GSM-Referensi 01b

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a | Referensi 01c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Pengenalan Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-R01b

Referensi GSM-R01b diambil dari:

Judul Buku : Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
Judul Artikel : Sekolah Minggu (Tidak) Penting
Pengarang : Helena Erika / Sudi Ariyanto
Penerbit : Gloria Graffa
Halaman : 38 - 50

REFERENSI PELAJARAN 01b - SEKOLAH MINGGU (TIDAK) PENTING?

Jika orang kristiani dewasa ditanya, "Apakah Sekolah Minggu perlu atau penting?", apakah kira-kira jawaban mereka? Kemungkinan besar jawabannya berkisar antara: "Oh, sangat perlu", "Ya, anak-anak harus diajar mengenal Tuhan sejak kecil", "Sekolah Minggu harus diadakan." Pada dasarnya, mereka menganggap pelayanan Sekolah Minggu perlu dan penting.

Namun, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataan? Dari pengamatan terhadap beberapa gereja diketahui bahwa pada tataran praktik, keadaannya tidak seperti yang diungkapkan dengan kata-kata. Berikut adalah beberapa hal yang masih (kalau tidak mau dikatakan sangat sering) dijumpai di gereja-gereja berkaitan dengan pelayanan anak (Sekolah Minggu).

  1. Pelayanan Anak Diadakan Agar Anak-anak Tidak Mengganggu Kebaktian Orang Dewasa.

    Sikap seperti ini mungkin muncul dari pra anggapan bahwa anak-anak tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini mempunyai implikasi de facto bahwa kebaktian anak tidaklah penting. Dengan kata lain, kebaktian orang dewasa teramat sangat penting, sehingga sedikit pun tidak diizinkan ada gangguan dari anak-anak. Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan supaya dapat berbakti dengan lebih baik, melainkan agar kebaktian orang dewasa tidak terganggu. Lalu, apabila tempat kebaktian anak dekat dengan tempat kebaktian orang dewasa, maka anak-anak itu tidak diizinkan untuk memuji Tuhan dengan suara keras (yang menunjukkan kebebasan untuk memuji Tuhan), karena akan mengganggu kebaktian orang dewasa. Namun, apakah pernah terpikir bahwa puji-pujian dari kebaktian orang dewasa yang begitu keras bisa mengganggu anak-anak untuk belajar firman Tuhan? Di sini tampaklah ketidakadilan yang dilihat nyata oleh anak-anak.

  2. Fasilitas untuk Pelayanan Anak Tidak Memadai

    Ruangan yang dipakai untuk kebaktian anak kerap kali sempit dan tidak memadai. Bahkan ada gereja yang mengadakan kebaktian anak di bawah pohon. Atau di basement yang merupakan tempat parkir sebuah hotel. Sedangkan kebaktian untuk orang dewasa diadakan di ruangan hotel yang luas dan nyaman karena adanya penyejuk ruangan.

    Selain itu, jarang ada alat musik untuk anak-anak. Sementara pada kebaktian orang dewasa alat musik serta sistem suaranya sangat baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi? Dalam ucapan dikatakan bahwa kebaktian anak penting, tetapi pada kenyataannya yang menjadi pusat perhatian hanyalah orang dewasa dan pelayanan anak dinomorsekiankan. Bangku-bangku yang digunakan di kebaktian anak biasanya juga bangku bekas yang sudah tidak dipakai lagi di kebaktian dewasa. Demikian juga peralatan musiknya. Bahkan kalau di kebaktian dewasa ada pemain musik yang sangat baik, maka yang bermain musik di kebaktian anak adalah mereka yang baru saja bisa memainkan alat musik. Bila kenyataannya demikian, bagaimana kita bisa mengajar anak-anak bahwa kebaktian itu menyenangkan?

  3. Pengajar Kurang Kompeten

    Banyak orang tidak mau mengajar di kebaktian anak. Itu sebabnya gereja sering kekurangan guru, padahal anggota jemaat banyak sekali. Dari antara mereka yang mau dan memiliki beban yang besar untuk pelayanan anak, banyak yang pengetahuan dan keterampilannya kurang memadai.

    Selain itu banyak guru yang menyampaikan firman Tuhan tanpa persiapan. Pernah ada seorang guru yang keliru menyampaikan firman Tuhan dengan berkata, "Anak-anak, ketika Yesus di kayu salib, Dia berteriak, 'Ela, ela, lama sabakhtani."

    Memang sangat baik bila seseorang memiliki beban yang besar untuk pelayanan, apalagi pelayanan anak. Akan tetapi, para guru harus diperlengkapi atau memperlengkapi diri dengan keterampilan atau pengetahuan agar dapat menyampaikan berita sukacita kepada anak- anak lebih baik lagi.

    Masih ada banyak hal yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak begitu diperhatikan. Pelayanan anak biasanya diberi prioritas terakhir dari antara pelayanan-pelayanan yang lain. Inti masalah yang sebetulnya adalah pada cara memandang anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang dewasa (dalam hal ini pengajar, gembala sidang, majelis gereja, dll.) yang memandang bahwa anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa mengerti firman Tuhan, belum bisa memuji Tuhan.

    Cara pandang seperti ini termanifestasi pada sikap atau kondisi guru yang mengajar tanpa persiapan, tidak adanya pemikiran untuk menambah fasilitas pelayanan anak, atau tidak adanya pemikiran untuk mengadakan retret khusus untuk anak-anak. Yang diajarkan kepada anak hanyalah cerita-cerita yang tidak membuat mereka mengenal Tuhan lebih dalam atau menyadarkan kebutuhan mereka akan Juru Selamat.

    Cara pandang seperti ini perlu diubah, karena masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apa yang diberikan atau dialami anak-anak dalam masa kanak-kanak bisa berdampak sangat serius untuk anak itu kelak bila dewasa. Banyak orangtua yang mengusahakan pendidikan formal sebaik mungkin untuk anak-anak: dimasukkan ke sekolah yang baik, dibelikan buku pelajaran yang lengkap, dll. Akan tetapi, apakah sikap memandang penting pendidikan ini juga diterapkan dalam hal rohani? Kita harus ingat bahwa anakanak itu adalah calon-calon pemimpin bangsa, dan juga masa depan gereja. Kepemimpinan gereja di masa yang akan datang ada di tangan mereka.

    Pandangan umum bahwa pelayanan anak kurang begitu penting juga mempengaruhi pandangan orang terhadap pelayan anak. Suatu kali, MEBIG Jepang dan MEBIG Indonesia diminta untuk melayani KKR anak di suatu kota besar. Seusai acara, semua panitia sepertinya terpaku pada acara, sehingga melupakan kami yang telah melayani. Setelah turun dari panggung pun, tidak ada yang menyalami dan mengucapkan terima kasih. Lalu kami menunggu panitia yang akan mengantar pulang ke penginapan, tetapi tak seorang pun muncul. Kemudian kami menunggu di tempat parkir sambil harus mengisap asap knalpot yang tebal, namun tetap tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya kami mencoba menghubungi saudara kami yang juga menjadi panitia (pada seksi lain, bukan transportasi), dan meminta agar seseorang dapat mengantar kami dengan mobilnya. Sampai kami berangkat ke kota lain untuk pelayanan berikutnya, tak seorang pun panitia yang datang untuk mengucapkan terima kasih dan melepas kami dengan ucapan selamat jalan. Baru saat kami sudah ada di dalam mobil yang kami sewa sendiri, ada telepon yang masuk ke telepon genggam kami, dari salah seorang panitia tersebut.

    Saat itu, kami sebagai orang Indonesia merasa malu kepada mitra pelayanan kami yang jauh-jauh datang dari Jepang dengan biaya sendiri untuk melayani kita orang Indonesia. Kami membayangkan seandainya kami adalah rombongan pembicara untuk orang dewasa yang sudah terkenal, mungkin banyak orang akan menemui kami untuk mengajak makan atau menginap di rumahnya.

    Menurut Pendeta Gonbei, hal menomorsekiankan pelayanan anak mungkin timbul karena gereja memegang konsep praktis yang umum dipegang oleh kalangan di luar gereja, yaitu tidak membiarkan adanya pemborosan dan kerugian.

    Tidak membiarkan adanya pemborosan secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan bahwa mengeluarkan banyak uang untuk pelayanan anak merupakan pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyediakan alat musik, ruang kelas yang memadai, dan juga hal lain untuk pelayanan anak adalah pemborosan. Mengeluarkan banyak uang untuk menyelenggarakan retret anak-anak adalah pemborosan. Sikap yang tidak mengizinkan adanya "pemborosan" ini pun kita temukan pada Markus 14:4, yaitu ketika seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu ke kepala Yesus. Waktu itu ada orang yang gusar dan berkata, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?" Di sini tampak jelas bahwa masalah ekonomi bisa mengalahkan urusan yang berdampak pada kekekalan.

    Terlalu perhitungan sikap terlalu perhitungan sering menghinggapi gereja. Segala sesuatu selalu didasarkan pada prinsip untung dan rugi. Berdasarkan prinsip ini, jelas pelayanan anak adalah pelayanan yang merugi secara ekonomi. Berapa banyak uang persembahan anak-anak? Sudah pasti jumlahnya tidak cukup untuk menyewa ruangan yang baik, membeli gitar, atau membiayai hamba Tuhan. Karena kontribusi persembahan anak-anak ini sangat kecil untuk gereja, maka dapatkah gereja disalahkan jika menyediakan fasilitas sesuai dengan kontribusinya? Tentu tidak salah jika acuannya adalah berapa banyak keuntungan yang dapat diberikan anak- anak melalui pelayanan anak. Namun, benarkah demikian seharusnya kita mengelola pelayanan ini?

    Sikap seperti ini memang sering mewarnai gereja yang ditebus oleh Tuhan Yesus. Jika tidak memberikan kontribusi yang layak, maka tidak perlulah terlalu diperhatikan. Semua tindakan harus dilakukan berdasarkan perhitungan untung-rugi. Namun, bagaimana seandainya Yesus juga melakukan analisis untung-rugi (cost-benefit analysis) sebelum Dia mau disalibkan, apakah kita akan diselamatkan?

    Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari. Untuk urusan sekolah, orang tua mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku, membayar guru privat, membeli komputer, dll. Dalam hal ini, apakah orang tua menggunakan perhitungan untung-rugi secara murni? Tentu tidak. Mereka melihat masa depan yang akan dijalani oleh anak-anak itu. Mereka harus diberi bekal agar kelak dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Bukankah pelayanan untuk anak-anak juga harus dipandang demikian? Anak-anak harus dipersiapkan untuk menerima Yesus Kristus, yang akan sangat mempengaruhi masa-masa setelah hidupnya di dunia ini berakhir. Berapa lamakah kehidupan setelah kematian bila dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini? Bila untuk kehidupan di dunia yang rentang waktunya tidak panjang seseorang mau berkorban banyak, bukankah seharusnya kita mau berkorban untuk kehidupan yang kekal?

    Cara pandang yang meremehkan anak-anak atau pelayanan anak ini perlu diubah. Jika tidak, gereja akan kehilangan berkat Tuhan. Sikap munafik yaitu lain di mulut lain di hati, atau lain di tindakan, harus segera dihentikan. Tuhan tidak menyukai sikap seperti ini dalam gereja-Nya.

Taxonomy upgrade extras: 

GSM-Referensi 04a

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Hakekat Mengajar
Kode Pelajaran : GSM-R04a

Referensi GSM-R04a diambil dari:

Judul Buku : Tenik mengajar
Judul Artikel : Bagaimana Mengajar
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2000
Halaman : 33 - 42

REFERENSI PELAJARAN 04a - HAKEKAT MENGAJAR


BAGAIMANA MENGAJAR

Hukum-hukum belajar tidak berubah, tetapi pengungkapannya tidak sama dalam masyarakat yang berbeda-beda.

Sebuah peribahasa kuno mengatakan, "Orang menjadi guru karena pembawaan, bukan karena pendidikan." Akan tetapi dewasa ini para pendidik percaya bahwa banyak yang disebut bakat pembawaan itu sebenamya merupakan kebiasaan-kebiasaan yang telah diperoleh. Walaupun ada orang yang mempunyai lebih banyak bakat mengajar dari pada yang lain, para guru pasti bisa berhasil jika mereka mengikuti prinsip- prinsip ilmu mendidik yang diakui, bersemangat mengajar, mengasihi anak didiknya dan saksama dalam persiapan mereka.

Filsafat ini tidak memperkecil pekerjaan Roh Kudus. Setiap guru harus pasrah dan mau dipimpin oleh Roh Kudus. Namun demikian, kita bukannya menolak pimpinan Roh Kudus bila menggunakan hukum-hukum mengajar sama seperti kita tidak menolak pimpinan-Nya jika kita tunduk pada hukum gaya berat.

Tuhan kita Yesus Kristus selalu menjalankan hukum-hukum mengajar dan belajar. Prinsip-prinsip ini bisa diamati, dievaluasi dan digolongkan, karena memang sudah menjadi sebagian dari perangai manusia. "Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:16, 17). "Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" (Kolose 2:3).

"Ketujuh Hukum Mengajar," karangan John Milton Gregory, menetapkan pola pekerjaan seorang guru dengan mengemukakan pernyataan yang sederhana tetapi jelas mengenai faktor-faktor penting yang menguasai seni mengajar. Gregory adalah seorang yang terkemuka di bidang pendidikan. Pada umur tujuh belas tahun dia sudah menjadi guru sekolah. Kemudian dia menjadi pendeta gereja Baptis. Tak lama kemudian dia diakui sebagai seorang pendidik yang unggul. Setelah menjabat pengawas kepala dari sekolah-sekolah di negara bagiannya dan rektor perguruar tinggi di Michigan, dia bekerja keras untuk tiga belas tahun lamanya untuk mendirikan Universitas Illinois. Dia telah mendapatkan kedudukan yang pasti dalam sejarah pendidikan Amerika.

Di sini dikemukakan hukum-hukum mengajar, berdasarkan prinsip- prinsip dan teori-teori dalam buku Dr. Gregory.

HUKUM GURU

Guru Haruslah Seseorang yang Mengetahui Pelajaran atau Kebenaran atau Seni Ketrampilan yang akan Diajarkan.

Beberapa kursus pendidikan kepemimpinan memberi perhatian lebih banyak kepada cara-cara guru dari pada kepada berita Firman Allah. Hal ini bisa sangat berbahaya apabila guru tidak mengetahui dengan betul apa yang harus diajarkan. Baik berita maupun cara sangat penting. Karena alasan inilah, setengah dari kursus-kursus berijazah dari Evangelical Teacher Training Association diuntukkan guna penelaahan Alkitab dan pokok-pokok yang berhubungan dengannya. Dalam pendidikan umum, pengetahuan akan mata pelajaran sangat penting. Dalam pendidikan Kristen sangatlah penting bagi si guru untuk mengetahui Firman Allah. Pengetahuan itulah bahan yang dipakai oleh guru. Pengetahuan yang kurang sempurna akan menghasilkan pengajaran yang kurang sempurna. Apa yang tidak diketahui oleh seseorang, tak bisa diajarkannya. "Ketahuilah benar-benar pelajaran yang ingin saudara ajarkan kemudian mengajarlah dari pikiran yang diisi penuh dan dengan pengertian."

Guru harus mengetahui lebih banyak dari pada yang dapat diajarkannya dalam waktu mengajar yang telah ditetapkan, jangan hanya cukup untuk mengisi waktu itu saja. Hal ini meminta pelajaran dan penyelidikan yang sungguh-sungguh agar bisa memahami seluruh pelajarannya. Seorang guru yang menguasai bahan pelajarannya bisa merasa tentram Qementara ia mengarahkan pemikiran murid-muridrya serta mengikutsertakan mereka secara aktif. Dia harus juga mengenal setiap murid cukup baik sehingga dia bisa menerapkan pengetahuannya sendiri dalam kehidupan murid itu.

HUKUM PELAJAR

Pelajar Ialah Orang yang dengan Penuh Minat Mengikuti Pelajaran.

Lama sebelum Spurgeon menjadi seorang pendeta besar, dia berhasil dalam pekerjaannya di antara anak-anak. Dalam petunjuk-petunjuknya kepada guru-guru yang bekerja di bawahnya, dia mengatakan, "Bangkitkanlah perhatian anak-anak. Jika mereka tidak mendengar, saudara boleh saja berbicara, tetapi pembicaraan saudara akan sia- sia. Jika mereka tidak mendengarkan, maka pekerjaan yang saudara lakukan itu akan membosankan dan tak berarti, baik bagi diri saudara sendiri maupun bagi murid-murid saudara. Saudara tidak bisa melakukan apa-apa tanpa memastikan adanya perhatian mereka."

"Bangkitkan dan pikatlah perhatian dan minat murid pada pelajaran. Jangan mencoba untuk mengajar tanpa adanya perhatian."

  1. Perhatian
  2. Sampai pada usia tujuh tahun anak-anak mempunyai jangka perhatian yang singkat, mungkin satu menit saja untuk tiap tahun usia. Biasanya tidak bisa diharapkan lebih banyak dari mereka. Jangka perhatian anak-anak usia 7 tahun sampai dengan 9 tahun sudah bertambah lama. Mereka mulai menghargai kemampuan mereka sendiri dan menyukai pemikiran atau diskusi yang memakan waktu lebih lama. Pertengahan tahun pertama SD atau selama kelas dua, anak-anak sekolah yang terlatih baik mulai beralih dari banyak aktivitas jasmaniah dan menyukai aktivitas mental. Nyata sekali jangka perhatian mereka menjadi lebih panjang. Pada tingkatan mana saja seorang guru yang bijaksana mula-mula akan berusaha untuk memperoleh perhatian, kemudian meningkatkannya, baru akhirnya mengubah perhatian tersebut menjadi minat.

  3. Minat
  4. Perhatian bergantung pada minat. Lebih mudahlah untuk memperoleh dan memikat perhatian seorang murid yang berminat. Suatu perintah atau suatu permainan yang menarik perhatian dapat membangkitkan perhatian untuk sementara, tetapi hanya minat yang sungguh dapat membuat perhatian itu bertahan.

    Kemampuan untuk membangkitkan dan memelihara minat bergantung pada: menemukan bidang pemikiran murid; menjaga terhadap gangguan-gangguan dari luar; memberikan pelajaran yang cocok dengan kecakapan murid;
    mendapat kerja sama murid dalam pelajaran.

    Perhatian dan minat berkaitan secara langsung dengan motivasi. Belajar yang bermotivasi adalah cara belajar yang diinginkan oleh murid. Cara yang tercepat untuk menghasilkan belajar yang bermotivasi ialah dengan jalan menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan para murid. Jika pelajar diberi pekerjaan yang nampaknya berguna bagi mereka dan yang memenuhi kebutuhan mereka, perhatian serta minat akan terpelihara.

HUKUM BAHASA

Bahasa yang Dipakai sebagai Media antara Guru dan Murid Haruslah Bahasa yang Lazim bagi Kedua Pihak.

Pada pihak yang satu terdapat guru dengan perlengkapan yang penting, yaitu pengetahuannya; pada pihak lain terdapatlah murid dengan perhatiannya yang berminat. Langkah berikutnya adalah menetapkan hubungan yang baik di antara mereka.

Guru mungkin mempunyai perbendaharaan kata yang lebih besar, tetapi ia harus membatasi dirinya dan hanya menggunakan bahasa muridnya. Jika guru menolak atau gagal menyesuaikan diri dengan bahasa murid, pelajaran itu tidak bisa dipahami. "Pakailah kata-kata yang bisa dimengerti oleh murid dan saudara sendiri, bahasa yang jelas dan terang bagi keduanya."

Bahasa yang dipakai akan berbeda untuk tiap tingkatan usia dalam gereja. Untuk menjalankan hukum bahasa, Gregory menyarankan yang berikut ini bagi guru.

Pelajari selalu dengan saksama bahasa murid-murid.

Ungkapkan pendapat saudara sendiri sedapat-dapatnya dalam bahasa murid.

Pakailah bahasa yang paling sederhana dan kata-kata yang paling sedikit untuk menyatakan maksud.

Pakailah kalimat-kalimat pendek dengan bentuk yang paling sederhana.

Terangkan arti kata-kata baru dengan lukisan-lukisan.

Seringkali ujilah pengertian murid akan kata-kata yang dipakainya.

HUKUM PELAJARAN

Pelajaran yang Harus Dikuasai Itu Hendaknya Diterangkan Melalui Kebenaran yang Sudah Diketahui Oleh Pelajar. Hal-hal yang Tidak Diketahui Harus Diterangkan dengan Perantaraan Hal-hal yang Diketahui.

Hukum ini secara langsung berkaitan dengan pelajaran atau kebenaran yang akan diajarkan. Inilah dasar bagi semua ilmu pendidikan. "Mulailah dengan apa yang sudah diketahui betul oleh murid tentang mata pelajaran itu, atau dengan apa yang telah dialami sendiri oleh murid, - kemudian melanjutkan kepada bahan yang baru dengan berangsur- angsur dan wajar, serta membiarkan apa yang sudah diketahuinya itu menerangkan hal-hal yang belum diketahuinya."

Semua ajaran dimulai dari titik hubungan yang telah diketahui. Jika mata pelajaran itu baru sama sekali, maka harus dicari titik yang diketahui. Hukum asosiasi atau hubungan ini merupakan dasar bagi semua perkembangan mental. Kebenaran-kebenaran yang baru hanya bisa dimengerti bila dipandang dari segi kebenaran-kebenaran yang telah ada.

Tuhan kita pandai sekali memakai hukum ini. Dia senantiasa membangun kebenaran yang baru di atas fakta-fakta yang sudah terkenal. Pendengar-pendengar-Nya sudah biasa dengan Perjanjian Lama. Penyaliban-Nya itu akan mirip dengan kejadian meninggikan ular tembaga di padang gurun. Penguburan dan kebangkitan-Nya dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman nabi Yunus. Saat kedatangan-Nya kembali akan seperti zaman Nuh dan Lot. Kejadian-kejadian di masa depan dilukiskan dengan hal-hal yang sudah terjadi.

Untuk hukum pelajaran, guru harus mengetahui beberapa prosedur yang berkaitan.

  1. Hubungkan dengan pelajaran-pelajaran yang lalu
  2. Apa yang telah dipelajari boleh dianggap seperti sebagian dari hal- hal yang sudah diketahui. Jika guru telah mengajarkan pelajaran- pelajaran yang lalu itu, dia sudah mengenal keadaan muridnya. Setiap ulangan mendemontrasi hukum ini, dan cara yang paling baik untuk menjalankan prinsip ini ialah dengan mengutamakan ulangan.

  3. Lanjutkan pelajaran dengan langkah-langkah yang bertahap.
  4. Seorang atlit tidak akan menetapkan sasarannya pada ketinggian yang belum terjangkau, baru kemudian mencoba untuk melompatinya. Dia akan mulai dengan ketinggian yang bisa dilompatinya dan kemudian menaikkannya seinci demi seinci sehingga dia menetapkan rekor barunya. Demikianlah seorang murid harus bisa memahami sepenuhnya setiap kebenaran yang diajarkan sebelum dia bisa menyelidiki dan mengerti kebenaran berikutnya. Ide-ide baru menjadi sebagian pengetahuan murid dan menjadi titik tolak bagi tiap kemajuan yang baru. Jika Guru menuruti prinsip ini, ia dapat memperoleh kemajuan yang lebih cepat serta mencapai prestasi yang lebih tinggi.

  5. Terangkan dengan lukisan.
  6. Jika kemajuan dalam pelajaran itu terlalu cepat sehingga tak dapat diikuti oleh pikiran murid, maka menyebut dan menunjukkan hal-hal yang sudah diketahui murid itu akan membantu pengertiannya. Kata- kata kiasan seperti tamsil, metafora, dan ibarat telah muncul karena perlunya menghubungkan kebenaran-kebenaran sebelumnya dan situasi-situasi serta pengalaman-pengalaman yang sudah diketahui dengan pelajaran yang baru.

  7. Pedoman menuju pemindahan pelajaran.
  8. Hukum pelajaran juga berlaku untuk memindahkan apa yang telah dipelajari murid dalam satu keadaan kepada keadaan yang lain. Jika seorang murid telah belajar untuk mentaati ibu atau ayahnya, apakah dia juga akan mentaati Tuhannya ?

    Jika keadaan yang dikenal dan yang tidak dikenal itu serupa dan mempunyai cukup banyak unsur yang bersamaan, pelajar mampu memindahkan pengertiannya mengenai situasi yang satu kepada situasi yang lainnya. Guru mempunyai tanggung jawab untuk menolong murid- muridnya melihat unsur-unsur yang bersamaan itu dan penggunaan yang lebih luas dari prinsip-prinsip Alkitab yang disampaikannya.

HUKUM PROSES MENGAJAR

Mengajar Ialah Menggairahkan dan Memakai Akal Pikiran Pelajar Untuk Mengerti Pikiran Guru atau Menguasai Seni Ketrampilan yang Diajarkannya.

"Diri pelajar itu tak akan berpadu dengan agama sebelum pelajar atau pemikir itu sendiri terlibat dalam pemikirannya." Pelajar hendaknya mencernakan dan mengolah setiap bagian Alkitab ketika dia diberi santapan rohani. Aktivitas guru tidak efektif kalau dia tidak menimbulkan minat murid dan menyebabkan dia bertindak. "Rangsanglah pikiran murid agar bertindak. Jagalah agar pikirannya sedapat mungkin mendahului penyajian saudara, dengan demikian ia menjadi seorang penemu."

"Mempersiapkan seorang pelajar untuk menggunakan semua kecakapannya dengan sepenuhnya merupakan usaha yang bersifat perseorangan dan sama sekali berlawanan dengan proses produksi benar-besaran." Jika pelajar- pelajar tidak berpikir sendiri, tidak akan ada hasil-hasil yang bisa bertahan lama. Proses belajar itu dipercepat, apabila para pelajar mengadakan penyelidikan secara mandiri. Memang benar bahwa pengetahuan bisa diperoleh tanpa seorang guru, dan ada orang yang maju atas usaha sendiri serta berhasil baik, yang tidak pernah mengikuti perguruan tinggi. Akan tetapi hal ini tidak meniadakan perlunya sekolah-sekolah dan guru-guru. Seorang guru yang baik hanya menyediakan suasana yang menyenangkan agar pelajar dapat belajar sendiri. Dia tidak hanya menanamkan pengetahuan. Dia menggairahkan mereka untuk memperoleh pengetahuan itu. Dia mendorong mereka dan memberi teladan dalam cara belajar yang tekun dan serius. Dia membimbing, tetapi dia tidak menghalangi kemajuan pelajarnya.

  1. Menyediakan bahan pemikiran
  2. Proses-proses pemikiran terbatas pada pengetahuan yang telah diperoleh. Pelajar yang tidak mengetahui apa-apa tidak dapat memikir, karena ia tak mempunyai apa-apa untuk dipikirkannya. Agar seseorang bisa membandingkan, mengritik, mempertimbangkan dan memperbincangkan, pikirannya harus mengolah bahan-bahan yang telah diperolehnya. Oleh karena itu pelajar memerlukan keterangan yang berdasarkan fakta-fakta, yang dapat dipakai sebagai dasar pemikiran. Pendidikan juga mencakup proses mendesak pelajar mengungkapkan pikirannya, tetapi guru itu tak bisa meminta pelajar mengungkapkan pengetahuan yang sebelumnya tidak ditanamkan dalam pikiran pelajar itu.

  3. Merangsang Penyelidikan
  4. Penting juga untuk membangkitkan semangat menyelidik. Proses-proses pendidikan yang padat dimulai ketika pelajar menanyakan siapa, apa, bilamana, mengapa, di mana, dan bagaimana terjadi sesuatu. Pikiran yang matang menggumuli masalah-masalah alam semesta. Buah apel yang jatuh menyebabkan pikiran Newton bertanya-tanya mengenai gaya berat. Cerek air yang mendidih mengajukan masalah mesin uap kepada Watt. Pertanyaan merupakan penunjuk bagi pikiran murid dan bagi batinnya. Pertanyaannya menimbulkan kesadaran diri dan pemikiran sendiri. Guru harus menggairahkan pencarian akan pengetahuan ini, demikian juga keinginan akan pengungkapan.

  5. Memberi kepuasan
  6. Jika seorang murid mendapatkan kesenangan dari apa yang dilakukannya, dia mungkin sekali akan melanjutkan aktivitas itu. Ini dikenal sebagai imbalan atau penguatan kembali. Kecenderungannya ialah mengulangi pengalaman yang memuaskan dan menghindari pengalaman yang tidak memuaskan.

    Kepuasan akan diperoleh apabila hal belajar itu berguna bagi pelajar dalam kehidupannya sehari-harinya, dan memenuhi kehutuhannya. Guru itulah yang mempunyai kesempatan untuk menjadikan pengalaman belajar itu bermanfaat bagi setiap murid.

HUKUM PROSES BELAJAR

Belajar Ialah Memikirkan Suatu Ide atau Kebenaran Baru Sehingga Mengerti, atau Mengerjakan Suatu Seni atau Ketrampilan Baru Sehingga Menjadi Biasa.

Guru yang efektif akan membangkitkan dan membimbing aktivitas yang berasal dari diri pelajar-pelajarnya sendiri. Dia juga mengevaluasi tanggapan murid akan usaha guru. Dia menolong murid-murid mengevaluasi kebenaran baru dan mewujudkannya dalam seni dan ketrampilan dari kehidupan sehari-hari.

Belajar meminta minat dan perhatian yang aktif, serta meminta tindakan atau proses yang jelas dan terang, yang hanya bisa dilakukan oleh pelajar sendiri. Pelajar itu sendiri harus melatih pikirannya untuk memperoleh pengertian yang benar tentang fakta-fakta atau prinsip-prinsip dalam pelajaran itu. Hukum proses belajar ini penting sekali.

Pekerjaan mendidik itu lebih banyak dikerjakan oleh murid dari pada oleh guru. Belajar yang sebenarnya bukan sekedar pengulangan. Penemuan yang semula merupakan proses yang menggetarkan hati serta menggairahkan. Penemu itu meminjam fakta-fakta yang telah diketahui orang lain dan menambahkan apa yang dipelajarinya dari pengalaman. Guru memakai hukum ini untuk membimbing murid menjadi seorang penyelidik yang mandiri.

Ada tiga tahap belajar yang berbeda, dan tiap tahap itu membawa murid untuk menguasai hal belajar.

  1. Reproduksi
  2. "Mintalah kepada murid untuk mengulang dalam pikirannya pelajaran yang sedang dipelajarinya - memikirkan berbagai bagian dan penerapan dari pelajar itu sehingga dia bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sendiri." Memang mungkin untuk mengulang kata-kata yang tepat dari pelajaran apa pun dengan menghafalnya. Akan tetapi pelajar yang tidak mengerti apa yang dihafalkannya tidak bisa menghayati pelajaran itu. Dia seperti seseorang yang membeli sebuah buku dan meletakkannya di dalam perpustakaannya, tetapi tidak mempergunakannya.

  3. Tafsiran
  4. Dalam proses belajar itu sudah terjadi kemajuan yang nyata, ketika pelajar itu diajar untuk memberikan lebih banyak dari pada kata- kata atau fakta-fakta yang dipelajarinya. Jika dia mengungkapkan pendapatnya sendiri mengenai fakta-fakta itu, maka dia mengerti apa yang diajarkan kepadanya. Dia telah belajar untuk mengolah pikirannya sendiri, demikian juga pikiran orang lain. Kegagalan untuk mendesak agar pelajar mengungkapkan pemikirannya sendiri adalah kesalahan yang sering terdapat pada guru-guru yang tidak terlatih. Seorang guru yang baik jarang menanyakan pertanyaan yang memakai kata tanya "apa". Pertanyaan seperti itu dijawab dengan memberikan fakta-fakta saja. Seorang guru yang terlatih menanyakan "mengapa", sehingga murid-muridnya belajar untuk berpikir sendiri.

  5. Penerapan
  6. Pendidikan bukan sekedar memperoleh atau mengerti pengetahuan. Tidak ada pelajaran yang dipelajari secara sempurna sebelum pelajaran itu diterapkan dalam kehidupan. Pengetahuan adalah kekuasaan - tetapi hanya bila pengetahuan itu sudah dikuasai, dimanfaatkan, dan dipekerjakan. Menyatakan pendapat dapat melatih pikiran, tetapi menerapkan pengetahuan mempengaruhi kemauan dan mengubahkan kehidupan pelajar. Jika penerapan pribadi yang praktis diabaikan, pelajar-pelajar akan "selalu belajar, tetapi tidak akan pernah mengetahui kebenaran" ( 2 Timotius 4:7 ). Ini hanya "pengetahuan otak" saja dan tidak mengakibatkan perubahan hidup yang dilaksanakan oleh anugerah Allah.

HUKUM PENGULANGAN DAN PENERAPAN

Ujian dan Bukti Bahwa Guru Benar-benar Telah Mengajar Ialah Pengulangan, Pemikiran Kembali, Pengenalan Kembali, Penghasilan Kembali dan Penerapan dari Bahan yang Telah Diajar.

Rapat-rapat kerja seringkali dibuka dengan pembacaan notulen rapat yang lalu dan ditutup dengan notulen tentang acara kerja pada hari itu. Pada pembukaan dan penutup rapat itu segala sesuatu yang telah terjadi itu diulang. Pengulangan yang pertama menetapkan hubungan yang erat dengan rapat-rapat yang lalu. Pengulangan yang kedua menghubungkan apa yang dikerjakan pada hari itu dengan rapat berikutnya. Pentinglah mengadakan hubungan dengan pelajaran-pelajaran yang lalu pada pembukaan setiap pelajaran. Demikian pula sama pentingnya untuk menghubungkan pelajaran pada tiap hari itu dengan pelajaran berikutnya, dan menghidupkan semua ajaran dalam hidup para pelajar. "Mengulang, mengulang, sekali lagi mengulang, mereproduksi yang lama, memperdalam kesannya dengan pikiran yang baru, mengaitkannya dengan arti-arti yang baru, menemukan penerapan baru, membetulkan setiap pandangan yang keliru dan melengkapkan yang benar."

Hukum ini meliputi pengetahuan dan penggunaan tiga bidang penekanan.

  1. Mengokohkan dan menyempurnakan pengetahuan
  2. Pengulangan bukanlah sekedar mengingat kembali apa yang diajarkan. Itulah suatu usaha untuk memusatkan perhatian kembali kepada fakta- fakta dan prinsip-prinsip yang telah diajarkan sebelumnya. Juga pengulangan memberi kesempatan untuk memperoleh pengertian yang lebih dalam serta mengaitkan pengetahuan yang dahulu dengan situasi-situasi yang baru. Pandangan pertama pada sebuah lukisan tidak akan menyatakan setiap detilnya. Pembacaan ulang sebuah buku seringkali menunjukkan fakta-fakta yang tidak diperhatikan pada pembacaan yang mula-mula. Demikianlah halnya dengan penelaahan Alkitab. Tak ada buku lain yang memerlukan pembacaan dan penyelidikan yang saksama seperti Alkitab. Tak ada buku lain yang begitu penuh dengan berkat dan harta seperti buku ini. Mengulang ayat-ayat yang lazim dan digemari akan memberi pengertian baru dan memperlihatkan pelajaran-pelajaran baru.

  3. Mengingat dan meneguhkan pengetahuan
  4. Pengulangan membiasakan dan menguatkan pengetahuan itu dengan jalan menghubungkan ide-ide. Seseorang yang diperkenalkan pada sekelompok orang mungkin tidak bisa mengingat semua nama yang telah disebut itu. Beberapa saat kemudian kalau seseorang lain dikenalkan, dia akan mengulang nama-nama itu dan ingatannya akan dikuatkan. Pelajaran yang dipelajari hanya sekali, segera akan terlupa. Apa yang sering diulangi akan menjadi sebagian dari perlengkapan pengetahuan dan dapat diingat dan dipakai secara tetap. Inilah patokan sebenarnya dari prestasi belajar.

  5. Menerapkan dan mempraktekkan pengetahuan
  6. Pengulangan yang saksama, yang seringkali dilakukan, menyebabkan pengetahuan itu dapat digunakan dengan cepat. Nas-nas Alkitab yang paling banyak menolong kita ialah nas-nas yang telah diterapkan dan dipakai. Nas-nas ini diingat apabila keadaan memerlukan. Kebenaran- kebenaran yang menjadi lazim karena pengulangan membentuk sikap dan membina watak. Jika kita ingin ditopang dan dikuasai oleh kebenaran- kebenaran yang mulia, kita harus mempraktekkannya sehingga kebenaran-kebenaran tersebut menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Alkitab mengakui kebenaran ini dalam ayat yang berbunyi, "hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat." Pengulangan merupakan aktivitas yang perlu dan penting; itulah syarat yang perlu sekali bagi semua pengajaran yang benar. Tidak mengulang berarti bahwa pengajaran itu tidak sempurna.

Taxonomy upgrade extras: