi penyakit minum-minuman keras. Apabila ia dibiarkan saja tanpa didekati, dinasihati dan ditegor, tidak lama kemudian seluruh jemaat dapat menjadi kumpulan para pemabuk. Apabila orang itu kemudian menambah minuman kerasnya dengan rokok, maka seluruh jemaat juga dapat akhirnya menjadi perokok. Satu dapat merusakkan semuanya.

Pengawasan jemaat mempunyai dua tujuan: menyatakan dan mengeluarkan orang yang tidak benar-benar bertobat dan yang hidupnya hanya senang dalam dosa dari persekutuan Kristen (jemaat). Lihat 1 Yohanes 2:19. Juga mengajar orang percaya - tetapi yang main-main dengan dosa - agar ia sadar dan kembali kepada jalan yang benar.

Tetapi, bagaimana tugas pengawasan ini dapat dilaksanakan dengan baik? Alkitab memberikan beberapa petunjuk mengenai pelaksana tugas ini:

  1. Apabila seorang bersalah, hendaklah ditegor langsung oleh yang mengetahuinya (Matius 18:15-17).
  2. Apabila orang itu tidak mau mendengarkan, barulah membawa seorang atau dua orang saksi lain.
  3. Apabila ia masih bersikeras dalam dosanya, seluruh jemaat menasihatinya. Apabila tidak berhasil menyadarkan dia, ia perlu dikucilkan.
  4. Ketua-ketua jemaat setempat wajib mengambil tindakan apabila ada dosa yang nyata dalam jemaat itu (1 Kor. 5:3-7 ).
  5. Seorang yang bertobat dari dosanya, wajib diampuni dan disambut lagi (2 Kor. 2:6-11).

Pelaksanaan tugas pengawasan ini perlu dalam kesalahan- kesalahan sebagai berikut:

  1. Ajaran sesat (Titus 1:13; 3:10). Apabila ada anggota yang terus mengikuti ajaran sesat, misalnya menolak Ketuhanan Yesus dan sebagainya, ia wajib ditegor.
  2. Zinah (1 Kor. 5:1-5).
  3. Dosa terbuka ( 1 Tim. 5:20). Yang paling penting, dalam melaksanakan tugas pengawasan ini, hendaklah jemaat bertindak dengan adil (1 Tim. 5:19), dengan rendah hati 2 Kor. 10:12), dengan lemah lembut (Galatia 6:1), dan dengan kasih (1 Kor. 13:4). Jemaat yang setia dalam semua ini, penyembahan, pemberitaan Injil, dan pemeliharaan serta pengawasan, akan sungguh menjadi jemaat yang memuliakan Tuhan (Efesus 1:12).

DIK-Pelajaran 02

Pertanyaan 02 | Referensi 02a | Referensi 02b | Referensi 02c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Penciptaan Manusia
Kode Pelajaran : DIK-P02

Pelajaran 02 - PENCIPTAAN MANUSIA

Daftar Isi

Teks Alkitab

Ayat Kunci

  1. Penciptaan Manusia
    1. Tuhan adalah Pencipta Manusia.
    2. Bagaimana Manusia Diciptakan?
  2. Susunan Natur Manusia
    1. Trikotomi.
    2. Dikotomi.
    3. Monokotomi.
  3. Kondisi Adam Pada Waktu Diciptakan
  4. Tujuan Allah Menciptakan Manusia

Doa

TEKS ALKITAB

Kejadian 1:26-31, 2:1-20

AYAT KUNCI

Kejadian 1:26

Dalam pelajaran pertama, kita telah mempelajari bahwa Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu - alam ini dan segala yang ada di dalamnya. Ia menciptakan semua makhluk hidup seperti burung, ikan dan binatang dan memberi kemampuan kepada mereka untuk berkembang biak menurut ketetapan-Nya yaitu "berkembang biak menurut jenisnya masing-masing."Tidak ada binatang yang dapat berganti jenis menjadi jenis binatang yang lain. Ketetapan ini masih berlaku hingga hari ini. Setiap makhluk hidup melahirkan keturunan atau anak menurut jenisnya.

1. PENCIPTAAN MANUSIA

  1. Tuhan adalah Pencipta Manusia

    Keberadaan manusia di atas bumi ini bukanlah muncul dengan sendirinya atau hasil proses evolusi dari binatang. Dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakannya.

    "Berfirmanlah Tuhan: "Baiklah Kita menjadikan manusia ... maka Allah menciptakan manusia itu ...." Kejadian 1:26, 27

    "Yesus berkata,"Sebab pada awal dunia, Tuhan menjadikan mereka laki-laki dan perempuan." Markus 10:6

  2. Bagaimana Tuhan Menciptakan Manusia?

    Alkitab melaporkan bahwa manusia diciptakan Tuhan pada hari ke enam dari seluruh rangkaian penciptaan yang ada. Manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

    "Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; ... itulah hari keenam." Kejadian 1:26-31

    Apa artinya manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah? Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti adanya unsur-unsur tertentu yang Allah ciptakan di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia itu menjadi makhuk mulia melebihi ciptaan Allah lainnya. Unsur-unsur tertentu tersebut misalnya adalah pikiran, spiritualitas dan lain-lain yang menyebabkan manusia bisa berpikir, memiliki hikmat, mengasihi, bersekutu dengan Tuhan dan lain-lain. Namun demikian, walaupun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, perlu diingat bahwa terdapat perbedaan kualitas antara ciptaan dan Penciptanya. Bagaimanakah manusia pertama itu diciptakan? Ia diciptakan dari tanah, lalu Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam hidung. Kejadian 2:7 menyatakan: "Kemudian Tuhan Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan nafas yang memberikan hidup ke dalam lobang hidungnya" (BIS).

    Manusia pertama yang diciptakan-Nya itu bernama Adam. Setelah menciptakan Adam, Tuhan memandang tidak baik jika Adam sendirian, maka diciptakan-Nya lah seorang penolong yang sepadan dengan Adam. Bagaimana penolong Adam itu diciptakan? Ketika Tuhan membuat Adam tidur nyenyak. Tuhan mengambil salah satu dari rusuk Adam, kemudian menutup tempat itu dengan daging. Dari rusuk Adam itulah dibangun Allah seorang perempuan. Ia bernama Hawa. Kejadian 2:18-22; 3:20. Demikianlah kisah Tuhan menciptakan manusia.

2. SUSUNAN NATUR MANUSIA

Pada umumnya terdapat tiga teori pembagian natur manusia dalam teologia, yaitu trikotomi, dikotomi dan monokotomi.

  1. Trikotomi

    Trikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Menurut teori ini ketika Allah menciptakan manusia, Allah memberikan tiga unsur utama di dalam diri manusia yaitu tubuh, jiwa dan roh.

    Tubuh adalah unsur lahiriah manusia yang dapat dilihat yang melaluinya manusia dapat melihat, mendengar, menyentuh dan sebagainya.

    Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia terdiri dari tiga unsur utama yaitu pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir, Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.

    Roh adalah unsur yang paling dalam dari manusia yang memungkinkannya untuk bersekutu dengan Tuhan.

    Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandangannya pada perkataan Paulus dalam I Tesalonika 5:23 dan penulis Ibrani dalam Ibrani 4:12 yang secara jelas menyebutkan tiga unsur tersebut yang berbunyi demikian:

    "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." I Tes. 5:23

    "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum,; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." Ibr. 4:12

  2. Dikotomi

    Dikotomi adalah pandangan yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari dua bagian saja, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandanganny8a pada argumentasi berikut ini:

    1. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah menghembuskan ke dalam manusia hanya satu prinsip saja, yaitu jiwa/napas yang hidup. Kej. 2:7

      Para penganut dikotomi memandang istilah jiwa dan roh di dalam Alkitab bukan sebagai dua substansi yang berbeda, tetapi merupakan istilah yang sering dipakai secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat. 6:25; 10:28 (Manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pkh. 12:7; I Kor. 5:3,5 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya adalah Kej. 41:8; Maz. 42:6; Mat. 20:28; 27:50; Yoh. 12:27; Ibr. 12;23; Why. 6:9.

    2. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti dalam I Tesalonika 5:23 dan Ibrani 4:12, tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika ditafsirkan demikian, maka manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi saja, melainkan lebih, misalnya dalam Mat. 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati, jiwa dan akal budi (pikiran).

    3. Pada umumnya kesadaran manusia hanya menunjukkan adanya dua bagian dalam diri manusia, yaitu unsur yang badaniah/jasad (yang dapat dilihat) dan unsur rohaniah (yang tidak dapat dilihat).

  3. Monokotomi

    Monokotomi adalah pandangan yang percaya bahwa manusia merupakan pribadi yang utuh yang tidak dipisah-pisahkan. Manusia tidak akan bisa ada/hidup tanpa tubuh atau jiwa/rohnya. Tubuh tidak akan bisa hidup tanpa jiwa/roh, demikian juga sebaliknya. Menurut teori ini, istilah Alkitab "jiwa" dan "roh" hanyalah ekspresi lain dari pribadi/hidup manusia itu sendiri.

3. KONDISI ADAM PADA WAKTU DICIPTAKAN

Kita telah mempelajari bahwa Adam diciptakan oleh Allah. Lalu bagaimana kondisi Adam pada waktu diciptakan? Alkitab menyatakan bahwa ketika Allah menciptakan Adam, ia dalam kondisi yang sangat baik. Kejadian 1:31 mengatakan:

"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu SUNGGUH AMAT BAIK."

Jadi, kondisi Adam pada waktu itu adalah dalam keadaan sempurna dan suci atau tanpa dosa.

4. TUJUAN ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA

Mengapa Tuhan menciptakan manusia? Ia menciptakan manusia untuk kemuliaan-Nya. Tuhan ingin manusia yang dibentuk menurut gambar dan rupa-Nya dapat bersekutu dengan-Nya dan memuliakan-Nya. Alkitab menyatakan: "...yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku...." Yesaya 43:7


Akhir Pelajaran (DIK-P02)


DOA

"Bapa, terima kasih karena Engkau telah menciptakan saya dengan sangatluar biasa ini. Khususnya, terima kasih karena Engkau menciptakansaya agar saya dapat mengenal, mengasihi dan menyembah Engkau." Amin.

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

GSM-Referensi 01b

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Pengenalan Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R01b

Referensi GSM-R01b diambil dari:

Judul Buku : Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
Judul Artikel : Sekolah Minggu (Tidak) Penting
Pengarang : Helena Erika / Sudi Ariyanto
Penerbit : Gloria Graffa
Halaman : 38 - 50

REFERENSI PELAJARAN 01b - SEKOLAH MINGGU (TIDAK) PENTING?

Jika orang kristiani dewasa ditanya, "Apakah Sekolah Minggu perlu atau penting?", apakah kira-kira jawaban mereka? Kemungkinan besar jawabannya berkisar antara: "Oh, sangat perlu", "Ya, anak-anak harus diajar mengenal Tuhan sejak kecil", "Sekolah Minggu harus diadakan." Pada dasarnya, mereka menganggap pelayanan Sekolah Minggu perlu dan penting.

Namun, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataan? Dari pengamatan terhadap beberapa gereja diketahui bahwa pada tataran praktik, keadaannya tidak seperti yang diungkapkan dengan kata-kata. Berikut adalah beberapa hal yang masih (kalau tidak mau dikatakan sangat sering) dijumpai di gereja-gereja berkaitan dengan pelayanan anak (Sekolah Minggu).

  1. Pelayanan Anak Diadakan Agar Anak-anak Tidak Mengganggu Kebaktian Orang Dewasa.

    Sikap seperti ini mungkin muncul dari pra anggapan bahwa anak-anak tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini mempunyai implikasi de facto bahwa kebaktian anak tidaklah penting. Dengan kata lain, kebaktian orang dewasa teramat sangat penting, sehingga sedikit pun tidak diizinkan ada gangguan dari anak-anak. Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan supaya dapat berbakti dengan lebih baik, melainkan agar kebaktian orang dewasa tidak terganggu. Lalu, apabila tempat kebaktian anak dekat dengan tempat kebaktian orang dewasa, maka anak-anak itu tidak diizinkan untuk memuji Tuhan dengan suara keras (yang menunjukkan kebebasan untuk memuji Tuhan), karena akan mengganggu kebaktian orang dewasa. Namun, apakah pernah terpikir bahwa puji-pujian dari kebaktian orang dewasa yang begitu keras bisa mengganggu anak-anak untuk belajar firman Tuhan? Di sini tampaklah ketidakadilan yang dilihat nyata oleh anak-anak.

  2. Fasilitas untuk Pelayanan Anak Tidak Memadai

    Ruangan yang dipakai untuk kebaktian anak kerap kali sempit dan tidak memadai. Bahkan ada gereja yang mengadakan kebaktian anak di bawah pohon. Atau di basement yang merupakan tempat parkir sebuah hotel. Sedangkan kebaktian untuk orang dewasa diadakan di ruangan hotel yang luas dan nyaman karena adanya penyejuk ruangan.

    Selain itu, jarang ada alat musik untuk anak-anak. Sementara pada kebaktian orang dewasa alat musik serta sistem suaranya sangat baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi? Dalam ucapan dikatakan bahwa kebaktian anak penting, tetapi pada kenyataannya yang menjadi pusat perhatian hanyalah orang dewasa dan pelayanan anak dinomorsekiankan. Bangku-bangku yang digunakan di kebaktian anak biasanya juga bangku bekas yang sudah tidak dipakai lagi di kebaktian dewasa. Demikian juga peralatan musiknya. Bahkan kalau di kebaktian dewasa ada pemain musik yang sangat baik, maka yang bermain musik di kebaktian anak adalah mereka yang baru saja bisa memainkan alat musik. Bila kenyataannya demikian, bagaimana kita bisa mengajar anak-anak bahwa kebaktian itu menyenangkan?

  3. Pengajar Kurang Kompeten

    Banyak orang tidak mau mengajar di kebaktian anak. Itu sebabnya gereja sering kekurangan guru, padahal anggota jemaat banyak sekali. Dari antara mereka yang mau dan memiliki beban yang besar untuk pelayanan anak, banyak yang pengetahuan dan keterampilannya kurang memadai.

    Selain itu banyak guru yang menyampaikan firman Tuhan tanpa persiapan. Pernah ada seorang guru yang keliru menyampaikan firman Tuhan dengan berkata, "Anak-anak, ketika Yesus di kayu salib, Dia berteriak, 'Ela, ela, lama sabakhtani."

    Memang sangat baik bila seseorang memiliki beban yang besar untuk pelayanan, apalagi pelayanan anak. Akan tetapi, para guru harus diperlengkapi atau memperlengkapi diri dengan keterampilan atau pengetahuan agar dapat menyampaikan berita sukacita kepada anak- anak lebih baik lagi.

    Masih ada banyak hal yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak begitu diperhatikan. Pelayanan anak biasanya diberi prioritas terakhir dari antara pelayanan-pelayanan yang lain. Inti masalah yang sebetulnya adalah pada cara memandang anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang dewasa (dalam hal ini pengajar, gembala sidang, majelis gereja, dll.) yang memandang bahwa anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa mengerti firman Tuhan, belum bisa memuji Tuhan.

    Cara pandang seperti ini termanifestasi pada sikap atau kondisi guru yang mengajar tanpa persiapan, tidak adanya pemikiran untuk menambah fasilitas pelayanan anak, atau tidak adanya pemikiran untuk mengadakan retret khusus untuk anak-anak. Yang diajarkan kepada anak hanyalah cerita-cerita yang tidak membuat mereka mengenal Tuhan lebih dalam atau menyadarkan kebutuhan mereka akan Juru Selamat.

    Cara pandang seperti ini perlu diubah, karena masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apa yang diberikan atau dialami anak-anak dalam masa kanak-kanak bisa berdampak sangat serius untuk anak itu kelak bila dewasa. Banyak orangtua yang mengusahakan pendidikan formal sebaik mungkin untuk anak-anak: dimasukkan ke sekolah yang baik, dibelikan buku pelajaran yang lengkap, dll. Akan tetapi, apakah sikap memandang penting pendidikan ini juga diterapkan dalam hal rohani? Kita harus ingat bahwa anakanak itu adalah calon-calon pemimpin bangsa, dan juga masa depan gereja. Kepemimpinan gereja di masa yang akan datang ada di tangan mereka.

    Pandangan umum bahwa pelayanan anak kurang begitu penting juga mempengaruhi pandangan orang terhadap pelayan anak. Suatu kali, MEBIG Jepang dan MEBIG Indonesia diminta untuk melayani KKR anak di suatu kota besar. Seusai acara, semua panitia sepertinya terpaku pada acara, sehingga melupakan kami yang telah melayani. Setelah turun dari panggung pun, tidak ada yang menyalami dan mengucapkan terima kasih. Lalu kami menunggu panitia yang akan mengantar pulang ke penginapan, tetapi tak seorang pun muncul. Kemudian kami menunggu di tempat parkir sambil harus mengisap asap knalpot yang tebal, namun tetap tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya kami mencoba menghubungi saudara kami yang juga menjadi panitia (pada seksi lain, bukan transportasi), dan meminta agar seseorang dapat mengantar kami dengan mobilnya. Sampai kami berangkat ke kota lain untuk pelayanan berikutnya, tak seorang pun panitia yang datang untuk mengucapkan terima kasih dan melepas kami dengan ucapan selamat jalan. Baru saat kami sudah ada di dalam mobil yang kami sewa sendiri, ada telepon yang masuk ke telepon genggam kami, dari salah seorang panitia tersebut.

    Saat itu, kami sebagai orang Indonesia merasa malu kepada mitra pelayanan kami yang jauh-jauh datang dari Jepang dengan biaya sendiri untuk melayani kita orang Indonesia. Kami membayangkan seandainya kami adalah rombongan pembicara untuk orang dewasa yang sudah terkenal, mungkin banyak orang akan menemui kami untuk mengajak makan atau menginap di rumahnya.

    Menurut Pendeta Gonbei, hal menomorsekiankan pelayanan anak mungkin timbul karena gereja memegang konsep praktis yang umum dipegang oleh kalangan di luar gereja, yaitu tidak membiarkan adanya pemborosan dan kerugian.

    Tidak membiarkan adanya pemborosan secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan bahwa mengeluarkan banyak uang untuk pelayanan anak merupakan pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyediakan alat musik, ruang kelas yang memadai, dan juga hal lain untuk pelayanan anak adalah pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyelenggarakan retret anak-anak adalah pemborosan. Sikap yang tidak mengizinkan adanya "pemborosan" ini pun kita temukan pada Markus 14:4, yaitu ketika seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu ke kepala Yesus. Waktu itu ada orang yang gusar dan berkata, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?" Di sini tampak jelas bahwa masalah ekonomi bisa mengalahkan urusan yang berdampak pada kekekalan.

    Terlalu perhitungan sikap terlalu perhitungan sering menghinggapi gereja. Segala sesuatu selalu didasarkan pada prinsip untung dan rugi. Berdasarkan prinsip ini, jelas pelayanan anak adalah pelayanan yang merugi secara ekonomi. Berapa banyak uang persembahan anak-anak? Sudah pasti jumlahnya tidak cukup untuk menyewa ruangan yang baik, membeli gitar, atau membiayai hamba Tuhan. Karena kontribusi persembahan anak-anak ini sangat kecil untuk gereja, maka dapatkah gereja disalahkan jika menyediakan fasilitas sesuai dengan kontribusinya? Tentu tidak salah jika acuannya adalah berapa banyak keuntungan yang dapat diberikan anak- anak melalui pelayanan anak. Namun, benarkah demikian seharusnya kita mengelola pelayanan ini?

    Sikap seperti ini memang sering mewarnai gereja yang ditebus oleh Tuhan Yesus. Jika tidak memberikan kontribusi yang layak, maka tidak perlulah terlalu diperhatikan. Semua tindakan harus dilakukan berdasarkan perhitungan untung-rugi. Namun, bagaimana seandainya Yesus juga melakukan analisis untung-rugi (cost-benefit analysis) sebelum Dia mau disalibkan, apakah kita akan diselamatkan?

    Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari. Untuk urusan sekolah, orang tua mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku, membayar guru privat, membeli komputer, dll. Dalam hal ini, apakah orang tua menggunakan perhitungan untung-rugi secara murni? Tentu tidak. Mereka melihat masa depan yang akan dijalani oleh anak-anak itu. Mereka harus diberi bekal agar kelak dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Bukankah pelayanan untuk anak-anak juga harus dipandang demikian? Anak-anak harus dipersiapkan untuk menerima Yesus Kristus, yang akan sangat mempengaruhi masa-masa setelah hidupnya di dunia ini berakhir. Berapa lamakah kehidupan setelah kematian bila dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini? Bila untuk kehidupan di dunia yang rentang waktunya tidak panjang seseorang mau berkorban banyak, bukankah seharusnya kita mau berkorban untuk kehidupan yang kekal?

    Cara pandang yang meremehkan anak-anak atau pelayanan anak ini perlu diubah. Jika tidak, gereja akan kehilangan berkat Tuhan. Sikap munafik yaitu lain di mulut lain di hati, atau lain di tindakan, harus segera dihentikan. Tuhan tidak menyukai sikap seperti ini dalam gereja-Nya.

Taxonomy upgrade extras: 

GSM-Referensi 04a

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Hakekat Mengajar
Kode Pelajaran : GSM-R04a

Referensi GSM-R04a diambil dari:

Judul Buku : Tenik mengajar
Judul Artikel : Bagaimana Mengajar
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2000
Halaman : 33 - 42

REFERENSI PELAJARAN 04a - HAKEKAT MENGAJAR


BAGAIMANA MENGAJAR

Hukum-hukum belajar tidak berubah, tetapi pengungkapannya tidak sama dalam masyarakat yang berbeda-beda.

Sebuah peribahasa kuno mengatakan, "Orang menjadi guru karena pembawaan, bukan karena pendidikan." Akan tetapi dewasa ini para pendidik percaya bahwa banyak yang disebut bakat pembawaan itu sebenamya merupakan kebiasaan-kebiasaan yang telah diperoleh. Walaupun ada orang yang mempunyai lebih banyak bakat mengajar dari pada yang lain, para guru pasti bisa berhasil jika mereka mengikuti prinsip- prinsip ilmu mendidik yang diakui, bersemangat mengajar, mengasihi anak didiknya dan saksama dalam persiapan mereka.

Filsafat ini tidak memperkecil pekerjaan Roh Kudus. Setiap guru harus pasrah dan mau dipimpin oleh Roh Kudus. Namun demikian, kita bukannya menolak pimpinan Roh Kudus bila menggunakan hukum-hukum mengajar sama seperti kita tidak menolak pimpinan-Nya jika kita tunduk pada hukum gaya berat.

Tuhan kita Yesus Kristus selalu menjalankan hukum-hukum mengajar dan belajar. Prinsip-prinsip ini bisa diamati, dievaluasi dan digolongkan, karena memang sudah menjadi sebagian dari perangai manusia. "Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:16, 17). "Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:3).

"Ketujuh Hukum Mengajar," karangan John Milton Gregory, menetapkan pola pekerjaan seorang guru dengan mengemukakan pernyataan yang sederhana tetapi jelas mengenai faktor-faktor penting yang menguasai seni mengajar. Gregory adalah seorang yang terkemuka di bidang pendidikan. Pada umur tujuh belas tahun dia sudah menjadi guru sekolah. Kemudian dia menjadi pendeta gereja Baptis. Tak lama kemudian dia diakui sebagai seorang pendidik yang unggul. Setelah menjabat pengawas kepala dari sekolah-sekolah di negara bagiannya dan rektor perguruar tinggi di Michigan, dia bekerja keras untuk tiga belas tahun lamanya untuk mendirikan Universitas Illinois. Dia telah mendapatkan kedudukan yang pasti dalam sejarah pendidikan Amerika.

Di sini dikemukakan hukum-hukum mengajar, berdasarkan prinsip- prinsip dan teori-teori dalam buku Dr. Gregory.

HUKUM GURU

Guru Haruslah Seseorang yang Mengetahui Pelajaran atau Kebenaran atau Seni Ketrampilan yang akan Diajarkan.

Beberapa kursus pendidikan kepemimpinan memberi perhatian lebih banyak kepada cara-cara guru dari pada kepada berita Firman Allah. Hal ini bisa sangat berbahaya apabila guru tidak mengetahui dengan betul apa yang harus diajarkan. Baik berita maupun cara sangat penting. Karena alasan inilah, setengah dari kursus-kursus berijazah dari Evangelical Teacher Training Association diuntukkan guna penelaahan Alkitab dan pokok-pokok yang berhubungan dengannya. Dalam pendidikan umum, pengetahuan akan mata pelajaran sangat penting. Dalam pendidikan Kristen sangatlah penting bagi si guru untuk mengetahui Firman Allah. Pengetahuan itulah bahan yang dipakai oleh guru. Pengetahuan yang kurang sempurna akan menghasilkan pengajaran yang kurang sempurna. Apa yang tidak diketahui oleh seseorang, tak bisa diajarkannya. "Ketahuilah benar-benar pelajaran yang ingin saudara ajarkan kemudian mengajarlah dari pikiran yang diisi penuh dan dengan pengertian."

Guru harus mengetahui lebih banyak dari pada yang dapat diajarkannya dalam waktu mengajar yang telah ditetapkan, jangan hanya cukup untuk mengisi waktu itu saja. Hal ini meminta pelajaran dan penyelidikan yang sungguh-sungguh agar bisa memahami seluruh pelajarannya. Seorang guru yang menguasai bahan pelajarannya bisa merasa tentram Qementara ia mengarahkan pemikiran murid-muridrya serta mengikutsertakan mereka secara aktif. Dia harus juga mengenal setiap murid cukup baik sehingga dia bisa menerapkan pengetahuannya sendiri dalam kehidupan murid itu.

HUKUM PELAJAR

Pelajar Ialah Orang yang dengan Penuh Minat Mengikuti Pelajaran.

Lama sebelum Spurgeon menjadi seorang pendeta besar, dia berhasil dalam pekerjaannya di antara anak-anak. Dalam petunjuk-petunjuknya kepada guru-guru yang bekerja di bawahnya, dia mengatakan, "Bangkitkanlah perhatian anak-anak. Jika mereka tidak mendengar, saudara boleh saja berbicara, tetapi pembicaraan saudara akan sia- sia. Jika mereka tidak mendengarkan, maka pekerjaan yang saudara lakukan itu akan membosankan dan tak berarti, baik bagi diri saudara sendiri maupun bagi murid-murid saudara. Saudara tidak bisa melakukan apa-apa tanpa memastikan adanya perhatian mereka."

"Bangkitkan dan pikatlah perhatian dan minat murid pada pelajaran. Jangan mencoba untuk mengajar tanpa adanya perhatian."

  1. Perhatian
  2. Sampai pada usia tujuh tahun anak-anak mempunyai jangka perhatian yang singkat, mungkin satu menit saja untuk tiap tahun usia. Biasanya tidak bisa diharapkan lebih banyak dari mereka. Jangka perhatian anak-anak usia 7 tahun sampai dengan 9 tahun sudah bertambah lama. Mereka mulai menghargai kemampuan mereka sendiri dan menyukai pemikiran atau diskusi yang memakan waktu lebih lama. Pertengahan tahun pertama SD atau selama kelas dua, anak-anak sekolah yang terlatih baik mulai beralih dari banyak aktivitas jasmaniah dan menyukai aktivitas mental. Nyata sekali jangka perhatian mereka menjadi lebih panjang. Pada tingkatan mana saja seorang guru yang bijaksana mula-mula akan berusaha untuk memperoleh perhatian, kemudian meningkatkannya, baru akhirnya mengubah perhatian tersebut menjadi minat.

  3. Minat
  4. Perhatian bergantung pada minat. Lebih mudahlah untuk memperoleh dan memikat perhatian seorang murid yang berminat. Suatu perintah atau suatu permainan yang menarik perhatian dapat membangkitkan perhatian untuk sementara, tetapi hanya minat yang sungguh dapat membuat perhatian itu bertahan.

    Kemampuan untuk membangkitkan dan memelihara minat bergantung pada: menemukan bidang pemikiran murid; menjaga terhadap gangguan-gangguan dari luar; memberikan pelajaran yang cocok dengan kecakapan murid;
    mendapat kerja sama murid dalam pelajaran.

    Perhatian dan minat berkaitan secara langsung dengan motivasi. Belajar yang bermotivasi adalah cara belajar yang diinginkan oleh murid. Cara yang tercepat untuk menghasilkan belajar yang bermotivasi ialah dengan jalan menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan para murid. Jika pelajar diberi pekerjaan yang nampaknya berguna bagi mereka dan yang memenuhi kebutuhan mereka, perhatian serta minat akan terpelihara.

HUKUM BAHASA

Bahasa yang Dipakai sebagai Media antara Guru dan Murid Haruslah Bahasa yang Lazim bagi Kedua Pihak.

Pada pihak yang satu terdapat guru dengan perlengkapan yang penting, yaitu pengetahuannya; pada pihak lain terdapatlah murid dengan perhatiannya yang berminat. Langkah berikutnya adalah menetapkan hubungan yang baik di antara mereka.

Guru mungkin mempunyai perbendaharaan kata yang lebih besar, tetapi ia harus membatasi dirinya dan hanya menggunakan bahasa muridnya. Jika guru menolak atau gagal menyesuaikan diri dengan bahasa murid, pelajaran itu tidak bisa dipahami. "Pakailah kata-kata yang bisa dimengerti oleh murid dan saudara sendiri, bahasa yang jelas dan terang bagi keduanya."

Bahasa yang dipakai akan berbeda untuk tiap tingkatan usia dalam gereja. Untuk menjalankan hukum bahasa, Gregory menyarankan yang berikut ini bagi guru.

Pelajari selalu dengan saksama bahasa murid-murid.

Ungkapkan pendapat saudara sendiri sedapat-dapatnya dalam bahasa murid.

Pakailah bahasa yang paling sederhana dan kata-kata yang paling sedikit untuk menyatakan maksud.

Pakailah kalimat-kalimat pendek dengan bentuk yang paling sederhana.

Terangkan arti kata-kata baru dengan lukisan-lukisan.

Seringkali ujilah pengertian murid akan kata-kata yang dipakainya.

HUKUM PELAJARAN

Pelajaran yang Harus Dikuasai Itu Hendaknya Diterangkan Melalui Kebenaran yang Sudah Diketahui Oleh Pelajar. Hal-hal yang Tidak Diketahui Harus Diterangkan dengan Perantaraan Hal-hal yang Diketahui.

Hukum ini secara langsung berkaitan dengan pelajaran atau kebenaran yang akan diajarkan. Inilah dasar bagi semua ilmu pendidikan. "Mulailah dengan apa yang sudah diketahui betul oleh murid tentang mata pelajaran itu, atau dengan apa yang telah dialami sendiri oleh murid, - kemudian melanjutkan kepada bahan yang baru dengan berangsur- angsur dan wajar, serta membiarkan apa yang sudah diketahuinya itu menerangkan hal-hal yang belum diketahuinya."

Semua ajaran dimulai dari titik hubungan yang telah diketahui. Jika mata pelajaran itu baru sama sekali, maka harus dicari titik yang diketahui. Hukum asosiasi atau hubungan ini merupakan dasar bagi semua perkembangan mental. Kebenaran-kebenaran yang baru hanya bisa dimengerti bila dipandang dari segi kebenaran-kebenaran yang telah ada.

Tuhan kita pandai sekali memakai hukum ini. Dia senantiasa membangun kebenaran yang baru di atas fakta-fakta yang sudah terkenal. Pendengar-pendengar-Nya sudah biasa dengan Perjanjian Lama. Penyaliban-Nya itu akan mirip dengan kejadian meninggikan ular tembaga di padang gurun. Penguburan dan kebangkitan-Nya dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman nabi Yunus. Saat kedatangan-Nya kembali akan seperti zaman Nuh dan Lot. Kejadian-kejadian di masa depan dilukiskan dengan hal-hal yang sudah terjadi.

Untuk hukum pelajaran, guru harus mengetahui beberapa prosedur yang berkaitan.

  1. Hubungkan dengan pelajaran-pelajaran yang lalu
  2. Apa yang telah dipelajari boleh dianggap seperti sebagian dari hal- hal yang sudah diketahui. Jika guru telah mengajarkan pelajaran- pelajaran yang lalu itu, dia sudah mengenal keadaan muridnya. Setiap ulangan mendemontrasi hukum ini, dan cara yang paling baik untuk menjalankan prinsip ini ialah dengan mengutamakan ulangan.

  3. Lanjutkan pelajaran dengan langkah-langkah yang bertahap.
  4. Seorang atlit tidak akan menetapkan sasarannya pada ketinggian yang belum terjangkau, baru kemudian mencoba untuk melompatinya. Dia akan mulai dengan ketinggian yang bisa dilompatinya dan kemudian menaikkannya seinci demi seinci sehingga dia menetapkan rekor barunya. Demikianlah seorang murid harus bisa memahami sepenuhnya setiap kebenaran yang diajarkan sebelum dia bisa menyelidiki dan mengerti kebenaran berikutnya. Ide-ide baru menjadi sebagian pengetahuan murid dan menjadi titik tolak bagi tiap kemajuan yang baru. Jika Guru menuruti prinsip ini, ia dapat memperoleh kemajuan yang lebih cepat serta mencapai prestasi yang lebih tinggi.

  5. Terangkan dengan lukisan.
  6. Jika kemajuan dalam pelajaran itu terlalu cepat sehingga tak dapat diikuti oleh pikiran murid, maka menyebut dan menunjukkan hal-hal yang sudah diketahui murid itu akan membantu pengertiannya. Kata- kata kiasan seperti tamsil, metafora, dan ibarat telah muncul karena perlunya menghubungkan kebenaran-kebenaran sebelumnya dan situasi-situasi serta pengalaman-pengalaman yang sudah diketahui dengan pelajaran yang baru.

  7. Pedoman menuju pemindahan pelajaran.
  8. Hukum pelajaran juga berlaku untuk memindahkan apa yang telah dipelajari murid dalam satu keadaan kepada keadaan yang lain. Jika seorang murid telah belajar untuk mentaati ibu atau ayahnya, apakah dia juga akan mentaati Tuhannya ?

    Jika keadaan yang dikenal dan yang tidak dikenal itu serupa dan mempunyai cukup banyak unsur yang bersamaan, pelajar mampu memindahkan pengertiannya mengenai situasi yang satu kepada situasi yang lainnya. Guru mempunyai tanggung jawab untuk menolong murid- muridnya melihat unsur-unsur yang bersamaan itu dan penggunaan yang lebih luas dari prinsip-prinsip Alkitab yang disampaikannya.

HUKUM PROSES MENGAJAR

Mengajar Ialah Menggairahkan dan Memakai Akal Pikiran Pelajar Untuk Mengerti Pikiran Guru atau Menguasai Seni Ketrampilan yang Diajarkannya.

"Diri pelajar itu tak akan berpadu dengan agama sebelum pelajar atau pemikir itu sendiri terlibat dalam pemikirannya." Pelajar hendaknya mencernakan dan mengolah setiap bagian Alkitab ketika dia diberi santapan rohani. Aktivitas guru tidak efektif kalau dia tidak menimbulkan minat murid dan menyebabkan dia bertindak. "Rangsanglah pikiran murid agar bertindak. Jagalah agar pikirannya sedapat mungkin mendahului penyajian saudara, dengan demikian ia menjadi seorang penemu."

"Mempersiapkan seorang pelajar untuk menggunakan semua kecakapannya dengan sepenuhnya merupakan usaha yang bersifat perseorangan dan sama sekali berlawanan dengan proses produksi benar-besaran." Jika pelajar- pelajar tidak berpikir sendiri, tidak akan ada hasil-hasil yang bisa bertahan lama. Proses belajar itu dipercepat, apabila para pelajar mengadakan penyelidikan secara mandiri. Memang benar bahwa pengetahuan bisa diperoleh tanpa seorang guru, dan ada orang yang maju atas usaha sendiri serta berhasil baik, yang tidak pernah mengikuti perguruan tinggi. Akan tetapi hal ini tidak meniadakan perlunya sekolah-sekolah dan guru-guru. Seorang guru yang baik hanya menyediakan suasana yang menyenangkan agar pelajar dapat belajar sendiri. Dia tidak hanya menanamkan pengetahuan. Dia menggairahkan mereka untuk memperoleh pengetahuan itu. Dia mendorong mereka dan memberi teladan dalam cara belajar yang tekun dan serius. Dia membimbing, tetapi dia tidak menghalangi kemajuan pelajarnya.

  1. Menyediakan bahan pemikiran
  2. Proses-proses pemikiran terbatas pada pengetahuan yang telah diperoleh. Pelajar yang tidak mengetahui apa-apa tidak dapat memikir, karena ia tak mempunyai apa-apa untuk dipikirkannya. Agar seseorang bisa membandingkan, mengritik, mempertimbangkan dan memperbincangkan, pikirannya harus mengolah bahan-bahan yang telah diperolehnya. Oleh karena itu pelajar memerlukan keterangan yang berdasarkan fakta-fakta, yang dapat dipakai sebagai dasar pemikiran. Pendidikan juga mencakup proses mendesak pelajar mengungkapkan pikirannya, tetapi guru itu tak bisa meminta pelajar mengungkapkan pengetahuan yang sebelumnya tidak ditanamkan dalam pikiran pelajar itu.

  3. Merangsang Penyelidikan
  4. Penting juga untuk membangkitkan semangat menyelidik. Proses-proses pendidikan yang padat dimulai ketika pelajar menanyakan siapa, apa, bilamana, mengapa, di mana, dan bagaimana terjadi sesuatu. Pikiran yang matang menggumuli masalah-masalah alam semesta. Buah apel yang jatuh menyebabkan pikiran Newton bertanya-tanya mengenai gaya berat. Cerek air yang mendidih mengajukan masalah mesin uap kepada Watt. Pertanyaan merupakan penunjuk bagi pikiran murid dan bagi batinnya. Pertanyaannya menimbulkan kesadaran diri dan pemikiran sendiri. Guru harus menggairahkan pencarian akan pengetahuan ini, demikian juga keinginan akan pengungkapan.

  5. Memberi kepuasan
  6. Jika seorang murid mendapatkan kesenangan dari apa yang dilakukannya, dia mungkin sekali akan melanjutkan aktivitas itu. Ini dikenal sebagai imbalan atau penguatan kembali. Kecenderungannya ialah mengulangi pengalaman yang memuaskan dan menghindari pengalaman yang tidak memuaskan.

    Kepuasan akan diperoleh apabila hal belajar itu berguna bagi pelajar dalam kehidupannya sehari-harinya, dan memenuhi kehutuhannya. Guru itulah yang mempunyai kesempatan untuk menjadikan pengalaman belajar itu bermanfaat bagi setiap murid.

HUKUM PROSES BELAJAR

Belajar Ialah Memikirkan Suatu Ide atau Kebenaran Baru Sehingga Mengerti, atau Mengerjakan Suatu Seni atau Ketrampilan Baru Sehingga Menjadi Biasa.

Guru yang efektif akan membangkitkan dan membimbing aktivitas yang berasal dari diri pelajar-pelajarnya sendiri. Dia juga mengevaluasi tanggapan murid akan usaha guru. Dia menolong murid-murid mengevaluasi kebenaran baru dan mewujudkannya dalam seni dan ketrampilan dari kehidupan sehari-hari.

Belajar meminta minat dan perhatian yang aktif, serta meminta tindakan atau proses yang jelas dan terang, yang hanya bisa dilakukan oleh pelajar sendiri. Pelajar itu sendiri harus melatih pikirannya untuk memperoleh pengertian yang benar tentang fakta-fakta atau prinsip-prinsip dalam pelajaran itu. Hukum proses belajar ini penting sekali.

Pekerjaan mendidik itu lebih banyak dikerjakan oleh murid dari pada oleh guru. Belajar yang sebenarnya bukan sekedar pengulangan. Penemuan yang semula merupakan proses yang menggetarkan hati serta menggairahkan. Penemu itu meminjam fakta-fakta yang telah diketahui orang lain dan menambahkan apa yang dipelajarinya dari pengalaman. Guru memakai hukum ini untuk membimbing murid menjadi seorang penyelidik yang mandiri.

Ada tiga tahap belajar yang berbeda, dan tiap tahap itu membawa murid untuk menguasai hal belajar.

  1. Reproduksi
  2. "Mintalah kepada murid untuk mengulang dalam pikirannya pelajaran yang sedang dipelajarinya - memikirkan berbagai bagian dan penerapan dari pelajar itu sehingga dia bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sendiri." Memang mungkin untuk mengulang kata-kata yang tepat dari pelajaran apa pun dengan menghafalnya. Akan tetapi pelajar yang tidak mengerti apa yang dihafalkannya tidak bisa menghayati pelajaran itu. Dia seperti seseorang yang membeli sebuah buku dan meletakkannya di dalam perpustakaannya, tetapi tidak mempergunakannya.

  3. Tafsiran
  4. Dalam proses belajar itu sudah terjadi kemajuan yang nyata, ketika pelajar itu diajar untuk memberikan lebih banyak dari pada kata- kata atau fakta-fakta yang dipelajarinya. Jika dia mengungkapkan pendapatnya sendiri mengenai fakta-fakta itu, maka dia mengerti apa yang diajarkan kepadanya. Dia telah belajar untuk mengolah pikirannya sendiri, demikian juga pikiran orang lain. Kegagalan untuk mendesak agar pelajar mengungkapkan pemikirannya sendiri adalah kesalahan yang sering terdapat pada guru-guru yang tidak terlatih. Seorang guru yang baik jarang menanyakan pertanyaan yang memakai kata tanya "apa". Pertanyaan seperti itu dijawab dengan memberikan fakta-fakta saja. Seorang guru yang terlatih menanyakan "mengapa", sehingga murid-muridnya belajar untuk berpikir sendiri.

  5. Penerapan
  6. Pendidikan bukan sekedar memperoleh atau mengerti pengetahuan. Tidak ada pelajaran yang dipelajari secara sempurna sebelum pelajaran itu diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan adalah kekuasaan - tetapi hanya bila pengetahuan itu sudah dikuasai, dimanfaatkan, dan dipekerjakan. Menyatakan pendapat dapat melatih pikiran, tetapi menerapkan pengetahuan mempengaruhi kemauan dan mengubahkan kehidupan pelajar. Jika penerapan pribadi yang praktis diabaikan, pelajar-pelajar akan "selalu belajar, tetapi tidak akan pernah mengetahui kebenaran" ( 2 Timotius 4:7 ). Ini hanya "pengetahuan otak" saja dan tidak mengakibatkan perubahan hidup yang dilaksanakan oleh anugerah Allah.

HUKUM PENGULANGAN DAN PENERAPAN

Ujian dan Bukti Bahwa Guru Benar-benar Telah Mengajar Ialah Pengulangan, Pemikiran Kembali, Pengenalan Kembali, Penghasilan Kembali dan Penerapan dari Bahan yang Telah Diajar.

Rapat-rapat kerja seringkali dibuka dengan pembacaan notulen rapat yang lalu dan ditutup dengan notulen tentang acara kerja pada hari itu. Pada pembukaan dan penutup rapat itu segala sesuatu yang telah terjadi itu diulang. Pengulangan yang pertama menetapkan hubungan yang erat dengan rapat-rapat yang lalu. Pengulangan yang kedua menghubungkan apa yang dikerjakan pada hari itu dengan rapat berikutnya. Pentinglah mengadakan hubungan dengan pelajaran-pelajaran yang lalu pada pembukaan setiap pelajaran. Demikian pula sama pentingnya untuk menghubungkan pelajaran pada tiap hari itu dengan pelajaran berikutnya, dan menghidupkan semua ajaran dalam hidup para pelajar. "Mengulang, mengulang, sekali lagi mengulang, mereproduksi yang lama, memperdalam kesannya dengan pikiran yang baru, mengaitkannya dengan arti-arti yang baru, menemukan penerapan baru, membetulkan setiap pandangan yang keliru dan melengkapkan yang benar."

Hukum ini meliputi pengetahuan dan penggunaan tiga bidang penekanan.

  1. Mengokohkan dan menyempurnakan pengetahuan
  2. Pengulangan bukanlah sekedar mengingat kembali apa yang diajarkan. Itulah suatu usaha untuk memusatkan perhatian kembali kepada fakta- fakta dan prinsip-prinsip yang telah diajarkan sebelumnya. Juga pengulangan memberi kesempatan untuk memperoleh pengertian yang lebih dalam serta mengaitkan pengetahuan yang dahulu dengan situasi-situasi yang baru. Pandangan pertama pada sebuah lukisan tidak akan menyatakan setiap detilnya. Pembacaan ulang sebuah buku seringkali menunjukkan fakta-fakta yang tidak diperhatikan pada pembacaan yang mula-mula. Demikianlah halnya dengan penelaahan Alkitab. Tak ada buku lain yang memerlukan pembacaan dan penyelidikan yang saksama seperti Alkitab. Tak ada buku lain yang begitu penuh dengan berkat dan harta seperti buku ini. Mengulang ayat-ayat yang lazim dan digemari akan memberi pengertian baru dan memperlihatkan pelajaran-pelajaran baru.

  3. Mengingat dan meneguhkan pengetahuan
  4. Pengulangan membiasakan dan menguatkan pengetahuan itu dengan jalan menghubungkan ide-ide. Seseorang yang diperkenalkan pada sekelompok orang mungkin tidak bisa mengingat semua nama yang telah disebut itu. Beberapa saat kemudian kalau seseorang lain dikenalkan, dia akan mengulang nama-nama itu dan ingatannya akan dikuatkan. Pelajaran yang dipelajari hanya sekali, segera akan terlupa. Apa yang sering diulangi akan menjadi sebagian dari perlengkapan pengetahuan dan dapat diingat dan dipakai secara tetap. Inilah patokan sebenarnya dari prestasi belajar.

  5. Menerapkan dan mempraktekkan pengetahuan
  6. Pengulangan yang saksama, yang seringkali dilakukan, menyebabkan pengetahuan itu dapat digunakan dengan cepat. Nas-nas Alkitab yang paling banyak menolong kita ialah nas-nas yang telah diterapkan dan dipakai. Nas-nas ini diingat apabila keadaan memerlukan. Kebenaran- kebenaran yang menjadi lazim karena pengulangan membentuk sikap dan membina watak. Jika kita ingin ditopang dan dikuasai oleh kebenaran- kebenaran yang mulia, kita harus mempraktekkannya sehingga kebenaran-kebenaran tersebut menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Alkitab mengakui kebenaran ini dalam ayat yang berbunyi, "hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat." Pengulangan merupakan aktivitas yang perlu dan penting; itulah syarat yang perlu sekali bagi semua pengajaran yang benar. Tidak mengulang berarti bahwa pengajaran itu tidak sempurna.

Taxonomy upgrade extras: